-->

Istana Hantu Jilid 03

Jilid 03

Mendengar kata-kata perempuan itu, nampak wajah si nenek yang sudah penuh kerut merut itu bertambah mengerut dan menampakkan roman yang menyedihkan. Ia menarik napas dalam-dalam dan berkata dengan suara pelan,

“Nasibku juga lebih buruk dari padamu Niocu. Kau sebenarnya masih muda, masih banyak harapan di kemudian hari…..! Akan tetapi aku ini…… sebentar lagi....... ya tinggal menunggu waktu saja untuk masuk ke liang kubur.”

“Popo tentu riwayat hidupmu sangat menarik sekali. Maukah kau ceritakan padaku Popo?” tanya lagi Pei Pei.

“Kalau kau mau mendengar riwayat hidupku, marilah kita masuk ke dalam, Niocu, tak baik berdiam di tempat ini. Angin sangat kencang, sebentar lagi salju akan turun dan tempat ini akan menjadi dingin seperti es.

“Baiknya mari kita ke dalam saja, di situ tempat tinggalku Niocu. Mari kita masuk, tak baik di sini bagi kesehatanmu!” ajak si nenek menunjuk sebuah gua tidak begitu jauh dari tempat itu.

Yang membuat Pei Pei heran, dengan sekali menekan tanah, tubuh nenek itu sudah mumbul dan mencelat ke dalam gua seperti terbang saja. Padahal kakinya yang buntung sebatas dengkul itu tidak menginjak tanah. Sungguh luar biasa!!!

Diam-diam Pei Pei girang hatinya. Nenek itu bukan manusia biasa rupanya, tentunya ia mempunyai kepandaian yang tinggi pula, pikir Pei Pei sambil berjalan masuk ke dalam gua. Tanpa takut-takut atau ragu-ragu dia memasuki gua itu dengan berjalan perlahan-lahan ke dalam.

Ternyata gua itu mempunyai terowongan yang tidak begitu gelap seperti yang dilihatnya dari luar tadi. Ia masuk terus dan setelah berjalan ada seratus tindak, ia tiba di sebuah ruangan yang cukup lebar dan berbentuk empat persegi. Di atas sebuah batu yang sudah licin, nampak olehnya si nenek duduk di situ dan menggapaikan tangannya memanggil.

“Niocu, masuklah……. inilah tempat tinggal kita!”

“Popo tempat apakah ini?” tanya Pei Pei meneliti ruangan itu. Kagum sekali hatinya melihat batu-batu marmar yang tertimbun dengan rapih dan bersih.

Seluruh dinding kamar ini terbuat dari batu pualam yang dapat memantulkan cahaya sehingga nampak ruangan di sini tidak terlalu gelap, apalagi ditambah oleh cahaya matahari menerobos masuk lewat sebuah lubang seperti jendela, membuat kamar ini terasa nyaman. Dan waktu ia melongok keluar lewat jendela yang terbuat dari batu, alangkah indahnya pemandangan di luar sana itu.

Jauh menjurus di depannya terdapat sebuah jurang yang amat dalam dan ditutupi kabut, di sebelah kiri terdapat sebuah lereng yang ditumbuhi oleh pohon-pohon dan rumah-rumah penduduk yang dari sini kelihatannya amat kecil berkotak-kotak sedangkan di sebelah kanan terdapat sebuah aliran sungai yang kelihatannya kecil melingkar-lingkar seperti ular. Entah sungai apa yang panjang itu, ia menjadi kagum sekali.

“Itulah lereng pegunungan Ta-pie-san, Niocu, dan sungai Sin-kiang dapat kau lihat dari sini melingkar-lingkar seperti ular dan yang berkotak-kotak itu adalah dusun Ang-hwei yang terkenal di sepanjang sungai Sin-kiang.”

“Pemandangan yang indah sekali,” sela Pei Pei, lalu ia menghampiri si Nenek dan duduk di batu yang di sebelahnya.

Terasa dingin sekali batu hitam ini. Pandangannya menyapu keadaan di sekitar kamar. Ia melihat sebuah peti hitam dan sebuah pedang nampak tergantung di dinding kamar. Pei Pei ingin bertanya, akan tetapi didengar Nenek itu berkata,

“Dulu, tempat ini adalah pertapaan dari Manusia setengah Dewa yang bernama Sui-kek Siansu. Akan tetapi setelah penyerbuan orang-orang kang-ouw yang mencari-carinya, sehingga Sui-kek Siansu…… rupanya tak betah tinggal di sini lagi kemudian lenyap entah kemana perginya.”

“Sui-kek Siansu? Siapa dia Popo?” tanya Pei Pei tertarik. Dan memandang peti hitam itu.

“Sui-kek Siansu adalah seorang ahli silat yang maha sakti di jaman kerajaan Cin. Ia adalah bekas panglima perang yang paling lihai ilmu perangnya, sehingga pada penyerbuan para suku bangsa Naiman yang pada waktu itu lebih besar dari suku bangsa Mongol dan menundukkan kerajaan Cin, panglima besar yang dulunya bernama Kok Ciang Tay-ciangkun, mengamuk dan hebat sekali, akibatnya…… Lebih duaribu suku bangsa Naiman habis dibunuh oleh panglima itu……. Kemudian entah bagaimana setelah kerajaan Cin diduduki oleh suku bangsa Mongol, Tay-ciangkun melenyapkan diri, dan sejak itu tidak pernah lagi didengar namanya.

Sepuluh tahun kemudian muncul seorang manusia yang amat sakti bernama Sui-kek Siansu. Tak banyak tahu aku akan riwayatnya setelah itu karena buku sejarah yang pernah kubaca dan kini tersimpan dipeti hitam itu tidak habis kubaca seluruhnya karena banyak sekali kata-kata huruf kuno yang tidak kumengerti banyak.

“Akan tetapi perlu kau ketahui Niocu bahkan tempat tinggal Sui-kek Siansu ini, lihatlah di sekelilingnya penuh dengan ukiran gambar-gambar orang bersilat yang kurasa ditulis oleh manusia setengah dewa itu. Aku hanya baru tiga bagian saja yang pernah kupelajari mengingat usia yang sudah hampir masuk kubur, untuk apa kupelajari sampai tamat, maka itu hanya tiga bagian saja aku mengerti.

“Kemarilah Niocu, perhatikanlah dinding kamar ini.......” kata nenek itu menunjuk ke dinding sebelah kirinya.

Pei Pei dengan hati tertarik mengusap-usap dinding yang terbuat dari batu marmer. Dan benar saja, di setiap dinding tertera gambar-gambar orang sedang berlatih silat.

Tahulah Pei Pei sekarang, pantesin Nenek ini kelihatannya mempunyai kepandaian tinggi. Tidak tahunya Nenek itu mempelajari tiga bagian dari gambar-gambar ini. Hebat!

“Kalau tidak salah......” berkata lagi si Nenek, “Gambar-gambar yang terukir pada dinding-dinding itu adalah sebagian dari ciptaan ilmu silat Sui-kek Siansu yang bernama Thian-te Bu-tek-cin-keng, ilmu silat yang merupakan pusaka dari Manusia Setengah dewa itu!”

“Hebat.......!” Pei Pei memuji. Ia sendiri sebenarnya tidak mengerti ilmu silat. Akan tetapi sifat kegagahan dari ayahnya menurun.

Perempuan muda itu tertarik sekali dan mengusap-usap tangannya pada dinding batu itu sehingga gambar-gambar yang tadinya kurang jelas tertutup abu kini bertambah nyata dan terang dan huruf-huruf yang terdapat di bawahnya, dapat dibaca oleh Pei Pei.

Akan tetapi begitu ia teringat akan Nenek yang kedua kakinya buntung dan belum tahu siapakah nenek itu, maka buru-buru ia berkata sambil menghampiri tempat duduk pada sebuah batu hitam di sebelah kiri si Nenek.

“Popo…… sebetulnya siapakah Popo ini dan bukankah Popo berjanji untuk menceritakan riwayatmu pada saya?” tanya Pei Pei kemudian.

“Namaku Bong Kwi Nio, seorang pelayan.......” Demikian Nenek itu bercerita dan memperkenalkan namanya.

Pei Pei duduk di sebelah kiri si Nenek sambil memandang wajah yang sudah amat tua itu dan yang mendatangkan rasa iba dihatinya. Dan ia memasang telinganya mendengar cerita Nenek yang bernama Bong Kwi Nio yang katanya cuma sebagai seorang pelayan saja.

Benarkah Bong Kwi Nio ini hanya sebagai seorang pelayan? Dan siapakah dia sesungguhnya? Untuk mengetahui riwayat Nenek ini, baiklah kembali mengenang masa limapuluh tahun yang lalu.

<>

Pada masa itu adalah masa jaya pemerintahan kerajaan Beng-tiauw yang dikuasai oleh bangsa Mongol, jaman keemasan dimana bangsa Mongol dipimpin oleh seorang pemimpin besar yang bernama Jenghis Khan, kerajaan Mongol. Dengan amat cepatnya mulai menjelajahi wilayah Tiong-goan. Kotaraja sudah ditaklukkan dan dipegang oleh seorang kaisar keturunan Han, meskipun kota raja pada waktu itu telah dalam jajahan bangsa Mongol namun pemerintahan tetap dipegang oleh orang-orang Han dalam awasan Mongolia.

Pada jaman itu yang menjadi kaisar adalah raja muda Yung Lo, orang Han yang paling pintar memegang tampuk pemerintahan sehingga meskipun dalam jajahan Mongol, namun di bawah pimpinan Kaisar Yung Lo yang cerdik dan bijaksana, terasa sekali oleh rakyat betapa tenteram dan damai hidup bangsanya. Makanan berlimpah-limpah didatangkan dari negeri Mongol dan Afganistan. Ke dua suku bangsa ini saling menukar kebudayaan masing-masing sehingga Tiongkok jajahan Mongol pada waktu itu mengalami jaman keemasan.

Rakyat hidup makmur, berlimpah sandang dan pangan! Siapakah yang tidak akan bahagia hidup dalam jaman seperti ini? Raja muda Yung Lo terkenal sekali dan dipuji-puji oleh bangsanya, suku bangsa Han.

Kaisar Mongol sendiri yakni Jenghis Khan pernah memberikan tanda jasa kepada raja muda itu. Di mana-mana rakyat memujinya. Rakyat hidup tenteram dan damai, bukankah itu yang menjadi tujuan setiap negara, walaupun kendati negaranya dalam jajahan sekalipun? 

Namun di antara ribuan rakyat Tionggoan yang memuja-muja raja muda Yung Lo ini, bukan sedikit ada di antara mereka yang menaruh iri hati dan cemburu atas kemajuan raja muda itu. Apa lagi pembesar-pembesar di Kotaraja sudah barang tentu menjadi kekie bukan main atas pengawasan yang ketat dari kaisar Yung Lo sehingga bagi mereka tidak ada lagi kesempatan untuk korupsi dan menggendutkan perutnya.

Karena inilah mereka itu tidak puas sekali akan pimpinan yang bijaksana dan jujur dari Kaisar, sehingga dengan diam-diam mereka ini mulai menjalani aksi menentang. Dan baru mereka ini menyatakan tindakan yang terang-terangan setelah datangnya pemberontakan-pemberontakan dari bangsa Han yang tak puas negaranya dalam jajahan.

Bertahun-tahun lamanya pemberontakan berlangsung dan pada akhirnya Kaisar Yung Lo membunuh diri dengan sebilah pedang kerajaan di atas puncak gunung Tay-san. Kaisar ini merasa sedih dan kecewa akan pemberontakan yang bodoh dan mudah saja ditunggangi oleh beberapa golongan yang sengaja mendesas desuskan bahwa mereka tidak sudi selalu di dalam jajahan. Negara Tiong-goan (Tiongkok pedalaman) harus berdiri sendiri dan tidak dalam jajahan orang lain!

Akan tetapi di antara para pembesar yang kontra terhadap Raja muda Yung Lo, ada juga di antaranya pembesar-pembesar yang setia kepada Raja muda itu, di antaranya para pembesar Tan Kay Beng atau biasa dikenal dengan sebutan Tan-tayjin. Orang inilah yang paling setia.

Dan pada waktu pemberontakan terjadi dan kaisar Raja muda Yung Lo melarikan diri, pembesar ini pula yang dapat menyelamatkan peta rahasia peninggalan harta kerajaan dan disimpannya baik-baik. Akan tetapi entah siapa yang memberitahukan tentang peta itu, sehingga orang orang jahat yang menghendaki pusaka peninggalan Raja Muda Yung Lo mulai mendatangi Tan-tayjin.

Orang-orang jahat yang berkepandaian itu, pada suatu malam menyerbu rumah Tan-tayjin. Membunuh Tan-tayjin beserta seisi rumahnya.

Namun peta pusaka Raja Muda Yung Lo tidak dapat mereka ketemukan. Tentu saja peta itu, sudah siang-siang telah dibawa lari oleh pelayan Tan-tayjin yang bernama Kwi Nio!

Pelayan yang tua ini lalu menyembunyikan diri di sebuah dusun di kaki Ta-pie-san bertahun-tahun lamanya sedangkan peta itu sudah dibakar habis. Namun kaisar baru, mendengar berita ini, segera mencari Bong Kwi Nio dan menghukumnya dengan membuntungi kedua kakinya dan kemudian dilemparkan ke jurang maut di atas puncak gunung Ta-pie-san!

Akan tetapi karena nyawa masih betah tinggal di dalam tubuh Bong Kwi Nio, pelayan itu tidak mati jatuh ke jurang malah secara kebetulan jatuh ke tempat tanah datar yang penuh dengan pasir-pasir halus. Sehingga pada waktu tubuh Bong Kwi Nio terbanting jatuh, ia hanya jatuh pingsan saja berhari-hari dan nyawanya tertolong!

“Demikianlah Niocu, sampai sekarang ini limapuluh tahun sudah…... aku masih hidup! Malah secara kebetulan sekali aku jatuh ke tempat ini dan menemukan tempat pertapaan Sui-kek Siansu dan telah mempelajari pula sedikit ilmu silatnya dari dinding-dinding di kamar ini......”

Berkata demikian Nenek itu menarik napas panjang dan memandang Pei Pei dengan kuatir, “Celaka Niocu....... rupanya nasibmu sama denganku. Kita di sini akan terkubur hidup-hidup, bagaimana ini?”

“Apa? Terkubur hidup-hidup…… apa maksudmu Popo?”

“Sudah tentu kita akan dikubur hidup-hidup karena tiada jalan bagi kita untuk kembali ke dunia ramai……. Niocu....... oh, kasihan sekali nasibmu….. Mengapa kau harus mempunyai nasib seperti aku terkubur hidup-hidup di sini….. Niocu, kau….. kau….. ahhh bagaimana ini?” Tiba-tiba Nenek itu menangis sedih.

Mendengar kata-kata si Nenek barusan, baru teringatlah ia sekarang bahwa dirinya berada di tempat yang terpisah oleh dunia ramai. Tak mungkin dia kembali ke dunia ramai, karena tempat ini…… dikelilingi oleh jurang yang amat curam dan lebar, dan penuh dengan tebing-tebing tinggi! Tak ada jalan keluar!

Untuk naik keluar dari jurang itu, biarpun orang memiliki kepandaian tinggi, kalau dia tidak bersayap, tak mungkin dapat keluar dari tempat ini. Jangan keluar dari lereng ini tidak ada karena lereng itu dikelilingi oleh jurang-jurang yang amat curam.

Pendeknya, tempat ini merupakan neraka yang memisahkan Pei Pei dan Bong Kwi Nio dari dunia luar. Tak ada jalan keluar bagi mereka yang jatuh ke tempat ini!

Pei Pei menjadi bingung dan baru sekarang dia menyadari bahwa ia terjatuh ke tempat yang merupakan petaka baginya.

Didengarnya nenek itu menangis dan telah memeluknya sambil mengguguk. “Aduh Niocu…… kau akan terkubur di tempat ini, ya Tuhan....... bagaimana ini…... Kalau bayi di dalam perutmu itu lahir….... ia pun akan….. akan….. ohh……”

Pei Pei terharu sekali melihat perhatian nenek ini terhadapnya, maka iapun telah memeluk nenek itu dan menenangkan hatinya, “Popo….... apakah tidak ada jalan ke luar diri sini?”

Nenek itu menggelengkan kepala. “Tidak ada harapan Niocu….. tempat ini terpisah dari dunia luar, tak mungkin kita ke luar dari tempat ini….... Ahh kasihan sekali kau Niocu, tadinya aku….. bagi diriku yang sudah tua ini tidak mengapa tinggal di tempat ini, aku memang sedang menanti kematian di sini, akan tetapi kau….. Niocu kau masih begini muda…... dan bayi itu…….”

Teringat kandungannya Pei Pei menjadi gelisah. Ia tahu bahwa dia bakal melahirkan dan kalau tidak bisa keluar dari sini.

Celaka! Ia akan mati bertiga terkubur hidup-hidup di sini…… o, tidak! Tak boleh anakku terkubur, tak boleh ia mati. Uuuh…. ugg uhh, saking bingungnya Pei Pei menangis tersedu-sedu di pangkuan si Nenek.

“Popo…... bagaimana ini…., tolonglah saya Popo, untuk anakku ini.......! Ia, kelak kalau ia lahir, ia harus menemui ayahnya Tiang Le koko……ooohhh!”

“Niocu…… Kasihan sekali kau nak……” Tangan si nenek mengelus rambut Pei Pei.

Dielus begini dengan kasih sayang oleh si nenek Bong Kwi Nio, bertambah deras air mata Pei Pei!

“Apakah tidak ada harapan untuk kita keluar dari sini Popo?” tanya Pei Pei setelah tangisnya reda.

Bong Kwi Nio memandang perempuan muda itu dengan rasa kasih sayang kemudian menggelengkan kepalanya: “Sudah limapuluh tahun aku di tempat ini Niocu, sedemikian lama itu sampai sekarang belum kuketahui jalan keluar…… Tempat ini benar-benar tertutup Niocu, kita……. kita…..”

“Oooohhh!!” Saking hebatnya tekanan batin yang dialami oleh Pei Pei mengingat keadaannya yang seperti di neraka ini akhirnya ia jatuh pingsan di atas batu di dalam pelukan Bong Kwi Nio!!!

◄Y►

6

Setelah melakukan perjalanan berminggu-minggu, akhirnya Tiang Le dan Bwe Lan sampai di kaki gunung Tiang-pek-san yang tinggi dan penuh dengan hutan belukar liar. Karena bukit ini sukar sekali didaki, karena tidak ada jalan maupun lorong menuju ke atas, maka dengan menggunakan gin-kangnya yang tinggi, Tiang Le menggendong Wang Ie berlompatan dari jurang ke jurang dengan diikuti oleh Bwe Lan sehingga kedua orang itu merupakan bayangan yang berkelebat ke sana kemari dengar gesitnya melompati jurang-jurang yang curam dan lebar.

Kalau mereka tidak memiliki gin-kang yang sempurna akan berbahaya sekali melakukan perjalanan seperti ini. Sekali saja kaki terpeleset dan terjungkal masuk jurang, tak ada ampun lagi, jiwa akan melayang dan tak dapat diharapkan lagi untuk hidup!

Hutan yang penuh dengan jurang-jurang yang curam dan lebar ini merupakan bagian Pegunungan Tiang-pek-san di sebelah Barat Daya dan merupakan daerah yang jarang sekali diinjak oleh kaki manusia. Sebetulnya Tiang Le tahu jalan-jalan yang mempunyai lorong yang terus menembus ke puncak, yaitu melalui arah selatan, akan tetapi sangat jauh sekali dari sini dan memakan waktu yang cukup lama. Oleh sebab itulah sengaja Tiang Le memotong jalan melalui arah Barat Daya sehingga perjalanan dapat dipercepat dan dua jam kemudian Tiang Le bertiga telah sampai di puncak pegunungan Tiang-pek-san!

Sungguh indah sekali pemandangan di tempat ini. Sinar matahari bersinar lemah di sebelah Timur Laut mendatangkan warna yang indah mentakjubkan karena sinar matahari yang bersinar lemah menembus halimun yang sudah mulai menurun.

Melihat bahwa mareka sudah sampai di atas puncak gunung, segera bocah dalam gendongan Tiang Le merosot turun dan berlari-lari menghampiri sebuah bangunan tua yang menjulang tinggi. Itulah markas partai Tiang-pek-pay.

Akan tetapi pandangan Tiang Le dan Bwe Lan yang sudah terlatih dan tajam dari kejauhan sudah terlihat olehnya dua orang kakek duduk berhadapan di serambi muka di bawah sebatang pohon siong yang besar yang terdapat di depan rumah itu.

Ketika Tiang Le dan Bwe Lan mendekat, ternyata kedua orang kakek itu sedang enak-enak bermain catur. Keadaan kedua kakek yang sudah amat tua sekali usianya itu, sangat aneh sekali dan tidak pernah dikenal oleh Tiang Le dan Bwe Lan.

Yang seorang adalah seorang tua yang berusia sedikitnya tujuhpuluh tahun usianya, bertubuh kurus tinggi dan rambutnya yang putih sebatas pundak itu beriap-riapan. Berpakaian seperti seorang pertapa, terbuat dari kain putih sederhana dan bersih. Sambil duduk ia memperhatikan papan caturnya, sering menggaruk-garuk kepala seakan-akan di atas kepalanya banyak terdapat kutu rambut yang gatal.

Juga kakek yang seorang lagi tak kalah anehnya. Usianya juga hampir sebaya dengan kakek di depannya, berpakaian sederhana pula seperti pakaian yang biasa dipakai oleh seorang nelayan, di atas kepalanya terdapat topi pandan yang lebar.

Wajahnya meskipun meskipun sudah kelihatan tua akan tetapi kocak seperti kanak-kanak. Apalagi waktu kakek itu melirik ke arah biji-biji catur dihadapannya. Mata yang masih bening tajam itu persis sekali seperti mata kanak-kanak yang jenaka, sedangkan mulutnya yang sudah penuh kerisut-kerisut itu mengoceh terus panjang pendek:

“Haayaa…. Seng Thian Toyu, hari ini kau mesti mengaku kalah terhadapku, lihat rajamu sudah terkurung oleh perdana menteriku yang perkasa, hendak melarikan diri ke mana rajamu....... haa…... haa!!”

“Tunggu dulu Lojin, rajaku tidak gampang menyerah kalah, ia masih bisa bertindak ke kiri bukan??”

“Yaa, coba-cobalah asal jangan membunuh diri saja dan mati konyol, haaa....... haa!” Suara kakek pertapa itu keras dan nyaring menyatakan kegirangan hati sambil memperhatikan terus sang perdana menterinya yang mengurung raja.

“Rajaku bukan seorang pengecut Seng Thian Toyu, naaah........” dia menghindarkan diri ke kiri, sambil berkata demikian kakek yang berpotongan seperti seorang nelayan itu menggerakkan sang raja mundur ke kiri melenyapkan diri dari ancaman sang perdana menteri lawan yang menyekak.

Untuk beberapa lama, si kakek pertapa termenung sejenak setelah sang raja berlindung di balik prajuritnya. Ia bisa saja makan pion itu akan tentu saja di bunuh oleh Raja yang bersembunyi di balik perajuritnya.

Rugilah ia kalau kematian prajurit lawan ditukar oleh perdana menteri yang perkasa ini. Maka sebab itu diurungkannya untuk mencaplok perajurit dan berdiam diri mengawasi biji-biji caturnya mencari siasat lagi.

Kedatangan Bwe Lan, Tiang Le dan muridnya tidak diperdulikan oleh kakek aneh itu.

Tiang Le dan Bwe Lan yang berpandangan tajam dapat mengetahui siapa kedua orang kakek ini. Ia tidak mengenal kakek pertapa itu, akan tetapi ia pernah melihat kakek yang berpakaian nelayan. Pernah ia bertemu sekali di pulau bidadari dan malah pernah menolongnya juga dari ancaman Bu-tek Sianli dan kawan-kawannya.

Memang kakek yang mempunyai mata kocak seperti mata kanak-kanak itu adalah Koay Lojin. Orang tua aneh yang berilmu tinggi dari Fu-niu-san. Sedangkan kakek pertapa itu adalah Seng Thian Taysu saudara seperguruan dari mendiang Swie It Tianglo di puncak pegunungan Hong-san.

Seperti telah dituturkan dalam cerita Pendekar Lengan Buntung, Seng Thian Taysu ini adalah saudara seperguruan dari mendiang Swie It Tianglo, guru Tiang Le atau tepatnya ketua partai Tiang-pek-pay. Akan tetapi ketua Tiang-pek-pay ini binasa oleh Sianli Ku-koay, Te Thian Lomo dan Bong Bong Siangjin.

Dan semenjak itu, hancurlah partai Tiang-pek-pay, ke lima orang murid mendiang Swie It Tianglo tercerai berai, hanya seorang saja yang bernama Song Cie Lay yang dapat bertemu dengan Seng Thian Taysu dan diambil sebagai muridnya, akan tetapi iapun tertawan di lembah Tai-hang-san oleh tentara Mongol (baca Pendekar Lengan Buntung).

Mengenal bahwa seseorang diantara kedua kakek itu adalah Koay Lojin, yang pernah diketemuinya. Maka Tiang Le dan Bwe Lan berlutut di hadapan ke dua orang tua itu sambil katanya: “Bukankah locianpwe ini adalah Koay Lojin dari Fu-niu-san yang terkenal berkunjung ke Tiang-pek-san?”

Setelah menggerakkan biji caturnya ke depan Koay Lojin menoleh dan tertawa girang:

“Bagus Tiang Le….. kau telah datang. Sengaja memang kami menantimu di puncak ini. Eh, toyu, dia ini murid ketiga mendiang Swie It Tianglo yang telah menggemparkan dunia persilatan belum lama ini…... ha-ha-ha!

“Tiang Le sicu, kesempatan ini menggirangkan hatiku untuk bermain-main sebentar denganmu dan kepingin sekali ku menyaksikan kelihaian ilmu silat buntungmu yang kabarnya telah mengobrak abrik Sian-li-pay dan antek-anteknya.

“Hayo, layani barang beberapa jurus!” Sambil berkata demikian Koay Lojin bangkit berdiri dan meraih dayung besarnya yang terletak di sampingnya.

“Locianpwe, aku yang muda tidak berani berlaku kurang ajar. Dan maaf kami terlambat datang ke puncak ini hingga tidak dapat menyambut jiwi locianpwe sebagaimana mestinya,” sahut Tiang Le mengangkat tangan kirinya menjura.

“Kau murid Swie It Tianglo, bagus…… aku juga kepingin ngerasain kelihaian Tok-pik-kiam-hoat. Eh Tiang Le, hayo cabut pedang buntungmu dan layani aku!” berkata pula Seng Thian Taysu yang tertarik akan kedatangan pemuda lengan buntung yang dikabarkan orang telah menggemparkan dunia persilatan.

Memang sudah lajim pada masa itu, para orang tua gagah paling gatal tangan apabila mendengar seorang yang masih begini muda akan tetapi telah menggemparkan dunia persilatan, apalagi orang muda itu buntung lengannya. Sungguh merupakan kejadian yang menggirangkan bagi kedua orang tua ini untuk mencobanya. Kalau belum mencoba, rasanya masih penasaran.

Mendengar perkataan Seng Thian Taysu tadi yang tahu-tahu telah mencabut pedang yang berkilat-kilat tertimpah cahaya matahari itu, Tiang Le yang tidak pernah bertemu dengan orang tua ini menjadi heran datang-datang hendak mengujinya. Maka dengan menjura sekali lagi pemuda itu berkata,

“Maaf, siaute yang bodoh dan kurang pengalaman tidak mengenal Totiang yang gagah, entah siapakah totiang ini?”

“Ha-ha-ha!” Koay Lojin dengan mata yang kocak melirik ke arah Seng Thian Taysu dan tertawa mengejek, “Salahmu sendiri! Taysu selalu menyekap diri saja di gunung sehingga murid mendiang Swie It Tianglo tidak mengenal engkau, dasar engkau yang tolol……, eh, Tiang Le sicu, locianpwee ini adalah susiokmu, karena dia adalah sute dari mendiang gurumu Swie It Tianglo dari Hong-san!

“Maaf, teecu yang bermata buta ini tidak mengenal susiok Seng Thian Taysu dari Hong-san. Apakah selama ini susiok baik-baik saja?”

Tentu saja Tiang Le sering kali mendengar nama susioknya di masa suhunya Swie It Tianglo masih hidup. Akan tetapi karena memang ia tidak pernah bertemu dengan Seng Thian Taysu, tentu saja Tiang Le tadinya tidak mengenal, bahwa pertapa dihadapannya ini adalah susioknya. Segera saja Tiang Le berlutut dengan diikuti oleh Bwe Lan dan muridnya.

“Bangunlah Tiang Le dan siocia ini siapakah??” tanya Seng Thian Taysu menatap tajam ke arah Bwe Lan yang tengah tunduk.

“Susiok, nona ini adalah Liang Bwe Lan, murid Bu-tek Sianli…..”

“Apa....... kau murid Bu-tek Sianli si nenek jahat itu??”

Tahu-tahu Koay Lojin menggerakkan dayungnya menghantam kepala Bwe Lan. Suara angin mengaung waktu dayung yang besar dan berat itu menyambar angin karena dengan miringkan sedikit kepala Bwe Lan telah dapat menghindarkan diri dari sambaran dayung Koay Lojin.

“Locianpwee tahan!!!” Tiang Le sudah melompat bangun dan berdiri di depan Bwe Lan mengangkat tangan kirinya berkata: “Harap locianpwe tidak memusuhi Bwe Lan ini. Memang ia dulunya adalah muridnya Bu-tek Sianli, akan tetapi sekarang tidak lagi, malah hampir saja ia dibunuh oleh gurunya karena menolong teecu…... Dan karena ia selalu dimusuhi oleh gurunya maka teecu sengaja membawanya ke sini!!”

Untuk sesaat ke dua kakek itu tidak bergerak, hanya memandang Bwe Lan dengan tajam. Kemudian Koay Lojin berkata: “Hm!! Benar juga Tiang Le sicu. Gurunya jahat belum tentu muridnya juga jahat. Eh nona kau maafkan aku yang tua ini.......”

“Tidak apa locianpwe, malah seharusnya aku yang muda inilah yang harus minta maaf kepadamu, karena aku telah lancang ke sini mengganggu permainan catur kalian yang mengasyikkan itu,” sahut Bwe Lan.

Pada saat itu Wang Ie telah mendatangi tempat itu sambil membawa beberapa buah yang masak-masak dan lezat nampaknya karena kulitnya yang kuning kemerah-merahan itu menandakan bahwa buah-buah itu matang di atas pohon. Bocah ini begitu tadi dilihatnya di depan rumah itu banyak sekali pohon-pohon buah yang masak-masak dan lezat, terus saja memanjat dan memetik buah ang-co dan membawanya kepada mereka yang sedang berdiri berhadapan.

Waktu Koay Lojin menoleh dan melihat buah-buah yang masak di tangan bocah itu keruan saja ia tertawa girang dan menggapaikan tangannya.

“Bagus, kebenaran sekali perut kita sedang keroncongan semenjak pagi belum makan. Eh, bocah bagilah aku satu!” Akan tetapi belum lagi si bocah menghampiri tahu-tahu dua buah ang-co telah terbang melayang ke tangan si kakek dan terus saja menggerogotinya dengan enak.

“Wah, Lojin kau memang rakus……, minta satu ambil dua…... ha-ha-ha........” Seng Thian Taysu juga berkata dan menghampiri Wang Ie mengambil sebuah dari tangan si bocah itu.

“Memang sudah semenjak pagi tadi kita belum makan apa-apa! Permainan catur ini membuat kita lupa makan........” katanya lagi.

Sambil makan buah, kedua kakek itu memandang kepada Tiang Le:

“Kalau belum mencoba kepandaianmu, aku belum puas!” menyahut Koay Lojin.

“Tiang Le, kau hebat. Sepak terjangmu di pulau bidadari telah menggemparkan dan aku telah mendengarnya ini. Kau hebat, kalau seandainya suheng Swie It Tianglo masih hidup, tentu ia akan bangga mempunyai murid seperti engkau lihainya.......!” menyambung Seng Thian Taysu.

“Siauwte yang bodoh mohon petunjuk Susiok,” kata Tiang Le.

“Sebelum aku memberi petunjuk. Ingin kusaksikan dulu pedang buntungmu. Hayo cabut pedangmu dan layani aku!”

“Teecu tidak berani berlaku kurang ajar susiok!”

“Lihat serangan!” kata-katanya itu ditutup oleh gerakan pedang yang memutar dan telah menyerang Tiang Le dengan hebat.

“Toyu, jangan borong sendiri….. aku juga ingin merasainya!” Koay Lojin berkata mengirim terjangan dayungnya yang amat berat dan besar.

Suara angin berciutan waktu dayung di tangan Koay Lojin menyambar-nyambar. Sementara pedang Seng Thian Taysu berkelebat-kelebat laksana kilat menyambar.

Kedua orang kakek itu benar-benar menyerang Tiang Le dengan gerakan-gerakan yang hebat dan kuat. Mereka ini sudah mendengar kelihaian pemuda lengan buntung, maka mereka kini tidak sungkan-sungkan lagi melancarkan serangan-serangan maut ke arah Tiang Le yang sudah didengar kelihaiannya, kini benar-benar mereka dihadapkan oleh kenyataan yang sebenarnya.

Sampai duapuluh jurus mereka bertempur mendesak Tiang Le, namun pemuda ini hebat bukan main. Gerakan-gerakan kaki pemuda buntung itu luar biasa sekali cepat dan anehnya. Inilah gerak langkah-langkah ajaib yang bernama Ji-cap-it-sin-po.

Koay Lojin menjadi gemas sekali dan kagum setelah beberapa lama belum juga dapat menjatuhkan Tiang Le yang benar-benar memiliki ilmu silat yang tinggi. Baru saja hanya dengan tangan kosong mereka belum dapat mengalahkan pemuda apa lagi kalau pemuda buntung ini menggunakan pedangnya.

Sungguh luar biasa. Pada hal pemuda itu dikeroyok oleh dua orang yang sudah mencapai tingkat tinggi ilmu silatnya.

Seng Thian Taysu adalah seorang pertapa di puncak Hong-san yang berilmu tinggi, dan telah menciptakan ilmu pedang yang disebut Cap-ji Liong-sin-kiam-hoat atau duabelas jurus ilmu pedang naga sakti. Sedangkan Koay Lojin bukanlah orang sembarangan, dia itu adalah kakek dari Fu-niu-san yang telah menciptakan ilmu tongkat yang disebut Fu-niu-san-tung-hoat yang hebat bukan main. Kini menghadapi Tiang Le, mereka menjadi kagum dan heran!

Merasa bahwa pemuda lengan buntung ini benar-benar lihai, tiba-tiba Seng Thian Taysu, merobah gerakan pedangnya. Ia mainkan jurus-jurus terlihai dari Cap-ji-liong-sin-kiam-hoat yang jarang digunakannya itu.

Dan sambil berseru keras tiba-tiba ia merobah gerakan pedangnya yang digunakan untuk menyerang sambil melompat ke atas. Gerakan ini memang hebat dan tidak terduga sama sekali, dan ketika Tiang Le mencelat pula ke atas mengirim serangan tangan kiri dengan gerak tipu Elang Sakti Menyambar Mangsa.

Tangan kiri Tiang Le bagaikan geledek mengibas ke arah datangnya sabetan pedang Seng Thian Taysu. Sementara kedua kakinya menendang dayung di tangan Koay Lojin.

“Duukk sing…… sing!” Pedang di tangan Seng Thian Taysu tergetar akibat benturan angin kibasan lengan baju tangan kirinya Tiang Le, sedangkan dayung di tangan Koay Lojin mental oleh sepakan ke dua kaki kanan dan kiri Tiang Le waktu di udara.

“Bagus Tiang Le, pergunakan pedangmu!” Di antara gulungan sinar pedang, Seng Thian Thaysu berteriak keras menyuruh pemuda lengan buntung itu menggunakan pedang.

“Benar Tiang Le sicu, sekarang kau perlihatkanlah pedang buntungmu supaya hati kami dapat puas dan senang!” berkata pula Koay Lojin menyambung.

Kini ia telah melemparkan dayungnya yang tadi terpental oleh tendangan Tiang Le dan telah mencabut tongkat kecilnya yang terselip di pinggang. Sekarang ia mainkan Fu-niu-san-tung-hoat dengan hebat dibantu oleh tongkat kecilnya yang terbuat dari cabang pohon yang luar biasa alot dan kuatnya.

Tadinya Tiang Le segan untuk menarik pedang, akan tetapi setelah mendengar kata-kata Seng Thian Taysu dan Koay Lojin barusan. Dan merasa bahwa kedua orang kakek ini tidak begitu mudah untuk dirobohkan maka dengan bentakan keras tahu-tahu pedang di tangan kiri Tiang Le dan berkelebat menangkis pedang Seng Thian Taysu.

“Tranggg!!” Hebat sekali benturan ke dua pedang itu. Bunga api memercik keras dan tahu-tahu Seng Thian Taysu berseru kaget mengetahui pedangnya sudah somplak terkena benturan pedang buntung Tiang Le. Matanya yang tajam ke arah pedang buntung di tangan pemuda itu dan berseru heran,

“Liong-cu-kiam?”

“Maaf susiok, tidak sengaja pedangku ini merusak pedang susiok,” sahut Tiang Le mengetahui pedang susioknya menjadi somplak oleh benturan pedang tadi.

“Pedang pusaka buntung yang luar biasa,” Koay Lojin juga berseru kagum dan mendesak dengan tongkatnya.

Kini menghadapi tongkat Koay Lojin yang kadang-kadang lunak dan kadang-kadang keras seperti baja, pedang di tangan Tiang Le tidak dapat merusak tongkat yang alot dan kuat itu. Maka setelah merasa cukup lama dia melayani kedua orang tua aneh ini, maka tiba-tiba Tiang Le menggunakan jurus terlihai dari Tok-pik-kiam-hoat.

Dan kembali Koay Lojin dan Seng Thian Taysu dibuat kaget oleh tipu silat ilmu pedang yang aneh ini, dan untuk kedua kalinya Koay Lojin mengelak dan menghindarkan luncuran pedang di tangan Tiang Le yang bergerak dari atas merupakan sambaran yang hebat bagaikan burung garuda menerjang dari angkasa. Akan tetapi Koay Lojin mengelak dan menghindarkan luncuran pedang, tahu-tahu tangan kiri Tiang Le telah menyelipkan pedangnya dan membalas dengan serangan gerak tangan kilat yang penuh hawa sin-kang tinggi.

“Dess!” Tubuh Koay Lojin tergetar hebat.

Sebaliknya Tiang Le terhuyung-huyung dan cepat-cepat ia bersila mengerahkan hawa sin-kang karena merasa dadanya tergetar akibat benturan dengan tongkat si kakek Koay Lojin.

Setelah beberapa menit rasa sesak di dadanya lenyap, cepat-cepat Tiang Le berdiri dan menjura ke arah Koay Lojin.

“Locianpwe yang tua sungguh lihai, aku yang muda mengaku kalah!”

“Ha-ha-ha, Tiang Le, bukan engkau yang kalah melainkan aku inilah yang harus mengakui keunggulanmu. Hemm, sungguh Pendekar Lengan Buntung bukan nama kosong belaka. Toyu aku mengaku kalah oleh murid Swie It Tianglo dan mengakui berdirinya partai Tiang-pek-pay atas pimpinan pemuda lengan buntung ini. Selamat tinggal!”

Berkata demikian sekali menggerakkan tubuhnya tahu-tahu Koay Lojin telah lenyap dari tempat itu dan hanya terdengar suaranya, “Toyu, sampaikan pesanku kepada Tiang Le!”

“Ha-ha-ha Koay Lojin, sampai kita bertemu kelak……!” berkata Seng Thian Taysu mengirim suara jarak jauh sehingga sehabis itu, orang tua itu berkata kepada Tiang Le,

“Kau hebat Tiang Le. Kelihaian ilmu pedang buntungmu sukar sekali mendapat tandingan pada masa kini. Entah dari mana kau mendapatkan ilmu pedang yang luar biasa itu!”

“Teecu mendapatkan dari sebuah kitab, Susiok. Akan tetapi teecu tidak mengetahui kitab apa namanya!” kata Tiang Le menceritakan pengalaman-pengalaman hidupnya kepada Seng Thian Taysu.

Diceritakan pula betapa ia pernah bertemu dengan Song Cie Lay, suhengnya. Akan tetapi sejak pertempuran dengan perwira-perwira Mongol di lembah Tai-hang-san itu, sejak itu tidak pernah ia ketemuinya lagi.

Ia menjelaskan pula tentang matinya sumoay Sian Hwa waktu melerai perkelahian antara Bwe Hwa dengan Kong In. Kong In juga mati di tangan Bu-tek Sianli sedangkan Bwe Hwa sumoaynya pergi entah ke mana.

“Demikianlah susiok, sampai sekarang ini teecu tidak pernah lagi berjumpa dengan Cie Lay dan Bwe Hwa,” demikian Tiang Le menutup ceritanya.

T'entu saja kepada susioknya ini ia sama sekali tidak menceritakan tentang hubungannya dengan Bwe Hwa sehingga gadis itu pergi dan tak muncul lagi. Sedangkan tentang suhengnya yang bernama Song Cie Lay itu ia tak tahu kemana perginya!

“Kalian memang muridya Swie It Tianglo! Yang aneh Tiang Le, karena hanya tinggal kau seorang yang telah kembali ke Tiang-pek-san maka aku bermaksud untuk meminta kesediaanmu untuk melanjutkan cita-cita mendiang gurumu mendirikan partai Tiang-pek-pay.

“Aku sudah berunding dengan Koay Lojin dan menyatakan pengangkatan ketua ini atas pundakmu, karena hanya kepadamulah yang boleh diandalkan tentang kelangsungan partai Tiang-pek-pay yang sudah runtuh ini. Bersediakah kau Tiang Le?”

“Memang maksud teecu ke puncak ini adalah hendak mendirikan kembali Tiang-pek-pay. Mohon petunjuk susiok, apa yang harus teecu lakukan, karena dalam soal ini teecu masih bodoh dan kurang pengalaman,” sahut Tiang Le.

“Tentu saja aku akan memberikan petunjuk kepadamu Tiang Le. Marilah kau ikut aku ke dalam. Di dalam telah menanti anak buah Tiang-pek-pay yang dulu masih dapat menyelamatkan diri dan sekarang bersedia menggabungkan diri kembali. Marilah Tiang Le!” Ajak Seng Thian Taysu mempersilahkan pemuda lengan buntung itu memasuki ruang dalam.

Tiang Le dan muridnya dengan diikuti Bwe Lan memasuki ruangan dalam yang ternyata di situ ada kira-kira duapuluh orang bekas anggota Tiang-pek-pay yang sempat melarikan diri dan tidak binasa. Tentu saja Tiang Le menjadi girang sekali dan mengenal orang-orang ini.

Maka bagitu ia sampai di ruang dalam segera ia mengangkat tangan kirinya menjura hormat. Akan tetapi ia menjadi kaget ketika ke duapuluh orang yang sudah tua-tua itu berlutut di depannya.

“Pay-cu.......!”

Keruan saja Tiang Le menoleh kepada Seng Thian Taysu.

“Mereka sudah kuberitahukan bahwa engkaulah pengganti mendiang Swie It Tianglo,” bisik Seng Thian Taysu perlahan.

“Saudara-saudara bangunlah. Aku Sung Thiang Le tidak patut mendapat penghormatan secara ini,” berkata Tiang Le mengangkat bangun seorang tua yang berlutut paling depan dihadapannya.

“Selamat datang Pay-cu. Sudah lama kami menanti-nantikan kedatanganmu,” berkata orang itu dengan ramah dan hormat.

Tentu saja Tiang Le mengenal orang tua yang tidak lebih berusia hampir limapuluh tahun, tubuhnya agak kurus dan bongkok. Berpakaian sederhana berwarna putih dan ikat pinggang merah. Orang tua ini bernama A Toan yang berhasil membujuk limapuluh orang-orang Tiang-pek-pay dan mengungsikan diri pada waktu kemunculan Bong Bong Sianjin dan dua orang kawannya yang lihai!

Sengaja memang Swie It Tianglo menyuruh A Toan membawa ke limapuluh orang teman-temannya untuk turun gunung, karena ia tahu bahwa kemunculan Bong Bong Sianjin merupakan kehancuran partainya. Dan ia tidak mau mengorbankan banyak anak buahnya, sebab itulah ia menyuruh A Toan pergi dan sejak itu tercerai berailah anggota Tiang-pek-pay.

Ada yang setia kembali ke puncak dan mengurus makam gurunya yang telah binasa di tangan musuh. Ada pula sebagian yang tidak kembali ke puncak dan berdiam di pantai menjadi nelayan, dan ada juga yang menjadi piauwsu dan pada waktu kedatangan Seng Thian Taysu dua hari yang lalu hanya ada sekitar duapuluh orang saja yang kembali ke puncak!

“Toan-lopek….., syukur bahwa kalian sehat-sehat saja di tempat ini dan manakah saudara-saudara kita yang lainnya?” tanya Tiang Le menyapa orang-orang yang berdiri di depannya.

A Toan menjura, “Pay-cu, mareka ini adalah yang masih setia akan Tiang-pek-pay dan telah berjanji untuk kembali ke sini, sedangkan banyak saudara-saudara yang lain belum kuberitahukan tentang pengangkatan ketua baru!”

“Heeemmmm, tidak apa. Sebuah partai tidak perlu banyak anggotanya. Akan tetapi, kesetiaan itulah syarat utama.

“A Toan dan kawan-kawan sekalian, aku tidak berkeberatan kalian angkat menjadi ketua. Memang tadinyapun aku bermaksud ke tempat ini untuk mendirikan Tiang-pek-pay. Siapa kira belum apa-apa susiok mengangkatku menjadi ketua……”

“Pay-cu, sekarang marilah kita adakan acara pengangkatan ketua. Di ruang belakang kami sudah sedia memasang meja sembahyang di depan makam suhu Swie It Tianglo. Mari kita ke ruang belakang Pay-cu!” berkata A Toan.

Tiang Le, Bwe Lan dan Wang Ie mengikuti mereka ke ruang belakang. Ternyata di ruang belakang terdapat sebuah bong-pay batu nisan yang terawat baik. A Toan dan orang-orang itulah yang merawatnya dengan setia.

Dan pada batu di depan nisan mendiang Swie It Tianglo itu telah tersedia pula makanan dan kertas sembahyang yang terletak di atas meja sembahyang di depan sebuah nisan. Sampai di tempat ini ke duapuluh orang anggota Tiang-pek-pay berlutut di depan meja sembahyang diikuti pula oleh Tiang Le dan Bwe Lan, sedangkan Seng Thian Taysu hanya berdiri menundukkan kepala seperti orang mengheningkan cipta.

Lalu ada seperempat jam kemudian terdengar Seng Thian Taysu membuka suara,

“Suheng Swie It Tianglo, aku di sini menyaksikan kehadiran seorang muridmu yang bernama Sung Tiang Le dan disebut orang Pendekar Lengan Buntung. Karena hanya ia seorang di antara ke lima muridmu yang telah kembali pulang ke puncak gunung, maka atas persetujuan murid-muridmu yang lain di bawah saksi A Toan, telah mengangkat pemuda lengan buntung ini untuk meneruskan cita-citamu memimpin partai. Sekarang kupersilahkan muridmu ini menghadap dan bicara di depanmu!”

Kemudian dengan gerak tangannya, ia mempersilahkan Tiang Le berlutut di depan meja sembahyang. Tiang Le menggeser berlututnya dan merangkak ke depan. Lalu dengan suara yang perIahan dan jelas berkatalah,

“Teecu Sung Tiang Le menghadap. Kiranya suhu memperkenankan teecu dan memberikan kekuatan lahir dan bathin untuk meneruskan cita-citanya suhu mendirikan partai Tiang-pek-pay!”

“Tiang Le, berjanjilah bahwa kau akan setia terhadap partai!” terdengar Seng Thian Taysu berkata dengan suara yang setengah berbisik, akan tetapi jelas terdengar di telinga Tiang Le sehingga orang muda lengan buntung yang berlutut itu berkata:

“Teecu berjanji akan setia terhadap partai dan untuk ini mempertaruhkan nyawa teecu demi bakti terhadap Tiang-pek-pay.”

Demikianlah, setelah Tiang Le bersumpah di depan batu nisan mendiang Swie It Tianglo dan memasang hio, ia lalu menerima pedang Tiang-pek-kiam yang diserahkan oleh A Toan kepadanya. Sebetulnya pedang itu adalah milik mendiang Swie It Tianglo yang dititipkan pada A Toan, Gurunya itu pernah memesan,

“Bawalah pedang ini A Toan, simpan baik-baik. Kalau aku binasa kau pergilah dengan pedang ini. Hanya kepada ke lima orang murid-muridku itulah kugantungkan harapan.

“Barang siapa di antara mereka yang telah kembali ke Tiang-pek-san dan menggantikan kedudukanku, kau serahkanlah pedang ini kepadanya sebagai lambang pimpinan!”

Dengan terharu Tiang Le menerima pedang itu. Setelah pengangkatan ketua diresmikan dan mereka satu persatu bersembahyang di depan meja sembahyang. Maka pada hari itu juga, Tiang Le membuat papan nama bertulisan:

“Tiang Pek Pay”

Cuma seminggu Seng Thian Taysu tinggal di atas puncak Tiang-pek-san. Dan pada keesokan harinya berangkatlah tosu Hong-san kembali ke tempat pertapaan dan sebelumnya mereka berpesan kepada Tiang Le:

“Kau pimpinlah partai ini sebaik-baiknya dan hindarkan dari yang jahat. Ingat bahwa kebesaran partai bukan hanya tergantung dari banyaknya murid akan tetapi kesetiaan itulah yang utama. Hati-hati kau memilih murid Tiang Le.

“Kulihat muridmu yang masih kecil itu berbakat sekali dan mempunyai jiwa murni. Didiklah ia!

“Oya Tiang Le, nona Bwe Lan cocok sekali untuk menjadi isterimu. Jika kau tidak keberatan, terimalah dia sebagai isterimu. Upacara pernikahan tidak perlu mewah-mewah Tiang Le, cukup disaksikan oleh para anggota dan bersembahyang dimakam gurumu. Kapan kau menikah dengannya kau beritahukanlah padaku, sudah lama sekali aku tidak mengecap arak pengantin….. ha-ha-ha!”

Mendengar kata-kata susioknya ini, keruan saja muka Tiang Le menjadi merah dan Bwe Lan tertunduk, akan tetapi diam-diam gadis ini menjadi girang dan bahagia. Dari kerlingan matanya ia melirik Tiang Le menanti reaksi pemuda itu!

“Susiok, tentang perjodohan....... teecu yang muda hanya mohon petunjukmu……” akhirnya Tiang Le berkata pelan. Akan tetapi membuat debaran hebat di dada Bwe Lan. Ia masih tertunduk malu.

“Ha-ha-ha jadi……. kau setuju kawin dengan nona Bwe Lan, Tiang Le?”

Tiang Le melirik Bwe Lan yang tertunduk. “Moay-moay....... sukakah kau....... kau....... eh menjadi isteriku?”

“Wah, wah bukan begitu caranya Tiang Le, masa bertanya blak-blakan begitu. Mana nona Bwe Lan mau menjawab. Kau ini bagaimana sih, nanti kau bicarakan di tempat tertentu. Eh, pokoknya…... kalau memang jadi kawin dengan nona Bwe Lan ini, jangan lupa loh, kartu merahnya. Aku berada di Hong-san.”

“Oya, Tiang Le, bulan depan puncak pegunungan Tay-san akan ramai sekali dikunjungi oleh tokoh-tokoh dunia persilatan untuk mencari pusaka peninggalan Sui-kek Siansu. Kalau kau berminat datanglah ke sana sekedar meluaskan pergaulanmu di dunia kang-ouw. Kabarnya mereka mencari peta “Gua Hantu”.” Sehabis berkata Seng Thian Taysu meninggalkan puncak Tiang-pek-san dengan diantar oleh Tiang Le, Bwe Lan dan muridnya hingga di bawah gunung Tiang-pek-san.

<>

Demikianlah sejak kedatangan Sung Tiang Le, partai Tiang-pek-pay berdiri kembali. Para anak murid yang tadinya tercerai berai kini kembali lagi ke puncak. Sehingga dalam waktu yang singkat anak murid Tiang-pek-pay sudah bertambah duapuluh lima orang.

Tiang Le melatih mereka dengan ilmu silat tinggi dibantu oleh Liang Bwe Lan yang menurunkan ilmu bermain tongkat dan sabuk sutera kepada murid-murid Tiang-pek-pay sehingga dalam waktu kurang lebih lima bulan kepandaian anak murid Tiang-pek-pay sudah meningkat tinggi dan merupakan partai persilatan yang cukup terkenal seperti Kun-lun-pay, Hoa-san-pay, Bu-tong-pay dan yang lainnya. Nama Pendekar besar Sung Tiang Le mulai disegani oleh banyak orang-orang kang-ouw dan mendapat tempat yang sejajar dengan para orang-orang gagah dan disegani oleb kawan dan lawan!

Dua bulan yang lalu, Tiang Le telah melangsungkan pernikahan dengan Liang Bwe Lan amat sederhana sekali serta pernikahan yang berlangsung di puncak Tiang-pek-san itu. Hanya dihadiri oleh Seng Thian Taysu, Koay Lojin dan beberapa para penduduk di kaki gunung Tiang-pek-san.

Acara pernikahan itu hanya berlangsung di depan meja sembahyang dan disaksikan oleh Koay Lojin dan Seng Thian Thaysu. Sungguh suatu pernikahan yang sederhana akan tetapi membawa kebahagiaan di hati kedua orang muda itu.

Bwe Lan dan Tiang Le merupakan pasangan yang cocok dan ideal. Betapa tidak, memang sudah lama Bwe Lan mencintai Tiang Le dan sebaliknya walaupun mulanya Tiang Le belum menaruh cinta kepada Bwe Lan, akan tetapi karena ia merasa sudah merasa berhutang budi banyak kepada gadis yang berkali-kali pernah menolongnya ini maka pada akhirnya Tiang Le mengambil Bwe Lan sebagai isterinya.

Pada suatu hari Tiang Le duduk hersama Bwe Lan di muka halaman gedung Tiang-pek-pay. Pada waktu itu murid-muridnya tengah berlatih di ruang lian-bu-thia di belakang.

Seperti biasa sehabis memberi petunjuk kepada murid-muridnya, Tiang Le melepaskan lelah di depan gedungnya ditemani oleh Bwe Lan yang selalu mendampingi. Mereka memandang jauh, mengawasi awan berarak yang beterbangan menipis. Sementara matahari pagi mengusap punggung bukit merupakan pancaran sinar hangat yang membersit melenyapkan embun-embun yang masih menempel di daun-daun.

“Koko…..!” Panggil Bwe Lan sambil mendekatkan duduknya agak merapat dengan suaminya.

Mendengar panggilan Bwe Lan yang begitu mesra dan manja Tiang Le menoleh. Memandang isterinya. Kemudian membersitkan sebuah senyum hangat.

“Kau hendak berkata apa Lan-moay?”

Akan tetapi Bwe Lan tertunduk, pada wajahnya kemerah-merahan segar merupakan sebuah wajah yang manis dan menggairahkan.

“Koko aku….. aku hendak mengatakan sesuatu kepadamu….. akan tetapi........ malu ahh!”

Tiang Le mengusap pipi sang isteri, menengadahkan dan mereka saling berpandangan. Dua pasang mata saling merenggut, saling mengajuk satu dengan yang lain. Kemudian Tiang Le lah yang tertunduk.

Entah mengapa, mata Bwe Lan sama benar dengan mata Bwe Hwa sumoaynya. Mata itu bening dan tajam berkilat-kilat penuh gairah cinta. Teringat akan Bwe Hwa, Tiang Le merenung lagi.

Entah mengapa, baru sekarang ia melihat persamaan mata ini. Mata Bwe Lan dan mata Bwe Hwa sangat mirip sekali.

Oleh karena itulah, apabila ia melihat mata Bwe Lan teringatlah ia kepada Bwe Hwa. Dan kalau sudah begitu, nampak pada wajah Tiang Le menyuram dan sayu penuh kabut-kabut yang merisaukan hatinya!

“Kau hendak bilang apa Lan-moay, mengapa sih mesti malu, apa yang hendak kau katakan?” tanya Tiang Le setelah beberapa lama berdiam diri.

“Koko...... kau…… kenapa?” Bwe Lan balik bertanya.

“Apanya?”

“Wajahmu……”

“Wajahku, kenapa dengan wajahku?” tanya Tiang Le mengusap pipinya. Ia kuatirkan kalau-kalau dipipinya ada tanda hitam atau coreng-moreng, maka ia mengusapnya. Akan tetapi bukan itu yang dimaksud Bwe Lan.

“Heran...... wajahmu selalu kusut saja koko sebenarnya apa sih yang kau risaukan?”

“Kau bisa saja Lan-moay!”

“Memang kalau aku dekat denganmu, selalu kau kelihatan kesal saja. Heran…..!” kata Bwe Lan.

“Kesal?”

“Ya, kau kelihatannya kesal dan mukamu murung saja. Koko....... apakah... apakah kau tidak bahagia kawin denganku. Apakah kau..... kau...... tidak cinta padaku??”

“Aku cinta kepadamu Lan-moay. Kalau tidak cinta masakan aku menikah denganmu. Ingat, setiap orang menikah, itu sudah didasarkan suka sama suka, sudah sama-sama saling menyinta. Kenapa kau bisa bilang aku tidak menyintaimu?”

“Siapa tahu kau cuma terpaksa. Perkawinan juga bisa karena paksaan. Aah koko, pokoknya aku heran sekali, kau kelihatannya tidak bahagia denganku. Koko katakanlah terus terang, apakah kau tidak bahagia kawin denganku?” Bwe Lan memandang tajam.

Dipandang seperti ini Tiang Le jadi tertunduk.

“Aku…… aku bahagia sekali Lan-moay. Kau baik sekali, seorang wanita yang berkali-kali telah menolongku dan aku berhutang budi banyak kepadamu........”

“Hmm, budi saja katamu koko. Apakah kau kawin denganku karena aku telah menanam budi kepadamu. Apakah hanya karena budi itu kau mau mengambil aku sebagai istrimu koko, katakanlah!” Berkata begini air mata Bwe Lan bercucuran. Ia berkata tadi dengan mengap-mengap setengah terisak.

Keruan saja melihat isterinya menangis Tiang Le menjadi bingung bukan main. Buru-buru ia memeluk Bwe Lan dan katanya,

“Sudahlah Lan-moay, jangan kau menangis aku memang cinta kepadamu, bukan saja karena budi aku kawin denganmu, bukan hanya karena itu, harap kau tidak salah duga.......”

“Habis, kenapa kau....... kau kalau bicara selalu bilang aku….. aku sudah menolongmu, aku sudah menanam budi kepada dirimu, koko!!”

“Engkau cantik Bwe Lan, engkau baik dan engkau tidak menganggapku hina, malah engkau telah begitu tulus sudah mencintaiku. Bukankah ini merupakan suatu kehormatan dan kebahagiaan mendapat cinta kasih darimu yang cantik jelita, Lan-moay....... Begitukah aku harus menjawab kepadamu?”

Mendengar ini tiba-tiba Bwe Lan tersenyum dalam deraian air mata, yang masih bergelantungan di bulu-bulu mata. Ia kini memandang Tiang Le dengan pandangan mesra dan bibir tersenyum manis.

Sungguh aneh sekali gadis ini, isterinya ini, tadi nangis, eh sekarang tersenyum. Sungguh tak bisa dimengerti hati isterinya ini, pikir Tiang Le yang terus saja membelai rambut isterinya dengan mesra.

“Koko....... sebetulnya……”

“Hmm……?”

“Aku....... aku....... ah malu sekali kukatakan ini, koko biarkanlah nanti juga kau akan mengetahuinya,” berkata Bwe Lan tertunduk.

Tiang Le mengawasi isterinya.

“Kau ini....... lucu Bwe Lan. Berkata saja pakai malu-malu segala, apa sih yang hendak kau katakan?”

“Nggak ah, tak usah ye?”

“Som-som ya, nggak mau bilangin padaku awas!”

“Hi-hi-hi kekie tuh?”

“Nggak........ nggak kekie....... eh, Lan-moay lihat!” berkata demikian Tiang Le telah berdiri dan menengadah ke atas.

“Ada apa sih koko, bikin aku kaget saja,” sahut Bwe Lan mencubit lengan suami nya.

Tiang Le masih memandang ke atas. Dan tiba-tiba Bwe Lan berseru keras:

“Seekor kim-tiauw!!!”

“Burung rajawali emas.......??”

“Koko....... lihat di atasnya itu, bukankah seorang manusia yang duduk di punggungnya itu??” berkata Bwe Lan terkejut.

Belum lagi Tiang Le menyahut tahu-tahu kim-tiauw itu menukik ke bawah dan terdengar suara nyaring dan merdu dari angkasa,

“Tiang Le, kau sambutlah kedatanganku ini.......!!!”

Tiba-tiba terdengar wanita di atas punggung rajawali emas itu bersuit dan tahu-tahu burung rajawali itu telah menukik mencengkeram kepala Tiang Le. Cepat Tiang Le menggeser kakinya meloncat ke belakang sambil menarik tangan Bwe Lan.

Tamparan sayap kiri burung rajawali itu menggeletar menghantam bangku dimana Tiang Le dan Bwe Lan duduk tadi. Suara keras terdengar dan bangku itu hancur berantakan terkena pukulan rajawali yang hebat itu. Bersamaan dengan terdengarnya suara bangku yang hancur tadi, berkelebat sesosok tubuh mencelat dan tahu-tahu telah berdiri di depannya Tiang Le dan Bwe Lan.

Tiang Le terkejut bukan main melihat kedatangan wanita ini. Wanita cantik berpakaian serba putih, rambutnya yang hitam panjang sampai ke pundak. Matanya yang bening berkilat-kilat memandang Tiang Le, kemudian tersembul sebuah senyum.

“Tiang Le…… masih kenalkah kau kepadaku?”

“Kau....... kau Bwe Hwa?” suara Tiang Le terdengar bergetar. Hatinya, entah mengapa tidak keruan rasa. Ia berdiri terpesona memandang wanita yang memang Lie Bwe Hwa adanya.

Dan yang membuat Tiang Le bengong melongong adalah ketika pandangan matanya terbentur pada perut wanita cantik itu. Perut yang membuncit dan menyatakan sebuah kandungan yang sudah bulannya!

“Hi-hik-hik Tiang Le…... koko, kau….. tidak lupa padaku… kau... kau….. masih ingat denganku… hi-hi. Aku Bwe Hwa, isterimu...... koko….. kau ikutlah aku, sebentar lagi aku bakal melahirkan seorang anak dan kau harus menyaksikannya! Hi-hik ini bakal anak kita koko…... anakmu anakku!”

Bagaikan disambar petir, Tiang Le terhuyung dua tindak ke belakang. Pandangannya berkunang-kunang, kepalanya menjadi pening. Kalau seandainya ada geledek yang menggelegar di atas kepalanya belum tentu Tiang Le sekaget ini. Kata-kata Bwe Hwa barusan, merupakan halitintar yang maha dahsyat menghantam kepalanya.

Bwe Lan buru-buru menyanggah tubuh suaminya!

Kasihan sekali Tiang Le. Wajahnya pucat pasi. Tubuhnya agak menggigil dan pada waktu itu wajahnya kelihatan bertambah tua. Dengan terhuyung-huyung TiangLe memandang perempuan muda yang berpakaian serba putih dan menunjuk ke depan dengan gagap.

“Bwe Hwa..... kau… kau mengandung?”

“Karena engkaulah koko aku mengandung. Lihat kandunganku sudah hampir sembilan bulan. Beberapa hari lagi, aku akan melahirkan seorang anak. Koko kau ikutlah aku, kembalilah kepadaku koko........!” tiba-tiba Bwe Hwa menangis memandang Tiang Le.

“Bwe Hwa........ aku….. aku...... ohh........ bagaimana ini?” Tiang Le memegangi kepalanya yang terasa berat bukan main. Ia terhuyung-huyung lagi dan kalau tidak cepat-cepat Bwe Lan menyanggahnya, tentu Tiang Le akan roboh menggeloso di tanah. Bwe Lan cepat-cepat menyambar Tiang Le dan mendudukannya di bangku.

“Koko........ tenanglah........ Kau kenapakah....... Siapakah wanita ini?” tanya Bwe Lan.

“Dia........ dia……”

“Aku adalah isterinya. Dan anak ini adalah anaknya. Kau mau apa? Tiang Le harus ikut denganku sekarang juga, lihat kandunganku!” berkata keren Bwe Hwa sambil menunjuk perutnya yang membuncit. Berjalan menghampiri Tiang Le.

Akan tetapi dengan marah Bwe Lan telah meloncat dan membentak, “Siluman kau sudah miring otak, gila! Bagaimana suamiku kau bilang suamimu. Ia adalah suamiku yang sah. Tidak boleh kau bawa dia!”

“Kau ini siapa?” tanya Bwe Hwa mengerutkan keningnya tak senang.

Mendengar pertanyaan yang aneh ini, keruan saja Bwe Lan menjadi panas dan membentak, “Siluman betina buka telingamu lebar-lebar. Aku adalah isterinya!”

“Ha-ha-ha kau…... isterinya. Keparat kau mengakui Tiang Le sebagai suamimu, mampus kau!” tangan Bwe Hwa mendorong ke depan.

Hebat sekali pukulan jarak jauh ini. Buru-buru Bwe Lan mengerahkan lwekangnya dan membalas mendorong wanita itu. Dua telapak tangan yang sama-sama halus dan kecil beradu.

“Plakk!” tubuh Bwe Lan terlempar jauh.

Pada saat itu terdengar bentakan. “Siluman jahat, jangan mengganggu subo?” Bentakan ini disertai munculnya seorang anak laki-laki kecil berusia empat tahun dan diikuti oleh puluhan anak buah murid Tiang-pek-pay.

“Wang Ie, jangan kurang ajar!” yang berseru adalah A Toan kakek bongkok yang berpengalaman ini tidak mau berlaku semberono, maka ia lantas menjura dan berkata hormat,

“Toanio ini siapakah dan ada keperluan apakah datang ke puncak Tiang-pek-san?”

“Aku adalah isteri Tiang Le,” sahur Bwe Hwa singkat dan menghampiri Tiang Le.

“Hwa-moay…… jangan bertindak demikian, marilah kita bicara baik-baik di dalam. Selama ini aku memang menanti-nantimu Bwe Hwa,” berkata Tiang Le yang telah berdiri dan menghampiri Bwe Hwa pula.

Dua orang muda itu saling berpandangan. Dari pandangan itu Tiang Le dapat melihat betapa perempuan muda di depannya itu jauh lebih kurus dan pucat. Kasihan sekali.

Ia melihat perempuan muda ini, apalagi waktu pandangannya terbentur oleh perut Bwe Hwa yang membuncit. Terasa hati Tiang Le perih bukan main. Ia tahu bahwa anak yang di dalam kandungan Bwe Hwa itu adalah anaknya!

“Tiang Le koko.......” Bwe Hwa menyebutkan nama pemuda itu dengan panggilan mesra dan pelan.

Akan tetapi cukup terdengar oleh Bwe Lan yang berdiri tidak jauh dari tempat itu. Melihat sikap perempuan muda yang bersikap begini mesra, panas sekali rasanya hati Bwe Lan.

Ingin sekali ia menerjang perempuan muda itu dan menempurnya sampai seribu jurus. Akan tetapi melihat betapa sikap Tiang Le juga demikian baik dan mesra kelihatannya Bwe Lan menekan perasaan hatinya yang bergelora, memandang ke arah Tiang Le dan perempuan muda itu.

“Bwe Hwa....... mengapakah baru sekarang kau datang, mengapa kau tidak dulu-dulu. Hwa moay, lama sudah aku mencari-carimu. Selama ini kau dimana saja?” Suara Tiang Le terdengar bergetar penuh perasaan hati.

Tiba-tiba Bwe Hwa menubruk Tiang Le dan menangis dalam pelukan laki-laki lengan buntung itu. Suaranya tersendat-sendat menahan isak.

“Koko….. selama ini aku tak dapat melupakanmu, pernah aku hendak membencimu sejak kita bertemu di pantai itu, akan tetapi koko…… apabila aku melihat kandunganku yang sudah menjadi ini….. aku tak tega untuk memusuhimu, maka itu aku mencarimu dan datang ke tempat ini. Koko, kau kembalilah kepadaku, mari kira pergi koko. Kita tinggal di puncak Rajawali. Kita hidup berdua sambil menanti kelahiran anak kita ini!”

“Bwe Hwa, tak mungkin ini……” Tiang Le menggelengkan kepala. Ia hendak melepaskan pelukan perempuan muda ini, akan tetapi Bwe Hwa tak melepaskan pelukannya. Ia memandang Tiang Le dengan tatapan basah.

“Kenapa tidak mungkin koko?”

Tiang Le menggeleng kepala lagi. Ia tak kuasa untuk menentang tatapan Bwe Hwa yang demikian sandu dan penuh perasaan cinta itu. Hatinya berdebar keras dan bingung.

Andaikan di sini tidak ada Bwe Lan yang telah menjadi isterinya yang sah, tentu ia tidak akan menjadi bingung seperti ini. Tentu ia akan menerima tawaran gadis ini.

Sesungguhnyalah bahwa ia selama ini tidak pernah melupakan Bwe Hwa. Entah mengapa sejak kejadian yang memilukan hati di lembah Tai-hang-san itu dan ditambah lagi peristiwa di pantai Po-hai, ia merasa begitu kehilangan Bwe Hwa.

Begitu merasa bersalah kepada perempuan muda ini, karena ia tahu bahwa perempuan muda itu menderita penyakit kanker dada dan menurut kakek kaki buntung Lim Heng San, usia Bwe Hwa hanya bertahan tinggal beberapa lama lagi. Oleh sebab itulah, entah kenapa mengingat ini, hati Tiang Le begitu berat berpisah dengan Bwe Hwa!

Akan tetapi sekarang, ia sudah diangkat menjadi ketua Tiang-pek-pay, bertanggung jawab atas mati hidupnya partai ini. Apalagi di samping itu ada Bwe Lan isterinya dan muridnya.

Tidak, ia tidak bisa meninggalkan puncak ini. Biar bagaimana pun juga ia tidak bisa berhianat terhadap partai dan mengecewakan hati isteri dan muridnya!

Untuk beberapa lama Tiang Le termenung. Baru ia sadar setelah Bwe Hwa melepaskan pelukannya dan bertanya lagi, “Koko....... bagaimana, kau setujukah untuk pergi bersamaku?”

“Tak mungkin aku ikut bersamamu Bwe Hwa. Tak mungkin!!” Suara Tiang Le pelan sekali.

“Mengapa begitu, koko, mengapa tidak mungkin?? Apakah kau sudah tidak cinta kepadaku lagi koko…... apakah kau sudah melupakanku??”

“Bukan begitu Hwa-moay, bukan aku tidak cinta kepadamu dan….. dan melupakanmu. Sekali-kali tidak karena itu Hwa-moay, kau tahu betapa cintanya aku kepadamu, betapa kasihannya aku kepadamu…....”

“Tiang Le!!” suara itu tergetar hebat.

Tiang Le dan Bwe Hwa menoleh ke kiri dilihatnya Bwe Lan, memandang Tiang Le dengan pandangan berapi-api, “Omongan apa yang kau keluarkan Tiang Le kau……. kau menghianatiku setan!!”

Melihat Bwe Lan sudah naik darah segera Tiang Le menghampiri isterinya itu dan menyentuh pundak isterinya dengan sentuhan pelan dan mesra: “Maafkanlah aku Lan-moay, memang tentang Bwe Hwa aku tidak pernah menceritakannya kepadamu. Sebetulnya dia ini adalah isteriku!!!”

“Apa katamu, kau……??”

Tiang Le tertunduk, ia hendak memberi keterangan kepada isterinya ini, akan tetapi belum lagi ia membuka mulut, tahu-tahu Bwe Hwa sudah menghampirinya dan berkata, “Tiang Le kalau begitu, marilah kau ikut denganku!”

Buru-buru Tiang Le melepaskan pelukannya pada istrinya dan berkata kepada Bwe Hwa, “Sayang sekali Hwa-moay, aku tak dapat mengikutmu....... aku adalah ketua Tiang-pek-pay, dan di samping itu ada istriku Liang Bwe Lan dan muridku Wang Ie, menyesal sekali karenanya aku tak dapat mengikutmu!”

“Jadi....... jadi kau…. tidak bisa ikut denganku, tidak mengakuiku sebagai isterimu?”

“Bukan begitu Hwa-moay. Aku tetap mengakui engkau sebagai istriku…... aku sayang kepadamu, akan tetapi untuk meninggalkan puncak ini, maaf aku tidak bisa.”

Bwe Hwa mundur setindak. Matanya memandang Tiang Le tajam. Tiga butir air mata meloncat lewat pipinya: “Jangan-jangan kau lebih sayang partai dan istrimu yang bernama Liang Bwe Lan itu?”

“Begitulah Hwa-moay.......”

Bwe Hwa menjerit lirih. Sebuah pisau menghunjam hatinya. Jantungnya berdarah seketika. Dirasakannya kepalanya menjadi pening dan berputar-putar! Ia mundur tiga tindak ke belakang, air matanya berderai-derai membanjir lewat pipinya, pandangannya basah menatap Tiang Le dan Bwe Lan berganti-ganti.

Tiba-tiba diantara isak tangisnya itu terdengar suara Bwe Hwa memekik lirih:

“Baik! Kau ternyata lebih sayang kepada partai dan isteri dan muridmu, kau berhati palsu. Awaslah kau Tiang Le…… kelak anak di dalam kandunganku inilah yang akan menuntut balas atas kepalsuan hatimu. Ia akan datang mencari ayahnya, membunuh manusia berhati palsu Sung Tiang Le, menghancurkan Tiang-pek-pay, dan membunuh anak isterimu…… ha-ha-ha!”

“Bwe Hwa.......!!” Tiang Le menjerit menubruk Bwe Hwa dan memeluknya: “Bwe Hwa jangan kau lakukan itu....... Jangan kau suruh anak di dalam kandungan itu menuntut balas....... Ah....... kalau kau merasa benci dan penasaran kepadaku, kau bunuhlah aku……. kau bunuh aku! Hwa-moay....... biar aku mati di tanganmu.......”

“Ha-ha-ha-ha Tiang Le manusia berhati palsu....... kau hendak merayuku lagi, pergilah kau setan jay-hoa-cat!”

Sekali tangan kanan perempuan muda itu bergerak, terdengar suara keras “Plak!” Dan akibatnya Tiang Le terhuyung- huyung ke belakang akibat tamparan yang keras dari tangan kanan Bwe Hwa.

Bwe Lan menjerit dan memeluk Tiang Le.

“Koko.......!”

Lima telapak jari bertanda di pipi laki-laki lengan buntung itu. Melihat pipi suaminya menjadi merah bertanda, Bwe Lan menoleh ke arah Bwe Hwa dan dengan teriakan marah ia sudah menerjang wanita di sampingnya itu.

“Bwe Lan…… jangan kau tempur Bwe Hwa….. jangan kalian berkelahi……” Tiang Le mencegah.

Akan tetapi mana Bwe Lan menghiraukan akan cegahannya. Hatinya yang mendongkol kepada perempuan muda yang berlengan buntung ini, membuat ia tak dapat mengendalikan perasaan hati lagi. Dan telah menerjang Bwe Hwa dengan pukulan yang bertubi-tubi!

Sebentar itu pula, dua orang perempuan muda itu sudah saling serang dengan hebat. Biarpun Bwe Hwa telah kehilangan lengan kirinya, akan tetapi ia masih lihai bukan main.

Ilmu silatnya yang didapat dari Pek-moko tidak mengurangi kelihaian kebuntungan lengan kiri. Ia kini telah mencabut senjata pedang pendek yang melengkung berkilat keputih-putihan tertimpah cahaya matahari.

Inilah pedang iblis yang bernama Pek-hwa-kiam. Dahsyat luar biasa. Tentu saja Bwe Lan tahu bahwa senjata lawannya ini adalah pedang yang ampuh dan ganas, ia kini mengeluarkan sabuk suteranya dan bertempurlah mereka dengan seru dan ramai.

Tiang Le menjadi bingung bukan main. Apalagi melihat pedang ditangan Bwe Hwa yang ganas dan keji hatinya kuatir akan keselamatan Bwe Lan, meskipun ia tahu bahwa Bwe Lan tidak mudah untuk dikalahkan akan tetapi tentu saja isterinya ini kalah tajam senjata. 

Benar saja belum lagi habis dugaannya, tiba-tiba terdengar suara keras kain robek, ternyata sabuk sutera di tangan Bwe Lan sudah robek tersabet pedang Pek-hwa-kiam. Kini dalam kekagetan Bwe Lan tahu-tahu Bwe Hwa sudah menerjang dari atas.

Inilah yang luar biasa, bagaikan terbang saja tubuh Bwe Hwa mencelat ke atas dan tiba-tiba mengirim serangan dari udara. Pedang Putih berkelebat meluncur ke arah kepala Bwe Lan dengan gerakan yang amat cepat sekali!

Melihat serangan yang luar biasa dan tak terduga-duga ini, Bwe Lan menjerit kaget dan hendak membuang diri ke samping, akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan keras dan tahu-tahu pedang di tangan Tiang Le sudah menangkis pedang Bwe Hwa. Dua senjata yang sama-sama ampuh bergetar di atas.

Terasa tangan Bwe Hwa yang memegang pedang tergetar hebat. Buru-buru ia mencelat turun dan begitu dilihatnya yang menangkis pedangnya tadi adalah Tiang Le, berkilat mata itu memandang laki-laki buntung, yang telah berdiri dihadapan Bwe Lan, isterinya.

“Kau.......?” Dada Bwe Hwa berdebar keras turun naik menahan amarah yang bergelora di dada.

Tiba-tiba Bwe Hwa memekik keras dan ia telah muntahkan darah segar. Terhuyung-huyung dengan wajah pucat pasih. Tiang Le cepat memburu Bwe Hwa dan memegang lengan kanan itu.

“Hwa-moay....... kau….. kau....... ahh, kau….. kau tidak boleh marah Hwa-moay....... kau tenangkanlah hatimu…… jangan begini!”

“Minggir kau!” tiba-tiba Bwe Hwa mendorong Tiang Le dan mengelebatkan pedang pendek Pek-hwa-kiam.

Amat cepat sekali gerakan itu, dan Tiang Le menjadi terkejut dan mengegoskan diri ke samping memasang pundaknya terserempet pedang sambil mengerahkan hawa sin-kang.

“Craaaattt!” Darah merah keluar dari pundak laki-laki Lengan Buntung itu.

Tiang Le terhuyung ke belakang memegangi pundaknya yang berdarah. Bwe Lan cepat memburu Tiang Le dan melihat pundak itu berdarah, dengan geram sekali Bwe Lan hendak menerjang Bwe Hwa, akan tetapi terdengar keluhan Tiang Le.

“Lan-moay....... jangan kau serang dia....... ahhh!” Tiang Le memandang memegang tangan isterinya.

Bwe Lan menoleh, “Koko…... biar kuberi hajaran perempuan siluman ini. Setan dia berlaku curang, menyerangmu secara pengecut begitu......”

“Jangan Bwe Lan..... jangan serang dia……. jangan kalian berkelahi! Kubilang jangan……!”

“Mengapa koko....... dia sudah melukaimu!!!!”

“Aku hanya terluka kulit saja Lan-moay, akan tetapi dia itu…... dia tak boleh marah, kalau marah ia akan muntahkan darah Lan-moay…… ah, kasihan sekali hatiku kepadanya!!”

Tiba-tiba Bwe Hwa memekik keras dan mengirimkan terjangan ke arah Tiang Le dan Bwe Lan sekali gus, sementara mulutnya yang berlumuran darah segar itu mengeluarkan bentakan keras: “Aku tidak perlu kasihanmu, mampus kau!!”

Pedang putih itu bergulung-gulung menyerbu Tiang Le dan Bwe Lan. Akan tetapi dengan mudahnya Tiang Le mendorong Bwe Lan dan ia sendiri berkelit, suara pedang berdesing lewat di atas kepalanya.

“Hwa-moay sabarlah, jangan kau menyerang kami!!” Tiang Le berseru lagi.

Akan tetapi pada saat itu, seorang pengemis bongkok telah melompat dan menangkis pedang Bwe Hwa dengan tongkatnya sambil berkata: “Perempuan siluman, jangan ganggu Pay-cu!!!”

“Haa…… haa kakek bongkok, engkau juga harus mampus!” Bwe Hwa membentak dan mengalihkan serangan ke arah diri A Toan. Serangannya yang ditusukkan dari kiri ini demikian cepat sehingga A Toan, yang tidak menduga datangnya serangan dari samping begini cepat, segera ia membuang diri ke belakang berpok-sai tiga kali untuk menghindarkan serangan lawan.

Akan tetapi Bwe Hwa yang sudah dibuat marah dan kecewa ini tidak menghentikan serangannya sampai di situ saja, melainkan mengirimkan kembali tusukan pedang yang tidak kalah dahsyatnya dari serangan pertama tadi. Pedang pendeknya yang mengeluarkan cahaya berkilat-kilat itu menyambar lagi menusuk ke arah dada A Toan.

A Toan yang telah mengetahui betapa lihainya perempuan muda yang tangan kirinya buntung itu, berlaku waspada dan begitu datangnya serangan yang kedua demikian cepat dan kuat, segera ia mengelebatkan tongkatnya memapaki tusukan pedang sambil mengerahkan lwekang di tangan kanan.

“Krakkk!” Betapa kagetnya kakek bongkok ini ketika tongkatnya bertemu dengan benturan pedang yang demikian kuat seperti baja. Ia terkejut sekali melihat tongkatnya sudah patah menjadi dua potong dan belum lagi hilang rasa kaget dan herannya, tahu-tahu sebuah sinar putih berkelebat di sampingnya ke arah leher.

“Mampus kau bongkok tua!” Bentak Bwe Hwa dengan sengitnya menekan sabetan pedang ke arah leher orang tua bongkok itu. Beberapa senti lagi pedangnya hendak memenggal leher itu, tiba-tiba berkelebat sebuah bayangan pedang dan tahu-tahu pedang Bwe Hwa sudah ditangkis oleh pedang pusaka buntung Tiang Le yang sudah mencelat menolong A Toan.

“Hwa-sumoay, jangan kau menyebar kematian di sini!”

Mendengar Tiang Le memanggilnya sumoay, pandangan Bwe Hwa berapi-api menatap Tiang Le. Tahulah ia apa artinya sebutan itu.

Tiang Le hanya menganggap hanya sebagai adik perguruan saja, tidak lebih dari pada itu? Setan! Aku harus mengadu nyawa dengan laki-laki lengan buntung ini, pikirnya.

Ia maju selangkah.

“Bwe Hwa. kalau kau berkeras kepala mengacau di Tiang-pek-san ini. Percayalah, biar sampai mati aku akan membencimu!”

“Memang kau harus mati Tiang Le!”

“Boleh, kau tusukanlah pedangmu. Ini dadaku Bwe Hwa, kau tusuklah. Aku tak akan melawan, akan tetapi jangan kau memusuhi isteri dan murid-muridku!”

“Setan! Kau kira aku takut menghadapimu. Tiang Le lihat serangan!” sambil membentak itu Bwe Hwa menerjang maju mengirim tusukan pedang.

Akan tetapi, Bwe Hwa menjerit ngeri ketika melihat pedangnya benar-benar tertancap di dada itu. Sungguh Tiang Le tidak mengelak akan serangannya. Nampak olehnya laki-laki lengan buntung itu terhuyung ke belakang dan pedangnya masih menancap di dada itu.

“Tiang Le, kau….. mengapa kau tidak mengelak seranganku....... mengapa?”

“Sudah kukatakan aku tak akan melawanmu, Bwe Hwa. Lihatlah betapa dadaku penuh dengan darah….. pedangku masih menancap di dada ini…… begini kejamkah kau terhadapku Hwa-moay? Begitu tegakah engkau hendak membunuhku?”

“Tiang Le koko……. ohhh!” Bwe Hwa hendak menubruk Tiang Le yang terhuyung-huyung hendak jatuh. Akan tetapi Bwe Lan dan murid-murid Tiang-pek-pay sudah menghadangnya.

“Jangan mendekat, tidak boleh kau menyentuh suamiku!” berkata Bwe Lan dengan keren.

Limapuluh lebih anak buah Tiang-pek-pay sudah mengurungnya. A Toan mendekati Bwe Hwa dan terus menjura,

“Niocu, kau pergilah…… ingat ini rumah tangga Tiang-pek-pay, tidak bisa kau bawa Tiang Le Pay-cu begitu saja. Di sini ada lebih limapuluh orang murid dan istrinya yang siap untuk melindungi tindakanmu. Ingat Niocu, seorang wanita terhormat dan mempuyai harga diri tidak akan nanti merebut suami orang menghancurkan rumah tangganya!”

Mendengar perkataan kakek bongkok ini, Bwe Hwa meragu untuk membawa Tiang Le. Ia memandang laki-laki lengan buntung itu. Tiba-tiba ia menangis pelan. Menoleh kepada kakek bongkok dan katanya dengan suara terisak:

“Kau….. Kau betul lopek… memang aku salah.... akan tetapi...... penghinaan ini kelak akan diselesaikan oleh anaknya….... biarlah kali ini aku mengalah.”

Dengan menggerakkan tubuhnya, tahu-tahu Bwe Hwa sudah mencelat ke atas punggung rajawali emas dan tak lama kemudian terdengar suara tawanya yang seperti orang menangis. Suara burung rajawali menggelepar-gelepar di atas, membumbung tinggi, semakin tinggi sehingga merupakan titik hitam di angkasa itu, kemudian lenyap di balik awan-awan!

“Lihai……. dan berbahaya!” Tiang Le berseru dan mencabut pedang pendeknya yang menancap di ketiaknya…….

Karuan saja Bwe Lan dan murid-murid Tiang-pek-pay menjadi heran bukan main. Bukankah tadi mereka melihat betapa dada kiri Tiang Le tertancap pedang hingga mengeluarkan darah? mengapa sekarang mereka melihat betapa bukan dada kiri pemuda itu yang tertancap pedang, melainkan pedang itu yang terjepit di ketiak!

Tentu saja mereka telah dikelabui pandangan matanya oleh laki-laki lengan buntung yang lihay ini. Malah Bwe Hwa sendiripun menyangka pedangnya melukai dada Tiang Le, dan tadi ia sendiri melihat betapa banyak keluar darah yang keluar dari luka itu.

Sesungguhnya tidaklah demikian. Pada waktu pedang Bwe Hwa menyambar, memang sengaja Tiang Le tidak mengelak hanya dengan kecepatan yang luar biasa ia menggeser kakinya dan menjepit pedang itu di ketiaknya. Saking cepatnya gerakan itu hingga orang menduga dada kiri Tiang Le itulah yang tertancap pedang.

Kemudian dengan pandangan matanya, Tiang Le menentang mata Bwe Hwa, mengerahkan ilmu bathin mencipta darah yang membanjir di dada, sehingga bagi pandangan Bwe Hwa pedang itu tertancap di dada Tiang Le dan mengeluarkan darah.

Saking hebatnya ilmu bathin yang dikerahkan oleh Tiang Le ini, sehingga banyak murid-murid Tiang-pek-pay pun kena dikelabuinya. Hanya A Toan dan Bwe Lan saja yang melihat betapa pedang itu hanya terjepit di ketiak Tiang Le!

Setelah Tiang Le melepaskan pedang yang terjepit diketiaknya, ia lalu menyambar tangan Bwe Lan dan Wang Ie memasuki ruang dalam. Sementara A Toan dan murid-murid Tiang-pek-pay kembali ke ruang belakang.

“Tiang Le koko, sebenarnya siapakah wanita itu? Dia bilang……. ia adalah isterimu, benarkah koko?” Tanya Bwe Lan di ruang dalam itu. Biar bagaimanapun juga wanita ini masih cemburu dan tidak enak hati atas kedatangan Bwe Hwa yang mengaku-aku sebagai isteri Tiang Le.

Tiang Le menarik tangan isterinya dan duduklah mereka bertiga. Tiang Le menarik napas panjang, “Dia itu sebenarnya bekas sumoayku sendiri.......” Demikian Tiang Le memulai ceritanya.

Seperti apa yang telah diuraikan dalam bagian depan cerita ini. Begitu pula diceritakan oleh Tiang Le kepada isterinya didengar pula oleh muridnya yang masih cilik, Wang Ie.

“Melihatku dengan Pei Pei di sebuah gua dekat pantai laut itu, ia marah-marah padaku dan hendak membunuhku di sana. Akan tetapi aku dapat mencegahnya, ia lantas pergi!

“Selama itu kami mencari-carinya. Akan tetapi entah ke mana perginya Bwe Hwa, tidak dapat kutemui…... Hari ini siapa sangka ia datang ke puncak dan…… dan yang membuat hatiku risau adalah kandungannya itu…… Biar bagaimanapun jua, anak yang dalam kandungan itu adalah anakku, Bwe Lan……

“Aku kuatir sekali kelak mendapat didikan yang jelek dan akhirnya anak itu memusuhiku, ingatkah kau tadi akan perkataannya? Ahh, Lan-moay, alangkah sedihnya hatiku apabila anakku sendiri memusuhiku……”

Demikian Tiang Le menutup ceritanya sambil menarik napas berat menandakan hati yang resah.

“Koko....... kalau memang kau hendak mengakui anak dalam kandungannya itu, mengapa kau tidak ambil saja perempuan itu menjadi isterimu dan tinggal di tempat ini?” Kata Bwe Lan.