Tunggul Bintoro Jilid 21 (Tamat)

 
JILID XXI (Tamat)

“TIDAK GAMPANG KALIAN datang kemari.” Katanya. “Silahkan masuk dan marilah kita omong-omong didalam.”  

Mintaraga menjadi bersangsi. Ia tak dapat meraba akan sikap Arya

Panuju ini. Ia benar-benar bingung sebab tak tahu sikap Arya Panuju ini bermusuhan ataukah bersahabat.

Melihat kesangsian Mintaraga ini Arya Panuju terus tertawa dengan riuh.

“Kalian ini mempunyai keberanian untuk datang ke Banten, akan tetapi apakah kalian tak mempunyai keberanian untuk masuk kedalam penjara?” Katanya dengan sinis.

“Hem...!” Seru Candra Wulan yang terus memperdengarkan suaranya. Segera saja ia mendahuiui masuk. Karena itulah ia lalu diikuti oleh yang lain- lainnya. Arya Panuju menutup lagi rapi-rapi pintu rahasia itu. Setelah itu ia lalu melompat turun paling belakangan.

Lubang itu ternyata gelap dan panjang sekali, sedangkan lebarnya hanya empat atau lima depa saja. Setelah itu barulah terlihat sebuah sinar terang. Lorong itu panjangnya kurang lebih tiga puluhan meter, dan didalamnya terdapat sebuah ruangan yang indah. Bahkan lengkap dengan hidangan- hidangannya yang berupa daging dan tuak.

“Arya Panuju”Seru Mintaraga dengan tertawa. “Kami datang dari jarak jauh, kau menyambut kami dalam gua ini. Apakah ini telah menjadi caramu untuk menyambut kedatangan kenalan lama?”

Arya Panuju tak menjadi kurang senang ataupun malu. Sebaliknya ia malahan menghela napas panjang.

“Bicara mengenai hal yang dahulu itu, bukannya aku takabur.”Katanya. “Rumahku berharga sampai ribuan keping emas, bahkan jutaan. Pelayanku ada ratusan orang, sekali saja aku memanggil maka yang datang tentu seratus. Akan tetapi sekarang ini kedudukanku tergoncang. Gelar orang gagah nomor satu di Banten ini akan segera runtuh dari pundakku ”

Semua orang menjadi heran.

‘Pantas kalau begitu.’ Pikir Hasto Piguno. ‘Kita-kita mencari dia, kita tanya sana tanya sini akan tetapi semua orang hanya dapat menggelengkan kepala dan mengatakan kalau tak mengenalnya..... siapa sangka, dia menyembunyikan diri disini.’

Arya Panuju menjatuhkan dirinya diatas kursi. Tangannya diulapkan mempersilahkan para tamunya duduk.

“Disini terdapat daging, ikan dan tuak. Akan tetapi siapakah diantara kalian yang sudi menolongku untuk memasakkannya?” Serunya dengan setengah bertanya. “Aku sangat lapar sekali, mungkin aku akan segera mati kelaparan karenanya...... Mintaraga, bagus sekali kau datang. Nanti setelah perutku kenyang maka banyak sekali omongan yang akan kuutarakan kepadamu.”  

Kembang Arum adalah seorang perempuan yang pandai memasak.

Tanpa disuruh lagi ia lalu turun tangan. Dan Candra Wulanpun lalu ikut membantunya.

“Kukatakan terus terang saja kepadamu, ini bukannya gedungku.” Seru Arya Panuju meneruskan. “Hanyalah tempatku bersembunyi. Musuhku berada didekat sini saja. Mungkin malam nanti mereka bakal datang Mintaraga. Kuharapkan kau sudi menolongku ”

Setelah itu Arya Panuju mengambil obat-obatan yang terdiri dari reramuan dan segera mengobati lukanya.

Mintaraga menjadi heran sekali. Bahkan menjadi pusing. Sebab dari Jawa Tengah ia datang ke Banten bukan lain hanya untuk bertempur melawan Arya Panuju. Akan tetapi sesampainya di Banten ia malahan dimintai tolong oleh orang yang dianggap musuhnya ini. Tapi ia tak sangsi lagi untuk memberikan jawaban dan apa yang harus dilakukannya.

“Baiklah.” Jawabnya singkat. “Kau katakan saja aku harus pergi kemana? Masuk lautan api atau gelombang air?!”

Baru sekarang Arya Panuju dapat tersenyum.

“Mintaraga, aku sungguh sangat bersyukur sekali setelah mendengar perkataanmu kalau kau sudi membantuku.” Serunya. “Hanya saja lima iblis itu sakti sekali, mereka mempunyai ilmu tinggi, sebenarnya sukarlah untuk melawan mereka ”

Mintaraga tertawa lebar, akan tetapi didalam hati kecilnya ia berkata : ‘Apakah ini perkataan dari Arya Panuju? Rupa-rupanya ia telah

menderita yang hebat sekali.   ’

Ia kemudian melihat sekelilingnya. Didalam itu terdapat selembar papan besi, tebalnya kira-kira empat senti, panjangnya dua depa, beratnya kurang lebih tiga atau empat ratus kati. Ia mendekati papan itu dan kemudian menotok dengan jari tangannya. Papan itu berlubang.

“Bagaimana? Apakah ini cukup?!” Dia bertanya dan kemudian tertawa, Papan itu terus dilemparkannya. Arya Panuju terkesiap akan tetapi terus saja ia menjadi ragu-ragu.

“Sukar untuk dikatakan.” Serunya dengan perlahan. “Jarimu sangat hebat akan tetapi mereka itu berilmu........ ah aku tak tahu mereka itu mempergunakan ilmu apa. Akan tetapi yang jelas kalau aku bentrok dengannya maka aku selalu roboh. ”

Mendengar ini semangat Mintaraga menjadi terbangun.

“Arya Panuju.” Katanya dengan nyaring. “Jangan kau menjadi kecil hati. Biarpun bagaimana juga nanti aku akan berusaha menghadapinya dengan sedapat-dapatku dan sebaik mungkin. Sebenarnya mereka itu siapakah dan mengapa memusuhimu?”

“Panjang sekali ceritanya untuk mendongengkannya.” Jawab Arya Panuju. Kembali orang Banten ini menarik napas panjang. “Sejak aku pulang  

dari Jawa Tengah aku terus melatih diri. Sebab aku harus menyambut

kedatangan sahabat-sahabatku dari Jawa Tengah. Akan tetapi diluar kesangkaanku, kelima iblis itu datang menyatroni aku dan menantangku berkelahi. Aku adalah orang kuat nomor satu di Banten ini, begitu ada orang yang berani menantangku maka tak ada alasan lain bagiku untuk tak melayaninya. Pertamanya aku menganggap kalau kepandaiannya itu hanya biasa saja. Memang sering aku melayani orang-orang sebangsa mereka. Setiap tahun bisa sampai puluhan kali. Entah telah berapa banyak orang yang berkelahi denganku dan berapa pula yang telah keok dengan kehebatanku. Akan tetapi kali ini ketika kami saling beradu tangan maka aku mendapat kenyataan kalau mereka itu bukanlah orang-orang yang berkepandaian sembarangan saja. Satu saja diantaranya telah sukar sekali untuk kulayani. Apa lagi mereka itu datang berlima ”

Kemudian ia menghentikan perkataannya sejenak, dan setelah menghela napas kembalilah Arya Panuju melanjutkan ceritanya :

“Baru bertempur tiga puluhan jurus aku telah dapat dirobohkannya. Gedungku terus mereka duduki dan seluruh harta bendakupun dirampasnya. Aku telah diusir dan kemudian hidup dikampung. Disini aku memikirkan daya upaya untuk membalas dendam ini. Merekapun telah petentang-petenteng karena banyak jago-jago yang telah dikalahkannya. Entah mengapa, entah kejam ataupun bagaimana. Ia terus mencariku dan akan membunuhku. Untunglah bagiku, karena aku mempunyai tempat persembunyian ini maka aku dapat lolos dari tangannya.

Arya Panuju menjadi sangat lesu dan kepalanya kemudian ditundukkan. Ia bukan lagi sebagai Arya Panuju yang gagah perkasa seperti dulu itu. Mendadak saja ia melompat bangun dan tangannya mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya. Itulah kulit kambing yang mengukir sebuah peta. Setelah itu ia mengangsurkan benda itu kepada Mintaraga.

“Mintaraga kalau kau dapat membalaskan dendamku ini maka aku bersumpah untuk menyerahkan kulit kambing ini kepadamu.”

Diam-diam Mintaraga menjadi girang sekali dan segera saja ia menyambutnya. Bersama dengan itu ia lalu mengingat sesuatu.

“Arya Panuju, aku berjanji akan membantumu.” Katanya dengan nyaring. “Untuk itu aku dan kau tak perlu membuat sebuah perjanjian baru. Untuk persahabatan kita ini aku rela berkorban. Akan lebih baik kalau peta ini kau simpan dahulu sampai aku dapat merobohkan lima orang iblis yang selalu mengganggumu itu. Kemudian hal-hal lainnya dapat kita lihat belakangan saja.” Setelah berkata demikian Mintaraga lalu menyerahkan kembali peta itu kepada Arya Panuju.

Arya Panuju menjadi heran, hingga ia melengak. Namun tanpa sesadarnya ia lalu menyambut kembali petanya itu.  

“Siapakah lima orang iblis itu?” Tanya Wirapati. “Bukankah kau belum

menjelaskan siapa adanya mereka itu?!”

“Mereka adalah Panca Iblis Langit Bumi Dunia Akherat. “Jawab Arya Panuju.

Mendengar ini Mintaraga hanya tertawa saja.

“Belum pernah aku mendengar nama mereka itu.” Katanya dengan tetap tersenyum-senyum. “Bagaimanakah kesaktian mereka itu ki Arya Panuju?”

Memang sengaja Mintaraga menanyakan kesaktian mereka, sebab kalau orang telah berani memakai nama langit bumi apa lagi dunia akherat tentunya telah mempunyai andalan yang boleh juga.

Ketika itu tampaklah Kembang Arum dan Candra Wulan telah muncul sambil membawa nasi dan lauk pauknya. Melihat ini mereka lalu makan terlebih dahulu. Dalam waktu ini Mintaraga sedikitpun tak pernah menyinggung-nyinggung tentang Tunggul Tirto Ayu, mereka hanya cukup memperbincangkan soal lima orang iblis itu saja. Mintaraga sedang memikirkan daya upaya untuk melayani mereka itu. Kalau Arya Panuju yang disebut sebagai jago nomor satu didaerah itu saja kalah, maka dapatlah dibayangkan betapa hebatnya kepandaian mereka itu.

“Kalau mereka itu maju dengan orang banyak, mengapa kita tak melayani mereka dengan keroyokan pula?” Seru Candra Wulan dengan singkat. Memang gadis ini tak mau memutar otak. “Kalau lima lawan lima maka tak perlu kita takut ”

Usul ini ada yang menyetujui, akan tetapi ada pula yang menentang. “Sekarang ini janganlah kita memikirkan yang terlalu bertele-tele.” Seru

Mintaraga. “Kalian baiklah mendengarkan keterangan-keteranganku saja.”

Karena itulah mereka lalu berhenti memikirkan hal itu, bahkan selama kurang lebih sepenanakan nasi mereka hanya berdiam diri. Tak seorangpun yang mengeluarkan omongan.

“Dengan berdiam diri disini maka kita akan salah tindak.” Seru Mintaraga kemudian. “Ini berarti kita menunjukkan kelemahan saja, baiknya marilah kita keluar dan menanti mereka secara jantan.”

“Memang sebaiknya demikian.” Seru beberapa suara.

Setelah mendapat persetujuan, mereka lalu naik dari terowongan dan Arya Panuju mementang pintu sambil menanti mereka, Mintaraga dan rombongannya ini dijamu minum-minuman.

Dengan tanpa terasa maka tengah malampun tiba. Akan tetapi orang- orang yang menamakan dirinya sebagai lima iblis langit bumi dunia akherat itu belum juga datang. Bukan main kesalnya setelah sekian lamanya mereka itu belum juga datang-datang. Bahkan mereka ingin segera musuh- musuhnya datang hingga dengan demikian mereka akan dapat menunjukkan kalau perguruannya ini masih mempunyai kesaktian yang  

jauh melampui perguruan-perguruan lainnya. Ingin mereka menegakkan

perguruan Lawu.

Arya Panujupun tak memikirkan soal Tunggul Tirto Ayu lagi. Kini seluruh pikirannya telah dicurahkan untuk mencari daya upaya bagaimana caranya mengalahkan lima orang musuhnya itu.

Bahkan Candra Wulan bukannya menjadi takut, malahan ia sangat bernafsu untuk mengadu kepandaiannya dengan para lawan Arya Panuju yang disohorkan sebagai orang-orang sakti.

Mintaraga duduk dengan tenang bagaikan orang sedang bersemedi.

Oleh karena itulah meja perjamuan ini sangat sepi sekali.

Namun tak beberapa lama kemudian terdengar suara Mintaraga sambil mengangkat cawannya.

“Silahkan masuk, telah lama aku yang rendah menantikan kedatangan kalian.”

Menyusul undangan ini, sebuah bayangan terlihat berkelebat masuk tanpa mempedulikan kepada siapapun juga. Setelah itu dia menancapkan goloknya yang mengeluarkan sinar emas, bahkan tanpa berkata apa-apa ia lalu mengundurkan diri lagi.

Candra Wulan menduga inilah sebuah tantangan. Dengan cepat gadis perkasa ini melompat bangun dan mengeluarkan tangannya untuk mencabut golok itu.

“Jangan.” Seru Arya Panuju. “Jangan pegang. Setelah berkata demikian ia lalu mengambil sapu tangan dan mendahului memegangnya.

Candra Wulan heran, ia mengawasi dengan melengak. Dengan hati-hati Arya Panuju lalu memegang goloknya dengan perantaraan saputangan. Kemudian mencabut dengan pelan-pelan.

“Golok ini ada racunnya.” Katanya. Mendengar ini Candra Wulan kaget sekali.

“Setan alas, kalau kau laki-laki keluarlah.” Umpatnya. “Mengapa harus main kucing-kucingan.”

Begitu Candra Wulan menutup mulutnya, maka terdengarlah sebuah tawa yang menyambung keheningan suasana.

“Jangan kau mencari mati nona.” Seru suara itu dengan tetap tertawa lebar. “Aku Iblis ketiga segera datang.”

Candra Wulan terkejut, akan tetapi ia segera menutup diri dengan kakinya menarik mundur.

Kembali orang yang menamakan dirinya Iblis ketiga tadi memperdengarkan suara tawanya. Sebuah tawa yang kering dan menyeramkan.

“Jangan takut nona cilik.” Katanya kemudian. “Aku tak akan melukai kaum wanita.”  

Setelah berkata demikian maka iblis itu lalu menampakkan dirinya.

Begitu muncul lalu tampaklah sebuah wajah yang menyeramkan. Ia berwajah kuning pucat, sedangkan matanya celong. Jidatnya jantuk. Kedua pipinya perot. Tubuh Iblis ketiga itu sangat kurus sekali. Hingga kelihatannya bagaikan tulang terbungkus kulit saja. Benar-benar bagaikan mayat hidup.

“Kau manusia atau setan?” Tegur Candra Wulan. Selama hidupnya belum pernah ia melihat manusia yang benar-benar menyerupai hantu.

Iblis itu menebarkan pandangannya kesekitar.

“Eh... Arya Panuju, kau tak sanggup melawan kami.” Katanya dengan nada yang sangat dingin. “Sekarang kau mendatangkan lima orang gila dari Jawa Tengah.”

Mendengar ini maka muka jago Banten ini menjadi sangat merah.

“Iblis ketiga.” Katanya dengan jengah. “Apakah kau datang seorang diri?” Setelah menghela napas maka kembalilah Arya Panuju berkata :

“Baiklah mereka kau suruh masuk kemari, kita akan bisa bermain-main sekalian disini.”

Panca iblis langit bumi dunia akherat ini memang ada reruntunannya. Yang besar iblis tua dan yang terkecil iblis muda. Mereka ini tak punya nama.

Mendengar perkataan Arya Panuju ini maka Iblis ketiga lalu tertawa berkakakan :

“Aku ingin menyaksikan bocah-bocah Jawa Tengah.” Katanya dengan nada yang sangat sombong. “Bukankah mereka itu mempunyai keberanian yang menakjubkan? Dengan beraninya mencampuri urusan kita maka dia boleh juga dicoba kepandaiannya.”

Walaupun ia orang Banten tulen, akan tetapi kromo inggilnya sangat halus dan hebat. Hingga dengan demikian nada lagunya benar-benar menyindir rombongan Mintaraga.

Candra Wulan kehabisan kesabaran. Segera ia menghunus pedangnya. “Tak usah kalian mengurus orang-orang dari Demak Bintoro.” Serunya

dengan lantang. “Aku Candra Wulan justru akan mengurus kalian semua.” Perkataan ini ditutup dengan tikaman.

Iblis ketiga tertawa lebar dan mengelak.

“Nona cilik, aku Iblis ketiga tak bisa melawan wanita.” Katanya dengan nada tawar. “Gundikku yang kelima baru meninggal dunia, baiklah kau saja yang menggantikannya kedudukannya.” Ia mengawasi dengan tajam dan lagaknya sangat ceriwis.

Candra Wulan marah hingga tubuhnnya gemetar. Karena kemarahannya ia tak dapat turun tangan.

Kembang Arumpun sangat marah. Segera saja ia melompat dan menyerang dengan tangan kosong.  

Iblis ketiga tertawa geli.

“Kau juga ingin menjadi gundikku?” Katanya mengejek. “Bagus... bagus sekali.” Ia mengelak sambil menggeser tubuhnya. Akan tetapi serangan Kembang Arum sangat cepat, kepalannya nyasar kepundak.

Iblis ketiga menjerit kelabakan, ia merasa sangat sakit sekali.

Tepat pada waktu itu empat bayangan berkelebat masuk, dan pakaian mereka sangat berlainan.

“Bagus” Seru mereka.

Inilah Panca Iblis langit bumi dunia akherat yang wajahnya sangat menyeramkan. Mereka ini tak bertubuh besar bagaikan raksasa, melainkan kurus-kurus, hanya iblis tua orang pertama itu saja yang mempunyai kepala besar dan kupingnyapun sangat besar. Tubuhnya bagaikan termomok. Kate sekali. Pakaiannya mirip seorang sastrawan.

Iblis kedua orangnya kurus kecil akan tetapi tinggi. Wajahnya mirip dengan dewa. Diantara kelima iblis itu, dialah yang terhitung jangkung dan selonjor gala.

Yang paling luar biasa adalah Iblis keempat. Dia cantik, matanya biru.

Rambutnya kuning emas. Ia tertawa ketika menyaksikan Iblis ketiga marah. “Kakang ketiga.” Katanya. “Siapakah yang menyuruhmu kemaruk

dengan wanita? Apakah kelima orang istrimu itu kurang?” Iblis pertama tertawa lebar.

“Adik ketiga.”Katanya. “Kita berdua harus mengatur batas-batas. Itu orang yang bernama Candra Wulan boleh kau ambil, akan tetapi orang yang menyerangmu tadi adalah bagianku.”

Iblis ketiga masih saja menyeringai, karena pundaknya terasa sakit. “Kakak ketiga.” Seru Iblis muda. “Sabarlah, aku akan membantumu tak

akan aku membantu kakang pertama.”

“Bagus.” Seru Iblis ketiga. “Kau bantulah aku mendapatkan istri nanti aku akan menghadiahkan kepadamu sebutir mutiara.”

Demikianlah iblis-iblis itu bergurau. Mereka tak menghiraukan sama sekali kepada Kembang Arum dan yang lain-lain. Hanya Iblis kedua yang sejak tadi berdiam diri saja.

“Ki sanak, apakah kalian telah cukup bicaranya?” Tanya Mintaraga yang semenjak tadi diam saja. “Sekarang marilah, aku yang akan melayani kalian.” Bersama dengan itu Mintaraga lalu menepuk meja dan cangkir tuak melayang tinggi. Setelah itu lalu menyamplok dengan lengan bajunya.

Lima cangkir itu menyambar kearah lima kepala iblis itu.

“Hebat...” Seru Iblis pertama. “Akan tetapi sayang sekali kita tak doyan tuak, hingga sia-sia saja kebaikanmu itu ki sanak.”

Setelah berkata demikian Iblis pertama itu lalu mengebutkan tangannya dan kembalilah lima buah cangkir tadi kembali ketempatnya semula.  

“Bagus...” Seru mereka dengan serempak. Itulah sebuah pertandingan

tenaga dalam yang sangat menarik.

Sewaktu itu tiba-tiba saja Candra Wulan menikam Iblis ketiga, yah orang yang tingkah lakunya menyebalkan sekali. Ia percaya kalau orang ketiga ini adalah yang paling lemah sendiri, karena hal itu terbukti dengan terpukulnya oleh pukulan Kembang Arum.

Iblis kelima berada didekat kakaknya, hingga ketika melihat Candra Wulan menikam kakaknya, segera ia menggelinding sambil menyambar kaki Candra Wulan. Sejenak Candra Wulan terjerunuk kedepan. Akan tetapi segera ia menekan tanah untuk melompat bangun.

“Kakang Mintaraga, apakah kau masih tak mau turun tangan?” Kata Candra Wulan dengan sengit. “Biarlah kalau begitu aku yang bertempur seorang diri saja.

“Baik.” Jawab Mintaraga yang terus menghadapi lawannya. “Eh... Panca Iblis Langit Bumi Dunia Akherat, marilah kita bicara. Kau menghina sahabatku Arya Panuju itu masih tak mengapa. Akan tetapi kini kau menghina kawanku wanita ini. Terang kalau sakit hati ini harus dibalas. Kalian berlima akupun berlima marilah bertempur seorang lawan seorang.

Sehabis berkata demikian ia lalu menyerang iblis kedua. Karena Mintaraga telah menduga kalau orang yang pendiam ini adalah yang mempunyai kepandaian yang paling tinggi.

Sedangkan Iblis pertama girang sekali, segera ia menyerang kearah Kembang Arum.

“Nona cilik, marilah kita main-main?” Serunya dengan tersenyum- senyum. Sedangkan Candra Wulan telah terlibat pertempuran dengan Iblis ketiga.

Si Iblis wanita terus memandang kearah Wirapati dan Hasto Piguno dengan berganti-ganti. Akan tetapi segera ia berkata dengan nyaring :

“Pedang melawan golok adalah cocok. Marilah anak muda.” Setelah berkata demikian ia lalu mencabut pedangnya dengan segera ayal-ayalan.

Hasto Piguno menghela napas. Kemudian katanya :

“Untukku hanya ketinggalan si sastrawan ini. Orang inipun paling tepat bagiku.” Setelah berkata demikian iapun lalu menyerang kearah Iblis kelima. “Eh... anak yarg baik, kau masih tak mau maju?” Seru iblis betina itu dengan tertawa menantang. Memang Wirapati menjadi tak enak sendiri

kalau harus menghadap wanita. Akan tetapi ia ditantang. Bahkan didesak.

Maka disitu sepuluh orang telah mulai tarung dengan sendirinya.

Arya Panuju menyiapkan rantai-rantainya. Ia siap sedia untuk turun tangan. Ia mengawasi Wirapati. Sebab ia tahu kalau Iblis keempat ini kepandaiannya hanya berada dibawah kepandaian Iblis kedua.

Begitu bergebrak maka Mintaraga mengetahui kalau lawannya benar- benar sakti. Jangkung bagaikan gala. Iblis kedua ini tak memperlihatkan  

sebuah perubahan wajah. Kecuali kaki dan tangannya bergerak hingga

menimbulkan suara angin yang menderu-deru dan dahsyat sekali. Karena itulah dalam sepuluh jurus Mintaraga belum dapat menjajaki seberapa kesaktian lawannya.

Yang paling hebat adalah pertempuran antara. Candra Wulan melawan Iblis ketiga. Iblis ketiga ini mempergunakan senjata semacam kikir. Hanya romannya saja yang menakutkan, akan tetapi sebenarnya kepandaiannya tak seberapa. Dia hanya menang setingkat saja kalau dibandingkan dengan Iblis termuda. Disamping itu dia paling gemar wanita cantik. Tak boleh ia melihat muka kelimis. Karena itulah sambil bertempur ia masih sempat mengumbar keceriwisannya :

“Ehh... jangan kau memukul suamimu...” Katanya sambil tertawa. Ketika pedang Candra Wulan menyerang dadanya ia lalu mengangkat senjatanya. Menangkis, akan tetapi sikapnya acuh tak acuh.

Serangan Candra Wulan ini menurut tipu Mega melayang menutupi rembulan, Pada saat yang tepat. Dia lalu mengubah gerakannya. Ia bukannya menikam hanya menghajar senjata lawannya saja.

Nyaring bentrokan senjata itu. Sungguh kaget sekali Iblis nomor tiga ini sebab ia merasakan kalau senjatanya hampir saja terlepas dari tangannya ketika kedua senjata tadi beradu. Sedangkan telapak tangannya terasa sakit sekali.

Pedang Candra Wulan mental juga, akan tetapi ia sangat sebat. Dia terus menyambar kepinggang, dengan tiga babatan sekaligus. Dengan cara demikian maka ia dapat membuat lawannya bingung dan kelabakan. Maka akhirnya ia dapat membuat lawannya terhuyung-huyung.

“Kau masih berani mengeluarkan perkataan kotor?” Bentak Candra Wulan yang terus mendesak dengan hebat.

Iblis ketiga ini lari mundur berputaran akhirnya terdesak dipojok.

Sewaktu Candra Wulan menang diatas angin, maka sebaliknya Wirapati sangat terdesak sekali ketika melawan Iblis keempat. Iblis wanita itu benar- benar mempunyai kepandaian yang hebat. Permainan pedangnya sama hebat. Dengan demikian maka Wirapati mandi peluh. Untung walaupun Iblis betina itu dapat mendesaknya dengan hebat, akan tetapi dia belum mau menurunkan tangan jahat.

“Bocah yang baik, jangan kau repot tak karuhan.” Serunya dengan mengejek. “Kau boleh mati dengan pelan-pelan. Wajahmu tak ada celaannya. Kasihan kalau kau sampai mati.”

“Fuiii...!” Bentak Wirapati yang terus membacokkan goloknya dengan secara hebat. Akan tetapi segera ia terdesak pula.

Sementara itu Kembang Arum menemukan tandingan yang sepadan dengan dirinya. Mereka berdua bertempur dengan hebat, hingga tak ada  

tanda-tanda siapa yang akan kalah dan siapa pula yang akan keluar jadi

pemenangnya.

Iblis pertama ini bertubuh gemuk bagaikan kerbau, akan tetapi ia mempunyal kelincahan yang mengagumkan sekali. Dengan kedua tangannya yang besar-besar ia menyambar-yambar dengan hebat. Iapun mengerti akan ilmu menotok jalan darah, hingga berkali-kali ia ingin mencoba menotok jalan darah lawannya.

Kembang Arum merasa sulit sekali merobohkan orang ini. Iapun mendongkol sekali setelah mendengar ocehan dari lelaki yang mata keranjang itu. Akan tetapi ia tak berwatak keras seperti Candra Wulan. Ia dapat mengendalikan diri. Bahkan sewaktu musuhnya menggoda ia berpikir. Ia menjadi teringat akan pertempuran antara Mintaraga dan Patih Udara yang mempergunakan siasat, hingga dengan demikian ia makin bertambah tenang.

Setelah lewat dua puluh lima jurus maka terjadilah perubahan.

Iblis pertamapun menjadi sangat mendongkol sekali karena ia tak dapat segera menjatuhkan nona itu. Dia jadi berpikir untuk menangkap hidup. Untuk ini dia harus menantikan ketika yang baik. Satu kali tiba-tiba saja dia berseru keras sekali. Tangan kanannya menyambar jari telunjuknya ditotokkan kejalan darah. Jalan darah ini terletak diperut. Hebat serangan ini yang dilakukan senantiasa mendapatkan kegagalan.

Bukan tanpa perhitungan Iblis pertama melakukan serangan ini. Akan tetapi Kembang Arumpun lain dari pada yang lain. Sudah lama gadis ini mempergunakan siasatnya bersabar. Ia menunggu-nunggu dan menanti- nanti kapan musuhnya itu kehabisan kesabaran. Ternyata ia tak usah menunggu terlalu lama. Bahkan tepat terkaannya, satu kali mesti Iblis pertama berseru.

Demikian terdengar seruan keras dari Iblis pertama, yang totokannya juga menyambar. Inilah ketika yang dinanti-nanti itu. Kembang Arum tak mundur, sebaliknya ia malahan menyambuti. Ia lalu mempergunakan jurus simpanannya. Satu tangan menangkis dan satu tangan lainnya menyerang dada.

Iblis pertama itu kaget sekali. Ia tak menyangka kalau nona ini akan dapat menangkis dan memukul dengan sekaligus. Ia menduga pukulannya biasa saja. Ia baru terperanjat ketika merasakan adanya desakan angin yang keras sekali. Satu-satunya jalan ialah melompat mundur, sebab tak ada jalan untuk membebaskan diri dari pukulan itu. Ia bertindak dengan gesit, akan tetapi ternyata Kembang Arum mempunyai gerakan yang lebih gesit lagi. Sebab Kembang Arum telah mempergunakan siasat yang ketiga. Yaitu menggelinding setelah menyerang.

Berkali-kali Iblis pertama ini mengeluarkan seruan : “Hem.” Sebenarnya kepandaiannya lebih tinggi kalau dibandingkan dengan Kembang Arum,  

akan tetapi kalau didesak sedemikian hebat mau tak mau iapun menjadi

repot juga. Setelah mundur dan tak ada tempat untuk mundur lagi terpaksalah ia harus membela diri.

Kembang Arum sangat puas sekali dengan hasil desakannya ini. Akan tetapi ia menyerang terus dengan jurus-jurus simpanannya.

Walaupun Mintaraga menghadapi lawan yang sangat tangguh, akan tetapi pemuda ini masih sempat bertempur sambil memandang kearah rekan-rekannya lain. Ia tertawa ketika melihat siasat yang dipergunakan oleh kekasihnya itu dalam menghadapi lawannya.

Sedangkan Hasto Piguno mempunyai kepandaian yang seimbang dengan Iblis kelima hingga mereka terus berkutetan dengan tak berketentuan. Sungguh pertandingan yang seru sekali.

Setelah menyaksikan sekian lamanya, maka pemuda ini mempunyai pikiran.

‘Mengapa aku tak mau menghajar dulu si lemah, dan kemudian baru aku menghantam si kuat?’ Demikian pikirnya. ‘Baiknya aku merobohkan orang kelima ini dulu, setelah itu semangat mereka tentu akan kacau.’

Justru karena Mintaraga berpikir ini maka datanglah serangan yang hebat dari Iblis kedua. Sebab Iblis kedua ini melihat kalau lawannya sedang lengah. Karena itulah ia lalu mempergunakan kesempatan yang hebat itu. Ia bertubuh lebih tinggi dari Mintaraga.

Dengan segera Mintaraga lalu mengetrapkan tenaga dalamnya, dan memasang kuda-kudanya hingga seakan-akan kakinya itu menancap diatas tanah. Bersama dengan itu kedua tangannyapun lalu bekerja. Dengan menekuk sedikit kedua dengkulnya, ia membuat tubuhnya lebih pendek lagi. Lalu dengan tepat sekali jari tangannya menotok dengkul lawannya.

Bentrokan kedua tangan pemuda ini dengan tangan Iblis kedua. Dari beradunya kedua tangan itu akibatnya sangat hebat. Tubuh Mintaraga terpental mundur bagaikan layang-layang putus talinya.

‘Celaka....’ Arya Panuju mengeluh didalam hatinya, karena ia telah tahu kalau didalam lima orang tetamunya ini hanya Mintaragalah yang boleh dikatakan sebagai panglima perangnya. Karena itu kalau sampai Mintaraga runtuh maka habislah sudah harapan pihaknya akan menang. Siapa nanti yang akan sanggup melawan musuh-musuh yang amat tangguh itu?

Tapi aneh, melayangnya tubuh Mintaraga ini. Punggungnya bagaikan punya mata, ia terlempar ketempat Hasto Piguno dan Iblis muda yang sedang bertempur. Dan begitu kakinya menginjak tanah mulutnya memperdengarkan seruan :

“Kena...!”

Bersama itu sebelah tangannya menyambar kearah Iblis kelima.

Dari mengeluh Arya Panuju menjadi heran dan kagum sekali. Ia menyangka setelah dihajar oleh Iblis kedua, sahabatnya itu tentu runtuh.  

Akan tetapi siapa tahu kalau sekarang ia malahan bisa menyerang Iblis

kelima dan membuat Iblis kedua itu berdiam diri bengong bagaikan patung. Terang kalau mata Iblis kedua itu memancarkan sinar kemarahan dan kemenyesalan.....

Mintaraga adalah yang menjadi sasaran mata Iblis kedua.

Arya Panuju adalah seorang jago, hingga keheranannya ini hanya sejenak saja mencekam hatinya. Segera ia sadar dan mengerti akan kedudukan hal itu. Maka didalam hatinya ia memuja kecerdikan anak muda itu.  

Memang juga Mintaraga mengunakan tipu daya untuk memancing kekerasan Iblis Kedua. Nampaknya memang seperti keras lawan keras, begitulah ia menancap kuda-kudanya. Hanya diluar pengetahuan musuh, disaat mereka bentrok Mintaraga lalu mengendorkan kuda-kudanya, hingga dengan demikian maka tubuhnya terpental jauh. Pemuda itu memang sengaja mementalkan dirinya kearah Iblis Kelima. Sementara itu sewaktu tangannya bentrok maka Mintaraga menotok dengkul lawannya. Diwaktu biasa sulitlah Mintaraga melakukan hal itu. Akan tetapi disaat mereka mmgadu tenaga, inilah yang tak pernah disangka oleh Iblis kedua.

Iblis kedua ini bertubuh lebih tinggi, untuk menyerang lawan ia menekuk dengkulnya, dan memang ini yang sangat diharapkan oleh Mintaraga. Demikian kena totok maka tak kuburu dia mengelak. Walaupun dia sadar akan tetapi telah kasep. Dia lalu mengempos semangatnya, mencoba membebaskan totokan lawannya. Karena ia sendiri mengerti akan ilmu pembebasan.

Untuk kaget, marah dan kemenyeselannya Iblis kedua ini, tampaklah Iblis kelima telah ditangkap dan dilemparkan keluar oleh Mintaraga.

Iblis muda ini memang kalah jauh kalau dibandingkan dengan kepandaian Mintaraga. Tak mengherankan kalau tubuhnya terus saja melayang setelah dilempar oleh Mintaraga.

Iblis Betina yang keempat ini telah lama dapat mempermainkan Wirapati, akan tetapi begitu melihat saudaranya dalam bahaya ia segera melompat dan berjumpalitan beberapa kali diudara. Hingga dengan gerakannya yang manis ini Iblis betina itu telah berhasil menolong saudaranya yang paling muda.

Mintaraga kaget sekali ketika menyaksikan kepandaian ilmu meringankan tubuh dari wanita itu. Ia benar-benar gagah dan gesit sekali. Segera saja pemuda itu berpikir.

‘Justru Iblis kedua ini belum berdaya, mengapa aku tak melawannya untuk menghabiskan pula orang-orang sakti dari lima iblis ini?’

Dengan cepat pemuda ini mengambil keputusan, maka ia lalu menghadapi wanita itu sambil berseru : “Kau hebat sekali nona, karena itu aku ingin sekali menerima pelajaran

darimu.”

Iblis wanita itu tertawa dingin :

“Kau memancing pertempuran denganku?” Katanya dengan mengejek. “Sayang sekali aku tak punya kegembiraan.” Kemudian dengan pedangnya kembalilah ia menyerang Wirapati.

Mintaraga heran ketika melihat sikap orang ini. Hingga ia melengak untuk sejenak. Akan tetapi segera ia menengok kearah Iblis kedua, sungguh kaget sekali hati Mintaraga setelah mengetahui kalau Iblis Kedua ini dengan sekali teriak saja telah berhasil membebaskan dirinya dan kembali menyerang. Inilah gertak luar biasa, mengapa Iblis kedua dapat melepaskan diri?

‘Sungguh hebat sekali orang Banten ini.’ Pikirnya. ‘Kalau saja mereka ini pergi ke Demak Bintoro maka ada kemungkinan ia akan menjadi salah seorang jago.’ Karena pikirannya inilah maka mereka lalu melayani dengan waspada.

Bersama dengan waktu itu tiba-tiba saja terlihat lima buah sinar kuning menyambar saling susul menyusul dan menerbitkan bau bacin sekali. Dalam kagetnya Mintaraga sampai bertanya kepada dirinya sendiri :

‘Bau apakah ini?’

Akan tetapi ia tak sempat bertanya-tanya, sebab kelima sinar kuning itu telah pecah. Dan ternyata adalah lima buah Golok terbang. Inilah senjata rahasia dari Iblis kedua. Sambil berteriak dan melompat ia telah mengeluarkan senjata rahasianya. Golok yang telah dipendam oleh racun. Karena kehebatan racun itu maka siapa saja yang terkena akan celaka.

Hebat sekali kepandaian Iblis kedua itu dalam mempergunakan senjata rahasia. Ia dapat mempergunakan senjaa rahasianya itu tak mengeluarkan suara apa-apa. Kecuali sinar golok. Untung saja Mintaraga ini seorang pemuda yang telah digembleng oleh pendeta Argo Bayu. Dan kepandaiannyapun telah mumpuni. Hingga dengan demikian ia dapat lolos dari serangan golok terbang.

Dengan mengibaskan lengan bajunya Mintaraga berhasil membuyarkan serangan kelima golok terbang tadi dan dengan tangan kirinya ia lalu balas menyerang lawannya.

Iblis kedua itu sangat panas hatinya. Ia lalu menjerit dengan keras dan kembali melawan berkelahi. Ia benar-benar penasaran sekali dan hendak menuntut balas.

Sewaktu Mintaraga melayani dengan hati-hati, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh sebuah teriakan. Dan ternyata yang berteriak adalah Hasto Piguno. Tampaklah kalau Hasto Piguno telah roboh. Ia mengeluarkan peluh dingin, apa lagi waktu itu Iblis kelima sedang mengancam dengan pedangnya.  

Hasto Piguno ini bukannya roboh ditangan Iblis kelima itu, akan tetapi

ia kena golok terbang yang nyasar setelah dipecahkan oleh Mintaraga. Tanpa ampun lagi golok beracun itu telah menancap dipundaknya. Karena itu robohlah si raja pencopet itu bahkan langsung pingsan. Setelah keadaan demikian masih pula diancam oleh Iblis kelima.

Arya Panuju ketika melihat itu semua, segera berseru dan melompat, untuk menolong Hasto Piguno. Ia lalu memainkan rantainya yang panjang. Maka ujung rantai itu terus menyambar kearah perut Iblis kelima.

Iblis cilik itu terperanjat, karena itulah batal serangannya kepada Hasto Piguno. Segera saja iblis cilik itu melompat dan menyelamatkan diri. Yah menyelamatkan diri dari ancaman rantai.

Arya Panuju berduka dan marah sekali. Untuk menolong dirinya saja maka orang ini harus luka, bahkan banyak kemungkinan untuk menghadap hyang Yama. Karena itulah ia lalu menjadi nekat untuk menyerang iblis cilik. Menghadapi Wirapati atau Hasto Piguno Iblis cilik masih agak mendingan. Akan tetapi kini kalau harus menghadapi Arya Panuju, apa lagi orang Banten ini bagaikan orang kalap. Ia tak berdaya sama sekali. Segera

saja ia kena didesak dan menjadi repot sekali.

Iblis keempat ketika melihat saudaranya dalam bahaya segera ia memperdengarkau suara ejekannya, dan meninggalkan Wirapati dengan begitu saja untuk menolong saudaranya.

Dengan terpaksa maka Arya Panuju ini melayani orang keempat dan kelima dari Iblis Langit Bumi Dunia Akherat. Kalau tadi ia dengan mudah dapat mendesak maka kini ganti dirinya yang tengah terluka.

Wirapati akan membantu Arya Panuju, akan tetapi ia telah kalah cepat oleh adiknya. Kembang Arum ternyata telah meninggalkan lawannya dan langsung menyerang pengeroyok Arya Panuju.

“Iblis betina, marilah kita bertanding.” Tantang Kembang Arum dengan gagah.

Iblis betina ini menengok dan ketika mengetahui kalau yang menantang adalah seorang wanita cantik, ia lalu menyambut. Untuk itu terlebih dahulu ia mendesak mundur Arya Panuju. Ia benar-benar tak percaya kalau gadis ini adalah seorang yang mempunyai kepandaian hebat. Mendadak saja ia menotok dada gadis itu.

“Bagus...” Kembang Arum tertawa. Dia tak menangkis, diapun tak mengelak. Hanya saja pedangnya langsung ditikamkan kedepan Iblis Betina itu menangkis, akan tetapi dengan begitu maka batallah totokannya itu.

Dimana kedua senjata sama-sama diajukan maka bentrokan senjata itu tak dapat dihindarkan lagi. Bunga api berpijar. Akan tetapi yang hebat adalah mereka itu harus sama-sama mundur tiga langkah.

‘Hebat sekali perempuan ini.’ pikir Iblis betina. Segera saja ia maju lagi dengan serangan-serangan yang dahsyat dan meyakinkan.  

“Adik keempat.” Seru Iblis pertama. “Mengapa kau merebut lawanku?”

Serunya dengan tertawa.

“Lawanmu?” Jawab Iblis betina dengan tertawa. “Hai tak tahu malu.

Sungguh kau ini hidung belang.”

Sementara itu dua orang lagi datang kesitu. Maka semakin ramailah pertempuran disitu.

Akan tetapi yang paling hebat adalah pertempuran antara Kembang Arum melawan Iblis betina. Cepat sekali, mereka telah melampaui tiga puluh jurus lebih. Akan tetapi masing-masing belum dapat lowongan untuk menjatuhkan lawannya.

Kembang Arum menjadi penasaran sekali, hingga dengan demikian ia lalu makin memperhebat serangan-serangannya. Hal ini benar-benar membuat iblis keempat tak ada kesempatan untuk menyerang kembali. Setelah benar-benar mendesak maka Kembang Arum lalu melancarkan bacokan kearah pundak kiri.

Akan tetapi Iblis betina ketika melihat ini ia tak menjadi takut. Bahkan ia mencoba membabatkan pedangnya untuk membacok senjata lawan. Akan tetapi Kembang Arumpun tak mempedulikan ancaman, ia tetap akan membacokkan goloknya menyambut babatan lawannya.

“Bagus...” Seru Iblis Betina. Akan tetapi kali ini ia tak sudi keras lawan keras. Disaat yang tepat ia membatalkan babatannya. Iblis Betina itu menarik pulang pedangnya. Ia telah mengerahkan tenaganya, akan tetapi dapat menarik kembali senjatanya.

Benar-benar Kembang Arum ini seorang yang amat cerdas sekali. Ketika ia mengetahui kalau lawannya itu tak mau mengadu senjata, maka iapun lalu menarik goloknya dan lalu mempergunakan pedang yang berada ditangan kirinya untuk mencegah lawannya mundur.

Akan tetapi Iblis Betina inipun tak kalah cerdiknya. Untuk menyelamatkan diri ia lalu menjejakkan kaki kirinya. Tubuhnya terus mencelat tinggi. Ia dapat mundur bukannya dengan jalan mundur, akan tetapi dengan jalan melompat tinggi-tinggi.

“Bagus...” Puji Kembang Arum.

Begitu keduanya bertempur maka tak sudi mereka itu mengadu senjata- senjatanya. Dengan demikian maka kedua wanita itu saling menunjukkan kelincahannya untuk menyerang dan mengelak serangan-serangan lawannya. Sampai empat puluh jurus kekuatan mereka itu tetap saja berimbang.

Yang paling malang adalah Arya Panuju dan Wirapati, sebab mereka itu dapat didesak dengan hebat oleh Iblis Pertama dan Iblis Kelima. Hingga dengan demikian mereka itu repot sekali untuk membela diri.

Mintaraga menyaksikan pertempuran semuannya itu. Hingga ia ingin sekali mengakhiri pertempuran dengan cepat. Pula waktu itu Hasto Piguno  

sedang terancam. Kawannya itu telah rebah dan mengeluarkan iler putih

hingga jelas kalau kawannya ini sedang keracunan hebat.

Iblis pertama inipun melihat keadaan musuhnya, hingga ia ingin sekali segera membunuh lawannya. Maka setelah mendesak Wirapati, ia lalu melompat kearah Hasto Piguno yang rebah. Kakinya ditendangkan untuk menghabiskan nyawa lawannya.

Mintaraga kaget sekali. Untuk melompat menolong kawannya itu terang tak mungkin, sebab telah tak ada kesempatan lagi. Maka satu-satunya jalan ialah ia bersiul dan menipukkan jarum-jarum senjata rahasianya.

Iblis Pertama menjadi terkejut sekali ketika melihat sinar perak yang menyambar kearah kaki dan tubuhnya. Karena tak ada kesempatan untuk mengelak ataupun menangkis maka menjeritlah dia. Dua jarum tepat mengenai pundak dan jalan darahnya. Maka sekejap saja ia jatuh terguling.

Mintaraga sendiri kagum. Ia adalah seorang ahli dalam senjata rahasia akan tetapi semenjak turun gunung ia belum pernah mempergunakan kepandaiannya itu. Baru kali inilah ia mempergunakan dan ini dipergunakan dalam keadaan terpaksa. Kesudahannyapun sangat hebat sekali.

Arya Panuju menjadi senggang ketika Iblis pertama telah roboh. Ia tak menyia-nyiakan waktu lagi. Dengan cepat ia mengayunkan rantainya. Rantai itu mengancam kaki Iblis kelima.

Iblis kelima ini menjadi terkejut sekali setelah melihat saudaranya roboh. Karena itulah justru rantai Arya Panuju menyambar ia lalu menjadi gugup, maka terkenalah kakinya, karena itu tubuhnya lalu terangkat dan terlempar kearah tembok. Celakalah ia kalau tubuhnya membentur tembok itu.

Mintaraga ketika melihat lawannya itu terancam bahaya maut, dan kalau sampai iblis kelima ini mati maka pertarungan akan bertambah hebat. Mereka akan membalaskan sakit hati ini. Dan Hasto Piguno tentu tak akan dapat ditolong lagi. Karena itulah ia lalu berteriak kearah Candra Wulan.

“Adi Wulan... kau tolonglah Iblis kelima itu.”

Candra Wulan sedang bertempur dengan Iblis ketiga, dan ia memang menang dan berada diatas angin. Segera saja ketika mendengar teriakan kakaknya ini ia berpaling. Memang ia dapat mengerti bagaimana pentingnya teriakan kakaknya itu. Maka mendadak saja ia menyamplok Iblis ketiga dan mencelat. Sungguh hebat sekali lompatan Candra Wulan ini hingga ia dapat mendahului Iblis Kelima, dan mendupakkan kakinya, hingga dengan demikian maka tubuh Iblis kelima ini melayang kelain arah. Kemudian dengan gerakan yang indah ia lalu menyambar dan menotok Iblis kelima.

Mintaraga menjadi lega dan kagum sekali setelah melihat kegesitan adiknya itu. Ia benar-benar lega hingga menarik napas panjang. Sedangkan lblis ketiga itupun menjublak, akan tetapi hanya sebentar saja. Segera ia menghampiri Candra Wulan untuk menyerang lagi. Ia sudah terdesak akan tetapi tak mau menyerah kalah. Bahkan ia sangat penasaran. Sekarang ini  

dari berlima hanya tinggal bertiga. Karena kedua orang saudaranya telah

roboh tak berdaya sama sekali.

Candra Wulan menjadi mendongkol sekali setelah melihat kenekatan orang itu. Kemudian iapun bergerak tak kepalang tanggung. Sekali lagi ia mendesak, lalu pada saat yang tepat ia mempergunakan ilmu totokannya hingga lawannya yang berandal itu roboh tak berdaya lagi.

Iblis Betina itu menjadi kaget dan marah sekali. Ia melihat jumlah mereka itu berdua.

“Aku akan mengadu jiwaku dengan jiwamu.” Jeritnya. Terus saja ia melompat kearah Candra Wulan. Dengan begitu ia lalu meninggalkan Kembang Arum.

Mintaraga ketika melihat waktu yang baik, segera ia melompat mundur. Kemudian melompat kearah Iblis betina dan merentangkan kedua tangannya.

“Tahan...” Serunya. “Aku ingin bicara.”

“Kau mau apa?” Bentak Iblis betina itu dengan tertawa dingin. “Apa yang akan kau katakan?” Katanya dengan mendongkol.

“Kalau kita bertempur terus, maka jalanmu adalah jalan kematian.” Seru Mintaraga dengan singkat. “Kau lihatlah pihakmu.”

“Aku belum sempat bertempur denganmu, karena itulah kau jangan mengumbar isi perutmu dengan seenaknya saja.” Seru Iblis Betina itu dengan kasar.

“Apakah kau menghendaki semuanya roboh dahulu baru selesai?” Tanya Mintaraga.

“Habis kau menghendaki apa bocah?” Timbrung Iblis kedua dengan mengerutkan keningnya.

“Kau keluarkanlah obat pemusnah dari kawanku ini.” Serunya. “Setelah itu aku lalu akan menyadarkan seluruh saudara-saudaramu ini. Setelah itu kalian harus pergi dan tak boleh menganggu kawanku Arya Panuju.” Setujukah kalian?”

Iblis Kedua ini melihat kesaktiannya dan kemudian berpikir dengan keras. Memang pihaknya sulit untuk bertempur terus. Sesudah ketiga saudaranya roboh kalau ia tetap berkelahi dan dikepung maka pihaknya akan kalah. Hanya disamping itu ia penasaran sekali. Ia di Banten telah diangap sebagai orang tersakti, akan tetapi kini harus menyerah kalah dengan begitu saja. Hal ini akan menyia-nyiakan pelajarannya yang dicapai puluhan tahun.

Sewaktu Iblis kedua ini berpikir, maka Iblis betina telah kehabisan kesabarannya. Segera ia melompat kearah saudara-saudaranya yang diam saja untuk membebaskan totokannya.

Candra Wulan melihat gerak-gerik lawannya ini. Segera saja ia melompat untuk merintangi. Pedangnya lalu diacungkan.  

Jika kau hendak menolong mereka, maka tanya dulu kepada pedangku

ini. Dia mengijinkan atau tidak.” Katanya dengan garang.

“Itulah yang paling bagus.” Seru Iblis Betina itu dengan gagah. Segera saja ia bersiap-siap.

Mintaraga ketika melihat kedua orang gadis itu akan bertempur segera ia berpikir dengan cepat.

‘Kelihatannya mereka harus diadu berkelahi dahulu biar mereka puas. Dengan demikian maka Arya Panuju akan mendapatkan kembali kedudukanya dan kalau mereka sekaraug tak puas maka pada keesokan harinya akan datang lagi dan urusan tak akan segera beres ’

Karena pikirannya ini maka ia lalu tertawa lebar dan katanya :

“Kau jangan tergesa-gesa jika ingin benar-benar berkelahi. Marilah dengan aku. Kalian boleh maju berdua aku tak takut.”

Kelihatannya Iblis Kedua ini girang sekali. Kata-kata lawannya ini benar-benar cocok dengan perkataan hatinya.

“Bagus...” Serunya dengan tertawa  menyeramkan. “Kalau kau roboh bagaimana?”

“Bersama-sama dengan Arya Panuju aku akan meninggalkan Banten.

Dan kau sendiri yang akan menjadi orang sakti disini.”

“Bagus...” Iblis kedua ini berseru lagi. “Jika kami yang roboh kami akan menyerahkan kepala kami kepada kalian.”

“Perlu apa kami dengan kepalamu?” Seru Mintaraga dengan tertawa. “Untuk kami sudah cakup andaikan kamu menepati janji.”

“Baik beginilah janji kita. Eh, adi mari kita maju. Jika kita tak dapat mengalahkan bocah ini maka tak perlu kita ini mengaku orang kuat nomor satu di Banten.”

“Sungguh gagah.” Seru Mintaraga dengan mengacungkan jempolnya. Iblis kedua ini lalu memandang kearah Mintaraga.

“Apakah kau tak menghunus senjatamu?” Serunya sambil memandang kearah Mintaraga. Sedangkan Iblis keempat lalu tertawa dan berkata pula :

“Andaikan pedangku ini membuat guratan-guratan dimukamu, maka sungguh tak sedap lagi mukamu untuk dipandang. Wajah yang cakap akan hilang bagaikan kabut tipis ditiup angin lalu.”

Mendengar perkataan ini Mintaraga menjadi merah pipinya. “Setan” Umpatnya dalam hati.

Sedangkan Kembang Arum yang berada didekat Mintaraga hanya dapat mendengus saja ketika mendengar perkataan Iblis Betina tadi.

Sampai disini Mintaraga lalu tak mau membuang-buang waktu lagi. “Lihat !” Serunya dengan maju menyerang.

Kedua iblis itu lalu mengulur tangan mereka untuk menangkis, akan tetapi sebelum kedua tangan itu bentrok, keduanya telah melompat mundur.  

“Kau terlalu memandang hina kepada kami!” Seru Iblis Betina itu

dengan marah. Hal ini disebabkan karena Mintaraga tak mau mencabut pedangnya. Pedang itu masih tetap tergantung dipinggangnya. Setelah itu ia menyerang ke arah muka.

Mintaraga tetap tak mau mempergunakan senjata itu. Ia hanya mengelak ketika pedang lawannya tiba. Dari samping ia mengulurkan tangannya. Ia bermaksud untuk menyambar gagang pedang lawannya.

Iblis keempat mengetahui kalau lawannya adalah seorang pemuda yang sakti. Cepat-cepat ia menarik kembali pedangnya. Untuk dilain saat ia menyerang lagi dengan mendesak lawan. Ia lalu menabas kearah batang leher.......

Mintaraga tak mempedulikan desakan, ia melawan dengan gesit. Tak henti-hentinya ia mengelak. Setiap ada ketika barulah ia balas menyerang.

Iblis kedua lalu membantu saudaranya. Akan tetapi orang jangkung ini berlaku tenang, sedikitpun ia tak mau sembrono apa lagi gegabah.

Tidak usah terlalu lama Mintaraga dapat membedakan sifat kedua orang saudara ini. Hingga dengan demikian maka Mintaragapun lalu menuruti apa yang mereka kerjakan. Setiap melayani Iblis keempat ia akan mempergunakan ketenangan dan kadang-kadang dengan agresi menyerang. Akan tetapi dengan Iblis kedua ini ia akan berlaku kalem. Hingga dengan demikian maka mereka itu bertambah mendongkol sekali.

Pertempuran berjalan dengan cepat. Hingga tak lama kemudian lima puluh jurus telah lewat dengan sendirinya. Dengan tak mempergunakan senjata Mintaraga mulai tampak terdesak. Akan tetapi ia dapat membela diri dengan baik. Malahan dengan segera ia telah tahu bagaimana caranya untuk mengalahkan musuhnya. Ia sekarang tinggal menanti saja waktu untuk turun tangan.

Semua orang menyaksikan jalannya pertempuran ini dengan tak berkedip, Candra Wulan agak tak senang ketika melihat Mintaraga hanya berlaku dengan tenang-tenang saja. Kembang Arum sebaliknya ia malahan mengkhawatirkan akan keselamatan kekasihnya.

Berkali-kali Candra Wulan dan Kembang Arum akan turun tangan menolong Mintaraga dan menunjukkan kalau diantara serangan-serangan mereka itu ada lowongannya. Akan tetapi mereka selalu dihalang-halangi oleh Arya Panuju. Memang orang Banten ini tak akan mau membiarkan mereka membantu Mintaraga. Sebab kalau mereka itu membantu Mintaraga maka pihaknya akan dikatakan kalah. Arya Panuju melihat dengan jelas kalau Mintaraga kini dapat melayani mereka dengan baik. Dengan demikian Arya Panuju tahu kalau Mintaraga kini telah mendapatkan kemajuan yang pesat. Tidak seperti dahulu ketika ia masih bertempur melawan Mintaraga.

Disaat ia sedang berada dibelakang anak muda itu. Iblis kedua lalu menyerang dengan hebat sekali. Sedangkan didepannya Iblis Keempat  

sedang menyerang dengan hebat pula. Mereka berdua saling berhadap-

hadapan.

Mintaraga memasang kupingnya, ia menyangka kalau musuh yang berada dibelakangnya itu hanya akan menggertaknya saja. Maka ketika ujung pedang Iblis Betina sampai ia mengelak dan tangan kananya diulur, untuk merampas pedang lawannya. Dengan mengelak iapun sekalian membebaskan diri dari ancaman belakang.

Iblis betina menjadi penasaran sekali.

‘Apakah tanganmu tangan besi?’ Ia tanya dirinya sendiri. Ia heran ketika melihat musuhnya berani merampas pedangnya dengan cara demikian. Maka iapun lalu memutar tangannya dipakai untuk menyontek.

‘Adik keempat, kau tertipu.’ Seru Mintaraga didalam hati. Ia menjejak tubunya dan melompat tinggi. Tubuh bagian atas turun, bersama dengan tangannya diturunkan kebawah, ia lalu menyerang dengan jari tangan. Ia bukannya mencari sasaran tubuh lawan, akan tetapi akan menyentil pedang lawan.

“Trang...”

Demikianlah suara sentilan dari Mintaraga dan pedang lawannya, bersama dengan itu pula terdengar bunyi “

“TAASS.”

Iblis betina menjadi kaget sekali. Hal ini benar-benar diluar perkiraannya. Pedangnya kutung jadi dua akibat sentilan pemuda sakti itu. Karena itu ia menjadi terdiam menjublek.

Juga Iblis kedua itu menjadi kaget sekali. Belum pernah ia menyaksikan ada pedang patah dengan sentilan saja. Karena itu disamping kaget iapun menjadi kagum juga.

“Itulah hebatnya Braholo Meta.” Seru Arya Panuju dengan pelan. Iapun kagum bukan main.

Candra Wulan dan Kembang Arum menjadi kagum sekali. Candra Wulan segera ingat kalau dahulu pendeta Argo Bayupun telah mengajarkan ilmu itu kepada Mintaraga. Bahkan pedang Mintaraga yang dipatahkan oleh pendeta tersebut.

Wirapati menjadi ndomblong. Memang ia pernah mendengar akan hebatnya ilmu tersebut, akan tetapi ia tak pernah menyangka kalau ilmu tersebut akan sedemikian hebatnya. Karena itu ia menjadi malu sendiri dan berkata didalam hatinya :

‘Kepandaianku tak berarti sama sekali. Jangan lagi kepada kakang Mintaraga. Sedangkan kepada Candra Wulan saja aku kalah jauh. Biarlah nanti aku minta kakang Mintaraga mengajari aku ’

Sewaktu semua orang kagum dan tercengang Mintaraga tak segera tinggal diam saja. Ia segera mengajukan kakinya dengan membuat kuda- kuda. Dengan ini ia akan menyerang iblis nomor empat itu. Hanya saja baru  

tangannya terulur separo maka ia menjadi terkejut sendiri. Tiba-tiba saja ia

ingat kalau tak pantas menyerang orang wanita. Hingga dengan demikian ia lalu menarik kembali serangannya.

Iblis Betina itu sadar kalau lawannya akan menyerang. Maka ia lalu menggerakkan tangannya kekiri dan kekanan sambil melompat mundur. Sebaliknya Iblis kedua ini insyaf kalau ia ada kesempatan untuk menyerang lawannya. Segera saja ia maju dan menyerang batok kepala Mintaraga. Serangan ini sangat habat sekali hingga mengeluarkan angin yang menderu- deru.

Mintaraga tahu kalau dirinya diserang. Ia tak mengelak lagi. Ia hanya miring dan melangkah kesamping untuk menyingkir sejenak. Sebelah tangannya dipakai untuk menangkis. Tepat tangkisannya, Iblis kedua sampai terhuyung.

‘Benar-benar dia hebat.....’ Pikir Iblis kedua. Sekarang ia menginsyafi benar-benar. Untuk berkelahi terus ia lalu mengeluarkan cambuk lemasnya. Ujung cambuk itu mengenai tanah hingga dengan demikian debu mengepul. Terus ia menyerang.

Melihat ini Mintaraga tak menjadi takut.

Sebaliknya ia berusaha untuk menangkap. Iblis keempat itu segera sadar dan lekas pula memperbaiki jalan napasnya. Dengan tetap memegang pedang buntung ia lalu maju pula. Membantu saudaranya.

“Hem... tak tahu malu...” Ejek Kembang Arum.

Pertempuran kali ini berjalan dengan lebih sengit. Kelihatannya, Iblis kedua dapat menguasai cambuk dengan baik sekali. Cambuk itu bergerak- gerak bagaikan ular perak menari.

Juga Mintaraga turut mengubah cara berkelahinya. Ia tahu kalau musuh-musuhnya ini telah jadi nekat, karena itulah ia lalu akan menyambut keras lawan keras. Akan tetapi dengan Iblis Betina itu ia tak mau melawan dengan kekerasan. Jurus-jurus telah lalu dengan cepatnya. Selama itu Mintaraga sedang mempelajari ilmu cambuk lawannya, hingga dengan demikian kini ia tinggal menunggu ketika yang baik. Dan ketika kesempatan itu sampai sekonyong-konyong ia menyambar ujung cambuk lawan yang sedang disambarkan kearahnya.

Iblis kedua menjadi kaget sekali. Dengan kaget iapun lalu menarik. Ingin ia membebaskan cambuknya itu. Kalau tidak maka ia akan terperdaya lagi. Mintaraga mengetahui kalau orang itu sedang mengerahkan tenaganya. Ia lalu tertawa didalam hatinya.

‘Bagus iblis, kau hendak mengadu tenaga denganku.’ Katanya. Dengan cepat ia memasang kuda-kuda, selagi tubuhnya berdiri tegar, tenaga dilengannyapun segera dikerahkan.

Iblis Wanita itu dapat menerka hati lawannya. Dengan tiba-tiba ia menyerang pula. Dengan pedang buntungnya ia menimpuk, sedangkan  

tangannya yang lain berkelebat melontarkan sinar hijau, ternyata adalah

sebuah belati.

“Kau mempergunakan senjata rahasia?” Seru Mintaraga dengan tertawa. Dengan tangan kanan masih memegangi cambuk, dengan tangan kirinya ia menangkis. Ia menyangka kalau ia akan berhasil menangkis pisau belati itu. Tak tahunya ia kebogehan. Pisau itu tak menyambar, sebab pisau itu masih berada ditangan Iblis wanita.

“Lihat.” Seru Iblis itu yang terus menggerakkan tangannya dan kembali seleret sinar hijau bergeredep.

Mintaraga telah memasang mata, sekarang mengertilah mengapa pisau musuh itu tak langsung menyerang dirinya. Tak tahunya pisau itu diikat oleh tali hingga dengan demikian maka pisau itu dapat dilepas dan ditarik kembali sebelum mengenai sasaran. Karena itulah ia menjadi semakin waspada. Mintaraga agak menyesal mengapa tak dapat dengan leluasa melepaskan pegangannya terhadap ujung cambuk Iblis kedua.

Iblis kedua itu dapat melihat kalau musuhnya sedang mendapat kesulitan dengan gerakan-gerakan adik seperguruannya itu. Dengan diam ia lalu mengerahkan tenaga dalamnya. Hal ini dengan tujuan dengan mudah dapat menarik cambuk itu.

Kembang Arum mengawasi wajah kekasihnya. Dan ia menjadi heran sekali. Sebab wajah Mintaraga selalu berubah-rubah. Kadang-kadang ia kelihatan berseri-seri dan kadang-kadang ia kelihatan berduka sendiri. Iapun menyesal mengapa tak dapat maju untuk membantu kekasihnya itu.

Dengan amat pelan Kembang Arum berkata :

“Belum lagi Tunggul Tirto Ayu didapatkan, akan tetapi pertempuran mati-matian telah sering kali kami lakukan.” Ucapan ini dikatakan dengan amat pelan sambil menarik napas panjang.

‘Tidakkah ini semua gara-garaku?’ Tanya Arya Panuju didalam hatinya. Iapun menyesal sekali. Ia mengetahui kalau Iblis keempat ini mempunyai senjata rahasia yang hebat, akan tetapi untuk mengetahui bagaimana perasaan Kembang Arum, Arya Panuju lalu berkata :

“Jangan takut Kembang Arum. Kepandaian Iblis Betina itu belum mampu untuk mencelakakan Mintaraga.”

Mintaraga dapat mendengar perkataan ini. Segera pemuda itu tertawa dengan keras-keras.

“Dikolong langit ini yang mengenal diriku hanyalah Arya Panuju.”

Arya Panuju girang sekali. Maka tanpa bilang suatu apapun juga ia lalu menghunus golok dari pinggang Kembang Arum, ia lalu melemparkan kearah Mintaraga sambil berseru :

“Sambutlah.”

“Terima kasih.” Jawab Mintaraga sambil menyambut golok itu.

Sekarang hatinya menjadi lega. Ia memegang golok ditangan kanannya.  

Justru itu Iblis kedua menyerang. Mintaraga mengelak, hingga orang

terhuyung dan terjerunuk.

‘Baiklah sekarang giliranku.’ Seru Mintaraga didalam hati. Ia telah memutuskan akan merobohkan orang kedua ini dahulu. Untuk ini ia masih mencari ketika yang baik. Sedangkan kepada Iblis keempat ini ia hanya berlaku waspada saja :

Iblis kedua itu berkelahi dengan bernafsu sekali. Tak lama kemudian napasnya menjadi terengah-engah dan mukanya berubah menjadi merah. Ia sekarang merasa kalau lawannya telah menggunakan kekerasan untuk melawan kekerasannya.

‘Nah inilah waktuku.’ Pikir Mintaraga.

Benar waktu itu Iblis kedua menyerang lagi dengan seluruh tenaganya. Coba ia menerjang pohon besar, maka pohon itu akan roboh dengan sekaligus.

Mintaraga mengetahui akan hal ini, akan tetapi pemuda itu sedikitpun tak merasa takut. Bahkan ia menyambut serangan ini dengan keras lawan keras.

Begitu kedua tangan itu beradu, maka tardengarlah sebuah suara yang sangat keras sekali. Dan kesudahannya Iblis kedua itu terpental mundur dan roboh terguling. Sedangkan Mintaraga tetap berdiri dengan tegap. Malahan goloknya terus ditabaskan karena ia tahu kalau Iblis keempat ini akan mempergunakan ketika baik itu untuk menyerang.

Kali inipun kedua senjata beradu, disebabkan sangat sebatnya Mintaraga itu menangkis. Untuk kagetnya. Iblis Betina itu mendapatkan senjatanya putus dan belatinya jatuh ditanah.

“Iblis wanita.” Bentak Mintaraga. “Kalau kau tak mau menyudahi perlawananmu maka jangan sesalkan aku lagi kalau sampai membunuhmu.” Iblis wanita itu tak menjawab. Ia hanya melihat kesekitarnya. Keempat saudara-saudaranya telah tak berdaya semuanya. Ia lalu memutar tubuh

untuk berlalu dengan cepat.

Iblis kedua yang roboh tadipun segera bangun kembali dan dari dalam sakunya, ia merogoh sebuah bungkusan merah. Setelah itu ia lemparkan ketanah setelah itu ia lalu menyambar tubuh kawan-kawannya dan menyusul adik seperguruannya yang telah mendahuluinya.

Melihat ini Mintaraga menarik napas lega dan menyusut keringatnya. “Kelima Iblis adalah benar-benar musuh-musuh yang paling tangguh

dalam sejarah hidupku.” Katanya kemudian. “Sekarang mereka telah pergi, akan tetapi entah ia akan menepati janjinya atau tidak kalau tak akan membuat kacau disini lagi. ”

Semua orang menjadi girang. Sebab itulah sebuah pertanda kemenangan bagi mereka. Sekali ini memang sebuah kemenangan yang sangat besar sekali artinya bagi Mintaraga.  

Ketika itu cuacapun sudah terang. Inilah tandanya kalau mereka itu

telah bertempur semalam.

Arya Panuju memberi hormat kepada rombongan Mintaraga. Ia mengucapkan banyak-banyak terima kasih. Mungkin kalau mereka ini tak datang maka Arya Panuju telah menjadi mayat.

Mintaraga menampik.

“Mari kita pulang kerumahmu.” Serunya. “Urusan masih banyak.” Memang yang dimaksud dengan urusan tadi adalah Tunggul Tirto Ayu.

Arya Panuju tahu akan maksud tetamunya ini. Segera ia menghela napas dan segera pulang.

“Aku mengerti Mintaraga.” Katanya. “Sekarang aku tak menghendaki kau menerjang sana menerjang sini. Asal kau keluarkan kedua petamu itu maka sekarang yang akan dapat kita cari Tunggul Tirto Ayu itu.

Mintaraga menurut, segera ia merogoh kedalam saku bajunya. Lalu mengeluarkan petanya. Arya Panujupun lalu mengeluarkan sebotoI kecil obat-obatan. Entah obat apa itu, setelah dikocok maka ketiga peta itupun lalu digulung menjadi kecil Setelah itu peta lalu dimasukkan kedalam botol dan tutupnya disumbat. Sesaat kemudian ia mengeluarkan pula dengan hati-hati sekali.

Kini ketiga peta itu telah basah dengan semacam cairan kental. Setelah itu lalu dibeber diatas meja.

“Segera setelah peta itu kering, kalian akan melihat hal-hal yang aneh.” Seru orang Banten itu menerangkan.

Semua orang tak tahu apa yang sedang diperbuat oleh Arya Panuju hingga dengan demikian maka mereka hanya memandang dengan tanpa berkedip saja.

Sewaktu itu Wirapati lalu mengeluarkan bungkusan yang dilemparkan oleh Iblis kedua tadi. Dan setelah memeriksa maka tahulah kalau itu adalah obat. Tanpa menanti ketika lain lagi, ia lalu mulai menolong Hasto Piguno.

Angin meniup dengan pelan. Dan ketiga peta itupun ada faedahnya bagi negara. Dan cairan itu ternyata kering dengan secara pelan-pelan pula. Benar seperti kata Arya Panuju. Disitu terjadi keanehan. Peta itu memperlihatkan sesuatu yang makin lama menjadi makin terang. Hingga disitu terlukis sebuah peta panorama yang indah.

Itulah peta kosong yang mengandung rahasia Pemandangan, bukit air dan pepohonan disuatu tempat.

Dalam kegirangan semua orang mengawasi dengan teliti.

“Kita turun gunung, dan kita pergi kesegala tempat.” Seru Mintaraga. “Kita jelajahi gunung Merbabu, Merapi, Semeru dan yang lain-lain.” “Benar kita harus mendapatkan Tunggul Tirto Ayu, hingga dengan

demikian maka kekejaman  orang-orang Jipang  akan dapat kita bendung.  

Semoga Sultan Hadiwijaya dapat wahyu, dan dapat menerima persembahan

kita ini.”

Mendengar ini Arya Panuju menghela napas. Ia teringat akan masa- masa silamnya. Masa dimana mereka itu menyelamatkan Tunggul Tirto Ayu bersama-sama dengan ki Plompong atau Darmakusuma yang menjadi ayah Mintaraga. Karena tak ada kerukunan diantara mereka semuanya maka Tunggul Tirto Ayu ini direbut oleh seorang pendekar besar dan menyimpan disebuah tempat. Pendekar besar itu meninggalkan sebuah peta yang dibagi tiga. Hingga sekarang ini peta tersebut menjadi rebutan dan akhirnya dapat dikumpulkan oleh Mintaraga. Yah Minraraga ahli waris Darmakusuma. Pendekar Besar yang menyimpan Tunggul Tirto Ayu ini bukan lain adalah kanjeng Sunan Kalijaga.

Setelah berdiam diri maka Arya Panuju berkata kepada Mintaraga. “Mintaraga sekarang aku menyerahkan peta-peta ini kepadamu.

Sedikitpun aku tak punya milik kepada ini semua. Hanya pesanku saja nanti andaikan kau dapat menemukan Tunggul Tirto Ayu maka kau harus menyerahkan kepada orang yang benar-benar bijaksana dan tepat untuk merajai tanah Jawa ini.”

“Baik Arya Panuju, aku akan mengingat-ingat nasehatmu itu. Nah sekarang ijinkanlah kami pergi mencari Tunggul Tirto Ayu.”

“Memang begitu sebaiknya.” Jawab Arya Panuju. Mendengar ini Candra Wulan bertepuk tangan.

“Bagus... bagus...” Serunya. “Kita telah berjuang, maka jangan hentikan perjuangan ditengah jalan. Mari kita maju terus.”

Akan tetapi tiba-tiba saja Mintaraga mempunyai pikiran lain.

‘Arya Panuju ini dahulu adalah kawan dari ayahku, maka kalau bapa tahu, sedikitnya maka orang inipun tahu tempat Tunggul Tirto Ayu itu. Daerah mana disimpan.’

Karena pikirannya ini maka ia lalu berkata kepada Arya Panuju :

“Arya Panuju, aku tahu kau tentunya tahu daerah mana yang menjadi tempat disimpannya Tunggul Tirto Ayu. Maka untuk mencari tunggul itu aku serahkan kepadamu. Tolong carikan. Maukah kau menolong kami?”

“Mintaraga ternyata otakmu sangat cemerlang.” Seru Arya Panuju. “Memang kau tak sia-sia menjadi anak Darmakusuma. Dengan hadirnya kau disini ini maka langit persilatan akan bertambah dengan bintang baru. Bintang yang tak akan mudah dikalahkan oleh orang lain. Kaulah bintang cemerlang dalam langit persilatan.”

“Dengan jawabanmu demikian ini bukankah berarti kau setuju?” Kembali Mintaraga mendesak.

“Huahaaaaaa... Huahaaaaa.... Huahaa..... kau memang menyenangkan.” Seru Arya Panuju. “Baiklah... baiklah... aku akan mencarikan. Akan tetapi  

untuk itu aku memerlukan waktu kurang lebih sepuluh hari. Dan lagi kau

harus tunggu disini, selain itu kalian jangan membuat onar.”

“Terima kasih... terima kasih Arya Panuju.” Seru mereka dengan serempak. “Kami akan mematuhi apa yang kau katakan tadi.”

Arya Panuju pergi dengan hati yang gembira sekali. Dan selang sepuluh hari kemudian barulah orang sakti dari Banten itu pulang. Selama menanti sepuluh hari itu Hasto Piguno diobati dengan secara bergiliran. Hingga dengan demikian maka sedikit demi sedikit Hasto Piguno jadi sembuh. Ia menjadi heran sekali ketika melihat kulit tadi berubah jadinya setelah kena obat.

“Percuma aku menjadi raja pencopet.” Mendengar ini Mintaraga tertawa.

“Kau tunggulah sampai Arya Panuju pulang, setelah itu mintalah beberapa butir mutiara.” Seru Mintaraga sambil tertawa.

“Dia itu orang aneh sekali.” Serunya. “Apakah dia mau membagi kepadaku? Sayang aku terluka hingga dengan demikian maka aku tak dapat pergi bersamanya.”

“Kau ini memang sangat serakah sekali.” Seru Candra Wulan. “Apakah enaknya kini namamu Hasto Piguno kita kembalikan saja menjadi raja pecopet lagi? Kau ini kok masih saja kemala akan perhiasan. Apakah tidak cukup kalau kita pulang dengan membawa Tunggul Tirto Ayu?”

Ditegur oleh gadis ini maka Hasto Piguno menjadi berdiam diri. Ia memang takut sekali kepada gadis yang keras kepala ini.

Sewaktu mereka sedang omong-omong, tiba-tiba saja Arya Panuju pulang. Dan ditangannya membawa sebuah kotak yang bersinar kehijau- hijauan. Sedangkan didalamnya terdapat Tunggul Tirto Ayu yang tulen.

Candra Wulan bersorak girang sekali. Hingga karena girangnya ia lalu menyambar dan memeriksanya dengan teliti. Benar saja ujung dari Tunggul Tirto Ayu ini cacat.

“Benar... benar... inilah Tunggul Tirto Ayu yang asli.” Serunya dengan gembira. “Marilah semua mendekat kita lihat.”

Hasto Piguno yang biasa menghadapi Tunggul Palsu maka kini setelah melihat yang asli menjadi heran sekali. Heran bercampur kagum.

Kembang Arum mengambil Tunggul Tirto Ayu dan kemudian memberikan kepada Mintaraga sambil berkata.

“Kakang Mintaraga, akhirnya kita dapat mendapatkan pusaka ini. Walaupun untuk itu kita telah berjuang dengan mati-matian dan karena benda ini pula maka ribuan nyawa melayang.”

Mintaraga hanya menganggukkan kepalanya karena terharu. Setelah menerima benda itu Mintaraga lalu memasukkan kedalam saku bajunya. Setelah itu ia memandang kearah Arya Panuju. Ia menjadi heran sekali ketika mendapatkan wajah orang itu amat kucal.  

“Arya Panuju.” Katanya. “Sekarang kau telah mendapatkan pula nama

julukanmu sebagai orang gagah nomor satu di Banten ini. Mengapa kau tak mengambil barang-barang permata itu dari simpanannya?”

Mintaraga menduga kalau Arya Panuju akan pergi dengan rombongannya untuk mengambil barang-barang itu. Akan tetapi ia heran setelah melihat orang itu tak mengambilnya.

Arya Panuju tak segera menjawab. Malahan ia menundukkan kepala. Lama ia berdiam diri, barulah mengangkat kepalanya terus menghela napas panjang. Ya agaknya lusuh sekali.

“Selama sepuluh hari ini aku mengerti, dan aku telah insyaf.” Demikian katanya. “Aku tidak sanggup melawan lima iblis itu, maka percuma saja akan menamakan diri jago nomor satu. Aku kini akan mengundurkan diri dari dunia kependekaran. Aku ingin hidup tentram.”

“Arya Panuju, kau hiduplah bersamaku.” Seru Candra Wulan. “Hidup bagai orang tua di Pajang.”

“Huahaaa... Huahaaa... Huahaa... terima kasih... terima kasih anakku, aku akan bahagia. Marilah kita menuju Pajang. Kita serahkan semua ini kepada Sultan Hadiwijaya.”

“Mari...!” Jawab mereka dengan serempak. Pajang.

Pajang adalah sebuah daerah yang subur makmur, gemah ripah loh jinawi. Sultan Pajang, Sultan Hadiwijaya, adalah seorang sultan yang adil dan arif bijaksana. Sultan Pajang tak pernah membedakan mana kawan mana lawan. Siapa saja yang salah akan dihukum dengan seadil-adilnya. Hingga dengan demikian maka Pajang merupakan daerah yang patut menjadi contoh dalam menegakkan hukum.

Waktu itu Sultan Pajang sedang duduk siniwako dihadap oleh para mantri, tumenggung dan adipati. Hati beliau sangat masygul sekali. Pertikaiannya dengan saudaranya, Ario Penangsang benar-benar mencekam hati Jaka Tingkir.

“Kakang Pemanahan, bagaimana kabarnya medan laga?” Tanya Sultan Pajang kepada bawahannya. Ki Gede Pamanahan, seorang senopati Pajang.

“Keadaan medan laga sangat menyedihkan gusti.” Jawab Pemanahan. “Karena perang saudara ini maka banyak rakyat yang menderita. Rakyat tak berdosa harus memanggul senjata demi mempertahankan kedaulatannya masing-masing. Bahkan kini hamba mendengar kabar kalau Resi-resi dari Indrakilo telah tewas dalam perantauannya.”

Sejenak beliau merenung, Adipati muda ini benar-benar sedih sekali setiap kali mendengar pelaporan medan laga. Ia benar-benar telah insyaf akan jalan hidup. Walaupun kecilnya dahulu Jaka Tingkir suka bertualang. Akan tetapi setelah akil balik maka kesadarannya telah tumbuh dengan tebal.  

“Kakang Penjawi.” Seru baginda. “Dapatkah kakang memadamkan api

peperangan ini?”

Sejenak orang yang dipanggil dengan nama Penjawi ini terdiam. Akan tetapi tak lama kemudian terdengarlah perkataannya.

“Gusti satu-satunya jalan untuk memadamkan pemberontakan ini hanyalah kalau gusti dapat membunuh gusti Ario Penangsang.”

“Benar gusti... apa lagi kalau gusti dapat menemukan TUNGGUL TIRTO AYU yang menjadi lambang kebesaran kerajaan Demak Bintoro.”

Kembali keadaan menjadi sunyi. Sultan Hadiwijaya, benar-benar tak menghendaki peperangan dengan Ario Penangsang. Beliau sangat masygul, haruskah ia membunuh saudaranya itu? Tidak!

“Kakang haruskah aku membunuh saudaraku?” Sabda beliau dengan pelan. “Haruskah aku bahagia diatas bangkai saudaraku?”

“Gusti, paduka harus ingat gusti.” Seru Pemanahan dengan lantang. “Gusti Ario Penangsang telah mengobarkan perang. Andaikan gusti tak mau melayani maka daerah Pajang akan jadi karang abang. Anak buah gusti Ario Penangsang telah main bunuh dan bakar rumah. Kalau gusti tak dapat memadamkan peperangan ini maka rakyat Pajang akan bertambah sengsara. Pukullah gusti.”

Sewaktu keadaan hening, tiba-tiba saja dari luar terdengar teriakan kawulo.

“Gusti hamba menghadap gusti. ”

Bersama dengan lenyapnya teriakan itu maka muncullah punggawa yang langsung menghadap Sultan Hadiwijaya.

“Heh punggawa kalau aku tak salah lihat bukankah kau ini penjaga ringin kurung?”

“Hamba gusti.”

“Apa kehendakmu menghadapku?”

“Diluar ada tamu gusti, Mintaraga dan adik-adiknya.” Jawab punggawa itu dengan bersembah. “Mereka ingin menghadap gusti.”

“Mintaraga?”

“Begitulah dia memberitahukan namanya.” Sejenak sri Sultan termenung.

“Kenalkah kau dengan nama itu kakang?” Tanyanya kepada Penjawi dan ki Gede Pemanahan.

“Tidak.” Jawab mereka dengan serentak.

“Apa maksudnya?” Tanya Sultan Hadiwijaya kepada punggawa. “Hamba tak tahu gusti.”

Sebagaimana mudanya, Jaka Tingkir adalah seorang pemuda yang tak kenal takut. Tak pernah menaruh syak wasangka kepada siapapun juga. Segera ia bersabda.

“Suruh orang itu masuk.”  

“Sendiko gusti.”

Tak antara lama datanglah rombongan Mintaraga menghadap gusti sinuwun Setelah bersembah maka berkatalah Mintaraga.

“Gusti perkenankanlah hamba matur!”

“Silahkan.” Jawab Sultan. “Apakah kau yang bernama Mintaraga?” “Daulat gusti.”

Setelah menarik napas panjang maka berkatalah Mintaraga :

“Gusti kedatangan hamba ini hendak menyerahkan TUNGGUL TIRTO AYU kepada gusti sinuwun. ”

Belum lagi Mintaraga habis berkata tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh yang memenuhi ruangan paseban :

“Tunggul Tirto Ayu? mana jimat itu?”

“Heh anak muda jangan kau main-main!” Desis ki Gede Pamanahan.

Karena tertarik oleh tutur sapa dan berita yang dibawa Mintaraga ini maka bersabdalah Sultan Hadiwijaya :

“Majulah kau Mintaraga.” “Sendiko gusti. ”

Setelah menceritakan maksud kedatangannya itu, maka Mintaraga lalu menyerahkan Tunggul Tirto Ayu kepada Sultan Pajang. Sedangkan Sultan Pajang menerima dengan hati yang sangat terharu. Apa lagi setelah mengetahui kalau Mintaraga ini adalah cucu dari ki Malangyudo.

“Terima kasih Mintaraga, untuk tanda terima kasihku kau kuhadiahi perdikan Muria.”

“Terima kasih sinuwun, mohon maaf hamba tak menginginkan hadiah.” Jawab Mintaraga. “Hamba hanya ingin keamanan dan ketentraman daerah sini.”

“Sungguh luhur budimu Mintaraga. Semoga perjuanganmu ini dapat menjadi teladan hagi seluruh negara dan bangsa. Berjuang tanpa pamrih, hanya untuk melaksanakan keamanan dan kemakmuran rakyat. Sekali lagi terima kasih Mintaraga. Berhubung permintaanmu untuk menjadikan daerah sini sebagai daerah yang aman tentram demi kesenangan rakyat. Maka aku akan mengumumkan perang kepada Ario Penangsang.”

“Semoga cita-cita gusti yang baik itu terkabul.”

Setelah mendengar keputusan Sultan ini maka ramailah rakyat Pajang mulai mempersiapkan dari untuk menggempur Jipang Panolan yang mbalelo. Sedangkan Mintaraga dan kawan-kawannya diminta kesediaannya untuk membantu perjuangan orang-orang Pajang.

“Kembali kita berjuang kakang!” Seru Kembang Arum. “Memang hidup penuh perjuangan adi.” Jawab Mintaraga. “Kapan kita bisa tentram kakang?”

“Ah.... malu.” Seru Mintaraga. “Setelah perang selesai kita kawin adi. ”

“Idih. ”  

“Aduh... nyubit, sakit adi. Malu dilihat orang.”

“Siapa kakang yang melihat?” Tanya Kembang Arum dengan wajah yang memerah.

“Siapa? Itu banyak. !”

“Siapa kakang?!”

“Itu dia memandang kita.”

“Ah. kau ini kakang, tak ada siapa-siapa.”

“Itu adi, para pembaca memandang kita..... huahaaaa... huahaaa...

huahaa ”

“Kau nakal kakang. Kalau begitu baiklah kita minta doa restu pula kepada para pembaca untuk merestui pernikahan kita dan adi Candra Wulan serta kakang Wirapati.

“Begitulah sebaiknya.”

TAMAT