-->

Asmara Pedang dan Golok Bab 01

Bab 01

Mata air Houw-pauw (Harimau lari) yang disebut-sebut sebagai mata air nomor dua di dunia, sungguh tidak salah disebut demikian. Tidak peduli digunakan untuk menyeduh teh Long-kheng biasa atau yang kwalitas khusus, asal semuanya daun muda, begitu masuk mulut tetap saja terasa licin segar harum dan manis.

Jalan menuju ke mata air Houw-pauw (di dalam kuil Houw-pauw) adalah sebuah jalan gunung yang terbuat dari susunan batu panjang yang terlihat sangat rapih.

Pohon-pohon tinggi sangat rimbun dan tenang berbaris di kedua sisi jalan, satu selokan kecil yang jernih di sisi kanan jalan batu mengalir tidak putus-putusnya.

Jika membandingkan kesegaran air selokannya, bisa diumpanakan seperti air es di musim panas... sungguh jernih dan dingin.

Walaupun air parit itu bukan berasal dari mata air Houw-pauw, tapi air itu sudah demikian dingin, bisa di bayangkan bagaimana dinginnya mata air Houw-pauw.

Di atas air selokan itu ada beberapa bunga rontok yang ikut mengalir ke bawah.

Pemandangan ini sebenarnya umum sekali.

Di dunia ini mana ada air selokan yang tidak ada bunga rontok ikut mengalir dengannya?

Seorang pelayan kecil merasa tidak sependapat melihat majikan dengan temannya bersama-sama meng goyangkan kepala, menikmati pemandangan yang menurut mereka sangat indah. Dua orang sastrawan muda itu bukan saja mengeluarkan suara "Ccck ccck!" memujinya. Malah turun ke dalam selokan, bermain dengan air selokan-nya, menyiram rontokan bunga-bunga itu.

Tampak dalam usia mereka yang masih sangat muda, sudah timbul riak-riak gelombang hati......

Dalam keadaan itu, tiba-tiba mata salah seorang di antaranya melotot pada satu benda yang bergulir mengikuti air parit.

Mungkin karena terlalu memperhatikan benda itu, tidak sadar dia jatuh ke dalam air dan tidak bisa bangun lagi.

Saat itu yang seorang lagi pun telah melihat benda , itu, matanya ikut melotot bengong, kaki dan tangannya \ menjadi kaku, malah sampai tidak ingat harus segera mengangkat temannya, supaya dia tidak mati tenggelam, sebab kepalanya menghadap kebawah.

Benda itu berbentuk bundar, dan air di sekelilingnya sudah berubah menjadi merah.

Benda itu bergulir terus meninggalkan mereka.

Tapi kemudian muncul lagi yang lainnya, bentuknya juga tidak terlalu berbeda.

Tidak peduli siapa, dan dari mana, semua orang tentu mengenalnya itu adalah kepala manusia.

Karena kepala itu sudah terlepas dari lehernya, maka bentuknya menjadi bulat dan bisa bergulir terus mengikuti aliran selokan.

Justru karena tahu itu adalah kepala manusia, maka terjadilah kejadian ini.

Yang seorang karena ketakutan sampai jatuh masuk ke dalam parit. Yang satu lagi jadi tidak bicara, tidak bergerak, hanya bisa bengong melihat kepala orang itu.

'Manusia yang paling tidak berguna adalah sastrawan', kata-kata ini kadang-kadang tepat sekali.

Coba saja pikir, biarpun membelalakan mata sebesar sapi, lalu apa gunanya? Tentu saja yang harus dilakukan segera adalah cepat-cepat menarik temannya yang jatuh pingsan ketakutan, supaya dia tidak mati karena tidak bisa bernafas, itu baru masuk akal.

Tapi, keadaan tidak sederhana seperti yang diceritakan, sebab di dalam waktu sekejap ini sudah muncul lagi sebuah kepala yang bulat untuk ke tiga kalinya, kepala itu pun membawa darah merah.

Kali ini sastrawan yang belum pingsan itu, tidak bisa bertahan lagi, setelah menjerit dia pun jatuh ke dalam selokan.

Selokan yang airnya jernih dan dingin itu, jika ditelusuri ke atas, setelah melewati satu danau persegi yang indah di dalam kuil, bisa berhubungan dengan mata air Houw-pauw.

Danau yang terbuat dari baru itu semuanya ada dua, berderet di kedua sisi.

Di tengahnya adalah tangga masuk yang lebar dan rapi.

Di atas tangga ada seorang pemuda bermata besar beralis tebal, tangan kirinya sedang memegang golok panjang berikut sarung goloknya, dia sedikit menyipitkan matanya, memandang orang di depan-nya.

Siapa pun yang ingin naik ke atas, dan masuk ke dalam ruangan, akan terhalang oleh orang ini.

Dan kenyataannya memang pemuda ini pun terhalang oleh orang itu. Maka sangat logis sorot mata dia terasa menjadi sangat dingin dan sangat tidak senang.

Golok pemuda itu seperti belum pernah keluar dari sarungnya.

Golok itu kelihatan lebih bengkok sedikit dan lebih panjang sedikit dari pada golok biasa. Sarung goloknya pun dihiasi oleh batu giok dan lain-lainnya.

Tapi golok itu selain kotor juga sudah banyak, cacatnya, sehingga keadaannya menjadi gelap dan tidak i bercahaya, bisa diketahui pemuda ini orangnya tentu kasar dan tidak hati-hati.

Selain hal itu, yang membuat orang penasaran adalah, walau di belakang pemuda itu terbaring tiga mayat tanpa kepala, tapi orang yang di hadapannya itu melihat pun tidak pada mayat-mayat itu, wajahnya tenang seperti tidak ada apa-apa.

Tampaknya tiga mayat itu seperti tidak ada hubungannya dengan dia.

Tapi karena di belakang dia masih ada dua orang laki- laki besar yang sedang melototkan matanya dengan marah, dan dandanannya sama persis dengan ke tiga mayat itu maka bisa dilihat mayat-mayat itu bukan saja ada hubungannya dengan mereka, malah mungkin berhubungan erat sekali.

Orang yang menghadang jalan pemuda ber-mata besar beralis tebal ini, kira-kira berusia tiga puluh tahunan. Kulitnya putih bersih, wajahnya tampan, tapi sepasang matanya berkilat-kilat, liar, ganas seperti sorot mata macan tutul. Tangan kiri dia sudah mengeluarkan tiga batang pipa baja, lalu dengan gerakan yang cepat sekali diputarnya, jadilah sebuah tombak baja sepanjang tujuh kaki.

Ujung tombaknya berkilat-kilat menyilaukan mata, dan bersamaan itupun ada satu hawa dingin menekan orang di sekitarnya.

Sambil memegang tombak bajanya, dia melihat pada pemuda itu.

Wajahnya terlihat sangat tidak senang dan keheranan, dia berkata:

"Tampaknya kau belum pernah melihat dan mendengar senjata di tanganku ini?"

Pemuda menggelengkan kepala.

"Aku adalah Kie Hong-in. Senjata di tanganku ini disebut Bo-tang-bau (Tombak tidak ada yang menahan). Apakah sekarang ingatanmu sudah terang?"

Alis tebal pemuda itu bergerak-gerak sedikit, di ujung alisnya seperti mengeluarkan hawa amarah yang sangat jelas, orang yang terlambat berpikir pun dengan gampang bisa tahu keadaannya.

Orang yang menyebut dirinya Kie Hong-in jadi keheranan melihat ujung alisnya, matanya sampai berkedip- kedip beberapa kali.

Dia merasa takjub, melihat hawa amarah yang bisa terlihat di ujung alis?

Bagaimana dengan perasaan seperti senang, sedih, cemburu dan lain-lain, apakah bisa terlihat seperti ini juga?

Kie Hong-in hanya bisa melihat dan merasakan amarah lawannya, tapi tidak mendengar jawaban dari lawannya. Maka dia berkata lagi:

"Aku datang dari Hong-lai di Soa-tang, aku tahu kau sangat ternama di utara, walaupun belum sampai satu tahun, tapi aku mendengar kau sudah membunuh banyak orang, dan yang paling banyak mati adalah dari kalangan pesilat golok. Apakah kau adalah Mo-to (Setan golok) Hoyan Tiang-souw itu?"

Pemuda yang bermata besar beralis tebal itu hanya menganggukan kepalanya satu kali.

Kie Hong-in menjadi marah, dia mengeraskan ^ suaranya:

"Aku tidak peduli, walaupun kau sekarang sangat ternama, tapi terhadap namaku dan tombak Bo-tang-bau ini, apakah kau tidak bisa mengingat dan menghubungkannya? Apa kau benar-benar tidak tahu siapa diriku?"

Hoyan Tiang-souw menggelengkan kepala, tetap tidak membuka mulut.

Tapi amarah di ujung alisnya sudah berkurang banyak. Jelas Kie Hong-in sendiri sangat mengerti pada dirinya,

yaitu jika dia ingin orang tahu tentang dirinya, tapi orang

itu malah tidak mau tahu hal itu, itu berarti satu penghinaan buatnya.

Siapa yang tidak tahu, keluarga Kie dari Hong-lai di Soa- tang?

Siapa yang tidak tahu kehebatan tombak baja sepanjang tujuh kaki itu?

Tapi... Hoyan Tiang-souw sungguh-sungguh tidak pernah mendengarnya.

Jadi tidak bisa menghubungkannya. Seperti Kie Hong-in? Pesilat-pesilat golok ternama yang mati di bawah golok Pek-mo-ci-to nya, Hoyan Tiangsouw tidak tahu sama sekali kedudukan dan ketenaran mereka.

Dilihat sepintas, Hoyan Tiang-souw tampak kurang bisa berpikir, juga orang yang tidak punya perasaan.

Jika Kie Hong-in bisa membuat dia timbul banyak perasaan dan pikiran, pandangan di luar ini jelas salah.

Tanpa memberi aba-aba, juga tanpa memberi isyarat sedikit pun. Tiba-tiba tombak baja Kie Hong-in mengeluarkan hawa membunuh dan berkelebat menyilaukan mata, tombak baja itu sudah mulai "bergerak1, kecepatannya sulit digambarkan, hanya sekejab tahu-tahu ujung tombaknya sudah hampir menempel di tenggorokan Hoyan Tiang-souw.

Dengan sedikit terkejut Hoyan Tiang-souw mundur setengah langkah, gerakannya juga sangat cepat. Tapi dia hanya mundur setengah langkah, yaitu kira-kira setengah kaki.

Jarak yang pendek itu, dalam pandangan orang biasa tentu sangat berbahaya, sebab jika seseorang menusukan tombak yang panjangnya tujuh kaki dengan gerakannya sangat cepat, mungkin tubuhnya bisa terbawa oleh tombak itu maju ke depan.

Dan tidak heran jika terjangannya bisa maju sampai dua- tiga langkah.

Keadaan Hoyan Tiang-souw yang hanya mundur setengah langkah tentu saja sangat berbahaya, apa lagi Kie Hong-in meneruskan tusukan tombaknya sampai dua tiga kali, sedangkan dia setiap kali mundur juga hanya mundur setengah langkah. Mundurnya satu inci pun tidak kurang atau lebih. Kelihatan Hoyan Tiang-souw dan Kie Hong-in adalah orang yang sangat kukuh.... yang satu hanya mau mundur setengah langkah, yang satu lagi juga tidak mau menusuk lebih maju dua tiga inci.

Hoyan Tiang-souw berturut-turut mundur tujuh kali setengah langkah sambil menunggu kesem-patan, begitu dia melihat Kie Hong-in merubah jurusnya^ sepasang bahunya segera bergerak ke depan, golok dia, sudah dicabut keluar dari sarungnya.

Begitu Pek-mo-ci-to keluar dari sarungnya, dalam radius beberapa tombak tiba-tiba timbul hawa aneh yang menyeramkan, udara menjadi dingin dan menekan hati.

Untuk kedua kalinya, golok ini keluar dari sarungnya.

Tadi ketika jalannya Hoyan Tiang-souw di hadang oleh tiga orang dari lima orang anak buah Kie Hong-in, mereka memaksa dia menyerahkan goloknya untuk diberikan pada majikannya, sehingga tindakan mereka jadi sedikit kasar.

Masalah jadi membesar karena mereka memper lihatkan tingkah yang memaksa.

Jika Hoyan Tiang-souw tidak menyerahkan golok pusakanya, maka dia akan menjadi mayat yang selamanya tidak bisa memegang golok lagi.

Keadaan itu membuat Hoyan Tiang-souw jadi naik pitam, dua alis tebalnya memancarkan hawa amarah dan bara api yang memanaskan hati orang!

Maka ketika Pek-mo-ci-to diayunkan, hanya meninggalkan sebuah kilatan sinar dingin yang menyilaukan mata. Belum lagi semua orang tahu apa yang terjadi, tiba-tiba mata mereka menjadi kabur seperti ada dua tetes air mata muncul di depan mereka.

Akibatnya tidak perlu dijelaskan lagi, tiga kepala manusia itu tahu-tahu sudah bergulir ke bawah mengikuti arus selokan, dan membuat dua sastrawan sial itu jatuh pingsan, saat ini mereka masih hidup atau sudah mati masih belum diketahui.

Mengenai tiga orang yang kehilangan kepala-nya, tentu saja tidak mungkin bisa hidup lagi.

Kie Hong-in cepat sekali sudah menusukan tombaknya tujuh kali.

Setiap tusukannya berhasil mendesak lawan mundur setengah langkah.

Setiap orang yang melihat keadaannya, pasti mengira dia sudah berada diatas angin, tapi sebenarnya tidak begitu.

Dengan setiap kali mundur hanya setengah langkah, sudah menjelaskan Hoyan Tiang-souw sudah bisa menduga, tombak lawan hanya bisa menusuk sejauh ini saja, lebih maju satu inci pun tidak dapat.

Maka walaupun Kie Hong-in melanjutkan tusukan tombaknya seratus kali lagi, keadaannya mungkin tetap tidak akan berubah, yang berubah hanya mereka akan bergerak sejauh lima puluh kaki saja.

Itulah sebabnya Kie Hong-in tidak bisa tidak harus merubah jurusnya, dia berharap dengan meru-bah jurusnya dia bisa merubah keadaan, maka seluruh tenaga dalamnya tidak disisakan lagi, dalam sekejap mata disalurkan sepenuhnya ke dalam tombak bajanya. Tombak baja masih tetap menusuk ke depan, tapi sekarang ujung tombaknya sudah terisi tenaga dalam sepenuhnya, terdengar suara berciutan di ikuti perubahan ujung tombaknya menjadi tiga sudut kecil...

Jika Hoyan Tiang-souw tidak melihat Kie Hong-in telah mengerahkan tenaga dalamnya.

Jika dia tidak tepat waktu mencabut Pek-mo-ci-to nya! Jika dia masih tetap hanya mundur setengah langkah. Maka wajah, tenggorokan dan dadanya akan berlubang,

darahpun akan bercucuran.

Jika Hoyan Tiang-souw tidak mempunyai kata 'jika' yang dijelaskan di depan.

Selain itupun bisa melihat tiga sudut getaran ujung tombak yang sempit.

Jika sudut getarannya cukup besar, walaupun dia ada kemampuan sebesar raja yang berkuasa, juga hanya bisa mundur menghindar, tidak bisa mencabut golok menangkisnya.

Tapi sekarang dia sudah bisa melihat satu celah, dia bisa menggunakan goloknya menangkis tombak, lalu mengikuti batang tombak memotong jari tangan Kie Hong-in yang memegang tombaknya.

Sinar Pek-mo-ci-to hanya bergerak sekelebat langsung menghilang lagi, begitu sinar goloknya menghilang, golok sudah masuk lagi ke dalam sarungnya.

Setelah sinar golok itu menghilang, Kie Hong-in baru bisa mendengar suara "Traang!", tubuhnya seperti bor berputar sekali. Dia masih beruntung, sebab jari tangannya masih utuh, Hoyan Tiang-souw hanya menangkis tombaknya, tidak diteruskan menelusuri batang tombak memotong ke bawah.

Tapi sinar golok yang sekelebat itu membawa sebuah pengaruh yang aneh, pengaruh itu membuat hati Kie Hong- in menjadi dingin dan ketakutan, dua lututnya gemetaran tidak mau berhenti, lemas seperti ingin berlutut saja.

Kejadian ini membuat batin Kie Hong-in sangat tertekan, walaupun dia bukan tandingan lawannya, dia lebih suka dibunuh, tidak mau ketakutan seperti ini, apalagi berlutut minta diampuni.

Kenapa di dalam hati dia bisa penuh oleh rasa ketakutan yang tidak dimengerti?

Kenapa sepasang lututnya bisa begitu lemas seperti mau berlutut saja?

Perbedaan yang paling mencolok antara sabet-an golok Hoyan Tiang-souw dengan sabetan golok yang membunuh tiga orang itu, adalah amarah dan kebencian di atas alisnya, sabetan golok pertama dia dalam keadaan sangat marah, tapi sabetan golok yang sekarang kemarahannya sudah berkurang.

Di dalam hati Hoyan Tiang-souw pun merasa sangat heran, sehingga dia mengeluarkan kata-katanya, suaranya sangat kasar, kuat dan memekakan telinga.

"Cara tombakmu menyerang tadi sungguh tepat, bagaimana kau bisa melihat peluang ini? Bagaimana kau bisa begitu tepat mengambil keputus-an?"

Ternyata yang membuat hatinya heran adalah masalah ini. Kie Hong-in menahan rubuhnya dengan tombak yang ditekankan pada tanah, akhirnya dia bisa menahan tubuhnya agar tidak berlutut.

Dia seperti tidak mendengar pertanyaan lawannya, sepasang matanya bengong melihat ke atap kuil dan pepohonan, lalu berguman sendiri:

"Dewa Tombak marga Kie disebut-sebut tidak bisa ditahan oleh ribuan orang. Tapi sekarang, satu jurus pun tidak bisa menahan serangan golok. Hay, satu jurus pun tidak bisa menahannya. "

Dia terlihat sangat sedih, sedih karena dia adalah tuan muda dari keluarga Kie di Hong-lai.

Walaupun di Hong-lai masih ada beberapa orang lainnya seperti paman dan saudara misannya, dan tenaga dalamnya lebih tinggi dari pada dia, jurus tombak nya juga lebih hebat dari pada dia, tapi dia adalah tuan muda keturunan langsung, kedudukan dan kekviasaannya lebih tinggi dari pada orang lain.

Tentu saja dia tidak terpikir justru karena kedudukannya lebih tinggi, maka sifat dia menjadi sombong dan tidak mau memandang orang lain, sampai nyawa orang pun sama sekali tidak dianggap-nya.

Tapi dia pun tidak terpikir Pek-mo-ci-to bisa begitu hebat.

Dalam keadaan yang begitu mendesak, hanya dengan satu jurus golok, sudah bisa menentukan siapa pemenangnya dan menentukan siapa yang mati, ini adalah hasil dari gabungan golok itu dengan jurus anehnya.

Jari tangan Kie Hong-in masih utuh, kepala dia pun masih berada di atas lehernya, itu bisa dikatakan dia masih sangat beruntung. Karena Hoyan Tiang-souw bisa mencabut dan mengembalikan kembali goloknya secepat kilat, maka tidak ada aturan yang melarang dia boleh mencabut kembali goloknya, sehingga kepala Kie Hong-in belum terjamin sudah selamat.

Siapa pun tidak tahu dalam saat yang singkat ini kepala dia bisa juga akan jatuhke dalam air?

Mungkin kepalanya juga akan bergulir meng-ikuti arus selokan.

Para pelancong yang datang walaupun tidak begitu banyak, tapi tetap saja ada.

Tapi sekarang siapa pun tidak ada yang berani melewati jalan yang terdapat tiga mayat tergeletak berlumuran darah itu.

Orang yang lebih berani pun paling hanya berani maju beberapa langkah, berusaha melihat wajah Hoyan Tiang- souw dan Kie Hong-in, lalu buru-buru kembali menjauh.

Begitu alis tebal Hoyan Tiang-souw sedikit naik ke atas, siapapun bisa 'melihat' lagi hawa amarahnya. Walaupun Kie Hong-in tidak melihat dia, tapi dia bisa merasakannya.

Ini membuat dia jadi sadar kembali pada kenyataan, sehingga dia bisa mendengar suara kasar Hoyan Tiang- souw yang berkata:

"Coba kau jawab pertanyaanku, bagaimana kau bisa tahu saatnya menyerang dengan tombak. Maka aku juga akan memberi tahu, kenapa kau dalam satu jurus pun tidak bisa menahan seranganku."

Usulannya sangat adil.

Kie Hong-in merasa keheranan, sebenarnya dia tidak perlu begitu sungkan? Dia bukan tidak bisa membunuh orang, tiga mayat itu adalah bukti yang tidak bisa dibantah. Jika dia mengancam akan membunuh aku, apakah aku Kie Hong-in berani tidak menjawabnya?

"Itu karena hawa amarahmu." Kie Hong-in berkata, "ketika keadaan marahmu berubah menjadi tidak marah, aku merasa inilah kesempatan, makanya aku segera menyerang."

Dari marah berubah jadi tidak marah, semua Hoyang Tiang-souw tidak sadar, sehingga timbul perasaan mendelu, ternyata begitu, titik lemah ini memang cukup membuat kekalahan malah bisa mengantarkan nyawanya.

Lain kali dia tidak boleh membiarkan musuh mengambil kesempatan ini.

"Sekarang giliranku memberitahu, jurus tombakmu sebenarnya amat hebat, penggabungan gerakan tombak dengan tenaga dalamnya juga bagus, tapi itu hanya terbatas jurus tombak dan tenaga dalam saja, sedangkan penampilanmu sangat buruk, bukan saja kau tidak melatih ilmu silat dengan baik, juga orangnya jahat dan licik, maka walaupun kau bisa mengambil kesempatan yang paling bagus, tapi tetap bukan lawanku."

Jurus tombak yang hebat ditambah ilmu tenaga dalam yang tinggi, jika diterapkan pada orang yang berbakat bagus, tidak perlu dijelaskan lagi akan membentuk orang itu menjadi apa.

Jika orang orang biasa, walaupun beruntung mendapatkan ilmu yang hebat, kesuksesannya tentu tidak akan mengejutkan orang.

Hal ini jelas seperti huruf hitam diatas kertas putih, semua orang juga tahu. Tapi menyebut "jahat dan licik' masalah ini, jangan kata orang lain tidak bisa mengerti, sampai Kie Hong-in sendiri juga bingung tidak mengerti.

Jahat dan licik adalah sifat seseorang, apa hubungannya dengan ilmu silat.

Apakah di dunia ini hanya orang orang baik saja yang dapat melatih ilmu silat dengan sempurna ?

Teori ini tentunya termasuk dalam kategori tidak ada aturannya, tidak diragukan lagi.

Tapi orang ini (maksudnya Hoyan Tiang-souw) tampaknya tidak sembarangan bicara.

Sekarang kedua belah pihak sudah berhenti bertarung beberapa saat lamanya, kedua belah pihak sudah bicara banyak, tapi entah kenapa di dalam hati Kie Hong-in masih ada perasaan takut?

Karena masih ada perasaan takut, maka dia tidak bisa mengerahkan tenaga.

"Aku tidak mengerti kata-katamu!" Kie Hong-in mengerutkan alis, katanya lagi, "dengan dasar apa kau mengatakan aku adalah orang yang jahat dan licik? Siapa tahu, kau sendiri malah bisa lebih jahat dan licik, dan lebih harus mati dari padaku?"

"Betul, kau dan aku pun sama-sama tidak tahu." Hoyan Tiang-souw berkata dengan terus terang. Tapi dia masih menyambung kata-katanya, "Tapi golok pusakaku bisa tahu, kalian menyebut golok ini adalah Mo-to, tidak masalah, aku pun selanjutnya akan mengikuti kalian menyebutnya Mo-to (Golok Setan), Mo-to ku ini tahu kau adalah orang yang jahat dan licik, kau percaya tidak?" "Jangan berkelakar, sebilah golok mana mungkin bisa tahu seseorang itu jahat, baik, jujur atau tidak?"

"Justru dia tahu. Menurut kata-kata asing yang diukir di atas tubuh golok ini mengatakan, setiap orang yang sangat jahat dan licik, jika bertemu dengan golok ini laksana kumbang menerjang api, tidak bi,sa mengendalikan dirinya, dalam sekejap semua akan mati, mengantarkan nyawa."

"Ini sungguh berita aneh sepanjang masa." Kie Hong-in "Hih!" sekali sambil tertawa berkata, "Jika aku adalah seorang yang jahat dan licik, kenapa aku tidak seperti kumbang menerjang api menggunakan leherku menahan golokmu? Apa aku segera akan mati?"

Saat ini Kie Hong-in memang masih belum mati, dia masih hidup baik-baik saja, masih bisa membusungkan dada bicara, dan suara nya pun keras sekali.

Di ujung alis Hoyan Tiang-souw mendadak timbul lagi hawa amarah, suaranya juga berubah jadi keras dan kasar lagi:

"Itu karena Mo-to ku sudah masuk ke dalam sarungnya, sekarang kau boleh membuka mata besar-besar supaya bisa melihat dengan jelas. "

Kali ini Kie Hong-in kembali bisa merasakan gejala dari 'hawa amarah' nya lawan.

Reaksi dia pun dalam sekejap sudah ter-bentuk...

sepasang tangannya yang memegang tombak ditusukan ke arah hati Hoyan Tiang-souw, sepasang mata berkilat-kilat, kuda-kudanya sedikit merendah...

Jelas, dia telah mengeluarkan jurus terdahsyat dari jurus tombak Bo-tang-bau keluarga Kie, dan bersamaan juga telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Serangkum hawa membeku yang amat dahsyat menutup ke arah lawannya, malah sedikit pun tidak ada celahnya.

Memang tombak Bo-tang-bau dari keluarga Kie dari Hong-lai di Soatang sangat luar biasa!

Hoyan Tiang-souw pun menaruh rasa hormat dari dasar hatinya.

Walaupun ilmu silat orang yang menggunakan tombak baja ini masih belum sempurna, tapi kedahsyat annya sudah sangat luar biasa, jika digantikan oleh pesilat tinggi keluarga Kie lain yang ilmu silatnya sudah sempurna, entah bagaimana jadinya?

Tapi kali ini Hoyan Tiang-souw tidak mengu-rangi hawa amarahnya meskipun dalam hatinya timbul 'rasa hormat' terhadap kehebatan serangan lawannya.

Inilah kejadian yang mengherankan sekali, bagaimana mungkin seseorang bisa mengendalikan amarahnya dengan sekehendak hatinya? Kecuali kalau berpura-pura marah.

Tapi hawa amarah Hoyan Tiang-souw benar-benar asli, tidak pura-pura seperti bara api yang dapat membakar segalanya, inilah keanehannya.

Mo-to dengan pelan tapi pasti keluar dari sarungnya.

Jurus Kie Hong-in ini adalah jurus paling dahsyat untuk menyerang lawannya, jurusnya adalah To-cun-si (Hidup tinggal sendiri), artinya sekali menyerang menggunakan jurus ini, hanya ada satu orang saja yang hidup.

Kie Hong-in pun tahu menurut teori, sekali menggunakan jurus ini, orang yang dituju oleh ujung tombaknya seharusnya diam tidak bergerak.

Jika ingin bergerak, hanya ada dua cara. Satu adalah mengeluarkan jurus menangkisnya, yang satu lagi adalah mundur menghindar.

Dan gerakan kedua macam cara ini kecepatan-nya harus lebih cepat dari pada kilat.

Tapi Mo-to malah pelan-pelan keluar dari sarungnya......

Tanpa mempedulikan apa pun, Kie Hong-in sekuatnya menyerang dengan jurus hebat yang paling dahsyat ini. Tapi dia kemudian merasa kesulitan sebab lawan tidak memperlihatkan sedikitpun celah untuk bisa diserang.

Mo-to sudah keluar semua dari sarungnya dan terlihat sinarnya berkilat-kilat.

Di ujung golok mendadak timbul dua tetes air mata yang jernih sekali.

Dua laki-laki besar yang tangannya meng-gengam golok, sepasang kakinya jadi gemetaran.

Kie Hong-in malah lebih kacau lagi, bukan saja kakinya gemetaran, malah masih bisa terdengar suara giginya yang beradu, jurus tombaknya pun tidak bisa digerakanlagi.

Sudahbagusdia masih bisa berdiri.

Begitu Hoyan Tiang-souw berteriak marah, goloknya disabetkan pada tombak baja yang bergerak-gerak.

Tidak ada gerakan lain lagi. Tahu-tahu dia sudah memasukan golok ke dalam sarungnya lagi.

Suara jatuhnya tombak Bo-tang-bau sepanjang tujuh kaki terdengar keras sekali.

Kie Hong-in terbangunkan oleh suara keras ini.

Suara keras ini sangat menusuk hatinya. selama ratusan

tahun tombak Bo-tang-bau dari keluarga Kie tidak pernah dipukul jatuh ke tanah oleh siapapun, dulu tidak pernah, di kemudian hari pun selamanya tidak akan pernah terjadi.

Kie Hong-in mengeluh dalam sekali karenanya.

Bersamaan ini, rasa ketakutan yang tidak bisa dimengerti mendadak hilang, digantikan dengan perasaan lain yang lebih jelas.

"Apa bedanya jika sekarang kau langsung memenggal leherku?"

Suara Kie Hong-in terdengar sedikit pahit dan tidak bisa berbuat apa-apa.

"Kau sungguh ingin tahu hal ini?"

"Bukan." Kie Hong-in berkata, "Apa yang aku ingin tahu, belum tentu kau memberitahukan. Karena di dalam keluarga Kie, aku hanya seorang pesilat tinggi yang paling buruk."

"Kau salah, itulah yang harus kau tanyakan." Suara Hoyan Tiang-souw sangat keras, hingga orang orang di dalam ruangan besar kuil disana pun bisa mendengarnya.

"Aku beritahu, saat hawa amarahku bersatu dengan pengaruh gaib Mo-to, jika kau adalah seorang jahat dan licik, maka tanganmu tidak akan bisa memegang tombak lagi. Mengenai alasan aku tidak memenggal kepalamu, karena jurus tombak keluarga Kie adalah sebuah ilmu hebat di masa sekarang. Aku menggunakan cara ini untuk menunjukan rasa hormat-ku."

Di wajah Kie Hong-in yang pucat tampak warna menyesal, katanya:

"Sungguh? Kau tidak membohongi seorang yang mau mati ini?" Pertanyaan ini membuat Hoyan Tiang-souw tertegun sejenak, menunggu Kie Hong-in sudah roboh ke tanah, dia baru menghampirinya dan berbisik di telinganya:

"Belum tentu. Sobat, walaupun aku orang kasar, tapi bukan orang yang tidak punya otak, anak buahmu akan membawa pulang pembicaraan di antara kita ini. Tentu saja kau bisa berharap, para pesilat tinggi keluarga Kie bisa mendapatkan cara mengalahkan aku dari percakapan kita ini. "

Dalam perjalanan hidup seseorang, jika ter-hadap semua orang bisa berkata jujur dan tidak menipu, di jamin pasti bisa mendapatkan rasa hormat walaupun meninggal di usia muda.

Apa lagi di dalam dunia persilatan.

Maka Hoyan Tiang-souw lalu berpura-pura menempelkan telinganya di sisi Kie Hong-in, seperti sedang mendengarkan dia bicara apa.

Tingkah berpura-pura ini, sama sekali tidak berlebihan......

$ $ $

Keindahan See-ouw sungguh sulit digambar-kan.

Apa lagi jika bermain-main di Hoa-kong-koan-ie, di sana pernah dikunjungi sastrawan Su-ti, membuat tempat itu semakin se indah sajak saja.

Tapi jika di Pheng-ouw-kiu-gwat (villa di musim gugur) melihat pemandangan danau dari kejauhan, tampak tempatnya sangat luas, gelombang hijau menyambung dengan gunung, sehingga menim-bulkan angan-angan asmara. Tapi pemandangan yang sangat indah ini malah menjadi suram dimakan keserakahan, kemarah-an dan kebodohan manusia.

& & &

Melihat keluar dari jendela yang terbuka lebar, riak gelombang danau dan lambaian pohon Liu yang lembut bisa membuat perasaan orang menjadi tenang, juga membuat orang lupa terhadap kepusingan dalam kehidupan ini!

Tapi keserakahan dan kebodohan sering membuat orang tidak bisa menikmati pemandangan indah, juga tidak bisa mendengar indahnya suara alam.

Kata 'keserakahan', biasanya membuat orang terpikir harta benda.

Tapi entah dengan 'asmara' apakah juga termasuk dalam lingkungan 'keserakahan'.

Tidak peduli laki-laki memikirkan wanita, atau wanita memikirkan laki-laki semuanya termasuk dalam 'keserakahan'.

Menurut hasil penelitian orang-orang pintar dari zaman dulu sampai sekarang, 'keserakahan' antara laki-laki dan perempuan ini, jauh lebih kuat dari pada terhadap harta benda dan kekuasaan.

Di dalam ruangan yang luas, terang dengan dekorasi yang mewah, ada enam orang sedang melihat ke tempat jauh melalui jendela.

Pemandangan indah di sekitarnya, tampak tidak membuat mereka tertarik. ,

Mereka semuanya adalah para wanita, lima di antaranya tampak cantik sekali, hanya satu wanita yang wajahnya kurang cantik, sebab usianya jauh lebih tua dari pada lima wanita lainnya.

Lima gadis cantik semua memakai baju sutra yang serasi dengan tubuhnya, hanya wanita setengah baya yang kurang cantik ini memakai baju hijau kain kasar, sehingga membuat dia menjadi tampak lebih miskin dan bodoh.

Tiba-tiba di luar ruangan terdengar suara ribut, lalu masuk empat orang laki-laki besar.

Pakaian empat orang laki-laki ini tampaknya terbagi dua kelompok, dua orang memakai seragam baju putih semua, sampai sarung pedang dan sepatu-nya juga tidak terkecuali, sedang dua orang lagi semua berseragam hitam.

Salah seorang yang tubuhnya lebih tinggi dari dua orang yang memakai seragam putih tampak berwajah muram, tangan kanannya menekan pegangan pedang dengan dingin berkata:

"Co Ek-seng, Song Cin, aku sarankan pada kalian, lain kali jangan sembarangan datang, kecuali atas perintah langsung dari Kie-siauya."

Co Ek-seng yang wajahnya tampak hitam seperti pakaiannya sambil tertawa dingin berkata:

"Tidak ada lain kali, saudara Hong Kin dan saudara Tong Ang, dengar baik-baik, tidak ada lain kali. Aku harap kalian bisa sedikit ramah."

Hong Kin mengerutkan alis, benar saja suara-nya menjadi sedikit ramah, berkata:

"Saudara Co, apa maksudmu bicara begitu?" Kata Co Ek-seng:

"Kie-siauya sudah mati. Ibarat pohon tumbang kera pun bubar, makanya tidak ada lain kali." Laki-laki yang berseragam putih-putih yang dipanggil Hong Kin dengan tertawa dingin berkata:

"Walaupun Kie-siauya sudah mati, wanita dan hartanya tetap milik keluarga Kie."

Co Ek-seng melototkan matanya, dengan nada sedikit marah berkata:

"Apakah aku pernah mengatakan bukan milik keluarga Kie?"

Hong Kin menggoyangkan tangannya: "Bicaralah baik- baik. Mohon tanya saudara Co, karena apa Kie-siauya bisa mati? Dia masih sehat-sehat, dan ilmu silatnya tinggi. Belum lama ini terlihat masih segar bugar, aku kira pasti bukan karena tertular penyakit aneh, lalu mendadak mati..."

"Tentu saja bukan." Kata Song Cin yang ber-seragam hitam dari tadi tidak bersuara, suaranya terdengar sedih, "Semua karena Mo-to, Hoyan Tiang-souw. Kalian pasti pernah mendengar nama ini, begitu dia mengeluarkan jurus mautnya, hanya dengan satu sabetan golok saja sudah menjatuhkan tombak bajanya Kie-siauya, juga bersamaan telah membunuhnya."

Hong Kin dan Tong Ang bersama-sama menge luarkan tarikan nafas dingin.

Tentu saja mereka tidak bisa tidak harus mempercayai kabar ini.

Tapi menurut kabar yang mereka tahu, walaupun tombak baja Bo-tar.g-bau keluarga Kie tidak bisa disebut nomor satu di dunia, walaupun mudah jika mau membunuh dia yang memegang tombak baja, tapi j#ca ingin menjatuhkan tombak bajanya, itu hal yang tidak pernah terdengar. "Sekarang kalian mau apa?" kata Hong Kin. Kata Co Ek-seng:

"Kami adalah orang yang diutus keluarga Kie untuk menemani Siauya, tentu saja harus buru-buru kembal; melaporkan segala sesuatu yang telah terjadi."

Hong Kin menganggukkan kepalanya:

"Betul sekali, tapi kenapa kalian tidak segera berangkat? Kenapa kalian masih datang kemari? Apa-kah tidak terpikir oleh kalian, Hoyan Tiang-souw bisa mengikuti kalian kemari?"

"Jika dia sudah tidak membunuh kami, buat apa masih mengikuti kami? Apa lagi Siauya masih mempunyai wanita dan benda berharga lainnya disini, jika tidak dibawa pulang oleh kami, lalu siapa yang membawa pulang?"

Hong Kin menganggukan kepala tanda setuju:

"Benar juga kata-katamu, para wanita ini dan barang berharga lainnya harus kalian bawa pulang, sedangkan aku dengan Siau-Tong hanya ingin membalaskan dendam Siauya. Sekarang kalian cepat ceritakan seluruh kejadian sebenarnya, sedikit pun jangan ada yang terlewatkan, sebab musuh ini bukanlah musuh biasa."

"Tahu keadaan musuh dan tahu keadaan diri sendiri baru bisa memenangkan pertempuran."

Teori ini Co Ek-seng dan Song Cin tentu saja semua orang tahu.

Maka mereka menceritakan seluruh peristiwa yang terjadi, sedikit pun tidak ada yang terlewat.

Setelah selesai bercerita, Hong Kin melihat pemandangan indah See-ouw di luar jendela, dengan menghe;a nafas sekali dia lalu berkata: "Seharusnya aku segera kembali ke keluarga Kie di Hong-lai untuk melaporkan semua ini. Tapi sekarang ini aku tidak bisa kembali, Siau-Tong, kau tentu mengerti apa maksudku bukan?"

Tentu saja kata-katanya ditujukan pada Tong Ang.

Wajah Tong Ang mendadak menjadi putih pucat seperti bajunya. Tapi dia masih tetap meng-anggukan kepala:

"Aku mengerti.'

"Kau sungguh mengerti?" kata Hong Kin. "Sungguh." Jawab Tong Ang.

Saat ini sorot mata dia tanpa sadar melihat kepada salah satu di antara lima gadis cantik itu.

Setelah melihat, dia pun tidak tahan mengeluh dan melanjutkan perkataannya:

"Jika aku adalah kau, aku pun akan bertindak demikian." Hong Kin tersenyum dan berkata:

"Kita Ceng-hoan-siang-kiam (Sepasang pedang bayangan dan asli) selama puluhan tahun selalu menang dalam setiap pertarungan, tapi kali ini rasanya sulit dikatakan!"

"Jika aku tidak pergi, mungkin bisa sedikit membantu dan sedikit berguna bagimu?" kata Tong Ang.

"Jika aku seorang diri menghadapi pesilat hebat seperti Mo-to Hoyan Tiang-souw, aku pasti tidak bisa menahannya, ditambah kau juga tidak akan ada guna-nya. Teori ini mungkin orang lain tidak mengerti, tapi kau pasti tahu." Kata Hong Kin.

Tong Ang mengangguk-anggukan kepala. Tentu saja dia tahu jika ilmu silat seseorang sudah melebihi taraf ilmu silat pesilat tinggi umumnya, menghadapi sepuluh orang dengan menghadapi satu orang, tidak ada bedanya.

Nama Ceng-hoan-siang-kiam di dunia persilat-an tidak begitu besar.

Namun, ini justru disengaja oleh mereka, sebab mereka benar-benar berilmu tinggi, siapa pun diantara mereka tidak akan kalah oleh siapa pun yang menyebut dirinya pesilat tinggi, tapi apakah benar tidak melebihi pesilat tinggi dunia persilatan? tidak ada yang tahu.

Jika benar melebihi, apakah bisa mencapai yang terhebat?

Hal inipun tidak ada orang yang tahu. Di dunia ini ada satu kejadian, yang sering muncul atas diri seseorang yang memiliki keahlian dan kemampuan yang sangat hebat.

Orang yang benar-benar memiliki keahlian, benar-benar berilmu tinggi atau orang yang benar-benar kaya, dari luar sering sulit melihatnya.

Mereka tidak seperti tong kosong nyaring bunyinya, juga tidak seperti orang baru kaya memamer kan kekayaannya.

Buat orang-orang yang tidak berkemampuan sering kali salah paham, sering sekali memandang sebelah mata pada orang-orang yang benar berpen-didikan, tapi tidak menonjolkan dirinya.

Co Ek-seng dan Song Cin yang berseragam hitam dan membawa golok, jelas termasuk orang yang tidak berkemampuan.

Mereka sama sekali tidak bisa melihat Ceng-hoan-siang- kiam Hong Kin dan Tong Ang adalah orang bagaimana. Dalam pikiran Co Ek-seng dan Song Cin, Hong Kin dan Tong Ang, dua orang ini hanyalah tukang pukul yang baru- baru ini disewa oleh Kie Hong-in, jika menyebut kedudukan, mereka tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan orang yang sudah lama bekerja di keluarga Kie.

Makanya terhadap perbincangan mereka, Co Ek-seng sama sekali tidak menghiraukannya, malah sangat tidak senang.

Karena marga Hong dan marga Tong ini bicara menyombongkan diri, jadi hanya mereka yang disewa oleh keluarga Kie, apakah keluarga Kie menganggap aku Co Ek- seng dan Song Cin tidak ada?

Dengan nada sangat tidak senang Co Ek-seng berkata: "Kalian Ceng-hoan-siang-kiam boleh, Hoan-ceng-siang-

kiam juga boleh, aku L0--C0 hanya ingin memberitahu

kalian satu hal, yaitu para wanitanya Siauya dan hartanya, aku dan Song Cin akan membawa pulang ke keluarga Kie. Kalian berdua silahkan saja!"

Hong Kin sambil tersenyum dingin baru saja mau berkata, mendadak sorot matanya melihat keluar jendela, di luar jendela hanya ada bayangan pohon Liu yang melambai-lambai, dan air danau yang dingin dan jernih.

Satu perahu pun tidak ada yang datang, tapi Hong Kin seperti melihat sesuatu.

Wajah Tong Ang sekarang pun sam a. Sekejap Hong Kin mengeluh pelan-pelan: ^ "Kalian tidak pantas!"

Kalian yang disebut dia, tentu saja menunjuk pada Co Ek-seng dan Song Cin, berdua. Co Ek-seng langsung menjadi marah katanya: "Apa katamu? Kami tidak pantas? Apakah hanya kalian yang pantas? Hemm ...l"

"Betul. Pertama, kalian sudah membawa musuh datang kemari. Kedua, dan kalian tidak akan mampu mengantarkan wanita dan harta bendanya kembali ke keluarga Kie."

Co Ek-seng marah sekali tapi malah jadi tertawa, berkata:

"Jadi kalian baru pantas? Lucu, lucu. kalian tahu tidak aku .dengan Siau-Cong sudah bekerja pada tuan muda selama delapan sembilan tahun? Kalian? Kalian ini apa?'

Hong Kin berkata:

"Kalian adalah pegawai, tentu harus terus ikut dengan Siauya. Tapi kami ini bukan, kami di undang langsung dan dengan bayaran tinggi oleh Kie-samya (Tuan ketiga Kie), Kie Ting-hoan, supaya kami mengawal perjalanan Siauya, kami tentu saja berbeda dengan kalian."

Tong Ang dengan berat mengeluh, tidak diragukan keluhan ini adalah karena tidak bisa melaksanakan tugasnya.

Siapa Kie-samya itu, Co Ek-seng dan Song Cin tentu saja tahu, sesaat wajah mereka menjadi pucat seperti tidak berdarah, Kie Ting-hoan adalah paman ketiga Kie-siauya Kie Hong-in.

Menurut kabar dia adalah salah satu dari tiga pesilat tinggi keluarga Kie.

Tapi tinggi rendahnya ilmu silat adalah satu hal, kekuasaan adalah hal lain lagi. Kie Ting-hoan adalah orang yang paling ber-kuasa dikeluarga Kie, jika keluarga Kie menghukum mati tiga- lima orang pegawainya, itu seperti kapas jatuh ke atas air, sedikit riak pun tidak akan terjadi.

Maka, jika Kie-samya merasa tidak senang pada peristiwa pembunuhan ini, asal dia sekali bicara saja, dijamin kepala Co Ek-seng dan Song Cin akan jatuh ke tanah, dan setelah kejadian ini mau diperkarakan juga tidak bisa.

Mungkinkah Hong Kin dan Tong Ang adalah algojonya?

Tapi apakah Kie-samya tidak memberi perintah itu pada mereka?

Kekhawatiran dan kecurigaan Co Ek-seng dan Song Cin ternyata sangat tepat.

Terdengar Hong Kin berkata lagi:

"Samya pernah berkata, jika Siauya mengalami hal yang tidak diinginkan, orang-orang yang ikut dengan Siauya juga tidak perlu hidup lagi, kalian adalah orang-orang yang melayani Siauya, malah sudah lama sekali melayani Siauya bukan?"

Dengan gagap buru-buru Song Cin berkata: "Kami......kami semua betul yang melayani Siauya,

tapi......tapi Mo-to Hoyan Tiang-souw begitu lihay.   "

Hong Kin melangkah ke depan jendela, diam-diam menjulurkan tubuhnya keluar, seperti sedang memeriksa sesuatu.

Maka perkataannya terpaksa dijawab oleh Tong Ang dengan tidak banyak bicara. Tong Ang juga punya cara sendiri, dia tidak menjawab, hanya pelan-pelan mencabut pedang panjangnya, itu sudah cukup menjelaskan.

Co Ek-seng dan Song Cin bersama-sama mencabut golok panjangnya, bersiap-siap menghadapi lawan, tapi Tong Ang masih belum menyerangnya, jadi mereka tidak berani menyerang lebih dulu.

Co Ek-seng dengan keras berkata:

"Apa yang kalian inginkan? Walaupun kami benar-benar telah melakukan kesalahan fatal, kenapa kita tidak terlebih dulu bersama-sama menghadapi musuh, nanti setelah kembali ke tempat keluarga Kie baru diputuskan?"

Di sisi jendela Hong Kin memalingkan kepala ke belakang sambil tertawa tawar berkata:

"Jika aku dan Siau-Tong mati dalam pertarung-an, kalian pasti tidak akan pulang kembali ke rumah keluarga Kie."

Co Ek-seng selain terkejut juga ketakutan: "Sembarangan bicara, kalau kami tidak pulang kembali kerumah keluarga Kie, lalu pulang kemana?" Dengan tertawa tawar Hong Kin berkata: "Coba kalian lihat wanita yang memakai baju hijau itu."

Co Ek-seng melihat ke arah yang di tanya, lalu kembali melihat pada Hong Kin dan berkata:

"Aku tahu, dulu aku pernah mengenalnya, dia dipanggil Cui Lian-hoa betul tidak? Tapi apa hubungannya dengan kami?"

"Betul, dia memang dipanggil Cui Lian-hoa, hubungannya dengan kalian erat sekali." Hong Kin berkata lagi, "diam-diam aku sudah menyelidikinya, dan tidak satu pun dari kalian yang tidak tergila-gila pada dia, jadi bagaimana mungkin kalian akan mengantarkan kembali ke rumah keluarga Kie?"

Kata-kata Hong Kin tentu saja bukan tanpa alasan.

Di dalam hati pun Co Ek-seng sadar, dari enam orang pelayan termasuk dia sendiri, (juga bisa disebut pengawal, tidak termasuk Hong Kin dan Tong Ang), semuanya merasa tertarik dan merasa ingin memiliki yang amatkuat.

Cui Lian-hoa hanya seorang wanita petani yang sangat biasa.

Dia tinggal di depan pagoda Liu-ho di sisi sungai Kian- tong.

Menurut hasil penyelidikan, dua orang suami istri petani tua yang tinggal bersama dia adalah paman dan bibinya, kedua orang itu miskin, berusia lanjut dan tubuhnya lemah, sehingga dengan kekerasan Kie Hong-in bisa merebutnya.

Dia meninggalkan seratus liang lebih uang perak, setelah itu membawa pergi Cui Lian-hoa, perbuatannya aman- aman saja, tidak ada apa-apa, tidak ada akibatnya.

Tapi Co Ek-seng malah tahu bukan saja ada akibatnya, malah sedang berkembang, karena Cui Lian-hoa memang terlalu cantik.

Walaupun dulu rambutnya sedikit kusut, dan wajahnya kotor, tapi sudah membuat Kie Hong-in yang melihat hampir saja jatuh dari atas kuda, sekarang sesudah memakai baju sutra yang pas dengan dirinya, tentu saja tidak perlu dikatakan lagi kecantikannya. \

Kecantikannya Cui Lian-hoa hanya milik Kie Hong-in saja, memang tidak salah mengatakan begitu, tapi setelah Kie Hong-in mati, maka dia menjadi rebutan siapa saja yang dapat menguasai dia. @ @ @

Sekarang kelihatan sekali enam pengawal Kie Hong-in ini tergila-gila pada kecantikannya Cui Lian-hoa, malah Ceng-hoan-siang-kiam pun ikut-ikutan.

Masalah jadi semakin kacau.

Mengenai perkiraan ini, dalam kelompok laki-laki tidak perlu susah memikirkannya.

Maka Co Ek-seng pun tidak perlu susah-susah memikirkannya, dia hanya perlu memutuskan, mau atau tidak memperebutkan wanita cantik yang di panggil Cui Lian-hoa, jika ingin merebutnya, maka dia harus berusaha mempertaruhkan nyawanya.

Tapi kalau hanya berbicara di mulut saja, pasti tidak akan bisa mendapatkan wanita cantik ini.

Jika bertarung dengan senjata, itu termasuk mudah mengatakannya tapi sulit melakukannya.

Walaupun orang yang berilmu tinggi, jarang sekali menduga itu adalah permainan yang asyik, jarang sekali menduga itu adalah sebuah permainan, kecuali terpaksa sekali, bagaimana pun masalah per-tarungan lebih baik jangan melakukannya.