-->

Pedang Karat Pena Beraksara Jilid 09

Jilid 09

"TiDAK KENAL"

Kontan saja nona berbaju hijau itu tertawa dingin.

"Jarum beracun dari keluarga Lan termasuk karena keganasan dan kelihayannya, kau anggap tabib biasa dapat memberikan pertolongannya, untung kau berjumpa denganku hari ini..." Dari dalam sakunya dia mengeluarkan sebuah botol kecil berwarna putih, lalu diangsurkan ke depan sambil katanya.

"Didalam botol terdapat tiga butir pil penawar, setiap satu jam telanlah sebutir, separuh ditelan separuh dibubuhkan diluka luar, tiga jam kemudian nyawamu akan dapat diselamatkan."

"Didalam tiga jam tersebut, paling baik kalau kau jangan mengerahkan tenaga dalam, baik, sekarang kau boleh pergi dari sini."

Setelah menerima botol perselen itu, Wi Tiong hong segera menjura sambil berkata:

"Budi kebaikan nona yang bersedia menghadiahkan obat. penawar kepadaku sungguh membuat aku merasa berterima kasih sekali, entah..."

Sebenarnya dia ingin menanyakan siapa nama orang itu, tapi setelah perkataan tersebut sampai di ujung bibir, dia merasa kurang baik untuk menanyakan nama orang, apalagi di tengah malam buta dan diluar kota yang begini sepi.

Akhirnya dengan wajah memerah karena jengah, dia telan kembali kata-kata selanjutnya yang tak sempat diutarakan-

"Kau tak usah berterima kasih kepadaku," ucap nona berbaju hijau itu hambar? "aku sendiripun tidak bermaksud untuk menolongmu, aku hanya ingin agar dia tahu jika jarum beracun dari keluarga Lan bukanlah sesuatu senjata yang cukup untuk membuatnya menjadi sombong."

Selesai berkata, dia lantas berlalu dari situ dengan gerakan cepat.

Dengan termangu- mangu Wi Tiong hong memegang botol porselen itu sambil mengawasi nona itu berlalu dari sana, dalam waktu singkat bayangan tubuhnya telah lenyap dibalik kegelapan sana. Mendadak dia teringat akan sesuatu, kalau didengar dari pembicaraan si nona berbaju hijau itu tampaknya dia seperti merasa sangat tidak puas terhadap pemuda berbaju biru itu, tapi agaknya pula diantara mereka berdua sudah saling mengenal cukup rapat.

Sekalipun dia merasa rikuh untuk menanyakan nama si gadis itu, tapi dari pembicaraan si nona dia toh berhasil mengetahui juga asal usul dari pemuda berbaju biru itu.

Sekarang waktu sudah semakin larut malam dia segera masukkan botol perselen itu kedalam sakunya, kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke kota Sang siau.

Ketika tiba dibawah kaki kota, pintu kota sudah lama tertutup, maka diapun mencari suatu tempat yang sepi untuk melompati dinding kota tersebut.

Mendadak dia saksikan kurang lebih tujuh delapan kaki disampingnya terdapat juga sesosok bayangan manusia sedang melompati dinding kota dengan kecepatan bagaikan kilat, bayangan tersebut sedang bergerak menuju ke arah sebelah timur.

Sungguh hebat sekali ilmu meringankan tubuh orang itu, hanya didalam sekejap mata saja bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Diam- diam Wi Tiong hong mengagumi kelihayan orang itu, pikirnya dihati.

"Sungguh cepat gerakan tubuh orang itu, cukup dilihat dari kelihayannya dalam ilmu meringankan badan, dapat diketahui kalau kemampuanku masih jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan orang itu. . ."

Setelah melompat turun dari dinding kota, buru buru dia berjalan menuju ke arah jalan raya.

Waktu itu suasana dikota masih ramai, batu saja sampai dirumah penginapan Ka cian terlihat olehnya pelayan rumah penginapan yang dikenalnya telah datang menyambut sam tertawa. "Kek koan, kau baru sampai?" sapanya, "kamar yang kau tempati tempo hari kebetulan lagi kosong hari ini, silahkan, silahkan"

la menghantar Wi Tiong hong menuju ke kamarnya, setelah membukakan pintu, kembali katanya:

"Tampaknya kau sudah bersantap diluar? Hamba akan sediakan air teh untukmu"

"Tunggu dulu. aku belum bersantap. coba suruhlah koki untuk menyiapkan hidangan bagiku."

Pelayan itu segera mengiakan sambil mengundurkan diri dari situ.

Setelah melakukan perjalanan sekian lama, lengan kanan Wi Tiong hong sudah terasa makin berat sehingga tak sanggup diangkat kembali, kepalanya pun mulai pusing dan berat dia segera tahu kalau racun yang mengeram didalam tububuhnya telah bekerja.

Dengan cepat dia mengeluarkan botol porselin hadiah dari nona berbaju hijau itu, mengeluarkan sebutir pil berwarna hitam sebesar kelengkeng, memotong menjadi dua, setengah bagian ditelan, setengah lagi di bubuhkan ke atas mulut luka.

Baru saja ia akan menyimpan kembali botol itu, mendadak ia menyaksikan dibagian tengah botol itu terukir sebuah tulisan yang berbentuk persegi panjang, dia amati tulisan itu, dan terbacalah tulisan itu yang berbunyi. "Su si Lian ci" (dibuat oleh Susi).

Ketika ujung botol itu diperiksa kembali, disitu ditemukan kembali tulisan "Hui" yang lembut.

Diam-diam sianak muda itu segera berpikir.

"Kalau dilihat dari tulisannya yang lembut agaknya seorang gadis, mungkin "Hui" adalah nama dari nona berbaju hijau itu."

Teringat sampai disitu, tanpa terasa didepan matanya terbayang kembali tubuh dari sinona itu, dan ingat pula raut wajahnya yang cantik tapi dingin dan kaku. Tanpa terasa dia mulai mengelus botol porselin tiada hentinya.

Menanti diluar pintu kamar berkumandang suara langkah manusia, Wi Tiong hong baru dia sadar dari lamunannya, cepat dia menyimpan kembali botol porselin itu.

Selesai santap malam, dia menuruti pesan dari nona berbaju hijau itu untuk menelan dua butir pil lainnya menurut aturan, kemudian baru menyimpan kembali botol porselin itu memadamkan lampu dan tidur.

Tidurnya kali ini amat nyenyak, ketika bangun kembali, hari sudah terang benderang.

Ketika mencoba untuk menggerakan tangannya, ternyata tangan tersebut bisa digerakkan dengan leluasa tanpa perasaan kaku atau kesemutan, sekali lagi dia mencoba untuk mengatur napas, ternyata tidak ditemukan suatu gejala aneh, tahulah dia bahwa racun keji tersebut telah berhasil dipunahkan.

Maka diapun lantas duduk bersila diatas pembaringan sambil mengatur napas.

Sudah berapa hari dia tidak melakukan semedhinya, begitu latihan dilakukan segera terasa ada udara panas yang bergerak naik mencapai dua belas Liong lo, lama kelamaan diapun berada dalam keadaan lupa "aku".

Ketika sadar kembali, bayangan matahari sudah memenuhi jendela, dia segera mengenakan pakaian dan membuka pintu kamar.

Pelayan muncul membawa air untuk cuci muka, katanya sambil tertawa paksa.

"Kek koan, nyenyak amat tidurmu, hamba sudah datang berapa kali, tapi melihat pintu kamarmu masih tertutup rapat, hamba tak berani mengganggumu, sekarang sudah mendekati tengah hari" Sambil membersihkan muka, Wi Tiong-hong berkata, "Pelayan, sebentar jika ada seorang Ting-ya mencariku..."

Belum habis dia berkata, terdengar dari luar pintu berkumandang suara seruan seseorang yang nyaring:

"Pelayan, apakah dikamar kelas satu terdapat seseorang yang bernama Wi-ya..." Tampaknya baru saja membicarakan soal Cho co, si Cho co telah muncul didepan mata.

Wi Tiong-hong mengenali suara pembicaraan tersebut suara Ting ci-kang, dia menjadi amat girang sekali, buru-buru ia melemparkan handuk dan memburu ke depan pintu sambil berseru:

"Ting toako, siaute berada disini"

Ting ci kang muncul dengan wajah berseri-seri, begitu melangkah masuk kedalam kamar segera ujarnya sambil tertawa:

"Saudara Wi, aku telah menyusahkan dirimu saja." "Ting toako, cepat duduk dan beristirahat..."

Pelayan tanpa diminta telah menghidangkan air teh panas untuk kedua orang tamunya, kemudian baru mengundurkan diri.

"Ting toako, sekarang kau baru datang, sungguh membuat siaute merasa cemas sekali," ujar Wi Tiong hong sepeninggal pelayan tersebut.

"Aah, aku tidak apa apa, Kalau siau heng dengar dan pembicaraan mereka, agaknya kau memegang sebuah lencana Siu lo cin leng dan memaksa mereka untuk melepaskan siau heng? Lencana Siu lo cin leng merupakan lencana yang dimiliki siu lo cinkun dimasa lalu, apakah Kam Liu cu dari Thian sat bun yang meminjamkannya kepadamu?"

"oooh bukan, benda itu merupakan peninggalan dari paman tak dikenalku, semula siaute sendiripun tidak tahu kalau benda tersebut memiliki kekuasaan sebesar ini, Untung saja Kam Liu cu bersedia memberitahukan hal ini kepadaku, Konon tempo haripun Thian Sat nio mengundurkan diri karena telah menyaksikan lencana Siu lo cin leng ini."

Tampaknya Ting ci kang sangat menaruh perhatian terhadap "paman tak diketahui namanya" yang diucapkan wi Tiong hong tersebut kembali tanyanya.

"Tahukah kau, siapakah paman yang tidak kau ketahui namanya itu?" Wi Tiong hong mendongakkan kepalanya lalu menjawab.

"Bukankah tempo hari siaute pernah memberitahukan soal ini kepada toako? siaute dibesarkan sampai dewasa oleh orang itu, selama ini siaute selalu menganggapnya sebagai ayah kandungku sendiri, kemudian baru ketahui kalau dia adalah pamanku, hanya dia orang tua tidak bersedia memberitahukan namanya kepada siaute..."

Berkerut sepasang mata Ting ci kang sesudah mendengar perkataan itu, dia manggut-manggut.

"Aah, ya, betul, siau heng teringat sekarang tempo hari kau memang sudah pernan membicarakan soal ini kepadaku."

Berbicara sampai disini, dia berhenti sejenak. kemudian sambungnya lebih jauh,

"Saudara Wi, bagaimana ceritanya hingga kau bisa berkenalan dengan Kam Liu cu dari Thian sat bun?"

Mendengar pertanyaan Wi Tiong hong segera tertawa,

"Kalau dibicarakan sebetulnya hanya merupakan suatu kebetulan saja, waktu itu siaute juga tidak tahu kalau dia adalah Kam Liu cu dari perguruan Thian sat bun, lebih-lebih tak kuduga kalau dia akan menyelamatkan diriku."

Secara ringkas dia lantas bercerita bagaimana ketika pagi-pagi dia hendak berangkat keperusahaanAn wan piaukiok. ditengah jalan dia menyaksikan ada orang orang sedang mengerumuni seseorang, karena waktunya masih pagi maka diapun ikut melihat keramaian. Ternyata disitu terlihat seorang pengemis bertelanjang dada sedang memberi minum ularnya dengan arak. kemudian pengemis itu meminta ongkos arak kepadanya, dan diberinya puluhan tahil perak. sejak saat itulah merekapun menjadi berkawan."

Setelah mendengar kisah tersebut, paras muka Ting ci kang baru berusaha menjadi kendor, lalu menyusul kemudian diapun tertawa terbahak-bahak.

"Haah...haah....haah...baru kali ini kudengar kalau ada orang berteman dalam keadaan seperti ini, tampaknya juga hanya saudara Wi saja yang mau tertipu."

"Siaute rasa walaupun Kam Liu cu adalah seorang anggota perguruan Thian Sat bun, sesungguhnya dia adalah seorang yang gagah dan berjiwa terbuka, dia terhitung seorang sahabat yang amat setia kawan."

Ting ci kang segera manggut-manggut sesudah mendengar perkataan itu.

"Apa yang saudara katakan memang benar" katanya, "aku hanya mengatakan bahwa didalam dunia persilatan banyak sekali penipu yg tujuannya hanya untuk memperoleh uang bagi kepentingan pribadinya, seperti Kam Liu cu yang bersedia datang menolongmu dikala kau sedang mengalami kesulitan, boleh dibilang jarangnya jarang"

"Ting toaku, sesungguhnya perkumpulan macam apakah Ban kiam hwee tersebut." tiba-tiba Wi Tiong hong bertanya.

Paras muka Ting ci kang berubah agak aneh sahutnya kemudian dengan hambar: "Soal ini Siuheng sendiri juga kurang jelas."

"Kalau kudengar dari pembicaraan Kam Liu cu, agaknya mereka pun sedang mencari Lou bun si tersebut?"

Waktu itu Ting ci kang sedang mengangkat Cawan air tehnya siap diteguk. mendengar perkataan itu tanpa terasa dia lantas bertanya: "Apa lagi yang dia katakan?" Tentu saja Wi Tiong hong tak akan memperhatikan perubahan paras muka Ting ci kang, dia hanya menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak, dia tidak mengataka apa-apa, aku bertanya kepadanya benda apakah Lou bun si tersebut? Tapi dia enggan memberitahukan kepadaku"

Ting ci kang segera mendengus dingin, "justru pihak Thian sat bun memang bermaksud untuk mengincar Lou bun si tersebut, tentu saja mereka enggan menjawab, pertanyaan yang kau ajukan kepadanya."

"Ting toako" ujar Wi Tiong hong keheranan, "tahukah kau benda macam apakah yang bernama Lou bun si tersebut?"

sekulum senyuman segera menghiasi wajah Tin ci kang.

"Siau heng sendiripun pernah mendengar orang berCerita, meski yang kuketahui amat sedikit tapi tidak terhitung terlalu Cermat. Saudara Wi, tentunya kau masih ingat bukan, berapa hari berselang ketika kau kuajak kau pergi ke kuli Sik jin tian, tujuanku tak lain adalah untuk mencari benda itu"

"Toako, bukankah kau sedang menyelidiki sebab-sebab kematian yang menimpa orang orang Ban li piaukiok?" seru Wi Tiong-hong terkejut berCampur keheranan-

"Tentu saja hal mana pun merupakan salah satu dari titik terang yang bisa dilaCaki, tapi yang terutama adalah kabar berita tentang Lou bun si tersebut."

Ketika berbicara sampai disitu, mendadak sorot matanya dialihkan ke wajah Wi Tiong hong, kemudian tanyanya:

"Saudara Wi, masih ingatkah kau apa yang pernah kukatakan kepadamu tempo hari?"

Wi Tiong hong menjadi tertegun mendengar pertanyaan itu, dengan mata terbelalak serunya: "Aaah, tidak pernah.. Ting toako pernah membicarakan tentang soal apa?"

"coba pikir lagi " kata Ting c^-kang tersenyum.

Wi Tiong-hong mencoba untuk berpikir sebentar, lalu sahutnya. "Aaaah, siaute teringat sekarang."

"Nah, kalau begitu coba katakan, apa yang telah kuberitahukan kepadamu " seru Ting-ci kang dengan mata berkilat.

OOodwoOO

"TEMPO HARI toako berjongkok ditengah semak belukar dan menemukan-.." tidak menanti si anak mudaitu menyelesaikan kata- katanya, dengan Cepat Ting ci-kang telah menukas: "Benar, bagaimana dengan dibalik semak belukar "

"Toako menemukan segumpal abu tembakau didalam semak belukar tersebut, toako pernah bilang orang itu pasti berusia lima puluh tahunan, bersembunyi dibalik semak belukar dan kemungkinan besar ada sangkut pautnya dengan kematian yang menimpa orang orang perusahaan pengawalan barang Ban li piaukiok."

"Yaaa, benar, benar, memang siaute hanya mengucapkan perkataan ini," sahut Ting ci-kang sambil menghembuskan napas panjang.

"Kemudian, bukankah kita lantas meninggalkan tempat itu dan berangkat menuju kerumah petani itu?"

Ting ci kang manggut

"Kalau begitu mungkin aku benar- benar tak membicarakan soal apa- apa lagi, aaai ... padahal pelbagai ingatan dan persoalan serasa berkeCamuk dalam benakku, aku benar-benar merasa tak tahu harus membicarakan tentang apa." Wi Tiong hong mengetahui kalau toakonya sedang murung dan risau karena tidak berhasil menemukan sesuatu titik terang apapun, maka segera hiburnya.

"Toako, sekalipun kau telah memberikan janjimu kepada pihak Bu tong pay, namun aku rasa kaupun tak usah terlalu tergesa-gesa cepat atau lambat persoalan inipasti akan menjadi terang juga dengan sendirinya . . . "

Walaupun dimulut dia berkata demikian, hatinya selalu memikirkan tentang masalah "Lo bun si" tersebut, tak tahan dia lantas bertanya:

"Ting toako, kau masih belum menerangkan kepadaku, benda macam apakan yang dinamakan Lou bun si tersebut?" Ting ci kang segera tertawa hambar:

"Konon bentuk Lou bun si itu menyerupai sebuah pena kemala." "Pena kemala?" seru si anak muda itu keheranan, "apa anehnya

dengan benda semacam itu?"

Ting ci kang memandang sekejap ke arahnya lalu tertawa, katanya kemudian "Kalau Cuma sebatang pena kumala saja. tentu saja benda tersebut tak bisa disebut benda mestika."

"Lantas apakah mempunyai suatu kegunaan yang lain ?"

"Tentu saja." jawab Ting ci-kang sambil mendehem, "menurut berita yang tersiar dalam dunia perailatan, barang siapa berhasil mendapatkan pena kemala tersebut, maka dia akan menjadi seorang jagoan yang tiada tandingannya di dunia ini."

Tanpa terasa Wi Tiong-hong menjadi tertarik sekali, dengan mata terbelalak lebar serunya:

"Aah, benarkah ada kejadian semacam ini?"

"orang pertama yang berhasil menemukan Lou bun si paling awal adalah ayah angkatku Thi pit teng kan kun (pena baja penenang jagad) TanPek-li, yaitu pangcu angkatan yang lalu dari perkumpulan Thi pit pang, kejadian ini berlangsung pada tiga puluh tahun berselang, waktu itu dalam dunia persilatan sedang terjadi kekacauan yang amat hebat, orang-orang yang hidup pada jaman itu saling memperebutkan kekuasaan dan kedudukan sehingga banyak pertumpahan darah dan permusuhan yang terjadi pada jaman itu."

Sinar matanya dialihkan kelangit langit ruangan seperti lagi mengenang kembali kejadian lampau, kemudian setelah berhenti sejenak katanya lebih lanjut:

"Ayah angkatku merasa amat gusar sekali menyaksikan kerakusan orang-orang persilatan waktu itu yang sama-sama mengincar pena wasiat yang berhasil ditemukan olehnya, dalam marahnya pena tersebut segera dihancur lumatkan menjadi bubuk. Baru pada saat itulah semua orang tahu kalau pena Lou bun si yang berhasil diperoleh ayah angkatku itu tak lebih cuma sebatang Lou bun si palsu..."

"Konon Lou bin si semuanya terdiri dari tiga batang, dua palsu dan satu asli, yang didapatkan ayah angkatku tak lebih adalah yang palsu..."

"Dalam gusarnya ayah angkatku lantas mendirikan perkumpulan Thi pit pang, dia orang tua membangun perkumpulan pena besi itu tak lain ingin memberitahukan kepada semua orang kalau dengan mengandalkan sebatang pena bajapun dia masih bisa malang melintang dalam dunia persilatan tanpa bantuan dari Lou bun si."

"Ayah angkat toako ini benar-benar berjiwa gagah dan tak malu disebut sebagai seorang enghiong" puji wi Tiong hong dengan wajah Serius.

"Aaah, saudara Wi terlalu memuji, sewaktu ayah angkatku mendirikan perkumpulan Thi pit pang, diapun menetapkan pula peraturan-"

"Peraturan apakah itu?"

"Setiap anggota perkumpulan Thi pit pang dilarang untuk mengincar Lou bun si lagi untuk selamanya^" "Mungkin maksud ayah angkat toako dengan menurunkan peraturan ini adalah dengan harapan agar anggotanya tidak sampai terlibat lagi didalam persoalan perebutan pena tersebut "

Berkilat sepasang mata Ting cikang, katanya setelah tertawa terbahak-bahak:

"Hahahaha, tapi tiga puluh tahun kemudian, Thi-pit-pang toh terlibat kembali didalam pertikaian ini..."

"Kalau begitu benda yang dikawal oleh Ban li piaukiok sebenarnya adalah pena mestika Lou bun si ?"

Ting ci kang segera tertawa dingin-

"Perusahaan Ban li piaukio kpada dasarnya dibuka oleh pihak Bu tong pay, sedang Kan kunjiu Siau Beng san tak lebih hanya ditugaskan untuk mengurusinya belaka, kau anggap barang kawalan apa yang mereka bawa kali ini ?"

"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan, entah dari mana mereka telah berhasil mendapatkan Lou bun si dan sedang dalam perjalanan menuju ke Bu tong san-Keng-hian, Keng jin jelas merupakan jago jago Bu Tong pay yang khusus dikirim untuk menyambut kedatangan adik seperguruannya."

"Tapi, bukankah Ma koan tojin, Thi lo han serta sinaga tua berekor botak sekalian juga telah terjatuh ketangan pihak Ban kiam hwee? Sudah pasti kedatangan mereka pun di karenakan soal Lou bun si tersebut, sungguh tak ku sangka hanya disebabkan sebatang pena kemala, begitu banyak orang yang berubah matanya karena ingin mendapatkannya?"

Ting ci kang hanya mengiakan pelan, sambil bangkit berdiri segera ujarnya:

"Saudara Wi, kini waktu sudah menunjukkan tengah hari, mari kita keluar untuk bersantap. siau heng masih ada persoalan yang hendak dirundingkan denganmu"

"Ting toako masih ada urusan apa lagi?" Tin ci kang tertawa. "Pada hal juga tak ada apa-apa, mari sambil bersantap kita berbincang-bincang lagi" Setelah keluar dari rumah penginapan itu, mereka berdampingan menelusuri jalan raya.

Sepasang mata Ting ci kang tiada hentinya Celingukan kesana kemari sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang disepanjang jalan raya itu.

Tidak selang berapa saat kemudian, mereka sudah mendekati rumah makan Hweepeng loo, dari kejauhan sana suara teriakan para pelayan dan suara koki mencincang daging sudah kedengaran amat jelas. Sambil berpaling Tin ci kang segera berkata.

"Dalam kota Sang siau, rumah makan Hwee Peng lo boleh dibilang rumah makan paling terkenal dan tamu paling banyak. mari kita menuju kesana saja "

"Bukankan siautepun berkenalan dengan Ting toako dirumah makan Hwee pang lo juga? Hari ini tentu saja kita harus berkunjung ketempat itu lagi "

"ooooh, benar, setelah berada ditempat perkenalan, kita berdua sudah seharusnya minum beberapa Cawan arak." sahut Ting ci kang sambil tertawa.

setibanya diatas loteng, betul juga hampir semua tempat telah berisi tamu.

Pelayan segera membawa mereka berdua menuju kedepan sebuah meja yang masih kosong.

Ting ci kang memperhatikan dulu semua tamu yang berada dalam ruangan itu, kemudian baru duduk. memesan sayur dan arak.

Menanti pelayan itu sudah pergi, dia baru berbisik kepada Wi Tiong hong.

"Selama beberapa hari belakangan ini, setiap saat kemungkinan besar kita akan bersua dengan umat persilatan di kota Sang siau ini, kalau berbicara harap sedikitlah berhati hati."

"Ting toako, kau telah menjumpai siapa ?" "Dalam rumah makan yang beg ini luas, pelbagai macam manusia berkumpul semua disini aku hanya memperingatkan kepadamu saja."

"Akan siaute ingat selalu ?"

Mendadak dia berseru tertahan, kemudian katanya lagi.

"Aaah, tadi siaute hampir lupa memberitahukan kepada toako, semalam hampir saja aku kena dicelakai orang "

"Manusia macam apakah yang hendak mencelakai dirimu ?" tanya Ting ci kang sambil menatap wajah pemuda itu.

Secara ringkas Wi Tiong hong lantas menceritakan pengalamannya sewaktu berjumpa dengan pemuda berbaju biru semalam.

Selesai mendengarkan penuturan itu, dengan kening berkerut Ting ci kang segera berkata dingin-

"Tampaknya keluarga Lan dari in lam juga telah berdatangan kemari." Kemudian setelah mendongakkan kepalanya dia berkata lagi.

"Jarum beracun dari keluarga Lan jahat dan berbahaya sekali, barang siapa terkena serangannya maka tak sampai satu jam seluruh badannya akan menjadi kaku dan akhirnya lumpuh, bahkan Siang tak bertemu malam, malam tak bertemu Siang, orang-orang Thian sat bun mustahil bisa memunahkan racun keji itu. Saudara Wi, mengapa kau bisa selamat tanpa mendapatkan gangguan apa apa?"

Mendengar perkataan itu, diam-diam Wi Tiong hong berpikir. "Ternyata jarum beracun dari keluarga Lan betul-betul sedahsyat

itu, kalau begitu nona berbaju biru itu memang tidak sengaja membohongi aku" Berpikir sampai disitu, dengan wajah memerah segera sahutnya,

"Tak lama setelah pemuda berbaju biru itu pergi, muncul kembali seorang nona berbaju hijau, dia menghadiahkan tiga butir pil kepada siaute, katanya tiga jam kemudian nyawa siaute tak akan berbahaya lagi. . ."

Tapi berhubung diatas botol porselennya terukir nama nona berbaju biru itu, apa lagi dla, masih muda dan malu-malu kucing, maka pemuda tersebut merasa rikuh untuk mengeluarkan botol tersebut dan diperlihatkan kepada Ting toakonya.

Ting ci kang kelihatan tertarik sekali akan nona berbaju hijau itu, kembali dia bertanya:

"Waktu itu apakah kau, dapat melihat jelas berapa usianya dan bagaimanakah tampang mukanya?"

sekali lagi paras muka Wi Tiong hong berubah menjadi merah padam karena jengah.

"Nona itu berbaju hijau, usianya diantara tujuh delapan belas tahunan dan berwajah amat.. .. amat cantik..."

Melihat paras muka pemuda itu merah padam sampai ke telinganya, Ting ci kang menjadi amat geli, serunya kemudian: "Apalagi yang dia katakan kepadamu ?"

Ditertawakan orang, wi Tiong hong semakin tersipu-sipu dibuatnya, dia tak mampu berbicara lagi, maka sambil menggelengkan kepalanya berulang kali katanya:

"Tidak^ tidak. nona itu tidak berkata apa- apa lagi, setelah memberi tiga butir pil itu kepadaku, diapun segera berlalu meninggalkan aku?"

Sekilas perasaan kaget dan keheranan menghiasi wajah Ting ci kang, setelah termenung sejenak dia berkata lagi:

"Siapakah nona berbaju hijau itu? padahal racun jarum dari keluarga Lan hanya bisa di bebaskan oleh obat penawar kasusnya, siapa pula yang bisa memunahkan racun itu ?"

Sementara pembicaraan berlangsung pelayan telah datang menghidangkan sayur dan arak. maka mereka berduapun tidak banyak berbicara lagi. Wi Tiong-hong mengambil poci arak dan memenuhi cawan Ting ci kang terlebih dulu dan kemudian baru memenuhi cawan sendiri, setelah itu sambil mengangkat cawannya dia berkata: "Tiong toako, siaute menghormati secawan arak untukmu," Ting ci-kang tertawa bergelak.

"Haaahh... haaahhh... haaahhh... hari ini sepantasnya kalau siau- heng yang menghormati dirimu lebih dulu."

Mereka berdua saling menghormati dan meneguk habis isi cawan masing-masing.

"Ting toako." tanya Wi Tiong hong kemudian, "tadi bukankah kau bilang ada sesuatu persoalan yang hendak dibicarakan kepada siaute ? persoalan apakah itu ?"

"Aaah, tidak ada apa-apa, siau-heng bermaksud untuk pulang dan memberesken beberapa persoalan perkumpulanku, maka dari itu aku bermaksud untuk mengajakmu untuk menginap beberapa hari dalam perkumpulanku, aaai., .selanjutnya siau heng pun masih banyak memohon bantuanmu"

Wi Tiong hong segera teringat kembali dengan pesan Kam Liu cu sebelum pergi meninggalkannya, agar jangan menceburkan diri di dalam persoalan tersebut.

Tapi Ting toako adalah sahabat pertama yg dikenalnya,jadi orang berhati lurus dan gagah apa lagi setelah dia menyatakan sendiri keinginannya untuk memohon bantuan, sudah barang tentu sulit rasanya baginya untuk menampik permohonan tersebut. Berpikir sampai disini, dia lantas mendongakkan kepalanya dan menjawab cepat:

"Ting toako, mengapa kau harus berkata begitu, siaute baru terjun kedalam dunia persilatan, dengan toako akupun merasa seperti sahabat lama saja, asal kau membutuhkan bantuan siaute, silahkan saja toako utarakan maksudmu." Perasaan terima kasih segera menghiasi raut wajah Ting ci kang. "Aku orang she Ting merasa beruntung sekali dapat berkenalan dengan seorang teman seperti kau, hal ini Sungguh luar biaSa sekali."

Selesai berkata ia meneguk habis isi cawan nya, lalu berkata lebih lanjut.

"Saudari Wi, aku sudah berapa hari datang kemari, sekarang kau perlu buru-buru pulang kerumah, bagaimana kalau kita berangkat selesai bersantap nanti?"

Mendadak Wi Tiong hong teringat kembali dengan pesan Tok Hayji yang meminta agar menyampaikan kabar, maka dia lantas berseru: "Ting toako, bagaimana kalau besok saja kita baru berangkat ?"

"Apakah kau masih ada urusan ?"

"Siaute masih harus menyampaikan pesan dari seseorang lebih dulu."

"Pesan? Pesan dari siapa ?" tanya Ting ci kang keheranan.

ooo-dw-ooo

"PESAN dari Tok Hayji" Wi Tionghong secara berbisik lirih.

"Tok Hayji ?" sekujur tubuh Ting ci kang tergetar keras, sorot matanya memandang wajah Wi Tiong-hong lekat-lekat, kemudian tanyanya dengan Cepat: "Dia minta kepadamu untuk menyampaikan pesan itu kepada siapa ?"

"Kepada hong tiang dari kuil Pau in si di pintu kota sebelah selatan..."

Ting ci kang semakin tercengang lagi, setelah termenung dan berpikir sebentar kembali dia berkata:

"Ketua dari kuil Pau in si adalah murid Siau limpay, masa Tok Hay ji menyuruhmu menyampaikan pesannya pada orang Siau lim si?" setelah berhenti sejenak, kembali tanyanya: "Apa yang dia sampaikan kepadamu ?"

"Dia hanya menyampaikan beberapa patah kata saja." "Perkataan apakah itu ?" Ting ci kang mendesak lebih jauh.

Wi Tiong hong segera mencelapkan jari tangannya kedalam cawan arak lalu menulis di atas meja:

"Diatas undak undakan pintu kiam bun, dalam gua masuk kayu", Ting ci-kang memperhatikan tulisan itu beberapa saat,

membacanya dengan suara lirih, kemudian dengan kening berkerut katanya:

"Apakah hanya tulisan itu? Mungkinkah kata-kata itu merupakan suatu sandi rahasia?"

"Mungkin saja, karena siaute sendiripun tidak berhasil menebak maksud tulisan tersebut."

"Jika setiap orang tak bisa menebaknya, itu berarti tulisan tersebut bukan suatu kata sandl" kata Ting ci kang sambil tertawa.

"Yaa, kalau dibilang memang mirip... misalkan saja tulisan dibawah undak undak pintu Kia in bun.,.sudah jelas yang dimaksudkan adalah penjara bawah tanah dari perkumpulan Ban kiam hwee, tapi apa pula arti kata dari dalam gua masuk kayu? Bagaimana penjelasannya..?"

Melihat Ting ci kang membungkam diri sambil termenung, Wi Tiong hong juga membungkam diri sambil termenung.

Beberapa saat kemudian, mendadak Ting ci kang mendongakan kepalanya dan menatap wajah Wi Tiong hong lekat-lekat, kemudian katanya:

"Saudara Wi, apakah kau tetap akan menyampaikan pesannya itu sampai ketempat tujuan?" "Tentu saja, mendapat titipan dari orang merupakan kebaktian seseorang terhadap masyarakat, apalagi setelah siaute sanggupi, tentu saja aku harus melaksanakan dengan se-baiknya"

"orang orang dari Tok Seh Sia tiada seorang pun yang tidak beracun..."

Dia seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi setelah sampai ditengah jalan tiba-tiba dia merubah kata- katanya.

"Apa yang kau ucapkan memang benar, setelah menyanggupi memang sudah sepantasnya kalau kabar tersebut disampaikan ketempat tujuan-.. tapi yang membuat orang tidak habis mengerti adalah Go beng hoatsu tersebut, sudah jelas dia berasal dari partai Siau lim, mengapa bisa berhubungan dengan orang orang dari selat pasir beracun?" Beberapa kata yang terakhir itu hanya digumamkan seorang diri saja.

Untuk sesaat Wi Tiong hong tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu, terpaksa dia hanya membungkam diri dalam seribu bahasa.

Ting ci kang segera mengalihkan kembali sorot matanya kearah si anak muda itu, kemudian bertanya lagi:

"Saudara Wi, kau berencana kapan akan pergi ke Kuil Pau in si untuk menyampaikan pesan tersebut ?"

"Tok hayji pernah mengatakan kalau persoalan ini sangat penting artinya dan menyangkut keselamatan seseorang, dia minta kepada siaute agar menyampaikan kabar tersebut didalam sepuluh hari mendatang, karena itu siaute pikir seusai bersantap nanti aku hendak mengajak toako untuk bersama sama berangkat ke sana." Ting ci kang segera tertawa dingin.

"Dia sudah menjadi tawanan orang dipenjara bawah tanah, pesan itu sudah pasti merupakan pesan memohon bantuan yang menyangkut pula dengan keselamatan jiwa seseorang."

"Kata- kata sandi rahasia itu meski tak bisa kupecahkan artinya, namun kemungkinan besar menyangkut sesuatu rahasia besar, Banyak persaalan dalam dunia persilatan yang tidak ingin diketahui orang luar, apalagi Tok Hayji minta kepadamu untuk menyampaikan pesan pentingnya, siau heng rasa kurang baik kalau aku turut serta, Saudara Wi, lebih baik kau berangkat saja lebih dulu, sebentar aku akan menantikan dirimu diluar kuil saja dari pada memancing kecurigaan orang."

"Perkataan toako ada benarnya juga, soal- ini siaute tak pernah memikirkannya."

Maka setelah selesai bersantap. Wi Tiong hong segera bangkit berdiri dan menuruni lo teng tersebut.

Memandang hingga bayangan punggung si anak muda itu lenyap dari pandangan mata, Ting ci kang tersenyum, sinar matanya seperti sengaja tak sengaja melirik sekejap kemeja yang berada disebelah kanannya, kemudian ia berdiri, pelan pelan menuju ke meja kasir dari membayar rekeningnya.

orang yang duduk dimeja sebelah kanan adalah seorang lelaki yang berdandan sebagai seorang saudagar, belum habis araknya diminum, mendadak dia bangkit berdiri pula, dan buru-buru menuju kemeja kasir untuk membereskan rekeningnya pula. Kedua orang itu hampir pada saat yang bersamaan tiba didepan meja kasir itu.

Ting ci kang tidak buka suara, tapi dia berpaling dan berpandangan mata dengan lelaki berdandan saudagar itu, kemudian setelah membayar diapun berlalu. Lelaki berdandan saudagar itu turut membayar rekening dan berlalu pula dari situ.

Dirumah makan, membayar rekening pada saat yang bersamaan merupakan suatu kejadian yang lumrah dan tidak menarik perhatian orang, tapi justru pada waktu itu ada orang yang memperhatikannya dengan seksama.

Mereka adalah kakak beradik dua orang yang sedang duduk ditepi jendela. Kakak beradik itu seperti orang dusun yang masuk kota untuk menengok famili. Si kakak lelaki berwajah kuning dan berbaju warna biru, dandanannya seperti seorang siucay yang tidak lulus ujian negara.

Sedang si adik perempuan berwajah desa dan memakai baju yang amat kasar.

Waktu itu si adik sedang makan bakmi dengan menundukkan kepala, mendadak ia berbisik sambil mengerdipkan matanya: "Toako, sudah kau lihat belum ?"

Si siucay itu segera menghentikan cawan araknya sambil bertanya: "Melihat apa ?"

"Tampaknya Ban Kiam hwee masih belum mau melepaskannya dengan begitu saja "

"Tentu saja tak akan melepaskannya dengan begitu saja" sahut si siucay acuh tak acuh, "Lantas kau. " ^

"Tentu saja tak akan melepaskannya dengan begitu saja" "Lantas kau. "

"Kita buka pengawalan saja bagaimana?" kata si siucay sambil tertawa.

"Jadi toako sudah tak mau campur lagi?" Siucay itu berkerut kening, lalu katanya.

"Aku sudah berulang kali menasehati dirimu, lebih baik cepat cepatlah meninggalkan kota Sang siau dan jangan menceburkan diri didalam pertikaian ini"

"Tapi, apa yang mereka bicarakan apakah tidak kau dengar semua?" seru si adik.

"Kalau dari jarak sedekat ini masih tak kedengaran, kecuali kalau telinga kita sudah tumbuh diatas batu."

"Toako, kalau begitu coba katakan kepadaku, mereka telah pergi ke mana?"

"Kuil Pau in si di kota selatan-" "Aku pun ingin menengok kesana"

"Baik, baik, kalau kau ingin pergi, pergilah sendiri, aku mah takpunya waktu untuk menemanimu"

"Baik, aku akan pergi sendiri "

"Sam-moay" tiba tiba siucay berkata sambil mengangkat bahunya, "Heran, tak pernah kulihat kau menaruh perhatian seserius ini terhadap orang lain"

Merah padam selembar wajah si adik karena jengah, bisiknya jengkel: "Toako, kau pandai sekali menggoda"

"Sudahlah, kalau hendak pergi, pergilah cepat. Mungkin persoalannya akan lebih rumit lagi"

Waktu itu si adik sudah bangkit berdiri

Mendadak dia berhenti lagi dan katanya seraya berpaling. "Sebenarnya kau masih sempat mendengar apa lagi ?"

siucay itu mengangkat cawannya dan mengeringkan isinya, kemudian sambil membersihkan bibir dia menyahut:

"Biar kupikirkan dulu, nanti kita bicarakan lagi."

Si adik segera mendepak-depakkan kakinya dengan mangkel, meski dimulut tidak mengatakan apa- apa, namun dalam hati dia mendamprat. "Huuuh, dasar setan arak..."

Dia lantas membalikkan badan dan dengan kepala tertunduk meninggalkan loteng itu.

ooodwooo

DALAM PADA ITU, Wi Tiong hong telah berangkat ke kota sebelah selatan sepeninggal dari rumah makan Hwee-peng-lo, tampak pegunungan membenteng didepan mata, pepohonan amat rimbun dan pemandangan alamnya sangat indah. Berapa lie kemudian, tampaklah kuil Pau-in si berdiri angker didepan mata.

Diantara pepohonan siong yang lebat, berdiri sebuah bangunan kuil yang melekat pada kaki bukit, memandang dari kejauhan bangunan tersebut kelihatan angker sekali.

Wi Tiong hong segera mempercepat langkahnya melewati sebidang tanah kosong dan sampailah didepan kuil itu.

Didepan pintu gerbang terpampang sebuah papan nama besar yang bertulis kan "PAU-IN SIAN-SI."

Diam-diam dia lantas berpikir.

"Tampaknya kuil Pau-in-si ini mempunyai pamor yang cukup besar, menurut toako, ketua kuil ini Gho-beng hoatsu berasal dari kuil Siau lim si, tapi, mengapa Tok Hay ji suruh aku menyampaikan pesannya kepada ketua kuil ini? sungguh janggal dan mencurigakan sekali peristiwa ini..."

Sambil berpikir dia lantas berjalan masuk kedalam pintu kecil, melewati ruangan utara dan menaiki anak tangga batu, tampak asap dupa memenuhi seluruh ruangan utama.

Sementara dia masih celingukan kesana kemari memperhatikan sekeliling tempat itu mendadak terdengar suara pujian kepada sang Buddha bergemu dari sisi tubuhnya. "Omintohud, sicu hendak memasang hio ataukah hendak membayar kaul ?"

Karena mendengar ada suara orang yang menegur, Wi Tiong hnng segera berpaling, tampak olehnya seorang pendeta berusia pertengahan dengan sepasang tangan merangkap di depan dada pelan-pelan berjalan menghampirinya.

Walaupun pendeta itu wajah penuh senyuman, namun kerdipan matanya memperlihatkan kelicikan orang itu.

Buru-buru Wi Tiong-hong menjura sambil menjawab^ "Bukan, bukan, aku datang untuk mencari ketua kuil kalian" Dengan sorot mata sengaja tak sengaja sinar mata pendeta setengah umur itu melirik sekejap pedang berkarat yang tersoren dipinggang Wi Tiong hong, kemudian sambil menarikkan balik senyuman, ia berkata dengan dingin: "Sicu, ada urusan apa kau datang mencari hongtiang kami?"

Betul-betul seorang hwesio yang mata duitan, karena Wi Tiong hong hanya mengenakan jubah panjang berwarna hijau dengan menyoren sebilah pedang yang telah berkarat, maka paras mukanya segera berubah menjadi dingin dan hambar.

Wi Tiong  hong sama sekali tak ambil perduli terhadap  sikap lawannya, ia tetap menjawab sambil tersenyum.

"Aku mendapat pesan dari seseorang untuk berjumpa dengan hongtiang kalian-"

Sekali lagi mencorong sinar tajam dari balik mata pendeta setengah umur itu, buru-buru serunya.

"Hongtiang kami jarang sekali bertemu dengan tamu, bila sicu ada persoalan katakan saja kepada pinceng, hal ini toh sama saja."

Wi Tiong hong tidak menjawab, dia hanya menunjukkan keragu- raguannya.

Kembali pendeta berusia pertengahan itu berkata, "Pinceng Giotong, Hongtiang kuil ini adalah suhengku, tentunya sicu sudah percaya bukan sekarang ? Mari, ikutilah pinceng menuju ke ruang tamu."

Timbul kecurigaan didalam hati Wi Tiong hong, dia sama sekali tidak bergerak. hanya katanya sambil tertawa hambar.

"Tentu saja aku percaya dengan Toa suhu, cuma aku mendapat titipan dari seseorang untuk disampalkan sendiri kepada Hongtiang,sebab itu bagaimanapun juga aku harus bertemu dahulu dengan Hongtiang sebelum dapat membicarakannya."

Pendeta setengah umur itu kembali mengerdipkan matanya berulang kali, senyuman licik sekali lagi menghiasi wajahnya. "Sicu kalau kau bersikeras hendak berjumpa Hongtiang, tolong beritahukan lebih dulu kau telah mendapat titipan dari siapa, agar pinceng bisa memberi laporan ke dalam."

Mendengar perkataan itu, diam diam Wi Tiong-hong berpikir: "Perkataan ini ada benarnya juga, untuk memberi laporan

memang sehurusnya kuberitahukan lebih dulu titipan tersebut berasal dari siapa." Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, mendadak tampak sesosok bayangan manusia berkelebat masuk dari ruang belakang, kemudian muncullah seorang hwesio cilik berusia lima enam belasan tahun yang berwajah bersih.

Begiiu munculkan diri, dia lantas merangkap tangannya didepan dada memberi hormat, lalu berkata:

"Sicu apakah kau hendak berjumpa dengan guruku? Mari siau ceng membawa jalan untukmu"

Hawa amarah segera melintas diatas wajah pendeta setengah umur itu, tapi hanya sebentar saja, kemudian sambil tertawa dia pun berkata.

"oooh, suheng telah bangun? Sicu, bila kau ingin berjumpa dengan Hong-tiang, silahkan saja masuk mengikutinya"

Sekalipun Wi Tiong hong sama sekali tidak berpengalaman dalam dunia persilatan, namun diam diam dia merasa keheranan juga, secara lamat-lamat dia dapat merasakan pula sesuatu suasana yang serba aneh didalam kuil Pau in si tersebut.

Maka dia segera menjura seraya berkata: "Kalau begitu harap siau suhu suka membawa ku kedalam"

hwesio cilik itu tidak berbicara lagi dia segera membalikkan badan dan membawa Wi Tiong hong menuju kehalaman belakang.

Setelah melewati dua buah halaman luas dan melangkah masuk kebalik pintu bulat, mendadak hwesio cilik itu berpaling sambil bertanya. "Tadi membicarakan apa apa, taysu itu hanya bertanya ada urusan apa aku datang menjumpai Hongtiang?"

hwesio cilik itu segera mendengus.

"Hmm, dia memang selamanya tak pernah berpikiran baik"

Wi Tiong hong merasa kurang leluasa buat menjawab perkataan itu, maka itu dia hanya membungkam saja. Kembali hwesio cilik itu berkata:

"Sicu, obat penawarnya sudah kau bawa?" Sekali lagi Wi Tiong hong menjadi tertegun dibuatnya.

"Aku hanya mendapat pesan dari seseorang untuk disampaikan kepada hong tiang kalian, sku suhu, mungkin kau salah melihat orang ?"

hwesio cilik itupun kelihatan agak tertegun setelah berpaling dan memandang sekejap kearah Wi Tiong-hong, katanya lagi: "Jadi kau bukan suruhan tosu she Seh tersebut ?"

"Bukan," jawab wi Tiong hcmg menjelaskan.

hwesio cilik itu kelihatan agak kecewa, dia segera berguman seorang diri.

"Seputuh hari kemudian ia bilang bakal ada orang datang, bukan kau orangnya yang dimaksudkan ?"

Begitu mend engar kata "sepuIuh hari kemudian", wi Tiong hong segera teringat kembali dengan pesan Tok Hay-ji yang menyuruhnya menyampaikan ditempat tujuan sepuluh hari kemudian, bukankah hal itu tempat sekali kalau dicocokkan satu sama lainnya."

Tapi berhubung dia tidak mengetahui keadaan yang sesungguhnya, maka si anak muda itu hanya membungkam diri.

Tak selang beberapa saat kemudian, mereka sudah berada didalam sebuah halaman yang tenang.

hwesio cilik itu segera bertanya lagi. "Sicu, siapa kah namamu Siau-ceng harus mengetahuinya sebelum melaporkan pada suhu."

"Aku adalah Wi Tiong-hong." "Harap sicu menunggu sebentar."

selesai berkata dia lantas menyelinap masuk kedalam sebuah ruangan didepan sana. Tak lama kemudian ia sudah mencul kembali seraya berkata. "Suhu mempersilahkan wi sicu masuk "

Setelah melangkah ke dalam ruangan tampak diatas sebuah pembaringan kayu duduk dengan bersila seorang hwesio tua yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, sepasang matanya terpejam rapat, tampaknya sedang bersemadi.

Ketika mendengar suara langkah dari Wi-Tiong hong, dia segera membuka matanya dan mengawasi si anak muda itu sekejap. sambil merangkap tangannya memberi hormat, dia berkata.

"Wi sicu, maaf kalau lolap tak leluasa untuk berjalan sehingga tidak dapat menyambut kedatanganmu. "

"Tidak usah sungkan sungkan Lo suhu, maaf jikalau kedatangan aku ini telah mengganggu ketenanganmu." buru-buru wi Tiong hong balas memberi hormat.

"Sicu silahkan duduk" hwesio tua itu menunjuk kesebuah kursi disisi pembaringannya.

Wi Tiong hong menurut dan segera duduk. hwesio cilik itu segera menghidangkan air teh.

"Wi sicu, silahkan minum air teh." kembali hwesio tua itu berkata, "dari muridku, lolap dengar sicu mendapat titipan dari seseorang dan ingin berjumpa dengan diriku, entah persoalan apakah itu ?"

"Aku mendapat titipan dari seseorang untuk menyampaikan sepatah kata pesanan-"

Belum habis dia berkata, mendadak hwesio tua itu sudah mendongakkan    kepalanya,    lalu    dengan    sepasang    mata memancarkan cahaya kilat bentaknya dalam-dalam: "Siapa yang berada diluar? "

Wi Tiong hong menjadi, tertegun setelah mendengar bentakan itu, pikirnya.

“hwesio tua ini bertubuh kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, tak nyana kalau tenaga dalamnya telah mencapai puncak kesempurnaan yang luar biasa "

Mendadak dari luar pintu kedengaran seseorang menjawab. "Siaute Gho-tong, apa penyakit yang suheng derita sudah agak baikan? " Pelan-pelan paras muka hwesio tua itu pulih kembali seperti sedia kala, dia berkata: "Sutekah? Ih-heng sudah merasa agak baikan, ada urusan apa sute datang kemari? ”

“Aaah, tidak^ siaute hanya ingin menanyakan keadaan suheng saja."

Kemudian kedengaran suara langkah pergi dan makin lama suaranya semakin menjauh. sekali lagi Wi Tiong-hong berpikir:

"Hmmm, tampaknya Gho tong memang sengaja datang kemari untuk menyadap pembicaraanku."

"Pesan yang dibawa oleh Wi sicu sudah tentu untuk lolap. entah siapakah yang memberikan pesan tersebut kepadamU? ”

“Dia bernama Tok Hay ji "

"Tok Hayji? " Hwesio tua itu termenung sebentar, "diantara orang orang yang lolap kenal, sama sekali tidak terdapat seseorang yang bernama Tok Hay ji. "

Wi Tiong hong menjadi tertegun setelah mendengar perkataan ini, jelas sekali Tok Hay ji suruh dia membawa kabar itu buat Hongtiang dari kuil Pau in si, mungkinkah dia keliru?

"Suhu, mungkin Tok Hay ji itu memang berasal satu komplotan dengan tosu she Seh tersebut? ? " si hwesio cilik itu mengemukakan pendapatnya. hwesio tua itu segera manggut-manggut. "Yaa, mungkin memang begitu, dia pernah bilang dalam sepuluh hari mendatang bakal ada orang datang kemari "

Berbicara sampai disitu, dia lantas mendongakkan kepalanya sambil bertanya. "Wi sicu, tolong tanya pesan apakah yang dia titipkan agar disampaikan kepadaku? " Wi Tiong-hong memandang sekejap kearah hwesio cilik itu, kemudian menjawab "Dia menuliskan kata-kata tersebut diatas tanganku, konon persoalan inipenting sekali artinya, selain lo-suhu tak boleh diketahui orang Iain-”

“ooh," hwesio tua itu segera berpaling ke arah hwesio cilik itu kemudian pesannya:

"Berjaga-jagalah didepan pintu, jangan biarkan ada orang yang menyadap pembicaraan kami."

Dengan pandangan gusar hwesio cilik itu melotot sekejap kearah Wi Tiong hong, kemudian dengan uring-uringan dia mengundurkan diri dari tempat itu.

"Nah, Wi-sicu sekarang katakanlah" ujar si hwesio tua itu kemudian-Wi Tiong hong celupkan tangannya kedalam cawan teh, kemudian menulis beberapa huruf diatas meja.

"Dibawah undak undakan pintu Kiam-bun, dalam gua masuk kayu "

“Hanya beberapa huruf ini? " tanya si hwe slo tua itu setelah membaca huruf-huruf tersebut.

"Ya, Benar, hanya huruf-huruf tersebut." Wi Tiong-hong mengangguk.

"Apakah ia tidak memesan sicu, pesannya itu harus lolap sampaikan kepada siapa? "

"Tidak "

"Wi sicu masih ingat, apa lagi yang dia katakan? " kembali hwesio tua itu bertanya. ooodwooo

"DIA BERPESAN agar dalam sepuluh hari, pesan itu harus sudah disampaikan pada tujuan" jawab wi Tiong-hong. Pelan-pelan hwesio tua itu menganggap.

"Kalau begitu tidak bakal salah lagi, sudah pasti si tosu she Seh itulah yang memerlukan pesan ini. Aaai. . . lolap benar-benar tidak tahu pesan yang diperlukan olehnya ini sebenarnya apa? "

Wi Tiong hong tak mengetahui siapa kah tosu she Seh yang dimaksudkan karena merasa pesanannya itu sudah di sampaikan maka diapun bersiap-siap untuk mohon diri. Mendadak hwesio tua menatap wajah Wi-Tiong hong, kemudian bertanya: "Sicu apakah kenal dengan Tok Hay ji? "

"Aku hanya pernah berjumpa sekali, jadi tak bisa dibilang saling mengenaL"

hwesio tua itu termenung sebentar, kemudian tanyanya lagi. "Lantas mengapa dia bisa menitip pesan kepada sicu? "

"Dua hari berselang aku telah di tangkap orang dan secara kebetulan di sekap bersama dengan Tok Hayji, kemudian beruntung aku mendapat kebebasan, maka dia pun menitipkan pesan buat lo suhu"

"Dia benar-benar telah menuliskan pesannya diatas telapak tanganmu? " tanya si hwesio tua lagi dengan kening berkerut.

Wi Tiong hong yang mendengar pertanyaan itu diam-diam merasa keheranan, ia merasa sejak awal pembicaraan tadi ia sudah menerangkan kalau Tok Hay ji menulis pesannya diatas telapak tangannya, tapi pendeta itu menandaskan berulang kali, mungkinkah dia merasa kurang percaya?

Sekalipun berpikir demikian dia toh menjawab juga : "Yaa. benar." "Apakah dia juga beritahu kepadamu seandainya dalam sepuluh hari berita itu tak sampai disini, maka apa yang harus sicu lakukan? "

Wi Tiong hong makin keheranan lagi setelah mendengar perkataan itu, pikirnya lebih jauh:

"Dia toh menitipkan pesan kepadaku, andai kata aku tak bisa menyampaikan pesannya, apa pula yang bisa kulakukan? " Dalam hati dia berpikir demikian, diluar kata nya: "Soal ini dia tidak mengatakan apa-apa.".

"omitohud " hwesio toa itu segera memuji keagungan sang Buddha, "orang itu betal-betuI berhati keji, bahkan jauh lebih keji dan beracun daripada Seh tosu "

-ooodowooo-