-->

Pedang Karat Pena Beraksara Jilid 27

Jilid 27

SEBELUM hari menjadi gelap, Soat ji muncul dikamar Wi Tiong hong sambil menghidangkan hidangan malam, katanya kemudian:

"Tadi nona Cho telah berpesan, sebelum malam tiba nanti mungkin ada kejadian disini, harap siangkong selekasnya bersantap dulu !"

Tampaknya ia sibuk sekali, setelah meletakkan baki itu ke meja, ia segera mengundurkan diri.

Seorang diri Wi Tiong hong menyantap hidangan malamnya, kemudian baru mengambil pedang dari bawah pembaringan tampak pada gagang pedang tersebut terdapat pita berwarna merah.

"Bagus sekali" ia segera berpikir, "tak nyana kalau aku bakal menjadi jago pedang berpita merahnya !"

Mendadak tergerak hatinya, dia berpikir: "Sudah tentu Cho Kiu moay tak akan memasang pita merah pada gagang pedangku bila.tanpa sebab musabab tertentu, ini berarti perbuatannya pasti mempunyai maksud-maksud tertentu." Berpikir demikian, ia lantas meletakkan pedang itu keatas pembaringan, kemudian duduk sambil bersandar.

Cuaca makin lama semakin bertambah gelap, suasana remang- remang sudah menyelimuti seluruh jagad. Ditengah remang-remangnya cuaca inilah, tampak sesosok bayangan manusia dengan gerakan tubuh yang paling cepat meluncur ke arah rumah gubuk tersebut.

Gerakan tubuh orang itu cepat sekali, dalam waktu singkat ia sudah tiba didepan rumah gubuk itu, mendadak kakinya menjadi lemas kemudian roboh terjengkang ke atas tanah.

Waktu itu Soat-ji sedang mencuci mangkuk didalam dapur, ketika mendengar suara benturan keras itu, tergopoh-gopoh dia lari keluar begitu menyaksikan orang itu tergeletak ditanah, dengan terkejut segera serunya:

"Kenapa dengan orang ini ? Koko, kalian cepat datang kemari !"

Wi Tiong hong yang mendengar suara itu segera membuka pintu siap beranjak keluar.

Tapi sebelum dia melangkah keluar, terdengar Soat ji telah berseru dengan nada gelisah.

"Siangkong, kau jangan turut keluar, bila kau keluar maka urusan akan menjadi terbengkalai !"

Karena mendengar perkataan itu terpaksa Wi Tiong hong harus mengundurkan diri kedalam ruangan lagi.

Dari balik bilik nomor satu disebelah kanan rumah gubuk tampak ada dua orang lelaki sedang berjalan pulang sambil membawa cangkul, ketika mendengar teriakan dari adiknya, mereka segera mempercepat langkahnya memburu datang.

Soat ji segera memeriksa dengusan napas orang itu, kemudian sambil mendongakkan kepalanya dia berseru:

"Dia masih bisa bernapas, ia belum mati."

Ketika dua orang itu tiba di depan rumah, Soat ji berseru kembali:

"Koko kalian cepat menggotongnya masuk kerumah, aku akan mengambil semangkuk kuah." Selesai berkata dia lantas masuk ke dalam rumah dengan cepat, Ketika melewati depan pintu ruangan Wi Tiong hong, mendadak bisiknya dengan suara lirih:

"Siangkong, cepat kau tutup pintu kamarmu, bila aku tidak memanggilmu. harap kau jangan keluar."

Wi Tiong hong tahu kalau perempuan ini sangat cerdas dan cekatan, mendengar perkataan tersebut, dia segera menutup pintu kamarnya rapat-rapat.

Dua orang lelaki petani itu segera meletakkan cangkulnya yang kemudian menggotong orang itu masuk ke ruang tamu dan membaringkannya keatas lantai, setelah itu memasang lentera.

Agaknya ke dua orang itu agak gelagapan dan gugup, yang seorang memeriksa dadanya sedangkan yang lain menguruti otot kakinya, namun orang itu tetap tergeletak tak sadarkan diri.

Wi Tiong hong yang menyaksikan kejadian tersebut diam-diam menjadi keheranan, dia tak habis mengerti apa sebabnya Soat-ji melarangnya keluar dari ruangan tersebut ?

Tak selang berapa saat kemudian. Soat-ji telah muncul kembali dengan membawa semangkuk kuah yang masih panas.

Tampaknya dia dapat menyaksikan sikap gugup dan gelagapan dari kedua orang kakaknya, tanpa terasa dia tertawa cekikikan

"Kalau begini cara kalian sama sekali tak ada gunanya, coba lolohkan dulu kuah tersebut ke muIutnya, bila keadaan kurang beres, kita hadus mencari Ong tay hu di kota."

Seusai berkata, dia lantas berjongkok sambil teriaknya lagi: "Jiko, cepat kau pentangkan mulutnya !"

Jiko yang berada disisinya segera mendongkel mulut orang itu, dengan susah payah akhirnya dia berhasil juga membuka mulut orang ini."

Soat ji segera berjongkok keatas tanah dari menyuapi orang itu dengan kuah, setelah itu katanya lagi. "Kasihan benar orang ini, bahkan untuk menelan saja tidak mampu toako, coba ambillah sebuah sumpit dan tahanlah kepalanya.”

Toako yang berdiri disampingnya segera mengiakan, dengan cepat dia lari masuk kedalam dapur.

Pada saat itulah terasa angin lembut berhembus lewat dalam ruangan, tiba-tiba saja disisi nona Soat ji telah muncul seorang tosu kecil berbaju hitam.

Sembari menghadang, tiba-tiba orang itu berseru. "Lebih baik kalian menyingkir saja."

Soat ji tidak tahu kalau orang yang berada disisinya bukan toako, tanpa berpaling dia mengulurkan tangan kirinya sembari berseru.

"Cepat serahkan sumpit itu kepadaku."

Kemudian dia mendorong pergelangan tangan orang itu.

Tojin kecil berbaju hitam itu mendehem sinis, kemudian serunya secara tiba-tiba. "Aku suruh kalian cepat menyingkir !"

Soat ji baru terkejut setelah meidengar seruan itu, buru-buru dia menarik kembali telapak tangannya.

Tangannya yang ditarik itu bukan di tarik ke belakang, melainkan menggunakan kesempatan tersebut ke lima jari tangannya menyambar dan mencengkeram pergelangan tangan kanan tosu kecil berbaju hitam itu, kemudian sambil bangkit berdiri tegurnya.

"Siapakah kau ?"

Tojiu berbaju hitam itu tidak mengira kalau gadis itu bakal mencengkeram pergelangan tangannya, setelah tertegun sambil tertawa dingin tangan kirinya diayunkan ke depan menghantam tubuh Soat ji.

Namun Soat ji mencengkeram pergelangan tangan kanannya erat-erat, sambil miringkan badannya dia mengayunkan kuah dalam mangkuk ditangan kanannya dan diguyurkan ke wajah tojin tersebut.

oooOdwOooo

"AAAH, siapa kau ? berani memukul orang?" teriaknya keras keras, "toako, jiko, cepat tutup pintu rapat rapat, jangan biarkan dia kabur keluar !"

Wi Tiong hong merasa terkejut sekali, diam-diam pikirnya: "Mungkinkah orang ini adalah Sah Thian-yu?" Tapi Soat ji telah

berpesan kepadanya agar jangan keluar dari ruangan, meski dia merasa keheranan namun pemuda itu merasa lebih baik memang jangan keluar.

Sang toako dan jiko tersebut benar-benar lari menuju kepintu setelah mendengar teriakan dari Soat ji.

Terdengar sang Jiko berseru:

"Adikku, diluar pintu masih ada empat orang tosu kecil."

"Kalau begitu berjagalah dimuka pintu dan jangan biarkan mereka masuk kemari."

Toako dan Jiko segera mengiakan, mereka benar-benar menutup pintu dan berjaga diluar pintu.

Sementara itu, serangan yang dilancarkan Sah Thian yu berhasil dihindari Soat ji, tapi guyuran kuah panas dari Soat ji segera mengenai seluruh tubuh Sah Thian yu.

Tampaknya Sah Thian yu tak mengira kalau seorang nona dusun bisa begitu cekatan, meski dia sudah mengerahkan tenaga, nyatanya gagal untuk melepaskan diri.

Dengan perasaan kaget segera bentaknya:

"Siapakah kau sebenarnya? Bila tidak lepas tangan lagi, jangan salahkan kalau aku takkan mengenal ampun lagi!" Sembari mencengkeram pergelangan tangan kanannya erat erat, Soat-ji tertawa geli.

"Sah Thian yu!" serunya lantang, "mungkin kau tak kenal aku, tapi aku mengenalmu!"

Selesai berkata dia lantas tertawa terpingkal-pingkal kemudian membungkukkan tubuhnya, tapi disaat dia berdiri kembali. . . .

Sambil tertawa geram Sah Thian yu berseru.

"Aku mengira siapa, ternyata Hek bun kun nona Cho!"

Rupanya setelah Soat ji membungkukkan badan tadi, kini telah berubah menjadi Hek bun kun Cho Kiu moay.

Ternyata Hek bun kun Cho Kiu moay adalah Soat ji.

Dengan sorot mata memancarkan cahaya tajam, Cho Kiu moay berseru sambil tertawa dingin: "Sayang kau terlambat mengetahui hal ini!"

Sah Thian yu tertawa seram.

"Nona Cho, jangan lupa kalau banyak jago dari Ban kiam hwee kalian telah keracunan hebat, termasuk hwee cu kalian juga."

"Hal ini tidak usah kau pusingkan." sahut Cho Kiu moay tertawa. "Tampaknya nona ingin beradu jiwa dengan siaute?"

Cho Kiu moay tertawa merdu, "Kini, kau sudah tiada kesempatan lagi untuk beradu jiwa denganku."

Oleh karena pergelangan tangan kanannya sudah dicengkeram lawan lebih dulu, sudah barang tentu Sah Thian yu jauh lebih menderita rugi daripada lawannya, mendengar ucapan mana dia lantas tertawa seram.

"Heeh.... heeh... aku orang she Sah tak percaya kalau nona Cho bisa berbuat sesuatu terhadap diriku." Di tengah bentakan mana, pergelangan tangan kirinya di ayunkan, jari tangannya bagaikan tombak menyerang Cho Kiu moay dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Angin serangan jari yang tajam menciptakan selapis bayangan jari tangan yang menyilaukan mata, hampir saja seluruh jalan darah ditubuh Cho Kiu moay terkurung rapat.

Cho Kiu moay tertawa dingin, tangan kanannya segera membuat gerakan jurus pedang, dengan gerakan Han- bwee eng eur (bunga bwee menyambut musim semi) dia babat miring ke depan.

Babatan tersebut segera menimbulkan deruan angin pedang yang tajam dan mengerikan, seketika itu juga bayangan jari tangan dari Sah Thian yu hancur berantakan.

Sah Thian-yu sangat terperanjat, segera pikirnya:

"Tak nyana kalau jurus serangan perempuan ini mengandung hawa pedang yang mengerikan, dari sini bisa diketahui sampai dimanakah kesempurnaan ilmu pedang yang dimilikinya, aku tak boleh memandang enteng akan dirinya !"

Berpikir demikian, tiba-tiba saja serangan jari tangannya berubah menjadi serangan telapak tangan, secara beruntun dia melepaskan delapan buah serangan berantai.

Dengan tangan kanan menyambut serangan lawan tentu saja gerakan Cho Kiu moay jauh lebih leluasa dan bebas, secara beruntun dia menggerakan tangannya untuk membendung kedelapan buah serangannya, lalu melancarkan tiga buah serangan balasan.

Sebaliknya pergelangan tangan kanan Sah-Thian yu dicengkeram Cho Kiu moay dengan erat, dengan demikian masing-masing pihak hanya mengandalkan tangan sebelah untuk saling melancarkan serangan, kecepatan geraknya membuat orang tak sanggup untuk mengikutinya.

Dalam waktu singkat, dia sudah melancarkan dua puluh jurus lebih. Sudah banyak tahun Sah Thian yu termashur dalam dunia persilatan, dia merupakan salah satu diantara Su tok thian ong (Empat racun-raja langit) dari Tok seh sia, sudah barang tentu ilmu silat yang dimilikinya sangat tinggi.

Akan tetapi setelah bertarung sekian lama dengan Cho Kiu moay, dijumpainya makin lama ilmu silat yang dimiliki gadis itu semakin tinggi, jurus serangan yang digunakanpun makin bertarung semakin bertambah aneh.

Dimana serangannya menyambar, angin serangan tajam bagaikan pedang, hawa udarapun serasa dingin mencekarn, hatinya kontan menjadi bergidik.

Serangan yang dilancarkan Cho Kiu moay sangat aneh, meskipun bertarung dengan tangan kosong. namun pergelangan tangan kanan nya bagaikan sebilah pedang begitu enteng, lincah dan luar biasa.

Empat puluh gebrakan kemudian, Sah Thian yu sudah didesak sehingga cuma bisa menangkis belaka tanpa memiliki kekuatan untuk melancarkan serangan balasan.

Sembari turun tangan, Cho Kiu moay berseru sambil tertawa merdu:

"Sah Thian yu, sekarang tentunya kau sudah percaya bukan, sudah kukatakan kalau kau tidak mempunyai kesempatan untuk beradu jiwa, benar bukan..."

Berbicara sampai disitu, dia lantas berpaling kearah kiri kanan ruangan dan berteriak lagi.

"Wi sauhiap, Thia Sianseng, sekarang kalian boleh keluar semua..!"

Mendengar teriakan mana, Wi Tiong hong membuka pintu sambil berjalan keluar, sedangkan dari ruang depan pun muncul seorang kakek kurus berbaju hijau yang menjinjing sebuah peti emas kecil. Pada saat itu juga dari dalam kamar sebelah kanan menerjang keluar sesosok bayangan hitam dan langsung kabur ke arah pintu luar.

Tampaknya dia tak sempat untuk membuka pintu lagi, begitu sampai di depan pintu kakinya segera menjejak...

"Blaaam !" pintu tersebut segera tertendang sehingga hancur menjadi empat-lima bagian, kemudian dengan membuat sebuah lubang besar, dia menerobos ke luar dari sana.

Wi Tiong hong hanya melihat orang itu berbaju hitam, berperawakan kurus kecil, beIum sempat melihat jelas wajahnya, orang itu sudah kabur keluar.

Untuk sesaat dia tak tahu siapakah orang yang kabur itu, baru saja akan mengejar...

Tiba-tiba terdengar Cho Kiu moay berseru sambil tertawa terkekeh-kekeh: "Wi sauhiap, kuserahkan orang ini kepadamu" Dengan meliukkan pinggangnya tahu-tahu dia sudah menyelinap ke hadapan Wi Tiong-hong, kemudian tangan kirinya ditarik, tahu-tahu dia sudah menyeret Sah Thian yu ke depan si anak muda tersebut.

Wi Tiong hong sangat terkejut melihat Sah Thian yu disodorkan ke hadapannya oleh gadis tersebut, buru-buru dia menggerakkan tangannya dan mencengkeram pergelangan tangan Sah Thianyu.

Semua kejadian tersebut dilakukan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, begitu melepaskan Sah Thian yu, Cho Kiu moay telah meluncur ke depan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.

Sembari menerobos keluar melalui lubang itu, bentaknya keras- keras:

"Sah Thian-yu, kau hendak kabur ke mana?" Wi Tiong hong menjadi tertegun.

"Kalau yang kabur adalah Sah Thian yu, lantas siapakah yang dia serahkan kepadaku ini ?". Berpikir demikian dia lantas mendongakkan kepalanya sambil menengok ke depan tampak orang yang dicengkeram pergelangan tangan kanannya itu kalau bukan Hek-sat seng kun Sah Thian-yu lantas siapa lagi ?

Tampak lengan kirinya terkulai ke bawah kecuali melotot gusar ke arahnya, dia sama sekali tak mampu meronta, sudah jelas jalan darahnya telah ditotok oleh Cho Kiu moay.

Dia masih belum merasa lega, dengan cepat ditotoknya kembali dua buah jalan darahnya, kemudian baru melepaskan cengkeramannya.

Sekarang dia baru dapat melihat jelas orang yang tergeletak diatas tanah itu, baik wajah mau pun potongan badan ternyata persis sekali dengan dirinya, tanpa terasa sekali lagi dia menjadi tertegun.

Tapi setelah teringat akan perkataan dari Cho Kiu moay semalam, dengan cepat dia sadar kembali apa yang telah terjadi.

Rupanya orang ini adalah salah seorang anggota Buyung Siu, congkoan pedang pita hijau yang menyaru sebagai dirinya dan kemudian ditangkap oleh para jago Tok-seh sia.

Kini orang tersebut berada dalam keadaan tak sadar, mungkin sudah diracuni mereka.

Tampak kakek berjubah hijau yang menenteng peti emas itu berdiri disitu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kemudian membuka pintu yang jebol dan berjalan keluar.

Tak selang berapa saat kemudian terdengar suara derap kaki kuda berkumandang memecahkan keheningan makin lama suara itu semakin menjauh, rupanya dia sudah berlalu dengan menunggang kuda tersebut.

Saat itulah dari luar pintu berjalan masuk Toako dan Jiko dari Soat-ji yang menyaru sebagai dua lelaki petani, dengan cepat mereka menyeret Sah Thian yu memasuki ruangan sebelah kanan. Wi Tiong hong segera berpikir:

"Cho Kiu moay telah menyaru sebagai Soat-ji, kalau begitu dua orang lelaki ini adalah penyaruan dari jago-jago pedang berpita hijau.”

Bagaikan segulung angin Cho Kiu moay-meluncur masuk kedalam ruangan, sedangkan dua orang lelaki itu sudah mundur kedalam ruang kanan dan menutup pintu kamar rapat.

"Thia sianseng telah pergi?" tanya Cho Kiu moay sambil berpaling kearah Wi Tiong hong.

Wi Tiong hong tahu kalau dia sedang menanyakan si orang kakek berbaju hijau itu, sambil manggut-manggut sahutnya.

"Sudah pergi, apakah nona berhasil menyusulnya ?"

"Tidak. biarkan saja dia pergi!" kata Cho-Kiu moay kemudian sambil tertawa hambar.

"Sebenarnya siapa sih yang berhasil melarikan diri itu?" Kembali Cho Kiu moay tertawa.

"Dia toh sudah berhasil melarikan diri, apa guna nya untuk dibicarakan lagi?"

Sembari berkata dia barjalan mendekati jago pedang berpita hijau yang menyaru sebagai Wi Tiong hong itu, kemudian sembari berpaling dan tertawa katanya:

"Bukankah sudah kukatakan dia akan kembali sendiri kemari." "Dia telah keracunan?"

"Itu mah gampang" kata Cho Kiu moay,

Sembari berkata, kepada kedua orang lelaki berdandan petani itu perintahnya:

"Cepat ambilkan air"

Orang yang menyaru sebagai Sam ko itu mengiakan, lalu mengambil setengah mangkuk air dan dipersembahkan. Cho Kiu moay menerima mangkuk berisi air itu, kemudian dengan berhati-hati sekali mencelupkan Lou bun si tersebut kedalam mangkuk berisi air itu, setelah itu dia baru membungkukkan badan sambil mengangkat pena Lou bun si ke udara, dan setelah itu ditujukan ke mulut jajo pedang berpita hijau yaug tak sadarkan diri itu.

Tak selang beberapa saat kemudian dari ujung pena itu menetes keluar setitik butiran air berwarna hijau pupus dan menetes kemulut jago pedang berpita hijau itu.

Setelah meneteskan air itu tiga tetes, Cho Kiu-moay bangkit berdiri dan membuang sisa airnya, kemudian menyimpan Lou bun si itu ke dalam sakunya.

Kepada Wi Tiong hong katanya kemudian sambil tertawa.

"Wi sauhiap tak usah kuatir, selewatnya besok, akan kuserahkan kembali Lou bun si ini kepadamu."

Sesungguhnya Wi Tiong hong sama sekali tidak mengetahui kegunaan dari Lou bun si tersebut, tanpa terasa dia bertanya:

"Cukupkah hanya tiga tetes ?"

"Lou bun si merupakan benda yang khusus untuk memunahkan berbagai macam racun di dunia ini, hanya tiga tetes saja sesungguhnya sudah lebih dari cukup bahkan selama tiga tahun dia tidak akan mempan diracuni orang lagi, bila terlalu banyak dipakai, bukankah hanya membuang mestika dengan percuma?"

"Nona membuang sisa air tersebut dari dalam pena, apakah ini tidak lebih pantas disayangkan?"

Mendengar perkataan itu, Cho Kiu moay tertawa terkekeh-kekeh.

"Rupanya kau masih belum mengetahui kegunaan dan Loe bun si tersebut, sebenarnya yang kubuang itu hanya air biasa saja, air yang sudah masuk ke batang pena baru berkasiat memunahkan racun apabila menetes keluarnya melalui ujung pena"

"Ooooh, rupanya begitu." Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba jago pedang berpita hijau itu membuka matanya dan duduk di atas tanah, begitu menyaksikan kehadiran Cho Kiu moay disitu, dia menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu.

Cepat-cepat Cho Kiu moay mencegah:

"Racun kejimu baru saja punah, cepat atur pernapasan dan jangan sembarangan berbicara."

Jago pedang berpita hijau manggut-manggut, benar juga, dia memejamkan matanya lalu duduk bersemedi dan mengatur pernapasan.

Cho Kiu moay menghembuskan napas panjang, sambil memandang dua orang lelaki berdandan petani itu katanya sambil tertawa:

"Pekerjaan yang kita lakukan, akhirnya berhasil juga diselesaikan"

"Yah, kesemuanya ini berkat perhitungan nona yang hebat" seru dua orang lelaki itu sembari menjura.

"Ilmu menyaru muka dari nona sungguh luar biasa sekali." puji Wi Tiong hong pula, "belum pernah terbayang olehku bahwasanya nona Soat-ji sesungguhnya cuma nona, aku malah menyangka disini benar-benar terdapat nona Soat-ji sungguhan."

"Siapa bilang tak ada orangnya ? Dikemudian hari kau akan berjumpa sendiri dengannya." seru Cho Kiu-moay sambil tertawa.

"Tentu saja orangnya adalah nona sendiri?"

"Bukan" ucap Cho Kiu-moay serius, "aku hanya menyaru sebagai wajahnya belaka, padahal nona Soat-ji dengan Cho Kiu moay bukan seorang manusia yang sama.”

Berkata sampai di situ, dia lantas berpaling sambil perintahnya: "Sekarang waktu sudah tidak pagi lagi, cepat bereskan segala

sesuatunya, kita harus segera berangkat." Kedua orang lelaki kekar itu mengiakan, lalu menuju ke ruang sebelah kanan.

"Apakah nona masih ada urusan lain ?" tanya Wi Tiong hong kemudian.

"Jejak kita ditempat ini sudah ketahuan orang, kita tak boleh berdiam terlalu lama Iagi di sini"

Sementara berbicara, dia sudah masuk ke dalam ruangan dengan langkah tergesa-gesa.

Menanti dia muncul kembali, nona tersebut telah berganti dengan seperangkap pakaian berwarna hitam gelap dengan ikat kepala berwarna hitam pula, selain mengenakan cadar hitam, sebilah pedang berpita kuning tersoren dipunggungnya.

Dua orang lelaki kekar itupun telah berganti pakaian dengan mengenakan dandanan sebagai jago pedang pita hijau, mereka berdua menggotong sebuah karung besar yang dibawa dari ruang sebelah kanan.

Diam-diam Wi Tiong hong manggut-manggut pikirnya: "Rupanya isi karung goni itu adalah Hek sat kun Sah Thian yu !"

Pada saat itulah jago pedang pita hijau yang sedang duduk bersemedi itu menghembuskan napas panjang, kemudian bangkit berdiri. Sembari berpaling Cho Kiu moay segera bertanya.

"Kau telah sembuh kembali ?"

"Hamba telah sembuh kembali" jago pedang pita hijau itu membungkukkan badannya.

"Bagus sekali"

"Hamba telah mendengar satu berita, kokcu dari Tok seh sia agaknya telah berkunjung sendiri ke daratan Tionggoan..."

"Ooh, aku sudah tahu." ucap Cho Kiu moay. Selesai berkata dia berpaling ke arah Wi Tiong-hong dan berkata sambil tersenyum:

"Wi sauhiap, mari kita berangkat lebih dulu."

Dia membalikan badan dan berjalan menuju ke pintu luar.

Wi Tiong hong merasakan nona Cho ini bertubuh ramping, dibalik kerampingannya justru terpancar kegagahan, dan kewibawaan yang besar, jauh berbeda setali bila dibandingkan ketika sedang menyaru sebagai Soat ji yang lemah lembut tapi manja dan lincah itu.

Berpikir demikian, dia lantas mengikuti di belakang tubuhnya berjalan keluar dari rumah gubuk tersebut.

Cho Kiu moay berjalan dipaling depan, langkahnya semakin lama semakin cepat sedangkan Wi Tiong hong yang berjalan mengikuti dibelakangnya tentu saja harus mempercepbat pula langkahnya.

Makin lama gerakan tubuh Cho Kiu moay semakin bertambah cepat, ujung kakinya hanya menutul pelan diantara semak belukar, tubuhnya telah meluncur kedepan dengan kecepatan luar biasa.

Dalam keadaan begini terpaksa Wi Tiong hong harus menghimpun hawa murninya dan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk mengejar.

Ternyata ilmu meringankan tubuhnya tidak kalah dengan kepandaian Cho Kiu moay, dia selalu dapat mempertahankan jaraknya kurang lebih satu depa dibelakangnya.

Sementara itu kentongan pertama telah tiba, dari ufuk timur nampak rembulan muncul dalam bentuk purnama.

Dibawah sinar rembulan, kedua orang itu bergerak satu didepan yang lain dibelakang dengan kecepatan tinggi.

Tak selang berapa saat kemudian, sampaiIah mereka di bawah sebuah tebing yang curam, sembari berpaling dan tertawa merdu seru Cho Kiu moay:

"Hebat sekali ilmu meringankan tubuh yang kau miliki !" Sehabis berkata kembali dia meneruskan perjalanannya menaiki bukit itu.

"Bagus sekali." pikir Wi Tiong hong kemudian, "aku masih mengira kau ada urusan penting lainnya sehingga harus berjalan sedemikian cepatnya, ternyata kau memang bermaksud untuk beradu kecepatan lari dengan diriku!"

Sebagai anak muda yang berdarah panas, sudah barang tentu Wl Tiong hong enggan mengaku kalah, buru-buru dia menarik napas panjang-panjang, kemudian sambil menutulkan ujung kakinya keatas tanah, dia meluncur pula keatas dengan kecepatan tinggi.

Bukit tersebut tidak terlalu tinggi, dalam waktu singkat mereka sudah tiba di puncak bukit tersebut.

Baru saja Cho Kiu moay melayang turun diatas puncak ini, Wi Tiong hong melayang pula disisi tubuhnya.

Dada Cho Kiu moay nampak naik turun tak beraturan agaknya dia dia agak tersengkal dengan sepasang biji matanya yang jeli dia mengawasi sekejap wajah Wi Tiong hong, bisiknya sambil tertawa:

"Kita sudah sampai !" senyuman yang begitu syahdu serta pandarngan mata yang begitu lembut dan penuh cinta kasih membuat perasaan Wi Tiong-hong terkesiap, buru dia menghindari tatapan matanya dan bertanya:

"Nona, tentunya kau ada urusan penting sehingga datang ke tempat ini bukan?"

Sambil membereskan rambutnya yang kusut, Cho Kiu moay manggut-manggut.

"Benar, kedua orang congkoan akan sampai disini malam ini. aku telah berjanji dengan mereka untuk berjumpa ditempat ini"

"Apakah congkoan pedang berpita merah serta congkoan pedang berpita putih?" "Bukan" Cho Kiu moay tersenyum "mereka adalah congkoan istana bagian dalam Huan Koan jho serta congkoan pedang berpita putih Lok Im lin..."

"Aku pernah mendengar orang berkata kalau perkumpulan kalian terbagi menjadi jago-jago pedang berpita hijau merah, putih dan hitam empat macam, aku pikir congkoan istana bagian dalam itu tentunya congkoan yang memimpin para jago pedang berpita merah bukan?"

"Bukan, congkoan istana bagian dalam merupakan congkoan yang menguruti urusan dalam tubuh partai, dulu ketika Chin Tay seng sedang diubar-ubar oleh gabungan jago utara dan barat sehingga melarikan diri terbirit-birit, Huan congkoan lah yang mengajaknya bergabung dengan perkumpulan kami, oleh sebab itu Huan congkoan harus turut hadir pula dalam peristiwa ini."

"Oleh karena Huan congkoan ikut datang, maka Congkoan pedang berpita merah Kiong Thi su-tidak dapat ikut, oleh sebab itulah aku mohon kepada Wi sauhiap agar menyaru sebagai Kiong congkoan kami untuk sementara waktu."

Diam-diam Wi Tiong hong mengangguk, pikirnya bertanya: "Tidak heran kalau di atas gagang pedangku telah dipasang dengan pita berpita merah."

Berpikir sampai disitu. iapun lantas bertanya "Miripkah aku?" katanya kemudian,

Cho Kiu moay tertawa terkekeh-kekeh.

"Di belakang bukit sana terdapat sebuah kolam, kenapa kau tidak bercermin dulu?"

"Kalau begitu, aku pasti mempunyai beberapa bagian muka yang mirip dengan Kiong congkoan." katanya penuh kelakar kesombongan.

Sekali lagi Cho Kiu moay tertawa-tawa. "Sebenarnya hanya mirip beberapa bagian, tapi sekarang kau sudah mirip sekali."

”Apakah nona telah merubah raut wajahku ?" tanya Wi Tiong hong kemudian.

Dia mencoba untuk meraba wajah sendiri, namun sama sekali tidak ditemukan sesuatu yang aneh, Cho Kiu moay segera mendorong nya dan berkata sambil tertawa:

"Cepatlah bercermin dulu dikolam tersebut, coba lihatlah mirip tidak dengan kau ?"

Wi Tiong hong keheranan oleh perkataan tersebut namun dia menurut dan menuju ke bukit bagian belakang. KoIam itu berada di punggung bukit, waktu itu kebetulan sinar rembulan bersinar terang, air kolam yang jernih bagaikan cermin. Wi Tiong hong segera bercermin di atas permukaan air kolam itu.

Begitu ditengok, dia baru mengetahui kalau wajahnya nampak lebih tua dari semula, rambutnya telah memutih dan wajahnya penuh dengan kulit yang menjadi berkeriput-keriput.

Secara garis besarnya wajah ini ada beberapa bagian mirip dengan dirinya, tapi bila diperhatikan lagi dengan seksama, ternyata seperti tidak mirip.

Wi Tiong hong tahu kalau Cho Kiu moay pasti telah memperhitungkan segala sesuatunya maka sebelum ia menjadi sadar tadi telah mengubah dulu paras muka sendiri.

Kalau bukan demikian, bagaimana mungkin dia sendiri pun tidak merasakan apa-apa?

Tak heran pula Thi lohan Khong beng hwesio dan Sah Thian yu yang berjumpa dengan nya pun seakan-akan bersikap tidak kenal.

Kembali kepuncak bukit, Cho Kiu moay telah duduk bersemedi di bawah pohon besar, ketika mendengar suara langkah kaki dari Wi Tiong hong, dia membuka matanya kembali dan berkata dengan suara rendah: "Mumpung waktu masih pagi, duduklah istirahat sebentar, setelah fajar menyingsing nanti kita harus melanjutkan perjalanan, bisa jadi pertarungan sengit pun akan berkobar."

Selesai berkata, dia memejamkan matanya dan tidak menggubris Wi Tiong hong lagi.

Wi Tiong hong dapat menyaksikan kalau paras mukanya serius, keningnya berkerut kencang, agaknya dia seperti lagi memikirkan suatu persoalan yang berat.

Dia tahu, Ban kiam hweecu sekalian telah terkena racun bersifat lambat daya kerjanya dari orang orang Tok seh sia, congkoan pedang berpita hitam Chin Tay seng juga berniat untuk berkhianat, pada hakekatnya hweecu mereka sekarang telah terjatuh ketangan penghianat, tak heran kalau gadis ini nampak murung.

Berpikir demikian, dia pun duduk di suatu tempat tak jauh dari situ, kemudian bersemedi dan mengatur pernapasan

Entah berapa saat sudah lewat, tiba-tiba dari puncak bukit itu berkumandang suara ujung baju yang terhembus angin, tampaknya ada orang sedang meluncur naik keatat puncak bukit itu.

Dengan cepat Wi Tiong hong merasakan hal tersebut, tiba-tiba terdengar Cho Kiu moay sedang menegur:

"Yang datang apakah Huan congkoan serta Lok congkoan berdua?"

"Hamba Huan Kong phu dan Lok Im liu menghunjuk hormat kepada Kiamcu."

Cepat Wi Tiong hong membuka matanya, terlihatlah didepan mata tak jauh di hadapan Cho Kiu moay berdiri seorang kakek berjubah biru yang berjenggot panjang dan berwajah merah serta seorang lelaki setengah umur berjubah putih, orang itu bermuka pucat dan bertubuh kurus lagi lemah, pada hakekatnya tak mirip sebagai seorang yang belajar silat.

Buru-buru Cho Kiu moay membalas hormat sambil menyahut. "Kiamcu tak datang, tentunya congkoan berdua telah telah menempuh perjalanan."

"Oooh..." kakek berjubah biru itu berseru tertahan, kemudian sairbil menjura dan tertawa katanya:

"Asal ada nona disini pun sama saja." Lelaki berbaju putih itu segera menyela.

"Hamba dan saudara Huan mendapat perintah khusus untuk segera datang kemari, bagaimanakah keadaan yang sesungguhnya? Harap nona sukt memberi petunjuk."

Wi Tiong-hong yang menyaksikan sikap ke dua orang itu terhadap Cho Kiu-moay begitu menghormat, diam-diam ia menjadi sangat keheranan.

Dia masih teringat dengan pertemuan yang diadakan Ban kiam hweecu dengan para jago tempo hari, waktu itu dia duduk dikursi utama, sedangkan dua kursi yang berada dikiri kanannya masing- masing duduk congkoan dari pedang berpita hijau Buyung Siu serta congkoan pedang berpita hitam Chin Tay-seng, sedangkan keempat dayang tersebut hanya kebagian tempat berdiri dibelakang hweecu nya.

Seharusnya kedudukan seorang congkoan masih jauh lebih tinggi daripada kedudukan seorang pelayan, dan Hek bun kun Cho Kiu moay tak lebih hanya seorang dayang dari Ban kiam hwee cu, tapi apa sebabnya kedua orang congkoan tersebut justru bersikap begitu menghormat kepadanya, bukankah tindakan ini hanya akan menurunkan kedudukan sendiri ?

Sementara itu Cho Kiu moay telah berkata sambil tertawa hambar.

"Huan congkoan, Lok congkoan, mari kuperkenalkan kalian berdua dengan seorang sauhiap"

Kemudian sambil menuding kearah Wi Tiong hong, katanya lagi: "Dia adalah Wi Tiong hong, Wi sauhiap yang membekali ilmu silat dari Siu lo bun serta Bu tong pay, dia merupakan murid kesayangan dari Thian Goan-cu?"

Menyusul kemudian dia menuding kearah kakek berjubah biru serta lelaki berbaju putih itu sembari berkata lagi.

"Sedangkan mereka adalah congkoan istana bagian dalam Huan Kong-phu, orang menyebutnya sebagai Kim jiu ji lay (Ji Lay bertangan emas). Sedangkan yang ini adalah congkoan pasukan pedang berpita putih Lok Im-lin, orang menyebutnya sebagai Im li bui (terbang dibalik awan) dia termashur dalam dunia persilatan karena ilmu meringankan tubuhnya yang hebat"

"Sudah lama kukagumi nama kalian" Wi Tiong hong segera menjura.

Dua orang itu buru-buru membalas hormat.

Sambil mengelus jenggotnya yang panjang dan tertawa bergelak, congkoan istana bagian dalam Hian Kong phu berseru:

"Nona telah membesar-besarkan nama lohu serta saudara Lok saja, harap Wi sauhiap jangan mentertawakan"

Cho Kiu moay turut tertawa pula.

"Kita semua bukan orang luar, apa salahnya jika kuperkenalkan kalian agak lebih jelas kepadanya ?"

Sekilas cahaya tajam memancar keluar dari balik mata Huan Kong phu, setelah memandang sekejap ke arah Wi Tiong hong tanyanya:

"Apakah nona meminta kepada Wi sauhiap untuk menyaru sebagai Kiong congkoan?"

"Benar, pertama dewasa ini Wi sauhiap tak boleh terlampau memperlihatkan identitasnya, kedua menurut perintah kiamcu, kalian congkoan bertiga diminta datang bersama-sama, maka oleh karena Kiong congkoan tidak datang, terpaksa kita harus meminta kepada Wi sauhiap untuk mewakilinya, agar orang mengira congkoan bertiga telah datang semuanya."

Berbicara sampai disitu, dia mendongakkan kepalanya dan bertanya lagi:

"Congkoan berdua telah membawa berapa orang ?"

"Hamba menuruti perintah dari nona dengan membawa delapan orang jago pedang istana yang berilmu silat paling tinggi" sahut Huan Kong phu cepat.

Lok Im lin segera menyambung pula: "Tiga puluh enam orang jago pedang berpita putih telah siap menerima perintah nona"

Cho Kiu moay segera manggut-manggut. ”Ehmm, jumlahnya memang sudah cukup"

"Nona, sebenarnya apa yang terjadi ditempat ini?" tiba-tiba Huan Kong phu berseru sambil berkerut kening.

"Chin tay seng telah berkhianat dan bersekongkol dengan orang orang Tok seh sia..."

Sekujur tubuh Huan Kong phu yang tinggi besar segera bergetar keras setelah mendengar ucapan itu, serunya sambil membelalakan matanya lebar-lebar,

"Masa telah terjadi peristiwa semacam ini."

Ketika mengucapkan perkataan tersebut, rambut dan jenggotnya pada berdiri kaku persis seperti landak, sepasang matanya memancarkan sinar yang menggidikkan hati.

Sesudah tertawa nyaring, dia berseru lagi.

"Silahkan nona beristirahat dulu disini, hamba cukup membawa delapan jago dari istana untuk melakukan penyerbuan, hamba yakin tidak sampai satu jam saja tua bangka tersebut sudah dapat kubekuk."

"Harap Huan congkoan jangan marah, aku sudah mempunyai rencana yang matang di kejadian ini dan aku yakin dia tak bakal bisa melarikan diri dari sini setelah fajar menyingsing nanti, kita boleh segera berangkat bersama-sama."

"Apakah nona beranggapan kalau hamba tak mampu membekuk batang leher tua bangka tersebut ?"

Cho Kiu moay tersenyum.

"Dengan kepandaian silat yang dimiliki Huan congkoan sekalipun ada sepuluh orang Chin Tay seng pun pasti akan terbekuk semua, lagipula mereka sudah dikuasahi semua oleh Chin Tay seng."

"BetuI kita dapat membekuk Chin Tay seng tapi bila kita kurang berhati-hati dalam menghadapi ratusan jago pedang berpita hitam tersebut, besar kemungkinannya mereka akan menggabungkan diri dengan pihak selat Tok seh sia, apalagi masih banyak orang yang berada di tangan mereka, oleh sebab itu kita hanya boleh bertindak dengan akal muslihat, tak boleh sekali-kali menggunakan kekerasan.”

"Menurut pendapat nona, apa yang harus kita lakukan?" tanya Huan Kong phu kemudian.

Cho Kiu moay tertawa.

"Kiamcu menurunkan perintah kilat memerintahkan congkoan bertiga segera berangkat ke bukit Pit bu san, tentu saja hal ini bukan atas dasar keinginan kiamcu sendiri."

Congkoan jago pedang berpita putih Lok-Im lin tertegun setelah mendengar ucapan itu.

"Masa Chin Tay seng yang mengajukan surat perintah tersebut..?"

"Sekalipun bukan Chin Tay seng yang memajukan surat perintah tersebut, tapi sudah pasti muncul atas ideenya"

"Hal ini membuat hamba semakin tidak mengerti lagi" ucap Lok Im lin cepat, "sekalipun Chin Tay seng sudah berniat mengkhianat, apalagi kiamcu beserta rombongan pedang berpedang berpita hijau dan anak buahnya telah keracunan semua, bukankah kesempatan semacam itu merupakan kesempatan yang terbaik baginya untuk berkhianat ? Jika kita bersama-sama datang ke sana, sudah pasti hal ini akan merugikan posisinya."

Cho Kiu moay tertawa.

"Di dalam perkumpulan kita, kecuali anak buah yang diperintah oleh congkoan bagian istana, berbicara soal jumlah manusia, boleh dibilang jumlah jago pedang berpita hitam yang paling banyak, sedangkan berbicara soal ilmu silat, maka jago pedang berpita hijau yang paling tinggi.”

"Namun jumlah anggotanya boleh dibilang pasukan jago pedang berpita hijau yang paling sedikit, dewasa ini dari enam belas jago yang ada, hanya tiga orang yang mengikuti aku sedangkan sisanya telah keracunan semua dan terjatuh ke tangan mereka."

"Tapi kecuali para jago pedang berpita hijau, masih ada dua puluh empat jago pedang berpita berwarna merah dan tiga puluh enam jago pedang berpita putih, boleh dibilang mereka semua merupakan kekuatan inti dari Ban-kiam hwee atau merupakan pula musuh paling tangguh dari pihak jago pedang berpita hitam, bila mereka tidak berhasil membasmi kalian semua, bagaimana mungkin Chin Tay seng bisa hidup dengan aman dan tenteram?"

Paras muka Lok Im-lin berubah hebat.

"Dengan mengandalkan kemampuan yang dimiliki Chin Tay seng, masa dia bisa membasmi kami semua?"

"Penghianatannya belum terbongkar, Kiam cu berada pula ditangannya, inilah kesempatan terbaik baginya untuk bertindak, itulah sebabnya dengan memalsukan perintah, dia ingin memanggil congkoan bertiga masuk perangkap."

Berbicara sampai disitu, dia berhenti sejenak kemudian terusnya:

"Seandainya aku tidak berhasil mencegat burung merpati yang dilepas Kiamcu ditengah jalan, dan mencegah kalian bertiga datang bersama-sama, setelah menerima perintah bahaya dari kiamcu, sudah pasti congkoan bertiga akan memimpin segenap kekuatan yang ada untuk berangkat menuju ke bukit Pit bu-san. Asal Chin Tay seng memanfaatkan kesempatan itu untuk mengatur perangkap, bahkan semua kekuatan inti dari Ban kiam hwee akan mengikuti jejak para jago pedang berpita hijau."

"Tua bangka ini benar-benar licik, berhati busuk dan berbahaya sekali." seru Hoan Kong phu dengan gusar.

"Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang ?" tanya Lok Im- lim pula.

Cho Kiu moay tersenyum.

"Itulah sebabnya aku meminta kepada Wi sauhiap untuk menyaru sebagai Kiong congkoan, kita anggap saja seakan-akan tidak tahu kejadian tersebut dan memburu kesana mendapat perintah dari Kiamcu, semua orang tak usah menunjukkan perubahan sikap, kita lihat duIu bagaimanakah sikapnya kemudian baru mengambil tindakan selanjutnya."

"Hamba pernah mendengar kalau pihak Tok seh-sia memiliki semacam racun tak berwujud. “

Sebelum Lok Im-lin menyelesaikan kata-katanya, Cho Kiu moay telah berkata sambil tertawa ringan:

"Soal ini tak usah congkoan kuatirkan, aku telah mempersiapkan segala sesuatunya!"

"Kecerdasan nona memang melebihi orang Iain, tapi hamba masih operasi sedikit tidak mengerti"

"Sampai waktunya Lok congkoan akan tahu dengan sendirinya." tukas Cho Kiu moay tertawa ringan.

Huan Kong phu segera mengelus jenggotnya dan menimbrung dengan senyuman dikulum:

"Sejak kecil nona memang sudah berwatak demikian, baiklah, kami semua akan menuruti perkataanmu."

Cho Kiu moay segera berpaling dan tertawa katanya lagi. "Congkoan berdua telah menempuh perjalanan siang malam sekarang, silahkan duduk untuk beristirahat dulu, setelah fajar menyingsing nanti, kita masih harus melanjutkan perjalanan lagi."

Habis berkata dia lantas duduk diatas batu, kepada Wi Tiong hong ujarnya pula.

"Mari, kau pun boleh duduk sebentar, waktu masih cukup pagi...!"

Wi Tiong hong, Huan Kong phu dan Lok In lin segera menurut dan duduk diatas batu.

Seorang jago pedang berpita hijau menghidangkan air teh dan diletakkan didepan keempat orang itu.

Cho Kiu moay segera mengambil poci air teh dan menuang dua cawan kemudian katanya:

"Congkoan berdua tentu sudah lelah sepanjang jalan, aku rasa pasti sudah merasa haus pula, silahkan minum air secawan lebih dulu."

Buru buru Lok Im Iln bangkit berdiri sambil menerimanya. "Hamba tidak berani!"

Huan Kong phu mendongakkan kepalanya dan memandang sekejap ke arah jago pedang berpita hijau itu, lalu tanyanya

"Apakah kalian telah menyuruh orang yang berada dibawah bukit menyiapkan air teh?"

Sambil membungkukkan badannya memberi hormat, jago padang berpita hijau menyahut.

"Hamba telah mendapat perintah dari nona untuk menyiapkan air teh, dibawah bukit sana hamba masih mempunyai-dua orang teman yang berjaga-jaga"

"Begitupun ada baiknya juga" Huan Kong phu manggut-manggut. Dia lantas mengangkat cawannya dan meneguk habis isinya, lalu sambil tersenyum tanyanya lagi: "Darimana nona dapatkan obat pencegah racun?"

Cho Kiu moay segera tertawa cekikikkan.

"Sudah kuduga kalau hal ini tak dapat mengelabui Huan congkoan, ternyata dugaanku benar"

"Masa air teh ini sudah diberi obat pencegah racun?" seru Lok In lin kemudian, "mengapa siaute sama sekali tak merasakannya?"

"Siaute sendiripun hanya menduga-duga" kata Huan Kong pbu tertawa, "pertama, kalau menuang air teh ini di sediakan bagi kita berempat, seharusnya ada empat cawan air teh yang tersedia, tapi nona hanya menuangkan secawan teh untuk siaute dan saudara Lok, kemudian sudah tak ada lagi."

"Kedua, walau pun air teh ini sudah dingin bagaimana pun juga hanya semangkuk air teh saja, tapi setelah diteguk siaute dapat merasakan hawa dingin yang nyaman dalam isi perutku, tidak mungkin perasaan semacam ini bisa dijumpai dalam air teh biasa, oleh sebab itu aku lantas menduga kalau air teh ini adalah obatnya penawar racun yang nona persiapkan untuk kami berdua."

Lok Im lin meneguk habis pula isi cawannya, lalu manggut- manggut.

"Betul." katanya "dari air teh ini hambapun dapat merasakan hawa segar yang amat nyaman tertinggal dalam isi perut, bahkan sampai lama sekali belum juga membuyar, obat apa sih yang telah kau campurkan kedalam air teh itu?"

"Ooh, itulah Lou bun si yang dapat kupinjam dari Wi sauhiap" Cho Kiu moay tertawa, "dalam keadaan seperti ini, sekalipun Chin- Tay seng hendak meracuni kita dengan racun terkeji pun belum tentu bisa dia lakukan."

Huan Kong phu melirik sekejap ke arah Wi Tiong hong, kemudian tertaiwa terbahak-bahak. "Haaahh...haaahh... sudah kuduga kalau nona telah menyusun rencana dengan matang"

Tengah hari keesokan harinya, disebuah jalan raya menuju ke bukit Pit bun aan muncul serombongan besar manusia, dengan gagah perkasa mereka berangkar menuju kuil dewa tanah.

Rombongan tersebut paling tidak mencapai lima puluh orang lebih, meski menempuh perjalanan dengan cepat, namun teratur, berdisiplin dan sama sekali tidak kalut.

Yang berada dipaling depan adalah tiga ekor kuda yang ditunggangi seorang kakek berjubah hijau bermuka merah pada bagian tengah, seorang lelaki setengah umur berbaju hijau berpedang pita merah disebelah kiri dan seorang pelajar lemah berbaju putih berpedang pita putih disebelah kanan.

Dibelakang tiga ekor kuda tersebut mengikuti pula seekor kuda yang ditunggangi seorang gadis berbaju hitam, berparas cantik dan berpedang pita kuning pada punggungnya.

Dibelakang gadis berbaju hitam itu mengikuti pula tiga ekor kuda yang ditunggangi tiga lelaki berpakaian ringkas warna hijau dengan pedang berpita hijau tersoren dipunggungnya.

Menyusul kemudian delapan ekor kuda dengan delapan penunggangnya berpakaian ringkas warna biru dengan pedang berpita biru tersoren dipuuggung.

Pada rombongan terakhir menyusul tiga puluh enam ekor kuda yang ditunggangi lelaki berbaju abu-abu dengan pedang berpita putih

Rombongan manusia itu bergerak seperti seekor naga panjang berwarna abu-abu mereka bergerak cepat sekali menembusi tanah pegunungan mendaki bukit.

Para jago pedang berpita hitam yang berjaga didepan kuil dewa tanah itu segera lari masuk membeli laporan setelah dari kejauhan menyaksikan munculnya rombongan jago sudah tiba ditanah lapang depan kuil dan berhenti. Pintu gerbang kuil tersebut terbentang lebar, congkoan pedang berpita hitam, si Tangan setan perenggut nyawa Chin Tay seng dengan didampingi wakil congkoan Ma koan tojin dan pelindung hukum Thi lohan Khong beng hwesio serta Naga tua berekor botak To Sam-seng munculkan diri menyambut kedatangan mereka.

Begitu melihat kehadiran congkoan bagian istana Huan Kong phu, buru-buru Chin Tay-seng maju kedepan dan menyembah, serunya sambil tertawa:

"Tak nyana congkoan bertiga telah datang semua, bila penyambutan siaute agak terlambat, harap sudi dimaafkan."

Ternyata congkoan bagian istana dari Ban kiam hwecu mengurusi masalah yang dihadapi pihak jago pedang berpita hijau, merah, putih serta hitam.

Huan Kong pbo segera melompat turun dari kudanya, sembari menatap wajah orang lekat-lekat katanya sembari mengangguk:

"Setelah menerima surat penting dari Kiam cu, siaute segera berangkat kemari, sebenarnya apa yang telah terjadi disini?"

"Huan congkoan sudah dua puluh tahun lamanya tak pernah berkunjung ke bukit Pit bu san, silahkan masuk dulu sebelum berbincang-bincang."

Huan Kong phu kembali mengalihkan sorot matanya ke wajah Ma koan tojin sekalian, kemudian tanyanya lagi:

"Chin congkoan, apakah ketiga orang ini adalah wakil congkoan dan kedua pelindung hukum yang baru saja menggabungkan diri?"

Chin Tay seng segera mengiakan berulang kali, katanya sambil tertawa paksa:

"Sejak Pak hu congkoan meninggal dunia, sudah lama tiada orang yang cocok memangku jabatan ini, atas keputusan Kiam cu baru-baru ini, saudara Ma koan telah diminta untuk memangku jabatan tersebut, kemudian lantaran jumlah anggota kami kelewat banyak sehingga terasa kurang cukup untuk mengurusi semuanya, atas persetujuan Kiamcu, kami pun mengangkat pula dua orang pelindung hukum baru."

Huan Kong phu berpaling dan memandang sekejap ke arah congkoan pedang berpita merah Kiong Thian siu serta congkoan pedang berpita putih Lok In lim, setelah itu katanya lagi sambil mengelus jenggotnya:

"Ruang pedang berpita hitam pimpinan saudara Chin kian hari kian bertambah besar, pengaruhnya juga semakin bertambah luas, kita semua benar-benar ketinggalan jauh!"

Selesai berkata, kembali dia tertawa terbahak-bahak.

Chin Tay-seng segera mengucapkan "tidak berani" berulang kali, setelah itu baru dia berkata kepada Cho Kiu moay sembari menjura:

"Oooh, rupanya nona Cho pun telah kembali, mengapa kau bisa sejalan dengan ke tiga congkoan?"

ooOdwOoo

Cho Kiu moay memutar biji matanya berulang kali, kemudian katanya sambil tertawa:

"Aku mendapat perintah dari Kiamcu untuk mengikuti Wi Tiong hong secara diam-diam..."

Chin Tay-seng tertegun.

"Bukankah Wi Tiong hong telah bdirampas orang-dorang Tok seh sia dari tangan para jago pedang berpita hijau?"

"ltu mah Wi Tiong hong gadungan!" kata Cho Kiu moay sambil tertawa terkekeh.

"Gadungan?" dengan nada tak percaya Chin Tay seng mengulangi kembali kata-katanya.

"Dia membawa Lou bun si dan mutiara Ing kiam cu, dua macam mestika yang tak bernilai harganya, tentu saja diapun harus waspada terhadap incaran orang lain, ketika orang yang menyaru sebagai dirinya kabur ke timur, dia sendiri justru kabur ke barat, di mengira sisaat ini dapat mengelabuhi orang lain, sayang sekali siasat semacam itu mungkin bisa membohongi orang lain tapi jangan harap bisa mengelabuhi Cho Kiu moay."

Wi Tionghong yang sedang menyaru sebagai congkoan berpedang pita merah Kiong Tbian ciu menjadi malu sekali setelah mendengar ocehan dari Cho Kiu-moay tersebut.

Paras muka Chin Tay-seng segera berubah menjadi sangat tegang, buru-buru tanyanya.

"Setelah nona berhasil menemukan dia, apakah berhasil pula membekuknya ?"

Dia menjadi tegang dan gugup karena dalam saku Wi Tiong hong terdapat sebatang Lou bun si yang dapat dipergunakan untuk memunahkan berbagai macam racun.

"Membekuknya ?" seru Cho Kiu-moay, "bahkan aku dan ke tiga jago pedang berpita hijau pun berhasil lolos dari bahaya karena pertolongannya!"

"Aaaah..." Chin Tay-seng berseru kaget, kembali Cho Kiu moay berkata.

"Selama ini kami mengikutinya terus hingga sampai diwilayah Ou-pak, tiba-tiba racun yang mengeram dalam tubuh kami bekerja dan roboh tak sadarkan diri, Wi Tiong hong lah yang telah menyelamatkan jiwa kami dengan Lou bun-si nya."

Sekali lagi Chin Tayseng merasa amat tegang. "Sekarang, mana orangnya ?" dia berseru. "Sudah pergi..!"

Chin Tay seng segera menghembuskan napas lega, sengaja dia menghela napas panjang lalu berkata:

"Aaaai.. . seandainya nona Cho dapat membekuk Wi Tiong hong dan membawanya kemari, keadaan tentu akan beres, kami semua telah keracunan !" "Apa ? Kalian semua telah keracunan ?" Cho Kiu moay pura-pura merasa terkejut.

Chin Tay seng segera tertawa getir.

"Yaa. termasuk Kiamcu sendiri." ucapnya.

Sementara pembicararan tersebut berlangsung, beberapa orang itu sudah masuk ke dalam ruang kuil.

Mendadak Han Kong-phu menghentikan langkahnya, lalu sambil melototkan matanya bulat-bulat dia bertanya dengan gelisah:

"Kiam cu telah keracunan ? Terkena racun apa? Siapa yang telah melepaskan racun tersebut ?"

"Semua orang yang berada dibukit Pit bu-san telah diracuni orang secara diam-diam, untung saja racun yang digunakan adalah racun yang berdaya kerja Iambat, asal tidak mengerahkan tenaga, Kiam cu baru menitahkan kepada ketiga congkoan untuk segera datang kemari dan memberi bantuan, disamping untuk melindungi keselamatan Kiam cu. juga berjaga-jaga terhadap sergapan lawan, untung saja kalian bertiga telah sampai disini sekarang..."

"Sudah pasti orang-orang Tok seh sia yang melepaskan racun tersebut." seru Huan Kong phu gusar, "Hmmm jika mereka benar- benar berani memusuhi kita, lohu akan menyuruh mereka mencoba pedang Ban kiam hwee kita, apakah cukup tajam atau tidak!"

"Chin-heng, kini kiamcu berada dimana ?" tanya congkoan pedang berpita putih Lok Im lin kemudian.

"Ketika siaute mendapat laporan tadi, aku buru-buru datang menyambut, Kiamcu malah belum tahu kalau congkoan bertiga sampai di sini, sekarang juga siaute akan pergi mengundangnya."

Kemudian setelah tertawa paksa dia berkata lagi "Huan congkoan bertiga pasti sudah lelah sekali setelah menempuh perjalanan jauh, silahkan beristirahat dulu di ruang belakang, tentunya kalian semua belum bersantap bukan? siaute segera akan menyuruh mereka untuk menyiapkan hidangan." Huan Kong phu segera manggut-manggut.

"Kami tidak tahu kalau disini telah terjadi perubahan drastis maka sepanjang jalan melakukan perjalanan, sampai sekarang kami memang belum bersantap apa-apa Chin congkoan, suruh saja mereka siapkan hidangan seadanya."

"Baik." sahut Chin Tay-seng, dia segera menyilahkan kepada seorang jago pedang berpita hitam untuk menyampaikan perintahnya tersebut.

Di ruang belakang telah disiapkan air teh, secara beruntun Huan Kong phu, Wi Tiong hong dan Lok In-lim mengambil tempat duduk.

Kepada Cho Kiu moay, Chin Tay-seng ber kata kemudian sambil tertawa lebar:

"Sepanjang jalan nona Cho tentu merasa lelah sekali, silahkan duduk, untuk beristirahat minumlah secawan air teh ini."

"Ucapan Chin congkoan memang benar." kata Huan Kong phu cepat. "silahkan nona duduk untuk beristirahat biarlah Chin congkoan saja yang pergi mengundang Kiamcu."

Cho Kiu moay sebagai pelayan dari Ban kiam hwee, sudah seharusnya segera masuk untuk memberi laporan kepada Kiam cu setelah kembali kesitu, namun kali ini dia hanya membetulkan rambutnya kemudian duduk pula.

Dengan cepat Chin Tay seng masuk ke dalam ruang gua, tak selang berapa saat kemudian enam meja penuh hidangan telah dipersiapkan.

Kepada Huan Kong phu, Ma koan tojin segera berkata sembari menjura dalam-dalam:

"Kini hidangan telah tersedia, Huan congkoan, nona Cho, silahkan bersantap"

Huan Kong phu mendongakkan kepalanya dan berseru kepada tiga orang jago pedang berpita hijau yang berdiri disamping: -oo@dw@oo-