Tunggul Bintoro Jilid 10

 
JILID X

TAK LAMA atau kedua tangan Arya Panuju tampak menjadi merah, disusul dengan gerakan kakinya, yang maju setindak demi setindak. Wajahnyapun bagaikan merah marong.

‘Ilmu apa yang dia gunakan.’ Kata Candra Wulan didalam hatinya. Ia berpikir dan sangat khawatir. Ia menjadi sangat menyesal, sebab kalaupun ia keinginannya sangat keras menolong, ia tidak dapat mewujudkan keinginannya itu. Terpaksa ia hanya dapat mengawasi Mintaraga saja, yang berdiri dengan sikap waspada.

Dengan tidak usah menunggu lama maka terdengarlah Arya Panuju berseru, suaranya seperti juga menggetarkan penglari rumah. Ia lalu melepaskan rantainya, untuk maju menyerang dengan tangan kosong, dengan sambil melompat.

Mintaraga belum mengenal cengkeraman Garuda Emas, ia tidak tahu harus bagaimana ia melakukan serangan balasan apakah harus menangkis atau lebih baik berkelit, sementara itu, dengan matanya yang awas, ia dapat melihat tangan orang itu, yang membuat ia menjadi terperanjat. Tangan itu juga berubah menjadi merah. Maka sekarang tahulah ia apa yang harus dilakukan. Dengan cepat ia memasukkan pedangnya kedalam sarungnya, terus ia memajukan tangannya, untuk menangkis serangan dengan jalan menolaknya, mendorong balik.

Kedua tangan belum sampai bentrok tapi anginnya mendahului beradu satu sama yang lain, setelah itu terdengarlah bentrokan keras, disusul dengan akibatnya yang maha dahsyat. Tubuh Arya Panuju terpental balik, turun ketempatnya dengan terhuyung-huyung, Mintaraga juga gempur kuda-kudanya, sehingga ia harus jempalitan, kemudian dengan cepat ia berdiri diam dengan tegap.

Dimatanya Candra Wulan, habis sudah serangan berbahaya dari Arya Panuju itu, bahwa serangan itu sudah dapat dipunahkan.  

Maka heranlah ia setelah menyaksikan, si orang asing itu tak berhenti

bergerak sesudah ia terpukul mundur.

Begitu ia dapat menetapkan tubuh, Arya Panuju melompat maju dengan kedua tangan dipasang didepan dadanya.

“Eh... Mintaraga, apakah kau tidak berani menyambut tangan saktiku?” dia bertanya dengan suara yang membentak.

Mintaraga sementara itu telah dapat memikir jalan untuk melayani jago yang dahsyat itu.

‘Baiklah.’ katanya dalam hatinya. ‘kau gunakan tangan saktimu, aku akan gunakan Braholo Meta!’ Maka ia lalu tertawa ketika ia menjawab musuhnya yang menantang itu : “Arya Panuju, tangan saktimu adalah yang nomor satu dikolong langit ini, tetapi dimataku, satu hal yang harus disayangkan. ”

Arya Panuju membelalakkan matanya.

“Hal apakah itu?” dia bertanya kembali dengan suara yang keras. Dia sangat mendongkol akan mendengar suara yang berlagu celaan itu. “Kau berkatalah!”

Mintaraga tertawa lebar.

“Yang harus disayangkan itu tandinganmu.” Sahutnya.

Orang asing itu heran hingga ia tercengang. Tapi hanya sejenak saja. “Biarpun kau bukan tandingannya, kau harus bertempur juga.” katanya

nyaring. “Hari ini tidak dapat kau lolos dari tanganku!” Mintaraga mengawasi.

“Mengapa demikian?” dia bertanya. “Kenapa begitu?” katanya pula.

“Siapa menyuruh kau adalah anaknya Darmakusuma!” sahut jago itu. “Dendam dari sepuluh tahun mesti dilampiaskan hari ini! Marilah maju, hari ini kita bertempur sampai kau mampus atau aku hidup!”

Mintaraga heran tetapi ia tertawa juga.

“Baiklah.” sahutnya, menerima tantangan. “Tetapi lebih dulu dari pada itu, kau harus menuturkan sebab-musababnya dendam seperti katamu barusan. Aku harus berpikir untuk menimbang itu, akan kuputuskan, ayahkukah yang benar atau kaulah yang benar! Sesudah itu, baru kita memutuskan untuk bertempur!”

Kedua matanya Arya Panuju membelalak. Ia sangat mendongkol hatinya.

“Baik!” serunya. “Kau dengar dulu sampai habis baru kita mengambil keputusan, supaya, kau mampus tanpa penasaran!”

Mintaraga puas hatinya mendapat jawaban itu. Ia merasa pasti, kalau ayahnya sampai bentrok dengan orang asing itu, sangkut pautnya dengan Tunggul Tirto Ayu. Ia ingin mengetahui segala tentang Tunggul Tirto Ayu.  

Candra Wulan bersamaan pendapat dengan pemuda itu, ia juga turut

memasang kuping. Diam-diam ia merasa girang, setelah dapat bersitirahat, sekarang ia telah dapat mengembalikan kesegarannya.

Sampai disitu, Arya Panuju kelihatan telah dapat menguasai dirinya. Segera orang itu mencari tempat dimana ia dapat duduk, dan segera memakai bajunya.

“Kalian ini orang-orang paling licik.” Katanya dengan memulai. “Barusan saja kau menyebut hal menimbang dan memutuskan. Hm aku justru paling jemu mendengarnya. Mintaraga aku hendak memastikan kepadamu, kalau nanti habis kuceritakan sebab-musababnya dendam itu, maka kau harus melayani aku bertempur sampai seribu jurus untuk melihat tangan siapakah diantara kita berdua yang berguna.”

Mendengar ini Mintaraga dengan Candra Wulan terus berpandangan.

Dalam hatinya anak muda ini berkata :

‘Benar-benar hebat kuping orang ini. Aku mempelajari ilmu Braholo Meta dia segera saja mengetahui.... Sekarang aku telah duduk dipunggung harimau, tak dapat aku melayaninya bertempur.....” Oleh karena itu ia lalu menganggukkan kepala kepada Arya Panuju.

Arya Panujupun menjadi sangat girang.

“Ketika dahulu itu aku mendaki gunung Lawu aku hanya ingin belajar kenal dengan ilmu Braholo Meta.” Katanya. “Bagus sekali kalau sekarang kau telah menerima permintaanku, dengan begini maka terpenuhilah permintaanku yang telah bertahun-tahun itu ”

Kelihatanlah orang Banten itu sangat puas sekali, ini terbukti ketika itu Arya Panuju terus tertawa-tawa lebar.

Didalam hatinya Mintaraga berkata :

‘Makhluk yang baik, kau sangat sombong. Apakah kau sangka kau akan sanggup melawanku? Begitu kau berani pergi ke puncak Lawu.’

Akan tetapi Candra Wulan menjadi tak puas ketika mendengar pembicaraan orang itu.

“Ah... Arya Panuju.” Katanya untuk mendesak. “Bagaimana sebenarnya kau dengan ayah angkatku? Mungkin dia telah menghajarmu bukan? Lekas kau ceritakan.”

“Jangan kau kesusu.” Kata Arya Panuju dengan berdehem-dehem, sekedar untuk melicinkan tenggorokannya :

“Seteiah aku habis bercerita maka aku akan membunuh kakakmu yang bernama Mintaraga itu. Setelah itu barulah datang giliranmu untuk dibereskan. Sedikitnya kau tak akan bakal lolos dari sebuah hajaranku.”

Orang Banten itu hanya berhenti sebentar. Lalu melanjutkan dengan penuturannya. Katanya : “Tahun itu ialah sepuluh tahun yang lalu, aku baru saja tiba dari negaraku menuju Jawa Tengah, untuk pesiar diselatan dan  

utaranya sungai besar. Selama itu aku telah bertemu entah berapa banyak

orang gagah.

Pada suatu hari, aku mendapat pikiran yang bukan-bukan. Aku sudah merasa tawar untuk malang-melintang didaratan, maka aku pikir baiklah sekarang ganti lelaku ialah pesiar diair. Bukankah menggembirakan kalau aku sampai bertemu dengan salah satu bajak yang pandai sekali, untuk bertempur dengan dia?

Begitu berpikir begitu aku bekerja. Untuk itu aku tidak berpikir untuk kedua kalinya. Dengan demikian aku terus membeli sebuah perahu kecil, aku memakai tiga orang tukang perahu. Aku mulai berangkat dari laut aku menuju keteluk Banten. Ketika itu adalah saatnya bangsa Jipang Panolan sangat menindas kepada kalian, karena itu tak sedikit orang gagah yang terpaksa turun keair untuk menjadi perampok.........

“Cocok!” potong Candra Wulan. “Kau tentunya bertemu dengan ayah angkatku diteluk itu, lalu kamu bentrok, kemudian bertempur! Maka kau sanggup menjadi tandingan ayahku itu? Kau telah diceburkan kelaut, hingga kau hampir mampus! Lantaran itu kau menjadi menaruh dendam hati, dan kau bersumpah untuk menuntut balas? Benar bukan?”

“Ha, bocah cilik!” bentak Arya Panuju. “Orang tua sedang berbicara, siapa menyuruh kau bercampur mulut?”

Candra Wulanpun tidak senang hatinya.

“Aku hanya bertanya kepadamu!” iapun membentak. “Aku bertanya kepadamu, tetapi kau belum menjawab!”

Dimana ada Mintaraga disampingnya, maka gadis itu tidak mengenal rasa takut.

“Aku bilang : Bukan begitu!” sahut Arya Panuju dengan keras.

“Aku pernah bertempur! Yang benar adalah kita bertempur dengan bersama-sama dan bersatu padu.”

Mendengar ini Mintaraga dan Candra Wulan heran, habis dari mana munculnya dendam itu?

Arya Panuju memandang kearah Candra Wulan dengan mata melotot.

Agaknya lelaki sangat membenci Candra Wulan.

“Baiklah kau duduk saja dengan baik-baik.” Katanya kemudian. “Jangan kau berlagak pintar. Kulihat kau telah mempelajari ilmu tenaga dalam dari perguruan Lawu, karena itu kemajuanmu kelak dibelakang hari akan tak ada batasnya, karena itulah jangan kau membuatku menjadi marah, sebab kalau aku menjadi marah maka banyak kemungkinan kau akan kujadikan seorang manusia yang cacat.”

Tak senanglah hati Candra Wulan ketika mendengar perkataan orang itu. Akan tetapi orang itupun berkata dengan penuh alasan karena itu sukar juga ia menutup mulut. Iapun menginsyafi akan hajaran orang asing itu yang baru saja berlalu. Mungkin kalau ia belum mempelajari tenaga dalam dari  

pendeta Argo Bayu maka banyak kemungkinan ia tak dapat bertahan dari

serangan yang amat hebat itu. Diam-diam gadis ini menjadi girang sekali kalau tenaga dalamnya telah maju dengan pesat sekali.

Sampai disitu. Arya Panuju hendak mulai pula dengan ceritanya. Yah cerita tentang dendamnya kepada ki Darmakusuma atau ki Plompong. Iapun harus berpikir, bagaimana ia harus memulainya. Tepat disaat ia hendak membuka mulut, mendadak saja ada sesosok tubuh yang berkelebat dihadapannya.

“Siapa?” Tegurnya.

“Paman aku akan menolongmu menangkapnya.” Seru Mintaraga sambil tertawa. Setelah berkata demikian maka tubuhnya berkelebat, menyambar tubuh itu dan malahan terus menotoknya, maka dengan gampang saja Mintaraga lalu dapat membawa kehadapan orang Banten itu. 

Arya Panuju terperanjat dan katanya didalam hati :

‘Hebat sekali anak muda ini, sedikitpun ia tak kalah dengan paman kakek gurunya.’

Sekarang Mintaraga dapat melihat dengan tegas siapa adanya tawanannya itu. Seorang tawanan yang tak mempunyai kuping. Dia itu adalah seorang pendeta bertubuh besar gemuk. Segera saja pemuda ini dapat mengenalnya, karena pendeta itu bukan lain adalah pendeta Sampar Mega. Pendeta inilah yang kupingnya telah ditabas putus oleh Candra Wulan.

“Kiranya kau, Sampar Mega.” Bentak Mintaraga dengan keras dan mengguntur. “Mau apakah kau datang kemari?”

Sambil bertanya maka Mintaraga lalu membanting pendeta itu keatas lantai.

Pendeta Sampar Mega merasakan sakit, kepalanyapun menjadi pusing. seketika itu juga matanya merasa menjadi gelap. Keberaniannya segera terbang melayang tinggi-tinggi setelah mengetahui siapa adanya anak muda yang monawannya ini.

“Ki Mintaraga, baru saja aku sampai.” Katanya dengan tak tegas. “Aku benar-benar tak tahu kalau kau berada disini. ”

“Apakah kau datang kemari untuk merebutkan mustika lagi?” Tanya Candra Wulan dengan nada dingin. “hem.”

“Bukan... bukan...” Jawab pendeta itu dengan lekas. Menyangkal dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku telah memisahkan diri dari Pacar Keling dan ia kembali keperkumpulannya, sedangkan aku kembali keperguruanku dan aku telah bersumpah kalau selamanya tak akan merantau lagi.”

Mintaraga melihat kalau orang ini berkata dengan sungguh-sungguh, segera saja ia menotok untuk membebaskan jalan darahnya yang tertotok pertama tadi.  

Arya Panuju tak tahu siapa adanya pendeta itu, karena itu ia tak

memperhatikannya. Sebaliknya ia senantiasa memasang mata kearah Mintaraga. Iapun tahu akan kehebatan totokan dari perguruan Lawu yang tak dapat dibebaskan oleh orang lain. Karena itu ia menjadi kagum sekali.

“Baiklah.” Setu Mintaraga kepada pendeta Sampar Mega itu. “Kalau kau hendak pulang keperguruanmu maka sekarang kau boleh pulang dengan seger, disana nanti kau tentunya akan dihukum disuruh bertapa diatas puncak sambil menghadap tembok untuk merenungkan segala perbuatanmu yang nasar itu. Nah pergilah sekarang juga.”

Akan tetapi Pendeta Sampar Mega tak segera mengangkat kakinya. Ia memandang kearah Mintaraga. Agaknya ia berpikir dengan cepat, terbukti dengan perkataannya ini :

“Ki Mintaraga aku bersyukur dan berterima kasih karena kau tak membunuhku, untuk itu, aku tak dapat membalas budimu yang besar ini, kecuali hanya, dengan jalan mengatakan sebuah kabar penting kepadamu.”

Mintaraga terus memandang kearah pendeta itu. “Berita penting apakah itu!” Tanyanya dengan tenang.

“Sekarang ini pendeta Baudenda telah berada disekitar sini.” Seru pendeta Sampar Mega yang mulai mengatakan berita penting itu. “Dia menyimpan Tunggul Tirto Ayu dan kotaknya, bukankah kau telah mengetahuinya?”

Candra Wulan melompat sebelum orang itu menutup mulutnya. “Kakang Mintaraga mari kita mencarinya.” Serunya dengan lantang. Mendengar berita ini Mintaraga benar-benar tertarik.

“Sampar Mega dimanakah dia itu sekarang?” Tanya Mintaraga menegaskan.

Pendeta ini tertawa meringis.

“Dia sekarang berada disebelah kuil rusak tak jauh dari sini.” Jawabnya. “Dia sekarang sedang bersama muridnya si Jogosatru dan Agni Brasta, itu si manusia tangan panjang. Terus terang saja kami telah bertemu dengannya, bahkan mereka itu telah menghajar kami. Pacar Keling pulang ke Uling Abang sedangkan Surodento lari terkencing-kencing keselatan. Ki Mintaraga, kumohon kau suka membalaskan sakit hatiku itu Kau lihat.”

Pendeta Sampar Mega segera membuka bajunya dibagian pundak. Kemudian ia menunjukan pundaknya, ternyata tulang pundaknya itu telah hancur, karena itu untuk selanjutnya ia menjadi orang yang cacat.

Mintaraga menghela napas.

“Kau terlalu bernafsu untuk mendapatkan mustika, maka begitulah pula bagianmu.” Katanya. “Kau mencari penyakit sendiri, karena itu pantaslah kau mendapatkan hukuman seperti itu, akan tetapi paman eyang guruku itupun sangat kejam sekali.”  

“Pantas saja kau bersumpah  untuk tak merantau lagi.” Seru Candra

Wulan dengan mengejek.

Sampar Mega tak melayani gadis itu.

“Ki Mintaraga.” Katanya. “Asal kau sudi membalaskan perasaan sakit hatiku ini, maka aku masih mempunyai sebuah rahasia lain untukmu.”

Hati Mintaraga tercekat, ia masih ingat dengan jelas akan pesan dari Bikshuni Woro Keshi.

“Mintaraga kau dengar. Tinggalkanlah Pendeta Baudenda itu untukku, jangan kau sentuh dia.” Karena itulah ia lalu menjawab kepada pendeta Sampar Mega itu :

“Sampar Mega perasaan sakit hatimu itu adalah buah dari pekertimu sendiri. Sebenarnya aku mau membalaskan sakit hatimu, akan tetapi sayang sekali aku telah berjanji dengan seseorang kalau aku tak akan merebut kembali Tunggul Tirto Ayu itu dari tangan eyang Pendeta Baudenda. Karena itu untuk mencelakai dia terang saja aku tak dapat.”

Mendengar keterangan Mintaraga ini maka wajah pendeta Sampar Mega menjadi lesu.

“Baiklah kalau begitu.” Katanya. “Sekarang aku hendak pergi. ”

Mintaraga tak mencegah, maka pendeta itu segera bertindak pergi. Baru saja berjalan beberapa tindak ketika ia menoleh lalu berkata :

“Biarlah.” Katanya. “Biarpun bagaimana juga, pendeta Baudenda toh bakal dibunuh mampus oleh orang lain, dengan demikian maka sakit hatikupun tercuci juga. Ki Mintaraga aku beritahukan kepadamu, jika kau hendak merampas Tunggul Tirto Ayu, kau harus melakukan sekarang juga. Jangan sampai kau melewatkan malam nanti, sebab Pendeta Baudenda telah mengadakan perjanjian untuk bertemu dengan jago-jago Jipang Panolan malam nanti.”

“Jago-jago Jipang Panolan akan datang dengan jumlah yang lengkap, dan mereka itu akan dipimpin langsung oleh maha patih Udara. Mendapatkan Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kerajaan Demak Bintoro adalah menjadi salah satu dari tujuan mereka, akan tetapi selain itu mereka juga akan pergi ke Pajang. Kenapa mereka pergi ke Pajang tentunya ki Mintaraga telah mengetahui.”

Setelah menutup perkataannya maka Pendeta Sampar Mega lalu meneruskan perjalanannya tanpa berpaling barang sedikitpun juga.

Sungguh sangat diluar persangkaan dari Mintaraga sendiri, kalau ia hari ini akan mendapat sebuah kabar yang sangat penting sekali dari salah seorang bekas lawannya, atau tepatnya si pendeta murtad itu. Hingga dengan demikian ia menjadi heran bercampur girang.

Ditengah-tengah negara kacau balau, Ireng Galih dari Pesantren Silugonggo, yaitu orang-orang Islam yang masih setia kepada kerajaan Demak Bintoro, dan dibantu dengan Bang Prenatas maka mereka lalu  

mengadakan perjuangan-perjuangan. Mereka itu berpusat di Pajang dan

dibawah lindungan adipati Pajang ki Sultan Hadiwijaya atau yang terkenal dengan namanya Jaka Tingkir yang juga disebut sebagai Mas Karebet. Hanya Mas Karebet inilah yang dijago-jago oleh sekian banyak penduduk untuk menghadapi pemberontakan dari Jipang Panolan itu. Memang karena mereka itu berpusat di Pajang maka jago-jago Jipang Panolan selain mengadakan pertemuan dengan pendeta Baudenda iapun akan menuju ke Pajang untuk menumpas penghalang dari cita-cita ARIO PENANGSANG yang ingin menduduki kerajaan Demak Bintoro. Bahkan karena kepandaian Ario Penangsang yang dibantu oleh gurunya, Sunan Kudus, maka Ario Penangsang dapat menarik bala bantuan dari bekas lawannya yaitu dari kerajaan Supit Urang. Hingga dengan demikian kekuatan mereka menjadi berlipat ganda.

“Adi Candra Wulan, marilah kita berangkat.” Seru Mintaraga sambil menarik tangan gadis itu. Pemuda ini memang benar-benar sangat ketarik dengan kabar penting itu, sampai-sampai perjaka ini melupakan kepada Arya Panuju.

Orang Banten itu sejak tadi hanya berdiam diri saja, bahkan sampai pendeta Sampar Mega pergipun masih tetap berdiam diri saja. Sekarang ketika ia menyaksikan kelakuan anak muda itu tiba-tiba saja ia menjadi tertawa :

“Yang asli adalah yang palsu dan yang palsu adalah yang asli.” Katanya. “Kau hendak merampas Tunggul Tirto Ayu yang palsu? Ingin aku melihatnya.”

Perkataan ini sedikitpun tak dihiraukan oleh Mintaraga ia hanya menganggap kalau orang ini hanya mengacau balo saja. Ia masih terus menarik tangan Candra Wulan untuk diajak pergi.

Candra Wulan menjadi cemas juga.

“Kakang Mintaraga.” Katanya. “Dengan kepergian kita ini, kita bakal menghadapi musuh yang tangguh. Selain menghadapi jago-jago Jipang Panolan yang akan datang dengan lengkap dua puluh satu orang, maka ada pula patih Udara yang terkenal sakti mandraguna, apakah kau sanggup menghadapinya, kakang?”

Mintaraga hanya ketawa, dan lalu memandang kearah wajah gadis ini sambil menjawab :

“Dan disana masih ada lagi paman eyang guru pendeta Baudenda, masih ada pula Sucitro. Disanapun ada pula Arya Panuju yang sikapnya mencurigakan, mungkin dia menceburkan diri dalam rombongan mereka itu ”

“Ya dan kita hanya berdua.” Kata Candra Wulan. Dimana kita seperti tidak punya pegangan. Lebih baik sekarang kita pergi ke Indrakilo untuk  

menjemput kakang mbok Kembang Arum, nanti barulah kita pergi kesana

bersama-sama ”

Gadis ini sungguh gemar berkelahi, tak tahulah ia akan tingginya langit dan tebalnya bumi. Akan tetapi tiba-tiba saja hari ini ia merubah pendiriannya. Mengetahui akan hal ini maka Mintaraga menjadi girang bersama terhibur.

“Adi Candra Wulan kekhawatiranmu itu bukannya tak beralasan.” Katanya sambil tersenyum. “Hanya saja kau ini melupakan perkataan Pendeta Sampar Mega. Kita harus pergi kesana sebelum tengah malam nanti. Kita harus segera menemui paman eyang guru, untuk mendapatkan Tunggul Tirto Ayu dan kotaknya. Setelah itu kita harus bekerja dengan cepat bagaikan halilintar menyambar dan orang-orang tak sempat menutup kupingnya. Barulah kita tak bakal gagal.”

“Tetapi kita tetap masih harus melayani dua rombongan musuh.” Seru Candra Wulan dengan tetap cemas. “Sucitro si tokoh aneh dari dunia persilatan ini tetap berada didekat sini.”

Mintaragapun tetap bersikap tenang.

“Kita juga terdiri dari dua rombongan.” Katanya dengan penuh kesabaran.

Candra Wulan menjadi heran, dan segera menatap wajah Mintaraga dengan dalam-dalam.

“Dialah bakal mertuamu perempuan.” Jawab Mintaraga dengan tertawa. “Bukankah bibi Woro Keshi juga akan datang?”

Candia Wulan baru sadar. Tiba-tiba saja dengan mendadak ia menjadi malu, akan tetapi dengan segera ia berseru :

“Bagus. Nah marilah kita berangkat. Kita halus cepatan sedikit.

Mintaraga tak berkata apa-apa lagi. Ia segera lari dengan mengerahkan ilmu lari cepatnya. Dengan tak lupa iapun lalu membantu Candra Wulan dengan jalan tangan mengulurkan tangan kanannya, keketiak gadis itu untuk menahan tubuhnya. Ia dapat lari dengan cepat walaupun harus mempergunakan tenaga lebih dari wajarnya.

Candra Wulan berpikir didalam hatinya :

‘Kakang Mintaraga demikian muda akan tetapi telah demikian kuatnya. Akan tetapi sayang sekali pemuda setampan dan segagah ini bukan kepunyaanku ”

Oleh karena memikir demikian, ia mau tak mau merasa menyesal juga.....

Selama itu Candra Wulan melihat kedepan, hanya sekali ia berpaling. Tak jauh dari mereka tampaklah sebuah bayangan orang. Segera saja ia mengenali bayangan itu, inilah bayangan dari Arya Panuju. Mintaraga juga melihat adanya orang Banten itu.  

“Kakang Mintaraga marilah kita hajar dia itu.” Ajak gadis itu. “Dia itu

bermusuhan dengan jago-jago Jipang Panolan, karena itu banyak kemungkinan ia akan berpihak kepada kita ”

Mendengar ini Candra Wulan tak berkata apa-apa lagi, ia membiarkan dirinya dibawa pergi. Hingga tak lama kemudian mereka telah tiba didepan kuil tua yang mereka cari. Kuil itu berada diatas tanjakan atau tepatnya bukit kecil. Tempat itu sangat sunyi dan selain kuil itu tak ada lagi rumah lainnya.

Ketika Mintaraga berdua berpaling, mereka tak melihat Arya Panuju lagi. Entah kemana perginya orang Banten itu.

Waktu itu menjelang Maghrib. Matabari yang telah kelihatan merah itu telah condong kebarat. Sebentar lagi raja siang akan diganti oleh hyang Badra yang menguasai jagat raya ini diwaktu malam.

Dengan pelan-pelan Mintaraga lalu menurunkan Candra Wulan. “Dapatkah kau berkelahi?” Tanyanya dengan perlahan.

“Dapat kakang.” Jawabnya sambil tertawa lebar.

“Bagus.” Seru anak muda itu. “Sekarang kita harus bekerja dengan melihat gelagat, supaya kita jangan mencari musuh yang hebat. Misalnya Sucitro bentrok dahulu dengan eyang paman guru, kita tunggu saja dari akhir pertarungannya.”

Sewaktu anak muda ini berkata demikian tiba-tiba saja ia melihat sesosok bayangan yang terus muncul dari dalam kuil tua itu. Dengan cepat Mintaraga menyambar dan terus merangkul tubuh Candra Wulan dan diajaknya bergulingan ditanah masuk menyelusup kedalam semak belukar yang berada disampingnya. Mintaraga melakukan ini dengan jurus Trenggiling Sakti masuk lubang hingga dengan demikian maka orang yang berada didepannya itu tak dapat melihatnya.

Sudah beberapa bulan Candra Wulan berada disamping Mintaraga, merekapun telah biasa sama-sama menghadapi bencana, karena itu diantara mereka tak luput kalau mereka beradu tangan dan tubuh, begitupun berpelukan dan bergulingan, sebagai sekarang ini. Mintaraga memandang hal itu sebagai hal yang umum, sedangkan untuk Candra Wulan dalam keadaan yang mendesak ini, ini dipandang sebagai hal wajar, akan tetapi kali ini mereka saling bertindihan, mau tak mau merahlah mukanya, sedangkan hidungnya dapat mencium bau laki-laki....

Mintaraga mengawasi Candra Wulan, ia melihat mata gadis itu menjadi melek merem dan alisnya memain, segera saja Mintaraga membelai-belai rambut hitam bagus dari gadis itu.

“Kau lihat adikku, siapa itu yang datang?” Katanya.

Candra Wulan membuka matanya lebar-lebar untuk melihat siapa orang itu tadi balik gerombolan.

Orang itu datang dengan mata celingukan, lagaknya persis pencuri. Ia masih melihat kesana kemari setelah sampai dibawah pohon Turi. Setelah  

menggurat sebuah tanda dibatang pohon itu, ia segera bertindak dengan

cepat menghitung tindakannya, sampai sepuluh tindak, setelah itu ia lalu berjongkok, ternyata orang itu menggali tanah dengan sebatang goloknya.

Ketika orang itu membuat liang maka tahulah Mintaraga dan Candra Wulan siapa adanya orang itu. Ternyata orang itu bukan lain adalah Agni Brasta si manusia tangan panjang, raja dari sekalian raja pencopet.

“He... apakah yang sedang diperbuatnya?. Baru membuat apakah dia?” Tanya Candra Wulan dengan berbisik. Gadis ini benar-benar menjadi heran.

“Kita tunggu saja dan lihat.” Mintaraga menjawab dengan berbisik-bisik. “Kupingnya sangat tengen sekali, jangan kau mengeluarkan sedikitpun suara atau berkeresek. ”

Gadis itu menjadi heran akan tetapi terus berdiam diri. Dia masih menduga-duga, orang itu hendak menggali mustika atau hendak memendam sesuatu.

Agni Brasta bekerja sekian lamanya, akhirnya ia bangkit berdiri, dan tampak pula orang ini menyeka peluhnya. Agni Brasta benar-benar telah selesai menggali lubangnya. Lagi-lagi orang itu berpaling kesekitarnya. Terang kalau untuk melihat orang. Kemudian ia mengeluarkan sebuah barang dari dalam saku bajunya yang mengeluarkan sinar, itulah kotak penyimpan dari Tunggul Tirto Ayu.

Candra Wulan menjerit karena herannya, akan tetapi Mintaraga cepat- cepat menutup mulutnya hingga Candra Wulan tak dapat mengeluarkan perkataan apa-apa.

“Sett...” Seru Mintaraga memperingatkan. “Bajingan ini pasti mengandung maksud tak baik, kau jangan bersuara, mari kita lihat, dia hendak bikin apakah?”

“Kotak itu adalah kotakmu, dia mengambil dari tanganmu.” Bisik Candra Wulan. “Mengapa kau tak mau menghajar dia untuk mengambil kembali kotak itu? bunuh saja beres!”

“Kita lihat saja dulu.” Seru Mintaraga. “Kita jangan membuat ular menjadi kaget ”

Waktu itu Agni Brasta telah memasukan kotak itu kedalam lubang, lalu orang itu mulai mengguruk dan membuat lubang itu menjadi rata seperti semula. Setelah diuruk maka tanah itu lalu diinjak-injak. Setelah itu ia lalu meraba pula kedalam sakunya. Kali ini ia mengeluarkan serupa barang lain, benda inipun mengeluarkan sinar yang gemerlapan seperti tadi. Memandang kearah benda ini ia lalu tersenyum, lalu memasukkan pula kedalam saku bajunya, setelah itu kembalilah orang itu masuk kedalam kuil rusak tadi.

Begitu tubuh orang itu lenyap dari pandangan mata, Mintaraga dan Candra Wulan bangun dari tempat persembunyiannya. Si anak muda itu lalu tertawa.  

“Kau   telah   lihat   bukan   Candra   Wulan?”   Katanya.   “Inilah   yang

dinamakan si penipu ketemu dengan si bajingan. Paman eyang guru tak minta bantuan siapapun juga kecuali ini si orang yang cepat tangan, benar- benar hebat sekali pikiran paman eyang guru untuk mendapatkan Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kerajaan Demak Bintoro ini. Diakhirnya yang rugi bukan orang lain ”

“Bajingan ini ternyata tak lurus hatinya.” Seru Candra Wulan. Gadis inipun kelihatan ketawa. “Dia menyimpan yang asli dan yang palsu untuk menipu pendeta Baudenda paman eyang guru kita itu. Sungguh pandai dan ia dapat memikir membuat barang tiruan.”

“Dia adalah orang yang menjadi raja dari sekian raja para pencopet maka barang apakah yang tak dapat dipalsukannya?” Kata Mintaraga sambil tertawa.

“Baik sekarang kita gali liang itu.” Ajak Candra Wulan. Iapun tertawa dengan lebar. “Kita ambil barang itu dan kita ganti dengan sebuah batu biasa hingga ia nanti akan tahu rasa.”

“Baiklah, mari kita permainkan dia.” Jawab Mintaraga yang menyatakan setuju.

Baru saja kedua orang anak itu mengangkat kakinya untuk melangkah, tiba-tiba saja dari sebelah depan mereka, dari balik sebuah pohon yang besar, terlihat muncul empat orang. Pakaian orang-orang itu terang sekali terlihat yaitu merah, hitam, biru dan putih. Kiranya mereka itu adalah ki Sucitro dengan tiga orang muridnya.

“Nah bagaimana bapa guru?” Tanya Kalong Ireng sambil tertawa nyaring. “Aku telah melihat, pendeta Baudenda dan Agni Brasta pada suatu hari pasti akan main gila.”

“Pandangan matamu memang benar-benar tajam.” Sucitropun tertawa berkakakan. “Huahaaaa... Huahaaa.... Huahaaa... Huahaaa.... kita telah mempunyai Tunggul Tirto Ayu, maka mau tak mau kita harus mempunyai kotaknya pula. Dan kotak mustika ini turunnya dari Gemak Ijo, coba kau gali.”

Waktu itu mereka telah mendekati tempat pendaman Kotak penyimpan Tunggul Tirto Ayu.

Candra Wulan mendengar perkataan mereka, didalam hatinya ia mengeluh :

‘Celaka benar! Bagaimana aku dapat membiarkan saja mustika ini diambil orang lain begitu saja??’

Oleh karena kekhawatirannya itu, gadis itu lalu bertindak.

Mintaraga ketika melihat gerak gerik Candra Wulan, ia segera menarik ujung baju adik angkatnya itu. Ini berarti kalau pemuda ini mencegah supaya Candra Wulan jangan melakukan hal-hal yang sembrono.  

Candra Wulan segera berpaling, ia melihat kawannya menunjukkan

wajah yang sungguh-sungguh. Melihat hal itu ia segera membatalkan niatnya, begitupun tindakannya menjadi terhenti, dengan sendirinya ia tak dapat menghalang-halangi perbuatan rombongan Sucitro itu.

Gemak Ijo telah sampai pada tempat pendaman, terus saja orang ini menggali, maka dilain saat, dia telah mengangkat keluar kotak simpanan Agni Brasta tadi.

“Bapa inilah mustikanya.” Serunya dengan girang. Kemudian ia kembali kepada gurunya untuk menyerahkan kotak itu.

Sucitro juga girang bukan kepalang.

“Inilah yang dikatakan mencari sambil menegakkan benang didalam air, akan tetapi sekali kita dapat dengan mudah saja.” katanya. “Karena kotak mustika ini, hampir kulit muka kita kena dijambret. Bahkan tak hanya itu saja, hampir saja nyawa Kalong Ireng hampir melayang ditangan Mintaraga si anak yang masih ingusan itu. Huahaaa... Huahaaa... Huahaaa... Kalong Ireng, coba kau lihat, benar bukan mustika ini!”

Kalong Ireng menyambut kotak itu memeriksanya dengan secara teliti sekali. Tiba-tiba saja ia mengerutkan alisnya.

“Pernah aku melihat kotak ini, dan sembilan puluh enam mata intan permata berkilau-kilauan sinarnya tajam sekali.” Katanya. “Hanya saja mengapa batu-batu permata ini guram? Apakah mataku kini yang tiba-tiba menjadi lamur?” Kalong Ireng terus membolak-balik kotak itu dan ditimang- timang.

“Emasnya memang emas tulen, hanya saja berliannya yang tak mirip.....

sungguh aneh sekali.”

Saking penasarannya, Kalong Ireng memegang tutup kotak itu, terus ia menarik untuk dibuka.

Mendadak saja terdengarlah suara srett... inilah suara dari bekerjanya sebuah alat.

Sucitro adalah seorang tokoh dari dunia kependekaran yang mempunyai kuping sangat tajam dan otaknya yang sangat encer.

“Elakkan.” Serunya dengan keras, ketika ia mendengar suara yang sangat mencurigakannya itu tadi.

Bersama dengan teriakan itu, dari dalam kotak menyambar belasan anak panah pendek atau tepatnya anak-anak panah yang biasa dipakai sebagai alat penyumpit.

Kalong Ireng kaget, ia menjerit, kepalanya diiringkan bersama dengan memiringkan tubuhnya. Ia bengerak dengan sangat cepat, akan tetapi tak urung ia terlambat juga. Tiga buah anak panah kecil itu mengenai pipinya hingga sesaat terlepaslah pula sembilan puluh enam butir berlian palsu itu.

Kotak itu palsu, sebagaimana ternyata buatannya kasar, kalau tidak tak nanti Kalong Ireng menjadi curiga.  

Ki Sucitro si orang aneh dari selatan itu menjadi berkaok-kaok karena

muridnya itu terjebak, ia kaget dan gusar sekali. Apa lagi ketika menyaksikan, darah yang mengalir keluar dari tempat yang terluka itu berwarna kehitam-hitaman. Ini menandakan kalau anak panah kecil itu ternyata beracun.

Kalong Ireng tak dapat bertahan lama, ia segera saja menjadi roboh, kedua tangannya dipakai untuk menutupi mukanya. Iapun menjerit berulang-ulang.

Dengan muka merah matang, Sucitro si tokoh aneh itu berteriak setinggi langit :

“Bagus sekali Pendeta Baudenda si bangsat tua! Lekaslah kau keluar atau aku yang akan menyerbu masuk kedalam.”

Belum lagi berhenti suaranya jago tua ini dari dalam terlihat munculnya tiga orang sambil berlari-lari. Yang berjalan paling depan adalah Agni Brasta, tangannya mengulap-ulapkan kotak emas.

“Kami memasang jebakan dengan maksud untuk menangkap harimau ataupun macan tutul, akan tetapi siapa sangka, kalau yang kena perangkap hanyalah seekor anak kelinci saja.” Katanya dengan penuh ejekan. “Sucitro kali ini bolehlah orang-orang mengatakan bahwa kau adalah seorang yang baik hati dan dilindungi oleh Tuhan, sebab yang kena celaka adalah muridmu yang terpandai.”

Pendeta Baudenda, orang yang jalan dibelakang raja dari sekian raja-raja tukang copet, iapun mengeluarkan suara berulang-ulang.

“Sayang.... sayang. ”

Orang yan; berjalan paling belakang tertawa lebar dan iapun mengunjukkan suarannya.

“Kalian telah jalan berputar-putar disebelah sini, apakah kalian sangka kalau kami ini buta? Jikalau kami tak memikirkan daya upaya yang jempolan, mana kalian mau datang dan menelan pancing itu? Kalong Ireng telah kena racun, dalam waktu dua belas jam ia bakal mampus, dia tak bakal dapat diobati lagi. Huahaaaa.... Huahaaaa.... Huahaaa ”

Dua orang yang masih bersembunyi dibalik gerombolan rumput itu menjadi sangat tercengang. Kejadian ini memang diluar dugaan mereka. Hingga dengan demikian mereka menjadi mengawasi.

Candra Wulan diam-diam mengagumi dan memuji kawannya, Mintaraga, yang mempunyai pandangan jauh. Coba ia menuruti rasa hatinya saja, tentu ia akan menjadi korban jebakan itu.

Mintaraga berpikir lain dari pada Candra Wulan yang masih kekanak- kanakan itu.

“Kelihatanlah kalau mereka itu bakal mengadu jiwa mereka. Marilah kita melihat pertempuran yang hebat itu dari balik sini.” Katanya dengan perlahan.  

Candra   Wulan   menurut   dan   terus   saja   ia   bersembunyi   bersama

Mintaraga itu. Dengan tidak bersuara atau tak berkutik, mereka tak usah khawatir kalau akan dipergoki oleh musuh. Sebaliknya dari tempat persembunyiannya itu mereka berdua memandang kearah kedua rombongan itu dengan leluasa.

Terang kelihatan kalau wajah ki Sucitro si orang aneh dari Selatan itu kelihatan merah padam, pucat dan merah lagi. Suatu tanda kemarahan yang meluap-luap.

Pada jaman itu, Sucitro adalah salah satu jago-jago yang masih hidup, selama beberapa puluh tahun ia belum pernah menemui tandingannya. Maka sekarang, kena dipermainkan dan muridnyapun dilukai, bisalah dimaklumi akan kemarahannya itu.

“Siapakah yang mempunyai pendapat dan ida dari pokal busuk ini?” Tanyanya dengan gusar. “Jawab.”

“Aku.” Jawab orang laki-laki pucat yang bertubuh tinggi itu dengan tertawa lebar. Memanglah yang mempunyai pokal ini adalah si raja tukang copet yang bernama Agni Brasta. Kemudian katanya pula dengan nada yang mengejek. “Kau mau apa?”

Sucitro si tokoh aneh dari dunia kependekaran ini sangat marah sekali, hingga menjadi menyesal mengapa ia tak dapat dengan sekali gerak dan melompat untuk menghajar orang sombong itu. Dalam kemarahannya itu ia masih mengingat tetus derajat dan kehormatannya sebagai salah seorang pencopet rendahan itu saja?

“Hem...” Tiba-tiba terdengarlah perkataan jago tua itu, dan terus saja ia berpaling kepada Gemak Ijo yang menjadi muridnya. Kemudian katanya :

“Kau majulah dan bekuk dia.”

Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya, Gemak Ijo terus maju mengindahkan perkataan atau perintah gurunya itu. Dari sakunya ia mengeluarkan kotak segi empat, begitu ia menekn kotak itu terbukalah tutupnya. Dari dalam kota itu terus mencelat sebuah golok yang bagian tajamnya itu lebar, inilah golok istimewa dari perguruan Sucitro. Dengan tangan kiri bersikap menolak, dia maju terus membabat pinggang Agni Brasta.

Sungguh hebat sekali si raja copet itu, bukan ia mundur ataupun mengelak kekiri dan kekanan, bukan pula ia menangkis, akan tetapi ia menjejakkan kakinya ketanah, terus saja ia melompat kedepan dengan melewati kepala penyerangnya. Sebagai raja dari sekian raja-raja tukang copet maka ia telah memiliki ilmu meringankan tubuh yang amat hebat dan gerakan kaki serta tangannyapun amat cepat sebat sekali. Iapun bukan hanya melompat untuk melewati saja, akan tetapi masih ditambah lagi dengan jumpalitannya. Tepat ketika ia menaruh kakinya ditanah kembali. Tiba-tiba saja tiga buah benda berwarna merah menyambar kearahnya. Itulah senjata  

rahasia dari perguruan Sucitro yang telah dilepaskan oleh Gemak Ijo,

memang murid ki Sucitro terus mempergunakan senjata rahasianya karena ia menjadi amat mendongkol sekali setelah mengetahui kalau serangan pertamanya gagal total.

Gemak Ijo adalah murid kedua dari ki Sucitro, kepandaiannya hanya kalah seurat saja dengan kepandaian Kalong Ireng murid pertama dari tokoh sakti yang beradat aneh dari selatan itu. Sedangkan Kalong Ireng amat hebat sekali, hal ini dapat dibuktikan ketika Kalong Ireng dapat mengalahkan orang-orang yang tergabung dari perkumpulan bajak laut Bondopati. Maka dapatlah diketahui kalau Agni Brasta ini terancam bahaya maut yang dilancarkan oleh murid kedua dari Sucitro itu. Ia memang pandai untuk mencopet akan tetapi dalam hal ilmu silat kepandaiannya hanya biasa saja. Maka ketika diserang itu, ia menjadi kaget dan bingung karenanya.

Namun sekonyong-konyong saja terdengar tiga kali suara nyaring, lalu senjata rahasia murid kedua dari ki Sucitro itu jatuh ketanah. Bersama dengan itu si raja copet itupun terlepas dari bahaya maut.

Inilah perbuatan dari pendeta Baudenda yang telah menolong kawannya dari ancaman bahaya maut itu. Ia telah mempergunakan senjata rahasianya untuk menghantam senjata rahasia lawannya yang mengancam keselamatan kawannya. Dengan begitu sekaligus pendeta ini telah menunjukkan kehebatannya, jarum senjata rahasianya yang enteng ini telah dapat merobohkan senjata rahasia lawannya yang berupa paku dan lebih berat dari pada senjata rahasianya sendiri.

Gemak Ijo menjadi mendongkol sekali.

“Pendeta Baudenda kau benar-benar seorang yang tak mempunyai perasaan malu.” Dampratnya. Gemak Ijo bukan hanya memuaskan hatinya dengan mendamprat pendeta Baudenda saja, akan tetapi ia segera maju menyerang kearah Agni Brasta.

Akan tetapi pendeta murtad dari perguruan Lawu itu tak melayani dampratan tadi.

“Jogosatru kau majulah.” Katanya sambil memerintahkan muridnya untuk maju. Pendeta ini benar awas dan mengetahui kalau Agni Brasta itu bukan tandingannya dari Gemak Ijo.

Jogosastru menurut perintah gurunya. Sambil menjawab ia lalu mencabut pedangnya, setelah itu ia maju menyerang kearah Gemak Ijo. Begitu menyerang telah mempergunakan jurus mega malang menutup bintang. Dengan jurus ini pula kembali nyawa Agni Brasta yang telah berada diambang pintu kematian dapat ditoliong pendeta Baudenda.

“Bagus.” Seru Gemak Ijo yang sekarang berbalik menyerang kearah Jogosastru.

Kali ini pertarungan menjadi berimbang dengan cepat maka tiga puluh jurus telah berlalu.  

Selama itu Sucitro sedang repot memeriksa dan mengobati luka Kalong

Ireng. Karena itu ia seperti tak mengambil peduli akan perbuatan Pendeta Baudenda yang menghantam senjata rahasia muridnya dan menyuruh si Jogosatru untuk mengeroyok muridnya. Ia kenal baik dengan segala macam racun, bahkan didalam tubuhnya telah siap sedia bermacam-macam obat pemunah dari racun itu.

Sucitro segera mengeluarkan bubukan bedak yang berwarna merah, begitu lukanya diborehkan, lenyaplah perasaan sakit yang menyerang Kalong Ireng, hingga dengan demikian ia dapat bangkit sambil menyerang maju, lalu ia mengusap-usap lukanya terlebih dahulu.

“Agni Brasta hendak kulihat kau akan lari kemanakah?” Bentaknya. Dengan tangan kosong ia lalu melompat menyerang kearah Agni Brasta yang telah mengundurkan diri setelah Jogosatru maju membantunya.

Agni Brasta sangat mengandalkan kepada Pendeta Baudenda, karena itu ia tak takut, segera saja ia mengeluarkan seutas rantai tembaga, untuk melayani lawannya yang telah menyerang dengan tangan kosong itu.

Sucitro memandang kearah sekitarnya sewaktu kedua orang muridnya bertempur. Tiba-tiba saja ia berseru dengan keras :

“Tahan semuanya.”

Dahsyat sekali seruan ini hingga terdengar jelas dari jauh.

‘Hebat... hebat sekali ki Sucitro.....’ Seru Mintaraga didalam hatinya. ‘Hebat sekali tenaga dalamnya, dan bahkan ia telah dapat mempergunakan tenaga dalamnya yang dikeluarkan melalui suara.’

Ia memang percaya, kalau Sucitro ini adalah salah seorang jago tua yang kini masih hidup sendiri diantara kawan-kawannya yang menjadi bandol dahulu itu. Kemudian Mintaraga berpikir :

‘Sucitro telah menantangku di Jipang Panolan. Dapatkah aku melayaninya??’

Mendengar teriakan maka keempat orang yang tengah bertempur itu lalu menghentikan pertempurannya dengan segera.

“Sucitro akan ada pengajaran apakah darimu?” Tanya pendeta Baudenda. Memang kakek pendeta dari perguruan Lawu ini tak tahu mengapa orang tua yang beradat aneh ini menghentikan pertempuran yang tengah berjalan dengan ramai itu.

Sucitro menghina dengan suara dihindungnya. Mendengus.

“Hem... Baudenda pendeta edan keparat.” Katanya dengan kaku dan nadanyapun dingin sekali. “Kau adalah seorang tua yang telah berumur sekitar enam atau tujuh puluhan tahun, akan tetapi mengapa setua ini kau tak mempunyai malu?”

Pendeta itu tertawa terbahak-bahak.

“Siapakah yang tak tahu malu itu Sucitro?” Seru pendeta Baudenda balik bertanya. “Kau atau aku? Huahaaa... Huahaaa.... Huahaaa ketika  

dahulu kita sama-sama mencari mustika di Selatan, siapakah yang tak tahu

malu dengan mengandalkan kepandaian serta kekerasan lalu merampas hak orang lain? Sekarang mustika telah kembali ketangan pemiliknya, lalu kau datang pula untuk mengacau. Sungguh kaulah orang tua yang hampir mampus akan tetapi tak tahu malu.”

Mendengar perkataan atau tepatnya umpatan dari pendeta Baudenda ini, maka Sucitro si orang tua yang beradat aneh menjadi tercengang, akan tetapi tak lama kemudian terdengrlah suara tawanya.

“Kalau membicarakan tentang mustika itu, maka kau adalah seorang bangsat besar, sedangkan aku adalah seorang pencuri.” Katanya. “Karena itu salah satu diantara kita tak akan ada yang dapat mencaci maki kita ini. Pendeta Baudenda sungguh kecewalah kau kalau harus menjadi bintang cemerlang dari perguruan Lawu, sedikitpun kau tak punya sifat laki-laki. Hendak kutanyakan kepadamu, mengapa kau menyembunyikan jago-jago Jipang Panolan kekuil rusak ini? Apakah itu hanya untuk mencelakai aku orang tua yang tulang-tulangnya telah lapuk ini dengan secara curang????”

Perkataan ki Sucitro telah membuat muka pendeta Baudenda menjadi merah keseluruhannya, di tempat persembunyian, Mintaraga dan Candra Wulanpun menjadi saling pandang, memandang dengan mata mendelong. Mintaraga segera memandang kearah kuil rusak itu, disana ia melihat diantara celah-celah beberapa pasang mata yang sedang mengintai.

‘Pantas... pantas... mengapa paman eyang guru sedemikian tenangnya ketika menghadapi Sucitro si tokoh sakti yang beradat aneh bersama tiga orang muridnya itu. Sedikitpun pendeta Baudenda ini tak mersa gentar.’ Pikirnya. ‘Kiranya kakek pendeta tua ini telah menyembunyikan jago-jago dari Jipang Panolan.’

Waktu itu, Sucitro si orang tua yang mempunyai kesaktian hebat serta berkeberanian singa telah bertepuk tangan dan tertawa berkakakan.

“Hai... sahabat-sahabat yang berada didalam kuil.” Teriaknya. Memang Sucitro terus memanggil mereka. “Silahkan kalian keluar untuk melihat matahari. Janganlah kalian menyembunyikan diri seperti kawanan tikus yang hendak bersembunyi ketika melihat kucing datang.”

Mendengar cacian yang bermaksud menghina atau memandangnya dengan rendah sekali, maka dari dalam kuil itu keluarlah orang dengan berbondong-bondong, dimuka berjalanlah seorang yang bertubuh tinggi besar dan mukanya berwibawa sekali. Mungkin inilah pemimpinnya.

“Kisanak siapakah yang bernama Sucitro?” Tanyanya dengan lantang, dan tampaklah kalau didalam nada pertanyaan ini maka mengandung sebuah penghinaan. Suara lagak lagunya terang menghina. “Silahkan Sucitro keluar untuk menghadapku.”  

Mintaraga melihat si pembicara itu, orang ini mempunyai kumis kaku

seperti ijuk, kedua matanya bersinar tajam sekali. Pakaiannya gemerlapan bagaikan pakaian seorang bangsawan.

‘Diakah yang bernama Udara dan menjadi patih dari kerajaan Jipang Panolan yang akan ditumbuhkan itu?’ Pikirnya dengan menduga-duga.

Dibelakang orang ini berbarislah dua belas pasukan kerajaan diantaranya ada pula yang dikenal oleh Mintaraga. Orang itu adalah orang ketiga dari jago-jago Jipang Panolan yang bernama Mandaraka. Sedangkan orang yang kelihatan sombong dan tak memandang sebelah mata kepada orang lain adalah orang keempat dari Jipang Panolan jang bernama Panca Loka yang bergelar Pedang Pengejar Sukma. Sedangkan orang yang bermuka kuning adalah orang kelima dari Jipang yang bernama Pancawala dan orang keenam dari jago-jago Jipang Panolan adalah Ki Paku Waja. Selain itu terlihat pula Watu Gunung dan Watu Padas yang menjadi orang-orang kesembilan dan kesepuluh dari jago-jago yang memihak kepada Ario Penangsang. Dan Jangkar Bumi jago terakhir dari dua piluh satu jago-jago Jipang Panolan.

Candra Wulan tertawa tanpa sesadarnya ketika ia melihat jago-jago Jipang Panolan atau orang-orang kepercayaan Ario Penangsang ketika mereka membawa senjata dan semuanya kelihatan garang-garang mukanya.

“Lihatlah kakang Mintaraga.” Sambil menunjukkan telunjuknya kearah barisan mereka. “Semua. petunjangmu datang semua.”

“Masih ada juga yang belum atau tidak muncul adi, orang itu ialah Bagaspati.” Jawab Mintaraga. “Kau tahu adi Candra Wulan kalau patih Udara itu mempunyai kepandaian jauh berada diatas paman eyang guru kita, maka kali ini tentunya ki Sucitro bukanlah tandingannya ”

“Bagaimanakah kalau kau dibandingkan Sucitro?” Tanya gadis itu. “Untuk mengatakan hal itu sekarang kukira masih terlalu pagi adi.”

Jawab si anak muda itu dengan tersenyum. “Hendak kulihat dulu dia ini kalau harus menghadapi patih Udara orang pertama yang dipercayai oleh Ario Penangsang adipati Jipang Panolan itu. Kalau aku telat melihat pertarungan ini selama lima puluhan jurus barulah aku dapat mengatakan apa yang kau tanyakan itu adi.”

Sucitropun berlaku amat sombong. Segera ia mendongakkan kepalanya keatas langit.

“Kepada seekor tikus macammu itu apakah aku patut menghadap???” Serunya dengan mengejek.

Orang Jipang Panolan itu menjadi marah sekali.

“Orang-orang mengatakan kalau Sucitro adalah seorang tokoh aneh dan sakti yang bertempat didaerah Selatan, hingga pendeta Baudenda yang terkenal saktipun takut kepadanya.” Katanya. “Akan tetapi aku justru tak takut sama sekali.”  

Sucitro tahu kalau dirinya ini sedang dipermainkan dan dihina akan

tetapi ia hanya tertawa berkakakan saja.

“Siapakah yang menyuruhmu takut kepadaku?” Jawabnya dengan enak dan bernada memandang rendah. “Kalau kau sangup bertempur seri dengan salah satu muridku ini barulah aku jeri terhadapmu...”

Mendegar suara yang sangat bahkan terlalu takebur ini, Mintaraga menjadi tertawa didalam hatinya.

‘Mungkinkah ki Sucitro tengah bergurau?’ Tanyanya didalam hati. Orang Jipang itu berlaku sungguh.

“Sucitro kau terlalu menghina orang.” Katanya dengan mendengus marah. “Tahukah kau siapa adanya aku ini?? Apakah kau telah mengenalku??”

“Aku tahu kau adalah seekor tikus.” Jawab kakek tua yang beradat aneh itu dengan tertawa berkakakan.

Baru sekarang tokoh Jipang Panolan ini menjadi marah sekali, hingga kemarahannya memuncak sampai membakar ubun-ubun.

“Jangkar Bumi ambilkan senjataku.” Perintahnya dengan kasar dan tegas.

Mintaraga dan Candra Wulan saling berpandangan dan terus memandang kearah orang-orang yang telah bertegang leher. Akan tetapi kedua orang muda-mudi ini saling tersenyum. Mereka menganggap tingkah laku orang Jipang Panolan itu sangat lucu sekali.

Waktu itu Jangkar Bimi telah melakukan tugasnya, yaitu perintah dari orang pertama yang sangat dipercayai oleh Ario Penangsang. Dia lalu menyerahkan sebatang tongkat yang diatas kepalanya berukirkan sebuah naga-nagaan, sikapnya sangat menghormat sekali.

Orang Jipang Panolan ini menyambut senjatanya dan terus memutar- mutar beberapa kali diudara.

“Sucitro keluarkanlah senjatamu.” Tantangnya dengan suara yang nyaring dan tinggi.

Sucitro hanya tertawa berkakakan saja. Ia seperti tak dapat dipancing dengan kemarahan itu.

“Aku telah mengatakan tadi, bahwa aku tak ingin bertempur denganmu hai tikus busuk.” Jawabnya. “Karena itu baik sekarang maupun nanti aku tetap tak ingin bertempur denganmu. Karena disini ada tiga orang muridku, kau merdeka untuk memilih salah satu diantaranya.”

Orang Jipang Panolan itu dapat menguasai dirinya.

“Baiklah.” Jawabnya. “Suruhlah murid pertamamu yang maju untuk melayaniku. Aku ingin mencoba-coba kepandaian dari Sucitro si orang sombong.

Sucitro tertawa pula.  

“Sungguh pandai kau memilih.” Katanya dengan enteng. “Kalong Ireng

baru saja kena senjata rahasia, lukanya masih belum sembuh. Huahaaa... Huahaaa... Huahaaa... akan tetapi tak apalah. Biar kau mencobanya.” Setelah berkata demikian ia lalu berpaling kearah Kalong Ireng dan katanya :

“Kalong Ireng kau layanilah dia, hitung-hitung kau belajar kenal dengan orang kedua dari Jipang Panolan. Layanilah tongkat naganya itu.”

Mendengar ini Mintaraga dan Candra Wulan baru sadar akan kekeliruannya, mereka tadi telah menyangka kalau orang itu adalah Patih Udara, ternyata dugaannya ini meleset. Kiranya ia hanyalah Julung Pujut yang setingkat lebih rendah dari pada kepandaian Bagaspati.

Kalong Ireng telah segera maju kedepan, ditangannya telah memegang kotak dan yang istimewa itu. Julung Pujut sudah segera memutar ia terus tongkatnya, ia terus akan menyerang.

“Tunggu dulu.” Seru Sucitro.

Orang Jipang itu tercengang. Ia memang beradat keras dan sombong sekali. Ia benar-benar percaya akan kehebatan ilmu silatnya. Hingga sekalipun dengan Bagaspati ia tak memandang sebelah mata.

“Apa?” Tanyanya sambil tertawa. “Apakah kau hendak maju sendiri? itulah paling baik.”

Sucitro berlaku sangat tenang.

“Julung Pujut.” Katanya. “Kau adalah orang nomor dua dari jago-jago Jipang Panolan. kepandaianmu hanya berada seurat dibawah Bagaspati akan tetapi dibawahmu terdapat jutaan orang. Sudah tentu saja kepandaian silatmu itu hebat sekali, aku khawatir kalau muridku ini bukan tandinganmu ”

Julung Pujut tertawa berkakakan.

“Habis apakah yang hendak kau katakan lagi?” Tanyanya dengan nada sangat sombong sekali.

“Apakah kau telah merasa pasti?” Sucitro menegaskan.

“Sudah tentu dan terang sekali.” Jawab Julung Pujut dengan takabur.

Sucitro tunduk, ia seperti tengah berpikir. Mendadak saja ia mengangkat kepalanya.

“Muridku yang bandel ini ada waktunya menjadi sangat luar biasa.” Katanya, pun secara mendadak. “Ada waktunya ia menjadi sangat telengas, sampai akupun bukan lagi tandingannya. Aku lihat mungkin hari ini ia akan sangat luar biasa sekali. Mungkin kau juga tak akan sanggup melawannya. Percayakah kau?”

Julung Pujut mendongkol hingga ia berkaok-kaok dengan sangat marahnya.

“Jika aku Julung Pujut roboh ditangannya, aku akan memenggal kepalaku dan akan kupersembahkan kepadanya.” Katanya dengan sengit.  

Sucitro tertawa. Akan tetapi orang tua itu tetap memperlihatkan

kesabarannya.

“Aku tak menghendaki kepalamu.” Katanya. “Aku cuma menghendaki Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kerajaan Demak Bintoro. Bagaimana?”

Julung Pujut merasa pasti sekali ia akan dapat mengalahkan Kalong Ireng, karena itu ia segera memberikan jawaban yang tanpa dipikir lagi :

“Baiklah.” Dan setelah berkata demikian ia lalu meneruskan lagi dengan perkataannya :

“Kalong Ireng mempunyai kepandaian hingga dapat mengalahkanku, dengan kedua belah tangan akan kupersembahkan Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang kerajaan Demak Bintoro itu kepadanya.”

‘Celaka.’ Seru pendeta Baudenda mengeluh didalam hatinya. Akan tetapi sedikitpun ia tak berani mengeluarkan suara. ‘Mengapa Tunggul Tirto Ayu dijadikan barang taruhan dalam perkelahiaan...???’ Lalu ia mendekati kepada orang Jipang itu untuk mengatakan dengan perlahan-lahan :

“Ki Julung Pujut jangan sampai kau kena tipu daya yang licik dari musuh...!”

Sebagai orang yang takebur, maka Julung Pujut telah membiasakan menyombongkan diri, dia tak memandang sebelah matapun dengan orang- orang yang menjadi musuhnya. Karena itu biarpun pendeta Baudenda ini termasuk salah seorang ketua atau dongkolan dari dunia kependekaran akan tetapi iapun tak menghormatinya. Kemudian katanya :

“Apakah kau juga akan memandang enteng kepadaku? Hem... tolong kau mundur saja.”

Maka pendeta itu menjadi marah sekali. Ia adalah salah seorang sakti dan derajatnyapun tinggi. Akan tetapi sekarang, dimuka orang banyak ia menerima hinaan, karena itulah kini mukanya menjadi merah padam. Hampir ia membentak :

“Julung Pujut kau ini makhluk apakah?” Akan tetapi ia segera teringat kalau waktu ini ia sangat mengandalkan kepandaian dan tenaga dari jgo-jago Jipang Panolan ini. Karena itulah terpaksa ia mengendalikan diri. Dengan membungkam ia mundur, ia telah segera mengambil kepastian :

“Aku tak peduli siapa yang menang dan siapa pula yang kalah, asal Tunggul Tirto Ayu berada ditanganku, cukup aku tak akan mengeluarkannya.”

Sucitro dilain pihak tertawa terbahak-bahak, kemudian ia menunjukkan jempolnya.

“Julung Pujut perbuatanmu ini benar-benar perbuatan seorang gagah perkasa yang tulen.” Pujinya.

Bukan main girangnya hati orang Jipang Panolan ini ketika mendengar pujian itu.  

“Sekarang mari, marilah.” Seru Julung Pujut menantang lawannya.

Sucitro memandang kearah muridnya, kemudian setelah mata bertemu dengan mata ia lalu mengerdipkan matanya.

Murid itu mengerti, terus saja ia maju untuk menyambut musuh.

Disitu terdapat Mandaraka, tokoh Jipang Panolan yang nomor tiga, orang itu sangat cerdik sekali. Karena itu iapun menjadi curiga. Maka iapun maju.

“Tunggu dulu kakang.” Katanya. “Apakah benar-benar kau ini hendak turun tangan sendiri.”

Julung Pujut menjadi marah sekali karena dihalang-halangi oleh adik angkatnya.

“Siapakah yang menyuruhmu banyak mementang bacot?” Bentaknya dengan keras.

Mandaraka tak menjadi kurang senang, sebaliknya ia malahan tertawa dengan gembira.

“Untuk bertaruh kedua belah pihak harus mengajukan syaratnya masing-masing.” Katanya tanpa mempedulikan perkataan kakak angkatnya tadi.  

“Dengan sama-sama punya syarat barulah itu namanya tepat dan adil. Jikalau pihak kami yang kalah, kami bakal menyerahkan mustika akan tetapi jika pihak kalian yang kalah lalu apakah taruhannya?”

Kalong Ireng sedikitpun tak menggubrik pentangan mulut orang itu. “Mandaraka, apakah hubungan kita denganmu?” Bentaknya. “Apakah

kau sendiri yang bertempur?”

Sucitro melihat kalau orang ketiga dari Jipang Panolan ini rupa-rupanya hendak merintangi, segera saja kakek aneh yang berkepandaian tinggi ini segera tahu apa yang harus diperbuat. Segera ia membisiki muridnya, setelah itu ia memberikan jawaban.

“Jika kami yang kalah, kami akan segera pulang ke Selatan untuk duduk bersemedi menghadap tembok selama sembilan tahun. Dan semenjak saat ini pula kami tak akan muncul kembali didunia kependekaran.”

“Kalau hanya itu belum cukup.” Kata Mandaraka. Ia terus melewati kakaknya yang kedua.

“Hem...” Seru Sucitro. Lalu ia meneruskan. “Julung Pujut kau dengar?” Ia memang sengaja berbicara dengan orang Jipang yang sombong itu. Kalau kau yang menang maka kau boleh mengumumkn kepada dunia kependekaran bahwa Julung Pujut telah berhasil mengalahkan Sucitro. Bahkan kau telah menyuruh Sucitro semenjak saat ini tak boleh keluar dari gunung untuk melihat dunia kependekaran yang ramai ini. Bukankah hal ini telah cukup untuk mengangkat nama besar bagimu?”

Bukan main girangnya hati Julung Pujut ketika mendengar perkataan Sucitro ini, hingga dengan tak sadar ia lalu mengaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Tanpa mengeluarkan perkataan apa-apa ia lalu mendorong tubuh

Mandaraka kesampinng, lalu maju mulai menyerang Kalong Ireng. Untuk serangan pertama ia telah memakai jurus ular naga memuntahkan bisa.

Kalong Ireng berlaku sangat tenang. Untuk menyambut serangan, ia menekan rahasia yang berada dikotaknya, setelah itu ia lalu melayani orang Jipang Panolan itu.

Sucitro adalah seorang sakti yang pilih tanding, mengapa ia tak segera menyerang Pendeta Baudenda dan hanya membiarkan saja muridnya yang turun tangan. Mengapa ia tak sudi melayani orang-orang yang mengajaknya bertengkar mulut? Inilah sebabnya ia pandai melihat gelagat. Kalau ia melawan keras dengan keras maka ia telah yakin kalau akan terjadi pertempuran yang amat hebat dan kacau. Dalam hal ini ia tak memikirkan dirinya sendiri, ia hanya mengkhawatirkan keselamatan ketiga orang muridnya. Jumlah pihak lawan terlalu banyak, karena itulah banyak kemungkinan muridnya akan terbinasa atau paling tidak akan terluka parah. Inilah yang tak dikehendakinya. Maka ia lalu menggunakan akal, supaya Julung Pujut sendiri yang turun tangan dan Tunggul Tirto Ayu yang dijadikan taruhannya.

Mandaraka dan Pendeta Panca Loka serta yang lain-lain telah menduga kalau dalam hal ini Sucitro tentu akan main gila. Akan tetapi disitu tak ada Bagaspati ataupun Patih Udara karenanyalah mereka hanya menutup mulut saja. Sedikitpun mereka tak punya kekuasaan untuk merintangi kehendak kakak anngkatnya yang kedua itu, sebab dialah yang berkuasa pada waktu ini.  

Pendeta Baudendapun termasuk salah seorang tamu, karena itu ia tak berani membuka mulut untuk mencampuri urusan dalam jago-jago Jipang Panolan.

Mintaraga dan Candra Wulan ditempat persembunyiannya telah berpikir.

‘Julung Pujut terperdaya, Kalong Ireng pasti menang.’ Demikianlah dugaan mereka. Hanya mereka tak tahu dengan jalan apakah Kalong Ireng itu akan memperoleh kemenangan, sebab mereka tahu kalau kepandaian ini hanya berada dibawah kepandaian Julung Pujut.

Kedua pihak telah bertempur dengan cepat. Belasan jurus telah berlalu Julung Pujut hendak menyombongkan dirinya dihadapan saudara-saudara angkatnya dari jago-jago Jipang Panolan, tongkatnya terus diputar dengan cepat hingga menimbulkan angin tajam yang menyambar-nyambar. Melihat hal ini maka orang akan mengetahui kalau Julung Pujut telah melatih tenaga dalamnya dengan baik-baik. Walaupun demikian Sucitro si tokoh aneh itu menonton dengan berseri-seri bahkan kelihatan senyumannya terus menghiasi bibirnya. Sikapnya tetap tenang-tenang saja..... Kembali puluhan jurus telah berlalu, setelah itu kumatlah watak

kesombongan dari Julung Pujut. Ia menjadi penasaran dan mendongkol. Maka ia lalu menyerang dengan jurus-jurus simpanannya, tongkatnya terus menyambar-nyambar kearah kepala lawannya.

Julung Pujut sedang marah dan iapun bertenaga sangat besar, kalau melihat umumnya pasti pukulan itu tak akan dapat ditangkis. Seharusnya dielakkan, akan tetapi Kalong Ireng malah bertindak dengan sebaliknya. Ia bertindak sambil berteriak :

“Bagus.”

Bersama dengan teriakannya itu ia lalu mengangkat senjata dan menangkis pukulan tongkat lawan. Maka diantara suara nyaring dan pijaran bunga api, dia menjerit.... ‘aduh’.... tangannya berdarah, senjatanya hampir terlepas dari tangannya, sedangkan tubuhnya mundur terhuyung-huyung lima langkah.

Semua orang dari pihak jago-jago Jipang Panolan menjadi bersorak- sorak, mereka melihat dengan jelas kemenangan dari kakak angkat mereka yang nomor dua.

Sekalipun Mandaraka beranggapan seperti saudara-saudaranya itu, ia percaya kalau Kalong Ireng itu hanya mencari kecelakaan atau mencari penyakit sendiri.

“Hendak lari kemanakah kau?” Bentak Julung Pujut ketika melihat lawannya bertindak mundur. Ia menjadi sangat girang, terus saja ia maju sambil memutar tongkatnya. Dalam waktu sejenak saya maka kelihatanlah Kalong Ireng dikurung oleh tongkat. Dia berkelahi dengan susah payah, setindak demi setindak ia mulai main mundur. Kalong Irengpun telah menjadi mandi keringat. Beberapa kali murid pertama dari orang aneh yang bernama Sucitro itu mencoba membalas serangan-serangan yang dilancarkan oleh Julung Pujut akan tetapi serangan-serangan balasan ini benar-benar tak bertenaga. Maka sukarlah untuknya, biarpun ia telah berhasil meloloskan diri dari serangan berantai yang berjumlah sembilan kali itu.

Julung Pujut memang sedang menang diatas angin, dan ia tak mau mengerti. Segera saja ia mengulangi desakannya.

“Julung Pujut, aku akan mengadu jiwaku denganmu.” Akhirnya Kalong Ireng berteriak setelah diserang dengan mati-matian. Kelihatanlah kalau murid pertama dari ki Sucitro ini menjadi nekad. Dengan senjata istimewanya itu ia lalu membalas serangan-serangan itu dengan hebat.

Orang-orang melihat dengan jelas kalau Kalong Ireng telah berlumuran darah pada mukanya, orang-orang menduga kalau ia berlaku nekat untuk memperoleh kemenangan. Yah kemenangan untuk mendapatkan Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kerajaan Demak Bintoro.

Candra Wulan mengerutkan keningnya setelah melihat kenekatan murid pertama dari ki Sucitro itu.  

“Kakang Mintaraga, Kalong Ireng bukanlah seorang yang berhati busuk,

kau tolonglah dia.” Seru Candra Wulan membisiki orang yang berada disebelahnya. Memanglah waktu itu Candra Wulan tak sampai hati ketika melihat kejadian itu.

Namun Mintaraga malah tertawa.

“Gurunya sendiri tak mau menolong, maka akan sangat mengherankan sekali kalau aku sebagai orang luar yang harus menolongnya.” Jawab pemuda itu dengan pelan juga. “Huahaaa... Huahaaa... Huahaaa... kaupun rupanya tak dapat melihat gelagat adi, kau lihat paman eyang guru itu.”

Candra Wulan segera memandang kearah Pendeta Baudenda. Maka kelihatanlah kalau pendeta itu mengerutkan keningnya, kedua kakinya ditekuk sedikit. Inilah sebuah pertanda kalau kakek pendeta itu telah siap sedia untuk turun tangan.

Yang aneh adalah Sucitro. Semua orang melihat kalau Kalong Ireng terancam bahaya, akan tetapi kakek tua ini hanya tenang-tenang saja. Dia dapat melihat jalannya pertempuran itu dengan mulut tersenyum dan wajah yang berseri-seri. Inilah sebuah tanda kalau muridnya sama sekali bebas dari mara bahaya....

“Lepaskan tanganmu.” Julung Pujut berteriak apa bila ia telah berhasil melanjutkan desakannya tadi. Julung Pujut melihat dengan jelas kalau lawannya ini telah benar-benar kepayahan. Maka untuk kesekian kalinya, ia menyerang dengan tenaga yang telah dikerahkan.

Kembali Kalong Ireng itu menangkis serangan yang dahsyat itu. “Celaka.” Kalong Ireng menjerit. Ternyata golok istimewanya telah

terlepas dati tangannya dan terlempar keudara.

Kegirangan Julung Pujut benar-benar tak terhingga.

‘Kalau tak sekrang aku turun tangan maka akan kutunggu sampai kapan lagi?’ Katanya didalam hati. Julung Pujut lalu melintangkan tongkatnya untuk mencegah Kalong Ireng mundur atau mengelak, lalu sambil maju ia mengayunkan tangan kirinya. Tangan ini memang kosong tak memegang sebuah senjata, akan tetapi tangan kosong ini telah dilambari dengan tenaga yang ribuan kati beratnya.

Kalong Ireng tak melihat jalan mundur lagi. Segera ia berseru dengan lantang :

“Habislah jiwaku disini.”

Sambil berkata demikian Kalong Ireng lalu mengangkat tangannya untuk memaksa menangkis serangan orang Jipang Panolan itu.

Memang pada waktu itu Julung Pujut tak menyerang dengan kepalang tanggung.

Kedua tangan yang bertenaga keras itu bentrok diudara, yang satu menyerang dan yang lain menangkis. Lalu terdengarlah jeritan Kalong Ireng dan tubuhnya terpental kira-kira dua sampai tiga langkah.  

Semua orang dari jago Jipang Panolan bertepuk tangan dengan riuh

rendah, hingga suara tepukan tangan mereka itu seperti geledek saja. Pendeta Panca Loka berseru :

“Bagus.”

Akan tetapi tak demikian dengan Candra Wulan, gadis ini benar menjadi sedih ketika melihat Kalong Ireng dapat dikalahkan.

“Kakang Mintaraga... celaka sekali Kalong Ireng...” katanya seperti menyesali.

Hanya setelah itu, menddak saja keadaan menjadi sunyi senyap. Sebagai akibat dari jurus yang terakhir itu, jurus mati atau hidup, yang rebah adalah Julung Pujut, sedangkan yang berdiri dengan tegar bugar bagaikan gunung adalah Kalong Ireng.

“Apakah ini? Apakah artinya???” Tanya Candra Wulan. Gadis ini benar- benar menjadi heran sekali.

“Julung Pujut telah terperdaya.” Jawab Mintaraga.

Waktu itu Julung Pujut telah rebah tak berdaya seperti mayat saja lagaknya.

Segera setelah sadar Mandaraka lari kepada orang Jipang Panolan yang kedua itu, orang ketiga ini benar-benar tak mengerti dan ingin melihat, juga untuk membangunkan kakak angkatnya yang kedua ini. Mandaraka melihat sepasang mata yang bundar dan mencilak. Biji mata itupun sedikit saja tak bergeming. Kulit mukanya menjadi merah semua, dan mulutnya terpentang lebar-lebar. Hal yang melegakan ialah napas orang Jipang ini masih kedengaran.

Dia pasti terperdaya, akan tetapi entah dengan jalan apa. Dua puluh satu orang jago-jago Jipang Panolan menjadi tak dapat menerka-nerka. Dari kesekian banyak orang itu hanya, pendeta Baudenda saja yang sikapnya tenang-tenang dan tawar.

Pendeta inipun berkata didalam hatinya :

‘Dia sangat sombong biarlah ia menerima pengajaran untuk mergicipi rasanya orang menjadi malu.’ Biarpun hatinya berkata demikian tetapi tak mau ia menjadi heran juga setelah mengetahui kalau Kalong Ireng dapat berbuat demikian.

Sampai disitu Sucitro lalu terbahak-bahak.

“Bagus... bagus...” Serunya. “Pertempuran dahsyat ini akhirnya telah memberi keputusan siapa yang berkepandaian tinggi dan siapa pula yang berkepandaian rendah. Dimana kita telah berjanji, hayo mana itu Tunggul Tirto Ayu lambang kerajaan dari kerajaan Demak Bintoro itu. Cepat serahkan.”

Jago-jago Jipang Panolan itu saling pandang memandang. Bergantian mereka berpandangan dengan kawan-kawannta atau satu sama lainnya.  

Mandaraka menggoyang-goyangkan tubuh Julung Pujut, akan tetapi

tubuh itu tenang dan diam saja. Maka akhirnya ia mulai meneliti. Ia melihat kalau tangan kiri kakak angkatnya ini tertekuk. Dan tangan itu menjadi bengkak. Melihat ini maka Mandaraka menjadi kaget sekali. yang hebat adalah telapak tangan kiri yang bermandikan darah, bahkah darah itu masih mengucur keluar dari tiga buah lubang kecil. Seperti sebutir pasir.....

“Kakang Julung Pujut telah terkena racun. Mari kita lihat.” Seru Mandaraka dengan nyaring. “Lekas-lekas.”

Tak ada seorangpun yang berlaku lambat lagi, segera mereka lari mengerumuni. Setelah menyaksikan mereka lalu bicara satu dengan lainnya. Mereka saling bertanya-tanya, diantara mereka ada juga yang segera memaki dan mengutuk Kalong Ireng. Mereka ada pula yang mengatakan kalau Kalong Ireng itu curang dan keji. Walaupun demikian mereka itu adalah orang-orang yang mempunyai kepandaian tinggi, mereka tidak tahu, luka itu disebabkan apa dan apa adanya racun itu....

Akhirnya Mandaraka melompat bangun.

“Kalong Ireng kau tak tahu malu.” Dampratnya dengan sengit dan bernafsu. “Mengapa kau mempergunakan tipu daya yang busuk?”

Mendengar ini Sucitro si tokoh aneh dari Selatan itu lalu tertawa dengan lebar. Kemudian berkata mendahului muridnya.

“Didalam sebuah peperangan maka orang tak akan haram mempergunakm sebuah muslihat.” Jawabnya dengan berterus terang. “Jika maju kesebuah medan perang yang hebat dan tak mempergunakan akal yang hebat maka ia akan sama saja dengan seorang manusia biasa yang hanya mengandalkan tenaga bagaikan binatang.”

Lalu dengan tak membiarkan para jago-jago JiPang Panolan itu tak berteka-teki terlebih lama maka Sucitro segera membeberkan kisah mengapa Julung Pujut roboh!

Didalam pertempuran antara Julung Pujut melawan Kalong Ireng, mereka sebenarnya berimbang, akan tetapi karena Kalong Ireng menanti pesan gurunya, ia lalu mempergunakan akal. Segera ia sengaja membuat sesuatu kesalahan, karena itulah ia lalu kena didesak, karena desakan itu Kalong Ireng benar-benar seperti orang yang sedang kerepotan. Dengan demikian maka Kalong Ireng segera mandi keringat. Akan tetapi murid pertama dari ki Sucitro itu melayani terus hingga muka yang habis luka itu mengeluarkan darah lagi. Inilah yang sangat diharapkan. Julung Pujut keras wataknya, ia tak mempedulikan keadaan orang lain. Segera ia menyerang terus menerus. Setelah terakhir Julung Pujut menyerang dengan dahsyat, Kalong Ireng telah menginsyafi akan datangnya bahaya. Akan tetapi ia baru menjalankan sebuah tipuan, inilah sebuah ketika yang baik.

Kalong Ireng terus menangkis, untuk melawan keras lawan keras. Diluar sepengetahuan siapa saja juga, diam-diam dia telah siap dengan paku-  

pakunya yang hebat. Kalong Ireng telah menggenggamnya sebanyak tiga

buah. Maka ketika kedua belah tangan itu bentrok, telapak tangan jago kedua dari jago-jago Jipang Panolan telah tetusuk. Dengan bekerjanya racun yang hebat itu ia segera roboh tak berdaya. Malahan kalau dalam waktu sepenanak nasi lamanya ia tak tertolong, banyak kemungkinan nyawanya akan melayang tanpa disadarinya...

Juga Kalong Ireng mendapat luka didalam, hal ini akibat serangan Julung Pujut yang demikian hebatnya itu. Akan tetapi ia mempunyai waktu untuk berlatih puluhan tahun, dan lagi digembling oleh seorang tokoh yang amat sakti. Karena itu ketika ia terpental dan tubuhnya turun kembali ketanah ia telah mengerahkan tenaga dalamnya, dengan demikian maka Kalong Ireng dapat meletakkan kakinya ditanah dengan tubuh tak usah roboh.

Sucitro tertawa pula :

“Bagus... bagus... sekarang yang berdiri dengan kokoh bagaikan gunung ini adalah muridku yang bandel, akan tetapi orang yang roboh tak berdaya adalah kawanmu yang bernama Julung Pujut. Huahaaaa.... Huahaaaa....

Huahaaa.... sekarang lekas kau keluarkan Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang kerajaan dari kerajaan Demak Bintoro. Aku tak punya waktu lagi untuk mengomong-omong dengan kalian.”

Mandaraka menjadi gusar.

“Kalian telah mempergunakan akal bulus, bahkan akal yang terlalu busuk.” Teriaknya. “Karena itu pertaruhan kita tak berlaku.”

Sucitro si tokoh aneh hanya tertawa lebar saja, akan tetapi diraut wajahnya tampaklah kalau si tokoh aneh ini telah berubah menjadi dingin, tawar dan membesi.

“Benarkah perkataanmu itu tadi?” Tanya ki Sucitro dengan menegas. “Bukankah kalian juga mempergunakan panah beracun untuk melukai orang lain? Sekarang aku hendak bertanya, perbuatanmu itu perbuatan orang gagah atau bukan??”

Biarpun apa yang terjadi dan bagaimana pula perkembangannya Mandaraka tetap tak rela menyerahkan Tunggul Tirto Ayu itu kepada lawannya. Kemudian ia berpikir dengan keras.

‘Kebenaran memang ada pada mereka itu akan tetapi kami ini berjumlah banyak, lebih baik kami menyangkal saja. Hendak kami lihat apakah yang akan mereka perbuat?’ Maka ia lalu berteriak untuk menjawab pertanyaan ki Sucitro tadi.

“Setuju... kita semua memang bukan orang-orang gagah. Akan tetapi kalianpun bukannya bangsa lelaki terhormat. Pertempuran yang baru saja berjalan tadi adalah pertarungan antara kakak kami dengan kalian, perbuatannya itu tak ada sangkut pautnya dengan kami. Jika kau  

menghendaki barang pertaruhannya, nah pergilah kau untuk menanyakan

kepadanya sendiri.”

Dengan perkataannya ini yang dimaksudkan adalah Julung Pujut.

Mendengar perkataan Mandaraka ini Kalong Ireng yang telah merasakan susah payahnya menjadi mendongkol sekali.

“Bagus benar, mengapa kau begini tak tahu malu? Kalian menyangkal apakah kalian tak takut kalau akan ditertawakan oleh dunia kependekaran.” Seru Kalong Ireng sambil menghina. Segera ia menoleh kepada gurunya.

“Bapa guru, apakah tidak dapat kami melayani mereka itu semua??”

Mendengar dan melihat semangat Kalong Ireng ini, Sucitro si kakek aneh itu hanya tertawa lebar saja.

“Kalong Ireng, jangan kau terburu nafsu.” Kata kakek itu dengan sabar. “Apakah yang kukatakan ketika aku berbisik kepadamu tadi?”

“Bapa guru menyuruhku menghormatinya dengan mempergunakan senjata rahasia kita.” Jawab muridnya yang kelihatan bagaikan orang jujur itu.  

“Mengapa aku berpesan demikian?” Tanya ki Sucitro kepada muridnya yang pertama ini.

“Oleh karena bapa guru telah mengetahui dan mengenal baik-baik kalau orang-orang Jipang Panolan yang tergabung dalam Dua puluh satu jago-jago Jipang Panolan ini adalah orang-orang yang paling tak dapat dipercaya didalam dunia kependekaran ini. Oleh karena itu bapa guru hendak memakai senjata rahasia kita untuk memperingatkan mereka itu.”

“Eh Kalong Ireng.” Seru ki Sucitro dan terus bertanya lagi. “Kalau seorang telah terkena senjata rahasia kita yang beracun itu apakah akibatnya?”

“Jika tak ada obat penolongnya maka dalam waktu sepenanak nasi lamanya ia akan meninggal dunia, dengan tak mempedulikan ada malaikat ataupun dewa yang akan turun untuk menolongnya ”

“Dimanakah adanya obat penolong dari racun yang kita pergunakan itu angger?”

“Obat itu berada didalam saku baju bapa guru, sedangkan aku sendiri tak mempunyai obat pemunahnya. Obat itu adalah obat yang dirahasiakan. Karena itu kalau ada orang yang terkena racun itu maka orang satu-satunya didunia ini yang dapat mengobati hanyalah bapa guru sendiri.”

Setelah itu maka Sucitro lalu mengeluarkan sebuah bumbung kecil dari dalam saku bajunya.

“Apakah ini angger Kalong Ireng?” Tanyanya kemudian sambil memegang erat-erat bumbung itu.

“Ya.” Jawab muridnya dengan sikap yang sangat menghormat.

Sewaktu guru dan murid itu berbicara, pihak jago-jago Jipang Panolan menjadi meremang bulu kuduknya. Mereka terpengaruh oleh perkataan guru   dan   murid   itu,   hingga   dengan   demikian   mereka   benar-benar

mengkhawatirkan keselamatan Julung Pujut.

“Bagaimana Julung Pujut?” Tanya Sucitro dengan tersenyum menyeringai dan penuh kemenangan.

“Dia sekarang bengkak lehernya.” Jawab Kalong Ireng. “Telah terlihat sinar merah darah, itulah tanda pertama dari ancaman bahaya. Kalau sinar merah itu telah menjadi merah tua, itu artinya nyawanya hampir habis...”

Mendengar perkataan itu mau tak mau semua mata yang berada disitu terus diarahkan kepada Julung Pujut. Memang benar kalau jago kedua Jipang Panolan ini telah mulai membengkak. Ketika Mandaraka membuka baju kakak angkatnya ini maka didada yang penuh dengan bulu itu tampak sinar merah yang persis dengan keterangan Kalong Ireng tadi. Lebih tegas lagi ialah sinar merah itu pada urat-urat, hingga urat-urat itu kelihatan bagaikan ular emas dan banyak sekali karena hampir setiap urat menjadi bersinar merah....

Kalau tubuh Julung Pujut tetap diam saja, napasnya masih berjalan, jalan akan tetapi dengan pelan-pelan sekali.

Melihat ini Mandaraka menjadi berkecil hati.

‘Kakang Julung Pujut adalah orang yang disayangi oleh baginda Ario Penangsang.’ Pikirnya. ‘Ketika dahulu adik kakang Julung Pujut tewas didalam menghadapi Bajak Laut Bondopati, maka kakang Bagaspati telah diturunkan satu pangkat, sekarang kalau kakang Julung Pujut sampai mati maka akulah yang akan diturunkan satu pangkat ’

Sewaktu Bagaspati dan Patih Udara belum datang, maka Mandaraka masih belum berani bertindak sendiri. Inilah yang menyebabkannya menjadi bingung, tak tahulah ia bagaimana ia harus mengambil keputusan.

Sucitro sangat tajam matanya, kakek ini melihat kalau lawannya menjadi bingung, karena itulah tokoh aneh dari Selatan ini terus menjadi gembira sekali.

‘Sekali lagi kudesak dia maka sangat mustahil sekali kalau dia tak menyerahkan Tunggul Tirto Ayu kepadaku ’ Pikirnya. ‘Dalam pertempuran

ini, aku tak kehilangan seorangpun akan tetapi mustika jatuh ketanganku. Bukankah hal ini bagus sekali?’ Lalu ia tertawa terbahak-bahak, dan katanya. “Bagaimana Mandaraka? Jika kau suka menetapi janji, kau menyerahkan barang taruhan kepadaku, Sucitro tentu tak akan mengingat lagi urusan yang sudah-sudah, akan membuat kakakmu yang kedua ini hidup kembali. Kalau tidak mau maka kau akan melihat sendiri kepandaian Sucitro. Bukankah kau

sudah pernah mendengarnya?”

Jago tua ini lalu memukul dengan tangan kirinya, bersama dengan itu terdengarlah suara anginnya, dan yang lebih hebat terdengar derak dan robohlah pohon yang berada dihadapannya, hingga dengan demikian debu mengepul tinggi-tinggi.  

Jago-jago Jipang Panolan ini menjadi terkejut sekali, dengan serentak

mereka menghunus senjatanya masing-masing. Mereka terus siap siaga karena khawatir kalau diserang dengan secara tiba-tiba.

Melihat ini Sucitro tertawa terbahak-bahak. Dan karena sombongnya ia lalu melengakkan kepalanya. Sama sekali ia tak berpaling kearah jago-jago Jipang Panolan ini.

Tanpa merasa Mandaraka menjadi takut. Ia menjadi menyesal sekali mengapa ia diperbolehkan mendahului datang kemari, hingga ia harus menghadapi orang yang telengas dan telah lama menghilang dari dunia kependekaran.

Duduknya persoalan adalah Patih Udara telah janji dengan Pendeta Baudenda untuk membuat pertemuan dengan mereka itu didalam kuil tua itu, waktunya adalah tengah malam. Maksudnya adalah Pendeta Baudenda yang menyerahkan Tunggul Tirto Ayu, dan pendeta itu akan menerima sebuah pangkat atau paling tidak persenan. Tepat ketika Pendeta Baudenda dan muridnya tiba, ia dapatkan Sucitro serta muridnyapun berada disekitarnya situ. Agaknya Sucitro tengah memasang mata. Tentu saja ia khawatir sekali, belum lagi Tunggul Tirto Ayu itu diserahkan kepada Patih Udara, Tunggul Tirto Ayu itu telah akan dirampas kembali oleh Sucitro. Karena itu ia menjaga keselamatan dirinya sendiri. Demikianlah maka pendeta Baudenda ini menyuruh muridnya untuk mencari bala bantuan.

Julung Pujut dan Mandaraka adalah orang-orang yang gemar sekali akan jasa. Tanpa pikir panjang lagi, mereka menerima permintaan tolong dari pendeta Baudenda itu. Segera mereka datang bersama dua belas saudaranya. Mereka malahan telah bersepakat untuk membekuk Sucitro sekaligus. Begitulah maka telah diatur memendam kotak palsu, supaya Sucitro kena dijebak, dan jago tua itu kena panah beracun. Hanya sayangnya, tipu daya mereka itu gagal. Sebab yang menjadi korban adalah Kalong Ireng. Bahkan si korban itu saja telah dapat ditolong oleh gurunya. Hingga kesudahannya kedua belah pihak itu menjadi bentrok, hingga sekarang Mandaraka menghadapi kesulitan besar. Sia-sia mereka menantikan tibanya Patih Udara, yang merupakan sebuah rombongan lain, yang mempunyai tugas lain pula.

Dalam waktu yang demikian itu Mandaraka tak dapat mempergunakan waktu terlalu lama untuk mengambil keputusan ataupun berpikir secara masak-masak. Pad saat yang terakhir ia menjadi nekad. Maka dengan suara yang keras ia lalu menantang :

“Sucitro benrkan kau menghendaki Tunggul Tirto Ayu itu? Marilah kita bertempur sampai tiga ratus jurus dulu.”

Dia lalu memberi tanda kepada saudara-saudaranya, yang segera siap untuk mempernahkan diri. Jago-jago Jipang Panolan memang punya cara bertarung sendiri, yaitu barisan sakti Jipang Panolan. Hanya kali ini dapat  

dikatakan kalau belum habis tantangannya itu, belum semua saudara-

saudaranya bersiap sedia, sesosok tubuh telah melesat kearah mereka. Gesit bagaikan bayangan, dan disusul dengan teriakan beberapa orang. Hanya sebentar saja dan segera ki Sucitro telah melompat keluar dari dalam barisan. Bayangan tadi memang bayangan ki Sucitro sendiri. Ia keluar dengan tertawa lebar dan tangannya memegang golok serta pedang.

“Hai Mandaraka, kematian sedang menghadapimu. Apakah kau benar- benar tak sadar.” Tanyanya.

Itulah sebuah pertanyaan, tetapi pertanyaan itu disusul aksinya jago tua itu, yang telah mengayunkan tangannya berulang-ulang, tangan yang memegang perbagai senjata itu. Dilain saat bagaikan hujan gerimis, golok tongkat dan pedang itu melayang turun kebawah.

Pendeta Panca Loka, Kolo Maruto dan lain-lain, dengan memperdengarkan suara mereka, pada melompat maju, untuk menanggapi turunnya senjata itu. Yah senjata mereka yang tadi kena dirampas oleh ki Sucitro diluar sepengetahuannya sendiri. Memang benar-benar hebat kepandaian jago tua ini.

Setelah itu semua orang berdiri melongo. Semuanya kagum bukan main kepada ki Sucitro.

“Dia benar-benar hebat sekali.” Seru Candra Wulan memuji dari balik persembunyiannya.

Mintaraga tersenyum. Ia tak menjawab perkataan gadis ini. Mintaraga telah memperhatikan dengan seksama sesuatu gerakan tangan, kaki dan tubuh kakek tua itu. Kemudian pemuda ini berkata didalam hatinya :

‘Sucitro tetah meyakinkan ilmu silat Cengkeraman Garuda benar-benar hebat sekali ilmu silatnya ini. Ketika dulu dipulau seberang laut kidul dan timur pulau Jawa, Mintaraga pernah melayani Kalong Ireng dan ternyata ilmu silatnya lain sekali dengan gerakan gurunya yang sebat dan hebat ini. Aku harus mempergunakan cara bagaimana untuk dapatnya memecahkan ilmu silat ini?’

Karena itulah Mintaraga menjadi berpikir dengan keras.

Sementara itu Mandaraka dilain pihak telah dibuat tawar hatinya. Ia telah melihat kehebatan serta kesaktian lawannya ini. Tiba-tiba saja ia berkata dengan keras sekali.

“Baiklah Sucitro, ini Tunggul Tirto Ayu kuserahkan kepadamu.”

Pengutaraan Mandaraka ini membuat semua orang yang mendengar menjadi terperanjat dan heran sekali. Sucitro sendiri juga tak habis herannya. Jago tua ini tak mengira kalau lawannya ini sedemikian jantannya.

“Bagus.” katanya sambil tertawa. “Ternyata kau dapat melihat gelagat dengan baik. Mana Tunggul Tirto Ayu itu?” Terus saja ki Sucitro menagih.

Mandaraka menunjukkan jari telunjuknya kearah Pendeta Baudenda. “Kau tanyalah dia.” Jawabnya.  

Tiba-tiba saja Sucitro menjadi marah sekali.

“Bagus..... kiranya kau main gila denganku.” Teriaknya dengan keras dan menyeramkan.

“Tidak, aku tak berani main gila denganmu.” Teriak Mandaraka dengan cepat. “Memang Tunggul Tirto Ayu itu berada ditangannya. Berada ditangan Pendeta Baudenda, malahan sampai saat ini dia adalah yang menjadi pemilik dari Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari tahta dan kejayaan kerajaan Demak Bintoro itu. Kalau kau minta Tunggul Tirto Ayu dari pendeta Baudenda itu maka kau akan minta dari siapa lagi?”

Sucitro terus menjerit karena marahnya. Iapun telah menyesal sekali karena ia telah mempergunakan sebuah tipu daya yang licik. Kesudahannya setelah membuka rahasianya sendiri, ia harus bentrok dengan Pendeta Baudenda.

‘Jika aku tahu kalau kesudahannya akan demikian, siapa sudi bentrok denganmu tikus-tikus Jipang Panolan?’ Pikirnya. Memang ki Sucitro benar- benar sangat mendongkol sekali.

Mandaraka telah terdesak. Bahkan terdesak dengan hebat dalam saat yang genting itu. Mendadak saja ia mendapat sebuah pikiran. Ia menjadi tergerak hatinya ketika melihat pendeta Baudenda hanya melihat saja dipinggiran. Yang lebih menyakitkan hatinya ialah ketika melihat pendeta itu hanya bersikap tawar, menyepelekan saja seperti tak apa-apa.

Karena itu ia lalu berkata didalam hatinya :

‘Asal pendeta Baudenda suka turun tangan untuk menahan Sucitro, mudahlah untuk mengalahkan ketiga orang muridnya itu. Asal saja kita dapat bertempur dengan bertahan sampai tengah malam nanti maka urusan besar ini akan dapat dibereskan kalau Patih Udara dan ki Bagaspati telah datang. ’

Demikianlah ia mempergunakan siasatnya.

Pendeta Baudenda tertawa dingin ketika menyaksikan perkataan orang ini dan melihat sikap serta lagak lagu Mandaraka. Namun karena ketinggian tenaga dalamnya maka pendeta ini masih dapat menyabarkan diri dan tak membuka mulutnya barang sedikitpun juga.

Kemudian terdengarlah perkataan Gemak Ijo kepada gurunya itu : “Bapa guru, baik juga kalau kita bertanya kepada pendeta itu untuk

meminta Tunggul Tirto Ayunya. Dialah orang yang telah menipu kita dan mengambil mustika kita itu bapa ”

Sucitro memperdengarkan suara.

“Hem.” Tak nyana, sepasang matanya terus berputar, terbuka lebar terhadap Pendeta Baudenda.

“Eh... Baudenda apakah perkataanmu tentang hal ini?” tegurnya. “Aku bersahabat dengan kakak seperguruanmu, karena itu tak selayaknyalah kalau kita mencakar muka hingga baret atau berdarah.”  

Ada sebabnya mengapa jago tua dari selatan yang beradat aneh itu

bersikap demikian lunak kepada pendeta Baudenda. Itulah sebab ia anggap tidak manis untuknya yang ia muncul dengan tiba-tiba dan merampas mustika itu dari tangan Agni Brasta. Iapun memang agak jeri terhadap Pendeta Argo Bayu. Yah terangnya kakak seperguruan dari pendeta Baudenda. Karena ia memandang kalau pendeta Baudenda inipun salah seorang tertua dari perguruan Lawu maka ia tak terlalu mendesak.

Pendeta Baudenda melayani dengan tertawa dingin.

“Sucitro kau dengarlah.” Jawabnya. Tunggul Tirto Ayu itu mula-mula kepunyaan dari Darmakusuma keponakan muridku, kau sendiri tak ada sangkut pautnya sama sekali, karena itu aku beri nasehat kepadamu baiklah kau pulang saja ke Selatan.”

“Hem...” Tiba-tiba saja Sucitro memperdengarkan suaranya yang tawar. “Denganku Tunggul Tirto Ayu itu tak ada sangkut pautnya. Apakah dengan kau ada sangkut pautnya??”

“Sudah tentu.” Jawab Pandeta Baudenda. “Tunggul Tirto Ayu itu kepunyaan muridku, atau tegasnya keponakan muridku. Bukankah itu sama saja dengan kepunyaanku sendiri?”

“Sekalipun seorang bocah tak akan mempercayaimu pendeta Baudenda.” Seru Sucitro. “Sekarang aku hendak menanyakan kepadamu dengan tegas bagaimanakah jawabanmu?”

Pendeta Baudenda memberikan jawaban yang keras lantang serta tegas : “Tunggul Tirto Ayu itu terang tak dapat diserahkan kepadamu. Tidak...

tidak dan tidak!”

Mendengar jawaban ini Sucitro menjadi sangat marah.

“Pendeta Baudenda.” Teriaknya. “Jangan kau paksa aku menurunkan tangan kejam terhadapmu.”

Sambil mengucapkan perkataan demikian maka ki Sucitro si tokoh aneh dari selatan itu terus maju setindak demi setindak.

Pendeta Baudenda menggerakan tangannya, segera saja pedangnya dihunus hingga mengeluarkan sinar yang berkilau-kilauan gerakannya itu ia lalu bersiap sedia.

“Sudah... sudahlah...” Sucitro berkata kewalahan. “biarlah kubunuh dulu kepadamu. Setelah membunuhmu, barulah aku mendaki gunung Lawu untuk minta maaf kepada kakakmu yang menjadi sahahatku itu.”

Menyusul   perkataannya   itu,   jago   tua   ini   melompat   menerjang.

Kepalanya segera melayang.

Pendeta Baudenda tahu lawannya itu adalah seorang yang sakti mandraguna. Karena itu ia tak berani berlaku sembrono. Ia menyambut serangan dengan serangan pula. Inilah sebuah jurus dari perguruan Lawu yang terkenal itu. Ujung pedangnya menyambar menusuk perut. Karena ia menyerang sambil menangkis.  

Sucitro menarik kembali serangannya itu.

Pendeta Baudenda tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik, hampir dengan bersama ia maju tangan kirinya dengan ujung baju yang longgar mengibas dalam gerakan menghalau ancaman, tangan kanannya dengan pedang yang panjang menyontek dari bawah keatas. Inilah sebuah jurus yang mematikan dari perguruan Lawu.

Bukan main hebatnya ancaman dua serangan yang datang dengan bersama itu. Akan tetapi ki Sucitro adalah seorang tokoh yang pernah membintangi dunia kependekaran, kepandaiannyapun istimewa

Juga. Maka ketika ancaman itu datang, ia segera meggerakkan kedua tangannya. Tangan kirinya maju membangkol tangan kanan penyerangnya, gerakan itu disusul dengan tangan kanan menyambar kepada tangan baju si pendeta itu.

Pendeta Baudenda menjadi terkejut. Tak dapat ia mewujutkan serangannya itu. Dengan memperdengarkan sebuah suara memberebet ujung jubah pendeta itu telah kena sambar dan sobek. Akan tetapi ia tidak diam saja, iapun membarengi menyerang dengan tangan kanannya.

Sejenak itu keduanya berpisah sejarak dua langkah lebih. Mereka sama- sama mundur dan masing-masing memang mengakui akan kehebatan lawannya. Sebenarnya ki Sucitro itu memang sedang mencoba kepandaian lawannya saja, dan setelah mengetahui kalau ia berhasil merobek ujung baju pendeta Baudenda maka didalam hatinya ki Sucitro berkata :

“Dia memang hebat dan mempunyai kesaktian yang tinggi, akan tetapi dia terang bukan tandinganku. Kalau dibandingkan dengan kepandaian kakak seperguruannya maka kepandaiannya masih jauh terlalu rendah sekali. ”

Pendeta Baudenda juga bukannya tak mengerti, karena itu ia segera menginsyafi akan kesaktian lawannya ini. Oleh karena itu ia tak mau berlaku sembrono, dengan menyiapkan pedangnya ia lalu menyiapkan diri untuk menyambut serangan-serangan terlebih lanjut. Tak sudi ia turun tangan dahulu.

Sucitro memandang pendeta itu dengan tertawa. Lalu sekonyong- konyong ia membentak, tubuhnya bergerak maju tangan kirinya dibuka, tangan kanannya menggunakan robekan tangan baju si pendeta.

Pendeta Baudenda berlaku tenang tetapi waspada, akan melayani musuhnya yang tangguh ini. Ia bergerak dengan gesit dan tepat. Maka ketika ia didesak, ia dapat menghalau setiap serangan. Dimana ada ketika, iapun balas menyerang.

‘Ah... dia hebat juga.’ Pikir Sucitro ketika ia sudah habis mendesak lima jurus akan tetapi lawannya masih tetap berdiri dengan tegak.

Semua orang yang hadir disitu matanya terus diarahkan kearah kedua orang jago tua yang sedang bertempur itu, bahkan perhatiannyapun  

ditumplekkan semua kesana. Kebanyakan sikapnya mengejek. Karena itu

Sucitro menjadi mendongkol sekali.

“Pendeta Baudenda.” Katanya dengan nyaring. “Jika kau sanggup melayaniku sampai tiga ratus jurus, aku akan menurut perkataanmu dan pulang ke Selatan dengan segera. Jika sebaliknya maka Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang kejayaan kerajaan Demak Bintoro ini harus kau serahkan kepadaku. Jangan kau main putar-putar lagi. Sanggupkah kau?”

Jago tua ini menantang dengan mempergunakan ilmu silat Cengkeraman Burung Garuda.

Dihadapan orang-orang banyak, tak dapatlah pendeta Baudenda tak menerima tantangan musuhnya ini. Ia memang mempunyai sebuah cita-cita luhur. Yaitu dengan sudi menghambakan diri kepada Jipang Panolan, ia hendak mempergunakan tenaga ilmu kepandaiannya untuk merobohkan jago-jago Jipang Panolan, supaya ia dapat merampas kedudukan Patih Udara. Demikian ia memberikan jawabannya tidak kurang nyaringnya :

“Baiklah mari kita bertempur sampai tiga ratusan jurus. Hendak kulihat apakah ilmu cengkeraman garudamu yang hebat ataukah ilmu pedangku yang dari perguruan Lawu yang lebih hebat.”

Tentu saja biarpun kelihatannya mulutnya besar, akan tetapi sebenarnya hati pendeta itu telah mengkeret ciut sekali. Ia telah berani malang-melintang didunia kependekaran, ia telah menjagoi. Akan tetapi masih mempunyai perasaan takut kepada tiga orang yaitu orang pertama Arya Panuju, orang kedua adalah Mintaraga yang juga menjadi murid cucu keponakannya, dan yang ketiga adalah Sucitro si tokoh aneh ini. sebenarnya ia masih mempunyai seorang lagi yang harus ditakuti, yaitu Pendeta Argo Bayu si kakak seperguruannya sendiri, akan tetapi ia telah yakin.... yakin benar- benar yakin, kalau pendeta Argo Bayu telah tak nanti mau melayaninya.

Sekarang setelah berhadapan dengan Sucitro maka pendeta Baudenda lalu mendahului menyerang. Dengan sebuah pukulan yang hebat, ia memukul kearah ulu hati Sucitro.

Belum lagi serangan itu tiba kepadanya, Sucitro telah mengibaskan tangannya untuk melemparkan sobekan tangan baju yang digenggamnya. Sobekan baju itu meluncur kearah Mandaraka. Benda itu adalah barang lemas, akan tetapi setelah berada ditangan jago tua itu, segera berubah menjadi sebuah barang keras.

Mandaraka sedang memandang kearah Julung Pujut ketika ia melihat berkelebatnya sesuatu barang hitam kearahnya, dengan cepat ia menangkis dengan cambuknya. Keras beradunya kedua benda itu, hingga menerbitkan suara. Dan yang hebat lagi adalah lengannya, yang tergetar dan mendatangkan rasa kesemutan, senjatanya sendiri hampir terlepas dari pegangan. Ia menjadi heran ketika ia melihat bahwa yang beradu dengan cambuknya itu hanya kain sobekan jubah pendeta Baudenda yang lemas saja.  

Sucitro sendiri dengan tangan kosong telah segera melayani pendeta

Baudenda. Dengan sebuah tangkisan ia dapat membebaskan diri dari ancaman serangan pendeta Baudenda tadi. Lalu dengan tidak kalah gesitnya, ia membalas menyerang lawannya. Karena itu kedua orang ini segera menjadi bergerak. Karena kedua-duanya sama-sama jago maka pertempuran berjalan dengan seru.

Biarpun bagaimanapun juga. Sucitro adalah lebih tinggi kepandaiannya dari pada pendeta Baudenda. Sekali mendadak ia harus melompat mundur sejauh tiga langkah. Sambil mundur tangan kirinya dipakai untuk menarik.

Diluar kehendaknya, pendeta Baudenda merasakan kalau tubuhnya tertarik dengan keras, hingga dengan demikian maka ia menjadi terjerunuk kedepan. Pendeta Baudenda memang mengerti akan sebab-sebabnya itu, maka untuk menolong diri, ia mempergunakan ketika yang baik. Mendadak saja pendeta murtad dari perguruan Lawu ini menikam kearah pinggang sebelah kiri lawannya.

Sucitro berlaku sangat cepat, belum lagi serangan tiba tangan kanannya sudah terulur, tangan itu menyambar lengan kanan dari si pendeta.

Pendeta Baudenda kaget sekali, itulah serangan yang tak pernah disangka-sangka. Bukankah ia sedang menyerang? Dengan kelabakan ia mencoba mengelakkan diri.

Kedua pihak bergebrak dengan cepat sekali, akan tetapi Sucitro tak mau mengalah. Kembali tangan kanannya terulur, untuk menjambak kedada dimana terdapat jalan darah pusat dada. Inilah cengkeraman yang hebat.

Coba Sucitro menghadapi lawan biasa, tentu ia telah berhasil dengan tangannya yang hebat itu. Apa mau dikata, sekarang ia menghadapi Pendeta Baudenda, biarpun pendeta ini kalah seurat akan tetapi pendeta dari perguruan Lawu ini benar-benar telah mengetahui siapa adanya musuhnya itu. Karena itu ia senantiasa berlaku waspada. Ia telah sangat terdesak, dalam cemasnya ia lalu menggeserkan tubuhnya, akan melompat mundur, maka berhasil ia menghindarkan mara bahaya.

“Bagus.” Seru Sucitro, mendongkol dengan kagum. “Tak kecewalah kau melatih diri sampai puluhan tahun.”

Sambil mengucapkan demikian, jago tua itu merangsek pula, akan mengulangi serangannya. Tidak mau ia mengerti ketika hingga lawannya dapat beristirahat.

Pendeta Baudenda menginsyafi kalau dalam gerakan pertama tadi terang sekali bahwa kepandaiannya masih seurat dan segera berada dibawah angin. Tentu saja ia tak mengerti dan memikirkan hal itu lagi. Dengan sebuah seruan yang nyaring ia segera memainkan ilmu pedang perguruan Lawu yang sangat terkenal didunia kependekaran. Tangan kanannya yang memegang pedang segera dibantu dengan tangan kirinya. Ia mencoba membalas dan mendesak.  

Kedua orang lawan ini bergerak sangat cepat sekali, tubuh mereka

hilang lenyap dan sebagai gantinya hanya kelihatan dua buah bayangan yang berkelebatan, Semua penonton menjadi kagum, ada diantara penontonnya yang seperti kabur.

Juga dua orang muda-mudi yang bersembunyi itu menonton jalannya pertarungan dengan asyik sekali. Mintaraga telah memusatkan perhatiannya kepada ilmu silat ki Sucitro. Hanya Candra Wulan, disebelah menonton, diam-diam juga memperhatikan keasyikan Mintaraga itu. Sedikitpun juga ia tak mengganggu anak muda ini.

Telah lebih dari seratus jurus orang-orang tua dan sakti itu bertempur. Akan tetapi tetap saja pendeta Baudenda berada dibawah. Namun tetap saja ki Sucitro yang beradat aneh itupun belum berhasil merobohkan lawannya. Karena itu sia-sia saja ki Sucitro mendesaknya. Memang pendeta Baudenda telah mempunyai latihan-latihan lebih dari lima puluhan tahun, karena itu ia tak dapat dipandang enteng dengan demikian saja.

Pendeta Baudenda telah mempergunakan seluruh kepandaiannya, pedangnya telah seperti menjadi satu dengan anggota tubuhnya. Dapat menangkis dengan pedang atau lengan baju serta tangan dan bergantian. Dengan ketiga buah indra ini pula ia dapat menyerang kalau melihat kelowongan pertahanan musuhnya.

Yang paling hebat adalah penjagaan serta pertahanan dirinya yang kelihatan rapat sekali itu. Hingga dapatlah diumpamakan sebagai angin dan hujan tak dapat menembus pertahanannya.

Sucitro telah mencoba berbagai pancingan, akan tetapi tetap saja pendeta Baudenda tak mau makan begitu saja pada umpan yang dipasangnya itu.

Kelihatan nyata sekali pendeta Baudenda hendak dapat menahan tiga ratus jurus serangan lawannya itu, karena bertahan sebanyak tiga ratus jurus ia akan memperoleh kemenangan atas diri si tokoh aneh dari selatan itu.

Sekian lama Mintaraga menonton pertarungan-pertarungan itu, akhirnya ia menghela napas dan berkata seorang diri :

“Sucitro itu ternyata hanya mempunyai nama yang kosong melompong saja. Kepandaiannya tak berarti sama sekali. Kalau saja paman eyang guru mau mempergunakan ilmu tenaga dalam dari perguruan kita maka ia akan memperoleh kemenangan...”

Candra Wulan tertawa.

“Pantas eyang pendeta Argo Bayu demikian bersungguh-sungguh memberimu pelajaran ilmu pukulan Braholo Meta, kiranya itu diperuntukkan melawan cengkeraman garuda dari ki Sucitro itu.” katanya.

Sebenarnya Candra Wulan masih akan berbicara terus, namun sayang sekali gadis yang tabah dan jenaka ini telah kehabisan pembicaraan. Karena itulah ia lalu berdiam diri.  

Mintaragapun terdiam, namun ia terus memutar pikirannya. Tiba-tiba

saja ia berjingkrak.

“Setuju.” Serunya. “Memang pukulan Braholo Meta itu diperuntukkan mengalahkan ilmu cengkeraman garuda dari ki Sucitro. Ah... adik Candra Wulan, kau benar-benar mempunyai pandangan mata yang tajam sekali. Aku menyerah kalah. !”

Candra Wulan terperanjat akan tetapi iapun menjadi girang sekali.

Didalam hati kecilnya ia berkata :

‘Aku juga mengerti dengan sedikit-sedikit ilmu pukulan Braholo Meta, maka kalau kita nanti berhadapan dengan Sucitro, biar kakang melayani dia sendiri, aku akan melawan murid-muridnya untuk sekaligus menjatuhkan mereka. Supaya dengan menjatuhkan mereka itu Kembang Arum dapat menilai kepandaianku ini. ’

Gadis ini demikian girangnya hingga ia melupakan apa-apa dan segalanya. Kalau Mintaraga berseru dengan perlahan ia justru melompat bangun, sambil berbuat demikian, ia lalu berseru :

“Pendera Baudenda mengapa kau berlaku totol sekali seperti anak kecil?

Mengapa kau tak memakai ilmu pukulan Braholo Meta.”

Semua orang mendengar seruan ini hingga mereka menjadi kaget dan heran sekali.

“Eh... adi Candra Wulan kau mengapakah? Apakah kau ingin ribut- ribut? Tegur Mintaraga.

Justru karena itu maka pertarungan berhenti dengan secara tiba-tiba. Kedua orang kakek itu baik Pendeta Baudenda dan Sucitro sama-sama melompat mundur.

“Siapakah yang berada disana?” Teriak Pendeta Baudenda dengan bertanya.

Sucitro sebaliknya menduga kalau pihak lawannya ini menyembunyikan kawan. Bukankah orang yang berada disana itu telah menyadarkan si pendeta Baudenda? Maka ia pikir :

‘Siapa yang turun targan terlebih dahulu dialah yang akan memperoleh kemenangan. siapa yang akan turun tangan belakangan yang akan celaka.’

Begitu dimana Pendeta Baudenda menjadi bengong memandang kearah sumber suara, sekonyong-konyong ia kena serang.

Ia mempergunakan dua jari, jari telunjuk dan jari tengah dari tangan kanannya. Dengan sasaran dua buah jalan darah yang berada didada pendeta itu.

Sebenarnya pendeta Baudenda baru saja berpaling kearah Candra Wulan. Memang gadis itu menegur dengan memalingkan kepalanya. Tapi masih saja ia melihat bayangan menyambar.

“Celaka.” Serunya dengan kaget, dan segera ia membuang kebelakang untuk mengelak.  

Hebat sekali Sucitro itu gerakannyapun sangat gesit sekali. Serangan

tangan kanannya itu hanya merupakan sebuah gertakan saja, sewaktu lawannya menggeserkan tubuh, ia membarengi dengan tangan kirinya yang jari-jarinya telah terbuka....

“Roboh.” Seru jago tua ini. Serangan ini tepat arahnya, kearah pendeta Baudenda yang menjatuhkan diri.

Dengan sebuah suara yang keras, pendeta Baudenda kena diserang. Segera saja ia merasakan kalau tubuhnya menjadi lemas. Kedua orang yang berada dipaling depan, yaitu Mandaraka dan Jogosatru menjadi kaget bukan main, hingga tanpa sesadarnya mereka lalu menjerit. Justru mereka menjerit maka pendeta itu menjadi roboh.

Demikian hebatnya cengkeraman garuda ini yang terus dapat dipakai dalam sembarang saat.

Sewaktu orang-orang menjadi kaget karena mengetahui kalau ada orang yang bersembunyi digerombolan yang lebat itu dan karena robohnya pendeta Baudenda, Jogosatru lari kearah gurunya. Iapun lalu menjerit. Disebelahnya Kalong Ireng bersama Gemak Ijo dan Gagak Seto, Mandaraka dan Pendeta Panca Loka memburu ketempat semak belukar yang gelap itu.

“Penjahat darimanakah yang bersembunyi disitu itu? Lekas keluar untuk menemui kami.” Seru Kalong Ireng dengan mengguntur.

Pendeta   Panca   Lokapun   segera   membuka   mulutnya   yang   kotor.

Kemudian katanya :

“Orang celaka, apakah kau masih tak mau keluar untuk memperlihatkan dirimu? Awaslah tuanmu akan melepasi senjata rahasia kearah semak belukar kalau kau tak mau segera keluar.”

Percuma saja mereka berkaok-kaok, karena didalam gerombolan tetumbuhan yang liar itu tak terdengar apa-apa.

Panca Loka orang ketiga dari Jipang Panolan, menggulung lengan bajunya hendak melompat kearah gerombolan tetumbuhan yang liar itu, akan tetapi Pendeta Panca Loka menarik lengannya. Kembali pendeta itu membentak :

“Kawanan ular didalam rumput, lihatlah senjata rahasia tuanmu ini.”

Kali ini benar saja Panca Loka menipuk dengan biji-biji besi yang tergenggam ditangannya. Ia lalu tertawa terkekeh-kekeh, lalu katanya pula :

“Tuanmu ini akan melihat kau akan menggelinding keluar atau tidak!

Huahaaa... Huahaaa... Huahaaa ”

Pendeta Panca Loka ini memang sangat membanggakan sekali kepada senjata rahasianya ini. Ia percaya dengan serangannya tadi yang dinamakan menyebar hujan dari seluruh langit, meskipun ada seratus orang penjahat yang bersembunyi disitu, semuanya akan lari keluar. Akan tetapi kali ini setelah ia melemparkan senjata rahasianya ia menjadi kecele.  

Tetap sunyi gerombolan tetumbuhan itu. Biji-biji besinya itu seperti

dibuang kesana saja.

“Apa? Kalian diam saja??” Bentak Pendeta itu dengan beringas sekali. “Lihat nih sekali lagi.”

Kali ini ia melemparkan senjata-senjata rahasianya ini dengan saling susul-menyusul dengan kedua tangannya, ia tak hanya mempergunakan biji- biji besi itu malahan mempergunakan golok terbang pula.

Setelah itu dari dalam gerombolan terdengar suara orang ketawa.

“Buat apakah itu perlunya segala macam besi karatan?” Demikianlah suara yang menjusul suara tawa tadi. Itulah ejekan yang memandang rendah. “Nah, nih kukembalikan, eeh Panca Loka kau berhati-hatilah.”

Kata-kata ini disusul dengan menyambarnya seleretan senjata rahasia, yang menjadi sasaran bukan hanya pendeta Panca Loka itu saja. Melainkan juga Kalong Ireng, Gemak Ijo, dan Mandaraka. Sedangkan pendeta Panca Loka itu diserang dengan sebuah golok terbang.

“Huahaaaa... Huahaaaa... Huahaaaa...” Pendeta itu tertawa sambil mengulurkan tangannya yang kanan, ia akan menyambut golok terbang itu. Segera saja pendeta Panca Loka ini memegang gagang golok terbang itu. Apa mau dikata, menyusul itu menyambar sebuah biji besi yang terus datang dengan tanpa mengeluarkan suara. Maka tepatlah senjata itu mengenai dadanya. Karena kagetnya ia lalu melompat dan berteriak karena kesakitan.

Kalong Ireng bertiga juga menyambut serangan-serangan yang ditujukan kepada mereka, juga menyambut seperti apa yang dilakukan oleh pendeta Panca Loka. Merekapun kena diserang senjata susulan hingga mereka menjadi kelabakan. Untunglah bagi mereka, mereka ini tak terserang pada anggota tubuhnya yang berbahaya. Mereka hanya merasakan sakit saja, jiwa merekapun tak terancam.

Setelah tak ada lagi serangan senjata, datang gantinya, ialah sebuah suara tawa yang terbahak-bahak. Lalu tampaklah kalau Mintaraga muncul bersama dengan Candra Wulan. Si anak muda ini terus berkata dengan gembira :

“Kukira siapa, kiranya jago-jago Jipang Panolan. Huahaaa.... kau juga berada disini!” Dan Kalong Ireng itu lalu dituding oleh Mintaraga.

Semua orang menjadi kaget setelah mengenali orang itu, dan justru orang inilah yang mereka takuti. Hingga dengan demikian kelihatan kalau muka mereka menjadi pucat. Diantara mereka itu tak ada seorangpun yang bukan petunjang dari Mintaraga. Melihat kalau yang datang ini adalah Mintaraga, pendeta Panca Loka lalu ngeri dan menjerit setelah itu lari kabur...!

Watu Gunung dan yang lain-lain terpaksa mencambut senjatanya, kalau terpaksa mereka hendak melakukan perlawanan, sungguh tak kapok mereka yang pernah dikalahkan ditempat sarang dari perampok Bondopati itu.  

Kalong   Ireng   memperlihatkan   keberaniannya   yang   besar.   Disitu

terdapat gurunya yang dapat diandalkan nantinya. Berkatalah dia dengan nada dingin :

“Mari sini, mari! Kebetulan sekali kau datang, guruku memang tengah menantikan kedatanganmu.”

Mintaraga tak melayani hanya terus menarik tangan Candra Wulan, ia terus pergi ketengah kalangan. Setelah itu ia lalu menganggukkan kepalanya dan sedikit membongkokan tubuhnya untuk menghormat kepada Sucitro si tokoh aneh itu.

“Paman yang gagah ilmu silatmu sungguh sempurna sekali.” Pujinya sambil tertawa....