-->

Pendekar Sakti Welas Asih Jilid 1

Jilid 1

“Goat-kok” (lembah bulan) sebelah selatan kota Qingdao banyak ditumbuhi bunga kanoka, yang jika dipandang dari bukit laksana hamparan permadani raksasa berkilau kuning keemasan, sebuah pundok berdiri dilereng bukit sebelah utara yang langsung mengarah kehamparan lautan luas, disebalah timur

hamparan kanoka yang indah sementara yang berakhir dengan tepi hutan yang menghijau.

Sepasang pendekar tua sedang duduk dalam selimut kemesraan sambil memandang hamparan laut yang luas, kakek itu berumur enam puluh dua tahun, sementara sinenek berumur lima puluh empat tahun, sinenek menyandarkan kepalanya dibahu sikakek yang memeluk bahunya, wajah pasangan tua masih menyisakan rias ketampanan dan kecantikan masa muda, pasangan tua ini bukanlah orang sembarangan, dari sejak mudanya sampai sekarang pasangan ini adalah ikon dunia persilatan di delapan penjuru angin. Bahkan sejak dari leluhur mereka ratusan tahun yang silam pada masa dinasti sung-selatan, leluhur pasangan tua ini telah menjadi buah hati seluruh kalangan, baik kalangan awam, pemerintahan dan kalangan liok-lim di seantoro tionggoan, tentunya para pembaca yang setiap membaca serial ini akan dapat menebak siapa sebenarnya pasangan tua tersebut.

Benar, pasangan tua itu adalah Kwaa-han-bu atau yang dikenal dengan julukan Im-yang-sin-taihap bersama istrinya Kwee-kim- in keturunan langsung Kim-khong-taihap yang melegenda.

Kwaa-han-bu dan istrinya sudah dua tahun berkelana menjelajahi rimba persilatan, awalnya pasangan sakti ini menetap di Kun-leng, namun sejak dua putranya Kwaa-sin- liong dan Kwaa-yun-peng menikah, Kwaa-sin-liong menikah dengan Tang-bi-wei putri sorang tabib, mereka menetap di Lokyang dengan usaha membuka toko obat, sementara Kwaa- yun-peng menikah dengan Bao-ci-lan dan menetap di kota Shanghai, sejak itu mereka tinggal berdua, lalu tiga tahun kemudian mereka meninggalkan kota kun-leng dan berkelana di dunia kangowu, perjalanan mereka itu hanya untuk bersantai menikmati hari tua denganmenikmati indahnya panorama alam dan tempat-tempat yang indah.

Dan suatu ketika, saat pasangan ini berada di kota Zhaojuang dan sepulang menikmati keindahan taman kota yang indah dan ramainya kota, tiba-tiba Kwee-kim-in merasa mual pada perutnya sehingga dia muntah-muntah di sebuah gang yang sepi “kamu kenapa In-moi ?” tanya Kwaa-han-bu cemas

“entahlah Bu-ko, perutku terasa mual, mungkin aku masuk angin.” Jawab Kwee-kim-in dengan muka sedikit pucat. “sebaiknya kita kembali ke penginapan dan istirahat.” ujar Kwaa-han-bu, kemudian menuntun istrinya kembali ke penginapan.

Sesampai dipenginapan Kwee-kim-in dibaringkan, namun baru saja berbaring, kembali ia merasakan mau muntah, lalu segera ia berdiri dan muntah diatas sebuah baskom air, setelah itu dengan mata berair ia kembali baring, Kwaa-han-bu menjadi cemas

“kamu tunggu sebentar, aku akan keluar dan mencari seorang tabib.” ujar Kwaa-han-bu dan segera keluar dan bertanya pada pemilik likoan

“sicu…dimanakah aku mendapatkan seorang tabib ?” “apakah taihap perlu seorang tabib ?”

“benar sicu, istri saya sepertinya sakit.”

“oh..kalau begitu tunggulah sebentar, A-bing…! kamu segera kerumah Gu-sinse, dan minta dia datang kesini untuk memeriksa tamu kita.” ujar pemilik likoan

“baik..tuan, saya akan segera kesana.”

“ya dan segera bawa kekamar she-taihap.” sahut pemilik likoan, A-bing mengangguk dan segera keluar likoan.

Tidak berapa lama Gu-sinse pun datang kekamar Kwaa-han-bu bersama A-bing

“apa yang bisa saya bantu she-taihap ?” “istri saya shinse, dia muntah-muntah entah kenapa, tolong diperiksa.”

“baik..baik…” sahut Gu-sinse sambil melangkah mendekati ranjang dimana Kwee-kim-in terbaring dengan wajah pucat.

Gu-sinse memegang pergelangan tangan Kwee-kim-in, lalu melihat wajah kwee-kim-in yang pucat, wajah Gu-shinse terlihat heran dan terkesima

“maaf nyonya, aku hendak meraba bagian perut nyonya.” ujar Gu-sinse, dan mukanya makin terkesima bahkan terkejut, kemudian dia pun tertunduk lalu tersenyum sendiri, Kwaa-han- bu dan Kwee-kim-in yang melihat Gu-sinse senyum jadi heran “bagaimana shinse ? sakit apakah saya ?” tanya Kwee-kim-in “sudah berapakah umur nyonya ?” tanya Gu-sinse balik bertanya

“masuk lima puluh tiga shinse.” jawab Kwee-kim-in “hehehe..hohohoho…luar biasa, jika Thian berkehendak apapun bisa terjadi.”

“apa maksudnya shinse ?” sela Kwaa-han-bu, Gu-sinse berdiri dari ranjang dan duduk di kursi, Kwaa-han-bu duduk juga duduk didepan Gu-sinse

“katakanlah shinse, apa yang terjadi dengan istri saya ?” tanya Kwaa-han-bu sambil memandang cemas pada istrinya yang sudah duduk menatapnya dengan wajah sedikit bersemu merah

“she-taihap perkiraan kita dengan umur nyonya yang sudah diatas limapuluh tidak lagi akan mempunyai anak, selamat she- taihap nyonya sedang hamil.” Jawab Gu-sinse, sesaat Kwa- han-bu tercenung mendengar jawaban Gu-shinse, namun kemudian wajahnya merona merah dan senyumnya pun muncul, hatinya yang suka cita nampak jelas tergambar pada wajahnya, ucapan selamat Gu-sinse disambut hangat dan senyum bahagia

“terimakasih shinse, jika demikian kenyataannya syukur pada Thian akan berkah dan anugrah ini.”

“benar taihap, sekarang saya permisi dulu.”

“baik…baik shinse dan sekali lagi terimakasih.” sahut Kwaa- han-bu, setelah Gu-sinse keluar, Kwaa-han-bu memeluk mesra istrinya

“In-moiku sayang, Thian mengamanatkan anak lagi untuk kita.” ungkapnya penuh rasa bahagia, Kwee-kim-in dengan hangat menyambut pelukan suaminya

“aku juga merasa bahagia koko.” bisiknya lembut dekat telinga suaminya.

Tiga hari kemudian pasangan tua yang berbahagia itu melanjutkan perjalanan, sehingga membawa mereka ke Goat- kok yang indah, waktu senja mereka sampai di lembah tersebut, mereka duduk istirahat sambil menikmati indahnya hamparan bunga kanoka, seiring hembusan angin sepoi-sepoi yang mebelai tubuh mereka

“tempat ini sungguh indah Bu-ko.” ujar Kwee-kim-in “benar sekali In-moi, hampatan bunga kanoka itu laksana permadani berkilau emas, dan lautan yang terhampar luas disebelah utara itu juga menyamankan pikiran.” “Bu-ko…aku ingin kita tinggal disini, dan melahirkan anak kita.” “baiklah In-moi, besok kita akan mendirikan pondok untuk berdiam disini, dimanakah sebagusnya menurutmu sayang kita dirikan pondok ?” sahut suaminya dengan nada sayang.

“dilereng bagian utara itu sepertinya cocok, karena arealnya lapang.”

“baiklah In-moi, besok kita akan mendirikan pondok disana, dan malam ini kita akan tidur di alam terbuka berlantaikan tanah dan beratap langit, sekaligus berlampukan hamparan bintang dan sinar rembulan.”

“hihi…hihi….koko puitis sekali.” sela Kwee-kim-in, Kwaahan-bu merangkul istrinya dan mengajaknya baring diatas rerumputan, sesaat ia memandang mata indah istrinya, kemudian bibirnyapun melumat mesra bibir istrinya.

Kwee-kim-in membalas hangat kecupan dan lumatan suaminya, malam penuh bintang dan sinar bulan setengah menjadi saksi bisu kemesraan suami istri yang saling mencinta itu, malampun merayap dengan tenang seiring hembusan angin malam yang dingin serta nyanyian serangga malam, namun bagi pasangan sakti yang terlelap dalam birahi cinta itu tidak merasakan apa-apa kecuali hanya kehangatan dan kenyamanan nikmatnya hubungan suami sitri.

Keesokan harinya Kwaa-han-bu mencari kayu untuk membangun pondok, dengan semangat dan hati gembira Kwaa-han-bu mendirikan pondok yang terdiri dari sebuah kamar, ruang tengah yang cukup luas dan dapur yang, juga pondok itu memiliki teras dengan pagar bambu kuning, dalam dua minggu Kwaa-han-bu sudah menyelesaikan pekerjaannya, Kwee-kim-in tidak ikut membantu suaminya untu bekerja berat, karena hamilnya semakin besar, Kwee-kim-hanya menyiapkan makanan untuk suaminya.

Beras dan lauk pauk mereka tidak khawatir, karena ada sebuah desa bernama Yaning sejauh dua mil dari kaki bukit ke arah kota Qingdao, hari-hari mereka lalui dengan rasa bahagia sambil menunggu kelahiran bayi mereka, hingga saat melahirkan tiba seorang dukun beranak dari desa Yaning sudah berada didalam pondok, sementara bibi pok panggilan dukun beranak menuntun Kwee-kim-in, Kwaa-han-bu menyiapkan air panas dan hangat didapur, setelah itu ia membawa kedalam kamar, Kwee-kim-in atas aba-aba bibi pok berusaha mendorong bayinya, keringat Kwee-kim-in sudah membanjir, dan wajahnya demikian pucat, ketika matahari naik sepenggalah dan sinar matahari mulai terasa panas, Kwee-kim- in pun melahirkan bayinya, suara tangis yang keras dan lantang bergema di lereng bukit tersebut.

Kwaa-han-bu memegang lengan istrinya yang pucat dan terpejam,nafasnya memburu, hati Kwaa-han-bu miris melihat wajah istrinya yang tercinta, bibi pok membersihkan bayi mungil dan sehat

“koko, mana anakku ?” tanya Kwee-kim-in lemah “sebentar si bibi lagi memandikannya.” “bawalah anakku kesini koko !” pinta Kwee-kim-in semakin lemah, sementara tubuh bagian bawah Kwee-kim-in terus mengeluarkan darah persalinan, bibi pok dayang menggendong bayi laki-laki yang sehat

“ini anaknya nyonya, laki-laki.” ujar bibi Pok, Kwee-kim-in memeluk anaknya, matanya berkaca-kaca.

“In-moi apakah kamu baik-baik saja ?” tanya Kwaa-han-bu dengan nada cemas

“koko, ini anak kita, siapakah namanya koko ?”

“nama..? “ sesaat Kwaa-han-bu terdiam, lalu kemudian menjawab saat melihat istrinya membuka mata setelah terpejam beberapa saat

“nama anak kita adalah Kwaa-han-jin.”

“han-ji…sepertinya ibu tidak akan akan bersamamu, jagalah ayah dengan baik.”

“in-moi…In-moi…apa yang kamu katakan itu.” jerit Kwaa-han- bu dan air matanyapun bersimbah, ingin rasanya rasa sakit istrinya dia ambil, sesat mata Kwee-kim-in terpejam dan berusaha menenangkan nafasnya yang memburu

“koko, Thian sepertinya akan memanggilku, a..aku menyayangimu koko, tapi waktuku sepertinya sampai disini, ja..jagalah anak-anak kita, se..selamat tinggal koko… a..aku be…be…rang…kat…ko….ko….” nyawa Kwee-kim-in pun meninggalkan raganya, Kwaa-han-bu sambil memeluk anaknya menunduk menciumi istrinya dengan simbahan uraian air mata, bibi pok terlihat sesugukan menangisi kepergian Kwaa-hujin. Satu jam kemudian Kwaa-han-bu menyusut air matanya “bibi pok terimakasih atas usahanya, apakah bibi-pok akan segera kembali kedesa ?”

tanya Kwaa-han-bu dengan nada tenang

“biarlah aku kembali besok siang saja, setelah nyonya di kebumikan.”

“baiklah kalau begitu bibi pok, sekarang coba kita bersihkan ranjang ini dan menukarnya dengan yang baru.” ujar Kwaa- han-bu, bibi-pok mengangguk, Kwaa-han-bu meletakkan Jin- han dan menggendong jasad istrinya, bibi pok segera menarik sprei bekas persalinan yang penuh bercak darah, kemudian dengan cekatan mengganti spreinya, lalu Kwaa-han-bu pun kembali meletakkan jasad istrinya.

Kwaa-han-bu berasama anaknya menunggui jasad Kwee-kim- in, sementara bibi pok memasak nasi didapur, saat malam pun tiba, merekapun makan, Kwaa-jin-han malam itu sangat kalem, oleh bibi-pok memberikan madu sebagai makanannya, malam itu dilewatkan dengan keheningan yang mencekam, wajah Kwee-kim-in nampak begitu tenang dalam tidurnya yang panjang.

Keesokan harinya Kwaa-han-bu menggali kuburan di belakang pondok, lalu saat matahari terbit Kwaa-han-bu meletakkan istrinya dalam kubur, dan kemudian menguruk kembali tanah galian, gundukannya sedikit agak tinggi dan berbentuk bulat, dan diatasnya diletakkan batu nisan yang sudah dibentuk dan bertuliskan “makam istri tercinta Kwee-kim-in, diujung nisan dibuat bentuk bintang bersegi enam, sama halnya dengan nisan semua istrinya, enam segi itu melambangkan enam istrinya, dan kenyataannya enam istri Kwaa-han-bu, tiga orang terkubur disatu tempat yakni di Kun-leng, dan tiga istri lainnya berpencar, Cia-sian-li terkubur dibawah jurang di kota Hanzhong, Can-hang-bi di Jim-kok kota Bao, dan Kwee-kim-in di tempat ini, di Goat-kok kota Qingdao

Siang harinya Kwaa-han-bu mengantar bibi pok kedesa Yaning, sekalian memasan susu perah untuk makanan anaknya, kemudian dengan bekal sebulan Kwaa-han-bu kembali kelembah dan naik kelereng tempat kediamannya. Kwaa-han- bu adalah manusia sakti dengan keuletan dan kesabaran yang tinggi, dengan sepenuh hati anak bungsunya itu diasuh dan dipelihara sepenuh hati, tubuh tua itu demikian telaten merawat anaknya, tiap bulan ia membawa anaknya menuruni bukit dan mengambil perbekalan didesa yaning.

Tidak terasa dua tahun sudah berlalu, Kwaa-han-jin telah pandai duduk dan merangkak, pagi itu sebelum matahari terbit, Kwaa-han-bu bermain-main dengan anaknya, tubuh han-jin yang mungil dan sehat dilempar berkali-kali keatas, lalu ditangkap sambil mengajak anaknya bergurau, ketika matahari terbit ayah dan anak itu menikmati sinar matahari, Han-jin duduk dipangkuan ayahnya yang bersila, jenggot ayahnya yang putih berjuntai jadi mainannya sambil rebahan diatas dada ayahnya. Setelah panas matahari sudah menyengat kulit, Kwaa-han-bu berdiri, dan tiba-tiba ia mendengar dari atas pekik burung rajawali raksasa, diatas permukaan laut yang biru burung itu melayang dengan gagahnya, selama hampir tiga tahun, tidak ada tanda-tanda keberadaan rajawali tersebut, tapi pagi itu ia melayang rendah diatas permukaan laut dan hinggap disebuah tebing batu yang terjal dipinggir laut, kepakan sayapnya mambuat mata biasa dapat melihatnya dari lereng kediaman Kwaa-han-bu, terlebih mata seawas Im-yang-sin-taihap. Kepala burung itu putih sementara bulunya berwarna coklat, kakinya berwarna kuning keemasan.

Kwaa-han-bu masuk kembali ke dalam pondok dan memeberi makan anaknya, demikianlah hari-hari yang dilalui Im-yang-sin- taihap, setahun sudah lewat, dan burung rajawali tersebut masih berkeliaran mengelilingi lembah dan permukaan laut, pagi setelah menikmati sinar matahari pagi, burung itu kembali memekik dicakrawala, Kwaa-han-bu sambil menggendong putranya mengikuti rajawali, dengan menerobos hutan disebelah timur, Kwaa-han-bu mendekati tebing sarang rajawali, bagi Im-yang-sin-taihap tidak ada halangan untuk mendatangi sarang tersebut walaupun diatas tebing terjal.

Dengan ilmunya yang luar biasa Kwaa-han-bu sudah berada diatas tebing, permukaan tebing itu amat luas dan berbatu-batu dan pada satu sisi permukaan tebing ada sebuah goa besar namun tidak dalam, karena lorongnya hanya empat tombak kedalam, mulut goa itu hampir ditutupi tubuh rajawali, rajawali bergerak leluasa dimulut goa, ketika rajawali melihat Kwaa-han- bu, matanya yang tajam menyorot tajam, rajawali bergerak maju dan keluar dari mulut goa, ia merasa tidak senang dengan kehadiran kwaa-han-bu, patuknya laksana kilat meluncur kearah kepala Kwaa-han-bu, namun patukan itu gagal karena Kwaa-han-bu lebih cepat berkelit.

Rajawali merasa penasaran, lalu ia pun mematuk kembali, namun hasilnya gagal lagi, berkali-kali ia mematuk, namun selalu luput, saking marahnya rajawali terbang berputar dua kali diatas permukaan tebing, lalu dengan gesit ia menyerang

Kwaa-han-bu, kwaa-han-bu tidak lagi mengelak tapi menyambut rajawali dengan sebuah pukulan dahsyat “kwekkkk….” pekik rajawali, bulu coklatnya bertebaran, rajawali kembali mengambil ancang-ancang dan menyerang, pertempuran unik pun terjadi, anak manusia bertempur hebat dengan rajawali raksasa.

“kwaa-han-bu sambil menggendong putranya bergerak cepat dan gesit, dan tiga puluh jurus kemudian, Kwaa-han-bu dapat mencengkram bulu leher rajawali, dan dengan ringan menunggang punggung rajawali, rajawali itu panik, dan terbang membumbung tinggi keangkasa, Kwaa-han-bu dengan ketukan pada leher membuat rajawali itu memekik kesakitan, setelah dua jam berputar-putar diangkasa akhirnya rajawali itu menyerah dan takluk

“Pek-thouw, kita kelembah dibawah sana !” teriak Kwaa-han-bu sambil menunjuk kebawah kedaratan hamparan bunga kanoka, rajawali itu pun menukik kearah lembah, persis didepan pondok rajawali mendarat.

Kwaa-han-bu turun dari punggung rajawali, dan mendarat ringan diatas tanah

“pek-thouw tunggu disini dan jangan pergi kemana-mana.” ujar Kwaa-han-bu, namun rajawali itu hendak pergi, dengan sigap “pek-thouw..” panggil kwa-han-bu dengan sirapan singkang, suara itu hanya pelan, namun akibatnya bagi rajawali, membuat ia sempoyongan dan memuntahkan liur yang banyak, muntahan itu muncrat mengenai wajah Kwaa-han-jin, yang sedang menguap setelah tertidur karena nyamannya hembusan angin cakrawala, air liur sontak tertelan Kwaa-han- jin, Kwaa-han-jin menjilati bibirnya dan menelan liur itu kembali, sementara kwaa-han-bu membersihkan dadanya dan muka anaknya

“jangan pergi pek-thouw !” bentak Kwaa-han-bu, rajawali itupun kembali mendekam dan bahkan menganggukkan kepalanya ketanah.

Kwaa-han-bu masuk kedalam pondok, ia membersihkan tubuh kwaa-han-jin dan mengganti bajunya, lalu ia pun menngganti bajunya yang kotor, lalu dengan menggendong Kwaa-han-jin ia keluar menemui rajawali yang sudah manut, Kwaa-han-bu berkata-kata sambil berisyarat didepan rajawali, hal itu dilakukan berulang-ulang, ternyata Kwaa-han-bu sedang mengajari rajawali untuk memahami berbagai isyarat yang ditunjukkannya. Kadang kwaa-han-bu menyuruh rajawali terbang, kemudian dengan sebuah switan ia memanggil kembali, dan rajawali itu pun datang kembali.

Sampai sore Kwaa-han-bu berkata dan berisayarat dengan burung rajawali, sementara Kwaa-han-jin tertidur pulas di teras pondok, hari demi hari pun berlalu, dan setahun lagi sudah lewat, umur Kwaa-han-jin sudah empat tahun, dan dia sudah dapat berlari kencang, dan berbicara dengan fasih, dan rajawali juga sudah akrab dan manut pada Kwaa-han-bu, sejak umur empat tahun Kwaa-han-bu pun mulai mengenalkan tulis baca pada anaknya, daya tangkap Kwaa-han-jin memang kuat, otaknya cerdas.

Ketika umur lima tahun Kwaa-han-jin disamping belajar sastra dari buku-nuku yang dibawa Kwaa-han-bu dari desa Yaning, Kwaa-han-jin juga mulai mendapat pelajaran teori silat, gerak tangan , melatih kuda-kuda, ilmu pernafasan, setiap pagi dinihari Kwaa-han-jin melatih teori dasar ilmu silat, dan setelah siang ia belajar sastra, saat menjelang sore, ia kembali melatih dasar gerakannya, semua itu berjalan dibawah pengawasan ayahnya yang penuh perhatian, dan teman bermainnya pek- thouw.

Tiga tahun kemudian, saat umur delapan tahun, Kwaa-han-jin mulai mempelajari ilmu-ilmu ayahnya yang luar biasa, empat ilmu leluhurnya mulai ia serap, “Bu-tek-cin-keng” dengan intisarinya “siulian-tin-liong, “hun-kong-coan-im”, “goat-koan- sim-hang”, “Siu-to-Po-in”, dan “san-phak-eng-coan”, lalu kemudian “im-yang-sian-sin-lie, Im-yang-bun-sin-im-hoat, dan “im-yang-pat-sin-im-hoat” empat pelajaran itu dapat dikuasai dengan baik oleh Kwaa-han-jin selama delapan tahun.

Umur enam belas tahun ia sudah dapat melayani ayahnya sampai ratusan jurus, lalu tanpa lelah Kwaa-han-bu yang sudah berumur tujuh puluh delapan tahun itu mewariskan ilmu ciptaannya yang terakhir yakni “wei-cu-sin-ciang” (telapak sakti mustika rasa, ilmu ini berpondasi tenaga “Wei-si-sin-siulian” (semedi sakti empat rasa), selama empat bulan Kwaa-han-jin mendawamkan siulian dan rafalan kalimat berupa

Diri hanyalah jasad yang berpadu dengan ruh yang dipinjami JIka yang meminjamkan mengambil tiada sesuatu yang merugi Sesuatu yang berlaku sesuai kehendak yang memiliki

Tiadalah alam dapat menyalahi kecuali pemilik memberkati

Setelah itu Kwaa-han-bu mengajarkan gerak pengunnaan tenaga dalam empat tahapan jurus sesuai empat posisi siulian duduk dengan telapak tangan menegadah keatas, duduk dengan kedua tangan disatukan, berdiri dengan kedua tangan disatukan, dan berdiri dengan kedua tangan disatukan diatas kepala, masing-masing posisi memiliki empat kembang gerakan untuk mengeluarkan tenaga super dahsyat tersebut, dan jika enam belas kembang gerakan itu disatukan dalam satu gerakan, maka tenaga yang keluar akan mengeluarkan empat cahaya kilat, yakni merah, hijau, kuning dan biru. Kwee-han-jin dapat menguasai ilmu itu dalam kurun waktu setahun, umur tujuh belas tahun Kwaa-han-jin telah menyerap seluruh warisan ayahnya, suatu hari Kwaa-han-bu setelah menikmati sinar mentari pagi memanggil anaknya

“jin-ji….kemarilah !” serunya lembut, han-jin segera mendekati ayahnya, dan duduk didepan ayahnya

“jin-ji, sebentar lagi kamu akan turun gunung dan akan menghadapi keras dan pedasnya dunia, jadi dengarlah petuah ayah ini !”

“anak siap mendengarnya ayah !”

“Jin-ji masa yang dilalui manusia yang berumur panjang dalam hidup ini ada lima, apakah yang lima itu ? yang lima itu adalah masa manangis saat kamu baru lahir sampai umur tujuh tahun, saat itu kamu tahunya hanya menangis, basah celanamau kamu menangis, kamu lapar kamu menangis, setelah itu saat engkau memasuki umur delapan tahun sampai lima belas tahun kamu memasuki masa mengemis, masa ini kamu tahunya hanya meminta ini dan itu, masa yang ketiga adalah masa menimbang, yakni umur enam belas tahun sampai dua puluh satu tahun, pada masa ini kamu menhgadapi dilema keraguan, dihadapkan pada berbagai pilihan, kemudian masa yang keempat adalah masa berpikir, dari umur dupuluh dua sampai umur lima puluh tahun, dan masa yang kelima adalah masa menyesal, yakni dari umur lima puluh tahun sampai ajal menjelang, jadi Jin-ji pandai-pandailah menimbang pada masa menimbang supaya saat memasuki masa berpikir kamu memiliki pikiran yang cemerlang, sehingga kamu baik dan bijak dalam segala permasalahan, dan pada gilirannya kamu tidak menjalani masa menyesal.” ujar Kwaa-han-bu dengan jelas dan lembut, Kwaa-han-jin meresapi kata-kata ayahnya dengan tekun dan mematrikannya dalam hati.

Kemudian anakku dalam diri manusia itu ada tiga khazanah diri, yakini akal, nafsu dan hati, dan masing-masing khazanah memiliki tiga karakter, karakter pada akal adalah licik,picik dan cerdik, karakter pada nafsu ada senang, menang dan kenyang, kemudian karakter pada hati ada cinta, kasih dan sayang, dari tiga khazanah, dua khazanah cendrung merusak yakni pikir dan nafsu, karena karakter didalamnya dominan hal yang tidak baik, namun kedua khazanah ini dapat dikendalikan, jika manusia itu memiliki dua ilmu.”

“apakah dua ilmu itu ayah ?” tanya Kwaa-han-jin “dua hal itu adalah ilmu pikir dan ilmu zikir, akal harus

dikendalikan oleh ilmu pikir sementara nafsu dikendalikan oleh ilmu zikir.”

“apakah itu ilmu piker dan Ilmu zikir ayah ?”

“ilmu pikir adalah pemahaman baik dan buruk, salah dan benar, sementara ilmu zikir adalah pemahaman dalam dan luar diri, sisi gelap dan terang diri, jadi jika akal sudah dikendalikan pemahaman salah san benar, baik dan buruk maka tiga karakter akal tadi tidak akan mencuat dalam prilaku, mau bagaimana berbuat licik dan picik muncul, jika manusia itu sudah paham akan salah dan benar, kemudian jika nafsu sudah dikendalikan pemahaman dalam dan luar, sisi gelap dan terang diri, maka tiga karakter nafsu tidak akan muncul dalam prilaku, mau bagaimana ingin senang, menang maupun kenyang timbul, jika manusia itu sudah memahami dirinya sendiri dan sesuatu diluar dirinya, mengertikah engkau nak ?”

“mengerti ayah, petuah ayah akan selalu anak ingat sebagai bekal diri menjalani hidup.”

“bagus anakku, berusahalah sekuat hati, tenaga dan pikiranmu untuk tidak mengecewakan dirimu, dan berupayalah menjaga dirimu dihadapan penciptamu yang tidak pernah kecewa.” “apakah maksud pencipta saya yang tidak pernah kecewa ? jika Thian tidak pernah kecewa, lalu untuk apa saya berusaha ayah ?”

“Jin-ji, apapun yang kamu lakukan dalam hidup ini bagi Thian tidak ada pengaruh, Thian hanya memberi hukum, baik kamu akan Thian hukum dengan baik, jahat kamu, Thian hukum dengan jahat, jadi jangan merasa jika kamu jahat maka Thian akan kecewa sehingga menghinakanmu, tidak, dasar Thian menghinakanmu bukan karena ia kecewa tapi karena memang kamu jahat, begitu juga sebaliknya dasar Thian meninggikanmu bukan karena Thian bangga padamu, tapi karena kamu memang baik.” Jelas Kwaa-han-bu, Kwaa-han-jin mengangguk paham setelah mendengar penjelasan ayahnya.

Siang harinya merekapun masuk kedalam untuk makan siang, banyak nasihat dan wejangan yang disampaikan oleh Kwaa- han-bu pada anaknya, sepertinya seluruh kebijakan hidupnya di beberkan didepan anaknya, dan ternyata setelah tiga bulan kemudian Kwaa-han-bu pun sakit, dan hanya selama tiga hari sakit, ditengah kelarutan malam Kwaa-han-bu pun menutup mata meninggalkan putra bungsunya bersama Pek-thouw. sesaat kesedihan pemuda gembelengan itu menangisi kepergian ayahnya, dan keesokan harinya dengan hati yang tegar dan jiwa yang tenang Kwaa-han-jin menguburkan ayahnya disamping pusara ibunya, sebuah batu nisan pun diletakkan diatas kubur, Kwaa-han-jin membuat nisan yang sama bentuknya dengan nisan ibunya, sama-sama memiliki bintang segi enam diujungnya, dinisan tertera tulisan “makam ayahanda tercinta Kwaa-han-bu”

Jauh dari Qingdao tepatnya di Heng-sing-kok dekat kota Guangdong, pemghuni rumah megah di lembah itu sedang mengadakan pesta, pesta sangat ramai oleh undangan yang datang dari berbagai tempat, rata-rata undangan dari kalangan kangowu, dan ada juga dari kalangan pembesar pemerintahan dari Guangdong, pesta itu merupakan dukungan pada pemilik lembah untuk menjadi bengcu wilayah selatan yang akan diadakan dikota Guiyang lima belas hari bulan ketujuh.

Pemilik lembah itu adalah lelaki tampan berumur tiga puluh tahun, namanya adalah Tio-cun dan dikenal dengan julukan “Lam-liong-sian” (dewa naga dari selatan) dia adalah murid dari pemilik heng-sing-kok yang bernama Tan-lou-pang salah seorang dari rekanan Kwi-sian-pat, Tan-lou-pang memberikan bimbingan pada muridnya hanya selama lima tahun, karena Tan-lou-pang meninggal dunia oleh kerentaan dan penyakit yang ia derita. Sebagaimana kita ketahui bahwa Tan-lou-pang dan tujuh rekannya dilemparkan oleh she-taihap kelaut, diantara mereka yang hidup hanyalah Tan-lou-pang sendiri dan seorang rekannya yang bernam Suma-xiau, ditengah lautan yang luas perahu mereka diombang-ambing oleh gelombang, pada hari kedua dua rekanan yang masih hidup itu siuman karena panasnya terik matahari, dengan lemas dan kehausan mereka berusaha duduk

“bagaimana keaadanmu she-tan ?” tanya Suma-xiau “luka yang kuderita cukup parah, aku tidak bisa lagi mengerahkan sin-kang.”

“begitu juga denganku she-tan, terlebih pinggulku juga sudah hancur remuk.”

“tidak dinyana bahwa putra Ui-hai-liong-siang telah menunggu kita.”

“sudahlah she-tan, hari ini kita kalah, namun kita akan mempunyai kesempatan untuk menghabisi she-taihap.” “maksudmu apa she-suma !?”

“jika tidak kita yang menghabisi she-taiihap, akan tetapi kita masih bisa mencari murid dan mewariskan ilmu-ilmu kita kepada murid tersebut.”

“apakah kamu akan mengambil murid she-tan ?”

“benar, itulah yang aku inginkan sekarang, sehingga suatu saat nanti ia akan membalaskan dendam kita pada she-taihap”

“kamu memang benar she-suma, ide itu cukup menjanjikan menurut saya.”

“dan juga terlebih she-tan bahwa kumpulan kitab kita berdelapan tersimpan di kota Bao, jika kita bagi kitab itu dan kita warsikan pada murid kita, tentunya murid kita akan menjadi seorang yang luar biasa saktinya.”

“hmh….benar pendapatmu itu she-suma, jadi yang pertama yang kita lakukan setelah sampai didaratan besar adalah kembali kekota Bao dan mengambil kitab-kitab tersebut.” ujar Tan-lou-pang, Suma-xiau mengangguk membenarkan.

Kemudian keduanya dengan susah payah menggulingkan enam rekan mereka kelaut, setelah itu keduanya dengan tenaga luar seadanya mendayung perahu, untungnya keesokan harinya hujan turun, dengan berbaring dan muka menegadah kelangit keduanya membuka mulut dan meminum air hujan, kerongkongan mereka yang kering sudah basah kembali oleh sejuk dan segarnya air hujan, sedikit banyaknya tenaga mereka yang mendayung seharian pulih kembali, lalu keduanya kembali mendayung perahu menuju daratan besar.

Selama dua minggu dua rekanan itu terlunta-lunta dilaut, dan akhirnya mereka mencapai daratan besar, mereka keluar dari perahu, lalu berenang dan merayap ketepi pantai dan masuk ke dalam hutan belukar, keduanya bersandar di pohon, didalam hutan sambil mencari makanan, tan-lou-pang juga mencari daun obat untuk menyembuhkan luka dalam mereka, usaha mereka yang tidak kenal menyerah itu membuat mereka selamat dari derita luka dalam yang mereka derita, selama setahun mereka berkeliaran di tengah hutan tersebut.  Keduanya memang sudah menjadi orang awam yang mengandalkan tenaga luar, bahkan suma-xiau menjadi cacat, karena sekarang ia berjalan dengan bantuan tongkat kayu, berhari-hari mereka berjalan menelusuri hutan, seminggu kemudian merekapun dapat keluar dari hutan, disebuah desa yang cukup ramai mereka istirahat

“she-suma supaya perjalanan kita dapat cepat, kita harus mencari kuda.”

“benar, apakah kita akan mendapatkan kuda didesa ini ?” “tidak tahu juga, marilah kita lihat !” sahut Tan-lou-pang sambil bangkit dan membantu suam-xiau berdiri dengan tongkatnya.

Mereka melewati sebuah rumah yang cukup besar dan mewah “mungkin ini rumah tuan tanah, dan besar kemungkinan ia memiliki kuda.” ujar Tan-lou-pang, keduanya memasuki halaman rumah, seorang lelaki tua berpakan mewah keluar bersama empat orang anak buahnya, dengan muka mununjukkan marah, seorang dari empat orang membentak “kalian ini siapa, kenapa lancang memasuki rumah Bu-loya !?” “kami ini membutuhkan kuda, apa kalian punya kuda ?”

“sialan mau cari mampus yah, ditanya malah balik bertanya.” Bentak orang itu, lalu dengan tangannya yang kuat dan kekar melayang menampar Tan-lou-pang, Tan-lou-pang mencoba menagkap tangan orang itu

“buk…eh…eit…plak..plak…auuggghh….” dua lengan beradui, Tan-lou-pang sempoyongan hingga ia terkejut, lelaki besar itu cepat dan kuar menarik leher baju Tan-lou-pang, sehingga tubuh Tan-lou-pang doyong kedepan, dan dua buah tamparan kuat mebersarang dikedua pipinya yang kempot, Tan-lou-pang menjerit kesakitan, kasihan memang dua rekanan itu, awalnya mereka adalah pesilat tangguh dan luar biasa, namun hari ini mereka tidak obahnya manula yang lemah dan rapuh.

“enyah kalian dari sini, sebelum kalian kuhajar sampai babak belur.” bentak lelaki itu, dua rekanan itu pun dengan tertatih- tatih keluar dari halaman tuan tanah.

“jika sudah begini aku tidak yakin kita akan sampai ke kota Bao dan menyusun cita-cita kita.” ujar Tan-lou-pang dengan nada putus asa, sambil meraba pipinya yang masih panas bekas tamparan, dan dari sudut bibirnya mengeluarkan darah, “marilah kita duduk dulu untuk memikirkan jalan keluar yang lain.” sahut Suma-xiau, lalu keduanyapun duduk dipinggir jalan

, beberapa ibu-ibu dengan menjinjing keranjang belanjaan lalu lalang sambil mengobrol.

Kehadiran mereka yang tua, kotor dan kumal tidakpun sedikit digubris, karena keduanya disangka orang terlantar dan pengemis, seorang kongcu dan seorang gadis cantik lewat dengan menunggang kuda

“Ci-moi, hari ini aku akan membawamu kesebuah tempat yang indah.”

“dimanakah itu liem-koko ?” tanya sigadis dengan raut wajah senang

“dikota Qingdao, kamu tidak akan mendapatkan tempat seindah yang akan kita lihat.”

“marilah kita kesana koko, aku sudah tidak sabar ingin melihatnya.” sahut gadis yang ternyata tamu sipemuda dari kota Qingdao, kuda mereka sedikit dihentak, sehingga dari berjalan biasa menjadi lari congklang.

“mari kita ikuti kedua orang itu she-tan, mereka mungkin sepasang tunangan, kita akan mencuri kuda mereka jika ada peluang.” ujar Suma-xiau, Tan-lou-pang juga berpikiran sama, ia pun berdiri dengan semangat dan membantu Suma-xiau berdiri, lalu keduanya berjalan kearah perginya kedua muda- mudi itu, mereka sudah berjalan dua jam dan susah diluar desa, namun dua bayangan muda-mudi itu tidak kelihatan. “disana ada sungai, mari kita kesana untuk mandi dan menyegarkan diri.” ujar Tan-lou-pang, tanpa menjawab suma- xiau mengikuti langkah Tan-lou-pang, ketika keduanya sudah dekat, keduanya melihat dua kuda muda-mudi tertambat, mata mereka mencari-cari kedua muda-mudi itu.

“ini kesempatan kita, mari kita ambil kudanya.” bisik Tan-lou- pang dengan gembira, lalu keduanya mendekati kuda, Tan-lou- pang membantu Suma-xiau naik kepunggung kuda, setelah itu ia pun naik, lalu keduanya melarikan kuda dan meninggalkan desa, kedua muda-mudi ternyata menyeberang sungai, dan diseberang sungai ada setumpuk kebun-kebun warga, dan setelah tumpukan kebun itu akan berakhir pada sebuah tebing, dua sejoli itu ternyata duduk bermesraan sambil menikmati pemandangan yang luas dan indah dibawah tebing, yang merupakan hamparan permukaan danau yang diatasnya mengambang bunga teratai dengan aneka warna bunganya, pemandangan itu memang indah dilihat dari atas, sepasang kekasih itu tidak menduga bahwa kuda meraka akan dicuri, karena orang desa kenal betul dengan kuda milik tuan tanah.

Tan-lou-pang dan Suma-xiau membalakan lari kuda melintas jalanan kecil berbatu, sehari semalam mereka membalapkan kuda, menjelang siang keduanyapun sampai di kota Qingdao, kedua ekor kuda itu disembunyikan dan merumput di sebuah bangunan tua dipinggir kota, lalu Tan-lou-pang dan Suma-xiau mengemis dijalanan, untungnya dua hari mereka mengemis di kota Qingdao mereka dapat bebrapa tail tembaga dan beberapa sen, setelah keduanya membeli bekal perjalanan selama dua hari mereka meninggalkan kota Qingdao.

Perjalanan itu memang sangat lambat, karena seringnya mereka berhenti untuk mengemis, akhirnya enam bulan kemudian mereka sampai dikota Bao, segera mereka menuju markas, namun markas itu sudah tinggal puing-puing berserakan dan sudah ditumbuhi semak belukar, keduanya tidak lagi memikirkan bagaimana dan siapa yang membakar dan menghancurkan kediaman mereka, keduanya segera menuju sebuah bagian belakang dan menggali tanah dekat kolam ikan.

Hampir empat jam mereka menggali, dan kemudian mengeluarkan sebuah peti besar, peti besar itu pun dengan susah payah dulu baru terbuka, didalam peti terdapat enam belas kitab mereka, lalu Tan-lou-pang mengambil kitab miliknya, begitu juga Suma-xiau mengambil kitab miliknya, dan tersisa lima kitab, dua kitab milik Ma-tin-bouw, satu kitab milik Bu-leng-ma, satu kitab milik she-zhang dan Yang, dan satu kitab milik sikembar Gu.

“kitab Ma-twako dan she-gu kamu ambil , dan saya ambil kita she-bu dan kitab sepasang she-yang dan zhang.” ujar Suma- xiau, Tan-lou-pang mengangguk.

“setelah ini kita akan berpisah she-tan.” ujar Suma-xiau “demikian juga boleh, aku akan kekota Heng-sing-kok di kota Guangdong.” sahut Tan-lou-pang

“baiklah , saya juga akan ke liong-teng di kota Yiming.” ujar Suma-xiau, lalu keduanya kembali menunggang kuda, Tan-lou- pang keluar dari pintu gerbang sebelah selatan, sementara Suma-xiau keluar dari pintu gerbang sebelah timur.

Tan-lou-pang memacu kudanya, dan sebulan kemudian ia sampai dikota kicu, ketika dia mengemis dijalanan dia melihat anak umur sebelas tahun sedang mencuri makanan disebuah kedai, pemilik kedai tidak menyadari, anak lelaki itu pergi kesebuah gang yang sepi dan memakan makan yang dicurinya “siapakah namamu bocah ?” tanya Tan-lou-pang

“saya Tio-cun, ada apa, kenapa nanya-nanya ?” jawab anak itu ketus

“maukah kamu ikut saya ?”

“ikut anda ? apa yang saya dapatkan jika saya ikut kamu orang tua, kamu juga seorang pengemis jalanan.” sahut Ti-cun

“aku ini orang kaya dan berada, kalau kamu ikut saya, kamu akan saya jadikan murid.”

Heheh..heheh orang tua kamu jangan kamu membual, kamu tidak kelihatan seperti orang kaya, dan juga tidak seperti ahli silat hebat.

“sekarang memang iya, tapi jika kita sampai di Guangdong kamu akan melihat kekayaan saya, dan dulu saya adalah pesilat yang ditakuti, karena kumpulan kami dikenal dengan sebutan Kwi-sian-pat.”

“hahaha..hahah…aku tidak percaya, kamu hanya penipu tua.”

Sahut Tio-cun mencela Tan-lou-pang

“saya memang tidak bisa membukitikan padamu, tapi percayalah.”

“hahaha..hehehe…mungkin kekayaanmu tidak dapat kamu buktikan kecuali kita ke Guangdong, namun ahli silat hebat, coba kamu tunjukkan meremas batu ini hingga hancur.” ujar Tio-cun.

“saya ini tidak bisa lagi besilat tapi benar saya dulunya ahli silat tinggi, karena saya membawa kitab-kitab saya,”

“benarkah orang tua, bagaimana kamu tidak bisa lagi bersilat ?” “karena saya ditipu musuh saya, sehingga saya terjebak.” “siapa musuhmu itu orang tua ?”

“musuh saya itu penghuni pulau kura-kura, mereka petarung yang handal, namun mereka curang mengeroyok saya, empat orang pimpinan pulau itu membuat saya seperti ini.”

“kenapa kamu menginginkan saya menjadi muridmu ?” “karena saya melihat bakat yang ada padamu sangat luar biasa, jika kamu mau sambil menuju Guangdong saya akan mulai membimbing kamu.”

“coba tunjukkan pada saya kitab-kitabmu orang tua !” ujar Tio- cun, Tan-lou-pang membuka buntalannya, dan lima buah kitab ada didalamnya, Tio-cun membaca kitab-kitab tersebut, dan tertarik dengan nama-nama kitab yang tertulis disampulnya. “ktab-kitabnya sungguh menarik .” ujar Tio-cun dengan wajah terkesima.

“ternyata kamu juga pandai membaca.”

“tentu dong orangtua, walau begini aku dulu pernah belajar tulis baca.”

“apakah kamu orang sini bocah ?” “tidak, aku dari desa diluar kota ini”

“lalu bagaimana kami terlunta-lunta dikota ini ?”

“ayahku dulu tuan tanah didesa kami, namun keluargaku menhgadapi warga yang memberontak, yang berakhir pada kematian seluruh keluaargaku, dan rumah kami juga dibakar, aku melarikan diri dari desaku, itu terjadi dua tahun yang lalu, keinginanku hanya untuk membinasakan seluruh warga desa itu.”

“kita berjodoh kalau begitu, jika engaku sudah menguasai kitab- kitan ini atas bimbinganku maka jangankan hanya desa, istana kaisar saja dapat kami obok-obok.”

“benarkah itu orang tua ?” ujar Tio-cun dengan sinar mata takjub.

“benar bocah, bagaimana ?”

“baiklah kalau begitu, aku akan menjadi muridmu suhu.” “hehehe..hehehe..bagus….bagus…. marilah ikut saya.” sahut Tan-lou-pang.

Sejak itu Ti-cun dalam perjalanan ke Guangdong menerima pelajaran dari Tan-lou-pang, dan disetiap desa dan kota yang dilalui mereka istirahat, Tio-cun yang mahir mencuri membuat Tan-lou-pang dapat mengatasi rasa laparnya, keberadaan muridnya ini sangat membantunya melakukan perjalanan, terutama masalah makan, sebaliknya Tio-cun dapat menyerap ilmu silat tan-lou-pang.

Akhirnya setahun kemudian merekapun sampai ke Heng-sing- kok, Ti-cun tidak menyangka bahwa suhu memang benar-benar kaya, kedatanga Tan-lou-pang disambut istrinya dan para pelayangiat, sebuah pesta diadakan untuk menjamu Tan-loo- pang yang hampir enam tahun meninggalkan Heng-sing-kok, “rajin dan giatlah belajar cun-ji supaya balas dendamku dan balas dendammu dapat kamu penuhi.”

“baik suhu, tecu akan berusaha keras.”

“bagus cun-ji, semua akan kuwariskan padamu, baik kitab- kitabku maupun Heng-sin-kok.” ujar Tan-lou-pang, Tio-cun merasa bangga dan senang, sejak itu ia dipanggil kongcu sebagaimana dulu ia rasakan didesanya.

“tio-cun pun belajar dengan giat, hingga empat tahun kemudian Tan-lou-pang meninggal dunia, walaupun pelajarannya belum selesai, namun berkat kecerdasan Ti-cun lima kitab pusaka gurunya dibaca dan dipelajari dengan tekun, hingga tujuh tahun kemudian kelima kitab suhunya sudah dikuasai, dalam umur dua puluh tiga tahun, Tio-cun menjadi kongcu tampan yang luar biasa sakti, ilmu-ilmu yang dikuasainya adalah “kwi-ban-ciang” dan “kwi-ban-lui-kong-kiam” peninggalan dari Ma-tin-bouw, “thian-te-liong-kun-hoat” dan “liong-ban-hai-hoat” dari sikakek kembar she-gu, “leng-sim-ciang” , sin-liong-siauw-sian” dan

“sin-bian-bi-sianli” dari suhunya sendiri.

Seluruh perguruan yang ada di Guangdong tidak ada yang dapat menandinginya, sehingga ia dijuluki “lam-liong-sian” (dewa naga dari selatan), Tio-cun selama tiga tahun menyusuri wilayah selatan menaklukkan berbagai pendekar dan perguruan, bahkan ia memasuki wilayah barat, julukannya semakin terkenal dan ditakuti karena disamping kesaktiannya yang luar biasa, Ti-cun juga suka menindas warga lemah seperti memaksa anak gadis orang melayani nafsu mesumnya, para pendekar yang berjiwa satria berusaha untuk melenyapkannya, namun sudah puluhan pendekar meregang nyawa ditanganya.

Kemunculan Lam-liong-sian membuat wilayah selatan bergolak, sehingga dari berbagai perguruan hendak menunjuk bengcu wilayah selatan, dan hal itu tersebar di seluruh pelosok, para golongan hitam sudah barang tentu mendukung Lam-liong- sian, sehingga mereka beramai-ramai datang menghadiri pesta yang diadakan Tio-cun “hahaha..hahhaa tanpa diadakan pibu pun nanti di guiyang bagi kita sudah jelas siapa yang akan menjadi bengcu, siapakah yang berani mati menghadapi Lam-liong-sian ?” teriak seorang lelaki bermuka hitam

“betul kata “hek-bin-kwi” (iblis muka hitam) terlebih dari golongan yang menamakan dirinya pendekar hanyalah delapan partai besar, dan beberapa kauwsu picisan, lalu “Hwi-I-kaipang” (pengemis baju kembang) dan sekelumit pendekar, sementara kita yang berkumpul disini terdiri dari utusan dari puluhan perguruan, belum lagi kalangan rampok dan bajak.” sela lelaki berperawakan kekar dengan parut dikeningnya, ditangannya ada senjata berupa dayung

“terimakasih …terimakasih hek-bin-kwi dan “kin-ban-hai-ma” (kuda laut selaksa kati) atas dukungannyya dan begitu juga dengan rekan-tekan semua, jika kita sudah menundukkan wilayah selatan maka kita akan mengembangkan sayap ke wilayah barat, dan nama saya disana juga sangat menggetarkan , jika saya sudah menjadi bengcu, maka seluruh kekuatan akan kita kendalikan, kebebasan dan keinginan kita akan kita lepaskan, harta yang melimpah akan mudah kita dapatkan.”

“hidup….Lam-liong-sian……” teriakan mereka pun bergema hingga tempat itu hangar bingar, terelbih ketika para penari dikeluarkan untuk menghibur, sorak-sorai pun terdengar disana-sini, kata-kata nakal pun terlepas tidak terkendali,

minuman arak makin membuat suasana makin panas, sebagian dari mereka tertawa-tawa sambil menari dan mencolek para penari, tawa cekikan para penari pun membuat suasana makin romatis.

Kita tinggalkan dulu pesta berbau miumunan keras itu, dan kita tengok kekota Datong sebelah selatan kota bejing, tepatnya di “sianli-teng” (puncak dewi), penguasa tempat itu adalah seorang wanita berumur du puluh tujuh tahun, namanya adalah suma-hoa, dan dikenal dengan sebutan “pak-giam-lo-sianli” (dewi maut dari utara), suma-hoa adalah murid dari suma-xiau.

Setelah suma-xiau berpisah dengan Tan-lou-pang, suma-xiau memacu kudanya kearah timur, ia mengadakan perjalanan berhari-hari tanpa henti, sehingga tiga minggu kemudian kudanya yang terus dipaksa mati lemas, kemudian melanjutkan perjalanan dengan bantuan tongkatnya, sehari perjalanannya yang lambat membuat ia kesulitan mendapat perkampungan, setelah dua hari tidak makan, ia pun pingsan ditengah jalan.

Sebuah rombongan piuawkiok dari Qinngdao hendak kekota Beijing, mereka melewati jalan setapak dimana Suma-xiau pingsan, kepala rombongan itu Lu-bian menyuruh berhenti “A-tang coba kamu perksa orang tersebut apakah ia masih hirup atau sudah mati.”

“baik twako..” sahut A-tang, lalu ia menddekati suma-xiau, A- tang memeriksa nadi dipergelangan tangan Suma-xiau. “orang tua ini masih hidup twako.”

“kalau begitu angkat kepinggir dan coba sadarkan !” sahut Lu- bian, A-tang menyiramkan air kemuka Suma-xiau, merasakan sejuknya air membuat suma-xiau sadar

“a..air…a..aku mau air….” ujarnya lemah, A-tang segera membantu suma-xiau meminumkan air

“siapakah kamu orang tua, bagaimana kamu pingsan ditengah jalan ?”

“aku orang tua cacat, dan aku belum makan sudah dua hari.”

Sahutnya memelas

“twako.. orang tua ini belum makan sudah dua hari.” “berilah dia makan !” sahut Lu-bian, A-tang mengambil makanan berupa dendeng kering.

Suma-xiau dengan cepat melahap dendeng kering itu

“hendak kemanakah kamu orang tua ?” tanya Lu-bian tiba-tiba mendekat

“saya hendak kekampung atau kota yang ada didepan.” jawab Suma-xiau

“bauk kami akan bawa kamu orangtua sampai kedesa qin- lung.”

“terimakasih sicu atas bantuannya.” sahut Suma-xiau, lalu rombongan itu pun melanjutkan perjalanan, Suma-xiau dimasukkan kedalam kereta barang, suma-xiau merasa nyaman hingga tertidur, dia bangun saat rombongan istirahat dan makan.

Dua minggu kemudian rombongan itu pun memasuki desa qin- lung

“kami hanya dapat membawa kamu orang tua sampai desa ini.” ujar Lu-bian

“baik..sampai disini juga sudah bagus, terimakasih.” sahut Suma-xiau sambil turun dari gerobak barang, kemudian rombongan itu pun melanjutkan perjalanan, suam-xiau berjalan dibantu tongkatnya, dan diemperan sebuah kedai minum ia duduk sambil menegadahkan tangan meminta belas kasihan orang-orang yang lewat.

Beberapa orang merasa kasihan dan memberikan uang ala kadarnya, Suma-xiau hampir sebulan berada di desa qin-lung, setelah membeli bekal perjalanan, suma-xiau melanjutkan perjalanannya, tiga minggu kemudian ia kembali kehabisan bekal, untuk kedua kalinya ia pingsan ditengah jalan, dan sama halnya dengan peristiwa pertama ia ditolong oleh rombonngan piuawkiok yang membawa keluarga Suma dari Kota Datong menuju bejing.

“kenapa berhenti Ma-pangcu ?” seru suma-lao dari dalam kereta

“ada orang yang tergeletak dan menghalangi jalan loya.” sahut Ma-hui selaku pimpinan piauwkiok, Suma-lao turun dari keretanya, dan juga putrinya suma-hoa yang berumur delapan tahun ikut turun, Ma-hui memeriksa suma-xiau

“orang tua ini masih hidup, cepat bawakan minuman dan makanan “ teriak Ma-hui, seorang anak buahnya membawakan air dan makanan.

“kamu sadarkan ia , lalu beri dia makan !” perintah Ma-hui, anak buah Ma-hui dengan menyiramkan air membuat suma-xiau siuman

“ah…ada air…air aku mau minum.” Ujarnya lemas, lalu piauwsu itu membantunya minum, dan membawanya kepinggir, kemudian menyuruh suma-xiau makan.

Dengan lahap suma-xiau makan, dan suma-hoa mendekati suam-xiau

“kakaek siapakah namamu ?” tanyaksuma-hoa

“aku suma-xiau.” Jawab suma-xiau sambil mengunyah makanannya.

“eh…kakek sama marganya dengan saya.” “apakah kamu she- suma juga ?”

“benar kakek, aku suma-hoa, ayah…! Kakek ini she-suma.” teriak suma-hoa pada ayahnya, suma-lao datang mendekat.

“orang tua kenapa kamu terlantar begini ?” tanya suma-lao “diusia senja begini saya mengalami cacat sehingga tidak bisa berjalan tanpa dibantu tongkat.

“dimanakah keluargamu paman ?” tanya suma-lao

“saya tidak punya keluarga lagi, saya hanya hidup sendirian.” “ayah kakek ini she-suma, kita bawa kakek ini ya , biar dia bersama kita.”

“hmh…bagimana menurutmu paman ?”

“ah..aku sangat berterimakasih nak jika kamu mau menolong saya.”

“baiklah kalau begitu ikutlah dengan kami paman !” ujar Suma- lao, Suma-lao pun ikut suma-lao ke kota Beijing, dikota Beijing suma-xiau sudah berubah penampilan, bajunya tidak kumal lagi, tetapi sudah memakai baju baru dan bagus, suma-lao sedang mengunjungi adiknya yang sedang mengadakan pesta naik jabatannya suami adiknya dari seorang polisi menjadi kepala polisi, selama seminggu suma-lao berada dikota Beijing, kemudian merekapun kembali kekota Datong.

Suma-xiau merasa dekat dengan suma-hoa yang manja , ayahnya sangat memanjakannya karena ibunya sudah meninggal ketika suma-hoa berumur lima tahun, wakaupun ada tiga selir ayahnya, namun ia tidak suka dengan ketiga selir ayahnya, seharian ia hanya bermain dengan suma-xiau, setelah setahun kemudian, suma-xiau menyampaikan maksud hatinya mengajar suma-hoa ilmu silat

“paman bisa ilmu silat ?” tanya suma-lao heran

“karena cacat saya tidak lagi bersilat, tapi dulu saya adalah ahli silat, jadi saya ingin mengangkat suma-hoa menjadi murid saya.”

“kalau begitu baguslah paman, saya setuju sekali jika hoa-ji belajar ilmu silat.” Ujar suma-lao, dan sejak itu suma-xiau mengajar ilmu silat pada suma-hoa, dan ternyata suma-hoa memiliki bakat yang luar biasa dan daya tangkap yang kuat dalam bidang ilmu silat, lain halnya dengan ilmu sastra, suma- hoa sangat buntu dan malas. Suma-hoa demikian bersemangat menerima bimbingan suhunya, dan dia juga sangat rajin berlatih, sehingga membuat suam-xiau merasa gembira, dan tidak terasa tujuh tahun kemudian, suma-hoa telah menjadi seorang gadis cantik yang sakti, ilmunya luar biasa, kegesitannya amat menakjubkan, tapi tidak lama kemudian suma-xiau pun meninggal dunia, dan sebelumnya suma-xiau telah menyerahkan semua kitabnya pada suma-hoa, dan di suruh supaya menguasai semua kitab

“hoa-ji ini adalah kitab-kitab yang aku miliki dan akan ku wariskan padamu.” ujar suma-xiau dua hari sebelum ia meninggal

“kamu harus kuasai semua kitab-kitab inii sehingga kamu dapat membalaskan dendam saya.”

“kepada siapakah saya harus balas dendam suhu ?”

“:kamu harus balas dendam pada orang yang telah membuat saya cacat dan tidak berguna selama ini.”

“siapakah yang telah membuat suhu cacat ?” sela suma-hoa dengan rasa amarah , mendengar dan melihat sikap suma-hoa, membuat suma-xiau senyum dan merasa bangga.

“yang mnembuat saya cacat adalah penghuni pulau kura-kura, kamu harus mebalaskan dendamku kepada seluruh penghuni pulau kura-kura.”

“baik suhu, akan aku hancurkan pulau kura-kura sekaligus penghuninya.”

“bagus hoa-ji, namun kamu mesti ingat, kamu tidak akan melakukannya sebelum kamu menguasai baik seluruh kitab- kitab yang aku wariskan.” ujar suma-xiau, suma-hoa menganguk pasti.”

Setelah suma-xiau meninggal, suma-hoa pun melanjutkan pelajarannya pada kitab-kitab milik suhunya, dengan ketekunan yang luar biasa dan latihan yang gigih suma-hoa terus belajar, sehingga tidak terasa delapan tahun kemudian, seluruh warisan suhunya sudah ia kuasai, umurnya sekarang sudah dua puluh empat tahun, wajahnya yang cantik dengan binary mata secerah bintang meluluh lantakkan hati pemuda kota Datong, namun para pemuda itu harus gigit jari karena mendengar bahwa suma-hoa adalah ahli silat yang hebat, dan ilmu-ilmu yang dikuasai oleh suma-hoa seperti

“tung-sian-sin-hoat” warisan dari Yang-ma-kui , see-sianli-sin- hoat” warisan dari Zhang-kui-lan, “thai-lek-twi-lui-kong-kun” , “hong-sing-bong-sian” warisan dari Bu-leng-ma, “liong-ciang” , “Thian-sian-jio” warisan dari suhunya sendiri suma-xiau.

Suaru ketika ayahnya mengadakan pesta karena mengambil selir muda lagi cantik, usianya satu tahun lebih tua dari suma- hoa, setelah pesta selesai, suma hoa menemui ayahnya “ayah…besok aku akan keluar untuk berkelana .”

“berapa lama kamu hendak pergi ?” tanya ayahnya

“saya akan pulang dalam jangka setahun.” jawab suma-hoa “baiklah kalau begitu, ayah tentunya tidak bisa menahanmu.” Sahut ayahnya.

Keesokan harinya suma-hoa meninggalkan kota Datong, tujuannya keluar tiada lain untuk menguji kemapuannya, dimana bukoan ia datangi dan kauwsunya ia tantang untuk pibu, suma-hoa sendiri takjub dengan dirinya para kauwsu- kauwsu itu hanya puluhan jurus sudah dapat ia robohkan, kesombongannya mulai muncul, setiap pendekar yang ia jumpai ia ajak pibu, dan kenyataannya ia memang tidak tertandingi, setelah tahun ia kembali kerumahnya dikota Datong

Seorang lelaki tampan berumur du puluh tiga tahun sedang sibuk dikantor ayahnya, lelaki itu juga memandang takjub padanya,

“kamu siapakah ?” tanya Suma-hoa

“saya Lu-duong adalah pegawai baru sebagi juru tulis suma- taijin.”

“ooh, begitu, saya adalah suma-hoa, sudah berapa lama kamu dipekerjakan ayahku ?”

“baru empat bulan siocia.” Jawab lu-duong,

“baik lanjutkanlah pekerjaanmu !” ujar Suma-hoa dan berlalu dari hadapan Lu-duong

Sejak pertemuan itu keduanya saling menyapa dan tersenyum, tiga bulan kemudian Lu-duong menyatakan cintanya dipaviliun halaman belakang rumahnya, suma-hoa juga merasa suka dan cinta pada Lu-duong, terjalinlah hubungan cinta antar keduanya, manisnya cinta membuat keduanya demikian ceria, keduanya sering bermesraan di halaman belakang rumahnya, dua bulan kemudian suma-hoa kembali meninggalkan rumah dan berkelana. Kali ini ia kembali kerumah setelah enam bulan, dengan gerakannya yang lincah dan gesit ia memasuki kamarnya, namun ia mendengar kasak-kusuk dikamar selir ayahnya, laksana seekor kelelawar ia mengintai kamar selir ayahnya, dan ternyta didalam kamar selir termuda ayahnya sedang bergumul hangat dengan Lu-duong, hatinya terbakar emosinya meledak, dengan sekali emosi yang meluap suma-hoa turun kedalam kamar, tanpa bicara dua tubuh telanjang yang sedang berpacu dalam birahi itu ditampar kepalanya dengan kekuatan penuh, akibatnya tanpa bersambat keduanya tewas seketika dengan kepala hancur berantakan. darah berserakan diseluruh ranjang semenatara tulang dan daging-daging kecil juga berserakan di ranjang dan lantai.

Suma-hoa meninggalkan kamar tersebut dan masuk kedalam kamarnya, hatinya sakit menyaksikan penghianatan kekasihnya, dia tidak biasa memejamkan mata, gambaran dua tubuh telanjang yang baru disaksikannya terus membayang, hatinya berdegup dan hawa amarahnya meluap-luap, kebenciannya pada Lu-duong tidak terperikan, suma-hoa memutuskan untuk tidak menemui ayahnya, dia akan berkelana pikirnya, lalu malam itu juga Suma-hoa meninggalkan rumah, walaupun ia baru datang.

Keesokan harinya penghuni rumah gempar, suma-lao yang menyaksikan pemandanagan mengerikan itu merasa mual dan mau muntah

“cepat kalian enyahkan mereka !” perintah suma-lao pada pelayannya, para pelayan itu segera membersihkan kamar tersebut, keduanya segera dimasukkan peti dan disuruh kubur didalam hutan diluar kota Datong, melihat dari keadaan dua jasad suma-lao yakin bahwa yang membunuh keduanya adalah suma-hoa, lagian tidak mungkin orang lain, karena orang semua takut dan jerih dengan kesaktian putrinya.

Sejak peristiwa yang dialaminya, suma-hoa menjadi seorang yang telengas dan kejam, ajakan pibunya pada para pendekar tidak hanya menguji kemampuan tetapi sudah mengarah kepada kepuasan batin mengikuti pembunuhannya yang pertama yakni kekasihnya dan selir ayahnya, kematian banyak para pendekar pun tersebar, cerita dari mulut kemulut pun beredar, dan orang pun menjulukinya “pak-giam-lo-sianli” , dan ia juga juga sering gonta-ganti pasangan sebagaimana ia lihat perilaku ayahnya. hal ini disebabkan suma-hoa type gadis pembosan karena kemanjaannya.

Suma-hoa menemukan sebuah puncak, puncak itu sangat indah karena banyaknya aneka macam bunga tumbuh, aromanya semerbak mewangi, lalu suma-hoa berencana mendiami puncak tesebu, dengan kesaktiannya ia mengambil harta orang kaya di kota Datong dan Beijing, dan juga ia menculik banyak lelaki atau bahkan mencegat piuwkiok yang kebetulan lewat dikaki puncak, lelaki itu dipaksa untuk bekerja membangun rumah megah dengan modal harta curiannya.

Selama lima bulan rumah megah diatas puncak pun berdiri anggun dengan aroma wangi semerbak yang menyebar diseluruh puncak.

Setelah itu suma-hoa menculik para gadis-gadis cantik, sehingga dalam tiga bulan istananya sudah memiliki gadis muda dan cantik sebanyak lima puluh orang, semuanya dijadikan pelayan, dan suma-hoa juga memberikan pelajaran ilmu silat pada lima puluh pelayannya, dan hari itu ia sedang memberikan pelajaran silat pada para pelayannya. “sekarang kalian lakukan gerakan yang telah kutunjukkan !” perintah suma-hoa

“baik sian-li, lalu lima puluh wanita itu pun menirukan gerak yang baru dicontohkan suma-hoa.

“sudah latihan kita cukupkan dulu, kalian kembali pada pekrejaan kalian masing-masing, dan siapkan kamarku seindah mungkin.”

“baik-sianli..” jawab mereka serempak, Suma-hoa meninggalkan mereka, dan menuruni puncak, dia menuju kota Beijing yang indah dan padat.

Suma-hoa memasuki sebuah restoran , sore itu para kongcu banyak yang kemuar menimati taman kota yang indah, yaman dan luas, berbagai hiburan malam pun pun mulai dibuka, berbagai anekpermaianan pun di gelar, terlebih saaat malam tiba, bohlam laompian dalam berbagai corak pun menyala, yang dipajang disepanjang jalan dan ditata rapi. Seorang kongcu muda berwajah tampan memasuki restoran, pemilik likoan dengan ramah terkesan menjilat menyambut sikongcu

“Yang-kongcu, silahkan masuk, tempat kami menyediakan berbagai aneka makanan, dan juga tempat bersantai yang nyaman

“hahaha..haha… bagus kalau begitu cepat hidangkan makanan kalian yang terlezat, dan juga aku ingin makan ditempat istimewa.”

“baiklah yang-kongcu, mari saya antar ke ruang atas, kamarnya juga luas dan sangat nyaman.”

“oh-ya jangan lupa datangkan gadis pennyanyi dan penghibur yang cantik dan menggemaskan, hehehe…hahha…,”

“beres kongcu, pokoknya kongcu akan merasa senang dan nyaman.” Sahut pemilik restoran.

Kamar itu memang luas dan perabotannya juga indah, bersih dan rapi, bahkan terkesan mewah karena tirai dan karpetnya dari bahan yang mahal harganya, yang-kongcu memasuki kamar sambil menebar senyuman

“bagus… kamar ini cocok dengan seleraku.” pujinya dengan rasa senang. pemilik restoram manggut-manngut karena rasa bagga karena tentunya kantong si-kongcu akan merembes kekantongnya.

“yang-kongcu silahkan duduk dan sebentar lagi gadis-gadis cantik dan menggairahkan akan datang.”

“baiak, jangan lama-lama.”

“tentu kongcu, nah..itu mereka datang !” sahut sipemilik restoran, emapt orang gadis cantik memasuki kamar, Yang- kongcu tersenyum dan merasa senang

“silahkan kongcu bersantai dan bersenang-senang.” ujar pemilik restoran setelah empat pelayannya menghidangkan makanan diatas meja, lalu kamar pun ditutup.

Wanita-wanita cantik itu menggerubiti manja dekat Yang- kongcu, yang-kongcu semakin gembira dan nakal, tangannya yang jail mencolek dan meremas dan disambut teriakan manja dan tawa cekikian para gadis, Yang-kongcu sambil memeluk para gadis sambil mengunyah makanan yang disuapkan kemulutnya, tiba-tiba seorang wanita cantik menggiurkan berdiri didepannya, suma-hoa dengan kerlingan menggoda menatap Yang-kongcu

“hahaha…hahaha…darimanakah kamu gadis cantik ?” sapa yang-kongcu terpesona

“benarkah aku cantik kongcu ?” suma-hoa balik bertanya “benar, kamu sungguh cantik.” sahut Yang-kongcu

“jika aku cantik apakah empat wanita ini masih diperlukan disini

?” ujar Suma-hoa dengan senyum sinis

“hahahaa..hahha…. benar…… kalian pergilah biar bidadari rupawan ini menemaniku “ ujar yang-kongcu, emapt wanita itu dengan bibir mencibir dan hidung menyepak, keluar dari kamar Yang-kangcu.

“hehehe..heheh..kesinilah cantik, temani aku makan dan setelah itu kita akan bersenang-senang.” ujar Yang-kongcu, dengan sikap agak malu-malu suma-hoa melangkah mendekati yang-kong-cu. Yang-kongcu dengan senang membelai-belai jemari suma-hoa, suma-hoa tersenyum makin menggoda dan membuat yang- kongcu semakin blingsatan, sambil meminum arak ia berdiri, lalu menarik suma-hoa untuk berdiri, yang-kongcu melangkah keramjang dengan kasur beralaskan sprei yang indah dan lembut, suma-hoa memang menginginkan kongcu tampan dan hidung belang ini, keduanyapun berpelukan sambil berciuman, semakin lama ciuman dan rabaan makin panas, birahi keduanyapun menggelegak hebat, disela-sela ciuman yang semakin ganas, baju merekapun satu-satu lepas, ketelanjangan keduanya semakin memacu detak jantung, mereka bergumul dan saling pagut, selimut birahi yang panas sambar menyambar seiring hentakan kedua makhluk telanjang itu memacu mendaki menuju puncak kenikmatan.

Suma-hoa merasa senang akan kekuatan kongcu muda yang tampan itu, sebaliknya yang-kongcu juga merasakan hal yang luar biasa, serasa birahinya tidak mau padam setipa melihat lekuk tubuh mulus suma-hoa, malam pun semakin larut, kembali yang-kongcu terhempas kenikmatan untuk yang ketiga kalinya

“nona siapakah namamu ?” “namaku sianli kongcu.”

“bagaimana kalau kamu kujadikan selirku ?” “aku mau saja kongcu, tapi dengan satu syarat.”

“apakah syaratnya sianli ?” tanya Yang-kongcu dengan senyum lembut

“kongcu bawalah seratus tahil emas besok ke pancuran singa ditengah taman kota.”

“heh untuk apa seratus tahil emas dan dibawa pula ke taman kota ?”

“hik…hik… kongcu, aku akan menunggumu di tempat itu, setelah itu kita akan bersama-sama ketempatku dan meminta restu pada orang tuaku.”

“seratus tail emas itu besar sekali sianli ?

“hik..hik…. ternyata kamu perhitungan jjuga kongcu, apakah menteri yang tidak akan meluluskan permintaanmu ?” “bukan begitu, seratus tail emas tidaka seberapa.”

“lalu apa masalahnya kongcu, jika kamu merasa sayang dengan jumlah itu, apakah aku tidak sepadan dengan jumlah itu

?”

“bu..bukan begitu maksudku .”

“sudahlah kongcu, aku tidak suka bertele-tele, masih banyak kongcu kaya dan murah hati yang akan kudapatkan.” “baiklah..jika itu maumu akan kupenuhi, sekarang kesinilah, masuk dalam pelukanku.” rayu yang-kongcu.

“nafsuku hilang setelah pembicaraan kita, aku beri kesempatan sampai dupa binting ini habis, jika kamu kongcu tidak dapat mengembalikan suasana hatiku seperti sebelum pembicaraan

tadi, maka aku tidak mau lagi bertemu mukamu kongcu,” ujar Suma-hoa sambil menyalakan dupa yang sudah dipatahkannya menjadi dua, yang-kongcu jadi cemas,

“sianli cintaku, malam ini kita sudah jalani tiga ronde, apakah kamu tidak ingin kali keempat, aku akan membuatmu menggelepar kenikmat.” “hmh…” dengus suma-hoa sambil membuang muka, yang- kongcu menggrauk kepalanya yang tidak gatal

“sianli saying, aku tadi hanya bercanda, aku akan mengikuti kemauanmu, kedinilah sayang aku ingin mencium dan melumat bibirmu yang ranum, membelai tunuhmu yang mulus, meremasmu dengan bitahi cintaku.” rayu Yang-kongcu, namun suma-hoa tetap tidak menggubrisnya, api dupa tingga seujung kelingking lagi, Yang-kongcu makin panik.

Sianli yang cantik dan kucintai, maafkan aku yang telah mengubah suasana hatimu, aku suka padamu sayang, jangankan seratus tail emas, bahkan jika kamu minta dua ratus akan kupersembahkan padamu, kesinilah sayang, birahiku makin panas melihat lekuk tubuhmu.”

“benarkah kongcu, kamu akan memberikan dua ratus tail emas untukku ?” sela Suma-hoa

“benar sayang, marilah cintaku aku ingin kembali merasakan hangatnya tubuhmu.” sahut Yang-kongcu mesra, suma-hoa dengan senyum dan kerlingan mesra dan deru nafasnya yang harum menerpa wajah Yang-kongcu, yang-kongcu makin terbakar dan manarik tubuh lembut dan hangat suma-hoa.

Kembali Yang-kongcu dan suma-hoa berpilin dalam bara birahi, kali ini yang-kongcu bertambah kuat staminanya, dan ronde ini agak lama, jerit dan desahan nafas suma-hoa semakin membuat yang-kongcu gemas, dan kahirnya tuntas juga pendakian yang-kongcu, dan keduanya terlelap tidur hampir dipenghujung malam. Keesokan harinya, setelah matahari hampir mendekati siang, keduanya baru terbangun, dengan mesra dan lembut yang- kongcu mengecup suma-hoa yang bermalas-malasan, yang- kongcu membersihkan diri dan memakai bajunya kembali, empat tail emas ia berikan pada suma-hoa

“berikan satu tail untuk pemilik restoran.”

“baik koko, aku akan menunggu kongcu nanti sore dipancuran singa.”

“baik, aku akan datang sianliku yang cantik.” sahut Yang- kongcu dengan senyum puas.

Pemilik restoran segera menyambut Yang- kongcu yang menuruni tangga,

“yang-kongcu mau pulang !?”

“benar, dan aku telah tinggalkan bagianmu pada gadismu dikamar.”

“terimakasih…terimaksih kongcu, lain kali datang lagi.” sahut pemilik restoran sambil menjura.

Yang-kongcu meninggalkan restoran, sementara sipemilik naik keatas dan masuk kedalam kamar, namun tidak ada seorang pun didalam kamar, bersegera ia kebelakang, dimana para gadis-gadis penghibur berkumpul menunggu para tamu, dia menemui bibi cai pengasuh gadis-gadis penghibur.”

“Cai-bo…empat gadismu yang malayani Yang-kongcu mana ?” “mereka ada dikamar atas, katanya mereka tidak jadi melayani Yang-kongcu.”

“hah..!? bagaimana bisa ?” cepat bawakan mereka kesini !” ujar pemilik, empat orang wanita itupun menghadapnya “kalian telah melayani yang-kongcu, dan katanya ia menyerahkan bagian saya pada kalian.”

“cih….yang-kongcu mengusir kami Tan-loya, mentang-mentang muncul gadiis baru, kami tidak dipandang lagi.”

“sekarang mana gadis barunya ?” tanya Tan-loya “mana kami tahu Ma-loya.” sahut empat wanita.

“hayaa… hilang sudah bonus saya dari yang-kongcu.” Tan-loya kesal, lalu ia meninggalkan empat gadis itu.

Sore harinya Suma-hoa menunggu yang-kongcu di pancuran singa, dan tidak berapa lama yang-kongcu datang menunggang kuda bersama empat pengawalnya

“bagaimana kongcu apakah kongcu sudah membawanya ? “sudah sian-li, lalu bagimana selanjutnya ?”

“kita akan ke desaku mengantarkan peti itu untuk orang tuaku, dan setelah itu aku akan mengikuti kongcu selama-lamanya.” sahut Suma-hoa dengan senyum penuh pesona, yang-kongcu merasa hatinya dielus-elus, lalu suma-hoa naik kepunggung kuda Yang-kongcu, sehingga suma-hoa masuk dalam pelukan Yang-kongcu yang memegang tali kekang kuda.

Dengan senyum hangat, kuda pun dideplak dan lari conglang kea rah pintu gerbang kota bagian timur, empat pengawalnya mengikuti dibelakang

“jauhkah desamu sianli ?” tanya Yang-kongcu setelah berada dipintu gerbang kota

“tidak kongcu, hanta dibalik bukit itu.” jawab suma-hoa “oo, baiklah kita akan memacu kuda supaya kita cepat sampai.” ujar Yang-kongcu, lima kuda berlari cepat meninggalkan gerbang kota, ketika sampau ditikungan bukit, yang-kongcu merasa tubuhnya lemas, dan kuda pun berhenti, empat pengawaalnya sigap mendekati 

“ada apa kongcu ?” tanya seorang pengawal, namun jawaban yang diperolehnya adalah tamparan yang merrmukkan tengkoraknya sehingga ia tewas seketika, tiga rekannya terkejut, namun tiga tamparan dari sebuah bayangan hitam telah menghanatam kepoala mereka, tanpa bersambat ketiganya tewas.

Suma-hoa memacu kuda bersama Yang-kongcu, Yang-kongcu dibawa ke sianli-teng, seminggu kemudian mereka sampai dipuncak, sepuluh pelayan menyambutnya

“kaliana siapkan air mandi untukku !” perintah suma-hoa, sepuluh gadis itu segera malkukan apa yang diperintahkan, tubuh yang-kongcu yang lemas di baringkan di peraduannya yang besar dan indah, lalu suma-hoa menuju tempat pemadiannya, sepuluh gadis itu memandikannya dengan lembut, dan gadis-gadis lain menyiapkan bajunya. setelah selesai para pelayan meriasnya, suma-hoa kembaali kekamarnya.

Yang-kongcu di pulihkan kembali, dengan wajah tidak senang yang-kongcu bertanya

“kenapa sianli membunuh pengawal saya ?”

“untung baru pengawalmu yang mati, kalau tidak kamu sendiri akan saya bunuh.” “apa maumu sianli ?”

“aku mau kita tinggal disini, kamu harus menurut kalau kamu masih sayang nyawamu !” jawab suma-hoa dengan ancaman, Yang-kongcu pucat, tidak menyangka bahwa wanita yang membuat hatinya terpana adalah perempuan sadis, pilihan terbaiknya hanya harus menuruti kemauan perempuan didepannya ini.

“sekarang pergilah mandi, aku tidak sabar menunggumu diranjangku.” ujar Suma-hoa, Yang-kongcu pun keluar dan empat pelayan membawa Yang-kongcu kepemandian, dan bajunya juga sudah dipersiapkan, setelah selesai mandi dan memakai baju, yang-kongcu kembaali kekamar suma-hoa, suma-hoa telah menunggunya dengan gaun lembut dan tipis, sehingga lekuk tubuhnya yang telanjang demikian merangsang. Dengan manja dia memanggil yang-kongcu supaya naik keranjang, yang-kongcu pun menurutinya.

Hanya malam itu yang-kongcu terasa berat akibat masih merasakan kesadisan suma-hoa, namun malam berikutnya Yang-kongcu sudah terlelap kenikmatan dipelukan suma-hoa yang cantik dan binal, dipuncak itu hanya yang-kongcu laki-laki, dia merasakan kenyamanan yang melelapkan diantara wanita- wanita cantik itu, terlebih suma hoa sebagi ratu dipuncak itu demikian mesra dan lembut padanya, layaknya Yang-kongcu sebagai raja ditempat itu, sehingga ia merasa betah di sianli- teng. Kota guiyang dibanjiri para kalangan dunia persilatan, karena seminggu lagi peertemuan penetapan bengcu selatan akan diadakan di “kong-ciak-lim” (hutan merak), likoan dipadati tamu- tamu dari luar daerah, dan dua hari menjelang perhelatan para tokoh rimba hijau keluar dari kota Guiyang menuju “kong-ciak- lim” gerakan orang-orang itu tangkas dan gesit melintasi hutan dan mendaki bukit.

Seorang pemuda tampan berumur dua puluh dua tahun melangkah santai memasuki hutan kong-ciak, didepannya berjalan seorang kakek berumur hampir enam puluh dengan bantuan tongkatnya, dan dibelakangnya ada dua lelaki berumur tiga puluh lima tahun, walaupun langkah sikakek pelan nampak lemah, tapi jika dilihat kebawah, kakinya nyaris tidak menginjak tanah, tongkatnya yang menjejak tanah tidak sedikitpun meninggalkan bekas, walaupun tongkat itu menotol tanah lembut berlumpur.

Siapakah kakek yang luar biasa ilmu gin-kangnya itu ? kakek itu adalah Lou-beng-ho, dulunya ia adalah asuhan dari Ma-tin- bouw rekanan tertua dari Kwi-sian-pat, sejak markas majikannya di bumi hanguskan dua she-taihap, dia dengan Tio- huang pergi menyelamatkan diri, dan ditengah jalan keduanya berpisah, enam bulan kemudian Lou-beng-hong memasuki kota Huangsan.

Lou-beng-ho memasuki sebuah likoan untuk makan dan istirahat, setelah selesai makan tanpa membayar ia keluar, seorang pelayan mengejarnya “tuan anda belum bayar !” tegur pelayan

“kamu mau cari mampus ya !? masih untung saya tidak bayar, kalau tidak nyawamu yang melayang.” sahut Lou-beng-ho, mendengar itu dua penjaga keamanan mendekat

“jangan asal bicara, cepat bayar atau kamu akan babak belur !” ancam dua penjaga

“hahaha..hahaha… orang seperti kalian hendak menghajar saya ? nih rasakan aku tidak hanya menghajar bahkan mencabut nyawa kalian

“buk…buk….” Dua pukulan keras menghantam dada kedua pengawal, keduanya terlempar dua tombak dan ambruk ketanah dan sesaat tubuh mereka menggelepar sambil muntah darah yang cukup banyak, dan kemudian nyawa keduanya putus.

Para tamu terkejut, terlebih pelayan yang hendak menagih bayaran, wajahnya pucat pasi, dan tubuhnya menggigil ketika Lou-beng-ho mendekatinya

“ampun tuan….” serunya sambil berlutut ketakutan, namun Lou- beng-ho tidak memebri ampun

“prak…” Lou-beng-ho memukul kepala si pelayan hingga hancur, sipelayan ambruk dengan tengkorak kepala pecah, lalu dengan tertawa yang bergema ia meninggalkan likoan.

Pembunuhan itu membuat kota Huangsan gempar, selama dua hari Lou-beng-ho menyelidiki bukoan ternama, setelah itu ia memutuskan mendatangi “Lui-kong-kun-bukoan” (perguruan pukulan kilat) yang dipimpin oleh Liem-hung yang berjulukan “sin-sinciang” (telapak sakti), sim-sinciang sedang mengawasi enam puluh muridnya yang sedang berlatih, namun mereka berhenti ketika Lou-beng-ho tiba-tiba muncul

“kamu siapa dan ada urusan apa ?” tanya sin-sinciang bersikap wibawa

“hahaha..hahaha… saya siapa tidak perlu tapi urusan saya untuk menantang kauwsu perguruan ini. siapa yang jadi kauwsu silahkan maju.” tantang Lou-beng-ho, Liem-hung maju

“saya Liem-hung kauwsu dari bukoan ini.” sahut Liem-hung “bagus, terima seranganku karena kamu harus mampus “ teriak Lou-beng-ho sambil memasang kuda-kuda, Liem-hung juga memasang kuda-kuda, keduanya saling menatap tajam saling menduga kekuatan lawan

“ciaaat…..” Liem-hung dengan satu lompatan menyerang “plak…plak…” dua lengan bertemu, lalau saling mengunci bergerak luwes mencari celah untuk menghantam tubuh lawan, dan akhirnya keduanya undur dua langkah, dan kemudian kembali keduanya saling serang, keduanya dengan gerak cepat mengeluarkan trik pancingan untuk mengecoh lawan.