-->

Persekutuan Pedang Sakti Jilid 25

Jilid 25

SAMBIL mengangkat bahu sitikus berjalan dibawah tanah Thio Khing menyahut,

"Majikan kami pernah berkata, satu satunya tindakan yang paling tepat saat ini adalah membekuk Kiu siang poo dalam keadaan hidup-hidup serta memaksanya untuk membebaskan jalan darah mereka yang tertotok itu"

Kam Liu cu memandang sekejap kearah Liu leng poo, kemudian bertanya: "Sam sumoay, bagaimana menurut pendapatmu?"

"Yaa, terpaksa harus berbuat begitu"

Lak jiu im Thio Man menjadi sangat terkejut, segera teriaknya tertahan :

"Enci Liu, apakah kau hendak mencekoki mereka dengan bubuk pembingung yang kau bawa itu

?" tanya Lak jiu dengan keheranan.

"Yaa, aku ingin mencekokinya dengan obat pembingung sukma ini!" ooo~^DewiKZ^Aditya^aaa^~ooo

KAKEK OU SEGERA MENYAHUT,

"Sekalipun didalam kitab Siu khi keng peninggalan dari majikan tua tercantum kepandaian tersebut, namun majikan tak pernah melatihnya, aku rasa hal ini juga percuma.

Apalagi sekalipun majikan bisa membebaskan pengaruh totokan tersebut, untuk kembali ke Lam hay pun rasanya kita tak akan keburu sampai."

Sementara itu Liu leng poo telah menerima botol berisi bubuk pembingung sukma itu dari tangan Kam Liu cu, kemudian sambil di serahkan ketangan Liong Hian kun katanya,

"Bubuk pembingung sukma merupakan obat yang dibuat oleh ayahmu, aku rasa kau tentu mengetahui berapakah takaran yang dibutuhkan setiap orangnya, bagaimana kalau tugas ini kubebaskan saja kepada nona?"

Dengan senang hati Liong Hiang kun segera menerima botol obat tersebut. Sebaliknya Lak jiu im eng Thio Man yang melibat Liu Leng poo meminta Liong Hiang kun yang memberikan bubuk pembingung sukma tersebut kepada semua orang, dengan cemas segera berseru :

"Enci Liu, biar aku saja yang membagikan obat tersebut kepada mereka." Liu Leng poo segera tertawa :

"Adik cilik, kau tidak usah kuatir, nona Liong harus bekerja sama dengan kami agar bisa menolong ayahnya, jadi kita dapat mempercayainya sepenuh hati"

Lak jiu im eng Thio Man merasa agak sungkan untuk berbicara lebih jauh, maka dia pun membungkam diri dalam seribu basa.

Liong Hiang kun segera menundukkan kepalanya dan mulai mencekoki orang-orang yang kehilangan pikiran itu dengan bubuk penghilang sukma...

Saat ini hampir semua perhatian para hadirin ditujukan kearah Wi Tiong hong sekalian, menanti Ma koan tojin ikut berpaling, tiba-tiba saja dia menemukan kalau si tikus berjalan dibawah tanah telah pergi tanpa bekas entah sedari kapan.

Segera timbul kecurigaan di dalam hatinya dengan suara tertahan serunya,

"Kam tayhiap, si tikus berjalan dibawah tanah telah pergi tanpa pamit, kita jangan sampai termakan oleh tipu muslihatnya."

Dengan cepat kakek Ou berpaling, benar juga, si tikus berjalan dibawah tanah telah pergi entah kemana. Dengan gusar ia segera mendengus, teriaknya,

"Kurang ajar benar manusia macam tikus pun berani bermain gila dihadapanku!!! hmmnn! Kalau sampai ketemu lagi besok, pasti akan kuhajar dia sampai hancur berantakan!

Buru buru Kam Liu cu berkata seraya tertawa:

"Orang itu paling senang kalau bermain gila-gilaan, tapi menurut pendapatku dia tak sampai akan menjebak kita dengan permainan busuk"

Selang berapa saat kemudian, terdengar Liong Hiang kun berkata kepada Liu leng poo,

"Sekarang sudah lewat seperminum teh lamanya daya kerja bubuk pembingung sukmapun sudah mulai menyebar... Liu lihiap dapat membebaskan jalan darah mereka yang tertotok."

"Biar aku saja yang melakukan tugas ini!!" seru Kam Liu cu sambil melangkah kedepan. "Tunggu dulu!" tiba-tiba Liong Hiang kun berseru lagi.

"Bubuk pembingung sukma ayahku dapat membuat kesadaran seseorang pulih kembali sebagian kecil, oleh sebab itu diantara kalian mesti ada seorang yg bakal memberi perintah dan petunjuk kepada orang-orang itu, dan orang tersebut biasanya adalah orang pertama yang akan mengajak mereka berbicara setelah daya kerja obat bubuk itu menyebar kedalam tubuh mereka.

Dewasa ini, jalan darah penting mereka masih tersumbat akibat pengaruh totokan Ciang liong ci, karenanya sebelum diberi obat racun itu, sulit rasanya untuk menyadarkan mereka, namun setelah jalan darah mereka dibebaskan nanti harus ada satu orang yang memerintahkan mereka, entah siapakah diantara kalian yang akan memikul tanggung jawab tersebut?"

"Aku pikir, nona Liu adalah orang yang paling sesuai, sebab diantara kita semua dialah yang menjadi Kuncu (juru pikirnya)!!" seru kakek Ou cepat.

"Nah, kalau begitu Liu lihiap harus ingat baik-baik.." ujar Liong Hian kun kemudian

"Kau mesti menyampaikan ucapan yang bermaksud agar mereka tunduk kepada semua perintahmu dan tak boleh membangkang kepada mereka semua satu demi satu"

Liu Leng poo segera manggut-manggut.. "Akan kuingat baik-baik"

"Kalau begitu, Kam tayhiap boleh segera turun tangan."

Kam Liu cu mengiakan dan maju ke depan dengan langkah lebar tangannya segera bergerak cepat, dalam waktu singkat hampir semua jalan darah orang-orang itu telah dibebaskan olehnya.

Sebagaimana diketahui, orang-orang itu sudah ditotok jalan darah Nau juang hiat di otaknya dengan ilmu jari Ciang liong ci, dan sekarang telah dicekoki lagi dengan obat pembingung sukma, hal ini pada hakekatnya membuat mereka semua menderita kehilangan pikiran berganda, sekalipun begitu namun ilmu silat yang mereka miliki masih tetap utuh seperti sedia kala.

Begitu jalan darah mereka di bebaskan, orang-orang itu segera memperlihatkan pandangan mata yang bingung dan kabur pelan-pelan mereka bangkit berdiri dari atas tanah.

Baik kakek Ou maupun Kam Liu cu, kedua-duanya kuatir kalau sampai mereka berontak atau melakukan suatu tindakan yg tak diinginkan setelah totokan jalan darahnya dibebaskan, karena itu sejak tadi mereka berdua telah menyebarkan diri kesamping kiri dan kanan serta secara diam-diam bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Dengan langkah tegap Liu leng poo berdiri dihadapan mereka semua tiba-tiba bentaknya; "Wi Tiong hong!"

Wi Tiong hong segera menggerak-gerak kelopak matanya, namun mimik wajahnya masih tetap dingin, kaku dan sama sekali tak berperasaan.

So Siau hui dan Lak jiu Im eng Thio man yang menyaksikan mimik muka anak muda tersebut diam-diam merasa sedih sekali, namun siapapun tak ada yang bersuara.

Buru buru Liong Hiang kun berjalan mendekati Wi Tiong hong, kemudian berbisik disisi telinganya:

"Liu lihiap sedang memanggilmu, ayoh cepat maju selangkah kedepan."

Ternyata perkataan itu sangat manjur, Wi Tiong hong segera mengalihkan sorot matanya kewajah Liu leng poo dan benar-benar maju selangkah kedepan. Menyaksikan kejadian tersebut, diam-diam Liu leng poo mengangguk, pikirnya:

"Andaikata malam ini tidak ada Liong-Hiang kun hadir disini aku tentu akan kelabakan dan tak tahu bagaimana harus mengatasi persoalan ini!"

Berpikir demikian, sorot matanya segera dialihkan kembali kewajah Wi Tiong hong kemudian katanya:

"Wi Tiong hong, kau harus ingat baik-baik mulai sekarang kau harus mentaati dan tunduk pada semua perintahku, kau tak boleh menbangkang barang sekejap pun!!"

Wi Tiong hong mengawasinya sekejap, kemudian manggut-manggut.

Liong Hiang kun yang berdiri disampingnya dengan cepat membisik kembali, "Kau boleh berdiri disamping sana."

Ternyata Wi Tiong hong menurut sekali. Ia benar-benar menyingkir kesamping.

Menyusul kemudian Liu Leng poo memanggil nama Cho Kui moay dan mengulangi dengan kata- kata yang sama. Cho Kiu moay pun dengan taat berdiri menanti disamping arena.

Selanjutnya adalah giliran dari Keng hian lalu Ceng siu Thio lo han Khong heng hweesio, si naga berekor botak To Sam seng dan lain sebagainya, semuanya melakukan hal yang sama...

Akhirnya ke sebelas orang jago pedang berpita hijau pun mendapatkan gilirannya, Liu Lang poo mengulangi pula kata-katanya terhadap mereka semua.

Walaupun perlakuan itu di lakukan sangat singkat, namun itupun membutuhkan waktu hampir sepertanak nasi lamanya sebelum rampung semua.

Waktu itu kentongan keempat telah menjelang tiba, Ma koan tojin memandang sekejap cuaca diluar gua kemudian bertanya,

"Liu lihiap apakah kita akan berangkat sekarang juga?"

"Ehmm kentongan keempat sudah hampir tiba, padahal kita semuapun sudah bergadang semalaman suntuk, mumpung masih ada sedikit waktu yang tersisa mari kita simpan tenaga sejenak, kita baru berangkat setelah terang tanah nanti."

"Ji sumoay," Kam liu cu segera berkata "Dari pada kita berangkat setelah terang tanah nanti, apa salahnya kalau berangkat pada saat ini juga? siapa tahu kalau tindakan kita ini malah akan membuat mereka jadi kelabakan?"

Liu Leng poo segera tertawa.

"Dengan jumlah orang-orang kita yang begini banyak, bagaimana mungkin jejak kita dapat mengetahui mereka

semua? Dari pada main sembunyi, mengapa kita tak menantang mereka secara terangan saja? Disamping itu, saat ini hari masih gelap padahal kitapun tak mengenali jalan mereka, selain itu kitapun sudah semalaman suntuk tidak beristirahat, apa salahnya kalau kita manfaatkan kesempatan yang ada untuk memupuk tenaga dan menyegarkan kembali tubuh kita? Toh tindakan tersebut lebih banyak untungnya dari pada kerugian?"

Setelah mendengar penjelasan tersebut, Ma koan tojin merasa kagum sekali, dia segera manggut-manggut sembari berkata ;

"Perhitungan Liu lihiap memang sangat tepat, ilmu peperangan yang kau persiapkan pun sangat hebat, pinto benar-benar takluk dan kagum sekali."

"Baiklah," kata Kam Liu cu pula, "Mari kita berangkat setelah terang tanah nanti,"

Setiap orang tahu, setelah terang tanah nanti mereka akan memasuki selat Tok seh sia baru dan disana pasti akan berlangsung suatu pertarungan yang sengit. Maka dengan memanfaatkan sisa waktu yang ada semua orang berusaha untuk melepaskan lelah dan menghimpun tenaga baru, hampir semuanya segera duduk bersemedi untuk mengatur pernapasan.

Tiba-tiba Tiong Hiang kun berjalan menuju kehadapan Liu Leng poo, kemudian sambil menjura katanya,

"Liu lihiap, aku mempunyai suatu permintaan yang tak pantas yang terpaksa harus kuajukan kepada kalian yakni ayahku telah terkena racun dari siluman perempuan itu sehingga kemungkinan besar beliau akan di paksa untuk bertarung melawan kalian untuk itu harap Liu lihiap serta para pendekar lainnya sudi mengampuninya"

Liu Leng poo sesungguhnya sudah tahu kalau musuh besar Wi Tiong hong tak lain adalah si Raja langit bertangan keji Liong Cay thian namun ia tidak menerangkan persoalan tersebut kepada gadis itu, hanya di tariknya tangan Liong Hiang kun baru ujarnya sambil berkata;

"Sebetulnya tujuan utama dari keberangkatan kita menuju ke selat Tok seh sia untuk kali ini adalah untuk membekuk Kiu siang si siluman tua tersebut guna membebaskan orang- orang ini dari pengaruh totokan Ciang liong ci yang telah membuat mereka kehilangan pikiran dan kesadarannya sebab hanya siluman tua Kiu siang yang bisa menolong mereka, jadi masalah yang sesungguhnya tak ada hubungan apa pun dengan ayahmu, untuk persoalan ini harap nona berlega hati."

"Aku tahu tentang hal ini!!" ucap Liong Hiang kun dengan air mata bercucuran "Tapi dalam berapa hari belakangan ini, hatiku selalu berdebar keras tanpa sebab, seakan-akan ada bencana besar yang telah berada di depan mata..."

Liu Leng poo segera tertawa.

"Soal itu sih gampang sekali untuk dijelaskan, karena selama berapa hari ini secara beruntun telah terjadi pelbagai kejadian didalam selat Tok seh sia, sedangkan nona pun harus berperan sebagai Tok seh siaucu, otomatis hatimu menjadi risau dan tak tenang, sudah... asal kau tidak memikirkannya lagi, hatimu pasti akan menjadi tenang kembali."

Ketika Liong Hiang kun merasa apa yg diucapkan Liu Leng poo memang ada benarnya juga, dia menjadi berlega hati dan perasaannya jauh lebih tenang.

Dengan air mata bercucuran diapun menyahut sambil manggut-manggut, "Terima kasih banyak atas petunjuk enci Liu " "Hari sudah hampir terang tanah, pergilah beristirahat sejenak." ujar Liu Leng poo kemudian sambil tertawa, Selesai berkata, pelan-pelan dia memejamkan matanya.

Suasana diluar gua di cekam dalam kegelapan yang luar biasa.

Suasana didalam gua justru hening sekali dan tak kedengaran suara apapun lagi.

Semua orang telah memanfaatkan kesempatan yang ada untuk bersemedhi dan mengatur pernapasan, menghimpun kekuatan baru untuk menghadapi musuh tangguh Tapi diantara sekian orang, hanya keempat orang nona yang tak bisa menenangkan pikiran masing-masing. Mereka dibebani oleh pikiran dan perasaan yang berbeda sehingga sulit untuk memusatkan pikirannya. Dari keempat orang itu, Liu leng poo merupakan Kuncu (juru pikir) dari rombongan tersebut. Dalam situasi menghadapi musuh yang begitu tangguh, lagi pula dengan kekuatan yang tidak berimbang, dia tak tahu bagaimanakah nasib perjalanan selanjutnya, apalagi dalam soal menang kalah dalam pertarungan yang bakal berlangsung, tentu saja hal mana membuat hatinya menjadi tak tenang.

Sebaliknya bagi So Siau hui, Liong Hiang kun serta Lak jiu im eng Thio Man dalam benak mereka bertiga boleh dibilang hanya dipenuhi oleh sebuah bayangan saja, memandang keadaan Wi Tiong hong yang kehilangan pikiran dan kesadaran, perasaan, mereka betul- betul remuk redam, perasaan cinta, kasihan gelisah cemas dan kesal

bercampur menjadi satu, sehingga tak seorang pun diantara mereka yang dapat berkata- kata.

Pelan-pelan fajarpun menyingsing dari ufuk timur, hari sudah terang tanah sinar matahari pagi memancarkan cahayanya ke seluruh penjuru.

Dengan dipimpin oleh Liu Leng poo, berangkatlah rombongan itu meninggalkan gua batu menuju keselat sempit dibalik hutan kering dibelakang bukit sana.

Sekalipun mereka melakukan perjalanan bersama-sama, namun kekuatan yang ada justru terbagi menjadi dua kelompok, pada kelompok yang pertama dipimpin oleh Liu Leng poo dengan Liong Hiang kun serta So Siau hui sebagai pembantu utamanya.

Hal ini disebabkan Liong Hiang kun memang orang Tok seh sia sedangkan So Siau hui menguasai penuh semua ilmu barisan serta alat jebakan yang terdapat didalam lembah tersebut.

Disusul kemudian adalah rombongan orang-orang yang kehilangan pikiran dan kesadarannya, yaitu Wi Tiong hong, Cho Kiu moay, Heng hian totiang, teng siu to tiang, Thi lo han Khong beng hwesio, naga tua berekor botak To Sam seng serta ke sebelas orang jago pedang berpita hijau.

Orang-orang itu hanya menuruti perintah dari Liu leng poo seorang, otomatis harus dipimpin pula oleh Liu Leng poo secara langsung...

Diantara sekian banyak orang, ditambah lagi dengan kakek Ou, sebab diantara sekian orang dialah yang memiliki ilmu silat paling hebat, orang tua ini selalu mendampingi So Siau hui dengan maksud melindungi keselamatan majikan mudanya itu.

Pada rombongan ke dua dipimpin oleh Kim Liu cu dengan Ma koan tojin sebagai pembantu utamanya, disusul kemudian adalah sipena baja Tam see hoa, Lak jiu im eng Thio Man serta keenam belas jago pedang berpita hijau. Dengan gerakan tubuh kedua rombongan jago-jago yang berilmu tinggi, tak selang berapa saat kemudian mereka telah tiba di depan hutan kering ditengah lembah Saat itu matahari sudah jauh diatas awang awang dan menyinari seluruh hutan gersang itu hingga memantulkan sinar putih yang menyilaukan mata, nyata sekali hutan tersebut hanya berupa sebuah hutan kosong.

Kedua buah peti mati yang kemarin masih diletakan disitu, kini sudah disingkirkan, hanya tugu peringat batu tersebut masih tetap berdiri tegak di tempat semula, Tulisan yang tertera diatas batu peringatan itupun masih tetap utuh sebagaimana mestinya.

Tulisan yang terterapun tetap berbunyi demikian:

"Hutan gersang tiada jalan, puluhan li memasuki puncak awan" Liong Hiang kun segera berebut maju ke depsn sembari berkata:

"Kemarin aku pun masuk ke dalam melalui jalan ini, aku tahu caranya untuk membuka pintu rahasia tersebut, untuk masuk, kita cukup menggerakkan jari tangan mengikuti gerak tulisan li atau masuk tersebut, maka pintu rahasia pun akan terbuka dengan sendirinya"

Sembari berkata, dia benar-benar menggerakkan tangan kanannya untuk mengikuti gerak tulisan "li" tersebut Dengan suatu gerakan cepat Liu Leng poo

mencengkeram lengannya sambil berseru :

"Tunggu sebentar, diatas batu itu sudah dipolesi racun " "Biar aku saja " kata So Siau hui kemudian.

"Nona, kau mesti berhati-hati...!" seru kakek Ou memperingatkan.

"Tak usah kuatir " sahut So Siau hui, "semua peralatan rahasia yang mereka pergunakan hampir semuanya merupakan hasil curian dari Lam hay bun kita, cuma mereka tambahkan racun saja disana-sini sehingga kalau kurang berhati-hati orang bisa terkecoh."

Dari dalam sakunya Liu Leng poo segera mengeluarkan sebuah sarung tangan kulit menjangan berwarna putih dan diangsurkan ke depan sambil katanya :

"Adikku dari keuarga So di dalam perjalanan selanjutuya kami semua akan menggantungkan diri pada petunjukmu, cepat kau kenakan sarung tangan ini.."

So Siau hui segera menyambut sarung tangan itu dan dikenakan, kemudian dia menggerakkan ujung jari telunjuknya dan melakukan gerakan menggesek di atasan

"ji" pada batu peringatan tersebut. "Kraaaakkk..."

Menyusul gesekan tersebut tiba-tiba berkumandang suara gemercingan nyaring bergema memecahkan keheningan.

Pelan-pelan batu peringatan besar itu bergeser ke samping kanan dan muncullah sebuah liang yang gelap gulita dan lebar sekali sebuah undak-undakan batu terlihat menjorok jauh ke dalam sana.

Liu Leng poo segera berpaling ke arah ke sebelas orang jago pedang berpita hijau yang kehilangan pikiran dan kesadarannya itu lalu sambil mengulapkan tangannya berseru ; "Kalian segera menyebarkan diri dan jaga hutan gersang ini secara ketat, barang siapa yang muncul disini, kalian harus menghadangnya dan jangan beri kesempatan kepada mereka untuk masuk kemari, mengerti?"

Ke sebelas orang jago pedang berpita hijau itu segera menyahut dan dengan cepat menyebarkan diri disekeliling hutan itu.

Menyusul kemudian Liu Leng poo memanggil pula Keng hian totiang, Keng siu totiang, Thio lo han Khong beng hweesio serta naga tua berekor botak To Sam seng berempat sambil perintahnya :

"Kalian berjaga jagalah disekitar gua ini, kalau ada orang yang masuk biarkan saja lewat, tapi jangan biarkan seorangpun yang keluar dari sini, pokoknya kalau ada yang berusaha menerobos keluar, bekuk semua hidup-hidup!"

Ke empat orang itu segera menerima perintah dan mengundurkan diri kedua belah sisi dengan cepat.

Setelah itu, Liu Leng poo baru berkata lagi:

"Nah, sekarang kita boleh masuk kedalam. Tapi setelah berada dalam liang gua nanti, harap setiap orang menjaga sejauh beberapa depa untuk menjaga-jaga terhadap sesuatu yang tak diinginkan, baiklah, adikku dari keluarga So, Liong Hiang kun, kalian boleh segera turun lebih dulu"

Sembari berkata dia berjalan menuruni gua itu, So Siau hui, Liong Hiang kun segera mengikuti dibelakangnya, disusul kemudian oleh Wi Tiong hong, Hek bun kun, Cho Kui moay kakek Ou serta para jago dari rombongan kedua.

Undak-undakan batu itu menjorok langsung hingga keperut bukit, panjangnya menjadi lima puluhan undakan

lebih, semakin ke bawah, suasananya semakin gelap gulita.

Liu Leng poo segera meloloskan pedangnya, dengan tangan sebelah memegang senjata, tangan yang lain memegang obor dan menuruni anak tangga itu lebih kedalam.

Tiba-tiba terdengar So Siau hui yang mengikuti dibelakangnya berbisik :

"Fungsi yang sebenarnya dari undak-undakan batu ini adalah untuk memancing musuh masuk lebih kedalam lagi, jadi disepanjang tempat ini tak nanti mereka pasang alat perangkap. Tapi setelah sampai diujung undak-undakan batu nanti, lebih baik enci Liu beri kesempatan kepadaku untuk berjalan didepan "

"Apakah dibawah sana terdapat jebakan papan berbalik?"

“Kecuali terdapat siat jebakan berupa papan yang bisa membalik sudah pasti mereka persiapkan juga alat perangkap yang lainnya, karena mereka tahu setiap jago persilatan yang telah berada di dalam lorong gua ini, siapapun akan menghindari selisih jarak yang terlalu dekat, nah mereka justru menggunakan titik kelemahan tersebut untuk menghadapi kita.

"Selain itu, diantara dinding dinding batu dikedua belah sisi lorong terdapat pula pintu rahasia yang setiap saat bisa dibuka tanpa menimbulkan sedikit suarapun, mereka bisa menculik orang tanpa menimbulkan suara. Andaikata sergapan mereka keburu ketahuan, otomatis kau akan bertarung dengan mereka, nah dalam keadaan beginilah kau pasti akan terjebak oleh alat pembalik papan yang akan memperosokkan diriku ke dalam perangkap mereka.

Liu leng poo segera manggut-manggut katanya;

"Tindakan mereka ini memang amat keji dan buas tapi berapakah panjang dari seluruh jalanan ini?"

So Siau hui tertawa.

"Bukankah dalam tulisan yang tertera di atas batu peringatan itu sudah diterangkan secara jelas? Beberapa li memasuki puncak awan, itu berarti perjalanan ini paling tidak mencapai tiga li lebih, aku rasa, setiap orang yang masuk dari tempat luar, mungkin ada seorang pun diantara mereka yang sanggup menyelesaikan perjalanan ini secara aman dan selamat."

"Kalau begitu kita harus memberitahukan kepada mereka yang berada dibelakang agar bersikap lebih berhati-hati lagi!"

"Percuma, pemberitahuan itu tak akan bermanfaat apa-apa, sebab setiap alat rahasia dan pintu rahasia yang berada disini berbeda bentuk maupun letaknya, setiap pintu berdiri sendiri dan tidak ada hubungannya dengan tempat lain, tapi kebanyakan alat rahasia tersebut terletak didinding batu disekitarnya andaikata kita dapat memusnahkan semua tombol rahasia itu, dengan sendirinya lalu lintas diantara mereka menjadi macet dan tak berfungsi lagi"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, mereka telah tiba diujung lorong tersebut.

So Siau hui segera mengambil obor dari tangan Liu leng poo, sementara tangan kanannya meloloskan sebilah pedang pendek yang berkilauan memancarkan sinar keperak-perakkan dari sakunya, kemudian bergerak maju kemuka.

Tampak dia menggerakkan tangannya itu sambil melakukan tusukan, pedang perak tadi tahu- tahu sudah menembusi batuan cadas tersebut, menyusul kemudian dia memutar pergelangan tangannya, pedang perak itu sudah dicabut keluar lagi,

Melihat hal ini, Liu leng poo segera memuji,

"Ehmm, benar-benar sebilah pedang mestika yang amat tajam " So Siau hui tertawa.

"Pedang ini merupakan hadiah dari ayah ku, termasuk satu diantara tiga bilah pedang mestika Lam hay bun, berhubung bentuknya amat kecil, maka menurut ayah hanya cocok digunakan oleh kaum Wanita”.

Sepanjang perjalanannya menelusuri lorong gua itu, pedang mestikanya itu berulang kali melakukan tusukan demi tusukan yang tinggi rendah tak menentu diatas kedua belah dinding batu lorong gua itu, seakan-akan dia sedang melakukan pemotongan terhadap sesuatu.

Liu Leng poo yang mengikuti dibelakang So Siau hui tentu saja mengerti bahwa So Siau hui telah mengandalkan ketajaman pedangnya untuk memusnahkan semua alat rahasia yang terdapat disepanjang lorong gua tersebut.

Benar juga, sepanjang jalan mereka tidak menemukan jebakan atau perangkap lagi dengan mengikuti liku-likunya lorong tersebut, dengan leluasa dan lancar rombongan tersebut bisa melaluinya.

Ternyata apa yang ditulis pada batu peringatan tadi memang benar, beberapa li memasuki puncak awanm ternyata lororg gua yang berliku-liku didalam lambung bukit itu, panjangnya hanya mencapai tiga li.

Bicara soal kecepatan berjalan, dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh yg dimiliki kawanan jago tersebut, seharusnya jarak sejauh tiga li bisa ditempuh dalam waktu singkat.

Tapi berhubung disepanjang jalan So Siau Hui harus bekerja keras untuk menghancurkan setiap alat rahasia yang di temuinya, otomatis perjalanan pun tak dapat ditempuh kelewat cepat,

Begitulah, setelah berjalan hampir sepertanak nasi lamanya, mereka baru selesai menelusuri lorong gua itu. Di depan sana muncul kembali sebuah undak-undakan batu yg menjorok keatas permukaan tanah.

Pada saat itulah Liu Leng poo baru berkata :

"Perjalanan yang kita tempuh sekarang benar-benar perjalanan yang amat berbahaya. Andaikata dari rombongan kita ini tiada kehadiranmu, mungkin untuk menembusi lorong gua itupun sulitnya bukan kepalang."

"Aaaah... Belum tentu" seru So Siau hui merendah,

"Dengan kemampuan yang dimiliki empek Ou, Kam toako serta Liu cici, sekalipun disepanjang jalan terdapat siasat jebakan sebangsa papan berbalik belum tentu peralatan itu dapat menjebak kalian semua, apa lagi terhadap orang-orang yang bersembunyi dibalik pintu rahasia di kedua belah dinding gua tentu saja mereka tak akan mampu menandingi kemampuan kalian."

"Andaikata kalian telah menginjak alat jebakan lain, seperti misalnya air beracun asap beracun dan sebagiannya mungkin kalian baru akan menjumpai kesulitan, tapi aku percaya kesemuanya itu belum sampai menyusahkan kamu semua, tentu saja agak repot juga bila orang yang menghadapi keadaan demikian adalah mereka yang memiliki ilmu rendah"

"Adikku So, kepandaianmu dalam alat perangkap benar-benar luar biasa dan amat mengagumkan!" puji Liu Leng poo segera,

"Aai., tampaknya agar bisa selamat dalam pengembaraan di rimba persilatan, kita memang terpaksa untuk mempelajari ilmu jebakan semacam itu."

"Ayahku memang pernah berkata demikian. Beliau berkata, setiap kepandaian harus dipelajari secara sama rata, justru karena prinsip inilah dia orang tua telah memaksaku untuk membaca buku sepanjang hari, waah..kadangkala menjemukan juga rasanya"

Ketika berbicara sampai disini, tiba tibt dia tertawa rendah sambil katanya lagi: "Enci Liu, sepanjang perjalanan kita telah merusak banyak sekali pintu rahasia, tahukah kau berapa orang yang terkena akibat dari rusaknya pintu rahasia tersebut hingga terjebak di dalam?"

"Berapa orang?"

"Paling tidak mencapai tiga empat puluhan orang!" kata So Siau hui tertawa, "Dan lagi tugas utama dari orang-orang itu adalah melancarkan serangan serta membekuk lawan, aku percaya ilmu silat yang mereka miliki pasti tidak terlalu rendah!"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba berkumandang suara gemuruh keras yang memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan, seluruh badan serasa ikut bergoncang keras, membuat lorong gua itu tergetar luar biasa, pasir dan debu segera berterbangan menutupi pandangan mata, sementara pasir berguguran dengan derasnya seperti air hujan.

Dari depan undak-undakan batu itu mendadak muncul sebuah batu raksasa yang terjauh dari atas langit-langit bua dan menghadang jalan keluar mereka.

Bukan cuma begitu, ternyata dari belakang tubuh mereka pun terjatuh sebuah batu raksasa yang persis memecahkan rombongan satu dan rombongan kedua, kedua kelompok manusia itu dijebak dalam dua ruangan yang berbeda.

Mungkin juga, orang-orang dalam rombongan kedua dipisahkan lagi oleh batu cadas lain sehingga kekuatan mereka saat itu boleh dibilang tercerai-berai tak karuan.

Padahal selain jarak dari batu raksasa yang pertama dengan batu raksasa kedua hanya terpaut lima kaki saja, andai kata batu raksasa itu jatuhnya persis setiap satu kaki, ini berarti pada rombongan yang kedua yang jumlah orangnya lebih banyak bisa jadi dipisahkan pula menjadi dua bagian, atau dengan perkataan lain, rombongan mereka sekarang secara keutuhannya telah terbagi menjadi tiga bagian.

Dengan cepat Liu leng poo berusaha untuk menguasahi diri, katanya kemudian, "Adik So, cepat kau cari tombol rahasianya."

Waktu itu, paras muka So Siau hui telah berubah menjadi pucat pias seperti mayat, gugamnya tiba-tiba:

"Heran, mengapa mereka bisa memasang batu raksasa Ngo Hou cia ditempat ini?"

"Apakah batu raksasa lima harimau ini tidak dilengkapi dengan tombol rahasia?" Tanya Liu leng poo cepat.

"Batu rakasasa lima harimau terdiri dari batuan raksasa yang beratnya puluhan ribu kati, jebakan tersebut hanya bisa dilepaskan dan tak mungkin dapat ditarik kembali, tidak seperti alat perangkap lainnya, asalkan tombol rahasianya ditekan, maka alat jebakan tersebut balik kembali semula secara otomatis. Untuk menggeser batu raksasa lima harimau ini, disamping membutuhkan tenaga

yang sangat besar, juga dibutuhkan kawat baja untuk menariknya..."

Liu Leng poo baru terkejut setelah mendengar keterangan ini, serunya kemudian, "Kalau begitu, bukankah kita bakal mati terkurung ditempat ini?"

Kakek Ou segera mencoba mengayunkan telapak tangannya untuk menghantam batu raksasa itu.

"Blam.. blammmm. !"

Serangan yang kuat itu bersarang telak, dan menimbulkan suara benturan yang keras, namun batu raksasa itu sendiri sama sekali tidak bergerak sedikitpun juga.

"Heehh,, batuan raksasa ini memang betul-betul keras dan kuat.." seru kakek Ou kemudian dengan perasaan mendongkol.

Ia segera mempersiapkan telapak tangannya sambil melancarkan serangan kedua.

"Empek Ou, tidak usah dibacok lagi.." So Siau hui segera mencegah, "Batu cadas itu adalah batu karang yang paling keras, percuma kau pukul batu itu tak bakal remuk!"

Tiba-tiba Liu leng poo berkata sambil tertawa merdu,

"Adikku dari keluarga So, apakah kau lupa dengan pedang mestika yang berada disampingmu saat itu? kita kan bisa menghancurkan batuan karang tersebut dengan mengandalkan ketajaman pedang itu."

Dengan cepat So Siau hui menggelengkan kepalanya berulang kali katanya:

"Percuma, sekalipun pedang mustikaku ini dapat memapas batuan cadas itu hingga gundul berapa bagian, tapi dengan sifat batu yang begitu keras seperti baja, tak mungkin kita keburu membobolnya sama sekali."

Liong Hing kun yang sejak memasuki lorong gua itu membungkam terus dalam seribu bahasa, tiba-tiba ikut menyala pula saat itu,

"Kenapa dikatakan waktunya tak keburu lagi?"

"Kau tahu, batu raksasa lima harimau ini tebalnya mencapai beberapa depa, disamping itu batu tersebut telah menutup seluruh ruangan batu ini tanpa sisa lubang barang sedikitpun juga, itu berarti tak selang sepertanak nasi kemudian, kita semua bakal mati lemas."

"Yaa.. benar juga perkataanmu itu!" kata Liu leng poo kemudian."Aku mulai merasakan dadaku sesak dan susah untuk bernapas. Udara ditempat ini makin lama semakin panas dan sesak untuk napas."

"Adikku, kemarikan pedang mestikamu. Bagaimanapun juga kita kan tak boleh menantikan datangnya elmaut hanya berpeluk tangan belaka."

Kemudian setelah menerima pedang pendek itu dari tangan So Siau hui, dia segera mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya untuk melancarkan sebuah tusukan keatas batu cadas tersebut.

Sekalipun dia telah mengerahkan segenap tenaga yang dimilikinya, akan tetapi batu cadas tersebut betul-betul sangat keras, beberapa puluh bacokan dan tusukan yang dilancarkan secara beruntun dalam kenyataan hanya mampu menggumpil batuan itu seluas berapa depa dan lima inci dalamnya. Dalam pada itu obor yang berada ditangan So Siau hui telah semakin redup sinarnya, jelas sebentar lagi cahaya api itu bakal padam karena kekurangan gas asam.

Pucat pias selembar wajah So Siau hui, sambil mengawasi lidah api yang makin lama semakin mengecil, gugamnya pelan,

"Oohh ayah.. tahukah kau orang tua bahwa putrimu bakal mati disini?"

Sementara itu si kakek Ou sudah dibuat sangat murka, rambut dan jenggotnya pada berdiri kaku semua bagaikan landak, setelah meraung keras, dia segera mengayunkan telapak tangan bajanya yang besar bagaikan kipas itu dan dibacoknya keatas batuan cadas tersebut.

"Blaaammmm. blaammmm..!"

Benturan keras demi benturan keras berkumandang susul menyusul, namun batu raksasa itu masih tetap utuh seperti sedia kala.

Ditengah hembusan angin pukulan yang menderu-deru, lidah api yang sudah makin melemah tadi tiba-tiba menjadi padam sama sekali, seketika itu juga suasana berubah menjadi gelap gulita dan sukar untuk melihat kelima jari tangan sendiri.

Ditengah kegelapan semua orang merasakan napas mereka makin lama semakin bertambah susah dan berat, sementara kelopak matapun makin memberat bagaikan dibebani dengan beban yang besar sekali.

Liu Leng poo tahu bahwa batu raksasan itu selain kuat juga tebal sekali, tak ada gunanya dibacok dengan pedang, maka dia segera menghentikan perbuatannya dan berkata sambil menhembuskan napas panjang.

"Tampaknya kita benar-benar akan mati lemas ditempat ini." seru Liong hiang kun dengan napas terengah-engah.

"Apakah kau anggap semua kejadian ini hanya pura-pura saja?"

"Sekalipun kita bakal mati semua ditempat ini, namun Wi siauhiap tak bakal mati, aku pernah mendengar Ci kong taysu berkata kepada ayahku agar jangan memusuhi Wi siauhiap lagi, karena nasibnya dinilai sangat baik. "

Mendengar gadis itu menyinggung kembali soal Wi Tiong hong, tanpa terasa So Siau hui merasakan semangatnya berkobar kembali, segera tanyanya:

"Apakah kau maksudkan Ci Kong taysu, si pendeta asing tersebut..?"

"Yaa...benar! Dia datang dari Sea ih dan pandai sekali meramal, semua yang diramalkan rata-rata cocok sekali"

"Apalagi yang dikatakan oleh pendeta asing itu?"

"Ci kong taysu bilang, sepanjang hidupnya Wi siaihiap mempunyai rejeki yang tak terhingga dan nasib yang baik sekali, walaupun beberapa kali akan menjumpai ancaman mara bahaya, namun semuanya dapat dihindari dengan selamat, sekalipun orang lain hendak mencelakainya, hal ini sama sekali tak akan bermanfaat"

Ditengah suasana yang gawat dan kritis ternyata mereka masih dapat asyik membicarakan soal Wi Tiong hong. Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar suara gemerisikan lirih berkumandang darang dari bawah tanah.

Kakek Ou segera berseru:

"Cepat kalian dengarkan dengan seksama, suara apakah itu?"

Setelah diungkap oleh kakek itu, semua orang segera memasang telinga dan mendengarkan dengan seksama,

"Benar juga, dari bawah tanah berkerudung datang suara gemerisik lirih yang sangat aneh, suara itu berkumandang datang secara lamat-lamat, tapi selang berapa saat kemudian, suara itu makin lama kedengaran semakin nyaring, seakan-akan ada orang sedang merangkak mendekat dari balik tanah batu raksasa kedua.

Liu Leng poo segera mengerahkan ketajaman matanya untuk mengamati dari mana datangnya suara tersebut, ternyata suara itu berasal dari dasar batu raksasa yang memisahkan mereka dengan rombongan kedua, hal ini membuatnya menjadi sangat keheranan.

"Tampaknya ada orang sedang menggali liang dibawah tanah dari balik batu raksasa itu!"

Belum selesai perkataan itu diutarakan, tampak tanah dan batuan dibawah batu raksasa itu makin lama semakin bertambah gembur dan akhirnya menumpuk keatas.

Dengan perasaan girang diapun berseru:

"Benar-benar bodoh, mengapa diantara kita semua tak seorangpun yang dapat berpikir untuk menggunakan cara tersebut.."

Tiba-tiba pasir dan batu memercik keempat penjuru, dari bawah batu raksasa itupun muncul sebuah lubang sebesar beberapa depa, beberapa makhluk berwarna abu-abu segera bermunculan keluar diiringi suara mencicit yang nyaring sekali.

Liu leng poo sangat terkejut, dengan perasasan terkesiap teriaknya keras keras, "Tikus..tikus.."

Biarpun ilmu silat yang di milikinya sangat lihay, namun dia tetap merupakan seorang wanita, dan kaum wanita agaknya sejak di lahirkan memang sudah ditakdirkan takut dengan binatang kecil, sekalipun dia sudah mengetahui secara pasti kalau makhluk-makhluk kecil hanya serombongan tikus, namun saking ketakutannya perempuan itu sampai mundur kebelakang.

Tapi kalau dibicarakan sesungguhnya, kawanan tikus itu memang cukup menakutkan, setiap ekornya boleh dibilang gemuk dan besar seperti anak kucing, mereka datang berkelompok dari balik liang tanah pada batu raksasa hingga tembus ke liang batu raksasa kedua, paling tidak jumlahnya mencapai ratusan ekor lebih. Dalam waktu singkat, seluruh lorong gua yang panjangnya beberapa kaki itu sudah di ramaikan oleh suara cicitan tikus.

Diantara rombongan yang berada di situ, kecuali Wi Tiong hong serta Cho Kiu moay yang kesadaran dan pikirannya terpengaruh, hanya kakek Ou serta Liu Leng poo yang memiliki kepandaian silat paling tinggi dan bisa memandang dari balik kegelapan. Sebaliknya orang-orang yang lain tak mampu melihat apa-apa begitu obor menjadi padam secara tiba-tiba tadi.

So Siau hui dan Liong Hiang kun hanya sempat mendengar Liu Leng poo meneriakkan kata "tikus", disusul kemudian mereka dengar suara cicitan tikus yang memenuhi seluruh ruangan, berada dalam keadaan tak terlihat, seketika itu juga kedua orang gadis itu seakan-akan merasa ada tikus yang sedang merangkak di sisi tubuhnya.

Dengan perasaan kaget bercampur takut, tak kuasa lagi bulu kuduknya pada bangun berdiri, sambil berdesakan satu sama lainnya, hampir saja dia menjerit melengking.

Dengan cepat kakek Ou dapat melihat keadaam dari peristiwa itu, buru-buru dia berseru:

"Harap nona-nona sekalian jangan takut, rupanya kawanan tikus itu sedang menggalikan liang dibawah tanah untuk kita lewat.

Kawanan tikus bisa menggalikan liang di bawah tanah untuk dilalui manusia semua orang tentu saja dibuat tercengang.

Liu Leng poo menghembuskan napas panjang tiba-tiba saja dia merasakan suasana yang sesak sumpek hingga sukar untuk bernapas tadi lambat laun berkurang hingga akhirnya hilang lenyap tak berbekas, baru saja dia hendak berbicara..

Mendadak seseorang berkata dengan suara yang melengking dan lembut:

"Rupanya aku telah datang terlambat, sehingga membuat saudara sekalian merasa terkejut!"

Menyusul perkataan itu, dari balik liang bawah tanah tadi muncul seseorang. Kakek Ou segera berseru sambil tertawa tergelak:

"Ha., ha.„ha...rupanya kau!"

So Siau hui yang secara tiba-tiba mendengar kalau ditempat itu telah muncul seseorang, dengan perasaan cemas ia bertanya:

"Empek Ou, darimana munculnya orang itu?"

Liu Leng poo yang berada disisinya segara berkata:

"Cepat kau sulut kembali obor tadi!"

Cepat-cepat So Siau hui mengambil bahan untuk membuat api dan segera menyulut kembali obor yang

padam, dalam waktu singkat seluruh ruangan telah disinari kembali dengan cahaya terang.

Baru sekarang semua orang dapat melihat dengan jelas bahwa orang yang baru saja merangkak keluar dari bawah tanah itu berwajah aneh dengan kepala runcing, mata tikus dan beberapa lembar kumis tikus menghiasi atas bibirnya.

Orang ini tak lain adalah si tikus yang berjalan dibawah tanah Thio Kiang. Liong Hiang kun segera mengalihkan pula sorot matanya untuk mengamati keadaan disekeliling sana, mendadak dia menuding kearah batu raksasa pertama sambil serunya:

"Cepat kalian lihat !"

Ternyata rombongan tikus yaag muncul dari balik liang di bawah batu raksasa kedua tadi, kini telah menerjang kesamping batu raksasa pertama dan diiringi suara mencicit yang amat ramai, mulai menggali tanah dan membuat liang baru.

Pasir dan hancuran batu segera berserakan dimana-mana, bagaikan amukan air bah, kawanan tikus itu bersama-sama membuat liang besar dengan kecepatan luar biasa.

Tikus gunung sesungguhnya memang memiliki

kepandaian khusus dalam menggali liang, tapi kejadian yang berlangsung saat itu benar- benar merupakan suatu peristiwa yang luar biasa, untuk sesaat lamanya para jago yang hadir disana sama-sama dibuat berdiri terbeliak dengan mulut melongo.

Rupanya kawanan tikus itu benar-benar sedang menggalikan liang bawah tanah untuk mereka semua.

Kakek Ou segera menepuk-nepuk bahu si tikus berjalan dibawah tanah Thio Kiang dengan telapak tangannya yang lebar, kemudian ujarnya sambil tertawa tergelak;

"Lote, kepandaianmu dalam mengendalikan kawanan tikus gunung itu betul-betul luar biasa, belum pernah ada umat persilatan di dunia ini yang mampu meniru kepandaian mu itu, hari ini aku harus menyatakan rasa kagumku yang tak terhingga kepadamu!"

Si tikus berjalan dibawah tanah Thio Kiang mengangkat bahunya sambil tertawa bangga, ujarnya:

"Mana, mana... Siaute tidak berkemampuan apa-apa, masih untung saja saudara-saudara kecil ini masih sudi menuruti perkataanku!" Benar-benar suatu kalimat yang menggelikan hati, berapa tidak? Ternyata dia telah menyebut kawanan tikus gunung itu sebagai saudara-saudara ciliknya.

Sementara pembicaraan berlangsung, tiba-tiba terdengar dua kali suara mencicit yang tinggi melengking berkumandang datang.

Sambil tertawa si tikus berjalan dibawah tanah segera berkata:

"Aahh... Tampaknya mereka telah berhasil menembusi liang yang sedang digali.."

Dia segera membalikkan badan dan berjalan menuju ke lorong kecil di bawah batu raksasa kedua, membungkukkan badan lalu mencicit pula beberapa kali menirukan suara tikus, setelah itu sambil bangkit berdiri dia berkata:

"Nah, aku telah memberi kabar pada Kam tayhiap bahwa jalanan sudah terbuka, mari kita berangkat, biar aku yang menjadi petunjuk jalan buat kalian semua."

Selesai berkata dia lantas berjongkok dan menerobos kedalam liang dibawah batu raksasa itu, gerakannya cepat dan cekatan, tak malu disebut sebagai si tikus yang berjalan dibawah tanah. Begitu selesai berkata, dia segera mengikuti dibelakang si tikus berjalan di bawah tanah dan menerobos masuk kedalam liang tersebut.

Baru saja kakek Ou menerobos masuk ke dalam liang gua itu, dari dasar batu raksasa kedua telah bermunculan pula Kam Liu cu serta Lek jiu im eng Thio Man.

Liu Leng poo tahu jumlah manusia yang tergantung dalam kelompok dua banyak sekali, sedangkan liang gua itupun hanya bisa dilalui satu demi satu, jelas membutuhkan waktu yang cukup lama untuk

menyeberangkan semua orang yang ada.

Karena itu dia segera memberi tanda kepada So Siau hui, Liong Hiang kun, Wi Tiong hong dan Cho Kiu moay sekalian agar mengikuti merangkak lewat dari liang gua.

Setelah rombongan pertama lewat, orang-orang dari rombongan kedua dengan dipimpin oleh Kam Liu cu segera merangkak pula menerobos liang gua didasar baru raksasa pertama.

Setelah melewati batu raksasa, didepan mata terbentang lagi undak-undakan batu yang berjumlah ratusan buah lebih.

Liu Leng poo sekalian menunggu sampai seluruh rombongan kedua telah menyebrangi batu raksasa itu, kemudian dia baru memimpin seluruh rombongan menaiki undak undakan batu tadi.

Ternyata pada undak-undakan batu berikut ini tidak lagi dijumpai alat jebakan ataupun perangkap diujung undak-

undakan merupakan sebuah gua batu yang luasnya berapa kaki, empat dinding terbuat dari batu kristal yang bening dan jernih, ketika terkena cahaya lentera, segera memantulkan cahaya tajam yang menyilaukan mata.

Setelah berjalan lagi kurang lebih dua kaki, perjalanan mereka terhadang kembali oleh sebuah batu karang raksasa yang luar biasa besarnya.

Batu karang raksasa inipun terbentuk dari batu kristal yang bening dan jernih, warnanya putih susu, malah bentuknya telah di rubah orang dengan sebuah pahatan yang sangat indah, sebuah katak berkaki tiga yang amat indah.

Hanya saja patung itu sedemikian besarnya sehingga persis menyumbat habis semua jalan lewat.

Melihat pahatan kakek putih itu, diam-diam kakek Ou mengerutkan dahinya, dia berpikir,

"Julukan dari majikan kami adalah katak pualam, semestinya katak raksasa ini lebih cocok ditempatkan didepan istana Pek leng kiong dari lam hay kami.."

Dalam pada itu So Siau hui telah berjalan menuju kehadapan patung katak pualam itu dan merabanya sebentar, tahu-tahu berkumandang suara gemerincing nyaring, pada kedua belah dinding batu di sisi kiri dan kanan mendadak terbuka dua buah pintu besar, cahaya terang segera memancar masuk dari luar pintu.

Semua orang pun menundukkan kepalanya dan

manerobos keluar melalui pintu rahasia yang terletak diantara kedua belah kaki katak pualam tersebut.

Rupanya patung pualam ini hanya berfungsi sebagai penyekat, setelah melewati pintu dan melingkari patung

tersebut, terwujud kembali sebuah lorong rahasia yang sama.

Didepan situ kembali muncul sebuah pintu gua berbentuk bulat yang amat tinggi, dari situ dapat terlihat pemandangan diluar gua dengan jelas sekali.

Liu Leng poo sagera berpaling seraya bertanya :

"Sudah sampai ditempat tujuan?"

"Ya sudah sampai, siluman perempuan itu berdiam dalam rumah batu didepan sana"

Dengan langkah lebar semua orang berjalan keluar dari balik pintu, terasa pandang mata menjadi silau, rupanya keadaan medan disitu amat lebar dan luas, karena merupakan sebuah lembah seluas berapa li yang dikeli1ingi oleh bukit karang yang tinggi menjulang ke angkasa...

Ditengah tanah lapang yang luas ini berdirilah puluhan buah bangunan rumah kecil yang terbuat dari batu.

Bangunan itu berderet sangat rapi dan berwujud sebuah dusun kecil, tapi anehnya suasana di sekitar tempat itu justru amat hening dan tak nampak sesosok bayangan manusia pun.

"Sungguh aneh" si gadis berjalan dibawah tanah bergumam keheranan, "Padahal majikan kami telah datang kemari, mengapa tak kedengaran sedikit suarapun ?"

"Mari kita masuk dan memeriksa keadaan di situ, aku percaya keadaan yang sebenarnya akan segera ketahuan"

ajak kakek Ou. Liu Leng poo berpaling kearah Ma koan tojin, lalu berkata,

"Toheng, perintahkan empat orang diantara para jago pedang berpita hijau untuk berjaga dimulut gua, saat ini tempat tersebut merupakan satu-satunya jalan mundur bagi

kita, sedangkan yang lain perintahkan untuk membentuk satu regu, tiap dua orang, kau suruh mereka lakukan penjagaan ketat disepanjang jalan, apabila bertemu musuh gunakan suara pekikan nyaring sebagai tanda bahaya"

Ma koan tojin segera mmengiakan dan memerintahkan empat orang jago pedang berpita hijau untuk berjaga-jaga di mulut gua sementara kedua belas orang jago pedang berpita hijau lainnya menyebarkan diri dibelakang kawanan jago itu denga dua orang membentuk satu kelompok melakukan penjagaan disepanjang jalan.

Kini, para jago dari dua rombongan telah bergabung menjadi satu lagi, dengan tetap pimpin oleh Liu Leng poo, So Siau hui dan Liong Hiang kun, berangkatlah mereka mendekati dusun itu.

Semua bangunan rumah yang dijumpai di situ, tak sebuahpun yang memiliki pagar tembok atau pagar pekarangan, satu demi bangunan itu berjajar kaku disepanjang jalan, bukan cuma pintu rumah tertutup rapat, jendela pun tak ada yang terbuka, sehingga suasana begitu hening dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun Inikah yang disebut selat Tok seh sia baru? Dalam suasana menghadapi serbuan musuh tangguh, keadaan disekitar tempat itu tampak begitu hening dan tenang, jelas keadaan tersebut berbeda sekali dengan keadaan pada umumnya.

Apalagi pemimpin dari selat Tok seh sia sekararg sudah bukan si raja langit bertangan keji Liong Cay thian, melainkan Kiu siang la koay yang sudah termashur karena kelicikan, kebuasan dan kekejamannya dalam dunia persilatan.

Rencana busuk apakah yang sesungguhnya tersembunyi dibalik suasana hening itu? Tak seorangpun yang bisa menduga. Tiba-tiba Ma koan tojin berbisik dengan sepasang mata berkilat:

"Liu lihiap, tampaknya situasi disini rada kurang beres.." Liu Leng poo manggut-manggut.

"Ya, memang rada kurang beres, tapi kita toh harus masuk kedalam untuk memeriksanya juga"

"Kebetulan sekali aku memang sedang mencari Kiu siang poo untuk diajak berkelahi, biar aku saja yang berada di paling muka." seru kakek Ou kemudian.

Dngan langkah lebar dia segera berjalan mendekati pintu ruangan, kemudian mengayunkan telapak tangannya dan mendorong pintu kayu yang semula tertutup rapat itu.

Dimana angin pukulannya berhembus lewat pintu kayu itu segera terbuka dengan menimbulkan suara tajam.

Walaupun suara ini merupakan suara yang berasal dari gesekan engsel pintu rumah, namun suaranya yang tajam dan melengking benar-benar mendatangkan suasana yang tak sedap.

So Siau hui, Liong Hiang kun dan Lak jiu im eng Thio Man terentak melangkah mundur berapa langkah dengan perasaan terkesiap bercampur seram.

Dalam pada itu kakek Ou telah mendorong pintu ruangan dan siap melangkah masuk ke dalam.

Tiba-tiba dia menyaksikan didalam ruangan batu yang luasnya hanya dua kaki persegi ini, duduk sesosok tubuh manusia.

Orang itu bermuka semu emas, beralis mata tajam, mata jeli dan mengenakan jubah sutera dengan sebilah pedang berpita kuning emas tersoren dipinggangnya.

Ternyata orang itu tak lain adalah Ban Kiam hwee cu.

Untuk sesaat lamanya kakek Ou jadi tertegun, dia mencoba untuk mengalihkan pandangan matanya kesekeliling tempat itu, namun terbukti hanya dia seorang yang berada disitu, bahkan bila dilihat dari posisinya yang sedang duduk, nyata kalau dia sana sekali tak bergerak...

Melihat hal ini, kakek Ou pun berpaling seraya berkata:

"Orang yang berada dalam ruangan ini hanya Ban kiam hweecu seorang, agaknya dia telah tertotok jalan darahnya!" Sembari berkata pelan-pelan dia berjalan menghampiri, namun Ban kian hweecu ternyata masih tetap duduk kaku ditempat semula tanpa berbicara maupun bergerak.

Kakek Ou mencoba untuk mendorong tubuh Ban kiam hweecu, maksudnya, ingin membebaskan pengaruh totokan dari tubuhnya. Siapa tahu begitu didorong, ternyata Ban Kiam hweecu roboh terjungkal keatas tanah.

"Bukk..!"

Begitu terjengkang mencium tanah, batok kepalanya segera terlepas dari badannya dan menggelinding kesamping.

Kakek Ou merasa amat terperanjat, serta merta dia memasang matanya dengan lebih seksama lagi.

Rupanya batok kepala yang menggelinding itu hanya berupa sebuah tengkorak belaka, kontan saja amarahnya berkobar, serunya lantang;

"Bedebah, rupanya cuma orang-orangan..."

Sambil mengumpat, dia mengayunkan telapak tangannya siap melancarkan serangan.

Tiba-tiba terdengar Liu Leng poo berseru, "Lotiang, cepat mundur keluar!!"

Ternyata ketika lepasan tengkorak itu menggelinding jatuh diatas tanah, mendadak dari lubang mulut, hidung, telinga dan matanya telah menyembur keluar lima gulung asap berwarna kuning, dalam waktu singkat asap kuning itu telah menyebar ke seluruh ruangan dengan cepatnya.

Begitu menyadari kalau gelagat tak menguntungkan, cepat-cepat kakek Ou menutupi pernapasannya, lalu secepat kilat melejit keluar dari balik ruangan.

Sekalipun gerakan tubuhnya cukup cepat, siapa tahu asap kuning itu jauh lebih cepat lagi, tahu-tahu saja ada sebagian dari asap kuning itu sudah menempel diatas pakaian yang dikenakan kakek Ou.

Disaat tubuhnya sedang menerjang keluar dari ruangan tadi, asap kuning itu masih tetap menempel diatas pakaiannya, malahan mengepul terus tiada hentinya, seakan-akan asap itu berhembus keluar dari balik tubuhnya.

Liu Leng poo segera sadar kalau gelagat tidak menguntungkan, cepat-cepat dia mengulapkan tangannya dan memerintahkan semua orang agar secepatnya mengundurkan diri dari situ.

Sementara itu kakek Ou juga telah mengetahui kalau tubuhnya telah terkena asap kuning, setelah berdiri tegak, sepasang telapak tangannya segera diayunkan berulang kali melancarkan pukulan-pukulan dahsyat, dia harus berjuang mati-matian sekian lama, sebelum akhirnya berhasil.

Liu Leng poo segera bertanya, "Lotiang, apakah kau telah mendengus sesuatu bau yang aneh?"

"Tidak hanya mendengus, sedikit sekali, tapi aku tak akan mengacuhkan hal ini "

Sementara masih berbicara, dia sudah melanjutkan langkahnya menuju keruangaa batu yang lain.

Kali ini dia mendorong pintu ruangan pelan-pelan, begitu terbuka, segera di temui bahwa keadaan maupun perabot yang berada dalam ruangan itu tak jauh berbeda dengan keadaan dalam ruangan pertama, hanya badannya disudut ruangan dekat meja, duduklah seorang kakek berjubah hitam

"Ohh...ayah...ayah.."

Mendadak terdeagar Liong Hiang kun menjerit lengking, lalu bagaikan orang kalap berlatih masuk kedalam ruangan itu.

Ternyata kakek berjubah hitam yang duduk bersandar meja itu tak lain adalah si Raja langit bertangan keji Liong Cay thian.

-oo0dw0oo-