-->

Persekutuan Pedang Sakti Jilid 23

Jilid 23

Setelah berhenti sejenak Liu Leng poo meneruskan kembali kata katanya:

"Hingga sekarang sudah tak sedikit jumlah orang-orang kita yang pergi tidak kembali lagi, semuanya sudah terjatuh ketangan mereka, boleh dibilang kejadian tersebut sudah merupakan suatu kerugian yang amat besar untuk pihak kita, oleh sebab itu aku pikir bila kita dapat membekuk pula pihak lawan yang menyerang kita malam nanti, kemungkinan besar posisinya bisa sedikit berubah."

Kakek Ou segera bertepuk tangan tanda setuju, teriaknya penuh kegirangan,

"Benar....benar, nona Liu memang tidak malu disebut Cu kat Liang diantara wanita, beberapa patah katamu meski sederhana tapi penuh dengan arti yang mendalam..

prinsipmu telah membangkitkan semangat kita semua didalam menghadapi lawan malam nanti."

Liu Leng poo segera tersenyum, katanya kemudian :

"Lotiang terlalu memuji."

Lalu sambil berpaling kearah Ma koan Tojin ia bertanya lagi

"Mula mula aku ingin bertanya dulu kepada toheng, sampai kini masih ada beberapa orang kiamsu yang masih berada di sini?"

"Yang datang bersama-sama kiamcu hanya tiga puluh enam orang saudara dari jago pedang berpita hijau selain dua puluh orang saudara yang pergi mengikuti khong beng taysu serta saudara To tadi, kini masih ada enam belas orang."

Liu Leng poo manggut-manggut.

"Ehmm jumlah kita masih terhitung cukup lumayan, dan sekarang aku rasa satu hal yang paling perlu kita lakukan dengan segera adalah setiap orang harus menelan obat penawar racun lebih dulu untuk mencegah jangan sampai keracunan ditengah lawan nanti."

"Kemudian langkah kedua adalah membagi tugas masing masing, didalam hal ini aku akan membeberkan dulu masalahnya kemudian baru mengajak kalian semua untuk merundingkannya bersama-sama sebelum diambil keputusan."

"Tak usah dirundingkan lagi" sela kakek Ou cepat,

"silahkan nona memberi komando, kita semua akan melaksanakannya tanpa membantah" Kam Liu cu yang selama ini hanya membungkam diri tanpa berbicara, tiba-tiba menyela pada waktu itu.

"Ji sumoay tidak usah sungkan-sungkan lagi, jika kau punya rencana baik, langsung saja diutarakan keluar"

"Siasat yang kumaksud adalah, 'Dengan palsu menjadi kenyataan' Makoan totiang bersama saudara Tam, adik dari keluarga Thio serta delapan jago pedang berpita hijau berjaga- jaga didalam gua batu ini, andaikata ada musuh tangguh yang menyerang gua, biar toa suheng dan aku yang keluar menghadapinya, Ma koan totiang hanya berjaga-jaga sambil melindungi kami dari sergapan lawan, asalkan musuh tidak menerjang masuk ke dalam gua, kita jangan sekali-kali turun tangan. "

Ma koan totiang adalah seorang jago kawakan yang sudah berpengalaman luas di dalam dunia persilatan, dia pun pandai sekali mengatur siasat, maka setelah mendengar pembicaraan dari Liu Leng poo tersebut, dia mengerti bahwa nona itu berniat mempertahankan gua batu ini.

Padahal gua batu itu hanya merupakan tempat sementara untuk beristirahat, berarti tempat ini sama sekali tidak penting artinya, mengapa harus dipertahankan mati-matian ?

Berpikir sampai disitu diapun segera bertanya:

"Liu lihiap minta kepada pinto untuk mempertahankan gua ini apakah ada petunjuk lain?"

"Ucapan toheng memang betul.." kata Liu Leng poo sambil tertawa "Gua ini mempunyai kegunaan lain bagiku."

Kemudian setelah berhenti sejenak, dia berkata lebih jauh:

"Sedangkan delapan orang jago pedang berpita hijau lainnya, harap toheng perintahkan untuk bersembunyi disisi kiri dan kanan hutan diluar gua sana. Tanpa mendapat perintah, mereka di larang untuk menampakkan diri."

"Pinto terima perintah."

"Enci Liu" seru Lak jiu im eng Thio Man pula, "Tam tayhiap serta siau moay yg bertugas menjaga didalam gua kan tak ada pekerjaan?"

"Adik dari keluarga Thio tidak usah terburu napsu, tak usah kuatir pokoknya kau pasti akan sibuk nanti." sahut Liu Leng poo sambil tertawa.

Kemudian sambil berpaling kearah kakek Ou, katanya pula ;

"Sekarang adalah tiba giliran lotiang, jarak enam-tujuh kaki dari sini bukankah terdapat beberapa batang pohon besar? Nah..lotiang boleh menyembunyikan diri diatas pohon, kalau bisa jangan sampai ketahuan orang."

"Tanah diluar gua ini tidak begitu luas, entah berapapun jumlah musuh yang datang nanti, biar aku serta toa suheng yang menghadapinya. "

Tidak sampai perkataan itu selesai di utarakan, kakek Ou sudah menyela sambil menggelengkan kepalanya berulang kali : "Tidak bisa, tidak bisa, masa nona suruh aku bersembunyi diatas pohon sambil menonton pertarungan?"

"Aku toh belum selesai berbicara, harap lotiang jangan lupa bahwa malam ini kita mempuyai satu tujuan."

"Baik, baik, katakanlah lebih jauh."

"Bukankah tadi sudah kukatakan, kalau bisa malam ini kita bekuk semua kawanan musuh yang menyerang tiba, oleh sebab itu disaat aku dan toa suheng menghadapi serangan musuh nanti, lotiang yang bersembunyi diatas pohon segera menggunakan ilmu totokan dari udara kosong untuk menotok jalan darah mereka satu persatu”

"Bagus...bagus... Siasat ini bagus sekali..." puji kakek Ou kegirangan.

Liu Leng poo segera berkata pula kepada Lok jiu ini eng Thio Man yang berada di sampingnya,

"Dan waktu itu, Ma koan toheng segera perintahkan empat orang kiamsu di bawah petunjuk saudara Tam dan adik dari keluar gua ini untuk membekuk mereka yang tertotok itu serta menyeretnya kedalam gua batu.

"Sebaliknya Ma koan totiang serta keempat kiamsu lainnya hanya bertugas untuk berjaga- jaga, kalian dilarang meninggalkan gua batu itu biar setengah langkah pun.

Andaikata para penyerang menarik diri dan segera mundur dari sini maka delapan jago pedang pita hijau yang bersembunyi dalam hutan segera turun tangan menghadang jalan mundur mereka begitu mendapat perintah dariku."

Tanpa terasa Ma koan tojin memuji tak hentinya setelah mendengar rencana mereka itu, katanya :

"Liu Lihiap, siasatmu ini benar-benar sempurna dan luar biasa dengan persiapan semacam ini, kita tak usah kuatir menderita kegagalan lagi pada malam nanti."

"Itu sih baru merupakan perhitunganku saja, bagaimana gerakan musuh nantinya , toh belum diketahui."

"Baiklah, Kita putuskan demikian saja." kata kakek Ou pula.

Selesai makan rangsum kering, Ma koan tojin segera membagi-bagikan obat penawar racun itu kepada setiap orang untuk ditelan.

Kemudian dia memerintahkan delapan orang jago pedang berpita hijau untuk menyembunyikan diri dalam

hutan sambil menunggu perintah, setelah itu baru mengundurkan diri.

"Sekarang waktunya sudah makin mendekat, aku rasa Ou lotiang juga harus pergi ke tempat tugas lebih dulu!"

kata Liu Leng poo kemudian, Kakek Ou segera tertawa,

"Nona tak usah kuatir, aku tak bakal sampai melakukan kesalahan didalam tugas." Selesai berkata diapun berjalan keluar dari gua itu.

Akhirnya Liu Leng poo baru berkata kepada semua orang,

"Mumpung masih ada waktu, harap kalian beristirahat sejenak sambil mengatur napas mungkin pada malam ini nanti kita tak punya waktu lagi untuk beristirahat."

Lentera didalam gua tersebut dipadamkan dan semua orang menurut perintah dengan duduk bersila didalam gua sambil mengatur pernapasan...

Lak jiu im eng Thio Wan betul-betul merasa sangat tegang, sebentar ia meraba pedangnya sebentar meraba senjata rahasia disakunya. Tak sedikitpun perasaannya dapat menjadi tenang.

Malam semakin larut, angin gunung berhembus makin kencang, suasana diluar gua terasa gelap gulita tak nampak setitik cahaya pun, malam itu adalah sebuah malam yang tanpa rembulan.

Setengah kentongan sudah lewat dengan begitu saja, namun belum nampak adanya sesuatu gerakan apapun.

Liu Leng poo mencoba untuk mengamati sekejap sekitar tempat itu, lalu berpikir dengan keheranan :

"Saat ini kentongan kedua sudah lewat, andaikata pihak lawan hendak melakukan sesuatu gerakan, saat inilah seharusnya waktu mereka untuk bertindak !"

Baru saja ingatan tersebut berkelebat lewat, tiba-tiba terdengar suara pekikan nyaring berkumandang datang dari kejauhan. Suara itu amat tajam dan melengking dan kedengarannya berasal dari bawah bukit sana.

Dengan perasaan terkejut Lak jiu im eng Thio Man segera berbisik lirih: "Enci Liu, mereka telah datang !"

"Tampaknya suara pekikan itu dipancarkan dengan ilmu menyampaikan suara yang berasal dari sebelah timur." kata Kam Liu cu pula "Orang yang berpekik itu paling tidak masih berada tiga li dari sini, namun suaranya bisa dipancarkan kemari tanpa membuyar, dari sini bisa dilihat betapa sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki orang itu."

Dengan perasaan kaget Ma koan tojin segera berkata :

"Ilmu menyampaikan suara? Waah...bukankah kepandaian itu sudah lama punah dari dalam dunia persilatan? Andaikata pihak lawan hendak melakukan penyerbuan secara sergapan, mengapa pihak lawan memperdengarkan suara pekikannya dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara? paling tidak kan suara pekikan tersebut dapat meningkatkan kewaspadaan kita?"

"Perkataan toheng benar juga" Kam Liu cu menanggapi

"Jangan lagi kita sudah membuat persiapan pada malam ini. Biarpun tanpa persiapan setelah mendengar pekikkan tajam tadi niscaya kita akan meningkatkan kewaspadaan"

"Betul... Situasi yang kita jumpai pada malam ini memang rada aneh." Lak jiu im eng Thio Man yang tidak mengerti segera turut bertanya pula, "Enci Liu. Apanya yang aneh dengan situasi pada malam ini?"

"Agaknya ada orang sedang memberi peringatan kepada kita." "Biar kutengok keluar!" kata Kam Liu cu kemudian.

Mendadak terdengar suara kakek Ou berkumandang dari jarak sejauh lima kaki dengan ilmu menyampaikan suara.

"Kam lote tak usah pergi, mereka telah datang!"

Waktu itu dia berada lima kaki dari gua, Namun semua pembicaraan dalam gua bisa terdengar olehnya, malah sempat memberi peringatan pula, kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki orang tua ini jelas mengerikan sekali.

Perkataan dari kakek Ou barusan dapat didengar setiap orang yang berada dalam gua, serentak mereka melompat bangun dan bersiap siaga sambil mengawasi diluar gua.

Ditengah kegelapan malam, tampak tiga gosok bayangan manusia munculkan diri dari kaki bukit, dalam waktu singkat mereka telah berada dimuka gua.

Ketiga orang itu mengenakan pakai berwarna hitam dengan kain kerudung muka berwarna hitam pula, sehingga yang nampak hanya sepasang matanya saja.

Dua orang yang berada disebelah kanan dan kiri membawa pedang terhunus, hanya orang di sebelah tengah yang bertangan kosong belaka, sebilah pedang tersoren dipunggungnya.

Ketiga orang itu baru berhenti setelah berada tiga kaki didepan gua, serentak mereka berdiri berjajar.

Dari perawakan tubuh ketiga orang itu, Kam Liu cu sudah mengetahui bahwa mereka bukan manusia biasa karena gerakannya begitu cepat dan ringan, tanpa terasa pikirnya :

"Agaknya ketiga orang ini bukan berasal dari selat Toh seh sia .." Sementara itu Liu Leng poo telah berbisik :

"To suheng. Mari kita keluar."

Kedua orang itu segera melangkah keluar bersama dari dalam gua.

Setibanya diluar ruangan gua, Kam Liu cu pun memberi hormat seraya menegur. "Sobat bertiga, ada urusan apa kalian datang kemari ditengah malam buta begini?"

Tiga orang manusia berkerudung hitam itu cuma berdiri dengan mulut membungkam, seakan- akan tidak mendengar teguran tersebut, bahkan tak seorang yang membuka suara.

Melihat hal ini Lu Leng poo segera berseru pula sambil tertawa dingin ;

"Sobat mengapa kalian sengaja mengenakan kain kerudung muka untuk menyembunyikan wajah aslinya?

Apakah kalian mempunyai sesuatu kejelekan yang takut diketahui orang?"

Tiga manusia berkerudung dengan keenam matanya cuma mengawasi kedua orang itu tanpa berkedip, mulut mereka tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Akhirnya Liu Leng poo berkata : "Harap toa suheng melindungi diriku, akan kutemui dulu ketiga orang ini."

Seusai berkata dia segera berjalan maju kedepan ketiga manusia berkerudung itu, lalu sambil mengulapkan tangannya dia membentak.

"Kalian bertiga boleh maju bersama-sama! "

Mendadak manusia berkerudung yang berada ditengah mengulapkan tangannya dua orang manusia berkerudung yang berada di sebelah kiri dan kanan itu segera melompat, kedepan tanpa mengucapkau sepatah kata pun, pedang mereka langsung diayunkan melancarkan tusukan kilat....

Liu Leng poo mendengus dingin, sepasang tangannya segera dipisahkan dengan jurus "Gadis langit menyebar bunga" langsung memunahkan dua serangan dari musuh.

Tampaknya kedua orang itu mempunyai kesempurnaan yang luar biasa didalam permainan ilmu pedang, begitu serangannya dipunahkan Liu Leng poo dua bilah pedang tersebut tiba-tiba berputar kekiri dan kanan lalu melancarkan serangan kembali.

Liu Leng poo sama sekali tak bergerak mundur, telapak tangannya diayunkan berulang kali melancarkan dua pukulan bertenaga lembut.

Lagi-lagi serangan pedang dari kedua orang itu berhasil dibendung semua.

Tidak sampai Liu Leng poo melancarkan serangan balasan, secepat kilat kedua manusia berkerudung itu memutar pedang masing masiug, kali ini didalam waktu singkat mereka telah melancarkan empat buah serangan berantai.

Kam Liu Cu merasa amat terperanjat setelah

menyaksikan permainan pedang lawan, tiba-tiba ia berseru

"Ji sumoay, Ilmu pedang yang mereka gunakan adalah Ji gi kiam hoat dari Bu tong pay.."

Begitu seruan itu berkumandang, manusia berkerudung yang berdiri dihadapannya itu segera mendesis dingin lalu mencabut pedangnya dan menerjang ke muka.

Tiga kuntum bunga pedang secepat sambaran petir menyerang tiga buah jalan darah penting ditubuh Kam Liu cu.

Kaget sekali Kam Liu cu menghadapi ancaman tersebut, pikirnya,

"Orang ini dapat menggunakan pedangnya sehebat dan sesempurna ini, aku tak boleh memandang enteng dirinya!"

Cepat-cepat telapak tangan kanannya di ayunkan kedepan melepaskan sebuah pukulan untuk membendung serangan pedang dari manusia berkerudung itu, lalu bentuknya lagi : "Apa hubunganmu dengan Bu tong pay?"

Manusia berkerudung itu sama sekali tidak berbicara, tiba-tiba saja pedangnya di ayunkan menciptakan selapis cahaya pedang yang sangat tebal dan menyerang kembali secara garang.

Tapi Kam Liu cu adalah murid tertua dari Thian sat bun, ilmu silat yang dimiliki telah mencapai tingkatan yang sempurna juga.

Biarpun serangan pedang dari manusia berkerudung itu sangat gencar dan hebat, toh tak berhasil mendesaknya mundur barang selangkah saja malah sebaliknya mengikutinya ayunan pukulannya, ancaman lawan itu segera buyar dan lenyap tak berbekas.

Setelah bertarung berapa gebrakan mendadak manusia berkerudung itu memperketat serangannya, cahaya pedang segera memancar kemana-mana membiaskan bayangan pedang setinggi bukit, diiringi desingan tajam yang memekikkan telinga langsung menyergap lawannya habis habisan.

Setelah bertarung beberapa gebrakan, Kam Liu cu segera sadar bahwa dibalik setiap jurus serangan yang dilancarkan pihak lawan semuanya mengandung tenaga pukulan yang sangat kuat.

Maka sambil melepaskan serangkaian serangan untuk membendung ancaman pedang lawan, diam-diam pikirnya dengan keheranan :

‘Tenaga dalam yang telah dimiliki orang ini paling tidak sudah mencapai puluhan tahun hasil latihan, mustahil dia adalah seorang anak buah perguruan Bu tong pay, tapi nyatanya jurus serangan yang dipergunakan adalah jurus-jurus ilmu pedang asli dari Bu tong pay ...’

Sementara dia masih termenung, Liu Leng poo yang bertarung melawan dua orang musuhnya dengan tangan kosong, setelah lewat beberapa gebrakan dia berhasil melancarkan ilmu sentilan mautnya serta merobohkan kedua orang lawan.

Pena baja Tam See hoa serta Lak jiu im eng Thio Man serentakan menerjang kemuka serta menawan kedua orang itu.

Siapa tahu pada saat itulah manusia berkerudung yang sedang bertarung melawan Kam Liu cu itu membentak keras, pergelangan tangannya digetarkan keras-keras menciptakan selapis cahaya pedang untuk melindungi seluruh badan, kemudian sambil meninggalkan Kam Liu cu, dia langsung menyerbu kedalam gua,

Kam Liu cu tertawa nyaring, dua buah pukulan dahsyat dilontarkan untuk mencegah gerakan diri manusia berkerudung itu,

Sekali lagi manusia berkerudung itu membentak keras, pedangnya diayunkan berulang kali dan menyerang Kam Liu cu semakin garang dan ganas lagi.

-oo0dw0oo- TAMPAKNYA dia sudah menyerang dengan penuh

amarah, selain serangan pedangnya bertambah dahsyat, pun dilepaskan secara bertubi- tubi.

Serentak Kam Liu cu merentangkan sepasang telapak tangannya melancarkan serangkaian pukulan berantai, dengan begitu dia baru berhasil membendung datangnya serangan bertubi-tubi lawannya.

Mendadak mencorong sinar tajam dari balik matanya, dengan suara menggeledek bentaknya; "Ilmu pedang Tay khek hui kiam! Sesungguhnya siapa kau?"

Perlu diketahui, ilmu pedang Tay khek hui kiam merupakan ilmu pedang simpanan dari Bu tong pay, kecuali seorang ciangbun jin, hanya para tianglo serta pelindung hukum yang berbakat saja boleh mempelajari kepandaian tersebut, bahkan menurut peraturan orang yang boleh mempelajari ilmu tersebut pun cuma dibatasi dua orang saja.

Dan sekarang, manusia berkerudung itu telah menggunakan ilmu simpanan dari Bu tong pay, hal ini membuktikan bahwa orang ini adalah salah satu diantara Bu liong sam cu.

Tapi diantara Bu tong sam Cu Thian goan cu berasal dari perguruan Siu lo bun. Kehebatan ilmu silatnya tidak berada di bawah kemampuan gurunya sendiri sudah jelas orang ini bukan Thian goan cu.

Sebaliknya Thian beng cu adalah ciang bunjin dari Bu tong pay, dia tak akan turun gunung begitu saja, sehingga hal ini pun tidak mungkin.

Sebaliknya Thian khi cu sudah terperangkap didalam selat Tok seh sia palsu semalaman....

Lantas orang ini adalah...

Kam Liu cu dengan mengandalkan sepasang tangan kosong bertarung seru melawan permainan pedang lawan, terutama sekali setelah pihak lawan mengeluarkan ilmu Tay khek hui kiam dari Bu tong pai yang sangat hebat itu, boleh dibilang untuk menangkap dirinya terasa sulit sekali.

Adapun pertarungan yang berlangsung di antara mereka pun tidak secepat dan seru, pada permulaan pertarungan itu lagi, mereka berdua bertarung makin lama semakin lambat.

Tapi dalam kenyataan juueru dibalik gerakan yang sangat lambat inilah kedua belah pihak sama-sama menggunakan jurus serangan masing-masing yang terhebat disertai segenap tenaga dalam yang dimilikinya, begitu hebatnya pertarungan tersebut, sehingga sedikit saja salah bertindak bisa berakibat fatal bagi lawannya.

Pada saat itulah tampak Lak jiu im eng Thio Man berlarian keluar dari dalam gua sambil berseru :

"Enci Liu, enci Liu... ternyata kedua orang manusia berkerudung itu adalah Keng hian suheng serta Keng siu suheng, padahal mereka berdua ikut terperangkap didalam selat Tok seh sia. "

Orang yang terjebak didalam selat Tok seh sia, ternyata malah membantu pihak Tok seh sia melancarkan sergapan, peristiwa semacam ini benar-benar luar biasa dan sama sekali tidak terduga oleh siapapun.

Liu Leng poo merasa terkejut sekali setelah mendapat laporan tersebut, sambil membalikkan tubuhnya dia berseru:

"Adik Thio, apakah kau tidak salah melihat? Hati-hati kalau muncul lagi manusia gadungan."

"Tidak bakal salah, mereka adalah benar-benar kedua orang suheng dari angkatan Keng." "Betul!!" seru Kam Liu cu tiba-tiba.

"Orang yang sedang bertarung melawan diriku sekarang bisa jadi adalah Thian Khi cu!"

Sepasang telapak tangannya segera dipentangkan lebar-lebar dan memberi perlawanan semakin gencar.

Waktu itu manusia berkerudung hitam tersebut sudah terdesak hebat sehingga cuma bisa mempertahankan diri belaka tatkala mendengar Kam Liu cu mengucapkan kata Thian Khi cu, ia nampak agak tertegun, kemudian serunya:

"Kau biang apa? Thian Khi cu?. Siapakah Thian Khi cu itu.?" "Kau bukan Thian Khi cu?" Kam Liu cu balik bertanya.

"Yaa, aku seperti merasa amat kenal dengan nama itu."

Berhubung gerak serangan pedangnya melambat, tak ampun lagi sebuah pukulan dahsyat dari Kam Liu cu segera bersarang di atas tubuh pedangnya.

"Criiingh.!"

Diiringi suara dentingan yang amat nyaring, pedangnya mencelat ketengah udara bagaikan bianglala perak dan terlempar jatuh keatas tanah.

Kam Liu cu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, tangannya segera diputar kencang melancarkan sebuah totokan kedepan.

Mendadak manusia berkerudung itu tersadar kembali dari lamunannya, cepat dia mengegos kesamping untuk menghindari serangan jari lawannya, bahkan telapak tangan kirinya diputar satu lingkaran langsung dibacokan ke tubuh Kam Liu cu.

Serta merta Kam Liu cu mengayunkan pula telapak tangannya untuk menyambut serangan tersebut dengan keras lawan keras,

"Blaaam... !"

Ditengah benturan keras, manusia berkerudung hitam itu segera meminjam tenaga pantulan yang dihasilkan untuk melejit kebelakang.

"Haa haa haaa...hendak kabur kemana sobat?" jengek Kam Liu cu sambil tertawa tergelak Ia membalikkan badan siap melakukan pengejaran.

Tapi saat itulah terdengar suara Kakek Ou membentak lirih : "Kam lote ada orang lagi!" Sesosok bayangan manusia meluncur turun dari tengah udara.

Liu Leng poo mendengus dingin, dia segera menjejakkan kakinya keatas tanah dan menyongsong kedatangan orang tersebut.

Tatkala menerjang turun dari atas udara tadi, yang menjadi sasaran orang itu sesungguhnya adalah Kam Liu cu. Karenanya saat serangan hampir mencapai kepala Kam Liu cu itulah tiba-tiba dia meloloskan pedangnya dan diiringi kilatan cahaya sinar ia langsung membacok ke bawah.

Liu Leng poo menerjang dengan gerakan yang tak kalah cepatnya, dia mencabut keluar pedangnya ditengah udara lalu diayun kedepan menyambut datangnya tusukan tersebut,

"Traaang, traaang, traaang...!"

Terdengar tiga kali bentrokan nyaring yang menimbulkan percikan bunga api ditengah udara.

Dalam waktu yang singkat kedua orang itu sudah saling bertarung sebanyak tiga gebrakan labih. Tiba-tiba bayangan manusia berpisah dan masing masing sudah melayang turun sejauh satu kaki dari posisi semula.

Menanti kedua orang itu sudah melayang turun ke atas tanah, semua orang baru dapat melihat jelas bahwa orang yang saling beradu pedang dengan Liu Leng poo ditengah udara tadi adalah seorang lelaki berkerudung hitam pula.

Tampak orang itu memiliki gerakan tubuh yang sangat ringan dan cekatan, begitu mencapai tanah ia segera mendesak maju lagi kedepan, pedangnya di putar kencang dan secara beruntun melancarkan beberapa buah serangan lagi.

Terkesiap juga perasaan Liu Leng poo setelah mengetahui bahwa orang itu berilmu silat sangat tinggi dan permainan pedangnya cepat bagaikan sambaran kilat, pikirnya :

"Ilmu pedang apakah ini?"

Berpikir sampai disitu, dia segera mengayun pula tangannya melancarkan serangan balasan.

Dalam waktu singkat terjadilah suatu pertarungan sengit diantara mereka berdua.

Semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata, tetapi pada saat itu pula bala bantuan lawan telah berdatangan semua dalam jumlah yang cukup besar.

Sebagai pemimpin adalah seorang manusia bertubuh jangkung yang menyoren pedang dipinggangnya, dua orang yang mengikuti dibelakangnya adalah seorang bertubuh gemuk sedang satunya lagi bertubuh kurus dan kecil.

Mereka bertiga mengenakan juga kain kerudung hitam sehingga tidak kelihatan raut wajah aslinya, tapi semua orang dapat mengetahui bahwa manusia bertubuh jangkung itu adalah congkoan jago pedang berpita hijau si sastrawan pemeluk pedang Buyung Siu yang bersama- sama Ban kiam hweecu terjerumus ke dalam selat Tok seh sia semalam. Sedangkan dari dua orang lainnya, yang gemuk jelas adalah Khong beng taysu, hu congkoan dari dari pasukan jago pedang berpita hitam sebaliknya yang kurus kecil adalah si naga tua berekor botak To Sam siu.

Dibelakang ketiga orang itu mengikuti pula dua puluh lelaki berkerudung hitam semuanya menyoren pedang dipunggungnya, kecuali kain kerudung yang menutupi wajah mereka, dilihat dari dandanannya sudah dapat diketahui bahwa mereka adalah pasukan jago pedang berpita hijau dari perkumpulan Ban kiam hwee.

Atau dengan perkataan lain, mereka tak lain adalah kedua puluh orang jago yang lenyap sore tadi.

Tentu saja kenyataan yang muncul di hadapan mereka ini membuat Liu Leng poo sekalian terasa amat terperanjat.

Setelah tertegun berapa saat, Kam Liu cu segera maju menyongsong snmbil bentaknya keras-keras :

"Yang datang apakah Buyung congkoan?"

Orang yang berada ditengah itu sama sekali tidak menjawab, tiba-tiba saja ia mencabut pedangnya dengan satu gerakan amat cepat, lalu diiringi kilatan cahaya tajam, sebuah tusukan kilat sudah dilancarkan.

Cepat-cepat Kam Liu cu menangkis serangan tersebut dengan sebuah pukulan dahsyat kemudian bentaknya :

"Buyung congkoan, apakah kalian sudah dipengaruhi orang lain hingga kehilangan kesadaranmu?"

Dalam bentakan tersebut, orang itu sudah melancarkan tiga buah serangan kilat secara berantai, cahaya pedang bagaikan daun yang berguguran meluncur keluar tiada hentinya, sunggug dahsyat ancaman ini.

Kam Liu cu terdesak mundur sejauh dua langkah dari posisi semula.

Tentu saja dia cukup mengetahui akan kelihayan dari si sastrawan pemeluk pedang ini sehingga tak berani melayani dengan tangan kosong belaka, cepat-cepat dia mencabut pedang pendek dan membendung datangnya ancaman.

Begitu sastrawan pemeluk pedang sudah turun tangan, dua manusia berkerudung gemuk dan kurus yang berada dibelakangnya segera meloloskan pula senjata masing-masing serta maju menyongsong dengan langkah lebar.

Senjata yang digunakan lelaki gemuk itu adalah sebilah golok Ciat to, sedangkan senjata yang digunakan si kurus adalah sebuah senjata cakar naga.

Di tinjau dari dua macam senjata tersebut, terbuktilah sudah bahwa mereka berdua benar- benar adalah Thi lohan

Khong Beng taysu serta si naga tua berekor botak To Sam siu.

Sementara itu dua puluh orang lelaki berkerudung lainnya telah meloloskan pula senjata masing-masing sambil menyerbu kedepan. Ma koan tojin serta delapan jago pedang berpita hijau yang berjaga-jaga diluar gua menjadi terkejut bercampur gelisah setelah menyaksikan peristiwa ini, sambil berpaling ia segera berseru;

"Sudara Tam dan nona Thio tetap berada didalam gua, biar pinto keluar untuk menyambut mereka."

Lalu kepada kedelapan jago pedang berpita hijau itu serunya pula, "Kalian ikuti aku!"

Setelah bergerak maju kemuka untuk menyongsong serbuan tersebut, bentaknya dengan suara dalam.

"Engkoh tua berdua, apakah kalian telah diselomoti lawan..?"

Lelaki gemuk dan kurus itu tidak berbicara, mendadak mereka memisahkan diri lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka lancarkan serangan gencar kedepan.

Begitu juga dengan si kurus, tanpa membuang waktu cakar naganya langsung mengancam ke arah dada.

Ma koan tojin menjadi kaget sekali, teriaknya lagi keras-keras: "Hey, apakah kalian sudah gila semua?"

Dalam waktu singkat sudah bertarung seru melawan kedua orang rekannya ini.

Dalam pada itu kedua puluh orang manusia berkerudung lainnya telah membubarkan diri, setelah melewati Mi koan tojin, mereka langsung menyerbu kearah delapan orang jago pedang berpita hijau lainnya.

Serentak ke delapan orang jago pedang berpita hijau itu menggetarkan pedang masing- masing, seraya berseru keras:

"Empat samudra berasal satu sumber, selaksa pedang menjadi satu..."

Inilah slogan dari orang-orang Ban kiam hwee, semestinya bila orang-orang itu berasal dari Ban kiam hwee maka serentak mereka akan berhenti sambil balas mengucap dengan slogan yang sama.

Tapi dalam kenyataan kedua puluh orang manusia berkerudung itu tetap bergerak maju ke depan, mereka seolah-olah tidak mendengar slogan tersebut, malahan sambil mengayunkan pedang, orang-orang itu langsung melancarkan serangan.

Dalam waktu singkat terjadilah pertarungan massal yang amat seru, bentrokan senjata yang amat nyaring bergema silih berganti, suasana disitupun menjadi amat ramai....

Sesungguhnya semua peristiwa ini berlangsung dalam sekejap mata, waktu itu Liu Leng poo baru bertarung sebanyak tiga puluh gebrakan melawan lelaki berkerudung tadi, Ia merasa gerak serangan lawan makin lama semakin bertambah aneh, hal ini membuatnya merasa gelisah sekali.

Ketika dia mencoba memeriksa keadaan di sekitar situ, ternyata pertarungan massal sudah terjadi, padahal kakek Ou yang bersembunyi diatas pohon sama sekali tidak melakukan sesuatu gerakan pun. Kesemuanya ini membuat kecurigaannya semakin bertambah.. Di kala pikirannya bercabang itulah, mendadak dia merasa pedang ditangannya seolah-olah tergiling oleh gerakan pedang lawan sehingga pertahanannya terbuka lebar.

Disusul kemudian cahaya pedang tampak berkelebat, tahu-tahu ujang pedang lawan sudah berada didepan dadanya.

Dengan perasaan yang kaget sekali Liu Leng poo segera menjerit tertahan, "Kau adalah Wi siauhiap!!"

Dalam kagetnya telapak tangan kirinya segera diayunkan kemuka menghantam tubuh pedang tersebut

"Crriinnggg...!"

Diiringi suara dentingan nyaring, pedang dari manusia berkerudung itu sudah kena tertangkis olehnya.

Begitu berhasil dengan serangannya, Liu Leng pco tidak memberi kesempatan lagi kepada lawannya untuk berganti jurus, tangan kanannya dengan jurus Tay ho membalik ke muda, dia putar pedangnya seratus delapan puluh derajat kemudian secepat petir menotok jalan darah Cian keng hiat dibahu lawan.

Setelah mengetahui bahwa orang yang sedang bertarung melawannya tak lain adalah Wi Tiong hong yang lenyap sore tadi, terpaksa dia harus menotok jalan darahnya dengan gagang pedang.

Akan tetapi ilmu silat yang dimiliki manusia berkerudung itu pun sangat hebat, begitu pedangnya kena di hantam oleh serangan balasan dari Liu Leng poo, dia tidak menjadi panik karena ancaman tersebut, mendadak tubuhnya bergerak mundur sejauh tiga langkah. 

Kemudian telapak tangan kanannya disiapkan dan melancarkan sebuah pukulan yang sangat kuat ketubuh Liu Leng poo.

Tentu saja Liu Leng poo pun dapat mengenali kepandaian itu sebagai ilmu andalan dari Wi Tiong hong yakni Siu lo to.

Dengan sigap dia berkelebat kesamping untuk menghindarkan diri, lalu bersiap sedia lagi menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara kakek Ou bergema dari sisi tubuhnya, "Nona Liu, cepat bekuk dia."

Sebelum manusia berkerudung itu sempat mengeluarkan ilmu Siu lo tonya, mendadak sambil mendengus tertahan tubuhnya roboh terjungkal keatas tanah.

Begitu mendengar suara kakek Ou, Liu Leng poo tak berani berayal lagi, cepat-cepat dia melompat kedepan mencengkeram manusia berkerudung itu, kemudian secepat hembusan angin mengundurkan diri kedalam gua.

Tam See hoa segera maju menyambut kedatangannya. Dengan suara lirih Liu Leng poo berbisik, "Saudara Tam, orang ini adalah Wi siauhiap, cepat kau bopong dia masuk ke dalam."

Tam See hoa amat terkejut setelah mendengar perkataan itu, cepat-cepat dia menerima tubuh manusia berkerudung itu.

Waktu itu Liu Leng poo tak ada waktu untuk banyak berbicara lagi, sebab pertarungan massal sudah terjadi, sedang lawannya tak lain adalah rekan-rekan mereka

sendiri yang pikirannya terpengaruh, dia kuatir dengan jago pedang berpita hijau itu bukan tandingannya.

Maka setelah menyerahkan Wi Tiong hong ketangan Tam See hoa, cepat-cepat dia lari keluar lagi.

Sementara itu dengusan tertahan telah bergema silih berganti, kembali lima-enam orang yang sudah roboh tertotok.

Melihat hal ini, cepat-cepat dia berseru keras,

"Para cuangsu berpita hijau, kalian berusahalah membekuk mereka, tak usah dilayani lagi pertarungannya"

Dalam bentakan mana tubuhnya mendesak kemuka sambil mengayunkan pedangnya berulang kali, sementara jari tangan kirinya bekerja capat menotok roboh dua orang lawan.

Rupanya kedelapan jago berpita hijau itu mati kutunya, sebab mereka tahu kalau orang yang dihadapi adalah rekan-rekan sendiri mereka tak tega untuk saling membantai diantara rekan sendiri.

Itulah sebabnya si nona ini mereka cuma menangkis belaka tanpa berusaha untuk melancarkan serangan balasan.

Sebaliknya pihak lawan justru menyerang dengan sepenuh tenaga, dengan kekuatan delapan orang melawan dua puluh orang otomatis mereka merasa sangat kepayahan.

Di tengah mereka bertahan dengan susah payah itulah tiba-tiba mereka jumpai rekan- rekannya yang berkerudung seorang demi seorang roboh terjungkal keatas tanah.

Apalagi setelah mendengar seruan dari Liu Leng poo, tanpa terasa semangat mereka berkobar kembali, serentak

mereka turun tangan mengempit rekan-rekannya yang tertotok serta mengundurkan diri dari situ.

Ketika Liu Leng poo maju kedepan, kebetulan sekali dia bertemu dengan tujuh-delapan orang manusia berkerudung yang sedang mengejar, pedangnya langsung diayunkan kian kemari serta melakukan serangkaian serangan yang dahsyat.

Diantara sekian orang, pertarungan antara Kam Liu cu melawan sastrawan pemeluk pedang berlangsung paling seru, disekitar tubuh mereka berdua tampak cahaya pedang berkilauan, sehingga sulitlah untuk melihat dengan jelas bayangan tubuh mereka.

Ma koan tojin sendiri yang seorang diri harus menghadapi kerubutan dari Thio Lohan Khong beng taysu serta naga tua berekor botak To Sam Siu merasa kepayahan sekali, mulai keteteran hebat sehingga hatinya menjadi sangat gelisah.

Dalam situasi yang amat kritis itulah, mendadak terdengar Si naga tua berekor botak To Sam siu mendengus tertahan lalu roboh terjengkang keatas tanah, ia menjadi amat girang dan cepat-cepat mengayunkan ujung bajunya melepaskan dua pukulan yang menahan sepasang golok dari Thio lo han Khong beng taysu, lalu dengan suara keraa bentaknya:

"Kalian cepat bawa pergi tubuh To loko!"

Seorang jago pedang berpita hijau cepat-cepat lari mendekat dan membopong tubuh To Sam siu untuk dilarikan ke dalam gua.

Thi lohan Khong beng taysu membentak keras sambil menerjang ke muka, sekali lagi dia terlibat dalam pertarungan yang amat seru melawan Ma koan tojin.

Dalam pada itu kakek Ou telah melepaskan totokan udara kosongnya secara beruntun untuk merobohkan belasan orang lawan, ketika dilihatnya situasi sudah teratasi, dia pun menotok jalan darah To San sin, tetapi pada saat itu juga terasa olehnya segulung desingan hawa serangan yang amat tajam menyergap tiba dari belakang.

Belum lagi angin serangan tiba, terasa desingan tajam telah menderu-deru yang membuat dahan dan ranting dibelakang tubuhnya terpapas kutung oleh cahaya pedang tersebut.

Dengan perasaan terkejut cepat-cepat dia menarik napas panjang sambil melejit ke udara, disitu dia berjumpalitan dan menoleh kebelakang, tampaklah serentetan cahaya pedang diiringi kelebatan bayangan manusia sudah menerjang tiba dengan cepatnya.

Tanpa terasa ia tartawa tergelak:

"Haah.. haah..haah....sudah sedari tadi ku nantikan dirimu!" Dengan suatu gerakan cepat ia cengkeram belakang tubuh orang itu.

Ketika gagal dengan tusukan pedangnya ternyata orang itu memutar badan mengikuti gerakan pedangnya itu, dengan suatu gerakan yang sangat ringan dia berkelit kesamping, sesudah itu pedangnya kembali diputar membabat pergelangan tangan kakek Ou.

Melihat hal itu, kakek Ou tertawa terbahak-bahak:

"Untuk menghadapi diriku, kau perlu memiliki nyali yang cukup besar.."

Dengan kelima jari tangan yang dipentangkan lebar-lebar dia cengkeram pedang tersebut dengan keras lawan keras.

Terdengar orang itu menjerit kaget dan cepat-cepat menarik tangannya sambil melompat kebelakang, lalu sambil merendahkan badannya mendadak dia melayang kebawah pohon.

Bagaikan seekor butung rajawali yang mengincar anak ayam, kakek Ou segera menukik kebawah sambil menubruk.

Gerakan tubuh orang itu benar-benar sangat ringan dan cekatan, begitu mencapai permukaan tanah dia segera membentak nyaring, cahaya pedangnya berkelebat dan langsung menyambar sepasang kaki kakek Ou. Berada ditengah udara tak mungkin bagi kakek Ou untuk menghindarkan diri, dan dia menekuk tubuh lalu kaki kirinya menendang secara tiba-tiba.

"Criiinng.!"

Pedang itu terkena tendangan secara tepat sehingga mencelat ke udara bagaikan sebuah bianglala berwarna perak,

Tampaknya orang itu tidak menyangka kalau ilmu silat yang dimiliki lawannya begitu hebat, sambil menjerit kaget cepat-cepat dia melarikan diri kesisi kiri hutan seperti seekor burung walet.

Dalam pada itu situasi dalam arena sudah terjadi suatu perubahan yang sangat besar, dua puluhan orang manusia berkerudung itu sudah tertotok roboh secara beruntun sisanya sejumlah belasan orang meski masih bertarung sengit namun oleh serangan pedang Liu Leng poo yang bertubi tubi sudah terdesak hingga tak banyak pula.

Sementara itu pertarungan antara Ma koan tojin melawan Thio lohan Khong beng hweesio pun sudah

terjadi perubahan, dia mulai menempati posisi yang lebih menguntungkan.

Hanya pertarungan antara Kam Liu cu melawan sastrawan pemeluk pedang saja masih berlangsung cukup sengit, karena orang itu sudah bertarung hampir ratusan gebrakan lebih tanpa berhasil menentukan siapa yang jauh lebih unggul.

Mendadak dari hutan sebelah kanan terdengar bunyi sumpritan yang ditiup keras-keras,

Begitu suara sumpritan itu bergema, kawanan manusia berkerudung yang masih bertarung sengit itu mendadak seperti memperoleh perintah, sambil berteriak keras, serentak mereka menarik diri kebelakang dan berusaha untuk melarikan diri.

Liu Leng poo segera mengayunkan pedangnya berulang kali menciptakan selapis cahaya pedang yang berlapis-lapis, teriaknya keras keras:

"Kalian cepat halang kepergian orang-orang itu..."

Manusia berkerudung yang bertarung melawan Kam Liu cu itu sudah meraung penuh amarah, pedangnya dayunkan berulang kali memaksa gerakan pedang Kam Liu cu terbendung, kemudian secara tiba-tiba tubuhnya melejit ketengah udara dan meluncur pergi.

Gerakan tubuhnya benar-benar sangat cepat, hanya didalam berapa kali lompatan saja bayangannya sudah lenyap tak berbekas.

Kedelapan sembilan orang manusia berkerudung yang masih tersisa itu berniat kabur pula dan situ, tapi dua diantaranya berhasil dirobohkan oleh Liu Leng poo, sementara sisanya sudah keburu melarikan diri turun gunung.

Delapan jago pedang berpita hijau yang bersembunyi didalam hutan berniat maju menghadang pula, namun berhubung semua orang adalah orang sendiri, mereka segan untuk menghalanginya, terpaksa orang-orang itu dibiarkan berlalu dengan begitu saja.

Tinggal Toa lo han seorang yang tak mampu meloloskan diri, karena serangan gencar dari Ma koan tojin membuatnya sama sekali tak mampu berkutik.

Sementara itu, Liu Leng poo baru saja merobohkan dua orang manusia berkerudung tatkala dilihatnya Thio lo ban khong beng hwesio masih bertempur seru melawan Ma koan tojin, serta merta dia membalikkan badan dan menotok jalan darahnya.

Terdengar ujung baja terhembus angin bergema tiba, tampak sesosok bayangan manusia melayang turun dari tengah udara, ternyata orang itu adalah kakek Ou.

Dia muncul sambil mengempit seseorang, ketika sorot matanya dialihkan kesekeliling tempat itu, segera tanyanya:

"Berapa orang yang berhasil melarikan diri?" "Kurang lebih ada delapan sampai sembilan orang." jawab Kam Liu cu cepat,

"Aai, kalau dibilang sungguh memalukan, aku tak berhasil menghadang kepergian Buyung congkoan."

Liu Leng poo yang sedang membereskan rambutnya yang kusut segera berkata sambil tertawa;

"Justru kesulitan kita terletak pada pertarungan itu sendiri, kita hanya bisa membekuk mereka hidup-hidup dan tak dapat melukainya, padahal ilmu pedang yang dimiliki Buyung congkoan sangat hebat, sudah barang tentu bukan

suatu pekerjaan yang gampang uptuk membekuknya hidup-hidup."

"Lotiang, siapakah orang ini?" tanyanya kemudian sambil berpaling kearah orang yang berada dalam kempitan kakek Ou.

"Dia adalah seorang wanita, ilmu silat yang dimilikinya tangguh sekali!" "Kalau begitu mari kita masuk dulu sebeium dibicarakan lebih lanjut.."

Semua orang segera masuk kedalam gua, sementara itu Tam See hoa serta Lak jiu im eng Thio Man telah merobek pula kain kerudung hitam yang dikenakan orang-orang itu.

Kawanan manusia yang tertotok itu duduk berjajar disisi kanan gua dengan mata terbelalak lebar-lebar.

Diantaranya nampak Keng hian totiang, Keng siu totiang dari Bu tong pay, Thi lo ban Khong beng hwesio, Wi Tiong hong, naga tua berekor botak To Sam siu serta dua belas orang jago pedang berpita hijau..

Dengan kening berkerut Ma koan tojin segera berkata:

"Aku lihat persoalan ini cukup hebat. Tampaknya mereka sudah dicekoki dengan obat pemabok sehingga sama sekali kehilangan kasadarannya..."

"Mari kita periksa dulu siapakah orang ini?" kata kakek Ou kemudian.

Dia menurunkan orang yang berada dalam kempitannya itu, lalu dengan cepat merobek kain kerudung yang menutupi wajahnya.

Begitu dirobek kain kerudungnya maka tampaklah selembar wajah yang ayu dan mungil. Ternyata dia tak lain adalah Hek bun kun Cho Kiu moay.

Setelah memandang sekejap kearah nona itu, kakek Ou segera berseru: "Bukankah dia adalah salah seorang dayang dari Ban kiam hweecu..?" "Benar, dia bernama Hek bun kun Cho Kiu moay" sahut Liu Leng poo cepat.

"Tak heran kalau ilmu pedang maupun ilmu meringankan tubuhnya sangat tangguh. Hhmmnn....Malam ini Ban kiam hweecu tidak ikut datang..!"

Mendadak Liu Leng poo seperti teringat akan sesuatu, dia segera berpaling ke arah Ma koan tojin sambil ujarnya,

"Saudara Toheng, tolong kumpulkan juga kedelapan jago pedang berpita hijau yang berada didepan hutan sana, aku ingin berbincang-bincang dengan mereka."

Ma koan tojin mengangguk, ia segera memanggil seorang jago pedang berpita hijau untuk melaksanakan perintah tersebut.

Dalam pada itu Lak jiu im eng Thio Man sedang bermuram durja, tiba-tiba dia mengangkat kepalanya dan bertanya dengan kening berkerut kencang,

"Enci Liu, sekarang mereka sudah terkena obat pembingung sukma, apa yang mesti kita lakukan?"

"Tidak apa-apa, bukankah kita sudah meramu sebungkus besar bubuk obat?" seru kakek Ou cepat, "Obat itu adalah obat emas penolak racun dari Lam hay bun kami, aku rasa obat pembingung sukma bukan obat yang kelewat ganas, asal diberi sedikit obat itu, niscaya mereka akan menjadi sadar kembali."

"Begitu manjurkah obat tersebut?" tanya Lak jiu im eng Thio Man gembira.

"Pil emas penolak racun dari Lam hay bun merupakan obat mujarab yang dapat memunahkan pelbagai macam racun di dunia ini, sebab itulah setiap orang yang ahli dalam penggunaan racun tentu akan pusing kepala bila menghadapi Lam hay bun kami sebab racun mereka tak pernah akan berfungsi secara baik."

Dengan cepat Ma koan tojin mengeluarkan bungkusan obat itu dan Tam See Hoa serta Thio Man pun segera bekerja untuk mencekokkan ke mulut masing-masing orang.

Sementara itu jago pedang berpita hijau yang mendapat perintah tadi telah berjalan balik kepada Ma koan tojin katanya sambil memberi hormat:

"Lapor congkoan, saudara-saudara yang berada dibawah telah datang semua." "Suruh mereka masuk."

Jago pedang berpita hijau itu mengiakan dan segera berjalan menuju ke depan gua, lalu serunya.

"Congkoan mempersilahkan kalian masuk." Kedelapan orang jago pedang berpita hijau itu serentak masuk kedalam gua. Ma koan tojin pun menuding ke arah Liu Leng poo seraya berkata;

"Nona ini adalah Liu lihiap dari Thian sat bun, keberhasilan kita pada malam ini sebagian besar adalah berkat petunjuk dan pemimpin dari Liu lihiap, sekarang dia hendak membicarakan sesuatu dengan kalian semua."

Kedelapan orang jago pedang berpita hijau itu serentak menjura pada Liu Leng poo. Sambil tertawa Liu Leng poo berkata:

"Apa yang hendak kukatakan tertuju juga untuk kedelapan jago yang berada digua ini."

Kedelapan jago pedang berpita hijau yang berada dalam gua serentak memberi hormat seraya berseru:

"Kami semua siap menanti perintah dari lihiap"

Sambil menunjuk ke sisi kanan ruang gua itu Liu Leng poo berkata kemudian:

"Tadi kita telah berhasil menangkap dua orang toyu dan Bu tong pay, Wi siauhiap, Khong beng taysu, To loko serta sepuluh orang jago pedang berpita hijau, kemudian panglima sakti berlengan emas Ou lotiang pun berhasil membekuk nona Cho, sekarang semua yang berhasil ditangkap berada disini. Selain itu diantara yang muncul malam ini masih terdapat Thian ki cu totiang dari Bu tong pay serta Buyung congkoan kalian, aku rasa tentu kalian sudah melihat sendiri bukan?"

"Sudah!" kembali ke enam belas jago pedang berpita hijau itu menjawab bersama.

"Dan tentunya kalian pun sudah melihat bahwa mereka telah terpengaruh kesadarannya bukan?" sekali lagi Liu Leng poo bertanya.

-oo0dw0oo-

Ke enam belas orang jago pedang berpita hijau itu kembali mengangguk. "Yaa...sudah melihat."

"Bagus sekali kalau begitu." ucap Liu Leng poo tertawa,

"Situasi yang kita hadapi malam ini sesungguhnya berbahaya sekali, pihak lawan tak muncul sendiri untuk menghadapi kita sebaliknya justru menggunakan obat-

obatan untuk mempengaruhi rekan-rekan kita sendiri kemudian dipakai untuk menghadapi kita, ini namanya siasat adu domba yang sangat jahat dan keji..."

Kemudian setelah berhenti sejenak, pelan-pelan sorot matanya dialihkan ke wajah ke enam belas jago pedang berpita hijau itu, lanjutnya;

"Kalian sebagai para jago pedang berpita hijau dari ban kiam hwee tentunya sudah memahami pula akan permainan busuk ini tanpa mesti kujelaskan lagi, tapi berhubung situasi yang kita hadapi betul-betul berbahaya sekali, mau tak mau aku mesti memperingatkan sekali lagi kepada kalian."

"Adapun sistim perlawanan yang kita pakai sekarang adalah menggunakan sikap tenang untuk menghadapi setiap perubahan, entah situasi macam apa pun yang kita hadapi, harap kalian jangan bertindak ceroboh atau panik sehingga kesempatan itu dipergunakan lawan."

Tiba-tiba seorang jago pedang berpita hijau bertanya,

"Bolehkah kami tahu kemungkinan apakah yang akan dilakukan pihak lawan didalam menghadapi kita pada malam nanti?"

"Soal ini sulit untuk dikatakan, orang kita masih banyak yang berada ditangan lawan, lagi pula kesadarannya terpengaruh, setiap saat bisa jadi kita akan mendapatkan serangan mereka."

"Liu lihiap bermaksud menghadapinya dengan cara bagaimana?" Kembali seorang jago pedang berpita hijau bertanya.

"Kalau berbicara soal jumlah kekuatan, kita masih mampu untuk menghadapi mereka, sekalipun dipihak

lawan terdapat jago-jago yang hebat, jangan harap mereka bisa peroleh keuntungan apa- apa dari kita, tapi yang paling dikuatirkan adalah perbuatan licik orang itu, bukankah kita masih mempunyai orang yang terjatuh di tangan mereka?

Oleh sebab itulah kuharap disaat kalian bertemu dengan siapa saja, jangan sekali-kali sampai membiarkan dirinya terperangkap oleh siasat lawan."

Serentak keenam belas orang jago pedang berpita hijau itu menjawab bersama; "Segala sesuatunya kami akan menuruti perkataan Liu lihiap.."

Liu Leng poo segera tertawa.

"Asalkan kalian bersedia mengingat baik-baik ucapanku itu sudah cukup, sekarang kalian pun tak usah bersembunyi didalam hutan lagi, silahkan berjaga-jaga didepan gua. Apa bila musuh datang lagi biar aku dan kakek Ou yang menghadapi"

Keenam belas orang jago pedang berpita hijau itu segera mengiakan, lalu satelah memberi hormat, mereka bersama-sama mundur dari gua itu,

Sepeninggal keenam belas orarg jago pedang itu, Ma koan tojin baru bertanya:

"Kalau dilihat dari sikap Liu Lihiap yang tidak mengijinkan mereka berjaga-jaga lagi didalam hutan, tapi menghuninya disini. Apakah Liu lihiap beranggapan bahwa musuh akan datang menyerang lagi secara besar-besaran?"

Liu Leng poo segera menggeleng,

"Bukan begitu, aku cuma menganggap orang-orang Tok seh sia lebih menguasahi keadaan disini. Mustahil mereka akan menyerang secara besar-besaran, tapi bisa jadi akan

menggunakan siasat yang lebih keji lagi untuk menghadapi kita. Oleh sebab itu mau tak mau kita mesti berjaga-jaga.."

"Bagaimana nona Liu akan mengatur orang? Apakah masih seperti pembagian tugas tadi?" tanya kakek Ou.

"Tidak perlu, enam belas jago pedang berpita hijau sudah berjaga-jaga diluar gua, lebih baik kita menunggu disini saja."

"Enci Liu" Lak jiu im eng Thio Man berkata pula,

"Setelah diberi obat penawar racun, mengapa hingga sekarang mereka belum sadar juga..?" "Mungkin daya kerja obat itu belum menyebar.." sahut Liu Leng poo cepat.

"Tidak benar, pil emas penolak racun kami merupakan obat penawar racun yang mujarab sekali, racun yang bagaimana pun kejinya, cukup didalam seperminum teh saja dapat di punahkan. Sekalipun hari ini obat obat tersebut diramu seadanya sehingga kemujarabannya tidak bisa menandingi obat yang dibuat majikan kami sendiri, tapi seharusnya obat pembingung sukma dari Tok seh sia dapat dipunahkan."

"Tapi sampai sekarang sudah lewat dua per minum teh lamanya, mengapa tidak nampak berkasiat?" tanya Lak jiu im eng Thio Man lagi.

Kakek Ou segera garuk-garuk kepalanya yang tak gatal, ujarnya kemudian,

"Waah, kalau soal itu mah sulit untuk kujelaskan lagi, kecuali kalau mereka bukan terkena obat racun pembingung sukma"

"Ya benar!" kata Liu Leng poo pula, "Mungkin obat pembingung sukma yang mereka telan bukan termasuk jenis obat racun."

Kakek Ou tertawa dan gelengkan kepalanya berulang kali, segera ujarnya kembali:

"Padahal setiap obat pembingung sukma termasuk racun, asalkan obat itu mengandung unsur racun, pil emas penolak racun pasti dapat memunahkannya."

Kam Liu cu termenung sejenak, kemudian katanya;

"Ji sumoay, apa yang diucapkan Ou lotiang betul juga, mungkin yang di berikan Liong Cay thian kepada mereka bukan bubuk pembingung sukma buatannya tapi benda lain."

"Tapi bagaimana cara mereka untuk menghilangkan kesadaran orang-orang itu?" seru Liu Leng poo tertegun,

"Apakah ji sumoay sudah lupa dengan anggota perguruan Kiu siang bun yang berhasil melarikan diri sore tadi? Dilihat dari kesemuanya ini, besar kemungkinannya Kiu siang poo memang berada didalam selat tersebut."

Liu Leng poo segera mengangkat kepalanya dan berkata:

"Maksud toa suheng, mereka sudah terluka oleh suatu ilmu sesat dari siluman tua Kiu Siang itu?"

Kam Liu cu manggut-manggut.

"Yaa, menurut apa yang kuketahui, ilmu silat dari perguruan Kiu siang bun sangat aneh dan beraneka ragam, bisa jadi orang-orang itu sudah dilukai oleh ilmu saktinya." "Yaa, akupun jadi teringat dengan perkataan majikan tua dulu, konon dalam dunia persilatan terdapat semacam ilmu sakti yang bisa membuat orang lain kehilangan kesadaran otaknya hingga menurut saja dengan perintah orang yang

melakukan ilmu tersebut, seandainya benar-benar terluka oleh ilmu tadi, majikan kami tentu bisa mengobatinya..."

Yang dimaksudkan, "majikan tua" olehnya adalah ciangbunjin Lam hay bun angkatan yang lalu, sedangkan

"majikan" adalah ketua sekarang, So Siu jiu.

Sementara itu Lak jiu im eng Thio Man kelihatan gelisah sekali setelah melihat pil emas penolak racun sama sekali tak berhasil menolong orang-orang itu, cepat tanyanya.

"Apakah tak ada obat penawarnya? Lantas bagaimana sekarang?"

-oo0dw0oo-