-->

Legenda Pendekar Ulat Sutera Jilid 07

Jilid 07

Lam-touw dan Siau Cu mencengkram pundak Lu Tan dan membentak:

“Cepat pergi dari sini!”

“Orang di luar bukan orang kalian?” Lu Tan tidak lupa bertanya. “Kalau kita bisa mempunyai orang begitu banyak, untuk apa

mengendap-endap masuk merebut orang!” kata Siau Cu.

“Siapa mereka?” tanya Lu Tan.

“Orang-orang Pek-lian-kau!” kata Lam-touw. “Aku harus menyelamatkan dia!” kata Lu Tan.

“Kau! Aku lihat kau berdiri saja susah, bagaimana bisa menyelamatkan orang?”

“Kalau begitu, kalian berdua...”

Kata-kata berikutnya belum dikatakan, Lam-touw sudah mencegat: “Walaupun gadis ini selalu membuat kita repot, tapi dia bukan orang jahat. Siau Cu, Kuncu aku serahkan kepadamu. Aku menggendong Lu Tan keluar untuk berkumpul dengan Hiong-kun!”

“Lebih baik aku yang menggendong Lu Tan meninggalkan tempat ini!”

“Guru sudah tua, mana mungkin bisa bertarung dengan begitu banyak orang?” Tanpa menung gu Siau Cu menjawab, dia sudah menggendong Lu Tan.

“Gadis ini benar-benar merepotkan! Walaupun aku menyelamatkan dia, belum tentu dia berterima kasih. Mungkin malah akan balik menyerangku dengan pedang!”

“Kau sudah mengerti, itu bagus!” kata Lam-touw. Dia segera menggendong Lu Tan lari. 3-4 pembunuh Pek-lian-kau sudah masuk. Karena mereka tidak mengenal Lu Tan, maka mereka mengira Siau Cu adalah Lu Tan dan segera menyerangnya.

Siau Cu seperti seekor macan tutul, menendang, menepis, bersalto beberapa kali, dia sudah turun di bawah jendela.

Pembunuh Pek-lian-kau ingin masuk dari jendela. Siau Cu lebih dulu menendang dan melempar mereka keluar dari jendela.

Berturut-turut pembunuh Pek-lian-kau sudah masuk. Siau Cu meloncat keluar jendela dan melewati pagar, kemudian masuk ke dalam semak-semak.

Seorang pembunuh segera berteriak:

“Lu Tan berada di sini...”

Semua orang mengepung. Siau Cu di semak-semak berlari mendekat ke arah Su Ceng-cau.

Tadinya dia ingin membantu Su Ceng-cau tapi baru mau berlari dia berhenti lagi, malah berlari ke arah yang berlawanan.

Pada waktu itu ada bayangan seseorang yang seperti kuda langit berlari melewati pagar dinding yang tinggi dan berlari ke arah sini. Dua orang Pek-lian-kau menyambutnya. Tapi sebelum menyerang, mereka sudah terkena pukulan orang yang datang, dan terlempar jauh.

Orang itu tidak mempedulikan pembunuh-pembunuh yang lain. Dia terbang melewati bunga-bunga dan pohon-pohon, dan turun di sisi Su Ceng-cau. Pedang segera dikeluarkan untuk menahan kipas lipat Lan Ting-ji.

Pedang yang dikeluarkan adalah pedang yang sudah patah.

Setelah Lan Ting-ji melihatnya, dia segera berkata: “Siau Sam Kongcu...” dan segera meloncat mundur.

Cui Beng yang tadinya sedang mengejar Siau Cu, segera berlari kembali dan mengambil posisi di sisi Lan Ting-ji. Dengan pentungan dia menahan serangan pedang patah Siau Sam Kongcu.

Siau Sam Kongcu membentak:

“Siapa yang berani buat keributan di Ling-ong-hu?” lalu menarik pedang.

Cui Beng tertawa sinis:

“Ternyata adalah Siau Sam Kongcu. Sangat beruntung bisa bertemu tapi sayang malam ini kami ada perlu. Kelak bila berjodoh, kami baru datang meminta petunjuk!” Tidak menunggu jawaban Siau Sam Kongcu, dia sudah mundur, Su Ceng-cau ingin mengejar, Siau Sam Kongcu segera mencegat:

“Jangan dikejar!”

Lan Ting-ji melipat kipas, dia juga mundur.

Pengawal dan penjaga Ling-ong-hu baru datang dari semua penjuru. Tapi dengan ilmu silat mereka, yang pasti tidak bisa menghadang Pek-lian-kau. Orang yang ingin mengejar segera dicegat oleh Siau Sam Kongcu.

Su Ceng-cau terus berteriak: “Lu Tan...” Tentu saja Lu Tan tidak akan menjawab. Orang-orang Pek-lian- kau mengira Lu Tan (Siau Cu yang menyamar) sudah kabur dari kekacauan tadi.

Semua sudah berjalan sesuai rencana. Lam-touw segera berkumpul dengan Fu Hiong-kun. Tidak lama kemudian Siau Cu juga datang.

Lu Tan sangat khawatir. Begitu melihat Siau Cu, dia segera bertanya:

“Bagaimana keadaan Kuncu?”

“Siau Sam Kongcu sudah kembali. Pengawal Ling-ong-hu juga datang dari semua penjuru. Katakan apa yang bisa terjadi dengan dia?”

Lu Tan menghembuskan nafas lega. Siau Cu melihat dia dengan dingin:

“Kami kira ketika kau jatuh di tangannya pasti disiksa habis- habisan, tapi tidak disangka kau begitu senang. Kalau tahu, aku lebih memilih untuk tidur di Pek-in-koan daripada menyelamatkanmu. Itu akan lebih nyaman!”

“Kuncu adalah orang baik...” Siau Cu tertawa dingin:

“Kau kira dia menahanmu di sini karena baik hati dan tidak ada tujuan lain?”

“Dia masih ada tujuan apa?”

“Kau tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan sekarang. Sejujurnya, apakah kau mau kita mengantarmu kembali ke Ling- ong-hu?”

Lu Tan tertawa kecut:

“Murid-murid Pek-lian-kau sudah tahu aku bersembunyi di dalam Ling-ong-hu. Aku lihat lebih baik aku meninggalkan tempat itu. Kalau tidak, akan lebih mereportkan mereka. Karena keributan ini pasti diketahui oleh Ong-ya, aku tidak enak tinggal di sana lagi!” “Kedengarannya kau masih ingin terus tinggal di Ling-ong-hu!

Apakah karena Tiang-lek Kuncu?”

Lu Tan mau membela. Lam-touw sudah mencegat: “Apa yang masih terus kalian debatkan?”

Siau Cu seperti melihat ada sebuah lampion besar berwarna kuning keluar dari hutan.

Di belakang lampion tampak seorang hweesio setengah baya berbaju kuning. Dia berjalan dengan tidak seimbang, seakan bisa terjatuh kapan saja. Tapi sampai dia di depan keempat orang ini, dia tetap tidak terjatuh.

“Utusan lampu biru?” tanya Lam-touw dingin.

“O-mi-to-hud...” Hweesio berbaju kuning tertawa, “aku tidak sengaja...”

Tawanya tidak seperti seorang hweesio, ketika tawanya terlihat dia tidak baik hati, malah terlihat seperti licik dan jahat!

“Semua orang sudah tahu hatimu sudah diambil untuk memberi makan anjing.” Lam-touw melayangkan tangan kepada Siau Cu.

Siau Cu segera mengerti:

“Pertama kali guru melakukan hal yang paling terbuka!”

“Kau adalah sampah dari kalangan Budha, kau kira aku masih bisa membuka pintu maaf untukmu? Sudahlah, jangan banyak bicara, kita bereskan saja dia!”

“O-mi-to-hud...” Bu-sim (Tidak berhati) mem bacakan bacaan Budha, sepasang telapak tangannya disatukan. Lampion yang dipegangnya lalu terbang ke atas dan meledak.

Sorot mata keempat orang melihat ke atas. Ketika melihat ledakan lampion, sorot mata mereka menjadi silau, terlihat oleh mereka sederetan lampion kuning keluar dari hutan. Mereka masih mengira lampion-lampion itu adalah hasil ledakan dari lampion besar. Sederetan lampion kuning tergantung di atas pohon. Di bawah lampion kuning berdiri hweesio muda berbaju kuning. Mereka membawa golok bergerak mengurung Lam-touw berempat.

Begitu melihatnya, Lu Tan segera berteriak:

“Kalian bertiga harap tinggalkan aku!”

“Sejak kapan kau belajar berbicara seperti itu?” Siau Cu marah. “Betul! Sejak kapan?” Lam-touw berkata. Dia membentak,

“Hajar!” Dia segera menggendong Lu Tan berlari ke arah Bu-sim.

“Budha yang baik hati, ijinkan muridmu mem buka pantangan membunuh!” Bisa-bisanya Bu-sim berkata seperti itu. Tangannya mengulur ke belakang. Dua hweesio muda sudah menggotong sebuah tongkat hweesio yang berat dan menyerahkan ke tangannya.

“Sapu bersih!” Dia membentak, tongkatnya segera menyapu, timbul aangin sangat keras, mengejutkan orang.

Lam-touw cepat mundur. Tongkat Bu-sim terus menyapu dan mengejar dari belakang. Tongkat yang begitu berat sampai di tangannya terlihat ringan. Dia terus menyerang Lam-touw. Pada waktu itu juga angin keras bertiup, semua pasir dan debu tergulung ke atas, sinar lampu berubah menjadi buram.

Siau Cu dan Fu Hiong-kun ingin menolong, tapi begitu bergerak, mereka sudah terkurung oleh banyak golok.

Pedang Fu Hiong-kun harus menahan tujuh orang musuh. Walaupun santai tapi ingin keluar dari kepungan bukan hal yang mudah. Tiba-tiba Siau Cu berhasil membunuh satu pembunuh lampion kuning dan merebut goloknya. Tapi ingin keluar dari kepung an juga bukan hal yang mudah baginya karena semakin banyak pembunuh lampion kuning yang mendatangi.

Ilmu meringankan tubuh Lam-touw benar-benar tinggi. Walaupun sedang menggendong orang, dia tetap bisa bolak-balik menghindar di bawah tongkat hweesio Bu-sim dan tidak terluka. Setelah menghindar, dia segera bersembunyi di hutan. Bu-sim terus-menerus menumbangkan tiga pohon besar yang menghadang jalannya. Pohon roboh itu malah menghadang tubuh untuk bergerak maju, terpaksa dia berputar ke belakang pohon untuk sampai di belakang Lam-touw.

Lam-touw lebih santai menghadapinya, maka lebih banyak berbicara. Sepanjang jalan dia terus menghina dan bercanda dengan Bu-sim. Dia berharap Bu-sim bisa marah sehingga dia bisa mendapatkan kesempatan untuk membalas dan merobohkan Bu- sim.

Tapi emosi Bu-sim tidak terpancing, dia malah tertawa dan tawanya semakin keras. Sepertinya sulit mendapat kesempatan untuk bermain kejar-kejaran. Tapi Lam-touw tidak berpikiran begitu. Dari awal dia tahu hweesio ini sangat licik dan berbahaya. Ketika dia semakin marah, dia malah pura-pura memperlihatkan diri seperti tidak marah.

Maka Lam-touw sama sekali tidak khawatir. Tiba-tiba suara Bu- sim berhenti, tawanya juga menghilang.

Lam-touw tahu saat hweesio ini tidak tertawa malah adalah waktu yang paling senang. Dia menoleh ke belakang, benar saja puluhan lampion berwarna putih dan biru sudah datang mengepung.

Sebelum lampion-lampion itu sampai, dia sudah keluar dari hutan. Baru bergerak mundur, Lan Ting-ji dan Cui Beng sudah datang ke tempat dia tadi. Kalau tadi dia tidak mundur, sekarang dia akan dikepung oleh tiga utusan lampion. Dengan keadaan sekarang, bila satu lawan tiga, akibatnya tidak ter-bayangkan.

Lan Ting-ji, Cui Beng dan Bu-sim terus menge jar. Sebelum mereka sampai, Lam-touw sudah menerobos masuk ke pembunuh- pembunuh lampion kuning. Dia menabrak ke sana kemari. Menghadapi Fu Hiong-kun dan Siau Cu sebenarnya sudah berat bagi pembunuh-pembunuh lampion kuning. Sekarang Lam-touw datang menyerang kesana kemari, membuat mereka segera menjadi kacau. Tujuan Lam-touw memang sedang membuat kekacauan.

Bu-sim bertiga sudah mengetahui maksud Lam-touw. Bu-sim berpesan kepada pembunuh biru dan putih untuk memasang barisan dan memberi isyarat kepada pembunuh kuning untuk mundur.

Maksud Lam-touw adalah terus membuat keributan, tapi Siau Cu dan Fu Hiong-kun malah datang ke sisinya. Mereka bermaksud melindungi dia dan Lu Tan, tapi malah membuat Lam-touw sulit bergerak.

Akhirnya dia berhenti:

“Baik! Sekarang kita menunggu mati!”

Tiga utusan kuning, putih dan biru sudah menyusun barisan untuk mengepung Lam-touw berempat.

“Kalian bertiga...” kata Lu Tan cepat.

Baru menyebutkan dua kata, Siau Cu sudah mencegat: “Apa yang mau kau katakan lagi?”

“Mereka hanya ingin menangkapku, untuk apa kalian bertiga demi aku...”

“Sampai sekarang kau masih berkata seperti ini, apakah kau mau menghancurkan semangat kita agar kita bisa dibunuh?”

“Apakah Liu Kun menyuruhmu melakukan ini?” tanya Siau Cu. Terpaksa Lu Tan menutup mulut. Siau Cu baru bertanya: “Guru, kali ini berapa besar kesempatan kita untuk bisa kabur?” “Tidak banyak, sekitar 90%!” Lam-touw seper ti tidak menaruh

musuh di matanya.

“Seorang hweesio jarang berbohong. Menurutku kesempatan kalian berempat bisa kabur tidak sampai 1%!”

Baru menyelesaikan kata-katanya, pembunuh-pembunuh yang mengelilingi Lam-touw dan lain-lain terlihat kacau-balau, dan ada lowongan! Lowongan di sana adalah menghadap ke arah hutan. Empat pembunuh yang tadi berdiri di sana sekarang roboh bersimbah darah.

Mereka roboh, empat orang berbaju hitam dan bertutup wajah muncul seperti hantu gentayangan. Mereka masing-masing memegang pedang, menampakkan mata yang sangat jernih, terang dan indah. Tapi entah mengapa membuat orang merasa itu bukan mata manusia. Kalau dilihat lagi, membuat orang merinding.

Bu-sim melihat mereka, dia segera bertanya: “Barisan pedang apa itu?”

Empat orang berbaju hitam dan bertutup wajah berdiri dengan barisan punggung mereka saling berhadapan. Tangan kanan memegang pedang. Gerakan mereka sama.

“Aku tidak bisa melihat barisan apa, tapi sedikit mirip dengan Su-hiong-kiam-hoat (Barisan 4 gajah)!” jawab Lan Ting-ji.

“Hanya sedikit mirip!” kata Bu-sim.

“Kalian berdua mengerti mainan seperti ini, tapi aku tidak. Aku bukan di bidang ini!” kata Cui Beng.

Lan Ting-ji mengerutkan alis:

“Kita coba lagi!” Dengan kipas lipat dia menunjuk empat pembunuh lampion biru, kemudian menunjuk empat orang berbaju hitam yang bertutup wajah.

Empat pembunuh segera menyerang dengan pedang. Empat orang berbaju hitam seakan tidak melihat serangan mereka, sampai empat pembunuh lampion biru sudah mendekat, mereka baru bergerak. Yang satu mundur, yang satu maju.

Yang mundur menghindar dari serangan pedang yang datang, yang maju menutupi pedang panjang empat pembunuh lampion biru. Tiba-tiba mereka berputar, keempat pedang mereka langsung menyerang jalan darah penting empat pembunuh lampion biru. Empat pembimuh lampion biru ingin menahan serangan sudah tidak sempat, mereka segera mundur. Empat orang berbaju hitam yang bertutup wajah baru mengejar, tapi bentuk penyerangan mereka tetap bersilang. Waktu itu mata masih tidak bisa melihat dengan jelas. Begitu melihat jelas, pedang sudah sampai pada empat pembunuh lampion biru.

Salah satu dari empat pembunuh lampion biru dengan lincah menghindar, tapi tenggorokannya sudah tergores pedang. Walaupun nyawanya selamat, tapi keringat terus menetes. Sisa tiga pembunuh lampion biru yang lain langsung roboh dan mati.

Lan Ting-ji, Bu-sim dan Cui Beng benar-benar terkejut. Tadi mereka tidak melihat. Sekarang baru melihat jelas dan tahu kelihaian empat orang berbaju hitam.

Dengan kipas lipat menunjuk kepada empat orang berbaju hitam, bertanya:

“Siapa kalian? Mengapa bertentangan dengan Pek-lian-kau?”

Empat orang berbaju hitam seperti tidak mendengar juga tidak melihat. Lan Ting-ji menunggu sebentar, dia tertawa dingin:

“Kalian berempat meremehkan aku, tapi aku marga Lan tetap masih ingin mencoba!” Dia mulai menyerang, Cui Beng sudah terbiasa bekerja sama dengan dia, maka dia juga ikut bergerak, menyerang dari arah yang berbeda.

Empat orang berbaju hitam bergerak pada waktu bersamaan. Mereka saling bersilang, sangat lincah, sinar pedang dan gerakan tubuh sama-sama berkelebat.

Lan Ting-ji dan Cui Beng belum sampai pada mereka, matanya sudah dikacaukan oleh pedang. Empat orang berbaju hitam terlihat menjadi 16 orang. Mereka berteriak, “Celaka...” Kipas lipat dan pentungan diarahkan untuk melindungi diri sendiri. Walaupun reaksinya cepat, tangan kanan tetap tergores oleh ujung pedang.

Mereka berdua jadi ketakutan dan berlari kembali ke sisi Bu-sim.

Melihat luka di tangannya, mereka benar-benar terkejut.

Bu-sim melihat mereka, dia mengeluh: “Tempat ini jalan lama ditinggal...” Kemudian membentak, “Mundur!” Pembunuh-pembunuh segera mundur. Bu-sim membaca bacaan Budha:

“Kita bertemu lagi di lain waktu...”

Lan Ting-ji dan Cui Beng sama-sama mundur. Tidak ada reaksi yang ditunjukkan oleh empat orang berbaju hitam. Setelah semua orang Pek-lian-kau pergi, pedang baru dimasukkan ke dalam sarung. Siau Cu segera maju ke depan:

“Terima kasih kepada kalian berempat! Apakah kalian bisa menemui kami dengan wajah asli atau memberitahukan marga dan nama kalian agar kelak kami bisa ke sana untuk berterima kasih?”

Empat orang berbaju hitam sama-sama menggelengkan kepala. Mereka kembali ke hutan. Siau Cu ingin mengejar, tapi dibentak oleh Lam-touw:

“Jangan melakukan hal yang tidak berguna!”

“Apakah guru sudah mengetahui identitas mereka?” Siau Cu balik bertanya.

Lam-touw menggelengkan kepala. Dia seperti sedang berpikir.

Kata Siau Cu:

“Aneh, mengapa bisa muncul tepat waktu dan membuat orang- orang Pek-lian-kau mundur.”

“Seharusnya teman...” Fu Hiong-kun tetap melihat ke arah sana. “Mereka muncul pasti ada tujuan lain!” Lam-touw tertawa: “Terhadap apa yang terjadi tadi, kita pantas berterima kasih

kepada mereka. Kalau mereka tidak muncul, tiga utusan lampion

dan pembunuh-pam-bunuh sulit kita hadapi.” Siau Cu melihat Lu Tan:

“Sepertinya nasibmu memang tidak jelek, di mana-mana ada Kui-jin (dewa penolong) yang selalu membantumu!”

Lu Tan hanya bisa tertawa kecut. Dia benar-benar tidak bisa menjawab.

82-82-82 Lam-touw dan Fu Hiong-kun berpikir lebih baik kembali ke Pek- in-koan untuk menutup mata telinga Liu Kun. Liu Kun pasti sudah memasang mata-mata di daerah Ling-ong-hu. Dalam keadaan seperti itu, kemana pun mereka pergi akan sama saja.

Mereka juga terpikir mungkin Pek-in-koan sekarang sudah bukan lagi tempat yang tepat untuk dituju.

Kembali ke Pek-in-koan. Yang mereka lakukan pertama kali adalah mengeluarkan semua murid Bu-tong. Malam itu juga mereka meninggalkan ibu kota untuk pergi ke tempat lain.

Pada waktu yang bersamaan Lam-touw berempat juga kembali ke dalam kota. Melalui jalan rahasia mereka kembali ke rumah An- lek-hou.

Liu Kun benar-benar memasang banyak mata-mata di daerah Ling-ong-hu. Sebagian pasukan dikerahkan untuk mengejar murid- murid Bu-tong-pai, sebagian lagi mengejar Lam-touw dan lain-lain. Bagi Lam-touw, ingin menghindar dari mereka adalah hal yang mudah. Setelah masuk An-lek-hu dan bertemu dengan Tiong Toa- sianseng, Tiong Toa-sian-seng membawa mereka ke belakang di sebuah kamar rahasia bawah tanah.

Tidak lama kemudian Su Yan-hong pulang. Dia segera masuk ke ruang rahasia itu. Dia tidak merasa heran bila keempat orang ini datang kemari. Yang membuat dia merasa aneh adalah empat orang berbaju hitam dan bertutup wajah yang diceritakan mereka.

Fu Hiong-kun sekarang sudah menemukan penyebab penyakit Lu Tan.

“Goan-kut-san?” (Bubuk pelemas tulang).

Lu Tan benar-benar tidak percaya, bahkan yang lain juga merasa hal ini di luar dugaan.

“Orang ini. ” Su Yan-hong menggeleng-gelengkan kepala.

“Dari awal aku sudah berkata gadis ini bisa melakukan apa saja! Bila ada waktu, aku akan menghajar dia agar dia tahu rasa dan tidak sembarangan melakukan sesuatu!” “Sudahlah...” Lu Tan masih membela Su Ceng-cau, “mungkin dia sendiri juga tidak tahu kalau itu adalah Goan-kut-san!”

“Aku lihat selain Goan-kut-san, masih ada obat-obat lain yang mengikatmu sampai-sampai hatimu tertutup, sampai-sampai dalam situasi seperti ini kau masih membela dia!”

Lu Tan tertawa kecut. Siau Cu masih berteriak:

“Tapi aku tidak melihat gadis ini mempunyai ide yang jahat lagi!” “Tidak...tidak akan...”

“Katakan dia menolongmu atau mencelaka-kanmu?” Lu Tan tidak sanggup menjawab. Kata Siau Cu lagi:

“Kau tahu apa akibatnya jika terus minum obat Goan-kut-san?” Lu Tan terdiam. Siau Cu berkata kepada Su Yan-hong: “Pandangan Hou-ya tetap lebih jernih. Jelas-jelas tahu orang

seperti dia sulit dilayani, apapun yang terjadi juga tidak setuju...”

Lam-touw mendorong Siau Cu dan memberi-tahu dia untuk tidak meneruskan kata-katanya. Siau Cu tetap masih mengomel:

“Hati perempuan seperti jarum di dasar laut. Pepatah ini benar- benar tidak salah. Untung aku tidak tertarik pada perempuan...”

“Betulkah?” Lam-touw bertanya.

Siau Cu segera teringat Lamkiong Bing-cu. Diam-diam berkata: “Yang pasti bukan semua perempuan seperti itu, seperti Nona Fu

cantik dan baik hati.

Fu Hiong-kun tertawa:

“Mengapa menyambung kepadaku?” Lam-touw tertawa dingin:

“Untung perempuan itu tidak ada di sini!” Siau Cu cepat mengganti topik pembicaraan: “Empat orang berbaju hitam dan bertutup wajah itu benar-benar lihai, siapakah mereka?”

“Apakah Cianpwee mempunyai pandangan lain?” tanya Su Yan- hong.

Dengan serius Lam-touw berkata: “Mungkin mereka orang-orang keluarga Lam-kiong?”

“Apakah ilmu silat yang mereka pakai adalah ilmu silat keluarga Lamkiong?” tanya Su Yan-hong.

“Barisan seperti tadi tidak pernah kulihat. Dari ilmu silat, tidak bisa terlihat mereka datang dari mana. Hanya terlihat dari bentuk tubuh mereka bukan laki-laki. Ilmu silat perempuan yang bagus dari daerah sini hanya sekeluarga keluarga Lamkiong. Maka aku berpikir seperti itu!”

“Mengapa keluarga Lamkiong menyelamatkan kita?” tanya Siau Cu aneh.

“Mungkin mereka adalah orang-orang yang menjaga keadilan dan kebenaran, mungkin juga karena kau!”

“Suhu bercanda lagi!” Siau Cu dengan malu menghindar.

83-83-83

Su Ceng-cau tidak bisa tertawa lagi, kehilangan Lu Tan adalah salah satu alasannya. Selain itu wajah Ling-ong yang seram, itu juga alasannya.

Dia tetap berkata dengan cerewet:

“Mengenai masalah ini ayah harus mengambil keputusan yang tepat. Tempat ini adalah rumah Ong-ya, mana bisa kita mengijinkan orang-orang membuat masalah di rumah kita?”

Ling-ong terdiam. Siau Sam Kongcu melihat wajah Ling-ong dan tahu kalau diteruskan, akan tidak beres. Dia mengedipkan mata kepada Su Ceng-cau agar tidak banyak bicara. Tapi Su Ceng-cau tidak peduli, dia berkata:

“Orang itu benar-benar menganggap Ling-ong-hu adalah jalan umum. Tadinya aku ingin menghajar mereka, tidak disangka ilmu silat mereka begitu tinggi. Untung guru cepat pulang, Guru benar- benar pintar berhitung, bukankah begitu?”

Dia bertanya Siau Sam Kongcu, karena dia ingin menarik Siau Sam Kongcu ke dalam air keruh ini. Tapi Siau Sam Kongcu malah diam. Terpaksa dia berkata kepada Ling-ong: ''Ayah adalah Ong-ya, apakah masalah ini kita harus diamkan? Kita harus mencari tahu siapa mereka dan menghukum mereka dengan berat..

Akhirnya Ling-ong buka suara tapi wajahnya sangat seram: “Apakah kau belum selesai bicara dan apakah belum cukup?”

Akhirnya Su Ceng-cau bisa melihat ada yang tidak beres. Tapi dia tetap tidak takut dan dengan manja berkata:

“Ayah, apakah aku salah bicara?”

“Kurang ajar sekali...” Ling-ong memukul meja, “Ceng-cau, ayah terlalu sayang kepadamu, sehingga membuatmu semakin berani dan membuat masalah Kau benar-benar semakin tidak terkendali!”

“Kapan aku membuat masalah di luar? Aku diam di rumah. Entah mengapa sekelompok orang itu masuk ke daiam rumah kita!” Su Ceng-cau masih mau membela diri, “kalau ayah tidak percaya, ayah bisa bertanya...”

“Diam!!” Ling-ong membentak, “kau benar-benar tidak tahu diri! Apa yang telah kau lakukan, kau kira ayah tidak tahu!”

“Aku sudah melakukan apa?”

“Kau adalah seorang putri tapi kau menyembunyikan buronan kerajaan dan menentang Liu-kongkong?”

Wajah Su Ceng-cau segera berubah:

“Tidak ada hal seperti itu.”

“Kau masih mau membantah? Gerak gerikmu dan apa yang kau lakukan, aku tahu semua seperti jari tanganku! Mengapa aku tidak membukanya, karena aku hanya berharap kau hanya mencari kesenangan sejenak dan akan cepat mengantar orang itu pergi. Tapi siapa tahu kau...” Ling-ong berhenti dan menarik nafas, “apakah kau tahu kau hampir membuat sebuah tragedi yang besar?”

Su Ceng-cau menundukkan kepala. Ling-ong berkata lagi:

“Di sini bukan Lam-kiang. Kalau orang-orang Liu Kun dengan terang-terangan mendapatkan buron an kerajaan di sini...” “Karena dia tidak yakin maka dia menggunakan cara seperti itu...” Su Ceng-cau berkata dengan suara kecil.

“Untung dia belum yakin...” Ling-ong menarik nafas. Siau Sam Kongcu menyela:

“Pandanganku adalah orang yang datang bukan anak buah Liu Kun, tapi adalah murid-murid Pek-lian-kau!”

“Apakah mungkin Pek-lian-kau bersekongkol dengan Liu Kun?” Ling-ong mengerutkan alis.

“Sangat mungkin!” kata Siau Sam Kongcu.

“Jamuan di Si-cu-lou benar-benar adalah akal-akalan Liu Kun untuk memancing harimau keluar dari gunung. Tapi untung Liu Kun masih memberiku sedikit muka!”

“Orang dia yang melabrak masuk...” Su Ceng-cau berteriak lagi. “Tidak ada yang meninggal atau mati dalam Ling-ong-hu,

apakah kau belum mengerti?” Ling-ong menggelengkan kepala.

Mata Su Ceng-cau berputar-putar:

“Berarti Liu Kun juga takut kepada ayah...”

“Kau mengerti apa? Cepat masuk untuk merenungkan kesalahanmu! Mulai sekarang tanpa ijin dariku kau tidak boleh keluar satu langkahpun dari rumah!”

Awalnya Su Ceng-cau bengong, kemudian menghentakkan kaki dan berlari masuk. Ling-ong melihat putrinya masuk, baru berkata kepada Siau Sam Kongcu:

“Siau-sianseng, sudah merepotkanmu!”

''Setelah masalah ini lewat, aku kira Ceng-cau akan bisa mengurangi adatnya, itu bukan hal yang jelek!”

“Aku berharap akari seperti itu!” Ling-ong tertawa kecut, “Salahku sendiri, dari kecil terlalu memanjakan dia maka membuat masalah seperti ini.” Kemudian dia bertanya, “apakah Lu Tan sudah diselamatkan oleh orang-orang Su Yan-hong?”

“Seharusnya begitu!” “Mungkin Liu Kun akan marah besar!” Ling-ong tersenyum, “sebenarnya hanya seorang Lu Tan, tidak perlu begitu tegang!”

Siau Sam Kongcu diam, karena dia telah melihat Ling-ong sudah mempunyai rencana lain, tapi dia tidak mengerti. Dia hanyalah seorang dunia persilatan, bukan politikus.

84-84-84

Memang Liu Kun sangat marah tapi dia sedang menahan diri.

Sampai nada bicara juga bisa dijaga agar terdengar tenang: “Tan Koan, katakan...”

Orang kepercayaannya Tan Koan adalah seorang kasim. Dengan ketakutan dia berkata:

“Orang-orang itu benar-benar masuk ke Pek-in-koan, tapi begitu kita mengepung dan siap menyerang, Pek-in-koan sudah kosong, sama sekali tidak ada orang di sana!”

Dengan santai Liu Kun berkata:

“Turunkan perintahku. Semua orang yang bertanggung jawab dalam hal ini diturunkan pangkat tiga tingkat, dan kirim orang untuk membakar Pek-in-koan!”

Tan Koan pergi dengan tergesa-gesa.

Sekarang Liu Kun baru bertanya kepada Bu-sim, Cui Beng dan Lan Ting-ji:

“Apakah kalian bertiga apakah terpikir siapa empat orang berbaju hitam bertutup wajah itu?”

Bu-sim menarik nafas:

“Harap Kiu-cian-swe bisa memaafkan kegagalan kami!” “Sudahlah, seharusnya aku jangan begitu keras kepala, Lu Tan

bukan orang penting!”

“Kiu-cian-swe...:

“Kapan dua Kaucu selesai berlatih?”

Wajah ketiga orang   itu segera berubah, sebab mereka menangkap dari nada bicara Liu Kun bahwa mereka tidak berguna. Hanya menunggu Thian-te-siang-kun selesai berlatih, baru bisa menyelesaikan semua masalah.

“Mungkin tidak lama lagi!” terpaksa Bu-sim berkata begitu. “Baiklah!” Liu Kun berbaring lagi.

Tiba-tiba Tan Koan masuk dan berkata:

“Kiu-cian-swe...”

“Apa lagi yang terjadi?” Hati Liu Kun tegang tapi dia tetap berusaha tenang.

“Kepala pasukan Lam-khia, Ong-souw-jin ti dak tahu diri. Dia memberikan surat yang menyatakan kesalahan baginda!” Tan Koan dengan bersemangat melapor.

“Oh? Mana bukunya?” tanya Liu Kun.

Tan Koan cepat-cepat memberikan buku pada Liu Kun. Liu Kun membaca, kemudian berkata:

“Orang ini memang mempunyai sifat seorang sastrawan. Kali ini dia pasti kena batunya!”

Liu Kun segera menyuruh Tan Koan memper-silahkan kaisar ke Bu-eng-tian. Tapi kaisar sedang berleha-leha di kamar, mana mungkin Tan Koan memanggil kaisar, dia juga tidak berani melawan perintah kaisar. Maka dia segera kembali dan memper- silahkan Liu Kun ke kamar kaisar.

Semua sesuai dugaan Liu Kun. Dia segera membawa buku yang ditulis Ong-souw-jin menemui kaisar. Dia memikirkan apa yang harus dia katakan saat Tan Koan berjalan ke kamar kaisar dan kembali.

Dia pikir tidak perlu banyak bicara. Begitu melihat buku yang ditulis Ong-souw-jin, kaisar pasti sudah marah besar. Ong-souw-jin berkata bahwa setiap hari kaisar selalu tenggelam di pelukan perempuan, maka tidak benar-benar mengurus negara.

Liu Kun sudah lama melayani kaisar, dia tahu kaisar paling benci orang yang menyinggung kehidupan pribadinya. Reaksi kaisar sesuai perkiraan Liu Kun. Kaisar malah menyiram minyak ke dalam api. Dia terbakar emosi. Dia menyetujui apa yang Liu Kun katakan dan menyerahkan semua penanganan masalah ini kepada Liu Kun. Dia segera memanggil Ong-souw-jin dan langsung memecatnya dari jabatan komandan Kota Lam-khia.

_ Tadinya Liu Kun ingin mengambil kesempatan ini untuk membunuh Ong-souw-jin, tapi kaisar merasa Ong-souw-jin biasanya sangat bertanggung jawab juga sering kali berjasa, maka Ong-souw-jin dibebaskan dari hukuman mati. Ini adalah hal paling tidak disukai Liu Kun. Tapi begitu melihat Ong-souw-jin dihajar sampai terluka, dia sangat senang.

Kemudian kaisar menurunkan perintah untuk mengusir Ong- souw-jin dari ibukota dan menempatkan dia ke San-se-ta-tong untuk menjadi seorang pejabat yang rendah.

Liu Kun tidak berpikir panjang. Asalkan Ong-souw-jin tidak berada di ibukota dan tidak melawan nya, maka dia setuju dengan perintah kaisar. Dia bersukaria kembali ke tempat tinggalnya.

85-85-85

In Thian-houw, Tiang-seng, dan Hongpo bersaudara sangat senang mendapatkan kabar ini, lalu berkata:

“Setelah mencabut paku ini, kelak mereka akan bisa tidur nyenyak tanpa mengkhawatirkan apapun!”

Liu Kun sangat senang. Dia tertawa terbahak-bahak. Dia sudah mencoba menggulingkan Ong-souw-jin bukan satu atau dua kali, tapi hari ini akhir- nya keinginannya tercapai juga, dan kejadian kali ini benar-benar lancar.

“Aku ingin lihat apakah pejabat rendah di San-se-ta-tong masih bisa melawanku?” Tapi begitu mengucapakan kata-kata ini, tawa Liu Kun membeku. “San-se..,” dia berkata sendiri, “bulan depan kaisar akan mengadakan inspeksi ke Tai-goan, San-se...Tai- goan...Ini adalah siasat yang akan mendatangkan petaka!” Dia berteriak tiba-tiba karena baru mengerti.

Hongpo Ih merasa aneh:

“Siasat petaka seperti apa?” “Betul...” tanya In Thian-houw juga.

“Kaisar menurunkan pangkat Ong-souw-jin ke San-se-ta-tong, seharusnya mendatangkan untung bagi kita, bukan petaka!” kata In Thian-houw lagi.

“Benar-benar jahat...” Liu Kun berkata sendiri, “mengapa aku tidak bisa memperhatikan untung ruginya?”

“Ada untung rugi apa?” Hongpo Ih bertanya lagi.

“Kalian tidak tahu bahwa kaisar bulan depan akan melakukan inspeksi ke Tai-goan. Bila dia bisa meninggalkan ibukota, kita tidak akan bisa mengancam keselamatannya.”

“Apa hubungannya dengan Ong-souw-jin?”

“San-se-ta-tong dan Tai-goan tidak jauh. Bila kaisar ke Tai-goan, tidak sulit baginya untuk bertemu dengan Ong-souw-jin. Saat Ong- souw-jin berada di San-se-ta-tong, dia akan mengambil kekuatan pasukan di sana, dan bila ditambah dengan anak buahnya yang dulu, jumlah pasukan sekitar 200 ribu orang. Dia akan menyerang ibukota. Aku Kiu-cian-swe bagaimana menghadapinya?”

“Kiu-cian-swe bisa meminta bantuan dari Ling-ong...” “Mungkin pada saat itu Ling-ong akan berlaku seperd rumput di

atas dinding yang selalu meng ikuti arah angin, mungkin dia

sebaliknya akan memihak kepada kaisar. Jangan lupa, dia tetap bermarga Cu!”

Liu Kun menarik nafas:

“Sebelum ini, dia dan kaisar pernah bertemu. Saat itu kaisar sengaja menyuruh Siau-te-lu pergi ke tempat lain. Mungkin mereka sudah sepakat, tapi sampai sekarang kita belum tahu!” “Kalau begitu apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Siasat sekarang adalah segera mencegat Ong-souw-jin pergi. In Thian-houw, Tiang-seng!”

“Ada pesan apa, Kiu-cian-swe?” reaksi In Thian-houw dan Tiang- seng selalu cepat.

“Kejar dia dan bunuh!” Liu Kun menunjukkan gerakan memenggal.

86-86-86

In Thian-houw dan Tiang-seng pergi. Mereka membawa 20 orang lebih pesilat tangguh dalam istana, menunggangi kuda yang paling kuat. Di sepan jang jalan mereka terus mengejar. Setelah keluar kota sejauh 18 Li, akhirnya mereka bisa mengejar barisan Ong-souw-jin.

Dari kabar yang mereka dapat, Ong-souw-jin pergi dengan tergesa-gesa dari ibukota. Barang dan kereta yang dibawa sangat sederhana, dan hanya membawa orang sekitar 30 orang. In Thian- houw dan Tiang-seng merasa ilmu silat mereka sangat tinggi. Dan bila ditambah dengan pesilat 20 orang yang berilmu tinggi, seharusnya bisa mengatasi barisan Ong-souw-jin.

Tapi begitu mendekati barisan Ong-souw-jin, 22 kuda naik ke dataran tinggi. Tadinya mereka mem punyai rencana untuk melewati jalan pintas agar bisa menyerang di depan. Namun begitu memandang dari atas, In Thian-houw dan Tiang-seng terpaku.

Barisan Ong-souw-jin bukan berjumlah 30 orang, tapi mungkin ada sepuluh kali lipatnya. Di sisi kiri dan kanan masih ada pasukan kuda yang melindungi. Orang yang memimpin pasukan adalah Han Tau dan Kao Sen.

Han Tau dan Kao Sen saja sudah sudah sulit dihadapi. Apalagi ditambah dengan dua barisan pasukan kuda dan ratusan pengawal yang terlihat sudah terlatih. Kalau 22 orang ini menyerang, akan seperti telur membentur batu.

Tiang-seng melihat In Thian-houw. Dia menarik nafas: “Kali ini perkiraan Kiu-cian-swe salah lagi!”

“Mungkin sekarang dia sudah terpikir kaisar pasti sudah campur tangan dalam hal ini!” kata In Thian-houw.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan?”

In Thian-houw menjawab dengan tindakan. Dia membalikkan kepala kuda, dan melarikan kuda kembali dari jalan yang sama ketika mereka datang tadi.

87-87-87

Benar ! Sekarang Liu Kun sudah terpikir bahwa kaisar pasti terlibat dalam hal ini, tapi dia tidak mengirim orang untuk membantu Tiang-seng dan In Thian-houw. Dia juga tidak tahu sebenarnya kaisar sudah mengirim berapa banyak orang untuk mengantar Ong-souw-jin. Dia juga tidak tertarik untuk berperang tanpa persiapan. Hanya menunggu In Thian-houw dan Tiang-seng pulang untuk membuktikan dugaannya. Begitu mendengar yang mengantar pasukan Ong-souw-jin adalah Kao Sen dan Han Tau, dia terkejut.

“Bila Kao Sen dan Han Tau tidak berada di sisi kaisar, bukankah akan lebih mudah bagi kita untuk menghadapi kaisar?” In Thian- houw segera bertanya. Karena tidak berhasil mengejar dan membunuh Ong-souw-jin, dia berharap bisa menunjukkan kemampuannya pada tugas yang lain.

Liu Kun tertawa.

“Walaupun Kao Sen dan Han Tau berada di sisi kaisar, untuk menghadapi kaisar juga sama leluasanya!”

In Thian-houw tertawa kecut. Liu Kun tertawa:

“Mereka mengantar Ong-souw-jin pasti tidak akan sampai San- se-ta-tong. Tapi walaupun mereka mengantarkannya sampai setengah perjalanan, dengan kelicikan Ong-souw-jin, dia pasti sudah siap dan sudah mengatur hal ini dengan baik. Pasti ada bantuan dari pihak lain. Sudahlah, kita terpaksa harus lepas tangan untuk masalah ini!” “Maksud Kiu-cian-swe...” Tiang-seng lemas. Liu Kun melayangkan tangan.

“Maksudku kita lepas tangan hanya terhadap masalah Ong- souw-jin. Sedangkan terhadap pihak kaisar. Hei, hei!...” Setelah tertawa dingin, dia baru melanjutkan, “aku mempunyai pertimbangan, kedudukan kaisar tidak akan lama lagi!”

Walaupun Tiang-seng tidak tahu tindakan apa yang dipikirkan Liu Kun, tapi mendengar dia begitu yakin, dia tahu Liu Kun sudah mempunyai rencana dan diapun merasa tenang.

88-88-88

Liu Kun tidak mengambil tindakan apa-apa. Dia juga tidak memberitahukan apa-apa kepada orang kepercayaan atau anak buahnya. Kaisar juga tidak ada kabar. Su Yan-hong dan lain-lain juga tidak terkecuali, hanya merasa orang-orang yang dikirim Liu Kun untuk mengawasi An-lek-hu sudah semakin tidak ketat. Itu sama sekali mengherankan, karena mereka selalu keluar masuk melalui tempat rahasia. Anak buah Liu Kun yang sudah lama menunggu dan tidak mendapatkan hasil, akhirnya terlihat lemas.

Adanya tambahan Fu Hiong-kun, Siau Cu dan Lam-touw di An- lek-hu, yang paling senang adalah Ih-lan. Setiap hari selalu meminta Lam-touw dan Siau Cu bermain sulap. Lam-touw dasarnya adalah bocah tua nakal dan Siau Cu sebenarnya juga adalah anak yang baru besar. Ih-lan begitu lucu, maka mereka selalu senang bermain dengan Ih-lan.

Dulu Ih-lan selalu ribut ingin ke Sin-sa-hai, yang penting baginya adalah melihat pertunjukan Siau Cu dan Lam-touw. Dia tidak bosan-bosan melihat pertunjukkan mereka dulunya. Tapi sekarang setelah melihat beberapa kali, dia sudah tidak tertarik. Walaupun dia tidak berbicara tentang ini, Siau Cu dan Lam-touw bisa melihatnya. Bukan karena pertun jukan tidak bagus, melainkan suasananya yang berbeda. Di Sin-sa-hai sangat ramai, sedangkan di sini sangat sepi, maka Ih-lan tidak dapat merasakan suasana kemeriahannya. Terhadap ini mereka tidak bisa berbuat banyak, maka waktu Ih- lan meminta keluar untuk melihat keramaian, mereka tidak menolak. Bukan hanya karena Ih-lan ingin keluar jalan-jalan untuk menghilangkan stress, mereka sendiri juga ingin keluar. Tapi karena di luar sangat kacau, banyak hal yang selalu Lam-touw khawatirkan. Walau pun punya keinginan keluar, dalam waktu dekat mereka tampak tidak bersemangat untuk melakukannya.

Ih-lan seperti mengetahui jalan pikiran mereka. Dia tidak bertanya kepada mereka, hanya meminta kepada Fu Hiong-kun. Yang pasti sebelumnya dia meminta ijin kepada ayahnya, Su Yan- hong.

Biasanya bila ada waktu Su Yan-hong akan membawa Ih-lan keluar untuk melihat-lihat. Bagi dia, ini bukan hal yang mengherankan. Hanya saja, beberapa hari ini dia terlihat seperti Lam-touw, di mana hal yang harus dia pikirkan terlalu banyak. Walau fisiknya ada waktu, tapi hati terasa sibuk. Untuk menyerahkan Ih-lan kepada Su Hu, Su Yan-hong tidak tenang. Sekarang Fu Hiong-kun yang ingin membawa Ih-lan keluar, mana mungkin dia menolak?

Sebenarnya Su Yan-hong tahu Ih-lan tidak akan mengalami bahaya. Hanya karena hubungan ayah dan anak ini dekat maka dia tidak tenang jika Su Hu yang membawanya. Pertama, karena Su Hu sudah tua. Kedua, dia juga selalu ceroboh.

Perselisihan antara dia dan Liu Kun adalah masalah orang dewasa, sama sekali tidak ada hubung an dengan anak. Ada Fu Hiong-kun yang begitu teliti dan berilmu tinggi menjaga Lan-lan, apa yang harus dia khawatirkan?

Ternyata Liu Kun menjalankan segala upaya, sampai anak kecil juga tidak dilepaskannya. Benar-benar di luar dugaan Su Yan-hong, dan juga Fu Hiong-kun.

Karena tidak terpikir oleh Fu Hiong-kun bahwa Liu Kun akan bertindak terhadap Ih-lan, maka rencana busuk Liu Kun berjalan dengan sangat lancar. 89-89-89

Dengan tidak adanya Siau Cu dan Lam-touw, bukan berarti Sin- sa-hai menjadi sepi, orang yang ber main ke sana tetap begitu banyak. Di sepanjang jalan Ih-lan selalu melangkah dengan senang. Dia selalu tertawa. Sepasang tangannya membawa makanan dan minuman.

Walaupun Su Yan-hong sangat sayang kepada Ih-lan, namun bagaimana pun juga dia adalah seorang laki-laki. Apalagi Fu Hiong- kun masih memiliki pikiran anak-anak, tahu apa yang diinginkan Ih-lan, maka Ih-lan sangat senang berjalan-jalan dengannya.

Fu Hiong-kun di sepanjang jalan terus menun juk ini dan itu. Penjelasan tentang barang yang sama dari Su Yan-hong berbeda dengan yang keluar dari mulutnya. Ih-lan lebih mengerti mendengarkannya, juga sangat senang.

Su Hu mengikuti mereka dari belakang. Melihat mereka, pikiran anak-anak dalam dirinya juga tertarik keluar, sehingga dia juga ikut berbicara.

Kalau bukan telinga dan mata Fu Hiong-kun yang sangat peka, dalam keadaan begitu dia tidak akan memperhatikan apa yang terjadi di dalam gang, dan rencana Liu Kun tidak akan bisa tercapai. Walau pun tidak semua rencananya bisa terlaksana, dia akan mengatur lagi rencana baru untuk mencapai tujuannya.

Gang itu sepi, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat kencang, karena teriakan ini menarik perhatian Fu Hiong-kun, dia segera melihat kepada seorang laki-laki yang berpenampilan seperti pemburu, sedang menuntun seekor anjing besar berbulu putih. Laki-laki itu masuk dan keluar gang, kemudian pergi tergesa-gesa.

Anjing terlihat berwarna putih keperakan. Walaupun tidak ada sinar matahari yang menyinari gang itu, tapi kemunculan laki-laki dengan anjingnya tetap sangat menarik perhatian orang. Begitu Fu Hiong-kun melihat laki-laki itu, langsung terpikir dia adalah seorang pemburu yang membawa anjing. Tiba-tiba dia merasa pemburu membawa serigala. ...Gin-long. Dia segera teringat perkara Gin-long yang sampai sekarang belum tuntas. Dia juga teringat anak-anak perempuan maupun laki-laki yang menghilang secara misterius.

Dia masih berpikir ketika pemburu itu menuntun anjing putih masuk ke gang di ujung sana. Seorang perempuan setengah baya keluar dari gang dan berteriak dengan keras:

“Siau-an! Siau-an...”

Fu Hiong-kun berpikir sebentar, lalu berpesan kepada Su Hu: “Kau jaga Lan-lan baik-baik! Aku ke sana untuk melihat apa yang

terjadi?”

Fu Hiong-kun berlari masuk ke dalam gang dan mencegat perempuan setengah baya itu:

“Apa yang terjadi...”

Perempuan setengah baya ketakutan. Dengan suara gugup berkata:

“Tadi Siau-an sedang bermain dengan senang, hanya dalam sekejap waktu Siau-an sudah menghilang. Nona, apakah kau melihat ada seorang anak lewat?”

Fu Hiong-kun tidak menjawab. Dia berlari ke ujung gang. Dia khawatir akan kehilangan jejak pembunuh yang membawa anjing itu. Perempuan itu sambil mengejar juga berteriak:

“Nona...nona...”

Ih-lan dan Su Hu berada di luar gang. Dia merasa aneh dan bertanya kepada Su Hu:

“Apa yang terjadi dengan Kakak Fu?”

“Aku juga tidak mengerti, bagaimana kalau kita ke sana melihatnya?”

Yang pasti Ih-lan setuju. Maka satu orang dan satu anak masuk ke dalam gang itu. Dengan kecepatan Fu Hiong-kun, mereka memang sulit mengejarnya. Seharusnya Fu Hiong-kun mengikuti perempuan itu berjalan ke ujung gang, tapi mereka tidak melihat perempuan setengah baya itu ketika memasuki gang itu.

“Cici...” Ih-lan berteriak dan memaksa Su Hu ikut mengejar. Tapi Fu Hiong-kun seperti tidak mendengar. Sampai Su Hu dan

Ih-lan mendekat, dia baru berhenti dan pelan-pelan membalikkan

tubuh.

Tapi ternyata bukan Fu Hiong-kun! Melainkan seorang perempuan yang berbaju sama dengan Fu Hiong-kun.

Su Hu tidak mengenal orang ini. Sebenarnya dia adalah utusan lampion hijau dari Pek-lian-kau. Begitu melihat sorot mata utusan lampion hijau, Su Hu merasa takut. Ini perasaan terakhir yang dia rasakan.

90-90-90

Fu Hiong-kun merasa ilmu silatnya tidak rendah, tapi setelah masuk ke gang dan belok beberapa kali, dia tetap tidak bisa mengejar pembunuh yang membawa anjing putih. Firasat tidak enak menyerang hatinya, dia berlari kembali ke tempat semula.

Perempuan setengah baya yang tadinya sambil menangis berada di belakangnya sudah tidak ditemui Fu Hiong-kun waktu dia berlari kembali ke tempat semula.

Fu Hiong-kun awalnya merasa dia tidak salah jalan dan tidak ada jalan lain untuk kembali. Sekarang dia mulai ada perasaan jangan- jangan dia sudah salah jalan.

Sampai dia melihat Su Hu yang sedang menyandar di dinding, dia baru tenang. Tapi sekejap kemudian dia segera terkejut.

Karena dia tidak melihat Ih-lan di sisi Su Hu. Mengapa Ih-lan tidak ada di sisi Su Hu?

“Ada apa dengan Ih-lan?” tanya Fu Hiong-kun. Tapi Su Hu tidak menjawab.

Waktu dia mendekati Su Hu, Fu Hiong-kun baru melihat tenggorokan Su Hu sudah putus ditepis. Tidak diragukan lagi itu adalah pisau yang tipis dan tajam maka tidak mengeluarkan banyak darah.

Dua tangan Su Hu masing-masing memegang sesuatu. Tangan kanan memegang sebuah lampion hijau, di kiri ada sepucuk surat.

Begitu melihat lampion hijau, wajah Fu Hiong-kun langsung berubah.

91-91-91

Surat ditulis 5 utusan lampion kepada Su Yan-hong. Isinya sangat sungkan.

Ih-lan berada di tangan 5 utusan lampion. Bila Su Yan-hong ingin bertemu dengan Ih-lan, dia harus datang tiga hari kemudian, kentongan malam ke utara kota, di hutan Ya-cu (Hutan babi liar). 5 utusan lampion akan bertemu dengan dia di Ya-cu-lim. Mereka sangat ingin menyaksikan ilmu silat Su Yan-hong dan ingin meminta beberapa petunjuk. Bila Su Yan-hong bisa mengalahkan mereka, maka mereka akan mengantarkan Ih-lan ke An-lek-hu.

Tadinya Su Yan-hong merasa tegang. Setelah membaca surat, dia malah terlihat tenang. Kemudian dia memberikan surat kepada Fu Hiong-kun, Tiong Toa-sianseng, Lam-touw, dan Siau Cu.

“Menurut perkiraanku, itu suatu jebakan!” kata Fu Hiong-kun, terlihat ada penyesalan padanya.

Su Yan-hong mengerti hati Fu Hiong-kun:

“Kalau aku adalah kau, aku juga akan tertipu!'' “Betul..,” kata Tiong Toa-sianseng menyela, “siapa sangka mereka begitu keji, bisa-bisanya mempunyai ide untuk memanfaatkan Ih-lan!”

Fu Hiong-kun menarik nafas:

“Aku mengira mengejar orang akan berbahaya, maka aku meninggalkan Ih-lan dengan Su Hu.”

Su Yan-hong mencegat:

“Ih-lan tidak akan terancam bahaya. Bila mere ka ingin melukai Ih-lan, mereka tidak akan membawa Ih-lan pergi!” “Apa tujuan mereka? Betulkah hanya meminta petunjuk beberapa jurus?” tanya Tiong Toa-sianseng.

“Guru tahu hal ini tidak sesederhana itu!” Su Yan-hong tertawa kecut.

“Pasti! Mereka bukan orang yang menyukai ilmu silat, mana mungkin akan melakukan hal yang tidak ada gunanya?”

“Mungkin itu adalah ide Liu Kun!” kata Su Yan-hong.

“Betul!” kata Lam-touw, “Liu Kun bersekongkol dengan Pek- lian-kau, itu tidak diragukan lagi. Beberapa kali rencana busuk dia dirusak Hou-ya, maka dia dendam dan mencari kesempatan untuk membalas dendam!”

Su Yan-hong mengangguk:

“Itu sudah terduga dan aku selalu hati-hati!”

“Hou-ya...” kata Fu Hiong-kun, tapi Su Yan-hong sudah mencegat, ''bila mereka mempunyai niat menculik Ih-lan, mereka pasti akan melakukannya dengan segala cara. Sekarang lebih baik kita pikirkan...”

“Apa yang harus kita pikirkan?” cegat Lam-touw, “tiga hari kemudian Hou-ya harus ke Ya-cu-lim!”

“Tidak bisa tidak pergi!” Su Yan-hong setuju.

“Pada waktu itu, 5 utusan lampion akan menjelaskan kepada Hou-ya kalau itu adalah ide Liu Kun. Liu Kun pasti akan menentukan syarat dengan Hou-ya!” Lam-touw kebetulan sangat sadar. Dia seperti berbeda dengan hari-hari biasa.

Su Yan-hong melihatnya:

“Maksud Cianpwee...”

“Kalaupun Hou-ya tidak mau bekerja sama dengan Liu Kun, tapi sebelumnya harus menyelamatkan Ih-lan dulu!”

Su Yan-hong mengangguk:

“Tapi di manakah mereka menyembunyikan Ih-lan?” “Yang pasti di tempat yang mereka anggap tempat paling rahasia!” Kedua alis Lam-touw melayang:

“Di tempat Liu Kun banyak tempat rahasia...”

“Itu sudah pasti...” kata Su Yan-hong tertawa kecut, “tapi ingin mencarinya bukan hal yang mudah, apalagi tempat Liu Kun dijaga dengan ketat!”

“Apakah kau pernah ke rumah Liu Kun? Dan melihat ada tempat yang pantas dicurigai?”

“Tidak ada!” Kedua alis Lam-touw segera turun, “Aku juga tidak jelas dengan lingkungan di tempat Liu Kurt, bagaimana kita bisa mencari tahu rahasia ini?”

“Liu Kun pasti akan terpikir kita akan bertindak...” Fu Hiong-kun menarik nafas.

“Ini yang ingin aku katakan, maka lebih baik kita melihat dulu apa yang terjadi nanti di Ya-cu-lim. Setelah itu baru kita bertindak.”

“Mungkin Ya-cu-lim sudah diawasi murid-murid Pek-lian-kau!” kata Siau Cu.

“Dengan ilmu dan pengalaman kita, guru dan murid, apakah tidak bisa menghindar dari telinga dan mata Pek-lian-kau?” kata Lam-touw tertawa.

Siau Cu menegakkan dada. Kemudian Lam-touw berkata lagi: “Kalau hanya 5 utusan lampion, seharusnya tidak sulit

dihadapi!”

Su Yan-hong melihat surat lagi:

“Yang tanda tangan hanya 5 utusan lampion, seharusnya hanya mereka berlima!”

“Sampai sekarang, selain 5 utusan lampion dan pembunuh- pembunuh, memang tidak terlihat ada yang lain!” kata Fu Hiong- kun.

“Maksudmu Thian-te-siang-kun?” “Lebih baik dua orang ini jangan muncul! Bila muncul, mereka akan campur tangan dalam masalah ini...” kata Lam-touw.

“Kepandaian Thian-te-siang-kun berada di atas 5 utusan lampion!” kata Fu Hiong-kun.

“Itu sudah pasti...” Lam-touw seperti ingin mengatakan sesuatu tapi begitu bibirnya bergerak, segera ditutup kembali.

Fu Hiong-kun tidak melihatnya, dia berkata:

“Sebelum Put-lo-sin-sian pergi ke Kong-tong-pai pernah mengadakan rapat besar dan mengatakan di dalam perkumpulan mereka ada yang mengancam dan memaksa orang-orang kampung yang tidak tahu apa-apa untuk menyerahkan anak laki-laki atau perempuan untuk membantu latihan Pek-kut-mo-kang...”

Su Yan-hong tidak lupa hal itu, dia berkata:

“Perkara Gin-long juga orang yang kehilangan anak laki-laki dan perempuan. Kalau benar ada kaitannya dengan Pek-lian-kau dan sampai sekarang Thian-te-siang-kun belum muncul, berarti mereka sedang berlatih Pek-kut-mo-kang!”

“Kalau begitu, harap mereka jangan muncul dulu!” kata Lam- touw.

“Sebenarnya Pek-kut-mo-kang itu seperti apa?” tanya Su Yan- hong.

“Ilmu silat yang bisa menarik perhatian Put-lo-sin-sian, berarti adalah ilmu yang menakutkan!” kata Lam-touw tertawa.

“Apakah Cianpwee juga tidak tahu?” tanya Fu Hiong-kun. “Mana aku bisa tahu?” Lam-touw tertawa.

Fu Hiong-kun dan Su Yan-hong tidak melihat tawa Lam- touw sedikit berbeda, waktu itu Tiong Toa-sianseng tiba-tiba berkata:

''Dalam beberapa kali pertarungan, 5 utusan lampion berada di bawah angin. Kali ini mereka berani terang-terangan menantang, selain Ih-lan berada di tangan mereka, kita harus berpikir mungkin Thian-te-siang-kun sudah muncul!” Lam-touw dan Tiong Toa-sianseng saling pandang. Mereka mengangguk. Terlihat sudah ada perjanjian di antara mereka berdua tapi Su Yan-hong dan Fu Hiong-kun tidak melihatnya.

Siau Cu juga tidak melihatnya, dia memang tidak tahu banyak tentang gurunya.

92-92-92

Akhirnya dua mata Thian-te-siang-kun terbuka. Ketika mulai berlatih ilmu, mata mereka dipejamkan, saat memejamkan matanya semakin lama. Sampai saat ini, dari mata dipejam sampai dibuka sudah 3 hari 3 malam.

Bagian bola mata yang putih tetap lebih banyak daripada yang hitam. Hanya orang yang sangat teliti baru bisa melihat perubahan- perubahan di dalam.

Biasa orang-orang tidak berani melihat mereka. Walaupun 5 utusan lampion, bila mereka mem perhatikan mata Thian-te-siang- kun pasti akan tahu ada yang tidak sama.

Sekarang mata Thian-te-siang-kun benar-benar terlihat seperti siluman. Semua orang yang melihat akan merasa takut.

Bagian mata yang hitam tetap hitam. Dulu mata itu membuat orang merasa seperti tidak bernyawa, tidak berperasaan, tapi setiap saat akan bersinar. Sekarang dua bola mata seperti dua kolam yang dalam. Dalam sekejap mengait roh lawan masuk ke dalam kolam yang dalamnya tidak terukur.

Lingkaran darah di luar bola mata berubah menjadi lebih terang lebih merah, seakan akan menyembur keluar.

0-0-0 Pembaca yang terhormat, maaf cerita ini terpotong karena naskah aslinya juga terpotong.

Perkiraan cerita yang terpotong sbb:

Su Yan-hong, Tiong Toa-sianseng dan Fu Hong-kun mendatangi Ya-cu-lim dan bertemu dengan Thian-te-siang-kun, mereka dipaksa minum Ngo-tok-li-hun-ciu (Arak roh lima racun) dengan ancaman nyawa Ih-lan. Sementara Siau Cu dan Lam-touw menyelinap ke tempat Ih-lan dikurung dan menyelamatkan Ih-lan dari sarang Pek-lian-kau, pada saat Su Yan-hong dan Tiong Toa-sianseng akan minum Ngo-tok-li- hun-ciu, Siau Cu dan Lam-touw membawa berita penyelamatan Ih- lan, maka terjadi pertarungan sengit.

Su Yan-hong dan kawan-kawannya di keroyok orang-orang Pek- lian-kau, tapi akhirnya berhasil melarikan diri.

Su Yan-hong, Tiong Toa-sianseng, Fu Hiong-kun bertiga kembali ke An-lek-hu. Lam-touw dan Siau Cu membawa Ih-lan pulang. Setelah bertemu dengan Ih-lan, mereka bertiga baru tenang.

Lam-touw melihat baju Tiong Toa-sianseng dan bertanya: “Apakah Tiong Toa-sianseng terluka?”

“Hampir terluka, kepandaian Pek-lian-kau benar-benar misterius dan sulit ditebak!” kata Tiong Toa-sianseng.

“Apakah Ih-lan baik-baik saja?” tanya Su Yan- hong. Siau Cu menaruh Ih-lan di atas ranjang:

“Sampai sekarang dia belum bangun, sepertinya sedikit berbahaya!”

Su Yan-hong tergesa-gesa menuju ke sisi ranjang. Terlihat wajah Ih-lan pucat, sepasang matanya dipejamkan dan kelihatan seperti bengong terus.

Fu Hiong-kun mendekat, pelan-pelan membalikkan kelopak mata Ih-lan dan memeriksanya dengan teliti. Dia juga memeriksa nadi di tangan Ih-lan.

Lam-touw berkata:

“Kulihat sepertinya mereka sudah ada persiap an, maka sebelumnya sudah memberi Ih-lan makan sesuatu!” “Betul! Itu adalah racun!” kata Fu Hiong-kun. “Racun apa?” tanya Su Yan-hong terkejut.

“Aku belum pernah mengetahui racun ini. Sepertinya bukan hanya satu jenis racun karena denyut nadinya sangat tidak teratur dan kacau. Aneh, beberapa macam racun dicampur menjadi satu tapi khasiat di antara racunnya tidak saling menghilangkan!”

Su Yan-hong dan Tiong Toa-sianseng segera teringat Thian-te- siang-kun memaksa mereka minum Ngo-tok-li-hun-ciu (arak Ngo- tok-li-hun).

“Itu pasti Ngo-tok-li-hun...” teriak Lam-touw.

Semua orang melihat dia. Kecuali Tiong Toa-sianseng, yang lain merasa terkejut, apalagi Su Yan-hong.

“Racun ini sangat keras. Walau pun orang yang minum racun ini mempunyai tenaga dalam yang kuat, setelah minum racun ini dia akan seperti orang hidup tapi juga seperti orang mati. Tidak ada obat penawar maka akan sulit melewati masa tiga bulan!” kata Lam- touw.

“Pantas dua orang aneh itu memaksa kita minum arak itu!” kata Tiong Toa-sianseng.

“Apakah kalian meminumnya?” Lam-touw terkejut. Tiong Toa-sianseng menggelengkan kepala:

“Mereka mengancam dengan nyawa Ih-lan tapi Ih-lan sudah diselamatkan oleh kalian berdua, mana mungkin kita mau minum arak itu!”

Lam-touw menghembuskan nafas lega. Dia melihat wajah Ih- lan:

“Tidak disangka mereka begitu kejam, sampai-sampai seorang anak juga tidak dilepaskan!” Dia juga melihat Fu Hiong-kun, “apakah Nona Fu punya cara untuk menyelamatkannya?”

“Kecuali aku tahu jenis kelima racun itu!” kata Fu Hiong-kun. “Itu tidak jadi masalah!” kata Lam-touw. Selain Tiong Toa-sianseng, yang lain melihat Lam-touw dengan keheranan. Apalagi Siau Cu, dia bertanya:

“Dari mana guru bisa tahu banyak tentang hal ini...”

“Kau kira menjadi guru itu mudah?” Lam-touw tertawa dingin.

Walaupun Su Yan-hong curiga tapi dalam keadaan seperti ini dia tidak leluasa untuk bertanya, dia hanya berkata:

“Harus Cianpwee yang mengerahkan banyak perhatian, juga merepotkan Nona Fu!”

Fu Hiong-kun ingin mengatakan sesuatu, Lam-touw sudah tertawa dan berkata:

“Kalau kau berkata begitu, berarti kau tidak menganggap kita adalah teman!”

Su Yan-hong tertawa kecut. Pada waktu itu ada seorang pelayan kepercayaan datang melapor:

“Kaisar telah menurunkan perintah. Katanya Hou-ya berusaha memberontak, rumah Hou-ya harus diperiksa!”

“Apa?” Wajah Su Yan-hong segera berubah, “mana pelayan istana?”

“Di ruangan tamu. Yang datang bersama masih ada In Thian- houw, Tiang-seng dan prajurit-prajurit istana. Harap Hou-ya pergi melalui jalan rahasia!”

Su Yan-hong marah:

“Itu pasti adalah rencana busuk Liu Kun! Kaisar sudah jatuh di tangannya, terpaksa harus mendengar apa yang dikatakan!”

Hati dia bergolak dan segera membalikkan tubuh ingin keluar, tapi dicegat oleh Tiong Toa-sianseng:

“Sekarang bukan waktunya untuk memamerkan keberanianmu!”

“Guru...”

“Liu Kun pasti sudah mengatur hal ini. Kalau kau keluar, berarti mengantar kambing ke mulut harimau. Racun Ih-lan belum dikeluarkan, lebih baik kita tinggalkan tempat ini dulu. Setelah melihat ke adaan nanti, baru kita menyusun rencana lagi!” kata Tiong Toa-sianseng dengan dingin.

“Baik...” Su Yan-hong segera menjawab, “di mana Lu Tan?” Pelayan setia itu menjawab:

“Di dalam rumah ini ada mata-mata yang ingin membawa orang-orang Liu Kun ke arah ruangan rahasia, yang sudah dibunuh oleh Lu-kongcu. Sekarang Lu-kongcu sedang memancing orang- orang Liu Kun untuk pergi dari sini!”

“Baik..” Siau Cu menepuk meja, “aku tidak salah menilai bocah ini!”

Dia meloncat bangun. Tapi Lam-touw men-cengkramnya:

“Bila kau keluar sekarang, berarti kau ingin memberitahu orang- orang Liu Kun bahwa kita berada di sini!”

“Tapi Lu Tan...” Siau Cu terpaku.

“Kalau dia akan mati, dari awal sudah mati. Orang ini punya keberuntungan besar, nasibnya juga baik, tidak perlu dikhawatirkan!”

Memang Lam-touw menyuruh Siau Cu jangan khawatir, tapi sebenarnya dia sangat khawatir. Hanya saja sekarang sudah tidak ada waktu untuk khawatir.

Memang Liu Kun sudah mengatur juga menyiapkan rencana yang terburuk. Begitu mendengar kabar bahwa Thian-te-siang-kun gagal dan Su Yan- hong sudah menyelamatkan Ih-lan melarikan diri, rencana kedua sudah disusun. Dia menurunkan perin tah kepada In Thian-houw untuk membawa 100 prajurit kerajaan pergi ke San-se-ta-tong untuk membunuh Ong Souw-ie.

“Orang-orang Ong Souw-ie sangat banyak...” terlihat kesulitan di wajah In Thian-houw.

“Dia belum mempunyai kekuasaan dan prajurit, kau khawatir apa?” Liu Kun sangat tenang.

“Hamba belum mengerti!” “Dulu Meng-te (nama orang) menculik kaisar untuk mengancam semua prajurit agar mendengarkan apa yang dia katakan. Sekarang kaisar sudah di tangan kita, apakah kita tidak bisa mengikuti cara ini?”

“Tapi Ong Souw-ie adalah orang penting dan dia tidak pernah berbuat salah. Sekarang ingin menga takan kesalahannya...”

“Kesalahan yang kita tuduhkan kepada dia bisa kita cari-cari. Aku ingin memberi dia kesalahan bersekongkol dengan An-lek-hou untuk memberontak, kemudian menjaring semuanya agar di kemudian hari tidak ada bencana lagi.”

“Kiu-cian-swe benar-benar pintar. Sekarang bawahan segera mengurus pasukan!”

“Tunggu...” Liu Kun tertawa dingin, “Ong Souw-ie masih tidak mempunyai pasukan atau kekuasaan. Kau cukup mengirim beberapa orang keper cayaan untuk membereskan dia, tidak perlu pergi sendiri. Aku masih ada hal penting yang ingin kau bereskan!”

“Tentang apa?” tanya In Thian-houw.

“Sebentar lagi aku akan ke istana memaksa kaisar menurunkan permtali untuk memeriksa rumah An-lek-hou. Kau dan Tiang-seng segera mengumpulkan pasukan dan siap berangkat kapanpun!”

Liu Kun berpesan lagi:

“Hongpo Tiong, Ih...”

Hongpo bersaudara segera mendekat.

“Pada waktu yang bersamaan aku juga akan memaksa kaisar menghentikan komandan pasukan Kang Pin dan menyerahkan kekuasaan kepada kalian dua bersaudara!”

Hongpo bersaudara sangat gembira. Mereka berlutut: “Hidup Kiu-cian-swe!”

Liu Kun tidak ragu-ragu lagi. Dia segera siap berangkat ke ibukota.

93-93-93 Sebenarnya kaisar terlalu memaksa untuk menjatuhkan Liu Kun. Keberhasilan demi keberhasilan membuat kaisar mengira telah berhasil mengikis kekuatan Liu Kun. Bila Liu Kun tidak sanggup mela wan hanya bisa duduk menunggu dibunuh. Tapi dia lupa Liu Kun masih mempunyai kekuatan yang besar di dalam istana. Dengan kekuatan ini Liu Kun mengu asai istana dan langsung mengancam kaisar.

Di dalam keadaan seperti itu, terpaksa kaisar harus menuruti apa yang dikatakan Liu Kun.

94-94-94

Kamar rahasia di An-lek-hu memang sangat rahasia, tapi lama kelamaan tetap diketahui oleh mata-mata Liu Kun. Begitu tahu, In Thian-houw dan Tiang-seng datang membawa prajurit untuk memeriksa. Mereka segera muncul dan bergabung.

Mungkin Su Yan-hong dan lain-lain tidak boleh mati. Lu Tan menunggu mereka lama tidak kembali. Dia keluar dari kamar rahasia agar dia bisa bergabung bila diperlukan. Tapi dia melihat ada mata-mata dan segera membunuhnya. Walaupun ilmu silatnya belum pulih tapi membunuh mata-mata itu bukan hal yang sulit. Tapi jika ingin menghindari kejaran In Thian-houw dan Tiang-seng, tidak semu dah membunuh mata-mata tadi.

Dia juga terpikir Su Yan-hong dan lain-lain sudah kembali melalui jalan rahasia dan berada di kamar rahasia, maka dia memancing In Thian-houw dan Tiang-seng untuk pergi dari sana. Setelah membunuh mata-mata itu, dia segera meninggalkan tempat. Dia agak mengenal daerah sana, dengan berputar ke kanan ke kiri dia bisa keluar di belakang taman bunga, lalu keluar melewati pagar dinding yang tinggi.

In Thian-houw dan Tiang-seng yang melihat Lu Tan, mereka bertekad untuk menangkapnya agar berjasa di hadapan Liu Kun, maka mereka terus mengejar Lu Tan. Mereka meninggalkan prajurit istana yang mereka bawa. Setelah Lu Tan keluar dari rumah, dia segera lari di gang. In Thian-houw dan Tiang-seng masih mengejarnya. Yang satu mengejar dari bawah, satunya lagi mengejar di atas genteng. Setelah melewati dua gang, akhirnya mereka bisa mencegat Lu Tan.

Tiang-seng turun dari atas genteng dan meng hadang di depan Lu Tan. Lu Tan segera meloncat ke atas genteng. Dengan gerakan kaki dan tangan yang pastinya tidak secepat In Thian-houw dan Tiang-seng baru berdiri sudah naik ke atas genteng lagi.

“Marga Lu, kalau kali ini membiarkanmu kabur, berarti sia-sia aku melatih sepasang telapakku!” In Thian-houw tertawa terbahak- bahak kemudian menyerang dengan sepasang telapak tangannya. Suara yang keluar terdengar seperti petir.

Tiang-seng juga tidak lambat, dengan kelincahan tubuhnya menutup jalan mundur Lu Tan.

Tidak sampai 10 jurus, Lu Tan sudah kerepotan. Dia berpikir bila dia jatuh di tangan Liu Kun, dia pasti mati, lebih baik melawan sampai titik darah penghabisan. Mati juga bisa menutup mata.

Tiang-seng dan In Thian-houw melihat tekad Lu Tan. Mereka juga melihat ilmu silat Lu Tan tidak sekuat dulu dan mereka akan menang. Maka mereka pun menyerang dengan gencar. Karena tidak hati-hati, Lu Tan terkana pukulan Tiang-seng dan terpelanting di atas genteng.

Tiang-seng segera mendekat. In Thian-houw juga tidak lambat. Lu Tan berguling-guling di atas genteng untuk menghindari 16 serangan telapak. Terlihat dia tidak akan bisa menghindar lagi. Tiba-tiba dari tempat gelap keluar seorang perempuan bertutup wajah. Dengan pedang perempuan itu menghadang serangan In Thian-houw dan Tiang-seng.