-->

Pedang Dewa Naga Sastra Jilid 6

Jilid 6

“saya sudah dapat menaklukkannya dengan menuntut pertanggung jawaban, dan dia sudah mau, tapi ketika kami bertemu dengan tiga pangcu kaipang, akhirnya ide itu gagal karena kami harus membunuhnya.”

“lalu bagaimana selanjutnya ?”

“kami kalah suhu, saya terluka dalam dan tiga pangcu kaipang tewas ditangannya.”

“wah….kalau begitu dia luar biasa saktinya.”

“benar suhu, lalu bagaimana dengan keadaanku suhu, apa yang harus aku lakukan ?”

“eh..memangnya kamu mau melakukan apa ?” “tidak tahu suhu maka tecu tanya pada suhu.”

:”ah..kamu ini, kalau sudah hamil yah jalani saja hingga kamu melahirkan anak itu.” sahut suhunya sambil meninggalkan Yan- hui.

Sejak perutnya mulai membesar Yan-hui jarang keluar rumah, ia lebih nyaman mengurung diri dikamarnya, bulan berganti bulan akhirnya saat kelahiran anaknyapun tiba, seorang dukun beranakpun sudah sibuk menyiapkan persalinan, demikian juga dua orang pelayan Yan-hui, Yan-hui menjerit menahan sakit tiada tara, keringat dinginnya bercucuran, dan akhirnya ditengah kelengangan malam anaknyapun lahir, lengking suara tangisnyapun memecahkan kesunyian malam, suara tangis bayi bergema digedung kediaman pek-mou-hek-kwi, dukun beranak dengan cekatan membersihkan bayi laki-laki yang sehat dan mungil.

Dukun beranak meletakkan bayi itu disamping Yan-hui, hati Yan-hui demikian gembira melihat wajah anaknya, dan kontan ia membayangkan wajah bun-liong-taihap, bibirnya tersenyum, dia tidak mengerti kenapa ia merasa bahagia, saat ia memperhatikan darah dagingnya tersebut perasaan matang seorang ibu sangat kuat menyergap jiwanya, lalu dengan halus ia menciumi anaknya, namun saat matahari terbit kembali ia sadar bahwa anak ini adalah anak musuh mereka, Yan-hui lama merenung.

Saat matahari terbit Pek-mou-hek-kwi bangun, setelah mandi dan berganti baju ia duduk diruang tengah sambil minum arak yang sudah disediakan, dia tidak mau disibukkan oelh kelahiran bayi muridnya, dan sampai matahari naik agak tinggi ia belum pernah melihat keadaan muridnya, tiba-tiba Tan-hang muncul dan berlutut didepannya

“hehehe..hehehe bagus hang-ji kamu sudah datang, bagaimana dengan tugasmu ?”

“tugas telah tecu laksanakan dengan baik, dan tecu dapat memberi hajaran pada ciangbujin butong-pai.‟

“hahaha..hahaha…Lu-peng-jin kalah atau tewas ?‟ “tidak tewas suhu tapi kakinya buntung saya tebas.”

“hahaha….hohoho….bagus hang-ji, dengan demikian bu-tong- pai akan merasakan tamparan keras.”

“dimanakah hui-sumoi suhu ?”

“ah…sumoimu itu memang goblok, main-main tapi terbakar sendiri.”

“eh..apa maksudnya suhu ?” tanya Tan-hang heran

“dia bosan dirumah lalu pergi beberapa bulan, dan tiba pulang kesini eehh…dia hamil.” sahut suhunya

“hamil….teledor betul anak itu.” sela tan-hang sedikit jengkel dan kecewa

“benar anak itu memang teledor dan yang anehnya ayah anak ini bakal musuh kita semua.” “siapakah ayah anak itu suhu ?” “ayah anak itu bun-liong-taihap.”

“ah…namanya sangat santer saya dengar sepanjang perjalanan pulang suhu.”

“ya dan dia terkenal karena telah membunuhi rekan-rekan kita, seperti hai-kwi-kiam, dan empat tetua kaipang.”

“sumoi bagaimana sih sehingga terlanjur begitu ?” ujar Yan- hang makin kecewa

“mulanya sumoimu dapat mememfaatkan keadaan itu untuk mengambil keuntungan dipihak kita, namun saat bertemu dengan tiga pangcu kaipang yang hendak membalas, akhirnya ide itu mentah.”

“mentah kenapa suhu ?‟

“mentah, karena bun-liong-kiam sangat sakti, sehingga sumoimu buka kartu untuk membantu tiga pangcu kaipang.” “lalu sekarang sumoi dimana suhu ?”

“dikamarnya, dan semalam ia baru melahirkan.” sahut suhunya “baik aku akan melihat keadaannya.” ujar Tan-hang lalu bangkit dan meninggalkan suhunya.

Tan-hang masuk kekamar Yan-hui “suheng kamu sudah pulang ?”

“sudah, tapi sungguh kamu mengecewakan sekali sumoi, melahirkan anak musuh.” sahut Tan-hang dengan nada kecewa.

“hi..hi… sudahlah kamu jangan kecewa begitu, anak ini nanti akan berguna untuk menyengsarakan atau bahkan membunuh ayahnya sendiri.” sahut Yan-hui, Tan-hang terdiam, rencana panjang itu merupakan hal yang luar biasa

“siapa nama anakmu ini hui-moi ?” “saya akan menamainya Han-kwi-ong.” “dia she-han ?” sela Tan-hang

“benar karena ayahnya Han-hung-fei.” sahut Yan-hui “lain kali kalau pingin beranak, anakku saja kamu lahirkan sumoi.” ujar Tan-hang

“itu mudah diatur suheng, datang saja kesini kalau kamu kepengen, hi..hi…”

“hahaha..hahaha…kamu memang menggemaskan, tapi sayang aku keduluan musuh.” sahut Tan-hang sambil mencolek paha yan-hui. Yan-hui menjerit nakal sambil meringis dengan menejebik bibirnya kearah tan-hang.

Tan-hang meninggalkan Yan-hui kembali kepada gurunya

“apa kamu sudah menegok sumoimu ? bagaimana keadaannya

?” tanya suhunya

“apa suhu belum menengok sumoi ?”

“belum, aku malas melihatnya, karena ia bukan anakmu.” “memang disayangkan sekali, tapi saya dengar rencana sumoi sangat luar biasa, suhu.”

“hmh…sumoimu punya rencana apa ?”

“sumoi berencana bahwa satu saat anaknya akan menjadi malapetaka bahi bun-liong-taihap.”

“hehehe..hehehe… pikiran jitu dan rencana yang bagus, ayah dan anak akan bertarung dan salah satunya akan tewas, ketiak sudah terlanjur maka rahasia akan diungkap, hehehe…hehehe…. akhir yang amat menyengsarakan jika bun-liong-taihap hidup dan mati dalam keadaan tidak tenang jika bun-liong-taihap yang tewas.”

“sudah kamu istirahatlah, karena tiga hari lagi kita akan berangkat ke lanzhou untuk bertemu dengan Pak-koai-lo.” ujar pek-mou-hek-kwi, tan-hang mengangguk dan meninggalkan suhunya. “hong-kok” (lembah angin) sebelah timur Kota Taiyuan, hong- kok dihuni oleh bajingan dan rampok “pak-tai-hong” malam itu mereka sedang mengadakan pesta meriah untuk menyambut Yang-lian atau lao-ngo, Yang-lian setelah bertemu dengan Yan- hui, segera berangkat menuju lokyang, namun sesampai dilokyang ia tidak mendengar keberadaan bun-liong-taihap, setelah tiga hari di Lokyang, Yang-lian akhirnya melanjutkan perjalanannya kekota Taiyuan, selama perjalanan dimana desa dan kota ia singgah cerita bun-liong-taihap menjadi buah bibir.

Dua bulan kemudian ia sampai kekota Taiyuan, dia langsung menuju gerbang timur dan memasuki hong-kok, sepuluh orang rampok memergokinya, namun untungnya yang memimpin mereka kenal pada Yang-lian

“hehehe…dikirain mangsa ternyata lao-ngo yang datang berkunjung.” ujar laki-laaki kurus bermata juling “baguslah kalau kalian kenal denganku.”

“kunjungan lao-ngo ketempat kami sebuah kehormatan, marilah kita kemarkas lao-ngo.” sahut si mata juling

“baik, “sai-cu-bin-kui” tidak sedang keluar bukan ?”

“pang-ong ada ditempat lao-ngo.” Jawab simata juling, lalu Yang-lian pun dibawa kemarkas

Kedatangan Yang-lian disambut hangat oleh para perampok yang berjumlah ratusan, dan malam itu pesta babi panggang pun digelar arak terbaik dikeluarkan

“bagaimana keadaan liang-lo-mo-cianpwe lao-ngo ?” tanya sai- cu-bin-kui

“suhu baik dan sehat saicu-bin-kui.” jawab Yang-lian “apa yang bisa kami bantu lao-ngo ?” tanya saicu-bin-kui “kedatangan saya atas perintah suhu untuk mengajakmu

mencari bun-liong-taihap yang telah membunuh hai-kwi-kiam, terlebih setelah saya mendengar empat pangcu kaipang telah tewas ditangannya.”

“hal itu kami dengar juga lao-ngo, lalu bagaimana rencananya lao-ngo ?”

“saya akan berada disini selama tiga bulan, sementara kamu kerahkan anak buah untuk mencari keberadaannya diwilayah utara ini.”

“baiklah kalau begitu lao-ngo, seluruh anggota akan disebar untuk mencari informasi tentang keberadaannya.” sahut saicu- bin-kui, lalu pesta pun dilanjutkan hingga menjelang pagi.

Yang-lian selama tinggal di markas “pak-tai-hong” dilayani dan dihormati, ia laksana ratu hutan ditengah-tengah gerombolan perampok, dan tiga bulan sudah berlalu, dua kelompok yang ditugaskan mencari datang melapor

“bagaimana hasil penyelidikan kalian ?” tanya saicu-bin-kui “kami telah mengetahu keberadaannya pak-ong.” jawab anak buahnya

“katakan dimana ia sekarang berada ?” sela Yang-lian

“bun-liong tidak memasuki wilayah utara, dan ketika kami ke chang-an, kami dapat informasi bahwa pendekar itu mengambil jalan pintas ke chengdu wilayah barat.”

“hmh..kalau begitu saicu-bin-kui, kita berdua harus kewilayah barat, dan hal ini bagus karena kita akan semakin kuat dengan adanya kui-san-ok disana.”

“benar lao-ngo, lalu kapan kita akan berangkat ?”

“kita berangkat besok, kita hanya disertai dua pembantu utama.”

“baiklah kalau begitu lao-ngo, malam ini semua bekal akan dikemas.” sahut saicu-bin-kui. Keesokan harinya Yang-lian dan tiga rekannya meninggalkan markas, mereka melakukan perjalanan cepat, dan tiga bulan kemudian mereka sampai kekota chengdu, dua hari mereka mencari keberadaan bun-liong-taihap dikota itu namun tidak ada

“kita sebaiknya melanjutkan kekota chongqing, dan kalian berdua coa-kang dan bu-kwi ambil jalan pintas ke kota yinchang dan katakana lao-ngo berada dichongqing untuk meringkus bun-liong-taihap.”

“baik pak-ong.” sahut keduanya, kemudian mereka berpisah.

Bun-liong-taihap memang sedang berada di kota chongqing, kota ini merupakan kota kenagan baginya setelah desa Gui, setelah Yan-hui melarikan diri dari pertarungan, Han-hung-fei menuju kota lokyang, hatinya semakin perih dan bingung memutusak tindakan yang akan dilakukannya, dua gadis telah bersanggama dengannya, yang sekarang ia tahu bahwa efek dari perbuatan itu akan menyengsarakan dua wanita itu, Yan- hui seorang yang jahat dan palsu, mengenang yan-hui hatinya jadi hambar tapi ketika mengenang Liu-sian, hatinya perih, lalu bingung kenapa ia tidak mencintai liu-sian, siapakah yang ia cintai ? apakah orangnya sudah ada atau memang belum berjumpa dengannya ?” pertanyaan itu mengisi ruang kalbunya, dan pertanyaan itu berulang-ulang mendera banaknya ia teringat kota chongqing, wajah paman wan-keng dan istrinya, lalu gadis kecil temannya bermain masa kanak-kanak, wan-lin, dimanakah wan-lin ? apakah ia masih hidup ? pikirnya haru dan bahkan timbul kerinduan pada gadis kecil yang entah bagaimana bentuknya setelah besar.

Karena kerinduan pada wan-lin kecil dan harapan akan bertemu dengannya di kota chongqing, maka dari lokyang ia tidak jadi menelusuri jalan utama menuju taiyuan, tapi ia menyimpang menuju chang-an dan dari chang-an ia melintas ke chengdu, dan Han-hung-fei yang sudah berumur hampir dua puluh tiga tahun itu sampai dikota chongqing dengan tubuh yang kurus dimakan kerinduan pada gadis masa kecilnya, kota itu sudah banyak berubah, karena peperangan mulai pecah antara pasukan liu-xuan dengan rezim yang berkuasa, kota itu sepi dan banyak terdapat reruntuhan.

Kota chongqing tidak nyaris di tinggalkan penduduk, karena masih ada penduduk yang berdiam di sebelah timur dan utara kota, Han-hung-fei mencari tempat untuk menginap, untungnya sebuah penginapan kecil masih menerima tamu, han-hung-fei setiap hari keluar untuk menelusuri seluruh bagian kota, mana tahu ia dapat berjumpa atau mendapat informasi tentang wan- lin, dia banyak bertanya pada penduduk sekitar rumah mereka dulu dan sekitar rumah gao-hujin, namun hampir tiga minggu, informasi tentang keluarga wan-keng tidak diperolehnya.

Han-hung-fei sore itu kembali lagi kepenginapan, dan beberapa tamu yang sedang makan tidak ia perhatikan, han-hung-fei langsung menaiki tangga untuk istirahat dikamarnya, sementara itu dua orang tamu memperhatikannya saat menaiki tangga, keduanya adalah Yang-lian dan saicu-bin-kui yang baru beberapa saat yang lalu memasuki penginapan

“lao-si perhatikanlah pemuda yang sedang menaiki tangga itu.” ujar saicu-bin-kui, Yang-liang menoleh kearah tangga, dan hatinya terkesima sesaat melihat pemuda tampan dan gagah yang menaiki tangga, tapi badanya kelihatan kurus.

“apakah menurutmu, itu orang yang kita cari saicu-bin-kui ?” “kalau melihat dari ciri-cirinya tidak salah lagi lao-ngo, coba tengok gagang pedang dipunggungnya.” ujar saicu-bin-kui, sekali lagi yang-lian memperhatikan Han-hung-fei, luar biasa tampan pendekar ini, pantas kalau lao-liok menjeratnya dalam birahi, piker Yang-liang

“kenapa lao-ngo diam ?” tanya saicu-bin-kui

“tidak apa-apa sambil kembali menoleh punggung han-hung-fei yang menghilang dibalik ruangan atas

“apa selanjutnya yang akan kita lakukan lao-ngo ?”

“sepertinya dia menginap disini, dan sambil menunggu kui-san- ok, kita akan terus mengintai dan memperhatikannya, jika

saatnya tiba kita akan meringkusnya.”

“kenapa demikian lao-ngo, apakah kita tidak mampu sekarang meringkusnya ?” tanya saicu-bin-kui penasaran

“saicu-bin-kui bun-liong-taihap memeliki kesaktian yang hebat, kita harus memiliki rencana yang matang untuk meringkusnya.” “apa lao-ngo pernah berhadapan denga bun-liong-taihap ?” “aku belum pernah berhadapan dengannya tapi lao-liok sudah pernah berhadapan dengannya bahkan mengeroyoknya bersama tiga pancu kaipang, dan hasilnya lao-lio terluka dan

tiga pangcu kaipang tewas.”

“ohh…kalau begitu benar jika kita harus merencanakannya dengan matang.” ujar saicu-bin-kui manggung-manggu mengerti.

“sudah, pergilah tanyakan pada pemilik penginapan ini dan sewa dua kamar untuk kita.” perintah Yang-liang, saicu-bin-kui bangkit dari duduknya dan menuju kasir dimana pemilik likoan itu duduk dengan kesibukannya sendiri, setelah memesan kamar, lalu keduanya dibawa seorang pelayan untuk memasuki kamar masing-masing, dan berketepatan kamar Yang-lian bersebelahan dengan kamar han-hung-fei sementara kamar saicu-bin-kui berada didepan kamar Yang-lian.

Yang-lian berbaring sambil mengerahkan pendengarannya akan gerakan yang berada disebelah kamarnya, namun keheningan yang ia dapatkan, karena tidak mendapatkan apa- apa Yang-lian tertidur dengan pulas, saat ia bangun hari sudah malam, segera ia mencuci muka dan keluar kamar lalu mengetuk kamar saicu-bin-kui

“ada apa lao-ngo ?” tanya saicu-bin-kui

“aku ketiduran, bagaimana dengan bun-liong-taihap ?” “dia sedang berada dibawah sedang makan.”

“ooh begitu, kamu sudah makan ?” tanya Lao-ngo

“sudah, tapi kalau lao-ngo mau ditemani, saya akan temani.” “tidak usah, saya akan kebawah untuk makan.”

“oh-ya lao-ngo saya ada ide yang mungkin lao-ngo setujui.” “apa idemu itu saicu-bin-kui ?”

“untuk menundukkan pendekar itu kita gunakan saja racun, dan saya memiliki racun ganas.” ujar saicu-bin-kui, sesaat Yang-lian berpikir

“ide itu sangat baik, lalu bagaimana cara memasukkan racun itu padanya ?”

“lao-ngo harus mendekatinya sebagai teman, setelah dia percaya saat itu masukkanlah racun pada makanannya.” “hmh….kalau begitu pantas kita coba, baiklah saya akan kebawah untuk makan.” sahut Yang-lian.

Yang-lian menuruni tangga, dan matanya menatap Han-hung- fei sedang duduk disudut ruangan, dan sebuah meja kosong ada disampingnya, ini kesempatan untuk menjalankan rencana, pikirnya, Yang-lian melangkah kesudut ruangan, Han-hung-fei menoleh kepadanya “maaf taihap apakah meja ini kosong ?” tanya Yang-lian dengan senyum manis dan ramah

“sepertinya kosong lihap, lihap duduk saja.” sahut Han-hung-fei dengan ramah

“terimakasih taihap, sungguh aku lelah sekali sehingga

ketiduran dan baru bangun, sekarang laparnya minta ampun.” ujar Yang-lian dengan nada akrab

“hehehe…apakah lihap telah memesan makanan ?” “hi..hi…belum, pelayaan..!” sahut Yang-lian sambil memanggil pelayan, pelayan segera mendekati meja Yang-lian

“siocia mau pesan apa ?”

“saya pesan nasi dengan lauk ikan goreng dan sayur capcai, dan sepoci tee hangat.”

“baik siocia dan segera akan saya siapkan.” sahut pelayan sambil membalik badan

”tunggu dulu paman ! ada satu lagi seguci arak untuk taihap.” “eh…aku sudah makan dan minum lihap.” sela Han-hung-fei mencoba mencegah Yang-lian

“tidak mengapa taihap, hanya untuk tanda perkenalan, jadi harap taihap terima.” sahut Yang-lian, Han-hung-fei tidak bisa menolak saat mata Yang-hui yang bulat bening penuh sinar permohonan padanya.

Yang-lian menyuap makanannya dengan tenang, dia merasakan betapa kakunya pendekar ini, hampir habis makanannya Han-hung-fei hanya diam sambil meminum arak yang dipesannya

“taihap…! aku Yang-lian dan siapakah nama taihap ?” “eh..namaku Han-hung-fei lihap

“hi..hi..hi… namaku Yang-lian Han-koko, bolehkan aku memanggil koko, karena nampaknya kamu lebih tua dari saya.” “boleh..boleh saja Lian-moi.” sahut Han-hung-fei sambil senyum “Han-ko apakah kamu sedang sakit ?”

“eh…kenapa kamu mengira aku sakit lian-moi ?” “wajah han-ko kelihatan pucat dan nampak kurus.”

“a..aku tidak sakit lian-moi, aku baik-baik saja.”

“kalau tidak sakit mungkin kurang tidur atau tidak selera makan.”

“hehehe…termyata lian-moi sangat jeli melihat keadaan orang, dan duganmu lian-moi benar bahwa sudah tiga bulan saya tidak selera makan, dan juga susah tidur.”

“hi..hi…hi… kebetulan saja tepat han-ko, tentu sangat banyak yang han-ko pikirkan bukan ?”

“hmh..tidak juga lian-moi, tapi cukup menyita hampir seluruh pikiran.”

“hi…hi… tentu masalahnya amat luar bias kalau begitu, tapi menurut saya, kalau Han-ko terus larut akan mempengaruhi semangat hidup, oh-ya saya baru tadi siang sampai han-ko, dan han-ko sudah berapa lama dikota ini ?”

“sudah tiga minggu saya berada disini lian-moi.”

“wah waktu yang cukup lama untuk seorang pendekar yang sedang berkelana, boleh aku tahu sebabnya han-ko ?” “ah…sebenarnya tidak ada yang istimewa, hanya karena kota ini tempat masa kecilku.”

“ooh begitu rupanya, apakah Han-ko lahir di kota ini ?”

“tidak Lian-moi , aku lahir didesa Gui yang tempatnya tidak jauh dari kota ini.”

“kalau begitu han-ko tahu dong tempat-tempat menyenangkan di kota ini.”

“hanya satu tempat yang saya tahu, memangnya kenapa lian- moi ?” “menikmati pemandangan salah satu cara untuk menenangkan pemikiran, melegakan pemikiran yang ruwet, bagaimana kalau han-ko dan saya pergi ketempat itu, saya sangat suka tempat- tempat yang indah Han-ko.” ujar Yang-lian dengan gembira dan bernada manja, sikap Yang-lian ini membuat Han-hung-fei hangat, Yang-lian pandai bicara, sangat luwes dan cerdik, sikapnya sangat periang, sehingga Han-hung-fei sedikit banyaknya terpengaruh.

“apakah menurutmu pergi ketempat itu ide bagus lian-moi ?” “tentu saja Han-ko, bisakan besok kita ketempat yang han-ko maksud ?”

“hmh…baiklah .” sahut Han-hung-fei, kemudian Han-hung-fei kembali kekamarnya, malam itu Han-hung=fei dapat tidur, pikirannya terpengeruh akan keluwesan dan keceriaan Yang- lian, sedikit banyaknya membuat hatinya terhibur dari rasa rindu pada Wan-lin yang bercampur penyesalan pada Liu-sian serta kebingungan akan sikap Yan-hui.

Keesokan harinya Han-hung-fei dan Yang-lian berangkat ke luar gerbang sebelah timur, dimana ada sebuah tempat yang bernama “Hui-po-kok” (lembah air terjun), sesampai ditempat tersebut memang pemandangannya indah, air terjun yang tinggi laksana ekor ular putih mengantam kubangan air yang jernih, tumpukan batu-batu besar disekitarnya hitam mengkilat, dan suasananya luar biasa nyaman karena didalam rerimbunan hutan yang hijau,

“aduhh..sungguh memang tempat ini sangat nyaman dan melegakan han-ko.” ujar Yang-lian penuh antusias, Han-hung- fei hanya tersenyum menanggapi perkataan Yang-lian.

“han-ko, kita keatas batu besar itu yah.” ujar Yang-lian menunjuk sebuah batu besar yang terletak agak kebukit, tempat itu amat terangdiatas

“baiklah, mari kita kesana.” sahut Han-hung-fei

Keduanya bergerak gesit dan melompat keatas batu, keduanya berdiri diatas batu yang besar, angin ditempat itu agak kuat dibanding dekat kubangan air terjun, sinom rambut Yang-lian yang ikal riap-riapan dihembus angin, dari tempat itu dinding air terjun kelihatan kokoh dan disebelah kanan lembah landai penuh semak rumput panjang laksana ombak hijau dipermainkan hembusan angin yang datang dari arah tebing menuju lembah, Yang-lain berseru riang dan gembira karena takjub akan indahnya pemandangan didepannya, Han-hung-fei ikut merasa gembira melihat kegembiraan yang dilepaskan oleh Yang-lian

“bagaimana menurutmu lian-moi ?”

“sungguh luar biasa Han-ko, kita duduk Han-ko.” sahut Yang- lian sambil menarik lengan Han-hung-fei untuk duduk, keduanya begitu dekat, Yang-lian memuji-muji tempat yang ditunjuknya sambil berseru dengan senyumnya yang lepas “han-ko bagaimana sekarang perasaanmu ?”

“memang benar-benar melegakan, terasa lepas luas sebagaimana luas dan leganya pemandangan ini, tapi yang paling membuatku senang, karena terpengaruh akan keceriaan dirimu lian-moi.” sahut han-hung-fei polos, Yang-lian menatap mata yang saat itu juga memandangnya, dua bola mata itu bertaut, Yang-lian merasakan hatinya berdegup, lalu ia menundukkan kepala

“benarkah karena keceriannku Han-ko merasa lega dari kekalutan pikiran yang selama ini ?”

“benar, kamu sangat lepas dan gembira Lian-moi, rasanya kamu sangat sulit untuk diterpa kesedihan.” “hi..hi…hi…kenapa harus sedih kalau bisa bergembira.” “tentunya kamu mempunyai kehidupan yang lumayan baik,

kamu dapat dengan mudah memenuhi keinginamu.” puji Han- hung-fei

“hi..hi..hi…, mungkin bisa dikatakan demikian Han-ko, dan terlebih sejak kecil aku hidup ditepi pantai, jadi hamparan laut dan serunya ombak merupakan pemandanganku setiap hari.” “pantaslah kamu begitu ceria laksana semaraknya ombak laut yang berkejaran menuju pantai, atau laksana cecowetan camar laut yang bermain dengan ombak.”

“hi..hi…ternyata Han-ko pandai juga berkata-kata, ungkapan yang bagus Han-ko.” puji Yang-lian.

Permukaan batu tempat mereka duduk sangat lebar, sehingga keduanya bisa baring menatap langis biru yang cerah, rasa hangat dalam kalbu Yang-lian makin bergelora karena kedekatannya dengan Han-hung-fei yang tampan.

“han-ko mari kita baring menatap langit !” ujar Yang-lian dengan senyum sambil meluruskan kakinya dan merebahkan badannya, Han-hung-fei tetap duduk, sesekali ia menatap wajah dibawahnya yang berbantal buntalan, senyumnya yang cerah selalu tersungging dibibirnya yang basah dan ranum, dan kadang mata itu terpejam sambil menghirup udara dalam- dalam, kemudia ia mengalihkan pandangan kearah tebing dimana air terjun meluncur atau lembah di sebelah kanannya.

Susana hening, Yang-lian yang ceria sedang menikmati birunya langit dihiasi gumpalan awan yang putih laksana tumpukan kapas yang lembut, matanya melirik pemuda yang duduk disebelahnya, hatinya makin hangat, jantungnya makin berguncang, rasa romantisme membalut batinnya. “han-ko ! cobalah berbaring disampingku. !” pinta Yang-lian dengan nada lembut penuh ajakan sambil menyentuh pinggang han-hung-fei, nada suara dan sentuhan pada pinggangnya, membuat aliran darah han-hung-fei mengalir cepat, sehingga membuat jantungnya berdegup kencang, dia berusaha menarik nafas dalam untuk menenangkan diri

“aku duduk sajalah Lian-moi.” sahutnya dengan nada sedikit bergetar, namun getaran itu jelas bagi Yang-lian yang memang sudah merasakan kehangatan oleh degup rasa romantisme yang bertalu-talu di relung sukmanya.

“permukaan batu ini sedikit risih Han-ko.” ujarnya dengan nada sedikit mengeluh dan sedikit mengangkat punggungnya dan membersihkan permukaan batu, punggung yang memutar dan tangan yang mencoba membersihkan permukaan batu membuat han-hung-fei merasa kasihan.

“seharusnya kita persiapkan tikar dari penginapan.” Ujar Han- hung-fei lirih, Yang-lian menoleh dengan senyum yang lembut “tidak perlu tikar sebenarnya han-ko.”

“kalau tidak ada tikar bagaimana bisa kamu merasa nyaman Lian-moi ?”

“bersandar dipangkuanmu han-ko akan membuatku nyaman menikmati luasnya langit biru.”

”benarkah Lian-moi ?” tanya Han-hung-fei, Yang-lian tersenyum sambil mengangguk lembut

“kalau begitu bersandarlah dipangkuanku.” ujar Han-hung-fei, tanpa menunda Yang-lian menggeser tubuhnya dan kepalanya bersandar lembut didada Han-hung-fei, Yang-lian makin bergetar saat merasakan kehangatan tubuh Han-hung-fei, sebaliknya detakan jantung Han-hung-fei makin bertalu-talu merasakan aroma rambut yang-lian. Lunak dan hangatnya tubuh Yang-lian yang bersandar dipangkkuannya, Perang batinpun berlansung seiring degupan jantungya yang bertalu-talu dan desakan nafas yang memburu, getaran jantung Han-hung-fei membuat birahi Yang-lian meletup, dan sontak ia duduk dan mendekatkan wajahnya kewajah Han-hung-fei, helaan nafas Yang-lian yang menerpa wajah Han-hung-fei membuat pertahanan Han-hung-fei jebol, dan bibirnya lansung mengecup hidung Yang-lian, dan api gairahpun berkobar seiring deru nafas yang memburu, lumatan Han-hung-fei makin ganas, desakan yang tidak ia mengerti membuat ia laksana kuda semberani, tak pelak lagi Yang-lian membuka baju dan melucuti baju han-hung-fei, gerakan erotis itu membuat han- hung-fei lebih ganas melucuti pakaian Yang-lian, kedua muda mudi itu makin hanyut oleh hangatnya gesekan tubuh mereka yang telanjang,

Deru birahi dalam pendakian sahut menyahut seiring nafas mereka yang meburu, erangan dan gelinjangan membuat mereka tidak mau sudah sebelum sampai kepuncak desakan birahi, akhirnya desakan yang dirasakan Han-hung-hung-fei melambung, letusan lahar birahi membuat kedua tubuh telanjang itu mengejang dan berpilin kuat, sukma keduanya mengambang diangkasa kenimatan dan jatuh kelembah lelah yang memuaskan.

“han-ko kita mari kita mandi d bawah air terjun !” ajak Yang-lian sambil bangkit dan hanya dengan menutup bagian dengan bajunya yang panjang, menuruni batu dan terus turun kekubangan air yang demikian jernih, Han-hung-fei tidak sempat berpikir lain karena melihat senyum dan kegembiraan Yang-lian, sambil berkejaran keduanya menju kubangan air, dan yang-lian sambil berseru dengan tawa yang lepas terjun ke kubangan yang air terjun yang cukup dalam, tawa lepas dan kegembiraan itu membuat Han-hung-fei ikut dalam kegembiraan, keduanya saling berkejaran didalam air, “ayok…han-ko kejar aku..! hi..hi..hi…” tantang yang-lian dengan tawanya yang lepas, wajahnya begitu ceria, dan bagaimanapun usaha Han-hung-fei mengejar Yang-lian tidak berhasil, Yang- lian yang gesit dan cekatan dalam air membuat Han-hung-fei kewalahan, bahkan Yang-lian menyelam dan bersembunyi di bawah buih air terjun yang tebal.

Han-hung-fei kadang merasa cemas karena lamanya Yang-lian menyelam, dan ketiak muncul wajah cantik itu senyum dan tertwa mengejeknya

“hahaha..hahaha…sudah aku tidak mampu mengejarmu lian- moi.” ujar Han-hung-fei kelelahan, han-hung-fei berbalik hendak ketepi, namun tiba-tiba dari dalam air tepat didepannya muncul Yang-lian yang dengan hangat memeluknya, dan kemudian menciuminya, Han-hung-fei membalas ciuman-ciuman itu dan percikan birahipun kembali menyala, untuk kedua kalinya dua muda-mudi itu mendaki kenikmatan dipinggir telaga, dan selesai saat matahari sudah sangat condong kebarat, dan kedalaman hutan itu kelam.

Keduanya segera berkemas dan meninggalkan hutan saat malam sudah menyelimuti alam, yang-lian dan Han-hung-fei berjalan santai menikmati bulan sabit, obrolan mereka terus berlanjut dari bentuk bulan sabit sampai hal-hal yang mereka lewati ditengah kegelapan, suara tawa dan celotehan yang-lian membuat Han-hung-fei tidak sempat memikirkan apa yang telah mereka lakukan, sehingga tidak terbit dalam benaknya untuk membicarakan hal itu, karena tawar dengan obrolan dan keceriaan Yang-lian. Sesampai mereka dipenginapan, keduanya berpisah dibalik pintu kamar yang-lian

“tidur yang nyenyak han-ko !” bisik Yang-lian, han-hung-fei mengangguk dengan senyum lembut dan masuk kedalam kamarnya, dan disaat kesendirian ini barulah Han-hung-fei didera penyesalan kenapa ia harus melakukannya lagi, desakan apa sebenarnya yang membuat ia sangat ingin melakukannya ? kenapa ia tidak mampu bertahan ? apa yang harus dilakuakn supaya dapat menahan gejolak yang tiba-tiba muncul saat wanita menyentuhnya. ?” pertenyaan itu memnuhi benaknya namun hanya beberapa lama, karena ia membayangkan sikap Yang-lian yang tidak punya beban, walhal bukankah perempuan itu akan menagalami mal dan sengsara, terlebih perbuatan mereka itu mengakibatkan hamil, pikirannya tercenung dengan sikap Yang-lian yang seakan yang mereka lakukan diatas batu bukanlah hal serius, bahkan terkesan bahwa diantara mereka tidak terjadi apa-apa, mendapatkan sikap Yang-lian itu muncullah sebuah pemahaman bahwa dia tidak bersalah melakukan hal itu, sepanjang ia lakukan tanpa memaksakan desakan itu pada wanita, kalau wanita itu juga suka kenapa tidak, setelah mendapatkan pemikiran itu pikirannya lega dan ia pun tertidur dengan pulas.

Yang-lian dikamarnya sedang mengganti bajunya dengan yang bersih, kemudian menata rambutnya sambil tersenyum manis, dia merasa puas dengan apa yang ia dapatkan, bercinta dengan pemuda tampan sehingga birahinya tuntas tak terperikan, dan rencana besok pasti berhasil, setelah selesai menata rambutnya, Yang-lian keluar kamar dan mengetuk pintu kamar saicu-bin-kui dan keluar turun kebawah, saicu-bin-kui yang mendengar pintu kamarnya diketuk namun hanya sekali meyakini itu isyarat dari lao-ngo, maka ia pun dengan gerakan halus dan ringan keluar kamar dan menuruni tangga ke lantai bawah, dia tidak melihat Yang-lian diantara beberapa tamu yang sedang makan, lalu ia kelur likoan, di depan sebuah toko Yang-lian menunggunya, saicu-bin-kui segera medekati Yang- lian

“ada apa lao-ngo ?” tanya saicu-bin-kui nyaris berbisik “rencana akan kita jalankan, serahkan racun ganas yang kamu punya itu !” sahut Yang-lian, saicu-bin-kui merogoh sebuah botol kecil

“bubuhkan bubuk ini kedalam minuman atau kelauk makanannya, dan dalam hitungan menit dia akan merasa pusing, dan saat ia menarik nafas ia akan muntah darah hitam dan langsung mati.” ujar saicu-bin-kui.

“seganas itu saicu-bin-kui ? bahan racun ini apa ?”

“ini racun ular lima warna yang dan dicampur racun katak merah yang hidup dibawah tumpukan es tebal didaerah bersalju, dua racun ini sama-sama berhawa “Im” sahut saicu- bin-kui.

“baik sekarang pergilah kembali kedalam !” perintah Yang-lian, saicu-bin-kui lansung meninggalkan Yang-lian, sesaat Yang- lian berjalan ditengah kerumunan sambil melihat-lihat keadaan, kemudian ia memutar dan kembali kelikoan, dari meja disudut ruangan

“pelayan ! tolong dua porsi makanan !” seru Yang-lian “baik siocia, segera akan kami hidangkan.” sahut pelayan,

setelah menunggu beberapa lama dua pesanan pun datang, setelah dihidangkan diatas meja

“pelayan ! saya lupa supaya hidangan ini diatas du nampan, karena saya mau makan dengan teman saya dikamar.” “ooh begitu, tunggulah akan aku ambilkan dua nampan.” sahut pelayan, ketika pelayan pergi, Yang-lian memasukkan racun pada mangkok sayur capcai dan mangkok sup kaki ayam, tidak lama kemudian pelayan datang membawa dua nampan, Yang- lian menata makanan untuknya dan han-hung-fei, makanan untuk Han-hung-fei ia bawa sendiri sementara makanan untuknya ia suruh pelayan membawanya, lalu Yang-lian dan pelayan naik ketingkat atas.

Yang-lian mengetuk pintu, Han-hung-fei tersentak dan bangun dari tidurnya

“siapa…. ?” tanya Han-hung-fei

“saya Han-ko !” sahut Yang-lian, Han-hung-fei segera membuka pintu kamar, Yang-lian dengan senyum menyapa “han-ko tertidur yah ?”

“benar lian-moi, ada apa ?” tanya Han-hung-fei sambil menatap pelayan yang datang bersama Yang-lian

“han-ko kamu belum makan, jadi saya pesankan dua porsi makanan untuk kita.” ujar Yang-lian sambil melangkah masuk kedalam kamar Han-hung-fei, dan diikuti pelayan, Yang-lian sambil menarik Han-hung-fei dan mendudukkannya dikursi

“ini makanan untuk han-ko.” ujar Yang-lian meletakkan nampan yang dibawanya didepan Han-hung-fei

“kamu bijak sekali lian-moi, memang aku sangat lapar sekali, terlebih setelah bangun.”

“hi..hi…paman pelayan makananku !” seru yang-lian pada pelayan, pelayan itu mendekat dan mengansurkan nampan yang dibawanya

“terimakasih paman dan boleh meninggalkan kami.” ujar Yang- lian, pelayan itu segera keluar dan menutup pintu “aku juga lapar Han-ko, jadi setelah berganti pakaian aku turun kebawah untuk makan, namun aku teringat han-ko juga belum makan, jadi saya pesan dua untuk kita, marilah kita makan Han-ko !” ujar Yang-lian.

“sebentar aku cuci muka dulu.” ujar Han-hung-fei, Han-hung-fei berdiri dan mengambil poci air yang disediakan penginapan untuk cuci tangan dan muka para tamu, setelah melap muka Ha-hung-fei kembali kekursi dan melihat Yang-lian telah menyuap makanannya, makin terbit selera Han-hung-fei disamping rasa laparnya yang sangat

“hum….sup kaki ayam ini luar biasa..!” seru Yang-lian dengan mata terpejam dengan lidah mengecap lama dan dalam setelah mereguk sesendok sup kaki ayam miliknya,

“coba han-ko cicipi !” pinta Yang-lian dengan senyum manis, Han-hung-fei dengan tidak sabar langsung menyendok sup ayam dan menyuapnya, dan memang enak, lalu tiga empat sendok masuk keperut Han-hung-fei, lalu han-hung-fei meletakkan sup kaki ayam, dan mengambil mankok yang berisi nasi, sayur capcai dicomot, ayam goreng dicomot, lalu dengan lahap Han-hung-fei makan nikmat, Yang-lian memandang sambil senyum mengunyah makanannya dengan lahap.

Yang-lian heran dalam hati sambil satu-satu menyumpit nasinya menatap Han-hung-fei, sampai sudah selama itu tidak muncul reaksi yang dikatakan saicu-bin-kui, bahkan sampai dua kali han-hung-fei mereguk araknya dipenghujung makannya “hmh..nikmat dan enak sekali, sekarang perutku kenyang sekali.” ujar Han-hung-fei dengan senyum kekenyangan, yang- lian tidak habis pikir kenapa racun itu tidak bereaksi, walhal kata saicu-bin-kui racun yang dibubuhkan adalah racun ganas yang lansung menewaskan yang memakannya. Lian-moi, besok kamu punya rencana apa ?” tanya Han-hung- fei

“hmh…besok saya tidak ada rencana han-ko, apa han-ko punya rencana ?”

“besok mungkin saya akan melanjutkan perjalanan.” sahut han- hung-fei

“besok terlalu mendadak han-ko, disinilah semalam lagi, han- ko.” pinta Yang-lian dengan pandangan manja

“baiklah kalau begitu Lain-moi, saya akan satu malam lagi disini.”

“hi..hi…terimaksih Han-ko, kamu memang baik dan pengertian.” puji Yang-lian.

“makin heran yang-lian melihat Han-hung-fei yang tidak merasakan apa-apa, malam itu sampai jauh malam mereka mengobrol, Yang-lian yang merasa lelah sudah menguap

“han-ko aku mau kembali kekamarku, aku sudah ngantuk.” ujar Yang-lian sambil menutup mulutnya yang menguap.

“baiklah lian-moi, terimakasih atas makan malamnya.”

“hi..hi… tidak mengapa han-ko.” sahut yang-lian lalu keluar dari kamar Han-hung-fei dan masuk kakamar sebelah.

Yang-lian naik keranjang dan sebentar saja ia sudah pulas dalam pelukan tidurnya, keesokan harinya yang-lian bangun dan mencoba mendekati dinding mengerahkan pendengarannya yang tajam aka keadaan Han-hung-fei, Han- hung-fei sudah bangun dan suara jatuhnya air kedalam ember terdengar, yang-lian kembali duduk diatas ranjangnya dengan penuh heran dan tidak percaya, tidak mungkin saicu-bin-kui membohonginya, lalu kenapa han-hung-fei tidak terpengaruh ?” pikir Yang-lian bingung, Yang-lian pantas heran, karena ia tidak tahu bahwa Han-hung-fei kebal racun, karena selama sepuluh tahun Han-hung-fei makan jamur didalam ruangan bawah tanah, racun seganas apapun tidak akan memberikan pengaruh apa-apa pada dirinya.

“lian-moi..!?” terdengar pangilan han-hung-fei di depan pintunya “iya han-ko..!” sahut Yang-lian

“marilah kebawah kita sarapan pagi.” ujar Han-hung-fei dan melihat wajah Yang-lian dari balik pintu yang sudah dibuka “hi..hi… aku baru bangun han-ko, tentunya wajahku kusut Han- ko.”

“hehehe…kamu cantik lian-moi.”

“cih…konyol mana mungkin cantik baru bangun tidur.” sahut Yang-lian menundukkan kepala

“han-ko kamu duluan, sebentar aku mandi dan berganti baju, aku akan segera menyusul kebawah, dan jangan lupa pesan untukk bubur ayam yah.” ujar Yang-lian dengan senyum “baiklah Lian-moi, aku tunggu dibawah.” sahut han-hung-fei dan melangkah meninggalkan Yang-lian yang berdiri dibalik pintu, setelah han-hung-fei hilang dibalik lorong menuju tangga turun, Yang-lian segera mengetuk kamar saicu-bin-kui, saicu-bin-kui dari yang-lian pergi bersama han-hung-fei dia selalu mengintai, bahkan semalam saat Yang-lian makan bersama dikamar han- hung-fei, hatinya merasa gembira, dan memuji kecerdikan lao- ngo, tapi ketika mendengar Yang-lian masih berbicara dengan Lao-ngo yang minta kembali kekamarnya, saicu didera rasa heran yang berkepanjangan, sebagaimana yang-lian.

Saicu-bin-kui membuka pintu kamarnya

“racun mu itu tidak ada pengaruh baginya saicu-bin-kui

“aku semalaman ini juga merasa heran lao-si.” sahut saicu-bin- kui

“apakah bun-liong-taihap mungkin kebal racun ?” “hal itu mungkin saja lao-ngo, hmh…lalu apa yang kita lakukan sekarang !?” ujar saicu-bin-kui bingung

“sudah, nanti saja kita pikirkan, aku mau mandi dan sarapan dengannya dibawah.” sahut yang-lian, dan segera masuk kembali kekamarnya untuk mandi dan berganti baju.

“ketika Yang-lian hendak turun dia terkejut ketika melihat dua orang yang duduk dimeja tepat dihadapan tangga, dua orang itu adalah Wan-lin dan ang-bin-kui yang beberapa saat lalu memasuki likoan, Yang-lian segera kembali kembali dan mengetuk pintu kamar saicu-bin-kui, saicu-bin-kui membuka daun pintu

“cepat kamu kebawah disana ada lao-si dan ang-bin-kui, ceritakan rencana kita dan kalian tunggu kami di gerbang pintu sebelah utara, hari ini kita akan berhasil menewaskan bun- liong-taihap.” ujar Yang-lian, mendengar itu saicu-bin-kui merasa gembira, dan langsung menuju tingkat bawah, sementara Yang-lian menunggu sesaat dilorong kamar, sampai saicu-bin-kui bergabung dengan Wan-lin

“selamat bertemu lao-si, ang-bin-kwi..!” seru saicu-bin-kui sambil berlari menuruni tangga, Wan-lin dan ang-bin-kwi menoleh

“hehehe..hehehe ternyata saicu-bin-kui.” sahut ang-bin-kwi dengan gembira, saicu-bin-kwi langsung duduk beragbung dengan kedua rekannya

“ssstt..kalian diam saja jika melihat lao-ngo turun tangga !” bisiknya, mendengar itu wan-lin dan ang-bin-kwi menatap kearah tangga, dan tepat yang-lian muncul dan turun tanpa melihat pada mereka, Yang-lian melangkah mendekati meja Han-hung-fei yang berada disudut ruangan “ada apa saicu-bin-kui ?” tanya ang-bin-kwi

“kami sudah tiga hari di sini, lao-si dan ang-bin-kwi harus ketahui bahwa pemuda yang bersama lao-ngo adalah musuh yang harus kita tewaskan.” sahut

saicu-bin-kui, sekilas ang-bin-kwi melihat pemuda yang bersama lao-ngo

“eh..apakah pemuda itu pendekar yang baru muncul dan berjulukan bun-liong-taihap ?” tanya ang-bin-kwi setelah melihat gagang pedang yang tersampir dipunggung han-hung- fei

“benar sekali ang-bin-kwi, empat tetua pengemis telah mati ditangannya, hai-kwi-kiam juga mati ditangannya.” sahut saicu- bin-kui

“kami juga banyak mendengar tentang pendekar ini semenjak perjalanan pulang dari kunlun.” sela Wan-lin

“bagaimana dengan tugas yang lao-si emban ?” tanya saicu- bin-kui

“berhasil baik saicu-bin-kui, hmh…kembali pada pemuda itu, apa yang telah kalian lakukan ?” ujar Wan-lin.

“sejak kemarin lao-ngo telah berhasil mendekati pendekar itu, hal itu kami lakukan untuk meracuninya dan semalam ia sudah minum racun ular lima warna dan racun katak merah.”

“eh..itu racun ganas saicu-bin-kui.” sela ang-bin-kwi dengan suara nyaris berbisik

“benar ang-bin-kwi, namun kenyataannya bun-liong-taihap kebal dan tidak terpengaruh.”

“luar biasa kalau begitu pemuda ini.” puji ang-bin-kwi “tapi kenapa pakai racun, kenapa tidak kalian ringkus dan bunuh saja langsung ?”

“karena pendekar ini luar biasa sakti lao-si, dan kenyataannya memang demikian karena ia pernah dikeroyok oleh lao-liok dan tiga pangcu pengemis, dan akhirnya lao-liok terluka dan tiga pangcu tewas, jadi karena itu lao-ngo mengambil jalan halus untuk memperdaya pendekar itu.

“hmh…kalau begitu ide lao-ngo sangat cerdik dan jitu.” sela ang-bin-kwi

“namun walaupun berhasil memasukkan racun padanya, dia masih segar bugar, dan lao-ngo telah melihat duluan keberadaan lao-si dan ang-bin-kwi, dan menyuruh saya bergabung kesini.”

“apakah untuk menutupi rahasinya dari pemuda itu ?”

“tentu saja lao-si, dan sebenarnya kami menunggu kui-san-ok dari yinchang yang akan datang kesini, namun karena lao-si dan ang-bin-kwi lao-ngo sudah berada disini maka rencana membunuh bun-liong-taihap akan dilakukan hari ini.” “hmh…bagaimana rencana lao-ngo saicu-bin-kui ?”

“begini lao-si, lao-ngo minta kepada kita untuk menunggu di gerbang utara.”

“berarti lao-ngo akan mengajak pendekar itu kesana.”

“benar sekali ang-bin-kwi.” sahut saicu-bin-kui, sementara tiga orang itu kasak-kusuk, Yang-lian dan han-hung-fei makan bubur ayam sambil senyum dan salin tatap

“han-ko kita jadi ke desa gui kan ?”

“tentu lian-moi, kita bisa berangkat saja sekarang, entah desa itu masih ada tidak saya juga tidak tahu.” sahut han-hung-fei “marilah kalau begitu han-ko,” ajak Yang-lian, lalu keduanya bangkit dan membayar sarapan, lalu keluar likoan, saat melintasi meja wan-lin, sekilas han-hung-fei bersilang pandang dengan Wan-lin, Wan-lin langsung menunduk dan menuang arak. Sebaiknya kita juga segera mendahului mereka ke gerbang

utara.” bisik Wan-lin, kedua rekannya mengangguk, saicu-bin- kui bangkit dan membayar makanan, lalu ketiganya keluar likoan menuju gerbang utara, ditengah kerumunan orang yang lalu lalang Yang-lian melihat ketiga rekannya sudah mendahului mereka.

“kita tidak akan sampai setengah hari akan sampai ke desa kelahiranmu kan han-ko ?”

“kalau kita berlari cepat setidaknya tiga jam kita akan sampai” “kalau begitu kita tidak usah terburu-buru, keramaian penduduk yang sibuk membuat perasaan sanagat hidup han-ko.”

“benar yang kau katakana lian-moi.” sahut han-hung-fei, Yang- lian yang luwes sambil bicara berjalan disisi han-hung-fei, perjalanan ke desa Gui sudah mereka bicarakan setelah makan malam dikamar Han-hung-fei, sehingga yang-lian dengan pandainya mengajak Han-hung-fei kesana untuk mengisi kegiatan hari itu, dan ternyata rencana itu amat sempurna dengan kemunculan lao-si dan ang-bin-kwi, dua kekuatan yang sudah lebih dari cukup menurut yang-lian untuk menewaskan bun-liong-taihap.

Setelah matahari naik tinggi, han-hung-fei dan yang-lian keluar dari gerbang utara, lalu han-hung-fei mengajak yang-lian berlari cepat, keduanya bergerak dengan mengerahkan gin-kang, namu ketika keduanya melintasi jalan tikungan, dari pinggir hutan tiga orang menghadang jalan mereka, han-hung-fei dan yang-lian berhenti

“ada apa sam-wi-sicu menghadang jalan kami ?”

“phuah..hari ini tammatlah riwayatmu bun-liong-taihap !” bentak sai-cu-bin-kui sambil menyerang Han-hung-fei dan disusul dengan serangan ang-bin-kwi, han-hung-fei nemgelak gesit sambil meraih tangan Yang-hui, namun “buk…des….” Yang-lian mengirimkan pukulan telak dan tendangan keras kebahu dan punggung han-hung-fei, Han- hung-fei terkejut tidak menduga akan perbuatan yang-lian, Han- hung-fei terlempar disambut pukulan sai-cu-bin-kui, namun pukulan ini berhasil ditangkis, tapi cakar ang-bin-kwi telah merobek lambungnya, Han-hung-fei terhempas ketanah, mulutnya memuntahkan darah segar, nafasnya sesak.

“ke…kenapa kamu memukul saya lian-moi !?” tanya Han-hung- fei sambil menenangkan nafasnya yang sesak, namun pertanyaan itu hanya dibalas senyuman sinis dari yang-lian, sementara empat rekanan itu sudah kembali menerjang, dengan mata merah dan amarah yang meluap, han-hung-fei mengeluarkan jurus kedelapan ilmu tangan kosongnya “mingling-xie-bun-sian” gerakannya yang luar biasa cepat, serta kerumitan dan perubahan yang tidak terduga, gerakan serangan dan bertahan yang laksana menulis kalimat itu membuat saicu-bin-kui kelabakan, dalam sepuluh gebrakan, ang-bin-kwi terpapar berusaha menghindar, Yang-lian dan

Wan-lin berhasil menagkis serangan han-hung-fei, tapi malang bagi saicu-bin-kui, serangan luar biasa itu sudah menyudutkannya, sehingga kedua telunjuk han-hung-fei yang mengarah dada dan lambung kirinya tidak bisa dielakkan, “crok….crokkk..” bagian tubuh yang ditancap telunjuk itu tembus, saicu-bin-kui menjerit setinggi langit merasakan hawa yang membakar organ dalamnya, dia mennegelpar laksana ayam disembelih dan kemudian diam mati.

Kematian sai-cu-bin-kui dalam sepuluh gebrakan, mebuat tiga rekanan terkejut dan spontan bergerak menjauh, ketiganya tidak menduga akan sedemikian saktinya pendekar ini, walhal han-hung-fei sudah muntah darah akibat dua pukulan dan satu cakaran, dan mereka juga sedang mengeroyok pemuda kosen ini, dan kenyataannya sepuluh gebrakan saicu-bin-kui tewas.

“yang-lian katakan padaku siapa kalian sebenarnya !?” teriak Han-hung-fei dengan sorot mata tajam, hatinya sakit mendapat perlakuan dari yang-lian, dia tidak menduga dibalik keramahan dan keluwesan Yang-lian tersimpan niat culas dan jahat terhadap dirinya, yang-lian berteriak

“lao-si mari kita serang lagi !” teriak yang-lian dengan serangan mencabut pedangnya, Wan-lin dan ang-bin-kwi juga mencabut senjata, Wan-lin dan yang-lian mengerahkan ilmu pedang mereka yang luar biasa, han-hung-fei masih mengerahkan jurus tangan kosongnya menghadapi bayangan dan sambaran tiga senjata lawannya, pertempuran berlansung seru dan sengit.

Sampai seratus jurus han-hung-fei masih dapat mengimbangi ketiga lawannya, namun lima jurus kemudian

“srat….sing…” pedang Wan-lin melukai lengan han-hung-fei, sementara sabetan pedang Yang-lian luput menebas kaki han- hung-fei yang mengelak dengan bersalto diudara, dan saat menukik sinar hijau berkeredapan, bun-liong-sian-kiam keluar dari sarungnya

“cring..trang…trang..” pedang itu mebabat ketiga pedang lawan, pedang ang-bin-kwi langsung patah, namun lao-si dan lao-ngo dapat menahan serangan pedang han-hung-fei, namun tangan keduanya meresa pegal dan kesemutan saking kuatnya benturan senjata, dan mereka terpana melihat han-hung-fei dengan sikap kuda-kuda yang demikian berkharisma, kaiki kanan menjadi tumpuan badan, sementara kaki kiri lurus sejejar dengan punggung, dan pedang yang bersinar hijau itu digenggam dengan dua tangan, dari balik badan pedang yang tegak condong, dua bola mata Han-hung-fei menatap tajam ketiga lawannya.

Ketiganya masih terkesima, namun ketika han-hung-fei bergerak dengan serangan kilat yang tiba-tiba, meraka menyambut dengan segala kemampuan, pertarungan senjata yang amat menegangkan dan luar biasa, kilatan pedang han- hung-fei dalam rangkaian jurus bun-liong-sian-kiam menekan serangan ketiga lawannya, lao-si dan lao-ngo mengerahkan jurus pedang andalan mereka, dan diantara tiga rekanan itu ang-bin-kwi yang terlemah, dan untungnya kedua pedang Lao- si dan lao-ngo masih dapat menahan hebatnya tekanan serangan Han-hung-fei, namun ketika memasuki jurus ketujuh puluh, tiga pedang beradu, dan membuat lao-si dan lao-ngo berjumpalitan untuk menghindar dari sabetan dan tusukan oedang han-hun-fei, dan sinar hijau itu mengarah ang-bin-kwi, ang-bin-kwi kalang kabut menggerakkan pedangnya yang buntung untuk menagkis, namun dalam tiga gebrakan dalam keterdesakannya

“crak..adouww…srat…crak..srat..” satu bacokan menebas paha

sehingga buntung, dan membuat ang-bin-kwi menjerit melolong, satu sabetan merobek perut, satu bacokan menebas bahu hingga tangan ang-bin-kwi putus sebatas bisep, dan satu sabetan mengenai wajah, ang-bin-kwi ambruk menggelepar, han-hung-fei dengan kuda-kudanya cepat berbalik, pormasi dimana tangan kanan yang memegang pedang melingkar diatas kepala, tangan kiri lurus kedepan dengan jemari membentuk cakar naga, kaki depan ditekuk dan kaki belakang tegak miting sejajar punggung yang sedikit membungkuk, lalu kaki belakang itu bergerak melingakar kedepan dan disusul lingkaran kaki depan sehingga serangan itu dipormasi oleh gerakan kaki yang meliuk laksana liukan naga, laksana anak panah melesat kedepan menyerang lao-sin dan lao-ngo.

Keduanya tidak sempat memikirkan keadaan ang-bin-kwi, karena mereka sudah sangat sibuk menghadapai pedang bun- liong-taihap, keroyokan dua wanita luar biasa itu membuat perlawanan berlangsung imbang, kehebatan ilmu pedang Han- hung-fei benar-benar mendapat lawan lumayan, karena paduan ilmu pedang dua datuk luar biasa yang dimainkan dua murid terkasih mereka, dua ratus jurus berlalu, keadaan masih seimbang, untung bagi kedua wanita sakti itu bahwa Han-hung- fei hanya menggunakan dua pertiga dari tenaganya, hal ini karena disebabkan luka dalam yang ia derita karena keculasan Yang-lian, namun walaupun sudah terluka, amatlah sulit bagi kedua wanita sakti itu untuk mendesak han-hung-fei apalagi merobohkannya.

Pertarungan masih beralansung hingga sore hari, dan kenyataan bahwa han-hung-fei tidak dapat ditaklukkan, dan kalau diteruskan bisa jadi mereka juga akan celaka, maka Yang-lian dan Wan-lin melompat menjauhi Han-hung-fei, keduanya saling berpandangan

“wan-lin..! kita berpencar !” seru Yang-lian, sambil mengerahkan sin-kang melarikan diri kearah barat, dan Wan-lin juga melakukan hal yang sama melarikan diri ke arah timur, han-hung-fei yang mendengar seruan itu terperangah, hatinya ingin mengejar yang-lian karena rasa gemas dan marah, namun seruan Yang-lian pada Wan-lin membuat Han-hung-fei terkejut, sehingga ia tidak jadi mengejar Yang-lian dan tercenung untuk beberapa lama, lalu dengan spontan ia mengejar Wan-lin sambil berteriak

“lin-moi ….tunggu…!” Wan-lin yang merasa dikejar langsung tancap gas mengerahkan gin-kangnya yang luar biasa, seharusnya han- hung-fei dapat mengejar Wan-lin, namun karena lukanya ia harus hati-hati, Wan-lin tidak dapat menjauhkan jarak dan Han- hung-fei tidak bisa mendekatkan jarak, adu lari itu berlangsung semalaman, Wan-lin untung karena kegelapan malam, dengan, ketika ia masuk dalam sebuah lembah dan terus menuju sebuah lekukan bukit, Wan-lin segera bersembunyi dibalik sebuah batu besar yang, tidak berapa bayangan han-hung-fei melintas dan terus melesat kedepan,

“Lin moi….! Lin-moi…” teriak Han-hung-fei, Wan-lin terkesima mendengar namanya dipanggil dengan begitu akrab oleh musuhnya.

Wan-lin keluar dari persembunyian dan terus lari kembali kearah gerbang utara kota, dan dari areal pertempuran ia terus bergerak kea rah larinya Yang-lian, dalam hatinya ia bertanya- tanya kenapa bun-liong-taihap memanggilnya dengan begitu akrab, Wan-lin terus berlari cepat hingga terbit matahari, kemudian ia istirahat sebentar lalu berlari lagi, dan menjelang siang ia melihat bayangan yang-lian disebuah lembah, lalu ia mempercepat larinya

“Yang-lian tunggu !” teriaknya, Yang-lian menoleh kearah suara “apakah itu kamu Wan-lin ?” sahut Yang-lian, dan tidak berapa lama Wan-lin pun muncul, Yang-lian duduk dengan nafas lega.”

“sepertinya kamu yang dikejar oleh bun-liong-taihap.” Ujar Yang-lian

“benar, dan untung aku dapat mengecohnya.‟

„sungguh saya tidak menduga bahwa kita akan lari terbirit-birit seperti ini.”

“pendekar itu sungguh sakti dan kosen, walaupun kita keroyok, kita masih belum mampu mengalahkannya, bahkan dua dari kita tewas.” ujar Wan-lin

“benar, walhal dia itu sudah terluka.” sahut Yang-lian “hmh….tapi ada satu yang membuat saya heran Lao-ngo.” “apa itu lao-si ?” tanya yang-lian

“saya kira dia akan mengejarmu, karena amarahnya lebih tertumpu padamu, karena engkau telah menipunya.” “hmh….saya kira juga demikian, lao-si.” sahut Yang-lian “menurutmu kenapa ia mengejar aku ?”

“saya tidak tahu, kenapa lao-ngo.” Jawab Yang-lin “menurutku karena engkau menyerukan namaku saat itu!” “eh….kenapa kau katakan demikian ?

“tahu apa yang diserukannya ketika mengejarku ?” tanya Wan- lin

“memang apa yang diserukannya !?”

“dia menyerukan namaku dengan panggilan “Lin-moi” “oh…begitukah ?” sela Yang-lian tercenung menatap rekannya “benar lao-ngo, jadi karena sudah tiga hari kalian berdekatan, setidaknya kamu akan tahu identitasnya, siapakah Bun-liong- taihap itu Lao-ngo ?”

“hmh..namanya adalah Han-hung-fei.”

“siapa ….!?” sela Wan-lin berteriak karena terkejut, sehingga Yang-lian menatapnya heran

“kamu kenapa lao-si ?” tanya Yang-lian

“apa kamu tadi mengatakan Han-hung-fei ?” tanya Wan-lin memastikan

“benar, aku mengatakan han-hung-fei karena itulah nama Bun- lion-taihap.” sahut Yang-lian, mendengar itu lemaslah rasa tubuh Wan-lin

“ternyata dia …” ujarnya lirih “apa kau kenal dengannya ?” tanya Yang-lin penasaran “hmh…dia adalah temanku masa kecil, boleh dikatakan dia menjaga saya dan adik saya.”

“kenapa dia yang menjaga kalian ? apakah kalian saudara jauh

?”

“tidak, tapi dia ditampung ayah saya ketika masih kecil.” “hmh….setelah engkau mengetahuinya lalu bagaimana sekarang lao-si, bagaimana sikapmu padanya ?”

“entahlah, aku tidak tahu, karena kenyataan ini demikian mengejutkan bagiku.”

“dia memang pemuda yang lugu dan polos, benar apa yang dikatakan lao-liok saat itu.”

“apakah lao-liok pernah mendekatinya ?”

“hi..hi…lao-liok bahkan bercinta dengannya.” sahut Yang-lian “lalu kamu sendiri bagaimana ?” tanya Wan-lin dengan wajah merah

“hi..hi…pemuda setampan dia menurutmu aku bisa tidak terngiur ?”

“cih..kalian ini memang..” sela Wan-lin membuang muka karena marah dan malu

“kamu kenapa lao-si, hi..hi… sudahlah mari kita lanjutkan perjalanan.” ujar Yang-lian sambil bangkit dari duduknya, Wan- lin juga bangkit dan keduanya melanjutkan perjalanan dengan berlomba lari cepat, dua bulan kemudian mereka sampai di kota chang-an, keduanya menginap disebuah likoan

“kamu kenapa tidak makan lao-ngo ?” tanya Wan-lin sambil melahap makanannya

“aku tidak selera makan lao-si, kepalaku sudah dua hari ini pusing terus.”

“loh…kenapa demikian ?” tanya Wan-lin heran

“aku juga tidak tahu, sudahlah kamu lanjutkan makanmu dan aku mau istirahat dikamar.” ujar Yang-lian, lalu bangkit dari mejanya tanpa menyentuh makanannya.

Sesampai dikamar tiba-tiba yang-lian mual dan muntah, setelah sedikit merasa lega, ia baring dan berusaha tidur, namun kepalanya yang pusing sangat membuat dirinya tidak nyaman, lalu Wan-lin muncul

“bagaimana keadaanmu lao-ngo ?”

“masih pusing lao-si, aduh aku kenapa yah ?” keluhnya lirih “kalau begitu tunggulah sebentar aku akan panggilkan tabib untuk memeriksamu.” ujar Wan-lin, lalu kembali keluar, beberapa jam kemudian Wan-lin dan seorang tabib datang, tabib itu langsung memeriksa Yang-lian, setelah beberapa saat si tabib mendehem

“kamu sudah bersuami siocia ?” tanya tabib, mendengar pertanyaan itu Yang-lian pucat

“a..aku kenapa sinse ?” tanya Yang-lian cemas

“hehehe..kamu ini sedang hamil siocia.” sahut sinse, Yang-lian termenung, Wan-lin terkesima.

“jaga diri baik-baik dan ini resep untuk mengurangi rasa pening dan mual.” ujar si tabib, lalu meninggalkan kamar

“lao-ngo apakah itu anak han-hung-fei ?” tanya Wan-lin “benar…ini anak han-hung-fei.” sahut Yang-lian dengan wajah bingung

“lalu apa yang hendak kamu lakukan ?” “menurutmu apa yang harus kulakukan lao-si.”

“aku juga tidak tahu, tapi sudahlah besok saja dipikirkan.” ujar Wan-lin dan naik keranjang disebelah Yang-lian

“lao-si ? setelah kamu mengetahui bun-liong-taihap adalah han- hung-fei apakah kamu akan menemuinya ?” “aku tidak siap menemuinya, karena bagaimanapun dia berseberangan dengan kita.”

“bagaimana kalau aku minta dia menikahiku sehingga ia bisa tergolong aliran kita.”

“apa menurutmu ia akan mau menikahimu setelah apa yang kamu perbuat padanya ?”

“hmh…benar juga yah..” sela Yang-lian, keduanya diam dengan pikiran masing-masing.

“lao-si kamu besok berangkatlah duluan, aku akan menetap disini sampai anak ini lahir.”

“baiklah kalau begitu, dimana kamu akan tinggal disini ?”

“hal itu bisalah aku pikirkan nanti, kamu tidak usah cemaskan aku.” jawab Yang-lian. Wan-lin pun terdiam dan mencoba untuk tidur, bayangan han-hung-fei jelas tergambar dalam benaknya, keesokan harinya Wan-lin dan Yang-lian berpisah.

Kota Lanzhou tepatnya disebuah bangunan megah milik Pak- koai-lo, enam datuk sudah berkumpul, dan diantara mereka ada lao-it , lao-ji, lao-sam, lao-si, lao chit dan lao-pat, diantara lao yang tidak hadir dalah lao-ngo Yang-lian dan Lao-liok Yan- hui, kemudian ada juga “hai-ma-kui”, “kiu-bwee-kui-bo” dan “tee-tok-siang”, lalu ada dua laki-laki gagah dengan kumis tebal tanpa jenggot dan yang satunya berkumis dan berjenggot, dari alis mereka yang berwarna merah, diketahui mereka adalah “ang-bin-tin” yang merupakan barisan kuat pendukung liu-xuan dalam rangka usaha menggulingkan rezim dihuang yang berkuasa, lelaki berkumis tanpa jenggot dijuluki “kim-liong” (naga emas) dan yang berjenggot dikenal dengan julukan “kim- tiuaw” (rajawali emas), yang lainnya adalah pimpinan wilayah yang telah dibentuk Pak-koai-lo, seperti Zhou-san, zhou-yan, zhou-jin, zhou-ceng, dan juga pimpinan barisan pendam yang dipimpin liang-zheng, lalu ada kordinator dana yang dipegang Ma-hua-meng dan Coa-shuang, kemudian empat pembantu utama Pak-koai-lo yaitu “eng-kiam”, “pak-hong-kwi”, “coa-hui” dan “pek-hek-wan-siang”

“sepertinya kita sudah hadir semua, jadi saya akan membuka pertemuan kita ini” ujar Pak-koai-lo.

“benar mulailah pak-koai-lo !” sela see-hui-kui.

“begini rekan-rekan semua, khusunya kepada rekan sejawad saya liok-cianpwe beserta lao, mungkin bertanya kenapa saya mengundang kalian.”

“benar pak-koai-lo, melihat yang hadir semua jajaranmu, sepertinya ada hal besar yang kamu rencanakan.” sela liang-lo- mo

“dugaanmu benar liang-lo-mo, dan tentunya kalian tahu sejak kita masih muda, bahwa saya adalah bangsawan Zhou, dan misi hidup saya selama ini adalah mengembalikan kejayaan dinasti Zhou.”

“lalu apa hubungan dengan kami pak-koai-lo ?” sela Lam-sin- pek

“kalian adalah rekan-rekanku, dukungan kalian sangat aku harapkan untuk mewujudkan misi hidup saya.”

“lalu apa yang bisa kami perbuat untukmu pak-koai-lo ?” tanya pek-mou-hek-kwi

“kalian dengarlah peluang untuk mewujudkan misi saya saat ini sangat besar, karena pertama rezim dihuang sama sekali tidak mendapat dukungan penuh, kemudian yang kedua Liu-xuan

telah juga membentuk barisan yang didukung oleh “ang-bi-tin” untuk menggulingkan rezim yang berkuasa, dan dalam hal ini tentunya Liu-xuan akan mengembalikan kejayaan dinasti Han.” “lalu apa rencanamu untuk mewujudkan misi hidupmu pak-koai- lo ?” sela Coa-tung-mo-kai “saya dan liu-xuan mempunyai misi yang berbeda namun sama dalam rencana yakni menggulingkan rezim yang berkuasa, dan saya akan memamfaatkan kesamaan rencana ini untuk membonceng dan bersatu padu dengannya untuk menggulingkan rezim dihuang, dan jika kelak berhasil aku akan mengkudeta hasil perjuangan ini untuk mewujudkan misi hidup saya.”

“hmh…idemu itu sungguh berbahaya pak-koai-lo.” sela See- hui-kui

“benar see-hui-kui, maka saya menyiapkan segala strategi yang mampun saya perbuat, kantong kekuatan saya cukup kuat, saya punya pasukan diempat wilayah, punya pasukan pendam, dan juga dana untuk perjuangan saya ini sudah saya kumpulkan semaksimal yang dapat, disamping itu juga saya punya jalinan yang baik dengan beberapa petinggi ang-bi-tin yang siap mendulang kemakmuran bersama saya, seperti dua rekan kita ini kim-liong dan kim-tiauw.”

“sepertinya kamu sudah demikian matang mempersiapkannya pak-koai-lo.” sela Lam-sin-pek.

“benar lam-sin-pek, dan hari ini sebagai rekan sejawat aku sampaikan aku butuh dukungan kalian dalam mewujudkan misi saya, bagaimana menurut kalian ?” ujar Pak-koai-lo, lima datuk saling pandang dan suasanapun hening

“bagaimana menurutmu see-hui-kui ?” tanya Liang-lo-mo “karena ini permintaan teman, dan teman tentunya tidak akan mengabaikan teman, maka saya akan ikut membantu Pak-koai- lo.”

“hmh…kalau kamu pek-mou-hek-kwi ?” tanya liang-lo-mo “aku akan membantu pak-koai-lo.” sela Lam-sin-pek

“aku juga akan membantu pak-koai-lo, dan tentunya juga pak- koai-lo sudah mempunyai rencana baik untuk kita, saat mendulang keberhasilan.” Sela coa-tung-mo-kai

“tentu coa-tung-mo-kai, kalian akan bersama saya dalam istana jika kita berhasil.”

“hehehe..heheh…sepertinya kamu saja liang-lo-mo yang tidak setuju, karena saya juga setuju.”

“phuah….sudah kalau semua setuju, tentu aku juga setuju.” sahut Liang-lo-mo, tawa pun berderai memenuhi ruangan itu.

“baiklah, saat ini sudah ada kontak fisik antara ang-bi-tin dengan pasukan pemerintah, jadi saya minta kepada kim-liong atau kim-tiauw untuk menjelaskan keadaan saat ini.” ujar Pak- koai-lo

“baik, saya akan coba jelaskan pada liok-cianpwe keadaan saat ini.” sahut kim-liong, semua peserta pertemuan memasang telinga baik-baik untuk mendengarkan kim-liong

“saat ini sedang terjadi kontak fisik antara ang-bi-tin dengan pasukan pemerintah, dan terjadi di empat kota, ini merupakan strategi perang yang dibuat ang-bi-tin, kota yang pertama adalah kota xining diwilayah utara, kota Lijiang diwilayah barat, kota Guangzhou diwilayah selatan dan kota qingdao diwilayah timur, pasukan ini akan bergerak terus menguasai kota-kota hingga sampai ke chang-an dan mengambil alih istana.”

“jika hal itu sudah dilakukan apa yang akan perbuat pak-koai-lo

?” tanya see-hui-kui

“kita akan masuk pada pertempuran saat pasukan kita bertemu di chang-an, dan masa yang kritis itu kita akan mengambil peran.” jawab Pak-koai-lo

“dan sebelum saat itu tiba, apa yang kami lakukan ?” tanya pek- mou-hek-kwi

“saya minta kepada lao dan para rekan yang lain untuk berangkat secepatnya ke empat kota dimana barisan pendam yang telah saya bentuk.”

“dimanakah itu cianpwe ?” tanya Cao-teng

“empat kota itu adalah taiyuan , Hopei, chendu dan khangshi, sementara rekan liok-cianpwe akan berbagi dikota jhengzhou, lokyang dan kaifeng.” jawab Pak-koai-lo

“hmh….kalau begitu jelas sudah, dan kita akan segera bekerja.” sela Liang-lo-mo.

“benar, dank arena sudah selesai, saya minta kita juga mengadakan pertemuan setelah ini.” sela coa-tung-mo-kai.” “baiklah kalau begitu, marilah kita makan siang dulu, setelah itu baru kita bertemu lagi.” sahut pak-koai-lo, lalu merekapun bubar dari ruangan itu dan pergi keruangan lain dimana hidangan penuh aneka macam dan rasa telah menanti, merekapun makan dengan lahap.

Setelah selesai makan enam datuk, enam lao beserta hai-ma- kui”, “kiu-bwee-kui-bo” dan “tee-tok-siang” berkumpul

“hal yang ingin saya bahas dengan kalian adalah tentang hasil tugas dari lao.” ujar see-hui-kui

“dan juga masalah bun-liong-taihap.” sela liang-lo-mo dan coa- tung-mo-kai bersamaan.

“baik kalau begitu, kepada lao, sampaikan hasil dari tugas kalian !” ujar see-hui-kui

“saya telah berhasil menaklukkan dan mengalahkan butong- pai.” sahut Tan-hang

“saya juga telah berhasil menaklukkan hoasan-pai.” sela Kam- peng

“saya juga telah berhasil menaklukkan kunlun-pai.” sela Wan-lin “baik tiga dari perguruan besar telah kita taklukkan dan hanya satu siwulim-pai tidak bisa ditaklukkan oleh lao-it dan bahkan

jai-hwa-hengcia tewas disana.” ujar see-hui-kui. “kalau begitu salah satu dari kita harus ke siawlim-pai.” sahut Liang-lo-mo

“benar dan menurut saya hal itu akan kita lakukan setelah misi pak-koai-lo selesai.” sela lam-sin-pek, semuanya mengangguk setuju

“lalu bagaimana pak-koai-lo, apakah kamu sudah menjumpai Pak-sian ?” tanya Coa-tung-mo-kai

“saya sudah pergi kewilayah utara untuk mencarinya tapi saya tidak bertemu.” sahut pak-koai-lo

“dan kamu lam-sin-pek bagaimana ?” tanya Liang-lo-mo

“saya bertemu dengan lam-sian, namun aku akui gagal karena munculnya bun-liong-taihap.” sahut Lam-sin-pek, semua terdiam, Wan-lin terkejut dalam hati, bahwa suhunya kalah oleh han-hung-fei, sejak ia berpisah dengan Yang-lian, pikirannya selalu dipenuhi hal-hal tentang han-hung-fei, dia memang merasa rindu dengan han-hung-fei teman masa kecilnya, namun dia bingung mengambil langkah karena kenyataannya mereka berhadapan sebagai musuh, dan terlebih ia kecewa dan marah karena han-hung-fei telah menghamili Yang-lian dan bahkan bercinta dengan Yan-hui

“apa yang kita perebutkan dulu, ternyata didapatkan oleh pemuda itu, dan nyatanya ia memang luar biasa dan sakti.” ujar Lam-sin-pek

“bun-liong-sian-kiam memang luar biasa, tapi apakah jika kita dua dari kita menghadapinya kita akan tetap kalah ?” sela pek- mou-hek-kwi

“dari pengalaman berhadapan dengan dia, dua dari kita akan seimbang dengannya.”

“eh..benarkah analisamu itu lam-sin-pek !?” tanya see-hui-kui penasaran “menurut saya begitu, dan saya yakin dua dari kita baru seimbang.

“apakah menurut kalian bun-liong-taihap akan mencari kita ?” tanya pak-koai-lo

“menurut saya tidak, karena sudah hampir tiga tahun keberadaanya dia hanya bertemu dengan lam-sin-pek.” sahut coa-tung-mo-kai

“tapi cianpwe menurut saya dia akan mencari kita.” sela Wan-lin “kenapa menurutmu demikian Lin-ji ?” tanya lam-sin-pek “karena pertemuan yang beruntun antara pihak kita dengannya.”