-->

Ibu Hantu Jilid 3

Jilid 3

MELIHAT Dedemit Hidup itu telah menyerang dirinya dengan disertai oleh tenaga Lwee-kang sebagian besar, yang mendatangkan angin serangan yang keras sekali, cepat-cepat Sam-kay melompat menjauhkan diri.

Tetapi tangan Dedemit Hidup terus juga meluncur, terdengarlah suara jeritan menyayatkan dan sesosok tubuh yang terpental.

Ternyata karena Sam-kay mengelakkan serangan dari si Dedemit Hidup itu, maka yang menjadi korban adalah pengemis yang berdiri, dibelakang Sam-kay.

Pengemis itu tidak melihat datangnya serangan, atau tahu-tahu dia merasakan dadanya sakit sekali, napasnya seperti mandek, dan seketika itu juga dia mengeluarkan suara jeritan, kemudian dia sudah tak ingat diri lagi, karena jiwanya sudah lantas ambil selamat jalan dengan raganya menuju ke neraka untuk menemui Giam-lo-ong!

Pengemis itu telah menjadi korban pukulan dari Dedemit Hidup, kepalanya telah remuk pecah berantakan keluar polohnya, otaknya tercecer ditanah, dan tulang kepalanya berhamburan bercampur darah beserta otak yang berwarna putih mengerikan !

Melihat anak buahnya terbunuh dengan cara begitu, dan menjadi korban disebabkan dirinya mengelakkan serangan dari Dedemit Hidup tersebut, Sam-kay jadi murka sekali.

Dia sampai mengeluarkan seruan murka. Begitu juga lima orang pengemis lainnya, yang lantas meluruk menyerbu Dedemit Hidup.

Sam-kay juga telah menyerang kearah si Dedemit Hidup sambil mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali.

Dedemit Hidup juga tidak tinggal diam, dia telah bergerak dengan gesit sekali.

Setiap tangannya bergerak, maka terdengar suara jeritan dari salah seorang pengemis, karena Dedemit Hidup itu telah menyerang dengan disertai tujuh bagian tenaga Lwee-kangnya, sehingga setiap korbannya yang terpukul oleh tangannya, pasti tidak kepalanya remuk, tentu tulangnya yang patah.

Melihat gelagat tidak baik bagi pihaknya itu, Lay Tat berulang kali mengeluarkan suara dengusan mengejek. Dia menoleh kepada Cong Teng San, yang kala itu juga sedang mengawasi kearah jalannya pertempuran dengan penuh perhatian.

“Teng San, pergi kau membawa orang untuk membantu Sam-kay!” perintah Lay Tat dengan suara yang nyaring.

Cong Teng San terkejut mendengar dia dipanggil, dengan cepat dia menyahuti mengiyakan perintah dari Kauw-cunya itu.

Gesit seperti kijang dia telah melompat keluar dari ruangan itu.

Tak lama kemudian dari Tay-pian-ming tampak Cong Teng San telah melompat keluar dari sumur, yang diikuti oleh sepuluh pengemis lainnya.

Tanpa mengatakan sepatah katapun pengemis-pengemis itu telah menyerbu Dedemit Hidup itu.

Cong Teng San berdiri sambil menyerbu telah berseru dengan suara yang mengguntur : “Jangan takut Sam-kay kami datang membantu!!”

Dan mereka jadi mengeroyok Dedemit Hidup itu. Si gemuk tromok jadi tambah murka.

Tetapi dia murka tanpa daya, karena dirinya dikepung begitu macam.

Maka dari itu, selain dia mengamuk ke sana-sini, memukul kemari, dia juga telah mencaci mendamprat pengemis-pengemis yang mengeroyoknya.

Kotor sekali cacian dari si gemuk tromok yang bergelar Dedemit Hidup itu.

Cong Teng San dan Sam-kay bersama pengemis-pengemis lainnya jadi menyerang lebih hebat lagi, karena mereka disertai oleh hawa amarah yang sangat.

Apalagi si Dedemit Hidup memaki Oen Lay Tat juga dengan kata-kata yang bisa membikin telinga jadi sakit mendengarnya dan bisa berobah jadi merah padam.

Para pengemis itu jadi tambah kalap dan mereka menyerang dengan nekad tanpa memikirkan keselamatan jiwa mereka.

Si Dedemit Hidup jadi kewalahan juga menghadapi manusia-manusia kalap itu. Dia berulang kali terdesak oleh serbuan orang-orang itu.

Dengan mengeluarkan seruan-seruan murka, dia selalu berusaha menerobos dari kepungan orang-orang tersebut, tetapi selalu tidak berhasil.

Maka dari itu, dia jadi semakin kalap dan berulang kali mencaci kalang kabutan.

Oen Lay Tat yang mengawasi dari kaca pembesar Tay-pian-ming jadi tersenyum melihat si gemuk tromok terdesak hebat oleh anak buahnya.

“Hmmmm..... tak seberapa kepandaiannya!!” menggumam Kauw-cu dari Pian- sia-kay dengan tersenyum mengejek. “Sebentar lagi dia pasti akan kena dibekuk!”

Orang-orang didalam ruangan tersebut jago-jago undangan dari Lay Tat semuanya mengawasi kearah jalannya pertempuran itu. Cie Kiat duduk diam ditempatnya.

Dia tidak tertarik sedikitpun untuk menyaksikan pertempuran antara orang- orangnya Oen Lay Tat dengan si gemuk tromok itu.

Otak si anak muda she Lie itu sedang berputar dengan cepat memikirkan setiap gerakan dari Ceng-tok-jie waktu melawan Kim Tok.

Nyata sekali gerakan-gerakan dari kedua binatang berbisa itu kalau dikombinasikan dan digabungkan tentu akan menjadi liehay sekali, serta luar biasa.

Sebagai seorang yang kepandaiannya telah tinggi dan sempurna, maka Cie Kiat telah dapat memahami garis besar dan baris dari gerakan-gerakan kedua binatang beracun peliharaan dari Oen Lay Tat.

Ce Kiat juga sedang memikirkan gerakan terakhir dari Ceng-tok-jie.

Pada saat yang lalu, dikala jiwa Ceng-tok-jie tengah terancam bahaya kematian, karena perutnya telah tergigit keras oleh Kim Tok dan darah telah banyak keluar dari tubuhnya itu, yang menyebabkan dia jadi lemas tak bertenaga, maka dia telah menggunakan suatu gerakan yang benar-benar telah menentukan nasibnya, sehingga dia malah berhasil telah menggigit binasa Kim Tok serta mematuk dengan ekornya.

Gerakan yang manis itu memang merupakan suatu gerakan yang jarang sekali terdapat didalam dunia ini, karena didalam keadaan terdesak begitu, lagi pula tenaganya telah lenyap menyebabkan dia lemah benar, Ceng-tok-jie malah berhasil merebut kemenangan.

Maka dari itu, Cie Kiat jadi tak habis pikir, gerakan itu biar bagaimana harus dia kuasai.

Kalau memang seorang jago yang kosen dan sedang menghadapi seorang lawannya yang liehay juga, maka dikala dia terdesak hebat, kalau memang dia telah menguasai tipu itu, pasti dia akan dapat merebut kemenangan total, karena lawannya tentu tidak akan menduga sama sekali.

Memang kalau dipikirkan, gerakan dari Ceng-tok-jie yang terakhir itu hebat sekali.

Kalau memang Cie Kiat dapat menguasai gerakan itu, maka dia akan menjadi seorang jago yang luar biasa, dan juga tanpa disadarinya dia menjadi seorang Ciang- bun-jin dari sebuah partai yang belum diresmikan!!

Dan kalau memang Cie Kiat sedang menghadapi seorang lawannya yang tangguh, dia pasti akan bisa menghadapinya dengan mudah sekali lawannya itu, karena kalau memang dia telah bisa menguasai gerakan-gerakan dari Ceng-tok-jie dan Kim Tok, berarti dia telah mempunyai ilmu silat dalam jurus-jurus yang aneh dan sukar untuk diterka oleh lawannya.

Dan, sedang orang-orang didalam ruangan tersebut tegang oleh suasana pertempuran si gemuk tromok Dedemit Hidup yang sedang dikeroyok oleh Sam-kay dan Cong Teng San, yang dapat disaksikan dari kaca pembesar Tay-pian-ming, tiba- tiba Cie Kiat telah tertawa gelak-gelak dengan suara yang bergelombang! Semua orang yang ada didalam ruangan itu jadi terperanjat, mereka semuanya menoleh dan heran melihat kelakuan dari anak muda she Lie itu.

Padahal, mereka tidak menyadari dan tidak mengetahui, bahwa pada saat itu didaratan Tionggoan telah bertambah seorang Ciang-bun-jin dari sebuah pintu perguruan silat yang masih muda usia, yang telah berhasil menciptakan gerakan- gerakan dari Ceng-tok-jie dan Kim Tok menjadi semacam ilmu silat yang ampuh serta tangguh sekali.

Sedangkan Cie Kiat tertawa sambil menggerak-gerakkan tangannya, dia seperti juga sedang bersilat.

Jurus-jurus yang dikeluarkannya itu benar-benar aneh sekali.

Semua orang yang menyaksikan kelakuan Cie Kiat jadi heran berbareng bingung.

Lebih-lebih dikala Cie Kiat tahu-tahu telah mengeluarkan suara teriakan yang keras mengguntur dan tahu-tahu tubuhnya mencelat tinggi sekali, disaat tubuhnya sedang terapung ditengah udara, maka tangan anak muda she Lie itu telah membabat kebawah, dan ‘takkkk!’ terdengar suara yang nyaring, tampak tujuh buah mangkuk telah pecah terhajar oleh angin serangan si anak muda she Lie tersebut.

Hal ini menunjukkan betapa kosen dan sempurnanya tenaga dalam Cie Kiat!

Waktu tubuhnya telah meluncur turun kembali kelantai dia berdiri tegak dan seperti juga Cie Kiat tidak memperdulikan orang-orang lainnya yang ada didalam ruangan itu dia tertawa gelak-gelak dengan suara yang keras sekali sehingga semua jago-jago rimba persilatan yang ada didalam ruangan itu dapat merasakan goncangan yang keras sekali, lagi pula suara tertawa dari Cie Kiat membikin jantung dari orang- orang yang ada didalam ruangan itu jadi tergoncang dengan hebat.

Panjang sekali suara tertawa dari Cie Kiat.

Seperti juga suara tertawanya tak akan terputus-putus.

Malahan orang-orang yang ada didalam ruangan itu seperti kesima. Mereka seperti melupakan pertempuran yang sedang terjadi diluar ruangan tersebut, dimana si gemuk tromok Dedemit Hidup sedang dikepung hebat oleh Sam-kay dan Cong Teng San.

Lay Tat sendiri juga berdiri bengong.

Dia tak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh anak muda she Lie itu. Dia hanya mengawasi saja dengan mata yang tak berkedip.

Sebagai seorang jago yang cukup kosen dan liehay, maka Lay Tat mengetahui dari suara tertawa Cie Kiat itu bahwa kepandaian tenaga dalam si anak muda she Lie telah sempurna benar!

Begitu juga jago-jago lainnya yang ada didalam ruangan tersebut, disamping mereka terkejut sekali, pun mereka sangat mengagumi akan kesempurnaan dari tenaga Lwee-kang si pemuda she Lie tersebut. Semuanya hanya memandang saja, tak ada seorangpun yang berani mendekati Cie Kiat.

Sedangkan Cie Kiat masih tertawa terus, suara tertawanya itu seperti juga tidak putus-putusnya. panjang dan bergelombang.

Kalau memang didalam ruangan itu terdapat manusia biasa yang tidak mempunyai kepandaian ilmu silat atau tidak mempunyai latihan tenaga Lwee-kang yang cukup tinggi maka orang itu mungkin akan rubuh pingsan disebabkan suara tertawa Cie Kiat yang bergelombang tak ada hentinya. !

*

* *

TETAPI SETELAH berlangsung sesaat lamanya, akhirnya Cie Kiat berhenti juga dari tertawanya itu. Dia jadi tersadar kembali, kesadarannya kembali menjangkau dirinya, menguasai dirinya.

Waktu dia memandang sekelilingnya, maka dia melihat jago-jago didalam ruangan itu semuanya sedang menatap dia dengan pandangan mata yang memancarkan kekaguman dan keheranan hati mereka.

Cie Kiat jadi malu sendirinya.

Dengan kikuk dia kembali kekursinya dan duduk disitu kembali dengan kepala tertunduk.

Semua orang yang ada diruangan tersebut masih mengawasi anak muda she Lie tersebut.

Kemudian barulah mereka mengawasi kearah kaca pembesar Tay-pian-ming kembali, dimana tampak si gemuk tromok Dedemit Hidup itu masih bertempur dengan seru sekali melawan kepungan Sam-kay dan Cong Teng San bersama pengemis-pengemis lainnya.

Tetapi lama kelamaan tampak sekali bahwa si gemuk tromok itu telah terdesak hebat.

Malah, waktu Cong Teng San telah melancarkan serangan-serangan senjata rahasia, menyebabkan si gemuk tromok harus main mundur, karena sekali saja dia lengah, maka dirinya akan menjadi korban dari senjata rahasia yang banyak disambitkan oleh para pengemis itu.

Hal ini membuat Dedemit Hidup jadi tambah gusar dan murka.

Tetapi biarpun dia murka bukan main, toh dia tidak berdaya. karena dia dikepung rapat sekali, sehingga ruang gerak untuk dirinya jadi sempit sekali.

Biar bagaimana dia hanya berseorang diri dan hal itu tidak bisa disamakan dengan pengepungnya yang berjumlah banyak begitu.

Meskipun kepandaian si gemuk tromok itu sangat tinggi dan sempurna, tetapi menghadapi kepungan dari pengemis-pengemis itu, yang berjumlah sangat banyak sekali, menyebabkan dia tetap jadi kewalahan. Dedemit Hidup itu telah berulang kali mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali, dia selalu melancarkan serangan-serangan yang mematikan, dan hal itu akan menyebabkan korban pukulan dan hajaran dari tangan si gemuk tromok, akan lantas terpukul binasa, jiwa korbannya pasti akan melayang dengan cepat untuk menghadap ke Giam-lo-ong!

Tetapi pengemis-pengemis itu ternyata sangat berani sekali, mereka ternyata tidak takut untuk mati. Biar bagaimana mereka selalu melancarkan serangan- serangan yang sangat luar biasa beraninya dan nekad sekali. Hal int karena mereka ingin memperlihatkan kepada Kauw-cu mereka, bahwa mereka benar-benar dan bersungguh hati membela Kauw-cunya itu!!.

Lay Tat sendiri berulang kali jadi tersenyum gembira melihat si gemuk tromok yang bergelar Dedemit Hidup itu jadi terdesak hebat.

Hmmmm...... tak lama lagi tentu si gemuk itu akan dapat dibinasakan oleh orang-orangku!!” menggumam Kauw-cu dari Pian-sia-kay itu.

Tak ada seorang diantara jago-jago undangan dari Lay Tat yang menyahuti perkataan dari Kauw-cu itu.

Mereka lebih banyak berdiam diri dan lebih memperhatikan jalannya pertempuran yang sedang berlangsung dengan hebat sekali diluar ruangan.

Wajah si gemuk tromok Dedemit Hidup itu telah terdesak hebat sekali, wajahnya berobah merah padam dan juga butir-butir keringat banyak membanjiri wajahnya.

Rupanya dia kewalahan sekali.

Untuk melarikan diri jelas dia bisa, tetapi dia tidak mau melakukan hal itu, karena sekali saja dia melarikan diri, maka nama dan gelarannya yang telah dipupuk puluhan tahun dan telah disegani orang akan hancur luluh dan punah, akan hilang pamornya!

Maka dari itu, biarpun dia telah terdesak hebat sekali, toh si gemuk tromok itu tetap tidak mau melarikan diri menyelamatkan jiwanya!

Dia tetap melakukan perlawanan yang gigih sekali.

Cong Teng San sendiri selalu melancarkan serangan-serangan yang mematikan.

Kalau memang si Dedemit Hidup itu menyerang salah seorang pengemis, maka pengemis lainnya telah menyerang si gemuk untuk menolongi pengemis yang sedang diserangnya itu.

Tetapi kalau si gemuk tromok Dedemit Hidup itu telah memutar tubuhnya membatalkan serangannya pada pengemis yang pertama itu dan menghadapi pengemis yang menyerang dirinya, maka pengemis yang kedua ini mengundurkan diri, dan pengemis yang ketiga telah melancarkan serangan yang hebat lagi!

Malahan kalau memang pihak pengemis itu telah terdesak hebat oleh si gemuk tromok ini, maka pihak Sam-kay dan Cong Teng San itu telah mengeluarkan senjata rahasia mereka, bermacam-macam senjata rahasia berhamburan kearah Dedemit Hidup menyambar mengancam keselamatan jiwa si gemuk, karena senjata rahasia itu semuanya telah diborehkan dan dioleskan oleh berbagai macam racun yang sangat berbahaya sekali serta daya kerjanya sangat cepat sekali.

Kalau memang si gemuk tromok itu, Dedemit Hidup tersebut, kena terserang oleh salah satu senjata rahasia itu, maka jangan harap dia akan bisa menyelamatkan jiwanya dari bahaya kematian!!

Maka dari itu, biarpun dia sangat terdesak dan kewalahan, toh mau tak mau si gemuk tromok Dedemit Hidup harus berusaha mengelakkan setiap serangan senjata- senjata rahasia itu.

Dia tak mau membiarkan dirinya terserang oleh senjata-senjata rahasia yang ditimpukkan oleh lawannya.

Tetapi lama kelamaan kesabaran dari si gemuk tromok Dedemit Hidup itu jadi lenyap, dia jadi murka sekali.

Dengan mengeluarkan seruan yang panjang dan menggeledek, dia menjejakkan kakinya, dan dengan cepat tubuhnya telah melambung keatas.

Dengan cepat dikala tubuhnya sedang terapung diatas udara begitu, maka si gemuk tromok tersebut telah menggerakkan kaki tangannya.

Angin serangan dari tendangan dan pukulan dari si gemuk ini menyebabkan beberapa orang pengemis yang berada paling dekat dengan dirinya jadi terjungkel rubuh!

Dan, disaat itulah digunakan oleh si gemuk tromok Dedemit Hidup untuk menghajar pengemis lainnya dengan cara yang sama.

Tubuhnya yang gemuk besar itu tampaknya sangat ringan sekali, sebentar- sebentar mencelat keatas terapung begitu ringan serta gesit luar biasa......

Seketika itu juga pengemis-pengemis yang mengeroyok diri Dedemit Hidup ini jadi kewalahan, begitu juga dengan Sam-kay dan Cong Teng San, mereka sampai mengeluarkan keringat dingin.



WAJAH LAY TAT jadi berobah hebat waktu melihat keadaan yang jadi berbalik begitu.

Dia sampai mengeluarkan seruan tertahan dikala dia melihat Sam-kay terdesak dengan hebat oleh si Dedemit Hidup itu.

Lebih-lebih dilihatnya Cong Teng San juga terdesak oleh setiap serangan dari si gemuk tromok Dedemit Hidup. Biar bagaimana Lay Tat tidak mau melihat kalau sampai dipihaknya yang mengalami kekalahan, dia menginginkan si gemuk itu dapat dibinasakan oleh orang- orangnya atau sedikitnya dapat dibekuk hidup-hidup.

Maka dari itu, menyaksikan keadaan yang telah berbalik dengan cepat, menyebabkan dia jadi gugup dengan sendirinya.

Biar bagaimana dia adalah seorang Kauw-cu dari sebuah perkumpulan yang besar. Pian-sia-kay bukan samacam perkumpulan yang bisa dibuat main-main dengan mudah. Juga anggota pengemis dari perkumpulan tersebut semuanya memiliki ilmu silat yang tinggi dan cukup sempurna.

Maka dari itu, dengan dikeroyok begitu banyak pengemis, termasuk Sam-kay dan Cong Teng San, tetapi si gemuk tromok itu masih dapat memukul mundur setiap penyerangnya, itu sudah dapat menunjukkan, betapa kosen dan liehaynya si gemuk ini.

Lebih-lebih kalau diperhatikan, bentuk tubuh Dedemit Hidup itu yang gemuk berat tersebut tampaknya ringan sekali kalau dia sedang melompat.

Sangat gesit luar biasa.

Semua jago-jago undangan dari Lay Tat juga jadi merasa kagum melihat kehebatan dari si gemuk tromok Dedemit Hidup itu.

Mereka semuanya memang telah mendengar nama dari si Dedemit Hidup tersebut, dan pada hari inilah baru mereka dapat menyaksikan kehebatan dan kekosenan dari si gemuk tromok Dedemit Hidup itu. !

Tadinya mereka tidak menduga bahwa kepandaian si Dedemit Hidup begitu tinggi, mereka hanya menduga mungkin nama harum dari si gemuk tromok ini mungkin dibesar-besarkan oleh orang-orang didalam kalangan Kang-ouw, sungai telaga, dan mereka juga menduga bahwa si Dedemit Hidup ini mungkin sering bicara besar, jumawa dan angkuh sekali.

Maka dari itu, diluar dugaan sama sekali bagi jago-jago yang ada didalam ruangan itu, bahwa si gemuk tromok yang mempunyai berat badan mungkin sampai seratus kati lebih itu dapat mempunyai gerakan badan yang ringan dan gesit, dan lagi pula ilmu silatnya juga sangat luar biasa sekali. !

Lay Tat sendiri jadi keripuhan seorang diri, tampaknya dia bergelisah sekali.

Akhirnya, rupanya dia tidak bisa menahan goncangan hatinya lagi waktu melihat Cong Teng San dan Sam-kay semakin terdesak hebat oleh Dedemit Hidup yang bertubuh gemuk tromok tersebut.

Dengan cepat dia bergegas keluar dari ruangan itu.

Ketujuh belas jago undangan dari Lay Tat dan Cie Kiat juga jadi bangkit dari duduk mereka.

Dengan cepat mereka mengikuti Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut menuju keluar dari ruangan itu. Malah Peng-im Loo-nie telah menggumam : “Hmmmm, main keroyok, tetapi tidak bisa merebut kemenangan!!”

Seketika itu juga ruangan tersebut jadi sunyi kembali, karena tak ada seorang manusiapun didalam ruangan itu.

Ceng-tok-jie yang masih berada diatas nenampan yang diletakkan ditengah- tengah ruangan itu, masih tetap mendekam disitu tanpa bergerak.

Rupanya dia jinak sekali, walaupun tak ada seorang manusia disitu, toh dia masih mendekam terus, rupanya dia memang tak biasa bergerak, kalau memang tidak membaui bubuk putih yang tadi telah disebarkan oleh Cong Teng San.

Oen Lay Tat menuju kearah lobang sumur.

Waktu dia sampai disitu, dengan ringan dia menjejakkan kakinya.

Tubuhnya gesit sekali melambung tinggi melompat keluar dari dalam sumur yang cukup tinggi.

Jago-jago lainnya juga mengikuti perbuatan dari Kauw-cu Pian-sia-kay. Mereka semuanya keluar dari dalam sumur itu juga.

Dan Cie Kiat, dia telah melompat paling akhir.

Waktu menjejakkan kakinya, dengan ringan sekali tubuhnya itu telah melayang keatas sumur, keluar dari lobang sumur itu.

Cie Kiat merasakan ada suatu perobahan pada dirinya. Dia merasakan gerakannya jadi lebih ringan.

Dan tadi waktu dia melompat untuk keluar dari dalam lobang sumur itu, dia telah menggunakan satu gerakan dari Ceng-tok-jie, yang telah dirobahnya menjadi semacam ilmu silat yang baru.

Hal itu dilakukannya diluar kesadarannya, dan waktu dia sampai dipermukaan bumi, keluar dari lobang sumur itu, dia jadi girang dengan sendirinya.

Dia segera mengetahui, kalau memang gerakan Kim Tok dan gerakan Ceng-tok- jie digubah menjadi jurus-jurus ilmu silat yang diciptakannya tadi selama dia berada didalam ruangan didalam gedung empat persegi itu.

Gerakan-gerakan atau jurus-jurus itu masih belum dinamai oleh Cie Kiat.

Lagi pula tanpa sesadarnya, Cie Kiat telah menjadi seorang Ciang-bun-jin dari sebuah partai persilatan baru.

Walaupun ilmu silat dalam jurus-jurus yang dicangkok dari gerakan Ceng-tok- jie atau Kim Tok itu masih belum diberi nama, toh dia telah berhasil menciptakannya menjadi jurus-jurus ilmu silat.

Pada saat itu Dedemit Hidup sedang repot menghadapi pengeroyoknya, dia sibuk menyerangi setiap pengemis yang berada dekat dengan dirinya. Dia selalu mencelat dengan gesit dan melancarkan serangan-serangan yang berisi tenaga Lwee- kang yang kuat sekali. Dan, dia melihat Lay Tat beserta belasan orang telah melompat keluar dari lobang sumur itu dengan gerakan yang ringan dan gesit sekali.

Hal itu menandakan bahwa orang-orang yang baru keluar dari lobang sumur itu semuanya mengerti ilmu silat, dan ilmu silat orang-orang yang baru keluar dari lobang sumur itu tentu tak rendah.

Lebih-lebih si Dedemit Hidup itu melihat Peng-im Loo-nie, It Kiang Sian-su, dan tokoh-tokoh rimba persilatan lainnya, yang terkenal akan kekosenan ilmu silatnya, terdapat diantara orang-orang itu.

Hal ini membikin hati si gemuk tromok jadi tergoncang dengan hebat. “Hei.        mengapa mereka bisa ditundukkan oleh orang she Oen ini? Bukankah

mereka adalah tokoh-tokoh dirimba persilatan yang mempunyai  nama tak kecil?

Mengapa mereka mau berkawan dengan manusia she Oen itu? Apakah mereka telah diperalat oleh Kauw-cu Pian-sia-kay tersebut?” pikir Dedemit Hidup itu dengan bimbang. “Kalau memang mereka sampai turun tangan mengepungku, maka bisa repot....... biar aku tumbuh dua pasang tangan dan dua pasang kepala lagi, tak nantinya aku bisa terlolos dari kepungan mereka........ mereka rata-rata mempunyai kepandaian ilmu silat yang tinggi dan luar biasa sekali. !”

Dan karena melihat jago-jago yang baru muncul dari lobang sumur itu, maka semangat tempur dari Dedemit Hidup jadi tergoncang dan tergempur hebat.

Dengan sendirinya dia jadi agak lengah, dalam memberikan perlawanannya kepada pengemis-pengemis yang sedang mengepung dirinya.

Jadi dia terdesak hebat lagi.

Berlainan dengan si Dedemit Hidup ini, maka Sam-kay, Cong Teng San dan pengemis-pengemis lainnya yang sedang mengepung si gemuk tromok ini, maka mereka jadi bertambah semangat tempur mereka dengan sendirinya.

Pada saat itu Lay Tat telah datang menghampiri lebih dekat.

“Tahan !” bentak Kauw-cu dari Pian-sia-kay ini. Nyaring sekali suaranya.

Sam-kay dan Cong Teng San mendengar suara bentakan dari Kauw-cu mereka, maka dengan cepat mereka telah melompat mundur.

Begitu juga dengan pengemis-pengemis lainnya, mereka cepat-cepat meloloskan diri dari libatan si Dedemit Hidup, mereka masing-masing melompat mundur dan menghampiri Kauw-cu mereka.

Si Dedemit Hidup tidak mengejarnya.

Dia bisa bernapas juga, karena dia jadi bisa mengasoh.

Sejak tadi dia dikepung cara begitu, maka tenaganya telah banyak terhamburkan, menyebabkan dia sangat letih sekali.

Disekanya keringat yang membasahi kening dan wajahnya.

Dengan mata mencilak bengis mendelik kearah Lay Tat, Dedemit Hidup itu telah mengawasi Kauw-cu dari Pian-sia-kay yang juga sedang menatap padanya. Melihat orang-orangnya telah mundur semuanya, maka Lay Tat telah tertawa.

“Dedemit tua bangka!” katanya dengan suara yang mengejek. “Sebetulnya manusia semacam kau ini harus dibikin mampus! Tetapi mengingat bahwa pada beberapa puluh tahun yang lalu kita pernah mengikat tali persahabatan, dan mengingat akan itu maka aku mau mengampuni jiwamu! Cepatlah kau menggelinding enyah dari tempat ini! Lain kali kalau memang kau bermaksud jelek datang kemari lagi, hmmmm, biarpun kau mempunyai kepala sepuluh, jangan harap kau bisa meloloskan diri dari kematianmu!”

Mendengar perkataan Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut, wajah Dedemit Hidup jadi berobah merah padam.

Nyata dia bergusar sekali.

“Orang she Oen!” katanya dengan suara yang tawar, agak parau suaranya itu, karena napas Dedemit Hidup ini masih terengah memburu. “Kau jangan bicara tekebur dan bermulut besar! Biarpun kau mengerahkan seluruh orang-orangmu tak nantinya mereka dapat merubuhkan diriku! Kalau memang aku sampai terkalahkan oleh orang-orangmu, termasuk dirimu juga, jadi tegasnya pihak Pian-sia-kay, maka lebih baik aku tidak menjadi penghuni dunia ini lagi! Aku akan rela untuk binasa!”

Mendengar si Dedemit Hidup berkata begitu, Lay Tat tertawa mengejek lagi. “Hmmmm.... kau memang seorang yang berkepala batu!” kata Lay Tat dengan

suara yang mendongkol sekali. “Kami telah memberikan jalan hidup untuk dirimu,

tetapi kau telah memilih jalan kematian! Hmmmm, baiklah! Aku juga ingin melihat apakah setelah kepalamu itu terpisah dari lehermu, kau masih mau mengatakan kau tidak takut menghadapi kematian?!”

Dan setelah berkata begitu, maka Lay Tat telah maju perlahan-lahan, selangkah demi selangkah.

Napas Dedemit Hidup masih memburu keras!

Dia melihat orang tengah menghampiri dirinya, walaupun dia masih merasa letih, toh jadi bersiap-siap untuk menyambut setiap serangan dari Lay Tat.

Memang si Dedemit ini telah kepalang tanggung basah, dia pikir lebih baik bertempur mati-matian untuk mengadu jiwa dari pada harus menerima hinaan.

Karena kalau memang dia pergi dari tempat itu hanya disebabkan dia mengandalkan belas kasihan dari orang she Oen tersebut, tentu dirinya akan menjadi bahan ejekan dari kawan maupun lawannya didalam Bu Lim, rimba persilatan, atau juga didalam kalangan Kang-ouw, sungai telaga.

Maka, dengan tegas dia berkata : “Walaupun aku harus menerima kematianku, tetapi akupun harus dapat membunuhmu, hei orang she Oen!!” katanya bengis.

Lay Tat jadi tertawa mendengar perkataan dari si Dedemit Hidup.

“Apakah kau memang yakin bisa membunuh diriku?” kata Lay Tat dengan suara yang mengejek. “Hmmmm... apakah kau mempunyai kepandaian untuk melakukan hal itu, maksudku, untuk membunuhku?” dan setelah bertanya dengan suara yang mengejek itu, Lay Tat tertawa gelak-gelak dengan nada yang tidak memandang sebelah mata kepada si Dedemit Hidup itu.

Lay Tat memang seorang Kauw-cu Pian-sia-kay, sebuah perkumpulan pengemis yang cukup besar, dan memang sudah menjadi tabiatnya sebagai seorang Kauw-cu yang selalu dihormati oleh anak buahnya, maka dia menjadi angkuh dan sombong, tak pernah ada orang dipandang mata olehnya.

Kalau memang ada orang yang disenanginya, mungkin Lay Tat akan mengalah, tetapi kalau memang dia bertemu dengan orang yang tidak disukainya, berarti orang itu akan diperlakukannya semau hati orang she Oen tersebut.

Wajah si Dedemit Hidup telah berobah begitu merah padam dan sebentar- sebentar berobah lagi menjadi pucat pasi.

Rupanya bermacam-macam perasaan campur aduk didirinya.

Perasaan mendongkol, perasaan gusar dan murka, dan perasaan agak jeri kalau memang dirinya nanti dikeroyok oleh jago-jago yang berdiri dibelakang Lay Tat, misalnya Peng-im Loo-nie, It Kiang Sian-su, Ciang Yang Too-jin dan jago-jago lainnya, karena si Dedemit Hidup ini mengetahui, begitu dia dikeroyok oleh jago- jago itu secara beramai-ramai, maka kesempatan untuk hidup bagi dirinya jadi sangat sedikit sekali.

Tadi dia herkata bahwa dirinya tak akan mungkin dapat dikalahkan oleh pengemis-pengemis Pian-sia-kay, termasukt Lay Tat sebagai Kauw-cunya, sebetulnya si Dedemit Hidup iai menggunakan akal licik untuk memukul mundur jago-jago yang berdiri dibelakang Lay Tat dengan kata-kata.

Dengan berkata bagitu, secara tidak dijelaskan, pun orang akan mengerti maksud perkataan dari si Dedemit. Dia menginginkan agar yang menyerang dan mengepungnya hanyalah orang-orang Pian-sia-kay, jadi jago-jago yang dikenalnya seperti It Kiang Sian-su, Peng-im Loo-nie, Ciang Yang Too-jin, dan yang lain- lainnya, jangan ikut mencampuri urusan itu.

Tetapi Lay Tat memang sangat cerdik.

Sengaja dia membawa lagak seperti tidak mengerti maksud perkataan si Dedemit Hidup. Dia pura-pura pilon.

“Begini saja Dedemit tua bangka yang sudah mau mampus!” kata Lay Tat dengan suara yang nyaring. “Kalau memang kau bisa memenangkan lima kali pertempuran diantara orang-orangku, maka kau boleh menyebutkan apa yang ingin kau kehendaki dari kami! Bagaimana? Kau menyetujui atau tidak?”

Mendengar perkataan Lay Tat, wajah si Dedemit Hidup jadi berobah merah berganti pucat lagi.

Dia mengerti akan kelicikan dari Kauw-cu Pian-sia-kay tersebut.

“Kau sebagai seorang Kauw-cu, tetapi lagakmu seperti anak kecil!” berkata Dedemit dengan suara yang tawar. Hmmm...... dengan bertempur secara digilir lima kali begitu bukankah sama saja kau dengan mengeroyok diriku secara beramai- ramai? Mengapa kau harus menempuh jalan itu? Seranglah diriku secara beramai- ramai aku tentu tidak akan mundur setapakpun!” Bersemangat sekali kata-kata dari si Dedemit Hidup itu. Nyata dia sedang bergusar sekali, sehingga lenyap rasa takut dan jerinya.

Dia jadi tidak memikirkan persoalan mati hidup dirinya.

Lay Tat kembali tertawa tawar, dia tidak memandang sebelah mata kepada si Dedemit Hidup, walaupun dia sendiri harus mengakui bahwa kepandaian ilmu silat si Dedemit Hidup ini sangat liehay sekali.

Tetapi karena dia memang menang orang yang berjumlah banyak, sedangkan si Dedemit Hidup itu, hanyalah berseorang diri belaka, maka dia percaya dan yakin, bahwa kemenangan pasti berada dipihaknya. !

“Apakah kau benar-benar tidak takut mampus?” tegur Lay Tat dengan suara mengejek.

Wajah si Dedemit Hidup jadi merah padam saking murkanya mendengar perkataan Lay Tat.

Dia adalah seorang tokoh rimba persilatan yang mempunyai kepandaian yang luar biasa. Didalam kalangan Kang-ouw dia sangat disegani baik pihak lawan maupun pihak kawan.... maka dari itu, dia lebih baik memilih kematian dari pada harus menerima hinaan dari orang.

Bisa dibayangkan betapa kegusaran yang bergolak didalam hati si Dedemit Hidup, karena Lay Tat selalu memperlakukan dirinya seperti juga seorang pengecut yang jeri menghadapi kematian dan Lay Tat seakan juga ingin mengulurkan tangan melepas kebaikan dan budi padanya berdasarkan belas kasihan belaka!

Maka dari itu, saking gusar dan murkanya yang tidak terkendalikan lagi, maka dengan tiba-tiba si Dedemit Hidup telah mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, dia telah merangsek menyerang Lay Tat dengan menggunakan kedua tangannya.

Tangan kirinya mengincer jalan darah Pay-yang-hiatnya Kauw-cu dari Pian-sia- kay ini, sedangkan tangan kanannya telah menghajar, disertai oleh tenaga Lwee- kangnya sebagian besar kearah dada Lay Tat.

Kalau memang cengkeraman tangan kiri si Dedemit Hidup itu berhasil mencengkeram jalan darah Pay-yang-hiatnya Kauw-cu she Oen itu, maka jangan harap Lay Tat dapat hidup terus, karena jalan darah itu sama pentingnya dengan jalan darah Tay-yang-hiat, maka bisa dibayangkan kalau sampai jalan darah itu kena dicengkeram, tentu Lay Tat akan menemui kebinasaannya.

Dan seumpamanya Lay Tat dapat mengelakkan serangan tangan kiri si Dedemit Hidup yang menyerupai cengkeraman yang berbahaya itu, tetapi tangan kanan si Dedemit Hidup itu telah mengancam dadanya.

Kalau sampai tangan si Dedemit Hidup itu berhasil menghajar telak dada Kauw- cu dari Pian-sia-kay tersebut, maka tulang dada Lay Tat pasti akan terhajar remuk hancur berantakan..... dan yang jelas, jiwa orang she Oen itu tentu tidak akan dapat dipertahankan dari tarikannya tangan Giam-lo-ong yang mau mengadili dosa- dosanya!! Jarak antara Oen Lay Tat dengan si Dedemit Hidup itu sangat dekat sekali dia yang berdiri paling muka dari pengemis lain-lainnya.

Disaat si Dedemit menyerang dirinya sambil mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, maka Lay Tat agak terkejut juga.

Tetapi dia kosen sekali, biarpun dia berada didalam jarak yang sangat dekat sekali, toh dia tidak menjadi gugup disebabkan serangan itu.

Dengan cepat dia memiringkan tubuhnya kekiri, menghindarkan serangan tangan kanannya si Dedemit Hidup yang mau menghajar remuk dadanya, kemudian dengan gerakan ‘Ya Ma Hun Cong’ atau ‘Kuda tua mengibaskan ibu surinya’, dia telah mengibaskan tangan kanannya menangkis tangan kiri dari si Dedemit Hidup yang mau mencengkeram jalan darah Pay-yang-hiatnya. Gerakan itu dilakukan, dengan satu kibasan yang disertai oleh tujuh bagian tenaga dalamnya Lwee-kang, sehingga dengan telak tangan kanannya itu telah dapat menangkis tangan kiri si Dedemit Hidup dengan keras sekali, yang menyebabkan jalan darah Pay-yang- hiatnya tidak sampai kena dicengkeram oleh Dedemit Hidup yang mempunyai tubuh gemuk tromok tersebut.

Malah disebabkan tangkisan tangan dari Kauw-cu Pian-sia-kay she Oen itu, maka terdengar suara benturan tangan mereka yang nyaring sekali.

Tampak keduanya jadi terhuyung kebelakang beberapa tindak.

Wajah si Dedemit Hidup jadi berobah pucat, dia dapat merasakan kehebatan dari tangkisan tangan Oen Lay Tat.

Sedangkan Lay Tat dengan cepat telah dapat menguasai dirinya tidak sampai terhuyung jauh.

Dengan mata mendelik bengis dan mulut tersenyum mengejek, dia telah berkata

lagi.

“Huuu, huu, dengan hanya mempunyai kepandaian yang sebegitu saja kau telah

berkepala besar dan tidak tahu diri!” ejek Lay Tat dengan suara yang parau. “Didalam sepuluh jurus kalau memang aku tidak bisa membikin kau mampus penasaran, biarlah aku si orang she Oen tidak menginjakkan kakiku diwilayah Liong- gak-chung ini lagi!”

Wajah si Dedemit Hidup jadi berobah merah padam, kemudian berobah pucat. Dia murka sekali. Dan dengan tidak memperdulikan keselamatan dirinya lagi, dia telah melancarkan serangannya lagi. Malah kali ini dia menyerang dengan serangan- serangan dari seorang jago yang sedang ingin mengadu jiwa dengan lawannya. !

*

* *

OEN LAY TAT beserta jago-jago lainnya yang ada disitu pun jadi terkejut melihat kenekadan si Dedemit Hidup yang tampaknya sudah tidak memperdulikan keselamatan dirinya, karena si Dedemit Hidup ini menyerang dengan hebat sekali, dengan serangan yang ditujukan langsung kepada Lay Tat tanpa mengadakan penjagaan dirinya! Melihat, kenekadan si Dedemit Hidup itu, maka pengemis lainnya, termasuk Sam-kay dan Cong Teng San, jadi menguatirkan keselamatan Kauw-cu mereka.

Dengan serentak mereka maju akan memberikan bantuan mereka kepada orang she Oen itu.

Tetapi biarpun dirinya diserang begitu hebat, dan biarpun dia terkejut, toh Lay Tat tidak menjadi gugup.

Dengan cepat dia menjejakkan kakinya, dia telah melompat mundur.

Dengan bergerak begitu, dengan menggunakan jurus ‘Lee Ie Ta Teng’, maka dia dapat mengelakkan serangan dari si Dedemit Hidup.

Tetapi si gemuk tromok Dedemit Hidup itu mana mau mengerti?

Waktu dia melihat serangannya telah menemui kegagalan dan mengenai tempat kosong, maka dengan cepat dia telah menubruk dan menjerang lagi dengan lebih hebat.

Kali ini si Dedemit menyerang dengan serangan yang berangkai yang secara beruntun menyerang diri si orang she Oen itu.

Hal ini membikin Oen Lay Tat jadi kewalahan juga.

Biarpun dia mempunyai kepandaian ilmu silat yang tinggi, tetapi karena dia sedang berhadapan dengan seorang manusia yang benar-benar nekad dan sudah tidak memikirkan keselamatan dirinya lagi, maka mau tak mau dia jadi keripuhan juga untuk mengelakkan dan menangkis setiap serangan dari si Dedemit Hidup itu.

Untung saja Lay Tat mempunyai kepandaian yang cukup tinggi dan sempurna, lagi pula Gin-kangnya memang telah mencapai tingkat kesempurnaan, sehingga dengan ringan dan gesit dia selalu dapat mengelakkan serangan-serangan maut dari si Dedemit Hidup itu.

Pengemis-pengemis lainnya, Sam-kay, Cong Teng San dan yang lainnya, telah maju mendekat, mereka bersiap-siap akan meluruk mengeroyok si Dedemit Hidup itu lagi.

Tetapi sebelum mereka bertindak, dihadapan pengemis-pengemis itu telah berkelebat sesosok bayangan.

Waktu Cong Teng San dan Sam-kay serta yang lainnya menegaskan, mereka jadi terkejut.

Lebih-lebih Cong Teng San, dia sampai membuka matanya lebar-lebar. “Kau. ?” tanya orang she Cong itu dengan suara yang bimbang.

Sosok bayangan yang menghadang didepan pengemis-pengemis itu ternyata Lie Cie Kiat.

Anak muda she Lie ini tidak senang kalau melihat si Dedemit Hidup itu dikeroyok terus menerus. Tadi si Dedemit Hidup telah dikeroyok dan tenaganya telah habis terhambur percuma, lagi pula dia sangat lebih sekali, walaupun toh dia masih bisa membunuh beberapa pengemis yang masih menggeletak mayatnya disekitar tempat itu.

“Benar aku!” menyahuti Cie Kiat dengan cepat : “Dan Hak-seng kira, tak perlu saudara-saudara turun tangan, lebih baik kita secara jantan melepaskan Kauw-cu kalian untuk menghadapi si Dedemit Hidup itu! Padahal kalau memang dipertimbangkan dengan teliti, sebetulnya pertandingan antara Kauw-cu kalian dengan orang gemuk itu masih tak adil, karena si Dedemit Hidup tadi baru saja bertempur dengan kalian secara dikeroyok, dan yang jelas semangatnya telah berkurang dan tenaganya telah habis karena dia keletihan. Sedangkan Kauw-cu kalian masih mempunyai semangat dan tenaga baru! Maka dari itu, biarlah mereka bertempur satu lawan satu secara Ho-han. orang gagah!!”

Wajah Cong Teng San dan Sam-kay beserta pengemis-pengemis lainnya jadi berobah.

“Mengapa kau mau mencampuri urusan kami?” bentak Sam-kay tak senang, “Bukankah kau menjadi tamu kehormatan kami yang diundangkan oleh Kauw-cu mengapa sekarang kau ingin memihak kepada orang luar?

Mendengar pertanyaan Sam-kay Cie Kiat jadi tertawa tawar.

“Benar, memang Hak-seng menjadi tamu kehormatan memperoleh undangan langsung dari Kauw-cu kalian! Tetapi bukan berarti Hak-seng menjadi tamu kalian, lalu setiap tindakan kalian yang salah harus Hak-seng benarkan! Oh tidak bisa itu! Mana ada kejadian yang bisa begitu? yang salah tetap harus dipersalahkan, sedangkan yang betul harus dibenarkan! Biarpun ayah kita sendiri, kalau memang sang ayah itu melakukan kejahatan, maka sang anak harus memberikan nasehat dan wejangan kepadanya. !!” kata Cie Kiat dengan tegas.

Anak muda she Lie ini membahasakan dirinya dengan sebutan Hak-seng, yang berarti murid. Dia membahasakan dirinya begitu menunjukkan kerendahan budi bahasanya, yang selalu tidak mau berlaku angkuh dan congkak, walaupun pemuda she Lie ini telah mengetahui dirinya mempunyai kepandaian yang tinggi sekali, dan mungkin sulit untuk mencari tandingannya!

Wajah Sam-kay, Cong Teng San dan beberapa pengemis lainnya jadi berobah hebat.

“Apakah kau benar-benar akan memihak kepada orang luar?” bentak Sam-kay dengan suara aseran.

“Aku tidak mengatakan bahwa aku memihak orang luar,” kata Cie Kiat dengan cepat. Yang penting bagiku adalah kebenaran dan kejujuran! Aku tidak mau melihat ada orang yang akan berbuat curang!”

Cie Kiat berkata begitu, karena dia mendongkol sekali, dan dia juga membahasakan dirinya tidak dengan sebutan Hak-seng lagi, yang berarti murid itu.

Pengemis-pengemis dibelakang Sam-kay dan Cong Teng San jadi gusar, mereka memaki-maki Cie Kiat. Malah ada salah seorang diantara mereka yang telah maju kedepan dan mengayunkan tangannya akan menyerang Cie Kiat.

Cie Kiat tertawa melihat cara menyerang orang, karena segera juga dia mengetahui bahwa orang ini tidak mempunyai permainan silat yang sempurna. Dia hanya mengerti kembang-kembangnya belaka.

Sam-kay yang melihat pengemis itu akan menyerang Cie Kiat, dia mau mencegahnya.

Tetapi sudah terlambat.

Waktu tangan pengemis itu meluncur dengan suatu kecepatan yang luar biasa menyerang Cie Kiat, dengan mudah anak muda she Lie itu telah mengibaskan tangannya, maka seketika itu juga terdengar suara jeritan yang menyayatkan hati, karena tubuh si pengemis yang menyerang Cie Kiat itu telah terpental jauh sekali, agak tinggi, kemudian rubuh terbanting ditanah dengan suara gedubrakan yang keras sekali, terbanting sampai batang lehernya patah dan dia hanya sempat mengeluarkan suara ‘ngggeeeek’ ditenggorokannya, kemudian dia putus jiwa koit disaat itu juga!

Semua yang melihat hal itu jadi terkejut sekali.

Begitu juga Sam-kay dan Cong Teng San serta pengemis-pengemis lainnya, mereka sangat murka sekali.

Mereka menganggap tangan Cie Kiat telengas sekali terhadap pengemis yang ‘malang’ nasibnya itu.

Padahal persoalan yang sebenarnya adalah Cie Kiat sendiri tidak menyadarinya bahwa tenaga Lwee-kangnya telah bertambah dari hari kehari. Biasanya kalau memang dia menggunakan empat bagian tenaga Lwee-kangnya, seperti tadi waktu dia mengibaskan tangannya kepada pengemis yang koit itu, maka korbannya pasti hanya akan terdorong rubuh terjungkal. Tetapi kali ini pengemis itu telah terpental begitu hebat dan terbanting sampai menemui ajalnya, hal ini juga jadi mengejutkan Cie Kiat sendiri.

Lay Tat yang sedang bertempur dengan si gemuk tromok si Dedemit Hidup itu, juga telah mendengar suara jeritan yang menyayatkan dari pengemis yang benar- benar sedang sial nasibnya itu.

Kauw-cu dari Pian-sia-kay ini melirik sedikit begitu dia mempunyai kesempatan, tetapi begitu dia melihat bahwa orang yang terbinasakan dengan batang leher yang patah menggeletak diatas tanah itu adalah pengemis yang menjadi anggota perkumpulan Pian-sia-kay yang dipimpin olehnya.

Hati Lay Tat jadi terkesiap, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Segera juga dia dapat menduga siapa yang telah membunuh anak buahnya itu, karena dia seketika itu juga melihat bahwa Cie Kiat sedang dikurung oleh Sam-kay, Cong Teng San dan pengemis-pengemis lainnya.

Wajah Sam-kay berperangai sangat bengis dan membayangkan atau memancarkan hawa pembunuhan ! 

LAY TAT jadi agak bingung juga melihat perkembangan selanjutnya dari peristiwa itu.

Sekarang persoalan semakin bergolak, kalau memang dia tidak cepat-cepat mengambil tindakan yang tegas, mungkin nanti ketujuh belas jago-jago yang diundangnya untuk menyaksikan benda mustika yang belum lagi dikeluarkan itu, akan terlibat didalam suatu pertempuran pula.

Tetapi Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut tidak bisa berpikir lama-lama, sebab Dedemit Hidup telah menyerang lagi dengan serangan yang beruntun dan sangat berbahaya sekali.

Kalau memang Lay Tat tidak bisa bergerak cepat dan bermata jeli, mungkin dia akan kena dihajar oleh pukulan ‘Tui Hong Jie Ciu’ atau ‘Dua mutiara angin’, dan suatu kemungkinan dirinya mengalami suatu kecelakaan yang tidak ringan.

Untung saja Lay Tat memang kosen dan lagi pula dia juga liehay sekali ilmu silatnya, biarpun dia sedang lengah, toh akhirnya dia dapat juga mengelakkan setiap serangan yang dilancarkan oleh Dedemit Hidup itu.

Pada saat itu Cie Kiat tengah dikurung oleh Sam-kay, Cong Teng San dan pengemis-pengemis lainnya. Semakin lama pengemis-pengemis itu mengurung semakin rapat, karena mereka tidak senang hati dan murka melihat kawan mereka terbinasa ditangan anak muda she Lie ini.

Maka dari itu, pengemis-pengemis ini bermaksud untuk membalaskan sakit hati dan penasaran dari kawan mereka yang telah terbinasakan itu!

Sam-kay sendiri telah maju perlahan-lahan dengan sikapnya yang mengancam. Matanya memancar bengis, mengandung hawa pembunuhan.

Begitu juga Cong Teng San dan pengemis-pengemis lainnya, mereka memang ingin mengeroyok dan menghajar binasa anak muda she Lie tersebut.

Ketujuh belas jago yang menjadi undangan dari Lay Tat jadi bingung juga.

Mereka tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan, sehingga mereka berdiam diri saja ditempat mereka masing-masing.

Kalau memang mereka memisahkan pertikaian itu, mereka tentu akan terlibat didalam persengketaan itu. Kalau memang mereka dapat mendamaikan orang-orang yang sedang terlibat didalam ancaman dari suatu pertempuran, kalau memang gagal, tentu mereka juga akan menemui kesulitan juga....! Maka dari itu It Kiang Sian-su, Peng-im Loo-nie dan Ciang Yang Too-jin beserta jago-jago lainnya hanya memandangi saja persengketaan itu, seperti juga mereka ini hanya sebagai penonton belaka. Dikala itu Cie Kiat tengah berdiri tegak ditempatnya dengan tenang. Tak tampak sedikitpun perasaan jeri pada wajahnya.

Dia menantikan apa yang akan dilakukan oleh orang-orang Pian-sia-kay ini terhadap dirinya.

Maka dari itu, dengan pancaran mata yang tajam sekali Cie Kiat melihat Sam- kay, Cong Teng San dan beberapa orang pengemis itu tengah maju perlahan-lahan dengan sikap mereka yang mengancam.

Cie Kiat telah mengambil keputusan, untuk memberikan ganjaran dan pelajaran pahit kepada pengemis-pengemis itu, agar lain kali tidak terlalu jumawa dan terlalu bertindak sewenang-wenang.

Maka dari itu, Cie Kiat tidak berusaha untuk membujuk lagi. Dia hanya memandangi saja pengemis-pengemis itu.

Sam-kay dan Cong Teng San memang mengetahui bahwa Cie Kiat mempunyai kepandaian ilmu silat yang tinggi, tetapi mereka percaya akan jumlah mereka yang besar itu, yang akan dapat merebut kemenangan.

Sebab itulah mengapa mereka jadi tak jeri untuk mengeroyok si anak muda she Lie itu.

Pengemis-pengemis itu mengurung Cie Kiat semakin sempit, karena mereka telah semakin mendekati.

Dan suatu ketika ada seorang diantara pengemis itu yang telah menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat menubruk kearab Cie Kiat.

Pengemis itu menyerang dari belakang Cie Kiat, karena pemuda she Lie ini berdiri membelakangi dirinya. Dan maksud pengemis tersebut dengan menyerang begitu, dia ingin membokong orang, karena dia percaya, dengan sekali hajar tentu dia akan berhasil menghajar terguling pemuda she Lie tersebut.

Tetapi semuanya yang terjadi benar-benar diluar dugaan dari pengemis itu.

Waktu dia menyerang dengan secara membokong itu, Cie Ktat masih berdiri tegak ditempatnya, sehingga tangan pengemis itu meluncur dengan cepat dan hampir mengenai punggung Cie Kiat.

Pengemis-pengemis lainnya menyaksikan dengan girang, karena mereka yakin serangan kawan mereka itu pasti akan berhasil dengan memuaskan dan mereka telah merencanakan, begitu Cie Kiat terhajar terguling kena dibokong oleh kawan mereka itu, maka pengemis-pengemis ini akan meluruk menyerang dan menghajarinya pemuda she Lie tersebut.

Pengemis yang sedang membokong menyerang Cie Kiat juga girang sekali, karena dengan sendirinya kalau memang dia berhasil membokong Cie Kiat, pasti nanti dia akan mendapat penghargaan dari kawan-kawannya.

Tetapi waktu tangan pengemis itu hanya terpisah beberapa incie dari punggung Cie Kiat, maka punggung anak muda she Lie itu seperti juga bisa melejit melesak kedalam, sehingga serangan pengemis itu jadi meleset menemui tempat kosong. Disebabkan pengemis itu menyerang dengan mengerahkan seluruh tenaganya, dan tahu-tahu serangannya itu mengenai tempat kosong maka dia jadi kehilangan keseimbangan tubuhnya.

Badannya terjerunuk kearah Cie Kiat.

Tanpa memutar tubuhnya lagi, Cie Kiat telah mengibaskan tangannya kebelakang, maka terdengarlah suara jeritan yang menyayatkan hati!

Tampak tubuh pengemis yang membokong Cie Kiat telah terpental tinggi keudara tubuhnya itu seperti juga bola yang tertendang, melambung tinggi sekali, kemudian ambruk ditanah dengan menimbulkan suara yang berisik sekali.

Debu dan batu-batu kecil bertebaran, dan pasir mengepul tinggi.

Pengemis itu ambruk ditanah dengan lantas tak bergerak lagi, karena seketika itu juga, disaat tubuhnya tadi tengah terlambung tinggi, jiwanya telah sia-sia meninggalkan raganya! Dia telah koit oleh kibasan tangan Cie Kiat!

Pengemis-pengemis lainnya yang menyaksikan hal tersebut, jadi berdiri bengong, mereka jadi seperti kesima.

Begitu juga Sam-kay dan Cong Teng San, mereka jadi berdiri terpaku dengan hati yang tergoncang hebat.

Lay Tat sendiri yang mendengar suara jeritan dari anak buahnya yang menyayatkan hati itu, jadi tergoncang pula hatinya, sehingga gerakan-gerakannya jadi kacau didalam menghadapi si Dedemit Hidup.

Dengan sendirinya, hal ini membawa suatu keuntungan yang tidak kecil bagi si Dedemit Hidup, karena dia dapat melancarkan serangan-serangan yang hebat mendesak terus pada Lay Tat.

Hal itu membuat Lay Tat jadi tardesak dengan hebat. Dia jadi kewalahan mengelakkan dan membela diri dari setiap serangan dari si Dedemit Hidup.

Tetapi hal ini tidak berlangsung lama, karena segera juga Lay Tat menyadari, bahwa biar bagaimana dia harus memelihara ketenangannya, apa lagi menghadapi manusia yang nekad seperti si Dedemit Hidup ini.

Maka dari itu, cepat-cepat Lay Tat menenangkan goncangan hatinya.

Dalam waktu yang sangat singkat, dia telah dapat menguasai ketenangan hatinya.

Kembali Lay Tat dapat melayani Dedemit Hidup itu.

Mereka kembali berimbang pula, sehingga pertempuran itu berlangsung dengan

seru.

Ketujuh belas jago-jago dari berbagai golongan yang berkumpul disitu jadi

kagum melihat kehebatan anak muda she Lie itu.

Sam-kay, Cong Teng San dan pengemis-pengemis lainnya yang berdiri kesima memandang mayat kawan mereka itu, sudah lantas tersadar dari kesima mereka. Tetapi mereka tersadar untuk lantas menjadi murka.

“Orang she Lie, kalau memang hari ini kami tidak bisa mencincang tubuhmu, maka percuma kami menjadi anggota dari Pian-sia-kay!” teriak Sam-kay dengan kalap.

Dan dia telah menyerbu menyerang kearah Cie Kiat. Perbuatannya itu diikuti oleh kawan-kawannya.

Didalam waktu yang sangat singkat sekali Cie Kiat telah diserang dari berbagai jurusan.

Tetapi anak muda she Lie tidak menjadi gentar karena dikeroyok begitu banyak pengemis, dia tetap membawa sikapnya yang tenang.

Dikala serangan-serangan dari pengemis-pengemis itu hampir mengenal dirinya, maka dengan mengeluarkan seruan yang panjang, Cie Kiat telah memutar kedua tangannya berbentuk lingkaran, mengelilingi dirinya.

Kemudian disaat lawan-lawannya sudah dekat dengan dirinya, Cie Kiat mengeluarkan suara siulan yang panjang sekali, suara siulan dari anak muda she Lie ini menggema disekitar tempat itu, karena dia telah bersiul dengan mengerahkan tenaga Lwee-kangnya yang telah sempurna itu.

Dan berbareng dengan itu, kedua tangannya bergerak-gerak menurut gerakan- gerakan atau jurus-jurus yang baru diciptakannya tadi, disaat dia menyaksikan pertempuran antara Kim Tok dengan Ceng-tok-jie!

Tetapi walaupun jurus-jurus yang diciptakan oleh Cie Kiat sangat sederhana dan hanya terdiri dari empat belas jurus, toh kesudahannya sangat hebat dan luar biasa sekali!

Dengan beruntun hampir berbareng tampak terpental tujuh sosok tubuh pengemis, yang terpental dan ambruk dengan menderita luka berat.

Kemudian disusul dengan mengelurkan suara jeritan yang menyayatkan kelima pengemis-pengemis itu telah ambruk ditanah dengan menderita luka-luka.

Tak ada seorangpun diantara mereka yang terbinasa oleh tangkisan tangan Cie

Kiat.

Sam-kay dan Cong Teng San melongo menyaksikan kehebatan dari peristiwa

tersebut, mereka jadi berdiri terpaku ditempatnya, mirip dua patung yang tak bernyawa. Wajah mereka juga pucat sekali.

Dan beberapa orang pengemis lainnya yang sempat melompat mundur mengelakkan diri dari tangkisan Cie Kiat, maka jadi berdiri dengan wajah yang pucat menyerupai mayat hidup!

Cie Kiat tampak masih berdiri dengan tenang ditempatnya, hanya sekarang wajahnya memperlihatkan kewibawaan yang sangat.

Ketujuh belas jago-jago dari berbagai golongan yang berkumpul disitu karena diundang oleh Lay Tat, jadi bengong juga. Tadi mereka telah melihat gerakan si anak muda she Lie, dan mereka melihat gerakan yang digunakan oleh Cie Kiat sangat sederhana sekali.

Tetapi mereka tidak menduga bahwa kesudahannya akan sehebat itu.

Malah yang membuat mereka heran, gerakan-gerakan itu pernah mereka lihat. Entah anak muda ini dari aliran mana?! Pikir jago-jago itu dengan heran.

Pengemis-pengemis yang tadi telah terpental dan menderita luka, telah merangkak berusaha untuk bangun, untuk berdiri.

Lay Tat sendiri kaget mendengar suara jeritan-jeritan yang ramai itu.

Dan dia lebih terkejut lagi waktu dilihatnya orang-orangnya itu bergelimpangan karena dihajar Cie Kiat.

Dengan sendirinya hati Lay Tat jadi mencelos, dia terkesiap menyaksikan kehebatan ilmu silat dari Cie Kiat.

Tadinya biarpun dia memang telah menduga bahwa Cie Kiat mempunyai kepandaian yang tinggi, toh dia tidak pernah membayangkan bahwa anak muda she Lie ini bisa mempunyai kepandaian yang begitu luar bisa.

Cie Kiat sendiripun heran berbareng takjub, tadi dia hanya menggunakan tiga bagian tenaga Lwee-kangnya, coba kalau memang dia menggunakan seluruh tenaga dalamnya untuk menangkis serangan-serangan dari pengemis-pengemis yang mengeroyoknya, tentu mereka itu telah menjadi mayat, semuanya!

Nyata sekali ilmu silat yang baru diciptakan oleh Cie Kiat itu, yang masih belum sempat untuk diberi nama oleh anak muda she Lie ini, sangat bebat sekali!

Dengan cepat Lay Tat telah melompat menjauhi Dedemit Hidup itu.

Sedangkan si gemuk tromok Dedemit Hidup juga ketika melihat hebatnya kesudahan dari tangkisan Cie Kiat terhadap pengeroyoknya, disamping merasa kagum, dia pun jadi heran sekali, karena dia melihat usia anak muda itu masih muda belia sekali.

Dengan sendirinya pertempuran jadi terhenti pada saat itu juga.

Semuanya memandang kepada Cie Kiat dengan pandangan mata yang kagum dan heran.

Ciang Yang Cin-jin sendiri sampai datang menghampiri Cie Kiat. Too-jin ini merangkapkan kedua tangannya.

“Hebat sekali tenaga Sie-cu dan kepandaian yang telah Sie-cu pertunjukkan itu!” memuji si Too-jin dengan setulus hatinya. “Bolehkah Pin-to mengetahui nama guru Sie-cu yang harum dan shenya yang besar atau gelarannya yang menggetarkan dunia persilatan? Tentunya ada muridnya yang liehay dan tentu ada gurunya yang luar biasa!”

Cie Kiat jadi sibuk membalas pemberian hormat dari si Too-jin. Cepat-cepat dia mengeluarkan kata-kata merendah. Dia jadi likat dan kikuk sendirinya.

“Mengenai nama In-su, guru yang berbudi, tidak dapat sembarangan Boanpwee sebutkan!!” kata Cie Kiat dengan ramah. “Boanpwee mempunyai suatu kesulitan yang tidak bisa dijelaskan ditempat semacam ini..... maka dari itu Boanpwee harap Cin-jin mau memaafkannya. !!”

Mendengar perkataan Cie Kiat, Ciang Yang Cin-jin tertawa.

Dia percaya bahwa si anak muda she Lie memang mempunyai suatu kesulitan untuk mentebutkan nama gurunya dimuka orang banyak.

Maka dari itu Ciang Yang Cin-jin tidak mendesaknya terus.

Belum lagi dia menanyakan sesuatu lagi, It Kiang Sian-su, pendeta dari Siauw Lim-sie itu, telah datang menghampirkan Cie Kiat.

“Sian-chay... Sian-chay!” memuji si Hwee-shio kepada sang Budha. “Hebat sekali ilmu silat Sie-cu! Kalau memang tadi jiwa Sie-cu dikuasai setan, pasti pengemis-pengemis itu telah bergelimpangan mampus! Untung saja Sie-cu ternyata welas asih, sehingga masih mempunyai perasaan kasihan dan hanya menghajar serta memberikan pelajaran yang pahit kepada mereka! Bagus sekali cara Sie-cu itu! Aku It Kiang, si pertapa tua yang sudah mau mampus ini dengan ini memberikan kata- kata pujian dan selamat kepada sang Budha agar Sie-cu diberkahi panjang umur. !”

Dan Hwee-shio Siauw Lim-sie ini. It Kiang Sian-su telah merangkapkan tangannya, dia memberi hormat kepada anak muda she Lie ini.

Cie Kiat jadi gelagapan, cepat-cepat dia membalas penghormatan Hwee-shio itu.

Biar bagaimana Lie Cie Kiat adalah angkatan golongan muda, maka dari itu sebetulnya tidak pantas It Kiang Sian-su yang ter termasuk golongan tua, yang memberikan penghormatan terlebih dahulu kepada Cie Kiat.

Tetapi berhubung terdesak oleh rasa kagumnya maka Hwee-shio itu tidak memperdulikan adat peradatan lagi.

Setelah membalas penghormatan si Hwee-shio, Cie Kiat juga cepat-cepat menjura kepada jago-jago lainnya yang memberikan selamat kepadanya.

Diantara ketujuh belas jago itu, tampak Koay-hiap In-jin, si manusia aneh. Koay-hiap In-jin adalah seorang pendekar, yang selalu membantu si lemah dari gencetan si kuat tapi jahat.

“Kalau memang ada arak, tentu kita akan lebih gembira lagi! Sayangnya arak- arak didaerah ini telah kering terisap oleh kurcaci-kurcaci yang tidak tahu diri !”

kata Koay-hiap In-jin dengan mulut tertawa lebar.

Cie Kiat jadi saling berkenalan dengan orang-orang atau jago-jago itu.

Sedang si anak muda repot melayani Peng-im Nie-kauw yang mendesak terus agar si anak muda menerangkan siapa gurunya, maka pengemis-pengemis yang terluka itu telah merangkak bangun dibantu oleh Sam-kay dan Cong Teng San serta kawan-kawan mereka yang lainnya. Berbeda dengan It Kiang dan Ciang Yang Cin-jin, begitu si anak muda she Lie ini keberatan untuk menyebutkan nama gurunya, maka kedua orang pertapaan ini mengetahui bahwa si anak muda pasti mempunyai suatu kesulitan sehinggi dia tidak mau menyebutkan nama gurunya.

Tetapi Nie-kauw Peng-im Loo-nie berbeda sekali. Walaupun si anak muda she Lie ini telah berulang kali mengatakan bahwa dia masih mempunyai suatu urusan yang belum diselesaikan, sehingga dia tidak boleh memberitahukan siapa gurunya pada orang sembarangan, dan dia juga secara tidak langsung mengatakan bahwa dirinya memang telah dipesan oleh gurunya itu untuk tidak sembarangan memberitahukan gurunya itu kepada orang lain.

Tetapi Peng-im Loo-nie tidak mau mengerti juga, dia mendesak terus kepada si anak muda, agar Cie Kiat mau menerangkan siapa gurunya.

Juga yang lain-lainnya akhirnya ikut-ikutan meminta agar si anak muda menyebutkan nama gurunya, karena mereka kagum sekali kepada Cie Kiat, walaupun usia anak muda she Lie ini masih sangat muda, tetapi kepandaiannya telah luar biasa sekali! Maka dari itu bisa dibayangkan, tentunya guru anak muda she Lie ini hebat sekali, tentunya salah seorang tokoh rimba persilatan yang mempunyai kepandaian luar biasa sekali!

Namun, biarpun telah didesak begitu macam, toh tetap Cie Kiat keberatan untuk menyebutkan nama gurunya. Saking kewalahan akhirnya Cie Kiat berkata : “Maafkanlah para Loo-cianpwee.... bukannya Boanpwee tidak mau memberitahukan kepada para Loo-cianpwee nama In-su, guruku yang baik budi, tetapi memang Boanpwee mempunyai suatu kesulitan yang sukar untuk dijelaskan! Nanti kalau memang urusan Boanpwee telah selesai, maka Boanpwee pasti akan mendatangi tempat Loo-cianpwee seorang demi seorang..... untuk meminta petunjuk-petunjuk dari Loo-cianpwee mengenai kekurangan diri Boanpwee!!”

Semua jago-jago dari berbagai golongan itu jadi berobah wajah mereka, memperlihatkan kekecewaan yang sangat.

Tetapi akhirnya mereka tidak mendesak terus.

Tiba-tiba, dikala Cie Kiat sedang bercakap-cakap dengan Koay-hiap In-jin yang banyak bertanya ini dan itu, dengan sikapnya yang periang dan lucu, tampak mendatangi Lay Tat dengan wajah yang merah padam, menyeramkan serta tidak enak sekali dipandang wajah Lay Tat, sebab selain muka itu telah rusak oleh bekas bacokan-bacokan dari senjata tajam, juga memang Lay Tat sedang murka.

Cie Kiat melihat kedatangan Lay Tat kearahnya dengan wajah yang tidak sedap dipandang begitu, tetapi anak muda she Lie ini tetap membawa sikap yang tenang sekali, dia pura-pura sedang asyik bercakap-cakap dengan jago-jago dari berbagai golongan itu, seakan juga dia tidak melihat kedatangan Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut. !

*

* * LAY TAT diiringi oleh pengemis-pengemis yang tidak terluka, pengemis- pengemis itu mengikuti dibelakang Kauw-cu mereka.

Sam-kay dan Cong Teng San juga tampak mengikuti dibelakang Oen Lay Tat, Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut.

Wajah Lay Tat sangat kecut sekali, setelah datang menghampiri dekat sekali kepada Cie Kiat, dia membentak dengan suara yang mengguntur keras : “Hei orang she Lie!” bentaknya dengan suara yang menggelegar parau, menyeramkan sekali. “Kau adalah tamuku yang kuundang secara baik-baik, mengapa sekarang kau malah telah mengacau dan mengubrak-abrik orang-orangku? Apakah perlayanan kami yang diberikan kepadamu masih kurang memuaskan, sehingga kau telah membuat onar begitu rupa?”

Cie Kiat tertawa tawar.

“Hmm.... aku tidak memihak pihak manapun...... aku tidak mau terdapat suatu kecurangan diantara kalian, karena Hak-seng memang tak begitu gembira kalau melihat ada orang yang selalu kerjanya hanya membokong orang dengan sikap pengecutnya. Maka dari itu, kalau memang orang itu menemui kebinasaannya, itu sudah wajar. Dia harus menerima ganjarannya!!”

Wajah Lay Tat jadi berobah merah padam, rupanya dia mendongkol sekali mendengar perkataan Cie Kiat.

“Siapa orangnya yang kau katakan telah berbuat suatu kecurangan dan selalu menyerang secara membokong?” bentak orang she Oen itu dengan suara yang keras, menyatakan ketidak senangan hatinya.

Cie Kiat tersenyum.

“Termasuk kau juga. !” kata Cie Kiat kemudian.

“Jelas sekali si gemuk itu mencari dirimu, tetapi kau bersembunyi dibelakang orang-orangmu, sehingga orang-orangmu yang telah membela dirimu itu menjadi korban dari si gemuk itu.....! Kau bukan seorang Ho-han sejati, yang mau menghadapi persoalan yang rumit untuk dipecahkan dan dihadapi oleh dirinya sendiri!”

“Wajah Lay Tat jadi berobah merah padam, dia gusar dan murka sekali.

“Kau.... kau ” gemetar sekali suara Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut, karena

dia sedang murka dan gusar sekali.

Suasana pada saat itu jadi sangat tegang sekali, pengemis-pengemis yang menjadi anak buah dari Lay Tat telah bersiap-siap akan melancarkan serangan mereka kepada Cie Kiat.

Begitu juga Sam-kay dan Cong Teng San, mereka telah maju kedepan, mereka menantikan perintah dari Lay Tat untuk menyerbu menyerang Cie Kiat.

Tetapi Cie Kiat sangat tenang sekali, dia memang telah menduga bahwa dirinya tentu akan dikepung dan dikeroyok oleh pengemis-pengemis itu. Muka Lay Tat juga telah bersemu merah matang, dia sedang murka, dan orang she Oen ini memang akan menerjang menyerang Cie Kiat.

Tetapi didalam suasana yang tegang begitu, tiba-tiba It Kiang Sian-su telah melompat kedepan.

“Omietohud! Omietohud!!” si Hwee-shio menyebut nama sang Budha. “Sian- chay...... janganlah Sie-cu sekalian dibawa oleh hawa amarah setan..... lebih baik kita mengambil jalan damai....! Bukankah Oen Kauw-cu menjanjikan kami untuk memperlihatkan semacam mustika yang langka dan tidak ada duanya didalam dunia ini? Maka dari itu marilah kita kembali kedalam untuk melihat benda mustika yang Oen Kauw-cu janjikan itu!”

“Benar!” menimpali Peng-im Loo-nie beserta beberapa orang jago lainnya. “Memang benar perkataan It Kiang Sian-su!”

Begitu juga Ciang Yang Cin-jin, dia telah memberikan kata-kata untuk mendinginkan suasana.

Akhirnya wajah Lay Tat jadi berobah sabar lagi, walaupun masih tampak kemendongkolanmu yang membayang dimukanya.

“Bagaimana Oen Kauw-cu?” tanya Ciang Yang Cin-jin waktu dia melihat Lay Tat berdiam diri saja.

Akhirnya Lay Tat menghela napas.

“Ya, kalian telah kuundang dengan cara baik-baik untuk ikut menyaksikan sebuah benda pusaka yang mungkin tiada duanya didalam rimba persilatan, toh akhirnya terjadi suatu kericuan semacam ini yang mengganggu ketenangan kita!” Hmmmm...... kalau memang aku tak memandang pada It Kiang Sian-su serta jago- jago lainnya, tentu aku akan menarik panjang urusan ini!!”

Dan setelah berkata begitu, Oen Lay Tat menoleh kepada Sam-kay.

“Bubarlah kalian, karena sebentar lagi kita akan memperlihatkan benda mustika itu pada mereka! Juga biarkanlah si Dedemit Hidup yang sudah mau mampus itu ikut masuk kedalam, kalau memang dia ingin ikut menyaksikan benda mustika itu juga!” kata Kauw-cu dari perkumpulan pengemis Pian-sia-kay.

Para pengemis itu mengiyakan, dengan cepat mereka bubar.

Sam-kay dan Cong Teng San juga telah melompat masuk kedalam sumur itu untuk membereskan keadaan didalam ruangan dari bangunan empat persegi tersebut, yang mungkin markas dari perkumpulan pengemis Pian-sia-kay tersebut.

Sedangkan Oen Lay Tat telah menoleh kepada Cie Kiat, dia mendengus, tetapi tidak mengatakan sepatah katapun. Kemudian dia memandang kepada jago-jago silat lainnya.

“Hayo kita masuk!” katanya dengan suara yang nyaring sekali, kemudian dia juga menoleh kepada si Dedemit Hidup. “Kalau memang kau ingin menyaksikan juga benda mustika yang telah kutemukan pada beberapa saat yang lalu, kau boleh ikut masuk, tetapi kalau memang kau tidak mau, pergi cepat-cepat kau menggelinding dari tempat ini!” Si Dedemit Hidup tidak mengatakan apa-apa dia hanya mendengus sambil tersenyum mengejek.

Kemudian dengan beriring-iringan, mereka kembali melompat masuk kedalam sumur itu.

Cie Kiat berdiri ragu-ragu sesaat, sebetulnya dia sudah tak mempunyai minat untuk ikut menyaksikan benda yang disebutnya mustika itu.

“Tetapi akhirnya setelah berdiri ragu-ragu sesaat lamanya disitu, Cie Kiat jadi ikut melompat masuk kedalam sumur itu juga.

Setelah berada didalam ruangan dari bangunan empat persegi semuanya memilih tempat masing-masing.

Sedangkan Oen Lay Tat telah duduk kembali dikursi  yang beralaskan kulit macan.

Orang she ini menepuk tangannya tiga kali.

“Keluarkan benda mustika itu!!” kata Lay Tat dengan suara yang nyaring, suaranya itu menggema didalam ruangan tersebut.

Terdengar orang menyahuti, kemudian tampak empat orang gadis yang keluar dari sebuah ruangan. Mereka sambil melangkah ketengah ruangan dengan memukul tambur kecil.

Dibelakang keempat gadis tersebut, tampak mengikuti enam orang lelaki berpakaian bersih, bukan berdandan seperti pengemis-pengemis yang menjadi anak buah dari Lay Tat........ Ditangan salah seorang lelaki itu, yang berusia masih sangat muda sekali, mungkin baru berusia dua puluh tahun, tampak memegang sebuah nenampan yang lebar diatas nenampan itu tampak sebuah benda bulat yang besar

yang ditutupi oleh sehelai kain berwarna putih.................

Jago-jago yang ada didalam ruangan tersebut tidak mengetahui benda apa yang ada dibalik tutupan kain putih itu diatas nenampan tersebut......



SEDANG semua jago-jago itu menahan napas memandang dengan penuh perhatian kepada nenampan yang dibawa oleh orangnya Oen Lay Tat, maka Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut malah tertawa.

“Letakkan didekat Ceng-tok-jie!!” kata Lay Tat dengan suara yang nyaring.

Pada saat itu Ceng-tok-jie sedang mendekam dinenampannya, tubuhnya tidak bergerak-gerak hanya matanya saja yang berkilat mencilak-cilak tak hentinya. Si gemuk Dedemit Hiduppun memandang kearah Ceng-tok-jie dengan mata yang tak berkedip, mungkin si gemuk tromok Dedemit Hidup ini sedang memikirkan sesuatu.....

Orangnya Oen Lay Tat yang membawa nenampan itu mengiyakan perintah dari Lay Tat, dia menuju kedekat Ceng-tok-jie setelah menekuk sebelah kakinya memberi hormat kepada Lay Tat.

Empat gadis yang tadi keluar terlebih dahulu telah berdiri ditepian ruangan itu. Sedangkan lima lelaki lainnya juga telah berdiri didekat keempat gadis itu.

Anak muda yang membawa nenampan yang berisi benda yang dikatakan oleh Lay Tat adalah benda mustika, telah meletakkan nenampan itu disisi Ceng-tok-jie.

Binatang Ceng-tok-jie itu mendekam terus dengan mata yang mencilak-cilak mengawasi kearah orang yang membawa nenampan itu, tetapi tubuhnya tetap tidak bergerak dia mendekam diam saja.

Oen Lay Tat telah tertawa lagi.

“Dibuka tutupnya!” perintah Lay Tat waktu dia melihat orang itu telah meletakkan nenampan tersebut.

Kembali anak muda yang membawa nenampan tersebut mengiyakan, dia membuka tutup kain yang menyelimuti nenampan yang dibawanya.

Begitu tutup kain itu terbuka, mata semua orang yang ada disitu, didalam ruangan tersebut, jadi mengeluarkan seruan tertahan.

Mereka sangat terkejut sekali benda yang diperlihatkan kepada mereka.

Dengan mata terbuka lebar-lebar, mata semua jago-jago silat itu mengawasi benda yang ada diatas nenampan didepan mereka ditengah-tengah ruangan tersebut.

Ternyata benda itu adalah sebatang pedang pendek, yang seluruh kerangkanya terdapat intan permata yang berkeredepan mengeluarkan cahaya, terang sekali.

Mengapa jago-jago dari berbagai golongan yang termasuk tokoh-tokoh didalam rimba persilatan yang mempunyai kepandaian tak rendah itu bisa begitu terkejut melihat pedang pendek tersebut?

Karena semua orang-orang itu mengetahui bahwa pedang pendek yang berkerangkanya itu ditaburi oleh intan permata adalah pedang Tat-mo Kiam.

Pedang ini sebetulnya adalah pedang milik dari Tat-mo Cauw-su, pendiri dari Siauw Lim-sie.

Waktu datang kedaratan Tionggoan dari India, maka Tat-mo Cauw-su telah membawa sebatang pedang yang luar biasa sekali, yang diberi nama Tat-mo Kiam. Malah kehebatan pedang tersebut telah diketahui oleh seluruh jago-jago didaratan Tionggoan, baik akan kehebatan kepandaian Tat-mo Cauw-su sendiri, baik kehebatan pedang ini.

Pedang Tat-mo Kiam tersebut berukuran kecil, dan mata pedang itu sangat tumpul sekali. Tetapi karena pedang ini mempunyai khasiat yang hebat, maka kalau digunakan oleh orang yang mempunyai kepandaian yang tinggi, pasti pedang ini akan berobah menjadi pedang nomor wahid didaratan Tionggoan. Walaupun pedang mustika yang tajam bagaimana, kalau terbentur dengan pedang Tat-mo Kiam tersebut, pasti pedang mustika itu akan terpukul patah tertabas putus.

Pada beberapa puluh tahun yang lalu, pedang Tat-mo Kiam tersebut telah lenyap dari kuil Siauw Lim-sie sehingga hal ini menggegerkan Hwee-shio Siauw dan jago- jago didalam rimba persilatan.

Mereka semuanya mencari pedang itu, dengan maksud untuk memiliki kalau memang rejeki mereka baik, dan bisa menemui pedang itu.

Dan disebabkan mencari pedang pusaka tersebut, telah jatuh banyak korban yang menyebabkan banjir darah didalam sungai telaga. Banyak jago-jago yang sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia, kembali terjun ikut mencari pedang mustika tersebut.

Semua orang-orang didalam Bu Lim atau Kang-ouw itu, semuanya mengiler untuk memiliki pedang pusaka ini, karena dengan memiliki pedang itu, mereka akan menjadi seorang jago nomor satu dipermukaan bumi atau didalam kalangan Sungai Telaga, Kang-ouw, menjadi seorang jago nomor wahid !

Tetapi semakin lama pergolakan mencari pedang Tat-mo Kiam itu dari hari kehari jadi semakin hebat, sehingga banyak sekali memakan korban. (Kisah memperebutkan pedang Tat-mo Kiam itu dapat saudara ikuti didalam cerita : BAYANGAN MAUT yang disadur oleh penyadur yang sama, Ang Yung San. Red).

Pedang Tat-mo Kiam tetap lenyap tak keruan paran, dan tak ada seorangpun diantara jago-jago itu yang bisa menemukan pedang pusaka itu. Mereka selalu bertempur memperebutkan pedang itu, seperti jaga memperebutkan pepesan kosong, karena pedang itu sendiri tidak diketahui entah dimana!!

Maka dari itu, sangat mengherankan sekali, setelah lenyap beberapa puluh tahun, sekarang tahu-tahu pedang mustika itu berada ditangan Oen Lay Tat.

Sebab itulah maka tak heran kalau jago-jago dari berbagai golongan yang diundang oleh Lay Tat jadi kaget dan tercengang heran.

Melihat semua orang hanya memandang tak berkedip, maka Lay Tat jadi tertawa. Dia menoleh kepada It Kiang Sian-su.

“Loo su-hu!” kata Lay Tat dengan suara yang nyaring. “Apakah pedang Tat-mo Kiam itu adalah Tat-mo Kiam yang asli!”

It Kiang Sian-su sedang menatap bengong kepada pedang itu, waktu ditanya begitu oleh Lay Tat, dia jadi seperti baru tersadar dari mimpinya.

“Benar.......! Pedang ini memang Tat-mo Kiam!” dia menyahuti dengan cepat. “Waktu Pin-ceng berusia lima belas tahun dan masih berdiam dikuil Siauw Lim-sie, Pin-ceng pernah menyaksikan pedang ini!”

Lay Tat mengangguk senang.

“Bagus! Dan, memang akupun telah menduga bahwa pedang ini adalah Tat-mo Kiam yang asli!” kata dia lagi dengan suara yang nyaring. “Tetapi karena aku belum pernah manyaksikan, maka aku telah mengundang saudara-saudara sekalian untuk ikut menyaksikan apakah pedang ini benar-benar adalah Tat-mo Kiam!”

Dan setelah berkata begitu, si Kauw-cu she Oen itu telah tertawa lagi dengan suara tertawa yang gelak-gelak, ini menandakan dia sangat bergembira sekali.

“Khasiat pedang ini sangat hebat sekali!” menerangkan Lay Tat lagi. “Kalau memang pedang tersebut dicabut dari kerangkanya, serangkanya, maka binatang berbisa dipermukaan bumi ini semuanya akan jeri sekali melihat cahaya yang dipantulkan oleh tubuh pedang tersebut..... nah, mari kita buktikan, Ceng-tok-jie adalah binatang peliharaanku yang cukup hebat dan sangat beracun, kita akan melihat dia akan ketakutan sekali melihat cahaya yang dipantulkan oleh tubuh Tat-mo Kiam tersebut!”

Setelah berkata begitu, Lay Tat mengibaskan tangannya.

Orang yang berdiri disamping pedang Tat-mo Kiam itu mengangguk, dia mengerti akan arti dari kibasan tangan Lay Tat, yang berarti dia harus mulai dengan tugasnya.

Anak muda tersebut berjongkok disisi pedang itu perlahan-lahan dia mencabut pedang tersebut dari serangkanya, dan seketika itu orang-orang didalam ruangan jadi silau akan cahaya yang dipantulkan oleh pedang itu! Badan pedang Tat-mo Kiam seperti juga memantulkan cahaya api.

Jago-jago dari berbagai golongan yang ada diruangan itu jadi memuji semuanya.

Dan malah yang menarik perhatian sekali, biarpun tubuh pedang itu tampak kecil dan pendek sekali, serta kedua mata pedang itu tumpul sekali, toh pedang Tot- mo Kiam tersebut sangat menarik sekali.

Tetapi yang lebih mengherankan sekali adalah disaat pedang tersebut dicabut oleh si anak muda, disaat cahaya pedang itu memantul hebat dari badannya, maka dengan tidak terduga, Ceng-tok-jie telah melompat melesat tinggi sekali, hampir satu tombak.

Sambil melompat begitu, binatang tersebut mengeluarkan suara pekikan seperti juga binatang ini kaget sekali.

Waktu sudah turun dilantai kembali, binatang ini jadi teringsut-ingsut kebelakang dengan rupa yang ketakutan sekali.

Lay Tat telah tertawa.

“Lihatlah! Betapa jerinya Ceng-tok-jie kepada cahaya pedang itu! Maka dari itu kalau kita sedang berjalan dijalan yang terdapat banyak sekali binatang berbisa, atau kita sedang berhadapan dengan binatang buas mana saja, maka kita cukup mencabut pedang ini, semuanya pasti akan melarikan diri ketakutan...... kita tak usah jeri kalau nanti tergigit oleh binatang berbisa, karena mereka tidak akan ada yang berani mendekati kita...!”

Jago-jago dari berbagai golongan mengawasi dengan mata mengiler kepada pedang itu. Cie Kiat sendiri merasa kagum akan pedang tersebut. Dia melihat betapa pedang ini mempunyai daya tarik yang hebat sekali.

Dari gurunya memang Cie Kiat pernah mendengar cerita dari pedang Tat-mo Kiam tersebut. Anak muda she Lie tidak menduga sedikitpun bahwa pedang ini ternyata hebat sekali, selain mempunyai khasiat yang hebat pun sangat aneh sekali bentuknya.

Pada saat itu, dengan tidak terduga, tahu-tahu si gemuk tromok Dedemit Hidup telah melompat dengan tubuh yang gesit sekali kearah anak muda yang mencekal pedang pusaka itu.

Sambil melompat menubruk, si gemuk tromok juga mengulurkan tangannya untuk merebut pedang tersebut dari tangan si anak muda.

Semua orang terkejut, tetapi Lay Tat tetap duduk dikursinya dengan tenang- tenang.

Rupanya dia memang telah menduga bahwa akan terjadi hal semacam ini. Sedangkan si anak muda yang mencekal pedang itu melihat si gemuk tromok

Dedemit Hidup telah melompat kearahnya dengan kedua tangan terulurkan ingin merebut pedang Tat-mo Kiam yang ada ditangannya, dia tidak menjadi gugup.

Dengan cepat, dikala tubuh si tromok itu sedang melompat begitu, dia juga telah melompat kearah lain.

Dan sedang dia melompat begitu, tangannya bergerak melemparkan pedang tersebut kearah Lay Tat.

Kauw-cu Pian-sia kay she Oen tersebut telah mengulurkan tangannya menyambut pedang itu sambil tertawa.

Si gemuk tromok jadi mengeluarkan suara tertahan waktu tubuhnya sedang melayang begitu, karena dia kecele.

Dan waktu dia turun kelantai kembali, tahu-tahu dirinya telah dikurung oleh keempat orang gadis dan keenam orang anak muda yang tadi membawa nenampan itu.

Tanpa mengucapken sepatah katapun, kesepuluh orang ini empat orang gadis dan enam lelaki, telah menyerang si gemuk.

Si gemuk tromok mengangguk hal ini tak begitu berat, menghadapi mereka yang masih berusia muda, maka sudah jelas kepandaian mereka tidak begitu tinggi.

Tetapi dirinya diserang oleh kesepuluh orang tersebut, si gemuk tromok Dedemit Hidup jadi terkejut sendirinya, karena mereka menyerang dengan cara bergilir dan mengepung dirinya dengan rapat sekali.

Malah yang mengejutkan si gemuk, dirinya terkurung tidak bisa terloloskan dari kepungan sepuluh orang itu.

Seketika itu juga si gemuk tromok Dedemit Hidup itu menyadari bahwa dirinya dikepung oleh kesepuluh orang itu dengan menggunakan tin, yang selalu menyerang dengan tolong menolong, sehingga dia selalu tidak bisa menyerang salah seorang diantara kesepuluh orang itu, dengan benar.

Setiap kali kalau si gemuk tromok Dedemit Hidup tersebut mau menyerang salah seorang pengepungnya itu, malah selalu saja dia diserang pula oleh beberapa orang dari beberapa jurusan, sehingga mau tak mau dia harus mambatalkan serangannya itu.

Lay Tat tengah tertawa gelak-gelak sambil mempermainkan pedang Tat-mo Kiam itu sambil melirik kearah jago-jago dari berbagai golongan itu, yang tengah mengawasi kearah pertempuran si gemuk melawan kesepuluh anak buah Lay Tat itu penuh perhatian.

“Biar bagaimana si gemuk yang sudah mau mampus itu, tak akan bisa meloloskan diri dari kepungan Tat-mo Tin orang-orangku itu!!” kata Lay Tat dengan suara yang perlahan. “Hmmm, coba kalian lihat, sebentar lagi babi gemuk yang sudah mau masuk lobang kubur itu akan mampus ditangan orang-orangku!! Jangan kata dia berseorang diri, sedangkan kalau dia berjumlah dua puluh orang, tak nantinya orang yang terkepung itu akan dapat meloloskan diri dari Tat-mo Tin!!”

Cie Kiat melirik kearah Lay Tat, tetapi anak muda she Lie tidak mengatakan apa-apa.

Kemudian Cie Kiat telah mengawasi kearah jalannya pertempuran itu lagi.

Jago-jago lainnya juga tidak mengatakan sepatah kata, mereka sedang diliputi oleh bermacam-macam pikiran. Ada yang sedang memikirkan juga untuk merebut pedang Tat-mo Kiam itu dari tangan Kauw-cu Pian-sia-kay, ada pula yang ingin menantikan terjadinya suatu kekeruhan, sehingga dia bisa mengail diair keruh, merebut pedang Tat-mo Kiam setelah terjadi suatu pertempuran hebat. !

Memang harus diketahui, pedang Tat-mo Kiam itu mempunyai daya tarik yang luar biasa sekali.

Dulu saja, begitu para jago-jago didalam kalangan Bu Lim dan Kang-ouw mendengar pedang Tat-mo Kiam tersebut lenyap dari kuil Siauw Lim-sie, mereka semua telah bergolak dan mencari untuk memperebutkan pedang tersebut.

Malah banyak jago-jago yang mengorbankan diri mereka hanya untuk memiliki pedang Tat-mo Kiam tersebut.

Maka dari itu, tak heran, kalau kali ini begitu mereka melihat pedang pusaka itu berada ditangan Lay Tat, mereka jadi mengiler sekali untuk memperebutkannya!

Sebetulnya, Lay Tat mengundang orang-orang ini juga mengandung suatu maksud.

Dia sengaja memang mengundang jago-jago tersebut, hanya untuk membanggakan bahwa dia telah memperoleh pedang pusaka itu, dengan maksud agar orang-orang tersebut mau tunduk dan bekerja untuk dirinya.

Tetapi dia telah mengambil suatu jalan yang salah, salah besar sekali.

Sebab dengan dipertontonkan pedang itu kepada jago-jago tersebut, timbul juga rasa ingin memiliki dari jago-jago itu. Lebih-lebih jago-jago yang diundang oleh Lay Tat umumnya adalah jago-jago dari golongan Hek, yang mengambil jalan hitam, dan semuanya rata-rata sudah tak diakui sebagai anggota dari pintu perguruan mereka sendiri.

Tak heran kalau dihati jago-jago dari berbagai golongan itu timbul angan-angan untuk merebut pedang pusaka itu dari tangan Lay Tat.

It Kiang Sian-su sendiri, pendeta dari Siauw Lim-sie ini telah timbul pikiran jeleknya. Dia mengiler sekali untuk memiliki pedang Tat-mo Kiam itu, untuk dimilikinya dan merebutnya dari tangan Lay Tat.

Harus diketahui, It Kiang Sian-su telah diusir dari pintu perguruan Siauw Lim- sie karena kelakuannya yang jelek sekali. Maka dia berangan-angan dengan merebut pedang Tat-mo Kiam itu, mungkin dia akan dapat menjagoi dunia persilatan serta membalas sakit hatinya disebabkan diusir oleh Hong-thio, ketua dari Siauw Lim-sie itu, membalas rasa dendamnya. Pengusiran dirinya dari kuil Siauw Lim-sie benar- benar telah menyakitkan hatinya, dan dia memang berjanji akan suatu waktu nanti setelah dia merasa mempunyai kepandaian yang cukup untuk menghadapi tokoh- tokoh Siauw Lim itu, dia akan kembali untuk melakukan pembalasan dendam.

Maka, dengan sendirinya, begitu melihat pedang Tat-mo Kiam tersebut, dia jadi mengiler sekali. Hal ini menyebabkan dia jadi sering melirik kearah Lay Tat yang selalu mempermainkan pedang itu tenang-tenang sambil menyaksikan pertempuran yang sedang berlangsung diantara anak buahnya dengan si gemuk tromok Dedemit Hidup.

Mata It Kiang Sian-su jadi berkilat tajam, dia ingin sekali memiliki pedang Tat- mo Kiam tersebut.

Maka dari itu, It Kiang Sian-su menggeser kakinya sedikit demi sedikit dan perlahan sekali, seperti juga tidak ingin memperlihatkan sikap yang mencurigakan, dia mendekati Lay Tat.

Sedangkan pertempuran itu sedang berlangsung dengan hebatnya diantara si gemuk tromok melawan sepuluh murid dari orang-orangnya partai pengemis Pian- sia-kay, yang bertempur dengan menggunakan pasukan tinnya yang mengepung si Dedemit Hidup.

Tampaknya si gemuk tromok Dedemit Hidup jadi terdesak sekali oleh serangan- serangan dari sepuluh orang dari partai pengemis tersebut.

Dia selalu main melompat mundur dan berusaha menangkis setiap serangan yang dilancarkan kepada dirinya.

Hal ini sudah terlihat oleh semua jago-jago dari berbagai golongan yang berada disitu dengan perasaan kagum kepada pengepung dari si gemuk tromok tersebut.

Biar bagaimana liehaynya si gemuk Dedemit Hidup, tampaknya dia benar-benar kewalahan menghadapi pasukan Tin dari Pian-sia-kay.

Sebetulnya sebagai seorang jago yang mempunyai kepandaian tinggi sekali, seharusnya si gemuk tromok tidak perlu sampai terdesak hebat, namun karena dia memang tidak mengetahui atau tegasnya belum mengetahui Tin apa yang sedang dihadapinya ini, yang digunakan oleh keempat gadis dan keenam lelaki itu, maka dia jadi bingung sesaat dan terdesak selalu.

Berulang kali si gemuk tromok Dedemit Hidup mengeluarkan seruan-seruan yang sengit, dia juga sering berjingkrak karena saking gusarnya.

Biar bagaimana dia penasaran sekali tidak bisa merubuhkan kesepuluh orang pengepungnya, yang tampaknya masih sangat muda belia dan mungkin tidak mempunyai kepandaian yang tinggi sekali.

Hanya disebabkan kesepuluh orang itu selalu bertempur dengan kompak dan mengepung secara rapat, maka terdesaklah si gemuk tromok Dedemit Hidup.

Cie Kiat yang menyaksikan jalannya pertempuran tersebut, jadi mengawasi dengan teliti.

Tetapi tiba-tiba hati anak muda itu tergerak.

Dia jadi mementang matanya lebar-lebar, dia mengawasi terus cara-cara dari kesepuluh orang itu menyerang. Diotaknya orang she Lie ini telah memecahkan setiap kepungan-kepungan dari kesepuluh orang itu, dengan menggunakan ilmu silat yang baru saja diciptakan olehnya yang dapat dicangkoknya dari Ceng-tok-jie dan Kim Tok!

Dan setiap serangan-serangan dari kesepuluh orang itu, selalu saja dapat dipecahkan dan dipunahkan dengan menggunakan salah satu jurus dari ilmu silat yang baru diciptakannya itu.

Maka dari itu, dengan sendirinya Cie Kiat jadi girang luar biasa.

Dengan begitu dia tidak usah jeri untuk menghadapi kepungan kesepuluh orang- orangnya Lay Tat.

Cie Kiat jadi duduk dengan tenang-tenang ditempatnya.

Sedangkan si gemuk tromok Dedemit Hidup tetap masih kewalahan dalam menghadapi kesepuluh orangnya Lay Tat.

Biar bagaimana dia jadi terdesak hebat sekali oleh setiap serangan dari kesepuluh orang itu yang datangnya secara beruntun sekali.

Selalu juga Dedemit Hidup mengeluarkan seruan kaget, karena hampir setiap kali dia selalu kena dibokong oleh kesepuluh orang itu.

Maka dari itu, betapa menimbulkan perasaan gusar disudut hatinya.

Si gemuk tromok Dedemit Hidup jadi kewalahan juga menghadapi kesepuluh orang tersebut, dan karena dia terdesak hebat sekali, dia berbalik jadi nekad.

Dengan mengeluarkan seruan yang tinggi nyaring, pecah sekali memekakkan anak telinga, maka tubuh si gemuk yang tromok itu telah melompat tinggi sekali.

Tangan kirinya terayun kekiri, kearah kepala dari salah seorang gadis yang ada disitu, sedangkan tangan kanannya mengarah kearah kanan dimana terdapat dua orang anak muda yang menjadi lawannya dengan serangan yang beruntun sekali. Hebat sekali kedua tangan si gemuk tromok yang menyerang nekad sekali kearah lawannya tersebut.

Kalau memang sampai terkena serangannya dengan tepat, maka niscaya tak akan ada ampunnya lagi bagi ketiga lawannya yang diserangnya itu!

Tetapi, dikala lawan-lawannya yang diserang oleh si gemuk tromok itu terkejut dan hampir terkena serangannya, tahu-tahu dibelakangnya menyambar dua serangan, dan dari sampingnya juga menyambar satu serangan ruyung.

Kalau memang ruyung itu berhasil menghajar iganya, berarti tulang rusuknya akan remuk hancur. !

Dari itu, biarpun dia liehay dan kosen sekali, tetapi disebabkan dirinya terancam bahaya juga, biarpun dia sudah nekad, toh dia tidak berani meneruskan serangannya terhadap ketiga korbannya yang hampir berhasil diserangnya.

Cepat-cepat si gemuk tromok menarik pulang tangannya kembali.

Dengan menarik pulang kedua serangannya, maka Dedemit Hidup dapat menghindarkan bokongan dari lawannya yang mengincer rusuknya, karena kalau rusuknya itu kena diserang lawannya, berarti dia akan memenuhi kebinasaannya!

Sedangkan lawan dari Dedemit Hidup juga telah melihat serangan mereka mengenai tempat kosong.

Sebelum mereka melompat mundur, tiga orang diantara mereka telah melanjutkan serangan lagi kepada si Dedemit Hidup dengan serangan-serangan yang beruntun serta berangkai, mengincer nyawa dari si gemuk tromok ini, kalau memang sampai terserang, dia pasti akan terbinasakan, atau sedikit-dikitnya akan terserang terluka parah !

*

* *

OEN LAY TAT yang melihat keadaan begitu, jadi tersenyum, dia yakin bahwa orang-orangnya itu pasti akan dapat merubuhkan si gemuk tromok.

Tetapi, sedang Kauw-cu dari Pian-sia-kay ini tersenyum-senyum diri, tiba-tiba dia dikejutkan didekatnya berkelebat sesosok bayangan.

Dia cepat-cepat mengelakkan serangan tangan dari bayangan yang melesat cepat didekat tubuhnya.

Pedang Tat-mo Kiam juga cepat-cepat dicabutnya, sehingga ruangan tersebut jadi silau oleh cahayanya yang memantul dari badan pedang tersebut.

Sambil mencabut pedang Tat-mo Kiam begitu, maka Lay Tat juga mengeluarkan seruan yang mengguntur, dia ingin mengayunkan tangannya menyabetkan pedang Tat-mo Kiam yang ada ditangannya itu menyerang kearah bayangan yang tengah menerjang lagi kearahnya.

Bayangan yang berkelebat dengan cepat sekali itu mengeluarkan seruan ‘ihhhh!’ kemudian tampak bayangan tersebut telah melompat kebelakang lagi untuk menghindarkan diri dari pedang Tat-mo Kiam yang mengincer padanya, yang disabetkan oleh Kauw-cu dari Pian-sia-kay.

Lay Tat mementang matanya lebar-lebar untuk menegasi orang yang telah menerjang dirinya itu.

Dilihatnya orang berkepala botak, dialah seorang Hwee-shio, yang tak lain dan tak bukan dari It Kiang Sian-su  !

“Kau It Kiang Sian-su?” tegur Lay Tat waktu dia telah dapat melihat tegas kepada orang yang menerjang dirinya. Didapatnya Hwee-shio tengah berdiri dengan mata mencilak kearah pedang Tat-mo Kiam ditangannya. “Mengapa kau jadi mempunyai pikiran jelek terhadap kami?”

Dan setelah menegur begitu Lay Tat tertawa.

It Kiang Sian-su telah mengeluarkan suara jengekan dari hidungnya.

Tahu-tahu dia telah menjejakkan kakinya lagi, tubuhnya telah mencelat kearah Lay Tat.

Dengan menggunakan jurus Lo-han-sip-pat-ciang, dia menyerang Kauw-cu Pian-sia-kay tersebut, untuk merebut pedang Tat-mo Kiam itu.

Tetapi Lay Tat telah bersiap-siap, maka dari itu, biarpun si Hwee-shio telah menjerang dirinya dengan serangan hebat dan beruntun sekali, toh Lay Tat selalu dapat mengelakan diri.

Lay Tat lebih banyak mengegoskan diri dari setiap serangan orang, malah dia juga sering mengeluarkan seruan tertahan disertai oleh tertawa dinginnya, seperti juga dia sedang mengejek dan mempermainkan Hwee-shio itu.

Suatu kali, dengan mengeluarkan seruan menggeledek, It Kiang Sian-su telah menerjang dengan nekad dia telah mengulurkan tangannya untuk merebut pedang itu.

Lay Tat melihat kenekadan orang, dia tertawa tawar, kemudian dengan kecepatan yang luar biasa, tatkala si Hwee-shio tengah mengulurkan tangannya untuk menyerang, maka Lay Tat telah manyabetkan pedangnya itu, menyerang kearah tangan si Hwee-shio, dan tangan orang pertapaan dari Siauw Lim-sie tersebut jadi tertabas kutung tangannya!!

Kutungan tangan dari It Kiang Sian-su jatuh keatas lantai dan darah merah jadi membanjiri lantai.

It Kiang Sian-su juga mengeluarkan suara jeritan yang menyayatkan ketika tangannya itu telah terkutungkan oleh sabetan pedang dari Lay Tat. Saking kesakitan, malah dia telah melompat kebelakang sejauh mungkin, karena dia takut kalau-kalau nanti Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut membarengi menyerang kearahnya itu.

Lay Tat tidak mengejar, dia hanya berdiri ditempatnya sambil tertawa dingin. “Bagaimana?” tegur Lay Tat mengejek. “Kau sebagai seorang pertapaan, yang

seharusnya mengambil jalan suci, ternyata kau mempunyai niat busuk kepadaku,

maka dari itu, Thian memang maha adil dan penyayang, orang jahat semacammu ini memang seharusnya terbabat putus tanganmu itu!!” It Kiang Sian-su berdiam diri dengan wajah yang pucat.

Nyata dia menderita kesakitan yang sangat, karena tangannya telah terkutungkan itu oleh pedang Tat-mo Kiam yang dicekal Lay Tat.

It Kiang Sian-su tadi merasakan betapa tajam sekali pedang Tat-mo Kiam itu dia tertabas putus tangannya tanpa dia menderita kesakitan saking tajamnya pedang itu.

Tetapi setelah tangannya tertabas putus, maka setelah darah merah mengalir keluar dengan deras, barulah si Hwee-shio menderita kesakitan yang hebat.

Dengan meringis menahan perasaan sakitnya It Kiang masih tetap berdiri ditempatnya dengan wajah yang pucat dan kedua kaki yang gemetaran.

Semua jago-jago melihat keadaan si Hwee-shio ini.

Cie Kiat juga melihat orang pertapaan bekas murid Siauw Lim-sie tersebut telah merogoh sakunya mengeluarkan semacam obat bubuk.

Dia memborehkan obat bubuk yang berwarna kuning keluka tertabas pedang Tat-mo Kiam itu, dan benar-benar obat bubuk kuning itu manjur sekali, darah seketika itu juga berhenti mengalir keluar.

Si Hwee-shio telah memasukkan sisa obat bubuk kuning itu kedalam sakunya. Lay Tat telah tertawa lagi.

“Hei pertapa busuk!!” katanya dengan suara yang nyaring. “Kau telah menunjukkan belangmu bahwa kau ternyata mengiler juga terhadap pedang Tat-mo Kiam ini, maka dari itu, sebelum kau kubunuh, cepat-cepatlah menggelinding enyah!!”

It Kiang Sian-su telah membalut luka ditangannya oleh sobekan jubahnya, dia telah menoleh Lay Tat dengan sinar mata yang tajam sekali, sepasang alisnya juga berkerut dalam sekali.

“Kali ini Pin-ceng kena dirubuhkan olehmu, tetapi ingatlah, pada suatu hari nanti Pin-ceng pasti akan datang kemari lagi!!” kata si Hwee-shio kemudian dengan suara yang agak gemetar karena dendam.

Mendengar perkataan It Kiang Sian-su Lay Tat telah tertawa.

“Kau masih bisa banyak bicara lagi?” bentak Lay Tat dengan suara yang bengis. “Apakah kau menginginkan agar batang lehermu itu juga kutabas seperti tadi aku menabas lenganmu itu?”

Wajah It Kiang merah padam, dia berdendam sekali kepada Kauw-cu dari Pian- sia-kay.

Tanpa mengatakan suatu apa lagi, dia memutar tubuhnya dan menuju keluar dari ruangan itu, menuju kepintu sumur untuk keluar.

Sedang orang melangkah pergi begitu, Lay Tat telah tertawa mengejek.

“Hati-hati dijalan, karena aku jeri kalau kau akan menemui kebinasaanmu tanpa ada yang lihat sehingga kau menjadi santapan burung gagak..........!” kata Lay Tat dengan suara yang nyaring dan setelah itu dia tertawa lagi dengan suara yang keras sekali.

It Kiang Sian-su sangat murka sekali tetapi dia murka tanpa daya.

Karena selain kepandaian Lay Tat ternyata berada disebelah atas dirinya, pula Lay Tat mempunyai kemenangan lainnya, yaitu mempunyai senjata pusaka yang luar biasa tajamnya, sehingga biarpun dia berkeras akan melawannya, toh hanya akan membawa kerugian belaka bagi dirinya.

Maka dari itu It Kiang Sian-su tidak mau melayaninya, dia telah melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Sedangkan pada saat itu, si gemuk tromok tengah dikepung hebat oleh kesepuluh anak buahnya Kauw-cu Pian-sia-kay she Oen tersebut.

Setiap serangan-serangan yang dilancarkan oleh kesepuluh orang itu rata-rata sangat berbahaya sekali.

Lagi pula cara menyerang mereka yang bergilir itu sangat teratur, kompak pula.

Maka dari itu, tak heran kalau memang si gemuk tromok Dedemit Hidup jadi terdesak hebat sekali.

Dia sampai mengeluarkan keringat dingin dikening dan wajahnya.

Sebagai seorang jago yang kosen, si gemuk tromok sebetulnya mengetahui bahwa kepandaian dari kesepuluh orang Pian-sia-kay yang mengepung dirinya itu mempunyai kepandaian yang tidak begitu tinggi, tetapi berhubung mereka mengepung dengan pasukan Tin yang ketat dan rapat sekali pengepungannya, serta kerja sama yang kompak maka jadi terkepung begitu macam.

Setiap kali si gemuk tromok sedang melancarkan serangannya kepada salah seorang diantara mereka, maka beberapa orang dari kesepuluh orang Pian-sia-kay tersebut telah melancarkan serangannya kepada si gemuk tromok Dedemit Hidup ini yang menyebabkan dia jadi terpaksa untuk membatalkan serangannya kepada orang yang menjadi sasarannya, guna mengelakkan serangan-serangan yang dilancarkan kepada dirinya.

Maka dari itu, disamping si gemuk tromok Dedemit Hidup sangat mendongkol sekali dikepung begitu macam, dia juga sangat gusar sekali kepada sepuluh orang anak buah Oen Lay Tat yang bisa membawakan pasukan Tin itu begitu kompak.

Lay Tat telah mengawasi kearah pertempuran itu lagi.

Dia senang sekali, bahwa kesepuluh orang-orangnya itu telah dapat melibat si gemuk tromok sampai tidak terdaya untuk meloloskan diri.

Jago-jago dari berbagai golongan juga mengawasi kearah pertempuran itu dengan kagum, mereka tidak menduga, walaupun usia dari keempat gadis dan keenam lelaki itu masih berusia sangat muda sekali, toh mereka telah dapat melibat diri si gemuk tromok Dedemit Hidup sebagai seorang jago kosen itu sampai tak bisa terlepas dari libatan kepungan mereka. Dengan sendirinya mereka jadi memuji berulang kali kalau melihat si gemuk Dedemit Hidip itu selalu terdesak hebat dan hampir terkena serangan dari salah seorang diantara kesepuluh pengepungnya itu.

Cie Kiat juga melihat, walaupun Tin itu tidak bisa disebut sebagai pasukan Tin yang hebat luar biasa, tetapi cukup mengagumkan juga.

Sebagai seorang jago kawakan yang telah mempunyai pengalaman tempur yang banyak, toh si Dedemit Hidup masih bisa terdesak begitu macam.

Dedemit Hidup itu jadi gusar dan murka berulang kali, dia seperti juga selalu dipermainkan oleh kesepuluh orang pengepungnya itu.

Dengan berulang kali mengeluarkan suara bentakan, sering si gemuk tromok Dedemit Hidup itu melancarkan serangan kepada lawan-lawannya.

Tetapi hal itu dilakukannya semua dengan hasil yang nihil.

Tak pernah dia berhasil menyerang salah seorang diantara kesepuluh orang lawannya.

Sambil bertempur begitu, lama kelamaan tenaga si gemuk tromok jadi kehabisan juga. Dia jadi sangat letih sekali, sehingga napasnya terengah memburu.

Sebagai seorang jago yang mempunyai tenaga Lwee-kang yang cukup tinggi, seharusnya dia tidak bisa terdesak begitu hebat oleh pasukan Tin kesepuluh orang ini, karena semua itu disebabkan sejak pertama kali ketenangan si gemuk tromok itu telah lenyap, yang akhirnya membuat dia jadi terdesak terus menerus. Ketenangan didalam suatu pertempuran memang sangat diperlukan, ketenangan diri akan menyebabkan kita bisa mengawasi setiap gerak gerik lawan dan mempelajari kelemahannya.

Cie Kiat sebetulnya juga telah melihat, bahwa si gemuk tromok Dedemit Hidup itu seharusnya tidak sampai terdesak begitu, tetapi karena dia sedang memperhatikan cara bertempur dari kesepuluh orang tersebut, kesepuluh anggota Pian-sia-kay yang sedang mengepung si gemuk tromok, maka dia tidak bisa memperingatkan Dedemit Hidup untuk berlaku tenang.

Peng-im Loo-nie sendiri, si Nie-kauw tua itu, juga mengawasi kearah jalannya pertempuran dengan penuh perhatian.

Nie-kauw ini memperhatikan cara-cara dari kesepuluh orang itu yang melancarkan setiap serangan. Dan akhirnya si Nie-Kauw menghela napas.

“Hai....... ternyata Pian-sia-kay telah mempunyai samacam pasukan Tin serupa ini, sungguh hebat dan liehay orang she Oen itu, yang telah mendidik kesepuluh anak muda itu untuk membelai dirinya dari segala macam ancaman bahaya. tentunya

tenaga dari pasukan Tin ini sangat besar sekali faedahnya bagi diri Kauw-cu Pian-sia- kay tersebut.” pikir Peng-im Loo-nie.

Jago-jago lainnya juga berpikir sama seperti apa yang dipikirkan oleh Peng-im Loo-nie. Mereka rata-rata sangat kagum kepada kekompakan sepuluh orang yang mengepung si gemuk tromok Dedemit Hidup itu, yang membuat si gemuk tromok menjadi kewalahan.

Tetapi sedang semua orang mengawasi jalannya pertempuran itu dengan penuh perhatian, tahu-tahu Sam-kay dan Cong Teng San yang berdiri ditepian ruangan itu, yang sedang mengawasi jalannya pertempuran tersebut menjerit dengan suara yang menyayatkan pendengaran, tampak tubuh mereka terjungkel dan rubuh dengan tak bernyawa lagi...............

Semua orang yang melihat hal itu jadi terkejut, lebih-lebih Lay Tat.

Cepat-cepat dia menghampiri Sam-kay dan Cong Teng San yang rebah tak bergerak itu.

Kauw-cu Pian-sia-kay ini berjongkok memeriksa kedua orangnya itu.

Dilihatnya wajah Sam-kay dan Cong Teng San sangat pucat tak berdarah, menyatakan bahwa mereka telah direnggut jiwanya oleh utusan Giam-lo-ong....

wajah mereka itu meringis, menyatakan waktu mereka binasa mengalami suatu kesakitan yang sangat.

Hati Lay Tat jadi tergoncang hebat sekali.

Mengapa tahu-tahu kedua orangnya itu bisa terjungkel begitu dan menjerit dengan suara yang menyayatkan, kemudian rubuh terbinasakan?

Sedangkan tadi tampaknya Sam-kay dan Cong Teng San masih segar bugar, maka mengapa tahu-tahu mereka bisa menemui kebinasaan mereka begitu?

Lay Tat memeriksa seluruh tubuh dari kedua anak buahnya yang telah meninggal secara aneh itu, tetapi ditubuh kedua orangnya ini dia tidak menjumpai senjata yang menancap ditubuh mereka.

Lalu mengapa kedua orangnya itu bisa binasa secara begitu mendadak, seperti juga mereka terserang oleh senjata gelap yang sangat berbahaya sekali?

Hal ini benar-benar mengherankan sekali bagi Lay Tat dan orang-orang yang ada didalam ruangan itu.

Beberapa orang jago, termasuk Peng-im Loo-nie dan Cie Kiat untuk melihat kedua mayat Sam-kay dan Cong Teng San.

Lay Tat masih memeriksa kedua mayat orangnya itu, dan selang sesaat, tahu- tahu dia mengeluarkan seruan tertahan : ‘Iiiiihhh!’ tampak wajah Kauw-cu dari Pian- sia-kay ini berobah hebat sekali, juga jago-jago yang berada didekatnya melihat tubuh Kauw-cu Pian-sia-kay tersebut agak tergetar....... wajahnya pucat pias sekali, seperti juga dia sedang melihat jin atau hantu ditengah hari didepan matanya. !

    

MENGAPA wajah Kauw-cu Pian-sia-kay Oen Lay Tat bisa berobah begitu pucat dan tubuhnya agak gemetar seperti sedang menghadapi suatu persoalan yang mengejutkan dirinya?

Ternyata, setelah dia memeriksa dengan teliti dan penasaran sekali kedua tubuh mayat Sam-kay dan Cong Teng San, tampak olehnya didada kedua tubuh mayat itu dua buah titik dikiri kanan yang berwarna hitam gelap.

Seketika itu juga Lay Tat mengetahui bahwa titik hitam didada kedua mayat tersebut adalah jarum berbisa, yang mungkin racun yang terdapat didalam senjata rahasia yang menyerang Sam-kay dan Cong Teng San sangat cepat sekali bekerjanya, yang menyebabkan Sam-kay dan Cong Teng San menemui kebinasaannya setelah mengejang hanya beberapa detik saja.

Lay Tat jadi mengerutkan alisnya, dia tidak lantas bangkit berdiri, hanya mengawasi saja kearah lobang kecil yang berwarna hitam didada kedua mayat orangnya itu.

Otaknya jadi berputar dan Lay Tat berpikir siapakah orang yang telah menyerang Sam-kay dan Cong Teng San secara menggelap begitu?

Jago-jago lainnya yang memandang kedua mayat itu, semuanya berdiam diri

saja.

Dan disaat ruangan itu sunyi sekali, hanya terdengar suara bentakan-bentakan

dari si gemuk tromok yang sedang repot menghadapi kesepuluh orang pengepungnya terdengar suara tertawa gelak-gelak yang memekakkan anak telinga, bergema sekali suara tertawa itu didalam ruangan tersebut.

Semua orang terkejut sekali, begitu juga Lay Tat, mereka hampir berbareng menoleh.

Begitu melihat orang yang mengeluarkan tertawa keras menyeramkan itu, yang kala itu sedang berdiri bertolak pinggang dimuka pintu keluar, semua orang jadi mengeluarkan seruan tertahan.

Mengapa?

Karena wajah orang yang berdiri ngejeglek disitu sangat jelek sekali, tulang pipinya naik tinggi, dan matanya itu melesak masuk kedalam, dengan alis yang botak, sehingga orang tersebut menyerupai muka tengkorak.

Tetapi yang lebih mengherankan dan mengejutkan sekali, orang itu memakai baju hanya menutupi bagian penting tubuhnya yang kurus itu, dia hanya memakai cawat belaka. Selain itu, bagian tubuhnya yang lain tidak tertutup oleh sehelai benangpun.

Kepala orang yang mempunyai wajah seperti tengkorak dan keadaannya sangat aneh itu, botak, dan dipinggang orang tersebut, pinggang sebelah kanan, tergantung sebuah kantong senjata rahasia yang berwarna merah. Matanya yang memandang orang yang ada didalam ruangan itu bersinar tajam sekali.

Bengis dan kejam sekali tampaknya orang bermuka tengkorak tersebut. Lay Tat telah melompat berdiri.

Dia memandang orang bermuka tengkorak dengan pakaian hanya cawat saja itu dengan mengerutkan sepasang alisnya.

“Siapa kau, sahabat?” tanyanya dengan tak senang, karena Lay Tat duga tentu orang inilah yang telah membunuh Sam-kay dan Cong Teng San. “Apakah kau yang telah membunuh kedua orangku itu?”

Orang bermuka tengkorak tersebut tertawa. Menyeramkan sekali suara tertawa orang itu, malah mukanya jadi tambah menyeramkan, karena pipinya jadi naik, tulang pipinya jadi semakin meninggi.

“Benar! Benar! Memang aku si To-hun Koay-jin yang telah membunuh kedua orangmu yang tak ada gunanya itu!!” menyahuti orang bermuka tengkorak itu, yang mengakui dirinya bergelar To-hun Koay-jin, si tengkorak manusia aneh!

Wajah Lay Tat jadi berobah merah padam, dia bergusar sekali.

Tetapi walaupun sedang dalam keadaan murka, karena kedua orangnya telah dibunuh oleh si To-hun Koay-jin tersebut, toh Lay Tat tidak berani untuk bertindak sembrono, karena dia duga orang bermuka tengkorak tersebut kosen dan mempunyai ilmu silat yang tinggi sekali.

“Apa salah kedua orangku itu sehingga mereka harus menemui kematian mereka ditanganmu, sahabat?” tanya Lay Tat dengan suara yang keras. “Apakah mereka membuat suatu kesalahan terhadap dirimu?”

Orang bermuka tengkorak itu tertawa lagi, sambil tertawa begitu dengan suara yang menyeramkan, mata si muka tengkorak tersebut telah menoleh menyapu semua orang didalam ruangan tersebut dengan pancaran mata yang tajam berkilat sekali, satu persatu dipandanginya jago-jago dari berbagai golongan yang ada didalam ruangan tersebut, termasuk Cie Kiat, anak muda she Lie ini yang paling lama dipandangi oleh manusia tengkorak To-hun Koay-jin.

Tiba-tiba dia mendengus.

“Tak ada yang bersalah padaku!” kata To-hun Koay-jin dengan suara yang nyaring. “Tetapi karena kalian sedang menyaksikan pedang Tat-mo Kiam, mau tak mau kalian semua harus mampus ditanganku!!”

Mendengar perkataan To-hun Koay-jin tersebut, wajah semua jago-jago yang ada didalam ruangan itu jadi berobah hebat, mereka mendongkol datang-datang si muka jelek yang seperti tengkorak tersebut membuat ulah seperti juga jago nomor wahid, jago-jago didalam ruangan tersebut seperti juga tidak dipandang sebelah mata oleh si muka tengkorak tersebut.

Lay Tat sendiri sampai mendengus beberapa kali. “Ada sangkut paut apa dengan Tat-mo Kiam dengan dirimu, sahabat?” tegur Lay Tat tak senang.

Mata orang itu jadi berkilat waktu dia mendengar pertanyaan Lay Tat.

“Kau menanyakan ada hubungan apa antara diriku dengan Tat-mo Kiam itu?” tanya si muka tengkorak dengan suara yang agak serak, disusul kemudian dengan suara tertawanya yang keras sekali. “Hu! Hu! Hu! Tat-mo Kiam adalah milikku dan kalian harus mampus karena telah berani memandang pedang Tat-mo Kiam itu diluar tahuku. Hmmmm..... tanpa seijinku, tak boleh seorang manusiapun yang melihat pedang Tat-mo Kiam itu maka siapa saja yang telah melihat pedang Tat-mo Kiam itu tanpa seijinku, hmm... dia harus cepat-cepat menggorok lehernya sendiri sebelum aku yang membunuhnya dengan cara yang mengerikan!”

Kembali wajah semua orang didalam ruangan tersebut jadi berobah.

Mereka jadi setengah percaya dan setengah tidak percaya orang bermuka seperti tengkorak itu mengatakan bahwa Pedang Tat-mo Kiam itu adalah miliknya, karena kalau dilihat dari potongannya, orang itu seperti juga seorang yang terserang penyakit syaraf.

Maka dari itu, semua jago-jago yang ada didalam ruangan itu rata-rata memperlihatkan wajah mereka yang tidak mempercayai perkataan si To-hun Koay- jin, si manusia tengkorak aneh itu.

To-hun Koay-jin seperti juga bisa membaca hati orang-orang yang ada didalam ruangan itu satu persatu.

Dia mendengus dengan muka yang menyeramkan sekali, dia mendengus berulang kali.

“Hmmmmmmm...... kalian seperti juga tidak mempercayai perkataanku! Bagus! Dengan begitu, kalian akan binasa dengan cara yang lebih mengerikan lagi!” katanya.

Lay Tat memang sudah mendongkol karena orang datang-datang tak hujan tak angin telah mengakui bahwa Tat-mo Kiam itu adalah miliiknya, jadi gusar sekali. Lebih-lebih si muka tengkorak tersebut telah membunuh Cong Teng San dan Sam- kay!

Maka dari itu Lay Tat telah maju kemuka mendekati orang itu.

“Hei setan jelek, apakah kau kira bahwa dirimu itu sedang berhadapan dengan seorang bocah cilik yang tidak mengerti sedikitpun ilmu silat? Hmmmm bukan

kami yang akan pergi menemui Giam-lo-ong, tetapi adalah kau sendiri yang akan terbang ke neraka untuk menebus dosa-dosamu dihadapan Giam-lo-ong!!”

Mendengar perkataan Lay Tat begitu, orang bermuka tengkorak tersebut tidak tertawa seperti biasanya, dia hanya mengerutkan alisnya yang agak botak, matanya nyureng mengawasi tajam sekali.

“Kau bisa berkata begitu?” tanyanya dengan suara yang menyeramkan. “Apakah kau benar-benar berani kurang ajar kepada To-hun Koay-jin?”

Lay Tat tertawa mengejek. “Jangankan To-hun Koay-jin, biarpun To-hun Koay-hiap tetap akan kukirim ke neraka untuk menemui Giam-lo-ong!” menyahuti Lay Tat.

Wajah To-hun Koay-jin jadi berobah tambah menyeramkan sekali.

Tahu-tahu dia menggerakkan tangannya kearah kantong senjata rahasia yang berwarna merah yang tergantung dipinggangnya.

Lay Tat dan jago-jago lainnya mengetahui, bahwa orang bermuka jelek seperti tengkorak tersebut tentunya liehay sekali melemparkan senjata, sebab Sam-kay dan Cong Teng San yang mempunyai kepandaian cukup lumayan masih tak bisa mengelakkan dari senjata rahasia beracun dari manusia bermuka tengkorak tersebut.

Benar saja, tahu-tahu dengan mengeluarkan suara ‘Haaaaaa!!’ yang keras orang bermuka tengkorak itu telah menggerakkan tangannya.

Terdengar suara ‘serrrr, serrrr, serrrr,’ beruntun beberapa kali. Semua jago-jago yang ada didalam ruangan itu telah bersiap-siap.

Tetapi mereka jadi kecele, karena senjata rahasia yang menyerupai jarum-jarum halus itu ternyata bertebaran hanya menyerang kearah Lay Tat.

Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut tidak berani main-main dengan To-hun Koay-hiap ini, karena dia telah melihat, betapa hebatnya bekerja sang racun jarum- jarum itu pada diri Cong Teng San dan Sam-kay yang terbinasa disitu juga begitu mereka terjungkel rubuh!

Begitu melihat jarum-jarum halus itu menyambar dirinya, cepat-cepat Lay Tat memutar pedang Tat-mo Kiam yang tercekal ditangannya seperti juga kitiran, melindungi dirinya rapat sekali.

Terdengar suara ‘tring, tring, tring’ berulang kali, suara jarum-jarum halus itu terpukul jatuh oleh pedang Tat-mo Kiam yang diputar begitu hebat oleh Lay Tat.

Melihat Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut berhasil memukul jatuh seluruh jarum-jarum yang disambitkannya itu, orang bermuka tengkorak itu jadi tertawa dengan suara yang sangat menyeramkan sekali.

“Hebat! Benar-benar hebat kau!” kata orang bermuka tengkorak tersebut. “Dengan menggunakan pedang Tat-mo Kiam memang jarumku tidak akan berdaya. Tetapi aku mau lihat, dengan senjataku yang satunya ini apakah kau bisa meloloskan diri dari kematian!?”

Dan setelah berkata begitu, orang bermuka tengkorak tersebut telah merabah kantong berwarna merah yang tergantung dipinggangnya, kantung senjata rahasianya.

Dia mengambil sesuatu, kemudian melemparkannya kearah Lay Tat lagi.

Jago-jago yang ada didalam ruangan yang melihat orang bermuka tengkorak hanya memusuhi Lay Tat menyerang Kauw-cu Pian-sia-kay tersebut seorang diri, maka semuanya jadi menepi tak ingin mencampurinya.

Mereka ingin sekali menyaksikan benda apa yang disambitkan oleh si muka tengkorak itu,karena kalau menurut perkataannya, tentunya senjata yang baru saja disambitkannya itu hebat sekali. Tampak melesat dua benda bulat yang terputar ditengah udara, menyambar kearah Lay Tat.

Lay Tat mementang matanya penuh kewaspadaan.

Kalau dilihat dari bentuknya itu, maka Lay Tat tahu bahwa senjata yang sekarang ini disambitkan oleh manusia bermuka tengkorak tersebut bukanlah jarum- jarum yang seperti pertama kalinya, benda itu agak besar dan bulat.

Cepat-cepat Lay Tat bersiap-siap menyambut kedua benda yang menyambar dirinya dengan hebat sekali.

Lay Tat memutar kembali pedang Tat-mo Kiam ditangannya. Tetapi benda itu tidak menyambar terus kearah Lay Tat!

Seperti juga mempunyai daya tahan, remnya, maka benda itu berhenti ditengah udara, kemudian kembali kearah si muka tengkorak.

Lay Tat berhenti memutar pedangnya, dia ingin melihat benda itu.

Tetapi senjata itu telah kembali berbalik menyerang kearah dada Lay Tat.

Orang she Oen yang menjadi Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut sampai mengeluarkan seruan kaget.

Itulah serangan semacam serangan bokongan!

Tadinya Lay Tat menduga si muka tengkorak menyambitkan benda itu dengan menggunakan Lwee-kangnya, sehingga dia bisa menarik kembali senjatanya itu.

Tetapi nyatanya, benda itu bukan kembali terus kearah si muka tengkorak tersebut melainkan dia telah menyambar menyerang kearah dada Lay Tat.

Lay Tat sampai menjerit kaget, cepat-cepat dia menjejakkan kakinya, karena benda itu menyambar cepat sekali, menyambar dekat sekali dadanya.

Tubuh Lay Tat mencelat keatas, dengan cara begitu dia ingin menghindarkan diri dari samberan senjata bulat yang disambitkan oleh To-hun Koay-jin.

Untuk memutar pedangnya beberapa jurus melindungi dirinya dengan putaran pedang itu, maka Lay Tat mengetahui benar tak mungkin keburu, maka dari itu dia telah mencelat tinggi-tinggi.

Tetapi, begitu tubuh Lay Tat mencelat membubung tinggi, hati ketua dari Pian- sia-kay tersebut jadi mencelos, dia kaget luar biasa!

Benda bulat senjata si To-hun Koay-jin seperti juga mempunyai mata.

Tahu-tahu benda itu telah berputar keatas menyambar kearah anggota kemaluan dari Lay Tat.

Inilah hebat, sekali saja anggota rahasia kelaki-lakian Lay Tat kena terhajar oleh benda bulat senjata rahasia si To-hun Koay-jin dapat menghajar dengan tepat, maka seketika itu juga Lay Tat akan terbinasakan. juga. Untung saja Lay Tat liehay dan kosen sekali, dia mempunyai mata yang awas

Walaupun senjata rahasia yang disambitkan oleh si muka tengkorak itu telah menyambar dekat sekali, namun Lay Tat tidak menjadi gugup.

Dengan cepat dia telah menutukkan ujung pedangnya itu kebenda bulat yang disambitkan oleb si To-hun Koay-jin kearahnya, dia bermaksud akan menutuk benda bulat itu jatuh kebawah.

Tetapi, begitu pedang Lay Tat menutuk kearah benda bulat itu, begitu juga dia teringat sesuatu, maka hatinya jadi mencelos lagi.

Dia ingin menahan samberan pedangnya untuk tidak menutuk benda itu, tetapi sudah terlambat!

Ujung pedang Lay Tat telah menutuk tepat benda bulat tersebut.

Memang benar benda bulat yang menjadi senjata rahasia dari si muka tengkorak itu kena ditutuknya turun kembali kebawah, tetapi begitu benda tersebut jatuh terbanting dilantai, hati Lay Tat jadi tergoncang hebat, dia mencelos dan ketakutan sendiri.

Benda bulat itu telah terbanting keras dilantai dan meledak!

Lay Tat sedang meluncur turun kebawah, dan berbareng dengan itu benda bulat itu yang ternyata adalah senjata bahan peledak, telah meledak dengan mengeluarkan suara yang keras memekakkan anak telinga.

Tubuh Lay Tat jadi mengalami ancaman bahaya kematian, karena begitu tubuhnya amblas kebawah, berarti tubuhnya juga akan ikut meledak bersama-sama dengan senjata peledak orang bermuka seperti tergkorak itu.

Untung saja Lay Tat memang mempunyai kepandaian yang lumayan, waktu senjata rahasia peledak itu meledak dengan mengeluarkan suara ledakan yang keras sekali, Lay Tat telah menggunakan ujung pedangnya untuk menotol pecahan dari benda bulat itu, dengan meminjam tenaga pinjaman dari pecahan senjata rahasia itu, maka tubuh Lay Tat jadi mencelat lagi, dia melambung tinggi, dan jatuh ditempat yang agak jauh dari tempat dimana senjata bulat itu meledak !

Begitu kedua kakinya berhasil menginjak lantai ruangan tersebut, Lay Tat jadi mengeluarkan keringat dingin. Dia juga menelan beberapa kali air liurnya, karena hatinya masih tergoncang keras.

Coba kalau tadi dia tidak cepat-cepat melompat lagi dengan meminjam tenaga totolan pada pecahan bahan peledak itu, pasti sekarang tubuhnya telah menggeletak dengan hancur lebur disebabkan terkena ledakan itu.

Dengan terlolosnya dari kematian, maka Lay Tat jadi merasa bersyukur bahwa Thian masih melindungi dirinya.

Mata si muka tengkorak tengah mengawasi Lay Tat.

Tadi dia melihat, betapa Lay Tat dapat menghindarkan dua kali serangan senjata rahasianya. Itu menunjukkan bahwa orang she Oen tersebut memang mempunyai kepandaian yang cukup....

*

* *

DAN orang bermuka tengkorak itu mengeluarkan suara tertawa menyeramkan sekali waktu melihat Lay Tat berhasil menyelamatkan diri dari ledakan senjata peledaknya itu.

To-hun Koay-jin juga melihat Lay Tat telah berdiri dilantai kembali dengan wajah yang sangat pucat pasi, menandakan dia tergoncang hebat hatinya, sedangkan kedua kaki Lay Tat juga gemetaran.

“Bagaimana?” bentak si manusia bermuka tengkorak dengan tetap diselingi oleh suara tertawanya yang menyeramkan. “Apakah kau masih ingin bermimpi untuk memiliki pedang Tat-mo Kiam itu? Hmmmm sebentar lagi kau mampus!”

Wajah Lay Tat masih pucat, napasnya masih terengah memburu. Juga hati dari Kauw-cu Pian-sia-kay tersebut masih tergoncang keras.

Si gemuk tromok Dedemit Hidup dan kesepuluh pengurungnya jadi berhenti bertempur dikala mereka mendengar suara ledakan.

Dengan sendirinya Dedemit Hidup dan sepuluh orang Pian-sia-kay itu jadi berhenti bertempur, mereka jadi menyaksikan Lay Tat sedang berhadapan dengan manusia bermuka seperti tengkorak itu.

Tetapi pada saat itu Lay Tat telah berusaha menenangkan goncangan hatinya, dia berusaha untuk tertawa.

“Kau memutar lidah seenakmu saja, seperti juga pedang Tat-mo Kiam ini adalah milik bapa moyangmu saja! Hmmm, aku memang telah menemukan pedang ini, dan hal ini menunjukkan bahwa akulah yang berhak untuk memiliki pedang ini!!” kata Lay Tat dengan suara yang nyaring. Tetapi biarpun Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut berkata begitu, toh suaranya masih terdengar bergetar.

Mendengar perkataan Lay Tat, orang bermuka tengkorak itu yang mengaku bergelar To-hun Koay-jin, mendengus mengeluarkan suara tertawa dinginnya.

“Apakah kau benar-benar tidak takut mampus?” tegurnya dengan suara yang menyeramkan, wajahnya juga mengerikan sekali. Dia malah telah maju selangkah kemuka, sehingga Lay Tat tanpa disadarinya telah mundur satu langkah juga. “Kau. kau akan mampus dengan tubuh tak utuh!!”

Setelah berkata begitu, orang bermuka tengkorak tersebut, To-hun Koay-jin telah tertawa gelak-gelak dan suara tertawanya itu disertai oleh tenaga Lwee-kangnya yang dikerahkannya, sehingga ruangan tersebut seperti juga tergetar, hati jago-jago dari berbagai golongan yang ada disitu juga tergoncang sekali.

Cie Kiat sendiri merasakan, waktu si manusia tengkorak, To-hun Koay-jin, tertawa gelak-gelak begitu macam, hatinya jadi tergoncang juga. Tetapi pemuda she Lie ini telah cepat-cepat mengerahkan tenaga Lwee-kangnya, didalam waktu yang sangat singkat sekali, dia telah bisa menguasai goncangan hatinya itu. Suara tertawa To-hun Koay-jin yang menggoncangkan ruangan tersebut dan mengerikan, jadi tak berarti apa-apa bagi diri Cie Kiat. !

Lama juga manusia bermuka seperti tengkorak tersebut tertawa gelak-gelak, sampai tubuhnya tergoncang keras.

Waktu dia berhenti tertawa dengan mendadak, matanya jadi menatap dengan pancaran yang bengis sekali kepada semua orang yang ada diruangan tersebut.

Semua jago-jago dari berbagai golongan yang melihat pancaran mata si manusia tengkorak yang mengandung hawa pembunuhan dan mengerikan sekali, jadi menggidik.

Muka si manusia tengkorak tersebut memang jelek sekali, menyerupai muka tengkorak, dan sekarang dia memandang semua jago-jago yang ada disitu dengan tatapan mata yang bengis sekali, sehingga wajahnya itu jadi tambah menyeramkan sekali.

Peng-im Loo-nie sendiri sebagai seorang jago yang telah kawakan dan mempunyai pengalaman tempur yang luar biasa sekali, sekarang melihat cahaya mata dari To-hun Koay-jin jadi menggidik, dia merasakan tengkuknya sangat dingin sekali.....

“Hmmm...... kalian adalah manusia-manusia pengecut semuanya!” kata To-hun Koay-jin tiba-tiba dengan suara yang keras sekali. “Didalam saat menghadapi kematian ternyata tidak ada yang menunjukkan sedikitpun sifat-sifat seorang Ho-han sejati, seorang gagah dan jantan sejati!!”

Semua jago-jago itu berdiam diri saja, tak ada yang menyahuti.

Kembali si manusia tengkorak To-hun Koay-jin telah berkata lagi dengan suara yang dingin.

“Kali ini kalian telah melihat pedang Tat-mo Kiam, maka dengan sendirinya kalian harus mampus, karena siapa saja yang telah melihat bentuk dan rupa pedang itu, harus menemui kebinasaannya! Ini adalah sumpahku, maka tak mungkin ada seorangpun yang bisa terloloskan untuk hidup terus!!” katanya lagi.

Lay Tat mengerutkan alisnya.

“Kami tidak saling kenal mengenal dengan kau!” kata Lay Tat dengan suara yang nyaring sekali. “Sekarang mengapa datang-datang tak hujan tak angin kau mengatakan bahwa kami harus binasa karena telah melihat pedang Tat-mo Kiam ini?”

Kembali si manusia tengkorak itu, To-hun Koay-jin telah tertawa lagi dengan suara yang menyeramkan.

“Semua orang-orang yang ada didalam ruangan ini memang harus mampus dengan tubuh yang utuh dan binasa secara baik, hanya kau seorang diri, yang akan binasa dengan tubuh yang hancur tak menentu, karena kau yang telah berusaha untuk memiliki pedang itu !!” Dan setelah berkata begitu, tahu-tahu si manusia tengkorak telah melompat dengan mengeluarkan suara jeritan yang nyaring sekali, juga kedua tangannya terulurkan seperti juga cengkeraman kuku garuda.

To-hun Koay-jin telah menyerang dengan hebat sekali, dia menggunakan tenaga Lwee-kang yang kuat dan sempurna sekali karena sebelum kedua tangannya itu mengenai sasarannya, toh tenaga serangannya telah dapat dirasakan oleh Kauw-cu Pian-sia-kay tersebut.

Cepat-cepat Lay Tat menggeser kedudukan kakinya itu, dia telah menggerakkan tangannya menyabetkan pedang Tat-mo Kiam menyerang kearah kedua tangan To- hun Koay-jin.

Dia bermaksad untuk menabas putus kedua tangan dari To-hun Koay-jin seperti halnya ketika dia menabas tangan It Kiang Sian-su!

Tetapi kali ini Lay Tat jadi kecele.

Karena dikala pedangnya itu melayang menabas dengan cepat, dan dikala kedua tangannya dirasakan mengenai tempat kosong, maka To-hun Koay-jin telah cepat- cepat menarik pulang kedua tangannya itu.

Tetapi si manusia tengkorak menarik pulang tangannya itu bukan berdiam diri, dia telah melancarkan serangannya lagi, dikala pedang Lay Tat lewat disisi tubuhnya, tahu-tahu tangan si manusia tengkorak itu bergerak cepat sekali kearah dada Lay Tat, dengan telak dada Lay Tat kena dihajarnya.

“Dukkkk!” tubuh Lay Tat jadi terpental keatas, dan terbanting ditanah.

Untung saja Lay Tat kosen dan liehay mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi, sehingga dia bisa berpoksay diudara, yang menyebabkan dia terjatuh tanpa kepala terlebih dahulu, dia jatuh dengan kedua kaki tiba terlebih dahulu dilantai ruangan tersebut.

Begitu kedua kakinya menginjak lantai Lay Tat meringis karena dia merasakan dadanya sakit sekali, sehingga hampir saja dia terpelanting.

Dengan menggigit bibir bawahnya Lay Tat telah menahan perasaan sakit itu.

Sedangkan si manusia tengkorak itu telah mengeluarkan suara bentakan dan menyerang kearah Lay Tat lagi dengan serangan yang mematikan, karena dia menyerang dengan menggunakan tenaga dalam yang kuat, tujuh bagian tenaga dalamnya.

Lay Tat terkesiap hatinya, dia jadi mengeluh.

Untuk mengelakkan dan menghindarkan diri dari serangan itu, jelas sudah tak bisa, karena sudah tak keburu. Untuk menggunakan pedang Tat-mo Kiam, dia merasakan dadanya sakit sekali waktu dia mengangkat tangannya.

Maka dari itu, hati Lay Tat jadi mencelos, dia duga dirinya akan terbinasakan ditangannya manusia tengkorak tersebut.

Namun rupanya ajal Lay Tat belum tiba, maka disaat Kauw-cu Pian-sia-kay ini terancam bahaya  kematian,  sepuluh anak buah Pian-sia-kay yang tadi bertempur dengan si gemuk tromok Dedemit Hidup, telah meluruk menghadang mengurung diri si manusia tengkorak.

Malah tiga orang diantara kesepuluh orang itu, dua lelaki dan seorang gadis telah menyerang si manusia tengkorak dengan hebat.

Merasakan dirinya diserang begitu, mau tak mau si manusia tengkorak tersebut harus membatalkan serangannya.

Dia harus menangkis serangan ketiga orang yang menyerang dirinya sekaligus. Tetapi ketika dia mengangkat tangannya, untuk menangkis ketiga serangan itu,

ketiga orang itu telah melompat mundur mengundurkan diri.

Hal ini membuat si manusia tengkorak jadi mendongkol serta bergusar, karena waktu ketiga orang itu melompat mundur maka tempatnya telah digantikan oleh keempat kawannya yang lain, yang menyerang To-hun Koay-jin tersebut dengan serangan yang hebat.

Setiap kali To-hun Koay-jin ingin menangkis serangan-serangan dari penyerangnya tersebut, maka mereka pasti akan melompat mundur dan beberapa lawannya telah menyerang dirinya dari lain jurusan.

Begitulah seterusnya, pertempuran tersebut berlangsung dengan serunya.

To-hun Koay-jin boleh liehay dan kosen, dia boleh membanggakan dirinya bisa melawan puluhan jago silat lainnya sekaligus tetapi kali ini karena kesepuluh orang yang mengurung dirinya dengan menggunakan Tin yang kompak, maka biarpun kepandaian kesepuluh orang itu berada disebelah bawah si manusia tengkorak tersebut, toh mereka masih menang angin, karena mereka menyerang dengan cara main kucing-kucingan.

Hal ini membuat To-hun Koay-jin jadi kewalahan, biar bagaimana dia jadi mendongkol dan bergusar menjadi satu. Tubuhnya sampai mandi keringat, dan dia sering berteriak-teriak dengan berjingkrak.

Tetapi biarpun manusia yang mempunyai muka seperti tengkorak tersebut murka dan bergusar, toh dia tidak berdaya sama sekali.

Dirinya tetap terkurung ketat oleh kesepuluh pengepungnya. !

Sedangkan Oen Lay Tat, Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut, dengan menggunakan ketika disaat si manusia tengkorak itu sedang dikepung oleh kesepuluh orang anak buahnya, maka dia telah melompat menjauhi lingkungan pertempuran tersebut.

Wajah Kauw-cu Pian-sia-kay tersebut masih tampak pucat pasi, napasnya juga masih memburu.

Rupanya tadi disaat jiwanya terancam bahaya kematian ditangan manusia bermuka tengkorak itu, dia telah tergoncang hebat hatinya. !

Orang she Oen ini mengawasi jalannya pertempuran dengan hati yang tak tenang. Sebetulnya, kalau memang dia tidak malu terhadap jago-jago berbagai golongan yang berkumpul disitu, tentu orang she Oen ini telah melarikan diri disaat manusia tengkorak itu terkurung oleh kesepuluh anak buahnya.

Dan karena dia takut nanti pamornya runtuh serta ditertawakan oleh jago-jago itu, takut dikatakan sebagai seorang pengecut yang tak ada harganya, Oen Lay Tat jadi masih berdiri dengan tubuh tegak mata mengawasi kearah jalannya pertempuran, hatinya masih tergoncang keras !



CIE KIAT yang melihat jalannya pertempuran yang tengah berlangsung itu, jadi mengawasi dengan penuh perhatian.

Dilihatnya kalau diperbandingkan, maka kepandaian kesepuluh pengepung itu dengan To-hun Koay-jin, maka kepandaian kesepuluh orang Pian-sia-kay itu masih terpaut jauh sekali dengan kepandaian si manusia tengkorak.

Tetapi berhubung kesepuluh orang Pian-sia-kay itu dapat bertempur dengan kompak serta saling tolong menolong, maka si manusia tengkorak itu tidak bisa dengan lantas merubuhkan kesepuluh orang tersebut.

Sedangkan To-hun Koay-jin sendiri telah mulai bertempur sambil memperhatikan cara bertempur dari kesepuluh orang itu, dia ingin mengetahui dimana kelemahan dari kesepuluh orang yang sedang mengepung dirinya.

Cie Kiat mengetahui, begitu lekas To-hun Koay-jin mengetahui dari orang- orang ini, maka dengan cepat dia akan bisa menghajar mampus kesepuluh orang itu.

Lama kelamaan To-hun Koay-jin mengetahui kelemahan dari cara bertempur kesepuluh orang itu.

Tahu-tahu suatu kali, dengan mengeluarkan suara teriakan yang nyaring mengerikan, tubuh To-hun Koay-jin telah melompat tinggi sekali.

Kedua tangannya, tangan kiri dan kanannya, telah berputar cepat sekali, menyerupai seperti kitiran.

Sambil berputar begitu, dia membentak : “Rubuh. !”

Maka terdengar suara jeritan yang mengerikan.

Tampak dua sosok tubuh yang melayang kemudian ambruk dilantai dengan tidak bernyawa, karena kepalanya telah pecah remuk oleh hajaran kedua tangan si manusia tengkorak ini.

Kedelapan orang Pian-sia-kay lainnya jadi terkejut sekali, hati mereka terkesiap. Lebih-lebih Lay Tat, wajahnya telah berobah pucat pasi, dan tubuhnya agak gemetar.

Tangan To-hun Koay-jin tampak berlumuran darah merah bercampur otak dari kedua korbannya itu. Dia mendengus mengeluarkan suara jengekan, kemudian tahu- tahu dia telah melompat lagi, menggerakkan kedua tangannya sambil membentak : “Rubuh....!” kembali, maka tampak tiga sosok tubuh melayang terhajar oleh tangan To-hun Koay-jin, ambruk dilantai dengan tak bernyawa lagi, pecah pula kepala mereka terhajar oleh To-hun Koay-jin.

Kelima orang yang mengepung To-hun Koay-jin itu, dua gadis dan tiga lelaki, telah ketakutan sekali. Lima orang kawan mereka telah terbinasakan, maka dari itu timbul perasaan ngeri mereka. Tanpa mengucapkan sepatah kata, kelimanya telah memutar tubuh mereka untuk melarikan diri  !!

To-hun Koay-jin tertawa gelak-gelak dengan suaranya yang keras sekali.

Cie Kiat melihat, biar bagaimana kesepuluh orang pengepung dari To-hun Koay-jin itu memang tidak bisa memperoleh kemenangan.

Dengan terbunuhnya kelima orang itu, maka dengan sendirinya barisan pengepung To-hun Koay-jin jadi pecah dan lebih-lebih kelima orang itu telah melarikan diri dengan ketakutan  !

Orang-orang Pian-sia-kay lainnya jadi berdiri kesima. Lebih-lebih Oen Lay Tat, dia jadi berdiri kesima dengan wajah yang pucat pasi.

Tiba-tiba To-hun Koay-jin telah memutar tubuhnya menghadapi Lay Tat.

“Hei orang she Oen.... apakah kau masih tidak mau menyerahkan benda itu?” bentaknya dengan suara yang mengguntur.

Lay Tat berusaha untuk menenangkan hatinya, goncangan hatinya itu masih menguasai dirinya.

Tetapi sebagai seorang jago yang mempunyai kepandaian yang cukup tinggi dan lagi pula kedudukannya sebagai Kauw-cu dari Pian-sia-kay, maka dengan sendirinya dia harus tabah menghadapi segalanya.

Dengan cepat Lay Tat berusaha untuk tersenyum.

“Memang kami harus mengaku bahwa kepandaian tuan sangat tinggi sekali !”

katanya. “Tetapi. ”

Namun belum lagi Lay Tat menyelesaikan perkataannya itu, maka tampak To- hun Koay-jin telah melompat dengan gesit sekali, tangannya telah terjulurkan akan mencengkeram bahu dan kepala dari Lay Tat.

Biar sedang dalam keadaan jeri dan ragu, toh tetap saja Lay Tat bukan merupakan orang yang lemah, dia mempunyai kepandaian yang cukup tinggi, maka dengan sendirinya dia juga dapat melihat orang menyerang dirinya dengan hebat, dengan sendirinya, tanpa disadarinya, dia telah bergerak cepat untuk menghindarkan diri.

Tangan To-hun Koay-jin jadi jatuh ditempat kosong. Terdengar manusia tengkorak ini mendengus dengan suara tertawa dinginnya.

Dengan cepat dia bergerak lagi menyerang Lay Tat, karena dia tidak mau memberikan kesempatan kepada Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut untuk selalu mengelakkan diri.

Cie Kiat melihat, betapa Lay Tat jadi terdesak hebat sekali oleh To-hun Koay-

jin.

Memang harus diakui bahwa To-hun Koay-jin mempunyai kepandaian yang

tinggi sekali, sehingga biarpun Lay Tat mempunyai kepandaian yang tidak lemah, toh tetap saja dia akan selalu terdesak hebat oleh To-hun Koay-jin.

Pada saat itu tampak Lay Tat dengan mengeluarkan seruan kaget dan gelisah sekali, telah menjejakkan kakinya akan melompat kesamping guna menjauhi diri dari To-hun Koay-jin.

Namun si manusia tengkorak tersebut tetap tidak mau memberikan kesempatan kepada Lay Tat.

Dia telah melancarkan beberapa serangan yang mematikan, angin serangan itu, yang disertai oleh tenaga Lwee-kang yang sempurna sekali, terasa melingkupi ruangan itu.

Cie Kiat sendiri merasakan angin serangan itu yang berseliweran didirinya.

Sedangkan jago-jago yang lainnya hanya menatap saja jalannya pertempuran itu dengan hati yang berdebar.

Kalau memang sampai Lay Tat kena di bunuh oleh To-hun Koay-jin, maka dengan sendirinya urusan akan menjadi lebih ricuh lagi.

Maka dari itu, sebetulnya jago-jago itu mau memberikan pertolongan kepada Lay Tat, tetapi karena mereka melihat To-hun Koay-jin memang liehay sekali, dan lagi pula memang si manusia tengkorak ini terkenal akan ketelengasannya setiap turun tangan, maka dengan sendirinya jago-jago ini jadi berdiri bimbang.

Tinggal Lay Tat yang jadi gelagapan seorang diri diserang terus menerus oleh To-hun Koay-jin dengan serangan-serangan yang mematikan.

Sebetulnya, kalau memang Lay Tat mempunyai kepandaian yang tinggi begitu, dia tentunya telah terhajar binasa dengan kepala yang pecah berantakan, seperti hal anak-anak buahnya yang terbunuh oleh To-hun Koay-jin dengan kepala yang hancur dan darah serta polonya mengalir keluar. membasahi lantai!

Satu kali, dengan mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, To-hun Koay-jin melancarkan serangan dari dua jurusan karena tangan kiri dan kanannya itu menyerang secara berbareng.

Hati Lay Tat mencelos, dia jadi terkesiap sendirinya, karena dia tidak melihat ada jalan keluar baginya.

Dengan sendirinya, Lay Tat jadi putus asa, dan dia dari berputus asa itu akhirnya jadi nekad.