-->

Pendekar Lengan Buntung Jilid 07

Jilid 07

“Setan! Kau berani mengelak?” Bu-tek Sianli memekik marah untuk yang kedua kali tangannya bergerak, sekarang angin yang berciutan itu menyambar ke arah leher Tiang Le.

Pemuda itu cepat mengelak, akan tetapi kurang cepat sehingga pundaknya terhajar. Baiknya ia segera mengerahkan tenaga sakti di pundak, kalau tidak akan remuk tulang-tulang pundaknya. Bergidik Tiang Le, hebat nenek ini, ganas dan lihay!

Melihat bahwa pemuda buntung ini dua kali dapat menghindari pukulannya, Bu-tek Sianli jadi marah. Dengan keluarkan lengking panjang merupakan jeritan maut, tangannya bergerak ke atas. Inilah sebuah jurus dari Ilmu pukulan Sin-kun-bu-tek yang sudah dikenal oleh murid-muridnya.

Melihat bahwa Pay-cu nya hendak menggunakan jurus maut ini, It-sianli menjadi pucat wajahnya, sekali berkelebat ia sudah berlutut di depan Bu-tek Sianli sambil menangis: “Sianli Pay-cu....... mohon ampuni dia…..!”

“Apa? Kau hendak mintakan ampun untuk dia ini?” Suara Nenek Bu-tek Sianli tergetar, memandang heran kepada murid pertamanya yang tengah tertunduk berlutut.

“Bwe Lan apakah kau sudah gila?”

“Sianli....... mohon ampun untuk dia....... teecu tidak tega melihat dia......., dia dihukum seperti itu......., jangan Sianli....... kalau kau mau membunuh dia....... kau bunuhlah aku....... dia tak bersalah.......!”

“Bwe Lan…….. kau?”

Ke tiga muridnya yang lain menghampiri Pay-cu itu dan Sianli-eng-cu berkata: “Pay-cu....... sudah kami duga bahwa enci Bwe Lan telah jatuh hati sama pemuda buntung ini. Selama perjalanan, sikapnya selalu aneh! Hemm, benar apa kataku....... benci, benci....... nggak tahunya datang cinta suci!”

“Eh, anak gila! Bwe Lan.......benar kau mencintai si buntung ini?” Suara Bu-tek Sianli tajam. Akan tetapi aneh, sungguh membuat Tiang Le sendiri menjadi melengak tak mengerti ketika gadis itu menyahut dengan suara yang pasti.

“Benar Sianli....... teecu mencintai dia ini!”

Terdengar suara mengikik dari ke tiga sumoaynya. Kedua kaki Tiang Le bergetar. Benarkah itu suara yang keluar dari gadis yang bersuara merdu seperti bidadari!

“Bwe Lan, mari masuklah kau.......!” Bu-tek Sianli memerintah dan membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan dara-dara Sin-li-pay ini.

Serombongan gadis memasuki gedung Sian-li-pay yang megah. Dari luar sudah nampak tiga orang tetamu yang tengah mengobrol ditemani oleh gadis-gadis cantik yang melayaninya. Mereka itu adalah Bong-goanswe, Hok Losu dan Leng Ek Cu yang sudah lebih dulu sampai ke tempat itu.

Seperti telah kita ketahui di bagian depan, tiga orang sakti ini sengaja membawa Sian Hwa, gadis tawanannya untuk diserahkan kepada Sian-li-pay. Tentu saja karena mereka itu berjalan demikian cepat tidak berhenti-henti maka ia lebih pagi datang ke tempat pulau bidadari ini!

Tiang Le memasuki ruangan itu, dan melihat seorang tua berpakaian jenderal, dan seorang hwesio tua dan tokoh Kong-thong-pay yang tidak dikenalnya! Tiang Le memandangnya acuh tak acuh.

It-sianli yang bernama Bwe Lan, berjalan di samping Tiang Le dengan wajah ditundukkan. Melihat gadis itu meneteskan air mata, terharu juga hati Tiang Le, entah perasaan apalagi yang mengaduk-aduk hatinya saat itu.

Di tengah-tengah ruangan itu nampak seorang gadis sebaya dengan wajah tertutup sutera hitam. Ia tertotok di tengah-tengah ruangan. Menggeletak di situ. Tentu saja karena gadis itu ditutup mukanya,

Tiang Le tidak mengenali gadis sumoaynya itu yang tak lain adalah Liem Sian Hwa adanya. Kalau saja Sian Hwa tidak berkerudung mukanya, maka pasti Tiang Le akan terkejut dan kebenaran melihat gadis itu berada di tempat itu, tetapi karena Tiang Le tidak mengenali dan mengira bahwa gadis itu adalah salah seorang dari anak buah Sian-li-pay yang berkerudung mukanya, maka iapun acuh tak acuh terhadap gadis kerudung hitam yang menggeletak di tanah dalam keadaan tertotok.

Akan tetapi sebaliknya Sian Hwa dapat mengenal Tiang Le. Kalau ia tidak dalam keadaan tertotok ingin sekali ia memanggilnya. Ingin sekali. Ah, lama sudah ia mencari-cari pemuda ini, tidak disangkanya Tiang Le masih hidup, hidup dalam keadaan buntung lengan kanannya.

Terlalu memang Bwe Hwa, pikirnya, ia tak dapat banyak pikir sebab pada saat itu nenek Bu-tek Sianli sudah duduk kembali di tempatnya dan memerintahkan It-sianli yang bernama Bwe Lan untuk maju ke depan: “Ke marilah kau!”

Bwe Lan melangkah dengan perlahan. Sekali tongkat nenek itu bergerak, kerudung muka Bwe Lan sudah terlepas, dan nampak sebuah wajah yang cantik jelita. Halus dan putih. Bibirnya yang agak pucat itu indah sekali nongkrong di sela-sela mulutnya yang kecil bagus.

Mata yang bening itu berkilauan laksana mutiara, bertebaran tertimpa cahaya matahari. Tiang Le yang melihat kecantikan Bwe Lan menjadi kagum dan entah mengapa dadanya jadi bergetar lebih keras lagi. Nampak gadis jelita itu tertunduk.

“Bwe Lan……!” suara nenek Bu-tek Sianli tegas dan ketus: “Kau tahu bukan? Apa yang kau lakukan setelah engkau melanggar sumpah Sian-li-pay?”

“Teecu mengerti Sianli,” suara Bwe Lan juga lemah.

“Nah, setelah kau mengerti kenapa kau tidak lakukan sekarang?” sebuah pisau menyambar gadis yang tengah tundukkan kepala tetapi dengan cekatan tanpa melihat tangan si gadis menyambar dan tahu-tahu pisau kecil itu telah ada di tangannya. Pucat wajah-wajah dara-dara jelita yang hadir di tempat itu.

Sementara itu Tiang Le hanya menduga-duga saja dan tidak mengerti. Bong Bong Sianjin, Hok Losu dan Leng Ek Cu, tenang-tenang saja melihat pertunjukkan yang akan berlangsung ini, entah pertunjukkan apa, mereka ini tidak tahu!

“Bwe Lan! Apakah kau masih ragu-ragu untuk melaksanakan hukuman, apakah tanganku sendiri yang harus melaksanakannya? Ang Hwa, coba kau sebutkan hukum kelima dari Sian-li-pay!”

Gadis yang dipanggil Ang Hwa adalah Sam-sianli, gadis yang bersenjata tongkat di tangan menghampiri Pay-cu Sian-li-pay dan berkata dengan suara nyaring: “Hukum kelima bagi murid-murid Sian-li-pay yang melanggar yaitu yang telah menjatuhkan hatinya kepada seorang pria, ia itu harus menjalani hukuman tusuk belati dihadapan Pay-cu dan murid-murid Sian-li-pay! Sebaliknya bagi pihak pria yang telah berani mencoba-coba merayu atau mencintai murid Sian-li-pay, harus dihukum picis (hukum beset kulit) yang dilakukan oleh gadis yang mencintainya itu!”

“Gila!” Tiang Le berteriak dalam hati. “Peraturan apa ini yang mengadakan peraturan sedemikian rupa. Hukuman bunuh diri?” Mata Tiang Le membelalak memandang Nenek Bu-tek Sianli.

Bong Bong Sianjin dan Hok Losu serta Leng Ek Cu sebaliknya tertawa senang seakan-akan menghadapi sebuah permainan yang menarik hati: “He he he, Sianli cukup streng (tegas) dan sebuah peraturan yang keras dan aneh!”

Bu-tek Sianli menoleh kepada tamunya Leng Ek Cu yang berkata tadi: “Itu adalah salah satu dari peraturan di sini Leng-tayhiap!”

Kemudian Nenek Sian-li Pay-cu menghampiri Tiang Le. Begitu cepat tongkat itu bergerak sehingga tahu-tahu Tiang Le merasa tubuhnya demikian lemas dan beberapa saat kemudian ia sudah jatuh menggeloso di tanah dalam keadaan tertotok.

“Bawa dia ke ruang belakang dan buka bajunya, biar Bwe Lan yang melaksanakan hukuman!” perintah Bu-tek Sianli kepada gadis-gadis Sian-li-pay.

Dengan amat cekatan tiga orang gadis cantik menghampiri Tiang Le dan menyeretnya ke belakang. Bwe Lan berlutut dan menangis di depan Bu-tek Sianli.

“Pay-cu… te….. teecu… tak sanggup berbuat ini….. kau ampuni dia… biarlah teecu yang melaksanakan hukuman ini…..” dua tetes air mata berjatuhan ke tanah.

“Bwe Lan, laksanakan itu!!”

“Teecu... tak sanggup....... menyakiti dia…. Pay-cu.”

“Anak gila! Hayo lakukan!”

“Teecu…. ahh, Pay-cu.… mengapa menyiksa hati teecu, biarlah teecu yang mati saja… harap Pay-cu tidak menghukum Tiang Le…, teecu amat mencintainya....... Pay-cu….., biar teecu yang melaksanakan hukuman ini.......” Bwe Lan memandang dengan pandangan basah dan sekali mengelebatkan pisau belati kecil berkelebat ke arah lehernya sendiri. Terdengar bentakan marah dari Pay-cu Sian-li-pay, sinar hitam menyambar memanjang dan tahu-tahu pisau belati kecil terlempar menimbulkan suara berdenting nyaring.

“Bwe Lan kau anak setan, kau mau membunuh diri sebelum melaksanakan tugasmu....... hayo kau laksanakan tugas itu, baru kau boleh mati bersama belati itu!”

Semakin deras air mata Bwe Lan mengalir, ia tak dapat berkata apa-apa lagi. Pandangannya menantang tatapan tajam dari Bu-tek Sianli.

Melihat murid pertamanya memandang seperti ini, Bu-tek Sianli terkejut. Biasanya tak pernah ada murid-murid yang berani melawan, Bwe Lan ini, terlalu!

Bu-tek Sianli mendengus marah: “Hem, berani kau menentang perintahku! Bwe Lan, sejak kapan kau mulai membandel terhadapku?”

Bwe Lan mengangkat muka, memandang dengan mata basah.

“Pay-cu..... teecu tidak membandel, tidak ingin melanggar perintahmu, akan tetapi Pay-cu, jangan kau suruh teecu menyiksa Tiang Le. Tak kuat hati teecu!”

“Hm, dasar perempuan sudah jatuh di kaki lelaki, berbicara seperti itu, baik! Kalau kau tidak mau melakukan itu, sekarang aku kepingin lihat apakah kau sudah bosan hidup mencintai pemuda buntung itu. Hayo lakukan!”

“Baik Pay-cu…... teecu bersedia mati untuk Tiang Le, akan tetapi berjanjilah bahwa kau takkan menghukum Tiang Le,” sahut Bwe Lan dengan suara tersendat dalam isaknya.

“Anak setan! Jangan banyak bicara. Hayo lakukan hukuman. Tentang pemuda itu kau tak perlu tahu!”

“Pay-cu Sian-li-pay….., percuma saja aku mati, kalau kau masih mau mengganggu Tiang Le........!”

“Ah, cerewet kau, kalau begitu mampuslah!” tangan nenek Bu-tek Sianli mendorong ke depan. Suara angin terdengar berciutan menyambar tubuh Bwe Lan yang masih berlutut, amat dekat jaraknya.

Dan dapat dibayangkan apa yang terjadi kalau kepala yang tertunduk itu dihantam pukulan dari atas yang beratnya lebih dari limaribu kati. Akan hancur leburlah tubuh itu melesak ke tanah.

Memang bagi Bwe Lan tak mau ia melawan Pay-cu ini, ia mati tak mengapa. Akan tetapi ia tak rela kalau Tiang Le mati oleh sebab peraturan gila di Sian-li-pay. Maka itu ia tidak menangkis atau mengelak, membiarkan pukulan itu mampir di atas kepalanya.

Akan tetapi pada saat yang amat berbahaya bagi Bwe Lan tahu-tahu dengan amat cepatnya sesosok tubuh berkelebat menyambar tubuh gadis yang masih berlutut itu. Suara keras terdengar menggetarkan dinding tembok waktu pukulan maut Bu-tek Sianli menghantam tanah tempat Bwe Lan berlutut tadi.

Terkejut dan heran sekali Nenek sakti ini melihat sesosok tubuh telah menolong Bwe Lan. Ia menoleh ke kiri, dilihatnya yang menolong muridnya yang pertama itu adalah gadis berkerudung hitam Liem Sian Hwa.

Meskipun hancur hatinya Sian Hwa mendengar pengakuan murid Sian-li-pay yang terang-terangan mencintai Tiang Le, akan tetapi ia menjadi terharu juga melihat gadis ini mau berkorban untuk Tiang Le, oleh sebab itu begitu ia terbebas dari totokan dan mengerahkan tenaga saktinya, melihat nenek iblis ini begitu kejam hendak menjatuhkan tangan maut kepada muridnya, dengan sekali enjot tubuh Sian Hwa sudah berkelebat dan berhasil menolong gadis cantik murid Sian-li-pay ini!

“Ooo kau turut campur tangan, bagus! Kalau begitu biarlah engkau ke dua-duanya mati di sini!” dengan membentak demikian tangan kanannya sudah diputar-putarkan di atas kepalanya, salah satu dari jurus-jurus Sin-kun-bu-tek menerjang ke dua gadis ini.

Sian Hwa berdiri di depan gadis Sian-li-pay dan berkata: “Kau mundurlah nona….. biar aku menghadapi nenek galak ini!”

Bwe Lan memandang gadis muka kerudung hitam ini.

“Adik, kau tak kan menang.....!” katanya.

“Hemm, aku tahu aku takkan menang, tetapi nenek ini hendak membunuh kita, mengapa aku tidak melawan? Biarpun nenek gila itu mempunyai kepandaian setan sekalipun aku tidak takut, minggirlah Nona!”

Tiba-tiba angin besar menyambar. Cepat Sian Hwa mengelak sambil mendorong tubuh Bwe Lan dari sambaran angin pukulan nenek Pay-cu Sian-li-pay ini memang amat hebat, maka iapun lalu cepat menggerakkan kaki tangan memainkan ilmu silat Tiang-pek-kiam-sut sambil mengerahkan tenaga sin-kang di tangan kanan dan kiri membalas serangan-serangan nenek sakti Sian-li-pay ini.

Akan tetapi ia menjadi kaget setengah mati begitu merasa pukulan-pukulan nenek ini terasa membawa hawa panas yang kadang-kadang melumpuhkan kedua tangannya. Terkejutlah ia bahwa nenek Bu-tek Sianli ini demikian hebat!

Akan tetapi, Sian Hwa bukanlah gadis sembarangan. Ia adalah murid kelima dari Swie It Tianglo, ketua Tiang-pek-pay yang sakti, yang semenjak kecil telah menggemblengnya dengan ilmu pedang Tiang-pek-kiam-sut yang terkenal. Sedangkan kedua tangan dan kirinya mengeluarkan uap putih yang menyambar-nyambar merupakan segulungan awan putih yang menggulung-gulung!

Bagaimanapun lihainya Sian Hwa, ia kini berhadapan dengan Bu-tek Sianli, nenek sakti kepalan dewa tanpa tandingan yang telah kesohor pukulan-pukulan tangan kanan dan kirinya. Sebentar saja Sian Hwa mulai terdesak hebat.

“Hemm, biarlah kubikin mampus dulu bocah ini, baru setelah itu kami akan mengurus urusan dalam!” Bu-tek Sianli membentak keras dan tahu-tahu tangan kanannya mendorong mengeluarkan suara angin berciutan. Pada pukulan pertama saja Sian Hwa sudah terhuyung-huyung, dan menghadapi pukulan tangan kiri yang luar biasa ini, tak tahan ia begitu tangan kanannya bertemu terdengar suara keras.

“Dess! Wutt!” tubuh Sian Hwa terlempar sejauh lima meter. Tubuhnya membentur tiang dinding dengan amat keras sekali, untuk seketika ia menggigil dan muntahkan darah segar.

Bu-tek Sianli yang sudah dibuat marah gadis muka kerudung hitam ini menyerbu dengan tongkat di tangan. Tongkat bidadari berkelebat menyambar kepala gadis ini.

Terdengar jeritan Bwe Lan melihat Pay-cunya benar-benar hendak membinasakan gadis yang telah menolongnya ini, sekali berkelebat ia sudah mencabut sepasang pedangnya dan dengan cepat bagaikan kilat tongkat di tangan Bu-tek Sianli sudah tertahan oleh jepitan sepasang pedang.

“Kau…?” Bu-tek Sianli menggeram saking marahnya.

“Pay-cu, jangan kau membunuh dia!”

“Anak durhaka, anak setan! Kau mencari mampus,” kali ini tongkat Bu-tek Sianli bergerak menyabet pinggang Bwe Lan, tentu saja ia mengenal jurus ini dan dengan amat mudahnya ia miringkan tubuh ke belakang menghindarkan sabetan tongkat yang menggeletar-menggeletar di tangan Bu-tek Sianli.

“Hemm, kau mau melawanku? Mampuslah kau!” saking sengitnya nenek ini dibuat permainan oleh dua orang gadis muda yang menjengkelkan ini membuat ujung tongkatnya bergetar-getar dan mengeluarkan suara bercuitan saking kerasnya gerakan-gerakan tongkat itu.

Pada saat itu selagi Bwe Lan terdesak hebat oleh terjangan tongkat di tangan ketua Sian-li-pay sebuah bayangan putih menyambar laksana kilat menyerbu ke tengah-tengah pertempuran, sinar kilat hitam berkelebat dan tahu-tahu tongkat Bu-tek Sianli sudah tertangkis oleh sebuah suling hitam di tangan seorang muda tinggi kurus.

Dan bersamaan dengan itu, seorang dara anggota Sian-li-pay berlari-lari melapor: “Celaka, Pay-cu! Pemuda lengan buntung hilang, ditolong oleh seoraag gadis dan telah meninggalkan pulau!”

“Apa? Pemuda buntung telah lenyap. Tolol kalian ini! Hayo kejar. Kepung seluruh pulau ini, jangan ia lolos!” berkata demikian Bu-tek Sianli menatap pemuda tinggi kurus yang bukan lain adalah Ho Siang adanya yang sudah mendarat ke pulau bidadari bersama dengan Nyuk In.

Kalau Ho Siang menyerbu ke gedung Sian-li-pay ini, adalah Nyuk In begitu melihat seorang pemuda buntung lengan kanannya diikat di tiang dengan baju luar dibuka siap untuk dikuliti tubuhnya melaksanakan hukum picis. Dengan cepat tanpa buang waktu lagi Nyuk In menggerakkan kipasnya. Dan betapapun lihay gadis-gadis Sian-li-pay ini menghadapi dorongan angin pukulan yang menyambar dari kipas hitam itu membuat mereka terhuyung mundur dengan sekali mengelebatkan pit panjang tahu-tahu tubuh Tiang Le telah bebas dari totokan dan terlepas dari ikatan di tiang gantungan itu.

Dengan cepat Tiang Le memakai bajunya dan maju menyerbu dara-dara Sian-li-pay yang sedang mengeroyok Nyuk In. Hebat sekali sepak terjang Nyuk In ini, kipas di tangan kanannya bergerak-gerak terbuka mengibaskan menimbulkan gelombang angin pukulan yang dapat mementalkan pedang lawan. Dan beberapa kali pit panjangnya itu bergerak, sebentar saja ke lima dara Sian-li-pay sudah tertotok roboh, dan dengan cekatan Nyuk In menarik tangan Tiang Le dan berlarian meninggalkan pulau.

“Nona..... nanti, di gedung… itu…..?”

“Jangan pikiri mereka. Hayo yang penting kita dapat meloloskan diri….. jangan sia-siakan waktu. Itu di depan ada perahu, cepat!” Dengan beberapa kali loncatan saja Nyuk In dan Tiang Le sudah sampai di pantai. Dua orang gadis Sian-li-pay menerjang maju akan tetapi sekali kipas dan pit Nyuk In berkelebat dara-dara ini juga sudah roboh dalam keadaan tertotok!

Nyuk In dan Tiang Le melompat ke dalam perahu, dan cepat-cepat mereka mendayung ke tengah. Dari kejauhan berlari-larian dengan sangat cepatnya serombongan gadis-gadis Sian-li-pay mengejar! Akan tetapi Nyuk In dan Tiang Le sudah jauh meninggalkan pulau.

Sementara itu Ho Siang yang sudah berhasil menolong Bwe Lan dari serangan tongkat maut nenek Bu-tek Sianli, berdiri dengan kaki terpentang lebar dan suling hitam di tangan.

Yang terkejut adalah Bong Bong Sianjin, Hok Losu dan Leng Ek Cu melihat pemuda tinggi kurus ini. Hem, tidak tahunya orang ini mengikuti kami? pikir mereka.

Hok Losu, hwesio tua dari Siauw-lim-pay turun dari kursinya dan menghampiri pemuda itu sambil mengomel: “Bocah lancang dan totol, mencari kematian memasuki sarang naga dan harimau, hayo kau berlutut di depan pinceng tujuh kali!”

Ho Siang mendengus dan menoleh ke arah Hok Losu: “Hwesio sesat! Pakaianmu saja seperti orang-orang suci dan kepala dibotakin, percuma kalau hatimu melebihi hati iblis yang banyak dipenuhi keinginan-keinginan setan!”

“Lancang!”

“Hok-taysuhu (guru besar), jangan turun tangan. Urusan ini adalah urusan rumah tangga Sian-li-pay, biar aku yang memberi hukuman kepada bocah yang sudah bosan hidup ini. Harap kau orang tua tidak mencapekan tangan....... biarlah orang-orangku yang menghadapi pemuda gila ini. Hey, sam-sianli kalian bertiga hadapi pemuda itu, biar aku bereskan murid murtad ini!” sambil berkata demikian Bu-tek Sianli menghampiri Bwe Lan dan menudingkan telunjuknya, “Anak kurang ajar……. Murid murtad, berlutut kau!”

Tongkat di tangan Bu-tek Sianli terangkat.

Sekali mengenjot tubuh Ho Siang sudah berdiri lagi di depan Bu-tek Sianli, akan tetapi tiga orang gadis murid-murid utama Bu-tek Sianli menerjang maju:

“Pemuda kurang ajar, rasakanlah tongkatku!”

“Rasakanlah cambukku!”

“Mampuslah di ujung pedangku!”

Hebat sekali serangan-serangan ke tiga orang gadis ini yang bermainkan senjatanya berlainan. Sian-li-eng-cu menyerang dengan cambuk di tangan, dibarengi dengan timpukan-timpukan sianli-tok-ciam (jarum beracun bidadari), sedangkan gadis ketiga yang dijuluki sianli-sin-tung-hoat (bidadari tongkat sakti) menerjang ganas dengan terjangan-terjangan tongkat mautnya yang kuat dan menimbulkan suara angin bersiulan, sedangkan gadis keempat yang bermain toat-beng-kiam-sut lebih hebat dan ganas lagi. Pedang Toat-beng-kiam yang luar biasa itu berkelebatan menyilaukan mata dan mengeluarkan cahaya aneh kehijauan!

Tentu saja menghadapi ke tiga gadis-gadis Sian-li-pay yang berkepandaian tinggi, ia menjadi sibuk bukan main. Suara mengaung yang terdengar dari ujung suling menggetarkan ruangan di situ. Membuat Bu-tek Sianli memandang keheranan dan mengalihkan pandangan kepada Hok Losu, yang tersenyum lebar sambil berkata, “Tidak heran….., pemuda itu murid tunggal Nakayarvia……”

“Ooo!” kagum Nenek sakti kepalan dewa ini. Melihat betapa demikian gesitnya pemuda itu menghindari serangan-serangan dari ke tiga murid-muridnya membuat Nenek Bu-tek Sianli ini teringat sekarang akan seorang pertapa di lndia yang bernama Nakayarvia.

Hmm, kalau pemuda ini sudah sampai ke tempat ini, sangat berbahaya sekali kedudukan pulaunya, entah siapakah yang memberi tahu letak pulau bidadari ini. Diam-diam Bu-tek Sianli menjadi marah kepada Bwe Lan muridnya yang dianggapnya telah murtad dan merendahkan partainya yang telah begitu gila untuk mencintai pemuda lengan buntung.

Kalau seandainya pemuda bersuling ini yang dicintai oleh Bwe Lan, hemm, betapapun ia akan pikir-pikir! Akan tetapi Bwe Lan mencintai pemuda lengan buntung yang kelihatannya lemah itu. Amat memalukan benar!

Saking marahnya ia tanpa terasa lagi Bu-tek Sianli menghampiri Bwe Lan dan bertanya: “Bwe Lan....... sungguh-sungguh kau mencintai pemuda buntung yang bernama Sung Tiang Le itu?”

Melihat betapa Pay-cu ini berkata dengan lembut dan tidak marah seperti tadi, Bwe Lan menoleh dan berkata, “Benar Sianli Pay-cu....... teecu mencintai.”

“Hemm,” Bu-tek Sianli mendengus dingin: “Tidak bisa dirobah pendirianmu itu? Kulihat pemuda yang bermain suling hebat sekali kepandaiannya, kalau kau mengalihkan cintamu terhadapnya....... tentu akan kupikir-pikir!”

“Sianli Pay-cu ketua Bidadari….. teecu bertekad untuk mencintai Tiang Le.”

“Ahh kau memang bandel Bwe Lan, mengapa dia yang kau cintai, mengapa si buntung itu?” tanya Nenek ini penasaran.

Bwe Lan terdiam. Hatinya tegang.

“Bwe Lan...!!!”

Bwe Lan meooleh ke arah Pay-cu Sian-li-pay.

“Kalau begitu biarlah tanganku ini yang mencabut nyawamu!” berkata demikian tongkat di tangan Bu-tek Sianli berkelebat menyabet dengan gerakan kilat.

Bwe Lan terkejut bukan main, cepat ia miringkan kepala ke samping menghindari sabetan tongkat yang meluncur di atas kepalanya. Akan tetapi begitu cepatnya tongkat itu bergerak, tak urung pundak kirinya terserempet tongkat dan Bwe Lan terjengkang sambil mendekap dadanya yang terasa amat sakit dan nyeri.

Dengan menyeringai laksana iblis yang haus darah, Nenek Bu-tek Sianli menerjang lagi. Bwe Lan mencelat ke atas dan mencabut sepasang pedangnya.

“Hemm, kau hendak melawanku?!” Bu-tek Sianli bertanya geram.

“Sianli Pay-cu….., jangan kau mendesakku, aku tak berani melawanmu,” Bwe Lan berkata lemah.

Pundak kirinya terasa nyeri sampai ke jantung. Tahulah ia bahwa pukulan tongkat nenek tadi telah melukai pundaknya dan jantungnya tergetar. Rasanya ingin ia muntah, akan tetapi cepat ia mengerahkan lwekang ke dada dan jantung untuk tidak muntahkan darah!

Merah wajah nenek Bu-tek Sianli ini melihat muridnya telah mencabut sepasang pedangnya. Dengan menggeram keras ia hendak menerjang maju, tangannya diputar di atas kepala. Jurus sin-kun-bu-tek (kepalan sakti tanpa tandingan), akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan berwibawa: Wiwi….. tahan!”

Dari arah pintu berjalan seorang kakek tua sambil menyeringai membawa sebuah dayung besar yang diseret di atas tanah sehingga menimbulkan bekas pada jubin-jubin di tanah. Dan di belakangnya berjalan seorang pemuda tampan, tinggi tegap, berpakaian sederhana. Dia itulah Kong Hwat dan gurunya Koay Lojin (Kakek Aneh)!

“Wiwi… kau gila! Apa-apaan kau hendak mengemplang kepala muridmu sendiri. Benar-benar kau sudah gendeng. Heng San sahabatku sudah kau buntungi......., eh, sekarang kau mau mengemplang kepala murid sendiri....... memang kalian ini orang-orang gila!”

Bukan saja Bu-tek Sianli yang terkejut melihat kakek yang berbicara nggak keruan ini, juga Bong Bong Sianjin, Hok Losu dan Leng Ek Cu sampai berdiri dari tempat duduknya. Orang itu yang membawa dayung tentu saja mereka kenal. Koay Lojin! Kakek gila dari gunung Fu-niu yang terkenal!

“Ayaaa....... ngak tahunya orang-orang gila dari kotaraja juga hadir di sini, eh, itu si botak hwesio dari Siauw-lim juga hadir, wah… tentu ada pesta ya. Ya, ya tentu ada pesta ya, hey, Kong Hwat biar kita menamu di sini, kita sikat makanannya....... he he!” sambil tertawa seperti orang miring otaknya ini.

Koay Lojin menjura kepada Bu-tek Sianli dengan kedua tangan terangkat di depan dada, “Kionghie (selamat) Wiwi…... biarin dah aku jadi tetamu hehehe!!”

“Suhu… gadis ini…., terluka,” Kong Hwat yang melihat Sian Hwa menggeletak dekat tiang penglari cepat mendekati gadis itu dan memeriksa.

Memang Sian Hwa sedang pingsan akibat muntahkan darah terlalu banyak tadi. Melihat gadis itu hanya pingsan saja dan tidak terluka berat, cepat Kong Hwat menotok Sian Hwa, untuk beberapa detik kemudian Sian Hwa sadar dari pingsannya.

Dilihatnya pemuda bersuling masih seru dikeroyok tiga orang gadis Sian-li-pay. Melihat betapa di situ muncul Koay Lojin dan Kong Hwat, cepat Ho Siang memainkan sulingnya lebih cepat lagi gerakan-gerakan kilatnya bagaikan guntur menyambar dan begitu sulingnya ke atas bergerak cepat menulis huruf “Thian”, tahu-tahu tiga gadis itu sudah terlempar ke belakang dengan senjata terlepas dari pegangan.

Bu-tek Sianli terkejut sekali melihat gerak yang aneh ini, sampai ke tiga tamunyapun memandang dengan mata terbelalak.

“Luar biasa…….!” tanpa terasa lagi memuji Hok Losu, hwesio tua Siauw-lim-pay, kalau tidak memandang dengan tuan rumah ingin sekali ia memuji kehebatan suling pemuda itu! Memang sudah menjadi lazim bagi tokoh-tokoh kang-ouw apabila melihat ilmu silat aneh dan luar biasa, timbul dihatinya, untuk mencobanya seperti Hok Losu ini.

Sementara itu melihat betapa tiga orang dara Sian-li-pay tidak lagi menyerangnya, cepat Ho Siang menghampiri Sian Hwa dan Bwe Lan sambil berkata: “Nona, mari kita keluar dari neraka ini!”

“Orang muda, kau hebat..... akan tetapi tak kita dilepas dari pulau ini!” kata Bwe Lan.

“Kita mesti mencari jalan keluar nona, jangan kuatir tentang pemuda buntung itu, tentu sudah dapat lolos meninggalkan pulau bersama kawanku, hayo kita keluar! Ikuti aku!” berkata begitu Ho Siang berjalan ke luar diikuti oleh kedua gadis ini.

Sian Hwa berjalan dengan terhuyung-huyung! Cepat Bwe Lan menggandengnya keluar. Akan tetapi beberapa bayangan berkelebat dan tahu-tahu Bu-tek Sianli, Bong Bong Sianjin, Hok Losu dan Leng Ek Cu sudah menghadang di depannya.

“Ha ha ha, Wiwi….. kau ini sudah gendeng, mengapa bermain-main sama orang muda. Biar mereka keluar!” Koay Lojin mendorong kedua tangannya dan tahu-tahu tubuh Ho Siang, Bwe Lan dan Sian Hwa terpental jauh dan bergulingan keluar. Dara-dara bidadari mengejar keluar, akan tetapi begitu kedua tangan Koay Lojin bergerak entah bagaimana caranya lima dara Sian-li-pay melayang kembali ke tempat semula!

“Kong Hwat, kau ikutlah orang muda itu!” Koay Lojin memerintah. Dengan gesit Kong Hwat mengejar tiga orang muda yang berlarian ke pantai. Beberapa dara mengejarnya, akan tetapi begitu mereka menyerang, tangan Ho Siang bergerak dan tahu-tahu ke tiga dara Sian-li-pay sudah roboh tertotok.

Kong Hwat mendorong perahu besar, perahu yang tinggal satu-satunya di pulau itu. Ho Siang, Sian Hwa dan Bwe Lan melompat ke dalam perahu! Dengan sekali dorong perahu itu sudah meluncur cepat sekali meninggalkan pulau. Melihat betapa di pulau itu tidak ada perahu, cemas hati Ho Siang mengingat Koay Lojin yang masih tertinggal di gedung Sian-li-pay.

“Saudara Kong Hwat, bagaimana dengan gurumu locianpwe Koay Lojin?” tanya Ho Siang.

“Dia….. gampang! Suhu terkenal sebagai setan air sudah barang tentu dapat mengatasi kesulitannya. Eh, twako, kau hebat permainan sulingmu membuat aku kagum, siapakah namamu?” tanya Kong Hwat sambil mendayung.

“Namaku Ho Siang, she Khu,” memperkenalkan Ho Siang sambil melirik ke arah dua orang gadis yang belum diketahui namanya.

Melihat isyarat ini, Bwe Lan yang perasa tahu dan berkata: “Terima kasih Ho Siang twako, kau sudah menolong kami. Namaku Bwe Lan, tidak mempunyai she keturunan. Aku sebatang kara dan ini….. eh, namamu?”

“Aku she Lim namaku Sian Hwa!” memperkenalkan Sian Hwa.

“Nampaknya kau terluka nona, biar aku memeriksa lukamu,” berkata Ho Siang.

Dan dengan amat cekatan ia memeriksa Sian Hwa. Sudah tentu sebagai murid Nakayarvia pertapa dari India sedikit banyak Ho Siang dapat mengerti hal pengobatan luka atau luka-luka yang beracun dan begitu ia memeriksa luka di pundak Sian Hwa ia tersenyum sambil berkata,

“Ah, jantungmu tergetar, untung pertahanan di tubuhmu kuat, kalau tidak jantungmu pasti akan pecah, nah, kau makanlah ini!” Ho Siang mengeluarkan sebuah pil merah diberikan kepada Sian Hwa.

Demikian juga luka di pundak Bwe Lan. Hampir serupa dengan yang dialami oleh Sian Hwa, akan tetapi Bwe Lan tidak begitu menguatirkan. Sin-kang di tubuhnya lebih matang dari Sian Hwa dan dengan dorongan tenaga sakti itu sebetulnya iapun dapat menyembuhkan lukanya, akan tetapi ia menerima saja pil yang diberikan Ho Siang dan menelannya.

Akan tetapi belum lama mereka meninggalkan pulau, tiba-tiba sebuah perahu meluncur dengan amat cepatnya di dayung oleh seorang gadis. Gadis Sian-li-pay yang berjuluk Sian-li-eng-cu! Tentu saja Bwe Lan mengenalnya, sumoaynya ini dan berkata: “Ahh….. sumoayku mengejar.”

Kong Hwat mengangkat mukanya. Dilihatnya tidak berapa jauh meluncur sebuah perahu kecil di dayung oleh seorang gadis jelita. Melihat yang datang adalah seorang gadis cantik, Kong Hwat jadi tertawa: “Biarlah ia serahkan kepadaku!”

Sehabis berkata begitu Kong Hwat menyerahkan dayung kepada Ho Siang: “Ho Siang Twako, tolong kau pegang dayung ini, biar aku membereskan bidadari dari Sian-li-pay!”

Ho Siang tertawa sambil menerima dayung: “Hati-hati Hwat-te! Jangan kau jatuh terpeleset menghadapi bidadari yang cantik itu……, ha ha ha!”

“Beres!”

Sebuah papan dilempar oleh Kong Hwat dan sekali berkelebat tubuhnya melesat berdiri di atas papan dan meluncur menghampiri perahu si gadis. Sian-li-eng-cu terkejut bukan main melihat pemuda itu berjalan di atas air. Matanya membelalak dan begitu Kong Hwat dekat dan meloncat ke atas perahu, nampak di bawah kakinya sebuah papan mengambang.

Hebat! Diam-diam gadis ini kagum kepada Kong Hwat. Akan tetapi mulutnya membentak sambil mengeluarkan cambuknya: “Kunyuk, berani kau mengacau di pulau?!!”

“Tar tar tar!” Tiga kali cambuk itu melecut hampir saja kepala Kong Hwat hancur dihantam cambuk yang ganas menyambar kepalanya kalau ia tidak cepat mengelak ke kiri dan meloncat ke ujung perahu.

“Nona yang cantik, sabar! Lebih baik kita damai. Jangan marah-marah begitu,” Kong Hwat mencelat lagi ketika perkataannya disambut oleh serangkum jarum sianli-tok-ciam yang menancap di tiang perahu. Bergidik Kong Hwat melihat keganasan gadis ini.

“Nona tahan!” seru Kong Hwat mencelat lagi menghindarkan lecutan-lecutan cambuk yang bertubi-tubi menggeletar.

Melihat pemuda itu dengan amat mudahnya dapat menahan serangan-serangannya Sian-li-eng-cu bertambah panas hatinya. Pecutnya semakin menggila laksana ular panjang menyambar-nyambar mencari mangsa.

Sudah barang tentu Kong Hwat yang terkenal sebagai murid si kakek gila dari Fu-niu-san dapat menandingi gadis liar ini. Sebetulnya ingin sekali ia menggunakan jurus-jurus Fu-niu-san-tung-hoat dan mengeluarkan tongkat kecilnya namun ia merasa sayang melukai gadis jelita yang sekali lihat saja sudah begini amat menggemaskan dan membuat hatinya merasa sayang.

Oleh sebab itu, ia hanya meloncat-loncat saja menghindarkan serangan pukulan-pukulan cambuk yang bertubi-tubi amat ganasnya. Hanya sekali-sekali Sian-li-eng-cu menyambitkan dengan sianli-tok-ciamnya, entah mengapa untuk kedua malu rasanya ia menggunakan jarum beracun kepada lawan yang cuma mengelak meskipun hatinya menjadi panas dan gemas kepada pemuda yang diam-diam mengagumkan hatinya ini.

Ia mainkan ilmu cambuknya lebih dahsyat lagi dan ingin cepat-cepat menundukkan pemuda yang cuma mengelak tanpa membalas ini. Sombong! Pikir Sian-li-eng-cu sengit!

“He, kunyuk! Jangan mengelak-elak begitu kaya monyet berloncatan. Hayo balas serang!” Sian-li-eng-cu membalas menyerang dengan ganas sehingga di udara terdengar suara lecutan cambuk mengguntur laksana petir yang siap menghancurkan tubuh pemuda tinggi tegap yang mengelak ke sana ke mari.

Perahu bergoyang menerima tubuh kedua orang muda yang tengah bertarung dengan amat serunya. Sementara Ho Siang mendekati perahu itu dan menonton dari jarak yang tiada berapa jauh.

Bwe Lan memandang sumoaynya yang bertempur melawan Kong Hwat dengan kuatir. Akan tetapi setelah Ho Siang berkata bahwa gadis sumoaynya itu takkan menang melawan Kong Hwat, dan nampaknya Kong Hwat pun tidak ingin mencelakakan gadis itu. Tenanglah hati Bwe Lan.

Akan tetapi tidak setenang hati Sian Hwa saat itu. Entah perasaan apa yang tengah mengaduk-aduk di hatinya. Sebentar saja pikirannya menerawang ke arah sam-suhengnya yang bernama Sung Tiang Le yang buntung lengan kanannya.

Teringat itu ibalah hatinya. “Kasihan kau Tiang Le koko, gara-gara suci engkau kehilangan lenganmu! Ahhh... koko, masih mending kehilangan sebelah lengan dari padaku, wajahku.....!”

Mengingat wajahnya yang rusak dan amat menakutkan dari balik kerudung suteranya itu menitik air mata si gadis. Tentu saja ini tidak terlihat oleh Bwe Lan atau Ho Siang karena muka gadis itu tertutup kerudung hitam!

Setelah menghadapi gadis galak ini lebih dari limapuluh jurus. Kong Hwat mendapat akal yang jitu. Begitu cambuk si gadis menyambar cepat menyabet kakinya, ia tidak mengelak. Sian-li-eng-cu girang sekali cambuknya membelit kaki pemuda itu, dengan tertawa mengejek ia membetot keras. Tentu saja Kong Hwat tertarik dan terjengkang ke belakang.

Pada saat itulah bagaikan orang gugup Kong Hwat berguling dan keccbur ke laut! Terdengar pekik lirih dari Sian-li-eng-cu, melihat bayangan Kong Hwat terus tenggelam menimbulkan pusar-pusar air yang membawa tubuhnya ke bawah!

Akan tetapi, tiba-tiba gadis itu terhuyung. Perahu kecilnya berguncang keras dan terbalik! Keruan saja gadis ini menjerit ketika ada sebuah tenaga yang amat kuat membetotnya dan kecebur masuk ke dalam air sungai!

Bwe Lan dan Sian Hwa melihat dua orang muda itu tercebur dan tenggelam ke dalam laut. Keduanya siap melompat ke dalam air menolong mereka, akan tetapi Ho Siang mencegahnya.

“Mereka tidak apa-apa!” katanya.

Dan begitu mereka memandang, benar saja tidak berapa jauh nampak Kong Hwat berenang menuju perahunya sambil memanggul tubuh Sian-li-eng-cu yang kelihatan sudah pingsan!

“Ho Siang twako…!” Kong Hwat memanggil menggapaikan tangan.

“Oiyy….. Hwat-te (adik Hwat)!” Ho Siang berseru mengayuh dayungnya lebih cepat lagi.

Perahu meluncur ke arah Kong Hwat dan Kong Hwat naik ke atas perahu dengan dibantu oleh Ho Siang yang menarik tangan pemuda itu. Begitu naik ke atas perahu Kong Hwat tertawa kepada teman-temannya.

“Gadis ini lihay dan galak, hampir saja cambuknya merenggut nyawaku. Entah siapakah dia?” Kong Hwat mengusap mukanya yang basah!

“Dia sumoayku yang kedua namanya Han Soan Li, berjuluk Sian-li-eng-cu,” menyahut Bwe Lan sambil memapah gadis Sian-li-pay yang bernama Han Soan Li itu yang masih pingsan. Dibawanya ke bilik perahu untuk berganti pakaian, diikuti pula oleh Sian Hwa.

Melihat gadis-gadis itu sudah masuk ke dalam bilik perahu, Kong Hwat membuka bajunya dan menukar dengan yang kering. Sementara itu tak habis-habisnya pemuda murid Koay Lojin memuji-muji gadis yang bernama Han Soan Li, gadis Sian-li-pay yang telah mengobrak abrik pertahanan hatinya.

Memang cinta itu aneh, ia dapat tumbuh dalam waktu yang singkat! Tentu saja Ho Siang yang berpandangan tajam ini memaklumi bahwa diam-diam pemuda kawannya ini sudah jatuh hati kepada gadis lawannya, Han Soan Li!

Kita tinggalkan orang-orang muda yang lihay di dalam perahunya yang telah mengarungi laut Po-hay dalam usaha melarikan diri dari Pulau Bidadari. Kita kembali ke pulau itu menjenguk kakek aneh Koay Lojin.

Tentu saja kakek ini dikepung oleh Bu-tek Sianli dan banyak anak muridnya, malah ke tiga orang tamunya sudah turun tangan pula karena tak tahan ia gatal-gatal tangan melihat kakek aneh yang sakti ini. Maka dikeroyok oleh tokoh-tokoh sakti, diam-diam kakek gila mengeluh di dalam hatinya.

Meskipun mulutnya mengoceh nggak keruan: “Curang....... main keroyokan.......wah, wah....... orang-orang Sian-li-pay curang.......!!!”

“Jangan banyak bacot, kau orang tua gila mengacau di tempat kami. Biar jiwa kalian menggantikan orang-orang muda yang sudah kabur! Kau harus mampus!”

Bu-tek Sianli menerjang dengan pukulan-pukulan Bu-tek-sin-kun yang amat lihay bukan main. Sementara permainan jubah Hok Losu membuat Koay Lojin terhuyung-huyung dan kacau gerakan kakinya, apalagi ditambah oleh serangan-serangan pukulan jarak jauh dari Bong Bong Sianjin dan tokoh Khong-thong-pay Leng Ek Cu.

Bukan main. Kasihan kakek gila ini, meskipun kagum melihat gerakan-gerakannya yang aneh dan lucu yang kadang-kadang seperti orang-orang mabuk, terhuyung-huyung dan seperti orang hendak jatuh akan tetapi anehnya, dengan langkah-langkah ajaib seperti ini semua pukulan-pukulan dari tokoh-tokoh sakti dapat dihindarkannya dengan baik. Meskipun berkali-kali jubah Hok Losu sudah berhasil menyentuh pundaknya, namun kakek sakti ini benar-benar kebal!

Biar gila, kakek ini tahu akan bahaya. Melihat bahwa lawan-lawannya ini demikian tangguh dan tak mungkin ia dapat dikalahkan, Koay Lojin mencari jalan keluar dan terdengar pekiknya yang dahsyat meruntuhkan dinding tembok dan banyak di antara gadis-gadis Sian-li-pay mencelat mundur mengerahkan sin-kang di dada untuk melawan serangan jeritan kakek Koay Lojin yang lihay.

Hanya Bu-tek Sianli, Hok Losu dan Bong Bong Sianjin yang tidak terpengaruh oleh kakek gila ini, meskipun demikian serangan-serangan mereka menjadi mengendur karena sebagian tenaga dikerahkan untuk menolak suara yang menggetarkan jantung.

Melihat kesempatan ini, sambil menggereng keras Koay Lojin mencelat ke atas dan terdengar suara genteng dan eternit di atas bobol terhantam tubuh Koay Lojin yang sudah melompat keluar.

“Kejar dia!!” Bu-tek Sianli mengejar ke luar diikuti oleh murid-muridnya dan tiga orang tamu, Bong Bong Sianjin, Hok Losu dan Leng Ek Cu. Akan tetapi secepat itu mereka mencelat keluar dari lobang yang tadi dibobolkan oleh Koay Lojin, mereka terheran karena tidak melihat lagi kakek gila, bayangannyapun tidak kelihatan!

“Dia hebat….. biarkan dia pergi!” berkata Hok Losu yang tidak ingin meneruskan permusuhan ini dengan kakek gila itu.

“Tak mungkin ia bisa menghilang begitu tiba-tiba, hemm,” sambil mendengus Bu-tek Sianli memerintahkan dara-dara jelita Sian-li-pay untuk mengejar ke pantai.

Dan apa yang mereka lihat di pantai itu, memang benar, Koay Lojin berlarian terus berlari memasuki di atas air yang mengeriak jernih. Tidak ada perahu lagi di pantai. Tentu saja gadis itu dibuat heran karenanya. “Gila, mana ada manusia dapat berjalan di atas air?”

Sesungguhnya tidak demikian. Memang Koay Lojin itu aneh dan sakti. Akan tetapi tak mungkin ia mampu berjalan, malah berlari-lari di atas air kalau tidak dibantu oleh sebilah papan kecil tempat berpijak kakinya.

Dan dengan gin-kang yang tinggi itulah kakek ini berhasil berlari di atas air dengan bantuan sebilah papan di bawah kakinya. Dan sebentar saja ia sudah dapat mengejar orang-orang muda yang melarikan diri dengan berperahu. Sambil tertawa-tawa girang kakek Koay Lojin itu naik ke atas perahu yang didayung oleh Kong Hwat dan Ho Siang.

Sementara Sian-li-eng-cu Han Soan Li tengah bersungut-sungut dihadapan sucinya Bwe Lan. Sedangkan Sian Hwa tenggelam dalam lamunannya. Pikirannya menerawang ke arah Sung Tiang Le dan Bwe Lan.

Hemm, bermacam-macam perasaan yang mengaduk-aduk hati gadis itu sekarang. Ada sedikit perasaan cemburu kepada gadis di depannya ini yang bernama Bwe Lan yang secara terang-terangan berani mati telah mencintai Tiang Le dan ahh........ banyak lagi perasaan-perasaan hati itu. Sian Hwa kasihan kau!

◄Y►

10

Air laut mengeriak tenang. Sementara matahari sudah mulai tenggelam merupakan bola bulat merah di ujung laut. Nyuk In dan Tiang Le mengayuhkan dayung lebih cepat lagi menuju ke darat karena takut kemalaman di tengah laut. Meskipun Tiang Le buntung lengan kanannya akan tetapi ia dapat membantu gadis ini mendayung dengan tangan kirinya.

Selama perjalanan di tengah laut itu Tiang Le jarang sekali berkata-kata. Baru setelah udara mulai agak gelap mereka sudah sampai ke pantai, dengan cepat sekali Tiang Le mengikuti Nyuk In meloncat dari perahu dan berlarian di sebuah dusun mencari rumah penginapan.

Karena hari sudah gelap, Tiang Le dan Nyuk In tidak tahu lagi dusun apa gerangan tempat ini. Akan tetapi dusun ini cukup besar dan mudah bagi mereka mencari rumah penginapan.

Sebelumnya mereka memesan makanan kepada seorang pelayan rumah penginapan ini. Begitu hidangan tersedia di meja, Nyuk In berkata kepada Tiang Le, “Setelah makan kita harus bermalam di sini, o ya, aku lupa menanyakan namamu!”

“Namaku Tiang Le…... Sung Tiang Le,” sahut Tiang Le menyambung sambil melirik ke arah gadis ini.

Usia gadis ini tidak lebih dari duapuluh tahun. Cukup cantik akan tetapi angkuh, pikirnya. Memang sejak perjalanan di laut itu sebetulnya jarang Nyuk In berbicara. Entah mengapa berjalan dengan pemuda buntung ini, ia merasa canggung dan kikuk.

Lain waktu berjalan dengan Ho Siang, rasanya dengan Ho Siang ia lebih cocok. Sudah barang tentu! Sebab dengan Ho Siang ia sudah jatuh hati dan karenanya berjalan dengan orang yang dicintai sangat membawa kesan dan menyenangkan!

Kini menghadapi pemuda buntung yang bernama Tiang Le itu ia merasa amat kikuk sekali, meskipun demikian ia memperkenalkan juga dirinya, “Namaku Nyuk In she Cung……, hemm aku sudah lapar sekali……. mari kita makan!”

Tiang Le mengangguk dan dengan sinar matanya itu ia menyatakan rasa terima kasih. Heran, kenapa menghadapi gadis ini ia merasa amat rendah diri? Ah, betapa malunya ia apabila pandangan gadis itu membentur lengannya yang buntung! Ia merasa dirinya amat rendah dan tiada berharga!

“Bwe Lan, gara-gara engkaulah aku jadi begini,” mengeluh Tiang Le dalam hati.

Sedikit sekali Tiang Le makan karena perasaannya tidak enak. Nyuk In heran melihat Tiang Le makan sangat sedikit, akan tetapi ia tak bertanya. Ia diam saja sambil menyikat makanan yang di atas meja.

“Saudara Tiang Le, aku sudah pesan kamar untuk kita. Kau di kamar nomor tujuh dan aku di kamar nomor delapan saling menyebelah. Mari kita ke sana!” berkata Nyuk In bangkit dari duduknya diikuti oleh Tiang Le yang tidak berkata apa-apa.

Begitu mereka hendak memasuki kamarnya masing-masing sebelumnya Nyuk In berkata kepada Tiang Le: “Selamat beristirahat saudara Tiang Le, sampai berjumpa lagi besok pagi.”

Tiang Le menjura menyatakan terima kasih, lalu ia memasuki kamarnya dengan diikuti oleh seorang pelayan, “Ini kamarnya kongcu (tuan), kalau ada apa-apa, kongcu dapat memesannya kepada pelayan?!”

Tiang Le mengangguk, “Baiklah lopek nanti kalau aku ada perlu seauatu akan kupanggil kau!”

Si pelayan membungkuk dan keluar dari kamar.

Tiang Le sendirian di kamar itu.

Nyuk In juga sendirian di kamar sebelah. Setelah meletakkan perbekalannya di atas meja, ia merebahkan dirinya di atas pembaringan tanpa membuka sepatu. Matanya menatap langit-langit kelambu! Pikirannya menerawang jauh.

Teringat kepada Ho Siang, ia jadi melamun sendiri. Ah, Nyuk In kau betul-betul telah jatuh cinta kepada murid Nakayarvia itu. Kau lemah….. Memang aku lemah, bisik Nyuk In, aku mengagumi Ho Siang. Ia tampan, gagah dan bersikap sederhana, simpatik. Hemm, Ho Siang…. Ho Siang-koko, Nyuk In berbisik sendirian.

Ia menoleh mengawasi lilin yang menyala menerangi samar-samar kamar ini. Angin bertiup perlahan dan ujung api itu bergoyang lincah bermain-main. Nyuk In memperhatikan kamar yang berbentuk empat persegi ini sambil merebahkan diri. Akan tetapi tiba-tiba telinganya yang tajam membuat ia meniup api lilin dan mencelat ke luar.

Di atas genteng itu betapa terkejutnya ia ketika melihat ada lima orang tua telah mengurungya. Di antara ke lima orang tua itu nampak seorang setengah tua yang memakai sorban kuning dan berkepala botak seperti hwesio. Tubuhnya gendut dan pendek, sepasang lengannya berbulu nampak mengerikan sekali. Inilah dia tokoh dari dunia barat yang disebut Thay-lek-hui-mo (Iblis Terbang Bertenaga Seribu Kati) murid Nakayarvia yang pertama.

Dan ke empat orang yang lainnya adalah tokoh-tokoh biasa suku bangsa Han, yang bongkok itu adalah tokoh Bu-thong-pay yang bernama Bhong Cu Siang, terkenal dengan permainan senjatanya yang berbentuk arit. Sedangkan tiga orang lainnya adalah anak buah dari Hek-lian-pay (Perkumpulan Bunga Teratai Hitam).

“Nona, harap kau menyerahkan diri dan jangan mencari mampus,” bentak Thay-lek-hui-mo dengan suara yang berat. Dan cahaya bulan yang tinggal sepotong itu, Nyuk In dapat melihat tokoh bersorban ini. Ia tidak mengenal Thay-lek-hui-mo.

Memang harus diakui, karena gadis ini belum lama turun gunung dan belum banyak mengenal tokoh-tokoh kang-ouw.

“Kalian ini siapakah malam-malam begini menghadang aku?” tanya Nyuk In.

Seorang dari ketiga anak buah Hek-lian-pay menyahut: “Gadis liar kau telah mengacau pulau bidadari, mana bisa kau hendak meninggalkan pulau itu seenaknya saja. Hayo turut kami kembali ke pulau.......!”

Nyuk In memandang tajam. “Hemm, kiranya orang-orang ini adalah kaki tangan Sian-li-pay, pantas,” berpikir demikian Nyuk In menarik kipas dan pit. Sambil tersenyum ia berkata: “Ahh, kalian ini adalah antek-antek Sian-li-pay, ya?”

“Kami dari Hek-lian-pay! Hayo menyerah.......” jawab kakek bongkok sambil mengacungkan aritnya.

“Pantes, tidak tahunya kalian ini orang-orang Hek-lian-pay sama jahatnya dengan Sian-li-pay. Kalian hendak menangkapku, boleh kalau kalian dapat mengalahkanku!” tantang Nyuk In.

“Straatt…,” kipasnya telah terbuka.

“Kalian mencari mati. Bocah sombong!” sambil membentak demikian kakek bongkok Bong Cu Siang mengabitkan aritnya.

Nyuk In tersenyum mengejek dan menarik kaki kirinya menghindarkan sambaran arit yang amat kuat sehingga menimbulkan angin berciutan. Akan tetapi baru saja ia menghindari serangan dari kakek bongkok ini tahu-tahu serangkum hawa dingin menyambar belakangnya.

Nyuk In terkejut sekali! Cepat mengibaskan kipasnya ke belakang, tangan kanannya yang memegang pit menangkis pukulan arit kakek bongkok yang sudah menerjangnya lagi. Karena ia tidak menduga serangan pukulan dari belakang itu demikian hebatnya begitu ia mengebutkan kipasnya terdengar suara keras: “Brett…... kerak… kerakkk!! Desss!”

Hebat sekali pukulan jarak jauh hwesio bersorban kuning ini. Bukan saja kipas Nyuk In robek dan hancur berantakan, juga tanpa dapat dicegah lagi tubuh Nyuk In terlempar jauh. Cepat ia bergulinggan berpok-sai turun dari atas genteng. Begitu ia menginjak tanah, terasa dadanya menjadi nyeri dan sakit. Terkejutlah ia!

“Ha ha ha, bocah begini saja sudah berani mengacau Sian-li-pay?” Sambil tertawa Thay-lek-hui-mo menggelundung ke bawah seperti karet bal jatuh, disusul dengan berkelebat bayangan lain.

Nyuk In sudah berdiri lagi. Tidak berapa jauh darinya terdengar suara hiruk pikuk senjata beradu. Tahulah ia bahwa Tiang Le juga sedang dikeroyok oleh orang-orang Hek-lian-pay. Tiga kali pitnya bergerak, tahu-tahu Nyuk In sudah merangsek kakek bongkok yang bersenjata arit dan menggerak-gerakkan tangan kanannya memukul sambil mengerahkan hawa sakti.

Sebagai murid Bu-beng Sianjin tentu saja Nyuk In pantang menyerah menghadapi lawan-lawan meskipun tangguh seperti setan. Semakin lihay lawannya, semakin sengit Nyuk In menggerak-gerakan pitnya dan pukulan-pukulan tangan kanannya. Bentakan-bentakan yang keluar dari mulut gadis ini membuat lawan-lawannya yang tiga orang ini menjadi keder dan jeri.

Terasa jantung mereka menggetar mendengar bentakan dari gadis itu. Permainan pedangnya mengendur. Akan tetapi tentu bagi Thay-lek-hui-mo dan si kakek bongkok Bong Cu Siang tidak terpengaruh oleh bentakan-bentakan gadis itu.

“Bocah setan, tidak lekas menyerah mau tunggu kubikin mampus?” Thay-lek-hui-mo membentak menggerakkan kedua tangannya memukul ke depan.

Ia maklum bahwa, lawannya ini tentulah seorang yang pandai, pantas saja gadis ini dapat meloloskan diri dari Sian-li-pay. Kemantapan dari gerakan pitnya itu saja sudah membayangkan tenaga lwekang yang hebat.

Ia tidak berani memandang ringan lagi, maka diloloskan cambuk pemberian suhunya Nakayarvia. Cambuk itu hitam warnanya, panjang dan berat, tapi di tangan hwesio gendut itu terasa ringan dan enak. Tentu saja selama beberapa tahun ia bermain-main cambuk ini! 

Melihat bahwa hwesio gendut sudah mengeluarkan cambuk yang menggeletar-geletar memekakkan anak telinga. Cepat Nyuk In mengeluarkan pedang dari balik jubahnya. Inilah pedang tipis pek-liong-pokiam yang jarang ia keluarkan menghadapi lawan. Akan tetapi sekarang menghadapi kakek bersorban ini, mau tidak mau ia harus keluarkan pedangnya, karena kipas yang biasanya ia andalkan sudah hancur disambar pukulan lawannya tadi.

“Hemm, kalian memaksaku. Baik aku, murid Bu-beng Sianjin, tak akan mundur setapakpun!” Pedang Pek-liong-pokiam berkelebat menyilaukan mata.

Terkejut sekali lawan-lawannya ini. Hebat, pantes demikian lihai, tahunya gadis ini adalah murid Bu-beng Sianjin, pertapa sakti dari puncak Thang-la! Akan tetapi tentu saja bagi Thay-lek-hui-mo dan Bong Cu Siang mereka tidak menjadi gentar, malah semakin hebat mendesak lawan.

“Nona, kami tidak ingin mencelakakanmu. Harap kau menyerah saja dan supaya kami bawa kau ke pulau bidadari, Ketahuilah kami dengan suhumu Bu-beng Sianjin, tidak ada permusuhan apa-apa, menyerahlah! Kami jamin kau tidak akan dipersakiti oleh Sianli,” kata Bong Cu Siang membujuk. Segan memang ia untuk berurusan dengan kakek pertapa Thang-la, oleh sebab itu kalau bisa dibujuk gadis ini, itu lebih baik!

Akan tetapi Nyuk In bertambah marah.

“Tak usah banyak cerewet, lihat pedang!” gadis ini menggerakkan pedangnya dan berkelebat sinar perak menyilaukan mata.

Bong Cu Siang kaget dan bingung seketika karena gerakan pedang itu hebat dan menyilaukan. Thay-lek-hui-mo yang sudah menjadi marah membentak keras dan kedua tangannya bergerak mendorong. Inilah pukulan Gin-san-ciang yang belum lama ini ia pernah terima dari gurunya Nakayarvia, amat hebat dan mengeluarkan hawa panas dan berapi.

Merasa hawa pukulan ini sangat panas dan membara, tak berani Nyuk In menangkis dengan pukulan pula. Waktu sabit di tangan Bong Cu Siang menyabet dan tiga orang anggota Hek-lian-pay menggerakkan pedangnya, dengan cepat luar biasa Nyuk In mencelat ke atas menggunakan gin-kangnya.

Sambaran angin pukulan Thay-lek-hui-mo lewat di bawah kakinya dan terdengar jeritan mengerikan dari ketiga orang anggota Hek-lian-pay yang tidak keburu mengelak dari serangan Gin-san-ciang kakek bersorban yang lihay itu. Untuk seketika jeritannya itu berganti dengan tubuh mereka yang berkelojotan mati dengan muka hangus dan mendelik. Inilah hebat. Nyuk In sampai bergidik sekali.

“Anak setan! Kau mampuslah!” Thay-lek-hui-mo berseru marah, jubahnya berputaran menimbulkan angin puyuh.

Untung saja pada saat itu bulan bersinar terang sehingga Nyuk In dapat menangkap gerakan-gerakan pukulan lawan. Berkali-kali pukulan Gin-san-ciang kakek bersorban itu menyentuh, tubuhnya terasa panas dan nyeri menyesakkan dada. Oleh karena itu ia mainkan pedangnya dengan jurus-jurus Pek-liong-kiam-sut lebih hebat lagi.

Pada saat itu berkelebat banyak bayangan berlarian.

Tahu-tahu Bu-tek Sianli telah berada di hadapan Nyuk In. Terkejut sekali gadis ini melihat nenek Pay-cu Sian-li-pay yang telah berada di tempat ini. Bagaimana boleh jadi. Tentu saja ia tidak tahu.

Setelah nenek ini kehilangan Koay-lojin dengan marah, cepat-cepat ia mengejar, sebelumnya ia melepaskan burung posnya mengabarkan berita kepada kaki tangannya di luar pulau bidadari. Oleh sebab itulah mengapa orang-orang Hek-lian-pay sudah dapat menangkap berita itu sebelum ke dua orang muda itu masuk ke dalam penginapan.

Melihat gadis muda berjalan dengan pemuda buntung, tentu saja orang-orang memandang ringan kepada Tiang Le, melainkan mengarahkan perhatiannya kepada gadis bernama Nyuk In yang dikabarkan sangat lihay tak heran kalau Thay-lek-hui-mo, Bhong Cu Siang dan tiga orang Hek-lian-pay mengeroyok gadis cantik ini. Sebaliknya dengan mengandalkan banyak orang Hek-lian-pay, orang-orang ini menyerbu Tiang Le.

Untung bagi Tiang Le ia cuma dikeroyok oleh orang-orang kasar seperti ini, sehingga dengan mudahnya ia dapat menghindari serangan-serangan dan balas memukul dengan tangan kirinya. Akan tetapi tak lama kemudian, siapa sangka muncul tiga orang bidadari dari Sian-li-pay yang sudah sampai ke tempat ini bersama Bu-tek Sianli.

Terkejut bukan main Tiang Le. Apa lagi permainan pedang dara-dara Sian-li-pay ini demikian ganas dan lihay. Maka dengan mengandalkan keringanan tubuhnya ia mencelat ke sana ke mari menghindari sambaran pedang dari dara-dara Sian-li-pay yang lihay ini.

Diam-diam Tiang Le mengeluh tadinya ia ingin menolong gadis yang bernama Nyuk In itu, yang tengah dikeroyok oleh kakek bersorban kuning, sekarang jangankan untuk membantu. ia sendiri merasa kewalahan menghadapi lawan-lawannya yang lihay ini. Semakin banyak orang Hek-lian-pay yang mengeroyoknya semakin payah Tiang Le. Lama kelamaan ia menjadi lelah juga mengelak ke sana ke mari. Jalan satu-satunya adalah membuka jalan darah.

Melihat bahwa yang mengeroyoknya adalah orang-orang Hek-lian-pay yang tidak begitu lihai, ia mendesak orang-orang yang mengurungnya itu, menggerakkan tangan kakinya, menendang dan memukul. Tiga orang Hek-lian-pay menjerit roboh menghantam pukulan tangan kiri Tiang Le, dengan cepat Tiang Le mencelat menjauhi berlari.

“Anjing buntung mau lari kemana kau?” salah seorang dari ke tiga gadis Sian-li-pay itu membentak sambil mengejar cepat. Sebuah sabuk sutera meluncur dengan amat luar biasa cepatnya dan tahu-tahu menjirat kaki Tiang Le dan keruan saja Tiang Le jadi terguling dibuatnya.

“Tar tar tar!” Lecutan sabuk sutera itu terdengar nyaring bertubi-tubi di atas kepalanya, disusul berkelebat bayangan tiga orang gadis mengejarnya. Terkejut sekali Tiang Le. Ia tidak boleh tertangkap oleh gadis ini, celaka kalau ia dibawa kembali ke pulau bidadari! Oleh sebab itu, begitu sabuk itu terlepas dari kakinya, ia membiarkan sabuk sutera melecut memukul pundaknya mengerahkan tenaga sakti di pundak.

Tiang Le mengeluh, akan tetapi ia mencelat lagi, sebuah bayangan gesit mengirim tendangan, Tiang Le terjungkal dan terasa sejuta bintang berputar-putar di atas kepalanya. Terdengar suara bidadari membentak, “Anjing buntung! kau tidak dapat melarikan diri...... hik hik!”

Tiang Le menjadi kalap sekali. Ia menerjang, gadis itu mengirim pukulan yang ngawur karena kepalanya menjadi puyeng, sebisa-bisanya ia memukul. Terdengar suara tertawa nyaring disusul berkelebatnya sinar pedang siap menusuk leher Tiang Le.

“Trang!” sinar pedang itu menghantam cambuk.

Si gadis yang memegang pedang menoleh, “Kenapa?!!” tanyanya heran.

“Jangan bunuh dia, tangkap hidup-hidup, bawa kembali ke pulau!” terdengar suara gadis yang memegang sabuk sutera.

Tiang Le melompat bangun. Terhuyung-huyung.

“Ha ha ha, anjing buntung sudah mabok. Sebentar lagi ia akan jatuh dan kita tinggal menggaet kakinya, ha ha ha!!”

Tiang Le menjadi panas. Tangan kirinya terbuka menggeletar dan menerjang maju.

“Ihhh,” gadis yang memegang cambuk menjerit lirih, menggeser kakinya ke samping tubuh Tiang Le meluncur dan bergulingan jatuh.

“Tar tar tar!” Tiga kali sabuk sutera melecut, tubuh Tiang Le menggeliat-geliat menahan sakit pada punggung yang terhantam cambuk. Bulan di atas tiba-tiba menjadi suram, bersembunyi di balik awan hitam. Suasana menjadi remang-remang.

Si gadis melecutkan sabuknya sambil tertawa-tawa mengejek. Tak tertahan lagi rasa nyeri yang menggerogoti punggung dan mukanya yang tersambar lecutan cambuk. Suara-suara bidadari terdengarnya seperti suara-suara hantu neraka yang menyiksanya setengah mati.

Tiba-tiba dirasakannya dunia ini berputar, tubuhnya melayang jatuh semangatnya turun melayang, terayun-ayun. Dan tak sadarkan diri lagi.

“Minggir!” si gadis memegang cambuk sutera mencelat ke belakang ketika tanah yang dipijaknya jadi longsor. Suara gemuruh mengiringi tubuh Tiang Le yang tergulung pula oleh tanah longsor.

Tempat itu sangat gelap sekali. Gadis-gadis cantik ini seketika kehilangan pemuda buntung. Orang-orang Hek-lian-pay turut membantunya mencari, akan tetapi karena tempat itu kini menjadi gelap dan takut kalau-kalau tanah yang dipijaknya menjadi longsor lagi, maka orang-orang Hek-lian-pay melapor: “Tidak ada, pemuda itu tentu sudah mampus masuk jurang!”

“Baik,” sahut gadis Sian-li-pay yang memegang pedang, “kita laporkan kepada Pay-cu!”

Ke tiga gadis Sian-li-pay dan orang-orang Hek-lian-pay berlari-lari menemui Pay-cu yang telah menanti dengan wajah bersungut,

“Goblok, kalian……, menghadapi pemuda buntung saja tidak becus!” Bu-tek Sianli marah-marah. Tentu saja ia menjadi rungsing bukan main, baru saja ia dan teman-temannya tidak berhasil menangkap gadis lihay itu, kini pemuda buntung itu juga lolos. “Benar-benar terlalu!” nenek ini mengepalkan tinjunya.

“Kembali ke pulau!” perintahnya singkat. Dan malam itu juga Bu-tek Sianli kembali ke pulaunya. Karena tiga orang tamu dari kotaraja, yaitu Bong Bong Sianjin, Hok Losu dan Leng Ek Cu masih menanti di sana!

Mengapa nenek sakti ini tidak berhasil menangkap Nyuk In, padahal ia dibantu oleh Thay-lek-hui-mo dan Bhong Cu Siang yang lihay?

Seperti kita ketahui memang menghadapi Thay-lek-hui-mo ini, Nyuk In sudah kewalahan setengah mati apa lagi ditambah oleh Bhong Cu Siang dan munculnya Bu-tek Sianli, benar-benar Nyuk In terancam nyawanya! Pukulan sakti Bu-tek Sianli yang langsung menerjangnya membuat beberapa kali gadis ini terlempar jauh muntahkan darah segar.

Parah sekali keadaannya Nyuk In bahaya sekali ia tidak cepat-cepat mengerahkan tenaga murni ke dada, ia menekan dadanya yang terasa sesak dan nyeri. Pandangannya menjadi nanar, ia terhuyung-huyung. Thay-lek-hui-mo tertawa mengakak melihat lawannya sudah hampir roboh. Arit di tangan Bhong Cu Siang menyambar leher si gadis dibarengi dengan pukulau tangan kanan Bu-tek Sianli yang menggeletar dahsyat.

Nyuk In tak kuasa lagi mengelak begitu pitnya menangkis arit Bhong Cu Siang terasa tangannya bergetar hebat, dalam keadaan yang hampir setengah sadar ia menggerakkan kakinya menghindarkan diri dari dari sambaran jubah kakek bersorban, akan tetapi sebuah pukulan tangan Bu-tek Sianli tak dapat ia hindari lagi. Cepat ia mengerahkan sin-kang di dada menerima pukulan dahsyat ini.

“Desss!” Tubuh Nyuk In terlempar jauh, pingsan sambil muntah darah segar. Bhong Cu Siang memburu dengan arit di tangan dan mengelebatkan aritnya. Pada saat yang mengancam keselamatan gadis itu, sebuah benda menyambar dan arit Bhong Cu Siang menyeleweng ke samping. Sesosok tubuh berkelebat dengan amat gesitnya menyambar tubuh Nyuk In.

“Kejar……!” Bu-tek Sianli memerintah.

Ke tiga orang itu memburu bayangan hitam berlari dengan amat cepatnya ke selatan. Berkali-kali tangan kiri Bu-tek Sianli mengayun melempar Sianli-tok-ciam dan nampak sinar halus menyambar bayangan di depan, akan tetapi betapa terkejut hati mereka melihat jarum-jarum runtuh sebelum menyentuh bayangan hitam yang terus lenyap di balik sebuah pohon yang besar.

Dalam beberapa detik ke tiga orang yang mengejar sudah sampai di bawah pohon besar yang agak gelap. Tiba-tiba Bu-tek Sianli melempar jarumnya ke atas. Akan tetapi tidak terdengar suara apapun, Thay-lek-hui-mo menjadi marah, dengan geram kedua tangannya terangkat dan mendorong ke depan. Terdengar suara keras batang pohon yang sebesar pelukan itu roboh dan semua daun-daunnya rontok hangus tersambar pukulan Gin-san-ciang luar biasa itu!

“Tidak ada disini!” bisik Thay-lek-hui-mo. Tentu saja kalau memang orang yang menolong gadis itu bersembunyi di pohon ini, tentu akan hangus pula tersambar pukulannya yang dahsyat!

Demikianlah hati penasaran dan uring-uringan ke tiganya kembali ke markas Hek-lian-pay. Bu-tek Sianli kembali ke pulau dan Thay-lek-hui-mo dan Bong Cu Siang terus menyelidiki sekitar dusun mencari ke dua orang muda, akan tetapi yang dicari lenyap bagaikan ditelan bumi!

◄Y►

11

Tiang Le merasa tubuhnya dihentakkan oleh tenaga yang luar biasa ke alam lain.

Ia melihat tempat yang begitu gelap pekat, panas dan menyesakkan rongga pernapasannya. Ia merasa bermimpi yang amat menakutkan. Mimpi yang dirasakannya dunia ini menjadi kiamat, bulan di atasnya jatuh menimpa bumi.

Tiang Le menjerit ngeri ketika melihat banyak manusia-manusia menangis dan meratap digiring oleh sebuah makhluk yang berkepala sembilan dan bertangan duabelas. Manusia apakah itu atau malaikatkah yang meogiringi orang-orang yang sudah mati. Di tempat apa ini?

Di neraka? Tiang Le menjerit sekuat-kuatnya ia dapat mengeluarkan jeritannya. Akan tetapi aneh, tiada terdengar suara jeritannya itu. Matikah aku ini? Sekali lagi ia menjerit sekuat-kuatnya. Tiada suara.

Tiba-tiba sinar terang menyilaukan matanya. Berputar-putar membentuk sesosok tubuh manusia. Ia melihat seorang laki-laki nelayan yang amat sederhana, namun berwajah tampan, didampingi oleh wanita cantik yang wajahnya diliputi kedukaan.

Mereka tersenyum-senyum kepadanya dan melambaikan tangan. Tiang Le menangis hendak mengikuti kedua orang tua yang semakin lama semakin hilang dari pandangan matanya. Ia memangil: “Ayah....... ibu!”

Akan tetapi orang yang dipanggil sudah hilang disapu awan yang menjemputnya. Ingin ia terbang. Akan tetapi dirasakannya tubuh demikian kaku dan nyeri. Kembali sejuta bintang berputar di kepalanya, membuat tubuhnya terayun-ayun nikmat sekali, ia memejamkan mata.

Kembali gelap itu bukan main menghantui hidupnya. Ia merasa seperti di neraka. Api neraka membakarnya, ia berteriak ngeri waktu dirasakannya tubuhnya terbanting jatuh masuk ke dalam kawah api yang menyala-nyala luar biasa panasnya. Ia menyebutkan nama Tuhan dan Tuhan datang meniup api-api yang menakutkan itu. Serasa Tuhan berkata lembut kepadanya: “Diamlah....... tenanglah....... kau terserang penyakit demam yang hebat……”

Suara itu. Bukan. Bukan suara Tuhan. Suara itu seperti suara bidadari demikian lembut dan menyejukkan hatinya. Ia melihat sebuah wajah yang cantik jelita. Wajah seorang gadis. Ia bingung dan tidak mengenal wajah gadis ini.

Wajah aneh, sebentar seperti wajah Sian Hwa, kemudian berubah seperti wajah Bwe Lan yang tadinya amat galak kepadanya, sebentar lagi........ hanya samar-samar, seperti....... seperti Pei Pei....... seperti Cia Pei Pei! Oh, Pei Pei! Bibirnya bergerak menyebut nama gadis itu. Heran, jauh sekali ia mendengar Pei Pei berkata: “Tiang Le koko......., tenangkanlah hatimu.”

Mendadak semua bayangan itu menjadi lenyap. Tiang Le menyesal bukan main, di dalam gelap ia mencari-cari! Akan tetapi gadis-gadis yang membayang tadi tidak nampak lagi. Hilang ditelan kabut yang amat hitam pekat!

Akan tetapi, telinganya mendengar suara seorang gadis berkata lembut, suara itu seperti yang didengarnya tadi di dalam gelap: “Tiang Le koko……, tenangkanlah hatimu!”

Bagaikan tersentak dari mimpi yang amat buruk Tiang Le membuka matanya. Pertama-tama yang dilihatnya adalah sebuah wajah yang sangat jelita. Untuk sejenak ia memandang wajah ini. Serasa ia pernah mengenalnya.

“Syukurlah kau sudah siuman, koko! Tadinya aku kuatir bukan main,” wajah itu menampakkan sebuah senyuman.

“Kau.......?” Tiang Le berusaha hendak bangun, akan tetapi pundak kirinya terasa sakit sekali dan ketika tangan kirinya meraba, kiranya di pundak kiri sebelah belakang sudah terbalut oleh kain putih bersih.

Teringatlah ia kini bahwa sabuk di tangan gadis Sian-li-pay yang lihay itu membuat luka-luka pada kulit pundaknya. Akan tetapi mengapa ia berada di tempat ini dan gadis itu? pikirnya heran.

“Koko….... aku Cia Pei Pei, belum lama kita berpisah, agaknya kau sudah lupa padaku, Koko....... aku Pei Pei!”

Tiang Le berusaha bangun. Akan tetapi sebuah tangan meraih pundaknya, “Eeee....... tidak boleh bangun dulu, kau harus rebah……, wah badanmu panas seperti api, koko rebahlah dulu!”

Tiang Le menarik napas panjang, membiarkan tangan si gadis merebahkan tubuhnya: “Pei Pei…... ahh, lagi-lagi kau yang menolongku betapa besarnya budimu terhadapku, entah dengan cara bagaimana kubalas kebaikanmu.”

“Diamlah koko…... diam, jangan kau bicara soal itu…… jangan bicara tentang budi…..” suara Pei Pei hampir menangis, menangis menahan haru di dadanya yang menyesak.

Memang semenjak ia berpisah dengan Tiang Le beberapa bulan yang lalu, entah mengapa hidup ini dirasakannya menjadi sunyi dan hampa. Siang malam ia berharap akan kembalinya Tiang Le, siapa sangka ia dapat bertemu dan kembali dalam keadaan yang seperti dulu.

Ia dapatkan Tiang Le sudah pingsan di antara gundukan tanah longsor di samping rumahnya. Memang karena malam kemarin udara demikian gelap pekat, tentu saja gadis-gadis dari Sian-li-pay tidak mengetahui bahwa tanah yang longsor itu jatuh di dekat samping sebuah rumah.

Dan Pei Pei yang terkejut mendengar suara berisik disamping rumahnya segera keluar dan apa yang dilihat? Ya Allah, kiranya sesosok tubuh yang sedang pingsan itu adalah tubuh Tiang Le pemuda lengan buntung yang selama ini dirindukannya sepanjang siang dan malam.

Demikianlah sepanjang malam dan siang hari itu Tiang Le pingsan dan selama itu Pei Pei merawatnya dengan hati berkuatir. Berkali-kali ia mengompres kening Tiang Le dengan air dingin, karena wajah pemuda itu panas membara.

Sebetulnya Pei Pei sudah memanggil Kwa-shinse, akan tetapi sayang sekali orang tua tukang obat itu tidak berada di tempat, maka Pei Pei inilah sendirian merawat Tiang Le sebisanya. Dan hatinya lega ketika siang hari itu Tiang Le siuman. Dan panasnya telah menurun banyak.

Dengan menahan rasa sakit, Tiang Le bangun lagi, tak perduli akan cegahan gadis itu.

“Eh, jangan bangun…... kau mau apa?” Pei Pei bertanya memegang lengannya.

“Aku…... aku harus pergi dari sini!”

“Eh, jangan!? Kau masih lemah, lihat badanmu masih panas begini. Demammu belum sembuh betul. Kau hendak pergi dari sini, pergi kemanakah?”

“Aku harus menolong, gadis temanku, ia dikeroyok oleh......... eh, sesungguhnya apa yang terjadi denganku. Bukankah aku juga dikeroyok oleh gadis-gadis Sian-li-pay mengapa aku di sini?”

“Tiang Le koko, kau tenanglah. Duduklah…... biar aku ceritakan kepadamu,” sambil memegang tangan kiri pemuda itu menyuruh duduk, berceritalah Pei Pei.

“Semalam....... aku dikejutkan oleh bunyi berisik di samping rumahku. Kukira ada pohon yang rubuh. Eh, nggak tahunya cuma tanah longsor doang, tebing di sebelah sana itu longsor dan aku menjadi terkejut melihat engkau sudah pingsan dalam timbunan tanah longsor, untung cepat-cepat aku menolongmu.”

Tiang Le mengangguk-angguk. Tahulah ia bahwa tanah longsor itu yang menolongnya. Kalau ia tak ikut terjatuh tanah longsor, tentu ia akan tertangkap di tangan gadis-gadis Sian-li-pay yang lihay itu.

Melirik ke arah tangan kanannya Tiang Le menarik napas panjang. Ia menyesal tangan kanannya buntung, sehingga tidak dapat bermain pedang.

Heran apabila teringat kepada lengan buntungnya ini, teringat pula ia kepada Bwe Hwa. Tiang Le menarik napas berat: “Setelah lenganku buntung ternyata aku menjadi cacat tanpa daksa....... hemm.”

Pei Pei terharu sekali melihat wajah yang murung itu. Lama ia memandangi wajah itu. “Tiang Le.......” bisiknya.

Tiang Le mengangkat mukanya. Terkejut ia melihat mata gadis itu telah menjadi basah. “Pei-moay, mengapa kau menangis?”

“Koko….. aku kasihan melihatmu....... nasibmu malang....... bukan saja kau kehilangan lengan....... dan menjadi begini....... tapi selalu dikejar bahaya koko.......”

“Pei-moay memang nasibku begini....... aku menjadi pemuda cacat tanpa daksa..., percuma suhu melatihku...., sedangkan aku jadi begini, aku tak bisa bermain pedang lagi, ahhh.......” Tiang Le mengeluh perlahan. Mukanya tertunduk tangan kirinya menutupi muka itu, dari cela-cela tangan itu menetes airmata Tiang Le.

Pei Pei memandang dengan mata basah.

“Koko untuk apa kau bermain pedang….., untuk apa kau melibatkan diri dalam permusuhan yang tak ada habis-habisnya?”

“Aku harus membalas dendam mendiang suhu, Pei-moay, harus! Kalau tidak ah….. memalukan benar suhu mempunyai murid sepertiku ini….. murid yang tak berguna, tak berguna!” Tiang Le mengelepak kepalanya.

Pei Pei menubruk sambil menangis,

“Koko……. jangan begitu ah,” tangan yang halus itu mengusap kepala pemuda itu.

Tiang Le terharu melihat perbuatan gadis ini. Sepasang tangannya dipegangnya oleh tangan kiri Tiang Le.

“Pei-moay kau baik sekali,” sepasang tangan halus kecil milik Pei Pei didekapnya dalam benaman dadanya.

Semakin membanjir air mata si gadis.

“Tiang Le koko, aku…… aku cinta padamu.”