-->

Raja Gunung Jilid 6

Jilid 06

Nie Wie Kong tidak membujuk sang cucu, ia agak kewalahan. "Yan jie," panggilnya perlahan. "Mau dengar sebuah cerita?"

Mendengar dongeng merupakan salah satu acara yang menarik, selama dipulau Bola api, acara ini belum pernah dilupakan. Wajah Yan jie menjadi cerah. "Mau! aku mau dengar cerita lagi!" Soraknya girang.

Nie Wie Kong mulai membujuk dengan cara lain:

"Dahulu kala, ada seorang anak perempuan muda cantik dan menarik, yang hidup bersama sama kakeknya disebuah pulau terasing, tidak ada yang dicela atas kepribadian anak perempuan itu, hanya satu yang sangat menjengkelkan ia tidak patuh kepada perintah kakeknya..."

"Ya ya bercerita tentang Yan jie?" Potong cucu Nie Wie Kong.

"Bukan, anak perempuan didalam cerita tak mempunyai hubungan dengan Yan jie" Nie Wie Kong goyang kepala.

Yan jie yang tuduh cemberut karena merasa tersinggung, dengan adanya pernyataan itu, wajahnya riang kembali. "Hayo! Teruskan cerita tadi," pintanya.

Nie Wie Kong menyambung cerita:

"Kebandelan anak perempuan manis itu cukup menjengkelkan kakeknya, sebagai seorang tokoh silat yang disegani, sang kakek berkepandaian tinggi, dengan maksud menurunkan kepandaian ilmu silat itu kepada sang cucu. sikakek mencurahkan berlatih silat, sianak perempuan bermalas-malasan, petuah-petuah kakeknya diabaikan, dia tidak percaya kalau seorang yang tidak memperkuat diri dengan pelajaran silat sangat mudah dihina orang, karena itu..."

"Cukup...! Cukup!" potong Yan jie. "Ya ya sedang menyajikan cerita Yan jie. Yan jie tidak mau mendengar cerita Yan jie sendiri."

"Bukan cerita Yan jie, dengarlah baik-baik." Berkata Nie Wie Kong. "Maka kau tahu, cerita tidak ada hubungannya denganmu."

Tanpa meladeni jerit dan pekik sang cucu, Nie Wie Kong meneruskan cerita:

"Akibat dari kebandelan anak perempuan itu, pada suatu hari, ia diculik orang."

"Aku tidak mau... Yan jie tidak mau dengar cerita yang seperti ini..."

"Bagaimana hidup didalam kamar tahanan?" Menyambung cerita Nie Wie Kong. "Ya! Segala galanya serba tidak cukup, tidak bebas sengsara dan menderita. Itulah akibat dari kebandelannya. Mengapa dia tidak mau mempelajari ilmu ilmu silat yang diberikan oleh kakeknya? Sang kakek tidak berdaya memberikan pertolongan."

"Sudah... Sudah!" Teriak Yan jie histeris. "Yan jie tidak mau dengar cerita Yan jie."

"Bukan menceritakan Yan jie. Dengar baik. akhir kesudahan dari anak perempuan itu." Berkata Nie Wie Kong. "Didalam penjara dia teringat akan pelajaran pelajaran ilmu silat. Apa guna menangis ? Sesudah nasi menjadi bubur, sesalpun tiada guna. Yakin kepada ilmu silat hebat sang kakek, dimisalkan ia bisa memiliki ilmu silat seperti apa yang sang kakek punya, bukankah bisa menerobos penjara ? Demikianlah ia menekunkan pelajaran-pelajaran yang pernah diingat, siang dan malam menekunkan ilmu-ilmu silat..."

Yan jie sudah menghentikan isak tangisnya, cerita itu sudah tidak ada didalam kamus penghidupan dirinya, ia mulai tertarik dan memanjangkan kuping. Mendengarkan dongeng sang kakek dengan penuh perhatian.

"Anak perempuan itu mulai melatih diri dari ilmu tenaga dalam," berkata Nie Wie Kong.

"Hari demi hari dilewatkan, setengah tahun kemudian, ia berhasil mencapai taraf tertinggi. Dia berhasil menembus jalan darah Seng su hian koan, dan sudah waktunya dia mempelajari ilmu pukulan. Hari demi hari, bulan demi bulan... seratus hari kemudian, ilmu inipun berhasil. Di dalam sebuah kurungan yang berkerangkeng besi ia menggerak-gerakkan tangan, tiba-tiba... Pletak... Kerangkeng besi itu berhasil dipecahkan, ia lompat keluar dari kamar tahanannya. Para penjahat berteriak teriak dan menjadi panik, mereka mencoba menghalang halanginya, terjadi pertempuran, seratus lawan satu. tapi anak perempuan itu sudah menciptakan dirinya sebagai seorang pendekar muda gagah perkasa, tidak seorangpun yang bisa mendekati. Demikian ia meninggalkan tempat penjahat dan dari saat itu, lahirlah seorang dara perkasa yang luar biasa."

"Kemudian?" Yan jie tertarik. "Kemudian bagaimana?" "Kemudian, anak perempuan gagah itu berhasil memilih

seorang   pemuda idaman. Berpasang pasangan, mereka

berkelana didalam rimba persilatan dan menjadi buah tutur orang" Demikian Nie Wie Kong mengakhiri ceritanya.

Semangat Yan jie tersentak bangun. Cerita yang mirip dengan keadaan dirinya. "Baik." Ia berkata, "Percayalah, tidak perlu yaya memberi pertolongan Yan jie akan kembali ke dalam kerangkeng itu dan menekunkan pelajaran ilmu silat. Yang jie akan menjadi pendekar baru."

Dengan   bujuk   rayu   tadi,   Nie   Wie Kong berhasil menjinakkan cucunya di dalam penjara Lo-san-cu.

Yan jie kembali kekamar tahanan secara suka rela. "Sebuah cerita yang sangat menarik" puji Lo-san-cu.

Nie Wie Kong menyengir. "Hanya sebuah cara untuk menghilangkan sepinya," katanya.

"Sekarang," berkata Lo-san-cu. "Silahkan tocu istirahat, dua hari lagi akan aku berikan tugas istimewa."

Di saat Nie Wie Kong siap mengundurkan diri, Ie Lip Tiong berkata :

"Sucou, biar teecu temani Nie tocu."

Lo-san-cu berpikir beberapa waktu, akhirnya ia menganggukkan kepala. "Baiklah. Tapi hati-hati. Jangan melanggar atau menentang kemauan Nie tocu."

"Teecu tahu."

Demikianlah, Ie Lip Tiong mendapat kesempatan untuk menemani Nie Wie Kong dan mengutarakan maksudnya, ia bersedia membela dan bersedia membantu ketua pulau Bola api itu untuk membebaskan Yan jie.

"Betul-betul kau berhasil menangkap Su-khong Eng?" Nie Wie Kong masih ragu.

"Ya! Su-khong Eng sudah berada didalam penjara Su- hay-tong sim-beng. Maka boanpwee menyamar sebagai dirinya." Ie Lip Tiong memberi keterangan dan menyerahkan sebuah peta situasi Lo kun san. "Inilah situasi daerah disekitar Telaga Darah, boanpwee kira sangat berharga untuk digunakan melarikan diri." "Bagus. Nanti malam sesudah menolong Yan jie, aku akan meninggalkan tempat ini." ucap Nie Wie Kong sambil terima peta itu.

"Tentang Yan jie, cianpwee boleh serahkan pada boanpwee. Sesudah persiapan selesai akan boanpwee beri tahu lagi."

Mereka berpisah.

Ie Lip Tiong segera kembali ke kamarnya, ia menuju kearah tepi pantay. Sebuah perahu berada di tempat itu. Melihat kedatangan Su-khong Eng, si tukang perahu segera memberi hormat:

"Kong cu."

"Kau kemari," perintah Ie Lip Tiong.

Orang itu datang menghampiri. "Kongcu hendak memberi perintah baru?" tanyanya.

"Siapa namamu?" Ie Lip Tiong masih bergaya dan lagu seolah-olah Su-khong Eng!

"Hamba Ho Kiong San."

"Nggg... Akan kuberi perintah, mau?" "Silahkan kongcu katakan. Hamba siap!"

"Inilah perintah rahasia. Lo-san-cu memberi tugas penting yang tidak boleh diketahui orang lain. Kularang kau membocorkan rahasia, mengerti?"

"Hamba mengerti."

"Nah, sebentar lagi. Begitu hari menjadi gelap, kau harus berada di tempat ini. Mengantar dua orang meninggalkan Telaga Darah." "Dua orang? Siapakah yang hamba harus antar pergi itu?" tanya Ho Kiong San.

"Kau tidak perlu banyak tanya. Apapun yang terjadi, kau tidak perlu ikut campur urusan. Ikuti saja semua perintahku."

"Baik."

"Dan awas! Rahasia harus dipegang teguh. Mengerti?" "Hamba mengerti."

Ie Lip Tiong mencari Nie Wie Kong dan menuturkan semua rencananya. Ia bisa berbuat seperti itu, karena Nie Wie Kong bebas bergerak, tanpa pengawalan yang ketat.

"Nah, sekarang silahkan cianpwee membuat sepucuk surat." berkata Ie Lip Tiong.

"Surat untuk apa?" Nie Wie Kong belum mengerti tujuan si pemuda.

"Sebaiknya cianpwee ceritakan keadaan kita kepada cucu cianpwe. Bisakah Yan jie mengenali tulisan cianpwe !"

"Tentu saja dia kenal."

"Dengan adanya cerita cianpwe tadi pagi boanpwe kira tidak mudah membujuk Yan jie untuk meninggalkan kerangkengnya, tanpa surat keterangan cianpwe pribadi."

"Hebat! Kau memang berotak luar biasa." Puji Nie Wie Kong. "Pantas saja bisa menduduki kursi kebesaran Duta Istimewa Berbaju Kuning Su-hay-tong sim-beng."

Disaat itu juga, Nie Wie Kong membuat surat untuk cucunya.

"Ada baiknya juga, kalau cianpwe katakan musuh hendak membunuhnya, untuk melatih silat, sudah tidak keburu lagi. Agar dia mau mendengar perintah boanpwe, dan meninggalkan tempat ini."

Sebentar kemudian, Nie Wie Kong sudah selesai membuat surat untuknya, dilipat dan diserahkan kepada Ie Lip Tiong.

Dengan wajah Su-khong Eng, Ie Lip Tiong tidak banyak mendapat kesukaran. Ia sudah berada didalam penjara itu. Kepala penjara adalah Bwee Cun Giam, ia lebih teliti dari orang lain sesudah perkebunan teh Sang leng teh chung terbakar, kedudukan baru di Lo kun san sebagai kepala penjara. Melihat kedatangan sang kongcu, ia mengajukan pertanyaan:

"Dengan maksud apa kongcu hendak menemui cucu Nie Wie Kong ?"

Sampai di sini, Ie Lip Tiong tidak mau bekerja kepalang tanggung, tangannya terjulur dan menotok jalan darah Bwee Gun Giam.

Beleduk... Tanpa bisa ditawar tubuh Bwee Gun Giam jatuh menggeletak.

Yan jie hanya dijaga oleh Bwee Gun Giam seorang, sesudah menjatuhkannya, Ie Lip Tiong menghadiahi kamar penjara dan memanggil cucu perempuan pulau Bola api yang kolokan dan manja itu:

"Nona Yan jie!"

Yan jie duduk bersemedhi, sebagaimana lagaknya tokoh tokoh silat kenamaan yang melatih tenaga dalam. Ia sering melihat sang kakek duduk seperti ini, untuk mendaftarkan diri sebagai Pendekar dara yang gagah perkasa, kini ia meniru nirunya. Dua kali Ie Lip Tiong memanggil tanpa jawaban, dikeluarkannya surat Nie Wie Kong dan berkata:

"Nona Yan jie, kakekmu membawakan surat!"

Baru Yan jie selesai menamatkan pelajaran semedhi, ia membuka kedua kelopak matanya, dan tampaklah seorang pemuda berwajah buruk menyodorkan sepucuk surat.

"Oh. wajahmu buruk sekali." Ia menjerit.

"Lekas baca surat dari kakekmu." Berkata Ie Lip Tiong, disodorkannya surat itu.

"Surat dari ya ya ?" Bertanya Yan ji. "Ya! Lekas baca !"

Yan jie menerima dan membaca surat tersebut. "Eh, dengan alasan apa, mereka hendak membunuh diriku ?"

"Mereka takut kepadamu. Kalau kau sudah berhasil melatih diri, mereka bukan tandinganmu lagi. Maka, sebelum kau berhasil, mereka hendak turun tangan terlebih dahulu."

"Bilakah mereka hendak bekerja ?"

"Sebentar malam. Karena itu, kakekmu menugaskan aku datang. Dia sedang menunggu."

"Mengapa bukan ya ya yang menjemput?"

"Kakekmu sedang dijaga ketat. Dia tidak mempunyai kesempatan."

"Wajahmu   buruk sekali. aku tidak   suka" Yan jie mencemooh.

"Tapi kalau kau tidak mau turut, sebentar lagi para penjahat itu datang kemari dan membunuh dirimu." Yan jie menghela napas. "Yah!" Katanya. "Apa boleh buat! aku harus menurut perintahmu. Disurat ya ya juga mengatakan seperti itu."

"Lekas kau pakai pakaian ini." Ie Lip Tiong, menyodorkan seperangkat pakaian pria.

"Apa?" Yan jie memeriksa dan berteriak. "Aku disuruh jadi banci? Tidak! aku tidak mau mengenakan pakaian laki- laki yang bau!"

"Harus! Kau harus berpakaian seperti ini Karena tanpa penyamaran, tidak mungkin kau bisa melarikan diri."

"Mengapa?"

"Mereka tidak memeriksa orang laki-laki yang keluar dari tempat ini. Lekas pakai pakaian itu! dan tutupi kepalamu dengan kerudung. Para penjahat tidak tahu kalau salah seorang laki-laki itu adalah penyamaranmu, dengan demikian, kau bebas dari kematian, bukan?"

Tidak henti-hentinya Yan jie menganggukkan kepala, apa yang dikemukakan oleh si pemuda memang masuk diakal, tidak ada alasan dia menolak. "Eh, pakaianmu?" Ia bertanya.

"Bukan, itulah pakaian seorang pemuda yang teramat cakap."

"Siapa itu pemuda yang teramat cakap?"

"Orang yang pernah kau kenal, dia pernah mengunjungi pulau Bola api. Orang yang kau bela dahulu itu."

"Aaa..." Cahaya mata Yan jie berubah cerah. "Dia!?

Baik... Baik... Akan kupakai dan kupinjam pakaiannya."

Pembicaraan terpisah oleh jeruji penjara, satu dipulau dan satu diluar. Kini Ie Lip Tiong bekerja gesit, ia memilih jeruji yang ketiga dan ketujuh, dengan tangan kanan dan tangan kirinya yang digunakan berbareng, masing-masing memutar diputarkan kedalam, maka pada putaran yang kesepuluh, terdengar suara bergemesek, jari jari besi itu turun kebawah. Itulah cara membuka penjara Lo-san-cu yang istimewa.

Ie Lip Tiong bisa tahu cara tersebut atas pertunjukan Ai- pek-cun.

Pada beberapa bulan yang lalu, Ie Lip Tiong pernah ditahan dan mendapat tempat sama, ia sudah berusaha membuka kamar penjara itu dengan sia-sia. Ai-pek-cun yang bercemooh, mendemonstrasikan cara membuka kamar penjara tersebut, tidak disangka, cara itu bisa dimanfaatkan pada hari ini.

Meninggalkan tempat penjara, Ie Lip Tiong bergabung dengan Nie Wie Kong, dan menyerahkan sang cucu manja kepada si jago tua.

Yan jie mencelok didalam rangkulan si kakek tuanya. "Tidak ada yang membuntuti?"  Bertanya Ie Lip Tiong

perlahan.

"Tiga ekor anjing ajak lewat disini. Mereka sudah kusingkirkan." Berkata Nie Wie Kong.

Tiga orang itu menuju kearah tempat yang ditetapkan, dimana Ho Kiong San sudah menunggu dengan perahunya, menunjuk perahu itu Ie Lip Tiong berkata :

"Dengan kendaraan air ini, cianpwe bisa meninggalkan daerah Telaga Darah."

Nie Wie Kong mengucapkan terima kasihnya, dengan sebelah tangan menggendong Yan jie, lompat dan melayang kearah perahu. Ie Lip Tiong tidak turut serta. Ia masih hendak mengorek keterangan Partay Raja Gunung yang lebih banyak. Sesudah perahu itu bergerak dia kembali ke kamarnya.

Dengan adanya tambahan tenaga Nie Wie Kong, kekuatan Su-hay-tong sim-beng bertambah kuat. Susah payah Co Khu Liong menculik Yan jie, dengan maksud menggunakan Nie Wie Kong. Kini rencana itu digagalkan. Ie Lip Tiong membaringkan diri ditempat tidur. Dia mesem-mesem senang sambil mengenangkan apa yang belum lama terjadi.

Tok... Tok... Tok...

Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. "Masuk!" Ie Lip Tiong memberi perintah.

Dan orang diluar pintu itupun masuk, mata Ie Lip Tiong terbelalak, hatinya berdebar keras. Itulah Ai-pek-cun. Orang yang harus mendapat panggilan guru sementara.

"Suhu!" Su-khong Eng memberi hormat. "Ada berita baru?"

"Nggg..." Ai-pek-cun berdehem. "Nie Wie Kong membunuh Bwee Cun Giam dan melarikan diri dengan cucu perempuannya."

"Aaa...” Ie Lip Tiong membawakan sikapnya yang seperti terkejut. "Nie Wie Kong melarikan diri?"

"Ya ! Beserta cucu perempuannya." Ai-pek-cun mengkoreksi. "Tentu ada musuh didalam selimut."

“Siapakah yang dicurigai?"

"Itulah yang hendak dirundingkan. Sucoumu memanggil. Mari kita keruang Pek houw tong." Ai-pek-cun membawa Ie Lip Tiong ke ruang Pek hauw tong, disana sudah berkumpul banyak orang.

Lo-san-cu duduk dikursi kebesarannya, memperhatikan masuknya "Su-khong Eng" dan Ai-pek-cun.

"Sucou memanggil teecu?" Bertanya Ie Lip Tiong. Pemuda kita yakin kepada penyamarannya. Apalagi semua Nie Wie Kong kakek dan cucu tidak berada ditempat itu, semua buktipun sudah tiada, apa yang perlu ditakuti.

"Hmmm..." Lo-san-cu mengeluarkan suara dengusan dari hidung.

"Sucou mencurigai seseorang?" "Hmmm..."

"Mungkinkah salah seorang dari kita sudah mengkhianati?"

"Nggg..." Dari balik kerudung hitamnya, Lo-san-cu seperti segan membuka suara.

"Siapa yang sucou curigai?" bertanya Ie Lip Tiong. "Kau !!" bentak Lo-san-cu geram.

Ie Lip Tiong mundur dua langkah.

Ai-pek-cun dan empat orang Dewa Sesat dari golongan sesat sudah menghadang dipintu.

"Tidak mungkin." Ie Lip Tiong masih mencoba menyangkal.

"Hampir tidak mungkin." Berkata Lo-san-cu. "Lihatlah mereka!" ia menudingkan jari ke arah sudut ruangan, disana tertutup oleh kain gorden, sesudah adanya aba-aba ketua Raja Gunung, kain penutup itu dibuka oleh anak buah partay. Disana tampak Nie Wie Kong dan Yan jie. "Oh! Ketua pulau Bola api itu tertangkap kembali?"

"Apa artinya ini?" bertanya Ie Lip Tiong. Ia sedang mencari jalan untuk mengatasi kesulitannya.

"Kuperlihatkan lagi seorang.” Berkata Lo-san-cu. "Dimana Ho Kiong San." kata-kata yang terakhir ditujukan kepada rombongan anak buahnya.

"Teecu siap!" Maka si tukang perahu yang bernama Ho Kiong San menampilkan diri.

"Celaka!" Ie Lip Tiong mengeluh didalam hati. Gagallah semua penyamarannya. Ia melirik ke empat penjuru, tidak mungkin bisa meninggalkan tempat itu. Dengan kekuatannya seorang ditambah Nie Wie Kong pun tidak mungkin bisa bebas dari tempat tersebut.

Ie Lip Tiong tercekat sebentar, dan ia berhasil memulihkan ketenangannya. Tiba tiba saja ia tertawa ngakak. "Lo-san-cu," Katanya, "Kau menang!"

"Ie Lip Tiong," kata Lo-san-cu. "Kau tak berhasil!"

"Ya! Tidak berhasil. Memang tidak mudah memungut sesuatu hasil tanpa jerih payah. Yang menjadi persoalan, bagaimana hal ini bisa terjadi? Mungkinkah salah satu dari anak buahmu sudah tahu, kalau Su-khong Eng berada di dalam kamar tahanan Su-hay-tong sim-beng!"

"Bukan."

"Atau penyamaranku kurang sempurna?" "Juga bukan."

"Yah, aku menyerah!"

"Coba pikir kembali." berkata Lo-san-cu. "Dimana letak kesalahanmu?" "Entahlah! Mungkin nasib Lo-san-cu masih baik." Berkata Ie Lip Tiong memaparkan kedua tangan.

"Mungkin juga nasibku masih baik." kata Lo-san-cu. "Nasib Partay Raja Gunung selalu baik. Sehingga orang yang hendak kau gunakan menyebrangi Telaga Darah bukan orang lain, kau bertemu dengan Ho Kiong San."

"Ho Kiong San!" Ie Lip Tiong berkerut alis. "Oh! Seharusnya kau beri hukuman padanya, karena tidak mendengar perintah Su-khong Eng."

"Dimisalkan Su-khong Eng asli, tentu ia tidak berani melanggar perintahnya." berkata Lo-san-cu dingin. "Tetapi kau bukan Su-khong Eng."

"Oh? Ho Kiong San bisa membedakan penyamaranku?" "Ha ha ha..." Lo-san-cu tertawa. "Dia mana bisa

memiliki kepintaran sampai disitu? Dia bisa membedakan kepalsuanmu, karena kau sendiri yang memberi tahu."

Alis Ie Lip Tiong berkerut dalam. Tidak ada kesalahan yang pernah terjadi, bagaimana Ho Kiong San bisa mengetahui penyamarannya.

"Ie Lip Tiong!" bentak Lo-san-cu. "Ketahuilah. Ho Kiong San adalah pimpinan tertinggi dari seluruh nelayan Telaga Darah. Mungkinkah terjadi kalau Su-khong Eng tidak kenal pada pertanyaan. "Hei, siapa namamu?" pertanyaan itu boleh diajukan kepada Ho Kiong San. Karena Su-khong Eng cukup terkenal, siapa yang tidak tahu Ho Kiong San. Dia bukan orang segolongan."

Akh... penyamaran Ie Lip Tiong mengalami kegagalan, hanya karena salah bertanya nama orang.

"Bagaimana?" Lo-san-cu bercemooh. "Sudah lupakah kepada cucu muridmu?" "Su-khong Eng yang kau maksudkan?"

"Ya! Dia berada di dalam kamar tahanan Su-hay-tong sim-beng. Betul-betul Lo-san-cu sudah tidak membutuhkan jiwanya?"

"Maksudmu, bila aku membunuh orang. Maka Su-hay- tong sim-beng juga akan membunuh Su-khong Eng?"

"Kira-kira begitu..."

"Hahahaha.... Di dalam perkiraanmu, kau kira aku tidak berani?"

"Yah! aku berani, karena Partay Raja Gunung memiliki seekor burung rajawali sakti, bukan? Kau pernah melihat burung raksasa itu. Dimisalkan ada seorang "Lu Ie Lam" meminta Su-khong Eng, mungkinkah kepala penjara tidak menyerahkan orang yang diminta?"

Ie Lip Tiong bungkam.

Lo-san-cu memandang Ai-pek-cun dan memberi perintah!

"Cari dadung yang kuat dan ringkus anak kurang ajar ini. Totok jalan-jalan darahnya, kemudian beri bandulan yang berat dan lemparkan dia ke dasar Telaga Darah. Biar dia rasakan, bagaimana cara kematian seseorang dalam air."

Ai-pek-cun memberi hormat dan mengundur diri, tidak lama kemudian sudah balik kembali dengan semua kebutuHan-yang diminta oleh sang guru, dia menotok jalan darah Ie Lip Tiong, tanpa perlawanan, dia meringkus jago muda kita seperti lepet, dengan persiapan dilempar ke dasar telaga.

"Terima kasih," berkata Ie Lip Tiong menantang. "Kukira dikuliti, dijadikan Ie Lip Tiong kering."

Tiba-tiba terdengar jerit suara Yan jie: "Jangan! Dia jangan disiksa seperti itu."

Yan jie mempunyai kesan baik atas Ie Lip Tiong, mengetahui kalau pemuda berwajah buruk itu bukan Su- khong Eng asli, ia tak mau meneliti, dan berteriak-teriak :

"Eh ?" Lo-san-cu memandang Yan jie. "Kau cinta padanya?"

"Ya!" Yan jie berterus terang. "Dia seorang baik. Kalian tidak boleh menyiksa."

"Yan jie!" bentak Nie Wie Kong. Ia tidak mau melibatkan diri didalam persoalan Ie Lip Tiong.

"Ya ya!" berteriak Yan ji. “Mengapa kau tidak berusaha untuk menolongnya? Dia pernah menolong kita, bukan? Mengapa kau berpeluk tangan? Hayo! Lekas tolong. Jangan kau membalas air susu dengan air tuba."

"Yan jie," berkata Nie Wie Kong lemah, "Bukan yayamu tidak mau menolong orang. Tapi aku tidak mempunyai kekuatan untuk melawan."

"Oooo??" Yan ji melompongkan mulut. "Bohong!" Tiba tiba ia berteriak. "Ya ya selalu mengatakan sebagai jago tanpa tandingan. Mengapa takut?"

"Yan jie," berkata Nie Wie Kong. "Kau tahu, dua tangan tidak bisa melawan orang banyak, bukan?"

"Mengapa harus melawan orang banyak?" bertanya Yan jie. Ya ya bisa menantang satu persatu Siapakah yang bisa menandingi dirimu?"

"Tanya saja kepada mereka, apa mereka mau, mengirim orang satu persatu, untuk melawan diriku?" Berkata Nie Wie Kong menyengit. Ia kalah akal kepada sang cucu yang terlalu dimanja. "Hei!" Yan jie menghadapi semua orang dan berteriak. "Kalian berani melawan ya ya? Satu lawan satu? Sebetulnya, ilmu kepandaian ya ya tidak terlalu tinggi. Siapa saja yang berani menampilkan diri, bisa memenangkan pertandingan. Maukah kalian bertanding secara adil? Satu lawan satu? tidak boleh main keroyokan?"

"Hua! Hua..." Seluruh ruangan bergema dengan gelak tawa yang riuh. Mereka geli atas kedunguan cucu ketua pulau Bola api itu.

Ie Lip Tiong sudah digulung oleh tambang seperti seekor lepet, ia digotong keluar dari ruang Pek hauw tong.

Beberapa orang mulai memukul jago muda kita. Orang- orang itu adalah ex pengawal perkebunan teh Sang leng teh chung, sesudah usaha perkebunan itu musnah karena si pemuda, dendam mereka susah dipadamkan. Menggunakan ini, hujan pukulan tidak bisa dielakkan. 

Seorang diantaranya adalah Ai Ceng, gadis pertama yang memasuki lubuk hati Ie Lip Tiong.

Menyaksikan kehadiran sang putri, Ai-pek-cun membentak :

"Jangan kau coba untuk memberi pertolongan kepadanya."

"Huh!" Dengus Ai Ceng, "Siapa sudi? Dia pernah menghina diriku." Satu depakan lagi yang mahir ditubuh Ie Lip Tiong.

"Laki laki kurang ajar!" Bentak Ai Ceng, "Rasakan ini." Satu jotosan si gadis membuat tubuh Ie Lip Tiong terbang. Sesudah itu, berulang kali pula ia memukul dan menendang. Dengan adanya ikatan-ikatan tali yang membungkusnya, Ie Lip Tiong tidak merasa sakit. Hanya pukulan-pukulan Ai Ceng itu yang betul betul menyakitkan hatinya, hanya karena Su-khong Eng, mungkinkah terjadi perubahan?

Beberapa pukulan kemudian, Ie Lip Tiong bisa menyelami arti pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan itu, ternyata Ai Ceng memukul sambil membebaskan totokan-totokan jalan arah si pemuda. Ia mengucapkan syukur dalam hati.

Seperti bola Ie Lip Tiong ditendang dan disepak ketepi Telaga Darah, sebuah perahu sudah berada di tempat ini. Ai-pek-cun menjinjing dan melempar ke perahu, tubuh jago tua itu melayang dan perahu didayuh ke tengah, seperti perintah Lo-san-cu, sebongkah batu besar sudah berada di perahu, diikatkan kepada Ie Lip Tiong.

Sesudah berada di tengah telaga, Ai-pek-cun memeriksa ikatan dan memeriksa bandulan batu, mengetahui tidak ada yang kendur, ia melemparkan tubuh jago kita ke air.

Byurrr...!

Tubuh Ie Lip Tiong yang sudah diikat dan diboboti hati berat, ditenggelamkan ke dasar Telaga Darah.

Ai-pek-cun menunggu sampai beberapa waktu, baru mengdayung perahu, balik ke arah Lo kun san untuk memberi laporan.

Di dalam ruangan Pek hauw tong, Lo-san-cu sudah memanggil anak buahnya yang bernama Bin Tiong Go.

"Kau pernah menyamar sebagai Lu Ie Lam, bukan?" "Teecu pernah melatih diri sehingga berbulan bulan."

Jawab Bin Tiong Go. "Karena itu tidak mengalami kegagalan." "Bagus." berkata Lo-san-cu. "Sekali lagi kuberi tugas lamamu. Dengan menunggang rajawali sakti, pergi ke markas besar Su-hay-tong sim-beng, menolong Su-khong Eng."

"Bagaimana kalau Lu Ie Lam berada di markas besar?" Bin Tiong Go mengutarakan rasa khawatirnya.

"Tidak mungkin" Berkata Lo-san-cu tegas, "Dengan tampilnya Ie Lip Tiong disini, dengan terbakarnya markas cabang Ka pin kek ciam, kukira mereka tidak jauh disekitar Telaga Darah. Terpaksa Lu Ie Lam, salah satu tokoh ini kekuatan mereka. Legakan hatimu dan pergi segera. Katakan kepada mereka, kau mendapat tugas dari Hong-lay Sian-ong, membawa Su-khong Eng dengan maksud untuk digunakan memaksa aku, bersifat agak lunak. Nah! Pasti berhasil"

Bin Tiong Go memberi hormat dan berdandan dan mengubah diri sebagai Duta Istimewa Berbaju Kuning Nomor Delapan Lu Ie Lam. Dengan rajawali sakti yang sudah siap, manusia palsu ini diberangkatkan.

Lo-san-cu mempunyai bakat baik sebagai seorang pemimpin. sesudah itu, ia memberi tugas-tugas lain, memberi perintah kepada seluruh anak buahnya, bersiap siap atas serangan dari pihak Su-hay-tong sim-beng.

Ai-tong-cun, Ai See Cun dan Ai-lam-cun mendapat tugas istimewa, mereka segera mencari jejak musuh, dengan tugas melepas mercon bahaya, sesudah menemukan gerakan musuh.

Beberapa raja silat dari golongan sesat mendapat tugas masing masing. Persiapan Partay Raja Gunung memang luar biasa. Kini Lo-san-cu menghadapi Nie Wie Kong, kakek dan cucu. "Bagaimana?" Ia mengejek. "Jangan sekali lagi mencoba untuk melarikan diri.”

Nie Wie Kong mengangkat pundak. Ia bungkam dan tutup mulut rapat rapat.

"Cucu perempuan itu harus kembali ke dalam penjara lagi. Dan ia akan bebas sesudah tugas yang kuberikan kepadamu selesai." sambung Lo-san-cu.

Masih Nie Wie Kong tidak memberi komentar, ia setuju.

Beberapa anak murid partay segera menggiring dan membawa yan jie pergi, meninggalkan ruangan Pek hauw tong.

Lo-san-cu memandang Nie Wie Kong untuk beberapa lama. "Nie tocu," ia memanggil dengan dengan nada agak rendah. "Tentunya kau tidak rela, kalau cucumu ditahan terlalu lama bukan!"

Nie Wie Kong memandang dengan sorot mata penuh tanda tanya.

"Dengarlah baik-baik," berkata lagi Lo-san-cu. "Akan kuberi tugas penting yang mempunyai hubungan erat dengan kebebasan cucu perempuanmu. Dia bebas, manakala kau berhasil didalam tugas ini. Dan cucu itu akan kau korbankan, kalau kau mengalami kegagalan."

"Belum kau sebut tugas tersebut." Berkata Nie Wie Kong.

"Kami segera mengosongkan tempat ini, dan kau tidak." Berkata Lo-san-cu.

"Disuruh menjaga gunung?" "Bukan. Tugasmu ialah menunggu kedatangan Hong-lay Sian-ong dan membawa batok kepala pemimpin Su-hay- tong sim-beng, untuk ditukar dengan Yan jie."

"Gila!" Berteriak Nie Wie Kong. "Aku disuruh membunuh Hong-lay Sian-ong?"

"Ya! Dengan ilmu kepandaianmu. Dengan cara-cara yang kuberi nanti, pasti kau berhasil." Berkata Lo-san-cu.

"Kalau gagal, bagaimana?"

"Kecuali kau yang sengaja membuat penggagalan. Tidak ada orang yang melarangmu. Tanpa penghianatan tidak mungkin kau mengalami kegagalan."

"Aku diharuskan berhasil ?"

"Ya! Didalam jangka waktu setengah bulan, kau harus membawa batok kepala Hong-lay Sian-ong. Ingat! Hanya setengah bulan, lewat dari waktu itu, keselamatan cucu perempuanmu tidak terjamin."

Suatu cara keji yang memaksa Nie Wie Kong melakukan perbuatan terkutuk, membunuh Hong-lay Sian-ong dengan cara gelap !

Lo-san-cu tersentak kaget, atas laporan yang menyatakan Bin Cong Go datang menghadap dengan rajawali sakti menderita luka, di kala Lu Ie Lam palsu itu terbang dan hendak meninggalkan Lo kun san, seseorang dengan kekuatan luar biasa menghajar sayap burung. Kalau jago silat biasa saja, sang burung yang sudah terlatih tidak mungkin bisa mengalami cedera tetapi musuh gelap itu memang hebat dan luar biasa, binatang bersayap itu menjadi ringsek patah sayap dan jatuh menggelepar.

Bu Cong Go jatuh luka dan memberi laporan kepada pimpinan tertinggi. Lo-san-cu berjingkrak jingkrak dan mengutus empat Raja Silat untuk mengejar dan menangkap musuh yang menyelundup masuk kedaerah Lo kun san.

Sie Ie Hu, Kong Sun Kan, Co Khu Liong dan Bu Bee Beng segera menjalankan perintah.

Lo-san-cu menantikan dengan tidak sabar.

Tidak lama, Sie It Hu dengan kawan-kawan balik kembali dan memberi laporan: Mereka tidak berhasil menemukan musuh baru itu, gejala-gejala dan tanda-tanda memberi tahu, kalau orang yang melukai burung rajawali sudah meninggalkan Telaga Darah. Walau sudah menggerakkan banyak anak buah, penyelidikan masih dilanjutkan. Mereka hanya menemukan sesosok mayat yang mengambang, seorang anak buah mereka yang menyamar sebagai nelayan mati menjadi korban. Mayat tersebut mati diseberang tepi Telaga Darah, diduga musuh sudah jauh meninggalkan Lo kun san, sesudah memaksa nelayan yang bernama Tee Tit itu dan membunuhnya di tempat.

Seseorang menyelundup masuk ke Lo kun san, melukai burung rajawali partay, memaksa Tee Tit melakukan penyeberangan dan membunuhnya. sesudah itu, tokoh gelap tersebut lenyap tanpa bekas !

Siapakah tokoh tersebut ?

Lo-san-cu segera menduga kepada Ie Lip Tiong. Maka ai-pek-cun sudah dipanggil. Ditanyai bagaimana cara hukuman yang sudah dijatuhkan kepada anak muda kita. Ai-pek-cun menerangkan secara teliti. Bagaimana Ie Lip Tiong ditenggelamkan didalam keadaan babak belur, jalan darah pemuda itu sudah ditotok. tubuhnya diikat seperti lepat dibanduli batu besar. Dan Ai-pek-cun sudah menunggui beberapa lama, mengetahui tidak ada sesuatu perobahan, baru ia meninggalkan korban tersebut.

Pikiran bayangan Ie Lip Tiong itu dibuang jauh jauh. “Siapa lagi kalau bukan Ie Lip Tiong?" Bertanya Sie It

Hu.

"Siapa lagi, tentunya salah seorang dari tiga belas Duta Berbaju Kuning Su-hay-tong sim-beng." Berkata Lo-san-cu.

Lo-san-cu mengambil putusan, markas besar dipindahkan !

Suatu langkah yang tepat. Mengingat adanya penyelundupan Ie Lip Tiong kedalam gabungan mereka, menimbang adanya musuh baru yang melukai burung rajawali. Tidak perlu disangsikan lagi, Su-hay-tong sim- beng dan dua belas Raja Kesatria sudah berada tidak jauh dari tempat itu, keamanan tidak terjamin, pemindahan markas, demi melakukan gerakan hidup panjang.

Tidak mudah untuk melakukan pemindahan yang besar- besaran, Lo-san-cu memberi perintah, agar anak buahnya mengumpulkan tukang-tukang kereta beserta kusirnya. didalam waktu yang singkat, mereka harus mengusung ransum perbekalan dan benda-benda penting kemarkas besar.

Dan perintah "Wajib angkut" segera dijalankan. Sungguh kasihan nasib tukang kereta yang ditemukan, dengan bujuk serta paksaan, mereka dikumpulkan di tepi Telaga Darah.

Diatas gunung Lo kun san juga terjadi perpindahan besar-besaran, tiga ratus lebih perahu partay Raja Gunung siap mengangkut barang yang bisa diangkut, berbondong bondong membuat penyeberangan. Lo-san-cu mengkomandoi upacara itu, sesudah semua barang dipindah ke dalam kereta, ia memanggil Raja Silat Sesat, kepada mereka ia berkata :

"Saudara saudara kusir kereta memang patut dikasihani, mereka hidup sekedarnya, mata pencariannya tergantung dari para penyewa, seharusnya tidak perlu menyangsikan kejujuran orang orang semacam itu. tapi... Demi kepentingan kita, untuk menjaga rahasia, kukira lebih baik... Hmm... Hmm... Para saudara bisa menangkap makna arti dari apa yang terkandung didalam hatiku?"

Go Khu Liong dan kawannya adalah sisa dari dua belas Raja Silat golongan sesat, kecuali Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui yang sudah almarhum, mereka hanya patuh kepada Lo-san-cu ini. Karena kecerdikannya tidak berada dibawah tokoh tersebut. Mereka mereka menganggukkan kepala, dan bisa menangkap arti yang terkandung didalam lubuk hati sang pemimpin, Itulah Pembunuhan Massal!

Bu Kui In Tay Hie memberi perintah kepada para kusir kereta, mereka diharuskan baris ditepi pantay Telaga Darah, dengan dalih hendak memberi tahu sesuatu, kemudian, secara serentak, para raja-raja silat golongan sesat itu bergerak, terjadilah banjir darah dipantay tersebut, mereka mengadakan pembunuhan!

Beginilah perbedaan raja raja silat golongan ksatria, kalau dua belas raja silat sesat yang dibawah asuhan Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui ganti pimpinan dan bernaung dibawah panji Lo-san-cu, duabelas raja silat kesatria masih berada dibawah asuhannya ketua Su-hay-tong sim-beng Hong-lay Sian-ong.

Kalau raja-raja sesat berusaha menggendutkan kantong sendiri tanpa prikemanusian, membajak membunuh dan menekan, dengan tujuan utama menjadikan Lo-san-cu sebagai pemimpin besar tertinggi diseluruh rimba persilatan.

Raja raja kesatria banyak bercocok tanam dan mengasingkan diri, kecuali Hong-lay Sian-ong sebagai ketua Su-hay-tong sim-beng dengan motto keamanan dan keadilan dunia.

Dari keterangan dan petunjuk-petunjuk Ie Lip Tiong, Hong-lay Sian-ong mengetahui adanya rencana besar para raja silat Sesat tersebut. demikianlah berita ini diberitahu kepada para raja silat kesatria, dan mereka tidak bisa berpeluk tangan lagi. pasukan Su-hay-tong sim-beng sudah diarahkan ke Lo kun san!

Sayang penyamaran Ie Lip Tiong mengalami kegagalan! Mengetahui bakal adanya penyerbuan tersebut. Lo-san-

cu memerintah untuk berganti daerah basis markasnya.

Karena takut kepada salah satu dari tukang-tukang kereta yang bisa membocorkan jejak kearah markas baru, Lo-san- cu memberi perintah kepada para raja sesat membuat pembunuhan massal !

Kini pembunuhan itu sedang berlangsung.

Sungguh kasihan nasib para kusir itu, bagaimana mungkin mereka memiliki ilmu kepandaian silat? Sedangkan untuk membiayai hidup anak istri merekapun sudah susah. Jangankan raja-raja sesat yang bergerak dan turun tangan, untuk menghadapi anak buah Lo-san-cu lainnyapun belum tentu mereka bisa mempertahankan diri. Hanya beberapa kali kedipan mata, belasan orang sudah menjadi korban. Mereka mati tanpa bisa mengeluarkan cerita atau teriakan.

Disusul oleh suasana kalut, jerit-jerit mulai berdesing, belasan orang lain menjadi korban. Cerita terlalu dipanjang lebarkan, menurut sejarah, berlangsungnya pembunuhan massal itu hanya memakan waktu belasan kali kedipan mata saja.

Puluhan kusir kereta itu berteriak teriak dan bergelimpangan, satu persatu menjadi korban hanya seorang kusir kereta yang mencelat tinggi, serta berusaha melarikan diri.

Itulah seorang kusir tua dengan mata picak.

"Ahaaa...!" Bu tok Bak Liong bersorak girang. "Kita berhasil menemukan mata-mata musuh!"

Ya! Itulah bukan kusir biasa. Dengan ilmu kepandaian yang bisa meloloskan diri dari serangan maut para raja sesat. Paling sedikit ia harus menduduki pemimpin setempat dari daerah rimba persilatan.

Nah ! Itulah Duta Nomor Sebelas Tok-gan Sin-kay !

Sesudah menolong Ie Lip Tiong dari perkampungan Han-kong-san-chung, Tok-gan Sin-kay mendapat tugas mengadakan pengawasan dari segala gerak gerik Lo-san-cu, dan dugaan Ie Lip Tiong tidak salah.

Lo-san-cu pindah sarang, manakala tempat persembunyiannya itu terasa tidak aman.

Tok-gan Sin-kay memperhatikan para anak buah Lo-san- cu yang mengadakan paksaan-paksaan kepada tukang kereta, apa guna mengumpulkan begitu banyak kereta? Kalau bukan hendak pindah markas. Kemana dan dimana markas baru Lo-san-cu ? Tok-gan Sin-kay harus menyelidiki dan membuntuti, karena itu, ia menyamar sebagai seorang kusir kereta dan betul saja dikenakan "Wajib angkut".

Kini ia berhasil meloloskan diri dari pukulan maut Bak Liang berjumpalitan diudara dan meluncur jauh. Lang Eng To sedang membenah buntelan, ia turut menyaksikan adanya mata mata musuh itu. kebetulan, arah yang diambil oleh Tok-gan Sin-kay menuju ketempatnya. Secepat itu ia melejitkan kaki, memapaki sang Duta sebelas dari Su-hay-tong sim-beng.

Blegguuurrr...

Kedua jago itu mengadu pukulan ditengah udara, Lay Eng To berhasil dijungkir balikkan dan jatuh ditanah.

Tok-gan Sin-kay memenangkan pertandingan adu pukulan tangan, dan disaat ini Bak Liang sudah melayang datang, seraya sesaat mengirim satu pukulan.

Tok-gan Sin-kay merobohkan tubuh, ia masih siap meluncur kearah lain.

Raja Sesat lainnya sudah mengurung kusir tiruan itu, mereka berdiri disekitar pengemis.

Tok-gan Sin-kay mati kutu, maka ia membatalkan niatannya yang hendak kabur. Dibawah kurungan para raja sesat, mungkin ngaprit lagi? Lebih baik diam berdiri dia menantikan perkembangan selanjutnya. "Hebat! Sungguh hebat!" Ia berkata. "Sebelas raja silat sesat turun tangan sekaligus, hanya untuk menghadapi seorang biasa?"

Lo-san-cu menghampiri datang, menghadapi Tok-gan Sin-kay beberapa saat, ia membentak:

"Sebutkan namamu!"

"Tok-gan Sin-kay dari Su-hay-tong sim-beng." Jawab Duta nomor sebelas itu.

"Oh?!" Langit langit duta berbaju kuning, Su-hay-tong sim-beng." Berkata Lo-san-cu. "Berapa banyak orangmu yang sudah datang?" "Aha!" Tok-gan Sin-kay bersorak girang. "Pasukan Su- hay-tong sim-beng sudah bergerak datang!"

"Jangan membuat ketololan." Bentak Lo-san-cu. "Apa diharuskan menggunakan kekerasan, baru mau memberi keterangan?"

Tok-gan Sin-kay memperhatikan siorang berkerudung, tidak ada tanda tanda kalau orang ini berkepandaian silat tinggi, tapi nyatanya, semua raja silat sesat tunduk dan takluk, siapakah dia ?

"Kukira aku sedang berhadapan dengan Lo-san-cu?" Ia bertanya.

"Tepat !"

"Nah! Terus terang kukatakan, terlalu lama aku tidak menghubungi markas, sampai di saat ini, aku sendiripun tidak tahu, bagaimana keadaan dan gerakan mereka. Terima kasih kepada keteranganmu, ternyata pasukan Su- hay-tong sim-beng sudah digerakkan?"

"Hmm... Bagaimana kau tahu tempat ini?" Dari balik tutup kerudung mukanya Lo-san-cu mengajukan pertanyaan.

Tok-gan Sin-kay tertawa. "Disinilah letak kehebatannya Ie Lip Tiong." Ia berkata. "kalian menutup kedua matanya dan melepas Ie Lip Tiong didalam kelenteng Gin goan koan, dengan harapan agar dia tidak bisa menemukan jejak tempat ini, bukan?" Kalian kalah set. Betul betul dia hebat! Didalam keadaan mata tertutup, ia masih sempat berhitung. Berapa jauh perjalanan dilakukan, berapa tikungan dilewati, dengan sepasang mata tertutup pula. Kami menyewa kereta, mengulang perjalanan dan berhasil balik ketempat ini. Demikian kami berhasil mengetahui, dimana tempat markas Partay Raja Gunung yang dirahasiakan itu. Ha ha ha ha..." Sudah seharusnya Tok-gan Sin-kay bangga, karena mempunyai seorang rekan seperti Ie Lip Tiong!

Lo-san-cu bergidik atas keluar biasaannya otak Ie Lip Tiong, pantas saja anak muda itu bisa menyelundup masuk ke markas, ternyata orang sudah mengetahui letak tempat yang tepat.

"Memang seorang yang hebat," Lo-san-cu harus mengetahui kenyataan. "Dimisalkan dia masih ada, pada suatu hari, kematianku pasti jatuh didalam tangan Ie Lip Tiong."

"Sudah tentu!" berkata Tok-gan Sin-kay.

"Dan kenyataan itu tidak mungkin terlaksana," berkata Lo-san-cu. "Karena Ie Lip Tiong sudah berada didalam baka."

"Apa?!" teriak Tok-gan Sin-kay. "Dia sudah tiada!" Ia masih ragu-ragu.

"Ya! Karena Ie Lip Tiong sudah menjadi mayat didasar Telaga Darah."

Tok-gan Sin-kay berkerut alis panjang-panjang, berapa saat kemudian ia menggelengkan kepalanya "Tidak mungkin." Ia hendak menyangkal. "Hal itu tidak mungkin terjadi, setidak-tidaknya, tidak bisa terjadi, sebelum menjumpai diriku."

"He, he... Kalian belum berhasil berjumpa muka lagi? Tentu saja kau tidak tahu. Kalau Ie Lip Tiong itu berhasil menangkap seorang mata mata kami yang bernama Laouw Sam Kong, dia memaksa Laouw Sam Kong membuat laporan palsu mengarang sebuah cerita tentang seorang jago tersembunyi Pek kun Sin-kun, demikian cucu muridku masuk jebakan dan terperangkap dipuncak gunung Kiu lan san, dengan menggunakan wajah Su-khong Eng, ia hendak menyelundup masuk, tapi penyamarannya terbuka, dia mati kutu, kini sudah kusuruh orang menenggelamkan kedasar Telaga Darah. Kukira... Hm... Kukira sudah menjadi "Babi bulat" di dalam air."

Tidak mudah buat mengarang sebuah cerita yang seperti itu, dan segala sesuatu bisa masuk diakal, Tok-gan Sin-kay mengenangkan segala yang mempunyai hubungan dengan Ie Lip Tiong, ia harus menerima kenyataan. Kepalanya ditundukkan.

"Hei !" Panggil Lo-san-cu. "Kepintaran otakmu tidak berada dibawah otak Ie Lip Tiong. Kukira kau memiliki otak yang cukup encer. Dan kedudukanmu sebagai seorang Duta Su-hay-tong sim-beng memberi bukti kenyataan, dimisalkan kau bersedia ganti haluan dan memihak kepadaku, aku bersedia mengosongkan sebuah kedudukan bagus."

Tok-gan Sin-kay menghela napas, katanya:

"Sungguh disayangkan. aku tidak bisa memberi kepuasan didalam hal ini. Tulang-tulangku adalah tulang pengemis kotor, tapi hatiku tidak sekotor itu. Kalau tidak percaya? Silahkan belah dadaku dan memeriksa bukti. Kalian tidak akan menemukan kamus berkhianat itu."

"Suatu bukti kalau penilaianku tidak salah." Berkata Lo- san-cu. "Kesetianmu memang mengagumkan. Tanpa adanya perlawanan, kau akan bebas dari kematian. Tapi ingat jangan coba-coba untuk melarikan diri, tahu?"

Sesudah itu, Lo-san-cu melirik kearah Sie It Hu.

Sie It Hu menghampiri Tok-gan Sin-kay dan berkata : "Aku hendak menotok jalan darahmu." "Silahkan," berkata Tok-gan Sin-kay. "Apa aku tidak mempunyai kesempatan untuk mengajukan tuntutan bertanding ?"

"Lain kali saja kau ajukan tuntutan bertanding itu," berkata Sie It Hu. "Untuk saat ini, kami harus mengurus soal-soal yang lebih penting."

Creettt Creettt.

Sie It Hu menotok jalan-jalan darah Tok-gan Sin-kay, sesudah itu memandang Lo-san-cu dan bertanya :

"Hukuman apa yang harus dijatuhkan kepadanya ?" "Naikkan kedalam kereta." Perintah Lo-san-cu. "Suruh

orang awasi dengan baik."

Tok-gan Sin-kay menjadi orang tawanan Lo-san-cu dan turut serta didalam usung usungan pindah tempat itu.

Lo kun san dikosongkan !

Tanggal dua-puluh delapan bulan satu. Dua puluh tiga orang perintis Su-hay-tong sim-beng yang terdiri dari raja- raja silat kesatria, duta-duta berbaju kuning dan para ketua partay, dengan dipimpin oleh Hong-lay Sian-ong, semua sudah menyerang kearah Lo kun san.

Sebelumnya, mereka telah menyelidiki pasti, bahwasanya gunung ditengah-tengah Telaga Darah itu betul betul sudah dikosongkan.

Dan sebelumnya lagi, Duta delapan Lu Ie Lam mendatangi tempat yang disebut Ie Lip Tiong, dikatakan tempat itulah yang dijadikan titik pertemuannya bersama- sama Tok-gan Sin-kay. sebuah kelenteng rusak yang sudah tiada penghuninya dan segala sesuatu tercatat pada tatakan meja sembahyang. Dibawah meja sembahyang itu, Lu Ie Lam hanya mendapatkan sepucuk surat laporan yang ditinggalkan oleh Tok-gan Sin-kay demikian isi bunyi surat:

"Hari ini, musuh menyewa kereta kereta yang ditemuinya dengan maksud yang kurang jelas, aku menyamar sebagai kusir kereta dan akan memberi tanda- tanda dijalan."

Surat itu tertanggal 25 bulan satu.

Sangat disayangkan, sebelum Ie Lip Tiong menyelundup masuk Lo kun san, ia tidak menjumpai Tok-gan Sin-kay, karena itu, sang Duta sebelas tidak tahu waktu kedatangan rombongan besar. Maka menduga kalau musuh melarikan diri dan dia wajib memberi laporan baru, penguntitan itu sangat perlu.

Untuk mencuri bukti nyata, ia menyamar sebagai seorang kusir kereta dan akhirnya tertangkap.

Tapi surat peninggalan itupun sudah cukup jelas, Lu Ie Lam meneruskan pemeriksaan dan mayat-mayat para kusir ditepi Telaga Darah itu suatu bukti, kalau musuh sudah melarikan diri. pindah kemarkas yang belum diketahui.

Laporan diajukan kepada Hong-lay Sian-ong, mereka mendatangi Telaga Darah dan memeriksa para korban pembunuhan massal, disana tidak terdapat mayat Tok-gan Sin-kay, sesuatu yang melegakan hati. Kalau tidak tertawan, tentu membuntuti musuh.

Demikianlah mereka menyerang dan menduduki Lo kun san, Ruang Pek hauw tong yang biasa digunakan Lo-san- cu, kini sedang dipakai oleh Hong-lay Sian-ong dengan kawan-kawan.

Para duta berbaju kuning ditugaskan untuk memeriksa Lo kun san, tentu saja mereka tidak menemukan orang, semua anak buah Lo-san-cu sudah kabur dengan boyongannya.

Raja silat kesatria Hong Hian Leng menarik napas panjang. "Oh! Kukira cucu muridku itu sudah ditakdirkan mati dibawah dasar Telaga Darah." Terkenang pada Ie Lip Tiong, timbullah rasa sedihnya.

"Penyamarannya sebagai Su-khong Eng mengalami kegagalan. Sehingga menyadarkan musuh kalau mereka sudah berada dibawah pengintayan, markas dikosongkan." Berkata Hong-lay Sian-ong.

"Sesudah kepindahan markas Lo-san-cu, di mana pula kita harus menemukan jejak mereka ?"

"Seharusnya kularang Ie Lip Tiong menempuh bahaya yang seperti ini."

"Kuharap saja ia bisa berusaha membebaskan diri. Sebelum napasnya berhenti didalam air. Dimisalkan ia bisa berusaha, jejak Lo-san-cu tidak akan lepas dari pengintayannya..."

Kedua raja silat kesatria itu sedang berkeluh kesah tentang Ie Lip Tiong. Tiba-tiba terdengar sorak sorai Kan Lu Bin :

"Aha! Hong-lay Sian-ong! Coba tengok. Siapakah yang ada disana ? Seorang kenalan lama kita !"

Seiring dengan suara raja silat kesatria Lan Lu Bin, seorang tua berjalan mendatangi itulah ketua pulau Bola api Nie Wie Kong!

"Kau?!?" Sungguh diluar dugaan Hong-lay Sian-ong. "Nie tocu? !"

"Ya!" Nie Wie Kong menganggukkan kepala. "Kau baru sampai hari ini?" ia balik mengajukan pertanyaan. Hong-lay Sian-ong lompat dan menyongsong jago tua tersebut, untuk masa masa silam, nama Ngo kiat Sin mo Auw yang Hui, Hong-lay Sian-ong dan Nie Wie Kong adalah tiga jago kelas super sakti. Tentu saja berupa suatu pertemuan yang menggirangkan, karena berhasil berjumpa dengan orang yang bisa mengimbangi kekuatannya.

"Eh, bagaimana Nie tocu berada ditempat ini?" Bertanya Hong-lay Sian-ong.

"Sengaja untuk menunggu kedatangan kalian." Berkata Nie Wie Kong.

Menurut sejarah, Hong-lay Sian-ong pernah bertanding ilmu silat untuk menentukan urutan yang tertinggi, dan itu waktu, nasib Nie Wie Kong yang bagus, sesudah bertanding tujuh hari tujuh malam, ia dikalahkan oleh si raja silat kesatria itu.

Didesas desuskan pula, Nie Wie Kong hidup menyendiri dan mengasingkan diri diatas pulau Bola api, hal itu mempunyai hubungan erat dengan kekalahannya atas Hong-lay Sian-ong itu. Betapapun, rasa ganjelan diantara kedua orang memang ada.

"Menunggu aku?" Bertanya Hong-lay Sian-ong. Ia pernah mengirim Ie Lip Tiong ke pulau Bola api, dengan maksud menarik kekuatan Nie Wie Kong ke pihaknya, itu waktu Co Khu Liong berhasil mendahului dan menculik Yan jie, sehingga misi Duta Tiga mengalami kegagalan.

"Ya!" jawab Nie Wie Kong. "Aku bersedia bersatu padu dipihakmu. untuk menghancurkan kekuatan Lo-san-cu. Sudah tiga hari aku menunggu ditempat ini."

"Apa bukan atas perintah Lo-san-cu, untuk mengambil batok kepalaku?" berkata Hong-lay Sian-ong sambil tertawa. "Ha ha..." Nie Wie Kong juga tertawa. "Sebagai seorang pemimpin Su-hay-tong sim-beng, tidak seharusnya kau memiliki kecurigaan yang seperti itu. Terkenang kembali kejadian di puncak gunung Thay san, kita pernah bertanding tujuh hari tujuh malam, dengan kesudahan kemenangan untukmu. Apa mudah mengalahkan Hong-lay Sian-ong? Tanpa bisa mengalahkan, apa mungkin memiliki batok kepalamu?"

"Ha ha... Eh! Bagaimana keadaan cucu Nie tosu? Sudah berhasilkah menolongnya?"

"Belum," Nie Wie Kong menggelengkan kepala.

"Oh!" Hong-lay Sian-ong berkerut alis. "Mengapa memisahkan diri?"

"Bah!" Nie Wie Kong berdengus. "Didalam perhitungan Lo-san-cu, Yan jie adalah kunci perintah, seenak udel ia menyetir diriku. Sangkanya, aku ini orang berkualitet seperti kaki tangannya. Menyuruh orang tanpa bahasa. Didalam keadaan hawa amarah yang meluap luap, kutinggalkan Yan jie dan kutinggalkan juga mereka. Mengingat kau pasti datang kemari, maka menunggu hingga saat ini."

Berulang kali Hong-lay Sian-ong menganggukkan kepala. "Penderitaan bathin Nie tocu memang bisa diselami. Nanti kita bersama-sama mencari jalan untuk menolong cucumu itu."

"Inilah yang kuharapkan." Berkata Nie Wie Kong. "Kita harus segera menyusul mereka."

"Kita segera mengadakan pengejaran." Berkata Hong-lay Sian-ong. "Nie tocu bisa memberi petunjuk, kearah mana Lo-san-cu melarikan diri?" Nie Wie Kong menyengir. "Apa kau yakin kalau Lo-san- cu mau memberi tahu kepadaku tentang jejak kepergiannya?" Ia balik mengajukan pertanyaan.

Tentu saja Hong-lay Sian-ong maklum. tidak mungkin jejak Lo-san-cu dengan kawan kawan bisa dibebas luaskan. "Ya!" Katanya. "Mereka pindah kelain sarang, karena terbongkarnya rahasia penyamaran Ie Lip Tiong, bukan? Lo-san-cu segera menduga kalau sarangnya merasa tidak aman."

"Penyamaran Ie Lip Tiong mengalami kegagalan, karena mau menolong Yan jie..." Berkata Nie Wie Kong matanya memandang lurus kedepan, seolah-olah membayangkan kecakapan duta kita yang ketiga belas itu.

Hong-lay Sian-ong menunggu dengan sabar dan betul saja, Nie Wie Kong menceritakan dengan jelas, bagaimana Ie Lip Tiong menemukan nasib di"Babi bengkak"kan didalam dasar Telaga Darah.

"Begitu kejam?" Hong-lay Sian-ong menjerit.

"Ooh...!" Hong Hian Leng yang turut mendengarkan cerita mengeluh. Dengan susah payah, dia mendidik Ie Lip Tiong, dan mana disangka kalau sang cucu murid itu menemukan ajalnya, didasar telaga? Dari hal itu terkenang juga tentang Can Ceng Lun, simurid bermuka hitam yang tiada kabar berita, sesudah meletakkan jawatannya sebagai Duta Empat Su-hay-tong sim-beng.

"Didalam keadaan seperti itu," Nie Wie Kong mengakhiri ceritanya. "Siapakah yang mempunyai kesempatan hidup? Tangan dan kaki terikat, jalan-jalan darah tertotok, siapa yang bisa napas didalam air? Jangan kata Ie Lip Tiong, akupun tidak mungkin bisa melepas batu besar yang membobotinya itu. Kematiannya tidak perlu disangsikan lagi." "Kau juga menyaksikan hal tersebut?" Bertanya Hong Hian Leng.

"Yah! Tapi tidak berdaya," Nie Wie Kong menjawab dengan lesu.

"Bah! Dia pecah penyamaran karena hendak menolong cucumu. Mengapa kau berpeluk tangan? Tidak mengulurkan bantuan?"

"Itu waktu," Berkata Nie Wie Kong. "Hati kecilku sedang berkecamuk, hendakkah memberi pertolongan? Tapi apa daya? Kecuali Lo-san-cu, sebelas rasa sesat berada disekelilingku. Mungkinkah bisa menandingi mereka itu? Dimisalkan salah satu kalian yang menduduki posisiku, beranikah kalian bergerak? Bisakah menolong Ie Lip Tiong dari tangan mereka?"

"Biar bagaimanapun harus dicoba." Bentak Hong Hian Leng.

"Mencoba dengan mempertaruhkan jiwa? Huh! Mencoba sesuatu yang sudah pasti mengalami kegagalan? aku tidak mau mati konyol. aku mempertahankan jiwa, demi mengadakan tuntutan balas kepada mereka."

"Tanpa mengetahui jejak Lo-san-cu, bagaimana kau bisa mengadakan tuntutan? Bagaimana kau bisa mengadakan pembalasan?" Bertanya Hong-lay Sian-ong.

Nie Wie Kong mendelikkan matanya. “Untuk membalas kematian Ie Lip Tiong," ia berkata geram. "Aku meninggalkan mereka dengan resiko kematian untuk cucuku pula. Mungkinkah korban ini masih belum cukup?"

Hong-lay Sian-ong menghela napas. "Nie tocu mempunyai rencana untuk mengadakan pengejaran kepada Lo-san-cu dan kawan-kawan?" Ia bertanya. Nie Wie Kong menganggukkan kepala berkata :

"Rencana sudah kuatur lama. Inilah rahasia penting, bisakah aku bicara empat mata bersama-samamu?" Ia menatap Hong-lay Sian-ong.

"Apakah tidak bisa dibicarakan blak-blakan" Bertanya Hong Hian Leng.

"Kalau bisa, sudah tentu sudah kubicarakan." berkata Nie Wie Kong. "Justru siasat ini harus dirahasiakan."

"Baik." Sesudah berpikir beberapa saat, Hong-lay Sian- ong menerima tawaran itu.

Nie Wie Kong mengajak Hong-lay Sian-ong kelain ruangan, dengan dalih hendak memberi rencana besar untuk menangkap Lo-san-cu.

Bagaimana dan apa yang dirundingkan kedua jago kelas super sakti itu? Tidak seorangpun yang tahu.

Para jago Su-hay-tong sim-beng ubek-ubekan didalam Istana Kristal.

Beberapa saat kemudian, tiba tiba ketua partay Siau lim pay It su Siang jin berteriak:

"Nie Wie Kong membunuh bengcu kita!"

Membarengi teriakannya, It su Sianjin sudah mengejar sesuatu bayangan. Itulah bayangan Nie Wie Kong yang melarikan diri sedangkan ditangan ketua pulau Bola api itu menjinjing sebuah kepala manusia. Tentunya batok Hong- lay Sian-ong yang dibacok putus.

Kejadian yang menggemparkan !

Hong Hian Leng, Bu eng, Bu kiat, Bu hiat dan Bu kun lima raja silat mengadakan pengejaran. Dibelakang raja raja silat ini, baru terlihat Lu Ie Lam dan duta duta berbaju kuning Su-hay-tong sim-beng.

Sesudah itu, baru para ketua partay rimba persilatan.

Karena kalah start, dan segala sesuatu sudah berada dibawah perhitungan Nie Wie Kong persiapannya lebih sempurna, sebentar kemudian, ia berada dibawah kaki gunung Lo kun san, di sana tersedia sebuah perahu, begitu ketua pulau Bola api meletekkan kaki pada perahu tersebut, ia meluncur diatas permukaan air Telaga Darah dengan kecepatan tiada tara.

dw