-->

Nagabumi Eps 195: Para Manusia Terbang

Eps 195: Para Manusia Terbang

Lelaki itu memegang dua buah golok, fu tou yang dikenakan terbuat dari kain yang buruk dan warnanya tidak terlalu jelas lagi, sedangkan sepatunya di sana-sini sudah bertambal, apakah itu tambalan dari kain dan apakah itu tambalan dari kulit. Segala tanda kemiskinan ini menandakannya sebagai orang yang kehidupannya berada di tempat terpencil, seperti kampung yang rumah-rumahnya menempel bagaikan sarang burung walet di selingkar puncak- puncak gunung batu. Begitu rupa terpencilnya, sehingga untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain, orang harus berselancar di atas angin, mengepak dengan perlengkapan sayap seadanya, sementara yang tidak mampu melakukan keduanya tentulah masih harus menempuh bahaya menyeberang melalui tali.

Namun sempat kudengar desiran itu!

Dua puluh anak panah menancap seketika di tubuhnya!

Orang itu langsung jatuh terkapar, kedua goloknya terlepas, matanya tampak bertanya-tanya melihatku yang baru terlihat olehnya berdiri di atas batu. Ia sempat menggulingkan diri dari atas batu sebelum nyawanya pergi. Tubuhnya yang tertembusi duapuluh anak panah jatuh ke Sungai Nu dan diseret arusnya, yang meskipun sepertinya diam di permukaan tetapi di bawahnya sangatlah deras, sehingga tubuh penuh panah itu dengan segera setelah hanya timbul satu kali lantas hilang lenyap untuk selama-lamanya. Aku segera bertiarap dan dengan ilmu bunglon menyatulah sudah diriku dengan batu. Tidak lama kemudian berdatangan sejumlah orang yang mengejutkan aku karena busur dan panah mereka yang sederhana, dan jelas semuanya adalah buatan sendiri. Busurnya seperti dahan yang begitu saja dipotong dan anak panahnya adalah bambu yang diserut dan ujungnya dicelup ke dalam racun.

Mereka berkumpul di atas batu besar tempat lelaki tadi ambruk dan segera mengeluarkan bermacam-macam suara. Ah! Aku baru sadar mereka adalah suku-suku terasing! Jika bahasa yang tidak kukuasai biasanya tampil sebagai bahasa burung, sungguh inilah suara bermacam-macam makhluk yang hampir semuanya tidak kukenal. Tiada jalan apapun bagiku untuk dapat mengetahui segala kata-katanya dengan tepat, kecuali menebaknya dari nada suara mereka dengan agak sedikit nekad.

Betapapun, kukira aku tidak akan terlalu keliru jika menganggap betapa sepuluh orang di atas batu besar itu sedang bertengkar. Apakah yang telah terjadi?

Setidak-tidaknya ini berarti masih ada sepuluh orang lagi, yang belum kuketahui berada di mana di tempat ini. Mereka semua tadi memanahku, lantas juga memanah lelaki itu. Uap yang membentuk kabut di atas sungai itu kadang menebal dan kadang menipis, karena angin se lalu berusaha membawanya pergi, meski uap yang terbentuk karena cahaya matahari terus menerus memberikan ganti, sehingga siapapun yang berjalan di dalam kabut akan sebentar kelihatan dan sebentar hilang kembali.

Aku tadi menghindar dan menghilang, lantas mereka panah lelaki itu, tidakkah mereka telah membunuh orang yang keliru?

Mereka bertengkar luar biasa keras, bahkan terlihat sudah saling dorong mendorong. Lelaki yang tewas itu sempat berguling dan menghanyutkan diri ke dalam arus sungai. Tentu aku pun tidak dapat memastikan, apakah dia memang sengaja menghanyutkan diri, ataukah sebetulnya tidak sengaja tetapi tampaknya seperti sengaja?

Jika sengaja, berarti memang dialah sasaran yang diburu, dan dia tidak ingin dirinya, meski hanya mayatnya, jatuh ke tangan musuh-musuhnya; jika tidak sengaja, barangkali bukan dialah yang sebetulnya menjadi sasaran duapuluh anak panah itu, melainkan diriku!

Aku sendiri berpikir, barangkali diriku telah disangka seseorang yang lain, dan ketika lelaki itu disangka diriku dan terbunuh, sebetulnya masih juga merupakan sasaran yang keliru!

Sayang sekali bagiku mereka semua hanya bicara dengan bahasa makhluk lain, sampai akhirnya mereka semua pergi dengan masih seperti menyisakan sisa-sisa kemarahan dan pertengkaran, dan hanya tinggal dua orang yang masih berada di atas batu besar itu.

Mereka diam sejenak, seperti mendengarkan dan memastikan bahwa semua orang, termasuk sepuluh pemanah lagi yang tidak terlihat sudah pergi.

Aku menahan napas, tapi kemudian mereka berbicara, ternyata dalam bahasa Negeri Atap Langit!

"Apakah mereka sudah pergi, Adik, jangan sampai satu orang pun mendengarkan perbincangan kita ini."

"Daku rasa mereka sudah pergi semua, Kakak, berbicaralah, tidak ada yang akan mendengarkan kita kecuali manusia mampu membaca angin yang membawa kata-kata kita."

"Baiklah, dengarkan, sebetulnya daku mengetahui bayangan yang berkelebat dan luput dari sasaran, bukanlah orang yang sedang kita cari-cari; sedangkan ketika anak kepala Suku Lisu itu tiba-tiba datang aku pun tahu dan membiarkannya saja orang-orang Suku Naxi ini membantainya, karena ini akan mempercepat tujuan kita."

"Kalau begitu siapakah orang yang kita cari-cari sejak dari kampung orang Naxi ini, Kakak?"

Orang yang dipanggil Kakak itu tidak langsung menjawab, barangkali ia tersenyum. Bahkan yang dipanggil Adik itulah yang menjawab sendiri.

"Ah, jadi Kakak yang melakukannya?"

Kakak itu masih belum menjawab, mungkin saja ia masih tersenyum. Aku tidak merasa bisa menebak, tetapi yang disebut Adik itu seperti berusaha menjelaskan.

"Kakak tadi mengejar para penyusup bukan? Hanya Kakak yang berada di belakang kepala suku Naxi itu ketika mengejar para penyusup. Rupa-rupanya Kakak yang telah membacoknya, dan Kakak katakan anak kepala suku Lisu itulah yang membunuhnya. Sekarang Suku Lisu itu pasti akan berperang melawan Suku Nax i! Kakak te lah berhasil mengadu domba para manusia terbang ini!"

Namun agaknya yang dipanggil Kakak itu tidak ingin terlalu menerima pujian.

"Sebetulnya jauh lebih baik jika anak suku Lisu itu cukup dilukai saja dan dibiarkan hidup sampai ke kampungnya," katanya, "karena itu berarti ia akan mengatakan dirinya tidak bersalah, yang akan membuat orang-orang Lisu semakin mengamuk."

"Padahal orang-orang Naxi mengira anak kepala suku Lisu itulah yang membunuh kepala sukunya, tidakkah itu yang menjadi sumber pertengkaran tadi?"

"Ya, kepala keamanan kampung tidak yakin anak kepala suku itulah yang membunuhnya dan ingin menanyainya lebih dulu, tetapi yang kupikir justru jangan-jangan anak kepala suku Lisu itu tahu akulah yang membunuh kepala suku Naxi." "Ini kebetulan yang sudah menguntungkan kita," sahut yang disebut Adik, "Kakak tidak usah mengharap yang paling sempurna, karena jika ia masih hidup sesampai di kampungnya, bisa jadi ia membongkar perbuatan Kakak itu. Betapapun bagus sekali Kakak sudah menghabisi kepala suku itu. Tugas kita bisa selesai lebih cepat."

"Ya, daku juga sudah ingin pergi dari tempat terpencil ini, para kekasihku di Changian tentu sudah lama merindukan daku."

"Ah, Kakak selalu memikirkan kekas ih," tukas Adik itu, "jangan lupa Golongan Murni selalu mengawasi kehidupan pribadi kita."

"Hmmmhh! Golongan Murni!" Kakak itu mendengus sembari beranjak menghilang disusul Adik, "mereka pikir kalau sudah membayar kita lantas boleh memiliki hidup kita!"

Hanya uap yang mengepul dari permukaan sungai itu kini, ketika aku tinggal sendiri, dan berpikir tentang permainan kekuasaan Golongan Murni, yang sungguh jitu, tetapi jahat itu, dalam caranya mengadu domba suku-suku terasing yang selalu menolak ditundukkan. Seberapa besar pun kekuasaan para maharaja Negeri Atap Langit, bagi suku-suku di perbatasan baik maharaja maupun para panglima dan balatentaranya hanyalah sesuatu yang tidak mereka kenal. Suku-suku ini tidak pernah dan memang tidak merasa perlu menjadi bagian dari Negeri Atap Langit, apalagi sebagai daerah terbawahkan atau jajahan yang merendahkan kehormatan itu. Mereka lebih bangga menghadapi Negeri Atap Langit sebagai musuh dan bertempur melawannya, daripada hidup berdampingan sebagai negeri terjajah yang wajib memberikan upeti.

Tidak keliru jika antara lain disebabkan karena wilayah ini berkali-kali menjadi bagian Kerajaan Tibet, yang terlibat maupun sengaja melibatkan diri dalam sengketa perbatasan dengan Negeri Atap Langit. Betapapun ajaran Buddha yang dipahami mereka yang bermukim di Tiga Sungai Sejajar adalah aliran Tibet yang bhiksu-bhiksunya berjubah merah tanah. Artinya bahwa suara-suara perlawanan terhadap Negeri Atap Langit tentulah terlalu sering mereka dengar. Dengan keadaan alam seperti itu, bahwa penduduk merasa lebih baik melatih dirinya terbang daripada merayapi jalan sempit serba curam yang melingkar-lingkar di puncak menjulang, tiadalah cara bagi balatentara Negeri Atap Langit, seberapa banyak pun, untuk dapat menaklukkannya.

MESKIPUN suku-suku ini sedikit banyak tidak terlalu akrab, tetapi menghadapi kepungan balatentara yang menyemut di kaki gunung, mereka bisa bersatu dan mampu menggalang kekuatan dengan berbagai siasat yang tidak bisa lebih tepat lagi. Selain keadaan alam yang tanpa pertempuran pun bisa membunuh, apalagi jika dalam dingin malam yang membekukan itu pasukan yang sudah kelelahan dalam perjalanan panjang terus-menerus diserang oleh manusia- manusia terbang ini dari balik kegelapan dan dari udara. Mereka memang harus mundur teratur jika tidak ingin dihabiskan tanpa sisa. Mengirimkan para penyusup jauh lebih berguna, tetapi semenjak para cendekiawan maupun pengawal rahas ia merasa sebaiknya suku-suku terasing ini dibiarkan hidup bebas, para tokoh Golongan Murni yang tersembunyi merasa sudah waktunya bertindak sendiri.

Namun orang-orang yang menyebut dirinya Golongan Murni ini, yang merasa hanya satu bangsa saja boleh hidup dan bermukim di Negeri Atap Langit, kecuali jika bangsa- bangsa lain menjadi budak, karena merasa dirinya bangsa terunggul di muka bumi, ternyata tidak se lalu bisa bekerja sendiri. Terutama untuk tujuan yang mutlak menuntut ilmu silat tingkat tinggi, mereka mengandalkan orang-orang bayaran yang dengan uang bersedia menerima tugas rahasia apa pun, termasuk menyusup, membunuh, dan mengadu domba. Sebetulnya Golongan Murni sendiri tidak menghendaki keadaan seperti itu, karena menurut mereka kesetiaan terhadap gagasan dan tujuan berada di atas segalanya, termasuk uang, tetapi kebutuhan mendesak membuatnya terpaksa mengandalkan orang-orang bayaran tersebut. Bahkan juga jika orang-orang bayaran ini bukan warga dan tidak termasuk bangsa Negeri Atap Langit.

''Jadi apakah yang harus kita lakukan sekarang, Kakak?'' ''Tentu kita harus segera bergabung dengan mereka

kembali, Adik, jika tidak mereka akan curiga, tetapi pikiranku

masih terganggu oleh bayangan yang berkelebat itu.''

''Mengapa begitu, Kakak, mungkinkah dia sebenarnya memang anak kepala suku Lisu yang mati itu. Semula dia masih beruntung, tapi kemudian panah-panah kita tidak bisa dihindarinya lagi.''

''Bukan begitu Adik, jika mampu menghindari serangan yang pertama, tentu mampu menghindari yang kedua, dan terus terang daku belum pernah melihat seseorang bisa berkekebat secepat itu kecuali Mahaguru Kupu-kupu Hitam di Shangri-La itu.''

''Maksud Kakak?''

''Dia pasti tahu dirinya bukan orang yang kita buru, bahkan mungkin saja dia berjumpa dengan kedua orang Suku Yi dan Suku Han yang kini bersekutu itu.''

''Jadi mungkin dia tahu penyusupan yang berhasil dipergoki itu tidak dilakukan anak kepala suku Lisu itu?''

''Daku kira tidak, Adik, kedua orang Yi dan Han yang menggunakan perlengkapan sayap itu sudah jauh jika ia bertemu mereka, dan anak kepala suku Lisu itu hanya kebetulan saja berada pada ruang dan waktu yang salah.''

Namun tentu saja sekarang diriku mengetahuinya. Untung mereka bicara dengan bahasa Negeri Atap Langit, karena jika tidak aku akan masih berada dalam kegelapan. Kedua orang yang lewat mengepak, dan bercakap-cakap dengan bahasa yang asing bagiku itu, mungkin sedang asyik membicarakan penyusupan itu!

Betapapun tersusun dalam kepalaku suatu gambaran atas kedudukan suku-suku yang saling bermusuhan dan bermukim di sekitar Tiga Sungai Sejajar itu. Agaknya Suku Yi dan Suku Han telah memutuskan untuk bersekutu, karena meskipun Suku Lisu dan Suku Naxi saling bermusuhan, masing- masingnya juga memusuhi baik Suku Yi dan Suku Han. Kedua suku yang terakhir ini kukira telah mengubah kedudukan dengan cerdik, mungkin karena pemukiman keduanya selain berdekatan juga terletak di tengah antara pemukiman Suku Lisu dan Suku Naxi. Maka mereka sadari betapa daripada saling berbunuhan dan menghadapi musuh dari kiri dan kanan, lebih baik bersekutu dan menghadapi musuh masing- masing hanya dari satu arah saja.

Dalam ilmu siasat tempur ini bagian dari Siasat-Siasat untuk Keadaan Meragukan. Ketika menyerang dan bertahan terus berlangsung ibarat maju se langkah tapi segera mundur lagi se langkah, dan gelombang pertempuran tidak dapat diramalkan, harus diterapkan siasat baru untuk mencapai kemenangan. Dalam keadaan itu, s iasat menyambut serangan keras dengan lembut adalah cara terbaik untuk menjungkir balikkan lawan.

Siasat itu disebut Siasat Jengkerik Emas Membuka Sarangnya:

Jika dikau mempertahankan bentuk dan sikap, sekutu dikau tiada akan ragu,

dan musuh dikau tidak akan bergerak. Ini mengikuti arti "menghentikan", yakni,

"Dari yang berhenti datang yang baru". Adapun maksud siasat itu adalah mempertahankan kedudukan kubu, dan jangan diubah sampai saat terakhir. Dengan cara ini, sekutu akan tetap set ia dan musuh tidak akan maju menyerang. Sementara bertahan seperti itu, secara rahasia pasukan utama digerakkan.

Di tempat terpencil pun akan se lalu bisa didapatkan seorang empu, seorang kawi, seseorang yang diandalkan untuk memberikan segala jawaban. T idak terkecuali di tempat terpencil seperti kampung suku terasing, yang rumah- rumahnya menempel seperti sarang burung walet, dan tersebar pada puncak-puncak tebing yang menjulang di wilayah Tiga Sungai Sejajar ini. Maka meskipun cara bertempur mereka disebut-sebut buas, itu bukan berarti tanpa siasat sama sekali.

Kedua orang bayaran Golongan Murni itu sudah berkelebat menghilang. Aku belum tahu apa yang harus kulakukan ketika melepaskan ilmu bunglonku dan berdiri di atas batu lagi. Aku sedang memikirkan keadaanku sendiri yang terlempar begitu jauh ke tempat terpencil ini. Tujuan mengikuti Harimau Perang demi pembongkaran rahasia kematian Amrita belum lagi jelas, sekarang aku harus melakukan sesuatu yang nyaris mustahil, yakni mencuri Kitab Ilmu Silat Kupu-kupu Hitam sebagai ganti pembebasan Yan Zi dan Elang Merah, itu pun dengan syarat tambahan bertarung melawan Mahaguru Kupu-kupu setelah ia menamatkan kitab ilmu silat tersebut.

Aku masih memikirkan bagaimana caranya sekadar mencari keterangan tentang keberadaan kitab itu, jika memang diriku harus mencurinya, ketika kutangkap sebuah gerakan di bawah batu tempatku berdiri, yang jelas berada di bawah permukaan air. Seseorang ternyata sejak tadi bersembunyi di bawah permukaan Sungai Nu ini. Mengingat derasnya arus di bawah permukaan, kemampuannya berada di bawah sana dengan dingin air yang membuat tubuh mati rasa, menunjukkan kemampuan penyusupan yang luar biasa. Apakah yang harus kulakukan? Jika aku berkelebat dan melepaskan diri dari urusan sengketa antarsuku ini, pastilah pengintai di bawah air ini akan berkelebat juga mengikutiku ke mana pun aku pergi dan aku belum tahu manakah yang lebih baik antara membiarkannya membuntutiku ataukah membunuhnya.

Aku masih berdiri di atas batu. Bersikap tidak tahu menahu betapa seseorang sejak tadi mengintaiku. Kabut yang terbentuk dari uap yang kadang datang dan kadang pergi membuat diriku juga kadang-kadang bisa menatap lebih jelas lingkungan ini. Berbeda dari lautan kelabu gunung batu yang tenggelam dalam dunia abu-abu, maka matahari bersinar lebih terang di sini, padahal cuacanya bagaikan seratus kali lebih dingin. Di sebuah lereng sempat kulihat yak yang bertanduk seperti sapi tetapi seluruh tubuhnya tertutup bulu tebal sekali. Sekarang ini sudah mus im panas, tetapi suhu sedingin ini tampaknya sudah menjadi yang terpanas, pun tanpa kehangatan sama sekali.

Kuingat orang-orang yang melewati tempat ini tadi, betapapun ringkas busana mereka sebagai orang-orang yang siap tempur, masihlah merupakan busana daerah dingin yang terbuat dari kulit tebal. Maka tidak dapat kubayangkan, bagaimana seseorang dapat menahan dingin begitu lama di dalam air, jika tidak mengalirkan ch'i ke seluruh tubuhnya, yang tentu hanya bisa dilakukan mereka yang tingkat tenaga dalamnya sudah sangat tinggi sekali.

Aku masih bertahan dan orang itu juga masih bertahan. Betapapun aku harus menunjukkan sikap tidak sadar sedang diikuti, tetapi pada saat yang sama aku ingin melepaskan diri dari pengintaian orang ini. Jadi aku pun tetap tinggal bertahan di tempat, duduk di atas batu itu, menjuntai-juntaikan kaki, dan setelah bersenandung sebentar, berlagak mengantuk, menguap beberapa kali, lantas merebahkan diri di atas batu, dan pura-pura tertidur... SAMPAI beberapa saat tidak terdengar suara apa pun. Hanya kericik air yang menimpa batu, desis uap yang setiap kali terbawa angin selalu muncul kembali, dan gaung arus sungai yang dipantulkan dinding-dinding menjulang. Dengan ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang aku berusaha keras memisahkan suara-suara itu dan menembus permukaan sungai untuk melacak jejak.

Dia masih di sana untuk beberapa lama. Tepatnya di bawah kakiku yang tetap menjuntai ke bawah meskipun telah kurebahkan tubuhku.

Namun terdengar suara air tersibak. Rupanya ia telah memutuskan untuk muncul dari dalam air, dan naik ke atas dengan diam-diam, tidaklah dapat kuduga untuk sekadar melihat, ataukah untuk membunuhku!

(Oo-dwkz-oO)