-->

Kembalinya Ilmu Ulat Sutera Jilid 15

Jilid 15

Su Yan-hong tidak bisa bicara, dengan cepat dia memejamkan mata untuk bersemedi, dahinya pun mulai berkeringat.

10 jari dan wajah Put-lo-sin-sian berubah menjadi warna hijau giok. Dia masih memetik kecapi, 10 jarinya berubah menjadi 10 cahaya yang bergerak, suara kecapi yang kencang sudah membuat makhluk dalam radius ratusan depa di sekitarnya mati.

Daun habis berguguran, semua nadi putus, kulit pohon mulai layu dan terbelah terus mengeluarkan suara.

Sin-can Sangjin yang ada di depan Put-lo-sin-sian tidak bisa tidak mengalami perubahan. Tasbih berputar dengan pelan tapi masih terus berputar.

Di sana terdengar ada burung bangau berteriak, bangau yang telah terbang menembus awan, waktu itu dia terbang kembali ke gua Yan-sia. Sin-can Sangjin yang sudah bergaul

20 tahun bersemedi di sana belum lagi mendekat, bangaunya sudah terbujur mati di bawah.

Sin-can Sangjin seperti mendengar teriakan bangau itu, dia ingat bangau itu baru menetaskan telur dan melahirkan bangau-bangau kecil. Sepasang bangau putih terbang kembali karena masih ada 4 ekor bangau kecil itu, 2 bangau dewasa tidak bisa terhindar dari kematian, apa lagi 4 ^ ekor bangau kecil.

Sin-can Sangjin pernah berpikir atas keselama tan murid- murid Siauw-lim-si, tapi dia lalai terhadap ® 4 ekor bangau kecil itu.

Bukan manusia saja yang bernyawa, karena itu ^ Sin-can Sangjin membuka matanya, dia melihat pohon yang sudah layu dan terbelah serta sepasang bangau k yang sudah terbujur mati.

Kemudian melihat Put-lo-sin-sian, dia merasa sorot matanya tajam dan dingin. Waktu itu suara kecapi yang aneh serta dipenuhi hawa siluman mengambil kesempatan masuk. Sekali demi sekali menghantam ke dalam jantungnya, pikirannya jadi pecah dan tidak bisa dikumpulkan kembali.

Seorang hweesio selalu mementingkan hati yang baik, sepasang bangau itu sudah menemaninya j selama 20 tahun dan membantunya berlatih ilmu 'Ho-bu-kiu-thian’, di antara mereka telah terjalin persahabatan yang dalam, apa lagi 4 ekor bangau kecil itu.

Manusia adalah manusia, pasti akan ada sifat lalainya, terhadap Put-lo-sin-sian dia terpikir harus mempunyai tenaga dalam yang kuat untuk menahan alunan Jit-sat-kim. Dia terpikir keselamatan akan manusia, tapi lalai dengan nyawa burung bangau.

Mendengar teriakan burung bangau itu, membuatnya teringat pada kelalaiannya, hingga terlupa pada alunan Jit- sat-kim, teriakan burung bangau membuat kematian datang menjemputnya.

Ketika konsentrasinya buyar, lantunan ayat kitab suci sudah menghilang dari otaknya. Tasbih yang sedang dihitungnya pun berhenti, ketika dia ingat pada Put-lo-sin- sian dan ingin mengembalikan konsentrasinya, semua sudah terlambat.

Alunan kecapi telah masuk ke dalam syarafnya, nadi- nadinya dengan cepat membengkak.

Keringat mulai keluar, begitu keluar meng-uap menjadi asap putih.

Wajahnya mulai berubah, dari merah muda menjadi merah tua, dari merah tua menjadi merah darah.

Put-lo-sin-sian melihat perubahan Sin-can Sangjin dengan jelas, kedua tangannya memetik lebih cepat lagi. Kumis dan rambutnya pun tersibak, suara kecapi sudah menutupi bumi ini. Bukan hanya bumi dan langit, sampai awan pun sepertinya ikut berubah warna.

Yang dilihat Sin-can Sangjin adalah merah, kemudian menjadi gelap, cairan di dalam tubuhnya sudah habis dan mengering, darahnya pun hampir kering.

Cahaya kulitnya semakin menghilang, wajahnya memancarkan kesedihan. Tasbih yang di pegang nya tiba- tiba putus, tangan kanannya bersamaaan tergeletak ke bawah, jari tengah seperti ulat pelan-pelan mengukir di atas papan batu menuliskan ‘bangau putih'.

Put-losin-sian menghentikan petikan kecapinya, dia tertawa panjang tiga kali menghadap langit.

Fu Hiong-kun, Su Yan-hong, Bu-go Taysu, dan Bu-wie Taysu tampak terkejut. Mereka segera berlari masuk, para hweesio mengikuti mereka.

Bu-go Taysu berhenti di bawah panggung, melihat abu mayat yang terbang dihembus angin, hatinya benar-benar bergejolak dan terharu.

"O-mi-to-hud, tetua sudah pergi!" dia berlutut di bawah. Para hweesio berlutut dan membacakan ayat kitab suci, bumi dan langit hanya berisi kesedihan.

Put-lo-sin-sian menatap langit. Setelah suara bacaan doa berhenti, dia tertawa dengan sombong:

"Bu-go Taysu, pada pertarungan kali ini sebenarnya Sin- can Sangjin sangat beruntung, karena berada di tempatnya sendiri, banyak pendukung juga waktu yang tepat, tapi dia tetap saja kalah, sekarang apa yang akan Siauw-lim-pai katakan?"

"Tidak ada satu kata pun yang perlu diucapkan!" Bu-wie Taysu menarik nafas panjang dan membaca ayat kitab suci.

"Cepat buka jubah hweesio kalian dan hancurkan tasbih lalu caci maki kepada Budha sebanyak-banyaknya!" Kata Put-lo-sin-sian sambil menunjuk patung Budha.

Semua hweesio berteriak, Su Yan-hong dan Fu Hiong-kun benar-benar marah.

"Budhaku yang baik, Siauw-lim akan mengalami musibah, aku yang menjadi ketua Siauw-lim tidak sanggup menolong murid-murid, aku malu menjadi ketua Siauw-lim, hanya dengan kematian baru bisa menjaga kesucian hati kepada Budha!" dia tertawa sedih, telapaknya dibalik menghantam kepalanya lalu roboh dan berhenti bernafas.

Tidak ada seorang pun yang sempat menghadang, teriakan terdengar dari semua penjuru.

Put-lo-sin-sian seperti tidak ada kejadian apa-apa, dia tertawa dingin:

"Bu-wie, bagaimana denganmu?"

Bu-wie Taysu melihat para hweesio Siauw-lim lainnya.

Di antara hweesio-hweesio itu ada yang marah dan mengepalkan tangan, ada yang menundukkan kepala kehilangan semangat. Sorot mata Bu-wie berputar:

"Ketua sudah mengorbankan diri untuk menjaga kesucian Budha, seharusnya aku ikut tapi aku adalah pelindung Siauw-lim, aku harus ber-pesan jelas terlebih dulu, kalau kalian ingin masuk Pek-lian-kauw untuk melindungi nyawa kalian, aku tidak akan melarangnya. Kalau menolak, biar aku membereskan semua masalah di Siauw-lim terlebih dulu lalu kita sama-sama ikut tetua dan ketua Siauw-lim pergi ke alam sana!"

Put-lo-sin-sian tertawa terbahak-bahak, dia melihat semua hweesio:

"Siapa yang ingin hidup, harap berdiri!"

Semua terdiam tidak ada yang bersuara, seorang hweesio muda berdiri dan berjalan ke balik punggung Put-lo- sin-sian, ada ke satu pasti ada ke dua, ke tiga, tidak banyak, jumlah mereka hanya 14 orang.

Semua hweesio melihat mereka dengan sorot mata mengejek.

Put-lo-sin-sian dengan tertawa melihat 14 orang hweesio

itu:

"Aku pernah berkata, buka baju hweesio kalian,

hancurkan tasbih yang menggantung di leher kalian dan caci maki Hud-cu (patung Budha)."

Awalnya 14 orang hweesio itu tampak ragu, akhirnya mereka mulai membuka baju hweesio mereka.

Dalam barisan hweesio itu banyak yang masih muda, mereka tampak marah:

"Pengkhianat.. ."

Ada dua orang hweesio muda segera menerjang kepada Put-lo-sin-sian, yang satu berteriak:

"Siluman, aku akan bertarung denganmu!" Sebenarnya mereka sudah menyerang sekuat tenaga tapi ilmu silat mereka terlalu jauh. Masih di udara, dia sudah disentil oleh Put-lo-sin-sian dan terbanting hingga jatuh dan langsung mati.

"Siauw-lim-pai adalah perkumpulan besar dan ternama, tidak disangka banyak orang yang tebal muka dan tidak tahu malu dan setelah berjanji malah tidak ditepati!" Put-lo-sin- sian tertawa dingin.

"Siapa yang tidak terima, ayo serang aku!"

Tiga orang hweesio segera keluar, Fu Hiong-kun lebih cepat dibanding mereka, Bu-wie Taysu lebih cepat lagi.

Bu-wie Taysu mencegat Fu Hiong-kun dan membaca:

"O-mi-to-hud, ini adalah urusan Siauw-lim-si dengan Pek- lian-kauw, harap Sicu jangan campur tangan!"

"Guru..."

"Jangan berlama-lama di sini!" Bu-wie Taysu menarik nafas, "murid Siauw-lim-si boleh mati, tapi jangan melakukan penghinaan kepada perguruan kami!"

Tiga orang hweesio mundur dengan penuh kemarahan, Put-lo-sin-sian melihat 14 orang hweesio itu:

"Hancurkan tasbih-tasbih dan caci maki sang Budha!" "Put-lo-sin-sian, kau jangan terlalu senang dulu!" Terdengar suara seseorang.

Put-lo-sin-sian melihat  Su Yan-hong yang entah kapan sudah berada di atas panggung.

"Siapa kau?"

"Orang yang suka ikut campur masalah orang lain!" "Apakah kau sanggup ikut campur?" Put-lo-sin-sian

tertawa dengan sombong.

"Aku hanya bertanya, apakah Anda orang yang menepati janji?" "Kau kira Pek-lian-kauw sama dengan Siauw lim-si?" Put- lo-sin-sian tertawa, "kata-kataku bisa dipegang..."

"Dengan cara apa Sin-can Sangjin Cianpwee dan Anda, menentukan menang atau kalah?"

"Apakah kalau suara Jit-sat-kim tidak membuat lawan menjadi abu lalu terbang tertiup angin, berarti kau yang kalah?"

Dengan sombong Put-lo-sin-sian tertawa: "Kecuali abu, apa yang bisa kau cari?"

"Potongan telapak!" Su Yan-hong meng-korek-korek abu mayat, ada potongan baju hweesio, di bawah jubah ada potongan tangan, walaupun terpotong tapi tidak hancur, karena menemukan potongan tangan itu, dia meloncat naik ke panggung.

Begitu melihat potongan tangan itu, tawa Put-lo-sin-sian segera membeku.

Su Yan-hong berteriak:

"Walaupun Sin-can Sangjin sudah meninggal, tapi tangannya masih utuh, berarti beliau yang memenangkan pertarungan ini!"

Semua hweesio tampak bengong, kemudian mereka berlutut, air mata pun menetes.

"O-mi-to-hud!" Bu-wie Taysu berkata dengan terharu, "aturan Budha tidak terbatas, Siauw-lim-si tidak akan musnah!"

"Tidak disangka..." rambut dan kumis Put-lo-sin-sian tampak bergetar, "Sin-can Sangjin adalah keledai botak yang licik, lebih licik dariku, dia sudah tahu Kim-kong-can-ting tidak akan bisa mengalahkan suara Jit-sat-kim, tapi tetap saja dia mengumpul-kan semua tenaga di telapaknya, hari ini aku kalah tapi dengan tindakan mulia!"

"O-mi-to-hud..." Bu-wie Taysu mengatupkan kedua telapaknya, "Kauwcu benar-benar menjaga janjinya, kami kagum kepadamu!"

Jantung Put-lo-sin-sian berdebar-debar, dia berkata sendiri:

"Alunan suara Jit-sat-kim tetap tidak terkalah kan!"

Bu-wie melafalkan bacaan Budha lagi, Put-lo-sin-sian tiba-tiba melambaikan lengan bajunya:

"Sudah terjadi seperti ini, tidak perlu banyak bicara lagi, aku akan mengembalikan para pengkhianat ini kepadamu untuk dibereskan."

Wajah 14 orang hweesio yang tadi berpaling tampak pucat, mereka segera berlutut di depan Bu-wie Taysu. Tidak menunggu mereka memohon ampun, dia sudah berkata dengan tenang:

"Selama ribuan tahun ini, orang hanya mati satu kali, aku tidak menyalahkan kalian yang ingin meninggalkan Siauw- lim, kalian harus mengoreksi kesalahan kalian sendiri."

Empat belas orang hweesio itu terlihat malu, mereka menyembah 3 kali, kemudian merangkak ke belakang kuil.

Bu-wie Taysu membalikkan tubuh berjalan ke depan Su Yan-hong dan berlutut:

"Terima kasih..."

"Jangan begitu!" Su Yan-hong meloncat turun dari atas panggung dan memapah Bu-wie Taysu I berdiri.

Hweesio yang lain pun ikut berlutut. Put-lo-sin-sian tertawa dingin: "Suara kecapi ku tidak terkalahkan, tapi bisa-bisanya kalah karena sebuah potongan tangan, Siauw-lim-si tidak musnah, aku mengakui cara Budha benar-benar tidak terbatas!"

"Cara Budha memang tidak terbatas, Sin-can Sangjin memang belum bisa mengerahkan tenaga penuh memenangkan pertarungan, itu adalah alasan mengapa beliau kalah," suaranya terdengar jelas keluar dari arah Yan- sia-tong.

Mendengar suara itu hati Fu Hiong-kun berdebar-debar, suara, wajah, juga tawa Wan Fei-yang yang terukir sekali di dalam hatinya, mana mungkin bisa terlupakan?

Yang datang emang Wan Fei-yang, kedua tangannya membawa 4 ekor mayat bangau kecil, datang seperti awan berjalan.

Sorot mata Fu Hiong-kun terasa membeku, mimpi pun dia tidak menyangka kalau dalam waktu 3 tahun kemudian dia akan bertemu Wan Fei-yang di sini.

Dia ingin berteriak tapi tidak ada suara yang keluar, kata "Wan-toako" hanya sampai di tenggorok-an sudah tersendat, tiba-tiba dia ingin menangis.

Matanya berkaca-kaca, tapi akhirnya dia bisa menahan tidak menangis.

Wan Fei-yang pun melihat Fu Hiong-kun, dia terpaku, tapi sorot matanya sekejap kembali melihat Put-lo-sin-sian.

"Siapa kau?" kata Put-lo-sin-sian sambil menyi pitkan matanya. Dia melihat pemuda itu ber-beda dengan yang pemuda biasanya, apa lagi tenaga dalam nya berada di atas Su Yan-hong.

"Bu-tong Wan Fei-yang.. "Wan Fei-yang?" kata Put-lo-sin-sian sedikit terkejut, "kau adalah Wan Fei-yang yang telah mengalahkan Tokko Bu-ti, orang-orang menyebutmu sebagai orang nomor satu di dunia ini."

"Mereka terlalu memuji! Di luar gunung masih ada gunung yang lebih tinggi, di atas orang masih ada orang yang lebih hebat!"

"Kata-kata ini tidak pantas diucapkan oleh anak muda, kalau seorang pemuda berpikir seperti itu bagaimana dia bisa dengan leluasa melanglang dunia. Tadi menurutmu Sin- can Sangjin belum mengeluarkan seluruh tenaganya, dari mana kau bisa tahu?"

Wan Fei-yang mengambil bangau yang sudah mati dari bawah pohon, dengan tenang dia meloncat ke atas panggung. Meletakkan mayat bangau itu di atas baju Sin-can Sangjin:

"Sin-can Sangjin Lo-cianpwee ketika bertapa di Yan-sia- tong, setiap hari hanya ditemani bangau-bangau ini selama

20 tahun, kemudian melihat suara Jit-sat-kim sudah membunuh semua makhluk di dunia ini, dia teringat pada 4 ekor bangau kecil yang ada di Yan-sia-tong..."

"Ini adalah suatu kelalaian," Put-lo-sin-sian memotong, "seorang hweesio harus sangat teliti, menolong semua makhluk, tapi dia hanya tahu harus i menolong nyawa manusia tapi nyawa bangau terlupakan, dosa ini tidak bisa diampuni."

"Karena dia mengkhawatirkan nyawa para bangau, maka pikiran Sin-can Sangjin terpecah, maka suara kecapi bisa mengambil kesempat-an..."

"Itu karena kestabilannya tidak cukup, jika I Kim-kong- can-ting sudah mencapai pada tingkat j tertinggi, Tai-san longsor pun tidak akan berpengaruh, karena bangau putih itu Sin-can Sangjin tergoyahkan, seorang hweesio atau nikoh memang harus berhati hati, tapi masih kurang tingkatannya, lebih-lebih lalai dan belum sekuat tenaga berusaha, maka menyebabkan kematiannya jangan salahkan orang lain," Put- lo-1 sin-sian tertawa.

"Jika Kim-kong-can-tng seperti ini, walau pun tidak kalah, karena nyawa Bangau akan kalah oleh j orang lain, aku yang salah bicara satu kalimat, kalah

I atau menang ditentukan oleh tubuhnya yang sudah menjadi abu!"

Wan Fei-yang terdiam, Put-lo-sin-sian ber-kata lagi:

"Yang menang, tidak menang, yang kalah pun tidak kalah. Jago nomor satu di dunia persilatan, masih suara kecapi Jit-sat-ku..." tiba-tiba dia ber-henti bicara, matanya berkedip, dia melihat Wan Fei-yang dari bawah ke atas, dari atas ke bawah.

Hati Bu-wie Taysu tergerak, suara lantunan bacaan Budha keluar lagi. Wajah Su Yan-hong dan Fu Hiong-kun tampak berubah, apa yang dipikirkan Put-lo-sin-sian gampang ditebak oleh mereka.

Put-lo-sin-sian tertawa:

"Sin-can Sangjin adalah nomor satu dari Siauw-lim-si, semua orang di dunia persilatan tahu. Setelah 20 tahun bersemedi, seperti aku, orang yang mengingat kita sudah tidak banyak, kalau mengatakan nomor satu akan dikatakan memberi julukan untuk dirinya sendiri, teman-teman dunia persilatan tidak akan terima."

Wan Fei-yang menarik nafas panjang, dia sangat mengerti ada nada jengkel datang lagi. "Pertarungan antara aku dan engkau tidak bisa dihindari lagi!" kata Put-lo-sin-sian, "menurut orang dunia persilatan Thian-can-sin-kang sangat aneh dan misterius di antara murid-murid Bu-tong-pai hanya kau saja yang menguasainya. Sampai-sampai ilmu iblis dari Tokko Bu-ti pun bisa kalah, kesempatan ini jarang ada, maka aku harus meminta petunjuk kepada orang nomor satu di dunia persilatan ini!"

"Apakah orang dunia persilatan memang harus seperti itu?" Wan Fei-yang menggelengkan kepala.

"Tidak bertarung juga tidak apa-apa, asal kau mengaku kepada dunia luar bahwa kau kalah dariku, ilmu silat Bu- tong-pai kalah dari ilmu silat Pek-lian-kauw, kelak bila anak murid Bu-tong bertemu anak murid Pek-lian-kauw kalian harus bersembunyi!" Put-lo-sin-sian bicara dengan santai.

"Apakah Kauwcu tidak ingin beristirahat dulu..tanya Wan Fei-yang.

"Sin-can Sangjin tidak menghabiskan tenaga dalamku, kalau sekarang harus beristirahat dulu, berarti selama 20 tahun ini aku sia-sia bersemedi!" Put-lo-sin-sian menjawab dengan sombong.

Wan Fei-yang segera duduk bersila, seperti tidak sengaja melihat ke arah Fu Hiong-kun. Fu Hiong-kun ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi, walau pun tidak bicara tapi sinar yang mengandung perhatian sudah terlihat dari sorot matanya.

Bu-wie Taysu dan para hweesio dalam lantun an bacaan ayat suci mundur dari sana. Fu Hiong-kun dan Su Yan-hong berjalan paling belakang. Tiap maju selangkah, Fu Hiong-kun selalu menoleh ke belakang. Hatinya terasa kacau, apakah Wan Fei-yang bisa bertahan terhadap suara Jit-sat-kim milik Put-lo-sin-sian, dia tidak yakin. Dia pernah menyaksi kan kehebatan Thian-can-sin-kang, tapi suara Jit-sat-kim tadi bisa menggetarkan roh, tetap membuatnya khawatir.

Setelah di luar kuil, Bu-wie Taysu menggelengkan kepala: "Tidak disangka Put-lo-sin-sian yang telah berumur senja,

masih suka berpetualang dan galak!"

"Kalau tidak, perjanjian bertemu setelah 20 tahun tidak akan ditepatinya dan bersikukuh ingin bertarung dengan Sin- can Sangjin Lo-cianpwee!" Su Yan-hong tertawa kecut, "kalah atau menang seseorang, apakah begitu penting?

Bu-wie Taysu mengerti maksud Su Yan-hong.

"Tadi Put-lo-sin-sian hanya mengaku di mulut, tapi dalam hati dia tidak terima, dia tidak akan menyuruh murid-murid Pek-lian-kauw untuk bergabung ke Siauw-lim-pai, bila dia sendiri bergabung dengan Siauw-lim-si, malah akan menjadi malapetaka bagi Siauw-lim!"

"Lalu harus dengan cara apa mengatasinya?" Tanya Fu Hiong-kun.

"Kecuali dia mau menerima Budha di dalam hatinya..."

Alis Fu Hiong-kun berkerut, dia mulai tidak berkonsentrasi. Su Yan-hong seperti merasakannya, dengan cepat berkata:

"Nona, hati-hati!"

Kata-katanya belum selesai, alunan suara kecapi sudah datang, baru dimulai saja sudah seperti suara guntur menggelegar.

Fu Hiong-kun seperti baru terbangun dari mimpi, dia duduk bersila di atas batu besar untuk mengatur nafas.

Tidak hanya 10 jari, semua tangan sudah berubah menjadi warna giok, matanya pun seperti memancarkan cahaya hijau melihat Wan Fei-yang. Jari yang jatuh di atas senar pun bercahaya hijau, suara kecapi yang tajam terus menusuk telinga siapa pun, suara Jit-sat-kim dalam tahap ini adalah tahap yang paling tinggi.

Tadi ketika Put-lo-sin-sian menggetarkan Sin-can Sangjin dia menggunakan tenaga sebanyak 90%, sekarang hampir mencapai 100%, maka keringat mulai keluar dari pori- porinya, otot di tangan dan dahi-nya bermunculan seperti cacing yang sedang merayap.

Tapi Wan Fei-yang yang berada di depannya, sedikit keringat pun tidak keluar, sikapnya begitu tenang, suara kecapi seperti tidak terdengar dan tidak dia terganggu, perasaan lain pun tidak terlihat.

Tampaknya tenaga dalam Wan Fei-yang berada di atas Kim-kong-can-ting.

Sin-can Sangjin sudah puluhan tahun menjadi seorang hweesio, semua bisa dianggap kosong dan ilmu Kim-kong- can-ting adalah ilmu yang harus di gunakan dengan konsentrasi penuh dan hati yang tenang. Wan Fei-yang masih begitu muda, mana mungkin punya kekuatan begitu mantap.

Hal ini membuat Put-lo-sin-sian merasa aneh, dia melihat Wan Fei-yang, dia menambah tenaga lagi pada jarinya. Suara Jit-sat-kim sudah berada pada nada tertinggi.

Waktu itu mata Wan Fei-yang terbuka, dia membentak dengan keras.

Kerasnya suara Wan Fei-yang tidak terlukiskan, tidak hanya bisa menutup suara kecapi juga seperti palu besi memukul hati Put-lo-sin-sian.

TUNG, TUNG, TUNG, 3 kali berbunyi, senar Jit-sat-kim putus 3 helai, kulit jarinya pun terluka. Kedua alis Put-lo-sin-sian terangkat, dia memetik sisa 4 senarnya, cara memetiknya hampir seperti orang gila.

Wan Fei-yang menarik nafas panjang, lalu membentak lagi. Dan 3 senar mengikuti bentakan Wan Fei-yang terputus lagi, 10 jari Put-lo-sin-sian jadi memetik tempat kosong, wajahnya berubah dan terus berubah lagi, keringat terus menetes dari dahi-nya, tiba-tiba terdengar suara aneh, ternyata jarinya jatuh di senar terakhir juga senar paling kasar, dia menarik dan memetik senar itu dengan gila.

Dalam keadaan seperti itu otomatis senarnya mengeluarkan suara aneh, tapi kekuatannya sangat hebat dan kencang tadi seperti tidak pernah ada.

Rambut Wan Fei-yang yang panjangnya sebahu segera beterbangan. Sorot matanya dengan cepat melihat senar terakhir, tiba-tiba dia meloncat, bersamaan waktu membentak lagi.

Senar itu segera putus dan mengeluarkan asap putih dengan cepat menyebar. Sampai asap putih itu menghilang, kecapi yang bernama Jit-sat-kim sudah berubah menjadi hitam hangus.

Wajah Put-lo-sin-sian menjadi pucat, dia roboh di belakang kecapinya, jarinya terus mengeluarkan darah, dia berusaha merangkak bangun, mulutnya dibuka dia pun memuntahkan darah segar.

Wan Fei-yang terbang ke atas kemudian turun di sisi Put- lo-sin-sian. Dari balik baju bagian dada dia mengeluarkan sebuah botol, kemudian mengeluarkan sebutir obat memapah Put-lo-sin-sian bangun.

Tapi Put-lo-sin-sian menggelengkan kepala: "Tidak ada gunanya lagi.. Tapi Wan Fei-yang tetap menaruh obat itu ke dalam mulutnya, Put-lo-sin-sian terpaksa menelannya. Kemudian dia menggelengkan kepala:

"Nada Jit-sat-kim seharusnya melukai musuh bukan melukai tuannya, bila dia tidak bisa melukai musuh, dia pasti akan melukai tuannya, semua nadiku sudah tergetar putus, sekalipun dewa yang datang untuk menolongku sudah tidak ada gunanya lagi."

Ada suara orang melantunkan bacaan Budha. Bu-wie Taysu sudah membawa hweesio-hweesio kem bali, tapi Fu Hiong-kun segera melewati mereka.

Langkah-langkah Fu Hiong-kun belum benar, karena dia baru bisa menenangkan hatinya, dia mengkhawatirkan keselamatan Wan Fei-yang, karena itu dia tidak berkonsentrasi, untung tenaga dalamnya kuat, kalau tidak, dia sudah terluka oleh Jit-sat-kim.

Su Yan-hong mengikuti Fu Hiong-kun, karena dia merasa kali ini dia menghadapi nada kecapi yang sangat sulit, dia mengira karena ilmu lweekangnya sedikit berkurang tidak terpikir yang lain, dia juga siap menolong. Tapi Fu Hiong-kun begitu cepat sudah kembali seperti asal, semua benar-benar di luar dugaannnya.

Melihat Wan Fei-yang selamat, hati Fu Hiong-kun baru tenang. Tidak saat melihat Put-lo-sin-sian, dia segera teringat pesan gurunya, dengan cepat dia berlari ke atas panggung.

Put-lo-sin-sian melihat Bu-wie Taysu dan para hweesio, tiba-tiba dia tertawa:

"Katanya nasib Siauw-lim-si sangat baik, ternyata benar, tapi yang mengalahkanku bukan dari Siauw-lim, melainkan dari Bu-tong..." dia berhenti sejenak bertanya kepada Wan Fei-yang, "kau adalah pesilat nomor satu, benar-benar tidak salah!"

Kata-katanya baru selesai, dia memuntahkan darah lagi. Fu Hiong-kun sudah berada di atas panggung, dia berjongkok di depan Put-lo-sin-sian.

"Boanpwee adalah murid Heng-san-pai Fu Hiong-kun." Put-lo-sin-sian terpaku matanya berputar:

"Kau..."

"Guru memerintahkanku membawa sebuah kotak kecil." "Kau anak murid Kou-siu-an?"

"Betul!" Fu Hiong-kun mengeluarkan kotak itu.

Mata Put-lo-sin-sian melihat kotak kecil itu. Daging di sudut matanya terus bergetar, tiba-tiba dia bertanya:

"Apakah dia masih mengingatku?"

Fu Hiong-kun tidak menjawab, karena dia tidak tahu harus menjawab apa. Kedua tangan Put-lo-sin-sian bergetar mengambil kotak itu dan membukanya.

Barang yang berada di dalam kotak adalah sebuah tusuk konde emas, setelah Put-lo-sin-sian melihat dia sangat terharu dan berkata sendiri:

"Dia masih menyimpan tusuk konde ini..

"Masih ada kata-kata yang ingin guru sampai kan kepada Lo-cianpwee..."

"Cepat katakan..."

Fu Hiong-kun membisikan kata-kata yang ingin disampaikan Ku-suthay. Mata Put-lo-sin-sian tampak berkaca-kaca, dia mengambil tusuk konde itu dan memegangnya dengan erat menghadap langit, bibirnya bergetar tapi tidak ada perkataan yang keluar dari mulutnya.  "Lo-cianpwee..." Fu Hiong-kun ingin mengatakan sesuatu.

"Ini kehendak Langit!" kata Put-lo-sin-sian menarik nafas panjang, "Kalau dia mengatakan 20 tahun yang lalu, mana mungkin aku berubah jadi seperti ini?" lalu dia menundukkan kepala, "jaga gurumu baik-baik!"

"Pasti, Lo-cianpwee tenang saja!"

Put-lo-sin-sian tertawa, tawa tidak bisa berdaya: "Tidak tenang pun tetap harus tenang!"

Hatinya jadi tenang, dia mendengar suara orang-orang, terakhir melihat wajah Bu-wie Taysu:

"Mau Siauw-lim, mau Bu-tong, kekalahanku hari ini kuterima dengan lubuk hatiku yang terdalam, sekarang sesuai dengan perjanjian, semua murid Pek-lian-kauw akan naik gunung untuk mengikuti kalian percaya pada Budha, harap kalian bisa mendidik mereka, dan aku akan mati dengan tenang!"

"O-mi-to-hud, kami akan berusaha keras membantu mereka!" kata Bu-wie Taysu, kedua tangan nya dirangkapkan menjadi satu dan membaca bacaan ayat kitab suci.

Put-lo-sin-sian segera mengeluarkan sebatang mercon dari balik baju bagian dadanya, kemudian dia menembakkannya ke atas, mercon meletus di tengah angkasa. Keluar gambar sebuah bunga teratai berwarna merah, lama terpampang di angkasa.

Setelah gambar bunga teratai memudar dan menghilang, tetap tidak ada reaksi apa pun. Akhirnya Put-lo-sin-sian curiga.

"Kauwcu..." akhirnya Su Yan-hong tidak tahan lagi, "kurasa mereka tidak akan naik gunung!" Put-lo-sin-sian melihat Su Yan-hong, tiba-tiba dia teringat sesuatu:

"Apakah kau pernah menyuruh orang menukar anak kecil dalam karung dengan babi kedi?"

"Maaf!" Su Yan-hong tidak menolak tuduh-an ini. "Kau curiga terhadap isyarat yang ku-keluar- kan?"

Su Yan-hong menggelengkan kepala:

"Boanpwee... jangan percaya apa yang dikatakan ketua cabang, Kauwcu sudah bersemedi selama 20 tahun..."

"Ada yang tidak tahu..." "Tidak tahu apa?"

"Pengikut Pek-lian-kauw sekarang tidak seperti dulu lagi, mereka membuat bencana di dunia persilatan bukan sekali dua kali saja, sekarang Kauwcu sudah kalah, mereka menjadi pengkhianat dan mendirikan perkumpulan lain!"

"Maksudmu apakah Thian-te-siang-cun?"

"Orang dunia persilatan menyebut mereka 'Ku-hai-siang- yau' (Sepasang siluman menderita), Boanpwee kalau tidak tahu sifat mereka tidak akan bertindak..."

Put-lo-sin-sian tampak berpikir sebentar, dia menarik nafas:

"Aku tahu, hati mereka sudah tidak beres dan menunggu setelah peristiwa Siong-san baru akan dibereskan, sekarang..." dia menarik nafas dan melihat Su Yan-hong, "Siapakah Tuan?"

"Su Yan-hong."

"Baiklah..." Put-lo-sin-sian tampak sedang berpikir, "aku lihat kau adalah orang yang berdiri di atas keadilan..."

"Bila Kauwcu ada pesan katakan saja!" "Aku harap kau bisa membantuku menyelesaikan satu masalah!"

"Boanpwee akan berusaha!"

"Bila aku mati nanti, pengikut Pek-lian-kauw pasti akan berubah total, Thian-te-siang-cun akan terus mempelajari ilmu iblis Pek-kut, sekarang mereka sudah menguasai ilmu itu, bila mereka bertambah tinggi tingkatnya akan lebih sulit meng-hadapi mereka, maka harus secepatnya mencari mereka mewakiliku membereskan masalah perkumpulanku!" Put-lo-sin-sian segera mengeluarkan giok dan memberikannya pada Su Yan-hong, "Ini adalah Pi-giok- leng (Perintah giok hijau), biasanya dipegang oleh Kauwcu, melihat Pi-giok-leng seperti melihat orang.."

"Tapi Boanpwee sudah masuk perkumpulan Kun-lim- pai..."

"Kalau begitu kau cari orang yang bisa menjadi penerusku. Pek-lian-kauw sudah berdiri selama ratusan tahun, tidak boleh hancur di tanganku!" suara Put-lo-sin-sian semakin melemah, dia terus memuntahkan darah.

Su Yan-hong melihat keadaannya seperti itu, dia tidak tega mengembalikan Bi-gok-leng, akhirnya dia mengangguk:

"Kauwcu, tenang saja!" Put-lo-sin-sian tertawa:

"Pi-giok-leng ini..

Kata-katanya terputus, darah menyembur lagi, dia menggelengkan kepala, kemudian menatap tusuk konde itu. Perasaannya jadi haru dan sedih, dia tertawa.

Itulah tawa terakhirnya, setelah itu dia sudah memejamkan mata, jiwanya sudah melayang, tapi tubuhnya masih berdiri tegak dan tidak bergeming. Bu-wie Taysu menarik nafas panjang, suara lantunan ayat kitab suci keluar lagi dari para hweesio, suara itu menggetarkan bumi dan langit.

Su Yan-hong melihat Pi-giok-leng yang ada di tangannya, dia juga melihat Put-lo-sin-sian, meli-hat abu mayat Sin-can Sangjin yang ada di atas panggung, dia menarik nafas panjang.

Sorot mata Fu Hiong-kun beralih dari tangan Put-lo-sin- sian yang masih terus memegang tusuk konde ke wajah Wan Fei-yang.

Wan Fei-yang menatap langit, wajahnya datar, tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana perasaannya, Fu Hiong- kun pun tidak terkecuali.

0-0-0

Di pondok kedi.

Wan Fei-yang mengantar Su Yan-hong keluar dari Siauw- lim-si, sampai di depan pondok kecil itu mereka baru berhenti.

Fu Hiong-kun berada di sisinya, dia benar-benar takut kehilangan Wan Fei-yang lagi! Sampai sekarang dia baru mengerti mengapa Ku-suthay selalu menolak mencukur rambutnya menjadi nikoh, karena terhadap Wan Fei-yang dia benar-benar mencintainya dengan sangat dalam.

Sepanjang perjalanan Su Yan-hong selalu diam, sekarang baru membuka suara untuk bertanya:

"Apa Lo-te sudah mengambil keputusan?" Wan Fei-yang tertawa:

"Hou-ya tidak perlu bertanya lagi!" "Hari ini kita berpisah, entah kapan baru bisa bertemu lagi!" kata Su Yan-hong.

"Bila ada jodoh kita pasti akan bertemu lagi!"

"Betul!" Su Yan-hong tertawa, "bila kau datang ke ibu kota jangan lupa pada Kang-thiat-say-cu (Singa baja) bermarga Su, orang lain akan mem-beritahu di mana bisa mencariku!"

Wan Fei-yang mengangguk, Su Yan-hong berkata kepada Fu Hiong-kun:

"Nona, bila ada kesalahan yang telah kuper-buat, mohon maafkan aku, marga Su selalu seperti itu, ingin berubah sangat sulit, aku kembali kan tusuk konde ini kepadamu!"

Dari balik bajunya dia mengeluarkan tusuk konde milik Fu Hiong-kun yang sudah patah dan melesat keluar karena kecapi Jit-sat.

"Hou-ya berkata terlalu berat!" Fu Hiong-kun mengambil tusuk kondenya, dia menatap Wan Fei-yang, "Kalau tahu Hou-ya adalah teman Wan-toako, aku tidak berani berbuat macam-macam!"

Mata Fu Hiong-kun memancarkan kelembutan, tapi Wan Fei-yang seperti tidak merasakannya, dia hanya menatap Su Yan-hong.

Su Yan-hong pamit, setelah dia tidak ter-lihat lagi. Wan Fei-yang baru melihat Fu Hiong-kun:

"Sekarang semua sudah selesai, apa rencanamu berikutnya?"

"Bagaimana denganmu sendiri?" Fu Hiong-kun balik bertanya.

"Aku sudah terbiasa di Teng-toh-goan selama 3 tahun ini, kurasa lebih baik aku tinggal di Siauw-lim-si!" nada bicara Wan Fei-yang sangat dingin. Fu Hiong-kun seperti tidak mendengar, dia menundukkan kepalanya:

"Sekarang aku baru mengerti kata-kata guruku!" "Apa yang dikatakan beliau?"

"Katanya jodoh di dunia fanaku belum berakhir, aku tidak cocok menjadi nikoh!"

Wan Fei-yang terpaku:

"Kau ingin menjadi nikoh?"

"Sekarang sudah tidak lagi!" Fu Hiong-kun menggelengkan kepala, "aku sudah lama belajar ilmu ketabiban, harus melayani pasien yang miskin!"

Tidak bisa dipungkiri bukan ini yang dia ingin sampaikan kepada Wan Fei-yang. Wan Fei-yang pura-pura tidak mengerti, hanya mengangguk:

"Benar, kau masih muda harus menyayangi dirimu sendiri, kau berhati baik, pasti akan hidup bahagia!"

"Apakah aku masih bisa hidup bahagia?" "Pasti bisa!"

"Maksudmu, kau tidak akan meninggalkanku lagi?"

Akhirnya Wan Fei-yang mengerti, di wajahnya muncul raut kesedihan:

"Hiong-kun..."

"Selama 3 tahun ini walaupun aku berada di Kou-siu-an, tapi hatiku tetap..."

"Hiong-kun..."

Wan Fei-yang memotong kata-kata Fu Hiong-kun:

"Aku sudah putus dari jodoh di dunia fana, dan tidak ingin memikirkan percintaan lagi."

"Aku tahu, aku memang tidak pantas untukmu..." kepala Fu Hiong-kun ditundukkan. "Salah, seharusnya aku yang mengucapkam kata-kata tadi, hanya saja di dalam hatiku, kau selalu menjadi adikku!"

Fu Hiong-kun tiba-tiba mengangkat kepalanya: "Apakah kau belum pernah..."

"Seumur hidup aku hanya menyukai 2 orang gadis, yang satu adalah Sumoiku, Lun Wan-ji, yang satu lagi adalah adik perempuanku Tokko Hong..

"Mereka sudah meninggal!" Fu Hiong-kun memegang tiang pondok, tubuhnya terus gemetar.

"Benar, tapi mereka akan selalu hidup di dalam hatiku selamanya!"

"Wan-toako, untuk apa kau terus menyiksa diri seperti ini?" mata Fu Hiong-kun tampak berkaca-kaca, sambil menggelengkan kepala dia terus mundur.

Wan Fei-yang tidak menoleh, dia berdiri tegak tidak bergerak, tubuhnya seperti terbuat dari besi.

Akhirnya Fu Hiong-kun menangis, kedua tangan menutupi wajahnya dan dia berlari keluar dari pondok.

Wan Fei-yang mendengar tangisan Fu Hiong-kun yang telah menjauh, dia benar-benar hancur, kepalannya melayang dia memukul tiang pondok itu kemudian memeluk tiang itu, nafasnya ngos-ngosan.

"Hiong-kun..." matanya berkaca-kaca, dia terbatuk dan muntah darah.

"Wan-tayhiap..." Bu-wie Taysu keluar dari hutan bambu dan berlari ke depan Wan Fei-yang, dia segera memapahnya. "Guru..." Wan Fei-yang melihat Bu-wie Taysu dan

menggelengkan kepala.

"Suara Jit-sat-kim tidak bisa dianggap remeh, dari awal aku sudah melihat ada yang tidak beres!" Bu-wie mengeluh, "karena itu aku selalu mengawasimu..." "Kita tinggalkan tempat ini dulu..." kata Wan Fei-yang. "Nona Fu sangat mencintaimu, mengapa kau menolak

cintanya?"

"Guru adalah hweesio, jangan pedulikan hubungan antara laki-laki dan perempuan."

"Seorang hweesio harus berhati baik, hweesio juga berharap orang yang saling mencintai, bisa menikah, Nona Fu pandai dan cantik..."

"Guru harus tahu, aku sedang terluka berat, hidupku tinggal sebentar lagi..." akhirnya Wan Fei-yang mengatakan rahasianya.

"Apakah karena suara Jit-sat-kim milik Put-lo-sin-sian?" "Tidak juga!" kata Wan Fei-yang menarik nafas, "ketika di

Giok-hong-teng, dalam pertarungan antara aku dan Tokko Bu-ti, aku terluka oleh ilmu Thian-mo-kay-te-tay-hoat, saat itu kebetulan bertemu dengan Su Yan-hong, dia memberikan Cian-lian-ciap-su dan mengantarkanku ke Siauw-lim-si untuk menjalani pengobatan tusuk jarum dari Bu-go Taysu, menyambungkan nadi yang terputus, selama 7 tahun ini sudah pulih sekitar 70-80%..."

"Jadi belum sembuh total?" Bu-wie Taysu baru mengerti. "Karena Jit-sat-kim, syarafku putus lagi, walau pun ada Cian-lian-ciap-su, atau melakukan tusuk jarum, sulit disambung kembali." Kemudian Wan Fei-yang meminta satu

hal supaya Bu-wie Taysu bisa membantunya.

"Wan-tayhiap sangat berbudi kepada perkumpulan kami, jangankan satu hal, puluhan atau ratusan hal pun aku akan..."

"Guru terlalu berat mengatakannya. "

"Silakan katakan " "Bila Hiong-kun datang mencariku lagi, katakan aku sudah pergi."

"Ini..."

"Guru, aku harap Anda bersedia membantuku," Wan Fei- yang lalu muntah darah lagi.

"Baik, baik,... " Bu-wie Taysu dengan cepat mengangguk, "kau sudah terluka, jangan sampai hatimu terlalu bergejolak."

"Aku merepotkan Guru!" Wan Fei-yang melihat langit, matanya berkaca-kaca. Dia memang orang yang penuh perasaan.

Bu-wie berteriak:

"Di perkumpulan kami tersimpan buku milik Tat-mo- couw-su kami tentang syaraf dan urat, kata nya kalau bisa mengerti artinya bisa mencuci tulang sumsum dan menyambungkan urat, tapi orang tersebut harus mempunyai tenaga dalam yang kuat, bila otaknya tidak encer juga tidak akan mengerti, Wan-tayhiap boleh mencobanya."

"Guru..."

"Wan-tayhiap adalah orang jujur dan terus terang, tidak perlu banyak bercerita lagi waktunya sudah mendesak, cepat ikut aku ke tempat penyimpanan buku."

Wan Fei-yang mengangguk, semangat juangnya mulai muncul lagi.

0-0-0

Bulan naik dan turun, malam akhirnya pergi. Fu Hiong-kun duduk terdiam di atas batu itu sudah semalaman dia di sana, air matanya sudah mengering. Melihat matahari terbit, hati yang dingin mulai muncul api.

Dia turun dari batu itu dan berlari ke arah Siauw-lim-si. Hweesio penerima tamu mengantar Fu Hiong-kun ke

Teng-toh-lou.

Tapi orangnya sudah pergi, loteng itu pun kosong, Fu Hiong-kun merasa aneh.

Tiba-tiba Bu-wie Taysu muncul.

"Apakah Nona Fu belum turun gunung?" Bu-wie taysu menghela nafas di dalam hati, tapi dari wajahnya tidak terjadi perubahan apa-apa.

"Guru..., Wan-toako, dia..." "Dia sudah pergi!"

"Ke mana?"

"Dia tidak mengatakannya."

Fu Hiong-kun melihat Teng-toh-lou dengan bengong: "Dia sudah pergi, dia pergi..

Bu-wie taysu menarik nafas:

"Jodoh atau tidak ditentukan oleh Tuhan, kalau tidak berjodoh percuma saja memaksa, kalau jodoh, suatu hari kalian akan bertemu kembali!"

Fu Hiong-kun mengangguk. Dalam alunan suara membaca ayat kitab suci, dia pun meninggal kan Siauw-lim- si. Ke manakah dia pergi, dia sendiri pun tidak tahu.

0-0-0

Di ibu kota, di sisi jalan banyak pedagang kaki lima, barang yang dijual termasuk makanan, mainan, dan pakaian, pejalan kaki berlalu lalang keadaan sangat ramai. Su Yan-hong tidak suka berjalan di jalan besar karena terlalu banyak orang mengenalnya. Walaupun dia mengenakan baju biasa tapi karena dia orang yang ramah, maka orang yang mengenalnya terus menyapa dan memberi hormat kepadanya.

Menurutnya dunia ini sangat aman, tapi itu hanya di luar saja. Sebenarnya di ibu kota penuh dengan bahaya.

Sepulangnya dari Siauw-lim-si, dia tidak bisa mengundang Wan Fei-yang datang ke ibu kota, setibanya di ibu kota dia merasa tenaganya sangat terkuras.

Tapi sekarang berjalan di jalanan besar, dia tampak tenang dan wajahnya penuh tawa, semua karena Ih-lan.

Ih-lan adalah putrinya, sekarang baru berusia 8 tahun, cantik dan pintar, lucu juga polos. Setiap kali melihat putrinya dia selalu merasa senang dan gembira, tapi juga merasa sedih.

Ketika berusia 2 tahun Ih-lan sudah kehilangan ibunya, ayah dan putri hidup bersama. Dia menjadi pejabat kerajaan, selalu berbuat baik, setiap ada waktu senggang dia akan menemani putrinya. Sekarang Ih-lan berlari ke jalan untuk melihat-lihat, ayahnya pasti tidak akan menolaknya.

Dia bisa berkumpul dengan putrinya hanya dengan waktu yang sangat terbatas.

Jalanan ramai pasti menarik perhatian anak kecil, apa lagi Ih-lan selalu hidup dalam gedung pejabat dan jarang main ke luar.

Maka di tangannya penuh dengan barang belanjaan, ada kincir angin, ada makanan, tawa pun tidak pernah hilang dari mulutnya. Melihat putrinya gembira Su Yan-hong ikut gembira. Di depan jalanan banyak orang sedang berkumpul, terdengar suara simbal.

"Ayah, aku ingin ke sana!"

Ih-lan menarik tangan Su Yan-hong untuk berjalan ke sana.

"Di sana hanya tukang obat, tidak ada yang bisa kita lihat," Su Yan-hong menggelengkan kepala, tapi karena Ih- lan terus meminta, maka mereka pun berjalan ke sana.

Ih-lan segera masuk ke dalam kurumunan orang itu, tubuhnya kecil tapi lincah, maka dia tidak mengalami kesulitan.

Su Yan-hong hanya melihat dari luar.

Yang memukul simbal adalah seorang orang tua. Rambut dan kumisnya sudah memutih, tapi mempunyai hidung merah dan besar, kepala dan wajahnya bundar, kakinya yang pendek berdiri di sana seperti sebuah boneka.

Orang tua dengan perawakan seperti itu ternyata mempunyai gerakan yang lincah, dia seperti seekor kera, meloncat kesana kemari, kadang-kadang bersalto. Simbal di tangannya terus dipukul, suaranya menggetarkan sekitarnya. Ekspresi wajahnya pun terus berubah, kadang gembira, kadang terkejut, kadang marah kadang senang, di dalam kerumunan terdengar ada yang berteriak, teriakannya membuat siapa pun yang mendengar menjadi khawatir dan membuat terdiam, tidak lupa mengambil arak yang ada di dalam Ho-lou (tempat arak terbuat dari labu) dan meminum

araknya.

Pemuda yang sedang mengikuti suara simbal pertunjukan membuat orang khawatir.

Sama-sama bersalto tapi pemuda itu seperti tidak bertulang, karena dia bisa bersalto beratus-ratus kali, kadang-kadang tubuhnya berubah men-jadi bulat, kaki dan tangan menyambung, kemudian seperti bola meloncat ke atas kemudian meloncat ke sebuah bambu dengan panjang 6 depa yang ditancap kan di bawah, di atas bambu dia masih terus beratraksi, tiba-tiba seperti akan terjatuh ke bawah, tapi dia hanya terjatuh setengah tiang, lalu kembali lagi ke atas bambu lagi. Variasi gerakannya sangat banyak dan orang-orang banyak yang bertepuk tangan.

Ih-lan tertawa sambil berteriak, sepasang tangannya sampai merah karena bertepuk tangan dengan semangat.

Turun dari tiang bambu dia masih beratraksi sebelum turun, wajahnya tidak menjadi merah juga tidak ngos- ngosan, rambut yang berkibar membuatnya terlihat hidup.

Wajahnya memberi kesan nakal tapi tidak membuat orang membencinya, sepasang mata besarnya penuh tawa.

Ketika orang tua itu sudah turun, dengan suara yang serak dia berkata:

"Hadirin dan saudara-saudara!" pemuda itu mengikutinya bicara tidak lupa memukul simbal.

"Hari ini kami, guru dan murid berada di ibu kota pada hari ke-6 walaupun bukan hari pertama, tapi kami tetap masih merasa asing, apalagi muridku ini nafsu makannya sangat besar, uang yang kami cari tidak cukup untuk mengisi perutnya, sekarang tidak hanya perut gurunya yang kosong, begitu juga muridku, maka kami kemari terpaksa beratraksi lagi."

"Suhu..." pemuda itu memukul simbal sambil berkata, "kami datang untuk menghibur para saudara!"

"Apakah kau tidak takut ditertawakan?" "Suhu, murid sudah salah bicara apa?"

"Kau hanya bisa berbuat seperti tadi, sayang.." "Sayang kenapa?"

"Langkahmu kurang mantap, malah terlihat sedikit mengambang!"

"Di kaki yang mana?" dengan suara rendah pemuda itu berkata lagi, "aku lapar, pastinya kakiku jadi lemas!"

Para penonton tertawa, tapi telinga orang tua itu sepertinya bermasalah, dia segera bertanya kepada pemuda itu:

"Apa yang kau katakan tadi pada penonton?" "Tidak ada apa-apa!"

"Hanya beratraksi sedemikian rupa kau sudah minta uang kepada para penonton?" orang tua itu mengambil tiang bambu satu lagi.

*** BAB 18

Pemuda itu melihat gurunya membawa tongkat bambu, dia segera meloncat-loncat seperti kera dan tangannya bergoyang:

"Walaupun atraksi murid tidak bagus, kalau Suhu mau memukulku harus dilakukan di rumah, jangan di depan banyak orang karena semua akan melihatnya. "

"Kau tahu kalau atraksimu tidak bagus, seharusnya kau bertambah gesit?" orang tua itu seperti ingin memukul pemuda itu dengan tongkat bambu, tapi ketika bambu itu diangkat ke atas segera lepas dan terbang, tepat jatuh di atas tiang bambu di mana pemuda itu beratraksi tadi.

Bambu itu bergoyangan di atas, pemuda itu ingin menyambutnya, tapi bambu tidak jatuh dari atas tiang bambu tadi.

"Suhu, ada apa?" "Cepat naik ke atas!"

"Naik?" wajah pemuda itu seperti memucat, suaranya pun bergetar, "Suhu, itu sangat tinggi "

"Semakin tinggi semakin seru!"

"Tapi murid takut!" pemuda itu menutup dada dengan tangannya.

"Dasar tidak berguna, biasanya guru mengajarimu seperti apa?" orang tua itu marah dan matanya melotot.

"Suhu belum pemah mengajarkanku harus merangkak begitu tinggi!"

Tiba-tiba pemuda itu seperti teringat sesuatu dan berkata: "Lebih baik Suhu beratraksi sebentar, biar murid tahu caranya bisa naik setinggi itu." Dia bertanya kepada penonton, "Hai penonton, apakah kalian setuju?"

Penonton berteriak baik, orang tua itu seperti ingin memperlihatkan ilmunya, dia mengambil arak yang ada di dalam buli-buli dan meminumnya, lalu menggosok-gosok kedua tangannya dan maju:

"Baik, kalian lihatlah baik-baik!"

Dia berjalan seperti bebek mabuk, setelah mendekati tiang bambu dia memeluk bambu itu dengan kedua lengannya.

Pemuda itu terus memukul simbal, kemudian kedua kaki orang tua itu menjepit batang bambu.

Bambu bergoyang-goyang, tapi batang bambu paling atas tidak terjatuh.

"Baik sekali..." pemuda itu bersorak dan memukul simbal lagi.

Kaki orang tua itu terjulur dan ditarik, dia mulai naik ke atas tiang bambu setinggi 3 kaki. Simbal dipukul lagi. Orang tua itu terus merangkak ke atas dengan kalang kabut, akhirnya dia terjatuh.

Penonton tertawa. Simbal dibuang, pemuda itu menutup mata tidak berani melihat, orang tua itu bangun dan menggosok-gosok pinggangnya, kata-nya:

"Aku sudah tua, apa lagi tadi aku sudah 1 minum arak!"

Belum selesai bicara dia terpelanting ke bawah, pemuda itu malu melihatnya, tapi orang tua itu segera mengambil simbal yang tadi dibuang lalu memukul-nya sekuat tenaga.

Pemuda itu terkejut, dia mencengkeram bambu itu. Orang tua itu memukul simbal lagi, pemuda 1 itu dengan kalang kabut naik ke atas bambu pertama, kemudian naik lagi ke tiang bambu kedua.

"Baik..."

Orang tua itu berteriak, dia menendang batangan bambu yang ada di bawah ke atas udara.

Batang bambu terjatuh lagi ke batang bambu kedua, dengan posisi tepat.

Orang tua itu tidak berhenti memukul simbal, gerakan pemuda itu juga tidak berhenti. Dia naik semakin tinggi, batang kedua sudah selesai dipanjat, lalu ke batang ketiga, dan sampai di paling ujung.

Simbal berhenti dipukul, pemuda itu seperti baru tersadar kalau dia sekarang berada di tempat setinggi itu, dia berteriak dan memejamkan mata, seperti kera mengerutkan tubuhnya, gerakannya membuat batangan bambu terus bergoyang.

Tiga batang bambu disambung sehingga panjangnya ada 18 depa, pemuda itu tergantung di sana. Benar-benar sangat berbahaya, walaupun bambu bergoyang-goyang dia tidak terjatuh.

Semua orang berteriak dan bertepuk tangan serta bersorak.

Pemuda itu tertawa, matanya terbuka, seperti seekor ayam dia berdiri dengan sebelah kakinya kemudian masih memperagakan Cui-pat-sian (jurus mabuk).

Ilmu mabuk ini lucu juga sulit, di tanah datar pun sulit diperagakan, apa lagi di atas batangan bambu.

Pemuda itu tidak minum arak, tapi dia benar-benar seperti sedang mabuk dan tampak lucu. Semua ini membuat para penonton takut sekaligus ingin tertawa. Su Yan-hong tersenyum, dia melihat semua itu dengan teliti dan tahu pemuda itu mempunyai ilmu tinggi, bukan orang yang benar-benar mencari makan dengan menjual ilmu.

Dia juga melihat wajah pemuda itu penuh dengan keseriusan dan lurus, maka dia tersenyum.

Akhirnya atraksi sudah selesai, pemuda itu meloncat, hal ini membuat penonton terkejut lagi.

Semua orang berteriak, Ih-lan keluar dari kerumunan itu. Pemuda itu terjatuh di tengah-tengah dia masih berputar- putar beberapa kali, kemudian beberapa kali turun dengan mantap tidak ada sesuatu yang terjadi.

Sorakan penonton terdengar uang pun dilempar ke arahnya, orang tua itu mengucapkan terima kasih. Simbal dibalikkan, tubuh berputar, uang yang dilempar semua disambut dengan simbal.

Sepasang tangan Ih-lan terus merogoh saku mencari uang, dia baru ingat tidak membawa uang, dan mencari ayahnya, pemuda itu sudah berdiri di depannya:

"Adik kedi, aku pinjam manisan yang ditusuk itu, boleh tidak?"

Orang tua itu menyambut uang yang dilempar dan tepat berada di sisinya, dia segera menyela:

"Jangan berikan kepadanya, dia rakus..."

Tapi Ih-lan tetap memberikan manisan itu kepada pemuda itu, orang tua itu segera menutup matanya.

"Kau akan bermain sulap?" tanya Ih-lan.

"Dari mana kau bisa tahu?" pemuda itu balik bertanya. "Aku tahu kau pasti akan bermain dengan

baik!" Pemuda itu baru akan menjawab, orang tua yang melihat dari sela-sela jarinya segera berkata:

"Kalau bermain sulap uangnya masuk perut itu bukan hal yang baik!"

"Aku tidak percaya pada kata-katamu!" Kata Ih-lan.

Orang tua itu mengangkat bahunya, dia merentangkan tangannya artinya apa boleh buat, hal ini membuat penonton tertawa lagi. Dalam suara penonton tawa pemuda itu melempar manisan ke udara dan berteriak:

"Lihat baik-baik!"

Sepasang mata Ih-lan melihat dengan melotot, pastinya para penonton lainnya juga melihatnya. Waktu itu ada dua prajurit berbaju mewah datang, dengan dua tangan dilipat di depan dada melihat pemuda itu.

Kedua tangan pemuda itu terus berputar, tusukan manisan itu terus dilempar-lempar dan dia mengelilingi lapangan satu kali, kemudian kembali di depan Ih-lan. Ih-lan tetap melihat manisan di tangan pemuda itu, tapi hanya sekejap manisan yang ditusuk itu sudah menghilang.

Kedua tangan pemuda itu dikepalkan, dia meletakkannya di depan Ih-lan, dan menyuruhnya menebak, Ih-lan segera berteriak:

"Di tangan kiri!"

Pemuda itu membuka kepalan tangan kirinya, tapi manisan itu tidak ada. Eh-lan berteriak lagi:

"Di tangan kanan!"

"Tidak ada!" kepalan tangan kanan dibuka, memang tidak ada di sana.

"Di mana manisanku?" Tanya Ih-lan dengan aneh. "Yang pasti sudah berada di dalam perutnya!" orang tua itu mengeluh sambil menggelengkan kepala, "Suruh dia membuka mulutnya, mungkin masih ada yang tersisa!"

Tidak menunggu Ih-lan meminta, pemuda itu sudah membuka mulutnya, tapi tidak ada apa-apa di sana.

"Di mana?" Ih-lan melihat pemuda ini.

"Ada pada salah satu dari mereka," pemuda itu melihat ke arah penonton. Ih-lan mengikuti pandangan mata pemuda itu berputar, "mana mungkin?"

"Kau tidak percaya?"

Ih-lan menggelengkan kepala, pemuda itu bersalto keluar dan sekali lagi bersalto, berhenti di depan prajurit berbaju mewah itu, tapi wajahnya tetap melihat ke arah Ih- lan.

Ih-lan lari ke sana:

"Kembalikan manisanku!"

"Ada di sini," pemuda itu melihat prajurit yang berdiri di sebelah kiri, "ada di tubuh tuan prajurit ini!"

Prajurit itu mengerutkan alisnya, pemuda itu sudah mencabut sesuatu dari punggungnya, ternyata manisan yang ditusuk itu.

Tapi begitu melihat prajurit berbaju mewah itu, para penonton tidak berani tertawa, tapi Ih-lan tidak peduli, dia bertepuk tangan.

Setelah manisan ditarik dari punggungnya, kedua alis prajurit berbaju mewah itu terangkat, dia terlihat ingin marah.

Pemuda itu tidak peduli, dia berjalan ke arah Ih-lan, tapi tangan kiri prajurit sudah memegang pundaknya, terlihat dia tidak bisa kabur lagi, tapi pundak pemuda itu seperti tidak sengaja bergeser ke samping, segera cengkeraman prajurit itu meleset.

"Siau-cu (bocah)..." prajurit itu sudah melang kah keluar. "Anda mengenalku?" pemuda itu terlihat seperti

terkejut.

Orang tua itu tertawa dan mendekat:

"Ternyata kalian sudah saling kenal dan bersekongkol memainkan sulap ini!"

Dua prajurit berbaju mewah itu segera marah: "Lo-thauw-ji (orang tua)."

Orang tua itu terpaku dan bengong:

"Mengapa kau juga mengenalku? Bagaimana kita bisa terlepas dari rasa curiga orang-orang?"

"Lo-thauw-ji..." bentak prajurit itu, "jangan sembarangan bicara, sejak kapan aku mengenal kalian berdua?"

"Tapi Anda mengetahui namaku adalah Lo-thauw-ji sedangkan muridku adalah Siau-cu." Wajah orang tua terlihat aneh, seperti tidak sedang ber-gurau.

"Sembarangan!" bentak prajurit satu lagi.

Lo-thauw-ji membalikkan tubuh lalu melihat pemuda itu: "Dari dulu aku sudah menyuruhmu mengganti nama, kau selalu tidak mau dan tidak percaya ada yang tahu kalau

namamu adalah Siau-cu."

"Aku percaya," Ih-lan tertawa, "Siau-cu, Lo-thauw-ji." Orang tua itu tertawa senang. Siau-cu bersalto ke depan

Ih-lan:

"Adik kecil, manisan ini kukembalikan pada-mu. "Namaku Ih-lan." Ih-lan mengambil manisan itu dan

menggigit, "Siau-cu, kau juga makan..." Siau-cu menggelengkan kepala.

"Aku dipaksa makan kepalan!" Kata-katanya belum selesai, dua prajurit berbaju mewah sudah berada di belakangnya. Kepalan menyerangnya, Siau- cu menghindar, dia tertawa:

"Tidak perlu terlalu serius!"

"Apakah kau sudah memakan nyali singa, dan jantung harimau sehingga berani mengolok-olok kami!" prajurit itu menyerang Siau-cu dengan kaki dan tangannya.

Siau-cu sangat lincah, kedua tangannya terus bergoyang dan menghindar, sepertinya dia sangat terpojok tapi bisa menghindar dengan sangat pas. Walaupun kaki dan kepalan tangan prajurit itu bergerak sangat cepat, tapi tetap tidak mengenai sasaran.

"Siau-cu, ternyata kau benar-benar punya ilmu tinggi, pantas kau berani bercanda dengan kami!" dengan jurus mabuk Siau-cu mengelilingi dua prajurit itu dengan tenang, dia hanya menghindar tapi tidak membalas.

Penonton jarang melihat pertarungan sebenar nya, kecuali yang penakut, yang lainnya tidak bubar malah berteriak memberi semangat.

Ih-lan tidak pergi dari sana, dengan tenang dia melihat aksi itu.

Dua prajurit, 2 lawan 1, mereka tidak bisa mengenai Siau-cu, bajunya pun tidak sanggup mereka raih, mereka naik darah karena malu, saling memberi isyarat langsung kedua-duanya mencabut golok.

Penonton melihat mereka sudah menggunakan senjata, mereka buru-buru pergi dari sana, tapi Ih-lan masih di sana, Siau-cu melihatnya, dia meloncat dan berteriak:

"Siau-moi-moi, jangan menonton lagi, cepat pulang."

Ih-lan melihat dua prajurit itu lalu menggelengkan kepala: "Aku tidak takut kepada mereka!"

Dua prajurit itu sudah mendekat, dua golok mendekat dan menepis, bentakan terdengar:

"Berhenti!"

Su Yan-hong keluar dari kerumunan orang, dia tidak marah tapi terlihat berwibawa.

"Ayah..Ih-lan berlari lalu memeluk Su Yan-hong, "kedua orang itu bukan orang baik-baik."

Su Yan-hong menuntun tangan Ih-lan, lalu berjalan ke depan. Dua prajurit melihatnya segera terlihat ketakutan, dengan cepat menyimpan golok mereka dan memberi hormat. Su Yan-hong melambaikan tangan:

"Adik ini hanya senang bermain sulap, tidak berniat jahat, kenapa kalian begitu serius melayaninya?"

Dua prajurit itu sadar mereka bersalah juga tahu siapa Su Yan-hong, mereka segera menunduk kan kepala tidak berani membela diri.

"Pergilah," Su Yan-hong melambaikan tangannya.

Dua prajurit itu menghembuskan nafas panjang dan terburu-buru pergi dari sana.

Lo-thauw-ji segera datang:

"Luar biasa, luar biasa," dia berkata lagi kepada Siau-cu, "kau tidak punya wibawa, lihatlah tuan ini, hanya beberapa kalimat saja sudah membereskan masalah."

Siau-cu mengangkat bahu:

"Mereka satu jalan, jadi gampang membereskannya!" "Apakah betul?" Lo-thauw-ji melihat Su Yan-hong.

"Lo-cianpwee," Su Yan-hong memberi hormat, "muridmu mempunyai ilmu tinggi, kalau tidak karena menaruh kasihan, tidak mungkin mereka bisa ada kesempatan mencabut golok, tidak perlu menungguku sampai berbicara tadi." Orang tua itu balik bertanya:

"Siau-cu, kau punya kemampuan, mengapa tidak membuat mereka terguling?"

"Suhu,   apakah   kau   sudah   mabuk,   mana mungkin muridmu ini berani membuat orang kerajaan marah!"

"Orang kerajaan?" Lo-thauw-ji seperti tiba-tiba tersadar, dan dia bersikap takut.

"Kalian berdua..." Su Yan-hong sekali lagi memberi hormat, "aku belum menanyakan marga dan nama kalian."

"Aku Lo-thauw-ji, dia Siau-cu." Lo-thauw-ji tiba-tiba bergemetar, "kau bertanya dengan serius, apakah akan mencari kami..."

Su Yan-hong tertawa kecut:

"Aku hanya ingin berteman dengan kalian berdua!"

Orang tua itu seperti terkejut, tapi Siau-cu tertawa dingin:

"Tidak perlu, kami hanya tukang obat, yang berjualan obat di dunia persilatan, kami tidak menjalin tali keakraban dengan orang yang lebih tinggi kedudukannya."

Dia segera membereskan barang-barangnya, Ih-lan mendekati Siau-cu:

"Kapan kau akan beratraksi lagi?"

"Kalau tidak ada orang yang mencari gara-gara, setiap hari aku pasti datang kemari!" Dia melihat Ih-lan, Siau-cu bisa tertawa.

"Baik, besok aku akan datang lagi kemari!" Ih-lan tertawa dan berloncat-loncat.

"Kalau bisa jangan datang bersama ayahmu!" "Mengapa?" "Lagaknya terlalu besar, kalau dia ada di sini tidak akan ada seorang pun yang berani datang untuk melihat atraksi kami!"

"Aku mengerti!"

Su Yan-hong tahu guru dan murid ini mempunyai ilmu tinggi, dia berharap bisa berteman dengan mereka, tapi sepertinya mereka tidak suka, jadi dia tidak bisa memaksa, dia percaya pada jodoh, kalau berjodoh mereka bisa menjadi sahabatnya.

Entah apa sebabnya, dia tiba-tiba teringat pada Fu Hiong-kun.

Kembali ke rumah hari sudah sore.

Penjaga pintu yang melihat Su Yan-hong pulang, mereka merasa aneh, tapi Su Yan-hong tidak menaruh di hati, dia berpesan kepada Ih-lan:

"Cuci bersih tanganmu, nanti ayah akan bermain denganmu lagi."

"Pasti..." Ih-lan sangat senang.

Dengan hati ringan Su Yan-hong masuk ke dalam rumah.

Setelah masuk, dia mulai merasa ada yang tidak beres.

Pelan-pelan keanehan di dalam rumah mulai terlihat, ada yang bengong, ada yang terus mengedip kan mata kepada Su Yan-hong.

"Apa yang terjadi?" tanya Su Yan-hong, dia mendengar suara baju tertiup angin, kemudian terdengar suara kencang berhembus.

Dia tahu ada yang datang, dengan tenang dia menghindar.

Yang menyerang adalah seseorang dengan baju panjang berwarna hitam, kepalanya ditutup oleh kantung kain hitam, tubuhnya bergerak lincah, sekali menyerang tidak mengena sasaran, dia segera bersalto, dua tangan dengan 10 jari dilipat seperti cakar, jurus

'Mong-say-hu-touw' (Singa buas menang kap kelinci) sudah dikeluarkan sekali lagi dia menyerang Su Yan-hong.

Melihat orang itu menyerangnya, dalam hati Su Yan- hong sudah tahu orang itu sebenarnya, apa lagi terlihat baju kuning keluar dari balik baju panjang hitamnya, dia merasa lebih yakin, dia tidak langsung menyambut malah mundur.