-->

Nagabumi Eps 188: Para Bhiksu Mengambang di Udara

Eps 188: Para Bhiksu Mengambang di Udara

AKU turun tidak sampai menginjak tanah, cukup menapak di atas api di lilin, lantas melesat kembali ke atas menyambut gelombang serangan kedua pasukan cadangan Partai Pengemis. Disebut pasukan cadangan, tetapi jelas merupakan orang-orang pilihan, yang setidak-tidaknya secara bersama tentu diandaikan akan mampu mengatasi pasangan Yan Zi dan Elang Merah yang perpaduan ilmu pedangnya sungguh tak terduga dan tak bisa dibendung. Sempat kusaksikan para gelandangan dan pengemis yang tewas bergelimpangan di sela-sela deretan para bhiksu yang masih mendengung lebah dan berdoa itu. Meskipun tampak hanya bersila dan berdoa, sekujur tubuh para bhiksu bagaikan dilumuri lapisan tenaga pelindung, membuat tubuh para penyerbu yang tewas dibantai I lmu Pedang Mata Cahaya maupun Ilmu Pedang Cakar Elang ketika menimpa para bhiksu itu akan terpeleset atau terpental, sehingga para bhiksu yang berdoa tetap bergeming.

Dengan mayat-mayat tewas bergelimpangan dan terkapar bersimbah darah di depan para bhiksu, mereka sepintas lalu bagaikan berdoa bagi para pengemis yang menyerbu perguruan ini! Maka dalam sekejap itu alangkah tercekatnya diriku, melihat betapa lima ratus bhiksu yang sedang berdoa itu dengan tetap bersila tubuhnya terangkat dan mengambang di atas tanah selutut tingginya! Seolah upacara penyucian jiwa bagi yang mereka doakan akan ternoda jika berada satu dataran dengan mayat para pengemis itu...

Pemandangan nyala api ribuan lilin, dengan lima ratus bhiksu berjubah kuning yang mengambang, dengan dengung lebah yang bertambah tinggi nadanya itu, memberikan suatu perasaan yang aneh. Namun aku tidak punya waktu lagi merenungkannya, dan berkelebat menghadapi barisan Partai Pengemis itu dengan Jurus Seribu Naga Menyerbu Bersama yang kugabungkan dengan Jurus Naga Kembar Tujuh. Aku berkelebat lebih cepat dari kilat, karena harus kuhadapi lima ratus penyusup berbusana gembel sekaligus yang beterjunan dari atas tebing dengan kecepatan terkendali. Ada yang cepat sekali dan ada yang lambat sekali, karena memang sengaja dimaksudkan untuk membingungkan Elang Merah dan Yan Zi.

Dalam pertarungan tingkat tinggi, sa lah satu kunci menghadapi lawan adalah penguasaan irama dalam jurus- jurus serangan, agar dapat diputuskan bagaimana kiranya akan menanggapinya, sama cepat ataukah lebih cepat, karena permainan irama itulah yang akan menentukan terbuka atau tidaknya kelengahan lawan. Maka jelas keberagaman irama serangan ini, dari yang lebih cepat dari cepat sampai yang lebih lambat dari lambat, dimaksud untuk mengacaukan perpaduan Ilmu Pedang Mata Cahaya dan Ilmu Pedang Cakar Elang yang seperti tidak mungkin ditembus itu.

Demikianlah para pengemis itu berkelebatan dan sebagian melenting dari batu ke batu semakin dekat, sementara mereka yang turunnya lambat sempat kulihat dengan santai mengambil penyimpan arak dari balik baju dan meminumnya sambil me layang. Dalam dunia persilatan telah menjadi pengetahuan setiap penyoren pedang, apabila seorang anggota Partai Pengemis sudah minum arak sebelum pertarungan, maka akan keluarlah jurus-jurusnya yang sangat berbahaya dan membingungkan , karena memang aneh dan berada di luar dugaan. Namun meski tampak serabutan, sebetulnyalah dalam keberagaman itu dapat kubaca jurus pertempuran andalan mereka jika bergabung dalam satu pasukan, yakni Jurus Tongkat Pengemis Mengusir Anjing Kudisan.

Tidak salah tentunya jika kugabungkan Jurus Seribu Naga Menyerbu Bersama dengan Jurus Naga Kembar Tujuh, karena jika yang pertama memang digunakan untuk menghadapi gelar perang suatu pasukan dalam pertempuran, maka yang kedua untuk menghadapi banyak orang juga, tetapi yang bergabung tidak sebagai kesatuan, melainkan keberagaman dalam kelebihan set iap orang. Jurus Tongkat Pengemis Mengusir Anjing Kudisan menggabungkan kedua siasat yang memang seharusnya dihadapi dengan kedua jurusku itu, maka akupun mengedarkan chii ke se luruh tubuh dan berkelebat naik menghadapi lima ratus pengemis yang melesat-lesat dengan bau arak dari mulutnya.

Aku hanya bertangan kosong. Dengan pukulan Telapak Darah aku bermaksud sekadar mendesak setiap orang agar mundur, sementara dengan ch'i yang terhimpun pada sentuhan tangan, hanya senjata merekalah yang ingin kutepuk menjadi tepung. Betapapun, penyerbuan Partai Pengemis ke sebuah Perguruan Shaolin ini bagiku menyimpan banyak pertanyaan yang harus dijawab, dan tiada jawaban yang akan memuaskan jika para pengemis yang menyerang ini semua mati berkalang tanah.

SEKALI kibas sepuluh pengemis terpental, tetapi mereka tidak akan mati karena aku masih berharap mereka berpikir untuk mengundurkan diri. Demikianlah dengan Jurus Seribu Naga Menyerbu Bersama maka kedudukan pasukan Partai Pengemis hanya bertahan, dan dengan Jurus Naga Kembar Tujuh setiap pengemis memiliki lawan sesuai ilm u silatnya. Aku bergerak begitu cepat sehingga tampak sebagai lima ratus orang, tetapi yang setiap orangnya memiliki tujuh bayangan, yang setiap kali dianggap sebagai bayangan ternyata bukan bayangan, dengan kesadaran yang tentunya datang terlambat, yakni saat senjata-senjata mereka hancur lebur karena tiba-tiba buyar menjadi tepung, dan saat mereka terjerembab ke balik tembok dengan gambar telapak tangan merah di dada hasil pukulan Telapak Darah.

Aku bertarung tanpa mengeluarkan kata-kata, hanya bergerak dan berkelebat, yang setiap saat memakan korban. Para bhiksu masih mengambang. Panjang lilin bahkan sama sekali bagai belum berkurang. Namun barisan Partai Pengemis dengan segera sudah terpukul mundur. Kejadian ini hanya berlangsung memang kurang dari sekejap mata, tetapi aku ingin menjelaskan betapa Partai Pengem is ini betapapun tidak terdiri atas orang-orang sembarangan.

Jurus-jurus mereka aneh, tidak seperti bersilat melainkan seperti seorang widu yang dengan terampil mempertunjukkan gerakan-gerakan musykil. Ketika menyerang mereka tidak seperti sedang menyerang, ketika bertahan mereka tidak seperti sedang bertahan, dan meski dalam kenyataannya bersilat tetapi memang tidak seperti sedang bersilat. Dapat kubayangkan bagaimana lawan akan terbingungkan, dan tanpa disadarinya nyawa sudah melayang.

Maka aku harus memusatkan perhatian dengan sepenuh- penuhnya, bukan hanya dengan senjata mereka yang kadangkala begitu sederhana seperti alat pengusir lalat, alat penggaruk punggung, tongkat pengorek sampah, atau sepasang sumpit, tetapi juga bahwa tiba-tiba dari mulutnya menyembur arak panas yang bisa membakar wajah. Disebutkan dalam Kitab Perbendaharaan Ilmu-ilmu Silat Ajaib dari Negeri Atap Langit betapa wajah itu langsung akan menyala karena api, sehingga dalam Jurus Tongkat Pengemis Mengusir Anjing Kudisan, dima inkan sendiri-sendiri atau bersama-sama, setelah semburan mengenai sasaran, wajib langsung diikuti pemenggalan kepala untuk menghindarkan lawan dari penderitaan.

Aku berkelebat di antara sambaran berbagai senjata dan semburan arak, betapapun harus jauh lebih cepat dari gerakan mereka, karena tanpa kecepatan yang lebih cepat dari cepat Jurus Seribu Naga Menyerbu Bersama tidak mungkin diberlangsungkan menghadapi mereka sekaligus, sementara mereka yang tampaknya bergerak lebih lambat dari lambat tetapi kecepatannya sebetulnya tiada terhingga dilayani oleh Jurus Naga Kembar Tujuh yang mengubah diriku jadi tujuh orang dengan seribu bayangan yang sama nyatanya dalam pertarungan, yang kini ganti mengepung lima ratus penyerbu dari Partai Pengemis tersebut. Penggabungan kedua jurus ini menghadapi irama yang sengaja diberagamkan hanya bisa terjadi karena sebuah kunci yang berasal dari Jurus Tanpa Bentuk, yang sebetulnya masih berada dalam pengolahan. Dengan kunci ini ruang dan waktu teratasi dan bisa kuhadapi Jurus Tongkat Pengemis Mengemis Anjing Kudisan yang ketika dima inkan bersama sungguh mengacaukan irama itu. Dalam sekejap waktu bumi orang-orang berbusana gembel ini menghilang ke balik kelam, meninggalkan mayat-mayat para pengemis yang bergelimpangan di dalam dan di luar tembok perguruan. Mereka yang sempat menjerat diriku dengan sabit-sabit bertali, dan siap merajamku ketika terbanting di bumi tadi, ternyata telah dise lesaikan hidupnya oleh Elang Merah dan Yan Zi Si Walet yang memang tidak pernah memberi ampun. Setidaknya dua puluh lima orang penjiratku dan dua puluh lima orang lagi yang siap merajamku rupanya telah ditewaskan dalam waktu terlalu singkat oleh kedua perempuan, yang ketika ilmu pedangnya masing- masing digabungkan, akan sangat sulit mendapat tandingan.

Namun suara dari arah hilangnya para pengemis itu masih juga mengejutkan.

''Pendekar Tanpa Nama! Siapa mengira dikau berada di daerah terpencil ini! Sayang sekali kami harus pergi, karena tugas telah dise lesaikan! Semoga kita masih akan bertemu lagi untuk melanjutkan permainan ini!''

Kemudian yang tersisa hanyalah kesunyian. Elang Merah dan Yan Zi menatapku dengan pandangan tertentu. Pengertian bahwa tugas te lah dise lesaikan tentu menimbulkan pertanyaan. Apakah sebetulnya tujuan penyerbuan mereka? Selain juga kenyataan bahwa suara yang jelas mengenalku itu adalah suara seorang perempuan...

DALAM seni perang di Negeri Atap Langit sejak masa Wangsa Han, dikenal apa yang disebut Siasat Benteng Kosong:

yang lemah memperlihatkan kelemahan dan menimbulkan keraguan pada lawan yang sudah lebih dulu meragukan

jika ini masalah yang lemah melawan yang kuat akan memberi hasil yang hebat

''Ketika pertahanan kita tidak mencukupi, jika kita bersikap seperti tidak bisa bertahan sama sekali, maka kita bisa mengacaukan pertimbangan lawan. Siasat ini dianjurkan untuk dipakai ketika pasukan kita lebih lemah, dan akan mendapatkan hasil yang tidak terduga,'' kata Amrita suatu hari kepadaku.

Pertimbangan siapakah kiranya yang terkacaukan dalam penyerbuan ini? Semula aku menerapkan siasat yang sama dengan memberikan diriku sebagai ganti rencana sergapan kepada Elang Merah dan Yan Zi, yang gabungan ilmu pedangnya seperti begitu sulit ditembus, tetapi sudah mereka temukan kunci kelemahannya. Dengan berhasil mendesak mereka mundur, siasat itu seperti berlaku untuk digunakan olehku, meski keputusanku sebetulnya diambil dalam sekejap.

Namun kemudian pintu gerbang raksasa itu terbuka dengan sendirinya. Cahaya kekuningan lautan lilin menerobos keluar dan dalam cahaya kekuningan itulah sesosok bayangan bagaikan terbang langsung menujuku.

''Tubuh Penyangga Langit te lah lenyap di depan mata kami yang buta,'' ujar sosok itu, yang ternyata Penjaga Langit sendiri.

Aku sudah akan melesat ketika tangannya dengan lembut menggamitku.

''Pendekar Tanpa Nama sudah berbuat terlalu banyak untuk Perguruan Shaolin,'' katanya, ''janganlah ia mempermalukan kami lebih banyak.''

Lantas sekitar sepuluh orang bhiksu muncul di pintu gerbang. Mereka semua pamit menjura sebelum melesat ke arah menghilangnya orang-orang Partai Pengemis. Aku merasa lemas, tujuan penyerbuan adalah mencuri tubuh Penyangga Langit! Siasat itu berlaku bagi mereka, yang telah mengacaukan pertimbangan kami, tepatnya pertimbanganku, yang mengira tugasku adalah memanfaatkan kelemahan mereka. Perkiraan yang harapannya mereka berikan, karena betapapun tujuannya bukan kemenangan, tetapi melakukan pencurian. Siasat mereka juga cocok dengan siasat lain, yang pernah kuperbincangkan, yakni Kacaukan Airnya, Ambil Ikannya, yang intinya membikin kekacauan di wilayah musuh dan mengambil keuntungan darinya. Adapun penjelasannya:

mengikuti yang keras yang datang dan pergi melalui yang lembut

ikuti gerak dengan nikmat terdapat tusukan dan kebenaran dan tiada penyalahan

di bawah langit ikuti saatnya saat mengikuti jadi maknawi

Aku ingin sekali melesat untuk menebus kesalahanku, yakni terlalu banyak berpikir. Barisan Partai Pengemis itu berhasil mengacaukan pertimbanganku karena aku terpancing untuk memikirkan siasat mereka, padahal kemunculanku pun tentunya tidak mereka duga, yang berarti mereka telah menyiapkan diri terhadap segala sesuatu apapun itu yang paling tidak terduga sekalipun.

Artinya jika pun tadi kuputuskan untuk melumpuhkan mereka semua, pasti tubuh Penyangga Langit juga akan tetap hilang.

''Biarlah kami melakukan tugas yang menjadi kewajiban kami,'' katanya lagi, ''Pendekar Tanpa Nama biarlah sekadar beristirahat dahulu, memberi kami kesempatan menyambut tamu dengan ''semestinya.

Dari suatu arah dalam kegelapan muncul Yan Zi dan Elang Merah.

"KE arah mana pencuri itu diburu [removed][removed] ?" tanya Yan Zi.

"Kami melihat bayangan berkelebat menyambar tubuh Penyangga Langit," sambung Elang Merah, "ia membawanya ke arah yang berbeda dari arah menghilangnya pengemis- pengemis busuk itu!"

Jika Yan Zi dan Elang Merah pun tidak bisa mengejarnya, tidak dapat kubayangkan tingginya ilmu pencuri tubuh Penyangga Langit tersebut.

Namun Penjaga Langit segera menjelaskan.

"Partai Pengemis tidak dikenal menguasai ilmu penyusupan, jadi penyerbuan ini pasti merupakan kerjasama, tetapi yang belum jelas latar belakangnya. Pencuri tubuh itu mampu bersembunyi dan melebur dalam kegelapan. Banyak sekali kelompok penyusup menjual jasa di Negeri Atap Langit sekarang ini, akibat lemahnya pemerintahan Wangsa Tang."

Aku tahu ilmu yang dimaksudnya. Yan Zi dan Elang Merah tidak mungkin kalah cepat oleh siapa pun dalam ilmu melesat dan berkelebat, tetapi mungkin keduanya kehilangan jejak ketika yang dikejarnya bersembunyi di dalam kelam. Dalam ilmu penyusupan, kekelaman bukanlah udara kosong, melainkan ruang yang dapat menjadi tempat persembunyian. Untuk menyusulnya ke sana harus memiliki ilmu yang sama. Namun bisa menembus masuk dalam kelam tidak berarti langsung dapat menangkapnya, bahkan jika lengah akan tewas pula di sana, karena kekelaman adalah sebuah dunia yang sama luasnya, bahkan berada di ruang yang sama dengan dunia itu sendiri. (Oo-dwkz-oO)