-->

Asmara Pedang dan Golok Bab 19

Bab 19

Matanya masih ada sinar, juga masih lincah, berarti pikirannya tidak dikendalikan orang. Bukan begitu saja, di dalam sorot matanya masih ada perasaan yang dalam dan jauh, membuat orang merasa kebingungan.

Dia terdiam sebentar baru berkata, suaranya selain tidak tua juga tidak jelek:

"Apa kau Hoyan Tiang-souw? Kau tahu tidak ada dua orang ingin membunuh mu?"

Hoyan Tiang-souw tidak menjawabnya, ini adalah kebiasaan lamanya, setiap kata-kata yang tidak ada maknanya, jika dia bisa tidak menjawab pasti tidak akan menjawab. "Aku adalah salah satunya, dan satu orang lagi ada di belakang pohon sana. Jika aku tidak bisa membunuhmu, baru giliran dia melakukannya."

"............" Hoyan Tiang-souw tetap tidak bicara dan tidak bergerak, bahkan matanya pun tidak bergerak, tidak melihat ke arah pohon besar itu.'

Dia bukan berhati batu atau tidak ada pikiran. Kenyataannya   pikiran   dia   sedang   menyelidikinya,

apakah wanita ini pembunuh bayaran yang sebenarnya?

Atau boneka yang dikendalikan oleh orang lain?

Sekarang dia baru benar-benar merasakan pengalaman dia di dunia persilatan masih kurang banyak, kelemahan atas minimnya pengetahuan tentang peristiwa di dunia persilatan.

Jika pengetahuan dia cukup banyak dan cukup luas, wanita yang rupanya aneh dan memamerkan buah dadanya ini, pasti sangat dikenal oleh orang-orang persilatan.

Sehingga dia tidak perlu menduga-duga siapa dia ini! Wanita kotor itu berkata lagi:

"Sepertinya kau tidak kenal aku. Jika kau benar benar tidak'mengenal tapi juga ingin tahu siapa aku, maka aku akan mengatakannya padamu."

Hoyan Tiang-souw mengangkat bahu, tampang amarahnya laksana dewa di langit.

Tapi karena dia masih tetap bungkam, maka sulit bisa diduga apa maksud sikapnya ini.

Buah dada siwanita itu lebih di tonjolkan lagi dan berkata: "Aku adalah Kiu-beng-lo-cat (Iblis bernyawa sembilan), aku tahu kau pasti belum pernah mendengar namaku."

Walaupun buah dadanya sangat menonjol dan mencolok mata, tapi tidak ada gaya tariknya, malah ada perasaan licik.

Suaranya kaku, nadanya datar, seperti kakak tua yang baru belajar bahasa manusia, membuat orang merasa tidak nyaman!

Apa betul di dalam dunia persilatan ada orang yang disebut Kiu-beng-lo-cat Seebun Kiauw, Hoyan Tiang-souw tidak tahu, jika tidak tahu, maka dia terpaksa memperhatikannya dari bagian lain.

Dia ingat ketika dia keluar dari rerumputan, pernah membalikan kepala melihat ke belakang, dan di dalam rerumputan sampai sekarang masih ada orang yang bersembunyi.

Sekarang di tambah dengan suaran)'a yang kaku, dia segera mendapat satu kesimpulan, gerak dan bicara dia selain bukan keinginannya sendiri juga bukan refleknya.

Dengan kata lain, dia mungkin boneka yang dikendalikan orang.

Tujuan orang yang mengendalikannya sangat jelas, tidak lain supaya dia lengah, supaya dia bisa menyerang, saat itu orang yang mengendalikan di belakang jadi ada kesempatan untuk menyerangnya.

Hoyan Tiang-souw memutuskan menyelidiki-nya dengan tuntas.

Dia segera meloncat sejauh dua tombak ke kiri.

Semua orang pasti mengira dia ketakutan dan melarikan diri, tapi begitu kakinya Hoyan Tiang-souw menyentuh tanah, mendadak dia menerjang lagi miring ke kanan. Saat dia berhenti jaraknya tinggal satu tombak lagi dari rerumputan itu.

Jalur loncatan dia ini, tepat menghindarkan hadangan wanita kotor itu.

Sinar golok terlihat laksana kilat di malam yang gelap, sinarnya menyilaukan mata, sekali melesat langsung hilang.

Mo-to kembali ke dalam sarungnya, juga tetap'^ dikepit di ketek kirinya. Tapi rerumputan itu ada seluas satu tombak lebih sudah dibabat rata oleh dia, sehingga orang yang ada di dalam rerumputan itu jadi terlihat.

Dia juga seorang nyonya.

Memakai baju orang kampung, di punggung-nya masih menggendong seorang anak kecil.

Dia berlutut disana, wajah menengadah keatas, maka terlihat wajahnya yang jujur dan polos, dan masih terlihat sepasang matanya sudah tertutup rapat!

Malah terlihat garis alis dan bibirnya yang terlihat ketakutan, pelan-pelan menghilang, kembali ke wajah asalnya yang jujur dan polos itu.

Posisi bersujudnya pun tidak bisa dipertahan-kan lagi, dengan cepat jatuh ke samping. Anak kecil di punggungnya tidak bereaksi, bisa dilihat jika bukan tertidur lelap, maka pasti sudah mati.

Hoyan Tiang-souw mendengar sebuah suara tawa, sekali membalikan kepala dan mengawasi, terlihat Kiu-beng-lo-cat mengangkat kepala, membuka rambut, menampakan setengah wajahnya lagi.

Ternyata dia bermata cantik, warna kulitnya juga terang. Di bandingkan dengan setengah wajah kotor lainnya, laksana salju di banding dengan tanah.

Suaranya pun sudah tidak kaku lagi, berkata:

"Buat apa kau membunuh ibu dan anak yang sama sekali tidak bisa ilmu silat?"

Setelah berbicara, dia melenggok dan buah dadanya bergoyang-goyang menghampiri.

Belum selesai bicara, dia sudah mendekat dalam jarak dua belas langkah.

Mendadak lima gumpal serat perak melesat.

Sasarannya tentu saja Hoyan Tiang-souw, tapi arah malah kecepatannya ada sedikit perbedaan, membuat kekuatannya juga sedikit berbeda.

Saat itu Mo-to Hoyan Tiang-souw melesat mengeluarkan desingan suara yang cukup keras, Mo-to seperti naga keluar dari sarung goloknya.

Walaupun desingan itu keluar tanpa bisa di cegah, tapi telapak tangan Hoyan Tiang-souw yang sangat kuat pada waktu yang tepat sudah menangkap pegangan goloknya lagi, kelihatannya dia seperti baru mencabut goloknya.

Sinar Mo-to berkilat-kilat, menyilaukan mata.

Lima gumpal serat perak seperti masuk ke dalam lautan, hilang tidak berbekas.

Tubuh Kiu-beng-lo-cat Seebun Kiauw bergetar seperti kedinginan.

Wajahnya terlihat ketakutan sekali, matanya berkunang- kunang, tangannya menjadi lemas, kaki sulit bergerak.

Begitu wajahnya menjadi pucat, mana masih ada tampang seorang penjahat ulung masa kini? Di ujung sepasang alis tebalnya Hoyan Tiang-souw timbul hawa amarah yang amat sangat, sambil mengangkat golok dia melangkah mendesak ke depan, suaranya laksana geledek:

"Wanita jahat yang sadis, kembalikan nyawa ibu dan anak itu!"

Bentakan dia ini malah jadi menyadarkan Seebun Kiauw.

Terlihat dia menyilangkan sepasang tangannya, seperti menutupi dadanya yang terbuka.

Tapi kenyataannya bukan begitu. ^

Begitu sepasang tangannya disatukan lalu dibuka lagi, segulung awan hitam sebesar muka meja terbang keluar, dengan cepat mengurung lawannya.

Jika orang lain melihat serangan yang amat keji ini, bukan saja akan terkejut, dan juga sulit bisa melihat benda apa awan hitam itu?

Di dalam hati Hoyan Tiang-souw malah tertawa dingin, dia bisa melihat jelas apa sebenarnya gulungan hitam itu, awan hitam itu terdiri dari dua jaring serat hitam.

Di balik jaring hitam ada lagi beberapa jarum perak yang bersinar terang melesat datang.

Amarah di dalam hati dia segera bertambah beberapa kali.

Manusia semacam Seebun Kiauw yang berilmu tinggi, malah bisa secara diam-diam menyerang dirinya?"

Dia selain sudah membunuh dua nyawa yang tidak berdosa, apa pun bisa di perbuatnya? Sinar Mo-to dan hawa dingin mengikuti amarahnya bertambah beberapa kali lipat.

Orang yang langsung menghadapinya, selain bisa melihat di dalam kilatan sinar yang memenuhi langit ada dua tetes air mata jernih, juga masih harus menerima hawa dingin yang membekukan darah.

Sebenarnya orang lain juga bisa melihat dua tetes air mata itu, hanya tidak bisa merasakan bagaimana hawa dingin yang amat dahsyat itu.

Hoyan Tiang-souw membacokan goloknya dari atas kebawah, dan bersamaan waktu berteriak seperti geledek, hingga menggetarkan bumi.

Serangan ini tidak ada keanehan, tapi bisa mengandung jutaan perubahan. Rambut hitam dan puluhan jarum perak Seebun Kiauw, semua jatuh ke tanah.

Seebun Kiauw sendiri lebih celaka lagi dari pada senjata kejinya, dia bukan saja jatuh tertelungkup ke tanah, kepalanya juga terbang sejauh satu tombak lebih.

Sebelum mati, sedikit jerit pun tidak keluar dari mulutnya.

Hanya satu jurus Hoyan Tiang-souw sudah membunuh musuhnya, seperti biasa Mo-to sudah masuk kembali ke dalam sarungnya.

Pelan-pelan dia memutar tubuhnya, melihat pada sebuah pohon besar yang berjarak tujuh delapan tombak.

Alis tebalnya berdiri, amarahnya masih ada, tampangnya ganas sekali.

Di dalam rimbunnya daun di atas pohon besar terdengar bunyi "Ssst ssst!", seseorang terbang keluar laksana burung raksasa terbang turun ke atas tanah! Jarak di antara mereka hanya kurang lebih lima tombak, terlihat orang itu berkepala sangat besar, sepasang telapak tangannya juga besar sekali seperti kipas.

Tubuh Hoyan Tiang-souw sudah cukup tinggi besar, tapi dibandingkan dengan orang ini, malah jadi seperti orang biasa bertemu dengan raksasa, sama sekali tidak terlihatbesar.

Tentu saja orang berperawakan raksasa bukan berarti tidak bisa dibunuh, lebih-lebih bukan tiada lawannya di dunia.

Tapi orang berperawakan tinggi besar, dengan lengannya yang besar berotot, sebelum bertarung sudah * mendapat keuntungan.

Perihal menakutkan juga jauh lebih menakut-kan dari pada orang yang berperawakan kecil pendek.

Makanya tidak mengherankan jika raksasa itu bertingkah memandang remeh setiap orang.

Walaupun dia sudah terbiasa memandang remeh setiap orang yang lebih kecil dari pada dia, tapi belum tentu dia pasti memandang enteng lawannya.

Perkataannya walaupun tidak bisa disebut lebih menggelegar dibandingkan dengan Hoyan Tiang-souw, tapi juga tidak lebih kecil. Pokoknya jika kedua orang ini bertengkar, dipastikan orang yang berada dalam jarak sepuluh li lebih juga akan merasakan berisik.

Dia berkata:

"Kehebatan Mo-to, memang bukan kabar angin, benar- benar telah membuka mataku!" "Siapa kau?" kata Hoyan Tiang-souw. Otot di wajah raksasa itu bergetar-getar, tawa-nya sangatbengis menakutkan orang.

"Margaku Lirn, Bengs-an namaku, julukannya Cian-Ii-it- cin-hong (Angin berhembus seribu), julukan ini terlalu panjang, dan tampangku seperti beruang, dari sudut mana melihatnya juga tidak setenang seperti It-cin-hong. Makanya aku sangat tidak suka julukan ini. Kau panggil saja aku Lirn Beng-san sudah cukup!"

Orang yang berperawakan sebesar dia, walau pun suaranya seperti geledek, tapi tidak diduga isinya kosong dan panjang.

Tapi Hoyan Tiang-souw tidak berpikir demi-kian, dia dengan teliti memperhatikan segalanya, malah setiap kalimatnya juga diteliti dengan hati-hati sekali.

Sebab diapun berperawakan tinggi besar dan ganas, hingga gerakannya menutupi gerakan otaknya.

Sepanjang hidupnya dan untuk pertama kali di dalam hatinya samar-samar timbul sedikit rasa ngeri.

Musuh kali ini sungguh menakutkan sekali, bukan saja sejak lahir dia sudah bertenaga besar dan pemberani, dia pun masih berotak licik.

Musuh seperti ini tentu saja musuh yang paling ditakuti di dunia!

Orang ini mungkin tidak termasuk dalam katagori orang jahat, walaupun dia menghadang jalan-nya ingin membunuh, tapi pesilat pemberani mana yang tidak ingin mencari lawan sepandan?

Siapa yang tidak ingin merasa bangga karena bisa mengalahkan lawannya? Maka secara serius tindakan seperti ini tidak bisa diartikan licik juga tid ak bisa diartikan jaha t.

Masalah ketika bertarung menggunakan cara dan siasat, tentu saja itu pun tidak bisa disebut licik.

Sehingga dia tidak sama dengan Seebun Kiauw, begitu menghadapi Mo-to, nyawanya langsung melayang.

Dalam sekejap Hoyan Tiang-souw sudah memutuskan cara menghadapi Lim Beng-san. Saat itu dia berkata:

"Tidak perlu banyak bicara, jika kau berniat membunuhku, maka menyeranglah. Jika tidak berani, kau cepatpergi dari tempatini!"

Lim Beng-san melototkan matanya besar-besar^ seperti lonceng.

Apa lagi di dalam matanya menyorot sinar bengis, sungguh menakutkan orang.

Dengan marah dia berkata:

"Tidak perlu sungkan-sungkan seperti ini. Walaupun aku menjaga di sini untuk membunuhmu, tapi sebelum bertarung, ada satu hal yang kau tidak boleh tidak harus tahu."

"Tidak perlu, masalahku bisa kuurus sendiri. Masalahmu aku tidak ingin tahu."

Lim Beng-san tertawa terbahak-bahak sampai menggetarkan dedaunan hingga jatuh. Lalu berkata:

"Kau sungguh tidak mau tahu? Kau jangan menyesal. "

Hoyan Tiang-souw sedikit pun tidak terpengaruh, dengan tegas berkata:

"Aku jarang menyesal, dan kuharap kau juga sama." Di dalam mata Lim Beng-san tampak sinar mengejek dan licik. Di dalam hati dia memang sedang mentertawakan Hoyan Tiang-souw. menganggap dia adalah orang kasar yang merasa diri sendiri benar.

'Setiap orang yang sudah sedikit berhasil, selalu suka memperkirakan masalah berdasarkan pikirannya sendiri, dan tidak suka mendengarkan kata-kata orang?

Malas mendengarkan kata-kata orang masih bagus, tapi kata-kata musuh harus didengarkan semakin teliti semakin bagus, dengan demikian baru bisa hidup lebih lama.

Ini adalah nasihat guruku beberapa tahun lalu, kelihatannya Hoyan Tiang-souw tidak punya guru sebaik yang ku punya. '

Tapi Hoyan Tiang-souw jelas mempunyai guru yang pandai mengajarkan ilmu silat, makanya Mo-to nya sangat mahir membunuh orang.

Kelihatannya sifat dia juga mungkin sangat kejam dan kasar, laksana jurus goloknya, makanya mengenai wanitanya itu, diberitahukan pada dia juga mungkin tidak akan bisa mempengaruhinya?

Hawa amarah Hoyan Tiang-souw pelan-pelan menyembur di kedua ujung alis tebalnya.

Dia tahu pasti Lim Beng-san sedang men-tertawakan dia di dalam hatinya.

Apa yang dia tertawakan tidak bisa diketahui. Tapi ini sudah cukup membuat dia jadi marah!

Jika di tangan Lim Beng-san memegang senjata, dia pasti tidak menunggu lagi langsung mencabut golok membunuhnya. Tapi menunggu sebentar juga tidak masalah, karena hawa amarahnya semakin menunggu bisa semakin tinggi, tidak akan karena menunggu jadi berkurang.

Dan jurus goloknya malah semakin hebat jika hawa amarahnya semakin tinggi, semakin hebat dan semakin dahsyat.

Dengan suara keras Lim Beng-san menarik nafas, tubuhnya yang seperti raksasa juga tampak lebih besar lagi.

Di dalam rerumputan berjarak satu tombak lebih "Weet!" terbang keluar satu tongkat besi sebesar telur bebek, panjangnya kurang lebih tujuh kaki.

Tongkat besi ini tentu sangat berat.

Tapi Lim Beng-san dengan tenaga dalamnya bisa menghisap dari kejauhan, begitu mudah seperti memungut rumput.

Ketika telapak tangannya yang besar menang-kap tongkat besi itu, tongkat besi yang tidak bisa diangkat oleh orang biasa itu, malah seperti berubah jadi batang padi, seperti orang biasa memegang tongkat kecil panjang.

Suara dia lebih keras dari biasanya, hingga memekakan telinga. Dia berkata:

"Sebenarnya aku tidak suka bertemu dengan musuh seperti Kiu-beng-lo-cat Seebun Kiauw, tapi setelah tadi melihat ilmu silat dia, sepertinya tidak sehebat sebutannya."

Telinga Hoyan Tiang-souw mendengung.

Tapi setelah hawa amarahnya bertambah terus, maka suara di telinganya menghilang.

Di dalam hati dia tahu sesungguhnya bukan ilmu silat Seebun Kiauw yang kurang hebat, tapi karena sifatnya jahat, jadi begitu bertemu dengan Mo-to, maka seperti serangga menerjang api, mencari mati sendiri.

Musuh didepan mata ini tidak terpengaruh oleh Mo-to, maka pertarungan ini pasti sangat seru dan berbahaya sekali.

Maka dia membuat hawa amarahnya mening-kat berlipat ganda.

"Sreeng!" Mo-to sudah meloncat keluar dari sarungnya beberapa cun.

Mata golok yang keluar beberapa cun dari sarungnya itu, mengeluarkan sinar berkilauan, terasa ada hawa membunuh yang sangat dingin.

Saat dia benar-benar sudah mencabut goloknya, dia melihat Lim Beng-san dengan satu tangan meme-gang tongkat menunjuk pada dirinya.

Dalam sekejap ini, paling sedikit ada tiga puluh jurus golok terlintas di dalam hatinya.

Namun tidak ada satu jurus pun yang bisa dipakai untuk menyerang.

Lim Beng-san tidak sama, dia bukan saja sekali menyerang langsung mengerahkan jurus terhebatnya It-kun- ting-kang-san (Dengan tongkat menentukan sungai gunung), jurusnya mengandung dua puluh empat gerakan perubahan.

Selain itu tangan kiri dia yang sudah dialiri tenaga dalam ikut menyerang dari kejauhan, tujuh gerakan untuk membunuh.

Sepanjang hidup dia sudah bertarung ratusan kali, jika dia menggunakan tongkat digabungkan dengan telapaknya, tidak pernah satu kali pun tidak berhasil dalam sekali menyerang.

Tapi kali ini tidak berhasil.

Hawa membunuh, sinar dingin Mo-to lawan laksana ombak samudra menerjang, sudah bagus dia tidak terdesak mundur ke belakang, bagaimana bisa melakukan serangan terhebatnya.

Dalam sekejap Lim Beng-san sudah mengerahkan tenaga dalamnya melewati batas, tubuh dia seperti membesar lagi.

Sedangkan hawa amarah Hoyan Tiang-souw juga sudah sampai pada taraf tidak tertahankan lagi, tiba-tiba rambutnya menyembur keluar, sebagian melayang-layang di udara, sebagian malah tegak lurus ke atas. ,

Tapi masing-masing dengan jelas merasakan pertahanan lawannya tidak ada celahnya, jurus apa pun tidak bisa dikeluarkan. Jika memaksa menyerang, akibatnya pasti bisa berakibat fatal.

Maka kedua belah pihak hanya bisa berdiri tegak, hanya bisa menggunakan ketajaman matanya mengawasi lawan.

Bagi pihak mana pun asal ada celah sekecil apa pun, maka salah satu diantara mereka pasti segera tergeletak ke tanah selamanya tidak bisa bangun lagi.

Suasana terasa paling dingin, paling kejam paling tidak ada perasaan, laksana embun dingin tidak berbentuk menutup kedua orang ini.

Mereka bersama-sama demi 'hidup', berusaha semampunya mengikuti aturan alam yang paling berkuasa, hanya bisa melanjutkan hidup baru segala-nya berarti.

Dengan kata lain, hidup adalah segalanya, barulah nyata tidak palsu. Jika sudah tidak hidup, waktu yang abadi, ruang yang tidak ada batasnya, sudah tidak ada artinya lagi? Sudah tidak ada hubungannya lagi?

Keadaan yang membuat orang mengerahkan semua tenaga tersembunyi, tentu saja tidak bisa bertahan lama. Berbeda dengan kelelahan orang biasa, kehabisan tenaga bertarung.

Pokoknya, masalah di dunia ini pasti adalah, semakin tajam maka akan semakin mudah tumpul, semakin cantik maka semakin mudah menjadi buruk......

Dua orang pesilat tinggi ini hanya dalam waktu sekejap, sudah merasakan dirinya sendiri tidak mampu melanjutkan keadaan yang paling tajam dan paling tinggi ini.

Maka kedua belah pihak timbul sedikit perasaan takut.

Walau pun berusaha supaya perasaan takutnya tidak mengembang, tapi tetap saja masih ada perasaan takut, artinya, mereka di desak masuk ke dalam keadaan bahaya yang tidak bisa dirubah lagi.

Keberanian Lim Beng-san kembali timbul.

Hoyan Tiang-souw juga bertambah hawa amarahnya.

Di dalam sekejap ini mereka bersama-sama menyerang, melakukan serangan yang hanya bisa maju tidak bisa mundur, tidak mempedulikan keselamatan dirinya.

Mo-to dan tongkat besi bergerak di dalam teriakan yang menggetarkan bumi dan langit, yang satu naik yang satu turun, mereka masing-masing telah menyerang sebanyak dua kali tujuh, empatbelas jurus.

Setiap kali golok dan tongkat bentrok, terdengar suara "Traang!" yang memekakan telinga, di tambah ada kembang api yang memancar keluar menyilaukan mata. Setelah berturut-turut bertarung empat belas jurus, kedua belah pihak masing-masing mundur satu langkah.

Terlihat keadaannya berubah, dari sangat mencekam jadi sedikit longgar, semua disebabkan oleh jarak kedua belah pihak sudah menjauh.

Lim Beng-san dengan keras berkata:

"Jurus golok yang hebat, Hoyan Tiang-souw, hari ini kita harus bertarung sampai ada yang menang atau kalah, sampai ada yang mati atau hidup!"

Hoyan Tiang-souw marah berkata:

"Kentut, kata-kata ini tidak perlu dikatakan? Sungguh seperti anjing kentut saja."

Lim Beng-san jadi naik pitam, wajahnya juga jadi berubah.

Hoyan Tiang-souw mengayunkan Mo-to nya, di dalam sinar yang menyilaukan mata, dua tetes air mata besar dengan jelas tampak di dalamnya.

Jurus golok Hoyan Tiang-souw semakin marah semakin dahsyat, tapi orang lain pasti tidak begitu.

Tapi buat Lim Beng-san lain, begitu marah segera timbul celah untuk diserang.

Lim Beng-san sendiri sadar karena dirinya lengah sehingga dia kehilangan kesempatan, dia sadar keadaannya sangat berbahaya, bahkan sulit meng-hindar dari bahaya kekalahan atau tewas.

Tidak perlu penjelasan dari lawan, dia juga mengerti apa tanda dari dua tetes air mata itu, saat itu dia dengan sebisanya menyapukan tongkatnya. Kekuatan sapuan tongkat ini laksana gempa bumi, serangan tongkat hanya bisa pergi tidak bisa kembali, kejadian yang dahsyat mencekam ini sungguh bisa membuat orang mati ketakutan!

Tubuh Hoyan Tiang-souw bergerak miring ke kiri tiga kaki, Mo-tonya sudah mengendalikan keadaan.

Dengan kata lain, dia bisa melukai lawan dan dirinya sedikit pun tidak terluka.

Dia bisa membunuh lawan, dan dia hanya akan mendapat sedikit luka!

Terlihat Mo-to dibacokan ke bawah, golok dan tongkat bentrok mengeluarkan suara menggelegar menggetarkan bumi dan langit, saat ini Lim Beng-san berturut-burut mundur delapan langkah kebelakang, matanya seperti lonceng, menatap tajam pada musuh-nya.

Mo-to Hoyan Tiang-souw sudah masuk ke dalam sarungnya, dikepit di bawah ketetnya.

Hawa amarah yang terlihat dari ujung alisnya, juga sudah menghilang tidak terlihat lagi, gerakan dia selanjutnya adalah melangkah pergi, lebih-lebih tidak bicara lagi.

Kaki dia panjang langkahnya besar, dalam sekejap sudah jalan sejauh sepuluh tombak lebih.

Tiba-tiba telinganya mendengar suara yang seperti geledek, orang yang bicara tentu saja Lim Beng-san. Dia berkata:

"Hoyan Tiang-souw, kenapa kau tidak membunuh aku?

Apakah kau tidak berani?"

Tanpa memalingkan kepala, Hoyan Tiang-souw menjawab: "Sebenarnya aku tidak bisa mengalahkanmu, maka walaupun aku ada kesempatan, aku tetap tidak mau membunuhmu." Suaranya sedikit pun tidak kalah keras dari lawannya.

Suara Lim Beng-san kembali terdengar oleh Hoyan Tiang-souw yang sudah berada sejauh dua puluh tombak. Dia berkata:

"Tapi kau tahu tidak? Aku tidak bisa menerima kebaikan hatimu? Lain kali jika bertemu lagi, tongkatku pasti tidak akan memberi ampun! Apakah kau bisa mengingat kata- kataku ini?" *

Siapa yang bisa melupakan kata-kata yang seperti menyumpahi orang ini?

Walaupun Hoyan Tiang-souw sudah sering mendengar kata-kata ini, tapi kali ini terasa berbeda sekali.

Dia merasakan tekanan yang tidak pernah dirasakannya.

Sumpah yang dikatakan orang ini, pasti seperti gunung yang tidak tergoyahkan. Dia berpikir,

'Tapi apakah orang ini tahu, jika lain kali bertemu lagi, jika aku masih bisa membunuh dia, juga pasti tidak akan melepaskan dia?

Di musim semi yang sejauh mata memandang rumput hijau yang baru tumbuh, hanya Kang-lam yang gelombangnya sejauh ribuan li.

Tekad dan niat membunuh mereka yang paling sadis dan menakutkan ini, laksana batu kecil dilemparkan ke dalam lautan, riak pun hampir tidak terlihat....

OooodwoooO Senyuman terkejut dan senang di luar dugaan Cui Lian- hoa, sinar cantiknya bersinar ke segala arah, kekuatan daya tariknya sampai burung kecil di atas pohon juga hampir terpeleset jatuh ke bawah.

Hoyan Tiang-souw yang melihatnya sampai bengong.

Dia berpikir,

'Hay! Di dunia ini sungguh ada orang secantik ini! Dan orang ini malah sangat akrab dengan aku! Apakah aku sedang bermimpi?'

Sepasang tangan Cui Lian-hoa memeluk leher dia.

Sehingga tubuhya dengan lembut menempel di tubuhnya. Dia berkata:

"Terima kasih langit, akhirnya kau kembali! Sebenarnya kau menemui siapa? Ada kejadian apa?

Hoyan Tiang-souw keheranan dan berkata:

"Kenapa kau bisa bertanya ini? Dulu kau tidak begini."

Nafas Cui Lian-hoa seperti bunga anggrek: "Dulu aku bagaimana?"

"Aku tidak tahu. Pokoknya kau tidak pernah bertanya, kau dengan sabar sekali akan menunggu aku memberitahu."

"Dulu aku memang begitu, tapi sekarang tidak lagi. Sekarang aku ingin buru-buru tahu apa yang kau alami, apakah kau mau memberitahukan padaku?"

Hoyan Tiang-souw tersenyum, lalu menceritakan kejadiannya.

Permintaan yang masuk akal dan mengandung kemesraan itu, siapa yang bisa menolaknya?

Tapi kenapa dia buru-buru ingin tahu peristiwa saling bunuh yang kejam itu? Kenapa dia sudah berubah?

Berubah tidak seperti Cui Lian-hoa lagi?

00oodwoo00

Dia bisa melihat kebun berwarna-warni yang sangat indah, lebih jauh lagi adalah air danau yang biru jernih.

Tapi waktu dan pemandangan yang indah ini, terhadap orang yang kepalanya sakit sekali, maka ja!di tidak ada artinya.

Selemah itulah manusia.

Asalkan kau punya keadaan salah satu di bawah ini, maka kau akan berubah menjadi sekecil semut:

1. Sakit... saat kau merasa sakit, walaupun luuiya sakit gigi, tapi seluruh dunia sudah berubah warnanya. Saat ini arti kehidupan manusia menjadi omong kosong, hanya pikiran yang membohongi orang dan membohongi diri sendiri.

2. Lapar... orang yang pernah mengalami kelaparan, dan sejauh ribuan li adalah tanah liar yang tandus, sekali mendengar lapar, pasti akan ketakutan setengah mati.

Saat itu asalkan bisa terlepas dari siksaan itu, dia tentu saja rela sekali menjadi semut.

3. Kelelahan... sejak zaman dahulu ada jurus kelelahan untuk menginterogasi tersangka, tapi dipakai sampai sekarang.

Ini karena menggunakan kelelahan menginterogasi tersangka lebih 'manusiawi', lebih cocok dengan prinsip demokrasi. Tapi jika cara ini tidak bisa membuat orang kesakitan, tidak bisa membuat orang mengaku, maka bisa dipastikan tidak akan diadakan, tidak akan diguna kan oleh orang di masa sekarang.

Dari sini bisa diketahui kadang 'lelah' di bandingkan dengan beberapa sakit malah lebih menyakitkan, membuat kau terpaksa dalam interogasi kelelahan dan mengakui segalanya.

Malah sampai hal yang tidak pernah dilakukannya juga mau mempertanggung jawabkan, asal segera menghentikan interogasinya saja!

Di sini masih ada kedinginan, kepanasan, siksaan tubuh atau pikiran, ketakutan karena tidak tahu apa-apa, dan lain- lainnya......

Jika manusia berada dalam keadaan salah satu yang diutarakan di atas, maka akan berubah menjadi lemah dan menyedihkan, mungkin semut pun tidak selemah itu.

Karena kepalanya sakit seperti mau pecah, sekarang ini hal yang paling penting adalah bagaimana menghilangkan sakit kepala ini.

Dia inilah Li Poh-hoan, perawakannya atletis, baju putihnya melayang-layang. Dia adalah ketua perkumpulan Thi-pian-tan, perkumpulan paling besar diperairan Han-sui.

Kemarin malam dia terbangun dari mimpi buruknya, segera menemukan seluruh tubuhnya lemas tidak bertenaga, kepalanya sakit sekali, walaupun dia hanya sadar sejenak, tapi untung dia pernah dilatih dengan latihan keras pembunuh bayaran.

Maka walaupun dia jatuh pingsan, sebenarnya dia diam- diam sudah mengerahkan tenaga dalamnya dengan mengikuti 'Latihan berjuang untuk hidup' aturan paling tinggi, dan ketabahan yang amat kuat.

Tapi juga harus menunggu sampai setelah pagi, dia baru benar-benar sadar.

Sekarang walaupun dia masih sakit kepala, tidak bertenaga, tapi derajatnya sudah jauh berbeda.

Dia hanya bangkit sebentar memeriksanya, lalu merebahkan diri kembali, sampai mata pun ditutup-nya,

Tapi begitu berpikir jernih dia sudah mendapatkan banyak bahan untuk menduganya, juga mengerti sekali hal pertama yang paling penting yang harus dilakukannya saat ini, yaitu mengembalikan kekuatan, menghilangkan sakit kepala.

Lalu baru ada kemampuan menghadapi apa yanj akan terjadi.

Aku jadi begini, tentu ini adalah perbuatan Pn couw- siancu Cui Lian-gwat.

Pertanyaannya adalah kenapa dia melakukan hal ini? Siapa yang diuntungkan? Kemana sekarang dia pergi?

Masalah apa pun sampai di tangan dia, selalu yang mudah menjadi ruwet, yang cantik menjadi buruk, yang damai menjadi bahaya, yang biasa-biasa menjadi misterius, yang baik hati menjadi licik......

Tindakan dia kali ini, pasti ada siasat busuknya, tidak diragukan lagi.

Tapi siapa yang bisa mengetahui siasat busuk dia? Jika ada orang yang tahu, maka bisa di usaha-kan dari orang ini untuk mencari akal. Sayang jalur ini kurang benar, wanita cantik yang tiada duanya ini, sungguh banyak sekali siasat yang sulit diduga, maka mungkin saja ada orang yang tahu siasat busuk di dalam hatinya.

Kalau begitu menyelidikinya harus menelusuri jalur mana dan bagaimana menghadapi wanita cantik yang manis tapi menakutkan ini?

Kepala Li Poh-hoan jadi semakin sakit karena-nya. Juga membuat dia jadi gusar sehingga saluran tenaga dalamnya jadi terganggu.

Dia buru-buru mengatur nafasnya, supaya tenaga dalamnya kembali normal.

Di saat begini, ketabahannya yang sudah lama terlatih menampakan kegunaannya yang mengejutkan.

Dia bisa seperti orang yang mula-mula belajar meditasi, pertama menaruh segala kekesalan segala perasaan di luar pintu, menunggu setelah selesai mengatur nafas baru dipikirkan lagi.

Tidak lama dia sudah masuk ke dalam keadaan sangat tenang, pikiran kosong, tidak tahu lewat berapa lama, dia merasakan ada sedikit gangguan, dalam memusatkan seluruh perhatiannya.

Itu karena dia mendengar suara langkah yang amat pelan, biasanya langkah ini hanya pertanda ada orang yang sedang berjalan, tapi suara langkah seperti ini malah terasa seperti ada 'bahaya'.

Tentu saja ini adalah perasaan tajam dari seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi.

Kurang sedikit saja maka mungkin tidak akan merasakannya. Namun yang aneh adalah 'bahaya' semacam ini bukan ditujukan pada dia.

Dia malah dengan tegang memasang telinga-nya.

Orang yang mengandung bahaya ini, sebenar-nya mau menghadapi siapa?

Mungkinkah......

Jika benar untuk menghadapi dia, masalahnya malah jadi lebih mudah diselesaikan.

Tapi jika bukan, maka masalahnya jadi sangat ruwet sekali.

Dia menarik nafasnya dalam-dalam, dalam sekejap tenaga dalamnya sudah mengalir ke seluruh tubuhnya, lalu tanpa bersuara sedikit pun, dia melayang keluar dari kamar yang tenang itu.

Di sudut kiri diagonal riunah, bergerak-gerak satu kepala yang rambutnya setengah pulih.

Sisi wajah orang ini terlihat jelas, dipastikan tidak pernah bertemu.

Orang setengah baya yang rambutnya setengah putih itu, berpakaian ketat, bahannya sangat mahal, jelas dia bukan seorang pencuri.

Justru itu, orang ini benar-benar ada masalah besar.

Dengan teliti dia mengawasinya, di dalam had sudah mendapatkan tidak sedikit bahan.

Orang setengah baya itu berdiri di satu jendela beberapa saat, lalu menjulurkan tangan membuka pintu jendela.

Di dalam kamar ada seorang wanita yang pakaiannya sederhana. Mendengar suara itu dia lalu memalingkan kepala melihat ke jendela, dalam sesaat waktu tiba-tiba seperti berhenti, kegiatan kehidupan manusia di dunia ini semua seperti telah kehilangan makna.

Semua karena wanita ini terlalu cantik, di gambarkan dengan kata kiasan, ikan tenggelam walet turun, bulan malu bunga tertutup, mungkin masih jauh tidak cukup.

OO))>dw<((OO