-->

Pedang Karat Pena Beraksara Jilid 07

Jilid 07

HAAAHHH. . . haaahhh. . . haaahhh. . . kalau toheng membutuhkannya, silahkan saja diambil, setiap kali terkena bubuk pemabuk tersebut, hanya cukup sebutir saja sudah cukup untuk memunahkan pengaruh racunnya."

"Kalau begitu pinto minta tiga butir saja" ucap Ma koan tojin sambil tertawa.

Dia segera membuka penutup botol itu dan mengambil tiga butir pil penawar tersebut.

Buru Thi Lo han Kwong Beng hwesio berseru pula. "pinceng juga mohon tiga butir"

"Taysu kelewat serius, kalau toh kita bersungguh hati ingin bekerja sama, tentu saja kau boleh mengambil obat penawar itu."

Thi Lo han segera mengambil pula tiga butir obat penawar untuk disimpan, setelah itu ke dua buah botol perselen itu baru dikembalikan kepada si Naga tua berekor botak.

Ma koan lojin bangkit berdiri, kemudian ambil sebutir pil penawar dii berjalan menghampiri Ting ci kang. "To-heng, belum lagi bersantap kau sudah ingin memeriksa Ting ci kang . ." tegur Thi Lo-han-

Ma koan tojin berpaiing dan tertawa seram, sahutnya.

"Lebih baik orang she Ting ini disadarkan lebih dulu, kemudian baru bersantap.

Sementara pembicaraan berlangsung dia sudah menjejaikan pil penawar racun itu ke dalam mulut Ting ci kang.

Si Naga berekor botak To sam seng sebagai seorang jago yang sangat kawakan tentu saja memahami apa arti dari tindakkan Ma- koan tejin tersebut, yang jelas bukan untuk menyadarkan Ting ci kang, melainkan hanya ingin membuktikan apakah obat penawar racun itu asli atau tidak.

Diam ia lantas mendengus dingin, pikirnya. "Si hidung kerbau tua ini benar-benar amat licik bagaikan seekor rase . . ."

Ternyata obat penawar itu sangat manjur, tak selang seperminum teh kemudian Ting ci kang benar telah sadar kembali dari pingsannya.

SeCepat sambaran petir, Ma koan tojin segera menyentilkan jari tangannya menotok dua buah jalan darah penting ditubuh Ting ci kang.

begitu tertotok. otomatis Ting ci kang tak sanggup bergerak meski ia telah sadar kembali, hanya sorot matanya saja yang sempat memperhatikan sekeliling tempat itu.

Mengetahui kalau dia, Wi Tiong hong telah dipencundangi orang, tanpa terasa ia mendengus dingin, lalu ujarnya.

"Kalian bertiga adalah jago- jago kawakkan dari dunia persilatan, dengan perbuatan kamu bertiga yang telah mencampur obat pemabuk di dalam sayur, apakah tidak takut akan menurunkan derajat kalian sendiri ..." Ma koan tojin tertawa seram.

"Siapa suruh kalian membawa mestika? orang bilang, siapa membawa barang berharga dia bakal Celaka " "Apa maksud totiang berkata demikian ?"

"Menurut berita yang tersiar dalam dunia persilatan dewasa ini konon mestika yang disebut Lo bun si tersebut sudah terjatuh ditangan Thi pit pang kalian, padahal mestika itu merupakan barang incaran setiap orang, bila kami tidak mencoba untuk mendapatkan, orang lain toh akan mencoba untuk mengambilnya juga . Ting pangcu Buat apa kau mesti menyangkal lagi kenyataan ini ?"

"Tapi    aku benar tidak tahu "

"Tahu atau tidak tahu itu adalah sama saja" tukas Ma koan Tojin sambil tertawa seram, "barusan Ting pangcu sudah makan kenyang, sedangkan pinto bertiga sudah menghamburkan tenaga setengah harian dengan sia-sia, sekarang perut pun sudah mulai lapar, baiklah . . .kalau memang begitu harap Ting pangcu menunggu sebentar, bila pinto selesai bsrsantap nanti kita baru berbincang- bincang lebih jauh."

Ketika si Naga tua berekor botak To Sam-seng mendengar tojin itu baru akan berbicara lagi selesai bersantap nanti, dalam hati kecilnya lantas tahu kalau ia bermaksud untuk menguji kemanjuran obat penawar tadi, atau dengan perkataan lain rasa curiganya belum juga hilang.

Diam-diam ia lantas mendengus dingin, setelah menjura dan tertawa katanya pula.

"Saudara Ting, untuk sementara waktu terpaksa akan menyiksamu, asal saudara Ting bersedia untuk bekerja sama dengan kami, tanggung ada kebaikan untukmu." Ting ci kang segera tertawa terbahak-bahak.

"Haaaahhhh . , . haaahhh . . . haaahhh , . . kini aku she Ting sudah jatuh ketangan kalian, banyak berbicara soal kebaikan atau kejelekan juga tak ada gunanya, aku hanya minta saudara Wi yang baru kukenal belum lama ini suka dilepaskan, toh bagi kalian bertiga saudara ini tak ada kegunaannya, apalagi ketika berada dian wan- Piaukiok ia telah membantu kalian bertiga." "Saudara Ting salah paham" Naga tua berekor botak tertawa licik, "kami sama sekali tak bermaksud jahat terhadap saudara Ting, selesai makan nanti, tentu saja kami akan memunahkan pengaruh obat pemabuk dari tubuh saudara cilik ini."

Sementara itu, Ma-koan tojin yang menyaksikan obat penawar yang diberikan Naga tua berekor botak To Sam seng kepadanya ituamat manjur, dia segera menelan sebutir dan menyimpan sis anyake dalam saku, sekembalinya ke meja, dia pun mulai bersantap dan minum arak dengan perasaan lega.

Tentu saja Thi Lohan Kwong Beng hwesio dengan cepat menirukan pula cara tersebut dengan secara diam-diam menelan sebutir obat penawar.

Naga tua berekor botak To Sam seng yang menyaksikan kejadian itu hanya berlagak seolah-olah tidak melihat, padahal dalam hati kecilnya tertawa dingin tiada hentinya.

Tak selang berapa saat kemudian, ke tigaorang itu sudah menghabiskan sepoci arak, si Naga tua berekor botak segera bangkit berdiripura-pura hendak mengambil nasi.

Mendadak paras muka Ma koan tojin berubah hebat, mencorong sinar buas dari balik matanya, sambil mendengus dingin bentaknya. "To Sam seng, besar amat nyalimu "

Sambil membentak dia pun melompat bangun kemudian selangkah demi selangkah berjalan menghampiri si naga tua berekor botak.

Secepat kilat Thi Lo han turut melompat bangun pula dan melompat ke samping arena, kemudian bentaknya pula.

"Tua bangka berekor botak, apakah kau telah mencampuri sayur dan arak yang kami dahar dengan bubuk Ji ko mi ?"

Si Naga tua berekor botak mundur beberapa langkah ke belakang, kemudian sahutnya dengan tertawa menyeringai. "Apa yang di katakan Ma koan toheng tadi memang benar, Lo bun-si hanya sebuah, bila harus dibagi menjadi tiga bagian rasanya kelewat sedikit. . ."

Merah padam selembar wajah Thi Lo han Kwong Beng hweesio yang gemuk dan putih, dengan gusar teriaknya.

"Jadi obat penawar yang kau berikan itu palsu ?"

"Haaahhh . . . haaahhh . . . haaahhh .... obat penawarnya mah tidak palsu, kalau tidak. masa saudara Ting bisa sadar secepat ini ?" seru si naga tua berekor botak sambil tertawa licik, "cuma, obat pemabuk yang siaute serahkan kepada si nenek itu semuanya dua macam."

"Sewaktu menghadapi saudara Ting tadi, obat bubuk yang dicampurkan kedalam sayur adalah bubuk Ji ko-mi, sebaliknya bubuk yang dicampurkan kedalam arak kita justru adalah bubuk lain, bubuk itu bernama. . ."

"To Sam seng " bentak Ma- koan tojin sambil tertawa dingin dengan nada menyeramkan, "tahukah kau, sekalipun pinto dan Kwong Beng taysu telah makan obat beracun, tapi dengan mengandalkan tenaga dalam yang dimiliki, belum tentu obat tersebut bisa bekerja dengan cepat, bila kami maanfaatkan kesempatan sebelum racun itu bekerja untuk merobohkan dirimu, aku yakin orang pertama yang roboh lebih dahulu adalah kau bukan kami berdua"

sementara pembicaraan berlangsung, dia telah menghimpun tenaga dalamnya kedalam telapak tangan kanan, kemudian selangkah demi selangkah berjalan mendekati si naga tua berekor botak tersebut.

Tentu saja Thi Lo han Kwong Beng hwesio juga tahu bahwa satu- satunya jalan agar bisa mendapatkan obat penawar racun itu adalah menguasahi si naga tua berekor botak.

Maka dengan mengimbangi gerakan dari Ma-koan tojin tersebut, satu dari kiri yang lain dari kanan berbareng mendekat. Waktu itu si Naga tua berekor botak hanya berdiri disudut ruangan sambil mengelus jenggot kambingnya dan sama sekali tidak bergerak. sambil tertawa licik dia malah berkata.

"Siaute sudah tahu kalau tenaga dalam yang kalian berdua miliki amat sempurna, oleh sebab itu akupun menggunakan sejenis obat beracun yang lebih kuat daya kerjanya, bubuk obat ini bernama Jit poh san (tujuh langkah membuyar) asal sudah berjalan sejauh tujuh langkah maka semua tenaga dalam kalian akan membuyar haaahhh.

. . haaahhhh. . nah silahkan kalian berdua maju . .. satu, dua, tiga, empat,lima..."

Ma koan tojin merasakan hatinya amat terkesiap. ketika mencapai langkah yang ke lima, serta merta ia berhenti sendiri, tapi ketika dilihatnya jarak lawan tinggal enam depa, begitu ia berhenti sepasang tangannya yang kurus kering tak berdaging itu langsung diayunkan ke depan.

Si Naga tua berekor botak masih tetap berdiri disana tanpa bergerak. wajahnya pun masih tetap tenang sedikitpUn tidak berubah, bahkan ia tak bermaksud untuk menangkis, malahan memandang pun tidak.

Ketika serangan yang di lancarkan Ma koan-tojin itu diayunkan kedepan, entah mengapa secara tiba-tiba badannya bergoncang keras, kemudian terjatuh ke atas tanah, sepasang matanya melotot besar dan mulutnya berbuih.

Sebenarnya dia memang berperawakan kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, kini tampaknya kelihatan lebih menyeramkan lagi.

Thi Lo han Kwong Beng hwesio yang menyaksikan kejadian itu menjadi amat terperanjat, dia membentak marah lalu menerjang maju ke depan.

Akan tetapi, sewaktu badannya yang gemuk itu baru mencapai ditengah angkasa, tahu . . "Blaaamm " ia sudah terjatuh kembali keatas tanah dan tak sanggup beranjak bangun lagi. Ting ci kang yang menyaksikan berlangsung-nya adegan saling gontok-gontokan itu, diam-diam merasa amat terperanjat.

Imu silat yang dimiliki Ma koan tojin dan Thi Lo han berdua holeh dibilang terhitung jagoan kelas satu didalam dunia persilatan, sekalipun sudah menelan obat beracun, dengan pengerahan tenaga dalam untuk mendesak daya kerja racun tersebut, paiing tidak mereka masih sanggup untuk bertahan selama satu jam.

Siara sangka obat beracun Jit poh san yang dipergunakan si Naga tua berekor botak tersebut bisa sedemikian lihainya sehingga daya kerjanya pun cepat sekali.

Dalam pada itu, si Naga tua berekor botak yang menyaksikan kedua orang rekannya telah roboh, ia segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. "Haaaahhhh. . . haaaahhhh

. . . haaahhh. . ."

Dia hanya sempat tertawa tergelak beberapa saat, sebab secara tiba-tiba suara tertawanya itu terhenti sendiri, diikuti paras mukanyapun berubah hebat.

Dengan cepat tangan kanannya merogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan sebuah botol porselen, tak sempat membuka penutup botolnya lagi, dia menggigitnya keras dan sekaligus menelan empat lima butir obat penawar.

Mendadak badannya mulai gontai dan sempoyongan tak menentu, peluh dingin membasahi jidatnya, bagaikan butiran kacang kedelai jatuh bercucuran tiada hentinya, sorot matanya kalut dan memancarkan rasa ngeri, kalut dan seram yang hebat. Akhirnya ia jatuh terduduk ke atas tanah, serunya dengan suara gemetar. "Apa . . . apa yang telah terjadi?"

Perubahan ini terjadinya sangat mendadak dan sama sekali diluar dugaan Ting ci kang, taapa terasa dia mulai berpikir. "Masakah obat penawarnya tidak majur?"

Agaknya si nenek berambut putih yang bersembunyi didalam dapur telah mendengar suara gaduh tersebut, ia segera melongok keluar dari balik pintu. Tapi setelah menyaksikan apa yang telah terjadi, dengan terkejut serunya.

"Hey, To Loya, kenapa kau? Bukankah tadi kau telah memerintahkan kepadaku untuk mencampurkan sebungkus obat yang bernama Jit-poh san kedalam arak?"

"Berhubung diatas gunung banyak terdapat musang yang seringkali mencuri ayam peliharaanku, padahal sinenek sudah menggunakan racun apapun untuk menangkapnya, tapi setiap kali obat racun itu hanya bisa dipakai satu kali, kemudian kehilangan kegunaannya lagi."

"Maka ketika aku si nenek mendengar kalau bubuk racun Jit poh san milikmu itu tak berwarna dan tak berbau, si musang tentu tak bisa mendengusnya, maka secara diam-diam aku telah menukar racun itu dengan racun lainnya.

"Racun yang kucampurkan kedalam arak tadi adalah racun pembunuh musang yang dibeli suamiku beberapa hari berselang dari kota, konon racun itu hanya bisa dipunahkan dengan kotoran manusia, bagimanakah kalau kuambilkan semangkuk kotoran manusia dari dalam kakus untuk memunahkan racun tersebut?"

Perkataan itu memang bukan ejekan belaka, sebab menurut ajaran kuno, kotoran manusia memang bisa digunakan untuk penawar racun.

Tadi si naga tua telah menelan empat butir pil penawar dari perguruannya, sekalipun racunnya berbeda dan belum tentu bermanfaat, tapi daya kerja racun itu toh bisa dicegah untuk sementara waktu, tidak seperti Ma koan to-jin dan Thi Lo han yang segera roboh setelah terkena Serangan.

Sekarang dia hanya bisa melototkan matanya besar-besar, apa yang terpampang didepan mata masih bisa terlihat, dan apa yang bergema di-situ masih dapat didengar, akan tetapi keempat badannya telah menjadi kaku dan tak sanggup bergerak lagi, kulit mukanya terasa kaku kesemutan sehingga keinginannya untuk berbicara pun tak mampu dilakukan. Tapi dia sadar dan mengerti apa yang dikatakan nenek berambut putih itu semuanya adalah bualan belaka.

Kalau racun yang dicampurkan dalam arak itu benar-benar adalah racun pembunuh musang jangan harap hal mana bisa mengelabuhi mereka bertiga, atau dengan perkataan lain, racun yang telah dicampur sinenek dalam poci arak itu jelas adalah racun yang jauh lebih lihay daripada Jit poh san yang diberikan kepadanya.

Ting ci kang masih tergeletak ditanah karena jalan darahnya tertotok. diam-diam ia merasa terkejut sekali, tentu saja ia dapat mendengar semua pembicaraan itu dengan jelas.

Tapi kedua orang suami istri tua itu pernah dijumpainya pada tiga hari berselang, malah waktu itupun dia sempat bersantap dirumahnya jelas diketahui olehnya waktu itu bahwa dia bukanlah seorang pandai bersilat....

Sementara itu dia masih berpikir, mendadak terdengar si kakek yang berbaring diatas pembaringan bambu itu berseru sambil tertawa rendah. "Ang Nio Cu, aku sikakek sudah boleh bangun bukan ?" sekali lagi Ting ci kang merasa tertegun, pikirnya.

"Bukankah-jalan darahnya telah ditotok oleh si naga tua berekor botak. . ?"

Si nenek berambut putih yang semula bungkukpun, kini berdiri tegak kembali, sahutnya sambil tertawa.

"Si tua bangka Celaka, kau enak-enak tidur berlagak mampus, sebaliknya koh nay- nay mesti bekerja keras didapur untuk masak sayur, menanak nasi dan repot setengah harian-hmm, bila kau berani mencari keuntungan lagi dengan mulut yang kotor, lihat saja kuhajar adat kepadamu."

"Aneh, suara yang semula parau dan gemetar kini sudah berubah sama sekali, malah secara tiba tiba berubah menjadi merdu dan halus Bukan begitu saja, bahkan orangnya yang berbicara pun sama sekali telah berubah.

Tampak dia menarik rambutnya yang putih itu sehingga terlepas dari kepaia, kemudian mengusap mukanya dan melepaskan pula selembar kulit topeng yang berwajah tua danjelek.

Dalam waktu singkat seorang nenek jelek yang berambut putih dan terbungkuk-bungkuk, kini telah berubah menjadi seorang nyonya mudayang cantik dan genit.

Si kakek yang berbaring diatas pembaringan pura sakitpun telah melompat bangun pula, dia segera mengambil huncweenya dan menjura kearah nyonya muda itu, katanya sambil tertawa terbahak- bahak.

"Haaahhh - - - haahhh. . . haaahhh - -. nona co, maaf kalau aku si orang tua telah salah berbicara."

Nyonya muda genit itu kembali tertawa cekikikan.

"Bagus sekali Disini sudah tiada urusanku lagi, orang itu kuserahkan semua kepadamu" Selesai berkata dia lantas menggerakkan badan-nya dan berjalan keluar dari ruangan.

Sungguh cepat sekali gerakan tubuhnya, hanya didalam sekali kelebatan saja tahu bayangan sudah lenyap tak berbekas.

Ting ci kang yang menyaksikan kesemuanya itu, diam-diam mengangguk, pikirnya. "Aaaaah . . . kalau begitu, mereka semua adalah orang-orang Thian Sat bun..."

Dalam pada itu, si kakek kurus kecil itu sudah mengetuk keluar abu tembakaunya dari mangkuk huncwe, kemudian mengisi tembakau baru dan menyulutnya.

Setelah menghisap beberapa kali, dia baru berjalan menghampiri Ting ci kang, katanya dengan senyum tak senyum.

"Sahabat Ting, tadi kau berjongkok dibalik semak sambil memperhatikan sesuatu, nampaknya kau berhasil menemukan abu tembakau ku disitu? Tapi anehnya, huncwee lohu justru diletakkan disamping pembaringan, mengapa sahabat Ting malah tak bisa menduga diri lohu? Heehhmm . .. heehmm . . . bukan cuma sahabat Ting saja, bahkan Ma koan dari Hong san dan naga tua dari Hoan yang punpada buta gemas matanya."

Sambil membelalakkan matanya Ting ci-kang termenung dan berpiklr beberapa saat lamanya , mendadak terlintas rasa kaget dan terCegang diatas wajahnya, ia segera berseru. "Jangan jangan kau adalah . . ."

Belum sempat ia menyebut nama orang itu, mendadak ia mengetuk dengan gagang huncweenya, begitu jalan darah pingsan Ting ci kang tertotok, kata-kata selanjutnya pun tak sanggup diteruskan lagi.

oodowoo

Ketika Wi Tiong- hong mendusin kembali, ia merasa pemandangan yang berada disekeliling tempat itu telah berubah sama sekali.

Ia seperti lagi duduk bersandar diatas dinding, untuk sesaat dia tak tahu dimanakah dirinya berada ?

Ketika mencoba untuk membuka matanya, ia saksikan kegelapan mencekam disekeliling tempat itu, gelap gulita bagaikan berada ditengah malam, diam-diam ia merasa terkejut sekali.

Dengan sepenuh tenaga dia mencoba untuk mengumpulkan kembali semua daya ingatan-nya, dia masih ingat bagaimana dia dan Ting toako meninggalkan kota Sang siau menuju ke kuil Sik jin tian. . .

Ketika tengah hari tiba, mereka beristirahat dirumah seorang petani dibawah bukit, keluarga petani itu hanya terdiri suami isteri yang telah lanjut usia, yang laki berbaring diatas pembaringan sedang tidur, sedang si nenek yang berambut putih dan bertubuh bungkuk menyiapkan santapan siang bagi mereka berdua, kemudian. . Kemudian dia pun tak dapat mengingatnya lagi.

Pokoknya mereka berdua seperti belum sampai meninggalkan rumah gubuk itu. . . Tapi, dimanakah ia sekarang ? Mengapa ia bisa berada disini ?

Diam ia mencoba untuk menghimpun tenaga dalamnya, terasa hawa murninya sukar dikerahkan se-akan terdapat beberapa buah jalan darahnya tersumbat, namun bila tidak mencoba untuk menyalurkan hawa murni, halmana sama sekali tidak dirasakan.

la mencoba untuk menggerakkan tangan dan kakinya, ternyata masih bisa bergerak dengan bebas, kontan saja kecurigaannya timbul, entah siapa kah orang itu ? Mengapa jalan darahnya ditotok?"

"Aaah, di manakah Ting toako ?"

Setelah memejamkan matanya, Wi Tiong hong segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk memeriksa sekejap sekeliling tempat itu.

Kali ini, secara lamat-lamat dia dapat menyaksikan pemandangan disekeliling tempat itu, tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya merasa terkejut sekali. segera pikirnya dihati.

"Aaaah . . . rupanya aku berada dipenjara, tapi . . . kenapa aku disekap dalam rumah penjara?"

Walaupun ia belum pernah disekap didalam rumah penjara, tapi ia mengetahui dengan pasti kalau tempat ini adalah sebuah ruangan penjara yang amat kuat.

Luasnya cuma enam depa, kecuali dimana ia bersandar sekarang berupa dinding yang kokoh, tiga bagian lainnya merupakan terali besi yang sangat kuat, tepat dihadapannya merupakan sebuah pintu terali besi yang besar, pada gembokan pintu terpasang sebuah kunci yang benar sekali. Rupanya ruang penjara berupa terali besi itu bukan cuma satu saja, sederetan memanjang kesamping paling tidak masih ada tujuh delapan buah dan disetiap bilik tampaknya ada tawanan yang disekap.

Sehingga bila dilihat sepintas lalu bentuknya persis seperti pagar terali tempat untuk memelihara binatang buas.

Sebenarnya berada dimanakah ia sekarang??? Kesalahan apakah yang telah diperbuat sehingga dijebloskan kedalam penjara???

Mendadak ia melompat bangun, hampir saja dia akan berteriak- teriak keras.

Tapi ketika sorot matanya dialihkan kearah lain, tiba-tiba dijumpainya orang yang disekap dalam ruang penjara disebelah kanannya adalah Tok Hay ji yang pernah dijumpai dalam perusahaanan wan Piaukiok, tampaknya luka yang diderita orang ini cukup parah, sebab dengan wajah yang layu dia sedang memejamkan matanya mengatur pernapasan. "Masa dia adalah Tok Hay ji? mengapa diapun disekap ditempat ini. .?"

Penemuan ini membuat Wi Tiong hong merata semakin keheranan, buru-buru dia mengalihkan pandangan matanya ke ruang bui disebelah kiri.

Ternyata orang yang duduk bersandar dinding ditempat itu tak lain adalah Ting toako yang bersamanya datang ke kuil Sikjin-tian.

Pelan-pelan Wi Tiong hong menjadipaham kembali, kalau ditinjau dari keadaan ini dapat ditarik kesimpulan kalau tempat tersebut bukan penjara seperti apa yang diduganya semula, rupanya mereka ditawan oleh Thian Sat nio serta begundal-begundalnya.

Tanpa berpikir panjang lagi dia berjalan mendekati terali besi itu, kemudian sambil menarik terali besi tersebut, teriaknya keras-. "Ting toako "

Setelah ia mendekat kesitu, ia baru menjumpai kalau Ting ci kang pun sedang duduk memejamkam mata disana, tampaknya seperti juga keadaannya, beberapa buah jalan darahnya telah ditotok orang, sehingga sekarang ia sedang berusaha untuk menembusi jalan darah ini.

Butiran keringat sebesar kaCang ijo nampak membasahi seluruh jidatnya.

Ketika mendengar panggilan dari Wi Tiong hong, pelan-pelan dia membuka matanya seraya menegur.

"Saudara Wi, kau pun telah mendusin?"

"Ting toako, berada dimanakah kita sekarang??" tanya Wi Tiong hong dengan suara yang keras, "mengapa kita..."

Belum habis dia berkata, tiba-tiba terdengar suara membentak nyaring.

"Sttt . . . .jangan keras-keras kalau ingin berbicara disini, jagalah ketenangan"

"Siapa kah kau?" teriak Wi Tiong hong, "tempat apa pula disini?

Mengapa kami disekap ditempat ini?"

Sambil berkata dia lantas berpaling ke arah mana berasalnya suara tersebut.

Ternyata diujung barisan rumah penjara itu nampak seorang sipir bui sedang duduk disitu sambil melakukan pengawasan.

Dia adalah seorang manusia berbaju hitam, tapi karena ia duduk diujung ruangan dan lagi jaraknya teramat jauh, maka sulit untuk melihat jelas paras mukanya. Terdengar manusia berbaju hitam itu mendengus dingin.

"Bocah keparat, masih saja ber-kaok keras? Nampaknya kau sudah bosan hidup?"

Wi Tiong hong masih ingin berkata lagi, tapi Ting ci kang yang disekap diruang sebelah segera menarik ujung bajunya sambil berbisik.

"Saudara Wi, bertanya lagi kepadanyapun percuma, lebih baik bersabarlah dulu untuk sementara waktu dan nantikan setiap perubahan dengan tenang, untung saya orang yang disekap dalam ruangan ini bukan hanya kita berdua."

Tampaknya Wi Tiong hong amat mempercayai perkataan Ting cin kang, sambil menahan diri segera bisiknya.

"Ting toako, tahukah kau siapa yang disekap disebelah kananku?

Dia adalah Tok Hay ji" Ting ci kang segera manggut-manggut.

"Bukan cuma Tok Hay ji saja, bahkan Makoan tojin, Thi Lo han dan si naga tua berekor botak pun sudah disekap semua ditempat ini."

Wi Tiong hong baru terperanjat setelah mendengar perkataan itu, kemarin ia masih menyaksikan kehebatan ilmu silat yang dimiliki ketiga orang itu, berbicara sesungguhnya, kepandaian mereka masih terhitung kelas satu dalam dunia persilatan tapi kenyataannya sekarang mereka toh disekap juga disini.

Dari sini dapat dibuktikan kalau mereka memang benar-benar ditangkap oleh Thian Sat nio.

Berpikir sampai disini, tak tahan lagi dia berseru. "Ting toako, apakah ditangkap oleh Thian-Sat nio ?"

Ting ci kang termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya dengan suara rendah. "Mungkin saja benar, tapi sampai sekarang keadaannya masih belum begitu jelas. . ."

Belum habis dia berkata, mendadak dari ujung lorong sana nampak Cahaya api melintas lewat, agaknya disana terdapat sebuah pintu, seorang dengan membawa lampu lentera yang terbuat dari kertas minyak berhenti ditempat itu dan seperti lagi berbicara dengan orang berbaju hitam tadi. . .

Tapi lantaran jaraknya terlampau jauh, maka tidak jelas apa yang sedang mereka bicarakan.

Akhirnya mereka hanya mendengar orang berbaju hitam itu mengiakan dan membalikkan badan berjalan masuk keruang dalam.

Diam-diam Ting ci kang menitahkan Wi Tiong-hong agar duduk. orang berbaju hitam itu langsung berjalan menuju kedepan terali besi yang menyekap Ting ci kang dan berhenti, dari sakunya dia mengeluarkan sekelompok anak kunci dan membuka gembokan disitu.

Kemudian sambil membuka pintu besi, katanya dengan suara dalam.

"Chin congkoan kami mempersilahkan saudara Ting untuk menghadap. ada persoalan yang hendak diperbincangkan."

Ting ci kang segera bangkit berdiri berjalan menuju ke pintu, tanyanya.

"Siapakah Chin congkoan kalian itu ?"

"Maaf, aku tak dapat memberitahukan kepadamu."

"Kalau toh dia menyuruh aku orang she Ting untuk menghadap. mana boleh aku orang she Ting tidak menanyakan dulu siapakah dia

?"

Raut wajah oraag berbaju hitam itu nampak kaku dan sama sekali dia itu tidak berperasaan apapun, tetap dengan sikapnya yang dingin dan menjawab. "Aku hanya membukakan pintu besi untukmu, soal lain aku tidak tahu sama sekali." Mendengar jawaban tersebut, Ting ci kang segera tertawa ter-bahak, sahutnya.

"Haaaahhh. . . haaahhh. . . haaaahhhh. . . sekalipun kau tidak berbicara, akupun tahu, Chin congkoan kalian adalah Siautian kui jiu (tangan setan pembetot sukma) Chin Toa seng."

Paras muka orang berbaju hitam itu agak berubah.

Tiba terdengar suara teguran merdu bergema dari ujung lorong tersebut.

"ciang losu, kenapa kau ? Mengapa tidak segera kau gusur keluar Ting ci kang ? Chin congkoan sedang menunggu "

"Baik " sahut orang berbaju hitam itu berulang kali, kemudian sambil mendepakkan kakinya ketanah dia berseru. "sobat Ting, cepatan sedikit, Chin congkoan sedang menantikan dirimu ..."

Tampaknya dia seperti menguatirkan sesuatu sebab sampai suara pembicaraannya pun kedengaran gemetar.

Ting ci kang tertawa angkuh dan segera berpaling, dengan ilmu menyampaikan suara segera katanya kepada Wi Tiong hong.

"Saudara Wi, keadaan yang kita hadapi sekarang teramat kacau, sebelum aku balik kemari, ada persoalan apapun lebih baik disabarkan untuk sementara waktu" Wi Tiong hong manggut- manggut.

Dengan langkah lebar Ting ci kang segera berjalan keluar dari balik terali besi dan menelusuri jalan lorong tersebut, menanti dia sudah keluar dari pintu diujung sana, Cahaya lentera disudut lorong segera dipadamkan dan suasana pun pulih kembali didalam kegelapan.

Tampaknya pintu disana telah dirapatkan kembali.

Setelah menghantar kepergian toakonya, Wi Tiong hong balik dan hendak duduk kembali, tiba-tiba dia seperti ada orang sedang memanggilnya.

"Ssttt. . . "

la segera berpaling, tampak To Hay ji sedang berjongkok disamping terali besi sambil menggape ke arahnya.

Wi Tiong hong segera menghampirinya, dengan dipisahkan oleh terali besi dia bertanya. "Ada urusan apa kau memanggilku ?"

Tok Hay ji segera menempelkan ujung jarinya ke atas bibir, lalu bisiknya lagi.

"Sstt . . . kalau berbicara jangan keras."

Didengar dari nada pembicaran yang berat, rendah dan parau, Wi Tiong hong dapat menduga kalau luka yang dideritanya tak enteng, maka dia lantas bertanya. "Ada urusan apa ?" "Aku ingin menitipkan satu pesan padamu, apakah kau bersedia membantuku?"

"Menitipkan soal apa?"

"Luka yang kuderita terlampau parah dan entah bisa melepaskan diri dari sini," bisik Tok Hay ji, "maka bila kau dapat melarikan diri dari tempat ini, tolong sampaikanlah pesanku ini kepada seseorang .

. . mau bukan ?"

"Sampai sekarang, siapakah yang menyekap diriku ditempat inipun tidak kuketahui dengan jelas, aku pikir sulit untuk melarikan diri"

Napas Tok Hay ji nampak tersengkal-sengkal, dia segera mengatur napasnya sebentar, lalu baru berkata.

"Aku percaya kau pasti dapat meloloskan diri dari sini dan kau pasti keluar dari sini lebih dulu daripada aku, itulah sebabnya aku hendak titip pesan kepadamu."

"Baiklah, kalau aku keluar lebih dulu dari sini, pasti akan kusampaikan pesanmu itu, tapi pesan itu harus kusampaikan kepada siapa dan di mana ?"

Tok Hay ji memejamkan matanya sambil menarik napas panjang, tiba-tiba wajahnya berubah menjadiamat serius, sambil merendahkan suaranya pelan dia berkata. "Ulurkan tanganmu kemari, akan kutuliskan diatas tanganmu."

Wi Tiong hong segera menj ulurkan tangannya melewati terali besi dan disodorkan kedepannya, Tok Hay ji segera menulis beberapa huruf diatas telapak tangannya. "Sampaikan kepada Hong tiang kuil Poo in si di-luarpintu selatan kota Sang siau."

"Apa yang harus kuberitahukan kepadanya?" kembali Wi Tiong hong bertanya lagi. Tok Hay ji segera menulis kembaii.

"Dibawah undak undakan pintu pedang, gua ditanah kayu didalam "

"Hanya ucapan tersebut ?" Tok Hayji nampak tersengkal sengkal dan mengangguk. kembali dia menulis.

"Persoalan ini adalah menyangkut keselamatan seseorang, kau harus menyampaikannya sebelum hari kesepuluh dari hari ini."

"Andaikata dalam sepuluh hari ini aku belum juga bisa meloloskan diri . . . ?" tanya Wi-Tlong hong.

Tok Hay ji berpikir sebentar, kemudian ujarnya.

"Kalau sampai demikian, lebih baik kita bicarakan sampai waktunya nanti."

Setelah terluka parah, agaknya dia sudah kelewat banyak berbicara, napasnya nampak tersengal-sengal dan mukanya makin memucat, pelan-pelan dia memejamkan matanya kembali dan tak berbicara lagi.

Wi Tiong hong sendiripun merasa gelisah sekali karena Ting toakonya yang dibawa pergi hingga kini belum nampak juga kembali, tak ada hentinya dia mendongakkan kepala memandang kepintu dilorong ujung sana.

Mendadak dari ujung lorong sana kembali nampak cahaya api memancar masuk. pintu di buka orang dan muncul kembali seseorang sambil membawa lentera orang itu sedang berbisik-bisik dengan orang berbaju hitam yang menjaga penjara itu.

Selang sejenak kemudian, orang berbaju hitam itu mengiakan dan segera berjalan masuk kedalam ruangan.

Keadaan tersebut tak jauh berbeda dengan apa yang dilihatnya tadi, diam-diam Wi Tiong-hong segera berpikir.

"Nampaknya Ting toako telah selesai diperiksa, entah sekarang tiba giliran siapa ?"

Sementara dia masih berpikir, orang berbaju hitam itu sudah berhenti secara tiba-tiba di depan terali besi yang dihuni Wi Tiong hong. Menyaksikan kejadian itu, Wi Tiong hong jadi sangat tegang, segera pikirnya. "Ternyata aku yang diundang untuk berbicara, Ting toako belum kembali, nampaknya ia sedang menunggu kedatanganku."

Sementara dia masih termenung, orang berbaju hitam itu sudah mengeluarkan anak kunci dan membuka gemboknya di depanpintu, kemudian sambil membuka pintu besi itu tanyanya. "Kau yang bernama Wi Tiong hong ?"

"Benar, memang aku." "Ikuti aku keluar dari sini."

"Apakah Chin congkoan kalian mengundangku untuk ber- bincang . . . ?" tanya Wi Tiong-hong.

"Entah "

"Kalau bukan Chin congkoan yang mengundangku kesana, masih ada siapa lagi ?"

Dengan tak sabar orang berbaju hitam itu segera menyahut. "Setelah keluar dari sini, kau toh tahu sendiri, kalau kau bertanya

kepadaku aku harus bertanya kepada siapa ?"

Mendengar perkataannya yang dingin dan kaku itu, membara juga hawa amarahnya dalam hati Wi Tiong hong, baru saja ia hendak mengumbar hawa amarahnya, mendadak ia teringat kembali dengan pesan Ting toakonya yang wanti kepadanya bersabar dalam menghadapi setiap persoalan, terpaksa dia harus menekan kembali perasaan hatinya.

Setelah keluar dari pintu besi, dengan langkah lebar dia segera menelusuri lorong tersebut.

orang berbaju hitam itupun tidak banyak bicara lagi, setelah menutup pintu besi, dia segera mengikuti dibelakang wi Tiong hong.

Tiba diujung lorong sana, tampak sebuah pintu terbuka lebar, seorang dayang berbaju hijau sedang berdiri disana sambil membawa sebuah lampu lentera. Menyaksikan wi Tiong hong berjalan keluar, dia segera mengangkat lenteranya tinggi-tinggi untuk menyoroti wajah pemuda itu, kemudian tegurnya. "Diakah yang bernama Wi Tiong hong?"

Sementara itu Wi Tiong hong telah meminjam sinar lentera itu untuk memperhatikan pula paras muka dayang berbaju hijau itu, tapi apa yang kemudian terlihat membuatnya tertegun.

Ternyata meski dayang ini berbicara dengan suara yang merdu dan lemah lembut, namun paras mukanya justru dingin lagi jelek. hidungnya pesek dengan bibir yang tebal, hanya sepasang matanya yang nampak jeli dan bening.

Sementara ia sedang mengawasi wajah dayang tersebut, terdengar orang berbaju hitam yang berada dibelakangnya mengiakan berulang kali. "Benar, benar, dialah yang bernama Wi Tiong hong."

"Tak bakal salah bukan?" kembali dayang berbaju hijau itu bertanya. orang berbaju hitam segera tertawa paksa.

"Tak bakal salah, beberapa orang saja yang hamba urusi, masa bisa salah pilih?"

Kembali dayang berbaju hijau itu mengalihkan sinar matanya ke wajah Wi Tiong hong, tapi setelah memandangnya sekejap. ia segera berkata dengan suara dingin. "Kau bernama Wi Tiong hong?"

Ketika didengarnya dayang itu bertanya terus menerus dengan nada tak percaya, habis sudah kesabaran Wi Tiong hong, sahutnya pula dengan suara dingin. "Kecuali aku, disini tak ada Wi Tiong hong kedua"

"Hmmm, tentu saja aku harus bertanya sampai jelas" dengus dayang berbaju hijau itu.

"sekarang tentunya nona sudah jelas bukan?"

Tiba terdengar orang berbaju hitam nu membentak marah. "Bocah keparat, kau berani mencari gara gara dengan nona

Hong?" "Mengapa tidak?"

Tiba-tiba dayang berbaju hijau itu berpaling dan membentak ke arah manusia berbaju hitam itu.

"Kau tak usah banyak mulut " Kemudian kepada Wi Tiong hong katanya lagi dengan suara dingin-

"sekarang, kau boleh keluar "

Secara diam-diam Wi Tiong hong dapat merasakan meski dayang berbaju hijau ini hanya seorang dayang, namun kedudukannya justru jauh lebih tinggi daripada orang berbaju hitam itu, maka tanpa banyak berbicara lagi dia menurut dan berjalan keluar dari pintu.

"Nona masih ada pesan apa lagi ?" tanya orang berbaju hitam itu kemudian sambil membungkukkan badannya.

"Tidak ada urusan lagi."

orang berbaju hitam itu segera mengiakan dan menutup kembali pintu ruangan tersebut.

Didengar dari suara pintu yang menutup rapat tadi. Wi Tiong hong dapat mengenali kalau suara tersebut terbuat dari besi baja yang amat tebal, hal ini membuatnya menjadi tertegun.

Dia lantas mengalihkan kembali sorot matanya kedepan, ia jumpai diluar pintu baja tersebut merupakan sebuah lorong gelap yang sangat panjang, cahaya lentera hanya bisa menyinari sekitar lima enam depa sehingga tak dapat terlihat berapa panjang lorong tersebut.

Dayang berbaju hijau itu berhenti tidak bergerak. dari sakunya dia mengeluarkan selembar kain hitam, kemudian ujarnya dangan suara dingin.

"Bila kau ingin turut aku keluar dari sini, maka sepasang matamu harus diikat lebih dahulu berdirilah disitu dan jangan bergerak. aku hendak mengikatkannya lebih dulu sebelum berangkat." "Peraturan macam apa itu ?"

Dayang berbaju hijau itu segera tertawa lebar-lebar sehingga kelihatan dua baris giginya yang putih bersih katanya. "Tampaknya kau seperti enggan untuk keluar dari sini ?"

"Apakah nona hendak mengajakku untuk menjumpai Chin congkoan ?" tanya pemuda itu.

Dengan cepat dayang berbaju hijau itu menggelengkan kepalanya berulang kali. "Kau mah tak usah menjumpai Chin congkoan."

"Lantas nona hendak mengajakku kemana ?" Wi Tiong hong merasa keheranan.

"cerewet amat kau ini, cepat tutup matamu dengan kain ini dan aku akan mengajakmu ke luar, setibanya diluar apakah kau tak akan mengetahui dengan sendirinya? Aku tak punya banyak waktu untuk ribut denganmu."

Wi Tiong hong segera termenung dan berpikir sebentar, teringat akan pesan Ting ci-kang yang memintanya agar bersabar dalam menghadapi setiap persoalan, diapun segera manggut-manggut.

"Baiklah, silahkan nona menutupi mataku" Setelah menutupi sepasang matanya dengan kain hitam, dayang berbaju hijau itu baru berkata sambil tertawa merdu. "Selesai, nah ikutilah aku sekarang "

Dia segera menarik ujung baju wi Tiong hong dan mengajaknya menuju kedepan.

Wi Tiong hong membiarkan dirinya dituntun maju kedepan tapi setelah berjalan sekian lama dan belum juga berhenti, tak tahan lagi lantas bertanya. "Nona, sebenarnya kau hendak mengajak aku pergi ke mana?" Dayang berbaju hijau itu segera tertawa cekikikan-

"Sungguh menjengkelkan, tampaknya sebelum kuberitahukan kepadamu, kau seperti kuatir ada orang hendak melahapmu? Ketahuilah, ada orang yang telah menebusmu keluar." "Ada orang menebusku keluar?" makin lama Wi Tiong hong merasa semakin keheranan, dia lantas mendesak lebih jauh, "maksud nona kalian hendak membebaskan aku?"

"Aneh sekali pertanyaanmu itu?" sambil berjalan dayang berbaju hijau itu berkata, "setelah ada orang menebusmu, kalau bukan dibebaskan, lantas mau diapakan?"

"Entah siapakah orang itu?" "Tentu saja teman karibmu." "Teman karibku?"

Diam-diam Wi Tiong hong merasa keheranan, sejak kapan dia mempunyai sahabat karib? Karena semakin keheranan maka diapun bertanya lagi. "sekarang orang itu berada dimana ?"

Sementara pembicaraan berlangsung, Wi Tiong hong merasa kakinya se-akan sedang menginjak anak tangga batu dan selangkah demi selangkah berjalan naik keatas.

Si anak muda itu segera berpikir lebih jauh mungkinkah orang yang telah menebusnya adalah sahabat Ting toako? Mungkinkah Ting toako juga sudah berada di atas? Berpikir sampai disitu tak tahan lagi dia lantas bertanya.

"Aku ingin ada satu persoalan ingin kutanyakan, harap nona bersedia menjawabnya."

"Persoalan apa ?"

"Apakah Ting toako sudah keluar dari sini ?"

Mendengar pertanyaan tersebut, dayang berbaju hitam itu segera mendengus dingin.

"Hmm, kau maksudkan Ting ci kang? orang ini memang pantas untuk di habisi nyawanya."

"Kenapa dengan Ting toako ?"

"Tidak apa apa, dia masih ada urusan." Anak tangga batu itu paling tidak mencapai ratusan lebih, mendadak dayang berbaju hijau yang berjalan di depan menghentikan langkahnya, dia seperti sedang membuka sebuah papan batu, kemudian maju lagi tiga langkah sebelum akhirnya berkata. "Nah, sekarang kau boleh melangkah keluar"

Wi Tiong hong segera melangkah keluar dari undak-undakan batu itu dan mencapai di muka tanah datar, sekalipun matanya masih di tutup dengan kain hitam, namun angin dingin yang menghembus lewat terasa menyegarkan badan.

Dayang yang memakai baju hijau itu masih saja menarik ujung bajunya dan mengajaknya berjalan ke kiri berputar ke kanan selama seperminum teh sebelum akhirnya berhenti.

Dengan suatu gerakan cepat dia menyelinap ke belakang tubuh wi Tiong hong, membebaskan kain hitam yang menutupi matanya, kemudian mengayunkan pula telapak tangannya menghantam punggung si arak muda itu.

^oooodwoooo^

Wi Tiong hong segera merasakan sekujur badannya bergetar keras dan tahu-tahu nadi pentingnya yang tersumbat telah menjadi bebas kembali, menyusul kemudian pandangan matanya menjadi silau, tahu tahu dia sudah berdiri di tengah sebuah hutan-Terdengar dayang berbaju hijau itu berkata di sisi telinganya.

"Temanmu sedang menantikan kedatanganmu diluar hutan sana, cepatlah kesana "

Kemudian tampak bayangan hijau berkelebat lewat, dengan cepat dayang itu sudah menyelinap kedalam hutan dan lenyap tak berbekas. Memandang bayangan punggungnya, diam- Wi Tiong hong merasa tertegun, pikirnya.

"Hanya seorang dayang saja sudah memiliki ilmu meringankan tubuh yang begitu sempurnanya, bisa dibayangkan betapa lihaynya majikan orang itu. . .Thian Sat niokah orang itu?? Yaaa, selain Thian Sat nio, masih ada siapa lagi??" Berpikir sampai disitu, dengan langkah lebar dia segera berjalan menuju keluar hutan-

Sementara itu senja sudah menjelang tiba, sinar malahan sore memancarkan sinar keemas-emasnya menyinari seluruh jagad. Diluar pohon siong tampak seseorang sedang berdiri menanti.

orang itu mengenakan sebuah topi pet berwarna merah da rah dengan jubah berwarna hijau terbuat dari kain wool, dia sedang bergendong tangan sambil memandang kejauhan, sikapnya amat santai.

Tertegun wajah Wi Tiong-hong menyaksikan wajah orang itu, sebab orang ini bukan cuma tidak dikenal saja bahkan perjumpaannya kali inipun merupakan perjumpaan untuk yang pertama kalinya, mengapa dia tahu kalau dia ditangkap oleh Thian Sat nio dan datang menebusnya?

Sungguh tajam pendengaran orang itu, baru saja Wi Tiong hong berjalan keluar dari dalam hutan, seolah-olah punggungnya punya mata, dengan cepat dia membalikkan badan dan manggut-manggut sambil tertawa katanya.

"Saudara Wi sudah datang? Mari kita pergi"

sikapnya bagaikan bertemu dengan sahabat karib saja, begitu berjumpa lantas menyapa.

Sekarang wi Tiong hong baru dapat menyaksikan wajah dari orang ini, dia mempunyai muka berwarna merah dengan mata yang besar danalis mata yang tebal, usianya antara puluh tahunan dan benar- benar baru dijumpai untuk pertama kalinya. cuma, secara lamat- lamat dia pun merasa seperti kenal wajah tersebut, hanya untuk sesaat tidak teringat olehnya dimanakah mereka pernah bersua.

Setelah ragu-ragu sejenak. dia lantas maju dua langkah ke depan, kemudian sambil menjura katanya. "Saudara adalah . . ."

Tampaknya orang itu dapat menangkap kesangsian yang menghiasi wajah si anak muda itu, maka sebelum ia sempat berbicara orang itu sudah tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh . . haaahhh .. haaahhh . . .agaknya saudara Wi sudah tidak teringat lagi denganku? Haaahhh . . .haaahhh . . tiga hari berselang, ketika fajar baru menyingsing, bukankah kau telah mengundangku dan lo sam untuk minum-arak ?"

Setelah disinggung kembali, secara tiba-tiba Wi Tiong hong jadi teringat kembali siapa gerangan orang itu.

Tak heran kalau dia merasaamat mengenal wajah orang tersebut, ternyata dia tak lain adalah sipengemis pemain ular yang pernah dijumpainya tiga hari berselang. Tahu siapa orang itu, dia segera berseru tertahan kemudian sambil menjura serunya. "oooh -

- ternyata saudara adalah - - - "

Mendadak ia berhenti berbicara, karena bagaimanapun juga dia merasa agak rikuh untuk mengucapkan kata "sipengemis penuhi ular"

Untung saja sebelum Wi Tiong hong sempat melanjutkan perkataannya, orang itu sudah tertawa terbahak-bahak sambil menukas. "Kau sudah teringat? Benar, siaute adalah Kam Liu cu"

Begitu mendengar nama "Kam Liu cu" disebutkan, sekali lagi Wi Tiong hong menjadi tertegun-

Bukankan Kam Liu cu adalah jagoan lihay dari Thian sat bun ? Bukankah dia adalah si-manusia aneh berbaju hitam dan berilmu tinggi dan bertarung melawan Ma koan tojin, Thi Lo han dan si naga tua berekor botak tempo hari? Begitu ingatan tersebut melintas didalam benaknya, dengan wajah tertegun ia lantas mendongakkan kepala sambil berseru.

"oooh, rupanya kau anggota Thian Sat bun-" sahut Kam Liu cu, "bar upagi tadi bila kau sudah terjatuh ke tangan orang orang Ban kim hwee, itulah sebabnya aku sengaja datang kemari untuk memintakan pembebasan bagimu, mereka tak mencelakai dirimu bukan ?"

"perkumpulan selaksa pedang ? jadi aku bukan ditahan Thian Sat nio ?" wi Tiong hong nampak keheranan. Kembali Kam Liu cu tersenyum.

"Suhu telah lama pergi dari tempat ini, justru dia sebagai orang tua telah melepaskan mereka karena memandang diatas wajah saudara Wipada hari itu, masa setelah melepaskan mereka lantas ditangkap kembali ?"

Wi Tiong hong segera teringat kembali kalau orang itu datang untuk menyelamatkan dirinya dan belum menyampaikan rasa terima kasih, buru-buru dia lantas menjura seraya katanya.

"Atas pertolongan saudara yang telah menyelamatkan jiwaku, aku mengucapkan banyak banyak terima kasih." Kam Liu cu segera tertawa tergelak.

"Haaahhh. . . haaaanhhh. . . haaaahhh. . . kita kan sama-sama teman, masa urusan kecil ini mesti dipikirkan terus ?"

"Ada satu hal yang sama sekali tidak kupahami, entah saudara Kam bersedia untuk menjelaskan atau tidak ? Dikarenakan persoalan apakah orang orang Ban kiam hwee membekuk begitu banyak orang dan menyekapnya ?"

"Yaa, apa lagi ? tentu saja dikarenakan mustika Lo bun si tersebut . ."

"Lo bun si, benda apakah itu ?" Wi Tiong hong keheranan dan merasa ingin tahu. Kam Liu cu memandang sekejap kearahnya kemudian baru menjawab..

"Saudara Wi, lebih baik kau jangan mencampuri tentang persoalan ini, suasana dalam dunia persilatan diwaktu ini sudah Cukup kaCau balau, mungkin saja hal ini menimbulkan kejadian yang tak diinginkan, persoalan itu toh tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, lebih baik jangan ditanyakan lagi"

Melihat orang itu enggan banyak berbicara, sudah tentu Wi Tiong hong merasa rikuh untuk banyak bertanya lagi.

Kam Liu cu memandang sekejap lagi kearahnya, kemudian ujarnya lebih lanjut.

"Saudara Wi, tempat ini sangat berbahaya. lebih baik kita cepat- cepat meninggalkan tempat ini saja."

Mendadak Wi Tiong hong teringat pada pedang karatnya yang telah diambil oleh orang-orang Ban Kiam hwee dan belum dikembalikan kepadanya, ia lantas berseru tertahan-"Aaaah, pedangku telah diloloskan oleh mereka dan belum dikembalikan kepadaku." Mendengar perkataan itu, Kam Liu cu segera tertawa terbahak-bahak.

"Haahh . , haahh . ,hiahh . . apa artinya sebilah pedang mustika? Berapa hari kemudian aku pasti akan menggantinya dengan sebilah yang lebih bagus"

"Tidak bisa, pedang itu merupakan benda milik pamanku dimasa lalu dan merupakan satu-satunya tanda mata yang dia tinggalkan kepadaku, aku tak dapat kehilangan benda itu, harap saudara tunggu sebentar, aku akan mencari mereka untuk meminta kembali pedang itu."

Selesai berkata, dia lantas membalikkan badan berjalan menuju ketengah hutan.

"Saudara Wi, sekalipun engkau pergi untuk mencarinya juga percuma" seru Kam Liu cu, "apalagi sekarang hari sudah malam, lebih baik kita mencari tempat untuk beristirahat lebih dulu, akan kuusahakan untuk mendapatkan kembali pedang tersebut." Tergerak hati Wi Tiong hong, buru-buru katanya. "Aku masih ada satu hal ingin mohon petunjuk."

"Soal apa?"

"Apakah saudara Kam sangat mengenal orang-orang dari Ban kiam hwe tersebut?"

"GutUku pernah mempunyai hubungan yang baik dengan Kiamcu generasi yang lalu,jadi boleh dibilang hanya suatu hubungan persahabatan biasa saja."

"Aku terbebas berkat tebusan dari saudara Kam, maka aku masih ada seorang teman- . ."

"Kau maksudkan Ting ci kang dari perkumpulan Thi pit pang ?" "Benar, Ting toako yang kumaksudkan."

"Apakah kalian mempunyai hubungan yang sangat akrab ?"

"Walaupun aku belum lama berkenalan dengannya, tapi Ting toako adalah seorang yang supel dan gagah, lagi pula aku datang bersama dia tentu saja aku tak bisa menyaksikan Ting toako masih tetap tertinggal ditangan orang orang Ban kiam hwee sementara aku berhasil dibebaskan atas jaminan dari saudara Kam "

"Maksudmu kau hendak menolongnya melepaskan diri dari mara bahaya ?"

"Aku sadar bahwa kemampuan yang kumiliki masih belum mampu untuk berbuat demikian oleh karena itu aku ingin memohon bantuan dari saudara Kam, apakah kiranya dapat menebus pula Ting toako ?"

Kam Liu cu segera memperlihatkan rasa berat hati dan serba salah, katanya kemudian-

"Kedudukkau Ting ci kang berbeda dengan dirimu, aku rasa Ban Kiam hwe tak akan membebaskan dirinya dengan begitu saja." Wi Tiong-hong yang mendengar pembicaraan seperti menyetujui buru-buru katanya lagi.

"Segala sesuatunya tentu berkat bantuan saudara Kam " "Persoalan ini sedikit rada sukar. . ." kata Kam Liu cu sambil

termenung.

Dia memandang sekejap kearah Wi Tiong hong, mendadak tertawa terbahak bahak.

"Haaahhh . . . haaahhn . . . haaahhh saudara Wi, hampir saja aku lupa kalau kau membawa lencana Siu lo cin leng ?"

-ooooDWoooo-