-->

Persekutuan Pedang Sakti Jilid 12

Jilid 12

Kakek berbaju abu abu itu sama sekali tidak menggerakan tubuhnya, ia hanya miringkan badannya menghindarkan diri dari babatan mata pedang Thio Kun kay, kemudian telapak tangannya diayunkan kemuka membabat ketengah udara.

Serangan pedang yang dilepaskan Thio kun kay pun tidak kalah hebatnya, dia memutar pergelangan tangan kanannya kemudian..." Sreeet!” sekali lagi dia melancarkan sebuah babatan kilat kedepan. Bacokan pedangnya itu sengaja dilancarkan dengan maksud untuk melindungi adiknya ujung pedang mencukil keatas menyambar pergelangan tangan kakek berbaju abu-abu yang sedang melancarkan serangan tersebut, gerak serangannya benar benar teramat cepat.

Kakek berbaju abu abu itu balas melancarkan pukulan keudara, dimana telapak tangannya direndahkan kebawah lalu . "plaak” menghajar telak diatas pedang Thio Kun kay Seketika itu juga Thio Kun kay merasakan pedangnya disambar oleh sesuatu kekuatan yang sangat besar sehingga pergelangan tangan kanannya bergetar keras dan kakinya limbung, dengan sempoyongan dia mundur selangkah kebelakang.

Setelah mempunyai pengalaman yang lampau, saat ini Lak jiu im eng Thio Man sudah melakukan yang cukup matang, ketika tubuhnya melejit ke udara, dia segera meluncurkan jurus serangan Juan im si ji (menembusi awan memanah sang surya,) pedangnya berubah menjadi segulung bianglala berwarna perak melindungi seluruh tubuhnya yang sedang menyerbu kemuka.

Siapa tahu baru saja menerjang sejauh tujuh delspan depa, kembali tubuhnya sudah terkena hadangan oleh sebuah pukulan dahsyat kakek berbaju abu abu yang menyambar tiba dari samping.

Seperti juga keadaan semula tadi, kembali dia dibuat tergetar sehingga mundur se jauh empat lima langkah.

Pada dasarnya sipedang bunga bwee Thio Kun kay adalah seorang yang tinggi hati, setelah dua kali serangannya malah kena terdesak mundur lawan, habis sudah kesabarannya

Tiba tiba ia tertawa nyaring, sambil mendesak kemuka dia putar pergelangan tangannya, cahaya pedang segera berkilauan memenuhi seluruh angkasa dan menyambut kedatangan tubuh sikakek berbaju abu abu itu.

Didalam gusar dan penasarannya, serangan tersebut telah dilancarkan olehnya dengan mengerahkan fegenap kekuatan yang dimilikinya .

Desingan angin sedang yang memekikkan telinga dengan mengandung taktik melekat, menggiring, menutul dan membabat dari aliran Bu tong pay langsung menyambar ke depan.

Sementara itu. Lak jiu im seng Thio Man yang gagal untuk ke dua kalinya menyusup ke atas bukit kecil itu menjadi penasaran bercampur gemas, sambil menggertak gigi menahan diri dia maju pula sambil memntar senjatanya Selapis cabaya perak yang berkilauan se perti hujan yang berderai menghambur ke atas tubuh kakek berbaju abu abu itu, serangkaian serangan yang gencar dan beruntun ini dilancarkan dengan kecepatan yang luar biasa.

Begitulah lakak beradik ini segera bekerja sama secara ketat, dua bilah pedang mereka kian menyerang kian bertambah cepat. Tampak gulungan cahaya pelangi ber warna perak melingkar datang dari kiri dan kanan dengan kecepatan tinggi, laksana mengepung kakek berbaju abu abu itu ditengah arena sehingga pada hakekatnya angin dan hujan pun sukar untuk menembusi.

Tampaknya kakek beabaju abu abu itu tidak menyangka kalau permainan pedang dari kedua orang ini sedemikian hebat dan dahsyatnya, biarpun dia harus menghadapi dengan pukulan telapak tangan, bacokan serta totokan, sulit juga rasanya untuk menghadapi keadaan tersebut.,..

Puluhan jurus kemudian, ke dua belah ujung bajunya sudah dipenuhi oleh beberapa buah lubang tusukan yang cukup besar.

Diam diam ia terkejut bercampur terkesiap juga menghadapi kejadian ini, segera bentaknya keras-keras.

'Tahan!”

Bagaimana pun juga, si pedang bunga Bwee Thio Kun kay berasal dari sebuah perguruan kenamaan, ketika mendenger bentakkan tersebut, ia benar benar menghentikan serangannya seraya membentak: "Apalagi yang herdak kau bicarakan?"

Sebaliknya Lak jiu im eng Thio man dengan wajah merah membara enggan untuk menghentikan serangannya, ia malah berteriak keras ;

“Jiko, kita habisi nyawanya lebih dulu sebelum berbicara"

Secara beruntun pedangnya melepaskan beberapa kali tusukan yang gencar dan beruntun.

Kakek berbaju abu abu itu segera terdesak mundur sejauh tiga langkah, mendadak sambil menuding ke arah Lak jiu im eng Thio man serunya dengan dingin :

"la sudah terkena racun sentilan jariku, sejak roboh ke atas tanah, dia baru akan sadar satu jam kemudian"

Thio Kun kay yang mendengar perkataan tersebut menjadi tertegun, dia tak tahu apa yang diucapkan tersebut benar atau salah. Sebaliknya Lak jiu im eng Thio Man segera berseru dengan penun amarah :

'Jiko, jangan percaya dengan obrolannya "

Baru berbicara sampai disitu, tiba tiba hidungnya mengendus bau harum semerbak yang sangat aneh.

Cepat cepat ia menutup semua pernapasannya, sayang keadaan sudah terlambat

Tiba tiba saja dia merasakan kepalanya menjadi amat pening, tubuhnya menjadi gontai dan akhirnya jatuh terduduk keatas tanah. Menyaksikan keadaan tersebut, kakek berbaju abu abu itu segera tertawa tergelak menjejakkan kakinya keatas tanah, dan sosok bayangan abu abu menyelinap ke atas bukit dengan kecepatan luar biasa...

000OdewiO000

SI PENA baja Tam See hoa dengan membopong tubuh Wi Tiong hong mengikuti dibelakang panglima sakti berlengan emas Oh swan menuju kediamannya. Sudah barang tentu So Siau hui belum kembali kerumah.

Peristiwa ini segera membuat kakek Oh menjadi panik bercampur gusar otot otot hijau pada keningnya pada menonjol keluar semua, sambil mencak mencak penuh amarah umpatnya kalang kabut.

'Bocah keparat, bila aku tak sanggup membacok dirimu hingga mampus percuma saja aku dinamakan panglima sakti berlengan emas"

'Locianpwee" kata Tam See hoa kemudian, “apakah sudah terjadi suatu peristiwa yang diluar dugaan atas diri nona So?”

“Sudah pasti dia telah diculik oleh bajingan yang menyamar sebagai Wi sauhiap” umpat kakek Ou lagi dengan penuh kebencian

Tam See hoa yang mendengar perkataan tersebut jadi tertegun dia tak mengira kalau ada orang yang berani menyamar sebagai Wi Tiong hong menculik puteri kesayangan Lam hay bun.

Tiba-tiba saja dia teringat dengan masalah Pit tok kim wan yang diperintahkan kepada Thian nomor satu untuk dicuri itu rahasia mana yang berhasil disadap olehnya sewaktu berada di pasenggerahan Cing sim sian ketika berlangsung pembicaraan antara Kiu tok kaucu dangau Thian nomor satu.

Pada waktu itu Thian nomor satu berkata begini-

“Kedatangan piaumoay kedaratan Tiong goan kali ini dikawal oleh panglima sakti berlengan emas On Swan. Ini menyebabkan aku tak bisa bertindak cepat, harap kaucu sudi memberi kelonggaran waktu selama beberapa hari lagi”

Pada waktu itu Kiu tok kaucu segera menyahut:

“Tua bangka So cuma mempunyai seorang putri yang dianggapnya bagaikan mutiara dalam genggaman, bila kita tak berhasil menyandra putrinya, ia pasti tak akan bersedia menyerahkan pula pil Pit tok kim wan tersebut kepada kita, baik, biar kuberi batas waktu sebulan lagi kepadamu..."

Ketika berpikir sampai disini, tak kuasa lagi Tam See hoa berteriak keras. “Sudah pasti Thian nomor satu!'

Kakek Ou menjadi terbelalak matanya mendengar teriakan itu, tanyanya kemudian ; "Thian nomor satu ? Siapakah dia ?”

“Menurut dugaanku, orang yang rrenyaru sebagai Wi tayhiap pastilah seseorang yang sangat dikenal, atau dengan perkataan lain orang dalam .”

Sejak bahunya dihujam dengan tiga batang jarum "Ciang tiong ciam", sebetulnya kakek Ou sudah mempunyai dugaan di dalam hati kecilnya, ketika mendengar perkataan itu segera serunya dengan perasaan terkejut bercampur keheranan :

"Dari mana saudara Tam bisa tahu ?"

Tam See hoa sudah cukup lama berkelana di dalam dunia persilatan, melihat mimik wajah kakek tersebut, ia dapat menduga kalau pihak lawan bisa jadi sudah mempunyai gambaran siapakah yang telah menyamar sebagai Wi Tiong hong itu.

Maka tanpa bertedeng aling lagi, secara ringkas diapun bercerita tentang pengalamannya sewaktu menyelundup ke dalam pesanggrahan Ling long san koan pada malam itu Seusai mendengar penuturan tersebat dengan penuh amarah kakek Ou berteriak :

'Ternyata memang dia, bocah keparat ini sudah mengidap sakit gila nampaknya, sampai terhadap adik misan sendiripun berani menyatroni . .”

Kemudian setelah berhenti sejenak. sambungnya lebih jauh :

"setelah menculik nona kita, sudah pasti dia berangkat menuju kebukit Thian bok san, Tam lote ayo kita kejar "

Tam See hoa menjadi sangsi setelah mendengar perkataan itu, sebab keadaan Wi Tiong hong waktu itu sudah amat kritis padahal perjalanan menuju ke bukit Thian bok san masih ada berapa hari lamanya, dia kuatir terjadi sesuatu dan susah mencari tabib untuk mengobati keadaan mana

Kakek Ou yang bermata tajam rupanya sudah membaca isi hatinya, sambil tertawa ka tanya kemudian :

"Kalau memang Wi sauhiap sudah terluka oleh senjata penggaris berhawa dingin, berarti dikolong langit dewasa ini selain batu hangat Ban nian un giok, hanya orang yang mahir ilmu Kiu yang sinkang saja yang bisa mengusir keluar bawa racun dingin tersebut, kecuali ke dua cara ini tiada obat penawar lain yang bisa menyembuhkan”

"Dari perguruan Lam hay bun kami memang terdapat pil Pit tok kim wan yang bisa memunahkan berbagai macam racun yang ada dikolong langit namun pil tersebut tidak bermanpaat sama sekali untuk mengobati racun hawa

dingin, sebab biarpun namanya racun hawa dingin, padahal bukan berbentuk racun sungguhan.

Sekarang nona kami sudah diculik orang, tapi untung sekali semua obat obatan yang dibawanya masih tertinggal disini semua.

'Perlu kau ketahui, Lam hay bun kami pun terdapat semacam obat mestika yang dinamakan Pek jit put swan wan, pil tersebut daoat mencegah penyakit yang diderita Wi sauhiap tak sampai menyebar atau semakin bertambah parah didalam seratus hari, ini berarti kita masih cukup waktu untuk mengejar nona dan minta kepadanya agar memunahkan racun hawa dingin tersebut"

Tam See hoa yang mendengar perkataan itu segera berpikir dihati: “Pek jit put swan wan benar benar sebuah nama yang aneh sekali ... !"

Sementara itu kakek Ou telah masuk ke dalam ruang dalam dan muncul kembali dengan membawa sebutir pil sebesar buah kelengkeng yang dibungkus dengan lilin, ketika lilinnya dibuka, didalamnya terdapat Kain kertas pembungkus yang berisikan sebutir pil kecil Tam See hoa yang berdiri dihadapannya segera dapat mengendus bau obat yang harum semerbak.

Sambil tertawa kakek Ou berkata kemudian :

“Tam lote, bukankah kau merasa nama Pek jit put swan wan ini aneh sekali kedengarannya? Haaah .. haahh.

..sungguhnya obat tersebut terbuat menurut resep obat peninggalan Hoi Tou dimasa lalu, betapa pun parahnya penyakit yang kau derita asalkan menelan pil tersebut maka di dalam seratus hari kemudian keadaan sakit yang dideritanya akan tetap seperti semula atau dengan

perkataan lain didalam waktu seratus hari itu. dalam kitab catatan raja akhirat tak bakal tercantum namamu, itulah sebabnya pil itu dinamakan Pek jit put swan-wan.'"

“Oooh, rupanya begitu' Tam See hoa segera tertawa setelah mendengar penjelasan tersebut.

Sementara itu kakek Ou sudah menggencet mulut Wi Tiong hong dengan kedua jari tangannya, kemudian menuangkan hancuran obat bersama air itu ke dalam mulutnya.

Tak lama kemudian hari pun mulai terang tanah.

Setelah mengetahui bahwa nonanya diculik oleh Lan Kun pek, perasaan kakek Ou nampak jauh lebih lega.

Dengan mata kepala sendiri dia melihat Lan Kun pit tumbuh menjadi dewasa dia pun tahu pemuda itu bisa sombong dan jumawa karena semenjak kecil sudah terbiasa di sayang dan dimanja oleh ke dua orang tuanya, hal terssbut menyebabkan dia mudah terbujuk dan mudah pula menempuh ke jalan sesat.

Padahal orangnya sendiri sama sekali tidak jahat, apalagi dia pun sudah lama menaruh hati terhadap nona ini, biarpun sudah terjatuh ke tangannya sekarang, ia yakin pemuda tersebut tak akan berani berbuat apa apa tethadap nonanya.

Setelah memandang keadaan cuaca, dia membopong tubuh Wi Tiong hong sambil katanya: “Tam lote kita harus menempuh perjalanan secepatnya '

“Lebih baik biar aku saja yang membopongnya."

Kakek Ou segera menggeleng

“Lote tak perlu bersungkan sungkan kepdaaku, sekalipun kau berkoson tangan, belum tentu kau sanggup menyusul diriku!'

Apa yang dikatakan memang sejujurrya nama besar panglima sakti berlengan emas dalam dunia persilatan sudah terhitung jagoan yang berilmu tinggi, tentu saja Tan See hoa tak dapat memungkiri kenyataan tersebut.

Kedua orang itu segera berangkat menuju ke utara untuk melakukan pengejaran jalan yang ditempuh ini tak lain adalah jalan yang hendak ditempuh Wi Tiong hong serta Tam See hoa juga merupakan jalan yang dilewati Lan Kun pik yang menyamar sebagai Wi Tiong hong dalam usaha melarikan So Siau hui dari pengejaran,

Hanya bedanya saja kereta kuda yang tempuh Lan Kun pit itu sudah berlalu lebih duluan daripada Tam See hoa sekalian

Ketika tengah hari baru lewat, merekapun sudah sampai di Ning tok dan bersantap sebuah warung dipinggir jalan Baru saja mereka berdua mengambil tempat duduk seorang lelaki berbaju biru lah datang menghampiri dengan langkah cepat setelah memberi hormat kepada Tam See Joa, katanya :

'Tam huhoat bersedia mengunjungi warung kami"

kejadian ini benar benar merupakan satu kebanggaan bagi kami”

"Darimana ciangkwee bisa mengenaliku ?' tanya Tam See hoa kemudian sambl balas memberi hormat Setelah tertawa paksa, siangkwee tersebut berkata

"Dahulu hamba pernah menjadi pelayan di sebuah rumah makan di kota. Hi cian, tentu saja mengenali Tam Huhoat'

Berbicara sampai disitu, dia pun berseru kepada pelayannya :

"Beritahu ke dapur, suruh selekasnya menyiapkan semeja hidangan yang paling baik aku hendak menjamu dua orang tamu agung"

Buru buru Tam See hoa menggoyangkan tangannya berulang kali seraya berkata : "Ciangkwee tak perlu sungkan, aku dan orang tua ini hanya akan beristirahat sebentar lalu meneruskan perjalanan lagi, kami tidak mempunyai waktu yang terlalu banyak"

"Aaah hal ini mana boleh jadi? Dihari hari biasa untuk mengundang kau orang tua pun belum tentu bisa sekarang mumpung Tam huhoat datang berkunjung, sedikit banyak hamba harus bertindak seperti seorang tuan rumah yang baik'

Melihat orang itu berbicara dengan tulus hati, tentu saja Tam See hoa tak dapat menampik lagi, mata ujarnya kemudian:

'Kalau memang begitu terpaksa aku she Tam mesti mengganggumu, cuma kami benar-benar masih ada urusan penting yang harus di selesaikan, apalagi kami dua orang pun tak akan habis makan hidangan semeja begini saja.

buatlah sayur berapa macam si ja, asal kenyang sudah lebih dari cukup”

Tapi pemilik warung itu menolak katanya lagi: Aaah, tidak, kalau berbuat begini berarti kurang hormatku terhadap dirimu " Tak lama kemudian hidangan telah keluar semuanya merupakan masakan yang lezat dan mewah.

Melihat perjamuan sudah siap, pemilik rumah makan itu segera berkata kepada kakek Ou yang masih membopong seorang lelaki dalam keadaan tak sadar itu;

"Teman huhoat ini rupanya sudah menderita luka dalam yang cukup parah, selama kalian berdua lagi bersantap lebih baik baringkan saja diatas pembaringan hamba'

'Tidak usah, beginipun tak menjadi soal' tampik kakek Ou dengan cepat.

Dengan hormat pemilik rumah makan itu menuangkan arak buat tamunya kemudian menemani pula dimeja perjamuan.

Ketika perjamuan sudah berlangsung segera waktu tiba tiba pemilik rumah makan seperti teringat akan sesuatu, dengan cepat dia celingukan sekejap kesekeliling tempat itu.

kemudian bisiknya dengan suara lirih:

'Tam huhoat. hamba teringat akan Suatu urusan"

Melihat orang itu berbicara dengan wajah serius dan bersungguh sungguh, Tam See hoa pun bertanya:

“Ada urusan apa ciangk wee? Kalau dibicarakan kembali hamba memang berdosa sekali, hamba ibaratnya punya mata tak mengenal bukit Thay san, barusan wakil ketua Wi tayhiap beristirahat diwarung kami."

Yang dimaksudkan sebagai Wi tayhiap tentu saja adalah Lan Kun pin

Tidak sampai dia menyelesaikan kata katanya, dengan cepat Tam See hoa telah ber tanya: "Semenjak kapan dia lewat dari sini?'

"Belum lama berselang, paling banter baru sepertanakan nasi lamanya." Kakek Ou segera menatapnya lekat lekat kemudian bertanya;

'Apakah dia menempuh perjalanan bersama sama seorang nona'.'" Pemilik rumah makan itu berpikir sebentar, kemudian sahutnya:

"Rasanya wi tayhiap datang dengan menunggang sebuah kereta, kereta itu diparkir dimuka pintu gerbang sementara tirai nya diturunkan sehingga hamba tak sempat melihat secara jelas apakah dalam kereta itu terdapat seorang nona atau tidak, namun setelah selesai bersantap, wi tayhiap masih sempat membeli bakpao sayur asin yang di bawanya ke dalam kereta'

Ou segera mang gut-manggut.

Dengan suara yang semakin rendah, pemilik rumah makan itu kembali berkata

"Tam huhoat hamba hendak melaporkan kepada kau orang tua, bahwa hamba sudah pernah menjadi pelayan selama dua puluh tahun lebih, sedikit banyak hamba pun mengenali cara kerja orang orang persilatan, barusan tampaknya ada dua rombongan manusia yang menguntil kereta yang ditumpangi wi tayhiap tersebut " "Siapa siapa saja mereka itu?"

"Pada mulanya adalah dua orang kakek berbaju abu abu yang menguntil kereta tersebut dari kejauhan hamba waktu itu duduk dibelakang meja kasir dan bisa melihat keadaan tersebut dengan jelas sekali.

"Ketika kereta yang di tumpangi Wi tay hiap berhenti di pintu gerbang rumah makan kami, satu diantara ke dua orang kakek berbaju abu abu itu segera berjalan masuk ke ruangan sedangkan yang lain berada di kejauhan sana sambil tetap mengawasi gerak gerik kereta itu.

"Melihat hal mana hamba sudah menaruh curiga, cuma pada waktu itu belum ketahui kalau orang yang menunggang kereta tersebut adalah Wi tayhiap . . .

Setelah menelan air liur, lanjutnya lebih jauh :

"Kemudian datang kembali seorang lelaki dan seorang wanita yang beristirahat disini, mereka bertanya kepada hamba apaka terdapat sebuah kereta kuda yang melewat pintu gerbang warung kami ? Hamba pun memberitahukan kepada mereka bahwa kereta tersebut beristirahat pula di warung kami.

Lelaki itu lantas bertanya siapa yang berada dikereta itu? Secara terus terang hamba pun memberi keterangan.

Perempuan tersebut segera berseru gembira setelah mendengar keterangan tersebut: “Aaah, kalau begitu dia tentu Wi toako. Setelah makan bakmi, mereka pun buru buru berangkat meninggalkan tempat ini. Hamba pernah mendengar tentang bentuk wajah pengganti ketua Wi tayhiap dari teman teman dalam perkumpulan, ditambah pula mendengar keterangan mereka, baru meyakini kalau orang yang beristirahat dalam warung tadi adalah Wi tayhiap..."

Tam see hoa dan kakek Ou tidak banyak berbicara lagi, selesai bersantap diri minta kepada pemilik rumah makan itu, terburu-buru mereka melanjutkan perjalanan.

Ketika menyusul ke Ou nia eng kebetulan sekali Lak jiu im seng Thio Man sedang keracunan oleh ulah kakek berjubah abu abu itu dan roboh tidak sadarkan diri.

Sedangkan si pedang bunga bwee Thio Kun kay sedang dibuat gugup dan gelagapan setengah mati, terpaksa dia menuruti perkataan dari kakek berbaju abu abu itu dengan membaringkan adiknya ke atas tanah sedangkan dia sendiri berjaga jaga disisi nya.

Tam See hoa maupun kakek Ou semua nya merupakan jago jago kawakan yang sudah sering melakukan perjalanan didalam dunia persilatan, menyaksikan jalanan tersebut dihadang sebuah batu cadas, sebuah kereta kosong tertinggal ditepi jalan, lalu melihat seorang nona berbaju merah tergeletak diatas tanah ditunggui seorang lelaki berbaju hijau yeng bermuram durja, mereka lantas sadar bahwa ditempat itu pasti sudah terjadi suatu peristiwa.

Kakek Ou sudah pernah bersua dengan pedang bunga bwee bersaudara ketika berada di kuil dewa bukit di pit bu san tempo hari, karenanya dalam sekilas pandangan saja ia dapat mengenalinya, segera tegurnya cepat:

"Bukankah kau adalah Thio sauhiap dari Bu tong pay? bagaimana keadaan adikmu?"

Tentu saja si pedang bunga bwee Thio Kun kay mengenali pula kakek Ou sebagai panglima sakti berlengan emas Ou Swan dari Lam hay bun, cepat cepat dia memberi hormat sambil sahutnya :

“Oooh, rupanya orang tua Ou juga telah menyusul kemari, kami dua bersaudara telah menemukan ada orang sedang mengendarai kereta yang ditumpangi saudara wi Tiong hong disekitar Ning tok, karena kami tidak tahu apa maksud tujuan mereka maka sepanjang jalan menguntil terus hingga sampai disini siapa tahu, kawanan manusia

tersebut ternyata terdiri dari jago jago lihay selat Tok seh sia, sewaktu kami berdua menyusul kemari, saudara wi sudah ditangkap lawan, sedangkan nona So dari perguruan anda turut ditawan oleh mereka.

"Didalam pengejaran itulah adikku terkena sentilan bubuk racunnya sehingga roboh tak sadarkan diri'

Mendengar perkataan tersebut, dengan gusar kakek Ou segera berseru keras

"Dia bukan Wi sauhiap melainkpn seorang yang menyamar sebagai Wi sauhiap" Tampaknya orang tua ini enggan banyak berbicara, setelah menengok sekejap kearah Lak jiu im eng Tho Man yang masih tergeletak diatas tanah, sambungnya lagi:

"Tampaknya adikmu tidak terlalu dalam keracunannya, untung aku masih membawa sebutir obat penawar racun, tolong Thi sauhiap enduskan ditepi lubang hidung adik mu, tak lama kemudian dia tentu akan sadar kembali"

Dengan tangan sebelah membopong Wi Tiong hong tangan yang lain mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya dan diangsurkan kedepan

Berhubung waktu itu Wi Tiong horg tengah menyaru muka, maka Thio Lun kay sama sekali tidak mengenalinya, setelah mengucapkan terima kasih dia sambut botol obat itu.

Kakek Ou segera bertanya "Apakah sauhiap melihat dengan jelas macm apakah penjahat penjahat itu dan mereka telah kabur kemana ?”

“Mereka terdiri dari empat orang kakek berbaju abu abu dan kabur menuju ke barat”

Mendengar kalau keterangan tersebut persis seperti apa yang didengar dari pemilik rumah makan, kakek Ou segera berseru

'Maaf, aku tak akan menemani lebih jauh”

Seusai berkata, bersama Tam See hoa buru buru mereka melakukan pengejaran menuju kebarat

Waktu itu Thio Lun kay hanya mendengar kakek Ou mengatakan bahwa orang yang tertawan bukan Wi Tiong hong, melainkann seseorang yang menyaru sebagai dirinya belum sempat bertanya lebih jauh, ke orang tersebut sudah pergi jaub.

'Hm, mari kita tembusi bukit demi bukit, aku tidak kuatir bila tempat tersebut tak berhasil ditemukan. . . Semenjak menempuh perjalanan bersama sama, Tam See hoa telah mendapat tahu kalau Panglima sakti berlengan emas ini meski sudah lanjut usia namun keberangasannya tak kalah dengan pemuda pemuda maka ia tertawa getir sesudah mendengar perkataan itu.

“Locianpwee" ujarnya kemudian "bukit Kou lou san amat luas dan besar, bukit dan puncaknya sangat banyak, andaikata mesti ditelusuri secara sungguh-sungguh aku kuatir hal ini pun tidak gampang"

"Menurut pendapat lote, apa yang mesti kita lakukan?" tanya kakek Ou dengan sepasang mata berkilat

“Menurut pendapatku, selat Tok seh sia dapat dinamakan selat itu berarti terletak dibagian selat atau lembah bukit."

“Ucapan lote memang benar, antara dua bukit memang bisa disebut selat bila kira harus mencari selat melulu, ini berarti sudah menghemat banyak tenaga"

'Selat mereka disebut selat pasir beracun. Sudah pasti terletak pula di suatu tempat yang terpencil dan jauh dari jamahan manusia”

'Haah.. . hahh . , hah.. , benar berarti kalau kita khusus mencari lembah yang jarang ditemui manusia, lebih banyak tenaga lagi bisa kita hemat' Kakek Ou semakin tertawa terbahak.

Melihat perkataanya kembali ditukas, orang See hoa terpaksa berkata lebih jauh,

“Harap locianpwee jangan gelisah dulu, aku belum selesai berkata, menurut dugaanku meskipun letak selat pasir beracun itu berada di tempat yang terpencil, tapi bila ditinjau dan kemunculan mereka di dalam dunia persilatan lagipula berambisi menguasai daratan di Tionggoan, maka bisa jadi pula mereka memiliki anak buah dalam jumlah yang cukup banyak.

'Dengan perkataan lain dalam satu hari saja pasti ada sekian orang yang hilir mudik didalam lembab tersebut, kita cukup memilih sebuah puncak yang bisa dipakai untuk memperhatikan keadaan disekeli!ingnya kemudian berjaga jaga disitu sambil melakukan pengintaian, aku yakin pasti akan kita temukan orang yang hilir mudik itu dan dengan demikian tok seh sia pun bisa kita temukan secara gampang”

Kembali kakek Ou tertawa tetbahak-bahak

“Haah..haah. . . haah. .. akal lote memang amat jitu, kalau begitu kita begitu bertindak demikian saja'

Ketika selesai berunding merekapun memilih sebuah puncak bukit yang tinggi serta mendakinya ke atas.

Dari puncak yang amat tinggi itu. semua pemandangan sejauh puluhan lie dapat terlihat dengan jelas sekali

Mereka berdua mencari sebuah batu cadas yang terlindung dari angin untuk duduk, kakek Ou membaringkan pula Wi Tiong hong ke atas tanah, lalu sambilmemandarg sekelilingg tempat Itu katanya sambil tertawa: "Tarn lote, seandainya kita berhasil menemukan selat Toi seh sia nanti, kau cukup mencari sebuah tempat yang terlindung untuk melindungi Wi sauhiap, biar aku seorang diri saja yang bertindak, sebab bila aku bekerja seorang diri maka hal ini akan lebih leluasa dan tidak mudah ditemukan orang, otomatis usahaku menolong orangpun semakin gampang"

Tam Sae hoa tahu bahwa apa yang diucap memang merupakan suatu kenyataan,

Tok seh sia penuh dengan jago jago lihay, bila dia memasukinya seorang diri, otomatis gerak geriknya akan jauh lebih leluasa.

Karena itu sahutnya sambil manggut manggut,

"Perkataan locianpwe memang benar.." Belum habis ia berkata, tiba tiba kakek Ou sudah bangkit berdiri sambil memandang kearah timur seraya ujarnya

'Nah, sudah datang, sudah datang, Tam lote cepat lihat, bukankah dari arah depan situ muncul dua sosok bayangan manusia?'

Menuruti arah yang ditunjuk Tam See hoa berpaling, betul juga tampak dua titik bayargan hitam sedang meluncur mendekat dengan kecepatan luar biasa.

Dengan perasaan terkesiap ia segera berpikir.

'Tampaknya selat Tok seh sia benar benar merupakan sarang naga gua harimau, berbicara soal ilmu meringankan

tubuh yang di miliki kedua orang itu, entah berapa kali lipat lebih tangguh daripada aku?"

Kedua sosok manusia itu bergerak amat cepat, tapi sewaktu tiba disebuah tikungan bukit, tiba tiba bayangan tubuhnya lenyap tak berbekas.

Kakek Ou segera mengamati keadaan disekitar situ dengan seksama, lalu katanya. "Tam lote agaknya ditempat itu terdapat sebuah selat'"

Jarak antara bayangan manusia tadi dengan tempat dimana mereka berada terpisah hampir dua puluh li, bagaimana mungkin Tam See hoa dapat menyaksikan secara jelas?

Sesudah memperhatikan beberapa saat, kakek Ou segera berpaling seraya berkata. "Ayo berangkat, mari kita tengok kedepan sana! "

“Apakah locianpwee sudah melihat dengan jelas ?” Kakek Ou tertawa.

'Tentu saja dapat melihat dengan jelas, disebelah kiri diluar lembah tersebut terdapat sebuah air terjun dengan air yang mengalir deras, sedang dimulut lembah tampaknya banyak terdapat batuan cadas yang berserakan. ."

Mendengar keterangan mana diam diam Tam See hoa merasa kagum, padahal dia sendiri hanya dapat melihat bukit saja, jangan lagi yang lain, bentuk lembah itupun tidak nampak.

Tapi kenyataannya sekarang, locianpwee tersebut dapat melihat begitu jelas sampai batu batunya, ketajaman matanya boleh di bilang luar biasa sekali. Mereka berdua segera menuruni bukit, dipimpin kakek Ou berangkatlah mereka menuju ke timur untuk mencari lembah tersebut.

Tak sampai sepertanak nasi kemudian, sampailah mereka dibawah bukit, betul juga di situ terdapat sebuah selat, disisi kirinya merupakan air terjun yang Iebar dengan air yg mengalir deras.

Batu cadas yang berserakan dimana mana serta semak belukar yang tumbuh sangat lebat membuat mulut lembah itu persis ditutup rapat, andaikata tidak terlibat dari atas bukit tadi, siapa pun tak akan menyangka kalau tempat itu terdapat sebuah selat.

Kakek Ou berlarian menuju ke mulut lembah tersebut, kemudian setelah diamati sejenak, katanya sambil tertawa dingin.

“Haaaa,. . haaa. . haa. .. hanya mengandalkan ilmu barisan semacam itu pun sudah ingin menghalangi jalan pergi orang, dibandingkan dengan barisan yang dibuat Lun nia dari Lam hay kami entah berapa kali 1ipat barisan kami lebih tangguh.

Berbicara sampai disitu dia serahkan tubuh Wi Tiong bong ke tangan Tam See hoa kemudian katanya lagi.

'Tam lote. ikuti saja dibelakangku, perhatikan setiap langkahku, kau mesti ikuti secara tepat jangan sampai salah langkah biar setindak pun"

"Aku akan mengingat dengan seksama"

Kakek Ou tidak berbicara lagi, dia segera berjalan memasuki batuan cadas tersebut. Dengan ketat Tam See hoa mengikuti dibelakangnya.

Ternyata dibalik batuan cadas yang dikelilingi semak

belukar itu terdapat sebuah jalan lintas yang kecil dan berliku liku.

Setelah memasuki lembah, ke dua orang itu berliku liku membelok pada beberapa tikungan kemudian dihadapan mereka terbentang batuan cadas yang berserakan seperti hutan, makin ke dalam jalanan yang harus dilewati semakin sukar dilalui.

Kakek Ou yang menguasahi ilmu barisan berjalan lebih dulu memasuki barisan batu tersebut, siapa tahu beberapa saat kemudian tiba tiba saja ia menjumpai susunan barisan yang dihadapinya sekarang amat kalut, sulit dan membingungkan.

Tanpa terasa dia berpaling memandang sekejap ke belakang, siapa tahu hanya didalam waktu yang sangat singkat inilah semua pintu barisan yang semula dilaluinya.

kini sudah hilang lenyap tidak berbekas, kenyataan ini membuat hatinya terperanjat sekali.

Tam See hoa yang membopong Wi Tiong hong dan mengikuti dibelakangnya menjadi sangat keheranan ketika melihat kakek Ou berhenti secara tiba tiba dan berpaling dengan wajah penuh perasaan terkejut, tak tahan ia bertanya.

"Locianpwee. apa yang telah kau jumpai?" Kakek Ou menggelengkan kepalanya berulang kali.

*'Lote, terus terang saja kukatakan, dan luar barisan batu ini sampaknya persis sekali sama dengan barisan batu yang berada di Lui nia kami. namun kenyataannya perubahan pintu pintu hidupnya jauh berbeda dengan barisan kami.

'Aaai. di hari hari biasa aku kurang begitu menaruh perhatian terhadap persoalan macam ini andaikata nona kami berada di sini, urusan pasti beres. Dia berpengetahuan

amat luas, lagipula banyak menguasahi rahasia rahasia ilmu barisan. . "

Biarpun kurang mengerti tentang ilmu barisan. namun Tam See hoa yang sudah cakup lama berkelana didalam dunia persilatan banyak sebuah yang pernah didengarnya, karena itu dia pun berkata;

"Locianpwe. bila kau memang merasa terdapatnya perbedian dalam pintu pintu rahasia barisan ini bagaimana jika kita mengundurkan diri lebih dulu kemudian baru membicarakan lebih lanjut.”

Kakek Ou segera tertawa getir.

"Gampang amat perkatann lote itu, jalan mundur kita sekarang sudah tersumbat, kini hanya jalan maju yang masih terbuka, padahal kita benar benar sudah kehilangan mata angin, mumpung aku masih mempunyai tenaga dalam akan kuusahakan agar menembusnya sebelum kehabisan tenaga nanti, coba kita buktikan apakah barisan ini sanggup mengurung kita atau tidak?'

Sembari berkata, ia sudah meneruskan perjalanannya menuju kedepan, ternyata perjalanan cepat yang ditempuh olehnya secara kebetulan berhasil menembusi pintu hidup yang benar sehingga berhasil lolos dari himpitan selat sempit tadi.

Sekarang dihadapan mereka terbentang dua buah persimpangan jalan, satu menuju ke selatan dan satu lain menuju ke utara, masing masing melingkari sebuah kaki bukit.

Sedangkan pada bagian tengahnya terpancang sebuah papan nama yang bertuliskan- 'Setiap pengunjung yang salah masuk ke dalam selat ini harap segera

mengundurkan diri menuruti jalan semula. sebab jalan yang lebih kedepan berbahaya sekali"

Rupanya tempat dimana mereka berdua berada sekarang adalah sebuah daratan rendah yang luasnya dua tiga kaki.

bila maju lebih ke depan maka akan terbentang dua cabang jalan menuju ke utara dan selatan, semuanya menembusi tanah berbatu yang amat rapat dan kacau, jelas kedua jalan itupun masing-masing diatur menurut sebuah ilmu barisan.

Sambil berpaling kakek Ou segera berkata. 'Tampaknya tempat ini benar benar adalah selat Tok seh sia. . setelah sampai disini. lebih baik lote mengikuti aku masuk ke dalam saja”

"Silahkan Iocianpwe maju lebih dulu" Tam See hoa manggut-manggut. Kakek Ou segera memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu,kemudian dia mengambil keputusan untuk menulusuri jalan yang menembus ke arah utara. Jalan itu berliku liku dan jauh lebih sempit daripada jalanan dimulut lembah tadi, ketika mereka berdua sudah menempuh perjalanan sampai sepertanak nasi lamanya, tak tahu ditemukan bahwa mereka telah balik kembali ke tempat semula.

Menyaksikan keadaan ini berkobarlah hawa amarah kakek Ou, serta merta dia mengayunkan sebuah pukulan menghantam kearah batu cadas yang berada dihadapannya.

Serangan yang dilancarkan dalam keadaan gusar ini benar benar mengandung kekuatan yang sangat luar biasa...

' Blaaammm !'

Terjadi suara benturan keras yang memekikkan telinga, batu dan pasir segera beterbangan memenuhi angkasa

sebuah batu cadas sebesar manusia terhajar telak dan “Kraaaak l' roboh terjuling ke atas tanah

Diam diam Tam See hoa menjulurkan lidahnya

menyaksikan kejadian Itu dan saat itulah dari arah jalanan sebelah selatan terdengar pula dua kali suara benturan yang memekik kan telinga.

Tak lama kemudian, dari puncak bukit sebelah selatan melayang turun suara bentakan seseorang yang tua dan nyaring-

"Siapa yang berani menghancurkan barisan batuku ?

Belum habis suara tetsebut berkumandang, dari puncak bukit sebelah utara bergema pula suara teguran yang sama.

"Siapa yang berani menghancurkan barisan batuku ?'

Kalau suara yang berasal dari puncak bukit sebelah selatan diutarakan dengan nyaring dan lantang. maka suara yang berasal dari sebelah utara lebih rendah dan berat.

Tam See hoa yang berada dibelakang kakek itu segera mengganggap suara itu sebagai suraa pantulan belaka, karenanya tak menaruh perhatian secata khusus.

Kakek Os segera tertawa terbahak bahak.

"Haha... Haa. .. haah . ,. kau anggap-permainan mu itu dapat menahan orang lain? Mungkin saja orang lain tak becus, tepi jangan harap bisa membendung aku si Ou lo toa

"

Tangan kirinya kembali di dorong kemuka dan. . .

"Weees l' segulung angin puyuh yang amat gencar dan dahsyat segera menggulung ke arah depan. "Blaaaammm.”

Sekait lagi terjadi suara benturan keras yang amat memekikkan telinga, tumpukan batu cadas yang berada disisi jalan itu segera tersapu oleh angin serangannya sehingga mencelat sejauh beberapa kaki dari posisi semula.

Dimana angin pukulan baru saja menyapu lewat, tiba tiba dari balik batuan muncul seorang kakek kurus ceking yang berbaju hitam, dengan wajah serius dan aneh dia membentak keras.

“Tua bangka, tempat yang lain tidak kau kunjungi, mengapa kau justru mendatangi selat kami dan merusak barisan batu kami Memangnya kau sudah bosan hidup?'

'Apakah tempat ini adalah Tok seh sia ?" tanya kakek Ou,

'Jangan perdulikan dulu tempat ini Tok seh sia atau bukan, aku cuma pingin bertanya kepadamu, apa maksudmu merusak barisan batu kami ini ?'

Kakek Ou kembali tertawa terbahak bahak.

'Haah , . haa. , haa. . . ternyata tempat ini adalah selat Tok seh sia. aku malah menganggap batuan tersebut terlalu mengganggu perjalanan orang'

"Apakah kehadiranku sekarang juga mengganggu perjalanan kalian?' teriak kakek ceking itu dengan marah.

"Haa, tentu saja mengganggu perjalanan orang"

"Sangat bagus, kenapa kau tidak mencoba-coba untuk menghajarku pula dengan pukulan . itu ?'

“Yaa, sangat kebetulan aku memang berniat-demikian”

Tampaknya kakek cekitg itu benar benar amat gusar dibuatnya setelah mendehem serunya, "Kalau begitu sambutlah lebih dulu pukulaanku ini"

Agaknya sudah sejak tadi ia persiapkan tenaga pukulannya, karena itu begitu selesai berkata dia lantas

mengayunkan tangan kanannya melepaskan sebuah pakulan yang amat keras kearah dadanya.

Tenaga dalam yang dimiliki orang ini lebih bersifat lunak dan berhawa im kang. serangannya sama sekali tidak menimbulkan angin pukulan barang sedikitpun jua. Namun segulung angin pukulan yang amat dahsyat tahu tahu saja telah mendesak tiba.

Kakek Ou segera mengayunkan pula tangan kanannya untuk menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras melawan keras, Tenaga dalam yang diandalkan kedua belah pihak sama sekali berbeda, bila si panglima sakti berlengan emas Ou Swan lebih mengandalkan tenaga pukulan yang-kang yang bersifat keras, dimana angin pukulan nya menderu deru dan membawa daya penghancur yang nyata, maka sebaliknya dengan kakek ceking itu Kakek ceking berbaju hitam itu lebih mengutamakan hawa Im kang yang lembut dan tidak nyata keampuhannya, biar pun serangannya tak bersuara namun mempunyai daya penghancur yang tidak kalah hebatnya, cuma diluar orang memang tak dapat menduga sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang dia miliki.

Begitu kekuatan mereka berdua saling bertemu, kakek Ou segera merasakan tenaga serangannya dipunahkan sama sekali oleh segulung angin pukulannya lembut musuhnya. Kejadian ini kontan saja membuat hatinya terperanjat, segera pikirnya;

"Entah orang ini berasal dari aliran mana? Tampaknya dia mempunyai taraf tenaga dalam yang amat sempurna"

Sebaliknya kakek ceking itu pun merasakan juga betapa dahsyat dan sempurnanya tenaga dalam kakek Ou, hatinya

dibikin tergetar keras sekali sampai ia mendeham dan tergeser mundur selangkah dari posisi semula.

Sesungguhnya ia dibikin tergetar mundur o!eh angin pukulan kakek Ou. tapi berhubung angin pukulan kakek Ou sudah dipunahkan terlebih dulu oleh lawan tanpa menimbulkan suara, maka kakek Ou sama sekali tidak mengetahui hal tersebur.

Begitulah, setelah saling beradu pukulan satu kali.

kedua belah pihak sama-sama menyadari bahwa mereka telah bertemu dengan musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya, siapa pun tak berani bertindak gegabah lagi.

Setelah mundur selangkah, kakek Ou segera berpaling kearab Tam See hoa sambil katanya;

"Tam lote, harap kau mundur sedikit, aku tidak percaya kalau dia sanggup menerima beberapa buah pukulan ku"

Tam See hoa yang membopong tubuh Wi Tiong hong dan berada lima enam depa belakang kakek Ou segera mengiakan setelah mendengar perkataan itu dan segera mundur pula kebelakang.

Begitu melompat mundur dia persis berdiri ditengah tengah persimpangan jalan tadi. Ketika berpaling kearah jalanan sebelah selatan.

disitupun dijumpai seorang kakek ceking berbaju hitam menghadang ditengah jalan.

Dihadapan kakek ceking itu berdiri pula orang lelaki tinggi kekar berbaju biru, sedang jarak diantara mereka berdua cuma lima depa, tapi masiig masing orang saling bertatapan muka tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Dibelakaag lelaki berbaju biru itu berdiri pula seorang gadis berbaju hitam yang bertubuh amat ramping, dia berdiri sambil memegang gagang pedangnya seakan akan bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Tam See hoa yang menjumpai hal tersebut diam diam berpikir dihati kecilnya. "Agaknya kedua orang itupun sudah mulai bertarung. mungkin mereka pun sedang beradu tenaga dalam."

Baru selesai dia berpikir, kedua orang itu sudah mulai menggeserkan posisi tubuh masing-masing.

Lelaki berjubah biru itu menggeserkan kaki tangannya ke-samping dan bertukar posisi sedangkan kakek ceking itu bergeser pola kesebelah kiri.

Yang satu bergeser ke kanan yang lain bergeser keklri, masing masing pihak menggeserkan tubuhnya bersama sama, biarpun amat lamban gerakan itu namun dapat dilihat kalau amat ngotot dan payah.

Sorot m«ta kedua orarg itupun saling bertatapan tajam, siapapun tak berani memecah kan perhatiannya.

Kakek Ou sudah cukup lama berkelana di dalam dunia persilatan, tentu saja dia pun tahu meskipun kedua orang itu kelihatan sangat tenang, seolah olah tidak terancam bahaya, padahal sesungguhnya masirg masing pihak telah menghimpun tenaga dalam sambil bersiap sedia.

Kalau tidak dilancarkan keadaan masih lumayan, tapi begitu dilepaskan sudah pasti keadaannya luar biasa dan menang kalah segera akan ketahuan.

Pada saat itulah merdadak terdengar kakek ceking berbaju hitam yang berada dihadapanya membentak keras.

'Tua bangka, sambutlah sebuah pukulanku lagi '

Tam See hoa yang mendengar perkataan tersebut buru buru mengalihkan kembali pandangan matanya ke arah pihak sendiri.

Agaknya ke dua orang itu pun sudah bertarung beberapa gebrakan, tapi berhubung serangan yang dilarcarknn kakek ceking itu sama sekali tidak menembuskan suara, maka tak kedengaran suara apa pun diudara hanya nampak kakek ceking itu kembali di desak mundur sampai beberapa langkah oleh serangan kakek Ou.

Kini dia sudah mundur sejauh tujuh delapan depa dari posisinya semula.

Jubah hitamnya kini sudah menggelembung besar, wajahnya semakin menyeringai seram, menyusul bentakan mana sepasang telapak tangannya diputar di depan dada kemudian mendorong keluar dengan sepenuh tenaga.

Serangan yang dilancarkan olehnya kali ini amat mantip, jelas telah disertai dengan tenaga dalam sebesar sepuluh bagian, namun angin pukulannya terap tidak nampak ganas atau mengerikan, malah kelihatannya begitu enteng dan lembut.

Panglima sakti berlengan emas Ou Swan adalah seorang jago kawakan yang bertenaga dalam sempurna dan berpengalaman luas, semenjak pertarungan bermula, dia sudah mengetahui kalau kepandaian silat lawan lebih mengutamakan tenaga im kang yang lembut.

Maka sambil tertawa terbahak bahak tubuhnya diperkuat dengan kuda kuda yang rendah, lalu hawa murninya dihimpun ke pusar dan sepasang telapak tangannya diletakkan sejajar dada, menanti angin pukulan yang lembut

itu sudah mendekati tubuhnya, tiba tiba saja dia mendorong sepasang telapak tangannya ke-depan.

Terdengarlah angin puyuh yang amat dahsyat bagaikan gulungan ombak di tengah samudra langsung menyapu kedepan

Tenaga serangan hawa lembut yang dilancarkan kakek bertubuh ceking itu dilontarkan dengan himpunan tenaga dalam sebesar sembilan bagian, dalam anggapannya semula, paling tidak ia tentu akan sanggup memberi pengajaran yang setimpal terhadap kakek Ou. Siapa tahu setelah angin pukulan masing masing pihak saling membentur satu sama lainnya, tiba tiba saja ia merasakan hatinya bergetar sangat keras.

Tenaga pukulan ysng dilontarkan olehnya segera dibuat terpental dan membuyar oleh angin serangan bertenaga yan-kang yg dilancarkan musuh, bahkan masih terdapat segulung angin pukulan yang lebih kuat mendesak tubuhnya.

Tak ampun lagi kuda kudanya tergempur. Ia tak sanggup berdiri tegak lagi sehingga beruntun tubuhnya mundur sejauh lima enam langkah, darah dalam tubuhnya bergolak sangat keras hampir saja ia roboh terjungkal ke atas tanah Sementara itu kakek Ou sudah melejit ke tengah udara bersamaan dilontarkannya sepasang telapak tangannya tadi, diiringi suara desingan angin tajam yang menyayat tubuh dia langsung menerkam kakek ceking itu.

Tak terlukiskan rasa terperanjat kakek ceking itu, sekuat tenaga ia menjejakkan kakinya ke atas tanah lalu menyelinap lima depa ke samping bentak nya kemudian.

"Tahan !'

Kakek Ou segera menghentikan gerakannya sesudah mendengar bentakan mana serunya sambil tertawa terbahak bahak.

"Hah. .. haaa . . haah . . apakah kau tak sanggup untuk menerimanya ?'

Kakek ceking itu tertawa licik. "Aku hanya ingin menjelaskan satu hal kepadamu, yakni dtbalik angin pukulanku itu mengandung racun yang amat jahat, padahal kau sudah lima kali melakukan bentrokan kekerasan denganku, berarti kau sudah keracun sangat hebat, tanpa obat penawar racun khusus dariku, dalam seperminum teh kemudian sari racun itu akan mulai bekerja!'

'Kau anggap aku takut dengan racun?' jengek kakek Ou sambil tertawa karas. Kakek ceking itu melirik sekejap kearahnya kemudian berkata lagi;

'Aku tahu tenaga dalam yang kau miliki mencercapai tingkatan yang amat sempurna dan terhitung jago paling tangguh yang pernah kuhadapi selama puluhan tahun terakir ini, namun aku tak percaya kalau tengaa dalammu benar benar telah mencapai ketingkatan kebal terhadap pelbagai macam racun

Kakek Ou segera mendongakkan kepalanya tertawa terbahak babak:

"Haah. . haaah. , haah. .semenjak dilahirkan aku sudah kebal terhadap segala jenis racun bila kau tak percaya yaa sudahlah"

Kakek ceking itu tampak agak tertegun, kemudian katanya lagi sambil tertawa seram;

"Biarpun kolong langit itu luas, belum pernah ada orang yang dapat lolos dari kehebatan racunku"

Belum sempat kakek Ou mengucapkan sesuatu, tiba tiba dari belatang tubuhnya kedengaran suara gedebukan yang keras.

Ketika ia capat cepat berpaling, maka di jumpai Tam See hoa telah roboh terjangkang keatas tanah. Tanpa terasa lagi dia mendesis dengan penuh amarah;

“Kau berani melepaskan racun secara diam diam untuk mencelakainya.”

"Tatkala kulancarkan serangan yang pertama kali tadi, orang ini berdiri kelewat dekat dengan arena pertarungan, akibatnya Hawa racun telah menyusup kedalam tubuhnya kapan sih aku telah mencelakainya secara diam diam?”

Kakek Ou mendengus penuh amarah kemudian

melompat kesamping Tam See hoa dan memeriksa tubuhnya.

Ditemukan Tam See hoa tergeletak dengan mata terpejam rapat, jelas dia sudah roboh tidak sadarkan diri.

karena itu serunya kemudian sambil mengangkat kepala, "Mana obat penawar racunmu. . "

Belum selesai ia berkata, dari arah sebelah kanan berkumandang pula dua kali suara gebrakan yang keras.

Menyusul kemudian terdengar seseorang berseru sambil tertawa nyaring. 'Bocah keparat, rupanya kalian cuma mempunyai kemampuan begitu terbatas?"

Kakek Ou merasa sangat keheranan sehingga ia segera berpaling, ternyata pada mulut jalan sebelah selatan pun

kelihatan ada dua orang yang sama sama roboh keatas tanah sementara dari balik batuan cadas muncul seorang kakek ceking berbaju hitam dengan langkah lebar.

Kakek Ou yang bermata tajam dalam sekilas pandangan saja segera mengenali laki perempuan yang roboh terkapar di atas tanah saat ini adalah dua orang yang pernah di kenal ketika berada di kuil dewa tanah di bukit Pit bun san tempo hari.

Mereka adalah murid pertama dari Thia Sat hio yaitu Kam Lu cu seria adik seperguruannya Liu Leng poo.

Dengan senyuman 1icik dan sinis menghiasi wajahnya, kakek ceking itu maju selangkah demi selangkah ke depan siap mencengkeram tubuh kedua orang itu.

Tentu saja kakek Ou tak akan membiarkan orang itu berhasil dengan perbuatannya, sambil menghimpun tenaga dalamnya dia melesat maju ke depan sambil bentaknya keras keras

“Enyah kau dari sini !'

Belum sampai tubuhnya mencapai tempat kejadian, telapak tangan kirinya telah dilontarkan ke depan melepaskan sebiah pukulan yang maha dahsyat.

Padahal selisih jarak diantara kedua orang itu mencapai empat lima kaki, sekalipun kakek ceking tadi dapat melihat kalau kakek Ou datang dari jalan bukit sebelah utara, namun ia tak menyangka kalau gerakan tubuh lawannya bisa begitu cepat dan luar biasa.

Baru saja suaranya bergema, tahu tahu pukulan dahsyat telah dilancarkan dari tengah udara. Ia menjadi amat terperanjat setelah merasakan datangnya desingan, angin tajam yang menyergap tubuhnya secara tiba tiba itu.

Akan tetapi, kepandaian silat yang dimiliki kakek ceking itupun sangat luar biasa, didalam gugupnya dia segera melepaskan pukulan untuk mengunci datangnya ancaman tersebut,

Lalu bentaknya sambil tertawa nyaring. “Kembali kau !'

“Blaaamm !

Dua gulung angin pukulan yang amat keras segera saling beradu satu sama lainnya; akibatnya dari bentrokan mana, timbul desing angin puyuh yang maha dahsyat di sekeliling tubuh mereka berdua.

Kakek ceking itu segera menjerit kaget, tubuhnya tak dapat ditahan lagi segera terdorong mundur sejauh dua langkah.

Sementara itu si kakek Ou yang masih berada diudara segera melayang mundur ke belakang ketika terhembus oleh angin pukulan tersebut. dengan ujung baju yang berkibar terhembus angin, dia melayang turun lurus kebawah tanpa tubuhnya tergetar sama sekali. Biarpun begitu, diam diam hatinya dibikin terkejut juga oleh kelihayan musuhnya, dia segera berpikir:

"Orang ini memang benar-benar amat hebat, biarpun serangan tadi dilancarkan dengan ayunan tangan yang sederhana namun bila ditinjau dari hasil tenaga yang kang yang dihasilkan dalam serangan tersebut, paling tidak mencapai tujuh bagian, nampaknya tidak banyak umat persilatan dewasa yang mampu menggunggulinnya, bila

pihak Tok seh sia memiliki jagoan yang begitu hebatnya, aku tak boleh memandang remeh kekuatan mereka lagi"

Setelah didesak mundur oleh serangan kakek Ou yang dilontarkan dari tengah udara tadi, dengan perasaan terkesiap kakek ceking tadi menatap wajah lawannya lekat lekat, kemudian hardiknya;

'Kau anggap ilmu silat yang kau miliki itu sangat hebat?”

"Mungkin tak akan lebih cetek dari pada kemampuanmu bukan?" jawab kakek Ou sam tertawa. 'Heeeh, heeh. . beeeh. . apakah kau berani mencoba sekali lagi?"

“Mengapa tidak?"

Kakek ceking itu tertawa dingin, pelan pelan dia mengangkat tangan kanannya keatas

Ternyata memanfaatkan kesempatan disaat orang bincang tadi, secara diam diam telah menghimpun tenaga dalamnya, ke tangan kanannya yang kurus tinggal pembungkus tulang itu pelan-pelan berubah menjadi merah membara.

Terkesiap juga kakek Ou setelah menyaksikan peristiwa tersebut, segera pikirnya: “Ternyata orang ini sudah berhasil melatih ilmu pukulan beracun sebangsa Sam yeng kang.

.."

Perlu diketahui Iltnu pukulan Sam yang kang adalah sejenis ilmu pukulan tingkat tinggi yang amat hebat, orang harus berlatih Sam yang cin khi terlebih dulu sebelum melatih ilmu tadi. itupun orang tersebut harus mempunyai hasil latihan puluhan tahun, namun bila ilmu tadi sudah dikuasai, maka sukar ada orang yg mampu menandingi nya. . .

-oo0dw0oo-