-->

Kembalinya Ilmu Ulat Sutera Jilid 13

Jilid 13

Dia hanya menutupi satu hal, mengapa orang-orang persilatan Mo-kauw sampai sekarang belum muncul.

Sebenarnya dia juga ingin menghubungi orang orang Mo-kauw, hanya saja Sat Kao tidak meninggalkan cara bagaimana menghubungi mereka. Begitu masuk Tionggoan dia merasa bekerja sendiri merupakan hal yang sangat sulit. Memang orang-orang suku Biauw sangat banyak, sebenarnya pun mereka tidak ada gunanya, maka dari awal dia sudah merasa bimbang sampai orang-orang golong-an sesat datang bergabung. Dia bisa melihat kesungguhan orang-orang golongan sesat terhadap Mo-kauw, dia tetap men-jaga rahasia ini, dia adalah orang pintar dan punya seorang guru yang pintar juga.

Orang-orang berbondong-bondong melewati semua pesilat golongan lurus, Beng To melambaikan tangan untuk menyapanya. Dia tertawa, pesilat golongan lurus melihatnya, hati mereka terasa tidak nyaman, merasa di balik tawa itu penuh dengan kesombongan dan penghinaan kepada mereka.

Yang pasti mereka juga tidak betah melihat orang-orang golongan sesat.

Kain terus digotong hingga ke ruangan utama, upacara akan dilaksanakan di siang hari, masih ada waktu satu jam lagi, maka digunakan oleh Beng To untuk bersiap-siap, dia segera masuk, dia sudah mengerti dengan cara apa bisa mengeluarkan wibawa nya yang tinggi.

Sekarang Beng To sekarang merasa sangat senang sebab istananya sudah selesai dibangun tepat pada waktunya dan para pendekar golongan putih tepat waktunya berkumpul di sini, semua seperti yang dia inginkan, dia benar-benar senang. Bangun-an sudah jadi walaupun perkumpulan Tionggoan tidak tunduk, tapi untuk sementara mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkan Beng To. Apa yang bisa mereka banggakan lagi.

Saat Bu-ti-bun berjaya pun tidak ada wibawa seperti ini. Apa lagi para pesilat dari Mo-kauw belum muncul, bila mereka muncul, posisi Mo-kauw di Tionggoan akan lebih mantap seperti pagoda besi. Mereka melihat Beng To tidak begitu hafal dengan keadaan dunia persilatan Tionggoan, jika dia mau menerima bantuannya pasti akan banyak keuntungannya.

Baru saja memasuki ruang utama, tawa di wajah Beng To segera menghilang, dia terlihat tidak senang. Pesilat golongan sesat atau orang-orang suku Biauw semua melihat ke arahnya, mereka mengira dia sedang berpura-pura, hanya ingin mengeluarkan wibawa seorang pemimpin dunia persilatan, juga mengira Beng To mulai belajar berwibawa, maka mereka terdiam.

Dalam suasana serius Beng To turun dari kain yang menggotongnya dan naik ke singgasananya, dia mulai membuka suara:

"Siapa saja yang datang?"

Semua orang tampak terkejut, bersamaan itu 28 orang berbaju hitam seperti kelelawar menggantung telah turun.

Semua orang mulai bereaksi, wajah Beng To mulai tersenyum lagi:

"Ternyata ada orang-orang Tong-bun!"

Tong Thian-co dan Tong Thian-yu turun di depan singgasana itu. Ketika orang-orang suku Biauw dan pesilat golongan sesat bersiap-siap ber-tindak, Tong Thian-co sudah mengeluarkan perintah:

"Siapkan senjata rahasia!"

Pesilat golongan sesat di sana ada yang mengenal mereka segera berteriak:

"Hati-hati, mereka adalah Tong-bun-ji-pwe-siu!" (28 bintang Tong-bun) keluarkan semua senjata dari sarung.

Waktu itu Beng To melambaikan tangan: "Tidak perlu kalian yang bertindak!" tanpa melihat reaksi pesilat golongan sesat, dia langsung bertanya kepada Tong Thian-co dan Tong Thian-yu:

"Apakah kalian datang untuk membuat perhitungan?" Tong Thian-co balik bertanya:

"Tetua perkumpulan kami, apakah beliau mati di tanganmu?"

"Benar!" Beng To mengaku.

"Kalau ketua perkumpulan kami..."

"Walaupun dia bunuh diri itupun karena dia jatuh ke tanganku, kalau kalian menuduh pelakunya adalah aku, tidak apa-apa!" Beng To seperti tidak terjadian apa-apa, "Kalian masih ingin tahu apa lagi?"

"Tong-bun-ji-pwe-siu ingin mencoba ilmu lweekang iblis milik Tuan!" jawab Tong Thian-co.

"Bagaimana kalau kalian kalah?"

"Kedatangan kami kemari dengan tekad siap mati!" "Baik..." Beng To tertawa, "tapi aku tidak mau

membunuh, kalau kalian kalah, kalian harus mengaku, itu sudah cukup!"

Tanpa menunggu jawaban Tong Thian-co, Beng To segera berkata kepada orang-orang yang berada di bawah singgasananya:

"Senjata rahasia akan berhamburan di sini, harap kalian menunggu di luar!"

Dia tertawa lagi:

"Untung masih ada 1 jam lagi baru tengah hari!"

Tong-bun-ji-pwe-siu sangat terkenal di dunia persilatan, bila jalanya sudah dibuka burung pun sulit lewat. Pesilat golongan sesat sangat takut, mereka tidak menyangka Beng To berulah kepada Tong-bun, tapi mereka sangat percaya pada ilmu silat Beng To, maka mereka pun keluar. "Apakah ada yang ingin kalian sampaikan lagi?" tanya Beng To kepada Tong Thian-co dan Tong Thian-yu.

Dua kepalan tangan yang berisi senjata rahasia mulai dilepaskan dari tangan Tong Thian-co dan Tong Thian-yu, mereka meloncat dan kembali bergantung di atas balkon.

Kedua tangan Beng To seperti tidak sengaja terulur, semua senjata rahasia terbang ke arah kedua tangannya dan menempel di tangannya. Seperti sebuah jala, yang menjala senjata rahasia itu, tapi Tong Thian-co dan Tong Thian-yu tidak melihat ada jala di sana.

Mereka tahu itu adalah kehebatan tenaga dalam Beng To karena itu mereka tidak merasa aneh. Dulu mereka pernah bersama Tong Ling mencari Wan Fei-yang untuk membalas dendam, juga pernah melihat hal seperti itu. Tapi sekarang mereka melihat tenaga dalam Beng To berada di atas Wan Fei-yang.

...Pantas Wan Fei-yang kalah di tangan orang ini, bagaimana keadaan Wan Fei-yang sekarang? Apakah ilmu silat Wan Fei-yang ada kemajuan? Apakah dia bisa mengalahkan Beng To?

Mereka merasa sangsi tapi bukan karena itu maka mereka menjadi kecewa. Isyarat sudah diberikan, 28 orang itu mulai bertindak dari atas atap, satu per satu seperti kelelawar menggantung tapi bukan karena itu membuat kecepatan mereka menjadi lamban, yang pasti hanya terlihat sedikit aneh.

Walaupun posisi mereka terus berganti tapi tidak bergeser secara sembarangan terlihat sangat teratur, jaraknya tidak berubah.

Asal ada yang mengerti pasti akan tahu pergeseran mereka menuruti geseran rasi bintang. Tapi Beng To sama sekali tidak mengerti dan merasa tidak ada keistimewaannya. Sebenarnya perubahan Tong-bun ji-pwe- siu tidak menbuatnya terganggu, dia tidak merasa bingung.

Sampai posisi duduknya pun tidak berubah, dia menaruh senjata rahasia di sisi meja, kemudian menunggu tanpa bergerak datangnya senjata rahasia yang lain. Tong Thian-co dan Tong Thian-yu melihat dengan jelas tapi mereka tidak menjadi goyah, mereka datang kali ini memang tidak yakin bisa menang dari Beng To.

Mereka hanya berharap bisa melukai atau menguras tenaga dalam Beng To, dengan cara itu mungkin mereka bisa membantu sedikit pada Wan Fei-yang. Senjata rahasia itu akhirnya keluar dari 28 arah yang berbeda, gerakan mereka terus berubah-rubah, senjata pun dilepaskan terus menerus. Senjata berkelebatan menganyam menjadi jala senjata rahasia yang sangat rapat, setiap senjata rahasia mengandung tenaga yang tidak sama, tapi pengaturannya

sangat baik.

Beng To tepat berada di tengah-tengah menjadi sasaran setiap senjata rahasia yang melesat, seseorang walaupun mempunyai banyak tangan dan kaki, juga bermata jeli, serta gerakan lincah, ingin dalam waktu bersamaan menyambut semua senjata rahasia bukan hal yang gampang.

Beng To hanya mempunyai sepasang tangan, tapi karena dia mempunyai tenaga dalam yang tinggi dan perubahan yang aneh, sepasang tangan-nya seperti menjadi ratusan bahkan ribuan pasang tangan.

Tenaga dalamnya seperti berhelai-helai benang muncul lagi, untuk melindungi dirinya, dia menjalin jala yang lebih rapat dibandingkan jala senjata rahasia. Begitu senjata rahasia mendekat, segera terikat oleh tenaga dalamnya, tidak ada satu pun yang lolos, bahkan dia masih mempunyai waktu meletakkan senjata rahasia yang diterimanya di meja yang ada di sampingnya.

Tong Thian-co dan Tong Thian-yu juga murid-murid Tong-bun lainnya dari awal sudah tahu tidak gampang jika ingin merobohkan Beng To dengan senjata rahasianya. Hanya saja mereka tidak menduga Beng To bisa begitu tenang, sampai mereka pun tidak bisa memaksa dia meninggalkan kursi kebesarannya. Semua di luar dugaan mereka, gerakan Beng To begitu sederhana, mereka sangsi apakah yang mereka lemparkan tadi bukan senjata rahasia melainkan ilusi, mereka seperti sedang bermain-main bukan sedang bertarung antara hidup dan mati.

Gerakan mereka tidak berhenti, terus berubah rubah dari posisi horisontal hingga vertikal atau sebaliknya. Mereka terus melepaskan senjata rahasia, sampai tas untuk menyimpan senjata rahasia pun kosong, baru berhenti karena terpaksa.

Bersamaan waktu gerakan Beng To pun berhenti, meja yang ada di sampingnya yang ada senjata rahasia tampak menumpuk seperti sebuah gunung, tapi dia tetap tidak terluka sedikit pun, juga tidak melemparkan kembali senjata itu kepada murid-murid Tong-bun.

Senjata rahasia terakhir sudah disambutnya dia malah bertanya:

"Apakah sudah selesai?"

Lama Tong Thian-co baru keluar suara:

"Ilmu yang hebat..." Beng To tersenyum:

"Kalau tidak mempunyai ilmu hebat, aku tidak akan berani membangun istana ini!" "Walaupun kami tidak sudi menerimanya tapi kami mengakui kami telah gagal total..." kata Tong Thian-yu.

"Baik, yang aku takutkan adalah orang yang tidak mau menerima kekalahannya dan selalu berbelit belit, kalian tenang saja, kalau bukan terpaksa aku tidak akan membunuh, apa lagi terhadap orang-orang Tong-bun."

"Tapi hutang ini tetap harus diperhitungkan..." kata Tong Thian-co.

"Setiap saat kalian boleh datang membuat perhitungan, aku selalu siap, yang pasti harus ada keyakinan terlebih dulu, kalah bukanlah semacam penghinaan, aku tidak mau orang- orang Tong-bun menjadi malu untuk berdiri di dunia persilatan."

Tong Thian-co marah, dia berteriak: "BengTo..."

Beng To tertawa, memotong:

"Kalian datang jauh-jauh mengantarkan begitu banyak senjata rahasia sebagai hadiah, seharusnya kita bersulang dulu, tapi sayang waktunya tidak tepat, sebab aku masih sibuk!" lalu dia melambaikan tangan, "kalau kalian masih ingin melihat-lihat, boleh menunggu di luar, aku tidak akan lama!"

Tong Thian-co tidak bersuara, semua murid Tong-bun menatapnya, mereka sudah bertekad untuk mati di sini!

Tidak siap meninggalkan tempat ini dalam keadaan hidup. Melihat ilmu Beng To seperti itu mereka merasa kecewa berat.

Tapi mereka sudah berusaha semaksimal mungkin.

Tong Thian-co mengerti pikiran anak buahnya, dia menarik nafas:

"Kita pergi..." dia meloncat turun. Tong TTuan-yu dan 27 orang lainnya segera turun dari atap, mengikuti Tong Thian-co keluar dari sana. Langkah kaki dan pikirannya terlihat sama-sama berat.

Akhirnya Beng To tertawa terbahak-bahak.

Awalnya melihat pesilat golongan sesat keluar dari ruangan, Ci-liong-ong dan lain-lain merasa aneh, sampai terdengar suara bertarung mereka segera mengerti apa yang telah terjadi, hanya tidak mengerti siapa yang datang kemari mencari Beng To untuk bertarung dan memilih waktu sekarang.

"Yang tadi masuk ternyata bukan datang dari Mo-kauw," nada bicara Ci-liong-ong terdengar aneh, begitu juga pikirannya.

"Berarti mereka sahabat dunia persilatan, mereka memilih saat sekarang ini, berarti mereka juga mempunyai maksud tertentu!" kata Giok-koan Tojin.

"Ada maksud atau tidak, sama saja!" kata Ci-liong-ong dengan nada malas-malasan, "Beng To mengusir golongan sesat keluar dari ruangan, pasti dia sudah yakin dan tidak dianggap berat!"

"Apakah kita hanya akan berpangku tangan melihat tontonan?" tanya Giok-koan Tojin.

"Jika kita ingin masuk harus melewati pesilat golongan sesat dan orang-orang suku Biauw," kata Ci-liong-ong.

"Siapa mereka?"

"Mereka bukan siapa-siapa, kalau kita melakukan hal seperti itu untuk apa membangun istana ini, tidak perlu menunggu sampai hari ini!"

Giok-koan Tojin mendengar kata-kata Ci-liong-ong seperti mengandung arti lain, maka dia terdiam.

Tapi Pek-jin Taysu segera bertanya: "Beng To sudah yakin akan menang, walau pun pesilat golongan sesat tidak menghalangi kita masuk tapi aku yakin pertarungannya sudah selesai!"

Ci-liong-ong tertawa:

"Pembicaraan kita terlalu berlebihan..." dia berhenti bicara matanya berputar.

Seorang anak buahnya datang melapor dengan meriah: "Orang Bu-tong-pai sudah datang!"

"Sudah datang?" Ci-liong-ong masih bernada tidak ada perhatian.

"Kecuali Pek-ciok Tojin, masih ada Wan Fei-yang!"

Begitu nama Wan Fei-yang disebut, terdengar nada perkataan anak buahnya berubah menjadi senang dan terharu.

"Apa?"

Bukan hanya Ci-liong-ong, yang lainnya pun merasa sangsi dengan pendengaran mereka maka semua orang menatap anak buah Ci-liong-ong itu.

"Apa yang kukatakan itu kenyataan."

Anak buah Ci-liong-ong ini adalah orang pintar, melihat semua orang melihatnya dia segera menjawab seperti itu.

"Maksudmu, kau benar-benar melihat sendiri sosok Wan Fei-yang?" tanya Ci-liong-ong.

"Aku tidak akan salah lihat, bila aku bohong aku rela dihukum!" anak buahnya bersumpah.

Ci-liong-ong menepuk-nepuk pundaknya:

"Kau sudah lama ikut denganku, aku tahu jelas sifatmu!" "Tapi kenyataan ini membuat siapa pun tidak akan

percaya!" kata Ci-liong-ong.

Anah buahnya ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi Giok- koan Tojin sudah menyela: "Apakah ini permainan Bu-tong-pai?" Pek-jin Taysu melafalkan bacaan Budha:

"O-mi-to-hud, apakah kematian ketua Kouw-bok belum cukup bukti, bisa di buat main-main?"

Giok-koan Tojin terpaku dan menundukkan kepala, dia terdiam, akhirnya dia merasa kata-katanya sudah keterlaluan, apa lagi Kouw-bok sudah berbudi kepadanya!

Ci-liong-ong berkata:

"Apakah Beng To juga bisa salah perhitungan sebenarnya Wan Fei-yang belum mati?"

Kata Pek-jin Taysu:

"Dia hanya mengatakan kalau Wan Fei-yang kalah di tangannya, ilmu silatnya sudah menyebar di kalangan dunia persilatan Tionggoan kalau Wan Fei-yang sudah seperti orang cacat tidak mungkin bisa bertahan hidup lagi, dia tidak mengatakan kalau Wan Fei-yang sudah mati!"

"Katanya ada seekor induk serangga yang masuk ke dalam tubuhnya dan menggerogoti roh Wan Fei-yang!" kata Liu Sian-ciu.

"Dia belum bisa membuat Wan Fei-yang mati, kabarnya perubahan ilmu Thian-can-sin-kang sangat ajaib..." kata Pek- jin Taysu.

"Itu hanya gosip, walau bagaimanapun Wan Fei-yang hidup kembali, karena perubahan Thian-can-sin-kang, jadi tidak perlu merasa aneh," Ci-liong-ong tertawa, lalu berkata lagi, "ilmu lweekang Beng To berasal dari ilmu lweekang Mo- kauw asalnya sama dengan Thian-can-sin-kang, lweekangnya terus menerus mengalir seperti tidak ada habisnya, terlihat ilmu yang sangat ajaib ini, maka Wan Fei-yang tidak gampang mati begitu saja!" "Tapi," Pek-jin Taysu berkata lalu berhenti lagi, sikapnya menjadi aneh, tidak usah diragukan lagi, dia ingin mengajukan pertanyaan.

"Apa yang ingin Taysu katakan?" Ci-liong-ong bertanya dengan heran.

"Mengenai ilmu menghitung nasib, aku hanya tahu sedikit bagian kulitnya, seharusnya aku tidak merasa begitu yakin," kata Pek-jin Taysu.

Ci-liong-ong baru mengerti:

"Maksudmu, dari raut wajahnya mengatakan dia orang yang pendek umur?"

Pek-jin Taysu ingin mengatakan sesuatu, tapi dia berhenti bicara, sorot mata Ci-liong-ong melihat Liu Sian-ciu, karena dia tahu Liu Sian-ciu juga orang yang mengerti urusan perhitungan nasib, dengan melihat wajah bisa memperkirakannya.

Liu Sian-ciu tertawa kecut:

"Pek-jin Taysu hanya mengerti sedikit maka dia tidak bisa melihat juga memperkirakan."

Kata Liu Sian-ciu lagi:

“Mati dan hidup kembali, apakah bisa dianggap sudah mati satu kali lalu hidup kembali, apakah sama dengan mengubahnya menjadi orang dalam sosok lain, aku tidak mengerti!"

Kata Pek-jin Taysu:

"Melihat wajah dan memperkirakannya, melihat wajah seperti apa muncul dari dalam hati, nasib seseorang tidak akan berubah karena dia sudah melakukan sesuatu!"

Tiba-tiba Ci-liong-ong tertawa: "Terlihat kalian berdua berbobot setengah kati dan 500 liang, mengenai perhitungan wajah dan perkiraannya tetap saja masih merasa ragu!"

Liu Sian-ciu tertawa kecut.

"Aku hanya merasa perubahan nasib Wan Fei-yang sangat besar, bila terjadi perubahan lagi itu tidak aneh!" kata Ci-liong-ong.

Baru saja kata-katanya habis, Wan Fei-yang, Pek-ciok Tojin dan sekelompok murid Bu-tong-pai sudah muncul. Terlihat Pek-ciok Tojin dan murid-murid Bu-tong-pai sangat senang, hanya Wan Fei-yang yang terlihat sangat biasa, seperti tidak memiliki perasaan apa pun.

Pesilat golongan sesat dan orang-orang suku Biauw tidak memperhatikan perubahan ini. Tong-bun-ji-pwe-siu yang baru keluar dari istana dengan kecewa dan murung juga merasa kurang bernafsu.

Melihat sikap mereka Wan Fei-yang sudah tahu, Beng To sudah memenangkan pertarungan lagi. Memang semua sudah berada dalam dugaannya tapi pesilat golongan sesat dan orang-orang suku Biauw tetap bersorak.

Dengan diam Tong-bun ji-pwe-siu melewati mereka tanpa reaksi, mereka tidak peduli sikap orang-orang itu, mereka sudah sekuat tenaga berjuang tapi tetap tidak sanggup membantu Wan Fei-yang.

Mereka harus mengakui ilmu silat Beng To berada pada taraf seperti dewa dan khawatir, apakah Wan Fei-yang sanggup mengalahkan Beng To. Dulu ketika mereka ikut Tong Ling ke Bu-tong-san untuk mencari Wan Fei-yang, mereka sudah menyaksikan seperti apa ilmu silat Wan Fei- yang. Di benak mereka, ilmu silat Wan Fei-yang dengan Beng To masih berbeda jauh tingkatnya.

Tapi Wan Fei-yang adalah satu-satunya harapan mereka, maka dengan berat hati mereka bisa membayangkan semuanya. Dari jauh mereka melihat Wan Fei-yang datang, mereka tidak merasa senang malah terasa semakin berat.

Pesilat golongan sesat mengikuti pandangan mata orang- orang melihat ke arah yang dituju, akhirnya mereka melihat sosok Wan Fei-yang, di antara mereka ada yang mengenali Wan Fei-yang, maka tawanya pun segera berhenti dan membeku. Yang tidak mengenali Wan Fei-yang masih menertawakan Tong-bun-ji-pwe-siu, sampai melihat temannya yang berdiri di sisi mereka bersikap lain, mereka baru tersadar.

Wan Fei-yang tidak menyalami Giok-koan Tojin dan lain- lain, dia terus berjalan ke depan murid-murid Tong-bun, dalam hati Wan Fei-yang, keselamat an murid-murid Tong- bun lebih penting dari pada menyapa Giok-koan Tojin dan lain-lain.

"Apa kabar kalian?"

Wan Fei-yang tidak tahu ada berapa murid Tong-bun yang datang, hanya berharap semua bisa selamat, tidak ada masalah berat yang terjadi.

Tong Thian-co tertawa kecut:

"Kabar kami baik, kami sudah berusaha, tapi tetap tidak berdaya."

"Sebenarnya kalau dia berniat membunuh kami, gampang seperti membalikkan telapak tangan, tapi dia tidak melakukannya, mungkin karena terlalu gampang atau hari ini karena dia naik tahta," kata Tong Thian-yu. "Sekarang orang itu lebih dewasa dibandingkan dulu ketika aku baru bertemu dengannya!" kata Wan Fei-yang.

"Ada sebuah pertanyaan, apakah kami boleh bertanya..” kata Tong Thian-yu dengan cepat.

"Kalian harus percaya pertarungan kali ini terjadi antara aku dan dia!"

"Kalau kau tidak percaya diri, kau tidak akan datang!" jawab Tong Thian-co.

"Walau pun tidak yakin, aku tetap harus datang!" "Maaf..angguk Tong Thian-yu.

"Yang minta maaf itu seharusnya aku!" kata Wan Fei- yang, dia segera melangkah.

Murid Tong-bun segera menyingkir ke kiri juga ke kanan, Ci-liong-ong terdiam, hanya Pek-jin Taysu yang masih melantunkan O-mi-to-hud.

Pesilat golongan sesat terdiam, mereka segera memberi jalan untuk Wan Fei-yang.

Dengan tenang Wan Fei-yang melewatinya, bumi dan langit seperti ikut membeku.

Beng To merasakan kesepian luar biasa juga berfirasat buruk, dia tahu akan terjadi sesuatu di istana ini, dia tidak tahan lalu berdiri dan berteriak:

"Wan Fei-yang!"

Suaranya serak tidak seperti suara biasanya, dia melihat Wan Fei-yang seperti melihat makhluk aneh.

"Sudah lama kita tidak bertemu!" suara Wan Fei-yang tetap terdengar tenang, sikapnya pun seperti itu, bukan karena Beng To mengalami perubahan.

Akhirnya Beng To tenang kembali dan duduk: "Aku sudah bersalah!" "Ilmu silatku sudah di ketahui secara luas, apa lagi di dalam tubuhku ada seekor induk serangga, kalau bukan karena Pei-pei mengorbankan nyawanya memancing induk serangga itu keluar, walaupun Thian-can-sin-kang bisa berubah secara ajaib tenaga dalamku tatap akan terganggu oleh induk serangga, tidak bisa dialirkan dengan sempurna, semua percuma saja."

"Pei-pei?" Beng To tertawa dingin, "aku lalai tentang ini, Pei-pei benar-benar murahan, sampai-sampai nyawanya sendiri pun dikorbankan."

Wan Fei-yang terdiam, dia hanya memberi tahu bahwa Pei-pei sudah meninggal.

"Seharusnya aku terpikirkan akan hal ini, tapi aku tidak percaya perempuan mana pun yang kau kenal selalu siap berkorban untukmu!" Beng To tertawa dingin.

Api cemburu naik ke kepala Beng To, dia tidak lupa dengan kata-kata Tong Ling sebelum meninggal. Tong Ling mengatakan bahwa dia lebih memilih mati karena tidak mau dihina dan diucapkannya dengan mantap, dia tidak bisa melindungi Wan Fei-yang, ilmu Wan Fei-yang seperti apa pun dia tidak tahu dengan jelas, tapi Beng To sudah bertekad mengambil posisi Wan Fei-yang di Tionggoan dan harus menguasai dunia persilatan, sekarang cita-citanya hampir tercapai.

Bila bertanya kepada siapa pun semua akan menjawab bahwa ilmu silat Wan Fei-yang berada di bawah Beng To, tapi ketika dia akan naik tahta dan menerima sembahan orang-orang, Wan Fei-yang muncul.

Apakah dia akan kalah di tangan Wan Fei-yang? Walaupun dia telah mengalahkan puluhan pesilat tangguh dari puluhan perkumpulan silat, dia juga sadar bahwa ilmu lweekangnya berada di atas Wan Fei-yang, tapi setelah berhadapan langsung dengan Wan Fei-yang, dia tidak yakin bisa menang dengan Wan Fei-yang.

Tenaga dalam Wan Fei-yang yang sudah terlatih adalah sejenis dengannya, dengan mudah dia bisa menyedot tenaga dalam Wan Fei-yang dan menggunakannya dengan baik, tapi perubahan ajaib dari Thian-can-sin-kang, membuat Wan Fei- yang seperti terlahir kembali, dia bisa memulihkan tenaga dalamnya, entah sampai pada tahap seperti apa, dia tidak tahu. Tapi dia tahu dulu ilmu silat Wan Fei-yang seperti apa. Orang seperti Kiam-sianseng dan Ci-liong-ong bukan lawannya. Walaupun sekarang dia bisa mengalahkan Wan Fei-yang, tampaknya dia harus membayarnya dengan harga tinggi.

Bila pertarungan ini bisa dihindari, ini lebih baik, tapi Beng To sadar dia tidak akan bisa menghindar, dia juga tidak berkompromi lagi dengan Wan Fei-yang, dia juga tahu pendekar-pendekar di luar sana, baik dari aliran lurus maupun yang sesat sedang menunggu hasil akhir pertarungan ini.

Pertarungan ini dikatakan lebih penting dari pertarungan mana pun. Bukan hanya karena Wan Fei-yang hidup kembali merupakan suatu mukjizat, asal bisa mengalahkan Wan Fei- yang berarti bisa memukul hancur rasa percaya diri perkumpulan lurus, membuat mereka kecewa dan harus menjaga nama baik mereka.

Dulu dia pernah mengatakan bahwa Wan Fei-yang kalah di tangannya dan sudah kehilangan semua ilmu silatnya. Sekarang Wan Fei-yang secara sehat walafiat muncul di depan semua orang. Hal ini sedikit banyak memberikan kesan bahwa dia telah berbohong, dia tidak tahu apakah pesilat golongan sesat juga akan berpikir seperti itu.

Setelah dipikir-pikir, dia benar-benar merasa semua ini sangat buruk, tentu saja dia sangat membenci Wan Fei-yang, tapi Wan Fei-yang seperti tidak tahu perubahan perasaan Beng To, dia seperti tenggelam dalam kenangan, lama baru berkata:

"Mereka adalah gadis-gadis baik, masih muda, tapi sayang aku tidak bisa menghalangimu...

"Apakah ketika Pei-pei memancing induk serangga keluar dari tubuhmu, kau tidak tahu? Beng To tertawa dingin.

"Ketika induk serangga meninggalkan tubuhku, aku baru sadar!"

Beng To memang tahu Wan Fei-yang tidak akan berbohong, tapi dia tetap tertawa dingin:

"Begitu cepat waktu berlalu bukan?"

"Hal yang terjadi di dunia ini memang benar-benar cepat!"

"Kau begitu cepat datang kemari, tidak terlalu awal dan tidak terlalu terlambat!"

"Mungkin aku sudah bosan berkelana di dunia persilatan, walaupun tahu keberadaanmu tapi aku tidak akan mencarimu ke sana!"

"Kau sengaja menunggu aku mengalahkan semua pesilat dari semua perkumpulan, dan ketika aku akan naik tahta kau baru datang?"

Wan Fei-yang ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi. "Alasan yang sangat sederhana, kedudukan Bu-tong-pai

dunia persilatan sebenarnya tidak tinggi, setelah bertarung dengan Bu-ti-bun mati-matian, pesilat tangguh Bu-tong banyak   yang   gugur   dan   selalu   ada   berita   tidak   enak mengenai Bu-tong, saat kau menggunakan Thian-can-sin- kang mengalahkan Tokko Bu-ti, kalian baru bisa tenang, sekarang rahasia terkuak lagi, ternyata ilmu Thian-can-sin- kang kalian di dapat dari mencuri dari ilmu lweekang Mo- kauw, ingin mengambil kembali yang sudah menghilang bukan hal yang gampang, karena itu kau menungguku setelah mengalahkan semua pesilat dari semua perkumpulan, dengan lagak menolong kau baru muncul."

Wan Fei-yang menggelengkan kepala, Beng To berkata lagi:

"Kau tidak perlu membantah, kau bisa menipu siapa pun tapi tidak akan bisa menipuku."

"Kau..."

"Apakah aku sudah menguak rahasiamu, tapi memang kenyataannya seperti itu, siapa yang tidak ingin menjadi orang nomor satu di dunia persilatan!"

"Itu hanya cita-citamu saja!" jawab Wan Fei-yang.

"Aku tidak akan membantahnya kau juga tidak akan membantah, jangankan hanya ada kau dan aku, walaupun semua orang yang ada di luar masuk dan tahu semuanya, aku tidak peduli!" Beng To berkata sambil tertawa, "menurut Tong Ling, aku adalah orang picik, sebenarnya kau pun tidak berbeda jauh, sayang umurnya pendek tidak menunggu hingga saat ini, kalau tidak, apa yang akan dia pikirkan ya?"

Wan Fei-yang terdiam, Beng To berkata lagi:

"Kau tidak hanya menunggu dengan santai, kau masih memperalat murid-murid Tong-bun untuk menghabiskan tenaga dalamku terlebih dulu, tapi sayang, ilmu silat mereka terbatas, mereka tidak banyak membantumu!"

"Murid Tong-bun datang kemari untuk bertarung denganmu, itu bukan ideku, memang mereka muncul pikiran seperti itu, itu pun aku baru mengetahuinya mengapa sampai sekarang aku baru datang mencarimu, penjelasannya adalah karena aku membutuhkan waktu untuk beristirahat terlebih dulu juga membutuhkan waktu untuk menerangkan semua kejadian kepada Bu-tong-pai!"

"Menerangkan apa yang terjadi setelah kau mati?" Beng To berkata dengan dingin.

Sebenarnya dia hanya berkata tanpa rasa tanggung jawab, tidak disangka Wan Fei-yang malah mengangguk membenarkan.

"Jika karena kematianku ilmu silat Bu-tong-pai menjadi musnah, aku akan menjadi orang yang berdosa kepada Bu- tong-pai, di alam baka sana aku akan malu menghadapi para tetua Bu-tong-pai!" suara Wan Fei-yang terdengar sangat tenang, perasaannya begitu jauh seperti datang dari alam baka.

Beng To merasa tidak nyaman mendengarnya, entah mengapa tiba-tiba dia mempunyai perasaan kematian akan menjemputnya dan berkata:

"Selain Thian-can-sin-kang yang pantas diwariskan kepada Bu-tong-pai, masih ada ilmu apa lagi? apa lagi Thian- can-sin-kang kalian dapat mencuri dari perkumpulan kami!"

"Ini memang kenyataan, tapi aku sudah mengembalikan Thian-can-sin-kang kepada Mo-kauw, karena itu pula kau bisa menguasai dunia persilatan!"

Beng To mengerti, itu memang keinginan Sat Kao yang menghisapkan tenaga dalam Wan Fei-yang kepadanya, dia ingin mengatakan sesuatu.

Wan Fei-yang sudah menyambung:

"Kami dari Bu-tong-pai mengubah lweekang dari Mo- kauw menjadi Thian-can-sin-kang, kami sudah bekerja dengan susah payah, tapi kalian hanya tinggal duduk memetiknya, aku rasa kita sudah impas dan tidak saling berhutang!"

"Enak saja..."

"Aku tidak ingin banyak bicara lagi!" Wan Fei-yang memotong perkataan Beng To.

"Yang mana yang salah yang mana yang benar, biar orang dunia persilatan yang memutuskannya. Thian-can-sin- kang dari Bu-tong-pai tidak pernah membunuh, maka murid Bu-tong-pai tidak perlu merasa ada ganjalan di hati, aku pun seperti itu!"

"Kali ini kau datang mencariku, apakah kau sudah siap untuk mati?"

"Aku mengaku belum tentu bisa mengalahkanmu, kalau aku hidup dan bisa meninggalkan tempat ini, aku tetap akan mencarimu lagi, kau harus mengerti itu!"

"Ingin menguasai dunia persilatan harus membayar dengan harga yang pantas!"

"Kau tetap belum mengerti!" kata Wan Fei-yang.

"Aku hanya mengerti pertarungan kali ini menyangkut hidup dan mati dan tidak bisa memilih, itu saja sudah cukup!" Beng To menjulurkan tangannya, "Silakan..."

"Silakan kau dulu..." jawab Wan Fei-yang. Kedua tangan Beng To segera berubah menjadi putih keperakan, wajahnya pun seperti memakai topeng berwarna perak keputihan, perubahannya sangat cepat. Wan Fei-yang pun menjulurkan sepasang tangannya, tapi tubuhnya tidak terjadi perubahan, kulit wajahnya pun masih sama seperti sebuah giok bersih dan cemerlang, sangat enak dipandang, siapa pun yang melihat akan merasa sangat nyaman. Beng To pun merasa seperti itu, dia tidak melihat Wan Fei-yang berubah.

Perubahan ini bagi Wan Fei-yang sangat kentara, dia sendiri merasakannya, orang lain mungkin tidak merasakannya, dari yang biasa berubah menjadi indah. Semua melihat perubahan Beng To, tapi perubahan yang terjadi pada Wan Fei-yang tidak segampang yang terlihat.

Tenaga dalam Beng To dan pengalamannya sudah maju pesat, sebaliknya dia merasa Wan Fei-yang bukan saja tidak mengalami kemajuan malah kelihatan mundur.

Maka dia mulai tersenyum dan berkata: "Biar aku mengalah 3 jurus dulu!"

"Tidak perlu!" Wan Fei-yang menggelengkan kepala. "Baiklah..." Beng To mencengkeram senjata rahasia yang

ada di atas meja, tangannya belum sampai senjata itu sudah terbang menempel ke tangannya, sekarang tangannya menjadi seperti sebuah bola senjata rahasia... bola bercahaya!

Bola bercahaya itu segera meledak dan menghasilkan cahaya yang berwarna-warni, lalu dilempar kan ke arah Wan Fei-yang dari seluruh penjuru.

Cahaya pelangi yang dihasilkan dari senjata rahasia, sebutir demi sebutir seperti disambung oleh benang tidak terlihat.

Wan Fei-yang melihat cahaya pelangi datang menghampirinya dengan tenang dia membalikkan tubuh dan melambaikan tangannya, cahaya pelangi yang terpancar begitu tiba di depannya berkumpul kembali, berubah menjadi sebuah bola bercahaya lagi. Dia melayangkan tangan, bola bercahaya itu terbang ke arah dinding sebelah sana. Senjata rahasia itu pelan-pelan melesat dari sana, begitu menurut dan lembut, sama sekali tidak mengandung perasaan keras, sampai-sampai suara jatuhnya pun terdengar nyaring dan enak didengar, seperti sebuah alunan musik.

Wajah Beng To segera tenggelam, tapi dia meloncat ke atas, di udara dia membalikkan tubuh, dengan telapaknya dia menepuk Wan Fei-yang, Wan Fei-yang tidak menghindar, dia malah menjulurkan tangannya menyambut. Telapak mereka belum saling bersentuhan, tapi sudah keluar sederetan suara juga muncul uap seperti asap dan kabut, tapi begitu dilihat dengan jelas, asap dan kabut seperti kepompong. Ribuan bahkan ratusan ribu helai benang tidak terlihat membelit menjadi satu, kedua telapak semakin dekat benang tidak terlihat terasa semakin tebal.

Tadinya Beng To ingin meledakkan seperti guntur tapi setelah sampai di atas kepala Wan Fei-yang berubah menjadi lamban, sedangkan bajunya tetap mengeluarkan suara dan terbang.

Dua telapak semakin mendekat, jaraknya tinggal 3 kaki lagi, asap dan kabut seperti sebuah bola kepompong, ratusan ribu helai benang transparan masih menganyam dan berputar, mengeluarkan cahaya putih yang membuat hati ikut terasa dingin.

Baju Wan Fei-yang mulai berkibar, begitu ringan dan lambat, dengan serunya Beng To berbalik.

Bulatan kepompong mengikuti gerakan sepasang telapak, semakin dekat semakin menciut, juga semakin terang lalu berputar semakin kencang.

Waktu Beng To berputar, Wan Fei-yang pun ikut berputar, tapi arahnya berlawanan. Bulatan kepompong menciut dan pecah tanpa mengeluarkan suara. Berhelai-helai tulang terlihat di angkasa, dalam sekejap menghilang.

Beng To meloncat lagi, jarinya menempel di tiang bangunan, tubuhnya dalam posisi menggantung.

Wan Fei-yang berputar dengan arah berlawanan, dia naik dengan miring, lalu menempel di dinding bergeser mengikuti dinding. Gerakannya dengan ilmu cecak tidak berbeda jauh, seperti punya kekuatan untuk menempel. Tubuh bagian mana pun begitu mendekat segera menempel, tubuhnya terlihat seringan kapas, dengan cepat naik ke atas. Beng To   mengikuti bentuk tiang horisontal terus bergeser, dia bergeser ke tengah ruangan dan melambaikan

tangan:

"Datanglah..."

Wan Fei-yang melayang ke tempat Beng To, setelah dekat Beng To baru menyerang, setiap jurusnya mengandung tenaga dalam penuh, Wan Fei-yang pun seperti itu. Di dunia persilatan mungkin hanya mereka berdua yang sanggup mengumpulkan tenaga dalam menjadi senjata.

Hanya mereka berdua yang punya tenaga dalam yang sangat tinggi bisa bertarung di tengah-tengah udara. Asal mereka mengenai tiang atau balkon, tubuh mereka pasti bisa menggantung atau bergeser dengan ringan, benar- benar seperti dewa yang sedang melayang terbang.

Serangan mereka sangat cepat, tubuhnya pun bergeser dengan cepat, segera menyerang dan setelah itu langsung mundur. Perubahan yang terjadi seperti ilusi.

Tenaga dalam mereka tidak ada habis-habisnya dipakai, melihat baju mereka yang berkibar dapat diketahui bahwa mereka sangat kuat. Tenaga yang kuat sesudah keluar tidak bisa ditarik kembali.

Udara di sekitar sana pun seperti sedang hancur dan mengeluarkan suara seperti guntur.

Mereka tidak seperti sedang bertarung, kalau dibagi antara aliran lurus dan sesat, mereka seperti dewa dan siluman yang sedang bertarung!

Di luar istana pesilat-pesilat beraliran lurus maupun sesat, walaupun tidak bisa melihat pertarungan yang terjadi di dalam, tapi dari suara yang keluar mereka bisa menebak pertarungan itu berlangsung dengan seru, maka mereka hanya diam mendengarkan, semua terpaku seperti orang tolol.

Begitu banyak orang berkumpul tidak ada satu pun suara yang keluar, benar-benar jarang terjadi.

Ci-liong-ong adalah orang yang mempunyai ilmu lweekang paling tinggi, mendengar pertarungan antara Wan Fei-yang dan Beng To, dia sangat memperhatikan, terlihat alisnya naik sebelah, ekspresi nya terlihat lebih banyak berubah dibandingkan dengan orang lain.

Dia yang pertama membuka suara, kemudian menarik nafas:

"Sayang!"

Pek-ciok Tojin gemetar dengan cemas bertanya: "Apa yang terjadi?"

Dia mengira, Ci-liong-ong telah mendengar Wan Fei-yang mengalami kesulitan. Ci-liong-ong segera mengerti maksudnya dan menggelengkan kepala.

"Aku hanya menyayangkan orang yang berada di tempat pertarungan, tapi tidak bisa melihat pertarungan yang seru!"

"Apa yang Suheng dengar?" tanya Bok Touw-toh. Ci-liong-ong tertawa kecut:

"Kalau bisa mendengar buat apa aku menarik nafas?" Bok Touw-toh mengangguk:

"Pertarungan itu walaupun tidak bisa dilihat tapi bisa dibayangkan sangat seru!"

Ci-liong-ong menggelengkan kepala:

"Tampaknya menjadi seorang hweesio pun ada kebaikannya, bisa membuat dirinya menjadi kosong dan bisa berpikir kosong, dan tidak tahu kalau pertarungan itu sangat seru!"

Bok Touw-toh terdiam, Ci-liong-ong melihat ke dalam ruangan dan berkata lagi:

"Sayang..."

"Sayang kenapa?" Thi Gan bertanya dengan aneh. "Istana ini dibangun begitu indah tapi setelah bertarung

mungkin akan ambruk!"

"Sayang apa, istana ini merupakan penghinaan kepada dunia persilatan Tionggoan, kalau roboh bukankah itu lebih bagus!"

"Masuk akal juga!" kata Ci-liong-ong, "lebih baik seperti itu, setelah pertarungan ini selesai kita butuh waktu untuk berpikir!"

"Di luar gunung sana masih ada gunung lagi, di atas orang masih ada orang yang lebih hebat!" Pek-jin Taysu melafalkan kitab suci: "O-mi-to-hud..."

Baru saja ucapannya berhenti, terlihat istana itu sudah ambruk, dari keempat sisinya ambruk ke tengah, debu dan tanah beterbangan. Beng To dan Wan Fei-yang keluar dari dalam istana.

Semua orang berteriak, teriakannya terjadi begitu alami, tidak ada alasan apa pun. Wan Fei-yang dan Beng To tidak bereaksi, kedua tangan menempel, begitu keluar dari istana itu mereka berputar seperti kincir air, melewati kepala semua orang. Pohon- pohon yang menghalangi semua tampak patah dan tumbang.

Gerakan mereka masih belum berhenti, malah bertambah cepat, mereka melewati gunung dan jurang yang bertuliskan:

"Bukan dunia nyata."

Dari luar terlihat belum ada yang menang atau kalah, tapi sebenarnya sudah terlihat jelas. Wan Fei-yang sudah mengantongi tiket kemenangan, tenaganya masih terus mengalir tiada henti-hentinya, tidak ada perbedaan dengan waktu pertama bertarung, tetap lancar, sedangkan Beng To tidak. Walaupun tenaganya masih terus mengalir tapi mulai terasa tersendat dan mulai terlihat kulit di tubuhnya muncul selapis benda seperti sarang laba-laba.

Itu karena tenaga dalamnya baru keluar, lantas dipaksa masuk oleh tenaga dalam Wan Fei-yang, maka tenaga itu membeku di kulit tubuhnya, dia tidak tahu apakah Wan Fei- yang juga merasa seperti itu? Tapi kulit tubuh Wan Fei-yang licin dan bersih, terlihat dia tidak merasakan apa-apa, hati Beng To mulai gelisah. Bersamaan waktu perasaan tidak nyaman bertambah, sarang laba-laba yang menempel di kulit tampak semakin banyak dan semakin jelas terlihat.

Kalau keadaan seperti ini terus berlanjut, tubuhnya akan terbungkus oleh kepompong, dia akan mati karena tidak bisa bernafas.

Semakin berpikir dia semakin kacau, semua alasan dan rasa tidak tenangnya akan mengganggu pertarungan, dia akan kalah dalam pertarungan ini, apa lagi tenaga dalamnya masih selapis di bawah Wan Fei-yang. Sarang laba-laba semakin menebal, kulit tubuhnya yang berwarna abu terang sekarang menjadi gelap.

Setelah turun di atas jurang, mereka mulai berhenti bertarung, akhirnya berhenti total, tapi kedua tangan mereka masih menempel.

Cahaya matahari menyinari tubuh mereka berdua, di mata orang-orang, mereka terlihat sama-sama berhasil dan sama-sama kuat. Tapi di mata Beng To sinar matahari hanya menyinari Wan Fei-yang, dia sama sekali tidak merasakan sinar matahari yang hangat, hanya terasa dingin.

Kemudian dia merasa kesepian dan kesendirian yang belum pernah dia rasakan.

Kalau sekarang ada orang yang bisa membantu, alangkah baiknya. Tiba-tiba Beng To bisa berpikir seperti itu.

Akhirnya dia sendiri pun merasa aneh. Dia tahu ini hanya mimpi, dia melihat orang-orang suku Biauw yang dibawanya, mereka begitu perhatian dan berharap jiwa berjuangnya segera muncul kembali. Dia membentak, tenaga dalam dikerahkan lagi dan terus mengalir ke tangan.

Sarang laba-laba yang telah menempel di tubuhnya hancur lebur menjadi berkeping-keping, cahaya perak sekali lagi berkelip-kelip muncul.

Wan Fei-yang tidak terkejut, dia tetap tenang seperti tadi, ini sangat berbeda dengan dulu.

Suara Beng To lebih kuat dan lihai, tapi di mata semua orang dia sudah kalah dari Wan Fei-yang, walaupun cahaya perak muncul lagi, tapi tetap kalah indah dengan cahaya Wan Fei-yang. Ci-liong-ong adalah ahli tenaga dalam, dia bisa melihat lebih jelas dari siapa pun, dengan tenang dia menghembuskan nafas tenang.

Waktu itu bayangan seseorang muncul dari hutan. Angin keras meniup kain yang membungkus kepalanya. Muncullah seorang berambut kuning emas, matanya biru dan hidungnya mancung, walaupun umurnya sudah tua tapi tetap terkesan dia tampan dan gagah.

Orang ini membawa pipa yang terlihat sangat aneh, dia mendekat Wan Fei-yang. Liu Sian-ciu yang lebih berpengalaman segera berteriak.

"Senjata api..." teriakannya belum habis terdengar suara seperti petasan, cahaya terang keluar dari senjata api yang dibawa orang itu. Kecepatan-nya di luar kemampuan manusia, mata orang biasa tidak bisa melihatnya.

Tong Thian-co dan Tong Thian-yu dengan cepat keluar, mereka ingin menghalangi benda itu melesat dengan senjata rahasia mereka, tapi waktu itu mereka baru ingat mereka sudah tidak punya senjata rahasia lagi.

Ci-liong-ong dan Pek-jin Taysu bersama-sama lari, mereka tetap tidak keburu mencegat. Kekuatan untuk menyelamatkan diri sendiri muncul. Tiba-tiba Wan Fei-yang dan Beng To berputar lagi, semua karena tenaga dalamnya.

Kelebatan cahaya sudah sampai ke arah Wan Fei-yang, tapi karena dia sedang berputar maka cahaya itu mengenai kepala bagian kiri Beng To dan menembus keluar dari sebelah kanan!

Tenaganya segera buyar, Beng To berteriak memilukan, tubuhnya terlempar, darah keluar dari kepalanya, wajahnya menjadi pucat. Perubahan seperti ini di luar dugaan Wan Fei-yang. Tubuhnya berhenti berputar sorot matanya dengan cepat melihat orang tua berambut pirang yang berada di atas pohon. Kedua tangannya masih memegang senjata api, dia terpaku melihat Beng To dan tiba-tiba berteriak:

"Mengapa bisa terjadi seperti ini..." bahasa yang dipakai adalah bahasa Han-ie, tapi logatnya aneh. Dia segera berputar kembali ke arah Wan Fei-yang, kedua tangannya bergerak dengan cepat. Suara letusan terdengar lagi dan cahaya keluar dari ujung senjata api itu.

WaN Fei-yang melihat jelas peluru ditembakkan ke arahnya, kecepatannya di luar dugaan, dia tidak berani menyambut hanya bisa menghindar.

Cara menghindarnya tidak bisa sembarangan dilakukan, walaupun peluru meluncur dengan cepat, dia sanggup menghindar.

Orang tua berambut pirang itu seperti tahu dia tidak akan berhasil, karena itu dia pergi dengan cara terbang.

Wan Fei-yang mengikuti dari belakang, Ci-liong-ong dan lain-lain juga sudah tiba.

Pesilat aliran sesat tidak ikut juga tidak tinggal. Mereka tidak berjanji tapi tujuan mereka sama, lalu turun gunung.

Pohon besar roboh, kera-kera pun bubar. Mereka datang bersama Beng To, begitu Beng To roboh mereka pun bubar.

Di depan istana yang sudah ambruk itu hanya tersisa orang-orang suku Biauw, dengan bengong mereka melihat Beng To yang sudah roboh. Semua terjadi begitu tiba-tiba, membuat orang-orang yang bersifat polos sulit menerima dalam waktu yang singkat.

Beng To merangkak bangun, matanya penuh rasa sedih. Walaupun dia harus kalah dari Wan Fei-yang, tapi kalahnya harus seperti seorang pahlawan, sekarang dia akan mati, mati tanpa kebanggaan.

Dia mengerti orang tua berambut pirang tadi ingin membantunya, dia juga tahu orang tua itu pasti dari Mo- kauw barat, dia menerima bantuan dari orang tua itu, hanya saja peristiwa itu terjadi tidak seperti keinginan manusia, hal yang terjadi benar-benar di luar dugaan.

Sekarang dia harus mengaku bahwa kemampuan Wan Fei-yang masih berada di atasnya, ilmu silat atau pun nasib baiknya.

Orang-orang suku Biauw datang mengelilinginya. "Angkat aku ke atas kain, kita segera pulang ke

perbatasan Biauw!"

Nada bicara Beng To penuh dengan rasa putus asa, sorot mata juga seperti itu.

Itu adalah kata-katanya yang terakhir.

0-0-0

Wan Fei-yang terus mengejar, Ci-liong-ong dan yang lain berada di belakang. Jalan yang dilalui orang tua berambut pirang tadi adalah jalan buntu, asap putih keluar di belakangnya dengan cepat menyebar. Asap itu menghalangi pandangan Wan Fei-yang dan lain-lain, membuat mereka tidak bisa melihat apa-apa.

Suara angin menderu seperti guntur, walau pun pendengaran Wan Fei-yang sangat tajam, tapi tetap terganggu oleh suara itu. Suara angin seperti guntur cukup menutupi suara orang tua berambut pirang ketika bergeser. Ci-liong-ong, Pek-jin Taysu, dan Giok-koan Tojin sudah tiba dan melihat situasi. Mereka segera mengerti mengapa Wan Fei-yang berhenti mengejar.

"Tidak diragukan lagi orang itu dari Mo-kauw barat, mereka seringkali menggunakan cara seperti ini!" kata Giok- koan Tojin dengan marah.

"Aku mengerti mengapa orang-orang Mo-kauw barat tidak muncul!" kata Ci-liong-ong sambil tersenyum.

"Apakah mereka merasa tidak yakin maka menyerang dengan mencuri-curi?" tanya Giok-koan Tojin.

"Salah..." Ci-liong-ong menggelengkan kepala.

"Karena Beng To tidak menghubungi mereka sama sekali, setelah orang tua berambut pirang itu mendapat kabar baru datang terburu-buru untuk melihat situasi yaitu bila Beng To kalah maka akan menggunakan cara seperti tadi!"

"Kalah atau menang belum terlihat, dia terlalu tergesa- gesa!" kata Giok-koan Tojin.

"Beng To sudah kalah!" kata Ci-liong-ong. Dia melihat Wan Fei-yang lalu tertawa, "maaf sudah merepotkanmu..."

"Awalnya semua ini karena aku, jadi harus aku yang membereskannya!" kata Wan Fei-yang dengan tenang.

Tiba-tiba Ci-liong-ong terpaku dan bersuara: "O..."

Pek-jin Taysu seperti mengerti lalu melantunkan bacaan Budha.

Giok-koan Tojin tidak mengerti, dia bertanya: "Apa yang sedang kalian bicarakan?"

Ci-liong-ong baru akan menjawab, Tong Thian-co dan Tong Thian-yu sudah datang. Melihat Wan Fei-yang tidak mengalami sesuatu apa pun, dia segera bertanya:

"Wan-tayhiap, senjata rahasia itu?" Liu Sian-du menyela:

"Itu adalah senjata rahasia dibuat dari mesin dan bahan peledak!"

"Bukan senjata rahasia?" tanya Tong Thian-co.

"Boleh dikatakan senjata rahasia, tapi kekuatannya di atas senjata rahasia biasa!" Jelas Liu Sian-du.

"Maafkan kami yang kurang pengetahuan!" kata Tong Thian-co.

"Kalian harus waspada, aku berani menyambut senjata rahasia kalian, tapi senjata rahasia jenis ini aku tidak percaya bisa menyambutnya sebab gerakannya terlalu cepat!"

"Terima kasih atas pemberitahuannya!" Tong Thian-co mengangguk.

"Tidak perlu khawatir terhadap masalah Mo-kauw barat ini," Giok-koan Tojin menyela dengan dingin.

Wan Fei-yang menatap Giok-koan Tojin, dia seperti ingin menyampaikan sesuatu, tapi enggan meneruskan.

"Senjata itu seperti gampang digunakan, kalau diproduksi banyak..." Ci-liong-ong menyambung.

"Apakah Suheng takut dengan senjata itu mereka akan mengacaukan dunia persilatan Tiong-goan?" tanya Bok Touw-toh.

"Sekarang dunia persilatan masuk dalam hitungan apa?" Ci-liong-ong balik bertanya.

Bok Touw-toh terpaku tapi hati Wan Fei-yang tergetar, dia melihat Ci-liong-ong:

"Harap setiap orang bisa sepengertian tetua ini!"

Tidak ada orang yang menjawab, ada yang tidak tahu, ada yang tidak mengerti maksudnya.

Ketua Bu-tong-pai, Pek-ciok Tojin juga datang, setelah melihat situasi sekeliling, dengan senang dia mengucapkan: "Selamat, Sute!"

Wan Fei-yang tertawa kecut, dia hanya bisa tertawa. Ci- liong-ong melihat dia dan menghela nafas:

"Aku baru mengerti kau orang seperti apa, aku kagum kepadamu..."

"Lo-cianpwee terlalu memuji!"

Wan Fei-yang sekarang baru melihat tetua dunia persilatan ini tidak berpandangan bobrok, malah mempunyai pandangan bagus.

"Masih ada pekerjaan yang belum beres, mengapa tidak dibereskannya sekarang juga?" tanya Ci-liong-ong.

Wan Fei-yang membalikkan tubuh lalu melangkah pergi, Pek-ciok Tojin buru-buru bertanya:

"Sute, kau mau ke mana?"

"Ke tempat di mana dia harus pergi!" jawab Ci-liong-ong, "kau boleh khawatir pada orang lain, tapi tidak perlu mengkhawatirkan Sutemu!"

Pek-ciok Tojin melihat Ci-liong-ong, entah apa yang harus dijawab.

"Selamat, selamat..." tiba-tiba Pek-jin Taysu berseru. "Selamat apa?" Ci-liong-ong bertanya.

"Pinceng sudah lama belajar agama Budha, tetap belum bisa merasa terbebas, sekarang melihat Tuan sedikit berhati Budha dan pengertian, apakah tidak pantas diberi ucapan selamat?" tanya Pek-jin Taysu.

Ci-liong-ong menggelengkan kepala:

"Taysu mulai menghitung nasib dari wajah lagi!" Pek-jin Taysu tertawa kecut:

"Siancai... Siancai "

Bok Touw-toh tertawa dan tersenyum: "Menurut Suhu hanya Toa-suheng yang berjodoh dengan Budha, benar-benar tidak salah!"

Ci-liong-ong tertawa kecut:

"Ini bukan hal baik, dari awal aku tidak ada hati mengarah kepada Budha, masuk Bu-tai-san merupakan kesalahan besar!"

"Kalau Toa-suheng tidak berjodoh dengan Budha, tapi berhati Budha pasti ada!"

"Kalau aku tidak masuk neraka, siapa yang akan masuk neraka?" tanya Bok Touw-toh.

Ci-liong-ong tertawa terbahak-bahak, Wan Fei-yang dalam iringan gelak tawa mereka sudah melayang menjauh.

0-0-0

Gunung dan hutan lebat, lembah yang terpencil.

Karena terpencil maka dinding batu itu terjaga dengan baik hingga sekarang, dinding yang penuh lumut setelah dibersihkan oleh Sat Kao lumutnya tidak ada lagi, huruf- huruf yang terukir di sana jadi sangat jelas terlihat.

Sat Kao sangat menghormati dinding batu itu, seperti benda keramat dan suci, setelah dia menguasai ilmu lweekang iblis yang terukir disana, dia tetap merawat dinding batu itu dengan baik, begitu ada waktu segera dibersihkan.

Melihat dinding itu dirawat sedemikian rupa, Wan Fei- yang sangat mengerti isi hati Sat Kao. Dia merasa ragu-ragu tapi akhirnya tetap menjulurkan tangannya menekan dinding itu, tenaga dalamnya sudah disalurkan.

Huruf-huruf yang diukir di dinding seperti bernyawa, mereka seperti ingin meloncat keluar dari dalam dinding, tapi mereka juga seperti menahan kesedihan luar biasa dan berusaha meronta-ronta.

Wan Fei-yang tidak membaca huruf-huruf itu sebab dia tidak mengerti, hanya tahu kalau huruf-huruf yang diukir di dinding itu mengenai ilmu lweekang Mo-kauw. Setelah 3 kali menyalurkan tenaga dalamnya, akhirnya dia melepaskan tangannya dan melayang mundur, kemudian huruf-huruf yang ada di dinding segera terkelupas selembar demi selembar lalu hancur berantakan di bawah, kecuali dewa kalau tidak, tidak mungkin bisa membuat pecahan batu itu utuh kembali seperti aslinya.

Wan Fei-yang melihat semua itu, dia terharu dan mengerti, orang yang mengukir huruf-huruf di dinding sudah berjuang keras, tapi dia lebih mengerti bila ilmu iblis ini dipelajari oleh orang lain, bagaimana akibatnya?

Waktu itu dia mendengar suara baju ter-sampok angin, tapi dengan cepat menghilang, dia pura-pura tidak mendengar juga tidak menggeser kakinya.

Akhirnya orang itu sudah tidak sabar lagi, sambil menarik nafas dia keluar dari balik semak-semak, ternyata dia adalah orang tua berambut pirang yang tadi menyerang Wan Fei- yang dengan senjata api.

Semua sudah dalam perkiraan Wan Fei-yang, kalau tidak, dia tidak akan tergesa-gesa datang kemari untuk menghancurkan dinding itu.

Dengan bahasa Han yang kaku, orang tua itu berkata: "Aku sudah berusaha, tapi tetap saja terlambat olehmu,

aku tidak sempat mencatat ukiran yang ada di dinding juga tidak sempat menghalanginya, aku memang belum tentu bisa menghalangimu."

"Apakah kau tahu yang telah kau lakukan? "Ini adalah hal yang baik, paling sedikit kita bisa mengobrol!" jawab Wan Fei-yang.

"Karena sudah menemukan, maka aku datang melakukannya!" kata Wan Fei yang lagi sambil menggoyangkan kepalanya.

"Sayang, dinding yang didambakan seluruh kalangan persilatan hancur di tanganmu," orang tua itu menghela nafas, "kalangan persilatan Tionggoan memang punya ego yang tinggi!"

"Kau salah!" Wan Fei-yang tertawa, "aku hanya mengerti racun dan jahatnya ilmu iblis ini!"

"Apakah karena sudah menciptakan seorang musuh kuat bagimu?"

"Sebab bila ingin menguasai ilmu iblis ini membutuhkan tenaga dalam dan harus dibantu dengan banyak tenaga dalam dari pesilat-pesilat tangguh. Sedangkan tenaga dalam yang mereka miliki didapatkan dengan berlatih susah payah, kalau dihisap habis maka orang itu akan menjadi orang cacat kemudian mati!"

"Mungkin dengan waktu yang singkat ini, kau belum mempunyai waktu untuk mengerti keadaan sebenarnya," katanya lagi

"Aku mengerti!" orang tua berambut pirang itu menarik nafas, "hanya sayang, penemuan Sat Kao yang begitu penting ini tidak dikabarkan, kalau tidak, semuanya tidak akan terjadi seperti ini!"

"Karena dia sendiri pun tidak yakin, begitu dia yakin, nyawanya sudah berada di ujung tanduk!"

"Semua masalah di dunia ini selalu seperti itu, sulit jika ingin mendapatkan keduanya dengan sempurna, tindakan Beng To pun tidak direncanakan terlebih dulu, sampai kami tidak tahu menahu tentangnya, begitu mendapatkan berita aku buru-buru datang kemari tapi keadaan sudah seperti ini!" orang tua berambut pirang itu tertawa lemas.

"Sepertinya dunia persilatan Tionggoan belum waktunya musnah!"

"Mengapa semua orang tidak mau hidup dengan damai?"

"Berhasil menaklukkan sesuatu merupakan kegembiraan yang tidak terlukiskan juga mulia, apa lagi bagi kehormatan suku!"

Hati Wan Fei-yang bergetar, masalah ini belum pernah terpikirkan olehnya. Orang tua berambut pirang itu melihatnya tiba-tiba tertawa:

"Sepertinya kau bukan orang jahat, malah terlalu baik, tapi ini bukan hal yang baik!" dia tertawa lagi, "orang baik umurnya tidak akan panjang, kalimat ini kalian sering mengucapkan-nya!"

"Aku hanya ingin hatiku tidak menyesal!"

"Apakah benar kau tidak menyesal?" orang tua berambut pirang itu balik bertanya.

*** BAB 16

Wan Fei-yang terdiam, hatinya menjadi tidak tenang, dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana menjawabnya. Kata orang tua berambut pirang itu lagi:

"Hal yang dilakukan oleh orang baik pasti hasilnya juga baik, tapi hal baik itu mempunyai batasan seperti apa? Kau boleh berpikir-pikir dulu, apakah karena hatimu yang baik pada akhirnya malah membuat dirimu celaka?"

Hati Wan Fei-yang serasa tenggelam, jangan jauh-jauh, masalah Tong Ling dan Pei-pei, bukan-kah mereka meninggal gara-gara dirinya yang berbaik hati?

Orang tua berambut pirang itu seperti bisa membaca pikirannya, dia tertawa lagi:

"Langsung atau tidak langsung sama saja telah membunuh, tidak ada perbedaannya, benar atau salah, baik atau jahat, tidak ada orang yang bisa membedakannya dengan jelas, paling sedikit sampai sekarang aku belum pernah bertemu dengan orang seperti itu!"

"Aku hanya orang biasa!"

"Apakah kau yang mengaku sebagai orang biasa bisa mengubur semua masalah?" tanya orang tua berambut pirang itu, "tampaknya pengetahuanmu tidak luas!"

"Inilah hal yang paling kusesalkan!"

"Aku tidak bisa membedakannya!" orang tua berambut pirang itu tertawa:

"Ini bukan hal yang buruk, kenyataan membuatku bosan untuk membedakannya!"

Dari kata-katanya, bisa ditangkap kalau dia orang yang sangat pandai bicara, juga mengerti mengenai perbedaan. Tanpa menunggu Wan Fei-yang menjawab, dia melanjutkan lagi:

"Sebenarnya aku bukan orang picik seperti yang kalian kira, aku adalah orang yang berprinsip, paling sedikit orang yang mengenalku selalu berkata demikian!"

Wan Fei-yang terdiam, orang tua berambut pirang itu meneruskan:

"Tapi waktu itu aku sudah tidak tahan dan terpaksa menembakmu!"

"Mungkin Beng To satu-satunya harapan kami, Sat Kao tidak salah memilih, orang itu memang berbakat, hanya saja semua tindakannya tidak terencana, mencari orang seperti itu memang tidak sulit, tapi dari mana bisa mencari lagi ilmu silat ini?"

Orang tua itu melihat serpihan batu dinding, wajahnya terlihat seperti kehilangan:

"Kau harus mengerti isi hatiku!"

Wan Fei-yang mengangguk, kata orang tua itu lagi:

"Ilmu silat Tionggoan memang misterius, walau pun terlihat seperti akan terjadi di penghujung, tapi di saat yang menegangkan mujizat muncul."

"Karena nafas dunia persilatan Tionggoan belum habis..." "Aku percaya!"

"Tapi sayang, kalian tidak kompak." "Kami akan kompak dan bersatu!"

"Apakah harus ada pelajaran berat yang kalian alami dulu?" orang tua berambut pirang itu tertawa, "Ini bukan hal yang menggembirakan, lebih baik menghindari hal ini!"

Wan Fei-yang mengangguk, orang yang baru datang dari luar pun bisa melihat masalahnya di mana, tapi orang dunia persilatan Tionggoan sendiri seperti masih bermimpi. Kalau hal ini bukan hal yang menggelikan, itu benar-benar hal menyedihkan.

Orang tua berambut pirang itu tertawa lagi:

"Sayang, kami yang sudah tua ini sudah tidak tertarik terhadap perebutan kekuasaan dunia persilatan Tionggoan, katanya orang yang sudah tua biasanya keras kepala tapi mengerti bagaimana merebut kekuasaan dunia persilatan Tionggoan, tidak penting tapi tetap mengijinkannya!"

Tiba-tiba Wan Fei-yang bertanya:

"Apakah kalian benar-benar mengerti?"

"Itu sebabnya mengapa kami sudah lama tidak muncul di dunia persilatan Tionggoan."

"Pemuda-pemuda kalian sedang melakukan apa?" "Mereka melakukan hal yang mereka anggap berarti,

misalnya mengubah lingkungan hidup, yang sudah ada diteliti lagi untuk diperluas, seperti senjata api ini."