-->

Persekutuan Pedang Sakti Jilid 02

Jilid 02

KE DUA PULUH jago pedang berpita hitam yang berkhianat tersebut tak lain adalah orang- orang kepercayaan Chin Tay Seng, setelah mendengar perkataan dari Sah Thian yu tadi, kemudian mendengarkan pula pembicaraan si naga tua berekor botak dengan Thi Lohan, serta merta mereka memperoleh kesan bahwa penghianatan mereka terhadap Pit bu-san sesungguhnya tak lain adalah dalam rangka siasat menyiksa diri yang diatur oleh Kiamcu mereka sendiri Sudah barang tentu mereka tidak menjadi sangsi lagi, sambil membopong Chin Tay Seng, berangkatlah orang-orang itu dengan mengikuti dibelakang si naga tua berekor Botak.

Thi-lohan sendiri dengan menghunus sepasang goloknya memberi tanda kepada dua puluhan orang jago pedang berpita hitam yang mengikutinya, kemudian bersama-sama berangkat ke atas bukit Pit bu-san.

000OdwO000

MEMANDANG bayangan tubuh tiga orang tamunya hingga keluar dari pintu gerbang kuil Sak jin tian, Sah Thian yu mengelus jenggotnya sambil tertawa dingin, kemudian seraya berpaling serunya:

"Heeeh, heeeh, heeeh, coba kalau aku gagal membongkar siasat busuk mereka, malam ini, kita semua niscaya akan terjebak oleh siasat busuk dari pihak Ban kiam hwee."

"Suhu, kalau kau telah berhasil membongkar siasat busuk dari Chin Tay-seng, mengapa kau malah membiarkan mereka pergi dari sini ?" tanya Tok Hay Ji tidak habis mengerti.

Kontan saja Sah Thian yu melototkan sepasang matanya bulat-bulat:

"Berapa besar sih kepandaian silat yang kau miliki? Chin Tay-seng sudah berniat melakukan gerakan penyusupan, hampir separuh dari beberapa ratus anggota jago pedang pita hitamnya telah dikerahkan kemari padahal dari separuh yang dibawa kemari boleh dibilang semuanya merupakan kekuatan inti mereka, lalu ditambah pula dengan Khong-beng hweesio dan naga tua berekor botak, bayangkan sendiri dengan kemampuan kita, sanggupkah kita hadapi kerubutan mereka itu...?"

Kena dipelototi oleh gurunya, Tok hay-ji segera membungkam dalam seribu bahasa dan tak berani banyak berbicara lagi.

Tiba-tiba Sah Thian-yu bangkit berdiri sambil berkata lagi.

"Aku akan pergi sebentar untuk melihat keadaan mereka, siapa tahu mereka masih ada siasat lain? Kalian baik-baiklah berjaga disini dan jangan sembarangan berkutik."

Tok Si cian dan Tok Hay-ji serentak mengiakan bersama dengan sikap menghormat. Dengan langkah lebar Sah Thian-yu beranjak dari tempat duduknya menuju keluar kuil, empat bocah tosu yang berdiri didepan pintu serentak bersiap-siap hendak mengikutinya.

Tapi Sah Thian yu segera berpaling sambil berseru;

"Kalianpun tetap saja tinggal disini, aku hanya pergi sebentar saja."

Ke empat bocah tosu berbaju hitam itu kembali mengiakan dengan hormat dan benar-benar menghentikan langkahnya.

Dengan langkah lebar Sah Thian-yu berjalan keluar dari ruang kuil Sak jin tian. kemudian sambil mendongakkan kepalanya ia menampilkan setitik sinar kebanggaan.

Dengan satu gerakan yang cepat ia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan melejit kedepan, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya sudah jauh sekali dari posisi semula.

Sementara dia masih menempuh perjalanan mendadak dari tepi jalan kedengaran ada orang memanggil;

"Saudara Sah harap tunggu sebentar!"

Dengan perasaan terkejut buru-buru Sah Thian-yu menghentikan langkahnya seraya berpaling.

Dari balik pepohonan berjalan keluar seorang lelaki kurus kecil berbaju hitam yang menyoreng pedang dipinggangnya, sambil menjura orang itu berkata:

"Ooh, hingga sekarang saudara Sah baru datang, siaute sudah lama sekali menanti kedatanganmu disini."

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sembilu Sah Thian-yu menengok sekejap kearah manusia berbaju hitam itu, kemudian tegurnya;

"Siapakah kau?"

Manusia berbaju hitam itu tertawa rendah, "Tentu saja siaute adalah orang yang cukup dikenal oleh saudara Sah, kalau tidak. masa akan kutunggu kehadiranmu disini?"

Sekali lagi Sah Thian-yu merasakan sekujur badannya bergetar keras dia amati sebentar orang berbaju hitam itu, kemudian baru ujarnya lagi;

"Kalau dilihat dari dandanan saudara, rupanya kau adalah salah seorang anggota jago pedang berpita hitam dari Ban kiam hwee? "Tebakan saudara Sah hanya benar separuh," "Apa maksudmu?"

"Sebab sesungguhnya siaute bukan anggota Ban kiam hwee." "Lantas siapakah kau?"

"Kalau dibicarakan, sebenarnya kedudukan siaute tidak jauh berbeda dengan kedudukan saudara Sah sekarang!"

Sah Thian-yu samakin curiga lagi tegurnya kemudian dengan suara yang dalam: "Ada urusan apa kau datang mencariku?"

"Siaute mendapat perintah dari Kiamcu untuk menyambut kedatangan saudara Sah dan menyambut kau engkoh tua untuk pulang kemarkas. "

Berubah wajah Sah Thian-yu setelah mendengar perkataan itu, cepat dia berseru: "Harap kau perjelas ucapanmu itu"

Kembali manusia berbaju hitam itu tertawa.

"Orang kuno pernah bilang. kalau ingin menjabat kedudukan baru maka sang pejabat lama harus menyerahkan tanda kekuasaannya lebih dulu, nah siaute sengaja datang kemari untuk menerima tanda kekuasaan tersebut."

Tiba-tiba Sah Thian-yu mundur satu langkah kebelakang, lalu dengan mata melotot besar bentaknya:

"Sesungguhnya siapakah kau?"

Dengan memperendah suaranya manusia berbaju hitam itu berkata lebih jauh:

"Bukankah nona Cho telah berpesan kepadamu, seusai mengungkap siasat menyiksa diri lawan maka kau harus

meloloskan diri secepatnya waktu itu memang tidak diatur orang yang akan siap menerima kedatanganmu, tapi sekarang siaute justru diutus untuk menyambut kedatangan kau si engkoh tua, Tapi sipejabat baru yang baru menempati kedudukannya masih belum mengetahui jelas tentang kejadian beberapa hari belakangan ini apakah kejadian mana tak akan menimbulkan terbongkarnya rahasia? Maka siaute dipesan untuk menunggu disini, kau siengkoh tua harus diberi petunjuk lebih dulu sebelum berangkat memangku jabatan baru itu."

Sambil tertawa Sah Thian-yu manggut.

"Oooh, rupanya engkoh tua adalah...haaa....haaaa.,., mengapa tak kau katakan sedari tadi? Tempat ini tak cocok untuk berbicara mari kita naik kepuncak bukit itu lebih dulu. Silahkan engkoh tua!”

"Silahkan saudara Sah!"

Maka dua sosok bayangan manusia pun bersama-sama berangkat menuju kepuncak bukit itu. Kurang lebih sepertanakan nasi kemudian, dari bawah kaki bukit itu muncul seorang tosu kurus kecil berbaju abu-abu yang membawa senjata kebutan, ia berkelebat menuju kearah Sak jin tian dengan kecepatan tinggi.

Tak bisa disangkal lagi orang itu adalah Hek sat seng Sah Thian-yu adanya.

Bersama itu pula dari bawah kaki bukit sebelah timur muncul juga seorang kakek kurus kecil, orang ini berkepala botak, berwajah merah dan berpunggung bungkuk, dibawah dagunya dipelihara jenggot model jenggot kambing.

Jika dilihat dari dandanannya, jelas orang tersebut tak lain adalah sinaga tua berekor botak To Sam seng, namun

sekarang dia menyoren sebilah pedang berpita hitam dan sedang berada dalam perjalanan menuju kebukit Pit bu san.

Bukankah sinaga tua berekor botak To-sam seng dan Thi-lohan Khong-beng hweesio sedang berada dalam perjalanan pulang kebukit Pit bu san sambil membawa Chin Tay seng?

Padahal sinaga tua berekor botak tersebut tak lain adalah hasil penyamaran dari wakil congkoan jago pedang berpita putih Yu seng, sedangkan sinaga tua berekor botak To Sam seng yang asli, untuk jelasnya baiklah kita terangkan keadaan yang sebetulnya:

Sebagaimana diketahui, Naga tua berekor botak memperoleh perintah dari Cho Kiu moay (yang sesungguhnya adalah Ban kiam hweecu sendiri) untuk menuju kekamar sebelah kanan membawa surat perintah rahasianya. pada saat yang bersamaan telah didatangkan pula seorang lagi penyaru muka yang sangat lihay dari Ban kiam hwee (yakni kakek sastrawan yang membawa pena emas) untuk membantunya merubah wajah aslinya menjadi Sah Thian-yu.

Tatkala kemudian Sah Thian-yu asli berhasil dicengkeram urat nadinya oleh Cho Kiu moay penyaruan dari Bankiam hweecu, naga tua berekor botak segera manfaatkan kesempatan tersebut untuk menerobos keluar dari pintu ruangan dan mengajak keempat tosu kecil berbaju hitam yang masih menanti diluar pintu untuk melarikan diri dari situ.

Baru sekaranglah Sah Thian-yu asli yang menyaru sebagai jago pedang berpita hitam ditugaskan menunggu kedatangan si naga tua berekor botak yang menyamar sebagai dirinya itu untuk saling bertukar kedudukan yang sebenarnya,

Dan waktu itulah, sinaga tua berekor botak telah memulihkan dirinya sebagai Sah Thian- yu sebenarnya.

00OdwO00

MALAM hari sudah menjelang tiba sedari tadi, suasana di sekeliling tempat itu diliputi kegelapan yang mencekam.

Rembulan baru muncul diudara yang bersih dan memancarkan cahayanya yang redup untuk menembusi kegelapan.

Angin musim gugur terasa agak dingin ketika berhembus lewat serta menggoyangkan daun serta ranting.

Dalam suasana begini, tampak ada dua orang sedang duduk diatas tebing karang sebelah barat bukit Pit bu san.

Kalau dibilang mereka adalah sastrawan yang sedang menikmati keindahan alam, hal ini kurang cocok rasanya, sebab mereka semua mengenakan pakiaian ringkas bahkan membawa senjata pula.

Dari kedua orang tersebut, yang satu berwajah semu emas dengan mengenakan pakaian ringkas berwarna biru dan menyoren sebilah pedang berpita kuning, kalau dilihat dandanannya yang gagah, sudah jelas bukan manusia sembarangan, dia tak lain adalah Bankiam hweecu.

Di depan Bankiam hweecu pun berdiri seorang pemuda berpakaian ringkas berwarna hijau. dia berwajah tampan, bibir merah dan gigi putih, tampang yang sangat menarik hati.

Orang ini tak lain adalah Wi Tiong hong. jago muda yang belum lama terjun kedunia persilatan.

Semula Wi Tiong hong menyamar sebaga congkoan jago pedang berpita merah Kiong Thian ciu, namun sekarang tugasnya telah usai dan telah memulihkan kembali raut wajah aslinya.

Kini, Ban Kiam hweecu sengaja menukar pita

pedangnya dengan warna coklat antik. ini memang sengaja dilakukan demi membedakan segala ciri-ciri dirinya diumumkan dari para jago pedang dari Ban kiam hweecu yang terdiri dari hijau. merah, putih dan hitam.

Selain daripada itu warna coklat antik pun hampir mendekati warna kuning emas, hal tersebut mengandung arti persahabatan yang sangat akrab.

Dibelakang kedua orang itu masing-masing berdiri empat orang gadis berpakaian ringkas yang masing-masing menyoren pedang berpita semu kuning, semuanya bertubuh ramping dan berparas menarik,

Didepan kedua orang itu terletak sebuah meja kecil yang berisikan empat macam sayuran dan sepoci arak wangi.

Selama ini, Wi Tiong hong hanya mengawasi ketempat kejauhan sana sambil minum arak tiada hentinya.

Memandang sikap rekannya itu, sambil tersenyum Bankiam hwecu segera menegur: "Tampaknya saudara Wi seperti punya persoalan yang pelik, bersediakah kau memberitahukan kepadaku?"

Wi Tiong hong menarik kembali sorot matanya sambil mendongakkan kepala, lalu menyahut: "Berkat pertolongan dari Kiamcu kali ini. "

Belum selesai perkataan itu diutarakan, Ban-kiam hwecu telah menggoyangkan tangannya berulang kali sambil menukas:

"Saudara Wi, mengapa kau harus berkata demikian?

Seandainya Ban-kiam hwecu tanpa Lou bun si milikmu, entah bagaiman akibatnya? Diantara kita berdua rasanya tak usah saling mengucapkan kata-kata terima kasih lagi, nah saudara Wi, apa lagi yang kau ingin katakan?"

"Selewatnya malam ini siaute berniat mohon diri lebih dulu."

"Selewatnya malam ini siaute akan kembali ke Kiam-bun dan berniat mengundang saudara Wi untuk turut serta."

kata Ban-kiam hweecu dengan gelisah, "paling tidak kau harus menginap sepuluh atau setengah bulan disitu sebelum pergi. kau anggap aku bersedia membiarkan pergi dengan begitu saja?"

"Benar" sambung Cho Kiu moay, "sejak kecil hingga dewasa belum pernah Kiamcu mempunyai sahabat yang baik, benar-benar sukar untuk memperoleh seorang teman seperti Wi sauhiap begini, masa kau akan menampik keinginan dari Kiamcu?"

Perkataan itu memang benar, semenjak dilahirkan Bankiam hwecu telah diputuskan akan menjadi pewaris kedudukan Kiamcu, maka diapun dijauhkan dari pergaulan bebas selain anak buahnya boleh dibilang sama sekali tak berteman. bisa dibayangkan bagaimana kesepiannya orang tersebut?

Dengan perasaan terharu Wi Tiong-hong segera berkata:

"Kiamcu bersedia merendahkan kedudukan sendiri untuk bersahabat denganku, ini semua membuat siaute betul-betul merasa terharu bercampur bangga."

"Maukah kau jangan mengucapkan perkataan seperti ini?" tiba-tiba Ban-kiam hwecu mendongakkan kepalanya memandang kearah Wi Tiong-hong dan berkata pelan.

Wi Tiong-hong jadi tertegun, ia merasa perkataan dari Ban-kiam hwecu tersebut sangat aneh, maka katanya dengan cepat:

"Maksud baik kiamcu terpaksa siaute terima dalam hati saja, siaute betul-betul mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan dengan perkataan."

Bergetar seluruh badan Ban-kiam hweecu kembali ia menegur:

"Sebenarnya apa sih yang terjadi?"

Air muka Wi Tiong-hong berubah menjadi sedih sekali, katanya pelan:

"Terus terang kukatakan kiamcu, dendam sakit hati ayahku belum sempat dibalas. asal usulku belum jelas, bahkan betulkah aku berasal dari marga Wi atau tidak pun sama sekali tak diketahui."

"Saudara Wi, benarkah kau tidak mengetahui asal usulmu sendiri? lantas dari mana kau bisa tahu she Wi?"

tanya Ban-kiam hweecu keheranan.

"Sejak kecil siaute dipelihara oleh seorang paman yang tak kuketahui namanya, dialah yang memberi nama Wi Tiong-hong padaku."

"Mengapa kau menyebutnya paman yang tak diketahui namanya?"

Wi Tiong-hong sudah tak dapat menahan lelehan air matanya lagi, ia berkata pedih: "Sejak kecil aku tahunya dia adalah ayahku sehingga bulan Tiongciu tahun berselang dia orang tua pergi dan tak pernah kembali lagi, ia meninggalkan sepucuk surat kepadaku yang isinya menjelaskan kalau dia hanya seorang pamanku belaka. Sejak enam belas tahun berselang, ayahku telah tewas ditangan musuh besarnya. aku bukan she Wi dan asal usulku baru akan diketahui jika aku telah berkumpul dan berjumpa lagi dengan ibuku dikemudian

hari pada saat itulah aku akan membalas dendam atas semua sakit hatiku..." "Lantas dimanakah ibumu?" tanya Ban-kiam Hweecu,

"dimanakah ia berada?"

"Aku tak tahu, itulah sebabnya aku harus menemukan pamanku lebih dahulu."

Ban-kiam hweecu termenung berapa saat lamanya, setelah itu dia baru berkata lagi: "Waaah kalau begitu mah sulit, tahukah kau siapa pamanmu itu? Dia berada dimana pula sekarang?"

Wi Tiong-hong semakin menundukkan kepalanya,

"Aku selalu merasa, seolah-olah paman tak pernah meninggalkan sejengkal pun dari sisiku."

Mendadak Ban kiam kiamcu mengangkat kepalanya dan memandang sekejap ke sekeliling tempat itu, kemudian katanya lagi;

"Apakah pamanmu selalu mengikuti dibelakangmu ?"

"Aku hanya merasakan demikian, namun sulit untuk menerangkan dengan kata." Ban-kiam hweecu kembali memanggut.

"Mungkin pamanmu hanya berniat agar kau mencari pengalaman dalam dunia persilatan. tapi menguatirkan keselamatanmu maka diam-diam mengikuti terus dibelakangmu tanpa kau sadari sendiri."

Berbicara sampai disitu. mendadak berkilat sepasang matanya kemudian ujarnya lagi. "Siaute mempunyai suatu rencana, entah bersediakah saudara Wi untuk menuruti?" "Apa pendapat kiamcu ?"

"Menurut pendapat siaute, besok lebih baik saudara Wi tetap kembali ke Kiam-bun san beberapa hari lebih dulu, sebab siaute telah teringat akan tiga hal yang semuanya amat bermanfaat bagi saudara Wi."

"Tiga hal manakah yang Kiamcu maksudkan?"

"Menurut dugaan siaute. pamanmu tidak bersedia menerangkan asal usulmu dikarenakan ada dua kemungkinan, kesatu. musuh besar saudara Wi terlampau lihay sehingga belum waktunya untuk memberitahukan kepadamu, sebab hanya akan merugikan saudara Wi saja.

dan kedua. pamanmu pun belum mengetahui siapakah musuh besarmu. Namun kalau dianalisa dari kedua hal tersebut, kemungkinan yang pertama jauh lebih besar dari pada kemungkinan yang kedua."

"Perkataan kiamcu memang benar!" paras muka Wi Tiong-hong agak tergerak.

Ban kiam hweecu berkata kembali: "Persoalan pertama yang siaute maksudkan adalah mengenai kelihayan dari ilmu silat musuh besar saudara Wi itu, bila kau ingin membalas dendam dengan kekuatan sendiri paling tidak kau harus bermodalkan kepandaian silat sangat hebat pula.

Dibukit Kiam bun san, kami tersimpan berbagai macam kitab pusaka ilmu pedang yang ada didunia ini, dalam soal ilmu pedang boleh dibilang kami mempunyai koleksi yang terlengkap, bila kau bersedia meluangkan sedikit waktu rasanya tidak sulit untuk menjadikan dirimu sebagai seorang ahli ilmu pedang."

Wi Tiong-hong tidak menjawab, dia hanya membungkam diri dalam seribu bahasa.

Ban-kiam hweecu segera menyambung lebih jauh.

"Masalah yang kedua adalah mengenai asal usulmu sendiri, berapa hari berselang. bukankah kau telah bertemu dengan seorang tua yang membawa peti emas?"

Wi Tiong-hong manggut-manggut.

Sambil tertawa Ban-kiam hweecu segera berkata lebih jauh, "Orang ini sangat pandai dalam pelbagai ilmu sakti ilmu menyaru muka serta ilmu menempa pedang, hingga orang menyebutnya sebagai Sam-khi sianseng, padahal kepandaian sakti yang dikuasahinya bukan cuma tiga macam, Dia masih mempunyai suatu kepandaian khusus yakni menguasahi penuh semua asal usul maupun seluk beluk berbagai jago persilatan yang berdiam di dunia ini.

Asalkan ayahmu adalah anggota persilatan, maka peristiwa apa yang menimpa ayahmu enam belas tahun berselang dan siapa pembunuhnya pasti diketahui Sam-khi sianseng dengan jelas."

Tampaknya perkataan yang terakhir ini sangat menarik hati Wi Tiong-hong.

Maka sambil tertawa Ban-kiam hweecu berkata lebih jauh, "Sedangkan mengenai soal yang ketiga ialah soal mencari jejak ibumu, siaute sebagai Ban-kiam hweecu memiliki anak buah yang berjumlah lebih dari tiga ratus orang, berbicara soal kepandaian mereka, dalam dunia persilatan pun terhitung dalam deretan jago-jago tangguh.

Asalkan Sam-khi sianseng bisa menjelaskan asal usul saudara Wi, siaute akan segera mengutus mereka untuk melakukan pencarian keseantero dunia persilatan, aku rasa tak perlu tiga bulan pun bisa jadi jejak ibumu sudah diketahui dan dibawa ke Kiam bun."

"Gara-gara urusan siaute, masa harus merepotkan kiamcu ?" kata Wi Tiang-hong kemudian dengan perasaan terharu.

Cho Kiu moay yang berada disisinya dengan cepat menyambung:

"Kiamcu kami merasa amat cocok dengan Wi sauhiap sejak pertemuan yang pertama, urusan Wi sauhiap tentu saja dianggap pula sebagai urusan Kiamcu, harap kau jangan berpikir yang bukan-bukan."

Baru selesai dia berkata, mendadak dari luar hutan bambu kedengaran ada orang membentak keras;

"siapa di situ ?"

Rupanya disekeliling hutan bambu tersebut telah disebar penjagaan yang sangat ketat. Menyusul kemudian kedengaran seseorang berseru memuji keagungan sang Buddha : "Omitohud. pinceng Khong-beng."

"Siaute To Sam seng!" suara lain menyambung.

Orang yang pertama tadi segera berkata lagi, "Ooh rupanya Hu-congkoan berdua, kiamcu telah berpesan bila kalian berdua telah datang diharapkan langsung masuk kedalam."

Beberapa saat kemudian Thi-lohan Khong-beng hwesio dan si naga tua berekor botak To Sam seng telah muncul dengan langkah labar, sambil memberi hormat kepada Bankiam hweecu serunya bersama;

"Hamba menjumpai Kiamcu"

"Hu-congkoan berdua tentu sudah amat lelah, apakah Chin Tay seng berhasil dibekuk?" ujar Ban-kiam Hweecu sambil tersenyum.

"Chin Tay seng telah berhasil diringkus." buru-buru naga tua berekor botak To Sam-seng memberi hormat.

"Segenap pengkhianat juga berhasil diringkus?" kembali Ban-kiam hweecu tersenyum. "Yaa, semuanya berhasil ditangkap."

"Omitohud" Thi-lohan Khong-beng hweesio menyela,

"semuanya memang berhasil diringkus. namun hamba benar-benar dibuat tak habis mengerti sebetulnya apa sih yang telah terjadi?"

Secara ringkas To Sam seng segera menceritakan semua kejadian yang telah berlangsung.

Ban-kiam hweecu mendongakkan kepalanya dan melihat sejenak keadaan cuaca, kemudian sambil tersenyum dia berkata:

"Sebentar lagi kalian bakal mengerti semua!"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, terdengar jago pedang yang bertugas diluar hutan telah menegur kembali:

"Siapa disitu?"

"Siaute To Sam seng" jawab orang itu.

Kiamcu tersebut segera berseru: "Kiamcu telah berpesan, Tohu congkoan kedua dipersilahkan masuk kedalam."

Sambil tertawa terbahak-bahak To Sam-seng segera bertanya: "Haa...haa...haa... apakah Kiamcu telah datang?"

"Kiamcu berada didalam hutan, dipersilahkan Hu-congkoan masuk kedalam."

Setelah itu terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang, menyusul kemudian disitu muncul kembali seorang Naga tua berekor botak To Sam seng.

Sambil tertawa Ban-kiam hweecu segera menyapa:

"Tohu congkoan tentu sangat lelah."

"Beruntung sekali hamba tidak sampai menyia-nyiakan harapan kiamcu."

Ban-kiam hweecu segera menuding kearah Naga tua berekor botak To Sam-seng yang datang lebih duluan itu sambil memperkenalkan:

"Kalian tak usah bingung, dia adalah wakil congkoan pasukan pedang berpita putih Yu Seng."

Lalu sambil menuding kearah To Sam-seng yang asli, dia menambahkan pula: "Sedang dia adalah Sah Thian-yu yang kalian jumpai tak lain adalah penyaruan dari Tohu congkoan, nah sekarang kalian semua telah menjadi jelas bukan...?"

Buru-buru Yu Seng menghapus obat penyaru mukanya untuk memperlihatkan kembali wajah aslinya.

Sekarang Thi-lohan Khong-beng hweesio baru menjadi sadar kembali, buru-buru dia merangkap tangannya didepan dada seraya berkata:

"Omitohud, rupanya kiamcu telah mengatur segala sesuatunya dengan sempurna... hanya hamba seorang yang tetap bodoh dan tak habis mengerti."

"Siaute sendiripun tak pernah menyangka kalau Sah Thian-yu tak lain adalah hasil penyaruan dari saudara To."

sambung Yu-seng dari samping.

Wi Tiong-hong cuma membungkam diri sambil duduk disisinya, bagaimanapun juga dia benar- benar merasa kagum atas segala rencana yang diatur oleh Ban-kiam hweecu.

Terdengar Ban-kiam Hweeca berkata lagi: "Sudah, sekarang kalian sudah kembali semua, mari kita pulang bersama-sama!"

"Apakah kiamcu masih ada tugas lainnya?" tanya To Sam seng.

"Tugas dari Hu-congkoan bertiga telah berhasil mencapai kesuksesan, sekarang kalian boleh turut aku pulang kegunung sambil menikmati jalannya pertarungan."

"Apakah kiamcu tak akan membantu mereka?" tanya Yu Seng.

Ban kiam hweecu segera tertawa. "Segala sesuatunya telah kuatur dengan sempurna, jadi tidak usah kita turun tangan sendiri."

"Kiamcu hendak mendaki bukit yang mana untuk menyaksikan jalannya pertarungan?" "Puluhan li disekitar sini boleh dianggap sebagai daerah yang paling tinggi dari bukit Pit bu san, tentu saja kita harus mendaki bukit yang tertinggi untuk bisa menyaksikan keadaan disekeliling tempat ini dengan jelas."

Menyusul kemudian sambil tertawa dingin dan mengangkat kepalanya dia menambahkan: "Didalam pertempuran malam ini, tanggung orang-orang Tok Seh-sia akan ludas dan sama sekali tertumpas"

Lalu sambil berpaling kearah Wi Tiong-hong dia berkata:

"Saudara Wi, mari kita berangkat."

"Silahkan Kiamcu." buru-buru pemuda itu berseru.

Maka berangkatlah rombongan tersebut menuju keatas puncak bukit langsung dipimpin oleh Ban-kiam hwecu sendiri.

Biarpun Pit bu san tidak termasuk bukit yang amat tinggi, namun batu karang yang licin berserakan dimana-mana, jurang yang dalam terbentang disana sini, untung saja ilmu meringankan tubuh yang dimiliki beberapa orang itu cukup sempurna.

Tak selang beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba dipuncak bukit itu.

Waktu itu, udara sangat cerah dan tak setitik awanpun mengotori udara, rembulan bersinar ditengah angkasa menyinari puncak tebing yang sepi.

Mendadak Ban-kiam hwecu yang bergerak paling dulu menuju kepuncak tebing menghentikan langkahnya sambil mengulapkan tangan memberi tanda kepada orang-orang dibelakangnya, setelah itu ia bergerak mundur.

Wi Tiong hong yang berada pada urutan kedua menjadi tertegun setelah menyaksikan ulapan tangan dari Ban-kiam Hweecu tersebut, tanpa terasa pikirnya,

"Dalam keadaan dan suasana begini, tibaitiba saja dia memberi kode tangan, jelas hal ini menunjukkan kalau dipuncak bukit telah dijumpai jejak musuh!" Berpikir demikian, buru-buru dia menghentikan pula langkahnya sambil menengok kedepan.

Betul juga, dibawah pohon siong besar dipuncak tebing itu, tampak ada seseorang sedang berdiri disitu dengan sikap yang tenang.

Orang itu mengenakan jubah hitam yang besar dan lebar, jenggot putihnya sepanjang dada dan membawa sebuah tongkat bambu.

Waktu itu, dia berdiri santai di tempat sambil mengelus jenggotnya yang panjang.

Diam diam Wi Tiong-hong merasa terkejut, sebab ditinjau dari dandanan orang ini sudah jelas mirip sekali dengan pemilik selat Tok seh sia seperti apa yang dikatakan Sah Thian-yu tempo hari.

Sementara otaknya masih berputar, ia sudah mengikuti Ban-kiam hweecu mengundurkan diri kebelakang tentu saja orang-orang yang berada dibelakangnya sama sekali tidak sempat mengetahui kejadian apakah yang sedang berlangsung di puncak bukit itu, namun tanpa banyak bicara serentak mereka turut mengundurkan diri. Sesudah mundur sampai kebawah sebuah tebing karang, Ban-kiam hweecu baru menghentikan langkahnya sambil berbisik:

"Benar-benar tak kusangka Tok seh siacu pemilik selat pasir beracun telah mendahului kita naik kesana!"

"Apa? Tok seh siacu?" seru Cho Kiu moay terkejut.

"Tapi diapun tak menyangka kalau kita akan muncul pula dipuncak tebing itu." seru Ban- kiam hweecu lagi sambil tertawa dingin."

"Cuma dia seorang ?"

Ban-kiam hweecu manggut-manggut.

"Tapi, begini pun ada baiknya, orang bilang kalau menumpas kaum pencolang harus menumpas pentolannya terlebih dulu. dan kini dia telah menghantar dirinya sendiri!"

Kepada keempat dayangnya, dia menambahkan:

"Kalian berempat, bergeraklah ke puncak tebing itu dari empat penjuru yang berbeda, Paling baik jangan sampai mengusiknya, sebelum memporoleh perintahku, jangan turun tangan secara sembarangan, mengerti ?"

"Budak menerima perintah." Cho Kiu moay berempat serentak mengiakan.

"Kalau begitu, berangkatlah sekarang juga!" kata Bankiam hweecu sambil mengulapkan tangannya.

Ke empat dayang tersebut mengiakan ber-sama2

kemudian seperti empat gulung asap ringan berangkatlah mereka meninggalkan tempat tersebut.

Naga tua berekor botak memandang sekejap kearah Thi-lohan, lalu katanya tiba-tiba, "Bagaimana dengan hamba?

Apakah Kiamcu ada perintah lain?'

"Tunggu sebentar, kalian turut aku naik bersama-sama."

Naga tua berekor botak, Thi-lohan maupun Yu Seng bertiga cukup mengetahui betapa sempurnanya tenaga dalam maupun ilmu silat yang dimlliki ke empat dayang kiamcu mereka, kini kiamcu telah berkata begini, tentu saja mereka semua tak dapat berkata apa-apa lagi.

Selang beberapa saat kemudian. Ban-kiam hweecu baru menengok sekejap keadaan cuaca seraya berkata;

"Rasanya mereka sudah naik keatas bukit semua, ayo, kita pun harus berangkat!" Selesai berkata, dia melejit lebih dulu menuju kearah puncak tebing itu.

Wi Tiong-hong, Naga tua berekor botak Thi-lohan serta Yu Seng serentak mengikut dibelakangnya.

Kali ini. Ban-kiam Hwaecu tidak lagi berusaha untuk menyembunyikan diri. dengan langkah lebar dia langsung berjalan menuju ke puncak tebing itu.

Biarpun ilmu meringankan tubuh yang mereka miliki kelima orang ini tidak terhitung lemah, walaupun gerakan tubuh mereka sewaktu melayang turun dipuncak tebing

seringan daun kering toh tak urung terdengar pula suara ujung baju yang terhembus angin.

Berbicara pada umumnya. suara seringan ini mustahil tidak dirasakan oleh Tok-seh siacu namun kenyataannya dia masih tetap mengelus jenggotnya sambil memandang ketempat kejauhan, berpaling pun tidak.

Tok-seh Siacu yang merajai dunia pesilatan dengan keganasan racunnya ternyata memang benar2 memiliki kewibawaan yang luar biasa.

Ban-kiam hweecu tak berani pandang enteng musuhnya ini. pelan-pelan dia berjalan sampai sejarak tiga kaki sebelum berhenti dengan sendirinya.

Pada umumnya, jika seseorang didekati maka paling tidak ia mesti berpaling, namun kenyataannya Tok-seh Siacu tetap duduk tak bergerak, menoleh pun tidak.

Tentu saja mustahil bahwa tidak mendengar suara langkah kaki mereka berlima, jadi satu2nya kesimpulan adalah orang itu memang tak memandang sebelah mata pun terhadap mereka.

Sikap Tok-seh siacu semakin tenang, gerak gerik Bankiam Hweecu semakin ber-hati2 dengan sorot mata yang tajam dia mulai awasi keadaan disekeliling sana dengan seksama.

"Sreeeet . . .!"

Tiba-tiba dari atas sebatang pohon di sebelah selatan tampak sebutir pasir lembut meluncur kedepan dan menghantam batang pohon tadi, menyusul kemudian dari arah barat utara dan timur masing2 meluncur datang pula sebutir batu kerikil.

Ban-kiam hweecu segera tersenyum, dia tahu Cho Kiu moay sekalian telah tiba dipuncak dan mengirim tanda rahasia.

Tiba-tiba Tok seh siacu mendongakkan kepalanya sambil menghembuskan napas panjang. namun matanya tetap memandang kearah kejauhan sana, terhadap musuh tangguh yang ada didepan mata dia berlagak seolah-olah dak mengetahuinya. mungkin dia masih belum tahu kalau orang yang munculkan diri tak lain adalah Ban-kiam Hweecu tokoh yang selama ini menjagoi dunia persilatan.

Lama kemudian Ban-kiam hweecu habis sudah kesabarannya ia mendeham kemudian sambil

mendongakkan kepalanya menegur: "Kaukah Tok seh siacu?" Kali ini Tok seh siacu tak dapat berlagak pilon terus.

pelan-pelan dia menarik kembali sinar matanya dan berpaling kearah Ban-kiam Hweecu, kemudian tegurnya dengan suara rendah: "Siapakah kau?"

Setelah ia berpaling. semua orang baru dapat melihat jelas raut wajahnya dia memang bertampang dingin dan menyeramkan.

Diam-diam Wi Tiong-hong berpikir;

"Orang ini bertampang kaku dan sama sekali tiada perbahan apa pun, jangan2 ia mengenakan sejenis topeng kulit manusia untuk menutupi wajah aslinya?"

Dalam pada itu Ban-kian Hweecu telah meraba gagang pedangnya, mendadak ia berseru sambil tertawa nyaring:

"Dalam sekilas pandangan saja siaute dapat mengenali dirimu sebagai Siacu, masa Siacu tak mengenali siapakah aku?"

Tok Seh siacu segera mengawasi sekejap gagang pedang yang diraba Ban-kiam Hweecu, kemudian katanya dengan suara dalam:

"Anda membawa pedang berpita kuning emas jelas kaulah Ban-kiam Hweecu!?" "Yaa, betul, memang siaute!"

"Selamat bersua!" paras muka Tok Seh-siacu masih tetap kaku dan sama sekali tak berperasaan.

Orang ini benar2 jumawa dan sombong, bukan saja tidak membalas menjura nada pembicaraannya pun tetap kaku dan amat tak sedap didengar.

Wakil congkoan pasukan Jago pedang berpita putih Yu Seng menjadi amat gusar, sambil tertawa dingin serunya:

"Benar-benar seorang manusia yang tak mengenal sopan santun, kalau toh pihak Tok seh- sia tidak memandang sebelah mata pun terhadap para enghiong di dunia ini, kenapa Ban- kiam hwee mesti memandang sebelah mata kepada pihak Tok seh sia."

Dengan sorot mata yang dingin bagaikan es, Tok seh siacu memandang sekejap kearah Yu Seng, kemudian menegur:

"Apa maksudmu berkata demikian ?"

"Aku bilang. kau sama sekali tidak mengerti adat kesopanan seorang manusia yang berpendidikan, memangnya aku salah berbicara?"

Tok seh siacu segera tertawa seram.

"Hmmm, kau memang tak salah, selama hidup aku tak pernah mau menghormat siapa saja, tahukah kau apa sebabnya ?"

Yu Seng tertawa terbahak-bahak:

"Haaahaa . . haaah...haaahh.. . aku tentu saja tahu, paling-paling katak dalam sumur. soknya bukan kepalang . ..!"

Pelan-pelan Tok-seh siacu berkata.

"Seandainya aku membalas hormat, maka kalian Bankiam Hwee akan menjadi sebuah perkumpulan tanpa pemimpin ..."

Ban-kiam hweecu segera menyela:

"Sudah cukup lama kudengar nama besar anda, terutama kemampuan siacu dalam permainan racun, namun siaute sungguh tak percaya kalau dibilang aku tak mampu menghadapi gerak Siacu dalam membalas hormat, apa salahnya bila siacu segera membuktikannya ?"

"Kalau pun hendak dicoba, aku masih belum berkeinginan untuk dicobakan atas dirimu." "Aku paling tak percaya dengan segala macam tahyul."

sela Yu Seng tiba-tiba, "bagaimana kalau dicobakan saja kepadaku?"

Tok seh siacu mendongakkan kepalanya dan bertanya kepada Ban-kiam Hweecu: "Bagaimana maksud anda?"

Melihat keseriusan lawan dalam berbicara, tanpa terasa Ban-kiam Hweecu teringat pula dengan ucapan dari Sah Thian-yu, maka pikirnya kemudian, 'Andaikata apa yang dikatakan bukan cuma gertak sambal belaka. apakah aku

mesti mengorbankan selembar nyawa anak buahku hanya untuk menjadi kelinci percobaan belaka?'

Setelah sangsi beberapa saat, dia baru berkata:

"Siaute percaya masih mampu untuk menghadapi siacu!"

"Kiamcu adalah seorang yang terhormat," tukas Yu Seng cepat, "Bagaimana mungkin hendak menyerempet bahaya?

Bila ingin mencooa. biar aku saja yang menghadapinya." Sambil tertawa seram Tok seh siacu segera berseru:

"Sebelum kau mencoba kemampuanku. paling tidak kau harus menyebutkan dulu siapa namamu?"

"Aku adalah wakil congkoan pasukan pedang berpita putih Yu Seng, cukup bukan?"

"Oooh, mungkin yang disebut orang sebagai Koan Jit Kiam (Pedang menembus matahari) Yu Seng? Sudah lama kudengar akan namamu." paras muka Tok seh siacu tetap dingin tanpa perasaan.

Begitu selesai berkata. ia benar-benar menjura dari tempat kejauhan.

Yu Seng tak berani berayal, baru saja sepasang tangan lawan melakukan gerakan menjura, dia turut menolakkan pula sepasang tangannya didepan dada.

Perlu diketahui, Yu Seng sebagai seorang wakil congkoan dari pasukan pedang berpita putih dari Ban-kiam hwee memiliki kepandaian silat yang luar biasa hebatnya. dengan gerakan dorongan telapak tangannya itu, seketika itu juga terasa ada segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat meluncur ke depan.

Tapi pada saat yang bersamaan pula, mendadak tubuhnya mu'li gontai dan mundur sempoyongan, lalu tanpa mengeluarkan sedikit suara pun roboh keatas tanah.

Demonstrasi kepandaian yang dilakukan oleh Tok Seh siacu ini kontan saja menimbulkan kegemparan dikalangan jago-jago lainnya, seketika itu juga semua orang dibikin terkejut.

Buru-buru Ban-kiam hweecu membungkukan badannya sambil menegur: "Yuhu congkoan bagaimana keadaanmu?"

Yu Seng memejamkan matanya rapat-rapat tentu saja ia tak dapat berbicara lagi.

Buru-buru Wi Tiong-hong merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan Lou bun si, oleh sebab dipuncak tebing itu tiada air, maka dalam gelisahnya dia masukkan ujung pena Lau bun si tersebut kedalam mulut Yu Seng.

Ban-kiam hweecu segera bengkit berdiri, katanya kemudian:

"Harap siacu suka menghadiahkan obat penawar !"

"Biarpun obat penawarnya ada, sayang tidak berada disakuku." ujar Tok seh siacu dingin, "apalagi orang ini yang merelakan diri untuk mencoba kehebatan ilmu beracunku, jadi percuma saja untuk ditolong , . ."

Dengan kening berkerut Ban-kiam Hweecu tertawa dingin:

"Heeeh ., . haeeh . . haaahh .. . sekali pun siacu amat pandai menggunakan racun namun bila sampai benar-benar menggunakan aku, mungkin kau sendiri pun tak bisa turun dari bukit ini dengan selamat!"

"Aaah, belum tentu demikian" seru Tok seh siacu dengan suara amat hambar.

"Tahukah siacu bahwa empat penjuru sekeliling tempat ini sudah dijaga semua oleh anak buahku?" Berbicara

ssmpai disitu, mendadak ia bertepuk tangan sebanyak dua kali. "Cring. ! Criing!"

Dari empat penjuru mendadak berkumandang suara gemerincingan nyaring, disusul kemudian empat jalur cahaya pedang bagaikan pelangi perak menembusi angkasa meluncur turun dari atas empat batang pohon disekitar sana.

Tatkala cahaya pedang sirap, muncullah empat orang gadis bertubuh ramping yang membawa pedang. mereka berempat menempati posisi yang berbeda dan persis mengurung Tok seh siacu ditengah arena.

Sambil tertawa dingin Ban-kiam hweecu segera berseru:

"Sekarang. asal kuturutkan perintah dan empat pedang melancarkan serangan bersama, coba pikir jarang ada manusia didunia ini yang mampu mematahkan ilmu Lian huan kiu kiam (Sembilan pedang berantai) dari perkumpulan Ban-kiam hwee!"

"Yaa. aku memang pernah dengar orang berkata kalau keempat dayang Ban-kiam Hwee memiliki serangkaian ilmu pedang yang disebut Kiu kiam hui thian (sembilan pedang terbang kelangit), merekakah orangnya?"

Sembari berkata, dia mengulapkan tangannya ke arah empat orang dayang tersebut.

Naga tua berekor botak To Sam seng yang paling menguasai teknik melepaskan obat pemabok menjadi terperanjat sekali setelah melihat kejadian tersebut, buru-buru bentaknya;

"Nona berempat. cepat mundur!"

Sayang terlambat, Cho Kiu moay berempat tidak sempat bersuara lagi dan serentak roboh terkapar ke atas tanah.

Tok seh siacu segera menuding pula kearah To Sam seng sambil berkata dengan tertawa. "Eeeh. mengapa kau mesti cemas ?"

Buru-buru si Naga tua berekor botak berkelit ke kiri menghindar ke kanan lalu buru2 melompat mundur kebelakang.

Gerakan tubuh yang dipergunakan adalah Yu liong sam si (Naga sakti tiga mencuak) jenis ilmu gerakan tubuh yang biasanya dipakai untuk menghindari asap beracun atau obat pemabuk menyongsong datang dari arah depan.

Sayang sekali gerakan tubuhnya itu terlambat selangkah, baru saja tubuhnya meliuk untuk ketiga kalinya, ia sudah terjungkal dan roboh ke tanah.

Dalam waktu singkat ternyata Tok seh siacu dapat merobohkan lima orang jago lihay dengan racunnya.

peristiwa ini benar-benar menggemparkan,

Mencorong sinar tajam dari balik mata Ban-kiam hweecu setelah menyaksikan kejadian ini, pergelangan tangannya diputar dan "Criiing!" serentetan bunyi nyaring bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu sebilah pedang yang bercahaya tajam telah memancar ke empat penjuru.

"Malam ini. kalau bukan kau yang tewas diujung pedangku, akulah yang tewas oleh racunmu!" bentaknya keras-keras.

Sambil membemtak pedangnya diangkat sejajar dengan dada. pandangannya tertuju ke ujung senjata dan menuding ke arah Tok seh siacu dengan langkah yang berat pelan-pelan ia maju ke depan.

Gerakan pedangnya ini tak lain adalah gerak serangan pedang terbang yang merupakan ilmu pedang tingkat tinggi, asal hawa murninya dikerahkan maka dimana cahaya pedang tersebut menyambar. tiada benda yang bisa membendungnya.

Setiap langkahnya dilalukan dengan amat lamban, sementara dari matanya memancarkan cahaya tajam yang sangat aneh, dibalik kegelapan malam, ujung pedang itu memercikkan cahaya yang tajam seperti kilatan cahaya perak. . Namun pada saat itulah. sesosok bayangan manusia berkelebat lewat dengan gerakan yang sangat cepat. sambil menampilkan diri orang itu berseru:

"Tunggu dulu Kiamcu, lebih baik aku saja yang menghadapi dirinya!"

Orang itu adalah Wi Tiong-hong, untuk bisa mendahului Ban-kiam hweecu, tangan kanannya masih menggenggam Lou bun-si dan tak sempat lagi meloloskan pedangnya.

Pada mulanya Tok seh siacu masih tergetar oleh pengaruh hawa pedang yang dipancarkan Ban-kiam hweecu sehingga ilmu jari beracunnya belum berani digunakan dengan sembarangan, tapi setelah melihat Wi Tiong-hong mendahului didepan Ban-kiam Hweecu, sudah terang tentu kesempatan tersebut tidak di-sia2kan dengan begitu saja.

"Enyah kau dari sini!" bentaknya keras-keras.

Jari tangannya segera dibacokkan kedepan mengancam tubuh Wi Tiong-hong, Wi Tiong-hong sama sekali tidak menyangka kalau lawannya bakal melancarkan sergapan kilat, padahal dia sedang menyerobot kedepan dan belum sempat berdiri tegak bayangkan saja bagaimana mungkin dia dapat menghindarkan diri?

Yaa, bagaimana mungkin pemuda itu bisa

menghindarkan diri dalam posisi tidak menguntungkan itu?

Padahal si naga tua berekor botak mempergunakan gerakan Hui liong sam ci saja tak sanggup meloloskan diri?

Keadaan semacam ini bukannya membuat pemuda itu keder. malahan amarahnya segera berkobar, tanpa berpikir panjang lagi senjata Lou bun sinya diangkat lalu disodokkan keujung jari tangan Tok-seh Sia cu yang sedang menerobos datang.

Tindakan yang sesungguhnya terdorong oleh gejolak emosi ini justru tanpa disadari merupakan tindakan yang paling tepat, biar pun ilmu jari beracun dari Tok seh siacu amat lihay, setelah bertemu dengan senjata pena Lou bun si yang justru merupakan tandingan dari pelbagai racun jahat menjadi mati kutunya. Hawa racun sama sekali tak berhasil mengembangkan diri kemana-mana.

Begitu tahu kalau serangan jari lawan tidak memberikan hasil, semangat Wi Tiong-hong makin berkobar, serunya sambil tertawa nyaring;

"Rupanya Tok seh siacu tidak lebih hanya seorang manusia yang bernama kosong belaka"

Bersamaan dengan seruan tersebut, tubuhnya menejang maju kemuka dan langsung menerkam tubuh Toh Seh siacu.

Agaknya Tok seh siacu sendiripun amat terkesiap setelah menyaksikan serangan jarinya menderita kegagalan total, buru-buru dia mundur selangkah, kemudian pergelangan tangannya digetarkan dan secara beruntun melepaskan dua serangan jari yang semuanya ditujukan kearah dua buah jalan darah penting ditubuh Wi Tiong-hong.

Tiba-tiba saja Wi Tiong-hong teringat kembali dengan jurus Hong-bong sam ciam (burung hong mengangguk tiga kali) dari Thi pit pangcu yang ditulis dalam kotak pena, seketika itu juga badannya balas menerjang kemuka, lalu secara beruntun dia melakukan tiga gerakan aneh yang menciptakan tiga bayangan pena dan langsung meluncur kedepan. Tatkala ke tiga titik bayangan pena itu meluncur lewat.

dua diantaranya segera menyambut serangan jari tangan dari Tok seh siacu, sedangkan masih sisa setitik bayangan lainnya bagaikan anak panah yaag terlepas dari busurnya langsung menyergap jalan darah sim kan-hiat ditubuh Tok seh siacu.

Berbicara yang sebenarnya selama ini belum pernah serangan jari beracun dari Tok Seh siacu mengalami kegagalan total, menanti sadar akan datangnya bahaya, bayangan pena Wi Tiong-hong yang lolos dari penghadangan sudah menyambar dadanya dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Buru-buru dia miringkan tubuhnya dan melejit ke arah samping.

Dengan cepat Wi Tiong-hong memutar badnnya, kaki turut maju mendesak, dengan gerakan Ci-jiu-poh liong (Tangan merah membelenggu naga) pada tangan kirinya ia cengkeram pergelangan tangan kiri Tok seh siacu yang membawa tongkat.

Gerak serangan yang dilakukan saat ini dikerjakan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, baru saja Tok seh siacu menghindari tangan yang pertama dan belum sempat melancarkan serangan balasan, Wi Tiong-hong telah mendesak ke sisi tubuhnya dan tahu2 mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan kirinya.

Bergetar keras sekujur badan Tok seh siacu buru-buru dia mengeposkan tangannya berusaha untuk meloloskan diri, namun usahanya tak pernah berhasil.

Dalam gelisah dan cemasnya. diapun berteriak keras; "Kau. . kau. . .cepat lepaskan tanganku!"

Semenjak Wi Tiong-hong berhasil mencengkeram pergelangan tangan Tok seh siacu tadi, ia sudah mulai curiga. sebab pergelangan tangan orang itu kecil lagi lembut dan halus. jelas bukan bentuk tangan seorang laki-laki.

Baru saja dia tertegun, pihak lawan telah berteriak dengan suara yang merdu, lembut dan halus, seakan-akan berganti dengan orang yang lain bila dibandingkan suara dingin, kaku dan menyeramkan yang diperdengarkan tadi.

Dengan pengalaman yang cukup banyak diperolehnya sekarang, begitu tertegun maka sadalah anak muda tersebut, segera pikirnya kemudian,

'Oooh...rupanya Tok seh siacu adalah seorang wanita, hmm! Biarpun wanita, aku tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja!'

Berpikir demikian. dia sengaja membetot tangannya lebih keras lagi, kemudian setelah tertawa dingin ujarnya:

"Tidak sukar bila ingin kubebaskan dirimu, tapi begitu banyak orang sudah kau lukai dengan jari beracun pun aku mesti menggeledah sakumu lebih dulu. apakah ada obat penawarnya atau tidak?"

Sambil berkata, tangan kanannya bergerak kemuka seolah-olah hendak merogoh kedalam sakunya.

Menyaksikan keadaan ini Tok seh siacu menjadi amat gelisah, serunya dengan suara gemetar; "Kau, . . jangan. . , jangan. " "Kalau begitu lebih baik kau serahkan sendiri obat penawar racunmu itu." "Obat penawar racunnya benar-benar tidak berada disaku ku, lagi pula. . ." "Lagi pula kenapa?"

"Lagi pula orang-orang yang terkena Thian-tok-ci (ilmu jari langit beracun) ku ini bisa jadi sudah keracunan dan menemui ajalnya."

Mendengar jawaban tersebut, Wi Tiong-hong semakin bertambah gusar. jari tangannya bergerak dengan cepat dan secara beruntun menotok jalan darah panting pada sepasang tangannya, lalu menyeret orang itu menuju kehadapan Bankiam Hweecu.

"Kiamcu, bagaimana orang ini mesti diselesaikan?" serunya.

Ban-kiam Hweecu tersenyum, "Dalam sekali tindakan saudara Wi berhasil membekuk Tok seh siacu. boleh dibilang usaha kita pada malam ini berhasil mencapai kesuksesan!"

Dengan ilmu menyampaikan suaranya Wi Tiong-hong segera berbisik; "Bisa jadi orang ini bukan Tok seh siacu yang sesungguhnya."

Ban-kiam Hweecu manggut-manggut, dengan ilmu menyampaikan suara pula dia berbisik:

"Biar pun orang ini bukan Tok seh siacu pribadi. paling tidak pastilah orang kepercayaan yang berkedudukan penting disamping Tok-seh siacu."

Mendengar jawaban tersebut, Wi Tiong-hong malah tertegun dibuatnya, dia lantas berpikir. "Oooh. . rupanya dia pun sudah mengetahui akan hal ini!"

Maka ujarnya lagi kepada Ban-kiam hweecu dengan nada ragu: "Agaknya dia seperti seorang wanita."

"Benarkah itu?" Ban-kiam hweecu mendongakkan kepalanya sambil memandang ketempat kejauhan sana.

Melihat hal ini Wi Tiong-hong menjadi keheranan, pikirnya cepat: "Heran, apa yang sedang dia pikirkan?"

Selang berapa saat kemudian Ban kiam Hweecu baru pelan-pelan berkata:

"Tok seh siacu berambisi untuk merajai seluruh dunia persilatan, sudah cukup lama rencana ini dipendam dalam hatinya, bahkan perencanaan sudah berlangsung puluhan tahun, aku pikir gerakan pada malam ini adalah gerakan mereka yang pertama kalinya."

Berbicara sampai disitu, tiba-tiba ia tutup mulut.

"Apakah Kiamcu telah terpikirkan sesuatu?" Wi Tionghong segera bertanya.

"Ia datang dengan jalan menyamar, ini berarti pasti ada rencana busuk dibalik kesemuanya itu. semakin kupikir rasanya hatiku semakin bertambah curiga."

"Ucapan kiamcu memang benar, akupun merasa tidak habis mengerti. . ." Mendadak Ban-kiam hweecu berpaling, tanyanya kepada Thi-lohan Khong-beng hwesio. "Taysu, parahkan racun yang mengeram ditubuh mereka?"

Rupanya dalam waktu singkat Thi-lohan lalu mengangkut semua yang keracunan dan menjadikan satu.

Mendengar pertanyaan tersebut, buru-buru ia membungkukkan badan memberi hormat seraya berkata:

"Nona berempat serta saudara To telah jatuh tak sadarkan diri, nampaknya mereka memang keracunan hebat."

"Tok seh siacu telah bilang." sela Wi Tiong-hong, "racun yang bersarang ditubuh mereka berakibat dari Thian tok-ci, dengan cepat racun tersebut akan merenggut nyawa mereka."

"Kau tak usah kuatir." tiba-tiba Ban-kiam Hweecu berbisik, "mereka semua telah menelan cairan penawar racun dari Lou bun si, biar pun mereka sudah terluka oleh ilmu jari racun, untuk sementara waktu jiwa mereka tidak akan terancam mara bahaya."

"Dalam saku orang ini pasti terdapat obat penawar racunnya."

"Tidak mungkin berada disakunya." Ban-kiam Hwaecu menggelengkan kepalanya berulang kali, "Emmmm , .

.saudara Wi, coba kau buka topeng kulit manusianya dan kita tengok bagaimanakah raut wajah aslinya."

Wi Tiong-hong sudah tahu kalau Tok-seh siacu adalah hasil penyaruan dari seorang perempuan, mendengar perkataan tersebut dia menjadi sangsi.

Sambil tertawa ringan Ban-kiam Hweecu berkata lagi:

"Saudara Wi memang betul-betul seorang laki sejati, kalau toh kau beranggapan antara lelaki dan perempuan ada perbedaannya. biar aku saja yang turun tangan sendiri."

"Aaaah, kalau cuma urusan sekecil ini, mengapa mesti merepotkan Kiamcu sendiri." Dengan cepat dia menyambar jenggot putih Tok seh siacu yang terurai sepanjang dada itu, benar juga, dengan ditariknya jenggot itu maka terlepaslah selembar topeng kulit manusia yang tipis.

Dibawah sinar rembulan, tampak jelas kalau orang itu adalah seorang gadis muda yang berparas cantik.

Oleh karena jalan darahnya tertotok sekarang, maka selain tubuhnya tak mampu bergerak, mulutnya terbungkam dalam seribu bahasa, namun sepasang matanya yang tajam justru melototi wajah Wi Tiong-hong dengan penuh kebencian dan rasa gusar.

Wi Tiong-hong menghembuskan napas panjang, pelan-pelan katanya kemudian: "Kau

...ternyata... kau memang seorang wanita."

"Seorang tamu tak akan merepotkan dua orang tuan rumah, harap saudara wi suka membebaskan jalan darah bisunya, siaute ingin menanyakan sesuatu kepadanya." kata Ban- kiam Hweecu.

Terpaksa Wi Tiong-hong menurut dan menepuk bebas jalan darah bisunya.

Begitu totokannya bebas. si nona yang menyaru sebagai Tok seh siacu tadi segera berseru dengan penuh amarah:

"Jadi kau yang bernama Wi Tiong-hong?" "Benar!"

Gadis itu mendengus gusar. "Bagus sekali!" serunya, "suatu ketika kaupun akan terjatuh ke tanganku."

Sehabis berkata ia segera memejamkan matanya rapat-rapat.

"Biarpun terjatuh ke tangan nona, apa pula yang hendak kau lakukan?" sela Wi Tiong-hong sambil tertawa nyaring.

"Sudah pasti Tok seh siacu akan mencari menantu!" sambung Ban-kiam hweecu sambil tertawa ringan.

Gadis itu tidak memberi komentar, bahkan menggubris pun tidak, seolah-olah sama sekali tidak mendengar ucapan tersebut.

Sebaliknya Wi Tiong-hong yang merasakan pipinya menjadi panas dan merah. lama sekali tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

"Omitohud." Thi-lohan segera merangkap tangannya memuji keagungan sang Buddha, "Tak nyana Tok-seh siacu adalah seorang wanita, bila kejadian ini sampai tersiar ke dalam dunia persilatan, sudah pasti hal ini akan menjadi satu berita besar."

"Dia bukan Tok seh siacu!" seru Ban-kiam Hweecu.

Baru selesai perkataan tersebut diutarakan, mendadak terdengar suara tertawa dingin yang amat menyeramkan bergema memecahkan keheningan, menyusul kemudian seseorang berseru:

"Tentu saja dia bukan!"

Ban-kiam hweecu amat terkejut, pelan-pelan dia berpaling sambil tegurnya; "Siapakah kau?"

Menggunakan kesempatan sewaktu membalikkan badan tadi. dengan mengerahkan ilmu menyampaikan suara dia berbisik kepada Wi Tiong-hong:

"Saudara Wi, jaga perempuan itu baik-baik, kemungkinan besar kita sudah terjebak oleh kepungan orang, berada dalam keadaan dan situasi apapun, sebelum ada tanda rahasia siaute jangan turun secara sembarangan."

Wi Tiong-hong menjadi sangat keheranan ketika mendengar kalau suara pembicaraan rekannya berat dan amat serius. Selama beberapa hari ini boleh dibilang sudah banyak peristiwa yang terjadi, namun selama ini belum pernah Ban-kiam Hweecu menunjukkan sikap sedemikian seriusnya sepertl hari ini, biasanya dia amat santai dan seolah-olah tidak memandang serius setiap masalah yang sedang dihadapi.

Berpikir demikian, tanpa terasa dia alihkan pena Lou bun sinya ketangan kirinya sementara tangan kanannya menggenggam gagang pedang erat-erat.

Dengan sorot mata yang tajam ia mencoba untuk mengawasi sekeliling tempat itu. suasana dipuncak tebing itu meski cerah oleh cahaya rembulan, nyatanya tak nampak sesosok bayangan manusia pun.

Sementara itu, Ban-kiam hweecu dengan sorot matanya yang tajam bagaikan sembilu telah dialihkan kearah sumber suara tadi, namun ia lantas terperanjat setelah tidak melihat pembicara tersebut, segera pikirnya:

"Jelas orang itu segera menyembunyikan diri sehabis berbicara tadi, tapi mengapa aku tidak mendengar setitik suara pun?"

Biarpun hatinya terperanjat, diluar ia tetap bersikap tenang seolah-olah tiada kejadian apa pun yang dihadapi.

hardiknya dingin:

"Mengapa kau tidak menampakkan diri untuk berjumpa dengan siaute. . .?"

Suara yang menyeramkan tadi mendadak bergema lagi dari jarak tujuh delapan kaki disisi kanannya,

"Aku berada disini. siapa yang mesti disalahkan?"

Tanpa terasa Wi Tiong-hong dan Thi-lohan Khong-beng hwaesio berpaling kearah sisi kanan.

Sedangkan Ban-kiam hweecu masih tetap berdiri tak bergerak ditempat, ujarnya sambil tertawa dingin,

"Kami telah berhasil menawan Tok seh siacu. bertemu dengan kau atau tidak, bagi kami tak ada masalah!"

Suara yang menyeramkan tadi segera tertawa terbahak-bahak:

"Haaaaanh. ..haaaaahh, . .haaaaah, bukankah kau pernah mengatakan tadi bahwa dia bukan Tok seh siacu?

Mengapa kau anggap dia sebagai Tok seh siacu lagi? Apa tidak menggelikan sikap plin- planmu itu?"

Kali ini suara tersebut mengalun datang dari arah yang berbeda pula, muncul dari sisi sebelah kiri tanpa terlihat bayangan tubuhnya.

Dengan suara hambar Ban-kiam Hweecu berkata:

"Belum pernah ada orang persilatan yang pernah bersua dengan Tok seh siacu, siapa tahu kalau hal tersebut cuma penyaruannya? Sekarang siaute berhasil menawannya, maka bila kusiarkan berita tentang tertangkapnya Tok seh siacu oleh Ban-kiam hweecu, siapakah  yang tidak akan percaya ?"

-oo0dw0oo-