-->

Bayangan Darah Jilid 02

Jilid 02

Sekeluarga Lauw Thian Hauw itu, termasuk juga Lauw Hwie yang paling muda, mereka bukanlah orang yang belum berpengalaman. Menyaksikan keahlian yang dipertunjukkan oleh Tung Hai Siang Kui itu, walaupun cukup mengagetkan kalangan kang ouw, tapi tidak dapat menakuti mereka. Lauw Thian Hauw berpikir dalam benaknya, kedua orang itu ternama karena keunggulan mereka dalam melepaskan senjata rahasia berbisa dan Mi Hun Toa Hoat, tapi sekarang, rupanya ilmu silat mereka pun bukan lemah. Kalau bukan Gin kang dan tenaga dalam yang telah sempurna, mana mungkin mereka cara itu melayang-layang di udara menyeberang sampai ke rumah ini? Lauw Thian Hauw melangkah setindak seraya berkata : "Kamu berdua datang dari jauh-jauh, ada urusan apa?"

Mong Eng dan Ting Tok berdua berkata sambil menjura : "Orang asing dengan lancang datang kemari, harap Lauw Toa Hiap sudi maafkan. Inikah anak-anak Lauw Toa Hiap? Betul- betul di bawah jenderal yang perkasa tidak ada prajurit yang lemah!" Mereka bahkan mengucapkan banyak ucapan yang tidak penting.

Lauw Nen yang paling tidak sabar, teriaknya : "Rumah Lauw dan kamu berdua, selamanya tidak ada hubungan apa- apa, lagi pula aliran putih dan hitam sangat tidak cocok, seperti api dengan air, kalau kamu mempunyai niat apa-apa katakanlah terus terang, tidak perlu mengoceh tidak karuan."

Mong Eng dan Ting Tok berdua duduk. Mong Eng membentangkan kipasnya, rupanya kipas yang putih bagai salju itu bergambar bunga hutan yang warnya sangat menyolok, digoyang-goyangkannya kipas itu dengan pelan- pelan. Sedangkan Ting Tok persis seorang kampung, ia jongkok di atas kursi, sambil melepaskan topi rumput yang berada di punggungnya, lalu digoyang-goyangkannya seperti sebuah kipas. Kalau orang tidak tahu, siapa bisa mengira bahwa orang kampung yang berpakaian kain kasar itu adalah orang yang sangat ditakuti di dunia Bu lim? Siapa saja melihat pasti sakit kepala!

"Ucapan Toa kong cu itu salah, kita ada hubungan, cuma kami belum pernah berkunjung kemari. Lauw Toa Siao Cia?"

Wajah Lauw Hung sangat jelek, ia ingin tidak mengaku, tapi tidak mungkin. Ia hanya mendehem saja. "Lebih-lebih salah kalau mengatakan tidak cocok, seperti api dan air. Menurut aku, di kemudian hari kita harus berhubungan lebih erat lagi!" Mong Eng tertawa lebar.

"Apa katamu?" kata Lauw Thian Hauw dengan nada yang berat. Memang Lauw Thian Hauw adalah seorang yang telah kenyang dengan asam garam dunia kang ouw, walaupun dia sendiri dalam keadaan gusar, tapi ia masih bersabar. Meskipun ucapannya itu pendek sekali, tapi sangat berwibawa hingga membuat Mong Eng tertegun; senyuman di mukanya segera lenyap, ia berkata dengan nada serius :

"Biarlah kita bicara blak-blakan, Yen Ling si Naga berbuntut sembilan sedang mengundang jago-jago silat dari Bu Tong Pai, Go Tai Pai, Sang Bun Pang. Mereka mau menyusahkan kami. Kami kakak beradik selamanya bukan penakut, tetapi hei, hei, apakah kami patut jadi kambing hitam Singa Emas Lauw Toa Hiap?"

"Engkau bicara begitu, apa maksudnya?" Lauw Thian Hauw berkata dengan pelan.

"Lauw Toa Hiap, engkau jangan berlagak pikun. Apakah Toa Siao cia tidak bilang padamu? Tarolah dia tidak bilang, apakah engkau tidak tahu kejadian di Yen ka cung itu? Semua orang mengatakan itu adalah perbuatan Tung Hai Siang Kui. Kami berbuat jahat memang tidak sedikit, ditambah lagi satu, tidak soal, tetapi siapa yang jadi biang keladi di Yen ka cung itu, hati kita masing-masing takut!" Mong Eng tertawa dingin.

Wajah Lauw Hung jadi jelek sekali, "Jadi... jadi kamu mau apa?"

"Tadi sudah ku bilang, kejahatan yang dilakukan oleh Tung Hai Siang Kui memang tidak sedikit, ditambah lagi satu belum juga apa-apa, tetapi menjadi kambing hitam orang, harus ada faedahnya, kan?" Mong Eng menggoyangkan kipasnya dengan perlahan. Dalam hati Lauw Thian Hauw berpikir, sumbaran orang itu memang benar, Naga berbuntut sembilan Yen Ling, adalah suatu musuh yang tangguh, ditambah lagi dengan jago silat dari Bu Tong Pai, Go Tai Pai dan Sang Bun Pang, mereka berdua dapat menghadapinya? Harga yang mereka pinta tentu tidak sedikit, tapi kalau ditak diiyakan, soal itu akan tersebar luas, namanya, dan... dan soal So Beng Hiat In lagi, hati Lauw Thian Hauw sangat kacau, entah apa yang harus diucapkannya.

"Kamu mau minta keuntungan apa?" tanya Lauw Hung. "Soal ini Toa Siao cia tidak dapat memutuskannya, kami

dengar kabar, Lwee Ka khi kang Lauw Toa Hiap yang bisa

terlatih sesempurna ini, semuanya didapat dari sebuah buku silat Pik Luk..."

Ucapan Mong Eng tepat mengenai hal yang paling takut dipikirkan oleh Lauw Thian Hauw. Tiba-tiba bentaknya : "Berhenti!"

Mong Eng pun menurut, Lauw Thian Hauw membentak, ia lantas tutup mulut dan berdiri bersama Ting Tok, sambil menjura : "Maafkan kami telah banyak mengganggu, kami permisi dulu."

"Mau kemana?" tanya Lauw Hung gusar.

"Mencari Yen Cung cu, kami akan menjelaskan padanya bahwa pada hari itu kami berada di Tung Hai yang jauh sekali. Toa Siao cia jangan kuatir, Yen Cung cu belum tentu percaya ucapan kami."

"Kamu jangan pergi. Thia, coba dengar ucapan mereka sampai selesai," kata Lauw Hung sangat gusar, hingga keringat memenuhi keringatnya.

"Ayo katakan!" Lauw Thian Hauw tersenyum pahit.

"Kami akan pinjam Pik LUk itu selama tiga tahun, setelah 3 tahun, akan kami kembalikan, pasti!" ujar Mong Eng. Wajah Lauw Thian Hauw menjadi hijau, ia tidak berkata apa-apa. Thian Cing Pik Luk itu boleh dikatakan didapatnya dengan sesuatu cara yang sangat keji dari tangan Cin Pek Lan di lembah Cap Ban Toa San tempo hari. Kini, demi hal itu, ia telah melihat So Beng Hiat In,hingga membuat hatinya bergidik, mana dia mau meminjam Thian Cing Pik Luk itu pada Tung Hai Siang Kui? Saat ini, permintaan itu tidak dapat ditolaknya! Ting Tong melihat dia diam saja, lalu berkata dengan tertawa kecil.

"Mari kita pergi, kita datang bukan minta percuma.

Hm...hm... anak gadis Ang Cau Hua telah mati, anak Yen Ling telah buntung ke lima jari tangannya, Seng Bun Lan telah menangis kembali ke kuil Teng Nam mengharukan Cing Im Sin Ni, ditambah lagi dengan jago-jago silat Bu Tong,Go Tai dan Sang Bun Pang. Lauw Toa Hiap, engkau berpikirlah dengan semasak-masaknya.

"Thia, kenapa diam sjaa? Cuma sebuah buku silat, apa pula diherankan?: seru Lauw Hung dalam keadaan mandi keringat.

"Tutup mulutmu!" bentak Lauw Thian Hauw. Ia menoleh sembari berkata : "Kamu berdua harap tunggu dulu sebentar di ruang besar, kami akan berikan jawaban setelah kami berunding dulu, bagaimana pendapat kamu berdua?"

"Kalau terlalu lama, kami tidak mau tunggu," kata Tung Hai Siang Kui tidak sabar.

"Paling lama setengah jam, silahkan!" kata Lauw Thian Hauw.

Tung Hai Siang Kui saling pandang, lalu mendehem, katanya : "Boleh juga, kami tunggu setengah jam. Kalau dalam setengah jam itu kau tidak keluar, kami akan pergi tanpa pamitan lagi!"

Selama hyat Lauw Thian Hauw, kapan dia pernah ditekan orang seperti itu? Tetapi saat ini, ia hanya dapat bersabar : "Baiklah, dalam tempo setengah jam, kami akan bertahu keputusan kami."

Tung Hai Siang Kui tertawa panjang, melambungkan tubuh mereka mundur ke belakang, dan seperti datang tadi, melayang dari empang turun seberang. Semua orang di rumah itu dapat melihat, begitu mereka sampai di tepian, lantas diantar oleh Then Seng melangkah maju meninggalkan empang.

Tetapi dalam rumah itu siapapun tidak bersuara, sesaat kemudian barulah terdengar suara Lauw Thian Hauw : "Hung jie, kalau begini, So Beng Hiat In tentu datang karena kau."

"Itupun belum tentu, aku membuat rusuh di Yen ka cung semuanya karena si monyet cilik Yo Pang Sa itu. Kalau So Beng Hiat In mau cari, tentu dia mencari Yo Pang Sa dulu. Tidak seperti Toa te (adik besar), dia sendiri yang melakukan!"

Begitu mendengar ucapan Lauw Hung yang terakhir itu, Lauw Thian Hauw merasakan setiap kata-kata itu bagai pisau tajam menusuk-nusuk dadanya, hingga suaranya jadi parau : "Baiklah, baiklah, kita disebut pendekar budiman, rupanya setiap orang..." tanpa ia ingin berkata... setiap orang pernah melakukan suatu kejahatan..., tapi baru sampai setiap orang, lantas ia teringat kalau di bicara begitu,itu termasuk juga dia sendiri,sekali-kali tidak boleh bicara begitu. Makanya ia berhenti sejenak, lalu dirubahnya : "Rupanya setiap orang... sudah tau tidak boleh berbuat jahat, tapi masih kamu kerjakan juga?"

Ia bicara sambil menatap Lauw Nen, muka Lauw Nen pucat pias, tidak bersuara. Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie bedua saling pandang, hati mereka pada mengucapkan syukur.

"Katakan! Apa yang telah kamu lakukan Ha!" bentak Lauw Thian Hauw.

Tak kuasa lagi Lauw Nen mundur beberapa tindak, tetap saja tidak bersuara. Lauw Thian Hauw terus melangkah maju mendesak. Seru Lauw Hung : "Thia, Tung Hai Siang Kui masih menunggu di ruang besar!"

Tiba-tiba Lauw Thian Hauw membalik seraya berkata : "Tidak mau, tidak mau, aku tidak mau berikan, kasih tahu pada mereka, aku tidak mau berikan!"

"Ma... mana jadi begitu,kalau Tung Hai Siang Kui tidak jadi kambing hitam, bukan saja aku akan mati, dan... rumahku akan berantakan. Thia, jangan-jangan cucu yang sangat kau sayangi itu turut juga mampus."

"Kataku putih ialah putih, buat apa kau banyak ngoceh?" kata Lauw Thian Hauw.

"Baiklah, aku akan pergi mati-matian dengan Tung Hai Siang Kui," kata Lauw Hung mundur beberapa tindak sambil menarik napas dalam-dalam.

Tadinya Lauw Thian Hauw memang tidak berakal untuk menghadapi Tung Hai Siang Kui itu, tapi saat ini, hatinya bergejolak, buru-buru katanya : "tunggu dulu!"

Hati Lauw Hung jadi girang : "Thia kau sudah setuju?" "Bukan, tapi aku mempunyai akal untuk menghadapi

mereka. Kini di dunia Bu lim, bukankah terus mengatkaan

Tung Hai Siang Kui yang melakukan hal itu?" kata Lauw Thian Hauw.

"Memang, tapi mereka dapat mengutarakan yang sebenarnya," ujar Lauw Hung.

"Kalau mereka mati?" tanya Lauw Thian Hauw dengan perlahan.

Begitu ucapan ia keluar, setiap orang terdiam. Kata Lauw Thian Hauw lagi : "Kita berlima, kalau tidak dapat membereskan Tung Hai Siang Kui, itukan lucu sekali. Kalau mereka berdua mampus, tentu saja hal itu akan lenyap dengan sendirinya." "Tapi Thia, kalau ada satu yang lolos, kita semua akan mampus."

Bentak Lauw Thian Hauw, tangannya melayang, terdengar bunyi suitan yang panjang tak henti-hentinya.

Suitan itu baru berbunyi, datanglah suara Then Seng dari seberang sana : "Majikan ada pesan apa?"

"Beri tahu pada tamu, aku telah mempunyai keputusan, mintalah mereka menunggu sebentar lagi!" Lauw Thian Hauw dengan sengaja membesarkan suaranya.

"Ya," sahut Then Seng dari seberang sana.

"Aku pergi dulu, kamu tunggu di pintu empat-empatnya.

Kalau aku sudah mulai, masuklah kamu sekalian, begitu masuk terus matikan. Jangan kasih ampun!"

Keempat anaknya pada mengangguk semuanya, pada saat mereka menganggukkan kepalanya itu, tidak terpikir oleh kepala mereka bahwa perbuatan itu adalah sangat terkutuk. Apa yang terpikir dalam benak mereka ialah kalau mereka berhasil mengyingkirkan Tung Hai Siang Kui, mereka akan mendapatkan nama harum! Karena mereka telah membinaskan orang jahat di kalangan Bu lim.

Sehabis Lauw Thian Hauw berpesan, kelima orang itu menyeberang melalui tonggak rahasia di bawah permukaan air itu, lalu mereka berpencar dengan langkah berat. Lauw Thian Hauw menuju ke ruang besar, begitu masuk melihat kedua orang tadi telah menunggu tidak sabar. Kata Lauw Thian Hauw sambil menjura : "Kalian sudah menunggu lama sekali, sekarang aku suda berkeputusan, kalau kamu berdua menganggap Thian Cing Pik Luk itu sangat penting, aku harus meminjamkannya pada kamu berdua..." Ia sengaja berhenti sejenak, lalu sambungnya : "Tetapi masa 3 tahun ini, apakah kamu akan tepati?" Ia menengadah seakan sedang menunggu jawaban dari kedua orang itu. Tung Hai Siang Kui berdiri : "Kami dapat berkata begitu, tentu saja..."

Ucapan selanjutnya belum keluar, terdengar suara bentakan Lauw Thian Hauw yang menggeledek; sepasang tangannya melayang, kedua tenaga tangan yang sangat dahsyat itu menekan ke depan, anginnya menderu-deru, seakan bersamaan dengankibasan kedua tangan Lauw Thian Hauw itu, terselip juga suara beribu-ribu senjata rahasia yang melayang dengan cepat sekali. Itulah pukulan tangan yang terbentuk dari Khi kang asli y ang berlapis emas, tenaganya bukan main.

Pukulan kedua tangan Lauw Thian Hauw itu mendadak sekali. Membokong orang, menyerang orang dari belakang, menyimpan belati dalam senyuman, semuanya itu adalah permainan Tung Hai Siang Kui. Tetapi mereka tidak menyangka Lauw Thian Hauw yang kesohor dengan sebutan pendekar budiman itu pun dapat menggunakan cara demikian!

Ketika Lauw Thian Hauw mengibaskan tangannya, kedua orang itu tertegun. Kalau bukan dihalangi oleh ketertegunan itu, mereka berdua dapat mengelak mundur. Justru ketertegunan itu, tenaga tangan Lauw Thian Hauw itu telah menutupi mereka. Dalam keadaan begitu mereka mengahadapi altenatif, menunggu mati atau mengibaskan tangan mereka menyambut pukulan Lauw Thian Hauw dengan mati-matian. Kecuali kedua cara itu tidak ada lagi cara ketiga untuk dipilih!

Kedua orang itu tahu pukulan Lauw Thian Hauw itu mengandung Lweekang yang sangat sempurna, tapi kini sudah sampai begini, mau tidak mau mereka harus menghadapi pukulan maut itu. Mereka berteriak berbarengan, menundukkan tubuh, mengibaskan tangan mereka ke atas, tangan mereka baru keluar separuh, kedua tangan Lauw Thian Hauw itu telah tiba. Hanya terdengar suara bentrokan tangan, Tung Hai Siang Kui berdua menghadapi Lauw Thian Hauw seorang. Sedangkan kepandaian mereka cukup tinggi, kalau tidak mereka tidak berani menyambut kumis macan, merasa Singa Emas Lauw Thian Hauw. Tetapi mereka tetap kewalahan karena menghadapi serangan yang mendadak dan tidak bersiaga sebelumnya, begitu tangan mereka bentrok, keduanya mundur dua tindak. Mong Eng mencekal tangan ke pinggangnya, sekali teriakan saja, sebuah cemeti yang terbuat dari 18 batang tulang kaki manusia telah terbentang, tetapi baru cemetinya terbentang, dari belakangnya telah datang suara "ces"!

Mong Eng adalah orang yang hebat, mana mungkin ia tidak dapat mendengar suara pedang membabat udara yang dilancarkan oleh penyerang yang berilmu tinggi? Tiba-tiba ia membalikkan tangannya menghantamkan cemeti itu ke belakang, tangan kirinya melayang, menyebarkan lima biji Tok Hong Piauw (piauw tawon).

Yang menyerangnya dari belakang itu ialah Lauw Hung.

Jurus 'mendorong perahu menuruti air' Lauw Hung itu sangat dahsyat sekali.

Mong Eng menghantamkan cemetinya ke belakang, tenaganya pun sangat kuat. Bentrokan kedua senjata itu tidak terelakkan, dan akibatnya tentu saja pedang membabat memutuskan cemeti. Lauw Hung boleh dikatakan mendapat keuntungan yang besar! Tetapi Lauw Hung pun tahu kedelapan belas tulang manusia Mong Eng itu,dalam setiap batangnya tersimpang benda yang sangat berbisa. Kalau membuntungkan cemeti tulang itu, ia akan celaka sendiri.

Mana ia mau terjebak, maka melihat cemeti tulang itu melayang, ia membalikkan tangannya ke atas, jurus pedang itu telah berubah menjadi 'sebuah tiang menahan langit'.

Mong Eng pun telah menghitung bahwa musuhnya tidak akan terjebak, maka ketika ia menghantam ke belakang, berbareng dengan itu ia melemparkan lima buah senjata rahasia berbisa, untuk memaksa musuhnya mundur dua tindak. Tetapi ketika kelima senjata rahasia nya baru lepas dari tangan, Lauw Thian Hauw telah mengibaskan lengan bajunya, kelima senjata rahasia telah tergulung semuanya ke dalam lengan jubahnya, maka Lauw Hung dapat dengan leluasa merubah jurusan pedangnya. Mong Eng mendengar suara babatan pedang di udara itu telah berubah, hatinya sangat kaget, buru-buru ia menunduk ke depan. Pedang panjang Lauw Hung itu telah membabat dari punggung sampai ke belakang lehernya, ujung pedang itu telah menempel di tubuh Mong Eng hingga membuat sebuah goresan dari pinggang Mong Eng sampai ke belakang kepalanya!

Mong Eng pun sungguh hebat, tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya ke depan berguling, kakinya menendang-nendang, dan tidak peduli siapakah yang berada di hadapannya, ditendangnya dua kali, memaksa orang di hadapannya itu mundur. Tiba-tiba cemeti tulang putihnya itu menghantam ke atas tanah! Ia tidak menyerang dengan cemeti tulang putihnya, malah pada saat yang segenting itu dihantamkannya ke atas tanah. Kelihatannya tidak berguna, padahal jurusan itu sangat kejam karena yang tersimpan dalam tulang putih yang berjumlah delapan belas batang itu ialah 18 macam ular kecil yang berbisa.

Cemeti itu menghantam tanah, tulangnya akan remuk, ular berbisa yang tersembunyi dalam tulang itu akan keluar segera. Dia berdua Ting Tok memiliki obat penawar, seratus macam bisa tidak dapat menyakiti mereka, tapi keluar Lauw itu takkan luput dari bencana itu. Tetapi perhitungannya itu ternyata meleset. Ketika ia menghantamkan cemeti ke atas tanah itu, tiba-tiba Lauw Thian Hauw berteriak sambil mengibaskan lengan jubahnya menggulung cemeti tulang putih ini, menariknya ke dadanya. Walaupun ilmu silat Mong Eng cukup tinggi, tapi mana dapat melawan Lauw Thian Hauw? Begitu ditarik oleh Lauw Thian Hauw, tubuhnya meloncak ke depan setindak. Mong Eng boleh dikatakan lincah juga, tubuhnya terhuyung ke depan, dengan segera ia mengendorkan kelima jarinya melepaskan cemeti tulang cemeti putih itu.

Cemeti tulang putih itu, sangat disayangi oleh Mong Eng sebagai nyawanya sendiri, ini diketahui oleh semua orang Bu lim. Jago silat menyayangi senjatanya, tidak mungkin dapat dimengerti oleh orang lain.0 Maka Lauw Thian Hauw sama sekali tidak mengira begitu tubuh Mong Eng terhuyung ke depan, ia rela melepaskan senjatanya. Tenaga tarikan Lauw Thian Hauw begitu kuatnya, tiba-tiba Mong Eng melepaskan tangannya. Tenaga Lauw Thian Hauw jatuh kosong, tubuhnya bergoyang sedikit. Kalau diganti dengan orang lain dalam keadaan begitu, paling tidak akan mundur setengah tindak.

Tapi tubuh Lauw Thian Hauw cuma bergoyang sedikit.

Tetapi Lauw Thian Hauw pun tidak mengira, begitu Mong Eng melepaskan cemetinya, segera kakinya menotok ke tanah, dan tubuhnya melambung ke udara dengan pesat.

Tangannya membalik menghantam ke atas, terdengar suara gemuruh yang dahsyat, genteng rumah pada berjatuhan. Atap rumah itu telah berlubang besar. Kentara sekali bahwa Mong Eng tidak berniat bertempur terus, ia siap kabur dari lubang di atas rumah itu.

Kelakuannya itu sangat mengagetkan Lauw Thian Hauw. Ia telah turun tangan secara keras, sudah terang ia ingin membuat Tung Hai Siang Kui itu terkapar di atas tanah. Kalau kabur satu, itu sangat menyusahkan. Kembali ia mengibaskan lengan jubahnya, kelima senjata rahasia yang digulungnya tadi melayang ke atas seperti kilat, berikutnya tubuhnya pun ikut melambung ke atas.

Mari kita ceritakan tentang Ting Tok. Ketika ia dipukul mundur oleh pukulan Lauw Thian Hauw, dari samping muncullah Lauw Nen. Sepasang pedangnya melayang-layang bagai hujan salju, diam-diam menutupi tubuhnya. Karena jurus-jurus sepasang pedang Lauw Nen itu sangat rapat, keadaannya lebih bahaya daripada Mong Eng. Bahkan ia tidak ada kesempatan untuk mencabut senjatanya, terpaksa ia menggelindingkan tubuhnya keluar. Tapi baru bergelinding, Lauw Jok Hong telah tiba, mengangkat kaki menendangnya. Dengan ilmu Lauw Jok Hong itu, kalau ia ingin mengenai tubuh Ting Tok hanya mengelak dari serangan sepasang pedang Lauw Nen saja, tubuhnya menggelinding keluar, sama sekali ia tidak bersiaga. Pada saat itu, tendangan Lauw Jok Hong telah tiba, dan bersarang di pinggannya, ia menjerit kesakitan. Tubuhnya meloncak berdiri, sepasang pedang Lauw Nen pun tiba lagi, terpaksa ia melawan dua jurus. Mong Eng telah melambung ke udara, pada saat itulah terdengar sebuah suara melayang dari pintu luar dengan gagahnya : "Apakah Lauw Toa Hiap ada di rumah?" Itulah suara Naga berbuntut sembilan Yen Ling.

Mong Eng melambung ke udara. Lauw Thian Hauw melepaskan kelima senjata rahasia, segera tubuhnya pun melambung ke udara menguber Mong Eng. Ia ingin menarik tubuh Mong Eng dari udara ke bawah. Tapi pada detik itu, suara Naga berbuntut sembilan Yen Ling telah masuk ke dalam dari luar.

Hati Lauw Thian Hauw terperanjat, hampir saja ia terbanting dari udara. Dengan ilmu Lauw Thian Hauw yang telah mencapai ke taraf sempurna itu, tidak semestinya terjadi begitu. Ia ingin mematikan Tung Hai Siang Kui kini, Tung Hai Siang Kui belum mati, malah Naga berbuntut sembilan Yen Ling telah tiba. Kesemua ini bagaimana Naga berbuntut sembilan Yen Ling itu, tidak membuat dirinya terperanjat?

Kalau Tung Hai Siang Kui menceritakan yang sebenarnya pada bagaimana nanti? Begitu ia jatuh, tubuh Mong Eng telah melayang keluar dari lubang di atas atap itu. Melihat keadaan itu, Lauw Thian Hauw lebih terperanjat lagi, hingga keringatnya bercucuran. Ia tahu kalau lawannya telah berada di luar lubang itu, walaupun ia dapat mengangkat tubuhnya melambung kembali, pasti ia tidak dapat menguber Mong Eng! Terlebih-lebih ia tidak dapat mengangkat tubuhnya setelah ia terperanjat, tubuhnya terus turun ke bawah. Sampai di atas tanah, pandangannya menjadi gelap. Karena setelah Mong Eng keluar dari lubang itu, segera ia akan melihat Naga berbuntut sembilan Yen Ling. Bukankah semuanya akan tamat?

Tetapi perubahan berikutnya di luar dugaannya, tiba-tiba terdengar suara Mong Eng dari atas rumah itu : "Kauw Bweee Liong, dengarlah ucapanku ini."

Berikut ucapan itu, terdengar terikan Naga berbuntut sembilan Yen Ling, ditambah lagi dengan suara "Blum!" Lubang di atas genting itu bertambah besar, genting-genting berjatuhan lagi, dua sosok bayangan manusia seperti kilat jatuh ke bawah. Daya jatuh itu walaupun cepat, tapi masih dapat terlihat kedua orang itu, yang satu Mong Eng, yang satu lagi ialah Naga berbuntut sembilan Yen Ling. Seumur hidup Lauw Thian Hauw, entah telah berapa kali ia menyaksikan pertarungan besar, suasana berubah-ubah dengan cepat sekali. Ia melihat keadaan ini. Itu adalah suatu keuntungan bagi dirinya!

Pastilah ketika Mong Eng sampai di atas rumah, Yen Ling pun telah masuk. Melihat musuhnya, matanya menjadi merah. Ia tidak menunggu Mong Eng bersuara, telah memaksanya turun dari atas rumah.

Inilah kesempatan yang paling baik bagi Lauw Thian Hauw, mana ia mau melewatkan kesempatan yang sebaik ini? Segera ia meraung, kedua lengannya membentangkan, melangkah maju. Ia baru bertindak selangkah, Yen Ling telah memecuti Mong Eng dengan cemeti bajanya. Ketika Mong Eng buru-buru mundur, kebetulan sekali ia menerima pukulan Khi kang asli dari tangan Lauw Thian Hauw!

Tentu saja Mong Eng tidak dapat menahan keroyokan kedua jago silat itu. Kalau ia berniat kabur, mungkin ia masih dapat menyelamatkan dirinya, justeru karena ia mengetahui rahasia Lauw Thian Hauw maka ia ada andalan. Kalau saja ia mengutarakan rahasia itu pada Yen Ling, pasti Yen Ling akan celaka! Maka ia tidak bernafsu untuk bertempur, pun tidak ingin berlalu begitu saja.

Tak disangka betapa tingginya ilmu silat Yen dan Lauw itu.

Yang satu telah memastikan kerusuhan dalam upacara pernikahan itu adalah hasil perbuatannya. Yang satu lagi lebih ingin mematikannya untuk menghilangkan saksi hidup. Maka jurus-jurus yang dikeluarkan oleh kedua orang itu, semuanya secepat kilat. Mong Eng mundur mengelak dari pecutan cemeti baja Yen Ling, segera ia merasakan di punggungnya terdapat dua buah tenaga yang dahsyat sekali sedang menekan dirinya. Buru-buru ia maju setindak, mulutnya berteriak : "Yen Lo Kauw..."

Tetapi ia baru berteriak begitu, jurus cemeti Yen Ling itu telah berubah. Walaupun cemeti yang terbuat dari sembilan susun baja itu adalah sebuah senjata yang sangat berat, tetapi di dalam tangan Yen Ling cemeti itu enteng sekali seperti sebuah pengajung cemeti itu membuat lingkaran dan mutar kembali, menghantam kening Mong Eng.

Mong Eng masih ingin mengelak, tapi mana keburu lagi?

Dan terdengarlah sebuah suara "plaaak". Cemeti baja itu telah memecah kepala Mong Eng itu menjadi dua, bahkan ujung cemeti itu masih terus sampai ke leher Mong Eng. Maka ketika Yen Ling menarik cemetinya, tubuh Mong Eng terus terbawa darah dan otak Mong Eng muncrat membasahi sekujur tubuh Yen Ling, tapi tidak dihiraukan Yen Ling. Ia tertawa terbahak- bahak.

Kejadian di Yen ka cung itu, sampai kini telah berlalu kira- kira satu bulan. Setelah kejadian itu, Yen Cing Kiang terpaku karena kelima jarinya terbabat putus ketika ia merebut pedang dari tangan Seng Bun Lan. Sedangkan pendekar besar sungai Siang Ang Cau Hua yang kehilangan anak gadisnya itu telah diam-diam menghampiri Yen Cing Kiang. Tiba-tiba ia menghunus pedangnya, belum sempat Yen Cing Kiang membalas, pedang Ang Cau Hua telah menembusi dada Yen Cing Kiang. Tubuhnya tidak jatuh, terhuyung-huyung ke belakang. Ujung pedang itu menancap lagi di sebuah tiang besar, tubuh Yen Cing Kiang tetap berdiri, tapi nyawanya telah putus!

"Lo Ang!" teriak Yen Ling.

"Hutang uang bayar uang, hutang nyawa bayar nyawa, anakmu adalah nyawa, anak perempuan akupun adalah nyawa. Apa lagi yang mau dikatakan?"

Ang Fong mati di bawah tangan Yen Cing Kiang, semua orang menyaksikan hal itu. Ucapan Ang Cau Hua itu membuat Yen Ling bungkam, sedangkan Ang Cau Hua yang pucat itu tidak mau berdiam lebih lama lagi disitu. Ia menunduk mengambil mayat Ang Fong, melayang keluar. Yang mengikuti Ang Cau Hua melayang keluar bukan orang lain, dialah mempelai wanita Seng Bun Lan. Ia berlari keluar dengan tubuh yang menggigil, perhiasan di atas kepalanya berserakan di atas tanah. Ada beberapa orang yang turut keluar, karena kuatir akan keselamatannya yang telah menerima puklan yang maha hebat itu.

Tetapi kepergian Seng Bun Lan itu terlalu cepat. Mereka baru keluar, telah kehilangan jejaknya. Belakangan baru tahu, setelah Seng Bun Lan berlari sejauh enam tujuh li, ia bertemu dengan Ceng Im Sin Nio dari kuil Teng Nam. Seng Bun Lan tidak berkata apa-apa, begitu melihat suhunya. Ia ulurkan tangannya mengambil pisau 'Liong Bun' yang kenamaan dari pinggang suhunya, membabat rambutnya hingga bersih, lalu ikut Ceng Im Sin Nio pulang ke kuil Teng Nam. Seng Bun Lan menerima pukulan sehebat itu, tentu saja ia menjadi agak senewen. Kemudian hari, ilmunya menjadi sangat tinggi.

ITulah 'Hong Ni' (Ni kouw gila), yang kesohor di kalangan Bu lim. Itu cerita lain, tidak termasuk disini lho! Naga berbuntut sembilan Yen Ling, hanya menunggu dua tiga tahun setelah perkawinan anaknya itu, ia akan menimang-nimang cucunya untuk menikmati kehidupan yang bahagia. Tetapi dalam sekejap saja, impiannya itu lenyap semuanya. Ia mana mengira kejadian itu adalah hasil perbuatan Lauw Hung dan Yo Pang Sa. Hanya melihat dari keadaan Yen Cing Kiang, seperti ia telah terkena racun Tung Hai Siang Kui, maka kebenciannya terhadap Tung Hai Siang Kui telah meresap sampai ke tulang. Semenjak itu, ia terus mengundang jago silat sembari bertanya dimana tempat persembunyian Tung Hai Siang Kui. Hari ini datang berkunjung ke rumah Lauw Thian Hauw, maksudnya juga untuk meinta pertolongan Lauw Thian Hauw. Tapi di luar dugaannya, bertemu dengan Mong Eng salah satu dari Tung Hai Siang Kui, dan langsung memecahkan batok kepalanya.

Kini, walaupun terkuyur darah sekujur tubuhnya, tapi memikirkan darah itu adalah darah musuhnya, ada barang apa lagi dapat lebih menggembirakannya?

Ia tertawa terbahak-bahak, sambil mebanting-banting mayat Mong Eng ke atas tanah, ketika ia membanting untuk ketiga kalinya, mayat Mong Eng itu tidak berupa manusia lagi.

Ketika Yen Ling membanti-banting mayat Mong Eng untuk melampiaskan dendamnya, Lauw Thian Hauw telah berlalu, mementilkan jari tangannya, "ces!" sebuah aliran angin yang dahsyat menyambar ke pinggang Ting Tok. Ting Tok sendiri telah kewalahan menghadapi empat bersaudara itu, mana ia dapat menahan pukulan Lauw Thian Hauw yang dahsyat itu lagi? Ditambah lagi ia melihat kematian Mong Eng yang sangat mengerikan, ia tahu ia takkan dapat luput. Ia tidak mengira selama hayatnya ia berbuat kejam, kini ia harus mati di bawah tangan orang yang lebih kejam lagi daripadanya! Ia melihat sambaran telah tiba, menggoyangkan tubuhnya mengelak, tapi sepasang pedang Lauw Nen bertaburan bagikan kembang salju menutupi tubuhnya. Pedang panjang Lauw Hung telah tiba lagi dari belakangnya, gerakan Ting Tok agak lambat, "buk", punggungnya telah tertusuk sekali, hatinya lebih bergidik lagi, teriaknya dengan nyaring : " Kwi Bwee Liong!"

Teriakannya itu untuk menarik perhatian Yen Ling, supaya ia dapat mengutarakan yang sebenarnya pada Yen Ling.

Tetapi teriakan itu, tak ayal lagi mengundang iblis pencabut nyawa. "Ya, aku datang!" teriak Yen Ling, tubuhnya mengikuti suaranya melayang. Begitu ucapannya selesai, orangnyapun telah berada di atas kepala Ting Tok,dengan kedua kakinya ia menendang belakang kepala Ting Tok.

Ting Tok tidak menyangka Yen Lin bahkan tidak memberikan kesempatan baginya untuk berbiara, hatinya terperanjat. Ia jadi kewalahan lagi. Saat ini, sama saja ia sendiri melawan enam orang, gerakannya melamban, sepasang pedang Lauw Nen telah membabat menusuk lengan tangannya. Ting Tok berteriak kesakitan, kedua kaki Yen Ling telah pula bersarang di kepalanya, tubuh Ting Tok terhuyung ke depan, Lauw Thian Hauw menyambut dengan pukulan tangannya, "buk" mengenai dadanya. Setelah menerima pukulan tangan itu, tubuh Ting Tok tercelentang ke belakang, ia belum mati, malah masih membuka mulutnya tertawa lebar. Berbareng dengan suara tawanya itu, ketujuh lubang di mukanya telah memuncratkan darah segar, kemudian "duk", ia terkulai di atas tanah untuk tidak berkutik lagi. Sekejap saja, ruang besar itu menjadi hening sekali. Yen Ling menatapi kedua mayat yang terkapar di atas tanah, wajahnya menunjukkan keletihan. Setelah kejadian di Yen ka cung itu, setiap detik ia terus menerus memikirkan kapan dendamnya itu akan terbalas. Tapi kini, kedua musuh telah terkapar di bawah kakinya, dengan telah terbalas, tetapi apa pula gunanya? Membunuh musuhnya, apakah anaknya dapat hidup kembali? Apakah Seng Bun Lan dapat keluar lagi dari kuil Teng Nam dan menjadi mempelai wanita? Tentu saja tidak!

Keriput di wajah Yen Ling itu makin lama makin banyak, ia menunduk, tidak lagi bergerak. Serumah orang Lauw itu tahu, Yen Ling telah membunuh kedua Tung Hai Siang Kui. Tetapi ia tidak membunuh musuh yang sebetulnya, mereka melihat Yen Ling tidak bersuara, hati mereka mempunyai pikiran masing-masing. Apakah Yen Ling telah mengetahui seluk beluknya? Lauw Hung yang paling tidak sabar, hampir saja ia mau menyerangnya, tetapi, ia dicegah Lauw Thian Hauw. Kata Lauw Thian Hauw dengan nada mencoba pada Yen Ling : "Yen Cung cu, kini, kau telah membalas dendammu, kami pun turut gembira!"

***

Yen Ling tertawa pahit sambil menengadah. "Kalau bukan mendapatkan bantuan kamu, tentu aku tidak dapat membereskan kedua setan itu. Tidak kusangka kedua setan itu bisa berada disini. Inilah yang dikatakan takdir!"

Yen Ling berkata begitu, dalam hatinya tidak bermaksud apa-apa, tapi didengar orang rumah Lauw bermakna lain. Mereka memikirkan kalau Yen Ling bertanya kenapa Tung Hai Siang Kui bisa sampai disini, bagaimana menjawabnya? Pada saat itu, keringat bercucuran dari tangan masing-masing!

Tetapi Yen Ling tidak memperhatikan segalanya itu, ia tertawa pahit lagi : "Hatikua sangat kacau, lain kali saja aku datang lagi untuk berterima kasih. Sekarang aku minta permisi dulu." Ia menjura, membalik badan berlalu.

Lauw Thian Hauw dapat menghela napas panjang-panjang, buru-buru ia mengikutinya : "Yen Cung cu, selamat jalan."

"Beberapa kawan Sang Bun Pang dan Bu Tong Ceng Ik To Tiang berada di luar. Kalau Lauw Toa Hiap ingin bertemu dengan mereka, mari kita pergi sama-sama. Entah bagaimana pendapat Lauw Toa Hiap?" Ucapannya itu tidak mendapat jawaban dari Lauw Thian Hauw.

Hati Yen Ling merasa heran, ia menengadah memandang wajah Lauw Thian Hauw. Melihat wajah Lauw Thian Hauw dengan perasaan kaget dan terperanjat sedang menatapi tembok dan Yen Ling buru-buru menoleh mengikuti arah pandangan Lauw Thian Hauw. Begitu melihat, wajahnya pun segera berubah dan ia mundur setindak.

Bayangan darah di tembok itu sangat mengerikan setiap orang yang mengetahui So Beng Hiat In dan melihat bayangan darah itu pasti terperanjat. Tadinya Lauw Thian Hauw telah menyuruh orangnya untuk menutupi tembok itu, tetapi ketika Yen Ling melewati tembok melompat ke atas rumah memaksa Mong Eng turun ke bawah, angin keras yang ditimbulkan oleh lompatan Yen Ling melayangkan penutup.

Dan tidak ada orang yang menutupkannya kembali. Maka begitu Lauw Thian Hauw keluar lantas ia melihat bayangan darah.

Tetapi andaikata ia tidak sekaget itu setelah melihat bayangan darah itu, jangan-jangan Yen Ling tidak melihatnya. Tapi kini Yen Ling telah melihatnya. Sekejap saja mereka pada berhenti. Otak Lauw Thian Hauw mengiang-ngiang sesaat tidak tahu apa yang harus diucapkannya. Setelah tertegun sejenak Yen Ling baru menoleh : "Lauw Toa Hiap apa itu?"

Walaupun Lauw Thian Hauw mendengar pertanyaan itu tapi ia tidak dapat menjawabnya. Tentu saja ia ingin membantah itu bukan 'So Beng Hiat In' tetapi melihat wajah Yen Ling tampaknya ia sudah tahu apa gerangannya itu.

Lauw Thian Hauw masih tetap mematung, tidak bersuara.

Ujar Yen Ling : "Lauw Toa Hiap." Ketika ia mengucapkan perkataan "Toa Hiap" itu keluar dari mulutnya secara terpaksa sekali, tentu saja itu disebabkan karenan 'So Beng Hiat In' muncul di tembok rumah Lauw. Ia berhenti sejurus, lalu sambungnya : "Apakah itu So Beng Hiat In?"

"Rupanya ya," desis Lauw Thian Hauw pada detik itu.

Dalam benaknya timbul suatu niat yang sangat mengerikan, tetapi sekarang kecuali berbuat begitu, tidak ada cara lain lagi.

Hati Lauw Thian Hauw berdebar-debar melihat Yen Ling ingin melanjutkan perjalannya, buru-buru ia berkata : "Yen Cung cu tunggu dulu.Masih ada yang hendak kukatakan."

Yen Ling menoleh, wajahnya telah menunjukkan kekesalan.

Saat itu Lauw Hung bersaudara telah keluar, dan berdiri di pekarangan. Tadinya hati Lauw Thian Hauw masih ragu, tapi begitu melihat wajah Yen Ling, dalam hatinya berpikir ia harus berbuat begitu! Ia tertawa kering kembali, "Yen Cung cu, barang di tembok itu, entah permainan siapa,harap kau tidak ambil hati."

Lauw Thian Hauw tahu tidak ada orang yang akan percaya ucapannya itu. Akal yang paling baik, ialah menuruti rencana yang terpikir dalam hatinya. Tetapi ia tahu, kalau ia menuruti rencna itu, akibatnya sangat berat. Maka kalau bukan sangat terpaksa, lebih baik tidak berbuat begitu. Sepasang matanya memandang wajah Yen Ling, menunggu reaksinya setelah mendengar ucapannya itu.

Yen Ling pun tertawa dingin " hei,hei" dua kali. Andaikata ia tertawa bisa saja, dan tidak berkata apa-apa, atau menuruti saja hati Lauw Thian Hauw, berkata satu dua patah mungkin Lauw Thian Hauw masih tetap ragu-ragu dan tidak akan bertindak menurut rencananya. Tetapi sifat Yen Ling jujur, begitu ia melihat bayangan darah di tembok itu, timbullah perasaan jengkel dalam hatinya. Ditambah lagi dengan ucapan Lauw Thian Hauw itu, hatinya lebih jengkel lagi, maka setelah ia tertawa garing dua kali, ujarnya tidak sabar : "Kalau memang ada orang berani membuat permainan itu di rumah Lauw Thian Hauw, nyalinya tentu besar sekali, hati kita masing-masing tahu." Mendengar Yen Ling berkata begitu, hati Lauw Thian Hauw menjadi terperanjat berbareng marah, serunya : "Apa maksudnya kamu berkata begitu?" katanya sambil melangkah mundur, membentangkan tangan membuat suatu gerakan.

Anak-anaknya yang berdiri di belakangnya terperanjat melihat gerakan tangan itu. Merek saling pandang lalu mendelik, semuanya berpencar.

Wajah Lauw Thian Hauw pun menjadi murung.

Yen Ling masih belum sadar, ia tertawa dingin : "Masih tetap perkataan itu, hati kita masing-masing tahu!"

Lauw Thian Hauw melangkah maju setindak : "Kalau begitu, kamu mau menyebarluaskan?"

Yen Ling berkata dengan nada dingin : "Kalau mau orang tidak tahu, kecuali tidak berbuat..." Ucapannya itu belum selesai, tiba-tiba ia membalik tangan menyambar. Rupanya ketika itu, dengan diam-diam Lauw Hung itu cepat sekali menyerang. Tetapi betapa lihainya Yen Ling itu, begitu ia mendengar ada suara senjata memecah udara, ditambah lagi melihat wajah Lauw Thian Hauw, segera ia tahu bagaimana persoalannya. Membalik tangan menyambar, geraknya cepat sekali. Di punggungnya bagai ada mata, jari telunjuk dan jari tengahnya menjepit, kedua jari itu telah dapat menjepit punggung pedang itu dengan erat sekali. Lauw Hung menusukkan pedang, tangannya kejang, buru-buru ia menarik tangannya ingin menarik kembali pedang itu. Walaupun Yen Ling hanya menggunakan kedua jarinya, tapi pedang itu seakan tertancap di batu, untuk sesaat, pedang itu tidak dapat dicabut!

Lauw Hung kagetnya bukan kepalang, teriaknya : "Kenapa kamu masih diam saja?"

Ia berteriak, adik-adiknya belum keburu sampai, jari Yen Ling yang memegang pedang panjang itu bergetar sekali. Di bawah getaran itu terdapat sebuah tenaga yang maha dahsyat mengalir ke tangan Lauw Hung memulai tubuh pedang hingga tubuh Lauw Hung bergetar sekali dengan hebatnya, tak terkuasa lagi kelima jarinya terlepas. Pedang itu telah dirampas Yen Ling. Lauw Hung berteriak nyaring, tubuhnya mundur. Tetapi pada saat itulah Lauw Thian Hauw yang berada di hadapan Yen Ling itu telah mengeluarkan pukulan tangan menyerang dada Yen Ling. Yen Ling hanya merasa sebuah aliran angin terus mendesak hingga hampir saja menyesakkan pernapasannya. Yen Ling berteriak sekali lagi, menghunuskan pedang panjang yang baru saja dirampasnya tadi dengan kuat, tapi datangnya pukulan Lauw Thian Hauw itu terlalu cepat. Pada waktu sesingkat itu, ia tidak sempat membalikkan pedang, jarinya tetap mencekal ujung pedang, dengan gagang pedang itulah ia membabat.

Walaupun Yen Ling membabat dalam keadaan tergesa- gesa, namun gagang pedang itu tepat mengenak "Yang Kuk Hiat" salah satu lobang darah di tangan Lauw Thian Hauw. Babatan itu memaksa Lauw Thian Hauw menarik kembali pukulannya. Namun kin Yen Ling menghadapi musuh dari depan dan belakang. Ia dapat mengelakkan pukulan Lauw Thian Hauw, tapi dari belakangnya Lauw Hung telah mengirim dua pukulan tangan ke arah punggungnya! Kalau Yen Ling sendiri berhadapan dengan Lauw Thian Hauw, ia pun bukan lawannya Lauw Thian Hauw, apalagi ditambah satu Lauw Hung? Begitu merasa punggungnya terserang angin pukulan yang sangat dahsyat, ketika ia ingin membalas serangan itu, jari tengah Lauw Thian Hauw tiba-tiba berdiri. "Ces!" suara angin itu terus menyerang alisnya. Yen Ling tahu angin itu terbentuk dari Khi kang asli yang bertenaga sangat dahsyat, kalau terkena, akibatnya tentu bukan main. Dalam keadaan yang terdesak itu, ia tidak lagi mempedulikan serangan yang datang dari punggung, hanya membekukan hawa ke punggungnya untuk menerima pukulan Lauw Hung.

Bersamaan dengan itu, tiba-tiba ia menundukkan tubuhnya. Khi Kang asli dari jari Lauw Thian Hauw yang menyerang alisnya dapat dielaknya, tetapi kedua pukulan Lauw Hung itu bersarang tepat di punggungnya.

Yen Ling telah memanda rendah tenaga Lauw Hung. Ia mengira cukup membekukan hawa saja di punggungnya untuk menahan pukulan tangan Lauw Hung tetapi sedari kecil Lauw Hung telah belajar ilmu Khi kang. Walaupun tenaganya tidak sekuat Lauw Thian Hauw, tapi itu pun bukan enteng. Ia telah memusatkan tenaganya memukul punggung Yen Ling. Di pinggir telingan Yen Ling berbunyi : "Hung! hung!" dua kali, matanya berkunang-kunang, tubuhnya mental ke depan.

Sedangkan Lauw Thian Hauw berada di hadapannya dengan mudah sekali ia dapat mencabut pedang panjang itu dari tangan Yen Ling. Dan pada saat inilah, dari jauh datanglah sebuah suara tangisan yang tidak didengar dengan samar- samar.

Laju tangisan itu boleh dikatakan cepat sekali, sampai di telinga masih samar-samar. Tetapi setelah Lauw Thian Hauw dapat merebut pedang panjang dan meragu sejenak, suara tangisan telah menggeledek. Hati Lauw Thian Hauw terperanjat. Ia tahu seorang jago silat dari Sang Bun Pang telah tiba. Kedatangan jago silat Sang Bun Pang tentu saja karena ia melihat Yen Ling pergi begitu lama dan belum juga kembali. Maka ia menyusul. Hal itu sudah jadi sedemikian rupa sehingga tidak ada waktu bagi Lauw Thian Hauw untuk berpikir lagi. Dihunusnya pedang panjang itu, lalu menembus jantung Yen Ling. Yen Ling berteriak mengerikan bulu tengkuk, Lauw Thian Hauw mengangkat kakinya menyepak tubuh Yen Ling, melemparkan pedang panjang itu pada Lauw Hung, segera ia membalikkan tangannya menghantam tembok yang menggambarkan bayangan darah itu, terdengar suara "bruk" tembok itu telah rubuh ambruk ke tanah!

Lauw Thian Hauw menggunakan tenaga yang dahsyat menghancurkan tembok, pada saat itu juga suara tangis pun berhenti. Tiga orang berjubah kelabu, entah tiba melalui reruntuhan tembok. Kemunculan mereka bertiba itu, membawakan sebuah angin jahat, hinga membuat Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie yang berada di dekat mereka tidak tahan lagi menggidikkan tubuh mereka. Setelah mereka berdiri ke samping satu persatu, serentak mereka menjura pada Lauw Thian Hauw dan membuka suara mereka mengilukan gigi orang yang mendengarnya : "Sam Ya Sian Jin mengunjungi Lauw Thian Hauw."

Mata Lauw Thian Hauw memandang ke kepala tiga orang itu, masing-masing mengenakan sebuah topi rumput butut, di atas topi rumput itu terdapat setangkai kembang putih kecil. Sekali lihat saja sudah tahu bahwa mereka adalah orang yang berkedudukan tinggi di Sang Bun Pang, ia Tong Cu sesudah Pang Cu. Dalam hati Lauw Thian Hauw sangat kacau, tapi ia mau tidak mau harus berlaku seperti tidak terjadi apa-apa. Ia pun balas menjura : "Yen Cung cu... Ketiga Tong cu jangan sungkan-sungkan, kedatangan kamu tepat sekali."

Ketiga orang itu tertegun, yang berdiri di tengah maju setindak, serunya nyaring : "Apa?"

***

Lauw Thian Hauw berkata berat : "Setelah Yeng Cung cu datang, Tung Hai Siang Kui pun menyusul. Begitu bertemu, kedua belah pihak itu lantas berantem. Ketika kami keluar, semuanya telah binasa bergeletakan di rumah kami, ai! Entah bagaimana harus ku ceritakan!"

Ketiga orang itu saling pandang, kata mereka : "Dimana?" "Di ruang besar," Lauw Thian Hauw menunjuk ke dalam.

Ketiga orang itu bergoyang, timbullah sebuah angin dingin dan tubuh mereka telah melayang. Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie yang berdiri di h adapan mereka itu buru-buru menyingkir. Mereka berdua tidak tahu bagaimana buntutnya setelah pembunuhan atas diri Yen Ling itu. Kini mendengar ucapan ayah mereka barusan, pikir mereka, rupanya memang jahe tua yang lebih pedas. Menuduh Tung Hai Siang Kui yang membunuh Yen Ling itulah suatu langkah yang baik sekali!

Mereka bertiga masuk ke dalam ruang besar, karena sepakan Lauw Thian Hauw tadi sangat manis maka mayat Yen Ling tergeletak di pinggir mayat Tung Hai Siang Kui. Lalu mereka bertiga berpencar memeriksa ketiga mayat itu. Orang rumah Lauw masuk, mereka bertiga lalu berdiri.

"Yen Ling seorang jago silat, tidak disangka bisa mati di bawah tangan Tung Hai Siang Kui!"

Lauw Thian Hauw menghela napas panjang-panjang. "Apakah Tung Hai Siang Kui membawa anak buahnya?"

seru salah satu dari ketiga orang itu dengan dingin.

Mendengar orang itu bertanya demikian, Lauw Thian Hauw tertegun sejenak. Dalam hatinya ia berpikir, apa maksud pertanyaan itu? Dalam sekejap itu ia tidak dapat memikirkannya, maka ia hanya menjawab sembarangan sja, untuk menghindar kerusuhan selanjutnya : "Aku kira tidak ada."

"Ketika mereka berantem, apakah Lauw Toa Hiap menyaksikannya?"

Hati Lauw Thian Hauw merasa jengkel, pikirnya, orang itu terus bertanya, apakah ia telah mencurigai dirinya?

"Ketika kami keluar, mereka masing-masing telah luka parah," seru Lauw Thian Hauw dingin.

ORang itu tidak lagi berkata apa-apa. Ia menunduk mengangkat mayat Yen Ling ke atas pundaknya, berjalan menuju keluar. Yang lainnya mengikuti dari belakang. Setelah keluar, Lauw Thian Hauw yang juga mengikuti mereka itu berkata : "Kalian bertiga akan membawa mayat Yen Ling kemana?" Mereka bertiga baru siap setelah berada di luar pintu, lalu menoleh seraya berkata : "Lauw Toa Hiap, ada beberapa perkataan yang harus kami tanyakan dengan jelas."

"Silahkan!" hati Lauw Thian Hauw bergidik.

Dari semula yang dua lainnya tidak bersuara, yang bicara hanya seorang saja, serunya : "Luka di dada Yen Cung cu adalah bekas pedang, sedangkan Tung Hai Siang Kui tidak menggunakan pedang!"

Ucapan itu terlepas, otak Lauw Thian Hauw mendengung, matanya berkunang-kunang. Ia tertegun sejenak baru berkata

: "Tidak salah. Ketika aku keluar, Ting Tok salah satu dari Tung Hai Siang Kui itu telah kehilangan senjatanya, ia melompat ke tembok memetik sebuah pedang dan menusuk Yen Cung cu."

Lauw Thian Hauw menjawab dengan hati berdebar-debar, dalam hatinya menduga-duga ketiga orang Sang Bun Pang keparat itu apakh puas dengan penjelasan yang diberinya?

Kalau mereka bercuriga, bagaiman pula? Apakah harus dibinasakan juga ketiga orang Sang Bun Pang itu? Untuk membinasakan mereka, dengan orang rumah Lauw sendiri tidaklah mungkin. Lagi pula, taruhlah mereka bertiga mampus, dan tidak mungkin untuk mengatakan bahwa Tung Hai Siang Kui yang membunuh mereka.

"Oh rupanya begitu. Ada lagi yang hendak kami tanyakan," ujar orang itu sambil mengangguk.

Perkataan orang itu diikuti dengan pandangan mata yang mengeringkan yang menyapu-nyapu di tubuh Lauw Thian Hauw. Hingga membuat Lauw Thian Hauw merasa tidak leluasa, ia menahan napas dan berkata : "Ada apa lagi?"

Orang itu berkata dengan perlahan : "Tung Hai Siang Kui yang satu mati kena tusukan pedang, yang satu mati kena gegeran Khi kang. Semua itu bukanlah kepandaian Yen Cung cu, apa pula sebabnya itu?" Mendengar dua pertanyaan itu, Lauw Thian Hauw kewalahan tidak dapat dijawabnya. Sesaat kemudian barulah ia berbicara : "Akupun tidak tahu apa sebabnya."

Orang itu tidak lagi melanjutkan pertanyaannya, hanya katanya singkat : "Terima kasih!"

Begitu habis berkata, ketiga orang telah melayang mundur keluar dari pintu. Lauw Thian Hauw pun tidak berdaya, ia hanya dengan terpaku memandang kepergian mereka.

Lauw Nen menghampiri ke belakang ayahnya. "Thia, mereka telah curiga, kepergian mereka itu akan membawa kerusuhan!"

Dengan ketenaran namanya di kalangan duni Bu lim, mungkin orang-orang tidak akan percaya ucapan Sang Bun Pang tapi percaya akan sikapnya, pikir Lauw Thian Hauw.

Memikirkan perkataan "Sikap" itu,ia tertawa pahit.

Namanya memang tidak salah lagi, semua orang menyebutnya Toa Hiap, tapi perkataan "Toa Hiap" itu dapat bertahan berapa lama lagi? Telah puluhan tahun ia memperoleh nama itu, mana mau ia lepaskan begitu saja. Lauw Thian Hauw menggenggam kedua tangannya sambil membalik tubuhnya. Lauw Thian Hauw persis berhadapan dengan Lauw Nen yang berdiri di belakangnya. Tiba-tiba ia berseru : "Kau!"

Lauw Thian Hauw hanya mengucapkan satu perkataan, tahu Lauw Nen telah bergetar seluruhnya, dan mundur beberapa tindak.

Lauw Thian Hauw tertawa dingin : "Then Kwan ka, kemari!"

Begitu ia berteriak, Then Seng telah berdiri dihadapannya dengan tenang menulur ke bawah.

Hati Lauw Thian Hauw agak terkejut melihat Then Seng datang dengan cepat sekali. "Then Kwan ka, dimana kau tadi?" tanyanya. "Saya di pekarangan belakang. Kalau tidak ada perintah tuan saya tidak berani kemari," sahut Then Seng.

"Kejadian di depan tadi, kau tidak tahu?" sela Lauw Hung. "Kejadian apa? Kejadian apa?" Then Seng balik bertanya.

"Tidak ada apa-apa. Cepat bereskan mayat-mayat di dalam, dan tembok itu. Kalau ada yang datang, suruh mereka tunggu dulu di ruang besar. Kami masih tetap berada di rumah empang!"

Then Seng mengangguk. Lauw Thian Hauw terus melangkah ke rumah empang, menghela napasnya panjang- panjang lalu berkata sambil duduk : "Taruhlah So Beng Hiat In tidak datang, kitapun sudah kewalahan!"

"Semua itu gara-gara Toa cie," kata Lauw Nen.

"Dan kau? Apa yang telah kau lakukan? Lauw Thian Hauw tertawa dingin, bentaknya. Buru-buru Lauw Nen menundukkan kepalanya.

Dalam rumah itu menjadi hening kembali. "Katakan ayo!" teriak Lauw Thian Hauw.

Muka Lauw Nen menjadi pucat pasi, tidak berkata apa-apa. "Thia, dia telah merampok barang-barang yang dikawal

bersama-sama antara ketujuh puluh empat Piau Kek dari Kang

Pei (daerah utara) di Kang Lam (daerah selatan)!" sela Lauw Hung.

Terdengarlah teriakan "Ah" yang ramai, yang berteriak adalah Lauw Thian Hauw, Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie bertiga setelah mereka mendengar ucapan Lauw Hung itu.

Sejurus kemudian, Lauw Thian Hauw baru berkatan dengan perlahan : "Kalau begitu, Kang Lam Toa Hiap Kim Teng Cen Thian Lam... Go Thian Keng menyebarkan undangan untuk minta jago-jago silat dari aliran putih maupun aliran hitam memperhatikan penjahat bertopeng yang telah merampok dan membunuh anaknya, dan... memperkosa anak gadisnya itu rupanya ialah engkau?" kata Lauw Thian Hauw sambil memandang Lauw Nen. Pandangan itu tidak begitu tajam, malah mengandung perasaan ssedih. Tetapi di bawah pandangan ayahnya Lauw Nen tak henti-hentinya bergemetar, sesaat kemudian baru ia dapat berkata : "Aku... tidak memperkosa Go... ko nio (panggilan seorang gadis)!"

Lauw Thian Hauw berteriak, berbarengan dengan itu, tangannya yang seperti kipas telah terbalik. Balikan tangannya menimbulkan angin menderu-deru di dalam rumah empang.

Beberapa orang telah mundur, hanya Lauw Nen yang masih mematung. Tangan Lauw Thian Hauw telah melayang ke atas, telapak tangannya telah membidik kepala Lauw Nen. Saat ini, ia tidak perlu memukulkan tangannya, cukup dengan tenaga yang dikeluarkan Khi kang asli saja untuk mematikan Lauw Nen, pikiran dalam hatinya pun demikian. Tetapi ketika Khi kangnya kucar-kacir tidak dapat dipusatkan, seperti seekor kuda binal yang terlepas dari ikatan tambangnya, Lauw Thian Hauw sangat terperanjat sekali. Hanya sekejap, kepalanya telah bercucuran air keringat, tubuhnya pun tak tahan lagi bergemetaran.

Lauw Hung yang berdiri di samping, setelah melihat keadaan ayahnya, ia pun sangat terperanjat : "Thia, kenapa kau? Kenapa kau?"

Lauw Thian Hauw tidak menyahut, saat ini, karena sangat terperanjat, sangat kaget dan sangat takut. Khi kang berlari kucar kacir dalam tubuhnya, setiap saat bisa salah jalan dan dapat membuatnya kesurupan!

Dalam keadaan begini, ia harus memusatkan perhatiannya, bahkan iapun tidak mendengar pertanyaan Lauw Hung, apalagi untuk menjawabnya. Ia mundur setindak, tiba-tiba duduk, keringatnya yang lebih besari tetesan air hujanitu terus bercucuran dari kepalanya. Lama sekali baru terdengar ia menhela napas panjang-panjang, dan membuka mata sambil menyeka keringat.

"Go Toa Hiap adalah kawan karibku, apakah kamu tidak tahu?" katanya.

"Tentu saja kami tahu, tetap Toa te melihat anak gadis orang cakap..." kata Lauw Hung sambil memandang Lauw Nen dengan tajam, dalam hatinya merasa bersyukur karena perbuatan Lauw Nen itu lebih jahat daripada perbuatannya. Ia dicelakai Yo Pang Sa, tapi Lauw Nen soal itu adalah hasil perbuatan Lauw Nen sendiri. Kedatangan So Beng Hiat In, 80% ialah untuk mencari Lauw Nen, sama sekali tidak ada sangkut paut dengan dirinya. Lagi pula Yen Ling dan Tung Hai Siang Kui telah meninggal semuanya, persoalannya akan beres begitu saja, tidak ada lagi orang yang menanyainya.

Maka ketika Lauw Thian Hauw menatap Lauw Nen, hatinya merasa bersyukur.

Tetapi Lauw Nen sama sekali tidak memperhatikan pandangan Lauw Hung yang mengandung perasaan syukur itu, tubuhnya bergemetar terus-terusan, otaknya pun kian lama kian beku, tetapi ucapan Lauw Thian Hauw itu tetap berputar-putar dalam otaknya. Go Toa Hiap adalah kawan karibku. Kawan karib, ai, kesukaran itu justeru timbul dari kawan karibku! Lauw Nen hanya merasakan otaknya menjadi kosong memutih, kemudian putih itu berantakan, menjadi berkeping-keping menari-nari dan meloncat-loncat, bagaikan hujan salju. Ya, memang hujan salju.

Hujan salju yang lebat sekali yang jarang terlihat di Kang Lam menutupi pondok-pondok di desa Sui Sia yang dalam suasana gembira ria. Anak-anak sedang bermain dengan asyiknya di bawah hujan salju. Umur yang agak kecilan memetik batang leher yang telah membeku di emperan rumah, dimasukkan ke dalam mulut dan diisap dengan asyik sekali. Singa emas Lauw Thian Hauw bersama anaknya Lauw Nen, sedang memacu kuda di bawah hujan salju. Setelah menyeberangi sungai, hujan salju belum juga reda. Mereka telah memacu kuda bersama selama dua hari. Pemandangan Kang Lam di bawah hujan salju lebih menarik dan lebih mempesonakan, seperti seorang gadis cantik yang memakai baju putih. Hingga sangat mempesonakan hati Lauw Nen.

Tetapi setelah mereka berdua sampai di rumah Go Toa Hiap, dan Lauw Nen telah menemui Go So Lan, ia tidak merasa terpesona lagi, tapi bagaikan berdiam di dunia lain. Lauw Nen ingat dengan jelas sekali pada siang hari itu, salju agak reda. Mereka sampai di Go ka cung dan berhenti di depan pintu yang bercat merah. Di kedua sisi pintu merah bukan terpasang dua buah singa batu, melainkan dua buah guci yang lebih tinggi dari manusia, berkilau-kilauan.

Dipandang dalam hujan salju, guci itu menyala dan menyilaukan. Itulah rumah Kang LamToa Hiap Kim Teng Ceng Thiam Lam... Go Thian Kheng.

Lauw Nen tahu mengapa ayahnya datang kemari dari tempat yang beribu li jauhnya, karena Go Toa Hiap mempunyai seorang anak gadis. Barang siapa pernah melihat anak gadis Go Toa Hiap, tidak ada satu orang yang tidak memuji kecantikannya. Lauw Thian Hauw mengharapkan anaknya dapat berkenalan dengan anak gadis Go Thian Kheng, itu diketahui Lauw Nen. Tetapi hati Lauw Nen agak kurang senang. Di daerah utara, entah ada berapa banyak gadis cantik yang menantinya, kenapa harus datang dari begitu jauh untuk menengok anak gadis Go Toa Hiap itu?

Sesampai mereka di pintu merah, tiba-tiba pintu telah terbuka. Berbareng dengan suara tertawa "Ha ha" yang besar, keluar seorang yang melangkah lebar dari dalam. Buru-buru Lauw Thian Hauw dan anaknya turun dari kuda, tetapi ketika Lauw Nen melihat orang yang keluar itu, hatinya merasa geli. Orangnya pendek, gemuk bulat, melihat wajahnya saja sudah lucu. Lauw Nen melihat ayahnya begitu hangat pada orang itu dan memanggilnya sebagai saudara, tahulah Lauw Nen bahwa orang itu ialah Go Thian Kheng Toa Hiap.

Yang dipikirkan Lauw Nen kini, bukanlah nama Go Toa Hiap yang kesohor yang bertubuh pendek, melainkan memikirkan bagaimana orang sejelek itu dapat mempunyai seorang anak gadis yang cantik?"

Tetapi ketika ia berpikir begitu, tiba-tiba ia tertegun. Dalam sekejap saja, ia telah melupakan sopan santun, telah lupa segala-galanya. Apa yang dilihatnya hanyalah seorang gadis di hadapan mukanya! Anak gadis itu berdiri di belakang Go Thian Kheng, tubuhnya tidak begitu tinggi, tapi tidak juga pendek. Ia berdiri dengan tenang, berbaju putih yang dihiasi kancing hijau, rambutnya hitam legam, digulungnya menjadi dua buah konde hingga membuat pipinya yang kemerah-merahan itu lebih mempesonakan lagi. Matanya menunduk, bulu matanya menutupi sepasang matanya, dadanya turun naik dengan pelan-pelan, menunjukkan ia sangat tidak biasa menghadapi orang asing.

Kini barulah Lauw Nen bersujut memberi hormat pada Go Toa Hiap.

Go Toa Hiap melambaikan tangannya ke belakang pada anak gadisnya sambil berkata dengan sangat bangga : "Inilah anakkku So Lan. Berilah hormat pada Lauw Toa Hiap!"

Go So Lan maju dengan langkah lembut, dirasakan Lauw Nen bahwa Go So Lan bukan sedang berjalan, tanah salju pun bukan tanah salju. Tanah salju ialah awan, sedangkan Go So Lan ialah bidadari melayang-layang dari awan. Ketika mereka berdua saling memberi hormat, pertama kali Lauw Nen membentur pandangan mata yang amat sukar dimengerti.

Sesaat itu ia membulatkan tekadnya. Seumur hidup ini, kecuali So Lan, ia tidak mau kawin dengan gadis lain! Go So Lan hanya berdiri menunduk. Beberapa kali ia mengangkat kepalanya tapi ia terpaksa menunduk kembali karena terbentur dengan pandangan mata yang sangat hangat laksana bara, bahkan ia belum tahu bagaimana raut muka anak Lauw Toa Hiap ini. Tapi ia tidak peduli. Ia pun tidak tahu maksud kedatangan anak Lauw Toa Hiap ini, ia tidak ambil pusing dengan raut muka anak she Lauw itu karena hatinya telah memiliki seseorang.

Hati Lauw Nen berdetak. Ia bertanya pada dirinya : Siapa orang itu? Dari pintu sampai ke ruangan besar, Go So Lan terus mengikuti ayahnya. Go Toa Hiap tertawa terkekeh-kekeh

: "So Lan, mana toako-mu ? Mengapa tidak main-main dengan Lauw Kong cu? Sepasang pedang Lauw Kong cu telah mencapai kesempurnaannya, kenapa tidak minta petunjuk darinya?"

Baru perkataan Go Toa Hiap itu habis, seorang pemuda yang beralis tebal dan penuh semangat telah berjalan keluar. Tubuhnya agak pendek, lebih pendek daripada adiknya setengah kepala. Ia melangkah sambil tersenyum simbul : "Bagaimana, masa menghendaki kami baru bertemu lantas berantam?"

Semua orang di ruang besar itu pada tertawa, Go Eng Kiat pun tertawa.

Lauw Thian Hauw mengulurkan tangan menepuk-nepuk Go Eng Kiat : "Nak, kabarnya kau memiliki palu yang lihai sekali. Kenapa tidak dipertunjukkan pada kami, supaya kamu dapat meluaskan pandangan kami?"

"Lauw popo (paman) jangan bergurau. Kepandaian saya ini, mana bisa dipertontonkan di depan orang? Membuat malu saja, bahkan aku tidak dapat mengalahkan adik saya yang mempunyai Mei Hua (Golok kembang Mei) yang lihai," kata Go Eng Kiat.

"Toa ko," teriak So Lan, inilah ucapan Go So Lan. Begitu Go So Lan membuka suaranya, Lauw Nen lebih membulatkan tekadnya lagi. "Eng Kiat, kenapa kau tidak minta petunjuk dari Lauw Kong cu beberapa jurus?" kata Go Thian Kheng.

Baginya merasa tegang, buru-buru ia berkata pada dirinya sendiri : "Aku harus menang dari Eng Kiat, orang cantik suka pada jagoan. Kalau ilmunya tidak meyakinkan, bagaimana dapat pandangan Go So Lan?" Justru karena Lauw Nen telah mempunyai tekad begitu, maka ketika ia dan Eng Kiat memegang senjata, wajah Go Eng Kiat masih berseri-seri dengan palunya yang bersegi delapan; lagaknya lenggang, sedangkan Lauw Nen telah menghunuskan sepasang pedang dengan memusatkan seluruh perhatiannya. Pedang kirinya berdiri di dada melindungi tubuhnya, ujung pedang kanan agak menurus ke tanah.

"Lauw toa ko, silahkan!" teriak Eng Kiat.

Lauw Nen pun tidak sungkan-sungkan, ia melangkah maju mengibaskan pedang kananya, pedang kirinya diayunkan ke atas. Sangat sulit memainkan sepasang pedang, karena sepasang pedang harus saling jaga menjagai satu sama lain, dalam setiap jurus, kedua pedang itu ada yang menyerang dan ada yang menahan, jurus-jurusnya sangat ruwet. Ilmu pedang 24 jurus Lauw Nen itu adlah hasil gemilang Lauw Thian Hauw, semenjak umurnya 4 tahun,ia telah mulai berlatih, kini ia mempunyai kepandaian selama 14 tahun.

Jurus 'angin melintang hujan miring' itu sangat hebat!

Go Eng Kiat terperanjat melihat Lauw Nen telah menyerang bagian-bagian yang sangat penting dari tubuhnya dalam jurus pertama. Buru-buru menurunkan palunya ke bawah, terdengar suara "cring! cring!" dua kali. Sepasang pedang Lauw Nen telah membentur palunya. Go Eng Kiat mengira bahwa dirinya telah menangkis sepasang pedang Lauw Nen, tentu Lauw Nen akan menarik pedangnya dan menyerang kembali. Tetapi tak disangka, tubuh Lauw Nen malah maju setengah tindak, tidak menarik pedangnya. Dengan tenanga melangkah maju itu, punggung pedangnya terus menusuk, ujung pedangnya telah menyerang pergelangan tangan Eng Kiat. Bersamaanitu pedang kanannya membuat lingkaran membabat leher Eng Kiat, serangan sepasang pedang Lauw Nen dalam jurusan ini boleh dikatakan sangat pedas!

Hati Eng Kiat berdetak, pikirnya, permainan apa ini? Kini hanya main-main, ataukah betul-betul mengadu jiwa? Tiba- tiba tubuhnya menyusut, tadinya tubuhnya memang pendek, ditambah dengan susutan itu lagi, hingga menjadi segumpal daging seperti bola, dengan daya susutan ia menggelinding ke belakang. Babatan Lauw Nen menjadi kosong. Go Thian Kheng bersorak : "Ilmu pedang yang baik sekali!"

DAn Lauw Thian Hauw mengerutkan alisnya.

Kedua jurus Lauw Nen itu memang pedang. Lauw Thian Hauw tidak mungkin tidak dapat melihatnya tetapi ia tidak bersuara.

Go Eng Kiat bergelinding lalu berdiri, katanya : "Ilmu pedang Lauw Toa ko memang bukan main, setiap jurus membahayakan. Sungguh hebat sekali!"

Go Eng Kiat sengaja menekan "Setiap jurus membahayakan", kerena ia telah muak dengan tingkah laku Lauw Nen pada saat itu. Lauw Nen hanya ingin menunjukkan kepandaiannya di depan Go So Lan, maka ia tidak mempedulikan ucapan Eng Kiat. Katanya dengan suara yang berat : "Silahkan!" Seakan ia telah berada di atas angin, kemudian, sepasang pedangnya beradu terdengar suara "cring!" lalu, pedangnya berpisah. Yang satu ke kanan, yang satu ke kiri, terus menyerang bola mata Go Eng Kiat! Go Eng Kiat memperingatkan lawannya dengan ucapannya, tapi lawannya tidak sadar, hatinya merasa marah berbareng geli. Karena begitu beradu, Go Eng Kiat elah tahu bahwa jurusan pedang Lauw Nen memang hebat, tapi tenaga dalamnya masih ketinggalan jauh dibandingkan dengan dirinya, mau menaklukinya, itu adalah suatu hal yang sangat gampang sekali. "Cring! Cring!" sepasang pedang Lauw Nen telah mengenai palunya. Inilah untuk kedua kalinya ada kejadian begitu, tapi kali ini dengan tadi sangat berbeda. Ketika Lauw Nen menyerang dengan sepasang pedangnya, ia merasakan di atas palu Go Eng Kiat terdapat tenaga mental yang sangat dahsyat hingga sepasang pedang Lauw Nen terpental ke atas. Lauw Nen hanya merasakan sepasang lengannya kejang, tubuhnya terhuyung, kini dadanya terbuka lebar. Kalau Go Eng Kiat mau menyerang, itu adalah suatu hal y ang sangat gampang sekali!

Dalam keadaan begitu, hati Lauw Nen sangat terperanjat. Tapi Go Eng Kiat hanya mendorong palunya sedikit ke depan, tidak menyerang pada Lauw Nen. Melihat keadaan itu pun Lauw Nen tahu bahwa Go Eng Kiat tidak menurunkan tangan yang keras. Hingga membuat dirinya merasa malu bercampur benci. Pada waktu itu ia tidak banyak pikir, ditariknya kedua pedang itu dan membabat ke bawah. Itulah suatu jurus yang mematikan dari ke 24 jurus ilmu pedangnya! Lauw Thian Hauw melihat Lauw Nen tiba-tiba menggunakan jurus itu, ia tahu kalau jurus tsb dimainkan secara matang sekali, Go Eng Kiat mampus. Maka Lauw Thian Hauw berteriak gemuruh, seakan halilintar menyambar di langit, hingga tangan Lauw Nen sekonyong-konyong tergetar.

Teriakan yang menggelegar membuat suatu kesempatan hidup bagi Eng Kiat, tiba-tiba ia menggelinding beberapa tindak. Tetapi babatan Lauw Nen itu tetap melalui pinggang dan bahunya hingga menggoreskan suatu luka yang meneteskan darah segar!

Walaupun Go Eng Kiat tidak terluka tetapi ketika ia menggelinding, ia tetap dapat berdiri tegak. Wajahnya pun menjadi marah, tapi ia masih memandang Lauw Thian Hauw, maka tidak dilampiaskan marahnya. Hanya berkata dengan nada dingin : "Ilmu pedang Lauw heng memang hebat, hingga saya kagum sekali." Nada Go Eng Kiat dingin sekali, di dalamnya mengandung nada ejekan, siapa pun dapat merasakanna. Andaikata Lauw Nen mau minta maaf pada waktu itu, hal itu dapat ditutupi dengan alasan salah lupa pukul. Tapi tidak begitu halnya, justru ingin berlagak jago di hadapan Go So Lan, dan ia telah lupa bahwa ia tadi telah menggunakan suatu cara yang sangat keji melukai toako-nya Go So Lan. Malah ia masih berkata dengan bangga : "Tidak berani. Go heng cuma mengalah saja," bahkan ia menganggap dirinya sebagai pemenang.

Mendengar ucapan Lauw Nen itu, Go Eng Kiat jadi naik darah. Ia berteriak ingin maju lagi, tapi pada waktu itulah, tubuh Go Thian Kheng bergoyang dan telah berdiri dari tempat duduknya, menghadang di tengah-tengah mereka berdua, bentaknya : Eng Kiat, kau sudah kalah, kenapa mau diteruskan lagi?"

Di pihak lain, Lauw Thian Hauw pun telah berdiri sambil berkata : " Nen jie, kau masih tidak mau buru-buru minta maaf, semua orang tahu kau bukan lawannya."

Lauw Nen berdiri mematung, dalam hatinya ia merasa dongkol sekali pada ayahnya. Tentu saja ia tidak mau minta maaf, ia hanya melirik. Tetapi yang sangat mengecewakannya adalah entah sedari kapan Go So Lan telah meninggalkan ruang besar, entah kemana perginya. Hati Lauw Nen seolah merasakan kehilangan sesuatu, dongkol sekali, bahkan ia tidak mendengar apa yang telah diucapkan oleh ayahnya! Walaupun Go Thian Kheng masih tetap bersikap ramah, tapi Lauw Thian Hauw merasa malu karena anaknya telah berbuat sesuatu hal yang sangat keji, maka buru-buru ia minta permisi. Kedua ayah anak itu memacu kuda mereka lagi di hujan salju meninggalkan rumah To Toa Hiap, kunjungan sekali ini boleh dikatakan sedikitpun tidak berhasil.

Setelah berjalan tujuh delapan li, Lauw Thian Hauw baru membentakanaknya : "Binatang.Ilmu-mu tidak sepandai orang, ngakulah kalah dengan terus terang. Sekarang sudah sampai macam ini, siapa lagi yang akan memandang kau?" Biarpun Lauw Nen lagi menunggang kuda, hatinya masih tertinggal di rumah Go So Lan. Kembang salju yang berterbangan di hadapannya, bagaikan setiap buahnya mengandung wajah Go So Lan, sedangkan dia tidak dapat meninggalkan rumah Go, maka hatinya merasa jengkel sekali. Tadinya memang dia telah sangat membenci Go Eng Kiat, ingin rasanya ia marah pada Go Eng Kiat, ditambah lagi dengan ucapan ayahnya, hingga hatinya merasa panas. Ia tidak perduli lagi apakah ia sedang menghadapi orang tuanya sendiri. Teriaknya : "Hm, bocah cilik Go Eng Kiat itu, apa pul hebatnya. Suatu hari akan ku buat mampus dia!"

Lauw Thian Hauw terkejut mendengar ucapan anaknya. Ia menghentikan kudanya dan memandang pada Lauw Nen.

Karena ia berdiri tidak bergerak, cepat sekali topinya telah dipenuhi dengan kembang salju. Ia memandang Lauw Nen, seakan sedang memandang seorang asing, bukan memandang anaknya.

"Kau, apa yang kau katakan tadi?" sesaat kemudian baru iaberkata. Saat ini Lauw Nen telah lesu begitu mendengar ucapan ayahnya tidak mengandung nada marah, maka ia berkata lagi : "Aku mesti membuat bocah cilik Go Eng Kiat itu mampus!" berhenti sejenak lalu tambahnya lagi,"Lagi pula, aku akan memperistri Go... ucapan selanjutnya belum habis, Lauw Thian Hauw telah berteriak, mengacungkan pecut kudanya memecut kepala Lauw Nen.

Pecutan Lauw Thian Hauw itu bukan main cepatnya.

Jangankan Lauw Nen tidak bersiaga sebelumnya, andaikata bersiaga ia pun takkan dapat mengelak dari pecutan ayahnya. Buru-buru ia memiringkan kepalanya, terdengar suara "plaak", pecut itu persis mengenai bahu kanannya, hingga ia berteriak kesakitan lalu jatuh dari kudanya tergeletak di atas salju.

Bagian yang terkena pecut menjadi pedas, seakan lengan kanannya copot dibabat golok. Sedangka pecutan Lauw Thian Hauw itu, tenaganya tidak habis setelah memecut Lauw Nen, terus menghantam pantat kuda, hingga membuat kuda itu pun kesakitan, meloncat- loncat berlari ke depan.

Lauw Nen berguling-guling di atas salju, terdengar suara bentakan ayahnya : "Binatang yang tidak berguna, bersujudlah untuk mengakui kesalahanmu!"

Lauw Nen memegang lengan kanannya dan menggigit giginya, tidak bersuara.

"Baiklah, kapan kau mau bersujud di depan aku untuk mengakui kesalahanmu, datanglah padaku! Kalau tidak, kau bukan lagi anakku!"

Lauw Thian Hauw mengakhiri kata-katanya dengan memecut kudanya, dan memacu ke depan. Sampai kuda Lauw Thian Hauw tidak terlihat lagi, baru Lauw Nen meronta-ronta bediri dari tanah. Lengan kanannya masih terasa sakit sekali. Ia menggigit bibirnya berjalan kaki. Setelah berjalan setengah li, barulah terlihat sebuah pondok kecil. Ia masuk ke dalam pondok dan duduk menghela napas. Dibuka bajunya, dilihat bahunya membengkak dan merah, sakitnya bukan kepalang. Ia mencomot segenggam salju, diletakkan di tempat luka, baru ia merasa agak enakan. Berturu-turut menukar tiga kali salju, Lauw Nen baru menutup kembali bajunya. Kebencian pada Go Eng Kiat dan kerinduannya pda Go So Lan lama-lama kian mendalam. Ia pun tidak ingin pulang ke rumah, tentu saja ia lebih -lebih tidak mau mengaku salah. Ia duduk di dalam pondok itu lama sekali, memikirkan di antara kawan- kawannya. Siapa yang kira-kira dapat membantu melampiaskan kemarahannya. Pada saat itu, ia melihat ada dua orang datang dari kejauhan. Kedatangan kedua orang itu sangat aneh, seakan keduanya bukan melangkah maju tapi meluncur ke depan. Maka ketika mereka meluncur, tumpukan salju di bawah kaki mereka bermuncratan ke sebelah-sebelah, indah sekali. Kecepatan mereka tinggi sekali. Tak lama kemudian sampailah mereka di pondok itu. Melihat keadaan mereka, tampaknya mereka mau melewati pondok terus melanjutkan perjalanan mereka. Tetapi ketika lewat di depan pondok, salah satu di antara orang itu menoleh ke belakang. Begitu melihat Lauw Nen, ia terpekik dan menyenggol temannya dengan bahu, lalu kedua-duanya berhenti.

Kecepatan mereka berdua itu tinggi sekali, Lauw Nen tidak dapat melihat mereka dengan jelas. Hingga mereka berhenti, Lauw Nen baru dapat melihat dengan jelas. Kedua orang itu, yang satu sudah tua yang satu masih muda. Yang tua kira-kira berumur 60-an, pendek tegap, berjubah hitam, wajahnya cerah memancarakan kecerdikan. Sedangkan yang muda, baru 30-an, tubuhnya tinggi semampai, berjubah hijau, tangannya memegang sebuah kipas. Ketika berhenti ia membentangkan kipas, yang tergambar di atas kipas itu adalah seorang wanita cantik, sangat mempesonakan.

Lauw Nen memandang pada mereka. Ia tidak kenal, tetapi orang tua itu memandang lagi pada Lauw Nen, lalu berkata pada Lauw Nen dengan tersenyum : "Bukan Lauw kong cu ini? Kenapa sendirian disini?"

Walaupun Lauw Nen tidak kenal pada mereka, tapi melihat wajah mereka tersenyum dan lagi orang tua itu menyebut dirinya "Lauw kong cu" sikapnya sangat hormat hingga membuat Lauw Nen merasa tubuhnya melayang-layang, maka ia berdiri sambil berkata : "Saya Lauw Nen, ji wi (kamu berdua) adalah..."

"Saya Sun Ang, lo te ini adalah Yo Bun Cing..." orang tua berkata sambil tertawa.

Ketika orang tua itu menyebutkan nama mereka, Lauw Nen rasanya sangat kenal akan nama itu, tapi ia tidak bisa lantas teringat. Sambung orang tua itu lagi : "Kami berdua, ada juga sedikit nama, di kalangan Bu lim kami disebut Cung San Siang Kiat (dewi tunggal gunung Cung)." Bersamaan pada waktu itu, dalam hati Lauw Nen pun telah teringat akan 'Cung San Siang Kiat', telinganya mendengar sebutan itu lagi, hingga membuat tubuhnya terloncat, teriaknya terlanjur : "Cung San Siang Kiat!"

"Nama kami kecil sekali, mungkin Lauw Toa kong cu tidak kenal," kata Yo Bun Cing sambil tertawa.

Kini Lauw Nen pun telah melupakan kedudukannya sebagai 'Toa kong cu', buru-buru ia menyahut : "Tahu, aku tahu, di dunia kang ouw siapa yan tidak tahu nama besar kamu berdua?"

Ia sambil berkata sambil memikirkan untuk kabur, tapi ia juga merasa malu. Kalau mau kabur, yang lebih memalukan lagi ialah belum tentu ia dapat kabur! Cung San Siang Kiat, yang tua jago senjata rahasia, yang muda jago benda berbisa. Di atas tubuh mereka, yang tua sangat penuh dengan senjata rahasia. Sedangkan yang muda, entah berapa banyak binatang yang sangat berbisa dipeliharanya, diletakkan di dalam sebuah kantong kulit spesial, lebih hebar daripada senjata rahasia. Setelah mereka berdua menggunakan senjata rahasia dan benda berbisa mengalahkan Cok Len Cit Sian (7 dewa bukit Cok), nama mereka menjadi tenar. Orang-orang Bulim kalau melihat mereka pasti merasa jeri. Itu disebabkan karena ilmu mereka sangat berbeda dengan yang lain-lainnya, sangat sulit menghadapinya. Setiap tahun membuat kerusuhan, maka nama mereka kian lama kian tenar.

Mendadak Lauw Nen bertemu dengan mereka, tentu saja hanya menjadi kecut. Pada waktu ia ingin kabur dan tidak jadi, Cung San Siang Kiat telah memasuki pondok itu.

Lauw Nen lebih takut lagi, entah apa yang terkandung dalam hati mereka. Dilihatnya Sun Ang yang masuk duluan, memandangnya dengan terkekeh-kekeh. Hati Lauw Nen dibuatnya bergidik, maka ia terpaksa menyapa dengan iseng, karena tidak ada yang mau dikatakannya : "Saya rasa belum pernah melihat Ji wi, engah bagaimana Ji wi bisa kenal pada saya?"

"Lauw toa kong cu muda perkasa, banyak kepandaian, orang-orang Bu lim siapa yang tidak kenal?" kata Sun Ang.

Julukan yang tinggi itu membuat hati Lauw Nen merasa sangat sejuk. Pikirnya : Tampaknya mereka berdua itu tidak berniat jahat, tapi dengan kabar dari orang-orang Bu lim, kedua-duanya terkenal karena kegalakan mereka. Harus hati- hati, ia berpikir sambil memegang gagang pedangnya dengan sepasang tangannya.

"Lauw Toa kong cu jangan kuatir, kami berdua tidak berniat jahat. Kalau tidak, taruhlah kau ingin mencabut pedangmu, itupun sudah terlambat," kata Yo Bun Cing sambil tertawa.

Lauw Nen merasa malu, karena tindakannya diketahui lawan. Ia masih muda, mau muka, mau berlagak lagi, tapi dalam pandangan orang kang ouw yang telah berpengalaman, sekali lihat saja sudah tahu bahwa dia adalah seekor anak kambing lemah. Ucapan Yo Bun Cing sangat memalukannya. Sun Ang datang menghibur : "Ji te, sepasang pedang Lauw toa kong cu itu bukan main. Andaikata dia benar-benar mau turun tangan, jangan-jangan kita tidak dapat menahannya!" kata Sun Ang sambil tertawa.

"Mana, mana, sahbat Sun bisa saja!" kata Lauw Nen sambil menghela napas. Akhirnya ia dapat menutupi rasa malunya, tapi punggungnya telah mengucurkan keringat dingin.

"Kalau Lauw toa kong cu tidak ada urusan apa-apa, mari kita sama-sama pergi ke kota Kouw So melancong," kata Sun Ang.

"Tidak, jangan," buru-buru Lauw Nen mengoyang- goyangkan tangannya. "Apakah Lauw toa kong cu tidak sudi berkawan dengan kami? Mungkin takut kami minta pertolongan?" kata Sun Ang.

"Tentu saja bukan," kata Lauw Nen. Ia merasa kurang enak mendengar ucapan Sun Ang tadi. Bersama denganitu, dlaam hatinya berpikir, tampaknya sikap kedua orang itu sangat baik, tidak menakutkan seperti apa yang tersiar dalam kalangan kang ouw. Rupanya cerita-cerita itu tidak patut dipercaya.

"kalau Lauw toa kong cu bukan tidak sudi berkawan dengan kami, tentulah setuju bukan?" kata Sun Ang.

Lauw Nen merasa tidak enak untuk menolak lagi, katanya dengan terpaksa : "Baiklah."

Mereka bertiga keluar dari pondok, dan melangkah maju, tak lama kemudian mereka telah melewati hutan kecil.

Terdengar suara tertawa yang mengalun dari dalam hutan, beberapa gadis sedang saling uber menguber bersenda gurau.

"Gadis cantik-cantik, entah anak siapa?" kata Sun Ang dan Yo Bun Cing berbarengan.

Lauw Nen bersama mereka, hanya mendengar mereka berbicara tentang hal-hal Bu lim. Ia merasa malu sekali, karena tidak dapat ikut campur. Sampai saat ini, ia baru merasakan boleh turut bersuara, tanpa pikir lagi ia berkata : "Gadis-gadis itu belum apa-apa, kalau mau yang cantik, anak gadis Go Toa Hiap baru boleh dikatakan cantik!" ucapannya itu mengandung nada bahwa dalam soal itu ia lebih tahu daripada mereka.

"Ya, kecantikan Go kouw nio memang ternama. Lauw toa kong cu, dengan kepandaianmu ini, hanyalah orang yang seperti Go Kouw nio itu yang baru cocok denganmu!" kata Yo Bun Cing sambil mengangguk.

Ucapan itu tepat sekali mengenai hati Lauw Nen, tetapi memikirkan kejadian di rumah Go Toa Hiap, tak tertaha lagi ia menghela napas dan geleng-geleng kepala hingga ia sulit untuk berkata lagi!"

Sun Ang dan Yo Bun Cing berdua, melihat Lauw Nen tertunduk tidak berbicar, mereka saling pandang dan membuat lirikan.

"Toa kong cu mengapa tidak bicara, apakah Go kouw nio masih cocok?" kata Yo Bun Cing.

"Tentu saja bukan, ai, lebih baik jangan dikatakan," Lauw Nen menghela napas.

"Kita baru berkenalan, rupanya sangat akur, kalau Toa kong cu ada apa-apa, coba ceritakan, jangan-jangan kami bisa bantu sedikit?" Lauw Nen mengandalkan ketenaran nama ayahnya, sering membuat kerusuhan, tapi kedudukannya lain. Ia tahu Cung San Siang Kiat itu tidak boleh diganggu.

Andaikata terlalu dekat dengan mereka, tentu saja akan mendapat kecelakaan. Tetapi kini, setiap perkataan Cung San Siang Kiat selalu saja mengenai hatinya, hingga membuat dia tidak dapat tidak ngobrol dengan mereka.

***

Pada waktu itu ia menghela napas lagi : "Saya takut tidak bisa lagi, saya... saya sudah melukai abang Go kouw nio."

"Ah itukan tidak ada halangannya, anak gadis harus kawin.

Kau melukai abangnya, itu lebih menunjukkan bahwa kau adalah pemuda yang gagah perkasa. Siapa tahu kalau hatinya diam-diam telah menyukai kau, kenapa kamu mesti bermuram durja?" kata Cung San Siang Kiat.

Siapa pun yang dapat pujian begitu, walaupun tahu bahwa hal itu tidaklah mungkin, tapi masih senang menerimanya.

Apalagi Lauw Nen masih berdarah muda, gengsinya terlalu tinggi. Begitu mendengar ucapan Cung San Siang Kiat segera hatinya berpikir : "Ya betul, mungkin dia sudah jatuh hati padaku, maka dia malu-malu kucing berlalu dari tempat itu? KEnapa musti bermuram durja? Hm, kalau dapat membawa Go So Lan pulang ke rumah menengok ayah, mau tahu apa yang akan dikatakan ayah lagi. Tentu saja ayah takkan memaksa dia mengaku salah. Perhitungan Lauw Nen itu begitu elok, hingga makin dipikir makin beralasan rasanya, buru-buru ia menjura pada Cung San Siang Kiat : "Terima kasih atas peringatan kamu berdua, hingga pandangan saya terbuka!" Lauw Nen berkata sambil menggerakkan tubuhnya melayang ke depan. Ketika ia melonjak, terdengar suara "ser, ser" dua kali,dua buah bayangan lewat dari sampingnya dan berhenti di hadapannya. Mereka itu ialah Cung San Siang Kiat. Kata mereka :" Lauw toa koncu, sekarang kau mau kemana?"

"Tentu saja ke rumah Guci Emas Go toa hiap untuk menengok nona Go," kata Lauw Nen.

"Kau pergi begitu saja?" tanya Sun Ang sambil tertawa.

Tadinya Lauw Nen memang belum mengerti, mendengar pertanyaan Sun Ang, ia menjadi terpaku : "Mau apa lagi?"

"Bukankah kau tadi baru bilang, bahwa kau telah melukai abangnya nona Go? Kalau kau telah jadi suami istri dengan nona Go, abangnya adalah misanmu. Kau telah melukainya, masa kau tidak mau minta maaf? Maka kau harus menyediakan beberapa barang yang dibawa oleh kedua pengiringmu, untuk minta maaf padanya."

"Menyuruh saya minta maaf, saya tidak mau!" Lauw Nen mengerutkan alisnya.

"Toa kong cu, kalau tidak merendahkan diri, bagaimana kau dapat memperistri seorang cantik jelita? Seorang ksatria harus dapat bersabar, biarpun diketahui orang kang ouw, itupun akan menjadi cerita indah. Sekali-sekali tidak ada orang yang akan mentertawakan kau, kalau tidak begitu, belum sampai di pintu, kau akan diusir orang!" "Ini... ini... saya keluar bersama ayah saya, saya tidak membawa uang..." Lauw Nen menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.

"Itu tidak seberapa, kami ada. Toa kong cu boleh pakai dulu," kata Yo Bun Cing.

"Terima kasih, kemudian hari pasti saya kembalikan. Sudah ada uang, tapi masih kurang dua orang pengiring," kata Lauw Nen dengan penuh rasa terima kasih.

Cung San Siang Kiat saling pandang sejenak, lalu Sun Ang berkata acuh tak acuh : "Kalau Toa kong cu sudi, biarlah kami berdua yang menjadi pengiringmu."