Tunggul Bintoro Jilid 19

 
JILID XIX

“MENGAPA kau mengatakan kalau aku melanggar perjanjian kita?” tanya Rikmo Dowo berbalik dari ditanya terus bertanya. “Kita sekarang toh membicarakan urusan bersahabat dengan pihak luar. Bukannya urusan perang.”

Sulaiman berdiri bengong. Sedikitpun ia tak dapat membantah perkataan sahabatnya itu.

Melihat ini Rikmo Dowo tertawa dingin.

“Ki sanak sekalian, kalian telah kena dan terjerat oleh sebuah tipu daya yang dilancarkan oleh orang-orang Jipang Panolan.” Katanya kemudian.

Langkir menjadi gusar sekali. Segera saja dia berteriak dengan keras dan lantang :

“Kau tak sudi memberikan tanda tanganmu sudahlah kamipun tak membutuhkan tanda tanganmu. Perlu apa kau mengaco belo?”

Liman Kartopun berpikir, kalau nanti ia telah bersekutu dengan orang- orang Jipang Panolan, ia hendak berdaya upaya dapat menjagoi seluruh gunung Tangkuban Prau, karena itu dengan girang ia membantu orang Tegal Warna :

“Rikmo Dowo dan kau Sandung Lamur.” Katanya. “Kalau kalian tak mau berserikat dengan orang-orang Jipang Panolan, dengan begitu berarti kalian ini memusuhi kami. Sekarang marilah kita memakai perjanjian kita. Perjanjian dalam SANGKURIANG SAKTI itu, didalam bentrokan didalam kita harus mempergunakan kekerasan. Sekarang pulanglah kalian dan setengah bulan lagi kita akan bertemu dipuncak gunung Tangkuban Prau ini.  

Disanalah kita akan mengambil keputusan supaya disaksikan oleh

Sangkuriang leluhur kita. Siapakah yang kuat diantara kita.” Sandung Lamur sangat marah.

“Kalau benar-benar kau hendak berkelahi, lebih baik kita berkelahi disini saja. Sekarang, tak usah kita menanti setengah bulan lagi. Disinipun leluhur kita Sangkuriang akan dapat menyaksikan.” Tantangnya dengan kontan.

“Bagus.” Seru Langkir. “Untuk persatuan kita, marilah disini kita membuat penjelasan.”

Sulaiman dan Ateng Jagalawa mengharap-harapkan kekacauan. Karena itu mereka lalu urun-urun rembuk untuk menimbrung.

Patih Udara melirik kearah semua orang, ia tersenyum tawar. Didalam hatinya ia girang bukan main. Perang saudara ini adalah harapannya.

Suasana menjadi sangat genting, misalkan anak panah, mereka itu telah dipasang dibusur maka tinggal melepaskan saja.

Rikmo Dowo tertawa panjang dan tajam sekali.

“Baik.” Serunya. “Kalian tunggu saja sampai aku selesai membeberkan kelicikan orang-orang Jipang Panolan ini, setelah itu nanti aku memberi kebebasan untuk kalian mencari mampus sendiri.”

“Kami toh berserikat dengan orang-orang Jipang Panolan, mengapa kau menyebutnya mencari mampus sendiri?” Tanya Liman Karto dengan heran. Suara ini dikeluarkan dengan teriakan yang tajam dan penasaran.

Rikmo Dowo tak mempedulikan kepada Liman Karto yang kelihatan marah dan penasaran itu, ia hanya memandang kearah Patih Udara yang menjadi utusan dari Jipang Panolan.

“Ki sanak utusan yang mulia.” Katanya dengan sabar. “Maksudmu datang kemari ini bukankah tak lain tak bukan hanya ingin meminjam pasukan-pasukan kami yang bergabung dalam perserikatan SANGKURIANG SAKTI bukan?”

Didalam hatinya patih Udara sangat kaget. Kemudian ia berpikir : ‘Hebat sekali telik sandi yang disebar oleh ketua orang-orang Kalisari

ini. Hebat dan berpendengaran tajam.’

Kata-kata Rikmo Dowo ini membuat kaget semua orang yang mendengarnya, hanya Ateng Jagalawa dan Sulaiman saja yang tak menjadi kaget. Mereka itu siapapun diantaranya tak pernah berpikiran kalau orang- orang Jipang Panolan ini akan meminjam tentaranya, karena itu mereka lalu tidak percaya. Akan tetapi merekapun mengetahui dan kenal baik kalau selamanya Rikmo Dowo belum pernah berdusta. Karena itu semuanya menjadi bimbang lalu memandang kearah Rikmo Dowo dan patih Udara dengan berganti-gantian.  

Utusan   Jipang   Panolanpun   berpikir   pula,   merekapun   mengawasi

kesekitarnya. Ia ingin sekali membaca wajah orang-orang itu. Menjenguk isi hati mereka yang bimbang.

Bukan main sunyinya ruangan itu.

‘Hebat sekali orang ini, dia justru membeber rahasiaku diwaktu seperti ini.’ Pikirnya pula. Tapi ia cerdik dan hatinyapun tabah, ia lalu tersenyum.

“Ki Rikmo Dowo, perkataanmu itu sedikitpun tak salah.” Begitulah jawabnya. Dijawab dengan terus terang. “Memang aku tengah menjalankan tugas yang diperintahkan oleh baginda rajaku yang termulia untuk memohon bantuan tentara kepada orang-orang yang tergabung dalam perserikatan SANGKURIANG SAKTI kalian.”

Mendengar ini maka seluruh ruangan menjadi goncang. Lalu tampaklah orang-orang itu saling kasak-kusuk. Langkir dan Liman Karto menjadi berdiri menjublak.

Yang paling gembira adalah Mintaraga. Ia mengagumi Rikmo Dowo yang dengan kata-katanya ini seperti menusuk orang itu dengan jarum. Ia hanya heran sekali terhadap jawabannya patih Udara yang berani membuka kartu. Maka berpikirlah dia :

‘Apakah ia hendak bersandiwara terus?’

Rikmo Dowo sendiri telah memandang kearah Langkir dan Liman Karto.

“Nah,    apakah    perkataanku?”    Katanya.    “Huahaaaa....    Huahaa....

Huahaaa   kalian terpedaya.”

Langkir dan Liman Karto menjadi saling berpandangan. Sinar mata mereka itu saling tanya bertanya. Meminjamkan tentaranya kepada orang- orang Jipang Panolan itu adalah sebuah urusan kecil. Urusan besarnya ialah bagaimana setelah pasukan itu dipinjamkan. Bukankah daerah mereka itu lalu menjadi kosong? Bagaimanakah kalau orang-orang Kalisari dan gerombolan Lampor Tugel menyerang daerahnya? Mana mungkin ia sendiri dapat menangkis serangan-serangan itu. Mereka berpikir pula, haruskah mereka itu berserikat? Sebenarnya mereka itupun tak akur karena satu dan lainnya bermusuhan.

*

* *

Puaslah hati patih Udara ketika melihat ketua-ketua perkumpulan itu bertentangan satu dengan lainnya. Perpecahan mereka ini adalah yang paling diharap-harapkan. Akan tetapi ia masih membujuk terus.

Lalu katanya :

“Ki sanak sekalian, dengan bekerja sama kita akan lebih kuat. Dan ketahuilah kalau sekarang ini di Jawa Tengah sedang timbul banyak sekali  

perampok-perampok dan pengacau-pengacauan serta huru hara yang makin

lama makin meningkat. Kalau ki sanak sekalian sudi ikut menumpasnya, maka junjungan kami telah menetapkan akan memberi hadiah yang cukup lumayan kepada kalian semua. Gusti adipati anom Ario Penangsang akan memberikan daerah Merapi dan Merbabu kepada kalian. Sebuah daerah yang sangat luas dan subur makmur. Persawahan terbentang luas dan padi- padi menguning dengan aman sejahtera. Pada hal untuk itu kalian hanya ikut berperang dengan kami melawan gerombolan-gerombolan liar yang tumbuh disana sini.”

Perkataan ini benar-benar sangat menggerakkan hati Langkir dan Liman Karto. Hingga dengan demikian maka jantung mereka itu menjadi berdebar dengan keras.

“Sungguh murah hati sekali Ario Penangsang itu.” Dengus Rikmo Dowo dengan nada sinis dan penuh ejekan.

Patih Udara tak mempedulikan suara Rikmo Dowo ini, kemudian katanya pula :

“Negara kami Jipang Panolan itu sangat Iuas sekali. Hem... terus terang saja kalau kalian ini sudah dapat menumpas huru hara itu, bukan hanya daerah Merapi dan Merbabu itu saja yang akan dihadiahkan.”

Belum sampai utusan ini mengucapkan habis perkataannya. Langkir sudah memotongnya :

“Baiklah aku dari Tanah Abang suka meminjamkan bala bantuan sebanyak dua puluh pasukan yang gagah berani.”

Liman Karto masih sangsi, karena itu ia tak segera memberikan jawabannya.

Patih Udara itu mempunyai pandangan mata yang sangat tajam sekali ia dapat menerka hati orang-orang itu. Maka segera ia menambahkan.

“Kita telah menjadi negara-negara yang bersaudara, didalam kesulitan kita harus saling bantu membantu, hari ini kalian membantuku dan lain kali aku akan membantumu. Lagi pula ketahuilah kalau pengaruh dan kekuasaan kami Jipang Panolan telah dapat menggetarkan empat penjuru mata angin. Siapa yang membantu kami itulah sahabat, dan siapa yang merintangi kami itulah musuh.”

Kata-kata ini jelas sekali kalau merupakan sebuah ucapan pancingan untuk menarik hati orang. Umpan yang diucapkan bersama ancaman. Ancaman untuk menggertak dan menakut-nakuti. Itupun ancaman tersembunyi untuk Liman Karto. Dengan perkataan ini Liman Karto seperti dijanjikan kalau besuk dikemudian hari orang-orang Jipang tentu akan membantu untuk menghajar orang-orangnya Rikmo Dowo dan Sandung Lamur.

Liman Karto tak berpikir panjang lagi, ia lalu berseru dengan nyaring :  

“Aku orang Tangkuban Prau sanggup membantu kalian dengan lima

puluh ribu bala bantuan yang sangat kuat dan tangguh.”

Setelah mendengar perkataan ini maka Sulaiman dan Ateng Jagalawapun segera menawarkan bantuannya sejumlah pasukan besar. Ia memberikan bantuan dengan tanpa tanggung-tanggung lagi.

Kesudahannya itu membuat Rikmo Dowo dan Sandung Lamur menjadi terpencil sendiri. Akan tetapi Rikmo Dowo tak menjadi berkecil hati. Ia masih dapat tertawa mengejek.

“Heh... Langkir dan kau Liman Karto, benarkah kau ini masih hendak membantu harimau dan serigala?”

Nyata sekali kalau sekarang Liman Karto menjadi besar keberaniannya.

Ia segera memberi jawaban dengan lantang dan keras :

“Kami telah membubuhkan tanda tangan pada surat perjanjian itu, karena itu dengarlah hai Rikmo Dowo dan kau Sandung Lamur, kalau mulai saat ini kami adalah saudara-saudara dari orang-orang Jipang Panolan. Perbatasan didaerah kami ini masih gelap sejak dahulu masih belum terputuskan karena itu sekarang juga marilah kita putuskan mana perbatasan daerah-daerah kita.”

Pernyataan ini berarti pernyataan perang, karena itu orang-orang Kalisari dan orang-orang Lampor Tugel menjadi gempar, lalu mereka menegur Liman Karto yang bersikap angkuh dan sawenang-wenang.

Patih Udara menjadi semakin girang menyaksikan bentrokan ini, artinya dalam tiga bagian tugasnya ini ia telah mengantongi kemenangan. Ia lalu berpikir :

‘Sekarang tiba waktunya untuk menggempur kedua orang yang keras kepala ini.’

Utusan Jipang ini segera bertindak. Ia lalu mengambil empat helai surat perjanjian itu, setiap lembar ia Ialu memberikan kepada Langkir, Liman Karto, Ateng Jagalawa dan Sulaiman. Setelah itu yang dua lembar lainnya segera diangkat tinggi dan katanya dengan keras sekali :

“Benar-benarkah kalian ini tak sudi mengikat persahabatan dengan kami orang-orang Jipang Panolan yang gagah perkasa dan kuat? Dan dengan begitu kalian akan rela memusuhi kerajaan Jipang Panolan yang kuat serta jaya perkasa dan kemudian ditambah dengan empat bagian dari orang-orang Sangkuriang Sakti??”

Setelah berkata demikian patih Udara lalu mengangkat tangan kirinya, sebagai tanda kepada kawan-kawannya, maka jago-jago Jipang Panolan segera memegang gagang senjatanya. Langkir berempatpun segera menyiapkan panah bersuaranya, mereka menanti perintah dari patih Udara untuk menyerbu. Paling dahulu Rikmo Dowo dan Sandung Lamur harus dibinasakan.  

Sandung Lamur berpikir dengan keras sekali, mana dapat ia melawan

musuh yang sedemikian banyaknya itu. Tentaranyapun berada dijarak yang jauh, tak dapat mereka itu didatangkan dengan segera. Ia lalu memikirkan sebuah daya upaya untuk meloloskan diri.

Rikmo Dowo berbeda dengan orang Lampor Tugel itu. Dia lalu tertawa dingin, tangannya lalu menyambut kedua helai surat itu dari tangan patih Udara.

“Ki patih utusan yang mulia, misalnya aku menjawab ‘ya’ maka kau mau apa?” Dia bertanya dengan berani.

“Kalau begitu... hem... hem... aku rasa kau tidak nanti memaksaku untuk turun tangan. Lihat disana baju Sandung Lamur masih belum diganti.”

“Memang aku tak kuat melawanmu, akan tetapi siapakah yang sudi mendengar kau mengingatnya?” Tegurnya. Ia menegur dengan hati yang sangat gusar. Ia melupakan ketakutannya. “Hem tiga hari lagi kita akan bertemu di puncak Tangkuban Prau.”

Mendengar orang berkata demikian, Langkir berpikir dengan cepat. Dia membantu orang-orang Jipang Panolan karena ada maksudnya. Sudah lama ia ingin mengkangi daerah utara dari gunung Tangkuban Prau. Didalam hatinya, ia tak takut kepada siapapun juga kecuali Rikmo Dowo. Liman Karto dan Sulaiman itu tak dipandang sebelah mata. Maka berpikirklah orang itu :

“Sekarang pihakku Iebih banyak, mereka sedikit, kalau tak sekarang aku turun tangan hendak menunggu sampai kapan langkah?”

Karena itu ia segera melompat dan serunya :

“Baiklah pikiran kita telah tak cocok satu dengan lainnya, kita bicarakan lagipun tak ada gunanya. Marilah kita mencari keputusan dengan kaki dan tangan kita.”

Tantangan inipun bukannya merupakan sebuah tantangan biasa, tangan Liman Karto telah menyambar kearah kepala Sandung Lamur.

Ketua gerombolan Lampor Tugel ini tak menangkis, dia hanya mundur tiga tindak. Setelah itu barulah mengeluarkan cambuknya!

Liman Karto ternyata sangat curang sekali. Dia mengandung maksud sama dengan Langkir. Justru Sandung Lamur sedang mundur, tiba-tiba saja ia membokong dengan goloknya. Sambil membacok ia lalu berseru :

“Sandung Lamur, kau mencari penyakit sendiri, jangan kau sesalkan aku.”

Sandung Lamur dapat melihat kalau ada orang yang sedang membokongnya. Sambil menangkis ia melompat mengelak, mulutnya memberi teriakan.

“Blorong Lodro, maju semua!”

Dimana semua pihak telah bersiap sedia, Blorong Lodropun tak terkecuali. Akan tetapi ketika ia hendak maju, mendadak saja tubuhnya  

disambar oleh Langkir, sebelum sempat ia berontak, ia sudah dilemparkan.

Langkir terus membentak : “Pergi.”

Pahlawan dari Lampor Tugel ini kena dilemparkan sampai tiga tombak jauhnya.

Sungguh sakit sekali hati Rikmo Dowo ketika menyaksikan orang-orang telah segera turun tangan, ia menyesal dan marah dengan bersama-sama. Ia memang mempunyai wajah yang tak karuhan dan sangat menakutkan sekali, akan tetapi ia dapat berpikir panjang. Ia telah melihat dengan tegas kalau patih Udara hanya berdiam diri saja. Hanya matanya saja yang menjilat-jilat keempat penjuru mata angin.

“Ki sanak sekalian berhenti.” teriaknya dengan suara yang sangat menyeramkan. “Aku hendak bicara.”

Patih Udara yang melihat sepak terjang lawannya itu, ia mengerti kalau ia masih berdiam diri saja. Perkataan orang Kalisari ini akan dapat merusak usahanya yang telah berhasil sampai jauh. Karena itu ia lalu mencegahnya. Lantas ia menggerakkan pula tangan kirinya.

Jago-jago Jipang Panolan memang masih menanti perintah dari atasannya. Melihat pertanda dari pemimpinnya itu mereka segera melompat ke meja. Si pemimpin sudah mendahului.

“Rikmo Dowo.” Seru Patih Udara dengan nyaring. “Jika kau tak mau memberikan tanda tanganmu maka kaupun berarti musuh kami. Lihatlah ini pasukan-psukanku.”

Ancaman ini dibuktikan dengan serangan tangan kanannya. Niatnya dengan sekejap saja ia akan dapat melemparkan Iawannya ini dari atas meja.

Akan tetapi Rikmo Dowo adalah seorang gagah sejati, bahkan ia termasuk orang gagah nomor satu di daerah Tangkuban Prau, dia segera menangkis, hingga dengan demikian maka kedua tangan itu menjadi bentrok. Lalu kedua-duanya sama-sama mundur dua tindak.

‘Hebat sekali binatang ini.’ Pikir Patih Udara. ‘Siapakah yang menyangka kalau didaerah ini aku akan mendapatkan Iawan segagah dia ini.’ Karena ini ia percaya, ia harus mengambil waktu untuk dapat merobohkannya. Ia mengharap agar Sandung Lamur segera dapat dirobohkan dan baru orang Kalisari ini dikepung dengan kuat-kuat.

Keduanya segera bertempur terus diatas meja. Patih Udara terus mengeluarkan ilmu silatnya yang bernama Harimau Lapar.

Pada waktu itu Blorong Lodro telah ditolong kawan-kawannya, dia babak belur mukanya.

Sandung Lamur sendiri terus bertempur dengan ramai sekali melawan Liman Karto, setelah empat lima jurus barulah ada ketetapan siapa yang menang dan siapa pula yang kalah. Karena itu Sulaiman lalu maju  

membantu kawannya. Hingga dengan demikian maka Sandung Lamur

dikepung berdua.

Orang-orang Lampor Tugel sebenarnya hendak maju membantu ki Sandung Lamur akan tetapi mereka itu terus dihalang-halangi oleh orang- orang dari Tanah Abang dan juga anak buah Lemah Putih. Sedangkan dibelakang mereka itu berdiri orang-orang dari Tegal Warna. Sikap orang Tegal Warna itupun kelihatan jelas kalau mengurung. Dengan demikian maka pihak Lampor Tugel menjadi terdesak dengan hebat.

Sedangkan pihak Kalisari menjadi marah sekali.

“Kalian ini main keroyokan, sungguh tak tahu malu sekali.” Teriak mereka dengan gempar. Lalu dua belas pahlawannya berlompatan maju. Dua puluh empat tangan menyerang dengan bersama-sama.

Pahlawan-pahlawan Kalisari ini dididik oleh Rikmo Dowo, mereka itu berbeda sekali kalau dibandingkan dengan pahlawan-pahlawan dari daerah lain. Karena itu biarpun mereka itu hanya terdiri dari dua belas orang akan tetapi tenaga meraka itu sangat besar sekali. Begitulah dengan waktu yang tak lama mereka itu dapat menghajar orang-orang dari Tanah Abang, Lemah Putih dan Tegal Warna. Hingga disaat Iain kurungan bagi orang-orang Lampor Tugel menjadi bubar.

Biarpun bagaimanapun juga pertempuran berjalan sangat kacau sekali.

Karena itulah kursi dan meja banyak yang menjadi korban.

Menyaksikan kegagahan orang-orang Kalisari ini, Bagaspati lalu memimpin kawan-kawannya, sembilan belas dengan dirinya maju bersama- sama. Sebagaimana diketahui kalau anggota keenam dan anggota nomor dua, Paku Waja dan Julung Pujut telah meninggal.

Bagaspati menyerbu kearah Blorong Lodro, dengan tongkatnya ia lalu menyerang pahlawan Lampor Tugel itu. Orang yang diserang segera mengelak. Justru itu dibelakangnya lalu menyambar dua batang golok. Kembali sekali lagi ia mengelakkan tubuhnya.

Bagaspati terus mengerahkan seluruh kepandaiannya, hingga seorang dari Lampor Tugel kena dihajar mental. Sedangkan yang satu lagi disapu dengan tongkatnya yang hebat.

Blorong Lodro menjadi marah sekali, segera saja ia membacok.

“Blorong Lodro.” Seru Bagaspati mengejek. “Aku adalah begundal pahlawan nomor satu dari Jipang Panolan, sedangkan kau adalah pahlawan nomor satu dari Lampor Tugel, kedudukan kita sangat berbeda, kau diatas dan aku dibawah, karena itu sejurus ini aku memberi hormat kepadamu.”

Sambil mengelak ia berkata, lalu tangan kirinya menyambar kearah lawan. Menyambar kearah gagang golok. Bersama itu ia lalu meludah... “FUUUFF”. Dia meludah kearah muka lawannya dan dibarengi dengan sebuah serangan.  

Tanpa ampun lagi Blorong Lodro terpental dan roboh terguling dibawah

tangan Bagaspati yang sakti.

Melihat kesudahan dari serangannya ini maka Bagaspati lalu tertawa berkakakan. Puaslah hatinya menyaksikan kerobohan lawannya ini. Akan tetapi Blorong Lodro mukanya menjadi merah, ia mendongkol sekali. Segera ia melompat bangun untuk menyerang lagi.

“Kau mencari mampus.” Ejek Bagaspati sambil tertawa dingin. Dia segera menggerakkan tongkatnya menotok jalan disebelah dada.

Hebat sekali totokan itu. Sudah terang kalau kepandaian Bagaspati itu tiga kali lipat kalau dibandingkan dengan kepandaian Blorong Lodro.

Sandung Lamur tak berdaya untuk menolong pahlawannya itu, ia sendiri repot dikepung oleh Liman Karto dan Sulaiman.

Untunglah bagi Blorong Lodro, disaat ia terancam bahaya maut, atau paling sedikit luka hebat, seorang pahlawan melompat kepadanya, tangannya diulur untuk menolong menerima sabatan tongkat maut itu. Hanya dengan sekali pegang dan sekali dorong, maka Bagaspati menjadi terhuyung-huyung dan tongkatnya terlepas.

Pahlawan itu lalu tertawa dan berkata :

“Ki Bagaspati, tongkatmu ini hanya pantas untuk menggebuk anjing saja, mana dapat untuk dipakai melukai atau memukul orang?”

Setelah berkata demikian maka pahlawan itu lalu menggerakkan tangannya dan tahu-tahu tongkat yang keras dan kuat itu telah patah menjadi dua. Setelah itu ia lalu melompat kebelakang Ateng Jagalawa.

Semua orang heran dan kagum, juga tak terkecuali patih Udara yang matanya dipasang dimana-mana. Karena itu ia segera berteriak :

“Ki sanak sekalian, tak dapatkah kau menahan tangan-tanganmu?”

Juga Rikmo Dowo berpikir-pikir, sejak kapankah Ateng Jagalawa mempunyai seorang pahlawan yang sedemikian saktinya.

Sampai disitu semua orang lalu berhenti bertempur, dan semua mata diarahkan kebelakang Ateng Jagalawa, kepada pahlawan yang tak dikenal itu.  

Patih Udara segera melompat turun dari atas meja, kemudian menghampirinya. Ia menatap kepada pahlawan sakti itu bersama kawan- kawannya. Mereka itu memang berdiri satu rombongan dibelakang Ateng Jagalawa. Ia tak usah memandang terlalu lama, kemudian ia tertawa dengan bergelak-gelak.

“Ateng Jagalawa, sungguh beruntung sekali kau.” Katanya dengan nyaring. “Sungguh beruntung kau mendapatkan beberapa orang pahlawan yang sakti dan gagah perkasa ini.”

Muka Ateng Jagalawa menjadi merah sekali. “Ini... ini...” Katanya dengan tertahan.

Patih Udara tertawa dingin pula, ia segera memotong : “Pantas   kau   tak   segera   turun   tangan   pula,   rupa-rupanya   kau

mempunyai gunung andalan. Kau berkawan dengan orang-orang perguruan Lawu.”

Ateng Jagalawa masih merasa malu, sebelum ia dapat menjawab, Mintaraga si pahlawan telah membuka samarannya. Bahkan terus tertawa.

“Ki patih, telah lama kita tak bertemu, apakah kau baik-baik saja selama ini?” tanyanya.

Sampai disitu Kembang Arum dan kawan-kawannyapun segera mengakhiri penyamarannya. Hingga dengan demikian maka banyak orang menjadi heran.

Patih Udara berlaku sangat tenang :

“Mintaraga.” Serunya. Untuk tak membohong lagi, salah satu usaha kedatanganku ini ialah untuk mencarimu. Huhaa... Huahaa.... Huaha... sungguh tak kusangka kalau kau sekarang telah menjadi seorang pahlawan disini. Karena Ateng Jagalawa telah bersahabat denganku maka kaupun harus tunduk kepadaku. Huahaaa... Huahaaa... Huahaa...”

Patih ini terang kalau mengandalkan banyak kawan-kawannya. Sekarang ia tak memandang sebelah mata kepada Mintaraga. Karena itu kata-katanyapun berada sangat mengejek sekali.

Sebenarnya bukan maksud Mintaraga segera memperlihatkan diri, ia berbuat demikian karena terpaksa, saking mengagumi dan menyayangi kepada Blorong Lodro yang gagah perkasa serta setia. Karena sudah terlanjur maka ia tak mau bersembunyi terlebih lama lagi. Maka pikirnya.

‘Baiklah sekarang aku akan melawanmu.’ Maka iapun lalu tertawa dengan lebar.

“Ki Patih Udara, perkataanmu itu memang benar sekali.” Jawabnya. “Orang-orang alas Tangkuban Prau ini telah berserikat denganmu, karena itu aku harus menuruti segala perintahmu.......” Ia lalu berpaling kearah Ateng Jagalawa dan katanya :

“Mari surat perserikatanmu itu.”

Ateng Jagalawa sangat takut kepada pemuda ini, ia hanya sangsi sejenak saja segera saja menyerahkan surat itu.”

Mintarag,a menyambut dan kemudian membeber, lalu membacanya :

Pasal I. Raja kerajaan Jipang yang agung, pengaruhnya menggetarkan dunia, budinya tersebar keempat penjuru tetangganya.... Huahaa... Huahaaa.... Huahaa bagus!”

Ia pegang surat perjanjian itu dengan kedua belah tangannya. Setelah itu ia lalu merobek-robek dan meniup puing-puing kertas tadi hingga berhamburan dan beterbangan seperti kupu-kupu yang sedang menari-nari diangkasa bebas.

Ateng Jagalawa menjadi kaget bukan main, dari duduk ia lalu berjingkrak bangun.  

Kembang Arum segera membisiki dengan perlahan :

“Apakah kau tak menghendaki Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang kerajaan Demak Bintoro dan menjadi rebutan dari para pendekar seluruh dunia ini?”

Mendengar suara ini maka kepala orang-orang alas gunung Tangkuban Prau lalu kembali duduk bercokol ditempatnya.

Mintaraga segera menghadapi orang banyak.

“Ki sanak sekalian.” Katanya. “Aku yang rendah ini bernama Mintaraga. Namaku tak dikenal sama sekali, akan tetapi karena aku datang dari Jawa Tengah maka dengan ki Patih Udara dan dengan jago-jago Jipang Panolan aku telah sering bertemu, bahkan main-main, bahkan selain itu semua terus terang saja aku banyak menangnya dari pada menderita kekalahan. Huahaaa... Huahaa... Huahaa... raja Jipang Panolan yang agung sungguh perkataan yang ditiup-tiup supaya mengepul diseluruh jagat raya. Akan tetapi ketahuilah kalau sekarang ini Jipang Panolan sedang turun pamornya karena bentrok dengan adipati Pajang Sultan Hadiwijaya yang terkenal dengan nama Mas Karebet atau Jaka Tingkir sewaktu mudanya. Di Jawa Tengah orang-orang menjadi bangkit dan hendak mengalahkannya karena segala kelaliman dari Ario Penangsang. Dan orang-orang yang bangkit itu yang dinamakan pemberontak-pemberontak oleh Patih Udara tadi. Dan yang akan ki sanak basmi. Karena Ario Penangsang merasa tak dapat melawan, maka patih Udara lalu disuruh kemari untuk meminjam pasukan ki sanak sekalian. Bukankah ki sanak telah tahu kalau Jipang Panolan itu sangat kejam dan sering berlaku sewenang-wenang, dimana dia sampai maka dia selalu membakar rumah memperkosa wanita dan lain-lain kerjaan biadap dilakukannya. Dia itu mirip dengan berandal-berandal yang terorganisasi. Maka itu mengapa andika sudi bersahabat dengan mereka??”

Perkataan ini segera disambut oleh tepuk sorak dari orang-orang Kalisari dan Lampor Tugel.

Langkir lalu memperdengarkan suara melalui hidungnya. Ia memang pernah mendengar nama beberapa orang gagah di Jawa Tengah akan tetapi nama Mintaraga masih asing dan baru sekali ini didengarnya. Ia lalu tertawa dingin :

“He bocah, apakah yang kau andalkan maka kau berani mengacau disini?” Tegurnya.

Mintaraga tak meladeni orang keras kepala ini, ia malahan berpaling kearah Patih Udara dan katanya.

“Ki Patih Udara, kulihat tanpa kita main-main sebentar maka kau tak akan mau pulang ke Jipang dengan tangan kosong saja. Baiklah kita main- main sebentar untuk melatih tangan dan kaki kita ini.”

Besar hati Patih Udara.  

“Baiklah.” Sambutnya. “Jika aku yang menang kau harus meninggalkan

Tunggul Tirto Ayu.”

“Jika kau yang kalah.” Seru Mintaraga. “Kau harus menggelinding pulang ke Jipang dan jangan menjadi kambing yang berbulu harimau untuk menggertak orang-orang Tangkuban Prau.”

Dengan demikian maka keduanya telah segera siap sedia.

“Tunggu dulu.” Seru Langkir yang terus datang ditengah-tengah. Suaranya dikeluarkan dengan nada yang sangat nyaring. “He binatang siapa yang kesudian menerima kau mengacau disini? Lekas enyah.”

Ucapan ini ditutup dengan sambaran tangan yang dahsyat.

Mintaraga mengelak dengan lincah, tubuhnya segera dapat bebas dari sambaran. Ia segera berpikir :

‘Apa bila aku tak memperlihatkan sesuatu maka aku tak akan dapat membuat mereka bungkam.’

Karena itulah ia segera tersenyum. Kemudian katanya :

“Tepat sekali perkataan ki Rikmo Dowo itu, kalau kau ini telah kena ditipu oleh orang-orang Jipang Panolan. Kau telah kena diperdayakan oleh Patih Udara. Percuma saja kau mengaku sebagai orang gagah karena dapat diselomoti oleh orang Jipang dengan tanpa merasa.”

Langkir menjadi bertambah marah.

“Eh... binatang bau kau mencari mampus bukan?” Dampratnya. Dalam marahnya itu, ia mengirimkan pukulan dengan tangan kanannya kearah embun-embun.

Mintaraga mengeak pula sambil menghindarkan diri ia tertawa berkakakan.

“Langkir apakah benar kau ini hendak bertempur?” Tanyanya menegas.

Sebelum Langkir menjawab, tiba-tiba saja terdengar seruan Liman Karto yang menggeledek.

“Perlu apa kau mengoceh saja?” Tegurnya. Diapun menyambar niatnya untuk menjambak, dan melemparkan tubuh Mintaraga ini keluar. Hanya saja hatinya menjadi kaget dengan mendadak karena tahu-tahu lawannya itu telah lenyap dari hadapannya. Waktu ia menoleh sekelilingnya ia mendapatkan kalau Mintaraga sedang duduk disebuah kursi dan sebagai gantinya dihadapannya telah berdiri seorang gadis yang sangat cantik. Mintaraga bukannya hanya duduk saja, ia lalu menegak tuak dan menggerogoti daging dengan ayem sekali.

Gadis itupun tak mendiamkan saja orang menjadi terheran-heran.

Kemudian katanya :

“Menyembelih ayam perlu apakah memakai golok berbau kakang? Biarlah aku akan memberi sedikit hajaran kepada si gemuk termomok ini. Bolehkah?”

Mintaraga hanya tertawa.  

“Kembang Arum kau baru datang pertama kali dan sebagai tetamu kau

masih sungkan-sungkan.” Jawabnya. “Kuharapkan kau tak menghajarnya dengan secara keterlaluan.”

Perkataannya ini ditutup dengan seceglukan tuaknya.

Kembang Arum tersenyum dan terus menghadapi Liman Karto.

“Eh... termomok, kau dengar atau tidak?” Godanya. “Jika takut kepadaku maka kau boleh menyuruh bangsat merah itu maju bersamamu untuk mengeroyokku.”

Dengan berkata bangsat muka merah itu terang kalau yang dimaksudkan oleh Kembang Arum adalah Langkir. Tentu saja melihat hal ini ketua orang-orang Tanah Abang menjadi merah sekali mukanya. Ia mendongkol dan malu sekali kerena dihina dimuka umum. Walaupun begitu ia memperdengarkan suara ejekannya. “Hem.” Ia lalu mundur. Karena ia ingin pegang derajatnya sebagai seorang jago pantang untuk bertempur melawan wanita.

Liman Karto melengak dan tertawa berkakakan.

“Budak cilik, kau sendiri yang mencari penyakit.” Katanya. Tampak nyata kalau ia memandang rendah sekali kepada Kembang Arum. “Jangan kau mengatakan kalau aku menghinamu. Kau keluarkanlah senjatamu.”

“Ha, manusia tolol!” Kembang Arum membaliki. “Untuk menghadapimu mengapa harus memakai pedang?”

Gadis ini berkata dan terus memulai dengan serangannya. Ia benar- benar menggunakan kepalannya untuk mukul dada kepala orang Lemah Putih.

Benar-benar Liman Karto memandang sangat enteng. Didalam hatinya ia berkata :

‘Berapa besar sih tenagamu? Misalkan aku kena pukulanmu itu apakah halangannya?’

Karena pikirannya inilah maka ia tak mengelak, bahkan menangkispun tidak. Ia memajukan dadanya untuk dipasang.

“Duk.” Demikian suara yang terdengar.

Kembang Arum mempergunakan tenaganya lima bagian, akan tetapi karena pukulannya persis ditempat telak maka cukuplah untuk si manusia sombong ini merasakan kesakitan dan matanya kabur berkunang-kunang, coba saja ia tadi tak memasang kuda-kudanya dengan kokoh tentu dirinya telah roboh terguling oleh pukulan itu.

Untuk sesaat orang Lemah Putih itu tercengang, lalu menjadi marah maka sambil berseru, ia mementang kuda-kudanya dan merentangkan tangannya terus menerkam.

Kembang Arum tak sudi merambut kekerasan itu, ia segera mengelak, sambil mengelak tangannya dilonjorkan, untuk menotok jalan darah lawannya. Akan tetapi Liman Karto adalah orang gagah yang keempat untuk  

wilayah Tangkuban Prau, ia mengerti juga ilmu menotok, karena itulah ia

lalu membuang tubuhnya untuk mengelak. Lalu sebaliknya ia membalas dengan ilmu totokannya pula.

Kembang Arum itu menotok untuk menggertak, disaat totokan Liman Karto itu tiba, ia menangkis bersama itu tangan kanannya Ialu dipukulkan kearah perut lawannya. Serangan ini dilakukan dengan tenaga sepenuhnya, kena juga telaknya, maka terdengarlah suara... “BUK”... yang keras sekali. Suara itu adalah suara jatuhnya tubuh termomok yang besar dan berat itu.

Semua hadirin tercengang atas kesudahannya, pertempuran ini hanya berjalan dengan cepat saja. Lalu terdengarlah suara tepuk tangan dari orang- orang Kalisari dan Lampor Tugel.

Mintaragapun tertawa.

“Eh... Kembang Arum, mengapa kau tak mendengarkan perkataanku tadi?” Tanyanya. “Mengapa kau menghajar manusia itu hingga terhuyung- huyung dan terguling roboh?”

Kembang Arum tak mengatakan apa-apa, ia hanya tersenyum, matanya memandang kearah lawannya.

Liman Karto roboh, akan tetapi segera bangkit lagi. Ia roboh akan tetapi kena pukulan luar dari Kembang Arum, biarpun perasaan sakitnya tak terlalu dalam. Mukanja menjadi merah padam.

“Aku akan mengadu jiwa denganmu.” Katanya sambil menghunus goloknya.

“Liman Karto kau benar-benar seorang laki-laki yang tak tahu malu.” Teriak Sandung Lamur.

Memang menurut peraturan orang-orang Tangkuban Prau itu, siapa yang kalah dan roboh harus dengan sportif mengakui keunggulan lawannya. Dia tak diperkenankan bertempur pula. Akan tetapi Liman Karto merasa dihina dimuka umum, kemarahannya sangat meluap-luap. Tanpa mengingat malu, dia hendak menyerang dengan senjata tajam.

Kedua pihak, Kalisari dan Lampor Tugel merasa tak senang, segera mereka itu berteriak-teriak.

Liman Karto tak melayani sikap orang itu, ia telah segera membacok, bahkan ia lalu mengulanginya sampai tiga kali. Bacokan-bacokan itu tetap saja tak mengenai sasarannya. Dengan lincah Kembang Arum mengelakkan semua serangan-serangannya.

“Liman Karto gunakanlah tenagamu yang besar itu.” Ejek Dyah Kembang Arum sambil tersenyum manis.

Liman Karto benar-benar naik darah dan terus membacok dengan kalang kabut, ia lalu mempergunakan jurus-jurus yang dianggapnya paling hebat. Juga kali ini dia sia-sia belaka segala bacokannya itu. Sampai sepuluh kali ia membacok, menikam dan menabas terus-terusan, jangan kata kena tubuhnya sedangkan ujung baju gadis itu saja tak dapat.  

Menyaksikan itu, Langkir menjadi berdiri menjublak. Kemudian pikir

orang Tanah Abang itu :

‘Jika Liman Karto kena dirobohkan oleh nona ini, sudah terang tak dapat kita pergi ke Jawa Tengah untuk bertingkah disana ’

Sudah beberapa kali timbul ingatannya ketua ini untuk maju membantu Liman Karto, akan tetapi setiap kali ia selalu dicegah oleh perasaan hormat dirinya, gengsinya! Tidakkah ia malu kalau ada orang yang mengatakan si besar menghina si kecil? Bahkan si kecil sampai dikeroyok. Tidakkah ia malu kepada Patih Udara yang jauh-jauh datang untuk meminta bantuan kepadanya? Ia menjadi menyesal sekali mengapa Liman Karto begini tak punya guna. Langkirpun menjadi cemas sekali ketika melihat kawannya itu berkelahi dengan tiada juntrungnya.

“Bagus... bagus....” Mintaraga berseru berulang-ulang. Setiapkali ia menegak tuak atau menggerogot daging yang terus dimasukkan kedalam mulutnya. Kelihatannya ia gembira sekali.

Sampai disini Sulaiman sudah tak dapat mengendalikan dirinya lagi. Ia sangat berbeda dengan Langkir yang masih ingat akan derajat dan gengsinya sebagai seorang pemimpin.

“Liman Karto, aku ingin ikut kau bermain-main.” Serunya. Setelah menghunus golok lalu melompat maju masuk kedalam gelanggang.

Sungguh lega sekali hati Liman Karto ketika melihat kawannya ikut membantunya itu. Kawannya itu telah segera membacok, karena itu ia lalu mendapat ketika untuk memperbaiki dirinya, setelah itu dilain saat mereka lalu mengepung lawannya dari kanan dan kiri.

Kembang Arum bersikap sangat tenang biarpun ia telah dikeroyok dua oleh lawan-lawannya. Dengan lincah ia lalu mengelakkan diri dan menerobos keluar dari kepungan kedua ujung golok lawannya. Melihat ini para penonton menjadi heran dan kagum karena kelincahan gadis itu.

“Kamu datang berdua? Huahaaa... Huahaa... Huahaa......” Seru gadis itu sambil tertawa. “Nah inilah baru ada harganya.”

Sejenak kedua orang lawannya itu menjadi tercengang. Akan tetapi segera mereka itu mulai menyerang lagi dengan serangan-serangan selanjutnya. Serangan yang sifatnya mendesak. Mereka itu telah dikuasai oleh perasaan marah. Dengan begitu Kembang Arum seperti dihujani bacokan dari kiri kekanan.

Sulit juga Kembang Arum untuk melayani kedua orang musuhnya ini. Ia tak dapat menurunkan tangan jahat, karena ia telah menyetujui sikap lunak dari Mintaraga tadi. Ia ingin mengalahkan orang-orang ini dengan tanpa mendendam. Mereka itu bukannya hendak menindas, akan tetapi hendak menundukkan mereka dengan tanpa membuat mereka menjadi dendam dan mereka harus kalah dengan puas. Terpaksalah ia terus menerus  

mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya, sedikitpun senjatanya itu tak

pernah dipergunakan.

Bagaikan seekor kupu-kupu yang sangat lincah sekali, tubuhnya terus berkelebat kesana kemari untuk menghindarkan setiap serangan-serangan yang ditujukan kearahnya. Ia membuat senjata-senjata lawannya itu tak berdaya sama sekali.

Patih Udara menonton dengan perasaan heran dan kagum yang bercampur baur didalam hatinya menjadi satu. Ia merasakan kalau ilmu silat gadis itu telah maju dengan pesat sekali. Ia diam-diam berpikir, kalau Kembang Arum saja telah memperoleh kemajuan yang sedemikian pesatnya, apa lagi yang dicapai oleh Mintaraga.

Mintaraga sendiri menjadi girang bukan main ketika melihat kalau kekasihnya ini memperoleh kemajuan yang luar biasa. Hingga dengan demikian maka gadis idamannya ini dapat mempermainkan kedua orang keras kepala itu.

Setelah mereka itu bertempur empat puluhan jurus, mendadak saja Sulaiman menggunakan ketika, ia lalu mempergunakan goloknya untuk dipakai menyontek keatas naik menerjang kearah iga. Ia telah mempergunakan jurus Lutung Sakti Menerjang Langit.

Kembang Arum dapat melihat serangan itu. “Bagus.” Serunya.

Setelah berkata demikian maka gadis itu kontan mencelat mundur, setelah kembali ia mencelat kebelakang si penyerang.

Waktu itu Liman Karto juga sudah menyerang dengan serupa tipu silat dengan Sulaiman. Sebab ia menyerang dengan sebuah tipu silat yang sebenarnya dipergunakan bersama-sama dengan Sulaiman. Dan Sulaiman baru mempergunakan separuh. Setengahnya lagi harus dipergunakan oleh Liman Karto. Dan itu telah dilakukannya. Akan tetapi sungguh sangat mengagumkan sekali gerakan Kembang Arum itu. Ia mencelat dengan luar biasa cepatnya.

“Trang.” demikianlah bunyi bentrokan kedua buah golok itu.

Kedua orang pengeroyok itu seperti saling bacok membacok sendiri. Sebabnya sasaran mereka itu lenyap dengan tiba-tiba. Sedangkan untuk membatalkan serangan mereka itu kedua orang ini telah tak sempat lagi. Keduanya segera berdiri menjublak. Tangan mereka itu menjadi kesemutan akibat bentrokan senjata itu. Mereka menjadi heran bukan main.

Sulaiman menjadi sadar ketika mendengar ada orang tertawa geli dibelakangnya. Ia mengerti bahwa yang tertawa itu adalah lawannya. Tanpa memutar tubuh lagi, ia lalu membabat kebelakang. Liman Kartopun mendengar suara tadi, maka iapun lalu menggunakan goloknya membabat kebelakang seperti yang dilakukan oleh kawannya itu.  

Kembang Arum dapat melihat kedua serangan mendadak itu. Ia

mengelak dengan jalan mencelat. Sebagai kesudahannya, kembali kedua batang golok itu lalu bentrok lagi. Kali ini tampaklah kembang api berpijar.

Para penonton menjadi bertambah heran, hingga dengan asyik mereka lalu mementang kedua matanya lebar-lebar untuk menantikan kesudahan dari pertempuran yang menarik hati ini.

“Bagus.” Seru Mintaraga yang turut memuji kecerdikan pacarnya itu.

Adapun Patih Udara diam-diam menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sangat kagum sekali kepada gadis ini, dan sangat menyayangkan kepada kedua orang raksasa yang dapat dipermainkan itu.

Langkir berpikir lain setelah menyaksikan dengan seksama antara permainan golok Sulaiman dan Liman Karto itu. Ia mendapat firasat kalau ilmu golok yang digabungkan ini seharusnya ditujukan kepadanya. Mengingat hal ini ia menjadi mendongkol, jengkel dan masygul sekali. Memang hebat sekali kalau ia harus dikepung oleh dua orang yang gagah itu.  

Rikmo Dowo dan Sandung Lamur sebaliknya menjadi girang sekali. Senang mereka menonton jalannya pertempuran ini. Merekapun lalu memuji kepada gadis itu.

Liman Karto dan Sulaiman menjadi merah mukanya. Mereka saling melirik dan kemudian menyerang dengan bersama-sama. Setelah dipermainkan oleh Kembang Arum ia menjadi sangat penasaran sekali.

Kembang Arum tetap melayani dengan main berlompatan, tak pernah ia membalas, melainkan kadang-kadang ia menggertak. Meskipun hanya demikian akan tetapi tampak jelas kalau ia berkelahi diatas angin.

Lagi sekian lamanya, permainan golok kedua orang itu agaknya telah menjadi kacau balau.

Candra Wulanpun melihat jalannya pertandingan itu dengan hati yang tertarik sekali. Bahkan ia tak kalah tertariknya oleh pandangan Mintaraga yang berada ditujukan kepada kekasihnya itu. Malahan saking gembiranya ia tak dapat menjaga mulutnya lagi. Tak dapat menahan emosinya.

“Ayu Kembang Arum.” Serunya. “Mengapa kau tak mau mengeluarkan saja jurus Air Bah Mengalir?”

Mendengar perkataan Candra Wulan ini Mintaraga menjadi heran. Bukankah Air Bah Mengalir ini adalah ilmu simpanan dari eyang gurunya? Ia sebagai murid dari pendeta Argo Bayu tentu saja pernah mendengar namanya akan tetapi ia tak pernah menyaksikan kehebatan ilmu itu. Ia sendiri belum pernah mempelajari karena itu ia menjadi heran sekali mengapa Candra Wulan dapat menyebutkannya. Dengan demikian maka Kembang Arum mengerti akan tipu silat tersebut.

Kembang Arum tertawa ketika memberi jawaban :

“Baik... baiklah adi Candra Wulan.” Katanya. “Kau lihatlah saja.” Kata-kata itu disusul dengan sambaran tangan kiri, begitu segera gadis

itu mengelak. Lalu...... “PLOK”...... muka Liman Karto berbunyi nyaring. Sebab tangan Kembang Arum telah mampir kemuka Liman Karto.

Liman Karto tak sanggup mengelak, karena itu tamparan ini membuat tubuhnya terhuyung-huyung hampir dia terguling, sedangkan pipinya menjadi bengkak merah sekali.

Sewaktu kawannya menjadi sasaran, Sulaiman membarengi dengan menyerang si gadis perkasa itu. Tidak saja ia mendongkol, serangan ini memangnya serangan berantai.

Kembang Arum dapat melihat bacokan orang, ia menunggu sampainya golok itu, mendadak saja tubuhnya mencelat lenyap dari hadapan orang Tegal Warna dengan begitu maka senjata lawannya itu berjalan terus dengan laju sekali. Meluncur kearah Liman Karto yang sedang mempertahankan diri supaya tak roboh.

Sulaiman kaget bukan main, segera saja ia menggeserkan tangannya untuk merubah tujuan. Akan tetapi keras ia meluncur, dan jaraknya dengan Liman Kartopun sangat dekat. Karena itu golok inipun dapat menyambar kearah baju dibagian pinggang lawannya. Keduanya menjadi kaget hingga mereka sama-sama mengeluarkan peluh dingin. Bukan main hebatnya ancaman bahaya barusan itu.

“Liman Karto lekas turun tangan.” Seru Sulaiman setelah sadar dari lamunannya.

Liman Karto tak menjawab, tubuhnyapun tak bergerak.

Selagi kepala orang-orang dari Tegal Warna itu heran, tiba-tiba saja ia mendengar suara tawa Kembang Arum dibelakangnya, sambil tertawa ia lalu berkata :

“Sulaiman, termomok gendut ini memang telah tak dapat bergerak lagi.” Sulaiman segera memandang kearah kawannya itu, tahulah sekarang kalau sambil menggaplok gadis ini memberikan juga sebuah totokan. Hingga karena totokan itu maka ia berdiri tegak diam tanpa dapat membuka mulut

atau menggerakkan badannya.

Mintaraga menyaksikan segalanya dengan jelas sekali.

‘Ah... itulah pukulan Braholo Meta.’ Katanya didalam hati. Karena itu ia menjadi bertambah heran.

Sulaiman menjadi sangat marah, ia berpaling dan terus membacok. “Eh... kau masih hendak bertempur terus?” Seru Kembang Arum sambil

tertawa dan mengelak. Segera saja ia berlompatan dengan pesat dan lincah. Hingga dapat dikatakan kalau tubuhnya lenyap hanya bayangannya saja yang terlihat.

Sulaiman kewalahan, tak bisa lain, ia berkelahi dengan secara ngawur saja. Membacok, menikam dan menabas dengan secara kalang kabut. Hal ini sungguh membahayakan kepadanya. Karena berkelahi dengan secara  

ngawur ini sama saja dengan ia tak siap sedia dengan penjaga dirinya. Belum

lama kemudian terdengarlah suara bunyi bergedebuk, lalu terlihat dia roboh terbanting, goloknya terayun keatas.

Para hadirin semua menjadi tercengang. Nampaknya gampang saja gadis ini merobohkan dua orang ketua dukuh itu yang tadinya terkenal sebagai orang-orang sakti. Malahan Ateng Jagalawa mengeluarkan keringat dingin, hatinya menjadi ciut.

‘Coba saja budak ini memakai ilmunya ini terhadapku, bukankah semenjak kemarin aku telah tak dapat bangun lagi? Mungkin aku telah tak bernyawa.’ Katanya didalam hatinya.

Mintaraga telah segera menegak habis isi gelasnya. Ia lalu menepuk meja.

“Bagus.... bagus....!” Serunya berulang-ulang. “Langkir, apakah kau mempunyai keberanian untuk berkelahi?”

Langkir wajahnya menjadi berubah, dengan mulutnya yang bungkam ia lalu meghampiri Sulaiman. Maksudnya hendak membangunkan. Akan tetapi ia tak berhasil. Orang Tegal Warna inipun kena ditotok oleh Kembang Arum.

Panas sekali hati ketua orang-orang Tanah Abang.

“Hem...!” Gerutunya. “Dengan apakah itu diam-diam ia menotok jalan darah orang? Apakah ini yang dinamakan kepandaian?”

“Diam kau Langkir!” Seru Mintaratga dengan membentak. “Kau juga pandai menotok, maka kau bebaskanlah dia.”

Langkir tersenyum manis. Ia memang hebat, pengalamannyapun sangat luas sekali. Tanpa berkata apa-apa ia lalu menepuk punggung Sulaiman dibagian ulu hati, setelah itu ia lalu memijit-mijit dada kawannya. Maksudnya supaya darah yang berhenti itu dapat berjalan. Akan tetapi sungguh sia-sia belaka percobaan ini. Sulaiman tetap menjublak, hanya kedua biji matanya saja yang jelalatan.

Langkir menjadi bermandikan keringat. Sia-sia saja ia mengeluarkan banyak tenaga, sebaliknya ia malu bersama dengan marah. Selain itupun ia sangat terperanjat. Ia menjadi heran sekali mengapa ia tak dapat membebaskan kawannya itu dari pengaruh totokon Iawan.

Mintaraga memandang, dan ia tertawa bergelak-gelak. Mendadak saja ia menekan meja, lalu tubuhnya mental menghampirinya.

“Eh... Langkir, berapa tinggikah kepandaianmu.” Katanya dengan nyaring. “Kau lihat aku.”

Pemuda ini bukannya menotok Sulaiman, ia hanya menjejak dada orang itu, setelah itu ia lalu memutar tubuhnya dan pukulannya segera hinggap didada Liman Karto.

Hampir bersamaan dengan itu, kedua orang itu memperdengarkan suaranya.

“Aduh!” Dan mereka segera sadar.  

Rikmo Dowo yang menyaksikan kepandaian ini bukan main kagumnya.

“Bagus.... Bagus sekali.” Pujinya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Mintaraga tak memandang kearah lain orang, sedikitpun ia tak mengambil pusing akan pujian-pujian yang datang. Ia hanya menendang kearah Sulaiman dan Liman Karto, lalu katanya :

“Sulaiman dan kau Liman Karto, totokan pada dirimu itu hanya dibuka setengahnya saja. Karena itu kau masih harus merasakan sedikit siksaan lagi. ”

Kedua kepala pedukuhan itu dapat membuka mulutnya, akan tetapi benar seperti perkataan si anak muda itu. Mereka masih merasakan sakit pada tubuh mereka masing-masing. Hampir saja mereka itu mengucurkan air matanya.

“Pukulanku ini akan segera bersarang dibawah geraharamu.” Katanya dengan tertawa lebar. “Dengan begitu barulah kamu akan bebas dengan sungguh-sungguh. Sekarang bersiap sedialah kamu.”

Liman Karto bertubuh gemuk, ia adalah seorang yang paling takut dengan pukulan, maka dengan wajah kebiru-biruan ia lalu berkata :

“Mintaraga apakah tak ada cara lain selain kau memukulku untuk membebaskan totokan itu? Tak dapatkah?”

Mintaraga tertawa menggelengkan kepalanya.

“Tak ada jalan kau harus dihajar.” Jawabnya yang masih diucapkan dengan tertawa-tawa. “Tanpa dihajar maka kau tak akan dapat bebas dengan sepenuhnya.”

“Liman Karto, kau suka atau tidak, itu terserah kepadamu.” Kembang Arum segera ikut berkata. “Kakang Mintaraga, karena dia tak menghendaki biarlah kau tak usah menghajarnya, marilah kita pergi saja.”

Liman Karto mencoba mengangkat kakinya untuk bertindak, ia merasakan kalau kakinya menjadi berat seperti terpaku dengan tanah. Hal itu membuatnya takut sekali.

“Eh... jangan kau pergi dahulu.” Teriaknya. “Mari silahkan kau hajar aku.”

Mendengar perkataan itu maka semua orang-orang dari Kalisari dan Lampor Tugel menjadi tertawa terbahak-bahak. Mereka itu rupa-rupanya menganggap kejadian ini sangat lucu sekali.

“Oh.   Liman Karto.” Kata Sandung Lamur dengan tertawa. “Kau adalah

seorang gagah perkasa, kiranya ada hari pula yang membuatmu mohon pengampunan dari seseorang.”

Hanya Sulaiman saja yang berdiam diri saja. Ia tahu kalau Mintaraga sedang mempermainkan mereka. Dengan mata mendelong ia mengawasi kepada Patih Udara. Ia mengharapkan agar orang Jipang Panolan ini dapat menolongnya. Bukankah patih Udara itu sangat  gagah? Kalau Mintaraga  

mampu mengapa patih yang terkenal sakti mandraguna inipun tak

mampu??”

Orang Tegal Warna ini tak tahu, disaat itu Patih Udara justru sedang terlanda kebingunan. Ia mengetahui baik-baik, pukulan Kembang Arum barusan itu adalah pukulan Braholo Meta. Inilah pukulan yang sangat dia takuti. Dulu ketika ia roboh ditangan Mintaraga, juga karena pemuda ini mempergunakan ilmu pukulan Braholo Meta. Ia lalu berpikir dengan keras, kalau gadis ini telah pandai mempergunakan ilmu pukulan ini, dan kalau mereka itu bertempur maka pihaknya akan menghadapi Iawan yang tangguh serta berat. Karena itu memikirkan bagaimana cara perlawananannya nanti. K.arena itu biarpun ia mengerti kalau Sulaiman sedang memandangnya, akan tetapi ia pura-pura tak tahu. Ia sendiri memang tak mengetahui cara bagaimana ia dapat membebaskan totokan yang berasal dari pukulan Braholo Meta. Orang yang tahu untuk membebaskannya hanya Pendeta Argo Bayu dan Mintaraga sendiri. Malahan Kembang Arum hanya bisa mempergunakan akan tetapi ia tak dapat mengobati.

Disaat orang sedang tertawa riuh dan mata Sulaiman sangat mendelong. Mintaraga telah menggerakkan kedua belah tangannya. Yang satu meninju Liman Karto dan yang lain memukul Sulaiman. Keras terdengar suara pukulan itu, hebat sekali akibatnya.

Tubuh Liman Karto yang gemuk dan berat sekali itu, ketika terhajar oleh tangan Mintaraga ia dapat terpental melayang bagaikan layang-layang putus, mental sebanyak lima tombak. Hingga keluar ruangan.

Akan tetapi justru karena itu ia mendapatkan kembali kebebasannya. Sekarang ia dapat menggerakkan kaki dan tangannya. Karena itu ia tak roboh terbanting. Ia dapat menarik kakinya dan berdiri kembali.

Sulaimanpun mendapat pengalaman yang serupa, mereka itu malahan hampir berbenturan satu dengan lainnya. Keduanya berhati lega, akan tetapi mereka menjadi merah sekali mukanya. MaIu! SeIama hidupnya penghinaan inilah yang merupakan sebuah hinaan yang paling besar selama hidupnya.

Kedua kepala pedukuhan ini tak dapat mengendalikan diri. Mereka itu malu dan marah sekali. Sampai-sampai mreka itu melupakan kebaikan si anak muda tersebut. Dengan menggenggam masing-masing senjatanya mereka lalu lari masuk kedalam ruangan, untuk menyerang dengan kalang kabut kearah Mintaraga dan Kembang Arum.

Mintaraga hanya tertawa saja melihat permainan yang membabi buta ini karena itu ia hanya bermain mundur saja.

“Benarkah kau masih akan mengajak berkelahi?” Tanyanya dengan tegas-tegas. “Baik... baik... kalian majulah terhadapku seorang. Bukankah kalau Ario Werkudoro yang mengatur tentaranya, maka biarpun tentara itu  

berjumlah banyak tentu akan bertambah kuat lagi penjagaannya. Karena itu

ada berapakah orang-orangmu itu, kau suruh saja mereka maju semuanya.”

Sambil berkata demikian Mintaraga lalu melirik kearah pacarnya, untuk memberi tahu supaya Kembang Arum mengawasi Patih Udara yang sewaktu-waktu tentunya akan dapat bermain gila.

Kembang Arum, mengerti akan maksud kekasihnya itu, karena itulah ia lalu membalas lirikan itu dengan lirikan pula. Bahkan mulutnya yang mungil itu kelihatan tersenyum.

“Mintaraga, ini adalah pekataanmu sendiri.” Teriak Langkir. Ini memang yang sangat mereka harap-harapkan. Terus saja ia bersiul tiga kali dan tampaklah orang-orang Tanah Abang merangsek maju.

Liman Kartopun segera menitahkan seluruk anak buahnya untuk turut mengambil bagian dalam pengurungan hingga dengan demikian maka Mintaraga segera terkurung. Meskipun begitu pemuda ini tak menjadi takut. Bahkan ia lalu mengawasi mereka itu dengan melirik kesana kemari.

“Apakah sudah terkumpul semuanya?” Tanyanya tertawa. “Ah... masih ada orang-orang alas Tangkuban Prau, Ateng Jagalawa marilah kau suruh anak buahmu mengeroyokku pula. Biar suasana menjadi bertambah ramai.”

Ateng Jagalawa tertawa menyeringai, mana berani ia ikut maju.

Langkir tak dapat mengendalikan diri lagi, ia maju paling dulu, ia segera menikam dengan pedangnya. Menikam kearah dada. Ia bergerak dalam sikap mengejar angin menubruk bulan.

Mintaraga mengelak sambil menangkis, akan tetapi bersama dengan itu pula ia lalu menghunus pedangnya. Masih saja menentang :

“Masih adakah dari mereka, yang akan maju untuk meramaikan suasana ini? Majulah semua supaya aku tak membuang-buang waktu dengan percuma.” Malahan ia mengulangi tantangan ini sampai tiga kali.

Sampai disitu tak ada lain orang yang menjawab.

“Marilah.” Seru Langkir. “Buat apakah kau masih banyak mengumbar mulut?”

Sulaiman dan Liman Karto hendak membalas dendam, dengan bersama- sama mereka itu segera maju, membacok dengan golok masing-masing.

Dengan gerakan memindah bintang mengambil rembulan Mintaraga lalu menyingkir dari hujan senjata itu, akan tetapi bersama dengan itupun ia lalu menggerakkan pedangnya. Hingga terdengar dua kali bentrokan. Sebagai kesudahaannya dua orang penyerangnya itu mundur dua tindak. Didalam hatinya Mintaraga berkata :

‘Aku harus merebut kemenangan dengan secara menarik hati. Mereka itu harus menyerah kalah dengan puas.’

Segera saja ia mencelat mundur dan keluar dari kalangan. “Mau apa kau?” Tanya Langkir yang masih tetap marah.  

Mintaraga tak menjawab pertanyaan itu. Pemuda ini hanya menyuruh

Ateng Jagalawa supaya menyalakan sebuah lilin. Setelah Ateng Jagalawa mengerjakan perintahnya ia lalu berpaling kearah Langkir dan katanya sambil tertawa.

“Langkir, sebenamya dari pihakmu itu akan maju berapa orangkah?” “Mereka semua berjumlah empat puluh dua orang.” Jawab orang dari

Tanah Abang.

“Baik.” Jawab Mintaraara dengan tertawa. “Ateng Jagalawa, tolong kau potong lilin itu hingga panjangnya menjadi satu inci lima senti.” Setelah berkata demikian ia lalu berpaling lagi kearah Langkir dan katanya :

“Kau lihatlah, sebelum lilin itu habis aku akan dapat mengalahkan semua pahlawanmu dan semua senjatanya akan dapat lepas dari tangannya masing-masing. Jika tidak demikian maka pihakmulah yang akan menang.”

Mendengar perkataan ini, sekalipun Rikmo Dowo sendiri menganggap kalau pemuda ini sangat sombong sekali. Ia mengetahui dengan baik-baik kalau semua pahlawan-pahlawan dari daerah Tangkuban Prau ini mempunyai kuda-kuda yang sangat kuat, untuk merobohkan saja sangat sukar, apa lagi masih ditambah dengan melepaskan senjatanya.

Langkir dan Liman Karto tertawa bergelak-gelak.

“Bagaimanakah kalau ada yang ketinggalan, seorang saja yang tak roboh?” Tanya orang Tanah Abang itu.

“Kau anggaplah aku yang kalah.” Jawab Mintaraga dengan cepat. Langkir menjadi panas sekali hingga ia berteriak :

“Jika kau benar-benar mempunyai kepandaian yang demikian itu, aku Langkir akan mengangguk-angguk dan bersembah kepadamu.”

“Sudahlah, jangan banyak omong.” Seru Liman Karto memotong. “Mari kita turun tangan.”

Dengan satu tanda dari ketua orang-orang Lemah Putih, semua pahlawan dari ketiga pedukuhan itu segera maju dengan serempak. Sedangkan ketua-ketuanya sendiri lalu mengambil tempat yang penting- penting.

Mintaraga menghadapi semua lawannya itu dengan sudah berpikir tetap kalau akan mengalahkan lawannya dengan jalan merobohkan ketua- ketua mereka. Sedangkan untuk mengalahkan pahlawan-pahlawannya itu adalah urusan gampang. Ia sama sekali tak khawatir kalau tak dapat mengalahkan puluhan pahlawan-pahlawan itu.

Segera saja terjadi bentrokan golok Liman Karto dengan Mintaraga, suaranya kedengaran. Golok Liman Karto itu tajam akan tetapi masih dapat dibuat cacat dengan pedang lawannya. Si anak muda terus menyerang lagi. Ia berlaku keras dan gesit. Ketika ia sedang berhadapan dengan Sulaiman, ujung pedangnya telah menyambar kearah tenggorokan. Ketua suku Tanah Abang itu kaget dan tak terkira ia tentu tak akan bebas lagi, akan tetapi  

baiknya lawannya itu masih mau memberinya belas kasihan lagi. Maka

hanya baju dibagian bahunya saja yang terobek.

Setelah bertempur sekian lama maka Mintaraga bertanya : “Masih berapa panjangkah lilin itu Ateng Jagalawa?”

Ateng Jagalawa memandang dan segera menjawab pertanyaan anak muda itu dengan lantang :

“Tinggal kira-kira satu inci.”

“Bagus.” Seru Mintaraga. Ia bersilat terus dan tetap lincah serta keras. Iapun mengambil kesempatan untuk melirik kepada patih Udara, ia memang menaruh perhatian besar kepada jalan pertempurannya ini. Ia segera dapat menerka hati orang itu. Maka pikirnya :

‘Sebentar aku tentu bakal bertempur denganmu, rupa-rupanya kau sedang mengintai Braholo Meta. Baiklah aku tak akan mempergunakan tipu silat ini.’

Memang tak perlu ilmu silat ini dipergunakan untuk melawan Langkir dan Liman Karto. Setelah lewat beberapa lama maka terdengarlah teriakan Kembang Arum yang memperingatkan :

“Lilin hanya tinggal beberapa senti.”

Mintaraga segera menjawab perkataan kekasihnya itu dengan teriakannya :

“Baiklah sekarang aku akan mulai menyerang. Langkir berhati-hatilah kau.”

Benar saja anak muda ini segera mengubah jalan pedangnya. Ia lalu mengeluarkan jurus-jurus dari ilmu pedang perguruannya. Pedangnya berkelebat bagaikan kilat, maka pedangnya ini dapat membuat kabur semua mata pengeroyoknya. Iapun membuat rombongan itu menjadi pecah belah seperti terbagi tiga rombongan. Hingga demikian maka kepungannya menjadi bobol.

Langkir berusaha untuk menenangkan dirinya. Diantara orang yang tinggal disekitar gunung Tangkuban Prau ini. kepandaiannya hanya kalah setingkat saja kalau dibandingkan dengan Rikmo Dowo. Ia akan dapat mengangkat namanya tinggi-tinggi kalau dalam pertempuran ini akan memperoleh kemenangan. Sebaliknya akan merasa malu sekali kalau didalam perkelahian yang dipihaknya mengeroyok ini ia menderita kekalahan. Karena itu ia berkelahi dengan sungguh-sungguh.

Melihat perkembangan ini Mintaraga segera berpikir :

‘Kelihatannya dia tak kalah hebat dari pada Kembang Arum, baiklah untuk merebut kemenangan ia harus mengalahkan orang ini dahulu.’ Ia bertanya kepada Candra Wulan dengan suara yang nyaring dan keras :

“Candra Wulan, kau lihat bagaimanakah dengan jalan pertarunganku ini? Bagus atau tidak?”

Candra Wulan ditanya demikian mendadak ia menjadi sadar.  

“Bagus sekali.” Jawabnya dengan segera. “Kau bunuh saja orang itu

jangan kau terlalu sungkan-sungkan.” Mintaraga hanya tertawa.

“Kalau aku sekarang merobohkan mereka.” Jawabnya. “Sebentar kalau aku melawan jago-jago Jipang Panolan tentunya tak akan ada orang yang mengagumi kepandaianku ”

Wirapati tak dapat menangkap maksud dari pembicaraan Mintaraga itu, maka ia berkata pada kekasihnya itu :

“Adi Candra Wulan, lebih baik kau jangan mengganggu pemusatan pikiran kakang Mintaraga itu.”

“Untuk melayani empat puluh dua orang musuh itu, tak perlu mempergunakan pikiran yang terpusat.” Kata Mintaraga yang menjawab perkataan kawannya itu. “Kalau sekarang aku hendak mengalahkan atau membunuh Langkir maka akan gampang seperti aku membalikkan sebuah tanganku ini. Kalau kau hendak membicarakan sesuatu, bicaralah saja.” Ia tertawa dan kemudian berkata lagi :

“Di kolong langit ini, manusia yang paling menjemukan sekali adalah orang-orang Jipang Panolan. Sekarang ini justru ada orang yang mau main mata dengan orang menjemukan itu... huahaaaa.... huahaa... huahaaaa....

hingga dia melupakan leluhurnya dahulu yang diilas-ilas oleh leluhur orang Jipang Panolan. ”

Sambil bertempur Mintaraga lalu membeber kekejaman orang-orang Jipang Panolan, muIai dari Pangeran Sedo Lepen hingga ketangan Ario Penangsang.

Suara Mintaraga ini sangat nyata sekali, suara ini sedikitpun tak terganggu oleh suara berisiknya pelbagai senjata yang saling bentrok. Sengaja ia membeber keburukan bangsa Jipang, dan sekaligus mengejek kepada jago-jago Jipang Panolan. Setelah itu ia lalu menguraikan kebaikan Ngawonggo Pati yang berjuang dengan gigih.

Langkir menggertak gigi, hatinya menjadi panas bukan main. Benar- benar ia tak dipandang sebelah mata oleh Mintaraga, yang bicara seperti kawan-kawannya yang tengah memasang omong. Ia lalu melakukan penyerangan yang hebat sekali.

Mintaraga menangkis bahaya, masih tetap ia berlaku sangat tenang sekali.

“Langkir, baiklah kau sabar sedikit.” Katanya dengan tertawa lebar. “Atau nanti aku akan merobohkanmu dengan secara kecewa.”

Kepala pedukuhan Tanah Abang itu menjadi bertambah marah.

“Semua menambah tenaga.” Ia memerintahkan kepada kawan- kawannya. “Jangan ijinkan binatang ini mengilas-ilas kita.”

Mintaraga menyambut perlawanan dengan desakan, hingga ia membuat orang-orang itu mundur keluar gelanggang. Sambil tertawa ia berkata :  

“Apakah masih ada orang lainnya? Baiklah kau ketahui sekarang ada

orang yang datang ke gunung Tangkuban Prau untuk melepaskan angin busuk, bahkan lebih busuk dari pada kentut orang kembung. Karena itu, ketua orang-orang Tanah Abang menjadi kelabakan. Dia telah menyiapkan ribuan tentaranya untuk disumbangkan. Dan termomok dari Lemah Putihpun telah memberikan janji. Huahaaaa... Huahaaa... Huahaa... Walaupun kamu mengangkut pindah beberpa ratus ribu atau jutaan tentara ke Jawa Tengah, akan tetapi sungguh sial karena kalian tak akan dapat menolong orang-orang Jipang Panolan jang telah turun pamornya. Ia tetap akan runtuh. Apakah kalian sangka kalau kalian ini akan dapat menakut- nakuti kerajaan Demak Bintoro yang terkenal? Huh... Jipang itu hanya sekuku ireng kerajaan Demak Bintoro yang terkenal! Sekalipun aku, kalianpun tak dapat melawan, cara bagaimanakah kalian akan berani bertingkah didepan jago-jago Demak Bintoro? Apa lagi kalian berani bertingkah didepan Jaka Tingkir, Panjawi, Ki Gede Pemanahan, Ki Sentanu dan lain-lain. Huh...!”

Kata-kata itu ditutup dengan gerakan tubuh yang pesat, mengitari gelanggang itu, pedangnya saben-saben membabat, mengasi dengan suaranya ‘trang’ hampir tak hentinya. Dengan cara itu, sebentar saja ia telah merobohkan delapan belas pahlawan dengan golok mereka itu terbang kelangit.....

*

* *

Mendadak saja Mintaraga melompat keluar dari gelanggang, tahu-tahu ia sudah sampai didepan Ateng Jagalawa. Di situ ia memandang api lilin.

“Ateng Jagalawa, kau main gila!” Dia menegur. “Dengan diam-diam membuat lilin semakin pendek. Kau kira aku tak mengetahui akan hal itu?” Ia mencoba mengukur dengan jarinya”. Kau mengurangi beberapa senti supaya aku kalah. Huahaaa... Huahaa... Huahaa... Huahaa... kalau demikian aku akan merobohkan Langkir lebih cepat dari pada semestinya.”

Lilin itu tinggal tiga senti lagi, ini artinya dalam sepemakanan nasi lagi ia harus merobohkan sisanya dua puluh empat pahlawannya.

Ateng Jagalawa memang telah berlaku curang, ia sudah mendapatkan Tunggul Tirto Ayu, ia merasa bahwa ia masih dibawah pengaruh tetamunya itu, maka juga tidak ingin ia si tetamu memperoleh kemenangan. Begitu diam-diam ia kurangi lilin itu.

Waktu itu Langkir panas hatinya. Diluar dugaannya, ia kehilangan Mintaraga, yang tahu-tahu sedang bicara dengan Ateng Jagalawa. Tak menanti sampai anak muda itu kembali kepadanya, ia ajak kawan-kawannya memburu, sambil menghampiri mereka menantang.  

Mintaraga berlaku sangat tenang untuk melayani musuh-musuhnya itu.

Dengan gerakan yang indah dan cepat ia selalu menghalau setiap ada serangan yang ditujukan kepadanya. Selama itu ia selalu mengambil ketika untuk mengawasi nyalanya api lilin tersebut. Sedikitpun tak ada lagi kepercayaannya terhadap Ateng Jagalawa. Setelah lilin tinggal sedikit sekali, sekonyong-konyong ia berseru dengan keras :

“Robohlah sekalian.”

Seruan ini dibarengi dengan uluran tangan kirinya, menyambar kearah Liman Karto, tubuh yang gemuk berat itu terus diangkat dan diputar-putar diatas kepalanya lalu dilemparkan.

Dengan menerbitkan suara yang, sangat keras sekali, tubuh itu jatuh terguling hingga menerbitkan suara gedebukan persis kerbau jatuh. Hanya sebelum jatuh ia telah terbentur oleh pelbagai pahlawan. Hingga dengan sendirinya orang-orang itu roboh dengan senjata terlepas dari tangannya.

Segera saja ia melihat Liman Karto menggeletak ditanah dengan tanpa dapat berkutik. Sedangkan pahlawan-pahlawan yang roboh itu berjumlah delapan orang.

Sulaiman kaget sekali, sambil berteriak ia lalu keluar dari gelanggang. “Kau hendak kabur? Bentak Mintaraga, tubuhnya segera mencelat

mengejar, setelah dekat dengan lawannya segera ia menyerang. Orang Tegal Warna ini benar terkejut dan takut sekali, karena itu ia menjadi lemas dengan sendirinya. Akan tetapi karena diserang ia mencoba melakukan perlawanan. Ia lalu mengangkat goloknya untuk membacok. Akan tetapi kesudahannya ia menjadi lebih terkejut lagi. Entah dengan cara bagaimana tiba-tiba saja goloknya telah berpindah tangan, bahkan perutnya telah kena dihajar oleh Mintaraga dengan tenaga yang cukup besar. Mual sekali rasanya hingga dari mulutnya menyemprot darah segar. Tubuh orang Tega Warna ini pingsan dengan seketika.

Semua pahlawannya menjadi kaget, segera ia mengejar untuk menolong akan tetapi terus saja ia menjadi kaget dan kasep.

Sekarang bersama-sama dengan Langkir musuh hanya tinggal tujuh belas orang. Atas kedatangan mereka ini Mintaraga lalu menyambut :

“Bagus mari maju semua.”

Ia maju mendahului para pahlawan itu dan menyambar yang paling depan dan dekat lalu dilemparkan hingga keluar dari gelanggang. Tak pernah sambarannya itu gagal. Sebentar saja enam belas lawannya itu telah terlempar keluar gelanggang, bersama dengan robohnya orang-orang itu maka terdengarlah suara senjata yang runtuh dengan mengeluarkan bunyi yang nyaring.

Keberanian Langkir segera menjadi kecil. Benar-benar ia tak dapat meluruk kearah Jawa Tengah. Belum apa-apa orang-orangnya telah kena dikalahkan. Akan tetapi ia menjadi nekat, sambil melompat ia lalu menikam.  

Gerakannya   inilah   yang   disebut   gerakan   Mega   Ngambang   menutupi

rembulan. Ia tahu kalau tinggal sendirian dan tak berdaya tetapi ia melakukan segala apa yang ada padanya.

Mintaraga ketika melihat lawannya ini menjadi nekat dan kalap lalu berpikir :

‘Dia ini bertabiat sangat keras, jika dia dihajar, mungkin ia tak puas, inilah yang nantinya akan memberi akibat buruk. Akan tetapi kalau dia tak dirobohkan, aku dapat makan perkataanku sendiri. ’

Oleh karena keragu-raguannya ini ia lalu mengambil cara lain. Terpaksa ia mempergunakan Pukulan Braholo Meta juga, sebab Iain jalan tentunya tak ada. Begitu ketika ia ditikam, ia menyambut ujung pedang. Ia mengerahkan tenaganya dijari tangannya.

Tangan dan pedang bentrok kesudahannya terdengarlah suara : “Tek.”

Untuk kagetnya Langkir, pedangnya patah, tubuhnya sendiri terhuyung-huyung. Ia mencoba menancapkan kuda-kudanya, akan tetapi masih tetap saja tak menolong. Ia tetap roboh dan terbanting dengan hebat.

“Maaf.” Seru Mintaraga sambil melompat mundur. Ketika ia berpaling kebelakang api lilin persis padam. Lumeran lilinnya bertumpukan diatas meja. Lelatu penghabisanpun segera sirna.

Langkir mencoba untuk bangun berdiri, ia telah dibantu kedua tangannya. Mendadak saja ia merasakan kalau dadanya menjadi sakit. Segera ia insyaf kalau lawannya ini tak berniat mencelakainya. Iapun segera mengerti akan kesaktian lawannya, yang dengan mempergunakan jari tangannya dapat mematahkan pedangnya. Lalu ia menghela napas panjang.

“Ki Mintaraga aku menyerah.” Katanya dengan perlahan. Iapun hendak membuktikan janjinya tadi, ia terus menekuk lututnya hendak bersembah sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

Mintaraga tahu maksud orang itu, segera saja ia memegang kedua lengannya dan berkata :

“Ki Langkir, kita hanya main-main.” katanya sambil tertawa. “Jangan andika beranggapan kalau aku berkata dengan sesungguhnya.”

Wajah Langkir menjadi merah dan mulutnya menyeringai. “Sekarang aku ingin memohon kepadamu ”

Mintaraga tertawa pula, tanpa menanti Iawannya itu habis mengucapkan perkataannya, segera saja ia berlari berkeliling, dengan kepandaiannya yang hebat ia lalu menyadarkan mereka yang dirobohkan tadi. Bahkan Sulaiman yang pingsanpun segera dapat siuman.

Begitu dapat menggerakkan kaki dan tangannya Liman Karto dan Sulaiman lalu berkaok-kaok kelabakan. Keduanya mencari kesana kemari dan terutama sekali mencari-cari didalam saku bajunya.  

“Apakah kalian mencari surat perjanjian kalian?” Tanya Mintaraga

dengan keras. “Semuanya berada ditanganku ini...?”

Semua mata memandang kearah si anak muda itu dan ternyata ditangannya tampak tiga helai surat perjanjian tadi. Yang sebuah adalah kepunyaan dari Langkir.

Kepala pedukuhan Tanah Abang itu berdiri melenggong, dan tubuhnya menggigil. Sungguh tak pernah dikira kalau dalam saat yang sedemikian pendeknya itu, surat yang berada didalam saku bajunya dapat diambil oleh anak muda itu. Diambil tanpa diketahui.

“Ki sanak sekalian.” Seru Mintaraga dengan tak mempedulikan pandangan keheranan dari mereka-mereka itu. “Andika harus mengetahui kalau Patih Udara dan jago-jago Jipang Panolan itu datang kemari ini dengan maksud yang sangat jahat. Sungguh kebetulan sekali karena dia ketemu dengan kami disini, karena itu tak dapat aku tak mengurusnya. Karena itu ki sanak sekalian aku hendak mewakili kalian untuk menyobek surat perjanjian ini dan minta kepada kalian supaya mau memaafkanku ”

Perkataan itu dibuktikan dengan seketika itu juga. Ketiga surat perjanjian itu segera disobek dengan pengerahan tenaga hingga hancur berkeping-keping, lalu hancuran itu dilemparkan keudara hingga melayang- layang bagaikan kupu-kupu terbang.....

Sulaiman    beramai-ramai    memperdengarkan    suara    kekagetannya.

Mereka segera melengak.

Kembang Arum mengetahui dengan baik-baik, patih Udara tentunya akan segera bertindak, karena itulah ia lalu mendahului melompat maju. Dengan suara nyaring ia bertanya :

“Ki sanak sekalian, kalian ini merasa puas atau tidak? Jika belum marilah kita bertempur lagi.”

Sulaiman dan yang lain-lain menundukkan kepalanya. Mulut merekapun bungkam seribu bahasa. Mana mereka berani melawan gadis yang gagah perkasa ini? Hanya Sulaiman yang diam-diam kearah Patih Udara.

Utusan Jipang Panolan itu memperlihatkan wajah yang sangat gelisah. Kembang Arum sangat menyesalkan akan perbuatan orang-orang itu,

biarpun mereka itu gagah perkasa, akan tetapi mereka itu mau dijadikan alat oleh orang-orang Jipang Panolan.

Patih Udara sendiri menjadi bingung, ia tahu kalau kekerasan harus segera dipergunakan akan tetapi ia sangat menyangsikan kesudahannya. Dipihak sana ada Rikmo Dowo, sedangkan dipihaknya hanya dia dan para begundalnya. Langkir dan kawan-kawan belum tentu mau membantunya. Ia segera menundukkan kepalanya, mendadak saja ia menjadi gembira sekali. Ia mengangkat kedua tangannya dan melihat kalau jarinya tinggal delapan buah. Segera ia tersenyum.  

‘Perlu apakah aku dulu itu memotong jari kelingkingku?’ Pikirnya. ‘Aku

akan bereskan dahulu Mintaraga. Urusan lain masih akan dapat diselesaikan nanti.’ Karena itulah ia lalu melompat ketengah-tengah gelanggang.

“Mintaraga, apakah perkataan kita tadi?” Tanyanya dengan keras.

“Kita bertanding.” Jawab Mintaraga. “Kalau aku yang menang maka kau harus mengangkat kaki dari wilayah gunung Tangkuban Prau ini, kalau kau yang menang maka Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kejayaan kerajaan Demak Bintoro akan ditinggalkan disini...”

“Apa?” Potong Ateng Jagalawa. “Mana dapat begitu   ??”

Patih Udara tak dapat mempedulikan orang ini, ia menyapukan pandangannya kearah para hadirin sekalian. Kecuali Rikmo Dowo dan Sandung Lamur, Langkir menjadi marah sekali. Wajah Liman Karto kelihatan lesu sedangkan Sulaiman mandi keringat. Ateng Jagalawa kelihatan kaget, akan tetapi wajahnya terang kalau wajah kegirangan.

Segera setelah mengawasi orang-orang itu, patih Udara lalu melirik kearah Bagaspati. Selain kepada orang pertama dari jago-jago Jipang Panolan inipun ia mengerdipkan matanya memberi sasmita. Sudah lama ia menghunus senjatanya yang luar biasa itu. Sebuah pedang yang mengeluarkan sinar kehijau-hijauan.

Bagaspati mengerti akan pertanda yang diberikan oleh patih Udara itu, segera saja ia mengangkat tangannya, tanda inipun segera diketahui oleh anak buahnya, atau tepatnya kalau dikatakan adik-adik seperguruannya. Maka mereka itu dengan sikap acuh tak acuh segera bertindak. Sikapnya mengurung. Inilah tandanya kalau nanti Patih Udara kelihatan telah tak sanggup melayani lawannya maka mereka akan turun tangan dengan jalan mengeroyok.

Mata Candra Wulan tajam sekali, segera saja ia berbisik kearah Kembang Arum, Wirapati dan juga kepada Baskara. Setelah itu merekapun dengan sikap diam-diam dengan sendirinya tangan-tangan merekapun memegang gagang senjatanya masing-masing. Siap menghadapi segala kemungkinan.

Patih Udara telah tak berayal lagi, dengan suaranya yang keras ia lalu menerjang maju, menyerang kearah Mintaraga dengan serangan yang hebat.

Si anak muda juga telah siap sedia, bahkan dengan amat beraninya ia lalu menangkis serangan itu dengan tipunya yang bernama : ‘Mengangkat kepala memandang rembulan muncul.’ Dengan mempergunakan tipuan ini maka senjata mereka menjadi bentrok dengan keras hingga menimbulkan suara yang sangat nyaring. Terlihat dengan jelas kalau yang satu menindih dan yang lain bertahan.

“Bagus.” Seru Patih Udara yang mengagumi lawannya itu. Iapun segera menempatkan kakinya ditanah, lalu tak menyia-nyiakan ketika lagi segera menyerang dengan dahsyat.  

“Bagus.”   Mintaragapun   memuji   akan   kegesitan   lawannya.   Iapun

menangkis lagi, hingga dengan demikian kembalilah senjata mereka beradu dan bunga api berpijar dengan hebat.

Setelah bentrok yang kedua kalinya ini maka masing-masing pihak mengetahui kalau tenaga dalam mereka itu ternyata berimbang. Hingga masing-masingpun sadar kalau untuk merebut kemenangan mereka harus mengerahkan seIuruh kepandaiannya dan sangat sulit sekali. Karena itu selain mereka harus mengemposkan seluruh kepandaiannya untuk menggempur musuh, merekapun harus mengasah otak untuk melancarkan tipu-tipu atau siasat untuk merobohkan lawannya.

Kettka kemenangan yang pertama, Mintaraga telah mencari kelemahan dari Putih Udara dan telah menghajar jari tengah lawannya. Sekarang jari kelingking patih Udara telah tak ada lagi. Karena itu ia harus mencari jalan lain. Karena itu untuk sementara, ia menyerang terus menerus.

‘Lihat saja setelah beberapa puluh jarum.’ Demikian pikirnya.

Patih Udara merasa kalau ia mulai dapat didesak. Berulang-ulang ia memperdengarkun suara tawanya yang bernada dingin, untuk mengejek musuhnya. Ia melawan dengan tangkas, ia selalu dapat menghalau setiap tikaman ataupun papasan. Dengan ini ia membuktikan kalau ia benar-benar seorang pendekar yang gagah perkasa.

Semua hadirin menonton dengan mulut yang bungkam, hanya saja mata mereka itu dibuka dengan lebar-lebar. Dan hati mereka bekerja dengan keras, saking kagumnya. Pertandingan ini benar-benar berbahaya sekali, akan tetapi harus diakui kalau pertarungan ini benar-benar menarik hati.

“Ayu, kepandaian binatang ini ternyata bertambah.” Bisik Candra Wulan kepada Kembang Arum.

“Jangan khawatir adi, dia boleh maju beberapa senti, akan tetapi kakang Mintaraga kepandaiannya telah maju semeter lebih.” Jawab Kembang Arum dengan mantap. “Karena itu kalau dikatakan tentang kemajuan maka kakang Mintaraga tetap berada diatasnya.”

Kuat sekali kepercayaan gadis ini kepada tunangannya.

Kembang Arum baru saja menutup mulutnya atau medan pertempuran telah memperlihatkan rupa. Patih Udara telah memperdengarkan teriakannya : “Aduh.” yang hebat. Karena lengannya yang kiri telah tertikam oleh pedang lawannya hingga ia terhuyung-huyung, setelah mana tidak sempat mempertahankan diri, untuk tetap berdiri, karena ia terus menerus didesak oleh Mintaraga yang menyerangnya bagaikan badai ngamuk.

Sinar pedang anak muda ini terus menerus berkelebatan seperti gambaran halilintar yang menggelegar diudara.

“Bakal tamat riwayat iblis ini.” Seru Candra Wulan dengan kegirangan.

Kembang Arum sebaliknya mengerutkan keningnya. Ia memandang dengan mata tajam-tajam. Kemudian katanya didalam hati :  

‘Hantu ini terkena tikaman dalam kira-kira lima puluh jurus, inilah

aneh! Mungkinkah dia itu mempergunakan sebuah tipu daya?’

Selagi gadis ini berpikir, Patih Udara telah mundur sampai ditembok. Disana tak ada lagi jalan mundur. Pula permainan senjatanya kelihatan sangat kalut, seperti juga permainan silatnya yang kacau balau. Tegang suasana diantara para hadirin, bahkan Bagaspati sudah segera siap, asal Patih Udara berseru mereka akan maju bersama-sama.

“Udara!” Terdengar suara Mintaraga yang menggeledek dengan keras dan nyaring. “Kau akan segera kalah, kau hendak bicara apakah?”

Patih Udara menjawab sambil menyeringai :

“Ketika kita berjanji bertanding, kita berjanji akan mempergunakan tangan kosong. Dengan senjata seperti ini. ”

‘Baik.’ Pikir Mintaraga. Ia segera menyelipkan pedangnya ke dalam sarungnya setelah melihat kalau lawannyapun menggantungkan pedangnya kepinggang. Tapi disaat ujung pedang, bagian pada gagang, tiba pada mulut sarung begitu juga tangan patih Udara terbalik, lalu berkelebat satu sinar kilat, atau tahu-tahu ujung senjata itu telah menyambar kearah musuhnya. Diapun berseru :

“Kau lihatlah binatang, kaulah yang akan segera roboh ditanganku.” Kembang Arum berteriak saking kagetnya :

“Kau licik... kau telah mempergunakan akal yang licik dan licin bagaikan bulus bangsat gila !”

Mintaraga kaget bukan kepalang. Ia mengerti dengan kedua tangan kosong, ia dapat menangkis serangan dahsyat itu. Untunglah ia tak menjadi gugup, hampir bersama dengan serangan semacam pembokongan itu, kedua kakinya menjejak tanah, tubuhnya segera mencelat, akan tetapi bukan mundur, hanya tinggi-tinggi hingga melewati kepala lawannya. Maka dilain saat sebelah kakinya sudah ditaruh disebelah tembok. Akan tetapi disitu iapun tak menaruhkan kedua belah kakinya, hanya sebelah kakinya itupun menjejak lagi, karena itu iapun menjadi berlompatan kembali dan mundur.

Patih Udara itu adalah seorang pendekar besar yang amat sakti, ia telah menduga kepada gaya lawannya ini. Demikian disaat tubuh Mintaraga turun untuk menaruh kakinya ditanah mendadak ia menyambuti dengan serangannya pula, yaitu jurus Naga berbisa keluar dari kedung. Senjata itu menyapu keatas dan kemudian menyapu kaki lawan.

Hebat serangan sambutan ini. Patih Udarapun telah girang sekali, karena ia percaya betul kalau serangannya kali ini pasti akan berhasil. Ia tak keliru. Mintaraga kehabisan daya, sebelah kakinya itu kena diserang dan tepat pada mata kaki. Dia sangat menggigil ketika mengingat akan bahaya serangan itu, sudah begitu lawannya masih tak dilakukan dengan rangsakan yang sangat hebat. Terpaksalah Mintaraga hanya dapat main elak sana elak  

sini. Walaupun kelincahannya telah berkurang akibat serangan pada mata

kakinya tadi.

Para penonton menjadi terperanjat, malahan Rikmo Dowo telah memperdengarkan suaranya yang serak dan bernada sangat tinggi itu.

“Hem... benar-benar orang Jipang Panolanlah orang yang paling licik dan licin. Eh... Udara, kau ini sebenarnya orang gagah dari perguruan manakah? Apakah perguruanmu yang mengajarkan kau menjadi seorang yang tak tahu malu??”

Sandung Lamurpun menegur :

“Kau tadi mengatakan kalau akan mengadu kepalan, akan tetapi mengapa sekarang kau mempergunakan senjata, oh... sungguh licik sekali kau Udara?”

Kedua orang ini boleh menegur dan mengejek, akan tetapi mereka tak mempunyai kesanggupan untuk melompat maju dan memisah sama tengah. Sebaliknya Patih Udara, selagi orang-orang sedang mengejeknya ia malahan memperhebat dan mempergencar serangan-serangannya. Ia bermaksud merobohkan lawannya yang sangat ditakutinya.

Beberapa kali Mintaraga terhuyung-huyung karena desakan musuhnya, dengan demikian ia menjadi berada dibawah angin. Ia hanya dapat membela diri, tak ada kesempatan untuk melancarkan serangan-serangan balasan. Ia merasa menyesal dan sakit hatinya. Kemudian katanya didalam hati :

‘Licin sekali iblis ini, ia telah mempergunakan sebuah tipu daya yang sangat licin dan kejam. Dasar aku yang tolol mengapa aku dapat diperdayakan dengan sebuah tipu daya yang kotor macam ini.”

Dengan cepat jurus-jurus berlalu. Kira-kira pertarungan telah berjalan tujuh puluh jurus, karena itu bukan main girangnya hati Bagaspati setelah melihat kalau pihaknya yang akan keluar menjadi pemenangnya. Tanpa sungkan-sungkan lagi ia lalu tertawa lebar. 

Diantara Patih Udara dan Mintaraga, ilmu kepandaian mereka itu berimbang, dari itu dapat dimengerti, setelah yang satu terluka kakinya. Imbangannya menjadi berat sebelah. Tak sangat mengherankan kalau Bagaspati segera tak dapat menguasai dirinya.

Orang yang terpanas hatinja melihat Mintaraga dibokong secara hebat itu bukannya Rikmo Dowo dan Sandung Lamur, akan tetapi adalah Kembang Arum. Ia sangat membenci musuhnya yang berlaku sangat curang itu. Tentu saja ia sangat mengkhawatirkan kekasihnya yang terdesak dengan hebat itu. Setiap saat pendekar muda yang bernama gede itu tentu akan dapat dirobohkan oleh musuhnya yang sangat licik dan curang itu.

‘Jika tidak sekarang aku turun tangan maka akan menanti sampai kapan lagi.’ Pikir gadis ini, yang terus melompat kearah Patih Udara yang pada waktu itu patih Udara membelakanginya. Ia menikam punggung patih curang itu pada bagian jalan darah matanya. Hingga dapat dipastikan kalau  

sampai totokan yang berupa tikaman ini tepat maka patih Udara akan dapat

menjadi buta.

Patih Udara menjadi sangat terkejut sekali ketika melihat ada bayangan yang melesat, akan tetapi setelah melihat kalau yang berkelebat itu hanyalah Kembang Arum hatinya menjadi besar. Ia percaya kalau dengan sekali tangkis saja ia tentunya akan dapat mementalkan gadis itu jauh-jauh.

Hanya sayang sekali ia menyangka keliru. Sebab gadis ini sangat lincah dan mempunyai gerakan yang mengagumkan sekali. Tahu-tahu ujung pedangnya telah sampai kesasarannya. Dalam saat yang berbahaya itu tak ada jalan lain bagi patih Udara kecuali melompat kesamping. Hanya sedetik saja ia telah dapat meloloskan diri dari bahaya maut. Ia melompat kesamping karena Mintaraga berada dihadapannya, walaupun demikian anak muda itupun melompat juga, untuk menyusul dan menyerang lagi “Lihat” Seru anak muda itu sambil membarengi serangannya.

Kembang Arum gagal dengan serangannya, akan tetapi ia telah berhasil mencegah orang itu untuk mendesak Mintaraga terlebih jauh lagi, maka itu, habis menerjang, ia berlompat pula, mundur kembali kesisi Candra Wulan.

“Aturan orang gagah mana ini?” Tanya Bagaspati dengan nada sangat mengejek. “Dua lawan satu! Kamu jangan menyesal jikalau akupun mempergunakan siasat yang banyak menindas yang sedikit. Bukankah itu akan mempermudah aku mencari kemenangan?”

Benar-benar saja ketua jago-jago Jipang Panolan itu segera berseru, atas mana kawan-kawannya segera menjawab dan terus maju.

Candra Wulan menyaksikan kelakuan orang, bukannya ia menjadi kaget dan cemas, sebaliknya ia lalu tertawa terbahak-bahak.

“Bagus.” Serunya. “Kami hendak berkelahi beramai-ramai, bagus kalian hendak mencari kemenangan dengan jalan mengeroyok. Kami sebaliknya. Aku memberi tahu kepadamu kalau kami ini akan mencari kemenangan dengan jumlah yang sedikit. Kakang Kembang Arum ayo kita maju semua !”

Dengan menghunus pedangnya, Candra Wulan dengan berani menyerbu paling duluan.

Kembang Arum, Wirapati dan Baskara menyerbu dengan jalan saling susul menyusul. Masing-masing mencari lawan sendiri-sendiri. Dengan begitu maka sekejap saja pertarungan menjadi kacau balau. Dilain saat semuanya harus waspada kekanan dan kiri.

Dengan pertolongan Kembang Arum tadi, Mintaraga menjadi mendapat kesempatan untuk menghunus pedangnya. Satu kali ia sudah mencekal senjata, tanpa menghiraukan kakinya yang sakit tergores oleh pedang yang bersinar kehijau-hijauan musuh, ia membuat pembalasan dalam hal penyerangan.  

Patih Udara menang diatas angin, akan tetapi karena orang bersenjata, ia

tidak dapat mendesak lagi seperti tadi. Ia bahkan mencoba berlaku tenang.

Dimedan pertempuran campur aduk itu Candra Wulan, yang sekarang telah berbeda dari beberapa bulan yang lalu. Berlaku sebagai anak kerbau yang tak kenal takut. Ia mengacau diantara jago-jago Jipang Panolan. Ia baru saja memukul mundur dua saudara Watu Gunung dan Watu Padas, lalu ia didamprat seorang musuh lain :

“Hee... perempuan hina, jangan kau bertingkah.”

Candra Wulan segera mengenali orang itu yang bukan lain adalah Jangkar Bumi. Yah Jangkar Bumi orang termuda dari jago-jago Jipang Panolan. Inilah justru musuhnya, sebab ketika pertama kali ia muncul dalam dunia kependekaran, Jangkar Bumi inilah yang sering menghinanya. Maka itu sambil membalas dampratan itu, ia menyambut serangan jago-jago Jipang Panolan jang nomor dua puluh satu itu.

Jangkar Bumi memakai senjata tongkat besi, ia menangkis dengan tongkatnya itu. Diluar dugaannya, Candra Wulan menabas dengan hebat sekali. Ketika kedua senjata itu bentrok, tongkat itu terpental balik sedangkan pemiliknya turut terpental pula. Sia-sia saja Jangkar Bumi mencoba menahan diri. Lebih celaka lagi ketika ia menginjak tanah, ia terhuyung-huyung dan terus roboh, tepat didekat Wirapati.

Pemuda ini ketika melihat terdamparnya musuh itu, dengan sebat ia menggunakan ketikanya itu. Sedangkan ia sendiri bersenjata golok, dan sekali golok itu terayun maka tubuh Jangkar Bumi terpisah menjadi dua potong....

Baru saja Wirapati membinasakan seorang musuh, terus saja ia diburu oleh Bagaspati, ketua dari jago-jago Jipang Panolan yang telah menyerang dengan mempergunakan pedangnya. Sebab senjatanya yang tadi telah dipatahkan lawan. Ia menyerang separuh membokong karena datangnya dari belakang Wirapati. Tikamannya ini adalah tikaman yang dinamakan ‘Mega mencari kabut buyar’.

‘Celaka.’ Seru Wirapati didalam hatinya ketika ia mendengar ada angin sambaran yang sangat tajam dari belakangnya. Untunglah ia tak menjadi gugup. Begitu ia memutar tubuh, tusukan pedang itu telah menangkis. Golok itu tak keburu ditarik, kembali, maka itu dengan sangat terpaksa ia menyambar dengan tangan kirinya dan mengelakkan tubuhnya sedikit menyambar kearah pedang. Inilah sebuah gerakan yang sangat terpaksa, sebab jalan mundur telah tak ada lagi.

Bagaspati itu memang hebat sekali, dia tak mau mengijinkan pedangnya ditangkap musuh. Maka ketika pedang itu dipegang, ia segera mengibas, hingga pedangnya lolos dari pegangan telapak lawan dan akibatnya tangan Wirapati berlumuran darah. Ia tak berhenti sampai disitu terus ia mengulangi serangannya.  

Disaat   mereka   bertempur,   yaitu   Wirapati   terdesak   dan   Bagaspati

merangsek, mendadak saja ketua dari orang-orang Jipang Panolan ini melihat datangnya serangan dari belakang. Inilah serangan Candra Wulan yang akan menolong kekasihnya dari bahaya.

Bagaspati bermata jeli dan awas, ia melihat datangnya bokongan, ia memutar tubuh sambil menangkis dengan keras.

Kedua senjata bentrok sambil memperdengarkan suara ‘Trang’ yang hebat sekali setelah itu kedua-duanya mundur tiga tindak.

Bagaspati menjadi heran dan kagum.

‘Hebat perempuan ini.’ Pikirnya. ‘Enam bulan yang lalu ia masih tak sanggup melawan Jangkar Bumi, akan tetapi mengapa sekarang telah menjadi begini tangguh hingga dapat menangkis seranganku. Karena itu ia menjadi waspada.

Sewaktu ketua orang gagah dari Jipang Panolan ini berpikir, satu serangan dari belakang datang kearahnya. Itulah tikaman Kembang Arum yang mempergunakan pedang yang berada ditangan kirinya. Hebat sekali ujung pedang itu telah berjarak dua senti pada sasarannya. Ia menjadi terkejut, karena ia tahu kalau gadis itu hebat sekali. Bukankah gadis itu telah mengalahkan gabungan antara Liman Karto dan Langkir? Bahkan juga Sulaiman. Saking kagetnya ia berseru.

Didekat ketua ini berada pula Julung Pujut. Orang ini ketika melihat kalau saudaranya sedang terancam bahaya terus saja akan maju untuk memberi bantuan. Akan tetapi sungguh sayang sekali karena ia tak mendapat kesempatan. Sebab dengan sekonyong-konyong Baskara menerjang kearahnya.

“He... kiranya kau si pengkhianat.” Dampratnya. Ia segera menyambut dengan serangan kepalannya.

Didalam hal ilmu tangan panjang atau pencurian memang Baskara menjadi seorang tokoh nomor satu dan tak ada bandingannya, akan tetapi kalau didalam hal ilmu silat kepandaiannya sungguh lumayan saja. Karena itu tak sangat mengherankan ketika ia menghadapi jago orang-orang Jipang Panolan ini menjadi kelabakan. Ia berusaha membela dirinya dengan sedapat-dapatnya.

Candra Wulan melihat keadaan kawannya yang kelihatan payah itu, segera ia meninggalkan Kembang Arum yang masih bergebrak dengan Bagaspati, ia melompat kearah Julung Pujut. Sebelum tiba ia mengayunkan dulu tangannya, melemparkan sebatang jarum. Lalu disaat tubuh Julung Pujut mengelak ia sendiri telah sampai ditujuan.

Julung Pujut yang sakti dapat menyamplok jatuh jarum lawannya itu, sebelum gadis itu datang kedekatnya ia telah mengulangi lagi serangannya kearah Baskara. Hanya kali ini, setelah lawannya mengelak ia harus berhadapan dengan Candra Wulan.  

Candra Wulan berlaku dengan sebat, begitu ia bergebrak maka iapun

lalu menyerang dengan serangan-serangan berantai, karena itu baru lima jurus jago dari Jipang Panolan ini telah dapat didesak dengan hebat dan menjadi kelabakan setengah mampus.

Baskara yang tadinya terdesak tetap berada dikalangan, sedikitpun ia tak mau mengundurkan diri. Sebaliknya ia malahan berkelahi terus. Perbuatannya ini menambah kesulitan bagi Julung Pujut. Karena itu ketika pertarungan telah mencapai belasan jurus maka kelihatan dengan jelas kalau orang Jipang ini telah empas-empis napasnya.

Tak antara lama maka muncullah Poncowolo orang nomor lima dari jago-jago Jipang Panolan dan juga Kolo Maruto orang ke tujuh belas dari jago-jago Jipang Panolan. Mereka itu segera membantu kakak seperguruannya, akan tetapi biarpun begitu mereka masih tetap kalah unggul kalau dibandingkan dengan Candra Wulan.

Di Pihak Bagaspati, dia telah minta bantuan Mandaraka si nomor tiga, Pendeta Panca Loka si nomor empat.

Bersamaan dengan waktu itu Wirapati harus melayani Watu Gunung dan Watu Padas. Didalam pertempuran ini kelihatan nyata kalau kekuatan mereka itu berimbang. Wirapati tak mendapat angin, akan tetapi juga tidak terdesak. Dengan begitu nampaknya diempat rombongan, semua pihak berimbang saja.

Jago-jago Jipang Panolan itu berjumlah dua puluh satu orang, akan tetapi Paku Waja anggota keenam dan Soko Ponco orang ketujuh telah tewas. Karena itu mereka kini tinggal sembilan belas orang. Sedangkan yang termuda yaitu Jangkar Bumi baru saja mati karena inilah maka jumlahnya menjadi kurang satu lagi yaitu tinggal delapan belas orang. Dari ini, mereka yang sembilan lagi mengawasi kearah pertarungan antara patih Udara dan Mintaraga. Mereka itu siap sedia dan setiap saat akan turun tangan kalau diperlukan. 

Pertarungan antara Patih Udara melawan Mintaraga telah tiba pada saat yang membahayakan. Mereka telah sama-sama bersenjata dan lagi merekapun telah sama-sama terluka. Yang hebat adalah kekuatan mereka itu berimbang. Hingga dengan demikian maka kekuatan itu akan memperlambat pertarungan segera diakhiri. Karena itu setelah bertempur dua ratus jurus lebih mereka masih tetap belum dapat menerobos atau mencari kekosongan lawannya masing-masing.

Dalam pertempuran pertama dulu itu, patih Udara telah menyerang dengan tiga macam siasatnya, mendesak mengancam dan menggelinding. Akan tetapi ketiga siasat itu telah dipunahkan oleh Mintaraga dengan tiga siasat pula, yaitu menanti menghajar dan menggelinding. Karena itu sekarang setelah ia mengetahui kalau siasatnya yang pertama itu telah gagal, karena itu ia akan mencoba dengan siasat yang kedua. Demikian  

penyerangan     yang     belakangan     ini,     untuk     itu     ia     mengeluarkan

kepandaiannya, yang telah dilatih puluhan tahun.

Mintaraga segera merasai perubahan silat lawannya, ia merasakan kalau tenaga lawannya itu seperti berubah dua kali lipat kekuatannya. Tentu saja ia tak sudi melawan keras dengan keras. Karena itu ketika lawannya bersikap keras, ia sebaliknya berlaku sangat lunak. Iapun mempergunakan pula kelincahannya.

Patih Udara sangat menakuti jari lawannya, yaitu pukulan Braholo Meta ketika ia melihat kalau lawannya telah berlaku sangat lunak. Karena kelunakannya inilah ia menjadi girang. Terang dengan begitu Mintaraga tak akan mempergunakan Braholo Meta. Karena itu ia percaya dengan segera saja ia akan dapat menyelesaikan tugasnya dan tercapailah maksudnya. Kemudian ia berpikir!

‘Jika dalam waktu lima atau enam ratus jurus aku tak dapat mengalahkan anak setan ini, apa lagi kalau orang-orang gunung Tangkuban Prau ini ikut turun tangan pula maka akan gagallah segala usahaku. Gagal total dan berantakan. ’

Oleh karena itu sambil bertempur ia lalu bersiul dengan nyaring. Mendengar bunyi siulan ini maka kelihatanlah burung Rajawalinya tampak terbang turun. Menyambar dari atas wuwungan rumah. Sungguh hebat sekali kedua burung rajawali itu, ia seperti mengerti apa jang dimaksudkan oleh majikannya. Dengan segera saja ia menyerang kearah Mintaraga. Dan yang diarah adalah biji matanya.

Untunglah Mintaraga ini mengetahui dan perasaannya tersentuh. Begitu ia mendengar suara siulan ini maka tahulah dia kalau tenaga burung akan segera dipergunakan. Dari itu segera ia siap sedia menerima serangan dari angkasa. Begitu pada waktu binatang itu menyambar, ia menyambut dengan ayunan tangannya, hingga dengan demikian melesatlah jarum-jarum senjata rahasia.

Burung yang terdepan tak dapat mengelak, sayapnya kena tertancap belasan buah jarum, maka gagallah serangannya. Sedangkan burung yang kedua dapat mengelak, setelah itu kembalilah ia maju untuk mengulangi serangannya. Celakalah siapa yang kena sabet atau cengkereman burung rajawali itu.

Dalam repotnya untuk mengalahkan Patih Udara sendiri, Mintaragapun harus membagi perhatiannya untuk ditujukan kearah burung-burung itu, sebab serangan kedua ekor burung itupun tak kalah saktinya. Ketika ia diserang untuk kedua kalinya, ia menyambut pula, akan tetapi kali ini bukannya dengan jarum rahasia, melainkan hanya dengan ilmu pukulan jarak jauhnya. Setelah binatang itu kena hajar, dia terpukul balik hingga sungsang sambel.  

Patih Udara menjadi kaget bercampur terharu, ia merasa kasihan kepada

binatang peliharaannya itu. Karena inilah ia menjadi cemas bercampur marah sekali.

Maka disaat orang sedang menyerang, belum lagi Mintaraga menarik pulang tangannya, ia membarengi menyerang dengan senjatanya. Kali ini ia menotok jalan darahnya.

Mintaraga juga pandai berpikir. Ia percaya kalau ketika baik itu tentunya tak akan dilewatkan dengan begitu saja oleh lawannya. Ia segera memasang mata dan kedua tangannya disiapkan. Begitu totokan tiba, ia lalu menangkis dengan keras, akan tetapi ketika kedua senjata itu beradu, ia merasakan kalau tangannya menjadi kesemutan, tubuhnyapun mundur beberapa langkah.

Patih Udara sebaliknya berseru didalam hatinya :

‘Bagus.’

Sebab ia percaya kalau akan dapat mempergunakan siasatnya. Ia tak tahu kalau baru saja ini Mintaraga kalah tenaga karena ia habis menghajar burung itu.

Patih Udara tak mau bekerja setengah-setengah. Segera saja ia bersiul kembali kedua burungnya yang akan terbang keatas setelah kedua-duanya merasakan hajaran dari pendekar muda yang berkepandaian hebat itu.

Binatang-binatang itu sungguh berani sekali, kembali keduanya muncul setelah mendengar suara panggilan. Saking tangguhnya kedua burung itu tak binasa. Hanya yang terluka dengan jarum tadi gerakannya kurang gesit. Sedang yang satunya masih tetap kuat karena ia tak terluka, tadi itu hanya berjungkir balik saja.

Kembali Mintaraga mengalami kesukaran. Kedua burung itupun menjadi cerdik! Sungguh untung baginya, karena hatinya sangat tabah. Sedikitpun ia tak takut ataupun keder menghadapi ketiga orang musuhnya itu. Ia berhasil menjaga diri dengan baik, hanya saja dengan bertempur secara ini ia tak dapat berbuat banyak.

Didalam rombongan Kembang Arum, mendadak saja terdengar sebuah jeritan yang melengking tajam. Setelah terdengar suara jeritan ini maka terdengar pula suara tubuh yang roboh. Ternyata orang keempat dari jago- jago Jipang Panolan telah tertabas kutung tangannya. Inilah disebabkan karena pendeta Panca Loka yang sombong dan berkepala gede itu tak memandang sebelah mata dengan kepandaian Kembang Arum, akibat dari kekurangan penjagaan serta pandangan rendah ini maka ia harus membayar dengan lengan tangannya.

Hampir bersama dengan itu Bagaspatipun kaget sekali. Sampai-sampai ia mengeluarkan keringat dingin. Sebab setelah menghajar pendeta Panca Loka, pedang gadis itu menyambar terus kearahnya, mengarah kebatang hidung. Untunglah baginya karena sewaktu ia terancam bahaya tiba-tiba saja  

ditolong oleh adik seperguruannya. Adik seperguruannya ini menyerang

dari samping kanan.

Kebetulan sekali datangnya dari kanan karena itu ia lalu berhadapkan dengan golok Kembang Arum, dengan segera saja gadis itu menangkis hingga kedua senjata itu beradu dengan keras.

Orang Jipang Panolan itu menjadi kaget sekali karena goloknya terlepas dari pegangannya dan terlompat mental. Untunglah gadis itu tak berpaling lagi kepadanya, gadis ini lebih mementingkan menghadapi Bagaspati, yang lolos dari lubang jarum.

Bukan main mendongkolnya hati orang Jipang Panolan yang nomor delapan itu. Ia menjadi penasaran sekali. Dengan tangan kosong ia melompat maju, melompat dengan kedua kakinya bersama-sama dan menyerang bersama pula. Tangan kirinya berupa kepalan dan tangan kanannya terpentang lebar. Ia mengarah kepunggung Kembang Arum yang sedang menyerang kearah Bagaspati.

“Adi hati-hati.” Seru Mandaraka memberi peringatan. Ia adalah orang ketiga dan terkenal paling tenang dan mengerti akan sifat-sifat adik-adik seperguruannya.

Kembang Arum tahu kalau ia sedang dibokong dari belakang. Ia tak mempedulikan tangan kiri lawannya yang berupa kepalan itu, ia hanya menusukkan pedangnya kearah tangan kanan yang sedang bergerak siap untuk menotok jalan darahnya. Tusukan itupun berupa sebuah totokan. Ternyata gerakannya ini berhasil hingga orang ke delapan itu roboh dengan seketika.

‘Dasar kau mencari penyakit sendiri.’ Seru Mandaraka dalam hati. Ia benar-benar mengumpat saudaranya yang telah berlaku sangat sembrono itu. Didalam hatinya orang Jipang ini berkata demikian, kenyataannya ia telah segera menyerang kearah Kembang Arum. Ingin ia membebaskan Bagaspati dari cengkeraman bahaya.

Dengan demikian dari pengepung-pengepung Kembang Arum itu, kini hanya tinggal dua orang. Melihat hal itu Bagaspati segera bersiul tiga kali untuk memanggil kawan-kawannya. Atas panggilan itu maka enam orang yang sedang melihat pertarungan diantara Patih Udara melawan Mintaraga terus enam orang menyerbu untuk membantu kakak seperguruannya yang pertama. Dengan begitu maka Bagaspati telah mendapat tambahan semangat. Karena itu ia lalu berkelahi dengan bengis sekali.

Ketika itu Dyah Kembang Arum dengan diam-diam melirik kearah rombongan. Ia mendapat kenyataan kalau Mintaraga hanya bermain mundur saja setelah dikepung oleh Patih Udara dan kadua ekor burungnya. Wirapati juga repot sekali setelah dikepung oleh Watu Gunung dan Watu Padas. Coba ia tak terluka tangannya tentu sekarang akan dapat melawan Watu Gunung dan Watu Padas. Karena luka itu ia lalu bermandikan peluh untuk melawan  

kedua orang bersaudara itu. Hanya Candra Wulan yang dibantu oleh

Baskara saja yang masih tetap berada diatas angin. Hampir pada saat itu juga, dengan sebuah tikaman ia membuat Kolo Maruto orang ketujuh belas itu roboh sambil menjerit keras. Hanya sayangnya setelah itu Baskarapun menyusul menjerit dengan nyaring :

“Aduh.”

Ternyata Baskara itu telah kena pukulan Julung Pujut hingga raja pencopet ini muntah darah segar. Julung Pujut adalah orang kedua dari jago- jago Jipang Panolan, tak mengherankan kalau ia hanya berada sedikit dibawah Bagaspati, dan karena itu pula tak sangat mengherankan kalau Baskarapun kalah dengannya. Memang ia sangat membenci kepada raja pencopet yang dianggapnya sebagai pengkhianat.

“Pengkhianat, masih untung sekali kau hanya terkena sebuah kepalanku.” Seru orang Jipang Panolan itu dengan mengejek. “Kau nanti akan merasakan pula kelanjutannya.”

Benar-benar jago dari Jipang Panolan itu akan mendesak terus kepada si raja pencopet, akan tetapi tentu saja Candra Wulan tak akan membiarkan kawannya itu didesak. Candra Wulan terus menikam kearah punggungnya. Dilain pihak orang kelima dari Jipang Panolan, yaitu Poncowolopun lalu menikam gadis itu dari samping. Candra Wulan melihat senjata lawan yang berkelebat itu, dengan luar biasa sebatnya ia lalu menabas kebelakang.

“Putus.” Serunya pula.

Sebagai akibat dari papasan dan seruan itu, Poncowolo menjadi kaget sekali. Ia bukannya berhasil dari bokongannya, bahkan membarengi suara... trang... yang keras, pedangnya telah terbabat kutung.

Julung Pujut tidak mempedulikan apa yang sudah terjadi itu, setelah bebas dari tikaman gadis itu, ia lalu melakukan penyerangan pula.

Candra Wulan telah memperoleh kemajuan yang pesat, disamping itu ia mendapat bantuan besar dari kecerdasannya. Ia insyaf bahwa disaat melainkan dia sendiri yang unggul, kerena itu ia Ialu mencoba mempergunakan ketika yang baik.

Untuk merobohkan musuh-musuhnya. Dengan jalan inilah ia akan Iebih meringankan tugas Mintaraga dan Wirapati yang sedang terdesak oleh kedua orang musuh-musuhnya.

Sewaktu Poncowolo tercengang. Candra Wulan mengulurkan tangan kirinya untuk menjambak jago Jipang Panolan yang nomor lima itu. Waktu itu telah mengerahkan tenaga dalamnya pada kedua lengannya menurut latihan Braholo Meta. Justru itu datanglah serangan Julung Pujut, yang hendak menuntut balas untuk saudaranya dan sekalian untuk menolong.

Ternyata Candra Wulan mengandung dua maksud tepat ketika serangan Julung Pujut tiba, ia memutar tubuhnya meninggalkan Poncowolo, sebaliknya dengan hebat ia menangkis serangan yang dilancarkan oleh  

Julung Pujut. Hebat sekali kesudahannya bentrokan kedua tangan itu, tubuh

Julung Pujut terlempar setombak lebih.

Poncowolo membuang napas lega ketika terlolos dari ujung pedang Candra Wulan sebab gadis itu membatalkan serangannya, akan tetapi sewaktu begitu, ia menjadi kaget sekali setelah melihat kakaknya yang nomor dua itu terbanting didekatnya. Segera ia membangunkan kakaknya yang nomor dua itu.

Julung Pujut roboh terbanting hingga pingsan, berkat pertolongan adik angkatnya, sesaat kemudian barulah ia sadar.

Wakru itu sembilan orang jago yang melihat pertarungan antara patih Udara melawan Mintaraga telah pecah, yang enam membantu Bagaspati dan yang tiga lagi setelah melihat Julung Pujut roboh tanpa diperintah lagi mereka ini lalu meluruk untuk mengeroyok Candra Wulan.

Maksud Candra Wulan ialah melabrak terus, akan tetapi setelah ketiga orang itu datang maka maksudnya menjadi terhalang. Baru beberapa jurus ia melayani mereka itu, tiba-tiba saja Poncowolo dan Julung Pujut telah maju lagi. Orang Jipang itu setelah mendapatkan tenaganya kembali menjadi sangat penasaran sekali. Dari itu ia sudah segera menyerang kembali.

Baskara terluka tak enteng saja, karena itu ia tak dapat ikut bertempur terus. Malahan sekarang ia menjadi pasien dari Sandung Lamur, yang mengobati dan membalut lukanya.

“Rikmo Dowo, marilah kita maju untuk membantu.” Akhirnya terdengarlah seruan Sandung Lamur. Ketua gerombolan Lampor Tugel ini benar-benar tak dapat berdiam terlebih lama lagi.

“Tak usah.” Jawab Rikmo Dowo ketua dari orang-orang Kalisari. “Kali ini Mintaraga pasti menang, bukankah mereka itu adalah musuh-musuh besar satu dengan lainnya? Jika kita membantu dia, ini berarti kurang tepat untuknya.”

Sandung Lamur menganggap kawannya itu benar, karena itulah ia lalu membatalkan niatnya untuk turun tangan. Bersama-sama, mereka jadi terus menonton. Untuk jago-jago Tangkuban Prau pertempuran ini adalah merupakan sebuah pertempuran yang menarik hati. Hingga tak ada diantara mereka yang membuka suara. Belum pernah mereka menyaksikan pertempuran semacam ini. Bahkan jarang sekali jago-jago kelas tinggi didunia kependekaran kelihatan bertempur dihadapan umum seperti ini.

Kembang Arum tetap mempertahankan kedudukannya yang lebih unggul dua rupa senjata yaitu pedang ditangan kiri dan golok ditangan kanan selalu berkelebatan tak henti-hentinya. Bahkan sinarnya terus berkilau-kilauan. Ia melawan pengeroyoknya sendirian saja, akan tetapi karena kedua senjatanya ini maka ia seperti dua orang yang dengan dua kepandaian dan dapat bekerja sama dengan baik sekali. Gerakannyapun sangat lincah sekali.  

Dipihak jago-jago Jipang Panolan yang terhebat adalah Bagaspati akan

tetapi yang paling penasaran adalah Mandaraka orang ketiga yang bersenjatakan cambuk lemas, kalau Bagaspati menyerang dengan langsung, orang ketiga ini hanya turun tangan kalau ia melihat kesempatan lowong. Demikian paling belakang Bagaspati telah menikam tenggorokan Kembang Arum.

Kembang Arum telah berpikir masak-masak dimana musuhnya telah berjumlah besar, untuk merebut kemenangan ia harus mendapatkan lowongan. Untuk mendapat lowongan terlebih dahulu ia harus memancing. Pikiran ini telah segera diwujudkan.

Dua kali Kembang Arum melakukan penyerangan, kedepan dan kebelakang. Untuk itu tubuhnya tak bergerak, hanya kedua tangannya saja yang memainkan senjata. Dua-duanya keras lawan keras.

Bagaspati berlaku keras juga akan tetapi pedang ditangannya kurang lincah. Senjatanya yang utama adalah tongkat, namun berkat kegagahannya ia dapat berkelahi dengan tepat dan tangguh. Begitu ketika tikaman datang ia mengelak, lalu menyusul itu, ia membalas menikam bahu kiri lawannya.

Biar bagaimanapun juga gerakan orang pertama dari jago-jago Jipang Panolan itu kurang cepat.

“Tak.” Demikianlah terdengar sebuah suara yang sangat nyata. Kembang Arum telah mewujudkan apa yang telah dipikirnya. Ia melihat datangnya pedang, ia menganggap inilah saat yang ditunggu-tunggunya. Ia menyambut dengan pedangnya, atau pedang lawannya terpapas kutung.

Ketika itu Mandaraka menyerang pula, akan tetapi ia tak mendapatkan maksudnya. Gadis itu telah keburu mengelak. Didalam hal senjata orang Jipang itu menang unggul. Cambuknya itu tangguh luar biasa, tak gampang dibabat putus. Sebaliknya saking panjangnya senjata sering kali melilit dan ujungnya mengancam lawan.

‘Aku harus berhasil.’ Pikir Mandaraka, yang mendapat kenyataan beberapa kali lawannya tidak berdaya terhadap senjatanya itu. Ingin ia melibat senjata musuh kemudian menarik keras-keras hingga terlepas. Demikianlah ia menanti saat yang baik.

Kembang Arum adalah seorang yang berpikiran cerdas, karena itu ia dapat menerka apa maksud lawannya. Karena itu iapun akan segera mempergunakan siasatnya.

Sekali maka datanglah saat yang dinanti-nantikan. Gadis itu menyerang, sedangkan Mandaraka menyambut. Kedua senjata itu bentrok dan pedangnya terlibat oleh cambuk. Justru itu Kembang Arum memperdengarkan suara yang halus tetapi nyaring dengan itu ia mengerahkan tenaganya.

Luar biasa sekali setelah bentroknya kedua senjata itu. Mandaraka menarik keras-keras menuruti siasatnya. Akan tetapi Kembang Arumpun tak  

berdiam diri saja. Kembang Arum segera memasang kuda-kudanya yang

kokoh dan teguh, ia membuat tubuhnya berat dan antap. Bersama dengan itu tenaganya bekerja. Maka itu bukannya pedang Kembang Arum yang terbetot lepas, tubuh Mandarakalah yang terangkat naik, dan disaat tubuh itu belum turun ketanah, Kembang Arum membetot dengan keras. Dan kali ini terlepaslah cambuk itu dari pemiliknya.

Sewaktu ia seperti berada diatas udara, Mandaraka tak dapat menguasai dirinya lagi. Ia sebenarnya sudah mesti turun, tetapi ia kena terbetot disaat ia mencoba mempertahankan cambuknya, dengan begitu tubuhnya tertarik.....