-->

Pendekar Harpa Emas Jilid 1

Jilid 1

“tak..tak…tak…, ”ayok… anak-anak ikuti perkataan saya , seorang siucai umur enam puluhan yang dikenal dengan sebutan bhok-siansu memukul-mukul meja dengan gagang kamoceng berusaha

mendiamkan sepuluh orang murid-muridnya , namun dua orang murid yang masih bergumul bercanda belum memperhatikannya , “tiong-ji , duduk..! , jangan ribut lagi ! mata bhok siansu melotot ,anak yang dipanggil tiong itu langsung duduk dan dengan melipat tangan sikap siap menatap kedepan

, “nah..! sekarang dengarkan semua dan ikuti kata-kata saya , “baik suhu , suara mereka serempak menjawab

Hati manusia ibarat muara Mata dan telinga ibarat sungai hati selamat jauh dari binasa

jika mata dan telinga tidak dilalai

semua murid mengikuti baris demi baris ujar yang disampaikan oleh bhok siansu , “apakah kalian sudah mengerti maksud ujar- ujar itu ? “belum suhu , jawab murid serempak , “hmh.. kalau begitu perhatikan ! , bhok siansu menatap wajah murid- muridnya , kalian tentu tahu bahwa sungai mengalir akhirnya adalah muara dan warna muara dipengaruhi oleh apa yang dibawa oleh sungai , jika air sungai yang masuk kemuara adalah air sungai yang jernih maka jernih jugalah muara itu , tapi sebaliknya jika air sungai yang masuk kemuara itu kotor dan keruh maka kotor dan keruh jugalah muara itu , sejenak bhok siansu diam dan memperhatikan semua muridnya , kemudian bhok siansu melanjutkan, “demikian jugalah hati manusia anak-anaku ! , baik dan tidaknya hati manusia tergantung hal apa yang dilihat oleh mata dan didengar oleh telinganya , jika mata dan telinga melihat dan mendengar hal yang baik dan benar maka hatinya akan baik dan benar , dan sebaliknya jika mata dan telinga melihat dan mendengar hal yang jahat dan salah maka hatinya akan jahat dan salah , Bhok siansu terdiam lagi memandangi satu-satu wajah muridnya , “sampai disini apakah kalian mengerti !?, “mengerti suhu…,

“bagus..! selanjutnya , jika hati manusia itu baik dan benar maka akan melahirkan tindakan yang baik dan benar sehingga ia akan selamat dan sebaliknya jika hati manusia itu jahat dan salah maka akan melahirkan tindakan yang jahat dan salah sehingga ia akan tertimpa binasa, maka dari itu ! jagalah mata dan peliharalah telinga , mengerti semua !?, “mengerti

suhu…, “baik !, sekarang kalian boleh pulang , anak-anak itupun berdiri dan bubar setelah menyalami bhok siansu , “Han-

Tiong , setelah ini kita keparit dibelakang rumah empek sui untuk menangkap belut ya !? , “baiklah ji-kun, tapi aku antar

buku dulu dan ganti baju , “alaah…, tidak usah tiong , nanti kita didahuli oleh bun-ti, “baiklah , mari kita pergi ! , Han-Tiong dan Ji-kun berlari-lari , sesampai di tepi parit , keduanya meletakkan buku dan gulung celana kemudian masuk kedalam parit , hampir dua jam Han-tiong dan Ji-kun didalam parit , baju mereka sudah kotor karena kadang mereka bercanda saling lempar lumpur atau karena terjatuh akibat mengejar belut , mereka tidak sadar bahwa bhok-siansu berdiri di tepi parit, “Han-tiong , Ji-kun , kedua anak itu segera mendongak , wajah mereka pucat setelah melihat bhok-siansu , “apa kalian belum pulang ? bhok siansu melototkan matanya , ji-kun sudah menunduk , “belum suhu , “Han-Tiong bukankah seharusnya kalian pulang dulu setelah itu baru main!? , lihatlah ! baju kalian sudah kotor ,buku kalian juga kena Lumpur, Han-tiong melihat buku yang memang kena lumpur, “tecu mengaku salah suhu , Han-tiong menundukkan kepala , “saya juga suhu , sambung ji- kun yang tetap menundukkan kepala, “Han-tiong dan kau Ji- kun kalian harus dihukum , “baik suhu , tecu akan terima hukuman , Han-tiong keluar dari parit dan melangkah mendekati bhok-siansu , sementara ji-kun mengikuti dibelakangnya , “Han-Tiong kamu harus tulis ujar yang kamu pelajari tadi sebanyak seratus kali , demikian juga kamu ji-kun , “baik suhu, tecu akan lakukan , “tecu juga suhu , sela ji-kun , “baik , sekarang kalian pulanglah , “baik suhu , Han-Tiong dan Ji-kun segera pergi , “aah… suhu malah menghukum kita tiong

, malas aku menulis ujar-ujar itu , jikun merengut setelah jauh dari bhok siansu , “kita mesti lakukan , ji-kun ! , dan kita memang tadi salah , “ah… peduli amat , aku tulis sepuluh saja sebab nanti malam ada pasar malam , “ya sudah ! terserah kamu saja , keduanya berpisah dan menuju kerumah masing- masing

Siang itu kota kun-leng sangat ramainya , banyak orang hilir mudik untuk menyelesaikan aktivitasnya , toko dan kedai banyak diserbu oleh pengunjung untuk mempersiapkan pesta keluarga menjalani sin-cia (musim semi)

Salah satu rumah makan dipadati oleh orang yang akan makan siang , para pelayan sibuk melayani tamu yang datang dan pergi silih berganti

“pelayan .. !” seorang tamu memanggil , orang itu kelihatan baru menempuh perjalanan jauh , pakaiannya nampak kotor berdebu , “iya kongcu , kongcu mau pesan apa ?, tanya pelayan bernama a-kiong , “ hidangkan masakan terlezat, baik kongcu dan minumannya kongcu ? , “ demikian juga minumannya arak terbaik , “baiklah kongcu segera akan disajikan, a-kiong segera memutar badan meninggalkan tamu tersebut pergi kebelakang untuk menyampaikan pesanan siapakah tamu yang kelihatan dari perjalanan jauh ini ? , dia adalah seorang tokoh kangowu yg memiliki ilmu yang lihai , dia Lie-cin-bun berjulukan gobi-kiam-sian (Dewa pedang gobi) , umurnya sekitar empat puluh tahun dengan perawakan yang kuat dan gagah , dia adalah murid utama liu-sang-hewsio dari gobi-pai , dia diutus perguruannya untuk memenuhi pertemuan di jeng-hoa-san (bukit seribu bunga) yang diseponsori oleh perkumpulan “Lo-I-Kaipang” (pengemis baju butut) yang dipimpin oleh song-tiaw-leng yang berjulukan .koai-tung-kai (pengemis tongkat aneh)

Ketika akan menyantap hidangan , gobi-kiam-sian melihat seorang tamu yang baru masuk , rambutnya berwarna putih tapi wajahnya masih gagah dan kencang karena umurnya sepantaran dengan gobi-kiam-sian, seorang pelayan langsung menyambutnya dengan senyum ramah , “silahkan kongcu , pelayan itu membawanya kesebuah meja kosong , “sicu Pek- mou-liong…, (Naga berambut putih) gobi-kiam-sian menegur sambil berdiri , “aha… ternyata gobi-kiam-sian sudah pula sampai di sini ,oh ya pelayan !, saya duduk semeja dengan sahabatku ini, dan tolong pesanan saya sama dengan saudaraku ini, “baiklah kongcu , pelayan itu segera menuju kebelakang , “bagaimana kabar Cia-sicu,baik-baik saja bukan?, “aku baik-baik saja Lie-sicu, dan bagaimana pula dengan keadaanmu ?, “aku juga baik-baik saja, “apakah loncinpawe kunlun-tojin ciangbujin yang menugaskan cia-sicu untuk pertemuan di jeng-hoa-san ? , “benar lie-sicu , tentu sicu juga bukan ? gobi-kiam-sian mengangguk , sebelum pesanan pek- mou-liong datang , gobi-kiam-sian nyelutuk

“wah..! sicu pek-lui-sin (malaikat geledek) dari Hoasan-pai dan Bu-eng-kiam (pedang tanpa bayangan) dari kotong-pai sudah datang ,pek-mou-liong yang membelakangi pintu masuk rumah makan memutar tubuhnya , “pek-mou-liong, ternyata sicu sudah sampai dari kun-lun-san, benar sicu pek-lui-sin, mari ! sekalian saja kita satu meja, pek-lui-sin dan bu-eng-kiam duduk dan memesan makanan , sebelum pesanan pek-lui-sin datang , empat orang tamu masuk , “wah.. bu-eng-kiam ada disini , “ aha…, sicu pek-liu-jiu (si tangan gledek) haha..haha.. mumpung kita berada disini jadi sekalian saja kita barengan makannya, “benar sicu bu-eng-kiam , dua orang pelayan menggeser meja kosong terdekat dan seorang pelayan menanyakan pesanan “kebatulan sekali kita dari delapan partai memasuki rumah makan yang sama , tidak tahu apakah tujuan kita juga sama, “saya dan pek-mou-liong ingin ke jeng-hoa-san ! sicu-pek-liu-jiu, “wah.., demikian juga kami sicu gobi-sian-kiam , saya dan sicu tung-sin- hiap (pendekar tongkat sakti) dari thaisan-pai, sicu- sin-kun (si kepalan sakti) dari butong-pai , sicu sin-coa-hiap (pendekar ular sakti) dari hengsan-pai , “hemhh.., kebetulan juga sicu pek-liu-jiu saya dan sicu bu-eng-kiam dari kotong-pai akan ke jeng-hoa-san , “sudah marilah kita makan , nanti keburu dingin , gobi-kiam-sian mengambil sumpitnya ,demikian juga yang lain

Pemilik rumah makan itu adalah seorang she kwee yang bernama Bun yang masih tergolong muda karena umurnya baru tiga puluh tahunan , dia sedang duduk dimeja di sudut ruangan sambil sibuk membuat peta kursi tamu yang dipadati tamu , kwee-bun sesekali melihat kedelapan tamunya yang kesemuanya berbadan kekar dan lincah dan rata-rata umur tiga puluhan sampai empat puluh limaan dan bukan orang tempatan, dalam hatinya dia bertanya-tanya, “ hmh.. orang- orang ini dari kalangan liok-lim dan kelihatannya mempunyai tujuan yang sama, pikirnya

Agak sedikit bosan duduk menatap orang lagi makan Kwee-bun masuk keruang dalam , sementara didalam istrinya Tan-siok- nio yang cantik berumur dua puluh lima tahun sedang menyulam , melihat suaminya datang, Tan-siok-nio berhenti dengan sulamannya dan melemparkan senyuman manis, “sepertinya kedai kita hari ini benyak tamu koko , “ benar niocu dan banyak tamu dari luar daerah, mungkin mereka ada pertemuan entah dimana, kwee-bun duduk di kursi goyangnya dan menyandarkan tubuh , “apakah mereka dari kalangan kangowu ?, kelihatan demikianlah niocu , melihat kesigapan dan kokoh tubuh mereka, tentu mereka dari kalangan persilatan, “biarlah yang penting tidak mengacau saja di sini, “ semoga saja niocu, hmh.. kemana tiong-ji moi-moi ?, “dia lagi bermain setelah mengerjakan tulisan yang disuruh bhok-siansu, Tan-Siok nio meletakkan sulamannya dan berdiri kemudian melangkah mendekati meja mengambil kumpulan kertas yang ada diatasnya , “koko, ini yang dikerjakan tiong-ji , tan-siok-nio memperlihatkan pekerjaan kwee-Han-Tiong kepada suaminya , kwee bun melihat hasil kerja anaknya dengan kagum ,betapa tidak ! anaknya yang baru berumur lima tahun itu sudah mahir membaca dan menulis , kwee-bun terkenang saat bhok-siansu mendatangi rumahnya

“bun-ji !, sungguh anakmu itu luar biasa cerdasnya , hanya dia agak nakal dan suka berkelakar, “di hukum saja siansu…, kalau tidak mau dinasehati, “hahahaa, anakmu itu sudah berkali-kali saya hokum bun-ji dan dia menurut saja , kadang saya suruh menimba air untuk memenuhi tempayan dia tidak pernah protes atau mengeluh mengerjakannya, saya suruh lari seratus kali keliling rumah saya juga tanpa membantah dia lakukan , saya suruh lompat kodok naik tangga kuil giok-lian tanpa bersambat dia lakukan , “hmhh.. , lalu bagimana siansu ? , “hmh.. ,saya sudah jera menghukumnya bun-ji, tapi yang jelas han-tiong itu nakal tapi nakal yang bertanggung jawab, entah darah siapa dari keluargamu yang menurun kepadanya bun-ji “ bhok-siansu sambil tertawa meninggalkan kwee bun yang keheranan

“apa yang bun-ko pikirkan ..? , lamunan kwee-bun buyar mendengar pertanyaan istrinya , “hmh .. saya teringat akan perkataan bhok-siansu tentang han-tiong, “ hal apa … koko ? , apa hal kenakalan tiong-ji ?, “benar niocu, katanya tiong-ji nakal tapi kenakalan yang bertanggung jawab, “lalu kenapa ?, “soal kecerdasan dalam tulis baca dan hafalan anak kita ini tidak mengherankan karena dari dulu kong-cow nya (kakek buyut) juga terkenal sebagai siucai yang handal , “mugkin saja dari siok-kong-cow nya (paman kakek buyut) bun-ko, “benar.. , boleh jadi demikian, siok-kong kwee-seng orang terkenal dizamannya sebagai pendekar dengan julukan kim-mo-taisu (guru besar setan emas) terlebih muridnya kim-siaw-eng (suling emas), terbayanglah kwee bun akan cerita kakeknya saat menceritakan keturunannya yang mana kong-couwnya kwee- lun yang tinggal di pulau kura-kura memiliki anak laki-laki kembar kwee-can dan kwee-cin , susiok-kongcouwnya kwee- can sangat suka ilmu surat dan silat, sementara kwee-cin kongcouwnya hanya suka ilmu surat, kwee-cin menurunkan kongkongnya kwee-tin sementara kwee-can menurunkan susiokongnya kwee-seng atau kim-mo-taisu, kim-mo taisu, kwee-seng hanya punya anak perempuan kwee-eng dan meninggal muda , kwee-tin menurunkan ayahnya kwee-sin demikian juga anaknya kwee-han-tiong sepertinya kemungkinan besar sangat suka ilmu surat dan silat sebagaimana kwee-seng seorang siucai yang gagal nan sakti, “sudahlah koko.. , koko kedepan lagi , mana tahu ada orang memerlukan disana , “oh iya, aku kedepan dulu, kwee-bun meninggalkan istrinya .

sore harinya setelah kedai sunyi , kedaipun dibersihkan dan ditutup , sementara di bukit jeng-hoa-san sekumpulan orang sedang berkumpul , api unggun telah dinyalakan kedelapan utusan partai besar yang sama makan di tempat kwee-bun sudah berada di tempat itu, kemudian dibagian lain koai-tung- kai dan sepuluh anggotanya Lo-I-kaipang juga sudah hadir dan dibagian lain ada seorang lama baju kuning dari Tibet, mukanya bundar dengan kepala gundul dengan tubuh pendek gemuk asik memutar rosario dengan mata terpejam, dia adalah hong-san-lama utusan dari Tibet murid tingkat dua, selanjutnya dibagian lain seorang nikow yang duduk bersemedi dengan melipat tangan dan ditangan kanan itu memegang hudtim . umurnya sudah lima puluh tahun namun garis kecantikannya belum pudar , namanya lan-nikow, dan yang terakhir adalah sepasang suami istri yang dikenal sin-yan-siang (sepasang walet sakti) liem-bu-sin dan istrinnya bu-goat-eng

ketika malam telah datang , bulan purnamapun muncul yang dihiasi bintang gemintang koai-tung-kai membuka pertemuan

“rekan-rekan sehaluan, pertama saya ucapkan terima kasih atas kesudian para enghiong dan loncinpawe memenuhi undangan kami , dia menjura ke empat arah dengan takzim , “hal pertemuan kita ini sebagaimana dalam undangan kami adalah sehubungan dengan apa yang terjadi dikalangan kita yang membuat kita semua prihatin , yang mana setengah tahun yang lalu terjadi geger akan sepak terjang dari golongan sesat yang tidak memandang sebelah matapun terhadap kita “ koai- tung-kai diam sejenak melihat kesemua undangannya , “ dan dari penyelidikan anggota kami maka kami mendapatkan berita yang sangat mengejutkan ,dan oleh sebab itulah kami mengundang sicu enghiong semua ketempat ini , karena menurut saya perlu diketahui bersama oleh para ciangbujin dari partai persilatan yang sudah hadir disini semuanya dengan utusannya, begitu juga para loncinpawe dan enghiong semua yang tersangkut langsung dengan peristiwa menggemparkan tersebut Peristiwa yang dimaksud koai-tung-kai adalah dimana delapan partai besar kehilangan benda pusaka pada enam bulan yang lalu , siauwlim-pai kehilangan bokor emas , hoasan-pai kehilangan giok-kiam (pedang kemala) , thaisan-pai kehilangan pek-liong-kiam (pedang naga putih) , butong-pai kehilangan kitab pusaka thay-kek-kun (ilmu pukulan taichi) , seminggu kemudian kunlun-pai kehilangan swat-lian (teratai salju) sejenis obat yang langka , khotong-pai kehilangan kitab im-kan-sin- kang (tenaga sakti arhat) , gobi-pai kehilangan senjata berupa hudtim bergagang emas , dan hengsan-pai kehilangan kitab pusaka ngo-heng-gan-te (lima elemen memutar bumi) dan sebulan kemudian pustaka dalai lama di obrak abrik tanpa diketahui namun tidak ada barang yang hilang , kemudian kwan-im-bio yang dipimpin lan-nikow kehilangan bwee goat (bunga bulan) sejenis obat untuk kaum wanita , dan tiga bulan yang lalu putri liem- bu-sin yang berumur satu tahun yang mereka namai liem-swat-hong hilang ditangan pembantunya walhal mereka berada di rumah

hari itu mereka berdua sedang berlatih dibelakang rumah , sementara pembantunya yang biasa menggendong anaknya berada di beranda depan rumahnya , tiban-tiba pembantu tersebut mati kaku dengan bekas totokan berwarna hitam dan anak digendongannya hilang entah kemana, senyap dan tidak sedikitpun pasangan itu menyadari , setelah dua jam mereka berlatih, bu-goat-eng sambil mengusap keringatnya keluar menuju ruang depan, alangkah terkejutnya ketika melihat pembantunya tergeletak di lantai , “sin-ko ….” jeritnya dengan histeris , liem-bu-sin yang mendengar langsung berlari ke ruang depan dan mendapatkan istrinya sedang memperhatikan tanda hitam di leher pembantunya , “ada apa eng-moi, “tidak tahu … saya dapati pek-bo sudah tergeletak begini, ah.. anak kita koko dimana anak kita, jeritnya lirih dengan muka pucat dan cemas , keduanya langsung bergerak mencari keseluruh ruangan rumahnya namun anaknya tidak diketemukan , kembali mereka bertemu diruang tengah

“koko…anakku diculik “ bu-goat-eng tidak kuasa menahan air matanya kekhawatiran sangat tergambar diwajah cantik itu, “tenanglah eng-moi , sekarang kita berpencar dan nanti malam kita kembali kesini , mungkin penculik itu belum jauh “ liem-bu- sin mencoba menenangkan istrinya , kemudian merekapun berpencar , liem-bu sin kebarat sementara bu-goat-eng ke timur

, mereka bertanya-tanya disepanjang jalan kepada orang dan tetangga yang mungkin melihat orang membawa anak mereka namun hasilnya nihil , malamnya mereka sudah kembali kerumah dengan wajah lelah dan pucat , bu-goat-eng menubruk suaminya dengan buncahan tangisan , “sudahlah eng-moi , setelah mayat pek-bo dikuburkan kita berkemas akan mengadakan pencarian , anak kita tentu tidak dibunuh , sebab kalau penculik itu berniat membunuh untuk apa dia culik anak kita, hibur liem-bu-sin sambil mengusap kepala istrinya .

Dua hari kemudian setelah pembantu tersebut dikubur sepasang pendekar itu berangkat “koko.., alangkah luar biasa saktinya orang yang menculik hong-ji , sehingga kita tidak tahu akan kedatangannya kerumah kita, “benar niocu, orang itu tentu orang sakti dari golongan hitam , karena demikian kejinya totokan yang ada ditenggorokan pembantu kita itu , “aku akan mengadu nyawa dengan orang itu, bu-goat-eng mengepal tangannya dengan muka marah, “ benar , demikian juga aku moi-moi untuk anak kita , apapun akan kita hadapi bersama, liem-bu sin memegang tangan bu-goat-eng untuk memberikan kekuatan pada hati bu-goat-eng yang cemas sebagaimana juga dirinya, selama dua bulan mereka terus mancari namun tiada hasil seakan anak mereka dan penculik itu hilang ditelan bumi , dan sebulan yang lalu mereka mendapatkan undangan dari lo- I- kaipang yang di ketuai koai-tung-kai untuk mengadakan pertemuan di jeng-hoa-san, dan malam itu mereka berada di jeng-hoa-san untuk memenuhi undangan tersebut

“ koai-Tung kai , apa yang telah kamu dapatkan dari hasil penyelidikan anak buahmu tentang masalah yang melanda kita ini ? tanya hongsan-lama , “benar.. , bagaimana dan apa yang song-pangcu dapatkan “ sela sin-coa-hiap dari hengsan-pai , “begini para enghiong semua, kejadian yang beruntun ini tentu didalangi oleh orang yang berseberangan dengan kita, kami juga mengalami hal yang serupa dengan para sicu semua , yang mana dua bulan yang lalu perkumpulan kami dicabang utara diobrak abrik dan markas kami dibakar, enampuluh anggota kami dibabat dengan keji oleh orang tersebut “ Kaoi- tung-kai mengepal tinjunya dengan hati geram dan marah “hmh.., alangkah durjananya orang itu pangcu, lalu siapakah mereka itu ? , utusan kedelapan partai besar juga terkejut dan marah , “bangsat keji yang tidak berperikemanusiaan” sela sin- coa-kiam , sambil mengepal tinjunya , “huh..memang golongan kita telah dihina “ pek-mou-liong mendengus marah , “lalu bagaimana song-pangcu ?, “ begini yo-losuhu dan enghiong semua, dari pengakuan pemimpin cabang utara sebelum ajalnya mengatakan bahwa yang menyerang mereka itu seorang yang sangat sakti dengan senjata pedang kembar , dan orangnya sekitar umur lima puluh tahun dengan jenggot dua warna hitam dan putih , kemudian kami sebar anggota di seluruh cabang untuk menyelidiki orang dengan ciri tersebut maka sebulan yang lalu kami dapatkan berita bahwa orang itu adalah siang-kiam-kwi (iblis berpedang kembar) dan kami juga mendengar berita bahwa golongan hek-to sudah memiliki pimpinan yang dikenal dengan thian-te-sam-kwi (tiga iblis dunia) dan salah satunya adalah siang-kiam-kwi , yang kedua adalah tok-sim-kwi (iblis berhati racun) dan yang ketiga adalah toat-beng-kwi (iblis pencabut nyawa)

“lalu menurut song-pangcu , apakah anak kami yang hilang diculik salah satu thian-te-sam-kwi ?, “benar toanio, besar sangkaan saya demikian karena menurut anggota kami juru masak cabang utara yang yang sedang berada di hutan belakang markas yang sedang mengambil air, ketika hendak kembali dia melihat bayangan seorang yang berperawakan tinggi dan ada gendongan terikat dipunggungnya memasuki dapur dan lalu membakar dapur, dan perawakan itu dimiliki oleh tok-sim-kwi, “oh …. anakku “ gumam bu-goat-eng lirih, “tenanglah eng-moi, liem bu sin menyentuh pundak bu-goat- eng, “lalu bagaimana dengan hilangnya pusaka delapan partai song pangcu, “sicu pek-liu-jiu, hal itu juga jelas perbuatan mereka , “bagimana song pangcu begitu yakin mereka tiga orang dan kabar kehilangan empat partai pada malam yang bersamaan, “ sicu gobi-kiam-sian, memang rasanya tidak mungkin, tapi kita juga harus tahu bahwa pembantu-pembantu iblis ini juga tidak kurang lihainya, hal itu dapat kita ketahui dari apa yang di alami oleh delapan partai besar , tidak mungkin orang sembarangan yang melakukannya jadi tidak salah jika kita menyimpulkan bahwa ini didalangi ketiga iblis itu , oleh karena mereka sudah merasa kuat karena adanya thian-te- sam-kwi maka mereka melakukan hal yang menggemparkan kita , kalau tidak untuk apa mereka lakukan hal tersebut kalau tidak untuk menghina golongan kita,

“kalau begitu ketiga iblis ini tidak bekerja sendiri-sendiri, “benar suthai, kaki tangan mereka pasti sudah ada dan juga lihai, “dugaan song-pangcu memang beralasan karena pustaka di lasa juga yang diobrak abrik oleh setidaknya tiga orang , pustaka kami memiliki tiga ruangan yang berlainan tempat , dan waktu bersamaan ketiganya diobrak-abrik, sela hongsan-lama, “sejauh penyelidikan song pangcu dan anak buah , apakah kalian tahu sarang mereka ? , “kami belum tahu liem-taihap ,

tiba-tiba terdengar suara ketawa yang demikian kuat sehingga tempat itu bergetar, sepuluh anggota lo-i-kai-pang terjungkal muntah darah dan dari mata telinga mereka mengalir darah dengan nyawa melayang, ke tiga belas orang peserta pertemuan itu ,sekuat tenaga membentengi diri dengan sin- kang berusaha melawan suara ketawa itu, berselang setengah jam ketawa itu berhenti dan muncul tiga orang iblis yang baru mereka dibicarakan , yang membuka mata pertama adalah hongsan-lama dan lan-nikow , Hongsan-lama yang melihat sepuluh pengemis yang bergelimpangan mati sambil berdiri menegur “alangkah tidak manusiawinya kalian semudah itu menyebar maut, sementara yang lain-lain juga berdiri dengan wajah pucat , bu-goat-eng memegang tangan suaminya ,terasa lemah tubuhnya karena jantungnya hampir pecah akibat suara ketawa tersebut,

“heh … kalian mau cari sarang kami bukan ?,

hahah..haha…hahaha, tidak usah repot-repot, kami sudah di sini mendatangi kalian, malam ini thian-te-sam-kwi akan mengadakan pesta kecil, hahaha…hahhaa. hahahh , orang yang tertawa itu memiliki tubuh kate dia adalah toat-beng-kwi, “siapa mau mati duluan ayo maju , “toat-beng.. ! kenapa satu- satu, sekalian saja semua diajak pesta, sela tok-sim-kwi yang berperawakan tinggi, tanpa dikomando ke tigabelas orang itu menggebrak kedepan menyerang thian-te-sam-kwi dan luar biasanya ketiga iblis itu mengulurkan tangan kedepan “blamm” terdengar benturan keras diudara dan tiga belas tubuh terlempar kebelakang sampai sepuluh tindak, lalu semua pendekar itu bangkit dan bersiap menyerang dengan jurus masing-masing

liem-bu-sin dan isteri, lan-nikow, koai-tung-kai dan hongsan- lama berhadapan dengan siang-kiam-kwi yang berjenggot hitam putih sementara sin-tung-hiap, sin-coa-hiap, sin-kun dan gobi-kiam-sian berhadapan dengan tok-sim-kwi dan dibagian lain pek-mou-liong, pek-liu-jiu, bu-eng-kiam dan pek-liu-sin berhadapan dengan toat-beng-kwi

“rekan-rekan semua untuk menghadapi iblis, kita tidak perlu pakai peradatan , mari kita serang, teriak koai-tung-kai sambil menyerang , “hahaha..hahaha , kalian keroyokpun kalian akan dibabat habis, sahut toat beng kwi sambil menggenjot tubuh kecilnya dengan kecepatan luar biasa mengeluarkan swe-goat- kwi eng-hoat (jurus bayangan iblis meraup rembulan), ke empat lawanya memapaki serangan tersebut dengan jurus masing- masing , “blammm… des…wut… , pek-mou-liong menagkis pukulan tangan kanan toat-beng-kwi sedang pek-liu-jiu menangkis tangan kirinya, pek-lui-sin menyambut tendangan toat-beng-kwi dengan cengkraman sedang bu-eng-kiam menyambut tubuh toat-beng-kwi dengan tusukan pada lambung, tiga tenaga sin-kang menyeruak udara malam , tangan pek-lui-sin kena tending sementara tusukan bu-eng- kiam luput dan tubuh toat-beng-kwi melenting keudara setelah pek-mou-liong dan pek-liu-jiu terlempar lima tindak sementara kaki pek-lui-sin merasakan tangannya terasa sakit, bu-eng-kiam melanjutkan serangannya dengan gencar namun gin-kang toat- beng-kwi amatlah luar biasa 

kembali ia dikeroyok empat orang tersebut , tiga puluh jurus berlalu gin-kang yang luar biasa ringannya dari toat-beng-kwi membingungkan ke empat pendekar itu , sementara sin-tung- hiap, sin-kun, sin-coa- hiap dan gobi-sian-kiam menerjang tok- sim-kwi yang menggunakan jurus “sim-lo-tiam-hoat” (ilmu totokan meremukkan hati) memapaki semua serangan , dibagian lain siang-kiam-kwi dengan ilmunya yang lihai te-thian kiam-hoat (jurus pedang bumi langit) pedang ditangan kanannya memaki dua bilah pedang dari sin-yan-siang liem-bu- sin dan istri dan tongkat dari koai-tung-kai sementara pedang yang dikiri serta membendung serangan kebutan hudtim lan- nikow dan rosario hongsan-lama , pedangnya bergelombang meruntuhkan semua serangan

diterangi bulan dan kobaran api unggun pertempuran segit berlangsung, pertempuran yang terbagi tiga kelompok itu demikian ramainya dan walaupun dikeroyok thian-te-sam-kwi dengan handal menangkis dan balas menyerang , bahkan masing-masing semakin lama semakin mendesak pengeroyok mereka dan pada waktu yang hampir bersamaan totokan tok- sim-kwi mengenai leher bagian belakang sin-coa-hiap , sehingga dia jatuh tertelungkup tidak bergerak dengan nyawa melayang sementara toat-beng-kwi mencengkram perut bu- eng-kiam sehingga perutnya hancur berantakan tanpa bersambat nyawanya juga putus dan disisi lain pedang siang- kiam-kwi merobek lambung bu-goat eng sehingga ia terduduk memegang lambungnya, “cepat eng-moi kamu turun bukit, kamu harus hidup moi-moi untuk anak kita, teriak liem-bu sin sambil menagkis tusukan pedang siang-kiam-kwi “trang” percik api berpendar dari adu pedang tersebut, bu-goat eng memandang suaminya , “lekas eng-moi…wuut…, liem-bu-sin berteriak lagi sambil membabat kaki siang kiam kwi namun luput

ketika siang-kiam-kwi berpoksai setelah beradu pukulan dengan hongsan hewsio dan menghindari sabetan pedang liem-bu-sin, bu-goat-eng menggelinding menjauhi pertempuran

, tapi tiba-tiba toat-beng-kwi saat beradu pukulan dengan pek- liu-jiu dan pek-mou-liong dan berhasil merubuhkan kuda-kuda keduanya hingga tujuh tindak sambil mencengkram bahu pek- lui-sin dengan tangan kanannya, tangan kirinya memukul jarak jauh dengan jurus “in-giok-sai-mo” (setan alas melempar mustika) kearah bu-goat eng, memang tidak telak kearah punggung bu-goat-eng namun hawa pukulan itu sudah cukup membuat nyonya itu terlempar kedepan tiga tindak dan memuntahkan darah , bu-goat-eng terus menuruni bukit jeng- hoa-san sementara pertempuran diatas semakin segit dan seru, seratus jurus berlalu dan pada jurus berikutnya,

“craat…cepp..aghh…craat…tanggg…traangg…, hudtim lan- nikow terlepas karena tangannya kena sabet pedang dan disusul tusukan pada dadanya kemudian merobek dada menangkis tongkat koai-tung-kai dan membacok pedang liem- bu-sin yang akan menusuk lambungnya, lan-nikow terkapar tak bernyawa dengan dada menganga robek besar, sementara tok- sim-kwi totokannya mengenai dada sin-kun sehingga tewas dan toat-beng kwi sudah menumbangkan pek-liu-jiu, ketiga iblis itu semakin gencar dan sekan berlomba untuk menumbangkan lawan-lawannya dan pada jurus ke dua ratus toat-beng-kwi mencengkram tangan pek-mou-liong dan pek-lui sin “prak…praak..bukk…bukk..” terdengar jemari tangan yang remuk dan tanpa menunda toat-beng-kwi menyusulkan dua pukulan sakti menghantam dada pek-mou-liong dan pek-lui-sin sehingga keduanya terlempar dengan nyawa putus , tidak lama gobi-kiam-sian dan sin-tung-hiap menerima dua totokan maut dari tok-sim-kwi yang mengenai dada dan leher sehingga keduanya tewas , sementara siang-kiam-kwi sudah membacok leher koai-tung-kai hingga tewas , liem-bu-sin dan hongsan- lama berusaha matia-matian mempertahankan diri namun toat- beng-kwi yang sudah menewaskan kedua lawannya tiba-tiba menyerangnya dengan jurus in-giok-sai-mo , dan tak ayal liem- bu-sin terlempar dan isi dadanya remuk dan tewaslah suami yang gagah itu , hongsan-lama tidak lama menyusul setelah tusukan pedang siang kiam kwi menusuk dada hingga punggung dan tewas seketika .

“huh …phuah.. mampus sudah, toat-beng-kwi mendengus sambil meludahi mayat hongsan-lama, “bagaimana dengan perempuan itu ? , “biarkan saja tok-sim , paling besok dia sudah jadi mayat karena lukanya , “betul , apalagi dia sudah merasai pukulanku,hahaha…hahaha..hahah, “sekarang kita istirahat dulu, siang-kiam-kwi dengan sadisnya menendang mayat- mayat bergelimpangan itu seperti bola dan sekejap mayat- mayat itu berterbangan keberbagai arah dibawah bukit , naas memang nasib delapan sahabat yang baru tadi siang makan bersama , seakan makan bersama dalam pesta ramah di rumah makan kwee-bun merupakan hari terakhir mereka

Bu-goat eng terus menuruni bukit dengan luka yang tidak ringan dan pagi harinya bu-goat eng sudah berada dikaki bukit , dia terus tertatih dengan luka dilambung dan luka dalam yang menyesakkan dadanya , setelah matahari agak tinggi , dia melihat seorang anak lelaki berumur lima tahun sedang berindap-indap di bawah lembah jalan setapak itu yang sedang menangkap belut , anak laki-laki itu adalah kwee-han-tiong putra kwee bun ,dengan suara tawanya yang jernih dia mengejar-ngejar belut yang meliuk-liuk dan menyusup kedalam tanah , “cup..cup…cup” suara Han-Tiong memancing belut supaya keluar dari lobang seiring suara tawanya yang bebas , “byuarrr” , heh.. apa tuh, kwee han tiong terkejut melihat tubuh manusia menggelinding kebawah terhempas ke tanah lumpur didepannya , dengan cepat dia mengangkat kepala wanita itu

,”aduh , bibi apa yang terjadi denganmu , ah bibi luka “ Han- tiong menatap iba pada wajah yang menunjukkan ringis sakit luar biasa , dengan nampas yang empas empis ,Bu-goat eng melihat wajah anak laki-laki yang tampan itu , “ aghh…anakku liem-swat hong malangnya nasibmu , oh anakku “ keluhnya lemah , “kenapa bibi , ada apa dengan anakmu liem-swat hong itu ?, Han-tiong menggoyang-goyang tubuh bu-goat-eng , bu- goat-eng melihat kembali wajah Han-Tiong, “aku akan mati, kamu carikanlah anakku itu jaga dia jangan dia mengotori dunia ini dengan kedurjanaan, ahhhh… tiba-tiba bu-goat-eng terdiam dan matanya terpejam , dada bu-goat-eng masih bergerak namun nafasnya semakin sesak dan pendek, “aku akan menjaga adik swat-hong, tenangkan hatimu bibi, Han-tiong berbisik dekat wajah bu-goat-eng dan menggoyang tubuh bu- goat-eng yang sudah tidak bergerak tapi tiba-tiba mata bu-goat- eng terbuka lebar dan menatap ke mata han-tiong yang dekat dengan wajahnya, “anakku ada tanda merah dibawah ketiaknya, suaranya lemah dan nafasyapun putus, kwee-han- tiong bingung melihat wanita itu telah mati, dia merayap keatas mengharapkan orang lewat tapi sampai siang tidak ada orang yang lewat, kemudian Han-tiong turun kembali kelembah jalan dan mencabut daun talas yang tumbuh dipinggir parit lalu dia menutupi mayat itu, “ aku lapor ke ayah saja, pikirnya sambil berlari kearah kota kun-leng

Di pasar kun leng tepatnya di kedai kwee-bun terjadi malapetaka mengenaskan , thian-te sam kwi sudah sampai di kun leng dan memasuki kedai kwee-bun , “silahkan…silahkan masuk lopek bertiga sambut a kiong , “heh siapa lopek mu , kata siang kiam kwi sambil mengibas tangannya menampar a kiong “prak” kepala a-kiong pecah , pelayan yang lain terkejut pucat , “hahaha….hahaa “ gema tawa toat-beng-kwi membuat kwee bun keluar dari dalam ruangan rumahnya, “ada apa ini ? , kwee-bun terkejut melihat lima pelayannya meringkuk disudut ruang dan mayat a-kiong tergelatak dengan kepala pecah , dia melihat tiga orang di ruang tengah dan salah seorang berperawakan mendekatinya, “siapa kalian ?, tubuh kwee-bun gemetar, “huh.. bukkk… , tendangan tok-sim-kwi bersarang diperutnya tak bersambat nyawa kwee bun putus dan badannya terlempar kedalam rumah menghantam lemari hingga hancur , tok-sim-kwi masuk kedalam, tan-siok-nio menjerit melihat suaminya mendoplok dilantai tak bergerak, dia menubruk suaminya , “aa……, jeritnya lagi ketika rambutnya di jambak tok-sim-kwi , “heheh..hehe … he.. aduh kasihan masih muda begini sudah menjanda, tok-sim-kwi menyeret tan-siok nio keluar . “lepaskan aku manusia binatang , manusia keji , bangsaaaat…, jerit tan-siok nio, “hehehe…hehe.. hehe, sambil tertawa tok-sim-kwi tidak memperdulikan jeritan tan-siok nio , setelah sampai dimeja dimana kedua rekannya duduk , tan- siok-nio didudukkannya dikursi dan di totok hingga kaku dan bisu, orang yang lalu lalang ditepi jalan berkerumun setelah mendengar jeritan tan-siok-nio, beberapa orang laki-laki kuat memberanikan diri mendekati tapi tak ayal mereka semua terlempar bagai layangan putus dipukul oleh toat- beng-kwi, sebentar saja kerumunan itu berlari menjauhkan diri hingga sunyi kembali, tidak ada orang yang mau lewat didepan kedai itu .

“heh..! pelayan siapkan makanan untuk tuan besarmu, cepat…. Hahhaa..hahhaa“ bentak toat beng kwi , kelima orang itu dengan gemetar kedapur mempersipakan makanan, kemudian mereka berlima menghidangkan makanan , meja sudah penuh hidangan dan baru saja kelimanya hendak mundur tiba-tiba sebuah serangan kilat membuat mereka terjungkal bergelimpangan tidak bergerak dan tenggorokan mereka meninggalkan bekas hitam totokan tok-sim-kwi, lalau ketiga iblis itupun mulai menyantap makanan, berselang satu jam mereka menikmati santapan mereka , toat-beng-kwi hendak menampar tan-siok nio , “eit.. tunggu dulu toat-beng, wanita ini jangan dibunuh, tok-sim-kwi menangkap tangan toat-beng-kwi, “agh… kenapa ? wanita ini akan menyusahkan kita saja, cela toat- beng-kwi , “saya butuh penjaga bayi yang kuculik, “wanita ini sangat cantik dan masih muda , tentu sangat menyenangkan disaat kita butuh hiburan, tambah siang kiam kwi , toat beng kwi duduk kembali , “ya sudah kalau begitu, dengan muka mengkal toat-beng-kwi duduk kembali, kemudian merekapun mencelat keluar dan meninggalkan kota kun-leng sambil membopong

tan-siok-nio, air mata tan-siok-nio tidak henti mengalir karena tangis dihatinya, mukanya pucat dan cemas makin tidak terperikan memikirkan suami dan anaknya

Dua jam kemudian setelah pembantaian di rumah kwee-bun . Han tiong sampai dirumahnya , dia melihat orang berkerumun di dalam kedai sedang menjajarkan tujuh mayat , “ada apa lopek ..?,tanyanya cemas , “aih Han-tiong kasihan kamu nak .. sahut orang tua itu , Han-tiong menyelip kedepan dia melihat

tubuh ayahnya terbujur “ayaaaaah ..ayahh , ooooh ayaaaah “ Han-tiong menjerit keras dan pingsan , orang-orang terenyuh sesugukan melihat han tiong , satu jam kemudian han-tiong pun siuman , “ ayah … ayah , ah ibuu , mana ibuuu” jeritnya lagi

, “han-tiong sabarlah nak , keluargamu didatangi orang keji , dan melakukan kekejian ini , dan ibumu …. ibumu dibawa mereka “ ujar seorang tua dekat han tiong , “bhok-suhu , siapa mereka suhu ? “ tanyanya disela tangisnya , “kami tidak tahu nak , jumlahnya ada tiga orang “ jawab bhok-siucai suhu Han- tiong , semalaman han tiong menangisi mayat ayahnya , baru keesokan harinya ketujuh mayat itu di kebumikan , malam itu han-tiong ditemani beberapa orang tua dan ibu-ibu tetangga

Kwee-Han-Tiong yang berumur lima tahun lebih menjalani sendiri kehidupannya dengan tabah ,berusaha memenuhi menyelesaikan kebutuhannya dengan peninggalan orangtuanya yang lumayan , Han-Tiong masih terus mengikuti pelajaran dari Bhok-siansu , suatu ketika setelah tiga bulan ayahnya meninggal dan ibunya hilang Han-Tiong memasuki kamar orangtuanya sesaat hatinya getir merindukan ayah dan ibunya , kemudian Han-Tiong melihat sebuah peti yang biasa terletak didalam lemari yang hancur diruang tengah, peti kecil itu awalnya berada dalam kotak hiasan kaca berisi air sehingga peti itu melayang terapung diatas air tapi sekarang kacanya sudah pecah dan airnya tumpah, dan mungkin setelah kejadian malapetaka itu disusun tetangga dan diletakkan dikamar orangtuanya, Han-tiong tertarik dan ingin mengetahui isi peti itu, setelah peti itu terbuka maka didalamnya ada mainan kura- kura kecil , Han-tiong mengambil mainan kura-kura itu, dia perhatikan sambil berpikir “aneh kok ada mainan kura-kura didalam peti..? , sambil pegang sana sini , tiba-tiba tempurung kura-kura itu bergeser sedikit “eh …, desisnya , lalu dia gerakkan tempurung itu sampai menutup kepala kura-kura dan didalamya Han-tiong dapati sepucuk kertas yang terlipat didalamnya , kertas itu diambilnya dan dibuka maka diapun membaca

Anakku kwee cin sisihan adikmu kwee can Semoga hidupmu jauh dari pertentangan Terhindar dari segala permusuhan dan kekejian Jika aral melintang engkau dapat cobaan Akibat kedurjanaan dunia persilatan

Tiadalah salah engkau menegakkan keadilan Mengambil baju kegagahan disamping kelembutan Pulau kura-kura menyimpan bagian warisan

Siap digunakan anak dan keturunan Kwee Lun

Han tiong melihat ada sebuah gambar peta dibawah tulisan itu , dia berpikir lama , dia tidak tahu siapa kwee lun itu atau kwee cin namun pasti ini adalah moyangnya , maka dengan hati yang mantap dia berniat bahwa dia akan pergi mencari pulau kura- kura ,Han-tiong pun tertidur karena lelah .

Keesokan harinya Han-Tiong menemui suhunya bhok-siansu “suhu, tecu berencana besok akan meninggalkan kun-leng , Bhok-siansu heran, “kamu mau pergi kemana tiong-ji? , “tecu akan pergi merantau suhu , “aih.. tiong-ji kamu masih kecil, berbahaya bagimu mengadakan perjalanan dan pergi merantau, “tidak mengapa suhu…, tekad saya sudah bulat untuk menjalaninya, kong-cow saya sudah memanggil tecu, “eh.. apa maksudmu tiong-ji ? “ bhok siansu terheran-heran,

“saya tidak tahu suhu, tapi hati saya ingin pergi kesuatu tempat dimana kong-cow saya berada, jadi suhu saya hanya ingin tahu jika suhu dapat memberi tahu letak pulau kura-kura, “pulau kra- kura…, gumam bohk siansu , “benar suhu , “hmh… baiklah tiong-ji jika keinginanmu tidak dapat lagi ditawar keluarlah kamu dari pintu sebelah barat kota ini, berangkatlah menuju kota kaifeng dan bertanyalah dengan penduduk disana mungkin mereka tahu akan pulau itu, “terimakasih suhu , besok pagi tecu akan berangkat, dan satu hal lagi tecu memohon pada suhu, “apa itu tiong-ji?, “suhu titip rumah saya kepada orang yang suhu percayai , suatu saat kalau hayat masih ada , saya akan datang kembali , “hmh.. baiklah tiong-ji , rumah keluargamu akan suhu perhatikan, “sekali lagi terimakasih suhu dan sekarang tecu mohon pamit, Han-tiong kembali kerumahnya dan mempeersiapkan diri untuk keberangkatannya

Han Tiong meninggalkan kota kun-leng dengan berbekal uang cukup banyak dan bekal baju lima stel berangkat untuk menuju kota kaifeng , masuk hutan keluar hutan , masuk desa keluar desa , hari itu sampailah han-tiong dikota kicu setelah dua bulan menempuh perjalanan , bekalnya sudah habis badannnya kumal berdebu ,lalu Han-tiong mendekati rumah makan , “heh…! untuk apa kamu berdiri disitu hayo pergi..pergi..! , gertak seorang berbadan kekar sepertinya

tukang pukul rumah makan itu, “ paman..! aku lapar sekali , aku dapat bekerja cuci piring , berikan aku pekerjaan untuk mengisi perut, “tidak ada pekerjaan disini ! hayo pergi kau ! sebelum kupukul, bentaknya dengan pasang muka angker, Han tiong pun meninggalkan tempat itu

Diperempatan jalan dia melihat ada rumah makan besar , dia masuk gang yang mengarah kebelakang sebelah dapur rumah makan tersebut , kebetulan seorang juru masak sedang keluar dengan sekeranjang sampah basah, “eh kenapa kau kesini kamu mau apa? , mau mencuri ya .. “ bentaknya , “paman , tolonglah aku ini , aku sejak semalam belum makan , Han-tiong memelas sambil memegang perutnya, “ aku akan bantu apa saja paman dan berikanlah saya makan, “apa kamu bisa cuci piring ? , “bisa paman , “baik masuklah , itu piring dan mangkok kotor cucilah, setelah selesai kamu boleh makan , dengan semangat han-tiong melakukan pekerjaannya, hampir satu jam dia mencuci piring dan mangkok yang kotor , “paman ditarok dimana piring-piring ini ?, “oh ya , tarok dirak piring sana, setelah mengatakan itu juru masak tadi mengambil makanan yang hangat dengan lauknya , “ nah… , sekarang duduklah disini dan makanlah , Han tiong dengan sigap duduk dan mulai menyantap makanannya , dengan nikmat dan perlahan dia kunyah makanan , “kalau kurang minta lagi yah , “ terimakasih paman , “oh ya , namamu siapa ? , tanya juru masak itu sambil membesarkan api di tungku , “kwee-Han tiong paman“, kamu darimana ?, dimana orang tuamu ? , “aku ini sedang merantau paman , “heh.. , kecil-kecil kok merantau , kok orang tuamu membiarkan kamu sekecil ini merantau “ juru masak itu heran sambil duduk dikursi panjang dekat han tiong makan ,

“orangtuaku sudah tiada paman , “ ah kasihan kamu nak ,lalu… tujuan kamu mau kemana ? , “aku mau ke kaifeng paman , “wah..wah .. kaifeng itu jauh , dari sini saja masih ada satu bulan perjalanan naik kuda , “kamu berasal dari mana ? , “saya dari kun- leng paman, “wah alangkah beraninya kamu tiong ji , artinya sudah bulanan kamu dalam perjalanan , “betul paman , kalau tidak salah hitungan saya , sudah dua bulan , “waduh luar biasa , “lalu setelah ini apa kamu akan melanjutkan perjalanan

? , “ tidak paman , sementara saya disini dulu untuk mempersiapkan bekal untuk melanjutkannya , “hmhh.. kalau begitu kamu ikut saya saja dulu dan membantu saya , setelah kamu rasa cukup kamu boleh lanjutkan perjalanan , “benarkah paman , aku han tiong sangat berterimakasih atas budi paman ini , sahut Han Tiong gembira , “ Ya , lanjutkanlah makannmu “ juru masak itu kembali ke perapian untuk melihat lauk yang dimasaknya

Sejak saat itu Han tiong ikut dengan juru masak yang baik hati itu , Han tiong memanggilnya dengan sebutan empek Kun , a- kun dan tiga temannya yang bekerja dibagian dapur rumah makan itu sangat suka pada Han-tiong yang bekerja dan membantu mereka , selama tiga bulan Han tiong berada di kota kicu , kemudian diapun melanjutkan perjalanan , dan seminggu kemudian dia masuk hutan , belum jauh ia memasuki hutan itu terdengar bentakan , “heh anak kecil , berhenti , Han Tiong berhenti dan melihat tiga orang berbadan kekar dan browok lebat mencegatnya , tinggalkan buntalan kamu kalau masih sayang nyawa, bentak salah seorang yang bermuka bopeng , “ paman buntalan ini bekal perjalananku “ , aaah , bocah tengik , sumpahnya dan sekali renggut buntalan Han Tiong sudah di rebutnya , “paman , apakah kalian tidak malu merampok anak kecil ?, “peduli apa , hayo menggelinding dari hadapan kami , hahaha ..haha ..haha , gertaknya sambil menolak Han tiong , Han tiong jatuh terhempas kebelakang , tanpa mengeluh dia bangkit , “sungguh perbuatan kalian ini tidak patut , “plak..plak , perkataan Han tiong ini disambut dua kali tamparan dipipinya sehingga mulutnya berdarah dan diapun jatuh terduduk , “sudah bow-can tinggalkan anak itu , urusan kita masih banyak

, kata kawannya , kemudian merekapun meninggalkan Han tiong , Han-tiong masih duduk mengusap darah yang mengelir di sela bibirnya kemudian Han-tiong bangkit dan melanjutkan perjalanan dengan rasa nyeri dibibirnya dia terus melangkah memasuki hutan , dalam perjalanan ini jika dia lapar dia hanya dapat makan buah-buahan yang didapatinya , sebulan kemudian dia sampai di kota ki-bun , dia kembali mencari rumah makan , namun dimana dia menawarkan bantun dia hanya mendapat caci maki , sementara di dalam gang dia lihat banyak anak-anak sepantaran dia yg mengemis , “apakah saya harus mengemis ? , tanyanya dalam hati , “tidak , saya harus bekerja , dia memutari pasar kibun sudah dua hari , perutnya sudah dua hari tidak di isi , dengan badan lemah dan haus yang mencekik hari itu dia berdiri disebuah perguruan silat dengan papan nama yang terpampang gagah “Sin-Coa- Bukoan” (perguruan ular sakti) , orang lalu lalang tidak sedikitpun memperhatikannya , dia memberanikan diri masuk , seorang bertubuh kurus kering mendekatinya , “hei anak kecil , kenapa masuk kemari ? , “saya mau cari pekerjaan paman , “ aku dapat menjadi kacung disini “ tambahnya , “tidak ada pekerjaan disini , bentak orang kurus itu , ketika Han Tiong dibentak-bentak , seorang anak perempuan remaja umur dua belas tahunan mendekat , “ada apa paman a-sam ?, “ini anak kumal siocia , dia minta jadi kacung disini , anak perempuan itu memperhatikan Han Tiong dari kepala sampai kaki , “kamu siapa ? , “saya Han tiong , “ sudah dua hari saya tidak makan siocia , “ bantulah saya mendapat pekerjaan disini sebagai kacung , saya akan banyak berterimakasih atas budi siocia , “ee..ee, anak lancang , mulut manis , coba mengambil hati siocia ya…, heh ..! apa kamu minta dihajar , cepat pergi dari sini , bentak si a-sam melayangkan tangannya , “plak” Han tiong bergeser dua tindak kesamping , terasa perih panas pipinya disela perutnya yang lapar dan lemas tubuhnya , “ah , jangan paman , nanti aku adukan sama ayah, ancam gadis kecil itu , “biarkan saja dia menemui ayah , “ayok , eh siapa tadi namamu ? , “Han tiong siocia”, “mari han tiong aku ajak kamu menemui ayahku “ , “terimakasih siocia , sahut Han-tiong sambil melirik a-sam , a-sam berlalu dari situ , han tiong mengikuti anak perempuan itu , didepan orang tua separuh baya dengan wajah mentereng Han-Tiong menjura , “ayah , anak ini han tiong , dia mau jadi kacung di rumah kita , “ lan-ji anak ini tidak kita kenal , kok lancang kamu bawa kesini , mana tahu dia anak nakal yg suka mencuri , “ tidak paman , aku baru dua hari disini , dan saya kesini untuk cari pekerjaan , “dan saya sangat malu untuk mencuri , ujar Han tiong , Gak-seng yang mendengar tutur kata sopan dan teratur itu mendelik heran , “hmh … kamu darimana ? , “saya dari kota kun-leng , “wah itu jauh sekali , Gak-seng berdecak dalam hati , “lalu , apakah kamu akan menetap disini ? , “tidak paman , saya disini sampai saya merasa punya bekal cukup untuk melanjutkan perjalanan , “wah… alangkah bijaknya kamu han tiong , “sebenarnya kamu mau kemana ? , “ke kota kaifeng paman , “hmhh … baiklah , kamu bekerjalah disini “ sahut Gak-seng dengan pandangan takjub sambil mengelus jenggotnya , “jadi ayah setuju han tiong kerja disini ? , tegas anaknya , “ya , lan-ji

, “ terimakasih paman , terimakasih siocia , budi paman dan keluarga saya ucapkan banyak terimakasih , “ya…ya “ jawab Gak seng semakin takjub ,”anak luar biasa , bertekat baja , bijak bestari “ Ga-seng bergumam dalam hati .

Han tiong dibawa kebelakang dan menjumpai seorang paman tua yang dipanggil empek sun , empek-sun yang tua memberikan petunjuknya , apa saja yang akan dilakukan oleh han tiong sebagai kacung , hari itu diapun bekerja tanpa kenal lelah walaupn lapar perutnya sudah menggigit ususnya , dan siang harinya dengan empek sun dia makan dibelakang . dengan lahap bertabur syukur dia nikmati makananya , setiap hari dia rajin menyapu lapangan , menyiram bunga-bungaan dan membersihkan rumah

Sudah lima bulan Han tiong menjadi kacung di sin-coa-bukoan , setiap hari dia menyaksikan para murid berlatih dibawah pimpinan Gak-seng , hubungannya dengan nona Gak giok-lan baik , anak perempuan itu ramah dan suka bercakap-cakap dengan dia , sore hari itu saat latihan selesai , giok lan kembali menemui han-tiong , “tiong , panggilannya pada han-tiong , “ ya siocia , “duduklah dibangku itu , “ya , ada apa siocia , “ sudah lima bulan kamu disini , bagaimana rasanya , apakah kamu kerasan disini ? , “berkat kebaikan keluarga siocia dan baik hatinya empek-sun , saya senang berada disini siocia , “ lalu apakah kamu akan menetap disini ? , “ tidak siocia , dalam waktu dekat ini perbekalan untuk perjalanan saya selanjutnya rasanya sudah cukup , “tentu jika saatnya saya akan minta izin pada loya , “kenapa kamu tidak menetap saja disini , tiong ?, giok-lan membesarkan matanya yang cipit , “dengan adanya kamu disini , aku punya teman ngobrol , “ah siocia , kalau untuk ngobrol , banyak saya lihat murid-murid disini yang sepantaran dengan siocia baik laki-laki maupun perempuan , “iya tapi mereka tidak enak diajak ngobrol , mereka tidak sepandai kamu kalau ngomong , kamu ini bijak sekali sehingga kamu yang masih lebih muda dari saya sehingga saya merasa kamu lebih dewasa dariku “aduh siocia umur saya baru lebih lima tahun , bagaimana saya bisa lebih bijak dari siocia ?, itu hanya perasaan siocia saja , “tidak tiong , saya pernah dengar ayah membicarakan kamu dengan ibu , dan yang saya katakan ini adalah pendapat ayah , katanya kamu berani dan bertekad baja

, anak sekecil kamu bisa selamat sampai ke sini dari kun-leng”

“siocia , tidak ada yang unik pada diri saya , saya dan siocia memiliki khazanah yang sama yakni , rasa , pikir dan keinginan

, soal keberanian yang siocia maksud , semua manusia punya keberanian , namun bedanya sejauh apa keberanian itu terpicu oleh keadaan kita , dan seberapa sadar kita dengan keberadaan itu , “maksudmu bagaimana tiong , “begini siocia , saya mengalami keadaan malapetaka dalam keluarga , ayah dibunuh orang , ibu hilang entah kemana , usaha ayah ambruk tak ada pegangan “ nah.. keadaan itu adalah suatu pemicu dari sebuah kesadaran , ada apa dengan semua bencana itu , orang yang sadar dia tidak akan larut dengan bencana dan juga tiada melawan arus bencana itu , bencaana adalah satu keharusan yang mesti diterima , bukan untuk ditolak atau diumpat atau bahkan dicari ,“ lalu apakah bencana akan dibiarkan terus menimpa kita ? , “kalau ditimpa bencana terus , itu namanya mencari bencana siocia , tapi maksudnya sedaya upaya sebelum bencana datang , orang sadar tentulah waspada yang melahirkan sikap pencegahan , mencegah itu adalah sebuah kesadaran , tapi jika daya upaya yang melahirkan waspada dan pencegahan bertekuk lutut oleh sebuah bencana sehingga bencana itu tetap menimpa , maka sikap penerimaan pada bencana adalah merupakan kesadaran

, dan dengan demikian kesadaran tetap penuh sehingga pada gilirannya hidup ini bukan hal yang menakutkan dan membuat diri lemah , “tsk..tsk..tskk “ , alangkah dalam hikmah kehidupan yang engkau jabarkan Han-tiong , terdengar suara empek sun yang tiba-tiba keluar dari pintu belakang , “pantaslah kamu tiada pernah mengeluh oleh karena kesadaran yang penuh itu

,tambahnya , “itulah empek sun , bukankah luar biasa tubuh sekecil ini di muat oleh pemahaman sedalam itu ? “ sela giok lan , “benar kata siocia , untuk ukuran han-tiong tiadalah namanya itu selain merupakan keunikan , “ empek sun , penyebutan unik muncul atau penilaian biasa dan tidak biasa datang adalah pandangan sekilas dari apa yang dinilai dan pandangan sekilas itu yang sudah mendarah daging pada setiap penilaian manusia sehingga terjadi pengkotakan dan melupakan hakikat dari pikir itu sendiri , walhal semestinya tidak hanya pandangan sekilas empek sun tetapi lebih mendalam dalam dari itu yakni hakikat dari pikir itu sendiri , apakah hakikat pikir itu hanya dimiliki jika tua ? jawabnya tidak , apakah hakikat pikir itu hanya dimiliki tubuh yang besar jawabnya tentu juga tidak , jadi hakikat pikir itu dimiliki oleh setiap orang baik muda maupun tua , baik kecil maupun besar tanpa kecuali bagi siapapun

Jadi empek sun , karena empek memandang sekilas pada pikiran saya hingga perkataan unik itu muncul , tapi jika empek sun mau melihat hakikat pikir saya , hakikat pikir dalam diri siocia dan hakikat pikir dalam empek sun sendiri maka sebutan unik itu akan berubah menjadi biasa , kenapa.. ? , karena baik kecil besarnya tubuh , tua dan mudanya manusia , hakikat pikir sama saja dan bagi siapa saja tidak terkecuali , jadi empek sun

, lihatlahlah sampai pada hakikat pikir saya yang sama dengan empek sun juga “haha..haha , kamu benar han-tiong” ujar empek sun melihat secercah kebenaran itu , giok lan megang dahinya mencurahkan pikirannya mencerna perkataan itu setitik dia lihat kebenaran itu “ya .. tiadalah keunikan han tiong dari saya , karena apa yang dia punya , ada juga pada saya , gumamnya dalam hati , diapun tersenyum , “sudahlah han-tiong , aku mau mandi , katanya sambil bangkit dari duduknya ., “baiklah siocia” sahut Han Tiong

Sebulan kemudian , Han Tiong minta izin pada gak-seng untuk melanjutkan perjalanan , dengan langkah tenang dan mantap dia keluar dari kota ki-bun ,keadaan panas , hujan dia tempuh , bukit dan ngarai di lalui , akhirnya sampailah di kota pao-teng , kota yang sangat ramai , Han-tiong mencari rumah makan untuk mengisi perutnya yang sehari tidak makan , namun kota ini demikian keras sehingga tidak ada dari rumah makan yang bersikap ramah padanya , banyak para pengemis lalu lalang meminta sedekah , membuat Han-tiong sedih , siang itu langkahnya membawa dirinya didepan sebuak kantor ekspedisi Tiaw-Hui-piawkiok (rajawali terbang) . Han Tiong mendekati seseorang separuh umur yang sedang menaikkan barang , “paman , apakah ada pekerjaan untuk saya ? , “ekkz .. anak kecil bisa apa ? , “apa saja paman sesuai kemampuan saya , “ini pekerjaan kasar , butuh tenaga kuat dan besar , sahut orang itu tanpa menunda pekerjaannya , “mungkin bersih- bersih kantor , atau memberi makanan kuda paman , “hmhh.., gumamnya berehenti sejenak , “siapa namamu , sekecil ini sudah bekerja , dimana orang tuamu ? , “saya Han tiong paman

, saya yatim piatu , “kalau begitu tunggu sebentar , “ a-lung … bagimana pekerja pada bagian pemeliharaan kuda , apakah perlu tenaga ? , teriaknya pada seorang bertubuh jangkung dengan matanya yang sangat cipit , “emangnya kenapa a-sin ?

, orang bermata cipit itu balik bertanya dan mendekati a-sin , “anak ini minta pekerjaan untuk mengurus kuda , jawan a-sin sambil lalu , “aha , anak sekecil ini bagaimana mau mengurus kuda , sementara dia saja tida terurus begini, a-lung mencela sambil melebarkan matanya yang cipit memandang tubuh Han- Tiong , “ paman a-lung , saya bisa mengurus kuda , tolong beri saya pekerjaan itu paman , saya harus bekerja untuk dapat saya makan , sudah sehari saya belum makan , Han-tiong menjura minta belas kasihan ,”sudahlah a-lung coba aja sehari dua hari “ sela a-sin , “hmhhh … marilah kebalakang dulu , “terimakasih paman , paman a-sin aku kebelakang dulu , ujar Han Tiong , “ekkz.. ya..ya , a-sin yang latah jika tiba-tiba di ajak ngomong menatap heran , “anak terpelajar dan beradat

,pikirnya , dibelakang ada empat orang yang sedang menggosok-gosok badan kuda , “a-feng , bagaimana dengan anak saudaramu itu , apakah dia tidak mau kerja lagi ? , “ tidak mau lagi twako , dasar anak malas dan manja , jawab a-feng sembari bersungut-sungut kesal pada keponakannya yang baru seminggu bekerja tapi sudah bolos tiga hari , “baiklah kalau begitu , “eh , siapa namamu ? “ , a-lung menengok Han-Tiong , “Han Tiong , Paman , “nah…a-feng , Han Tiong ini mau bekerja disini , kamu ajarilah dia , dan perhatikan , jika tidak layak , kasih tahu sama saya , “baiklah twako , “ kesinilah Han Tiong , eh.. apakah kamu sudah makan ? “belum paman , “kalau begitu kamu makan dulu , “tidak apalah paman , beritahukanlah aku , apa yang akan saya kerjakan , “tapi kamu bilang tadi sudah

satu hari kamu belum makan ? “ celutuk a-lung yang hendak memutar namun heran dan berputar lagi , “ benar paman a-lung , tapi saya harus kerja dulu, sahut Han-Tiong , “ooh , begitu , gumamnya sambil membalik badan dan melangkah dengan pikiran takjub , “anak hebat ,pikirnya ,

“Han Tiong , kamu sabit rumput manis yang ada dibelakang pondok dekat sungai dibawah itu , kemudian kamu masukkan karung dan bawa kesini , “baiklah paman , dengan semangat menyala Han Tiong menerima sabit dan karung dari a-feng , Han-Tiong menuruni jalan menurun kearah sungai yang kelihatan dari atas , setelah sampai dibawah Han-Tiong lalu menyebrang sungai jernih berbatu itu dan terus kebelakang pondok , nampaklah lapangan rumput manis yang gemuk , dengan cekatan diapun melakukan tugasnya , hampir sore dia sudah menaikkan rumput manis puluhan karung , “sudah Han Tiong , sekarang makanlah , “baik paman , a-feng sudah menyuruh pembantu perempuan setengah baya menyiapkan makanan untuk Han-Tiong , Han-Tiong duduk menghadapi hidangan , “apakah paman tidak ikut makan ? , “tidak.. aku

nanti malam saja makannya , “baiklah paman , kalau begitu aku makan dulu , “ya..ya , makanlah , a-feng mengangguk , Han- diapun mulai menyantap makananya dengan pelan dan menikmati makannya .

Satu tahun berlalu Han tiong bekerja di pengawalan barang hui- tiaw-piawkiok , umurnya sekarang sudah tujuh tahun , malam itu dia baring menikmati taburan bintang dan senyuman bulan , menikmati kemegahan angkasa raya itu , “tiong ji , panggil seorang pekerja bagian pengurusan kuda yang paling tua diantara mereka berlima , “iya empek wan , sahutnya sambil bangkit dari pembaringannya menghadap empek wan , “ setelah sampai kekota kaifeng kamu akan tinggal disana ? empek-wan menatap Han-tiong bertanya dengan nada lirih , hatinya gundah besok akan berpisah dengan anak luar biasa ini

, siang itu ketua tiaw-hui piawkok cu-hek-bin memerintahkan pengawalnya untuk mengawal barang kekota kaifeng dan Han Tiong di izinkan ikut melanjutkan perjalananya ke kaifeng , hampir semua anggota hui-tiaw piawkiok kenal dan suka kapada Han Tiong , bahkan Cu-hek bin sendiri , itu karena kecekatan dan kerajinan Han tiong yang jadi buah bibir dikalangan anak buahnya , namun mereka juga tidak bisa menahan keinginan Han Tiong yang akan menuju kaifeng , oleh karena itulah empek wan merasa kehilangan , “setelah sampai disana empek , saya akan berlayar ke pulau kura-kura , “pulau kura-kura , pulau itu tidak ada penghuninya , untuk apa kamu kesana ? , “tujuan saya memang kesana empek , apakah empek tahu pulau kura-kura itu ? , “tahu persis sih tidak tiong ji , empek hanya mendengar pulau itu kosong dan juga sangat jauh dari pantai kaifeng , belum lagi ombaknya tergolong besar

, muka empek wan khawatir , “bagaimana kalau kamu terseret ombak dan tidak ada tempat mendarat , apa kamu tidak takut

tiong ji “ tambahnya , Han tiong mendekati empek wan , “empek wan yang baik” dengan senyum dia memegang tangan kurus dan kulit tangan yg sudah tinggal pembalut tulang itu , “ jika kita berserah kepada Tuhan , aku akan dibantu sampai kesana empek , “ah tak bisa kubayangkan tiong-ji saat engkau ditengah lautan luas itu “ guman empek wan lirih menatap Han-Tiong anak polos berumur tujuh tahun itu , “ membayangkan hal yang bukan-bukan akan melemahkan diri empek , tidaklah usah empek cemas dan khawatir , kalau satu saat ada jodoh kita dipertemukan , akau akan traktir empek makan panggang kalkun muda di kedai paman a-miong “ Han-tiong berkelakar menghibur empek wan , “ah , kamu ini tiong ji membuat empek takjub , kalau sekiranya aku melihat hidup dari sisi engkau melihat , alangkah indah dan nikmatnya hidup ini , sambil senyum jernih Han tiong berkata , “kalau dapat empek , kenapa sekiranya ? , bukankah lebih baik jika empek dapat melihat hidup persis sebelah sisi saya ? , “obrolan-obrolan kita yang selama ini yang demikian dalam membuat saya gundah gulana jika esok engkau akan berangkat tiong ji, “ empek ku yang budiman , jika obrolan kita selama ini demikian tertancap dalam kenangan empek , apalah arti badan saya di pulau kura-kura sementara empek ada disini , bukankah kenangan itu telah menyatukan kita empek , “ hmh.. kamu benar tiong ji , tapi sungguh engkau demikian polos , berbinar dan cemerlang tiong ji “ dengan pelukan hangat empek wan memeluk Han Tiong dan berbuncahlah tangisnya , Han tiong berurai air matanya , setelah agak lama empek wan memeluk Han Tiong dan

menatap wajah yang membuat dia terkagum , “eh kamu menangis tiong ji ? , “iya empek , “kenapa ? saya kira engkau tidak akan pernah menangis , “hahaha…, Han tiong tertawa , “tentu saya dapat menagis empek , demikian merasuk kecintaan empek kepada saya , besar syukur saya kepada Tuhan , bahwa aku dipertemukan dengan empek , empek wan manggut-manggut , baiklah tiong ji , empek ada keponakan di kaifeng dia seorang nelayan , berikan suratku ini kepadanya , namaya wan-kiat , pamanmu a-sin tahu tempatnya , “baiklah empek aku akan sampaikan suratmu “ sahut Han tiong , kemudian merekapun membaringkan tubuh tak lama merekapun tertidur . Keesokan harinya ekpedisi tiaw teng berangkat , perjalanan ekpedisi hanya memakan waktu lima belas hari , ketika melewati jalan bebatuan dibalik bukit kota kaifeng mereka dicegat sepasukan rampok “Hek-Houw” (Harimau hitam) “tinggalkan semua bawaan , kalau tidak kami akan membantai kalian , teriak pimpinan Hek-how , “ kami Hek-how penguasa wilayah ini , Yap-sin-hong pimpinan piawsu Hui-tiaw maju kedepan sementara para piawsu yang lain sudah siap siaga , pedang dan tombak sudah terpegang erat ditangan , Han-tiong yang juga berada diantara pengawal berdiri tenang , tiada

terlihat gentar , “kami dari hui-tiaw piawkok tidak pernah mengenal rampok dengan panggilan hek-houw , apakah kalian perampok-perampok baru hingga tidak kenal piawkiok kami ? , “persetan dengan hui-tiaw , kalau kalian tidak menurut , ayok..! kawan-kawan seraaaang “ teriak pimpinan hek-houw , dengan sigap para pengawal menyambut serangan , “kamu masuk kedalam kereta tiong-ji “ kata a-sin , dengan gesit Han Tiong menaiki kereta , suara beradunya senjata demikian gencarnya , suara pekik kesakitan terdengar susul menyusul , hampir setengah hari pertempuran itu , matahari sudah cendrung kebarat , senja temaram sudak berarak dilangit , tenda kereta banyak yang koyak sana sini , Han Tiong juga sibuk melompat kesana kemari menghindari tusukan yang menembus tenda , akhirnya pasukan rampok mundur melarikan diri , para piawsu banyak yang terluka dan yang tewas ada tiga orang , yap-sin hong juga terluka pundaknya , tapi dipihak rampok hek houw mendapat pelajaran pahit , ada lima belas orang yang tergelatak mati , kemudian merekapun menggali lubang besar dan delapan belas mayat itu ditumpuk dalam satu lobang kemudian galian besar itupun diuruk , “Kita istirahat didepan hutan sana “ kata Yap sin hong menunjuk kedapan , malam itu api unggunpun di nyalakan semua anggota yang terluka diobati

, Han Tiong dengan gesit membaluti luka-luka piawsu tersebut , “sudah tiong ji , kamu istirahatlah “ kata yap-sin hong sambil berdiri , kemudian dia pun mengatur anggota jaga , keesokan harinya perjalannapun dilanjutkan , dan tiga hari kemudian sampailah kekota kaifeng , barang-barangpun diturunkan

“Han Tiong , “iya paman a-sin , kata wan-twako kamu ada dititipi surat untuk keponakannya , “benar paman , “baiklah kalau begitu besok pagi-pagi kita akan kesana , “terus apa yang engkau lakukan di kota besar ini tiong ji ? , “mungkin saya akan beberapa hari berdiam disini paman , dan setelah itu saya akan minta pendapat paman wan kiat , jawabnya tersenyum , “baiklah , sekarang kita kerumah makan , itu yap twako sudah menuju kesana , “mari paman , kemudian merekapun makan beramai-ramai , diiringi canda dan kelakar , “ ee.. , Han-Tiong , kamu hati-hati disini yah , jangan jadi maling cilik , kata seorang pemuda gagah dengan tubuh kekar murid utama Cu hek bin yang dikenalnya dengan panggilan tan twako , “semoga tidak twako , kalau terjadi aku jadi maling cilik disini , aku menanti

tamparan twako dipantatku ini “ sahut han-tiong , meledaklah tawa mereka , Yap sin hong tersenyum , “tiong-ji kalau boleh paman tahu kemanakah sebenarnya tujuanmu , kamu ini banyak mencengangkan kami orang-orang tua ini , “sebenarnya paman saya akan ke pulau kura-kura , “ekzz , ada apa disana tiong ji “ a-sin yang latah menyela sehingga sebagian mereka tertawa melihat kebiasaan a-sin ini , “saya ada keperluan disana paman , “tiong ji , pulau kura-kura itu jauh

, dan juga kosong “ yap sin hong menatap Han-Tiong penuh selidik dan heran , “aku juga tidak tahu paman , hal apa yang akan saya jumpai disana , namun dari awal kesanalah tujuan saya , “saya suka padamu tiong ji , apakah kamu suka belajar silat ? , “ saya suka paman , “nggg… kalau begitu bagimana kalau saya angkat engkau sebagai murid , besar terimaksih saya paman akan budi kecintaan paman kepada saya , namun perjalanan saya ini , demikian menghalangi keinginan dan besar hati saya untuk menjadi murid paman , “ hmhh … alangkah beruntungnya kedua orangtuamu melahirkan kamu Han-tiong , dan alangkah nikmatnya peluang orang yang akan menjadi gurumu , yap- sin hong menatap wajah han tiong

terpana , “ hmhh .. sudahlah , setelah ini kita istirahat , dan besok siang kita akan kembali ke paoting “, yap sin hong sembari bangkit dan merekapun bubar , Han Tiong sekamar dengan a-sin .setelah tubuh direbahkan beberapa saat kemudian keduanyapun tidur lelap

Keesokan harinya a-sin mengajak Han Tiong ke tempat wan kiat , sesampai di rumah wan kiat , temu ramahpun terjadi , “ah saudara a-sin , bagimana kabar pamanku di paoting ? , “wan twako baik dan sehat a kiat , lalu apakah kamu kesini untuk melihat keadaanku sekeluarga , atau ada hal lain saudara a-sin dan siapakah anak ini ? , “sambil melihat keadanmu , saya juga dipesankan wan twako mengantarkan anak ini ketempatmu ini , “heh siapakah dia ? , “ saya Han tiong paman she kwee , saya juga kesini hanya mengantar surat dari empek wan , sahut Han tiong sambil menyerahkan surat kepada wan kiat , wan kiat menerima surat itu dan langsung membuka , sementara minuman sudah disajika istri wan kiat , “silahkan diminum sin twako , dan tiong-ji juga “ kata istri wan kiat , kemudian diapun duduk disamping suaminya , setelah membaca surat itu , wan kiat menatap Han Tiong , kemudian dia berkata , “ tiong-ji , kamu demikian disayang pamanku di paoting , cuman yang mengherankan saya , ada apa di pulau kura-kura ? , disana hanya pulau kosong , hutannya lebat dan gelap , saya dan beberapa teman saya pernah singgah disana tiga tahun yang lalu tapi melihat hutan yang lebat dan gelap , kami hanya berada di bibir pantai saja , “terimakasih atas gambaran paman akan pulau itu , tapi niat ini akan saya wujudkan paman , “ Han Tiong ini keras keinginannya kiat-sicu” a-sin dan wan-kiat saling berpandangan .

“hmh baiklah tiong-ji saya memiliki tiga kapal layar , maka satu akan kuberikan padamu dan tidak usah kamu ganti , “tidak demikian paman , saya harus ganti , karena itulah saya bekerja satu tahun bersama empek wan “ sela Han-Tiong , “kalau aku tidak mau dibayar bagaimana ? aku merasa betapa surat paman ini demikian menyayangmu , “paman yang baik , benarlah empek wan sangat sayang kepada saya , namun paman , kapal layar itu bukanlah didapatkan dengan mudah tentu dengan perjuangan yang tidak sedikit oleh paman dan keluarga , dan demikian juga saya paman , janganlah hasil jerih saya selama ini sia-sia , dan pastinya apa yang saya dapatkan selama bekerja di hui-taw-piawkiok tidak sebanding dengan harga kapal layar paman , namun paman berikanlah kepuasan padaku untuk memamfaatkan jerih saya paman , seidaknya paman dan keluarga tidak mengalami kerugian besar dan saya puas dengan apa yg sudah saya usahakan , “heheeh, gimana a-kiat , lumrah tidak anak ini ? “ a-sin memandang wan-kiat sambil tertwa kecil , “ benarlah paman menggambarkan kepribadianmu tiong ji , “baiklah tiong-ji , menurut paman harga kapal itu seharga kemampuan kamu selama ini , “jadi kapan rencanamu menggunakan kapal layar itu ? , “ hari ini juga saya akan berangkat paman , “baiklah kalau begitu , sin-sicu , apakah kamu ikut ketepi pentai melepas anak luar biasa ini ? “tentu kiat-sicu aku ikut , kami berangkatpun nanti siang , Han tiong membuka buntalannya , dan ada sekantong uang didalamnya , “inilah kemampuan saya paman semoga bermamfaat dan terimakasih atas kerelaan paman “ ya…, wan kiat menerima uang tersebut , dan menyerahkan pada istrinya , “marilah kita kepantai , wan-kiat mengajak keduanya melangkah keluar rumah , satu jam berikutnya Han Tiong sudah naik kapal , “Han Tiong sudah memepelajari cara membuka dan menutup layar , mengukur kembang layer , “teruslah mengarah kebarat , tiga hari kalau angin berhembus tenang kamu akan sampai ke pulau kura-kura , teriak wan kiat , “terimakasih paman , paman a-sin , sampai jumpa kembali ,

“hikzz.. iya , hati-hatilah tiong ji , Han Tiong mengangguk , kapal itu melaju cepat , a-sin kembali buru-buru ke rumah makan , dan yap-sin hong sudah menunggu , kenapa lama sin-sute , ayok cepat kita makan dan lalu berangkat , “ aku melepas tiong ji berlayar , “heh , ah.. hmh ,.. wah “ terdengar helaan terkejut dari para piawsu mendengar perkataan a-sin , “Han-tiong sudah berlayar ?, “ sudah yap-twako , “hmh.. luar biasa , apakah yang akan kita dengar suatu saat nanti tentang anak itu

, gumamnya lirih dan semua diam dengan pikiran masing- masing

Han tiong dengan senyum menghias bibirnya memandang laut lepas , rambutnya yang panjang dibiarkan terurai dipermainkan angin yang berhembus , pada hari ketiga angin berhembus kencang , ombak bergulung cepat , dia diombang ambing lautan ganas , awan hitam merebak angkasa , halilintar merobek langit , petir mengguntur , ombak setinggi rumah menggulung kapal layar tersebut sehingga terbalik dan tiang layarnya patah , Han tiong meraih potongan tiang yang patah , dengan memeluk erat dia berjuang bertarung nyawa , hatinya berserah kepada Tuhan dan diapun pingsan dengan tetap memeluk patahan tiang , entah berapa lama Han tiong pingsan

, dia tersadar saat beberapa ekor kura-kura mengerubuti kakinya , ternyata dia sudah sampai dipantai , dia melihat kura- kura mendekati wajahnya , dengan mengumpulkan tenaga dia bangkit ,

“ teimakasih ya Tuhan akhirnya aku sampai juga dipulau kong- couw ku ini ,desahnya dalam hati ,kemudian terasa perutnya lapar sekali , lalu diapun berdiri dan masuk kepulau dengan hutan yang lebat didepan mata , kelihatan gelap , Han-Tiong merogoh kantongnya , dia ambil mainan kura-kura yang selama ini dikantonginya , Han-Tiong memutar tempurung kura-kura itu dan mengambil surat didalamnya , lembaran kertas itu dia letakkan didepannya dari arah pantai ada anak panah mengarah kedalam pulau sampai bertemu bukit batu , Han- Tiong berdiri dan melangkah masuk kedalam hutan memulai penelusurannya , sambil melempar buah-buah hutan yang ternyata banyak didalam hutan itu , seperti jambu kelutuk dan jambu monyet , setengah hari terus berjalan dalam huta akhirnya Han-Tiong menjumpai bukit batu , kemudian Han Tiong membuka kembali kertas surat kong-couwnya , dari batu ada panah kearah kanan , sampai bertemu sungai dan dari sungai terus di ikuti sampai mengarah kepada tebing air terrjun dan dari air terjun terus mengarah kekiri sampai ada bagunan rumah , kesitulah tujuannya , dengan sigap dan gesit Han Tiong mengikuti petunjuk peta , hari sudah sore maka dia dapatilah air terjun dan alangkan indahnya air terjun itu , dibawahnya air bening membentuk lengkungan besar seperti kuali besar , Han- Tiong menuruni tebing air terjun dengan berpegangan pada batu-batu menonjol dan akar kayu yang tersebul , Han Tiong berhasil menuruni tebing itu , kemudian dengan hati gembira dia buka bajunya dan dengan telanjang bulat Han-Tiong terjun kedalam kubangan air yang jernih itu , setelah puas mandi dan membersihkan diri, Han-Tiong mencuci dan membilas bajunya dari garam laut , setelah memeras kuat-kuat baju itu dipakai kembali dan lalu melangkah berjalan kearah kiri , hanya satu pendakian Han-Tiong sudah berada didepan bangunan besar yang halamannya penuh dengan semak belukar , Han tiong melihat banyak kura-kura yang merayap disekitar halaman bangunan dan bahkan sampai kedalam bangunan , dengan

hat-hati dia berjalan mendekati tangga bangunan , Han-Tiong berdiri didepan bangunan yang nampak angker tu , “kong-couw kwee lun , cucu datang atas petunjuk kong-couw “ teriaknya nyaring meneguhkan hatinya , Han-Tiong hanya mendengar gema suaranya kemudian hilang oleh kesunyian , Han Tiong bersimpuh dibawah anak tangga itu , malampun merayap , keadaan gelap , Han Tiong diam sampai lama , setelah terbiasa dengan kegelapan itu dia melihat sekitarnya terdengar kresek- kresek jalannya kaura-kura , kemudian Han-Tiong melihat ke arah bangunan dan kemudian kearah tangga didepannya ,

Han-Tiong terkejut melihat guratan berwarna warni di empat anak tangga itu ,lalu Han-Tiong berdiri dan warna itu hilang

tidak kelihatan oleh matanya,”eih.. , pikirnya , kemudian Han- Tiong duduk kembali dan warna itu kembali terlihat , lalu Han- tiong dekatkan wajahnya ke arah warna kuning dianak tangga pertama itu dan mengelus coretan warna itu dan “klik” terdengar bunyi dan anak tangga itu bergerak keatas dia masukkan tangannya kedalam dan diapun mendapatkan sebuah peti kecil , kemudian Han-Tiong menaikkan tangannya ke anak tangga ke dua dan menggosok warna hijau dan

terdengar bunyi “klik” anak tangga itu bergerak keatas , dan dia dapatkan satu buah peti lagi , kemudian di terus merayap ke anak tangga ketiga dan menggosok warna biru dan “klik” sama halnya Han-Tiong mengangkat satu peti lagi , dan terus anak tangga keempat dengan warna putih dan anak tangga itu juga bersi peti , sekarang ada empat peti dihadapannya , lalu Han- Tiong mengangkat mengumpulkan ke empat peti itu dan naik ke selaras bangunan mendekati pintu bangunan , tangannya mendorong pintu dengan hati-hati “kriit” suara engsel berkarat dan lama tidak bergerak menguak gema dalam bangunan , Han Tiong melangkah masuk kedalam bangunan yang gelap itu , tangannya meraba kesana dan kesini dan tangannya meraba obor di dinding lalu tangannya meraba kebawah mendapatkan dua buah batu api , lalu Han-Tiong adu kedua batu itu sepercik api menyala , lalu di adu lagi dekat kepala obor , percikan api itu menyambar sumbu obor dan seketika teranglah ruangan itu

, Han-Tiong takjub bukan main ruangan itu besar sekali dengan empat buah kamar ,dengan obor ditangan Han-Tiong memasuki kamar yang pertama didalamnya ada lemari besar berisi banyak buku disamping ranjang yang besar dan juga lemari pakaian yang isinya pakaian yang sudah usang yang sekali dipegang hancur namun setidaknya masih ada yang bisa dipake terlebih lipatan paling bawah , di kamar kedua dan ketiga hanya berisi lemari pakaian dan ranjang sementara dikamar keempat hanya kosong melompong ,setelah puas melihat sana sini Han-Tiong merebahkan diri dan tak lama diapun tertidur .

Keesokan harinya dia bangun , cahaya fajar menembus kedalam rumah , Han tiong bangun dan menyimpan peti dibawah tumpukan kain , lalu dia berlari kearah air terjun dan mandi setelah membersihkan diri dia memetik jambu kelutuk dan jambu monyet yang banyak tumbuh disekitar tempat itu , Han-Tiong makan sampai kenyang , setelah itu dia kembali ke rumah kong-couwnya , kemudian Han-Tiong mengambil peti yang disimpannya dibawah tumpukan kain dan membukanya pada peti pertama berisi tiga buah kitab dan sehelai kertas bertuliskan “kwee cin anakku “ tiga buah kitab ini adalah berupa kitab semedi untuk melatih sin-kang dan yang kedua adalah kitab latihan gin-kang dan kitab yang ketiga adalah kitab ilmu pedang yang bernama pat-sian-kiam-hoat (jurus pedang delapan dewa) . Mulailah anakku dari latihan sin-kang , kemudian gin-kang lalu pelajarilah pat-sian-kiam-hoat Kemudian Han-Tiong membuka peti kedua didalamya ada satu kitab dengan judul Lo-hai san-hoat (jurus Kipas pengacau lautan) , pada kitab selanjutnya Han-Tiong mendapatkan sebuah kitab dengan judul Bian-Sin-Kun (tangan sakti kapas) dan pada kitab terakhir Han Tiong mendapatkan kitab dan sehelai kertas bertuliskan , “anakku kwee cin..! kitab ini adalah hadiah sahabatku bu-kek-siansu dari pulau es kitab namaya

Bu-Tek - Cin-Keng (Intisari dasar ilmu silat) tammatkan buku ini anakku

Semoga Tuhan menuntunmu anakku ! Sejak saat itu mulailah Han-Tiong mempelajari enam kitab tersebut dengan tekun tanpa kenal lelah , kita tinggalkan Han Tiong dengan pelajarannya , mari kita tengok keadaan ibunya Tan siok Nio yang dibawa lari Thian-te sam kwi

“bunuh saja aku manusia jahat” , apa salah kami , kenapa kamu bunuh suamiku , :heh , perempuan bodoh , tenagamu masih dibutuhkan dan kehangatan tubuh tentu sangat menyenangkan , Tan sik Nio semakin pucat , dia akan jadi permainan ketiga iblis ini , pengen rasanya dia membunuh diri tapi apalah dayanya ditangan tiga iblis yang menggemparkan ini

setelah dua minggu , sampailah mereka di pegunungan kwi- eng-san (bukit bayangan iblis) mereka disambut seorang berwajah hitam bercacar , “selamat datang pangcu bertiga , “heh, hek-mo (setan hitam) kumpulkan semua anggota , nanti malam kita akan adakan pertemuan ,kita akan adakan pesta, perintah siang kiam kwi , “baik pangcu , kemudian mereka masuk kedalam bangunan , Tan siok nio dibawa kekamar , dan totokannya dilepaskan , “bunuh saja saya … bunuh.. bunuh saja saya iblis , tan siok nio meronta , saat terlepas dari tangan tok-sim-kwi tan siok nio hendak membenturkan kepalanya ketembok , namun sebelum niat itu kesampaian tubuhnya

terbanting keatas ranjang , “perempuan tolol , jangan coba- coba nekat , jika kamu nekat , kamu akan mengalami siksaan hebat , kamu tidak boleh mati untuk merasakan siksaan atas kenakatan kamu , lalu tan-siok nio diikat tangan dan kakinya , sekarang teriaklah dan merontalah sepuas kamu , bentak tok- sim-kwi dan meninggalkan tan siok nio sendiri , tan siok nio melihat sekelilingnya , hatinya makin sedih , ingat suami dan anaknya , bun-ko … oh bun-ko , ah tiong ji anakku , bagaimanakah keadanmu anakku , keluhnya sedih , kembali tangisnya pun pecah .

Malam itu semua anak buah thian-te sam-kwi berkumpul , jumlah mereka hanya dua puluh orang , dimeja depan menghadap kearah tumpukan kursi yang sudah tertata rapi duduk thian-te sam kwi , kemudian disebelah kanan duduk dua orang yakni Hek-Mo dan disebelahnya , Pek-Mo (setan putih ) dengan wajahnya yang seperti mayat hidup , kemudian disebelah kiri duduk seorang botak yang matanya buta sebelah

, jing-mo (setan hijau) , dan disebelahnya ang-mo (setan merah) yang bertubuh kecil dan rambut bagian atas botak klimis dan dikumpulan kursi yang mengarah kemeja thian-te- sam- kwi adalah kumpulan pimpinan penjahat dan penjahat tunggal , toat-beng-kwi berdiri , dengan tubuh pendek itu menatap anak buah di depannya

“kalian ketahuilah bahwa utusan delapan partai besar yang bertemu di jeng hoa san sudah kami habisi ,hahaha.hahha , para anak buah thian-te sam kwi bersorak dan bertepuk tangan

, jadi kalian semua sebar mata-mata , kita mau lihat bagaimana reaksi dari ciangbujin-ciangbujin yang sok gagah itu , dan kalian semua dimana bertemu anggota-anggota partai tersebut baik yang menamakan dirinya para pendekar maupun piawkiok mestilah kalian tumpas , nah sekarang tunjukkan kekuatan kita pada dunia persilatan bahwa golongan kita merajai kangouw , hahhaha…hahaha ,”hidup thian-te sam kwi … hidup thian-te sam kwi , sorak anak buahnya , kita harus merayakan ini dengan berpesta pangcu , “benar .. kita malam ini akan berpesta jiu-kwi (tangan iblis), apakah kamu sudah siapkan hiburan kita ? , tentu pangcu pokoknya tanggung beres , “jika demikian mulailah , tak lama menunggu , sekumpulan gadis- gadis penghibur dari rumah bordir bi-ang-lan (bunga teratai merah) mulai menari ,suasana ruangan itu amat hiruk pikuk , diselingi teriakan dan cekikaan para wanita penghibur , sampai jauh malam mereka berpesta .

Keesokan harinya tok-sim-kwi membuka ikatan tan-siok nio , kamu harus menurut perntah kami , kalau tidak kamu akan kami siksa , tan-siok nio menatap tajam , semalam dia sudah mulai berpikir jernih , dan menyimpulkan bahwa kehadirannya disini dibutuhkan tiga iblis ini entah untuk apa , “saya mau tahu kenapa saya dibawa kesini , sebelum tok sim kwi menjawab dua rekannya masuk . “bagaimana tok-sim apakah wanita itu sudah jinak ? , sela siang kiam kwi , “belum sepenuhnya siang kiam , “he perempuan tolol , tunggu sebentar , tok-sim-kwi bangkit dan keluar kamar dan tidak lama dia membawa seorang bayi satu tahun dan diletakkan diranjang , “kamu harus mengurus anak bayi itu , “tidak mau , aku mau mati saja, tatap tan-siok-nio tajam , “kau tidak boleh mati , kamu akan kusiksa , hening sejenak , kemudian tan-siok nio berkata , “baik aku akan mengurus bayi itu tapi aku tidak sudi dipermainkan kalian , “ah

tidak bisa begitu , sela siang kiam kwi , “kalau tidak..! nah ini aku siksalah aku sampai mati , tantang Tan-siok nio ,

“hahah.hahaha..haha , aku sudah bilang tok-sim , perempaun ini bikin susah saja , sudah.. bunuh saja kan beres , cela toat beng kwi , “aku butuh bayi itu dipelihara sampai umur dewasa untuk kepentingan ilmuku “siang-tok” (racun wangi) , “bagimana pendapatmu siang-kiam , kamukan dapat mengambil banyak perempuan untuk hiburanmu , sambil mengusap jenggotnya yang berwarna dua menyahut , “kenapa harus dia ini yang mengurus tok-sim ?! suruh aja perempuan dari bordir jiu-kwi , “ah.. perempuan jalang mana bisa telaten mengurus anak , anak ini harus sehat jika saatnya tiba , “hmh… baiklah, sahut siang-kiam kemudian berlalu dari kamar itu , “nah kamu dengar

, kamu akan nyaman disini , dan urus bayi itu , sela tok-sim-kwi sambil keluar kamar , tan-siok nio mendekati bayi itu , bayi perempuan yang mungil , dia merasa sedih teringat anaknya han-tiong , dan iba pada anak bayi yang akan dijadikan tumbal ini, , dalam kesedihannya timbul harapan bahwa setidaknya dia dan bayi ini akan selamat sampai anak ini dewasa , lalu tan- siok nio menggendong bayi itu , sambil menatap bayi mungil itu dan melihat keadaan mereka berdua yang berada ditengah manusia keji berhati iblis mereka seperti bunga teratai , hmh namamu Bi-Lan anakku, yah kamu she kwee , kwee Bi-lan dipeluk cium bayi yang dinamainya

Suatu hari tok sim kwi menemuinya , dan dia melihat tan siok nio sedang memberi makan pada bi-lan , “siok nio.. , berikan bubuk ini setiap kamu memberi dia makan , “apa ini ..? “ kamu tidak perlu tahu , pokoknya berikan saja , jangan lupa kamu akan selalu diawasi saat memberi makan , “he.. tung-kwi (tongkat iblis) , teriak tok-sim-kwi , kemudian datang seorang berbadan kuat dan hitam sekali , wajahnya hitam dengan kepala botak ,”iya pangcu , “ kamu awasi perempuan ini saat dia memberi makan anak ini , bubuk ini harus dicampur dengan makananya , “baik pangcu , tok sim kwi meninggalkan tan-siok nio , hari demi hari dilalui dan tidak terasa lima tahun sudah ,

Bi-lan tumbuh dengan sehat dan akibat bubuk yang dimakannya , tubuhnya mengeluarkan aroma yang sangat harum , tan siok nio demikian cinta pada B-Lan yang sudah dianggap anak sendiri .

Sementara itu di dunia kangowu selama empat tahun itu semakin goncang , para ciangbujin delapan partai besar makin terpuruk , banyaknya para murid-murid mereka yang tewas , penindasan merajalela , para piawkiok dari unsur silat dari kedelapan partai banyak yang gulung tikar , pasukan pemerintah yang dikerahkan oleh kaisar sung yang lemah dan tahunya hanya berpelesiran tidak mau tahu , pejabat pemerintah hanya tahu mengumpulkan harta untuk sendiri demikian juga para thai-kam, karakter pejabat seperti menteri kam-liong putra kim-siaw-eng nyaris tidak ada , yang ada hanya misannya suma kiat dengan ilmunya yang tinggi tapi sayang sifatnya sama dengan pembesar pada umumnya

Kerajaan lemah rakyat tertindas oleh kekejian manusia- manusia ibllis tidak dipedulikan , para golongan pendekar bertekuk lutut terbabat habis , para ciangbujin partai tidak dapat menekan kesatuan golongan hitam dibawah panji thian-te sam- kwi , ringkasnya tiong-kok kiamat dilanda kejahatan ,hal itu berlangsung sudah hampir sepuluh tahun , suatu hari di ban- kok-hwa (lembah selaksa bunga) para pimpinan partai siang hari itu sudah berkumpul semua li-hosiang dari siauwlim-pai , liu-sang hewsio dari gobi-pai , kun-lun tojin dari kunlun-pai ,

law-bin tosu dari hoasan-pai , oey-bhong dari thaisan-pai , liem- siau-si dari kotong-pai , Gak siansu dari butong-pai , lu-kwan ti dari hengsan-pai , ceng-sin hosiang tokoh pertama dari Tibet , pertemuan itu atas undangan gobi-pai . “para ciangbujin yang terhormat pertemuan kita kali ini adalah usaha terbaik dari golongan kita yang terpojok diatas tekanan golongan hitam dibawah thian-te-sam-kwi yang durjana , banyak sudah para anak murid kita yang meregang nyawa atas kebrutalan dan kesimaharajalalanya tian-te-sam-kwi yang dibantu hampir semua golongan mereka ,sejenak liu-sang hewsio berhenti , “rekan-rekan ciangbujin yang terhormat beberapa dari utusan kita yang mengadakan pertemuan untuk menyelesaikan ini tidak ada kabar mereka, dimulai pada sepuluh tahun yang lalu , kita hanya tahu mereka semua tinggal nama , berikutnya pertemuan disinyang empat tahun yang lalu juga kita hanya menerima kabar memprihatinkan , lalu dua tahun yang lalu pertemuan di muara huangho lebih tidak terperikan kebuasan thian-te sam kwi , jadi untuk itu hari ini kita semua pimpinan partai berkumpul disini puncak dari seluruh usaha penanggulangan kita akan situasi yang mengerikan ini , lalu bagaimana dan apa yang harus kita lakukan , demikian liu sang hesio membuka pertemuan itu

amithout , kondisi ini tidak kita nafikan , benarlah pandangan dan pendapat saudara liu sang hesio , kalau saya punya pendapat kita semua mengundang thian-te-sam-kwi untuk berdamai , sudah banyak darah tertumpah , sudah banyak nyawa melayang , semua terdiam dan hening , “tapi menurut pinto , maaf losuhu dari siauwlim-pai ,saya tidak sependapat untuk berdamai dengan thian-te-sam-kwi , berdamai dengan kejahatan , kita akan dianggap pengecut dan bahkan akan dapat penghinaan lebih , penjahat tidak pernah paham arti damai , kejujuran penjahat tidak bisa dipegang , jadi mari kita lawan thian-te sam kwi , dan ini usaha terkahir kita untuk zaman kita ini ,sela oey-bhong dari thaisanpai , semua semakin menunduk , “memang benar pendapat dari oey-sicu , tapi sebelum kita bertindak bagaimana dengan pemerintah sebagai penanggung jawab utama dari situasi ini , bukankah kita lebih baik mengajak mereka berunding ? “ sela lu-kwan ti dari hengsanpai , “saat ini pemerintah tidak bisa diharapkan lu-sicu , urusan istana saja kaisar kita yang lemah itu tidak mampu urus apalagi urusan diluar istananya , ujar liem-siau si dari kotongpai

, “lalu bagimana para sicu-ciangbujin , liu-sang hesio kembali bertanya , “saya setuju dengan pendapat oey-sicu dari thaisan- pai , menurut saya tiada pilihan lain bagi kita menantang keras lawan keras terhadap thian-te sam kwi , sahut gak siansu dari butong-pai , “betul saya sependapat , hanya itu pilihan kita , tambah law-bin tosu , “kalau begitu kapan hal ini kita lakukan dan saya menyiapkan selembar nyawa untuk perjuangan ini ? sela kunlun-tojin , sesaat mereka terdiam dan mengarah pandangan ke satu arah , kemudian meledaklah suara tertawa , “hahahaha..hahahaha.hahahaha..hahahaa , semua ciangbujin wajahnya pucat segera membentengi diri dari serangan suara tawa dengan kekuatan sin-kang , suara ketawa itu menggerkan sukma , lalu tak berapa lama muncul tiga iblis yang menggemparkan bui-lim thian-te-sam-kwi

“hehehe..hehehe … para ciangbujin yang merasa gagah sudah kumpul „ tok-sim kwi mencela , “huh…! , phuah.. mereka bisa apa dengan kita tok sim ? siang kiam kwi mendengus dan meludah , peserta rapat itu sudah siap siaga

“heh … para ho-han yang bau tanah , siapa diantara kalian yang akan pertama menghadap giamlo , “sayalah yang pertama , sambut kunlun tojin diapun berdiri , “oooo , boleh .. hiaat.. , tanpa bersambat toat-beng-kwi sudah menerjang kunlun tojin , kunlun tojin tidakpun sedikit gugup menerima serangan curang ini , dengan soat pek jiu (pukulan tangan salju) kunlun tojin memapaki pukulan toat beng kwi , “blamm” terdengar hentakan kuat , kaki kunlun tojin merangsak bumi hingga betis sementara toat beng kwi terlempar dan bersalto tiga kali diudara , tubuh katenya itu demikian gesit dan diapun berdiri dengan muka pucat namun senyum jumawanya masih tersungging di bibirnya , kemudian dia menyerang lagi , kunlun tojin melejit dari tempatnya menyambut serangan itu dua

tangan beradu “blam..” meledak lagi suara beradunnya tenaga sin-kang dari kedua jago ini , kunlun tojin bergeser lima tindak sementara toat beng kwi tiga tindak , kunlun tojin maklum tenaga singkang toat-beng-kwi berada diatasnya , para ciangbujin juga memaklumi hal itu , jurus demi jurus dikeluarkan

, sudah hampir seratus jurus ilmu tangan kosong mereka adu , dada kunlun tojin sudah terasa sesak , namun kegesitannya tidak kendur mengimbangi gingkang luar biasa dari toat-beng kui , menginjak jurus ke dua ratus jurus swe-goat-kwi-eng dari toat-beng kwi mendapatkan sasaran , cengkraman hinggap dibahu kunlun tojin , remasan itu demikian kuat , namun toat- beng-kwi harus puas meremas daging tak dapat meremukkan tulang bahu kunlun tojin , segumpal daging bahu tercabut dari bahu itu , darah mengucur , perih memang , namun kunlun tojin adalah tokoh kawakan , tak pernah urung sampai titik darah terakhir , kegesitannya memang berkurang , namun toat-beng kwi harus bersabar dulu sebelum menumbangkan jago tua dari kun-lun ini , limapuluh jurus berikutnya kunlun tojin terjengkang pada adu pukulan sin-kang , dengan luar biasa toat-beng kwi mendadak memburu dada kunlun tojin yang posisi sulit dan terbuka itu , hatinya sudah pasrah menerima kematian pada gebrakan terakhir ini sekonyong-konyong terdengar suara nyanyian

“diri sendiri melakukan kejahatan

cengkraman toat beng kwi mendapatkan sasaran lalu dia remas namun yang diremas itu melebihi karet lemasnya , “heh…!” , dengusnya dia lihat dada yang diremasnya adalah dada bukan dada kunlun tojin , namun dada orang tua yg wajahnya demikian menyejukkan , dan nayanyian itupun berlanjut ,

diri sendiri menimbulkan kesengsaraan suci atau tidak tergantung kepribadiannya orang lain mana mampu membersihkannya

serta merta toat-beng kwi melompat menjauhi , ciangbujin kedelapan partai tanpa dikomando berseru , “bukek siansu “ sambil menjura mereka takjim melipat tangan , ternyata kakek itu adalah bukek siansu , hehe…hehe , masihkah engkau mau menggunakan tanganmu itu toat beng kwi , suara lembut , tatapan yang demikian menyejukkan , ibarat luapan api kemarahan padam tak berbekas , “hah.. sudahlah kita tidak perlu ada disini , seru toat beng kwi kemudian diapun lenyap demikian juga dua rekannya

“selamat datang siansu , kata li hosiang , selamat bertemu juga ciangbujin siauwlimpai dan ciangbujin yang terhormat , jawab bukek siansu , “siansu terimakasih atas pertolongan loncinpawe terhadap tecu , sela kunlun tojin , “heheh.. tidak ada budi yang terikat tojin , “sungguh mereka itu kuat tidak terkalahkan siansu

, bagaimanakah pendapat siansu akan hal ini ? , tanya oey bhong , “totiang dari thaisan-pai tiadalah yang terbaik dari hal yang sudah disepakati , “tapi loncinpawe dapatkah menyumbangkan tenaga walau sedikit untuk urusan ini , sela law bin tosu , “maaf kalau tecu lancang siansu , tambahnya , “ikatan dunia tiadalah habisnya menyibukkan diri pada yang mengikatnya totiang , sudahlah kembalilah lagi , tugas masih banyak menanti sahutnya dan bukek siansu lenyap , dan nyanyian nya pun terdengar jernih

“thian tidak pernah alpa dan lalu kebajikan tetaplah diatas apapun jua itu sisihan taisu telah tiba siapalah tahu

lebih kokoh dari taisu , lebih bijak dari siansu

ciang bujin dari kedelapan partai dan dalai lama Tibet

termenung mendengar nyanyian itu , “hmh.. apakah sicu ciangbujin mengerti makna pesan siansu itu ? “ tanya oey bhong , “maknanya hanya satu akan ada seorang tokoh yang akan dapat menyelesaikan masalah yang gawat ini , jawab ceng-sin hosiang , “aku juga sependapat dengan losuhu,sela kunlun tojin , “siapakah yang lebih bijak dari dirinya itu ? dan siapakah taisu yang dimaksud , gumam lu-kwan ti , merekapun tertunduk , dengan pikiran masing , “bila dirunut kemasa lalu taisu itu adalah kemungkinan guru kim-siaw-eng , sela ceng sin hosiang , “aha.. , aku ingat lama , bukankah julukannya adalah kim-mo-taisu lama ? , sahut li hosiang , “berarti orang itu adalah keturunan dari kim-mo-taisu , sela lu kwan ti , “tapi menurut sepengetahuan kim-mo-taisu tidak ada keturunan , disimak dari kata sisihan itu artinya turunan darah , sahut oey bhong , merekapun terdiam lagi , ah.. sudahlah , untuk apa kita memikirkan siapa adanya orang tersebut , yang jelas makna pesan siansu akan ada orangnya , sela liu sang hewsio , merekapun mengangguk membenarkan , “ah bagiamana lukamu tojin ? tanya li hosiang , “tidaklah parah losuhu , tapi setidaknya saya harus istirahat tiga bulan , jawab kunlun tojin , “baiklah mari kita sudahi pertemuan ini dan sama melihat perkembangan selanjutnya terlebih tentang pesan siansu tadi , liu sang hewsio menutup pertemuan itu , merekapun bubar

Pagi itu di depan bangunan terpencil di pulau kura-kura seorang pemuda gagah sedang bersilat dengat hebatnya , gerakannya cepat menandakan gin-kang yang luar biasa , ya dia adalah kwee-Han-Tiong , sudah sepuluh tahun dia sendirian di atas pulau itu , tubuhnya kekar dengan warna kulit putih kemerahan , wajahnya yang tampan ditopang dagu yang berlekuk sempurna , pandang mata yang tajam dibawah alis bak sepasang lengkungan golok , hidungnya mancung sedang sempurna , dadanya bidang dengan tonjolan lekuk yang bagus menandakan kekuatan yang memberikan rasa nyaman , setengah hari dia bergerak dengan lingkaran ilmunya yang silih berganti , setelah itu diapun duduk di selaras bangunan yang nampak bersih tertata indah hiasan bunga hutan , hari ini dia berencana akan meninggalkan pulau , maka dia dengan langkah tenang menuju kubangan air terjun untuk mandi , setelah itu diapun berkemas , dia hanya memakai celana yang dijahit sana sini , “kong-couw , saya akan tinggalkan pulau , tapi aku akan kembali lagi jika memang tuhan masih menghendaki , gumanya lirih kearah bagunan itu , kemudian Han Tiong melangkah menuju pantai , dipantai sebuah rakit sudah siap menanti , tubuhnya yang tidak berbaju tangannya mendayung kelihatan gerak otot kekarnya , dan sekali dayung rakit meluncur laksana pelor sungguh menakjubkan , dalam waktu satu jam pulau kura-kura sudah hilang dari pandangan , rakit terus melucur kearah timur , dan pagi harinya daratan besar sudah kelihatan hingga saat malam tiba Han Tiong sudah mendarat memasuki daratan besar , dia masih ingat sepuluh tahun yang lalu rumah wan-kiat dari pantai , satu jam berikutnya Han-Tiong sudah sampai dirumah wan-kiat , lampu rumah yang menyala terang menandakan penghuninya belum tidur , “pama wan..paman wan , sambil mengetuk pintu , tidak lama pintu dibuka , “siapa ? , tanya yang empunya rumah melihat tamunya seorang pemuda gagah tanpa baju , “paman .. saya Han Tiong

, “Han Tiong siapa ? “anak yang sepuluh tahun lalu paman lepas ditepi pantai , “aih , kamukah itu Han Tiong , aduh gagahnya , ayok masuk… giok moi ambilkan baju saya dikamar

, serunya , “ aduh paman , saya merepotkan paman lagi , “ah tidak Han Tiong , istri wan kiat membawa sehelai baju , “hayo gantilah bajumu dulu , eh celanannya lagi moi , istrinya kembali dan datang dengan sehelai celana , setelah memakai baju , merekapun duduk diruang tengah , Wan kiat kelihatan tua walaupun umurnya baru empat puluh dua , diruangan itu ada dua anak laki dan perempuan , “apakah anak paman ? , iya Tiong ji , ah , sungguh kamu masih ingat kami tiong ji , “tentulah paman , budi kebaikan paman dan keluarga telah demikian melimpah saya terima , ah gimana kabarnya empek wan , “ pamanku itu telah meninggal tiga tahun yang lalu ,kata wan kiat lirih “ ohh , “ tapi tewasnya amat mengenaskan terbakar di kandang kuda , “ wajah Han Tiong terkesiap , apa yang terjadi paman ? “ sepuluh tahun ini kondisi wilayah sung ini memprihatinkan , para penjahat dan perampok merajalela , hampir dimerata tempat , Hui Tiaw juga sudah tinggal nama saja , sudah gulung tikar , “wah kalau demikian gawat benar paman , “ya , pemerintah tidak peduli , para jung-cu (kepala desa) , sampai ketingkat atasnya meringkuk tidak berdaya menabur uang untuk para penjahat demi keselamatan nyawanya , dan untuk itu imbasnya rakyat kecil ini semakin diperas oleh pemerintah , Han Tiong terkesima heran akan penuturan wan kiat , “tentu ada sebab dari semua ini paman ? , “betul tiong ji , rimba persilatan gelap kekosongan pendekar , pendekar banyak yang mati , pemerintah tidak peduli , penjahat dan bajak merajalela , ah mungkin kiamat sudah dekat tiong ji , “tenanglah paman , ceritalah sebab awalnya , supaya jelas bagi saya , “begini tiong ji , rimba persilatan dikuasai tiga orang siluman yang menamakan dirinya thian-te-sam-kwi dan kepandaian mereka katanya melebihi dewa , para orang sakti tak ada yang dapat menandingi mereka , oleh karena para penjahat berkiblat kepada mereka bertiga kejahatanpun sudah hal yang biasa selama sepuluh tahun ini , “sst..sst , tiba-tiba Han Tiong mencelat kedepan pintu dan membukanya , “kalian siapa ? tiga orang itu kaku dan dibawa kehalaman wan kiat yang terang , betapa ke tiga pengintai itu terkejut , mereka masih berindap-indap dibelakang rumah wan kiat belumpun sampai ke areal rumah wan kiat mereka sudah kepergok , “hayo katakan apa maksud kalian mengintai rumah ini , “aduh ampun taihap …. , Wan kiat keluar dengan masih terkesima , baru sebentar dia sudah mendengar Han Tiong mebentak , hingga diapun keluar , ada apa tiong ji , “tiga orang ini paman sedang mingintai rumah paman , heh kalian ! , bukankah tadi siang uang keamanan kapal sudah diberikan ? , “ayok cepat jawab , kalau tidak kupatahkan kepalamu , ancam Han Tiong , makin pias ketiga pengintai itu , “ka..kami hanya disuruh , “disuruh apa dan oleh siapa , heh ! ayok kalau kamu tidak katakan yang sebenarnya , aku tidak segan-segan mencabut kepala kalian dari leher ini , bentak Han Tiong sambil mengusap leher seorang dari mereka , makin merinding bulu roma mereka , “kami disuruh jung-Tio untuk …untuk….untuk , “untuk apa .. he…! ,”aduuh ampunn ..ampun taihap , “cepat katakan , untuk apa , mau saya patahkan lehermu yah ..! , bentak Han Tiong sambil mengeraskan picitannya pada