-->

Pedang Karat Pena Beraksara Jilid 19

Jilid 19

KAKEK GEMUK itu tertawa.

"Yang lohu maksudkan adalah kejadian pada puluhan lahua berselang, waktu itu Ban kiam hwee didirikan disini, kemudian berhubung sudah mendapatkan Kiam bun san lebih cocok dengan nama Ban kiam hwee, akhirnya mereka pun pindah ke bukit Kiam bun san, sedangkan tempat ini dijadikan sebagai tempat tinggal para jago pedang berpita hitam yang diperkenankan bergerak ditempat luaran tentu saja tempat ini paling cocok untuk mereka." Mendengar semuanya itu, lambat laun timbul juga kecurigaan dalam hati Lok Khi, dia segera berhenti sambil bertanya:

"Empek tua tampaknya engkau mengetahui banyak sekali tentang persoalan dalam Ban-kiam hwee?"

Kakek gemuk itu kembali tertawa ter-bahak "Haaahh.,.haaahh..haaahh... tentu saja lohu mengetahui sangat

banyak. Ehmm,,, sekalipun Ban kiam Hwee cu Sendiripun belum

tentu mengetahui Sebanyak apa yang kuketahui. Hei, bocah perempuan, jangan ngomong meluIu, ayo kita berangkat"

OOO-dw-OOO

DISEBELAH utara bukit Pit bu san terdapat sebuah istana Pit bu kiong, orang awam menyebutnya sebagai kuil dewa, bangunan ini tidak tahu kapan berdirinya dan siapa pendirinya, bahkan dewa apa yang dipuja pun tak ada yang tahu.

Hal ini bukan dikarenakan sejarahnya terlalu tua sehingga sukar diingat kembali, melainkan bukit sebelah utara Pit bu-san merupakan daerah yang amat terpencil, kecuali tukang penebang kayu, hampir boleh dibilang jarang sekali ada yang melewati tempat itu. Bangunan kuil itu terdiri dari ruangan depan dan bangunan belakang.

Pada bangunan depan terdapat tiga bilik, di tengah merupakan ruang Kwan im tian, disebelah kiri Bun-bu-tian dan di sebelah kanan Sam koan-nan ...

Sedangkan bangunan disebelah belakang terdiri dari satu ruangan besar, tiga ruangan yang di rombak menjadi satu ruangan lebar, dalam ruangan tersebut hanya disembah sebuah patung malaikat berbaju kuning.

Semua orang menganggap patung tersebut sebagai dewa tanah, oleh sebab itu kuil tersebutpun dinamakan kuil dewa tanah, nama istana Pit bu klong yang sebenarnya pun jadi dilupakan orang. "Hari ini, tempat altar patung dewa tanah yang berani di bangunan belakang dekat dinding tersebut mendadak ditemukan sudah bergeser tiga depa kedepan.

Bangunan itu lebar sekali, bergesernya meja altar sejauh tiga depa tak akan diperhatikan orang bila tidak diteliti, oleh sebab itu alasan di kemukakannya secara istimewa adalah untuk menunjukkan kalau tempat itu berbeda dengan keadaan biasa, atau dengan perkataan lain meja altar patung dewa tanah itu bisa digeserkan tempat duduknya.

Kendatipun demikian halnya, bila tak mengetahui rahasianya, maka jangan harap meja altar tersebut bisa digeser barang seincipun kendati telah mengerahkan ratusan orang lelaki yang bertenaga raksasa . .

Kalau begitu, patung tersebut dikendalikan oleh suatu alat rahasia? Tiada seorangpun yang bisa menjawab.

Walaupun meja altar patung dewa tanah itu sudah bergeser tiga depa ke depan, tapi seandainya orang luar yang datang kesitu, mereka tak akan melihatakan pergeseran tempat tersebut.

Waktu itu, diatas ruangan yang lebar telah tersedia banyak sekali tempat duduk, seakan-akan disitu hendak diselenggarakan suatu pertemuan besar.

Dibagian tengah, terdapat sebuah kursi kebesaran yang berlampiaskan kain berwarna kuning.

Di muka kursi terletak sebuah meja rendah yang berlapiskan kain kuning pula, diatas meja terdapat sebuah hlolo terbuat dari tembaga asap yang mengepul keluar menyiarkan bau harum yang semerbak.

Disebelah kiri kanan meja berisi dupa tadi terdapat pula dua buah kursi kebesaran, hanya bedanya tidak terdapat sandaran yang tinggi, lagi pula kursi tersebut berbentuk agak lain, kain yang melapisi kursi tersebut berwarna merah.

Disebelah kiri kanannya terdapat pula delapan buah kursi, semuanya dilapisi kain merah. Pintu gerbang kuil dewa tanah pun terpentang lebar- lebar.

Didepan pintu berdiri delapan orang jago pedang berpakaian ringkas warna hitam, pita pada gagang pedang mereka pun berwarna hitam, semuanya berdiri dengan sikap angker dan wajah keren.

Di tinjau dari kening mereka yang menonjol tinggi serta sorot mata yang tajam bagaikan sembilu, dapat diketahui bahwa ke delapan orang itu merupakan jagoan kelas satu di dalam dunia persilatan.

Tapi, mereka hanya berhak untuk berdiri diluar pintu gerbang, siapakah mereka ? Tentu saja para jago pedang berpita hitam dari Ban kiam hwee...

Entah pertemuan besar apakah yang hendak di selenggarakan dalam kuil dewa tanah itu?

Tampaknya suatu pertemuan yang penting sekali artinya. Siapa siapa saja yang akan menghadiri pertemuan tersebut?

Dari jalanan kecil di depan bukit situ, tampak orang mulai berdatangan ke tempat tersebut.

Semua orang yang datang sebenarnya berangkat menuju kedepan bukit situ, seandainya tiada orang menyambut kedatangan mereka, rasanya mustahil orang orang itu dapat menemukan kuil tersebut.

Orang menyambut kedatangan tamu-tamu itu adalah seorang lelaki berbaju hijau dengan pedang berpita hijau tersoren dipinggangnya.

Langkah mereka amat tenang dan mantap. ketika berjalan ditengah perbukitan nampak begitu enteng dan cepat.

Cukup dilihat dari gerakan tubuh tersebut, dapat diketahui bahwa kepandian silat yang mereka miliki lihay sekali, padahal mereka tak lebih Cuma jago-jago pedang berpita hijau dari Ban kiam-hwee. Orang yang tiba dimuka kuil lebih dulu adalah Thian Khian Khi Cu dari Bu tong pay, jubahnya hijau dengan pedang tersoren dipunggung, jenggot putihnya sepanjang dada, mukanya keren dan tubuhnya tinggi sertaamat tegap . . .

Dibelakangnya mengikuti Keng hian tojin yang berjubah biru, murid pertama dari Bu tong pay.

Orang ketiga adalah seorang lelaki setengah umur yang berwajah putih, sikapnya agak angkuh, dia adalah Bwee hoa kiam ( pedang bunga bwee) Thio Kun kai.

Yang berada dipaling belakang adalah seorang nona berbaju merah, wajahnya amat cantik potongan muka berbentuk kwaci, mata jeli, alis mata melentik, bibir kecil dan hidung mancung, dia adalah satu-satunya murid perempuan dari Bu tong pay, Lak jiu im (Perempuan cantik bertangan keji) Thio Man-

Gadis she Thio ini sudah termashur dalam dunia persilatan sebagai sekuntum bunga mawar yang harum mana cantik lagi, hanya sayang bunganya berduri, siapa pun tak bera menyentuhnya,

Anehnya, Thio Man yang dihari hari biasa selalu melototkan matanya dan bersikap angkuh, hari ini berjalan di belakang kakaknya dengan kening berkerut dan tanpa sikap angkuh, malah kelihatan memelas sekali.

Dia seperti dibebani oleh suatu masalah yang amat besar, sehingga tubuhnya pun turut menjadi kurus.

Rahasia hati apakah yang sedang mencekam perasaan gadis ini? Mungkin hanya dia seorang yang tahu, tentu saja Bwe hoa kiam- Thio kun kai sebagai kakaknya, sedikit banyak juga tahu.

Serombongan manusia dengan dipimpin oleh jago pedang berpita hijau berjalan menelusuri jalanan kecil mendekati kuil dewa tanah.

Dari dalam kuil segera berjalan keluar seorang sastrawan berusia pertengahan yang menyambut kedatangan mereka, sambil menjura katanya seraya tertawa nyaring: "Selamat datang totiang, bila sambutan siaute agak terlambat, harap kau sudi memaafkan."

Thian Khi cu adalah salah satu di antara tiga jagoan Bu tong pay meskipun dia belum pernah bertemu dengaa kawanan jago persilatan sedikit banyak juga pernah mendengar.

Tapi orang orang Ban kiam-bwae amat jarang berkelana dalam dunia persilatan, terhadap dunia persilatan boleh dibilang terpisah sama sekali.

Ketika dilihatnya sasterawan berbaju hijau itu berwajah tampan, usianya tidak terlampau besar, terutama sepasang matanya bersinar tajam, dengan cepat di ketahui olehnya kalau orang itu berilmu sangat tinggi.

Untuk sesaat dia menjadi tertegun dan tak tahu siapa gerangan lawannya, terpaksa ujarnya sambil menjura:

"Kedatangan pinto sekalian amat mendadak, tak berani terlalu merepotkan anda untuk datang menyambut apakah sicu adalah Ban kiam hwee cu ?"

O--@dw@--O

SASTRAWAN berbaju hijau itu tertawa, buru-buru sahutnya: "Siaute Buyung Siu, saat ini berhubung Hwee cu kami masih ada

urusan dan tak dapat memisahkan diri, maka sengaja mengutus siaute untuk menyambut kedatangan tamu agung, silahkan totiang masuk ke dalam untuk minun air teh."

Thian Khi-cu tentu saja belum pernah mendengar nama Buyung Siu terpaksa ia manggut-manggut. "oh, rupanya Buyung sicu, sudah lama pinto mendengar akan nama besarmu."

Buyung Siu mempersilahkan tamunya masuk kedalam ruangan, kemudian membawanya menuju ke deretan kursi disebelah kiri pada bagian yang paling ujung. Keng hian tojin dan Thio si bersaudara terpaksa hanya mendapat bagian berdiri dibelakang Thian Khi cu.

Setelah duduk, Thian Khi cu mulai memperhatikan keadaan diseliling tempat itu, ternyata didalam ruangan tersedia banyak kursi, tampaknya masih banyak orang yang turut diundang datang kesitu. Rombongannya boleh di bilang melupakan rombongan yang datang paling awal, hal ini segera menimbulkan kecurigaan didalam hatinya yangamat tajam. Dengan diam-diam dia mulai berpikir.

"Entah apa rencana dan maksud tujuanBan kiam hwee cu mengundang kami semua datang kemari ?"

Berpikir demikian, segera tanyanya sambil tertawa:

"Entah ada urusan apa Hwecu kalian mengundang pinto semua datang kemari? Apakah Buyung sicu bersedia memberi penjelasan?"

Buyung Siu tersenyum.

"Ketika Hwee cu kami mendengar kalau ada banyak jago lihay telah berdatangan ke bukit Pii-bu-san ini, maka sengaja ia menyiapkan air teh dan mengundang saudara sekalian untuk berlstirahat sebentar disini, disamping itu Hwee cu kami pun ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk berbincang-bincang, sama sekali tidak mempunyai tujuan lain-"

Sudah jelas ucapan tersebut bukan muncul dari hati yang jujur, seandainya Ban-kiam Hwee-cu tidak mempunyai permainan busuk yang lain, bagaimana mungkin dia akan menyediakan banyak kursi disitu ? Bahkan bentuknya seperti hendak menyelenggarakan suatu pertarungan saja ?

Disaat ia baru selesai berkata, tampak seorang jago pedang berpita hitam masuk ke dalam dengan langkah tergesa-gesa, kemudian setelah menjura kepada Buyung Siu katanya.

"Lapor congkoan, Sip-cu taysu dan Sin-ci kiBeng tayhiap dari Siau-lim-pay telah berkunjung datang." Buyung Siu segera bangkit berdiri sambil berkata. "Totiang, silahkan duduk dulu, siaute akan pergi sebentar."

Tidak menunggu jawaban dari Thian Khi cu, dia segera membalikkan badan dan beranjak pergi.

Tak selang berapa saat kemudian dia muncul kembali mendampingi Sip-cu taysu, Sin-ci kiBeng Kian-hoo dan seorang hweesio kecil.

Ketika Sip-cu taysu melihat Thian Khi cu berada disitu, buru-buru dia menjura sembari menyapa.

"omintohud, rupanya totiang sudah datang lebih duluan ?"

Thian Khi-cu segera bangkit dan membalas hormat, sahutnya sambil tertawa:

"Taysu, Beng tayhiap. silahkan "

Beng Kian hoo menjura kepada Thian Khi-cu, kemudian saling menyapa pula dengan Keng hian todjin serta Thio Kun-kai dua bersaudara.

Maka semua orang pun lantas mengambil tempat duduk masing- masing, dua orang lelaki berbaju hitam muncul menghidangkan air teh dan meletakkannya ke atas meja.

Buyung Siu berbincang-bincang sebentar kemudian bangkit berdiri dan berlalu dari situ.

Sip-cu taysu dengan sorot matanya yang tajam segera memandang sekejap sekeliling arena, dia menyaksikan diluar ruangan kecuali berdiri empat jago pedang berpita hijau, dalam ruangan hanya hadir mereka beberapa orang, tanpa terasa segera tanyanya dengan suara rendah:

"Totiang, tahukah kau persoalan apa yang hendak dibahas dalam pertemuan hari ini?"

Thian Khi cu tertegun, lalu sahutnya. "Jadi taysu juga tidak tahu

?" "omintohud, apakah totiang juga tak mengetahui duduk persoalannya yang sesungguhnya?"

Thian Khi cu mengelus jenggotnya yang panjang, kemudian setelah termenung sejenak, sahutnya:

"Terus terang saja kukatakan taysu, sebetulnya pinto sekalian hendak pergi ke sik jin-tian untuk menyelesaikan suatu persoalan siapa tahu ditengah jalan kami telah bersua dengan orang orang Ban kiam hwee, dikatakan mereka dapat perintah dari Hwee cunya untuk mengundang pinto datang kemari, taysu dan Beng tayhiap pun muncul pula disini."

Sip cu taysu danBeng Kian hoo segera saling berpandang sekejap. kemudian manggut- manggut.

"Nah... itulah dia, pinceng dan Beng sute juga dalam perjalanan menuju kekuil sik jin-tian setelah mendengar berita dari pihak Pau in si yang mengabarkan kematian Phit pangcu, Tin pangcu, siapa tahu ditengah jalan kami bersua dengan orang orang Ban kiam hwee, mereka mengundang kaki datang kemari, apa yang dikatakan pun persis seperti apa yang disampaikan kepada totiang. kalau ditinjau dari keadaan ini, bisa dikumpulkan kalau pihak Ban hiam hwee memang sudah mengatur pertemuan tersebut "

Thian Khi cu memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian berbisik:

"Perkataan taysu memang benar, menurut apa yang pinto ketahui, pihak Ban-kiam hwee sudah puluhan tahun lamanya tidak berkelana lagi dalam dunia persilatan, tampaknya sarang mereka terletak di bukit Kiam-bun-san, anehnya Ban-kiam Hwee cu mereka bisa muncul secara tiba-tiba ditempat ini, nampaknya ada suatu yang tak beres"

Sip cu taysu semakin merendahkan suaranya lati, dia berbisik: "Konon tempat ini merupakan bekas sarang dari Ban kiam hwee

dan hingga kini dijadikan markas besar jago-jago pedang berpita hitam mereka, menurut apa yang pinceng ketahui, meski Ban kiam hwe sudah banyak tahun tak pernah muncul lagi didalam dunia persilatan, namun jago-jago pedang berpita hitam mereka selalu bergerak secara diam diam dalam dunia persilatan, bahkan dari pelbagai partai besar pun terdapat murid murid murtad yang telah bergabung dengan mereka.."

"Aah. masa ada kejadian seperti ini ?" seru Thian Khi cu dengan mata terbelalak dan hati yang bergetar keras.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tampak Buyung Siu muncul kembali sambil membawa seorang tosu tua berjubah abu abu yang berperawakan kurus dan kecil, dia berjalan langsung menuju ke ruang tengah.

Di belakang tojin itu, mengikuti empat orang tosu muda berbaju hijau, pada pinggang masing masing terselip sebuah senjata Hud tim yang terbuat dari bulu kuda, jelas senjata kebutan tersebut merupakan senjata andalan mereka.

Tojin berbaju abu-abu itu bermuka kurus dan sempit dengan tulang kening yang sempit, wajahnya nampak dingin dan licik.

Waktu itu ditemani oleh Buyung Siu ia berjalan masuk kedalam ruangan dengan langkah lebar, setelah memandang sekejap sekitar arena, mendadak serunya sambil tertawa terbahak bahak.

"Haah, haaah, haaah, tampaknya orang-orang dari Siau lim dan Bu-tong telah berdatangan semua, kalau begitu siaute sudah datang terlambat." katanya kemudian.

Sembari berbicara, dia lantas menjura ke pada Sipcu taysu sekalian. Baik Thian Khi cu maupun Sipcu taysu sama sama dibikin tertegun oleh ucapan mana. Suara orang ini sangat nyaring, sorot matanya juga tajam bagaikan sembilu, jelas tenaga lweekangnya sudah berhasil mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa, cuma anehnya mereka tak mengenali siapa gerangan orang tersebut. Tapi, karena orang lain sudah menyapa maka mereka pun terpaksa ikut bangkit dan membalas memberi hormat. Sambil tersenyum Buyung Siu segera berkata.

"Saudara ini adalah saudara Seh, sudah puluhan tahun lamanya tak pernah munculkan diri dalam dunia persilatan apa lagi sekarang muncul dengan dandanan seorang tojin, tak heran kalau kalian tidak mengenalinya, dia adalah. "

Belum sampai perkataan itu selesai diutarakan, sambil tertawa tojin berbaju hitam itu sudah menyeIa. "Siaute Seh Thian yu "

Begitu mendengar nama "Seh Thian yu", Thian Khi cu dan Sip cu taysu menjadi terkesiap. mereka tak mengira kalau orang itu adalah Hek Seng kun dari empat raja racun didunia.

Buru-buru Thian Khi cu dan Sip cu taysu berseru:

"ooooh, rupanya saudara Seh, selamat berjumpa, selamat berjumpa "

Seh Thian yu segera mengalihkan sorot matanya kembali kembali kesekeliling ruangan, kemudian setelah memandang sekejap ke altar didepan situ dia melangkah mencari tempat duduk. katanya kemudian sambil tertawa, "Jago lihai dari mana lagi yang telah diundang oleh hwee-cu kalian ?"

Dalam pandangannya, seakan-akan Siau limpay dan Bu tong pay bukanah suatu perguruan yang luar biasa. Buyung Siu segera menjawab:

"siaute hanya mendapat perintah untuk menyambut kedatangan tamu agung, soal masih ada siapa lagi yang diundang datang siaute sendiripun kurang begitu jelas" Seh Thian yu terkekeh-kekeh.

"Heeehh . .. heeeh . . . heeehh. . saudara Buyung adalah congkoan dari perkumpulan ini, bila dikatakan saudara Buyung tidak jelas, siaute kok merasa kurang percaya."

Buyung Siu segera tertawa nyaring. "Bila saudara Seh tidak percaya, siaute pun merasa makin sulit untuk menjawab lagi." "Ketika siaute baru tiba didepan bukit situ, jago pedang berpita hijau anak buah saudara Buyung telah datang menyambut kedatangan ku, bahkan mengundangku kemari, ditinjau dari hal itu,jelaslah sudah kalau saudara Buyung telah melakukan persiapan ditempat ini."

Buyung Siu tertawa hambar.

"Kalau begitu saudara Seh salah paham, hari ini Hwee-cu kami berada disini, maka setiapjago lihay yang kebetulan berada diseputar bukit Pit-bu san telah diundangnya tanpa kecuali."

"siaute juga tahu kalau jago iihay yang berdatangan tidak sedikit jumlahnya, tapi siapa kah mereka, aku baru bisatahu setelah mereka berdatangan semua kemari."

"ooooh, kalau begitu siautelah yang salah menuduh Buyung congkoan." kata Seh Thian yu sambil mengelus jenggotnya dan tertawa seram.

Dlambilnya cawan air teh dan diminumnya setegukan, kemudian ujarnya lebih jauh: "Siaute masih ada satu hal ingin ditanyakan kepada saudara Buyung . . ."

"Katakan saudara Seh "

Dengan senyum tak senyum Seh Thian yu berkata.

"Berhubung tadi siaute masih ada sedikit urusan, kedatanganku ini sangat terlambat datangnya, tapi sebelun siaute sebetulnya murid- murid ku sudab berdatangan kemari, padahal jago pedang berpita hijau dikerahkan ke empat penjuru untuk menyambut kedatangan tamu agung, haaah, haaaah, aku rasa murid-murid ku semua tentunya sudah diundang datang semua oleh saudara Buyung bukan ?"

Bukan cuma gelak tertawa nyayang luar biasa, terutama kata "diundang" tersebut benar benar diucapkan amat tepat.

Buyung Siu menjadi tertegun setelah mendengar ucapan mana, serunya dengan cepat: "Tentang masalah ini siaute kurang begitu tahu, apa bila murid murid saudara Seh telah diundang kemari, seharusnya mereka akan di hantar datang kemari." katanya menerangkan.

Kembali Seh Thian yu tertawa seram.

"Heeeh, heeeh, heeeh, saudara Buyung benar-benar tidak tahu atau sengaja berlagak tidak tahu ? seandainya murid murid ku tak kalian undang masuk. memangnya mereka bisa lenyap di tengah udara dengan begitu saja ?"

Kali ini Buyung siu dapat menangkap arti dibalik perkataan itu, dia tertawa dan berkata: "Kalau begitu biar kutanyakan dulu persoalan ini kepada Chin congkoan. ."

"Chin Toa-seng ?" mencorong sinar tajam dari balik mata Seh Thian yu.

Thian Khi cu dan Sip cu taysu sekalian yang mendengar Seh Thian yu mengucapkan nama Chin Toa seng pun nampak pada tertegun.

Sut but-kuicu (tangan setan pengejar nyawa) Chin Toa-seng sudah termashur sebagai jagoan lihay dikalangan golongan hitam pada dua puluh tahun berselang, selama dua puluh tahun belakangan ini, jarang ada orang yang mengetahui tentang kabar beritanya lagi, siapa sangka kalau dia telah menjadi seorang congkoan dari perkumpulan Ban-kiam hwee.

Pada saat itulah dari belakang meja altar kedengaran orang mendehem, kemudian menyahut sambil tertawa:

"oh, rupanya saudara Seh telah datang, maaf kalau siaute tidak menyambut kedatanganmu. "

Seorang kakek berbaju biru, berambut keriting dan membawa sebuah huncwee berjalan keluar dari balik meja altar.

Orang itu bukan lain adalah congkoan dari jago pedang berpita hitam dalam Ban kiam-hwee siTangan setan pengejar nyawa Chin- Toa seng adanya, dengan senyuman menghiasi wajahnya, dia menjura berulang kali kepada setiap orang yang berada disana. Sesudah tertawa seram, Seh Thian yu berkata:

"Apakah murid muridku telah terjatuh lagi ketangan saudara Chin

?" Sambil tertawa paksa Chin Toa seng berkata:

"Silahkan duduk dulu saudara Seh, tadi memang ada beberapa orang yang memaksakan diri untuk menyerbu masuk melalui pintu kematian, diantara mereka ada tiga orang yang justru berasal dari selat Tok see sia..."

"Dimana mereka sekarang?" tanya Seh Thian yu dengan wajah berubah membesi. Dengan senyum yang masih menghiasi ujung bibirnya Chin Toa seng menjawab:

"Saudara Seh tak usah kuatir, barusan siaute telah mendapat pesan dari Hwee cu bahwasanya setiap orang mendatangi buku Pit busan pada hari ini adalah tamu perkumpulan kami, siaute telah mengutus orang untuk mengundang mereka, aku rasa mereka pasti akan muncul tak lama kemudian, hanya saja siaute mempunyai suatu permintaan."

"Apa permintaanmu?"

"Beberapa orang anak buah siaute telah keracunan, konon terkena pasir beracun Hu tim tok see, oleh sebab itu siaute mohon obat penawar dari saudara Seh."

"Kalau toh saudara Chin tidak mempunyai tujuan untuk bermusuhan, bawa saja mereka kemari di saku murid ku tersedia obat penawarnya."

"Saudara seh, kau tidak tahu, muridmu telah terperosok kedalam perangkap karena salah menginjak alat rahasia, begitu terperosok merekapun segera menelan semua obat penawar racun yang ada."

Seh Thian yu segera tertawa terbahak bahak

"Haaahhh. . .haaahhh. . . haaahhh. . . .suatu tindakan yang bagus sekali, barang siapa mengengus pasir beracun Hu tim tok see, dalam satu jam kemudian racun itu akan mulai bekerja dan korban tak akan tertolong lagi, padahal jago pedang dibawah pimpinan audara Chin terdiri dari jago-jago pelbagai perguruan yang tidak gampang mencarinya, ayang siaute tidak membawa obat penawar, tunggu saja sampai murid muridku keluar, ampai waktunya pasti akan kuberikan obat penawar racun itu untukmu."

Sementara itu dari belakang meja altar kedengaran suara langkah kaki yang ringan bergema datang.

Menyusul kemudian muncul seorang jago pedang berpita hitam yang mengiringi seorang pemuda berbaju biru yang berwajah penuh kegusaran dan bersikap sangat angkuh, pelan-pelan berjalan mendekat.

"Sahabat, silahkan minum teh di ruang tengah." jago pedang berpita hitam itu segera berhenti sambil mengulapkan tangannya.

selesai berkata. ia membalikkan badan dan mengundurkan diri dari tempat tersebut.

Pemuda berbaju biru itu mendengus dingin sorot matanya yang tajam segera dialihkan sekejap ke ruang tengah dan akhirnya berhenti diwajah Buyung Siu, kemudian serunya sambil menuding dengan kipaS peraknya:

"Apakah saudara adalah congkoan pasukan jago pedang berpita hitam Chin Toa-seng?" Chin Toa-seng tertawa serak.

"Lohu adalah Chin Toa-seng, sedang dia adalah congkoan dari pasukan berpita hijau Buyung sianseng." katanya. Buyung Siu segera tersenyum.

"silahkan duduk saudara Lan " katanya. "Bagus sekali " jawab Lan Kun-pit dingin.

Dia segera berjalan menuju ke kursi sebelah kiri dan duduk di sana.

Thian Khi cu dan Sip cu saling berpandangan sekejap. seakan- akan mereka sedang saling bertanya: "Siapa pemuda ini? Besar amat lagaknya "

Lak jiu im eng yang berada di belakang satunya segera bertanya pada kakaknya dengan suara lirih, Bwee hoa kiam Thio Kun kai segera menggelengkan kepalanya berulang kali:

Dari belakang meja altar kembali terdengar suara pembicaraan manusia, terdengar suara seorang bocah sedang berkata dengan nada tak sabar.

"Kita inilah berjalan keluar dari lorong rahasia, buat apa kau masih mengukur kesana ukur kemari. Mengukur kentut barangkali?"

Suara yang lain segera menyahut : "Semuanya gara-gara kau, bilang pintu itu pasti didepan bukit, akhirnya pintu tak bisa dilewati, jalan kematian yang kita jumpai, malah kena ditipu orang lagi"

"siaute toh belum pernah mempelajari segala macam ilmu jebakan atau alat rahasia..." suara si bocah tertawa terbahak-bahak.

Kemudian terdengar lagi suara lain berbisik: "Harap kalian berdua jangan berbicara kelewat keras, mungkin diruang depan sudah kedatangan banyak tamu."

Rupanya suara itu berasal dari sipetunjuk jalan-Suaranya dari bocah tersebut makin bertambah keras, bentaknya

"Aku tidak ambil perduli tamu agung atau tidak, buat apa aku mengurusi mereka adalah anak kura kura dari mana saja?"

"Wees. . ." dia segeri melompat keluar dari belakang meja altar tersebut.

Tapi begitu munculnya diri Tok Hay ji segera berdiri bodoh, mukanya berubah menjadi kuning, buru dia menundukkan kepalanya dan berseru dengan hormat: "Suhu. . ."

Ketika Lupan beracun dan Tok si cuan menyaksikan kehadiran Seh Thian yu disitu pun buru buru membungkukkan badan sambil berseru: "Susiok" Seh Thian yu segera melotot besar kepada Tok Hay ji bentaknya keras-keras:

"Bocah goblok. tampaknya nyalimu makin lama semakin besar, kalau berbicara tak tahu ukuran, kalau begini cara kerjamu persoalan apapun pasti akan menjadi berantakan akhirnya."

Tok Hay ji tak berani banyak bicara, mukanya merah padam, mengikuti dibelakang Lu pan beracun dan sipencuri beracun, ia segera berdiri dibelakang Seh Thian yu.

"Saudara Seh" Chin Toa seng segera berkata sambil tertawa rendah, "sekarang tentunya kau bersedia memberi obat penawarnya bukan?"

Dari dalam sakunya Seh Thian yu mengeluarkan sebuah botol kecil dan diangsurkan kedepan, katanya:

"cukup enduskan obat ini ke sisi hidung orang yang keracunan, mereka akan segera menjadi sembuh kembali."

"Terima kasih saudara Seh " Setelah menerima obat penawar itu, dia lantas bertepuk tangan dua kali.

Dari belakang meja altar segera melompat keluar seorang bocah, Chin Toa-seng memberikan botol tersebut sambil memberitahukan Cara penggunaannya. Bocah tersebut buru-buru mengundurkan diri.

Lewat seperminum teh kemudian, Seh Thian yu mulai habis sabarnya, tiba tiba ia berseru:

"Yang seharusnya datang mungkin sudah datang, bagaimana ? Apakah tamunya dibiarkan duduk menunggu terus ? Mana Hwee cu perkumpulan kalian ?"

Chin Toa seng saling berpandangan sekejap dengan Buyung Siu, kemudian ujarnya:

"Waktunya sudah hampir tiba, mungkin memang tiada orang yang akan datang lagi, saudara Buyung, bagaimana kalau mengundang kedatangan Hwee cu.. .?" Buyung Siu termenung sebentar kemudian manggut-manggut, katanya sambil menjura.

"harap saudara se kalian suka menunggu sebentar, siaute akan segera mengundang kedatangan Hwee cu kami."

Ternyata Ban kiam hweecupun masih harus diundang datang, hal ini benar-benar menunjukkan kalau lagak mereka memang luar biasa.

Selesai berkata, Buyung Siu segera menjura berulang kali kepada semua orang yang hadir, kemudian baru membalikkan badan dan menuju kebelakang altar dengan langkah cepat. Chin Toa seng mengikuti pula dibelakang Buyung Siu masuk kedalam ruang rahasia.

Sepeninggalan kedua orang itu, Seh Thian yu haiu tertawa seram, kepada sip cu taysu dan Beng Kian ho katanya:

"Taysu dan Beng loko berdua tentunya datang kemari disebabkan kematian dari Thi pit pang cu sebagai murid tercatat dari partai kalian bukan? Tahukah kalian berdua bahwa yang mati adalah bukan Ting ci kang yang asli.?"

Sip cu taysu maupun Beng Kian hoo menjadi tertegun, Ting ci kang sebagai murid tercatat dari Siau limpay boleh dibilang merupakan suatu kejadian yang jarang diketahui oleh umat persilatan, tapi kenyataannya Seh Thian yu berhasil mengungkapkan secara jitu. 

Terutama sekali perkataannya yang mengatakan bahwa Ting ci kang yang mati bukan Ting ci kang asli, semua orang makin terperanjat lagi dibuatnya. Buru Sip cu taysu merangkap tangannya didepan dada sambil berkata. "omintohud, darimana Seh sicu mendapatkan kabar berita tersebut?"

Seh Thian yu tertawa hambar "Siaute telah melakukan pemeriksaan yang amat teliti, Ting ci kang yang tewas dalam kuil Sikjin tian sesungguhnya adalah wakil congkoan dari pasukan pita hitam perkUmpulan Ban kiam bwee yang bernama cu Bun Wi..." Sin-ci kiBeng Kian hoo mempunyai hubungan yang akrab sekali dengan Ting ci kang, mendengar perkataan itu. segera ujarnya dengan mata melotot besar.

"Lantas dimanakah Ting lote sekarang?"

Berkilat sepasang mata Seh Thian yu, sambil mencibir katanya dengan suara dingin, "Mungkin saja masih berada ditangan mereka- "

"Ditangan Ban kiam hwee maksudmu?" seru Sip cu taysu dengan wajah tertegun.

"Bukti menunjukkan kalau orang orang dari Tok see sia pun barusan terjatuh ditangan pihak Ban kiam-hwee, dari sini bisa disimpulkan bahwa berita tertangkapnya Ting ci kang oleh pihak merekapun merupakan berita yang dapat di percaya."

"Aku pikir tak bakal salah lagi," seru Seh Thian yu sambil tertawa seram.

Baru selesai dia berkata, dari bawah meja altur tersebut berkumandang gemerincing nyaring, kemudian meja sltar tersaDut pelan-pelan bergeser ke sebelah kiri.

Di belakang meja altar yang bertirai kain berwarna kuning merupakan pintu rahasia yang cukup lebar, tapi di sebelah kiri dan kanannya waktu itu masing-masing berdiri seorang dayang berbaju merah yang bertugas menyingkap kain tirai.

Pintu rahasia tersebut berbentuk bulat, didalamnya merupakan sebuah lorong rahasia yang sangat lebar, diatas dinding gUa terdapat sederet lampU model keraton yang memancarkan sinar terang.

Waktu itu, dari balik lorong rahasia yang lebar terlihat ada serombongan manusia sedang berjalan mendekati dari kejauhan sana.

orang yang berjalan paling depan adalah congkoan jago pedang berpita hitam Chin Toa seng serta congkoan jago pedang berpita hijau Buyung Siu, dibelakang kedua orang itu mengikuti dua orang muda mudi. seorang pemuda berbaju hijau dan seorang gadis berbaju hijau pula.

Walaupun gadis berbaju hijau itu berwajah cantik dan menarik, namun tak seorangpun yang mengenalinya.

Tapi ketika semua orang menjumpai pemuda tersebut, hati mereka menjadi amat terkesiap. pikirnya dengan segera:

"Aaah, dia telah menggabungkan diri dengan perkumpulan Ban kiam hwee"

Keng-hian tojin segera membungkukkan badan berbisik lirih dengan Thian Khi cu: "Susiok. pemuda berbaju hijau itu adalah Wi Tiong-hong, murid Toa supek."

Sedang Sin ci kiBeng Kian hoo segera berpikir dengan kening berkerut kencang:

"Apabila orang she Wi itu adalah anggota Ban-kiam-hwee, tak heran kalau Ting lote terjatuh ketangan mereka."

Lakjiu im eng Thio Man tidak ambil perduli terhadap persoalan itu, sepasang matanya yang tajam hanya mengawasi gadis berbaju hijau yang berada dibelakang tubuh Wi Tiong hong tanpa berkedip.

Gadis berbaju hijau itu kelewat cantik, membuat dia merasa amat tidak leluasa dan kuatir sekali.

Sementara semua orang yang berada dalam ruargan masih menduga-duga setelah melihat kemunculan Wi Tiong hong, teka- teki itu segera terpecahkan.

Kedengaran congkoan dari jago pedang berpita hijau Buyung Siu mengangkat tangannya dan berkata sambil tersenyum:

"Wi sauhiap. nona Su, silahkan duduk dikursi tamu"

"oooh .. . rupanya merekapun tamu." semua orang baru berseru tertahan setelah mendengar ucapan mana. Tapi paras muka Thio Man segera berubah hebat, ia tak menyangka kalau mereka sejalan, Sekujur tubuhnya kontan bergetar keras, hampir saja dia tak mampu berdiri tegak. Wi Tiong hong dan Su Siau hui telah mengambil tempat duduk masing- masing . . .

Wi Tiong hong segera memberi hormat kepada Sin cu ki Beng Kiam hoo dan Keng hian todjin sekalian baru selesai menyapa, dari balik pintu rahasia kembali muncul jago-jago persilatan-

oooo@dw@oooo

DALAM PADA ITU, Buyung Siu dan Chin Toa seng telah berdiri disebelah kiri dan kanan kursi utama.

Menyusul kemudian berjalan keluar empat orang gadis berdandan model keraton matanya jeli dan berwajah cantik tapi dingin, sebilah pedang berpita kuning tersoren dipinggang.

Walaupun perkumpulan Ban kiam hwee sudah lama tidak melakukan perjalanan didalam dunia persilatan tapi setiap orang tahu kalau para jago yang tergabung dalam perkumpulan itu terbagi dalam empat warna pita yakni hijau, merah, putih dan hitam, hanya bwee cu seorang yang memakai pita pedang berwarna kuning emas.

Sekarang, ke empat orang gadis berdandan model keraton itu memakai pedang dengan pita berwana kuning, tak heran kalau semua jago yang hadir sama-sama jadi tertegun. Seh Thian yu sendiripun diam- diam merasa keheranan, pikirnya:

"Tak disangka kalau keempat orang dayang kepercayaan Ban kiam hwee cu masih begitu muda, mana cantik jelita lagi"

Tentu saja orang yang berada dalam ruang itu bukan hanya dia seorang yang tahu kalau mereka adalah empat dayang kepercayaan dari Ban kiam Hwee cu. Ke empat orang gadis cantik itu berjalan menuju kebelakang kursi utama di tengah ruangan, kemudian berdiri berjajar di belakangnya dengan sikap hormat.

Pada saat itu dari dalam pintu rahasia berbentuk bulat itu muncul seorang lelaki berwajah tampan yang mengenakan pakaian perlente.

Tampak dia berjalan dengan langkah lebar langsung menuju ketengah ruangan-

Lelaki berpakaian perlente itu berusia tiga puluh lima tahUnan, berwajah tampan dan gagah, kalau dilihat dari pedang panjang berpita kuning emas, yang tersoren dipinggangnya, semua orang segera mengenalinya sebagai Ban kiam hwee cu.

Penampilan yang sama sekali tidak terduga ini dengan cepat semua orang yang hadir menjadi tertegun, siapapun tidak menyangka kalau Ban kiam hwee cu yang termashur namanya di dalam dunia persilatan itu kenyataannya masih begitu muda.

Waktu itu Wi Tiong hong berjalan mendekati kursi tamu pada deretan sebelah kiri dan duduk di bawah Sin ci ki Beng Kian hoo.

Tempat duduk para tamu terbagi menjadi samping kiri dan kanan, disebelah kiri terdapat delapan buah kursi yang ditempati oleh Thia Khi cu dari Bu tong pay. Sip cu taysu dari siau limpay dan Sin ci kiBeng Kian hoo.

Sedangkan dari delapan kursi yang berada disebelah kanannya hanya ditempati Seh thian yu dan Lan Kunpit dua orang.

Ketika Lan Kunpit menyaksikan Su siau hui mengikuti dibelakang Wi Tiong hong, dengan cepat dia berseru: "Piau moay"

"Enmm. . ." Su Siau hui menyahut dengan wajah hambar, kemudian duduk disamping Wi Tiong hong.

Menyaksikan kesemuanya, itu paras muka Lan Kunpit yang tampan segera berubah dari merah menjadi pucat, lalu dari pucat, berubah menjadi hijau membesi, sepasang matanya merah membara, api cemburu telah membakar didalam dadanya

Setelah duduk. Su Siau hui sama sekaii tidak menengok kearahnya apa lagi pada waktu itu Ban kiam Hwee cu sedang muncul di arena sudah barang tentu semua orang yang berada dalam ruangan tak ada yang memperhatikan perubahan mimik wajahnya.

Tidak, rupanya masih ada seseorang lagi yang sempat menyaksikan gejala tak beres itu, dia adalah Lakjiu im eng Thio Man yane sedari tadi mengamati wajah Wi Tiong hong.

Ban kiam Hwe cu langsung berjalan maju ke depan kursi kebesaran yang berlampiskan kain kuning ditengah ruangan itu, kemudian baru berhenti. . .

Congkoan pasukan pedang berpita hijau Buyung Siu dan congkoan pasukan pedang berpita hitam Chin Toa-seng segera memisahkan diri kekiri kanan kursi kebesaran dan berdiri disisi agak depan, dimana tersedia pula dua buah kursi kebesaran beralaskan kain merah.

Tampaknya kedua buah kursi tersebut memang khusus disediakan untuk kedua orang congkoan tersebut.

Sikap maupun tindak tanduk orang-orang Ban kiam- hwee memang betul-betul kelewat sok, pada hakekatnya mereka tidak memandang sebelah mata pun terhadap para jago persilatan kalau tidak. mana ada tuan rumah duduk diatas dan membiarkan tamunya duduk dibagian bawah ?

Setelah suasana hening untuk beberapa saat lamanya, congkoan pita hijau Buyung Siu baru menjura kepada semua orang sambil berkata dengan suara nyaring:

"Saudara sekalian, hwee cu kami merasa sangat gembira dapat berkenalan dengan kalian semua, dan kabetulan saudara sekalian pun sedang berada dibukit Pit bu-san pada hari ini, oleh sebab itu dengan harapan yang besar, hwecu kali ini ingin sekali mengundang  saudara sekalian untuk berbincang-bincang disini, tapi sebelum itu, biar siaute memperkenalkan lebih dulu kepada saudara sekalian."

Berbicara sampai disitu, kepada Ban kiam hwecu segera katanya.

"Yang ini adalah Thian Khi cu totiang dari Bu tong pay, yang ini adalah Sip cu taysu ketua ruang Lo han tong dari siau limpay, sedang yang ini adalah Sin cu kiBeng kiam ho, Beng tayhiap dari an wan piaukiok kota sang siau."

"Kemudian ke dua orang ini sudah Hweecu kenali, yang satu adalah wakil pang dari perkumpulan Thi pit pang Wi Tiong- hong, Wi tayhiap. sedang yang ini adalah nona Su dari Lam-hay bun . . ."

Ketika Wi Tiong hong mendengar orang itu menyebut dirinya sebagai wakil dari ketua Thi pit pang, hatinya segera tertegun, dengan cepat pikirnya:

"Dari mana dia bisa tahu kalau aku telah menyanggupi untuk menjadi pang-cu Thi pit pang untuk sementara waktu ?"

Sementara itu ketika para jago mendengar Buyung Siu memperkenaikan Wi Tiong hong dan Su Siau hui, semua orang pun dibikin tertegun, terutama sekali terhadap si nona berbaju hijau itu, semua orang memang tak ada yang tahu asal usulnya, mereka menjadi melongo setelah tahu kalau nona itu berasal dari Lam hay.

Tampaknya Buyung Siu telah memperkenalkan deretan tamu yang berada disebelah kanan, lanjutnya:

"Yang ini adalah Hek sat kun Seh Thian yu. Seh totiang dari Tok see sia, sedang yang ini adalah Lan Kunpit, Lan tayhiap dari keluarga Lan dipropinsi In lam." Semua tamu yang berada disebelah kiri maupun kanan, serentak bangkit berdiri.

Sambil tersenyum, Ban kiam hweecu memandang tamunya satu persatu dengan sinar mata tajam, kemudian sambil menjura katanya berulang kali.

"Selamat datang, selamat datang, silahkan duduk. silahkan saudara sekalian duduk . ." Belum habis dia berkata, mendadak dari luar ruangan berkumandang suara gelak tertawa yang amat nyaring.

"Haaah ... haaa ... haaah . . tampaknya kedatangan siaute masih belum tertambat ..."

Ketika semua orang berpaling, tampaklah dua orang manusia berjalan masuk ke dalam ruangan diiringi gelak tertawa nyaring.

Yang berjalan didepan adalah seorang lelaki beralis mata tebal, bermata besar dan berwajah merah, dia mengenakan topi pet terbuat dari kulit yang berwarna merah, memakai jubah panjang berwarna hijau dan sepatu laras terbuat dari kulit.

Dia berdandan seperti seorang saudagar, tapi seperti pula seorang hartawan kaya dari pinggir perbatasan, sambil berkata, tangannya menjura tiada hentinya kearah semua orang didalam ruangan.

Dibelakang orang ini mengikuti seorang gadis bergaun hitam yang memakai kain cadar hitam diwajahnya, ia bertubuh ramping, dilihat dari balik kain cadarnya bisa diketahui mukanya berbentuk kwaci dengan sepasang mata yang jeli.

Kehadiran lelaki perempuan ini sangat mendadak, kecuali Wi Tiong-hong, yang lain belum pernah bersua dengan mereka.

congkoan pedang pita hijau Buyung Siu nampak tertegun, kemudian sambil menjura dan tertawa katanya:

"Maaf bila Buyung Siu tidak menyambut kedatangan kalian berdua dari tempat jauh,entah "

Kata- kata selanjutnya tak sempat dilanjutkan dan segera terbungkam dalam seribu bahasa.

Congkoan pedang pita hitam chinToaseng segera, mendehem berulang kali, mendadak dia menyela:

"Tentunya saudara sekalian belum pernah bersua dengan Kam tayhiap bukan? Dia adalah Kam Liu cu, Kam tayhiap dari Thian sat bun yang belakangan ini termashur namanya didalam dunia persilatan-"

Ucapan pertama yang masih kedengaran enak. tapi kata selanjutnya yang disertai ucapan "belakangan ini",jelas menunjukkan suatu penegasan bahwa orang ini baru termashur belum lama.

Agaknya diapun hanya kenal dengan Kam-Liu cu seorang, sebab siapakah gadis berbaju hitam itu, sama sekali tidak disebutkan keluar oleh nya.

Tapi nama Thian sat bun tersebut tak bisa disangkal lagi merupakan guntur yang menggelegar di liang hari bolong, semua orang yang hadir disitu sama-sama dibikin terperanjat.

Dari sini bisa diketahui pula meski pertempuran yang diselenggarakan hari ini dilakukan oleh Ban kiam Hwee cu tanpa persiapan yang matang, namun semua orang diundang datang adalah jago-jago yang mempunyai nama besar.

Bukankah begitu? Selain Siau limpay dan Bu tong pay, disinipun hadir jago-jago dari Lam hay bun, Tok see sia, keluarga Lan di In lam. ditambah Thian sat bun sekarang.

Suasana dalam ruangan menjadi amat hening sepi, tak kedengaran sedikit suara pun, semua orang masih tetap berdiri tegak ditempat masing- masing.

Akhirnya Ban kian Hwee cu yang memecahkan keheningan sambil menjura katanya dengan tertawa:

"Selamat datang, selamat datang, kehadiran saudara Kam sungguh membuat pertemuan pada hari ini bertambah semarak, entah siapakah nama nona ini?"

"Terima kasih atas ucapan Hwee-cu." Kam Liu-cu tertawa bergelak. "dia adalah ji-sumoay ku Liu Leng-poo " Ban-kiam hwee- cu segera menjura, katanya cepat: "ooh, rupanya nona Liu, maaf jika siaute kurang hormat, hanya saja siaute mempunyai satu permintaan yang mungkin kurang pantas setelah nona Liu berada disini dapatkah kau melepaskan juga kain cadarmu, sehingga kami semua dapat menikmati raut wajahmu itu ?"

Tindak tanduknya lemah lembut dan halus amat sedap di dengar.

Sin ci ki Beng Kian hoo dan Keng hian lojin sekalian sudah pernah berhadapan dengan seorang gadis berkerudung hitam dari Thian sat bun ketika berada dalam perusahaanan wan piau kiok tempo hari, dimana waktu itu gadis tersebut membawa sebuah nampan perak yang berisikan pisau terbang. Kalau dipikir kembali, kemungkinan besar gadis itu adalah perempuan yang berada dihadapan mereka sekarang.

Tak heran kalau mereka pun ingin sekali menyaksikan raut wajah aslinya.

Hian ih lo sat Liu Leng po tertawa dingin "Bagaimana dengan Hwee cu sendiri? Mengapa kau tak menunjukkan pula wajah aslimu dihadapan para tamu?"jengeknya.

Ternyata wajah yang terlihat dari muka Ban kiam hweecu sekarang bukan wajah aslinya, ucapan tersebut segera mengejutkan banyak orang.

Serta merta Ban kiam Hwee cu meraba wajah sendiri dengan tangannya, kemudian berkata sambil tertawa nyaring:

"Maaf, semenjak dilahirkan siaute sudah berwajah demikian, apalagi berada di hadapan jago libay, masa aku berani memalsukannya, haah... haaah haah,,., tapi, kalau toh nona tak bersedia melepas kain kerudungmu, sudahlah" Kemudian sambil menjura pada semua orang dia berkata:

"Saudara sekalian, silahkan duduk. siaute sengaja mengundang kehadiran kalian karena ada satu persoalan yang hendak dibicarakan dengan kalian semua." Selesai berkata, dia lantas duduk lebih dahulu diatas kursi kebesarannya. Buyung Siu dan Chin Toa-seng turut mengambil tempat duduk.

Semua hadirinpun bersama sama duduk kembali, Kam Liu cu kakak beradik seperguruan menempati kursi kosong disamping Lan Kunpit.

Pelan pelan Kam Liu cu mendongakkan kepalanya, setelah tersenyum dan manggut-manggut manggut terhadap Wi Tiong- hong, kemudian ujarnya lagi:

"Aku orang she Kam pun hendak mengajukan suatu permintaan yang sekiranya tak pantas"

"Katakan saja saudara Kam " ucap Ban kiam hweecu.

"Tadi, sam sumoay ku masuk melalui pintu kematian dari bukit mestika kalian apabila hal ini menyinggung perasaan Hwee cu, harap kau sudi memaafkannya. . ."

"Siapakah sumoay dari saudara Kam ?" tanya Ban-kiam Hweecu dengan wajah tercengang.

Merah padam selembar wajah Wi Tiong-hong, barusaja dia akan buka suara, Kam Liu-cu sudah keburu menjawab: "Dia bernama Lok Khi . . ."

"oooh . ."Ban kiam hwecu segera mengalihkan sinar matanya dan memandang sekejap kearah Wi Tiong hong, kemudian ujarnya sambil tertawa:

"Tadi, saudara Wi juga telah menanyakan persoalan ini kepadaku, siaute sudah menitahkan kepada Chin congkoan untuk mengundang setiap orang yang berada dipintu kematian untuk berkumpul semua diruangan ini, tapi anehnya hanya jejak sumoay mu saja yang tidak nampak. menurut dugaan Chin congkoan, kemungkinan besar dia sudah mengundurkan diri dari tempat tersebut" Buru-buru Chin Toa seng congkoan dari pasukan jago pedang berpita hitam bangkit berdiri, kemudian berkata:

"Tepat sekali, keadaannya memang demikian siaute sudah menitahkan orang untuk memeriksa semua jalan tembus yang ada, namun jejak nona Lok belum juga ditemukan, bisa jadi dia sudah mengundurkan diri melalui jalan semula."

Hian ih losat Liu Leng po segera mendengus dingin. "Hmm, siapa yang percaya dengan ucapanmu itu ?" serunya. Buru-buru Chin Toa seng menjura lagi seraya berseru:

"Apa yang siaute ucapkan merupakan kenyataan semua, apabila Kam tayhiap sekalian tidak percaya, yaa, apa yang bisa siaute lakukan lagi?"

"Chin Toa seng, kau tak usah bermain setan di hadapan nonamu, ketika Wi Tiong hong menggunakan lencana Siu lo Ci leng minta kepadamu untuk melepaskan Ting ci kang, kenyataannya Ting ci kang gadungan yang kau selundupkan keluar, kali ini kau apakan sam sumoay ku lagi ? Terus terang saja kuberitahukan kepadamu, jika kau berani menyalahi anggota Thian sat bun, nona bisa menyuruh kau mampus seketika, percaya tidak kau dengan perkataanku ini ?"

Selain nadanya keras dan mendesak. juga amat tak sedap didengar.

Paras muka Soh hun kuijiu (tangan setan perenggut nyawa) Chin Toa seng berubah hebat, namun ia masih mencoba untuk menahan diri, katanya cepat-cepat: "Nona Liu, kesemuanya ini hanya salah paham."

"Hmm " tukas Hian ih lo sat kembali, "didepan maupun di belakang bukit Pii bu san hampir dipenuhi oleh anggota pedang berpita hitam yang melakukan perondaan, andaikata Sam sumoay.kami sudah mengundurkan diri, masakau tidak tahu?" Ucapan tersebut segera membungkam Chin Toa seng dalam seribu bahasa... Apa yang diucapkan gadis ini memang benar, wilayah seluas sepuluh li dari bukit Pit bu san ini ini sudah berada dibawah pengawasan yang ketat dari anak buahnya, para jago pedang berpita hitam, padahal selama ini dia tak pernah mendengar laporan yang mengatakan ada orang telah mengundurkan diri dari pintu kematian-

Namun seluruh lambung bukit dan lorong rahasia sudah diperiksa, bayangan tubuh Lok Khi tak pernah ditemukan, hal inipun merupakan suatu kenyataan-Dengan kening berkerut Ban kiam hweecu segera berkata:

"Nona Liu, harap kau jangan marah, apa yang diucapkan Chin congkoan merupakan kenyataan bahkan siaute sendiripun sedang merasa keheranan dan tidak habis mengerti . ."

Belum selesai perkataan itu diucapkan mendadak terdengar seseorang menyambung.

"Apanya yang aneh? Berhubung lohu merasa masih punya banyak waktu luang maka aku telah mengajaknya berpesiar diseluruh lorong, siapa suruh anak buahmu cuma gentong-gentong nasi yang bermata buta semua. . ."

Suara itu serak dan tua, jelas berasal dari seseorang yang sudah lanjut usia.

Setiap orang dapat mendengar dengan jelas ternyata suara itu berasal dari mulut patung dewa tanah yang duduk diatas meja altar tersebut. Ban kiam hwee segera menjadi tertegun.

Congkoan pasukan pita hijau dan congkoan pasukan pita hitam juga turut tertegun.

Patung dewa tanah itu sebetulnya bukan dewa tanah yang sesungguhnya melainkan merupakan patung dari Kiam cu angkatan pertama dari perkumpulan Ban kiam hwee.

Patung yang terbuat dari besi baja tentu saja tak dapat berbicara, kalau begitu berarti dalam patung itu tersembunyi seorang jagoan yang berilmu tinggi. Tapi suara itu jelas kedengaran kalau berasal dari patung tersebut?

Mendadak Ban kiam hwee cu teringat kembali akan dengusan dingin yang amat berat sewaktu Wi Tiong hong dan Su Siau hui memasuki ruangan rahasia tadi.

Waktu itu, dia pernah memerintahkan kepada ke empat dayang kepercayaannya untuk pemeriksaan, alhasil sesosok bayangan manusia pun tidak nampak.

Ditinjau dari sini dapat diketahui bahwa ada seorang jago lihay yang berilmu timggi sedang bersembunyi disekitar tempat itu.

Tergerak hatinya setelah berpikir sampai di sini, dia segera menjura sembari berseru. "Siapakah kau ? Mengapa tidak segera munculkan diri untuk bertemu dengan kami ?" Suara yang parau dan tua itu tertawa tergelak.

"Tahukah kau kini lohu berada di mana ? Haaah haaah. haaah, tak seorangpun diantara kalian yang tahu bukan ? Hai bocah perempuan ayolah kau turut berbicara beberapa patah kata"

Tak salah lagi, suara itu memang benar-benar berasal dari mulut patung area tersebut.

Dari balik patung area tadi segera berkumandang suara tertawa cekikikan yang merdu disusul kemudian suara seorang gadis berkata.

"Kam suko, ji-suci, kalian tidak dapat melihat aku bukan ? Tapi aku dapat menyaksikan kalian berdua, oh. sungguh menggembirakan" jelas suara itu berasal dari Lok Khi, dan tidak mungkis bisa salah lagi

Wi Tiong-hong pun merasa berlega hati sesudah mendengar suara dari Lok Khi, Sebaliknya senyuman cerah segera menghiasi wajah Kam Liu-cu dan Hun-ih-lo-sat. Berbeda sekali dengan Ban kiam hweecu dan kedua orang congkoannya, paras muka mereka berubah hebat dan tampak terperanjat sekali.

"Hal ini membuktikan kalau disitu masih terdapat alat rahasia lain, tapi alat rahasia mana sama sekali tidak diketahui oleh setiap anggota Ban-kiam-hwee."

Kedengaram suara kakek itu berkata lagi. "Hai bocah perempuan sekarang kita sudah boleh keluar"

"Tunggu dulu, aku ingin menonton lagi sebentar" seru Lok Khi. "Aaaai, dilihat lebih lama pun toh sama saja, bila kau tak mau

pergi, lohu akan pergi dulu."

Suasana dalam ruangan ituamat hening, yang kedengaran hanya suara tanya jawab dari dalam patung itu saja.

Menanti mereka telah selesai berbicara, terdengarlah suara langkah manusia yang berkumandang dari dalam lorong rahasia.

Sementara itu kain kuning didepan mulut gua sudah diturunkan sehingga semua orang hanya mendengar suaranya tapi tidak dapat melihat apa yang terjadi didalam.

Suara langkah kaki manusia itu segera berhenti didepan pintu, kemudian terdengar kakek itu membentak lagi:

"Hei budak. mengapa tidak menyingkapkan kain tirai buat lohu ?"

Padahal pekerjaan itu amat sederhana dan bisa dikerjakan sendiri, namun orang itu tetap jual lagak.

Terpaksa dua orang perempuan berbaju merah itu menyingkapkan kain tirai berwarna kuning itu kearah samping.

Serentak semua orang mengalihkan sorot matanya kearah dalam gua rahasia tersebut.

Tampak seorang kakek cebol berbadan gemuk yang memakai jubah lebar, dengan senyuman dikulum pelan-pelan keluar, dibelakangnya mengikuti Lok Khi. Begitu bertemu dengan kakek cebol yang gemuk itu, Wi Tiong hong segera manggut-manggut, pikirnya:

"oooh . . . rupanya lagi lagi dia."

sementara itu Ban kiam hweecu sudah bangkit berdiri dan menyapa sambil menjura: "Saudara adalah jagoan dari mana ? Maaf bila aku menyambut kurang hormat ..."

Kakek gendut itu tertawa terkekeh-kekeh, "Heeh ... heehh .. heeh ... bila kau tidak kenal dengan lohu, lebih baik pulang dan tanyakan dahulu kepada orang tuamu "

congkoan pedang pita hijau Buyung Siu segera berkerut kening, kemudian serunya sambil tertawa nyaring: "Saudara, besar amat bacotmu "

"Masabeg ini pun dianggap besar bacot?"

Sementara itu Lok Khi sudah mengerdipkan matanya berulang kali sambil berseru:

"Empek tua, bukankah kita hendak memancing ikan ?" Kakek gemuk pendek itu manggut-manggut.

"Benar, kita sudah berjanji akan memancing ikan, tentu saja kita harus memancing sekarang."

Semua orang yang mendengar menjadi keheranan, memancing ikan ? ikan apa yang hendak mereka pancing di sini ?

Begitu selesai berkata, kakek gemus pendek itu segera mengeluarkan sebuah oambu tipis yang panjangnya tujuh delapan depa, lalu menyambungkan kembali seruas demi seruas, lalu mengeluarkan juga segumpal tali senar dan dipasang diujung bambu tadi.

Berbicara sejujurnya, semua orang yang hadir didalam ruangan sekarang, termasuk orang orang dari-Siao-Iim-pay, Bu-tong pay, Lam-hay pay, Thian sat bun, Tok-see-sia maupun Ban-kiam-hwee ternyata tak seorang pun yang mengetahui asal-usul dari kakek gemuk pendek ini. Akan tetapi semua orang yang hadir disitu merupakan jago-jago persilatan yang berpengalaman, tentu saja semua orang tahu kalau alat pancing yang sedang dipersiapkan kakek gemuk pendek itu besar kemungkinan adalah senjata andalannya. Dengan suara dingin, congkoan pasukan berpita hijau Buyung Siu berseru: "Hmm, aku lihat besar amat kegembiraan saudara"

"oooo, rupanya kau sudah tahu kalau lohu mempunyai kegembiraan yang menyenangkan?" seru si kakek gemuk pendek itu sambil tertawa.

Buyung siu bukan manusia sembarang, sejak tadi dia sudah tahu kalau orang ini datang dengan maksud tak baik, serunya kemudian sambil tertawa dingin:

"Bila kau ingin memancing ikan seharusnya pergi memancing diluaran sana."

"Tidak!! hari ini lohu mempunyai kegembiraan yang menyenangkan kuingin memancing akan disini saja."

"Di depan mata orang ahli lebih baik.."

Belum habis Buyung Siu berkata, kakek gemuk pendek itu sudah menukas, serunya sambil menggeleng dan tertawa cekikikan:

"Tiada orang ahli atau orang bodoh. hihihi... kau kira lohu hendak memancing siapa? Lohu dan bocah perempuan ini telah berunding, orang pertama yang harus aku pancing adalah Buyung Siu, kaukah orangnya?"

"Ya akulah orangnya.,." jawab Buyung Sia sambil tertawa. Kakek gemuk pendek itu segera memanggut.

"Bagus sekali" serunya.

Begitu selesai berkata, mendadak pancingan ditangan kanannya diayunkan kedepan, tali senar diujung pancingan dengan membawa sebuah mata kail segera menyambar ke depan dengan mengancam Buyung Siu. Gerakannya sama sekali tak berbeda dengan gerakan yang biasa dilakukanpara nelayan, bahkan sedikitpun tidak nampak sesuatu keistimewaan apa-apa pun, tapi keanehannya justeru berlangsung pada saat itu juga .

-ooo@dwOooo-