-->

Persekutuan Pedang Sakti Jilid 09

Jilid 09

WI TIONG HONG DI BUAT TERTEGUN atas

datangnya pertanyaan tersebut, pikirnya: “Yaa, nampaknya jalan pemikiran Ting toako memang tidak seperti terpengaruh. Cuma. ”

Walaupun timbul kesangsian serta kecurigaan didalam hatinya, namun untuk sesaat ia tak dapat mengemukakan kecurigaan tersebut.

Sambil tertawa dingin kembali Tam See Hoa menyela:

“Paling tidak kau toh tidak mengandung maksud dan tujuan yang baik” “Oooh, kalau begitu aku memang tidak seharusnya menolong Ting Ci Kang dari cengkeraman Chin Tay Seng di perkumpulan Ban kiam hwee?” jengek Kiu Tok Kaucu sambil tertawa seram.

Pertanyaan tersebut kontan saja membungkamkan Tam See Hoa dalam seribu bahasa.

Betul seandainya Ting Ci Kang tidak diselamatkan oleh Kiu Tok Kaucu, maka orang yang tergeletak mati di kuil Sik Jin Tian tempo hari sudah pasti bukan wakil Cong Koan pedang berpita hitam Pak Bun Siu, melainkan Ting Ci Kang sendiri.

Pernyataan tersebut segera menyusahkan dirinya, tapi diapun jelas sadar bahwa kehadiran Kiu Tok Kaucu di

tempat tersebut sudah jelas mempunyai suatu maksud tertentu.

Berpikir demikian, tanpa terasa ia mendongakkan kepalanya lagi seraya berkata: “Walaupun kaulah yang telah menyelamatkan Ting pangcu, tapi kaupun mempunyai suatu maksud tertentu atas perkumpulan Thi Pit Pang ini, yang ingin kutanyakan sekarang tak lain adalah persoalan tersebut”

Sikap Kiu Tok Kaucu masih tetap amat tenang, pelan pelan ujarnya: “Waktu, itu Ting pangcu menderita luka yang sangat parah. Dengan penuh ketelitian dan kesabaran kuobati semua luka yang di deritanya, aku harus membuang waktu selama tiga bulan lebih untuk menyembuhkan luka luka yang dideritanya. Betul, antara aku dengan Ting pangcu kalian memang terikat perjanjian.

Setelah lukanya sembuh maka dia wajib membantuku untuk menyelesaikan suatu keinginan yang sudah lama kudambakan. Aku pun menjamin kepadanya jikalau usaha tersebut telah berhasil, bukan saja aku akan memberi banyak keuntungan kepada kalian, yang pasti aku tak akan melukai seujung rambutpun anggota perkumpulan Thi pit pang kalian. Tentang latar belakang persoalan tersebut maaf dewasa ini masih belum dapat kuungkapkan kepada kalian”

“Kau meminta kepada Ting pangcu yang jernih belum kau pengaruhi, bagaimana mungkin ia sanggup permintaanmu itu dengan begitu saja...?” kata Tam See Hoa.

Kiu Tok Kaucu tersenyum. “Keliru besar, ucapanmu itu justru merupakan kebalikannya. Justru yang hendak kulakukan dengan bantuan Ting pangcu adalah melenyapkan kaum durjana serta manusia laknat dari persilatan. Aku tidak mempunyai niat untuk melakukan sesuatu kejahatannya. ”

Berbicara yang sebenarnya, Wi Tiong Hong adalah seorang pemuda yang cerdik. Semenjak memasuki pesanggrahan Ling Long San Koan, ia selalu meningkatkan kewaspadaannya untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Apalapi setelah mengetahui dari ucapan Kiu Tok Kaucu bahwa mereka sudah menghantar diri kemulut harimau

Tanpa terasa pikirnya dihati ”Apabila ilmu silat yang dimiliki Kiu Tok Kaucu benar- benar mampu mengungguli kami berdua, kenapa dia hanya duduk saja dikursinya tanpa berusaha untuk turun tangan? Jikalau dibilang ia tidak bermaksud untuk turun tangan terhadap kami berdua, mengapa pula dibilang kami sudah menghantar diri ke mulut harimau dan rahasianya tak bakal tersiar keluar?”

Bila dua hal tersebut dipikirkan dengan lebih seksama lagi, maka pemuda tersebut segera menemukan kejanggalan-kejanggalan dibaliknya... Mungkinkah ia sedang menantikan sesuatu?

Kesatu, tadi ia telah memberi perintah kepada Ui nomor empat dengan mempergunakan ilmu menyampaikan suara, sudah jelas ia sedang mengumpulkan jago jago lihaynya.

Kedua, ia menyebut diri sebagai Kiu Tok Kaucu ini berarti dia pandai sekali di dalam penggunaan racun jahat.

siapa tahu secara diam-diam ia telah melepaskan racun ke dalam tubuh mereka berdua. ?

Teringat akan hal tersebut, dengan cepat dia mencoba mengatur pernapasan serta memeriksa sekujur badannya.

Kalau tidak diperiksa keadaan masih mendingan, begitu dia mulai mengerahkan tenaganya, seketika itu juga pemuda tersebut merasakan hal-hal yang tak beres.

la merasakan kepalanya mendadak menjadi pusing dan terasa amat berat, sudah jelas ia telah terkena serangan gelapnya.

Penemuan tersebut segera membuat Wi Tiong Hong merasa tak terlukiskan kagetnya terpaksa dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk menutup beberapa buah jalan darah pentingnya, kemudian berkata: “Saudara Tam, apa yang diucapkan kaucu mungkin saja ada benarnya. 

Lebih baik kita pulang saja lebih dulu untuk menanyakan persoalan ini kepada toako”

Tam See Hoa adalah jago kawakan yang sudah cukup lama melakukan perjalanan di dalam dunia persilatan, sudah barang tentu ia dapat menangkap arti lain dibalik perkataan tersebut, maka ia segera mengangguk:

“Perkataan dari Wi tayhiap memang benar. Asalkan pangcu benar benar sudah menyanggupinya, sudah barang tentu aku pun tak dapat berbicara apa-apa lagi. ”

Wi Tiong Hong segera mengerling sekejap memberi tanda kepadanya agar beranjak pergi lebih dulu Tam See Hoa tak berani berayal lagi, ia segera membalikkan badan dan siap beranjak pergi dari situ Tiba tiba Kiu Tok Kaucu tertawa seram: “Hee.. Hee...

bagaimana? Apakah kalian berdua hendak pergi?”

“Kaucu masih ada urusan apalagi?” tanya Wi Tiong Hong sambil tangannya meraba gagang pedang.

Kiu Tok Kaucu segera menggelengkan kepalanya berulang kali: “Oooh tidak ada, cuma didepan pintu masih terdapat tiga orang pembantuku yang melakukan penjagaan. Mereka adalah Hian nomor tiga, Ui nomor empat serta Yu nomor lima. Mereka semua telah berkumpul disini, apabila aku belum menurunkan perintah

pelepasan, mungkin tak mudah bagi kalian berdua untuk bisa menembusi pertahanan mereka semua”

Ternyata kawanan jago yang dibawa olehnya di pesanggarahan Ling Long Han Koan tersebut tidak banyak jumlahnya, selain dia sendiri cuma ada dua orang gadis dan Hian nomor tiga sekalian tiga orang jago tangguh.

Melihat ia tidak berniat turun tangan kepadanya lantas atas dasar kemampuan dari Hian nomor tiga sekalian, mana mungkin mereka sanggup untuk menghalangi perjalanan dirinya berdua?

Tam See Hoa merasa keberaniannya timbul kembali, serunya sambil tertawa tergelak “Biarpun kaucu tidak menurunkan perintah pelepasan, memangnya kau anggap kami tak sanggup untuk menerjang secara kekerasan?”

Sikap Kiu Tok Kaucu masih tetap tenang seperti sedia kala, dia malah berkata sambi tersenyum: “Apa salahnya bila kalian berdua mencoba sendiri. “

Tam See Hoa membentak keras, tahu-tahu tubuhnya sudah menyerbu kedepan pintu serta menyingkap tirainya.

Betul juga, ia segera menyaksikan seorang lelaki berkerudung berdiri menanti didepan pintu.

Selain itu masih ada dua orang manusia berkerudung lagi yang berdiri tak jauh di belakangnya, dengan begitu semua jalan keluar telah tersumbat sama sekali.

Tam See Hoa terpaksa menghentikan langkahnya, kemudian membentak keras keras “Ayo menyingkir saja kalian!”

Senjata Poan koanpit yang berada di tangan kanannya langsung disodokkan ke dada lawan.

Lelaki berkerudung yang berada didepan pintu itu bukan lain adalah Hian nomor tiga. Ia sama sekali tidak meloloskan pedangnya. Telapak tangan kanannya dibalik menangkis datangnya ancaman pena dari Tam See Hoa, kemudian berkata: “Balik!”

Tam See Hoa berjulukan si pena baja. Permainan Poan koan pit nya boleh dibilang telah memiliki kesempurnaan yang luar biasa. Biarpun serangan tersebut dilancarkan hanya mempergunakan sebuah pena saja yang berada ditangan kanan, namun kekuatan yang disertakan didalam serangan tersebut amat dahsyat dan kuat. Tapi kenyataannya pihak lawan hanya menyongsong datangnya ancaman tersebut dengan tangan sebelah saja bukankah hal ini sama artinya dengan ia sudah tidak maui tangan kanannya lagi?

Tapi kalau dibilang aneh, disinilah letak keanehan tersebut. Setelah Tam See Hoa melancarkan serangannya, ia baru merasakan ada sesuatu yang tak beres, ternyata ia tak mampu menyertakan setitik tenaga pun dalam serangan tersebut.

Dalam pada itu Hian nomor tiga sudah melepaskan tangkisan yang persis membentur diatas tubuh penanya.

Termakan oleh getaran tersebut, Tam See Hoa jadi sempoyongan dan mundur sejauh empat- lima langkah, kemudian tubuhnya roboh terduduk diatas tanah.

Mula-mula sepasang matanya masih sempat melotot besar, tapi kemudian ia pejamkan matanya dan roboh tak sadarkan diri.

Tirai yang semula tersingkap, sekarang tertutup kembali seperti sedia kala.

Semua peristiwa tersebut boleh dibilang berlangsung hanya didalam sekejap. Semula Wi Tiong Hong bermaksud membiarkan Tam See Hoa beranjak pergi lebih dulu kemudian ia sebagai penahan gempuran lawan barulah setelah keluar dari pesanggerahan Cing Sim Sian. Masalah tersebut baru dibicarakan lagi Siapa sangka Tam See Hoa yang baru tiba didepan pintu, tiba tiba saja roboh tak sadarkan diri, kejadian tersebut kontan saja mengejutkan hatinya.

Buru-buru dia maju kedepan menghampiri tubuh Tam See Hoa. kemudian serunya sambil membungkukkan badan: “Saudara Tam, kenapa kau?”

Sambil tertawa terbahak-bahak Kiu Tok Kaucu menggoyangkan tangannya seraya menyahut: “Haaah...

haah.... haaah.... tidak menjadi soal, dia cuma terendus dupa tidurku yang hebat sehingga tertidur. Apakah kaupun ingin tidur sejenak?”

Mencorong sinar tajam dari balik mata Wi Tiong Hong, segera bentaknya keras: “Tua bangka celaka, kau berani mencelakai orang dengan cara yang licik?”

Menyaksikan sorot mata sang pemuda yang begitu tajam bagaikan sembilu itu, diam diam Kiu Tok Kaucu merasa amat terkejut.

Nyata sekali tenaga dalam yang dimiliki anak muda tersebut betul-betul amat sempurna. Ini terbukti dari kemampuannya untuk mengendalikan daya kerja obat tidur yang terserang kedalam tubuhnya, tanpa terasa pikirnya:

“Hmmm... biarpun tenaga dalammu amat sempurna akan kulihat seberapa lama kemampuanmu untuk

mempertahankan diri...”

Berpikir demikian sambil mengelus jenggotnya yang putih ia berkata sambil tertawa seram: “Di dalam kamarku ini, setahun empat musim selalu memasang dupa tidur yang harum baunya. Hal ini bukan bermaksud atau bertujuan jahat untuk mencelakai kalian berdua.

Ini mesti disalahkan kalian belum mendapat persetujuanku telah menyelonong masuk sendiri, sekarang bagaimana mungkin bisa menyalahkan aku?”

Ketika Wi Tiong Hong melihat orang itu masih tetap duduk tak bergerak ditempat semula, ia merasa waktu berharga sekali ketika itu dan tidak boleh dibuang dengan begitu saja.

Mendadak sambil mengangkat kepala hardiknya: “Mana obat penawar racunnya?” Tangan kanannya bergerak cepat dan secepat sambaran petir meloloskan pedangnya.

Jit Seng Kiam tak lebih hanya sebuah pedang karat yang sama sekali tak bersinar, tapi gerak serangannya betul betul cepat sekali, dimana ujung pedangnya bergetar keras, secepat petir ia sudah mengancam dada Kiu Tok Kaucu.

Sesungguhnya Kiu Tok Kaucu melihat dengan jelas bagaimana Wi Tiong Hong melancarkan serangannya, namun ia masih tetap duduk tak bergerak ditempat semula.

Mendadak terdengar dua orang gadis yang berdiri disisinya membentak keras. “berada dihadapan kaucu, kau pun berani bersikap kurang ajar”

Cahaya tajam nampak berkelebat lewat. Sepasang pedang meluncur saling menyilang ke depan untuk membendung datangnya ancaman pedang dari Wi Tiong Hong. Belum lenyap suara bentakan itu cahaya pedang sudah berpancar ke mana mana....

“Criiing! Criingg. !”

Kedua bilah pedang tersebut bukan saja gagal untuk membendung serangan ini musuh, malah sebaliknya pedang mereka terpapas kutung menjadi dua bagian oleh pedang karat lawan....

“Criiing. traaangg!“

Kutungan kutungan pedang tersebut segera rontok ke atas tanah....

Wi Tiong Hong sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya lagi, namun ujung pedangnya telah menempel diatas dada Kiu Tok Kaucu.

Peristiwa tersebut kontan saja mengejutkan kedua orang gadis muda itu. Saking kagetnya paras muka mereka sampai berubah menjadi pucat pias seperti mayat Kiu Tok Kaucu sendiripun merasa terperanjat didalam gugupnya dia menyambar tongkat bambunya dan dilintangkan didepan dada untuk menahan serangan Wi Tiong Hong kemudian sepasang kakinya menjejak tanah tubuh berikut bangkunya segera melejit ke belakang.

Wi Tiong Hong tertawa dingin, pedang karatnya ditusuk kedepan. Seperti bayangan tubuh saja, dia menyusul pula kedepan seraya membentak keras: “Kaucu tak usah menghindar atau mencoba untuk berkelit, aku sama sekali tak bermaksud mencelakaimu, tapi akupun tak sudi dicelakai orang lain. Asal kau bersedia menyerahkan obat pemunah racun itu aku orang she Wi pun tak akan banyak berurusan denganmu”

Kiu Tok Kaucu mundur selangkah seraya mengangguk, sahutnya: “tidak sulit apabila Wi tayhiap mengkehendaki aku serahkan obat penawar racun itu tapi paling tidak kau mesti membuat aku kalah dengan perasaan puas”

Wi Tiong Hong segera menarik kembali pedang Jit Seng Kiam nya, lalu berkata dingin: “Apakah kaucu bermaksud untuk mencoba kemampuanku?”

“Tidak, aku hanya ingin mengajakmu bertaruh” “Bagaimana caranya bertaruh?”

Kiu Tok Kaucu tertawa seram. “Jika aku kalah, tentu saja akan kuberikan obat penawar racun itu kepadamu, tapi bagaimana pula jika aku yang berhasil menang?”

“Bila aku kalah, terserah pada kemauanmu sendiri.

Cuma saudara Tam terkena oleh seranganmu, jadi aku tetap menuntut obat penawar racun tersebut”

Kiu Tok Kaucu segera tertawa terbahak-bahak:

“Haahh... haahh.... haaahh.... soal itu mah tak usah Wi tayhiap kuatirkan. Aku dan Ting pangcu masih terikat perjanjian sedang orang she Tam itu merupakan pelindung hukum perkumpulan pena baja, sudah barang tentu aku akan memberi obat penawar racun kepadanya. Cuma bila Wi tayhiap kalah, kau tak boleh mungkir lagi lho. “

“Apa yang kau inginkan dariku?“

Sekali lagi Kiu Tok Kaucu tertawa terbahak bahak:

“Diantara kita sudah berbicara dengan amat jelas, sedang diantara aku dengan Wi tayhiap pun tidak terikat dendam sakit hati apa pun. Oleh sebab itu aku pun tidak mempunyai niat untuk bermusuhan denganmu. Aku tak lebih hanya menginginkan Lou bun-si yang berhasil diperoleh Wi tayhiap itu“

Wi Tiong Hong mendengus dingin: “Apakah kau sudah mengincarnya”

Kiu Tok Kaucu tertawa seram, “tapi jika Wi tayhiap kalah, maka aku ingin meminjam pakai selama tiga bulan.

Selewatnya tiga bulan benda itu pasti akan kukembalikan lagi kepadamu, entah. ”

Sebelum ucapan tersebut selesai diutarakan, Wi Tiong Hong kembali telah menukas: “Tidak bisa, Lou bun-si bukan benda milikku, jadi aku tak bisa meminjamkan kepada siapa pun”

“Ini berarti Wi tayhiap tidak bersedia untuk bekerja sama dengan diriku?”

“Benda yang bukan menjadi milikku, tentu saja tak dapat pula kuputuskan sendiri”

“Aku ingin bertanya sekarang, apakah Lou-bun-si tersebut berada disakumu sekarang?” tanya Kiu Tok Kaucu dingin

Wi Tiong Hong tertawa nyaring: “Sekalipun berada disaku, belum tentu kaucu dapat mengungguli diriku”

“Asal berada itu sudah berada dalam sakumu, urusan lebih mudah untuk diselesaikan” kata Kiu Tok Kaucu dingin.

Wi Tiong Hong segera menggetarkan pedangnya lagi, kemudian berseru dengan gusar: “Berbicara dari tadi sampai sekarang, kau tak lebih hanya bermaksud mengincar Lou-bun- si tersebut. Baiklah kita tak sepaham dan tak sependapat, jadi lebih baik kau bersiap siap menghadapi serangankul”

Kiu Tok Kaucu mendengus. “Hmm! Aku mengajakmu berunding, hal ini disebabkan ingin kuberi muka untukmu.

Pokoknya aku sudah bertekad akan mendapatkan Lou-bun-si itu dengan cara apapun. Kau anggap aku tak mampu untuk merebutnya dari tanganmu?”

Sementara berbicara, pelan pelan dia mencabut keluar sebatang penggaris kemalanya dibalik tongkat bambunya.

Wi Tiong Hong dapat melihat senjata penggaris kemala itu berwana hijau muda, tanpa terasa pikirnya: “ia menyembunyikan senjata penggaris kemalanya dibalik tongkat bambu, berarti benda tersebut mempunyai kegunaan lain aku harus menghadapinya dengan berhati hati. ”

Sementara dia masih termenung, selangkah demi selangkah Kiu Tok Kaucu telah maju kedepan, katanya tiba tiba sambil tertawa seram: “Aku tak usah mempersiapkan diri lagi, silahkan saja Wi tayhiap memberi petunjuk”

Wi Tiong Hong meraba pedangnya, kemudian berkata, “Silahkan kaucu melancarkan serangan”

Pedang Jit Sin Kiam-nya diayunkan kedepan, tak lamban tidak pula cepat pedang itu langsung menusuk kedepan meski tubuhnya masih tetap tak bergerak ditempat semula.

Mendadak Kiu Tok Kaucu bergetar keras, berkilat sepasang matanya, ia bertanya gelisah: “Kau berasal dari perguruan Siu Lo Kau?”

Ternyata serangan pedang yang dipergunakan Wi Tiong Hong barusan adalah jurus pembukaan dari Siu Lo Cap Sa Kiam. Berhubung ia tak tahu kemampuan musuh, ia kawatir ilmu Ji Gi Kiam-hoat-nya tak sanggup menghadapi kemampuan lawan.

Sekalipun Siu Ji Cap Sa Si belum lama di pelajari, tapi perubahan jurus serangannya sudah pasti jauh lebih hebat daripada ilmu pedang Ji Gi Kiam-hoat itulah sebabnya

begitu muiai melepaskan serangan, dia lantas mengeluarkan ilmu simpanan tersebut.

Namun anak muda itu terkejut juga setelah lihat kesanggupan Kiu Tok Kaucu untuk menyebutkan identitas ilmu pedangnya secara jitu, segera piklrnya: “Pengetahuan serta pengalaman yang di miliki si gembong iblis tua ini sungguh amat luas dan hebat. Agaknya dia bukan seorang jagoan yang dapat dihadapi secara mudah.”

Berpikir demikian, dengan nada angkuh sahutnya: “Aku bukan anggota perguruan Siu Lo Bun“

Jengek Kiu Tok Kaucu dingin. “setelah memasungi tunanganku ini, terpaksa akupun akan berbuat salah kepadamu”

Sementara pembicaraan berlangsung, mendadak ia melepaskan sebuah serangan kearah pedang Wi Tiong Hong dengan pergunakan senjata penggaris kemala itu.

Diam diam Wi Tiong Hong tertawa dingin, pikirnya:

“Sekalipun senjata penggaris kemalamu itu keras dan kuat, jangan harap bisa di bandingkan dengan Jit Siu Kiam ku yang mampu memotong emas ini. Hmm, sekarang kau telah mencari gara gara kepadaku, biar kusuruh kau rasakan betapa tajamnya pedangku ini!”

Belum lenyap ingatan tersebut melintas di dalam benaknya, senjata penggaris kemala lawan telah saling beradu dengan pedangnya sehingga menimbulkan suara bentrokan yang amat nyaring

“Traaaang. !”

Kedua belah pihak sama sama merasakan pergelangan tangan kanannya bergetar keras sehingga akibatnya mereka semua mundur selangkah kebelakang.

Agaknya Kiu Tok Kaucu sangat menaruh kepercayaan atas kemampuan senjata penggaris kemala miliknya itu dan tak akan menderita cacad akibat bentrokan tadi, ia sama sekali tidak melirik sekejap pun atas senjata andalannya itu.

Malahan sebaliknya dengan sorot mata yang amat tajam dia awasi pedang milik Wi Tiong Hong tersebut Tatkala dilihatnya pedang karat tersebut masih tetap utuh tanpa cacad, bahkan mata pedangnya sama sekali tidak terpengaruh oleh bentrokan yang barusan terjadi, tanpa terasa ia berseru memuji “Pedang bagus!”

Tubuhnya kembali bergerak maju sambil melancarkan serangan, dimana senjata penggaris kemalanya berputar, segera terciptalah selapis bayangan senjata berwarna hijau. Jurus demi jurus serangan dilontarkan berulang kali, hampir semuanya tertuju ke bagian bagian yang mematikan ditubuh lawan.

Sementara itu, Wi Tiong Hong yang baru saja bentrok dengan musuhnya, lamat lamat segera merasakan munculnya segulung hawa dingin yang memancar masuk dari tubuh pedang itu langsung menembusi telapak tangannya yang menggenggam pedang, hal mana membuat hatinya segera terkesiap.

Sementara dia masih tertegun dan serangannya belum sempat dilancarkan keluar, Kiu Tok Kaucu telah melepaskan serangkaian serangan berantai yang cepat dan dahsyat kearahnya, hal tersebut membuatnya seketika terdesak hebat dan mundur beberapa mgkah dari posisinya semula....

Begitu berhasil merebut posisi yg menguntungkan, Kiu Tok Kaucu sama sekali tidak memberi kesempatan kepada Wi Tiong Hong untuk berganti napas. Senjata penggaris kemalanya secara beruntun melancarkan serangkaian

bacokan serta babatan dia lebih banyak melancarkan serangan ketimbang pertahanan.

Posisi Wi Tiong Hong segera terdesak di bawah angin, sekali lagi ia terdesak mundur sampai sejauh berapa langkah.

Mendadak pergelangan tangan kanannya digetarkan, segulung bayangan pedang segera berhamburan keluar ke empat penjuru...

“Triinggg. ”

Sekali lagi pedang dan senjata penggaris kemala itu saling membentur satu sama lainnya. Kali ini senjata penggaris Kiu Tok kaucu berhasil disingkirkan.

Tiba tiba saja Kiu Tok Kaucu amat terkejut, tanpa terasa tubuhnya mundur selangkah lagi.

Atas bentrokan senjata yang barusan berlangsung, sekali lagi Wi Tiong Hong merasakan timbulnya segulung hawa dingin yang menyusup masuk lewat pedangnya langsang menyerang telapak tangannya. Hal ini membuatnya ikut terkejut, diam diam pikirnya “jangan-jangan senjata penggaris kemalanya itu mempunyai sesuatu

keistimewaan?”

Belum selesai dia berpikir, terdengar Kiu Tok Kaucu telah berkata sambil tertawa seram: “Haaahh.... haaahh...

haaahh.... kemampuan Wi tayhiap di dalam permainan pedang, sungguh hebat dan luar biasa sempurnanya. ”

Selapis bayangan hijau sekali lagi meluncur ke depan dan mengurung seluruh badan Wi Tiong Hong

Dengan cepat si anak muda itu memutar pedangnya sambil menyongsong datangnya ancaman tersebut.

“Traaangg. !” Sekali lagi pedang itu bentrok keras dengan senjata penggaris kemala yang meluncur datang. Tenaga getaran yang dipergunakan olehnya kali ini jelas jauh lebih kuat dan tangguh ketimbang tadi, seketika itu juga Kiu Tok Kaucu kena digetarkan tubuhnya sehingga mencelat setinggi satu depa lebih dari posisi semula.

Tapi setelah terpental ke belakang, dia segera manfaatkan kesempatan tersebut untuk menerkam Wi Tiong-hong sekali lagi dari tengah udara, senjata penggaris kemala nya menciptakan berpuluh puluh titik bayangan hijau yang bersama sama mengurung tubuh anak muda itu seperti hujan gerimis.

Sudah tiga kali pedang Wi Tiong Hong saling beradu kekerasan dengan senjata penggaris kemala Kiu Tok Kaucu, dalam setiap bentrokan yang kemudian terjadi, ia selalu merasakan munculnya segulung hawa dingin yang menyusup masuk melalui pedangnya langsung merembes ke dalam lengan kanannya yang makin lama semakin membekukan lengan tersebut. Hal semacam ini segera membikin hatinya merasa terkejut sekali....

Di dalam gelisahnya, tatkala melihat tibanya berpuluh puluh titik bayangan hijau yang mengurung tubuhnya, pemuda itu membentak keras, pedangnya kembali di putar kencang menciptakan selapis cahaya pedang yang sangat tebal.

Jurus serangan ini dilancarkan karena terdesak oleh keadaan, tanpa disadari ia telah imempergunakan Siu Lo Cap Sa Si yang maha dahsyat tersebut.

Dimana pedangnya dilepaskan, tampak tiga belas titik cahaya tajam bersama sama meluncur ke muka dengan kecepatan luar biasa.

Perlu diketahui ilmu Siau Lo Cap Sa Si tersebut baru permulaan di pelajari. Bila keadaan tidak mendesak, mustahil ia bisa mempergunakan jurus serangan tersebut hingga mencapai kemampuan yang begini dahsyat.

“Criiing, criiing, criiing. ”

Serangkaian bunyi bentrokan nyaring berkumandang susul menyusul di tengah udara.

Dalam waktu sekejap mata saja. senjata penggaris kemala yang dipergunakan Kiu Tok Kaucu untuk menyerang dari tengah udara itu sudah terkena tiga belas buah bacokan dari pedang Jit Siu Kiam anak muda tersebut.

Seandainya senjata penggaris kemalanya itu bukan terbuat dari batu kemala yang telah berusia seribu tahun, sehingga benda itu mernpakan benda mestika yang tidak takut dibacok ataupun ditusuk mungkin sedari tadi ia sudah tewas dalam genangan darah.

Atau paling tidak, sekujur tubuhnya akan kena terbacok oleh ketiga belas buah serangan tadi sehingga terluka parah.

Biarpun demikian akibat yang dirasakan Kiu Tok Kaucu atas datangnya serangan tersebut cukup hebat.

Tubuhnya yang berada di tengah udara segera merasakan suatu kekuatan getaran yang kuat sekali sehingga ia terjatuh dari udara dan berjumpalitan beberapa kali, terakhir badannya terlempar sampai sejauh satu kaki lebih dari posisi semula.

Mimpi pun Wi Tiong hoag tidak pernah menyangka kalau tanpa sengaja ia berhasil mempelajari jurus Cap Sa Kiam Tang-hoa (tiga belas serangan pedang dilancarkan bersama) yang merupakan jurus serangan tersusah dalam Siu Lo cap Sa Si bahkan berhasil mempergunakannya secara sempurna hal ini kontan saja membuat hatinya merasa amat gembira.

Tidak, akibat yang diterima atas bentrokan itupun dirasakan juga olehnya sendiri tiba tiba saja ia bersin berulang kali dengan tubuh menggigil,

Kini seluruh lengan kanannya sudah menjadi kaku karena kedinginan, pedang Jit Siu Kiamnya juga tergetar sampai terlepas dari genggaman dan..

“Criing!”

Senjata tersebut akhirnya menancap di atas dinding sebelah kiri...

Bukan cuma begitu, kakinya kembali mundur sejauh enam tujuh langkah dengan sempoyongan dia bersin semakin keras dan sekujur badannya merasa kedinginan sampai merasuk kedalam tulang sumsum.

Kiu Tok Kaucu sendiri juga turut merasakan

bergolaknya hawa darah dalam dadanya akibat menerima tiga belas jurus serangan lawan, selang beberapa saat kemudian ia baru dapat melompat bangun. Dengan sorot mata yang tajam melebihi sembilu ditatapnya Wi Tiong Hong tanpa berkedip

Kemudian setelah tertawa tergelak ia berseru: “Haaahh...

haaa.... haa... kini, hawa dingin beracun telah menyerang ke dalam tulangmu, tidak sampai satu jam kemudian seluruh cairan darah didalam tubuhmu akan menjadi beku.

Tanpa pil emas racun api milikku, jangan harap kau bisa membebaskan diri dari pengaruh hawa dingin tersebut. ”

Dengan masih tetap memegang senjata penggaris kemalanya, selangkah demi selangkah dia maju ke muka mendekati Wi Tiong Hong, terdengar ia berkata lebih jauh,

“Sekarang, kau sudah tidak berkekuatan lagi untuk

melancarkan serangan. Antara mati dan hidupmu, kini sudah berada dalam kekuasaanku. “

Sebagaimana diketahui didalam saku Wi Tiong Hong masih menggembol pena Lou-bun-si.

Hal itulah yang menyebabkan dia tidak terpengaruh oleh asap dupa pemabuk yang di sudut dalam ruangan tersebut, sekalipun kepalanya terasa rada pusing pusing.

Tapi setelah terjadi bentrokan berulang kali dengan senjata penggaris kemala lawan dimana hawa dingin merasuk ke dalam tubuhnya, pemuda itu tak mampu lagi untuk membendung keadaan tersebut.

Terutama sekali lengan kanannya kini sudah membeku dan hilang rasanya sama sekali. Selain tak bisa digerakkan, dirasakan pun sudah tak mampu lagi, kejadian ini segera merisaukan hatinya.

Sekarang musuh telah mendesak kearahnya, padahal ia sudah tak bersenjata lagi. Ditambah pula lengan kanannya bagaikan cacad, pada hakekatnya ia sudah tak berkemampuan lagi untuk melanjutkan pertarungan. Dalam keadaan begini, tiba tiba alis matanya berkernyit, dengan cepat tangan kirinya merobek pakaian senjata lalu merogoh keluar Lou-bun-si.

Kemudian sambil membentak keras tubuhnya menubruk kedepan, lengan kirinya diputar dan langsung menyerang jalan darah Siao ki hiat hoa kay hiat dan sim kan hiat didada Kiu Tok Kaucu dengan jurus Hong bong sam tian tan (burung bong mengangguk tiga kali)

Tak terkirakan rasa terperanjat Kiu Tok Kaucu menyaksikan keadaan tersebut. Mimpi pun dia tak menyangka Wi Tiong Hong yang sudah terserang hawa

dingin beracun ternyata masih mampu melancarkan serangan dengan pergunakan tangan kirinya.

Melihat datangnya ancaman yang teetuju kearahnya, buru-buru dia menggerakkan senjata penggaris kemalanya untuk membendung ancaman tersebut.

“Traaangg, traaaang, traaaaanggg. ”

Terdengar tiga kali bentrokan nyaring berkumandang memecahkan keheningan.

Sekali lagi Wi Tiong Hong merasakan lengan kirinya menjadi kaku akibat bentrokan tersebut. Sekali lagi tubuhnya terdorong mundur sejauh satu langkah.

Mendadak Kiu Tok Kaucu mendengar ada sesuatu yang aneh, cepat cepat ia melompat. mundur sejauh berapa depa dan cepat cepat menundukkan kepalanya untuk memeriksa.

Apa yang terjadi?

Rupanya senjata penggaris kemala yang di andalkan olehnya selama ini sebagai senjata yang tidak mempan dibacok ataupun ditusuk itu, sekarang sudah bertambah dengan tiga buah lobang kecil akibat tusukan pena kemala lawan.

Bisa dibayangkan betapa geramnya hati Kiu Tok Kaucu menyaksikan kerusakan pada benda kesayangnnnya itu...

Mencorong sinar bengis yang menggidikkan hati dari balik mata Kiu Tok Kaucu.

Ia terkejut, marah dan sakit hatl. Terutama sekali atas kerusakan yaog dialami atas senjata andalannya itu.

Biarpun dihari hari biasa hatinya kejam dan tak berperasaan, namun sekarang dia masti menahan diri terutama setelah timbulnya parasaan ngeri dan bergidik didalam hati kecilnya.

Masih tetap menggenggam senjata penggaris kemala tersebut, selangkah demi selangkah dia mundur terus ke belakang

Berhasil dengan serangannya, Wi Tiong Hong

merasakan semangatnya kembali berkobar. Dia mendesak ke muka dengan langkah lebar, bentaknya keras keras.

“Nah, jawablah sekarang dengan jelas, sesunggubnya mati hidupku berada ditangan kaucu? Ataukah mati hidup kaucu yang berada ditanganku. ?” Biarpun Kiu Tok Kaucu masih tetap menggenggam senjata penggaris kemala nya, namun ia tidak berani turun tangan lagi secara gegabah, mengikuti desakan Wi Tiong Hong yang semakin ke depan. Selangkah demi selangkah dia mundur pula ke belakang.

Tiba tiba sorot matanya mengawasi benda ditangan Wi Tiong Hong itu lekat lekat, kemudian serunya tertahan,

“Hei, bukankah benda yang berada dalam genggamanmu itu adalah Lou-bun-si?”

Rupanya dia sama sekali tidak tahu kalau Lou-bun-si selain bermanfaat untuk memunahkan pelbagai macam racun, ternyata benda tersebut dapat pula dipergunakan sebagai senjata.

“Benar” jawab Wi Tiong Hong “benda yang berada dalam genggamanku sekarang adalah Lou- bun-si. Aku ingin bertanya kepada kaucu, sebetulnya kau ingin mampus di ujung senjata Lou-bun-si ku ini ataukah bersedia untuk membicarakan pertukaran syarat denganku...”

Belum selesai ia berkata, tanpa terasa pemuda itu bersih lagi berulang kali.

Kiu Tok Kaucu dapat melihat bagaimana sekujur badan Wi Tiong Hong gemetar keras. Sudah jelas racun hawa dingin telah mulai bekerja didalam tubuhnya, hal ini membuatnya sangat kegirangan. Sambil sengaja mengulur waktu, pelan-pelan tanyanya: “Pertukaran syarat apakah yang hendak kau bicarakan denganku...?”

Sementara itu Wi Tiong Hong masih tetap berdiri sambil menggenggam senjata Lou-bun-si nya, tiba-tiba ia melihat sorot mata Kiu Tok Kaucu tanpa sengaja melirik ke belakang tubuhnya, kejadian ini kontan saja menggerakkan hatinya.

Tanpa berpiklr panjang lagi dia membalikkan tangan kirinya dengan jurus “memutar balik mata uang”. Cahaya hijau menyambar keluar dari ujung Lou-bun-si dan langsung menyapu ke belakang tubuhnya.

“Criiiingg. ”

“Criiiiinggg. ”

Sekali lagi terdengar dua kali bentrokan nyaring berkumandang memecahkan kebeningan, tahu-tahu dua bilah pedang yang menyergap datang dari belakang sudah terpapas hingga kutung menjadi dua bagian.

Wi Tiong Hong sama sekali tidak berpaling untuk melihat kebelakang tubuhnya walau hanya sekejap mata pun. mendadak tangan kirinya kembali diayunkan ke depan.

Setitik bayangan hijau langsung menyambar kedepan dan mengancam dada Kiu Tok Kaucu, hardiknya: “Aku pikir, dada kaucu sudah pasti tak akan sekuat dan sekeras pedang mestika apa pun juga bukan? Sekarang, bila aku berniat untuk merenggut selembar jiwamu, maka hal ini semestinya bukan suatu pekerjaan yang memerlukan tenaga

besar bagiku, lebih baik kaucu memerintahkan kepada mereka untuk mundur saja. ”

“Baik” kata Kiu Tok Kaucu sambil mengangkat kepalanya “kalian segara mundur semua dari sini!” Wi Tiong Hong segera merasakan langkab kaki yang ringan dan cepat benar benar mengundurkan diri dari ruangan, tapi saat itu pula ia merasakan hawa dingin yang luar biasa dan tak tertahankan lagi semakin menyusup kedalam tubuhnya.

Dalam keadaan seperti ini, disamping dia masih mengerahkan tenaganya untuk melawan pengaruh hawa dingin tersebut, kembali bentaknya dengan suara dingin:

“Kaucu, apa kau sudah mengaku kalah?”

“Haa... haa... ha... Wi tayhiap sudah pernah mengalahkan Ban kiam hweecu, sudah pernah membekuk Tok Seh Siancu, bila sekarang akupun dikalahkan olehmu, aku rasa hal ini masih belum terhitung seberapa”

Sekali lagi Wi Tiong Hong bersin keras keras, kemudian katanya setelah itu. “Asal kaucu sudah mengakui, ini lebih baik lagi. Sekarang tentunya kau sudah bersedia menyerahkan obat penawar racun bukan?”

Dari dalam sakunya Kiu Tok Kaucu mengeluarkan sebuah botol dan mengambil sebutir pil yang segera disodorkan ke depan.

Sebenarnya Wi Tiong Hong bendak menyambut obat itu, tapi secara tiba tiba saja ia teringat kalau lengan kanannya masih membeku dan mati rasa, sedangkan tangan kirinya masih menggenggam senjata Lou-bun-si, bagaimana mungkin ia bisa menerima pil tadi?”

Ia bisa saja menyimpan dulu senjata Loa bun si nya kemudian baru menerima pil tersebut, namun dia pun enggan sampai dipecundangi si iblis tua tersebut.

Dalam keadaan begini, diapun mundur selangkah ke belakang kemudian serunya. “Harap kaucu mencekokan pil tadi kemulut saudara Tam!”

Berhubung Kiu Tok Kaucu merasakan ujung pena Lou-bun-si yang tajam berwaraa hijau itu masih menempel diatas jalan darah sendiri, untuk sesaat dia tak tahu apa yang mesti dilakukan kecuali menuruti perkataan lawan.

Karenanya terpaksa ia maju menghampiri Tam See Hoa dan menjejalkan obat itu ke dalam mulutnya, kemudian baru berkata: “Wi tayhiap masih ada petunjuk apa lagi?”

Dalam pada itu seluruh wajah Wi Tiong Hong telah berubah menjadi merah kebiru-biruan akibat kedinginan.

tubuhnya juga gemetar tiada hentinya. Sambil memaksakan diri, ia tetap menggenggam Lou bun si itu erat-erat. Serunya kemudian: “Apakah kaucu bersedia menghadiahkan sebutir pil pemunah juga untuk menghilangkan racun hawa dingin yang menyerang tubuhku?”

Sambil berkata tanpa sungkan-sungkan lagi tangannya menyambar kedepan.

Lou bun si benar-benar lebih tajam daripada mata pedang, tanpa menimbulkan sedikit suarapun ia telah merobek pakaian yang diletakan Kiu Tok Kaucu tersebut.

Tak terkirakan rasa gusar Kiu Tok Kaucu menghadapi kejadian tersebut. Sekali lagi dia melirik sekejap ke arah Lau bun si itu dengan sinar mata iri, kemudian pikirnya

“Sayang sekali, jika aku mendapat kesempatan selama seperminum teh lagi, tangan kirinya itu pasti akan turut menjadi kaku dan kehilangan sama sekali tenaga untuk melawan”

Ia menyesal telah mengutarakan keterangan tersebut terlalu cepat. Coba kalau tidak dikatakan bahwa ia memiiiki pil emas racun api yang dapat nemunahkan racun hawa dingin tersebut, bisa jadi ia dapat mengulur waktu lebih lama lagi.

Tapi sekarang ia sudah berada dibawah tekanan senjata lawan. Untuk mencari akal lain sudah tak sempat lagi.

Berpikir demikian, tanpa terasa katanya, kemudian sambil tertawa seram. “Walaupun pil emas racun api ku dapat menghilangkan hawa racun dingin itu, namun kau mesti tahu bahwa obat itupun terbuat dari obat racun yang jahat. Asal Wi tayhiap tidak takut keracunan, sudah barang tentu aku bersedia untuk menghadiahkan kepadamu”

“Aku tidak takut dengan pengaruh racun apa pun...” sabut Wi Tiong Hong.

Biarpun perkataan ini tidak diutarakan pun, Kiu Tok Kaucu juga tahu kalau dia memiliki Lou bun si yang dapat memunahkan pengaruh racun apa saja.

Kiu Tok Kaucu mengangkat bahunya kemudian

mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam sakunya, membuka penutup botol itu dan mengeluarkan sebutir pil sebesar gundu yang segera diangsurkan ke muka Pada waktu itu Wi Tiong Hong sudah kedinginan sampai kaku seluruh badannya, cairan darah dalam tubuhnya sudah hampir membeku rasanya....

Sambil mengawasi Kiu Tok Kaucu lekat-lekat, katanya kemudian sambil tertawa dingin: “Apabila Kaucu hendak menggunakan kesempatan ini untuk mencelakai aku.

Heeh... heeh... jangan salahkan jika kukutungi pergelangan tangan kananmu lebih dulu!”

Selesai berkata dia mencukil butiran pil itu dengan senjata Lou bun si nya sehingga melejit setinggi tiga depa, kemudian ia membuka mulut sambil menghisapnya keras keras. Pil tadi segera tertelan kedalam perutnya.

Dalam pada itu. Tam See Hoa yang jatug tak sadarkan diri tiba tiba sudah duduk kembali. Ia membuka matanya dan memperhatikan sekejap senjata Lou-bun-si ditangan Wi Tiong Hong yang masih mengancam tubuh Kiu Tok Kaucu itu, kemudian sambil melompat bangun bentaknya keras keras. “Tua bangka celaka, kau berani mencelakai diriku dengan dupa pemabuk. ”

Waktu, itu Wi Tiong Hong telah menelan pil emas racun api pemberian Kiu Tok Kaucu.

Betuk juga ia segera merasakan ada segulung hawa panas yang meluncur dari lambung ke dalam perutnya. Dalam waktu singkat seluruh hawa dingin yang mencekam tubuhnya berkurang. Ia tahu pil tersebut memang tidak palsu.

Setelah mengatur napas sebentar, ia mencoba untuk menggerakkan lengan kanannya, ternyata lengan itu dapat digerakkan kembali.

Maka ketika mendengar suara bentakan dari Tam See Hoa, buru buru ia bertanya: “Saudara Tam tidak apa apa bukan?”

“Aku sudah sehat kembali” Wi Tiong Hong segera mengawasi wajah Kiu Tok Kaucu lekat-lekat. kemudian berkata. “Kini aku cuma mempunyai sebuah syarat lagi, apakah kaucu bersedia untuk menyanggupinya?”

“Coba kau utarakan keluar”

“Aku minta kau segera memimpin anak buahmu dan meninggalkan tempat ini secepatnya”

Sepanjang karier-nya, Kiu Tok Kaucu sangat mahir di dalam penggunaaa racun jahat, tapi sekarang ia menjadi gentar oleh Lou-bun-si yang berada ditangan lawan, oleh sebab itulah kendatipun ia mampu meracuni Wi Tiong Hong didalam sentilan jari tangannya saja, toh orang itu tak berani bertindak secara gegabah.

Ketika Wi Tiong Hong telah selesai berbicara, berkilat sepasang mata Kiu Tok Kaucu, ujarnya dingin. “Apabila Wi tayhiap memojokkan diriku terus menerus sehingga tiada tempat lagi untuk berpijak, aku akan mempertaruhkan segenap jiwa dan ragaku untuk mengajakmu beradu jiwa”

Wi Tiong Hong tertewa dingin. “hee... hee... apabila Kaucu tak bersedia melepaskan perkumpulan Thi pit pang, jangan salahkan kalau aku tidak akan berbelas kasihan lagi...”

Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia menerobos masuk kedalam ruangan dengan kecepatan luar biasa, sambil menerobos masuk, teriaknya keras keras.

“Saudara Wi, cepat kau hentikan seranganmu itu!”

Wi Tiong Hong dapat menangkap suara itu berasal dari Ting Ci-kang, tanpa terasa ia menarik kembali pena kemalanya dan berkata dengan penuh amarah.

“Kedatangan toako memang kebetulan sekali. Sudah tahukah kau akan rencana busuk Kiu Tok Kaucu terhadap perkumpulan Thi pit pang...?

Kiu Tok Kaucu aegera tertawa tergelak. “Huah haah haah benarkah aku mempunyai suatu rencana busuk terhadap perkumpulan Thi pit pang. Aku yakin Ting

pangcu mengetahui lebih jelas, tak ada salahnya jika Wi tayhiap menanyakan secara langsung kepada Ting pangcu”

Dengan wajah yang panik dan gelisah, buru buru Ting Ci-kang menjura berulang kali seraya berkata. “Harap kaucu jangan sampai menjadi gusar. Tentang persoalan ini saudara Wi memang tidak mengetahui latar belakangnya.

Mungkin saja sudah terjadi kesalahan pahaman atas dirinya” Kemudian kepada Wi Tiong Hong, katanya pula:

“Saudara Wi, kaucu sudah melepaskan budi pertolongan kepadaku, mungkin kau telah menaruh kesalahan paham atas kejadian ini“

Dan akhirnya dia berkata kepada Tam See Hoa: “Siaute minta maaf kepada saudara Tam. Sesungguhnya kedatangan kaucu kemari adalah atas undanganku lagipula aku pernah berjanji dihadapan kaucu tak akan menbocorkan identitas kaucu kepada siapa saja.

Mungkin dikarenakan persoalan inilah sehingga menimbulkan kecurigaan pada saudara Tam...” Sejak melihat sikap panik dan gelisah yang ditunjukkan Ting toako nya, Wi Tiong Hong sudah merasa amat tak senang. Mendengar perkataan itu segera ujarnya. “Tahukah toako bahwa wabah penyakit menular yang berjangkit dalam tubuh perkumpulan Thi pit pang merupakan hasil karyanya seseorang?”

Ting Ci kang segera tertawa. “Harap saudara jangan sembarangan berbicara. Seandainya tiada obat penawar racun pemberian Kaucu, aku rasa segenap anggota perkumpulan sudah tumpas dan perkumpulan Thi pit pang telah punah semenjak dahulu...”

“Pangcu, sesungguhnya perjanjian apakah yang terikat antara kau dengan dia? bolehkah hamba turut mengetahui?”

tanya Tam See Hoa secara tiba tiba.

Ting Ci kang memandang sekejap kearah Kiu Tok Kaucu. kemudian sahutnya serba salah: “Saudara Tam sebagai pelindung hukum perkumpulan kami semestinya harus mengetahui hal itu. Namun masalahnya menyangkut kepentingan bersama. Dan lagi pihak lawan pun mempunyai mata mata yg kelewat banyak. Sebelum tiba waktunya, aku pernah menyanggupi permintaan Kaucu untuk marahasiakan kejadian ini, jadi aku pun tak dapat mengingkari janji. Tapi siaute berani memberi jaminan dengan mempertaruhkan nyawa bahwa persoalan ini mempunyai sangkut pautnya dengan keadaan situasi dunia persilatan. Kerja sama kita dengan Kaucu tak lebih untuk menghilangkan bencana besar dari dunia persilatan. Jadi apabila saudara Tam masih percaya kepadaku, harap kau tak usah banyak bertanya lagi. “

Mimpi pun Tam See Hoa tidak menyangka kalau semua perkataan ketua nya hanya di tujukan untuk melindungi Kiu Tok Kaucu, diam diam ia menghela napas sedih.

Tapi diluaran dia sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa pun sambil memberi hormat katanya kemudian

“Perkataan pangcu terlalu serius, masa hamba berani banyak curiga. ?”

Ting Ci-kang kembali tertawa terbahak bahak: “Asal saudara Tam sudah tidak menaruh curiga lagi, aku pun sudahi pembicaraan sampai disini”

Dalam pembicaraan mana, Wi Tiong Hong telah mencabut keluar pedangnya dari atas dinding dan menyarungkan kemball.

Maka terdengar Ting Ci-kang berkata kepada Kiu tok kaucu kemudian sambil menjura. “Kaucu, harap kau sudi memandang diatas wajah orang she Ting agar tidak menjadi marah atas peristiwa ini”

Kiu Tok Kaucu segera tertawa terbahak bahak. “Haah haah haah aku kan sudah pernah berkata bahwa diantara aku dengan Wi tayhiap sama sekali tidak terikat oleh dendam sakit hati apa pun jua. Apa yang telah lewat tentu saja akan kubiarkan lewat”

Ting Ci kang segera menarik tangan Wi Tiong Hong seraya berkata lagi. “Saudara Wi, kalau begitu mari kita pergi”

Dengan seksama dan penuh perhatian Wi Tiong Hong mencoba untuk mengawasi toako nya ini. Akan tetapi ia sama sekali tidak menemukan sesuatu yang aneh atas sikap maupun gerak gerik orang itu. Walaupun demikian, dalam hati kecilnya ia selalu berperasaan kalau Ting Ci-kang telah mengalami perubahan yang amat besar.

Begitulah setengah diseret ia ditarik oleh Ting Ci kang meninggalkan pesanggerahan Ling Long san koan, sedang Tam See Hoa mengikuti dibelakang ke dua orang itu dengan perbagai persoalan mencekam pikiran dan perasaannya.

Setelah menempuh perjalanan sekian waktu, tak tahan lagi Wi Tiong Hong berkata kemudian. “Toako, apakah kau sudah mengetahui jelas tentang asal usul Kiu Tok Kaucu tersebut?”

“Kiu tok kaucu belum pernah berkelana di dalam dunia persilatan, jadi aku sendiri pun tidak begitu jelas tentang asal usulnya”

“Lantas mengapa toako bersedia untuk menjalin kerja sama dengan dirinya?”

“Sebagai umat persilatan, kita dibebani tugas menghentikan dunia ini dari kelaliman seseorang atau sekelompok manusia. Anak buah Kiu Tok Kaucu hanya delapan orang saja. Oleh karena itulah dia minta kepadaku untuk membantunya mewujudkan cita cita serta keinginannya. Berhubung daya pengaruh lawan sangat besar, lagipula terhitung seorang manusia bengis yang sudah termashur kejahatan dan kelalimannya, terutama sekali perbuatannya menteror dunia persilatan sudah tidak sehari dua hari lagi. Kesemuanya ini masih ditambah pula aku berhutang budi kepadanya karena telah menyelamatkan jiwaku.

Karena itu perkumpulan Thi pit pang merasa rikuh untuk menampik permintaan bantuan darinya”

“Jikalau tujuannya memang hendak melenyapkan kaum durjana dari dunia persilatan, mengapa pula semua gerak geriknya di lakukan secara rahasia dan mencurigakan?

Lagipula dia telah mengutus anak muridnya untuk menyebarkan racun disungai kota Hang ciu, apakah perbuatan semacam ini dapat di katakan sebagai perbuatan orang baik?”

“Saudaraku, diantara kita berdua bisa saja

membicarakan persoalan apa pun, tapi tentang masalah Kaucu, kuharap saudara Wi tidak usah mencampurinya”

Mimpi pun Wi Tiong Hong tak menyangka kalau Ting toako nya bakal mengucapkan kata kata seperti ini, tanpa terasa ia jadi tertegun dibuatnya

Mendadak ia mengeluarkan Lou bun si dari dalam sakunya, kemudian sambil menghentikan langkahnya dia berkata. ”Toako, Lou bun si ini semula memang menjadi milik toako, sebab benda ini tidak lain adalah lencana pena

baja perkumpulanmu. Dikarenakan kekurang hati hatian siaute, dalam suatu pertarungan kulit luar pena ini tersayat rusak. Untuk itu siaute mohon maaf yang sebesar besarnya.

Benda ini bisa memunahkan berbagai macam racun.

Banyak orang persilatan yang telah berdaya upaya untuk memperoleh atau merebutnya, untung siaute dapat menjaganya sampai sekarang. Kini sudah waktunya kukembalikan benda ini kepada pemiliknya, harap toako menerimanya kembali”

Tatkala Tam See Hoa melihat anak muda itu mengeluarkan Lou-bun-si tersebut. sebenarnya dia bermaksud untuk menghalangi itu, sayang keadaan sudah terlambat.

Ketika Ting Ci kang menyaksikan Lou-bun-si tersebut, sekilas perasaan girang sempat menghiasii wajahnya, cepat cepat ia menerima benda itu kemudian baru berkata. “Lou-bun- si memang benda mestika di dunia ini, tapi benda ini memang berasal dari lencana pena baja perkumpulan kami, sebagai benda warisan ayah angkat ku, memang ada sebaiknya kuterimanya kembali”

Tam See Hoa yang melihat keadaan ini diam diam mengbela napas panjang, cuma ia rikuh untuk turut banyak berbicara.

Selesai mengembalikan Lou-bun-si tersebut, Wi Tiong Hong segaia menjura seraya berkata lagi. “Sesungguhnya kedatangan siaute kali ini hanya bermaksud untuk menjenguk toako saja, tapi berhubung nasib ayahku masih merupakan tanda tanya dan siaute pun selalu merasa tak tenang, biar kumohon diri lebih dulu”

Ting Ci-kang menjadi tertegun, segera dia berseru.

“Saudara Wi, kalau toh sudah berkunjung kemari, semestinya kau menginap beberapa hari lagi sebelum pergi”

Tam See Hoa yang melihat Wi Tiong Hong telah menyerahkan Lou-bun-si kepada Ting Ci kang, apalagi malam itu mereka sudah membuat permusuhan dengan pihak Kiu tok kaucu sadarlah dia, bila berdiam sehari lebih lama didalam perkumpulan itu, tak urung mereka pasti akan terkena oleh racun jahat yang diam diam dilepaskan Kiu Tok Kaucu.

Maka dari itu dengan cepat dia menyela: “Wi tayhiap adalah seorang manusia yang amat perasa. Sehari sebelum persoalan yang membebani pikirannya dapat diselesaikan, ia tak akan pernah merasa tenang. Apalagi sebagai putranya, sudah barang tentu saban hari ia memikirkan nasib orang tuanya. Pangcu, kau adalah saudara angkat Wi tayhiap, sudah sepantasnya bila kau tidak menahan dirinya”

“Bila saudara Wi memang memaksakan diri untuk berangkat, tentu saja In heng tak akan menahan secara paksa”

Sikapnya sangat tawar dan mulai dingin. Betul juga, dia memang tidak berusaha untuk menahan si anak muda itu.

Mengambil kesempatan tersebut Tam See Hoa maju pula ke hadapan Ting Ci kang. lalu setelah memberi hormat katanya, “Hamba telah menyalahi Kiu Tok Kaucu. Tadi hampir saja aku celaka oleh obat pemabuknya, ini menyebabkan kehadiranku dalam perkumpulan rasanya kurang leluasa. Menlurut pendapat hamba ingin sekali kutemani Wi tayhiap pergi dari sini, harap pangcu sudi mengijinkan harapanku ini”

Agak berubah paras muka Ting Ci-kang sesudah mendengar perkataan itu, tapi tanyanya kemudian hambar:

“Apakah saudara Tam juga hendak pergi?”

Tapi setelah berhenti sejenak, dia pun manggut manggut seraya menjawab. “Saudara Wi harus berkelana didalam dunia persilatan lantaran urusan empek, tak kurang banyak bahaya yang dijumpai olehnya. Biarpun kepandaian silat yang dimilikinya cukup tangguh, tak urung pengalamannya tentang dunia persilatan masih kurang. Bila saudara Tam bersedia menemaninya, hal ini memang jauh lebih baik sekali” “Saudara Tam....“ seru Wi Tiong Hong.

Diam-diam Tam See Hoa memberi kerlingngan mata kearahnya, kemudian baru menjura sambil berkata “Bila pangcu memang mengijinkan, hemba ingin memohon diri lebih dahulu”

Dari kerlingan mata lawan, Wi Tiong Hong tahu bahwa dia berbuat demikian tentu mempunyai suatu maksud tertentu, karenanya ia tak banyak berbicara lagi.

Begitulah, kedua orang itupun segera berpamitan dengan Ting Ci-kang dan berangkat meninggalkan gunung.

Tak selang berapa saat kemudian mereka sudah menempuh perjalanan sejauh berapa puluh li. Saat itulah Tam See Hoa baru mengangkat kepala sambil menghela napas.

Wi Tiong Hong yang menjumpai hal tersebut tidak tahan lagi segera bertanya: “Saudara Tam, kau pun ikut berpamitan dengan Ting toako, sebenarnya apa sih rencanamu?“

“Apakah Wi tayhiap tak dapat melihat kalau malam tadi pangcu seolah olah telah berubah seperti orang lanc?

Caranya berbicara maupun gerak geriknya boleh dibilang senada dan seirama dengan nada pembicaraan Kiu Tok Kaucu”

“Ucapan saudara Tam benar, Ting toako memang telah berubah menjadi sangat aneh. Aku rasa dibalik kesemuanya ini mungkin terdapat hal hal yang tidak beres”

“Sewaktu siaute mendengar Kiu tok kaucu menyebutkan nama serta julukannya tadi, dalam hati kecil aku pun segera terbayang kembali suatu peristiwa lampau”

“Apa yang telah saudara Tam bayangkan?”

“Bisa jadi orang ini ada hubungannya dengan Kiu Tok sinkun di masa lampau” “Kiu tok sinkun?” seru Wi Tiong Hong tercengang.

“belum pernah kudengar manusia tersebut”

“Peristiwa ini sudah berlangsung puluhan tahun berselang. Kiu tok sinkun adalah julukan yang dia berikan untuk diri sendiri, nama besarnya cukup termashur terutama di wilayah sebelah barat daya.

“Tapi dia belum pernah melangkah mesuk ke daratan Tionggoan. Oleh sebab itu umat persilatan di daratan Tionggoan hanya mengetahui dia bernama Kou lou tok kun (manusia beracun dari Kou lou san). Orang ini mahir dalam permainan racun. Banyak sekali umat persilatan dari golongan hitam yang berkunjung ke Kou lou san untuk membeli obat beracun darinya

Konon racun yang dibeli darinya itu masing masing berbeda. Jika digunakan untuk mempolesi senjata pedang atau senjata rahasia, maka racun tersebut tak akan punah jika tidak diberi obat penawar racun khusus. Itulah sebabnya nama buruknya semakin populer di daratan Tionggoan...”

Menyinggung kembali soal Kou lou tok kun, tanpa terasa Wi Tiong Hong teringat kembeli akan letak selat Tok seh sia yang berada pula dibukit Kou lou san. mungkinkah antara Kiu Tok Kaucu dengan Tok Seh Sia ada sangkut pautnya?

Tapi ia segera merasakan jalan pemikirannya kurang tepat. Tok Seh Sia didirikan oleh si pedang racun Kok In.

Setelah kabur pulang deri pulau Lam hay, semestinya tak ada hubungan apa pun dengan Kiu tok sin kun.

Tapi inipun kurang tepat, sebab bila di tinjau dari dandanan yang dikenakan Kiu Tok kaucu, bahkan sampai sebatang tangkat bambu yang dibawanya dibilang hampir serupa dengan dandanan Tok seh siaucu. Kejadian inilah membuat pemuda tersebut semakin membayangkan semakin kalut saja jalan pemikirannya.

ooo00dw00ooo

Tiba tiba terdengar Tam See Hoa berkata lebih jauh.

“Konon Kou lou tok kun tersebut selain pandai mempergunakan racun, diapun sangat pandai didalam ilmu penyaruan muka, sehingga saban kali ada orang datang membeli racun kepadanya, orang yang dijumpai selalu berbeda”

“Bila didengar dari pembicaraan saudara Tam, itupun hanya bisa menerangkan kalau Kiu tok sinkun selalu pandai maramu racun. Dia juga pandai didalam ilmu manyaru muka, biarpun Kiu tok kaucu terhitung anak muridnya, tapi hal ini toh sama sekali tak ada hubungannya dengan parubahan watak serta sikap dari Ting toako”

“Tentu saja ada hubungannya. Kesatu, bila Kiu tok kaucu benar benar adalah ahli waris dari Kou lou tok kun yang pernah populer di masa lampau, maka hal ini membuktikan kalau kakek yang kita jumpai tadi sesungguhnya bukan wajah aslinya...”

Wi Tiong Hong segera mengangguk dan menyetujui jalan pemikiran ini...

Kembali Tam See Hoa berkata: “Kedua, asal kita dapat membuktikan kalau dia adalah ahli waris dari Kou lou tok kun, maka kita pun bisa menyimpulkan bahwa Ting pangcu telah terpangaruh jalan pikirannya oleh semacam obat beracun yang jahat sekali”

“Atas dasar apa kau berkata demikian?”

“Menurut cerita yang beredar di dalam dunia persilatan, waktu itu dalam kalangan hitam terdapat dua bersaudara kembar yang bernama Leng lam sianghiong. Ilmu silatnya lihay sekali. Sang lotoa telah beristeri sedang loji belum kawin, tapi ia mengincar kecantikan wajah enso-nya itu.

Suatu ketika sang lotoa sedang keluar rumah, dia pun memaksa enso nya agar mau tidur dengannya. Alhasil rayuan itu ditolak mentah mentah.

Loji takut disaat lotoa kembali, ensonya menceritakan keadaan yang sebenarnya kepadanya, maka dia pun pergi ke Kou lou tok kun untuk membeli sebungkus obat beracun yang secara diam diam diminumkan kepada ensonya.

Akibat dari minum racun tersebut, tiba tiba saja jalan pemikiran serta watak enso nya berubah seratus delapan puluh derajat, bahkan dia sendiri yang turun tangan membunuh suaminya sebelum kawin dengan sang ioji. Hingga sepuluh tahun kemudian, waktu ensonya sudah beranak empat, entah bagaimana tiba tiba ia sadar kembali dan memperoleh kejernihan otaknya lagi separti sedia kala...”

“Dia pasti bunuh diri karena malu?” sela Wi Tiong Hong.

“Yaa, akhirnya dia pun meracuni loji sampai mati, meracuni pula ke empat anaknya yang tak berdosa sebelum bunuh dirinya sendiri.

Akibat dengan terjadinya peristiwa tersebut, timbullah kemarahan umum dari segenap umat persilatan. Semua orang beranggapan Kou lou tok kun tidak seharusnya menggunakan obat beracun sebagai barang dagangannya untuk mencelakai sesama umat manusia”

-oo0dw0oo-