-->

Bayangan Darah Jilid 01

Jilid 01

Ketika itu dua pelayan sedang membersihkan pekarangan, mereka keluar dari ruang tengah dan mendongak, terlihatlah oleh mereka di atas tembok itu sebuah bayangan yang seakan-akan mau menerkam mereka, keduanja jadi terperanjat dan menjerit. Jeritan mereka memecah di keheningan fadjar, sehingga terdengarlah suara dari sudut tembok: "Ada apa... ada apa?"

Kedua pelayan itu tidak menoleh, mata mereka masih tetap memandangi bayangan darah itu seakan mempunyai suatu daya tarik yang sangat aneh dan gaib sekali, membuat orang mau tidak mau harus memandang padanya. Mereka

melambai-lambaikan tangan ke belakang seraya berseru "Then Kwan Ka (Pengurus rumah she Then) lihatlah, lihat. Itu aneh sekali." 

Setelah suara seruan pelayan itu reda terdengarlah langkah sepatu yang berdetak-detak di atas tanah, dimana seorang setengah umur keluar dari sudut tembok itu dan kedua tangannya ditaruh di belakang tubuhnya. Lelaki itu berpakaian hitam, mukanya agak merah, matanya bersinar bersemangat, langkah tegap, gayanya hebat sekali, sekali pandang saja sudah tahu orang itu memiliki Lwee-kang dan Gwa-kang yang sangat tinggi. Ia sembari melangkah seraya berkata dengan suara tidak senang, "Ada apa sebanarnya?"

Ia baru berkata sampai disitu, tiba-tiba suaranya terhenti karena melihat bayangan darah di atas tembok itu. Ia hanya berhenti sejenak dan dengan tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan melayang dari atas kepala kedua pelayan itu, angin kencang yang timbul dari layangan tubuhnya membuat kedua pelayan itu terhuyung-huyung, hampir saja terjatuh. Ketika kedua pelayan itu dapat berdiri seperti biasa kembali, Then Kwan Ka telah tiba di muka tembok, tampaknya ia mengulurkan tangan mau meraba bayangan darah di tembok itu, tapi ketika tanganya masih berjarak setengah kaki dari tembok itu tiba-tiba menarik kembali tangannya seakan-akan bayangan darah itu penuh dengan duri-duri yang lancip.

Matahari pagi mulai timbul, kedua pelayan itu dapat melihat dengan jelas muka Then Kwan Ka, walaupun disinari oleh matahari pagi yang bersinar merah, tapi tetap lebih putih daripada kertas. Kedua pelayan tahu peristiwa itu agak luar biasa. Then Kwan Ka berjuluk 'macam tutul merah', justru karena mukanya yang merah membara itu dia bukanlah orang yang belum pernah berkelana di pertengahan sungan Yangze, siapa yang tidak kenal namanya, tetapi sekarang ketika melihat bayangan darah itu, Macan tutul merah lantas berubah menjadi 'Macan tutul putih', bukankah bayangan darah itu sangat mengerikan hingga sampai ke tulang?"

Walaupun hari itu cerah sekali, kedua pelayan itu pun bergidik, mereka saling merapatkan tubuh mereka, lalu mundur tiga langkah, dan mereka saling pandang, kini mereka baru mengetahui muka mereka lebih pucat dan lebih putih daripada muka Then Kwan Ka. Mata Then Kwan Ka melotot menatapi bayangan darah itu, dia mundur tiga langkah, pada saat itu terdengar suara suitan yang nyaring dari belakangnya.

Cepat Then Kwan Ka membalikkan tubuhnya, tangannya kirinya menjaga dada, tangan kanannya menunggu mau dipukulkannya keluar, dari sudut lorong terbanglah tiga ekor burung elang pemburu menyongsong matahari dan berputar- putar di udara, dan dari pintu sudut lorong itu meloncatlah seorang anak muda.

Umurnya sekitar 26 atau 27 tahun, pakaiannya bergemerlapan yang terbuat dari sutra sehingga tambah menonjolkan kegagahan dan ketampanan wajahnya, dalam tangannya tergenggam busur perak besar, di pinggangnya bergantungan anak panah, ia menghampiri Then Kwan Ka dengan gembira, katanya: "Kau mau ikut pergi berburu?" Then Kwan Ka melemparkan tubuhnya seraya berkata : "Ji kong cu (Tuan muda kedua), hari ini lebih baik jangan pergi."

Anak muda itu melayangkan sepasang alisnya sambil berkata : Apa? Eh, mukamu kok jelek benar?" Ia menegadah dan ia pun telah melihat bayangan darah di tembok itu, dipakainya busur itu untuk menunjuk-nunjuk bayangan darah dengan acuh tak acuh, katanya : "Ha, permainan apa ini?"

Then Kwan Ka berkata dengan perlahan : " Itulah Soo Beng Hiat In (Bayangan darah penagih nyawa)."

Sekonyong-konyong pemuda itu tertegun, tapi wajahnya yang congkak belum pernah lenyap. Tiba-tiba ia tertawa, katanya : "Then Kwan Ka (pengurus rumah she Then), menurut Thia-thia (Ayah), kau adalah orang yang berpengalaman di sekitar sungan Yangze, kalau membicarakan Kim Li Pang Cu (Kepala perkumpulan ikan Li emas), semua orang tahu kau adalah Ho-han (jagoan), walaupun Kim Li Pang cu dibinasakan oleh musuhmu, tapi kau menjadi pengurus rumah kami. Inikan lebih hebat dari menjadi seorang Pang Cu; dan kenapa kau sekaget itu?"

Sedikitpun Then Kwan Ka tidak merasakan ucapan anak itu bernada tidak hormat padanya. Memang betul, tadinya ia adalah Pang Cu, di bawahnya ada pengurus pusat dan 7 pengurus cabang, kira-kira ada seribu Bu Lim Ho han yang menerima perintahnya. Tapi walaupun nama 'macan tutul merah' Then Seng cukup nyaring di kolong jagat, ia pun tidak luput dari tekanan musuhnya kesana kemari menemui jalan buntu, hampir saja ia binasa di bawah tangan musuhnya. Tapi ketika ia masuk ke dalam rumah Sing Emas Lauw Thian Hauw, Lauw loya, meskipun musuhnya tahu ia bersembunyi di rumah Lauw, tapi mereka tidak berani membuat rusuh disitu, bukankah itu membuktikan bahwa seorang pengurus rumahLauw lebih hebat daripada seorang Pang Cu di kalangan kang ouw? Then Seng tersenyum pahit, dan masih berkata dengan perlahan : "Miem Ong Ling (perintah Giam Loo Ong), kalau tidak becur harus pinjam Soo Beng Hoat In."

Anak muda itu tertawa besar, katanya : "Itu hanya dibesar- besarkan orang-orang Bu Lim saja, apa pula Soo Beng Hiat In itu, dia sampai berani membuat rusuh di rumah Lauw?"

Then Kwan Ka menunjuk ke tembok, katanya : "Dia telah datang, di rumah ini dalam tempo tujuh hari pasti ada orang yang mati, orang itu pasti telah melakukan sesuatu kejahatan dan diketahui oleh Soo Beng Hiat In, maka ia menguber sampai kemari. Dahulu di puncak gunung Goo Bie, tiba-tiba muncullah bayangan darah itu, walaupun seluruh Goo Bie dijaga ketat sekali, tetapi Goo Bie Ciang Bun Jin (ketua) masih tetap mati di malam ketiga, rupanya dia pernah meninggalkan seorang perempuan kampung, sedangkan Go Tai San..." muka Then Kwan Ka kian bercerita kian putih, dan muka anak muda itu pun pelan menjadi putih.

Walaupun muka anak muda itu pucat, tapi di sudut bibirnya masih mencibirkan sebuah senyuman yang angkuh, ujarnya memotong ucapan Then Kwan Ka : "Aku thau Goo Bie, Go Tai, Sin Liong Pang, dan beberapa perguruan silat yang besar dan jago-jago silat yang pernah melakukan sesuatu kejahatan, nyawa mereka pernah dicabut Soo Beng Hiat In tetapi Soo Beng Hiat In telah dua puluh tahun lebih tidak muncul lagi di kalangan Bu Lim, taruhlah ia mau membuat kerusuhan mana pula dia berani menyentuh sebuah rambut rumah Lauw?"

Gumam Then Kwan Ka : "Tidak salah, ilmu Lwee ka khi kang (ilmu hawa dalam tubuh) Lauw loya telah mencapai setingkat dengan yang disebut jago nomor satu di kalangan dunia kang auw sekarang ini, sepasang pedang Toa Kong Cu (anak sulung), tenar di kolong jagat. Ji kong cu, kaupun gagah perkasa. Gin Kang (ilmu mengentengkan tubuh) Toa Sio Cio (nona besar), pernah menjagoi upacara pertandingan Min Kang di Hoa San tempo hari, apa lagi suaminya..." Anak muda itu berkata dengan tidak senang : "Jangan sebut-sebut orang She Tio, katakanlah orang she Lauw saja."

Then Seng mengangguk, katanya : "Ya, sudah... semua orang she Lauw di rumah ini, bahkan aku sebagai pengurus rumah yang tidak becus ini pun mempunyai sedikit nama, tetapi Soo Beng Hiat In..." Ia tertawa pahit, "kalau sudah muncul di tembok kita tentu dia akan mencari gara-gara dengan orang she Lauw..."

Teriak anak muda itu : "Jangan sembarangan bicara. Aku Lauw Jok Hong tidak takut dengan bayangan darah atau bukan, hayo cepat singkirkan, aku mau lihat apa kehendaknya!"

Ia menggoyangkan tangannya, dan terdengar suara... Cring..., pedangnya telah terhunus, tubuhnya melonjak ke depan, dilempengkannya ujung pedangnya ingin membabat bayangan darah di tembok itu. Tiba-tiba dari pinggir berbunyi... Ces..., terlihat sebuah Kim Lian Cu (biji kembang teratai) berkelap-kelip menyambar pedang itu, Cring... Kim Lian Cu itu telah membenetur ujung pedang, sekonyong- konyong membuat pedang itu tergetar dan mencelok ke atas. Sesaat Lauw Jok Hong berteriak dengan marah, terdengarlah suara ketawa, dan sebuah bayangan merah berkelebat, sesosok tubuh yang ayu telah tiba di hadapannya, rupanya bayangan ayu itu adalah seorang gadis cantik yang baru berusia 20 tahunan. Setelah gadis itu berdiri,ia bahkan tertawa terkikk-kikik hingga pinggangnya tak hentinya bergoyang- goyang, serunya : "Ji Ko (abang kedua), kau kagetnya sampai begini!"

Lauw Jok Hong menghunus pedangnya dan ditusukkannya ke dada gadis itu, laju pedang cepat dan keras lagi, hingga gadis itu menjerit ketakutan, buru-buru ia mundur.

Tetapi tusukan pedang Lauw Jok Hong itu cepat, tarikannya pun cepat, tusukan itu baru sekali, buru-buru ia tarik kembali, dari tusukan dan tarikan pedangnya itu, orang dapat melihat ilmunya cukup tinggi.

Lauw Jok Hong tersenyum : "moy Cu (adik perempuan), apakah kau tidak takut?"

Muka gadis itu pucat pias, kini baru agak tenang. Sesaat kemudian, ia baru mendehem membalik tubuhnya dan wajah yang kurang senang. Ketika ia membalikkan tubuhnya, terlihat bayangan darah di tembok itu dan ia tertegun sejenak, serunya : "Siapa yang mengotori tembok itu?"

Lauw Jok HOng berkata sambil tertawa dingin : "Dikotori? Ucapanmu itu enak sekali. Itulah Soo Beng Hiat In yang telah 20 tahun tidak muncul di kalangan Kang ouw lagi, pastilah kau yang telah melakukan sesuatu kejahatan di luar maka kau telah mengundang Soo Beng Hiat In kemari!"

Sewaktu Soo Beng Hiat In membuat dunia Kang ouw menjadi kalang kabut, mungkin saja gadis ini belum lahir, tetapi ketika anak gadis itu telah mengerti hal-hal di dunia ini, ia terus menerus mendengar cerita tentang Soo Beng Hiat In. Mukanya yang merah itu mulai pudar, ia tertegun sejenak, baru berkata dengan keras : "Bohong, bayangan darah itu datang untuk mencari kau, kau masih belum..." ucapan gadis itu belum habis, sebuah batukan melayang dari ruang tengah, buru-buru gadis itu menutup mulutnya, terdengar sebuah suara yang keras dari seseorang setengah umur : "Ribu apalagi kamu ini?"

Buru-buru Then Seng menghampiri berkata : "Toa Kong Cu, Soo Beng... Hiat In."

Suara langkah kaki orang setengah umur itu terhenti. Lauw Jok Hong dan adik perempuannya Lauw Hwi menoleh, dilihatnya Toa ko mereka. Sepasang pedang Lauw Nen sedang berdiri di atas anak tangga, matanya memandang tembok menatapi bayangan darah itu. Tiba-tiba ia menggoyangkan sepasang lengannya, terdengar cring! cring! dua kali, dua buah kilatan telah terbang ke udara, cepat sekali telah bergulung-gulung mengitari tubuhnya, hawa pedang itu tajam sekali, hingga membuat Then Seng yang berdiri di hadapan mukanya terhuyung-huyung mundur beberapa tindak ke belakang.

Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie melihat Toa ko mereka tiba-tiba menggunakan Jit Gwee Kiam Hoat (ilmu pedang matahari dan rembulan), yang jarang sekali diperlihatkan oleh Toa ko mereka. Sepasang pedang itu bagai pelangi,

kekuatannya itu mengagetkan orang, diam-diama mereka pun terperanjat.

Setelah Then Seng mundur, katanya segera : "Toa kong cu, bayangan darah itu baru muncul, menurut biasanya dia memberikan satu jangka waktu, untuk pelaku kejahatan itu berlutut di hadapan bayangan darah itu guna menerima hukumannya. Kau... cepat-cepatlah simpan pedang."

Ucapan Then Seng belum habis, terdengar lagi cring! cring! dua kali. Kilatan itu telah lenyap, Lauw Nen tidak menghunus pedang dalam tangannya, pedangn yang tergantung di pinggirnya itu, seakan belum pernah tersentuh. Hanya mukanya jadi pucat, bentaknya : "Siapa yang tidak tahu kita she Lauw adalah pendekar budiman, mana mungkin ada orang yang melakukan hal-hal yang memalukan?" Ia sembari membentak Then Seng, air peluhnya menetes dari keningnya tidak habis-habisnya, setelah habis biara, ia membalikkan tubuhnya dan melayang ke depan, lanjutnya cepat sekali, hanya sekejap saja sudah tampak lagi.

Lauw Jok Hong mendelik pada Lauw Hwie, belum sempat ia membuka mulut, sudah terdengar suara bentakan bagai halilintar menyambar telinga mereka. Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdiri dengan kepala tertunduk, pada saat itulah Lauw Nen telah mendampingi seorang tua berdiri di hadapan mereka. Tubuh orang tua itu tidak begitu tinggi, tapia tegap kekar sekali, rambut dan jenggot hitam, umurnya 60 lebih, sepasang matanya bercahay-cahaya bersemangat, sepasang tangannya besar sebesar kipas, putih kemerah-merahan, kukunya sepuluh-puluhnya panjang kira-kira satu senti bagaiman Pek Giok (Giok putih). Setelah ia berdiri, ia melangkah dua tindak lagi ke depan, setiap langkahnya itu, menimbulkan angin yang kencang, di sekelilingnya itu terdorong mundur beberapa tindak.

Orang tua itu terus melangkah ke depan tembok, ditatapnya bayangan darah itu, terdengar bajunya itu terus menerus berdesir-desir dan bergoyang-goyang tak henti- hentinya, bagai tertiup oleh angin puyuh, pandangan matanya yang bersinar itu, seakan-akan hendak menembusi tembok.

Orang-orang di sampingnya pada menahan napas. Sejurus kemudian baru terlihat orang tua itu menoleh dengan perlahan.

Lauw Nen, Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie bertiga, begitu melihat ayah mereka menoleh hati mereka tak tertahan lagi terus dak dik duk, mereka belum pernah melihat ayah mereka, seorang jago silat berilmu tinggi si Singa Emas Lauw Thian Hauw, sekaget itu. Tetapi sekarang, sekali-kali bukan pandangan mereka rabun, mereka sungguh-sungguh melihat wajah Lauw Thian Hauw kagetnya bukan kepalang.

Tampaknya Lauw Thian Hauw sedang berusaha menenangkan dirinya, tetapi jenggotnya yang panjang itu lagi gemetar, katanya dengan suara yang rendah : "Nen ji, mana Toa Moaymu?"

Kata Lauw Nen seraya menjura : "Thia, Toa Moay membawa anaknya telah pulang pagi tadi, dia sudah kembali kesini dua hari, tapi belum ketemua Thia Thia."

Muka Lauw Thian Hauw berubah, ia menegadah sambil berkata : "Then Kwan Ka, ambillah kuda dan suruhlah dia kembali lagi, cepat! Cepat!! Cepat!" Walaupun Then Seng telah mengucapkan "ya" berkali-kali, tetapi Lauw Thian Hauw terus mengatakan "cepat berkali-kali juga, dari mana dapat diketahui bahwa hatinya sangat gusar. Then Seng membalik, dan berlalu, buru-buru Lauw Hwie bertanya pada ayahnya : "Thia, bayangan darah ini..."

Lauw Thian Hauw membentak dengan keras : "Tutup mulutmu, jangan membicarakan tentang bayangan darah itu lagi..." Ia membalikkan badan dan tangannya telah menghantam tembok itu, dan tembok itu bergoyang mau roboh, pada saat itulah ia teringat kembali ketika ia masih muda, Soo Beng Hiat In pernah membuat rusuh di puncak gunung Go Bi.

Ketika itu Go Bi Ciang Bun Siauw Yang Siang Jin memiliki Khi kang yang lebih dalam daripadanya, tetapi akhirnya bagimana? Lauw Thian Hauw boleh dikatakan jago silat nomor satu di dunia Bu lim, tapi itu tidak termasuk Soo Beng Hiat In, kalau ada Soo Beng Hiat In, bagaimanapun juga, Lauw Thian Hauw tidak ada tempat!

Dengan terpaksa Lauw Thian Hauw menarik kembali pukulan tangannya, pada saat itu ketiga burung elang pemburu itu turun dari udara. Tiba-tiba pukulan tangan Lauw Thian Hauw itu membalik ke atas, pukulan tangan yang terbentu dari Khi kang yang asli itu, dengan suara menyobek udara menyerang ke atas, ketiga burung elang pemburu yang terbang setinggi lima tombak itu berkeok menyayatkan hati, lalu bulunya berantakan dan jatuh di atas tanah. Melirik pun Lauw Thian Hauw tidak, hanya berpikir dalam hatinya : "Bayangan darah itu datangan untuk mencari siapa?"

Ketiga burung elang pemburu terjatuh ke tanah dari udara, daging dan tulangnya telah remuk, bagaikan tiga tumpuk tahi kebo. Lauw Jok Hong melirik dengan pandangan yang sedih, itulah burung elang pemburunya yang telah terlatih! Tetapi ia tidak berani bersuara, karena ia telah tahu persoalan itu luar biasa... sangat luar biasa. Lauw Thian Hauw berbalik seraya berkata : "Bila nak Hung kembali, kamu berempat, datanglah ke rumah di tengah danau itu untuk menemukaku. Beritahu penjaga pintu, tidak peduli siapa pun yang datang, aku tidak terima. Ambillah kain untuk menutupi tembok itu, jangan sampai dilihat orang lain." Ia sambil berbicara sambil melangkah berlalu.

Lauw Nen dengan hormat mendampingi ayahnya masuk ke dalam, lalu ia berkata dengan suara yang rendah : "Ji te (adik kedua) kaukah yang telah melakukan kejahtan di luar?"

Lauw Jok Hong berkata sambil menengadah : "Lucu sekali, barang apa itu, tak lain hanyalah sebuah bayangan darah yang burem, buat apa kita sekaget itu?"

Lauw Nen mendehem dan menatap Lauw Jok Hong dengan pandangannya yang tajam, lalu melirik Lauw Hwie yang berdiri di samping, katanya : "Kamu jangan main-main, kalau Soo Beng Hiat In muncul, di rumah ini pasti ada jiwa yang melayang, kalau pelaku tidak berlutut di hadapan bayangan darah untuk menerima kembalinya tentu itu akan mencelakakan orang serumah, kalau ada yang berbuat mengakulah mumpung masih pagi!"

Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua-dua, walaupun merasakan hal itu adalah luar biasa, tapi mereka pun merasakan hal itu adalah suatu hal yang baru bagi mereka. Maka mereka juga tertarik, terus sampai Lauw Nen mengucapkan perkataan tadi, mereka baru terdiam, muka mereka berubah. Sehabis berkata begitu Lauw Nen buru-buru melangkah maju, dan berlalu. Sesaat kemudian datanglah pelayan membawa tangga dan kain hitam yang lebar, tak lama kemudian tertutuplah bayangan darah itu. Walaupun bayangan darah itu telah tertutup, tapi Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua, tetap saja berdiri mematung disana, dan mereka saling mengelakkan pandangan masing-masing supaya tidak bentrok, mereka terpaku sejenak, tiba-tiba mereka berseru berbareng : "Moay cu!", "Ji ko!" Setelah berteriak, timbullah perasaan tegang di wajah mereka, mereka masing-masing melangkah selangkah, dan berbareng pula mereka berkata : "Apakah mungkin soal itu..." Ucapan mereka baru keluar separuh, terdengarlah suara pacuan kuda yang gegap gembita dari jauh mendekat.

Derap kaki kuda yang mendebarkan hati itu, membuat hati mereka berdetak dengan kencang sekali, maka ucapan mereka itu terpotong, baru separuh lalu berhenti. Tiba-tiba sekali kelebatan saja, di atas tembok itu telah berdiri seorang, kemudian orang di atas tembok meloncat turun, angin yang timbul karena loncatan itu membuat Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua menahan napas mereka, dan mereka mundur dua tindak ke belakang. Setelah orang itu berhenti, rupanya adalah seorang wanita yang berumur kira-kirahampir empat puluh tahun, alisnya tebal dan hidungnya pesek, keningnya tinggi dan lebar, wajahnya sangat jelek, tapi sangat serius.

Setelah Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie melihat orang itu, baru mereka merasa lega, lalu mereka saling pandang, dan berteriak bersama-sama : "Toa cie! Yang tiba-tiba itu bukan orang lain, itulah dia anak sulung perempuan Lauw Thian Hauw. Suaminya Lauw Hung adalah Cung Piauw Lauw dari ketujuh puluh empat Piauw Kek (Kantor kirim barang), Tan Kiam Ling Hong (pedang tunggal laju bayu), Tio Pek Yao, ayah Tio Pek Yao adalah Thian Kiam (pedang langit) Tio Hua, Ciang Bun dari Yun Nan Tiam Ciang Pai, salah satu dari kedua perkumpulan pedang besar pada Bulim sekarang ini.

Mantu orang she Tio ini, kalau ia berkelana di kalangan kang ouw, taruhlah orang tidak takut pada kepandaiannya sendiri, tapi merasa jeri pada mertuanya. Hitunglah orang itu berani memusuhi orang she Tio itu, tapi apakah ada yang berani menyentuh orang she Lauw yang berjago lima orang? Adalah menghadapi Khi kang asli dari Lauw Thian Hauw. Sejak Lauw Hun berkelana di dunia kang ouw, dia belum pernah mengalami kekalahan, dan mau tidak mau ia merasa bangga, bahkan memandang orang pun rasanya sungkan! Ia begitu berhenti lalu melihat sekeliling, teriaknya : "Mana Thia Thia? Kenapa kamu mematung berdiri disini? kakak beradik Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie ini lebih takut melihat Toa cie mereka daripada melihat ayah mereka sendiri, buru- buru mereka menundukkan kepala mereka. Dan berkatalah Lauw Jok Hong dengan gugup : "Thia Thia menunggu di rumah danau, ia berpesan kalau kau tiba, kita bersama-sama menemuinya." Kata Lauw Hun mendehem dari hidungnya : "Ada soal apa? Sampai menyuruh Then Kwan Ka memanggil aku kembali?" Lauw Hwie berkata sambil menunjuk ke tembok yang telah tertutup dengan kain hitam itu : "Lihatlah sendiri!"

Lauw Hun membalik dan tubuhnya bergerak, sekali langkah saja ia telah tiba di muka tembok itu, diulurkannya tangannya dan menarik kain hitam penutup tembok itu, orangnya berangasan, dalam perjalanan pulang, tiba-tiba ia disusul oleh Then Kwan Ka, katanya di rumah ada urusan yang sangat penting, minta dia segera kembali. Ia tidak sempat bertanya dengan teliti, lalu ia membelokkan kudanya, sesampai di rumah, dilihatnya adik-adiknya sedang ketakutan, amarahnya memuncak, dilayangkannya tangannya, tenaga dalamnya turut keluar, hingga ketika kain hitam itu tertarik, terbawa pula angin yang dahsyat yang mengagetkan orang.

Kain hitam itu tertarik, Lauw Hun dapat melihat bayangan darah itu, tiba-tiba ia melonjak selangkah, tapi sebelum gerakannya mantap, buru-buru ia meloncat kembali ke belakang setindak, matanya melotot, mulutnya ternganga pada detik itu. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, sesaat kemudian ia baru menghempaskan tangannya membanting kain hitam itu, dan membalik tubuhnya menuju ke dalam . Kain hitam dihapus oleh angin dan melambung ke udara, persis melayang ke muka Lauw Jok Hong dan Luw Hwie berdua, keduanya berteriak serentak, buru-buru mundur ke belakang mengelak, seakan yang melayang ke muka mereka itu bukanlah kain hitam, melainkan bayangan darah yang berbau amis itu! Kedua-duanya mundur 7 atau 8 tindak, lalu mereka memandang keempat penjuru, tidak ada orang, baru mereka merasa lega, berkatalah Lauw Jok Hong sambil membanting kakinya : "Moay Cu tentu saja yang berbuat kejahatan itu." Muka Lauw Hwie jadi pucat, katanya : "Kau mau cuci tangan ya? Kau kira tidak ikut andil?"

"Bohong, itu pastilah urusanmu!"

Lauw Jok Hong terdiam, bibirnya bergemetaran, ia tidak dapat berkata apa-apa, pada saat ini, terdengar suara panggilan dari Lauw Nen : "Ji te, Ji moay. Belum lagi mau masuk?"

"Moay cu, kita siapa saja jangan bilang, kalau kita bilang, pasti saja celaka," kata Lauw Jok Hong tertegun.

Mulut Lauw Hwie masih berkeras katanya : "Aku kira... tidak ada apa yang luar biasa."

"Moay cu, apakah kau tidak lihat tampang Toa cie tadi? Dia berani sendirian menyatroni Hek Hong San untuk menemui Hek Hong Thiat Yauw (7 iblis angin hitam), dalam seumur hidupnya, kapan dia pernah takut? Tetapi ketika dia melihat bayangan darah itu... dia... dia..." Lauw Jok Hong bicara sampai disini, giginya telah saling beradu, hingga ia tidak dapat melanjutkan ucapannya itu.

"Sudahlah, sudahlah, kalau kau sepengecut ini, kenapa setelah melihat kakak beradik itu, kau memikirkan yang bukan-bukan?"

"Kau... kau... kau masih mau mengatakannya?" kata Lauw Jok Hong marah bercampur kaget, urat nadi di kepalanya bermunculan, matanya jadi merah.

Lauw Hwie tidak berani berkata apa-apa lagi, karena dirinya sendiri pun tidak bersih.

Dengan pikiran masing-masing, mereka melewati ruang besar, sesaat kemudian, mereka melalui sebuah pintu yang berbentuk bulan, dan tibalah mereka di pekarangan belakang. Pekarangan itu ditanami dengan pohon-pohon, kelihatan tidak begitu indah, tapi gunung palsu banyak sekali. Di sebelah timur ada, di sebelah barat ada, sepintas lalu seakan kacau balau tidak beraturan, tapi kalau dipandang lama-lama, dapat membuat pandangan orang berkunang-kunang. Lauw Jok Hong dan Luw Hwie berdua, terus mengitari gunung-gunung palsu, dan berkelok-kelok, setelah berjalan setengah li sampailah mereka di sebuah empang besar, empang itu berukuran dua Mu, di tengah-tengah empang itu ada sebuah rumah, di empat penjurunya dikelilingi oleh air, dan tidak ada jembatan penghubung. Keduanya sampai di tepi empang, terdengar lagi suara Lauw Nen dari rumah itu : "Tunggu apa lagi kamu?"

"Ya, kami datang!" kata mereka serentak sambil melayangkan tubuh mereka setombak ke depan, ketika jatuh, dengan ujung kaki mereka menotol permukaan air, lalu melayang kembali, begitu turun naik 7, 8 kali, mereka sudah sampai di seberang. "Ilmu silat mereka walaupun tidak lemah, tetapi Gin Kang mereka, belum sampai ke taraf hanya menotolkan ke permukaan air, lalu menggunakan tenaga pantulan untuk melayang lagi. Sebabnya mereka dapat sampai ke seberang dengan tujuh delapan kali turun saja justeru karena di bawah permukaan air itu dicocok tonggak. Kalau orang tidak tahu rahasianya, tentu saja tidak dapat melihatnya.

Sesampainya di seberang, mereka telah mendengar suara parau yang diucapkan oleh Lauw Hung : "Menurut aku kita harus mengundang beberapa orang yang bersilat tinggi untuk menghadapi So Beng Hiat In itu, kalau tidak, hanya mengandalkan orang serumah kita saja,pasti saja tenaga kita terlalu lemah!"

Lauw Thian Hauw tertawa kering sambil berkata : "Mengundang siapa?" "Ya, jago silat yang kita kenal tersebar dimana-mana, kalau kita mau mengundang 10 jagoan silat kelas satu dalam 3 hari, itu adalah suatu hal yang gampang sekali!"

Wajah Lauw Thian Hauw tampak lebih tua banyak dibandingkan dengan pagi tadi sebelum melihat bayangan darah, tangannya menekan kursi, lalu berdiri seraya berkata : "Ya, kalau kawan akrab kita mengirim orang minta bantuan kita, karena di rumah mereka ada So Beng Hiat In, apakah kita bantu atau diamkan saja?"

Sela Lauw Hung cepat : "Hm, kalau di rumah mereka ada So Beng Hiat In, tentulah mereka telah berbuat..." berkata sampai disini, tiba-tiba ia teringat, yang ada So Beng Hiat In justru di rumah mereka sendiri, buru-buru ia menutup mulutnya, dan tak tertahan lagi tubuhnya bergidik. Ia tahu, kalau minta bantuan orang lain, bukan saja tidak dapat simpati, malah akan ditertawakan. Dengan mengatakan di rumah Lauw ada So Beng Hiat In, tentulah mereka telah berbuat sesuatu kejahatan, maka telah mengundang So Beng Hiat In, orang yang saling kenal biasanya berani membantu mati-matian tapi pada waktu ini, pastilah mereka telah menyingkir jauh-jauh, kalau tersebar luas,nama rumah Lauw akan berantakan, untuk menghadapi persoalan ini, kecuali menggunakan tenaga orang sendiri, tidak ada cara lain yang lebih bagus.

Tetapi orang serumah bukan seorang saja, melain berlima, ayah, dua anak perempuan dan dua anak lelaki, biasanya, tentu saja mereka itu saling mengasihi satu sama lain, tetapi dalam keadaan begini? Andai kata orang yang diincar oleh So Beng Hiat In rela berlutut di hadapan bayangan darah untuk menerima hukuman matinya, orang lainnya akan selamat, kalau dalam tempo 3 hari tidak ada orang yang berlutut di hadapan bayangan darah itu, lalu.. Lauw Hun berpikir sampai disini, tubuhnya bergidik sekali lagi. Dalam rumah di tengah empang itu hening sekali, bermacam-macam pikiran berputar-putar dalam benak masing-masing, dan wajah mereka, kian lama kian jelek, sesaat kemudian, teriak Lauw Nen dengan tiba-tiba, "Thia!"

Tadinya Lauw Thian Hauw telah duduk, mendengar teriakan Lauw Nen itu, tanpa sebab lagi ia meloncat, wajahnya bimbang, tangan kanannya berbalik, seakan-akan bersiap untuk menghantam musuhnya. Kelakuannya yang aneh itu membuat orang lain terperanjat, dan seru mereka serentak : "Thia!"

Lauw Thian Hauw tertegun, tangan kiri diangkatnya, lalu diturunkannya dengan perlahan, katanya : "Ada apa teriak- teriak?"

Lauw Jok Hong berkata dengan tergugu : "Toa ko yang berteriak duluan."

Lauw Nen melotot pada Lauw Jok Hong, lalu katanya : "Thia, persoalan yang diucap oleh So Beng Hiat In, mungkin sudah lama sekali terjadinya."

Begitu mendengar ucapan Lauw Nen itu wajah Lauw Thian Hauw menjadi pucat bagai mayat, tubuhnya jadi lemas dan terkulai di atas kursi, butiran-butiran peluh yang besar timbul di keningnya. Tidak ada orang yang tahu apa sebabnya, Lauw Nen pun merasa sangat heran dan terdiam sejenak, sesaat kemudian baru ia berkata : "Aku... hanya bertanya... saja...

Thia... kenapa kau?"

"Thia, So Beng Hiat In datang ke rumah kita, pastilah Ji te yang sudah berbuat suatu kejahatan," teriak Lauw Hung.

"Toa cie... kau... kau..." teriak Lauw Jok Hong. Lauw Hwie melihat kelakuan Lauw Jok Hong itu seakan hendak mengutarakan apa yang telah mereka perbuat belakangan ini. Lalu buru-buru Lauw Hwie berkata dengan marah bercampur gusar : "Kenapa kau sekaget itu?" Lauw Hwie berkata sambil menjulurkan tangan menampar muka Lauw Jok Hong, sebuah telapak tangan tertera di muka Lauw Jok Hong, tetapi ia tidk membalas, malah berteriak pada Lauw Hung : "Toa cie, mana mungkin aku? Sifatmu berangasan, yang mati konyol di bawah tanganmu apakah masih kurang banyak?" Muka Lauw Hung pun berubah menjadi pucat, berkata sambil tertawa dingin. "Lucu sekali, kalau So Beng Hiat In mengincar aku, bayangan darah itu harus ada di Thio kenapa bisa ada disini?"

"Itu juga belum tentu, bayangan darah itu di rumah kita, apakah persoalan ini tidak ada hubungannya dengan Toa cie? Beberapa hari ini, kau baru pulang, lantas ada persoalan ini..." ucapan Lauw Hwie itu belum habis, Lauw Hung telah berteriak

: "Taik" ; tangannya melayang menyerang Lauw Hwie.

Lauw Hwie memiringkan tubuhnya, mengelak serangan Lauw Hung, tetapi angin pukulan itu membuat Lauw Hwie terhuyung-huyung ke belakang setindak.

Lauw Hwie terperanjat dan marah, ia membalik tangannya, "Tring" dalam tangannya telah tergenggam sebuah Liu Yap To (pisau daun Liu). Teriaknya : "Kau memukul aku. Dengan hak apa kau memukul aku?"

Lauw Hung melihat adiknya mencabut pisau, ia jadi marah, menghampiri dan membentak adiknya : "Bocah cilik, sedikit- sedikit main pisau, kau mau berontak?"

Hati Lauw Hwie merasa jeri, buru-buru mundur.

Dalam rumah itu kacau balau, Lauw Nen mencegah tetapi Lauw Thian Hauw tetap mematung di atas kursi yang berlapis kulit macan, matanya melotot, telinganya mendengar, tapi bukan mendengar caci dan makian antara Lauw Hwie dengan Lauw Hung tetapi hanya mendengar ucapan Lauw Nen tadi : "Mungkin sudah lama sekali terjadinya?" Dahulu... dahulu... telingan Lauw Thian Hauw mengiang-ngiang tiba-tiba, seakan- akan ia mendengar kembali suara tangisan seorang anak kecil yang sangat menyayat hati. Suara tangisan yang menyayatkan hati itu, membuat daging mukanya kejang...

Lauw Thian Hauw berusaha tidak memikirkan kejadian itu, tetapi tidak dapat tidak ia harus memikirkannya. Perlahan- lahan, ia tidak mendengar lagi suara apa-apa, hanya terdengar tangisan anak kecil itu saja. Tangisan yang memilukan itu, membuat ia mengepalkan tangannya tanpa ia sadari, keringat dingin bercucuran dalam genggamannya.

Memang kejadian itu sudah lama sekali, tetapi di dalam otak Lauw Thian Hauw kejadian itu seakan baru saja terjadi.

Pada waktu itu, ia adalah seorang pemuda yang belum berumur 30 tahun, tetapi ia berada di lembah Cap Ban Toa San yang tidak pernah dijelajah oleh manusia. Lauw Thian Hauw hanya mendengar cerita orang-orang Bu lim, bahwa di lembah Cap Ban Toa San itu terdapat semacam jamur ajaib yang menyehatkan bahan. Maka ia meninggalkan kampung halaman untuk mencari jamur ajaib itu, ia telah berkelana hampir satu bulan dalam lembah tetapi tidak menemukan apa- apa. Dan pada suatu senja, terdengarlah olehnya suara tangisan yang menyayat hati. Timbullah rasa heran dalam hatinya, dan dicarinya asal mula suara itu.

Lembah itu berbentuk kurus panjang, berliku-liku yang tersempit hanya dapat dilalui oleh satu orang dengan memiringkan tubuhnya, karena kedua belahnya adalah tembok gunung yang menjulang ke langit. Tangisan itu bertahan terus menerus, Lauw Thian Hauw kian melangkah, hari kian gelap, hampir saja ia mengurungkan niatnya di tengah jalan, tetapi pada saat itulah ia melihat di hadapannya terdapat secercah sinar yang berasal dari sebuah anggun api. Di samping unggun api itu, berdiri seorang anak perempuan yang berusia 13 atau 14 tahun, seorang bocah lelaki cilik yang berumur 3 tahun sedang merangkak di tanah, anak itulah yang mengeluarkan tangisan. Anak lelaki itu menangis sambil mengisap jarinya dengan keras, nyata sekali perutnya sedang mengalami kelaparan. Dan gadis cilik itu memandangnya dengan tidak berdaya.

Lauw Thian Hauw tertegun, bagaimana kedua anak itu bisa sampai ke lembah yang tidak pernah dijelajahi oleh manusia ini? Baru saja ia hendak melangkah untuk bertanya, tiba-tiba ia melihat kelebatan bayangan orang yang sedang melangkah dengan sebuah cabang kayu. Walaupun orang itu memegang cabang kayu, tapi tubuhnya masih tetap terhuyung-huyung. Ia mendekati unggun api itu, dan Lauw Thian Hauw telah dapat melihat orang itu adalah seorang wanita yang berambut panjang. Sesampai di api unggun, ia berhenti sejenak dan mengibaskan rambutnya, wajahnya pucat sekali disinari oleh api unggun, tapi cantiknya mempesonakan! Begitu melihat wanita secantik itu, hati Lauw Thian Hauw berdetak, tubuhnya mundur selangkah bersembunyi di kegelapan, tapi ia masih tetap dapat melihat pemandangan di depan itu dengan jelas.

Pakaian wanita itu compang camping, di bagian kiri dilumuri titik-titik darah yang merah mengerikan. Di kedua pergelangannya memakai dua buah gelang zamrud yang kehitam-hitaman. Di atas gelang-gelang itu terukir sebuah burung Hong yang seakan-akan ingin terbang melepaskan diri dari gelang itu. Hati Lauw Thian Hauw berdetak-detak bergejolak. Ia telah tahu siapa gerangan wanita itu. Di kalangan Bu lim mungkin tidak ada orang yang setelah melihat sepasang gelang itu, tetapi tidak tahu siapa pemiliknya.

Wanita di hadapannya itu adalah Song-Hong-Sian-Nia Chin Pek Lan.

Song-Hong-Sian-Nia adalah orang yang diidam-idamkan oleh 7 iblis Bu-san San-Hiap, dan 6 setan Cuk-Ling selama 3 tahun belakangan ini. 7 iblis dan 6 setan itu telah memberitahu jago-jago Bu lim, baik aliran putih maupun hitam, barang siapa yang menyimpan Song-Hong-Sian-Nia akan bermusuhan dengannya. Dengan ilmu silat yang dimiliki oleh 7 iblis dan 6 setan itu, siapapun tidak berani mengganggu mereka, tetapi kenapa Song-Hong-Sian-Nia bisa sampai disini? Kalau Song-Hong-Sian-Nia disini, berarti catatan 24 jurus Thian Cing Pik Luk pasti juga berada dengannya.

Suaminya terbunuh justeru merebut catatan 24 jurus Thian Cing Pik Luk. Chin Pek Lan menerima catatan itu dari suaminya. Ketika itu Chin Pek Lan baru mempunyai seorang anak berusia 10 tahun, dan badannya sedang mengandung lagi, tapi semua orang-orang Bu lim terus mengejarnya. Yang terakhir melihatnya, di dekat Lu Ciu, ialah 7 iblis dan 6 setan itu, Chin Pek Lan sendiri berontak dengan orang dalam, lalu kabur. Sejak itulah ia telah lenyap jejaknya. Tetapi ia berada disini, melihat keadaannya, tampaknya luka parahnya belum pernah sembuh, tentu saja ia tidak bisa mempelajari Lwee Ka Khi Kang yang sangat ampuh itu. Kalau aku muncul dan membuat dia... Lauw Thian Hauw berpikir hingga disini, hatinya bertambah goncang lagi, tepat pada saat itu api unggun itu meletus Blam! Benak Lauw Thian Hauw sedang memikirkan niat jahat, dan suara itu meletus dengan tiba-tiba, hingga membuat dirinya terperanjat, tanpa disadarinya ia telah berseru lemah sekali : "Ah!" Ketika ia menegadah memandang ke depan, dilihatnya Chin Pek Lan telah terkapar di atas tanah, memandang ke arah persembunyiannya.

Mukanya pucat pasi, tetapi sepasang matanya yang indah itu dalam dan bercahaya, bagaikan dua buah bintang di langit yang gelap. Begitu pandangan Lauw Thian Hauw bentrok dengan pandangan Chin Pek Lan, hatinya timbul suatu perasaan malu yang amat sangat, karena ia tadi telah memikirkan untuk membunuh wanita yang terasing dan mungkin pula telah tersiksa selama 3 tahun dalam lembah ini.

Lauw Thian Hauw tidak bersuara lagi, tetapi Chin Pek Lan telah bertanya dengan suara gemetar : "Siapa? Siapa disana?" Anak perempuan itu segera memeluk adiknya, adik itupun tidak menangis lagi, mereka bertiga memandang ke depan dengan ketakutan. Lauw Thian Hauw ragu-ragu sejenak,lalu ia melangkah keluar seraya berkata : "Chin Li Hiap (pendekar wanita) jangan kaget, saya adalah Lauw Thian Hauw."

chin Pek Lan mengulur tangan kirinya melindungi kedua anak itu, matanya yang dalam dan indah itu menatap pada Lauw Thian Hauw, katanya : "Apakah Lauw Thian Hauw si Singa Emas yang kenamaan yang sering berkelana di pertengahan Yangze kiang itu ?"

Ketika itu Lauw Thian Hauw masih muda belia, ia berkelana di dunia kang ouw baru 6 atau 7 tahun, walaupun pernah melakukan hal yang menggemparkan dunia Bu lim, tetapi ia tidak mengira Chin Pek Lan yang telah mengasingkan diri di lembah ini selama tiga tahun masih bisa tahu namanya.

Segera katanya gembira : "Ya, saya, rupanya Chin Li Hiap sudah mengenali nama saya yang hina ini."

Chin Pek Lan tidak menyahut, ia hanya menghela napas, kemudian ia menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat menawan hati. Senyuman yang manis itu membuat hati Lauw Thian Hauw gedebak gedebuk, tidak berani memandang ke depan! Kata Chin Pek Lan sambil tersenyum : "Rupanya Lauw Toa Hiap, kami ibu anak tiga orang akan tertolong!"

Lauw Thian Hauw dengar, ia jadi terperanjat lagi, mukanya lantas berubah! Mendengar ucapan Chin Pek Lan itu, seakan meminta dirinya menolong mereka bertiga. Kalau ditolong, berarti ia bermusuhan dengan 7 iblis dan 6 setan, walaupun beberapa tahun belakangan ini ia sering bermusuhan dengan aliran hitam, dan telah mendapat nama harum, tapi lawannya hanya orang kelas dua, bahkan kelas tiga, jago silat kelas satu seperti 7 iblis dan 6 setan itu, lebih baik menyingkir jauh-jauh, belum pernah mengganggu mereka!

Walaupun Lauw Thian Hauw tidak bersuara, tetapi dari pandangan matanya itu, Chin Pek Lan telah dapat mengetahui pikir Lauw Thian Hauw,katanya : "Si iblis dan setan itu masih menguber aku dengan ketat ya?" Lauw Thian Hauw mengangguk dengan terpaksa. Berkata pula Chin Pek Lan dengan suara rendah : "Mereka bukan mengingini catatan 24 jurus Thian Cing Pik Luk itu, tapi juga mau memiliki... raga... ku..." mukanya pucat itu merah padam.Song Hong Sian Nio memang cantik sekali, tidak ada yang dapat menandinginya, ini memang diketahui oleh orang-orang di kalangan Bu lim, sampai saat ini, barulah Lauw Thian Hauw tahu cerita itu bukanlah isapan jempol. Katanya dengan tidak sadar : "Chin Li Hiap sungguh terlalu cantik sekali, maka..." ia tidak dapat melanjutkan ucapan yang baru dikatakannya separuh itu, karean ia telah disoroti oleh sepasang sinar pandangan mata yang penuh dengan kebencian dari samping. Buru-buru Lauw Thian Hauw menoleh, dilihatnnya anak perempuan sedang menatapnya dengan tajam, penuh dengan permusuhan, membuat hati Lauw Thian Hauw bergidik, hingga ia tidak dapat menghabiskan ucapannya.

"Lauw Toa Hiap, inilah anak perempuan saya Tang Siao Lau, dan itu adalah anak malan... yang belum pernah ketemu ayahnya..." katan Chin Pek Lan sambil menangis tersedu sedan. Lauw Thian Hauw maju selangkah menghampirinya seraya membungkuk ujarnya : "Chin Li Hiap, janganlah menangis, ilmu silatmu begitu tinggi, kenapa kau terus bersembunyi disini?"

Chin Pek Lan mengangkat mukanya yang penuh dengan air mata itu, katanya dengan perlahan : "Pada waktu itu aku terluka, dengan susah payah aku kabur kesini dan melarikan anak ini. Aku kehilangan banyak darah dan Khi, ilmu ku telah lenyap semuanya."

Lauw Thian Hauw telah menduga sebelumnya, maka setelah mendengar ucapan itu, ia tidak merasa aneh.

Chin Pek Lan pun tidak bisa duduk dengan baik, tubuhnya terguling ke depan, buru-buru Lauw Thian Hauw memapahnya, ketika tangannya menyentuh tubuh Chin Pek Lan yang lembut dan halus itu, hatinya bergejolak, hampir sja ia tidak dapat menarik napas. Tiba-tiba Tang Siauw Lan berteriak dengan nyaring : "Minggir! Jangan sentuh ibuku, ayo minggir!"

Buru-buru Lauw Thian Hauw menarik kembali tangannya, bentak Chin Pek Lan : "Siao Lan, inilah Lauw Toa Hiap, dan aku menitipkan kamu padanya. Kamu akan keluar bersama Lauw Toa Hiap. Aku percaya Lauw Toa Hiap akan membesarkan kamu. Lauw Toa Hiap, kau setuju bukan?" Ia menengadah sambil memandang Lauw Thian Hauw, tetapi Lauw Thian Hauw tidak menyahut.

Lauw Thian Hauw bukanlah orang yang gagah perkasa serta berbudi luhur. Andaikata ya, tentulah ia sudah mengiyakannya dari tadi. Yang membuat dia ragu-ragu itu justru karena wajah Thian Pek Lan yang menengadah itu terlalu mempesonakan, hingga ia tidak mempunyai keberanian untuk menolak. Bersamaan dengan pandangannya itu, dalam benak Lauw Thian Hauw pun telah membayangkan akibat- akibatnya kalau ia mengiyakan permintaan Chin Pek Lan itu!

Chin Pek Lan berkata dengan napasnya yang terengah- engah : "Lauw Toa Hiap, Siao Lan telah mengerti banyak hal. Ia tidak akan mengucapkan asal usulnya, yang kecil masih belum mengerti apa-apa, kau jangan kuatir. Aku... tidak ada lagi harapan, lagi pula aku tidak mungkin keluar dengan kau, kalau saja kedua anak itu ada andalan, segera akau akan menghabiskan nyawaku! Lauw Toa Hiap, kalau kau setuju, aku akan berikan catatan 24 jurus Thian Ching Pik Luk padamu!"

Chin Pek Lan menggoyangkan tangannya, serencengan kepingan Giok terjatuh di pinggir kaki Lauw Thian Hauw. Rencengan Giok itu terdiri dari 24 keping, setiap kepingnnya kira-kira panjang dua inti dan lebar satu inci.

Lauw Thian Hauw memandang kepingan Gio itu sesaat, bahkan matanya merasa silau. Itulah ilmu Khi kang yang tinggi, Thian Ching Pik Luk! Itu lebih berharga daripada jamur ajaib. Dengan kepingan-kepingan Giok itu, ia akan mudah sekali menjadi seorang jago silat yang berilmu tinggi di kalangan dunia Bu lim, pada saat itu, ia tidak mendengar apa- apa lagi, tidak merasa apa-apa lagi, matanya hanya memandang kepingan-kepingan Giok itu saja. Ucapan Chin Pek Lan tadi, ia telah lupa sama sekali. Ia hanya mendengar telinganya mengiyang-ngiyang. Ia menatap sama orang itu.

"Barang itu ditukar ayah dengan nyawanya, jangan diberikan pada orang lain!" Tang Siao Lan berteriak sambil menubruk kepingan-kepingan Giok itu. Lauw Thian Hauw menjerit dengan keras, dan dengan lengan bajunya melayang! Begitu melihat kepingan-kepingan Giok itu, ia bagaikan kesurupan. Ia memikirkan segala kenamaan dan kemewahan setelah memilik Thian Cing Pik Luk itu, ia melihat hari depannya yang menjagoi dunia kang ouw di tengah-tengah kepingan-kepingan Giok itu dan tidak mau melewatkan keberuntungan yang telah berada dalam tangannya. Maka ketika ia melihat ada orang menubruk dan mau merampas kepingan Giok itu, segera ia melayangkan tangannya, bahkan tenaganya dahsat sekali! Walaupun Tang Siao Lan pernah belajar ilmu silat beberapa tahun dari orang tuanya, tapi mana dapat dibandingkan dengan Lauw Thian Hauw?

Begitu menerima pukulan tangan itu, segera napas Tang Siao Lan tertutup, kemudian terpental.

Pada saat tubuh Tang Siao Lan terpental, Lauw Thian Hauw pun tertegun, ia menyadari bahwa ia telah berbuat sesuatu yang tidak harus dilakukannya. Ketika itu kalau ia segera meloncat, ia masih dapat menangkap Tang Siao Lan di udara, tetapi Lauw Thian Hauw tidak berbuat begitu, malahan menunduk dulu menyambar kepingan Giok yang berada di atas tanah itu. Dan pada detik itulah, sebuah tulang remuk melayang ke telinganya. Tang Siao Lan terpental dan kepalanya persis membentur batu gunung, batok kepalanya hancur, belum sempat ia berteriak, ia telah mati secara mengerikan sekali!

Lauw Thian Hauw bukan sengaja membunuh Tang Siao Lan, maka begitu ia melihat kejadian yang sangat mengerikan itu, ia terpaku. Chin Pek Lan pun terpaku, udara seakan membeku, hanya anak lelaki itu menangis, tangisan itu membuat Lauw Thian Hauw mundur setindak, pada saat itu pula Chin Pek Lan berteriak : "Lauw Toa Hiap!" suaranya tenang sekali, walaupun demikian, tubuh Lauw Thian Hauw tak tertahan lagi jadi gemetar, teriaknya buru-buru : "Aku bukan sengaja, sekali lagi bukan!"

Wajah Chin Pek Lan sedikit pun tidak menunjukkan kemarahan, kalau bukan sepasang matanya yang masih memancarkan sinar yang sulit dimengerti. Ia persis sekali seperti sebuah mayat. Ia memandang Lauw Thian Hauw, di bawah pandangannya itu,Lauw Thian Hauw mundur setindak, setindak lagi. Suara tangisan anak lelaki itu, lebih menggigilkan tubuhnya lagi, hingga giginya beradu.

Chin Pek Lan berteriak menyayatkan hati, katanya : "Lauw Thian Hauw, kau bukan sengaja. Aku sungguh tidak dapat bertahan lagi, kemarilah kau, bawalah anak ini, aku akan sangat berterima kasih padamu. Kau jangan pergi! Kau jangan pergi! Kau jangan pergi setelah kau mendapatkan 24 jurus Thian Ching Pik Luk itu dan setelah membunuh orang kau jangan pergi... kau... adalah pendekar yang berbudi, kenapa kauboleh pergi begitu saja?"

Suaranya itu, kian lama kian nyaring, dan Lauw Thian Hauw bukannya menghampiri malah mundur makin jauh. Sekonyong-konyong suara Chin Pek Lan berhenti, tubuhnya tertelungkup jatuh ke tanah, matanya tetap terbelalak, tapi tidak lagi bercahaya. Sinar api unggun yang lemah itu menyoroti mukanya, membuat muka yang cantik itu menjadi sangat seram. Tiba-tiba Lauw Thian Hauw berteriak sambil membalik ia berlari satu li lebih baru berhenti. Malam larut di lembah sunyi itu, hening sekali, hingga suara tangisan anak kecil itu masih mengalun di telinganya. Mungkin anak kecil itu belum mengerti akan makna kesedihan, tapi tangisannya itu sangat menyayat-nyayat ulu hati, hingga mendirikan bulu roma Lauw Thian Hauw!

Lauw Thian Hauw bediri terpaku, pada saat itu, berkali-kali ia ingin kembali untuk menolong anak kecil itu. Seorang anak kecil, di tengah-tengah gunung belukar, mana mungkin bisa hidup lagi. Setiap kali keinginannya itu gagal karena pikirannya sendiri. Bagaimana kalau anak itu sudah dewasa dan menanyai asal usulnya? Bagaimana kalau orang lain tahu anak itu persis dengan orang tuanya? Bagaimana pula kalau anak itu kelak akan menuntut balas atas kematian ibu dan kakaknya? Kedua tangannya menutup rapat-rapat telinganya, akhirnya tetap sia-sia belaka. Sampai kini, kejadian itu telah berselang beberapa tahun, ia berada di dalam rumahnya sendiri di tengah empang, tapi ia seakan-akan masih mendengar tangisan anak kecil itu.

Kejadian itu telah lama sekali, apakah bayangan darah itu datang demi hal tersebut? Apakah anak itu kini telah dewasa dan tahu kejadian di masa silam itu? Atau ketika kejadian itu, ada orang yang melihat, lalu disebar-luaskan, beberapa tahun kemudian barulah So Beng Hiat In itu muncul mencarinya?

Beberapa tahun kemudian ini, seluruh nama, kedudukan dan ilmunya, semuanya didapatnya dari 24 jurus Thian Ching Pik Luk. Mungkin orang-orang Bu Lim tidak satu pun yang tahu bahwa ilmu jago silat yang kenamaan di kalangan Bu lim si Singa Emas Lauw Thian Hauw itu diperolehnya dari suatu perbuatannya yang sangat kotor dan sangat keji. Kini So Beng Hiat In telah muncul di tembok rumahnya, kejadian yang telah lampau dan tidak diketahui oleh orang itu, akan terbongkar semuanya. Walaupun dirinya bisa selamat, tetapi nama dan kedudukan yang dibangunnya selama ini akan musnah semuanya! Keringat dingin mengucur dari kening dan membasahi alis matanya yang tebal itu, mengaburkan pandangannya. Tiba-tiba ia menegadah, menyeka keringat dingin yang masuk ke matanya, dan pada saat itulah ia melihat keadaan kacau balau di dalam rumah di tengah empang ini.

Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie sedang meringkuk di pojok, perabot rumah telah banyak yang hancur, anak lelakinya yang besar Lauw Nen dan anak perempuannya yang besar Lauw Hung, sedang bergumulan menjadi satu. Lauw Thian Hauw curiga ia salah lihat, lalu mengucek-ngucek matanya, kemudian melihat lagi, tidak salah, anak lelakinya yang besar sedang berantam dengan anak perempuannya yang besar.

Dialah yang mengajar ilmu silat kedua anak itu, tentu saja ia dapat melihat bahwa kedua anaknya itu sedang berantam dengan mati-matian, jurus-jurus yang digunakan mereka semuanya jurus mematikan! Lauw Thian Hauw menekan kursinya berdiri,karena tenaga tekanan itu terlalu kuat, maka setelah ia berdiri tangannya lantas membabat sambil berteriak

: "Berhenti!"

Babatan tangan itu, bagaikan sebuah kampak besar yang tajam membelah Lauw Hung dan Lauw Nen, membuat mereka yang sedang berantam itu terhuyung-huyung mundur dua tindak walaupun keduanya telah terpisah, tapi masih saling pelotot mempelototi. Lauw Thian Hauw menjadi marah hingga tubuhnya menggigil, teriaknya dengan suara yang menggetarkan : "Baik...baik...orang luar belum masuk, orang sendiri sudah saling bunuh membunuh." Ia berbicara sambil duduk ke belakang. Ia marah hingga melupakan kursinya itu telah berantakan karena tekanannya ketika ia bangun tadi. Ia duduk hingga ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres, hampir saja ia terjatuh, untuk ilmunya telah mencapai ke taraf yang sangat tinggi, buru-buru ia mengangkat Khi (hawa), menahan diriinya, lalu melonjak berdiri.

Kata Lauw Nen sambil menunjuk pada Lauw Hung : "Ia berbuat sekehendak hati, karena dia mengandalkan kesohoran kita orang she Lauw dan orang rumah suaminya, kataku So Beng Hiat In datang untuk mengincar dia, malah dia memfitnah aku. Kalau So Beng Hiat In bukan mengincar dia, kenapa bayangan darah itu muncul ketika dia pulang ke rumah kita?"

Lauw Thian Hauw mendengar ucapan anaknya, hatinya bergetar, tapi ia masih mengira bahwa kedatangan So Beng Hiat In itu ialah untuk mengincar dia, tapi kini, persoalan itu belum tentu demikian! Bukan saja Lauw Hung berbuat sekehendak hatinya, malah Lauw Nen mempunyai suatu hal yang difitnah oleh Lauw Hung, maka pastilah So Beng Hiat In datang untuk mengincar salah satu di antara mereka itu. Lauw Thian Hauw berpikir sampai disitu, tekanan hatinya pun lenyap bahkan ia dapat menarik napas dengan lega. Kalau So Beng Hiat In memang mengincar Lauw Nen atau Lauw Hung, itupun bukan suatu hal yang baik, tapi bagaimanapun juga itu lebih baik daripada datang mencari dirinya. Kalau So Beng Hiat In bukan datang untuk mencarinya, tentu saja dia tidak perlu memimpin semua keluarganya untuk menghadapi So Beng Hiat In itu, paling-paling dia dapat julukan tua bangka yang tidak dapat mengajar anaknya.

Pada saat itu, ia merasakan dirinya sangat keji, tapi pikiran itu hanya terbayang sepintas lalu saja di benaknya. Segera ia memutuskan ia harus tahu siapa di antara Lauw Nen dan Lauw Hung yang telah berbuat sesuatu kejahatan! Teriaknya segera : "Hung Jie!"

Walaupun Lauw Hung sangat galak, tapi ia tetap takut di hadapan ayahnya. Ia menyahut dengan suara rendah, mukanya jadi pucat.

Lauw Thian Hauw maju selangkah, Lauw Hung mundur selangkah, tiba-tiba Lauw Thian Hauw melangkah tiga tindak, Lauw Hung telah sampai di tembok, tidak ada tempat lagi baginya untuk mundur. Pandangan Lauw Thian Hauw yang dingin itu menekan Lauw Hung, buru-buru Lauw Hung berkata

: "Bukan urusanku Thia, itu pasti bukan urusanku!"

Ketika Lauw Hung berteriak begitu, dalam hatinya ia berpikir, orang yang anti padanya tentulah cuma Lauw Nen seorang, tetapi di luar dugaannya, setelah teriaknya berhenti, lantas ia mendengar ayah dan adik-adiknya berkata dengan serentak : "Pastilah kau, pastilah kau!" Muka Lauw Hung jadi pucat bagai seorang mati. Ia berteriak sambil membungkukkan punggungnya, lalu membentur tembok, tembok kena bentur, segera pecah berlobang. Di luar tembok itu adalah air empang, batu-batu pada berjatuhan ke dalam air, sedangkan Lauw Hung pun terjungkal balik keluar. Lauw Thian Hauw melihat Lauw Hung ingin kabur dengan jalan memecahkan tembok, pastilah ia yang telah berbuat sesuatu kejahatan dan merasa takut. Tapi Lauw Thian Hauw memikirkan masa lalu, bagaikan menghadapi hari kiamat, tapi ia sekarang mengangkat hawanya, berteriak dengan nyaring bagai sebuah guntur menggeledek di udara. Setelah teriakannya itu, tubuhnya melayang keluar.

Lauw Thian Hauw tidak memperhatikan ketika ia berteriak itu, kedua anak lelaki dan satu anak perempuannya pada menarik napas lega. Setelah Lauw Nen menghela napasnya, ia mempelototi Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua, keduanya pun tidak mau mengalah, mereka pada sama-sama mempelototi Toa ko mereka.

Lauw Thian Hauw terus menguber keluar, dilihatnya Lauw Hung telah hinggap di sebuah tonggak gelap yang berjarak dua tembok jauhnya, Lauw Thian Hauw mengangkat hawanya dan melayang di udara sambil teriaknya : "Bocah busuk, sesudah membuat celaka, kau mau kabur ya?"

Lauw Hung hinggap di sebuah tonggak dengan sebelah kakinya, melihat Lauw Thia Hauw datang mengejar, ia berbalik, ingin melayang lagi. Tetapi iapun tahu bagaimanapun juga ia tidak mungkin dapat kabur dari tangan ayahnya, maka setelah ia berbalik, ia tidak mengangkat tubuhnya untuk melayang. Sedangkan Lauw Thian Hauw beberapa kali turun naik, telah sampai di hadapan mukanya, tangannya melayang ke bawah menotol Cian Cin Hiat Lauw Hung, menutup aliran darahnya, lalu ia mental kembali jatuh di rumah empat.

Setelah ia berdiri, ia menyambut Lauw Hung yang melayang ke hadapannya, lalu membuka totokan darahnya, tapi Lauw Thian Hauw segera menekan urat nadi Lauw Hung, bentaknya

: "Kau mau kabur, setelah membuat celaka?"

Lauw Hung berkata dengan muka yang pucat : "Thia, So Beng Hiat In belum tentu datang untuk mencari aku, taruhlah ia datang untuk mencari aku, apakah... Thia Thia rela mengorbankan anak Thia Thia untuk memenuhi So Beng Hiat In?"

Dalam hati Lauw Thian Hauw tertawa pahit, pikirnya : "Aku mengorbankan kau, bukan untuk memenuhi So Beng Hiat In, tapi untuk menyelamatkan jiwaku yang sudah tua ini! Tetapi ucapan Lauw Hung itu, sangat memilukan hati hingga Lauw Thian Hauw dengan tiba-tiba teringat masa kecil Lauw Hung.

Lauw Hung adalah anaknya yang pertama. Seorang yang berkelana di dunia kang ouw, bertempur kesana kemari, menjilati darah di atas golok, tiba-tiba mempunyai anak sendiri, menyadarkan dia bahwa ia telah berkeluarga, dan memberinya suatu perasaan yang aneh, maka walaupun Lauw Hung sangat jelek, sedari kecil sudah cengeng, tapi Lauw Thian Hauw masih sangat memanjakannya.

Tapi kini ia ingin mengorbankan Lauw Hung demi memenuhi tuntutan So Beng Hiat In! Berpikir sampai disini, tangannya yang memegang Lauw Hung itu, dengan tidak disadarinya mengendor.

Tadinya Lauw Hung memang terus meronta-ronta, begitu tangan Lauw Thian Hauw mengendor, segera ia terlepas, lalu ia minggir ke pintu. Ia hanya ingin mundur, tidak ada niatnya untuk kabur, tetapi baru ia melangkah setindak, ia telah mendengar dua buah suara cring! cring! dari belakangnya. Cahaya pedang berkilauan, dalam tangan Lauw Nen telah terhunus dua buah pedang menjaga pintu.

"Mau apa?" bentak Lauw Thian Hauw "Thia, coba Thia pikir, kalau membiarkan dia kabur, bagaimana nanti menghadapi So Beng Hiat In?" kata Lauw Nen dingin.

Belum sempat Lauw Thian Hauw bersuara, Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie berdua telah bicara serentak : "Ya, betul ucapan Toa ko itu, penuh dengan rasa riang.

Lauw Thian Hauw bolak balik melangkah dua tindak dengan langkah yang berat. Langkahnya yang berat itu, hampir saja menggegerkan rumah itu, seakan ingin roboh. Keempat anak-anaknya melihat padanya dengan menahan napas, sesaat kemudian, barulah ia buka suara : "Hung Jie, sebetulnya apa yang salah kau perbuat itu?"

"Aku..." Lauw Hung baru mengucapkan aku, ia tidak dapat melanjutkannya lagi.

"Kita dengan rumah mertuamu itu, semuanya adalah pendekar budiman yang kesohor di dunia kang ouw, tidak ada orang yang tidak tahu, apa y ang telah kau lakukan itu, hayo katakan, katakan!"

Wajah Lauw Hung kian lama kian kaku, bagaimana ia mengutarakannya? Ia tahu rumahnya sendiri dan rumah mertuanya, semuanya adalah pendekar budiman. Kalau menceritakan kedua rumah itu di kalangan dunia kang ou, semua orang pada mengangkat jempol, siapa yang tidak kagum? Tetapi justru ialah yang telah berbuat begitu, bagaimana ia mengutarakannya? Mulutnya ternganga, mukanya kian pucat, keringat dingin keluar dari keningnya; mula-mula beberapa titik, lalu mengalir bagai anak sungai yang kecil-kecil. Dalam hatinya terus menggerutu dan mengomeli setan cilik itu! Tetapi apakah memang setang cilik itu jahat? Sebetulnya setan cilik itu bukan lagi anak kecil, sudah berumur 18 atau 19 tahun, tapi wajahnya seperti setan, menakutkan orang siapa saja yang melihatnya pada benci.

Tapi Lauw Hung sangat menyukainya dan menganggapnya sebagai muridnya. Ia pandai sekali menjilat, apa saja ia menurut hati Lauw Hung. Kalau Lauw Hung mengatakan langit adalah hijau, ia sekali-kali tidak berani mengatakan biru. Nama setan cilik itu adalah Yo Pang Sa, tadinya adalah seorang pelayan di rumah mertuanya, karena ia pandai menjilat,Lauw Hung berlaku sangat baik padanya, hingga kepala pengurus rumahpun harus pandang mata padanya.

Hari itu, pagi-pagi sekali Yo Pang Sa telah masuk ke pekarangan belakang.Lauw Hung sedang mengawasi anaknya berlatih silat, Yo Pang Sa berdiri di tempat yang agak jauh sambil berkata : "Suhu, selamat pagi, melihat Suhu berdiri, aku merasakan ilmu orang lain itu tidak patut dibicarakan lagi!"

"Ah, ngoce apa kau monyet cilik?" kata Lauw Hung sambil tersenyum.

"Suhu, hari ini ada permainan yang menarik sekali, apakah Suhu tahu?" Yo Pang Sa berkata sambil maju beberapa tindak.

Lauw Hung pura-pura acuh tak acuh, tapi dalam hatinya berpikir, kata monyet cilik itu ada permainan yang menarik, pastilah permainan itu sangat menarik. Dua bulan yang lalu, monyet cilik menyaru sebagai aliran hitam, mencegat kereta barang yang dikawal oleh Liong Guan Piauw Kek, melihat Piouw Tau itu merengek-rengek minta bantuan Thio Tao Hiap hati monyet cilik merasa sangat gembira!"

"Yen ka cung (dusun Yen) yang terletak 70 li di sebelah barat, besok akan mengadakan upacara pernikahan, apakah Suhu tahu?"

Begitu mendengar ucapan Yo Pang Sa, Lauw Hung memukul dengan tangan, hingga Yo Pang Sa mundur terbirit- birit. Katanya marah : "Upacara pernikahan itu, masa aku tidak tahu? Kado pun sudah dikirim."

Yo Pang Sa maju lagi, lalu ia berlutut di hadapan Lauw Hung, kemudian ia baru berani berdiri, katanya : "Suhu, apakah kau dapat menerima begitu saja penghinaan itu?"

Kata Yo Pang Sa buru-buru : "Suhu memang orang yang berhati besar, tidak mendendam barang kecil, soal itu baru lima tahun, Suhu telah melupakannya. Yen ka cung Cuang cu (ketua) mentang-mentang ada hubungan Lo Ya (tuan besar) pada lima tahun yang lalu, ia telah merubah pagar batas sawah yang telah menjadi milik Suhu. Suhu sudah lupa?"

"Ingatanmu baik sekali, persoalan itu sudah berlalu, buat apa dikatakan lagi?" kata Lauw Hung dengan nada marah.

"Tetapi orang-orang di luar mengatakan bahwa Suhu takut pada orang she Yen itu!" seru Yo Pang Sa.

"Bohong, julukan tua bangka she Yen itu Naga berbuntut sembilan, pasti pada suatu hari, aku akan membuatnya menjadi Naga tanpa buntut."

"Ah baik sekali, hari itu, pastilah besok ya? Lo Ya tidak ingin pergi, Suhu pergilah mewakilinya," kata Yo Pang Sa sambil menepuk tangannya.

Lauw Hung berpikir sejenak, lalu katanya : "Baiklah, suruh sediakan perbekalanku!"

Yo Pang Sa mengangguk mengiyakan, lalu berlari keluar...

Lauw Hung berpikir hingga disini, keringatnya telah bercucuran membasahi punggungnya. Kejadian selanjutnya bahkan ia tidak berani memikirkannya lagi!

Ketua Yen ka cung, adalah juga seorang kenamaan di kalangan Bu lim, tadinya adalah Bu lim, tadinya perampok tunggal tanpa anak buah. Kemudian dibimbing oleh seorang Hwee Shio, meninggalkan jalan sesat dan menjadi orang baik kembali, belajar silat belasan tahun, lalu keluar lagi ke dunia kang ouw. Pernah berbuat beberapa hal yang menggemparkan dunia kang ouw. Ia dapat menantu, tentu saja ia mengadakan pesta di dusunya itu. Malam itu Yen ka cung meriah sekali, ketika kedatangan Lauw Hung dan Yo Pang Sa itu menjadi klimaknya. Ketika Lauw Hung berada 10 li dari Yen ka cung, orang Yen ka cung telah kembali melapor kepada Cung cu, ketika Lauw Hung berada 3 li dari Yen ka cung, ketua Yen ka chung, Naga berbuntut sembilan Yen ling, telah mengajak anak lelakinya Yen Cing Kiang, serta tamu- tamu yang ingin melihat wajah pendekar wanita itu menanti di pinggir jalan. Kemudian, orang-orang itu berjubel-jubel mengantar Lauw Hung masuk ke Yen ka cung, ia disambut meriah sekali. Walaupun nama Lauw Hung cukup kesohor di kalangan Bu lim, tetapi ia disambut orang dengan semeriah itu, baru pertama kali baginya. Ia menengok ke kiri dan ke kanan, semua orang bersorak-sorai padanya. Ia merasa senang sekali, rasa bencinya ketika datang tadi lenyap semuanya. Setelah tamu-tamu pada duduk semuanya, mulailah dihidangkan makanan yang lezat-lezat. Walaupun Lauw Hung adalah seorang wanita,tapi sifatnya berangasan dan galak, ia minum ciu sesuka hatinya. Pada waktu itu, berkatalah Yo Pang Sa di belakangnya dengan suara yang rendah : "Suhu, kedatangan kita kemari, Suhu sudah lupa?"

Saat ini Lauw Hung sudah agak mabok, teriaknya sambil membelalakkan mata : "Ada apa?"

Mendengar teriakan itu, tetamu yang berjumlah dua tiga ratus orang itu pada memandang Lauw Hung.Satu ruangan yang besar itu menjadi sunyi senyap. Dalam keadaan begitu, bagaimana bisa berunding untuk membalas dendam?

Yo Pang Sa menjadi gelisah. Ia tahu kalau begini terus, walaupun Lauw Hung main dengan sekali di Yen ka cung, tapi ketika pulang nanti, Lauw Hung belum membalas dendamnya, siapa tahu Lauw Hung akan memarahinya untuk melampiaskan amarah dalam hatinya? Maka ia menunduk dan berbisik di telinga Suhunya : "Suhu, apakah Suhu sudah lupa? Kita datang kemari demi..."

Ucapan Yo Pang Sa belum habis, Lauw Hung telah berkata dengan tidak sabar, "Lakukanlah kau sendiri, tambah ramai tambah bagus!"

Begitu mendengar ucapakan Lauw Hung itu, Yo Pang Sa tertegun, ia tidak tahu apa yang disebut tambah ramai tambah bagus itu? Apakah Lauw Hung... tahu dirinya bersekongkol dengan aliran hitam? Merampok kereta Piauw Kek, kemudian tidak mengembalikan harta benda itu pada Piauw Kek, melainkan dibagi-bagikan pada perampok. Yo Pang Sa berpikir hingga disini, muka berubah, diam-diam ia berpikir harus lebih giat lagi untuk membalas dendam Suhunya yang kehilangan sawah itu. Ketika itu ia tidak berani berkata apa-apa, hanya mengangguk-ngangguk saja, lalu mundur. Melihat tidak ada kejadian apa-apa, semua tetamu mulai minum kembali. Yo Pang Sa kembali ke mejanya, kebetulan sekali ia melihat tetamu yang mengerubuti Yen Cing Kiang yang jadi mempelai lelaki dan memaksanya untuk minum ciu. Yen Cing Kiang masih muda belia, ia akan memperistri seorang yang telah bersumpah sehidup semati dengannya. Maka hatinya gembira sekali, siapa saja yang menawarkan minuman padanya, belum pernah ditolaknya. Melihat keadaan itu, hati Yo Pang Sa bergetar, buru-buru ia minum satu mangkok ketika orang tidak memperhatikan dia, ia berbalik dan menyembunyikan mangkok ciu itu di bawah lengan bajunya. Ia menggoyangkan kukunya, menjatuhkan bubuk kuning ke dalam mangkok ciu itu. Hati Yo Pang Sa berdetak dengan kencang sekali, hatinya merasa takut, padahal tidak ada orang yang memperhatikan tindak tanduknya.

Dengan mangkok ciu itu, ia berjejal masuk ke dalam keramaian orang-orang itu, serunya : "Akupun memberikan selamat pada mempelai!" Semua orang mengenali dia murid Lauw Hung, melihat kedatangannya buru-buru memberikan jalan. Yo Pang Sa langsung menghampir Yen Cing Kiang, disodorkannya ciu-nya itu ke dalam mulut Yen Cing Kiang sambil berkata : "Inilah ciu, minumlah!"

Mempelai itu memang telah mabok, begitu melihat mangkok ciu, tidak sampai disambutnya, langsung saja ia menghirup dengan mulutnya, ciu itu muncrat bagai air mancur masuk ke dalam mulutnya. Ia tidak lagi membedakan apakah ciu itu beracun atau tidak, langsung saja ditelannya, para tetamu yang melihat ilmu mempelai itu,pada bersorak gegap gempita. Yo Pang Sa mundur dengan keringat dingin.

Entah ada siapa yang berteriak : "Ouw! Mana mempelai wanitanya? Kita semua pelajar silat, apakah masih malu-malu, sepereti orang biasa yang tidak berani keluar? Mempelai wanita memang gadis cantik yang kesohor, pada hari yang sangat berbahagia ini, tentu saja ia jadi lebih canti lagi, mari kasih kami lihat dong!" Seorang berteriak, semuanya mengikuti. Mempelai wanita Seng Bun Lan, sedari kecil orang tuanya meninggal. Tadinya ia tinggal di Yen kacung, ketika berumur delapan tahun, ia telah diambil kepala kuil Teng Nam, Ceng Im Sin Ni. Walaupun di bawah tangan Sin Ni (Ni Kouw Dewa), ia masih tetap seorang biasa, ia belajar silat di Teng Nam 8 tahun, dan berkelana di Bu lim 3 tahun, orang muda belia, cantik lagi, entah telah menggilakan berapa anak muda. Tetapi sejak kecil ia berkacan dengan Yen Cing Kiang, rasa kasih sayang mereka telah lama saling jalin, akhirnya menjadi suami istri, itulah jodoh mereka. Tetapi Ceng Im Sin Ni adalah orang suci, maka ia tidak terus mengikuti upacara pernikahan ini. Mempelai berada di ruang tengah, iapun telah mendengar teriakan-terikan ramai itu. Mukanya bersemu merah, ia menunduk. Ia tidak dapat lagi menahan tawanya, ia tertawa dengan riang sekali. Kawan-kawan wanitanya pda menggodainya, tapi bergiliran menongolkan kepala melihat ke ruang tamu; apakah ada pemuda jago silat yang dapat diandal menjadi suami di kemudian hari. Seluruh Yen ka cung diliputi oleh suaranya gembira ria. Sesaat kemudian Yen Cing Kiang tidak dapat menolak paksaan orang lain, ia masuk ke ruang dalam. Sampai di hadapan Seng Bun Lan, serunya : "Lan Moay, keluarlah, biar mereka melihat kau!"

"Mana boleh begitu? Ah rupanya telingamu tipis sekali!" katang Seng Bun Lan sambil membanting kakinya.

"Kalau kau tidak keluar, mereka akan mengatakan aku takut padamu, tidak bisa mengundang kau!"

"Ha, ha, kau berani mengatakan tidak takut pada Lan Moay?" kata kawan yang berada di belakang Seng Bun Lan.

"Takut sih takut, tadi di hadapan orang sebanyak itu, orang mengatakan aku takut padanya, rasanya kurang enak," kata Yen Cin Kiang sambil tersenyum.

"Semua gara-gara kau, aku tidak mau pergi," ujar Seng Bun Lan.

"Kau..." baru ia mengucapkan satu perkataan, muka telah berubah, teriaknya : "Ah!" sambil menekan dadanya, tangannya yang satu lagi menekan perutnya, melihat keadaannya tampaknya di antara perut dan dadanya itu sangat menderita! Melihat keadaan itu, Seng Bun Lan ingin berdiri. Tetapi sanak famili yang berada di sampingnya itu pada tertawa terbahak-bahak.

"Bun Lan, coba lihat, dia bisa juga manja di hadapanmu!

Kalau kau mengiyakannya, dan ia sering-sering begitu, bagaimana aku nanti? Hm, hal itu tidak boleh dikecualikan, jangan hiraukan, biar! entah dari siapa ucapan itu.

Seng Bun Lan terus menatap Yen Cing Kiang yang mukanya kian lama kian pucat, bahkan keringat bercucuran dari keningnya. Tiba-tiba Seng Bun Lan berdiri, teriaknya : "Kenapa kau?" Pada waktu itu Yen Cing Kiang telah melempengkan tubuhnya, tetapi mukanya pucat pasi, suaranya dingin menyerankan orang : "Kau, keluar atau tidak?"

Seng Bun Lan tertegun, pikirnya : "Bagaimana persoalan ini?" Ia adalah orang yang teliti, segera ia tahu ada yang tidak beres, buru-buru ia menoleh sambil beranya : "Mana Lo Ya?

Tolong panggilkan cepat!"

Pada saat ini, semua famili yang berada di dalam ruangan itu tahu ada yang tidak beres mendengar ucapan Seng Bun Lan itu, segera ada seorang gadis pergi keluar. Tapi baru saja gadis itu melangkah dua tindak, ia telah dibentak oleh Yen Cing Kiang : "Mau kemana kau? Aku pernah takut dengan siapa? Kamu mau menekan aku dengan Lo ya?" Dalam sekejap saja, seakan telah menjadi orang lain.

"Kemasukan setan! Fong cie, cepatlah kau pergi!" teriak Seng Bun Lan sambil membanting kakinya. Orang yang dipanggil Fong cie itu buru-buru melangkah keluar. Tetapi sekali ini, ia baru melangkah setindak, tiba-tiba Yen Cing Kiang berteriak sambil membentangkan kedua lengannya, tubuhnya melayang melampaui beberapa orang, dan berdiri di depan gadis itu. Matanya memancarkan cahaya yang mengerikan.

Gadis itu tertegun. Yen Cing Kiang mengulurkan tangan dan mencekal dada gadis itu.

Gadis itu adalah anak Siang Kiang Toa Hiap Ang Cau Hua, masih seorang perawan. Cekalan Yen Cing Kiang ini persis mengenai dadanya. Hal itu sudah cukup mencengangkan orang-orang yang melihatnya. Tapi kejadian berikutnya lebih mengerikan lagi. Terdengar suara bentakan Yen Cing Kiang: "Suruh kau berdiri, kau masih begini pergi?" Ia berkata begitu seraya melayangkan tangannya dan pukulannya tepat mengenai kepala gadis itu. Anak Ang Cau Hua tentu saja mengerti ilmu silat. Tetapi kejadian itu mendadak saja, ia tidak bersiap siaga sedikit sebelumnya. Begitu terpukul kepalanya, belum sempat ia berteriak, ia telah mati dengan sangat mengerikan sekali.

Yen Cing Kiang menangkap orang, itu saja sudah cukup mengagetkan orang-orang, apalagi setelah ia memukul gadis itu hingga mati, keheranan tetamu itu mencapai puncaknya! Tiba-tiba semuanya pada menjerit saking terperanjatnya.

Di ruang tamu itu, suara orang ramai sekali, ada yang membuat apakah mempelai lelaki dapat mengajak keluar mempelai wanita atau tidak sebagai taruhan. Tetapi jeritan tiba-tiba dari dalam itu menutupi keramaian di luar. Sekejap saja ruangan besar itu menjadi sunyi senyap.

Jeritan tiba-tiba itu, cukup membangunkan orang yang lain sedang mabok. Pada saat ini, di ruang besar itu boleh dikatakan tidak ada satu orang pun yang mabok, tidak ada orang yang bergerak. Karena tidak ada orang yang tahu bagaimana persoalannya. Gordin di pintu menuju ke ruang tengah itu terobek, sesosok bayangan meloncat keluar dengan wajah yang penuh ketakutan, dialah mempelai wanita Seng Bun Lan!

Yen Ling berdiri dengan menekankan kedua tangannya di atas meja, teriaknya : "Ada apa?"

Seng Bun Lan belum sempat membuka mulutnya, air matanya telah bercucuran jatuh di tanah, serunya : Lo Ya!" Ia hanya berseru begitu, lalu tidak bersuara lagi. Bagaimana memintanya menceritakan kejadian itu? Wanita-wanita yang dapat bersilat di ruang dalam itu pada keluar semuanya, "Celaka! Celaka!" teriak mereka.

Lauw Hung berada dalam keadaan sangat gembira, melihat situasi yang menjadi kacau balau itu, ia marah. Tiba-tiba ia memukul meja itu dengan tangannya, kekuatan tenaga pukulannya sangat dahsyat hingga meja itu bolong. Semua piring mangkok pada berjatuhan di atas tanah, tidak dihiraukannya. Ia masih berteriak : "Ada apa? Begini banyak orang disini, ada apa yang harus ditakuti? Siapa yang masih ribut lagi..." Ucapannya itu belum selesai, tidak ada orang yang ribut lagi. Ruang besar itu menjadi sunyi kembali. Itu bukan pengaruh ucapannya, tetapi Yen Cing Kiang telah melangkah keluar! Yen Cing Kiang masih memegang dada Ang Fong. Tubuh Ang Fong terkulai, ia telah mati dan diseret-seret Yen Cing Kiang keluar. Baru saja ia menginjakkan kakinya di ruang besar, dalam keheningan itu, hanya terdengar sebuah terikan yang aneh dan sesosok bayangan berkelebat melayang ke hadapan Yen Cing Kiang. ITulah sebuah wajah jernih yang kurus, seorang lelaki setengah baya, dialah pendekar besar sungai Siang, Ang Cau Hua. Ia berhenti di muka Yen Cing Kiang, lalu mengangkat kepala Ang Fong. Tiba-tiba ia terpaku, "Fong Ji!" teriaknya seakan ia berada di alam impian.

Ia menengadah, baru saja ia ingin menanyai Yen Cing Kiang siapa yang telah membunuh anaknya, tiba-tiba Yen Cing Kiang berteriak sambil memukul dada Ang Cau Hua! Ilmu Ang Cau Hua tentu saja berada di atas Yen Cing Kiang, tapi pukulan Yen Cing Kiang itu datangnya mendadak sekali, bahkan ia belum sempat untuk berpikir untuk mengelak, pukulan telah bersarang di dadanya. Lagi pula pukulan Yen Cing Kiang itu kuat sekali. Tubuh Ang Cau Hua terhuyung- huyung mundur setengah tindak. Kepala Ang Fong terkulat kembali. Ang Cau Hua merasakan matanya berkunang- kunang, dadanya sakit dan memuntahkan darah segar, darah itu persis menyembur ke muka Yen Cing Kiang. Wajah yang berlumuran darah itu lebih menyeramkan lagi. Tiba-tiba ia melangkah setindak lagi, pukulan kedua melayang ke dada Ang Cau Hua. Melihat keadaan ini, Seng Bun Lan yang berada di sampingnya bereriak, tangannya berbalik dan menyambar sebuah pedang tamu yang panjang, pedang panjang itu melayang menusuk telapak tangan Yen Cing Kiang. Melihat pedang itu, Yen Cing Kiang tertawa, dibaliknya tangannya menyambar pedang itu, jurus itu dilakukan dengan cepat sekali, boleh dikatakan ilmu yang sangat ajaib. Seng Bun Lan terpaku melihat tindakan itu, walaupun pedang panjang itu bukan membabat besi bagai membabat tanah, tapi sangat tajam. Yen Cing Kiang bahkan menggunakan tangannya untuk menangkap pedang itu, apakah ilmu silatnya telah mencapai sedemikian tingginya? Seng Bun Lan kaget, buru-buru ia menarik kembali pedang panjang itu, tapi sambaran tangan Yen Cing Kiang itu sangat cepat sekali, kelima jarinya telah mencekal pedang itu. Pedang itu sedang ditarik oleh Seng Bun Lan, walaupun dicekal oleh Yen Cing Kiang, pedang itu tetap tertarik kembali. Pada detik- detik itu terdengarlah jeritan Yen Cing Kiang yang kesakitan, kelima jarinya telah terbabas putus, darah muncrat dengan derasnya. Tubuhnya terhuyung ke depan setindak, Seng Bun Lan melepaskan tangannya dan pedang itu terjatuh ke atas tanah.

Melihat keadaan Yen Cing Kiang, setelah ia melangkah setindak; seakan ia masih mau memukul. Tetapi ketikaia melangkah, tubuhnya berhenti, tidak lagi melangkah maju, ia terpaku sekejap, lalu menengadah memandang ke sekeliling.

Di ruang besar itu, karenan kejadian itu terjadi sangat mendadak sekali, hingga semua orang terperangah, biarpun yang berkumpul disitu kebanyakan jago-jago silat kelas satu, tetapi kejadian itu sangat mendadak. Wajah siapa yang tidak berubah kalau menyaksikan gunung roboh di hadapannya?

Yen Cing Kiang menahan dirinya, tidak lagi bergerak, orang lain pun hanya memandanginya dengan pandangan yang ketakutan. Bahkan Yen Ling si Naga berbuntut sembilan sendiri tidak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba Yen Cing Kiang berteriak dengan aneh sekali : "Kenapa semuanya?"

Teriakan itu timbul dari mulit Yen Cing Kiang sendiri, hingga membuat hati orang lebih bergidik lagi.

Ucapan itu boleh diucapkan oleh siapa saja, tapi tidak seharusnya keluar dari mulut Yen Cing Kiang. Semua kejadian itu adalah hasil tangannya sendiri, tapi ia masih bertanya : "Kenapa semuanya ini?"

Kalau bukan menyaksikan keadaan yang kacau balau itu, tentu sudah banyak orang yang akan tertawa terbahak-bahak.

Tetapi beberapa jago silat yang begitu mendengar ucapan Yen Cing Kiang itu, hati mereka betul-betul merasakan kengerian. Karena melihat wajah Yen Cing Kiang sekarang yang gusar dan bingung itu, sseakan ia betul-betul tidak tahu apa yang telah terjadi! Yen Ling si Naga berbuntut sembilan paling tahu akan sifat anaknya, kini iapun paling kaget. Yang membikin dia kaget itu, bukannya karena Yen Cing Kiang telah membunuh orang, merubah suasana riang gembira itu menjadi suatu bencana, tapi karena dari tingkah laku Yen Cing Kiang tadi yang seperti orang gila, dan wajahnya sekarang yang menunjukkan kegusaran dan kebingungannya itu. Tiba- tiba ia teringat dua orang, kedua orang itu biasa menggunakan ilmu ajaib 'Mo Tiang Mi Huan Toa Hoat' (semacam ilmu hipnotis jaman sekarang) yang amat lihai dari aliran hitam. Kabarnya, kedua orang itu hanya dengan menunjukkan tangan mereka saja, sudah dapat membuat orang menuruti segala perintah melakukan hal-halyang sangat bertentangan dengan sifat aslinya. Andaikata Yen Cing Kiang membunuh orang tadi karena terkena permainan itu, sedangkan kedua orang itu telah tiba di Yen ka cung berarti suatu bencana yang maha besar!

Tiba-tiba keringat dingin Yen Ling bercucuran, ia tidak dapat berkata apa-apa.

*** Pada saat itulah terdengar suara terikan orang : "Tung Hai Siang Koi (dua iblis dari laut timur), Mong Eng, Teng Tok!" Baru habis orang itu berteriak, ada lagi yang berteriak : "Mo Ting Mi Huan Toa Hoat!" Setelah teriakan kedua orang itu,semua orang dalam ruangan besar itu pada menahan napas masing-masing.

Andaikata ada sebatang jarum terjatuh ke atas tanah pada detik ini, pastilah orang dapat mendengar suaranya.

***

Lauw Thian Hauw membalik tangannya dan memukul meja, meja itu tidak bergerak sedikitpun. Lauw Thian Hauw menekankan tangannya di atas meja, tidak ditariknya, sedangkan dia berdiri dengan tiba-tiba, tubuhnya bergemetaran. Katanya : "Tung Hai Siang Kui, Hung Jie, Tung Hai Siang Kui, kau... kita adalah pendekar budiman yang kesohoran di dunia kang ouw,kenapa kau turut campur dengan orang seperti Tung Hai Siang Kui itu. Kenapa kau begitu?" Ucapannya yang terakhir itu bukan saja suaranya telah berubah, bahkan tubuhnya bergemetaran lebih hebat lagi. Kemudian meja y ang tertekan oleh tangannya itu buyar sedikit demi sedikit, akhirnya berantakan menjadi berkeping- keping.

Rupanya ketika ia memukulkan tangannya ke meja, meja itu telah tergetar hancur. Tetapi karena tenaga tangannya itu sangat sempurna, maka untuk sementara waktu, dilihat dari luar, meja itu masih utuh.

Lauw Hung sedang menceritakan tentang kejadian di Yen ka cung, ketika sedang tegang-tegangnya, ucapan terputus karena tingkah laku Lauw Thian Hauw yang bertindak dengan mendadak sekali itu. Ia dimarahi Lauw Thian Hauw, mukanya menjadi hijau. Ia berkata setelah tertegun sejenak : "Aku tidak ada hubungan dengan mereka... hanya... hanya..." Lauw Nen, Lauw Jok Hong dan Lauw Hwie bertiga berkata dengan serentak : "Hanya apa?"

Muka Lauw Hung menjadi merah padam, katanya : "Adik- adikku yang baik,kamu jangan merasa syukur, aku hanya membantu mereka sekali, mereka berterima kasih padaku, dan memberikan tiga butir "Mi Huan Sa" (Pasir menyesatkan sukma) pada si monyet kecil Yo Pang Sa itu. Diletakkannya sebutir di dalam ciu Yen Cing Kiang, maka Yen Cing Kiang baru..."

Lauw Nen tidak menunggu ucapan Lauw Hung itu habis, lalu ia berkata sambil tersenyum dingin : "Apakah tidak cukup? Hm! Tidak disangka rumah kita yang terkenal dengan julukan pendekar budiman ini, malah ada orang kita yang mengadakan hubungan dengan Tung Hai Siang Kui yang sangat kejam dan sangat keji itu. Kalau begini So Beng Hiat In datang ke rumah kita itupun bukan satu hal yang aneh."

Wajah Lauw Hung sebentar merah sebentar putih, begitu Lauw Nen habis bicara, langsung ia berteriak : "Kau jangan mengatakan aku saja, dan kau sendiri bagaimana?"

Lauw Nen tadi masih agak berlagak angkuh, ditanya Lauw Hung dengan begitu, tiba-tiba mukanya menjadi pucat bagai mayat, siapapun dapat merasakan senyumannya itu sangat kaku dan sangat dibuat-buat! Lauw Thian Hauw mengepal kedua tangannya, ia ingin tertawa. Rupanya rumah pendekar budiman ini, setiap orang mempunyai perbuatan kotor yang tidak dapat diucapkan! Bukankah sangat lucu? Tentu saja, ia tidak jadi tertawa, hanya berkata dengan suara yang berat : "Kejadian di Yen ka cung itu, kemudian bagaimana coba tuturkan!"

Lauw Hung telah menceritakannya, kagetnya telah berkurang, ujarnya : "Ruang besar itu menjadi sunyi sekali..." Ia baru berkata sepatah, terdengarlah suara Macan tutul merah Then Seng dari seberang sana: "Lauw Lo ya, ada tamu!" Lauw Thian Hauw tertegun, membentangkan tanganya minta Lauw Hung jangan meneruskan ceritanya itu, segera sahutnya : "Sudah ku katakan, aku tidak mau menerima siapapun, kenapa kau masih lapor kemari?"

"Lo ya, tamu itu sangat istimewa. Kelihatannya tidak dapat tidak diterima!" jawab Then Seng.

Suara Then Seng itu melambung sampai ke rumah itu. Wajah setiap orang menjadi berubah, yang dipikirkan oleh setiap orang ialah So Beng Hiat In telah datang.

Dari wajah mereka yang sedemikian kagetnya itu, rupanya yang mereka takuti ialah So Beng Hiat In datang mencari diri sendiri, mereka pada menguatirkan diri masing-masing!

Kesemua orang itu, hanyalah Lauw Thian Hauw yang paling tenang. Ia tahu, bayangan darah baru timbul tadi pagi, sekarang belum sore, tidak mungkin ia datang secepat ini!

"Siapa yang datang itu?" katanya sambil menarik napas. "Tung Hai Siang Kui" ujar Then Seng dengan sangat jelas. "Ah, mereka," teriak Lauw Thian Hauw terlepas.

Dari kejauhan, melayanglah suara yang sangat mengejutkan orang : "Tidak salah, kami Tung Hai Siang Kui mohon bertemu dengan Singa Emas Lauw Toa Hiap, ini boleh dikatakan suatu hal yang aneh di kalangan Bu lim, bukankah begitu Lauw Toa Hiap?"

Siapa Lauw Thian Hauw ini, sekali dengar saja ia sudah tahu Tung Hai Siang Kui masih berada di ruangan besar. Dalam keadaan segawat ini, kedua manusia yang kesohor akan kebuasan mereka itu datang berkunjung. Kalau mereka melihat bayangan darah di tembok itu... hati Lauw Thian Hauw bergetar, lebih baik menyilahkan mereka masuk, pikirnya.

"Then Kwan Ka, persilahkan tamu masuk!" serunya segera! Then Seng tertegun sejenak baru menyahut : "Ya." Rupanya ia merasa heran dengan keputusan majikannya itu.

Semua orang di dalam rumah itu melihat tubuh Lauw Thian Hauw melayang keluar, kemudian pandangan mata mereka tertuju pada Lauw Hung.

"Mau apa melihat aku?" bentak Lauw Hung marah.

"Toa cie, kawan baikmu datang mencari kau!" kata Lauw Jok Hong sambil tersenyum licik.

"Kau berani sembarangan ngomong?" bentak Lauw Hung, tangannya melayang ingin menangkap dada Lauw Jok Hong. Tiba-tiba terdengarlah suara dari seberang sana : "Rupanya Lauw Toa cie juga ada disini, kebetulan sekali."

Buru-buru Lauw Hung menahan tangannya, ia menoleh ke seberang sana, kecuali Then Seng masih ada dua orang lagi. Kedua orang itu yang seorang kurus tinggi, memegang sebuah kipas yang digoyang-goyangkannya dengan perlahan-lahan, berpakaian warna hijau, tampan sekali, bagaikan sebuah lukisan. Yang satu lagi agak pendek, berpakaian warna kasar, di punggungnya tergantung sebuah topi rumput, tampaknya seperti seorang nelayan, sederhana sekali.

Melihat kedua orang itu, hati Lauw Hung berdetak kencang, tapi mulutnya masih berkeras : "Ada hubungan apa antara aku dengan kamu? Aku ada disini atau tidak, itu bukan urusanmu!"

Su seng (orang terpelajar yang memegang kipas itu, adalah It Sian Kau Huan (sekali senyum mencabut nyawa) Mong Eng, satu dari Tung Hai Siang Kui. Ia seakan tidak mendengar ucapkan Lauw Hung, merapatkan kipasnya lalu menunjuk ke empang, katanya : "Ji te, coba lihat. Disini tidak ada perahu, tidak ada jembatan, Lauw Toa Hiap ingin menemui kita di rumah itu, terang-terangan dia mau menguji kita bukan?" "Ya, jangan-jangan kita tidak bisa menyeberang. Tapi biar bagaimana juga harus kita coba bukan? Toa ko, silahkan jalan duluan!" seru si pendek Ting Tok dingin.

Berbareng dengan beakhir ucapannya, ia telah membabat keluar! Babatan itu, kalau hanya mendengar suaranya, orang tidak dapat merasakan kekuatan tenaganya karena pukulan itu sangat lunak sekali. Tetapi bersamaan dengan pukulannya tiba-tiba muncullah air mancur di hadapannya yang kira-kira berjarak 7 atau 8 kaki jauhnya. Mong Eng mengangkat tubuhnya melayang ke arah air mancur itu, sesampai di puncaknya tubuhnya agak mengendap. Ia mengulurkan tangan membabat pula, di hadapannya sejauh 5 atau 6 kaki, timbullah pula air mancur pada saat itu, Ting Tok telah melayangkan tubuhnya hinggap di puncak air mancur yang dihasilkan oleh Mo Eng. Menggunakan tenaga air yang muncrat ke atas itu, ia menahan tubuhnya di tengah-tengah udara, lalu dengan segera ia membabat lagi ke depan.

Gerakan koordinasi kedua orang itu sempurna sekali, yang satu membabat yang satunya mengangkat tubuhnya melayang, dan ketika tubuh mereka agak berhenti, pada saat itulah membabat ke depan lagi. Keduanya menggunakan air mancur yang dihasilkan oleh kawan masing-masing sebagai tempat berpijak, dalam sekejap saja terdengarlah suara air muncrat tidak henti-hentinya. Air mancur bermunculan, bayangan orang melayang-layang dan kedua orang itu telah tiba di seberang dengan tertawa terbahak-bahak.