-->

Pedang Karat Pena Beraksara Jilid 17

Jilid 17

SEMENTARA itu Lu pan beracun telah berjalan balik dari pohon besar itu, dia menuding kearah batuan cadas tersebut dengan penggaris besinya, kemudian berkata:

"coba siapakah diantara kalian yang bersedia menyingkirkan batu- batu cadas itu, coba diperiksa apakah didalamnya terdapat gelang besinya ?"

"Biar pinceng yang mencoba " Khong beng hwesio segera berseru dengan cepat.

Sambil berkata, dia berjongkok dan telapak tangannya pelan- pelan ditolak kearah depan.

Tenaga pukulannya memang hebat sekali, tampak batuan cadas yang besar kecil bertumpuk menjadi satu itu segera terdorong pergi dari posisinya semula oleh dorongan pukulan tangannya itu.

Dari atas permukaan tanah muncul pula batuan cadas lain dalam jumlah yang lebih banyak.

Sorot mata semua oraag telah tertuju keatas batu cadas tersebut, tapi kecuali batuan cadas, disitu tak ditemukan gelang besi macam apa pun . . .

Melihat hal itu, Lu pan beracun bergumam: "Masa keliru? seharusnya disinilah letaknya."

Dengan mempergunakan penggaris besi itu dia melakukan pemeriksaan lagi disekitar batu cadas tersebut, tapi kemudian sambil menggelengkan kepalanya dia segera berlalu dan mendekati pohon besar tersebut.

Dengan penggaris besi, kembali dia mengetuk badan pohon tadi, kembali ujarnya:

"Siapakah diantara kalian yang bersedia untuk mencabut pohon itu dan diperiksa bawahnya ?"

"Apakah dibawih pohon ada gelang besinya?" tanya si Naga tua berekor botak. "Harus diperiksa dulu baru ketahuan "

"Baik, lohu akan mencabutnya untuk diperiksa "

Pohon besar itu tingginya mencapai berapa kaki, dengan sepasang tangan memeluk dahan pohon kencang kencang, dia segera menggoyangkannya beberapa kali, lalu sambil membentak: "Naik "

Pohon besar itu berikut akar akarnya segera tercabut keluar dari atas tanah.

Dengan penggaris besinya Lupaa beracun menggali seputar tanah bekas pohon, tapi sesaat kemudian dia sudah berdiri, katanya sambil menggeleng gelengkan kepalanya: "Pintu masuk mereka tidak berada disini "

Dengan amat kecewa Tok Hay ji berseru: "Tidak mungkin salah, tempo hari sudah jeIas aku berjalan keluar dari rumah gubuk mereka"

"Rumah gubuk?" Lu pan beracun melototkan matanya, ”ditempat ini ada sebuah rumah gubuknya ?"

"Yaa, benar Rumah gubuk itu berada disekitar sini, tapi sekarang sudah mereka bongkar dan tak ditemukan lagi bekas-bekasnya"

"Mengapa tidak kau katakan sedari tadi ?"

"Rumah gubuknya sudah dibongkar sehingga sama sekali tak ditemukan lagi bekas-bekasnya, sekalipun dibicarakan apalah gunanya ?"

"Tentu saja ada gunanya"

Begitu selesai berkata, dia mulai menghitung lagi dengan cermat, lalu sambil berkemak-kemik menghitung angka, dia berjalan masuk kedalam hutan kecil disisi bukit, disitulah dia berhenti.

Kemudian dari sakunya dia mengeluarkan sebuah kompas kecil yang diletakkan di tanah dan diamati setengah harian lamanya. Mendadak ia tertawa tergelak. serunya: "Haah .. . haah . . . haah . . rumah gubuk itu seharusnya berada disini Kalian segera turuntangan dan mencabut keluar dua baris pepohonan yang ada dideretan paling belakang."

Yang dimaksudkan dengan dua baris pepohonan itu, paling tidak berjUmlah dua-tiga puluh batang pohon lebih. Tok Hay ji segera berseru. "Lo suko, kali ini kau tidak bakal salah menghitung ??"

"Kalau tidak percaya, coba saja untuk mencabut salah satu diantaranya " Tok Hay ji segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Kalau aku mah tidak memiliki tenaga kerbau sebesar itu ?" serunya.

"Asal kau sudah mencobanya sendiri, maka akan segera kau pahami keteranganku itu."

"Baiklah, akan segera kucoba"

Selesai berkata, dia berjalan mendekati sebatang pohon besar yang berada disebelah kiri, kemudian menyalurkan tenaga dalamnya

. ke dalam tangan, sekuat tenaga dia mencabut keluar batang pohon tersebut.

Siapa tahu pohon besar itu pada hakekatnya tidak membutuhkan tenaga sebesar itu untuk mencabutnya keluar, bahkan karena kelewat bertenaga sehingga hampir saja tubuhnya jatuh terjengkang ke atas tanah.

Dengan gugup dia menahan diri sambil menundukkan kepalanya, ternyata akar pohon tersebut berikut segumpal tanah lumpur ditanam dengan begitu saja disitu, jelas merupakan batang pohon yang sengaja dipindah dari tempat lain untuk di tanam di situ. Dengan sangat keheranan dia lantas mengangkat kepalanya seraya bertanya: "Lu suko, tampaknya pohon itu belum begitu lama di tanam di sini ?" Lu pan beracun tertawa dingin.

"Heeh . .. heehh . . heeh .. . hampir saja kita ditipu mereka habis-habisan, jelas dua baris pohon yang berjumlah dua puluh tujuh batang itu baru saja dipindahkan ke situ beberapa hari berselang, ini berani rumah gubuk yang kau maksudkan berada disitu pula pada mulanya"

Seperti baru saja memahami akan sesuatu, Tok Hay ji segera berseru tertahan:

"Tak heran kalau kira tak berhasil menemukan rumah gubuk itu, rupanya bekas tempat gubuk itu sudah ditanami pohon, Aai . . tapi apakah hubungannya antara persoalan ini dengan pintu rahasia mereka. .?"

Lu pan beracun tidak menggubris pertanyaan itu, dia mengangkat kepalanya dan berkata kepada semua orang.

"Sekarang waktu sudah tidak pagi lagi, lebih baik kalau saudara sekallen segera turun tangan untuk mencabuti deretan pepohonan di belakang situ, dengan demikian aku baru bisa mulai menghitung di manakah letak rumah gubuk mereka."

Mendengar perkataan itu, semua orang segera turun tangan dan mencabuti dua baris pepohonan pada deretan paling belakang.

Dengan satu tangan memegang kompas untuk menentukan mata angin, tiada hentinya Lu pan beracun mengukur liang liang bekas pepohonan tersebut dengan penggarisnya.

Sepertanak nasi kemudian, dia mulai melukis bentuk rumah gubuk diatas tanah, kemudian baru tanyanya.

"coba kalian perhatikan, apakah rumah gubuk itu berbentuk demikian. .. ?"

Betapa kagumnya Wi Tiong hong setelah di lihatnya letak rumah gubuk. besar kecilnya maupun bentuknya persis seperti apa yang pernah dia  saksikan dengan mata kepala sendiri. Buru-buru dia mengangguk.

"Benar, rumah gubuk yang siaute lihat memang berbentuk demikian- sama sekali tak salah "

Ma-koan lrjin sendiripun berseru dengan wajah kaget. "Benar, ketika pinto melakukan penyelidikan pada malam itu, memang disinilah letak rumah gubuk tersebut."

Lu-pan beracun segera tertawa ter-bahak, "Haaahhh .. . haaahhh .. . haahh : .. itulah dia " ia berseru.

Dengan langkah lebar dia berjalan menuju ke salah satu liang tanah, kemudian merogoh liang tadi dengan tangan kirinya.

Siapa tahu begitu tangannya dirogohkan ke dalam liang, mendadak ia menjerit kaget dan cepat cepat ia menarik kembali tangannya.

OoodwooO

DENGAN cepat semua orang mengalihkan sorot matanya, ternyata pada jari telunjuk tangan kiri Lu pan beracun telah membawa sebuah makhluk hidup,

Rupanya makhluk hidup itu adalah kura-kura kecil berwarna coklat, kura-kura tersebut menggigit jari tangannya kencang- kencang, sementara kepala maupun ke empat anggota badannya telah ditarik masuk kedalan kulit kerasnya.

"Aaah . . . ci-liantok ku (kura-kura beracun bergaris merah)" jerit Tok si cun kaget, Saking sakitnya paras muka Lu pan beracun telah berubah pula menjadi hebat sekali, dengan cepat ia menginjak keras kulit keras kura-kura tersebut, kemudian menarik tangan kirinya dengan sepenuh tenaga.

Ternyata kura-kura kecil itupun mengigit jari tangannya mati- matian, sekali pun sudah kena terbetot keluar, sepasang matanya yang kecil berwarna merah pun sudah mendelik besar, namun gigitannya sama sekali tidak menjadi kendor.

Tindakan yang diambil Lu-pan beracun amat cepat sekali, sambil menahan rasa sakit dia menarik tangan kirinya sehingga kepala kura-kura itu turut terbetot keluar, kemudian penggaris besi ditangan kanannya secepat kilat menghantam leher kura-kura tersebut hingga putus menjadi dua bagian.

Darah kental segera berhamburan kemana mana, kepala kura- kura itu kena dibabat sampai putus jadi dua, namun kepalanya yang menggigit jari tangan Lu pan beracun belum juga mau dilepaskan.

Terpaksa Lu pan beracun menggunakan sebilah pisau kecil dari sakunya kemudian mencongkel mulutnya dengan gigi yang tajam sebelum berhasil melepaskan diri dari gigitan.

Dalam waktu singkat, mulut lukanya itu telah berubah warna menjadi hitam pekat sementara jari tangannya makin lima turut membesar berlipat ganda.

Tidak sempat berbicara lagi, Lu pan beracun merogoh ke dalam sakunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil, membuka penutup botolnya dengan gigitan, lalu menuang bubuk obat tersebut ke dalam mulutnya.

Selesai minum obat, dia baru mendengus dingin seraya berkata: "Benar-benar suatu perbuatan yang amat keji, rupanya mereka

sudah memperhitungkan kalau aku bakal datang kemari, maka

sengaja mereka persiapkan kura-kura beracun bergaris merah dalam liang pohon itu, hmmm.. sekali pun ada kura-kura beracun bergaris merah, memangnya mereka mampu mengapa-apakan diriku ?"

Orang-orang yang berasal dari Tok see sia tentu saja tak takut makhluk beracun, tetapi semua adegan tersebut cukup membuat ciut hati Ma koan tojin dan Wi Tiong hong sekalian.

"Lu suko, apakah dibawah situ ada gelang besinya ?" tanya Tok Hay ji kemudian-

"Menurut pendapatmu. mungkinkah ada gelang besinya ?" Lu pan beracun balik bertanya.

"Waah, kalau begitu kitakan tak bakal berhasil menemukan pintu masuknya ?" Lu pan beracun tidak menjawab, dia hanya termenung sambil membungkam.

Mendadak dari belakang tubuh mereka berkumandang seruan seorang dengan nada dingin.

"Tujuh langkah ke kiri, tiga belas mundur ke belakang melompat sembilan depa, gelang tersebut akan temukan."

Meskipun suarnya dingin tapi kedengaran merdu, jelas berasal dari suara seorang gadis.

Waktu itu, semua orang sedang memusatkan perhatiannya kearah Lu pan beracun, siapa pun tidak memperhatikan belakang tubuh mereka, ketika mendengar ada suara pembicaraan orang, buru-buru dia membalikkan badannya sambil memeriksa.

Lebih kurang dua kaki dibawah pohon, tampak seorang gadis berbaju hijau sedang berdiri anggun disitu.

Ma-koan tojin Thi-lo han Khong Beng hwesio dan naga tua berekor botak menjadi terkesiap sekali.

Lu pan beracun membelalakan matanya lebar-lebar dan menatap lawan tanpa berkedip. sebaliknya Lok Khi segera mendengus dan melengos ke arah lain-..

Kemunculan nona berbaju hijau itu sama sekali tidak mengagetkan atau mengherankan, sebab berita tentang terjatuhnya Lou bun si ke tangan orang orang Ban kiam hwe sudah tersebar luas dalam dunia persilatan, tentu saja orang-orang akan berbondong bondong datang kesitu.

Tapi yang membuat mereka terkejut adalah kemunculan si nona berbaju hijau sampai pada jarak dua kaki dibelakang mereka, ternyata tidak diketahui oleh siapapun, dari sini dapat diketahui kalau ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pihak lawan luar biasa sekali

"Apakah yang kau masksudkan adalah gelang besi untuk membuka pintu rahasia ?" seru Tok Hayji kemudian- Nona berbaju hijau itu mendengus dingin "Hmm, apakah kalian bukan mencari gelang besi tersebut ?"

Tok Hay-ji segera berpaling ke arah rekannya sambil berseru, "Lu suko, biar aku pergi mencarinya, coba kita lihat apakah yang dia ucapkan itu benar ?"

Lu pan beracun tidak menjawab, dia hanya menggunakan kompasnya untuk membetulkan arah, setelah itu serunya dengan terperanjat.

"Seandainya gelang besi tersebut berada di situ, seharusnya tempat itu merupakan pintu mati "

"Hmmm, kau anggap mereka bisa meninggalkan pintu hidup buat kalian, sebelum pergi dari sini?" jengek si nona dingin-

Dalam pada itu Tok Hay ji telah mengikuti petunjuk nona berbaju hijau itu berjalan tujuh langkah ke kiri, tiga belas langkah mundur kebelakang dan persis mundur dibawah sebatang pohon yang besar. Dengan suara lantang dia lantas bertanya: "Apakah gelang besi itu berada diatas pohon?"

"Buat apa mesti ditanya lagi?" jawab nona itu lagi dingin.

Tok Hay ji segera melompat setinggi sembilan depa. dimana persis merupakan cabang dahan pohon yang tertutup rapat oleh ranting maupun dedaunan. Sambil menerobos masuk kedalam, Tok Hay ji segera berteriak dengan suara lantang: "Lu suko, disini benar- benar terdapat gelang besinya" Lu pan beracun segera mendongakkan kepalanya sambil berseru.

"Kanan berputar tiga kali, terbuka pemandangan seram. berputar lima kali ke kiri, tidak luka tentu mampus."

"Hei, Lu suko, apa yang kau katakan?"

"Putarlah tiga kali ke kanan, lalu putar lagi kesebelah kiri" "Baik" sahut Tok Hayji.

Dia segera melakukan apa yang diperintahkan- Mendadak dari tujuh delapan kaki di arah barat laut segera berkumandang suara gemerincing nyaring.

Suara gemerincingan itu berasal dari dalam dasar tanah saja, tidak begitu keras tapi dapat terdengar nyata.

Tapi Ma koan lojin dan Lu pan beracun sekalian memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, begitu mendengar suara tersebut, sorot mata mereka segera dialihkan kearah mana berasalnya suara tersebut.

Ternyata suara itu berasal dari semak belukar diatas sebuah tumpukan batu cadas.

Waktu itu tumpukan batu cadas yang berada dibagian tengah itu sedang pelan-pelan bergeser kebelakang, kemudian muncullah sebuah lapisan batu cadas.

Wi Tiong hong yang menyaksikan kejadian itu diam diam merasaamat kagum, pikirnya:

"Pintu masuk menuju keperut bukit ini benar-benar dibuat amat sempurna seandainya tidak ada petunjuk dari nona berbaju hijau itu, mungkin Lu pan beracun sendiripun tidak mudah untuk menemukannya. . oooh, sewaktu aku dibawa keluar dari dalam tanah dengan mata tertutup dulu, apakah tempat ini juga yang telah kulewati ?"

Sementara itu Naga tua berekor botak To sam seng telah tertawa terbahak-bahak, kemudian serunya:

"Benar, benar, menurut ingatan siaute tak bakal salah lagi, malam itu seharusnya aku memang keluar dari situ"

Selesai berkata dia lantas maju lebih dulu.

Ma koan tojin, Thi lohan Khong-beng hwesio serentak turut maju kedepan, tapi baru saja mencapai dua kaki dari lapisan batu besi itu, mereka berhenti sendiri. Tok Hayji yang berada di pohon juga segera melompat turun kuatir ketinggalan dia berebut didepan naga tua berekor botak dan slap menerjang lebih kemuka.

"cepat berhenti" mendadak Lu pan membentak.

Dalam tertegunnya Tok Hayji berdiri melongo, untung Lu pan beracun yang berada di belakangnya segera menariknya dari situ, kemudian dengan cepat dia mengambil sebutir batu, ditimpuk kearah batu datar tadi dan cepat-cepat menjatuhkan diri menggelinding ke samping.

Batu itu menggelinding kemuka menimbulkan suara nyaring, ternyata perhitungan Lu pan beracun tepat sekali, ketika menggelinding sampai dimuka lapisan batu cadas tersebut daya mengglindingnya habis dan berhenti dengan sendirinya.

Didalam anggapan Tok Hayji, Lu sukonya hendak menggunakan batu besar itu untuk membuka pintu, maka melihat batu itu berhenti tepat diatas pintu, diapun berseru: "Lu suko, biar aku..."

Belum selesai dia berkata, kembali terdengar suara gemerincingan nyaring berkumandang memecahkan keheningan, mendadak batu besar itu menyusup kedalam tanah dan munculIah sebuah mulut gUa.

Begitu mulut gua itu muncul, suara desingan angin tajampun bergema memecahkan keheningan, segulung panah beracun segera berhamburan keluar dari balik pintu itu dan meliputi wilayah seluas satu kaki lima enam depa lebarnya.

Seandainya ada orang yang mendekat secara gegabah, dibawah terjangan panah-panah beracun yang meluncur cepat itu, sudah pasti jarang ada yang berhasil meloloskan diri.

Saking terkejutnya Tok Hayji sampai mundur sejauh beberapa langkah, teriaknya tertahan:

"Maknya, tak heran kalau pintu ini di namakan pintu kematian " Sementara itu, Lok Khi yang menyaksikan Ma-koan tojin sekalian bertiga berhenti sendiri setelah tiba dua kaki dari lapisan batu cadas itu, seakan-akan mereka sudah tahu kalau dari balik mulut gua bakal menyembur keluar senjata rahasia, kecurigaannya segera membara, dengan suara lirih dia berbisik:

"Engkoh Hong, tampaknya si hidung kerbau sekalian seperti telah tahu kalau disitu terdapat alat rahasianya "

"Mungkin mereka menyaksikan lapisan batu itu belum juga membuka, maka tak berani sembarangan bergerak."

Dalam pada itu, Lu-pan beracun telah beranjak maju lebih dulu, sepanjang jalan dia menyingkirkan panah panah beracun itu dengan mempergunakan senjata penggaris besi nya, kemudian setelah meneliti sekejap sekeliling gua itu, dia baru berpaling sambil berkata:

"Sekarang kalian boleh masuk. bukankah kalian sudah bilang kalau sepanjang lorong telah ditinggali tanda rahasia ?"

"Benar" sahutNaga tua berekor botak To Sam seng, "ketika siaute keluar dari lorong rahasia, diam-diam telah kutinggalkan tanda rahasia disitu, biarlah siaute yang akan membawa jalan untuk kalian"

Selesai berkata, dia lantas memandang sekejap ke arah Ma koan tojin dan Thi lohan sekalian, kemudian tanpa sangsi lagi dia berjalan-lebih dahulu memasuki gua tersebut.

Ma koan lojin dan Thi Lohan tanpa ragu-ragu segera mengikuti di belakangnya masuk ke dalam gua.

Tiba-tiba sekulum senyuman menghiasi wajah Tok Hay-ji, tapi Lu-pan beracun melotot sekejap ke arahnya dan turut menuruni anak tangga gua tersebut.

Ketika Lok Khi menyaksikan semua orang sudah masuk ke dalam lorong rahasia tersebut buru buru dia berseru.

"Engkoh Hong, mari cepat kita menyusul mereka." Belum sempat Wi Tio-ng hong beranjak pergi, mendadak terdengar gadis berbaju hijau itu berseru: "Tunggu sebentar "

Dengan tanpa terasa anak muda itu berhenti. "Nona, kau masih ada petunjuk apa lagi ?" tanyanya.

Dengan sorot mata yang hangat dan mesra gadis berbaju hijau itu memandang sekejap ke wajah Wi Tiong hong lalu tertawa.

"Biarkan mereka masuk lebih dulu, sebentar akupun hendak masuk ke dalam, aku akan menjadi petunjuk jalan bagi kalian-"

Lok Khi yang mendengar perkataan itu segera mencibirkan bibirnya, kemudian mendengus. "Hmmm, engkoh Hong, orang lain toh sudah slap menemani dirimu, kalau begitu biarlah aku pergi dulu."

Selesai berkata seperti segulung hembusan angin dia sudah lari menuju ke mulut gua.

Wi Tiong hong tahu, gadis berbaju hijau itu menyuruh dia menunggu sebentar pasti disebabkan suatu persoalan, maka cepat- cepat dia berteriak keras. "Adikku harap tunggu sebentar."

Waktu itu Lok Khi sudah tiba di mulut gua ketika dilihatnya Wi Tiong-hong masih ragu dan sama sekali tidak menyusulnya dia menjadi semakin mendongkol serunya kemudian dengan gemas.

"Baik biar aku saja yang menyingkir agar kalian punya kesempatan untuk berduaan, aku... aku tak usah kau urusi lagi..."

Selesai berkata, dengan cepatnya dia sudah menyelinap masuk kedalam gua tersebut

"Adikku adalah seorang gadis yang berwatak kasar, harap nona sudi memaafkan" buru- buru Wi Tiong hong berseru kemudian

Seusai berkata, dia pun membalikkan badan dan siap menyusul kedalam gua tersebut. Merah padam selembar wajah gadis berbaju hijau itu karena jengah, mendadak bentaknya lagi dengan suara dingin: "Eeeh, tunggu sebentar "

Ketika Wi Tiong hong lihat Lok Khi sudah turun ke dalam gua, hatinya makin gelisah akan tetapi setelah mendengar suara bentakan dari gadis berbaju hijau itu, mau tak mau dia berhenti juga , katanya seraya berpaling. " Nona..."

Selangkah demi selangkah nona berbaju hijau itu berjalan mendekat, tidak menanti pemuda itu berbicara, sambil tertawa dia telan mendongakkan kepalanya sembari berkata: "Aku mengetahui kalau hatimu sangat gelisah, bukan demikian ?"

"Adikku sudah masuk ke dalam lorong rahasia, kemungkinan besar jiwanya akan terancam, tentu saja aku harus menyusulnya-"

Nona berbaju hijau itu segera menarik kembali senyuman, lalu berkata dengan sedih. "Tampaknya kau si kakak misan baik juga hatinya "

Setelah berhenti sejenak. mendadak paras mukanya berubah menjadi dingin, kemudian bayangan hijau berkelebat lewat, ia sudah melewati disamping Wi Tiong hong dan menuju ke depan pintu gua, katanya dingin. "Mari, ikut aku "

Sambil menjinjingnya dengan cepat dia telah menuruni lorong rahasia tersebut.

Memandang wajah si nona yang sebentar tertawa ringan, sebentar dingin dan kaku, diam diam Wi Tiong hong menggelengkan kepalanya berulang kali, pikirnya. "Watak nona ini gampang berubah-ubah, tampaknya sukar amat untuk menghadapinya."

Sementara ia masih tertegun, nona berbaju hijau itu sudah menuruni sepuluh undakan lebih, dari dalam gua terdengar dia sedang menegur dengan suara dingin: "Hei, mengapa kau tidak turun ?" Buru-buru Wi Tiong hong membungkukan badan dan menerobos masuk ke dalam lorong rahasia tersebut, baru beberapa langkah, ia sudah menyaksikan gadis berbaju hijau itu dengan membawa sebutir mutiara yang memancarkan cahaya tajam sedang berdiri menanti di situ.

Di dalam gua yang gelap terpancar segulung mutiara yang lembut dan melapisi nona berbaju hijau itu dibalik lingkaran sinar mutiara, hal ini membuat gadis itu nampak lebih cantik dan menawan hati, sedemikian cantiknya sehingga terasa agak misterius.

Wi Tiong hong tak berani memandang terlalu lama, cepat- cepat dia menuruni anak tangga lorong tersebut.

Pelan-pelan cahaya mutiara itu bergeser, gadis berbaju hijau itu bagaikan bak sekuntum awan sedang pelan-pelan bergerak turun kebawah.

"Sudah kau lihat namaku yang tercantum dalam botol kemala yang kuberikan kepadamu tempo hari?" mendadak gadis berbaju hijau itu bertanya memecahkan keheningan-

Wi Tiong-hong tidak menyangka kalau gadis itu bakal menanyakan tentang botol perselen tersebut, terutama nama yang terukir di atasnya, dengan wajah memerah karena jengah segera sahutnya: "Melihat sih sudah melihat "

"Tapi kau tidak tahu kalau itu namaku bukan ? sekalipun demikian kau toh sudah tahu bahwa aku she Su .. . Hmmm."

Di tengah ucapan tersebut, mendadak dia mendengus dingin lalu mendamprat keras: "Benar-benar bedebah "

Wi Tiong hong tertegun, baru saja bicara secara baik baik, mengapa gadis itu mendengus secara tiba-tiba.

Sementara itu Su Siau-hui telah mendekatkan mutiaranya ke atas dinding gua, kemudian katanya: "coba kau lhat, bukankah tanda tersebut merupakan tanda rahasia yang ditinggalkan tua bangka she To itu ?"

Mengikuti arah yang ditunjuk. Wi Tiong-hong segera menyaksikan sebuah guratan kuku diatas dinding batu tersebut, guratan itu melengkung seperti Cacing, tapi kalau diperhatikan lebih seksama, bentuknya persis seperti seekor naga terbang.

Sebagaimana diketahui To Sam-seng berjulukan Naga tua berekor botak, tentu saja naga terbang itu merupakan kode rahasianya. Terdengar nona Su Siau hui berkata lagi.

"Kalau bukan dia yang sengaja hendak memancing semua orang masuk jebakan, sudah pasti orang lain yang sengaja membiarkan dia meninggalkan kode rahasia tersebut agar dia masuk perangkap. "

"Kini mereka sudah menuju ke perangkap?" seru Wi Tiong-hong dengan perasaan terperanjat "kalau begitu Lu-pan beracun sekalian juga sudah terangkap?"

Kembali Su Siau hui mendengus dingin, "Kau maksudkan manusia yang membawa penggaris besi itu? Hmm. dari mana dia bisa menduga akan perubahan yang terdapat di balik kesemuanya ini ?"

Wi Tiong hong menjadi teringat kembali akan perkataan dari Tok si cuan tentang peralatan rahasia yang dipakai orang orang Ban- kiam-hwee, konon peta lukisannya berasal dari Lam-hay-bun seandainya ucapan itu benar, berarti gadis inipun mengetahui tentang peralatan rahasia tersebut.

Terdengar Su Siau hui berkata lebih jauh.

"Bukankah tadi sudah kukatakan bahwa pintu ini adalah pintu mati ? Bila dia mengikuti cara lewat pintu kematian untuk masuk dari sini, dari pintu ini, tentu saja hal tersebut tak salah lagi. Tapi alat rahasia yang dipasang ditempat ini justeru saling berlawanan meski satu sama lainnya saling berkaitan bagaimana mungkin dia bisa menghitungnya menurut cara perhitungan itum . , .? kalau orang lain memang sengaja hendak memancingmu masuk jebakan, sekalian menurut perhitunganmu jalan yang dilalui benar, toh disiapkan memang sengaja diatur demikian"

"Apakah kita masih dapat menyusulnya?" tanya Wi-Tiong hong dengan perasaan gelisah.

Su Siau-hui mendengus, "Hmm, ikutilah diriku"

Tempat itu merupakan sebuah lorong sempit yang luasnya cuma berapa depa, jalannya berliku liku dan menjulang terus ke dalam.

Su Siau-hui dengan membawa mutiara ditangan berjalan amat cepat sekali di muka, sedangkan Wi Tiong hong mengikuti dibelakangnya, sekalipun dia telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk memandang, apa yang dilihatpun cuma memandang sebatas dua kaki saja.

Lorong sempit itu amat sepi seperti sebuah lorong buntu, tiada cabang atau persimpangan jalan lainnya.

Mereka berdua sudah berjalan sekian lama dengan kecepatan tinggi, namun dari depan sana belum nampak juga bayangan tubuh dari rombongan yang telah masuk lebih dulu tadi, kenyataan ini membuat Wi Tiong-hong merasa gelisah sekali.

Sementara perjalanan masih berlangsung dengan cepat, tiba-tiba Su Siau hui berhenti.

Wi Tiong-hong tidak menyangka kalau gadis itu akan berhenti secara tiba-tiba, hampir saja dia menubruk tubuh gadis tersebut.

Mendadak Su Su Siau hui menarik tangannya sambil berbisik. "cepat kemari "

Dia lantas menyelinap ke samping dan menyembunyikan diri ke bilik celah-celah batu.

Wi Tiong hong tertegun lalu cepat-cepat ikut menyelinap ke samping, ternyata di balik tikungan sana terdapat sebuah lorong kecil yang bercabang ke samping, andaikata Si Siau hui tidak menyelinap kesana lebih dulu, siapa pun tak akan menyangka kalau disana ada lorong kecil yang menyabang.

Pada saat itulah dari depan situ berkumandang suara bentakan nyaring: "Siapa disana ?"

Sesosok bayangan manusia menghadang di tengah jalan, dibalik kegelapan tampak setitik cahaya pedang berkelebat lewat langsung menusuk ke dada Su Siau-hui.

"Hati-hati nona " seru Wi Tiong hong cepat. Sambil tertawa Su Siau-hui berpaling, lalu sahutnya:

"Tidak mengapa, aku sudah menduga kalau ditempat ini bakal menjumpai penghadangan."

Belum selesai dia berkata, tangan kirinya sudah menyentil pelan ke muka, "cring " sentilan tersebut persis menghajar di atas pedang orang itu sehingga tusukannya miring ke samping dan melesat sampai beberapa depa jauhnya.

Wi Tiong-hong yang menyaksikan kejadian itu menjadi terperanjat, pikirnya:

"Kepandaian apaan itu ? sementara masih berpaling dan bercakap-cakap denganku, dia bisa menyentil secepat itu. tampaknya ilmu silat Lam hay bun tidak boleh dianggap enteng" .

ood-woo

YANG melakukan penghadangan itu seorang lelaki berbaju hitam yang bertubuh kecil dan pendek. ketika tusukan pedangnya berhasil disentil oleh Su Siau hui sehingga miring kesamping, dia nampak agak tertegun, tapi kemudian sambil tertawa dingin, pergelangan tangannya digetarkan kembali, tusukan kedua secepat sambaran petir kembali dilontarkan ke muka.

Tiga titik cahaya tajam segera berkelebat lewat dan lenyap dari pandangan mata. Sungguh cepat serangan yang dilancarkan orang ini, kalau berbicara dari kepandaian yang dimilikinya, boleh dibilang dia seorang j ago- kelas satu didalam dunia persilatan-

Dengan nada sinis Su siau-hui segera berseru: "Huuh, rupanya cuma seorang jago pedang berpita hitam "

Tangan kirinya dikibaskan, kali ini dia menyambut datangnya ancaman tersebut dengan sebuah kebasan kilat. Tindakannya kali ini benar- benar cepat sekali, bahkan Wi Tiong-hong pun tak sempat melihat jelas gerakan tubuhnya, diantara ayunan tangannya, tahu- tahu dia sudah merampas pedang milik manusia berbaju hitam itu.

Bukan, bukan begitu. sewaktu gagang pedangnya disodok ke depan, terdengar orang itu mendengus tertahan lalu roboh terduduk ke atas tanah. "cepat pergi" seru Su Siau hui kemudian sambil tertawa.

Begitu selesai berkata, dia segera berjalan lebih dahulu menuju kedalam dorong sempit itu.

"Ilmu siiat yang nona miliki lihay sekali, aku merasa benar-benar amat kagum." puji Wi Tiong hong.

Su Siau hui mendengus manja, sambil mengerling katanya pula sambil tertawa: "llmu silat yang dimiliki adik misanmu juga lumayan, kau mengaguminya tidak ?" Ditanya demikian, Wi Tiong- hong tertegun dia tak mampu menjawab pertanyaan tersebut.

Mendadak Su Siau hui seperti teringat akan sesuatu hal, dia lantas membalikan badan sambil bertanya.

"Aku ingin bertanya kepadamu, bukankah adik misanmu itu mengenakan topeng kulit manusia ?"

Tampaknya dia benar-benar amat menaruh perhatian terhadap Lok Khi yang memakai topeng atau tidak.

Wi Tiong hong sangsi sejenak. kemudian menjawab: "Setelah nona menanyakan hal tersebut aku pun tak baik untuk nrerahasiakannya. Benar, adik misanku memang mengenakan topeng kulit manusia."

Su Siau-hui tertawa manis.

"Jujur sekali jawabanmu ini, sudah kuduga semenjak semula kalau dia pasti mengenakan topeng kulit manusia "

Berbicara sampai disitu, biji matanya segera berputar, kemudian ujarnya dengan sedih: "Wajahnya amat cantik bukan ?"

"Soal ini. ." Wi Tiong hong menjadi ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Su Siau-hui segera mendengus dingin.

"Hmmm, kalau cantik katakan cantik, sekalipun tidak kau katakan aku juga tahu " selesai berkata dia lantas membalikkan badan dan berlalu dari tempat itu.

Gerakan badannya kali ini dilakukan dengan kecepatan luar biasa, selain ringan, juga cepat dalam sekali kelebatan saja, bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Mendadak dari depan sana terdengar lagi seseorang membentak dengan suara dingin: "Siapa?"

"Aku" Su Siau hui menyahut.

"Aaah, yang datang apakah nona Hong?" seru orang itu terkejut

"Aku adalah aku" jawab Su Siau hui dingin. "Kau adalah..."

Menanti Wi Tiong hong memburu ke situ, orang tersebut sudah jatuh terduduk dilantai. Sambil mendengus dingin Su Siau hui bergumam:

"Hmm, hanya mengandalkan kepandaian yang dimiliki jago-jago pedang yang berpita hitam mereka juga ingin menghalangi kepergianku?"

Wi Tiong hong yang mengikuti dibelakang-nya diam-diam merasa terperanjat sekali, pikirnya: "Kepandaian dan cara kerja nona ini benar-benar cepat sekali " Berpikir demikian, tak tahan lagi dia segera bertanya. "Nona Su,

apakah merekapun datang kemari melalui jalan ini ?"

"Bukan" sahut Su Siau-hui sambil menggeleng, "mereka berjalan melalui pintu kematian, sedangkan kita sudah bergeser kepintu Siu bun?"

"Jika kita tidak melalui jalanan yang sama dengan mereka, bagaimana mungkin bisa menyusul mereka ?"

Tiba-tiba Su Siau-hui berkata lirih:

"Aku tahu kalau kau selalu rindu akan adik misanmu itu " setelah berhenti sejenak dan mendengus, katanya lebih jauh:

"Bila kita masuk melalui pintu mati, mana mungkin bisa menyusul diri mereka lagi?"

Sementara pembicaraan berlangsung, lorong sempit itu sudah berakhir diujung sana, dia segera menyelinap berjalan keluar dari celah dinding, seketika itu juga pandangan menjadi terang, didepan situ terbentang scbuah lorong yang jauh lebih lebar.

Bahkan pada kedua belah sisi dinding lorong dipasang lentera, sehingga suasana menjadi terang benderang.

Seandainya lorong yang mereka lalui ketika masuk tadi adalah jalan lurus, maka jalan sempit yang baru dilalui adalah jalan melintang, kini jalan lorong yang terbentang didepan mata adalah jalan lurus kembali.

Baru saja mereka berjajan keluar, dua orang lelaki berbaju ringkas yang berwarna hitam telah muncul dengan senjata terhunus.

"Siapa kalian? Ayo cepat berhenti" bentak mereka kemudian.

Su Siau hui berseru tertahan, sambil berpaling tiba-tiba bisiknya lirih: "Kali ini harus berhati-hati, yang datang adalah jago pedang berpita hijau "

Wi Tiong hong sudah pernah mendengar kalau dalam perkumpulan Ban-kiam-hwee terdapat jago pedang yang terbagi menjadi pita hijau, pita merah, pita putih dan pita hitam, kini yang muncul adalah jago pedang berpita hijau, tentu saja hal ini merupakan sesuatu yaig luar biasa, tanpa terasa tangan kanannya meraba gagang pedang sendiri.

Dengan wajah sedingin es, pelan-pelan Su Siau hui berjalan menghampiri mereka, katanya dingin:

"Aku ingin berjumpa dengan Chin Toa-seng"

Jago pedang yang berada disebelah kiri itu segera mengulapkan tangan sambil membentak: "Chin congkoan tidak berada disini, ayo kalian segera mengundurkan diri dari sini."

"oooh, galak amat kau, aku justeru mau berjalan kemari, mau apa kau. . ?"

"cari mampus rupanya kau " bentak jago pedang itu dengan kemarahan yang meluap.

Cahaya pedang berkilat, tahu-tahu dari balik dinding berkelebat serentetan Cahaya hijau yang langsung menyambar ke tubuh Su Siau hui.

Wi Tiong hong telah mempersiapkan diri dari tadi, serta merta dia maju selangkah ke muka, pergelangan tangannya diputarkan dan pedang berkaratnya telah diloloskan dari sarung.

Secepat petir dia melepaskan tiga kuntum bunga pedang yang secara cepat menyongsong datangnya serangan pedang lawan-

"Nona, harap mundur dulu, biar aku yang menghadapi orang ini " serunya lantang.

Ketika bunga pedang bercahaya hijau itu saling membentur dengan pedang berkarat tersebut, kedua belah pihak sama-sama mundur sejauh satu langkah dari posisi semula. Sekulum senyuman manis segera menghiasi wajah Su Siau hui begitu melihat pemuda itu menghadang dihadapannya, ia segera menarik kembali serangannya dan melangkah mundur.

Dalam pada itu, jago pedang tersebut telah mendengus dingin selesai beradu kekerasan dengan Wi Tiong hong, jengeknya: "Hmmm, satu ilmu pedang yang amat bagus"

Pedangnya secepat samberan petir diayunkan kembali ke muka melepaskan sebuah tusukan kilat.

Orang itu memang tak malu disebut jago pedang kelas satu dalam perkumpulan Ban kiam hwee, bersamaan dengan menyambarnya senjata tersebut, segera terciptalah bertitik-titik bunga bintang yang dengan cepat menyebar ke mana-mana.

Berpuluh-puluh bunga- bunga bintang yang beterbangan di udara itu tentu saja berupa ujung pedang semua, hampir boleh dikata seluruh jalan darah penting di tubuh bagian depan Wi Tiong hong telah terkurung rapat.

Wi Tiong hong benar-benar sangat terkesiap. pedangnya segera dirubah dan secara beruntun dia lancarkan tiga buah serangan berantai.

"Triiing, triiing. triiing, . ." diantara tiga kali getaran nyaring kedua orang itu sama-sama tergetar mundur sejauh dua langkah dari tempat semula.

Didalam bentrokan kekerasan kali ini Wi Tiong hong merasakan pergelangan tangan kanannya linu dan kaku, terutama sekali pedang yang dipergunakan itu walaupun nampaknya berkilat dan tumpul, padahal yang betul merupakan senjata mestika yang tajamnya bukan kepalang.

Tapi kenyataannya, pedang lawan tidak terpapas kutung akibat bentrokan kekerasan itu, dari sini bisa diketahui kalau lawannya pun mempergunakan sebilah pedang mestika.

Sesudah mundur sejauh dua langkah, dengan cepat jago pedang berpita hijau itu menundukkan kepalanya untuk memeriksa senjata sendiri, ternyata mata pedangnya telah gumpiI tiga bagian oleh papasan pedang Wi Tiong hong barusan-

Tak terlukiskan rasa kaget yang mencekam perasaannya sekarang, dengan wajah berubah hebat dia membentak:

"Hei bocah keparat, kau anggap dengan mengandalkan tiga jurus kan sam ceng (tiga getaran maut) dari Siau-soat-bun, maka kau lantas tidak memandang sebelah mata pun terhadap lohu? Hmmm, lihat pedang "

Begitu kata "pedang" diutarakan cahaya senjata bagaikan rantai perak yang sudah menggulung ke atas dengan kecepatan luar biasa.

Wi Tiong hong hanya merasakan kiri, kanan serta bagian muka tubuhnya dalam waktu singkat telah terkurung oleh cahaya pedang musuh.

Untuk sesaat pemuda itu menjadi bingung dan tak tahu bagaimana harus menghadapi ancaman itu bahkan sekalipun dia ingin menangkis pun rasanya tak tahu bagaimana caranya menangkis, kini hatinya baru betul- betul terkesiap.

Tiba-tiba ia teringat kembali akan kesombongannya sewaktu menyuruh Su Siau-hui mundur dan dia yang hendak maju menghadapi lawan, bila membayangkan kembali sikap sinona yang mundur sambil tertawa, jelas dia telah menaruh kepercayaan penuh atas kemampuannya.

Bila kenyataannya sekarang dia hanya mampu menerima dua jurus serangan lawan tapi tak mampu menghadapi serangan yang ke tiga bukankah ketidak mampuannya ikut bakal ditertawakan orang?

Berpikir sampai disitu, semangatnya segera berkobar kembali sambil membentak, tangan kirinya melakukan suatu gerakan aneh sementara pedang ditangan kanannya melakukan gerakan melingkar ia tak menggubris apakah tangkisannya bakal berhasil atau tidak. dengan jurus Hu imjatsiu (awan mengapung keluar dari poros) menyongsong datangnya ancaman dengan sepenuh kekuatan.

Daya pikat seorang perempuan kadang kala memang bisa mendatangkan sesuatu pengaruh.

Sebenarnya Wi Tiong hong sudah tidak berkemampuan untuk mematahkan serangan lawan tapi berhubung ia terbayang kembali akan senyuman manis Su Siau-hui ketika mengundurkan diri tadi, hal mana segera menimbulkan daya rangsangan yang besar dalam hatinya untuk melakukan penangkisan sedapat mungkin, dan akibatnya terjadilah suatu keanehan yang belum pernah terjadi sebelumnya didalam dunia persilatan-

Tampaklah berbareng dengan munculnya lingkaran cahaya pedang yang diluncurkan olehnya, titik titik cahaya tajam yang diciptakan oleh jago pedang berpita hijau itu seketika lenyap tak berbekas. sebatang bayangan pedang tanpa sinarpun dengan suatu kecepatan luar biasa menusuk kedepan.

Mimpi pun jago pedang berpita hijau itu tak mengira kalau serangan dahsyat yang di-lancarkan olehnya dapat dipatahkan dengan begitu saja oleh serangan Wi Tiong hong, ia baru terkesiap setelah menyadari kalau pertahanan tubuh bagian depan terbuka.

Dalam keadaan demikian, meskipun dia ingin menghindarkan diri pun keadaan tak sempat lagi.

Tapi, bagaimanapun jua dia adalah seorang jago pedang yang berilmu tinggi, menyaksikan datangnya bayangan pedang dari Wi Tiong hong yang menusuk tiba, ia tahu bahwa tiada harapan lagi baginya untuk meloloskan diri dari ancaman mana.

Didalam gugupnya, tubuh bagian atasnya diputar kekanan secara paksa, kemudian lengan kirinya dibalik dan tiba tiba melepaskan bacokan balasan ke muka.

Satu dengusan tertahan segera bergema memecahkan keheningan menyusul kemudian darah segar berhamburan ke mana-mana. Jago pedang berpita hijau itu sudah melompat kearah kanan dan kabur ke dalam lorong sempit tersebut, namun lengan kirinya sebatas sikut sudah terlanjur terpapas kutung oleh sambaran pedang Wi Tiong- hong dan terjatuh ketanah.

Rekannya menjadi terkesiap dan ikut mundur ke belakang setelah menyaksikan rekannya terluka, buru-buru ia mengeluarkan sebuah sumpritan perak dari dalam sakunya dan siap di tiup.

Sambil tersenyum manis, Su Siau hui segera maju ke muka kemudian serunya lembut: "Jangan terburu-buru pergi dulu, bawalah sedikit tanda mata sebelum pulang kerumah?" Tangannya yang lembut segera diayunkan ke muka dan menghantam kearah dadanya.

Menyaksikan datangnya ancaman tersebut jago pedang itu mendengus dingin, tidak menghindar tidak berkelit, pedangnya langsung menebas pergelangan tangan gadis tersebut.

Su Siau hui yang melepaskan kebasan tangan tiba-tiba membatalkan ancamannya sampai di tengah jalan, kemudian sambil menarik kembali telapak tangannya dia berseru sambil tertawa dingin:

"Buang pedangmu, dan duduklah disini dengan tenang."

Sungguh aneh sekali kalau dikatakan, ternyata jago pedang itu menurut sekali, dia lantas membuang pedangnya dan benar-benar duduk disitu dengan tenang.

Wi Tiong-hong yang menyaksikan kejadian itu merasa sangat keheranan, ia segera memeriksa tubuh lawan dengan seksama, barulah di ketahui kemudian rupanya jalan darah cian keng hiat dibahu kiri maupun kanan orang itu sudah terhajar oleh sebatang jarum perak yang panjang.

Kini, ia jatuh terduduk dengan wajah penuh kegusaran matanya yang berapi-api melototi kedua orang itu tanpa berkedip.

Su Siau-hui segera memutar biji matanya yang jeli sambil tersenyum, katanya: "Mari kita pergi " Sorot mata yang lembut penuh perasaan cinta, dan nadanya yang penuh nada mesra, sungguh membikin hati orang berdebar.

Lorong sempit itu lebarnya mencapai satu kaki, lagi pula lurus tanpa belokan, pada hakekatnya merupakan jalan tembus yang menyenangkan . . .

Pada ke dua belah dinding lorong masing-masing tergantung lentera yang menyinari sekeliling tempat itu, jalan yang datar tanpa hambatan sudah barang tentu dapat dijalani lebih cepat.

Tak selang berapa saat kemudian, mereka telah sampai diujung lorong tersebut.

Dihadapan mereka kini terbentang sebuah dinding batu yang menghadang jalan pergi mereka, disitu tak nampak jalan lembut lagi.

Senyuman yang semula menghiasi terus wajah Su Siau-hui, lambat laun berubah hebat, akhirnya agak sangsi dia bergumam.

"Aneh, sebetulnya disinilah letak pintu siu bun, mengapa bisa berubah menjadi pintu Ti bun ?"

Dari ucapan mana, Wi Tiong hong segera tahu kalau gelagat tidak beres, mungkin perlengkapan dalam lorong itu sudah mengalami perubahan sehingga nona itu sendiripun telah salah jalan-Tanpa terasa dia berpikir: "Nona, bagian manakah yang tak beres?"

Su Siau hui mendengus dingin.

"Hmm, aku tak percaya kalau mereka bisa memutar balikkan kedudukkan pintu dan berhasil mengurung kita disini"

Walaupun dia tak mau mengalah dalam bibir namun tubuhnya tetap berdiri dimuka dinding batu itu dengan wajah agak sangsi.

Melihat sinona berdiri dengan kening berkerut dan ujung kaki dibentak-bentakkan diatas tanah. untuk sesaat diapun tak berani mengusik ketenangan gadis tersebut Untuk sesaat dia hanya berdiri saja disampingnya sanbil memandang gadis itu dengan termangu.

Perlu diketahui, meskipun Wi Tiong hong sudah berapa kali berjumpa dengan Su Siau hui, tapi selama ini dia belum pernah memperhatikan si nona dengan seksama, dalam benaknya pun hanya tertinggal setitik bayangan yang kabur, dia hanya tahu gadis itu cantik tapi dingin dalam gerik mimiknya.

Tapi sampai di manakah kecantikan wajahnya? oleh karena dia tak berani memandang lebih seksama, tentu saja pemuda itu tak dapat menjelaskan lebih terperinci lagi.

Sementara itu Su Siau hui sedang memutar otak untuk memecahkan persoalan yang dihadapi, sedangkan Wi Tiong hong pun ingin cepat-cepat tahu bagaimana caranya menembusi lorong tersebut, seandainya dia mendongakkan kepala memperhatikan wajahnya si nona sebetulnya tindakkannya ini merupakan suatu tindakan yang lumrah.

Padahal jarak diantara mereka berdua cuma berapa depa, maka setelah dia berpaling, wajah kedua orang itupun menjadi saling berhadapan raut muka si nona kelihatan lebih jelas.

Hampir saja anak muda itu terpikat oleh kecantikan nona itu, untuk sesaat lamanya dia sampai berdiri tertegun termangu.

Mendadak So Siau hui seperti menyadari akan sesuatu. wajahnya kontan berubah menjadi merah padam karena jengah.

Untuk menghilangkan rasa malunya, dia mulai meraba sekitar dinding batu dihadapannya, tak selang berapa saat kemudian, terdengarlah bunyi gemerincingan nyaring menggema memecahkan keheningan, pelan-pelan dinding batu itu bergeser ke samping dan muncullah sebuah pintu rahasia.

Dengan hati gembira Su Siau-hui segera berseru:

"Akhirnya pintu rahasia disini berhasil kutemukan, mari kita masuk kedalam " Kedua orang itu bersama sama melangkah masuk ke dalam pintu rahasia, terendus bau harum semerbak berhembus lewat.

Ternyata tempat itu merupakan sebuah ruangan tempat tinggal yang luas, diatas keempat dindingnya tersebar empat butir mutiara sebesar buah kelengkeng, sedang diatas langit-langit ruangan tergantung sebuah lentera-terbuat dari kaca yang memancarkan sinar terang benderang.

Ketika mutiara yang berada di keempat dinding termakan oleh sorotan cahaya lentera tersebut, segera berpantulah selapis cahaya lembut yang berwarna putih susu.

Diatas sebuah meja yang terbuat dari kemaia, nampak cawan emas berjajar disitu, segala perlengkapan yang ada disitu rata- rata mewah, megah dan mentereng.

Ruangan tersebut sangat bersih tak nampak sedikit debupun, juga tidak kedengaran suara apa-apa, tapi begitu mereda berdua melangkah masuk. muda-mudi tersebut segera berhenti dengan pandangan kaget.

Ternyata di atas kursi berlapis kain beledru halus, duduk seorang lelaki berbaju perilente.

Orang itu berwajah semu emas, mempunyai alis mata yang melentik dengan sepasang mata yang tajam, dia berusia dua puluh empat lima tahunan, ditangannya memegang sebuah cawan air teh yang terbuat dari batu kemala putih, waktu dia duduk bersandar sambil memandang kearah mereka berdua dengan senyum dikulum, sikapnya amat tenang dan manis. Dengan perasaan terkesiap Wi Tiong hong segera berpikir. "Siapakah orang itu ?"

Disaat yang teramat singkat inilah, terdengar dua kali bentakan nyaring berkumandang memecahkan keheningan, bayangan manusia berkelebat lewat, diiringi endusan bau harum, terlihat dua rentetan cahaya pelangi berwarna perak. satu dari kiri yang lain dari kanan bagaikan gunting secepat kilat menyambar tiba, hawa dingin yang merasuk tulang benar benar terasa menggidikkan hati. Dua bilah pedang yang melancarkan tusukan sambil menggunting itu datang dengan kecepatan luar biasa, pada hakekatnya sama sekali tak sempat buat Wi Tiong hong untuk meloloskan pedangnya,

Su Siau-hui pun nampak agak terkejut, cepat- cepat dia menyambar lengan Wi Tiong hong dan diajak mengundurkan diri ke luar pintu.

"Jangan lukai mereka" terdengar manusia bermuka emas yang duduk dikursi itu membentak dengan suara rendah.

Cahaya pedang segera sirap. berbareng itu juga terdengar suara gemerincing nyaring, rupanya kedua belah pedang tersebut telah dimasukkan kembali kedalam sarungnya.

Sewaktu menyerang, mereka dapat menyerang dengan kecepatan tinggi, sewaktu menyarungkan kembali pedangnya, mereka pun dapat menyarungkan senjata nyatak kalah cepatnya.

Bahkan gerakan tubuh mereka pun sama cepatnya, sebab menanti Wi Tiong hong dapat mendongakkan kepalanya lagi, dua orang gadis berdandan seperti putri keraton, dengan pedang tersoren sudah berdiri dibelakang manusia bermuka emas itu dengan sikap menghormat.

Su Sian hui sama sekali tidak melepaskan rangkulannya pada lengan Wi Tiong hong, tapi dengan suara dingin dia segera menegur: "Kau anggap mereka benar- benar bisa melukai aku ?"

Berkilat sepasang mata manusia bermuka emas itu, ditatapnya kedua orang itu dengan lembut dan hangat, lalu tersenyum, ujarnya.

"Kalian berdua bisa menerjang sampai ke-tempatku ini, berarti kalian telah menjadi tamu agungku, silahkan duduk di dalam."

Su Siau hui mendengus dingin. "Hmm, masuk yaa masuk. memangnya kami takut kepadamu?" teriaknya penasaran. Sambil menggandeng tangan Wi Tiong hong, bagaikan sepasang kekasih yang amat mesra-nya, mereka berjalan masuk kedalam ruangan-

Wi Tiong-hong merasa rikuh sekali sewaktu lengannya digandeng gadis itu, tapi lantaran gadis tersebut tidak melepaskan gandengannya, sudah barang tentu dia tak dapat melepaskan diri atau mendorong gadis itu dengan begitu saja, tak heran kalau mukanya menjadi merah padam lantaran merasa jengah.

Manusia bermuka emas memandang sekejap ke arahnya, kemudian sambil mengulapkan tangannya berkata: "Silahkan duduk "

Wi Tiong-hong mencoba untuk memandang kearah dua orang gadis berdandan model keraton yang berdiri dibelakang lelaki muda tersebut, ketika melihat pedang berpita kuning yang tersoren dipinggangnya, sekali lagi si anak muda itu merasa terperanjat.

Dengan cepat ia teringat kembali akan Hek bun-kun Cho Kiu- moay, pedang yang tersoren perempuan itupun berpita kuning, malah sewaktu mendengar perkenalan dari Chin congkoan pernah disebutkan kalau perempuan itu merupakan salah satu diantara empat dayang yang mengawal Ban Kiam hwee Cu.

Satu ingatan dengan cepat melintas didalam benaknya tanpa terasa tegurnya sambil mendongakkan kepalanya: "Apakah kau adalah Ban Kiam hwee cu ?"

Ucapan "Ban Kiam hwee cu" yang disebutkan anak muda tersebul dengan cepat mengejutkan pula Su Siau hui, cepat dia melepaskan pergelangan tangan Wi Tiong hong, kemudian tegurnya sambil berpaling: "Kau kenal dengan dia ?"

"Tidak kenal, aku hanya pernah mendengar tentang pembagian tingkat didalam perkumpulan Ban kiam hwee dengan perbedaan warna pita pedangnya, konon hanya ke empat dayang yang pengawal Ban kiam hwee cu saja yang memakai pedang berpita kuning, oleh karena pita pedang yang dipakai kedua orang nona tersebut berwarna kuning maka akupun lantas menduga kalau saudara ini adalah Ban kiam-hwee cu."

"oooh .. . tak heran kalau serangan yang mereka lancarkan tadi, benar benar bisa ditonton kebagusannya " kata Su Siau hui sambil manggut-manggut.

Yang dimaksudkan sebagai "bisa ditonton kebagusannya" berarti kepandaian lawan belum mencapai tingkatan yang sempurna, sudah jelas gadis itu bermaksud untuk memandang enteng serta mencemooh kemampuan lawan-

Dua orang gadis berdandan model keraton dibelakang manusia bermuka emas itu segera berubah wajah setelah mendengar perkataan itu, sebaliknya Manusia bermuka emas itu hanya tertawa hambar.

"Perkataan saudara ini memang benar, siaute adalah pemimpin tertinggi dari selaksa pedang "

Sekali lagi Su Siau hui mendengus dingin.

"Hmm, Ban kiam bwee juga paling paling begitu, huuh... apakah kau tidak merasa terlampau sombong menyebut dirimu sebagai Ban-kiam ci cu (Pemimpin dari selaksa pedang)?"

Mencorong sinar kilat dari balik mata Ban kiam hwee cu, lalu dia tertawa ringan. "Ban kiam ci cu adalah Ban kiam ci cu, masa ada perbedaannya?"

oooooOdwOoooooo

"TENTU saja ada perbedaannya " sahut Su Siau hui cepat. "Siaute bersedia mendengarkan pendapatmu itu. Haah . ..

haaah... haah . . . mengapa kalian berdua tidak duduk lebih dulu sebelum melanjutkan perbincangan?"

Sambil berkata dia lantas menuding dua buah kursi yang berada dihadapannya, jelas maksudnya mempersilahkan tamu untuk duduk, Wi Tiong-hong dapat menyaksikan jari tangannya yang putih nan lembut tak ubahnya seperti jari tangan gadis.

Su Siau hui tanpa ragu duduk diatas kursi yang dimaksudkan, setelah itu, ujarnya:

"Ban kiam hwee cu adalam pemimpin dari perkumpulan Ban kiam hwee, oleh sebab itu terlepas apakah kau benar-benar memimpin selaksa orang jago pedang atau tidak, berhubung nama perkumpulanmu adalah Ban kiam hwee dan suatu perkumpulan pasti ada Hweecu (pemimpinnya), maka sekalipun kau menyebut diri sebagai Ban kiam hwee cupun orang lain tak bakal memprotes. Sebaliknya berbeda sekali dengan sebutan Ban kiam ci cu (pemimpin dari selaksa pedang) sebab Ban kiam atau selaksa pedang bukan mengartikan suatu perkumpulan yang bernama demikian, melainkan menunjukkan jago jago persilatan yang menggunakan pedang dalam dunia persilatan bila kau menyebut diri sebagai Pemimpin dari selaksa pedang, bukan sama artinya dengan kau menganggap kemampuanmu sudah mencapai tingkatan nomor wahid yang tak terkalahkan diantara para jago yang menggunakan pedang lainnya dalam dunia persilatan ?"

Ban kiam hwee cu yang mendengar uraian tersebut segera tersenyum.

"Perkataan nona memang benar, sedikitpun tak keliru, Ban kiam ci cu memang bermaksud demikian "

"Tidakkah kau merasakan kelewat latah dan sombong dengan sebutan tersebut ?" jengek si nona cepat.

Ban kiam Hwee cu tertawa terbahak-bahak.

"Haahh . . . haahh... haahh... sedikitpun tidak latah, sedikitpun tidak sombong, karena dalam permainan ilmu pedang, siapakah manusia dalam dunia persilatan dewasa ini yang sanggup mengalahkan kemampuan dari Ban-kiam ci cu ?"

"Aku justru ingin mencoba sampai dimanakah kelihayan ilmu pedang yang kau miliki itu?" Kembali Ban kiam Hwee cu tersenyum.

"Nona berani mengucapkan perkataan semacam itu dihadapan siaute, berarti kau bukan seorang manusia sembarangan hanya saja berhubung jago lihay yang berdatangan di bukit Pit bu san hari ini berjumlah cukup banyak. sedangkan siaute pun baru saja datang, bagaimana kalau sebentar lagi kita bicarakan kembali soal itu diruang depan sana ?" Berbicara sampai disitu, sambil tertawa nyaring dia menambahkan.

-oooOodwoOooo-