-->

Persekutuan Pedang Sakti Jilid 11

Jilid 11

TERNYATA BENDA YANG BERADA didalam

genggaman kakek berambut putih itu adalah sebuah botol kecil berwarna putih susu, ketika penutup botolnya dibuka isinya hanya berupa sebutir pil sebesar kacang hijau , Sebagai orang yang berpengalaman luas, dalam sekilas pandangan saja Tam See hoa sudah tahu kalau pil itu bisa jadi adalah obat penawar racun, agaknya dia sewaktu

mengeluarkan botol obat itu dan belum sempat menelan pil tersebut, racun yang mengeram dalam tubuhnya sudah mulai bekerja,

Berpikir sampai disini, tidak ambil perduli apakah kakek berambut putih itu masih bisa tertolong atau tidak, ia segera membuka mulut kakek itu serta menjejalkan pil tadi ke dalam mulutnya

Sebetulnya tindakan ini dilakukan tanpa suatu maksud tertentu suneguh tak di sangka justru karena perbuatannya yang tanpa sengaja ini, dia telah menyelamatkan selembar jiwa seorang tokoh sakti dan dunia persilatan.

Dalam pada itu terdengar Thio Ki ban menghembuskan napas panjang... cepat cepat Tam See hoa bertanya :

"Sianseng, apakah sahabatku ini masih bisa tertolong ?”

"Sulit... sulit ..." Thio Ki ban menggelengkan kepalanya berulang kali. “Jadi ia sudah tak tertolong lagi?'

Menghadapi desakan pertanyaan ini, Thio Ki ban menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal.

'Aku tidak mengatakan kalau sahabatmu itu sudah tak tertolong lagi, hanya saja kemampuan yang kumiliki sangat terbatas, aku tak bisa menolongnya "

”Sianseng amat termashur sebagai seorang tabib kenamaan bila kau sanggup menyembuhkan racun hawa dingin yang menyerang sobatku ini pasti akan kuberi imbalan yang amat besar untuk sianseng."

"Imbalan yang amat besar sih tak berani kuterima, selama aku bekerja sebagai seorang tabib, asal penyakit tersebut masih mampu kusembuhkan, aku selalu akan berusaha dengan segala kemampuan yang kumiliki, tapi

racun hawa dingin yang menyerang tubuh sobatmu itu

..baru pertama kali ini kujumpai setelah bekerja selama puluhan tahun lamanya...”

Belum selesai dia berkata, kakek berambut putih yang berada dibelakang pohon itu sudah bangkit dan duduk, kemudian sambil membuka matanya lebar leber dia menegur .

"Apakah selembar jiwaku telah diselamatkan oleh Sianseng ini ?"

Tadi, Thio Ki ban sudah memeriksa denyut nadi kakek tersebut dan ia mengetahui pasti bahwa orang itu sudah tak tertolong lagi, tapi sekarang, tiba tiba saja kakek yang dianggapnya sudah pasti akan mati itu bisa duduk dan berbicara kembali, tak heran kalau dia dibuat terkejut dan ketakutan setengah mati

Secara beruntun tubuhnya mundur sampai beberapa puluh langkah, tapi akhirnya dia tersandung batu sehingga jatuh terjengkang ke atas tanah Buru buru Tam See hoa membangunkan tabib tersebut dari atas tanah, tegurnya : ”Sianseng. kenapa kau ?'

Sambil menjulurkan lidahnya karena ketakutan, sahut Thio Ki ban agak tergagap 'Dia

...dia sudah jelas keracunan hebat dan .... dan tidak bakal tertolong lagi, ke . . kenapa sekarang ..bisa duduk dan .... dan berbicara lagi”

Tam See hoa tahu. pil yang dijejalkan ke mulut si kakek berambut putih tadi sudah pasti merupakan obat penawar racun yang sangat mujarab, karena itu dia tidak berkata apa apa lagi.

Sementara itu, kakek berambut putih tadi sudah bargkit berdiri, sambil membersihkan pakaiannya yang kotor, dia berkata seraya tertawa :

”Betul, aku memang sudah merupakan seorang yang hampir mampus karena keracunan entah siapakah yang telah membantuku untuk memasukkan pil penawar racun ke mulutku ?"

Tam See hoa segera menjura, lalu sahut nya :

'Ketika kujumpai lotiang memegang sebuah botol obat aku lantas menduga kalau lotiang belum sempat menelan pil penawar racun tersebut karena sang racun sudah keburu bekerja, itulah sebabnya kubantu lotiang untuk masukkan pil tersebut ke mulutmu, untung sekarang racunpun sudah punah silahkan bersemedi sebentar untuk memulihkan kekuatan badan . . .”

Berkilat sepasang mata kakek itu. kata nya sambil tertawa terbahak bahak :

“Haa ...haa .. haa .. tadi aku tak sadarkan diri karena terkena jarum beracun tapi sekarang racun itu sudah punah tak lama kemudian kesehatan tubuhku akan pulih kembali dengan sendirinya.”

Kemudian kepada Tam See hoa tanyanya seraya menyura :

“Terima kasih banyak atas pertolongan lote. boleh aku tahu siapa namamu?” "Aku Tam See hoa"

Namun berhubung penyakit yang diderita Wi Tiong hong sangat parah, ia sama sekali tidak berniat untuk banyak berbicara dengan kakek tersebut, selesai berkata ia berpaling lagi ke arah Thio Ki ban sambil berkata:

“Sianseng, cobalah mencari akal, apakah masih ada cara lain untuk menyembuhkan dia ?”

"Aku sama sekali tidak pandai ilmu silat, berbicara soal pemeriksaan denyutan nadi, penyakit sobatmu itu berbeda sekali dengan terkena hawa jahat yang umum menyerang manusia, jadi aku benar benar tak bisa menjelaskan penyakit apakah itu, tentu saja sulit pula bagiku untuk memberi obatnya."

Tiba tiba terdengar kakek barambut putih itu menyela :

"Tam lote penyakit apa sih yang diderita sobatmu itu? Biar aku yang memeriksa”

Tam See hoa sudah lama berkelana didalam dunia persilatan pengalamannya mau pun pengetahuannya amat luas, ia sudah tahu kalau kakek tersebut bukan manusia biasa, karena itu sahutnya;

"Sobatku terserang hawa dingin beracun'

“Hawa dingin beracun? Bagaimana ceritanya bisa terkena hawa dingin beracun?'

Tiba tiba Thio Ki ban menyela „Menurut hasil pemeriksaanku tadi, paling tidak penyakit tersebut sudah dideritanya tiga empat hari berselang"

Tam See hoa segera mengangguk.

"Yaa sudah tiga hari cuma baru hari ini mulai kambuh'

Melihat hasil pemeriksaannya tepat. Thio Ki ban segera manggut manggut dengan perasaan bangga.

"Yang ingin kuketahui adalah apa yang menyebabkan dia terkena hawa dingin beracun?" ujar kakek berambut putih itu.

"Terus terang saja kukatakan, sobatku ini terkena hawa dingin beracun yang terpancar keluar dari senjata penggaris kemala.”

“Penggaris kemala dingin?'' kakek itu tercengang, "jadi kalian sudah berjumpa dengan Kou lou tok kun? Sungguh aneh sudah belasan tahun lamanya tidak kudengar kabar berita tentang Kou lou tok kun tersebut.,.."

Berbicara sampai di situ, tanpa terasa ia tertawa terbahak bahak: "Sungguh beruntung kalian telah berjumpa dengan aku”

Ketika Tam See hoa mendengar dari pembicaraan tersebut seolah olah dia memahami cara untuk mengobati luka tersebut, buru buru katanya dengan cepat:

"Bila lotiang berhasil menyelamatkan jiwanya aku pasti akan berterima kasih"

"Selembar jiwaku juga pemberian dari lote, buat apa sih kau mesti bicarakan soal berterima kasih? Cuma sobatmu sudah tiga hari terkena hawa dingin beracun dari senjata penggaris kemala dingin, ini berarti hawa dinginnya telah merasuk ke dalam tulang, repot rasanya untuk mengobati luka itu . .ehmm, biar kuperiksa sekali lagi keadaan lukanya.'

Sambil membungkukkan diri ia memeriksa sekejap raut wajah Wi Tiong hong, mendadak ujarnya:

“Apakah wajah sahabatmu ini telah di rubah dengan obat penyaru muka. ?'

Tam See hoa merasa amat terkejut, tapi saat ini dia lebih memikirkan soal keselamatan jiwa pemuda itu. maka sahutnya sambil mengangguk berulang kali:

“Ya sobatku ini memang sudah menyaru muka." "Apakah dia membawa obat pencuci muka?

Tam See hoa segera merogoh ke dalam saku Wi Tiong hong daa mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil yang segera diangsurkan ke depan. Kakek itu segera membuka kotak kayu itu dan mengeluarkan sebutir pil berwarna bisu, pil tadi diremas-remas lebih dulu ditelapak tangannya kemudian baru diusapkan ke wajah Wi Tiong hong.

Ketika Thio Ki ban mendengar kakek itu pandai menyembuhkan racun rawa dingin, timbul perasaan ingin tahu didalam hatinya, dengan tenang ia berdiri disamping serta mengawasi semua gerak geriknya dengan seksama dan penuh perhatian,

Ia semakin kaget bercampur keheranan setelah melihat obat yang digosokkan ke wajah seorang lelaki setengah umur yang berwajah merah itu tiba tiba berubah menjadi selembar wajah yang tampan.

(Catatan : Sejak Wi Tiong hong berpisah dengan Cho Kiu moay dibukit Kang.san dan hendak berangkat memenuhi janjinya dengan si paman yang tak dikenal namanya, ia sudah mulai menyamar sebagai seorang lelaki setengah umur yang berwajah merah ).

Ketika selesai menghilangkan obat penyaru muka diwajah Wi Tiong hong, tiba-tiba kakek berambut putih itu membalikkan badan dan mencengkeram urat nadi Tam See hoa, lalu dengan mata bersinar tajam dan tertawa terbahak bahak serunya :

”Haaahh...hahaa,. ..hampir saja aku tertipu oleh sobat, hmm hmm . apa yang telah kau lakukan terhadap Wi siangkong? Ayo cepat berbicara terus terang!"

Tam See hoa merasa pergelangannya yg dicengkram amat sakit dan sama sekali tak mampu bergerak bagaikan dijapit oleh ja pitan besi. Dengan perasaan kaget buru buru serunya

''Lotiang, cepat kau lepaskan tanganku kau telah salah paham" ”Lepas tangan?'' jengek kakek itu sambil tertawa seram

''aku tidak akan takut kau bisa kabur kelangit salah paham? Apanya yang salah paham.?'

Sembari berkata dia benar benar mengendorkan kelima jari tangannya dan melepaskan pergelangan tangan Tam See hoa

”Aku Tam See hoa," ujarnya kemudian sambil menggosok gcsok pergelangannya yg sakit,

"Sejak tadi aku sudah tahu kau bernama Tam See hoa, yang ingin kuketahui adalah apa yang telah kau lakukan terhadap Wi siangkong?'

"Semua yang ku katakan tadi merupakan kejadian yang sebenarnya sebetulnya aku dan Wi tayhiap sedang melakukan perjalanan untuk mencari seseorang, siapa tahu menjelang magrib tadi racun hawa dingin yang menyerang tubun Wi tayhiap telah kambuh sehingga jatuh tak sadarkan diri, karenanya aku pun berangkat kedusun depan sana untuk mengundang Thio lo sian seng ini agar mengobati penyakitnya'.

“Sudah berapa hari kau menempuh perjalanan bersama samanya? "

“Aku dan Wi tayhiap berangkat dari perkumpulan Thi pit pang, hari ini sudah merupakan hari ke tiga'

"Waaah, jadi aneh rasanya .." gumam kakek itu keheranan bercampur tidak habis mengerti. Tiba tiba sorot matanya dialihkan ke atas jari manis tangan kiri Wi Tiong hong ia segera menjumpai diatas jari manis tersebut melingkar sebuah cincin besi

Melihat itu tanpa terasa dia melepaskan cincin tadi dari tangan kirinya dan diperiksa sekejap

Tampak olehnya diatas mata cincin besi itu terdapat sebutir mutiara hitam sebesar kacang kedelai, dalam sekilas pandangan saja ia dapat mengenali kalau mutiara hitam itu tak lain adalah mutiara penolak pedang yang termashur dalam dunia pe silatan.

Kemudian diapun melihat di sisi tubuh Wi Tiong hong tergeletak sebilah pedang maka setelah memasukkan kembali cincin tadi ke jari manis tangan kiri pemuda itu, mendadak ia meloloskan pedang tersebut.

Setelah meloloskan pedang Jit siu kiam, kakek itu hanya memandangnya sekejap kemudian paras mukanya berubah hebat, sambil mendepak depakkan kakinya berulang kali. ia membentak penuh amarah . 'Keparat terkutuk..”

Tam See hoa mengira kakek itu hendak menyerang Wi Tiong hong, secepat kilat dia meloloskan pula sepasang poan koan pitnya sambil bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan bentaknya ;

''Lotiang mau apa kau...?'

Sebelum Tam See hoa menyelesaikan kata katanya kakek itu sudah menyarung kan kembali pedang jit siu kim, lalu serunya gelisah

“Tam lote, cepat kau bopong Wi siang kong dan ikuti aku, racun hawa dingin yang menyerang tubuh Wi siangkong hanya bisa dipunahkan dengan kemala penghangat.

Melihat gerak gerik lawan yang aneh dan mencurigakan itu. Tam See hoa jadi ragu ragu, serunya tertahan :

“Lotiang. '

“Cepat ikuti diriku" seru kakek itu cemas 'aku Ou Sian, Ban nian un giok kemala hangat berusia selaksa tahun, berada disaku nona kami. "

Nama besar si panglima sakti berlengan emas dari Lam hay bun sudah barang tentu pernah didengar Tam See hoa dia menjadi kegirangan setengah mati, serunya cepat:

' Oooh, rupanya lotiang adalah Ou locian pwee, tapi aku mesti mengantar lo siansang ini pulang dulu ke rumah."

Sejak kakek Ou menemukan mutiara penolak pedang dan Jit siu kiam disisi tubuh Wi Tiong hong dan membuktikan kalau orang inilah Wi Tiong hong yang sesungguhnya, maka ia pun lantas menaruh curiga kalau orang yang diselamatkan oleh nya semalam adalah Wi tiong hong gadungan

Pikiran tersebut kontan saja membuatnya sangat gelisah dan ingin selekasnya kembali ke kuil.

Karena itu, sewaktu mendengar perkataan ini cepat cepat ia bersera sambil mendupakan kakinya berulang kali; “Saat ini masalahnya sudah sangat gawat, kau anggap dia tak mampu berjalan pulang seorang diri? Ayo cepat ikuti aku"

Thio Ki ban buru buru menimbrung pula:

"Ya, benar, Tam tayhiap memang seharus nya menang orang lebih dulu, sedang aku bisa pulang sendiri, tak usah diantar lagi."

Tatkala Sa siau hui mendusin kembali, ia merasakan tubuhnya bergoncang terus menerus, bahkan telinganya menangkap suara putaran roda kereta yang amat keras, Ia bagaikan mendapar sebuah impian yg amat buruk, ia masih ingat peristiwa semalam ....

Waktu itu dia sedang mengejar keluar kuil tapi sama sekali tak nampak bayangan tubuh musuh, sewaktu hendak membalikkan badan, ia jumpai ada sesosok bayangan hitam sedang melewat ke belakang bukit dari arah kuil.

00OdwO00

WAKTU ITU Wi Tiomg hong menyuruh dia mengejar keselatan, sedang dia menuju ke timur, maka bayangan hitam itu bisa ja di adalah penjahat, maka diapun mengejar ke atas bukit.

Ketika tiba dipuncak gunung itu, ternyata Wi Tiong hong sudah tiba lebih dulu di situ sambil berteriak teriak keras :

"Kakek Ou .. . . kakek Ou "

Waktu itu dia menjadi keheranan sehingga tanpa terasa bertanya kepadanya : "Mana empek Ou?

Tapi sikap maupun mimik muka Wi liong hong segera menunjukkan ketidak beresan-bahkan berbalik menanyakan kepada dirinya

"Apakah kau melihat empek Ou?"

Sementara dia masih keheranan oleh pertanyaan itu.

mendadak ia menotok jalan darahnya, waktu itu dia masih merasakan bagaimana dia dibopong dan dilarikan sepanjang malam .

Sekarang, dia benar benar berada diatas kereta, hendak dibawa kemana dia?

Mendadak ia teringat kembali akan ucapan Wi Tiong hong yang jelas mengatakan hendak mengejar kearah timur, kenapa ia bisa muncul dipuncak bukit?

Kemudian ia teringat kembali malam sebelumnya Wi Tiong hong diracuni orang, bahkan semalampun masih ada orang hendak mencelakainya lewat jendela, kalau orang yang muncul d:puncak bukit itu benar benar adalah Wi Tiong hong asli, mengapa ia terburu buru membawanya melakukan perjalanan siang malam?.

Tiba tiba satu ingatan yang mengerikan hati melintas didalam benaknya, jangan jangan orang itu bukan Wi Tiong hong?

Sudah pasti dia kuatir jejaknya diketahui oleh Wi Tiong hong serta empek Ou sehingga dilakukan pengejaran, maka dirinya pun segera diculik dan dilarikan pada malam itu juga

Berpikir sampai disini, tanpa terasa dia berpaling, ditemui Wi Tiong hong masih du duk disampingnya.

Diatas wajahnya yang tampan ia mengulumkan

senyuman yang mesrah bahkan sambil membelai pipi So Siau hui yang lembut ia berbisik lirih:

“Nona telah mendusin?'

Dengan sorot rrata yang tajam bagaikan sembilu So Siau hui mencoba untuk mengawasi wajahnya dan berusaha menemukan titik kelemahan diatas wajah tersebut, namun ia tak berhasil menemukan sesuatu apa pun

Tapi sekarang dia yakin, orang sudah pasti bukan Wi Thiong hong biarpun raut wajahnya sangat mirip dengan wajah Wi Tiong hong yang sebenarnya, namun sorot mata orang ini liar, gerak geriknya juga cabai dan tidak tahu aturan

Membayangkan kesemuanya itu, si nona segera merasakan jari jari tangan yang sedang meraba wajahnya itu seperti ular berbisa, dia ingin menyingkirkan tangan itu, namun sepalang tangannya lemas tak bertenaga dan sama sekali tak mampu diangkat.

Kejut dan gusar yang mencekam perasaan Siau hui, membuat dia ingin membentak keras- "Jangan kau sentuh aku... „"

Siapa tahu bibirnya hanya mampu dibuka namun tak sepatah katapun yang dapat di ucapkan keluar, ternyata jalan darah bisu Tiya telah ditotok.

Dalam keadaan begini, dia cuma dapat menunjukan kemarahannya lewat sorot mata, ia muak dan sebal dengan orang itu,sedang dalam hatinya menyumpah:

'Keparat, manusia laknat, siapa kau? Megapa kau culik aku? Kenapa kau melarikan aku ? Apa yang hendak kau lakukan ? Kau bajingan tengik, semoga saja mampus secepatnya sesambar geledek . "

Tapi sikap Wi Tiong hong masih tetap lembut dan mesrah, sambil membereskan rambutnya yang kusut katanya lembut :

“Lebih baik kau beristirahatlah dulu, kita masih harus menempuh perjalanan selama dua hari 1agi "

Selesai berkata dia mencium kembali pipi si nona dengan mesrah dan bernapsu

Gemetar keras sekujur badan So Siau hui menghadapi ciuman yang penuh bernapsu itu, dia ingin menjerit sekeras kerasnya :

“Bajingan keparat jangan kau sentuh aku, bajingan tengik, aku mau ..." Namun tak setitik suara pun yang bisa diucapkan, dia gelisah, dia malu. dia pun marah dan mendendam, tak berani dibayang kan olehnya bencana apakah yang bakal di alaminya setelah terjatuh ke tangan iblis bejad tersebut ?

Gadis itu berusaha untuk menguatkan hatinya, tidak membiarkan air matanya bercucuran, tapi akhirnya air mata tetap berlinarg membasahi pipinya.

Kasih dan sayang wi Tiong hong membelai tubirnya yang lembut, kemudian kata nya:

“Adikku sayang, kau sedang marah kepadaku? Kapan sih aku menyalahimu? Adikku sayang, jangan kau bersedih hati, selama hidup aku tak akan menyia nyiakan dirimu"

Ia bilang seumur hidup, padahal sedetik pun bagi So Siau hui sudah merupakan siksaan dan penderitaan yang amat besar.

Dalam pembicaraan mana, ternyata Wi Tionghong menundukan kepalanya lagi dan menghisap butiran air mata yang bercucuran Keluar itu dengan bibirnya yang panas

Seperti beruang hitam sedang menjilat pipinya, nona itu dapat mendengar dengus napasnya yang memburu bagaikan binatang buas, dia semakin muak, ia semakin sebal, sekujur badannya gemetar semakin keras, tapi ia berusaha dengan sepenun tenaga untuk mengendalikan gejolak emosi ter tebut.

Dalam perjalanan yang amat panjang ini terpaksa dia hanya bisa memejamkan matanya rapat rapat dan tidak menengok lagi kearatanya. juga tidak memperdulikan sega la sesuatunya

Roda kereta berputsr tiada hentinya menuju kearah timur laut, menjelang tengah hari sampailah mereka dikota Ning

tok, kereta berhenti didepan sebuth rumah makan So siau hui masih saja memejamkan matanya rapat rapat berlagak tidur pulas ia mendengar Wi Tiong hong turun dari keretanya dan berpesan kepada sang kusir agar baik baik menjaganya.

Tak selang berapa saat kemudian pelayan rumah makan datang membawakan hidangan untuk sang kusir, kusir itupun bersantap didalam kereta

Kemudian tak lama lagi Wi Tiong hong telah kembali, dia datang dengan memba sebungkus bakpao, sayur dan hidangan lain nya

Setelah naik kedalam kereta, ia menepuk bahu So Siau hui dengan lembut, knmudian ujarnya:

"Adikku, mungkin kau sudah lapar sedari tadi bukan ? Sekarang bukalah matamu dan bersantaplah sedikit !" "keparat, manusia laknat, siapa yang menjadi adikmu ?" Dalam hati kecilnya kembali So Siau hui bersumpah.

Tapi dia pun berpikir lagi ?

"Selesai bersantap nanti, kau tentu akan membebaskan jalan darah sikutku yang kau totok, begitu kau membebaskan jalan datah ku maka aku akan menguasahi jalan darah mu pula dengan ilmu pemotong urat pengunci naga . .

Biarpun berpikir begini, namun ia belum juga membuka maunya untuk menengok pemuda tersebut. "Adikku sayang kembali terdengar wi Tiong hong berkata dengan lembut, cepatlah mendusin. coba kau lihat, aku telah membelikan sayur dan bakpao yang lezat untukmu. ayo cepat buka matamu, ayo cepat buka matamu, biar kusuapi untukmu !"

“Keparat sialan, bajingan tengik ini benar benar licik sekali !” batin So Siau hui dengan perasaan hampir meledak karena mendongkolnya, "ia mau menyuapi aku, tapi enggan membebaskan jalan darahku yg tertotok, hmm, siapa yang sudi kau suapi? Aku lebih suka mati kelaparan daripada menerima suapanmu" ,

Gadis itu memejamkan matanya semakin rapat, sampai mati pun dia enggan membu kanya kembali

"Ooooh rupanya kau masih marah kepada ku ?" kata Wi Tiong hong kemudian, baik sekarang kau belum ingin bersantap, sebentar lagi kau toh akan lapar juga !”

Sang kusir yang berada didepan kereta tiba tiba berpaling dan bertanya lirih : "Lotoa kita boleh melanjutkan perjalanan?”

'Baik juga, kita boleh berangkat sampai ke kota Kwang ciong untuk beristirahat semalam, jarak perjalanan sampai ke sana tidak terlalu jauh, jalanan pun datar dan halus kau boleh berjalan agak lamban sehingga goncangin kereta tidak terlalu terasa”

'Malam ini kita bisa sampai di Lam hong" seru sang kusir

'Tidak usah cukup sampai di Khong ciong saja, kita pun perlu secepatnya beristirahat.' "Baik “sahut sang kusir kemudian sambil tertawa ringan.

Mendengar kata kata "kita perlu secepat nya beristirahat"

So siau hui merasakan hatinya seperti disambar geledek ditengah hari bolong, mengapa bajingan itu ingin secepatnya beristirahat? Sudah jelas bajingan tengik ini tidak mengandung maksud baik.

Gelisah dan cemas segera menyelimuti perasaan So Siau hui, dalam keadaan begini dia hanya berharap empek Ou serta Wi Ti ong hong bisa secepatnya menyusul datang.

Semestinya, dengan tidak ditemukannya dia semalam mereka pasti sudah menyusul kemari, berbicara dari kecepatan kedua orang itu, masa mereka tak mampu menyusul kereta kuda? Atau jangan jangan mereka malahan sudah melampaui kereta ini ?

Benar benar amat pikun mereka berdua, padahal merela seharusnya curiga kek atau menengok kek setelah menjumpai ada kereta yang menempuh perjalanan jauh.

Tentu saja si rona tak pernah menyangka kalau wi Tiong hong yang ditolong malam sebelumnya itulah orang yang menculik dirinya sekarang bahkan dia masih berharap Wi Tiong hong datang menyelamatkan jiwa nya.

Roda kereta masih juga berputar kencang.

Tapi belum seberapa jauh mereka menempuh perjalanan, mendadak terdengar sang kusir kereta itu berseru dengan suara rendah : 'Lotoa, agaknya ada orang menguntil perjalanan kita!”

"Lo ngo, sippa saja mereka?" buru buru Wi Tiong hong bertanya dengan gelisah.

Ternyata kusir kereta itu adalah koruptannya, yang seorang bernama lo toa, yang lain bernama Lo ngo.

"Seorang kakek' jawab si kusir cepat So Siau hui bersorak gembira dalac hatinya, ia segera berpikir:

'Tentu empek Ou yang teJah menyusul kemari :"

"Seorang kakek ?" kedengaran suara Wi Tiong hong rada parau dan terkejut, 'dia bagaimakah bentuknya ? Apakah punggung nya bongkok . . . ?'

''Tidak bongkok, agaknya berperawakan besar !'' "Pakaian apa yang dikenakan olehnya ?'

'Sebuah jubah panjang berwarga abu abu'

Mendengar kesemuanya itu, So Siau menjadi amat kecewa, segera pikirnya :

Kalau begitu orang itu bukan empek Ou Wi Tiong hong juga menghembuskan napas panjang seraya berpikir didalam hati ;

"Aku betul betul orang goblok, tua bangka tersebut sudah terkena tiga batang jarum dibalik telapak tanganku, mana tnungkin ia dapat hidup lebih jauh ?"

Dalam pada itu si kusir telah berkata lebih jauh .

"Kakek itu ku jumpai berada pula dalam umah makan, sejak semula siaute sudah mencurigai indentitasnya, ternyata begitu kita berangkat diapun segera membuntuti dari kejauhan"

"Cuma dia seorang? “ dengus Wi Tiong hong.

“Aku kuatir dia masih mempunyai komplotan lain. oya, Lotoa perlukah kita beri sedikit bau harum kepada mereka disepanjalng jalan?'

"Siapa tahu orang itu cuma seorang yang sedang menempuh perjalanan, kenapa ia selalu menempel kita dan tak pernah bergeser dari posisinya semula?*

"Kalau begitu coba kau percepat perjalanan kita, kita lihat apakah dia masih menguntil kita”

Kusir kereta itu segera mengiakan, cambuknya segera diayunkan keudara dan menggetarkan tali lesnya kuda tersebut segera meluncur kedepan dengan kecepatan luar biasa.

Putaran roda kereta pun berbunyi nyaring kereta bergoncang kian kemari semakin keras sudah pasti kereta kuda itu di larikan kencang kencang

Dalam hati kecilnya So Siau hui lantas berpikir; "Biarpun orang yang menguntil bukan empek Ou asal ada yang menguntil saja ini lebih baik dari pada sama sekali tak ada orang yang mengikuti”

Kereta kuda itu mulai menelusuri jalan gunung yang terjal dan tidak merata, tapi perjalanan masih ditempuh dengan keeepatan maksimum.

Tak selang seperminum teh kemudian mereka sudah menempuh perjalanan sejauh puluhan li. didepan sana sudah terbentang mulut Ou nia san, bukitnya tidak begitu tinggi tapi jalan bakitnya semakin menyempit dan terjal.

Mendadak terdengar suara ringkikkan kuda yang memanjanjang, kuda kuda yang sedang berlari kencang menuju ke depan itu tiba tiba dihentikan secara mendadak sehingga kereta tersebut bergoncang keras Ketika roda roda kereta menggesek di atas pasir dan batu, terdengarlah, suarn gemericik yang keras, tapi kereta berhenti dengan seketika

. . Wi Tiong hong Segera menegur keras :

'Lo ngo, kenapa kau ?'

"Didepan sana terdapat sebuah batu-besar yang persis menghadang perjalanan kita." Baru selesai ia berkata, tiba tiba sambil berseru tertahan katanya lagi :

'Cepat amat gerakan tubuh kakek itu, ternyata ia sudah duduk diatas batu cadas-tersebut

!"

So siau sui teramat gembira oleh berita tersebut, pikirnya dengan perasaan girang: “Ternyata memang terjadi suatu penghadangan terhadap perjalanan mereka i"

Wi Tiong hong segera menyingkap tirai kereta dan melompat turun, betul juga, di tengah jalan raya terlentang sebuah batu raksasa yang lebih tinggi dari manusia, batu tersebut persis menghadang perjalanan mereka Bila dilihat dari bentuk batu raksasa tersebut, bobotnya paling tidak mencapai ribuan kati, mustahil dengan kekuatan seorang batu itu bisa dipindahkan ke tengah jalan.

Persis diatas batu raksasa itu, duduklah seorang kakek berbaju abu abu yang berwajah dingin menyeramkan, ia duduk tak bergerak maupun berbicara sepatah kata pun.

Berkerut keninp Wi Tiong hong melihat kejadian ini. baru saja hendak buka suara., .

Tiba tiba kusir kereta itu berpaling ke belakang, lalu berseru tertahan. 'Lotoa, orang mengikuti kereta kita telah tiba pula di sini.”

“Jadi bukan dia ?' tanya Wi Tiong hong keheranan. "Bukan, orang yang berada dibelakang itu"

Cepat cepat Wi liong hong membalikkan badan, betul juga dari belakang situ muncul pula seorang kakek berbaju abu abu yang sedang bergerak mendekat dengan cepat.

Orang ini mempunyai perawakan tubuh yg mirip sekali dengan si kakek berbaju abu abu yang duduk diatas batu besar itu, orang ini baru menghentikan langkahnya setelah tiba nya kaki dibelakang kereta. Sekilas senyuman dingin yang mengidikkan hati segera menghiasi wajah Wi Tiong hong, sambil menunjuk ke depan, katanya seraya berpaling:

"Lo ngo, coba kau tanya kepadanya, apa maksud dan tujuannya menghadang perjalanan kita?"

Sang kusir itu mengiakan, setelah menegakkan tubuhnya dia menegur dengan suara keras: “Sobat tua. apa maksudmu menghadang perjalanan kami?'

Kakek berbaju abu abu yang duduk diatas batu cadas itu segera mendengus berat, lalu balik bertanya dengan dingin:

'Siapa yang menghadang perjalanan kalian ?”

“Bukankah batu besar itu kau yang memindabkan ketengah jalan?'

"Memangnya kau mampu untuk memindahkan batu ini?* tanya si kakek tanpa emosi.

Perkataan tersebut memang benar juga, kakau anak muda yang bertenaga kuatpun tak sanggup memindahkan batu raksasa tersebut mana mungkin seorang kakek tua bangkotan sanggup melakukan hal yang sama?

'Bila kalian tidak bermaksud untuk menghadang perjalanan kami mengapa sepanjang jalan dia menguntil kereta kami terus menerus?” seru si kusir lagi.

"Lucu amat perkataanmu itu" seru si kakek yang ada ikereta dengan suara yang tak kalah dinginnya, “jalan raya ini toh bukan milik kalian berdua?"

Perkataan inipun ada benarnya juga, mereka boleh memakai jalan raya tersebut, tentu saja diapun boleh menggunakan jalan yang sama. apakah menempati perjalanan yang searah merupakan suatu penguntilan. ? ?

Si kusir kereta itu menjadi naik darah sambil menarik mata dia mendengus dingin'

"Didalam kelopak mata yang sehat tak akan kemasukan biji pasir, pakaian yang dikenakan kamu berdua serupa, masa kamu berdua bukan sekomplotan'

“Lantas kau suruh aku mengenakan pakaian apa?” tanya kakek dibelakang kereta ketus.

Jubah panjang berwarna abu abu merupakan pakaian yang umum dikenakan orang, terutama Sekali kaum tua di dusun, bila musim gugur atau musim dingin telah tiba, maka sebagian besar akan mengenakan jubah panjang berwarna abu abu macam begitu.

Tak heran kalau sang kusir kereta itu di bikin terbungkam diam seribu bahasa dan tidak mampu berbicara lagi

Mendadak terdengar kakek berbaju abu-abu yang berada diatas batu itu tertawa dingin, kemudian berkata lagi.

'Orang yang mengenakan jubah abu abu di tempat ini toh bukan cuma kami berdua “ “Tapi disini nyata sekali hanya kalian ber dua' teriak si kusir kereta penasaran. “Huuuh, kau memang manusia yang tidak punya mata" jengek si kakek sinis.

Dampratan tersebut kontan saja mecggusarkan sang kusir kereta, segera bentaknya keras keras.

"Kau memaki siapa ?”

Tapi ia segera tertegur, rupanya dlmana sorot matanya beralih, tiba tiba saja ia saksi kan dibawab sebatang pohon besar disisi kiri jalan, entah sejak kapan, kini telah

bertambah pula dengan seorang kakek berjubah abu abu yang berwajah dingin menyeramkan.

Tak terlukiskan rasa kaget yang mencekam perasaannya sekarang, tak tahan lagi dia berpaling kenbali ke arah yang lain.

D bawah sebuah batu cadas disebelah kanan jalan, ternyata berdiri pula seorang kakek berjubah abu abu, orang itu pun berdiri dengan wajah dingin menyeramkan.

Dengan demikian, disisi kiri, kanan muka maupun belakang telah muncul empat orang kakek berbaju abu abu, dengan tanpa disadari rrereta kuda mereka pun sudah terkepung di tengah tengah arena.

Berkilat sepasang mata Wi Tiong hong menyaksikan peristiwa itu, namun sikapnya masih tetap tenang, katanya tiba-tiba sambil tertawa nyaring. “Lo ngo. kau ambillah pedangku, sudah jelas orang lain datang untuk mencari gara gara dengan aku orang she Wi, mungkin mereka ingin mencoba apakah pedangku cukup tajam atau tidak?'

Si kusir kereta itu mengiakan dan buru buru kembali ke kereta dari situ dia meloloskan dua bilah pedang, sebilah pedang yang bertatahkan mutu menikam segera diserahkan ke tangan Wi Tiong hong.

Sedangkan ia sendiri menggenggam sebilah yang lain dan mengundurkan diri kebelakang Wi Tiong hong.

Setelah menerima pedang tersebut. Wi, Tiong hong meloloskan senjatanya dari dalam sarung, lalu sambil mengangkat kepala ujarnya kening berkerut :

"Silahkan kalian berempat maju bersama-sama!”

Ke empat kakek berbaju aba abu itu tetap tak bergerak, sorot matanya dingin dan hambar, wajahnya kaku tanpa

emosi, tak seorang pun yang berkutik atau pun menengok arah mereka.

Menyaksikan keadaan dan sikap orang orang tersebut Wi Tiong hong segera mendongakkan kepalanya sambil tertawa keras;

“Haah. , haah. . haah. . tampaknya kalian berempat masih menunggu pembantu? Atau mungkin sudah ketakutan setengah mati?"

Ke empat kakek berbaju abu abu itu masih tetap membungkam dalam seribu bahasa, bergerak pun tidak.

Kontan saja Wi Tiong hong tertawa dingin lalu : 'Hei. sudah congek semua rupanya kalian? Jika kamu berempat belum juga mau turun tangan jangan salahkan bila aku orang she Wi tak akan bersungkan sungkan lagi!"

Baru selesai dia berkata, mendadak dari atas puncak bukit berkumandang datang suara seruan seseorang dengan nada yang rendah dan berat.

“Wi Tiong hong. coba kau lihat siapakah aku?"

Dengan melintangkan pedangnya di depan dada untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan, Wi Tiong hong segera berpaling keatas.

Dengan cepat ia saksikan diatas sebuah bukit kecil disamping kanan mereka, duduk seorang kakek berjenggot putih yang mengenakan jubah hitam yang lebar dan membawa tongkat bambu», pemunculan orang ini kontan saja membuat hatinya tertegun.

Sedangkan si kusir kereta itu segera bersin dengan tubuh gemetar keras buru buru serunya.

'Lotoa, rupanya kaucu telah ”

Kata "datang' belum sempat diutarakan, ia sudah bertekuk lutut siap menyembah orang itu.

Mendadak Wi Tiong hong berpaling seraya membentak keras.

'Lo ngo, kenapa kau ?" Sementara berbicara, buru buru dia memberi kerlingan mata kepada si kusir kereta itu.

Lo ngo si kusir kereta itu tak mengetahui apa maksud dan tujuan lotoa nya berbuat begitu, tapi menyaksikan kaucunya telah munculkan diri, untuk sesaat dia menjadi kebingungan sendiri, haruskah berlutut untuk menyembahnya apakah mesti menuruti perkataan sang lotoa ?

Berkilat sepasang mata Wi Tiong hong, tiba tiba ia berseru dengan angkuh. "Siapakah kau ? Maaf aku orang she Wi tidak mengenail dirimu”

Mendengar seruan itu, si kusir kereta menjadi teramat terkejut, segera pikirnya.

'Lo toa sudah edan nampaknya; masa setelah bertemu dengan kaucu, ia masih berani berbicara dengan nada seperti ini?”

Dalam pada itu si kakek berjanggot putih berjubah hitam diatas bukit itu telah mengetukkan tongkat bambunya keras keras kemudian setelah tertawa dingin bentaknya.

"Orang sheWi, kau berbicara semacam itu kepadaku ?”

'Lotoa....' teriak si kusir kereta Lo ngo pula dengan suara gemetar.

Wi Tiong hong segera terpaling dan melotot gusar sekejap kearahnya, kemudian dengan ilmu menyampaikan suara dia berkata.

'Ia bukan kaucu kita, baik-baik pertahankan kereta tersebut" Kemudian sambil tertawa terbahak bahak ia berseru;

“Besar nian bacotmu itu. beranikah kau turun kemari untuk bertarung melawanku?" Ia berdiri sambil melintangkan pedangnya didepan dada.

alis maunya berkenyit, di lihat dari gayanya memang agak mirip dengan gaya Wi Tiong hong tulen.

Kakek berjenggot putih berjubah hitam itu setera mendengus marah, serunya:

"Apa sih hebatnya dengan kau? Huuh, untuk menghadapi manusia she Wi seperti kau. tak usah aku orang tua mesti turun tangan sendiri"

Biarpun ta membahasa diri sebagai "aku orang tua*'

namun nada suaranya sama sekali tidak mencerminkan kekuatannya, seakan akan dia menaruh perasaan gusar dan mendongkol tethadap Wi Tiong hong.

Mendadak terdengar ia membentak keras. 'Ringkus semua orang orang itu!'

Berkilat sorot mata Wi Tiong hong, ia berseru pula sambil tertawa terbahak bahak:

"Haaah. . haaah. . hah . sejak tadi aku orang she Wi memang sudah menyuruh mereka maju bersama sama"

Sementara itu kakek berbaju abu abu yang Semula duduk diatas batu cadas itu sudah mengiakan sambil bangkit berdiri, selangkah demi selangkah dia maju mendekati.

Batu cadas dimana dia berjongkok tadi tinggi nya melebihi ketinggian manusia, jaraknya deigan Wi Tiong hong juga mencapai dua kaki lebih. tapi sewaktu dia

melangkah turun tadi, ternyata dapat berjalan seolah olah di tanah datar saja, dalam sekali jangkauan saja ia sudab. tiba dihadapan Wi Tiong hong.

Sudah barang tentu Wi Tiong hong tidak membiarkan musuhnya berhasil mendekatinya, pedangnya segera digerakkan dan tiba tiba menusuk iga kiri kakek berbaju abu abu itu. Ssrangan yang dilancarkan olehnya ini di lakukan dengan kekejaman dan kecepatan yang luar biasa, lagipula sama sekali diluar dugaan manusia, tapi ia muncul sebagai Wi Tiong hong, sekarang, maka kita pun menganggapnya sebagai Wi Tiong hong untuk sementara waktu

.

Biarpun gerak serangan pemuda itu cepat, ternyata gerakan tubuh si kakek betbaju abu abu itu lebib cepat lagi, dalam sekali kelebatan saja ia sudah menghindar kesamping, jengeknya kemudian sambil tertawa seram.

"Bocah keparat, seranganmu benar benar teramat keji"

Gagal dengan serangannya itu, Wi Tiong hong segera berkata dengan dingin;

"Dalam melancarkan serangan siapa sih yang perlu membicarakan sungkan sungkan atau kata rikuh?'

Sepasang bahunya bergerak, tiba tiba tubuhnya mendesak maju l«gi kedepan sambil melepaskan sebuah babatan maut. "Bagus sekali seranganmu bocah keparat" bentak kakek berbaju abu abu itu dingin.

Dia mundur setengah langkah ke belakang, kemudian tangan kirinya mengayun kedepan dgn mencengkeram mata pedang yang tajam itu.

Mimpi pun Wi Tiong hong tidak menyangka kalau dia berani menangkap pedangnya dengan tangan telanjang, dengan terkejutnya ia cepat cepat memutar pergelangan tangan kanannya dengan separuh tenaga, maksudnya hendak membabat kutung jari tangan lawan.

Siapa tahu tangan si kakek berbaju abu abu yang mencengkeram pedangnya itu ibarat jepitan baja yang sangat keras selain keras ju ga kuat. biarpun Wi Tiong hong sudah memutar pedangnya sepenuh tenaga, bukan saja dia gagal mematahkan jari tangannya, bahkan mata pedang itu pun sama sekait tak berhasil digerakkan.

Serta merta Wi Tiong hong mengalihkan perhatiannya keatas jari tangan si kakek yasig mencengkeram pedangnya itu.

Ternyata jari tangan lawan berwarna merah membara seperti bara api, hal tersebut membuat hatinya terkesiap, segeia pikirnya.

“Waaah, orang ini telah berhasil melatih ilmu pasir merah yang kebal senjata,"

Sementara dia berpikir; tubuhnya sudah mendesak maju ke depan sambil mengayunkan telapak tangannya, secepat kilat tangan kirinya telah di hantamkan kedada musuh.

Melotot besar sepasang mata kakek berbaju abu abu itu, tangan kirinya masih tetap menggenggam mata pedang itu erat erat, sementara tangan kanannya diangkat untuk menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras

Begitu sepasang telapak tangan mereka berdua saling bertemu, terjadilah benturan keras yang memelikkan telinga.

"Druuukk. ..!”

Wi Tiong hong merasa pukulannya seakan akan menghajar diatas sebuah besi baja yang amat keras, dia sampai tergetar mundur se-jauh dua langkah, cengkeraman kelima jari tangan kanannya juga turut mengendor, mau tak mau dia mesti membuang senjatanya untuk melompat mundur ke belakang.

Si kakek berbaju abu abu itu masih tetap berdiri tegak ditempat semula, ia sama sekali tidak melakukan pengejaran, hanya sembari merentangkan tangan kanannya, dia menjengek sambil tertawa dingin.

'Huih cuma pemainan kucing kaki tiga pun berari berlagak sesumbar disini”

Ternyata didelam genggaman targan kanan nya telah bertambah dengan sebatang jarum baja beracun yang memancarkan cabaya biru.

Tentu saja jarum beracun itu dipancarkan oleh Wi Tiong hong selagi melepaskan pukulan tadi. namun sayang telapak tangan musuh keras melebihi baja sehingga jarum beracun itupun tdak mampu melukai tubuhnya. .

Ketika sudah selesai berkata tadi, kakek berbaju aku abu itu dengan membawa serta pedang Wi Tiong hong melejit keudara dan mundur kembali keatas batu cadas.

Berhubung pedang kena direbut lawan. Wi Tong hong merasa terkejut becampur-marah, baru saja dia bersiap siap untuk menerjang maju kedepan. .

Tiba tiba ia merasa dari belakang tubuhnya mendesir lewat segulung angin tajam, sudah jelas ada orang menyergapnya dari belakang.

Bersamaan waktunya, ia mendengar lo ngo kusir kereta berteriak pula memperingatkan

"La toa. hati hati belakang”

Wi Tiong hong segera melompat maju ke-depan kemudian baru membalikkan badan, ternyata si kakek berbaju abu abu yang selama ini menguntil perjalanan mereka telah menerjang kebelakang tubuhnya.

Paras muka kakek berbaju abu abu itu dingin dan hambar, katanya dengan suara menyeramkan :

"Bocah keparat, sekarang sudah seharusnya kita mulai beradu kekuatan. . '

Hanya dalam dua gebrakan saja. Wi Tiong hong sudah kehilangan senjatanya dirampas kakak berbaju abu abu yang berada diatas batu. kenyataan Ini membuat sadar pemuda tersebut bahwa ke empat kakek berbaju abu-abu yang dihadapinya hari ini rata rata ber ilmu tinggi dan merupakan musuh tangguh yg belum pernah dijumpai sebelumnya.

Kenyataan tersebut meningkatkan kewaspadaannya menghadapi serangan lawan mendadak ia membentak dengan kening berkerut

Sambil berseru dia mengayunkan telapak tangannya untuk melepaskan sebuah pukulan. "Aku hendak membekukmu, mengerti?" jengek si kakek dingin.

Dia mengayunkan telapak tangan kanannya dan menyambut serangan dari Wi Tiong hong tersebut dengan keras lawan keras

Wi Tiong hong hanya merasakan datangnya segulung tenaga pukulan yang sangat kuat menangkis balik serangan sendiri, kejadian Ini segera mengagetkan hatinya.

“Waaah, sempurna amat tenaga dalam yang dimiliki tua bangka ini...' demikian ia berpikir kcmudian.

Setelah berhasil menangkis balik serangan yang dilancarkan Wi Tiong hong tadi, kakek berbaju abu abu itu segera menggerakkan kelima jarinya yang runcing bagaikan jepitan untuk mencengkeram batok kepala lawan.

Wi Tiong hong sangat marah, dia mengangkat tangan kanannya untuk menyambut cengkeraman lawan dengan kekerasan, sedangkan tangan kirinya disentilkan ke maka melepaskan sebatang jarum beracun

Tatkala sepasang tangan saling beradu. Wi Tiong hong merasa cengkeraman musuh dingin dan keras seperti besi baja, sekali lagi hatinya dibuat tertegun.

'Heran, kenapa jari tangan pun sedingin salju ?" ia berpikir keheranan. Tapi seditik sebelum tangan mereka saling beradu, dia telah mengubah taktik serangannya dengan berbalik mencengkeram pergelangan tangan kakek tersebut Disaat sepasang tangan hampir beradu tadi tiba tiba kakek terbaju abu abu itu menundukkan kepalanya dan menggigit sebatang jarum beracun yang dibidikkan kearah tenggorokannya itu, ternyata gigitan itu persis menggagalkan serangan jarum tersebut,

Akan tetapi dengan pecahnya perhatian tersebut maka tak ampun lagi pergelangan tangan kena dicengkeram oleh serangan Wi-Tiong bong.

Biarpun begitu, ternyata ia bersikap acuh tak acuh.

seakan akan ia sama sesali tidak memikirkan soal dicengkeramnya pergelangan tangan tersebut.

Pelan pelan dia mengayunkan tangan kirinya untuk mengambil jarum beracun tersebut dari mulutnya, kemudian dengan wajah dingin dan senyuman sinis dia berkata;

'Bocah keparat, racun yang kau oleskan di atas jarummu benar benar sangat hebat, sampai sampai lidah ku pun turut terasa rada kaku dan kesemutan'

Menyaksikan musuh menggigit jarum beracunnya dengan gigi. diam diam Wt Tiong hong mendengus dingin.

pikirnya

"Tua bangka celaka, kau anggap racun di atas jarum kongcu mu itu cuma racun biasa? Kena teroles dijari tanganpun sudah cukup membunuh orang, apalagi kau berani mengigit dengan gigimu, hmm! Tak disangsikan lagi kau akan mampus. .'

Sementara dalam hati kecilnya sedang gembira akan hal tersebut mendadak ia merasakan datangnya segulung tenaga pantulan yang-memancar keluar dari balik pergelangan lawan yang langsung menggetarkan kelima jari tangan sendiri.

Akibat dari getaran yang cukup keras itu,

cengkeramannya atas pergelangan tangan lawan segera mengendor dengan sendirinya.

Tiba tiba kakek berbaju abu abu itu tertawa tergelak, sambil melompat mundur ia berseru:

"Nah sekarang tiba giliran kalian untuk menyerahkan diri!”

Tergerak hati Wi Tiong hong setelah menyaksikan si kakek yang tanpa sebab telah mengundurkan diri, walaupun ia berhasil mengetarkan lepas cengkeramannya.

Tapi pada saat itulah tiba tiba ia saksikan dua orang kakek berbaju abu abu yang berdiri disisi kiri kanannya itu pelan-pelan bergerak mendekat, dengan amarah yg meluap ia segera berpaling seraya membentak keras

"Lo ngo, cepat kan serahkan pelangmu i'tu kepadaku”

Belum selesai ia berkata, tubuhnya sudah melompat balik ke samping Lo ngo, si kusir kereta memberikan pedang miliknya itu ke padanya Baru saja Wi Tiong hong menyambut pedangnya tersebut, tiba tiba ia merasakan kepalanya sangat pusing, pandangan matanya menjadi gelap, tubuhnya gontai dan hampir saja tubuhnya roboh terjengkang, buru buru menghimpun hawa murninya dengan menggunakan pedang tersebut sebagai penyanggah badan agar tak sampai roboh ketanah.

Kakek berjenggot putih berbaju hitam yang berada diatas bukit kecil itu menjadi amat gembira setelah menyaksikan kejadian tersebut, segera bentaknya.

"Wl Tiong hong, kau masih ingin menunjukkan kesombonganmu? Hmm. . untuk menghadapi anak buahku saja tak mampu, apalagi yang perlu kau sombongkan?"

Didalam gembiranya dia seperti lupa akan penyaruannya sehingga suara umpatan yang munul kedengaran merdu dan nyaring. Jelas suata seorang perempuan.

Sementara itu, kakek berbaju abu abu yang berdiri disebelah kiri sudah melayang ke hadapan Wi Tiong hong dan menotok jalan darahnya.

Sadaagkao si kakek berbaju abu abu yang ada disebelah kiripun menyergap kusir kereta itu kembali membentak

"Bocah kerarar, rupanya kaupun komplotan nya ?'

Lo ngo si kusir kersta menjadi ketakutan setengah mati.

pedangnya sudah diserahkan kepada Wi Tiong hong, berarti dia cuma bertangan kosong sekarang, karenanya cepat cepat dia melompat kesamping sambil mengayunkan tangan kanannya ke depan, beberapa gulung asap hijau segera tersentil ke muka.

Kakek berbaju abu abu yang berada disebelah kanan itu kembali menjenggek dangan suara dingin.

"Humm, permainan semacam ini mah percuma kau perlihatkan dihadapanku'

Ujung bajunya dikebaskan ke muka, segulung angin pukulan yang kuat segera menyibak ke depan.

Beberapa gulung asap hijau yarg disentilkan oleh Lo ngo si kusir kereta itu segera menyebar dan menggulung balik ke arahnya senditi setelah termakan oleh kebasan ujung baju lawan.

Cepat cepat kusir kereta itu membalikkan badan sambil melarikan diri, baru didalam beberapa kali lompatan saja dia sudah menyusup ke dalam sebuah hutan.

Kakek berbaju abu abu yang berada di sebelah kanan itu kembali menjengek dingin. "Bocah keparat, kau masih ingin kabur ?”

Dia melompat ke depan seperti seekor burung rajawali dan mengejar dibelakang kusir kereta tersebut, Tapi kakek berjenggot putih berjubah hitam yang berada diatas bukit itu sudah berteriak.

"Biarkan saja di pergi, tak perlu di kejar lagi “

Waktu itu si kakek berbaju abu abu itu sudah berada ditepi hutan, ia segera menghentikan langkahnya sesudah terdengar suara teriakan tersebut. "Aaaah, tak disangka bocah keparat itu pandai mempergunakan racun, ternyata dia memakai Cing. ."

Perkataan itu belum selesai diutarakan seketika tubuhnya gontai dan tahu tahu sudah roboh terduduk diatas tanah.

Kakek berjubah abu abu yang duduk di atas batu cadas ditengah jalan itu segera melompat turun dan berseru sambil tertawa;

"Huang tua, kali ini kau benar benar kena dipecundangi orang. . “

Tapi setibanya disamping kakek berbaju abu abu tersebut dan memeriksa keadaannya, sambil menjerit kaget serunya;

'Waah. . ternyata bocah keparat itu mempergunakan bubuk beracun Cing siang san. ."

Cepat cepat dia mengeluarkan sebutir pil yang segera dijejalkan ke mulut kakek berbaju abu abu itu.

Sementara itu, si kakek berjenggot putih berjubah hitam yang berada dipucak bukit kecil itu telah berteriak kembali

“Hai. bukankah dalam kereta masih terdapat seseorang lagi? Tu sim, cepat longok ke dalam ruang kereta dan gusur keluar orangnya, kita harus segera pergi dari sini”

Kakek bsrbaju abu abu di muka kereta yang lagaknya bernama Tu sim itu segera mengiakan dia membuka tirai penutup ruang kereta lalu berpaling sambil serunya;

"Orang yang berada dalam kereta adalah sorang wanita, rupanya ia sudah ditorok jalan darahnya oleh keparat she Wi tersebut”

"Perduli amat dia laki laki atau wanita pokoknya seret dia keluar, kita mesti melanjutkan perjalanan secepatnya!"'

"Baik! '

Kakek betbaju abu abu yang bernama Tu sim itu mengiakan, kemudian memboyong So siu hui dan beranjak dari situ.

Sementara itu. kakek berbaju abu abu yang berada disebelah kiri tadi telah mengempit tubuh Wi Tiong hong.

Padahal ia sudah tidak berdiri disebelah kiri lagi sekarang, tapi agar para pembaca tidak kebingungan, maka disini akan tetap di bahas sebagai dikiri, kanan atas batu ataupun depan kereta.

Dalam pada itu si kakek berbaju abu abu yang ada disebelah kanan tadi telah melompat bangun, kemudian berteriak teriakan dengan penuh kemarahan

"Tak kusangka bocah keparat itu (si kusir, kereta) mempergunakan racun Cing siang san untuk

menghadapiku, keparat sialan, darimana ia peroleh obat racun bikinan khusus dari selat kita ini?''

"Kalau kita dapat membuat racun, apakah orang lain tidak bisa membuatnya pula? Apasih yang mesti kauherankan?' tukas kakek berjenggot putih berjubah hitam itu tidak sukaran. Selesai berkata dia lantas beranjak dan meninggalkan puncak bukit kecil itu.

Pada saat inilah dari bawah kaki bukit telah muncul sesosok bayangan manusia bayangan hijau yang berada didepan itu begitu melayang datang segera melempar kedipan dan menerjang kearab kakak berbaju abu abu yang ada disebelah Kiri sambil bentaknya;

“Lepaskan Wi sauhiap dari kempitanmu!" Sedangkan bayangan merah yang datang belakangan melompat maju pula ke muka dan menerjang kakek berbaja abu abu yang ada disebelah kiri ini.

Ilmu meringankan tubub yang dimiliki kedua orang ini cukup tangguh, ketika menghadapi ancaman tersebut, kakek berbaju abu abu disebelah kiri yang mengempit Wi Tiong hong itu segera maju selangkah ke muka, kemudian seraya berpaling ke arah kakek berbaju abu abu yang ada diatas batu cadas tadi ia berseru

'Lo tu, semestinya ini urusanmu bukan?"

Jangan dilihat gerakan tubuh kedua sosok itu bayangan manusia itu meluncur datang dengan kecepatan tinggi, dan jangan pula dilihat langkah si kakek itu amat lamban, namun cukup selangkah saja ia sudah maju satu kaki jauhnya.

Sewaktu kedua sosok bayangan manusia tadi tiba ditempat semula, kakek berbaju abu abu yang berada disebelah kiri itu sudah berada satu kaki jauhnya dari tempat semula.

Ternyata ke dua sosok bayangan manusia yang baru datang itu adalah seorang lelaki berwajah putih bersih yang berjubah hijau ser ta seorang nona cantik berbaju merah.

Tiba diarena, nona cantik berbaju merah itu segera memandang sekejap kewajah Wi Tiong hong yang telah dikempit kakek ber baju abu abu yang berada disebelah kiri dan telah berada satu kaki jauhnya itu, dalam gelisahnya dia segera berteriak.

'Jiko. cepat kau halangi kepergiannya!"

Namun kakek berbaju abu abu yang ada di batu cadas tadi sudah menghadang jalan pergi kedua orang tersebut seraya menegur dingin

"Hei, buat apa kau jerit-jerit macam monyet kepanasan saja?”

Di dalam waktu singkat, tiga sosok bayangan manusia berbaju abu abu sudah melejit ke udara dan mengundurkan diri ke atas bukit kecil, kemudian sekejap mata saja sudah lenyap dari pandangan mata

Kini tinggal si kakek berbaju abu abu yang berada dibatu besar tadi masih menghadang dihadapan mereka berdua dengan wajah hambar dan sedingin.

'Mau menyingkir tidak kau ?' bentak lelaki berjubah hijau itu kemudian dengan penuh amarah.

Telapak tangannya diayunkan ke muka melepaskan sebuah pukulan yang amat keras.

Sedangkan nona cantik berbaju merah itu dengan perasaan gelisah menjejakkan kakinya ke atas tanah dan menerjang ke atas bukit kecil itu. .. Si kakek berbaju abu abu ( yang kini tinggal seorang saja) menggerakkan tangan kiri nya dengan cepat menyambut serangan lelaki berbaju hijau yang mengarah dadanya itu, sementara tangan kanannya diayunkan dari samping menghajar tubuh si nona berbaju merah yang sedang melambung ke udara.

000OdewiO000

LELAKI berbaju hijau itu menjadi sangat terperanjat ketika pukulannya disanggah lawan keatas sehingga pertehanan bagian dada nya terbuka lebar, cepat cepat dia melompat mundur ke belakang.

Sebaliknya si nona eantik berbaju merah yang sedang meleset ditengah udara itu segera merasakan datangnya segulung tenaga pukulan tak berwujud yang menyapu datang dan menghadang dirinya.

Berada dalam keadaan begini, tubuhnya yang sedang menerjang ke muka itu tak sanggup dihentikan lagi, ia segera tertumbuk keras yaag mengakibatkan badannya tergetar keras dan mundur lima langkah dengan sempoyongan.

Dengan kening berkerut lelaki berjubah hijau itu segera meloloskan pedangnya, lalu membentak keras.

"Sahabat, bila kau tidak menyingkir lagi, jangan salahkan bila Thio Kun kay akan melakukan dosa”

Ternyata ke dua orane ini adalah anggota perguruan dari Bu tong pay, si pedang bunga bwee Thio Kun kay serta adiknya Lak jiu imseng Thio Man.

Dengan mimik wajah tanpa emosi maupun perasaan, kakek berbaju abu abu itu menjawab dingin,

'Semenjak tadi kau telah melakukan dosa terhadapku !" "Criiing. .!"

Lik jiu im eng Thio Man segera meloloskan pedangnya dari dalam sarung, lalu berteriak. “Jiko, buat apa kau mesti banyak berbicara dengan dia ?'

'Adikku, kejarlah mereka secepatnya, biar aku yang menghadapi orang ini” seru pedang Bunga bwee Thio Kun kay seraya berpaling

Mendengar perkataan tersebut. sikakek ber baju abu abu itu segera mendengus dingin; "Hmm belum tentu kau bisa pergi dari sini'

Mencorong sinar tajam dari balik mata Thio Kun kay, tiba tiba ia membentak penuh amarah.

"Berhati hatilah kau!"

Tiba tiba pedangnya diayunkan ke depan dan melancarkan sebuah tusukan kilat.

Lak jiu im eng Thio Man pun tidak berani berayal, dia menjejakkan kakinya ke atas tanah dan segera menerjang keatas bukit kecil tersebut. . .

-oo0dw0oo-