Tunggul Bintoro Jilid 17

 
JILID XVII

HATI Kembang Arum menjadi gentar ketika menyaksikan akibat serangan raksasa itu.

Memang waktu itu seperti juga tak tahu dari mana datangnya, tiba-tiba saja kedua orang raksasa lainnya telah tiba pula dimedan pertempuran. mereka mendengar suara berisik, mungkin mereka sadar sendiri, kemudian melihat kalau kawannya tak ada, kemudian mereka lalu keluar dari lubang perlindungan. Hingga dengan demikian maka mereka melihat kawannya, begitu melihat lalu lari menghampiri.

Candra Wulanpun menjadi terkejut ketika melihat kedatangan kedua orang raksasa itu, apa lagi setelah melihat kalau raksasa yang bercelana putih itu segera berdiri dihadapannya. Orang ini mirip dengan sebuah menara besi.  

“Dara yang cantik, hendak lari kemanakah kau?” Seru si raksasa yang bercelana putih. Kedua tangannya segera dipentang hingga merupakan sebuah supit, seakan-akan tangan inilah nantinya yang akan menggenggam tubuh sang dara. Dilain pihak Bereum yang berada dibelakangnyapun telah bergerak maju, seakan-akan kedua raksasa ini seperti hendak menggapit.

Kembang Arumpun menjadi cemas sekali hatinya. Gadis ini sangat mengkhawatirkan keselamatan kawannya. Dengan segera dan tanpa ragu- ragu lagi ia lalu menghunus pedangnya. Begitu pedang terhunus, ia lalu melemparkan kearah Candra Wulan. Hanya sebelum lagi ia sampai kepada calon iparnya itu, ia lalu mendengar suara yang nyaring dengan disusul

robohnya kedua raksasa itu bagaikan runtuhnya pilar emas. Akan tetapi rupa-rupanya kerobohan mereka ini hanya siasat belaka dan tahu-tahu telah berdiri lagi seperti tadi.

Didalam saat yang mengancam ini Candra Wulan masih dapat mengeraskan hatinya dan bertindak gesit sekali. Didepan dan belakang ada musuh mengancam, baginya jalan yang terbuka tinggallah kekiri ataupun kekanan. Akan tetapi disitu terdapat dua tangan raksasa yang kelihatan kuat dan terpentang. Kalau ia molompat, banyak kemungkinan tubuhnya akan kena dijambret. Ia lalu ingat siasatnya tadi. Meloloskan diri dari selakangan lawan. Cepat luar biasa ia bergerak terus jongkok, setelah itu ia bergerak dengan jurus burung elang laut menyambar ombak, meleset dengan cepat diantara kedua kaki lawannya.

Kedua orang raksasa itu menerjang dengan bersama, kedua-duanya bernafsu sangat keras sekali. Karena begitu cepatnya maka kedua tubrukan itu tak mengenai sasarannya. Mereka tak dapat menguasai tubuh mereka, keduanya saling bertubrukan. Tanpa ampun lagi bagaikan dua buah balok roboh, keduanya mental kebelakang, terjengkang dan jatuh terbanting sendiri.

Kembang Arum menjadi bergembira bukan main, kembali ia menyimpan pedangnya, terus saja gadis ini bertepuk tangan bersorak sorai dengan ramai sekali. Bahkan lalu berteriak :

“Bagus... bagus... elakan yang amat bagus dan ilmu menjatuhkan diri yang amat hebat.”

Kedua orang raksasa ini adalah orang-orang yang tangguh. Mereka roboh tetapi keduanya segera dapat melompat bangun kembali.

Lalu mereka berkaok-kaok saking gusarnya. Mereka segera meraba keningnya yang terdapat benjol besar, sebesar telur bebek. Hal ini disebabkan karena benturannya tadi dengan kawannya sendiri.

“Hai Dudung Kertadrya, kau gila!” Seru raksasa bercelana merah itu sambil menudingkan telunjuknya kearah kawannya menjadi merah karena jengah sekali.

Dudung Kertadryapun mukanya menjadi merah karena malu dan rasa penasarannya.

“Aku hendak membantumu.” Katanya dengan setengah mendongkol setelah dikatakan gila oleh kawannya. “Gadis ini sangat licik dan gesit.”

“Tak tahu malu.... tak tahu malu ! Teriak Bereum kepada kawannya.

Memang harus diketahui pula kalau watak serta tabiat orang-orang pribumi ini selalu berkelahi satu lawan satu. Kemenangan yang didapatkan dengan secara mengeroyok itu tak menjadikan perasaan senang dihatinya. Hanya kemenangan yang menerbitkan kemaluan saja.  

Candra Wulan tertawa didalam hatinya melihat kedua orang raksasa ini

saling berselisih.

“Kalian jangan membuat banyak berisik.” Katanya kepada mereka itu. “Bereum apakah kau masih mengajak berkelahi lagi?”

“Hem...!” Hanya inilah yang dapat dikeluarkan oleh si raksasa yang bercelana merah.

“Dan kau?” Tanya Candra Wulan sambil menunjuk kearah Dudung Kertadrya.

Orang yang ditantang ini hanya diam saja, mukanya merah dan kepalanya tunduk, namun jelas sekali ia menjadi gusar marah dan jengah sekali. Memang ini telah menjadi kebiasaan dari orang-orang pribumi yang tinggal disekitar gunung Tangkuban Prau, sekali ia jatuh dan kalah maka untuk selanjutnya ia tak diperkenankan maju lagi.

Candra Wulan memandang kearah muka musuhnya itu, segera gadis ini dapat menerka. Maka sambil tertawa ia lalu berkata.

“Aku adalah orang-orang dari Jawa Tengah, maka kau boleh bertempur menurut tata cara Jawa Tengah, biarpun kau telah kalah akan tetapi kalau kau masih penasaran maka kau boleh menyerang lagi. Kami orang-orang Jawa Tengah biasa kalau yang banyak mengepung yang sedikit yang roboh bangun lagi karena itu sekali lagi kuberi kelonggaran kepada kalian kalau tetap akan main-main denganku. Misalnya kalian akan maju bersama-sama akupun tak akan keberatan atau takut.”

Sengaja Candra Wulan menantang demikian ini, memang ia sedang memancing-mancing kemarahan orang itu. Disaat itu ia telah mendapat sebuah pikiran yang bagus untuk mengalahkan kedua orang raksasa yang tinggi besar itu.

Mendengar perkataan Candra Wulan ini maka kedua orang raksasa itu menjadi girang bukan kepalang.

“Baiklah.” Seru mereka dengan serempak. “Inilah namanya kau yang mencari penyakit sendiri.”

Setelah itu maka keduanya lalu maju untuk menyerang kepada si gadis manis itu.

“Tunggu dulu.” Seru raksasa yang bercelana hijau. “Tunggu aku hendak melawannya terlebih dahulu.”

“Dia sendiri yang menantang akan tetapi bukannya aku yang merusak peraturan kita.” Seru Bereum. “Ini toh tak ada sangkut pautnya dengan kau?”

Keras aturan pertempuran orang-orang pribumi ini, meskipun demikian kalau lawan yang menyarankan sesuatu, aturan ini dapat dikecualikan. Karena itu tak sangat mengherankan kalau Bereum ini tak menyetujui si celana hijau ini.

Mendengar ini si celana hijau lalu tertawa.  

“Bereum, kau ini seorang yang gagah perkasa akan tetapi kau ternyata

bukan seorang yang cerdik.” Katanya. “Gadis ini sudah terang kalau mencari mampusnya sendiri. Kalau dua orang atau tiga orang menghajarnya maka itu akan sama saja bukan?”

Mendengar perkataan ini Bereum menjadi sangat girang.

“Baiklah Marakacan, aku menyambutmu dan menyetujui akan usulmu tadi.” Katanya.

Sampai disini maka ketiga orang raksasa ini lalu berdiri mengurung Candra Wulan, mulut mereka terdengar berteriak dengan nyaring dan memanggil serta menantang Candra Wulan untuk segera memulainya.

Candra Wulan tetap bersikap sangat tenang, hanya matanya saja yang kelihatan berputar-putar untuk mengawasi sekitarnya. Ia mendapatkan Kembang Arum menjadi tegang setelah menyaksikan kalau dirinya dikurung, sedangkan Baskara si Hasto Piguno sebaliknya malah tersenyum- senyum. Melihat sikap si raja pencopet itu ia segera bertanya :

“Baskara beranikah kau bertempur melawan ketiga orang kerbau dungu ini?”

Dengan suara nyaring Baskara segera menjawab pertanyaan itu : “Seorang lelaki menghadapi gunung golok dan sebuah kuali yang berisi

minyak mendidih tak akan berubah wajahnya. Kalau harus menghadapi tiga orang kerbau-kerbau dungu ini apakah yang harus ditakutkan?”

Candra Wulan menunjukkan jempolnya ketika melihat dan mendengar sikap kawannya itu.

“Kau benar seorang laki-laki.” Serunya. “Marilah kau wakili aku, hendak kulihat dengan cara bagaimanakah kau akan menelanjangi tiga orang edan yang sangat dungu ini.”

Dengan tenang Baskara memberi jawaban :

“Aku orang gunung tentu saja akan mempergunakan siasatku sendiri. Untuk menghajar kerbau dungu, kecerdasanlah yang harus diadu, bukan tenaga belaka. Tiga kerbau dungu ini memang kuat sekali tenaganya akan tctapi kalau kita membicarakan tentang kecerdikan, mereka itu tak ada sepersejuta kalau dibandingkan dengan kecerdikanku.”

Candra Wulan tersenyum. Mendengar jawaban ini maka gadis ini telah mengira kalau kawannya ini tentunya telah mempunyai pegangan untuk dapat mengalahkan ketiga orang pribumi itu, karena itulah ia segera melompat keluar gelanggang dengan hati yang lega.

“Raja copet, sejak kapankah kau melatih lagak lagumu ini?” Katanya. Baskara melompat masuk kedalam gelanggang untuk menggantikan

Candra Wulan. Sambil tertawa lebar ia lalu menjawab dengan tenang dan seakan-akan telah yakin dengan kemenangannya.  

“Kau sendiri mempunyai senderan kakakmu yang berdiri disampingmu

itu, akan tetapi aku tidak, namun demikian aku tetap akan melaksanakan apa perkataanku dan kau lihatlah! Akan tetapi jangan kau tertawakan aku.”

Ketiga orang raksasa itu mendongkol ketika mendengar lawannya saling bergurau. Hingga mereka kembali berkaok-kaok. Bereum berteriak dengan keras dan suaranya serak :

“Aku tak akan peduli kau ini perempuan atau lelaki, baik ataupun jahat, akan tetapi kau telah mencari penyakit sendiri, nah rasakanlah, lalu ia melompat dan menerjang kearah Baskara.

“Sungguh berbahaya.” Seru Baskara dengan menjerit. Akan tetapi raja pencopet ini sungguh-sungguh telah mengelakkan kepalanya.

Bereum marah bukan buatan, ia segera mementang kedua lengannya, kembali ia menyerang dengan ganas.

Baskara tak berani melayani keras melawan keras. Ia terus menerus mengelakkan dan berjumpalitan serta berlompatan kesana kemari mengandalkan kelincahannya. Senantiasa menjauhkan diri dari serangan- serangan lawannya itu.

Diantara ketiga orang raksasa itu hanya Bereumlah yang paling berangasan. Karena itu dalam penasaran dan marahnya, ia lalu berkelahi sambil berkaok-kaok dengan keras. Biarpun Bereum mempunyai tenaga besar dan gesit akan tetapi kelincahannya tak dapat menandingi raja pencopet ini. Tak dapat ia mengumbar hawa amarahnya untuk menghajar raja pencopet itu hingga babak bundas.

Setelah bertempur seperti main gobag sodor dan sekian lamanya, habislah kesabaran Bereum. Ia lalu menegur kedua orang kawannya.

“Dudung Kertadrya dan kau Marakacan! Apakah kalian hanya sedang menonton saja?”

Kedua orang kawannya ini memang hanya menonton saja, mereka itu berdiam diri ketika melihat cara bertempur lawannya itu, maka mereka lalu menjadi kaget sekali setelah ditegur oleh kawannya. Dengan tak ayal lagi ia lalu membantu kawannya dan mulai maju mengeroyok Baskara.

Kali ini pertempuran kelihatan menjadi semakin lucu, Baskara yang kelihatan cebol terus lari berputar-putar. Berkali-kali ia berlompatan kesana kemari untuk menyerang dan menangkis, hingga setiap kali ada bahaya yang mengancam jiwanya orang ini pasti dapat menghindarkan dengan manis.

Candra Wulan tertawa berulang-ulang, kedua tangannya bertepuk dengan tiada henti-hentinya. Iapun lalu berteriak :

“Bagus.... bagus !”

Beda dari kawannya itu, Kembang Arum menjadi mengerutkan keningnya. Ia sangat mengkhawatirkan keselamatan Baskara, khawatir kalau nanti raja pencopet ini akan kesalahan tindak. Kesalahan setindak saja ini artinya bahaya.......  

“Eh   ayu   Kembang   Arum.”   Seru   Candra   Wulan   dengan   tertawa.

“Baskara toh bakal menang. Apakah benar kau tak dapat melihatnya?” “Bagaimana pandanganmu itu?” Kembang Arum balik bertanya. Diam-

diam ia telah menyiapkan senjata rahasianya untuk menolong Baskara kalau kawannya itu terancam bahaya.

“Heran, sungguh mengherankan kalau kau masih tak dapat melihatnya.” Seru Candra Wulan. “Mereka telah bertempur sekian lamanya Baskara jangan kata tubuhnya, bajunya saja tak dapat dijamah oleh para lawannya itu. Bukankah itu tandanya kalau sebentar lagi tentu Baskara akan mendapat sebuah kemenangan?”

“Akan tetapi kau harus ingat adikku, kalau ketiga raksasa itu mempunyai tenaga yang besar. Kalau Baskara kena dihajar sekali saja maka itu artinya nyawanya akan habis......!” Seru Kembang Arum dengan tanpa menoleh lagi.

Sewaktu kedua orang gadis ini bercakap-cakap pertempuran tetap berjalan dengan ramai. Tubuh Baskara melintas pergi datang diantara ketiga tubuh yang tinggi besar bagaikan gunung-gunung anakan itu. Ia seperti kupu-kupu yang sedang bermainan diantara bunga-bungaan.

Bereum bertiga menjadi penasaran bukan main. Hati mereka panas sekali. Kecuali mereka tak sanggup membentur saja baju lawannya Baskarapun jail sekali, ia telah mempergunakan tangannya untuk menggerayangi muka lawannya, ia tersenyum dan kadang-kadang menyeringai sambil tertawa hahahahihihi.....

“Kau main lari saja, apakah ini namanya bertempur?” Tegur Bereum. “Kalau kau benar-benar pemberani berdirilah diam.”

Baskara tertawa.

“Baik... baik...!” Katanya. “Mengapa tidak bisa?” Dia lalu berhenti berlari.

Dalam murkanya yang berlebih-lebihan, Bereum melompat maju dan melontarkan sebuah serangannya. Tubuhnya yang besar menubruk bagaikan sebuah menara roboh. Baru saja ia menubruk. Segera saja ia merasakan kalau ketiaknya menjadi gatal. Sangat tak enak rasanya, terus saja ia tertawa dengan tiada henti-hentinya.

“Lihat ayu.” Seru Candra Wulan dengan bertepuk tangan. “Inilah yang kumaksudkan dengan kemenangan.”

Kembang Arum telah melihat nyata sekali, iapun mendengar suara tawa Bereum, keras berisik mirip dengan suara guntur yang menyambar nyambar dengan dahsyat. Sedangkan Dudung Kertadrya dan Marakacan berdiri bengong. Mereka tak tahu mengapa kawannya itu tertawa sedemikian rupa, hingga mereka menyangka kalau Bereum tiba-tiba menjadi gila mendadak....

Akhirnya Marakacan melompat, menyerang kearah Baskara, sementara itu Baskara sedang mengawasi kearah Bereum sambil tertawa-tawa. Tangan  

kanannya baru diangkat dan ia merasakan gatal-gatal, karena perasaan gatal

ini tak dapat ditahan lagi maka ia lalu tertawa-tawa lebar. Tertawa berulang- ulang. Hingga dengan demikian maka Marakacanpun menjadi seperti kawannya. Sebab kedua-duanya adalah penggelian.

Kembang Arum tertawa menyaksikan kelicinan si raja pencopet yang telah bertobat itu.

“Apakah kau melihat setan?” Tegur Dudung Kertadrya kepada kedua orang kawan-kawannya, kelakuannya membuat ia menjadi heran bukan main. Selain heran Dudung Kertadryapun menjadi mendongkol. Maka itu sambil berlompatan, ia menerjang kearah Baskara.

Melayani raksasa ini Baskarapun harus mempergunakan siasat pula, siasat yang telah disempurnakan dengan baik-baik. Maka Dudung Kertadryapun tiba-tiba ikut-ikutan menjadi tertawa-tawa. Tertawa menyusul kedua orang kawannya tadi. Hingga dengan sekarang ketiga-tiganya menjadi tertawa dengan tidak sebab-sebabnya.

Pertempuran tak berhenti sampai disitu saja. Ketiga orang pribumi ini melanjutkan pengepungannya terhadap Baskara. Mereka menjadi sangat penasaran.

“Ketawa... ketawa...!” Seru Baskara sambil tersenyum. Ia menyelusur pula, mengitik-itik mereka dengan bergantian.

Ketiga raksasa itu tertawa, sendiri-sendiri tanpa kehendak mereka. Mereka tertawa lama hingga lama kelamaan menjadi lemas sendiri. Lama- lama merekapun menjadi lelah.

Bereum menjadi merah mukanya dan juga kupingnya. Sambil mengubar ia menuding kearah Baskara.

“Kau... huahaaaa... huahaaaa... huahaa...! He... tikus cilik... Huahaaaa... huahaaaa... huahaaa... Awas!” Lalu ia menerjang.

‘Inilah waktunya!’ Pikir si raja pencopet. Ia lalu menangkis, sebelah kakinya terus dikeluarkan untuk menyapu kawanan raksasa itu. Ia telah mengumpulkan tenaga dikakinya itu. Serangannya menjadi hebat.

Bereum sedang tertawa ketika kakinya kena disapu oleh Baskara, tanpa ampun lagi, bagaikan orang kesandung, tubuhnya terjerumus kedepan lalu jatuh terpelanting. Hingga dengan demikian maka debu berkepul keatas tinggi-tinggi. Dia rebah bagaikan badan seekor gajah.

“Bagaimana kerbau dungu?” Apakah kalian berdua masih berani bertempur terus?” Tanya Baskara kepada dua orang lawannya yang lain. Iapun berkata sambil tertawa. Lebih dahulu dari itu ia telah mengitik-itik mereka.

Dadung Kertadrya dan Marakacan menjadi tertawa-tawa dengan lebar. “Huahaaaaa... Huahaaa... Huahaa... siapakah yang takut kepadamu?...

Huahaaa... Huahaha... Huahaaaa...” Mereka tertawa pula dan hampir bersamaan mereka ini lalu maju dari kanan dan kiri.  

Baskara menangkis pula, dan kembali ia mempergunakan kakinya

terlebih dahulu ia menggaet kaki Marakacan, hingga raksasa itu roboh terguling tanpa ampun lagi, setelah itu ia mencelat kesamping untuk menyambar kaki Dudung Kertadrya, hingga nasib raksasa ketiga inipun persis seperti kawan-kawan mereka yang terdahulu. Mereka roboh akan tetapi mulut mereka masih tetap tertawa dengan lebar.

“Aduh...!” Teriak mereka disela-sela suara tawanya.

Ketiga orang raksasa ini bergulingan sebelum mereka dapat bangun kembali. Diantara mereka itu masih ada yang tertawa-tawa.

Baskara berdiri sambil tertawa, matanya mengawasi kearah tiga orang lawannya itu.

“Bagaimana?” Tanyanya. Terus saja ia tertawa dengan terbahak-bahak. “Bagaimanakah dengan caraku ini? Huahaaaa.... Huahaa.... Huahaaaa......

Bagus tidak? Hauhaaaa... Huahaaaahahaa... Huahaa Toh bagus bukan?”

Kembang Arum dan Candra Wulan kembali ikut tertawa. Memang mereka menjadi gembira setelah melihat kejenakaan dari si raja pencopet yang telah pensiun itu.

Bereum dan kedua orang kawannya lalu memandang kearah Baskara. “Orang cebol, kau ini mempergunakan akal muslihat.” Katanya

menegur kepada Baskara. “Kau bukannya seorang laki-laki.”

“Siapa yang mengatakan kalau aku bukan laki-laki. Kau lihat sendiri kalau aku mempunyai susu kecil seperti laki-laki dan akupun mempunyai kemaluan yang seperti kepunyaan laki-laki lainnya. Heh pokoknya kau adalah petunjang-petunjangku.” Seru Baskara dengan gembira dan sedikit mengejek kearah lawan-lawannya. “Apakah kau masih akan bertempur lagi? Apakah kalian tak malu?”

“Kau mempergunakan akal, aku kalah akan tetapi memang terus terang saja kalau aku tak puas dengan kekalahan ini.” Teriak Bereum.

Disampingnya ada sebuah batu besar, ia lalu memukul batu itu dengan mempergunakan tinjunya. Maka pecahlah batu itu. Lalu katanya dengan mementang dadanya :

“Jika kau dapat memukul pecah batu ini, barulah aku mau mengakui kalau aku memang benar-benar kalah dan menjadi petunjangmu hati orang cebol.” Sekarang ia lalu menyambar sebuah batu lain dan melontarkan dihadapan mereka.

Batu itu besar dan berat, melihat ini maka Baskara menjadi ragu-ragu sekali.

“Kau tak berani? Hauhaaaa..... Huahaaaaa..... Huaaa.....!” Seru Bereum dengan tertawa. “Kau lihat sebenarnya, siapakah yang lebih tangguh diantara kita. Huahaaaaa... Huahaaaa... Huahaa !”

Baskara tetap berdiam diri, begitupun Candra Wulan dan Kembang Arum yang sedang berpikir untuk mencari akal.  

“Baskara kau pikirkanlah sebuah daya.” Seru Candra Wulan dengan

berbisik.

Baskara menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Namun sekian lamanya ia masih tetap berdiam diri.

“Kalian hanya pandai mempergunakan akal melulu. Kau bukannya seorang laki-laki tulen.” Seru Dudung Kertadrya yang turut mengejek. “Sekarang kau lihatlah kepandaian Dudung Kertadrya.”

Raksasa itu berkata sambil menepuk-nepuk dadanya. Terus saja ia bertindak menghampiri batu itu, akan tetapi dia bukannya segera menyerang seperti Bereum tadi melainkan dia hanya mengangkat tinggi-tinggi dengan kedua tangannya. Kelihatan kalau Dudung Kertadrya telah mengerahkan otot-ototnya untuk digunakan, dan hal ini kelihatan dengan nyata. Ternyata raksasa ini ingin mengejar batu besar itu dengan tamparannya. Tamparan sebelah tangan saja.

“Tahan.” Tiba-tiba saja terdengar seruan cegahan. Lalu muncullah dua orang diantara mereka itu.

Kedatangan kedua orang ini ternyata membuat hati Baskara, Candra Wulan dan Kembang Arum menjadi lega sekali. Sebab mereka yang datang ini bukan lain adalah Mintaraga dan Wirapati.

“Siapakah kau ini?” Tanya Dudung Kertadrya yang terus membatalkan niatnya untuk menampar batu itu.

“Jangan kau bertanya dulu sahabat.” Jawab Mintaraga sambil tertawa. Mata pemuda ini terus menatap tajam-tajam kearah batu yang sedang dipegang oleh Dudung Ketadrya itu.

“Aku hendak bertanya kepadamu, andaikan aku dapat memukul pecah batu ini maka kau takluk tidak kepadaku?”

Dudung Kertadrya masih memandang kearah Mintaraga, hingga dengan demikian ia melihat dengan tegas sekali pemuda ini. Kulitnya putih dan romannya tak menunjukkan kebengisan sama sekali.

“Hem...!” Ejeknya. “Bocah bau, apa bila benar-benar kau dapat memukul pecah batu ini. Dudung Kertadrya nanti akan memberi hormat kepadamu sambil mengangguk-anggukkan kepala.”

“Dan nanti aku Bereum akan memanggilmu dengan sebutan bapa tiga kali kepadamu.” Seru raksasa celana merah itu dengan setengah mengejek. “Huahaaaa... Huahaaaa... Huahaaaa...”

Mintaraga segera mendekati batu itu sambil mengusap-usap.

“Untuk memukul pecah batu sebesar ini dengan sekali pukul memang sangat sulit sekali...” Katanya.

“Memang!” Seru Bereum dengan tertawa, ia sangat percaya kalau pemuda yang berada dihadapannya ini tentu tak mampu memukul pecah batu lanang yang besar itu. “Dimata kami penduduk asli gunung Tangkuban Prau, memecah batu ini dengan sekali pukul adalah pekerjaan yang sangat  

mudah. Mudah semudah memijit wohing ranti. Biarpun kalau dimata kalian

tentunya akan merupakan sebuah pekerjaan yang amat berat. Berat bagaikan menegakkan benang basah...”

“Belum pasti sahabat.” Kata Mintaraga kemudian. “Biarlah nanti aku akan mencobanya.”

Setelah berkata demikian ia menekuk sedikit dengkulnya, kedua tangannya diangkat tinggi-tinggi, agaknya ia hendak mengerahkan semua tenaganya, mukanya menjadi kemerah-merahan.

Candra Wulan manjadi tertawa ketika melihat aksi kakak angkatnya ini, seketika itu juga terbayanglah wajah ayah angkatnya kalau sedang menarik tambang layar perahunya dahulu. Seorang ayah angkat yang amat baik dan menyayangnya dengan sepenuh hati.

Tiba-tiba saja terdengarlah suara Bereum.

“Tunggu!” Serunya. “Untuk membuktikan pekerjaan ini harus dijalankan dengan sungguh-sungguh maka kita mau tak mau harus bertaruh dulu, apakah kalian berani?”

“Bagus.” Seru Candra Wulan dengan girang. “Kalau batu ini dapat dipukul pecah maka kau harus mengangguk-angguk pula tiga kali kepadaku dan memanggilku dengan sebutan eyang putri. Maukah kau?”

Tanpa bersangsi sedikitpun juga Bereum menepuk dadanya menerima baik perjanjian itu.

“Eh... Dudung Kertadrya, apakah kaupun berani bertaruh pula kepadaku dalam hal ini?” Tanya Kembang Arum kepada raksasa yang bercelana putih itu.

“Mengapa tidak?” Jawab orang yang ditantang itu. Bahkan jawaban ini diberikan sambil tertawa lebar. “Misalnya kau akan mempertaruhkan gunung Tangkuban Prau inipun aku akan menerimanya.”

“Pertaruhanku ini luar biasa.” Seru Kembang Arum menjelaskan. “Jika aku menang maka aku akan mengajukan tiga buah pertanyaan dan kuharapkan kau akan menjawab dengan sejujur-jujurnya.

Semua orang menjadi tertawa setelah mendengar sebuah pertaruhan yang benar-benar luar biasa dan jarang terjadi itu.

“Baik... baik aku menerima baik pertaruhan ini.” Jawab Dudung Kertadrya sambil tertawa pula.

“Kalau aku kalah maka aku akan menyerahkan golok dan pedangku ini, apakah kau setuju?” Tanya Kembang Arum menegaskan.

Dudung Kertadrya lalu memandang kearah Kembang Arum dan dipinggangnya tergantung sebatang golok dan pedang yang mengeluarkan cahaya gemerlapan.

“Baik... baik sekali.” Serunya dengan kegirangan.

Bereum dan Marakacanpun agaknya kagum dan mengilar ketika melihat kehebatan kedua senjata itu.  

Biasanya kalau penduduk pribumi dari Tangkuban Prau ini mengadu

gulat maka banyaklah taruhan-taruhannya, akan tetapi semua taruhan yang paling dihargai adalah alat-alat senjata dan senjata itu dimata mereka lebih dihargai dari pada emas ataupun perak.....

“Kalian semua telah mendapat tandingan, bagaimanakah denganku?” Seru Baskara. “Eh, Marakacan, beranikah kau bertanding melawanku? Maksudku bertaruh!”

Marakacan miringkan kepalanya. “Kau toh si bocah busuk?” Katanya.

“Memang.” Katanya dengan tersenyum. “Akan tetapi apakah kau ini seorang yang sedap dipandang?” Jawabnya dengan membalikkan ejekan itu. “Baiklah.” Seru raksasa yang bercelana hijau itu. “Apa juga yang kau pertaruhkan akan kuterima dengan baik. Kau hendak mempertaruhkan apa

silahkan keluarkan aku akan melihatnya.”

Baskara merogohkan tangannya kedalam sakunya dan keluarlah serenteng mutiara-mutiara mustika, semuanya dua puluh empat butir, besarnya sebesar buah kelengkeng, cahayanya bersinar diwaktu malam.

Mintaraga menjadi heran ketika melihat kalau Baskara mempunyai barang yang seindah dan semahal itu. Didalam hatinya ia bertanya darimanakah raja pencopet ini mendapatkannya.

“Marakacan, tahukah kau akan harga mutiara ini?” Tanya Baskara kepada orang penduduk pribumi Gunung Tangkuban Prau itu sambil mengangkat tinggi-tinggi mutiara itu. Bahkan terus diombang-ambingkan hingga cahayanya menjadi semakin gemerlapan.

Marakacan tak tahu berapa harganya mutiara-mutiara yang besar dan banyak itu.

“Aku tak tahu.” Jawabnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Barang ini adalah sebuah pusaka dari Jipang Panolan.” Seru Baskara

memberi tahu. “Kalau kau mau mengetahui asal usulnya, inilah warisan dari Pangeran Sedo Lepen ayah atau leluhur dari adipati Ario Penangsang. Ketika dahulu Pangeran Sedo Lepen memimpin pasukan Demak menyerang kedaerah Wengker, dia lalu merampas barang ini dari istana kerajaan Wengker. Kalau kita sekarang hendak membicarakan tentang harganya, dahulu saja raja Pajajaran akan menukarnya dengan empat buah kota. Namun Pangeran Sedo Lepen minta ditukar dengan sepuluh buah kota, satupun tak boleh kurang. Bahkan belakangan raja Pajajaran akan menukarnya dengan sembilan buah kota. Akan tetapi pangeran Sedo Lepen tetap menggelengkan kepalanya. Ini terjadi waktu jaya-jayanya kerajaan Pajajaran Kuno, kerajaan besar di Jawa Barat yang beribu kota di Pakuan.”

Marakacan menjadi terkejut.

“Itu tak sanggup aku mengantinya.” Katanya.  

Baskara lalu menyimpan kembali mutiaranya. Ia tertawa dan terus

berkata pula.

“Karena aku telah yakin kalau aku akan menang, maka suka aku memberi kemurahan kepadamu. Sepuluh kota tentu saja kau tak akan mempunyai kalau lima ekor gajah bagaimana?”

Marakacan agak heran dan segera ia berpikir.

“Kita bertiga cuma punya tiga ekor gajah...” Katanya.

Namun tiba-tiba saja ia disentak oleh Bereum dengan suara yang menggeledek bagaikan guntur.

“Marakacan, kau sungguh memalukan sekali!” Serunya, setelah itu ia lalu berpaling kearah Baskara dan berkata :

“Orang cebol kuterima syarat-syaratmu itu. Serenteng mutiara ditukar dengan lima ekor gajah yang biasa menjadi tunggangan kami. Huahaa... Huahaaa... Huahaa... Dua puluh empat butir mutiara dibagi rata kita bertiga, maka setiap orang akan mempunyai delapan buah. Ini artinya akan sama saja dengan mempunyai tiga buah kota.”

Raksasa ini demikian gembira hingga ia melamun dan terus tertawa lebar.

“Bereum, ternyata kau pandai menghitung.” Seru Baskara. Memang raja pencopet ini sangat cerdik hingga begitu mendengar saja ia telah tahu. “Kita biasa menjunjung tinggi kejujuran, maka sekali mengatakan merah tetaplah merah. Sekali satu tetap satu. Pasti kami tak akan menyesal kalau sampai kalah dengan kalian.”

Bereum lalu mengangkat tangannya yang besar dan menepuk-nepuk dadanya yang bidang dan penuh dengan bulu-bulu panjang. Hingga karena peraduan tangan yang besar dan dada ini maka terdengarlah suara yang nyaring. Kemudian Bereum lalu berkata pula :

“Bereum bukannya seorang bangsa yang hina! Nah orang cebol jika kau benar-benar mempunyai kepandaian, lekaslah kau hajar pecah batu lanang yang besar itu.”

Sebenarnya Mintaraga menjadi sangat tak sabar ketika mendengar orang-orang ini menjadi gila dan mengoceh dengan seenaknya. Namun ketika ia mendengar syarat-syarat yang diajukan oleh Kembang Arum dan Baskara ini benar-benar menjadi tertarik dan terus berubah menjadi sangat girang sekali.

“Bagus.” Serunya. “Nah kalian lihatlah.”

Setelah berkata demikian ia lalu menepuk dengan perlahan sekali kearah batu besar itu, hingga dengan demikian tak ada suaranya. Kemudian ia menambahkan :

“Sudah.”

Ketiga orang raksasa itu menjadi heran setengah mati.  

“Apa?” Seru mereka bertanya. “Apakah yang kau katakan tadi?”

Tanyanya dengan heran. Mintaraga tertawa.

“Aku telah mengatakan kalau SUDAH!” Jawabnya. “Itu artinya kalau batu itu telah kupukul sampai hancur.”

Bereum mengawasi kearah batu, hingga ia menjadi semakin tak mengerti. Batu itu terang kalau tak kurang suatu apapun juga, demikianlah penglihatannya.

“Ah... kau mendustai siapakah?” Dia lalu menegur. Setelah itu ia lalu tertawa terbahak-bahak. “Bagus... bagus...” Serunya pula. Dia lalu menunjuk kearah Candra Wulan dan berkata :

“Gadis cilik hayo kau mengangguk tiga kali kepadaku hingga kepalamu berbunyi dengan nyaring kau harus memanggil eyang kakung kepadaku sebanyak tiga kali.” Setelah berkata demikian iapun lalu menunjuk kearah Baskara sambil berkata pula :

“Mana mutiara mustika itu, lekas keluarkan.”

Orang pribumi dari gunung Tangkuban Prau ini menganggap kalau Mintaraga telah gagal memecahkan batu besar yang harus dipecahkan itu.

Mintaraga mengulapkan tangannya sambil tertawa.

“Bereum jangan kau kesusu kegirangan setengah mati hingga meninggalkan kewaspadaanmu.” Katanya. “Marilah kita lihat.” Ia lalu mementang mulutnya dan kemudian meniupkan napasnya kearah batu itu. Pelan saja ia meniup kearah batu itu, dan kemudian ia berseru :

“Hancur.”

Sekonyong-konyong saja batu itu menjadi terpecah-pecah, lalu dengan memperdengarkan suara yang cukup nyaring meluruk jatuh ketanah. Dalam jumlah potongan enam belas batu kecil, dan bagian belahannya itu bagaikan dipotong-potong dengan pisau.

Menyaksikan itu, bukan hanya Bereum dan kedua orang kawannya saja yang menjadi heran tak kepalang, akan tetapi juga Wirapati dan Baskara, mereka berdua ini mengetahui kalau Mintaraga adalah seorang yang sakti akan tetapi bayangannya tak sesakti ini.

“Eh... ini ilmu siluman apakah?” Tanya Marakacan sambil mengoceh seorang diri. Matanya lalu memandang kearah kedua orang saudaranya. Merekapun juga saling berpandangan. Hanya Dudung Kertadrya yang tak percaya dengan ilmu siluman, karena ia tahu akan ilmu tenaga dalam, ilmu tenaga luar dan juga ilmu meringankan tubuh. Ia mengerti kalau lawannya yang kelihatannya cebol ini telah mencapai puncak kesempurnaannya dalam hal tenaga dalam.

Mintaraga memandang mereka itu, yang mukanya pada mandi peluh, ia lalu tertawa.  

“Bagaimana?” Tanyanya. “Kamu yang kalah ataukah kami yang

menang?”

“Orang gagah kamilah yang kalah. Dan kau yang menang dalam hal peruntungan ini.” Seru Dudung Kertadrya.

Mendengar ini maka Candra Wulanlah orang pertama yang berjingkrak dengan girang.

“Bagus... bagus...” Serunya. “Bakal ada orang yang memanggilku dengan sebutan eyang putri sebanyak tiga kali kepadaku.”

Mintaraga memandang kearah Bereum dan pemuda ini melihat kalau muka raksasa itu menjadi merah, bukan karena marah akan tetapi hanya karena malu belaka. Segera saja ia berpikir :

‘Baiklah untuk menaklukkan mereka harus dibuat takluk benar.’

Maka ia lalu melihat kesekelilingnya, akan mencari batu besar yang lebih besar dari pada batu yang barusan dipecahkan. Ia lalu menghampiri batu itu dan memondong kearah mereka. Segera ia berkata :

“Bereum, bagaimanakah caranya kau memecahkan batu tadi?”

Bereum sekarang tak lagi berkepala besar seperti tadi. Hatinya sekarang mulai dirayapi oleh perasaan takut dan hormat.

“Aku memukul secara begini.” Jawabnya sambil memberi contoh. “Begitu?” Kata Mintaraga. “Tak dapat aku menyamakan dengan dirimu

terpaksalah aku mengalah...”

Setelah berkata, Mintaraga lalu mengeluarkan jari tengahnya, sambil berseru ia lalu menotok kearah batu besar yang beratnya mungkin lebih dari seribu kati itu. Hanya sekejab saja batu itu menjadi pecah dan hancur.

Bereum memperdengarkan suara kekagetannya, segera ia menjatuhkan diri dihadapan anak muda ini, terus mereka menangguk-angguk.

“Ki sanak yang gagah, sekarang kami benar-benar tunduk.” Seru mereka dengan serempak. “Kami benar-benar takluk kepadamu.”

Mintaraga segera membungkuk, untuk membangunkan ketiga orang raksasa pribumi dari gunung Tangkuban Prau ini. Pemuda inipun segera tertawa untuk membuat lega hati mereka.

Ketika Bereum berhadapan dengan Candra Wulan, segera gadis itu berkata :

“Kau tak akan mengatakan apa-apa lagi bukan?”

Mendengar perkataan gadis cilik yang nakal ini maka selembar muka Bereum menjadi merah bersemu hitam.

“E... eyang.   ” Katanya dengan terpaksa.

“Sudah.... sudah cukup....!” Seru Mintaraga yang segera memotong. “Adikku ini sedang bergurau, kau jangan mengira kalau di suruh benar- benar.”

Bereum berdiam diri, betul ia memanggil ‘eyang’.  

Akan tetapi bersama dengan itu segera saja Baskara berkata kepada

Marakacan, suara ini dikeluarkan dengan keras dan bernada sangat tinggi : “Marakacan, aku tidak bermain-main denganmu. Mana lima ekor gajah

yang kau janjikan.”

“Tak perlu kau khawatir.” Jawab Marakacan. “Kami orang-orang dari Tangkuban Prau tak mengerti ilmu mencuri atau menipu orang. Maka kami akan menyerahkan gajah itu dalam jumlah yang sama dengan yang telah kita tetapkan tadi.”

Baskara tertawa.

“Bagus.” Serunya. “Nah kau ambillah mutiara ini untukmu seorang yang selalu memegang janji.”

Setelah berkata demikian maka Baskara lalu mengeluarkan mutiaranya dan memasukkan kedalam saku baju Marakacan.

Melihat hal ini Marakacan menjadi heran sekali. “Mana bisa?” Katanya.

“Barang permata adalah benda-benda sampiran, ki sanak, kau jangan memikirkan itu.” Kata Baskara sambil tertawa. Segera ia menarik kembali tangannya, dan didalam menarik kembali tangannya tampaklah kalau raja pencopet ini telah mengaet benda lain yang terus dimasukkan kedalam kantong bajunya sendiri. Tadi ia melihat dengan samar-samar ada sesuatu cahaya seperti emas dikantong celana Marakacan, karena ketarik hatinya maka sekalian saja ia samber........

Marakacan tak menjadi jengah, hanya berulang-ulang ia mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.

Candra Wulan yang cerdik dapat melihat gerakan atau perbuatan Baskara itu, hingga didalam hatinya ia berkata :

‘Dasar si tangan panjang, kembali dia bekerja. Biarlah seperti aku menjadi pencopet gagu, akan kugeser barang itu ”

Sekarang Kembang Arumlah yang tertawa dan berkata :

“Kalian semua telah mendapatkan bagian-bagianmu semua, kalian tentunya telah puas. Sekarang tibalah giliranku.”

Dudung Kertadrya kelihatan lesu sekali.

“Gadis cilik, kau hendak bertanya tentang apakah?” Tanyanya. “Mungkin kau akan bertanya berapakah istriku?”

“Cis.” Kembang Arum segera berludah. “Dudung Kertadrya, aku hendak menanyakan tiga hal kepadamu. Dan kau harus menjawab dengan sejujur-jujurmu. Sekalipun kularang kau berdusta. Awas kalau kau membohong.”

Orang pribumi ini segera menepuk dadanya.

“Didunia ini hanya orang-orang Jawa Tengah saja yang terkenal licik dan kuat glembukannya.”  

Mendengar perkataan orang Pribumi ini Kembang Arum tak menjadi

marah ataupun gusar. Biarpun berkali-kali mereka itu mengatakan kalau orang-orang Jawa Tengah pada umumnya sangat licik.

“Dudung Kertadrya, aku hendak mulai bertanya kepadamu.” Seru Kembang Arum yang terus memulai bertanya. “Hari ini diantara orang- orang yang berlindung dari hawa panas didalam terowongan itu, kecuali kami, masih ada dua orang Jawa Tengah lainnya. Siapakah mereka itu?”

Pertanyaan ini membuat ketiga orang raksasa itu menjadi kaget sekali. Sebagian air muka mereka terus saja berubah. Bereum segera batuk-batuk, memberi tanda kepada kawannya supaya jangan mau menjawab pertanyaan itu. Sedangkan Dudung Kertadrya yang hendak membuka mulut terus saja membatalkannya dan ia menjadi ragu-ragu. Ia menjadi bimbang bicara salah, tak bicarapun salah juga. Ia menggaruk-garuk belakang kupingnya yang tidak gatal.

Kembang Arum terus memandangnya dengan tajam-tajam, gadis ini segera dapat menerka apa isi hati mereka itu. Segera saja Kembang Arum tertawa dengan nada yang sangat dingin. Matanya menatap dengan tajam, setajam mata burung hantu diwaktu malam. Ia tak membuka mulutnya untuk bercakap-cakap, akan tetapi sikapnya lebih hebat dari pada perkataan yang misalkan diucapkan.

“Mereka ialah.......” Mendadak saja Dudung Kertadrya berkata dengan nyaring.

“Dudung Kertadrya....!” Bentak Bereum dengan nyaring. Dan inilah yang menyebabkan perkataan Dudung Kertadrya menjadi putus ditengah jalan.

Akan tetapi Dudung Kertadrya hanya berhenti sebentar saja kemudian ia lalu meneruskan perkataannya lagi :

“Mereka adalah orang-orang yang diutus oleh gusti Ario Penangsang dari kerajaan Jipang Panolan. Yang satu bernama Poncowolo dan yang lain bernama Paku Waja. Mereka itu mengaku bahwa menjadi anggota dari Dua Puluh Satu Jago-jago Jipang Panolan. ”

Nyata ia dapat mengatasi diri, ia mengutamakan kejujurannya hingga ia tak mempedulikan pencegahan Bereum itu.

Kembang Arum tersenyum.

“Dudung Kertadrya kau benar-benar seorang yang terhormat.” Katanya. “Siapakah orang-orang pribumi dari Gunung Tangkuban Prau itu yang memihak kepada kedua orang Jipang Panolan itu? Katakanlah!”

“Dialah ketua kami, Ateng Jagalawa.”

Kembali Kembang Arum bertanya, tapi kali ini dengan tiba-tiba saja ia memperlihatkan wajahnya yang bengis. Kemudian tanyanya :  

“Poncowolo dan Paku Waja datang kemari dengan secara bersembunyi-

sembunyi ini mempunyai maksud apakah? Mereka akan melakukan apakah didaerah ini?”

Mendengar pertanyaan ini hati Dudung Kertadrya menjadi bergoncang dengan keras.

“Ini... ini. ” Katanya, lalu berhenti dengan sendirinya.

Semua mata mengawasi kearah orang pribumi ini, ia agaknya sangat likat. Kembali ia bersangsi.

Mintaraga yang melihat kelakuan Kembang Arum ini, diam-diam ia memuji didalam hatinya.

‘Adi Kembang Arum ini benar-benar seorang yang cerdik sekali. Hal inipun aku tak akan mendapatkan kabar beritanya. Jago-jago Jipang Panolan datang dari jauh, apakah mereka itu akan mengandung maksud yang baik?’

Dengan sendirinya mukanya menjadi merah ketika ia memandang kearah Wirapati, sedangkan Wirapatipun sedang memandangnya. Didalam hati mereka masing-masing berkatalah perkataan yang sama dan sepakat :

‘AKU TADI TIDUR NYENYAK SEKALI.’

Candra Wulan segera saja berkata :

“Bagus    pengecut dikolong langit ini yang paling banyak adalah orang-

orang yang berada di alas gunung Tangkuban Prau. Gunung yang dibuat oleh Sangkuriang yang sakti mandraguna itu. Lihat saja menjawab sebuah pertanyaan saja tak berani. Sedangkan keberanian Sangkuriang dahulu sangat ngedap-edapi. Pemuda yang bernama Sangkuriang berani mencintai ibu kandungnya. Berani menghadapi bahaya dengan tabah.... tapi kalian. ??!

Huhh!!”

Mendengar perkataan ini merahlah wajah Dudung Kertadrya. “Baiklah.” Katanya kemudian. “Kau dengar saja perkataanku ini. ”

Kembali perkataan ini terpotong, kali ini oleh suara nyaring yang datang bukan dari salah seorang diantara mereka, dan tahu-tahu disitu muncul seorang raksasa yang lebih besar dan matanya mendelik memandang kearah mereka.

Semua orang berpaling dan mengawasinya.

‘Hem... dialah si ketua suku dari Tangkuban Prau yang bernama Ateng Jagalawa.’ Kata Kembang Arum didalam hati. Ia percaya kalau kepala suku ini tentunya mempunyai kepandaian yang sangat hebat sebab kedatangannya tak mereka ketahui.

Dudung Kertadrya segera menundukkan mukanya, agaknya mereka itu seperti takut sekali menghadapi seekor ular berbisa yang amat hebat. Dengan tindakan yang lebar mereka lalu meninggalkan gelanggang. Dudung Kertadryapun lalu menoleh kepada Kembang Arum, agaknya ia sangat menyesal.

Mintaraga menyaksikan ini semua segera saja ia berpikir :  

‘Jago-jago Jipang Panolan ini datang kealas Tangkuban Prau ini dengan

jalan sesingitan seperti iblis, pasti mereka datang dengan maksud jahat. Bukankah mereka tengah mengincar kami? Tanpa membekuk Dudung Kertadrya maka sukarlah untuk mencari keterangan, karena itu kalau aku tak segera turun tangan sekarang maka mau tunggu kapan lagi??’

Pikiran ini segera saja diwujudkan oleh si anak muda ini. Mendadak saja ia menjejakkan dengan kedua kakinya. Maka dilain saat ia telah menghadang dimuka ketiga orang raksasa yang akan menyingkir tadi. Melintang didepan Bereum dan kawan-kawannya. Setelah berada dihadapan mereka ia lalu memperdengarkan suara dinginnya.

“Kalian belum membereskan pertaruhan kita, apakah hanya dengan begitu saja kalian akan meninggalkan kami? Mengangkat kaki kabur dengan mengingkari pertaruhan??”

Dudung Kertadrya berdiri dengan celangapan, mukanya merah. Tak berani ia memberi jawaban.

Ketua suku itu segera bertindak menghampiri.

“Kau siapakah?” Tanyanya kepada Mintaraga. Suaranya ini dikeluarkan dengan nada yang sangat bengis. “Kau tak tahu aturan, perlu apa kau menghalang-halangi pahlawan-pahlawan kami?”

Sekarang tahulah Mintaraga dan kawan-kawannya, bahwa Dudung Kertadrya dan kawan-kawannya ini ternyata pahlawan-pahlawan dari Ateng Jagalawa, maka dapatlah dimengerti kalau ia bukannya hanya sekedar kepala suku saja, mestinya ia mempunyai harta besar dan pengaruh yang amat kuat didaerahnya.

Mintaraga memandang kearah kepala suku itu, kemudian pemuda ini sedikit menganggukkan kepalanya untuk menghormat kepala suku tadi.

“Ki sanak, pahlawan-pahlawanmu ini masih hutang kepada kami. Hutang didalam sebuah pertaruhan.” Katanya. “Hutang itu haruslah dibayar dengan lunas. Inilah sebuah aturan yang pantas didunia kita. Kalau aku tak menagih kepadanya maka aku harus menagih kepada siapa?”

Ateng Jagalawa tertawa dingin, ia membalas penghormatan itu. “Pertaruhan? Pertaruhan apakah itu?” Tanyanya.

“Kau tanya saja pahlawan-pahlawanmu.” Jawab Mintaraga sambil tertawa terbahak-bahak.

Mukanya ketua suku itu menjadi berubah merah. “Bereum, apakah artinya ini?” Bentaknya dengan bengis.

Dimata para raksasa ini peristiwa yang paling menyedihkan adalah perkara kalah berkelahi, maka juga Bereum tak berani menjawab, ia hanya kemekmek saja.

Ateng Jagalawa menjadi gusar sekali.

“Baiklah.” Serunya. “Kalian telah membuatku malu, sebentar aku akan menghukummu. Hayo pergi.”  

“Eh... tunggu dulu.” Kembali Mintaraga mencegah. “Aku hendak

bertanya, bagaimanakah mau diatur pertaruhan ini?”

“Mereka tak kuat membayar maka habislah perkaranya sampai disini saja.” Jawab Ateng Jagalawa.

Mintaraga tertawa lebar. “Bagus.” Katanya.

“Aku tak menyangka kalau kau begini tampan. Akan tetapi kau dengarlah. Oleh karena mereka tak kuat membayar, kau sebagai majikannya, kau sajalah yang menolong mereka untuk membayarkan hutang- hutangnya.”

Ateng Jagalawa habis kesabarannya. Ia mempunyai urusan lain, yang perlu diselesaikan.

“Sebenarnya mereka itu kalah berapa banyak?” Akhirnya mereka bertanya. “Katakanlah...!”

Mintaraga segera berpikir.

‘Ketua ini mempunyai urusan sama jago-jago Jipang Panolan, dia tentunya hendak melakukan sesuatu. Apakah itu? Hanya dengan mendengar keterangan Dudung Kertadrya baru aku bisa memperoleh hasil... Ah, baiknya aku bertindak begini saja.' Segera ia mengambil ketetapan terus tertawa dengan lebar.

“Tidak seberapa.” Jawabnya dengan cepat. “Hanya kalah lima ekor gajah.”

Mendengar itu Ateng Jagalawa menjadi tertawa lebar. “Apakah masih ada lagi?” Tanyanya.

Mintaraga menggelengkan kepalanya.

Kembali Ateng Jagalawa tertawa terbahak-bahak.

“Aku tadinya menyangka mereka berhutang sebuah gunung emas dan dua buah gunung perak, tak tahunya hanya berhutang lima ekor gajah.” Katanya. “Baiklah aku akan menolong mereka membayar pertaruhan itu. Mari kau ikut aku, nanti aku akan memberimu lima ekor Gajah yang baik dan besar-besar.”

Mintaraga mendongakkan kepalanya, dan tersenyum.

“Aku senang berdiam disini menikmati pemandangan alam yang indah permai, sedikitpun tak mempunyai niat untuk ikut kau.” Jawabnya dengan angin-anginan.

Mendengar ini Ateng Jagalawa menjadi gusar pula. Dia adalah kepala suku para raksasa yang gagah berani. Dia biasa berbuat sewenang-wenang, kalau Ateng telah mengatakan satu maka tak ada orang lain yang berani mengatakan dua. Akan tetapi sekarang ia ditentang oleh seorang anak muda. Bahkan orang asing.

“Habis kau mau apa?” Tanyanya dengan membentak. Mintaraga tertawa pula.  

“Jangan kau marah.” Katanya dengan sabar. “Kalau hal ini sampai

menjadi perkara maka akulah yang akan menang. Huahaaa... Huahaaaa... Huahaaa... Aku akan menanti disini saja, gajahmu kau tuntunlah kemari...”

“Hem...!” Ateng Jagalawa berseru dihidungnya. Coba kejadian ini terjadi dihari-hari biasa, ia pasti telah menggaplok Mintaraga, akan tetapi sekarang ia sedang menghadapi sebuah urusan yang amat penting, karena itu tak sempat ia melayaninya.

“Baiklah kau boleh tunggu disini.” Akhirnya ia berkata. Segera saja ia berpaling kearah ketiga orang pahlawan-pahlawannya.

“Bereum bagus benar perbuatanmu itu!! Hem... Apakah sekarang kau masih belum mau pergi juga??”

Ketiga orang raksasa bertubuh kuat dan tinggi besar itu terpaksa menggerakkan kakinya, walaupun ini digerakkan dengan terpaksa sekali.

“Eh... tunggu dulu.” Tiba-tiba saja Mintaraga mencegah pula.

*

* *

Lagi-lagi ketua suku bangsa rakasa itu menjadi marah.

“Aku telah mengatakan kepadamu kalau akulah yang akan membayar lima ekor gajah yang menjadi tanggungan mereka. Mau apakah kau main gila?”

Mintaraga hanya mengganda dengan suara tawanya saja.

“Siapakah yang percaya kepadamu?” Tanyanya. “Kau harus memberikan sebuah barang tanggungan.”

“Oh... bocah busuk tak tahu malu. Damprat Ateng Jagalawa dengan marah. “Coba aku tak mempunyai sebuah urusan yang penting aku tentu akan memperlihatkan kepadamu sebuah pertunjukan yang amat baik dan menarik.”

“Jangan kau sombong.” Seru Mintaraga dengan tak mengenal takut. “Siapa yang hutang dia harus membayar. Siapa berjanji dia harus menepati. Bukankah itu sebuah peraturan yang paling tepat dan adil?”

Ateng Jagalawa menjadi serba salah.

“Kau menghendaki barang tanggungan apakah?” Akhirnya ia membentak akan tetapi mengalah. “Apakah kau ingin aku membuka jubahku ini?

Mintaraga hanya menunjuk kearah Dudung Kertadrya.

“Siapakah yang sudi kau tinggali jubahmu itu?” Jawabnya. “Kau tinggalkan saja manusia tolol itu!”

Pemuda ini menghendaki si raksasa yang bercelana putih, sebab ia mengerti maksud Kembang Arum, bahwa mereka harus mengorek semua rahasai. Dan agaknya yang paling baik mengorek dari mulut Dudung  

Kertadrya. Karena itu ia tak mau sembarangan melepaskannya. Soal gajah

adalah soal yang nomor dua.

Sikap pemuda ini akhirnya menimbulkan kecurigaan bagi Ateng Jagalawa. Ia segera saja memandang kearah muka pemuda itu, Setelah itu iapun memandang kearah Kembang Arum dan Candra Wulan. Didalam hatinya ia lalu menegur dirinya sendiri.

‘Ateng Jagalawa, kau ini benar-benar tolol sekali. Kalau melihat dari rupanya bukankah bocah ini bernama Mintaraga, dan kedua orang gadis itu bukankah Kembang Arum dan Candra Wulan adanya? Poncowolo toh telah memberi tahu kepadamu, tiga orang muda maudi ini mempunyai kepandaian yang sangat hebat? mengapa sekarang kau tak mau membekuk mereka ini, supaya Patih Udarapun mengetahui kepandaian Ateng Jagalawa??’

Karena itu ia lalu tertawa hingga melengak.

“Bocah busuk, permintaanmu ini kutolak dengan mutlak.” Katanya dengan suara yang nyaring. “Sekarang apakah yang akan kau katakan?”

Suara itu terang kalau bernada tantangan. Mintaraga segera berpikir. ‘Menahan Dudung Kertadryapun sukar, menahan kau lebih baik lagi.’

Maka iapun lalu tertawa dengan nada yang sangat dingin.

“Ateng Jagalawa.” Katanya. “Kalau demikian maka terpaksalah aku berbuat tak manis kepadamu.”

Perkataan ini dibarengi dengan diulurkannya tangan, untuk dipergunakan menyambar kepala suku itu. Akan tetapi tentu saja Ateng Jagalawa ini telah bersedia sejak tadi, hingga begitu melihat ada tangan menyambar dengan secepat kilat ia mengelak. Setelah itu ia lalu tertawa terbahak-bahak. Iapun tak mau menyia-nyiakan ketika. Ia menggerakkan kedua tangannya untuk membalas menyerang sambil memajukan kakinya. Ternyata dia sangat hebat, gerakan tangannya mendatangkan angin yang menderu-deru.

Mintaraga segera menjadi heran melihat perubahan sikap lawannya ini.

Sikapnya menjadi sedemikian getas. Timbullah kecurigaannya.

‘Tiba-tiba saja dia menentangku, mungkinkah dia telah mengenal kami?’ Pikirnya.

Sementara itu diapun masih mengelak, akan tetapi ia masih dapat tertawa lebar.

“Oh Ateng Jagalawa, kiranya kau inipun mengerti akan hal ilmu silat.”

Ateng Jagalawa tak menjawab. Hanya kepalannya saja yang terus melayang dengan dahsyat.

Kembali Mintaraga mengelak.

“Ateng Jagalawa, tahukah kau siapa aku ini?” Ia sengaja bertanya kepada lawannya untuk pancingan.  

Ateng Jagalawa ini adalah anak murid dati cabang perguruan Ungaran,

selain mengerti akan ilmu silat, Ateng Jagalawa inipun mempunyai keberanian yang sangat mengagumkan karena itu ia telah lama mengimpi- impikan untuk mendatangi Jawa Tengah dan bermaksud mencoba jago-jago silat dari Jawa Tengah. Terutama sekali dari Demak Bintoro yang dikatakan gudangnya orang-orang sakti.

Mintaraga adalah salah seorang yang ingin dicobanya, karena ia mendengar dari mulut Poncowolo bahwa Mintaraga inipun merupakan salah seorang dari jago-jago Jawa Tengah yang patut mendapat perhatian khusus. Sekarang begitu ia bertemu dan mengetahui kalau orang yang bernama Mintaraga ini hanyalah seorang bocah yang masih sangat muda dan tampan maka sedikitpun ia tak memandang sebelah mata. Kemudian setelah ditanya oleh anak muda ini ia lalu berpikir :

‘Biarlah aku pura-pura saja tak tahu, nanti setelah kubekuk barulah aku akan membongkar rahasianya.’

Setelah mempunyai pikiran ini maka ia lalu tertawa dan menjawab dengan lantang :

“Siapa kau aku tak tahu, pun aku tak akan peduli. Akan tetapi aku melihat bisa bermain silat, mungkin kau seorang murid kelas dua atau kelas tiga. Akan tetapi entah kau datang dari perguruan mana. Dan kukira kau telah bosan hidup di Jawa Tengah, hingga kau merantau kemari... Huahaaaa... huahaaaa... Benar bukan?”

Mintaraga menyambut sikap lawannya ini dengan tertawa pula. Bahkan wajahnya tetap cerah sedikitpun tak menunjukkan kegusaran.

“Lihat kepalanku.” Ia berseru dengan tiba-tiba dan terus tertawa dengan lebar.

Pemuda ini baru hendak mengeluarkan tangannya, akan tetapi tiba-tiba saja didepannya berkelebat sesosok bayangan yang terus menghadapi Ateng Jagalawa sambil menantang :

“Ateng Jagalawa, apakah kau akan melawan kawanku ini? Hem... mungkin kau tak mempunyai derajat untuk melawannya. Sekarang baiknya kau main-mainlah denganku beberapa jurus. Akulah Candra Wulan yang akan menghajarmu sampai terkencing-kencing.”

Inilah jurus singa menerkam kelinci, salah sebuah jurus istimewa dati Candra Wulan. Gerakannya cepat luar biasa.

Candra Wulan terkejut hingga dia menjerit. Terpaksalah ia harus melompat mundur. Akan tetapi... ‘brettt...’. Demikianlah suara yang mengiringinya. Dia mundur dengan cepat, akan tetapi dia kalah sebat, ujung pedangnya menyambar kearah pinggang, hingga dengan demikian maka putuslah ikat pinggangnya. Hingga dengan demikian maka jubah itu menjadi lepas melorot turun, begitu jubah terlepas maka terlihatlah sebuah  

tubuh yang berbulu. Dalam kagetnya itu ia masih sempat merobek jubah itu

untuk dilolos.

Baskara segera bersorak sambil bertepuk tangan.

“Ateng Jagalawa.” Katanya dengan menggoda. “Kau telah berjanji kepada kawan kami kalau akan membuka jubahmu untuk membayar pertaruhan. Sekarang kau membuktikan perkataanmu untuk membuka jubahmu, benar-benar kau ini seorang yang dapat dipercaya.”

Mendengar ejekan ini muka Ateng Jagalawa menjadi merah sekali. Ia mundur pula beberapa tindak.

Juga Candra Wulan melompat mundur setelah menikam. Sedikitpun ia tak mempunyai niat untuk memutuskan ikat pinggang lawannya. Sudah terang kalau ia tak ingin melihat tubuh lawannya menjadi telanjang. Akan tetapi melihat hal ini tiba-tiba mukanya menjadi merah dan panas karena merasa malu sendiri.

Ateng Jagalawa tak melepaskan (melemparkan) jubah itu melainkan terus melilitkan dan memutar kencang-kencang diudara.

“Manusia hina, mari maju, mari.” Tantangnya sambil memandang tajam-tajam kearah si gadis.

“Kau pakailah dahulu jubahmu, baru nanti kita melanjukan pertempuran ini pula.” Jawab Candra Wulan dengan tak kalah getasnya.

“Manusia hina, kau masih mengaco belo?” Bentak kepala suku pribumi dari alas gunung Tangkuban Prau itu. Ia segera melompat maju dan mempergunakan jubahnya untuk menyambar kearah Candra Wulan.

Candra Wulan belum sempat bergerak, Wirapati telah bersiap melompat maju untuk mewakili. Memang ia sangat mendongkol sekali sebab telah berkali-kali orang dari alas gunung Tangkuban Prau ini telah menghina kekasihnya. Ia menangkis dan langsung menikam kearah dada lawan.

Ateng Jagalawa menarik kembali jubahnya, begitupun dengan tubuhnya.

“Kau maju untuk menghantarkan jiwa?” Ejeknya. “Baik... baik sekali sungguh sangat menggirangkan hati.”

Dia segera mengayunkan jubahnya untuk melibat golok lawannya.

Akan tetapi tentu saja Wirapati tak mau kalau goloknya akan dilibat dan langsung akan dirampas. Segera saja ia menarik goloknya kembali.

“Kau hunuslah senjatamu.” Tantangnya. “Aku tak akan sudi membunuh orang yang tak memegang sepotong besipun juga. Lekas ambil senjatamu.”

“Sungguh kau seorang laki-laki.” Dengus Ateng Jagalawa dengan mengejek dan bernada sinis. “Bocah gila inilah senjataku.”

Dia mengayunkan pula jubahnya, segera saja jubah itu menjadi melonjor panjang dan kaku.

Wirapati menjadi terkejut, sedikitpun ia tak menyangka kalau lawannya ini mempunyai tenaga yang sedemikian besarnya. Hingga ia dapat merubah  

jubah yang lemas itu menjadi sebuah tongkot yang panjang dan keras. Akan

tetapi ia tak mundur, ia tetap maju menangkis untuk terus menyerang.

Segera saja keduanya bertempur dengan seru sekali.

Ilmu golok Wirapati adalah ilmu ciptaan dari Wiku Ekoloyo yang terkenal hebat dan sebat. Ia telah mewarisi kepandaian gurunya. Karena ia dapat bergerak dengan gesit. Hingga dengan demikian maka tampaklah sinar goloknya yang gemerlapan.

Ilmu goloknya ini terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Dengan jurus- jurusnya inilah ia mendesak.

Ateng Jagalawa melakukan perlawanan sambil tertawa-tawa menghina. Ternyata ia dapat melayani lawannya ini dengan baik. Jubahnya itupun dapat dipergunakan sebagai cambuk, ujungnya sering menyambar melilit ke senjata, ke tubuh dan ke kaki. Terutama sekali kebagian bawah.

Mintaraga berempat menonton dari pinggiran, mereka menonton dengan penuh perhatian. Candra Wulan menjadi girang sekali setelah menyaksikan kepandaian kekasihnya itu. Selain ia memandang kearah pertempuran iapun selalu memandang kearah kecakepan dan kegantengan dari kekasihnya. Akan tetapi sebaliknya Mintaraga malahan mengerutkan keningnya.

‘Pastilah kalau Wirapati ini bukannya tandingan dari Ateng Jagalawa.’ Pikirnya. ‘Ah... baru saja keluar dari kampung halaman telah menghadapi sebuah urusan yang sulit. Nampaknya orang luar biasa dari alas gunung Tangkuban Prau ini tidak lebih sedikitpun juga dari pada di Jawa Tengah.....

Kekhawatiran Mintaraga, ini terbukti dengan tak lama kemudian. Sebuah sinar emas berkeredep naik lalu disusul dengan sebuah suara yang keras. Ternyata golok Wirapati telah dapat dilibat oleh jubah lawannya, lalu kena dibetot dari tangan anak muda itu, mental keatas, jatuh menghajar sebuah batu besar disamping.

Candra Wulan semuanya menjadi terperanjat, akan tetapi Mintaraga malahan berseru :

“Bagus.”

Bereum bertiga menjadi girang. Mereka baru kena dikalahkan sekarang, dengan sendirinya mereka akan membalas dendam atas sakit hati mereka tadi. Merekapun melihat kalau Wirapati dengan tercengang. Mulutnya terbuka. Hampir saja mereka bersorak baiknya mereka itu ingat kalau kepala suku mereka itu adalah seorang yang bengis.

Ateng Jagalawa berhenti menyerang. Ia memandang kearah golok lawannya. Dan setelah itu ia lalu memandang kearah lawannya.

“Bocah busuk!” Katanya dengan nada yang sangat sombong. “Jika kau tak puas, ambillah golokmu itu, dan marilah kita bertempur lagi sampai puas.”  

Teranglah kalau Ateng Jagalawa ini sedang menghina lawannya. Golok

itu jatuh disamping mereka, tetapi itulah sebuah lamping bukit, yang tingginya belasan tombak.

Golok itupun nancap diatas sebuah batu, siapakah yang dapat naik diatas lamping yang licin itu? Siapakah yang dapat melompat sedemikian tingginya?

Muka Wirapati menjadi merah, sedangkan kawan-kawannya menjadi terdiam, diam sambil berpikir.

“Eh bocah busuk.” Tegur Ateng Jagalawa dengan tertawa dingin. “Aku kembalikan golokmu, akan tetapi mengapa kau tak mau mengambilnya?”

Wirapati tak melayani ejekan ini. Ia hanya merogoh kedalam sakunya untuk mengeluarkan senjata rahasianya. Ia bermaksud menipuk golok itu dengan senjata rahasianya supaja golok itu dapat jatuh. Akan tetapi justru itu Mintaraga terus maju.

“Wirapati kau telah lelah.” Katanya sambil tertawa. “Biarlah aku akan menolongmu untuk mengambilkannya.”

Setelah berkata demikian ia lalu menekuk kedua buah dengkulnya untuk menjejakkan kakinya keatas tanah, mengejot diri melompat. Ia telah mengerahkan tenaga dalamnya.

“Eh... Tunggu dulu.” Tiba-tiba terdengarlah perkataan Baskara, yang tubuhnya terus bergerak. “Untuk mengambil golok itu adalah urusan sipil (remeh), tak usah ki Mintaraga turun tangan sendiri, akupun sanggup untuk mengambilkannya.”

Raja pencopet ini terus saja lari, tubuhnya mencelat berjumpalitan, kepundak Mintaraga dimana ia tidak berdiam hanya ia melompat terus sambil mulutnya berseru :

“Naik.”

Sekejap saja ia telah tiba diatas, tangannya diulur untuk menyambar golok, setelah itu ia lalu melompat turun pula, dengan berjumpalitan lima kali. Setelah itu ia lalu mendarat turun kembali ditanah dengan perlahan- lahan. Sedikitpun tak menimbulkan suara. Dengan separuh menekuk dengkulnya ia lalu mengembalikan golok itu kepada pemiliknya.

“Ki Wirapati sudilah kau menerimanya kembali.” Serunya dengan penuh penghormatan.

Ateng Jagalawa terkejut sekali melihat kehebatan permainan dari Baskara itu, sedangkan Bereum bertiga tak dapat lagi menahan hatinya, mereka lalu bertepuk tangan bersorak memuji.

Dipihak Wirapati, Candra Wulan dan yang lain-lain menjadi kagum.

Kemudian Ateng Jagalawa memandang kearah si raja pencopet yang masih tersenyum-senyum.

“Siapa kau?” Tegurnya.  

“Aku? Aku adalah pelayan dari ki Mintaraga.” Jawab Baskara dengan

suara yang panjang. Ateng Jagalawa menjadi heran sekali, kalau pelayannya saja telah sedemikian hebatnya, maka dapatlah dibayangkan betapa hebatnya majikannya nanti. Tentu gagah perkasa dan tak tersangsikan lagi.

‘Sungguh Baskara ini seorang yang cerdik.’ Puji Mintaraga didalam hatinya. Ia sendiri sangsi, ia hendak merayap mengambil golok itu dengan ilmu Cecak Merayap untuk dapatnya merayap naik, sedangkan untuk turunnya ia tak ragu-ragu. Baskarapun pasti tak akan dapat melompat sedemikian tingginya, berkat kecerdikan dan keberaniannya, ia injak dan menjejak pundak Mintaraga sebagai landasan. Memang dengan berlompat berjumpalitan orang akan dapat melompat lebih tinggi. Atau mungkin lebih jauh dari pada lompatan langsung. Dengan berjumpalitan Baskara dapat meminjam tenaga Mintaraga, dengan begitulah maka Wirapati dapat tertolong.

Mintaraga segera memandang kearah Ateng Jagalawa yang semenjak tadi hanya berdiam diri saja.

“Bagaimanakah dengan barang tanggunganmu?” Tegurnya. “Kau yang tinggal disini ataukah pahlawanmu itu?”

Ateng Jagalawa sedang berpikir, karena itu sedikitpun ia tak memberikan jawaban atas pertanyaan ini. Tiba-tiba saja tangannya bergerak, terus jubahnya menyambar, menyambar kearah Baskara, yang hendak ia lilit untuk dilemparkan kelamping.

Baskara kaget bukan main, hingga ia terkesima, karena inilah diluar dugaannya. Tak sempat ia membela diri lagi.

Justru itu, sewaktu jubah menyambar, sebuah tangan Mintaragapun menyambar, bukannya kearah jubah, melainkan kearah bokong Baskara. Terus saja ia mengangkat tubuh raja pencopet ini, dilemparkan hingga tiga tombak. Akan tetapi hanya dengan demikianlah maka ia dapat menolong si raja pencopet itu.

“Ateng Jagalawa kau galak sekali.” Mintaraga terus menegur ketua suku itu. “Karena kau berlaku dengan kasar maka baiklah aku akan memaksamu sebagai barang tanggungan.”

Kata-kata ini dibarengi dengan samberan tangan kepada jubah yang dijadikan bandringan itu. Cepat samberan itu, Ateng Jagalawa tak sempat menarik kembali, hanya ia dapat membetot. Karena sama-sama mempergunakan tenaga, jubah itu menjadi putus ditengah-tengah, seorang mendapat sepotong. Dengan senjata buntung inilah keduanya lalu bersiap sedia untuk bertempur. Sebab Ateng Jagalawa menjadi marah dan penasaran sekali.

Melihat itu Kembang Arum lalu melompat maju. Gadis ini dapat mengira-ngira, Candra Wulanpun bukan tandingannya kepala suku itu.  

Mintaraga adalah lain. Akan tetapi Ateng Jagalawa harus dibuat takluk

kepuasan. Karena itu ia lalu memberanikan diri untuk maju.

“Ateng Jagalawa, marilah kita bertempur dulu sebanyak tiga ratus jurus.” Serunya menantang. “Setelah bertempur nanti kita bicarakan urusan pertaruhan tadi. Apakah kau berani?”

Kembang Arum bertanya akan tetapi kedua tangannya terus bekerja. Tangan kiri menghunus pedang dan tangan kanannya menghunus golok. Lalu dengan gerakan ‘sepasang naga keluar dari laut’ ia menyerang dan menggencet, kedua senjatanya itu datang dari samping kiri dan kanan.

Mintaraga segera mengundurkan diri. Ia percaya betul kalau Kembang Arum tentu tak akan sampai kalah. Ia lalu memasang mata untuk memperhatikan jalannya pertarungan itu.

Ateng Jagalawa telah segera berpikir :

“Gadis muda kau sangat sombong sekali, hendak kulihat seberapa tinggi kepandaianmu ini.” Segera saja ia lalu mengayunkan jubahnya, dan secara tiba-tiba saja jubah itu menyambar kearah tubuh Kembang Arum. Ia hendak membelit golok itu dan sekali melemparkannya. Didalam kepandaian ini agaknya ia mempunyai keistimewaan.

Benar-benar, golok Kembang Arum segera dapat dililit.

Bukan main girangnya hati kepala suku ini, tanpa ampun lagi ia lalu mengerahkan tenaganya untuk menarik dengan keras, seperti tadi ia melemparkan golok Wirapati.

Golok Kembang Arum telah segera berkelebat. Menyusul itu, dengan terdengarnya sebuah suara empuk, tiba-tiba saja jubah Ateng Jagalawa yang tinggal sepotong itu telah tersabar kutung, hingga dengan demikian menjadi lebih pendek lagi.

Bersama dengan itu Kembang Arum menjadi tertawa geli.

“Eh... Ateng Jagalawa.” Katanya dengan menggoda. “Kau lihat jubahmu yang kumal dan bau busuk itu, bagaimanakah nasibnya? Sungguh menyedihkan sekali. Sekarang silahkan kau tarik keluar benda yang berada dipinggangmu itu, marilah kita main-main dengan senjata tajam.”

Hati Ateng Jagalawa menjadi gentar, ia terkesikap. Diluar dugaannya kalau golok lawannya itu ternyata sangat tajam dan gerakannyapun hebat sekali. Karena itulah sekarang ia tak berani memandang enteng kepada lawannya ini. Sekarang benar-benar ia meraba kearah pinggangnya dan kemudian mengeluarkan sebuah cambuk lemas yang panjang dan melilit dipinggangnya itu. Dengan menerbitkan suara yang nyaring cambuk itu telah terurai dan menggeletar suaranya diudara. Maka dilain saat keduanya telah kembali serang menyerang lagi.

Kembang Arum memperlihatkan permainan goloknya, ilmu golok warisan dari keluarga ki Pandu Pergolo, yang pernah menjagoi dunia persilatan. Ilmu golok ini diturunkan oleh istrinya itu kepada putrinya.  

Disamping itu Kembang Arumpun memainkan ilmu pedangnya. Dan

pedangnyapun bukannya sebuah pedang biasa saja. Sebuah pedang pusaka yang ketajamannya sangat menakjubkan. Karena itu ia menjadi bersenjatakan sepasang senjata yang berlainan, pedang ditangan kiri dan golok ditangan kanan. Demikian kali ini dengan tiada henti-hentinya pedang dan goloknya berkelebatan mengurung kearah Ateng Jagalawa.

‘Hebat.’ Seru Ateng Jagalawa didalam hatinya. Setelah mereka bertempur kira-kira tiga puluhan jurus. Ia merasakan kalau gadis inipun ternyata sangat hebat sekali kepandaiannya, biarpun untuk itu ia masih dapat mempertahankan diri dengan baik.

“Tahan.” Seru Kembang Arum ditengah-tengah pertempuran yang masih berjalan dengan hebat itu. Setelah berseru ia lalu tertawa. Ia segera saja menunda pertempuran itu. Sedikitpun gadis ini tak melompat mundur biarpun begitu iapun tak mendesak maju. Kembang Arum hanya bertindak dengan tenang sekali. Dengan mengimbangi serangan lawannya, ia keluar dari gelanggang.

Ketua suku itu menjadi heran ketika melihat sikap dari lawannya itu. Iapun juga heran sekali sebagai seorang anak murid dari perguruan Ungaran yang sangat terkenal itu sekarang tak berdaya apa-apa ketika menghadapi seorang gadis cantik. Sudah jubahnya tadi, sekarang cambuknyapun tak berdaya sama sekali.

Kembang Arum bertindak kearah Mintaraga, bertindak dengan secara manis. Ia lalu berbisik dikuping Mintaraga.

Mintaraga segera tertawa.

“Baik.” Jawabnya. “Aku akan menurut jalan pikiranmu itu adi Kembang Arum.”

“Dengan demikian aku akan melayaninya sampai satupun tak ada yang kalah ataupun yang menang.” Kata Kembang Arum kemudian. Setelah itu ia lalu berpaling kearah Ateng Jagalawa sambil tertawa ia lalu bertanya :

“Ateng Jagalawa, apakah kau telah mendengarnya?”

Ateng Jagalawa menjadi marah sekali setelah dipermainkan dengan secara demikian itu. Sedikitpun ia tak menjawab, hanya melompat maju ia lalu menyerang dengan cambuknya. Belum lagi tubuhnya menginjak tanah, ujung cambuknya telah menyambar kearah Kembang Arum. Iapun menyerang sambil berseru dengan keras. Batang leher Kembang Arum adalah sasaran utamanya.

Mungkin putuslah batang leher yang kecil ramping dan kelihatan segar itu kalau sampai kena ditarik hebat oleh suku bangsa raksasa yang tinggal dialas gunung Tangkuban Prau itu.

Kembang Arum mendongkol juga setelah melihat kalau lawannya mulai berlaku kejam. Ia mengelak untuk memberi jalan supaya cambuk lawannya  

itu lewat terus dengan tiada membahayakan dirinya. Bersama dengan itu

maka pedangnya digerakkan hingga berkelebat sinar yang kilau kemilauan.

Ateng Jagalawa kenal baik oleh pedang lawannya ini, bajunya yang terbabat kutung itu adalah sebuah contoh yang tak dapat dilupakan. Cambuknya ini adalah alat untuk menaklukkan bangsa-bangsa raksasa yang tinggal dialas Gunung Tangkuban Prau, jika sekarang cambuknyapun dapat ditabas kutung, bukankah ia akan ditertawakan oleh orang? Dan pasti ia akan mendapat malu besar. Karena itu dengan cepat ia menarik kembali serangannya. Namun setelah itu kembalilah ia merangsak.

Kembang Arum melihat kalau orang ini ternyata mempunyai kepandaian yang cukup tinggi. Walaupun begitu sedikitpun ia tak kenal takut. Ia percaya benar kepada kedua belah senjatanya itu.

Golok ditangan kanannya itu keras dan berat, sedangkan pedang ditangan kirinya enteng dan gesit. Ia sendiri bertubuh sangat ringan sekali. Dengan semua keunggulannya ini ia lalu melayani lawannya itu.

Ateng Jagalawa ini berlaku sangat waspada sekali akan tetapi rangsakannya itu berkurang. Sambil bertempur iapun mencoba untuk mengenali ilmu silat lawannya. Inilah justru yang dikehendaki oleh Kembang Arum, supaya ia dapat menahan lawannya ini terlebih lama lagi.

Pertempuran berjalan hingga seratus jurus lebih. Kedua pihak sama- sama tangguh dan sama-sama kuat.

Kembang Arum terus melayani dengan tenang akan tetapi sangat sebat.

Setelah berselang lagi tiga puluh jurus, ia berkata didalam hatinya : ‘Sekarang telah tiba waktunya.’

Ia lalu mengambil kesempatan melirik kesamping, kepada kawan- kawannya. Ia melihat Wirapati, Candra Wulan dan Baskara sedang memandang kearahnya. Mereka seperti main mata dengannya. Ia terus melirik kearah ketiga orang raksasa itu. Ia hanya melihat Bereum dan Marakacan yang sedang berdiri didekat batu besar itu. Tubuh mereka kaku bagaikan patung. Mintaraga dan Dudung Kertadrya, telah tak ada diantara mereka itu. Maka ia menjadi girang sekali.

‘Bagus.’ Serunya didalam hati. ‘Kakang Mintaraga telah bekerja menurut rencanaku.’

Oleh karena itulah ia segera membentak kepada lawannya :

“Eh... Ateng Jagalawa, apakah kita sedang main-main? Huahaaa...

Huahaaaa... Huahaa... lihatlah golokku, lihat pula pedangku.”

Ancaman ini dibuktikan dengan bersama. Sebab Kembang Arum telah berpikir serangan berantai dengan masing-masing senjatanya itu, pedang akan menyerang tenggorokan, pundak kanan dan lengan kiri dan goloknya akan membabat pinggang, kaki kanan dan menusuk jalan darah. Serangan ini segera dilakukan dengan sasaran-sasaran yang pertama. Dua yang lainnya akan segera menyusul apa bila yang pertama tak berhasil.  

Ateng Jagalawa, lekas-lekas menutup diri dengan cambuknya yang

panjang dan dibantu dengan tangan kirinya. Tadinya ia menyangka kalau gadis ini tentunya akan berlaku ayal. Tak heranlah kalau ia menjadi gelagepan.

Maka itu ia telah mengeluarkan peluh dingin. Untunglah ia mempunyai keberanian yang besar dan gerakan yang cukup gesit, maka setelah dapat membebaskan diri dari serangan yang pertama, iapun bisa menghalau dua yang lain.

Wirapati dan Candra Wulan menjadi kagum sekali ketika menyaksikan kepandaian Kembang Arum itu. Biarpun mereka itupun menyangka kalau serangan berantainya itu tak berhasil merobohkan lawannya.

Bereum dan Marakacanpun menjadi kagum, sebenarnya mereka berniat bersorak memberi pujian, sayang sekali mereka tak dapat melakukan apa yang diingini itu. Sebab mereka itu tertotok urat besarnya hingga ia tak merdeka lagi untuk menggerakkan anggota badannya.

Melihat kalau lawannya menjadi kelabakan maka Kembang Arum lalu tertawa lebar.

“Lihat golok! Lihat pula pedang!” Kembali ia berseru setelah menghentikan suara tawanya. Dan kedua senjata itu terus digerakkan bersama kekanan dan kekiri.

Ateng Jagalawa telah ketakutan, hatinya menjadi ciut. Belum lagi berhenti suara gadis itu, ia sudah bersiul panjang, tubuhnya mencelat mundur setombak lebih. Dengan begitu ketika kedua kakinya menginjak tanah, tubuhnya masih tetap menghadapi lawannya. Sesaat itu ia menjadi mendongkol dan gusar bukan main. Ia mendapatkan kenyataan kalau gadis ini masih tetap berdiri dengan tegak ditempatnya. Diwajahnya tersungging sebuah senyuman manis yang berseri-seri. Gadis itu sedikitpun juga tak menyerang, hanya menggertak saja.

Didalam kemarahannya ini Ateng Jagalawa menjadi berseru dengan keras :

“Aku adalah seorang jago dari suku bangsa yang tinggal dialas gunung Tangkuban Prau mana dapat kau akan mempermainkanku dengan begitu saja?”

Setelah berkata demikian ia segera memutar cambuknya, maju menyerang dengan membabi buta. Meskipun demikian ia tetap tak mau merapatkan diri, ia sangat mengandalkan cambuknya yang panjang dan dapat dipakai untuk menyerang dari jarak jauh.

Namun lawannya selalu bersikap tenang.

‘Baiklah.’ Pikirnya yang tetah dapat menebak maksud musuhnya itu. ‘Aku akan mengalahkanmu nanti setelah kakang Mintaraga datang.’ Setelah itu ia lalu tetap membela diri saja, kalau saja ujung cambuk lawannya datang  

ia lalu membabat dengan ujung golok atau ujung pedangnya. Ia tak mau

mencoba untuk merangsak seperti tadi.

Dengan secara demikian maka kembalilah keduanya berada didalam keadaan seri.

Sementara itu tak terlalu jauh dari medan pertempuran ini, diatas tanah pasir, dua orang berlari-larian saling susul-menyusul, tubuh mereka itu tampak bagaikan bayangan saja. Mereka itu adalah Dudung Kertadrya si raksasa yang berlari didepan, sedangkan yang mengejar atau berlari dibelakang itu adalah Mintaraga.

Dibawah sinar bulan kelihatanlah kalau wajah Dudung Kertadrya itu kelihatan amat pucat, sedangkan napasnya sudah tersenggal-senggal.

“Bocah yang baik, aku akan memberimu lima ekor gajah, bukankah dengan demikian maka persoalan kita akan beres?” Perlu apa kau terus menerus mengejarku?” Demikianlah suara raksasa itu.

Mintaraga tak menjawab ia hanya menoleh kebelakang. Ia tak dapat melihat Kembang Arum ataupun siapa rombongannya. Maka tahulah ia kalau paling sedikitnya ia tentu telah berpisah atau dua kiloan dari tempat pertempuran tadi.

‘Sudah cukup.’ Katanya didalam hati. Segera saja ia melompat untuk berlari keras sekali. Maka itu dalam tiga lintasan, ia sudah dapat menyusul larinya raksasa tadi.

“Berhenti Dudung Kertadrya.” Serunya sambil tertawa. “Berhenti aku hendak bicara denganmu!”

Dudung Kertadrya menjadi kaget setelah mendengar suara lawannya itu berada dibelakangnya. Bahkan kelihatan sangat dekat sekali. Namun panggilan ini bukannya membuat Dudung Kertadrya berhenti, malahan sebaliknya ia menjadi mempercepat larinya. Raksasa ini memang takut bukan main. Ia telah menyaksikan sendiri, bagaimana si pemuda ini tadi menotok kawannya, Bereum dan Marakacan dengan sekali gerak saja. Hingga dalam waktu sekejap kedua kawannya itu telah berubah menjadi boneka. Ia sendiri memang tahu pula akan hal ilmu menotok jalan darah lawan, karena itulah ia menjadi takut bukan main. Begitulah ia lalu kabur dengan sekeras-kerasnya. Iapun kemudian menjadi bertambah takut setelah mengetahui bahwa dirinya kini telah terpisah jauh dengan Ateng Jagalawa yang akan diharapkan pertolongannya.

Didepan mereka itu terbentang sebuah lembah yang dalam, maka itu tak ada jalan lari lagi untuk terus kesana, karena itulah maka Dudung Kertadrya lalu lari kesamping dimana terdapat sebuah tebing, disinilah ia lari bagaikan merayap untuk memanjat naik.

Mintaraga yang mengikuti dibelakangnya itu tertawa dengan nyaring. “Dudung Kertadrya.” Serunya. “Tubuhmu besar seperti gajah, bahkan

gajah abuh, akan tetapi mengapa keberanianmu sangat kecil? Bah... sekecil  

hati tengu. Kau turunlah! Aku hanya akan bicara denganmu saja, aku tak

akan menyerangmu.”

Raksasa ini bertubuh besar dan berat akan tetapi ilmu meringankan tubuhnya baik juga. Tebing yang tinggi itu dapat didaki dengan cepat. Kedua tangan dan kakinya bekerja dengan keras untuk menggapai naik. Setelah tiba dipuncak barulah ia dapat bernapas dengan lega. Ketika kemudian ia melihat kebawah, ia menjadi kaget sendiri. Untuk melindungi jiwanya ia lalu naik keatas tebing dengan tiada pikir dan pandang kekanan dan kiri terlebih dahulu. Sekarang ia telah mendapat kenyataan kalau kini ia telah berada diatas tebing yang tingginya belasan tombak. Ketika ia memandang kebawah sedikitpun ia tak melihat apa-apa hanya awan hitam gelap. Setelah menjadi kaget sebentar, terus saja ia menjadi senang pula. Hatinya benar-benar menjadi tentram.

‘Binatang itu tentunya tak mempunyai ilmu meringankan tubuhnya dengan sempurna hingga ia tak dapat naik kemari.’ Pikirnya.

Inilah hal yang membuat hatinya menjadi lega. Ia berpikir sewaktu ia memandang kebawah, kearah Mintaraga tadi berada. Disana ia tak melihat sesuatu apa. Ia baru berhenti berpikir setelah merasakan kalau ada orang yang menepuk pinggangnya dan menjewer kupingnya bahkan kuping ini terus mendengar suara orang tertawa yang disusul dengan kata-kata :

“Dudung Kertadrya, dasar kau ini seorang yang bandel. Aku telah menyuruhmu jangan naik, kau memaksa naik kemari pula. Sekarang kau sia- sia saja mengeluarkan peluh yang sedemikian banyaknya. Akan tetapi tak apalah, anggap saja ini sebuah olah raga.”

Dudung Kertadrya menjadi kaget hingga ia berjingkrak, ketika ia berpaling ia mclihat Mintaraga musuh besarnya itu telah berdiri dibelakangnya, wajahnya tersungging sebuah senyuman. Ia sungguh tak dapat melihat kapan pemuda ini naik keatas.

“Ha.” Serunya yang terus tiba-tiba saja menyerang dengan mengayunkan tinjunya yang besar dan keras itu.

Mintaraga hanya tertawa.

“Baik.” Katanya. “Aku akan melayanimu mengadu tenaga!”

Mendadak tangan raksasa itu menyerang, akan tetapi bersama dengan itu tangan kanan Mintaragapun diayukan, bukannya untuk menyambut tinju lawannya, hanya untuk menyambar lengan, untuk dipegang keras-keras. Begitu ia dapat memegang maka begitu pula ia mengerahkan tenaganya. Sungguh hebat tenaganya, tarikannya membuat kedua kaki Dudung Kertadrya tak dapat mempertahankan kuda-kudanya. Dia terhuyung- huyung kedepan, hampir saja ia terguling jatuh.

“Kau masih akan melanjutkan pertempuran ini?” Tanya Mintaraga. Ia bertanya, akan tetapi iapun tak memberi kesempatan kepada orang ini untuk memberikan jawaban. Sebelum Dudung Kertadrya dapat berdiri tetap,  

pinggangnya telah disambar dan dipegang keras-keras, hingga ia dapat

dipegang seperti anak kecil.

Percuma saja raksasa yang bertubuh besar dan bertenaga kuat, sekarang dia mati kutu. Sama sekali dia tak dapat berontak untuk melepaskan diri. Maka akhirnya ia duduk ditanah.

“Min... Mintaraga...!” Katanya. “Aku menyerah... tolong lepaskanlah peganganmu.

Mintaraga tertawa.

“Untuk melepaskan tanganku ini masih ada waktu, tak nanti kalau keburu kasep.” Jawabnya. “Sekarang kau jawablah dulu pertanyaanku ini.”

“Kau tanyalah.” Seru Dudung Kertadrya.

“Aku akan bertanya apakah perlunya Poncowolo dan Paku Waja itu datang kealas gunung Tangkuban Prau ini?” Tanya Mintaraga dengan keren.

Wajah Dudung Kertadrya berubah menjadi pucat. Ia segera menundukkan kepalanya.

“Kau tak mau bicara? Baiklah.”

Setelah berkata demikian Mintaraga lalu mengerahkan tenaganya untuk makin mempererat pelukkannya. Dudung Kertadrya yang dipeluk ini sekarang merasakan kalau pinggangnya menjadi sakit. Bahkan tambahan tangannyapun dipegang oleh Mintaraga pula. Hingga tulang-tulang tangannya ini menjadi panas bukan main. Ia menggertak gigi untuk menahan rasa sakitnya. Ia masih tetap diam saja.

“Inilah pertaruhanmu.” Seru Mintaraga. “Kau sudah kalah, kau telah menyerah, mengapa kau tak mau bicara?”

“Biarpun kau bunuh, tetap saja aku tak dapat membuka mulut.” Jawab raksasa itu yang akhirnya berteriak.

Mintaraga menjadi tercengang, ia tahu benar akan sifat-sifat bangsa raksasa yang tinggal dialas gunung Tangkuban Prau. Bangsa itu lemas dan keras ada saatnya. Karena itu ia segera melepaskan pelukan dan pegangannya.

“Baiklah.” Katanya dengan sabar. “Kalau kau tak mau bicara maka akupun tak mau memaksa. Marilah kita duduk omong-omongan sebagai seorang sahabat saja. Bukankah lebih baik memperbanyak kawan dari pada menimbun lawan?”

Begitu ia berkata, Mintaraga segera menjatuhkan dirinya duduk disamping Dudung Kertadrya.

Dudung Kertadrya lalu memijit-mijit pinggangnya dan berkali-kali kelihatan meniup-niup tangannya yang kena diremas oleh Mintaraga. Rupa- rupanya lengan itu masih sakit dan panas. Memang pada waktu itu ditangannya ada tapak lima jari merah. Melihat hal ini maka gentarlah hatinya.  

“Dudung Kertadrya.” Seru Mintaraga dengan sabar. Pemuda ini masih

tetap memandang kearah Dudung Kertadrya. “Kau tadi telah bertaruh dengan adikku, maka kau harus pergi kesana untuk membayar hutangnya. Mengapa sekarang kau begini tak tahu malu? Apakah kau hendak menyangkal? Kalau melihat tubuhmu, sikapmu kau bukannya seorang yang suka membohong ataupun seorang bajingan.”

Mintaraga ini tahu bagaimana ia harus bersikap. Kalau cara keras tak dapat dia gunakan maka ia harus mempergunakan cara yang halus. Ia mendampingi raksasa itu persis seperti seorang sahabat lama yang baru saja bertemu setelah berpisah puluhan tahun. Sedikitpun ia tak khawatir kalau nanti akan dibokong oleh raksasa itu.

Dudung Kertadrya berpikir sebentar, segera memperdengarkan suaranya.

“Aku bertaruh, aku kalah dan aku menyerah.” Demikianlah perkataannya. “Aku berhutang maka aku harus membayar. Aku kalah terhadap adikmu maka aku harus membayar kepada adikmu. Maka kau panggillah adikmu itu dan aku akan segera membayarnya. Tak dapat aku membayar kepadamu. Sebab kau bukannya dia.”

Mintaraga menjadi terdiam setelah mendengar perkataan orang ini. Sebab ia tahu kalau orang-orang macam Dudung Kertadrya ini hanya mau berurusan dengan orang yang bersangkutan saja.

“Baik... baiklah...! Aku akan membawanya kembali.” Pikirnya. Percuma saja aku harus memaksanya. “Ateng Jagalawa harus dihajar kabur, barulah aku membiarkan Kembang Arum mengorek rahasia mereka dari raksasa ini.”  

Baru saja Mintaraga mengambil keputusan, belum lagi pemuda ini bertindak, mengajak raksasa ini turun dari tebing ini. Tiba-tiba telinganya yang tajam dapat mendengar suara tindakan orang yang sangat perlahan dibelakangnya. Rupa-rupanya ada orang yang berilmu tinggi datang kemari. Namun Dudung Kertadrya ini tak dapat mendengar suara tindakan kaki itu. Ia lalu mengambil ketetapan kalau ia tak mau berpaling, akan berlagak bodoh dan tak mengerti. Bahkan ia tertawa lebar.

“Dudung Kertadrya.” Katanya. “Aku mendengar dari mulut-mulut orang kabarnya kalian orang-orang dari alas gunung Tangkuban Prau ini mempunyai ilmu silat yang tinggi, benarkah ini?”

“Ya memang begitulah.” Jawab Dudung Kertadrya dengan tak lancar dan setengah berbisik. Orang dari alas pegunungan Tangkuban Prau ini menjadi heran ketika mendengar pertanyaan pemuda itu. Sebab waktu ini ia sedang berpikir kalau harus menyelamatkan diri. Teranglah nanti pemuda ini tentunya akan menyiksanya sebab ia tak mau memberi jawaban kepada pertanyaannya. “Ilmu silat kalian itu hanya mengandalkan kuda-kuda saja.” Seru

Mintaraga kemudian. “Karena itulah tak mudah kaki kalian disapu oleh musuh hingga roboh. Benarkah ini?”

“Ya memang begitulah.” Kembali Dudung Kertadrya menjawab. Akan tetapi kini ia malahan bertambah heran. “Kenapa kau ketahui itu?”

Mintaraga tertawa, akan tetapi sedikitpun ia tak menjawab. Ia hanya menanyakan lain urusan menanyakan ini dan itu. Dengan jalan inilah ia menyimpangkan jalan pikiran raksasa yang bertambah heran itu. Kalau dibiarkan ia menjadi heran maka banyak kemungkinan ia akan menjadi curiga. Namun raksasa itu bahkan berpikir :

‘Mengapa bocah ini berubah pikirannya? Mengapa ia tak menanyakan lagi urusan pertaruhan?’

Baru saja Dudung Kertadrya berpikir demikian, mendadak saja ia merasakan kalau tangannya kembali menjadi sakit dan kaku, saking kagetnya ia heran, ia berteriak dengan pertanyaan :

“Apa?...” menyusul itu bagaikan guntur menyambar kupingnya ia mendengar bentakan Mintaraga, tubuhnya terus mencelat tinggi? Akan tetapi Mintaraga bukannya mencelat seorang diri, ia bersama-sama mengajak si raksasa itu, terus saja badannya melayang ikut naik keatas.

Bersama dengan itu terdengarlah suara menggelugur.

Dudung Kertadrya menjadi heran, segera ia melihat kebawah. Karena inilah ia menjadi kaget setengah mati. Ia melihat sebuah batu besar menggelinding kebawah, jatuh kedalam jurang. Inilah suara yang hebat dan menggelugur tadi.

Dalam kagetnya Dudung Kertadrya merasakan kalau tubuhnya bergerak pula. Kalau tadi ia ditarik tangannya yang menyebabkan panas dan sakit, sekarang ia disambar pinggangnya dan tidak peduli tubuh besar, ia ditarik untuk melompat kesebuah pohon kayu yang berada didekatnya. Ia dibawa melompat sewaktu tadi mereka menempatkan kakinya diatas tanah.

Dibelakang pohon itu berdirilah seorang yang memegang sepotong kayu besar, akan tetapi orang itu sedang kaget hingga ia berdiam diri seperti anak-anakan saja.

“Tikus, kau berani membokongku?” Bentak Mintaraga sambil tangannya menjambak. Ia mempergunakan tangan kanannya sebab tangan kirinya masih tetap memegangi Dudung Kertadrya.

Orang itu kaget akan tetapi tentu saja ia tak mau menyerah dengan begitu saja. Dalam kagetnya ia teringat akan pembelaan diri, maka itu sambil berseru saking kagetnya itu, dia lempar pentungan itu, sebagai gantinya ia lalu menghunus sebatang penggada yang terbuat dari besi dan dengan senjata inilah ia mulai menyerang menusuk dada penyerangnya itu yang tadi dia bokong.  

“Bagus.   Kiranya   kau!”   Seru   Mintaraga   dengan   geram.   Ia   segera

mengenali anggota jago-jago Jipang Panolan yang nomor enam ini. Dialah Paku Waja yang mukanya penuh dengan burik-burik bekas penyakit cacar.

Gagal serangan Paku Waja, setelah itu ia lalu berkelahi dengan secara aneh, yaitu dari lari berputaran. Sebenarnya ia amat takut menghadapi Mintaraga, akan tetapi sekarang ia terpaksa melayani juga. Tadipun ia menyerang dengan secara menggelap karena takutnya kepada Mintaraga ini. Mintaraga melayani berkelahi dengan keputusannya akan menawan hidup-hidup jago Jipang Panolan ini, dengan begitu ia mengharapkan dapat mengorek keterangannya apa perlunya dia dan kawan-kawannya datang kealas gunung Tangkuban Prau ini. Karena itu ia tak segera membekuk

lawannya yang masih dapat bergerak dengan gesit.

“Mana orang-orang! Lekas!” Teriak Paku Waja dengan nyaring. “Inilah Mintaraga berada disini.”

Ia menjadi ketakutan sekali, sebab ia tahu kalau puncak ini tak cukup lebar untuk dipergunakan main kejar-kejaran, sedangkan untuk lari turunpun sangat sulit. Lari turun dari tebing itu tak semudah mendakinya.

Mintaraga mentertawai.

“Biarpun kau akan mengumpulkan Dua Puluh Satu Jago-jago Jipang Panolan aku tetap tak takut!!” Seru Mintaraga dengan takabur.

Dudung Kertadrya sementara itu menjadi terkejut sekali. Baru sekarang ia mengetahui kalau orang ini ternyata adalah Mintaraga. Mendadak saja ia mengerahkan tenaga untuk berontak, hingga ia dapat melepaskan diri.

Inilah yang tak pernah disangka-sangka oleh Mintaraga, karena ketika itu perhatiannya semua ditujukan kearah Paku Waja. Karena telah ia menjadi mendongkol.

“Jika kau mampu kaburlah.” Serunya. Ia melompat dan tangan kanannya menyambar menangkap tangan kiri lawannya. Mintaraga sedang melayani Paku Waja, karena itu Dudung Kertadrya dapat melepaskan diri. Hingga ia harus melawan pula. Karena itulah maka Paku Waja menjadi bebas. Jago keenam dari Jipang Panolan ini tak mau lari, akan tetapi justru ia menerjang, untuk membokong lagi. Ia melihat ketika yang baik selagi dua orang itu berkutetatan.

Dudung Kertadryapun tak mau menyerah kalah. Terlanjur sudah ia terpegang tangan kirinya. Ia melompat merapatkan diri, untuk memeluk kearah pemuda itu, ia dapat berbuat demikian karena tangan kanannya bebas. Selain itu iapun menang tubuh karena tubuhnya besar bagaikan raksasa dan mempunyai tenaga yang amat kuat.

Mintaraga dapat melihat ancaman bahaya yang datang dari dua pihak, namun ia adalah seorang yang mempunyai kesabaran dan ketenangan yang sangat mengagumkan, hingga dengan demikian sedikitpun ia tak menjadi bingung. Dengan tangan kanannya ia masih memegang keras-keras tangan  

Dudung Kertadrya. Maka atas serangan bersamaan ini sambil mengelak dari

ujung penggada, ia menangkis sedikit, hingga iapun bebas dari pelukan. Bersama dengan itu ia mengerahkan tenaganya, meneruskan menarik membanting tubuh raksasa yang tinggi besar itu. Ia membanting akan tetapi pegangannya tetap tak dilepaskan.

Bagaikan ambruknya gunung Semeru demikianlah robohnya Dudung Kertadrya.

Dengan begitu Mintaraga masih belum bebas dari ancaman bahaya. Perlawanan Dudung Kertadrya ini memberi ketika kepada Mintaraga. Jago keenam dari Jipang Panolan ini telah segera mengulangi tikamannya, Hanya kali ini kepada Dudung Kertadrya.

Mintaraga menjadi kaget sekali ketika merasakan ada sambaran angin. Waktu itu Dudung Kertadrya sedang roboh. Ia segera menyamplok dengan tangan kirinya yang masih merdeka itu. Ketika itu tubuhnya menempel dengan tubuh Dudung Kertadrya. Maka sambil terus menyenderkan tubuhnya itu, dapatlah ia mengangkat kedua kakinya, dengan kedua kakinya itu ia lalu menendang kearah penyerang yang sangat licik itu.

Tiba-tiba saja terdengarlah sebuah jeritan tertahan yang keras sekali dari Paku Waja. Tubuhnya mental melayang kebelakang seperti melesatnya sebuah anak panah yang terlepas dari busurnya. Masih ia sempat melihat kearah mana dirinya terlempar, kembali Paku Waja memperdengarkan jeritannya. Sekarang malahan sehebat-hebatnya.

Ia terjatuh kedalam jurang yang dalam dan gelap akibat dari tendangan si anak muda itu, maka sampai disitu maka tamatlah riwayat dari Paku Waja orang keenam dari jago-jago Jipang Panolan.

Mintaraga segera bangkit, untuk itu ia lalu menolak tubuh Dudung Kertadrya, yang tangannya dilepaskan. Dia segera melongok kedalam jurang tanpa melihat apa-apa juga. Sekarang barulah Mintaraga menyesal mengapa ia telah menendang orang Jipang itu hingga masuk kedalam jurang.

‘Jago dari Jipang Panolan ini telah mampus, tak dapat aku mencari keterangan dari mulutnya.’ Pikirnya. ‘Tak ada jalan lain aku harus mendapatkan keterangan dari raksasa ini.’

Justru itu Dudung Kertadryapun telah merayap bangun, dia sedang bertindak untuk turun dan melarikan diri.

“He... hendak lari kemanakah kau?” Bentak Mintaraga dengan bengis.

Raksasa tinggi besar itu menjadi kaget setengah mati, karena takutnya ia lalu hanya berdiam diri saja. Diam tak berani meneruskan kehendaknya.

“Bagaimana?” Tanya Mintaraga dengan perlahan. “Sebenarnya kau ini mau berkata atau tidak?”

Dudung Kertadrya memperdengarkan perkataannya yang tak nyata. “Jadi kau ini Mintaraga?” Tanyanya kemudian.

Pemuda itu hanya menganggukkan diri.  

“Aku   tak   mau   bicara...   aku   tak   mau   membuka   mulut   untuk

menceritakan hal itu.” Teriak Dudung Kertadrya dengan tiba-tiba.

“Hem...” Tiba-tiba saja Mintaraga memperdengarkan suara ejekannya. Tanpa berkata apa, ia mengangkat sebuah batu besar sekali, untuk dipindahkan, setelah itu ia mengambil pengganda Paku Waja. Ia masih tak berkata apa-apa ketika ia mempergunakan pengganda itu untuk mencongkel bawahan batu besar tadi, lalu ia mendorong dengan kaget hingga batu itu terlempar kedalam jurang didalam lalu terdengar suara yang gemuruh bagaikan guntur.

Segera setelah itu ia mengawasi raksasa itu dengan pandangan mata yang tajam. Namun sedikitpun Mintaraga masih tetap tak mau membuka mulutnya.

Dudung Kertadrya segera menundukkan kepalanya untuk menyingkir dari pandangan mata yang kelihatan bengis berapi-api itu, ia berdiam sampai lama, akan tetapi tak lama kemudian terdengarlah perkataannya yang diucapkan dengan tak lancar.

“Pendekar... kau tak sudi bicara hingga membuatku menjadi serba sulit sekali... Kau telah menolong selembar nyawaku, mana dapat aku melupakan itu? Paku Waja yang busuk itu hem...! Dia sangat kejam, sekalipun aku hendak dibunuhnya.”

“Tidak apa. Itu bukannya sebuah budi.” Jawab Mintaraga dengan sabar. “Sejak aku turun gunung, ketahuilah baru pertama kali ini aku membunuh orang. Pun ini jika bukan karena terpaksa aku tak akan mempunyai pikiran untuk membunuhnya.”

Dudung Kertadrya mengawasi, agaknya ia menjadi heran. “Mengapa?” Tanyanya.

Mintaraga tertawa tawar.

“Ia harus ditangkap hidup-hidup dan harus dipaksa untuk mengatakan apa maksudnya datang kemari ini!” Jawabnya. “Jika ia kutotok jalan darahnya dibagian manapun juga maka sangat mengherankan kalau ia tetap tak mau membuka mulut. Bukankah itu terlebih baik dari pada menghadapimu yang seperti orang gagu?”

Muka Dudung Kertadrya menjadi merah. Ia teringat akan kebaikan si anak muda. Karena itu raksasa ini menjadi berpikir dengan keras. Sesaat kemudian ia lalu mengangkat kepalanya.

“Aku Dudung Kertadrya, bukannya seorang yang tak ingat akan budi kebaikan orang.” Katanya dengan nyaring. Apa yang akan kau tanyakan aku tentu akan menjawab.”

Mintaraga menjadi girang sekali ketika melihat perubahan orang yang berkepala batu ini.

“Bagus.” Katanya. “Aku bertanya mengapa jago Jipang Panolan itu berdatangan kemari dengan tak menghiraukan perjalanan yang jauh?”  

“Mereka datang kemari untuk melakukan dua hal yang penting.” Jawab

Dudung Kertadrya. “Yang pertama itu....” Mendadak ia berhenti, ia agaknya sadar. Segera saja ia berkata. “Aku tak dapat bicara, tidak bisa !”

Mintaraga menjadi mendongkol bersama menjadi merasa heran dan lucu, ingin ia menotok saja untuk menyiksa, akan tetapi untunglah ia dapat menyabarkan diri.

‘Biarlah aku tak akan memaksa orang alas gunung Tangkuban Prau ini.’ Pikirnya kemudian. Karena itu ia lalu tertawa dingin. Kemudian katanya. “Baiklah kalau kau tidak mau bicara apakah kau sangka aku tak akan dapat mencari jago-jago Jipang Panolan? Nah kau pergilah, aku tak akan menanyakan kepadamu.”

Dudung Kertadrya menjadi malu.

“Pendekar... bukannya Dudung Kertadrya ini seorang yang tak ingat akan budi kebaikan.” Katanya. “Sebenarnya aku terpaksa karena aku telah bersumpah berat, bersumpah tak akan membuka rahasia ini. Kuharapkan supaya kau jangan menyesalkan diriku ini. ”

Mintaraga mengangguk, segera ia bertindak untuk turun dari tebing itu. “Tunggu dulu.” Tiba-tiba terdengarlah perkataan Dudung Kertadrya.

Mintaraga segera menghentikan tindakannya, setelah berpaling ia lalu bertanya :

“Mau apakah kau ini menahanku?”

“Kau tanyalah aku.” Jawabnya. “Kalau kau menjawab dengan benar maka aku akan menganggukkan kepala, kalau tidak aku akan menggelengkan kepala.”

Mintaraga menjadi girang hingga ia lalu menepuk pahanya.

“Cara ini bagus sekali.” Ia memuji. Segera saja ia lalu mulai bertanya : “Bukankah seluruh jago-jago Jipang Panolan berada disini?”

Dudung Kertadrya menganggukan kepalanya.

“Ketika mereka datang, maka mereka lalu mencari ketuamu, Ateng Jagalawa, dan mereka minta bantuan bukan?” Kembali Mintaraga bertanya.

Kembali Dudung Kertadryapun menganggukkan kepalanya.

“Bukankah Ateng Jagalawa dimintai bantuannya untuk menghadapiku? Yang benar mereka itu hendak mencegahku yang akan pergi kebarat ini bukan?”

Kali ini Dudung Kertadrya menggelengkan kepalanya.

‘Ah.   kenapa aku begini tolol?’ Pikir Mintaraga. ‘Mana Patih Udara tahu

kalau aku akan pergi kebarat? Dia tak tahu kalau Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kerajaan Demak Bintoro yang dibawa oleh Pendeta Baudenda itu adalah sebuah Tunggul yang palsu. Dia ini melakukan perjalanan jauh tentunya akan mencari harta yang besar... Ia segera menanyakan hal ini kepada si raksasa, dan ternyata Dudung Kertadrya mengangguk, malahan lalu membuka mulutnya.  

“Inilah yang nomor  satu.” Serunya. “Bagus sekali  pertanyaanmu ini,

dengan demikian maka berarti aku tak melanggar janji, karena aku tak membuka mulut kepada siapapun juga.”

Mintaraga tertawa didalam hatinya. Ia benar-benar merasakan kelucuan si raksasa yang tolol itu.

‘Bukankah anggukan kepalanya itu saja telah sama saja dengan membuka rahasia?’ Pikirnya. ‘Ah, sekarang masih ada yang nomor dua. Apakah itu?’ Setelah dipikir barulah ia bertanya kepada orang alas gunung Tangkuban Prau itu.

“Jago-jago Jipang Panolan ini datang dengan dua maksud, akan tetapi apakah ia tak membawa maksud yang ketiga?”

Dudung Kertadrya menggelengkan kepalanya.

“Kalau begitu sekarang dia datang untuk memeriksa tempat, untuk itu nantinya ia akan membawa pasukan untuk penyerangan besar-besaran kepada wilayah gunung Tangkuban Prau. Benarkah begitu?” Tanya Mintaraga.

Dudung Kertadrya menggelengkan kepala pula. Ia kembali menjadi gagu.

Pertanyaan Mintaraga ini sebenarnya tepat. Ketika itu sudah biasa orang-orang Jipang menyerbu wilayah lain dan merebutnya. Sedangkan daerah alas Tangkuban Prau inipun salah satu yang diincarnya.

Memang disaat kejayaan Jipang dulu daerah inipun menjadi jajahannya, akan tetepi semenjak Jipang bentrok dengan Pajang yang dipimpin oleh Jaka Tingkir, maka lepas pula perhatian Jipang pada jajahannya itu, hingga dengan demikian maka suku dari alas gunung Tangkuban Prau itu dapat mengusir penjajahnya. Hal ini tentu saja membuat Ario Penangsang menjadi malu dan naik darah. Karena itu ia lalu menggunakan akal dan akan kembali menjajah suku yang tinggal dialas gunung Tangkuban Prau untuk mengangkat derajatnya lagi. Maka akhirnya daerah gunung Tangkuban Prau ini diserbu lagi.

Mintaraga berpikir pula, lalu ia tertawa. Katanya :

“Jago-jago Jipang Panolan tak mau bermusuhan dengan orang-orang alas gunung Tangkuban Prau. Kalau demikian apakah Patih Udara ini menjadi perantara untuk persahabatan mereka?”

Dudung Kertadrya menganggukkan kepalanya. Mintaraga heran, hingga ia berseru didalam hatinya :

‘Inilah aneh!’ Ia segera bertanya pula kepada raksasa tinggi besar yang berada dihadapannya itu.

“Bukankah mereka itu datang kemari untuk meminjam bala bantuan tentara atau barisan orang-orang dari alas gunung Tangkuban Prau ini?”

Dudung Kertadryapun menganggukkan kepalanya.  

Melihat anggukan kepala Dudung Kertadrya ini maka Mintaraga

menjadi terkejut, hingga ia berjingkrak : ‘Hebat!’ Ia mengeluh didalam hati.

“Jadi hanya dua ini saja? Tak adakah urusan yang ketiganya?” Kembali Mintaraga bertanya.

Dudung Kertadrya menganggukkan kepalanya. “Tidak ada lagi?” Jawabnya.

Mintaraga benar-benar kaget sekali, di Jawa Tengah, dimana-mana kaum pencinta Demak Bintoro sedang mengumpulkan tentara, seperti Ngawonggo Pati, Ireng Galih dan Brang Pranatas, masing-masing mereka itu mempunyai ratusan ribu tentara, maksud mereka adalah menggempur Jipang Panolan yang selalu membuat kacau kerajaan. Ia sendiri dengan susah payah mencari Tunggul Tirto Ayu untuk diserahkan kepada Ngawonggo Pati akan dapat mengumpulkan orang-orang gagah yang sekarang masih bergerak dengan terpencar-pencar. Akan tetapi sekarang Patih Udara minta bantuan kepada orangg-orang dari alas pegunungan Tangkuban Prau atau orang-orang yang mengaku keturunan dari SANGKURIANG, inilah bahaya. Itu berarti kalau orang Jipang akan menjadi bertambah kuat.

“Bagaimanakah jalannya usaha Patih Udara itu?” Tanya Mintaraga kemudian. “Apakah pemimpinmu menerima baik permintaannya itu?”

Dudung Kertadrya membuka lebar kedua matanya, ia segera memandang kearah anak muda yang berada dihadapannya itu. Sedikitpun ia tak menggelengkan kepala ataupun menganggukkan kepalanya. Teranglah kalau ia sedang berada didalam kesangsian.

Mintaraga menjadi heran, segera ia berpikir dengan keras. Tidak lama, ia merasa mengerti. Maka mulailah ia berkata pula. Ia tidak menanya seperti tadi. Ia omong dari lain hal, dengan begitu ia memutar jalan. Setelah selang sekian lama, ia menyampaikanlah maksud hatinya. Dan diluar keinsyafannya Dudung Kertadryapun telah memberikan keterangan.

Rombongan Patih Udara itu, setelah dikalahkan oleh Mintaraga jumlah mereka masih lengkap. Dengan secara diam-diam mereka lalu menerjang daerah Pajang untuk menyelidiki siapa saja yang masih tetap setia kepada Pajang atau tepatnya Demak Bintoro. Mereka itu datang dengan menyamar. Ada yang menyamar sebagai penjual daun, ada pula yang menyamar sebagai pengemis dan sebagainya. Mereka akhirnya mendapat kenyataan kalau semangat tentara rakyat itu baik dan kuat. Terutama sekali barisan yang dipimpin oleh Ngawonggo Pati. Pasukan-pasukan ini benar-benar gemblengan dan tangguh sekali. Sampai lama Patih Udara memikirkan daya upaya untuk bisanya memecahkan barisan yang kuat itu. Akal itu didapat dengan jalan memecahkan mereka, hingga satu sama lainnya tak ada persatuan dan masih tetap terpecah belah. Dilain pihak karena tahu kalau pasukan Jipang itu masih sangat lemah kalau dibandingkan dengan pasukan  

Pajang maka ia lalu akan meminjam tentara alas gunung Tangkuban Prau

yang menamakan dirinya pasukan ‘SANGKURIANG SAKTI’. Kebetulan sekali mereka mendengar kabar kalau Mintaraga batal menyerahkan Tunggul Tirto Ayu. Bahkan pemuda ini setelah mengacau ibu kota lalu balik dan meneruskan perjalanannya ke barat. Karena itulah Patih Udara bertindak dengan cepat, ialah disatu pihak mau meminjam tentara dan dipihak lainnya akan mencegah Mintaraga, terutama sekali untuk merampas Tunggul Tirto Ayunya. Dengan demikian maka mereka lalu berangkat kebarat. Ia mempunyai kekuasaan besar untuk melakukan sesuatu, tak perlu ia membuat laporan lagi kepada adipatinya. Sebab Ario Penangsang telah memberinya mandat penuh. Cepat ia berjalan walaupun mereka itu berangkat belakangan, namun ia terlebih dahulu sampai kalau dibandingkan dengan Mintaraga. Ia kenal dengan Ateng Jagalawa yang menjadi kepala suku dari orang-orang alas gunung Tangkuban Prau, bahkan Ateng Jagalawa inipun merangkap menjadi pemimpin pasukan ‘Sangkuriang Sakti’. Setelah ia mengunjungi Ateng, bicara dan sepakat kalau orang-orang alas Tangkuban Prau ini bersedia untuk membantunya.

Mendapat tahu semua ini, hati Mintaraga menjadi lega. Ia segera menyeka peluhnya yang terus keluar kedahinya.

‘Untunglah daya upaya Patih Udara ini baru saja dimulai.’ Pikirnya. ‘Dasar Tuhan Maha Adil, aku telah dapat mengetahui hal ini. Dan akupun yang harus menghancurkan mereka.’

Segera Mintaraga bertanya pula tentang ini dan itu pada Dudung Kertadrya hingga ia memperoleh keterangan bahwa nanti orang-orang dari alas gunung Tangkuban Prau ini akan mengadakan rapat besar untuk memutuskan mau atau tidaknya mereka itu membantu orang-orang Jipang Panolan. Bahwa rapat itu akan diadakan besuk dan tempatnya adalah di gunung Tangkuban Prau.

“Sungguh kebetulan.” Seru Mintaraga yang menjadi bertambah lega. ‘Biarlah sebelum aku mencari Arya Panuju untuk mendapatkan Tunggul Tirto Ayu terlebih dahulu aku akan memberi hajaran kepada Patih Udara. Aku harus membuat jago-jago Jipang Panolan ini lari terkencing-kencing pulang ke Jipang. Mereka harus lari bagaikan anjing ketakutan.’

Meskipun ia berpikir demikian Mintaraga insyaf bahwa ia tidak dapat mengandalkan kekerasan saja, disamping itu ia harus menyadarkan beberapa ketua suku yang tinggal didalam alas gunung Tangkuban Prau itu. Mereka harus tunduk dan insyaf. Karena ini lagi-lagi ia bicara dengan Dudung Kertadrya, sampai ia mengetahui banyak hal dan adat-istiadat umumnya dari bangsa orang-orang Tangkuban Prau ini. Demikianlah ia main tanya kepada Dudung Kertadrya, sambil bertanya ia berpikir, ia mengasah otaknya. Setelah fajar menyingsing, ia sudah dapat memikirkan sebuah akal untuk memberi hajaran kepada rombongan Patih Udara.  

*

* *

Kira-kira sepemakanan nasi lamanya, Mintaraga dan Dudung Kertadrya telah kembali ketempatnya dimana ia tadi datang. Disana mereka masih menyaksikan antara pertempuran Ateng Jagalawa dengan Kembang Arum. Kembalinya Mintaraga ini ternyata membuat Kembang Arum menjadi lega. Semenjak tadi ia memang memikirkan saja dan mengharap-harap kedatangannya.

Segera dengan serangan jurus Angin Besar menyapu pohon cemara dengan pedang ditangan kiri dia mendesak Ateng Jagalawa sampai lawannya melompat mundur tiga tindak.

“Ateng Jagalawa, marilah kita melepaskan lelah sebentar.” Katanya. “Jika ada ketika bolehlah kita bertempur lagi.”

Ateng Jagalawa merasa, bagaimana lawannya telah melibatnya, karena itu dia menjadi penasaran.

“Siapakah yang mempunyai waktu untuk menantikanmu?” Jawabnya dengan mendongkol. “Marilah kita bertempur sampai ada keputusannya baru kita bicara lagi.” Segera saja ia menyabet dengan cambuknya.

Kembang Arum segera mengelakkan cambukan ini, dengan jalan inilah ujung Cambuk Ateng Jagalawa kembali kepada majikannya. Untuk herannya orang alas Tangkuban Prau ini menjadi bingung, sebab terasa cambuknya ini menyangkut sesuatu dan diam.

Maka ia segera berpaling, dan untuk herannya ia melihat kalau ujung cambuknya itu ternyata telah dipegang oleh Mintaraga.

Untuk wilayah alas Gunung Tangkuban Prau, Ateng Jagalawa adalah jago Cambuk nomor satu, belum pernah selama hidupnya cambuknya itu ditangkap oleh orang lain, sekarang ini ia mendapatkan sebuah pengalaman pahit yang pertama kalinya. Karena itu tak mengherankan kalau ia menjadi heran dan marah sekali.

“Kau mau apa?” Tegurnya. “Kau mau melepaskan tanganmu atau tidak?”

Ia bukannya hanya mengancam saja, melainkan terus menarik cambuknya itu dengan sekeras tenaga. Kesudahannya ia mendapatkan kalau cambuknya menjadi terlepas dari pegangan Mintaraga.

Mintaraga tertawa.

“Adikku ini omong-omong dari hal yang benar.” Katanya. “Kalian telah bertempur selama setengah malaman, tak ada yang kalah dan tak ada pula yang menang, karena itu lebih baik kalian jangan bertempur terlebih jauh.”

Akan tetapi Ateng Jagalawa telah marah sekali dan ia segera membentak  

: “Jika aku hendak berkelahi maka aku akan berkelahi, akan tetapi kalau

aku tidak suka maka aku tak akan berbuat demikian. Siapa sudi kau kuasai.” Setelah menegur kembali ia mengerahkan semua tenaganya ia menarik sambil memutar dengan keras.

Maka bergeraklah cambuk itu dan tiba-tiba saja tubuh Mintaraga menjadi terangkat, melayang mengikuti cambuk yang dipegangnya.

Ditengah udara Mintaraga tertawa terbahak-bahak. Ia lalu memegang keras-keras ujung cambuk itu. Setelah tertawa ia lalu mengerahkan tenaga dalamnya untuk membuat tubuhnya menjadi berat, kemudian turun mengikuti cambuk itu, setelah sampai ditanah tiba-tiba saja ia mengerahkan tenaganya, melepaskan ujung cambuk sambil menghentak keras, hingga cambuk menjadi kaku dan mencelat karas sekali.

Inilah yang tak pernah disangka-sangka oleh Ateng Jagalawa, maka itu tanpa ampun lagi, tubuhnya tertarik terbawa cambuknya itu terhuyung- huyung beberapa tombak. Untunglah baginya kalau dia masih dapat mempertahankan diri, hingga dengan demikian tak usahlah ia harus roboh mencium tanah. Mukanya menjadi merah. Akan tetapi masih ada yang lebih hebat. Waktu ia melihat cambuknya, ujungnya itu putus. Sedangkan Ateng Jagalawa itu tahu benar kalau cambuknya ini terbuat dari pada kulit dan otot kerbau yang kuat dan telah direndam dalam reramuan obat-obatan yang dapat mengkuatkan barang. Cambuk itu sekarang terlepas pintalannya, terpecah menjadi beberapa potongan.

“Ateng Jagalawa.” Seru Mintaraga kepada kepala suku itu. “Melihat kau begini tak punya guna, maka aku tak menginginkan pula barang tanggunganmu. Sedangkan tentang lima ekor gajah akupun tak khawatir kau tak akan menyerahkannya. Sekarang pulanglah, aku tak akan mengganggumu lagi.”

Apa yang dipikir oleh Ateng Jagalawa ini tak dapat diduga oleh Mintaraga, ia hanya melihat kalau lawannya itu segera berubah sikapnya, ia terus tertawa-tawa.

“Pendekar... kau begini gagah, pasti kau adalah salah seorang pendekar besar dari Jawa Tengah.” Katanya. “Aku telah sangat menyesal karena telah salah lihat, aku mengharapkan agar kau sudi memaafkan. Ki sanak sekalian datang dari daerah jauh maka inilah bukan sembarang kunjungan, maka kini aku mengundang kalian, sukakah mampir dalam gubukku karena aku akan menjamu teh kepadamu, bagaimana?”.......