-->

Persekutuan Pedang Sakti Jilid 13

Jilid 13

SELAMA RATUSAN TAHUN BELAKANGAN ini.

orang hanya berhasil mempelajari yang 'Sam-yang-kiu-khi'

tapi belum pernah ada berhasil mempelajari ilmu Sam yang Khi-kang.

Dan sekarang, telapak tangan sikakek ceking itu sudah berubah menjadi semu merah ini berarti yang dilatihnya adalah sebangsa ilmu pukulan yang beracun yang amat berbahaya.

Dalam pada itu sikakek ceking tadi sudah mengangkat telapak tangan kanannya, ia pelan- pelan dan siap melepaskan serangan pukulan, tiba-tiba dia mendongakkan kepalanya seraya bertanya:

"Tua bangka, Apakah kau baru saja mundur dari jalan gunung sebelah utara?" "Benar."

"Dan kaupun baru saja bertarung melawan suhengku ?" "Benar, kami sudah bentrok sebanyak lima pukulan."

Kakek ceking itu manggut-manggut, sementara telapak tangannya segera ditarik kembali, katanya kemudian:

"Kalau begitu kau tak usah bertarung melawan diriku lagi."

"Tidak bertarungpun tak menjadi soal cuma sobat harus meninggalkan obat penawar racun bagi kedua orang yang sedang keracunan ini."

Tiba-tiba kakek ceking itu mendongakkan kepalanya lalu tertawa terbahak-bahak,

"Sobat, apakah kau merasa permintaanku amat menggelikan hati?" kakek Ou segera menegur. Kakek ceking itu mendengus dingin,

"Hmm, aku tak pernah akan banyak berbicara dengan seseorang yang hampir mampus." Selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan siap berlalu dari situ.

"Berhenti!" dengan penuh kegusaran kakek Ou membentak, "apabila kau belum meninggalkan obat penawar racunnya, jangan harap kau bisa beranjak dari sini secara gampang." Tiba-tiba kakek ceking itu membalikkan hadannya, lalu dengan sepasang mata berkilat tanyanya:

"Hai! tua bangka, tahukah kau apa sebabnya aku enggan turun tangan terhadapmu?"

"Aku tak ingin tahu, mungkin kau sudah tahu akan kemampuan sendiri yang terbatas hingga takut untuk bertarung lagi?"

Hawa amarah segera menyelimuti wajah kakek ceking itu, langsung saja dia berteriak: "Aku telah terikat oleh perjanjian dengan suhengku, barang siapa telah bertarung melawannya maka aku tak akan bertarung lagi melawan orang itu, demikian juga bila orang itu sudah bertarung melawanku. maka dia pun tak akan bertarung lagi dengannya."

"Mengapa demikian ?"

"Sebab seseorang hanya bisa mampus sekali, tiada kemungkinan baginya untuk mampus dua kali."

Kakek Ou segera tertawa tergelak, "Haaahh...haahh. .

haahh. ..kalian benar-benar kelewat percaya dengan kemampuan sendiri !"

"Bila seseorang tidak mampus oleh racun dingin, dia pasti mampus oleh racun hawa panas, selama puluhan tahun terakhir ini belum pernah seorang manusia pun yang berhasil lolos dari cengkeraman maut To kiau ji lo (Dua sesepuh dari To kiau)."

"Kalau begitu, aku akan menjadi satu-satunya manusia yang tak akan mampus oleh serangan maut kalian."

Kakek ceking itu seperti tidak percaya dengan perkataan tersebut, dia segera menganggukan kepalanya seraya bertanya: "Suheng tua bangka ini. "

Ketika kakek Ou berpaling dijumpainya kakek ceking lagi pendek itu masih berdiri disitu.

Ketika mendapat pertanyaan tersebut diapun manggut-manggut sambil jawabnya: "Dia memang sudah beradu pukulan sebanyak lima kali denganku, tapi ia bilang sepanjang hidupnya tak kuatir terhadap serangan racun.

nyatanya hingga sekarangpun ia belum tersiksa oleh bekerjanya racun. Aku lihat apa yang diucapkan memang dapat dipercaya."

"Siaute justru tidak percaya kalau dikolong langit ini benar-benar terdapat orang yang kebal terhadap racun."

"Mengapa kau tidak mencoba sendiri?"

"Aku memang mempunyai maksud berbuat demikian!"

"Bagus sekali, aku akan mengumpulkan mereka terlebih dulu, kemudian baru bertanding melawanmu."

Selesai berkata dia lantas membopong tubuh Kam Liu cu dan Liu Leng po dan dikumpulkan menjadi satu dengan tubuh Tam See hoa.

Sewaktu tangannya menyentuh tubuh ke dua orang ini, dia merasakan tubuh mereka berdua amat panas bagaikan disengat oleh panasnya api, diam-diam ia merasa kaget.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, segera teringat olehnya bahwa Wi Tiong hong sedang terserang racun hawa dingin dimana tubuhnya telah kaku.

"Mengapa aku tidak membaringkan tubuh mereka berdua disamping Wi Tiong hong? Siapa tahu hal ini justru akan mengurang panas yang menyiksa tubuh mereka?"

demikian pikirnya.

Siapa tahu ketika ia memegang tubuh Tam See hoa, terasa badannya amat dingin seperti es, Cuma saja jauh lebih mending ketimbang apa yang dialami Wi Tiong hong.

Tanpa terasa dia berpaling kearah kakek ceking kecil itu sambil tegurnya: "Sobatku ini sudah terkena pukulan beracun apa sih?

Mengapa tubuhnya begitu dingin?"

“Dia sudah tersapu oleh angin pukulan Kiu-im-tok-ciangku. tentu saja terserang oleh racun hawa dingin."

Begitu mendengar kata racun hawa dingin, satu ingatan segera melintas didasar benak kakek Ou.

Dalam pada itu kakek ceking tadi sudah mengangkat kembali telapak tangan kanannya ke atas sambil membentak:

"Hei tua bangka, kau telah bersiap sedia?"

"Silahkan saja kau lancarkan seranganmu itu!" tantang kakek Ou sambil tertawa,

Biarpun ia berkata seenak hatinya sendiri, bukan berarti dia tanpa persiapan, secara diam-diam dia telah meningkatkan kewaspadaan sendiri didalam menghadapi serangan lawan. sebab dia sendiripun tidak begitu yakin apakah sanggup menerima pukulan beracun sebangsa Sam-yang kang tersebut atau tidak.

Diam-diam ia menarik napas panjang. segenap tenaga dalam yang dimilikinya segera dihimpun menjadi satu dalam sepasang telapak tangannya.. .

Kakek ceking itu hanya mendesis dingin mendadak dia mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah bacokan.

Dengan sorot mata yang tajam kakek Ou mengawasi datangnya serangan musuh itu bersama dengan diayunkannya telapak tangan tersebut, terasa segulung angin pukulan berhawa panas menyapu tiba.

Namun berhubung angin pukulan lawan belum mencapai kehadapan tubuhnya sehingga tidak

menguntungkan untuk disambut, maka dia hanya berdiri belaka tanpa bergerak sedikitpun juga.

Ketika serangannya mencapai sampai tengah jalan. mendadak kakek ceking menarik kembali serangannya disusul kemudian dari kejauhan ia lontarkan serangan yang kedua.

Bersamaan dengan dilepaskannya ancaman ini, seketika itu juga terdengar suara desingan angin tajam yang memekikkan telinga bergema memecahkan keheningan, segulung aliran hawa panas serta merta menerjang kehadapan tubuhnya.

Kakek Ou segera membentak keras: "Serangan yang bagus!"

Telapak tangan kirinya segera mendayung keatas lalu membuang keluar arena, sementara kelima jari tangan kanannya yang dipencangkan lebar-lebar melepaskan bacokan dari kejauhan.

Tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna, segulung angin pukulan yang maha dahsyat seperti sambaran geledek segera meluncur ke muka. walaupun sepasang telapak tangan belum saling bertemu, akan tetapi separuh bagian kekuatan hawa pukulan panas si kakek ceking tersebut telah berhasil dipunahkan lebih dulu,

"Blaaamm...!"

Ditengah udara terjadi benturan keras yang amat memekikkan telinga setiap orang. masing-masing pihak telah melepaskan sebuah serangannya dengan kecepatan yang luar biasa, disaat telapak tangan saling beradu inilah si kakek ceking segera menyadari kalau gelagat tidak menguntungkan.

Ternyata angin pukulan yang dilepaskan kakek Ou tadi berhasil membendung balik Kiu- yang-tok-ciang yang dilepaskan olehnya, dalam terkejutnya dia tak sempat lagi menarik kembali serangan tersebut.

"Plaaakk...!"

Ketika sepasang telapak tangan saling bertemu, kakek ceking itu merasakan telapak tangannya seolah-olah menghamtam diatas batu baja saja, membuat seluruh tangan kanannya tergetar keras dan menjadi kaku saking sakitnya.

Semua peristiwa ini berlangsung dalam sekejap mata saja, ketika merasakan gelagat tidak menguntungkan, dia segera mengeluarkan ilmu gerakan tubuh lain untuk

menghindar, walaupun demikian perasaannya toh dibuat tergetar juga.

Dengusan tertahan segera bergema memecahkan keheningan, tubuhnya melayang turun ke atas tanah itu tak sanggup menahan diri sehingga secara beruntun dia mundur sejauh empat lima langkah kebelakang.

Kakek Ou segera tertawa tergelak: "Haaahh...haaahh kau sanggup menerima sebuah pukulanku secara telak dan nyata. Hal ini menunjukan kalau kau memang sukar mencari tandingan di dunia persilatan dewasa ini."

Kakek ceking itu membelalakan sepasang matanya lebar-lebar, lalu dengan perasaan terkesiap tegurnya: "Sebenarnya siapakah kau?"

"Kau kan cuma berniat mencoba apakah aku benar-benar kebal terhadap racun atau tidak? Buat apa mesti bertanya soal nama segala?" Hawa amarah yang sangat tebal menyelimuti seluruh wajah kakek ceking itu, dengan suara menyeramkan dia berseru:

"Kau masih tetap tidak percaya."

"Bukankah kau telah membuktikan sendiri? Bukankah kenyataannya sekarang aku masih tetap sehat wafafiat, sekalipun telan menyambut pukulan beracunmu itu?"

"Walaupun pukulan beracun kami dua bersaudara mengandung racun yang dahsyat, namun bila bertemu dengan seseorang yang berhasil melatih khikang pelindung badan atau sebangsanya, kepandaian kami memang belum mampu menyusupkan hawa racun tersebut ketubuhnya, jadi bukan berarti kau benar-benar kebal pukulan beracun."

Kakek Ou segera tertawa,

"Oooh, jadi kau menganggap aku memiliki hawa khikang pelindung badan.,.? Haaa..

.haaahh.... keliru besar bila kau beranggapan demikian, karena semenjak dilahirkan aku sudah merupakan seseorang yang kebal racun."

"Kau berani bertaruh denganku?" "Bagaimana caranya bertaruh?"

Kakek ceking itu mengangkat matanya dan menuding ke empat orang yang terluka itu kemudian bertanya:

"Bukankah mereka berempat adalah sahabat-sahabatmu semua ?" "Benar."

"Bagaimana bila kita pergunakan mereka sebagai bahan taruhan? Apabila kami dua bersaudara yang kalah, maka aku akan mengobati luka beracun yang mereka derita."

Dia mengira Wi Tiong hong pun termasuk orang yang terluka oleh Kiu im tok-ciang yang dilancarkan suhengnya, oleh sebab itu dia berjanji akan menyembuhkan luka beracun yang diderita keempat orang itu.

"Baik, aku bersedia memenuhi keinginanmu itu." jawab kakek Ou dengan cepat, "bagaimana cara kita bertaruh, ayoh cepat utarakan, Ou lotoa pasti akan mengiringi keinginan kalian,"

"Aaaah jadi kau adalah Panglima sakti bertangan emas Ou Swan?" tanya kakek ceking terperanjat.

"Yah begitulah."

"Kami dua bersaudara tidak pernah mempunyai perselisihan apa-apa dengan Lam-hay bun kalian, mengapa kalian justru mencari gara-gara dengan kami?" tegur kakek pendek yang lain segera.

"Sia-cu kalian telah menculik nona kami, coba bayangkan mau apa aku datang kemari?" "Omong kosong, Lembah Liu seh kok di bukit Tok kiau san ini hanya dihuni kami dua bersaudara, siapa yang telah menculik nona kalian?"

"Jadi tempat ini bukan Tok seh sia? Mengapa tidak kau katakan sejak tadi?" tanya kakek Ou dengan gusar.

"Mengapa aku mesti mengatakannya?" sahut si kakek pendek dingin, "bila kau hendak mencari orang-orang Tok seh sia mengapa datang mencari gara-gara dengan Liu she kok kami? Setelah mencari gara-gara dengan Liu seh kok, tentu saja Tok kiau ji lo harus memberi sambutan sebagaimana mestinya. Sekarang, apakah Ou tayhiap masih niat untuk melanjutkan taruhan ini?" tanya kakek ceking pula.

Ketika berbicara sampai disini, tidak menanti kakek Ou menjawab, dia telah menyambung lagi. dengan dingin:

"Cuma dengan nama besar Ou tayhiap di dalam dunia persilatan, setelah berani mengucapkannya keluar, aku pikir kau pasti akan melanjutkan taruhan ini bukan?"

Kakek Ou segera berpikir:

"Pada saat ini Tam See hoa serta Kam Liu cu bersaudara sudah tidak sadarkan diri karena keracunan, untuk bisa memperoleh obat penawar racun dari mereka, otomatis aku harus bertaruh dengan mereka. "

Berpikir sampai disini. tanpa terasa ia tertawa terbahak-bahak seraya berseru; "Apa yang telah diucapkan Ou lotoa tentu saja masuk hitungan, silahkan saja kalian berdua mengajukan permohonan pokoknya tentu aku akan mengiringi keinginan kali itu."

"Hmm....hmm...bila aku yang mengajukan usulan, aku kuatir Ou tayhiap tak berani menerimanya?" jengek si kakek ceking sambil tertawa.

Mencorong sinar aneh dari balik mata kakek Ou, dia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak;

"Haaahhh.. .haaahh ...haaahh...tiada persoalan yang ada didunia ini yang tak berani dihadapi oleh Ou lotoa, silahkan saja kau ajukan persoalanmu."

Sekilas senyuman licik segera menghias wajah kakek ceking itu, ujarnya:

"Nama besar Ou tayhiap telah menggemparkan Thian-lam, aku ingin sekali mengadakan suatu pertaruhan yang belum pernah terjadi didalam dunia persilatan selama ini."

"Silahkan diutarakan sobat."

"Walaupun kami dua bersaudara belajar ilmu silat dari perguruan yang sama, namun berhubung masing-masing memiliki kemampuan yang berbeda maka setelah latihan selama puluhan tahun lamanya, terwujud dua jenis racun yang berbeda pula, Ou Tayhiap mengakui kebal terhadap berbagai macam racun, maka dari itu aku pingin menyuruh kau menelan dua butir pil beracun yang telah kami persiapkan itu, apabila selewatnva seperminum teh keadaanmu masih tetap sehat-sehat saja, kami segera akan mengaku kalah."

Kakek Ou sama sekali tidak menyangka kalau lawannya bakal mengajukan cara bertaruh semacam ini, untuk sesaat dia menjadi tertegun dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Melihat lawannya terbungkam, sambil tertawa dingin kakek ceking itu segera mengejek: "Sudah kuduga kalau Ou tayhiap pasti tidak akan berani menerima tantanganku ini." "Belum pernah kudengar ada orang mengajak bertaruh makan pil beracun," Sekali lagi kakek ceking itu tertawa licik:

"Justru karena kejadian seperti ini belum pernah terjadi didalam dunia persilatan. maka kami mengajakmu untuk bertaruh. bukankah Ou tayhiap sama sekali tidak takut dengan racun?"

Diam-diam kakek Ou berpikir dalam hatinya,

"Berapa hari berselang baru saja aku menelan sebutir pil mestika Pit tok kim wan yang merupakan obat mujarab dari Lam-hay bun, itu berarti selama seratus hari kemudian aku tetap kebal terhadap pengaruh pelbagai jenis racun. Tapi yang dimaksudkan dalam hal tersebut apabila terkena racun tanpa disengaja, bukan berarti berani menelan obat beracun yang diberikan orang lain secara sengaja, bukan saja pil tersebut telah dirancang secara khusus, apalagi dua jenis obat beracun yang sama sekali berlawanan sifatnya....Pek tok kim wan memang berpaedah untuk memunahkan pengaruh racun, bila telah menelan pil racun mereka kemudian menelan pil menawar racun lagi, mungkin saja masih tak menjadi soal tapi Pek-tok itu telah kutelan sejak beberapa hari berselang..

-Obat tersebut dapat memunahkan racun dari jarum beracun keluarga Lan yang sangat hebat, entah sisa pengaruh obat yang berada dalam tubuhku itu dapat pula memulihkan kedua racun yang mereka buat atau tidak...?"

Sementara dia masih termenung, tiba-tiba terdengar kakek ceking itu sudah mengejek kembali:

"Apakah Ou tayhiap menyesal?"

"Persoalan dalam taruhan mesti disetujui oleh kedua belah pihak, memangnya aku telah memberikan persetujuanku tadi?"

Kakek ceking itu segera tertawa dingin.

"Bukankah Ou tayhiap telah berkata sendiri, memangnya kau sudah melupakannya kembali?" "Apa sih yang pernah kukatakan?"

"Ou tayhiap telah berkata bahwa akulah yang akan mengajukan persoalan dan apa persoalannya kau pasti akan mengiringi, itu berarti kau telah bersedia menerima tantangan didalam persoalan apapun, bukankah demikian?"

Merah padam selembar wajah kakek Ou setelah mendengar perkataan itu, ia segera manggut- manggut:

"Baik, anggap saja aku telah menyetujui persoalan yang telah kau ajukan itu!"

"Padahal sekalipun kau tidak bertaruh pun tak menjadi soal bagiku." kata sikakek ceking itu kemudian.

"Apa maksudmu?"

”Yang kita pertaruhkan sekarang adalah mengobati luka beracun yang diderita beberapa orang itu, apabila Ou tayhiap hendak membatalkan pertaruhan tersebut, tentu saja aku pun tak akan mengobati pula luka beracun yang mereka derita.” Kakek Ou menjadi tertegun, kemudian pikirnya: "Apa yang dia katakan memang betul juga, bila pertaruhan ini dibatalkan, tentu saja merekapun tak akan menawarkan racun yang menyerang tubuh mereka."

Berpikir sampai disini la segera tertawa terbahak-bahak katanya kemudian:

"Setiap patah kata yang telah kuucapkan tentu saja harus dilaksanakan, mau bertaruh pun tak jadi soal bagiku."

Kakek yang pendek tubuhnya itu segera tertawa dingin:

"Ou tayhiap, lebih baik kau jangan mempergunakan tubuh sendiri untuk mencoba racun kami, ketahuilah sifat racun yang dibuat oleh kami berdua bertentangan satu sama lainnya, apabila sudah ditelan maka tidak ada obat penawar racun yang bisa menyembuhkan."

Kakek Ou adalah seorang yang keras kepala, dia paling tidak tahan bila dipanasi dengan cara begini, tanpa terasa lagi ia segera berteriak keras:

"Bawa kemari pil beracun kalian. sekali2 aku mesti mati keracunan, tak nanti akan menuntut nyawa kalian."

Sekulum senyuman licik kembali menghiasi wajah kakek ceking itu. dia segera merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan sebuah botol porselen kecil, dari situ dia mengeluarkan sebutir pil berwarna merah yang kemudian disodorkan kedepan seraya berkata:

"Inilah pil Lam khek wan ku."

Kakek pendek itupun mengeluarkan sebutir pil berwarna hitam sambil serunya; "Inilah pil Pek khek wan ku!"

Kakek Ou segera tertawa terbahak bahak; "Haah . .haah .

.haah . .aku tidak percaya kalau pil beracun kalian benar-benar dapat membunuhku." Disambutnya ke dua butir pil beracun itu kemudian segera ditelan kedalam perut.

Dengan senyuman licik menghiasi wajahnya, kakek ceking itu saling berpandangan sekejap dengan kakek pendek, kemudian tanpa mengucapkan sepatah katapun ke dua orang itu sama- sama mundur selangkah kebelakang.

"Hei gerak-gerik kalian sangat mencurigakan, apa yang hendak kalian lakukan!" bentak kakek Ou dengan mata melotot.

"Sekarang Ou tayhiap telah menelan dua macam obat beracun yang saling berlawanan sifatnya dan ganasnya bukan kepalang, seperminum teh kemudian racun tersebut akan mulai bekerja..."

Ketika berbicara sampai disini, tiba-tiba ia tutup mulut dan tidak berbicara lagi. "Mengapa tidak kau lanjutkan perkataanmu itu?" "Bila racun itu mulai bekerja, maka kau akan menjadi gila sebelum akhirnya mampus."

Kakek Ou segera mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak: "Haaa . . haaa . . haaah .

.. aku tidak percaya . . ."

Belum selesai perkataan tersebut diutarakan tiba-tiba paras mukanya berubah hebat, ia segera duduk bersila diatas tanah, pelan-pelan memejamkan matanya dan mulai mengatur napas, semua peristiwa tersebut berlangsung dalam sekejap mata saja, kakek Ou yang sudah duduk bersila itu belum sempat mengatur napasnya ketika secara tiba-tiba tubuhnya mengalami goncangan yang sangat keras, tahu-tahu saja dia mencelat setinggi tiga depa lebih kemudian terbanting kembali ke atas tanah.

Tanpa terasa kakek ceking dan kakek pendek itu mandur dua langkah kebelakang, ke empat sorot mata mereka berdua sama-sama dialihkan ke wajah kakek Ou.

Tampak semua rambut dan jenggotnya pada berdiri kaku semua seperti landak, peluh sebesar kacang kedelai bercucuran tiada hentinya sudah jelas dia sedang mengandalkan tenaga dalamnya yang sempurna untuk

melawan reaksi dari dua jenis racun yang bertentangan sifatnya itu.

Kakek ceking tersebut memperhatikan korbannya berapa saat, lalu sambil mengangkat kepala dia berkata; "Orang ini sudah tiada harapan untuk diselamatkan lagi !"

Si kakek yang pendek segera manggut-manggut:

"Ya, dua pil kutub utara dan selatan merupakan obat beracun yang kita ciptakan secara khusus daya kerjanya luar biasa, jangan lagi dua butir sekaligus. hanya sebutirpun sudah tak tertolong lagi, hehh...heeh...heeeh...sungguh menggelikan perbuatan dari tua bangka tersebut. sekaligus dia telah menelan dua butir, bayangkan saja memangnya dia dapat tertolong lagi?"

"Kalau begitu lebih baik kita pulang saja." ajak si kakek ceking itu kemudian. "Benar, kita memang lebih baik pulang saja."

Kakek ceking itu segera membungkukan badannya memberi hormat sambil katanya: "Silahkan suheng."

"Silahkan sute," kata si kakek cebol pula sambil memberi hormat.

Ke dua orang itu membalikan badan lalu seorang membelok ke selatan yang lain berbelok ke utara masing-masing kembali tempat pemondokan masing-masing.

Baru saja berjalan dua langkah, mendadak kakek ceking itu menghentikan langkahnya seraya berseru:

"Suheng tampaknya kita telah dipecundangi orang !"

Ketika mendengar seruan mana si kakek cebol menghentikan langkahnya seraya mencoba untuk mengatur napas, paras mukanya segera berubah hebat, sambil mendengus penuh amarah serunya:

"Ternyata tua bangka inipun seseorang ahli dalam menggunakan racun. tak nyana kalau tanpa kita sadari dia telah melakukan perbuatan licik di atas tubuh kita."

Sementara itu kulit muka si kakek ceking itu sudah mulai mengejang keras, katanya kembali:

"Suheng. tampaknya racun yang berada didalam tubuh kita sudah mulai bekerja." "Hmmm. betul, datangnya amat cepat." dengus si kakek cebol itu.

Baru saja dia akan maju kemuka, tiba-tiba saja tubuhnya roboh terjungkal keatas tanah.

Kakek ceking Itu sangat terkejut, dia merasakan sepasang kakinya menjadi lemas sekali sehingga tak bisa dipakai untuk bergerak lagi, terpaksa dia duduk pula kelantai seraya teriaknya;

"Suheng, racun apakah yang telah menyerang kita? Tampaknya seperti sejenis racun tanpa ujud..."

"Perkataanmu memang tepat sekali!" tiba-tiba seseorang menyahut sambil tertawa seram.

Menyusul perkataan itu, muncul seorang kakek berjenggot putih dari belakang sebuah batu besar.

Orang itu mengenakan jubah lebar berwarna hitam, senyuman menghiasi wajahnya dengan membawa tongkat bambu pelan-pelan dia menghampiri dua orang itu, dengan sorot mata yang tajam kakek ceking itu mengawasi lawannya lekat-lekat, kemudian desisnya:

"Tok seh siacu!"

Sedangkan si kakek cebol itu segera membentak dengan suara yang amat keras:

"Selama dua puluh tahun terakhir ini. kami dua bersaudara selalu memegang janji dengan tidak meninggalkan lembah kami barang selangkah pun, mengapa Siacu justru mengingkari janji terlebih dulu dengan memanfaatkan kesempatan yang ada untuk mencelakai kami berdua?"

Kembali kakek berjenggot putih itu tertawa licik, "Kalian berdua masih mengenali aku. Memang hal ini lebih baik lagi."

Pelan-pelan dia mendekati ke dua orang itu, kemudian katanya lebih jauh:

"Sekarang aku hendak menghapuskan janji kita yang lampau dengan mengundang kalian berdua untuk turun gunung, entah bagaimanakah pendapat kalian berdua?"

Kakek ceking itu menanti hingga lawannya dekat sekali dengan tubuhnya, tiba-tiba sambil tertawa dingin dia mengayunkan telapak tangannya melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Tenaga pukulan yang diandalkan olehnya adalah tenaga Yang-kang, karenanya serangan yang dilancarkan semestinya menghasilkan tenaga pukulan yang dahsyat dan menghancurkan benda apa saja.

Siapa tahu, ketika serangannya telah dilancarkan, dia telah kehilangan sama sekali kekuatan tubuhnya.

Sambil tertawa dingin kakek berjenggot putih itu berkata lagi:

"Aku sama sekali tidak menaruh maksud jahat terhadap kalian berdua, tapi bila sikap kalian justru membangkitkan hawa amarahku maka hal ini sama artinya dengan mencari penyakit buat diri sendiri."

Dengan pandangan penuh amarah kakek itu mengawasi kakek berjenggot putih itu tajam- tajam, mendadak ia berseru.

"Kau ..kau bukan Tok seh siaucu." "Siapa bilang aku bukan?"

"Jika kau adalah Tok seh Siacu tentu kau tahu bagaimanakah perjanjian yang kita buat dulu."

"Janji yang mana yang kau maksudkan?"

"Dulu kamii berdua pernah mendapat undangan dari siacu untuk menjabat sebagai pelindung hukum, namun berhubung wakil huhoat si raja langit bertangan racun Liong Cay thian tidak sesuai dengan pendapat kami, maka permintaan tersebut kami tolak. Karenanya siacu pun berjanji kami tak akan saling mengganggu satu sama lainnya tapi kami diminta untuk tetap berdiam dalam lembah ini, sehari belum mati, kami pun tak akan meninggalkan lembah ini. Namun waktu itu dijanjikan pula orang-orang Tok seh sia tak akan mengusik lembah kami pula, aku yakin Liong Cay thian sebagai Cong-huhoat mengetahui pula akan perjanjian ini."

Kakek ceking yang berada disisinya segera menambahkan pula;

"Kami bukan disekap dilembah ini oleh Siacu, maka ucapanmu yang hendak menghapuskan perjanjian kami dulu telah memperlihatkan titik kelemahan besar, apalagi jikalau sobat benar-benar adalah Tok seh siacu yang asli, berarti pula kau adalah majikan kami yang lama. untuk memasuki lembah ini kalian pasti tidak akan menggunakan cara meracuni kami, kemudian menanti sampai racun mulai bekerja dalam tubuh kami. kalian baru munculkan diri."

Mendengar perkataan mana. si kakek berjenggot putih itu segera tertawa seraya manggut- manggut.

"Benar, aku memang bukan Tok Seh siaucu."

"Lantas apa maksudmu menyaru sebagai Tok Seh siacu

?" tegur si kakek cebol.

Kembali kakek berjenggot putih itu tertawa seram.

"Adapun kedatanganku kemari adalah hendak mengundang kalian berdua untuk turun gunung, sama sekali tidak mempunyai niat atau pun tujuan jahat."

Berbicara tsmpai disini dia tertawa tertawa ter-bahak2 sambil menyambung lebih jauh,

"Tok seh siacu pernah berkata, sehari dia belum mati, sehari pula kalian dilarang keluar lembah. kalau begitu kalian berdua sudah tertipu habis-habisan." "Bagaimana mungkin kami berdua bisa tertipu?"

"Tok seh siacu yang tua telah mampus, sedangkan yang baru muncul pula dengan dandanan semacam ini, hal ini sama artinya pula dengan adu taktik yang licik, sebab selama hidup jangan harap kalian bisa keluar dari lembah ini lagi."

"Kami dua bersaudara sudah lama berdiam dilembah ini.

memang kami berniat berdiam dilembah ini sampai tua sama tak terlintas dalam benak kami untuk keluar dari sini."

Kakek berjenggot putih itu segera menghembus napas setelah itu katanya lagi. "Kalian anggap aku dengan dandanan demikian ini merupakan Tok seh siacu gadungan?" "Memangnya bukan?"

Kakek berjenggot putih itu kembali tertawa ter-bahak2;

"Haaah . . .haaah . . . haaah. . . tahukah kau bahwa dandanan yang digunakan Tok seh siacu waktu itupun sesungguhnya sedang menyaru sebagai orang lain?"

"Soal ini belum pernah kami dengar." kata kakek cebol.

"Dahulu kalian berdua pernah menjadi pelindung hukum selat Tok seh sia, tahukah kalian sebenarnya siapakah Tok seh siacu tersebut?"

"Tentang soal ini kami kurang begitu jelas."

Kakek berjenggot putih itu segera tertawa dingin: "Dia tak lain adalah si pedang beracun Kok In."

Kakek ceking dan kakek cebol segera saling

berpandangan sekejap kemudian dengan setengah percaya setengah tidak mereka berkata lagi:

“Masa Tok seh siacu adalah si pedang beracun Kok In?

Dahulu dia sudah termasuk seorang tokoh persilatan yang amat termashur dalam dunia persilatan, buat apa dia sendiri menyebut diri sebagai Tok seh siacu. . .?"

Mencorong serentetan sinar tajam dari balik mata kakek berjenggot putih itu, katanya:

"Ketika melarikan diri dari Lam-hay, si pedang beracun Kok In telah kabur sampai disini dan secara kebetulan dia berjumpa dengan Kiu tok sinkun diselat Tok seh sia. .."

"Kiu tok sinkun?" kakek cebol itu menjerit kaget, "Kiu tok sinkun berada diselat Tok seh sia?"

Kakek berjenggot putih itu manggut-manggut, lanjutnya.

"Sinkun merasa amat cocok dengan orang itu sehingga mengundangnya masuk kedalam selat, siapa tahu sibajingan tua she Kok itu mengincar sejilid kitab beracun milik sinkun kemudian mengincar pula kekayaan dari Tok Seh-sia, maka akhirnya diapun turun tangan membunuh lalu mengangkat diri sebagai Tok seh siacu, dandanannya itu lain adalah menyaru sebagai sinkun."

"Si pedang beracun Kok In bisa menyaru sebagai Kiu tok Sinkun, tentunya hal ini dimaksudkan agar dia dapat menguasai segenap anggota selat Tok seh sia bukan?"

"Memang begitulah."

"Kalau didengar dari ucapan sobat, rasanya kau seperti berasal dari satu aliran dengan Kiu tok sinkun?" sela kakek ceking itu kemudian.

"Sinkun tak lain adalah mendiang guruku." kata si kakek berjenggot putih itu segera. Diam-diam kakek ceking itu terkejut, segera tanyanya.

"Siapakah namamu sobat?" "Aku adalah Kiu tok kaucu."

Berbicara sampai disini, tiba2 dengan wajah serius dia melanjutkan. "Sekarang si pedang beracun sudah mati, berarti perjanjian kalian berdua dengannya telah batal, kalianpun boleh meninggalkan lembah ini dengan bebas, bila kalian tidak menampik aku bersedia menerima kalian berdua sebagai pelindung hukum kiri dan kananku, entah bagaimanah pendapat kalian?"

"Bila kaucu harus mengundang dengan cara begini, kami berdua benar-benar tidak berani menerimany."

"Yaa, benar apa yang kau lakukan memang terhitung suatu ancaman, mana mirip sebuah undangan?"

"Oooh, jadi kalian berdua menuduh aku tidak seharusnya mempergunakan racun untuk mencelakai kalian? Tapi jikalau aku tilak berbuat demikian, mana mungkin aku bisa mengajak kalian berdua untuk

berbincang-bincang? Sekarang juga aku akan memunahkan racun yang mengeram didalam tubuh kalian."

Selesai berkata dia lantas mengebaskan ujung bajunya sehingga terlihat kelima jari tangannya yang mirip cakar burung elang itu Kemudian disentilkan ketubuh kedua orang itu.

Tok kiau ji loo yang sedang duduk bersila diatas tanah segera mengendus bau harum semerbak yang menyusup kedalam lubang hidung mereka. begitu mengnedus bau tersebut semangat mereka segera bangkit dan segar kembali.

Kiu kaucu pun menjura kembali seraya berkata.

"Apabila aku telah bertindak kasar kepada kalian tadi harap kalian berdoa sudi memaafkan, sekarang racun yang mangeram dalam tubuh kalian telah punah, coba aturkan pernapasan untuk mencoba, apakah dalam isi perut kalian masih ada sisa racunnya?"

Padahal tanpa disuruh Kiu tok kaucu pun secara diam-diam ke dua orang itu sudah mencoba untuk mengatur napas, ternyata racun yang mengeram ditubuh mereka telah punah sama sekali maka mereka pun manggut-manggut seraya menjawab.

"Yaa, sudah tak ada lagi."

"Dengan senang hati kuharapkan kemudian kalian berdua untuk segera bersiap sedia, kita akan berangkat sekarang juga." kata Kiu tok kaucu kemudian.

Mendadak kakek ceking itu mendesis penuh amarah.

bentaknya; "Semenjak kapan sih kami menyanggupi permintaan kalian itu?"

Bentakan ini sama sekali diluar dugaan Kiu tok kaucu, ia jadi tertegun dibuatnya.

"Bukankah kalian berdua telah mengatakan bila si pedang beracun Kok In telah mati, makanya sumpah yang dibuat kalian dulu pun menjadi batal, .?"

Kakek ceking itu tertawa nyaring. "Sekalipun dengan matinya Kok In maka kami berdua sudah tidak terikat lagi dengan segala bentuk perjanjian, bukan berarti kami harus pergi meninggalkan lembah ini."

"Betul!" sambung si kakek cebol. "barusan akupun sudah berkata, kami telah lama berdiam dilembah ini, apalagi kami pun berniat akan tetap tinggal dilembah ini hingga mati. tiada terlintas niatan dalam benak kami untuk meninggalkan bukit ini."

Mendengar sampai disini, Kiu tok kaucu segera tertawa seram.

"Apa yang hendak kukatakan sudah kukatakan, kalian berdua tidak boleh tidak harus menerima tawaranku ini."

"Kalau aku tidak setuju mau apa kau? Memangnya hendak bertarung melawanku?" teriak kakek ceking itu keras-keras.

"Aku tidak perlu turun tangan dengan kalian." kata Kiu tok kaucu sambil tertawa seram. Mendadak paras muka kakek cebol itu berubah hebat, sambil mendengus dingin serunya. "Sute, racun yang mengeram didalam tubuhku ternyata belum terhapus sama sekali. . ." 

Mendengar perkataan tersebut, si kakek ceking menjadi sangat terkejut, segera bentaknya dengan mata melotot.

"Apa maksudmu dengan perbuatan begini ?"

Kiu tok kaucu segera mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaah . . haaaah ....haaah... .aku dengar Tok kiau ji lo adalah manusia yang tak mudah untuk dihadapi bila aku tidak berjaga-jaga sampai kesitu, bukankah perbuatanku ini sama artinya dengan melepaskan harimau pulang gunung?"

"Sekarang mau apa kau?" teriak kakek ceking.

Kiu tok kaucu segera tertawa seram. "Heeh. , heeh.. heeh... diluar lembah sana sudah tersedia kereta kuda, silahkan huhoat berdua segera meneruskan perjalanan."

Selesai berkata dia membalikkan badan sambil membentak lagi. "Sekarang kalian semua boleh masuk kedalam."

Tampak bayangan manusia berkelebat lewat di mulut lembah, kemudian muncul empat orang gadis berbaju ungu yang berambut panjang dan berusia enam tujuh belas tahun, mereka segera memberi hormat kepada Kiu tok kaucu.

Dengan cepat Kiu tok kaucu mengulapkan tangannya, kemudian sambil menuding kedua orang kakek itu, ujarnya.

"Kedua orang ini adalah pelindung hukum kiri dan kanan perkumpulan kita, mengapa kalian tidak segera maju untuk memberi hormat kepada mereka?"

Ke empat orang gadis berbaju ungu itu segera maju kedepan dan memberi hormat kepada Tok kiau ji lo.

kemudian dengan suara yang merdu serunya bersama. "Anggota perkumpulan menjumpai huhoat berdua,"

Tok kiau ji lo merasa mendongkol sekali. namun mereka tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Terdengar Kiu tok kaucu berkata lagi. "Pelindung hukum berdua sudah terkena racun dari siluman Tok seh sia sehingga tubuh mereka tak mampu bergerak lagi, kalian

lekas memayang mereka secara berhati-hati dan antar keluar dari lembah. . ."

Tindakan dari Kiu tok kaucu ini benar2 keji, dia yang meracuni orang namun dosanya justru dilimpahkan keatas pundak Tok Seh siacu.

Tok kiau ji lo yang mendengar perkataan itu menjadi mendongkol disamping geli.

Sementara itu ke empat gadis berbaju ungu tadi telah mengiakan, dengan berhati-hati sekali mereka memayang ke dua orang itu keluar dari lembah.

Dalam pada itu kakek Ou berani menerima tantangan musuh dengan menelan dua butir pil Lam khek wan dan Pak khek wan dari Tok kiau ji lo, karena dia mengandalkan pula Pil Pek tok kim wan yang pernah ditelannya dengan kasiat dalam seratus hari tak akan terpengaruh lagi oleh serangan racun dari luar.

Siapa tahu kedua butir pil tersebut merupakan obat racun yang dibuat secara khusus oleh kedua orang itu.

00O0dw0O00

Ilmu pukulan yang dilatih si kakek cebol adalah Kiu im tok ciang yang berhawa dingin, sebaliknya ilmu yang dilatih kakek ceking adalah Kiu yang tok ciang yang panas.

Ditinjau dari nama kedua macam ilmu pukulan itu dapat diketahui bahwa ilmu yang mereka pelajari seratus persen merupakan ilmu beracun dari golongan sesat. Disaat latihan mereka membutuhkan obat racun yang dipoleskan ke telapak tangan masing-masing kemudian menghisapnya kedalam telapak tangan masing2 dengan tenaga dalamnya.

Pukulan beracun yang mereka keluarkan tadi tak lain adalah obat pemoles tersebut, bukan saja amat beracun.

lagipula sudah dicampur dengan beberapa macam rumput obat yang jahat.

Kiu im tok ciang adalah kepandaian berhawa dingin yang amat beracun, tentu saja obat yang dicampuri adalah obat yang bisa membangkitkan hawa dingin ditubuh manusia.

Sebaliknya Kiu yang tok ciang adalah ilmu silat hawa panas yang menyengat badan, sudah barang tentu obat racun yang dicampur pun obat yang bisa menimbulkan hawa panas didalam tubuh orang.

Ke dua macam obat racun penimbul hawa dingin dan panas ini sebetulnya hanya terbatas penggunaan diluar badan, otomatis dilarang keras ditelan ke perut, namun kenyataannya kakek Ou telah menelan dua macam obat racun penimbul hawa yang bertentangan itu ke dalam tubuhnya, bayangan saja bagaimana isi perutnya tidak putar balik tidak karuan ?

Seketika itu juga ia merasa gulungan hawa panas membakar sebagian tubuhnya sementara separuh bagian yang lain dingin bagaikan direndam di dalam gudang es yang membeku.

Kalau dibilang seharusnya Panas bisa melenyapkan dingin, dingin bisa menetralkan panas, dua macam hawa yang bertemu jadi satu ini seharusnya pula dapat melenyapkan pengaruh ke dua macam hawa tadi.

Apa mau dibilang daya kerja obat racun itu amat dahsyat, bukan saja tidak bisa menetralkan masing-masing sifat udara tersebut, malahan sebaliknya yang panas menjadi panas yang dingin pun semakin dingin. kedua sifat hawa tersebut makin berkobar malahan bertambah ganas.

Akibatnya sekujur badan kakek Ou gemetar keras sekali, kemudian disusul dengan kejangan yang menghebat. dia mulai berguling kian kemari dalam keadaan amat menderita.

Seandainya berganti orang lain yang menderita keadaan tersebut, niscaya selembar jiwanya sudah melayang semenjak tadi, untung saja kakek Ou memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, ditambah pula ia telah memakan pil Pek tok kim wan yang dapat memusnahkan berbagai macam racun.

Oleh sebab itu bagaimanapun menggelora ke dua hawa racun itu didalam tubuhnya, dia tetap bersila di tempat dan sambil menggertak gigi menahan penderitaan ia menerima siksaan tersebut tanpa bersuara.

Sepertanak nasi kemudian, dua gulung hawa racun panas dan dingin yang menggelora didalam tubuhnya itu kian lama kian bertambah menghebat....

Dalam keadaan demikian, bukan saja dia tak dapat memunahkan ke dua macam hawa beracun tersebut di dalam tubuhnya, Juga tak sanggup mendesaknya keluar, terpaksa hawa-hawa beracun terseout dibiarkan bergelora terus dalam tubuhnya.

Biarpun tenaga dalam yang dimiliki kakek Ou amat sempurna, lama kelamaan dia toh tak akan tahan juga menghadapi situasi semacam ini.

Mendadak satu ingatan melintas didalam benaknya, ia teringat bagaimana sewaktu menyentuh tubuh Kam Liu-cu kakak beradik, ia temukan tubuh mereka panas membara, sebaliknya tubuh Tam Seh-hoa justru dingin seperti es. Ini membuktikan kalau mereka sudah terang kena racun api dan racun salju.

Andaikata sekarang dia dapat mempergunakan hawa murni tingkat tingginya dan memisahkan hawa panas dan dingin tersebut secara sendiri-sendiri, kemudian dengan mengandalkan tenaga dalamnya menyalurkan kedalam tubuh mereka, bukankah hal ini bisa dipakai untuk mengobati keadaan mereka dengan sistim racun melawan racun? Siapa tahu kalau cara ini bisa digunakan untuk menyembuhkan mereka?

Berpikir demikian, dia segera menghimpun tenaga dalamnya dan pelan-pelan memisahkan hawa racun tersebut menjadi dua bagian yang satu disalurkan ke tangan kiri kemudian yang lain dengan tangan kanan, setelah itu secara terpisah ditempelkan ke atas punggung Kam Liu cu serta Wi Tiong hong,

Oleh karena Wi Tiong hong menderita akibat racun hawa dingin, maka dia salurkan hawa panas tersebut ke dalam tubuh Wi Tiong-hong, sebaliknya mengalirkan racun hawa dingin ke tubuh Kam Liu-cu.

Berbicara yang sesungguhnya, menyalurkan hawa murni secra terpisah ke tubuh dua orang yang berbeda inipun hanya bisa dilakukan oleh manusia sebangsa kakek Ou.

Tak sampai seperminum teh kemudian. mendadak Kam Liu cu menghembuskan napas panjang dan membuka matanya kembali, ia segera menjumpai kakek Ou masih menempelkan telapak tangannya dipunggungnya sementara segujung hawa dingin yang menyejukkan tubuhnya mengalir masuk.

Serta merta dia duduk bersila dan mengatur napas. Tak sampai berapa saat kemudian racun hawa panas yang mengerem didalam tubuhnya telah berhasil dipunahkan.

Kini. kakek Ou pun dapat merasakan bahwa hawa panas yang disalurkan kedalam tubuh Wi Tiong-hong itu pelan-

pelan berhasil mendesak keluar racun hawa dingin yang mengeram didalam tubuhnya, dimana sifat racun dingin itu lambat laun semakin bertambah kurang.

Menyadari kalau cara yang ditemukannya itu sangat bermanfaat, ia menjadi gembira sekali. hawa racun panas tersebut segera disalurkan ketubuh Wi Tiong hong semakin menghebat.

Ketika Kam Liu cu sudah terbebas dari pengaruh racun bawa panas dan sembuh kembali. kakek Ou segera menarik kembali telapak tangan kirinya dan berganti ditempelkan kepunggung Liu Leng poo.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, Wi Tiong-hong dan Liu Leng-poo pun telah mendusin kembali.

Kam Liu cu yang berjaga disisinya cepat-cepat berkata:

"Saudara Wi, Liu sumoay, cepat atur pernapasan dan gabungkan hawa murni kalian dengan hawa murni dari Ou locianpwee,"

Karena baru sembuh dari luka beracun, kedua orang itu tak berani bertindak gegabah, serta merta mereka duduk bersila dan mengatur pernapasan masing-masing.

Keadaan seperti ini berlangsung sepertanak nasi lamanya. kakek Ou baru menarik telapak tangannya dan berkata sambil tertawa terbahak-bahak;

"Sudah cukup, sudah cukup. untung sekali aku dapat menyelamatkan diri sendiri, juga dapat menyelamatkan kalian semua."

Selesai berkata, dengan cepat dia tempelkan tangan kanannya kepunggung Tam See-hoa.

Wi Tiong hong tidak mengetahui kalau tubuhnya sudah terkena racun hawa dingin, tak tahu sudah jatuh pingsan

selama beberapa hari, ketika menjumpai dirinya berada di sebuah lembah, lagi pula seperti baru sembuh dari luka, hal tersebut membuat hatinya merasa amat keheranan.

Apalagi setelah merasakan seluruh otot dan tulang belulangnya linu lagi kaku untuk sesaat dia tak sempat banyak bertanya lagi, ia lanjutkan semedinya untuk memulihkan kembali kekuatan hingga Tam See hoa pun sadar kembali.

Tam See-hoa segera mengatur napas pula sambil bersemadi sesaat sebelum kedua orang itu sama-sama bangkit berdiri,

Kakek Ou sendiri, biarpun memiliki tenaga dalam yang sempurna, namun setelah secara beruntun menyembuhkan ke empat orang rekannya, dia sendiri pun kehilangan banyak tenaga,

Maka setelah bersemedi berapa saat sehingga tenaganya pulih kembali ia baru berkata sambil tertawa,

"Kalian cepat atur napas dan memeriksa tubuh masing-masing. apakah sisa racun dalam tubuh sudah terdesak keluar semua?"

Kam Liu cu segera menjura sambil sahutnya.

"Untung sekali lotiang sudi menolong kami, kini sisa racun di dalam tubuhku telah punah semua."

Kakek Ou berpaling pula kearah Wi Tiong-hong sambil tanyanya kemudian.

"Bagaimana dengan Wi sauhiap? Hawa racun dingin yang mengeram didalam tubuhmu lihay sekali; bagaimana perasaanmu sekarang?"

"Aku sudah tak merasakan apa-apa lagi."

"Bagus sekali kalau sudah tidak apa-apa." kakek Ou berkata dengan bangga, "Aaai. .

.kalau di-hitung2

kesemuanya ini terjadi secara kebetulan saja."

Wi Tiong hong berpikir sebentar, lalu sambil berpaling ke arah Tam See hoa tanyanya.

"Saudara Tam seingatku kita sedang melakukan perjalanan bersama-sama, kenapa bisa sampai disini?"

"Aaai, panjang sekali untuk menceritakan hal ini, sejak racun dingin yang mengeram dalam tubuh Wi tayhiap kambuh, hingga sekarang telah berlangsung belasan hari lamanya. "

"Belasan hari lamanya?" Wi Tiong hong terkejut, "dalam perasaanku baru saja berlangsung kemarin."

Kakek Ou yang berada disampingnya segera menimbrung sambil tertawa.

"Ketika Sauhiap pingsan akibat bekerjanya racun hawa dingin, peristiwa itu berlangsung di Kun liong kang dalam wilayah Kang say, sedangkan saat ini kau sudah berada di bukit Kou loo san dalam wilayah Kwang say!"

Wi Tiong hong semakin keheranan lagi mendengar ucapan tersebut, baru saja dia hendak bertanya keadaan yang sebenarnya, tanpa diminta Tam See hoa telah menuturkan kejadian yang sebenarnya kepada pemuda tersebut.

Ketika selesai mendengar penuturan ini, Kam Liu cu segera berkata.

"Justru lantaran kami mendapat kabar ditengah jalan bahwa saudara Wi telah diculik orang-orang Tok seh sia maka kami melakukan pengejaran sampai disini, rupanya orang itu adalah Lan Kun pit. "

Sedangkan Liu Leng poo bertanya pula,

"Orang tua Ou, apakah bajingan-bajingan yang tadi sudah melarikan diri ke dalam lembah?"

"Tidak, mereka telah diundang oleh Kiu kaucu untuk menjadi pembantunya." sahut kakek Ou tertawa.

Secara ringkas dia pun menceritakan bagaimana ia bertaruh dengan Tok kiau ji lo dan bagaimana pula ke dua orang itu diundang Kiu kaucu. .

Tam See hoa segera berkata setelah mendengar penuturan ini.

"Waah, kalau begitu gara2 bencana malahan mendapat rejeki, kalau tidak belum tentu racun hawa dingin yang mengeram didalam tubuh Wi-tayhiap bisa disembuhkan sedemikian cepatnya."

Kakek Ou sangat menguatirkan keselamatan So Siau-hui, apalagi dalam usahanya mencari Tok Seh-sia, ternyata kesasar sampai di Liu-seh-kok hingga setengah harian lamanya terbuang dengan percuma, tanpa terasa ia bangkit berdiri seraya berkata;

"Aku bisa menempuh perjalanan ber-sama2 Tam lote karena racun hawa dingin dari Wi sauhiap hanya bisa dipunahkan oleh Ban nian un-giok milik nona, sekarang Wi sauhiap telah sehat kembali, maka aku pun harus berangkat duluan."

"Kalau memang nona Sou telah ditangkap orang orang Tok seh sia, sebagai sesama anggota persilatan, apalagi kami pun berada disini, sudah sepantasnya bila kami pun turut memikul tanggung jawab ini." kata Kam Liu-cu.

"Perkataan Kam-toako benar." dukung Wi Tiong hong,

"kami harus mengikuti lotiang pergi ke selat Tok seh sia." Kakek Ou menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal, lalu berkata.

"Didalam perjalanan menuju ke selat Tok Seh-sia kali ini, rasanya kurang baik bila kita pergi secara berbondong-bondong apalagi aku telah menelan pil Pek-tok-kim-wan dan tidak kuatir keracunan. sebaliknya kalian. "

Tidak sampai perkataan tersebut selesai diucapkan, Wi Tiong hong telah menukas.

"Sekalipun nona So tidak ditawan musuh, aku memang punya rencana hendak mengunjungi selat Tok seh sia seorang diri. apalagi sekarang nona So sudah ditangkap orang, sudah sewajibnya bila aku turut serta pergi kesana."

"Wi-sauhiap ada urusan apa sih sehingga harus pergi mengunjungi selat Tok Seh-sia?" Wi Tiong-hong tertawa getir.

"Besar kemungkinan ayahku berada didelam selat Tok-seh sia. hanya saja hingga sekarang belum berhasil diperoleh bukti yang nyata, aku pikir yang penting sekarang adalah menyelamatkan nona So lebih dulu kemudian baru membicarakan persoalan yang lain."

Selesai mendengar perkataan itu. kakek Ou nampak termenurg sebentar, kemudian baru ujarnya:

"Kalau memang begitu. mari kita segera pergi mencari letak selat Tok seh sia, ayo kita rundingkan bersama-sama!"

"Persoalan ini tidak dapat ditunda lagi lebih baik kita segera berangkat sekatang juga." kata Tam See-hoa,

"apalagi selat Tok seh sia terletak didaerah yang terpencil dan amat berbahaya aku kuatir selat mana tidak gampang ditemukan dalam waktu singkat."

"Biarpun selat Tok seh sia terletak disuatu daerah yang sangat rahasia." kata Liu Leng poo, "namun jumlah anggota mereka pun tidak sedikit. ini berarti pasti ada banyak orang yang masuk keluar dari selat mana, bukankah hal seperti ini gampang untuk dicari?"

Kakek Ou kontan saja tertawa terbahak-bahak;

"Haah. . haah. . haah. . .Kam lote pun pernah berkata demikian, sehingga kami pernah meneropong dari atas puncak bukit sana beberapa saat. kemudian kami lihat ada dua sosok bayangan manusia menuju kemari, tak tahunya kedua sosok bayangan manusia tersebut adalah kalian berdua."

Sementara masih berbincang-bincang, beberapa orang itu sudah kaluar dari lembah Tok seh kok dan berangkat menuju kearah bukit Kou-lou san.

Semakin kedalam bukit mereka melaju, lambat laun langit pun berubah semakin gelap.

Banyak sudah selat dan lembah yang mereka datangi, akan tetapi bayangan selat Tok Seh sia masih belum juga kelihatan. terpaksa mereka pun mencari sebuah gua batu dipunggung bukit untuk melepaskan lelah.. .

(Perlu diketahui dibukit Kou loo san penuh terdapat gua gua batu, tapi berhubung gua itu melengkung dan tembus Kesana kemari karena itulah bukit ini dinamakan Kou lou san).

Ketika mendekati kentongan ke dua, mendadak terdengar Liu Leng poo mendesis lirih sambil berseru.

"Toa suheng, cepat lihat dari kaki bukit didepan sana tiba-tiba muncul sesosok bayangan manusia?"

Biarpun suaranya sangat lirih, namun berhubung semua orang sedang duduk bersemedi maka serentak mereka membuka matanya setelah mendengar perkataan itu.

Benar juga dari kaki bukit seberang telah nampak sesosok bayangan manusia yang bentuk kecil sedang celingukan kian kemari dengan sikap yang berhati-hati sekali.

Dengan pandangan mata yang tajam Kam Liu cu mengawasi bayangan tersebut lekat-lekat. kemudian bisiknya.

"Orangg itu mirip sekali dengan Tok-hay ji, Ji-sumoay, coba perhatikan dia muncul dari mana?"

"Sewaktu mendusin tadi, berhubung rembulan bersinar cerah maka aku telah memperhatikan sekeliling tempat itu dengan penuh perhatian, pada saat iniiah dari kaki bukit seberang sana muncul sesosok bayangan manusia secara tiba-tiba, padahal sebelumnya aku tidak melihat sesosok bayangan manusia pn."

Belum selesai ia berkata, mendadak tampak bayangan hitam kecil itu melompat ke bawah sebatang pohon besar dengan gerakan cepat, lalu menyusup ke balik rimbunya dedaun dan lenyap dengan begitu saja,

Wi Tiong hong yang menyaksikan kejadian segera bangkit berdiri sembari berseru. "biar kutengok kesana."

"Tunggu dulu saudara Wi. . . ." cegah Kam Liu-cu.

Mendadak dari atas pohon besar itu kedengaran suara sayap mengebas di udara kosong, kemudian tampak seekor burung terbang ke udara dengan kaget kemudian hinggap diatas sebatang pohon besar lain dibawah kaki bukit.

"Aneh, apa yang sedang ia lakukan?" tanya Liu Leng poo keheranan.

"Walaupun Tok Hay ji masih kecil. sebenarnya dia amat licik dan sangat cekatan." kata Wi Tiong hong, "jadi mustahil kalau perbuatannya itu hanya terdorong oleh jiwa kekanak- kanakannya sehingga ditengah malam buta begini dia cuma datang untuk mencuri sarang burung."

"Eiei, mana Ou lotiang ?" mendadak terdengar Tam See hoa berseru tertahan.

Ketika semua orang berpaling, betul juga bayangan tubuh kakek Ou sudah lenyap dari pandangan, entah ia pergi semenjak kapan?

Pada saat itulah tiba-tiba nampak bayangan kecil itu melompat turun kembali dari atas pohon, kemudian dalam beberapa kali lompatan saja ia sudah balik ke tempat semula dan lenyap dari pandangan mata., .

Selama ini Kam Liu cu mengamati terus lawannya dengan seksama, tanpa terasa ia berkata kemudian dengan keheranan. "Mungkinkah mulut masuk menuju ke sarang mereka terletak dibawah kaki bukit seberang sana? Sungguh aneh, didepan hutan sana adalah jalan raya yang menghubungkan ini dengan luar bukit, disebelah kiri terdapat kuil, mana mungkin mulut masuk menuju ke selat Tok seh sia terletak ditempat yang begini ramai? Apalagi tempat inipun tidak terdapat sebuah selat pun?"

Sementara itu Liu Leng poo berkata pula,

"Eeei, kenapa bayangan kecil itu bisa hilang lenyap? Dia kan bukan siluman yang bisa berjalan dalam tanah? Kenapa bisa lenyap dengan begitu saja ?"

"Mari kita kesitu dan tengok keadaan yang sebenarnya." ajak Kam Liu cu.

Belum habis dia berkata, mendadak dari kaki bukit diseberang sana muncul kembali sosok bayangan hitam.

Kam Liu-cu yang mengamati kaki bukit semenjak tadi itu segera termenung sebentar, kemudian katanya.

"Betulkah mulut masuk mereka terletak di bawah kaki bukit seberang . . .?"

Seperti juga bayangan kecil tadi setelah munculkan diri bayangan hitam itu pun mulai celingukan kian kemari dengan sikap yang sangat mencurigakan, kemudian secara tiba-tiba saja dia berlarian kencang menuju ke depan dan mengambil arah jalan raya dibawah bukit.

Mungkin lantaran larinya kelewat tergesa-gesa kaki kanannya tersangkut batu hingga terjerembab, sepatu kain yang dikenakan pun ikut copot.

-o00dw00o-