--> -->

Bayangan Darah Jilid 04

Jilid 04

Lauw Nen hanya dapat membelalakan matanya. Untuk sesaat, ia tidak dapat memikirkan cara lain. Ia mendehem : "Baik, kau tidak takut padaku!"

Ia berkata sambil mengulurkan tangannya menarik ke arah baju Go So Lan, lalu dirobeknya. "Sreeet", pakaian Go So Lan telah terkoyak sebagian, dan kelihatan sebelah dadanya yang memutih.

Lauw Nen hanya mengira Go So Lan akan minta ampun.

Kalau tidak, pasti menutup matanya dengan air mata berlinang karena tahu nasib apa yang akan menimpa dirinya. Namun Go So Lan sama sekali tidak,ia tidak bersuara, tidak pula menutup matanya. Ia hanya memandang Lauw Nen dengan tajam, sepasang matanya memancarkan sinar dingin yang menyeramkan, seakan dua aliran air es yang mengguyuri kepala Lauw Nen. Setelah merobek pakaian Go So Lan, Lauw Nen membangkitkan nafsu birahinya. Tapi ketika ia membentur pandangan Go So Lan yang dingin menusuk tulang itu, tak tertahan lagi, ia menarik napas dan mundur setindak.

Pada saat inilah, terdengar suara Go So Lan yang berkata dengan perlahan : "Aku telah mengenali kau. Biarpun kau memakain topeng, namun aku masih dapat mengenali kau. Kau adalah Lauw Nen. Kau adalah anak Lauw Thian Hauw yang tidak becus itu!"

Ucapan itu masuk ke telinga Lauw Nen hingga membuat tubuhnya tak tertahan lagi bergemetar. Bentaknay : "Tutup mulut!"

Go So Lan berkata dengan dingin : "Kau adalah Lauw Nen, kau adalah Lauw..."

Ketika Lauw Nen menerkam Go So Lan, sepasang pedang yang tergantung di pinggangnya, ada sebuah gagangnya yang menyentuh pinggang Go So Lan. Sentuhan itu telah membuka totokan jalan darah So Lan. Dan Go So Lan merasa tubuhnya menjadi enteng, totokannya telah terbuka. Hatinya menjadi girang. Ia adalah seorang gadis yang berpengalaman. Untuk sementara ia masih tidak bergerak. Mulutnya ditekan oleh Lauw Nen, tentu saja tidak dapat bersuara. Lauw Nen menghela napas : "Tidak slah, aku memang Lauw Nen. Mau apa kau? Apa daya kau sekarang? Apakah kau masih dapat lolos dari tanganku?"

SEbelah tangan Lauw Nen menekan mulut Go So Lan, tangan sebelahnya lagi merobek baju Go So Lan. Go So Lan melihat Lauw Nen pada saat-saat begini sama sekali tidak bersiaga. Kalau ia melancarkan serangan mengumpulkan tenaganya dan dengan mendadak baik menendang kepala Lauw Nen bagian belakang, kedua tendangan itu kalau tepat mengenai sasarannya, Lauw Nen tidak mati pasti luka parah. Hanya sayang, belakangan ini ilmu Lauw Nen maju dengan pesat. Kini walaupun birahinya memuncak, namun di belakang kepalanya timbul angin, buru-buru ia memiringkan tubuhnya ke samping.

Tendangan Go So Lan itu cepat mengenai bahu Lauw Nen hingga terpental. Go So Lan beranjak berdiri dan keluar dari dalam perahu. Melihat Go So Lan ingin kabur, kagetnya Lauw Nen bukan kepalang. Karena jika sampai Go So Lan bisa kabur, bayangkan apakah Lauw Nen masih bisa hidup lagi. Buru-buru Lauw Nen menekankan tangannya ke bawah dan berdiri, tangan kanannya telah mencabut pedang panjang dari pinggangnya.

Setelah Go So Lan keluar, ia sampai di haluan perahu. Karena perahu itu memang kecil, injakan Go So Lan agak berat sedikit hingga haluan perahu itu tenggelam sedikit. Go So Lan dapat melihat sekelilingnya adalah rumput air. Kini mana ia sempat lagi untuk berpikir panjang? Ketika haluan perahu menunduk, dirinya telah mental ke atas dan terjun ke air. Dan ketika tubuhnya masih berada di udara, Lauw Nen telah sampai pula di belakangnya, teriaknya dengan nyaring : "Kau masih mau kabur?" Tubuhnya ikut melayang menerjang Go So Lan.

Go So Lan membalikkan tubuhnya di udara, melayang tujuh delapan kaki, lalu mencebur ke dalam air.

Kedua tangan Go So Lan masih terikat, tentu saja ia tidak dapat berenang dengan cepat, maka ia sulit sekali untuk bisa lolos dari uberan Lauw Nen. Sekejap saja Lauw Nen telah berada di sampingnya dengan pedang terhunus, teriaknya : "Jangan lari, kita boleh bicara baik-baik, jangan coba-coba mau kabur!" Melihat Go So Lan ingin kabur, Lauw Nen tidak berani memikirnakn yang bukan-bukan lagi. Namun Go So Lan yang hampir diperkosa itu mana mau melepaskan kesempatan yang susah payah didapatnya dalam pertarungan hidup dan mati itu? Begitu melihat Lauw Nen telah mendekat, hatinya menjadi lebih gelisah lagi, dan buru-buru ia berbalik; kepalanya ke bawah dan kakinya ke atas, menyelam ke dasar sungai. Dengan demikian ia mengharapkan dapat lolos dari kejaran Lauw Nen yang tidak begitu pandai berenang. Setelah Lauw Nen berteriak, hanya terdengar desiran dan muncratan air, bayangan Go So Lan telah lenyap, buru-buru ia pun ikut menyelam.

Kini, keduanya telah mengikuti anak sungai itu. Hilir dekat di muara, air sungai itu mengalir lebih deras lagi dan airnya pun sangat keruh. Walaupun Lauw Nen membuka matanya lebar-lebar namun ia tetap tidak dapat melihat apa-apa, sedangkan pedangnya ditusuk-tusukkannya ke depan berkali- kali. Lalu ia merasa tusukannya itu mengenai sesuatu, buru- buru ia timbul ke atas permukaan air. Dilihatnya dalam arus sungai itu terdapat darah. Namun darah itu cepat sekali ditelan oleh arus yang deras, sedangkan Go So Lan tak pernah timbul lagi.

Hati Lauw Nen terperanjat, ia hanyut beberapa kaki, dan suara itu kian lama kian lebar. Kalau tidak buru-buru menepi, mungkin ia akan mati hanyut dalam sungai itu! Berpikir hingga disitu, buru-buru Lauw Nen menepi. Setelah bersusah payah, barulah ia sampai di darat. Terasa tubuhnya letih sekali. Ia tak dapat bertahan lebih lama lagi dan roboh terkulai di tanah, napasnya tersengal-sengal tak bedanya dengan seorang yang telah mati.

Tetapi kini, rasa takut dalam hatinya lebih memuncak lagi! Go So Lan telah kabur, semua gerak geriknya akan terbuka dan dunia kang ouw takkan mentolerilnya. Ia sendiri tak tahu apa hukumannya nanti? Namun ia tahu, berbaring di tanah itu bukanlah suatu akal yang baik. Kini satu-satunya akal adalah menyamar dan bersembunyi dulu. Kalau ada kabar berita, baru mengambil suatu keputusan.

Ia melemparkan baju jubahnya dan membungkus pedangnya dengan sehelai kain lalu diapirnya di bawah ketiaknya. Dengan rambut terurai dan pakaian yang masih basah, ia menggelinding di atas tanah mengotorkan bajunya dan tampaklah ia sebagai pengemis kotor lalu melangkah maju.

Di fajar hari, ia membeli beberapa makanan kering di sebuah desa kecil, hari berikutnya ia hanya bersembunyi di hutan, dimana ia mendengar orang-orang pada ramai membicarakan anak Ching li pang yang pada binasa semuanya, tidak ada satu pun yang hidup. Mendengar cerita orang-orang itu, tubuh Lauw Nen menjadi lemas. Hampir saja ia terkulai di pinggir jalan. Namun ia mendengar terus, lalu ia merasa gembira.

Rupanya ketika ia mendengar anak buah Ching li pang binasa semuanya, ia masih mengira karena terbunuh oleh jago-jago silat yang diundang oleh ke-73 piauw kek untuk membalas dendam, maka anak buah Ching li pang mati semuanya. Tetapi setelah ia mendengar kelanjutannya, bukanlah begitu halnya. Eempat hari yang lalu setelah anak buah Ching li pang mengambil seluruh intan berlian dari dasar sungai, semua dari atas sampai ke bawah pada berpesta pora untuk merayakan kemenangan mereka. Entah bagaimana, di dalam arak mereka telah dicampur dengan racun. Maka hari berikutnya semuanya keracunan dan mati. Hanya pang cu seorang dan 12 kereta harta benda itu lenyap entah kemana perginya. Dengan demikian dapatlah ditebak jalan ceritanya. Bahwa pang cu itu berniat makan sendiri harta benda itu, maka ia meracuni anak buahnya dan ia sendiri kabur berikut ke-12 kereta harta benda itu!

Mendengar sampai disini, hati Lauw Nen menjadi lega. Ia masih teringat akan pertanyaannya pada Chen pang cu, setelah merampok kereta barang itu apa langkah berikutnya. Yang dijawab oleh Chen pang cu bahwa ia mempunyai rencananya sendiri. Lauw Nen tidaklah menduga dari semula bahwa Chen pang cu itu telah berniat sejahat ini! Kepergian Chen pang cu sekali ini, tentu saja ke ujung langit.

Bersembunyi dan mengganti namanya, tidak lagi berkelana di dunia kang ouw. Dengan demikian, tentu saja ia takkan menyebut-nyebut nama Lauw Nen lagi. Sedangkan orang yang pernah melihat dirinya telah binasa seluruhnya dan tak mungkin menyebutkan roman mukanya lagi. Kini hanya tinggal Go So Lan seorang. Namun andaikata Go So Lan telah tertolong, tentu ia telah membongkar rahasia kejadian itu dan akan menggemparkan dunia kang ouw. Kini telah lewat beberapa hari, kenapa tidak ada berita sedikit pun? Dengan hati was-was, ia menuju ke kota Kouw So.

Dua hari kemudian, ia telah tiba di luar tembok kota Kouw So dan mendengar orang-orang bercerita tentang anak gadis Go Thian Kheng si jago silat dari Kang Lam... Go So Lan, telah diketemukan orang menjadi mayat terapung-apung di sungai Yangze. Pakaiannya robek-robek, seakan pernah diperkosa orang. Hati Lauw Nen tiba-tiba menjadi lega, ia tahu ia telah selamat. Pada hari itu juga,ia masuk ke dalam kota. Dibelinya lagi pakaian yang mewah, bersenang-senang beberapa hari di kota itu baru ia pulang ke rumah. Setelah ia sampai di rumah, peristiwa itu telah tersebar luas di seluruh kalangan dunia kang ouw.

Ada beberapa jago silat dari Kang Lam yang kebetulan bertamu di rumah Lauw Thian Hauw dan meminta Lauw Thian Hauw sudi turut serta mencari pembunuhnya. Namun tidak seorang pun menyangka, salah satu pembunuhnya adalah anak Lauw Thian Hauw sendiri. Peristiwa itu, hanya Lauw Hung yang curiga pada adiknya; dan telah bertanya berkali- kali pada Lauw Nen. Walaupun Lauw Nen membantah, tapi setelah dipaksa oleh Lauw Hung terdapat banyak sekali kejanggalan dalam ceritanya. Maka dalam hati Lauw Hung, ia telah mengetahui bagian jalannya peristiwa itu.

Tapi karena Lauw Hung sendiri pernah menyerakahi dua butir mutiara, dan telah membantu orang jahat mencari buku silat Go Thian Kheng, dan menyebabkan Go Thian Kheng kesurupan karena mempelajari 'Thian Cing 24 jurus' palsu.

Maka walaupun ia telah mengetahui sedikit latar belakangnya, karena ia sendiri pun pernah berbuat serong maka tidak berani berkata apa-apa.

Sang waktu berlalu cepat sekali, bagaikan anak panah terlepas dari busunya. Sekejap saja telah lewat beberapa tahun dalam masa ini. Ke-73 piauw kek terus mengundang jago-jago silat untuk mencari jejak pembunuh, namun sedikitpun tidak berhasil. Mula-mulanya hati Lauw Nen tidak tenteram, jangan-jangan akan ketahuan. Tapi lama kelamaan,ia tahu lolos dari kejaran dan hatinya pun menjadi tenang tenteram. Namun hari ini, bagikan halilintar menyambar di siang hari bolong, So Beng Hiat In muncul di tembok rumahnya!

Ketika Lauw Nen mengetahu So Beng Hiat In muncul di rumahnya, perasaan nyeri dalam hati Lauw Nen tidak terlukiskan; perasaan ketakutannya berlipat ganda dibanding dengan ketika ia menepi dari sungai dan tidak jelas apakah Go So Lan masih hidup atau telah mati. Walaupun ia tahu ilmu pedangnya telah maju sangat pesat dalam tempo belakangan ini, tapi kalau mau bertanding So Beng Hiat In yang tiada lawan itu, ilmunya masih jauh sekali. Kalau mau hidup, ia harus minta pertolongan ayah dan kakaknya untuk menghadapi musuh secara bersama-sama. Masa, dalam saat yang segenting ini, mereka membiarkan darah dagingnya sendiri begitu saja? Maka ia mau tak mau menceritakan kejadian itu dari awal hingga akhirnya.

***

Lauw Thian Hauw duduk di atas kursi, terasa tangan kakinya menjadi dingin, keningnya mencucurkan keringat, mengalir ke bawah bagai anak sungai. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia... Lauw Thian Hauw si Singa Emas, orang yang setenar itu dalam dunia kang ouw, malah anaknya dapat berbuat begitu. Kejadian yang dilakukan anak gadisnya saja sudah cukup mengagetkan orang, tetapi anaknya adalah pembunuh yang telah dicari bertahun-tahun oleh jago-jago silat yang diundang oleh ke-73 piauw kek. Walaupun Lauw Thian Hauw telah kenyang maka asam garamnya dunia kang ouw, kini tangan dan kakinya pun tak tertahan lagi menjadi dingin. Lauw Hwie dan Lauw Jok Hong bertiga hanya berdiri di kejauhan, seakan Lauw Nen mempunyai penyakit menular saja layaknya. Lauw Nen melihat keadaan yang tidak menguntungkan baginya, buru-buru ia membongkokkan kakinya berlutut ; "Thia," teriaknya.

Lauw Thian Hauw menarik napas panjang, tadinya ia ingin membentak Lauw Nen, tapi napasnya baru tertarik separuh, tak dapat diteruskannya. Lalu ia menghela napas dan berkata dengan lesu : "Binatang, binatang, buat apa kau panggil aku lagi sekarang?"

Lauw Nen melangkah maju dengan lutunya : "Thia, aku sudah tahu salah, berapa tahun ini, aku tak pernah melakukan kejahatan lagi."

"Itu masih belum cukup ya? Cukup untuk mengundang So Beng Hiat In untuk datang ke rumah kita. Aku kira, kau tidak perlu berlutut di hadapanku, kau berlutut saja di hadapan tembok itu. Apa daya kami untuk menolong kau?" berkata Lauw Thian Hauw yang sampai pada akhirnya telah tenang. Lauw Nen adalah anaknya, tulang dagingnya sendiri. Kalau mati di tangan So Beng Hiat In, tentu ia merasa sedih. Tapi dalam keadaan seperti sekarang, kalau tidak mengorbankan seseorang, hal itu tidak akan beres. Sedangkan kelakuan Lauw Nen sepatutnya menerima hukuman mati. Ia tidak dapat mengampuni anaknya sendiri, dan memaksanya berlutut di hadapan tembok. Dengan demikian di kalangan kang ouw ia akan memperoleh nama KSATRIA SEJATI karena demi kebenaran telah membinasakan darah dagingnya sendiri. Pada saat-saat kejadian yang memalukan itu terjadi, satu demi satu memang ia harus mengambil suatu langkah yang menggemparkan untuk mempertahankan nama baiknya dalam dunia kang ouw.

Sepasang matanya menatap tajam pada Lauw Nen, hatinya pun merasa perih. Namun dalam suara bentakannya yang keras, tidak ada orang yang merasakan keperihannya itu.

Bentaknya dengan jelas : "Binatang, kau melakukan kejahatan seberat ini, bukan saja aku menghendaki kau berlutut di hadapan bayangan darah itu, aku pun mau mengundang Ching Pwe dari dunia kang ouw, aku mau mengumumkan pemutusan hubungan antara kita sebagai ayah dan anak!"

Lauw Nen makin dengar, mukanya makin pucat. Setelah ucapan Lauw Thian Hauw berakhir, mukanya telah pucat bagai sehelai kertas. Katanya dengan suara gemetar : "Thia... sungguh engkau tidak mau menghiraukan aku lagi? Dan menginginkan kematianku?"

"Manusia seperti kau ini, bagaimana aku harus menghiraukan kau?" kata Lauw Thian Hauw.

Tadinya Lauw Nen berlutut di atas tanah, tiba-tiba ia beranjak berdiri : "Kalau tidak mau menghiraukan aku lagi, sampai akhirnya pun aku harus mati, dan aku pun tidak mau menghiraukan kalian juga."

"Teriak Lauw Hung yang berdiri di samping dengan nyaring

: "Apa maksud kata-katamu itu?"

Berkata Lauw Nen dengan perlahan : "Yen cung cu yang mati disini, siapa yang melakukannya? Biar bagaimana pun aku mati, tentu saja aku tidak dapat menghiraukan siapa-siapa lagi, dan akan ku ceritakan dengan terus terang." Baru habis ucapan Lauw Nen itu, terdengar suara "cring". Pedang Lauw Hung telah menghunus dan menuju ke dada Lauw Nen! Lauw Nen mengangkat tangannya dan ia pun telah menghunuskan pedang menghadang serangan Lauw Hung, tapi ilmu silat Lauw Hung jauh lebih tinggi daripada Lauw Nen. "Cring" kedua pedang itu beradu, tiba-tiba Lauw Hung memutar tubuhya mengeluarkan jurus 'Hiang hung tu seng' (angin puyuh gemuruh), tangan Lauw Hung pun ikut berputar, setelah putaran itu, sebuah tenaga dahsyat mengarus ke tangan Lauw Nen dan menggoncangkan ke lima jarinya hingga mementalkan pedang yang tergenggam dalam tangan Lauw Nen, dan pedang itu terus melayang ke arah tiang dan menancap! Muka Lauw Nen menjadi pucat, buru-buru ia mundur setindak. Lauw Hung mengulurkan pedangnya menuding dada Lauw Nen. Bentak Lauw Thian Hauw : "Tunggu dulu!"

Sinar mata Lauw Hung memancarkan kebengisan yang haus darah. Ia tidak menghiraukan sesuatu, ia ingin membinasakan Lauw Nen dulu baru bicara kemudian. Pada detik bentakan Lauw Thian Hauw itulah, pedang yang tergenggam dalam tangannya itu telah ditusukannya ke depan!

Pedangnya itu, tadinya telah menempel di dada Lauw Nen, boleh dikatakan Lauw Nen tidak dapat mengelak lagi. Ia berteriak, menunjukkan ia tidak rela binasa begitu saja. Dan pada detik itu, Lauw Thian Hauw telah mengulurkan tangannya mencekal bahu kanan Lauw Hung. Ilmu silat Lauw Hung lebih tinggi dari adiknya, dapat dalam satu jurus saja menaklukkan Lauw Nen, namun dibandingkan dengan Lauw Thian Hauw, ia masih kalah jauh.

Lauw Thian Hauw menekankan tangannya di atas bahu Lauw Hung, hingga membuat tubuhnya menjadi lemas dan tidak dapat bergerak. Biarpun ia ingin menusukkan pedangnya tapi apa daya ia tidak dapat mengeluarkan tangannya barang sedikitpun. Pedang panjangnya hanya terus menekan di dada Lauw Nen dan tidak dapat ditusukannya,hatinya menjadi marah : "Thia, engkau menahan aku buat apa? Apakah memang mau membiarkan dia menceritakan segalanya itu supaya kita semuanya tidak bisa hidup lagi?"

"Kalau dia mati bagaimana? Apa kata kita kalau So Beng Hiat In datang?" kata Lauw Thian Hauw.

"Katakan saja, dosanya tak terampunkan. Kami telah membunuhnya!" sahut Lauw Hung.

"Dan kau sendiri? Dan kamu semuanya? Siapa di antara kamu yang bersih?" kata Lauw Thian Hauw.

Lauw Hwie dan Lauw Jok Hong berdua, tadinya mereka hanya berdiri di samping saling pandang memandang, perasaan mereka lega sekali. Tapi begitu mendengar perkataan 'siapa di antara kamu yang bersih?' wajah mereka menjadi berubah. Untung pada saat itu tidak ada orang yang memperhatikannya.

"Tidak boleh. So Beng Hiat In datang untuk mencabut nyawanya, siapa berani turun tangan membunuhnya lebih dulu?" berkata Lauw Thian Hauw. Ayah dan anak itu sedang membincangkan seseorang yang sangat asing bagi mereka. Mereka tidak menyangka bahwa yang mereka perbincangkan itu adalah darah daging mereka sendiri.

"Oh ya, totok saja jalan darah dagunya, supaya ia tidak dapat sembarangan bicara!" kata Lauw Hung.

Keringat Lauw Nen mengucur bagai air hujan. Teriaknya dengan kuat : "Bagaimana kamu dapat memastikan bahwa yang dicari So Beng Hiat In pastilah aku?" Begitu ucapannya keluar, semua orang terperanjat.

Tangan Lauw Thian Hauw yang ditekannya di atas bahu Lauw Hung menjadi kendor, dan Lauw Hung tidak menggunakan kesempatan itu untuk menusuk Lauw Nen. Karena perkataan Lauw Nen itu terus menusuk ke dalam hatinya, andaikata So Beng Hiat In datang untuk mencari Lauw Nen, itu pun belum pasti. Kelakuannya sendiri, apa tidak cukup untuk mengundang So Beng Hiat In datang ke rumah? Dan lagi, kalau sekarang Lauw Nen dibunuh, taruhlah So Beng Hiat In datangan untuk menari Lauw Nen, kalau ia datang tidak mendapatkan orang yang dicarinya, itupun tak beres sampai disitu saja. Walaupun hati Lauw Nen agak nyeri, tapi mulutnya masih berkeras. Teriaknya : "Baik, yang lain tidak becus, becusnya cuma mencelakai orang tua dan kakak adiknya saja."

Wajah Lauw Nen menjadi jelek sekali, namun perkataannya sangat tenang : "Itu pun tidak dapat menyalahkan aku, SBHi datang, kamu tidak mencariakal untuk menghadapinya tapi mau mengambil aku sebagai kambing hitam. Hm, hm, kamu tidak membicarakan hubungan darah daging antara kita, kenapa aku harus membicarakannya?"

Ucapan Lauw Nen itu membuat keringat Lauw Thian Hauw bercucuran bagai hujan. Ia memang belum pernah memikirkan orang rumahnya bisa jadi demikian kalau menghadapi bencana maut! Ya, apakah Lauw Nen dapat disalahkan? Kalau bukan dirinya sendiri yang memikirkan membuat Lauw Nen sebagai kambing hitam, mana pula Lauw Nen dapat mempunyai niat begitu dan berkata sedemikian rupa? Lauw Thian Hauw betul-betul merasakan dirinya telah tamat. Tadinya ia ingin menutupi kejadian ini, unttuk mempertahankan naman tenarnya sebagai Toa hiap, selama ini ia terus dihormati oleh orang-orang sebagai Toa Hiap.

Dalam sanubarinya sendiri ia pun telah menganggap dirinya memang betul-betul seorang Toa hiap budiman. Segala sepak terjangnya ia telah lupa sama sekali. Ketika ia masih ingin mempertahankan ketenaran namanya, dalam hatinya memang menganggap dirinya sebagao orang Toa hiap biarpun memiliki julukan sebagai Toa hiap namun dalam tulangnya ia adalah orang kerdil yang kecil sekali. Pada saat ini kecuali tertawa pahit, ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

Keadaaan Lauw Hung rupanya sama saja dengan keadaannnya. Ia pun berdiri mematung.

Maka Lauw Nen pucat pasi, menuggu ayah dan kakak yang dianggapnya sebagai musuh yang mau menyerangnya. Di satu pihak ia harus mengelak dari serangan mereka, di lain pihak ia harus menggunakan tenaga kedua orang itu untuk menghadapi So Beng Hiat In. Karena dengan tenaganya seorang, biar bagaimana pun ia bukanlah tandingan So Beng Hiat In. Hatinya kacau balau, ketegangan emosinya pun telah memuncak. Mereka bertiga berdiri terpaku. Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua saling melemparkan pandangan,

pelan-pelan tubuh mereka telah mundur keluar. Mereka melihat tidak ada orang yang memperhatikan mereka, mempercepat langkah mereka. Sekejap saja mereka telah tiba di pinggir empang.

Setibanya di empang, mereka berdua sama-sama merasa lega. Mereka maju terus melalui tonggak rahasia di bawah permukaan air sampai ke seberang dan berhenti di sebuah gunung-gunungan. Berkata Lauw Jok Hong : "Moy cu, untung sekali, tampaknya... permainan itu bukan mencari kita." berhenti sejenak, lalu sambungnya : "Ya, kemungkinan besar mencari Toa ko, mungkin Toa ci, persoalan kita sangat rahasia, tidak mungkin diketahui orang."

Setelah Lauw Jok Hong habis berkata, sambung Lauw Hwie

: "Tetapi Ji ko, malam itu, kita mendengar suara Kim (semacam gitar), yang mengalun dekat sekali. Namun setelah kita cari, kita tidak menemukan orangnya. Hal ini terus menjadi ganjalan dalam hatiku!"

Mendengar ucapan Lauw Hwie, muka Lauw Jok Hong menjadi berubah, tapi ia masih berkeras kepala : "Aku kira tidak apa-apa, taruhlah ada orang yang lewat, belum tentu ia tahu apa yang sedang kita kerjakan. Andaikata orang itu berniat mengintip, masa dia membunyikan Kim-nya?"

"Itu pun sulit dikatakan, waktu itu, kita sedang turun tangan, mungkin orang yang membunyikan Kim itu telah tahu perbuatan kita dan dengan suara Kim itu ia memperingati kita?" kata Lauw Hwie.

Ucapa Lauw Hwie itu terus menusuk ke tulang punggung Lauw Jok Hong. Dan pada saat ini, mereka berdua seakan mendengar suara Kim mengalun dari kejauhan. Mendengar suara Kim itu, hati mereka tertawa pahit, rasa curiga timbul, tapi tidak salah lagi, bulu roma mereka berdiri ketika memikirkan suara Kim pada malam itu. Dan kini betul-betul suara Kim itu mengalun di udara? Ini tidak lain hanyalah sebuah khayalan belaka! Bahkan mereka masing saling pandang dan tertawa riang. Tetapi hampir pada detik itu juga mereka merasa tidak ada yang lucu lagi. Suara Kim itu kian lama kian dekat, makin lama makin jelas. DAn mereka dapat mendengar suara Kim itu, persis seperti nada pada malam itu, nada yang hampa. Dalam kehampaan nada Kim itu, terus mendesakkan perasaan yang menyerikan.

Ada kalanya, ketika suara Kim itu menjadi tinggi dan nyaring bagai dapat mengorek mengeluarkan hati manusia dari dalam dada! Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua telah berubah. Mereka mendengar suara Kim itu makin lama makin dekat, dan telah tiba di tembok pekarangan, lalu berhenti.

Waktu itu suara Kim yang dapat memecahkan empedu mereka itu hanya berjarak dua tiga tombak saja dari mereka.

Tubuh Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua, seperti direndam dalam air saja layaknya, terus bergemetar. Perasaan yang ada di muka mereka ketika menyaksikan pertengkaran antara Lauw Hung dan Lauw Nen tadi, entah telah lenyap kemana. Mereka terpaku lama sekali, suara Kim yang mengerikan itu pun berlangsung terus. Antara mereka berdua, Lauw Hwie yang lebih tenang dulu. Ia menggigit bibirnya dan berkata dengan suara perlahan : Ji ko, masa kita menunggu mati?"

Hati Lauw Jok Hong kacau balau, tidak berakal. Mendengar ucapan itu, ia hanya membalik-balikkan matanya memandang adiknya.

"Kau seorang jantan bukan, bicara dong," kata Lauw Hwie. "Aku... mau bicara apa?" Lauw Jok Hong tertawa pahit.

Lauw Hwie memutar biji matanya : "Kita bertindak cepat, aku rasa orang itu berada di bawah tembok. Perlahan-lahan kita naik ke tembok, dari atas menyerang ke bawah sec ra tiba-tiba. Biar pun ia berilmu tinggi, ia pasti tidak luput dari serangan gelap kita." Lauw Jok Hong dengar, semangatnya berlipat ganda : "Ya, paling tidak kita dapat melihat bagaimana orangnya yang membunyikan Kim itu."

"Kau mengendor lagi," kata Lauw Hwie.

"Ya, kita bunuh diam-diam dan kita tidak perlu kuatir lagi," berkata Lauw Jok Hong.

Tubuh mereka melesat ke depan. Jarak dua tembok sebentar saja telah sampai, mereka menempelkan teling ke tembok. Suara Kim itu lebih jelas lagi, orang yang membunyikan Kim itu tidak salah lagi, benar-enar berada di luar tembok. Pasti ia duduk bersandar tembok, kalau tidak suara Kim itu tidak mungkin sejelas ini. Mereka mencari arah yang tepat, lalu melonjak. Tembok pekarangan itu memang tidak begitu tinggi, begitu mereka melonjak, tangan mereka telah dapat mencekal atasnya. Hati keduanya merasa tenang sekali, mereka menahan napas, pelan-pelan menongolkan kepala mereka. Ketika kepala mereka menongol separuh, mereka telah dapat melihat orang yang membunyikan Kim itu.

***

Betul saja, orang itu bersandar pada tembok. Pakaiannya compang camping penuh dengan tambalan-tambalan.

Walaupun pakaian itu butut, tapi bersih sekali. Rambutnya telah beruban dan acak-acakan tak karuan. Orang itu duduk dengan menyilakan kakinya, memangku sebuah Kim di dengkulnya. Walaupun itu adalah sebut Cit Sian Kim (Kim bersenar tujuh), namun kini senarnya hanya tinggal tiga buah saja, maka suaranya sangat hampa. Sedangkan badan Kim itu hitam legam, sedikitpun tidak menarik. Orang itu tampaknya sedikitpun tidak mengetahui bahwa di atas kepalanya ada orang yang sedang mengintainya. Ia masih dengan asyiknya memainkan Kim-nya. Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua, melihat orang yang memainkan KIm yang membuat hati mereka berdebar-debar itu adalah seorang yang bertampang pengemis, dan merasa geli atas perasaan ketakutan mereka tadi. Lauw Jok Hong menggoyang-goyangkan tangan pada adiknya dan menunjuk- nunjuk ke rumah empang. Maksudnya adalah orang tua itu tidak patut diperdulikan, biarlah kita pulang saja. Namun Lauw Hwie geleng-geleng kepala, dan menunjuk-nunjuk pada pedang yang tergantung di pinggangnya. Lalu menunjuk- nunjuk pada orang tua itu. Tentu saja Lauw Jok Hong mengerti maksudnya, ialah membunuh orang tua itu.

Lauw Jok Hong pun telah tahu, setelah kemunculan bayangan darah itu, suasana rumahnya telah berubah sama sekali. Dalam keadaan begini, hendaknya tak ada lagi hal-hal yang memusingkan. Tentu saja ada satu hal yang baik, kalau tidak membunuh orang tua itu dan membiarkannya pergi.

Walau orang tua itu tidak mencurigakan, tapi suara Kim yang hampa itu persis suara yang didengar mereka pada malam itu. Demi keselamatan diri sendiri, lebih baik turuti saja kehendak adiknya. Dan ia tidak berpikir lama-lama, lalu mengangguk.

Mereka bergerak serentak, menghunus pedang mereka dengan pelan-pelan. Mereka bergerak dengan sangat berhati- hati sekali. Boleh dikatakan tidak membuat suara sedikitpun. Pedang mereka telah terhunus, tangan kanan mereka menekan ke tembok, dan tubuh mereka telah meninggi lagi. Kini mereka telah berjongkok di atas tembok, sedangkan orang tua yang berada di bawah mereka itu masih tetap memainkan Kim-nya. Mereka berdua bersamaan menarik napas, mengacungkan pedang. Tiba-tiba tubuh mereka melonjak melesat menyerang leher orang tua itu, yang satu kanan, yang satu kiri. Tusukannya keduanya cepat sekali, kalau mengenai sasarannya, jangan-jangan pedang mereka itu dapat terbenam sampai ke gagangnya ke dalam leher orang tua itu. Sedangkan mereka berdua mengira dengan serangan itu, pastilah tepat mengenai sasaran. Tetapi perubahannya betul-betul di luar dugaan mereka berdua. Ketika menusukkan pedang mereka secara kilat, orang tua yang seakan tidak tahu apa-apa itu dengan tiba-tiba mengangkat Kim-nya dan diletakkannya di atas kepalanya.

Karena gerakan orang itu sangat cepat sekali, maka ketika ia meletakkan Kim-nya ke atas kepalanya ketiga senarnya berbunyi karena kena getaran. Dan pada saat itulah kedua pedang Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie telah tiba, namun bukan mengenai leher orang tua itu tapi mengenai Kim itu, dan menimbulkan suara "cring cring" dua kali. Rupanya Kim itu terbuat dari besi! Mereka berdua kaget bukan kepalang tanggung, dalam kekagetan itu, mereka sempat berjungkir balik di udara sekali, lalu turun agak jauhan. Dan orang tua itu pun telahmeletakkan kembali Kim-nya ke atas dengkulnya, dan memainkannya seperti tidak pernah terjadi sesuatu saja layaknya. Suara Kim masih tetap hampa. Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua baru tahu lawannya bukanlah orang sembarangan dan mereka menjadi terpaku berdiri mematung.

Tetapi ketika merekamelihat orang itu betul-betul seorang pengemis yang telah keriputan, bukan saja telah tua sekali malah matanya hanya ada putihnya saja, seorang yang buta. Setelah mereka mengetahui lawannya adalah seorang tua y ang buta, keberanian mereka telah timbul kembali. Lauw Hwie menudingkan kembali pedangnya, baru saja ia ingin menyerang, orang tua itu telah bersuara : "Kamu masih mau menyerang lagi?"

Suara orang tua itu, sama seperti suara Kim-nya, tinggi dan menusuk telinga. Lauw Hwie ertegun dan tidak jadi menyerang. Lalu bentaknya dengan menebalkan mukanya : "Siapa kau?"

Orang tua itu masih tetap memainkan Kim-nya, sekali membunyikan suara sing atau sang dengan pelan sekali, seraya berkata : "Kim aku kini,tadinya mempunyai senar 7 buah. Yang satu putusnya cepat sekali, putus di bawah tangan seorang Hwe shio suci Kim Hok Liauw Kong dari Go Bi. Hei, hei! Ketika itu aku masih sangat muda, tidak berpengalaman, aku sendiri yang mencari kesukaran itu; Yang kedua putus di bawah tangan Thian Eng Cu dari Miauw Ciang; yang ketiga putus di Pei Hai, diputuskan oleh sepasang suami istri dari pulau Sian Bu; yang keempat putus di bawah tangan Cung Im Su Tay dari Tong Lam. Sejak dari itu, selama dua puluh tahun ini, masih ada tiga buah yang tertinggal. Kamu ini siapa?

Berani menyerang aku secara gelap?"

Ia telah ngoceh panjang lebar, namun tetap belum menyebutkan siapa dirinya. Tetapi ocehannya itu bukanlah ocehan sembarangan, karena beberapa orang yang pernah disebutnya tadi adalah jago-jago silat aliran putih maupun hitam. Rupanya ia pernah bersilat dengan mereka, tentu saja orang ini mempunyai latar belakang yang hebat. Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua, tak tertahan lagi mengucurkan keringat. Agaknya Lauw Hwie lebih cerdik, katanya : "Rupanya Cian Pwe adalah jago silat. Ai, tadi kami melihat dari atas tembok,Cian Pwe mirip sekali dengan seorang bajingan dari Cok San Kauw yang berhasil meloloskan diri dari tangan kami beberapa hari yang lalu, maka kami turun tangan secara mendadak. Semuanya ini adalah salah sangka, harap Cian Pwe jangan marah dan kami minta diampuni atas kelancangan kami tadi."

Lauw Hwie sambil bicara sambil membuang pandangan pada Lauw Jok Hong. Setelah ucapannya habis, tidak perduli lagi apakah lawannya melihat atau tidak, lalu bersama-sama Lauw Jok Hong membongkok memberi hormat. Orang tua itu tampaknya seperti melihat saja, setelah mendeham, katanya : "Tidak berlutut mengetuk kepala?"

Lauw Hwie dan Lauw Jok Hong berdua semuanya adalah orang yang sering dimanjakan. Mereka mau minta maaf, semuanya karena hati mereka mempunyai suatu cacad. Setelah mendengar ucapan orang tua itu, mereka menjadi marah.

Lauw Jok Hong yang paling tidak sabar, ia menarik napas ingin membentak. Walaupun Lauw Hwie marah juga dalam hatinya, ia pun tahu dalam keadaan begini, wibawa ayahnya tidak dapat diandalkan lagi. Lebih baik tidak menyakiti orang. Maka ia sengaja menekan amarahnya : "Ucapan Cian Pwe itu bukankah agak keterlaluan?"

Orang tua itu tertawa dingin : "Itu sudah ramah sekali.

Apakah kalian mau mencoba yang lainnya?"

Lauw Hwie membuat suatu gerakan tangan pada Lauw Jok Hong seraya maju : "Bagaimana yang lainnya itu?"

Orang tua itu menengadah, dalam sepasang matanya tidak ada sedikitpun hitamnya, hanya membalik-balikkan mata putihnya saja, sangat menyeramkan. Katanya : "Tidak apa- apa, hanya..." ucapannya baru sampai disini, Lauw Hwie telah menggoyangkan tangan kanannya.

Berikut goyangan tangannya, "Cring" suatu bunyian per rahasia, tiga buah belati pendek kecil telah melesat ke depan dengan kecepatan guntur. Lauw Hwie sangat cerdik, ketiga belati itu tipisnya seperti kertas, tajammnya bukan main, hasil tempaan tukang besi yang sangat pandai yang diupahnya sangat mahal.

Ketiga belati itu ditaruh dalam sebuah tempat dalam lengan bajunya, dalam tempat terdapat sebuah per yang keras sekali. Kalau saja tangannya menyentuh per itu, ketiga belati kecil akan melayang ke depan dengan kecepatan guntur, keluar dari lengan bajunya. Memang adalah suatu cara membunuh orang tanpa bayangan, kejam sekali!

Waktu itu Lauw Hwie telah dekat sekali dengan orang tua itu, begitu mengangkat tangannya, ketiga buah belati kecil telah melayang ke depan dengan kecepatan tinggi, orang tua itu boleh dikatakan tidak ada kesempatan lagi untuk mengelak.

Betul saja, orang tua itu mengeliat, ketiga belati itu telah menancap dalam tubuhnya! Yang satu menancap di bahu, yang satu menancap di dada, yang satu lagi di ketiaknya.

Tenaga ketiga belati itu besar sekali, tancapan hampir membenam hingga ke gagangnya.

Lauw Hwie karena sudah tahu kepandaian lawannya sangat lihai, maka ia menggunakan cara gelap itu untuk menyerah musuhnya. Ketika ketiga belati itu belum dilepaskannya, hatinya memang sangat kaget. Andaikata hal itu tidak sangat mendesak, ia takkan menggunakan cara ini. Setelah ketiga belati itu dilepaskannya, dan berhasil, ia menjadi sangat girang, teriaknya : "Ji ko, kita berhasil!"

Hati Lauw Jok Hong pun sangat girang, katanya : "Moy cu memang lebih pandai!" Mereka berdua kegirangan dan tidak memperdulikan lagi orang tua yang telah tertancap tiga buah belati itu. Mereka menganggap ketiga belati itu mengenai tempat yang mematikan orang tua itu. Kalau tidak mati, pasti luka parah.

Namun pada saat-saat mereka bergembira, tiba-tiba mereka mendengar orang tua itu bicara dengan menyeramkan

: "Kegembiraan kamu masih belum cukup? Ucpaan yang dingin itu mengalun ke telinga Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie, batok kepala mereka seakan dibuka orang dan disirami dengan air es. Keduanya terpaku, buru-buru membalik tubuh mereka. Dilihatnya orang tua itu masih saja duduk di tempat tadi, ketiga belati kecil itu masih menancap di tubuhnya. Tapi tidak ada gejala apa-apa, dan tempat tancapan belati itu sedikit pun tidak mengeluarkan darah.

Mereka berdua berdiri mematung, entah apa yang harus mereka perbuat. Dan orang itu tertawa dingin lagi : "Tidak salah, ketiga belati itu ditempa dengan hebat sekali, kamu mau memberikannya padaku dengan kekerasan, dan aku tidak mau menerimanya. Nih, ku kembalikan," katanya seraya membusung-busungkan dadanay. "Bleb" sebuah suara, belati yang tertancap di dadanya itu melanting keluar dengan cepat sekali, tenaganya lebih hebat dari pada ketika keluar dari lengan baju Lauw Hwie tadi. Mereka berdua menjadi kaget dan terpaku melihat belati itu telah melayang ke hadapan mereka. Tapi karena saking kagetnya, mereka berdua tidak tahu mengelak, dalam sekejap saja mereka berdua merasa kepala mereka sejuk, rambut mereka telah rontok. Merea mengangkat tangan mencoba kepala mereka, tak tertahan lagi kaki mereka menjadi lemas, hampir saja tidak dapat berdiri lagi. Rupanya ketika mereka meraba kepala mereka, bukan rambut yang teraba tapi kulit kepala. Rupanya rambut mereka telah terbabat habis oleh belati tadi yang melayang di atas kepala mereka.

Mereka sama-sama tahu, kalau belati itu terbang lebih rendah sedikit lagi, mungkin batok kepala mereka pun akan terbabat pula. Sampai disini, hati mereka mau tidak mau telah bergidik.

Kata orang tua itu : "Yang dua lagi kamu mau aku kembalikan ke tempat mana?"

Lauw Jok Hong membalikkan tubuhnya ingin kabur, tapi baru saja ia melangkah dua tindak, kedua kakinya telah gemetaran dan saling beradu sehingga tidak dapat melangkah lebih jauh lagi. Walaupun Lauw Hwie lebih cerdik, ia pun berdiri mematung, tidak dapat bersuara.

Orang yang meluncurkan ketiga belati ini, datang ke depan aku!" kata orang tua itu.

Ketika mendengar peerkataan itu, telinga Lauw Hwie mendengung, matanya berkunang-kunang. Mana ia berani maju ke depan? Berkata orang tua itu lagi : "Kalauaku mau mencabut nyawamu, apakah aku harus menyuruh ke depan aku baru dapat turun tangan? Ayo cepat!"

Mendengar ucapan itu, semangat Lauw Hwie baru tenang, memang itu suatu kenyataan. Ia mengumpat dalam hatinya, ilmu silat orang tua itu begitu tinggi, mana mungkin bisa lolos dari tangannya, lebih baik turuti perintahnya. Maka Lauw Hwie melangkah dengan gerakan yang gemetaran. Tiba di hadapa orang tua itu, ia melihat orang tua itu mengeluarkan tangannya merobek pakaiannya yang sebelah kanan sebagian, dan dilihatnya daging orang tua itu bagai besi. Lauw Hwie tidak tahu apa yang hendak dilakukan orang tua itu, terdengar orang tua itu bersuara : "Cabutlah kedua belati ini!"

Lauw Hwie mengiyakan, diulurkannya tangannya mencabut belati yang tertancap di bahu orang tua itu. Hatinya berdebar- debar, karena ketika ia mencabut belati yang hampir terbenam hingga ke gagang itu ia melihat belati itu memang telah menancap di tubuh orang tua itu, tapi tidak melukai kulit maupun dagingnya. Ketika belati itu melesat menyambar tubuh orang tua itu, tubuh orang tua itu seakan dapat membuat suatu lubang kecil yang persis dapat menempatkan belati itu ke dalamnya.

Biarpun Lauw Hwie dibesarkan di tengah-tengah keluarga Bu lim, sepanjang tahun jago-jago silat dari segala aliran dan perkumpulan datang ke rumahnya untuk suatu kunjungan kehormatan, pengetahuan Lauw Hwie cukup luas; tetapi suatu ilmu silat yang tinggi sedemikian rupa hingga dapat dalam sekejap saja menguasai gerakan dagingnya, jangankan ia pernah melihatnya, mendengar pun belum.

Setelah Lauw Hwie mencabut belati itu, ketakutan dalam hatinya telah memuncak. Ia bertanya dengan suara gemetar : "Kau... kau adalah So Beng Hiat In?"

Dalam keadaan begini Lauw Hwie bertanya begitu, itu adalah wajar. Karena ilmu silat orang tua itu memang tingginya luar biasa, hingga membuat orang kecuali memikirkan So Beng Hiat In, tidak terpikir yang lain lagi.

Mendengar pertanyaan Lauw Hwie, muka orang tua itu berubah, ia mendehem : "Apa katamu?"

Lauw Hwie tahu nada ucapan orang tua itu tidak bersahabat, ia menjadi kaget dan tidak berani bersuara. Orang tua itu berhenti sejenak, lalu sambungnya : "Tadi kau mengatakan So Beng Hiat In?"

Hati Lauw Hwie sangat takut tapi ia tidak berani kabur. Ketika ia berpaling melihat Lauw Jok Hong, dilihatnya Lauw Jok Hong sedang berdiri mematung, tampaknya lebih kaget lagi daripada dirinya sendiri. Katanya dengan sangat hati-hati : "Ya, saya mengatakan So Beng Hiat In."

Sudut mulut oran gtua itu bergoyang-goyang berkali-kali seakan sedang memikirkan untuk mengucapkan sesuatu, tapi tidak terucapkan ; wajahnya pun kelihatannya agak tegang. Lewat sesaat baru menjadi normal kembali, dan pada saat itulah keringat Lauw Hwie telah membasahi seluruh tubuhnya. Kata orang tua itu dengan perlahan : "Sudah beberapa tahun So Beng Hiat In tidak muncul lagi di kalangan dunia kang ouw, mengapa kamu tidak memikirkan aku sebagai orang lain, tapi memikirkan aku sebagai So Beng Hiat In?"

Kata Lauw Hwie : "Aku... karena aku..." ketika ia ragu-ragu untuk bicara terus, orang tua itu telah membentak : "Ayo katakan yang sebenarnya!"

Perkataanitu, walaupun keluar dari mulutnya orang tua itu, tetapi suara itu menggelegar bagai halilintar menyambar di siang hari bolong; membuat Lauw Hwie yang berdiri di hadapannya itu bingung dan berdiri mematung. Ia tidak dapat tidak mengatakan yang sebenarnya.

"Karena So Beng Hiat In telah muncul kembali pagi ini." Begitu ucapan Lauw Hwie itu terlepas, tubuh orang tua itu memanjang dengan tiba-tiba. Secara Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie melihat orang tua itu, orang tua itu terus duduk, dengan menyilakan kakinya. Mereka belum merasakan apa- apa, setelah ia berdiri tubuhnya tinggi semampai. Tubuh bagian atasnya tidak banyak berbeda dengan orang biasa, yang panjang adalah sepasang kakinya. Kalau mau melihatnya harus menengadah.

Pada saat itu, hati Lauw Hwie berdetak, rupanya orang tua yang agak aneh itu dan Kim besi dalam tangannya, kesemua itu seakan ia pernah mendengar cerita orang tapi kesan dalam hatinya tetap sangat kabur. Untuk sesaat ia tidak dapat mengingatkannya. Setelah orang tua itu berdiri, Lauw Jok Hong tidak dapat lagi bertahan, kedua kakinya menjadi lemas dan ia terkulai di atas tanah. Dan Lauw Hung mundur beberapa tindak.

Orang tua itu bertanya dengan perlahan : "So Beng Hiat In telah muncul kembali pagi ini? Dimana?"

"Di... di rumah kami," kata Lauw Hwie dengan giginya beradu.

"Siapa yang rumah kamu?" bentak orang tua itu.

Hingga saat ini Lauw Hwie tidak dapat tidak bersuara lagi, "Ayah saya Lauw Thian Hauw, orang-orang menyebutnya..."

Sebelum ucapan Lauw Hwie habis, orang tua itu telah membentak lagi : "Lekas bawa aku lihat!"

Lauw Hwie mengumpat dalam hatinya, sepasang matamu telah buta, tidak dapat melihat apa-apa, bagaimana kau mungkin melihat So Beng Hiat In itu? Dan ia ingin mengatakan pada orang tua itu, bahwa tembok yang dicoret dengan bayangan darah itu telah roboh. Namun di bawah bentakan suara orang tua, apa yang hendak diucapkannnya, sepatah katapun tidak dapat keluar dari mulutnya. Ia haya dapat mengatakan satu perkataan : "Anuh..." Orang tua itu membentak lagi : "Jangan banyak bicara, cepat unjukkan jalannya!"

Lauw Hwie membalik, dilihatnya Lauw Jok Hong sedang berkeras memaksa tubuhnya berdiri. Kata Lauw Hwie : "Ji ko, Cian Pwe ini mau melihat bayangan darah, mari kita tunjukkan jalannya."

"... Ayo... ayo... ayo..." Lauw Jok Hong seakan telah menjadi pikun. Ia tidak dapat mengatakan apa-apa, tampang congkaknya yang telah menjadi sifatnya itu, entah telah terbang kemana.

Melihat keadaan itu, Lauw Hwie hanya dapat menghela napas dan mengumpat dalam hatinya, orang-orang rumahnya tidak ada satu pun yang dapat diandalkan. Apa lagi orang itu tidak menyinggung-nyinggung sedikit pun kelakuan jahatnya, yang mana telah menyerangnya secara gelap dari atas tembok dan melepas tiga buah belati rahasia, sama sekali tidak, seakan ia sangat suka pada diri sendiri, lebih baik berlaku

baik-baik padanya, supaya dapat diandal.

Di antara kakak beradiknya, Lauw Hwie yang tercerdik, serunya : "Ji ko, Cian Pwe ini, dia cuma mau melihat bayangan darah itu. Apa yang kau takuti?"

Dua baris gigi Lauw Jok Hong terus beradu, hingga menimbulkan suara tek, tek, tek, katanya : "Moy cu... dia... tek tek tek akan... tek tek... akan... tek tek tek..."

Hati Lauw Hwie berdetak lagi. Ia berpikir, ketika orang tua itu berdiri, ia seakan mengetahui ada orang semacam ini, tapi entah siapa, ia tidak dapat ingat lagi. Kini mendengar Lauw Jok Hong berkata begitu, apakah ia telah mengetahui siapa gerangan orang tua itu? Ketika ia baru ingin bertanya, dilihatnya orang tua itu telah mengibaskan lengan bajunya ke depan, dan tidak mendengar ada angin yang bertenaga besar, hanya ketika orang tua itu mengibaskan lengan bajunya, tiba- tiba tubuh Lauw Jok Hong telah terpental lima enam tombak bagai layangan yang putus benangnya, lalu jatuh ke tanah dan tidak bergerak lagi. Entah mati atau masih hidup.

Melihat keadaan ini, hati Lauw Hwie terperanjat bukan kepalang tanggung. Tapi ia pura-pura tidak tahu dan berkata denga acuh tak acuh : "Ajaran Cian Pwe baik sekali, sia-sia belaka dia menjadi seorang lelaki kalau nalinya sekecil itu."

Orang tua itu tertawa menyeramkan. "Memang tidak salah, malah kau yang lebih baik, cocok sekali dengan selera aku."

Mendengar ucapan itu, hati Lauw Hwie tidak tenang. Entah harus merasa gembira atau harus merasa takut, katanya dengan sangat terpaksa : "Cian Pwe, mari saya tuntun Cian Pwe."

"Tidak perlu, kau jalan saja di depan, aku akan mengikuti kau dari belakang," sahut orang tua itu.

Lauw Hwie mengangguk dan melangkah maju melewati tembok sampai ke pintu depan.

Biasanya pintu rumah Lauw itu penuh dengan penjaga dan pengawal-pengawal. Namun kini, seakan telah mengetahui rumah itu telah terjadi suatu hal yang sangat luar biasa, dan telah pada melarikan diri hingga keadaan disitu sepi saja.

Sesampai di pintu, tadinya Lauw Hwie ingin membukanya, tapi pintu telah terbuka sebelum disentuh tangannya.

Lauw Hwie melangkah masuk dan mendekati tembok yang telah roboh itu. Katanya : "Cian Pwe, So Beng Hiat In itu dicoret di atas tembok ini." Seraya menyamping setindak, dilihatnya orang tua itu membelalakkan matanya lebar-lebar memandang ke depan, di dalam matanya itu tidak terdapat biji mata, entah apa yang dilihatnya dengan mata selebar itu. Sementara itu wajahnya pun telah menjadi tegang sekali, tiba- tiba tertawa terkikih-kikih, sedang ia menarik suara tertawanya, tiba-tiba pula ia menghentikannya, lalu suara tertawa lenyap seketika. Suara tertawa orang tua itu mengundang orang yang berada di rumah empang itu keluar, mereka adalah Lauw Thian Hauw, Lauw Hung dan Lauw Nen. Ketika mereka bertiga keluar, orang tua itu tetap berdiri mematung tidak bergerak.

Lauw Hung yang bertanya duluan : "Moy cu, siapa orang tua itu?"

Lauw Hwie tidak bersuara, hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Setelah melihat orang tua itu, Lauw Thian Hauw tertegun : "Anda..." ia baru berkata sampai disini, orang tua telah tertawa terbahak-bahak lagi. Kali ini suaranya tinggi sekali."

Lauw Thian Hauw sendiri adalah orang yang berilmu sangat tinggi, tapi ketika ia mendengar orang tua itu tertawa, buru- buru ia keluar dari dalam rumah dan ia telah tahu orang yang sedang tertawa itu berilmu tinggi.

Kini, orang tua itu tertawa lagi, suara itu ditujukan padanya dengan lebih mengagetkan lagi, hingga membuat hatinya berdecak, lalu menggoyangkan tangannya ke belakang. Lauw Hung persis di belakangnya, dilihat ayahnya menggoyangkan tangan, hatinya pun menjadi tegang, dipegangnya gagang pedangnya, lalu melangkah ke samping setindak. Begitu tubuh Lauw Hung bergerak, suara tertawa orang tua itu berhenti, lalu membentak : "Ketiga orang yang baru keluar dari rumah, siapa kawan lama si tua ini?"

Mendenar perkataan itu, semua orang menjadi bingung.

Kata Lauw Thian Hauw : "Apa maksud ucapan itu?" Baru Lauw Thian Hauw habis bicara, terdengar suara "Cring" sekali, kelima jari orang tua itu telah melayang di atas Kim besi itu dan senar Kim itu menimbulkan suara yang tinggi sekali.

Sedangkan tangannya itu, setelah melayang di atas Kim, terus menyambar Lauw Thian Hauw. Ketiga jarinya, jari telunjuk, jari tengah dan jari manis, menusuk jalan darah Lauw Thian Hauw,jempol dan kelingkingnya menuju ke bawah. Gerakan itu anehnya luar biasa, sekali lihat saja sudah tahu, bahwa jurus itu mempunyai perubahan-perubahan yang tak habis- habisnya. Lauw Thian Hauw buru-buru mengelak dan mundur seraya membentak :"Siapa kamu, kenapa belum bicara sudah mau turun tangan menyerang?"

Gerakan tangan orang tua itu cepat sekali, sebelum ia turun tangan, ia pasti melayangkan tangannya dulu di atas Kim besi hingga suara cring y ang diberangi dengan suara angin pukulannya itu membuat orang yang mendengarnya lebih berdebar-debar lagi. Sementara Lauw Thian Hauw bertanya begitu, orang tua itu telah memukul tiga jurus lagi namun semuanya dapat dielakkan Lauw Thian Hauw. Namun orang tua itu tetap diam saja tidak bersuara.

Tabiat Lauw Hung yang paling garang, teriaknya : "Buat apa tanya, pukul saja."

Tangannya telah memegang gagang pedang. Ia berteriak seraya menundukkan tubuhnya, dan pedangnya telah terhunus,lalu tubuhnya seperti meteor melundur ke depan. Lauw Thian Hauw telah mengetahui ilmu silat orang tua itu sangat tinggi, maka sebelum mengetahui maksud kedatangannya, ia menahan dirinya. Kini begitu melihat Lauw Hung menyerang secara serampangan, buru-buru ia mencegahnya : "Hong ji berhenti!"

Tetapi laju Lauw Hung cepat sekali, ketika Lauw Thian Hauw berteriak 'berhenti' pedangnya telah menuding muka orang tua itu. Orang tua itu membalikkan tangannya mementilkan jari tangannya, sentilan itu tepat mengenai ujung pedang dan terdengar suara "cring" sekali. Pedang itu terus bergemetar tak henti-hentinya.

Tangan Lauw Hung masih memegang pedang, dalam sekejap saja tanganya turut bergemetar.

Kini Lauw Hung belum mau membuang pedangnya, lalu tenaga dahsyat dari ujung pedang itu mengalir ke tubuhnya, hingga tubuhnya ikut bergemetar. Sambil mundur, teriaknya : "Tua bangka... ini... berhenti..." suaranya pun gemetar, terputus-putus.

Orang tua itu pun tidak menyerang lagi. Lauw Thian Hauw buru-buru melangkah setindak maju, dan memegang tangan Lauw Hung, menyambut tenaga dahsyat itu, menghentikan tubuh Lauw Hung bergemetar. Lauw Hung menghela napas, lalu menyeka keringatnya sambil berseru : "Ah hebat sekali!"

Orang tua itu berpaling : "Di antara kamu? Apakah ada So Beng Hiat In?"

Lauw Thian Hauw melihat ilmu silat orang tua itu sangat tinggi, sebelum bersuara telah menyerang dirinya. Untuk sesaat, orang tua menganggap dia sebagai So Beng Hiat In, dan hatinya betul-betul merasa tegang. Hingga saat ini, setelah mendengar ucapan orang tua itu, ia baru sadar telah keliru, lawannya itu bukanlah So Beng Hiat In. Apalagi setelah mendengar ucapanitu, seakan orang tua itu sengaja datang untuk menyusahkan So Beng Hiat In.

Hati Lauw Thian Hauw jadi sangat gembira, katanya : "Tentu saja tidak So Beng Hiat In, kenapa kamu bisa tahu kedatangan So Beng Hiat In?"

Orang tua iatu menunjuk pada Lauw Jok Hong : "Dia yang bilang."

Lauw Jok Hong tadi terpelanting kena kebas lengan baju orang tua itu. Setelah ia berdiri kembali, ia terus tidak bersuara. Namun tunjukan orang tua itu tidak salah menunjuk padanya.

Lauw Jok Hong tak tertahan lagi mundur dua tindak, segera Lauw Thian Hauw melotot padanya, hingga membuat hatinya tambah berdebar-debar lebih kencang lagi. Lauw Thian Hauw tertawa dengan terpaksa : "Tidak salah, tanda So Beng Hiat In pernah muncul di tembok, tapi tembok itu kini telah roboh." Orang tua itu tertawa dingin : "Apakah kau berani melawan So Beng Hiat In?"

Lauw Thian Hauw tertawa panjang, lalu berkata dengan lantang : "Aku she Lauw belum pernah melakukan sesuatu kejadian, kalau So Beng Hiat In berani datang kemari tentu saja aku harus mengadu nyawa. Kalau tidak aku pasti memenggal leherku sendiri."

Teriak orang tua itu : "Bagus ekali. Sampai hari ini baru aku bertemu lagi dengan seorang yang berani melawan So Beng Hiat In!"

Mendengar perkataan itu, hati Lauw Thian Hauw menjadi girang. Ia mengumpat dalam hatinya, orang tua itu telah kena jebakannya. Tapi dia diam-diam saja, dan berkatan dengan nada marah : "Nah, inilah keanehannya. Kecuali saya orang she Lauw, apakah masih ada orang yang berani terang- terangan memusuhi So Beng Hiat In?"

Orang tua itu berkata dengan marah : "Kalau kau bicara begitu, agaknyakau anggap enteng pada orang-orang jago- jago silat. Biar pun aku tidak becus, aku ingin sekali bertemu dengan So Beng Hiat In yang hanya tinggal namanya belaka itu!"

Hati Lauw Thian Hauw lebih gembira lagi, dan ia melihat orang tua itu sangat berangasan, maka Lauw Thian Hauw memancingnya : "Menurut cerita, So Beng Hiat In itu berilmu tinggi selangit, kamu..."

Betul saja, ucapannya belum habis, orang tua itu telah berteriak : "Mari, mari, kita berjabatan tangan!" Ia berkata sembari mengulurkan tangan. Katanya ia ingin berjabatan tangan, padahal ingin adu kekuatan dengan Lauw Thian Hauw. Karena ia mendengar ucapan Lauw Thian Hauw yang meremehkannya itu. Lauw Thian Hauw baru ingin mengulurkan tangannya, tapi tiba-tiba otaknya berputar. Ia berpikir, kalau ilmu silat orang tua itu berada di atas dirinya, segala sepak terjangnya kelak akan dikuasai si orang tua itu. Kalau ilmu silatnya tidak setinggi dirinya, dia akan merasa malu, lalu pergi dengan begitu saja, bahkan dirinya akan kehilangan seorang tenaga pembantu.

Maka ia tidak mengulurkan tangannya, hanya berkata : "Ini tidak perlu bukan? Disitu ada sebuah batu besar, kalau kamu mau mencoba tenaga tanganmu, jangan sungkan-sungkan, coba saja."

Orang tua itu tertawa dingin, diulurkan tangannya menepuk batu besar itu. Tepukan itu seakan tepukan sembarangan saja, tetapi berbarengan dengan suara tepukannya itu, batu besar itu telah gompal dan pecahannya itu terus melayang ke depan menyambar tembok bahkan menancap ke dalam tembok. Dalam sekejap saja, orang tua itu telah menepuk tujuh kali, setiap kali ada sebuah batu pecahan yang menancap ditembok. Ketujuh batu itu berbaris membentuk bintang sapu, lalu ia berpaling sambil tertawa dingin : "Bagaimana?"

Orang-orang yang berada disitu pada tercengang menyaksikan kepandaian yang dipertunjukkan oleh orang tua itu. Bahkan si Singa Emas pun kagum dalam hatinya. Ia mengumpat dalam hatinya, ia sendiri telah memiliki Lwe kang yang sangat tinggi, namun mau mencapai ke taraf itu, ia masih belum sanggup. Hati Lauw Thian Hauw pun tergetar melihat batu-batu pecahan dari batu besar itu menancap ke tembok yang membentuk bintang sapu, katanya : "Apakah itu adalah Cit Seng Ji Kang (Ilmu jari bintang tujuh) yang telah lenyap?"

Orang tua itu mendehem, katanya : "Sialan, ilmu Cit Seng Ji Kang ini mana pernah lenyap?"

Mendengar ucapan itu, Lauw Thian Hauw tertegun lagi. Ia berkata dengan perasaan gembira yang bercampur sedih : "Kalau begitu anda adalah... Thian Auw Siang Jin, ketua dari Pek Touw Cit Ji (bintang sapu) yang menggemparan dunia persilatan itu?"

Paras muka orang tua itu menunjukkan perasaan yang terharu. "Rupanya masih ada orang yang ingat pada namaku yang hina ini."

Kini, orang serumah Lauw Thian Hauw entah harus kaget atau harus bergembira, mereka tidak tahu. Biasanya, kalau mereka tahu bahwa Thian Auw Siang Jin ketua dari Pek Touw Cit Ji berada di hadapan mereka tentu mereka kaget sekali, dan sedikitpun tidak bisa merasa gembira karena ketujuh orang itu pun aneh-aneh, bukan orang jahat bukan pula orang baik-baik. Kalau mereka senang, apa saja dilakukan; sembarangan membunuh, membakar, entah telah ada berapa golongan persilatan yang kucar kacir dibuatnya hanya karena omongan mereka telah menyakiti hati ketujuh orang itu saja. Dan memang karena ilmu silat ketujuh orang itu sangat tinggi maka tidak ada orang yang berani melawannya.

Kemudian pada suatu hari ketika mereka melancong di danau Tay Auw (telaga besar) kabarnya So Beng Hiat In telah muncul dengan tiba-tiba di atas kapal mereka, tetapi itu hanyalah suatu kabar biasa. Ketika mereka melancong di telaga besar itu, banyak orang yang tahu tidak ada satupun yang keluar dari danau itu. Ini adalah suatu kenyataan, orang- orang pada menganggap ketujuh orang Pek Touw Cit Ji itu telah binasa semuanya. Dan 'Cit Seng Ji' adalah salah satu ilmu jari yang paling tinggi di antara ketiga macam ilmu jari yang menggemparkan dunia persilatan pada masa itu. Tapi karena Lauw Thian Hauw tidak mengira bahwa Pek Touw Cit Ji masih hidup, maka ia mengatakan ilmu jari itu telah lenyap.

Begitu diungkapkan Thian Auw Siang Jin, Lauw Thian Hauw baru tahu asal usul orang tersebut. Sedangkan Thian Auw Siang Jin ini adalah iblis yang bersifat tidak menentu, sebentar baik sebentar marah. Kini So Beng Hiat In akan datang, sedangkan orang ini mempunyai dendam pada So Beng Hiat In, bukankah ini adalah suatu hal yang menggembirakan? Setelah menarik napas panjang, Lauw Thian Hauw berkata : "Orang-orang Bu lim sering menyebut-nyebut nama Siang Jin."

"Oh," kata Thian Auw Siang Jin. "Bagaimana kata-kata orang-orang Bu lim ketika menyebut kami bertujuh tidak muncul-muncul di kalangan kang ouw?"

Lauw Thian Hauw mengumpat dalam hatinya, nama ketujuh orang itu memang sangat jelek. Ketika orang-orang mendengar mereka ketemu So Beng Hiat In di Telaga Besar, semua orang, tidak perduli apakah dia itu dari golongan putih atau golongan hitam semuanya merasa bersyukur. Dan kini Thian Auw Siang Jin telah menjadi buta, rupanya kabar mereka bertemu dengan So Beng Hiat In itu adalah suatu kenyataan, namun ia tidak dapat mengatakannya dengan terus terang.Kalau tidak, jangan-jangan di akan menjadi marah."

Lauw Thian Hauw hanya berkata dengan tawar : "Tidak apa-apa, sahabat-sahabat Bu lim hanya merasa agak heran, kenapa kalian bertujuh menghilang pada saat-saat nama kalian sedang tenarnya?"

Thian Auw Siang Jin dengar, lalu menghela napas panjang : "Sudahlah, jangan disebut lagi. Kalau kau melihat bayangan darah itu, dan kapan pula So Beng Hiat In itu akan datang."

"Pagi tadi ada orang melihatnya," kata Lauw Thian Hauw. Thian Auw Siang Jin mendehem, "Aku tahu kedatangan So

Beng Hiat In untuk mencari seorang untuk mencari seorang

anak perempuan dan seorang anak lelaki kau, ya."

Setelah ucapan Thian Auw Siang Jin itu keluar, maka Lauw Hung dan Lauw Nen berdua menjadi pucat lebih duluan.

Teriaknya : "Bagaimana kau tahu?" Thian Auw Siang Jin berpaling : "Bukan kamu, buat apa akui?" ucapannya ini lebih mengherankan Lauw Hung dan Lauw Nen lagi. Tetapi keheranan mereka itu hanya berlangsung sekejap saja, lalu mereka mengertilah sudah. Ucapan Thian Auw Siang Jin itu ditujukan pada Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua. Kini, Lauw Jok Hong sendiri yang berada disitu, sedangkan Lauw Hwie telah keluar. Maka pandangan ketiga orang itu tertumpuk pada wajah Lauw Jok Hong. Paras muka Lauw Jok Hong menunjukkan perasaan yang sangat terperanjat, lalu berkata sambil menggoyang- goyangkan kedua tangannya : "Bukan... bukan... urusan aku!"

Thian Auw Siang Jin membentak: "Berani berbuat, harus berani bertanggung jawab. Biarlah So Beng Hiat In itu datang, aku memang mau mencarinya, buat apa kau takut? ucapan itu diucapkan dengan suara menggeledek. Setelah perkataannya berlalu, terdengar sebuah suara yang sangat menyeramkan mengalun dari balik batang pohon di dekat pintu : "Ya? Tidak takut padaku? Mendengar sauranya, tapi tidak melihat orangnya, tetapi perkataan 'tidak takut padaku' itu bagai halilintar, membuat semua orang yang berada disitu berubah. Walaupun Thian Auw Siang Jin tadi masih membentak dengan keras, tapi kini, wajahnya pucat pasi dan Kim besi dalam tangannya itu bersuara lemah. Pada saat begini, tentu saja ia tidak berniat untuk memainkan Kim-na. Suara yang lemah itu adalah disebabkan karena tubuhnya bergemetar, hingga Kim besinya pun turut bergemetar, dan membunyikan suara lemah.

Lauw Nen merintih dan tidak dapat berdiri dengan tegap.

Ia mundur setindak memegang tembok untuk menahan tubuhnya supaya tidak jatuh, hampir saja ia membuang air seninya. Lauw Hung ternganga, seperti seekor ikan yang megap kehilanganair. Janggut Lauw Thian Hauw yang telah memutih bergoyang-goyang seakan ditiup topan, untuk sesaat ia terdiam, selang beberapa saat, ia baru memberanikan dirinya bicara : "Si... siapa?" Pertanyaan ini memang sia-sia belaka, tetapi dalam keadaan yang begitu kaget, ia tidak pula dapat mengatakan apa-apa, maka ia terpaksa bertanya demikian. Dari pohon itu mengalun lagi suara yang menyeramkan : "Buat apa bertanya lagi, kecuali aku, siapa lagi?"

Bersamaan dengan perkataan itu, dari belakang pohon berkelebat sesosok bayangan manusia. Semua orang menjadi mematung, melihat orang tua berjubah merah darah yang sangat menyilaukan mata. Dalam jubah itupun merah, dan mukanya mengenakan sebuah topeng merah pula. Sekujur tubuhnya, dari atas hingga ke bawah tidak sedikit yang tidak merah, warna itu persis seperti warna darah segar, hingga membawakan bau amis. Bayangan itu baru menampakkan diri, Lauw Nen telah berteriak : "So Beng Hiat In!" Berbarengan dengan teriakannya, tubuhnya terkulai dan berjatuh di atas tanah.

Kata Lauw Hung : "Kau... kau..." Ia ternganga sesaat dan tidak dapat melanjutkan perkataannya. Begitu melihat orang itu, hati Lauw Thian Hauw pun sangat terperanjat. Namun memang jahe tua yang lebih pedas, lantas ia teringat akan Thian Auw Siang Jin disini. Jangan Thian Auw Siang Jin bisa menang, siapa tahu? Tetapi pada detik itu juga, ia teringat suatu hal lain, dan tak tertahan lagi tubuhnya menjadi dingin, seakan direndam dalam air es, hampir saja ia tak sadarkan diri.

Setelah Lauw Thian Hauw tahu bahwa orang tua itu adalah Thian Auw Siang Jin dan mengagumi ketenaran namanya, ia hanya memikirkan dirinya mendapat seorang pembantu, dan tidak memikirkan yang lainnya. Tetapi kini, ketika ia melihat Thian Auw Siang Jin, dilihatnya wajah Thian Auw Siang Jin pun menjadi pucat pasi. Tiba-tiba ia teringat desas desus dari dunia Bu lim, bahwa Pek Touw Cit Ji bertemu So Beng Hiat In di Telaga besar, semenjak itu tidak ada lagi kabar berita mengenai Pek Touw Cit Ji. Hingga saat ini, ia baru melihat Thian Auw Siang Jin, yang matanya telah menjadi buta. Melihat paras Thian Auw Siang Jin, betul saja seakan ia memendam dendam yang sangat dalam pada So Beng Hiat In. Kalau begitu, desas desus kang ouw itu ada benarnya, dan bukan kabar angin belaka. Tetapi buat apa pula merasa gembira, bantuan apa yang dapat diberikan pada diri sendiri?

Karena ketidak-munculan Pek Touw Cit Ji itu, justeru disebabkan karena mereka telah mengalami kerugian besar ketika melawan So Beng Hiat In di Telaga besar tempo hari, mungkin juga Thian Auw Siang Jin menjadi buta pada ketika itu. Diri sendiri masih mengimpikan mengandalkan ketenaran namanya untuk sama-sama melawan So Beng Hiat In, bukankah ini adalah suatu hal yang sangat menggelikan?

Berpikir sampai disini, hati Lauw Thian Hauw menjadi kaget sekejap saja, di punggungnya seakan dirayapi oleh beribu-ribu ulat panjang yang dingin, tentu saja itu adalah keringat dinginnya.

Sementara itu, setiap orang berdiri mematung. Hanya orang aneh yang berpakaian merah itu saja yang melangkah setindak demi setindak. Seketika ia melangkah maju itu, tubuhnya melonjak-lonjak, persis seperti sebuah bayangan darah yang membeku, hingga membuat suasana menjadi sangat gaib sekali dan membuat hati setiap orang berdebar, tidak berani menghela napas, sedangkan bayangan merah yang aneh itu, setiap melangkah satu tindak ia mengeluarkan suara tertawa yang aneh pula. Ia mendekat langkah demi langkah, akhirnya sampai di hadapan Lauw Thian Hauw. Lauw Thian Hauw ingin mundur, tetapi kedua kakinya seakan telah terpaku di atas tanah, tidak dapat bergerak sedikitpun.

Keadaan begini boleh dikatakan belum pernah dijumpainya selama ia mengembara berpuluh-puluh tahun di kalangan kang ouw. Telinganya mendengung-dengung karena saking kaget, otaknya tidak dapat memikirkan apa-apa lagi. Ia hanya memikirkan satu hal : "Apakah aku akan tamat begini saja?

Apakah aku akan binasa di bawah tangan So Beng Hiat In?" Orang merah itu berhenti di muka Lauw Thian Hauw, lalu tertawa dingin tiga kali. Setiap kali ia tertawa, tubuh Lauw Thian Hauw turut bergetar. Kemudian ia baru berkata dengan dingin : "Lauw Thian Hauw, apakah kau telah tahu dosamu?"

Lauw Thian Hauw memaksa dirinya tenang : "Rupanya kau keliru, selama hayatku ini, hanya membela kebenaran, ada kesalahan apa yang ku perbuat hingga mengundang engkau datang kemari?"

Orang merah itu tertawa nyaring : "Kalau kau tidak mengakui kesalahanmu, aku akan membinasakan seluruh orang rumahmu!"

Lauw Thian Hauw dengar, hatinya berdetak. Kini bukan saja Lauw Thian Hauw dapat mendengar nada ucapan orang itu sangat marah, bahkan Lauw Hung dan Lauw Nen pun tahu.

Lauw Hung memberanikan diri berkata : "Kalau mengaku bagaimana?"

"Mungkin masih boleh dirundingkan," kata orang aneh itu.

Hati Lauw Thian Hauw agak tenang, suaranya pun tidak gemetar lagi. Ia mengumpat dalam hatinya. Walaupun ia belum pernah mendengar cerita orang yang mengatakan So Beng Hiat In memberikan kesempatan pada orang untuk mengakui dosanya, dan masih dapat berunding, tetapi mungkin selama ia tidak muncul di kalangan Bu lim, ia telah merubah sifat-sifatnya. Siapa tahu? Kalau memang begini, orang rumahnya masih ada harapan untuk hidup. Ketika orang aneh yang bertubuh merah itu menampakkan dirinya dari balik pohon, Lauw Thian Hauw hampir saja putus asa. Kini, dalam keputusasaannya, muncullah suatu harapan, hatinya gembira bukan kepalang tanggung. Ia berpikir sejenak, lalu katanya : "Kalau anda berkata begitu, kami... akan menurut apa kehendak anda."

Orang merah itu tertawa terbahak-bahak : "Baik, Lauw Thian Hauw, kabarnya engkau memiliki sebuah kita Lwe kang, yang disebut... Thian Cing 24 jurus, kau pertunjukkan kita padaku, aku akan lepaskan engkau!"

Kini hati Lauw Thian Hauw merasa sangat heran karena Thian Cing 24 jurus itu walaupun adalah suatu ilmu silat yang tidak dapat dianggap enteng. Namun dibandingkan dengan ilmu So Beng Hiat In, tidak dapat pula disejajarkan. Kenapa So Beng Hiat In ini justeru menghendaki kitab Thian Cing 24 jurus itu? Ia adalah orang lama di kalangan kang ouw, maka ia berkata sambil tertawa : "Jangan-jangan Thian cing 24 jurus itu tidak ada seperseribu dari ilmu silat anda yang sangat tinggi itu!"

Orang merah itu membentak marah : "Jangan banyak rewel, tentu saja ilmu silatku berada di atas apa yang tertera di atas Thian Cing 24 jurus itu. Ttapi kalau mau maju lebih tinggi lagi, harus mengambil sari kepandaian orang, kau mengerti? Kalau kau tidak keluarkan, jangan heran kalau aku turun tangan secara kejam. Perkataannya yang terakhir ini, diucapkannya dengan tajam sekali. Ia berkata sambil membentangkan tangannya. Pakaian yang dikenakan di tubuhnya itu istimewa sekali, lengan bajunya lebar sekali, ketika ia membentangkan kedua tangannya seakan di bawah ketiaknya telah tumbuh sepasang sayap merah, yang sangat mengerikan orang yang melihatnya.

Walaupun hati Lauw Thian Hauw bercuriga melihat keadaan ini, hatinya pun menjadi terperanjat. Buru-buru ia mundur setindak : "Tentu saja aku percaya, silahkan anda menunggu disini sebentar, aku pergi ambil."

Orang merah itu tertawa dingin : "Ini baru bijaksana."

Lauw Thian Hauw membalik badan mau pergi,tapi ketika baru ia mengangkat kakinya, terdengar suara Thian Auw Siang Jin yang berat : "Tunggu dulu!"

Lauw Thian Hauw bukan orang sembarangan, mendengar perkataan Thian Auw Siang Jin itu, buru-buru ia berhenti dan membalikkan kembali tubuhnya dan orang merah itu berpaling memandang TASK : "Siapa kau?"

Daging di muka Thian Auw Siang Jin bergoyang-goyang tak hentinya, tampaknya perasaannay sangat tegang. Terdengar ia berkata dengan suara yang tertekan : "Masa kau sudah tidak mengenali aku lagi."

ORang merah itu mendehem : "Selama hidupku, entah telah berapa banyak yang ku jumpai, mana aku bisa ingat kau?"

Thian Auw Siang Jin mengacungkan Kim besinay, dan kelima jarinya melayang di atasnya dan menimbulkan suara "cring, cring, cring" tiga kali, lalu bentaknya : "Kau tidak mengenali aku siapa, masa kau tidak menganli Kim ini?"

Orang merah itu marah : "Siapa kau, lekas katakan, jangan banyak rewel disini, bagaimana aku ingat siapa kau ini?"

"Thian Auw Siang Jin menengadah, tiba-tiba ia melontarkan suara tertawa yang menggetarkan bumi : "Hiat In, betul tidak ingat lagi padaku, atau pura-pura tidak ingat? Tidak ada orang yang lolos dari bawah tanganmu, tapi akulah satu-satunya yang bisa lolos, betul kau tidak ingat lagi?"

Ketika Thian Auw Siang Jin bertanya, dijawab dengan orang merah itu, Lauw Thian Hauw dengan sangat seksama mengamat-amati wajah kedua orang itu. Dilihatnya nafsu membunuh di wajah Thian Auw Siang Jin makin lama makin tebal. Perasaan ketakutannya telah berangsur-angsur hilang, tampak sekali kebenciannya terhadap lawannya kian lama kian mendalam, dan membulatkan tekadnya untuk siap mengadu jiwa. Melihat keadaan ini, hati Lauw Thian Hauw mengumpat. Ia mengharapkan Thian Auw Siang Jin yang turun tangan dulu, biar dirinya dapat melihat sampai dimana ketinggian ilmu silat SBHi. Kemudian baru membuat suatu keputusan, paling banyak ia akan kehilangan Thian Cing 24 jurus itu, tidak ada hal lain yang dapat menguatirkan lagi. Maka hatinya menjadi tenang. Ketika Thian Auw Siang Jin mengatakan dirinya adalah satu-satunya yang lolos dari tangan So Beng Hiat In, tubuh orang merah itu bergetar sekali dan tertegun sejenak tidak bersuara. Kemudian baru berkata : "Kau, kau pernah lolos, dan aku sekarang berada di hadapanmu, kenapa kau tidak mau kabuar?"

Thian Auw Siang Jin dengar, tiba-tiba ia tertawa lagi, suaranya nyaring sekali : "Kabur? Apakah aku belum cukup? Aku kabur kesana kemari, sampai ke ujung langit, dan telah kabur berapa tahun? Aku telah cukup." Tiba-tiba ia berhenti, dan melangkah maju setindak, lalu tertawa lagi; kemudian sambungnya : "Aku sudah cukup kabur kemana-mana, aku tidak mau kabur lagi, aku lebih suka orang-oran gtahu aku Thian Auw Siang Jin lebih baik mati di bawah tangan So Beng Hiat In, karena kepandaianku tidak cukup untuk melawan So Beng Hiat In, dan aku tidak mau orang-orang mengatakan aku pengecut, melihat So Beng Hiat In lalu kabur!"

Berkata orang merah itu : "Kini kau berhadapan dengan aku, persis sebuah telur menghantam batu..." ia baru berkata sepatah tubuhnya telah bergetar, katanya dengan terlepas : "Kau bilang kau adalah Thian Auw Siang Jin?"

Kata Thian Auw Siang Jin : "Tidak slah, kau sudah ingat? Di Telaga Besar, kau membuat kami bertujuh..." tiba-tiba ia berteriak, Kim besi dalam tangannya itu menimbulkan tenaga angin yang sangat dahsyat, dari bawah ke atas menghantam orang merah itu. Kecepatannya sukar dilukiskan, apalagi serangannya itu dilakukan ketika ucapannya tiba-tiba berhenti, tampaknya serangannya itu lebih dahsyat lagi! Tentu saja ia teringat kembali akan pertempuran di Telaga Besar tempo hari, dan tak dapat menahan amarahna, maka ia menerang secara mendadak. Tubuh orang merah itu tiba-tiba mundur mengelak. Dan ketika ia mundur itu, Lauw Thian Hauw telah melihat kesalahannya! Kini, betapa dahsyatnya serangan Thian Auw Siang Jin, taruhlah orang merah itu ingin mundur, seterusnya ia mundur dengan cepat, namun ia mundur dengan pelan sekali, dan terhuyung-huyung ke samping kena sambaran angin Kim besi. Andaikata ilmu dikatakan ilmu yang aneh, Lauw Thian Hauw boleh menyesalkan dirinya kurang pengetahuan. Walaupun sepasang mata Thian Auw Siang Jin buta, tapi ia dapat mendengar ketika orang merah itu mundur, langkahnya sangatlah besar, bukan seperti orang yang mempunyai ilmu mengentengkan tubuh yang tinggi, maka ia menarik kembali Kim besinya. Jurusan kedua sementara ditahannya, bentaknya : "Siapa kau?"

Orang merah itu pun balas membentak : "Tua bangka buta yang tidak tahu mati, siapa lagi aku ini? Kalau masih tidak berlutut mengaku kesalahan, aku pasti menyuruh kau mati hingga tidak ada tempat untuk dikubur."

Thian Auw Siang Jin tertawa : "Masa ya?" Ucapan 'ya' baru keluar, mendadak Kim besinya telah menyerang lagi. Kali ini, serangannya lebih dahsyat lagi. Sebuah aliran angin yang sangat dahsyat mendengung membuat setengah lingkaran, dan menyambar ke depan, bersamaan dengan itu tangan kirinya membuat suatu lingkaran, dan didorongnya ke depan. Sampai di tengah jalan, kelima jarinya melengkung membuat kaitan menyambar ke depan. Kedua jurus itu, tampaknya dikeluarkan pada waktu yang sama. Jurus pertama angin dahsyat yang ditimbulkan oleh babatan Kim besinya membuat tubuh orang merah itu terhuyung-huyung, sambaran tangannya lebih hebat lagi. Sekejap saja, kaitan tangannya telah menangkap bahu orang merah itu.

Kalau mengatakan perubahan itu di luar dugaan Lauw Thian Hauw, itu pun belum tentu, karena ketika orang merah itu mundur, beberapa orang yang berada disitu telah melihat kaitan Thian Auw Siang Jin itu pasti dapat menangkap sasarannya. Karena ketika Kim besi itu dikebas, kaki orang merah itu tidak mantap lagi, orang berpengalaman dapat melihat, orang itu pasti akan kalah. Tetapi hati mereka tidak dapat tidak heran, dalam satu jurus saja So Beng Hiat In telah kalah di tangan Thian Auw Siang Jin. Bagaimana tidak membuat orang merasa heran? Ketika mereka masih terheran- heran, terdenar suara orang merah telah berubah menjadi suara yang sangat dikenal mereka : "Siang Jin, ampunilah saya."

"Dia adalah Then Seng!" teriak Lauw Nen pertama-tama.

Orang lainnya pun telah mengetahui adalah penjaga rumahnya Then Seng, si Macan tutul merah, dan mereka pun telah mengerti kenapa Then Seng menyamar ssebagai So Beng Hiat In. Ia hanya ingin menggunakan kesempatan itu untuk mendapatkan Thian Cing 24 jurus saja, lalu kabur jauh- jauh. Ia tahu bahwa orang-orang Bu lim takut pada So Beng Hiat In. Ia pun telah tahu hati Lauw Thian Hauw was-was, maka ia menjalankan siasat itu. Andaikata Thian Auw Siang Jin tidak ada disitu, ia pasti telah berhasil!

Thian Auw Siang Jin yang muncul dengan tiba-tiba itu, sama sekali tidak terduga oleh Then Seng. Ini hanya dapat dikata ia bernasib jelek! Kini ia berteriak melengking, lalu dibentak Thian Auw Siang Jin : "Siapa kau?"

"Aku adalah Then Seng, penjaga rumah Lauw. Aku menyamar sebagai Hiat In hanya untuk menyerakahi Thian Cing 24 jurus itu. Ampun, ampun, Siang Jin ampun."

Tangan kiri Thian Auw Siang Jin mencekal bahu Then Seng, meletakkan Kim besinya ke bawah ketiaknya, mengosongkan tangan kanannya dan mengusap-usap kepala Then Seng berkali-kali. Kepala Then Seng itu ditutup dengan kain merah, setelah diusap-usap Thian Auw Siang Jin, penutup itu menjadi berkeping-keping dan melayang-layang ke-empat penjur bagai kupu-kupu yang sedang menari-nari. Sekejap saja, penutup itu telah hilang dan memperlihatkan muka Then Seng yang seperti mayat itu, lalu teriaknya : "Tuan, cobalah bicara, saya... rela menjadi kuda atau sapi, dan tidak berani lagi berniat jahat!" Sementara ini hati Lauw Thian Hauw memang sangat gusar, mana ia dapat bertahan dengan permainan Then Seng itu? Ia jadi tambah marah lagi, katanya sambil tertawa dingin

: "Then Seng, dulu kau didesak oleh musuhmu hingga tidak bisa kabur. Pada waktu itu aku yang menolong kau, kini kau mengeruk di air keruh, apakah kau masih ada muka untuk minta tolong lagi padaku?"

Bibir Then Seng bergerak ingin bicara tapi suaranya tidak dapat keluar, sedangkan tangan Thian Auw Siang Jin tak henti-hentinya mengusap kepala Then Seng, hinggga rambutnya terpotong-potong dan terbang ke udara. Sekejap saja kepalanya telah menjadi botak, tidak ada sebatang rambut pun yang tertinggal, persis seperti baru dicukur. Thian Auw Siang Jin terus mengusap-usap seraya tertawa dingin.

Tiba-tiba Then Seng menjerit seakan seekor hewan yang dijagal. Kini, semua orang yang melihat menjadi terpaku, rupanya kulit kepala Then Seng telah copot, darah segarnya menetes setetes demi setetes, h ingga membuat suatu pemandangan yang sangat menyeramkan!

ORang-orang yang melihatnya, mukanya menjadi pucat pasi. Lauw Hung berkata dengan terlepas : "Siang Jin, musnahkan saja dengan pukulanmu."

Segera Thian Auw Siang Jin mendelikkan matanya yang putih itu melotot pada Lauw Hung, hingga Lauw Hung menjadi kaget dan memalingkan mukanya, tidak berani bersuara lagi. Tiba-tiba Thian Auw Siang Jin menggerakkan tangannya mengangkat tubuh Then Seng. Kini Then Seng telah menjadi lemas, suara rintihannya pun telah hilang. Setelah mengangkat Then Seng, Thian Auw Siang Jin membalikkan tangannya memutar tubuh Then Seng hingga membuat kepala Then Seng berada di bawah, kakinya di atas, lalu membantingkan kepala Then Seng itu ke atas tanah, terdengar suara 'buk', kepala Then Seng telah menancap di dalam tanah tapi dia tidak lantas mati, kaki dan tangannya masih terus meronta-ronta.

Ketika Thian Auw Siang Jin membenturkan kepala Then Seng ke atas tanah, ia menggunakan ilmu 'Di balik gunung memukul sapi'. Maka waktu kepala Then Seng menancap ke dalam tanah, namun tidak mengalami cidera yang berarti, hanya kepalanya telah berpendam di bawah tanah, tidak dapat menarik napas dengan leluasa, maka kaki dan tangannya masih terus meronta-ronta. Ini sama kejamnya dengan mengubur orang hidup-hidup. Semua orang yang berada disitu bukanlah orang baik-baik, entah telah berapa banyak kejahatan yang dilakukan mereka, tetapi melihat tangan Then Seng makin meronta makin marah. Sampai kemudian sepasang tangannya telah menjadi warna ungu, dan Thian Auw Siang Jin masih terus tertawa dengan nada yang sangat menyeramkan, hati mereka pun sangat ngeri.

Setelah berselang beberapa saat, rontaan Then Seng baru menjadi lambat. Thian Auw Siang Jin berteriak menyekal kaki Then Seng lalu mengangkat kembali tubuh Then Seng dan Then Seng masih sempat menjerit.

Kemudian Thian Auw Siang Jin menggoyangkan tangannya melemparkan tubuh Then Seng ke udara. Dari ketinggian lima tombak, Then Seng menjerit-jerit lagi. Kaki dan tangannya terputus, darahnya bercucuran. Ketika tubuhnya terjatuh ke bawah, tubuhnya telah bercerai berai menjadi empat lima potong. Rupanya ketika Thian Auw Siang Jin melemparkan tubuhnya ke udara tadi, ia telah menggunakan ilmu silatnya hingga membuat tulang temulang Then Seng terpotong- potong, sangat mengerikan!

Thian Auw Siang Jin terus tertawa, hingga menyerikan setiap orang. Setelah Lauw Thian Hauw menenangkan hatinya, ia mengumpat dalam hatinya, ilmu silat Thian Auw Siang Jin memang sungguh hebat, melihat parasnya seakan ia akan senewen, biar dia menjadi tenang dulu; maka ia berkata dengan suara yang tegas : "Ilmu Siang Jin memang hebat sekali, kalau So Beng Hiat In betul-betul datang, kita jangan takut lagi!" Ucapan ini hanyalah untuk mengambil hati Thian Auw Siang Jin, selanjutnya baru benar-benar merundingkan persoalan So Beng Hiat In itu. Namun tidak disangka, ketika ia mendengar Lauw Thian Hauw berkata begitu, tiba-tiba ia berhenti tertawa dan memasamkan mukanya, lalu berkata dengan dingin : "Apa maksudnya kau berkata begitu?"

Karuan saja Lauw Thian Hauw menjadi tertegun. Ia telah berkelana begitu lama di dunia kang ouw, persoalan aneh apa yang belum pernah dilihatnya. Seperti sekarang, ia ingin mengambil hati lawannya, malah lawannya menjadi marah, hal seperti ini memang belum pernah dijumpainya. Kemudian katanya : "Maksudku..."

Belum habis ucapannya, Thian Auw Siang Jin telah memotongnya : "Maksudmu, aku hanya bisa menghadapi So Beng Hiat In yang palsu. Kalau menghadapi yang tulen, aku tidak berdaya, begitu?"

"Begitu" nya itu dikatakannya keras sekali, rupanya ia ingin mencari ribu. Dalam hati Lauw Thian Hauw merasa geli bercampur marah, ia mengumpat dalam hatinya, mana pernah aku bermaksud demikian? TAdinya ia boleh menjelaskan pada Thian Auw Siang Jin, supaya yang disebut belakangan tidak salah paham. Tetapi justru ia adalah jago silat dan berkedudukan tinggi di kalangan dunia persilatan. Kini sebenarnya Thian Auw Siang Jin telah salah paham, bagaimana ia mau merengek? Ketika itu, suaranya pun tidak begitu gembira, hanya berkata dengan dingin : "Siang Jin telah salah tangkap maksud saya."

Tapi Thian Auw Siang Jin belum mau berubah, tubuhnya maju setindak dan mendelikan mata putihnya yang menyeramkan itu. "Lalu apa maksudmu, ayo lekas katakan!" Ia terus mendesak sambil menudingkan tangan yang hampir menyentuh hidung Lauw Thian Hauw. ***

Hati Lauw Thian Hauw terperanjat dan marah. Walaupun ia sama sekali tidak bermaksud menyakiti Thian Auw Siang Jin, malah sebaliknya ingin menggunakannya untuk menghadapi So Beng Hiat In, namun dalam keadaan begini ia pun tidak dapat bersabar lagi. Katanya dengankasar : "Saya mengatakan ilmu Siang Jin sangat tinggi, apakah salah perkataan itu?"

Thian Auw Siang Jin tertawa terbahak-bahak : "Perkataan itu tidak salah, cuma ketika aku membunuh seorang Hian In palsu, kau berkata begitu. Bukankah itu menjadi suatu ejekan?"

Lauw Thian Hauw sama sekali tidak menduga bahwa Thian Auw Siang Jin yang sangat tersohor dan berilmu sangat tinggi itu, namun bertabiat bertele-tele. Lalu ia pun turut menjadi berangasan, kakinya mundur setindak, tangannya memegang gagang pedangnya.Katanya : "Kalau begitu, malah aku harus mengatakan ilmu silatmu tidak becus, kau baru..." Ucapan itu belum habis, terdengar Thian Auw Siang Jin telah berteriak sekali.Kim besi dalam tangannya itu telah melayang menghantam kepala Lauw Thian Hauw. Angin yang timbul karena pukulan Kim besinya itu sangat dahsyat sekali, hingga memaksa Lauw Hung dan adik-adiknya mundur. Dan angin itu menggetar senar Kim, sekejap saja terdengar suara "Cring, cring" dan "Deng, deng" berbunyi terus menerus bercampur dengan deruan angin dahsyat tadi, seakan ada seseorang yang sedang masuk di bawah deruan angin, dan menunjukkan jurusnya itu hebat dan aneh sekali.

Walaupun Lauw Thian Hauw telah menekan gagang pedangnya, tapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa Thian Auw Siang Jin bisa lantas menyerangnya. Ketika ia sadar, Kim besi hampir menghantam batok kepalanya. Buru-buru ia memendekkan tubuhnya,dan pada saat inilah pedang panjangnya berbunyi dan telah terhunus dari sangkurnya, lalu dikerahkannya tenaganya. Terdengar suara "ces", pedangnya mulai main. Setelah itu suara "ces, ces" terus berlangsung, dalam sekejap saja tenaga pedangnya telah menjadi hebat sekali, kilatan pedangnya berkilau-kilauan menerjang ke atas. Pukulan Kim besi Thian Auw Siang Jin seakan segumpal awan hitam sedangkan tenaga pedang Lauw Thian Hauw bagai sebuah halilintar di tengah-tengah awan hitam. Dalam sekelebatan saja terdengar suara "cring, cring, cring" tiga kali. Pedang panjang itu telah mengenai Kim besi tiga kali.

Setelah tiga suara cring itu berlalu, tiba-tiba Lauw Thian Hauw memutar tubuhnya berputar keluar, setelah tubuhnya berputar keluar baru ia berdiri tegak. Thian Auw Siang Jin berteriak : "Bagus!" tubuhnya mendesak, Kim besinya pun telah menyapu lagi. Kali ini Lauw Thian Hauw telah bersiaga, tidak kewalahan seperti tadi. Tangannya bergoyang, satu jurusan 'Ang Jit Se Cen' (matahari merah terbenam di ufuk barat), pedang panjangnya melayang ke atas lalu ke bawah, dengan cepat sekali membuat setengah lingkaran. Ujung pedangnya melayang dardi atas terus menyambar leher Thian Auw Siang Jin.