-->

Anak-anak Naga (Liong Haizi) Jilid 8 (Tamat)

Jilid 8 (Tamat)

“benar, apakah mamfaatnya walaupun taihap tahu, bahkan menurut analisa saya, akan menambah masalah bagi keluarga taihap sendiri, sesuai dengan alasan ibu saya mengambil sikap diam, ibuku tidak seperti tiga lao taihap, dan taihap tidak sedikitpun mengenalnya.” tandas Han-fei-lun, Han-hung-fei terdiam, tertunduk sedih, sesal dan malu bercampur aduk. “maaf taihap, aku pamit dulu.”

“lun-ji, sampai saat ini pun kamu tidak memanggilku ayah, walaupun saya dan kamu sama-sama mengetahuinya.” sela Hung-fei dengan mata berkaca-kaca, sedu sedannya naik oleh sedih dan sesal

“maaf taihap, karena tidak ada gunanya selama aku tidak bisa memanggil sebutan itu didepan bibi khu- lian-kim, kami ini adalah aib masa muda taihap yang suram.” tandas Han-fei-lun dan segera keluar dari likoan.

Han-hung-fei sesugukan sehingga menjadi perhatian para tamu, sementara Han-fei-lun menuju kediaman Sam-cu, dikediaman sam-sicu para dedengkot hek-to juga sedang puyeng tujuh keliling

“pak-ki dan tung-ki tidak ada yang datang, ini sama artinya dua wilayah telah lepas.” ujar liang-lo-mo dengan geram

“tidak masalah sukong, kita bisa bentuk lagi panji yang baru, dan setiap pimpinan panji harus menguasai seluruh kota.” sela kwi-ong

“ide itu memang tepat ong-ji, namun ide itu akan terwujud jika kita telah melenyapkan siauw-taihap.” sela Lam-sin-pek

“benar sekali ong-ji apa yang dikatakan su-kongmu, karena siauw-taihap sebentar lagi akan menemui kita disini.” sela Lao-liok

“baguslah kalau dia datang, sehingga kita tidak capek-capek mencarinya.” sela ok-liang “bagaimana suhu, apakah sam-cu akan dapat mengalahkan siauw-taihap?” tanya lao-ngo

“saya yakin dengan mereka kuasainya bun-liong-sian-kiam, siauw-taihap akan modar dikeroyok sam-cu” sahut liang-lo-mo

“saya tidak demikian yakin liang-lo-mo.” sela pek-mou-hek-kwi “kenapa suhu berkata demikian?” sela lao-liok

“kemarin kita sudah menjajal kemampuan siauw-taihap, dia kita keroyok delapan, dan hasilnya kita masih kalah, bahkan lao-ji dan see-hui-kui tewas.” sahut pek-mou-hek-kwi

“saya sependapat dengan pek-mou.” sela lam-sin-pek

“bagaimana dengan bun-liong-taihap lao-si, menurutmu apakah ia akan membantu kita menghadapi siauw-taihap?” sela lao-ngo

“apa maksud ibu, si yaoyan akan membantu kita?” tanya ok-liang heran “apakah ia berada disini lao-si?” tanya lam-sin-pek

“bun-liong-taihap memang disini, dan kami berpisah dengannya di pusat kota.” “kenapa dia bisa berada disini lao-si?” tanya liang-lo-mo

“dia berniat mau menemui sam-cu tentang han-piuawkiok.” sahut Lao-si

“dan hal itu sudah selesai kami sepakati, dan bahkan dia sepertinya menentang niat siauw-taihap.” sela lao-liok

“baguslah kalau begitu, apakah menurutmu dia akan datang kesini?” tanya pek-mou-hek-kwi “saya tidak tahu juga.” sahut lao-si “hmh…jika si yaoyan ikut mengeroyok siuaw-taihap, maka aku yakin sam-cu dan si yaoyan akan dapat membunuh siauw-taihap.” ujar pek-mou-hek-kwi

“dan jika seandainya tidak, bagaimana jika dikeroyok sembilan, apakah kita masih kalah juga?” sela lam- tok

“sembilan orang jika teratur, sangat mungkin mengalahkan siauw-taihap.” sahut Lam-sin-pek

“kalau begitu diatur saja suhu, sebagai rencana kedua jika bun-liong-taihap tidak memihak kita.” sela lao-si

“hmh..bagaimana menurutmu liang-lo-mo, kamu yang punya banyak anak buah, tentu punya trik formasi pengeroyokan yang kuat.” ujar lam-sin-pek

“formasi yang ada dalam pemikiran saya adalah “seng-eng-sam-tin” (formasi tiga bayangan bintang)” “bagaimana gamabarannya suhu?” sela lao-ngo

“sam-cu sebagai kekuatan utama mengeroyok siauw-taihap secara langsung, sementara sisi kanan dan kiri ada tiga lao dan kita untuk mengacau konsentrasi siauw-taihap dan mengintai peluang, kemudian lam- tok serta siang-mou berada diposisi belakang penyerang gelap yang tidak disadari.” sahut liang-lo-mo.

“serangan tanpa disadari bagaimana maksudnya datuk?” sela lam-tok

“kalian tidak bergerak, layaknya seperti penonton, dan kami akan tetap mengusahakan kalian berdua tetap dibelakang siauw-taihap, dan jika seorang sam-cu yang berada dibelakang siauw-taihap membuka peluang, kalian menyerang dengan pukulan jarak jauh.” Lam-tok dan siang-mou mengangguk tanda mngerti.

“baik, formasi seng-eng-sam-tin akan kita terapkan untuk menghadapi siauw-taihap.” sela Lam-sin-pek, kemudian mereka pergi ke halaman belakang.

Satu jam kemudian Siauw-taihap memasuki halaman depan kediaman sam-cu, dua orang penjaga dengan sikap jumawa mendekati Fei-lun

“ada siapa? dan ada urusan apa?”

“saya hendak bertemu dengan pimpinan kalian!” sahut Fei-lun

“pimpinan kami sedang menerima tamu dan tidak boleh diganggu, sebaiknya anda pergi saja.” “tidak! saya harus bertemu sam-cu.” bantah Fei-lun

“sialan! mau cari mampus yah!?” bentak penjaga, lalu bergerak hendak menyerang

“plak..uhgkk..” tangannya yang menyerang ditangkap Fei-lun, penjaga itu menjerit kesakitan, karena merasa tanganya seperti dijepit besi baja, rekannya segera membantu

“buk..ughhk…” penjaga itu terbanting ketanah setelah mendapat tendangan menghantam perutnya.

Tiba-tiba dua puluh orang anak buah pilihan sam-cu menyerang, Fei-lun bergerak cepat, menampar dan menotok semua penyerang, hanya dalam tiga gebrakan lima belas orang langsung menggeloso ditanah dan tidak mampu bangkit karena kaku dan patah tulang, Fei-lun segera masuk kedalam rumah untuk mencari sam-cu, namun didalam rumah yang ada hanya para pelayan wanita yang sedang membersihkan rumah, kemudian fei-lun terus kebelakang dan melihat semua dedengkot hek-to berkumpul.

“hehehe… ternyata siauw-taihap yang datang membuat kacau didepan, untuk apa kamu datang kemari!?” ujar Liang-lomo, Fei-lun menatap sebelas orang itu dengan tajam

“kalian sudah berkumpul disini, tentunya untuk membicarakan makar yang akan kalian laksanakan.” “hehehe…..lalu apa urusannya denganmu siauw-taihap!?” “cukuplah tirani yang kalian sebar selama ini, cengkraman tirani kalian telah banyak membuat orang menderita dan sengsara.”

“hehehehe..kamu terlalu lancang ikut campur urusan kami.” sela pek-mou-hek-kwi “sudah tugas saya untuk menghentikan penindasan dan anaya yang kalian lakukan.”

“kamu terlalu sombong, sehingga berani mendatangi kami kesini.” sela kwi-ong, dan perkataan itu adalah aba-aba serangan sam-cu, ketiganya langsung menyerang Fei-lun dengan dahsyat.

Fei-lun yang sudah siap dan waspada segera bergerak menghindar dan memepaki pukulan sai-ku

“blam…” dua tenaga dahsyat beradu menimbulkan suara gelegar yang membuat tempat itu bergeming, sai-ku undur dua tombak, sementara Fei-lun tidak bergeming dan dengan mantap memapaki serangan susulan dari ok-liang, tiga datuk dan tiga lao segera memasuki kencah pertempuran, Fei-lun terpancing, sehingga membagi perhatian pada serangan tiga datuk

“buk…” sebuah pukulan kuat dari Kwi-ong menghatam lambung fei-lun, untungnya sin-kang mengatasi sin- kang kwi-ong, dia hanya terjajar dua langkah, dengan berguling dan melenting keatas Fei-lun menghindari serangan dari ok-liang.

Sembilan orang dedengkot hek-to itu merasa gembira, bahwa hanya dalam beberapa jurus siauw-taihap sudah mendapat pukulan, sehingga sam-cu mempergencar serangan mereka, diiringi gerakan tiga datuk dan tiga lao yang mengiringinya di samping kiri dan kanan, kali ini Fei-lun hanya dapat bertahan dan berusaha menghindar dari serangan-serangan yang kuat dan berbahaya dari sembilan orang kosen yang mengeroyoknya, Fei-lun benar-benar terdesak hebat, sam-cu dengan ilmu pedang bun-liong-sian-kiam mencecar Fei-lun yang hanya dapat bertahan, tekanan dari sisi kanan kirinya dan dua sam-cu yang berada didepan dan satu sam-cu dibelakang.

Ironisnya Han-fei-lun tidak ada senjata, untuk menghalau kelabatan tiga gerakan pedang yang luar biasa itu.

“srat….sratt…” dua sambaran pedang ok-liang melukai bahu dan tangan Fei-lun, tiba-tiba kwi-ong yang berada dibelakang membuka kesempatan pada lam-tok dan siang-mou, dua pukulan langsung menghantam punggung Fei-lun, untungnya pukulan itu tidak seberapa kuat dibanding singkang yang ada dalam tubuh Fei-lun, namun tetap memberikan pengaruh tersudut dengan tekanan dari sembilan orang yang mengurungnya.

Han-fei-lun mencoba menjauh, namun sembilan lawannya sangat ketat mengurungnya, gerakan pedang sam-cu membuat Fei-lun tidak berdaya, semua jurus yang ia pelajari terbentur pada gerakan tiga pedang sam-cu, sin-kangnya tidak focus, karena ramainya orang kosen yang menekannya, beberapa pukulan terpakasa diterimanya lagi, kali ini Fei-lun hanya menang sin-kang, dan gin-kangnya mandul karena rapatnya keroyokan sembilan orang tersebut.

Sembilan orang hek-to itu semakin gembira melihat Fei-lun makin mati kutu, serangan mereka makin bertubi-tubi

“blam..buk…des…brak….” dua pukulan sin-kang ok-lian dan kwi-ong disambut, tubuhnya bergetar dan dua pukulan dari lam-sin-pek dan lao-liok menghantam tubuhnya sehingga Fei-lun terlempar melabrak pohon hingga tumbang, sementara ok-liang dan kwi-ong terlempar satu tombak, darah meleleh dari sudut bibir Fei-lun, sai-ku dengan serangan kilat menyusulkan serangan jitu. Pedangnya bergerak dengan jurus bun- liong-sian-kiam, Fei-lun berusaha mengindar, namun kondisinya yang terpuruk dan tersudut membuat dia kewalahan sehingga pedang sai-ku masih menggores bahu kirinya, belum lagi ia mantap dengan kuda- kudanya, sebuah sambaran pedang dari lao-ngo dan lao si mengarah lehernya, Fe-lun mengihindar namun

“cep..” tusukan pedang lao-si menusuk paha kanannya.

“han-fei-lun bersalto kebelakang untuk menjauh tubuhnya mendarat dipermukaan kolam, tiga datuk dengan rasa gembira mengejarnya tanpa ampun “hiaat….” Fei-lun mengerahkan sin-kangnya menyambut tubuh ketiga datuk

“blam..dhuar…byuarrr….” suara ledakan dahsyat menggetarkan tempat itu, Fei-lun tercebur kedalam kolam yang hanya sebatas dada itu, air muncrat laksana gelombang, kaki fei-lun amblas sebatas lutut, untungnya air hanya tinggal sebatas perut karena air yang melimpah keluar kolam, sehingga Fei-lun tidak tenggelam, dan naas bagi tiga datuk, benturan dahsyat itu membuat mereka terlempar empat meter keudara dan jatuh bergedebuk menimpa atap rumah.

Pek-mou-hek-kwi tergeletak tidak bergeming, karena nyawanya sudah melayang saat diudara, Liang-lo-mo sesaat menggelepar dengan muntah darah berkali-kali dan akhirnya tewas, sementara Lam-sin-pek terbujur kaku dengan nafas sesak, sementara darah mengalir deras dari sudut bibirnya, kejadian tidak terduga itu membuat sembilan orang yang berdiri dipinggir kolam terkejut melongo, mereke melihat Fei-lun yang sedang berdiri mematung amblas didasar kolam dengan muka sangat pucat, namun pandangan matanya masih tajam memperhatikan enam lawannya, karena sikap dan pandangan mata Fei-lun masih meyakinkan, membuat tiga lao ciut nyalinya, sementara sam-cu meragu untuk menyerang.

“dia pasti sudah lemah, mari kita serang!” teriak ok-liang, sam-cu segera meluncur dengan kilatan pedang.

Han-fei-lun dengan sisa tenaga mencoba menghindar dengan sebuah lompatan poksai keluar dari kolam, tapi itu tidak cukup, tiga pedang itu terus memburunya

“trang…trangg..trang…” tiga pedang itu patah ditangkis sebuah kilatan pedang yang berpendar hijau, Han- hung-fei berdiri sambil memeluk Fei-lun yang sempoyongan

“fei-koko..!” seru tiga lao bersamaan

“sudahi pertempuran ini, dan kalian sungguh bersikap berutal mengeroyoknya.” “fei-koko apa kamu hendak membelanya!?” tanya Lao-si dengan hati gemas

“Lin-moi, aku harus membelanya, dan kalian sam-cu tidak boleh membunuhnya.”

“apakah kamu yaoyan!?” tanya Kwi-ong, tercengat Hung-fei dengan sebutan itu keluar dari mulut anaknya sendiri.

“bun-liong-taihap! terimaksih atas pertolongan hari ini, dan pada tiga lao maupun tiga sam-cu, seminggu lagi aku menantang kalian di hutan sebelah timur kota.” sela Fei-lun sambil melepas diri dari pelukan Hung-fei

“Lun-ji kenapa harus berkelahi lagi, dan kamu tahu tidak pantas kalian untuk berkelahi.” “maaf paman, kejahatan siapapun pelakunya harus ditindak.”

“kiramu kami takut padamu siauw-taihap!?” sahut kwi-ong ketus

“aku harap juga kalian tidak takut, sehingga kalian anak beranak datang memenuhi tantanganku.” Sahut Fei-lun tenang sambil menatap tiga lao.

“ti..tidak bisa demikian, kalian harus hentikan permusuhan ini!” sela Hung-fei dengan nada bergetar, hatinya hancur melihat kenyataan yang dihadapinya, empat anaknya akan saling membunuh

“sam-ji mumpung kita punya peluang, mari kita habisi kedua orang ini!” sela lao-ngo, sambil menyerang dengan pedangnya

“trang..!” pedang lao-si langsung patah ditangkis pedang Hung-fei “a..apa maksudmu lian-moi!?” bentak hung-fei

“apa lagi yang kalian tunggu sam-ji, cepat kaliang serang!” perintah lao-liok. Sam-cu langsung bergerak, dengan jurus minling-xie-bun-hoat mereka menyerang hung-fei, dan fei-lun. Hung-fei dan Fei-lun terpaksa menyambut serangan tersebut, Hung-fei memapaki dengan jurus yang sama menghadapi kwi-ong dan sai-ku, sementara fei-lun berhadapan dengan ok-liang, pertandingan lima orang han itu menggunakan jurus yang sama, Kwi-ong dan sai-ku bertubi-tubi menyerang hung-fei

“kalian jangan berlaku bodoh , hentikan!” teriak Hung-fei sambil menjauh, namun kwi-ong dan sai-ku yang meyakini yaoyan adalah musuh utama mereka terus merangsak maju

“bersiap-siaplah untuk mampus yaoyan!” teriak kwi-ong sambil melancarkan serang dahsyat yang diikuti sai-ku, kembali hung-fei harus menangkis dan menghindar, namun kedua serangan ini amat cepat dan kuat, dan terus mendesaknya.

Sementara ok-liang berimbang dengan fei-lun walaupun fei-lun sudah terluka dalam, sampai seratus jurus Fei-lun masih dapat mengimbangi ok-liang, namun sepuluh jurus kemudian tiba-tiba Fei-lun muntah darah, tubuhnya yang harusnya istirahat, tapi karena diporsir untuk kembali mengerahkan tenaga, membuat ia sempoyongan dan muntah, hung-fei huga terdesak hebat oleh kedua anaknya ini, hatinya meragu untuk mengeluarkan pedangnya, namun melihat Fei-lun sudah sangat kewalahan, lalu pedangnya dicabut menghalau kwi-ong dan sai-ku, serangan jitu pedang membuat kwi-ong dan sai-ku menjauh, dan kesempatan itu digunakan untuk menedekatti Fei-lin yang saat itu tersudut, dan untungnya kilatan pedang Hung-fei sudah datang mengancam, sehingga ok-liang terpaksa mundur.

“sekali lagi aku minta kalian berhenti!” teriak Hung-fei “ibu pinjamkan pedangmu!” teriak sai-ku

“sai-ku! kamu tidak dengar apa kataku, hentikan!” teriak hung-fei sambil membabat pedang yang meluncur “trang…” pedang lao-si patah, dengan muka merah karena marah, Hung-fei menatap lao-si

“sam-lao! apa mau kalian, hah!” bentak Hung-fei dengan mata melotot “hari ini nyawamu selamat karena pedang pusakamu.” sahut Lao-si “grhh…apa kalian mau menyuruh sam-cu mebunuhku juga!?”

“hihihihi….kalau iya emangnya kenapa!?” selal lao-ngo, mendengar itu tubuh Hung-fei menggigil karena marah dan sesal, ternyata ketiga anaknya akan dijadikan alat untuk membunuhnya, dan dia telah ikut andil mengasah alat itu dengan memberikan kitabnya, rasa sesal dan marah bercampur baur.

Han-hung-fei menatap ketiga lao dengan sinar mata tajam “alangkah bejat dan tidak manusiawinya kalian yang-lian!”

“cih….lalu kamu mau apa!?” tantang lao-ngo, Fei-lun yang melihat hung-fei yang terkatung-katung dan tidak teguh pendirian itu, merasa sedih

“sam-cu! apa kalian tahu kenapa bun-liong-taihap tidak ingin berhadapan dengan kalian!?” “tutup mulutmu suauw-taihap!” bentak lao-liok

“ibu macam apa kalian yang menyuruh anak membunuh ayahnya sendiri.” tandas Fei-lun Sam-cu yang mendengar perkataan Fei-lun terkejut

“si yaoyan ayah kami!? benarkah itu ibu?” tanya sai-ku pada lao-si

“hihihihi, ku-ji, siauw-taihap itu hanya cari selamat, supaya kalian ragu membunuh hung-fei.” sahut lao-si

“hari ini aku terluka dalam, dan pasti tidak mapu melawan keroyokan kalian para pengecut rendah, dan aku sudah menantang kalian, tapi dasar kalian memang pengecut rendah mengambil keuntungan dengan berlaku curang.” sahut Fei-lun dengan tegas “kamu yang datang kesini, laksana ular mendekati penggebuk, hampir mau mampus kok minta kesempatan lain.” sahut lao-si

“lao-si perempuan bejat penipu rendah, majulah kamu, walaupun aku terluka masih dapat membunuhmu dalam waktu singkat.”

“sialan! kamu menghina ibuku!” teriak sai-ku, sambil menyerang “serrrr…” pedang hung-fei berkiblat dan menahan gerakan sai-ku

“sai-ku, jangan bergerak dan diam disitu!” ancam Hung-fei, Sai-ku terpaksa berhenti, karena ia tahu ia akan kalah dengan pemilik pedang luar biasa ini.

“aku tidak mengerti, kenapa paman demikian berat mengakui kenyataan, aku tidak sudi dibela orang seperti ini!” sela Fei-lun sambil berkelabat dari tempat itu

“sam-lao dan sam-cu, minggu depan dihutan sebelah timur, kita tentukan, siapa yang berhak hidup atau mati.” ujar Fei-lun dari kejauahan

“lun-ji…! “ seru Hung-fei, namun Fei-lun tidak menjawab, hatinya resah

“hati kalian ini telah diracuni ibu-bu kalian, ketahuilah aku adalah ayah kalian.” ujar Hung-fei “dia itu bohong ong-ji, yaoyan adalah musuh utama kita.” sela lao-liok

“bangsat kamu yan-hui, kalau aku tidak mengingat kalian adalah ibu anak-anakku ingin rasanya aku membunuh kalian!”

“hihihihi…ayo bunuhlah kami, dengan pedang ditanganmu, kami pasti kalah, ayok lakukan!” sela lao-liok ketus.

“benarkah yaoyan adalah ayah kami ibu?” sela ok-liang

“tidak benar liang-ji, yaoyan adalah musuh utama kita.” sahut lao-ngo

“tenyata kalian telah menipuku, sehingga aku memberikan kitabku pada mereka ini, baik sekarang mampuslah kalian semua!” teriak Hung-fei, lalu dengan gerakan luar biasa meneyerang tiga lao, sam-cu bertindak cepat menghalangii serangan hung-fei, Hung-fei terpaksa mengaluhkan serangan pada sam-cu, pertempuran hebatpun terjadi, kemarahan hung-fei ini tidak diduga sam-lao, mereka pucat ketika melihat setelah seratus jurus sam-cu mulai terdesak hebat, dengan bersenjata kemungkinan mereka akan mmapu mengimbangi jurus Hung-fei bahkan mampu mengalahkannya, namun karena mereka bertiga bertangan kosong, mereka jadi kalang kabut.

“srat…srat…” dua kali sambaran pedang melukai bahu dan dada ok-liang.

Ok-liang terpaksa mundur, dengan berkurangnya kekauatan sam-cu, sai-ku dan kwi-ong makin terpuruk dan terdesak, dua puluh jurus kemudian

“srat..srat…” dua kiblatan pedang menggpres paha dan perut sai-ku, tiga lao makin bingung dan pucat, tidak menyangka Hung-fei akan tega membunuh anak sendiri, saat mereka terpana dengan pertempuran yang menyisakan ok-liang, Han-hung-fei tiba-tiba melayang kearah mereka, kilatan pedang dengan pendar hijau dan ayunan gerak seturut ilmu bun-liong-sian-kiam

“crak…auhhh…cep…uhg,….” tubuh lao-ngo bersimbah darah , tangannya putus dan dadanya tertusuk, gerakan ini masih berantai mengejar lao-si yang bersalto kesamping

“crak…aaaahh…crak…”: kaki kanan lao-si putus sebatas mata kaki, dan disusl bacokan besar menghantam pingganganya, laksana kesetanan pedang bun-liong-sian-kiam mengejar lao-liok, lao-liok menagkis dengan pedangnya “trang…crak adouh…crak…” lao-liok putus tangannya sebatas siku dan lambunya robek besar sehingga perutnya terburai.

Han-hung-fei terduduk dengan mata merah melotot. Tiga lao dalam waktu singkat tergeletak bersimbah darah dengan nafas tersegal-segal menjemput maut, sam-cu melonggo melihat kejadian itu, ok-liang yang masih bugar terpana, sai-ku dan kwi-ong yang meringis terluka mencoba berdiri

“kalian bukan anak-anakku, sekalian saja kalian kulenyapkan!” teriak Hung-fei

“bun-liong-taihap!” seru suara dari arah belakangnya , Hung-fei menoleh, ternyata yang memanggilnya adalah siang-mou-bi-kwi

“sadarlah, sam-cu adalah darah dagingmu!” ujar siang-mou, hung-fei kembali terduduk menatap tiga mayat tiga lao

“siang-mou, benarkah dia ayah kami?” tanya ok-liang

“benar sekali, dan yang paling tahu semuanya adalah lam-tok.” sahut siang-mou

“ah….aku memang bejat…uu..uuu..” tiba-tiba hung-fei mencela dirinya menangis seperti anak kecil, bahkan sampai pingsan diterpa sesal, kecewa, dan marah pada diri sendiri, tiga perasaan itu membukit menghantam jiwanya

“mari kita kuburkan mereka sam-cu!” sela lam-tok

“biar aku yang membawa bun-liong-taihap kedalam.” sela siang-mou, Hung-fei pun di bawa kedalam oleh siang-mou, dan lam-tok serta sam-cu menguburkan tiga datuk dan tiga lao.

“bagaimana keadaannya siang-mou?” tanya sai-kui

“belum siuman cu-sam, saya sudah hidukan aroma untuk menyadarkannya, namun tidak memnerikan reaksi apa-apa

“hmh…lam-tok coba ceritakan bagaimana sebenarnya hubungan bun-liong-taihap dengan ibu-ibu kami.” sela kwi-ong

“hubungan biasa saja it-cu, reaksi masa muda antara bun-liong-taihap dengan sam-lao.” “apakah bun-liong-taihap sedari awal tahu bahwa kami anak-anaknya?”

“yang pasti dari awal dia tidak tahu, dan kapan dia tahu kemungkinan setelah dia menikah dengan istrinya sekarang.”

“lalu bagaimana ibu mengatakan ia bohong?”

“motifnya kenapa sam-lao memungkirinya, jujur saya katakan, memang sudah demikiian misinya sejak kalian lahir.”

“maksudmu memang kami dibentuk untuk membunuh bun-liong-taihap? begitukah?” sela ok-liang

“hal itu menurut saya jangan diungkit lagi, bagi aliran kita, hal seperti itu lumrah terjadi, sekarang kita mau lakukan apa terhadap bun-liong-taihap.” sela siang-mou

“tiga datuk dan tiga lao sudah mati, sesuai dengan misi keenam datuk dan delapan lao pada masa lampau, misi seharusnya dilaksanakan, tapi itu terserah kepada sam-cu.” sela lam-tok

“bagaimana menurutmu kwi-ong?” tanya sai-ku

“dia adalah ayah kita, dan kitabnya juga sudah kita warisi, kita lihat saja setelah ia siuman.” sahut kwi-ong “benar, dan pedangnya sudah saya simpan, dan tanpa pedang itu, dia tidak akan berkutik didepan kita.” sela ok-liang.

“yang jelas tewasnya enam datuk dan delapan lao, harus di perhitungkan.” sela lam-tok “pendapatmu bagaimana sebenarnya lam-tok?” tanya sai-ku

“enam datuk dan delapan lao sangat mencintai sam-cu, ibu-ibu sam-cu hakikatnya memendam derita batin akibat perbuatan yaoyan, dan kenyataan hari ini tiadalah arti bila dibandingkan pengorbanan enam datuk dan delapan lao pada sam-cu, jadi membunuh yaoyan lebih baik.” sahut lam-tok

”baik, sebagaimana kata kwi-ong kita lihat setelah ia siuman, dan kalau menurut saya, setelah ia siuman, kita minta dia bunuh diri untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya membunuh ibu kita.” sela sai-ku.

“lalu bagaimana menurut kalian lam-tok?” tanya ok-liang “apanya yang bagaimana ji-cu?” tanya lam-tok

“sepertinya siauw-taihap tahu persis hubungan kami dengan bun-liong-taihap

“saya juga tidak tahu ji-cu, hanya sanya istri yaoyan ada hubungan dekat dengan siauw-taihap.” “berarti istrinya tahu, bahwa kami anak-anak bun-liong-taihap.”

“sepertinya tidak ji-cu.” sahut lam-tok, setelah larut malam, merekapun istirahat.

Keesokan harinya hung-fei siuman, dia menatap wanita cantik yang sedang berdandan di dalam kamar dimana dia terbaring, hung-fei sinar matanya redup dan kosong, siang-mou sampai selesai berdandan baru menyadari bahwa hung-fei telah siuman

“kamu sudah siuman taihap!?” sapa siang-mou dengan senyum lembut, namun yang disapa tidak menjawab dan bahkan tidak ada reaksi

“hung-fei…!” seru siang-moi, tapi hung-fei tidak menjawab, matanya menatap siang-moi, namun tatapan itu benar-benar tidak ada arti, kosong dan redup.

“hung-fei apakah kamu tidak mengenalku?” tanya siang-mou heran, tetap saja hung-fei diam, bahkan membalik badan menarik selimutnya, siang-mou duduk dipinggir ranjang dan mengelus bahu hung-fei

“hung-fei…! Kamu kenapa sayang?” gugah siang-moi, namun hung-fei tetap diam saja, melihat kejanggalan itu, siang-mou keluar kamar dan menemui sam-cu dan lam-tok yang berada diruang tengah.

“bun-liong-taihap mengalami shock luar biasa.”

“shock bagaimana maksudmu siang-mou?” tanya lam-tok “dia tidak ada reaksi dengan apapun disekitarnya.”

“coba mari kita lihat!” sela kwi-ong, lalu merekapun masuk kekamar siang-mou, mereka berdiri disisi ranjang menatap hung-fei

“bun-liong-taihap!?” sapa lam-tok sambil menggugah hung-fei, hung-fei diam saja, lam-tok berulang-ulang memanggil, namun tetap tidak ada reaksi, lam-tok menatap sam-cu dengan hati heran, tiba-tiba hung-fei berbalik dan terlentang, matanya menatap langit-langit kamar, dan bahkan tatapan itu memendang wajah lima orang dipinggir ranjang, namun tatapan itu sangat kosong dan redup.

“menurutmu dia kenapa siang-mou?” tanya sai-ku

“sepertinya tekanan yang ia alami telah membuat dia kehilangan akal dan jiwanya.” “sampai kapan dia akan seperti ini?” sela ok-liang “aku juga tidak tahu ji-cu.” sahut siang-moi

“kalau sudah begini, apa yang akan kita lakukan padanya?” sela sai-ku

“coba kita panggil tabib untuk mengetahui jelas apa yang terjadi padanya.” ujar ok-liang, lalu seorang penjaga disuruh meanggil tabib.

Tio-sinse memeriksa hung-fei, wajah tio-sinse berkerut, dan kelihatan juga heran

“saya belum pernah lihat penyakit seperti ini, apa yang dilakukannya sehingga dia mengalami hal seperti ini?”

“apakah sinse juga tidak bisa mengetahui apa yang menimpanya?” tanya lam-tok

“dari sinar mata yang redup dan kosong, menunjukkan dia tidak lagi memiliki semangat, jiwanya kenyap dan akalnya tidak berfungsi, syarafnya mati rasa, dia seperti mayat hidup.” sahut tio-sinse.

“apa dia dapat pulih?” tanya sai-ku

“hmh….tidak ada ramuan obat yang bisa diberikan, kondisi tubuhnya prima, coba tawarkan padanya makanan ayau minuman!” ujar tio-sinse, lalu siang-mou menuang secangkir minuman

“hung-fei, minumlah dulu!” ujar siang-mou sambil mendekatkan cangkir pada wajah hung-fei, hung-fei tidak memebrikan reaksi, lalu siang-mou mengangkat kepala hung-fei dan menempelkan cangkir kebibir hung- fei, air masuk kemulut dan ditelan.

“bagaimana sinse?” tanya sai-ku

“hmh….tidak tahu lapar dan haus, dan kalau tidak ada yang menjaga dan mengurusnya, kemungkinan besar dia akan mati karena tidak ada yang memasukkan penopang hidup berupa makanan dan minuman.” ujar Tio-sinse, kemudian karena Tio sinse tidak bisa berbuat apa-apa, ia pun pamit untuk pulang

“bagaimana sekarang kwi-ong?” tanya ok-liang

“yah mau diapain lagi, biarlah ia mati dengan sendirinya.” sahut kwi-ong

“it-cu karena bun-liong-taihap tidak berguna lagi, izinkan saya membawanya.” “kamu mau bawa kemana ia siang-mou?” tanya lam-tok

“saya akan mengurusnya.”

“kamu jangan berlaku bodoh siang-mou, tugasmu masih banyak untuk mengurus see-ki, untuk apa menambah beban yang tiada berguna.” sela Lam-tok

“apakah ada yang istimewa antara kamu dan dia ini siang-mou?”

“hihihi…apa yang dirasakan pertama kali oleh ibu-ibu sam-cu padanya, itu pulalah yang saya rasakan, saat pertemuan kami disebuah hutan.”

“hmh….si yaoyan ini memang luar biasa memikat, membuat gila setiap perempuan yang dijumpainya.” sela lam-tok

“sudah kalau begitu, terserah kamu saja.” sahut kwi-ong, lalu merekapun keluar dari kamar siang-mou.

Han-fei-lun kembali kepenginapan dimana ia bertemu dengan Han-hung-fei “pelayan tolong sediakan kamar untuk saya!”

“baik tuna , mari saya antar!” sahut pelayan, pelayan membawa Fei-lun ke tingakat atas dan menunjukkan sebuah kamar “ini kamarnya tuan!” ujar pelayan

“terimakasih, oh ya diumanakah saya dapat menemui seorang tabib?”

“di gerbang sebelah barat ada seorang tabib yang dipanggil Tio-sinse.” sahut pelayan

“oh..baik dan terimaksih sicu!” ujar Fei-lun, pelayan itu mengangguk ramah dan meninggalkan Fei-lun.

Han-fei-lun duduk bersiulian di atas ranjang, dia berusaha mengobati sesak dalam dadanya dengan aliran sin-kang, kamar itu hening, Fei-lun tenggelam dalam siulian yang dalam dan fokus pada setiap riak aliran darahnya, sampai larut malam Fei-lun senyap dalam siuliannya, nafasnya demikian tenang, menandakan sesak dadanya sudah lenyap dan tarikan nafasnya kembali normal, Fei-lun membuka mata saat pagi telah menjelang, dia turun dari ranjang dan mandi, air yang dingin membuat badannya terasa segar, setelah mandi dan mengganti pakaian, Fei-lun turun kebawah untuk makan, perut yang tidak teris sejak dari siang kemarin membuat makannya sangat lahap.

Han-hung-fei keluar dari likoan menuju gerbang barat untuk menemui Tio-sinse, tidak sulit bagi Fei-lun untuk mengetahui kediaman Tio-sinse, karena tabib ini sangat dikenal oleh warga sebelah barat kota, seorang wanita tua istri Tio-sinse sedang menyapu halaman

“maaf bibi apakah sinse ada?” sapa Fei-lun

“suamiku sedang keluar untuk mengobati orang, apakah tuan mau berobat?” “benar bibi, kira-kira kapankah sinse akan kembali?”

“saya tidak tahu juga tuan, namun biasanya paling lambat siang hari ia sudah kembali.” “baiklah bibi, sebaiknya aku tunggu saja, bolehkah?”

“ohh..tentu boleh tuan, duduklah di balai-balai itu.” sahut tio-hujin.

Baru satu jam Fei-lun menunggu Tio-sinse sudah kembali, Tio-sinse yang melihat seorang duduk dibalai- balai segera memburu langkahnya

“tuan ada keperluan apa?” tanya Tio-sinse “apakah saya berhadapan dengan Tio-sinse “benar, saya adalah she-Tio

“maaf Tio-sinse, saya hendak minta bantuan pengobatan dari sinse.” “ho…silahkan masuk kalau begitu” sahut Tio-sinse

“apa yang bisa saya bantu tuan!?”

“aku ada beberapa luka sinse.” ujar Fei-lun sambil membuka bajunya, dua buah luka dibahu dan lengannya pun kelihatan, kemudian luka goresan didada dan punggung.

“dipahaku juga ada luka sinse.”

“oh..baringlah tuan, saya akan segera obati luka-lukamu!” ujar Tio-sinse, lalu Tio-sinse sibuk meramu obat luka, selama dua jam Tio-sinse menyelesaikan pengobatan luka luar Fei-lun

“eh…sudah pulang koko.” sapa istrinya yang baru datang dari kebun belakang untuk mengambil sayuran

“sudah cung-moi, tolong ambilkan secangkir air minum!” sahut Tio-sinse, Tio-hujin segera melakukan apa yang diperintah suaminya, kemudia ia masuk kekamar sambil membawa secangkir mnuman hangat, Fei- lun setelah lukanya dibalut sudah memakai pakaiannya kembali. “kok tumben cepat pulangnya koko, apa sisakit tidak jadi berobat?”

“aku tidak bisa mengobatinya cun-moi, dan untung saja mereka tidak begitu peduli, sehingga saya tidak dapat masalah.” sahut Tio-sinse sambil memberikan dua buah pel untuk dimakan Fei-lun

“eh…emangnya koko kerumah siapa?” tanya Tio-hujin

“kerumah sam-cu.” Jawab Tio-sinse, muka tio-hujin berubah pucat

“ah..syukurlah kalau begitu.” sela Tio-hujin merasa lega, wajah Fei-lun juga sedikit terkejut. “maaf sinse, memangnya siapa yang sakit dirumah Sam-cu?”

“apa tuan kenal dengan sam-cu.”

“bukankah dia orang terpandang dan ditakuti di kota ini?” “benar…hmh….orang sakit itu seorang lelaki sudah berumur.” “lelaki itu sakit apa sehingga sinse tidak bisa mengobati?”

“lelaki itu kehilangan akal dan jiwanya, syarafnya tubuhnya tidak berfungsi, namun kondisi tubuhnya sehat- sehat saja.”

“kata sinse tadi bahwa sam-cu tidak perduli.” “benar tuan, aku juga heran.”

“separah apakah penyakit lelaki itu menurut sinse?”

“saya belum pernah lihat ada penyakit seperti itu, kalau tidak ada yang mengurus dan menjaganya, lelaki itu akan mati.”

“kenapa sinse berpendapat demikian?”

“karena syarafnya tubuhnya tidak berfungsi, maka dia tidak merasa lapar dan haus, dan pastinya akalnya tidak pernah menuntut untuk memenuhi pasokan makanan untuk tubuhnya.”

“baiklah sinse dan terimakasih atas pengobatannya.” ujar Fei-lun sambil memberikan uang ala kadarnya

“oh..sudah merupakan tugas saya untuk mengobati penyakit tuan, dan ini resep yang harus tuan minum supaya luka itu cepat sembuh.” sahut Tio-sinse sambil memberikan bebrapa buah pel.

Han-hung-fei kembali kepenginapan, pikirannya teringat pada lelaki yang sakit dirunah sam-cu, hatinya yakin bahwa yang sakit itu adalah hung-fei, dan dia juga heran, bagaimana hung-fei bisa sakit seperti yang digambarkan oleh Tio-sinse, jelas bukan karena bertempur dengan Sam-cu, karena sam-cu sendiri memanggilkan tabib untuk memeriksanya, terlebih kata Tio-sinse bahwa Hung-fei keadaan tubuhnya sehat.

“hmh..apa yang terjadi padanya? bagaimana ia bisa kehilangan jiwa, akal dan fungsi syaraf?” tanya Fei-lun dalam hati, pertanyaan itu menggelayut dalam benak Fei-lun.

Seminggu kemudian Han-fei-lun memasuki hutan sebelah timur, menjelang siang empat orang dengan gerakan cepat muncul

“bagus kalian sudah datang dan kita bisa lanjutkan urusan kita.” ujar Han-fei-lun, dan hatinya heran ketika melihat pedang milik Bun-liong-taihap tersampir dibelakang punggung Ok-liang

“kenapa hanya kalian yang datang, mana tiga lao yang menjadi ibu kalian!? dan apa yang telah kalian lakukan pada ayah kalian?” tanya Fei-lun

“siauw-taihap sepertinya kamu sangat tahu tentang bun-liong-taihap, sehingga apa yang kami tidak tahu ternyata kamu tahu, apakah hubunganmu dengan bun-liong-taihap? sehingga engkau demikian perhatian padanya?” tanya kwi-ong

“katakan dulu padaku, apa yang kalian lakukan dengan bun-liong-taihap, dan bagaimana pedangnya berada pada kalian?”

“bun-liong-taihap sudah jadi mayat hidup” sela Sai-ku ketus

“kenapa bisa seperti itu sai-ku?” tanya Fei-lun dengan sorot mata tajam

“dia telah mendapat ganjaran karena telah membunuh ibu-ibu kami.” sela Ok-liang, mendengar itu Fei-lun terkejut, karena tidak menyangka bahwa tiga lao dibunuh bun-liong-taihap

“lalu apa yang akan kalian perbuat padanya.”

“peduli amat dengannya, lalu kenapa kamu sepertinya perduli, siapa bun-liong-taihap bagimu.” sela Kwi- ong.

“hubungan karena hanya sesama manusia yang kebetulan saya kenal baik dengan keluarganya.”

“tidak mungkin, kalau hanya sekedar itu, karena dia waktu itu sangat menentang kita terlibat pertempuran, tentu ada alasannya bukan?”

“hehehe..ternyata kamu jeli juga kwi-ong.” sela Fei-lun

“nah..jadi katakan kenapa bun-liong-taihap tidak menginginkan kita bertempur?”

“hmh….baik saya akan katakana, sebenarnya saya dan kalian bertiga sama hubunganya dengan bun- liong-taihap.”

“maksudmu, kamu dan kami sama-sama anak bun-liong-taihap?” sela Sai-ku

“demikianlah kebenarannya, dan sekarang kita berhadapan karena kita berdiri berseberangan, kalian telah melampaui batas dan bertindak sewenang-wenang sesuai yang diajarkan datuk dan ibu-ibu kalian.”

Ok-liang mencabut pedang bun-liong-sian-kiam, pendar sinar hijau menyeruak

“ini pedang bun-liong-taihap akan menghabisi nyawamu siauw-taihap.” ujar Ok-liang dengan nada geram, lalu dengan pedang itu jurus bun-liong-sian-kiam dikerahkan, namun yang dihadapi adalah pemilik sin- kang dan gin-kang luar biasa dahsyat, jurus itu bun-liong-sian-kiam memang kaya gerak dan kembang trik berbahaya, namun kebutan jurus tangan kosong bun-hoat membuat pedang itu selalu terpental dan kalah cepat, kwi-ong dan Sai-ku segera terjun membantu Ok-liang.

Han-fei-lun dikurung tiga orang kosen dengan menggunakan ilmu yang sama, tapi sampai seratus jurus keroyokan itu, tetap membuat Han-fei-lun dapat menguasai pertandingan, terlebih dalam menghadapi ketiga pedang ini, Fei-lun menggunakan minling-xie-bun-hoat yang di ambilnya dari gerakan bun-liong- taihap sendiri, gulungan ketiga pedang memburu bertubi-tubi, namun sebelum sampai ketubuh Fei-lun ujung pedang itu calis karena terbentur hawa sin-kang dari gerakan minling-xie-bun-hoat.

Han-Fei-lun selama seratus jurus memperhatikan secara seksama gerakan ketiga lawannya, sedikit banyaknya ia menyerap gerakan ilmu pedang luar biasa itu, pada suatu ketika Han-fei-lun menulis “san” yang mengarah pada sai-ku, karena sai-ku juga memahami jurus ini sudah tahu kemana arah serangan susulan, dengan mudah ia patahkan serangan itu, namun hawa sin-kang yang menerpa tubuhnya membuat dia sempoyongan

“tuk….auh…” sebuah totokan menghantam sikunya, dan dalam sekejap pedangnya sudah berpindah tangan, dengan gerakan cepat han-fei-lun menyerang Sai-ku dengan jurus pedang warisan suhunya Liu- sin, Sai-ku terdesak hebat

“trang…” pedang ditangan Fei-lun patah dibabat pedang Ok-liang yang segera membatu Sai-ku. Han-sai-ku selamat dari tekanan dan Han-fei-lun terpaksa mundur, namun dengan hilangnya pedang Sai- ku membuat daya serang sam-cu berkurang, dengan jurus tangan kosong jelas Sai-ku kalah baik jurus, sin-kang dan dan gin-kang, dan Fei-lun selalu menekannya, sehingga suatu ketika

“tuk… agh…hoak…” sebuah totokan mengenai perut sai-ku hingga ia terbanting ketanah dan muntah darah, gulungan pedang dari kwi-ong maupun ok-liang dengan luwes dihindari Fei-lun.

Lam-tok yang menonton pertandingan tingkat tinggi itu menjadi pening dan pandangannya lamur karena sangat sulit mengikuti pertandingan luar biasa itu, hatinya tercekat ketika melihat cu-sam terbanting, kali ini Fei-lun mencoba menekan ok-liang yang memegang pusaka ayah mereka, Ok-liang merasakan tekanan luar biasa ini, terpaan sin-kang yang keluar dari setiap gerakan minling-xie-bun-hoat membuat dia kalang kabut dan berusaha menjauh, namun dia selalu dalam lingkaran kurungan serangan Fei-lun, sementara Kwi-ong yang juga berusaha mencari celah untuk merobohkan Fei-lun tidak dapat berbuat banyak, karena hawa sin-kang demikian kuat melindungii Fei-lun, dan pedangnya selalu kalah cepat, dan seakan-akan pedang itu menyerang bayangan sendiri.

Hari sudah sore, senja sudah mengarak diangkasa, Ok-liang pada satu kesempatan, tidak dapat mempertahankan pedangnya karena saat ia terbentut sin-kang dahsyat dari fei-lun tubuhnya terpental dan sebuah serangan jitu

“tuk…” sebuah totokan dahsyat mengenai pergelangan tangannya, otomatis genggamannya kelu dan pedang ditangannya diraih Fei-lun, dan

“trang..” dengan kilatan yang cepat pedang bun-liong-sian-kiam menyambar ketubuh Kwi-ong, untungnya kwi-ong segera menangkis, tapi pedangnya patah menjadi tiga potong

“buk..” pukulan jarak jauh menghantam dadanya, Kwi-ong merasa nafasnya sesak, dan diapun terpaksa duduk untuk mengatur nafasnya.

Pertempuran berhenti, Fei-lun menatap ketiga lawannya, dan kemudian menatap Lam-tok “kamu siapa dan apa urusanmu disini!?” tanya Fei-lun dengan nada dingin, Lam-tok pucat pias

“pergi dari sini! bentak Fei-lun, Lam-tok segera angkat kaki seribu meninggalkan hutan, Fei-lun mengambil sarung pedang dari pungung ok-liang yang meringis karena pergelangannya masih terasa nyeri.

“walau bagaimanapun kalian adalah adik-adikku, dan untuk itu aku bertanya sekali lagi, apakah kejahatan kalian ini akan terus merebak jika kalian dibiarkan hidup?” ujar Fei-lun dengan nada datar, sam-cu terdiam

“jawab aku Han-kwi-ong!” bentak Fei-lun, sam-cu terkejut mendengar bentakan itu, terlebih kwi-ong yang ditanya langsung

“ba..baik kami akan mengambil kesempatan yang kamu berikan.” sahut Kwi-ong “baik, aku akan terus mengawasi kalian, dan sekarang dimana bun-liong-taihap?”

“kenapa kamu tidak memanggil ayah padanya?” sela sai-ku yang sudah dapat kembali menguasai dirinya “karena panggilan itu akan merusak keluarga yang dibina oleh bun-liong-taihap.”

“artinya istrinya benar tidak mengetahui keberadaan kita.”

“itulah kenyataannya, apakah bun-liong-taihap ada dirumah kalian?” “benar dan apa yang kamu perbuat padanya?” sela Ok-liang

“saya akan mengantarnya kekota Bicu, karena disanalah tempat yang tepat baginya.”

“untuk apa mengurus orang yang merasa bahwa keberadaan kita adalah satu kesalahan, dan dia menjadi pengecut untuk mengakuinya.” sela Kwi-ong

“kita adalah kesalahan masa mudanya, dan kitapun akan menjadi salah jika memungkirinya dengan tega membiarkan dia dalam tekanan batin yang membuatnya seperti sekarang ini, setidaknya kita akan mengembalikannya pada istrinya ” sahut Fei-lun, llau merekapun kembali kekediaman sam-cu, siang-mou dengan heran menyambut mereka

“diamana dia siang-mou?” tanya sai-ku

“dikamar cu-sam, ada apakah?” sahut siang-mou, tanpa menjawab empat orang itu menuju kekakamar siang-mou.

Han-hung-fei menatap mereka yang masuk kedalam kamar, namun pandangan itu hanya sekilas dan kembali menatap langit-langit kamar, kadang menoleh ke arah orang-orang yang menatapnya, atau dia berpaling kesamping sambil menarik selimutnya, hung-fei merasa bahwa tidak ada orang disekitarnya “bun-liong-taihap!” panggil Fei-lun, namun tidak ada reaksi, hati Fei-lun merasa iba melihat ayahnya dengan kondisi seperti itu.

“bagaimana siaw-taihap datang bersama sam-cu?” tanya siang-mou heran “kamu siapakah nyonya?” tanya Fei-lun

“dia adalah siang-mou-bi-kwi dan dia berencana akan mengurus bun-liong-taihap.” sela Kwi-ong.

“hmh…mengurusnya bukan pekerjaanmu nyonya, dia masih punya istri, dan istrinyalah yang akan mengurusnya.” sela Fei-lun

“ta..tap sam-cu telah mengizinkan aku yang mengurusnya.” bantah Siang-mou-bi-kwi “terimaksih atas kesudian nyonya, namun tetap saya akan menyerahkan beliau pada istrinya. “sudahlah siang-mou, siauw-taihap juga adalah putra dari bun-liong-taihap.” sela Ok-liang “ta..tapi…”

“apakah nyonya juga mencintai beliau ini?” sela Fei-lun, mendengar itu siang-mou jadi tertunduk “sudahlah kalau begitu.” sahut siang-mou dan segera keluar dari kamar.

“bagaimana menurutmu Fei-lun?” tanya kwi-ong

“hmh…entah sampai kapan ia akan seperti ini.” gumam Fei-lun dengan nada iba “apakah taihap akan membawanya malam ini atau besok.” sela Han-sai-ku

“sebaiknya besok, aku akan kesini lagi besok dengan dua ekor kuda.” sahut Fei-lun dan melangkah keluar kamar

“kuda mungkin dapat kami sediakan untuk kalian berdua.” sela Han-ok-liang “kalau memang tidak merepotkan, demikian lebih bagus.” sahut Fei-lun “tidak merepotkan taihap.” sela Han-sai-ku

“baiklah kalau begitu, aku akan kembali kepenginapan dan besok pagi aku akan kembali kesini.” ujar Fei- lun, lalu ia meninggalkan rumah sam-cu.

Han-fei-lun kembali kepenginapan dengan hati gundah, hatinya masih heran bagaimana orang yang dicintai ibunya berakhir seperti itu, keesokan harinya Han-fei-lun keluar dari penginapan dan kembali kerumah sam-cu, Sai-ku menyambut kedatangan Fei-lun

“pagi ini saya akan membawa beliau.” ujar Fei-lun

“baik dan dia juga baru selesai makan” Sahut Han-sai-ku, kemudian Fei-lun memasuki kamar dan membawanya keluar, Hung-fei diam saja ditarik oleh Fei-lun, Fei-lun menaikkan Hung-fei kepunggung kuda, lalu ia menungangi kuda kedua, kemudian berangkat dilepas oleh sam-cu. Kuda berlari congklang melewati kota, dan ketika keluar dari gerbang kota, Han-fei-lun memacu kudanya, namun segera Fei-lun melompat dan menangkap tubuh Hung-fei yang terlempar dari kuda, lalu Fei-lun kembali meneikkan Hung-fei ke atas kuda dan memacu kudanya dengan lambat, selama seminggu terpaksa Fei-lun bermalam ditengah hutan dan mencari buruan untuk makan mereka, setelah sampai disebuah desa pertama, Fei-lun menjual dua ekor kuda itu sejumlah lima puluh tail perak, dari desa tersebut Han-fei-lun menggendong Hung-fei dan berlari cepat.

Suasana di kantor Han-piauwkiok sibuk sebagaimana biasa, Khu-lian-kim dan ketiga anaknya sedang makan siang diruang makan

“ibu, sepertinya ayah kali ini lama baru pulang.” Ujar Han-bu-seng

“ayahmu mengurus penjahat di chang-an, kita doakan saja semoga tidak ada yang menghawatirkan menimpa ayahmu.” sahut Lian-kim

“siapa sih penjahatnya yang mengacau piauwkiok kita di chang-an?” sela Han-bu-jit

“orang itu disebut sam-cu, dan kemungkinan orang yang sama saat mengacau di Kaifeng.” sahut Han-bi- goat

“sudah kalian cepatlah makan, supaya istirahat, dan nanti sore kalian kan latihan.” “benar ibu, tapi seng-te malas latihannya kalau ayah tidak ada.” sela Han-bi-goat “benarkah begitu seng-ji!?”

“aku hanya istirahat sebentar masa dibilang malas goat-cici.” bantah bun-seng

“hmh..kamu harus giat berlatih seng-ji, karena ayahmu akan kecewa jika kemajuanmu lambat.”

“benar itu seng-te, ayah kita pendekar luar biasa, masa kita anaknya tidak ikuti jejaknya.” sela Han-bu-jit. “tapi kenapa ayah tidak jadi bengcu, dan saya dengar orang berjulukan siauw-taihap yang jadi bengcu.” “ayah tidak ingin menjadi bengcu.” sela Han-bi-goat.

“sudah, kalian giat dan tekunlah belajar, dengan demikian ayah dan ibu akan bangga dengan kalian.” sela Khu-lian-kim, setelah makan siang ketiga anak remaja itu istirahat, demikian juga dengan khu-lian-kim, sementara itu di luar para lima orang piauwsu sedang bersantai dibalai-balai, hari itu tiga rombongan piauwkiok sudah berangkat, canda tawa para kelima piauwsu terdengar meriah, tiba-tiba canda dan tawa itu terhenti ketika melihat kedatangan Han-fei-lun yang menggandeng ketua mereka, mereka lansung menyambut

“suhu sudah datang!” seru Bao-lam yang keluar dari kantor, namun Hung-fei tidak menjawab, tatapannya yang kosong membuat Bao-lam heran

“siauw-taihap apa yang terjadi dengan suhu!?”

“sebaiknya kita kedalam dan bertemu dengan Han-hujin.” sahut Fei-lun “ba..baik, marilah siauw-taihap.” sahut Bao-lam segera memasuki rumah

“bian-moi tolong sampaikan pada subo bahwa suhu sudah datang!” ujar Bao-lam pada seorang pelayan yang sedang melintas, pelayan itu segera menuju kamar Lian-kim

“hujin! taijin sudah kembali.” seru pelayan, Han-hujin segera bangun dan membuka kamar, dan segera keluar

“selamat bertemu kembali bibi.” sela Han-fei-lun sambil berdiri ketika melihat Lian-kim muncul “oh…kamu rupanya lun-ji.” sahut lian-kim senyum ramah dan mendekati suaminya “fei-ko! bagaimana keadaanmu!?” sapa Lian-kim, namun Lian-kim harus heran dan khawatir setelah melihat tatapan suaminya yang kosong

“bibi, kondisi paman han tidak sesuai dengan yang diharapkan.”

“apa maksudmu lun-ji!?” tanya Lian-kim cemas sambil matanya lekat menatap suaminya yang persis orang terbelakang.

“saya harap bibi dan keluar dapat tabah dan lapang dada menerima hal yang menimpa paman han.” “katakana lun-ji apa yang telah terjadi dengan pamanmu!?”

“hmh….paman mengalami sesuatu yang aneh, dan tabib yang memeriksanya mengatakan bahwa paman kehilangan jiwa, akal dan syarafnya tidak lagi berfungsi.”

“ah…kenapa..kenapa lun-ji, kenapa pamanmu mengalami hal seperti itu?” tanya lian-kim mulai naik sedu sedannya, dan air matanya pun mengalir deras, sehingga isaknya terdengar sedih, Han-fei-lun diam membiarkan lian-kim menangis.

“katakanlah lun-ji kenapa pamanmu bisa seperti itu!?” ujar Lian-kim sambil mengusap air matanya “persisnya aku juga tidak tahu, hal itu tiba-tiba mendadak setelah paman membunuh tiga lao.” “apakah pamanmu tidak terkena racun atau sejenis ilmu hitam?”

“sepertinya tidak bibi, karena kata tabib tidak ada hawa yang mempengaruhi jalan darah paman.” “dimana pamanmu mengalami hal ini?

“dikota chang-an bibi. Hanya itu yang saya ketahui bibi.””

“ah..bagaimana ini, apa yang harus dilakukan lun-ji?” keluh lian-kim sambil mengelus muka dan kepala suaminya dengan tatapan sedih

“aku juga tidak mengerti bibi, tapi menurut saya tetaplah ditanya orang pandai uintuk mengusahakan kepulihan paman.”

“tabib yang kamu katakan, apakah dia tidak punya saran tentang hal yang dialami pamanmu?” “dia tidak ada saran bibi, karena dia juga tidak mengerti kenapa paman bisa seperti itu.”

“kalau ini berhubungan dengan jiwa, tekanan apa yang dialaminya sehingga seperti ini.” keluh lian-kim pada dirinya sendiri

“ayah sudah kembali rupanya.” seru Han-bi-goat yang tiba-tiba muncul sambil berlari dengan senyum lebar “goat-ji kamu duduk disini!” perintah lian-kim

“saya juga cendrung bahwa paman mengalami tekanan batin.”

“lun-ji kamu jangan pulang dulu, temani kami untuk menghadapi keadaan ini.”

“baiklah bibi, saya akan disini setidaknya tiga hari, dan hal perlu bibi ketahui, syaraf paman tidak berfungsi, jadi tidak ada semangat untuk melakukan apapun, bahkan sampai rasa lapar dan haus tidak akan dirasakannya.

“oh…sampai seperti itukah lun-ji?”

“kenapa dengan ayah ibu?” sela bi-goat dengan muka iba “ayah sedang sakit goat-ji.” sahut lian-kim, mata bi-goat berkaca-kaca melihat ayahnya yang tidak mengenali orang disekitarnya

“subo! ada seorang tabib didesa wei-bun, bagaimana kalau kita panggil beliau kesini.”

“kalau begitu cepatlah berangkat lam-ji.” sahut lian-kim, bao-lam segera keluar, keadaan piauwsu kasak- kusuk diluar dan mereka segera bertanya pada Bao-lam yang keluar dari dalam, namun Bao-lam hanya sekilas menjawab

“suhu sedang sakit parah, jadi a-giu cepat ikut saya, kita akan menemui Ma-sinse di desa Wei-bun.”

Bao-lam dan A-giu segera mamacu kuda menuju desa Wei-bun, Lian-kim menyuruh pelayan menyiapkan makanan untuk Fei-lun

“Fei-ko makanlah!” ujar lian-kim, namun hung-fei diam dan tidak bereaksi dan menatap kosong pada lian- kim, melihat tatapan itu lian-kim kembali terisak

“bibi harus sodorkan kemulut paman dan mendorongnya.” sela Fei-lun, Lian-kim melakukan apa yang dikatakan oleh Fei-lun, sambil berurai air lian-kim menyuap suaminya.

Malam itu suasana di rumah Hung-fei kelam dan terasa suram, Fei-lun duduk diteras rumah, tiba-tiba bi- goat muncul

“lun-ko!” panggilnya dengan nada lembut, Fei-lun menoleh gadis remaja berumur hampir enam belas tahun itu

“oh kamu goat-moi, duduklah, ada apa!?” sahut Fei-lun, bi-goat duduk “kenapa ayah bisa seperti itu?”

“hmh..entahlah goat-moi, kita berdoa saja, semoga tabib dapat memberi tahu kita dan apa yang harus kita lakukan.” sahut Fei-lun

“apakah ayah kalah dengan musuhnya yang bergelar sam-cu itu?”

“tidak goat-moi, malah sebenarnya menang, sudah kamu jangan larut dengan situasi ini, tetaplah optimis, bahwa akan ada cara untuk menyembuhkan paman.” ujar Fei-lun

“Keesokan harinya Bao-lam tiba kembali ke Bicu bersama Ma-sinse, Ma-sinse segera dibawa kekamar dan memeriksa keadaan Hung-fei, Ma-sinse dengan teliti memeriksa semua persendian, urat nadi dan bola mata Hung-fei, desahannya terdengar berat dan kepalanya geleng-geleng kepala menunjukkan keheranannya.

“bagaimana sinse?” tanya Lian-kim dengan harap-harap cemas “hmh….han-taihap mengalami tekanan rasa yang luar biasa berat.”

“ah..tekanan batin yang bagaimanakah sehingga ia mengalami hal seperti ini?” sela lian-kim

“melihat tiga efek yang dialaminya , yakni mati jiwa, akal dan fungsi syaraf, menurut pendapat saya dia mengalami rasa amarah, kecewa dan sesal yang sekaligus menghempas batinnya, ketiga rasa ini menggunung dan bertubi-tubii menghantam sukmanya.” ujar Ma-sinse

“hmh..selama ini ia baik-baik saja dan tidak ada masalah, lalu apakah keadaannya bisa disembuhkan sinse?” ujar Lian-kim

“tidak ada ramuan untuk mengobati yang dialaminya ini Han-hujin.” “oh..apakah sinse tidak ada saran apa yang harus kami lakukan?” sela Fei-lun

“saran ini hanya dari pada tidak Han-hujin, dan saya juga tidak tahu apakah ada efeknya atau tidak.” “apakah itu sinse?” tanya lian-kim dengan secercah harapan “apakah ada benda han-taihap pada masa kecilnya?”

“hmh….beliau tidak punya benda, yang saya tahu benda miliknya hanya pedang pusakanya saja.” sahut Lian-kim bingung

“maksuf sinse benda itu diapakan?” sela Fei-lun

“ditunjukkan padanya, karena menurut hemat saya, rasa sesal itu mendera benaknya untuk kembali kemasa lalu, tapi sebagaimana saya katakana tadi, saya tidak tahu apakah ada efeknya atau tidak.” sahut Ma-sinse

“hmh…apakah bibi tidak mengetahui benda apa yang paling lama dimiliki oleh paman?” “tidak tahu dan saya yakin hanya pusaka itu benda yang terlama ia miliki.” sahut lian-kim

“jika seandainya ada benda yang mengingatkannya pada masa kecilnya, masa dimana ia belum mengalami hal-hal yang disesalinya.” sela Ma-sinse, Han-fei-lun merasakan hatinya bergetar, tangannya meraba dadanya sebuah benda yang dikalungkan ibunya adalah milik han-hung-fei, dan bahkan ibunya mengatakan bahwa kalung itu pemeberian neneknya, ibu dari han-hung-fei

“bagaimana sekarang Lun-ji?” tanya Lian-kim tiba-tiba dengan nada putus asa, Han-fei-lun terkesiap, karena tidak menduga pertanyaan ditujukan padanya saat ia mengenang pemberian hung-fei pada ibunya yang sekarang ia pakai.

“han-fei-lun jadi bingung mau menjawab apa, dia menatap pada ayahnya, tapi bagaimana supaya rahasia ini tidak terbongkar, dia berpikir sejenak

“entahlah bibi, saya juga bingung.” sahut Fei-lun

“tidak adakah yang lain saran lain menurut sinse?” tanya Fei-lun

“saya tidak ada saran lain taihap, dan saran saya tadipun hanya daripada tidak saja.” sahut Ma-sinse.

Karena tidak yang mau diperbuat Ma-sinse akhirnya Ma-sinse pun diantar kembali pulang “Lun-ji! bibii merasa putus asa, karena tidak ada yang bisa diperbuat.” keluh Lian-kim sendu

“Ma-sinse juga tidak yakin dengan sarannya bibi, kita harus berusaha terus cari tahu orang pandai.” sahut Fei-lun

“tapi saya ada harapan dengan saran Ma-sinse.” “kenapa bibi mengatakan demikian?”

“saya teringat setelah Ma-sinse berkata tentang rasa sesal, benar bahwa pamanmu penyesalan pada masa lalunya.”

“hal apakah itu bibi kalau boleh tahu?”

“pamanmu pernah menyimpang dengan tiga orang wanita murid-murid datuk, tapi itu sudah dapat kami atasi saat dia mengetahuinya” ujar Lian-kim

“hmh….dan ketiganya telah tewas ditangan paman, dan setelah itu pamanpun mengalami hal ini.” sela Fei- lun

“apakah maksudmu tiga lao yang dibunuhnya?”

“benar bibi, artinya paman marah kepada ketiganya sembari juga menyesal.” “menurutmu kenapa pamanmu marah pada ketiganya? apa yang telah mereka lakukan?” tanya Lian-kim “bibi boleh aku menanyakan sesuatu pada bibi?”

“tanyakanlah lun-ji kenapa kamu sungkan?”

“saat bibi mengetahui paman menyimpang dengan tiga lao, bagaimana tanggapan bibi pada paman?”

“hmh..saat pertama tahu, saya marah sekali, namun sungguh pamanmu demikian menyesal dengan kenyataan itu, dan akhirnya bibi dapat menerima dan mengubur masa lalunya.”

“lalu bagaimana jika sekiranya masa lalu meninggalkan bekas yang tidak dapat dipungkiri.” “maksudmu bagimana Lun-ji? saya dan pamanmu tidak pernah mengungkit masa lalu.”

“penyimpangan mungkin bisa dilupakan bibi, namun jika penyimpangan itu menghasilkan hal tidak dipungkiri bagaimana pandangan bibi kepada paman?”

“lun-ji sepertinya kamu mengetahui sesuatu yang bibi tidak tahu tentang pamanmu.” “ah..mafkan aku bibi, tidak patut saya menanyakan hal itu.”

“lun-ji, apakah tiga lao memiliki anak dari pamanmu?” tanya Lian-kim “hmh….sudahlah bibi, tidak usah dipikirkan lagi.”

“kenapa engkau demikian berahasia padaku lun-ji, apa yang kamu ketahui tentang pamanmu?” tanya Lian- kim penasaran.

“maaf bibi saya tidak ingin melanjutkan pembicaraan hal itu, ini hanya sekedar berandai-andai, karena bibi mampu menerima paman saat mengetahui penyimpangan paman.”

“hmh….jika senadainya penyimpanagan itu menghasilkan anak bagi pamanmu, maka tentunya aku harus siap dengan itu, karena hal itu bisa saja terjadi.” ujar Lian-kim

“lalu apakah benar tiga lao memiliki anak dari pamanmu?”

“hmh…sepertinya demikianlah bibi, dan ironisnya ketiga anak itu dibesarkan untuk membunuh paman sendiri, dan ironisnya lagi paman tidak mampu mengalahkan mereka karena kenyataannya paman ikut membentuk kekuatan mereka dengan mewariskan kitab bun-liong-sian-kiam pada ketiganya.”

“apakah sam-cu ketiga anak tersebut?” sela Lian-kim

“benar bibi, dan inilah mungkin penyebab dari yang dialami paman hari ini, sesuai dengan kata Ma-sinse, ia menyesali perbuatannya, marah karena anaknya dijadikan alat pembunuh baginya dan kecewa ternyata warisannya ikut andil mewujudkan niat datuk dan tiga lao.”

“sejak kapankah pamanmu tahu bahwa ia memiliki anak dari tiga lao?” “hal itu saya tidak tahu persis.”

“bagaimana sikap sam-cu setelah mengetahui pamanmu adalah ayah mereka.” “sikap mereka tidak jelas bibi.”

“hmh…. pandanganmu ada benarnya juga.”

“baiklah bibi, karena sudah larut malam, saya hendak tidur, dan mungkin besok saya harus kembali ke kaifeng, ibu dan istriku tentu sudah menungguku, dan aku juga sudah rindu pada mereka.”

“baiklah Lun-ji istirahatlah.” sahut Lian-kim, Fei-lun beranjak pergi kekamarnya. Malam itu Lian-kim tidak bisa tidur, dia memeluk suaminya yang laksana mayat hidup itu, air matanya kembali berderai menangisi kondisi suaminya, menjelang pagi ia baru tertidur, dan dua jam kemudian ia harus bangun untuk memandikan suaminya dan memberi makan, dengan rasa iba dan kasih sayang lian- kim mengurus suaminya yang mutlak tiada berguna itu, saat makan suaminya dibawa keluar, dan merekapun makan bersama.

“kenapa lun-ko buru-buru meninggalkan kami?” tanya Han-bun-seng

“karena koko ditunggu sosomu dirumah, lagian ponakanmu disana masih kecil.” sahut Fei-lun sambil senyum, lalu bersantap pun berlanjut dengan akrab.

Han-fei-lun hendak berangkat, saat didepan kantor piauwkiok

“bibi saya tidak tahu seberapa besar harapan bibi dengan saran Ma-sinse, tapi patutlah untuk bibi coba.”

“maksudmu apa lun-ji, bagaimana saya mau mencoba jika benda yang dimaksud tidak saya ketahui, dan bahkan tidak ada menurut saya.”

“sebenarnya ada bibi, ini kalung adalah milik paman, cobalah tunjukkan padanya, lian-kim heran sambil menerima kalung dengan mainan berbentuk bulat dan bertuliskan HAN.

“lun-ji apa artinya semua ini, jika ini milik fei-ko, bagaimana ada padamu? kapan ia memberikannya padamu?”

“maaf bibi, aku tidak bisa mengatakan lebih banyak, permisi dan selamat tinggal “fei-lun tunggu!” teriak lian-kim, namun Fei-lun sudah menghilang

“maaf bibi, kiranya bibi dapat memenuhi perkataan bibi semalam.” sahut Fei-lun dari kejauhan, hati lian- kim makin bingung, lalu ia langsung masuk kedalam kamarnya, Hung-fei sekilas menatapnya kemudian berpaling, Lian-kim langsung mengalunkan kalung yang diberikan Fei-lun

“ibu…!” gumam Hung-fei lirih, terkesiap lian-kim mendengar seruan lirih dari suaminya, sejak datang baru inilah ia mendengar suara suaminya.

Han-hung-fei meraba kalung itu, tubuhnya gemetar dan tiba-tiba tubuh hung-fei kejang, kemudian pingsan, lian-kim mengusap wajah suaminya sambil terisak, dan hung-fei sampai malam hari belum siuman, dan ini mmebuat Lian-kim khawatir, sementara fei-lun sudah melewatkan makan siang dan kini sudah malam, dengan harap-harap cemas lian-kim menunggui suaminya, dan bahkan saat malam sudah berganti pagi, hung-fei belum juga siuman.

Ah-bian cepat panggil bao-lam!”

“baik hujin .” sahut ah-bian dan segera keluar memamggil Bao-lam yang sedang berada didalam kantor,

Bao-lam segera masuk kedalam “subo memanggilku!?”

“ya.., cepat panggil yap-sinse!”

baik subo.” Sahut bao-lam dan segera menuju rumah Yap-sinse pemilik toko obat, berselang beberapa lama Yap-sinse dating

“suamiku dari semalam belum siuman sinse, tolonglah periksa.” pinta Lian-kim, Yap-sinse segera memeriksa Hung-fei, lalu dia mengambil kotak yang berisi jarum, lalu dengan cekatan tangannya menusukkan jarum-jarum itu di titik tertentu dari tubuh hung-fei.

Satu jam kemudian hung-fei bergerak dan menginggau

“kalian memang ibu bejat, ah…lin-moi, lian-moi, hui-moi aduh oh thian aku telah membunuh mereka, lelaki bangsaat….aku memang tidak berguna, aku tidak bergunaaa…hiks…hiks…ibu…ibu….aku anakmu yang tidak tahu diri, fei-lun anakku aku memang pengecut, pengecut…ah sian-moi wanita baik nan tabah cintamu tiada bandingan..ah…sian-moi jangan maafkan aku, grhhh…..hung-fei bangsat, hung-fei manusia rendah, yaoyan tidak berperasaan, kamu tidak jera grhhh… ah…cing-moi pasti hamil, aku ini manusia apa, oh kim-moi aku tidak pantas, aku bersalah padamu, sebaiknya aku mati saja, sebaiknya aku mati saja…” hung-fei menggeliat dan membuka matanya, dan ketika orang melihat orang menatapnya dia tiba-tiba menarik selimut lalu mebggigil dan inggauannya diulangi lagi.

“bagaimana sinse?” tanya Lian-kim, Yap-sinse geleng-geleng kepala

“aku tidak mengerti kenapa dia menjadi seperti ini.” sahut yap-sinse bingung, lian-kim terduduk lemas “baiklah yap-sinse terimakasih.:” ujar Lian-kim, Yap-sinse pun pamit

“bagaimana ibu, apa yang terjadi dengan ayah?” tanya bi-goat.

“goat-ji bawa adikmu kelua dan panggilkan suhengmu bao-lam!” ujar Lian-kim, bi-goat segera membawa kedua adiknya keluar, dan memanggil Bao-lam

“iya subo apa lagikah?” tanya Bao-lam

“kamu cepat panggil kembali Ma-sinse, dan katakana keadaan suhumu padanya, dan minta tolong sangat supaya dia berkenan datang.” ujar Lian-kim

“baik subo, saya akan berangkat!” sahut Bao-lam, malam itu suasana dudalam rumah sangat mencekam, suara inggauan hung-fei merobek keheningan malam, dan itu membiuat para piauwsu merasa nelangsa dan prihatin.

Keesokan harinya Ma-sinse berkenan ikut dan kembali memeriksa Hung-fei “bagaimana ceritanya sehingga seperti ini han-hujin?”

“saat saya mengalungkan kalung itu padanya dia menjerit ibu, lalu dia menggigil dan kejang terus pingsan, karena tidak siuman, saya minta pada tolong pada Yap-sinse, dan Yap-sinse melakukan akupuntur padanya, dan setelah itu dia terus menginggau seperti ini.” sahut Lian-kim cemas

“hmh…tenaglah han-hujin, ini adalah satu kemajuan, karena jiwanya sudah hidup dan fungsi syarafnya sudah normal kembali, dan memang yang tersisa hanyalah akalnya yang belum pulih.” ujar Ma-sinse.

“lalu apa yang harus dilakukan sinse?” tanya lian-kim “hmh….siapa perempuan yang bernama sian itu hujin?” “ada apa sinse, kenapa sinse tanyakan nama itu?”

“kalau bisa datangkanlah perempuan itu untuk menjawab inggauannya pada bagian mengenai perempuan itu, karena nampaknya puncak penyesalan paling hebat ada pada wanita ini, sehingga ia sendiri tidak rela dimaafkan.”

“orangnya sangat jauh sinse, dia berada dikota kaifeng.” “kalau begitu bawalah taihap kesana.”

“sampai kapan hal ini berlaku sinse? dan apa jawaban yang harus dikatakan sian padanya?”

“wanita bernama sian itu harus menjawab saat dia mengatajan “kamu jangan memafkan aku” dengan jawaban “aku akan memafkanmu karena kamu gila.” usahakanlah perempuan itu menjawab terus, sampai taihap menjawab “aku tidak gila” jika jawaban ini muncul maka inggauan itu akan stop sampai disini, dia akan terus menginggau dan stop pada perkataan “aku tidak gila” dan perempuan itu haru berkata, “kalau kamu tidak gila, katakan padaku kalung ini siapa punya dan kepada siapa engkau berikan.” nah kalau dia sudah benar menjawab kedua pertanyaan itu, maka kemungkinan dia akan diam, dan sejak itu perempaun ini harus membisikkan “semangat hidup pada han-taihap.” “boleh aku tahu bagaimana sinse mempunyai gambaran seperti itu?”

“sudah saya katakan tadi puncak penyesalan terdalam pada wanita ini, kemungkinan wanita ini dulunya yang dilukai han-taihap, maaf Han-hujin.” sahut Ma-sinse.

Keesokan harinya rombongan Han-piauwkiok meninggalkan kota bicu membawa Hung-fei ke kota kaifeng, sesaat mereka singgah di wei-bun menurunkan Ma-sinse, kemudian perjalanan dilanjutkan menuju kota kaifeng, sesampai dikota lokyang, para piauwsu dikantor cabang terkejut mengetahui pangcu atau suhu mereka sakit, semalam mereka menginap dikantor cabang, dan kemudian melanjutkan perjalanan.

Han-fei-lun sudah tiga minggu sampai dirumahnya, dua hari setelah kedatangannya ia menceritakan perjalanannya dan keadaan Bun-liong-taihap, ibunya hanya terkejut

“ah kalau dia tahu dan pasti lian-kim akan penasaran, apakah yang akan terjadi dengan han-taihap?”

“sudahlah ibu, sudah suratan bahwa kenyataan ini harus terungkap.” sahut Fei-lun, ibunya terdiam, sejak itu fei-lun kembali fokus pada anak didiknya, dan bermain-main dengan anaknya Han-liang-jin, istrinya yang penuh cinta menyamankannya disetiap istirahatnya, canda rindu dan ajakan mesra membuat fei-lun menikmati kebahagiaanya.

Siang itu Fei-lun danb para muridnya sedang berada dipustaka membaca buku yang berjubel didalamnya, tiba-tiba seorang pelayan menjemputnya, kongcu nyonya besar memanggil tuan karena kita kedatangan tamu.” ujar pelayan itu, Fei-lun segera meninggalkan ruang perpustakaan, dan hatinya terkejut melihat keluarga hung-fei duduk bersama ibunya, dan bahkan sangat heran ketika inggauan hung-fei terdengar “maaf bibi saya terlambat menyambut.” ujar Fei-lun sambil duduk disamping ibunya, sementara istrinya dan seorang pelayan menghidangkan makanan dan minuman.

“bagaimanakah paman hingga seperti ini?” tanya fei-lun heran

“aku juga tidak mengerti lun-ji, namun kedatangan kami kesini, adalah untuk melanjutkan pengobatan ayahmu ini.” sahut Lian-kim tandas, fei-lun tercekat, tapi mau bagaimana lagi, inggauan hung-fei sangat jelas, bahwa dia adalah anaknya

“bagaimana maksud pengobatan lebih lanjutnya bibi?” tanya fei-lun

“sejak kalung yang kamu berikan, memang memberikan pengaruh padanya, dan bahkan pingsan lebih dari satu hari, ayahmu siuman setelah tubuhnya diakupuntur oleh seorang tabib, dan sejak itu ayahmu menginggau terus seperti yang kamu lihat.”

“lalu bagaimana selanjutnya bibi?”

“oleh Ma-sinse menganjurkan kami datang menemui ibumu, karena katanya sesal terdalam yang dirasakan ayahmu adalah melukai ibumu.”

“aku tidak mengerti apa-apa kim-moi, mengenai penyakit han-taihap.” sela ;Liu-sian menatap iba pada lian- kim

“aku juga demikian sian-cici, hanya aku minta tolong kita lakukan apa yang disarankan Ma-sinse.” “apa yang bisa aku lakukan untuk membantu kim-moi.”

“sebaiknya kita bicarakan dikamar saja sian-cici.”

“seharusnya memang demikian ibu, mari goat-moi, ajak kedua adik, ikut aku melihat-lihat taman dibelakang.” sela Fei-lun

Liu-sian mengajak suami istri itu kekamar tamu “apakah yang bisa saya lakukan kim-moi?”

“begini cici, jika fei-ko menginggau dan sampai pada bagian menyuruh kamu jangan memafkannya, maka jawablah kamu memaafkannya karena dia gila, itu saja dulu” sahut :lian-kim, Liu-sian mengangguk, saat itu kembali hung-fei menginggau

“kalian memang ibu bejat, ah…lin-moi, lian-moi, hui-moi aduh oh thian aku telah membunuh mereka, lelaki bangsaat….aku memang tidak berguna, aku tidak bergunaaa…hiks…hiks…ibu…ibu….aku anakmu yang tidak tahu diri, fei-lun anakku aku memang pengecut, pengecut…ah sian-moi wanita baik nan tabah cintamu tiada bandingan..ah…sian-moi jangan maafkan aku…

“aku memaafkanmu karena kamu gila.” sahut Liu-sian dengan iba

“grhhh…..hung-fei bangsat, hung-fei manusia rendah, yaoyan tidak berperasaan, kamu tidak jera grhhh… ah…cing-moi pasti hamil, aku ini manusia apa, oh kim-moi aku tidak pantas, aku bersalah padamu, sebaiknya aku mati saja, sebaiknya aku mati saja…”

Kembali hung-fei menginggau dan saat pada kalimat yang soal maaf, Liu-sian menjawab, begitulah sampai malam berlangsung, dalam seharian itu ada lima belas kali liu-sian harus menjawan inggauan hung-fei, bahkan keesokan harinya sampai tiga puluh kali, pada hari kelima han-hung-fei mengingga untuk ketuga pulu enam kalinya

“kalian memang ibu bejat, ah…lin-moi, lian-moi, hui-moi aduh oh thian aku telah membunuh mereka, lelaki bangsaat….aku memang tidak berguna, aku tidak bergunaaa…hiks…hiks…ibu…ibu….aku anakmu yang tidak tahu diri, fei-lun anakku aku memang pengecut, pengecut…ah sian-moi wanita baik nan tabah cintamu tiada bandingan..ah…sian-moi jangan maafkan aku…

“aku memaafkanmu karena kamu gila.” sahut Liu-sian dengan iba

“aku tidak gila…aku tidak gilaa…” teriak hung-fei dan tubuhnya menggigil lemas, pada malam harinya Fei- lun menginggau lagi

“kalian memang ibu bejat, ah…lin-moi, lian-moi, hui-moi aduh oh thian aku telah membunuh mereka, lelaki bangsaat….aku memang tidak berguna, aku tidak bergunaaa…hiks…hiks…ibu…ibu….aku anakmu yang tidak tahu diri, fei-lun anakku aku memang pengecut, pengecut…ah sian-moi wanita baik nan tabah cintamu tiada bandingan..ah…sian-moi jangan maafkan aku, auh ah..ah…aku tidak gila..a,,aku tidak gila.”

“benar kata Ma-sinse, sian-cici, selanjutnya kata ma-sinse, pernyataan tidak gila dari fei-ko harus disela dengan menanyakan kalung ini milik siapa dan diberikan pada siapa.” ujar lian-kim, liu-sian pun melakukan seperti yang disuruh, pada hari ketiga dua pertanya itu belum dijawab oleh Hung-fei, namun pada hari ketiga, pada inggauan ke dua puluh lima

“kalian memang ibu bejat, ah…lin-moi, lian-moi, hui-moi aduh oh thian aku telah membunuh mereka, lelaki bangsaat….aku memang tidak berguna, aku tidak bergunaaa…hiks…hiks…ibu…ibu….aku anakmu yang tidak tahu diri, fei-lun anakku aku memang pengecut, pengecut…ah sian-moi wanita baik nan tabah cintamu tiada bandingan..ah…sian-moi jangan maafkan aku, auh ah..ah…aku tidak gila..a,,aku tidak gila.”

“kalau kamu tidak gila milik siapakah kalung ini? dan kamu   berikan   sama   siapa?”   tanya Liu-sian, hung-fei menatap kalung yang dipegang liu-sian

“itu kalung milik ibuku kuberikan pada sian-moi, yah sian-moi..” hung-fei pun diam, dan perhitungan Ma- sinse tepat, sejak itu hung-fei hanya berdiam.

“apa lagi kim-moi menurut Ma-sinse?” tanya liu-sian

“pada kondisi ini Ma-sinse menyarankan supaya sian-cici membisikkan semangat hidiup padanya.:” sahut Lian-kim, Liu-sian pun mulai melakukan yang dikatakan lian-kim, kondisi ini berlaku sampai sepuluh hari, dan sore itu pada hari kesepuluh, liu-sian bersama lian-kim menjenguk hung-fei dikamarnya

“fei-ko..berlapang dadalah pada setiap kenyataan, lanjutkanlah hidup, masih banyak yang harus koko lakukan untuk kehidupan ini, tanggung jawab menanti fei-ko.” ujar Liu-sian dengan hati pilu dan tangisnyapun pecah, sesugukannya menggaung ditelinga hung-fei, suara tangis itu menggugahnya, tiba- tiba ia bangkit dan menoleh pada liu-sian

“sian-moi, eh kenapa aku disini, ah kamu kim-moi dimanakah kita?” sela hung-fei “kita dirumah sian-cici fei-ko.” sahut lian-kim “sian-moi, kamu menangis, kenapa?”

“fei-koko apakah hanya sian-cici yang sapa, sapalah apa yang terhasrat dalam hatimu, dan aku sudah mengetahui apa yang kamu miliki dari sian-cici.” ujar lian-kim

“hmh…aku tidak tahu harus bagaimana kim-moi, anakku banyak tapi mereka lahir dari kebiadapanku.”

“sudah fei-ko, masa lalu sudah berlalu, masa depan tidak seharusnya masa lalu terulang lagi.” sela Liu- sian

“dan fei-ko keluatga kita akan normal kembali jika kamu menikahi sian-cici.” “kim-moi haruskah seperti itu?” sela liu-sian

“sepatunyalah demikian cici, bagaimana fei-ko.!?”

“kim-moi, jika engkau rela maka hal itu kebaikan untukku, tapi apakah lun-ji setuju?” “bagaimana menurutmu sian-cici?”

“sebaiknya aku bicara padanya.” sahut liu-sian, lalu dia beranjak dari kamar mencari anaknya, hatinya hangat namun takut dan bimbang

“lun-ji sepertinya ayahmu sudah sembuh dan sudah mengenal kami.” “syukurlah kalau begitu, lalu apa rencana bibi?”

“ayah dan bibimu melamar aku, bagaimana menurutmu nak?”

“ibu.., penantian ibu sudah berakhir, jika memang suratan sesuai dengan keinginan, tidaklah tepat jika ditolak, aku bahagia jiika ibu merasa bahagia.” sahut Fei-lun

“marilah temui ayahmu, kalau begitu!” ujar liu-sian dengan muka merah bersemu malu, lalu keduanya menuju ruang tengah, disana hung-fei dan lian-kim menunggu

“lun-ji terimakasih telah menjaga ibumu akibat kealfaan ayahmu ini.”

“ayah sudah selayaknya anak menjaga ibunya, jika ayahnya tidak dirumah, dan jika ayah sudah datang ibuku mau dibawa, apa hak anak untuk melarang dan menantang.” sahut Fei-lun

“tentunya kamu pada ayahmu ini lun-ji, jadi tolong ayahmu ini dimaafkan, sinar matamu yang meninggalkanku di chang-an sangat membuat hatiku gundah.”

“maaf ayah jika ayah merasa demikian, namun anak memang mata gelap saat itu, hingga lupa pesan ibu.” “aku memang pengecut anakku dan berlaku anaiaya kepada bibimu.”

“sudahlah ayah, lalu bagaimana rencana ayah selanjutnya?”

“tentu ibumu sudah menyampaiukan padamu lun-ji, bagaimana pendapatmu?” sela lian-kim

“terimakasih bibi, ini semua berkat kelapangan hati bibi, aku sebagai anak merasa bersyukur dengan kenyataan yang saya dan ibu terima saat ini.”

“kalau begitu, kita aturlah pernikahan ayah dan ibumu.” sahut lian-kim, Fei-lun mengangguk, dan suasana dirumah itu terasa semarak dengan kesembuhan Fei-lun.

Tiga hari kemudian pernikahan sederhanapun dilaksanakan, Fei-lun merasa hatinya lega dan liu-san merasakan kembali cintanya, kehangatan pandangan han-taihap m,ebuat hatinya berdegup kencang, sepertinya ia lebih merasa kikiku daripada gadis muda yang menikah, pesta itu dihadiri tetangga, para piauwsu dan pegawai khu-liokoan, setelah acara pernikahan, hung-fei daan liu-sian menjalani malam pengantin, tidak terlukiskan bagaimana bahagianya Liu-sian, gemetar seluruh tubuhnya saat Hung-fei kembali menyentuhnya, selama seminggu Hung-fei berada dirumah liu-sian menjalani masa pengantin, lian-kim dengan hati teduh melihat suaminya meraih madu asmara dengan madunya liu-sian, wanita yang dikenalnya dengan baik, bahkan melihat bagaimana anaknya lahir yang ternyata adalah anak dari suaminya.

Han-hung-fei memboyong liu-sian kekota bicu, dia akan hidup didampingi kedua istrinya, hatinya bahagia, jiwanya cerah secerah matahari yang mulai naik sepenggalah saat meninggalkan kota kaifeng, Fei-lun melepas kepergian ayah dan ibunya serta keluarganya yang lain.

Dengan demikian berakhirlah kisa anak-anak naga, semoga bermamfaat disampng sebagai bacaan yang menghibur…..terimakasih

Batam 2 Februari 2013 Rajakelana

Bagaimanakah dengan sam-cu dan hirarki alirannya? benarkah han-hung-fei akan merasakan bahagia? dan bagaimana kehidupan siauw-taihap selanjutnya? ikuti kisah selanjutnya dalam judul:

Xuexing-Yichan (Warisan Berdarah)

>>>>> TAMAT <<<<<