Nagabumi Eps 183: Masalah Elang Merah

Eps 183: Masalah Elang Merah

Pedang jian dengan dua s isi tajam yang dibuat hanya demi kesempurnaan ilmu silat itu terarah lurus ke jantungku. Kecepatannya tentu tinggi, karena bahkan mataku yang terlatih pun hanya melihatnya sebagai kelebat bayangan merah. Namun belum lagi usai ketercekatanku, bayangan merah yang melesat itu telah dipapas bayangan putih, dan segeralah hanya terlihat bayangan merah dan bayangan putih saling bergulung, dise la dentingan dari dua pedang yang berbenturan dan melentikkan bunga-bunga api.

Aku harus segera menyesuaikan mataku dengan kecepatan pertarungan yang tiada dapat diikuti mata awam itu, agar segera tahu bagaimana kedudukan Yan Zi yang seharusnya kulindungi tetapi kini bersikap melindungiku. Segera kusaksikan pertarungan dahsyat dalam gemuruh air terjun, ketika perempuan pendekar berbaju sutera serba merah dengan jurus-jurus I lmu Pedang Cakar Elang itu menghadapi jurus-jurus Ilmu Pedang Mata Cahaya yang diciptakan hanya demi Pedang Mata Cahaya yang kini dipegang Yan Zi. Segera kulihat betapa perempuan pendekar berbusana sutera merah itu terdesak, tetapi bukan karena ilmu pedangnya lebih rendah, melainkan karena pedang mestika yang dipegang Yan Zi terlalu sakti untuk dihadapi lawan manapun.

AGAKNYA Yan Zi telah menyalurkan tenaga dalamnya kepada pedang itu, sehingga pantulan cahayanya secepat kilat berubah menjadi benda padat yang siap membelah perempuan pendekar tersebut. Siapa pun kiranya pasti akan terdesak menghadapi pedang seperti itu. Bahkan, bahwa perempuan pendekar itu masih bertahan saja bagiku sudah sangat luar biasa, karena pantulan cahaya yang menyambar sebagai benda padat bukanlah sembarang ancaman yang dapat dihindarkan setiap orang. Sesungguhnyalah perempuan pendekar itu berada dalam kedudukan yang berbahaya sekali. Aku merasa, meskipun ia menyerang lebih dahulu, tidaklah adil jika ia tewas karena senjata sakti seperti ini.

Untuk kali pertama kusaksikan bagaimana Ilmu Pedang Mata Cahaya itu diperagakan dan dimainkan, dengan suatu pendekatan yang tidak terdapat pada ilmu pedang mana pun, yakni betapa pantulan cahaya Pedang Mata Cahaya yang sangat membunuh itu tidak akan mengenai pemegang pedangnya. Ilmu pedang tersebut dengan begitu harus mampu menghindarkan pemegang pedangnya dari pantulan cahayanya sendiri, sementara dalam jurus serangan melibatkan pula pantulan cahaya dari pedang sebagai senjata untuk melumpuhkan lawan. Maka siapapun lawan yang berhadapan dengan Ilmu Pedang Mata Cahaya akan menjadi sangat terdesak, karena bukan hanya Pedang Mata Cahaya itu saja yang harus ditangkis dan dihindarinya ketika menyambar- nyambar, melainkan juga cahaya pantulannya yang memadat dan melesat-lesat penuh ancaman maut dalam jurus-jurus yang sengaja dibuat untuk itu.

''Elang Merah! Mengapa dikau se lalu menyerang orang tanpa menunggu jawaban? Kini dikau harus mati! Mati! Mati!''

Yan Zi yang berarti walet memang melesat-lesat lincah seperti burung walet. Harus kuceritakan bahwa dalam Ilmu Pedang Mata Cahaya, pantulan cahaya itu tidak selalu menyerang dalam pantulan lurus menusuk tajam, melainkan bergerak atas pengarahan yang menyalurkan tenaga dalam ke pedangnya. Apakah ia menginginkan cahaya memadat sepadat-padatnya, atau memadat secukupnya saja, ataukah bermain di antaranya. Maka dalam permainan pedang Yan Zi, pantulan cahaya memang tidak menusuk lurus tajam, melainkan melingkar-lingkar saat mendekat seperti putaran selendang panjang. Namun apabila perputaran selendang cahaya ini dipotong pedang, ternyata masih saja merupakan cahaya, dan hanya ketika menyentuh kulit dan tubuh mendadak padat dan tajam.

''Mati! Mati! Mati!''

Yan Zi berteriak memastikan. Namun ternyata perempuan pendekar yang disebut Elang Merah itu masih bisa lolos dari maut karena kecepatan dan kecekatannya yang luar biasa. Menghadapi Ilmu Pedang Mata Cahaya dengan pedang mestika yang begitu sakti, sebetulnya hampir mustahil membayangkan lawan mana pun akan hidup lagi. Maka harus diakui betapa ilmu silat Elang Merah ini memang tinggi sekali. Betapapun aku masih merasa tidak terlalu adil, jika riwayatnya tamat karena kesaktian pedang dan bukan tingginya ilmu.

Pada saat pedangnya menangkis Pedang Mata Cahaya, tetapi pantulan cahayanya melingkar-lingkar mendekat untuk memenggal lehernya, aku berkelebat di antara cahaya dan menyelamatkannya; tetapi aku tentu perlu alasan agar Elang Merah tidak merasa terhina dan Yan Zi pun bisa menerimanya.

''Elang Merah bermaksud membunuhku, untuk kedua kalinya, biarlah pengembara dari Javadvipa ini mendapat pelajaran dari pewaris I lmu Pedang Cakar Elang yang ternama,'' kataku setelah melempar tubuhnya yang kusambar, ke arah dari mana ia melayang.

Suara air terjun bagaikan bertambah gemuruh. Wajah Elang Merah bersemu dadu. Tidak jelas bagiku apakah ia tahu jiwanya kuse lamatkan, tetapi pada matanya tampak betapa keinginan untuk membunuhku besar sekali. Apakah yang telah terjadi?

Tidaklah mungkin ia ingin membunuhku hanya karena pisau terbangnya belum kukembalikan. Apakah ia ingin membunuhku karena aku menjadi saksi pertarungan yang waktu itu dimenangkannya? Namun bukankah para penyoren pedang yang membawa keledai-keledai beban itu juga sampai berhenti di tengah jalan hanya untuk menontonnya, dan berarti menjadi saksi yang harus dibunuhnya pula? Jadi, tentu bukan perkara kesaksian itulah yang menjadi penyebab, sehingga sepasang matanya yang indah kini menyala-nyala penuh keinginan membunuhku.

''Biarlah daku yang menghadapinya, Pendekar Tanpa Nama, ia te lah mengganggu perjalanan kita,'' Yan Zi berteriak penasaran, ''daku tadi sudah hampir membunuhnya, mengapa Pendekar Tanpa Nama harus berpura-pura ingin bertarung dengan Elang Merah, jika sebetulnya ia ingin menyelamatkannya!''

AKU mengangkat tangan kiriku tanpa menoleh agar Yan Zi diam. Terbukti permintaanku sangat beralasan karena Elang Merah yang tubuhnya masih mengambang setelah kulemparkan, telah bergeser mendekati air terjun sambil menyarungkan pedangnya, lantas kedua tangannya bergerak cepat sekali sampai tidak dapat diikuti mata orang biasa.

"Awas!"

Aku berteriak memperingatkan Yan Zi. Sudah kukatakan ilmu silat Elang Merah sesungguhnyalah tinggi sekali. Sebetulnya ilmu meringankan tubuh yang tertinggi pun tidak akan bisa membuat manusia terbang seperti burung, tetapi memang benar betapa pada tingkat yang tertinggi itu manusia bisa tampak seperti terbang melayang bagaikan burung e lang, dan seperti yang kusaksikan, Elang Merah bahkan mengambang dan bergeser di udara, menjauh dan mendekati air terjun, lantas tangannya bergerak cepat sekali menampel- nampel percikan a ir dengan tenaga dalam. Maka berlesatanlah percikan air itu sebagai senjata rahasia yang berbahaya sekali.

Segeralah aku teringat bagaimana air terhubungkan dengan ilmu silat seperti pernah dibicarakan Iblis Suci Peremuk Tulang. Chi sao atau tangan terjurus dalam gung fu atau silat dalam bahasa Negeri Atap Langit, sangatlah dekat kepada Dao maupun Chan. Permainan dengan jurus tangan adalah seni penyesuaian antara pelaku dan lawannya. Pedomannya mengikuti wu wei dalam Dao. Wu berarti tak sedangkan wei berarti tindak. Tidak berarti takmelakukan apa pun, melainkan agar pikiran seseorang bebas mengalir, dipercaya agar bekerja dengan sendirinya.

Wu wei dalam gung fu berarti tindakan pikiran, dalam arti bahwa yang mengatur segala daya adalah pikiran dan bukan perasaan. Dalam pertarungan seorang pesilat melupakan dirinya sendiri dan mengikuti gerak lawan, membiarkan pikirannya bebas menentukan gerak perlawanan tanpa campur tangan.

Dalam jurus tangan, seorang pesilat membebaskan diri dari penolakan jiwa dan melebur dalam sikap yang serasi. Tindakannya hadir tanpa pemaksaan diri. Ia membiarkan pikirannya tetap menanggapi dengan sendirinya. Setiap tindakannya ditimbulkan oleh gerakan lawan. Ia tidak melawan maupun membiarkan segalanya begitu saja, melainkan dengan kelenturan sebuah pelontar. Bisa lemas sekaligus keras.

Menjuruskan tangan dinyatakan sifatnya sama dengan air, yang tak dapat dicengkeram dengan tangan, dibenturkan tidak sakit, ditikam tidak terluka. Seperti a ir, seorang pelaku gung fu tidak memiliki bentuk atau cara yang menjadi miliknya sendiri, tetapi meleburkan gerakannya ke dalam gerak lawannya. Adalah benar jika disebutkan air itu benda terlemah di dunia, tetapi jika menyerang bisa menjadi yang terkeras dan terganas. Tenang seperti danau dan bergolak seperti air terjun.

Begitulah kiranya jurus tangan Elang Merah bisa begitu bertenaga dan air yang ditampel Elang Merah melesat dengan kecepatan tinggi. Namun jangan lupa betapa siapapun yang mempelajari ilmu silat dengan guru yang baik sedikit banyak memahami pedoman yang sama.

Yan Zi memang lincah, selincah namanya yang berarti walet. Jadi ia bisa melenting sementara percik-percik air yang telah jadi sekeras besi itu mendesing-des ing di bawahnya; sedangkan aku hanya perlu mengibaskan lengan baju, agar senjata rahasia yang sangat berbahaya karena jika berhasil dibabat tetap meluncur karena betapapun adalah benda cair itu berbalik ke arah Elang Merah sendiri.

Ia terpaksa melenting dan mengeluarkan pedang untuk menangkis semua itu dengan sisi lebarnya, sehingga di tengah gemuruh suara air terjun terdengar suara berdenting-denting ketika percik-percik a ir yang te lah menjadi sekeras besi itu tak mampu menembus putaran pedangnya yang seperti baling- baling.

Aku sengaja memberinya peluang menangkis, dengan tenaga dalam pada kibasan lengan baju secukupnya sahaja, sehingga ketika Elang Merah menangkis percik-percik air sekeras besi itu aku sudah berada di belakangnya, mengambang di udara juga, dan menotok jalan darahnya pada tengkuk agar untuk sementara dapat kulumpuhkan.

Kusambar tubuhnya sebelum terjatuh ke bawah dan kujejak a ir terjun agar diriku dapat melayang bersamanya dan hinggap kembali di jalan setapak.

Kuletakkan tubuhnya di jalan setapak itu. Tubuhnya lemas, tetapi matanya menatap nyalang penuh dengan kemarahan.

'BIAR kubunuh dia!''

Yan Zi siap mencabut pedang, tetapi kuberi tanda agar diam. Aku tahu Elang Merah bisa berbicara, maka aku pun berujar panjang lebar dengan terpatah-patah.

''Sahaya yang tak bernama hanyalah seorang pengembara miskin yang hina dina, tiada lain tujuannya berkelana sampai ke Negeri Atap Langit hanyalah mencari pengalaman dan pengetahuan, untuk berguru kepada segenap cerdik pandai yang telah membangun kebudayaan, agar segenap pertanyaan sahaya tentang dunia dan kehidupan ini mendapat jawabannya. Maka pendekar gagah yang bergelar Elang Merah boleh percaya kepada pengembara miskin yang hina dina bahkan nama pun takpunya ini, betapa permusuhan bukanlah sesuatu yang dicarinya. Tentu banyaklah kesalahan paham yang dilakukannya sebagai orang asing yang bodoh dan tanpa guna. Untuk itu sahaya mohon maaf sebesar- besarnya. Kini sudilah kiranya Elang Merah berbicara, kesalahan apakah kiranya yang telah sahaya lakukan kepadanya meskipun kiranya tanpa sengaja.''

Elang Merah bisa berbicara, tetapi ia diam saja. Aku tidak menotok jalan darahnya sampai ia tidak bisa bicara, jadi hanya belum sudi saja berkata-kata kepadaku. Aku harus mencari penyebab kenapa ia menyerangku. Aku berpikir mungkin ia t idak sudi berbicara karena urusannya terkacaukan oleh keterlibatan Yan Zi. Sudah jelas serangannya ditujukan kepadaku yang berada di belakang Yan Zi, semestinya memang akulah yang melayaninya bertanding, tetapi Yan Zi yang tampak seperti berusaha melindungiku justru membuatnya kewalahan. Bahkan aku yang diserang kemungkinan diketahui justru melindunginya pula. Keadaan berkembang terbalik.

Betapapun, jika ia menyerangku agar akulah yang menghadapinya, bukankah kehendaknya itu sudah berlangsung ketika kulayani serangan percik-percik air sekeras besi itu? Ia tadi membuka serangannya dengan alasan meminta kembali pisaunya. Sesungguhnyalah pisau terbang bergagang gading dengan gambar ukiran naga di kedua sisinya itu masih terselip di balik bajuku. Aku telah membawanya begitu lama dengan hanya sekali menggunakannya, sampai lupa betapa pisau terbang itu selalu berada bersamaku. Mungkin karena aku telah menganggapnya sebagai cenderamata, maka setelah sekali kugunakan itu, yakni untuk menangkis golok yang dilemparkan dari depan, dengan tujuan membaikkan arahnya, sehingga membelah tubuh penyamun gunung yang melemparkannya, maka aku tidak pernah menggunakannya. Lagi pula di sungai telaga, aku memang tidak mengandalkan jenis senjata tertentu.

''Pendekar Elang Merah telah menghadiahkan kepada sahaya sebuah pisau yang indah, maafkanlah bahwa pengembara yang hina dina ini telah menggunakannya untuk membela diri ketika berhadapan dengan para penyamun lautan kelabu gunung batu. Sedikit banyak pisau terbang Pendekar Elang Merah telah menyelamatkan jiwa sahaya,'' kataku sambil mengeluarkan kembali pisau bergagang gading dari dalam lipatan baju, ''mohon diterima kembali pisau ini, terima kasih banyak atas pinjamannya, dan mohon maaf tidak sanggup mencari Pendekar Elang Merah di balik awan.''

Sembari menyerahkan pisau aku membungkuk untuk menotok kembali jalan darahnya, supaya ia bisa menggerakkan tangannya untuk menerimanya. Sepintas kulihat betapa Pendekar Elang Merah itu matanya indah sekali...

Bukan hanya indah, melainkan juga tajam!

Tangannya terulur menerima pisau itu dengan lemah, tetapi bersama mengalirnya darah ke bagian yang lemah itu tenaganya pun pulih, dan saat itulah pisau terbang yang dim intanya kembali setelah sekian waktu tersebut melesat ke atas.

''Aaaaaaaaahhhhhh!''

Dari atas melayang jatuh sesosok tubuh yang sudah memegang pedang terhunus. Namun di belakang sosok tubuh yang jatuh itu beterbanganlah sosok-sosok berbaju ringkas yang menutupi kepalanya dengan fu tou ketat sampai menutupi dahi, sehingga hanya kelihatan sepasang matanya yang penuh dengan semangat pembunuhan. Agaknya mereka semula menempel dengan ilmu cicak, pada tebing dan atap yang menjorok dari tebing itu dan dilalui sungai yang menjadi air terjun besar ini.

''Golongan Murni!''

Sambil mengucapkan kata-kata itu Elang Merah langsung melejit dengan pedang di tangan dan berkelebat menyambut sosok-sosok pembawa maut yang berkelebatan, sementara aku tidak menunggu mayat itu jatuh untuk mencabut pisau terbang bergagang gading dengan gambar ukiran naga pada kedua sisinya yang menancap dijantungnya. Aku menyambar pisau itu sembari berkelebat menghindari serangan, bahkan secepat kilat menggores urat lehernya sehingga mereka nyaris berbarengan melayang ke jurang.

TAK dapat kuhitung lagi sosok-sosok berbaju ringkas dan berilmu silat sangat tinggi yang disebut Golongan Murni ini berkelebatan ke arah kami bertiga, karena dalam gemuruh a ir terjun dan kesempitan jalan setapak, pertarungan yang tidak dapat dilihat mata ini hanya mengandalkan naluri. Yan Zi hanya tinggal kelebat bayangan putih berkilauan, setiap geraknya hanya berarti jeritan dan nyawa melayang.

"Elang Merah! Perempuan Tubo! Sudah lama kami peringatkan jangan malang melintang di wilayah kami!"

Jadi Elang Merah berasal dari Tibet. Pantas orang-orang Golongan Murni yang berpikiran sempit dan kerdil dalam kebangsaan ini, karena beranggapan hanya warga Negeri Atap Langit berhak hidup di Negeri Atap Langit, begitu membencinya.

"Orang-orang bodoh! Tak pantas kalian hidup di bawah langit!"

Bersama dengan jawabannya, pedang Elang Merah pun menelan jiwa. Para korbannya melayang jatuh mengikuti air terjun tanpa suara. Dari atas masih terus berjatuhan sosok- sosok yang semula menempel pada atap tebing, berjatuhan untuk menyerang dan mencabut nyawa. Namun tidak selalu kami berhasil membuat mereka meneruskan perjalanannya ke dalam jurang tanpa nyawa, karena sesungguhnyalah ilmu s ilat orang-orang Golongan Murni ini sangatlah tinggi.

Seperti yang pernah kualami menghadapi para pembunuh Golongan Murni ini di tepi Sungai Merah pada malam berhujan di antara gubuk-gubuk pengungsi banjir yang dibakar, mereka sangat piawai bertarung dengan keluar masuk bayang kehitaman dalam kelam. Dalam kekelaman di bawah atap tebing dengan suara gemuruh a ir terjun, mereka juga mampu keluar masuk segala bayangan sehingga kadang tampak kadang menghilang. Maka kami bertiga pun mengerahkan kecepatan yang sangat tinggi, dalam hal diriku bahkan lebih cepat dari pikiran. Jika tidak begitu, apakah masih mungkin diriku mengejar siapa pun yang sosoknya ketika dibabat pedang bisa menghilang ke balik tabir air terjun hanya untuk muncul lagi dan berkelebat menyerang kembali?

Dengan bergerak lebih cepat dari pikiran artinya kuleburkan tubuhku dengan alam, sehingga ketika pikiran me lesat lebih cepat dari cepat, maka tubuh tidak menjadi penghalang bagi pikiran lagi. Maka bukan hanya bisa kususul, melainkan dapat kudahului setelah mereka kutendang dan terlontar ke balik tabir air terjun. Jika semula mereka bisa menghilang ke balik tabir tanpa terseret ke bawah sama sekali karena telah melepaskan ketubuhannya, aku pun bisa melakukannya sehingga di balik tabir itu, yang ternyata berarti di dalam air terjun sebagai bayangan tanpa tubuh, tetaplah berlangsung pertarungan antara hidup dan mati.

Setiap kali pisau terbang bergagang gading itu menancap tepat di jantungnya, saat itulah ketubuhannya serentak kembali dan air terjun yang deras dan gemuruh menyeretnya tanpa ampun lagi. Senjata mereka bermacam-macam, pedang, golok, kelewang, kapak dua sisi, dan ruyung. Di dalam air segenap senjata itu tak terhalangi untuk membabat dan diobat-abitkan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Namun di dalam air terjun yang tiada mampu menyeret diriku tanpa ketubuhanku aku cukup bergeser ke kiri dan ke kanan dengan tenang, tetapi dengan amat sangat cepatnya menancapkan pisau bergagang gading ke jantung dan mencabutnya lagi tanpa sempat disadari.

Aku masih sempat menikmati kedirianku tanpa ketubuhan sejenak, merasakan bagaimana tersiram tanpa menjadi basah, sebelum akhirnya keluar dari balik tabir air terjun, dan menyaksikan bagaimana pantulan cahaya yang berkilat-kilat dari Pedang Mata Cahaya melingkar-lingkar menghabisi para penyerbu Golongan Murni itu, yang meskipun berilmu sangat tinggi, bagaimana mungkin menghadapi I lmu Pedang Mata Cahaya yang tiada duanya ini?

Lawan Elang Merah tinggal satu dan ia tidak membunuhnya. Pedangnya bergerak cepat sekali. Pedang lawannya segera terpental, ujung pedangnya sendiri sudah menempel di bawah dagunya. Tangan kirinya mencabut fu tou dari kepala orang itu, dan tampaklah rajah Mata Ketiga di dahinya.

Elang Merah yang cantik itu meludah dengan jijik.

"Mata Ketiga! Setiap orang yang ditahbiskan sebagai anggota Golongan Murni mendapat rajah Mata Ketiga di dahinya! Karena mereka merasa tahu segalanya sebagai manusia dengan aliran darah terunggul dalam dirinya!"

Lantas ia me ludah untuk kedua kalinya. Ludahnya melayang masuk jurang. Dalam gemuruh air terjun ia berteriak lantang.

"Kalian berbelas-belas orang yang mengeroyokku dikalahkan seorang perempuan Tubo! Apa katamu!" ORANG itu menelan ludah dan siap menerima kematian. Aku juga melihat rajah di dahi orang yang berilmu silat tinggi tetapi terkalahkan itu. Benarkah ia rela mati demi kepercayaan Golongan Murni, bahwa bangsa Negeri Atap Langit harus dijaga kemurnian darahnya, antara lain dengan cara membunuhi orang-orang as ing yang melampaui perbatasan? Aku meragukannya. Seperti juga yang terjadi dengan perkumpulan rahas ia di Javadvipa, apa pun yang semula dilakukan demi pengabdian, kemudian dilakukan hanya demi uang. Bahkan demi uang seseorang bersedia mendapatkan rajah di dahinya dan melakukan pembunuhan, karena sejak berlangsungnya Pemberontakan An Lushan, kesejahteraan yang pernah bisa dinikmati banyak orang seperti tidak akan pernah kembali lagi. Pernah kudengar betapa Golongan Murni membayar mahal kepada siapa pun yang bersedia dan mampu melaksanakan tugas-tugas mereka.

Elang Merah sudah siap menusukkan pedangnya menembus leher, ketika aku berkata, "Elang Merah yang perkasa, tidak mungkinkah kita membiarkannya hidup agar kita mendapatkan sedikit pengetahuan darinya? Mereka telah menunggu kita di tempat ini. Sahaya pikir ini bukan sekadar kebetulan sahaja."

Tanpa menjawab, Elang Merah langsung menyambar tengkuk orang itu, mendorongnya seperti akan menjerumuskannya ke jurang, tetapi dengan sebat menangkap kakinya, sehingga orang itu tergantung dengan kepala di bawah dengan wajah merah karena darah yang mengalir turun. Tentu dilihatnya jurang tanpa dasar itu, tempat air terjun telah menggulung segenap anggota Golongan Murni yang terpental ke sana.

(Oo-dwkz-oO)