Nagabumi Eps 203: Mahaguru Kupu- kupu Hitam

Eps 203: Mahaguru Kupu- kupu Hitam

Sudah lama sekali rasanya tidak kusaksikan matahari senja yang begitu merah membara seperti di Javadvipa tercinta, tetapi kini masih sempat terlihat olehku piringan bara raksasa itu telah tenggelam separo dan terus membenam perlahan- lahan ke balik Gunung Merah. Namun langit senja di s ini tidak pernah bisa berkobar kemerah-merahan seperti yang bisa kusaksikan di Yavabhumipala. Senja hanyalah kekelabuan yang rata ketika aku dan Golok Karat terus memacu langkah, menurun, mendaki, menurun, mendaki, dan menurun lagi menuju ke Danau Biwa.

Sepanjang perjalanan dari Tiga Sungai Sejajar menuju Shangri-La, semakin banyak kami berpapasan dengan para peziarah, yang melangkah pelan tapi pasti ke arah Gunung Kawagebo. Para peziarah dengan tongkat pengembara dan buntalan kain di punggungnya, datang dari dan pergi ke arah Gunung Kawagebo, sebagian akan berusaha menyingkat jalan dengan menyeberangi Tiga Sungai Sejajar, tetapi para penyamun terbang yang selalu menjadi ancaman untuk sementara tidak akan mengganggu perjalanan mereka lagi.

Para penyamun terbang yang menyerang kami dan para peziarah di sepasang tali tambang penyeberangan di atas Sungai Jinsha itu tidak seorang pun akan kembali ke sarangnya. Ketika akhirnya kami berdua mendarat di tepi timur pun tebing Sungai Jinsha, kami saksikan para peziarah yang selamat sampai ke tepi barat telah menyembah- nyembah kami dari jauh, mengetuk-ngetukkan dahi mereka ke dataran batu berkali-kali. Kami tanggapi pernyataan terima kasih mereka yang tulus dengan menjura. Dari kejauhan kami saksikan juga pengemis sakti itu ikut mengetuk-ngetukkan dahinya ke dataran batu.

Pendekar dengan ilmu silat setinggi itu! Rambutnya yang putih menunjukkan betapa dia sudah berumur. Betapa sudi dan rendah hati dirinya mampu melakukan hal itu...

"Agaknya tanpa sengaja kita telah berjumpa dengan Pendekar Ludah Api," kata Golok Karat, "semenjak mendalami Buddha aliran T ibet ia menghilang dari dunia persilatan. Siapa sangka bersua dalam perjumpaan seperti ini..." Dalam perjalanan Golok Karat bercerita betapa sebetulnya Ludah Api pernah malang melintang dalam dunia persilatan Negeri Atap Langit.

"Kemudian ia jatuh cinta kepada seorang perempuan pendekar asal Tibet, yang kemudian mengajaknya pulang ke kampung halamannya di pedalaman. Namun agaknya di sana istrinya itu tercerahkan oleh ujaran-ujaran para bhiksu, dan lantas memilih jalan hidup sebagai bhiksuni. Pendekar Ludah Api berusaha mengikuti jejak istrinya dengan menjadi bhiksu, yang seperti juga istrinya kemudian juga menggunduli kepalanya.

"Suatu ketika ia mendengar istrinya dilarikan seorang bhiksu yang tiada dapat menolak gejala cintanya meski istri Ludah Api itu sudah menjadi bhiksuni. Bhiksu ini adalah juga seseorang yang mengundurkan diri dari dunia persilatan dan menenggelamkan diri dalam jalan yang ditempuh Sang Buddha, sehingga ia dapat melumpuhkan iseri Ludah Api yang telah menjadi bhiksuni itu.

"Semenjak itu Ludah Api keluar dari kuil, memanjangkan rambut, dan tidak mau lagi menjadi bhiksu. Ia mencari istrinya ke segala penjuru, hanya untuk menemukan betapa istrinya tersebut ternyata jatuh cinta kepada penculiknya, dan keduanya juga tidak lagi menjadi bhiksu dan bhiksuni, bahkan membuka perguruan silat. Ludah Api lantas menantang penculik istrinya itu bertarung dan berhasil membunuhnya. Istri Ludah Api mendengar berita tersebut lantas bunuh diri.

"Maka hilanglah Pendekar Ludah Api sekali lagi dari dunia persilatan, dan rupanya kita secara kebetulan telah berjumpa dengannya. Ludah yang bila mengenai sasarannya menjadi api itu membuatnya terkenal di dunia persilatan sebagai Ludah Api, selain gerakan seperti kera yang kita lihat dalam gerakannya di tali. Rupanya dia bahagia menjadi pengemis peziarah yang mengembara dari kuil yang satu ke kuil yang lain..."

"SEMENJAK itu Ludah Api keluar dari kuil, memanjangkan rambut, dan tidak mau lagi menjadi bhiksu. Ia mencari istrinya ke segala penjuru, hanya untuk menemukan betapa istrinya tersebut ternyata jatuh cinta kepada penculiknya, dan keduanya juga tidak lagi menjadi bhiksu dan bhiksuni, bahkan membuka perguruan silat. Ludah Api lantas menantang penculik istrinya itu bertarung dan berhasil membunuhnya. Istri Ludah Api mendengar berita tersebut lantas bunuh diri.

"Maka hilanglah Pendekar Ludah Api sekali lagi dari dunia persilatan, dan rupanya kita secara kebetulan telah berjumpa dengannya. Ludah yang bila mengenai sasarannya menjadi api itu membuatnya terkenal di dunia persilatan sebagai Ludah Api, selain gerakan seperti kera yang kita lihat dalam gerakannya di tali. Rupanya dia bahagia menjadi pengemis peziarah yang mengembara dari kuil yang satu ke kuil yang lain..."

Bahagia? Sejauh diriku tadi sempat melihat kilasan tatapan matanya, tidaklah kulihat mata seseorang yang bahagia. Mata itu bercahaya suram, wajahnya sejauh terlihat di balik rambut yang berjuntai panjang dalam kegimbalan pun se lalu muram. Hanya jiwa pendekarnya sajalah kukira, yang membuat ia tak bisa berdiam diri melihat perilaku menindas dari yang kuat kepada yang lemah, yang membuatnya terlibat dalam pertarungan kami melawan para penyamun terbang itu. Jelas, bukan sepenuhnya karena kami, melainkan terutama karena para peziarah, meski para peziarah itu sendiri telah begitu pasrah menerima keadaan...

Kami melangkah dengan cepat ke Danau Biwa. Sambil berjalan kami telah memperbincangkan sejumlah kemungkinan. Terutama sejak kepala penyamun yang menyerang sebelum kami tiba di dekat sumber air panas di kaki Gunung Gaoligong menyebutkan nama Mahaguru Kupu- kupu Hitam.

Kami ingat dengan jelas kata-katanya, betapa Mahaguru Kupu-kupu Hitam akan membunuh siapapun yang mengaku datang untuk berguru, karena yang terjadi kemudian adalah usaha pencurian Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam, meski pencuri itu selalu tertangkap dan dihukum mati.

Baiklah urusan pencurian dan akibatnya bisa dimengerti. Namun kenapa kepala penyamun terbang, yang wajahnya penuh bulu itu, berkata bahwa semua hal yang berhubungan dengan Mahaguru Kupu-kupu Hitam adalah urusan mereka?

Apakah kiranya yang menghubungkan para penyamun terbang dengan Kupu-kupu Hitam? Dari kedua petugas rahasia yang kuintip dan kucuri dengar percakapannya, tidak disebut-sebut perkara penyamun terbang, bahkan dipertanyakan oleh petugas rahasia yang muda apakah kiranya yang menjadi kesalahannya.

Apakah ia dianggap bersalah karena menjadi pelindung para penyamun? Sejauh bisa kusimpulkan, rupa-rupanya keempat suku terasing di wilayah ini, suku Han, suku Y i, suku Lisu, dan suku Naxi, dianggap sebagai pengikut Mahaguru Kupu-kupu Hitam. Mengingat segenap usaha pengepungan itu tampaknya diusahakan Golongan Murni, tampaknya musabab pertentangan cukup jelas. Golongan Murni yang menganggap Negeri Atap Langit hanya layak dihuni dan dikuasai bangsa Negeri Atap Langit saja, tentulah menganggap keberadaan suku-suku terasing itu di wilayah yang secara resmi termasuk di dalam batas Negeri Atap Langit ini sebagai kebersalahan.

Keempat suku itu dianggap sebagai suku-suku liar yang seharusnya berada di wilayah T ibet, musuh bebuyutan Negeri Atap Langit. Namun yang terjadi sebetulnya adalah selalu terdapatnya perubahan batas dari masa ke masa sepanjang sejarah, sehubungan dengan permainan kekuasaan antara Negeri Atap Langit dan Kerajaan Tibet, sehingga dari perjanjian satu ke perjanjian lain, garis batas terus berubah- ubah antara kedua pihak. Padahal keempat suku itu sudah berabad-abad tinggal di tempatnya sekarang, kadang menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Tibet, kadang menjadi bagian dari wilayah Negeri Atap Langit, dan di bawah kekuasaan manapun, mereka takpernah merasa harus mengakui kekuasaan itu.

TENTU aku harus berhati-hati juga dalam pembicaraan seperti ini, karena diriku harus bersikap sebagai orang yang sedang menyamar, yakni menyamar sebagai pesilat awam yang datang dari jauh untuk berguru kepada Mahaguru Kupu- kupu Hitam. Jika caraku menyebutnya kurang menunjukkan penghormatan, bukan takmungkin Golok Karat pun akan mencurigaiku pula, dan bila itu terjadi maka aku tahu akan mengalami kesulitan.

"Tampaknya tidak mungkin wahai saudaraku," kata Golok Karat, "bahwa seorang Mahaguru Kupu-kupu Hitam yang berpihak kepada yang lemah, sehingga berada di belakang keberhasilan empat suku itu mempertahankan wilayahnya dari serbuan pasukan pemerintah, pada waktu yang sama berhubungan dengan gerombolan penyamun terbang, yang langganan mangsanya termasuk warga empat suku itu. Bukankah para peziarah ini banyak di antaranya berasal dari berbagai pemukiman di sekitar s ini?" Aku tidak langsung menjawab, bukan sekadar karena kepada Golok Karat takbisa kujawab hidup ini penuh dengan kejutan, melainkan juga karena tidak bisa kukatakan kepadanya apa yang kuketahui dari kakak seperguruan Mahaguru Kupu-kupu Hitam yang juga merupakan kakak kandungnya, Mahaguru Kupu-kupu yang telah menyandera Yan Zi dan Elang Merah, bahwa mempelajari Kitab I lmu Silat Kupu-kupu Hitam tanpa Pengantar dan Cara Membaca Kitab Ilmu Silat Kupu- kupu Hitam membuat seseorang cenderung kejam dan jahat.

"Kita harap saja ini memang usaha Golongan Murni untuk menjauhkan Mahaguru Kupu-kupu dari keempat suku itu, Golok Karat saudaraku, karena kita pun sama-sama mengetahui terdapatnya siasat menutupi kejahatan dengan kebaikan."

Hanya itu yang kukatakan, sembari mengutip pepatah Tibet.

dosa dan pahala manusia laksana bayang-bayangnya meskipun tidak selalu kentara mengikutinya di mana-mana

Sepanjang perjalanan kami terus menerus berpapasan dengan rombongan peziarah. Di depan kami peziarah, di belakang kami juga peziarah, bila keduanya berpapasan di jalan setapak pegnnungan yang sempit, kadang sampai perjalanan terhenti, dan harus saling bergantian lewat satu persatu supaya arus segera dapat mengalir lagi.

Keadaan seperti ini membuat perjalanan menjadi lambat dan aku pun menjadi khawatir. Aku sudah memasuki hari ke-

14 dari batas 30 hari yang diberikan Mahaguru Kupu-kupu.

Untunglah para peziarah banyak yang tetap meneruskan perjalanan pada malam hari, selain mereka yang bermalam di berbagai kuil di sepanjang jalan, sehingga terasa wajar saja aku mengajak Golok Karat terus berjalan, langsung ke Danau Biwa dan bukan ke Shangri-La, karena Mahaguru Kupu-kupu Hitam lebih bisa dipastikan keberadaannya di sana. Jika kami menuju Shangri-La terlebih dahulu, ada kemungkinan Mahaguru Kupu-kupu Hitam itu sudah pergi dan jika t idak pun belumlah kami ketahui bermukim di sebelah mana Shangri-La. Mengingat ancaman bahaya yang selalu tertuju kepadanya, belum tentu tokoh yang menjadi perbincangan ini mudah dicari.

Kami pun memutuskan untuk langsung menuju Danau Biwa, meski belum mengetahui pula yang akan dapat kami lakukan di sana. Jika benar apa yang kudengar tentang pengepungan dan penjebakan saat berlangsung upacara, maka rencana itu pasti dibuat berdasarkan perhitungan atas keterangan-keterangan yang matang. Tidak salah jika kami ikuti saja rencana itu, kecuali jika memang terdapat sesuatu yang tidak kami ketahui.

Rembulan bersinar terang menembus kabut malam menjelang Hari Magha Puja. Inilah hari yang berlangsung pada malam purnama bulan ketiga setiap tahun, untuk memperingati suatu peristiwa dalam kehidupan Buddha, pada awal masa mengajarnya, ketika masa Perenungan Musim Hujan atau Vassa pertama berlalu, yakni saat para bhiksu boleh keluar sete lah lama mendekam di wihara. Selama musim hujan, segala ulat dan serangga keluar dari sarangnya, sehingga para bhiksu takboleh keluar se lama dua sampai tiga bulan, agar jangan sampai taksengaja menginjaknya ketika melangkah di hutan.

Dari Taman Rusa di Sarnath, Buddha menuju Kota Rajagaha, saat 1250 murid Buddha yang telah tercerahkan dan disebut arahat, tanpa perjanjian bersama-sama kembali dari pengembaraan mereka untuk memberi penghormatan kepada Buddha. Peristiwa itu dikenang sebagai Pasamuan Sangha Agung atau Pertemuan Empat Lipatan, karena1250 murid itu adalah arahat, semuanya ditahbiskan oleh Buddha sendiri, mereka datang bersama tanpa perjanjian, dan berlangsung pada malam bulan purnama di bulan Magha.

BANYAK sekali kuil mengadakan upacara pada hari itu dan kami tidak tahu upacara yang akan melibatkan Mahaguru Kupu-kupu Hitam. Jika ia tidak berada di antara para bhiksu, bagaimana pula para pendekar itu akan menjebaknya? Namun bagaimana pula Mahaguru Kupu-kupu Hitam akan diketahui keberadaannya jika ia bukan seorang bhiksu? Atau mungkinkah Mahaguru Kupu-kupu Hitam ternyata telah menjadi seorang bhiksu? Upacara ini hanya diikuti para bhiksu, itu pun yang sudah cukup berusia. Mungkinkah terdapat pengertian berbeda yang tidak dapat kupahami, karena para petugas rahasia yang kucuri dengar percakapannya menggunakan bahasa rahasia?

(Oo-dwkz-oO)

Menjelang pagi kami tiba juga di tepi Danau Biwa. Hari masih gelap. Pada sebuah kuil terlihat seorang bhiksu meletakkan hio baru di atas altar. Para peziarah yang bermaksud menuju maupun pulang dari Gunung Kawagebo bergeletakan di mana-mana, baik di berbagai kuil maupun bangsal penampungan yang sengaja disediakan bagi para peziarah untuk bermalam. Namun para peziarah yang tidur semalaman justru bangun dan bersiap-siap pergi, pada berbagai dapur umum terdengar persiapan memasak, tetapi peziarah yang bermaksud menyiapkan sarapannya sendiri juga terdengar mulai beranjak.

Hari memang masih betul-betul gelap. Bulan terlihat mengambang di atas danau. Kami berdua menyuruk dan menyusup mencari kehangatan di antara para pengungsi, di samping juga ingin beristirahat sambil menyembunyikan diri. Kelelahan luar biasa membuat kami langsung tertidur pulas. Golok Karat sempat memperingatkan.

"Sebaiknya kita tidur bergantian saudaraku," katanya, "kita tidak pernah tahu perkembangan apa yang akan terjadi."

Namun meski dirinyalah yang mengatakan hal itu, dirinya pula yang tertidur setelah aku tidur. Ia bermaksud untuk berjaga lebih dulu, tetapi aku sangatlah maklum jika kami langsung tertidur begitu saja setelah menyusup di antara peziarah. Lagipula suasana yang begitu aman, tenteram, dan damai di sekitar danau, dalam musim peziarahan yang suci, bagaikan suatu janji betapa tiada bahaya yang akan mengancam di tempat ini. Bunyi air yang berkecipak perlahan di tepian memberikan rasa tenang yang langsung mengantar ke alam mimpi.

Dalam kenyataannya, waktu kami terbangun tangan kami sudah terikat erat ke belakang. Hari sudah terang dan kami dikelilingi sejumlah orang berwajah keras dan sangar. Mungkin waktu tidur mereka memukul kepala kami, sehingga dari keadaan tidur kami langsung pingsan dan bisa diculik serta dibawa ke tempat ini. Pantas kepala rasanya sakit dan berdentang-dentang bagaikan baru dipukul dengan besi. Belum jelas bagiku ini tempat apa, tetapi tampaknya jauh dari keramaian, karena di dalam bangunan bertembok yang tampaknya sudah tidak dihuni ini tidak kudengar sama sekali dengung percakapan maupun langkah para peziarah yang berduyun-duyun itu.

Suasana sunyi sekali. Hanya terdengar angin yang membawa udara dingin. Kami tidak mengatakan apa pun, meski aku dan Golok Karat sudah saling memandang, dan kami mengerti bahwa sebaiknya kami bersikap sabar dan menunggu. Betapapun, jika mereka ingin membunuh kami, tentunya sudah bisa kami lakukan dari tadi.

Dengan penyaluran hawa panas ke pergelangan tanganku, tali ini dapat kuretas dengan mudah, tetapi kuingatkan diriku selalu betapa aku ini sedang menyamar. Sedangkan jika penyamaranku gagal, semakin sulitlah jalanku mendekati K itab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam, apalagi untuk mencurinya.

Seseorang yang tampak seperti pemimpinnya mengambil sebuah bangku kecil dan duduk menghadapi kami yang terkapar. Ia memegang senjata Golok Karat dan dengan ujung golok yang seluruhnya memang sudah berkarat itu ia mengelus-elus janggutnya yang lebat.

Lantas ia memegang golok itu dan memandanginya.

"Jadi inilah senjata yang telah menjagal kawan-kawan kami," katanya dalam bahasa Tibet yang masih bisa kuikuti, "belum pernah kulihat senjata seperti ini. Orang lain sudah akan membuangnya begitu saja...

Golok berkarat itu semestinya memang hancur begitu beradu dengan senjata lawan, tetapi ternyata tidak, jadi tentunya itu bukan sembarang golok berkarat.

"Siapa nama dikau," katanya lagi, "dan siapa nama teman dikau yang tidak jelas asalnya ini?"

Dataran tinggi yang penuh bercak-bercak sa lju ini adalah wilayah terpencil. Sedikit perbedaan telah membuat siapapun menjadi orang as ing, bahkan meski terletak di dalam wilayah Negeri Atap Langit, orang-orang Negeri Atap Langit pun mereka anggap sebagai orang asing yang harus diusir.

PERHITUNGANKU, jika memang orang-orang yang kami hadapi ini tidak ada hubungannya dengan Mahaguru Kupu- kupu Hitam, setidak-tidaknya mereka akan berbicara tentang orang yang kami cari itu; tetapi jika ada hubungannya, dan memang Mahaguru Kupu-kupu Hitam akan membunuh siapa pun yang ingin berguru kepadanya, maka setidak-tidaknya aku berharap kami akan dibawa kepadanya. Jawaban Golok Karat untuk sejenak membuat mereka terdiam. Namun serentak di tangan mereka, sepuluh orang semuanya, tergenggam sebuah pedang.

"Hmm, apakah kalian termasuk di antara para penyusup itu?"

Aku dan Golok Karat sekali lagi saling berpandangan, dan Golok Karat segera mengerti bahwa ia harus bisa memancing banyak penjelasan.

"Penyusup? Apa maksud kalian?"

"Jangan berpura-pura tidak tahu! Akhir-akhir ini bukan hanya pencuri kitab ilmu silat yang mengaku datang untuk berguru, melainkan mata-mata busuk yang terlalu bodoh menyamarkan maksudnya, sehingga dengan mudah kami tangkap dan hukum bunuh pula!"

Orang-orang lain menukas. Mereka mondar mandir di dalam ruangan seperti tak sabar lagi menetakkan pedangnya ke leher kami.

"Bunuh saja mereka sekarang! Kita bunuh siapa pun yang mencurigakan! K ita tidak pernah benar-benar tahu, siapa yang sungguh ingin menjadi murid dan siapa yang sebetulnya penyusup! Betapapun keduanya harus mati juga!"

Orang yang berbicara itu lantas mengayunkan pedangnya ke leher Golok Karat!

"Jangan!"

Pemimpinnya yang berbicara dengan Golok Karat itu berteriak, sambil mengayunkan pedang berkarat yang dipegangnya.

Terdengar benturan keras dan lelatu api berpijar karena perbenturan itu. Mereka nyaris bertarung, tetapi meskipun keduanya sudah mengangkat pedang, ternyata untuk sejenak mereka berdiri kaku, sebelum ambruk ke lantai dengan panah menembus punggung sampai ke dada!

Belum lagi kedua tubuh yang ambruk itu sampai ke lantai, terdengar aba-aba serbuan dan teriakan serempak diiringi berlesatannya sejumlah bayangan ke dalam bangsal. Segera berlangsung pertarungan seru yang hiruk-pikuk sekali di dalam bangunan dan darah bercipratan ke mana-mana, termasuk menciprat sebagai bercak-bercak pada tembok bangunan tua.

"Bunuh!"

"Bunuh!"

"Bunuh!"

Kudengar berbagai teriakan dalam bahasa Tibet. Pertarungan tanpa tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh seperti ini jauh lebih kejam, ganas, dan buas, karena berlangsung tanpa seni persilatan sama sekali. Dengan susah payah diriku dan Golok Karat yang masih terikat dan tergeletak di lantai mencoba bergeser dan berguling menghindari injakan-injakan kaki, tubuh-tubuh tanpa nyawa yang ambruk bersimbah darah, maupun senjata-senjata tajam beracun yang terpental ke atas dan jatuhnya mungkin saja menancap di tubuh kami.

Sebetulnya ini kesempatan besar kami untuk melepaskan diri, tetapi Golok Karat kuberi tatapan yang menyatakan betapa kami lebih baik diam. Telah kami alami tidak ada yang dapat kami lakukan dengan berada di antara para peziarah yang berduyun-duyun dan terus menerus bergerak seperti barisan semut hitam itu. Lagi pula baru kemudian kusadari, bahwa para peziarah itu banyak yang bukan sekadar puasa makan dan minum, melainkan juga puasa berbicara. Apalah yang bisa dilakukan dengan orang-orang yang secara sadar tidak ingin berbicara? Betapapun hanya setelah kami tertawan, terkuaklah sedikit dunia Mahaguru Kupu-kupu Hitam, yang jika tidak berlangsung pertarungan ini mungkin berhasil kami ketahui lebih banyak lagi. Maka sekarang ini lebih baik kami diam dan menunggu dan bersikap sebagai orang tidak berdaya, daripada melepaskan diri dan pergi, tetapi tidak terjamin akan mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.

"Aaaaaarrgghhh!"

Orang terakhir ambruk dengan belati panjang menancap dalam di punggungnya dan menimpa diriku. Kubiarkan saja begitu, sampai seseorang dari para penyerbu yang agaknya meraih kemenangan karena jumlahnya lebih banyak itu menendangnya. Darah pastilah memenuhi wajahku.

"Apakah kalian juga bermaksud mencuri Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam yang dikuasa i Mahaguru Kupu-kupu Hitam?"

Mereka lebih banyak lagi sekarang dan memenuhi ruang di bangunan tua ini. Mayat bergelimpangan di sebelah menyebelah kami. Juga busana Golok Karat penuh bercak darah karena cipratan dari luka pembacokan.

GOLOK Karat belum sempat menjawab, ketika seseorang mengangkat golok karatnya, yang masih dipegang pemimpin penyamun terbang yang telah menjadi mayat itu.

"Lihat, inilah senjata karatan yang telah membantai teman- teman kita! Mereka mati karena racun dari karat ini!"

Mungkinkah? Mungkin saja. Jika tidak kenapa pula Golok Karat sampai merasa harus memilikinya? Meskipun sudah sangat banyak bercerita, Golok Karat belum pernah bercerita tentang riwayat goloknya yang memang berkarat dan tidak pernah ingin digantinya itu. Aku pun tidak pernah bertanya, karena Golok Karat pasti sudah bercerita jika memang ingin.

"Apakah kita gantung saja mereka sekarang?" kata seseorang yang sama sangarnya dengan para penyamun itu. Orang yang ditanya mengangkat tangannya, meminta mereka diam.

"Coba jawab pertanyaanku," katanya sambil mengambil golok karatan tersebut dari tangan temannya, "apakah kalian memang bermaksud mencuri Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam yang dikuasai Mahaguru Kupu-kupu Hitam?"

Dua kelompok yang bentrok ini keduanya mengenali senjata Golok Karat yang membantai kawan-kawan mereka, jadi keduanya adalah gerombolan penyamun terbang yang bersaingan. Gerombolan pertama yang habis dibantai memang tampaknya terhubungkan dengan Mahaguru Kupu-kupu Hitam, meski belum jelas bentuk hubungannya bagaimana, dan tentunya mereka itulah yang telah dihabisi oleh Pedang Kilat; sedang gerombolan kedua, yang sebetulnya juga sudah habis kami bantai di atas Sungai Jinsha, meski tidak memiliki hubungan dengan Mahaguru Kupu-kupu Hitam, dari nada pertanyaannya kutangkap memiliki suatu kepentingan.

"Siapa yang bermaksud mencuri?"

Golok Karat terpancing untuk menjadi berang.

"Kalau tidak terikat seperti ini kalian semua juga sudah habis kubantai!"

Aku juga tidak mengerti. Jika mereka, seperti kusaksikan sendiri, memang sudah habis, maka siapakah kiranya yang mengenali kami sebagai pembantai mereka? Bahwa di antara begitu banyak peziarah yang berduyun-duyun, berpapasan atau mengikuti dari belakang, bahkan barangkali saja tidur di sebelah kami, terdapatlah seorang petugas rahasia, adalah sesuatu yang wajar. Namun siapakah kiranya yang telah memberitahu petugas rahasia tersebut, jika setelah para penyamun terbang itu tewas semuanya, memang hanya tinggal kesunyian yang tersisa? Betapapun, pastilah ciri-ciri kami diberitahukan kepada petugas rahasia itu oleh saksi yang tidak kami ketahui! Siapa? "Ayo lepaskan! Marilah kita bertarung dengan nyali!"

Golok Karat berontak seperti binatang buas, tetapi pemimpin kelompok itu tenang sekali.

"Kami memang akan melepaskanmu Golok Karat," katanya, "tetapi justru jika dirimu berjanji tetap mencurinya, meski kali ini untuk kam i."

Sudah kuduga bagaimana Golok Karat akan bertambah berang.

"Tetap mencuri! Tuduhan ini bisa membuat kalian kehilangan kepala! Belum pernah aku berniat mencuri kitab dan tidak akan pernah aku mencuri kitab untuk kepentingan siapa pun!"

Begitu besar kemarahan Golok Karat, sehingga tenaganya bertambah, dan ia berhasil memutuskan tali pengikatnya!

"Huaaahhh!":

Bahkan sampai kedua tangannya terpentang ke atas. Meski pada saat yang sama seluruh pedang yang dipegang dalam ruangan itu sudah menempel di lehernya.

"Tidak perlu marah-marah Golok Karat," katanya, "berjanjilah dikau akan melamar sebagai murid Mahaguru Kupu-kupu Hitam atas petunjuk kami, dan dikau akan mencuri Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam itu untuk kami."

Golok Karat meludah.

"Siapakah kalian yang merasa begitu hebatnya sehingga bisa memberi perintah kepada Golok Karat," katanya, "selain penyamun-penyamun busuk tidak punya nyali!"

Pemimpin kelompok itu tersenyum sambil mengelus janggutnya.

"Dikau tidak takut mati, Golok Karat, tapi bagaimana kalau temanmu yang takbernama ini yang kubunuh?" Mendadak ujung golok karatan itu sudah berada di bawah daguku, sedikit goresan saja sudah cukup untuk memindahkan seluruh racunnya ke tubuhku. Golok Karat terbelalak dan berteriak.

"Jangan!"

AKU tidak berkutik, bukan karena tidak mampu melepaskan diri, tetapi karena perkembangan luar biasa cepat yang sama sekali tidak terduga, yang tidak terlalu mudah kutanggapi secepatnya karena kedudukanku sebagai orang yang menyamar. Dengan tujuanku melakukan penyamaran, bagaimana pun caranya, tentunya bagiku semakin berhasil mendekati Mahaguru Kupu-kupu adalah semakin baik. Namun aku tidak mungkin mendorong Golok Karat untuk mengikuti permintaan orang-orang ini, sekadar dengan a lasan agar tidak membunuhku, karena Golok Karat telanjur mengenalku tidak seperti itu. Sebaliknya, aku harus berusaha mendukung usahanya untuk menolak, meski ancamannya bagiku adalah mati.

Sangat memusingkan bagiku untuk memutuskan bagaimana harus bersikap dalam keadaan seperti ini. Sementara aku pun belum tahu apa yang membuatnya begitu yakin, bahwa kami akan bisa diterima untuk berguru kepada Mahaguru Kupu-kupu Hitam.

"Jadi dikau bersedia, Golok Karat?"

"Jangan mau Golok Karat," kataku dalam bahasa Negeri Atap Langit, "lebih baik mati daripada tetap hidup karena menuruti kehendaknya."

"Tidak! Demi apa pun daku tidak akan mengorbankan nyawamu, saudaraku," katanya, lantas berujar dalam bahasa Tibet , "lepaskan dia..."

Namun belum selesai dia bicara, penyamun yang menodongku dengan golok berkarat itu tiba-tiba terjengkang dan menggelepar. Para penyamun yang lain terbelalak.

Seekor kupu-kupu hitam tampak berkepak di dalam ruangan.

(Oo-dwkz-oO)