-->

Pelenyap Sukma Jilid 6

Jilid 06

DIDALAM penjara partai Raja Gunung, seorang pemuda bertekuk lutut dipojok. Inilah jago muda yang pernah menggemparkan rimba persilatan, dengan julukannya jago Pedang yang Menggetarksn Rimba Persilatan It-kiam-tim-bu-lim Wie Tauw, nama aslinya, Ie Lip Tiong! Putra almarhum dan ketua Hoa-san pay Ie Im Yung.

Sebagai Duta nomor tiga belas Su hay-tong sim beng, Ie Lip Tiong mendapat tugas untuk membikin menyelidikan, dimana letak sarang raja gunung yang misterius, partai Raja Gunung adalah satu komplotan yang baru saja menimbulkan huru hara, belum lama terkenal dengan pembunuhan. si pemuda misterius berbaju hitam, yang melakukan pembunuhan pembunuhun gelap pada anak buah lima partai besar.

Disaat Ie Lip Tiong membuntuti Ai Tong cun dan hampir berhasil manemukan jejak markas besar partainya gunung, ia dipergoki dan tertangkap. Kini ia sudah menjadi orang tawanan.

Lo san cu, ketua dan pendiri Partai Raja Gunung mempenjarakan Ie Lip Tiong dengan batas waktu selama satu bulan. Putusan ini tdak bisa diganggu gugat.

Hari kedua, Lo san Cu dengan mengajak Su Khong Eng menjenguk Ie Lip Tiong, mempeerhatikan gerak geriknya, untuk beberapa waktu, kemudian merekapun pergi balik lagi tanpa sepatah katapun yang dikeluarkan.

Hari berikutnya, Lo san Cu dan hi khiang Eng menjenguk pula.

Hari ini mereka membikin percakapan. "Ie Lip Tiong," Lo san cu memanggil.

Ie Lip Tiong mendongakan kepala, dan memandang Lo san cu yang tetap mengenakan kerudung tutup muka itu.

"Ada apa?" bertanya jago muda kita.

"Aku tidak habis mengerti atas sikap-mu yang diperlihatkan kepada mereka." berkata Lo san-cu. "Kudengar berita yang mengatakan bahwa ayahmu itu mati dibawah kereyokan lima partai besar. sebagai seorang yang berbakti seharusnya kau membikin penuntutan balas kepada lima partai besar. Tapi kau tidak. Bukan saja tidak menuntut balas. Lebih dari pada itu, kau mengabdikan diri kepada mereka. Kau menerima tawaran Duta Nomor tiga belas yang tidak ada artinya."

Ie Lip Tiong menganggukan kepala, ia berkata:

"Aku juga tidak mengerti atas sikap reaksimu, dengan alasan apa, komplotan kalian mengutus Su khong Eng, menciptakan sesuatu pemuda misterius berbaju hitam, dengaa alasan apa Su- khong Eng meninggalkan getah jahat, memfitnah diriku?"

Sebelumnya, baik juga membaca cerita pembunub gelap bagian pertama, Disana tercatat. Su khong Eng dengan menggunakan tutup kerudung warna hitam, dengan dedak perawakan tubuhnya yang mirip dengan Ie Lip Tiong, dengan sengaja telah melakukan pembunuhan gelap, se-olah pembunuhan2 itu dilakukan oleh Ie Lip Tiong. Maka lima partai besar marah kepada Ie Lip Tiong, hendak membunuh pemuda itu.

Lo tan cu menengok kearah Su-khong Eng, inilah isyarat.

Kemudian ia berkata :

Permusuhan kami dengan lima partai besar adalah urusan lama. Sengaja kuperintahkan dia menggunakan tutup kerudung muka, agar tidak diketahui orang, membunuh anak buah lima partai besar. Mereka sangat tolol. Tidak bisa mengetahui siapa adanya kami orang. Mereka hanya menduga kepada dirimu, hanya kau yang mempunyai ini kesempatan untuk mengadakan tuntutan balas. Karena ayahmu mati ditangan lima ketua partai besar. Kami sekarang segera mengatur siasat lain, dan se-olah2 menciptakan suasana yang mengatakan, bahwa kau yang melakukan pembunuhan itu. tidak guna kau sesalkan. Kau berhak menuntut kepada lima partai besar, mengapa sikap mereka begini tolol?"

"Baik." berkata Ie LiP Tiong. "Mengopa aku menerima jabatan Duta Nomor tiga belas? Disinilah letak persoalan. Aku hendak membikin terang dan jelas, mengapa aku difitnah, aku hendak menaugkap Su khong Eng. Dan akhirnya aku berhasil, maka bebaslah aku dari tuduhan2 keji itu."

Lo san cu tidak bicara banyak, sesudah itu, ia mengajak Su khong Eng meninggalkan penjara.

Hari berikutnya, Su khong Eng datang seorang diri, tidak disertai oleh Lo sun cu. Langsung Su khong Eng menghampiri jari jari besi penjara, ia memperhatikan tata cara hidup Ie Lip Tiong. Matanya beringas, seolah olah hendak menelan pemuda kita.

Ie Lip Tiong tertawa, ia mengajukan pertanyaan : "Mengapa kau begitu benci kepadaku ?"

"Ingin sekali aku bisa menelanmu." berkata Su khong Eng.

"Kau sakit hati, karena rencanamu uutuk merusak Siao-Lim pay berhasil kugagalkan? KAu sakit hati kepadaku karena dijebloskan kedalam penjara Su hay tong-sim beng? Sebetulnya, akulah yang harus bersakit hati. Hampir aku binasa. karena fitnah2 jahatmu."

"Bukan urusan itu." berkata Su khong Eng. "hendak kutanyakan kepadamu, kemana kau telah larikan dirinya?"

Mata Ie Lip Tiong terbelalak, ia tidak mengerti. "Siapa yang kularikan?" tanyanya.

"Ai ceng." berkata Su-khong Eng singkat.

Baru Ie Lip Tiong sadar, ternyata urusan wanita.

"Aha," katanya. "Ternyata Ai ceng yang kau maksudkan !" "Betul. Dimana kini dia berada?"

Ie Lip Tiong hendak mengolok olok Su khong Eng, inilah kesempatan baik. Ia segera berkata :

"Heran. Ayah Ai ceng, Ai Pek cun itu tidak mengajukan pertanyaan. Kau mempunyai hubungan apa dengan Ai ceng? Mengapa mempunyai hak untuk bertanya? Dengan alasan apa kau bertanya tentang urusannya ?"

"Ia adalah calon istriku."   bentak   Su-khong   Eng   geram. "Ha. " Ie Lip Tiong seolah olah sangat terkejut. Ia berkata :

"Sudah syah, barangkali ?" "Tentu saja syah." berkata Su-khong Eng.

"Siapa yang memberi pengesyahan ? Pamannya ? Atau Ayahnya

? Atau mungkin juga hanya persetujuan seorang diri ?"

"Semua orang sudah setuju, guruku yang melulusi permintaan ini. Kata2 guruku tidak bisa dibantah. Belum berani Ai Ceng membantah perintah Ayahnya."

"Oh ! Ternyata Ai Pek cun yang memberi perintah kepadamu untuk melakukan pembunuhan pembunuhan kepada anak buah lima partai besar. Dengan janji menikahkan putrinya kepadamu bukan ?"

"Lalu apa yang kau mau?"

"Kau sangat tolol. Kuberi tahu kepadamu, bahwa Ai ceng itu tidak sir, tahu ?"

"Tidak sir?"

"Dia tidak cinta padamu "

"Cinta bisa dipupuk dan dibina. Ayahnya sudah berjanji, tidak perduli ia mau atau tidak, bisa ssja aku memperisterinya."

"Ayahnya setuju ?"

"Ya. Suhu sangat setuju."

"Boleh saja kau menikah dengan suhumu. Tapi tidak mungkin dengan Ai ceng. Ai ceng tidak setuju."

"jangan banyak bacot, lekas katakan, di mana kau sembunyikan dirinya ?"

"Bilamana aku tidak mau mengatakan?" Ie Lip Tiong menantang. "Kau akan menyesal dikemudian hari." Su-khong Eng

mengancam.

ooo0ooo

BAB-33 "TERSERAH." Ie Lip Tiong tidak bisa digertak. Ia meninggalkan pintu penjara, mundur kebelakang dan duduk dipojok. Menyelesaikan percakapan itu.

"Baik." Su-khong Eng berkata. "Segera kau bisa saksikan apa pembalasanku."

Sesudah itu, Su-khong Eng berjalan pergi.

Hari berikutnya Su-khong Eng datang lagi, ia menjenguk Ie Lip Tiong. Berbeda dengan hari2 didepannya, kali ini Su-khong Eng membawa bangku, duduk didepan pintu penjara.

Ie Lip Tiong memperhatikan gerak gerik Su khoag Eng. Tidak ada reaksi. Begitu tenang Su khong Eng duduk didepan, kaki kanannya diangkat dan ditumpangkan kekaki kiri, bergoyang goyang. Sangat asik sekali.

Ie Lip Tiong kurang sabar,

"Hei!" ia berteriak. "Kau hendak menjadi penjaga ? Menongkrongi aku, terus menerus!"

Su khong Eng tertawa. Ia menganggukkan kepala. Perobahan ini menandakan bahwa ia telah mempunyai rencana baru. Sikapnya sangat adem.

Ie Lip Tiong menjadi heran atas sikap yang diperlihatkan oleh Su khong Eng. Dengan mengedipkan mata, ia bertanya :

"Hei, kau sudah melepaskan pengusutan Ai ceng? Tidak mau tahu lagi?"

Mengikuti gerakan Ie Lip Tiong, Su khong Eng juga mengedip2kan mata, mengulang pertanyaan jago kita :

"Hei, kau sudah melepaskan pengusutan Ai ceng ? Tidak mau tahu lagi?"

Ie Lip Tiong tertegun. Akhirnya ia tertawa sendiri. Katanya. "Ha, ha,. permainan apa yang hendak kau tontonkan ?"

Su-khong Eng lagi - lagi mengikuti gerakan Ie Lip Tiong. Ia juga seperti orang tertegun. Kemudian tertawa, turut mem-beo-i juga :

"Ha, ha, permainan apa yang hendak kau tontonkan?"

Ie Lip Tiong mengerutkan keningnya, bertanya : "Hei, kau sudah linglung ?"

Su khong Eng juga mengikuti logat pembicaraan Ie Lip Tiong, mengkerutkan keningnya dahulu, baru berkata :

"Hei, kau sudah linglung ?"

Rasa herannya Ie Lip Tiong semakin bertambah, memperhatikan Su khong Eng beberapa saat, bertanya :

"Su khong Eng, berapa umurmu ?"

Su khong Eng juga mengikuti gerakan Ie Lip Tiong, bertanya : "Ie Lip Tiong, berapa umurmu?"

Ie Lip Tiong jadi bosan dengan sandiwara itu, apa yang dikatakan, selalu diulang. Apa yang dilakukan, pasti ditiru. Tidak guna lagi berdebat dengan seorang yang sudah sakit pikiran. Tidak ada faedahnya bicara dengan seorang sinting. Meninggalkan pintu penjara, ia duduk bersila dan memeramkan mata. Sangkanya, Su- khong Eng sedang mengalami geger otak.

Su-khong Eng juga duduk bersila, mengikuti gerakan2 Ie Lip Tiong ia juga memeramkan mata.

Menggunakan sudut matanya, Ie Lip Tiong melirik kepada sipemuda misterius berbaju bitam itu, Ia heran atas sikap yang diperlakukan oleh Su-khong Eng. Akhirnya ia bangun lagi.

Su khong Eng juga bangun berdiri.

Ie Lip Tiong menggerakkan tangan membnat satu keplakkan.

Su-khong Eng juga menggerakkan tangan mengikuti cara2 Ie Lip Tiong, yang membuat satu keplakkan. Alis Ie Lip Tiong berkerut keatas.

Alis Su-khong Eng juga dikerutkan keatas.

Setiap gerak gerik Ie Lip Tiong diikuti oleh Su khong Eng. Lagu pembicaraan Ie Lip-Tiong juga dituruti oleh Su-khong Eng.

Seolah2 mereka sedang main sandiwara.

Hanya teraling oleh jari2 besi saja. Satu didalam penjara, dan satu diluar penjara. Didalam penjara adalah Ie Lip Tiong. Yang diluar penjara adalah Su-khong Eng. Segala sesuatu yang dilakukan oleh Ie Lip Tong, dilakukan juga oleh Su-khong Eng. seolah2 bahwa Su khong Eng itu hendak memainkan peran terpenting, menirukan gerak gerik dan logat suara Ie Lip Tiong.

Sebagai seorang manusia cerdik, Ie Lip Toug harus berpikir lama, tiba2 ia sadar akan tiruan yang diperlihatkan oleh Su khong Eng. Hatinya terkejut, ia mengeluarkan keringat dingin. pikirannya berkecamuk dengan khayalan buruk

"Celaka!! Bocah ini sedang menjiplak diriku." Ia berpikir didalam hati.

Dihubungkannya urusan ini dengan keahlian dari Partai Raja Gunung. Komplotan Partai Raja Gunurg senang melakukan pembeset2an kulit manusia. Manakala mereka telah menentukan calon sikorban, dengan obat2 pengering yang sudah disiapkan, mereka bisa menyembelih orang yang bersangkutan. Kulit itu dikeringkan, sehingga tidak membusuk, dan dengan menggunakan baju kulit sang korban, berubahlah seseorang. Siapapun bisa berubah wajah. Bisa menjelma kepada seseorang yang sudah mati.

Thiat Theng Hweeshio yang asli sudah mati, Ai See cun memalsukannya dan menciptakan satu Thiat theng Hweeshio palsu.

Sesudah membunuh si Pendekar Pedang Kayu Koan su Yang, Ai Tong cun menggantikan kedudukan sang Duta Nomor Enam. Hampir mereka berhasil membunuh Hong-lay Sian eng.

Keringat dingin yang mengucur semakin banyak, Ie Lip Tiong segera membayangkan, bagaimana ia akan mengalami pembesetan kulit.

Dimisalkan Su kheng Eng membunuh dirinya, membeset kulitnya, dan dengan kulit baju Ie Lip Tiong, mudah saja Su khong Eng melakukan pembunuhan2 yang lebib banyak.

jiwa Ie Lip Tiong terancam diujung maut.

Dari pada ia menuggu giliran dibunuh orang, lebih baik Ie Lip Toug membunuh terlebih dahulu. Ie mengatur siasat lain, kini berjalan dengan langkah lenggang.

Diluar penjara, mengikuti gerakan Ie Lip Tiong, Su khong Eng juga membuat satu langkah lebar berjalan

Ie Lip Tiong berdiam, ia bertopang dagu.

Su khong Eng juga menghentikan gerakannya, turut bertopang dagu.

Perlaban lahan Ie Lip Tiong mengerahkan tenaga dalamnya, dipusatkan kepada kedua tangan. Inilah persiapan untuk menggerakkan tiga pukulan geledek. Ilmu silat kenamaan dari sucownya yang telah diturunkan.

Su khong Eng masih belum menduga rencana apa yang telah terjudi dalam benak pikiran Ie Lip Tiong, ia masih mengikuti gerakan gerakan sipemuda.

Apa yang telah Ie Lip Tiong duga, Su khong Eng mendapat tugas berat, ia harus pandai meniru logat suara dan meniru semua kebiasaan Ie Lip Tiong. inilah rencana partai raja gunung.

Suatu saat, Su khong Eng lengah, Ie Lip Tiong sudah menunggu. Kesempatan baik tidak bisa dilepaskan, kedua telapak tangannya didorong kedepan, memukul kearah si pemuda berbaju hitam itu.

Disaat yang sama, terdengar satu jeritan melengking : "Su khong Eng. lekas mundur!"

"Banggg. " Pukulan Ie Lip Tiong dikerahkan keluar. Tubuh Su khong Eng melejit kebelakang, ia menjauhi pukulan itu.

Tiga pasang jeriji besi terpukul melengkung, terkena pukulan Ie Lip Tiong. Sayang ! Adanya suara peringatan telah menolong Su- khong Eng, ia lolos dari tangan maut, hanya tempat tanah, dimana ia tadi berada telah berlubang dan remuk, terkena tiga pukulan geledek Ie Lip Tiong.

"Celaka ! Sayang sekali." Ie Lip Tiong mengeluh didalam hati. Ia tidak berhasil membokong Su khong Eng. Disana telah bertambah seorang wanita. Ie Lip Tiong segera mengenali wanita yang pernah turut menyatroni Siao lim sie, wanita yang memalsukan cia Hujin itu.

Orang yang datang adalah itu wanita yang pernah menyamar jadi cia Hujin di geroja Siao lim sie. Bersama sama dengan Su khong Eng, wanita ini hendak membunuh ketua partai Siao lim pay, tapi berhasil digagalkan oleh Ie Lip Tiong.

Memandang kearah wanita tersebut, Ie Lip Tiong tertawa, katanya :

"Kau masih hidup, cia Hujin!"

Ia masih memanggil dengan panggilan lama, cia Hujin.

Wanita itu memperlihatkan senyumannya yang menarik, cukup memikat, ia berkata :

"Bagaimana kesehatanmu ? Baik2 sajakah? Baru saja aku kembali. Kudengar cerita tentang tertangkapnya dirimu. Aku harus menaruh salut diri padamu yang pandai menyamar, tidak kusangka. pemuda yang ketolol-tololan di Sioa-Lim-pay dahulu, adalah jelmaanmu. Eh, mengapa kau mempunyai niatan jahat, hendak membunuh Su khong Eng ?"

"Hanya hendak menjajal kekuatan tenaga dalamku." berkata Ie Lip Tiong.

Su-khong Eng sudah terjerembab jatuh, melejit bangun, bergeram dengan hati panas: "Ie Lip Tiong, sudahkah kau bosan hidup, barangkali ?"

"jangan berteriak2 seperti itu." berkata Ie Lip Tiong didalam penjara. "Bila tidak ada kedatangan cia Hujin, jiwamu sudah melayang keakherat."

Su-khong Eng memperlihatkan wajahnya yang beringas, ia membentak :

"Kukira kau hendak merasakan kekejaman tanganku."

Ie Lip Tiong tidak melayani Su khong Eng. ia menengok kearah cia Hujin dan bertanya :

"Ai ceng pernah memberitahu namamu, tapi telah kulupakan.

Maaf. Aku kira, kau bersedia menyebutkan nama sendiri, bukan ?"

Wanita itu tertawa, menganggukkan kepala dan menjawab pertanyaan yang diajukan :

"Aku Phoa Kim Hoa, kawan baik suhunya. Ia menunjukkan jari Kearah Su-khong Eng

Lebih dari kawan baik. Phoa Kim Hoa adalah gadis Ai Pek-cun. "Tidak cocok dengan apa yang kau kemukakan. " berkata Ie Lip

tiong.

Phoa Kim Hoa berkata :

"Kukira Ai ceng memberi nama palsu kepadamu. "

"Mungkin juga." berkata Ie Lip Tiong. "Gerakan nona sangat gesit, itu malam di Siao-Lim-sie, kau berhasil meloloskan diri."

"Orang yang menjadi maksud tujuanmu adalah Su-khong Eng, bukan aku. Maka aku bebas dan lari." berkata Phoa Kim Hoa. "Mana mungkin aku membebaskan diri? Bila kau ada niatan untuk menangkap ?"

"Terus terang kukatakaa, itu waktu aku tidak turun tangan. Aku hanya menyaksikan dari samping saja." berkata Ie Lip Tiong

"Bagaimana Ai ceng bisa jatuh kedalam tanganmu ?" "Kukira tidak bisa diceritakan, ada seseorang yang akan cemburu."

"Tidak menjadi soal, ceritakan saja terus terang." berkata Pioa Kim Hoa. "Kukira kau cinta pada Ai Ceng, bukan ?"

Ie Lip Tiong melirik kearah Su khong Eng. perlahan2 ia menganggukkan kepala. Ia wajib berterus terang tidak perlu menyangkal, secara jujur, ia berkata:

"Ai ceng memang seorang gadis yang menarik. Semua orang akan suka kepadanya!"

"Ada niatan untuk mengawininya?" berkata Phoa Kim Hoa. "Sedang kuperhitungkan. Bagaimana pendapat nona, setuju?"

bertanya Ie Lip Tiong.

"Aku sih setuju saja, lebih setuju lagi, bila kau bisa membawa batok kepala Hong lay Sian-ong. Batok kepala Hong lay Sian-ong itu bisa dijadikan mas kawin Ai ceng, batok kepala Hong lay Sian-ong diharap2kan oleh ayah Ai ceng, Ayahnya tidak keberatan menikahkan sang putri kepadamu. Bila kau bisa mengambil batok kepala ketua Su hay tong sim beng itu "

Ie Lip Tiong bergoyang2 kepala, katanya :

"Buat apa sisah? Ai ceng telah berkata kepadaku. setuju atau tidak, tanpa memperdulikannya, ia tetap menikah kepadaku."

Mengikuti pembicaraan itu, rasa dongkolnya Su-khong Eng tidak kepalang. Rasa cemburunya tidak bisa dilampiaskan, ia membentak

:

"Ie Lip Tiong, jangan harap kau bisa hidup lagi." Ie Lip Tiong tertawa, ia menantang :

"Mati hidupku bukan ditanganmu !"

"Biarpun aku mendapat teguran, bisa saja aku membunuhmu." "Mau berantam? Mari!. Kemari Kau !" Su khong Eng maju beberapa iangkah, tangannya dijulurkan, menekan tombol didinding, dengan seram ia berkata :

"Siapa yang kesudian bertempur ?" Membarengi tekanan tombol yang dipijit Su khong Eng, lantai dimana Ie Lip Tiong terkurung mulai bergerak. Terdengar suara krekek, lantai itu mcnurun kebawah, gerakannya cepat sekali. Phoa Kim Hoa terkejut, berteriak

: "Su khong Eng, kau sudah gila?"

Sepasang sinar mata Su-khong Eng seperti memancarkan api, ia membentak :

"Berani kau melapor kepada Lo san cu, ku bunuh lebih dahulu kau!" Su khong Eng mengancam. Begitu bencinya kepada Ie Lip Tiong. Dengan menanggung omelan atau hukuman, ia hendak membunuh saterunya.

Phoa Kim Hoa mundur dua tindak, ia juga tidak berani menentang kemauan Su khong Eng. Ia hanya berupa gula2 dari suhu Su-khong Eng. Mana berani melawan kehendak Kongcu itu?

"Aku tidak perduli dengan mati hidupnya Ie Lip Tiong.! Phoa Kim Hoa mengeluarkan pendapat. "Tapi kau tidak takut menerima hukuman?"

"Tidak perduli." berkata Su-khong Eng. "Sesudah ia mati dibawah istana air ini. Aku bisa menerima hukuman sendiri."

Lantai dimana tempat penjara Ie Lip Tiong itu menurun, jatuh semakin kebawah, disana mengucur air. Ternyata itulah yang dinamakan istana air. Diatas juga menurun gelang2 besi, menggencet pemuda itu. Ie Lip Tiong berusaha menahan napas. Tidak berhasil. Bergelimpangan seperti tikus kecebur. Ie Lip Tiong masih memperjuangkan mati hidupnya dibawah dasar istana air itu.

Phoa Kim Hoa melirik kebawah, ia juga bisa menyaksikan, bagaimana keadaan Ie Lip Tiong.

Tentu saja, jari2 besi yang menggencet Ie Lip Tiong itu sangat kokoh dan kuat. Beiapa hebatpun tenaga Ie Lip Tiong tidak mungkin ia bisa memutuskan atau merusaknya.

Ini berubah semacam siksaan. Bisa dibayangkan, bagaimana seekor tikus yang diletakan dibawah air dan digencet perlahan2. Begitu pula keadaan Ie Lip Tiong. Gencetannya hanya berupa besi2. Maka masih bisa terlihat jelas sekali. Sangat kejam ! Phoa Kim Hoa tidak bisa menyaksikan lebih lama, ia berpaling ke tempat lain. Menghindari pemandangan yang mengerikan. Su khong Eng tertawa puas, ia berkata

"Tidak mungkin ia bisa bertahan lama, perutnya akan kembung. Tidak lama lagi besi2 itupun akan menggencetnya. Maka inilah hukuman dan penbalasan, atas perbuatan yang sangat berani."

Phoa Kim Hoa menghela napas, katanya :

"Mengapa kau tidak membunuhnya saja?"

"Tidak!! Aku hendak menyiksanya seperti ini." berkata Su-khong Eng.

"Kau terlalu kejam." berkata Phoa Kim Hoa. "Inilah salah satu sebab, mengapa A ceng tidak suka kepadamu."

"Begitu ?" Su khong Eng meremehkan peringatan Phoa Kim Boa. "Tapi bukan aku seorang yang kejam. banyak orang yang lebih kejam dariku "

Phoa Kim Hoa berkata ;

"Apabila Lo san cu marah atas perbuatan kamu yang membunuh Ie Lip Tiong. kukira aku juga akan menerima hukuman. Ia bisa menyalahkan padaku, mengapa tahu dan tidak melapor?"

"jangan takut." berkata Su khong Eng. "Bisa saja kau memberitahukan kepadanya. bahwa kau tidak tahu menahu dalam soal ini! Kujamin, aku tidak membuka rahasia. Segala tanggung jawab akan kupikul atas diriku sendiri."

"Tidak mungkin." berkata Phoa Kim Hoa. "Kedatanganku telah diketahui oleh Lo san-cu." "Legakan hatimu, biar bagaimana, aku tidak akan menyeret nyeret orang."

Ini waktu, Ie Lip Tiong sudah betul2 tidak tahan. Pertama tama. ia bisa saja menyelam. Menahan napas. Tapi hanya bersifat sementara. tidak tahan lama. Terus menerus hidup tanpa pernapasan, tentu saja kehabisan napas dilepaskan napasnya, geleguk , dan situ mengalir masuk air yang deras. Gelembung2 pernapasan berpancuran.

Su khong Eng melotot beringas, dengan teetawa kejam ia berkata :

"Ie Lip Tiong, kemana kegagahanmu? Baru saja mereka menggembar gemborkan It kiam-tin bu lim We Tauw yang ternama. Kini hendak kulihat, mungkinkah bisa muncul lain orang It-kiam-tin bu-lim Wie Tauw lain2 sesudah kau mati. Semuapun turut lenyap."

Ie Lip Tiong mulai menggelepar, tidak lama lagi ia akan mati dibawah istana air it.

Tiba2........

terdengar satu suara bentakan yang geram :

"Su khong Eng, apa yang sedabg kau lakukan?"

Tapi Su-Khong Eng seperti mencelat keluar, cepat2 ia membalikkan tubuhnya dan berkata;

"Suhu, maafkan aku."

Orang yang datang adalah Ai Pek cun. menyaksikan sepintas selalu, maka ia bisa maklum, apa yang sudah terjadi. cepat2 ia berlari datang. Menengok kebawah, disana mencari kehidupan. segera cepat2 Ai Pek cun membentak :

"Lekas naikkan lantai."

Su khong Eng tidak mau menerima perintah, dengan penuh rasa penasaran ia berkata:

"Suhu aku bersedia menerima hukuman yang bagaimanapun bertanya juga."

Ai Pek cun membentak :

"Lekas naikkan!"

Melihat cara wajah sang suhu ditekuk, mengetahui bahwa percuma saja ia membangkang, mau tidak mau, Su-khong Eng memencet tombol lain, menggerakkan panel rahasia. Mengangkat naik lantai Ie Lip Tiong yang sudah berada dibawah istana air.

Perlahan2 lantai penjara naik kembali. Airpun surut kebawah. Besi2pun kembali seperti sedia kala. Kini merupakan penjara lagi. Bedanya, perut Ie Lip tiong telah kembung. Kenyang makan air.

Ai Pek cun memperhatikan Ie Lip Tiong, meskipun belum mati napasnya empas empis, menoleh kearah Su khong Eng, dan membentak :

"Lekas tolong dirinya, dan buka bajunya segera?"

Didalam hati Su khong Eng hendak membantah perintah itu. tapi belum pernah ia menyaksikan kemarahan Ai Pek cun yang seperti ini. Ia juga menjadi takut, maka segera ia membuka pintu penjara, tanpa komentar lagi, ia melakukan perintah sang guru.

Su-khong Eng meletakkan Ie Lip Tiong di dengkul, dipencet perut itu, maka uak, dari mulut Ie Lip Tiong menyembur air. sesudah ini. Su khong Eng membuka baju luar Ie Lip Tiong. Ia mengambil baju dalamnya, itulah baju Data Istimewa Su hay tong sen bang yang berwarna kuning. Baju yang teramat penting !

Sesudah melakukan ini semua, baru Su-khong Eng mengatur peredaran jalan darah Ie Lip tiong. mengetahui bahwa Ie Lip Tiong itu belum mati hatinya menjadi lega. Membawa baju Duta Istana berwarna kuning, ia keluar dan meninggalkan penjara.

Ai Pek cun membentak Su khong Eng :

"Dengan alasan apa kau hendak membunuhnya?"

Su khong Eng menundukkan kepala rendah, ia memberi alasan : "Dia selalu memancing insiden, membuat hati orang menjadi panas."

"Sudah lupa kepada tugasmu ?" "Tidak lupa."

"Kau sudah yakin betul bisa meniru dirinya?" "Yakin." berkata Su khong Eng.

"Berikan alasanmu." berkata Ai Pek cun. Su khong Eng berkata :

"Bicaranya suka melengkitkan alis, atau mengedipkan mata, mengangkat sedikit pundak. Tertawanya agak menyengir keatas, berdirinya sering menggendong tangan, tingkah lakunya seperti sangat congkak, terselip juga keagungan. Ia sangat sombong, tapi peramah." 

Ai Pek Cun mengangguk anggukkan kepala, ia sangat puas.

Katanya :

"Cukup. Pergi kau cuci baju kuning itu!! Besok baleh berangkat!"

Su-khong Eng menerima perintah, dengan menenteng baju kuning Ie Lip Tiong yang sudah dilucuti, ia meninggalkan tempat itu.

Phoa Kin Hoa tidak turut bicara, sesudah Su-khong Eng pergi jauh, baru ia menoleh kearah Ai Pek cun, dengan tertawa genit ia berkata :

"Muridmu itu terlalu galak. Betul betul aku takut." Ai Pek cun berkata :

"Semasa kecilnya, ia hidup sangat sengsara, Sebelum aku menerima menjadi murid, tidak sedikit penderitaan2 yang diterima, inilah mengakibatkan, tabiatnya menjadi tabiat luar biasa."

"Hei," Phoa Kim Hoa menegur. "Betul2 kau ada niatan untuk menjodohkan putri kesayanganmu!" "Bagaimana pendapatmu?"

"Aku tidak mau tahu..." berkata Yo Kim Hoa. "Ai ceng adalah anak perempuanmu, mengapa aku harus pening? Tetapi. dimisalkan aku yang melahirkan Ai ceng, aku tidak akan memaksanya menikah dengan seseorang pemuda yang tidak disukai."

Ai Pek cun tertawa, tidak memberi kesan lain.

Phoa Kim Hoa menatap wajah tokoh misterius itu, ia mengulang pertanyaannya :

"Hei, Kau belum menjawab pertanyaanku, betul2 kau ada niatan untuk menjodohkan putrimu kepada Su khong Eng ?"

Masih Ai Pek cun tidak mau menjawab. "jangan ungkit2 soal ini lagi." ia tertawa menyengir. "Kemana saja kau selama ini? Mencari laki2 lain?"

Wajah Phoa Kim Hoa bersemu dadu, dengan cemberut ia membentak :

"Jangan sembarang omong. Kukira kau sudah bosan. terus terang saja kukatakan. Aku tidak memaksamu. Tetapi jangan main2 seperti itu "

"Ha, ha..." Ai Pek cun tertawa. "Aku tanya menggoda. Tapi kau sudah sibuk sekali. Mungkinkah "

"Mungkin apa?" membentak Yo Kim Hoa.

"Tidak apa2." berkata Ai Pek cun. "Terus terang saja kukatakan, aku sangat terkenang kepadamu."

"Pui !" Phoa Kim Hoa berdengus. "jangan suka menipu orang. Kukira aku tidak tahu. Selalu kau bertemu dengan gadis selir ditempat ini?"

"jangan percaya obrolan orang. Gadis gadis itu mana bisa menandingimu ?"

"Hayo ! Gadis2 itupun tidak kau pandang mata? Kau masih mau apa lagi?" "Aku mau dirimu". Ai Pek cun merangkul Phoa Kim Hoa. Phoa Kim Hoa marayapkan diri, berkata :

"Aku bukan anak kecil lagi, jangan menipu orang "

"Betul." berkata Ai Pek cun. "Gadiss itu berparas canfik dan montok. Tapi hanya seperti patung patung hidup. Mana bisa dibandingkan dengan dirimu. terlalu jauh sekali."

Kedua pipi Yo Kim Hoa menjadi merah. Memonyongkan mulut dan berkata :

"Tidak tahu malu. Ditempat apa kau bicara?"

Ai Pek cun menoleh kebelaksng, disana Ie Lip Tiong baru saja sadar. Maka meninggalkan Phoa Kim Hoa, menghampiri Ie Lip Tiong dan berkata kepada si pemuda :

"Hei, peruntunganmu masih bagus. Terlambat saja dua detik, jiwamu sudah akan melapor diri kedunia akherat. Mengucapkan selamat tinggal."

Ie Lip Tiong merayap dengan susah payah, dengan menyengir ia berkata :

"Mengapa kau tidak membiarkan muridmu itu melelapku?" Ai Pek cun berdehem, ia berkata :

"Lo-san-cu kami telah berpesan, ia menganggap kau adalah satu lawan yang hebat. Ia hendak bertanding secara adil. Siapa yang lebih lihay."

"Aku tahu." berkata Ie Lip Tiong, "maka menyuruh muridmu memalsukun diriku. Turun gunung dan membunuh orang lagi. Ini juga termasuk salah satu pertandingan Lo san cu?"

Ai Pek cun menganggukkan kepala, berkata :

"Tepat!!. Kukira betapa cerdiknya Hong lay san ong dan sembilan duta istimcwa berbaju kuning, tidak mungkin mereka bisa menyangka bahwa Ie Lip Tiong itu adalah Ie Lip Tiong palsu. Ie Lip Tiong bisa membunuhnya."

Lagi2 cara lama. Hati Ie Lip Tiong mencelos Bila kejadian ini dibiarkan terus menerus, sesudah Su khong Eng memalsu dirinya. mudah saja membunuh Hong lay sian ong sekalian. Pikirannya segera bekerja cepat. ia bisa menguasai siasat busuk itu, tiba2 ia tertawa berkakakan :

"Ha, ha, ha, ha,........hebat!.......lihay. "

Kejadian ini berada diluar dugaan Ai Pek cun, ia sedang menunggu reaksi Ie Lip Hong. Tentu menjadi kaget. Sangat kuatir, menjadi bingung dan lain2nya lagi. Tapi apa yang dinantikan itu tidak kunjung datang, Ie Lip Tiong tertawa berkakakan. Seperti orang yang sangat girang.

"Hai." ia berkata. "Melihat reaksimu yang seperti ini, mungkinkah muridku tidak bisa berhasil?"

"Kuharapkan saja bisa berhasil." berkata Ie Lip Tiong.. "Sungguh tipu lihay!"

"Mengapa kau tertawa berkakakan?" bertanya Ai Pek cun dengan suara geram.

"Hanya aku seorang yang tahu, mengapa aku bisa tertawa berkakakan."

"aku seperti sangat girang."

"Aku memang sangat girang." berkata Ie Lip Tiong.

"Huh!" Ai Pek cun berdengus. "Biar kujawab pertanyaanmu itu. jangan anggap aku orang tolol. Sesudah Duta Istimewa berbaju kuning mati, untuk menghindari terulangnya kembaii kejadian lama itu. kukira kalian sudah mengeluarKan kode2 rahasia. Misalkan, mengambil umpama, bilamana kalian bertemu mengucapkan beberapa kata kode, atau menggerakan kode tangan, Hal ini bisa menghindari terjadinya pembunuhan gelap lain. Hal ini bisa menghindari terulangnya kejadian lama. Muridku tidak mengetahui kode itu, sewaktu dia tiba dimarkas besar Su hay long sim beng, segera terbongkarlah kepalsuannya, ia akan tertangkap basah. inikah yang kau tertawakan."

Ie Lip Tiong berhasil membawa peranan, bilamana ia menunjukan sikap bersedia, bila mana ia membawakan sikapnya yang sangat kuatir, tentu Su khong Eng sudah memalsukan dirinya, membunuh Hong lay Sian ong.

Karena itu ia tertawa berkakakan. Menganggap remeh semua kejadian. Ia tidak gentar, seolah2 tipu baik dari Su khong Eng itu telah mempunyai cacad. Masuk kedalam perangkap. Dan betul2 Ai Pek cun menduga seperti itu.

"Otakmu termasuk otak cerdik." berkata It Lip Tiong. "Dugaanmu kukira tidak jauh."

Ai Pek cun tertawa dingin seraya berkata:

"Aku tahu, tidak mungkin kau mau memberi dan mengucapkan kode2 rahasia itu."

"Lagi2 dugaan yang tepat! Kau lebih bisa menyelami isi hatiku." berkata Ie Lip Tiong.

"Tidak menjadi soal " berkata Ai Pek cun. "Ada atau tanpa kode2 rahasia itu, kami bisa melaksanakan rencana. Lihat sajalah. Bagaimana kau akan menderita karenanya."

Berkata sampai disini Ai Pek cun menggapai kearah Phoa Kim Hoi, berkata kepada gula itu:

"Mari. Kita keluar."

Sesudah Ai Pek cun dan Phoa Kim Hoa keluar, Ie Lip Tiong memperhatikan penjara tempatnya. Ia pernah meneliti segala sesuatu, di kala Su khong Eng masuk dan keluar, Su khong Eng tidak membawa kunci. Memang, kamar penjara itu berupa kamar rahasia. Kamar istimewa. Tidak ada kuncinya. Janganlah hanya jari2 seperti itu bisa dimasuki dengan bebas. Bisa dibuka dan ditutup dengan bebas. Inilah membingungkan Ie Lip Tiong. Disitu kamar penjara Ie Lip Tiong seperti berupa jendela. Hanya dikurung oleh besi saja, tiada kunci.

Ie Lip Tiong mencoba menarik atau menggesor besi itu. Tidak berhasil. Besi itu tidak bergerak. yang mengirangkan hatinya, besi itu bisa diputar.

Ie Lip Tiong bisa membayangkan putaran putaran besi malah yang menjadi pokok pertama, dengan memutar beberapa kali ke kiri atau kekanan, maka pintu penjara bisa terbuka.

Dengan tekun dan rajin, Ie Lip Tiong mencoba, ia mulai menggeser besi yang sebelah kiri, dicobanya diputar sekali dan dibalikkan dua kali satu persatu dijajalnya.

Dugaan Ie Lip Tiong tdak salah, Su-khong Eng memasuki tahanan aneh itu, hanya memutar besi. Entah kekanan atau kekiri, yang jelas hanya memutarnya, maka rahasia yang ada itupim tersentak keluar, mereka bisa membuka pintu penjara.

Ie LiP Tiong juga hendak mengikuti cara itu. tetapi ia tidak tahu kode2 tertentu tentu saja tidak mudah.

Satu harian penuh, Ie Lip Tiong mencoba mencari kode rahasia dari pintu penjara aneh partai Raja Gunung.

Tidak begitu mudah Ie Lip Tiong tidak berhasil.

hari berikutnya, seorang berjalan masuk kedalam bagian penjara. Orang itu berbentuk rupa Ie Lip Tiong. tanpa dikatakan, Ie Lip Tiong bisa menduga, siapa yang bisa menyamar sebagai dirinya. tentu sipemuda misterius yang dahulu berkerudung hitam su khong Eng.

Sungguh luar biasa cara cara berdandan Su-khong Eng sangat menakjubkan. Sangat mirip dengan apa yang dikenakan oleh Ie Lip Tiong, Disana ada dua Ie Lip Tiong, satu didalam penjara dan satu diluar penjara.

Ie Lip Tiong palsu mengenakan baju kuning. inilah baju kebesaran Su hay long sim beng. Punggungnya terselip pedang, gerakannya sangat mewah. inilah getakkan Ie Lip Tiong asli. inilah hasil dari penyelidikannya yang ditekunkan berhari2. Ie Lip Tiong palsu tertawa pada Ie Lip Tiong asli, dengan memperlihatkan dua baris giginya, ia berkata:

"Ie Lip Tiong, hari ini aku pamit kepadamu"

Dengan menekan kemarahan dalam dada yang meluap2, Ie Lip tiong berusaha menenangkan dirinya. Katanya:

"Kuucapkan selamat dalam perjalanan."

"Terima kasih" berkata Su khong Eng dengan suara dilogatkan seperti suara Ie Lip tiong. "Akan kuusahakan sebisa mungkin menalangi kau melakukun sesuatu yang menggemparkan rimba persilatan."

"Apa?"

"Aku akan mengangkat naik namamu." berkata Su khong Eng. "Mulai saat ini Ie Lip Tiong akan cukup menggemparkan rimba persilatan."

"Aku tidak dengar." berkata Ie Lip Tiong. "Bisakah kau datang lebih dekat? Bisa kau bicara lebih jelas? Telingaku telah kemasukan air. Sampai sekarang masih mampet."

Tentu saja Su khong Eng tidak berani manerima saran2 seperti itu, ia tidak maju, ia mundur kebelakang, hal ini penting mengingat ilmu kepandaian Ie Lip Tiong yang bisa membunuhnya dari jarak dekat. Ia berkata :

"jangan kau main2 lagi. Aku tidak bisa masuk perangkapmu."

Ie Lip Tiong mengerahkan semua tenaganya memukul kedepan disertai dengan suara bentakan :

"Roboh!!"

Inilah tiga pukulan geledek! Pukulan yang mengandung maut dahsyat!

Tapi jari2 besi penjara raja gunung sangat kokoh, hanya melengkung, tidak bisa terganggu sama sekali. Pukulan Ie Lip Tiong tidak bisa mengenai Su-khong Eng. ooo0ooo

BAB-34

TUJUH HARI kemadian, sesudah Su-khong Eng meminta diri kepada Ie Lip Tiong, ditengah jalan raja, berjalan seorang Ie Lip Tiong, tentu saja Ie Lip Tiong palsu. Itulah Su-khong Eng.

Ia pergi dengan maksud tujuan gunung Bu-tong, tidak lagi kegunung Oey-san tempat yang menjadi markas besar Su-hay-tong sim-beng. Seperti apa yang Ai Pek cun katakan kepadanya, pergi ke Su-hay-tong-sim-beng mungkin menemukan bahaya. Besar kemungkinan duta-duta istimewa berbaju kuning atau orang seperti Su hay tong-sim-beng memberikan kode rahasia, bilamana mereka bertemu muka, maka mereka harus menggunakan kode2, bagi siapa yang tidak menggunakan kode itu berarti manusia palsu. Dengan mudah saja mereka bisa menyergapnya.

Su-khong Eng, Ai Pek cun dan Lo-san cu mempunyai kesan yang sama. Karena itu mereka menugaskan Su khong Eng kegunung Bu tong. Mengganti taktik perang.

Membunuh ketua partay Bu tong pay adalah lebih mudah dari pada membunuh ketua Su hay tong sim beng. Apa lagi dilakukan secara menggelap.

Dengan siasat 'Melempar batu menyembunyikan tangan' Su khong Eng hendak menjerumuskan Ie Lip Tiong kedalam kesulitan .

Sudah tujuh hari Su khong Eng melakukan perjalanan seorang diri, ia agak kecewa, karena tidak pernah menjumpai sasaran.

Hari ini, Ia aedang memacu kudanya di bawah pegunungan Tay ang san. Dan depan Su khong Eng. juga berlari datang dua ekor kuda, kedua penunggangnya adalah tokoh silat ternama, mereka berpapasan.

Dua penunggang yang datang adalah dua laki2 berbadan besar, wajahnya sangat mirip inilah saudara kembar. Satu berpakaian biru, satu b«rpakaian hijau, dipunggung masing2 tergembol sebuah senjata Phoan-Toan pit.

Kedua jago silat itu seperti kenal kepada Ie Lip Tiong, mengetahui orang yang datang berbentuk wajah dan berdandan serta mempunyai potongan badan Ie Lip Hong, tentu saja mereka menganggukkan kepala, inilah tanda penghormatan, menyilahkan Ie Lip Tiong palsu lewat.

Hampir mereka beselisih. Tapi Ie Lip Tiong palsu tidak mau melepaskun kesempatan itu. cepat2 ia menggebrak balik kudanya dan berteriak :

"Tunggu dulu!!"

Dua penunggang kuda itu menarik les tunggangannya, memberi hormat kepada Ie lip Tiong dan bertanya :

"Saudata Ie Lip Tong ada perintah?"

Tentu saja Su khong Eng tidak kenal kepada dua orang itu, ia membalas hormat dan berkata :

"Bagaimana sabutan jiwie berdua yang mulia?"

Sijago silat yang berbaju biru berkata : "Kami ca cu Eng dari Tiang-pek-san. Dan inilah saudara kami namanya ca cu Beng."

Su-khong Eng bertanya lagi :

"jiwie berdua pernah kenal kepadaku ?" jago berbaju biru ca cu Eng berkata :

"Diwaktu saudara Ie Lip Tiong menerima penasaran. dikala mereka hendak menghukum dirimu kami berdua ada turut serta. Itulah kejadian digunung Lu-san." Su khong Eng lompat turun dari kudanya, menghadapi ca cu Eng dan ca cu Beng, ia menurunkan pedang, menghadapi dua saudara kembar itu, lalu berkata :

"Kupersilahkan saudara ca cu Eng dan saudara ca cu Beng turun dari kuda tunggangan."

Wajah ca cu Beng berubah, ia bertanya :

"Apa maksud saudara Ie Lip Tiong?"

Su khong Eng menggoyang2kan pedangnya dan berkata :

"Aku baru saja membeli pedang. hendak kujajal ketajamannya. Entah bagaimana, bila berhadapan dengan lain senjata, khusus ditujukan untuk melawan phoan-koan pit"

Ca cu Eng menekan segala rasa kesalnya dan berkata :

"Saudara Ie Lip Tiong jangan menggoda orang. Untak menjajal pedang, dipinggir pun banyak pohon, bukan ?"

Phoan koan pit adalah senjata2 dua saudaranya.

Ie Lip Tiong palsu mengerlipkan matanya dan berkata:

"Pohon hanya berupa benda mati. Manusia mempunyai gerakan hidup. aku tidak ingin yang mati. Aku hendak menjajal kepada yang hidup "

Ca cu Eng menekuk wajahnya, tapi sedapat mungkin ia tidak bentrok pada tokoh silat luar biasa dari kota Tiang an ini, ia berkata:

"Tindak tanduk saudara Ie Lip Tiong hari ini sangat mengherankan sekali. Diantara kita, tidak pernah menaruh dendam. Apa lagi diantara kedua partai Oey san pay dan Tiang pek tay tidak ada permusuhan, dikalangan saudara Ie Lip Tiong menerima fitnah, golongan kami pernah membantu untuk mencucikan diri, mengapa. "

Ie Lip Tiong menunjukkan senyumnya, ia menantang: "Katakanlah saja, bahwa kalian tidak berani menerima tantanganku. cukup!"

ca cu Beng lebih cepat naik darah, ia lompat turun dari kuda tunggangan, mengeluarkan senjatanya.

Ca cu Eng juga mengikuti sang saudara, mereka adalah saudara kembar, pikirannya sejalan. tidak jauh berbeda, berbareng mereka berkata :

"Baik. Biar aku yang menghadapinya." Ca cu Beng berkata cepat. :

"Aku dulu yang menghadapinya."

"Kalian berdua maju berbarenglah " Su-khong Eng menantang. Ca Cu Beng berteriak geram :

"Kami dari golongan Tiang-pek pay belum pemah mengeroyok orang. Seorangpun cukup."

"Baik." berkata Su khong Eng. "Kau boleb maju lebih dahulu,"

Tentu saja Ca cu Beng tidak tahu bahwa Ie Lip Tiong yang berada didepannya bukanlah Ie Lip Tiong asli, ia menyangka bahwa Ie Lip Liong ini baru mendapat nama, sangat congkak sekali, hendak mengalahkan semua orang yang ada. Untuk mengangkat pamor sendiri, untuk mendapat identitas yang lebih cepat. Maka ia menerima ajarannya, menerima tantangan perang itu. senjatanya dikedepankan, membuat satu penyerangan penghormatan.

Secepat itu pula Su-khong Eng bergerak. Gesit sekali, ia sudah berada dibelakang ca cu Beng, pedangnya ditusukkan kedepan.

Dari desiran angin yang menyerang. ca cu Beng mengerti bahwa musuh itu telah berada dibelakangnya, ia siap untuk membalikkan badan, dan menempur lebih lanjut, tapi ia terlambat, pedang Su khong Eng yang begitu cepat telah menembus dari belakang dan dibarengi dengan jeritannya

"Aaaaaa. " tubuh ca cu Beng rubuh mandi darah.

Su khong Eng betul2 seorang manusia kejam, mengenai serangan tadi, kaki dienjot menendang tubuh Ca Cu Beng, menarik keluar pedangnya, dan menyusut darah yang berlepotan diatas senjata itu.

Ca cu Eng tdak menduga bahwa hanya dengan satu gebrakan saja, saudaranya terbunuh mati. Ia juga lebih tidak mengerti bahwa Ie Lip Tiong ini pernah menerima pembelaan dari golongannya. mengapa air susu dibalas dengan air tuba? Kemarahan atas kematian sang saudara meluap luap. ia mengayun senjata dan mengepruk kearah Su khong Eng, mulutnya berteriak :

"Manusia gila, biar aku mengadu jiwa."

Kali ini   Su   khong   Eng   mamapaki   datangnya   serangan.

Trang. dua senjata beradu.

senjata ca cu Eng terpental pergi.

Kematian sang saudara telah menggelapkan mata ca cu Eng. ia memukul dengan sekuat tenaga, toh masih kala seketok, tangannya ke-semutan, senjata Phoan-koan pit terpental terbang, ia bukan tandingan Su-khong Eng, walau demikian, karena tekadnya untuk mati bersama sudah dibulatkan, tanpa mundur lagi, tanpa bersedia menarik atau mencari senjata yang sudah terlempar itu, ca cu Eng bergeram keras, dengan sepasang tangan yang di cengkeramkan, ia menubruk kearah Su khong Eng.

Maksud Tia cu Eng yang seperti itu adalah mengadu jiwa, ia berharap bisa menerkam lawannya, maka mereka mati bersama.

Dengan ilmu kepandaian yang dimiliki oleh Su-khong Eng , mudah saja membunuh ca cu Eng, tapi bukan menjadi tujuannya untuk membunuh semua orang yang penting, ia hendak mengacaukan suasana, mengacaukan rimba persilatan, memfitnah ulang kepada Ie Lip Tiong, agar semua orang menaruh dendam kepada Ie Lip Tiong. Membunuh ca cu Beng seorangpun sudah cukup, mendapat serangan ca cu Beng tadi, ia melejit kesampmg. dengan ilmu meringankan tubuhnya yang luar biasa, ia sudah berada di belakang ca cu Eng. dengan membalikkan gagang pedang, ia memukul punggung lawan itu.

"Bukk....." dengan tepat, gagang pedang mengenai geger ca cu Eng, tubuh itu terpental kedepan sehingga belasan tombak.

Su khong Eng tertawa berkakakan, dirinya dilejitkan. dan kini ia sudah berada diatas kuda tunggangan. Les kuda ditarik dan tarr, ia melarikan diri

Meninggalkan ca cu Eng yang sudah menderita luka. Membiarkannya membuat propaganda, bahwa seseorang Ie Lip Tiong telah membunuh saudaranya.

Su khong Eng melanjutkan perjalanan. Kini pada malam harinya, ia tiba dikota Siang-yang.

Rumah penginapan yang terkenal dan terbesar dikota Siang yang. Adalah rumah penginapan Ka Pin. Su khong Eng langsung menuju kearah rumah penginapaa itu. Tiba dirumah penginapan, ia loncat turun dari kudanya, menyerahkan tunggangan itu kepada pelayan istal, dengan langkah lebar ia memasuki ruangan.

Seorang pelayan menyongsong datang, ia berkata dengan tertawa :

"Kongcu ini hendak bermalam ?"

"Betul." terkata Su khong Eng. "Beri aku kamar yang besar, kamar yang paling bersih."

"Baik. Silahkaa Kongcu ikut kepada kami."

"Tunggu dulu." berkata Su khong Eng. "Mengapa tidak mendaftar?"

"Tidak menjadi soal." berkata si pelayan. "Pendaftaran boleh dilakukan belakangan, Kongcu boleb melihat kamar lebih dahulu."

"Tidak. Aku hendak melakukan pendaftaran dahulu " "Ba.......baik." pelayan itu batal kebelakang. Ia mengajaknya kebagian pendaftaran. dan berkata kepada orang yang berada disana:

"Kongcu ini hendak mendaftar."

Orang yang memegang buku pendaftaran menyodorkan catatannya, ia menyerahkan alat tulis dan bertanya:

"Bagaimana sebutan Kongcu yang mulia?" "Ie Lip Liong." jawab Su khong Eng singkat.

Tentu saja, tanya jawab itu diikuti dengan seksama, dan orang yang mendapat tugas melakukan pendaftaran menulis nama: Ie Lip Tiong.

"Seperti ini?" Ia masih ragu ragu. menyodorkan nama yang bertuliskan Ie Lip Tiong itu, dlperlihatkan kepada Su khong Eng.

Su khong Eng melihat dengan tegas, betul disana tertulis ,Ie Lip Tiong. Ia menganggukkan kepala, dan mengikuti sipelayan tukang antar. Untuk mencari kamar penginapan. Disaat Su khong Eng melihat buku catatan itu, hatinya terkejut. Tepat di atas namanya terdapat tulisan yang berbunyi Ai Ceng, Ai ceng menggunakan kamar nomor tiga belas.

Dengan diantar dengan pelayan rumah penginapan, Su khong Eng meminta kamar nomor empat belas.

Pelayan itu mendorong pintu kamar, menyilahkan Su-khong Eng masuk, hendak melihat reaksi sang tamu. puas atau tidaknya dari pelayanan mereka itu.

Su-khong Eng menganggukkan kepala, ia sangat puas, sehingga begitu kebetulan, ia mendapat kamar yang disebelah Ai ceng.

Pelayan rumah penginapan tersenyum ramah, ia siap2 meninggalkan kamar penginapan.

"Tunggu dulu." berkata Su-khong Eng. "Kongcu ada perintah lain?" "tolong sediakan satu meja makanan. Bawa kekamar ini."

"Satu meja?" pelayan itu membelalakan mata. Belum pernah ada seorang tamu yang meminta makanan sampai satu meja. Apa lagi dibawa masuk kedalam kamar.

"betul." berkata Su khong Eng. "Lakukanlah perintahku."

"Kongcu ada menunggu tamu ?" bertanya sipelayan rumah penginapan

"Untuk makan dua orang." berkata Su-thong Eng. "Bila kawan kongcu itu datang ?"

"Ia sudah datang" berkata Su khong Eng "Dia menetap dikamar sebelah."

"Oh.   Gadis berkepang dua itu?"

Su-khong Eng menganggukkan kepala. "Lekaslah kau menjalankan perintah." ia mengusir

Pelayan rumah penginapan itu tidak berani bertanya lagi. Ia mengundurkaa diri.

Sesudah pelayan itu berangkat pergi. Su-khong Eng, merapihkan pakaiannya, meninggalkan kamarnya, menuju kekemar sebelah. ialah kamar Ai ceng. Ia mengetuk pintu.

"Siapa ?" terdengar suara Ai ceng didalam kamar.

"Aku." berkata Su khong Eng membawakan lagu suara Ie Lip Tiong.

Pintu terbuka, disana duduk seorang gadis berkepang dua, siapa lagi bila bukan putri Ai Pek Cun, sigadis cantik Ai ceng. Ai Pek cun, dan Ie Lip Tiong palsu berpandnngaan. Ai Ceng tidak kenal kepada wajah ini. Dimasa ia bertemu dan jatuh cinta kepada Ie Lip Tiong, sipemuda mengubah dirinya menjadi It kiam-tin bu lim Wie Tauw, itulah laki2 setengah umur, sedangkan apa yang dihadapi adalah seorang pemuda yang cakap dan tampan. Inilah wajah Ie Lip Tiong yang aseli. Ai ceng yang tidak tahu bahwa orang yang ada didepannya ini adalah sang suheng. Orang yang sangat d benci, orang yang tidak disetujui olehnya. orang yang dicalonkan sebagai suaminya oleh sang ayah sendiri.

Su khong Eng mengingat ingat betul rol yang sedang diprgang olehnya, dia adalah Ie Lip Tiong. jika ia membawakan peran Ie Lip Tiong, ia memberi hormat kepada Ai ceng.

"Siapa kau?" bertanya Ai ceng mengerutkan alis. "Sudah lupa kepadaku?" bertanya Su khong Eng.

"Aku tidak kenal kepadamu. Lekas pergi." bentak Ai ceng. "Aku Ie Lip Tiong." Su khong Eng memperkenalkan diri. "Aaau " Ai ceng membelalakkan mata. "Ie Lip Tiong ?"

Ditatapnya wajah tampan yang menarik hati itu, semakin lama semakin terpikat. Ai ceng sadar, bahwa It kiam tin bu lim Wie Tauw adalah nama palsu, nama aselinya adalah Ie Lip Tiong. Wajah laki- laki setengah umur itupun wajah palsu. Ie Lip Tiong masih berumur sangat muda, ternyata ia berhasil menemukan wajah aslinya.

"Bagaimana kau tahu bahwa aku berada didalam kamar ini?" bertanya Ai ceng.

"Aku tinggal dikamar sebelah." memberi keterangan Su khong Eng. "Sudah kusediakan perjamuan untukmu, mari kita makan bersama."

"Kau keluar dahulu." berkata Ai ceng. "Aku hendak ganti pakaian."

Su khong Eng tertawa, ia berhasil lagi. Meninggalkan Ai ceng.

Dan balik kekamarnya.

Didalam kamar Su khong Eng, pelayan rumah penginapan sudah menyediakan meja, ia sedang merapihkan alat perabot makan.

Su khong Eng bertanya kepada sipelayan : "Masih lamakah?" "Segera tiba" berkata pelayan itu. "Kong-cu tidak mandi dahulu?

Tidak membersihkan diri?"

"Tidak." jawab Su khong Eng. "Sesudah makan masih keburu." Betul saja, tidak lama kemudian, makanan pun tiba.

Mengawasi bagaimana pelayan itu merapikan makanan, Su khong Eng berkata :

"Nah kalian boleh pergi. Tanpa ada panggilanku, jangan masuk ya."

"Baik." Pelayan itu mengundurkan diri.

Menunggu lagi beberapa waktu, bayangan Ai ceng pun muncul. Su khong Eng menyambut kedatangan sigadis, menyilahkannya dan berkata:

"Silahkan masuk, mari kita makan bersama."

Ai ceng berjalan masuk. Memasuki kamar Su khong Eng.

Su khong Eng telah merencanakan sesuatu, ia segera mengunci pintu kamar.

Wajah Ai ceng berubah, ia membentak: "Apa yang kau mau?" "Aku tidak mau diganggu." berkata Su khong Eng. "Perpisahan

kita terlalu lama. Baik2 kita berpesta."

Dengan wajah asam cemberut Ai ceng mengambil tempat duduknya.

"Ku dengar kau telah menduduki kursi Duta Ketiga belas dari Su hay tong sim beng." berkata sigadis.

Su khong Eng menganggukkan kepalanya. "Mengapa?" berkata sigadis tidak puas.

Seperti apa yang sudah kita ketabui, Ai ceng adalah puteri Ai Pek cun, ia jatuh cinta kepada It-kiam-tin-bu-lim Wie Tauw, itulah asal mulanya Ie Lip Tong. Kedudukan Ai Pek cun sebagai salah satu anggota raja Gunung bertentangan dengan Ai Lip Tiong yang berdiri dipihak lima partai besar.

Adanya Ie Lip Tiong memasuki gerakan Su tay long sim beng, tentu saja lebih bertentangan dengan tujuan golongannya. Maka Ai ceng mengajukan pertanyaan yang seperti di atas.

Su khong Eng tersenyum senyum. Inilah senyuman Ie Lip Tiong. "Lebih baik merundingkan urusanmu, ku dengar ayahmu telah

menjodohkanmu dengan Suhengmu. juga dikatakan orang, kau sangat cinta kepadanya, mungkinkah ada kejadian yang seperti ini?"

Ai ceng menundukkan kepala, kedua matanya mengeluarkan air mata, dengan pedih dan sakit, ia memandang Ie Lip Tiong palsu, ia berkata lemah :

"Kukira kau sudah tidak cinta lagi kepadaku."

"Tidak. Biar bagaimana kedudukan kita tsdak sama, aku harus memikul hari depan kita"

"Katakan saja terus terang, bahwa kau sudah bosan." berkata Ai ceng menangis semakin sedih

"Kau tidak bosan kepada Su khong Eng?"

"Kuharap kau jangan menyebut nama Shu Khong Eng." berkata Ai Ceng

Su Khong Eng mengertek gigi, "mengapa?" tanyanya. "Mungkinkah dia sangat buruk sekali?"

"Bukan wajahnya yang buruk, tapi hatinya terlalu buruk "

Su khong Eng menyodorkan arak, inilah termasuk salah satu rencananya.

Ai ceng yang sangat bersedih, menenggak arak itu. "Kau kemana selama ini?" bertanya si gadis. "Gunung Bu tong."

"Mengapa ?" Ai ceng terkejut. "Lima partai besar adalah musuhku. Diantaranya juga Bu tong pay, satu persatu aku harus menuntut balas dendam."

Dengan kepintarannya, Su khong Eng berhasil menyodorkan arak lagi, Ai ceng juga tidak sadar bahwa ia telah masuk kedalam perangkap orang, ia mengeringkan arak itu. Minum arak terus menerus, akhirnya Ai Ceng tidak berdaya, kepalanya menjadi pusing. Su khong Eng tertawa nyengir, menggoyangkan tubuh gadis.

ha, sudah tidak ada reaksi. Diangkatnya, dan dibaringkan ditempat tidur.........

Bagaimana nasib Ai Ceng yang terjatuh ketangan Ie Lip Tiong palsu?

Untuk sementara kita tangguhkan. Kita mundur kembali sebentar, mengalami pengalaman pengalaman Ie Lip Tong yang asli.

Ie Lip Tiong masih terkurung didalam penjara partai Raja Gunung. Pintu penjara itu begitu aneh. tidak ada kunci, hanya terdiri dari jari besi,

Kunci untuk membuka pintu- penjara berada pada jari besi penjara itu. Ie Lip Hong masih memutar2nya, ia hendak menemukan rahasia pemutaran jari2 besi yang bersangkutan.

Sepuluh hari telah dilewatkan......

Ie Lip Tiong belum berhasil menemukan cara bagaimana membuka pintu penjara.

Pada hari berikutnya, didepan pintu penjara muncul dua orang, itulah Tho It Beng dan Ai Pek cun.

Tho It Beng dan Ai Pek cun langsung menghampiri kearah kamar tahanan Ie Lip Tiong.

Hati sipemuda berdebar2 keras. Kini nasibnya sudah ditentukan.

Dengan berusaha menangkan hatinya, ia berkata: "Waktu satu bulan belum cukup. Mungkinkah Lo san cu kalian sudah mempunyai pendirian lain?"

Menurut apa yang dijanjikan oleh sang Lo sian cu, Ie Lip Tong akan dikurung di tempat itu selama satu bulan. Kini waktu itu belum cukup. Tapi Ai Pek cun dan Tho It Beng sudah datang berbareng, tentu mempunyai maksud tujuan lain.

Su khong Eng telah berangkat dari Markas Besar partai Raja Gunung dengan disertai perubahan wajah dan badan yang sempurna. Ia telah menjelma sebagai Ie Lip Tiong. Satu berada dalam tawanan, partai Raja gunung. Lainnya sedang mengganas didalam rimba persilatan.

Bisa dibayangkan oleb Ie Lip Tiong, perbuatan perbuatan apa yang sudah dilakukan oleh Su-khong Eng. Tentunya getah kejahatan telah berjatuhan, fitnah2 jahat berterbangan. Betapa berat dosa yang dibuat oleh Su khong Eng, dosa yang dijatuhkan kepada dirinya?

Ie Lip Tiong mengelah napas.

Ai Pek cun menghampiri pintu penjara, memegang jari besi itu dan berkata kepada Ie Lip Tiong :

"Selama delapan hari iai, kau berusaha terus menerus untuk membuka pintu penjara. tapi tidak berhasil, bukan? Sangat menyedihkan sekali"

Wajah Ie Lip Tiong berubah. Ternyata usahanya telah diketahui orang. Percuma saja ia bersusah payah, toch akhirnya tidak berhasil, Dimisalkan berhasil, juga tidak mungkin bisa melarikan diri. Orang sudah mengetahuinya lebih daliulu.

"Luar biasa." ia berkata "jaringanmu terlalu luas. Segala usahaku tidak lolos dari mata kalian."

"Lihat." berkata Ai Pek Tun. "Bagaimana cara2 hams membuka jari2 besi ini."

Ai Pek cun memegang jari2 besi yang ke tiga, tangan kirinya memegang besi yang ketujuh, secara serentak, ia memutarkannya ke arah dalam, beruntun sehingga sepuluh putaran. Terdengar, krek, maka pintu itupun terbuka. Ialah pintu rahasia!

"Aaaaa......" Ie Lip Tiong mengeluarkan teriakan tertahan. "Ternyata hanya memutar dua batang saja, aku tidak tahu, betul2 goblok sekali."

Ai Pek cun mundur tiga langkah dan mengeluarkan bentakan : "Keluar !"

Ie Lip Tiong keluar dari kamar penjara, ia siap bergebrak dengan Ai Pek Cun, tapi, niatan ini segera dibatalkan, untuk menghadapi jago tua itu, belum tentu ia bisa kalah

Tapi di samping Ai Pek cun masih ada Raja Silat lainnya, inilah Tho It Beng, dengan ilmu kepandaian Tbo It Beng, tidak mungkin Ie Lip Tong bisa meloloskan diri. Semangatnya gugur mendadak, mau tidak mau, ia harus menyerah. Percuma saja berusaha. Melarikan diri berarti mencari penjakit. Ia tidak mau melakukan usaha yang sia2. Karena itu ,ia menerima segala perintah.

"Mau menutup mata lagi?" Ie Lip Tiong bertanya.

Dugaan Ie Lip Tiong tidak salah, Ai Pek cun sudah mengeluarkan selembar kain hitam menutup sepasang matanya. Dengnn penutupan mata yang seperti ini. Maka Ie Lip Tiong tidak tahu, dengan cara bagaimana ia dibawa keluar. tempat mana yang dilewati olehnya. Maka semua kemisteriusan Raja gunung terjamin baik.

Sesudah menutup kedua mata Ie Lip Tiong, Ai Pek Tun membentak :

"jalan!"

Digiring oleh Ai Pek cun dan Tho It Beng, Ie Lip Tiong meninggalkan tempat penjara.

Beberapa waktu kemudian, terdengar Ai Pek cun berkata dengan sangat hormat : "Suhu, Ie Lip Tiong sudah dibawa datang." Terdengar suara Lo-san-cu berkata : "Buka tutup kerudung matanya."

ooo0ooo

BAB 35

DIKALA Ai Pek cun membuka tutup kerudung muka Ie Lip Tiong, sipemuda bisa menyaksikan bahwa dirinya telah berada diruang Pek-houw-tong.

Didepan Ie Lip Tiong, kecuali Ai Pek cun dan Thio It Beng, masih ada Lo-san-cu, dibelakang Lo-san cu berdiri raja silat lainnya.

Lo-san-cu menghadapi Ie Lip Tiong dan berkata kepada sipemuda:

"Kau pernah menciptakan seorang tokob It kiam tin bu lim Wie Tauw, dengan hasil yang gemilang! Didalam rimba persilatan, siapa yang tidak kenal kepadamu? Aku juga telah menyaksikan, betapa hebat ilmu kepandaianmu, betapa cerdik jalan pikiranmu, kau adalah tandingan yang setimpal. Maka putusanku ialah membebaskan dirimu. Sesudah itu, kita boleh bertanding secara adil, siapa yang lebih unggul."

Ie Lip Tiong tertawa, katanya:

"Aku tabu, Su khong Eng telah merusak habis2an namaku. Entah berapa macam pembunuhan yang dilakukan oleh cucu muridmu itu."

"Maka kuberi kesempatan kepadamu untuk mencuci diri. Hendak kulihat, bagaimana kau bisa mengelakan tuduhan dan serangan2 mereka "

"Aku akan berusaha." "Bilamana kau tidak bisa mencuci dan dan membebaskan dari tuduhan itu, lenyaplah ke sempatanmu untuk bertempur kembaii Partai Raja Gunung selalu siap, menghadapi tantanganmu."

"Baik. Kini kau hendak memberi kebebasan?" bertanya Ie Lip Tiong.

"Belum." berkata Lo-san-cu. Suaranya masih sangat lemah, seolah2 tidak berkepandaian. "tunggu lagi sampai sepuluh hari. Itu waktu kau pasti bebas"

"Aha," tertawa Ie Lip Tiong. "Aku hendak dibuang disatu tempat yang sangat jauh, dengan cara seperti ini aku tahu tidak bisa mengetahui letak sarang markas besar kalian, bukan ?"

"Kau memang cerdik. Kau sangat pandai. Tapi dugaanmu tidak tepat keseluruhannya."

"Dibagian mans yang kurang tepat?"

"Sesudah tiba waktunya, kau bisa mengerti sendiri." berkata Lo san cu.

Seperti permulaan juga, Lo-san-cu ini masih menggunakan tutup kerudung muka. Tidak terlihat jelas wajah aselinya, biar bagaimana Ie Lip Tiong tidak habis pikir, bagaimana seorang Lo-san cu bisa menguasai demikian banyaknya raja raja silat sesat? Bila tidak memiliki kecerdikan otak yang luar biasa?

Kecerdikan serta kecerdasan otak Lo san cu tidak bisa disangkal memang berada di atas semua orang. Pikirannyapun sangat tepat. Sayang terlalu jahat. Hanya ilmu kepandaian sajalah yang masih disangsikan dengan suara yang kurang bersemangat itu, mungkinkah ia berkepandaian tinggi? Ie Lip Tiong ragu.

Lo san cu tertawa geram, kemudian berkata ;

"Ie Lip Tong, kau adalah orang satu satunya yang tertangkap oleh partai raja gunung, serta mendapat kebebasan kembali, baik baik kau menjaga diri. jangan sampai terjatuh kedalam tanganku lagi!" "Sebelumnya kuucapkan banyak terima kasih. aku akan baik2 menjaga diri." berkata Ie Lip Tiong.

Lo san cu memandang kepada Ai Pek cun dan Ai Lam cun. kemudian berkata kepada kedua murid itu :

"Ajak dirinya pergi. Disamping itu kalian, aku bisa mengutus orang untuk meujaga sesuatu.

Ai Lam cun dan Ai Pek cun menerima perintah tersebut. Segera mereka menotok jalan darah Ie LiP Tiong. Membekukan gerakan gerakan si pemuda. Mengambil tali pengikat kain hitam lagi, mengikat sepasang mata si pemuda itu, masih kurang puas, mereka mengeluarkan karung goni yang sudah tersedia, memasukkan Ie Lip Tiong kedalam karung goni itu, seperti menggendong beras saja, mereka membawanya keluar. Meninggalkan ruangan Pek-houw- tong, meninggalkan markas besar partai Raja Gunung.

Ie Lip Tiong merasa dirinya tergendong, kemudian karung itu dirasakannya bergerak.

Berlalu beberapa waktu, seolah2 loncat turun kesebuah perahu. Dan per-lahan2 perahu itu bergerak. Terasa sekali alunan air yang bergoyang2.

Tidak berapa lama, perahu itu telah mulai menepi. Ie Lip Tiong tergendong kembali, ia seperti dibawa memasuki kedalam sebuah kereta. samar masih terdengar suara Ai Pek cun berkata :

"Tho It Beng cianpwo juga turut serta naik kereta?" Terdengar suara jawaban Tho It Beng :

"Tidak. Aku tidak suka naik kereta. Kalian berangkatlah terlebih dahulu. cukup aku berjalan kaki."

Terdengar suara Ai Lam cun :

"Kami harapkan bantuan locianpwe"

"Legakan hatimu." Inilah suara co It Beng. "Kalian sudah mengubah wajah. Tidak ada orang yang akan kenal lagi. Aku juga tidak akan jauh dari kereta kalian. Bila terjadi sesuatu aku bisa segera tiba."

Tentu saja, dengan kecepatan kaki The It Peng, tentu saja tidak takut ketinggalan, ilmu meringankan tubuhnya bisa menyaingi kecepatan kuda.

Maka membarengi suara hardikan Ai Pek cun kuda itu ditarik, kereta itupun berangkat.

Ie Lip Tiong mendapat totokan, ia tidak bisa bebas leluasa. Tapi mulutnya masih punya hak bicara, ia merasa bahwa Ai Pek cun sedang menjadi kusir kereta, Ai Lam Cun yang menemani dirinya didalam kereta, ia berkata kepada mereka :

"La tong-kee, bolehkah mengadakan sedikit pembicaraan?"

Acuh tak acuh Ai Lam cun menjawab pertanyaan dari dalam karung itu, katanya:

"Kukira tidak ada sesuatu yang penting, mengapa harus mencapaikan mulut?"

Ie Lip Tiong berkata:

"Perjalanan masih terlalu jauh, bukan?"

"Ng     " Ai Lam cun mengeluarkan suara dari hidung.

"Untuk mengisi kekosongan, ingin sekali aku mengoyang goyangkan mulut." berkata Ie Lip Tiong.

"Apa yang hendak kau katakan ?" Ie Lip Tiong bertanya :

"Itu waktu, dikala mengadakan pertukaran tawanan, dengan tawanan kami, Duta nomor tujuh dan Duta nomor Delapan yang ditukar dengan Su-khong Eng dan Ai See cun, apakah yang telah terjadi? Bisa kau cerita sedikit?"

"Tidak bisa." berkata Ai Lam cun dingin.

"Kukira kalian menderita kerugian," berkata Ie Lip Tiong. "Hoh, jangan menganggap tinggi diri sendiri. Kedua tawanan telah bertukar balik. Tidak ada sesuatu yang terjadi."

"Kekuatan seimbang ?"

"Bila tidak ada kau yang menjadi tulang duri, Su-hay tong-sim- beng sudah berhasil di hancurkan. Hong-lay-sian-ong pasti binasa."

"jangan marah." berkata Ie Lip Tiong. "Takdir tidak bisa diubah, belum waktunya bengcu kami menghentikan napasnya."

Semakin lama, Ai Lam cun semakin marah, ia membentak"

"Hei, disaat pertempuran kita didalam rimba itu, siapa orang yang membantu kau melarikan diri?"

"Orang tua berbaju abu-abu." berkata Ie Lip Tiong.

"Hehe! ! Orang tua berbaju abu2?" berkata Ai Lam cun. "Tapi aku tidak tahu, siapa orang itu ?"

"Bagaimana pertempuran kalian ?" bertanya Ie Lip Tiong.

"Dia tidak berani bertempur secara berterang. Sudah bergebrak beberapa kali, ia pun pergi lagi. Melarikan diri."

"Siapa yang melarikan diri?" bertanya Ie Lip Tiong. "Orang yang menjadi backingmu itu." berkata Ai Lam cun. "Apa bukan kebalikannya ?" tertawa IeLip Tiong.

"tidak percaya? Panggil sekali lagi. Biar ia memukul diriKu."

"Baik. Bilamana aku bertemu, aku akan menyampaikan pesan kata2mu. Lain kali kau harus berhati2."

"Kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa orang yang menjadi backingmu itu." berkata Ai Lam cun.

"Beliau adalah guruku."

"Guru?" Ai Lam cun tidak percaya. "Si hakim hitam can ceng Lun?

Duta nomor empat dan Su bay-tong-sim beng ?"

"Suhu sudah meletakan jabatan Duta nomor empat." berkata Ie LiP Tiong.

"Aku tahu." berkata Ai Lam cun tenang. "Ia meletakan jabatan, karena hendak menolong dirimu."

"Ada alasan lain yang memaksanya meletakan jabatan." berkata Ie Lip Tiong.

"Alasan apa lagi?"

"Didalam anggapanku ini, menjabat duta istimewa berbaju kuning dari Su-hay tong sim-beng terlalu terkekang. Ia tidak bebas. maka sulit menemukan jejak kalian. Bilamana ia memakai pakaian preman. Maka ia lebih mudah untuk mengikuti jejak kalian. Maka ia melepaskan jabatan itu."

Ai Lam cun tertawa dingin, seolah2 hendak mengucapkan sesuatu lagi. Tapi tiba2 terdengar suara Ai Pek cun berkata :

"jieko, diseberang seperti ada orang."

Ai Lam cun mengerti, cepat2 ia membekuk mulut Ie Lip Iiong, dengan makaud agar pemuda itu tidak bicara, juga tidak bisa berteriak.

Kereta masih berjalan terus..............

Beberapa waktu lagi, terdengar suara Ai Lam cun yang tidak terlalu keras :

"Samte, bagaimana keadaan ? Sudah bebas?" Terdengar suara Ai Pek cun tertawa. : "Ia sudah pergi." "Betul2 ada orang ?" bertanya Ai Lam cun.

"Ilmu kepandaiannya sudah bertambah gesit, sudah jauh." "Siapa orang itu ?"

"Dari aliran kita sendiri." berkata Ai Pek cun. "Aliran kita sendiri ?"

"Ng kau kira siapa dia?" "Aku didalam kereta, mana bisa tahu ?" berkata Ai Lam cun. "Dia adalah Ai ceng!"

"Aaa " Ai Lam cun berteriak.

"Mengapa kau tidak memanggilnya!"

"Tidak mungkln." berkata Ai Pek cun. "Ai ceng telah cinta kepada sibocah ini. Bilamana ia tahu, mungkin ia bisa mengganggu usaha kita."

Ai Lam cun berkata :

"Samte, baik juga kau membujuk dirinya. Dimisalkan ia tidak cinta kepada Su khong Eng, juga tidak boleh cinta kepada Ie Lip Tiong. Ketahuilah, bahwa bocah ini termasuk salah satu dari musuh kita. Mana mungkin memungut mantu kepada seorang musuh?"

"Aiih.   " Ai Pek cun menghela napas,

"Aku terlalu repot, tidak ada waktu untuk mendidik putriku itu." "Kemana arah tujuan Ai ceng?" bertanya Ai Lam cun.

"Mungkinkah hendak kembali kearah markas besar?"

"Kukira begitu." berkata Ai Pek cun. "wajahnya sangat murung. Kedua matanya bendul merah. Seolah2 habis menangis. Entah kejadian apa yang telah menimpa dirinya? Mungkin menderita kecewa dari sesuatu hal. "

Ai Lam cun juga turut menghela napas, tidak bicara lagi.

Didalam karung, Ie Lip Tiong juga terkejut. Mengapa Ai ceng berada ditempat ini? Mengapa matanya bendul merah? Kekecewaan apa yang diderita oleh sigadis ? Dengan ilmu silatnya yang Ai ceng miliki, didalam rimba persilatan sudah jarang ada tandingannya, mungkinkah bisa dikalahkan orang ?

Benak pikiran Ie Lip Tiong segera menghubungi kejadian lama. Su khong Eng telah keluar dari markas besar partai raja gunung. Tentu saja sejalan. Mungkinkah Ai ceng bertemu dengan Su khong Eng? Dimisalkan hai itu sampai terjadi............ "Oh........ tidak........ tidak.     "

hati Ie Lip Tiong berteriak. "Tidak mungkin. Dunia bukan sedaun kelor, mana mungkin sampai bentrok ditengah jalan. Mungkinkah Ai ceng bertemu dengan Su khong Eng? Tidak mungkin. jangan sampai terjadi hal itu. Ai ceng menangis, tentu berantam dengan orang, tentunya kalah. Dengan adat aseran si gadis, tentu saja ia menangis "

Disaat ini, Ai Lam cun telah melepaskan tangannya yang membekuk mulut Ie Lip Tiong. Ia mengajukan pertanyaan :

"Ie Lip Tiong, kau turut dengar pembicaraan kami?" "Dengar." berkata Ie Lip Tiong.

"Heh, heh......." Ai Lam cun mengeluarkan suara tidak sedap. "Apa kesanmu ?"

"No comment."

Ai Lam cun berkata :

"Kuberi peringatan kepadamu, lain kali, bilamana kau berani menculik kemanakanku itu, hidup2 kau akan mengalami pembesetan kulit. Aku tidak bisa memberi ampun."

Ie Lip Tiong berkata :

"Bilamana kemenakanmu yang menggoda aku?"

Ai Lam cun menjadi marah, dia membentak keras : "Tidak mungkin sampai terjadi hai seperti iiu." "Bagaimana dimisalkan mungkin terjadi?"

Dengan suara gerasa Ai Lam cun berkata . "Maka kau tidak boleh melayaninya."

Ie Lip Tiong tertawa, dengan suaranya yang dibuat buat ia berkata :

"Lucu! Bagaimana kau bisa memaksa orang seperti itu ? Sedang kemenakan sendiri tidak dikekang kuat ?"

"Berani kau membangkang?" Ai Lam cun mulai naik darah. Ia membentak.

Mengetahui situasi keadaan yang tidak menguntungkan, menyelami perasaan hati Ai Lam cun dan Ai Pek cun, Ie Lip Tiong tidak mau menderita kerugian, ia diam.

Satu malaman dilewatkan.

Perjalanan kereta yang seperti itu sangat tidak enak sekali, ayam mulai berkokok. Maka mengetahui bahwa pagi segera akan tiba. Tentu saja, Ie Lip Tiong, tahu, apa yang harus dilakukan olehnya. Tanpa melihat keadaan sinar matahari, walau dalam keadaan sepasang mata terikat, walau dikurung dalam sebuah karung. Ie Lip Tiong bisa me-ngira2, berapa lama lagi hari akan menjadi terang.

-oo0dw0oo-