-->

Legenda Pendekar Ulat Sutera Jilid 02

Jilid 02

Lam-touw memutar tubuh. Dia menghadang di depan Siau Cu: “Kalau aku bukan gurumu, aku akan mengira kau adalah

penjahat yang memetik bunga!”

“Guru jangan bercanda!”

“Di sini tidak ada cermin. Kalau ada, lihatlah kau benar-benar seperti penjahat!” kata Lam-touw sambil melihat ke kiri dan kanan.

Siau Cu mengalihkan pokok pembicaraan: “Bagaimana cara kita mengajar perempuan itu?”

“Tidak perlu membuat rencana, yang pasti kita sesuaikan dengan keadaan waktu itu!” Lam-touw tertawa dingin, “kalau hatimu tidak konsentrasi, lebih baik kurangi bicaramu. Semakin banyak bicara, semakin banyak salah. Sudahlah! Ambil telur ini!” Dia memberikan sebutir telur kepada Siau Cu.

Siau Cu memang tidak konsentrasi, tangannya memegang agak kuat sehingga telur ayam segera pecah di tangannya. Dia berteriak terkejut. Ternyata memang Lam-touw sengaja bercanda dengannya, dia tertawa terbahak-bahak. Siau Cu yang melihatnya hanya bisa tertawa kecut.

Bing-cu dan Kiang Hong-sim keluar dari Ci-cu-wan dengan memanjat dinding, demikian juga pulangnya memanjat dinding yang sama. Sepertinya tidak ada yang tahu. Tapi begitu melewati hutan bambu, ada yang membentak:

“Berhenti!”

Mendengar suara ini, Bing-cu dan Kiang Hong-sim bergetar. Begitu memutar tubuh, mereka melihat Lo-taikun berdiri, tangannya memegang tong kat kepala naga:

“Ke mana kalian pergi?”

“Kami tidak kemana-mana!” jawab Kiang Hong-sim.

“Aku mencari kalian di Ci-cu-wan tapi kalian tidak ada, masih berani berkata tidak kemana-mana!” Lo-taikun marah.

Melihat Lo-taikun marah, Kiang Hong-sim tidak berani berbohong lagi. Dia pelan-pelan berkata:

“Aku membawa Bing-cu keluar jalan-jalan!” Dengan ketakutan Bing-cu berkata:

“Aku bosan terus tinggal di Ci-cu-wan, maka •meminta bibi kedua membawaku ke kota!”

“Mau ke mana pun sama saja. Singkatnya, keluar diam-diam dari Ci-cu-wan adalah salah. Liu Kun sudah menyuruh orang mengawasi kita, kalian malah keluar dari Ci-cu-wan untuk bermain. Kalau terjadi sesuatu bukankah akan membuat kita repot?”

“Kami yang bersalah!” Kiang Hong-sim pintar. Dia segera mengakui kesalahan.

“Lain kali kami tidak berani lagi!” kata Bing-cu.

Begitu mengucapkan kata-kata ini. dia baru ingat janjinya dengan Siau Cu besok malam. Tapi kata-katanya yang sudah keluar tidak mungkin di tarik kembali. Lo-taikun melihat wajah Bing-cu. Akhirnya dia tertawa:

“Baik, kali ini aku maafkan kalian! Kalau terjadi hal seperti ini lagi, aku akan menghukum kalian dengan berat!”

Bing-cu tundukkan kepala, Lo-taikun menggelengkan kepala, membalikkan tubuh pergi meninggalkan tempat. Setelah Tai-kun pergi jauh, dia baru tertawa:

“Aku sudah bilang dia tidak akan menghukum kita!”

“Lebih baik kau jangan lupa apa yang sudah kau katakan tadi!” “Tapi kita sudah berjanji besok malam....” kata Bing-cu pelan-

pelan.

“Sudahlah! Semua kata-kata sudah keluar dari mulutmu. Bila Tai-kun marah, aku tidak berani bertanggung jawab!”

“Bibi kedua!”

“Kita hanya menonton dan merasa tertarik, bukan berarti harus belajar sulap. Anggaplah hal ini tidak terjadi!”

Bing-cu menundukkan kepala. Kiang Hong-sim melihatnya. Dia tertaw, memang dia tidak ingin Bing-cu ikut. Bila dia ikut, maka akan merusak sua sana.

Dia juga tahu bila dia tidak menemani Bing-cu, Bing-cu tidak akan berani meninggalkan Ci-cu-wan, karena Bing-cu tidak mengenal situasi kota.

15-15-15

Di pinggir kota. Walaupun tidak ada suara orang memukul kentongan, Siau Cu yang berpengalaman melihat langit sudah tahu sekarang ini jam dua pagi. Malam ini begitu terang, bila ingin meng- hitung waktu, itu adalah hal yang mudah.

Satu jam sudah lewat. Bing-cu belum datang. Siau Cu sedikit cemas. Teringat Bing-cu, terbayang lagi wajah Bing-cu yang memerah ketika dia memegang tangan Bing-cu tadi pagi.

Dia bengong sendiri. Terdengar suara baju ter .sapu angin, Kiang Hong-sim sudah berada di depan pintu kuil. “Kau sudah datang!” kata Siau Cu terkejut. Melihat Kiang Hong- sim datang sendiri, dia merasa kecewa.

“Kau sudah menunggu lama?” Kiang Hong-sim tertawa genit. “Mana Bing-cu?” tanya Siau Cu.

“Dia malu dan tidak berani datang. Tapi tidak apa-apa. Aku belajar dulu, kalau sudah bisa, aku akan mengajari dia!”

Dalam hati Siau Cu sudah memperkirakan hal ini, tapi dia tetap terlihat kecewa.

“Mengapa kau bisa menyulap begitu banyak telur?” tanya Kiang Hong-sim.

“Sebenarnya, dari semula aku sudah menyem bunyikan telur- telur di dalam baju. Orang yang bermain sulap harus bertangan cepat. Mata orang yang melihat lebih lambat maka telur seperti keluar dari baju!”

“Dalam baju bisa tersimpan begitu banyak telur?” tanya Kiang Hong-sim sambil tertawa, “kau simpan di mana? di sini?” Tangannya sudah masuk ke dalam baju Siau Cu.

“Kau mau apa?” Siau Cu terkejut dan mundur.

“Aku adalah perempuan tapi tidak malu. Sedangkan kau laki-laki malah malu?” tubuh Kiang Hong-sim sudah menempel.

Siau Cu mundur lagi. Kiang Hong-sim tertawa terbahak-bahak.

Sepasang tangannya menekan pipi Siau Cu.

Siau Cu membalikkan kepalanya ke belakang, dia terus mundur dan mundur. Di belakangnya adalah dinding. Di belakang Siau Cu seakan ada mata, begitu punggungnya mengenai dinding, tubuhnya segera bergeser ke sisi, kemudian dia masuk melalui sebuah jendela yang usang.

Kiang Hong-sim masih tertawa ketika melewati jendela. Tapi begitu keluar dari jendela, tawanya terhenti karena tampak olehnya sebuah kolam di luar jendela itu. Siau Cu terlihat sudah mengenali situasi di sana. Begitu tubuhnya berbalik, kedua tangan sudah memegang dinding seperti seekor cecak tergantung di sana.

Hati Kiang Hong-sim mungkin terus memikirkan hal yang cabul tapi reaksi dia juga cepat. Di udara dia segera bersalto, dan memegang dinding dengan tangannya. Tapi pada waktu itu tiba- tiba sebuah sepatu memukul telapak tangammya. Memang tenaga pukulan itu tidak begitu kuat, tapi cukup untuk membuat telapaknya bergeser. Maka kelima jari tangan tidak bisa mencengkram dinding, sehingga dia terjatuh ke kolam.

Kolam ini tidak dalam. Setelah Kiang Hong-sim tenggelam, dia segera muncul dan tepat pada saat itu dia melihat Siau Cu seperti seekor kera. Kedua tangan memegang dinding kemudian terus merangkak naik. Hanya sebentar saja, dia sudah berada di atas genteng. Siau Cu juga tahu kapan Kiang Hong-sim bisa muncul dari air, dan pas di saat itu dia menoleh dan tertawa.

Kiang Hong-sim tahu Siau Cu sedang mempermainkan dirinya. Wajahnya berubah. Dia mengambil nafas. Tubuhnya segera muncul di permukaan air, kemudian dengan kedua telapak tangannya dia menepuk permukaan air.

Angin pukulannya membentak air seperti tiang. Dengan tenaga ini, tubuh Kiang Hong-sim terangkat dan segera mengejar Siau Cu.

Siau Cu langsung kelabakan, dia menginjak genteng dan kabur. “Kau mau kabur ke mana!” Saat mengucapkan kata-kata ini,

tubuh Kiang Hong-sim sudah hampir mendarat di genteng. Pada

waktu itu dia melihat Lam-touw sedang terbaring di atas genteng. Dia tersenyum senang. Holou besar sedang menyambut telapak kakinya.

Kiang Hong-sim berteriak terkejut, belum lagi teriakannya berhenti, dia sudah membentur Holou.' Walaupun kekuatan benturan tidak begitu besar tapi sanggup menggoyahkan posisinya. Karena tidak ada tempat untuk berpegangan, dia kembali terjatah ke dalam air. Lam-touw tertawa terbahak-bahak. Dia mengejar Siau Cu dengan hanya memakai sebelah sepatu. Rupanya yang melempar sepatu kepada Kiang Hong-sim tadi itu adalah Lam-touw.

Siau Cu tertawa terbahak-bahak. Kaki dan tangannya terus bergerak, membuat genteng hancur dan terjatah ke bawah.

Waktu Kiang Hong-sim sekali lagi muncul dari air, Lam-touw dan Siau Cu sudah tidak ada. Dia marah-marah dan berjanji jika bertemu mereka, dia akan membalas dendam dengan segala cara.

16-16-16

Liu Kun sudah minum arak.

Hongpo Tiong dan Hongpo Ih, Tiang-seng, In Thian-houw juga ada di sana. Mereka tahu Liu Kun tidak tanang gara-gara baju kebesaran kaisar itu.

Ling-ong memberi baju kepada baginda. Hal ini sudah membuat Liu Kun tidak nyaman. Sekalipun orang biasa yang mengantarkan hadiah itu, dia akan memeriksanya dengan sangat berhati-hati. Apalagi sewaktu diperiksa, tidak diragukan lagi ada sesuatu yang tersimpan di lengan baju. Sampai sekarang dia masih belum tahu barang apakah itu.

Satu-satunya hal yang Liu Kun tahu adalah beberapa hari ini kaisar terlihat sangat gembira. Hal ini semakin membuat hatinya tidak nyaman.

Pada waktu itu juga orang kepercayaannya datang melapor: “Ada seorang tabib sedang bolak-balik di luar pintu, dan dia

berteriak ada obat yang bisa mengobati sakit hati!”

Begitu Liu Kun mendengarnya, dia segera tertawa:

“Sakit hati harus diobati dengan obat sakit hati. Jarang ada tabib seperti itu, cepat persilakan dia masuk!”

Saat orang kepercayaannya itu keluar, Hongpo Ih bertanya: ''Bila Kiu-cian-swe sakit, mengapa tidak mencari tabib istana?” Hongpo Tiong ingin melarang perkataan ini tapi tidak sempat lagi. Dia takut Liu Kun marah. Siapa tahu Liu Kun justru tertawa berkata:

“Tabib tidak bisa mengobati penyakitku. Tampak nasibku sedang bagus!”

Hongpo Ih ingin bertanya tapi Hongpo Tiong segera mencegat: “Apakah Kiu-cian-swe butuh kita untuk meng aturnya?”

“Yang datang hanya seorang tabib, apalagi kita sudah terbiasa bekerja sama.” Sela Tiang-seng.

Hongpo Tiong mengangguk. Liu Kun tersenyum:

“Semua orang mempunyai ilmu yang tinggi, tapi terhadap masalah akulah yang mampu dengan tenang berpikir matang. Aku tetap nomor satu!”

Tiang-seng terpaksa setuju.

17-17-17

“Resep turunan keluarga mengobati macam-macam penyakit yang sulit diobati. Bila sakit tidak enak hati, satu butir sudah cukup!” Tabib ini adalah seorang laki-laki setengah baya. Dia bolak- balik di luar pintu berulang-ulang berkata begitu, sampai orang kepercayaan Liu Kun datang kepadanya berkata:

“Dipersilakan oleh Kiu-cian-swe!”

Daging wajahnya seperti sudah kaku, sedikit ekspresi juga tidak ditunjukkan olehnya. Dia diam mengikuti di belakang orang kepercayaan Liu Kun.

Kejadian itu dilihat oleh Lu Tan. Dia bersembunyi di sebuah gang kecil dan selalu mengawasi rumah Liu Kun untuk mencari kesempatan. Itu bukan hari pertamanya di sana, tapi sampai sekarang dia tidak mendapatkan kesempatan. Hari ini di luar dugaan dia melihat tabib penjual obat ini.

Siapa dia? Mengapa dia ke sini menjual obat sakit hati? Lu Tan merasa aneh. 18-18-18

“Katamu kau mempunyai resep keluarga untuk mengobati penyakit yang sulit diobati?” Liu Kun melihat tabib ini. Dia tertawa senang.

“Apalagi penyakit di dalam hati!” dengan hormat tabib itu berkata.

“Aku sedang mempunyai sakit di dalam hati. Obat yang ada di istana sudah kucoba, tapi tidak ada hasil!” Liu Kun mengeluh.

“Kalau begitu, cobalah obat dari resep keluargaku!” tabib mengambil dari kantong.

Hongpo Ih dan Hongpo Tiong, Tiang-seng, In Thian-houw segera bergerak, tapi Liu Kun seperti tidak takut dan bertanya:

“Dari nada bicaramu, kau bukan orang utara?”

“Aku datang dari selatan!” Tabib mengeluarkan sebuah kotak giok. Dia melihat Hongpo Ih, Hongpo Tiong dan lain-lain. Mata Liu Kun segera berputar:

“Mereka adalah orang kepercayaanku, bila ada yang mau disampaikan, katakanlah!”

Tabib segera berlutut. Dengan kedua tangan nya, dia mengangkat kotak giok tinggi-tinggi.

“Aku adalah Soat Boan-thian dari Wisma Ling-ong. Ong-ya berpesan kepadaku untuk memberi salam kepada Kiu-cian-swe!”

“Oh, ternyata tabib adalah salah satu Sat-jiu dari Wisma Ling- ong! Bangunlah untuk berbicara!”

“Terima kasih Kiu-cian-swe!”

“Apakah Ong-ya baik-baik saja?” Liu Kun tidak mengambil kotak itu.

“Baik, terima kasih Kiu-cian-swe.” Liu Kun tertawa: “Hal yang aku khawatirkan sangat banyak. Ong-ya siang hari memberi kabar, katanya setelah tahu aku sakit di dalam hati maka dia menyuruh orang untuk mengantar obat kemari!”

“Obat untuk sakit di dalam hati berada di dalam kotak giok!” Liu Kun baru melihat kotak giok:

“Di kotak ada cap pribadi Ong-ya dan sebuah obat lilin!”

“Ong-ya hanya berharap sepanjang jalan kotak giok ini bisa aman sampai Kiu-cian-swe sendiri yang membukanya!” kata Soat Boan-thian.

“Baik!” Liu Kun melihat Hongpo Tiong.

Hongpo Tiong segera mengerti. Dia mendekat dan mengambil kotak giok. Liu Kun berpesan lagi:

“Buka!”

Hongpo Tiong segera memutar kotak dengan jari telunjuk, mengarahkan bukaan kotak ke Soat Boan-thian. Kemudian dengan kuku dia membuka lapisan Ulin baru bisa membuka kotak giok itu. Seandainya di dalam kotak giok tersimpan senjata rahasia, orang pertama yang terkena adalah Soat Boan-thian.

Semua ini sesuai dengan perkiraan Soat Boan-thian. Tingkahnya tidak berubah, dia tetap bersikap seperti biasa. Sebenarnya pada kotak giok juga tidak dipasang tombol apapun. Dalam kotak giok dilapisi kain sutra. Di sana tersimpan sebuah lilin bulat sebesar telur merpati.

Tiang-seng yang berada di samping berkata:

“Biar aku yang mejyibantu Kiu-cian-swe membuka butiran lilin itu!” Dia segera mengambil lilin itu.

Tanpa menggunakan tenaga banyak lilin sudah hancur, keluarlah sehelai kertas yang sangat tipis.

Kertas tipis seperti sayap serangga tapi kertas penuh tertulis dengan huruf kecil-kecil.

Uu Kun membaca dengan teliti, tersenyum: “Baginda terlalu banyak khawatir. Aku hanya melihat dia masih muda dan tidak cukup berpengalaman, maka sementara ini membantu dia mengurus kerajaan. Dia malah menyangka aku ingin merebut kekuasaannya dan diam-diam memberitahu Ong-ya untuk menolongnya, maka terjadilah banyak hal!”

“Ong-ya juga berpikiran sama, maka mengirim surat balasan di lengan baju kebesarannya. Dia ingin supaya baginda tenang!” kata Soat Boan-thian.

“Sekarang aku lebih tenang. Ong-ya memang pintar, penyakitku yang berat sudah sembuh hanya dengan sebutir obat!”

“Harap Kiu-cian-swe bisa menulis beberapa kalimat untuk kubawa kepada Ong-ya!” Soat Boan-thian tetap berkata dengan hormat.

Liu Kun setuju dan segera menyuruh orang menyiapkan alat tulis. Kertas yang dipakai tetap kertas yang tipis.

Surat dilipat hingga kecil dan ditaruh di dalam sebuah uang logam kemudian dijepit lagi dengan uang logam yang lain. Setelah surat diselipkan di antara dua uang logam, Tiang-seng kemudian menekannya. Kedua uang logam segera menempel.

Ketika Soat Boan-thian melihatnya, sorot mata nya menjadi terang. Liu Kun berpesan:

“Uang logam jangan digunakan untuk membeli barang di jalan!” “Aku pasti akan menyimpannya dengan hati-hati!” Dengan hati-

hati Soat Boan-thian menerima uang logam itu dari Tiang-seng.

“Jangan disimpan dengan sengaja, asal saja. Kalau menyimpannya dengan sengaja berarti kau memberitahu orang kalau di uang logam ada sesuatu. Kalau dibiarkan seperti biasa, tidak ada yang akan memperhatikan.”

“Teruna kasih Kiu-cian-swe sudah memberi petunjuk!” “Apakah perlu mengirim orang untuk mengantarmu setengah

jalan?” “Aku datang ke ibukota hanya seorang diri!” Dengan ilmu silat yang dimilikinya, Soat Boan-thian sangat percaya diri.

Dia tidak menginap, malam itu juga dia berangkat.

19-19-19

Setelah berjalan tidak berapa lama, Soat Boan-thian sudah tahu Lu Tan mengikuti dari belakang. Dia adalah orang yang sangat berpengalaman. Dia tidak mempercepat jalan, juga tidak menghindar, hanya berjalan seperti biasa saja. Hanya mata dan telinganya lebih hati-hati. Dia ingin tahu berapa banyak orang yang mengikutinya.

Lu Tan mengira dia sudah cukup hati-hati dan tidak diketahui oleh Soat Boan-thian. Ketika berada di tempat sepi, dia tidak tahan lagi. Beberapa kali meloncat, dia sudah berada di depan Soat Boan- thian.

Reaksi Soat Boan-thian adalah terkejut dan takut. Kepura- puraan dia terlihat nyata, paling sedikit sanggup membuat Lu Tan tidak melihat kalau dia sedang berpura-pura.

“Kau siapa?” suara Soat Boan-thian gemetar. “Kau juga siapa?” Lu Tan balik bertanya.

“Aku hanya seorang tabib yang menjual obat...”

“Kau mau berbohong kepada siapa?” Tiba-tiba Lu Tan menyerang dada Soat Boan-thian.

Soat Boan-thian tidak bisa menghindar. Dia terjatuh terkena pukulan. Sambil merintih kesakitan, dia merangkak bangun. Tidak menunggu Lu Tan mendekat, dia berteriak minta ampun:

“Aku hanya punya sedikit uang, harap anda jangan merebut uangku!”

“Kurang ajar! Apa tujuanmu masuk ke rumah Liu Kun?” “Hamba menjual obat melewati rumah Kiu-cian-swe...” “Kau orang mana?”

“Dari sini juga...” “Kau sembarangan bicara! Dari nada bicaramu kau jelas-jelas adalah orang selatan. Orang selatan jauh-jauh datang ke ibukota sengaja mondar-mandir di depan rumah Liu Kun dan tidak pergi. Apalagi dengan kedudukan Liu Kun sekarang, paling sedikit ada 10 orang tabib di rumahnya. Mana mungkin dia mau membeli obat darimu untuk mengobati penyakit nya?”

“Hamba menjual obat sakit di dalam hati...”

“Aku ingin tahu obat yang kau jual seperti apa?” Lu Tan segera mencengkram kantong obat Soat Boan-thian. Senjata rahasia Soat Boan-thian yang bera da di dalam lengan baju, sudah ditembakkan keluar.

Lu Tan menghindar dengan lincah, begitu terdengar ada suara, tubuhnya sudah berguling ke bawah. Dia mengeluarkan pedang keluar dari sarung dan menahan pedang di dada. Dari 14 senjata rahasia yang datang, 13 sudah dihindari atau ditahan, tapi ada satu yang menancap di dadanya.

Senjata rahasia berbentuk aneh. Ada kaitan di ujungnya tapi bagian tengahnya kosong. Begitu menancap di daging, darah segera keluar dari lubang senjata rahasia dan menyembur keluar. Yang pasti senjata rahasia ini dirangkai khusus untuk mematahkan tenaga dalam. Itu adalah senjata rahasia yang kuat.

Lu Tan terkejut. Dia tergesa-gesa menutup selang itu dan segera menyerang Soat Boan-thian dengan pedang.

Pedang belum sampai pada Soat Boan-thian, dia sudah meloncat jauh. Dia meloncat ke atas pohon tinggi, masih menembakkan senjata rahasia dengan dua tangan.

Lu Tan ikut meloncat, tapi begitu meloncat lukanya terasa sakit. Tenaganya tidak bisa terkumpul. Tapi pedang masih bisa berputar untuk menahan senjata rahasia yang datang menyerang. Setelah Soat Boan-thian meloncat, dia sudah sampai ke tempat yang lebih tinggi.

Dia tertawa dingin kemudian meloncat pergi dari atas pohon.

Hanya sebentar dia sudah menghilang di kegelapan. Kalau dia bermaksud membunuh Lu Tan, seharusnya tidak sulit baginya. Tapi dia mempunyai tugas yang berat. Dia juga tidak tahu siapa Lu Tan. Bila masih bisa pergi dengan selamat, dia tetap memilih itu.

Tawa dingin Soal Boan-thian seperti sebuah pedang menusuk hati Lu Tan. Dia akhirnya mengerti, walaupun berilmu tinggi tapi bila tidak berpengalaman dan ceroboh, dia tetap akan terluka oleh tangan tabib ini.

Ingin mengejar tabib ini, sudah pasti dia tidak sanggup. Satu- satunya keberuntungan Lu Tan adalah senjata yang menancap di dada bukan senjata beracun.

20-20-20

Setelah Soat Boan-thian pergi, Liu Kun segera termenung, dia terbaring di kasur yang empuk, memejamkan mata. Tidak ada yang berani menggangu atau berbicara dengannya, sebab mereka sudah tahu sifat dan kebiasaan Liu Kun. Sampai matanya membuka, mereka berempat baru mendekat. Hoa Hu-ie yang pertama berkata:

“Selamat Kiu-cian-swe!”

“Oh? Selamat apa?” tanya Liu Kun.

“Ternyata Ling-ong sangat setia kepada Kiu-cian-swe. Tentang baju kebesaran baginda, Kiu-cian-swe tidak perlu khawatir lagi...”

“Ling-ong yang kecil, jauh di Kanglam pula. Aku memang tidak pernah mengkhawatirkannya!” tawa Liu Kun.

Kata Hongpo Tiong:

“Katanya Ling-ong mempunyai pesilat tangguh seperti Siau Sam Kongcu dan lain-lain. Mereka sangat setia kepada Ling-ong. Memang tidak menjadi ancaman tapi tetap repot, jika...”

“Kalian percaya kepada Ling-ong?” tanya Liu Kun tertawa. ' Tiang-seng menyela:

“Dia mengantarkan surat-surat yang biasa dia kirim kepada orang lain, tapi diperlihatkan kepada Kiu-cian-swe...” “Dengan begitu ketahuan bahwa dia orang yang licik!” kata Liu Kun, “orangnya berada di Kang-lam tapi hatinya berada di ibukota. Di satu pihak dia surat-menyurat secara rahasia kepada kaisar, tapi di pihak lain dia diam-diam mengabarkannya kepadaku. Apa maksudnya?”

“Kiu-cian-swe tidak percaya orang ini?” tanya Tiang-seng merasa aneh.

“Dia bermarga Cu, tidak ada alasan untuk pergi berlindung kepada marga lain!” Liu Kuri tertawa dingin, “biarkan apa yang dia lakukan. Terhadap orang ini kita harus hati-hati!”

“Kata Kiu-cian-swe orang ini bukan orang yang pintar?” tanya Tiang-seng.

“Mungkin dia ingin kita berpikir seperti itu. Sementara waktu, aku belum bisa menebak tentang orang ini.”

“Kita harus mengirim orang untuk mengejar Soat Boan-thian!” “Apakah kau mengira Ling-ong tidak terpikir akan hal ini?” Liu

Kun   menggelengkan   kepala,   “kalau   Soat   Boan-thian   hanya

dipergunakan untuk menyesatkan perhatian kita, mengejar Soat Boan-thian hanyalah satu keborosan.”

“Kiu-cian-swe tidak yakin...”

“Maka kalian harus semakin hati-hati!” Liu Kun memejamkan mata dan tenggelam dalam pikiran lagi.

21-21-21

Senjata rahasia memang tidak beracun, tapi karena ada kaitan, mencabutnya bukanlah hal yang 'mudah. Lu Tan terpaksa mencari Fu Hiong-kun. Dia tahu Fu Hiong-kun menguasai ilmu pertabiban. Bila Fu Hiong-kun tidak ada di ibukota atau senjata rahasia harus segera dicabut, dia tetap akan melakukannya sendiri.

Bagi Fu Hiong-kun/mencabut senjata rahasia berkail adalah hal yang mudah. Pertama, syaraf-syaraf yang di sekeliling luka ditotok terlebih dahulu. Kemudian dia menggunting kaitan dari senjata rahasia, selang tengah dicabut, baru mencabut kaitan yang di dalam. Terakhir luka diberi obat luar.

Ketika Lu Tan ingin membuka totokan, Fu Hiong-kun menggelengkan kepala:

“Setelah 6 jam nadi akan terbuka sendiri.” “Apakah tidak bisa sekarang?”

“Akan membuat darah terus mengalir, mungkin 4-5 hari baru bisa pulih. Jika bisa menghindari hal ini, mengapa tidak menghindar.”

“Tidak disangka senjata rahasia ini begitu lihai!” kata Lu Tan. “Untung kau  tidak mencabutnya  pada  waktu  itu.  Kalau kau

mencabutnya, syaraf-syaraf di sekeliling akan putus terkait‘senjata

rahasia. Itu akan sangat merepotkan!” Lu Tan tertawa kecut:

“Memang tadinya aku ingin mencabutnya, tapi karena terlalu banyak bergerak langsung merasa sakit. Tadinya aku kira asal tidak ada racun pada senjata rahasia ini tidak masalah. Tidak disangka senjata ini lebih lihai daripada senjata beracun!”

“Bila terkena senjata rahasia yang mengandung racun, racun bisa dikeluarkan. Tapi bila syaraf putus, akan sulit disambung kembali. Kalau tidak' hati-hati akan ada resiko!”

“Untung ada Nona Fu!”

“Senjata rahasia jenis ini, aku pertama kali melihatnya. Anak buah Liu Kun sangat banyak, kau harus hati-hati. Kelak jangan sembarangan bertindak.”

Lu Tan menarik nafas panjang.

“Aku tahu kau ingin mencari bukti bahwa Liu Kun ingin mengambil alih kerajaan.”

“Hanya dengan begitu aku bisa mencuci bersih nama baik ayahku!” “Belum tentu! Liu Kun mencelakakan negara dan rakyat, semua orang sudah tahu. Kau kira kaisar sama sekali tidak tahu? Mungkin kekuatan Liu Kun sangat besar maka kaisar juga takut kepada dia!”

“Dari ayahku, aku tahu bahwa kaisar belum mengetahuinya, semua dokumen penting tidak bisa sampai di tangan kaisar!”

“Mungkin bisa mencari orang dekat kaisar untuk membantu!” Lu Tan segera menggelengkan kepala:

“Semua pejabat di kerajaan sudah tunduk kepada kekuasaan Liu Kun, mana mungkin ada orang yang berani melawannya?”

“Apakah An-lek-hou juga?” “An-lek-hou?”

“Apakah kau tidak tahu orang tersebut?” Lu Tan menggelengkan kepala.

“Orang ini seharusnya bukan orang Liu Kun tapi aneh, mengapa dia tidak melakukan tindakan apa-apa?”

“Apakah dia tidak mengenal Liu Kun? Tapi sepertinya tidak mungkin. Orang ini selalu berkelana di dunia persilatan!”

“Apakah kau mengenal dia?” tanya Lu Tan.

Waktu Fu Hiong-kun mau menjawab, seorang murid Bu-tong- pai datang melapor. Ada seorang tua marga Tiong membawa seorang anak yang bernama Lan-lan datang mencari dia.

Ini bukan hal yang aneh. Setelah Fu Hiong-kun tinggal di ibukota, ketika melewati rumah An-lek-hou, dia pernah masuk untuk menemani Lan-lan bermain. Dia juga memberitahu kepada Lan-lan tempat tinggalnya. Kedatangannya sekarang adalah waktu yang sangat tepat.

“Lan-lan adalah putri An-lek-hou!” Ketika mengucapkan kata- kata ini, Fu Hiong-kun sudah mengambil keputusan akan mengunjungi rumah An-lek-hou.

22-22-22 Kadang-kadang terjadi hal yang sangat kebetulan. Tadinya Tiong Toa-sianseng ingin keluar mengunjungi teman tapi Lan-lan memaksa ingin ikut. Tiong Toa-sianseng tahu bahwa Lan-lan tidak suka mendengar pembicaraan orang tua maka begitu mele wati Pek-wan-koan, dia teringat Fu Hiong-kun dan ingin menyerahkan Lan-lan kepada Fu Hiong-kun untuk mengurusnya. Tentu saja Lan- lan setuju. Di dalam hati Lan-lan, mengikuti Fu Hiong-kun adalah hal yang sangat menyenangkan.

Fu Hiong-kun bisa mengantarkan Lan-lan pulang. Yang pasti Tiong Toa-sianseng sangat senang. Dia teringat akan pesan terakhir Ku-suthay, yang berpesan padanya untuk mencomblangkan Su Yan-hong dan Fu Hiong-kun, hanya dia tidak tahu bagaimana caranya.

Tentu saja dia tidak tahu Fu Hiong-kun sama sekali tidak ada niat untuk hal lain. Kali ini dia mau mengantarkan Lan-lan pulang karena ingin bertemu Su Yan-hong untuk mendiskusikan cara membantu Lu Tan.

Fu Hiong-kun adalah orang dunia persilatan yang belum lama mengenal Su Yan-hong. Boleh dikatakan sama sekali tidak mengenalnya, jika sudah mengenalnya, dia tidak akan mengunjungi Su Yan-hong. Apalagi memilih hari ini adalah kesalahan yang besar.

Tapi Fu Hiong-kun tidak melihat ada yang tidak beres, maka kesalah pahaman terjadi.

23-23-23

Waktu pulang ke rumah An-lek-hou, Lan-lan sudah lelah. Tapi dia tetap membawa Fu Hiong-kun masuk mencari Su Yan-hong, sambil berlari dia juga berteriak. Kecuali orang tuli, semua orang tahu Fu Hiong-kun hadir di sana.

Su Yan-hong menunggu di dalam. Melihat Fu Hiong-kun pelan- pelan masuk, sikapnya sedikit aneh.

Tapi Fu Hiong-kun tidak melihatnya, apalagi pembicaraan Su Yan-hong sangat sungkan. Begitu mengangkat bicara tidak ada waktu menemani Lan-lan, dia seperti ingin Fu Hiong-kun cepat- cepat meninggalkan rumahnya.

Tapi Fu Hiong-kun tidak merasa, dia masih mengira karena tidak bisa menemani Lan-lan maka Su Yan-hong merasa bersalah. Fu Hiong-kun segera mengatakan apa yang harus dia katakan:

“Hou-ya berada di kerajaan, mempunyai tang gung jawab yang berat. Yang pasti tidak bisa seperti kami orang dunia persilatan yang setiap hari tidak ada pekerjaan!”

Su Yan-hong mengira Fu Hiong-kun men-tertawakan dirinya sendiri. Dia segera menjawab:

“Aku malah berharap menjadi seorang dunia persilatan, hidup lebih santai...”

Fu Hiong-kun segera mencegat:

“Orang dunia persilatan sangat mementingkan keadilan. Bisa terluka dan berdarah demi keadilan. Bila pejabat kerajaan juga mempunyai pikiran seperti ini, tidak perlu khawatir negara dan rakyat hidup tidak tenang.”

Akhirnya Su Yan-hong merasa ada maksud lain di balik kata-kata Fu Hiong-kun, maka dia melihat Fu Hiong-kun dengan sorot mata yang aneh.

“Apakah Hou-ya pernah mendengar nama Lu Kian?” tanya Fu Hiong-kun.

Su Yan-hong baru mengerti:

“Aku tidak begitu mengenal orang ini!”

“Tantu Hou-ya tahu dia mati karena apa.” “Lebih baik kita tidak membicarakan dendam pribadi!”

“Tampak Hou-ya tidak jelas mengenai masalah ini. Kalau hanya masalah pribadi, aku tidak akan kemari!”

“Apa hubungan nona dengan Lu Kian?” “Putranya Lu Tan adalah murid Bu-tong-pai!” “Nona mengenal Lu Tan maka semua yang nona tahu tentang Lu Kian berasal dari Lu Tan?”

“Apakah Hou-ya mencurigai ini bukan yang sebenarnya?” “Ini hanya perkataan sepihak..

“Siapa Liu Kun? Apakah Hou-ya masih belum jelas Lu Kian terbunuh karena Liu Kun menyingkirkan orang yang berbeda pendapat dengannya!”

Fu Hiong-kun mengira Su Yan-hong masih belum jelas, katanya lagi:

“Dia memberi julukan dirinya Kiu-cian-swe. Dia juga mendirikan pengadilan sendiri, dengan hukuman siksa pribadi...”

“Nona Fu, kau jangan sembarangan menebak. Liu-congkoan adalah orang kepercayaan kaisar. Dia secara khusus membantu kaisar mengurus semua masalah!” kata Su Yan-hong.

“Maksud Hou-ya, semua karena perintah kaisar?”

“Tentang ini...” Su Yan-hong tidak tahu apa yang harus dia jawab.

Fu Hiong-kun melihat Su Yan-hong, bertanya: “Apakah Hou-ya juga takut pada Liu Kun?”

“Masalah kerajaar, lebih baik nona jangan bertanya!” “Tampaknya aku sudah salah memilah orang, juga salah datang

ke sini!”

“Nona Fu!”

“Aku berterima kasih Hou-ya tidak membunuh aku!” Fu Hiong- kun memberi hormat.

“Apa maksudmu?” tanya Su Yan-hong.

“Biasanya kalau menceritakan kejelekan Liu Kun, selalu tidak ada akibat yang baik. Hou-ya tidak mengirim aku ke tempat Liu Kun, itu sudah sangat beruntung, mana mungkin aku tidak berterima kasih kepadamu?” Su Yan-hong dengan bengong melihat Fu Hiong-kun. Sampai sekarang Lan-lan belum tahu apa yang mereka katakan. Maka dengan aneh berkata:

“Ada apa dengan kalian?”

Fu Hiong-kun bengong. Dia menarik nafas:

“Tidak ada apa-apa! Cici mau pergi, Lan-lan antarkan Cici keluar ya?”

Dia segera menuntun Lan-lan keluar.

Yang pasti Lan-lan tidak menolak. Walaupun ada Lan-lan, bila Su Yan-hong ingin menjelaskan, itu adalah hal yang sederhana. Tapi dia tidak melakukan ini. Dalam hati dia mengira belum waktunya untuk menjelaskan.

Setelah Lan-lan dan Fu Hiong-kun pergi, Su Yan-hong baru menarik nafas dan baginda keluar dari sekat belakang.

“Yan-hong, kau benar-benar sudah dipersalah kan!” Yang jelas baginda sudah mendengar semua pembicaraan tadi, “sulit mendapat seorang perempuan yang mengerti dirimu, tapi kau terpaksa...”

Su Yan-hong segera mendekat dan berkata:

“Seharusnya Siau-te-lu berada di sisi baginda, tapi dia tidak mengikuti baginda kemari. Berarti Liu Kun sudah mempunyai rencana lain, mungkin dia sudah mengatur orang lain..

“Kau curiga di sini bersembunyi mata-mata?” kaisar bertanya dengan aneh.

“Tidak mungkin, tapi lebih baik kita berhati-hati. Apalagi aku tidak mengenal Nona Fu dengan dalam!”

“Melihatmu begitu hati-hati, aku jadi tenang!”

“Kita harus hati-hati! Bila rahasia ini bocor, kelak kita akan sulit menghadapi Liu Kun!”

“Baik, aku harap Ling-ong tidak membuatku kecewa!” Terdengar semua harapannya terletak pada Ling-ong.   Soat Boan-thian memasuki ibukota. Ini adalah sebuah rahasia di pihak Ling-ong, sampai-sampai Tiang-lek Kuncu Su Ceng-cau juga tidak tahu apa-apa. Kalau tidak, mana mungkin dia ada waktu mengurus masalah Siau Sam ICongcu.

Semenjak bertemu dengan Tiong Bok-Ian, Siau Sam Kongcu selalu murung. Nasi jarang dimakan dan teh jarang diminum, tapi arak semakin banyak diminum. Semua terlihat oleh Su Ceng-cau. Dia tidak tahu banyak mengenai masalah Tiong Bok-lan dan Siau Sam Kongcu, tapi cukup untuk membuat dia mengerti apa yang terjadi.

Memang Siau Sam Kongcu menyimpan rahasia di dalam hati, tapi ketika dia mabuk semua rahasia sudah keluar tanpa disengaja. Kata-kata yang masuk ke telinga Su Ceng-cau tidak banyak, tapi sifatnya yang selalu bertanya membuat Siau Sam Kongcu membocorkan sedikit rahasia ini. Dengan begitu, berita yang terjadi di antara mereka sudah banyak terkumpul.

Su Ceng-cau memang selalu semaunya sendiri tapi dia berhati baik. Melihat Siau Sam Kongcu seperti itu, dia juga sedih, dia berusaha menghibur tapi tidak berguna. Terakhir dia terpikir akan satu cara.

Yang pasti cara ini tidak diketahui Siau Sam Kongcu, kalau tahu, dia akan menolak.

Su Ceng-cau melakukan rencananya waktu Siau Sam Kongcu masih dalam keadaan mabuk.

24-24-24

Su Ceng-cau tiba-tiba muncul di Ci-cu-wan. Semua penghuni Ci- cu-wan merasa aneh. Lo-taikun juga tidak terkecuali. Dia segera keluar menyambut.

Su Ceng-cau sangat pintar, awalnya dia bilang kalau dia menyukai Ci-cu-wan, setelah itu dia berbicara berputar-putar untuk menghindar dari Lo-taikun dan lain-lain, sampai hanya  tinggal Tiong Bok-lan yang menemani dia! Yang muda berbicara dengan yang muda, Lo-taikun dan lain-lain tidak ingin .masuk ke lingkungan pembicaraan mereka. Dia malah menyuruh Bing-cu dan Tiong Bok-lan melayaninya.

Sampai di belakang Ci-cu-wan, Su Ceng-cau segera mencari alasan untuk menyuruh Bing-cu pergi. Bing-cu tidak merasa ada masalah. Walaupun umur mereka hampir sama tapi sifat mereka berbeda. Apalagi Su Ceng-cau terus berbicara dengan Tiong Bok- lan. Dia bersikap seperti tidak menginginkan Bing-cu berada di sana.

Akhirnya Tiong Bok-lan tahu Su Ceng-cau datang karena dia.

Dan Su Ceng-cau pun berkata: “Sebenarnya aku datang mencarimu!”

“Kuncu!” Tapi begitu kata-kata ini diucapkan, Su Ceng-cau mengangkat tangannya dan mencegat:

“Tidak perlu sungkan, tidak perlu sungkan seperti ini!” “Ini adalah aturan ada atas, bawah, ada penghormatan...”

“Semua orang adalah manusia, mengapa harus dibagi atas bawah dan lain-lain...aku hanya ingin menyampaikan satu hal!”

“Tentang apa?” “Nasehatilah guruku!”

“Siau Sam Kongcu? Ada apa dengan dia?”

“Setiap hari dia terlihat tidak ceria, sampai-sampai mengajariku ilmu silat juga tidak semangat. Kalau kau tidak menasehati dia, entah apa yang akan terjadi!”

“Mungkin dia sedang tidak enak badan, bantu lah dia mencari seorang tabib. Aku sama sekali tidak mengerti ilmu pertabiban, aku tidak bisa membantu.”

Su Ceng-cau menatap Tiong Bok-lan dengan dingin. Setelah menunggu Tiong Bok-lan selesai berbicara, dia berkata:

“Apakah kau kira aku tidak tahu masalah kalian?” Tiong Bok-lan terpaku. Su Ceng-cau kemudian berkata:

“Ini adalali masalah kalian berdua, apa yang orang lain katakan biarlah mereka katakan. Maksud ku beberapa hari ini bila malam tiba, Siau Sam Kongcu selalu bengong dan sedih. Bila kau memperhatikan dia, harap malam ini bisa ke sana sebentar!”

Tiong Bok-lan tertawa kecut dan menggelengkan kepala. Su Ceng-cau tertawa dingin:

“Yang pasti aku tidak bisa memaksamu melakukan hal yang tidak mau kau lakukan!”

“Tolong sampaikan salamku kepadanya, suruh dia menjaga dirinya baik-baik..

“Aku tidak ada waktu mengurus masalah kalian!” Su Ceng-cau marah. Dia membalikkan tubuh segera lari dari sana, hanya tinggal Tiong Bok-lan bengong di sana. Tadinya dia ingin memanggil Su Ceng-cau, tapi akhirnya tidak jadi karena pikirannya kacau.

25-25-25

Setelah meninggalkan Ci-cu-wan, Su Ceng-cau segera pergi ke rumah An-Iek-hou. Dia ingin mencari Su Yan-hong, membuktikan dia adalah orang yang berani mencintai juga berani membenci. Dia tidak ragu-ragu, tidak seperti Tiong Bok-lan.

Dia selalu mengaku dia suka kepada Su Yan-hong, itu sudah beberapa tahun yang lalu. Waktu itu dia masih kecil, orang dewasa sering bertanya kepada dia. Sebenarnya tidak bermaksud apa-apa, tapi dia malah teringat sampai sekarang.

Sekarang siapa yang akan menanyakan pertanyaan ini lagi?

Sampai di rumah An-lek-hou, hatinya bertentangan. Walaupun dia selalu memuji dirinya berani melakukan sesuatu, tapi bila dia sendiri ingin mem-beritahu Su Yan-hong tentang masalah ini, dia tetap merasa risih dan malu.

Kemudian dia juga terpikir, bagaimana bila Su Yan-hong tidak menerima apa yang akan dia katakan? Maka begitu tahu Su Yan- hong tidak ada di sana, dia’ malah merasa lega. Dia pun mencari Lan-lan.

Melihat dia dari jauh, Lan-lan sudah menghindar. Dia mencari Lan-lan sampai ke belakang dan menemukan Tiong Toa-sianseng sedang berlatih ilmu pedang. Dia teringat masalah Tiong Bok-lan dan Siau Sam Kongcu.

Tiong Toa-sianseng tidak peduli orang lain meli liatnya, dia terus berlatih. Jurus pedangnya tidak ada perubahan yang besar tapi sangat pelan.

“Jurus pedang apa ini?” tanya Su Ceng-cau tiba-tiba.

“Jurus pedang Kun-lun-pai!” Tiong Toa-sianseng tidak berhenti berlatih.

“Kata orang, ilmu pedang Kun-lun-pai sangat lincah dan terus berubah. Perubahannya sulit ditebak, hari ini aku baru melihatnya!”

“Orang sudah tua, tenaga juga berkurang!” kata Tiong Toa- sianseng, dia tahu mengapa Su Ceng-cau berkata seperti itu.

“Tiong-cianpwee adalah ketua perkumpulan, nama Cianpwee sudah tidak diragukan lagi. Yang pasti ilmu silat Cianpwee di atasku. Tapi ilmu pedang seperti ini, Boanpwee tetap ingin mencobanya!” Ini menunjukan nama Tiong Toa-sianseng hanyalah nama kosong saja. 

Tiong Toa-sianseng tetap seperti tidak tergang gu. Dia juga tertawa. Su Ceng-cau tidak menunggu dia tidak menjawab sudah berkata lagi:

“Guruku memang nama dan budinya tidak setinggi Tiong- cianpwee, tapi dia adalah pesilat tangguh dari Hoa-san-pai maka murid yang diajarnya seperti aku pasti sangat kuat. Seharusnya tidak membuat Tiong Toa-sianseng kecewa!”

“Kuncu adalah orang kerajaan...”

“Anggaplah aku orang dunia persilatan!” Pedang Su Ceng-cau segera dikeluarkan. Yang pasti itu adalah sebuah pedang bagus. “Aku sudah tua, mana mungkin bisa melawan anak muda?” Akhirnya Tiong Toa-sianseng menghen tikan latihannya.

Ketika dia mau memasukkan pedangnya ke dalam sarung, Su Ceng-cau sudah menekan pedangnya ke atas sarung pedang Tiong Toa-sianseng:

“Kau meremehkan aku atau tidak sudi bertarung denganku?” “Perkataan Kuncu terlalu berat!” Tiong Toa-sianseng

menggelengkan kepala.

“Harap beri petunjuk!”

Begitu mengucapkan kata-kata ini, Su Ceng-cau segera menarik pedang tapi pedang sudah dipegang. Inilah permulaan dari Hoa- san-kiam-hoat.

“Kalau begitu, aku terpaksa harus melakukan: nyai”

Pedang Tiong Toa-sianseng diturunkan ke bawah, dia terpaksa melihat ke langit.

Su Ceng-cau membentak, pedangnya mulai menyerang. Terlihat dia benar-benar pernah berlatih dengan baik. Ilmu pedangnya sangat teratur, perubahan ilmu pedang juga dikuasai dengan baik.

Tiong Toa-sianseng merasa ini di luar dugaan. Dia pelan-pelan berkata sendiri, 'Oh!' Kemudian pedang dari bawah dinaikkan ke atas. Perkiraannya sangat tepat. Ujung pedangnya tepat mengenai pedang Su Ceng-cau. Ada suara “TING!”, pedang Su Ceng-cau tergetar keluar.

Tapi ilmu pedang Su Ceng-cau yang tadinya terputus, sekarang sudah menyambung dengan cepat. Dia seperti kupu-kupu yang berkeliaran di bunga- bunga lalu berputar-putar di sisi Tiong Toa- sianseng. Ilmu pedangnya juga berputar dan menyerang dari semua arah. 

Tiong Toa-sianseng berdiri di tempatnya dan tidak bergerak. Pedang diperagakan dengan tidak bersemangat tapi setiap jurusnya selalu memukul ke ujung pedang lawan. Walaupun Su Ceng-cau berputar ke belakang, Tiong Toa- sianseng juga mempertahankan keadaan begitu. Bagian belakang kepala Tiong Toa-sianseng seakan ada mata. Dengan pedang yang menggurat ke belakang, dia bisa menghadapi pedang yang datang kepadanya.

37 serangan berikutnya juga tetap seperti ini. Su Ceng-cau jadi marah. Tiba-tiba dia melemparkan pedang ke bawah dan berteriak:

“Aku tidak mau bertarung lagi!”

Tiong Toa-sianseng baru membalikkan tubuh. Tadinya dia ingin menghibur tapi Su Ceng-cau berkata marah:

“Kau jangan mengira aku sudah kalah darimu! Aku kalah karena beberapa hari ini guruku sama sekali tidak bersemangat mengajariku!”

“Ternyata begitu!” kata Tiong Toa-sianseng. “Apakah kau tahu mengapa dia seperti itu?”

“Bagaimana aku bisa tahu?” Tiong Toa-sianseng tertawa. “Karena dia terganggu oleh percintaannya!”

“Oh?” Tiong Toa-sianseng mengerutkan alis.

“Aku benar-benar tjdak mengerti, seorang laki laki yang gagah tapi tidak berani berbicara dan selalu disimpan di dalam hati!”

“Kalau isi hatinya dikatakan, dia akan merasa nyaman!”

Tiong Toa-sianseng ingin mengatakan sesuatu tapi sudah dicegat oleh Su Ceng-cau:

“Betul! Apakah menyukai seseorang adalah dosa?” “Tentu saja tidak...”

“Berarti kau juga setuju?” tanya Su Ceng-cau. • Dalam hati Tiong Toa-sianseng mulai mengerti, dengan santai dia berkata:

“Gurumu sudah dewasa, dia mempunyai prin sip sendiri. Kuncu boleh dari samping memberi pendapat!”

Su Ceng-cau menggelengkan kepala: “Orang yang dia rindukanlah yang harus berbicara kepadanya.

Aku sudah lelah menasehati, tapi tidak ada gunanya!” “Mungkin dia tidak butuh orang lain menasehati!”

Tiong Toa-sianseng memutar tubuh, dia mulai berlatih pedang lagi.

Su Ceng-cau memutar ke depannya:

“Apa hanya ini yang bisa kau katakan?”

Tiong Toa-sianseng tidak menjawab, dia hanya tertawa. Su Ceng-cau menghentakkan kaki dan membalikkan tubuh pergi.

26-26-26

Seharian berlari ke sana ke sini, tapi Su Ceng-cau merasa tidak ada hasilnya sedikitpun. Dia juga tidak melihat ada pertunjukkan Lam-touw dan Siau Cu di Sin-sa-hai. Akhirnya dia memilih pulang.

Dia sama sekali tidak menyangka kepergian-nya ke Ci-cu-wan tidak hanya membuat hati Tiong Bok-lan bergejolak besar, juga membuat banyak orang terkena musibah.

Balikan Lam-touw juga hampir terbunuh.

27-27-27

Semenjak Lam-touw dan Siau Cu pulang dari Sin-sa-hai, mereka tinggal di penginapan dan terus minum arak. Sampai sore hari, arak yang di minum Lam-touw hampir berkurang separuh dari arak yang dia minum di hari biasa.

“Apakah Suhu ada beban pikiran?” tanya Siau Cu.

“Aku benar-benar tidak mengerti!” Lam-touw kelepasan bicara, kemudian melihat Siau Cu.

“Suhu tidak mengerti apa?”

“Apa yang tidak kymengerti, apakah kau bisa mengerti?”

Yang tidak dimengerti Lam-touw adalah Kiang Hong-sim dari keluarga Lamkiong. Malam itu pandangannya terhadap Kiang Hong-sim berubah. Dia yakin ilmu silat yang dikuasai Kiang Hong- sim bukan ilmu silat keluarga Lamkiong. Yang lebih aneh lagi, mengapa di keluarga Lamkiong ada perempuan yang begitu cabul.

“Satu orang berakal pendek, dua orang berakal panjang!” Siau Cu menambahkan kalimat ini.

“Kau tahu aku orang yang berakal pendek, itu sudah cukup!” Lam-touw segera berdiri, kemudian dia membereskan baju.

Melihat gerakannya, Siau Cu tahu Lam-touw akan pergi, pergi membereskan masalah yang tidak dimengerti olehnya. Maka dia segera berkata:

“Apakah tangan guru gatal lagi? Kalau mendapatkan keuntungan, jangan lupa bagian murid!”

“Bila aku dipukuli, aku tetap tidak akan lupa membaginya sebagian kepadamu!”

“Setidaknya beritahukan kau akan kernana, agar kita bisa saling memberikan perhatian!”

“Apakah agar kau bisa melapor ke kantor polisi?”

“Tecu hanya takut kalau guru tidak sanggup menghadapinya sendiri!”

“Bila tidak sanggup, aku akan kabur!” kata Lam-touw, “dulu sebelum mempunyai murid sepertimu, guru selalu bebas berpergian ke mana pun. Sekarang malah seperti terikat!”

“Sejujurnya, guru mau ke mana?” Siau Cu tidak tertawa lagi. “Pokoknya bukan ke kolam naga atau sarang harimau, tapi yang

penting begitu pergi tidak ada kebaikan!”

“Bila terlalu berbahaya, jangan pergi!” Siau Cu sudah lama mengikuti Lam-touw, Dia sudah meli hat tempat Lam-touw tuju bukan tempat biasa.

“Muridku memang tidak berguna, hanya membesarkan ambisi musuh dan menjatuhkan kewibawaan sendiri!” Lam-touw tertawa. Sambil berjalan keluar, Holou merah dilemparkan lalu dijemput. Siau Cu tidak mengejar tapi dia tidak tenang. Dia juga tahu Lam- touw tidak mau dia ikut, juga tidak mengijinkan dia diam-diam mengikuti di belakang. Dengan keahlian dan pengalaman Lam- touw, semua tidak bisa membohongi dia.

Satu-satunya yang membuat Siau Cu tenang adalah berdasarkan pengalaman Lam-touw, bila dia kalah dari lawan dia akan kabur. Kabur bagi dia adalah hal yang tidak sulit.

Lam-touw pasti mempunyai kepercayaan diri. Kalau tidak, dia tidak akan ringan seperti itu.

27-27-27

Sesampainya di luar Ci-cu-wan, Lam-touw pelan-pelan menggeser tubuhnya, benar-benar seperti seekor kucing. Kemudian dia sudah meloncat ke atas dinding pagar. Setelah itu tubuh ditarik, dia masuk ke dalam kegelapan.

Pada waktu itu, ada seorang perempuan yang berbaju malam, perempuan itu keluar seperti burung walet yang terbang keluar dari hutan bambu, kemudian turun dari pagar tembok. Setelah melihat ke sekeliling, dia berlari cepat.

Melihat perempuan ini, Lam-touw segera teringat Kiang Hong- sim. Apalagi melihat perempuan ini mengendap-endap, dia semakin yakin.

“Bila seorang sedang mujur, jalannya benar-benar akan diatur dengan baik. Malam ini aku akan melihat ke mana kau mau pergi,” Lam-touw senang, dan mengejar perempuan itu dari belakang.

Begitu dia bergerak, Kiang Hong-sim segera keluar dari hutan bambu. Wajahnya tertawa, senang dalam hatinya:

“Malam ini benar-benar ramai, orang tua tunggulah, kau akan terima akibatnya.”

Mana mungkin Kiang Hong-sim bisa melupakan waktu dia diperolok Lam-touw di kuil San-sian. Lam-touw tidak menyangka Kiang Hong-sim mengikuti dia dari belakang, juga tidak melihat bahwa orang yang dia ikuti sebenarnya adalah Tiong Bok-lan.

Ternyata setelah berpikir lama, akhirnya Tiong Bok-lan mengambil keputusan untuk menemui Siau Sam Kongcu, supaya dia bisa menjelaskan dan Siau Sam Kongcu bisa mengerti keputusannya. Dia sudah sangat hati-hati. Di sepanjang jalan dia selalu menoleh ke belakang.

Lam-touw adalah orang berpengalaman di dunia persilatan. Dia menjaga jarak dengan sangat tepat, sehingga setiap kali bisa menghindar dari pandangan Tiong Bok-lan.

Dengan jarak yang dijaga Lam-touw, yang pasti dia tidak bisa membedakan wajah Tiong Bok-lan. Yang penting Lam-touw yakin perempuan itu adalah Kiang Hong-sim. Dia sama sekali tidak bisa membedakan.

28-28-28

Tempat yang bernama Toan-cang-poh bukan tempat yang bagus. Pada pagi hari tempat ini sudah membuat orang tidak nyaman. Apalagi pemandangan di malam hari, lebih menyedihkan. Tempat ini bukan tempat yang senang didatangi orang pada umumnya.

Namun Siau Sam Kongcu sangat suka tempat ini, karena pemandangannya, juga karena namanya Toan-cang-poh (Tanjakan kesedihan yang menghancurkan hati). Setelah mengetahui Tiong Bok-lan menikah dan masuk ke keluarga Lamkiong, dia mematahkan pedangnya. Dan dia mengaku jika Toan-cang-kiam- kek tidak berada di Toan-cang-poh, ke-mana dia harus pergi?

Untunglah Toan-cang-poh tidak jauh dari rumah Ling-ong di ibukota, maka memungkinkan bagi Toan-cang-kiam-kek ini untuk pulang-pergi ke sana.

Orang ini memang mempunyai perasaan yang mendalam, boleh dikatakan dalamnya sampai tahap yang berlebihan. Jika hubungan mereka lancar, Tiong Bok-lan dan dia akan sangat bahagia, tapi keadaan mempermainkan orang. Semua terjadi tidak sesuai keinginan mereka. Setelah berubah seperti sekarang ini, kedua pihak merasa sedih.

Siau Sam Kongcu tidak bisa masuk ke Ci-cu-wan untuk bertemu dengan Tiong Bok-lan. Kalau bisa masuk ke sana, kedua pihak akan lebih nyaman. Setidaknya Tiong Bok-lan tidak akan kesal hati seperti sekarang ini. Setelah menikah dan masuk keluarga Lamkiong, dia sudah siap seumur hidup di sana, hal yang lain tidak lagi dia pikirkan.

Siau Sam Kongcu tahu keadaan Tiong Bok-lan, tapi dia sudah dikendalikan oleh perasaannya.

29-29-29

Di langit tampak bulan. Bulan yang dingin.

Siau Sam Kongcu seperti orang bodoh, berdiri bengong di Toan- cang-poh. Dia melihat bulan sabit, bibirnya terus bergerak, tenggorokan terus berbunyi, entah apa yang dia bacakan. Ketika Tiong Bok-lan datang ke hutan di pinggirnya, dia tetap tidak merasakannya.

Melihat Siau Sam Kongcu seperti ini, Tiong Bok-lan sangat sedih, dia bengong melihat Siau Sam Kongcu, akhirnya dia berjalan keluar dari hutan.

Akhirnya Siau Sam Kongcu merasakan kehadiran seseorang di sana. Dia adalah seorang pesilat tangguh, telinga dan matanya lebih peka daripada orang biasa. Begitu menoleh dan melihat orang itu adalah Tiong Bok-lan, mulutnya menganga seperti orang bodoh.

“Bok-lan!” Akhirnya dia bisa memanggil, kata nya dengan senang, “akhirnya kau datang bertemu denganku!”

“Sebenarnya aku tidak pantas datang! Sudah beberapa tahun...”

“Beberapa tahun pun aku pasti akan menunggu...” Mata Siau Sam Kongcu seakan memancarkan cahaya yang panas, “kita segera tinggalkan tempat ini. Ujung langit penjuru laut pasti ada tempat untuk kita tinggal!”

“Kali ini aku keluar dari keluarga Lamkiong hanya ingin menjelaskan kepadamu. Kita tidak mung kin menikah. Ini adalah pertemuan terakhir!” kata Tiong Bok-lan sangat tenang.

Siau Sam Kongcu seperti disambar petir, dia berdiri bengong.

30-30-30

Lam-touw bersembunyi di dalam hutan. Dia sudah melihat jelas wajah Tiong Bok-lan juga mendengar apa yang mereka bicarakan, dan sadar dia salah sasaran.

'Mengapa aku bisa ceroboh seperti itu!' Dia marah kepada dirinya, 'kalian berdua berbicaralah terus, aku harus pergi!' Dia berbicara sendiri dalam hati dan mengayunkan tangan kepada Tiong Bok-lan dan Siau Sam Kongcu, dan segera membalikkan tubuh siap pergi. Seketika itu terdengar angin keras datang. Sebuah batu besar sudah dilemparkan ke arah Lam-touw. Dengan cepat dia menghindar dan batu besar itu mengenai pohon di sisinya.

Sebenarnya dia bisa menjemput batu itu, tapi agar tidak mengejutkan Siau Sam Kongcu dan Tiong Bok-lan maka dia memilih untuk tidak menjemputnya. Batu yang dilempar itu bergesekan dengan pohon-pohon sehingga menimbulkan suara yang lumayan keras. Dengan pendengaran Siau Sam Kongcu, mana mungkin tidak terdengar olehnya!

Maka dia berusaha untuk tidak menjemput dan berlari ke arah datangnya batu. Tapi Siau Sam Kongcu sudah membentak:

“Siapa?”

'Aku tahu siapa yang melempar batu, jelas-jelas dia ingin mencelakakan aku!' dalam hati Lam-touw menjawab. Terdengar suara baju tertiup angin. Lam-touw sadar dia tidak sempat lagi mencari orang yang melempar batu, maka dia segera masuk ke semak-semak dan siap kabur. Dia bukan takut kepada Siau Sam Kongcu, melainkan hanya khawatir repot. Tubuhnya bergerak-gerak, dia sudah keluar dari semak-semak dan siap turun dari tanjakan. Tapi Siau Sam Kongcu sudah seperti seekor burung elang turun mencegatnya.

“Berhenti!” Siau Sam Kongcu bergerak. Timbul angin keras. “Ampun tuan!” Dua tangan Lam-touw terus bergoyang, “hamba

hanya merasa aneh dan bukan sengaja...”

“Sebenarnya siapa yang menyuruhmu datang mengawasi kami?” Sebenarnya dalam hati Siau Sam Kongcu yakin bahwa Lam- touw adalah orang keluarga Lamkiong. Jika dia kembali dan menyebarkan kabar ini, Tiong Bok-lan akan terganggu, dalam kecemasannya, muncul hawa membunuh.

“Hamba hanyalah seorang rakyat kecil dan kebetulan lewat sini!” “Rakyat kecil bisa mempunyai ilmu meringan kan tubuh yang

begitu hebat? Cepat katakan siapa kau!”

“Hatimu sudah tertutup oleh cinta, mengapa tidak bisa melihat...” sebelum Lam-touw menyelesaikan kata-katanya, pedang yang sudah putus dikeluar kan Siau Sam Kongcu dari sarung, dia siap menyerang.

Lam-touw menarik nafas. Dia bersalto tiga kali. Dengan Holou yang besar berwarna merah, dia menahan 7 kali serangan pedang Siau Sam Kongcu.

“Tuan benar-benar mempunyai ilmu yang bagus!” Yang pasti Lam-touw melihat Siau Sam Kong cu siap membunuhnya. Dia seperti sengaja juga seper ti tidak sengaja menggigil, dia mulai siap kabur lagi.

“Ingin kabur, tidak semudah itu!” hawa pedang Siau Sam Kongcu bertambah kental.

“Benar-benar tidak ada alasan, aku benar-benar dipersalahkan!

Mengapa kau orang yang tidak punya akal!”

“Katakan siapa yang menyuruhmu kemari?” tanya Siau Sam Kongcu, “apakah Lo-taikun?” Lam-touw menarik nafas panjang.

31-31-31

Waktu Siau Sam Kongcu mulai bergerak, tubuh Tiong Bok-lan juga bergerak. Walaupun dia bimbang tapi dia tidak terpikir akan kabur.

Dia berhenti di pinggir hutan dan tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

“Bok-lan!” Kiang Hong-sim muncul di belakangnya.

“Kau?” Tiong Bok-lan menoleh, wajahnya jadi pucat. Di dalam hatinya Kiang Hong-sim adalah orang yang galak dan banyak mulut. Bila hal ini dia tahu, dia pasti akan memberitahukan kepada Lo- taikun. Akibatnya akan fatal.

“Cepat pergi dari sini!” kata Kiang Hong-sim. “Pergi?” Reaksi Tiong Bok-lan terlihat lamban.

“Bila ada orang lain melihat kau janjian dengan Siau Sam Kongcu, apa yang akan mereka katakan? .Keluarga Lamkiong akan tercoreng!”

“Kau...” Tiong Bok-lan merasa aneh.

“Kita sama-sama perempuan dan dalam satu keluarga, masa aku tidak mau menolongmu?” Kiang Hong-sim menarik tangan Bok- lan.

“Sebenarnya aku datang bertemu dia untuk yang terakhir kali...” “Tapi orang lain belum tentu berpikir seperti itu, cepat kita

pergi!”

“Tapi mereka...” kata Tiong Bok-lan.

“Tenang, tidak ak'an terjadi apa-apa!” Kiang Hong-sim menarik Tiong Bok-lan.

“Siapa orang itu?”

“Seorang tua yang ingin tahu masalah orang lain dan suka membuka rahasia orang lain!” Kiang Hong-sim berkata dengan marah. 32-32-32

Pedang Siau Sam Kongcu melayang lagi, sinar pedang berkilauan. Pasir dan tanah beterbangan karena terbawa oleh angin kibasan pedang. Lam-touw seperti ingin bertahan, tapi tubuhnya bergerak. Dia malah meloncat ke bawah sebuah pohon. Punggung menempel ke batang pohon, dia seperti seekor cecak terus naik ke atas.

Siau Sam Kongcu mengejar ke bawah pohon. Waktu dia mau naik ke atas pohon, tiba-tiba Lam-touw berkata:

“Temanmu sudah ditangkap oleh orang lain!”

“Apa?” kata Siau Sam Kongcu sambil melihat ke arah yang ditunjuk Lam-touw. Terlihat bayangan pohon yang ditiup angin terus bergoyangan.

Lam-touw tertawa, katanya:

“Aku kebetulan bertemu dengan kalian. Jika kau tidak percaya, aku juga tidak bisa apa-apa!” Tubuhnya meloncat ke pohon yang lain lagi.

Siau Sam Kongcu tetap kembali ke hutan dan terus memanggil: “Bok-lan!”

Beberapa kali memanggil tidak ada yang menjawab, dia kembali ke tempat mereka bertemu tadi, Tiong Bok-lan sudah tidak ada. Siau Sam Kongcu dengan kesal terduduk ke bawah. Hatinya benar-benar sedih.

Tiba-tiba dia teringat Holou besar itu.

Betul, dia adalah orang tua yang menjual teknik sulap di Sin-sa- hai, mana mungkin orang ini ada kaitan dengan keluarga Lamkiong? Apakali dia kebetulan bertemu dengan mereka?

Dia segera merasa curiga dengan kata-kata Lam-touw. Bila Tiong Bok-lan tidak mau pulang ke keluarga Lamkiong, dengan ilmu silatnya bukanlah hal yang mudah bagi orang yang ingin membawanya pergi. Apakali ini pertemuan mereka yang terakhir? Dia melihat sekeliling. Matanya menunjukkan kesedihan karena tidak bisa berbuat apapun.

33-33-33