-->

Pendekar Lengan Buntung Jilid 13 (Tamat)

Jilid 13 (Tamat)

Selagi peperangan berkecamuk dengan hebatnya, dan selagi jeritan-jeritan manusia dengan panik dan ngeri membubung tinggi di atas Kotaraja yang telah banjir darah. Dua sosok tubuh manusia berkelebat dengan amat cepatnya menggerakkan pedangnya membabati tentara Mongol yang sudah banyak mengalahkan tentara Song yang hanya tinggal beberapa puluh orang saja. Dua sosok manusia itu bergerak dengan amat cepat sekali. Setiap kali pedang mereka bergerak, kepala tentara Mongol akan roboh meninggalkan badan.

Kedua orang muda itu adalah Sin Thong dan Siauw Yang yang telah tiba di Kotaraja dan mengamuk dengan amat dahsyat. Sin Thong mainkan pedang samurainya bagaikan malaikat pencabut nyawa. Siauw Yang yang sudah gemas sekali akan bangsa Mongol penjajah menggerakkan pedangnya, dengan luar biasa, membabati leher bangsa Mongol seperti orang membabati rumput saja.

Kedatangan kedua orang muda yang mempunyai sepak terjang seperti maut, membuat pasukan Song yang tinggal beberapa orang saja bangkit semangatnya. Dengan gigih ia menggerakkan senjatanya merangsek mengeluarkan teriakan-teriakan bersemangat!

Di lain bagian, di sebelah utara Kotaraja, pasukan-pasukan Mongol menjadi kocar kacir karena munculnya banyak orang gagah yang sudah menyerbu Kotaraja dan menempur kerajaan Mongol. Di antara peperangan yang sedang berlangsung itu nampak Ho Siang dan Nyuk In mengamuk, hebat luar biasa!

Biauw Eng dan Hok Sun yang sudah sampai ke tempat itu menyerbu ke dalam kota dan begitu mendapati ayah Biauw Eng sudah mati beserta keluarganya oleh pembunuhan-pembunuhan bangsa Mongol yang kejam ini, sambil menangis Biauw Eng mengamuk bagaikan singa betina kehilangan anak. Sementara Hok Sun yang dijuluki harimau terbang, menggetarkan pasukan Mongol!

Akan tetapi pasukan Mongol yang terdiri dari ribuan orang itu, tak dapat mereka hancurkan. Apalagi setelah mereka mendengar bahwa kaisar sudah membunuh diri karena penyesalan atas kebodohan sendiri. Maka Biauw Eng dan Hok Sun yang masing-masing memondong tubuh ke dua orang tua Biauw Eng berkelebat ke sana ke mari membuka jalan darah untuk ke luar dari kepungan tentara Mongol yang demikian ketat.

Memang sejak dulupun pasukan Mongol ini terkenal sebagai laki-laki gagah yang pantang menyerah, oleh sebab itu, begitu ke dua orang ini bergerak dan tiga-empat orang roboh mandi darah, datang lagi sepuluh orang dan begitu seterusnya akhirnya, kedua orang ini mulai lemah, gerakan-gerakan mereka mulai kacau. Hok Sun kuatir sekali melihat keadaan Biauw Eng ini, ia bersilat mendekati gadis itu.

Sayang sekali mereka ini bersilat dengan tidak leluasa karena memondong tubuh ke dua orang tua Biauw Eng. Sebuah sambaran golok tentara Mongol menyerempet di pundak Hok Sun, pemuda itu menjerit keras dan membabatkan pedangnya menghantam perwira Mongol itu. Terdengar jeritan mengerikan waktu pedang di tangan Hok Sun amblas di dada seorang perwira Mongol.

Darah merah menyembur dari dada yang tertanam pedang itu. Hok Sun menggerak tangan kirinya mendorong ke samping waktu didengarnya sambaran senjata berkelebat di atas kepalanya dengan sedikit menggeser kakinya pemuda itu sudah meluputkan diri dari sambaran tombak perwira Mongol dan begitu tangan kirinya mendorong, tubuh perwira itu terjengkang ke belakang oleh dorongan angin pukulan Hok Sun yang lihai. Akan tetapi pemuda itu juga menjerit menahan rasa sakit yang hebat dan pundaknya yang tadi terserempet golok.

Sesosok bayangan berkelebat di tempat itu dan lima perwira Mongol terjungkal oleh terjangan sebatang tongkat kecil dari Kong Hwat yang sudah sampai ke tempat itu dan melihat kedua temannya sudah mandi darah, segera ia berseru: “Hok Sun twako, lekas lari!” 

“Kong Hwat lote…….!” panggil Hok Sun girang melihat datangnya murid Koay-lojin yang perkasa. Datangnya pemuda itu, pengepungan menjadi dua bagian. Cepat Hok Sun berseru kepada Biauw Eng yang sudah kelihatan lemah sekali.

“Eng-moay…… buka jalan darah. Cepat!” Seru Hok Sun mengelebatkan pedangnya membuka jalan dan tiga orang perwira yang mengeroyoknya terjungkal dengan dada terserempet pedang.

Dengan gerakan yang ringan, tangan kiri Hok Sun menyambar tangan kiri Biauw Eng bagaikan terbang keduanya mencelat lewat kepala para pengeroyok. Seorang perwira bangsa Mongol segera menyambitkan pisau terbangnya dan begitu Hok Sun mengebutkan lengan bajunya, pisau itu melayang kembali kepada si penyambit dengan luncuran yang cepat, menghantam lengan kiri si penyambit. Perwira yang kena senjata makan tuan itu menjerit kesakitan memegangi lengannya!

Hok Sun dan Biauw Eng sudah melompat jauh dan hilang di balik tikungan jalan. Sementara Kong Hwat mainkan ilmu tongkat Fu-niu-san-tung-hoat dengan cepat dan tubuhnya berkelebat-kelebat laksana bayangan maut yang siap hendak merenggut nyawa lawan yang kurang waspada. Akan tetapi bagaimanapun hebatnya Kong Hwat dikeroyok oleh banyak perwira Mongol yang tak habis-habisnya ini lama kelamaan tubuhnya menjadi lelah juga, gerakan-gerakannya mulai lemah!

Pada saat itu, berkelebat dua sosok bayangan. Sepuluh perwira kerajaan terjungkal tak dapat bangun lagi. Ternyata Ho Siang dan Nyuk In sudah sampai ke tempat itu dan berseru kepada Kong Hwat:

“Kotaraja sudah direbut oleh musuh, kaisar membunuh diri. Tak guna kita bertempur mati-matian. Sebaiknya lekas lari dan ke pulau Bidadari! Seorang pemuda lengan buntung sedang mengamuk mengobrak-abrik Sian-li-pay! Hwat-te lekas kau lari! Kita ke sana menolong pemuda lengan buntung!”

Sambil mengelebatkan tongkatnya menotok, Kong Hwat menoleh kepada Ho Siang.

“Baik twako, mari kita pergi! Eh, bagaimana dengan Sin Thong dan Siauw Yang?”

“Mereka sudah berangkat.......”

“Baik, sekarang kita pergi.......! Sambil berkata demikian, sekali tubuh Kong Hwat mengenjot tubuhnya, pemuda itu sudah melayang dan berlari cepat disusul kemudian oleh bayangan Ho Siang dan Nyuk In yang gesit seperti walet terbang.

Perwira-perwira Mongol berteriak-teriak mengejar. Akan tetapi begitu ke tiga orang muda yang lihay itu menggunakan ilmu lari di atas rumput, tahu-tahu mereka telah kehilangan bayangan ke tiga orang muda itu.

Sorakan-sorakan kemenangan menggema di Kotaraja. Bendera kerajaan Mongol dipancangkan di luar tembok kota. Perwira-perwira Mongol merayakan hari kemenangan ini dengan pesta pora merampoki rumah-rumah bangsawan dan membunuh laki-laki bangsa Han yang melawan. Beberapa orang yang dicurigai memberontak, dijejerkan di tepi jalan dan diikat. Kemudian dua orang algojo mengelebatkan goloknya yang besar memenggal kepala mereka!

Gadis-gadis cantik menangis penuh ketakutan dalam cengkraman tangan-tangan yang kasar, mulut-mulut yang penuh nafsu mencekeram bibir cantik si gadis. Sebentar kemudian, dengan biadab pemerkosaan dan penculikan berlangsung di muka umum dengan tiada yang berani menentang lagi. Siapa iang berani melawan?

Mencari mati!

Itulah perang, jeritan ketakutan membumbung setinggi langit. Kematian-kematian oleh karena aniaya dan fitnah berlangsung yang dilakukan orang-orang yang hendak mencari muka untuk mengambil hati Kaisar baru, gadis-gadis cantik menjadi persembahan yang menggirangkan kaisar baru yang ditunjuk oleh pemimpin besar Khu Bilay Khan.

Pemimpin ini kemudian kembali ke Mongol, membawa barisannya dan mencari tanah jajahan lain! Kelak kemudian pemimpin ini terkenal oleh karena ia adalah cucu dari Raja Besar di Mongol yang bernama Jenghis Khan, orang besar yang pernah menggemparkan dunia!

Hari itu kerajaan Song mengalami kehancuran.

Kerajaan Mongol menguasai kembali daratan Tiongkok.

◄Y►

18

Tiang Le memegang bahu Bwe Hwa dan katanya pelan: “Hwa-moay, kau jangan kuatir, aku pasti akan kembali, nantikanlah aku di lembah Tai-hang-san ini, jangan kau cemas Bwe Hwa.......!!”

Bwe Hwa memandang pemuda di depannya ini dengan tatapan basah.

“Bagaimana aku tidak cemas koko, kau hendak pergi ke pulau Bidadari hanya seorang diri, aaah kokoo....... biarlah aku ikut denganmu. Setidak-tidaknya aku dapat membantumu menghadapi lawan-lawan yang hendak mencelakakanmu, biarlah aku ikut koko!”

Tiang Le mengecup kening si gadis. Dengan tangan kirinya ia mengusap pipi si gadis yang berlinang air bening dan memandang mata yang berkaca-kaca itu dengan pandangan mesra.

“Tidak Hwa-moay, justru kalau kau ikut denganku, kau akan menjadi beban bagiku dan aku…... aku kuatir akan keselamatan, kesehatanmu yang belum pulih benar. Kau nantikanlah aku disini, di tempat ini baik sekali untukmu beristirahat……. ku pergi takkan lama Hwa-moay, andaikata aku selamat, dan dapat menolong Pei Pei, pasti aku akan ke mari.”

Gugur bendungan air mata Bwe Hwa. Tak dapat berkata-kata lagi ia menjatuhkan kepalanya di dada Tiang Le. Menangis sedih!

“Kokoo........ kalau... kau tidak kembali….. bagaimana?”

Tiang Le mencoba untuk tersenyum, walau hatinya menangis.

“Apa boleh buat Hwa-moay…..., tentu saja kalau aku tidak kembali itu tandanya aku tak dapat meloloskan diri dari Sian-li-pay dan mungkin juga tidak mampu menolong Pei Pei. Ahh, Hwa-moay....... jangan kita memikirkan sampai ke situ. Percayalah kalau Thian melindungi, pasti aku selamat. Kau berdoalah……!”

Bwe Hwa memeluk Tiang Le erat-erat.

“Kalau begitu....... aku akan ikut denganmu koko, biarlah mati hidupmu, aku akan mendampingimu... koko, aku... aku bersedia mempertaruhkan nyawa ini untukmu. Bawalah aku koko…….!!” Bwe Hwa menangis lagi.

Tiang Le memejamkan matanya. Ia merasa terharu sekali akan atas kecintaan gadis ini. Dipeluknya Bwe Hwa dengan penuh perasaan. Bwe Hwa membalas pelukan Tiang Le dengan penuh perasaan cinta di dada.

Keduanya kini saling berpandangan di antara kabut yang membiru menyelimuti mereka. Dada Tiang Le berdebar-debar keras sekali. Ingin sekali ia melepaskan pelukan ini, akan tetapi entah mengapa?

Sejak si kakek kaki buntung memberitahukan akan penyakit gadis ini, yang hanya bertahan hidup dalam waktu yang amat pendek, tak tega ia melukai hati gadis ini. Tak mau ia menyakiti hati Bwe Hwa. Tak kuasa ia untuk menolak cinta kasih Bwe Hwa, maka bagaikan orang yang bermimpi, iapun berkata: “Aku cinta padamu Hwa-moay……..”

“Tiang Le koko…” hanya rintihan itu yang keluar dari bibir Bwe Hwa yang menantang untuk sedia menerima kecupan Tiang Le. Dan Tiang Le memang mengecup bibir yang menantang itu. Mengecupnya dengan lembut dan hati yang berkasihan.

Degupan dada si gadis yang berdetak-detak menyentuh jantungnya di dalam dada, membuat seakan-akan napas Tiang Le berhenti. Degup yang menyentuh jantungnya bagaikan irama kematian yang kelak akan merenggut nyawa Bwe Hwa entah dalam beberapa saat lagi!

Pilu rasa hati Tiang Le.

Mereka berpelukan di depan pondok lama sekali. Sementara angin gunung menerpa dengan kesejukan yang membahagiakan.

Apabila Tiang Le ingat akan Pei Pei yang kini sedang ditawan dalam tangan Bu-tek Sianli, Tiang Le mendorong tubuh si gadis dan berkata: “Hwa-moay… sekarang aku harus pergi….. tak boleh aku membuang banyak waktu lagi, kau nantikan saja aku di sini…….”

“Koko……!!!.”

Tiang Le mengangkat dagu si gadis dan berkata: “Tidak percayakah kau kepadaku, Hwa-moay?”

“Koko, setelah…… setelah kau bertemu dengan Pei Pei dan dapat menyelamatkan gadis itu, sungguhkah kau tidak meninggalkan aku…… sungguhkah kau akan kembali ke sini?”

“Haa…. haa Hwa-moay, kau ini ada-ada saja. Sudah tentu kalau aku berhasil menolong Pei Pei, pasti aku kembali ke tempat ini!!”

“Koko……!!” Bwe Hwa memandang Tiang Le. Amat redup sekali pandangannya itu, bergetarkan irama kasih. Membuat Tiang Le jadi terharu.

“Koko kau…… kau, apakah kau cinta pada gadis itu?”

“Siapa?”

“Cia Pei Pei…….”

“Hemm!!” Tiang Le hanya menarik napas panjang. Kemudian ia mengangkat wajah si gadis.

Bwe Hwa lalu menatap pemuda itu.

“Aku tidak marah, seandainya iya, iyaaa bukan?”

Tiang Le tidak menyahut, ia hanya mengecup bibir yang berkata dengan penuh getaran hati tadi.

Kecupan itu merupakan perpisahan bagi Tiang Le dan Bwe Hwa.

Bwe Hwa memandang kepergian si pemuda dengan tatapan nanar oleh air mata yang berlinang, apabila bayangan Tiang Le hendak lenyap ke balik tikungan batu yang ada di bukit itu, Bwe Hwa melambaikan tangannya dan mengirim suara jarak jauh, “Tiang Le koko....... apabila dalam tiga hari kau tidak kembali, aku pasti akan menyusulmu ke pulau Bidadari!!!”

Tiang Le yang mendengar suara dari kejauhan itu, setitik air mata meleleh di pipinya, cepat-cepat dihapusnya dengan ujung jari tangan kirinya. Dan bagaikan terbang pemuda lengan buntung itu berlari cepat menuju pulau Bidadari.

Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan dirinya Pei Pei!!

Mudah-mudahan Pei Pei dapat kutolong!!

Tiang Le tidak banyak membuang waktu, dia segera berjalan cepat menuju pulau Bidadari. Waktu yang amat pendek membuat Tiang Le berlari cepat dengan tak berhenti-henti walaupun kegelapan malam telah menutupi jalan. Akan tetapi dengan kepandaian gin-kangnya dan ketajaman matanya ia terus saja menerobos malam yang kelam.

Dari seorang nelayan, ia membeli sebuah perahu kecil untuk menyeberangi laut Po-hay dan mencari pulau Bidadari!! Untunglah pada tengah malam itu di tengah lautan bulan bersinar terang, sehingga Tiang Le dapat mengarahkan tujuan perahunya ke sebuah pulau yang letaknya terasing dari pada pulau-pulau lainnya.

Bulan di atas terang benderang.

Sebuah perahu merapat di sebuah pulau. Akan tetapi baru saja pemuda lengan buntung itu hendak menginjakkan kakinya di pantai, serangkum angin pukulan menyambar belakangnya. Cepat Tiang Le menggeser kakinya dan mencelat ke atas. Kiranya disitu telah berdiri dara-dara Sian-li-pay mengurungnya.

“Orang muda, siapakah kau? Apakah kau pendekar lengan buntung yang diundang oleh Pay-cu Bu-tek Sianli?” Salah seorang dari dara jelita yang berambut panjang menegur.

Sikapnya galak sekali. Kalau dulu wajah gadis-gadis ini berkerudung hitam. Sekarang, tidak lagi. Nampak gadis-gadis itu demikian cantik jelita. Akan tetapi sikapnya ketus dan galak.

Melihat bahwa yang menyambutnya hanya Iima orang dara-dara jelita ini, Tiang Le tersenyum dan berkata, “Betul nona, aku yang rendah memenuhi undangan Bu-tek Sianli, akan tetapi kalian ini kenapa datang-datang menyerangku, beginikah sambutan orang-orang Sian-li-pay?”

“Ooo, kiranya kau adalah pendekar lengan buntung yang disebut-sebut oleh Pay-cu? Hm hanya beginikah pemuda tangan buntung yang disohorkan oleh Pay-cu? Eh buntung sebelum kau menginjak daerah Sian-li-pay hayo hadapi pedangku!”

Tiang Le tertawa keras dan berkata: “Nona cantik, aku masih banyak urusan penting dengan ketuamu, tak boleh berlambat-lambat. Biarlah aku ke dalam!”

“Enak saja kau, hadapi dulu kami! Suci, mari kita serbu, kita lihat sampai di mana sih kepandaiannya. Eh buntung lihat pedang!”

Sambil berseru demikian salah seorang dari ke lima dara Sian-li-pay itu sudah menyerang Tiang Le dengan tusukan maut yang bergetar. Akan tetapi menghadapi gerakan ini, walaupun dahsyat akan tetapi dengan mudah sekali Tiang Le berkelit dan membalas dengan dorongan gerak tangan kilat ke arah lawan.

“Dess!”

“Aiiihhh……” si gadis mencelat kaget, cepat ia berpok-sai tiga kali dan dari udara itu mengirimkan serangan menusuk ke arah kepala Tiang Le.

Kagum sekali Tiang Le melihat gin-kang yang tinggi dari gadis ini, cepat ia berkelit ke samping dan pada ketika itulah empat dara Sian-li-pay yang lain sudah menerjang maju dengan pedang di tangan. Dan sebentar saja Tiang Le sudah di keroyok oleh lima dara dari Sian-li-pay.

Tentu saja karena Tiang Le tidak ingin melayani si gadis lebih lama lagi, begitu tangannya bergebrak terdengar jeritan kaget dari gadis Sian-li-pay melihat pedang mereka telah terlepas dari pegangan dan mereka terlempar dengan tidak terluka, kagum sekali dara-dara Sian-li-pay menyaksikan gerakan yang luar biasa tadi.

Akan tetapi mereka menjadi penasaran. Masa dalam beberapa gebrakan saja mereka telah dipecundang sedemikian rupa, maka dengan mengeluarkan teriakan nyaring, mereka sudah menyerbu mengirimkan pukulan ke arah Tiang Le.

Tiang Le menjadi kheki bukan main menghadapi gadis-gadis Sian-li-pay yang bandel ini, maka dengan gerakan cepat, tahu-tahu ke lima gadis Sian-li-pay itu sudah terpental lagi dalam keadaan tertotok.

Pada saat itu, sepasukan tentara Mongol mendatangi dengan senjata telanjang di tangan. Dan salah seorang yang bertubuh tinggi besar, dan berlengan penuh bulu membentak dengan suara keras: “Orang muda, menyerahlah untuk menghadapi Pay-cu Bu-tek Sianli dan lepaskan senjata!”

Akan tetapi Tiang Le yang telah dapat mengenali orang-orang Mongol yang kasar ini menjadi marah: “Orang liar, tutup mulutmu yang kotor dan lebih baik panggil si nenek Bu-tek Sianli. Jangan ia bersembunyi di belakang kalian yang tak punya guna ini, panggil dia!”

Pada waktu itu, nama Bu-tek Sianli sudah amat disegani oleh banyak tentara Mongol, terlebih lagi pada waktu-waktu ini mereka itu adalah undangan dari Bu-tek Sianli yang bersekutu dengan kerajaan Mongol, tentu saja nama Pay-cu Sian-li-pay dimaki oleh pemuda buntung itu dengan sebutan Nenek dengan nada yang mengancam, mereka menjadi marah dan membentak keras,

“Manusia kurang ajar! Kau sudah berani datang ke pulau Bidadari ini tanpa ijin dan datang-datang kau bersikap kurang ajar. Apakah kau mempunyai nyawa rangkap begini tak takut mampus?”

“Ha ha ha, orang Mongol kasar dan goblok. Buka telingamu lebar-lebar, aku adalah Sung Tiang Le, memenuhi janji atas undangan Bu-tek Sianli. Hayo kau sampaikan bahwa tuan besarmu sudah tiba dan menyambutku dengan baik-baik!”

Para tentara Mongol mulai mengurung dan mereka telah menggerak-gerakan senjatanya. Sikap mereka mengancam sekali. Ada hampir seratus tentara Mongol berteriak-teriak menyuruh menyerah. Namun Tiang Le tertawa bergelak dan berkata penuh sindiran,

“Ha ha, ini sajakah manusia-manusia Mongol yang hanya beraninya main keroyokkan saja? Inikah anak buah Khu Bilay Khan yang kesohor itu? Hemm, tidak tahunya hanya ulat-ulat berbisa yang tidak punya guna!”

Tentu saja orang-orang Mongol ini menjadi marah sekali dan serentak mereka menyerbu. Tentu saja Tiang Le yang sudah siap dengan pedang buntungnya di tangan menyambut kedatangan mereka. Begitu orang bergebrak mengirimkan bacokan ke arah Tiang Le, begitu pula tangan kiri pemuda buntung itu bergerak cepat, kelima orang itu sudah terlempar roboh dengan tubuh mandi darah.

“Mundur kalian! Kalau tidak, aku Sung Tiang Le putera bangsa Han akan menghancurkan kalian!” Suara Tiang Le menggema menyakitkan anak telinga.

Tiga orang perwira yang tak kuat oleh bentakan Tiang Le tadi menjerit roboh dan pingsan. Inilah sebagian pengerahan sin-kang yang dikirimkan melalui suara oleh pemuda lengan buntung itu! Luar biasa, akan tetapi mana tentara Mongol ini mau mundur, malahan mereka bergerak mengurung pemuda lebih rapat.

Marahlah Tiang Le melihat kebandelan orang-orang kasar ini, pedang pusaka buntung bagaikan sebilah pisau menghadapi agar-agar yang sekali sentuh saja sudah buntung senjata mereka. Setiap kali pedang buntung ini bertemu dengan senjata lawan, pasti senjata lawan itu terbabat putus dan orang itu sendiri menjerit ngeri dan perutnya tersobek oleh sabetan pedang buntung Tiang Le yang menggunakan jurus-jurus Tok-pik-kiam-hoat.

Sebentar saja duapuluh lima perwira Mongol sudah mandi darah oleh sabetan pedang Tiang Le, pemuda ini menganggap bahwa perwira-perwira Mongol ini adalah bangsa yang suka menjajah dan kejam, maka pedang pemuda itu tidak memberi ampun lagi kepadanya. Setiap gerakan pedang, diiringi pekik kematian dari lawannya!

Pedang pusaka buntung bermandikan darah!

Tiang Le benar-benar telengas dan kadang-kadang apabila pedangnya itu terselip di pingang, bagaikan geledek tangan kiri pemuda itu menyambar merupakan maut yang mencabut nyawa. Hebat sepak terjang Tiang Le!

Baiknya baru ada limapuluh perwira yang tewas ketika tiba-tiba terdengar bentakan keras menahan semua perwira yang bertempur. Bentakan ini demikian berpengaruh, karena semua orang Mongol melompat mundur dan berlutut!

Sepasukan tentara berkuda bergerak dari depan. Seorang penunggang kuda tentara Mongol bertubuh tinggi besar dan tegap dengan pakaian perang yang lengkap berkata dengan suara yang besar dan serak,

“Orang muda buntung, Pay-cu Sian-li-pay mempersilahkan engkau masuk ke ruang dalam!”

Hanya itu yang dikatakan orang itu, kemudian pasukan kuda itu telah membedal kudanya kembali ke dalam, diikuti pula oleh gerakan-gerakan dari para perwira Mongol sambil menggotong tubuh kawan yang mati dan yang terluka.

Di pinggir pantai itu Tiang Le berdiri. Tak ada satupun manusia di tempat itu. Suara ombak memecah pantai bergemuruh meningkahi kesepian malam. Bulan di atas terang benderang.

Sehingga memudahkan pemuda itu memasuki pulau Bidadari. Dari pendengaran-pendengaran telinganya yang tajam tahulah ia bahwa tempat itu sudah dikurung oleh banyak orang yang belum mau menampakkan dirinya.

Tahulah Tiang Le bahwa Nenek Bu-tek Sianli sudah mengerahkan orang-orangnya mengawasi dirinya. “Hem, apapun yang akan terjadi, ia harus menyelamatkan Pei Pei! Awaslah kau Bu-tek Sianli, seujung rambut saja kau mengganggu Pei Pei, aku akan mengamuk dan menghancurkan pulau ini!”

Tiang Le berjalan perlahan. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya. Ia mendengar suara kuda yang banyak sekali. Ketika ia memperhatikan derap kaki kuda itu datangnya dari belakang, kanan dan kiri dan dari depan. Agaknya ia sudah dikurung oleh barisan berkuda yang banyak sekali jumlahnya.

Tiang Le berdiri tegak di depan barisan berkuda yang mengurungnya. Menanti reaksi dari orang-orang Mongol ini.

“Hm, beginikah sambutan Bu-tek Sianli?”

“Orang muda buntung, menyerahlah! Kau sudah terkurung dan nyawamu berada di tangan kami,” itulah suara perwira Mongol tinggi besar! Suara yang kuat dan besar yang bergema di sekitar tempat itu, amat menyeramkan.

Mendengar kata-kata ini Tiang Le maklum bahwa ia sudah masuk perangkap di pulau ini. Ternyata Bu-tek Sianli sengaja mengundangnya masuk perangkap. Hmm! Ini hanya dengan barisan berkuda, belum lagi yang lain-lain di belakang!

Tiang Le menyapu ratusan perwira Mongol berkuda. Nampaknya orang-orang Mongol ini lebih kuat dan terlatih. Aku harus berhati-hati, pikir Tiang Le meraba gagang pedangnya.

“Menyerahlah, sebelum kami bertindak kekerasan kepadamu orang muda buntung, sayangilah jiwa yang masih muda begini kalau binasa,” berkata salah seorang Mongol tinggi kurus seperti tengkorak hidup, berpakaian perwira gagah. Orang itu berkata dalam bahasa Han yang kaku!

“Kalian ini, suku bangsa Mongol, mengapa berada disini? Apa hubungannya dengan Bu-tek Sianli dan kalian ini siapa?” tanya Tiang Le menyapu orang-orang berkuda dengan pandangan tajam.

Terdengar orang Mongol yang tinggi besar itu tertawa mengakak mementangkan mulutnya yang besar, “Ha ha ha ha, tidak kenalkah dengan kami? Kami inilah barisan pendam tentara Mongol yang terkenal, sudah lama kami mendapat julukan barisan maut, mau kenal dengarku….. ha ha ha, aku bangsa Mongol, namaku Ouw Yang Gembol, dan yang kurus kering adalah adik misan dari Khu Bilay Khan bernama Themu Khan, dan….. sudahlah lebih baik kau menyerah orang muda, sebelum jiwanya melayang…... kasihan kau masih begini muda, ha ha ha!”

“Bangsat, Ouw Yang Gembol, ternyata kau seekor kadal hitam yang harus mampus. Biarpun kau dan orang-orangmu sudah mengurungku, kau dapat berbuat apakah?”

Baru saja Tiang Le berkata demikian, cepat seperti kilat dia sudah menggerakkan tangan kirinya memukul ke arah Ouw Yang Gembol, orang Mongol yang tinggi besar itu.

Angin pukulan menyambar, akan tetapi Ouw Yang Gembol yang memandang enteng kepada pemuda ini, hanya menggerakkan tangan pula mendorong ke depan. Dua tenaga yang tak kelihatan bertemu di udara.

“Desss!” Bagaikan layangan putus tubuh yang tinggi besar dari Ouw Yang Gembol terpental dari punggung kuda. Dan berdebuk di tanah dengan mengeluarkan suara keras.

Ouw Yang Gembol meringis merasa pantatnya sakit bukan main terhantam batu yang menghantam pantatnya, masih untung Tiang Le belum mau menjatuhkan tangan maut kepadanya. Hanya membuat terpental saja!

“Bangsat buntung, kau menghinaku....... lihat ini!” Dengan wajah merah karena malu kepada anak buahnya Ouw Yang Gembol sudah menarik goloknya yang besar dan berkilat-kilat saking tajamnya. Lantas saja golok itu melayang menyambar leher Tiang Le.

“Singg!” Suara golok mendesing membabat angin waktu Tiang Le miringkan tubuhnya ke kiri dan begitu tangan kirinya bergebrak, untuk yang ke dua kali pukulan Tiang Le yang dahsyat telah membuat lambung Ouw Yang Gembol terhantam pukulan yang kuat itu. Tubuh besar Ouw Yang Gembol melayang dan waktu ia berusaha bangkit, ia terhuyung-huyung dan muntahkan darah segar!

“Keparat! Berani kau melukai kepala barisan Maut? Mampuslah kau!” bentak Themu Khan menggerakkan sepasang kaitan yang panjang menggaet leher Tiang Le, tetapi begitu Tiang Le membalik menghantam ke depan.

“Duukk!” Tubuh Themu Khan terlempar jauh, akan tetapi ia sudah dapat berdiri kembali dan memegangi dadanya yang terasa sakit. Ia memberi aba-aba kepada anak buahnya, dan ia sendiri menyerbu lagi dengan kaitan di tangan!

“Tangkap hidup-hidup anjing buntung ini, serahkah kepada Bu-tek Sianli Pay-cu,” kata Themu Khan dalam bahasa Mongol yang tak dimengerti oleh Tiang Le.

Terjadilah pengeroyokan besar-besaran atas diri Tiang Le, akan tetapi pemuda itu hebat luar biasa. Tenaga sin-kangnya bertambah berlipat ganda sejak kakek kaki buntung yang berjuluk Sin-kun-bu-tek memindahkan tenaga lweekang kepadanya.

Setiap kali tangan kiri pemuda itu bergerak terdengar jerit mengerikan dari anak buahnya Ouw Yang Gembol yang tersambar angin pukulan yang luar biasa. Gerakan-gerakan Tiang Le ini amat cepat sekali dan tak terduga oleh lawan. Sedangkan tubuhnya mencelat ke sana ke mari membagi-bagi pukulan ke arah lawan. Dan sebentar saja, duapuluh lebih anak buah Ouw Yang Gembol sudah roboh dengan tak dapat bangun kembali!!

Ouw Yang Gembol dan Temu Khan menjadi marah sekali, sambil memberikan aba-aba memberi semangat kepada anak buahnya ia merangsek pemuda buntung yang amat lihay itu. Goloknya berkelebat mengeluarkan suara berdesing saking kuatnya tenaga Ouw Yang Gembol, sedangkan Temu Khan mainkan ilmu kaitannya mengeluarkan suara menciut-ciut seperti cambuk dan kadang-kadang mengait kepala lawan.

Berbahaya sekali kalau kepalanya Tiang Le sampai terkait, bisa kehilangan kepala dia, karena ujung kaitan ini diberi mata pancing yang besar sembilan buah, amat ganas sekali menyambar-nyambar. Tiang Le mengeluarkan pedang buntungnya, dan baru beberapa gebrakan saja, lima orang perwira Mongol menjerit roboh dengan tubuh mandi darah.

Tiang Le merasa kewalahan juga. Pengeroyok-pengeroyoknya amat banyak dan berkepandaian amat tinggi. Biarpun dengan pedang buntungnya ia banyak sudah merobohkan lawan, akan tetapi jumlah lawan terlalu banyak dan lagi melawan dengan nekat. Sedangkan mereka ini adalah tentara Mongol yang telah banyak pengalaman. Dan sering kali menghadapi pertempuran. Apalagi Ouw Yang Gembol dan Themu Khan dua orang Mongol ini bukannya lawan yang boleh dipandang ringan.

“Kalau begini terus, aku akan mati kelelahan....... musuh terlampau banyak, ini hanya baru orang-orang Mongol saja, belum lagi kekuatan Bu-tek Sianli dan orang-orangnya. Berbahaya!” pikir Tiang Le.

Tiba-tiba ia teringat akan ilmu penyerangan yang dikirim melalui suara, maka dengan gerakan cepat Tiang Le meloncat ke atas tembok benteng Sian-li-pay dan menjerit keras. Hebat sekali suara yang dikeluarkan oleh tenaga sin-kang yang tinggi. Suara ini merupakan sebuah jeritan maut yang tiba-tiba saja membuat banyak perwira Mongol roboh sambil mendekapkan telapak tangannya pada ke dua telinga. Sedangkan Ouw Yang Gembol dan Themu Khan cepat-cepat mengerahkan sin-kang di dada dan bersiulan di tanah.

Melihat lawannya sudah menjadi panik cepat Tiang Le melompat ke punggung kuda yang telah kehilangan penunggangnya. Dan sekali menggerakkan kakinya sudah membedal kudanya masuk ke dalam pulau!

Suara ringkikan kuda menghantarkan teriakkan marah dari Ouw Yang Gembol dan Themu Khan. Dari belakang orang-orang Mongol mengejarnya sambil berteriak-teriak.

Ratusan batang anak panah menghujani Tiang Le yang membalapkan kudanya. Akan tetapi dengan mudahnya Tiang Le dapat mengibaskan tangan kirinya memukul runtuh semua anak panah, akan tetapi beberapa batang anak panah menyambar kudanya dan tak dapat mengelak, tak lama kemudian kudanya roboh binasa dengan tubuh belakang penuh anak panah menancap, dalam-dalam!

“Keparat, kubasmi kalian!” bentak Tiang Le marah.

Dan begitu pasukan berkuda telah menyusulnya dengan teriakan keras tubuhnya mencelat dan sekali tangannya bergerak lima orang penunggang kuda roboh dengan dada robek oleh pedang buntung di tangan kiri. Sebentar saja, Tiang Le memainkan ilmu silat Tok-pik-kun-hoat dan Tok-pik-kiam-hoat, tubuh Tiang Le mencelat ke sana ke mari mengirimkan tebasan-tebasan ke arah orang-orang Mongol yang tak dapat mengelak lagi, darah menyembur dari dada dan leher.

Kasihan sekali orang-orang Mongol ini, mereka merupakan sekumpulan nyamuk yang bertemu dengan api lilin. Begitu pedang buntung Tiang Le bergerak, dua-tiga orang roboh mandi darah, dan apabila tangan kiri Tiang Le menggunakan jurus-jurus ilmu silat tangan buntung dan gerakan tangan kilat, maka banyak perwira Mongol yang terpental dengan dada hangus dan kepala pecah terhantam pukulan yang dahsyat ini.

Mendengar teriakan-teriakan Ouw Yang Gembol yang memberi aba-aba kepada anak buahnya, Tiang Le menjadi sengit sekali. Pedang buntungnya sekarang terarah mendesak panglima Ouw Yang Gembol dan Themu Khan yang dianggapnya sebagai biang keladi pengeroyokan ini, maka segera ia mendesak dan pedangnya bagaikan bintang melayang meluncur mengarah dada Ouw Yang Gembol Panglima Mongol yang cepat menangkis.

Akan tetapi tangkisan ini membuat goloknya menjadi buntung menjadi tiga bagian, dan sekali Tiang Le menggerakkan pedang buntung ke atas dengan jurus Mengukir Naga Menyeret Awan, tahu-tahu pedang buntung bergerak ke bawah dan alangkah cepatnya gerakan itu sehingga tanpa ampun lagi paha Ouw Yang Gembol terkupas oleh sabetan pedang buntung.

Panglima Mongol itu menjerit keras memegangi pahanya yang terasa nyeri luar biasa. Darah mengucur deras dari paha yang terluka itu. Sementara Temu Khan menjadi marah, kaitannya menyabet pundak Tiang Le.

“Wuuuttt, ngekkk, desss!” Tubuh Temu Khan terlempar sejauh tiga tombak. Ia muntahkan darah hitam dan tiba-tiba matanya melotot mendelik memandang Tiang Le dan mampus!

“Brreeettt, brreeettt, dessss!” Tiga orang perwira Mongol robek dadanya oleh pedang buntung yang berlumuran darah. Dan seorangnya lagi terjengkang ke belakang tersambar gerak tangan kilat Tiang Le. Dadanya hangus dan hitam. Dahsyat sekali pukulan tangan kiri Tiang Le.

Waktu itu hampir fajar menyingsing. Keadaan masih remang-remang dan suram. Cahaya matahari naik dari ujung laut, menyebarkan sinarnya tipis berlawanan dengan cahaya bulan yang sudah lemah, nampaknya di udara keabu-abuan, yang menimbulkan bayang-bayang yang menyeramkan.

Di dalam kesuraman ini, berkelebat beberapa bayangan manusia dan begitu sampai di dekat pantai, mereka berhenti. Bu-tek Sianli terkejut melihat banyak sekali mayat tentara Mongol yang berserakan. Pandangannya menyapu ke arah Tiang Le yang tengah menatapnya dengan senyum mengejek:

“Bu-tek Sianli, begini caramu menerima tamu?” tanya Tiang Le menunjuk ke arah banyak mayat tentara Mongol bergelimpangan di tanah berpasir.

“Ha ha ha, sungguh gagah dan berani. Tiang Le kau sudah berada di tempat ini. Masih berpikir kau untuk dapat keluar dari pulau bidadari? Lihat siapakah orang-orang ini!

“Ia itulah pemimpin besar Khu Bilay Khan yang telah menaklukan kerajaan Song! Dan locianpwe ini, adalah Pek Pek Hoatsu dari Barat, dan ini, adalah Guru Besar Nakayarinta dari puncak Anapurna di Himalaya, dan yang di sebelah sana itu Te-thian Lomo, Thay-lek-hui-mo dan di atasmu, adalah ribuan tentara Mongol dan barisan Sian-li-pay. Hwa-ie-kay-pang dan Hek-lian-pay!”

Terkejutlah Tiang Le. Ia melirik ke arah tokoh-tokoh yang ditunjuk oleh Bu-tek Sianli, yang paling mengejutkan sekali hatinya adalah kakek Nakayarinta, kakek itu sudah amat tua sekali usianya, ada seratus tahun. Rambutnya sudah putih panjang, berjenggot putih pula, akan tetapi mempunyai wajah yang hitam, dan telinganya lebar diberi anting-anting besar. Tangannya yang hitam berbulu demikian kurus, dan memakai gelang-gelang pula, memakai jubah kuning seperti seorang pertapa.

Begitu pandangan Tiang Le terbentur oleh pandangan si kakek, terkejutlah ia melihat mata yang, mencorong seperti mata harimau! Sedangkan Khu Bi lay Khan, adalah seorang tinggi besar akan tetapi mempunyai sepasang mata yang berwibawa dan membayangkan kecerdikan yang luar biasa!

Tahulah Tiang Le, ia sudah masuk perangkap di tempat ini. Akan tetapi ia tidak gentar. Walaupun sekeliling pulau ini sudah dijaga oleh ribuan tentara Mongol dan barisan Sian-li-pay dan Hek-lian-pay!

Sama sekali ia tidak takut. Matanya menyapu barisan Bu-tek Sianli dan katanya, “Bu-tek Sianli, tak perlu banyak cingcong, serahkan Pei Pei kepadaku!”

Tiang Le melangkah. Tangan kirinya bergerak meraba pedang.

Bu-tek Sianli tersenyum mengejek.

“Boleh, akan kuserahkan dia kepadamu. Akan tetapi, engkau harus menyerah kepadaku dan masuk ke dalam sekutuku!”

“Bangsat rendah kau kira aku manusia macam apa menggabungkan diri dengan segala penjajah. Tidak! Bu-tek Sianli, hayo serahkan Pei Pei. Awas kau! Seujung rambut saja kau mengganggunya, nyawamu akan melayang!”

Nenek Bu-tek Sianli tertawa keras: “Ha ha ha, bocah gendeng, gila! Apa kau sudah miring otak tidak melihat kematian di depan mata. Ketahuilah olehmu, Tiang Le. Jikalau kau tidak mau menyerah kepadaku jangan harapkan kau dapat keluar dari pulau ini dalam keadaan hidup!

“Bagus! Itukah siasatmu mengundangku ke pulau ini? Karena kau takut menghadapiku di lembah Tai-hang-san?”

“Bocah sombong siapa yang takut kepadamu. Bangsat, rasakanlah!” Tubuh si nenek Bu-tek Sianli berjongkok, kedua tangannya memukul ke depan. Angin pukulan menyambar kuat ke arah Tiang Le. Akan tetapi sambil tersenyum mengejek, pemuda lengan buntung ini mengangkat tangan kirinya dan membalas mendorong.

“Dess!” Tubuh nenek Bu-tek Sianli bergoyang-goyang dengan amat keras sekali.

Sementara sambil tersenyum mengejek Tiang Le berkata: “Begitukah maksudmu mengundangku?”

Dengan tangan kirinya pemuda itu menarik pedang buntungnya. Sinar matahari pagi membentur sinar pedang yang berkilauan. Untuk beberapa saat kakek pertapa Nakayarinta membelalakkan matanya. Bibirnya yang penuh kerisut berbisik.

“Liong-cu-kiam!”

“Pedang Pusaka buntung.......”

“Ha ha ha. mata kalian awas juga. Memang inilah Pedang pusaka buntung yang dulunya bernama Liong-cu-kiam atau Pedang Mustika Naga! Bu-tek Sianli, lekas kau keluarkan Pei Pei, kalau tidak, hemm, terpaksa aku yang muda menggunakan pedang ini untuk menabas batang lehermu!”

“Bangsat kau kira aku takut denganmu, mampus kau!” tangan kanan Bu-tek Sianli bergerak hendak menampar.

Akan tetapi Thay-lek-hui-mo yang tertarik akan kehebatan pedang pada puluhan tahun pernah menggemparkan dunia persilatan berkata kepada Bu-tek Sianli: “Pay-cu, biarlah pinceng yang menangkap bocah ini!”

Bu-tek Sianli mundur dan membiarkan Thay-lek-hui-mo maju menghadapi Tiang Le. Memang Nenek ini semenjak pertama ia bertempur di Tai-hang-san yang telah mengetahui kelihayan pemuda ini menjadi gentar. Apalagi tadi, hampir saja ia terjengkang kalau ia tidak hati-hati bertemu pukulan dengan tangan kiri pemuda itu. Heran, mengapa dalam waktu beberapa hari saja tenaga Tiang Le sudah jauh meningkat?

Thay-lek-hui-mo menghampiri Tiang Le, tanpa memberi komentar apa-apa jubah hwesio itu bergerak ke depan. Inilah pukulan jarak jauh yang dikebutkan oleh ujung jubah. Angin besar berpusing menimbulkan hawa panas.

Akan tetapi Tiang Le dengan gerakan tangan kilat sudah menerjang maju dan dalam beberapa gebrakan saja, tangan kirinya sudah mendorong si hwesio itu dan tanpa ampun lagi tubuh Thay-lek-Hui-mo sudah roboh terjungkal. Hebat sekali gebrakan ini.

Muka Thay-lek-hui-mo menjadi merah saking malunya. Masakan ia yang sudah tersohor hanya dalam beberapa gebrakan saja sudah terpental oleh anak kemarin sore ini, terlalu!

Sambil menggereng keras dan membentak, “Keparat! Rasakanlah pukulanku,” sebuah kepalan tangan Tay-lek Hui-mo yang berbulu itu berpusing di atas kepala. Kemudian bagaikan harimau terbang tubuh Thay-lek-hui-mo yang tinggi besar itu sudah menerjang Tiang Le. Cepat Tiang Le mengegos ke kiri dan balas memukul ke samping dikelit oleh lawannya.

Hawa panas segera lewat di sampingnya. Tahulah dia bahwa Thay-lek-hui-mo ini menyerangnya dengan tenaga Yang, maka iapun menggetarkan tangannya mengeluarkan tenaga sin-kang hawa dingin dari tangan kirinya.

“Wuut, deeess…… weeertt!!” Hebat sekali gerakan Tiang Le ini, dalam segebrakan ia sudah dapat memukul dengan tiga macam serangan.

Karuan saja Thay-lek-hui-mo menjadi repot dan berkelit ke kanan, akan tetapi siapa sangka begitu tangannya bertemu dengan Tiang Le, tubuhnya bagaikan direndam dalam air yang amat dingin. Seketika wajahnya pucat membiru, jalan darahnya seakan-akan berhenti. Inilah pengerahan sin-kang hawa dingin yang disalurkan dari tangan kiri Tiang Le. Sungguh luar biasa!

Merasa dadanya sakit Thay-lek-hui-mo segera menjatuhkan diri dan bergulingan menjauhi lawannya, ia terus bersemedi menyalurkan hawa yang-kang mengusir hawa im-kang yang membanjir ke dalam tubuhnya. Untung saja Thay-lek-hui-mo mempunyai sin-kang yang cukup tinggi, biarpun dadanya terasa sakit dan nyeri, akan tetapi lukanya tidak begitu membahayakan.

Baru saja Tiang Le hendak meloncat mundur. Tiba-tiba sebuah angin pukulan dengan cepat menyambar dari belakang. Cepat Tiang Le mencelat ke atas dan begitu dilihatnya, kiranya kakek tua renta Nakayarinta sambil terkekeh-kekeh sudah melancarkan serangannya! Sedangkan Bu-tek Sianli, Te-thian Lomo sudah menerjang maju mengeroyok.

Marah sekali hati pemuda buntung dikeroyok secara begini.

“Bu-tek Sianli, kalau kau tidak menyerahkan Pei Pei kepadaku, niscaya pulau bidadari ini kubumi hanguskan! Hayo serahkan Pei Pei, dimana dia sekarang?”

“Ha ha ha Tiang Le, jangan banyak bacot, kalau Pei Pei mu sudah kubikin mampus, kau mau apa?”

“Bangsat jahanam, kalau begitu mampuslah kau!” Tangan kanan Bu-tek Sianli sudah mengeluarkan pedang tipis. Inilah pek-liong-pokiam yang jarang sekali digunakan oleh nenek Bu-tek Sianli.

Dengan pedang di tangan, nenek itu merangsek Tiang Le, cepat Tiang Le berkelit dan alangkah terkejutnya dia merasakan angin pukulan yang demikian dahsyat dari kakek Nakayarinta telah menyambar pundaknya. Cepat Tiang Le mengerahkan sin-kang ke pundak menerima pukulan yang tak dapat dielakan lagi saking cepatnya.

“Desss!” tubuh Tiang Le terlempar lima tombak. Disambut oleh tusukan pedang Bu-tek Sianli. Akan tetapi Tiang Le yang selalu waspada meletakkan pedangnya dan menggunakan gerakan tangan kilat memukul ke arah si nenek.

Bu-tek Sianli menjerit keras. Darah merah menyembur dari mulut si nenek. Tiang Le mencelat bangun dan membentak: “Bu-tek Sianli, hayo serahkan Pei Pei!”

“Orang muda buntung, perlahan!” Sambaran jubah Nakayarinta menahan gerakan Tiang Le.

Akan tetapi, pemuda ini saking sengitnya menggunakan jurus gerak tangan kilat dan mainkan langkah ajaib menghindarkan serangan si kakek tua renta. Ia mengangkat tangan kirinya dan mengelebatkan pedang buntung.......”

“Brettt!”

“Hayaaa....... lihay!” Nakayarinta terbelalak, dilihatnya jubahnya sudah robek. Cepat ia meloncat mundur waktu didengarnya angin pukulan menyambar pundaknya.

“Desss!” Bukan tubuh si kakek Nakayarinta yang hancur berantakan akan tetapi kepala seorang perwira Mongol yang berada di belakang si kakek itu yang pecah terhantam pukulan Tiang Le.

“Ganasss, luar biasa!” berkali-kali Nakayarinta memuji. Selama ia malang melintang di daratan Tiongkok dan India baru kali ini ia bertemu tanding. Bertemu tanding dengan seorang pemuda lengan buntung.

Kini melihat Te-thian Lomo sudah menyerangnya, Tiang Le mengerahkan pukulan-pukulannya kepada pendeta sesat ini. Orang inilah pembunuh suhu, aku harus membuat perhitungan dengannya, pikir Tiang Le menghantam dada Te-thian Lomo. Akan tetapi menyaksikan pukulan tangan kiri Tiang Le yang amat dahsyat tak berani ia menerima dengan pukulan pula, maka ia mencelat ke samping dan mundurkan diri.

Sementara itu Bu-tek Sianli dan Khu Bilay Khan memberi aba-aba, ratusan tentara Mongol sudah menyerbu, dibarengi berkelebat bayangan gesit dari gerakan-gerakan dara Sian-li-pay yang sudah menyerbu pula.

“Ha ha ha, Tiang Le, menyerahlah engkau....... percuma melawanpun engkau takkan lolos dari pulau ini! Engkau sudah terkepung....... di antara keroyokan banyak tentara Mongol,” terdengar suara ejekan Bu-tek Sianli.

Tiang Le menjadi gemas dan memutar pedangnya dan segera berubah menjadi segulungan sinar kuning yang menyelimuti tubuhnya. Lima orang tentara Mongol robek perutnya terhantam kelebatan sinar pedang buntung pemuda perkasa ini.

Hebat sekaIi sepak terjang pemuda buntung ini. Karena begitu pedang buntungnya berkelebat, dua-tiga orang lawannya terjungkal dengan dada robek dan banjir darah memenuhi tempat itu. Pedang buntung di tangan pemuda itu bertetes-tetes darah merah, sepak terjang Tiang Le yang ganas dan tak memberi ampun kepada lawannya ini membuat gentar hati para pengeroyoknya.

Akan tetapi, tentu saja menghadapi lawan yang demikian banyak itu, Tiang Le menjadi sibuk bukan main, apalagi menghadapi keroyokan dari dara-dara Sian-li-pay yang perkasa, ditambah dengan bermunculannya banyak orang-orang tua Hwa-ie-kay-pang membuat lama kelamaan ia menjadi lelah bukan main!

Hatinya menjadi gemas sekali kepada Nenek Bu-tek Sianli yang licik ini, berkali-kali ia mendengar suara nenek itu memberi aba-aba kepada barisan tentara yang sudah merapat mengeroyoknya. Maka dengan sambil bertempur Tiang Le mencari Nenek itu. Dan tokoh-tokoh lainnya yang bersembunyi di antara kerumunan banyak para pengeroyoknya,

“Hujani ia dengan panah!” tiba-tiba terdengar suara yang berat dan berwibawa. Itulah suara Khu Bilay Khan, suara datangnya seperti dari atas langit karena tidak tahu dari mana suara itu.

Tiang Le sambil bertempur mencari orang-orang yang memberi aba-aba untuk mengeroyoknya. Tiba-tiba mendengar aba-aba dari pemimpin besar Khu Bilay Khan yang berwibawa itu, para tentara Mongol meloncat mundur ke belakang dan sebagai gantinya muncul barisan panah yang terlatih.

Tiang Le terkejut sekali. Celaka! keluhnya. Kalau tadi dikeroyok oleh puluhan tentara Mongol dengan senjata tangan, ia dapat menghindari datangnya senjata lawan akan tetapi, betapa terkejutnya ia karena dari kelilingnya bermunculan barisan panah yang siap ditarik dari busurnya.

“Serang!!!” Ratusan anak panah terlepas dari busurnya. Suara jepretan mendesing keras mengiringi luncuran ratusan anak panah menyambar ke seluruh bagian tubuh pemuda buntung ini.

Tiang Le memekik keras dan memutarkan pedang buntungnya sedemikian rupa sehingga semua anak panah yang menyambarnya menjadi runtuh oleh pedang buntung di tangan Tiang Le. Akan sambaran anak panah terus beruntun. Tiada berhentinya sambung menyambung.

Memang Khu Bilay Khan ini cerdik sekali, ia menghujani pemuda buntung itu dengan serangan yang beruntun dan bertubi-tubi, tentu saja Tiang Le memutarkan terus pedangnya seperti tadi. Tubuhnya terbungkus oleh sinar pedang buntung. Cepat sekali gerakan pemuda ini sehingga ratusan batang anak panah menjadi runtuh dan terpotong dua.

Sementara saking sengitnya Tiang Le, ia memekik keras: “Bu-tek Sianli, manusia jahanam! Begini pengecutkah engkau mengeroyokku macam ini…….?”

Akan tetapi jawabannya hanya diganda tertawa mengejek dan tiba-tiba dari kanan kiri mengalir minyak yang disiramkan oleh orang-orang Mongol. Sebentar itu pula api berkobar mengelilingi.

Tiang Le terkejut setengah mati. Pedangnya berkelebat ke arah seorang perwira Mongol yang menyulutkan api ke air yang berminyak. Saking marahnya pemuda itu berkelebat sekaligus memenggal leher ketiga tentara Mongol yang lain. Jeritan mengerikan terdengar dan orang itu berkelojotan mati dengan tubuh roboh masuk ke dalam api yang berkobar.

Api sudah mengelilinginya menjulang tinggi. Semakin berkobar api yang membakar minyak di tanah menjalar ke arah Tiang Le. Sementara kakinya sudah menggenang minyak yang sengaja disiram oleh orang-orang Mongol.

Panas api membuat seluruh tubuh Tiang Le mulai berpeluh, sementara dari luar ratusan panah menyambar dengan beruntun. Kepala Tiang Le menjadi pening, gerakan pedangnya tidak sehebat tadi. Tiga buah anak panah sudah menancap di dada dan punggung.

Tiang Le menggigit bibirnya menahan rasa nyeri dan hawa panas yang menyerang hebat. Dan terus mempertahankan dirinya dari sambaran anak-anak panah yang dilepaskan dari luar. Api berkobar mendekati mengurung pemuda itu. Tak ada jalan lain bagi Tiang Le untuk keluar dari kurungan api yang demikian dahsyat mengamuk membakar minyak tanah.

Sebuah pohon besar roboh terbakar dan hampir saja menimpa pemuda lengan buntung yang perkasa ini. Saking marah dan bencinya Tiang Le mengkertakan giginya, pedang buntungnya tergenggam erat, menggeletar-geletar!

Akan tetapi, pada saat yang berbahaya bagi keselamatannya dari kepungan api, tiba-tiba dari atas gedung terdengar teriakan nyaring dari seorang gadis, “Tiang Le....... jangan takut aku membantumu!”

Teriakan gadis itu diringi menyambarnya sebuah ang-kin (sabuk sutera merah) yang dengan amat cepatnya bagaikan ular hidup sudah melilit tubuh pemuda itu.

“Haiiitt…… naik!” Gadis itu menyentak sabuknya. Tubuh Tiang Le melayang ke atas melampaui kobaran api yang mengganas. Tubuh itu jatuh berdiri di depan seorang gadis jelita.

“Kauuuu…….?”

Si gadis tersenyum. Sebuah senyuman bangga dan bahagia mengiringi menitiknya sebutir air mata yang meloncat dari kelopak matanya yang jelita.

Gadis itu adalah Bwe Lan, gadis yang pernah dikenalnya. Gadis yang dengan secara blak-blakan (terang-terangan) telah menyatakan cintanya kepadanya.

Tiang Le tak sempat lagi berkata kepada gadis itu, karena sesosok tubuh mencelat ke atas dan mengirimkan pukulan kepalan dewa tanpa tandingan ke arah si gadis. Bwe Lan mengelak ke kiri, Tiang Le meloncat ke depan si gadis, melindungi.

“Murid murtad! Kau harus mampus!” Nenek Bu-tek Sianli menggerakkan tangannya lagi memukul, akan tetapi dengan tubuh agak terhuyung. Tiang Le menangkis pukulan itu. Dua tangan bertemu di udara.

“Desss!!” Amat kuat sekali pukulannya nenek ini, membuat tubuh Tiang Le yang memang sudah sangat letih sekali terpental sejauh dua tombak! Akan tetapi dengan terhuyung-huyung ia telah berdiri. Memandang si Nenek Bu-tek Sianli dengan pandangan mengancam.

“Bu-tek Sianli, manusia curang!! Sekarang kau harus mampus!” Bentak Tiang Le diiringi dengan pukulan geledek dari tangan kirinya. Belum lagi nenek itu menangkis, muncul Nakayarinta tertawa mengakak, ”Haa....... haaa pemuda buntung yang hebat, biar aku mencoba tangannya!!”

Tangan kanan si kakek Nakayarinta terangkat. Untuk beberapa saat ke duanya saling menempelkan tangan. Akan tetapi begitu si kakek Nakayarinta menggoyangkan tangannya, tahu-tahu bagaikan ada tenaga yang amat kuat mendorongnya, tubuh Tiang Le terjengkang dengan muntahkan darah segar.

Bwe Lan memburu Tiang Le.

“Tiang Le……!!” Seru gadis itu dengan kuatir dan kaget melihat segumpal darah hitam keluar dari mulutnya. Hebat sekali Nakayarinta itu, sekali pukul saja, ia sudah muntahkan darah!! Dengan tangan kirinya Tiang Le mengusap bibirnya.

Pada saat itu Tiang Le Sudah amat lelah sekali. Dan darah yang mengucur dari dada dan punggung oleh anak panah yang menancap, membuat dia kehabisan tenaga, dan lemas.

“Tiang Le…... kita harus lari…… tempat ini sudah terkepung!” Bwe Lam memegang lengan kiri Tiang Le yang memegang pedang dengan erat.

“Bu-tek Sianli, hayo kau serahkan Pei Pei, kalau tidak aku akan mengadu nyawa denganmu,” suara Tiang Le mengguntur saking marahnya.

“Ha ha ha! Sudah mau mampus masih banyak tingkah, Tiang Le kau akan bertemu dengan kekasihmu si Pei Pei itu setelah kau masuk neraka. Ha ha ha!”

“Keparat! Jadi kau membunuh Pei Pei?” Mata Tiang Le terbelalak memandang si nenek Bu-tek Sianli. Pedangnya bergetar hebat. Ia menekan tangan kirinya ke arah dada.

Beberapa kali ia muntahkan darah segar. Bwe Lan merasa cemas sekali melihat keadaan pemuda lengan buntung ini. Cepat sekali gadis itu memapah tubuh Tiang Le yang hendak roboh saking lemasnya.

“Tiang Le…..!”

“Ha ha ha, Bwe Lan, murid murtad. Boleh kau cintai, dia si buntung tiada guna ini, sebentar lagi ia akan mampus!”

“Bu-tek Sianli… kau…., kau si manusia keji, aku akan mengadu nyawa denganmu!” Bwe Lan membentak marah.

“He he he...... kau juga akan mati Bwe Lan….. tapi sebelum kau mampus kau akan menyaksikan kematian kekasihmu ini....... akan kubeset kulitnya, kukeluarkan jantungnya, hi hi hi!”

Pada saat itu berkelebat banyak bayangan. Tahu-tahu di tempat itu sudah berdiri Ho Siang dan Nyuk In, Kong Hwat, Siauw Yang, dan Sin Thong. Tanpa berkata apa-apa ke lima orang muda yang gagah perkasa ini sudah menyerbu nenek Bu-tek Sianli.

Ho Siang menghadapi Thay-lek-hui-mo, suhengnya dikeroyok oleh Te-thian Lomo, Siauw Yang dan Sin Thong disambut oleh serombongan pasukan Mongol yang dipimpin oleh Ku Bilay Khan sendiri. Sedangkan Nyuk In mendampingi Ho Siang melawan Thay-lek-hui-mo dan Pek Pek Hoatsu!

Terjadilah pertempuran yang luar biasa. Sementara datangnya ke lima orang muda yang berkepandaian lihai ini, Bwe Lan menarik tangan Tiang Le dan melompat untuk melarikan diri. Tentu saja melihat pemuda buntung itu melarikan diri, Bu-tek Sianli mengerahkan orang-orangnya mengejar!

“He-he-he! Mau kemana kau lari Tiang Le.” Suara Nenek Bu-tek Sianli bergema di tempat itu. Sementara beberapa barisan tentara Mongol mengadakan pengejaran pula!

Bwe Lan menarik tangan Tiang Le berlari cepat meninggalkan gedung Sian-li-pay yang berbahaya ini. Ia kuatir sekali akan keselamatan pemuda lengan buntung yang amat dicintai ini. Maka ia mengajak Tiang Le berlari memutar arah, karena jalan menuju ke pantai sudah dikurung oleh banyak perwira Mongol.

Sudah barang tentu, karena Bwe Lan adalah murid Sian-li-pay, maka ia banyak mengenal jalan-jalan di daerah itu! Akan tetapi Bu-tek Sianli yang sudah dibuat penasaran dan marah terus mengejar kedua orang muda yang melarikan diri!

Sementara itu, Kong Hwat memainkan gerak ilmu tongkat Fu-niu-san yang hebat luar biasa, meskipun tongkat itu hanya terbuat dari ranting kering yang kecil, akan tetapi setelah berada di tangan pemuda murid Koay Lojin ini, tongkat kecil itu berubah seperti ular yang berbisa dan sekali pagut saja akan dapat merobohkan lawan! Namun, sekali Kong Hwat menghadapi keroyokan dari orang-orang Mongol yang amat banyak meskipun orang-orang Mongol ini hanya terdiri dari perwira-perwira kasar, akan tetapi karena saking banyaknya, Kong Hwat menjadi kewalahan juga, ia harus mengerahkan tenaganya memainkan tongkatnya dengan sungguh-sungguh!

Pada saat itu, berkelebat sesosok tubuh diiringi suara nyaring yang berkata kepada Kong Hwat yang tengah terkepung.

“Kong Hwat, cepat lari dan……. jangan melawan tentara Mongol. Negara kita sudah dikuasai musuh, percuma melawan! Lekas lari…….!” Orang yang baru datang itu adalah Han Soan Li yang terus saja menggerakkan sabuk suteranya membuka jalan bagi Kong Hwat.

Girang sekali hati pemuda itu begitu munculnya Han Soan Li, entah mengapa dadanya berdenyar keras. Semangatnya menaik seratus derajat. Sambil menggerakkan tongkatnya menotok seorang lawan, Kong Hwat menoleh dan menyahut:

“Nona! Bagaimana aku harus lari....... kalau kau mati-matian melawan tentara Mongol keparat ini? Tidak biar kita berjuang bersama!” seru Kong Hwat.

“Tolol! Siapa yang mau meladeni tikus-tikus Mongol ini, mencari mampus saja, hayo kita mencari jalan keluar!”

Demikianlah atas bantuan gadis perkasa Han Soan Li, Kong Hwat dapat terlepas dari kepungan tentara Mongol yang banyak ini. Dengan berlari-lari pesat keduanya menuju ke pantai. Tidak ada perahu di sana. Akan tetapi Soan Li melempar sebuah papan.

“Kau bisa jalan di air hayo lekas melompat!” berkata Soan Li melempar papan itu ke laut. Melihat kecerdikan gadis ini. Kong Hwat menjadi girang dan tubuhnya melesat ke tengah laut dan meluncur di atas sebilah papan.

“Bagaimana denganmu Li-moay?” tanya Kong Hwat tanpa terasa lagi ia memanggil gadis itu dengan sebutan mesra. Merah wajah si gadis saking malu dan jengah. Akan tetapi tanpa banyak cakap, Soan Li sudah menggerakkan tubuhnya melesat ke tengah laut. Tangan gadis itu terulur, cepat Kong Hwat menyambut.

“Aku akan berdiri di kedua lenganmu. Kedangkanlah!” Seru si gadis dan begitu Kong Hwat mengedangkan kedua tangannya, tubuh Soan Li mencelat ke atas dan hinggap berdiri kedua lengan Kong Hwat.

Girang sekali Kong Hwat melihat akan si gadis. Terutama sekali, hemm, entah mengapa Kong Hwat suatu perasaan yang membuat hati Kong Hwat berdenyar-denyar penuh kebahagiaan. Demikianlah dengan berdiri di atas kedua lengan Kong Hwat, gadis itu meluncur ke tengah laut, meninggalkan pulau Bidadari!

<>

Pada saat itu dari tengah laut meluncur seekor burung rajawali menuju ke pulau. Pekiknya yang panjang terdengar bergetar dari bawah.

Seorang kakek bersimpuh di atas punggung rajawali raksasa memandang ke bawah mengawasi pertempuran yang tengah terjadi. Dan apabila kakek itu melihat seorang tinggi besar dan kelihatannya berwibawa, burung rajawali itu menukik turun dan menyambar mengelepakkan sayapnya memukul lima orang Mongol yang keruan saja menjadi terkejut dan tubuhnya terjungkal jauh. Hebat sekali pukulan sayap rajawali ini, sekali gebrak lima orang Mongol terjungkal tanpa dapat bangun lagi!

Khu Bilay Khan memerintahkan orang-orangnya untuk mundur.

“Kakek tua, siapakah kau??” tanya pemimpin ini, selamanya ia berlaku hati-hati terhadap orang yang baru datang. Ia melihat ada seorang kakek tua, kedua kakinya sudah buntung, berambut putih dan berjenggot putih pula duduk di atas punggung rajawali emas dan memandang dengan tajam.

“Engkaukah panglima besar Mongol yang bernama Khu Bilay Khan??” Si kakek buntung bertanya sambil menatap panglima ini dengan tajam.

“Benar kakek tua. Aku Khu Bilay Khan panglima Mongol, ada apakah?”

Kakek kaki buntung itu merogo sakunya, mengeluarkan sebuah surat yang bertulisan tinta emas dan bersimbul kerajaan Mongol.

“Kau kenal tulisan surat ini?” Tanya kakek kaki buntung keren, memperlihatkan surat yang tentu saja amat dikenal. Itulah tulisan Kaisar Mongol, pamannya.

“Dari mana kau dapat surat itu?”

“Ciangkun!! Kau bodoh dan goblok, sebagai pemimpin besar telah kena dikelabui dan diperalat oleh Pay-cu Sian-li-pay, Bu-tek Sianli. Nah, kau bacalah tulisan ini!” sambil berkata demikian si kakek buntung melemparkan surat yang ditulis oleh Kaisar untuknya.

Merah wajah Khu Bilay Khan membaca teguran dari pamannya. Hampir saja ia tidak percaya akan bunyi tulisan itu. Gila! Benar-benar goblok aku ini, benarkah Bu-tek Sianli merencanakan untuk menguasai Tiongkok dan dengan licin telah memperalat tentara Mongol? 

Memang demikianlah adanya. Bu-tek Sianli mempunyai rencana untuk menghancurkan kerajaan Song dengan meminjam kekuatan tentara Mongol, kini baru saja panglima Khu Bilay Khan itu diperalat mengerahkan tentara Mongol hanya untuk menangkap seorang pemuda lengan buntung? Gila!

Dengan marah sekali Khu Bilay Khan memerintahkan anak buahnya untuk menghentikan pertempuran. Dan menarik kembali pasukannya kembali ke Kotaraja ibu kota yang sudah ditaklukan!

Sementara itu, Tiang Le berlari dengan amat payah sekali. Luka di dada dan punggungnya cukup mengeluarkan darah banyak. Berkali-kali ia jatuh terjungkal, untung saja di samping ada Bwe Lan yang bersedia mendampinginya mati-matian.

Akan tetapi saking paniknya kedua orang muda itu, sehingga Bwe Lan salah memilih jalan. Ia menemui jalan buntu. Di ujung sana itu, terbentang lautan Po-hay yang luas. Ia telah berdiri di atas tebing batu karang yang amat curam. Bwe Lan terkejut bukan main.

Sementara maki-makian Bu-tek Sianli mengguntur di belakangnya. Dan disitu telah muncul Bu-tek Sianli dan serombongan dara Sian-li-pay. Mereka sudah mengurung Bwe Lan dan Tiang Le dengan sikap mengancam.

“Tiang Le, kau sudah tak berdaya, hayo berlutut di depanku dan menyatakan takluk!” si nenek Bu-tek Sianli memerintah.

Akan tetapi mana Tiang Le mau berlutut. Dengan marah ia sudah mencabut pedang buntung. Dan berkata keras,

“Bu-tek Sianli, Nenek curang, jahanam! Hari ini, aku Tiang Le mengadu nyawa denganmu!”

“Koko….. biarlah aku mendampingimu….. biar kita mati bersama…” bisik Bwe Lan menyentuh lengan kiri Tiang Le! Bangkit semangat Tiang Le,

“Kalian….., memang bosan hidup, apa boleh buat, biarlah kalian mampus!” Bu-tek Sianli memberi aba-aba dan seratus gadis Sian-li-pay menyerbu Tiang Le.

Kalau tadinya pemuda lengan buntung ini merasa segan untuk melukai gadis-gadis cantik ini, akan tetapi, karena tiada jalan lain, ia mainkan pedang buntungnya dengan jurus Tok-pik-kiam-hoat! Luar biasa sekali sepak terjang Tiang Le, biarpun ia sudah terluka berat di dadanya, namun gerakannya masih gesit dan pedangnya masih mantap dan kuat!

Melihat Tiang Le sudah dikeroyok, Bwe Lan mengeluarkan sabuk suteranya dan mainkan ilmu cambuknya. Akan tetapi, si nenek Bu-tek Sianli menggereng marah kepada bekas muridnya. Tanpa memberi peringatan dengan terlebih dahulu kedua tangan si nenek bergerak ke depan membokong Bwe Lan, keruan saja merasa angin pukulan yang amat dahsyat menyambar dari belakangnya.

Bwe Lan mengibaskan sabuknya menangkis, akan tetapi dengan beruntun menyambar lagi pukulan tangan kiri si nenek. Terdengar jeritan Bwe Lan waktu merasa tubuhnya terlempar dan melayang jauh, terguling dari tebing yang amat curam.

Mendengar ini Tiang Le menjadi terkejut sekali. Begitu ia melirik, tubuh Bwe Lan sudah melayang-layang jatuh dan di bawah tebing bergelombang ombak laut mengeluarkan suara berdebur keras.

“Bwe Lannnn........!”

“Tiang Leeee…….!” Kemudian suara gadis itu lenyap. Sudah disambut oleh suara gemuruh ombak di bawah yang memecah karang.

“Bangsat Bu-tek Sianli, manusia jahanam! Kau harus mampus!”

Tiang Le menjadi nekat. Ia menjadi marah sekali melihat Bwe Lan sudah terjungkal masuk jurang dari tebing yang amat tinggi ini masuk ke dalam laut Po-hay. Maka serangannya penuh dengan kemarahan dan dahsyat.

Bu-tek Sianli terpaksa menangkis dengan pedang tipisnya dan terdengar suara nyaring ketika pedang di tangan Tiang Le buntung terbabat pedang tipis Pek-liong-pokiam. Akan tetapi Tiang Le yang gagah perkasa ini tidak menjadi gentar. Dengan pedang yang semakin pendek ini ia masih lihai sekali dan mendesak makin hebat!

“Bu-tek Sianli, katakanlah bahwa kau benar-benar sudah membunuh Pei Pei?” Tiang Le bertanya.

Ia masih teringat akan keselamatan gadis itu. Entah mengapa apabila ia teringat Pei Pei, ia menjadi bersemangat dan tenaganya berlipat ganda.

Akan tetapi, mana Bu-tek Sianli mau menyahut, ia malah merangsek Tiang Le dan mengerahkan pengemis baju kembang-kembang dan dara-dara Sian-li-pay untuk mengeroyoknya! Sedangkan ia sendiri, karena merasa Tiang Le ini tak dapat ditaklukan, ia berkelebat lenyap di antara banyak gadis-gadis Sian-li-pay yang mengurung Tiang Le!

Sambil mengeluarkan suara keras, Tiang Le menggerakkan pedangnya. Pedang buntung itu bergerak cepat dan tiga orang pengemis baju kembang yang mengeroyoknya terjungkal dengan dada menyemburkan darah!

Hebat sekali sepak terjang pemuda lengan buntung ini. Tiga anak panah yang menancap di dada dan punggung bergerak-gerak waktu Tiang Le mencelat ke sana ke mari. Semakin cepat ia bergerak, semakin pening dirasakan kepalanya. Tak tahu lagi ia, berapa banyak sudah korban yang jatuh!

Karena pemuda itu setengah sadar dan gerakannya sudah tidak lagi terarah, tubuhnya menjadi limbung, ia terhuyung-huyung. Pedangnya yang sudah bermandikan darah berkelebat terus, walau pada saat itu tidak ada lagi manusia didekatnya. Semua pengemis baju kembang sudah menggeletak di tanah mandi darah. Gadis-gadis Sian-li-pay sudah mati dan menggeletak malang melintang.

Di tempat itu, di atas tebing yang amat tinggi keadaan amat menyeramkan dan sunyi senyap. Deburan ombak memecah batu karang di bawah sana itu, meningkahi kesenyapan yang menghantui tempat ini!

Perlahan-lahan gerakan Tiang Le menjadi lemah.

Tubuhnya yang penuh darah merah terhuyung-huyung. Dan hampir saja dia terjungkal ke belakang kalau saja tidak ada seorang yang menubruknya sambil menangis. Suara gadis.

“Kookooooo…….!!!”

Pei Pei memeluk tubuh pemuda itu, Tiang Le membuka matanya. Bibirnya bergetar perlahan:

“Pei Pei…… Pei-moay….. kau…..”

“Koko aku selamat…… aduuhh….. kokoo!”

Pei Pei menjerit ngeri melihat tubuh Tiang Le sudah bermandikan darah merah. Tiga buah lubang yang menembus oleh anak panah masih menancap di dada dan punggungnya. Gadis itu menangis, memeluk Tiang Le hendak mencabut anak panah yang menancap di dada itu, akan tetapi Tiang Le menjerit menahan nyeri yang amat hebat.

Pei Pei menangis. Ia tidak sangka keadaan Tiang Le sampai menjadi begini. Ia sendiri sebetulnya diperlakukan baik-baik oleh Bu-tek Sianli dan malah diberi kebebasan berada di pulau ini. Bu-tek Sianli mengatakan bahwa ia akan mengundang Tiang Le, siapa sangka justru, nenek sakti yang licik itu mencelakakan Tiang Le!

Angin kering berhembus dari arah pantai.

Suasana menjadi sunyi senyap. Pei Pei memapah tubuh Tiang Le berjalan perlahan-lahan. Sementara seluruh tubuh Tiang Le penuh dengan noda-noda darah dan terasa amat lemas sekali. Tiga buah anak panah masih menancap di dada dan punggungnya mengeluarkan darah yang sudah mengering

Sementara deburan suara ombak menjerit-jerit menggelepar menghantam dinding batu karang yang kokoh kuat, tak terobohkan. Dan air laut memercik tinggi, merupakan pancuran yang mental dari cela-cela batu karang.

T A M A T