Sekarang sudah ada bahasa sunda dan jawa di fitur google translate, mudah-mudahan ada tambahan bahasa daerah lagi ke sistem google translate :)

Asmara Pedang dan Golok Bab 16

Bab 16

Jari ini walaupun tidak secantik jari giok, tapi paling sedikit jari giok tidak bisa mencabut nyawa orang, sedangkan jari ini bisa.

Dia tidak memalingkan kepala, kain warna abu-abu di bawah tubuhnya tadinya untuk menghalangi mata orang yang di bawah.

Tapi sekarang jika di bawah sudah tidak ada orang, tapi di atas atap malah terbuka sebuah lubang, dari kejauhan sejalur tenaga dari jari telunjuk mengarah ke jalan darah kematiannya, sehingga kain abu-abu yang terjuntai ke bawah juga menjadi tidak masalah!

Li Poh-hoan terpaksa tertawa pahit, dia ingat jarang sekali dia berekspresi seperti ini, sekarang selain hanya bisa tertawa pahit, masih bisa berbuat apa lagi?

Di atas atap rumah terdengar suara lembut merdu berkata:

"Aku Pu-couw-siancu Cui Lian-gwat, mungkin kau sudah tahu?"

Li Poh-hoan malas bicara, hidung hanya mengeluarkan suara "Mmm!" sekali.

Pu-couw-siancu kembali berkata:

"Maafkan, aku terpaksa menggunakan cara ini. jika aku tidak menyuruh orang melakukan pertunjukan tadi, bagaimana aku bisa mendapatkan dirimu? Dan bagaimana bisa mengalahkanmu? Pertunjukan mereka tadi tidak jelek bukan?"

Li Poh-hoan merasa dia tidak bisa berdiam diri terus, sebab tidak sopan, maka jawabnya:

"Tidak jelek! Jika ada kesempatan, aku masih mau menontonnya sekali lagi!" Sebenarnya posisi seperti dia itu, tertelungkup di atas tiang' atap, kesopanan apa pun tidak perlu dibicarakan.

Pu-couw-siancu mungkin tidak memperhatikan hal ini, dia hanya tertawa ringan dan berkata:

"Baik, jika ada kesempatan, kau bisa melihat yang lebih hebat lagi!"

Lewat beberapa saat, dia tidak bicara, tidak mengerahkan tenaga dalamnya mencabut nyawa atau melumpuhkan dia.

Sehingga Li Poh-hoan merasa tidak mengerti dan berkata:

"Hei.. Pu-couw-siancu, kau kenapa? ku harap kau tidak kedinginan sehingga menjadi pilek, sampai tidak bisa memutar otak!"

Suara Pu-couw-siancu sedikit marah. "Kau bilang apa? Kau ingin aku pilek?"

"Tidak, aku sedikit pun tidak mengharapkan. Tapi di atas atap sangat dingin, juga harus mengerah kan tenaga dalam mengendalikan aku dari kejauhan. Dengan demikian kau mudah terkena pilek!"

"Kau ini bodoh benar, ingin aku tidak membunuhmu itu baru persoalan sulit. Maka aku sedang berpikir, berpikir apakah bisa memecahkan persoalan ini"

Jika persoalannya bisa dipecahkan, itu artinya dia tidak perlu membunuhnya.

Tentu saja ini hal yang bagus, tapi kenapa dia harus membunuh Li Poh-hoan?

Apa dosa Li Poh-hoan pada dia? Jika bukan karena persoalan dendam pribadi, kenapa Tong-to-bun ingin membunuh Li Poh-hoan? Malah harus sampai melenyapkan perkumpulan Thi-pian-tan-pangbaru merasa puas?

Pu-couw-siancu berpikir sesaat, berkata lagi:

"Cara memecahkan persoalan bukan tidak ada, tapi benar-benar tidak mudah, makanya aku berharap bisa mendapatkan cara yanglebih mudah dan mantap.

Kata Li Poh-hoan:

"Anggap saja tidak mudah, tapi kau bisa mencoba mengatakannya supaya aku tahu!"

"Kau yang ingin aku mengatakannya, di kemudian hari kau jangan menyalahkan aku!"

Li Poh-hoan sadar, dia sudah terjerumus ke dalam jebakan lembut dan hangat seorang wanita licik, tapi kalau sudah terjerumus ya terjerumuslah!

Siapa yang bisa seumur hidup tidak pernah melakukan hal bodoh? Dia berkata:

"Aku tidak akan menyalahkanmu, beritahu saja padaku, mungkin jika aku mengerjakannya tidak terasa sulit!"

Pu-couw-siancu dengan pelan berkata: "Baik, kau dengar dengan jelas. Persoalannya ada di Liong Siang-yang, jika sebelum hari terang kau bisa membunuhnya, maka aku tidak perlu membunuh mu!"

Li Poh-hoan berpikir sejenak, dia adalah orang yang berambisi menguasai dunia persilatan, kepintaran nya tentu saja tidak bisa disamakan dengan orang biasa.

Maka sekali berpikir, dia sudah mengerti banyak hal. Sekarang kunci yang paling penting adalah setelah membunuh Liong Siang-yang, maka hubungan dia dengan Pu-couw-siancu akan bagaimana?

Sorot mata dia tiba-tiba berubah dalam mem-buat orang terkejut, lalu dia membalikan kepalanya, melihat pada orang di atas atap itu.

Wajah Pu-couw-siancu segera muncul di lubang itu, dengan sinar lampu sekarang dia bisa melihat wajahnya yang cantik melebihi bunga! Li Poh-hoan berkata pelan:

"Bisa, aku bisa membunuh dia. Tapi setelah itu walaupun aku tidak bisa memiliki seluruhnya, paling sedikit harus memiliki setengahnya!" Inilah hal yang sulit dijelaskan. Seorang wanita bagaimana mungkin di miliki hanya setengahnya?

Lalu setengah lagi milik siapa? Apakah boleh menjadi milik laki-laki lainnya? Pu-couw-siancu tersenyum manis, sedikit pun tidak merasa kesulitan.

Dia menganggukan kepala dan berkata: "Baik, tapi aku harus beritahu, Liong Siang-yang sulit dibunuh, selain itu dia menguasai ilmu hebat dari berbagai perguruan besar, dia sendiri juga benar benar memiliki jurus rahasia yang hebat, aku sendiri juga tidak bisa memperkirakan, sehingga membuat aku merasa ngeri! Kau harus hati hati sekali!"

Lalu dia menarik jari tangannya, dan Li Poh-hoan kembali jadi bebas.

Tapi jika diselidiki lebih dalam lagi, sebenarnya dia hanya melepaskan kelumpuhan yang berbentuk, tapi terjerumus dalam ke dalam kelumpuhan yang tidak berbentuk.

Li Poh-hoan terbang laksana asap, dalam sekejap sudah berada di atas atap rumah. Lubang itu walaupun lebih kecil dari pada tubuhnya, tapi tidak bisa menghalangi dia.

Dia melihat pada Pu-couw-siancu dan bertanya: "Mungkinkah perbincangan kita didengar oleh dia?

Apakah aku harus waspada pada Un Ci-eng itu?"

Pu-couw-siancu menunjuk ke arah timur, Li Poh-hoan melihat ke arah itu, terlihat di dalam ruangan kecil lainnya ada sinar lampu, samar-samar masih terlihat Liong Siang- yang dan Un Ci-eng berdua sedang bergerak-gerak dan berbicara.

"Mereka adalah anak buahku, tapi Un Ci-eng sudah tidak bisa mengancam kedudukanku lagi, sedangkan Liong Siang-yang masih bisa, aku hanya bisa memberitahu ini saja padamu, mengenai kau harus waspada pada Un Ci-eng? Aku sendiri juga tidak tahu!"

Setelah selesai bicara, setelah meninggalkan senyumnya yang sangat cantik, diapun melayang pergi!

Bintang di langit masih berkedip-kedip sebentar terang sebentar gelap.

Bintang malam ini, bukan malam kemarin, juga bukan malam besok.

Malam ini artinya 'sekarang', di depan 'sekarang', yang lalu dan yang akan datang jadi samar-samar, jadi seperti ada tapi tidak ada......

Manusia seperti kebanyakan binatang lainnya, biasa bergerak di siang hari, istirahat di malam hari.

Maka orang-orang yang seharusnya istirahat tapi masih bergerak, pasti ada sebab khusus. Misalnya orang biasa tidak bisa tidur, berjudi, ramai mengobrol sehingga tidak tidur. Pasukan yang khusus bergerak di tengah malam, mau menghancurkan musuh. Orang orang malam berjalan di atas ribuan atap rumah, ada yang mau mencuri atau mau balas dendam.

Orang orang yang disebut di atas ini mungkin bisa disebut ada alasan khusus, maka seharusnya tidur lelap, malah sebaliknya bekerja dengan giat.

Sekarang Khu-eng Un Ci-eng benar-benar menyendiri, di bawah sinar bintang yang lemah, dia melangkah di atas lapangan liar yang luas berjalan ke depan.

Setiap malam dia menginap dimana, selalu menjadi rahasia besar.

Sampai atasan dia Pu-couw-siancu juga tidak tahu.

Tapi dia pasti bisa berhubungan atau muncul pada saat yang menentukan, tidak pernah absen.

Maka kebiasaannya yang menyendiri dan rahasia jadi dibiarkan saja.

Tiba-tiba Un Ci-eng menyelinap ke belakang pohon, sorot matanya berkilat-kilat menatap ke arah kanan depan di pinggir sungai.

Setelah beberapa saat, dia pelan-pelan menggelengkan kepala tanda dia tidak puas pada dirinya.

Diam-diam dia terpikir lagi, 'Apakah karena usiaku maka perasaan yang tadinya tajam sekarang menjadi tumpul? apakah ilmu silatku menjadi mundur dibandingkan dulu?

Jika bukan, kenapa aku merasakan ada bahaya, tapi setelah berhenti dan teliti mengawasinya beberapa saat, tetap saja tidak menemukan bahaya itu ada dimana?' Setelah lewat beberapa saat lagi, dari belakang pohon dia kembali ke jalanan, gerakannya seperti roh, sangat cepat tapi tidak bersuara.

Dia membusungkan dadanya melangkah ke depan, meneruskan perjalanannya.

Tapi baru saja kakinya diangkat, mendadak dia berhenti lagi, dengan posisi aneh dia berdiri di kegelap-an malam, sedikit pun tidak bergerak. Malah seperti ditotok jalan darahnya, hingga tubuhnya menjadi kaku seperti kayu.

"Ssst" Serumpun rerumputan di pinggir sungai terbang ke atas, entah terbang kemana.

Tapi siapa pun tidak akan memperhatikan kemana terbangnya rerumputan itu.

Setelah rerumputan terbang, yang muncul di tempat rerumputan itu adalah sesosok bayangan manusia yang berbaju putih melayang-layang ditiup angin, tubuhnya tinggi ramping.

Wajah orang berbaju putih ini dalam beberapa., detik tidak bisa dilihat dengan jelas, tapi tangan kiri dia yang memegang pedang panjang dengan sarungnya, tentu tidak lolos dari penglihatan orang.

Suara Un Ci-eng sangat tenang dan berkata:

"Ternyata ketua Li Poh-hoan. Kau mau membunuh aku?"

Orang berbaju putih itu memang Li Poh-hoan. Dia tertawa dua kali baru berkata:

"Mata saudara Un sungguh tajam, aku memang Li Poh- hoan. Ada satu hal dari saudara Un yang membuat aku kagum, yaitu menduga masalah dengan tepat." Jika dugaan Un Ci-eng selalu tepat, berarti Li Poh-hoan benar berniat membunuhnya. Un Ci-eng berkata:

"Terima kasih atas kejujurannya. Sebelum kau menyerang, aku hanya punya satu pertanyaan mohon dijelaskan dulu."

"Silahkan katakan!"

"Li-pangcu ternyata punya keahlian menjadi pembunuh bayaran, hingga aku tidak bisa mengantisipasinya. Tapi punya keahlian menjadi pembunuh bayaran kelas satu tidak gampang, punya uang punya nama punya kedudukan juga belum tentu bisa menjadi ahli, makanya aku menjadi heran bagaimana kau bisa mempunyai keahlian hebat ini?"

Li Poh-hoan hanya tertawa, di dalam hati dia berkata, 'Jika kau tahu pembunuh bayaran nomor satu di dunia

dulu   Leng-hiat   (Darah   dingin)   Li   Cap-pwee   adalah

kakekku, maka kau tidak akan menanyakan hal ini!'

Dia berkata pelan-pelan, tapi bukan menjawab malah balik bertanya:

"Di mana aku telah membuat kau merasakan aku ini pembunuh bayaran?"

"Pertama kali saat aku bersandiwara dengan Liong Siang-yang, aku dan dia juga merasakan hawa membunuhmu. Kedua kalinya adalah tadi, aku juga merasakan hawa membunuh menerpa kepadaku."

"Banyak orang punya hawa membunuh, kau juga ada!” "Tapi hawa membunuhmu tidak sama. Setelah aku

menyelidikinya dengan teliti, ternyata seperti ada seperti

juga tidak ada, seperti jauh tapi juga seperti dekat, malah mendadak kuat mendadak lemah, mendadak tajam mendadak tumpul. Sulit sekali menduga keberadaanmu, malah aku tidak yakin pada perasaan sendiri, keadaan begini, selain orang yang berhasil berlatih jadi pembunuh bayaran kelas satu, siapa yang mampu melakukannya?" Li Poh-hoan tersenyum dan berkata: "Sekarang aku sudah muncul, dan jaraknya dengan kau sejauh dua tombak, jika aku pembunuh bayaran, aku pasti dengan sabar menunggumu berjalan lebih dekat lagi, baru menampakan diri!"

Un Ci-eng menganggukan kepala: "Kata-katamu benar juga!"

Li Poh-hoan menunggu orang sudah setuju, baru merubah nada bicaranya:

"Tapi mungkin aku mampu membunuh orang dalam jarak dua-tiga tombak, maka tidak masalah akut muncul, betul tidak?"

Un Ci-eng tertegun sejenak dan berkata: "Betul juga!"

"Maka aku pembunuh bayaran kelas satu atau bukan, itu tidak penting. Yang penting adalah apakah aku mau membunuhmu atau tidak, dan bisa tidak kau membunuhku. Apakah kau setuju dengan kata-kata ini?"

"Tentu saja aku setuju," kata Un Ci-eng.

"Kalau begitu kau dengar baik-baik, jika aku tidak muncul mencegah kau berjalan ke depan, asalkan kau melewati sungai itu, maka kau akan bertemu dengan orang yang benar-benar ingin membunuhmu, juga orang yang mampu membunuhmu!"

Un Ci-eng merasa bingung, tidak tahan tanya-nya: "Siapa orang itu?" "Dialah Liong Siang-yang, sekarang kau boleh melanjutkan perjalananmu, jadi paling sedikit kau bisa memastikan apakah aku bohong atau tidak."

Benar saja, Un Ci-eng melangkah sampai lima langkah, baru tiba-tiba sadar, dan berhenti sambil melotot berkata:

"Kalau aku berjalan ke depan memang bisa mengetahui apakah kau bohong atau tidak. Tapi dilain pihak, begitu aku berjalan sejauh sepuluh langkah, saat itu kau bisa menggunakan jurus yang paling dahsyat, menyerang mengambil nyawaku!"

Li Poh-hoan berkata:

"Kedengarannya kau seperti terjun sendiri ke dalam perangkap, tapi kau tidak perlu khawatir, aku berani bertaruh setelah aku pergi, tidak lama Liong Siang-yang akan muncul. Sebab dia sudah berjalan memotong menunggu kau di depan, jika kau tidak muncul pada saat yang diperkirakan, maka dia akan berbalik kemari mencarimu, menurutmu betul tidak?"

Suara Un Ci-eng mengandung nada sangat hati-hati, berkata:

"Dengan demikian, bukankah sama dengan kau nembantu aku? Tapi apa sebabnya? Apakah kita dulu nempunyai dendam atau budi?"

"Tidak ada." Jawaban Li Poh-hoan tegas sekali, 'aku hanya tidak suka pada orang seperti Liong Siang-yang. Dan aku ingin tahu Soh-yang-sam-kou dia, apakah benar-benar bisa melumpuhkan Siau-yang-sin-kang punyamu?"

Selesai bicara dia melayang menjauh, dalam sekejap sudah menghilang di dalam bayangan hitam pohon. Un Ci-eng mengatur nafasnya, bersamaan memusatkan pikiran memasang telinganya. Dalam sekejapbenar saja terdengar suara aneh yang pelan sekali.

Jika bukan Li Poh-hoan yang memperingatinya, sehingga dia berhenti melangkah dan mendengarkan, suara ini pasti tidak akan terdengar!

Dia tersenyum dingin, mendadak berkata:

"Liong Siang-yang, rasa ingin tahumu pasti besar sekali, bagaimana sampai tempat istirahatku pun kau ingin tahu?"

Di atas jalan menuju sungai, sesosok bayangan manusia melayang turun ke bawah.

Orang ini masih berjalan ke depan beberapa langkah, maka walaupun tidak terlihat rupanya, tapi dari cara jalannya yang khusus, dia tahu itu adalah Liong Siang- yang.

Kenyataannya karena jarak kedua orang itu hanya delapan langkah, dan juga karena berilmu tinggi maka walaupun malam hari, dia bisa melihat lawan dengan jelas.

Senyum Liong Siang-yang selain bagus juga ada sinar kelicikan. Dia berkata:

"Wow, telingamu cukup tajam, otaknya pun encer. Aku memang ingin tahu setiap malam kau tidur di tempat yang bagaimana!"

Sambil berkata dia maju tujuh langkah. Tapi kaki Un Ci- eng ikut bergerak, juga berturut-turut mundur tujuh langkah.

Jarak kedua belah pihak tidak bertambah, juga tidak berkurang.

Kata Un Ci-eng: "Pergilah, anggap saja aku suka tidur di kubur-an, itu juga urusanku sendiri."

Tiba-tiba Liong Siang-yang menyerang dengan sangat cepat, lima jarinya berbentuk bunga anggrek disapukan.

Hampir saja ujung jarinya mengenai Un Ci-eng. Jika ke lima jarinya tidak gagal, Un Ci-eng tentu segera roboh ke tanah.

Karena Un Ci-eng tidak roboh, berarti mundur nya Un Ci-eng tadi ada gunanya, jika saja mundurnya kurang satu langkah, keadaannya tentu tidak bisa dibayangkan.

Sepasang tangan Un Ci-eng menghantam, "Traang!" kembang api memancar, pukulan yang seperti kilat mendadak membuat terang radius seluas dua tombak lebih.

Ribuan titik sinar kembang api itu terjadi ketika dia mengadukan Lui-cui-tian-couwnya.

Dan dalam situasi yang menyilaukan mata ini, palunya mengarah ke atas kepala, pahat menuju dada, dengan dahsyat balas menyerang Liong Siang-yang.

Palunya sangat dahsyat dan pahatnya tajam menusuk, jurusnya hebat sekali.

Ilmu silat seluas lautan tidak ada batasnya, jurus hebat apa pun di dunia, pasti selalu ada beberapa cara untuk menghadapinya.

Tapi cara yang mana yang paling berguna, apa lagi jika mampu balik mengancam lawan?

Itu harus dibuktikan dengan kenyataan. Karena selain di dalam jurus dan caranya, ada tidak kelemahan nya, masih harus ditambah lagi kharakter masing-masing orang dan kemahiran ilmu silatnya, baru bisa ditentukan. Teori ini seperti air bisa memadamkan api, kenyataan yang tidakbisa dibantah.

Tapi jika apinya besar dan airnya lemah, maka setelah air bereaksi menjadi hidrogen, malah bisa menambah kekuatan api.

Teori Im-yang-ngo-heng dari daratan tengah, sejak dahulu sudah menggunakan teori ini.

Seperti air bisa menumbuhkan kayu, tapi jika airnya terlalu besar, dan juga bukan waktunya kayu tumbuh, maka kayu malah menjadi busuk karenanya (sama dengan mati tenggelam).

Pokoknya, semua kejadian di alam semesta ini, saling berhubungan dengan aturan.

Tapi karena setiap benda sendiri mengandung perubahan yang tidak menentu, dan bersifat tidak abadi, sehingga di saat saling bersatu, sering terjadi keadaan di luar aturannya!

Kembali dalam pertarungan Liong Siang-yang dengan Un Ci-eng.

Dengan jurus Wie-cin-thian-sia (Getar tertinggi langit di bawah) dari Un Ci-eng, sekilas terlihat tidak ada orang yang mampu menahannya, sangat dahsyat.

Tapi Liong Siang-yang memiringkan tubuhnya, sepasang tangan bersama-sama menyerang.

Terlihat sepuluh jarinya terbuka dengan rapih, bersamaan waktu mencengkram kedua arah.

Sesaat kembang api yang memenuhi langit tidak terlihat lagi) kembang api yang seperti kuntung rokok masuk ke dalam air, sampai asap terakhir pun tidak bisa muncul. Sepuluh jari Liong Siang-yang masing-masing sudah menyentuh dua macam senjata lawan. Tenaga jarinya laksana jarum panjang yang sangat tajam menusuk ke dalam tahu, sudah menusuk jalan darah di kedua pergelangan tangan Un Ci-eng.

"Lepaskan," Liong Siang-yang berteriak dingin. Tiba-tiba Un Ci-eng bergerak mundur miring tiga langkah. Dua senjata anehnya masih tetap di dalam genggaman tangannya.

Sambil tertawa dingin berkata: "Lepaskan? Tidak semudah itu!" Setelah berkata, dia sudah menyerang sebanyak lima jurus dengan lima belas perubahan.

Malam yang tadinya gelap gulita, mendadak terdengar suara geledek memekakan telinga, sinar kilat menyilaukan mata.

Lima jurus dengan lima belas perubahan ini menyerang secara beruntun, sangat cepat dan dahsyat.

Liong Siang-yang sekaligus menggunakan telapak tangan dan jari tangan menangkis tiga belas perubahannya, dua perubahan terakhir walaupun bisa ditangkisnya, tapi samar- samar dia mendehem sekali, dengan cepat mundur ke belakang delapan kaki.

Dengan kata lain, jarak mereka sekarang kembali lagi ke semula, kurang lebih delapan langkah.

Tapi jarak yang tadi sebisanya dipertahankan oleh Un Ci-eng, sekarang malah berbalik menjadi jarak yang ingin dipertahankan oleh Liong Siang-yang.

Selain itu, wajah Liong Siang-yang sudah menjadi pucat seperti kertas, bibirnya tertutup rapat.

Jelas dalam babak pertama pertarungan ini, dia telah kalah sejurus. Tapi saat ini masih belum diketahui separah apa kekalahannya?

Apakah dia masih mampu menghadapi Un Ci-eng?

Sekarang malah Liong Siang-yang yang membuka mulut dulu. Sebelum berkata dia tertawa dingin dulu sejenak baru berkata:

"Bagus, bagus, Un Ci-eng, aku ingin memberi tahu satu hal padamu, harap kau mau mendengar-kannya!"

Suara Un Ci-eng seperti batu besi, dingin menusuk hati, berkata:

"Katakanlah! Jika kau perlu istirahat dulu, aku juga akan memberi waktu padamu!"

Siapa yang mau melepaskan musuh di saat penentuan siapa hidup siapa mati ini? ^

Setelah melepaskan apakah dia masih mampu memenangkannya lagi?

Walaupun Un Ci-eng mengatakan dengan lapang dada, tapi apakah kenyataannya dia mau?

Liong Siang-yang segera menjawab, untuk menyatakan bahwa dia bukan mengambil kesempatan untuk bernafas. Dia berkata:

"Tidak perlu, keluarkan seluruh kemampuan-mu, aku ingin melihat selain Siau-yang-sin-kang dan Ngo-im-ie-meh- hiat (Lima hawa dingin mengalihkan jalan darah) dari utara, kau masih memiliki jurus hebat apa lagi?"

Ternyata dia tadi sudah menggunakan jurus Soh-yang- sam-kou, tapi Un Ci-eng menggunakan Ngo-in-ie-meh-hiat dari perguruan Pak-boang. Sehingga serangannya tidak berhasil, malah sebaliknya men-dapat sedikit luka. Un Ci-eng berkata:

"Tidak ada gunanya banyak bicara, silahkan coba saja maka kau akan tahu!"

Liong Siang-yang berubah dari marah jadi tertawa lalu berteriak pelan:

"Bagus, bagus sekali!"

Sepasang tangannya seperti ekor burung walet, dengan cepat menggunting.

Sebelah tangan menyerang wajah lawan, sebelah lagi menjepitleher lawan.

Un Ci-eng berteriak dingin, Lui-cui-tian-suo nya menyerang tujuh kali.

Dalam radius dua tombak dari atas ke bawah, kembang api meletup-letup, laksana pohon kembang api perak menyilaukan mata orang.

Liong Siang-yang menerjang masuk, di bawah sorotan kembang api terlihat pemuda tampan bermuka putih bibir merah ini, mendadak jadi semakin cantik, malah bisa dilukiskan cantik genitnya menarik orang.

Sayang sinar yang terbentuk dari ribuan kembang api dalam sekejap menghilang.

Maka ketika kedua orang itu beberapa detik beradu lalu berpisah lagi, masing-masing berdiri sejauh tujuh langkah, saat ini wajah cantik yang menarik orang itu pun sudah hilang di kegelapan malam!

Angin malam bertiup di atas permukaan sungai, menembus hutan, mengeluarkan suara "Mmm, mmm!" yang memilukan. Di dalam kegelapan, dua orang yang saling berhadapan itu, salah satunya mengeluh dalam, lalu lemas jatuh ke tanah......

@ @ @

Laksana harimau yang bersembunyi di-kegelapan, atau sendirian dan liar yang abadi, ada lagi bahaya yang berkeliling di sekitar dan ketakutan......

Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, dalam matanya menyorot sinar kengerian yang tidak bisa dilihat orang.

Tentu saja ini disebabkan terlalu gelap. Jika di siang hari, mungkin anak kecil juga bisa melihatnya.

Sebenarnya dia orang yang sulit ketakutan, selamanya orang lain yang ketakutan karena dia.

Tapi sekarang malah sebaliknya.

Tidak jauh di depan rumah berderet-deret, tapi hanya sedikit rumah yang ada sinar lampu, itu karena malam sudah sangat larut!

Tanpa bersuara sedikit pun dia berputar di tempat itu.

Mata, hidung, telinga sampai seluruh tubuhnya dikerahkan semua.

Jika perasaannya sudah ada tanda peringatan, maka itu bukan hal kecil yang bisa dihadapi sembarang an, tapi masalah besar tentang hidup atau mati.

Tapi dimana musuhnya berada?

Jika benar ada musuh yang bersembunyi, kenapa orang ini sangat sulit ditemukan tempat persembunyiannya? Jika benar ada musuh yang tidak bisa ditemu-kan, maka masalahnya menjadi sangat serius sekali! Itulah sumber ketakutannya. Hal-hal begini panjang jika diceritakan, tapi kejadian di dalam hatinya hanya sekejap mata saja!

Di depan dan di belakang jalan luas dan datar, tidak ada satu halangan pun, tapi di kedua sisinya ada pepohonan dan rumput liar yang bisa dijadikan tempat persembunyian oleh musuh.

Dia melihat-lihat sejenak, tiba-tiba sepasang tangannya di ayunkan, enam titik sinar biru melesat ke kiri dan kanan, setiap sisi tiga titik sinar, semuanya mengenai sasarannya yaitu pohon yang berbeda-beda.

"Buum buum!" timbul enam gumpalan api, seperti tiba- tiba menyalakan enam buah obor. Maka di sekeliling tempat itu segera menjadi terang benderang.

Enam gumpalan api itu dalam beberapa detik tidak mati, tapi membara di atas pohon.

Maka di bawah sorot sinar api, orang yang berdiri di tengah lapangan jadi terlihat jelas wajahnya.

Terlihat wajahnya berpupur, berbibir merah. Tubuhnya tidak tinggi juga tidak kurus, kulit-nya putih, seperti seorang wanita cantik.

Wajah diantara laki-laki yang bisa seperti dia, tidak ada satu pun di antara sepuluh ribu.

Memang wajah Liong Siang-yang sangat mudah dikenal, asalkan orang telah melihat dia sekali saja, maka sedikit sekali yang akan lupa terhadap dia.

Dia memakai baju hitam untuk orang keluar malam, sehingga kulitnya semakin tampak putih, di kiri kanan pinggangnya tergantung satu kantong kulit yang isinya penuh.

Sinar api walaupun menerangi lapangan seluas sepuluh tombak, tapi Liong Siang-yang tetap tidak bisa melihat musuhnya.

Apa benar ada musuh kuat yang sedang bersembunyi?

Atau itu hanya perasaan saja?

Sesaat dia benar-benar tidak berani menentukannya, keadaan begini tidak pernah terjadi sejak dia turun gunung.

Pertama, perasaan dia tidak pernah salah, kenapa sekarang tidak terlihat ada musuh?

Kedua, walaupun dia belum lama turun gunung, tapi telah banyak membunuh orang.

Kenapa malah bisa muncul perasaan takut?

Enam gumpalan api itu seperti semakin besar. Tapi mendadak api di kiri dan kanan yang tepat berhadapan masing-masing apinya padam.

Api bisa menyala juga bisa padam, itu adalah kejadian lumrah.

Tapi jika bahan apinya belum habis, dan tidak ada benda untuk memadamkannya, seperti air dan lain lain, maka api yang sedang membara bisa mendadak padam, tentu itu hal yang aneh!

^^% dw %^^

Sampai orang biasa pun akan merasa aneh, apalagi buat mata Liong Siang-yang, maknanya jadi bukan hanya aneh saja. Sebisanya dirinya tenang, sebisanya menahan rasa ketakutan di dalam hatinya.

Dia segera memeriksa keadaan di sekeliling, dan dua pohon yang apinya mati sebagai bagian yang terpenting, di dalam radius beberapa tombak apakah ada benda yang menghalangi?

Misalnya batu, lubang, pohon rumput dan yang lain- lainnya.

Setelah itu dari kedua sisi jalan, di atas tanah, di antara pepohonan, rumput dan lain-lain, tiba-tiba bersama-sama membara terbakar api.

Liong Siang-yang sudah mengerahkan jurus membunuhnya.

Ini adalah jurus terhebat yang tidak pernah diketahui oleh orang luar. api.

Bara api di puluhan tempat ini, timbulnya sangat misterius, dan api di setiap tempat dengan sekejap membara besar, api menjilat setinggi lima enam kaki ke atas.

Malam di musim semi hawanya masih sangat dingin, sekarang mendadak hawanya meninggi, dan bersamaan itu di sekeliling juga semakin terang, bisa melihat dengan jelas.

Dia berdiri diam.

Sinar api di sekeliling menyinari dirinya yang menyendiri dan wajahnya yang seperti wanita cantik.

"Kau tidak mampu membunuh dia?" orang yang bertanya bukan saja wajahnya secantik dewi, juga seperti bunga di musim semi.

Suaranya pun manis menyejukan hati. Tapi makna dari pertanyaan ini, malah sedikit terlalu kejam.

Laki-laki di depan matanya berbaju putih bersih seperti baru ganti baju saja, rubuhnya tinggi ramping, wajah bersih tampan, di mata dan alisnya tampak hawa yang mempesona.

Pelan-pelan dia duduk di depan wanita cantik itu, tapi dia tidak melepaskan pedang panjang yang dikepit di ketek kirinya.

Dia menganggukan kepala, suara dan sikapnya juga tenang sekali.

Orang yang seperti dia yang begitu tampan, apa benar bisa mencabut pedang dan membunuh orang?

Dia berkata:

"Liong Siang-yang bukan orang yang mudah dibunuh." Wanita cantik itu tertawa dan berkata:

"Tapi kau adalah Li Poh-hoan!"

Li Poh-hoan sedikit menggelengkan kepala:

"Liong Siang-yang bukan pesilat tinggi biasa, walaupun kau mengerahkan seribu pasukan khusus mengeroyok dia, dia pun punya akal untuk bersama-sama mati dengan seribu orang ini."

Dia berhenti sejenak dan berkata lagi:

"Maka julukanmu harus dirubah!"

Wanita cantikitu sedikit keheranan d.m kata: "Julukanku harus dirubah? Dirubah jadi bagaimana?"

"Sekarang kau harus dijuluki Yu-couw-siancu bukannya Pu-couw-siancu!" (Dewi gelisah) Pu-couw-siancu tertawa sambil meludah:

"Jangan main-main. Ku lihat disorot matamu ada sinar kelelahan, tapi kau masih bisa berkelakar..."

"Aku tidak main main juga tidak berkelakar. Coba pikir ada 'seorang yang seperti Liong Siang-yang mengikutimu, apakah kau tidak diam-diam gelisah?"

Pu-couw-siancu menatapnya, sorot matanya lama tidak pindah dari wajahnya.

Lalu, di matanya mendadak timbul perasaan sayang.

Di dalam ruangan sesaat dipenuhi oleh hawa kemesraan. Dia berkata pelan:

"Kau tampak kelelahan, bisa dilihat kau memang telah menghabiskan tenaga dan pikiranmu demi aku, bagaimana kalau aku pijat?"

Li Poh-hoan berpikir sejenak, lalu pelan-pelan menaruh pedang panjang yang dikepit di kereknya ke atas meja, pinggangnya yang tadi tegak lurus sekarang sedikit bungkuk, tiba-tiba di matanya tampak jelas sinar kelelahan.

Tentu saja dia sangat kelelahan.

Sebab saat dia menghadapi Liong Siang-yang, dia telah menggunakan hawa pedang dari kejauhan mengirim hawa membunuh yang amat dingin dan tajam, membuat lawan ragu-ragu dan ketakutan.

Juga karena itu akhirnya memaksa Liong Siang-yang mau tidak mau harus mengeluarkan jurus membunuh yang menakutkan dan sangat rahasia.

Dalam kejadian itu, bukan saja Li Poh-hoan harus mengendalikan hawa pedangnya, ada satu kali dari jarak puluhan tombak dia mengerahkan seluruh tenaganya melontarkan dua butir Pi-han-cu (Batu giok dingin), memadamkan api di dua pohon itu.

Dua butir Pi-han-cu itu bisa segera memadam-kan berbagai macam api (walaupun api dari kimia), penemuan yang mengejutkan dari ahli senjata.

Saat Li Poh-hoan melontarkan dua butir Pi-han-cu, dia menghabiskan banyak tenaga dalam karena menggunakan ilmu Cui-cu (meniup bambu).

Menggunakan tenaga yang dibentuk oleh dua macam tenaga dalam, melontarkan dua butir Pi-han-cu.

Kelihatannya dia hanya dua kali meniup, tapi sebenarnya dia sudah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, maka dia kehabisan tenaga.

Kehabisan tenaga dalam tidak seperti kehabisan tenaga luar, lebih mudah pulih kembali.

Maka Li Poh-hoan memutuskan menerima kebaikan hati wanita cantik ini, membiarkan dia memijitnya.

Saat dia mengendurkan seluruh tubuhnya, segera kelelahannya terlihat dengan jelas.

Jari cantik Pu-couw-siancu memijat-mijat leher, bahu punggung dan tempat lain-lainnya.

Tubuh dia kadang-kadang menyentuh tubuh-nya, bau harum tercium oleh hidung Li Poh-hoan......

Apakah kelelahannya bisa segera dihilangkan, sepertinya sudah menjadi hal yang tidak penting!

Ketika pikirannya melayang-layang, siapa yang memikirkan tubuhnya masih lelah atau tidak? Sepasang tangan Pu-couw-siancu sambil memijat-mijat, sambil membungkukkan tubuh, dengan demikian dia bisa melalui keningnya Li Poh-hoan ke bawah melihat matanya.

Walaupun mereka saling pandang, tapi sedikit pun tidak mengganggu penampilan masing-masing di dalam hati mereka.

Karena sentuhannya semakin meluas, dan saling menempel, maka kemesraannya semakin kental seperti bisa dilihat, bisa diraba oleh tangan.

Malah bisa tercium hawa harum......

Setelah beberapa saat, Pu-couw-siancu baru kembali berdiri ke posisi semula.

Tetap berdiri di belakangnya.

Tapi sepasang tangannya masih memijat-mijat.

Lalu, sepuluh jari dia mendadak terbuka, setiap ujung jari dengan tepat berhenti di satu jalan darah, di antara sepuluh jalan darah itu, ada tiga jalan darah adalah jalan darah yang sangat penting.

Tentu saja Li Poh-hoan tahu.

Ilmu silat dia yang sangat tinggi, terhadap setiap jalan darah selalu terasa paling sensitif.

Tapi dia tidak bergerak, tidak melawan.

Malah sampai berpikir was-was pun tidak timbul.

"Ada pikiran apa di dalam hatimu?" dia pelan bertanya, bau harum mulutnya membuat orang mabuk.

Li Poh-hoan menjawab:

"Perasaanku seperti gelombang di lautan besar bergolak, aku tidak tahu sebabnya, sama sekali. " Dia pelan-pelan menutup matanya, menghirup nafas dalam-dalam.

Perasaan yang melayang-layang, darahnya mengalir semakin cepat seperti ini, kenapa begitu asing begitu aneh?

Kenapa tiba-tiba dia mendapatkan kehidupan yang begitu penuh begitu mantap?

Mendadak bisa melihat sinar cemerlang musim semi?

Dulu dia tidak pernah ada perasaan ini, apa karena hatiku dulu masih tertutup? Atau mataku buta?

Lalu kenapa dengan rela melepaskan segala kewaspadaan?

Kenapa mendadak kehilangan kecurigaan dan ketakutan?

Dia jelas-jelas tahu sepasang tangan cantik itu, setiap saat bisa mengambil nyawa pesilat tinggi dunia persilatan, tapi kenapa dia tidak takut bisa muncul kejadian menakutkan ini?

Dia menghela nafas, tapi suaranya penuh dengan kebahagiaan dan kepuasan.

Pipi mulusnya Pu-couw-siancu timbul warna merah yang mencolok.

Entah kapan sudah ditempelkan pada wajah-nyaa Dua orang itu sedikit pun tidak bergerak, setelah lewat beberapa saat tetap masih begitu.

Perasaan yang lembut seperti air, dan juga panas seperti api, sering membuat banyak hal di dunia ini berubah, malah bisa membuat sejarah ditulis ulang......

Ambisi pelan-pelan mengangkat kepalanya dari riak asmara ini. Istri yang secantik bunga, wanita cantik sehebat ini.

Jika orang biasa-biasa saja, bagaimana mungkin serasi dengan dia?

Laki-laki sejati seharusnya berjuang mendirikan usaha besar, lalu menggandeng istri kesayangannya, berdiri di gerbang perbatasan, bercengkrama......

Saat semangatnya bergelora, tapi bersamaan itu dia merasakan tubuh Pu-couw-siancu semakin kaku, hangat di wajah cantiknya semakin berkurang.

Apa penyebabnya sehingga dia berubah jadi begini? Haruskah dia bertanya padanya?

Pu-couw-siancu pelan-pelan meninggalkan dia, tetap berdiri di belakang dia, sepuluh jarinya masih tetap menempel di sepuluh jalan darahnya, katanya:

"Kau membuat perasaanku bergolak, membuat aku mendadak berubah kembali menjadi gadis tujuh delapan belas tahunan."

"Bukankah itu bagus?"

"Kenyataannya kurang bagus, begitu perasaan-ku bergolak, aku jadi teringat kakakku, maksudku di dalam hati jadi memikirkannya, bukan hanya di mulut saja, pun bukan ada kemauan lainnya. "

"Tujuan berbeda, apa ada hubungannya?" "Hubungannya terlalu erat. Jika aku berpikir dengan

sungguh-sungguh, akibatnya bukan saja ber-beda juga akan

ada orang lain yang tahu (Hal ini sudah diberitahukan oleh Tong-leng-siang-jin)."

00oodwoo00 
Mengapa udah nggak bisa download cersil di cerita silat indomandarin?

Untuk yang tanya mengenai download cersil memang udah nggak bisa hu🙏, admin ngehost filenya menggunakan google drive dan kena suspend oleh google, mungkin karena admin juga membagikan beberapa link novel barat yang berlisensi soalnya selain web cerita silat indomandarin ini admin juga dulu punya web download novel barat terjemahan yang di takedown oleh google dan akhirnya merembes ke google drive admin yang dimana itu ngehost file novel maupun cersil yang admin simpan.

Sebenarnya ada website lain yang menyediakan download cersil seperti kangzusi dan clifmanebookgratis tetapi link download cersilnya juga udah nggak bisa diakses.

Ada juga Dunia Kangouw milik om Edwin yang juga menyedikan cersil yang bisa didownload tapi beberapa bulan yang lalu webnya tiba- tiba hilang dari SERP :( padahal selain indozone admin juga sering baca cersil di dunia kangouw sebelum akhirnya admin membuat cerita silat indomandarin ini.

Mau donasi lewat mana?

BRI - Nur Ichan (4898-01022-888538)

BCA - Nur Ichan (7891-767-327)
Bagi para Cianpwee yang ingin berdonasi untuk pembiayaan operasional web ini dipersilahkan Klik tombol merah.

Posting Komentar

© Cerita silat IndoMandarin. All rights reserved. Developed by Jago Desain