-->

Nagabumi Eps 204: Di Balik Cahaya Berkilauan

Eps 204: Di Balik Cahaya Berkilauan

"Hah?!"

Semua orang di ruangan ini berteriak serentak. Semua orang menarik pedangnya dari leher Golok Karat. Dan seperti sudah tidak peduli lagi sama sekali kepadanya, mereka lantas sibuk menetak-netak kupu-kupu hitam yang beterbangan kian kemari itu, tetapi tiada seorang pun berhasil mengenainya.

Mereka saling berpandangan dengan wajah pucat, tetapi masih juga berusaha menetak kupu-kupu hitam itu dengan panik, sampai pedang mereka saling berbenturan dengan keras, bahkan nyaris saling melukai pula.

Kupu-kupu itu terbang dengan lincah menghindari sambaran pedang, bagaikan angin sambaran setiap pedang itu justru mendorongnya keluar dari jalur ayunan pedang yang sebetulnya mematikan.

Bagi mereka yang terlatih memainkan pedang, kupu-kupu selincah apa pun dapat mereka babat menjadi dua, tepat di tengahnya. Namun kupu-kupu hitam ini bergerak lebih cepat dari pedang yang mana pun, dan dalam waktu singkat melesat keluar jendela.

Golok Karat, begitu pedang para penyamun itu lepas dari lehernya, langsung melepaskan tali ikatanku, dan mengambil golok berkaratnya yang tergeletak di lantai. Namun baru saja aku melompat berdiri, para penyamun kembali lagi berteriak serentak.

"Hah?!" Tidak kurang dari dua puluh kupu-kupu hitam mendadak masuk lewat jendela, dan set iap kupu-kupu hitam itu sete lah dengan mudah menghindari tetakan pedang, segera menyambar wajah seorang penyamun.

Kupu-kupu tidak bersengat, maka ia pun tidak menyengat, tetapi dengan berkepak di depan wajah, sayap-sayapnya menyebarkan bubuk racun, yang tidak menunggu waktu lama untuk segera berpindah ke dalam paru-paru. Dengan segera pula terjengkanglah para penyamun itu di lantai dan langsung kejang-kejang.

"Mahaguru Kupu-kupu Hitam...," Golok Karat mendesis. Tentu telah diketahuinya apa yang disebut sebagai Jurus

Impian Kupu-kupu, tetapi aku telah mengalami bagaimana rasanya menghadapi jurus itu. Bagaimana harus menghadapi ribuan bahkan puluhan ribu kupu-kupu beracun, ketika pada saat yang sama masih harus bertahan dari serangan-serangan rahasia secepat kilat seseorang yang berilmu silat sangat tinggi.

Namun itu berarti harus menggunakan ilm u silat yang sangat tinggi pula, yang gerakannya tidak bisa diikuti oleh mata, yang artinya tidak bisa kulakukan sekarang, bukan sekadar karena sedang melakukan penyamaran di hadapan Golok Karat, tetapi barangkali pula bahkan Mahaguru Kupu- kupu Hitam itu sendiri ada di sini!

Padahal duapuluih kupu-kupu itu sekarang seperti telah diperintahkan berbalik dan terbang menuju ke arah kami!

Dua puluh kupu-kupu hitam itu melesat amat sangat cepat, jelas tak mungkin menghentikannya tanpa membuka penyamaran, dengan cara bergerak secepat kilat. Aku belum tahu, mesti mengatakan apa kepada Golok Karat setelah penyamaran terbuka, betapapun kupastikan ini lebih baik daripada melihatnya jatuh terjengkang dan mati dalam keadaan kejang-kejang. Aku sudah memastikan diri akan bergerak untuk menepuk hancur kedua puluh kupu-kupu hitam itu menjadi abu, ketika dua puluh kupu-kupu itu mengablur dalam cahaya matahari, lenyap diserap tiang-tiang cahaya yang menerobos jendela seketika, terpancang dan bergerak-gerak menyilaukan. Aku mengangkat tangan kiriku untuk menghalangi cahaya agar dapat melihat sesuatu, kualihkan pandanganku dari jendela ke arah pintu, tiada dapat kulihat sesuatu pun di sana kecuali tabir cahaya menyilaukan dan bayangan sosok kehitaman yang memunggungi kami.

Cahaya melesat-lesat dari balik bayangan, sehingga keseluruhan sosoknya bagaikan tidak mungkin untuk dilihat, karena hanya kilauan berkeredap memenuhi ruang, tetapi tampaknya bagi Golok Karat ini lebih dari cukup untuk membuatnya bersimpuh dan mengetuk-etukkan kepalanya ke lantai sampai tiga kali.

"Guru!"

Golok Karat berujar dan tidak bangkit lagi. Aku yang bersamanya sedang menyamar untuk berguru kepada Mahaguru Kupu-kupu Hitam segera mengikutinya.

"Guru!"

Demikianlah rupa-rupanya tanpa sengaja kami telah berhadapan dengan Mahaguru Kupu-kupu Hitam yang ternama. Dadaku berdebar-debar, mungkinkah aku mendapatkan Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam itu? Bagaimana jika seperti kepada semua orang yang meminta untuk berguru kepadanya, seperti dikatakan setiap, ia hanya akan memberi kematian?

Sosok itu masih di sana dan kepala kami masih menempel di lantai rumah tua yang kotor itu. Debu musim dingin tidak mengepul, tetapi membentuk lapisan hitam di lantai. Memang seperti inilah upacara permohonan menjadi murid kepada seorang guru dalam dunia persilatan. Jika seorang guru sejak awal cenderung ingin menerima seseorang menjadi murid, ia akan memberikan pertanyaan atau tugas yang mudah untuk dise lesaikan, sedangkan jika tidak, maka pertanyaan atau tugas yang diberikannya akan begitu sulit, sehingga memang tidak mungkin dipenuhi.

Namun ada kalanya juga seorang guru bersikap adil. Suka atau tidak suka kepada orangnya, jika mampu memenuhi syarat yang diberikannya maka ia akan diterima. Masalahnya, dalam hal Mahaguru Kupu-kupu Hitam, ia ternyata belum pernah menerima seorang murid pun. Siapa pun yang ingin berguru kepadanya akan dia bunuh, karena dengan suatu cara memang lantas diketahuinya, mereka hanya ingin mencuri Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam...

Memang itulah masalahnya, aku pun bermaksud mencuri kitab yang sama, yang sebenarnyalah sama seperti meletakkan diriku sendiri pada ambang kematian.

Kudengar Mahaguru Kupu-kupu Hitam itu mendesah. Lantas berujar, lebih seperti kepada dirinya sendiri daripada kepada kami, dalam bahasa T ibet yang diucapkannya dengan cukup lambat, sehingga meski dengan susah payah masih dapat kuikuti.

"Pada pagi yang cerah seperti ini, mengapa sudah mesti bergelimpangan mayat tiga puluh orang..."

Suaranya serak dan berat, seperti datang dari masa lalu yang jauh.

Angin bertiup dingin, melalui jendela yang satu dan melintasi jendela yang lain. Terdengar daun jendela membentur-bentur tembok. Bangunan tua ini seperti bekas sebuah kuil, agak aneh jika di wilayah yang penuh dengan peziarah berduyun-duyun ini sebuah rumah doa bisa tidak terurus sama sekali.

"Mungkin benar bekas kuil ini berhantu, karena selalu berlangsung pembantaian di s ini," katanya lagi. Kami berdua masih menempelkan dahi pada lantai. Jika percaya kepada dongeng tentang dunia persilatan yang beredar dari kedai ke kedai, maka sikap seperti ini bisa berlangsung berhari-hari sampai seseorang diterima sebagai murid. Tentu saja aku menjadi sangat khawatir.

"Kalian berdua tentu tidak mengetahui apa yang pernah terjadi di kuil ini pada masa lalu. Tidakkah kalian perhatikan dinding-dinding hitam bekas kebakaran itu? Ya, kuil ini pernah terbakar bersama sejumlah bhiksu dan bhiksuni yang sedang melangsungkan upacara di dalamnya. Kebakaran berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorang pun selamat, dan begitu hebatnya kebakaran itu, membuat seluruh tubuh para korban tinggal abu. Kejadian itu berlangsung sudah lama sekali, mungkin sudah limapuluh tahun berselang, dan sudah tidak banyak lagi yang tahu apa sebenarnya yang sudah pernah terjadi..."

"Hhhhh... Sejarah, selalu mendasarkan dirinya kepada segala sesuatu yang tercatat, padahal catatan-catatan itu sama saja kacaunya dengan segala warta yang beredar secara lisan..."

Kami berada dalam keadaan menyembah dengan dahi menyentuh lantai. Seorang calon murid yang bersungguh- sungguh tidak akan mengubah kedudukan itu sampai ia diterima atau ditolak, atau setidak-tidaknya dipersilakan mengikuti ujian-ujian berikutnya. Namun kami tidak berada di depan sebuah perguruan, dan cerita tentang kuil terbakar itu tidak kami ketahui maksudnya, sehingga kami sunggguh tenggelam dalam kebingungan. Padahal dengan alasan kami masing-masing, sungguh kami sangat berkepentingan untuk menjadi murid Mahaguru Kupu-kupu Hitam.

"Tidak ada yang tahu betapa kebakaran itu sebenarnya bukan suatu kecelakaan..."

"Hhhhh... "...Seberapa lama beban perasaan berdosa dan bersalah bisa ditanggung seseorang selama hidupnya..."

Aku tidak berani mengangkat muka, tetapi aku bisa melirik lantai di kiri dan kananku, dan kusaksikan hamparan cahaya di lantai berdebu itu se lalu terganggu oleh bayangan hitam dari sebentuk jubah yang selalu tertiup angin. Ia berdiri pada pintu dan matahari yang masih rendah membuat bayangan tubuhnya memenuhi ruang.

"Tidaklah semestinya bukan, segala sesuatu yang berbeda dan tidak kita kenal harus dianggap sebagai sesat?"

Kalimat yang terakhir ini diucapkannya dengan tegas, meski segera disusul desah yang sama lagi.

"Hhhhh....

"Tapi mereka semua sudah telanjur mati....

"Seandainya saja kudengar kata-kata guruku dulu itu, tidaklah mesti terjadi segala kebersalahan yang mengorbankan nyawa ini...

"Hhhhhhh!"

Ia masih di sana. Tidak berkata apa-apa lagi. Tentulah ia mendengar bahwa kedua orang yang telah dise lamatkannya itu meneriakkan kata "Guru!" sambil menyembah seperti ini, yang tiada lain dan tiada bukan adalah permohonan untuk berguru, yang haruslah ia putuskan untuk diterima atau ditolak dan dibunuhnya!

Maka meskipun berada dalam keadaan menyembah dengan dahi menyentuh lantai, kewaspadaanku luar biasa tinggi, bahkan dengan pertimbangan bahwa aku tidak bisa melihatnya, kupejamkan sekalian mataku dan kupasang ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, karena jika seseorang dengan ilmu silat set inggi Mahaguru Kupu-kupu Hitam ingin membunuh, tentu akan melakukannya dengan sangat amat cepat, mungkin hanya dengan sekali kibas, melalui gelombang udara yang bisa berubah menjadi setajam pisau.

Suasana tenang, sangat tenang, tetapi juga sangat tegang, mengingat mayat-mayat yang baru saja bergelimpangan. Kemudian ia berbicara kepada kami, masih tetap dengan serak, tetapi dengan nada yang tidak lagi begitu berat.

"Daku mendengar kalian ingin mempelajari I lmu Silat Kupu- kupu Hitam, benarkah?"

"Benar Guru," kami menjawab serempak dengan dahi masih menyentuh lantai.

Aku mendengar helaan napas yang panjang.

"Hhhh. Murid-murid mencari guru, tetapi para guru tidak bisa mengajar."

Kami diam saja. Jelas ucapan itu pun untuk dirinya sendiri. Aku berpikir keras. Jika set iap orang yang datang untuk berguru memang dibunuhnya, masih adakah sesuatu alasan agar kami tidak dibunuhnya? Mungkin saja Mahaguru Kupu- kupu Hitam tidak akan membunuh jika seseorang tidak berniat mencuri Kitab I lmu Silat Kupu-kupu Hitam itu. Namun mengapa, jika memang semua benar dibunuhnya, semuanya begitu nekat mencuri kitab itu dengan taruhan nyawa?

Maka kemudian memang kudengar jawabannya.

"Karena hanya ada kalian berdua di sini, baiklah kalian dengar jawaban sejujurnya, tetapi berjanjilah bahwa apa pun keputusannya kalian mesti menerimanya."

"Baik Guru!"

Namun hanya Golok Karat yang menjawab. Aku tidak tahu apakah Mahaguru Kupu-kupu Hitam itu memperhatikannya, tetapi ia melanjutkan perbincangan.

"Sesungguhnyalah daku tidak mempunyai hak untuk mengajarkan Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam itu kepada siapapun," katanya, "aku telah mempelajarinya dengan cara yang salah."

INI tentu cocok dengan penjelasan Mahaguru Kupu-kupu Hitam, bahwa Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam tidak bisa dipelajari tanpa kitab lainnya, yakni Pengantar dan Cara Membaca Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam. Mahaguru Kupu- kupu Hitam pada masa mudanya telah mencuri kitab itu, karena tidak sabar menunggu kakak seperguruan yang merupakan kakak kandungnya sendiri mempelajari dahulu sampai tamat, untuk kemudian baru mengajarkannya. Memang hanya bagi mereka yang ditunjuk untuk mengajar akan diberitahu keberadaan Pengantar dan Cara Membaca Kitab I lmu Silat. Kukira sampai sekarang pun ia tidak tahu keberadaan kitab itu.

Dengan keadaan seperti ini, aku mengetahui betapa Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam ternyata belum pernah dipelajari dengan sempurna. Sebelum Mahaguru Kupu-kupu tamat mempelajarinya, adiknya telah mencurinya, dan meski kemudian mempelajarinya sampai tamat, tanpa Pengantar dan Cara Membaca Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam, bahkan pembelajarannya menjadi tersesat.

Dengan demikian Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam sampai sekarang belum pernah terwujudkan secara sempurna, sebagaimana digubah dan dikuasai penemunya yng menuliskan kedua kitab itu, Mahaguru Kupu-kupu Hitam Tua, yang namanya diambil Mahaguru Kupu-kupu Hitam itu.

Terlintas dalam pikiranku, peluang untuk mewujudkan kesempurnaan itu sebenarnya masih terbuka!

Masalahnya, apakah diriku masih memiliki peluang, meski sekadar untuk mengatakannya?

"Sampai sekarang daku memang tidak terkalahkan, tetapi itu sekadar karena diriku tidak pernah mendapatkan lawan yang tangguh," katanya lagi, "sebetulnya jika daku sedang melatihnya dalam olah pernapasan, sering daku rasakan terdapatnya daya yang menolak dan berbalik, dan jika dipaksakan pastilah akan membunuh diriku. Namun selama malang melintang di dunia persilatan, daku belum pernah membutuhkan jurus begitu banyak untuk dapat mengalahkan lawan. Jika suatu ketika terdapat lawan yang begitu tinggi ilmu silatnya, sehingga daku harus mengerahkan jurus-jurus dari halaman terakhir I lmu Silat Kupu-kupu Hitam, sangat mungkin diriku rontok dengan sendirinya di tengah pertarungan.

"Jadi, meskipun daku mengetahui kalian berdua telah melakukan perjalanan yang jauh, bahkan sangat amat jauhnya, bagaikan berada di ujung dunia sana, daku tidak dapat dan tidak mungkin menerima kalian sebagai murid, karena baik hak dan kemampuan untuk mengajarkan Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam itu tidak ada padaku."

Aku terkesiap, dari apa yang dikatakannya, tampak betapa Mahaguru Kupu-kupu Hitam itu sangat mengerti siapa diriku. Apakah sebaiknya aku berterus terang akan maksud sebenarnya dari perjalananku sampai ke tempat ini? Betapapun kitab itu harus kubawa dan kuserahkan kepada Mahaguru Kupu-kupu, sebagai syarat pembebasan Yan Zi dan Elang Merah. Jika untuk itu diriku harus bertarung, biarlah diriku bertarung dengannya. Namun sebelum itu aku harus mengetahui dengan tepat di mana kitab itu berada.

"Kitab I lmu Silat Kupu-kupu Hitam itu sendiri tidak pernah daku simpan seperti pusaka di tempat tertutup, karena memang tidak ada rahasia yang daku perlu sembunyikan. Bukankah kitab itu sendiri masih merupakan rahasia bagiku? Jadi kubiarkan saja kitab itu tergeletak di tengah ruang secara terbuka, bahkan jika ada yang berminat membuka-bukanya pun akan kupersilakan," katanya lagi, disambung dengan tegas, "meskipun itu tidak berarti daku mempersilakan siapa pun untuk mencurinya." Demikianlah sedikit demi sedikit kudapatkan gambaran kepribadian Mahaguru Kupu-kupu Hitam yang sebenarnya, yang tidaklah begitu kejam seperti digambarkan dari mulut ke mulut dari kedai ke kedai, bahkan juga tidaklah begitu jahat seperti penggambaran Mahaguru Kupu-kupu, kakak seperguruan dan kakak kandungnya sendiri, karena setiap pencerita memang memiliki sudut pandang dan kepentingannya sendiri. Aku belum melupakan pula tekadku, bahwa betapapun Mahaguru Kupu-kupu yang menyandera Yan Zi dan Elang Merah itu harus kubunuh.

"Jika memang itulah tujuan kalian berdua datang kemari, daku kira kalian bisa pergi dengan damai sekarang, tidak usah mengharapkan untuk berguru kepadaku lagi. Jika kalian tidak ingin pulang kembali ke tempat asal kalian, maka kalian bisa melanjutkan pengembaraan, mencari guru silat lain yang bertebaran di mana-mana dari Tibet sampai Negeri Atap Langit. Dunia persilatan masih luas terbentang, dan masih banyak perguruan besar terkenal maupun guru yang tersembunyi di pojok-pojok peradaban, yang mampu memberikan ilmu seluas langit dan sedalam laut bagi siapapun yang datang dengan minat belajar yang besar. Pergilah, daku bukan guru yang pantas bagi kalian."

Golok Karat dengan segera menyahut. "Guru!"

Ia masih tetap menyembah dengan dahi menempel ke

lantai. Itu berarti apa pun yang terjadi dirinya ingin tetap berguru, meski untuk itu harus menyerahkan hidupnya.

Namun kurasa inilah saatnya bagiku untuk bangkit dan menjelaskan segalanya, bahwa betapapun Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam itu harus kudapatkan, apa pun yang harus kulakukan untuk itu, meskipun itu termasuk jika aku harus menempurnya dalam pertarungan antar hidup dan mati! Bahkan jika pertarungan antara hidup dan mati itu akan terjadi, aku pun harus menyatakan dengan tegas betapa aku tidak dapat membiarkan diriku ditewaskan olehnya, yang hanya berarti bahwa Mahaguru Kupu-kupu Hitam itulah yang harus mati!

Dengan tekad bulat aku pun bangkit, dan Mahaguru Kupu- kupu Hitam di balik cahaya berkilauan yang membelakangi kami berbalik untuk menghadapiku, tetapi saat itulah terdengar rentetan ledakan dahsyat di sekeliling bangunan, dengan daya penghancuran ke segala arah yang langsung menghancurkan bangunan tua itu. Namun sebelum bangunan itu runtuh, aku sudah berkelebat keluar sebelum bunyi ledakan berakhir, yang ternyata juga dilakukan Mahaguru Kupu-kupu Hitam.

Segalanya berlangsung lebih cepat dari kejapan mata, ketika belum lagi menapak bumi di antara pijar ledakan, sejumlah bayangan berkelebat menyerbu Mahaguru Kupu- kupu Hitam.

"Mahaguru Kupu-kupu Hitam! Menyerahlah! Dirimu sudah terkepung!'

Tentu bukan penyerahanlah yang dikehendaki oleh segenap bayangan yang berkelebat menyerang Mahaguru Kupu-kupu Hitam dalam kepungan, karena jurus-jurus maut mereka jelas mematikan. Di antara debu yang mengepul dan berhamburan, mendesis pula serangan jarum-jarum beracun yang mencapai ribuan jum lahnya. Betapa serangan ini memang ditujukan untuk menjamin kematian Mahaguru Kupu- kupu Hitam!

Aku pun berkelebat lebih cepat dari cepat menyapu ribuan jarum-jarum beracun itu dengan kibasan lengan bajuku, bahkan tanpa membuang waktu kibasan itu mengembalikan jarum-jarum penuh bisa itu menuju pemiliknya, jauh lebih cepat dari sebelumnya!

"Aaaaaahhh!" Bisa ular senduk yang membakar tertancap di se luruh badan, membuatnya langsung tewas dengan tubuh membiru dan kejang.

(Oo-dwkz-oO)