-->

Ibu Hantu Jilid 4

Jilid 4

DENGAN mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali, maka Lay Tat telah melompat untuk menyambut kedua serangan dari To-hun Koay-jin.

Tangan mereka jadi bentrok satu sama lainnya.

Kali ini Lay Tat telah mengerahkan hampir delapan bagian tenaga dalamnya.

Maka dari itu, tangkisan dari tangan Lay Tat juga membawa angin tangkisan yang keras dan bertenaga sekali.

To-hun Koay-jin sendiri terperanjat karena tangkisan dari Kauw-cu Pian-sia-kay tersebut memang benar-benar hebat dan membuat tubuh si manusia tengkorak tersebut sampai terpukul mundur terhuyung beberapa langkah kebelakang.

Tetapi semua itu hebat juga kesudahannya bagi diri Lay Tat.

Begitu kedua tangannya tertangkis, begitu mereka saling mengerahkan tenaga dalam mereka masing-masing, maka tampak Lay Tat mengeluarkan seruan tertahan, tubuhnya terhuyung empat langkah kebelakang, kemudian terguling dilantai.

Untung saja dia mempunyai kepandaian yang lumayan, dapat disebut agak sempurna dan tinggi, maka begitu tubuhnya terguling, begitu juga dia telah melompat berdiri.

Dengan sendirinya, dia bisa berjaga-jaga kalau nanti si manusia tengkorak itu membarengi menyerang dirinya dengan serangan yang mematikan.

Sedangkan To-hun Koay-jin begitu terhuyung mundur satu langkah kebelakang, cepat-cepat dia mengerahkan tenaga dalamnya kepada kedua kakinya, sehingga bisa menancap kakinya itu kuat-kuat pada lantai.

Dia tidak lantas menyerang lagi kepada Kauw-cu dari Pian-sia-kay, hanya mengawasi dengan tatapan mata yang begis sekali, mengandung hawa pembunuhan.

Jago-jago lainnya yang berada didalam ruangan itu juga mengawasi jalannya pertempuran antara To-hun Koay-jin dengan si Kauw-cu Pian-sia-kay tersebut, mereka juga tertarik melihat dua orang jago yang mempunyai kepandaian sangat tinggi saling tempur.

Hanya Cie Kiat saja yang tidak begitu tertarik.

Hal itu karena disebabkan kepandaian Cie Kiat telah tinggi luar biasa, lagi pula dia memang telah bisa melihat, bahwa biarpun To-hua Koay-jin didalam kalangan Kang-ouw telah mengangkat nama selama puluhan tahun dan disegani kawan dan lawan toh kepandaiannya tidak begitu luar biasa, kalau memang ini tidak mau disebut kepandaian si manusia tengkorak tersebut tidak begitu tinggi.

Tentang Kauw-cu dari Pian-sia-kay itu juga, dia mempunyai kepandaian yang hampir bersamaan dengan To-hun Koay-jin.

Tetapi berhubung sifat To-hun Koay-jin lebih bengis dan kejam, maka dengan sendirinya tampak si manusia tengkorak ini jauh lebih liehay dan gesit dari Kauw-cu Pian-sia-kay tersebut. Pada saat itu Lay Tat tengah berdiri tegak dengan memandang kearah To-hun Koay-jin menggunakan pancaran mata yang dingin sekali.

Dia memang sangat mendongkol juga sangat gusar kepada manusia tengkorak

ini.

Biar bagaimana dia adalah seorang Kauw-cu dari sebuah perkumpulan, maka

dengan sendirinya biasanya dia sangat dipatuhi.

Selain dihormati, juga setiap perintahnya pasti akan dituruti dan dipatuhi oleh anak buahnya.

Maka dari itu, sifatnya jadi agak berkepala besar, dan sudah wajar kalau memang sifat dari Lay Tat selalu ingin memerintah belaka.

Sekarang dia menghadapi lawan berat seperti To-hun Koay-jin, maka dengan sendirinya dia jadi mendongkol dan penasaran sekali.

Dia memang menyadari bahwa kepandaiannya itu tidak dapat mengimbangi kepan daian dari si manusia tengkorak.

Tetapi hal itu tidak menjadi halangan dan sebab bagi diri si Kauw-cu dari Pian- sia-kay ini.

Kalau memang dia mau, semua jago didalam ruangan tersebut bisa dibunuhnya semua, karena dia masih mempunyai jalan untuk mencelakai orang-orang yang tidak disenanginya yang berada didalam ruangan ini.

Tetapi Lay Tat masih tidak mau menggunakan caranya itu, dia masih mau melihat perkembangan selanjutnya, karena dia masih mau memperlihatkan bahwa Kauw-cu dari Pian-sia-kay adalah seorang Ho-han, seorang lelaki sejati, yang tegak pada keadilan dan juga pada kejujuran dan kegagahan.

Maka dari itu, Lay Tat tidak mau berlaku curang dan melakukan perbuatan yang rendah, yang bisa diejek dan dihina oleh orang-orang didalam kalangan Kang-ouw.

Seumpama kata, dia bermaksud akan melakukan rencana yang busuk dan jelek, maka itu akan dilakukannya diam-diam.

Pancaran mata dari Kauw-cu Pian-sia-kay Oen Lay Tat tersebut jadi bercahaya bengis, dia menatap To-hun Koay-jin tak kalah galaknya.

Waktu To-hun Koay-jin menghampiri dia dengan langkah yang setindak- setindak, maka Lay Tat jadi berpikir dengan cepat. Walaupun dia tidak memperlihatkan rasa takutnya, toh tetap saja perasaan itu membayangi hatinya.

Biar bagaimana dia akan berusaha untuk merubuhkan manusia tengkorak ini.

Tetapi Lay Tat tidak bisa berpikir terlalu lama, karena dengan mengeluarkan suara bentakan yang menyeramkan, To-hun Koay-jin telah melompat menerjang Lay Tat lagi.

Kali ini To-hun Koay-jin menyerang Lay Tat dengan tenaga Lwee-kang yang benar-benar luar biasa sekali. Dia merasakan serangan itu cukup berat, karena Lay Tat merasakan dorongan dari angin serangan itu yang membuat dia harus mundur beberapa langkah, guna mengurangi angin dorongan itu, sambil berbuat begitu, Lay Tat telah memiringkan tubuhnya sedikit kekanan, kemudian dengan mengeluarkan seruan : ‘Kena!’, maka tangannya menerobos kedepan, kearah rusuk dari To-hun Koay-jin.

Sodokan tangan dari Lay Tat hebat sekali, biar bagaimana dia adalah jago silat yang mempunyai kepandaian ilmu silat dan Lwee-kang yang lumayan, maka setiap serangannya itu juga bisa membahayakan orang kalau memang serangannya berhasil mengenai sasaran yang tetap.

Kalau memang rusuk dari To-hun Koay-jin itu berhasil disodoknya, berhasil digempurnya, maka dengan sendirinya tulang-tulang iga To-hun Koay-jin akan patah hancur, dan dengan sendirinya isi dadanya itu akan rusak oleh getaran hajaran tangan Lay Tat, dan bisa-bisa To-hun Koay-jin menemui kebinasaannya.

Namun To-hun Koay-jin mana mau membiarkan begitu saja dirinya dihajar oleh Lay Tat.

Dengan cepat dia telah menarik pulang tangannya, dia telah mengelakkan kesamping, kemudian dia melompat mundur kebelakang.

Mereka dengan sendirinya jadi saling terpisah beberapa kaki jauhnya.

Keduanya saling memandang lagi dengan cahaya mata yang memancar agak mengerikan.

Kedua orang jago silat yang sedang bertempur itu sangat ganasnya seperti juga dua ekor singa yang sedang bertarung.

Cie Kiat yang melihat pertempuran diantara kedua jago itu, jadi memandang dengan perhatian yang tidak begitu penuh, karena didalam pandangan matanya, kepandaian dari kedua orang tersebut tidak begitu tinggi, mereka bertempur lebih banyak memperlihatkan segi dari cara bertempur untuk suatu pertunjukkan diatas Lui-thay, bukan untuk merebut suatu kemenangan. Memang Lwee-kang mereka cukup kuat, namun cara mereka itu menggunakan dari tenaga dalam mereka, tidak sewajarnya.

Maka dari itu, Cie Kiat hanya ingin melihat kelanjutan dari pertempuran itu. Dia juga ingin mengetahui akhir dari peristiwa memperebutkan pedang Tat-mo Kiam.

Begitu juga jago-jago lainnya, mereka menyaksikan terus pertempuran antara To-hun Koay-jin dengan Oen Lay Tat.

Hanya bedanya jago-jago silat itu dengan Cie Kiat ialah, kalau si anak muda she Lie itu menyaksikan pertempuran tersebut dengan maksud untuk mengetahui kelanjutan peristiwa itu, tetapi jago-jago silat lainnya yang menonton dipinggir ruangan tersebut, semuanya ingin mencari ketika yang lowong guna merebut dan berusaha untuk memiliki pedang Tat-mo Kiam untuk menjadi milik pribadi mereka seudiri!

Suasana didalam ruangan sangat sepi, yang terdengar hanyalah suara bentakan- bentakan dari Lay Tat dan To-hun Koay-jin. Mereka bertempur dengan selalu mengeluarkan suara bentakan-bentakan yang keras.

Juga butir-butir keringat telah memenuhi tubuh mereka.

Keduanya rupanya telah mempertaruhkan jiwa mereka untuk mempertahankan pedang Tat-mo Kiam itu.

Yang seorang ingin mempertahankan, dan yang seorangnya lagi, yaitu To-hun Koay-jin, ingin merebut untuk memiliki pedang Tat-mo Kiam itu.

Maka dari iiu, pertempuran jalan terus.

Angin dari pukulan-pukulan kedua orang yang sedang bertempur itu saling berseliweran keras sekali, dapat dirasakan oleh jago silat yang sedang menonton dan menyaksikan dari samping.

Sedang pertempuran antara Lay Tat dengan To-hun Koay-jin berlangsung dengan pertempuran yang cukup seru maka tiba-tiba terdengar orang berkata : “Berhenti !”

Nyaring dan melengking suara itu.

Semua orang jadi menoleh kearah datangnya suara bentakan itu.

Segera juga begitu melihat orang membentak itu, semua orang yang menoleh itu jadi mengeluarkan seruan tertahan.

Begitu juga Lay Tat dan To-hun Koay-jin, mereka berhenti bertempur, mereka menoleh kearah datangnya suara bentakan itu.

Dan kedua jago ini juga telah mengeluarkan suara seruan kaget. Kenapa?

Ternyata orang yang membentak ‘berhenti!’ itu adalah seorang gadis kecil berusia diantara sembilan tahun!

Wajah gadis itu manis sekali, montok dan mungil sekali, matanya yang hitam celi itu memandang semua orang yang ada didalam ruangan itu bergantian.

Gadis cilik ini juga memperlihatkan senyumnya yang manis. Semua orang memandang dia dengan tatapan mata yang heran.

Apa maksud kedatangan dari gadis cilik ini? Dan siapakah dia? Mengapa tahu- tahu telah berada disitu? Bagaimana cara kedatangannya sehingga semua jago-jago yang berada didalam ruangan tersebut, yang biasanya mempunyai pendengaran sangat tajam itu, tidak dapat mendengar suara langkah kakinya waktu dia mendatanginya?

Gadis itu telah tertawa dengan suaranya yang tinggi melengking.

“Kalian selalu bertempur hanya untuk memperebutkan pedang Tat-mo Kiam!!” kata gadis cilik itu dengan suara yang tetap tinggi. “Hmmmm....... semua itu tak ada gunanya. Kata Sio-cia yang dipesankan kepadaku, memerintahkan agar kalian segera berhenti membuat ribut-ribut dan pergi menggelinding enyah dari tempat ini!” Dan sambil berkata begitu, biarpun suaranya tegas sekali, toh dia tetap tersenyum. Malah gadis cilik ini sambil berkata begitu dia selalu mempermainkan rambutnya yang telah ditaucangnya panjang, sepanjang sampai kepinggang.

Semua orang seperti juga terpaku mendengar perkataan gadis cilik ini.

Dia menyebut-nyebut bahwa dia diperintah oleh seorang Sio-cia, nona, dan siapakah nona itu?

Sedang jago-jago itu bertanya-tanya, maka si gadis telah membuka suara lagi : “Sio-ciaku itu she Wang, dan dia memerintahkan kepada kalian, kalau memang

kalian ini mau berkeras dan tidak mau menuruti perintahnya, maka Wang Sio-cia yang menjadi majikanku itu kebebasan pada diriku untuk menghukum kalian!”

Mendengar perkataan si gadis cilik, jago-jago didalam ruangan tersebut jadi hampir tertawa.

Gadis cilik itu berkata seperti juga lagak seorang jago yang mempunyai kepandaian tinggi sekali, maka jago-jago didalam ruangan tersebut mana mau mempercayai gadis sekecil itu mempunyai kepandaian yang tinggi?

Cie Kiat yang telah menghampiri gadis cilik itu, dia menduga bahwa gadis cilik ini sedang main-main, berguyon, maka dia ingin meminta gadis itu untuk berlalu saja, sebab didalam pergolakan didalam ruangan tersebut, keselamatan gadis cilik itu bisa tak terjamin.

“Siauw Sio-cia!” kata Cie Kiat begitu dia berada didepan gadis cilik itu. Dia memanggil orang dengan sebutan Siauw Sio-cia, nona kecil. “Lebih baik kau bermain-main diluar saja, karena disini sedang ada urusan yang bisa membahayakan jiwamu! Pergilah!”

Dan setelah berkata begitu, Cie Kiat telah mengulurkan tangannya.

Dia bermaksud akan mencekal tangan gadis cilik itu untuk diajaknya dituntun keluar dari ruangan tersebut.

Tetapi apa yang terjadi benar-benar diluar dugaan dari semua orang, dan diluar dugaan dari Cie Kiat juga!

Kenapa?

Ternyata, dikala Cie Kiat sedang mengulurkan tangannya akan menuntun si gadis cilik keluar dari ruangan itu, maka dengan tidak terduga gadis cilik itu telah menjejakan kakinya, dia menggeser kedudukan tubuhnya, kemudian dengan tidak terduga tangannya yang kanan telah dilonjorkan kemuka, dia menonjok kearah rusuk Cie Kiat.

Sambil meninju begitu, maka si gadis cilik telah membentak : “Jangan kurang ajar kepada nonamu!”

Semula Cie Kiat mau berdiam diri saja, membiarkan si gadis dapat memukul tubuhnya itu.

Tetapi dia jadi kaget sendirinya waktu pukulan si gadis telah dekat sekali dengan sasarannya. Dia merasakan samberan tenaga dalam si gadis yang luar biasa besarnya!

Kalau memang Cie Kiat membiarkan dirinya dihajar oleh tangan si gadis, mungkin tulang rusuknya itu bisa hancur berantakan.

Maka dari itu, dengan cepat Cie Kiat jadi menarik pulang tangannya. Dia jadi, batal mencekal tangan gadis itu untuk diajaknya keluar.

Dengan menjejakkan kakinya, tubuh Cie Kiat telah melambung tinggi sekali, sehingga dengan begitu, pukulan tangan si gadis cilik jadi jatuh ditempat kosong.

Tetapi gadis cilik itu tidak berhenti sampai disitu, dia telah menggerakkan kedua tangannya itu keatas, menyerang kearah Cie Kiat terus yang dirangseknya.

Tubuh Cie Kiat sedang meluncur terus, maka did jadi kaget sekali waktu tahu- tahu merasakan si gadis telah menyerang dirinya dengan serangan-serangan yang beruntun.

“Rubuhlah kau!!” si gidis cilik berulang kali telah mengeluarkan suara bentakan begitu.

Juga tangannya tak hentinya menyerang Cie Kiat.

Biarpun Cie Kiat liehay biar dia mempunyai kepandaian yang tinggi, tetapi baru dapat mengelakkan satu serangan gadis cilik itu, lalu sudah disusul dengan serangan lainnya secara terus menerus, hal itu membuat Cie Kiat jadi kewalahan juga.

Memang kalau dinilai dari ilmu silat yang dimiliki oleh gadis cilik itu tak seberapa kalau memang dibandingkan dengan kepandaian yang dimiliki oleh Cie Kiat.

Tetapi cara menyerang dan ilmu ringan tubuh dari si gadis cilik ini memang benar-benar sangat luar biasa dan aneh sekali.

Itulah yang membuat Cie Kiat jadi agak bingung.

Serangan yang biasanya digulakan oleh jago silat sebagai landasan dari penjagaan diri, untuk bagian dalam, maka gadis cilik itu malah telah menyerang bagian luar dari Cie Kiat, sedangkan bagian dalam dari gadis cilik itu tidak ada penjagaan sama sekali.

Cara menyerang dan menangkis atau mengelakkan diri dari gadis itu terbalik dari kebabyakan orang-orang yang mengerti ilmu silat.

Harus diketahui, biarpun didaratan Tionggoan terdapat banyak sekali pintu-pintu perguruan ilmu silat, tetapi sebelumnya ilmu silat didaratan Tionggoan itu berasal dari sumber yang sama dan satu tak ada perbedaan.

Hanya karena orang yang menciptakannya itu memecahkan dan memilih jalannya masing-masing, maka dengan sendirinya ilmu silat itu jadi berkembang, dan bermacam-macam, bentuk dan posisi.

Tetapi kalau memang dilihat dari segi intinya, maka ilmu silat yang ada didaratan Tionggoan ini sebetulnya semuanya itu sama tak ada perbedaan. Itulah yang membuat heran Cie Kiat.

Walaupun usia si gadis cilik itu masih sangat kecil, toh cara menyerang dan menangkis serangan orang, gadis cilik ini menggunakan ilmu silat dari tingkatan tinggi. Juga cara mengelakkan serangan orang serta menyerang lawannya, gadis ini telah menggunakan ilmu silat yang cara menyerangnya terbalik dari kebiasaan yang digunakan oleh jago-jago silat didaratan Tionggoan.

Tubuh Cie Kiat sedang meluncur turun pada saat itu, atau si gadis cilik telah menyerangnya dengan tenaga serangan yang kuat sekali.

Yang mengherankan Cie Kiat, tenaga serangan gadis cilik inilah yang kuat luar biasa, yang menyerang dia dengan angin serangan yang santer.

Sebetulnya Cie Kiat tidak memandang sedikitpun kepada gadis cilik ini. Namun setelah merasakan beberapa kali serangan si gadis cilik yang datangnya secara beruntun, maka mau tak mau dia jadi berlaku hati-hati.

Disebabkan itulah, disaat tubuhnya sedang meluncur turun, dan disaat dia tengah diserang oleh beberapa serangan yang beruntun dari si gadis cilik, maka Cie Kiat telah memutar tangan kirinya setengah lingkaran. Pada saat itu tubuh Cie Kiat tengah berada diudara, maka dia telah berputar dengan tenaga yang dikerahkan dari perutnya, dari Tan-tian, pusat, maka tenaga Lwee-kang itu tersalur ditangannya, tersalur dengan kuat sekali, waktu dia memutar setengah lingkaran tangan kirinya, maka tenaga Lwee-kang itu telah melindungi dirinya dari segala serangan yang dilancarkan oleh gadis cilik itu.

Dan membarengi dengan itu, maka tangan kanan dari Cie Kiat telah mendorong kearah muka.

Terdengar gadis cilik itu mengeluarkan seruan tertahan, tetapi gadis itu tidak mengalami apa-apa, dia hanya melompat menjauhi Cie Kiat.

Memang benar tadi Cie Kiat mendorong hanya dengan menggunakan tiga bagian tenaga dalamnya, karena dia takut nanti mencelakai gadis cilik itu.

Tetapi dengan dapatnya gadis cilik itu menghindarkan diri dari dorongan itu tanpa menderita apa-apa, dia hanya mengeluarkan seruan tertahan, dan masih dapat melompat kebelakang, maka itu dapat menunjukkan bahwa si gadis cilik ini memang hebat!

Inilah yang membuat jago-jago di dalam ruangan itu jadi heran dan bingung!

Kalau memang si gadis ini mempunyai seorang guru dan memperoleh didikan dari guru yang liehay bagaimanapun, tak nantinya dia bisa mempunyai kepandaian seperti apa yang dimilikinya sekarang ini.

Maka dari itu, keadaan gadis yang baru muncul ini benar-benar menimbulkan keanehan bagi diri semua jago-jago didalam ruangan itu.

Lay Tat dan To-hun Koay-jin dengan sendirinya berhenti bertempur.

Mereka hanya memandang kearah Cie Kiat dan gadis cilik yang luar biasa dan bisa membuat jago-jago didalam ruangan itu heran sekali. Pada saat itu, disaat gadis cilik itu tengah melompat kebelakang maka Cie Kiat telah meluncur turun dan dapat berdiri lagi diatas lantai.

Dia memandang gadis cilik itu dengan bibir tersenyum manis.

Biarpun heran, tetapi Cie Kiat juga kagum sekali bahwa didalam usia yang sekecil itu si gadis cilik bisa mempunyai kepandaian yang begitu luar biasa.

Sedangkan gadis cilik itu, yang dipandang oleh Cie Kiat dengan tatapan mata ramah, malah telah mendelik menatap kearah Cie Kiat.

“Kau....... kau telah menghinaku!” kata gadis cilik itu dengan suara yang nyaring, mukanya cemberut menandakan bahwa dia mendongkol sekali, juga dari sikapnya yang kekanak-kanakan itu bisa membuat orang tertawa kalau dia sedaang marah. “Kau akan dihukum oleh majikanku! Hmmmm....... apakah dengan menghina diriku begini kau kira urusan bisa habis sampai disini saja?”

Cie Kiat tersenyum mendengar pertanyaan gadis cilik itu.

“Sabar Siauw Sio-cia......!” kata Cie Kiat dengan sabar, karena dia menganggap bahwa dia memang sedang berhadapan dengan seorang gadis yang berusia diantara sembilan tahun. Dan lagi pula Cie Kiat memang menyukai gadis cilik itu, yang mempunyai muka menyenangkan sekali. “Siapakah nama majikanmu itu? Dan kau ini diutus kemari untuk melakukan apa?”

Gadis cilik itu tertawa dingin.

Tahu-tahu sebelum dia menjawab pertanyaan Cie Kiat, dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat kearah Cie Kiat, sambil mencelat begitu, tahu-tahu ditangannya telah tercekal pedang pendek yang mungil, yang digerakan menyerang kearah muka Cie Kiat.

Hal ini mengejutkan Cie Kiat.

Dia tidak menduga sedikitpun bahwa gadis cilik itu dapat bergerak begitu cepat, dan malah menggunakan sebatang pedang yang tajam itu menyerang kearah mukanya!

Untung saja Cie Kiat mempunyai kepandaian yang tinggi dan sempurna, maka dengan cepat dia telah melompat menepi.

Waktu dia melompat kepinggir, ujung pedang sebetulnya telah berada dekat sekali dengan kulit mukanya.

Hal itu menunjukkan betapa cepatnya si gadis cilik menggerakkan tangannya.

Sebetulnya Cie Kiat dapat untuk merebut pedang gsdis cilik itu, tetapi sengaja dia tidak mau melakukannya, karena dia takut nanti membuat gadis cilik itu jadi bergusar dan bisa-bisa menangis, dan hal itu akan jadi berabe untuk dirinya sendiri. !

Si gadis cilik itu telah meluncur turun kelantai kembali.

Tetapi begitu ujung kakinya dapat menyentuh lantai, dia telah mengenjotkan tubuhnya lagi. Badannya itu melayang dengan cepat dan gesit sekali.

Dia mencelat kearah Cie Kiat lagi, yang kala itu juga baru bisa berdiri tetap. Cie Kiat agak terkejut melihat kegesitan si gadis cilik ini.

Dia tidak menyangka bahwa ilmu entengi tubuh dari si gadis cilik ini hampir bisa disamakan dengan kecepatan seekor burung rajawali.

Kali ini Cie Kiat tidak berani berlaku ayal, dia tidak barani main-main lagi, dengaa cepat dikala pedang gadis cilik itu menyambar kearah bahunya, maka Cie Kiat telah mengulurkan tangannya, jari tangannya terpentang, antara jari tengah dengan jari telunjuk.

Cie Kiat bermaksud untuk menjepit tubuh pedang gadis cilik itu.

Tetapi gadis cilik itu juga cepat sekali gerakannya, matanya juga sangat tajam.

Dia tidak mau membiarkan pedangnya itu kena di jepit, maka dengan cepat dia telah menarik pulang pedangnya, dan tahu-tahu dia bukannya mundur kebelakang, melainkan telah menubruk dan menyerang dengan pedangnya kearah perut Cie Kiat. Sekarang dia menyerang dengan cara menusuk!

Cie Kiat tidak menyangka bahwa gadis ini bisa menyerang dirinya dengan serangan-serangan yang nekad.

Cie Kiat sampai mengeluarkan seruan tertahan, dia kaget benar. Untung saja dia mempunyai gerakan yang cepat dan gesit, sehingga perutnya tidak sampai tertusuk oleh mata pedang gadis cilik itu !



HAL ITU juga telah mengejutkan jago-jago yang didalam ruangan tersebut, termasuk To-hun Koay-jin dan Oen Lay Tat, si Kauw-cu dari Pian-sia-kay.

Yang mereka buat kaget bukan karena perut Cie Kiat hampir tertusuk oleh pedang gadis cilik itu.

Hal itu tidak luar biasa, tetapi kepandaian si gadis yang benar-benar membuat mereka jadi tercengang.

Biar bagaimaia didalam usia yang sekecil itu, gadis cilik tersebut telah mempunyai kepandaian ilmu silat yang begitu luar biasa benar-benar membuat jago- jago didalam ruangan tersebut jadi heran berbareng kagum.

Kalau memang dinilai kepandaiannya, maka kepandaian gadis cilik itu tidak berada disebelah bawah dari kepandaian jago-jago yang ada didalam ruangan tersebut. Gadis cilik itu telah mempunyai kepandaian yang begitu tinggi, lalu bagaimana dengan majikannya yang disebut oleh gadis cilik itu dengan sebutan Wang Sio-cia itu? Tentu kepandaian dari Wang Sio-cia itu luar biasa sekali.

Pada saat itu Cie Kiat jadi repot menghindarkan diri dari setiap serangan yang dilancarkan oleh gadis cilik itu dengan cara yang beruntun sekali.

Kalau memang Cie Kiat mau, dia bisa menjatuhkan dan merubukkan gadis cilik tersebut didalam satu atau dua jurus saja, dan dia bisa melukai atau mencelakai diri gadis cilik itu. Tetapi Cie Kiat tidak sampai hati untuk melakukannya, karena dia menganggap gadis cilik itu memang masih terlampau kecil sekali, maka tak pantas kalau dia menurunkan tangan keras tertahap diri gadis cilik tersebut.

Biar bagaimana Cie Kiat adalah seorang berjiwa pendekar berhati luhur, dan berbudi kepada siapa saja, tak nantinya dia akan mencelakai gadis cilik yang berusia baru berkisar diantara sembilan tahun itu.

Tetari setiap serangan dari si gadis cilik benar-benar membuat Cie Kiat jadi kewalahan sekali.

Dia selalu berusaha mengelakkan setiap serangan gadis cilik itu, karena dia tidak mau kalau memang sampai tubuhnya itu menjadi sasaran yang empuk dari mata pedang gadis cilik yang mempunyai kepandaian agak lumayan itu.

Jago-jago yang berada didalam ruangan tersebut juga jadi menyaksikan terus dengan penuh perhatian, mereka heran berbareng kagum kepada gadis cilik itu.

Tetapi lama kelamaan Cie Kiat jadi jemu juga menghadapi setiap serangan dari gadis cilik itu. Kalau memang dia melayani terus dengan membiarkan gadis cilik itu melancarkan serangannya, maka dirinya tentu akan menghadapi gadis cilik itu terus menerus, dan hal itu berarti dia akan direpotkan terus oleh gadis cilik itu.

Disaat gadis cilik tersebut melancarkan tusukan pada perut Cie Kiat sambil mengeluarkan suara bentakan, maka Cie Kiat telah mengulurkan tangannya. Jari telunjuk dan jari tengahnya itu terjulur akan menjepit pedang gadis cilik tersebut.

Gadis cilik yang aneh dan mempunyai kepandaian lumayan tersebut, jadi terperanjat waktu melihat bahwa lawannya ingin merebut pedangnya.

Cepat-cepat dia memutar tangannya, dia bermaksud akan menarik pulang pedangnya itu.

Tetapi terlambat.

Pedangnya itu telah kena dijepit oleh Cie Kiat, jari telunjuk dan jari tengah ditangannya itu telah menjepit dengan keras.

Gadis cilik itu mencelos hatinya.

Dia berusaha menarik agak keras pedang itu.

Atau, dia merasakan hatinya lebih kaget dari semula.

Hal itu disebabkan pedangnya itu masih terjepit Cie Kiat. Dia tidak bisa menarik pulang, karena pedangnya terjepit oleh jari tangan Cie Kiat seperti juga terjepit oleh jepitan besi.

Hal ini membuat gadis cilik tersebut jadi gugup bukan main.

Dengan mengeluarkan seruan keras, gadis cilik ini telah berusaha menarik lagi. Tetapi tetap saja tidak terlepas.

Wajah gadis ini jadi berobah merah padam, dia mendelik kepada Cie Kiat. “Lepaskan pedangku!” bentak gadis cilik itu dengan suara yang nyaring.

Tetapi Cie Kiat tidak mau melepaskannya.

Anak muda she Lie ini malah telah tersenyum dengan sikap yang tenang. “Siauw Sio-cia, kau terlalu galak!!” kata Cie Kiat kemudian dengan suara yang

sabar. “Dengan pedang ini kau telah melancarkan serangan-serangan yang berbahaya dan telengas. Coba kalau memang orang yang kau serang itu tidak mempunyai kepandaian silat yang lumayan, bukankah orang akan menderita luka-luka?”

Wajah si gadis cilik jadi berobah merah padam, dia tampaknya mendongkol sekali.

“Kau mau melepaskan pedangku atau tidak?” bentak gadis dengan suara yang seram.

Cie Kiat tersenyum lagi.

Kalau memang aku tidak mau melepaskannya, apa yang akan kau lakukan?” tanya Cie Kiat acuh tak acuh, seperti juga dia mengejek.

Gadis cilik itu jadi tambah mendongkol, dia sampai mengeluarkan suara seruan gusar.

Dia mengerahkan tenaganya untuk menarik terlepas pedangnya dari dijepitan jari tangan Cie Kiat.

Tetapi mana bisa dia menarik pulang pedangnya dari jepitan tangan Cie Kiat yang mempunyai Lwee-kang kuat sekali?!

Jangankan dapat menarik pulang, sedangkan bergoyang saja tidak.

Wajah gadis cilik itu jadi berobah tambah merah padam, rupanya dia gugup dan gusar.

“Lepaskan!” bentaknya.

Cie Kiat melawannya dengan senyum.

“Kau mau lepaskan atau tidak?” bentak gadis cilik itu gusar. “Tidak!” sahut Cie Kiat.

“Lepaskan!” “Tidak!!” Gadis cilik itu menarik pedangnya lagi, keras sekali tarikannya itu. Tetapi pedang itu tidak bergeming.

Wajah gadis cilik itu jadi berobah tambah merah padam, dia hampir menangis. “Lepaskan!!” teriaknya lagi dengan suara yang penasaran benar.

“Sebelum kau mau mengakui kau bersalah dan berjanji tidak akan sembarangan menyerang orang, maka pedangmu ini tidak akan kukembalikan! Malah aku akan mematahkannya!!” kata Cie Kiat.

Wajah gadis itu jadi berobah tambah merah padam.

“Lepaskan! Kataku lepaskan! Kalau memang Wang Sio-ciaku mengetahui, tentu kau akan dicincangnya dijadikan perkedel!!” teriak si gadis seperti kalap, dia juga tampaknya sangat gugup sekali.

“Baiklah kalau memang kau berkepala batu tidak mau berjanji untuk tidak sembarangan menyerang orang lagi, maka aku akan mengambil tindakan yang tegas!” kata Cie Kiat dengan mendongkol, karena dia melihat, walaupun usia si gadis cilik ini masih sangat muda, masih kecil, toh dia kepala batu benar, keras hati dan tidak mau mengalah.

Semua jago-jago jadi memandang dengan tertarik, karena mereka ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Cie Kiat. Mereka jadi menduga-duga apa yang akan dikerjakan oleh Cie Kiat untuk membuat si gadis cilik itu menyerah.

Begitu juga gadis cilik yang luar biasa itu, dia jadi mengawasi Cie Kiat dengan pandangan mata mendongkol, gusar, dan bercampur dengan perasaan gugup serta rasa takut, yang terpancar dari matanya.

“Bagaimana? Kan mau mengakui bersalah atau tidak?” tegur Cie Kiat sambil mengawasi gadis cilik itu dengan sorot mata yang tajam.

Cie Kiat juga masih menjepit tubuh pedang gadis cilik itu dengan menggunakan kedua jari tangannya.

Gadis cilik itu jadi tambah gusar dan mendongkol. Tampak wajahnya merah padam.

“Kau masih tidak mau mengaku bersalah?” bentak Cie Kiat dengan suara yang sengaja dikeraskan. Dia sengaja masih menjepit pedang gadis cilik itu, karena dia tahu, bahwa si gadis cilik itu tentu tidak akan melepaskan pedangnya begitu saja, gadis cilik ini tentu tidak akan membiarkan pedangnya direbut oleh Cie Kiat. Maka dari itu, Cie Kiat sengaja mempermainkan sesaat lamanya gadis cilik ini.

Tetapi bukannya menyahuti, gadis cilik itu telah mengerahkan tenaganya untuk menarik pulang pedangnya itu dari jepitan tangan Cie Kiat.

Hal itu membuat Cie Kiat jadi tersenyum dengan sendirinya.

“Kau benar-benar berkepala batu!” kata Cie Kiat sambil mengerahkan tenaganya pada kedua jari tangannya, dia memutar sedikit, maka terdengar suara ‘takkkkkkk’ yang cukup keras, pedang itu telah patah! Begitu pedang patah, pedang si gadis cilik itu, maka wajah si gadis cilik kontan jadi merah padam, kemudian berobah pucat, tubuhnya menggigil.

“Kau.... kau.... kau telah mematahkan pedang pemberian majikanku?” bentak gadis cilik itu dengan suara gemetar disebabkan perasaan kaget, gusar dan mendongkol.

Cie Kiat tersenyum.

“Kau adalah seorang gadis cilik yang benar-benar kepala batu!” kata Cie Kiat dengan suara yang sabar. “Ini baru pedangmu yang kupatahkan, tetapi kalau memang kau masih tidak mau mengalah dan tidak mau merobah kelakuanmu yang selalu menyerang orang dengan serangan-serangan yang telengas, hmmm..... dirimu sendiri yang akan kulukai dan kupatahkan juga batang lehermu!!”

Tubuh gadis cilik itu tambah menggigil rupanya dia murka bukan main.

Air mata tampak menitik turun dari kelopak matanya, tahu-tahu dengan mengeluarkan seruan kalap gadis cilik ini telah menubruk Cie Kiat, dia menyerang dengan menggunakan pedangnya yang telah buntung itu.

“Akan kuadu jiwa denganmu..... akan kuadu jiwa denganmu!!” teriak gadis ini dengan suara yang nyaring diantara tangisnya, tampaknya dia kalap sekali dia menyerang dengan membabi buta kearah Cie Kiat dengan menggunakan pedangnya yang telah buntung ujungnya itu.....

*

* *

SEBETULNYA Cie Kiat merasa senang dan menyukai gadis cilik ini.

Tadi waktu dia telah mematahkan pedang si gadis cilik, dia menyesal sendirinya.

Tak seharusnya dia merusak benda milik gadis itu.

Apa lagi dia melihat gadis cilik itu telah mengucurkan air mata, telah menangis menjadi kalap menyerang dirinya, Cie Kiat jadi tambah menyesal.

Tetapi disebabkan gadis cilik itu telah menyerang dengan menggunakan pedang yang telah patah itu, maka Cie Kiat juga tidak bisa berdiam diri saja.

Cepat-cepat dia melompat menjauhi gadis cilik itu.

Dengan begitu, tikaman gadis cilik tersebut dengan pedang patahnya itu jadi jatuh pada tempat kosong.

Tetapi gadis cilik itu rupanya memang telah kalap benar, dia telah melompat dan menerjang kearah Cie Kiat lagi.

Cie Kiat terpaksa mengelakkan lagi.

Dengan jalan melompat dan menjejakkan kakinya, Cie Kiat selalu dapat menjauhkan diri gadis cilik itu. Tetapi gadis cilik tersebut tetap tidak mau mengerti, dia telah menyerang terus menerus tanpa mengenal lelah.

Sambil menyerang begitu, dia juga menangis terus, dan Cie Kiat jadi tambah tidak enak hati.

Tetapi tikaman si gadis cilik itu memang tidak bisa dipandang enteng dan tidak boleh dibuat main-main.

Sekali saja dia tertusuk, berarti dirinya akan cidera, sebab setiap serangan dari gadis itu telengas dan jatuh pada setiap jalan darah yang berbahaya ditubuh.

Jago-jago lainnya yang melihat cara pertempuran yang pincang begitu, jadi menyaksikan dengan penuh perhatian. Mereka tidak ada yang bersuara.

Hanya didalam hati mereka masing-masing mereka jadi mengakui bahwa sebetulnya kepandaian dari gadis cilik itu tidak rendah dan mungkin juga tidak berada disebelah bawah kepandaian mereka sendiri !

Sedang si gadis cilik itu menyerang terus menerus kepada Cie Kiat, tiba-tiba terdengar suara orang berkata dengan suara dan nada yang lembut : “Janganlah suka mempermainkan seorang anak kecil yang tidak berdaya!”

Mendengar suara itu, gadis cilik itu telah melompat keluar dari gelanggang pertempuran.

“Wang Kouw-nio......!” teriaknya sambil berlari kepintu, dimana tampak berdiri seorang gadis dengan wajah yang cantik dan sikap yang agung sekali.

Usia gadis itu mungkin baru delapan belas tahun, tetapi cahaya dan sinar matanya menandakan bahwa dia mempunyai kepandaian silat dan Lwee-kang yang luar biasa sekali, tinggi dan sempurna.

“Wang Kouw-nio!!” teriak si gadis cilik lagi waktu dia telah berada didepan gadis itu, yang dipanggilnya dengan sebutan Wang Kouw-nio, nona Wang. “Dia.....

dia...... telah menghina budakmu ini! Dia telah mematahkan pedang pemberian Kouw-nio!

Gadis itu menatap kearah yang ditunjuk oleh gadis cilik itu, dia memandang Cie Kiat dengan tatapan mata yang dingin.

“Minggir kau!” katanya kemudian dengan suara yang hambar, kepada gadis cilik itu, yang mana sudah lantas gadis cilik itu berdiri kepinggir.

Gadis yang dipanggil dengan sebutan Wang Kouw-nio itu telah melangkah menghampiri kearah Cie Kiat.

Sambil melangkah begitu, matanya juga telah menyapu kearah jago-jago lainnya yang berkumpul didalam ruangan tersebut, juga dia memandang kearah To-hun Koay-jin dan Oen Lay Tat.

Semua orang berdiam diri, mereka seperti terpengaruh oleh suatu kekuatan yang luar biasa, yang membuat mereka jadi berdiri seperti orang kesima. Mereka tenggelam dan kagum akan kecantikan wajah gadis itu. Muka Wang Kouw-nio tersebut benar-benar cantik, dia mempunyai potongan alis yang disebut alis bulan sabit, hidungnya yang disebut hidung Tiang-pie-kie, bibirnya adalah bibir yang disebut merah delima merekah dan dagunya yang lancip bulat itu disebut sebagai dagu gurun, matanya yang memancarkan cahaya yang bening itu disebut mata bintang kejora, maka dari itu, kecantikan yang dimiliki oleh gadis ini memang sulit untuk dicari duanya didalam dunia ini!

Hanya saja, dari cahaya dan sinar matanya, maka orang akan segera mengetahui bahwa gadis tersebut mempunyai sifat dan perangai yang keras.

Gadis ini, Wang Kouw-nio, tentu tidak akan mau mengalah kepada siapa saja.

Dia pasti tidak akan mau sudah kalau memang urusan dirinya belum selesai dan dapat diselesaikan.

Itulah sifat-sifat si gadis yang tampak dan terlihat dari sinar matanya. Sekarang dikala dia menghampiri Cie Kiat, sinar matanya itu tajam sekali.

Cie Kiat berdiri diam ditempatnya, dia seperti juga tenggelam dan terpaku oleh kecantikan yang dimiliki oleh Wang Kouw-nio tersebut. Kalau Siang Kie Lan mempunyai wajah yang cantik, tetapi gesit dan dapat menggiurkan hati lelaki, maka kecantikan Wang Kouw-nio ini berbeda. Wang Kouw-nio ini tampaknya ayu dan agung sekali, sehingga orang tidak berani mengkhayalkan sesuatu didalam kecantikan yang dimiliki oleh Wang Kouw-nio tersebut. Maka dari itu, biarpun Siang Kie Lan mempunyai kecantikan yang luar biasa, toh kecantikannya itu tidak bisa memenangkan kecantikan yang dimiliki oleh kecantikan yang dimiliki oleh Wang Kouw-nio tersebut.

Kedua gadis ini masing-masing mempunyai keistimewaan mereka sendiri- sendiri.

“Kau telah menghina budakku!!” kata gadis itu, Wang Kouw-nio, dengan tiba- tiba dan suara yang agak keras, waktu dia telah berada didepan Cie Kiat. “Kau telah berani mematahkan pedang pemberianku pada budakku itu, menandakan kau sangat kurang ajar sekali, maka dari itu, perlu kiranya aku memberi hajaran kepadamu!”

Belum lagi Cie Kiat menyahuti, dan belum lagi dia memberikan penjelasan, tangan si gadis telah bergerak sedikit.

Tampak melesat cahaya bening yang kecil, yang menyambar dengan cepat sekali.

Cie Kiat segera juga merasakan benturan dari hawa panas yang luar biasa. Hati anak muda ini jadi terkejut sekali.

Senjata apa yang telah dilontarkan oleh gadis itu, sehingga dia merasakan samberan hawa panas, seperti api yang membakar kulitnya.

Dengan terjengkit, Cie Kiat berusaha mengelakkan samberan dari senjata yang dilontarkan oleh gadis itu, oleh si Wang Kouw-nio.

Entah senjata rahasia apa yang telah disambitkan oleh Wang Kouw-nio itu, sehingga menimbulkan hawa yang panas sekali. Cie Kiat sendiri jadi terperanjat bukan main, dia tidak menduga bahwa dirinya akan diserang begitu.

Cie Kiat menduga bahwa senjata kecil yang dilontarkan oleh Wang Kouw-nio itu, yang putih kecil melesat menyambar kedirinya, adalah senjata rahasia yang mungkin juga beracun. Maka dari itu Cie Kiat tidak berani main-main.

Dia dapat mengegoskan samberan senjata rahasia yang berwarna putih itu, tetapi waktu lewat disisi tubuhnya, Cie Kiat merasakan hawa samberan senjata rahasia itu yang panas menjerupai api!!

Hal itu mengejutkan Cie Kiat, dia sampai melompat menjauhi tempat itu lagi!

Senjata itu meluncur terus, dan menyambar tiang yang ada diruangan itu. “Taakkkk!” tiang itu terhajar senjata rahasia yang disambitkan oleh Wang

Kouw-nio tersebut.

Mata semua jago-jago yang ada didalam ruangan itu jadi mengeluarkan seruan tertahan, dan Cie Kiat juga jadi menitikkan keringat dingin, karena mereka semuanya menyaksikan, waktu membentur tiang itu, maka senjata rahasia yang berwarna putih serta kecil itu telah memercikkan api, dan didalam waktu yang seketika itu juga tiang tersebut telah hangus oleh korban api. Untung saja tiang tersebut terbuat dari batu seluruhnya, sehingga tidak sampai termakan oleh api.

Tetapi bisa dibayangkan, kalau memang tubuh Cie Kiat yang kena kesamber oleh senjata rahasia yang aneh dari gadis itu, tentu tubuh Cie Kiat akan terbakar!

Maka dari itu, semua orang jadi menggidik.

Cie Kiat memandang gadis itu, Wang Kouw-nio, dengan sinar mata yang bertanya-tanya.

“Hmmmm...... pantas saja kau berani menghina orangku, nyata sekali kau mempunyai kepandaian yang lumayan!” kata Wang Kouw-nio dengan wajah yang dingin tanpa ada seulas senyum dibibirnya, tetapi tetap cantik. “Tetapi jangan harap sekarang kau bisa memperoleh pengampunan dan terlolos dari Ho-sin-tan, pil api, yang akan membakar dirimu!”

Dan setelah berkata begitu, maka gadis tersebut telah menyentil dengan jari tangannya lagi, tampak melesat beruntun dari beberapa jurusan yang menyambar kearah Cie Kiat.

Seketika itu juga ruangan tersebut jadi panas sekali, karena senjata rahasia yang dinamakan oleh gadis itu dengan sebutan Ho-sin-tan, menyambar dengan cepat, dari jurusan atas, bawah, tengah dan jurusan bagian tubuh yang berbahaya lainnya.

Cie Kiat jadi kewalahan juga.

Kalau memang dia harus menghadapi gadis itu dengan menggunakan ilmu silat, mungkin dia tidak akan menyerah.

Tetapi kali ini gadis itu, Wang Kouw-nio, telah menggunakan senjata rahasia yang aneh sekali, yang dapat menimbulkan hawa panas dan kalau memang terkena serangan, senjata itu akan meledak dan menimbulkan api! Jangankan terserang oleh senjata itu, sedangkan orang-orang yang berada didalam ruangan itu, dapat merasakan samberan hawa panas.

Maka dari itu, dapat dibayangkan, kalau memang ada orang yang terserang oleh senjata itu, tentu seketika itu juga akan terbinasa oleh benturan senjata yang aneh tersebut.

Cie Kiat melihat bahwa senjata rahasia itu menyambar dirinya dari berbagai jurusan, dia jelas tak bisa melompat kekiri atau kekanan, karena jalan untuk melompat kearah itu telah tertutup oleh menyambarnya Ho-sin-tan lainnya dari jurusan itu!

Untuk menerima serangan tersebut, untuk manda terserang oleh senjata rahasia si gadis Wang Kouw-nio yang sangat berbahaya itu, jelas Cie Kiat tidak mau.

Maka dari itu, dengan mengeluarkan seruan yang panjang, dia telah mengenjotkan kakinya, tubuhnya mencelat, dan dia melambung keatas penglarian dari ruangan tersebut.

Dengan begitu, dengan sendirinya Cie Kiat dapat menghindarkan serangan senjata rahasia yang dapat menimbulkan hawa panas itu.

Terdangar suara ‘tak, tak, takkk, takkk, tak,’ beberapa kali, juga tampak pijaran api yang muncrat dari benda yang membentur dinding, senjata rahasia itu berjatuhan meluruk dilantai.

Semua orang yang menyaksikan hal itu jadi berdiri dengan kesima, mereka tidak tahu bagaimana seumpamanya senjata-senjata rahasia itu tadi menyambar kediri mereka.

Pada saat yang bersamaan, tubuh Cie Kiat telah meluncur turun kelantai lagi, dia telah berdiri dilantai dengan wajah yang tenang, tidak memperiihatkan kegugupannya sedikitpun.

Hanya wajah gadis yang dipanggil Wang Kouw-nio itu saja yang telah berobah hebat dia bergusar karena serangannya yang beruntun itu masih tidak bisa merubuhkan Cie Kiat.



BIASANYA kalau memang Wang Kouw-nio tersebut menyerang lawannya dengan menggunakan Ho-sin-tan, maka tak mungkin musuhnya itu dapat menghindarkan seluruh serangannya itu. Satu atau dua dari Ho-sin-tan pasti akan dapat mengenai tubuh lawannya, dan begitu kena terserang, maka lawannya itu akan kelabakan dan akan dapat dirubuhkan dengan mudah.

Tetapi kali ini sebutir Ho-sin-tan tak ada yang mengenai diri Cie Kiat. Malah tampaknya anak muda she Lie itu sangat tenang sekali waktu melompat turun.

Hal itulah yang telah menyebabkan Wang Kouw-nio jadi agak mendongkol.

Biar bagaimana, biasanya dia belum pernah ada yang biaa mengelakkan serangannya, sekarang dia seperti tidak dipandang sebelah mata, hal itu menyebabkan perasaan murka yang bergolak didalam hati gadis tersebut.

“Hmmmm kau masih bisa mengelakkan seranganku itu!!” kata si gadis yang

bernama Wang Kouw-nio, nona Wang itu, dengan suara yang dingin sekali.

Cie Kiat menatap gadis itu dengan wajah yang memperlihatkan keheranannya. “Kouw-nio.... ini..... ini. !” katanya agak gugup.

Si gadis tertawa dingin, wajah Wang Kouw-nio ini tawar sekali.

„Hmmmm...... alasan apa yang ingin kau kemukakan kepadaku?!” te gurnya dengan suara yang tawar sekali. “Kau telah menghina dan menurunkan tangan jahat mematahkan pedang dari budakku, maka dengan sendirinya, kau juga telah menantang diriku! “Hari ini biar bagaimana aku harus memberikan ganjaran yang setimpal kepadamu!!” dan setelah berkata begitu, maka dengan cepat tangan dari Wang Kouw-nio itu telah bergerak lagi.

Hebat kali ini, karena yang menyambar Cie Kiat bukanlah Ho-sin-tan, melainkan sehelai ikat pinggang dari si gadis, yang entah sejak kapan telah berada ditangannya.

Ikat pinggang itu menyambar dengan cepat kearah Cie Kiat, serangan tersebut mengandung tenaga Lwee-kang yang benar-benar kuat sekali, sehingga angin serangan dari ikat pinggang itu telah berseliweran disekitar ruangan tersebut.

Jago-jago silat lainnya yang berdiri dipinggiran tempat itu dapat merasakan samberan-samberan dari angin serangan angkin yang ditangan Wang Kouw-nio.

Cie Kiat melihat ujung dari ikat pinggang itu telah menyambar cepat sekali, mengincer jalan darah Siang-tie-hiatnya dibagian pundak.

Jalan darah itu adalah jalan darah yang cukup penting, karera bersangkut-paut dengan jalannya pernapasan.

Sekali saja jalan darah itu terserang, maka biarpun orang itu mempunyai kepandaian yang cukup tinggi, toh tetap saja dia akan rubuh terguling dengan menderita gempuran didalam.

Jalan darah Siang-tie-hiat ini merupakan jalan darah yang boleh disebut inti, dan sekali saja tertotok oleh senjata apa saja, maka dengan sendirinya dibagian dada dari orang yang tertotok jalan darahnya tersebut, orang itu akan menderita sesak napas seumur hidupnya.

Maka dari itu, Cie Kiat tidak mau membiarkan dirinya kena diserang oleh angkin gadis itu.

Dengan cepat Cie Kiat telah menjejakan kakinya, tubuhnya melayang melompat menjauhi tempat itu. Tetapi ujung angkin itu menyambar terus, seperti juga mempunyai mata, dan dengan cepat ujung dari angkin yang telah berobah keras itu, jadi mengincer jalan datah Pay-ma-hiat dari Cie Kiat.

Inilah kehebatan dari kepandaian Wang Kouw-nio itu, karena tanpa menarik pulang angkinnya itu, dia telah dapat melancarkan serangan lainnya lagi secara beruntun.

Tetapi Cie Kiat memang telah mempunyai kepandaian yang tinggi. Biar bagaimana dia tidak mau membiarkan dirinya itu terserang.

Dia tidak akan membiarkan dirinya menjadi korban dari totokan ujung angkin dari Wang Kouw-nio itu.

Sekarang, disaat dia mengelakkan serangan ujung angkin yang mengincer jalan darah Pay-ma-hiatnya, maka Cie Kiat tidak mengelak begitu saja.

Dia tidak berdiam diri, melainkan telah menggerakkan tangan kirinya dia bermaksud akan meacekal dan menangkap ujung dari angkin si gadis she Wang itu.

Wang Kouw-nio jadi agak terkejut waktu dia melihat si anak muda she Lie itu masih dapat menghindarkan serangannya itu dengan mudah, dan malahan dengan cepat tampak si anak muda she Lie itu telah bermaksud akan mencekal ujung angkinnya, mungkin juga mau merebutnya, maka dengan cepat Wang Kouw-nio telah menarlk pulang angkinnya, sambil menarik pulang angkinnya itu, maka dia telah mengeluarkan suara seruan yang nyaring sekali.

Wang Kouw-nio bukannya menarik pulang angkinnya itu untuk lantas berdiam

diri.

Dia telah menggerakkan tangannya, dia telah menyerang dengan serangan yang

sangat beruntun sekali.

Setiap serangan dari Wang Kouw-nio dengan angkinnya itu mengandung tenaga serangan yang besar sekali, juga ujung dari angkinnya itu sangat berbahaya sekali.

Harus diketahui, bahwa angkin adalah benda kain yang sifatnya lunak, tetapi ditangan seorang ahli Lwee-keh, tenaga dalam, maka angkin atau benda-benda lainnya yang lunak, bisa menjadi benda keras, keras melebihi baja.

Maka dari itu, sekarang angkin yang ada ditangan si gadis she Wang itu, yang dipakai sebagai senjatanya untuk menyerang Cie Kiat, telah berobah begitu liehay dan berbahaya karena, dengan angkinnya itu Wang Sio-cia telah menggerakkan tenaga Lwee-kangnya yang tersalur melalui angkinnya itu dan mengincer jalan darah dibagian tubuh Cie Kiat, jalan darah yang berbahaya dan bisa membahayakan jiwa dari Cie Kiat.

Tetapi Cie Kiat adalah seorang anak muda yang mempunyai kepandaian yang sangat tinggi sekali, dia juga tidak mau terlalu turun tangan keras kepada si gadis karena dia merasa tidak enak hati. Maka dari itu, lebih banyak Cie Kiat selalu mengelakkan diri dari setiap serangan-serangan Wang Kouw-nio yang dilancarkan dirinya. Pada saat itu, salah seorang jago diantara jago-jago yang ada didalam ruangan tersebut, telah menyeletuk : “Aha, sekarang anjing betina yang pura-pura galak itu akan dapat dirubuhkan si bocah!”

Dan yang menyeletuk itu adalah Soe Tiang Ho, itu seorang jago silat yang mempunyai nama tidak begitu besar didalam kalangan Kang-ouw.

Tetapi disebabkan sifat dari Soe Tiang Ho memang angkuh dan sering tinggi diri, dengan sendirinya dia selalu jadi menganggap rendah kepada orang lain.

Wang Kouw-nio jadi berobah wajahnya, tetapi dia tidak menghentikan serangan-serangannya terhadap diri Cie Kiat. Tangan kirinya saja yang bergerak, maka melesatlah beberapa butir dari Ho-sin-tan.

“Takkkkk!” terdengar suara yang keras sekali.

Tampak tubuh Soe Tiang Ho terpental dan orang ini menjerit mengaduh!

Kemudian tampak berjingkrak-jingkrak sambil menjerit-jerit seperti babi yang mau dipotong.

Ternyata dengan tidak terduga, Ho-sin-tan itu telah menghantam tepat orang she Soe tersebut. Sebetulnya, kalau memang Soe Tiang Ho mempunyai kepandaian yang tinggi, maka dia akan dapat mengelakkan serangan Ho-sin-tan tersebut, tetapi berhubung kepandaiannya memang tidak seberapa, dan lagi pula Wang Kouw-nio itu memang mempunyai kepandaian yang tinggi, maka dari itu, timpukan Ho-sin-tan oleh Wang Kouw-nio mengenai tepat beberapa jalan darah dari si orang she Soe itu.

Rasa dan hawa panas telah meliputi diri Soe Tiang Ho, orang she Soe ini seperti juga dibakar oleh kobaran api yang besar sekali.

Sambil menjerit-jerit, dia merubuhkan dirinya dilantai dan bergulingan.

Semua orang yang menyaksikan hal itu jadi kaget dan wajah mereka semuanya jadi pucat.

Bagaimana kalau memang mereka juga terkena serangan Ho-sin-tan dari Wang Kouw-nio itu?

Lama juga Soe Tiang Ho bergulingan begitu, dia bergulingan sambil menjerit- jerit dengan suara yang menyayatkan hati.

Kemudian setelah berselang sesaat, semua orang melihat Soe Tiang Ho melompat tinggi, lalu tubuhnya itu jatuh ambruk di lantai lagi dengan terbanting, tubuhnya kemudian mengejang kaku, berkelejetan sesaat, dan kemudian diam tak berkutik, karena nyawanya telah meninggalkan raganya.

Semua orang yang melihat hal itu jadi menggidik. Mereka tidak menduga sedikitpun bahwa Ho-sin-tan dari Wang Kouw-nio tersebut sangat ampuh dan begitu luar biasa.

Mereka juga tidak menduga bahwa Ho-sin-tan bisa menyebabkan kebinasaan orang she Soe.

Dengan sendirinya mereka jadi mengawasi Soe Tiang Ho yang sudah menjadi mayat. Hati mereka semuanya berdebar, juga mereka mengetahui sekarang, kalau Ho- sin-tan pasti mengandung racun api yang berbahaya sekali.

Karena, begitu terserang tak lama, Soe Tiang Ho seperti orang yang terbakar tubuhnya, menjadi hitam gosong, kemudian setelah hanya berselang beberapa menit saja, dia telah mengejang menjadi mayat.

Hal itu dapat membayangkan, betapa hebatnya racun dari Ho-sin-tannya gadis she Wang itu.

Budak dari Wang Kouw-nio, gadis cilik yang baru berusia diantara sembilan tahun, yang tadi pedangnya kena dipatahkan oleh Cie Kiat, tampak memandang mayat Soe Tiang Ho dengan puas, tampaknya dia sekarang agak senang, mungkin dia menganggap sakit hatinya agak terbalas.

Juga berulang kali dia mendengus mengeluarkan suara tertawa dingin, tampaknya sikap gadis cilik ini bangga sekali bahwa nona majikannya Wang Kouw- nio dapat merubuhkan dan membinasakan salah seorang lawannya.

Pada saat itu, Wang Kouw-nio dan Cie Kiat, masih terus juga bertempur.

Malah sekarang serangan-serangan dari Wang Kouw-nio semakin gencar dan hebat.

Setiap ujung dari kain ikat pinggangnya yang digerakkan menyerang Cie Kiat itu mengandung tenaga Lwee-kang yang kuat luar biasa.

Juga serangan dari Wang Kouw-nio itu terdiri dari berbagai serangan yang telengas dan mematikan, membahayakan jiwa sekali.

Namun, sebagai seorang jago yang mempunyai kepandaian sangat tinggi, biarpun pengalaman tempur belum begitu matang pada diri Cie Kiat, toh tetap saja Cie Kiat dapat menghadapi si gadis she Wang itu dengan baik sekali.

Malah anak muda she Lie ini semakin lama jadi semakin lenyap kesabarannya. Dia menantikan selalu setiap serangan dari Wang Koaw-nio.

Dan setiap kali pula Cie Kiat mengalah dia mengelakkan serangan-serangan itu.

Dikala dia sudah hilang kesabarannya, maka dia jadi mengambil keputusan untuk memberikan pelajaran sedikit kepada gadis itu, agar nanti tidak terlalu angkuh seperti sekarang ini.

Cie Kiat menantikan angkin dari gadis itu menyambar lagi kepadanya kala itu angkin Wang Kouw-nio menyambar dengan jurus ‘Soe-tay-gin-to’, cepat dan bertenaga angkin itu menyambar kearah Cie Kiat.

Dengan mengeluarkan suara dengusan dingin, Cie Kiat mengulurkan tangannya, dan dengan kecepatan yang luar biasa sekali dia telah mencekal ujung angkin si gadis! Malah Cie Kiat telah menariknya angkin itu sambil mengerahkan tenaga Lwee-kangnya, disertai oleh bentakannya. “Lepas !!”

*

* * WANG KOUW-NIO jadi terkejut sekali waktu melihat angkinnya itu kena dicekal oleh si anak muda she Lie, juga dia terkejut benar dan hatinya mencelos waktu Cie Kiat menarik angkinya dengan tenaga yang luar biasa besarnya. Si gadis sampai mengeluarkan seruan tertahan.

“Ihhhhhhhhhhh!” tanpa sesadarinya dia jadi mengeluarkan seruan begitu, dan dia berusaha menahan dan mencekal angkinnya itu kuat-kuat.

Tetapi tenaga tarikan dari Cie Kiat sangat kuat sekali.

Biar si gadis she Wang itu telah menahannya dengan tenaga yang kuat, toh tubuhnya jadi tertarik beberapa langkah kemuka.

Cie Kiat sendiri heran tarikannya dengan tenaga Lwee-kangnya itu tidak membawa hasil.

Dia melihat hanya si gadis yang terhuyung kedepan beberapa langkah.

Selain dari itu, angkin tersebut tidak terlepas atau tegasnya tidak dapat direbutnya!

Hal ini membuat Cie Kiat jadi penasaran juga.

Biar bagaimana dia adalah seorang anak muda, yang mempunyai ambekan besar, maka dengan sendirinya dia juga selalu ingin menang diatas angin.

Maka dari itu, melihat bahwa tarikannya yang pertama untuk berusaha merebut angkin she Wang itu telah gagal. Cie Kiat jadi mengerahkan tenaganya beberapa bagian lagi, dia menambah tenaga tarikannya.

Juga Cie Kiat kali ini telah menggunakan hampir tujuh bagian tenaga Lwee- kangnya.

Dia menariknya dengan keras sekali, sambil menarik begitu, dia membentak. “Lepaskan. ” dan anak muda she Lie ini membetotnya keras luar biasa.

Wang Kouw-nio jadi terkejut sekali.

Dia kaget bukan main karena tenaga tarikan dari Cie Kiat kuat sekali.

Biar bagaimana dia adalah seorang jago yang mengetahui sampai dimana kepandaian yang dimilikinya. Selama hidupnya belum pernah ada orang yang bisa menandingi kepandaiannya. Dan sekarang disebabkan tarikan dari Cie Kiat kuat sekali, menyebabkan dia jadi terhuyung kedepan.

Dan terakhir, dikala Cie Kiat menambah tenaga tarikannya itu, dikala Cie Kiat membetotnya dengan keras sekali, dengan tidak terduga tubuh Wang Kouw-nio jadi melesat terlambung keudara!

Hal ini terjadi karena disebabkan gadis she Wang itu juga mempertahankan angkinnya yang dicekalnya keras sekali, sehingga dikala Cie Kiat menariknya dengan keras, angkin itu jadi keras menegang, bagaikan selempang baja, kemudian disebabkan tenaga tarikan Cie Kiat kuat sekali, maka dengan tidak dapat ditahan tubuh gadis itu jadi terlempar begitu tinggi. Tetapi Wang Kouw-nio memang gesit dan mempunyai kepandaian yang tinggi.

Dia tetap tidak mau melepaskan angkinnya itu walaupun tubuhnya sedang terlempar begitu.

Malahan ditengah udara Wang Kouw-nio telah berpoksay.

Dan dikala tubuhnya melesat turun kelantai, tangan kirinya telah bergerak dengan cepat sekali, maka melesatlah menyambar Cie Kiat berapa butir Ho-sin-tan.

Hawa panas segera juga menyerang Cie Kiat.

Hal ini dilakukan oleh Wang Koaw-nio hanyalah untuk mencegah si anak muda she Lie ini melakukan serangan yang berangkai dikala dia sedang turun kelantai dan belum lagi dapat mengadakan penjagaan.

Benar saja, Cie Kiat terpaksa harus mengelakkan serangan dan samberan Ho- sin-tan, pil yang dapat menimbulkan hawa panas menyerupai api neraka itu.

Anak muda she Lie ini bergerak dengan cepat sekali, belum lagi samberam Ho- sin-tan itu dapat mengenai tubuhnya, maka dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya melambung tinggi, dikala sedang meluncur turun , dia juga menggerakkan kedua tangannya, dari telapakan tangannya itu menyambar serangan yang disertai oleh tenaga Lwee-kang. yang menyambar keras kearah gadis she Wang yang kala itu sudah dapas berdiri diatas lantai lagi.

Wang Kouw-nio terkejut dikala dia belum lagi dapat berdiri tetap, atau telah menerjang padanya samberan angin keras dari dorongan telapak tangan Cie Kiat.

Gadis she Wang tersebut sampai mengeluarkan seruan tertahan, hatinya mencelos,

Untung saja dia liehay dan kosen, sehingga dia tidak menjadi gugup menghadapi hal itu.

Cepat-cepat dia melompat kesamping kanan lagi, dia mengelakkan diri dari serangan dorongan Cie Kiat dengan melompat kesamping begitu karena dia tidak mau bentrok tenaga keras dilawan keras.

Dengan melompat kesamping kanan itu, maka tenaga serangan Cie Kiat jatuh di tempat kosong, dengan begitu, Wang Kouw-nio tidak usah terlalu repot membentur tenaga keras serangan Cie Kiat.

Sekarang keduanya sudah berdiri saling berhadapan lagi.

Mereka saling mengawasi dengan pancaran mata yang benar-benar jeli, karena keduanya tidak mau kalau memang sampai lawan mereka itu menyerang terlebih dahulu.

Lebih-lebih Cie Kiat, dia memang harus bersikap hati-hati dan waspada, sebab kalau memang sampai gadis she Wang itu menyerang dia dengan serangan yang membahayakan jiwanya, berarti akan menghadapi bahaya yang tidak kecil, lebih gadis she Wang itu dengan Ho-sin-tannya, berarti itu akan menambah bahaya yang cukup besar bagi dlri Cie Kiat. Oen Lay Tat, To-hun Koay-jin dan yang lain-lainnya telah memandang jalannya pertempuran antara Cie Kiat dengan nona Wang itu dengan pandangan yang tak berkedip. Mereka melihat kepandaian Cie Kiat luar biasa tingginya.

Dengan sendirinya mereka jadi kagum sekali kepada diri anak muda she Lie itu.

Sedangkan kalau dibanding-bandingkan antara kepandaian ilmu silat Cie Kiat dengan ilmu silat nona Wang itu, dengan sendirinya terpaut suatu perbedaan.

Hanya saja, disebabkan nona Wang itu telah menggunakan Ho-sin-tan, dengan sendirinya, dia jadi dapat menutup kelemahan dirinya sendiri.

Pada saat itu. Wang Kouw-nio telah melangkah selangkah demi selangkah perlahan-lahan, matanya memancarkan cahaya yang dingin tak berperasaan. Ujung angkinnya itu masih juga tercekal oleh Cie Kiat, jadi mereka masing-masing saling mencekal ujung angkin itu satu dengan yang lain, angkin yang agak panjang itu jadi tertarik tegang.

Mereka saling mengawasi dengan penuh kewaspadaan, karena mereka saling terikat dengan ujung angkin yang tercekal ditangan mereka itu.

Kalau memang salah seorang diantara mereka itu lengah, maka yang seorangnya dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk membuka serangan.

Wang Kouw-nio juga sebetulnya memang ingin membuka serangan lagi, dia tidak percaya bahwa dirinya kali ini tidak bisa merubuhkan Cie Kiat, karena seumur hidupnya gadis ini belum pernah bertemu dengan orang yang bisa menandingi ilmu silatnya.

Gadis cilik berusia sembilan tahun yang menjadi budak atau pelayan dari Wang Kouw-nio itu, mengawasi dari pinggiran, dia juga heran mengapa majikannya itu, Wang Kouw-nio itu, masih tidak mau menyerang dan merubuhkan musuhnya, padahal setahu gadis cilik berusia sembilan tahun itu bahwa nona majikannya itu mempunyai kepandaian yang tinggi dan kosen sekali !

Cie Kiat sendiri merasa heran.

Sebetulnya dengan kepandaian yang ada padanya, kalau memang Cie Kiat menginginkannya, maka dengan mudah dia bisa merubuhkan Wang Kouw-nio hanya didalam beberapa jurus saja, sebab kepandaian gadis itu masih berada dua tingkat dibawah Cie Kiat.

Persoalan dari Ho-sin-tan itu, sebetulnya mudah sekali dihadapi, hal itu bukan menjadi soal bagi diri Cie Kiat.

Sedang Cie Kiat berpikir begitu, sedang dia tenggelam didalam keadaan bimbang, tahu-tahu gadis she Wang itu telah menarik ujung angkin yang satunya, sehingga tubuh Cie Kiat hampir saja tertarik disebabkan tarikan yang tiba-tiba begitu......... dan tahu-tahu Wang Kouw-nio telah menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat cepat sekali kearah Cie Kiat. Pula sambil mencelat begitu, sambil menerjang, Wang Kouw-nio telah menggerakkan tangan kirinya menyerang Cie Kiat secara beruntun dengan belasan Ho-sin-tan! 

CIE KIAT terkejut juga melihat kenekadan dari gadis she Wang itu. Dia sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Tetapi berhubung orang telah menyerang dengan serangan yang begitu cepat dan nekad, dengan disertai oleh lemparan Ho-sin-tan, mau tak mau Cie Kiat harus menghadapinya.

Coba kalau memang lawannya itu seorang lelaki, dia tentu bisa menghadapinya dengan cara yang keras.

Tetapi berhubung lawannya ini seorang wanita, maka mau tak mau harus mengalah.

Itulah yang menyebabkan Cie Kiat selalu jadi tidak enak hati untuk menurunkan tangan keras.

Biar bagaimana, dia adalah seorang yang mempunyai kepandaian sangat tinggi sekali, maka dengan sendirinya dia bisa menghadapi setiap serangan dari lawannya.

Tetapi menghadapi Wang Kouw-nio ini, entah kenapa Cie Kiat jadi banyak mengalah.

Sekarang juga, dikala si gadis menerjang kepadanya sambil melontarkan belasan Ho-sin-tan, dia juga tidak menjadi terlalu gugup.

Dengan cepat Cie Kiat telah menggeser kakinya, kaki kirinya melangkah tiga kaki jauhnya, kemudian dia menggeser kaki kanannya setengah lingkaran, kemudian lututnya itu agak tertekuk sedikit, sehingga tubuh Cie Kiat agak doyong kebelakang, dia telah berhasil mengelakkan terjangan dari Wang Kouw-nio.

Malah belasan Ho-sin-tan yang dilontarkan oleh Wang Kouw-nio juga jadi mengenai tempat kosong, dan hal itu menyebabkan gadis she Wang tersebut jadi tambah mendongkol.

Lebih-lebih ujung dari angkinnya, ikat pinggangnya, itu masih tercekal oleh Cie Kiat, menyebabkan Wang Kouw-nio jadi tambah mendongkol.

Dengan penasaran, dan dengan mengeluarkan suara bentakan lagi, Wang Kouw- nio telah menerjang lagi kepada Cie Kiat. Terjangannya itu hebat sekali, mempunyai kekuatan yang hebat, karena disertai oleh tenaga Lwee-kang yang kuat benar, si gadis she Wang ini telah mengerahkan tenaga Lwee-kangnya itu tujuh bagian untuk merangsek Cie Kiat!

Melihat kenekadan si gadis she Wang itu, Cie Kiat jadi tidak enak hati. Dia takut kalau-kalau nanti gadis she Wang ini mengalami suatu cidera ditangannya, dan hal itu akan membuat dia jadi benar-benar tak enak hati terhadap diri gadis tersebut.

Maka dari itu, cepat-cepat Cie Kiat mengelakkan lagi. Dengan mudah dia dapat mengengoskan serangan-serangan si gadis.

Tetapi kalau memang keadaan ini berlarut-larut begitu, tentu akhirnya akan membawa suatu ketidak baikan juga. Satu kali nanti si gadis pasti akan terpukul atau terserang oleh Cie Kiat, dan semuanya akan berakibat sama, tidak enak hati!

Itulah, maka dengan cepat akhirnya Cie Kiat telah mengambil keputusan, biar bagaimana dia harus dapat merubuhkan gadis ini.

Dengan cepat, dikala si gadis tengah menyerang dia dengan menggunakan jari tangannya yang mau menotok jalan darah Pie-ho-hiatnya yang terletak dilengan, maka Cie Kiat dengan cepat memiringkan tubuhnya, sehingga totokan si gadis jadi lewat dan waktu tangan si gadis itu lewat disisinya, dengan cepat Cie Kiat mengulurkan tangannya, dia mencengkeram jalan darah Po-lo-hiatnya si gadis.

Tepat sekali cekalan Cie Kiat.

Seketika itu juga si gadis merasakan tangannya itu kesemutan, tubuhnya seketika itu juga jadi seperti lumpuh tak berdaya.

Wajah si gadis jadi berobah pucat pias. Dengan sendirinya pertempuran jadi terhenti.

Gadis cilik berusia sembilan tahun itu jadi kaget bukan main, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan waktu melihat nona majikannya itu kena tertawan oleh Cie Kiat.

Tanpa memikirkan keselamatan dirinya, tanpa memikirkan kepandaiannya yang tidak seberapa itu, gadis berusia sembilan tahun dan yang menjadi pelayan dari Wang Kouw-nio, telah menerjang kearah Cie Kiat dengan maksud akan menolong nona majikannya dari tangan Cie Kiat.

Tetapi kepandaian gadis cilik itu yang menjadi pelayan dari Wang Kouw-nio mana bisa menandingi kepandaian Cie Kiat, sedangkan nona majikannya itu saja sudah kena dirubuhkan oleh Cie Kiat dan malahan telah berhasil ditawan oleh anak muda she Lie tersebut.

Wang Kouw-nio mengerahkan tenaga dalamnya kearah lengannya untuk menutup jalan darahnya, agar dia terbebas dari cekalan tangan Cie Kiat.

Tetapi hal itu tidak dapat dilakukannya.

Selalu saja tenaga dalamnya itu akan mandek pada bagian bahunya, dan mengalir kebawah lagi.

Dia selalu menemui kegagalan.

Hal inl membuat gadis she Wang itu jadi kelabakan sekali. Tampak dia gugup bukan main. Pada saat itu pelayan si nona Wang, gadis berusia sembilan tahun itu, telak menerjang dan menubruk Cie Kiat dengan nekad sekali.

Tetapi Cie Kiat telah melepaskan cekalannya pada ujung angkinnya Wang Kouw-nio, dengan menggunakan tangannya yang sebelah itu, dia menangkis pukulan dari pelayannya Wang Kouw-nio.

Dengan cepat, begitu tangannya berhasil menangkis serangan pelayannya Wang Kouw-nio itu, maka Cie Kiat telah membarengi mencekal baju gadis cilik itu, dia mengangkat tubuh pelayan dari Wang Kouw-nio. kemudian melemparkannya, sehingga tubuh pelayan itu melayang dan ambruk dilantai.

Tetapi Cie Kiat bukan membanting dengan mengerahkan tenaga dalamnya. Dia juga tidak bermaksud jelek terhadap diri gadis cilik itu.

Karena dia membanting pelayannya nona Wang itu dengan disertai oleh Lwee- kangnya, yang mengendalikan jatuhnya tubuh si pelayan kecil itu.

Hal itu menyebabkan pelayan kecil itu jadi terbanting tanpa menderita perasaan sakit sedikitpun.

Tetapi rupanya si gadis cilik yang menjadi pelayan dari Wang Kouw-nio ini sangat penasaran sekali, dengan nekad dia telah menerjang lagi.

Padahal semua orang telah mengetahui, bahwa biarpun gadis cilik itu menerjang nekad dan berusaha membantu nona majikannya, tak nantinya dia dapat melakukan hal itu.

To-hun Koay-jin, Oen Lay Tat, dan jago-jago lainnya jadi mengawasi terus. Mereka jadi berdiam diri.

Sedangkan Oen Lay Tat telah mencekal pedang Tat-mo Kiamnya itu.

Kauw-cu dari Pian-sia-kay ini telah bersiap-siap, berjaga-jaga, kalau-kalau nanti ada yang berusaha akan merebut dan mencoba untuk memiliki pedang Tat-mo Kiam itu. Maka dari itu, Oen Lay Tat jadi mencekal pedang Tat-mo Kiam tersebut dengan erat-erat, dia juga agak jeri kalau-kalau nanti To-hun Koay-jin tahu-tahu menerjang kepadanya untuk merampas pedang Tat-mo Kiam itu!

Pertempuran yang baru saja berlangsung antara Wag Kouw-nio dengan Cie Kiat sebetulnya sangat menarik perhatian semua jago-jago yang berada disitu, apa lagi mereka melihat betapa pelayan kecil, si gadis cilik tersebut, telah menerjang begitu nekad ingin menolong nona majikan mereka, maka dengan sendirinya orang-orang itu jadi tertarik benar.

Tetapi, bagi Lay Tat, hal itu tidak menarik hatinya dan dia tidak mau menyaksikan lama-lama.

Otak dari Kauw-cu Pian-sia-kay ini berputar untuk berusaha mencari jalan keluar, guna meloloskan diri dari orang-orang yang ada didalam ruangan itu, menyelamatkan pedang Tat-mo Kiam yang sekarang berada ditangannya!

Wang Kouw-nio yang tercekal jalan darah Po-lo-hiatnya, yang menyebabkan tubuhnya jadi separti kejang kaku lumpuh tak bisa bergerak. Hal ini membuat si gadis she Wang itu jadi gugup bukan main.

Biar bagaimana dia sebagai seorang gadis yang mempunyai kepandaian yang luar biasa, yang sebelumnya tidak pernah menemui tandingannya, tak ada seorangpun yang bisa menandingi kepandaiannya, sekarang tahu-tahu dia tidak berdaya ditangan anak muda she Lie yang telah merubuhkan dan membuatnya jadi tak berdaya sama sekali.

Hal ini membuat si gadis jadi bergusar dan mendongkol secara berbareng, tetapi dia mendongkol dan bergusar untuk tidak berdaya.

Melihat pelayan kecilnya yang menerjang Cie Kiat untuk menolongi dirinya, dia jadi mengerahkan tenaga Lwee-kangnya lagi.

Disaat Cie Kiat sedang menjambak baju gadis cilik yang menjadi pelayan nona Wang ini, maka Wang Kouw-nio telah mengerahkan tenaga Lwee-kangnya pada lengannya. dia telah berusaha membendung dan membuka totokan jalan darah pada Po-lo-hiatnya.

Tetapi dia selalu menemui kegagalan.

Saking gugup dan mendongkol akhirnya dengan mengeluarkan seruan yang keras, dengan mengerahkan hampir seluruh dari kepandaiannya itu, Wang Kouw-nio telah mengerahkan tenaga Lwee-kangnya pada tangannya yang lain menyerang kearah rusuk Cie Kiat. Angkinnya, ikat pinggangnya, telah dilepaskan jatuh kelantai.

Cie Kiat kaget juga gadis she Wang ini masih bisa menggerakkan tangannya yang lainnya itu.

Karena kalau memang biasanya, orang telah kena dicekal Po-lo-hiatnya, tentu akan lumpuh dan tidak akan bisa menggerakkan tangan kakinya.

Tetapi mungkin si gadis memang mempunyai kepandaian yang cukup tinggi, maka dengan sendirinya dia masih bisa menggerakkan tangannya itu untuk menyerang guna membebaskan diri dari cekalan Cie Kiat pada Po-lo-hiatnya.

Cie Kiat sendiri terkejut, dia cepat-cepat berusaha mengegoskan hajaran tangan dari gadis she Wang tersebut, karena kalau memang sampai rusuknya itu kena dihajar oleh tangan si gadis, tentu akan hancur berantakan.

Dasarnya memang Cie Kiat kosen dan gagah sekali, maka dia bisa mengelakkan serangan dari Wang Kouw-nio dengan tetap mencekal tangan gadis itu.

Cekalan Cie Kiat pada Po-lo-hiat si gadis tidak dilepaskannya.

Gadis she Wang itu sangat penasaran sekali, dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, dengan mengeluarkan suara bentakkan yang keras sekali, maka tangannya bergerak lagi.

Kali ini yang menjadi sasarannya adalah biji mata Cie Kiat yang mau ditotok dan dioreknya keluar.

Inceran dari serangan si gadis she Wang tersebut memang benar-benar membahayakan sekali. Kali ini hebat sekali, kalau memang Cie Kiat lambat sedikit saja mengelakkan serangan itu, maka berarti dia akan menjadi orang bercacat seumur hidupnya. atau

akan menjadi orang buta!

Telengas sekali serangan gadis she Wang itu!

*

* *

KALI INI Cie Kiat tidak bisa mengelakkan begitu saja, anak muda she Lie ini tidak bisa mencekal terus jalan darah Po-lo-hiatnya Wang Kouw-nio. Kalau memang dia tidak mau melepaskan cekalannya pada jalan darah si gadis, berarti matanya yang akan menjadi korban dari totokan tangan Wang Kouw-nio.

Terpaksa Cie Kiat telah melepaskan cekalannya pada jalan darah Po-lo-hiatnya Wang Kouw-nio, kemudian dengan menjejakkan kakinya, dia telah melompat menjauhkan diri dari si gadis.

Begitu Po-lo-hiatnya terlepas dari cekalan Cie Kiat, dengan cepat Wang Kouw- nio telah mengambil angkinnya yang menggeletak dilantai.

Kemudian dengan cepat, dan tidak terduga, tahu-tahu angkinnya itu meluncur dengan cepat kearah Oen Lay Tat.

Hebat sekali ujung angkin itu telah melibat Tat-mo Kiam yang ada ditangan Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut.

Tat-mo Kiam itu telah kelibat oleh ujung angkin.

Waktu Oen Lay Tat tersadar dari kegetnya, atau tahu-tahu telah terlambat.

Pedang Tat-mo Kiam itu relah terlepas dari cekalannya, ‘terbang’ menuju kepada Wang Kouw-nio, karena gadis ini telah menarik angkinnya itu, yang digentaknya.

Oen Lay Tat mengeluarkan seruaa tertahan.

Begitu juga To-hun Koay-jin, telah mengeluarkan seruan kaget.

Lay Tat berusaha untuk menjambret pedang yang sedang melayang kearah Wang Kouw-nio.

Tetapi telah terlambat.

Pedang itu telah jatuh ditangan si gadis she Wang itu dengan cepat sekali.

Dengan gusar Lay Tat telah menerjang Wang Kouw-nio, tetapi, gadis ini dengan cepat telah melompat kearah pintu.

Dengan beberapa kali lompatan saja, maka dia telah berlari sampai dibawah sumur. Sekali menjejakkan kakinya, maka tubuhnya telah melayang keluar dari lobang sumur itu.

Pelayan dari Wang Kouw-nio, gadis cilik itu, juga telah melayang keluar dari lobang sumur itu. Jago-jago lainnya, lebih-lebih Lay Tat daa To-hun Koay-jin, telah melakukan pengejaran dengan sekuat tenaganya. Mereka berusaha untuk mengejar gadis she Wang itu.

Tetapi ilmu entengi tubuh dati Wang Kouw-nio itu tinggi sekali, begitu juga Gin-kang dari pelayannya yang kecil itu gesit sekali, sehingga Lay Tat dan To-hun Koay-jin serta beberapa orang jago lainnya yang ikut mengejar tidak bisa lantas dapat menyandak kedua gadis ini.

Cie Kiat dan beberapa orang jago lainnya masih berada didalam ruangan itu. Mereka tidak mempunyai hasrat untuk mengikuti perkembangan persoalau itu.

Maka, setelah menanti sesaat lamanya dan Oen Lay Tat beserta jago-jago lainnya yang sedang mengejar Wang Kouw-nio masih belum juga kembali, maka jago-jago yang tertinggal itu saling pamitan untuk berlalu.

Cie Kiat juga memang tidak bermaksud untuk mengikuti terus persoalan pedang Tat-mo itu, biarpun memang pedang tersebut sangat menarik hati, toh anak muda she Lie tersebut tidak mempunyai selera untuk memiliki pedang itu.

Setelah melihat jago-jago yang lainnya juga pada berlalu, maka Cie Kiat ikut berlalu pula.

Dia keluar dari dalam sumur, dan tidak lantas melangkah pergi. Dia mengawasi sekeliling tempat itu, yang sunyi dan sepi sekali. Akhirnya anak muda she Lie ini menghela napas.

“Ah... hanya disebabkan sebatang pedang Tat-mo Kiam belaka telah menimbulkan banyak korban! Sayang! Sayang sekali! Manusia selalu masih diliputi oleh hawa kemaruk dan tamaknya!” menggumam anak muda she Lie ini.

Dan, sambil bersenandung dengan suara yang perlahan, Cie Kiat telah melangkah menghampiri kudanya, kemudian sambil tetap bersenandung, dia telah melompat naik keatas pelana kudanya, ditariknya tali les kudanya, sehingga kudanya itu berjalan perlahan-lahan meninggalkan tempat tersebut, dengan menimbulkan suara tapak kaki kuda yang berirama, plak, plak. plok, plak, plok, plak, plok, yang semakin lama jadi semakin perlahan dan samar. !

Sungai Tiang-kang dengan gelombangnya.

Pegunungan Tiang-pek-san dengan pohon-pohon Siongnya. Lembah Soe-lie-ho-gay dengan pohon Peknya.

Dan, seorang pendekar dengan pedangnya ditangan.

 ITU adalah sebagian dari sebuah syair yang juga merupakan lagu rakyat yang sedang dibawakan oleh masyarakat sekitar daerah Ho-lam, juga merupakan lagu kebanggaan dari anak-anak didaerah tersebut. Syair itu diciptakan oleh penyair Yap Sun Po, seorang penyair yang telah berusia diantara lima puluh sembilan tahun, mempunyai rambut yang telah putih seluruhnya, dan juga mempunyai wajah yang segar merah, dengaa murah senyum.

Penyair tersebut menetap dikampung Ciu-ya-chung, didaerah Ho-lam tersebut. Adapun keseluruhan dari syairnya itu adalah sbb :

SUNGAI Tiang-kang dengan gelombangnya. Pegunungan Tiang-pek-san dengan pohon-pohon

Siongnya.

Lembah Soe-lie-ho-gay dengan pohon Peknya.

Dan, seorang pendekar dengan pedangnya ditangan.

Seorang Sio-cia dengan jarum dan benang ditangannya.

Seorang jenderal dengan panji kebesaran berkibar ditangannya.

Dan semua itu menundjukkan sifat dan kebesaran dari umat manusia.

Tak ada yang melebihi segalanya yang ada didunia.

Tak ada kekurangan pada alam semesta. Karena, seluruhnya indah dan menarik hati.

Kekacauan dan kerusuhan akan lenyap, kalau memang keindahan itu kian cemerlang.

Diantara sungai, pedang, benang, kain sulam, lembah dan umat manusianya, terdapat sifat yang berlawanan.

Tetapi akhirnya toh bersatu dan untuk memperoleh keindahan.

Diantara kesuraman, kita memperoleh cahaya. Diantara kecemerlangan kita melihat titik hampa.

Maka, manusia adalah manusia, aku adalah aku, si bodoh adalah si bodoh, si botak adalah si botak dan semuanya itu adalah diri mereka masing-masing.......

Pada hari itu, tampak dengan diiringi oleh kacungnya yang berusia sebelas tahun, penyair she Yap itu telah berada dipinggir tebing diluar kampung Ciu-ya- chung tersebut.

Tampak pada senja itu penyair Yap Sun Po sedang menikmati keindahan pemandangan disekitar tebing tersebut, dia menatap dengan tatapan mata yang jauh sekali.

Kacungnya berdiri disamping dari penyair itu, dia juga mengawasi keindahan pemandangan yang ada disekitar tempat tersebut.

Tampak penyair itu menghela napas. “A Tauw!” katanya dengan suara yang perlahan. Dia memanggil nama kacungnya itu, A Tauw.

“Ya Loo-sian-seng........?” menyahuti A Tauw cepat sekali. Si kacung juga menoleh kepada majikannya, yang dia panggil dengan sebutan Loo-sian-seng, si guru tua.

Yap Sun Po telah menghela napas lagi, dia masih tidak menoleh kepada kacungnya, dia masih memandang pemandangan yang ada disekitar tebing itu.

“Pemandangan ini indah sekali, juga hawa udara disekitar tempat ini bersih!” kata penyair tua tersebut. “Tetapi manusia selalu mencari kerusuhan, dan kalau memang mereka bisa menikmati semua ini tentu mereka akan takut untuk mati. !”

kata Yap Sun Po dengan suara yang perlahan.

“Benar Loo-sian-seng!” kata si kacung, A Tauw dengan cepat sekali. “Sekarang juga aku takut untuk mati!”

Penyair tua itu, Yap Sun Po, jadi tersenyum mendengar perkataan muridnya tersebut, yang merangkap menjadi kacungnya pula.

“Kau memang terlalu perasa, kau juga mengetahui mana yang bagus dan mana yang jelek!!” kata si penyair tua tersebut. Suaranya ramah sekali, perlahan dan sabar. “Tetapi, kau masih terlampau muda, sehingga kau tidak mengetahui kejahatan dan kepalsuan manusia didalam dunia ini!”

Si kacung mengangguk.

“Maka dari itu, aku masih membutuhkan bimbingan dari Loo-sian-seng !” kata si kacung dengan cepat. “Dan kalau memang nanti aku telah terbuka matanya, sehingga bisa melihat kebobrokan dan kejahatan serta kepalsuan manusia diatas permukaan bumi ini, aku tentu tidak akan melupakan budi dan kebaikan dari Loo- sian-seng !”

Penyair tua itu tersenyum lagi.

“Kau masih ingat akan syair dari Po-souw-po-ciu?” tanya penyair tua she Yap itu. “Pada kalimat ketiga, dihuruf yang kedelapan puluh tujuh?”

Si kacung mengangguk. “Ingat!” sahutnya.

“Apa bunyinya?” tanya penyair tua itu lagi.

Si kacung, A Tauw, seperti berpikir sebentar, tetapi kemudian dia tersenyum. “Mudah!” katannya cepat. “Aku telah ingat!”

“Bacakan, aku ingin mendengarkan!” kata si penyair tua itu dengan suara yang tegas.

“Kebaikan berasal dari kebaikan, Oe-hauw-cung-oe-hauw dan segala apa yang kita lakukan didunia ini, akan membawa kebaikan bagi diri kita!” kata si bocah. “Bagus!” kata si penyair tua itu tanpa menoleh kepada kacungnya, dia memuji sambil tetap menikmati pemandangan yang ada disekitar tebing tersebut. “Memang Oe-hauw-cung-oe-hauw!!”

Si kacung tampaknya puas dipuji oleh penyair tua itu, wajahnya berseri-seri.

Baru saja dia mau berkata lagi, atau mendadak terdengar suara langkah kaki kuda.

Penyair tua dan kacung kecil itu telah menoleh, mereka melihat seorang berpakaian pelajar sedang berlari dengan seekor kuda yang kuat sekali.

Tampaknya pelajar itu baru berusia diantara sembilan belas tahun atau dua puluh tahun. Wajahnya cakap sekali.

Lagi pula, dari cara dia duduk diatas pelana kudanya itu, tampaknya dia gagah sekali.

Didalam waktu yang sangat singkat, maka pelajar berkuda putih itu telah berada dihadapan penyair tua dan kacungnya itu.

Dengan cepat si Siu-chay telah melompat turun dari kuda tunggangannya, dia merangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada si penyair tua.

“Loo-sian-seng.....!” katanya dengan suara yang sabar dan ramah. “Hak-seng ingin bertanya sedikit, apakah Loo-sian-seng sudi memberitahukannya?”

Si penyair tua cepat-cepat membalas pemberian hormat anak muda itu. Dia juga kagum, bahwa anak muda ini sangat sopan dan ramah sekali, dia malah telah membahasakan dirinya dengan sebutan Hak-seng, yang berarti aku si murid, satu kata pembahasaan diri sendiri yang sangat merendah sekali.

“Katakanlah Kong-cu......... Loo-hu pasti akan memberitahukan apa yang Loo- hu tahu!” kata penyair itu dengan cepat. “Asalkan jangan persoalan silat atau persoalan orang berkelahi, tentunya aku si tua ini tidak mengerti!”

Si pelajar tersenyum.

“Begitu juga dengan Hak-seng!” katanya cepat. “Berbicara mengenai ilmu silat, Hak-seng tidak mengerti! Maka dari itu, Hak-seng tidak akan menyinggung- nyinggungnya, hanya Hak-seng mempunyai satu kesulitan, yang ingin meminta pertolongan dari Loo-sian-seng, apakah Loo-sian-seng bersedia atau tidak untuk menolong Hak-seng, itu terserah kepada Loo-sian-seng”.

Si penyair tua itu tersenyum.

“Katakanlah Kong-cu kata si penyair tua itu dengan suara yang ramah sekali. “Selama aku mengetahui persoalan yang akan Kong-cu katakan, pasti akan kubantu sepenuh tenaga dan pengetahuanku!”

Dan setelah berkata begitu, si penyair tua itu tersenyum lagi.

Anak muda berpakaian serba putih itu, yang tampaknya menyerupai seorang Siu-chay, telah merangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada penyair tua itu. “Hak-seng sebenarnya ingin menanyakan letak dari kampung Ciu-ya-chung...!” kata si pelajar lagi dengan suara yang sabar. “Dan disana Hak-seng ingin mencari Yap Sun Po Loo-sian-seng, seorang penyair tua yang menetap disana.”

Mendengar perkataan dari anak muda itu, wajah Yap Sun Po jadi berobah. Cepat-cepat dia merangkapkan tangannya.

“Kalau memang Kong-cu ingin mencari Yap Sun Po, orang itu adalah aku sendiri....!” katanya dengan cepat sekali. “Dan.... bolehkah aku mengetahui siapakah Kong-cu sebenarnya dan ada keperluan apa, mencari diriku?”

Mendengar bahwa lelaki tua yang berpakaian pelajar juga, yang ada dihadapannya itu adalah Yap Sun Po, orang yang sedang dicarinya, maka anak muda pelajar itu telah cepat-cepat memberikan hormatnya.

“Oh..... sungguh rejeki Hak-seng yang bagus!” kata pelajar itu dengan suara yang girang. “Sungguh tidak diduga bahwa Hak-seng bisa bertemu dengan Loo-sian- seng disini!”

Yap Sun Po tersenyum.

“Ada keperluan apakah Kong-cu mencariku?” tanyanya lagi.

Anak muda itu segera baru teringat akan urusannya, tadi saking girangnya, dia sampai seperti melupakan keadaan disekelilingnya.

Cepat-cepat dia memberi hormat kepada penyair tua she Yap itu.

“Hak-seng she Lie dan bernama Cie Kiat!!” kata pelajar muda itu, yang tak lain dan tak bukan memang Cie Kiat adanya. “Adapun kedatangan Hak-seng mencari Loo-sian-seng ialah untuk meminta sedikit penjelasan mengenai kejadian tiga belas tahun yang lalu dikota Hay-sie-kwan, dimana keluarga Lie telah dibasmi oleh serombongan orang-orang jahat, yang hanya disaksikan oleh Loo-sian-seng seorang..... menurut In-suku, maka hanya Loo-sian-seng seorang yang mengetahui siapa yang telah membasmi keluarga Lie itu dengan kejam sekali!!”

Mendengar perkataan dari Lie Cie Kiat wajah dari Yap Sun Po jadi berobah hebat.

“Kau. apakah kau salah seorang dari keluarga Lie itu?” tanyanya dengan suara

yang gemetar.

Cie Kiat mengangguk.

“Ya, dengan beruntung sekali dikala penjahat-penjahat itu ingin membunuh diriku, datang In-su, yang telah memberikan pertolongannya! Tetapi berhubung sejak In-su datang, penjahat-penjahat itu telah banyak yang melarikan diri, sehingga In-su tidak mengetahui siapa nama dan siapa gelaran dari penjahat-penjahat itu! In-su hanya mendapatkan bahwa keluarga itu telah habis berantakan dibasmi oleh penjahat- penjahat itu!”

Setelah berkata begitu, Cie Kiat mengawasi Yap Sun Po dengan pancaran mata yang tajam sekali.

Yap Sun Po tampak berdiri terpaku mengawasi Cie Kiat, bibirnya agak gemetar. “Dan menurut guruku itu, maka katanya bahwa yang menyaksikan pembunuhan besar-besaran dari keluarga Lie dari penjahat-penjahat itu, adalah Yap Sun Po Loo- sian-seng... maka dari itu, kalau memang Loo-sian-seng tidak keberatan, maka Hak- seng ingin sekali mengetahui, siapa-siapakah yang telah ikut membasmi keluarga Hak-seng?”

Yap Sun Po masih berdiri seperti terpaku, dia memandang dengan tatapan mata yang agak bimbang.

Malah penyair tua ini telah menoleh kepada kacungnya yang sejak tadi masih berdiri juga memandang Cie Kiat dengan tatapan mata yang kesima!

Setelah menghela napas, akhirnya Yap Sun Po berkata kepada kacungnya itu. “A Tauw, pergilah kau main-main aku ingin bicara sebentar dengan tuan ini!!”

A Tauw, kacungnya penyair tua itu, mengangguk dengan cepat. Dia berlalu setelah memamdang Cie Kiat sekali lagi.

Cie Kiat melontarkan seulas senyum kepada kacungnya penyair tua she Yap itu.

Setelah kacungnya itu berlalu, maka Yap Sun Po menunjuk kearah sebuah pohon yang tumbuh rindang didekat tempat itu.

“Mari kita duduk-duduk disitu... aku akan menceritakan semua peristiwa yang kuketahui ini kepadamu!” kata Yap Sun Po dengan suara yang perlahan, kemudian dia menuju kepohon itu dengan cepat.

Cie Kiat mengikuti dibelakangnya. Mereka duduk dibawah pohon itu.

Yap Sun Po tidak lantas bercerita, dia menghela napas dulu, setelah itu barulah bercerita.

Dan cerita yang diceritakan oleh kakek Yap Sun Po ini mengenai riwayat dari keluarga Lie yang dibasmi oleh serombongan penjahat. Dan, yang hebat lagi bahwa keluarga Lie yang terbasmi itu adalah keluarga dari Lie Cie Kiat !

*

* *

MENURUT apa yang diceritakan oleh kakek Yap Sun Po itu, bahwa yang membunuh seluruh keluarga Lie satu rumah tangga itu adalah penjahat-penjahat yang bergabung menjadi satu.

Penjahat-penjahat itu berasal dari berbagai golongan, dan umumnya mereka itu rata-rata memang setiap harinya melakukan kejahatan, terjun didalam rimba hijau, didalam kalangan Liok-lim.

Dengan sendirinya, mereka juga mempunyai kepandaian yang cukup tinggi. Pada saat itu, yang menjadi kepala keluarga Lie adalah Lie Foe Thay.

Dia merupakan seorang jago yang luar biasa sekali kepandaiannya. Dan karena kepandaiannya yang tinggi begitu, maka dia sering melakukan kebaikkan, menolong si kecil dan membasmi si jahat.

Tetapi dengan jalan hidupnya begitu, akhirnya perlahan-lahan Lie Foe Thay mempunyai banyak musuh.

Tahun demi tahun Foe Thay selalu dapat menghadapi musuh-musuh yang mendatangi dan menyatroni dirinya.

Semua itu disebabkan Foe Thay mempunyai kepandaian yang tinggi sekali.

Tetapi lama kelamaan, usia dari Foe Thay jadi semakin tua dan dengan sendirinya semangat dan tenaganya berkurang.

Dengan tidak terduga, dikala Lie Foe Thay berusia lima puluh enam tahun, para penjahat yang merasa bersakit hati padanya itu, telah bekerja sama, mereka bersatu dan menyerbu membalas sakit hati pada Lie Foe Thay.

Mereka juga telah membasmi dan membakar seluruh gedung keluarga Lie.

Hanya saja, secara kebetulan, seorang pendekar bertangan tunggal, lewat ditempat tersebut.

Dia melihat ada beberapa orang penjahat yang sedang mengayunkan tangan mereka akan membanting seorang anak kecil berusia diantara lima tahun.

Pendekar bertangan tunggal itu dengan cepat telah turun tangan untuk menolongnya.

Anak kecil itu ditolongnya.... dan bocah cilik tersebut ternyata adalah Lie Cie Kiat...!”

Lie Foe Thay dan keturunannya sekeluarga, telah dihancur leburkan dibasmi dibunuh oleh para penjahat yang telah bergabung menjadi satu itu.

Pendekar bertangan tunggal itu sangat gusar sekali melihat kejadian tersebut.

Dengan cepat dia telah membunuh beberapa orang penjahat yang tadi akan membanting binasa si bocah Cie Kiat.

Setelah itu pendekar bertangan tunggal yang tidak dikenal namanya itu telah mencari penjahat-penjahat lainnya untuk melabraknya.

Namun penjahat-penjahat yang lainnya telah menghilang.

Mereka semuanya telah meninggalkan puing-puing kehancuran dari bangunan gedung keluarga Lie tersebut.

Pendekar bertangan tunggal tersebut jadi mendongkol dan murka benar.

Kebetulan, tanpa disengaja dia melihat seseorang sedang berdiri dan mengawasi gedung keluarga Lie yang telah menjadi puing-puing itu.

Pendekar bertangan tunggal tersebut telah menghampiri orang itu, ternyata orang tersebut adalah penyair Yap Sun Po yang namanya sudah terkenal didalam kalangan sastra Tiongkok. Cepat-cepat pendekar bertangan tunggal itu menanyakan apakah penyair she Yap tersebut telah melihat penjahat-penjahat yang membunuh-bunuhi keluarga Lie itu, dan si penyair she Yap itu mengatakan bahwa dia tidak mengenal orang-orang itu, penjahat-penjahat itu. Dia hanya menyerahkan kepada pendekar bertangan tunggal itu sejilid buku.

“Didalam buku ini tercatat nama-nama orang yang ikut bergabung untuk membasmi keluarga Lie ini. Mungkin waktu mereka mengadakan pertemuan masing- masing telah mencatat diri mereka didalam buku ini untuk nanti saling mengenal.” katanya.

Pendekar bertangan tunggal itu mengangguk.

Dia melihat buku itu, kemudian menyerahkan buku itu kepada Yap Sun Po. “Buku ini dipegang saja oleh anda, nanti kalau memang anak ini telah dewasa

dan dia telah mempunyai kepandaian, maka aku akan memerintahkan dia untuk mencari anda guna mengambil buku itu supaya dia dapat mengetahui nama-nama musuh besarnya!”

Yap Sun Po mengiyakan.

“Begitu juga boleh......... dan kalau memang dia mencariku, pergi saja ke Ciu- ya-chung, karena aku akan menetap disana.” kata Yap Sun Po.

Kemudian mereka berpisahan, pendekar bertangan tunggal itu, yang mempunyai kepandaian yang sangat tinggi sekali dan juga merupakan seorang tokoh didalam rimba persilatan, telah membawa Lie Cie Kiat, si bocah yang malang itu. Dia bermaksud akan mendidiknya agar bocah itu nantinya mempunyai kepandaian yang tinggi sekali!



“DAN sekarang ternyata kau telah dewasa dan benar-benar mencariku!” kata Yap Sun Po sambil tersenyum. “Tentunya gurumu yang telah memerintahkan kepadamu agar mencariku untuk mengambil buku dari nama-nama penjahat yang telah membunuhi seluruh keluargamu itu!”

Cie Kiat mangangguk.

“Benar Loo-sian-seng!” kata si anak muda she Lie ini dengan suara yang tetap. “Memang In-su yang telah memerintahkan Hak-seng untuk pergi mancari Loo-sian- seng guna mengambil buku catatan dari mana penjahat-penjahat yang telah membunuh seluruh keluargaku itu, agar Hak-seng dapat juga membalas sakit hati dan penasaran dari ayah ibu dan keluargaku lainnya!” Yap Sun Po memandangi anak muda she Lie ini dengan tatapan mata yang tajam, dia seperti juga sedang meneliti wajah dari Cie Kiat.

Akhirnya penyair tua ini mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Ya, ya, memang kau sebagai keturunan tunggal dari keluarga Lie yang telah musnah itu, harus benar-benar dapat membalaskan sakit hati dari keluargamu itu. Tetapi...... aku takut didalam dunia persilatan akan timbul pergolakan yang hebat sekali, karena akan banyak sekali berjatuhan korban-korban dari dendammu itu !!”

kata Yap Sun Po dengan suara yang perlahan.

Cie Kiat tersentak mendengar perkataan penyair tua tersebut. Dia jadi memandang juga kepada Yap Sun Po.

Namun, kemudian anak muda she Lie ini telah menghela napas dalam-dalam.

“Memang hal itu telah dipikirkan oleh Hak-seng dan seharusnya dendam dan sakit hati seorang manusia yang terpendam dihatinya, harus diusahakan untuk dilenyapkan. Tetapi........ berhubung sakit hati itu terlalu besar, terlampau berat, dan juga terlalu mendalam, yang telah menyebabkan musnahnya satu keluargaku, keluarga Lie, maka dari itu, mau tak mau, Hak-seng harus menuntut semua dendam itu! Biar didalam kalangan Kang-ouw terjadi suatu pergolakan yang hebat diantara jago-jago lainnya, namun memang biar bagaimana Hak-seng tetap harus melaksanakan pembalasan dendam atas terbunuhnya seluruh keluarga Hak-seng”.

Yap Sun Po menganggukan kepalanya beberapa kali membenarkan perkataan Cie Kiat.

“Perkataanmu itu memang benar!” katanya. “Tetapi kau harus ingat, pada siapa kau harus menumpahkan dendammu itu! Kalau memang seumpamanya kau masih bisa memberi pengampunan kepada musuhmu itu, maka berikanlah pengampunanmu itu. !”

Cie Kiat mengiyakan.

“Terima kasih atas nasehat-nasehat dari Loo-sian-seng.........!” kata Cie Kiat dengan cepat. “Dan memang benar perkataan Loo-sian-seng. pada musuh-musuh Hak-seng yang masih bisa diberi pengampunan, akan Hak-seng usahakan untuk memberikan jalan hidup padanya! Tetapi bagi mereka yang memang memegang peranan didalam pembunuhan keluarga Hak-seng, maka dengan sendirinya kematian adalah bagian mereka.

“Itu sudah jelas!” kata Yap Sun Po dengan cepat. “Dan aku mengucapkan syukur bahwa kau masih bisa mempertimbangkan antara yang salah dan yang benar, sehingga aku tidak perlu menguatirkan lagi bahwa kau akan melakukan pembunuhan secara sembarangan! Aku yakin bahwa kau telah mempunyai kepandaian yang tinggi sekali dibawah bimbingan dan gemblengan dari gurumu!!”.

Cie Kiat tersenyum.

“Mengenai soal itu Loo-sian-seng jangan menguatirkan, karena biar bagaimana Hak-seng telah dididik oleh In-su untuk mengambil jalan kebenaran....! Mengenai buku nama-nama dari penjahat-penjahat yang telah membunuh keluargaku itu, apakah bisa Hak-seng ambil sekarang?” Yap Sun Po tersenyum, dia merogoh sakunya jubah yang dikenakannya itu dia juga berkata : “Buku catatan dari nama-nama musuhmu itu memang selalu kubawa serta kemana saja kupergi. maka dari itu, sekarang juga kau bisa mengambilnya!!”

Yap Sun Po telah mengeluarkan sejilid buku kecil, diangsurkannya buku kecil itu kepada Cie Kiat.

Anak muda she Lie tersebut telah menerimanya.

Wajahnya jadi berobah-robah, sebentar sedih, sesaat lagi memperlihatkan sikap gusarnya, sebentar lagi memperlihatkan rasa duka dan rasa amarah yang sangat.

Yap Sun Po hanya berdiam diri saja

Setelah melihat-lihat halaman-halaman dari buku itu, dimana tertulis puluhan nama orang-orang yang telah menjadi pembunuh keluarganya Cie Kiat menutup kembali buku-buku itu. Dimasukkan kedalam sakunya.

Barulah setelah itu Cie Kiat merangkapkan kedua tangannya menjurah kepada Yap Sun Po.

“Terima kasih atas bantuan Loo-sian-seng yang telah banyak tahun menyimpankan buku ini!” kata Cie Kiat dengan suara yang mengandung perasaan terima kasih. “Dan mudah-mudahan memang Hak-seng bisa membendung perasaan dan bergolaknya dari dendam yang selama ini terpendam didalam hati Hak-seng. Maka dari Hak-seng hanya akan memilih beberapa orang-orang terpenting diantara penjahat-penjahat tersebut, akan membunuhnya dengan secara jantan, akan Hak-seng ajak mereka bertempur satu lawan satu.... atau kalau memang mereka mau, mereka boleh maju sekaligus. Hak-seng kira Hak-seng masih bisa menghadapi mereka itu!”

Setelah berkata begitu, maka Cie Kiat telah merangkapkan tangannya, dan berpamitan sambil menjurah memberi hormat kepada si penyair tua she Yap itu.

Kemudian dengan gesit dia melompat ke atas kudanya.

Didalam waktu yang sangat singkat sekali, dia telah lenyap dari pandangan mata Yap Sun Po.

Penyair tua she Yap itu memandangi lenyapnya anak muda she Lie itu bersama kudanya dengan mata tak berkedip.

Kemudian dia menghela napas.

“Ah.... badai dan topan akan muncul didalam dunia persilatan, akan terjadi pergolakan diantara jago-jago silat, dan darah akan membanjiri dunia persilatan, dunia Kang-ouw...!” dan kemudian penyair tua ini telah membawakan sebuah syair dengan suara mengumam, sedangkan A Tauw, kacungnya, telah datang menghampiri padanya....

*

* * SEBETULNYA Cie Kiat memang diperintahkan oleh gurunya untuk pergi mencari Yap Sun Po, orang satu-satunya yang memegang buku catatan dari nama- nama penjahat yang telah menggeroyok dan membasmi keluarga Lie itu!

Dan didalam perjalanannya untuk mencari orang she Yap itu, dia telah mengalami berbagai peristiwa, dia bertemu dengan Oen Lay Tat dan jago-jago lainnya, juga bertemu dengan Wang Kouw-nio... menghadapi persoalan Tat-mo Kiam... semua itu telah dialaminya, dan akhirnya dia dapat juga menemui diri Yap Sun Po.

Setelah memperoleh buku catatan dari nama-nama penjahat yang telah membasmi keluarganya pada belasan tahun yang lalu, dengan sendirinya dia akan dapat mencari penjahat-penjahat itu guna mengadakan pembalasan dendam atas kematian seluruh keluarganya itu!.

Dan memang dugaan dari Yap Sun Po benar belaka, sebab sejak detik itu, sejak Cie Kiat memperoleh buku catatan dari nama-nama penjahat yang menjadi musuhnya tersebut, akan segera muncul berbagai peristiwa hebat.

Semuanya itu akan menyebabkaa dunia persilatan akan tergoncang, dan didalam kalangan Kang-ouw akan muncul berbagai peristiwa yang benar luar biasa sekali, yang akan membuat semua jago-jago dirimba persilatan akan tercengang, kaget dan bercampur dengan perasaan ngeri.

Cie Kiat sendiri begitu memperoleh buku catatan nama dari penjahat-penjahat yang menjadi musuhnya itu, telah membedal kudanya yang dilarikan dengan pesat.

Pada saat itu hatinya sedang diliputi oleh berbagai segala keinginan untuk cepat- cepat dapat melampiaskan dendamnya terhadap penjahat-penjahat yang menjadi musuhnya itu.

Peristiwa pertama dari segala keguncangan yang akan timbul didalam dunia persilatan, muncul dikota Sung-lay-kwan... telah terjadi suatu peristiwa darah yang akan menggemparkan jago-jago didalam dunia persilatan !

Kejadian itu adalah sebagai berikut....

*

* *

SUNG-LAY-KWAN merupakan kota yang cukup besar juga padat penduduknya.

Kota ini terkenal akan hasil dari araknya, yang bisa menyaingi arak Hong-ciu. Dikota tersebut hidup seorang jago tua she Bie dan bernama She Gauw.

Jago tua ini mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, semasa mudanya, dia pernah menjagoi daerah Kang-ouw, dan membuat nama yang tidak kecil didalam kalangan Kang-ouw.

Tetapi berhubung usianya yang telah menanjak kian tua, maka dia mengambil keputusan, bahwa dia lebih baik hidup tenteram untuk melewati hari-hari tuanya. Dan didalam melewati hari-hari tuanya itu, maka dia telah menerima tiga orang murid, yang akan menerima warisan kepandaian silat darinya.

Hal itu disebabkan dia tidak mempunyai seorang puterapun. Maka, untuk menjaga agar kepandaiannya itu tidak lenyap terbawa kekubur, dia menginginkan agar ada yang mewarisinya.

Ketiga muridnya itu memang tiga orang anak yang cerdas, sebab jago tua bernama Pang Tiang Ho itu selalu memilih dulu diantara murid-murid yang akan dijadikan murid tulennya. Memang orang luar mengetahui jago tua she Pang itu telah menerima puluhan orang murid, tetapi diantara puluhan murid itu, hanya tiga orang yang benar-benar dapat disebut muridnya, karena dia telah mendidik ketiga orang itu dari diluar dari jam latihan murid-murid lainnya.

Penghidupan dari Pang Tiang Ho cukup tenteram, untuk melewati hari-hari tuanya itu dia telah bisa cukup dengan menerima pembayaran uang latihan murid- muridnya, karena Pang Tiang Ho memang menerima bayaran untuk latihan ilmu silat itu.

Pada suatu hari, dengan tidak terduga, tampak berlari seorang pelayan dari keluarga Pang tersebut.

Wajahnya pucat, dan tubuhnya menggigil.

Dia mengetuk-ngetuk kamar dari Pang Hu-jin, nyonya Pang.

“Pang Thay-thay Pang Thay-thay!!” teriak si pelayan dengan berteriak-teriak,

suaranya gemetar.

Wajah pelayan itu juga pucat sekali, bibirnya gemetaran.

Pintu kamar itu terbuka, keluar nyonya Pang, isteri dari Pang Tiang Ho.

Wanita setengah baya ini mengerutkan alisnya waktu melihat keadaan pelayannya.

“Ada apa ?” tanyanya dengan suara yang tidak senang, karena dia merasa terkejut oleh sikap si pelayan yang membawa sikap begitu mengejutkan gerabak gerubuk tak keruan.

Wajah si pelayan masih pucat, bibirnya gemetaran.

Waktu ditanya begitu, dia menunjuk kearah taman dengan berkata suara tergugu. “Pang Toa-ya.... oh..... ditaman itu... oh ” suaranya gemetar sekali, dia tidak

bisa meneruskan perkataannya, kedua kakinya telah lemas, dan tanpa dapat ditahan lagi telah jatuh terduduk.

Pang Thay-thay, nyonya Pang itu, sangat bingung dan heran melihat kelakuan pelayannya itu.

“Ada apa kau bersikap begitu, A Bong?” tanya Pang Thay-thay dengan suara tak senang. “Ada apa didiri Pang Toa-ya?”

“Itu... itu ditaman... Pang Toa-ya... oh...” dan si pelayan rumah tangga Pang itu tidak bisa meneruskan perkataannya lagi. Saking heran dan ingin tahu, maka Pang Thay-thay telah cepat-cepat menuju ketaman.

Pelayan itu masih terduduk lemas.

Dia tidak mengikuti nyonya majikannya.

Hanya matanya yang jelalatan tak hentinya, seperti juga dia sedang menghadapi suatu peristiwa yang benar-benar menyeramkan sekali.

Pang Thay-thay, nyonya Pang itu, telah sampai ditaman. Dia memandang sekeliling taman itu.

Tak dilihatnya ada sesuatu yang luar biasa. Dengan sendirinya dia jadi heran.

Mengapa si pelayan dari keluarganya itu si A Bong bersikap begitu, gemetar ketakutan, seperti juga tadi dia telah melihat sesuatu yang benar-benar menakutkan!?

Baru saja Pang Thay-thay mau memutar tubuhnya untuk masuk kembali kedalam, tiba-tiba matanya tertarik oleh sesuatu benda yang tergantung diatas pohon.

Waktu Pang Thay-thay menegaskan, maka dia jadi kaget sendirinya, hatinya tercekat dan darahnya mendesir.

Itulah sesosok tubuh yang tergantung diatas pohon dalam keadaan tak hidup! Berarti yang tergantung itu adalah sesosok mayat manusia, yang binasa dengan mata yang mendelik lebar kearah Pang Thay-thay, dan juga lidah terjulur keluar, karena ada seutas tambang yang melikati lehernya.

Pang Thay-thay sampai mengeluarkan seruan tertahan, dia sampai melompat kebelakang beberapa langkan.

“Oh..... apa ini..... mengapa..... oh..... bisa terjadi ini. ?” mengeluh Pang Thay-

thay dengan lutut yang lemas.

Dan semangat dari Pang Thay-thay seperti terbang meninggalkan raganya, dia jadi tambah terkejut, hampir saja dia jayuh pingsan waktu dia menegaskan ternyata yang menggelantung diatas pohon itu adalah suaminya sendiri, yaitu Pang Toa-ya, Pang Tiang Ho.

Pang Thay-thay, nyonya Pang jadi mengeluarkan suara jeritan kaget, dia berlari menghampiri, tetapi baru beberapa langkah saja, dia telah lemas tak bertenaga, kemudian setelah mengeluarkan suara keluhan, maka rubuhlah dia jatuh pingsan!

Lama juga Phang Thay-thay jatuh pingsan begitu, sampai menjelang lohor dia masih pingsan ditaman itu.

Sedangkan mayat dari Pang Tiang Ho masih menggelantung diatas pohon dengan mata yang mendelik dan lidah yang terjulur keluar, rupanya dia mati tergantung begitu dalam keadaan penasaran sekali, muka mayat dari orang she Pang terebut telah berobah kuning kehijau-hijauan..... menyeramkan sekali, bergoyang- goyang terhembus oleh angin kecil, juga dibawahnya menggeletak pingsan nyonya Pang itu! *

* *

WAKTU PANG THAY-THAY tersadar dari pingsannya itu, maka dia memandang sekelilingnya.

Tetapi begitu teringat akan keadaan dirinya, dan peristiwa dimana dia melihat suaminya mati tergantung begitu, dia jadi menjerit dan menangis keras sekali.

Lebih-lebih dia melihat bahwa mayat dari Pang Tiang Ho, suaminya itu masih tergantung bergoyang-goyang dengan mata mendelik dan lidah menjulur diatas pohon, matanya yang mendelik lebar itu seperti juga sedang mendelik memandang kearah Pang Thay-thay, sehingga nyonya Pang ini jadi sekali lagi mengeluarkan seruan kaget, menangis sekeras-kerasnya.

A Bong, pelayan yang tadi memberitahukan Pang Thay-thay tentang kematian dari Pang Tiang Ho, sedang pingsan juga. Rupanya saking kaget dan ketakutan, dia sampai jatuh pingsan.

Keadaan dirumah tersebuit sangat sepi sekali, hanya terdengar tangisan dari nyonya Pang tersebut.

Sampai akhirnya tak lama kemudian berdatangan murid-murid dari Pang Tiang Ho untuk latihan.

Tetapi betapa terkejut mereka waktu melihat keadaan su-bo, isteri guru, dan su- hu mereka yang terbinasa dengan tergantung diatas pohon begitu.

Ciu Wie Siang murid tertua dari Pang Tiang Ho, telah cepat-cepat menghampiri Pang Thay-thay, su-bo mereka, ibu guru mereka.

Ciu Wie Siang telah menanyakan, mengapa guru mereka bisa mengalami hal seperti itu, seperti juga orang yang menggantung diri.

Pang Thay-thay juga tidak bisa menerangkan, dia tidak mengetahui juga mengapa suaminya bisa menggantung diri terbinasa dengan cara begitu macam.

Pang Hu-jin hanya bisa menangis saja. Isteri dari Pang Tiang Ho tersebut menangis dengan suara yang menyayatkan hati benar.

Murid-murid dari Pang Tiang Ho jadi bingung sekali melihat keadaan ini. Ciu Wie Siang telah memeriksa keadaan disekitar taman itu.

Tahu-tahu matanya dapat melihat ada sehelai kertas yang tertancap dibatang pohon.

Cepat-cepat murid Pang Tiang Ho she Ciu tersebut mengambil surat itu.

Murid-murid lainnya juga cepat-cepat telah menghampiri, mereka melihat surat

itu.

Isi surat tersebut berbunyi antara lain : Arwah dari keluarga Lie telah datang menagih hutang jiwa, maka kebinasaan dari Pang Tiang Ho ini adalah wajar, sebab dia terlalu jahat sekali telah melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap keluarga Lie pada belasan tahun yang lalu.

Dengan terbinasanya dirinya ini, maka habislah dendam keluarga Lie dengan keluarga Pang, maka tak perlu anak isteri dan cucu dari keluarga Pang yang menanggung dosa dari Pang Tiang Ho.

Aku kira, lebih baik Pang Tiang Ho menemui kematiannya ini........ agar anak cucunya tidak menerima dosanya, dan biarkanlah dia terbinasa menebus dosanya...... aku tidak mau kalau sampai anak atau keluarga Pang lainnya yang merasakan getah dari perbuatan jahat dari Pang Tiang Ho.

Dengan ditinggalkannya surat ini, agar keluarga Pang maklum dan aku menyatakan maaf sebesar-besarnya tak bisa

menjumpai kalian.

Dan, dengan melalui surat ini, maka aku juga ingin menyatakan maaf sebesar-besarnya, bahwa aku telah merenggut nyawa dari seorang musuhku, karena Pang Tiang Ho adalah manusia yang tidak bisa diampuni, dosanya terlalu besar, dia merupakan orang ketujuh diantara penjahat-penjahat yang mengeroyok keluargaku, maka dengan sendirinya dia masih termasuk orang yang terpenting didalam gabungan penjahat- penjahat itu. Nah  selamat tinggal!

Dari:

Pek-ie Koay-hiap

pendekar aneh berbaju putih

Ciu Wie Siang dan murid-murid dari Pang Tiang Ho yang lainnya jadi gusar dan murka.

Tetapi mereka gusar murka tanpa daya, karena mereka tidak mengetahui siapa sebenarnya Koay-hiap, pendekar aneh berbaju putih itu, yang telah membunuh guru mereka.

Ciu Wie Siang jadi berduka sekali, mereka mengucurkan air mata.

Didalam pandangan mereka selama mereka belajar ilmu silat dibawah gemblengan dari Pang Tiang Ho, maka mereka melihat guru mereka itu sangat baik hati, dan benar-benar membimbing mereka.

Maka dari itu, mengapa guru mereka itu bisa mempunyai musuh yang telah begitu tega membunuhnya dengan menggantungkan sekalian mayat dari Pang Tiang Ho diatas pohon. Hal ini membuat Wie Siang dan murid-murid Pang Tiang Ho lainnya benar- benar jadi bergusar, mereka berjanji akan beramai-ramai mencari orang yang menamakan dirinya itu Pek-ie Koay-hiap, si pendekar aneh berbaju putih.

Ciu Wie Siang dan murid-murid Pang Tiang Ho yang lainnya cepat-cepat memberikan hiburan bagi diri Pang Hu-jin, nyonya orang she Pang, yang menjadi ibu guru mereka itu.

Juga soal pemakaman jenazah dari Pang Tiang Ho, segera diurus, dengan cepat diadakan pemakaman.

Pada penjahat setempat, nyonya Pang mengatakan bahwa suaminya itu mengalami suatu kecelakaan kecil waktu sedang berlatih ilmu golok, akhirnya setelah menderita sakit satu minggu maka suaminya itu telah berpulang kepangkuan Thian.

Begitu juga kepada para tetangganya, nyonya Pang ini memberikan alasan yang sama.

Dan mereka, orang-orang ini tidak mengetahui, bahwa kematian dari Pang Tiang Ho adalah suatu permulaan, awal dari bergolaknya suatu peristiwa hebat didalam dunia persilatan..... yang akan bergolak dengan penuh kengerian dan benar-benar menakutkan, karena darah akan membanjiri sungai telaga, dan dunia persilatan akan digegerkan oleh berbagai peristiwa yang benar-benar menakutkan!

Tegasnya Pang Tiang Ho dibunuh oleh Lie Cie Kiat karena nama Pang Tiang Ho terdapat didalam buku catatan dari nama-nama penjahat yang telah mengeroyok keluarga Lie, yang diperoleh Cie Kiat dari penyair tua Yap Sun Po itu !



LIE CIE KIAT memang bermaksud membabat musuhnya seorang demi seorang.

Dia menurut petunjuk dibuku catatan dari nama musuh-musuh besarnya itu. Dia mencarinya seorang demi seorang.

Pang Tiang Ho memang Cie Kiat yang telah membunuhnya pada malam itu.

Dia yang telah menyeret tubuh orang she Pang itu, lalu menggantungnya diatas pohon sehingga Pang Tiang Ho terbunuh dan terbinasa dengan mata mendelik dan lidah menjulur keluar.

Dan Cie Kiat bermaksud setelah membunuh Pang Tiang Ho, maka korbannya yang kedua adalah orang yang bernama Wang Toe, seorang yang tercatat namanya didalam urutan yang ketiga didalam buku catatan itu.

Cie Kiat telah mencari-cari dan menyelidiki dimana orang tersebut. Nama Pang Tiang Ho telah dicoretnya dengan warna merah, menandakan bahwa orang she Pang itu telah dapat diselesaikan hidupnya!

Anak muda she Lie tersebut dapat mengendus bahwa Wang Toe sekarang berdiam dikota Pay-sia, dia telah membuka sebuah rumah makan yang besar dan mewah.

Dikota itu, Wang Toe hidup dengan segala kemewahannya, karena semua orang-orang di kota itu umumnya mengetahui bahwa Wang Toe mempunyai kepandaian ilmu silat yang tinggi sekali, sehingga buaya-buaya daratnya juga jeri terhadap Wang Toe.

Rumah makan bertingkat yang dibuka oleh Wang Toe sangat laris sekali.

Sering pula perkumpulan-perkumpulan dari berbagai cabang jago-jago rimba persilatan telah memakai rumah makan Wang Toe sebagai tempat perundingan, dan kalau memang terjadi begitu, maka Wang Toe akan mengeduk keuntungan yang tidak kecil.

Selain makanan yang selalu harganya dilebihkan dari biasanya, juga sewa tempat tersebut jauh lebih tinggi harganya dari hasil yang diperolehnya didalam hari- hari waktu dia berdagang sebagaimana mestinya.

Maka dari itu, dengan cepat Wang Toe telah dapat mengumpulkan kekayaan yang tidak sedikit.

Rumah makannya itu sudah diserahkan kepada orang kepercayaannya untuk diurus, sedangkan dia sendiri berdiam dirumahnya, yang terletak tak begitu jauh dari rumah makannya tersebut.

Wang Toe selalu melewati hari-hari tuanya dengan duduk rebah dikursi malasnya yang terbuat dari kayu cendana yang wangi itu, sambil ditangannya memegang kipas.

Begitulah penghidupan dari Wang Toe dari hari kehari dia melewatinya dengan penuh ketenangan.

Namun, biarpun dia telah kaya raya, ada sesuatu yang kurang didalam hidupnya.

Sampai dia menjelang tua itu, dia tidak mempunyai keturunan, yaitu tidak mempunyai anak.

Juga isterinya yang sangat dicintainya telah meninggal dunia. Maka dari itu, melewati hari tuanya Wang Toe berseorang diri.

Dia sudah tak mau menikah lagi, hanya kalau memang dia mau, dia bisa berpelesiran dengan bunga-bunga raja.

Itulah sebabnya, maka selain dari pelayan-pelayan rumah tangganya, tak terdapat orang lainnya.

Pagi itu, dikala Wang Toe sedang meram-meram ayam duduk rebah dikursi malasnya diruangan tengah, sambil mengipas dengan sebuah kipas yang terbuat dari kain sutra, maka tahu-tahu mencelat turun sesosok tubuh dihadapannya. Waktu mudanya Wang Toe mempunyai kepandaian yang sangat tinggi.

Tetapi menjelang tuanya dia tidak pernah melatihnya lagi, namun tetap saja dia masih liehay.

Melihat ada orang yang menjeglek didepannya turun dari wuwungan tiang penglarian, dengan kaget Wang Toe telah mencelat bangun dari kursi malasnya itu.

“Si... siapa kau?” bentak Wang Toe dengan suara yang kaget.

Orang yang melompat turun telah berdiri tegak. Ternyata dia seorang pelajar yang berusia masih sangat muda sekali. Dia mengunakan pakaian pelajar yang serba putih.

Orang itu tertawa dingin waktu melihat kekagetan yang meliputi wajah Wang

Toe.

“Aku adalah Pek-ie Koay-hiap yang akan merenggut nyawa tuamu!!” kata orang

itu, yang tak lain dari Lie Cie Kiat.

Wajah Wang Toe jadi berobah hebat.

“Kau.... oh, kau kurang ajar sekali!” teriak Wang Toe, dengan suara yang bengis. “Hmmmm.... sebutkan namamu, agar aku dapat memberikan ganjaran kepedamu! Apakah kau tidak tahu, bahwa kau sedang berhadapan dengan siapa?”

Orang itu, Lie Cie Kiat, telah ketawa dingin.

“Aku tahu.....!” menyahuti Cie Kiat dengan cepat, setelah itu dia tertawa dingin lagi. “Aku tentunya sedang berhadapan dengan Wang Toe, bukan?”

Wajah Wang Toe jadi berobah.

“Apa maksudmu datang kemari?” bentak Wang Toe dengan suara yang aseran. Cie Kiat kembali tertawa dingin.

“Sudah kukatakan aku akan merenggut nyawa tuamu!” menyahuti Cie Kiat.

“Jangan main-main!” bentak Wang Toe dengan gusar. “Sebutkan maksudmu yang sebenarnya!”

Cie Kiat kembali tersenyum.

“Ya.... kau tentu ingat pada belasan tahun yang lalu telah ikut mengeroyok keluarga Lie Foe Thay?!” bentak Cie Kiat dengan suara yang dingin sekali.

Mendengar disebutnya nama Lie Foe Thay, wajah Wang Toe jadi berobah pucat.

Kakinya agak gemetar.

“Lie Foe Thay...?” tanyanya dengan suara yang gemetar disebabkan terkejutnya. Cie Kiat mengangguk.

Cahaya mata anak muda she Lie ini sangat tajam sekali waktu dia memandang kepada Wang Toe. “Benar!” menyahuti Cie Kiat. “Dan sekarang, arwah dari keluarga Lie itu akan menuntut ganti jiwa!!”

Wajah Wang Toe jadi tambah pucat.

“Kau... kau...” dia tergugu tak bisa berkata-kata lagi. Tubuh Wang Toe juga agak gemetar menggigil.

Melihat itu Cie Kiat tertawa dingin, dia melangkah menghampiri.

“Hmmmm... sekarang adalah saatnya kau harus mampus guna menebus jiwa- jiwa dari keluarga Lie yang telah kau dan kawan-kawanmu itu membunuhnya!!” kata Cie Kiat dengan suara menyeramkan sekali. “Aku adalah keturunan tunggal dari Lie Foe Thay yang malang itu !”

Mendengar perkataan Cie Kiat, wajah Wang Toe jadi berobah semakin pucat, lalu berobah jadi merah padam, kemudian berobah pucat lagi. Tubuhnya juga menggigil.

Tetapi, mungkin saking ketakutan. Tahu-tahu dia telah menjejakkan kakinya, dia menerjang Cie Kiat.

“Mampus kau, setan penasaran!!” bentak Wang Toe dengan suara yang ketakutan.

melihat dirinya diserang begitu, Cie Kiat mendengus tertawa dingin.

Dia menekuk lutut kanannya, sehingga tubuhnya jadi mendoyong kemuka sedikit agak menurun kebawah.

Dengan mengeluarkan teriakan keras, tahu-tahu ditangan Cie Kiat telah tercekal pedangnya, dia membabat kearah perut dari Wang Toe.

Pada saat itu Wang Toe sedang menerjang, mana bisa dia melindungi perutnya. Apa lagi kepandaian dari Cie Kiat memang sangat tinggi.

Sehingga tak ampun lagi, perutnya itu pecah oleh sabetan pedang Cie Kiat.

Isi perut Wang Toe telah berhamburan, darah merah segar jadi membanjiri lantai dan usus dari orang she Wang itu telah berhamburan dilantai.

Mengerikan sekali.

Tubuh Wang Toe, tidak lantas rubuh dia berdiri ngejeglek dengan mata yang mendelik, setelah mengeluarkan suara menggerogok dua kali dari lehernya seperti ayam yang ingin putus napas, maka tubuh gemuk dari Wang Toe telah ambruk dilantai, tak bernapas dan tak bernyawa lagi!

Satu dendam lagi dari Cie Kiat telah terbayar lunas, karena Wang Toe telah melayang jiwa, menuju keakherat untuk menemui Giam-lo-ong!

Cie Kiat berdiri, sesaat terpaku ditempatnya mengawasi mayat Wang Toe yang menggeletak tengkurap tak bernyawa dan tak bergerak itu.

Anak muda she Lie ini menghela napas. “Lenyap pula sebuah dendam !!” mengumam anak muda she Lie ini.

Selang Cie Kiat berdiri memandangi mayat Wang Toe, tahu-tahu dari dalam menerobos tiga orang pelayan keluarga Wang tersebut.

Mereka datang ketempat tersebut karena mereka mendengar suara jeritan dari Wang Toe.

Tetapi waktu mereka melihat majikan mereka telah terbinasa, dan disampingnya berdiri seorang anak muda dengan pedang berlumuran darah ditangannya, menyebabkan mereka jadi ketakutan dan tubuh ketiga pelayan itu menggigil.

Tanpa mereka kehendaki, maka mereka jadi berlutut dan memanggut- manggutkan kepala mereka, seperti juga sedang meminta ampun!

Cie Kiat tidak mengambil perhatian pada ketiga pelayan dari keluarga Wang tersebut, dengan mengeluarkan suara dari tertawa dingin, dan setelah menyusut darah yang melekat pada tubuh pedangnya di baju mayat dari Wang Toe, yang disosotnya perlahan-lahan, maka Cie Kiat kemudian menjejakkan kakinya, dia telah mencelat pergi.

Hanya didalam waktu sekejapan itu saja dia telah lenyap dari pandangan ketiga pelayan Wang Toe.

Ketiga pelayan itu jadi ribut waktu menyaksikan hal tersebut, mereka duga anak muda she Lie itu adalah setan yang mempunyai gerakan cepat sekali...... mereka jadi saling lari berserabutan menuju keluar, juga mereka berteriak-teriak, sehingga tetangga Wang Toe keluar semuanya untuk melihat apa yang terjadi dirumah Wang Toe tersebut.

Ketiga pelayan itu segera menceritakan apa yang telah mereka lihat.

Juga orang Tie-kwan telah melakukan penyelidikan, pemeriksaan terhadap mayat itu.

Namun mereka tidak bisa mengetehui atau menangkap diri Cie Kiat, sebab anak muda she Lie itu telah siang-siang menghilang dari kota itu !

*

* *

KEJADIAN selanjutnya lagi malah lebih hebat. Pilihan Cie Kiat untuk korban selanjutnya dari dendam anak muda she Lie adalah jago yang bernama Po Sin Siu, seorang jago yang membuka perusahaan Piauw-kiok, suatu perusahaan yang menerima pengiriman barang dari daerah yang satu kedaerah yang lainnya. Po Sin Siu mempunyai kepandaian yang tinggi, dia mempunyai kepandaian istimewa, yaitu ilmu goloknya, yang dinamakan Cap Sie Hoan-to, dimana kalau memang dia telah menggunakan ilmu goloknya itu, maka jarang sekali ada orang yang menghadapi Piauw-su tersebut.

Sin Siu membuka Piauw-kioknya itu berkisar delapan tahun yang lalu, sebetulnya tadinya dia adalah seorang pembegal tunggal. Namun disebabkan usianya telah tua, dan dia mempunyai simpanan harta, maka akhirnya dia ingin hidup tenang.

Mengandalkan nama dan kepandaiannya dia telah membuka perusahaan Piauw- kiok tersebut, untuk melewati hari tuanya.

Piauw-kioknya itu diberi nama Po-sin Piauw-kiok.

Sejak Sin Siu membuka Piauw-kiok tersebut, setiap barang yang dikirimnya selalu akan sampai ditempat dengan selamat, karena selain dia mempunyai nama besar dan juga ditakuti dan disegani oleh lawan dan kawan, juga Sin Siu merupakan seorang yang bisa bergaul.

Apa lagi, memangnya dia berasal dari dunianya dijalan Hek-to, jalan hitam, sebagai pembegal tunggal, maka dengan sendirinya dia mempunyai banyak kawan pembegal-pembegal juga.

Dengan sendirinya, begitu dia membuka Piauw-kok, kawan-kawannya itu tidak mau mengganggu Piauw-kiok yang dibuka oleh Sin Siu karena mereka tidak mau hitam makan hitam walaupun sekarang Sin Siu telah beralih kejalan putih, toh tetap saja dulunya dia berasal dari jalan hitam.

Disebabkan sejak pertama kali dia membuka Piauw-kiok itu, pengiriman barang tidak pernah mengalami rintangan dijalan, maka lama kelamaan Sin Siu tidak pernah ikut lagi mengawal pengiriman Piauw tersebut.

Dia hanya berdiam didalam rumahnya bersama isteri dan puterinya yang baru berusia lima tahun, yang diberi nama Po In Lian.

Barang-barang Piauw itu hanya dikawal oleh beberapa orang Piauw-su yang bekerja pada Po Sin Siu, dan mereka juga membawa sebuah bendera dari Po-sin Piauw-kiok. itu saja sudah cukup, karena bendera dari Po Sin Piauw-kiok sama seperti juga diri Po Sin Siu sendiri.

Penjahat-penjahat yang ingin mengganggu iring-iringan Piauw itu, kalau melihat bahwa Piauw yang sedang dikawal itu adalah barang Piauw dari perusahaan Po-sin Piauw-kiok, maka mereka selalu batal menghadang.

Tetapi dengan tidak terduga, pada suatu hari, malah telah terjadi suatu peristiwa yang hebat pada diri Cong Piauw-tauw Po Sin Siu tersebut.

Orang she Po ini malah telah mengalami peristiwa hebat tersebut didalam rumahnya sendiri, dimarkas dari Po-sin Piauw-kiok, dan yang hebat lagi, hal yang mengerikan yang telah menimpah keluarga Po itu terjadi disiang hari disaat matahari sedang bersinar dengan teriknya. !

Pada saat itu hampir mendekati lohor, dan beberapa orang Piauw-su dari Po-sin Piauw-kiok sedang beristirahat diluar dari kantor Po-sin Piauw-kiok.

Ada beberapa orang Piauw-su yang sedang menceritakan pengalamannya diwaktu mereka muda.

Malah Siu Piauw-su seorang Piauw-su tua, yang mungkin telah berusia diantara lima puluh enam tahun, sedang menceritakan masa mudanya, dikala dia sedang bercinta kasih dengan gadis yang sekarang jadinya. “Memang luar biasa sekali!” kata Siu Piauw-su sambil tertawa. “Kukira wanita itu memang mudah terangsang oleh rangsangan sex, tak tahunya pada suatu malam dikala aku sedang mencium lehernya, tahu-tahu dia telah mengayunkan tangannya menempeleng mukaku, sehingga aku jadi memandangnya dengan tatapan yang kesima. !”

Piauw-su-Piauw-su lainnya jadi tertawa.

“Kenapa kau tidak memeluknya terus dan menciumi dengan cara memaksa?” tanya salah seorang Piauw-su lainnya.

Piauw-su tua tersebut, Siu Piauw-su telah memperlihatkan wajah lucunya. “Mana bisa begitu? Sedangkan ingin mencium lehernya saja aku telah

ditempelengnya, maka mana bisa aku mencium lagi?” katanya.

Piauw-su-Piauw-su lainnya tertawa.

“Kenapa akhirnya dia bisa menjadi isterimu?” tanya salah  seorang  diantara mereka.

Piauw-su tua itu tertawa.

“Nah... itulah kehebatan diriku!” kata si Piauw-su tua sambil tertawa. “Biarpun perempuan itu sudah mau kepada diriku, namun kalau memang aku yakin dan menginginkannya dengan sesungguh hati, pasti aku akan dapat menundukkan wanita itu!”

Yang lainnya juga tertawa.

Tetapi sedang mereka tertawa begitu, sedang Piauw-su-Piauw-su tersebut tertawa, telah terdengar suara tertawa yang lain dan terdengar jauh sekali, melengking tinggi, sebentar terdengar jelas, sebentar lenyap.

Semua orang jadi heran.

“Suara tertawa siapa itu?” tanya Piauw-su-Piauw-su itu sambil saling pandang. Semuanya saling angkat bahu, wajah mereka memperlihatkan kegelisahan,

karena suara tertawa itu terdengarnya begitu melengking tinggi, membikin bulu tengkuk jadi berdiri dan mengkirik.

Suara tertawa itu melengking tinggi sekali, semakin lama jadi semakin terdengar tegas.

Semua Piauw-su itu jadi saling berdiam diri. Mereka hanya saling pandang saja. Mereka memandang kearah datangnya suara tertawa yang melengking itu.

Sedangkan semua Piauw-su itu termenung dengan kesima memandang kearah datangnya suara tertawa melengking itu, tahu-tahu didepan mereka telah melesat sesosok bayangan dengan kecepatan yang luar biasa sekali.

Semua Piauw-su itu jadi kaget, mereka memang sedang diliputi kegelisahan, dan sekarang tahu-tahu didepan mereka telah menjeglek sesosok bayangan, maka dari itu, mereka jadi benar-benar terkejut. Semua Piauw-su-Piauw-su itu memandang kepada sosok bayangan tersebut. Mereka menegaskan untuk melihat wajah orang yang baru datang ini.

Orang ini ternyata memakai baju yang menyerupai jubah, yang berwarna merah darah.

Jubahnya itu bukan semacam jubah yang biasa orang-orang Tionggoan pakai, dia memakai jubah yang luar biasa sekali potongannya.

Wajahnya tidak bisa dilihat, karena orang ini mengenakan semacam topeng, yang terbuat dari secarik kain berwarna putih.

Kepalanya memakai topi tudung rumput yang lebar sekali.

Orang ini begitu berdiri didepan Piauw-su-Piauw-su itu, dia telah memandang dengan mata yang memancar bengis sekali, yang terlihat dari kedua lobang topengnya dimana biji matanya itu tampak memain tak hentinya.

“Mana Po Sin Siu?” bentak orang aneh ini dengan suara yang keras sekali. Piauw-su-Piauw-su yang ada disitu seperti juga orang kesima.

Mereka tadi bergelisah dan merasakan bulu tengkuk mereka berdiri sebab mendengar suara tertawa yang melengking tinggi dan luar biasa itu.

Sekarang mereka melihat orang ini berpakaian dengan cara yang luar biasa begitu, maka menyebabkan Piauw-su-Piauw-su tersebut jadi seperti kesima.

Sekarang orang membentak mereka dengan suara yang begitu bengis dan galak, menyebabkan Piauw-su-Piauw-su itu jadi tersadar dengan cepat dari kesimanya.

Siu Piauw-su, si Piauw-su tua telah maju kedepan beberapa langkah.

“Siapakah tuan, dan ada urusan apakah tuan mencari Po Sin Siu Cong Piauw- tauw?” tanya Siu Piauw-su, dengan suara yang sabar.

Padahal dihati Piauw-su tua ini juga agak berdebar melihat keadaan orang yang begitu aneh, dia yang telah banyak pengalamannya, tidak bisa segera mengetahui siapakah dan berasal dari manakah orang ini.

Terdengar orang yang berpakaian luar biasa itu, yang memakai jubah warna merah, telah mendengus dengan suara yang dingin, kemudian dia melangkah perlahan-lahan menghampiri Siu Piauw-su.

Melihat ini, tanpa disadarinya, Siu Piauw-su jadi mundur kebelakang beberapa langkah. Wajah Piauw-su tua ini jadi berobah.

Hatinya juga berdebar keras.

“Kau terlalu cerewet menanyakan urusanku!” kata orang itu dengan suara yang mengumam dalam. “Bukannya kau menjawab pertanyaanku, malah kau telah balik bertanya kepada diriku! Kau harus mampus.  !!”

Mendengar ini, Siu Piauw-su jadi mendongkol berbareng kaget, dia juga ngeri melihat pancaran mata orang, lebih-lebih biji mata orang itu memain tak hentinya. Hati Piauw-su ini dan Piauw-su lainnya jadi memandang kebarang aneh itu dengan hati yang berdebar keras.

Sedangkan orang berpakaian jubah merah dengan memakai topeng pada wajahnya, telah maju lagi selangkah, dan kemudian dengan mengeluarkan suara teriakan yang lebih mirip bentakan yang melengking tinggi, dan telah berkelebat.

Terdengar suara jeritan yang menyayatkan kemudian sunyi kembali. Tampak orang berpakaian serba merah itu telah kembali pada tempatnya.

Dia berdiri disitu dengan memasuki pedangnya yang tahu-tahu telah berada ditangannya itu, kembali kedalam sarungnya.

Tampaknya sikap orang berjubah merah ini tenang sekali. Piauw-su lainnya juga berdiam diri dengan penuh kegelisahan.

Mereka melihat Siu Piauw-tauw berdiam diri saja dengan mata mendelik kepada orang itu.

Salah seorang Piauw-su mencoba untuk mendekati Siu Piauw-su.

Tahu-tahu dia mengeluarkan seruan tertahan seruan kaget, karena melihat dari bagian perut Siu Piauw-su menetes darah merah yang segar membasahi tanah !

Semua Piauw-su yang ada disitu juga jadi memandang. Mereka juga terkejut sekali.

Siu Piauw-su masih berdiri tegak dengan sikap seperti ingin menangkis serangan dari seseorang, dan darah menetes dari bagian perutnya.

Salah seorang Piauw-su lainnya ada yang lebih besar hatinya, cepat-cepat dia menghampiri Siu Piauw-su, karena dia menduga bahwa Piauw-su tua itu telah kena dilukai oleh orang berpakaian serba merah dan aneh itu.

Dipegangnya bahu Piauw-su tua itu sambil berkata : “Apakah Siu Piauw-su kena dilukai orang itu?” tanyanya.

Tetapi, begitu tubuh Siu Piauw-su kena tersentuh, begitu lekas tubuh tersebut jatuh rubuh terguling ditanah!

Darah seketika itu juga muncrat, ternyata tubuh Piauw-su itu telah terbelah dua dipinggangnya! Waktu rubuh, tubuh itu jadi terpisah!!

Darah dan usus serta isi perut yang lainnya berhamburan ditanah!

Piauw-su yang menyentuh tubuh Siu Piauw-su sampai mengeluarkan suara jeritan ngeri begitu juga Piauw-su-Piauw-su lainnya.

Hanya, orang yang berpakaian jubah serba merah itu, yang seperti tidak memperdulikan hal itu, dia hanya tertawa dingin dengan sikapnya yang bengis.

“Mana Po Sin Siu?” tanyanya lagi dengan suara bengis.......