Tunggul Bintoro Jilid 11

 
JILID XI

SUCITRO menantang pemuda itu untuk mengadu kepandaian di Jipang Panolan, karena itulah ia tak mau melayani Mintaraga ditempat sini.

“Hem...” Ki Sucitro terus memperdengarkan suaranya dari hidung, ketika kakek itu melihat munculnya Mintaraga. Namun iapun memandang dengan tajam-tajam. “Huahaaaa... Huahaaaa... Huaha... bocah yang baik, ketika aku mengharap-harapkan kedatanganmu kau tak muncul-muncul. Akan tetapi setelah aku tak mengharapkan kedatanganmu sekonyong- konyong kau muncul. Hem apakah perlunya kau datang kemari ini??”

“Kecuali untuk Tunggul Tirto Ayu yang menjadi pusaka kerajaan Demak Bintoro, untuk apa lagikah??” Jawab Candra Wulan yang mendahului kakaknya. “Dengan demikian janganlah kau berlagak bodoh !”

“Hem...!” Kembali ki Sucitro si tokoh aneh dari selatan itu memperdengarkan suaranya lagi. Didalam hatinya sebenarnya ia telah bersangsi. Kemudian pikirnya didalam hati :

‘Dengan munculnya pemuda ini maka urusan Tunggul Tirto Ayu ini akan bertambah ruwet. Terang akan terjadi perebutan segi tiga. Justru mustika itu tinggal jatuh ketanganku saja. Mengapa mereka itu datang?’ Karena pikirannya inilah maka ia menjadi sengit sekali. Ia mengetahui dari mulut Kalong Ireng kalau pemuda yang bernama Mintaraga ini mempunyai kepandaian yang tinggi, hal itu tentunya akan menyulitkan dirinya untuk mendapatkan Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kerajaan Demak Bintoro.

Waktu itu Jogosatru telah mengangkat bangun ki pendeta Baudenda yang menjadi gurunya, Terus saja pendeta Baudenda itu didudukkan. Pendeta Baudenda itu terluka tak enteng saja, sungguh sangat beruntung baginya karena latihan tenaga dalamnya telah mencapai kesempurnaan. Dengan menenangkan hatinya dan mengatur pernapasannya sebentar saja kakek pendeta murtad ini telah dapat membebaskan dirinya dari ancaman bahaya maut. Sedangkan Jogosatrupun membantu gurunya dengan  

mengerahkan   tenaga   dalamnya   untuk   disalurkan   kedalam   tubuh   ki

Baudenda. Akan tetapi biarpun begitu, kakek pendeta ini tak dapat sembuh dengan seketika, napasnya masih tetap sesak. Kakek pendeta Baudenda ini tahu kalau muridnya terang tak dapat menolongnya, karena itu ketika ia melihat munculnya Mintaraga maka menjadi girang bercampur kaget.

“Mintaraga mari kemari!” Panggilnya dengan suara yang serak.

Memang anak muda yang gagah perkasa ini sangat menghormat dan taat sekali kepada paman eyang gurunya.

“Paman eyang guru akan memberi perintah apakah kepadaku?” Tanyanya dengan sikap tetap menghormat.

Untuk sesaat Pendeta Baudenda menjadi ragu-ragu. Sebagai yang lebih tua derajatnya, bagaimana ia dapat membuka mulut dihadapan orang banyak untuk minta tolong kepada anak muda ini. Namun kalau ia tak minta tolong maka lukanya tak akan sembuh dengan segera. Kalau ia tak sembuh maka ia akan tetap mendongkol kepada Sucitro dan malu.

Sewaktu pendeta Baudenda terdiam, maka tiba-tiba Sucitro terus menegur kearah pendeta tua itu.

“Bagus pendeta Baudenda.” Tegur jago tua itu. “Kita sudah berjanji, kalau dalam tiga ratus jurus kau roboh, kau akan mengaku kalah. Sekarang bukankah kau harus menyerahkan Tunggul Tirto Ayu itu kepadaku?”

Nyaring sekali suara ki Sucitro itu, dan setelah lenyap suaranya ini maka dengan perlahan-lahan ia mulai bertindak maju menghampiri kearah si pendeta.

Hati pendeta Baudenda menjadi memukul keras. Pihaknya sangat lemah sekali, karena patih Udara sampai saat ini belum juga muncul. Yang lebih celaka lagi kalau Sucitro bekerja sama dengan Mintaraga. Ia tahu benar kalau Mintaragapun datang untuk Tunggul Tirto Ayu itu. Untuknya tetap sulit, baik ia melayani Sucitro seorang atau Mintaraga saja. Oleh karena ini, ia lalu berpikir dengan keras. Tiba-tiba hatinya menjadi lega.

“Sucitro!” Ia lalu berkata, suaranyapun nyaring. “Akan kuserahkan Tunggul Tirto Ayu kepadamu. Sebagai salah seorang yang berkecimpung dalam dunia kependekaran maka aku tak akan mungkin setelah mengatakan satu kemudian menjadi dua.”

Betapa gembiranya hati Sucitro ketika mendengar pernyataan ki pendeta Baudenda ini, segera ia mengulurkan tangannya.

“Bagus.... bagus....!” Serunya. “Cepat kau berikan kepadaku Tunggul Tirto Ayu itu.”

“Kau tunggulah sebentar.” Jawab pendeta Baudenda. “Aku telah tua dan hampir masuk kedalam liang kubur, sekarang aku kena pukulanmu, karena itu aku telah merasa kalau tak akan dapat hidup lebih lama lagi. Mintaraga itu adalah cucu keponakan muridku. Karena itu aku hendak bicara dulu dengannya ”  

Sucitro berpikir dengan cepat : “Asalkan Pendeta Baudenda sendiri yang

menyerahkan Tunggul Tirto Ayu itu sendiri ditanganku, Mintaraga tentu tidak dapat berkata satu apapun lagi........” Maka ia lalu menunjukkan sikap jantannya. Ia mundur untuk berdiri cukup jauh dari pendeta Baudenda.

Pendeta Baudenda dan Mintaraga satu sama lainnya berada didekatnya. “Mintaraga.” Katanya. “Semasa di Karang Bolong dan Laut Kidul itu

apakah perjanjian kita?”

“Kita telah berjanji untuk bekerja di dua jurusan untuk mencari Tunggul Tirto Ayu.” Jawab Mintaraga. “Kita telah berjanji bahwa siapa yang mendapatkan terlebih dahulu maka dialah yang berhak atas Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kerajaan Demak Bintoro itu.”

Dengan berpura-pura pendeta Baudenda menyeringai.

“Betul.” Jawabnya. “Kesudahannya ternyata aku yang mendapatkannya terlebih dahulu. Akan tetapi mengapa sekarang agaknya kau tak mau sudah?”

“Perjanjian kita itu dulu masih ada tambahannya.” Jawab Mintaraga dengan cepat. “Kita telah berjanji juga bukan, kalau Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kerajaan Demak Bintoro ini kau serahkan kepada orang-orang Jipang Panolan, maka aku tak akan tinggal diam saja. Sedangkan disini aku melihat sendiri kalau orang-orang Jipang Panolan sedang berkumpul. Paman eyang guru kaulah yang telah melanggar janji itu, bukan aku yang mulai.”

Pendeta Baudenda menundukkan kepalanya, agaknya kakek pendeta itu sangat menyesal.

“Inilah disebabkan dari ketololan paman eyang gurumu diwaktu yang lalu.” Jawabnya mengaku. “Aku telah kena diperdayakan oleh perkataan manis dari patih Udara, sekarang demikianlah kesulitanku. Mau mati atau mau hidup tak dapat... karena aku telah kena pukulan tangan ki Sucitro yang hebat, misalkan saja Tuhan masih melindungiku maka aku akan dapat hidup, namun apakah artinya kalau aku harus kehilangan lima bagian dari kepandaianku ini?... kalau hal ini benar-benar terjadi maka orang dunia persilatan yang hanya mempunyai kepandaian murahan saja tak dapat kukalahkan. Karena itulah apakah artinya Tunggul Tirto Ayu itu bagiku? Tidak ada sama sekali. !”

Tidak cukup dengan kata-katanya yang lemah dan romannya yang lesu, Pendeta Baudendapun lalu mengucurkan air matanya. Begitu menyaksikan keadaan paman eyang gurunya ini maka lemahlah hati Mintaraga.

“Paman eyang guru, sekarang ini kau menginginkan apa?” Tanyanya. Pendeta Baudenda melihat kesekitarnya.

“Cucuku yang baik, kalau kau menolongku maka Tunggul Tirto Ayu ini akan kuserahkan kepadamu...” Katanya dengan suara sangat perlahan. “Kau  

telah   melihat   bagaimana   aku   terluka   maka   tentunya   kau   tahu   pula

bagaimana cara mengobatinya ”

Mendengar ini Mintaraga lalu berpikir dengan keras. Ia telah menyaksikan bagaimana pamannya itu berusaha menolong gurunya. Akan tetapi hasilnya tetap sia-sia belaka.

“Baiklah aku akan menolongmu eyang.” Katanya kemudian. Segera ia berjongkok dan menggulung lengan bajunya dihadapan kakek pendeta itu.

Dalam keadaan seperti itu, Mintaraga tak secerdik Candra Wulan. Gadis ini telah menarik tangan Mintaraga dengan segera.

“Kakang Mintaraga, jangan kau dengarkan ocehannya itu.” Seru Candra Wulan dengan lantang. “Lebih dahulu kau suruh dia mengeluarkan Tunggul Tirto Ayu-nya.”

Mendengar perkataan gadis ini maka berjingkraklah ki Jogosatru. Ia berjingkrak karena sangat mendongkol.

“Binatang, apakah kau ini keturunan dari Tumenggung Malangyudo??” Bentaknya. “Apakah orang dari perguruan Lawu? Dengan cara dan mengandalkan apakah kau berani berbuat demikian kurang ajar dengan orang yang derajat serta kedudukannya lebih tinggi? Beranikah kau melanggar perkataan yang diucapkan oleh paman eyang guru Mintaraga ini??”

Perbuatan kasar ini telah membangkitkan kemendongkolan yang telah terpendam dihati Mintaraga. Karena itu tanpa berkata apa-apa maka Mintaraga lalu memutar tubuhnya untuk melangkah pergi.

Jogosatru benar-benar seorang yang licik dan licin, bahkan tak kalah dengan gurunya. Begitu melihat kalau keponakannya ini memutar tubuhnya, bagaikan angin taufan atau hujan lebat ia lalu menyerang kearah Candra Wulan. Ki Jogosatru memang ingin dengan sekali serang saja dapat menangkap Candra Wulan.

Memang telah dipikir dengan secara dalam-dalam oleh Jogosatru kalau ia dapat membekuk Candra Wulan sebagai barang tanggungan maka Mintaraga tentunya akan mati kutu. Pemuda itu akan menuruti apa saja yang dikatakannya. Iapun beranggapan kalau mudah saja untuk membekuk gadis itu, karena ia mempunyai tenaga yang besar.

Namun ia salah hitung. Jogosatru tak mengetahui kalau gadis ini telah mendapatkan petunjuk dari ki Pendeta Argo Bayu dan belasan hari ini Candra Wulan selalu berlatih dengan giat sekali hingga dengan demikian maka gadis ini telah dapat merubah dirinya hingga mempunyai kepandaian yang lebih tinggi beberapa kali dengan hari-hari sebelumnya.

Candra Wulan melihat gerakan tubuh bagaikan bayangan berkelebat dan bersama dengan itu terdengar tiupan angin, ia lalu menduga jelek, maka itu sambil mengegos tubuhnya sedikit, tangan kanannya dilonjorkan, jari  

tangannya   dibuka   untuk   menotok.   Dengan   sewajarnya   saja   ia   teah

mempergunakan pukulan Braholo Meta.

Bukan main kagetnya hati ki Jogosatru ketika melihat serangan dari Candra Wulan ini, namun tetap untung baginya karena ia mempunyai kepandaian yang lebih tinggi dan lebih hebat dari pada gadis itu. Biarpun ia telah terdesak akan tetapi Jogosatru masih tetap dapat menangkis dan mengelakkan dirinya.

Mintaragapun mendengar adanya sambaran angin, ketika ia berpaling dengan segera ia melihat dengan jelas kalau ki Pendeta Baudenda menegur muridnya.

“Eh... Jogosatru, kau sedang berbuat apakah? Kau ini hanya pandai memaki orang, akan tetapi mengapa kau bertempur dengan keponakan muridmu sendiri?”

Dengan sikap demikian pendeta Baudenda ini tampak dengan jelas kalau sedang mengatur siasat. Ia menegur muridnya itu separuh benar akan tetapi setengahnya hanya untuk menutupi muka saja. Ia sudah gagal, karena itu ia menginginkan tak usah mendapatkan malu terlebih jauh.

Sucitro ketika melihat tingkah laku pendeta Baudenda ini, maka kakek aneh itu lalu menjadi sebal sekali.

“He... Baudenda, bagaimanakah kau ini?” Tegurnya. “Walaupun aku ini manusia yang paling sabar diseluruh dunia, akan tetapi aku tetap tak dapat menunggumu terlebih lama lagi. Lekas sekarang kau keluarkan mustikamu itu dan nantinya aku yang akan menolong lukamu itu.”

Sambil berkata demikian jago tua itu makin maju dan mendekati kearah pendeta Baudenda.

Melihat hal ini pendeta Baudenda menjadi bingung. Didalam saat yang mendesak itu masih saja ia mendapatkan sebuah akal. Ia berteriak memanggil Mintaraga :

“Mintaraga, kita sebagai orang-orang dari perguruan Lawu telah dihina orang dan sebagai orang persilatan maka aku tak sudi mendapat malu terlebih banyak lagi. Lekas kau cabut pedangmu dan tabaslah leherku ini, hai... Mintaraga! Kalau kau telah membunuhku maka aku tak akan mengingkari sumpah setia orang-orang dari padepokan Lawu.”

Mintaraga hendak dipancing-pancing kemarahannya, akan tetapi pemuda ini dapat berpikir. Pendeta Baudenda selalu berbuat hal-hal yang salah, maka apa salahnya kalau ia mendapat hukuman yang setimpal dengan kesalahannya itu? Hukuman itu malahan terlebih tepat.

Pendeta itu melihat kalau tipu muslihatnya itu tak berjalan. Iapun telah melihat kalau ki Sucitro telah mendekatinya. Tiba-tiba saja ia berteriak dengan lantang :  

“Aku telah malang melintang didunia persilatan, maka baiklah aku akan

mengadu nyawa disini, kalau memang Tuhan Yang Maha Agung menghendaki nyawaku biar aku mati ditempat ini pula.”

Sambil berteriak begitu, ia kearah Mintaraga. Anak muda itu diam saja. Sebaliknya ki Jogosatru yang telah sejak tadi siap dengan pedangnya. Muridnya ini rupa-rupanya memang hendak membela pati kepada gurunya.

Disaat suasana sangat tegang itu, tiba-tiba saja Candra Wulan terus berteriak-teriak :

“Woro Keshi... Woro Keshi...!”

Mendengar teriakan ini tiba-tiba saja Mintaraga menjadi sadar. Laiu dengan sebuah gerakan yang sangat cepat ia mencelat kemuka Pendeta Baudenda si paman eyang gurunya, Ternyata gerakannya ini jauh mendahului gerakan ki Sucitro. Karena ia tak keburu menggunakan tangannya maka begitu datang terus mendupak tubuh Pendeta Baudenda pada urat dibagian yang ketujuh dan kedelapan di bagian pantatnya.

Hebat pendeta Baudenda merasakan dupakan itu, ia sampai menjerit kesakitan keras sekali. Akan tetapi perasaan sakit itu hanya sejenak saja, atau tepatnya setelah itu ia merasakan kalau tubuhnya menjadi nyaman sekali, hawa hangat seperti mengalir ditubuhnya itu dan dalam sekejap saja ia telah dapat bangkit dan sehat kembali seperti sedia kala. Karena itu ia lalu mencelat bangun dan tertawa terbahak-bahak.

“Nah Sucitro kau lihat keponakan muridku itu?” Serunya sambil menantang kepada jago tua itu. “Bukankah ia hebat sekali?”

Waktu itu justru Sucitro sedang menyaksikan perbuatan Mintaraga yang sangat gesit dan tepat. Hingga dengan diam-diam jago tua ini menjadi kagum dan terperanjat sekali. Tadi ia mempergunakan obat untuk menolong Kalong Ireng akan tetapi kini pemuda itu hanya mempergunakan dupakan saja untuk menolong paman eyang gurunya. Meskipun demikian gerakannya tak segera dihentikan.

Lain-lain orang menjadi heran dan kagum. Sungguh tak pernah disangkanya kalau Pendeta Baudenda akan dapat sembuh dengan sedemikian mendadak.

Namun dilain pihak, didalam rombongan Kalong Ireng, mereka terus bergerak maju. Mereka merasa bakal menyaksikan sebuah pertempuran pula.

Sedangkan Jogosatru menjadi kaget sekali setelah mendengar kalau Candra Wulan menyebut-nyebut nama Woro Keshi. Hingga dengan tanpa sesadarnya ia lalu celingukan memandang keempat penjuru. Memang Jogosatru ini benar-benar jeri dan takut sekali kepada Bikshuni dari padepokan Muria ini.

Sedangkan Candra Wulan itu sebenarnya hanya ingin memperingatkan kepada Mintaraga itu saja supaya mau menolong pendeta Baudenda. Karena  

itulah ia menyebut-nyebut Woro Keshi yang telah berjanji ingin mengadu

kepandaian dengan pendeta Baudenda. Dengan begitu berarti mereka menepati pesan Bikshuni dari Muria yang diserahkan kepada mereka itu.

Sementara itu Sucitro teah berhadapan dengan pendeta Baudenda yang menjadi musuhnya.

“Pendeta Baudenda, kata-katamu sama saja dengan kentut busuk yang keluar dari pantat korengan!” Dia menegur. Memang kakek ini sangat mendongkol setelah mengetahui kalau sampai sekian lamanya pendeta Baudenda ini masih belum mau menyerahkan Tunggul Tirto Ayu kepadanya. Setelah itu kembali terdengar perkataannya :

“Mintaraga lihatlah aku akan membunuh keledai gundul ini terlebih dahulu sebelum membinasakanmu.”

Ancaman itu dibuktikan dengan seketika. Dengan kedua tangan terbuka, Sucitro menyerang Pendeta Baudenda kearah batok kepalanya.

Serangan ini benar-benar berbahaya sekali hal inipun telah diketahui oleh ki pendeta Baudenda, karena itu ia tak mau menangkis. Dengan gerakan yang sangat lincah pendeta Baudenda lalu mengelak. Namun disamping itu ia mendapatkan perasaan takut juga setelah melihat kalau Mintaragapun hanya diam diri saja. Ini telah cukup memberitahukan kalau anak muda ini memang benar-benar tak mempunyai niat untuk membantunya. Pendeta Baudenda menyangka kalau setelah menolong kepadanya, maka pemuda itu akan bermaksud baik, namun tak tahunya pemuda itu menolongnya hanya karena pesan dari Woro Keshi.

“Sucitro sabarlah dulu.” Seru pendeta yang banyak akal dan tipu muslihat itu. Karena cepat ia mendapat sebuah pikiran baru.

“Aku akan menyerahkan Tunggul Tirto Ayu itu kepadamu...”

Entah telah berapa kali perkataan itu diucapkan, namun tak ada seorang juga yang mempercayai, terlebih-lebih ki Sucitro si tokoh dari selatan. Karena itu orang tua yang beradat aneh itu terus menyerang tanpa mempedulikan perkataan pendeta Baudenda, malahan serangannya kali ini diperketat.

Pendeta Baudenda memang gesit sekali, begitu melihat serangan ia lalu mengenjotkan tubuhnya melayang kearah Agni Brasta si raja pencopet. Setelah berhadapan dengan kawannya itu maka kelihatanlah kalau kakek pendeta itu main mata untuk memberi tanda rahasia kepada kawannya itu, kemudian ia lalu berkata dengan lantang :

“Agni Brasta mari berikan mustika itu kepadaku!”

Agni Brasta mengerti akan maksud dan tujuan kawannya itu, ia lalu merogohkan tangannya kedalam sakunya dan terus mengeluarkan sebuah kotak yang berkilau-kilauan dan didalamnya berisi sebuah tunggul yang berwarna kuning dan berombak banyu yang tak kalah kilau kemilauannya. Inilah Tunggul Tirto Ayu yang menjadi perebutan oleh orang-orang dari  

dunia kependekaran. Dan benda ini pula yang menjadi lambang dari

kejayaan serta lambang ketahtaan dari kerajaan Demak Bintoro.

Pendeta Baudenda segera melompat menyambar benda dari tangan kawannya, segera ia mengangkat tinggi-tinggi diatas kepalanya. Namun ia telah memisahkan diri cukup jauh dari Sucitro. Setelah itu terdengarlah teriakannya :

“Sucitro, apakah kau masih tak mau menyudahi serangan-seranganmu itu??”

Melihat mustika yang diidam-idamkannya ini maka mata Sucitro si jago tua yang beradat aneh ini menjadi terbelalak dan kelihatan bercahaya. Dengan mendadak ia berhenti bertindak. Kedua tangannya yang dipakai untuk menyerang terus dilonjorkan.

“Bagus... kau benar-benar orang yang dapat dipercaya.” Katanya dengan nyaring. “Nah mari berikan mustika itu kepadaku!”

Biarpun bagaimana ia masih tetap khawatir kalau pendeta Baudenda akan tetap main gila. Karena itu ia masih tetap bersiap sedia terus.

Semua orang, bahkan tak terkecuali dengan Mintaraga dan Mandaraka terbengong ketika mengawasi sepak terjang kakek pendeta Baudenda. Untuk sejenak, mereka tidak percaya kepada mata dan kuping mereka sendiri. Atau mereka telah pekak dan mata mereka telah kabur....

“Pendeta Baudenda, mungkinkah kau ini telah menjadi gila...?” Tegur Mandaraka. Memang orang Jipang ini benar-benar heran dan bersangsi.

“Mari... mari...” Sebaliknya ki Sucitro terus mendesak. Ia seperti tak mempedulikan kalau Mandaraka seperti orang tua yang kebakaran jenggotnya. “Mari lekas berikan kepadaku.”

Pendeta Baudenda tersenyum. Bahkan senyumnya kali ini benar-benar kelihatan manis sekali.

“Perlahan...” Katanya. “Masih ada satu hal yang belum kau lakukan. Setelah itu selesai maka Tunggul Tirto Ayu ini akan kuserahkan kepadamu.”

Sucitro mendelik, ia benar-benar menjadi heran sekali. “Apa?” Tanyanya. “Apakah itu??”

“Kau telah mengatakan.” Jawab Pendeta Baudenda. “Jika kau menghendaki mustika ini, kau harus menolong Julung Pujut. Mungkinkah kau telah melupakan janjimu itu??”

“Oh... urusan itukah?” Seru Sucitro. “Tak sulit aku menolongnya. Akan tetapi dengan cara bagaimanakah kau dapat membuatku menjadi percaya kepadamu? Bagaimana kalau nanti setelah kutolong nyawanya maka kau akan menelan pula segala macam perkataanmu itu??”

Pendeta itu tertawa.

“Habis sekarang kau menghendaki apa?” Dia balik bertanya dan menantang.  

“Lebih dahulu kau serahkan Tunggul Tirto Ayu itu dan nanti aku akan

menolongnya.”

Kembali pendeta itu tertawa terbahak-bahak.

“Tak begitu sulit untuk kuserahkan Tunggul Tirto Ayu ini kepadamu.” Katanya. Bahkan pendeta Baudenda kini meniru lagak lagu perkataan ki Sucitro tadi. “Akan tetapi bagaimana kau akan membuatku menjadi percaya, setelah kuserahkan Tunggul Tirto Ayu ini kepadamu maka kau akan menelan kembali apa yang telah kau ucapkan.”

Bukan main mendongkolnya hati Sucitro ketika mendengar perkataan pendeta Baudenda itu.

“Bagus betul! Katakanlah apa yang kau kehendaki?”

“Itu soal gampang.” Jawab pendeta Baudenda. Jawaban ini diberikan dengan secara tenang, bahkan sangat tenang. “Kita bertindak bersama-sama. Dengan sebelah tanganmu kau menerima Tunggul Tirto Ayu ini, dan dengan sebelah tanganmu kau memberikan obat itu kepadaku. Bukankah dengan demikian maka kita telah bertindak adil.”

Ki Sucitro setuju dengan pendapat ki Baudenda ini.

“Baiklah begini saja kita bekerja.” Jawabnya sambil merogohkan tangannya kedalam saku bajunya. Sambil menyodorkan obat itu maka ia lalu memberi keterangan tentang pemakaian obatnya ini. Setelah memberi keterangan maka berkatalah ia :

“Nah inilah.”

Pendeta Baudendapun dengan secara laki-laki lalu mengangsurkan Tunggul Tirto Ayunya yang menjadi lambang dari kerajaan Demak Bintoro.

Semua orang melihat dengan diam saja. Semua orang tak ada yang dapat menduga apa yang akan dilakukan oleh pendeta Baudenda terlebih jauh, kecuali dia tentunya tak akan menyerahkan Tunggul Tirto Ayu itu dengan mentah-mentah saja.

Sucitropun kelihatan kalau mempunyai kecurigaan terhadap Pendeta Baudenda ini, diwaktu ia mengulurkan kedua tangannya, untuk menyambut Tunggul Tirto Ayu dan menyerahkan obatnya, ia berlaku sangat waspada.

Sungguh diluar dugaan sama sekali, pendeta Baudenda menyerahkan Tunggul Tirto Ayu itu dengan tak memberikan reaksi apa-apa. Karena itulah iapun dapat menerima obat itu dengan baik pula.

Bukan main girangnya hati ki Sucitro setelah menerima Tunggul Tirto Ayu itu, perasaan kegembiraannya kali ini sungguh sukar dilukiskan. Didalam hati kecilnya ia berkata :

‘Mustika ini telah berada didalam genggaman tanganku, didalam kolong langit ini siapakah yang akan dapat merampasnya? Huahaaa... Huahaaaa... Huahaa.... selanjutnya dengan mengandalkan Tunggul Tirto Ayu ini aku akan membasmi semua orang-orang Jipang Panolan yang berani main gila dipelataran bekas kerajaan Demak Bintoro. Aku mempunyai  

mustika maka aku akan menjadi orang agung dan mulia. Sungguh tak ada

batasnya kebesaranku ini. Kalau telah tiba saatnya maka aku akan mendirikan kerajaan baru, akan kuangkat Kalong Ireng menjadi Maha Patih. Gagak Seno akan kuserahi tugas sebagai panglima perang dan senopati kerajaan, sedangkan Gemak Ijo akan kujadikan Tumenggung........

Orang tua yang berkepandaian tinggi ini seperti lupa akan dirinya, karena itu hanya dengan menurutkan suara hatinya ia telah membayangkan kebesarannya yang akan datang.....

Oleh karena lamunannya ini maka Sucitro lalu menjadi berdiam diri saja, hanya wajahnya saja yang telah berubah menjadi terang benderang.

“Guru..... Guru.....” Tiba-tiba saja terdengar suara nyaring. “Guru kau akan membikin apa lagi??”

Sucitro mendengar suara itu, inilah suara dari muridnya. Karena itu ia menjadi terpeeanjat. Sejenak saja ia telah sadar.

“Eh... mau apakah kau membuat banyak suara?” Kakek sakti itu segera menegur muridnya. “Baiklah mari kita berangkat.”

Sambil mengucapkan demikian maka Tunggul Tirto Ayu yang berada ditangannya itu lalu dimasukkan kedalam saku bajunya!

“Tunggu dulu!”

Inilah suara Pendeta Baudenda yang berteriak sambil merentangkan kedua tangannya dengan sikap mencegah kepergian mereka.

Melihat hal ini Sucitro menjadi heran, dan karena herannya inilah mendadak tokoh aneh yang sakti dari selatan ini lalu menjadi gusar.

“Kau hendak memainkan sandiwara apa lagikah?” Tegurnya. “Sabarlah.” Kata Pendeta Baudenda dengan tertawa. “Meskipun benar

kau telah memberikan obat itu kepadaku dan memberi keterangan juga bagaimana aturan pakainya. Akan tetapi aku masih kurang percaya. Kau tunggulah sebentar aku hendak mengobati Julung Pujut untuk menolongnya. Setelah dia benar-benar sembuh barulah kau boleh pergi meninggalkan tempat ini. ”

Mendengar perkataan pendeta Baudenda ini maka mendelulah hati ki Sucitro, akan tetapi ia segera tertawa lebar.

“Mungkinkah aku membohongimu pendeta Baudenda?” Katanya dengan tertawa lebar. “Kalau demikian baiklah aku akan menunggumu sampai Julung Pujut itu sembuh, setelah sembuh maka sisa obatnya akan kuambil kembali.”

Mendengar hal ini Pendeta Baudendapun tertawa bergelak-gelak pula. “Siapakah yang akan menipu obatmu yang bau busuk ini?” Katanya

dengan mengejek. Ia segera memberikan obat itu kepada Agni Brasta dan katanya :

“Pergilah kau tolong Julung Pujut, tentang cara menolongnya kaupun telah mendengar sendiri dari mulut Sucitro.”  

“Tentu saja.” Jawab raja pencopet itu sambil terus pergi mendapatkan

Julung Pujut yang masih saja tak sadarkan dirinya.

Semenjak tadi Mintaraga selalu mengawasi kearah mereka itu dengan sikap yang tenang akan tetapi pemuda itu selalu berwaspada. Pertamanya ia telah memikir kalau ia harus menantang, untuk dapatnya merampas Tunggul Tirto Ayu itu. Tak lolos dari matanya sikap aneh dari pendeta Baudenda yang mempermainkan Sucitro. Mintaragapun dapat menangkap kalau pendeta itu main mata dengan Agni Brasta, hingga ia menjadi curiga. Karena itu ia hanya berdiam saja, namun mata dan tangannya telah disiapkan.

Si setan tangan panjang itu telah segera mengobati Julung Pujut. Memang tokoh kedua dari jago-jago Jipang Panolan ini telah kena tiga buah paku senjata rahasia lawannya. Hingga dengan demikian jalan darahnya menjadi keras. Akan tetapi setelah diobati dan daya kekuatan obat itu mengalir maka jalan darah itu dapat normal kembali seperti semula. Sungguh hebat sekali khasiat obat itu, dengan segera Julung Pujut dapat berjingkrak berdiri dan berkaok-kaok memandang kesemua hadirin, agaknya ia merasa sangat aneh. 

Mandaraka dan semua kawan-kawannya bersorak ketika melihat kakak angkatnya ini dapat sembuh dengan tak kurang suatu apapun juga. Karena senangnya mereka semua lalu menghampiri dan merubung.

Sucitro tak mempedulikan sikap orang-orang itu.

“Nah Baudenda kau telah melihat sendiri, dan terserah kepadamu kalau kau akan akan mengatakan aku memperdayakanmu.” Tegurnya, agaknya kakek sakti dari selatan itu merasa agak puas.

Pendeta Baudenda yang ditegur itu hanya tertawa.

“Bagus... kau benar-benar dapat dipercaya.” Jawabnya. “Agni Brasta kau bayarlah obatnya itu. Eh...... kau harus hati-hati supaya obat itu jangan tumpah.”

“Baik.” Jawab Agni Brasta. Kemudian ia mendekati kearah jago tua itu, dengan tangan kirinya ia mengangsurkan obat itu dan menepuk-nepuk pundak.

“Ki sanak obatmu ini benar-benar sangat mujarab, hingga dapatlah dikatakan kalau dapat melebihi obat dari Indraloka.” Katanya memuji sambil tertawa. “Huahaaaa... Huahaaaa... Huahaaa... sungguh obat yang sangat istimewa...!”

Gembiralah hati Sucitro ketika dipuji setinggi langit itu. Segera saja mengulurkan tangannya untuk menerima obat itu dan kemudian menyerahkan kepada Kalong Ireng.

“Mari kita pergi.” Katanya, dan ia lalu bertindak dengan cepat sedangkan muridnya yang berpakaian beraneka ragam itupun lalu  

mengikutinya dari belakang. Sebentar saja mereka telah sampai kejarak jang

jauh....

Setelah guru dan murid-muridnya itu lenyap dari pandangan mata maka kelihatanlah mereka itu tersenyum-senyum.

Bahkan Pendeta Baudenda dan Agni Brasta setelah mengetahui kalau Sucitro dan murid-muridnya telah sampai jauh lalu berpandangan dan kemudian tertawa dengan lebar. Kelakuannya ini benar-benar tak menyenangkan orang-orang Jipang Panolan, bahkan terlebih-lebih bagi Julung Pujut yang baru saja sembuh dari lukanya. Apa lagi ketika orang kedua dari Jipang ini telah mendengar akan sepak terjang pendeta Baudenda. Segera saja timbullah kegalakannya.

“Pendeta Baudenda, mengapa kau serahkan Tunggul Tirto Ayu kita kepada si orang gila Sucitro itu?” Demikianlah tegurnya dengan keras dan marah. “Hendak kulihat kalau sebentar lagi ki patih Udara datang maka bagaimana kau akan menyelesaikan urusan kita ini.”

Mendengar teguran ini Pendeta Baudenda hanya tersenyum saja. Sikapnya sangat tenang, bahkan tampaknya tak menghiraukan akan kesulitan itu sama sekali.....

Candra Wulan yang sejak tadi hanya berdiam diri saja itu menjadi sangat tak puas ketika melihat pendeta Baudenda diperlakukan sedemikian itu. Didalam hati kecilnya ia berkata :

‘Paman eyang guruku ini memang bukannya seorang laki-laki yang berhati baik, akan tetapi dia telah berkorban, dia sampai mau berkorbn dengan Tunggu Tirto Ayunya hanya untuk menolong sebuah nyawa saja. Akan tetapi setelah ditolong mangapa kau demikian galak dan kurang ajar? Mengapa perbuatan baik ini kau balas dengan kejahatan? Hmh!’

Sejak ikut dengan ayah angkatnya ki Darmakusuma, gadis ini telah mendengar akan segala macan kejahatan dari orang-orang Jipang Panolan yang akan merusak hubungan kekeluargaan dengan kesultanan Pajang. Mereka sering mengacau rakyat, memperlakukan orang-orang yang lemah dengan kebengisan. Karena itu setelah menegur ia lalu melompat maju. Tak puas ia dengan kata-katanya saja.

“Bangsat hina lekas kau hunus senjatamu.” Bentak Candra Wulan dengan menggeledek. “Aku akan membunuhmu semua.”

Mendengar ini Julung Pujut menjadi sangat marah. Ia memang belum kenal siapa adanya gadis ini, sebab sewaktu ia tadi belum dirobohkan oleh pihak Sucitro, Candra Wulan berdua belum muncul. Ia sangat marah sekali karena didamprat sebagai manusia hina. Karena itu ia lalu berjingkrak, terus saja ia menyambar tongkatnya yang masih menggeletak diatas tanah.

“Eh... bocah busuk, tulangmu sudah gatalkah?” Tegurnya dengan marah. Segera ia menoleh kepada Mandaraka dan bertanya :  

“Adi, tahukah kau siapa adanya bocah busuk ini?” Memang karena

kesombongannya maka Julung Pujut tak mau menyapa dengan langsung kepada gadis itu, dan melainkan hanya bertanya kepada kawannya.

Mandaraka memang sangat takut kepada Mintaraga. Akan tetapi kini yang bertanya adalah kakak angkatnya. Karena itu ia tak dapat menutup mulut, karena itulah terpaksa ia mengatakan siapa adanya kedua anak muda ini.  

Julung Pujut menjadi bertambah marah setelah mengetahui kalau orang ini adalah musuh besar dari adiknya, Sokoponco. Segera saja ia mendongakkan dirinya kelangit dan berteriak :

“Binatang lekas kau ganti nyawa adikku. Lekas kau ganti jiwa adikku itu !!!”

Sekali ini tanpa bersangsi sedikitpun juga, ia mengayunkan tongkatnya untuk memukul kearah Mintaraga, sedangkan Candra Wulan ini tak diperhatikan lagi. Akan tetapi ketika ia baru saja berjalan dua tindak tiba-tiba Pendeta Baudenda telah mencegatnya.

“Ki Julung Pujut, kuharapkan supaya kau suka mendengarkan dahulu perkataanku ini.” Seru pendeta itu memanggil orang kedua dari Jipang Panolan itu.

“Apa??” Tanya Julung Pujut dengan membentak, ia masih tetap marah dan gusar.

Pendeta Baudeda tak sudi mencari musuh lagi. Seorang Sucitro telah cukup. Ia menginsyafi betapa sukarnya untuk mengalahkan jago tua itu. Tentu akan tak kalah sukarnya untuk melayani Julung Pujut dan kawannya ini. Karena itu ia lalu menyabarkan diri.

“Dengarlah ki Julung Pujut, sebenarnya adikmu itu terbunuh mati oleh Dahana Brasta sendiri.” Katanya. “Jadi bukan mati ditangan pemuda ini.”

Julung Pujut menolak tubuh pendeta itu.

“Pendeta Baudenda apakah kau sedang melindungi sesama kaum perguruanmukah??” Katanya dengan kasar. “Didalam kematian Sokoponco adikku ini, si Mintaraga ada sangkut pautnya. Kalau aku tak dapat memukul mampus anjing kecil yang bernama Mintaraga ini maka percuma saja aku dipanggil orang sebagai Julung Pujut orang kedua dari jago-jago Jipang Panolan.”

Orang Jipang ini didalam kemarahannya itu telah menolak tubuh pendeta Baudenda dengan sekuat tenaganya. Namun apa mau kesudahannya ia menjadi kecewa. Tubuh pendeta itu tak bergeming sedikitpun juga. Tetap berdiri bagaikan karang yang tertiup angin lembut....

Setelah itu pendeta Baudenda merubah sikapnya. Iapun lalu tertawa dengan dingin. “Baik... baiklah Julung Pujut.” Katanya. “Jikalau kau tetap hendak

melawan dan mencoba-coba kepandaian cucu keponakan muridku ini, nah silahkanlah.”

Setelah berkata demikian ia lalu minggir, kembali tertawa dengan nada yang sangat dingin.

Mintaraga dan Candra Wulan menjadi heran setelah melihat perubahan dari eyang gurunya ini. Bukankah tadi kelihatan dengan jelas kalau Pendeta Baudenda ini sangat takut kepada orang Jipang Panolan itu? Mengapa sekarang ia menjadi demikian beraninya?”

Tentu saja Mintaraga tak takut, maka ia lalu maju menghampiri lawannya.

“Julung Pujut.” Katanya dengan tertawa dingin. “Tadi kau telah mampus sekali, apakah sekarang kau akan mampus sekali lagi?”

Julung Pujut menjadi marah tanpa bilang suatu apa lagi, ia lalu menggerakkan tongkatnya untuk memukul kepala Mintaraga. Kali ini ia menggerakkan tenaganya dengan sekuat-kuatnya.

Mandaraka dan kawan-kawannya menjadi kaget sekali.Bukankah mereka semua itu hampir telah merasakan tangan anak muda itu?

Poncowolo tak dapat berdiam diri saja, dia lalu berteriak dengan keras : “Kakang Julung Pujut, kau sabarlah. Jangan kau menghantarkan nyawa

dengan secara percuma saja   ”

Julung Pujut benar-benar sombong sekali, seruan adiknya ini benar- benar tak diambil peduli. Kembali ia menyerang dengan keras. Sebab serangan pertamanya tadi tak dapat mengenai sasarannya setelah Mintaraga menggeser tubuhnya mundur. Akan tetapi kali ini anak muda itu mengelak sambil memutar tubuhnya. Hingga dalam sejenak saja ia telah berada dibelakang orang Jipang Panolan itu. Mintaraga telah mengangkat tangannya, akan tetapi sebelum ia mengayunkan tangannya ini mendadak saja ia teringat akan sesuatu.

‘Dia ini adalah seorang yang galak tak karuhan, namun tetap saja ia adalah seorang yang tolol.’Demikian pikirnya. ‘Baiklah sebelum kulayani patih Udara lebih baik kuampuni dulu nyawanya ’

Karena itu, sebaliknya dari pada menghajar, ia malahan jambak.

Julung Pujut bukanlah seorang yang mempunyai kepandaian murahan saja. Ia melihat kalau lawannya memutar kebelakang, karena itulah sebelum ia mengisarkan tubuhnya terlebih dahulu membalikkan tangannya untuk menyerang kebelakang. Ia pikir untuk mendahului musuhnya.

Mintaraga membatalkan niatnya untuk menjambak lawan ketika ia melihat datangnya serangan tongkat itu. Dengan menjejakkan kedua kakinya, ia melompat, lompat turun melewati kepala orang itu.  

“Eh... manusia tolol apakah kau masih tetap hendak bertempur terus?”

Tanya Mintaraga sambil mengejek, dan terdengar suaranya ini dikeluarkan dengan nada yang sangat tawar.

“Benar.” Katanya. “Jangan kau bertempur, dan kau Mintaraga, jika kau hendak bertempur maka carilah Sucitro, jangan kau keliru untuk mencari musuh.”

Memang ada lain maksud mengapa pendeta Baudenda mengatakan demikian. Dengan sama-sama ia memberitahu kepada Mintaraga, kalau Mintaraga datang untuk Tunggul Tirto Ayu, baiklah dia menyusul Sucitro dimana Tunggul Tirto Ayu itu berada ditangannya. Ia seperti bertanya, buat apa melayani Julung Pujut hingga dia menyia-nyiakan waktu.

Mintaraga berpikir cepat setelah mendengar perkataan paman eyang gurunya ini.

“Agni Brasta kau kemarilah.” Panggilnya kepada si raja tukang copet yang sangat hebat tangannya itu.

Belum lagi Agni Brasta maju atau Julung Pujut telah merangsek lagi. Dia malahan telah menganjurkan dengan teriaknya :

“Semua maju..... marilah kita bekuk gedibal ini. Ingat siapa yang tak mau turun tangan, namanya akan kusebutkan dihadapan Gusti Ario Penangsang. Siapa juga tak akan bakal lolos dari tanggung jawabnya.”

Sungguh hebat anjuran yang dibarengi dengan ancaman itu. Hingga nama Ario Penangsangpun terus dibawa-bawa pula untuk menakut-nakuti bawahannya.

Orang-orang jago Jipang Panolan itu menjadi tak berani berpeluk tangan lagi. Mandaraka mendahului dengan mengeluarkan cambuk lemasnya, namun didalam hatinya ia mengeluh :

‘Biar... biarlah hari ini aku akan mengadu jiwa dengan anak anjing ini. ’

Begitu melihat Mandaraka telah mencabut senjatanya maka berturut- turut Pendeta Panca Loka dan yang lain-lainnya menjadi terpaksa ikut mencabut senjatanya juga, karena itulah Mintaraga segera terkepung.

Candra Wulan sedikitpun tak menjadi takut atau ngeri setelah melihat musuhnya berjumlah lebih besar ini. Bahkan ia lalu tertawa lebar bertepuk tangan. Ia percaya betul, asal pendeta Baudenda tak ikut turun tangan maka kemenangan pasti akan berada dipihaknya. Ia hanya tak mengerti, mengapa pendeta itu tidak turut dengan sikap para jago Jipang Panolan itu.

Mintaraga juga mencurigai paman eyang gurunya itu, justru orang belum menyerangnya, Mintaraga mengawasi pendeta itu, untuk lihat sepak terjangnya.

Kalau tadi Pendeta Baudenda bersikap sangat tenang, sekarang teriihatlah wajahnya yang berubah. Iapun telah memegang hulu pedangnya.  

“Julung Pujut, ternyata kau telah tak mau mendengar lagi perkataanku,

perkataan Pendeta Baudenda.” Serunya dengan bengis.

“Apa?” Bentak orang Jipang itu. Ia sangat gusar dan kumisnya bangkit. Julung Pujut menganggap pendeta itu tak memandang mata kepadanya. “Kau tak mau membekuk kecoak ini? Baiklah kalau nanti patih Udara datang maka kami akan melihat sebuah pertunjukan yang sangat bagus, hem....

apakah benar-benar kau akan membantu musuh?” Tanyanya kemudian.

Mendengar ini Pendeta Baudenda hanya tertawa dingin.

“Memang.” Jawabnya dengan berani. “Dia adalah murid dari perguruanku. Jika aku tak membantunya maka aku bangsa apakah? Siapakah yang harus kubantu? Jika hendak menangkapnya maka terlebih dahulu kau harus melawanku si pendeta tua ini untuk beberapa jurus.” 

Setelah mengucapkan demikian, sambil memutar pedangnya, Pendeta itu melompat ketengah-tengah kalangan. Hingga ia berdiri disisi Mintaraga.

Kalau dilihat dari ini maka kelihatanlah kalau Pendeta Baudenda dari musuh telah berubah menjadi kawan, dan ia akan menentang jago-jago Jipang Panolan ini.

Melihat hal ini Julung Pujut menjadi marah sekali.

“Pemberontak... pemberontak...!” Berulang kali ia berteriak-teriak. Lalu ia memutar tongkatnya dengan hebat dan mulai menyerang.

Masih tetap saja pendeta Baudenda tertawa dingin.

“Mintaraga.” Katanya. “Jangan kau bergerak, kau lihatlah saja kepandaian paman eyang gurumu ini.”

Pendeta ini menangkis tongkat Julung Pujut, setelah itu ia lalu balas menyerang. Terus saja ia lalu mendesak.

Dalam waktu segebrak saja Julung Pujut menjadi repot, hingga ia mesti main mundur.

Mandaraka semua menjadi heran dan bingung. Mengapa Pendeta Baudenda menjadi putar haluan? Akan tetapi saking terpaksanya, mereka maju juga.

Pendeta Baudenda bersiul panjang ketika ia melayani rombongan dari jago-jago Jipang Panolan....

*

* *

Mintaraga menjadi heran sekali ketika menyaksikan sikap paman eyang gurunya itu, karena kesangsiannya ia tak mau segera turun tangan. Ia hanya tetap berdiri diam, matanya terus diarahkan kepada musuh-musuh lawannya si eyang guru ini, namun terutama ia mengawasi kakek Pendeta Baudenda.  

Pendeta itu dengan gagah berani terus melayani krida dari belasan

orang-orang Jipang Panolan. Berkali-kali terdengar suara ramai bentrokan senjata mereka. Sesuatu anggota jago-jago Jipang yang terlemah terus saja telah kehilangan senjatanya karena terbabat kutung. Diantara mereka itu terhitung Jangkar Bumi, Kolo Maruto dan Watu Gunung serta adiknya Watu Padas, maka terpaksalah mereka itu melompat keluar kalangan. Dengan senjata saja mereka itu tak berdaya apa lagi tanpa senjata........

Mandaraka, dengan pendeta Panca Loka, Poncowolo, dan Paku Waja, melawan terus. Akan tetapi mereka seperti tak berdaya, kalau tak tertolak pedang si pendeta, tangan kiri yang kosong dari orang yang mencucikan diri itu tak memberi ketika untuk mereka merangsek. Sampokan-samplokan tangan kiri pendeta itupun sangat hebat.

Pendeta Baudenda tertawa terbahak-bahak.

“Bagaimana?” Tanyanya ketika ia melihat semua lawannya menjadi mundur. “Hayo sekarang siapakah yang akan turun tangan untuk menghadapi pendeta Baudenda?”

Kata-kata ini ditutup dengan samplokan tangan kepada Paku Waja, yang tepat mengenai orang Jipang Panolan nomor enam itu hingga menjadi pusing. Sebab sia-sia saja ia mengelak.

Mandaraka yang cerdik itu mencurigai sikap pendeta Baudenda yang tiba-tiba berubah itu. Sampai disitu iapun lalu mempergunakan siasat.

“Baiklah kami tak akan berkelahi terlebih jauh lagi.” Scrunya dengan lantang. Ia lalu keluar kalangan mendahului kawan-kawannya. Hanya Julung Pujut seorang yang masih penasaran dan terus mencoba bertahan.

Pendeta Baudenda tertawa bergelak-gelak, sambil tertawa ia terus melayani jago Jipang ini. Baru belasan jurus saja, dengan sebuah totokan, ia membuat lawannya itu tak berdaya.

“Mintaraga lekas kau pergi.” Seru pendeta itu kepada Mintaraga. Sambil berkata demikian ia lalu tertawa dan katanya :

“Lekas kau susul Sucitro dan aku sendiri yang akan menahan dan membereskan mereka ini.”

“Bagaimana dengan Agni Brasta?” Tanya Mintaraga yang masih tetap belum dapat menghilangkan kecurigaannya.

Agni Brasta kemudian menghampiri dan tertawa bergelak-gelak.

“Anak yang baik, mengapakah kau menyebut-nyebut namaku?” Tanyanya.

Mintaraga mengawasi raja pencopet itu, ia melihat dadanya sedikit muncul. Mestinya didalam saku orang itu tersimpan suatu benda. Iapun segera dapat pikiran :

‘Dia telah menepuk-nepuk Sucitro, mungkinkah dia telah bekerja bersama, menyerahkan obat sambil mencuri dan sengaja menganjurkan aku  

pergi mencari Sucitro yang telah tak membawa apa-apa itu?’ Karena

dugaannya inilah ia lalu berkata dengan cepat :

“Ah... tak mengapa, baru-baru ini kau telah mengambil kotakku, maka sekarang aku hanya bertanya dimanakah kotakku itu? Rasanya aku mengetahui dimana kau menyimpan kotak itu.”

Agni Brasta tak menjadi jengah, sebaliknya ia malahan tertawa dengan lantang.

“Disini.” Katanya dan tangannya terus dimasukkan kedalam saku untuk menarik keluar kotak penyimpan Tunggul Tirto Ayu yang dimaksudkan pemuda itu. Begitu kotak keluar maka gemerlapanlah keadaan sekitar kotak itu. Dengan mengeluarkan kotak itu maka dada raja pencopet itu menjadi rata.  

Mintaraga masih tetap mencurigai orang itu, segera saja ia membisiki Candra Wulan :

“Apakah kau tak melihat aksi-aksi yang mencurigakan dari raja pencopet ini adi?”

Gadis itu menjawab :

“Tadi dia menepuk-nepuk pundak Sucitro, aku menjadi curiga mungkin ia mencuri kembali Tunggul Tirto Ayu itu karena itulah aku selalu memandang kearahnya. Akan tetapi aku melihat kalau Tunggul Tirto Ayu itu masih tetap berada pada Sucitro...”

Mendengar jawaban Candra Wulan ini maka lenyaplah kecurigaan Mintaraga kepada Agni Brasta. Lenyap bagaikan awan tipis tertiup angin kencang.

Pendeta Baudenda ketika melihat tingkah laku murid keponakannya ini ia menjadi tertawa lebar.

“Aku telah mengatakan kalau Tunggul Tirto Ayu itu telah diserahkan kepada Sucitro, janganlah kau curiga dengan tak karuhan seperti itu.” Katanya. “Memang kotak itu adalah kepunyaanmu karena itu kau ambillah kembali.”

Sambil berkata demikian pendeta itu lalu menyambar kotak itu dari tangan Agni Brasta dan kemudian menjejalkan ketangan Mintaraga. Setelah itu katanya :

“Kalau kau masih tak percaya maka kau boleh memeriksa apakah kotak ini yang palsu atau yang tulen.”

Setelah melihat kalau batu-batu manikamnya itu masih tetap gemerlapan dengan terang maka tanpa sangsi lagi, Mintaraga mengetahui kalau kotak ini tentunya kotak yang asli. Melihat ini maka kecurigaannya terus hilang lenyap, bahkan sebagai seorang yang jujur ia menjadi terharu melihat kejadian ini.

“Terima kasih atas budi kebaikan paman eyang guru.” Katanya sambil menghormat.Saking bersyukurnya, ia lalu melinangkan air matanya. Pendeta Baudenda tertawa terbahak-bahak.

“Apa sih budi kebaikan atau bukan budi kebaikan?” Katanya dengan riang gembira. “Kau ingat Mintaraga, kita adalah orang-orang dari padepokan Lawu. Asal kau tak mengingat-ingat permusuhan kita maka untuk sisa hidupku ini aku akan merasa senang dan tentram.”

Melihat kalau Pendeta Baudenda telah berubah dengan sedemikian rupa, Mintaraga tergerak hatinya. Karena itu ia segera bertanya :

“Paman eyang guru, bagaimanakah kau hendak melayani jago-jago Jipang Panolan ini? Apakah kau mengharapkan bantuanku?”

“Pergilah, lekas kau susul Sucitro.” Jawab Pendeta itu dengan segera. “Kau tak usah mempedulikan aku lagi. Aku sendiri dapat mengurus mereka.”

“Baik... baik... paman eyang guru.” Jawab Mintaraga sambil memasukkan kotak itu kedalam saku bajunya.

Candra Wulan menjadi girang sekali setelah mendapatkan kotak yang hilang itu, iapun berterima kasih kepada Pendeta Baudenda, karena itu ia lalu menghampiri Pendeta Baudenda untuk memberi bisikan.

“Paman eyang guru, bibi Woro Keshi telah bersumpah untuk mencarimu hingga dapat. Karena itu janganlah kau tak berjaga-jaga kalau bertemu dengannya.”

Demikianlah bisikan dari Candra Wulan itu. Dasar masih muda hati gadis ini masih sedemikian polosnya. Hatinyapun gampang tergerak.

Pendeta Baudenda menjadi kaget sekali, hingga hatinya menjadi tercekat dan mukanya pucat. Akan tetapi ia adalah seorang kakek sakti yang mcmpunyai banyak pengalaman. Segera ia dapat menenangkan diri, maka dengan sikap acuh tak acuh mulai menjawab.

“Oh, begitukah?” Katanya dengan wajar. “Nah sekarang pergilah kalian, lekas.”

Mintaraga tak banyak omong lagi, setelah mengajak Candra Wulan memberi hormat maka mereka berdua lalu lari turun gunung. Waktu itu cuaca telah remang-remang.

“Kakang Mintaraga, kemanakah kita akan pergi?” Tanya Candra Wulan sambil memandang kearah si pemuda yang kelihatan bertambah ganteng itu. “Diwaktu begini, mungkin Sucitro dan murid-muridnya telah terpisah jauh didepan kita.” Jawab anak muda itu. “Mereka telah mendapatkan Tunggul Tirto Ayu yang menjadi rebutan dari orang-orang dunia kependekaran, maka mereka dengan perasaan riang gembira tentunya kembali ke Selatan. Karena itulah maka kita lebih baik menyusul keselatan

pula.

Candra Wulan selamanya akan selalu menurut saja apa yang dikatakan oleh Mintaraga, demikianpun pada saat ini. Tanpa banyak cakap dan bantahan lagi ia mulai menuruti apa saja yang dikatakan oleh pemuda yang  

menjadi kakak angkatnya itu. Mereka segera meneruskan perjalanan mereka

dengan cepat, tanpa menghiraukan mereka sebenarnya telah lelah. Mereka lari dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya.

Kira-kira lima atau enam kilo mereka berlari-larian, tiba-tiba Mintaraga dan Candra Wulan mendengar suara angin berkesiuran dibelakang mereka. Mereka segera dapat mengetahui kalau ada orang yang berlati dibelakangnya. Malahan Mintaraga segera menduga kalau kepandaian meringankan tubuh orang yang lari dibelakangnya itu telah mencapai tingkatan yang baik.

Candra Wulanpun hanya berdiam diri saja seperti apa yang dilakukan oleh Mintaraga. Hanya saja setelah ia mengetahui kalau orang yang berlari dibelakangnya itu telah dekat dengannya ia lalu menegur dengan bengis.

“Siapa kau.” Tegurnya dengan hendak berpaling.

Akan tetapi tiba-tiba saja terdengar suara tawa riang dari Mintaraga dan katanya :

“Jangan kau layani dia, dia mengikuti kita sudah semenjak sepenanakan nasi lamanya ”

“Siapakah dia ??” Tanya Candra Wulan dengan tak mengerti.

Kembali Mintaraga tertawa dengan terkekeh-kekeh.

“Kecuali si Arya Panuju, si makhluk aneh itu siapa lagikah adi Candra Wulan?” Jawabnya dengan nyaring.

Orang yang lari dibelakangnya itu napasnya telah tersengal-sengal, suara tata napasnya terdengar nyata sekali oleh Mintaraga.

“Eh. bocah yang baik, apakah dibelakangmu itu ada matanya?”

Orang yang sejak tadi mengikuti perjalanan Mintaraga dan Candra Wulan itu memang bukan lain adalah Arya Panuju. Yah jago kawakan dari Banten. Karena ia terus menerus mengikuti muda-mudi ini maka ia tahu segala-galanya. Biarpun napasnya telah lelah terengah-engah akan tetapi ia terus lari mengejar. Tapi karena lelahnya ia lalu berteriak dengan nyaring :

“Bocah yang baik, apakah kau tak dapat menungguku sebentar?” Mintaraga tertawa.

“Arya Panuju.” Jawabnya. “Bagaimana kalau sekarang kita mengadu ilmu meringankan tubuh kita?”

Arya Panuju juga tertawa.

“Bagus.” Jawabnya menerima tantangan itu.

Mintaraga terus berlari bahkan sekarang ia mulai menarik tangan Candra Wulan yang dipegang keras-keras. Setelah itu mereka lalu lari dengan cepat sekali. Ilmu meringankan tubuh gadis ini telah baik sekali. Akan tetapi kalau dibandingkan dengan Mintaraga ia masih kalah lima tingkat. Karena itu, dengan tangannya ditarik, Candra Wulan harus mengerahkan tenaganya supaya jangan sampai terseret melulu....  

“Oh... kakang Mintaraga, aku dapat mati kalau diseret dengan

sedemikian rupa...” Katanya kemudian. “Apakah kau tak merasa kasihan?” Anak muda itu hanya tertawa.

“Kecuali dengan cara yang demikian maka mana ada jalan lain adi?” Mendengar jawaban ini Candra Wulan menjadi mendongkol juga. “Apakah kau tak dapat menggendongku?” Tanyanya. Ia berkata seperti

tanpa dipikir lagi.

“Dapat... hanya aku khawatir nanti Arya Panuju akan mengumbar mulut untuk menyindir kita...” Jawab anak muda itu. “Sekarang begini saja. Coba kau berhenti berlari menurut cara mengentengkan tubuh...”

Candra Wulan menurut, ia tak lagi mempergunakan tenaganya, gadis ini membiarkan dirinya menjadi wajar. Meski begitu, setelah ditarik Mintaraga, dapat ia lari keras seperti tadi. Candra Wulan merasakan kalau dirinya kini persis bagaikan layangan yang terbang melayang....

“Bagus.... bagus....” Serunya berulang-ulang. Melihat hasilnya ini ia menjadi sangat bergembira.

Orang-orang berlari terus. Selama itu Mintaraga telah memasang kuning. Ia mengerti kalau Arya Panuju telah mengejar semakin dekat. Mintaraga sebenarnya lebih hebat dari pada orang asing itu, akan tetapi dengan adanya Candra Wulan sebagai bandulan ia harus memakai tenaga yang berlebihan. Karena mengetahui kalau ia bakal tersusul, ia tak berlari sekeras tadi.

Aneh atau licik, adalah Arya Panuju. Dia melihat kalau Mintaraga tak berlari secepat tadi, dia tak menghendaki mendahului Mintaraga, Arya Panuju sengaja lari mengikuti lima sampai enam puluhan meter dari belakangnya saja.

‘Baiklah akan kulihat lagak lagumu.’ Pikir Mintaraga. Kemudian ia berhenti dengan mendadak maka maksudnya akan menanti. Namun ia berdiam tanpa menoleh. Akan tetapi sayang Mintaraga menanti dengan sia- sia saja. Nyata sekali kalau Arya Panujupun berhenti, orang Banten itu tak berlari terus-menerus.....

Di akhirnya anak muda-muda itu berpaling kebelakang.

“Eh... Arya Panuju, untuk apakah kau menggangguku?” Tanyanya dengan gemas. “Aku punya urusan penting, sampai bertemu kembali ki sanak.”

“Urusan penting apakah itu?” Tanyanya, sebelum orang itu meninggalkannya. “Bagaimana jika aku membantumu? Setujukah kau??”

“Tak perlu.” Jawab Mintaraga dengan singkat. Ia lalu menarik tangan Candra Wulan, untuk diajak berlari lagi.

Setelah sekian lama mereka berlari lagi, tiba-tiba saja terdengar sebuah tawa nyaring dibelakang mereka. Suara tawa itu seperti berkumandang diudara.  

Mendengar suara tawa ini Candra Wulan segera mengerutkan

keningnya.

“Makhluk itu telah menyusul lagi. Menyusul kita.” Katanya dengan masygul.

Mintaraga tak menjawab, ia hanya menghentikan tindakannya. Pemuda itu berpaling dengan cepat.

“Arya Panuju, mengapakah kau menggangguku sedemikian rupa?” Tegurnya. “Maksud apakah yang kau kandung didalam hatimu itu? Apakah kau ingin berkelahi? Sayang sekali aku tak mempunyai waktu untuk menemanimu !”

“Mintaraga... jangan kau marah.” Jawab orang Banten itu dengan tertawa pula. “Secara demikian aku menyusulmu pasti ada sebuah peristiwa yang akan kudamaikan denganmu ”

“Baik.” Jawab Mintaraga. “Kau katakanlah lekas ”

“Mengapakah mesti harus tergesa-gesa?” Tanya orang asing itu, bahkan lagaknyapun jenaka. “Marilah kita duduk-duduk dulu untuk melihat rembulan yang sedang jernih. Inilah waktunya yang bagus untuk kita duduk-duduk tepekur dan pasang omongan. Eh ya, tengah hari tadi ceritaku baru saja dimulai kau telah segera lari kabur. Kali ini tak dapat tidak, kau harus mendengarkannya sampai tamat.”

Candra Wulan tak mempunyai niat untuk mendengarkan cerita orang Banten itu. Sedangkan Sucitro dan rombongannya yang telah membawa Tunggul Tirto Ayu berada jauh didepan mereka. Tidak gampanglah untuk menyusul kakek sakti dari selatan itu.

“Marilah kita berangkat.” Serunya mengajak Mintaraga. “Jangan kita pedulikan dia lagi.”

Mendengar perkataan Candra Wulan ini Arya Panuju tak menjadi kurang senang, bahkan ia lalu memperdengarkan suara tawanya.

Mintaraga melihat ada apa-apa yang aneh diantara suara tawa orang Banten itu. Karena itu ia mendapat sebuah pikiran. Maka iapun lalu tertawa.

“Arya Panuju, jangan kau jual lagak disini.” Katanya dengan tertawa. “Jika kau hendak bicara silahkan. Bukankah kau datang untuk Tunggul Tirto Ayu itu pula? Apakah kau sangka aku tak melihatmu?”

Kembali Arya Panuju tertawa.

“Cara bagaimana kau mengetahui akan hal itu?”

Mintaraga menjawab dengan suara yang nyaring dan kedengaran sangat jelas sekali :

“Kau toh bersembunyi digerombolan rumput yang berada dibelakang kami. Kau selalu memasang kuping dan mata untuk mendengar dan melihat apa yang kami bicarakan dan kami lakukan. Apakah kau sangka aku tak mengetahui sepak terjangmu itu?”

Arya Panuju mempertunjukkan jempolnya.  

“Bagus.” Serunya. “Semuanya tak dapat kusembunyikan dihadapanmu

anak muda yang baik. Huahaaa... Huahaaa... Huahaa.... kau mencoba merampas Tunggul Tirto Ayu, aku turut hanya untuk melihat. Bukankah aku telah menjelaskan sebelumnya?”

“Baiklah kuberitahukan kepadamu kalau Tunggul Bintoro itu berada ditangan Sucitro, dan jangan kau mengira kalau berada ditanganku.” Jawab Mintaraga. Ia masih belum mengetahui akan maksud orang Banten itu.

Untuk kesekian kalinya Arya Panuju tertawa. Kali ini ia tertawa panjang. “Bagus... bagus...” Serunya. “Sucitro menghajar Pendeta Baudenda! Pendeta Baudenda menghajar jago-jago Jipang Panolan, dan jago-jago Jipang Panolan melawan Sucitro. Inilah pertunjukan sandiwara yang sangat menarik hati. Semuanya telah kusaksikan. Hanya disana masih ada dua si tolol, dengan ketololannya mereka mencoba mengambil bagian, mereka naik pentas akan tetapi kesudahannya mereka tak dapat apa-apa. Bukankah hal itu menyebabkan orang tertawa terpingkal-pingkal sampai perutnya menjadi

sakit?

Lagi-lagi ia tertawa.

Mintaraga tunduk. Memang ada terselip apa-apa didalam perkataan orang Banten ini. Dengan dua si tolol, tentulah dia dan Candra Wulan yang dimaksudkannya. Percuma saja ia menduga-duga, tidak dapat ia menerka orang asing itu.

Arya Panuju mengawasi dan kembali tertawa dengan terpingkal- pingkal.

“Seorang tukang sulap tentunya pandai untuk main sulap, kepandaiannya masing-masing berbeda.” Katanya. “Huahaaa... Huahaaa... Huahaaa... anak yang baik, kau hanya mengandalkan kepandaian silatmu yang hebat, akan tetapi kau telah kena diperdayakan oleh paman eyang gurumu yang licin itu.”

Candra Wulan tahu maksud orang itu, hingga dengan demikian maka gadis itu menjadi penasaran.

“Coba lihat kakang Mintaraga.” Katanya kepada kawan seperjalanannya.

Mintaraga mengeluarkan kotaknya, bersama-sama gadis itu, mereka mengawasi kotak itu dibawah sinar bulan purnama. Empat puluh batu permata bergemerlapan, warnanya lima warna.

Sekalipun Arya Panuju memandang kearah barang itu maka matanya berkunang-kunang.

“Eh... orang aneh, semua perkataanmu, caramu dan semuanya aku tak mengerti.” Candra Wulan menegur orang asing itu. “Kau juga mengejek kami dan kau mengatakan kalau kami tak mendapat apa-apa juga. Sekarang aku hendak bertanya kepadamu, kotak ini kotak apakah? Apakah kotak ini sebuah kotak palsu?”  

Arya   Panuju   tak   gusar   ataupun   mendongkol   setelah   mendengar

perkataan Candra Wulan yang judas itu.

“Siapakah yang mengatakan kalau barang itu adalah sebuah barang palsu?” Dia menjawab dan balik bertanya. “Baiknya segera kau simpan saja barang itu, supaya orang-orang tak melihatnya, sebab banyak orang yang menjadi panas matanya setelah melihat barangmu itu.”

Candra Wulan tak segera menyimpan kotak itu, malahan ia lalu memandang kearah kotak itu dengan seksama. Kemudian ia tertawa gembira sekali.

“Kau berkata kalau ada orang melihat barang ini maka orang itu akan panas matanya dan ingin menghendaki barang ini apakah kau yang telah melihat barang ini tak mampunyai keinginan untuk mempunyainya?”

Arya Panuju memperlihatkan sikapnya yang memandang enteng. “Siapakah yang kemaruk untuk mempunyai kotak busukmu itu?

Katanya. “Hem... kau kira aku Arya Panuju ini orang macam apakah?” Sekarang orang asing itu memperlihatkan roman yang bersungguh-

sungguh. Agaknya ia merasa tersinggung. Terus saja ia menjatuhkan diri dan duduk diatas tanah.

Candra Wulan tertawa didalam hatinya. Ingin ia menggoda terlebih jauh.

“Kau datang dari tempat yang ribuan kilo jauhnya.” Katanya. “Dari Banten kau berlari-larian tak menghiraukan tempat yang amat jauh, adakah perjalanan macam itu hanya untuk pesiar melihat gunung dan sungai- sungai? Bukankah kau datang untuk mustika ini? Hem... jangan kau berlagak bodoh dan acuh tak acuh... jangan kau baraksi terasi macam itu, aku khawatir kakang Mintaraga nanti tak memberi hati kepadamu!”

Mendengar itu Arya Panuju memperlihatkan wajah yang benar-benar marah.

“Baiklah akan kuberitahukan hal ini kepadamu.” Katanya dengan keras. “Aku Arya Panuju, menjalani perjalanan jauh ini hanyalah untuk si jahanam Darmakusuma. Mengapa aku mencarinya? Sebab dia pada sepuluh tahun yang lalu telah memperdayakan sebuah barangku. Aku telah bersumpah sangat berat, kecuali aku telah dapat membunuhnya maka sukarlah perasaan sakit hatiku itu ditebus.”

Makin lama ia berbicara maka makin keraslah suaranya. Hal ini menandakan kemarahan-kemarahan yang bertambah-tambah, mendengar itu gentar juga hati Mintaraga. Begitupun dengan Candra Wulan. Mereka tahu kalau ki Darmakusuma itu mempunyai hati dan watak yang keras. Maka itu, ada hal apakah yang tak berani dia lakukan?”

Mintaraga berpikir :

‘Ketika tadi tengah hari kusebutkan nama ayah dia hendak menghajarku sampai mampus, tak kusangka kalau diantara dia ini dengan ayah  

mempunyai dendam...... ah... dendam ini harus dilampiskan terlebih dahulu,

supaya didunia baka Ayah dapat mati dengan merem...’ Dengan cepat anak muda itu mengambil keputusan :

“Ki sanak...!” Katanya dengan nyaring. “Ayahku telah menutup mata tiga bulan yang lalu, hal itu telah kuberitahukan kepadamu. Sekarang apakah yang akan kau kehendaki? Dimana aku sanggup maka aku akan suka berbuat untukmu. Malam ini juga dendammu itu harus dihapuskan dengan secara layak, setujukah kau?”

Arya Panuju mengawasi, kedua biji matanya berputar. Agaknya ia menjadi heran. Setelah itu ia tertawa.

“Bocah yang baik di tanah Jawa ini terdapat sebuah ujar-ujar konon yang berbunyi, permusuhan harus dihabiskan, tak seharusnya diperhebat.” Katanya. “Pepatah itu mengandung kebenaran. Aku Arya Panuju adalah seorang laki-laki, karena itu tak nanti aku sembarangan membuat susah keturunan dari musuhku. Tenangkanlah hatimu dan kau tak usah khawatir.” Mintaraga dan juga Candra Wulan menjadi tercengang ketika mendengar perkataan orang ini. Inilah tak pernah disangka  dan dinyana

kalau diingat sampai sebegitu jauh orang tampaknya galak.

“Hanya ada sebuah hal.” Orang Banten itu menambahkan. “Barang yang diperdayakan dari tanganku harus kau kembalikan kepadaku. Inilah cara yang paling adil diseluruh dunia. Bukankah kau setuju anak muda?”

“Aku?” Jawab Mintaraga sambil menatap orang laki-laki tinggi besar yang berada dihadapannya.

“Ya kau!” Jawab Orang Banten itu memastikan sambil tertawa bergelak- gelak.

“Barang apakah itu?” Tanya Mintaraga. “Mengapa kau mengatakan kalau barang itu ayahku mendapatkannya dengan secara menipu dari tanganmu, dan apakah barang itu kini berada ditanganku? Ah... ini benar- benar aneh sekali! Harap kau jangan bergurau terlebih jauh lagi.”

Mata Arya Panuju terus berputar dan kemudian kelihatan kalau biji mata itu mendelik bagaikan hendak keluar dari lubang matanya.

“Siapakah yang, bergurau denganmu?” Bentaknya. “Barang itu sekarang berada didalam saku bajumu. Jika kau menghendaki permusuhan ini diselesaikan dengan secara damai maka kau harus menyerahkan barang itu kepadaku.”

Mintaraga bertambah heran akan tetapi ia tetap berwaspada. Bahkan kini pemuda cakap dan sakti ini malahan tertawa.

“Toh bukannya itu kotak Tunggul Tirto Ayu?”

“Ah, bocah kau ternyata pandai berpura-pura.” Teriak Arya Panuju. “Barangku itu mahalnya lebih dari pada sebuah kota kalau dijual maka kotak busukmu itu terang kalau tak ada seperseribunya dari barangku itu. Hayo lekas segera kau keluarkan barangku itu.”  

Sambil berkata demikian Arya Panuju berjingkrak bangun, sepasang

matanya yang mendelik bersinar dimalam yang gelap itu. Sedangkan sinar rembulan memperlihatkan wajahnya mirip dengan seekor binatang liar yang hendak menerkam mangsanya.

Mintaraga tahu kalau orang itu berwatak aneh. Sebentar marah dan sesaat kemudian menjadi baik. Orang macam demikian ini benar-benar akan dapat melakukan pembunuhan dengan secara tiba-tiba. Oleh karena itu ia lalu bersiap sedia untuk melindungi Candra Wulan.

“Arya Panuju.” Katanya dengan tegas. “Kau katakanlah, barang itu sebenarnya barang apakah? Jangan kau mempersulitku, jangan kau membuatku menjadi bingung tak karuhan.”

Arya Panuju mengawasi, kedua tangannya, yang lengannya berbulu itu diulurkan.

“Anak yang baik akan kuterangkan.” Katanya. “Barangku itu bukan lain adalah kertas kulit kambing yang berwarna kuning itu, dan kini berada didalam saku bajumu bukan?”

Mintaraga dan Candra Wulan menjadi heran sekali. Hingga karena herannya mereka lalu mementang matanya dengan lebar-lebar. Mereka berdua benar-benar tak mengerti. Kertas kulit kambing yang berwarna kuning itu adalah warisan dari ki Darmakusuma. Dan Mintaraga telah mendengar sendiri dari Woro Keshi kalau didalam kertas kuning itu terdapat teka-tekinya yang menceritakan Tunggul Tirto Ayu. Namun ketika ia mengetahui kalau Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kerajaan Demak Bintoro ini telah berada ditangan ki Sucitro maka kertas ini telah dianggapnya tak penting lagi.

Sewaktu Mintaraga dan Candra Wulan berdiri dengan terdiam, maka Arya Panuju mengawasi dengan tajam-tajam.

“Bagaimana?” Tanyanya pula. “Barang itu asalnya adalah milikku. Sangat mengherankanlah kalau kau tak rela untuk menyerahkan kembali barang itu kepadaku.” Arya Panuju rupa-rupanya khawatir sekali kalau anak muda itu tak mempercayainya. Ia merogoh sakunya, akan mengeluarkan kertas kulit kambing kepunyaannya sendiri. Ia lalu mengulapkan didepan kedua anak muda ini. Kemudian orang itu menambahkan :

“Kedua kertas kulit kambing itu terbuat dari bahan yang sama, kedua- duanya adalah keluaran dari Banten, sepuluh tahun yang lalu ayahmu itu telah datang kedaerah Banten, kemudian orang tak tahu malu itu telah menipu kertas itu dari tanganku. Maka kalau sekarang barang itu dikembalikan kepada pemiliknya, waktunya tepat sekali.”

Didalam keheranannya Mintaraga lalu berpikir :

‘Kukira barang apa yang dianggapnya penting itu, ah... tak tahunya hanya selembar kertas ini saja. Baiklah akan kukembalikan kertas ini  

kepadanya, supaja dia tak usah terus-menerus mengikuti kita hingga sangat

menjemukan sekali.’

Oleh karena mendapat pikiran yang demikian ini maka Mintaraga merogohkan tangannya kedalam saku bajunya. Dan tak antara lama ia lalu mengeluarkan kertas kuning peninggalan ayahnya.

“Paman... kau telah berjanji.” katanya.

“Pasti.” Arya Panuju menyela. Begitu dia melihat kertas itu. Kedua matanya menyala.

“Asal kau kembalikan kertas itu kepadaku, itu artinya kau mengerti urusan, maka permusuhan antara ayahmu denganku, sekarang juga akan kuhabisi, dan selanjutnya aku tak berani mencarimu pula untuk menuntut balas.”

Setelah berkata demikian maka tangannya menyambar kearah tangan Mintaraga yang memegang kertas kuning itu. Dengan cepat ia memasukkan kertas itu kedalam saku bajunya. Sekarang ia tertawa pula. Dan segera berkata :

“Baiklah sekarang kita mengambil jalan kita masing-masing. Kau pergi mencari Sucitro dan aku akan pulang ke Banten, dikemudian hari sulitlah kita untuk bertemu lagi.”

Orang Banten ini lalu membuktikan perkataannya. Setelah menganggukkan kepalanya untuk menghormat kepada Mintaraga dan setelah itu tak berkata apa-apa lagi lalu memutar tubuhnya dan melesat pergi.

Mintaraga mengawasi dengan penuh perhatian. Pemuda ini agaknya sangat berat sekali untuk berpisah dengan orang Banten itu. Jago dari Barat ini benar-benar hebat dan sikapnyapun mengagumkan. Biar bagaimana Mintaraga telah merasa simpatik, didalam hatinya telah berkesan baik.

Arya Panuju telah berjalan beberapa tindak dan tiba-tiba saja ia berhenti dan memutar tubuhnya. Dan terus saja orang Banten itu tertawa.

“Bocah.” Katanya, suaranya ramah dan sungguh-sungguh. “Aku melihat kau adalah seorang anak yang jujur, karena itu aku akan memberitahukan sesuatu kepadamu. Sucitro itu berada didepan, tak jauh dari sini, asal kau menuju langsung kearah tenggara pasti kau akan dapat mengejarnya. Jangan kau menuju keselatan, sebab nanti kau akan sia-sia saja melakukan perjalanan untuk mengejar orang tua yang bersikap aneh itu.”

Mintaraga heran, akan tetapi ia sedang gembira. Bukankah permusuhan ayahnya dengan orang Banten ini telah menjadi beres? Karena itu setelah melihat orang Banten ini pergi ia lalu menarik tangan Candra Wulan untuk diajak lari kearah tenggara seperti yang ditunjukkan oleh orang tua itu. Mereka berlari dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya, hingga sebentar saja mereka telah melalui dua sampai tiga kiloan.  

“Kakang Mintaraga apakah kau mempercayai perkataan orang Banten

itu?” Tanya Candra Wulan ditengah perjalanan. Memanglah sejak tadi gadis ini masih tetap ragu-ragu.

“Kalau orang gagah telah berkata merah, maka tak nanti ia akan mengatakan hijau.” Jawab pemuda yang ditanya. “Ki Arya Panuju adalah seorang dari dunia kependekaran dan usianyapun telah lanjut. Perkataannya itu pasti dapat dipercaya.”

Akan tetapi Candra Wulan masih tetap bersangsi dan kecurigaannya terhadap orang Banten itu masih melekat tebal-tebal didalam lubuk hatinya.

“Kalau dia itu berkata dengan sebenarnya maka itu adalah sangat baik.” Jawabnya. “Akan tetapi kalau ia berkata sebaliknya, maka akan sama saja dengan warisan ayahmu itu akan kau serahkan dengan demikian saja kepada orang lain, dan hal ini harus sangat disayangkan. ”

Mintaraga tertawa.

“Marilah sekarang kita maju dengan menurut apa yang ditunjukkan olehnya.” Jawabnya. “Jika kita benar-benar dapat mencari Sucitro, itu tandanya kalau dia tak bohong. Namun misalnya kalau kita gagal, biarlah kita akan mencarinya untuk menyelesaikan perhitungan ini. Aku tak akan takut walaupun ia akan kabur sampai keujung langitpun akan kukejar terus adi Candra Wulan.”

Candra Wulan menjadi terdiam ketika mendengar perkataan perjaka ini. Namun biarpun diam didalam hatinya ia tak dapat menyingkirkan kesangsiannya itu.....

Tanpa berbicara lagi kedua orang muda-mudi itu terus berlari lagi. Segera mereka tiba disebuah jalan yang banyak pepohonannya, perjalanan ini sungguh memperlambat perjalanannya. Sudah begitu tiba-tiba saja Mintaraga dapat melihat adanya sebuah bayangan yang berkelebat dihadapannya dan kemudian menghilang dibalik pepohonan yang rungkut itu.  

Dengan pandangannya yang tajam itu Mintaraga tahu kalau orang itu mempergunakan pakaian serba hitam serta mukanya ditutupi dengan sebuah sapu tangan.

Didalam hatinya Mintaraga berkata :

“Benar-benar aneh. Sekarang ini adalah tengah malam buta, akan tetapi mengapa orang itu berada ditempat ini dan lagak lagunya seperti hantu?” Oleh karena ia lalu meninggalkan Candra Wulan, dan Mintaraga melompat dengan pesat, dan kemudian memperdengarkan suaranya :

“Ki sanak silahkan kau keluar dan marilah kita membuat sebuah perkenalan dan pertemuan. Janganlah kau hanya main sembunyi-sembunyi saja.”

Sementara itu Candra Wulan telah menyusul, malahan gadis ini segera menghunus pedangnya. “Sahabat    apakah    kau    ini    seorang    pembegal    ataukah    seorang

perampok?” Tegurnya.

Bayangan itu memperdengarkan sebuah tawanya. Namun orang itu tetap tak mau muncul. Dan tak lama kemudian terdengarlah suaranya :

“Tuanmu ini hidup merdeka dan senang tinggal disini. Tuanmu tak mengganggumu, akan tetapi mengapa kalian itu seperti orang yang sedang membetot-betot kumis harimau saja?” Belum lagi habis jawaban bergurau itu, tiba-tiba saja disusul dengan sebuah bentakan :

“Apakah kau masih tak mau pergi? Lihatlah hajaranku.” Dan serupa senjata rahasia lantas menyambar muda-mudi itu.

Mintaraga memutar pedangnya dan menghajar jatuh semua senjata rahasia yang menyerang dirinya. Ternyata senjata rahasia penyerang itu adalah lima butir batu kerikil dan segumpal tanah liat.

“Hebat.” Terdengarlah sebuah seruan dari dalam gerombolan pepohonan itu. “Huahaaa... Huahaa... Huahaa... tuan-tuan, kalian berdua ini nampaknya melarat sekali, apakah kalian berniat membegalku.

“Hem... tidak, tak nanti aku mamberikan diriku kalian tipu. Jika kalian mau pergi dari sini barulah aku mau keluar. Kalau kalian tak mau pergi maka tak nanti aku mau muncul.”

Mendengar perkataan itu Mintaraga segera berkata dengan perlahan kepada Candra Wulan :

“Adi Candra Wulan, dia itu hanyalah sebuah telur busuk saja, mari kita pergi.”

Orang itu mempunyai pendengaran yang sangat tajam sekali, dia dapat mendengar perkataan kedua muda-mudi itu, lantas bayangan tadi tertawa dengan bergelak-gelak. Dan setelah itu kembali ia mengunjukkan perkataannya :

“Adi Candra Wulan, ah... sebuah nama yang sedap didengar. Entah orangnya bagaimana macamnya. Huahaaa... Huahaaa... kali ini tidak dapat tidak, aku harus keluar juga. Aku harus melihatnya.

Mendengar perkataan ini Mintaraga tertawa lebar karena tak dapat menahan gelombang hatinya.

Candra Wulan sebaliknya malahan menjadi mendongkol sekali, hingga tanpa sesadarnya mukanya menjadi merah.

“Baiklah aku akan menunggumu disini.” Serunya. “Kau boleh keluar untuk melihatnya.”

Orang yang sedang bersembunyi itu tertawa geli.

“Sejak siang-siang aku telah melihatmu.” Jawabnya. “Kau mempunyai potongan muka bulat telur, sepasang alismu bengkok melengkung nanggal sepisan. Kau memang jelita... ah adik Candra Wulan, bagaimanakah kalau kau menikah saja denganku? setujukah kau??”  

Mendengar perkataan yang tak senonoh ini Candra Wulan menjadi

marah sekali hingga sepasang alisnya berdiri, ia menggerak-gerakan pedangnya. Tanpa pikir panjang lagi ia lalu melompat kearah gerumbul. Akan tetapi untung Mintaraga sempat menariknya keluar lagi.

“Dia itu adalah orang busuk, jangan kau kena diperdayakan olehnya.” Seru Mintaraga membisiki Candra Wulan.

“Peduli apa dia telur busuk atau bukan.” Jawab Candra Wulan dengan keras dalam marah. “Kakang Mintaraga, kau tolonglah aku menjambakkan dia keluar, dan nanti aku akan menghajarnya. Siapa suruh dia mengacau belo tak karuhan seperti itu.

Orang yang berada digerumbul itu tertawa terkekeh-kekeh.

“Kakang Mintaraga?” Ejeknya. “Sungguh mesra sekali panggilan... Eh... kakang Mintaraga, kau berani atau tidak masuk kedalam gerumbul ini?”

Mintaraga menjadi berpikir. Mulanya ia menyangka kalau sedang menghadapi seorang begal biasa, yang mempergunakan senjata rahasia untuk menakut-nakuti lawannya, maka sekarang ketika mendengar suara orang itu, yang bernada menggoda dan mengejek, ia menganggap orang itu bukannya begal biasa saja.

“Baik aku akan masuk.” Jawab pemuda itu dengan lantang dan kedengaran tegas sekali.

Memanglah Mintaraga ini berkeberanian besar sekali, hingga sedikitpun ia tak menggubris dengan perkataan orang-orang dari dunia kependekaran untuk tak memasuki hutan lebat. Dengan tangan kiri melindungi diri dan tangan kanannya disiapkan kedepan, ia lalu mengenjot kedua kakinya untuk masuk kedalam rimba itu. Kedua matanya dipasang tajam-tajam.

Tapi begitu lekas ia menerjang masuk, disampingnya ada sebuah tubuh yang mencelat keluar dari dalam rimba itu. Hingga dengan demikian mereka menjadi bertentangan tujuan.

“Sungguh gesit.” Seru Mintaraga memuji. Setelah berkata demikian lalu Mintaragapun mempertunjukkan kegesitannya pula. Begitu kakinya menginjak tanah, ia lalu memutar tubuh, ia menjejak balik, untuk melompat keluar. Maka segera juga ia telah menghadapi begal itu, yang berdiri dengan tegak. Mukanya tertutup dengan sebuah kain hitam, sedangkan tubuhnya langsing, terang sekali kalau tubuh seorang gadis.

Sungguh jenaka sekali begal itu, dan lagi mulutnya sangat jail.

“Eh... Adi Candra Wulan.” Katanya sambil tertawa. “Kau lihat aku telah keluar. Nah sekarang kau suruhlah kakak Mintaragamu itu menekukku.”

Candra Wulan mendongkol bukan main ketika mendengar orang itu menyebut-nyebut ‘kakang Mintaraga’ dan ‘adi Candra Wulan’ terang saja kalau itu adalah sebuah ejekan baginya.  

“Budak mulutmu sungguh kotor.” Bentaknya. “Mengapa aku harus

minta tolong orang lain? Kau lihat saja dapat atau tidak aku menyerampang kedua kakimu hingga patah.”

Saking sengitnya ia lalu membanting kaki. Orang itu hanya tertawa.

“Akupun belum pernah melihat seorang gadis manis seperti kau ini berkata dengan sedemikian galaknya.” Katanya. “Tapi baiklah, bukankah diantara orang lain pernah terjadi mengadu kepandaian untuk mencari pasangan? Nah adik Candra Wulan kita main-main. Misalkan aku yang menang kau harus ikut aku kembali kemarkas besarku untuk menjadi ratu gunung.”

Tak puaslah hati Mintaraga ketika mendengar perkataan orang itu dan lagi ia menjadi sangat penasaran ketika melihat lagak lagu orang yang bertopeng kain hitam itu.

“Kau ini siapakah ki sanak?” Tanyanya dengan suara yang keras dan tegas. “Kau ini seorang gagah, mengapa sekarang ini menghina seorang gadis?”

Orang itu menganggukkan badannya dalam sekali.

“Maaf... maaf.” katanya. “Aku yang rendah adalah seorang raja gunung.

Dan apakah ki sanak ini yang dipanggil sebagai kakang Mintaraga?”

Setelah berkata demikian maka raja gunung ini lalu tertawa dan aksinya sangat jenaka.

Melihat hal ini Mintaraga menjadi mengerutkan keningnya.

‘Inilah orang aneh, bahkan sangat aneh sekali...’ Pikirnya. Karena itu pemuda ini menjadi sangat masygul. Mintaraga sebenarnya hendak menegur pula akan tetapi Candra Wulan telah mendahuluinya. Gadis itu telah menghunus pedangnya dan terus menikam kearah kepala perampok yang berpakaian serba hitam-hitam itu.

“Bocah yang baik, jika kau mengetahui ilmu silat maka silahkan hunuslah senjatamu.” Tantangnya.

Orang itu tertawa. Ia ditantang, pun juga diserang. Atas datangnya serangan itu ia hanya mengegoskan tubuhnya, lalu menjawab :

“Menghadapi seorang gadis manis yang bagaikan bunga mawar ini perlu apakah aku mengeluarkan senjata? Kalau sampai aku melukaimu bukankah sayang? Dan lagi perbuatan itu akan menandakan kalau pikirannya cupet sekali...”

Candra Wulan menjadi marah, maka ia lalu menyerang lagi. Menyerang kekiri dan kekanan, sebab setiap kali ia menyerang maka orang itu selalu mengelak. Demikianlah ia mengulangi tikamannya itu hingga tiga kali.

Orang itu sambil membela dirinya terus berteriak dengan berulang- ulang :  

“Hai... hai... seorang gadis mengejar seorang jejaka! Apakah kau tak

malu nona??”

Ia tetap saja mengelak, tak pernah mau menangkis ataupun membalas serangan itu dengan serangan pula.

Oleh karena itulah Candra Wulan menjadi semakin marah dan semakin sengit. Candra Wulan terus-menerus mengulangi serangannya dengan mempergunakan jurus-jurus dari perguruan Lawu. Bersama dengan itu ia lalu memanggil kawannya :

“Kakang Mintaraga mengapa kau diam saja?”

Mintaraga sebaliknya sedang melihat dengan hati berpikir keras. Ia mendapat kenyataan kalau orang itu mempunyai kepandaian lebih tinggi dari pada Candra Wulan. Yang menarik perhatian ialah agaknya ilmu silat orang itu telah dikenalnya baik-baik. Hanya saja tak ingat dimana ia pernah menyaksikannya.

‘Baiklah hendak kuselidiki sampai dimana kehebatan dan dari cabang mana ilmu silatnya itu......’ Pikirnya kemudian. Maka ia lalu menjawab kepada Candra Wulan :

“Adi Candra Wulan kau lawanlah dia dengan bersungguh-sungguh jangan kau beri kesempatan kepadanya untuk meloloskan diri.”

Orang itu tampaknya licin. Ia tetap tak mau membalas, dan tetap saja tak mau menyerang, orang bertopeng hitam itu terus menerus hanya main elak saja. Ia mengelak dengan mengegoskan tubuhnya atau melompat saja. Dilain pihak dengan lidahnya yang tajam, ia terus menggoda Candra Wulan, yang diejek pulang balik.

Berkobarlah hawa amarah Candra Wulan, karena itu ia lalu berkelahi dengan kalapnya. Gadis ini lalu mengeluarkan semua kepandaiannya. Candra Wulan benar-benar ingin sekali menusuk dada lawannya ini dengan pedangnya. Hanya kalau ia sedang marah sekali, maka lawannya itu masih tetap tenang-tenang saja. Hanya gerakannya saja tetap lincah.

Saking sengitnya, dan sambil mendesak musuh, Candra Wulan menyesalkan Mintaraga. Sebab waktu itu ia memang benar-benar ingin mendapat bantuan dari kawannya itu untuk bersama-sama mengepung musuhnya.Tentu saja gadis ini tak mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Mintaraga.

Sekian lama mereka bertempur, percuma saja tenaga dan kepandaian Candra Wulan, sekalipun ujung baju lawannya, tak pernah ia dapat menyenggolnya.

Untuk kesekian kalinya orang itu tertawa dan berkata :

“Oh... adi Candra Wulan, kalau lain orang mengadu kepandaian untuk merangkap jodoh, batasnya hanyalah saling towel-menowel saja. Karena itu aku menjadi heran ketika menyaksikan seorang gadis yang seperti kau ini,  

kau begini galak dan telengas. Huahaaa... Huahaa...Huahaa... kalau kau nanti

telah menjadi ratu gunung, apakah kau akan tetap demikian galak?”

“Huuh! Siapakah yang menjadi adi Candra Wulanmu?” Bentak gadis itu dengan marah. “Rasakanlah pedangku ini.” Dan kembali Candra Wulan menyerang dengan hebat.

Serangan kali ini membuat Mintaraga menjadi terkejut, demikianpun juga dengan orang itu sendiri. Ternyata Candra Wulan telah mempergunakan jurus yang dapat ia cangkok dari kitab pusaka Pendeta Argo Bayu dalam penyerangan maut yang menuju keleher.

Pertama kalinya ujung pedang itu menjurus ketenggorokan, lalu dengan sedikit gerakan, tikamannya menuju kejalan darah besar yang berada dileher, akan tetapi kalau orang akan mengelak atau menangkis pedang maka ujung pedangnya akan menyerang kearah kening. Sedangkan sinar pedangnya berkilau-kilauan.”

“Celaka.” Seru orang itu. Ia benar-benar kelihatan kaget sekali. Akan tetapi ternyata ia benar-benar hebat, gesit sekali gerakannya, maka didalam saat terancam itu, ia melenggak berikut tubuhnya. Sedangkan kuda-kudanya, dipasang dengan hanya sebelah kakinya saja. Dilain pihak sebuah kakinya jang satu dipakai untuk menjejak. Untuk dipakai melakukan penyerangan balasan. Jejakan ini menuju keperut Candra Wulan

Candra Wulan menjadi sangat girang sekali setelah melihat kalau ia telah dapat mempergunakan jurus dari kitab rahasia yang diberikan oleh pendeta Arga Bayu itu. Hanya sayangnya ia belum sempat menghafalkan jurus-jurus susulannya yang terlebih jauh. Ia sekarang sedang menghadapi seorang lawan yang mempunyai kepandaian hebat. Tidak heran kesudahannya, ia menjadi kaget bukan main. Sewaktu tikamannya itu gagal mengenai sasarannya, ia sendiri terancam bahaya.

Celaka umpama kata pedang lawan mengenai tepat dan jejakannyapun begitu, secara demikian maka keduanya akan celaka.

Mintaraga yang telah memasang mata, sudah segera dapat tersenyum sendiri. Ia telah dapat mengenal ilmu silat orang itu, hingga dengan demikian iapun tahu siapa sebenarnya orang itu. Disaat ia hendak datang memisah, justru tepat pada waktu itu Candra Wulan sedang melancarkan serangannya yang hebat. Karena itu ia kaget dan tahu akan akibatnya, sebab orang itupun membalas serangannya dengan jejakan. Tak ada waktu lagi untuknya datang memisah ditengah-tengah kedua lawan itu, kedua tangannya digerakkan dengan bersama-sama, dipentang, maka tepat sekali. Pedang Candra Wulan kena disamplok mental sedangkan kaki orang itu kena disamplok kesamping.

Maka gagallah mereka itu, akan tetapi kedua orang ini sama-sama memperoleh keselamatan.  

Dengan berdiri tegak diantara kedua orang itu, yang tercengang.

Mintaraga terus tertawa dengan terbahak-bahak.

Orang itu juga segera merenggut tutup mukanya, sedangkan dari dalam mulutnya ia memuntahkan sebuah biji buah-buahan, setelah itu ia lalu tertawa pula.

“Adi Candra Wulan.” Katanya. “Belum lama aku tak melihatmu, akan tetapi kini kepandaianmu telah maju dengan sangat pesat sekali.

“Candra Wulan tercengang, orang itu ternyata mempunyai rambut yang panjang dan turun riap-riap kepundaknya, sedangkan mukanya cantik manis wajahnyapun bersinar-sinar karena kegirangan. Ternyata orang yang memakai tutup kain hitam itu tak lain tak bukan adalah Dyah Kembang Arum yang telah berpisah dengan mereka selama dua bulan yang lalu. Dan karena mulutnya mengulum biji buah-buahan maka ia dapat mengubah suaranya.

“Kakang Mintaraga kau hebat sekali.” Seru Kembang Arum yang terus memandang kearah kekasihnya. “Tak dapat aku mengelabuhimu kakang.”

Mintaraga tertawa.

“Adi Kembang Arum.” Katanya. “Aku masih mengenal dengan baik jurusmu yang baru saja kau pakai itu. Jurus ikan cucut murka. Ketika dahulu ibumu berselisih dengan ayahku, hingga mereka berdua bertempur maka ibumu hampir saja dapat menewaskan ayahku dengan mempergunakan jurus itu. Jurus itu adalah jurus warisan dari keluargamu, karena itu mana aku dapat melupakannya?

Candra Wulan menjadi begidik ketika ia mengingat akan jejakan Kembang Arum yang baru saja dilakukannya itu.

“Ayu Kembang Arum.” Katanya. “Jika bukan kakang Mintaraga datang pada waktunya yang tepat, bukankah pada waktu ini aku telah kehilangan nyawa dibawah telapak kakimu itu?”

Wajah Kembang Arum menjadi merah. Akan tetapi ia segera memegang tangan Candra Wulan dengan erat-erat.

“Jangan kau sesalkan aku adi.” Katanya. “Kalau orang tengah menghadapi saat kematian, ia tentu mengeluarkan kepandaianya yang dapat dipakai untuk menghidupkannya terus ”

Candra Wulan terdiam maka Kembang Arum terus menambahkan : “Kau tahu adi Candra Wulan, tak dapat tidak aku harus

mempergunakan jurusku itu. Sebab seranganmu yang terakhir itu sangat dan bahkan terlalu berbahaya bagiku. Tanpa perlawananku itu maka keningku pasti akan berkembang. ”

Candra Wulan tertawa ketika mendengar Kembang Arum mulai bergurau. Dengan demikian iapun lalu diangkat.

“Benarkah kalau tipu ilmu silatku yang barusan itu sangat hebat kakang mbok?”  

“Benar, dari manakah kau mendapatkannya?” Tanya Kembang Arum

dengan tersenyum.

Candra Wulan tertawa.

“Aku tak akan memberitahukannya.” Jawabnya dengan gembira.

“Kau beritahukanlah kepadaku adi, apakah akupun tak boleh tahu dari mana kau mempelajarinya??” Seru Mintaraga yang turut berbicara.

Candra Wulan melirik kearah pemuda itu. Tiba-tiba saja hatinya menjadi tawar. Bukankah pada saat ini, akhir-akhirnya telah muncul orangnya si anak muda itu? Bukankah selanjutnya, walaupun masih dapat berdampingan dengan anak muda itu, ia bukan lagi sama orang yang sama kepentingannya, yang beda hubungannya? Ia telah memperoleh petunjuk dari pendeta Argo Bayu, akan tetapi meskipun demikian tak dapat ia segera melenyapkan perasaan hatinya. Tanpa terasa penyakitnya telah kambuh lagi. penyakit CEMBURU.

Inikah dia yang dinamakan asmara segi tiga? demikianlah ia mengingat- ingat.

“Siapa juga tak akan kuberi tahu.” Jawabnya kemudian. “Sangat mustahil kalau kau punya mustika yang dapat dipakai sebagai pembeli keteranganku ini. ”

Mintaraga tak mengetahui pada kata-kata gadis ini ada artinya. Ia menyangka kalau Candra Wulan hanya bergurau seperti biasa saja. Karena ia tahu akan watak Candra Wulan, dapatlah ia berlaku sabar. Ia pikir besuk dibelakang hari juga Candra Wulan akan memberitahukannya kepadanya..........

Karena ini, mereka bertiga sama-sama terdiam sejenak. Adalah Kembang Arum yang mendahului membuka mulutnya.

“Ah... hampir aku lupa.” Katanya dengan terkejut. “Ditengah jalan aku tadi bertemu dengan Sucitro dan murid-muridnya ”

Mintaraga bagaikan tersadar.

“Dimana dimanakah mereka itu?” Tanyanya dengan segera.

Mendengar pertanyaan Mintaraga ini, maka Kembang Arum lalu memandang kearah kekasihnya.

“Sabar... jangan kesusu!” Katanya bergurau. “Bukankah kau tengah menyusuli Sucitro?”

“Memang.” Jawab Mintaraga sebenarnya. Lalu ia memberikan keterangan segala apa sejak perpisahan mereka, begitupun halnya perebutan Tunggul Tirto Ayu.

“Baik.” Kata Kembang Arum kemudian. “Mari kuantar kau mencari Sucitro dan murid-muridnya. Mereka kini sedang berada didesa sebelah depan sana. Sucitro dan murid-muridnya tengah berpesta karena kegirangan. Dengan kita bertiga ini mungkin kita tak akan kalah dengan mereka ”  

Mintaraga berpikir sejak lalu katanya :

“Kau benar, biar aku yang melayani ki Sucitro, dengan demikian kalian berdua boleh menghajar murid-muridnya hingga sungsang balik.

“Mari kita segera berangkat.” Ajak Candra Wulan.

Dengan tak berjalan seenaknya lagi mereka lalu lari menuju ketenggara, Kembang Arum berjalan didepan sebagai penunjuk jalan. Makin lama lari mereka itu makin kencang.

Belum lama mereka itu berlari, akan tetapi Mintaraga telah mendapatkan Candra Wulan telah ketinggalan jauh. Ia mengerti mengapa gadis itu kalah berlomba. Sebenarnya ia hendak membantu Candra Wulan dengan memegang lengannya, akan tetapi niatnya ini terpaksa batal sebab disitu terdapat Kembang Arum....

Suasana diantara mereka kelihatan sedikit aneh. Tadinya selama berada bersama-sama bertiga, adalah biasa saja apa bila mereka berpegangan tangan atau sentuh menyentuh satu dengan lainnya. Kejadian umum. Akan tetapi setelah Mintaraga membeberkan pesan orang tuanya, pesan mengenai perjodohannya satu dengan lainnya, pada mereka terbit perasaan baru. Diantara Mintaraga dan Candra Wulan timbul kelikatan, mereka bagaikan renggang. Maka juga, bila bukan sangat penting, tak berani Mintaraga melanggar tubuh Candra Wulan. Demikianlah kali ini setelah adanya Kembang Arum disisi mereka.

Kembang Arum adalah seorang gadis yang sangat cerdik dan cerdas sekali. Rupa-rupanya ia dapat tahu apa yang sedang terjadi dan bergejolak dihati kekasihnya itu. Hal ini diketahui ketika ia sering melihat Mintaraga selalu berpaling kearah Candra Wulan.

Ia tak bilang suatu apa, akan tetapi kembang Arum terus menunggu Candra Wulan, begitu Candra Wulan dapat menyusulnya, ia sambar pinggangnya dan dipegang dengan keras. Kcmbang Arum terus tertawa dan berkata :

“Adi Candra Wulan telah lama kita tak bertemu, mari kita jalan bersama-sama.”

Candra Wulanpun tertawa.

“Benar.” Katanya. Candra Wulan terus menerima baik tawaran itu, karena ia tahu dalam hal ilmu lari cepat, ia kalah dari pada kawannya itu. Ia hanya tak sadar kalau Kembang Arum berlaku demikian ini hanya untuk menolong kesulitan Mintaraga.

Kembang Arum bermaksud menceritakan pengalamannya selama ia melakukan tugas di Indrakilo, namun karena sekarang akan menghadapi lawan yang tangguh, ia lalu menundanya. Merekapun lalu telah tiba didepan sebuah desa kecil.

“Eh... kakang Mintaraga dan kau adi Candra Wulan, ketahuilah kalau Sucitro dan murid-muridnya itu sedang berada didalam warung tuak itu.”  

Seru Kembang Arum dengan perlahan. Dan jari telunjuknyapun terus

menunjuk kedepan. Kearah sebuah rumah yang berbentuk seperti warung dan berada didepan mereka.

Mintaraga dan Candra Wulan terus memandang kearah tempat yang ditunjuk oleh Kembang Arum. Namun tak terdengar suara apa-apa dari dalam warung itu, hanya saja ia melihat sinar api yang menerobos keluar.

“Kakang Mintaraga, apakah tidak lebih baik kalau kita terus menyerbu saja?” Tanya Candra Wulan. Gadis itu bertanya akan tetapi kedua dengkulnta telah mulai ditekuk, siap untuk segera naik keatas atap rumah itu.  

Dengan cepat tangan anak muda itu menyambar, memang Mintaraga terus mencegah Candra Wulan melompat keatas.

“Jangan kau kesusu!” Katanya perlahan. “Lihat ada orang.”

Memang juga dari pojok rumah segera tampak muncul sebuah bayangan hitam, yang berkelebat ketempat gelap dan lenyap dengan seketika.

“Mengapa ia tak masuk kedalam rumah?” Candra Wulan dengan heran. “Dia itu bukannya Sucitro, ataupun Kalong Ireng dan adik-adik

seperguruannya.” Jawab Mintaraga dengan tersenyum.

“Siapakah dia?” Candra Wulan masih bertanya. “Apakah ada lain rombongan penjahat yang hendak menimbrung Tunggul Tirto Ayu itu?”

“Itupun belum pasti.” Jawab Mintaraga. “Orang itu bertubuh tinggi dan besar.... ah rasanya pernah aku melihatnya, akan tetapi lupa entah dimana ”

Anak muda itu terus mengingat-ingat akan tetapi tetap saja ingatannya buntu. Sedikitpun ia tak dapat menerka siapa adanya orang tinggi besar ini.

“Kita harus berhati-hati.” Pesannya kemudian. “Kita berhasil atau gagal, inilah saatnya. Sekarang begini saja. Aku akan maju seorang diri saja untuk menyelidiki dulu, apa bila kalian mendengar aku bersiul panjang kalian harus segera maju menyambutku. Sekarang baiknya kalian bersembunyi dahulu dan jangan memperlihatkan dirimu.”

Kedua orang gadis ini menganggukkan kepalanya.

Mintaraga mengangkat kepalanya dan sejenak ia memandang kearah langit. Ia menduga kalau saat ini tentunya jam tiga atau fajar hampir menyingsing. Ia lalu menghirup udara dalam dan menyelipkan ujung bajunya, setelah itu mencelat kedepan. Ketika ia menggenjot tubuhnya sekali lagi maka tubuhnya kini telah berada diudara, dan terus hinggap diatas genting.

Setelah berada diatas maka ia lalu mengaitkan kakinya diatas dan lalu melorotkan tubuhnya hingga kepalanya dibawah untuk mengintai dari balik celah-celah jendela. Menurut pesan kedua orang gadis itu telah menyembunyikan diri

diantara pohon terdekat, mata mereka diarahkan kepada Mintaraga, yang mereka lihat dengan nyata.

“Hebat sekali ilmu meringankan tubuh kakang Mintaraga itu.” Mereka memuji saking kagumnya.

Justru pada waktu itu diatas wuwungan rumah berkelebat sesosok bayangan orang. Melihat hal ini kedua orang gadis itu menjadi terkejut.

Mereka mengerti kalau Mintaraga sampai dibokong maka pemuda itu tentunya akan berbahaya sekali. Maka tanpa terasa mereka lalu memperdengarkan suaranya :

“Kakang Mintaraga awas...!”

Merekapun segera melompat keluar dari tempat persembunyiannya. Mereka berdua bermaksud menolongnya, meskipun mereka sangsi, sebab jarak antara mereka ada kalau hanya belasan jangkah......

Mintaraga hebat sekali. Walaupun ia masih mengintai kedalam rumah, Mintaraga toh tetap memasang kuping dan mata kesegenap penjuru. Ia dapat mendengar sambaran angin yang disebabkan gerakan cepat dari orang yang berada diatas wuwungan itu. Yang berada disebelah belakangnya, Mintaraga lalu menduga jelek, karena itulah maka pemuda itu lalu melepaskan kaitan kakinya hingga tubuhnya meluncur turun ketanah. Didalam keadaan seperti itu, ia tak mau menyambut bayangan itu, biarpun bayangan itu telah menyerangnya. Hanya setelah ia berada diatas tanah ia lalu menyambut dengan siap sedia. Mintaraga tak mendengar lagi sambaran angin. Maka tahulah ia kalau orang yang berkepandaian tinggi itu telah mengalami kegagalannya dalam menyerang dirinya. Orang itu ternyata tak menyerang lagi, akan tetapi terus ikut menyusul turun, hingga dalam sesaat saja mereka telah berdiri berhadap-hadapan.

Pada malam sunyi itu terdengarlah teriakan tertahan dari kedua orang gadis kawan perjalanan dari Mintaraga. Hanya anehnya dari dalam warung tuak itu tak kelihatan reaksi apa-apa. Tak ada orang yang memburu keluar, seperti Sucitro dan murid-muridnya yang berada didalam...

Kedua orang yang telah berdiri berhadapan, telah sama-sama melompat maju. Hingga satu sama lainnya menjadi lebih dekat lagi.

“Kiranya kau.” Seru Mintaraga dengan tawar setelah melihat muka orang itu dengan nyata.

“Oh... kiranya kau?!” Jawab orang itu sambil tertawa lebar. Namun sedikitpun ia tak kelihatan terkejut.

Kedua orang gadis itu telah segera tiba dihadapan mereka. Ketika Candra Wulan melihat wajah orang itu, lalu berkata dengan sengit :

“Hem... kiranya kau bangsat. Bagus. sakit hati dilaut Timur hari ini dapat dibalas.”  

Kata-kata ini segera disusul dengan dihunusnya pedang, yang terus

dipakai untuk menikam orang itu.

Orang yang bertubuh tinggi besar itu segera mengelakkan serangan lawannya dengan lincah dan manis.

“Candra Wulan jangan kau turun tangan terlebih dahulu.” Katanya sambil tertawa. “Sudikah kau nona?” Sambungnya dengan tak marah.

Candra Wulan sedang menghadapi musuh, karena itulah ia tak sudi mendengar permohonan itu. Kembalilah ia menikam dengan bengis sekali.

Kembali orang itu mengelak, dan sedikitpun tak membalas serangan Candra Wulan yang ganas ini.

Melihat hal ini Candra Wulan menjadi panas hatinya. Maka ia lalu mengulangi serangannya terus menerus hingga lima kali. Bisa dimengerti bahwa semua serangannya itu sangat berhahaya.

Sampai disitu maka lawannya lalu tertawa.

“Nona kecil harap kau jangan mempersalahkan aku kalau aku tak tahu aturan.” Katanya. Ia rupanya jeri juga terhadap desakan hebat itu. Sambil mengatakan demikian, ia mengangkat kedua tangannya, dan menjepit pedang yang sedang menyerangnya.

Mintaraga dan Kembang Arum menjadi kagum setelah melihat kepandaian orang itu, yang sejak tadi mereka pandang terus. Akan tetapi bagaimana kesudahannya desakan Candra Wulan.

Candra Wulan benar-benar terperanjat.

“Kau mau apa?” Bentaknya sambil menolak pedangnya dengan keras. Maksudnya akan menikam terus, supaya pedangnya longsor diantara jepitan tangannya.

Namun tindakan itu tak memberi hasil. Pedangnya tetap terjepit dengan keras dan tubuh lawannya itu sedikitpun tak bergeming. Ini saja telah memberitahukan kalau orang itu mempunyai tenaga yang besar dan kuda- kuda yang sangat kuat.

Dan ketika Candra Wulan mencoba menarik pedangnya, tetap pedang itu tak terlepas dari jepitan tangan lawannya yang kuat itu.

“Apakah kau tak mau melepaskan tanganmu?” Bentak Candra Wulan dengan gusar.

Orang itu hanya tertawa.

“Jika kau sudi mendengarkan omonganku maka aku akan segera melepaskan jepitan ini.” Jawabnya.

Candra Wulan mendongkol bukan main, apa lagi ketika ia melihat kedua kawannya itu hanya berdiri saja. Karena itu ia menjadi serba salah. Sebab menolak sia-sia menarik kecewa. Diakhirnya ia menjadi nekad, maka ia melepaskan pegangannya dan memutar tubuh untuk mengangkat kaki......  

Orang itu tersenyum dan kedua tangannya bergerak, kakinyapun

menindak, lalu dilain saat pedang Candra Wulan telah berada didalam sarungnya kembali.

Candra Wulan menjadi menggertak gigi setelah dipermainkan dengan demikian rupa.

Aampai disitu. Mintaraga maju menyelah. Kedua tangannyapun diulapkan.

“Pangeran Pamegatsari, ilmu silatmu sungguh hebat.” Katanya dengan tenang. “Janji kita pada bulan yang lalu di Laut Timur tak pernah kulupakan. Sekarang aku hendak bertanya, dimanakah harusnya kita bertempur? Disini atau di Jipang?”

Orang itu memang pangeran Pamegatsari, yaitu musuh besar dari ketiga keluarga Tumenggung Malangyudo, dan kawan-kawannya. Dia ini adalah cucu dari Panglima Sindhu Kencana. Dia ini juga yang telah mengundang Mintaraga supaya datang ke Jipang. Memang dahulu ia ikut dengan jago- jago Jipang Panolan untuk menyerbu bajak laut Bondopati dilaut sebelah timur.

Pangeran Pamegatsari terus menganggukkan kepalanya untuk menghormat kepada Mintaraga.

“Ki Mintaraga.” Katanya. “Mengenai janji kita di laut timur dahulu itu, adakah kau menyangka aku mengundang kau untuk mengadu ilmu silat kita.”

“Habis untuk apakah kau mengundangku?” Tanya Mintaraga dengan getas.

Pangeran Pamegatsari menghela napas.

“Urusan ini tak dapat diuraikan dengan sepatah atau dua patah kata saja.” Katanya dengan lesu. “Singkatnya ialah berhubungan dengan permusuhan keluarga kita. Sekarang ini, disini bukanlah tempatnya untuk membicarakan hal itu. Tentang urusan kita baiklah kita bicarakan nanti saja. Perlahan-lahan kita membuat perhitungannya.... sekarang. ”

Mintaraga tak mengerti akan perkataan orang itu, iapun tak dapat menerkanya.

“Baik.” Katanya. “Tentang permusuhan kita itu akan datang harinya yang kita nanti perhitungkan dari mula hingga akhirnya. Karena itu sekarang tak ada tempo untuk menemanimu, nah sampai ketemu pula.”

Mintaraga melirik kearah kedua orang kawannya, pemuda itu terus memberi tanda untuk melanjutkan usahanya dalam mencari Ki Sucitro si tokoh aneh dari selatan yang telah berhasil mendapatkan Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kerajaan Demak Bintoro.

Pangeran Pamegatsari terus mengulapkan tangannya untuk mencegah mereka itu pergi.  

“Ki Mintaraga ingatlah akan sebuah ujar-ujar, mengundang adalah tak

lebih baik dari pada bertemu secara kebetulan saja.” Katanya. “Kita telah bertemu disini karena itu tak dapat kau tinggalkan aku dengan secara demikian saja.....

Mintaraga menjadi semakin heran, karena itu ia menjadi mendongkol.

Karena itulah ia lalu tertawa dengan dingin.

“Pangeran Pamegatsari, sebenarnya kau ini menghendaki apakah?” Tanyanya dengan tegas.

Namun pangeran Pamegatsari hanya tetap tenang-tenang saja.

“Ki Mintaraga.” Katanya. “Bukankah kau datang kemari untuk mencari Sucitro dan akan merebut Tunggul Tirto Ayu yang berada didalam tangannya?”

“Sedikitpun tak salah.” Jawabnya dengan terus terang. Jawaban ini diberikan dengan terang dan lancar.

Pangeran Pamegatsari tertawa terbahak-bahak.

“Inilah dia yang dinamakan kita bersama-sama pulang akan tetapi jalannya berlainan.” Katanya. “Kau dan aku datangnya dari tempat yang berbeda akan tetapi tujuannya sama. Huahaa.... Huahaaa.... Huahaaa....

sebenarnya kita boleh bekerja sama untuk menghadapi Sucitro.

Mintaraga dan kedua orang kawannya itu terus mementang matanya lebar-lebar. Sampai-sampai mereka itu menyangka kalau kuping mereka itu baik atau tidak, ketika mndengar perkataan pangeran Pamegatsari itu.

Panglima Sindu Kencana itu adalah seorang pendiri kerajaan Demak Bintoro, karena ikut mendirikan maka oleh Raden Patah raja Demak pertama ia telah dikaruniani pangkat Panglima. Untuk turun temurun dia dianugrahi kekuasaan didaerah Rembang daerah Jipang dan kemuliaannya tak terhingga. Karena itulah maka anak cucunyapun menjadi berpengaruh. Begitulah hingga orang-orang Jipang Panolan terus berusaha mengambil hati dari pangeran Pamegatsari ini, dan ini telah disaksikan oleh Mintaraga. Karena itulah Mintaraga menjadi heran setelah mendengar perkataan pangeran yang berpengaruh tadi.

Kembang Arum masih dapat menguasai dirinya.

“Pangeran.” Katanya, bahkan disertai dengan sebuah tawa dingin yang tak sedap. “Lebih baik kau pulang saja ke Jipang Panolan dan nantikan kami disana. Didalam usaha kami ini tak terhitung bagianmu, mengerti?!”

“Pamegatsari!” Tegur Candra Wulan yang masih mendongkol. “Kalau benar sebagaimana katamu, kita bekerja sama, mengapa barusan kau membokong kakang Mintaraga?”......