-->

Pendekar Sakti Im Yang Jilid 1

Jilid 1

Ditengah kelarutan malam hujan turun sangat lebat , langit serasa mau runtuh oleh deru gemuruh guntur yang menggelegar seiring percikan cahaya kilat yang susul menyusul , angin badai bertiup kencang menantang gulungan gelombang laut yang mengamuk , hutan didaratan kecil itu bergoyang menyambut

kencangnya terpaan angin yang membawa butiran air hujan laksana laksaan jarum menghantam dedaunan menimbulkan suara gemerisik seiring hempasan gelombang laut yang menghantam bibir pantai , istana megah di pulau itu kokoh berdiri gagah tiada bergeming walaupun bola lompian yang menyala dan bergantung disana sini bergoyang oleh tiupan angin yang membelai nakal

Didalam istana itu seorang laki-laki remaja berumur dua belas tahun pulas dengan tidurnya dan tiada sedikitpun terganggu oleh amukan badai , selimut tebalnya yang harum demikian hangat membungkus tubuhnya , dengan wajah polos tanpa beban anak remaja itu merajut mimpinya , helaan nafas yang tenang dan nyaman menikmati kenyenyakan tidur yang sangat memulaskan

Dini harinya anak remaja itu bangun dari tidur disambut rintik hujan seakan badai semalam tidak pernah terjadi , anak remaja itu turun dari ranjangnya dan melangkah keluar dari kamarnya , terus melangkah keluar menuju halaman yang terang oleh cahaya lampu lompian yang berwarna warni , tubuh kecilnya disentuh sejuknya hembusan angina yang mengandung hawa dinginnya air hujan , lalu anak remaja itu membuka bajunya dan melangkah kehalaman istana yang lembut diatas hamparan rumput beludru

Dia bersedekap menyembah sambil menghirup dalam udara mengisi penuh ruang paru-parunya kemudian dengan pelan dihembuskan dan kemudian dihirup kembali , berulang kali anak remaja itu melakukannya , kemudian tangannyapun bergerak seiring gerak kakinya , pada mulanya gerakan itu lambat namun lama kelamaan makin cepat sehingga tubuhnya sudah berubah hanya bayangan yang bergerak kesana sini , anak remaja itu terus bergerak melakukan jurus-jurus yang seakan tidak pernah habis , anak remaja itu terus bersilat walaupun matahari sudah terbit dan naik sampai tinggi , baru gerakan silat itu ia hentikan saat menjelang siang

Luar biasa daya tahan anak remaja itu bergerak cepat tanpa henti selama delapan jam dan hebatnya pula saat dia berhenti tidak sedikitpun nafasnya sesak , nafasnya sangat tenang seakan dia tidak pernah melakukan hal apapun , wajahnya yang tampan berseri menghirup udara yang bertiup dari hutan membawa aroma wangi tanah yang basah dan semerbak aroma bunga hutan

Anak remaja itu adalah kwa-han-bu buyut luar pemilik pulau bengcu taisu yang budiman kim-khong-taihap , empat tahun yang lalu istana itu masih ramai oleh keluarganya, namun ketika pah-sim-sai-jin datang untuk yang kedua kalinya keluarganya menyambut pah-sim-sai-jin di tepi pantai bersama pat-hong-heng-te dan dia tidak diikut sertakan dan disuruh menjaga istana , sebagai anak penurut kwa-han-bu menuruti perintah ibunya dan sanak keluarganya

Kwa-han-bu berkeliling diluar istana dan melihat-lihat keadaan , hal itu dilakukan karena ia ditugasi menjaga istana jadi kwa- han-bu tidak mau diam dalam istana , tiga bangunan lain di pulau itu ia masuki , karena sebenarnya kwa-han-bu juga boleh dikatakan adalah tamu di pulau kura-kura milik buyutnya ini karena kwa-han-bu sejak lahir sampai berumur tujuh tahun berada di kunleng dimana keluarganya menetap , ayahnya

kwa-san-lun adalah cucu dari putri bungsu kim-khong-taihap kwe-hong-in yang menikah dengan kwa-kun-liong , keluarga kwa dikunleng terkenal turun temurun dengan kedermawanannya, ibunya adalah kam-siang-lan yang berasal dari kangshi putri seorang tihu , keluarga ibunya adalah pengabdi setia kerajaan turun temurun bahkan misan buyutnya pada zaman lima wangsa terkenal jenderal setia yakni kam-si- ek ayah dari kim-siauw-eng Kwa-han-bu sejak umur empat tahun sudah dilatih ilmu silat oleh kong-bo-counya kwe-hong-in sehingga enam ilmu khas keluarga kwe yang diciptakan oleh bengcu dari ilmu silat enam istrinya sudah dikuasai baik oleh kwa-han-bu , kwa-han-bu memang luar biasa cerdas dan berbakat sehingga umur tujuh tahun ia sudah lebih handal dari pat-hong-hengte , ketika kakek kwe-gan-liong meninggal mereka sekeluarga berkunjung kepulau kura-kura , namun akhirnya menetap di pulau kura- kura karena ayahnya ikut serta she-taihap lainya untuk menanggulangi kejahatan pah-sim-sai-jin yang sudah menguasai barat dan utara

Dan dalam usaha mulia itu ayahnya dan she-taihap yang lain tewas ditangan pah-sim-sai-jin , dan malam ketika keluarganya kepantai menghadapi pah-sim-sai-jin kwa-han-bu berkeliling disekitar empat bangunan , bahkan saat malam sudah sangat larut kwa-han-bu mendatangi pekuburan keluarga pulau kura- kura yang berdekatan dengan air terjun , kwaa-han-bu tertidur didekat kuburan kong-bo-couwnya kwe-hong-in dan dalam tidur yang hampir menjelang pagi itu kwa-han-bu mimpi bertemu dengan kong-bo-couwnya hong-in dan beserta kong-bo- couwnya itu ada seorang kakek tua sekali , dalam mimpi itu kwa-han-bu melihat kon-bo-counya dibawa kakek yang sangat tua itu keair terjun dan juga ia melihat kong-bo-couwnya bergayut sangat manja memeluk tangan kakek tua itu dan dibibir kuala air yang dipugar keduanya duduk dan berbicara demikian akrab , senyum kakek tua itu demikian bijak sementara kong-bo-couwnya senuyum berseri-seri dalam pembicaraan yang mereka lakukan

Kemudian kakek itu membawa kong-bo-couwnya kebalik air terjun dan lalu hilang , kwa-han-bu berseru memanggil nenek buyutnya dan berlari kearah air terjun dan ketika kakinya masuk kedalam kuala air ia merasa menginjak sesuatu yang membuat kakinya tersengat sesuatu dan kwa-han-bu pun terbangun dan hari sudah siang , kwa-han-bu spontan melihat kakinya yang telanjang ternyata kakinya sedang di gigit seekor kura-kura kecil yang merayap di bawah kakinya , kwa-han-bu melepaskan kura-kura itu dari kakinya dan berdiri , dia penasaran demgan mimpinya dan menatap air terjun

Kwa-han-bu melaangkah mendekati kuala air dan masuk kedalamnya kemudian berjalan kearah air terjun yang mencurah deras kekubangan air sehingga menerbitkan buih putih , kwa-han-bu melihat kebalik air terjun ternyata dibaliknya ada goa dengan mulur sebesar dua pelukan orang dewasa , tubuhnya yang kecil naik kedinding kuala air dan masuk kebalik air terjun dan dengan merangkak ia masuk kedalam lubang gua

, lorong gua itu ada sekitar dua meter dan makin kedalam kwa- hanbu sudah bisa berjalan dan sampailah ia disebuah ruangan berukuran dua kali tiga meter dan di ruangan itu ada sebuah peti besar yang terbuat dari kayu yang tebal , kwa-han-bu duduk termenung didepan peti besar itu menghubungkan mimpinya dengan peti itu , dan dia yakin bahwa kakek tua itu adalah buyutnya kim-khong-taihap , ayah dari neneknya , “kongcouw ! apakah kong-couw hendak menunjukkan sesuatu padaku !? “ kwa-han-bu berseru lirih , seruannya itu membuat ia terasa lemah dan letih yang sangat , kwa-han-bu menyandarkan tubuhnya kedinding dan rasanya nyaman dan membuat kwaa-han-tiong mengantuk berat dan dia pun tertidur

Kembali kwa-han-bu bermimpi berada disebuah pantai dan kakek yang tadi bersama nenek buyutnya muncul dari tengah laut , kakek itu berjalan mendekatinya yang berada di pantai , kakek itu tersenyum memandangnya dan mengelus kepalanya , rasanya nyaman sekali tapi disamping mengelus kepalanya , kakek tua itu juga menghembus ubun-ubunya hatinya terasa sesak haru , naik sedu sedannya sehingga dia sesugukan , kwa-han-bu menatap wajah kakek itu dan diwajah penuh wibawa itu tersungging seulas senyum membuat hatinya nyaman sekalaigus menghilangkan sedu sedannya , kemudian kakek itu mengelus kembali kepalanya bahkan mengelus mukanya , tiada tara rasa nyaman menyergap hatinya , kakek itu kembali ketengah laut dan lalu menghilang entah kemana

Kwa-han-bu terbangun , hatinya terasa ringan dan nyaman lalu dibukalah peti besar itu dan dilamnya ada lima buah kitab , kemudian ada harpa emas dan sebuah kipas yang ada tulisan “kungcu siawcu” dan kemudian lima bilah pedang , cambuk dan sabuk warna kuning keemasan dan sabuk kepala dengan manik mutiara hitam kemudian terakhir ada gulungan kertas yang diikat pita warna kuning Kwa-han-bu mengambil gulungan kertas dan membukanya dan ada tulisan yang berbunyi

Anakku ! milikilah hikmah ilmu , Dengan ilmu hidup jadi bermutu Anakku ! milikilah rasa malu , Dengan malu hidup terjaga selalu Anakku ! kendalikanlah hawa nafsu, Supaya diri terjaga dari jerat si aku

Anakku ! kendalikanlah dalam berlaku ,Supaya diri terjaga dari sikap buru-buru

Anakku ! jangan tergoda oleh bujuk rayu, Karena bujuk rayu sarat dengan tipu

Anakku! Jangan berbuat yang tidak perlu,Karena akan merugikan masa dan waktu

Tiga kitab diwariskan pada anak cucu, Intisari dari berbagai macam ragam ilmu

Tiga warisan dari genarasi yang terdahulu, Dirangkum untuk bekal generasi baru

Dua kitab berisi catatan dari siansu suhu , ramuan obat dan induknya ilmu

Kwee-Han-Tiong

Kwa-han-bu mengambil kitab pertama berjudul bu-tek-cin-keng

, kemudian kitab kedua “sin-yok-jeng-keng” (kitab seribu pengobatan tubuh) , kitab yang ketiga berjudul “im-yang-pat- sin-im-hoat” (ilmu suara sakti delapan im-yang) , kitab yang keempat berjudul “im-yang-bun-sin-im-hoat” (ilmu suara sakti sastra im-yang) dan kitab kelima berjudul “im-yang-sian-sin-lie” (tarian sakti dewa im-yang)

kwa-han-bu teringat akan keluarganya yang menghadang pah- sim-sai-jin , lalu ia buru-buru keluar , dan diluar kwa-han-bu disambut matahari pagi yang cerah , berarti sudah semalam kwa-han-bu berda didalam goa padahal siang ketika kwa-han- bu masuk ke goa pah-sim-sai-jin muncul dan mencari-cari siapa lagi penghuni pulau kura-kura , pencarian pah-sim-sai-jin ketika itu sampai malam hari , dan karena tidak menemukan seorangpun lalu meninggalkan pulau malam itu juga sehingga pah-sim-sai-jin tidak bertemu dengan kwa-han-bu

kwa-han-bu berlari menuju pantai , namun alangkah terkejutnya ketika melihat banyak mayat-mayat bergelimpangan dan lebihnya lagi bahwa mayat-mayat itu adalah mayat keluarganya dan saudara-saudaranya pat-hong-heng-te , kwa-han-bu terduduk lemas menatap semua mayat yang bergelimpangan itu , setelah matahari naik tinggi , kwa-han-bu menggali dua puluh satu makam di areal pekuburan keluarganya untuk menguburkan mayat ibunya , pek-bo dan saudara-saudaranya , pekerjaan itu selesai sampai tengah malam , lalu tanpa mengenal lelah kwa-han-bu menggali lima lobang besar didalam hutan ditepi pantai untuk menguburkan seratus mayat pat-hong-heng-te , penguburan mayat selesai saat fajar menyingsing

kwa-han-bu kembali ke istana dan sebelum kwa-han-bu memasuki istana , ia kembali kedalam goa dibalik air terjun untuk mengambil lima buah kitab kongcouwnya kim-khong- taihap , lalu keluar dan sekaligus ia membersihkan diri dikubangan air yang jernih dan sejuk , setelah itu kwa-han-bu masuk kedalam istana lalu beristirahat

Kwa-han-bu terbangun ketika malam sudah tiba , lalu ia memmpersipakan makan untuk mengisi perutnya yang lapar sekali saat bangun , kwa-han-bu makan sendirian di meja makan yang besar itu yang sebelumnya dipenuhi oleh keluarga besarnya she-taihap, setelah selesai makan , kwa-han-bu menuju ruang tengah yang luas dan indah dengan perabotan meja dan kursi serta hiasan dinding yang beraneka ragam dan tertata rapi ,kwa-han-bu meletakkan lima kita diatas meja dan mengaambil kitab yang pertama lalu membuka halaman pertama dan dihalaman itu tertera tulisan dari kong-couwnya kim-khong-taihap yang berbunyi

Butek-cin-keng induk segala ilmu Salinan dari yang mulia siansu suhu Salami maknanya tanpa kenal jemu didalamnya sarat rahasia yang bermutu

Kwee-Han-Tiong

Kemudian kwa-han-bu membaca isinya yang mengandung pelajaran tentang ragam semedhi , ragam kuda-kuda , ragam gerak tangan , ragam gerak-kaki dan ragam gerak tubuh dan terakhir ragam titik darah dan syaraf dan keesokan harinya mulailah kwa-han-bu mempelajari ragam semedhi yang terkandung dalam kitab bu-tek-cin-keng

Kwa-han-bu yang berumur delapan tanpa kenal lelah melatih memahamkan ilmu bu-tek-cin-keng , sehingga dalam tiga tahun kitab bu-tek-cin-keng pun tammat dipelajari , sehingga tubuh dan pikirannya sudah menyerap sari ilmu didalamnya seperti “siulian-tin-liong “ (bersemedi menundukkan naga) ilmu daya

tempur , “hun-kong-coan-im” (kirim suara menyibak cahaya) , “goat-koan-sim-hang” (menunggang sukma menutup rembulan

) ilmu menghilang “Siu-to-Po-in” (sambut mustika menyapu awan) ilmu penawar pukulan serta “san-phak-eng-coan” (mengirim bayangan menghantam gunung ) ilmu pemisah

Setelah menammatkan pelajaran kitab bu-tek-cin-keng kwa- han-bu mengambil kitab kedua dan dihalaman pertama kong- couwnya berpesan

“im-yang-sian-sin-lie” sari ilmu turunan kedua inti ilmu turunan kwee tocu pulau kura-kura gunakan sabuk dan kipas sebagai dua senjata resapi gerakan tarikan ia sepenuh hati dan jiwa

Kwee-Han-Tiong

Setelah membaca pesan tersebut , Kwa-han-bu kembali memasuki goa dan mengambil sabuk berwarna kuning emas dan kipas , setelah itu kwa-han-bu mulai pelajarannya dengan tekun dan ilmu im-yang-sian-sin-lie adalah rangkuman dari sembilan jurus kelaurga kwee yakni “bian-sin-kun” , “lo-hai-san- hoat” , “pat-sian-kiam-hoat” , “kim-peng-hok-te-pat” , “sin-tiauw- poh-chap-sha” , “in-hong-sin-kin” , “in-coan-sin-yan” ,“hong-lo- im-yang-kiam” dan “goat-tiam-hong-pian” tiga jurus adalah milik pendahulu kim-khong-taihap yakni kwee-lun dan kwee-seng sementara enam jurus adalah ciptaan kim-khong-taihap sendiri dari sari ilmu keenam istrinya

Karena enam ilmu yang ciptaan kim-khong-taihap sudah diakuasai mahir oleh kwa-han-bu maka dalam jangka setahun ilmu “im-yang-sian-sin-lie” dapat dikuasai dengan baik , jika kwa-han-bu bergerak dengan ilmu ini maka dua ujung sabuk yang disandangnya ikut juga bergerak dengan kekuatan sin- kang bian-sin-kun dan juga sabuk bisa berubah keras seperti pedang dan juga lembut seperti cambuk atau aslinya bentuk aslinya sabuk dan dua sisi ujung sabuk dialiri dua hawa sakti im-yang bersumber dari kedua bahu sementara tangan yang memegang kipas juga mengeluarkan dua hawa im-yang , pendeknya jika ilmu di mainkan kwa-han-bu maka seakan dia memiliki empat tangan dengan empat bayangan senjata , yakni pedang , cambuk , sabuk dan kipas

Kwa-han-bu melangkah ke kuala air terjun dan membersihkan diri , setelah itu ia memasuki istana untuk memasak makanan yang masih tersisa setelah empat tahun, wajahnya berseri-seri melakukan pekerjaannya yang sudah biasa ia lakukan selama ia ditinggal sendiri di pulau buyutnya ini , setelah semua selesai maka dengan nikmat ia menyantap makanannya , setelah itu kwa-han-bu istirahat di ruang tengah sambil membaca-baca buku sastra dan buku-buku yang menambah wawasannya

Kwa-han-bu berencana bahwa nanti malam ia akan membuka kitab ketiga setelah menyelesaikan pelajaran im-yan-sian-sin-lie

, demikian asik ia membaca buku sastra yang dipegangnya dan selama empat tahun disela waktunya dalam melatih pelajaran silat ia tekun membaca kitab-kitab kuno peninggalan moyangnya , banyak syair dan ungkapan yang sudah hafal dalam kepalanya , banyak juga sudah ia menghafal ayat-ayat dhammapada pelajaran hidup fari sang budha , dan demikian juga to-tek-keng kitab pelajaran agama to

Pada malam harinya kwa-han-bu membuka kitab ketiga , dan dihalaman pertama kim-khong-taihap memberi pesa yang berbunyi

“im-yang-bun-sin-im-hoat” sari ilmu turunan ketiga inti ilmu turunan kam yang hidup berkelana dan setia gunakan telunjuk atau mouwpit sebagai dua senjata resapi gerakan pahami ajaran dalam berbagai kata

Kwee-Han-Tiong

Kwa-han-bu memulai pelajarannya pada kitab yang ketiga , ilmu ini rangkuman kim-khong-taihap akan jurus hwi-yang sinciang (tenaga inti panas) , dan swat-im sinciang (tenaga inti dingin) , “hong-in-bun-hoat” (ilmu sastra angin dan mega) serta dipadukan dengan “kim-kong-sim-in” (suara sakti tenaga emas) Demikian kwa-han-bu belajar dengan giat , tekun tiada mengenal lelah , pelajaran demi pelajaran ia lalui , latihan demi latihan ia lakukan dengan semangat yang menyala-nyala , dan akhirnya ilmu im-yang-bun-sin-im-hoat selesai dipelajari selama dua tahun , saat kwa-han-bu berlatih dengan ilmu im-yang-bun- sin-im-hoat , tangan dan kakinya bergerak melukis dan menuliskan kata-kata yang terbersit dalam hatinya , indah dan kokoh gerakan itu , unik dan menakjubkan gerakan menulis di udara seiring tulisan kaki diatas tanah , gerakan menulis itu mengandung ujar-ujar fasal dua belas to-tek-keng yang berbunyi

Lima warna membutakan mata, Lima bunyi menulikan telinga Lima rasa merusak mulut

Mengejar kesenangan merusak pikiran,

Barang berharga membuat kelakuan menjadi curang

Setiap gerakan tangan yang menuliskan hurup diudara mengeluarkan hawa im sementara kaki yang menuliskan hurup mengeluarkan hawa yang , sehingga bumi yang dipijak laksana bara , sejak dinihari sampai siang hari kwa-han-bu melatih ilmu im-yang-bun-sin-im-hoat , kemudia ia membersihkan diri dan kembali dengan rutinitasnya memasak makanan dan membaca kitab-kitab kuno

Kwa-han-bu sudah berumur empat belas tahun , wajahnya yang tampan rupawan dengan bola mata yang bening dan tajam dibawah alis mata hitam tebal sebentuk golok , rambutnya ikal panjang bergelombang sampai kebahu , badanya kekar dan halus putih kemerah-merahan , hidungnya mancung amat menarik bibirnya laksana seulas limau dan dagunya bak lebah tergantung , pemuda rupawan yang menakjubkan

Pda kitab keempat yakni “im-yang-pat-sin-im-hoat” , kwa-han- bu mendapat pesan dari kongcouwnya kwee-han-tiong pada halaman pertama yang berbunyi

“im-yang-pat-sin-im-hoat” sari ilmu turunan pertama inti ilmu turunan kwa yang sakti lagi berbudi mulia

siauwte memadukan warisan suhu yang amat berharga resapi dan salami gerak sejiwa dengan alam raya

kwee-han-tiong

Kwa-han-bu membalik lembaran-lemebaran berikutnya membaca , mempaerhatikan dan memahami uraian dan tata gerak yang ada didalamnya dan ilmu im-yang-pat-sin-im-hoat adalah gabungan dari “im-yang-pat-hoat” (ilmu delapan im- yang) dan “hong-hi-sin-jai” (petikan sakti menata pelangi ) , keesokan harinya kwa-han-bu memulai pelajarannya dengan tekun dan semangat yang berkobar , kita tinggalkan dulu kwa- han-bu dengan pelajaran dan latihannya , sekarang mari kita tengok kedaratan besar tepatnya ihwal dunia kangowu selama dua tahun terakhir Keadaan tionggoan setelah dua tahun dalam kungkungan pah- sim-sai-jin kondisi kehidupan rakyat yang lemah memenag babak bundas , disamping tindasan dan keberutalan kejahatan mereka juga di tekan dengan pemungutan pajak yang mencekik , sendi-sendi perekenomian hancur sehingga kemiskinan melanda dan pada gilirannya melahirkan rampok dan pencuri , bajak laut dan para tukang pukul , metode hidup “homo-homoni-lupus” (manusia adalah serigala manusia bagi manusia lainnya) berlaku tetap dalam usaha mempertahankan diri dan tekanan

Dunia kangowu marak dengan perlombaan untuk mendapatkan pusaka pulau es , pulau es adalah pulau yang terletak di wilayah utara tepatnya di laut kuning , sejak menjelang akhir dinasti tang , pulau itu sangat terkenal karena sebagian keluarga raja yang terlibat perang saudara berpindah kepulau es dan menetap disana , keluarga raja yang terkenal sakti dan berilmu tinggi , pulau es makin santer kedaratan besar ketika raja pulau es yang bernama Han-tiong sering berkelana ke daratan besar dan bertemu dengan banyak tokoh kangowu dan semakin menjadi buah bibir dan harapan kalangan persilatan dengan munculnya bukek-sian-su si manusia dewa yang diketahui berasal dari pulau es , bukek-sian-su setiap tahun pada je-it musim semi membagi-bagikan ilmu kepada siapa saja yang bertemu dengan beliau , tanpa pandang pilih buluh baik yang baik maupun yang jahat Kebiasaan bukek-siansu itu di lanjutkan oleh muridnya yang orang kenal dengan sebutan koai-lojin , guru dan murid itu tidak terikat dengan dunia , keduanya lepas dari beban penilaian , keduanya tidak terikat beban rasa dan setahun yang lalu ketika koai-lojin membagi-bagikan ilmu sebagaimana biasanya , terdengar berita pulau es muncul kembali setelah seratus tahun hilang entah hilang atau berpindah tempat , memang pulau itu unik , uniknya adalah bahwa baik pasang maupun surut tingi permukaan laut tetap, jadi seakan pulau itu terapung , hanya jika badai besar datang melanda maka pulau itu terguncang dioambang ambing badai yang bisa jadi dia berpindah dan bahkan tenggelam

Kemunculan pulau es menjadi daya tarik bagi kalangan kangowu , kalau bisa mendapatkan sumbernya kenapa harus mendapatkan dari cabangnya , kalau bisa dapat semua kenapa harus mendapatkan satu dua saja , demikianlah memang sifat nafsu manusia yang tidak kenal puas , oleh karena itu wilayah utara di datangi banyak orang kangowu dari berbagai kota

Kota kenlung sebelah utara kota yinchuan , kota ditepi pantai laut kuning dibanjiri banyak pendatang , jalan raya yang besar itu dilalui banyak orang yang hilir mudik para wanita-wanita penghibur melembai-lambai dari ruangan atas rumah bordir memanggil mencari perhatian para kongcu yang lewat diselingi senyum memikat dan tawa cekikan dengan aroma genit , sebagian ada yang tertarik dan memasuki rumah bordir Sebuah likoan yang megah yang bagian rumah makannya sangat besar dengan puluhan meja , rata-rata likoan , pokoan dan rumah bordir di tiap kota berdiri megah , karena tempat- tempat itu di kuasai oleh hek-te di setiap wilayah likoan itu adalah milik the-kun murid pertama dari pak-kek-hek-te di yuguan , tamu yang datang hari itu sangat banyak sehingga ruang makan yang luas itu penuh sesak

Kebanyakan yang hadir itu adalah anak buah hek-te diantaranya empat orang pemuda tampan utusan dari ngo-ok- hengcia pemegang kendali lam-kek-hek-te di selatan kemudian dua orang pemuda utusan dari see-kek-hek-te yang dipimpin oleh see-kwi-liong dan dan empat orang wanita muda cantik utusan dari tung-kek-hek-te yang dipimpin oleh im-kan-kok- sianli-sam , empat orang pemuda utusan dari pak-kek-hek-te yang dipimpin oleh pah-sim-sa-jin sebagai pemegang utama seluruh hekte

Kemudian seorang kakek berumur enam puluh tahun berrnama cu-keng-in seorang pertapa dari luliangsan , setahun yang lalu ia mendengar akan munculnya pulau es , tekadnya terpatri untuk mendapatkan pusaka pulau es sehingga ia dapat menundukkan sepak terjang dari tung-kek-hek-te yang banyak dikeluhkan penduduk desa dikaki luliangsan , kemudian tiga orang lelaki umur empat puluh tahun yang datang dari lembah naga , ketiganya adalah bekas pimpinan piauw-kiok yang terpaksa gulung tikar setelah terbentuknya pak-kek-hek-te untuk yang kedua kalinya , berita pulau es membuat mereka bersemangat untuk memperkuat kesaktian dalam menghadapi kebrutalan pak-kek-hekte

seorang nenek tua berumur enam puluh tahun bernama sim- hong-lin dari teluk pohai , dua belas tahun yang lalu ketika pah- sim-sai-jin membentuk pak-kek-hek-te di xining suaminya yang seorang kauwsu ditewaskan oleh pah-sim-sai-jin , dan dua anak gadisnya tewas setelah diperkosa berkali-kali , sim-hong- lin saat itu tidak berada di rumah karena ia sedang ke yuguan untuk menemani menantu perempuannya yang melahirkan cucu pertamanya , kemudian dua orang muda berumur dua puluh empat tahu dari lembah huai , dua orang kakak beradik yang menyimpan dendam kepada pah-sim-sai-jin yang telah menewaskan keluarga mereka ketika dua belas tahun yang lalu

kemudian seorang gadis cantik berumur dua puluh tahun dari bukit nelayan bernama siangkoan-lui-kim , dia berasal dari wilayah barat tepatnya di kota nanning dia adalah putri seorang pendekar kenamaan dengan julukan “kee-san-hiap” (pendekar bukit ayam), setelah kehadiran pah-sim-sai-jin golongan pendekar bagaikan lampu yang mau kehabisan minyak , ketika mendengar munculnya pulau yang merupakan legenda tempat para dewa, lui-kim bertekad untuk mendapatkan pusaka yang berada di pulau tersebut walaupun ayahnya melarang , tapi lui- kim mengemukakan alas an bahwa tirani pah-sim-sai-jin harus dilenyapkan , dan ini kesempatan baginya untuk mewujudkan semangat kependekarannya , ayahnya tidak bisa membantah sehingga dilepaskanlah putrinya untuk mencoba peruntungan seorang pengemis berumur lima puluh tahun bernama tio-can dia baru datang dari pegunungan himalaya berguru pada seorang pertapa di arnapurna , setelah hampir dua puluh tahun ia kembali kepedalaman tiongkok dan berketepatan ketika memasuki kota yangtse tio-can mendengar kemunculan pulau es , walaupun ia baru turun gunung namunpulau legendaris itu tetap membetik minatnya untuk mencoba peruntungan , kemudian dua orang rampok dari nancao , keduanya adalah bekas pimpinan piuwkiok yang jatuh miskin akibat kesadisan pah-sim-sai-jin , dengan kemunculan pulau es , maka berkobar semangat untuk mendapatkan ilmu-ilmu sakti yang tentunya menguatkan kedudukan mereka sebagai rampok

kemudian tiga orang bajak dari sungai huang-ho , mereka juga adalah bekas pimpinan piauwkiok dan sudah beroperasi di sungai huang-ho selama lima tahun , semuanya yang hadir didalam likoan itu mempunyai harapan besar akan beruntung , mereka menunggu sampai tiga hari karena informasi bahwa laut kuning sedang bergelombang tingii ,dan angin bertiup kencang dan bisa memicu badai dan tiga hari lagi diperkirakan cuaca akan membaik

Tiga hari kemudian puluhan perahu layar bergerak di melintas dipermukaan laut kuning , tokoh-tokoh yang tersebut di likoan the-kun ada diantara puluhan perahu, suasana ramai layaknya sedang mengadakan arung jeram , perahu-perahu melintas dengaan cepat menunjukkan bahwa orang-orang diatas perahu memiliki sin-kang yang tinggi , dua orang tosu berada jauh didepan , mereka menaiki perahu saat masih malam hari , “yap- sicu ! jika dilihat dari peta ini empat hari pelayaran dengan kecepatan angin lumayan kuat akan sampai pada simpang tiga pulau , sesampainya disimpang tersebut kita mengarah pulau yang berwrna hitam sehingga sampai sebuah batu karang lalu mengarah kesebelah timur karang dan satu hari kemudian akan sampai pada tumpukan karang es , nah ! disekitar itulah pulau es”

“kalau begitu khu-sicu ! , dua hari kita bisa sampai pada simpang tiga pulau itu , marilah ! kita kerahkan kekauatan sehingga kita bisa samnpai setidaknya satu hari sebelum orang-orang “ sela yap-kok , “benar yap-sicu ! “ sahut khu-lam segera melatakkan peta ditangannya dan meraaih dayung , perahu pun makin melaju kencang

dua hari kemudian simpang tiga pulau itu sudah kelihatan , namun alngkah terkejutnya mereka bahwa tiga perahu bajak ada di hadapan mereka dan sedang melempari tiga buah perahu kecil , dua perahu sudah terguling dan satu perahu masih masih bertahan , penghuni perahu itu adalah tiga lelaki dari lembah naga sementara tiga perahu besar adalah miliki tiga orang bajak sungai huang-ho , tiga lelaki lembah naga berhasil masuk kedalam sebuah perahu seorang pimpinan bajak dan terjadilah pertempuran diatas perahu , tiga bekas piauwsu bergerak cepat dan kuat sehingga berselang setengah jam beberapa anak buah bajak banyak yang terlempar kelaut , pimpinan bajak marah dan ikut mengeroyok , perlawanan sedikit alot dengan masuknya pimpinan bajak , namun sebagian anak buah bajak melompat keluar dan terjun kelaut untuk menyelamatkan diri karena kapal mereka dipanah oleh bajak lain dengan api sehingga layar terbakar sementara pimpinan bajak terus bertempur dengan ketiga lawannya sehingga pada satu kesempatan dia membacok tangan seorang lawannya hingga putus darah muncrat ditengah hawa panas api yang kian berkobar , namun sibajak juga melepaskan nyawanya ketika dua pedang menusuk perut dan membacok kakinya

kedua orang dari lembah naga itu hendak melompat terjun yang seorang tidak sempat karena balok tiang yang membara jatuh menimpa tubuhnya , dan seorangnya sempat menceburkan diri namun malang ia lupa tidak pandai berenang

, akhirnya ia tenggelam juga , sementara satu kapal tenggelam dua kapal bajak berlomba mengarah kepulau hitam, tiba-tiba kapal didepan memanah kapal dibelakangnya , sementara yang dibelakang membalas dengan melemparkan pelor-pelor sebesar buah kelapa menghantam dinding kapal hingga ringsek dan hancur

pertempuran dua bajak sangat ramai dan seru , pekik dan perintah bergema , sampai sore hari pertempuran itu berlangsung dan bagi kedua kapal bajak setali tiga uang , yang satu tenggelam setelah dilalap si jago merah dan yang satunya lagi juga tengelam karena kebocoran kapal yang parah , banyak banyak yang bergelimpangan di permainkan riak gelombang dan juga tidak sedikit yang masih hidup dan berenang mennggapai pegangan

dua orang tusu tercenung memikirkan langkah selanjutnya sementara beberapa perahu sudah datang dari belakang ,

:”bagaimana yap-sicu ! “ sela temanyya she-khu , “sebaiknya khu-sicu ! kita tunggu saja disini , sampai bajak yang masih hidup merasa kelelahan dan kita bisa dengan tenang melintas “

, “ hmh… begitupun bagus ,tapi orang-orang yang dibelakang kita akan menyusul kita nanti malam “ , “tidak apa-apalah , tapi saat malam tiba , kita langsung bergerak “ she-khu mengangguk

saat siang berganti malam dua orang tosu mendayung perahunya dengan hati-hati keduanya dengan awas memperhatikan kedua sisi perahu dan baru saja mereka sampai di areal pertempuran dua bajak , kapal mereka gerakan mencurigakan terdengar dan kontan keduanya memukulkan dayung kearah dua bayangan tubuh yang berenang mendekati mereka , kedua orang itu kena hantam dayung hingga pingsan namun kapal mereka masih bergoyang , dua tosu menggerakkan pedang mereka menyerang tiga orang yang hendak masuk , ketiga bajak itu terjungkal kembali ke laut sesaat tenang , keduanya tetap dalam kondisi siaga

sebuah perahu mendekat , ternyata perahu yang dinaiki dua orang pemuda dari see-kek-hek-te , mereka melihat banyak mayat yang mengambang dan melihat dua orang tosu dalam sebuah perahu , :”ternyata dua tosu bau” seorang pemuda mencela , lalu memukul permukaan air laut , sehingga menimbulkan gelombang yang menggulung kearah perahu dua tosu , dua tosu melakukan hal yang sama dan gelombang laut bergerak menyambut gelombang yang datang , dan kedua gelombang pecah dan sisa gelombang menghantam perahu dua pemuda see-kek-hek-te

“sial ! mari kita gulingkan perahu tosu bau itu sute “ , lalu keduanya memukul permukaan laut , dan ternyata si dua tosu sudah lebih melakukan dan dua gelombang tinggi menghantam perahu dua pemuda hingga terbalik , bahkan berulang-ulang dua tosu melakukan , sehingga kedua pemuda itu lelah dipermainkan gelombang buatan itu , tapi kedua tosu tidak dapat lagi melakukannya karena sebuah gelombang besar menghantam kapal mereka dari arah belakang dan untungnya datang dari belakang mereka masih dapat mempertahankan keseimbangan kapal yang terlempar kedepaan

ternyata empat pemuda utusan lam-kek yang membuat gelombang itu , mereka terus mengejar perahu dua tosu yang terlempar kedepan , dua tosu bersiap menghadapi segala kemungkinan , saat kedua perahu berdekatan , tiga pemuda melompat kekapal dua tosu dengan senjata ditangan , kedua tosu menyambut dengan cekatan , pertempuran seru terjadi perahu layar yang kecil itu , sampai delapan puluh jurus pertempuran itu berlansung , dan ternyata ketiga pemuda lam- kek-hek-te terbentur menghadapi dua tosu , mereka terdesak sehingga mereka menerima ciuman senjata tajam kedua tosu dan mereka terlempar kedalam laut

yang seorang hendak melarikan diri namun dua tosu tidak membiarkannya , seorang dari mereka melompat ke perahu dan menyerang pemuda keempat utusan lam-kek-hek-te , si pemuda berusaha melawan namun hanya dua puluh gebrakan dia terjungkal ditusuk pedang si tosu , tosu she-yap itu mengambil alih perahu itu dan mendayung mendekati perahu mereka , enam orang hek-te terlalu menganggap remeh pada dua orang tosu kosen itu , kedua tosu berumur lima puluh tahun itu adalah dua pertapa dari beng-san yang sudah mendalami ilmu sebelum para pemuda hek-te itu lahir

kedua tosu terus mendayung kedua kapal itu mengarah ke arah batu karang dan dua jam kemudian mereka sampai , lalu memutar kearah barat , keduanya terus mendayung sampai pagi hari , “kita istirahat dulu dan mempertahankan arah perahu

, setidaknya besok kita akan sampai kepulau es “ kata she-yap dengan muka berseri-seri , “semoga saja tidak ada lagi halangan “ sahut she-khu berharap

empat perahu dibelakang mereka salin berlomba mendekat , dan keempat kapal di tumpangi cu-keng-in , sim-hong-lin , tiga gadis utusan tung-kek-hek-te dan dua orang pemuda lembah huai , kemudian menyusul perahu yang di tumpangi tio-can , melihat kedatangan tio-can ketiga gadis utusan tung-kek-hek-te tertawa cekikan dan berkata , dua tosu bau , seorang nenek peot , seorang kakek ompong dan seorang pengemis , dan dua orang pemuda tampan “ semua yang disebut melihat pada tiga gadis berdandan norak itu

“perempuan centil ! jaga mulutmu sebelum kurobek-robek “ sim- hong-lin menegur dengan keras , “hik..hik.. nenk peot ! pusaka pulau es untuk apa kamu ikut perebutkan ! , apa mau kamu bawa mati “ cela seorang dari mereka , “itu urusanku dan apa pedulimu “ balas sim-hong-lin , “dan kalian masih bau kencur untuk apa kesini !? “ timpalnya lebih pedas , “hik…hik… liok-lim ini kami yang kuasai dibawah panji thian-te-ong , siapa yang coba bermain api dengan kami maka akan mati “ teriak seorang tiga gadis itu

“siapa itu thian-te-ong !? “ sela tio-can , “hah..!? kamu tidak kenal thian-te-ong yang sakti tiada terlawan dan menguasai seluruh jagad raya “ teriak utusan tung-kek-hek-te kesal karena ada yang tidak tahu dengan raja mereka , semuanya juga melihat tio-can dengan pandangan heran , tio-can yang melihat orang semua memandangnya heran dia tertawa

“hahahah… memang aku tidak kenal siap itu thian-te-ong , apa dia sebangsa manusia , monyet atau siluman “ nakin panas dan kesal hati ketiga gadis cantik mendengar bahwa raja mereka diperkirakan seperti monyet , “heh..! orang tua goblok , buta dan tuli “ , “brakk…” baru saja selesai sumpah serapah utusan tung-kek , perahu mereka hancur berantakan di pukul oleh tio- can dan ketiganya terlempar kelaut , seorang dari mereka tewas seketika , dua orang berenang menjauh dengan muka pucat , “awas kamu ya … kalau sampai kuadukan kamu pada thian-te-ong maka kamu akan tahu rasa “ sumpah mereka berdua sambil berenang , tapi sampai kapan mereka bertahan di tengah laut lepas itu , “adukan saja sana ! emangnya aku

takut sama monyet yang kamu banggakan “ sahut tio-can

berselang bebrapa saat sebuah perahu yang di tumpangi empat pemuda utusan pak-kek-hek-te mendekat , perahu itu didayung mendekati dua gadis yang melambai-lambai pada mereka , :”ada apa ji-sumoi ! “ , “sudah..! tarik dulu kami kedalam perahu “ sahutnya masih kesal , kedua utusan itu sudah saling kenal ketika berada di likoan the-kun bahkan bercinta sekalian , kedua gadis itu naik keperahu , sementara diperahu empat pemuda kasak-kusuk dengan dua gadis sumoi mereka

tio-can dengan cuek mendayung perahunya melewati bebrapa kapal lainnya , “sicu..! darimanakah asalmu sehingga kamu tidak kenal dengan pah-sim-sai-jin !? “ tanya cu-keng-in , tio- can menatap orang yang menanyanya sambil berhenti mendayung , lo-sicu ! siapa pula pah-sim-sai-jin !? , dan saya memang baru turun dari arnapurna di himalaya “ sahutnya , “hmh… pantas kalau begitu , ketahuilah sicu ! tionggoan sudah mutlak dikuasai pah-sim-sai-jin atau thian-te-ong selama dua

tahun “ cu-keng-in menjelaskan , “wah… luar biasa kalau begitu

, tapi bagaimana bisa , bukankah she-taihap masih ada !?“ semua menatap tio-can

“dan kenyataannya sicu ! pah-sim-sai-jin telah menewaskan semua she-taihap di setiap wilayah bahkan yang she-taihap di pulau kura-kura “ tio-can terkejut serasa tidak percaya , “hmh… dan mereka itu anak buah pah-sim-sai-jin !? tanyanya sambil menunjuk keperahu utusan pak-kek-hek-te , “benar , dan mereka itu belum apa-apa karena setidaknya mereka baru empat tahun belajar “ sela sim-hong-lin

“sudahlah kalau begitu ,dan terimaksih atas informasi lo-sicu “ lalu tio-can mendayung kembali perahunya sehingga melejit , semuanya tersadar akan tujuan mereka , lalu kemudian merekapun mendayung dengan cepet , terlebih dua tosu yang merasa keduluan , dan kemudian beberapa perahu layar juga melintas arela itu , perahu-perahu- itu melejit laksana panah salin kejar mengejar , tio-can yang didepan merasa tertantang sehingga ia mengerahkan tenaga saktinya untuk mendayung perahunya , dan hasilnya lumayan karena menambah jarak dengan perahu-perahu dibelakanngya , di belakangnya perahu cu-keng-in bersama kapal dua tosu , kemudian kapal sim-hong- lin , dan dibelakangnya perahu siangkoan-lui-kim yang bersamaan dengan perahu dua pemuda lembah huai , lalu perahu kecil yang padat ditumpangi enam orang utusan hek-te , lalu kapal-kapal lainnya yang susul menyusul

tiba-tiba tatkala sore hari hujan turun deras ,orang-orang yang mendayung masuk kedalam gubuk perahu untuk berlindung dan naasnya saat malam hujan turun makin deras malah sudah bercampur tiupan angin yang kencang , pasang naik gelombang bergemuruh , sebagian kembali keluar untuk mempertahankan keseimbangan perahu , laut makin bergelora , suasana makin menegangkan saaat petir juga menggelegar susul menyusul , tio-can berusaha sekuat tenaga bertahan dari amukan badai , beberapaperahu sudah terguling , tiupan angina yang sangat kencang menghalau gelombang setinggi lima meter , menggulung semua yang ada didepannya , tio-can

, cu-keng-in , sim-hong-lin . dua tosu dan siangkoan –liu-kim yang masih bertahan lenyap di hantam dua gelombang besar yang menggulung susul menyusul

amukan badai , gemuruh gelombang , petir yang menyambar , hujan yang tertumpah bersatu padu dalam gelora gerak alam , dan ketika fajar menyinsing laut kembali teduh kemilau permukaan laut laksana hamparan kaca emas ditimpa sang fajar , dieprmukaan laut beberapa mayat yang terapung dipermainkan riak arus dalam laut , pecahan-pecahan perahu dan balok-balok layar juga berserakan dan ditepi pantai sebuah pulau lima jasad tergeletak , tiga jasad perempuan dan dua jasad laki-laki

menjelang siang dua dari jasad laki-laki siuman lalu setengah jam tiga wanita itu siuman dua orang wanita itu adalah dua utusan tun-kek-hek-te , dan seorang lagi soangkoan-lui-kim , dan dua lelaki itu adalah seorang dari utusan pak-kek-hek-te dan seorangnya adalah seorang lelaki dari dua bersaudara dari lembah huai , mereka berlima saling menatap , dan kemudian melihat kearah pulau , pulau itu berhutan lebat sehingga terkesan hitam “ini bukan pulau es “ sela lelaki dari lembah huai , “apapun namanya pulau ini aku akan mdelihat apa ada yang bisa diijadikan pengganjal perut “ sela lui-kim sambil berdiri , pemuda lembah huai itu segera menyusul liu-kim , “benar , aku juga akan melihat kedalam untuk sekedar pengganjal perut “ sahutnya sambil mengikuti liu-kim , spontan kelimanya terbagi dua kelompok , , “siapakah namamu twako !? “tiba-tiba lui-kim bertanya , “aku yo-hun dari lembah huai , dan kamu siapakah namamu moi-moi !? “ , “aku siangkoan-lui-kim dari nanning “ , “menurut hun-ko pulau apakah ini !? “ belum lagi pertanyaan itu terjawab keduanya tersentak kaget dengan desis ular belang kuning dan hitam mendesis disekitar mereka , keduanya sontak berkelit , namun menegerikannya beberapa ekor ular bergerak melayang terbang meneyrang mereka , dengan sigap pedang mereka terayun sehingga enam ekor ular itu putus dan mati , tersebar bau amis tak sedap , perut yang lapar dan keroncongan itu terasa diaduk-aduk mau muntah , keduanya lari kembali kearah pantai , sementara ketiga utusan hek-te juga sudah memasuki hutan , “ciong-suheng ! ini bau apa yah kok demikian menyengat “ “aku tidak tahu lin-sumoi “ sahut ouw-ciong pemuda utusan dari pak-kek-hek-te , “bagaimana mau tahu toan-lin , kita baru saja sampai disini dan mencium aroma menyengat ini “ cela rekannya , “bukan begitu pouw-eng

, naman tahu ciong-suheng tahu ! kan ciong-suheng sudah banyak mencium dan dia ahlinya “ sahut pow-eng mengerling sambil senyum , “aku sih ahli dalam mencium tapi buka aroma seperti ini , tapi kalau aroma tubuh wanita banyak aku tahu “ , “hik..hik… “ toan-lin dan pouw-eng tertawa cekikan setelah agak jauh kedalam hutan ternyata aroma itu dari sarang lebah berwarna merah , segera ketiganya menjauh terus masuk kedalam hutan , “hmh… tidak ada satupun binatang buruan disini “ sungut toan-lin , kemudian terdengar desis binatang melata , “iiihh.. ular belang “ seru toan-in , , ular-ular itu menyerang dengan ganas sambil terbang , ketiganya bergerak membacok dan berlari makin kedalam hutan mencari selamat , ketika setengah jam mereka berlari , bebrapa kepala mengerikan muncul dan mereka telah dikuriung sepuluh orang laki-laki aneh , wajah mereka berwarna warni , ada yang merah

, hijau , kuning , biru , hitam , abu-abu demikian juga tubuh mereka , “siapa kalian ! “ bentak pouw-eng , tanpa menjawab tiga orang dari orang aneh itu bergerak , ketiga utusan hek-te berkelit , tap anehnya mereka sudah tertanggakp dan tengkuk mereka dipegang laksana menjinjing seekor kucing

kemudian mereka membawa ketampat kumpulan mereka yang terdiri dari pondok-pondok , bahkan ada pondok yang berada diatas pohon-pohon yang memang besar-besar , ketiga utusan hek-te melonggo dengan wajah pucat pias ketika mereka diletakkan ditengah lapangan dan dua orang masuk kedalam dan beberapa wanita dengan corak muka yang berwarna warni senyam senyum melihat mereka , kemudian seorang lelaki tua muncul wajahnya berwarna warni ada merah , ada kuning dan ada hijau , dan tubuhnya juga demikian , dia berbeda dari orang-orang yang ada disekitarnya yang hanya satu warna umur kakek itu enam puluh tahun , dia menatap tajam pada ketiga tawanan itu , ketiganya makin ngeri ketika beradu pandang dengan mata yang tajam itu , “kalian ini siapa , dari mana dan tujuannya kemana !? , cepat jawab..! “ menggigil tubuh ketiganya , lalu ouw-ciong menjawab terbata-nata “ ka..ka…. dari daratan besar namaku ouw-ciong , dan ini temanku toan-lin dan pouw-eng “ , “heh..! dia she-ouw ,

hu..hu…hu…..hu…-hu..hu… “ suara tangis kakek itu disambut tangis anak buahnya , “dan suasana makin mengerikan bagi ketiga utusan hek-te , “untung kamu she-ouw karena saya juga adalah she ouw , ouw-jit raja pulau neraka , hu..hu,..hu.. “ raja itu menagis lagi dan disambut tangis anak buahnya

makin heran ouw-ciong dan dua rekan wanitanya mendengar kata untung tapi diterima dengan tangis , “tapi kedua wanita ini bukan she-ouw jadi mereka harus di panggang hidup-hidup “ tersedak toan-in dan pouw-eng mendengar bahwa mereka akan diupanggang , “tapi mereaka adalah temanku !” sela ouw- ciong , :hmh… apakah mereka kekasihmu !? , ouw-ciong berhenti sejenak , :”benar ! mereka adalah kekasihku” sahut ouw-ciong , “hmh… buktikan dulu kalau mereka ini kekasihmu “

, ouw-ciong menatap kakek itu , “bagaimana saya membuktikanya !? , “anak bodoh ! masa tidak bisa membuktikan bahwa kedua wanita jelek ini kekasihmu , kamu jangan bohong , walaupn kamu she-ouw boleh jadi she-mu itu juga bohong ! “ , “ti..tidak aku memang she-ouw , baik aku bisa membuktikan keduanya kekasihku “ sahut ouw-ciong , kemudia ia mendekati toan-lin dan pouw-eng yang masih digelut rasa takut , “ji-moi kalian ciumlah aku mesra “ bisik ouw-ciong , lalu keduanya bergantian mengecup pipi dan bibir ouw-ciong , sedikit mereka mendapat kekuatan setelah tersentak birahi sehingga meredupkan rasa takut mereka

“hah..itu bukan bukti anak goblok ! kalau cuma ciuman semua kami disini menvciumi perempuan yang ada “ terbelalak ketiga utusan hek-te , dan hati mereka bergumam “kalau ciuman belum bisa jadi bukti lalu apakah mereka harus bercumbu “ ketiganya saling menatap , “ayok .. buktikan , kalau kedua wanita ini pacarmu , kalau tidak bisa maka kamu sendiri akan

kubunuh karena mencoreng she-ouw dengan kebohonganmu “ ouw-ciong sudah yakin bahwa bukti itu yang diminta , lalu segera dia memluk pouw-eng dan toan-lin , merekapun bercumbu dan saling meremas ditonton orang-orang aneh setengah gila itu , setelah ketiganya telanjang , tiba-tiba mereka menangis bersama-sama , ouw-ciong heran ,

“teruskan..hu..hu..hu.. , teruskan “ sahut ouw-jit raja pulau neraka , lalu bermesum rialah ouw-ciong , pouw-eng dan toan- lin di lapangan terbuka dan ditontton orang aneh sambil menangis mereka memberi semangat pada ouw-ciong , “hayo she ouw tekan yang kuat huu..hu… , ya,…. terus hu….hu… ayok angkat kakinya …hu..hu…. ya… begitu .. hu..hu… “ mendengar keganjilan itu ketiga utusan hek-te tidak bisa menahan ketawa tapi tersedak karena s;pontan orang-orang aneh itu tertawa , “hahaha..kamu kenapa she-ouw apamu yang sakit , mereka spontan mendirikan ouw-ciong dan melihat bagian bawah ouw-ciong dan menatap tubuh pouw-eng dan toan-lin

“aku tidak apa-apa dan pacarku juga tidak apa-apa “ sahut ouw-ciong , “lalu saki apa kenapa sehingga kamu tertwa “ ouw- ciong dan kedua rekannya bingung , memang aneh orang-

orang ini , sedih haris tertawa dan gembira harus menagis , lalu mereka melanjutkan permainan cinta mereka tanpa menggubris suara tangis disekitar mereka , ouw-jit merasa senang , matanya yang berderai diusap-usap menyambut ouw-ciong yang dianggap sebagai keluarga dan dua kekasihnya

“sebenaranya kalian ini mau kemana !?“ tanya ouw-jit , “kami rencana mau kepulau es ouw-ong , “untuk apa she ouw mendatangi pulau yang sombong dan merasa baik sendiri dan gagah sendiri itu “ cela ouw-jit , “apa maksud ouw-ong pulau es sombong dan baik sendiri !? ,tanya pouw-eng heran ,

“huh..!maksud saya penghuni pulau es itu kumpulan orang- orang sombong walhal moyangnya juga tidak lebih dari bekas raja “ sahut ouw-jit mendengus geram , “bukannya penghuni pulau es itu kumpulan orang-orang sakti !?” pouw-eng kembali bertanya , “sakti-sakti ya sakti tapi juga merasa hebat dan gagah sendiri” , “sepertinya ouw-ong benci dengan mereka!? “ tanya ouw-ciong , “huh..! bukan saua saja yang benci dengan penghuni pulau es , bahkan nenek moyangku dan semua nenek moyang anak buahku juga benci “ sahut ouw-jit kembali mendengus “ , “kenapa bisa nenek moyang penghuni pulau neraka benci ? ouw-yang !?” , “dulunya moyang kami juga berasal dari pulau es , namun karena moyang kami duhukum maka dibuanglah kesini , pulau ini adalah pulau pembuangan bagi pulau es “ sahut ouw-jit penuh dendam , “jika demikian penghuni pulau neraka juga turunan orang-orang sakti “ sela ouw-jit , “benar sekali , makanya she-ouw tidak boleh kesana laksana pengemis , disini juga banyak kesaktian yang tidak kalah dengan pulau es “ , “banrakah ouw-ong !? “ sela pouw- eng , “benar sekali..! kalian boleh belajar ilmu-ilmu hebat disini dan aku akan membimbing kamu ciong-ji , hu..hu..hu“ sahut ouw-jit sambil menagis mengungkapkan kegembiraannya

ouw-ciong , pouw-eng dan toan-lin saling pandang mencoba memaklumi kegilaan perilaku itu , lalu keesokan harinya , ouw- jit mengajak mereka ke sebuah tempat dalam hutan yang lebat itu dimana terdapat banyak kuburan , “sekarang..! coba

tunjukkan sampai dimana kepandaian kalian !?” perintah ouw-jit

, lalu ouw-ciong memperagakan ilmu yang dipelajari dari pah- sim-sai-jin , pah-sim-sai-jin mengajari hek-te baru ilmu thian-te- cio-kang” (telapak meledakkan jagat ) , “thian-te-toan-jiauw” (cakar pemutus jagad) dua jurus “thian-te-tin-hoat-chit” dan ilmu pedang “beng-cui-in-kiam” (pedang bianglala mengejar arwah) ,

:”hmh… luar biasa tapi masih mentah , dari siapa kamu dapatkan ilmu itu !?” , “ilmu ini dari raja kami di daratan besar julukannya bagi kami adalah thian-te-ong , sahut ouw-ciong , “hu..hu…hu… luar biasa julukan itu , namun dia goblok dan tidak becus mengajar atau kamu yang tolol, sehingg sudah seumuran kamu , hanya itu yang dapat kamu pelajari” “bukan begitu ouw-ong , thian-te-ong itu orang sakti tiada lawan

, dia telah menguasai seluruh tionggoan dan dia mengajar kami baru setahun tiga tahun “ sahut ouw-ciong membela , “haha..! tiga tahun kalau hanya itu yang kamu dapatkan itu artinya

thian-te-ong itu tidak sepenuh hati mengajar kamu “ cela ouw-jit

, “tapi tidak apa ! setelah kamu disini dan dua kekasihmu , kalian dalam jangka lima tahun akan menjadi orang sakti luar biasa ! “ sahut ouw-jit menambahkan , ketiganya tersenyum gembira , “heh… ! kenapa kalian sedih , apa kalian tidak senang !?” ketiganya terkejut dan menyadari keadaan lalu merekapun menagis mengungkapkan kegembiraan

sementara malam itu dipantai liu-kim dan yo-hun menelusuri pantai mencari tempat yang cocok untuk bermalam , ketika mereka sampai disebuah batu karang yang mencuat mereka melihat perahu yang terbalik , lalu mereka mengambil perahu itu dan menariknya kepantai kemudian membaliknya , “secepatnya kita tinggalkan pulau ini kim-moi , saya merasa tidak enak dengan tidak keluarnya tiga orang utusan hek-te itu “

, “benar twako ! marilah kita gunakan perahu ini untuk mencari tempat lain asal tidak dipulau berbahaya ini “ sahut liu-kim , llau mereka menarik perahu itu kelaut dan menaikinya dan dengan tangan mereka mendayung , perahu itu melaju meninggalkan pulau neraka

setelah setengah malam mereka mendayung mereka istirahat dan membiarkan perahu itu dibawa arus , dan karena lelah mendayung dengan tangan setengah malam , mereka tertidur diatas perahu , dan ketika keduanya bangun keduanya berada dipantai , dan mereka terkejut ketika seorang lelaki botak memandangi mereka , “kalian nyennyak sekali tidurnya “ , “siapakah lopek !? “ tanya liu-kim , “aku seorang nelayan dan sedang mencari ikan , aku melihat perahu kalian terombang ambing mengarah pusaran maut , jadi aku tari kepantai “ , “terimakasih !? dan nama lopek siapakah !? , “apa itu nama !? “ tanya orang itu heran , liu-kim dan yo-hun saling pandang heran

“kalian ini darimana !? dan kenapa bisa sampai kesini !?” , “kami dari daratan besar dan kami hendak ke pulau es tap malang kami di terpa badai “sahut yu-hun , “lopek sendiri apakah penghuni pulau ini !? , tanya yo-hun “bukan , saya hanya nelayan yang sampai kepulau kecil ini , saya dari pulau nelayan tak jauh dari sini , marilah singgah kepulau kami “ ajak lelaki gundul itu , lalu merekapun mendayung perahu dan alangkah terkejutnya yo-hun dan lui-kim , ketika mereka hendak mendayung , tiba-tiba perahu mereka melejit laksana anak panah lepas dari busurnya ditarik perahu orang gundul yang mengaku dari pulau nelayan dan hanya dua kali kayuh mereka sudah sampai kesebuah tebing yang banyak talu bergelantungan , lelaki gundul itu melompat dari kapal dan menangkap tali dan luar biasa seperti cecak merayap cepat keatas , yo-hun dan liu-kim melonggo mendongak ketas , lelaki gundul itu melihat kebawah , “heh…. Kenapa kalian belum naik

. ayok.. ! naiklah “ serunya dari atas yo-hun dan liu-kim melompat dan menagkap tali kemudian berusaha naik merayap keatas , lelaki gundul itu heran , lalu dia menarik kedua tali dimana keduanya bergantungan perahu yang mereka dan sekali betot , tubuh mereka melenting keatas

, keduanya berpoksai untuk menurunkan daya luncuran dan kemudian mereka mendarat dengan ringan , lalu mereka berjalan ketengah pulau , dan sesampai diperkampungan nelayan , yo-han dan liu-kim makin heran dengan kumpulan orang aneh itu , semua laki-lakinya botak dengan memakai cawat sementara perempuan menutupi tunuh meraka dengan kulit kayu atau kulit binatang

mereka disambut ramah oleh semua orang aneh itu , mereka ini kumpulan orang aneh yang tidak punya nama dan terbelakang dan lelaki botak adalah cirri khas mereka , dan yang tidak kalah uniknya semua mereka memiliki gerakan yang kuat dan cepat seakan gerakan itu bawaan lahir , karena anak-anak mereka juga demikian cekatan dan kuat , dan rahasia luar biasa ini membetik niat yo-hun dan liu-kim untuk lebih jauh menegnal kumpulan orang-orang gundul yang bukan heuwsio ini

“lo-pek , kami melihat kumpulan nelayan ini memiliki gerakan luar biasa , tentunya kumpulan nelayan ini adalah orang-orang sakti lagi berilmu tingii “ sela yo-hun , kami memiliki tempat keramat yang kami datangi setiap hari dan melihat-lihat gambar yang ada disana dan itu yang kami tiru sejak turun temurun “ sahut lelaki itu , “lo-pek siapakah pimpinan dari kumpulan kalian disini !? “ tanya liu-kim , “pimpinan !? , kami tidak punya pimpinan dan kami tidak perlu pimpinan “ sahutnya , liu-kim dan yo-hun saling pandang , “bolehkah kami ketempat keramat itu untuk melihat-lihat !?” tanya yo-hun penuh harap , “tidak… tidak boleh , kalian disini hanya tamu dan bukan penghuni pulau “ sahut lelaki itu tegas

tegambar wajah kecewa di wajah liu-kim dan yo-hun , “lo-pek ditempat kami banyak terjadi kejahatan dan kami harus menundukkannya dengan ilmu yang lebih tinggi , untuk itu kami berusaha mencari pulau es namun gagal , dan kami melihat hal luar biasa disini , sekiranya di perkenankan kami ingin mempelajari ilmu yang dipelajari oleh para nelayan disini “ kata liu-kim dengan nada membujuk , “apa itu kejahatan !?” tanya lelaki itu membuat keduanya melonggo , “ kejahatan itu adalah

…. adalah tindakan orang untuk merugikan oleh orang lain “ sahut yo-hun , “kenapa orang mau berbuat seperti itu !? “ yo- hun dan liu-kim saling pandang

“karena manusia ditempat kami itu rakus dan ingin menag sendiri sehingga meraka berbuat jahat “ sahut yo-hun berusaha menjelaskan , lalu keadaan hening , “bagaimana lo-pek dapatkah kami mempelajari apa yang dipelajari oleh para nelayan ditempat keramat !? , “tidak boleh ! “ lelaki itu menjawab dengan tegas , wajah keduanya sangat sedih dan kecewa , lelaki itu melihat wajah keduanya yang tertunduk dengan muka sedih dan tidak berkata apa-apa , yo-hun kembali menatap wajah lelaki gundul itu dan berkata , “lopek ! dapatkah kami mempelajari gerakan lopek sendiri !? “ lelaki itu terdiam dan memandang dua orang yang menataopnya penuh harap itu

“hmh… bisa ! tapi kalian tidak boleh tinggal disini “ , “baiik , kami akan tinggal di pulau dimana lopek menemukan kami dan tentunya lopek setiap hari mencari ikan , bukan !? sela lui-kim , “benar … aku akan selalu singgah dipulau itu , aku tidak dapat mengajarkan tap hanya dapat memberi contoh “ sahut lelaki itu

, “demikian pun sudah membuat kami senang lopek “ sela yo- hun , setelah dua hari yo-hun dan liu-kim meninggalkan pulau nelayan dan kembali kepulau dimana mereka bertemu dengan lelaki gundul itu , dan sejak itu yo-hun dan liu-kim di datangi lelaki gundul dan mencontohkan gerakan-gerakan silat pada mereka , dan dengan penuh perhatian keduanya mencontoh gerakan-gerakan yang mereka lihat

Disebuah pulau lain disekitar dua tiga jasad lain baru siuman setelah diombang ambing laut dan melemparkannya ketepi pantai namun satu dari jasad itu sudah mati , yang dua siuman

, mereka cu-keng-in dan khu-bun-sin sementara yang tewas adalah nenek tua sim-hong-lin , keduanya lalu menguburkan perempuan tua itu dan kemudian memasuki hutan untuk mencari makanan , selama tiga jam mereka menjelajah hutan akhirnya mereka menemukan ular besar , berwarna kuning , ular besar itu pun di tangkap lalu mereka panggang untuk mengganjal perut yang lapar

“darimanakah asal totiang !? “ tanya cu-keng-in , “saya dari bengsan lohap , dan lohap sendiri darimanakah !? “ , “saya dari luliangsan “ “apakah rencana totiang dengan keadaan kita ini !?

, “saya akan membuat rakit untuk kembali kedaratan besar “ sahut bun-sin , “ide yang bagus dan saya juga akan membantu totiang untuk membuat rakit sehingga kita dapat keluar dari sini “ cu-keng-in mengangguk membenarkan ide dari bun-sin

dua hari kemudian saat mereka mencari-cari kayu yang tepat untuk membuat rakit mereka menemukan goa , lalu keduanya menemukan gambar-gambar orang bersilat didinding goa , mereka terus menelusuri dan akhirnya mereka menemukan sebuah nama yang bertuliskan ouw-sian-kok , ouw-sian-kok adalah putra tocu dari pulau neraka yang sezaman dengan han-tiong suhu dari bukek-siansu , keduanya saling berpandangan, “gerakan-gerakan silat dalam gambar ini luar biasa unik dan rumit “ sela cu-keng-in , “menurut saya juga demikian , mungkin kita tidak berjodoh dengan pulau es dan kita berjodoh ouw-sian-kok “ sahut khu-bun-sin , “benar ..! sebaiknya kita pelajari dulu sambil mempersiapkan rakit “ kata

cu-keng-in , lalu mereka tinggal di dalam goa untuk mempelajari jurus-jurus yang tegambar didinding menurut dasar ilmu mereka masing-amsing

sementara enam buah pulau dari tempat itu dua buah jasad juga terdampar namun seorang dari jasad itu sudah gembung , jasad yang mati adalah tosu she-yap sementara yang masih hidup adalah tio-can , tio-can menguburkan jasad tosu itu dan memasuki hutan untuk mencari makanan , satu jam kemudian tio-can mendapat seekor ular besar , tio-can menengkap ular dan memangganynya , setelah kenyang ia kembali menjelajahi pulau lebih kedalam dan menemukan subuah goa yang banyak huga terdapat gambar-gambar orang bersilat didinding gua , dengan teliti tio-can memperhatikan gambar demi gambar dan disatu sudut tertera nama bu-tek-lojin , butek-lojin adalah tokoh legendaris dari zaman lima wangsa seangkatan dengan kiam- mo-taisu, seorang tokoh kate yang bersikap angin-anginan dan membawa maunya sendiri , tokoh yang tidak memiliki pendirian

, wajah tio-can berseri-seri , dengan semangat menyala-nyala tio-can mempelajari jurus-jurus yang terlukis di dinding goa

didaratan besar tepatnya di yuguan sedang diadakan pertemuan besar antara sesame hek-te , ini merupakan pertemuan pertama setelah pah-sim-sai-jin membagi-bagi pemegang komando kepada rekan-rekannya , sebenarnya pertemuan itu bukan peretmuan umum , hanya pestanya saja yang berlaku umum , setelah pesta diadakan tiga-hari tiga malam , pah-sim-sai-jin mengejak sembilan rekannya untuk mebgadakan pertemuan tertututp

see-kwi-liong dari barat , ngo-ok-hengcia dari selatan dan im- kan-kok-siali-sam dari timur dan pah-sim-sai-jin sendiri dari utara , “setelah tiga tahun kita dapat lagi berkumpul untuk membicarakan perihal hek-te disetiap wilayah dan rencana

pengembangan kedepan “ sela pah-sim-sai-jin , dan semuanya rekannya diam dan memperhatikan , “pertama-tama yang ingin saya ingin ketahui jumlah hekte disetiap wilayah , sekarang berepa jumlah lam-kek-hek-te ngo-ok-hengcia !? “ pah-sim-sai- jin menatap kelima ngo-ok hengcia , “lam-kek-hek-te berjumlah sembilan ratus orang thian-te-ong “ sahut lu-tiok , kemudian pah-sim-sai-jin menetap see-kwi-iong , “see-kek-hek-te berjumlah delapan ratus thian-te-ong “ sahut see-kwi-liong , lalu menatap im-kan-kok-sianli-sam , “tung-kek-hek-te berjumlah tujuh ratus thian-te-ong “ sahut si-sian

“:hmh..berati jumlah semua hekte diseluruh wilayah tiga ribu empat ratus orang karena jumlah pak-kek-hek-te sebanyak seribu orang , dan yang kedua , apa kalian juga mengutus murid ke pulau es setahun yang lalu !? , “benar thian-te-ong „ jawab see-kwi-liong , “kami juga “ , kami juga “ jawab ngo-ok- hengcia dan dan im-kan-kok-siali-sam hampir berbarengan , “lalu bagaimana hasilnya !?” , “sampai hari tiga utusan yang kutunjuk tidak kembali “ sahut si-sian , “utusan kami juga demikian “ sahut rekan yang lain serempak

“hmh… artinya semua utusan kita tidak kembali , dan itu artinya misi kepulau es gagal” sahut pah-sim-sai-jin , “lalu apa rencana dari thian-te-ong !?” tanya lu-tiok , “begini , saya ingin disetipa wilayah kalian semua mengambil seorang murid khusus untuk kalian warisakan ilmu yang ada pada kalian dan sembilan orang itu akan kita adakan pibu tiga tahun mendatang “ , “kami akan lakukan thian-te-ong ! jawab mereka serempak , “bagus..! dan besok kita akan adakan pibu sepuluh orang terkuat dari masing-masing wilayah , dan empat yang terkuat dari empat puluh orang itu akan kujadikan murid khusus “ , “ide yang sangat cemerlang tihian-te-ong , sela eng-hwa kemudian pertemuan itupun selesai dengan psta kecil dan tentunya kemesuman merupakan bumbu paling nikmat diakalangan manusia mesum dan bejat itu dan keesokan harinya pibu pun dilaksanakan , sepuluh orang terkuat dari tiap wilayah di adakan pibu , pibu berlagsung sangat meriah dan seru , pemuda-pemuda tampan dan gadis-gadis cantik saling menunjukkan kebolehan mereka selama ini , pibu itu berlangsung hampir sebulan , dan akhirnya didapatkan empat calon terkuat diantara seluruh hek-te , empat terkuat itu semuanya laki-laki, yaiti ciu-tong dan gu-can-lung dari pak-kek- hek-te , ma-tin-bouw dari see-kek-hek-te dan liu-sam dari lam- kek-hek-te

setelah pibu selesai , maka kembalilah hek-te ke wilayahnya masing-masing , empat orang yang terkuat sejak itu tinggal di bimbing ketat oleh pah-sim-sai-jin dan bahkan pah-sim-sai-jin mengambil seorang murid perempuan untuk dijadikan murid kelima yang berna can-hang-bi sementara sembilan rekannya mengambil murid seorang satu untuk diajar ketat dan penuh perhatian , luar biasa memang cara bverpikir pah-sim-sai-jin untuk membina dan membentuk kekuatannya , metode membuat penjahat yang diprakarsai dengan mengambil generasi muda , dan generasi muda yang masih labil dan rasa ingin tahu besar serta rasa ingin mencoba yang kuat diarahkan pada nilai-nilai kehidupan menyimpang dan mengarahkan pada kemesuman generasi yang merupakan pagar kekuatan masa sekarang dan corak harapan terbaik masa depan telah di racuni oleh pah-sim- sai-jin pemuda-pemudanya diracuni pertimbangannya sehingga cendurung pada pelampisan nafus yang tidak kenal batas sementara pemudinya diracuni rasa malunya sehingga cendrung memamfaatkan daya tariknya yang memang luar biasa untuk menundukkan lawan jenisnya , asusila menjadi kebanggan , menonjolkan diri merupakan kebiasaan melapaskan segala keinginan merupakan keharusan

memprihatinkan memang generesai yang terbentuk pada tangan orang seperti pah-sim-sai-jin , nilai kemanusian hilang , harga diri terhempas berkecai remuk , potensi hati yang dimilki hanya untuk meraih senang , menang , dan kenyang , potensi pikir hanya untuk melakukan sesuatu yang licik , picik dan jijik dan sementara jiwa hanya untuk menonjolkan penyangkalan , penistaan dan pembodohan diri , inilah bentuk dan warna pembinaan pah-sim-sai-jin dalam hek-te disetiap wulayah , tentunya pola ini akan membumi hanguskan sendi-sendi kemanusiaan dan jika dilihat dari latar belakang pah-sim-sai-jin sendiri dia seorang manusia yang lahir tanpa identitas jelas dan lingkungannya yang dikelilingi hal yang memabukkan , madat arak dan kemesuman dan juga ia sepi dari bimbingan rohani dan kasih sayang dan terlebih semuanya itu di topang oleh kekuatan luar biasa uantuk mewujudkan kecenderungan yang membentuknya sehingga tersalur tanpa hambatan dan tanpa kendali dan ironisnya itu menjadi prinsip hidup yang dia paksakan pada setiap orang dan hal itu sedang tumbuh dan perkembang dalam pengayomannya

Tiga tahun kemudian pertemuan kedua pun diadakan , setelah pesta pertemuan sehari semalam maka pibu pun dilakuakn , semua murid di lapangan yang sudah didirikan panggung dikerumuni atusias oleh murid-murid , selama tiga hari pibu itu baru selesai dan hasilnya sangat membanggakan sepuluh murid itu memperlihatkan kebolehan yang sangat luar biasa dan rata-rata mereka imbang , hanya memang harus ada yang terkuat dan itu dipegang oleh can-hang-bi murid kelima dari pah-sim-sai-jin dari sepuluh orang itu enam orang laki-laki dan dan empat orang perempuan setelah pibu sepuluh murid maka pibu antara empat murid utama pah-sim-sai-jin pun ditampilkan

Semua yang menonton tercngang memandang tidak berkedip akan kegesitan dan kekuatan yang diperagakan empat murid , dan oleh pah- sim-sai-jin memberikan nama pada empat orang murid utamanya dengan sebutan “thian-te-mo-si” (empat setan jagad) sementara untuk kesepuluh murid gabungan mereka di juluki “cap-pi-kwi” (sepuluh lengan iblis) dan urutan tingkatan hek-te pun telah disusun yakni thian-te-ong pah-sim-sai-jin sendiri , “thian-te-bo-kiu” (sembilan biang jangad) yakni sembilan rekannya ngo-ok-hengcia , im-kan-kok-sianli-sam dan see-kwi-liong , kemudian thian-te-mo-si , cap-pi-kwi dan terakhir “hek-kek-bun” (pintu kutub hitam) gelar itu diberikan kepada setiap murid kepala disetiap hek-te dan jumlah mereka itu ada empat puluh orang Kembali kita kekota ken-lung kota pantai laut kuning disebuah likoan yang megah dan indah tio-can sedang bersantap didalam likoan the-kun , setelah empat tahun memepelajari ilmu penginggalan butek lo-jin , kesatiannya makin maju pesat , gin- kangnya naik beberapa tingkat dan sin-kangnya semakin kuat dan ilmu yang dia pelajari di dinding goa adalah “jit-goat-sin- ciang” (pukulan sakti bulan matahari) dan “jit-goat-sin-lun” (roda sakti bulan matahari) ,

Tio-can meninggalkan pulau dengan dua bilah kayu yang dipasang pada kakinya , lalu ia melompat ke atas permukaan laut dan luar biasa dia meluncur dan berlari diatas permukaan air laut , tio-can amat takjub dengan dirinya dengan mendapatkan ilmu yang luar biasa itu , selama dua hari tio-can di permukaan laut kadang dia berhenti disebuah karang untu istirahat kadang disebuah pulau , sesampai didaratan besar , orang yang meyaksikan kedatangannya dari tengah laut melonggo tercengang , bahkan ada yang berlutut bahwa dewa laut sedang melintas didepan mereka

Tio-can senyam-snyum melihat tingkah para nelayan tersenyum dan bahkan menggondol pundi uang seorang penjual ikan yang baru saja menerima uang hasil penjulanannya satu ember ikan cucut tanpa disadari , tio-can menghilang makin membuat para nelayan menyembah- nyembah , tio-can memasuki kota dan sedang menyantap makanan di likoan the-kun , enam anak umur lima dan enam tahun mendekati likoan dan berdiri sambil menadahkan tangan pada orang yang keluar masuk likoan , kehadiran anak-anak itu membuat dua orang tukang pukul hartawan muda she-the berdiri dan mendekat

“heh..! kalian anak-anak malas , sana..! enyah dari sini “ , “kasihanilah kami paman ! sudah dua hari ini kami tidak makan “ suara seorang anak memelas membujuk “ , “lah..! kok membantah , mau kutampar ya ! hah… mau ditampar !” sahut tukan pukul sambil mengangkat tangannya yang kuat dan kekar

, anak-anak itu menjauh tapi masih disekitar likoan , tukang pukul yang tadi mengancam melangkah mendekati enam pengemis cilik ittu , dan kontan sanja keenamnya lari tunggang langgang

kedua tukang pukul itu tertawa melihat enam pengemis cilik yang tunggang langgang tapi “hegh…” keduanya tersedak karena menelan benda keras , mulut mereka berdarah ternyata dua gigi depan mereka ambrol dan menghantam tenggorokan dan tertelan namun tersangkut kontan keduanya berusaha memuntahkan dengan mencolok tenggorokan dan muntahlah keduanya berkali-kali hingga isi perutnya kosong , muntahan keduanya bercampur darah karena gusi yang berdarah

wajah keduanya pucat dua gigi seri bagian atas ompong nampak lucu muka keras dan bercambang itu , tenggorokan mereka masih terasa nyeri dan asam , keduanya didekati empat rekannya , “kalian ini kenapa !? “ ,”ada yang melempar sesuatu kemulut kami twako ! “ sahut seorang dari keduanya dengan muka marah , mereka mencari-cari benda apa yang menghantam mulut dua orang rekannya , dan mereka melihat dua patahan sumpit , “hmh… ada tamu yang coba-coba menghina kita “ sela pimpinan tukang pukul itu , lalu mereka masuk kedalam likoan dan memyapu pandangan pada setiap tamu

sebelum kami paksa ! lebih baik kalian mengaku , siapa yang telah coba menghina anak buah “kwi-eng” (si bayangan iblis)

the-kun “ teriak pimpinan itu dengan keras , semua tamu saling melihat , namun semuanya diam , “kalau tidak ada yang mengaku kalian tidak boleh ada yang keluar sebelum ada keputusan dari siauw-ya !” pimpinan itu keluar dan memasuki sebuah bangunan bertingkat dimana the-kun tinggal , tidak lama kemudian the-kun muncul dengan wajah bengis

“siapa yang telah menghina anak buahku cepat mengaku sebelum kalian semua aku smebelih ! “ the-kun membentak dengan muka merah menatap tajam pada semua tamu yang tunduk dengan wajah pucat , tiba-tiba tio-can berkata , “ aneh sekali kongcu , anak buahmu terluka di luar kok mencari pelakunya didalam sini “ the-kun dan enam anak buahnya memandang tio-can yang bersikap cuek dan kembali memandang anak buahnya , “siauwya , kamu mencari pelaku didalam karena yang menghantam gigi dari kedua rekan ini adalah patahan sumpit “ pimpinan tukang pukul membela diri

the-kun melihat sumpit tio-can , dan tio-can malah menggoyang-goyang sumpitnya sambil senyam-senyum , dua sumpit bekas pakai itu pendek ,naik darah the-kun dan segera menyerang tio-can namun yang diserang hilang dari kursi , sehingga pukulan the-kun menghancurkan kursi dan malah melemparkan meja kearah kilas bayangan yang lihat ,”brakk..” meja yang melayang itu menghantam seorang anak buahnya dan untunya disambut dengan pukulan hingga hancur

tio-can pringas-pringis melangkah keluar , the-kun menerjang cepat namun luput , tio-can sudah jauh mencelat kehalaman likoan , the-kun tidak mau sudah terus merangsak dengan amarah memuncak , tio-can tiba-tiba bergerak membalas dengan ilmu yang dipelajarinya di arnapurna , dalam seratus jurus the-kun terlempar dengan perut melilit karena dicium tendangan ti-can dan membuat the-kun muntah-muntah bahkan terakhir memuntahkan darah dan the-kun pingsan , enam anak buahnya datang menyerbu namun dalam tiga gebrakan tio-can sudah merobohkan mereka dengan luka patah tulang dan remuk

orang-orang dipasar gempar melihat kejadian itu dimana the- kun sebagai murid kepala pak-kek-hek-te dan dalam hirarki kepengurusan hek-te dia itu termasuk “hek-kek-bun” dan hari itu hartawan muda yang merasa memiliki dunia kena batunya , dia tergeletak pinsan ditonton orang banyak sementara tio-can sudah melenggang meninggalkan tempat itu , para nelayan yang melihat tio-can menghembuskan julukan padanya “ui-hai- sian-” (dewa laut kuning) , the-kun digotong pelayang kedalam rumahnya disamping likoan , selama seminggu dia terbaring hari itu the-kun duduk dimeja pembayaran dan memantau tamu-tamu yang datang , keadaanya sudah pulih tiga haris yang lalu setelah terbaring seminggu , dua orang kakek memasuki likoannya , keduanya adalah cu-keng-in yang sudah

berumur enam puluh empat dan khu-bun-sin lima puluh empat , selama empat tahun mereka mempelajari jurus yang dilukis oleh ouw-san-kok , anak ketua pulau neraka generasi kedua buangan dari pulau es dan ilmu yang meraka pelajari “te-yang- sin-ciang” (pukulan sakti inti bumi) dan “jit-yang-kiam” (pedang inti matahari) setelah tammat keduanya berlutut di depan mulut “ouw-suhu saya cu-keng-in dan sute khu-bun-sin akan meninggalkan pulau , kiranya apa yang kami pelajari dapat berguna bagi banyak orang “ dengan hikmat cu-keng-in menghadirkan ouw-san-kok suhu mereka disertai khu-bun-sin yang juga berlutut disampingnya

lalu keduanya menarik rakit yang sudah dua tahun selesai dan juga sudah dipergunakan selama ini untuk menagkap ikan dilaut untuk makanan mereka , keduanya naik keatas rakit dan menatap lama pada pulau dimana sudah empat tahun meraka diami , “kita berangkat sekarang in-suheng ! ? “ tanya bun-sin , “ya.. marilah sin-sute “ keduanya menggerakkan dayung yang disalurkan sin-kang dahsyat luar biasa , bagaikan permadani terbang rakit itu meluncur di permukaan laut dan dua hari kemudian setelah daratan besar kelihatan mereka memperlambat lahu rakit dan tidak mengambil perhatian para nelayan yang berjubel di pantai dengan kesibukan masing- masing keduanya mendarat dan meninggalkan pantai untuk memasuki kota untuk mencari likoan, likoan the-kun juga yang meraka masuki , seorang pelayan mendekati dan mempersilahkan mereka duduk , the-kun yang berada di meja pembayaran menatap kedua kakek itu dengan curiga , sejak dia dipencundangi ui-hai-sian dia curiga pada orang baru , dia memanggil pelayan yang tadi melayani cu-keng-in dan

sutennya , “setelah mereka selesai makan , kamu tanya mereka darimana !” , “baik siauw-ya “ sahut pelayan dan segera kembali bekerja

setelah keng-in dan bun-sin selesai , pelayan mendekati keduanya , “lopek..! , kalian ini darimanakah ?” nada pertanyaan yang curiga itu demikian kentara , bun-sin menatap pelayan itu dengan tatapan heran tapi dijawab juga , saya dari bengsan dan suheng saya ini dari luliangsan “ , “lalu apa urusan kalian datang kekota ken-lung ini ?” , “pelayan… mau tahu urusan orang ada apakah !? “ bun-sin balik bertanya , “siauwya kami penting untuk mengetahui urusan setiap tamu di ken-lung ini karena kota ini dibawah kendalinya “ sahut pelayan

, “apakah siauwyamu juga kungcu ken-lung !?” , “tidak ! tapi siauwya adalah murid kepala dari pak-kek-hek-te dan oleh psh- sim-sai-jin memberikan kota ini dibawah kendalinya “ , “lalu dimanakah tuanmu itu sekarang “ si pelayan salah duga dikiranya pertanyaan itu karena jerih , itu dimeja pembayaran , jadi kalian jangan macam-macam kalau mau selamat “ pelayan itu mengeloyor pergi “suheng hari ini kita akan mulai melakukan tugas dan kita mulai dari murid kepala pak-kek-hek-te ini “ sela bun-sin , “benar sute

! berikan sedikit pelajaran padanya untuk menghantam mental jumawa yang diwarisinya “ sahut cu-keng-in , bun-sin berdiri dan melangkah mendekati meja seakan hendak membayar makanan , the-kun pasang aksi karena dia mendengar dari pelayannya mereka adalah saudara seperguruan dari luliangsan dan bengsan dan mereka jerih dengan pak-kek-hek- te yang mana dia sebagai murid kepala

“semua makanan kalian tujuh tahil “ suaranya the-kun lantang namun bun-sin tersenyum , hari ini kami makan tidak bayar akan tetapi akan kami bayar dengan memberikan pelajaran berharga padamu “ muka the-kun berubah merah dan amarahnya meledak , dia berdiri dan alangkah terkejutnya ia ketika tubuhnya dibetot dari kursi dan dilemparkan sehingga ia melabrak tiang likoan hingga patah , “bangsat… ! teriaknya segera berdiri dan menyerang , pertempuran serupun terjadi , bun-siun menggunakan ilmu yang dia tekuni selama ini di bengsan dan memang the-kun itu tidak boleh dipandang ringan

, tadi bun-sin dapat melemparkan the-kun dengan mudah jakarena melakukan dengan cengkraman ilmu yang dia dapat dalam goa

setelah pertempuran berjalan seimbang , bun-sin mengeluarkan ilmu barunya dan tidak ayal pada jurus ke lima puluh perut the-kun kena cakar dan dadanya menerima hantaman pukulan yang mengandung hawa panas , takpelak the- kun memuntahkan banyak darah segar dan pingsan seketika karena ususnya serasa robek , jantungnya serasa terpanggang

. semua pengunjung yang sedang makan terkejut untuk kedua kalinya the-kun yang sakti yang mamakai julukan kwi-eng pingsan setelah sepuluh hari yang lalu dipecundangi orang baru

“mari suheng ! kita berangkat “ cu-keng-in berdiri dan keduanya meninggalkan likoan dan berjalan kegerbang kota sebealah barat , likoan jadi gempar dan pelayan yang tadi jara juru the- kun pucat ketakutan , “siapakah mereka tadi tanya tukang pukul

, “keduanya saudara seperguruan yang satu dari luliangsan dan yang satunya lagi yang memukul siauwya dari bengsan “ orang- orang berbisik dan poyokan yang dialamatkan kepada kedua saudara perguruan “san-ji-liong” (naga dari dua gunung)

the-kun di gotong lagi ke dalam rumahnya dan untuk kali ini hampir delapan bulan dia terbaring , banyak shines dipanggil untuk mengobatinya , dua rekanya sempat berkunjung untuk melihat keadaannya , “kun-suheng berikan ciri-ciri ketiga orang itu biar lima dari kita melacaknya dan menyeretnya kesini !” sela in-kan-bhok , “benar kun-sute !” hal ini sangat menghina pak- kek-hek-te “ sela li-beng menguatkan “ , lalu the-kun pun menceritakan ciri-ciri dari ui-hai-sian tio-can dan san-ji-liong , setelah itu dua rekannya pamit

setelah delapan bulan terbaring , keadaan the-kun pun pulih dan normal kembali dan dia melakukan aktifitas sehari-hari menghitung keuntungan likoan , keuntungan tumah bordil dam dua bua pokoan , miliknya , dan dua bulan kemudian the-kun dengan kereta kudanya hendak menuju pokoan miliknya dan ditengah jalan ia melihat seorang perempuan cantik dan matang membuat darahnya berdesir , perempuan itu sedang makan di rumah makan dadakan di pinggir jalan bersama seorang lelaki tampan yang juga sudah berumur , sepertinya mereka itu adalah suami istri , “berhenti..! “ teriak the-kun , lalu dia turun dan orang-orang yang berdagang di pinggir jalan dan emperan-emperan toko segera menyingkir

pemilik rumah makan dadakan menyambutnya dengan membungkuk-bungkuk dalam , “ada apakah siauwya sehingga mampir kerumah makanku yang kecil dan buruk ini “ , “phuahh..

, aku tidak ada keperluan denganmu tapi aku ingin menciduk perempuan cantik ini “ sahutnya sambil menolak pemilik rumah makan hingga terjengkang dan jatuh dan kakinya melangkah mendekat wanita yang membuat dia blinsatan setengah mampus , wanita itu memandangnya dengan tajam dan pemuda itu juga melihat dengan pandangan tajam , tapi the-kun menduga bahwa pandangan itu cuman gertak sambal untuk menutupi rasa takut yang menyergap hati mereka dan terlebih mata wanita yang agak melotot membuat tenggorokannya makin kering karena indahnya dua bola mata itu

dua orang itu adalah yo-hun yang berumur dua puluh sembilan dan siangkoan-lui-kim berumur dua puluh lima tahun , keduanya berada disebuah pulau yang berdekatan dengan pulau nelayan , mereka setiap hari bertemu dengan lelaki gundul dari pulau nelayan dan mencontohkan gerakan-gerakan silat , dan gerakan-gerakan itu mereka contoh lalu mereka latih terus menerus , hal itu mereka lakukan sampai lima tahun dan lelaki gundul dari pulau nelayan setiap hari singgah walaupun hanya sekedar melihat keduanya berlatih

pada tahun kedua setelah mereka berlatih ilmu yang sudah selesai mereka matangkan keduanya duduk ditepi pantai untuk melepas lelah , wajah cantik liu-kim semakin berbinar setelah melihat kenyataan betapa luar biasa ilmu tangan kosong yang merka dapatkan , getarannya pukulan mereka bagaikan sengatan halilintar dan kenyataanya memang benar bahwa ilmu itu adalah milik bukek-siansu yang bernama “pek-lek-jiu” (tangan halilintar) , yo-hun memandang wajah yang berseri itu , dan semakin membuat dia tidak dapat untuk mengutarakan isi hatinya

“kim-moi ..! panggilnya lirih penuh perasaan , lui-kim tersentak merasakan hal anrh dengan nada panggilan yang lain yang tidak biasanya ia dengar dari mulut yo-hun , wajahnya panas hatinya berdetak , dia mencoba menatap wajah yo-hun , “ada apakah hun-ko “ entah bagaimana suaranya pun begertar , yo- hun menggeser tubuhnya mendekati lui-kim , “kim-moi , hal ini akan kutarakan dan aku tidak sanggup lagi membendungnya “ , “apakah yang ingin hun-ko katakan “ , “kim-mo-… a…. aku …. merasakan nyaman berdekatan denganmu kim-moi , hatiku hangat melihat bahwa kau ada disisiku , kau demikian memikat hatiku kim-moi dan.. dan aku tidak kuasa lagi meyimpan perasaan ini , aku..aku cinta padamu kim-moi “ lepas rasanya beban yang menghimpit hati yo-hun , lui-kim merasa berdebar dan darahnya tersirap mendengar pernyataan dan pengakuan yang teramat indah didengar telinganya , hatinyapun tiadalah beda dengan apa yang dirasakan oleh yo-hun , dan semuanya ia simpan rapat dan rapi dalam hatinya walaupun kadang tidurnya gelisah mesra jika ia melihat tubuh yo-hun yang terbaring agak jauh dari tempatnya

dan siang itu saat kelelahan badan serasa hilang hembusan angina laut yang bergerak nakal membelai sinom rambutnya sebuah pernyataan panjang dan pengakuan betapa lelaki tampan tiada cacat yang disampingnya menyimpan sejuta rasa padanya , lelaki yang menjadi bunga mimpinya , hal itu mebuat dia tertunduk gemetar , terlebih saat jemarinya diraih tangan yang kuat dan lembut meremas jemarinya , perasaan indah menyusup dalam kalbunya , “maafkan aku kim-moi jika pernyataanku ini menyinggungmu “ lui-kim membuka matanya yang terlelap nikmat oleh remasan jemari yo-hun , “hun-ko ..! ,

cintamu bukanlah gayung tidak bersambut , pernyataanmu hun- ko membuat aku terlelap , hatiku bulat menerima cintamu hun- ko , aku juga cinta padamu hun-ko “

tiada kebagaian yang paling indah kecuali impian jadi kenyataan , cinta mendapat sambutan dan hati mendapat tempat , yo-hun menarik lui-kim kedalam pelukannya ,”duhai cintaku , bahagia ini tidak terlukiskan , jawabanmu membuat aku nyaman tiada terperikan , lui-kim merebahkan kepalanya didada bidang yo-hun , dan sangat nyaman ketika tangan itu membelai rambutnya dan makin terlelap saat bibir yo-hun mengecup keningnya , pipinya dan terakhir bibirnya , menyalalah api asmara bergeloralah birahi terasa selama setengah jam perpaduan asamara itu saling memilin dan keduanya kembali sadar bahwa mereka harus sabar

“kim-moi , setelah kita sampai didaratan besar hal yang pertama kita lakukan adalah kita akan kenanning menemui orang tua mud an aku akan melamarmu kepada mereka , lui- kim tertunduk bahagia , kekasihnya seorang lelaki pilihan , “aku hanya ikut padamu koko , aku bahagia dengan cintamu hun-ko “ sahut lui-kim sambil menyembunyikan wajahnya didada kekasihnya

keesokan harinya nelayan gundul datang dan memulai gerakan dengan tongkatnya dan gerakannya serta gaung suara yang ditimbulkannya sungguh luar biasa , setelah nelayan gundul berhenti , keduanya pun meniru gerakan , dan seharian gerakan itu mereka ulang-ulang , sementara nelayan gundul pergi mencari iakan dan datang lagi setelah keesokan harinya , demkianlah yang mereka lakukan setiap hari dan semakin lama gerakan itu makin sempurna dan sinelayan gundul juga takjub dengan hasil yang mereka dapatkan dan ilmu yang oleh bukek siansu diberi nama “thian-te-it-kiam” (pedang tunggal jagad) selesai mereka rapungkan selama tiga tahun pagi saat mereka berencana akan meninggalkan pulau , nelayan gundul menemui mereka , “apa kalian belum sudah latihan !? , “paman yang baik !” pagi ini kami akan meninggalkan pulau dan kami berdua mengucapkan terimaksih yang tidak terhingga atas kebaikan paman yang sudi membagi pengetahuan kepada kami “ , “jadi kalian akan meninggalkan pulau dan kembali kedaratan besar !?” , “benar paman ! dan hari ini kami mohon pamit dan minta restu dari paman “ , “baiklah , semoga kalian selamat sampai ditujuan , “terimaksih paman ! keduanya menjatuhkan diri berlutut dihadapan nelayan gundul yang sudah agak tua dan berkeriput , “apa yang kalian lakukan !” jangan seperti itu bangkitlah “ seru nelayan itu mundur dua tindak , keduanya mendongak menatap nelayan itu

, “paman ! restuilah kami “ keduanya lalu menunduk , nelayan itu bingung dengan tingkah kedua orang yang sudah lima tahun mencontoh-contoh gerakannya , lalu dia berkata , “aku tidak mengerti apa yang kalian maksud tapi baiklah aku merestui kalian “ sahutnya sedikit bingung , keduanya maklum bahwa nelayan ini orang aneh , “terimakasih paman ! “ sela yo-hun lalu menarik tangan lui-kim berdiri

“ya.. berangkatlah ! sahut nelayan gundul , lalu yo-hun dan lui- kim naik ketasa perahu mereka yang sudah lima tahun mereka gunakan untuk mencari ikan , sesaat mereka melihat nelayan gundul dan tua itu , tidak terasa lui-kim terenyuh akan kepolosan nelayan tua yang tidaka perrnah menyadari telah manabur ribuan kebaikan pada mereka , yo-hun dan lui-kim melambai dan dibalas nelayan itu dengan senyum , lalu keduanya pun mengayuh perahu maka berdesirlah suara permukaan laut saat perahu melejit kedepan di tolak dua kekuatan dahsyat dan hal ini membuat keduanya tercengang , memang hal ini yang akan mereka lakukan mangayuh dayung dengan sin-kang namun mereka tidak membayangkan bahwa tenaga sin-kang mereka bertambah puluhan kali lipat sebelum mendapat pelajaran dari si nelayan gundul

tiga hari kemudian mereka sampai kedaratan besar , lalu kapal mereka itu mereka tawarkan dengan harga murah pada nelayan seharga sepuluh sepuluh tahil perak dan sebentara saja perahu mereka dibeli seorang nelayan , kemudian mereka memasuki kota dan mencari tempat untuk makan , “ kim-moi , kita makan di rumah makan ini saja “ sela yo-hun dan lui-kim mengangguk , keduanyapun masukk dan mengambil tempat duduk sambil memasan makanan , makanan cepat saji pun terhidang dan merekapun makan dan baru saja selesai makan the-kun mendekati mereka dengan pandangan kurangajar pada lui-kim

“cantik…! Aku tanggung kamu tubuhmu yang gemulai akan kuhiasi dengan perhiasan emas , dan “plak… “ the-kun merasa kepalanya seperti disambar petir menerima tamparan lui-kim yang berdiri sementara dia terjengkang kesamping dengaan gigi geraham lepas dari gusinya , mulutnya berdarah dan dia meludahkan giginya dengan muka berubah marah , sebenarnya kalau the-kun tidak dihinggapi birahi yang menyentak melihat tubuh lui-kim yang gemulai tidak semudah itu ia tertampar , dan stidaknya walaupun tetampar gerahamnya tidak akan copot dari gisinya

anak buah the-kun berdatangan , sementara the-kun merangsak menyerang , namun gerakan tangan yang luar biasa cepat laksana kilat sudah menampar mukanya berkali-kali

, lui-kim mendesak the-kun keluar rumah makan dan melanjutkan hajarannya pada the-kun yang terperanjat setengah matang tidak percaya bahwa mukanya jadi bulan- bulanan seperti itu . orang berkerumun melihat peristiwa itu , akhirnya setelah dua puluh gebrakan the-kun terhempas lagi mencium tanah pingsan karena lagi-lagi perutnya kena pukulan lui-kim membuat ususnya berantakan dan tidaki bisa normal lagi dan mukanya memar babak bundas

orang yang berkerumun terheyak melihat kwi-eng pingsan dengan muka memar hijau , orang yang selamat setahun melihat peristiwa yang dialami the-kun geleng-geleng kepala akan apes dan sialnya the-kun hartawan muda dan sombong itu , tiga kali dalam kurun setahun the-kun pingsan dipecundangi orang luar , dan para nelayan yang ikut melihat peristiwa itu dan merekapun berbisik-bisik melihat lui-kim dan yo-hun meninggalkan kota ken-lung , dan dari mulut mereka tersebar poyokan untuk yo-hun dan lui-kim dengan julukan “ui- hai-liong-siang” (sepasang naga laut kuning)

the-kun digotong kedalam keretanya dan dibawa pulang anak buahnya , dua minggu kemudian keadaan the-kun sampai ketelinga sembilan rekannya murid kepala di pak-kek-hek-te , lalu mereka datang menjenguk dan mereaka semakin marah , karena dua yang terdahulu mereka belum ketahui bahkan sekarang muncul lagi orang yang meraka yakin dari laut kuning juga dan ini ada hubungannya dengan pusaka pulau es lima tahun yang lalu

“sebaiknya kita laporkan kepada thian-te-ong “ sela seorang diantara mereka , “benar ! tentunya kalau ini ada hubnungan dengan pulau es lima tahun yang lalu , berate musuh kita ini bukan orang sembarangan dan sangat perlu thian-te-ong

ketahui “ semuanya mengangguk membenarkan , lalu sepulang dari ken-lung mereka menghadap pah-sim-sa-jin di ruangan tengah sedang bermesraan dengan wanita-wanita yang dikhusukan melayaninya , jumlah wanita itu dua puluh orang