Nagabumi Eps 192: Pengejaran dan Pertarungan

Eps 192: Pengejaran dan Pertarungan

Langit mulai temaram. Dinding-dinding curam menjadi bayangan hitam yang muram. Ratusan peti mati bergelantungan di dinding curam, mulai dari yang paling rendah, yang tingginya pun sudah sepuluh kali ukuran tubuhku, sampai yang tertinggi, yakni sepuluh kali ukuran tubuhku tadi diperpanjang sampai sebelas kali. Peti mati yang semula berisi tubuh Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit terletak di tempat teratas, dan berarti talinya paling pendek, karena peti mati ini memang diturunkan dari atas.

Kami melenting-lenting di antara ratusan peti mati itu menuju ke atas, nyaris hanya dengan sentuhan tangan sekadarnya pada peti maupun tali, karena jika menjadikan peti mati itu sebagai injakan, tentu bisa dianggap sebagai penghinaan. Siapa pun cenderung lebih dihormati sete lah mati, kecuali jika se lama hidupnya ia menyusahkan banyak orang. Kakek itu sudah tidak lagi membawa kayu bakar di punggungnya, dengan ilmu meringankan tubuhnya naik ke atas dengan langkah kaki seperti berjalan ke depan, padahal tubuhnya tidak maju ke depan melainkan naik ke atas. Itulah ilmu yang disebut Berjalan di Atas Rumput Sambil Mendaki Langit, yang sudah kutengarai sejak ia berjalan seperti melangkah pelan, tetapi bahkan kuda yang dipacu laju pun tiada pernah bisa menyusulnya.

Yan Zi dan Elang Merah juga memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat berbeda wataknya. Sesuai namanya, gerakan Yan Zi seperti walet yang berkelebat lincah nyaris takterlihat, cukup mengandalkan sentuhan-sentuhan sekejap pada dinding, seperti juga burung-burung walet yang membangun sarang di tebing-tebing curam. Hampir se luruh Ilmu Silat Aliran Wa let pada dasarnya lebih mengandalkan ilmu meringankan tubuh daripada tenaga dalam, meski untuk meringankan tubuh itu sendiri pun sudah dibutuhkan tenaga dalam dari tingkatan yang sangat tinggi. Sementara Elang Merah, sebaliknya dari Yan Zi, seperti pernah kusaksikan ketika untuk pertama kalinya mengarungi lautan kelabu gunung batu, melayang ke atas dengan anggun, nyaris tanpa gerak sama sekali. Tenaga dalamnya dihela oleh tujuan dalam pemusatan perhatiannya, seperti meluncur tapi bukan meluncur, seperti terbang tetapi bukan terbang, hanya tangannya seperti mengepak pelan, tetapi bukan mengepak, hanya sedikit bergerak, dan setiap kali tangannya bergerak tubuhnya membubung seperti terbangnya elang

AKU sendiri, menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan, meluncur ke atas dengan meliuk-liuk seperti berada di dalam air menuju ke permukaan, mencoba ilmu meringankan tubuh Naga Meliuk Menembus Awan, tempat liukan badan menjadi dorongan tenaga dalam untuk me luncur ke atas.

Kami tiba di atas tebing dalam waktu bersamaan. Kejadiannya ternyata belum lama. Di sana masih tertelungkup lima mayat dengan panah-panah yang menembus tubuh dari belakang. Orang-orang yang berjaga di sana menyalakan obor agar kami bisa mengamati.

Mereka mengatakan tidak mengira betapa tubuh bhiksu kepala itulah yang menjadi tujuannya, karena semula mereka memang seperti musuh yang menyerbu saja, yang meski belum jelas dari mana tetapi justru terhadap serbuan semacam itulah Orang-orang Bo selalu mempersiapkan dirinya. Maka ketika mereka melenting dari rumah ke rumah siap membantai siapapun yang tampak di luar rumah, suatu cara menangkal serangan yang paling mendadak pun sudah lama dilatih oleh Orang-orang Bo.

Para penyerbu itu segera tersudut bagaikan ikan dalam bubu. Saat mereka terkepung, mereka sambar bayi dan perempuan untuk dijadikan sandera. Berbagai macam senjata mereka terhunus siap menggorok leher sandera-sandera tak berdosa. ''Pencuri mayat! Tolong! Pencuri mayat!"

Terdengar teriakan seseorang dari tepi tebing di atas peti mati yang bergelantungan tersebut. Perhatian semua orang terpecah. Betapapun dengan cara penguburan yang susah payah seperti itu, bagi Orang-orang Bo agaknya orang mati sangat dihormati. Namun ternyata para penyerbu itulah yang melesat lebih dulu dengan sandera-sandera mereka, agaknya dengan maksud melindungi kawan mereka yang mencuri mayat tersebut.

Mereka ini segera tewas oleh sambaran anak panah yang dilepaskan busur silang, tetapi pencuri mayat itu sudah berkelebat menghilang, setelah membungkam perempuan yang berteriak-teriak karena kebetulan melihatnya itu dengan pisau terbang.

Perempuan itu belum mati. Ketika Kakek tiba tangannya meraih-raih ke udara. Kakek mendekatkan telinganya. Perempuan berbisik sebentar lantas tewas.

Kakek itu membalikkan tubuh dan menyingkap wajah mereka yang tertutup. Ia juga menyibak busana hitam para penyusup, dan terlihatlah rajah dua pedang bersilang.

"Golongan Murni," kami mendesis hampir bersamaan. Kakek itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Akhirnya mereka temukan juga tempat ini," katanya, "apakah itu berarti kami harus berpindah lagi? Sudah ratusan tahun kami Orang-orang Bo se lalu diburu seperti makhluk yang harus dimusnahkan. Kami tidak mengerti apakah yang bisa dianggap sebagai kesalahan kami. Orang-orang Bo selalu membantu pemerintah dari wangsa yang berkuasa, tetapi selalu saja ada orang-orang yang merasa dunia ini terlalu sempit dengan keberadaan kami, meskipun kami memencilkan diri kami sejauh ini..." Aku tercekat. Di Negeri Atap Langit yang peradabannya tinggi dan cahayanya gemilang memancar ke seantero bumi, masih terdapat pemikiran sepicik Golongan Murni.

Kakek itu meminta kami bertiga mendekat.

"Tahukah Anak bertiga apa yang dikatakan perempuan malang itu, satu-satunya pencurian tubuh bhiksu tersebut?'

Hanya lelaki tua itu yang mendengar bisikannya, jadi kami diam saja.

"Pencurinya berkepala gundul, seorang bhiksu," katanya, "karena anak bertiga datang dari Perguruan Shaolin, mungkin mengerti siapa yang melakukannya. Kejarlah sekarang juga, cepat! Dia tentunya belum jauh dari s ini dan Anak bertiga bisa mengejarnya!"

Kami bertiga segera menjura.

"Baiklah jika ini merupakan tugas Bapak yang bijak, kami segera mengejarnya," kataku.

Kami langsung melesat ke dalam kelam. Kali ini aku menggunakan Jurus Naga Berlari di Atas Langit yang hanya dengan beberapa sentuhan pada dinding tebing-tebing raksasa membuat dua tiga gunung segera terlampaui. Hari sudah gelap dan udara begitu dingin, aku melaju melawan angin dengan kecepatan sangat amat tinggi sehingga set iap kali terdengar ledakan demi ledakan sebelum akhirnya kutingkatkan kecepatanku yang sudah melebihi kecepatan suara itu menjadi lebih cepat dari cahaya.

MENGARUNGI kegelapan yang terus berkelebat ke belakang, aku merasa lelaki tua tokoh Orang-orang Bo yang seperti ingin selalu berpura-pura bodoh itu sudah mengetahui siapakah kiranya pencuri mayat tersebut. Bukan tanpa alasan tentunya ia meminta kami bertiga mengejar pencuri tubuh Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit itu. Ia telah bisa membaca tingkat ilmu silat kami dari cara kami mengikutinya ke atas tebing. Ia lebih tua, lebih berpengalaman, dan tinggi pula ilmunya, aku percaya saja atas keputusannya.

Aku berlari pelan dan tenang menembus kelam, tetapi dengan kecepatan cahaya yang bahkan menghilangkanku dari segala pandangan. Melangkah di udara di atas hutan, dalam sekejap sepuluh gunung terlampaui. Aku melangkah pelahan tetapi dengan kecepatan luar biasa yang sudah begitu sulit diungkapkan. Melaju dengan kecepatan lebih cepat dari cepat membuat kekelaman lebih kelam dari kelam sehingga gunung hilang rimba hilang bintang hilang rembulan hilang langit hanya kegelapan meski bukan kegelapan yang hitam melainkan kegelapan yang meruang sesuai kecepatan tempat segala sesuatu dalam ruang terlihat jelas tanpa cahaya dan tetaplah akan selalu jelas sejelas-jelasnya kejelasan.

Maka segera terlihatlah kepala gundul itu dari belakang membawa tubuh Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit, tetapi yang tepat pada saat kulihat langsung berbalik arah dan melesat ke arahku setelah melepaskan tubuh itu!

Sepintas kulihat tubuh itu melayang mengambang bagaikan berada di ruang hampa. Ataukah udara telah menjadi hampa? Dalam ruang pikiran, udara dan benda-benda mengada dengan cara berbeda.

Namun aku taksempat berpikir lagi, hanya memiringkan tubuh dan cahaya melesat hanya berjarak satu jari dari kulitku yang berarti terbakarlah kain bajuku yang sudah kumuh itu. Aku berputar-putar sejenak menjauhkan diri dengan Jurus Naga Meringkuk di Dalam Telur, tetapi yang segera berhenti untuk menerima serangan cahaya-cahaya berkilatan, dan hanya dengan melepaskan kepadatan tubuhku menjadi hanya bayangan yang sangat dimungkinkan oleh permainan kecepatan, maka cahaya-cahaya itu menembusinya tanpa menimbulkan akibat apapun.

Namun ketika datang lagi suatu serangan cahaya, kukibaskan capingku yang telah menjadi lebih keras dari besi untuk mengembalikannya, yang rupanya ditangkisnya pula yang mengakibatkan terjadinya ledakan nan amat membahana mementalkan kami dengan jauhnya. Ia takmenunggu daya dorong ledakan itu selesai untuk segera melesat menyerang kembali. Ia berkelebat menyambar tanpa sempat kulihat sosok maupun wajahnya dengan tegas, karena kecepatan cahaya membuatnya menjadi cahaya, dan hanya kecepatan melebihi cahaya memungkinkan diriku sekadar melihatnya.

Aku melesat menyambut serangannya. Dengan kecepatan takterkatakan kami bertukar pukulan beberapa kali. Dalam langit yang kelam cahaya berpijar-pijar dan meledak-ledak dalam kelebat pertarungan yang lebih cepat dari kilat. Setiap kali serangan kami saling berbenturan, kami terpental dan terpisah sampai ke ujung timur dan ujung barat tetapi tidak pernah menunggu titik henti untuk segera melesat dan saling menyerang kembali. Kecepatan dilawan dengan kecepatan, cahaya dilawan dengan cahaya, kejar mengejar berlangsung mengitari segenap semesta kegelapan, melesat-lesat, berkeredap, dan setiap kali peluang terbuka ia melepaskan senjata rahasia bola yang meledak dan mengembuskan bubuk beracun menerbangkan nyawa seketika. Namun aku melesat begitu cepat seperti pikiran sehingga bubuk beracun itu beterbangan di udara tanpa menelan korban.

Di antara berbagai ledakan ia terus menerus menyerang dan melemparkan senjata rahasianya itu yang suatu kali kusapu dengan capingku diiringi pengerahan chii tingkat t inggi sehingga berbalik menyambarnya seketika itu juga. Duabelas bola peledak menancap di tubuhnya dan meledak sembari membakar tubuhnya dengan racun dan api, membuat tubuhnya itu berhamburan tidak kelihatan ujudnya lagi.

Saat itulah Yan Zi dan Elang Merah tiba dan hanya melihat serpihan-serpihan daging tersebar dalam kegelapan dengan sisa api yang masih menyala. "Lihat!"

Elang Merah menunjuk langit malam. Tabir kegelapan telah tersibak dan cahaya rembulan memperlihatkan lekuk pohon siong di puncak bukit batu. Melewati pohon siong itulah tubuh Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit yang tadi mengambang ternyata telah melayang semakin tinggi.

ELANG Merah melesat ke atas bagaikan e lang membubung, tetapi seperti tahu sedang diburu tubuh itu membubung lebih tinggi lagi dan tidak pernah berhenti. Ketika Elang Merah hinggap di puncak bukit batu, tubuh yang seperti tidur dengan tenang itu, dengan tangan saling menangkup di atas perut, masih terus membubung semakin tinggi, seperti mendekati rembulan, dan kemudian hilang di langit malam.

Saat Elang Merah mengejar tubuh yang mengambang dan membubung itu, aku pun sudah tahu betapa memang tidak perlu dilakukan pengejaran, karena bhiksu itu telah menentukan sendiri ke mana ia mau pergi.

Dalam Dhammapada dikatakan:

ia yang sungguh kusebut brahmana yang dalam dunia

telah melepaskan segala hasrat mengembara ke mana-mana tanpa rumah

yang dalam dirinya segenap keinginan punah

YANG Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit telah membuktikan kesuciannya. Ia moksa, pergi bersama tubuhnya. Tinggal kami di dunia ini, me lanjutkan perjalanan setelah menginap semalam di Kampung Orang-orang Bo.

Yan Zi telah menandai bahwa bhiksu yang tubuhnya meledak oleh senjata rahasianya sendiri itu adalah Penjaga Langit, bukan hanya dari sisa kain jubah kuning yang lengket pada serpihan daging itu, melainkan dari sisa serbuk racun berdasarkan pelajaran yang didapatkannya dari Angin Mendesau Berwajah Hijau.

"Racun ini berasal dari jamur yang telah membunuh Siddharta Gautama, sang Buddha, sehingga disebut Racun Pembunuh Buddha, tetapi juga disebut Racun Jamur Cunda, karena kejadiannya berlangsung di rumah Cunda Si Pandai Besi," kata Yan Zi.

Aku pernah mendengar cerita itu dari masa kecil. Buddha yang telah mengabdi selama 45 tahun, dalam usia 80 tahun makan di rumah Cunda, pandai besi tersebut. Tanpa sengaja jamur beracun masuk ke dalam makanannya. Diriwayatkan betapa di ranjang kematiannya pun ia masih memikirkan Cunda yang merasa bersalah.

"Sampaikanlah kepada Cunda," ujar Buddha sekitar 1246 tahun lalu itu, "hanya dua kali sepanjang hidupku makanan menjadi bertuah; yang pertama, makanan yang telah mencerahkan di bawah pohon Bo; yang kedua, makanan yang telah membukakan kepadaku pintu gerbang terakhir Nirvana."

Namun dalam dunia persilatan, racun dari jamur itu dikembangkan sebagai senjata pembunuh yang mematikan, terutama di kalangan Partai Pengemis. Tidak jelas apakah ini ada hubungannya dengan kenyataan, bahwa para anggota Partai Pengemis biasanya menolak untuk beragama, tetapi untuk menghormati Buddha, racun dari jamur yang tanpa sengaja masuk ke dalam makanan yang disuguhkan Cunda itu merupakan tabu untuk digunakan sebagai racun senjata.

"Maka para bhiksu Shaolin, yang hanya menggunakan racun sebagai pengobatan, tidak mungkin menggunakannya, kecuali mereka yang mengenalnya karena pergaulan erat dengan Partai Pengemis," ujar Yan Zi, lagi.

Aku pun tidak bisa berpikir lain bahwa bhiksu itu memang Penjaga Langit. Satu-satunya bhiksu di Perguruan Shaolin selain bhiksu kepala yang bisa masuk ke semua ruangan, termasuk ke dalam ruangan-ruangan yang paling terlarang dan dirahasiakan. Selain itu, memang Penjaga Langit itulah yang bertanggungjawab untuk mengawasi set iap persiapan upacara dan perlengkapannya.

"Kita belum tahu, bagaimana Penjaga Langit bisa bekerja sama dengan Harimau Perang," kataku, "tetapi jika Harimau Perang dengan menggantung sepuluh bhiksu secara berurutan bermaksud menjauhkan kita darinya, Penjaga Langit mungkin tidak bermaksud seperti itu..."

"Rencana semula mungkin saja seperti itu," sahut Elang Merah, "bahwa yang disebut Harimau Perang itu akan membunuh sepuluh bhiksu yang mengejarnya, lantas menyerahkan tubuh Penyangga Langit ke Kampung Orang- orang Bo yang sangat menghormati orang mati itu, dan tidak kembali lagi."

"Tapi kemunculan kita merusak rencana," sambung Yan Zi Si Walet, "Harimau Perang merasa harus menghindari pengejaran dikau, maka justru digunakannya tubuh sepuluh bhiksu itu untuk mengarahkan kita ke Kampung Orang-orang Bo, dengan pertimbangan adat menggantung peti mati itu sudah dikenal, sehingga kita akan terbawa juga ke sana. Penjaga Langit jelas minta Harimau Perang membunuh sepuluh bhiksu yang tidak akan mendukungnya itu, tetapi juga tanpa perkiraan bahwa pengejaran kita akan membuat Harimau Perang akan memperlakukan tubuh-tubuhnya seperti itu."

"Namun ia khawatir kita akan tetap mencari tubuh itu sebelum mengejar Harimau Perang, sehingga diarahkannya Golongan Murni ke Kampung Orang-orang Bo untuk membuat kekacauan, sementara ia mengambil lagi tubuh itu," kataku, "dan karena tidak segera tahu peti mana yang baru, perempuan itu sempat memergokinya." Kami telah berada di atas kuda kami dan langsung me laju ke arah Y uxi. Jalan sempit dan jalan setapak masih bercabang-cabang dengan begitu luar biasa, sehingga mestinya mustahil mengikuti Harimau Perang tanpa langsung membuntutinya. Namun untunglah jalan tidak lagi selalu berbatu, dan semakin lama semakin kurang berbatu, dan tak banyak orang berkuda melewati daerah ini, yang membuat jejak kuda Harimau Perang terlihat dengan jelas. Elang Merah sebagai petugas rahasia Kerajaan Tibet mampu membaca jejak seperti membaca kitab.

"Dia sebetulnya bisa melangkah agak lebih hati-hati di atas batu-batu," katanya, "tetapi, rupanya seperti sudah kehabisan waktu."

Aku teringat kuda Uighur yang ditungganginya, yang sebetulnya dicuri dariku. Kuda secerdas itu mestinya tanpa disuruh akan memilih untuk menapak di jalan berbatu agar tak meninggalkan jejak, setidak-tidaknya menguranginya jika terpaksa kelihatan juga. Namun di sini kuda itu justru seperti sengaja meninggalkan jejak!

Mungkinkah kuda itu sempat mengetahui keberadaanku, atau mencium bau kehadiranku, ketika dalam seluruh perjalanan di wilayah lautan kelabu gunung batu ini ternyata memang takselalu kami berada di belakang dalam kedudukan membuntuti, melainkan justru Harimau Perang itu tampaknya pernah mengamati kami. Dalam peristiwa di Perguruan Shaolin m isalnya, ketika mencuri tubuh Yang Mulia Bhiksu Kepala Penyangga Langit, tentu ia melihat kami ketika harus menghadapi serbuan Partai Pengemis, sementara para bhiksu hanya sibuk mengambang itu. Mungkin saja ia menambatkan kudanya di suatu tempat agar lebih leluasa berkelebat. Tentu pernah kujelaskan betapa para pendekar itu meski mampu berkelebat menghilang dan terbang, tidak akan mungkin melakukannya setiap saat, karena meskipun tubuh bisa diringankannya seperti kapas, daya yang dibutuhkan untuk haruslah menggunakan tenaga dalam.

Jejak-jejak itu memang membawa kami ke arah Yuxi. Sebagai petugas rahasia yang telah menguasai keadaan, dan memang pernah melalui sehingga mengenal wilayah ini, Elang Merah bahkan kadang-kadang bisa mengambil jalan tembus di dalam hutan dan ketika bersambung kembali masih menemukan kembali jejak-jejak kuda Uighur yang ditunggangi Harimau Perang itu.

(Oo-dwkz-oO)

PEREMPUAN dari Tibet ini baru berumur 30 tahun. Belajar ilmu silat dari seorang mahaguru yang menurunkan I lmu Pedang Cakar Elang, tetapi bersama mahaguru itu Elang Merah mendapat perlakuan yang buruk. Sebagai perempuan remaja ia diserahkan orangtuanya pada usia 15, sebetulnya sekadar untuk belajar ilmu beladiri seperti yang dibutuhkan perempuan untuk menghadapi usaha pemerkosaan. Dengan tujuan ini ia pun tentu tidak diserahkan langsung kepada sang mahaguru, yang memang tidak sembarang manusia dapat menemuinya, melainkan kepada seorang guru atau pelatih, seperti biasanya yang berlaku jika murid datang dari kalangan awam dengan kebutuhan yang juga awam.

Adapun pelatih bagi murid-murid perempuan remaja ini juga masih muda, sekitar 20 tahun, yang ternyata kemudian saling jatuh cinta dengan murid perempuan remaja berusia 15 tahun itu. Namun kecantikan dan sinar mata yang memancar bagai bintang kejora ini ternyata tanpa sengaja menjerat birahi sang mahaguru, yang dalam usia 50 tahun bagaikan sedang berada di puncak kemasyhuran sebagai pemegang Ilmu Pedang Cakar Elang yang tidak terkalahkan.

Dalam kedudukan seperti itu, Mahaguru Cakar Elang Perkasa, demikianlah gelarnya, merasa sangat berkuasa dan merasa berhak mengambil dan memiliki segala sesuatu di bawah kekuasaannya, termasuk perempuan remaja bermata bintang kejora itu, untuk dipetiknya sebagai bunga terindah yang telah melumpuhkan segala penalarannya.

TENTU ia bukan tak tahu betapa Elang Muda, muridnya yang berbakat menjadi pendekar besar, telah saling memadu kasih dengan perempuan remaja tersebut. Maka dengan liciknya, ketika suatu tantangan bertarung dari seorang pendekar tiba, ditugaskannya Elang Muda untuk menghadapi lawan tangguh itu, yang diketahuinya pasti akan berhasil menewaskan sang murid.

Pada saat Elang Muda tewas mengenaskan dalam pembantaian lawan yang hanya bisa dikalahkan oleh gurunya itu, perempuan remaja kekasihnya diundang Mahaguru Cakar Elang Perkasa tersebut untuk menghadap; dan dengan segenap pengawal yang berjaga di luar, perempuan remaja yang masih 15 tahun usianya itu diperkosa. Masih belum cukup, perempuan remaja ini harus melayani birahi sang guru yang selalu berhasil menguasainya itu sampai lima tahun berikutnya.

Semula perempuan remaja itu dengan hati hancur hanya bermaksud pulang ke rumah orangtuanya setelah mengalami pemerkosaan tersebut. Namun serentak didengarnya bagaimana Elang Muda telah bertarung pada hari yang sama dan ditewaskan, tahulah ia tentang akal bulus mahaguru yang licik itu. Seketika itu juga hilanglah cahaya kemurnian perawan dari matanya yang bersinar bagaikan bintang kejora itu, berubah menjadi ketajaman mata seorang pembalas dendam. Apalagi ternyata Elang Muda dibunuh dengan cara yang sangat amat kejam, yakni dengan tubuh yang penuh pisau terbang, sampai 50 jumlahnya, bahkan kepalanya dipenggal dan dikirim dalam keranjang kepada mahaguru itu, untuk menunjukkan betapa Mahaguru Cakar Elang Perkasa dengan hanya mengirimkan murid mudanya itu untuk melayani tantangan, telah bertindak gegabah. Perempuan remaja itu berhasil menyembunyikan kilatan dendam dari matanya, tetapi tidak sanggup mengembalikan cahaya kemurniannya sebagai remaja; sebaliknya, untuk menjebak mahaguru itu dilayaninya segala kehendak birahi dengan tatapan tajam mengundang. Mahaguru itu terjebak. Dalam waktu singkat perempuan remaja itu telah menjadi perempuan yang tahu benar bagaimana harus menggunakan tubuhnya untuk menguasai lelaki; dan dalam hal lelaki itu adalah Mahaguru Cakar Elang Perkasa, diserapnya Ilmu Pedang Cakar Elang yang diajarkan dengan lengkap kepadanya, termasuk jurus-jurus rahasia yang sebetulnya tabu diajarkan seorang guru silat untuk murid yang mana pun juga.

Setelah lima tahun, pada usianya yang ke-20, ditantangnya mahaguru itu di hadapan seluruh murid perguruan untuk bertarung. Diungkapnya segenap rahasia memalukan, bahwa mahaguru itu telah memperkosanya, setelah dengan sengaja mengirim kekas ihnya untuk mati. Diungkapnya juga siapa saja pengawal pribadi mahaguru itu yang berjaga di luar ketika pemerkosaan berlangsung, dan dikatakannya bahwa setelah usai dirinya membunuh mahaguru itu, ia juga akan bertarung melawan enam orang pengawal pribadi itu sekaligus, dan karena itu segenap murid perguruan harus mengepung mereka supaya tidak kabur.

"Apa yang dikau lakukan dengan mahaguru cabul itu?"

Yan Zi bertanya dengan geram, seolah peristiwa itu baru berlangsung kemarin saja. Namun Elang Merah memberi tanda agar kami yang sedang beristirahat di tepi sungai yang jernih dan kelihatan dasarnya diam dahulu, dan mendengarkan sesuatu di balik angin yang berdesir.

(Oo-dwkz-oO)