-->

Pendekar Sakti Welas Asih Jilid 3

Jilid 3

“sam-twako… pemuda ini bukan orang sembarangan .” “heh…apakah semua anak buahmu sudah tewas ?” tanya sam- houw

“anak buah saya tidak ada yang tewas, tapi semuanya ditotok olehnya, dan aku tidak tahu kapan ia menotoknya.” “hah… kamu tidak tahu kapan anak buahmu tertotok, apa kamu sedang ngelantur ngo-houw ?” sela ji-houw dengan nada mencibir

“baiklah kalau ji-twako dan sam-twako hendak kesana, marilah ikut saya “ ujar ngo-houw

“baik…mari kita kesana, urusan begitu saja kamu tidak becus ngo-houw.” sahut ji-ngouw bernada marah, ngo-houw hanya diam saja dan terus melangkah menurini tangga

“empat puluh anak buah sam-houw ikut kami !” ujar ji-houw, empat puluh rampok mengikuti tiga pimpinan mereka, tidak lama kemudian mereka sampai ditenmpat, Han-jin sedang duduk bersandar di sebuah emperan toko yang tertutup, dia bangkit dari duduknya ketika melihat ngo-houw bersama dua orang lelaki kurus

“itulah pemudanya ji-twako.” ujar ngo-houw sambil menunjuk Han-jin yang datang mendekat, tiba-tiba sam-houw bergerak menyerang, namun sama halnya dengan ngo-houw, han-jin menghilang, Han-jin yang sedang mengerahkan “goat-koan- sim-hang” dengan kecepatan luar biasa bergerak diantara para perampok dan menotok semuanya termasuk ji-houw dan ngo- houw, hanya sam-houw yang lagi clingak-clinguk yang tidak ditotok, kemudian Han-jin mendekati punggung sam-houw yang sedang mencari-cari keberadaannya.

“twako… mencari saya ?” sapa Han-jin dari balik punggung sam-houw, sam-houw terkejut dia berdiri tegang karena terkejutnya,

“ji….twako a..apa yang sedang terjadi ?” teriaknya sambil menatap mata ji-houw, namun Ji-houw hanya diam kaku membisu, Ji-houw langsung ciut nyalinya

“twako..apakah pimpinan harimau tidak datang, pergilah panggil beliau itu twako.” ujar Han-jin masih dengan suara ramah dan lembut, bergetar hati sam-houw mendengar ucapan yang amat ramah itu, dia berpaling dan menatap Han-jin dengan rasa takut yang luar biasa

“pergilah twako, panggil beliau pimpinan harimau, aku akan menunggu disini dengan rekan-rekan twako.” ujar Han-jin, bergetar langkah sam-houw meninggalkan tempat itu, enam puluh rekannya seperti patung hidup yang tidak berdaya.

Sam-houw berlari kembali ke markas dengan wajah pucat dan “bagaimana sam-houw-twako, kok cepat sekali apakah pemuda itu sudah dihabisi ?” tanya anak buahnya, tanpa menjawab

sam-houw masuk kedalam rumah

“suhu…gawat…suhu gawat..” ujarnya sambil berlutut dihadapan lelaki kekar bermata satu, dan dibagian pipinya ada bekas guratan, umurnya hampir mencapai enam puluh tahun, pimpinan rampok ini dikenal dengan julukan “kui-Houw” (harimau siluman)

“bicara yang jelas sam-houw !” bentak lelaki kekar dan besar disamnping pimpinan rampok, dia adalah it-houw

“suhu…, ji-houw dan ngo-houw tidak berdaya dihadapan seorang pemuda hijau di jalan masuk gerbang kota, enam puluh anak buah kita juga telah kaku bisu ditotoknya.” “siapa pemuda itu ?” tanya kui-houw

“saya tidak tahu suhu, sebaiknya kita kesana dan membunuhnya.” sahut sam-houw

“it-houw bawa si-houw dan temani sam-houw menyelesaikan masalah ini !” perintah kui-hiouw

“baik suhu, mari sam-houw !” sahut it-houw, lalu keduanya keluar dan it-houw memerintahkan anak buahnya memanggil si-houw lelaki gemuk pendek berkulit hitam, tiga pimpinan itu berangkat bersama lima puluh anak buah it-houw.

Saat matahari tepat diubun-ubun mereka sampai enam puluh rampok sudah mandi keringat dipanggang panas matahari, sementara di emperaan yang teduh Kwaa-han-jin duduk bersandar, Kwaa-han-jin bangkit lagi dari duduknya melangkah mendekati rombonga yang baru datang

“apakah itu pemudanya sam-houw ? tanya it-houw dengan hati sedikit meragu karena melihat ji-houw dan ngo-houw beserta puluhan anak buahnya berdiri kaku laksana arca

“benar it-twako.” sahut sam-houw

“siapakah kamu anak muda ?” tanya it-kiam dengan nada digalak-galakkan

“siapa saya tidak penting twako, saya ini bukan siapa-siapa, dan yang terpenting sekarang bahwa penduduk kota ini mengalami sengsara luar biasa oleh sebab ulah kalian yang semena-mena.” jawab Han-jin tenang dan lembut

“lalu apa maumu !?” tanya it-houw

“twako aku hanya ingin kalian menghentikan prilaku buruk ini dan mengembalikan kenyamanan penduduk kota ini “kamu itu pemuda usil dan tidak tahu diri.”

“mungkin dipihak twako aku disebut usil, tapi apakah aku harus berdiam diri melihat apa yang kalian lakukan dengan kota ini ? tentu tidak twako, sebagai sesama harus saling membantu dan tenggang rasa, mungkin saat ini para twako tidak menyadarinya.”

“sudahlah aku tidak mau berdebat dengan mulutmu yang sok berfilsafat itu, serang…!” sahut it-houw sambil memberi komando, it-houw, sam-houw, dan si-houw bersamaan menerjang kwaa-han-jin, untuk ketiga kalinya Han-jin menghilang dan menotoki semua perampok dan dalam waktu yang tidak lama lima perampok kaku termasuk si-houw dan it- houw, hanya sam-houw yang tidak ditotok

“maaf twako..sekali lagi panggillah pimpinan kalian supaya urusan kita ini selesai.” bisik Han-jin dari belakang punggung sam-houw

“iihh….teriak sam-houw menggigil ketakutan, bulu romanya merinding dan rasa dingin karana takut menyergap hatinya.

Sam-houw kembali berlari menuju markas, dan melapor pada kui-houw

“badebah sialan, cepat ikut saya ketempat itu !” ujar kui-houw dengan amarah yang meledak, dalam hitungan menit kui-houw tiba ditempat, hatinya terheyak melihat seratus lebih anak buahnya berdiri mematung memadati jalanan dan terpanggang sengatan matahari yang baru saja melewati puncaknya “mana pemuda usil yang hendak menantang kui-houw !?” teriak Kui-houw

“saya pemuda usil itu cianpwe.” sahut Kwaa-han-jin

“bangsat kamu bocah ingusan, rasakan pukulanku.” teriak kui- houw dengan sebuah gerak cakaran dahsyat, kali ini Han-jin tidak menghilang, namun menangkap dua lengan kuat yang membentuk cakar itu

“aaa…aaaaa….auhh…..tidaaaak…..ampuuunnnn… ” teriak kui- houw histeris karena tanganya diremas oleh Han-jin dan seluruh urat syaraf ditangannya serasa putus dan dipilin-pilin yang bersumnber dari getaran hawa yang masuk pada buku jarinya.

Selama lima menit kui-houw meraung dan berlutut dihadapan Han-jin, bukan hanya air matanya yang bercucuran menahan rasa nyeri dan bersangatan, bahkan dia juga terkencing- kencing merasakan aliran hawa yang membuat urat syaraf tubuhnya menegang dan acak-acakan, seluruh pori-pori tubuhnya merinding merasakan sakit dan nyeri

“maaf cianpwe anda tidak kenapa-napa, sekarang aku minta cianpwe menghentikan kegiatan yang merugikan cianpwe dan orang lain, cianpwe dan anak buah patut dikasihani, terjebak oleh nafsu sehingga kehilangan jati diri. Cinapwe aku tidak mampu menjaga sepak terjang kalian, namun tidak menutup kemungkinan bahwa ada lagi saatnya kita bertemu kembali, selamat tinggal cianpwe.” ujar Kwaa-han-jin. dan lalu menghilang Kui-houw yang terduduk dengan deru nafas memburu terdiam lama membelakangi anak buahnya, untuk berdiri rasanya ia belum mampu, getaran jantungnya yang empot-empotan membuat dirinya lemas tidak berdaya seiring rasa nyeri yang bertalu-talu mendera seluruh tubuhnya, tiga jam kemudian kui- houw baru dapat berdiri, dia membalik badan dan beradu pandang dengan tatapan anak buahnya yang menyaksikan keadaannya

“apakah suhu baik-baik saja ?” tanya sam-houw

“sam-houw coba kamu lepaskan totokan rekan-rekanmu !” ujar Kui-houw, sam-houw mendekati si-houw dan mencoba membebaskannya dari pengaruh totokan, namun usaha itu hanya sia-sia

“suhu aku tidak bisa memunahkan totokan ini.” ujar sam-houw bingung

“apa yang harus kita lakukan suhu ?”

“sudahlah pendekar muda itu tidak berniat mencelakai kita, kita tunggu saja, mungkin akan punah sendiri.” jawab kui-houw yang duduk diemperan toko, dan kemudian kembali merenung, dan memang benar menjelang malam totokan dua puluh orang pertama punah sendiri, dan lebih setengah jam kemudian empat puluh orang yang lain bebas dari totokan, dan akhirnya mereka bebas semua, namun sebagian besar mereka mengalmi muntah-muntah karena kepala pening dan perut mual akibat dipanggang sengatan matahari selama hampir setengah hari. “kalian semua dengarlah, hari ini kita dapat pelajaran berharga dari seorang pemuda yang tidak dikenal, dan apa yang telah di lakukankannya kepada kita patutlah kita jera dari semua ini, jadi mulai malam ini saya sebagai pimpinan kalian melepaskan diri, saya akan cuci tangan dari kekotoran ini, cukuplah hanya sekali bertemu dengan pendekar muda itu, pergilah kalian dan aku juga akan meninggalkan kota ini.” ujar kui-houw dan dia pun berkelabat meninggalkan anak buahnya.

Empat harimau saling pandang termenung menyaksikan sikap suhu mereka

“suhu telah mengambil jalan yang menurutnya harus ditempuh, maka saya juga akan mengikuti sikapnya yang hendak mencuci tangan dari kekotoran ini.” ujar Sam-houw dan meninggalkan tempat itu, lalu tidak lama kemudian dalam kebisuan semuanya bergerak meninggalkan tempat itu.

Keesokan harinya markas perampok sudah kosong, dan luar biasanya harta tumpukan mereka selama ini tidak hanya sedikit yang diambil, bahkan menjelang tengah hari Bu-kungcu datang bersama serombongan pasukan polisi, karena salah satu dari harimau menuliskan surat dan dilempar kedalam kamar Bu- kungcu, surat itu didapati pagi harinya dan isinya berbunyi

“Bu-kungcu kota anda sekarang aman dari kejahatan kami, sebagian besar tumpukan harta kami tinggalkan dimarkas

surat itu tidak ada nama pengirim, Bu-kungcu meragu dan mendiamkannya, namun saat matahari mulai naik tinggi, aktivitas perampok tidak ada, biasanya mereka berpatroli membuat onar dan berteriak-teriak

“taijin ada yang aneh pada hari ini “ lapor kapten polisi “aneh bagaimana ? tanya Bu-taijin

“tidak keliahatan patroli para perampok.” jawann kapten, Bu- kungcu bergetar hatinya dengan bunyi surat

“coba kamu dekati markas mereka, lihat apa dan bagaimana disana !” perintah Bu-kungcu. si kapten segera keluar dan mencoba mengintai markas para perampok, dan yang didapatinya hanya kesunyian, bahkan ia masuk sampai kehalaman, tempat itu lengang, segera dengan buru-buru ia kembali melapor, dan yakinlah bu-kungcu akan pesan surat yang dijumpainya.

“siapkan pasukan dan kita segera kesana !” perintah Bu-tai-jin, iring-iringan polisi itu membuat warga yang masih bertahan dikota itu membuka jendela rumah mereka ditingkat atas.

Bu-taijin dan pasukannya memeriksa seluruh ruangan dan puluhan peti harta di angkut kekantor hakim, siang hari itu para warga turun dengan suka cita setelah mendengar aba-aba dari patroli polisi bawa keadaan susah aman dan perampok sudah meninggalkan kota, banyak warga yang bertanya-tanya sebab musabbab kejadian yang membahagiakan itu

“menurutmu apa yang terjadi twako ?”

“aku tidak tahu kejadian ini sungguh amat aneh bagiku.” “hmh,,,tentu saja kalian tidak tahu.”

“eh….emangnya kamu tahu apa yang terjadi ?” “ah…aku tahu karena kejadian luar biasa itu dalam pengintaianku.”

“kalau kamu tahu a-tong ceritakanlah pada kami.”

“hal yang luar biasa terjadi persis di depan rumah saya.”

„benar saya juga melihatnya, kalau kejadian semalam maksudmu A-tong.”

“memang kejadian itulah yang menyebabkan kondisi yang kita alami sekarang.”

“ya saya juga yakin karena itu.” sela yang lain, puluhan orang dikedai itu bertumpuk berkerumun penasaran, lalu A-tong pun berceritalah apa yang terjadi di depan rumahnya dijalan dekat gerbang kota

“hayaaa…siapakah pendekar muda itu ?” sela mereka bersamaan

“tapi kenapa yah para perampok itu tidak dibunuh saja oleh pendekar itu” sela yang lain sedikit kecewa.

“saya mana tahu, namun aku mendengar jelas perkataan terakhir pendekar itu didepan si Kui-houw

“apa yang kamu dengar ?” kembali lagi a-tong dikerubuti “pendekar itu berkata aku minta cianpwe menghentikan kegiatan yang merugikan cianpwe dan orang lain, cianpwe dan anak buah patut dikasihani, terjebak oleh nafsu sehingga kehilangan jati diri.”

“ck…ck… kalimat yang dalam dan lembut sekali.” Sela sebagian mereka

“pendekar itu memang patut disebut….” “disebut apa A-tong ? tanya mereka serempak

“disebut “jin-sin-taihap” (pendekar sakti welas asih) rasa kasih sayangnya pada para perampok telah merubah si kui-houw sehingga si kui-houw berkata..”

“kamu juga dengar perkataan si kui-houw.” tanya mereka serempak

“benar si kui-houw berkata hari ini kita dapat pelajaran berharga dari seorang pemuda yang tidak dikenal, dan apa yang telah di lakukankannya kepada kita patutlah kita jera dari semua ini.” “luar biasa kalau begitu, tepat sekali julukan yang kamu sebutkan pada pendekar itu A-tong, apa tadi kamu bilang

“aku bilang jin-sin-taihap”

“ya..itu wajahnya apa jelas kamu lihat

“ah..sudahlah aku mau belanja lagi, besok tokoku akan kubuka.” sahut A-tong keluar dari kedai.

Kwaa-han-jin sudah berada di kota Tianjin untuk melewatkan malam, dia menginap disebuah likoan yang cukup padat.

Keesokan harinya Kwaa-han-jin meninggalkan kota menuju kota Sinyang, Kwaa-han-jin tiba disebuah desa yang bernama ban-in yang sedang berbondong-bondong menuju sebuah hutan

“ada apakah lopek sehingga orang semua menuju huran ?” tanya Kwaa-han-jin pada seorang tua yang ikut dalam rombongan itu.

“kamu pendatang anak muda, sebaiknya kamu tinggalkan kami

?” sahut si orang tua

“kenapa demikian lopek, apakah yang menimpa kalian ?” “desa kami ini telah kena kutukan anak muda.” sahut siorang tua

“kutukan ? kutukan bagaimana maksud lopek

“desa kami ini telah dikutik selama setahun, dan kami kehutan untuk minta dewa hutan supaya jangan memperpanjang

kutukannya.”

“yang mengatakan desa ini dikutuk siapa lopek ?” “utusan dewa hutan sendiri.” Jawab siorang tua

Rpmbongan sudah sampai ditepi hutanm, kepala desa memerintahkan supaya semua berlutut

“dewa hutan…kami telah datang dengan segala kerendahan, persembahan yang engkau minta melalaui utusan, sudah kami persiapkan,” ujar kepala desa, tiba-tiba deru angin muncul dari dalam hutan, membuat hutan itu laksana diterpa padai, lallu tiba-tiba sosok manusia besar dan tinggi, kepalanya botak dan jenggotnya tebal, kulitnya hitam legam, dikeningnya ada tato berbentuk ular kobra, dan ia membawa tongkat berkepala ular dan duduk disebuah cabang pohon besar

“perlihatkan persembahan kalian supaya dewa merasa senang.” ujar manusia botak itu, lalu kepala desa memberi isyarat pada empat pemuda kekar yang mengangkat sebuah joli, joli diangkat lebih dekat ke tepi hutan, lalu tirainya dibuka, didalam joli ada duduk seorang perempuan cantik berpakaian putih tipis, kulitnya yang putih jelas kelihatan, kemudian didepannya ada sebuah nampan besar yang diatasnya adan perhiasan dan uang diatas tumpukan beras Angin sekali lagi menderu dari dalam hutan, joli bergoyang- goyang lalu tiba-tiba joli itu naik keudara dan kemudian melesat kedalam hutan, hal itu menandakan persembahan diterima oleh dewa hutan

“baik kalian sekarang pulang, hantu hutan yang menggangu desa kalian akan dibelenggu dewa, tapi ingat setiap lima belas hari, kalian membawa persembahan mati, dan setiap tahun kalian memnpersembahkan persembahan mati dan hidup.” ujar si kepala botak, lalu suara deru angina muncul dan sikepala botak melayang kedalam hutan

“bak utusan ! sekarang kami permisi dulu.” sahut kepala desa, hutan itu lengang, lalu rombongan itu kembali kekampung.

Kwaa-han-jin yang memperhatikan dari baris belakang merasa penasaran, setelah romobongan kembali kekampung, Kwaa- han-jin memasuki hutan, didalam hutan itu ada sebuah bangunan yang cukup besar, Kwaa-han-jin masuk kedalam bangunan, dan ternyata tidak berpenghuni, didalamnya banyak sekali tulang belulang hewan, dan aroma dalam bangunan itu menenbar bau dupa dan busuk dari bangkai yang berserakan, Kwaa-han-jin mencari bau dupa, dan disebuah ruangan sebuah patung ular kobra berdiri angker dan didepannya setumpuk dupa yang menyala

“hmh…dupa ini baru dibakar, artinya penghuni bangunan ini ada, aku akan selidiki.” pikir Kwaa-han-jin.

Kwaa-han-jin bersembunyi dilangit-langit ruangan dimana patung ular itu berada, dengan perkiraan saat dupa habis, tentunya akan diganti, dan dia ingin melihat siapa yang mengganti dupa, Kwaa-han-jin berselonjoran di kuda-kuda bangunan, bagi Kwaa-han-jin sebetang kuda-kuda itu nyaman baginya untuk tidur dan berselonjoran, ketika malam tiba, suasana ruangan itu gelap, tiba-tiba tiga lilin yang ada disekirat dupa menyala sendiri

“hmh..luar biasa.” pikirnya, tidak ada bayangan yang muncul, ruangan itu remang dan bayangan patung ular nampak angker melekat didinding sebelah belakang, Kwaa-han-jin dengan sabar menunggu bahkan melewatkan malam di atas kuda-kuda atap.

Keesokan harinya, Kwaa-han-jin melihat sikepala botak keluar dari belakang altar patung ular, sesaat Kwaa-han-jin memperhatikan apa yang dilakukan si botak, sobotak ternyata mengganti dupa dengan dupa yang baru, lalu ia kembali kebelakang altar, tiba-tia ia terkejut karena matanya menangkap bayangan seseorang turun dari atas, Kwaa-han-jin berdiri dengan tenang

“kamu siapa ?” tanya si botak

“aku orang yang penasaran dengan keanehan yang kalian buat.” Jawab Kwaa-han-jin

“kamu jangan ikut campur anak muda, jika ingin nyawamu selamat !” ancam sikepala botak.

“tidak bisa begitu sicu, kamu mengatakan desa itu terkutuk dan kalian minta sesuatu kepada penduduk desa, kalau kalian ini manusia maka tidak ada kalian membuat kutukan pada bumi ini, karena bumi ini bukan milik kalian, dan ingin kejelasan dari keanehan ini.” ujar Kwaa-han-jin

“kamu mau mampus anak muda heaat….” sikepala botak membentak dan menyerang Kwaa-han-jin, Kwaa-han-jin mengelak dan lalu membalas dengan tidak kalah dahsayatnya, sikepala botak terkejut bahwa lawan muda yang masih hijau ini akan sehebat ini, dia mengayun tongkat ularnya dengan kecepatan dan kekuatan luar biasa, sehingga angin menderu menerpa sekitar Kwaa-han-jin.

Kwaa-han-jin yang menghadapi serangan lawan dengan Im- yang-sian-sin-lie demikian luwes dan gesit memasuki sambaran tongkat naga sikepala botak

“tut…plak…auuh..” dada kiri sikepala botak kena patuk tangan Kwa-han-jin, dan dagunya kena tamper, dia meringis terjajar kesamping, untungnya Kwaa-han-jin menghentikan serangannya, sehingga nafasnya yang sesak dapat dia pulihkan kembali, sikepala botak lalu duduk bersiulian, mulutnya komat-kamit, tiba-tiba angina menderu dari luar bangunan, dan segerombolan ular merayap memasuki bangunan dan terbang menyerang Kwaa-han-jin

Kwaa-han-jin bergerak gesit mengelak, karena Kwaa-han-jin hanya mengelak dan tidak mengibaskan tangan untuk memukul ular-ular itu, sehingga tiga ekor dari puluhan ular yang terbang melekat ditubuhnya, dan sepertinya bisa ular itu tidak berpengaruh pada Kwaa-han-jin, hal ini tidak lain karena dulu, ketika ia dalam gendongan ayahnya sedang berusaha menundukkan rajawali berkepala putih, ia meminum liur rajawali yang membersit kemukanya, dan sampai hari ini ia belum menyadari akan khasiat liur tersebut, bahkan ayahnya Kwaa- han-bu juga tidak mengetahui, Kwaa-han-jin menyerang kearah sibotak, si botak terkejut dan menangkis dengan tongkatnya

“plak…” tongkat ditangkap Kwaa-han-jin, dan haw “Im” menerobos pergelangan tangan sikepala botak, mukanya terkejut merasakan hawa dingin memasuki tubuhnya, sikepala botak berusaha bertahan dengan mengerahkan sin-kangnya, namun kekuatannya jauh dibawah Kwaa-han-jin.

“sikepala botak terpaksa melepaskan tongkatnya dengan tubuh menggigil, Kwaa-han-jin melepaskan tongkat dan berdiri tegak memperhatikan reaksi sikepala botak, tiba-tiba dari belakang altar seorang lelaki bermuka putih laksana mayat muncul, orangnya jangkung

“coa-ong.. pengacau ini hebat sekali.” ujar sikepala botak,

Kwaa-han-jin menghadap si jangkung

“hi..hi…mampuslah kamu berengsek !” bentak coa-ong, senjata berupa kebutan bergerak cepat mengancam titik penting pada tubuh Kwaa-han-jin, namun Kwa-han-jin meraup bulu kebutan dengan satu gerakan indah dari Im-yang-sian-sin-lie, adu betotpun terjadi, Coa-ong melotot karena terkejut, karena kuda- kudanya gempor, dan lututnya bergetar menahan dahsyatnya kekuatan yang menariknya. Coa-ong melepaskan gagang kebutannya, dan langsung duduk bersiulian, mulutnya komat-kamit, lalu

“anak muda berlututlah !” sebuah tenaga sakti menekan sukma Kwaa-han-jin, namun ketika Kwaa-han-jin menarik nafas, maka tenaga “Wei-si-sin-siulian” bergerak dari dalam tubuh Kwaa- han-jin, Coa-ong terperanjat, karena tiba-tiba ia merasa tekanan luar biasa sehingga ia terduduk, sibotak juga heran melihat majikannya terduduk, dan mengira bahwa Kwaa-han-jin memiliki ilmu hipnotis, jadi ia menyerang dari belakang, Kwaa- han-jin menangkap lengannya dan melempar ke arah coa-ong, coa-ong yang masih terpengaruh dengan sihirnya yang membalik, tidak mampu mengelak

“ngokk..” tubuh besar sibotak menimpa tubuh pucat dan kurus. “Kalian harus menjelaskan apa sebenarnya yang kalian lakukan pada desa dibawah !” ujar Kwaa-han-jin

“kalian sebenarnya siapa dan apa yang telah kalian lakukan kepada orang-orang desa !?”

“sa..saya adalah coa-ong dan ini pembantu saya, kami memang telah menipu orang kampung dengan magis ilmu sihir saya.” sahut Coa-ong sambil meringis karena dadanya masih terasa sesak akibat ditimpa tubuh besar sikepala botak, jika senadainya ia tidak terpengaruh sihirnya maka berat sikepala botak tidak akan membuat dadanya senyeri itu, namun keadaannya sedang kosong laksana tubuh tidak memiliki tenaga.

“sekarang mari kita masuk kedalam ruangan kalian !” ujar Kwaa-han-jin, lalu ketiganya masuku dari belakang altar yang ternyata pintu rahasia masuk keruang bawah tanah, tempatnya sangat luas dan mewah, seorang perempuan pingsan sedang diikat disebuah altar yang ada ditengah ruangan, bajunya putih tipis menunjukkan lekuk tubuhnya yang telanjang.

“cepat lepas ikatan perempuan itu !” perintah Kwaa-han-jin, sikepala botak dengan manut melepas ikatan wanita itu, Kwaa- han-jin menarik sehelai tirai yang tergantung dan menutupi tubuh perempuan tersebut.

“sekarang coa-ong keluarkan apa saja yang telah kalian ambil dari penduduk desa !” ujar Kwaa-han-jin, coa-ong lelu melangkah kesebuah kamar dan kemudian keluar membawa satu buntalan harta yang terdiri dari uang dan barang berharga milik warga

“apakah hanya ini coa-ong ?” tanya Kwaa-han-ji

“be..benar taihap, hanya ini baru kami ambil dari penduduk.” “baik kalau begitu, sekarang coba kamu sadarkan ia supaya kita akan kembali kedesa.” Kwaa-han-ji kepada sikepala botak sambil menunjuk wanita yang pingsan, sikepala botak mendekat sesuatu pada hidung wanita itu

“uh..auh…tidak…” jerit wanita itu sambil duduk, ketika dia melihat tiga orang lelaki didepannya memandang padanya “to..tolong ja..jangan aku diperdaya.” pintanya memelas “nona kamu sudah selamat, dan sekarang bungkus dirimu

dengan tirai itu supaya kita kembali kedesamu.” ujar Kwaa-han- jin, wanita langsung melihat tirai dipangkuannya, dan baru ia sadari tubuhnya jelas kelihatan dibawah gaun tipis yang dipakainya, kontan ia menutup tubuhnya dengan tirai. Kemudian merekapun meninggalkan bangunan dalam hutan menuju desa, sesampai didesa, orang-orang kampun terkejut, dan mereka langsung mengerumuni empat orang yang memasuki kampung

“paman dan sicu semua, dengarlah, apa yang disebut kutukan pada desa kalian adalah tipu daya dari dua orang ini, jadi kalian tidak usah mencemaskan lagi hal-hal yang dipungut oleh kedua orang ini.” ujar Kwaa-han-jin, tiba-tiba wanita itu berlari memeluk ayahnya yang datang agak belakangan.

Penduduk desa menatap coa-ong dan pembantunya dengan hati geram

“nah sekarang coa-ong kalian kembalikan harta penduduk dan minta maaf pada mereka !” ujar Kwaa-han-jin

“sicu semua, kami telah bersala membuat kalian cemas dan ketakutan, semua itu hanyalah tipu daya kami, dan ini harta yang kalaian bawa kemarin dan pungutan setiap lima belas hari kami kembalikan, dan juga kami minta maaf pada kalian semua.” ujar Coa-ong

“lalu bagaimana kalau kalian ulangi lagi jika taihap ini tidak ada

?” ujar

lelaki tua teman bicara Kwaa-han-jin saat mengantarkan persembahan, coa-ong memandang dengan takut pada Kwaa- han-jin

“ka,,,kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” sahut coa- ong

“taihap…kalau keduanya tidak dihukum dan dipotong kedua kaki dan tangannya, mereka tidak akan jera.” ujar lelaki tua itu pada Kwaa-han-jin.

Wajah coa-ong dan sikepala botak takut dan pucat

“tidak usah seperti itu lopek dan sicu semua, keduanya juga manusia, yang tentunya punya harga diri walaupun sedikit, mereka sudah berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, bukankah begitu coa-ong ?”

“benar taihap.” sahut coa-ong

“nah…cukuplah janji itu mereka pegang, mungkin mereka akan mengulang lagi, kita semua tidak bisa jamin, kecuali mereka yang sudah mengikat janji dengan harga diri mereka, lalu jika mereka mau merobek harga diri mereka, lain kali mungkin aku atau mungkin orang lain akan menemuinya lagi, kamu mengertikan coa-ong ?”

“mengerti taihap.” sahut Coa-ong

“baiklah, kepada sicu semua, katrena semua masalah sudah selesai, maka maki bertiga mohon pamit.” ujar Kwaa-han-jin “terimakasih taihap atas pertolongannya pada kampung kami.” ujar kepala desa

“baiklah sicu, dan jagalah kebersamaan kalian, sebab dengan bersama kalian akan kuat dan tidak akan mudah dipedaya orang jahat.” sahut Kwaa-han-jin, lalu Kwaa-han-jin bersama coa-ong dan pembantunya keluar dari desa.

“kalian hendak kemana coa-ong ?” tanya Kwaa-han-jin

“kami hendak kembali ketempat kami di kota Bao.” sahut coa- ong “baiklah coa-ong, kita berpisah disini, aku hendak kekota Sinyang, semoga kita jumpa lagi bukan dalam situasi yang tidak mengenakkan” ujar Kwaa-han-jin

“baiklah taihap, selamat jalan.” sahut Coa-ong.

Kwaa-han-jin dengan cepat melintasi hutan dan lembah, kecepatan larinya yang laksana kilat menembus medan perjalanan sesulit apapun, dan akhirnya dua minggu kemudian Kwaa-han-jin memasuki kota Sinyang, melewati jalan yang padat oleh penduduk yang lalu lalang membuat ia merasa senang dan bangunan berupa toko dan likoan yang bertingkat membuat ia takjub

“lopek aku mau nanya alamat sesorang dikota ini ?” tanya Kwaa-han-jin ramah pada seorang tua yang sedang duduk didepan toko

“alamat siapa yang hendak kau tanya anak muda ?” tanya orang tua itu

“alamat seseorang yang bermarga Yo pedagang rempah- rempah.” sahut Kwaa-han-jin

“toko kelima dari sini adalah toko rempah-rempah, dan pemiliknya adalah Yo-sicu.” jawab orang tua itu

“oh..terimakasih lopek.” ujar Kwaa-han-jin, orang tua itu mengangguk ramah, Kwaa-han-jin menelusuri jalan menuju toko kelima, dia berdiri disebuah toko rempah-rempah, empat orang pembeli sedang dilayani oleh dua orang laki-laki, setelah empat pembeli itu pergi, Kwaa-han-jin mendekati toko “sicu mau beli apa ?” tanya seorang dari keduanya

“benarkah ini rumah she-yo bernama seng ?” tanya Kwaa-han- jin

“benar, sicu ini siapa ?” tanya lelaki itu

“saya adalah kerabat dari she-yo, dan aku ingin menemui mereka.” sahut Kwaa-han-jin.

“A-kong coba sampaikan pada loya, bahwa ada tamu hendak berjumpa.”

“baik Ma-twako.” sahut lelaki yang dipanggil A-kong sambil keluar dari kedai dan masuk kedalam rumah disamping toko tiga bangunan disamping.

Didalam rumah ternyata Yo-han dan istrinya sedang berkumpul dengan Yo-bian yang tinggal diselatan kota, Yo-seng sedang menggendong cucunya putra Yo-bian yang baru berumur dua tahun, ketika melihat A-kong datang

“ada apa a-kong ?” tanya Yo-seng

“Loya..! ada seorang tamu diluar hendak berjumpa dengan loya.” sahut A-kong

“bian-ji ! pergi tengok dan suruh masuk tamu kita itu.” perintah Yo-seng

“baik ayah, mari A-kong !” sahut Yo-bian dan mengajak A-kong keluar.

Yo-bian menatap tamunya yang masih muda

“mari siauw-sicu, ayah menunggu di dalam.” ajak Yo-bian, Kwaa-han-jin mengangguk dan mengikuti Yo-bian masuk kedalam rumah, diruang tengah Yo-seng dan Kwaa-thian-eng menyambut tamunya dengan ramah

“silahkan duduk anak muda, dan ada apakah ?” tanya Yoseng sambil mempersilahkan duduk dan memberikan cucunya pada Yo-bian, Kwaa-han-jin menetap dua orang tua itu bergantian, kemudian tersenyum

“kedatanganku ini sangat mengejutkan sebenarnya, tapi aku harus menemui kalian.” sahut Kwaa-han-jin

“siapakah kamu sebenarnya anak muda ?” “namaku Kwaa-han-jin, aku datang dari Qingdao.”

“kamu she-kwaa anak muda dan aku juga adalah she-kwaa.” sela Thian-eng

“dan kesamaan she-kwaa itu juga bukannya jauh, bahkan sangat dekat, karena aku adalah adikmu Eng-cici.” sahut Kwaa- han-jin, bedegup jantung Thian-eng

“bagaimana kamu berkata demikian kwaa-sicu ?” tanya Yo- seng.

“karena tiga keponakanku. Kwaa-yang-bun, Kwaa-gun-bao dan Kwaa-hong bertemu denganku di hutan kongciak, dan dari mereka aku mengetahui bahwa aku memiliki saudara, dan salah satunya Kwaa-thian-eng, ayahku adalah Kwaa-han-bu dan ibuku adalak kwee ” sahut

“adikku..oh ini adikku, ayah….ibu..dimanakah ayah dan ibukita adikku ?” sela Kwaa-thian-eng menyela perkataan adiknya sambil memeluk adiknya dengan buncahan air mata tangis rindu, Yo-seng tercenung, sementara Yo-bian terkejut, Kwaa- han-jin diciumi kakaknya, sehingga mukanya basah air mata, kehangatan ini membuat Kwaa-han-jin tersedu membalas pelukan kakaknya

“adikku Han-jin kamu dan aku satu perut, dimanakah ayah dan ibu kita ?” tanya Thian-eng

“ibu sudah meninggal saat melahirkan aku cici, dan ayah beberapa bulan yang lalu menyusul ibu.” sahut Kwaa-han-jin “oh..dimanakah keduanya terkubur adikku ?”

“keduanya dimakamkan di Qingdao tepatnya di teng-goat.” jawab Kwaa-han-jin.

“hahaha..hahaha..pertemuan ini sungguh luar biasa, Jin-te, hal tidak kami duga bahwa subo masih diberi Thian kejora mata.” sela Yo-seng tertawa untuk menawarkan haru dalam hati istrinya.

“eng-moi, sudah dapat adik syukurilah, hehehe..hehehe..” “hi..hi…siapa pula yang tidak senang, aku senang karena bahagia seng-ko.” sahut Thian-eng

“hi..hi…jin-siok, aku anak kedua dari ayah dan ibu memberi hormat pada siok.” Sela Yo-bian yang berumur dua puluh tujuh tahun, dan ini cucu kedua siok, yang sulung ada di rumah di selatan kota.”

“hehehe..hehe…Thian memang pembuat keputusan, dan keputusanNya adalah misteri bagi kita.” sela Yo-seng “benar perkataan Seng-ko, bian-ji biarkan cucuku itu

kegendon.” sahut Han-jin sambil menerima putra Yo-bian dan memeluknya dalam gendongan. “seng-ko berepakah usia cucuku yang pertama?” tanya Han-jin “hehehe..hahaha….kamu dengar itu eng-moi, Jin-te tanya cucunya yang tertua.” sahut Yo-seng tertawa.

“usia cucumu yang tertua delapan tahun Jin-te, anak dari

putraku Yohan, mereka tinggal dichangcun.” Jawab Thian-eng senyum

“eng-cici aku hanya tahu ayah dan ibu selama ini, baru tahu akan keberadaan cici dan saudara yang lain dari tiga Kwaa- hong dan dua keponakan lain, lalu apa maksudnya eng-cici dan aku satu perut ?”

“jin-te ayah kita punya enam istri, Kwee-kim-in, Cia-sian-li, Khu- hong-in, lauw-bi-hong, kao-hong-li dan Can-hang-bi, karena kamu dan saya dilahirkan ibu kwee-kim-in, maka kita satu perut, dan encimu Kwaa-hoa-mei dilahirkan oleh ibu Khu-hong- in, Kwaa-sin-liong dilahirkan oleh ibu Cia-sian-li, Kwaa-swat- hong dilahirkan ibu Lauw-bi-hong, Kwaa-kun-bao dilahirkan ibu Kao-hong-li dan Kwaa-yun-peng dilahirkan ibu Can-han-bi.”

“dan tempat yang saya akan kunjungi menurut yang saya tahu adalah sinyang, wuhan, shanghai, pulau kura-kura dan lokyang.”

“masih ada satu lagi Jin-te, encimu Kwaa-swat-hong yang berada di taiyuan.” sela Kwaa-thian-eng, sebaiknya jika akan melanjutkan kunjungan saudaramu, setelah dari sini, kamu mengunjungi encimu swat-hong, kehadiranmu tentu akan membuat dia bahagia, terlebih swat-hong sampai hari ini, Thian belum menganugrahkan anak padanya, padahal ia menikah saat umur sembilan belas tahun walaupun ia lebih muda dari Hoa-mei.

Keesokan harinya, saat menjelang sore

“jin-te mari kita latihan di halaman belakang untuk melenturkan tubuh yang kaku.”

“marilah suheng, karena saya butuh banyak petunjuk dari suheng.” sahut Han-jin, keduanya lalu menuju halaman belakang, Yo-seng bergerak pertama menyerang sutenya, dengan “im-yang-sian-sin-lie, Han-jin bergerak dengan jurus yang sama, pertempuran berlangsung alot dan seru, Thian-Eng muncul dan segera menonton dengan serius, Yo-seng dan Thian-eng terkejut melihat bahwa kekeuatan Han-jin jauh melebihi kekuatan Yo-seng, hal ini dilihat bahwa gerakan jurus “Im-yang-sian-sin-lie” yang dikeluarkan Han-jin lebih kuat dan lebih gesit, jika hanya jauh lebih kuat bisa disimpulkan hanya beda satu tingkat, namun nyatanya tidak hanya lebih kuat bahkan jauh lebih gesit.

Setelah dua ratus jurus, Yo-seng sudah berkeringat untuk mengimbangi sutenya ini, lalu Yo-seng merubah gerakan dengan ilmu “Im-yang-bun-sin-im-hoat”, Han-jin juga mengubah gerakannya, keduanya bertarung dengan luar biasa, gerakan melukis diatas diawang seirama dengan kedudukan kaki yang juga melukis tanah, makin terkejutlah kedua suami istri itu akan kemampuan Han-jin, Han-jin sungguh teramat luar biasa, kegesitannya dalam jurus yang penuh keindahan ini sangat luar biasa, kekuatan yang dikeluarkannya juga menggetarkan dada Yo-seng saat beradu sin-kang, dan bukti yang mencengangkan adalah suara gemerisik yang dikeluarkan gerakan Han-jin juga, lebih menggetarkan kalbu dan lebih menusuk gendang telinga.

Dua ratus jurus lebih berlangsung, tubuh Yo-seng sudah banjir keringat, pakaiannya basah, sementara Han-jin belum apa-apa, lalu Yo-seng mengeluarkan jurus “Im-yang-pat-sin-im-hoat” Yo- seng mengerahkan seluruh kekuatan dan kegesitan serta trik pancingan untuk mendesak sutenya, namun sutenya amat tenang dan tidak tergoyahkan, hal ini bukan karena Han-jing memiliki pengalaman tempur diatas Yo-seng, jika untuk pengalaman tempur sang suheng ini akan lebih dari sutenya, namun hanya karena Yo-seng tidak mewarisi sin-kang yang bernama “Wei-si-sin-siulian”, dan dari seluruh she-taihap hanya Kwaa-han-jin yang mewarisi ini dari Im-yang-sin-taihap.

Keduanya berhenti saat hari sudah sangat malam, Thian-eng yang menonton juga masih setia menunggu suami dan adiknya yang bertarung

“ayok sute kita bersihkan diri dan makan.” ujar Yo-seng setelah pernafasannya normal kembali, keduanya memebrsihkan diri, sementara thian-eng mempersiapkan makan bagi suami dan adiknya

“sute, tenagamu luar biasa, kegesitanmu juga bahkan suara sakti juga melebihi kami, apakah ilmu yang kami tidak ketahui yang suhu berikan padamu ?” tanya Yo-seng kagum pada sutenya

“sepertinya suheng tidak memperoleh “wei-si-sin-siulian” dari ayah sahut Han-jin

“hmh…benar, nama sin-kang ini tidak pernah kami dengar, bahkan encimu juga tidak pernah dengar.” ujar Yo-seng “benar adikku, lalu apakah ayah menciptakan jurus dari tenaga sin-kang ini ?”

“benar enci, ayah menciptakan jurus dari dasar sin-kang ini dengan nama “wei-cu-sin-ciang”

“diantara she-taihap, kamulah yang terhebat sute setelah suhu wafat.” ujar Yo-seng

“she-taihap itu maksudnya apa suheng ?” tanya Han-jin heran “she-taihap itu gelar keluarga kita sejak ratusan tahun yang silam, gelar she-taihap dimiliki setiap orang yang menjadi murid pat-hong-te, karena mereka semua adalah anak-anak dari buyut dari suhu, karena buyut dari suhu seorang yang luar biasa dizamannya, maka baik anak-anaknya maupun murid- muridnya digelar dengan she-taihap, dan gelar ini sute menjadi amanah turunan bagi kita sampai hari ini.” sahut Yo-seng.

“sudah lazim bagi she-taihap mengelilingi tionggoan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh keponakan kita kwaa- hong, kwaa-gun-bao dan kwaa-yang-bun yang bertemu denganmu.”

“oh-ya bagaimana bisa kalian bertemu di hutan kongciak, apakah urusan begcu yang dibicarakan disana berjalan dengan baik?” sela Thian-eng

“sepertinya tidak encik, saya muncul disana saat tiga keponakan kita dikeroyok oleh orang-orang disana, awalnya saya tidak tahu mereka keponakanku, aku hanya berniat melerai pertempuran yang tidak adil itu.”

“bagaimana kedudukan tiga keponakanmu saat dikeroyok sute

?” tanya Yo-seng

“kedudukan mereka terdesak.” sahut Han-jin “berapa orang yang mengeroyok ?”

“ada enam orang yang megeroyok mereka bertiga.” “hmh…luar biasa lawan mereka itu sute.” ujar Yo-seng “lalu apa yang terjadi, jin-te ?” sela Thian-eng

“aku datang dan melerai mereka, lalu mereka berenam mengeroyokku.”

“mengeroyokmu !?” sela suami istri itu terkejut.” “lalu…bagaimana jadinya adikku ?” tanya Thian-eng dengan heran

“syukur pada Thian, aku diberi kemampuan menundukkan mereka.” sahut Han-jin

Kedua suami istri terdiam dan memejamkan mata, mengucap syukur akan anugrah yang diberikan pada keluarga mereka “suheng dan cici kenapa ?” tanya Han-jin

“tidak mengapa sute, benar kita sangat patut bersyukur pada thian dengan limpahan anugrah dan berkah yang melimpah.” sahut Yo-seng arif.

“sudah, kamu istirahatlah beberapa saat jin-te, karena sebentar lagi malam akan berganti pagi,kami juga mau istirahat sejenak” sela Thian-eng

“baiklah enci, suheng saya istirahat dulu.” sahut Han-jin, Yo- seng mengangguk, lalu Han-jin pergi kekamar tamu yang disediakan encinya.

“eng-moi aku harus diurut dulu, tubuhku luar biasa capeknya.” ujar Yo-seng

“baiklah seng-ko.” sahut Thian-eng sambil menarik suaminya kekamar.

“tanganku yang terasa amat pegal dan kesemutan.” Keluh Yo- seng

“iya tidak cuma tangan, semuanya akan ku urut seng-ko.” sahut Thian-eng

“benarkah Eng-moi ?” tanya Yo-seng sambil senyum

“iya..heh..memang kenapa, kok senyum-senyum begitu !?” tanya Thian-eng dengan mata melotoy

“hehehe..hehehe…aku hanya merasa senang, kalau semuanya di urut

“ih..ceriwis, dah tua begini, masih macam-macam.” sahut Thian-eng, namun tidak bisa dia senyum juga karena kenakalan suaminya membuat ia jengah, ia meraih tangan suaminya dan memijitnya dengan tekun dan lembut, kenyamanan itu membuat Yo-seng langsung tidur, setelah memijit kedua tangan suaminya, saat matahari terbit Thian-eng baring disamping suaminya, dan ia pun tertidur pulas.

Kwaa-han-jin berada di sinyang bersama encinya selama dua bulan, dan saat Kwaa-han-jin mau berangkat ketaiyuan

“Jin-te, ilmu Im-yang-sian-sin-lie diciptakan ayah dengan memakai sabuk, maka bawalah sabuk enci ini.” ujar Thian-eng sambil melingkarkan sabuknya yang berwarna kuning kebahu adiknya.

“baiklah encik, sabuk ini akan kupakai.” sahut Han-jin

“Jin-sute, suhu mengajarkan Im-yang-bun-sin-im-hoat dengan menggunakan mouwpit, tapi Jin-te, suheng tidak memberikan mouwpit kepadamu, namun aku memberikan sebuah kipas untuk mengusir gerah, hehehe..hehehe…” ujar Yo-seng “ih…seng-ko becanda saja, ikut-ikut perkataanku.” sela Thian- eng mencibir manja pada suaminya yang ketawa.

“hahaha..hehehe…suheng memang bisa saja, benar kipas ini bisa mengusir gerah, disamping mengetuk gentong.” sahut Han-hin sambil membuka daun kipas berwarna putih yang bertuliskan “Wei” (rasa) Yo-seng mendapat ide membuat kipas ini sejak Han-jin menceritakan sin-kang “wei-si-sin-siulian” lalu ia memesan pembuatan kipas ini pada pengerajin kipas, gagangnya terbuat dari batu kemala dan daun kipas terbuat dari kulit macan.

“Jin-te, di Taiyuan encikmu swat-hong tinggal disebelah utara kota, kamu tanyakan saja pedagang Bao, orang akan kenal, karena Bao-san suami encikmu pedagang beras di kota itu.” ujar Thian-eng

“baiklah encik, suheng saya berangkat dan selamat tinggal.” sahut Han-jin.

“selamat jalan sute.” ujar Yo-seng dengan senyum arif

“hati-hati, dan jagalah diri baik-baik adikku !” sela Thian-eng dengan hati terenyuh dan kontan matanya berkaca-kaca, Han- jin mengangguk dan melambaikan tangan yangdibalas suheng dan enciknya.

Kota Taiyuan siang itu sangat cerah, sebuah rombongan piauwkiok memasuki kota taiyuan, piauwsunya berbaju putih dengan rompi hitam, bendera piauwkiok berlatar hitam dengan lukisan naga berwarna putih dan juga bertuliskan “Hong-liong” dari benderanya piauwkiok itu dikenal dengan Hong-liong- piauwkiok, Ma-liauw yang berjulukan Thian-liong membawa rombongannya yang terdiri dari tiga puluh anggota kekantor cabang piauwkioknya di kota Taiyuan

“setelah makan kalian antar barang bawaan pada penerima barang !” ujar Thian-liong

“baik pangcu.” Sahut mereka serempak, lalu merekapun makan dilikoan disamping kantor cabang.

Barang yang mereka bawa berupa satu kereta berisi beberapa karung beras, satu kereta berisi gulungan kain dan dua peti, satu kereta berisi rempah-rempah, penerima barang ini ada empat orang, yakni rempah untuk seorang pedagang rempah bernama Phang-san, rombongan mengantarkan miliknya trlebih dahulu, setelah administrasi selesai, mereka menuju rumah Cao-wangwe pemilik dua peti, setelah itu pedagang kain Gui- san seorang pedagang kain, lalu yang terakhir para piuawsu pada saat malam tiba di tempat Bao-san suami Kwaa-swat- hong Bao-san menyambut kedatangan rombongan piauwsu “bagaimana perjalanan kalian sicu-piauwsu?” tanya Bao-san yang berumur lima puluh tahun itu dengan ramah

“perjalanan kami baik-baik saja sicu.” jawab tan-sun wakil dari Ma-liauw, lalu anak buahnya menurunkan karung berisi beras, jumlahnya ada lima belas karung, setelah semua diturunkan dan diletakkan di gudang Bao-san, Bao-san dan Tan-sun menyelesaikan administrasi, lalu rombongan piauwsu pun kembali kekantor cabang.

“Bagaimana, apakah semua sudah selesai ?” tanya Ma-liauw pada wakilnya

“sudah pangcu, dan menurut saya kita secepatnya berangkat sebelum pedagang Bao, kami sudah sengaja mengantarkan berasnya saat malam, sehingga ia tidak sempat memeriksa, dan besok ia pasti akan mengetahuinya.” ujar Tan-sun “kamu jangan terlalu cemas Tan-sun, dia tidak akan menyalahkan kita.”

“tapi pangcu setidaknya dia akan menanyakan kita perihal berasnya dan menduga kita mengganti berasnya” sahut Tan- sun

“justru karena itu kamu tenang saja, sebab kalau kita lansung berangkat dia malah bertambah curiga, nanti kalau dia datang, kita jawab saja, bahwa kita tidak tahu menahu dengan hal itu, sehingga dengan demikian ia harus ke Datong untuk mengklarifikasinya.” ujar Ma-liauw

“lalu bagaimana kalau ia mendapatkan bahwa rekannya di Datong mengatakan jenis beras yang dikirimnya ?” “Ke Datong itu perjalanan seminggu, jika dia pergi artinya ia akan mengeluarkan biaya untuk kesana, dan tokonya akan tutup setidaknya selama dua minggu.”

“hehehe..hahaha…Pangcu memang cerdik, dan ketika dia tahu, kita sudah berada di Yinchang.” ujar Tan-sun tertawa.

Malam itu setelah Bao-san setelah terima kiriman tidak lagi memeriksa, bahkan langsung masuk kedalam rumah, karena istrinya Kwaa-swat-hong lagi mual-mual sejak dua hari yang lalu.

“masih mual lagi perutmu Hong-moi ?” tanya Bao-san “masih San-ko, aduh kepalaku rasanya pusing.” keluh Swat- hong

“kalau begitu aku akan panggil Tang-sinse, tunggulah sebentar aku akan kerumahnya.” ujar Bao-san, lalu Bao-san keluar untuk memanggil Tang-sinse

Satu jam kemudian, Tang-sinse datang, lalu memeriksa Swat- hong, sesaat wajahnya berkerut heran, lalu dia senyum

“Bao-sicu, hehehe..hehehe…selamat dulu aku ucapkan padamu.” ujar Tang-sinse

“ada apa Tang-sinse, kenapa kamu ucap selamat pada saya ?” “hahaha..hahaha… kamu tahu kenapa Bao-hujin mual-mual ?” “kenapa dengan aku Tang-twako !?” sela Swat-hong

“selamat Bao-hujin, kamu ternyata sedang hamil jalan dua bulan.” sahut Tang-sinse, Bao-san dan Swat-hong saling pandang dengan wajah terkejut, namun hanya sesaat, wajah itu berubah berseri-seri.

“benarkah Tang-shinse, apakah itu mungkin ?” tanya Bao-san meragu

“jikai Thian berkehendak, hal apakah yang tidak mungkin Bao- sicu ? bagi Thian ini perkara yang mudah” sahut Tang-sinse “oh…Hong-moi, kita akan punya anak hong-moi..” ujar Bao-san dengan nada haru sehingga matanya berkaca-kaca mendekati istrinya. Kwaa-swat-hong lebih bahagia dan haru lagi, dia yang sudah tiada harapan, sehingga sudah pasrah dengan kenyataan, tiba-tiba mendengar bahwa apa yang diharapkan selama ini akan terwujud membuat hatinya menjerit syukur dan rasa bahagia yang tidak terperi, suaminya yang menciumi jemarinya membuat dia haru, hanya karena keberadaan Tang- sinse disamping mereka sehingga ia tidak memeluk suaminya.

“sudah Bao-sicu, saya permisi dulu, dan jagalah Bao-hujin dengan baik, jaga dia tetap kuat, dan istirahatnya harus cukup, hamil dalam usia setua hujin sangat rentan.” ujar Tang-sinse “baik Tang-sinse dan terimakasih banyak.: sahut Bao-san, Tang-sinse mengangguk saambil tersenyum, lalu ia pun meninggalkan rumah Bao-san, Bao-san kembali pada istrinya, suami istri itu langsung berpelukan dengan hati bahagia, dua pelayan rumahnya juga merasa senang mendengar kabar itu, mereka berjanji akan lebih memperhatikan nyonya mereka lebih baik.

Keesokan harinya dengan rasa bahagia dan senyum yang tidak lekang dari bibirnya, Bao-san dengan dua pegawainya membuka toko.

“beras ini baru datang loya ?” “benar A-cin, angkat kesini dan bukalah !” sahut Bao-san, A-cin mengangkat beras itu dan membukanya, setelah dibuka dia terkejut

“loya…, beras ini sudah lapuk dan rusak.” seru A-cin

“apa ? rusak bagaimana ?” tanya Bao-san mendekati A-cin, lalu dia terkejut melihat beras yang sudah lapuk, dan bahkan warnanya sudah ada yang hitam

“coba buka karung yang lain.” perintah Bao-san, A-cin dan A- leng membuka semua beras yang baru datang, alangkah terkejutnya Bao-san semua beras yang ia terima adalah beras lapuk dan rusak.

“kalian ikat kembali dan tumpuk disudut, saya akan menemui hong-liong-piauwkiok untuk menanyakan kejanggalan ini.” ujar Bao-san, lalu segera menuju kantor Hong-liong-piauwkiok “apakah sicu ingin memakai jasa pengawalan ?” tanya seorang piauwsu

“buka, saya ingin bertemu dengan pimpinan piauwkiok.” sahut Bao-san

“oh, kalau begitu tunggu sebentar, saya akan laporkan kedatangan sicu.” sahut piuawsu itu, lalu keluar kantor dan memasuki bangunan utama, tidak lama kemudian piauwsu itu keluar bersamMa-liauw dan Tan-sun

“ada apa sicu, anda perlu dengan saya ?”

“betul pangcu, saya adalah Bao-san yang menerima kiriman beras dari Datong dari seorang mitra saya bernama Lauw-teng, dan beras itu diantar sicu ini semalam.” ujar Bao-san sambil menunjuk Tan-sun “hmh..lalu ada apa Bao-sicu ?”

“ternyata semua beras yang saya terima adalah beras yang lapuk dan rusak, jadi saya mau menanyakan kenapa bisa demikian.“ ujar Bao-san

“wah..kalau itu kami tidak tahu Bao-sicu, kami hanya menyediakan jasa pengawalan, dan bagaimana isi barang itu urusan sicu dengan mitra sicu.” sahut Ma-liauw

“tapi pangcu, sebagai piauwkiok yang bertanggung jawab dan bereputasi yang baik, hal ihwal barang tentunya dicek, apakah pangcu tidak menceknya ?” ujar Bao-san

“walaupun saya cek, kalau demikan barangnya, saya mau bilang apa ?”

“pang-sicu, piauwkiok anda ini memang tidak sangat tidak etis, jika benar pangcu mengeceknya, setidaknya panngcu dapat pernyataan dari mitra saya untuk menghindar hal yang sekarang terjadi, bisa saja saya menuduh anda yang curang dalam hal dengan mengganti beras itu.”

“jadi anda menuduh saya mengganti beras itu ?”

“benar. Dan apa bukti anda bahwa anda tidak menukarnya ?” sahut Bao-san.

“sialan, kamu cari gara-gara yah dengan kami !?”

“saya tidak mau cari gara-gara, saya hanya minta pertanggung jawaban anda sebagai pangcu yang mengewal barang saya. “mitra anda yang memberi barang seperti itu, kenapa kami yang dituduh

“buktinya mana, bahwa mitra saya yang mencurangi saya, apa anda demikian sembarangannya mengawal barang orang, inilah buktinya bahwa piuawkiok anda ini tidak etis.

“etis tidak etis apa pedulimu ?” tantang Ma-liauw marah “hmh..anda ini memang arogan, kiramu semua masalah bisa diatasi hanya dengan adu otot, hal ini akan saya adukan pada

tihu, dan saya minta ganti rugi.” ujar Bao-san sambil keluar dari kantor

“buk…” Ma-liauw menerjang Bao-san sari belakang, sehingga terlempar ketepi jalan, orang-orang berkerumun melihat kejadian itu.

“ada apa Bao-sicu ?” tanya otang yang kenal dengan Boa-san “kalian jangan ikut campur, kalau tika mau celaka !” teriak Ma- liauw dengan mata melotot.

Bao-san memang tidak pandai silat, tidak seperti istrinya Kwaa- swat-hong, yang merupakan she-taihap yang luar biasa, jika Ma-liauw tahu bahwa istri Bao-san adalah she-taihap, mungkin dia akan berpikir seratus kali untuk menendang Bao-san, Bao- san mengibaskan pakainnya yang kotor berdebu dan memandang tajam pada Ma-liauw

“dari tindakan anda ini, benar anda telah mencurangi beras saya.” ujar Bao-san

“tutup mulutmu bangsat..!” bentak Ma-laiuw sambil melompat dengan kedua tangan hendak mencakar muka dan leher Bao- san

“tuk..tuk..auh…” Ma-liauw menjerit karena kedua tanganya terasa lemas dan nyeri, karena dua sikunya kena hantam oleh bayangan kilat yang muncul, Kwaa-han-jin berdiri sambil membuka kipasnya sambil mengibaskan kedadanya

“ada masalah bisa dibicarakan, dan tidak seharusnya main hakim sendiri.” ujar Han-jin

“jin-sin-taihap..” seru sebagian orang yang menonton, dan Tan- sun juga berseru hal yang sama, Ma-liauw juga terkejut

“sialan kamu Jin-sin-taihap, kamu memang orang sok-sibuk, urusan kecil juga kamu campuri.” teriak Ma-liauw, Han-jin yang mendengar seruan-seruan itu sesaat terdiam, karena tidak mengira orang sudah memberikan julukan padanya dengan Jin- sin-taihap, memang hal itu dimulai dari Guiyang, setelah bubarnya pertemuan di hutan kongciak, kemarahan dua cianpwe hek-to yang memaki-maki Han-jin, namun dibalas dengan lembut oleh Han-jin menjadi buah bibir, siapa yang tahan dimaki sedemikian rupa namun hanya seulas senyuman dan kata-kata lembut menyejukkan yang keluar sebagai balasan dari makian, walhal semua tahu enam dedengkot hek- to tidak beradaya dihadapannya, kekuatan luar biasa dahsyat namun dibarengi sikap yang menyejukkan dan tidak gampang terpancing emosi.

Dari semua peristiwa itu ratusan peserta pertemuan baik yang pek-to maupun hek-to, salut dengan sikap dan kekuatan seperti itu, hingga menyebarlah nama Jin-sin-taihap, dan terlebih julukan itu makin marak di shijiazhuang dan Tian-jin lalu merambat ke kota-kota sekitarnya termasuk Taiyuan

“paman..! urusan ketidak adilan dan penganiayaan yang tidak berdasar adalah urusan saya dan kita semua, paman demikian telengas mau membunuh paman ini, kenapa bertindak demikian kejam ?”

“Jin-sin-taihap, terimakasih atas pertolongan taihap, pangcu ini telah berlaku aniaya, dan aku akan menuntutnya !” sela Bao- san

“silahkan pergi kepengadilan, yang jelas aku hanya pengawal barang, utusan tetetk bengek tentang kwalitas barang emang gua pikirin.” sahut Ma-liau.

Bao-san melangkah pergi, kerumunan orang pun bubar, Ma- liauw dan Tan-sun kembali kedalam, Han-jin juga pergi kea rah utara kota, disepannya berjalan Bao-san dengan langkah gontai

“paman tunggu dulu, boleh aku bertanya ?” seru Han-jin,

Baosan berhenti dan menoleh pada Han-jin

“jin-sin-taihap mau menanya apa ?” tanya Bao-san “apakah paman mau ke utara kota ?”

“benar taihap, rumahku memang berada disana.” sahut Bao- san

“oh, kebetulan kalau begitu, saya mau menemui encik saya yang juga berada di utara kota, mungkin paman kenal.” “siapa nama encikmu itu taihap ?”

“encik ku itu namanya Kwaa-swat-hong dan suaminya seorang pedagang beras dan namanya…” Han-jin tidak melanjutkan kata-katanya karena melihat ketekejutan Bao-san. “paman kenapa ?” tanya Han-jin “namamu siapa taihap ?” tanya Bao-san

“namaku Kwaa-han-han-jin.” Jawan Han-jin “hehehe…maaf taihap, Kwaa-swat-hong tidak mempunyai

saudara laki-laki bernama Kwaa-han-jin, yang ada Kwaa-sin- liong, Kwaa-kun-bao dan Kwaa-yun-peng.”

“bagaimana paman tahu ?” tanya Han-jin tersenyum.” “karena akulah pedagang beras itu.” sahut Bao-san

“eh..hehehe..hahaha…maaf kalau begitu twako.” sahut Han-jin sambil menjura dan membungkuk

“eh..kenapa taihap menjura pada saya ?”

“Bao-twako, adalah suami encik saya, jadi saya harus memberi hormat.” sahut Han-jin

“hehehe..hahaha..kamu tidak bercanda Han-jin !?” tanya Bao- san meragu

“tentu tidak Bao-twako, bawalah aku menemui encikku, karena dia memang belum tahu dengan keberadaan saya, makanya saya datang twako.” sahut Han-jin

“baiklah kalau begitu, marilah jin-te !” ujar Bao-san

Sesampai dirumah, A-cin dan A-leng menyambut kedatangan tuan mereka

“bagaimana urusannya loya ?” tanya A-cin

“nanti saja kita bicarakan A-cin, stok beras kita masih ada kan

?”

“masih loya, dan tadi kami sudah keluarkan, dan beberapa pelanggan sudah datang membeli dan sekarang hanya tinggal satu karung.” Jawab A-cin “sudahlah, itu saja dulu habiskan, kalian jaga toko karena saya lagi ada tamu.” ujar Bao-san.

“baik loya.” sahut A-cin dan segera masuk lagi ke toko

“mari masuk Jin-te !” ajak Bao-san, keduanya masuk kedalam rumah

“duduklah Jin-te, saya akan panggilkan encikmu ?” ujar Bao- san dengan senyum, Han-jin duduk dengan hati bergetar, karena ia akan menjumpai saudara yang pasti tidak mengetahuinya.

“Hong-moi.., bagaimana keadaanmu ?” seru Bao-san masih dari luar kamar dan muncul buru-buru

“aih..san-ko mengejutkan saya saja ? kenapa buru-buru dan teriak, aku tidak kenapa-napa.” sahut Swat-hong berlagak manyun.

“hehehe..hong-moi sayang, aku juga lagi menyeru anakku yang ada dalam kandungan.” ujar Bao-san.”

“hi..hi..konyol, apa ia akan dengar !?” sela swat-hong tertawa “mungkin saja ia dengar, panggilan seorang ayah kan bisa menembus alam, hehehe..hehe..” sahut Bao-san “hi..hi…hi…sudahlah, ada apa ? kenapa koko buru-buru menyeru ?”

“hong-moi, kita kedatangan tamu istimewa, namun saya juga bingung, apa benar atau tidak.”

“aih..koko kok ngomongnya ngelantur terus dari tadi, yang jelas dong sayang ngpmongnya !”

“benar kita kedatangan tamu dan hendak bertemu denganmu.” sahut Bao-san

“loh, kok saya, kan biasanya tamu ingin jumpa dengan koko.” “makanya tamu ini istimewa.” sahut Bao-san, lalu suami istri itu keluar dan menemui Han-jin, Han-jin berdiri menyambut enciknya yang kelihatan lemas dan sedikit pucat, Kwaa-swat- hong heran melihat tamu mereka yang masih muda sekali “apakah encik sakit Bao-tawko ?” tanya Han-jin, makin terkejut Kwaa-swat-hong mendengar perkataan encik dan twako itu.

“siapakah kamu anak muda ?” sela Swat-hong heran, Han-jin melihat enciknya dan tersenyum

“Hong-cici, maaf jika kedatangan saya mengejutkan, sebenarnya saya adalah adik encik, nama saya Kwaa-han-jin, ayah saya adalah Kwaa-han-bu dan ibu saya Kwee-kim-in.” jawan Han-jin menatap mata wajah enciknya yang terkejut “ba..bagaimana mungkin ?” sela Swat-hong meragu

“hong-moi, ingat tidak kata Tang-sinse mengenai keadaanmu sekarang ?” sela Bao-san

“oh..adikku…jin-te adikku..” seru Swat-hong sambil berdiri “adikku, ayah bagaimana, ibu dimana ?” tanyanya sambil memeluk adiknya dan air matanyapun berderai, ia sesugukan mengenang ayah dan ibunya.”

“saya minta kamu tenang hong-moi, jangan hanyut dengan permainan perasaan, ingat kandunganmu !” sela Bao-san, mendengar itu Swat-hong menghapus air matanya, Han-jin yang mendengar bahwa kakaknya tidak memiliki anak, namun ternyata kedatangannya menjumpai kakaknya yang sedang hamil membuat dia sangat bahagia. “syukurlah apa yang telah aku dengar ini encik, encik rupanya sedang hamil, sungguh aku bahagia sekali encik.” ujar Han-jin “benar adikku, diusia ini ternyata Thian berkenan mewujudkan harapanku selama ini.”

“encik sama dengan ibu, dan keponakanku itu sama dengan aku.” sahut Han-jin senyum

“berapakah sekarang umurmu adikku ?” tanya Swat-hong “umurku sudah lewat tujuh belas tahun encik.”

“oh..ibu…lalu bagaimana keadaan ayah dan ibu ?” tanya swat- hong

“encik, bukankah Thian yang menetapkan segala sesuatu ? baik langkah, rejeki, pertemuan dan maut ?”

“benar adikku.” sahut Swat-hong serius

“nah kalao Thian berkehendak bukankah kita wajib menerimanya ?”

“betul sekali ucapanmu itu jin-te.”

“dan Thian telah menetapkan maut bagi ayah dan ibu, dan kita wajib menerima itu.” ujar Han-jin mencoba meredam gejolak hati enciknya dengan memutar-mutar jawaban, dan ketika mendengar itu Swat-hong tercenung, matanya memang berkaca-kaca dan pipinya basah oleh air mata yang berurai, namun setelah mereasapi jawabannya pada dua pertanyaan adiknya, hatinyapun rela.

Kwaa-swat-hong menghapus air matanya, Bao-san luar biasa kagum pada adik istrinya yang teramat muda ini, umurnya memang masih muda namun pemikirannya luar biasa matang, sekilas setelah memperhatikan anak muda didepannya ini, nada bicaranya persis seperti mertuanya Im-yang-sin-taihap, namun wajah itu agak seiras dengan ibu mertuanya Kwee-kim- in.

“kapankah ayah dan ibu meninggal Jin-te ?”

“ibu meninggal sewaktu melahirkanku dan ayah meninggal beberapa bulan yang lalu.” jawab Han-jin, dan sekarang aku datang untuk menemui encik setelah bertemu dengan encik Thian-eng.” Dengan pandainya Han-jin mejawab dengan menambahkan informasi tentang ia sudah bertemu dengan Thian-eng, dan tentunya pikiran swat-hong akan bertanya tentang Thian-eng, dan melupakan tentang cara meninggal ibunya yang hamil dimasa tua sebagaimana sekarang sedang dialami encikya.

“oh-ya bagaimana kabar mereka di sinyang ?” “hehehe..hahahaa,, kalau diingat lucu sekali encik.” “lucu bagaimana Jin-te?” tanya Swat-hong senyum

“suheng dan encik menanya saya dengan serius karena saya datang bertamu, dan memanggil saya “anak muda ? ada apa kamu datang kesini ?”setelah saya ceritakan hal yang sebenarnya suheng tertawa terpingkal-pingkal.” sahut Han-jin “hi..hi… memang Yo-suheng memang begitu, kalau tertawa lepas saja.” sahut Swat-hong

“hehehe..gimana tidak kita merasa geli, saya saja setelah tadi Jin-te katakan adik istriku merasa gelid an tertawa.

“hehehe..benar Bao-twako, sayapun maklum dengan hal itu.” sahut Han-jin “sabuk yang kamu pakai sepertinya pemberian Eng-cici.” sela Swat-hong

“benar sekali encik, bagaimana encik tahu ?”

“karena ayah memberinya sabuk kuning, Mei-cici warna merah, dan saya warna biru.” jawab Swat-hong

“ooh begitu rupanya, dan kipas ini dari suheng encik, dan tahu apa kata Yo-seheng ?”

“apa kata Yo-suheng Jin-te.”

“hehehe…Yo-suheng bilang sambil senyum “Jin-te suhu mengajarkan Im-yang-bun-sin-im-hoat memakai mouwpit, aku tidak memberimu mouwpit, tapi kipas ini untuk mengipasmu jika kegerahan.”

“hi..hi…hi… Yo-suheng memang ada-ada saja.”

“hehehe..memang Yo-suheng sebagaja mengikuti nada eng- cici ketika memberi sabuk ini, jadi karena itu eng-cici mencak- mencak pada suheng.”

“hi..hi…hi..hi…hahaha..hahahaa…hahaa…” suara ketawa mereka meledak.

“ah..adikku tentu kamu sudah lapar sekali marilah kita makan !” ajak Swat-hong

“benar cici, aku lapar sekali.” sahut Han-jin dengan nada manja, dengan rasa sayang Swat-hong menarik adiknya berdiri, lalu merekapun keruang makan, Han-jin makan dengan lahap “bagaimana rasanya adikku ?” tanya Swat-hong

“nasi dan lauknya enak betul encik, membuat aku lahap makannya.” sahut Han-jin

“kamu akan lama disini kan Jin-te ?” “benar encik, saya akan berangkat ke lokyang menemui Liong- ko setelah keponakanku lahir.” sahut Han-jin, mendengar itu alangkah bahagianya swat-hong sambil menciumi kepala adiknya.

Malam itu setelah Swat-hong tidur Han-jin mengajak kakak iparnya bicara di depan toko

“Bao-twako , apa yang sebenarnya terjadi didepan piauwkiok tadi pagi ?”

“hmh…piuawkiok itu membawa kiriman beras dari Datong, dari seorang mitraku disana, namun semalam mereka memberikan beras lapuk dan rusak, jadi tadi pagi saya minta penjelasan mengenai hal itu, namun pangcu itu menjawab bahwa itu bukan urusannya, saya curiga pangcu itu telah berlaku curang, dan sedikit sekali kemungkinan Lauw-sicu di Kota Datong berbuat begitu, karena kami sudah puluhan tahun bekerja sama.” jawab Bao-san.

“hmh..baiklah Bao-twako, aku akan mengurusnya sampai tuntas, malam ini akan kucoba kuusut, sehingga tidak bertele- tele, dan Hong-cici tidak mengetahuinya.”

“besok cicimu akan mengetahuinya Jin-te, karena beras jualan kami tinggal sedikit, tentu dia akan bertanya, namun aku akan dapat mengatasinya” ujar Bao-san

“baik twako, saya pergi dulu.” ujar Han-jin,

“baik Jin-te, kamu hati-hatilah.” sahut Bao-san, Han-jin mengangguk sambil melangkah menuju hong-Liong piauwkiok. “bagaimana pangcu !? apa selanjutnya yang kita lakukan ?” tanya Tan-sun

“saya tidak mengira bahwa pedagang beras itu akan memperkarakan kita sampai kepengadilan.” sahut Ma-liauw tercenung

“saya kira ada dua jalan bagi kita pangcu ?” sela pimpinan cabang Taiyuan