-->

Tunggul Bintoro Jilid 09

 
JILID IX

“BENAR BEGITU.” membenarkan si pendeta wanita. Karena kejadian itu, bersama ayahmu aku menyusul dan mengepung pendeta Baudenda. Karena itu ayah Kembang Arum menjadi timbul cemburunya lalu dia mengatakan dengan sombongnya kalau hendak membunuh ayahmu itu. Tetapi dia jeri untuk kegagahan ayahmu, dia lalu tidak berani segera turun tangan, dia bermain ayal-ayalan. Ah, membicarakan itu, itulah urusan yang merupakan suatu kekeliruanku yang terbesar selama hidupku. Kamu tahu, apa yang telah aku katakan kepada suamiku itu? Aku berkata : “Jikalau kamu tidak membunuh dia, kau adalah seorang manusia yang berjiwa seperti kura-kura!” Justru karena kata-kataku itu, maka hilanglah jiwa suamiku. Aku tidak akan mendustaimu memang pada waktu itu aku menghendaki kebinasaannya.

Mintaraga dan Candra Wulan kaget bukan kepalang, sampai mereka mengeluarkan suatu jeritan yang tertahan, sampai mereka tidak percaya akan pendengaran mereka sendiri. Keduanya melongo sambil memandangi wanita suci itu.

Woro Keshipun memandang mereka, akan tetapi ia tetap tenang-tenang  

saja.

“Andaikata kamu hendak mempersalahkan aku, nah kamu boleh

menegurnya.” katanya. “Aku bakal tidak lama lagi hidup didunia ini.........

Hanya Darmakusuma mengapa ia berbuat demikian ini? Mengapa dia meninggalkan kedua kupingnya ini kepadaku?”

Kata-kata ini membuat bertambah herannya kedua anak muda itu.

Mereka berdiam, agaknya mereka menghendaki suatu keterangan.

Woro Keshi berdiam sebentar.

“Tahukah kamu apa artinya perbuatan Darmakusuma ini?” Katanya pula kemudian. “Dia mengharapkan kematianku karena dendam. Hm, kematian cara apakah itu? Dia telah membuat persiapan, dia mengirim kedua kupingnya ini. Karena ini aku dapat bunuh diri! Sebenarnya, perbuatannya ini merupakan suatu hal yang berlebih-lebihan, sebetulnya tanpa memberikan kedua benda inipun, aku juga sudah siap untuk mati! Oh, Darmakusuma, Darmakusuma, kau tega benar ” Kedua anak itu kembali menjadi terkejut, malahan Candra Wulan kaget

berbareng dengan menyesal sekali. Dia menerima surat dari Darmakusuma, dia menganggap surat itu merupakan jimat yang akan monolong jiwanya, siapa yang tahu, justru surat itu merupakan surat jimat yang meminta jiwa dari pendeta wanita itu. Ia menjadi sangat bingung sekali.

Mintaragapun juga menjadi cemas hatinya. Berbeda dengan Candra Wulan, ia mengerti dengan baik maksud dari kedua potong kuping itu. Dari kedua kuping itu, yang satu adalah Darmakusuma yang memapasnya untuk diberikan kepada Pandu Pregolo, dan yang satu lagi Pandu Pregolo yang memapasnya untuk diberikan kepada Darmakusuma sendiri, dan kedua kuping itu dikumpulkan untuk dikirim kepada Woro Keshi................

‘Tetapi dia............’ Woro Keshi berkata lebih jauh, seorang diri, – dengan dia, yang dia maksudkan Darmakusuma – “dia adalah orang yang sangat aku cintai......... Aku senang dengan kegagahannya, aku senang dengan ketelengasannya............ Akupun senang dengan caranya untuk memilih kematiannya itu, ialah dengan sengaja dia membiarkan dirinya binasa ditangan pendeta Baudenda! Bukankah ini berarti aku diberi pesan untuk mencari pendeta Baudenda, supaya kita bertempur untuk mati bersama? Baik, Darmakusuma, aku akan mentaati pesanmu!” Tiba-tiba ia memutar tubuhnya. Tadinya ia berpaling kearah lain kini ia menghadap kearah kedua anak itu.

Ia berseru : “Mintaraga, kau dengar ini. Kau harus meninggalkan pendeta Baudenda dan untuk aku, aku melarang kau untuk membentur dia! Mengertikah kamu?”

Mintaraga menggigil seorang diri. Bercekat ia setelah mendengar suara yang bengis itu dari pendeta wanita ini, ia telah menyaksikan sendiri romannya yang bengis sesaat itu. Ia lalu mengangguk.

Candra Wulan itupun bergidik, akan tetapi sekarang ia menginsyafi duduk perkaranya. Inilah sebabnya mengapa Darmakusuma rela mengorbankan dirinya ditangannya pendeta Baudenda. Katanya dalam hati kecilnya. ‘Dua keluarga saling bunuh-membunuh dikarenakan seorang pendeta wanita ini karenanya, kalau sekarang ini ia menerima kebinasaannya inilah wajar ’

“Kamu berdua, tak usah gelisah.” kemudian berkata pula pendeta wanita itu : “Dia adalah orang yang terbaik dan nomor satu dikolong langit ini! Dialah yang telah menunjukkan jalan kematianku! Membinasakan orang yang jahat, bukankah itu merupakan suatu hal yang gagah dalam perbuatan orang-orang kaum persilatan?”

Sehabis berkata demikian pendeta wanita itu tertawa lebar. Tetapi belum sampai dia berhenti tertawa mendadak dari arah lain terdengar pula orang tertawa yang disertai pula kata-kata : “Bagus-bagus! kalau kau dapat berpikir  

demikian rupa! Kalau nanti muridku yang dialam baka ini mengetahui, dan

pasti akan menutup matanya dengan tenang!”

Candra Wulan terkejut. Orang itu muncul dengan tiba-tiba sekali. Tetapi setelah ia menoleh, legalah hatinya. Orang itu adalah pendeta Argo Bayu. Maka berama-sama dengan Mintaraga ia menghampirinya sambil memberi hormat. Si pendeta wanita itu juga memberikan hormatnya kepada pendeta itu.  

“Cukup sudah sekarang aku hendak pergi!” katanya kemudian. Ia menyerahkan surat yang ia terima dari Candra Wulan kepada Mintaraga sambil berkata : “Inikah surat dari ayahmu. Walaupun ini disampaikan kepadaku, tetapi sebenarnya untuk kamu. Dikolong langit ini hanyalah dia orang yang teliti memikirkannya. Kau simpanlah surat ini!”

Mintaraga heran sehingga ia agak melengak.

“Benar! Tetapi ia hanya menyerahkan dua kuping!” Sahut Woro Keshi sambil tertawa. “Sebenarnya ada dua lembar suratnya dalam sampul ini. Selembar yang putih adalah pesan kekeluargaan pada waktu jaman dahulu. Selembar lagi yang kuning, tidak ada tulisannya sehurufpun juga, itu ada hubungannya dengan Tunggul Tirto Ayu. Dan merupakan suatu rahasia yang saling berhubungan. Ayahmu sengaja meninggalkan teka-teki itu, agar kau dapat memahaminya. Hahaha! berkatalah, apakah dia bukannya seorang yang sangat teliti cara berpikirnya?”

Habis berkata demikian, tanpa menanti jawaban ataupun perkataan lainnya dari si anak muda, bakal mertuanya segera menganggukkan kepalanya tanda menghormat kepada pendeta Argo Bayu, setelah itu ia memutar tubuhnya untuk meninggalkan. Mintaraga berdiri sambil melongo.

Baru berjalan dua tindak, tiba-tiba Woro Keshi berpaling.

“Mintaraga kau tak ada cacatnya.!” katanya sambil tertawa. “Aku serahkan Kembang Arum kepadamu!” Ia terus menarik tangannya Candra Wulan, yang berada didekatnya, untuk dibawa kepinggiran. Ia berkata dengan perlahan-lahan : “Wirapati tentunya telah kembali ke padepokannya secara diam-diam. Dia bertabiat keras sekali, pastilah dia telah pergi seorang diri.”

Tidak ada bayangan dari Wirapati didepan mata Candra Wulan, tetapi didepan pendeta wanita ini, ia tidak leluasa menyatakan sesuatu, oleh sebab itu ia hanya berdiam diri saja, hanya dengan menganggukkan kepalanya dia merupakan jawabannya.

Pendeta wanita itu mengawasi gadis itu.

“Kau jangan takut.” Katanya sambil tertawa. “Jika dia itu jahat maka kau boleh mengajarnya. Bukankah pendeta tua itu akan segera mengajarkan ilmunya yang disebut Braholo Meta? Karena itu kalau kau telah menguasai ilmu itu maka kau akan lebih hebat dari padanya. Nah kau baik-baiklah membawa diri.” Kali ini bikshuni ini yang lari turun gunung, dan sebentar saja

bayangannya telah lenyap dari pandangan mata.

Sudahlah menjadi sebuah kebiasaan dari orang-orang gagah yang menyeburkan diri didunia persilatan, apa yang telah dikatakan terus segera dilakukan. Demikian juga dengan pendeta wanita ini. Sifat gagahnya telah diketahui oleh Mintaraga dan juga Candra Wulan. Karena itulah maka hati mereka kurang tentram. Mereka telah menduga kalau dengan kepergian Woro Keshi ini maka dipastikan kalau pendeta wanita ini tentunya akan mencari pendeta Baudenda untuk mengadu nyawa......

Sementara itu waktu berjalan dengan cepat sekali. Tanpa terasa sang fajar menyingsing.

“Bagus.” Seru pendeta Argo Bayu memecah kesunyian. Setelah Mintaraga dan Candra Wulan berdiam diri saja ketika menyaksikan tingkah laku pendeta wanita itu.

“Mari kita menetapkan janji kita yang lima hari itu, sekarang adalah hari yang pertama.”

Mintaraga baru sadar, segera ia menarik tangan Candra Wulan dan berlutut dihadapan pendeta Argo Bayu.

“Mintaraga, Candra Wulan!” Seru Pendeta Argo Bayu kemudian setelah kedua orang muda itu memberi hormat kepadanya. “Tahukah kau mengapa aku akan menurunkan ilmu yang paling kuandalkan ini kepada kalian?”

Kali ini berbeda dengan biasanya. Candra Wulan segera mendahului untuk menjawab.

“Bukankah eyang menghendaki supaya kita terjun kedalam dunia kependekaran dan mulai membrantas kejahatan dan menegakkan keadilan?” Jawabnya dengan balas bertanya.

Pendeta Argo Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Bukankah itu untuk membuktikan kepada umum bahwa silat dari persuguan kita ini benar-benar terkenal dan hebat tak ada bandingnya.” Kembali Candra Wulan menjawab dengan bangga.

“Mintaraga, coba kau terka apa maksudku ini.” Seru pendeta tua itu kepada muridnya.

Mintaraga berpikir sebelum menjawab.

“Eyang hendak memerintahkan kepada kami untuk merampas kembali Tunggul Tirto Ayu dan kemudian memberikan kepada keturunan sah dari kerajaan Demak Bintoro, yaitu Ngawonggo Pati.” Jawabnya.

Kembali kepala pendeta Argo Bayu kelihatan menggeleng-geleng. “Eyang tolonglah kami, sukakah eyang guru menerangkan kepada kami

apa maksud eyang guru itu.” Seru Mintaraga yang tak berani menduga-duga lebih jauh lagi.

“Umurku telah lanjut.” Seru pendeta itu kemudian. “Karena itulah hatiku telah tawar untuk memajukan ilmu silat perguruan kita supaya  

menjadi   terkenal dan   tak   terkalahkan   oleh   perguruan-perguruan   lain.

Apakah kita hanya akan menekuni ilmu silat untuk mendapatkan ketenaran nama? Itu semua merupakan sebuah hal yang kosong melompong saja. Memang membasmi orang-orang jahat itu adalah sebuah tugas yang penting sekali bagi kita orang-orang dunia kependekaran, akan tetapi sekarang pandanganku telah berubah dan lain. Disana ada tersangkut antara permusuhan dan budi. Bagiku itu telah tak ada rasanya lagi. Lihat saja orang- orang tua kalian. Bukankah mereka itu telah dijungkir balikkan oleh permusuhan dan budi, hingga dengan demikian mereka roboh dan terbanting dengan hebat. Tentang Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kerajaan Demak Bintoro itu kalian merdeka untuk bertindak, hanya kalau kalian nanti berhasil merampasnya kembali, kepada siapakah kau hendak menyerahkan? Siapakah orang gagah sejati dijaman ini? Sekarang Ngawonggo Pati memang seorang yang tanpa cacat, akan tetapi kelak? Siapakah yang berani menanggung kalau ia kelak akan tetap berbuat kebaikan terus dan tak akan merubah sikapnya?”

Mintaraga dan Candra Wulan tetap berdiam diri. Terasalah kalau punggung sampai pantat mereka telah mengeluarkan keringat dingin.

“Eyang harap eyang sudi memberikan petunjuk kepada kita.” Seru mereka memohon.

Pendeta Argo Bayu tertawa.

“Disini tak ada petunjuk apa-apa!” Katanya. “Soalnya hanya sederhana sekali. Kalian adalah orang-orang Jawa, karena itu sama-sama orang Jawa marilah kita membangun negara kita. Mintaraga dan kau Candra Wulan, aku hendak memberimu pelajaran ilmu Braholo Meta ini karena ada sebabnya, ialah kalian harus dapat mengusir angkara murka dari Jipang Panolan. Kau harus tetap membela Demak Bintoro dari serbuan Adipati Ario Penangsang.

Mendengar ini barulah kedua anak muda itu menjadi sadar.

“Kami menerima pelajaran ini.” Seru mereka dengan serempak. Kembali mereka memberi hormat sambil berlutut, untuk menghaturkan terima kasih mereka. Setelah itu mereka bangkit dan berdiri tegak dikanan dan kiri eyang guru mereka itu.

“Mintaraga, apakah artinya Braholo Meta? Tahukah kau artinya perkataan BRAHOLO META itu? Tiba-tiba saja terdengar perkataan eyang gurunya ini.

“BRAHOLO META artinya Raksasa mengamuk.” Jawab Mintaraga dengan cepat.

“Betul angger.” Seru pendeta Argo Bayu sambil mengangguk- anggukkan kepalanya. “Braholo Meta itu tepat seperti apa yang kau sebutkan. Dan kaupun mengetahui kalau raksasa mengamuk tentunya tak memakai senjata, ia akan mengamuk hanya memakai tangan saja. Ilmu silat inipun hanya akan menggunakan tangan saja, bahkan yang terpenting  

adalah jari tengah.” Seru pendeta itu sambil menunjukkan jari tengahnya.

“Jangan sekali-kali kalian memandang enteng kepada jari tengah ini. Jika kalian telah dapat meyakinkan ilmu ini maka jari tengah ini akan lebih berguna dari pada segala macam senjata.”

Kedua orang cucu muridnya itu, yang kini juga telah diangkat menjadi muridnya diam mendengarkan, mereka memusatkan perhatian mereka kepada ajaran ini.

“Lagi pula tangan ini paling mudah dibawa-bawa.” Seru pendeta Argo Bayu menambahkan. “Dikolong langit ini, sekalipun manusia paling pelupa, tak akan lupa membawa tangannya, bukan?”

Mendengar perkataan ini mau tak mau Candra Wulan tak dapat menahan suara tawanya. Didalam hati kecilnya gadis ini berkata :

‘Tak kusangka kalau pendeta tua yang tampaknya alim dan agung itu, ternyata sangat jenaka sekali.’

Pendeta Argo Bayu memandang kearah gadis ini.

“Ah... nini Candra Wulan tentunya kau tak mempercayai perkataanku sampai sepenuhnya bukan?” Katanya. “Hunuslah pedangmu aku hendak melihat seberapa kuatnya tenaga dalammu itu.”

Candra Wulan menurut. Akan tetapi semenjak meyakinkan ilmu pukulan Gundala Kurda, dia tak pernah membawa-bawa senjata lagi. Karena itulah ia lalu meminjam pedang Mintaraga. Segera saja ia telah siap dengan senjatanya.

“Kau gunakanlah jurus ketiga dari ilmu pedang yang kau pelajari dari Darmakusuma.” Seru pendeta Argo Bayu memerintahkan.

“Ya.” Jawab dara itu sambil terus menyerang. Pedang itu seperti separuh melengkung dan terus menusuk keulu hati.

“Perlahan sedikit, apakah ini medan perang?” Seru kakek pendeta itu dengan tersenyum, ternyata perkataan kakek ini disusul dengan gerakan tangan kanannya.

Candra Wulan bergerak dengan sangat cepat akan tetapi ternyata pendeta tua itu bergerak dengan lebih cepat lagi. Ketika ujung pedang itu tiba, ujung itu kena ditolak oleh pendeta Argo Bayu, hingga dengan demikian berubahlah arahnya. Melihat ini segera Candra  Wulan menarik pedangnya. Akan tetapi telah terlambat.

“Kau lihat.” Seru eyang gurunya ini sambil menyelentikkan jari tangannya yang tengah, hingga pedang itu mengeluarkan suara yang nyaring dan disusul dengan suara yang berdetak, hingga dengan demikian gadis ini menjadi kaget sekali. Sebab pedang itu telah patah menjadi dua dan kutungannya jatuh diatas tanah.

Mintaraga berseru memuji, ia dahulu hanya pernah mendengar akan kehebatan ilmu Braholo Meta itu, akan tetapi kini ia telah dapat menyaksikan  

dengan mata kepalanya sendiri akan kehebatan ilmu yang diciptakan oleh

kakek gurunya ini.

Kembali Pendeta Argo Bayu tersenyum.

“Telah lama aku tak pernah mencoba jari tanganku ini. Entahlah aku sendiri tak tahu, apakah permainanku ini bertambah maju atau mundur.” Katanya. “Mintaraga, coba sekarang kau cobalah.”

Mintaraga segera menurut, dan menyambut pedang butung dari Candra Wulan.

“Eyang, aku harus memakai jurus jang keberapakah?” Tanyanya kepada eyang gurunya.

“Sesukamulah.” Jawab orang yang ditanya itu.

“Baiklah.” Jawab Mintaraga yang segera menyerang. Pertamanya ia menusukkan lurus, tak tahunya terus menggores kesamping. Inilah jurus kedelapan dari perguruan Lawu. Ternyata pemuda ini tak mengerahkan tenaganya dengan sepenuhnya, karena ia khawatir kalau tenaga dalam kakek yang telah tua itu telah menurun.

Pendeta Argo Bayu tertawa dan ketika ia menggerakkan tangan kirinya untuk menolak dan membentur samping pedang. Kemudian pedang itu kena disamplok dan bersama dengan itu tangan Mintaraga merasa tergetar. Hingga hampir saja pedang buntung itu terlepas dari tangannya, tak peduli ia memegangnya dengan keras.

“Bagaimana?” Tanya pendeta Argo Bayu itu. “Bukankah eyang gurumu masih mempunyai tenaga dalam yang lumayan?”

Mendengar   perkataan ini   maka   wajah Mintaraga menjadi   merah.

Semerah udang direbus.

“Maaf eyang.” Katanya dengan malu. Kemudian ia menyerang dengan jurus yang sama akan tetapi kini ia telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Tenaganya dikuras habis untuk menyerang gurunya sendiri.

“Bagus.” Seru pendeta Argo Bayu sambil tertawa, bersama dengan itu tubuhnya melesat kekiri sambil tangan kanannya menyambar kearah gagang pedang yang berada ditangan muridnya.

Mintaraga menjadi terkejut ketika mendapatkan serangannya menjurus kearah kosong. Segera ia menarik kembali serangan dan juga menarik pula kaki depannya, akan tetapi biarpun gerakannya sangat gesit sekali tetap saja terlambat. Jari tangan eyang gurunya ini telah mendahului gerakannya. Kemudian terdengarlah suara nyaring dan ternyata pedangnya telah terselentik putus dibatas gagang. Hingga dengan demikian Mintaraga hanya memegangi gagang pedang itu saja.

Sungguh luar biasa sekali gesitnya gerakan Pendeta Argo Bayu dan Mintaraga itu. Candra Wulan yang berada disampingnya dan memandang dengan mata tajam akan tetapi ia, menjadi heran, ia tak dapat melihat  

gerakan tangan eyang gurunya itu. Karena itu Candra Wulan menjadi

mendelong dan Mintaragapun melongo.

“Mintaraga, dapatkah kau melihat cara gerakan tanganku tadi?” Tiba- tiba saja Pendeta Argo Bayu menanyakan kepada muridnya.

“Eyang guru mematahkan pedangku dengan memakai jari tengah.” Jawab Mintaraga dengan pasti. “Gerakan itu disesuaikan dengan gerakkan raksasa menari dan tangannya dibuka rapat lalu diubah menjadi tinggal jari tengahnya saja. Untuk melalukan itu eyang guru telah mengerahkan tenaga dalam dari perguruan kita  ”

Kembali Pendeta Argo Bayu menjadi tertawa lebar.

“Mintaraga, sungguh benar sekali perkataanmu itu.” Katanya. “Benar- benar aku telah tua, hingga untuk mengalahkanmu aku harus memakai tiga buah daya serangan yang dipersatukan. Huahaaa... Huahaa... Huahaaa.....

Tak perlulah kau mempelajari ilmu pukulan Braholo Meta, dengan gerakanmu ini saja aku yakin kalau kau menjelajah dunia kependekaran maka jarang sekali ada orang yang dapat menandingi kridamu. Apa lagi mengalahkanmu.”

Tentu saja eyang ini berkata separuh bergurau. Lalu tanpa menunggu cucu muridnya ini menanyakan sesuatu, ia lalu menguraikan rahasia ilmu Braholo Meta. Kakek ini mengatakan seseorang makin kuat tenaga dalamnya makin hebatlah ilmu pukulan jari tengahnya. Sebab pukulan jari tengah ini memerlukan pemusatan tenaga dalam yang hebat. Seluruh tenaga dalam harus dipusatkan dan dikerahkan kesebuah jari tengah dan selain itu ketabahan dan keuletan hati masih tetap dibutuhkan. Yang terakhir ilmu ini memerlukan sebuah kegesitan, dan gerakan yang sebat. Setelah itu penguraiannya berakhir kakek ini lalu memberi petunjuk-petunjuk dengan menggerak-gerakkan tangannya.

Waktu sepenanak nasi telah dilewatkan untuk penguraian dan petunjuk itu, semuanya ini diikuti oleh Mintaraga dan Candra Wulan dengan secara teliti sekali.

“Baiklah hari pertama ini kita akhiri sampai sekian dahulu.” Seru pendeta Argo Bayu itu. “Sekarang kalian harus meyakinkan dan melatih diri sendiri. Candra Wulan apa yang tak kau mengerti maka tanyakan kepada Mintaraga.”

Setelah berkata demikian kakek pendeta tua itu lalu memutar tubuhnya dan pergi. Sebentar saja pendeta Argo Bayu telah menghilang dari pandangan mata mereka.

“Adi Candra Wulan kau mengerti atau tidak?” Mintaraga segera bertanya kepada kawannya. Mintaraga benar-benar melakukan apa yang diperintahkan oleh eyang gurunya itu. Yaitu untuk mendidik Candra Wulan. “Kau?” Tanya Candra Wulan dengan tanpa menjawab pertanyaan

Mintaraga tadi.  

Mintaraga tertawa.

“Aku telah mengerti sedikit.” Jawabnya.

Candra Wulan lalu mementangkan matanya lebar-lebar.

“Aku sendiri.... sedikitpun aku tak mengerti pelajaran yang diberikan oleh eyang guru tadi.” jawab Candra Wulan mengakui dengan secara terus terang.

Gadis ini tak mengetahui kalau Mintaraga telah berkata dengan merendah. Sudah sepuluh tahun lebih Mintaraga mengikuti perdeta Argo Bayu, sewaktu gurunya menurunkan pelajaran-pelajaran hebat iapun mempelajari segala ilmu gurunya itu dengan tekun. Karena itu selain kepandaian-kepandaian lainnya, didalam tenaga dalam ia telah menemukan pokoknya. Karena itu tepatlah kalau kini ia meyakinkan ilmu pukulan yang mempergunakan jari tengah. Dengan ketajaman matanya, juga ketelitian serta kecerdasannya maka dapatlah ia segera menangkap apa yang diuraikan oleh kakek gurunya. Tidak demikian dengan Candra Wulan, tenaga dalam gadis ini masih rendah, hingga kalau tadi ia berkata belum mengerti maka itu memang benar-benar belum dimengertinya.

“Kakang Mintaraga, eyang guru tadi bilang kalau ia melayanimu dengan tiga buah gaya yang digabungkan menjadi satu, apakah arti dari perkataan eyang guru itu?”

“Itulah sebabnya eyang guru mengetahui dalam dan dangkalnya ilmu tenaga dalam yang sedang kupelajari ini.” Jawab Mintaraga. “Kalau ia menggunakan gaya seperti waktu mematahkan pedangmu tadi. Karena itu eyang guru lalu menggunakan dua buah gaya lainnya untuk membantunya mematahkan pedangku ini...”

“Kalau demikian, bukankah Braholo Meta itu...” Gadis itu lalu menjadi ragu-ragu.

“Setelah kau berhasil meyakinkan ilmu ini.” Maka Mintaraga berkata dengan cepat-cepat. “Dengan mengandalkan sebuah jari tengahmu saja kau akan dapat malang-melintang didunia kependekaran? Ini adalah sebuah soal, sebuah kepandaian memang harus diandalkan, akan tetapi disamping itu janganlah kita melupakan lainnya. Kalau semuanya dapat dikuasai dan digabungkan menjadi satu barulah itu merupakan sebuah kepandaian yang berguna !”

Candra Wulan rupa-rupanya mengerti apa yang dimaksudkan dengan pemuda ini. Dengan demikian maka terdengarlah suara tawanya.

“Sudahlah tak usah kau menguraikan panjang lebar.” Katanya. “Sekrang marilah kau memberi petunjuk kepadaku. Ingin aku segera meyakinkan jari tengahku ini. ”

“Untuk itupun kita dapat mempergunakan ilmu totokan.” Kata Mintaraga. “Kita harus dapat melihat perubahan dan menggunakan dengan sebaik-baiknya.  

“Ah... kau ini masih saja mengoceh.” Seru gadis itu memotong.

Kemudian tertawa. Aku menginginkan petunjuk, jadi bukannya penjelasan belaka. Bolehkah kita mencoba-coba?”

“Boleh saja.” Jawab Mintaraga.

Karena disitu tak terdapat senjata tajam, maka Mintaraga lalu mematahkan sebatang dahan dan menyerahkannya kepada Candra Wulan.

“Sekarang mulailah.” Seru Mintaraga. “Kau boleh menggunakan jurus apa saja yang kau sukai dan juga boleh kau tambah dengan jurus-jurus yang berasal dari gerakan tangan kosong.”

Sambil tertawa Candra Wulan menganggukkan kepalanya tanda menghormat kepada Mintaraga.

“Maaf-maaf aku yang muda dan berkepandaian rendah mohon petunjuk dari kau orang tua gagah. Dan sukakah orang tua yang gagah perkasa memulainya terlebih dahulu?”

Mendengar perkataan Candra Wulan ini maka Mintaraga lalu tertawa terbahak-bahak. Candra Wulan benar-benar lucu sekali dalam berguraunya ini.  

“Sebuah perkataan yang bagus.” Serunya, dan bersama dengan itu sebuah pukulan terus melayang.

Candra Wulan cepat mengelak untuk meloloskan diri. “Hendak kulihat kau akan menyingkir kemana?!”

Sambil berkata demikian Mintaraga maju dua tindak, untuk lebih mendekati gadis ini. Kedua kepalanya menyambar susul-menyusul. Mintaraga tak mempergunakan seluruh tenaganya, akan tetapi gerakannya sangat cepat sekali. Yang menjadi sasaran pemuda itu adalah pundak adik angkatnya.

Candra Wulan mengelakkan dengan mempergunakan jurus burung garuda mementang sayap. Inilah jurus kedua dari ilmu silat perguruan Lawu. Ia bergerak dengan kedua tangannya, yang kanan memegang pedang dan yang kiri bertangan kosong. Lalu cepat sekali pedang kayu itu diteruskan, dipakai membabat dari samping.

Melihat cepatnya serangan itu, maka Mintaraga segera cepat-cepat mundur. Kalau sedikit kurang cepat maka pinggangnya akan kena sabatan. Akan tetapi Mintaraga tak berbuat demikian, dengan tersenyum ia lalu mendahului maju dan mengulurkan tangannya, untuk menyamplok tangan Candra Wulan hingga kedua tangan penyerang itu dapat dipentalkan.

“Ini bukannya Braholo Meta, ini adalah sebuah jurus dari perguruan Lawu yang bernama memindahkan gunung menguruk lautan. Ini adalah sebuah tipu dari tangan kosong perguruan kita kakang.”

“Baik, kau hati-hatilah.”

Sambil mengucapkan perkataan ini maka Mintaraga menyerang lagi.

Kembali kedua tangannya mengancam pundak gadis itu. Melihat kedatangan dua tangan Mintaraga ini, Candra Wulan berusaha

untuk mengelakkannya. Akan tetapi baru saja ia memutar tubuhnya, sebelum sempat kakinya bergerak, ia telah mendengar seruan si pemuda yang menjadi kawan berlatih.

“Awas.” Seruan ini disusul dengan datangnya kedua tangan itu. Karena itu tanpa ampun lagi ia kena ditotok dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. Tepat mengenai jalan darah dipundak kirinya. Kedua tangan anak muda itu mula-mula dibuka, pada saat tibanya, tiga jarinya ditekuk dan kedua jarinya dibuka. Karena totokan ini maka Candra Wulan tak dapat menggerakkan tubuhnya.

Mintaraga segera mendekati, dan dengan cepat membebaskan totokannya itu. Ia membebaskan sambil tertawa.

Candra Wulan tak menjadi marah, sambil melemparkan pedang yang berupa cabang pohon itu, lalu meleletkan lidahnya.

“Sungguh hebat.” Katanya. Kenapa dulu-dulu kau tak pernah mempergunakan jurus ini?”

“Terhadap gerombolan Tengkorak Berdarah dan orang-orang laut Selatan, tak perlu aku mempergunakan ini.” Jawab Mintaraga. “Terhadap pendeta Baudenda, sebaliknya aku tak berani mempergunakannya....

Sekarang kau ingat baik-baik cara perubahan seranganku dan digunakan sewaktu lawan tak siap sedia.Kalau tidak itu akan sama saja dengan sebuah totokan yang biasa saja. Atau tegasnya kau harus menggertak.”

“Jadi ini salah sebuah dari tipu silat dari perguruan kita ini kakang?!” “Benar.”

“Misalnya kita memakai ilmu silat Braholo Meta apakah itu tak akan lebih hebat?”

“Ya memang adi, apakah kau ingin mencoba-coba dengan ilmu Braholo Meta itu?”

“Marilah kakang.”

Kembali keduanya lalu bertempur lagi. Akan tetapi baru bertempur tiga jurus saja Candra Wulan telah kena tertotok lagi. Hingga dengan demikian kembalilah gadis ini tak dapat bergerak. Seluruh tubuhnya menjadi lemas. Ia merasakan kalau serangan yang akhir ini jauh lebih hebat dari pada, serangan yang semula.

Mintaraga segera membebaskan totokannya itu, sambil berbuat demikian maka ini lalu memberi penjelasan-penjelasan yang perlu. Ia berlaku teliti dan sabar sekali.

Candra Wulan menjadi geli. Tadinya ia hendak belajar kepada eyang guranya, tetapi sekarang ia berbalik malahan belajar kepada Mintaraga. Karena kecerdasannya maka sebentar saja ia telah mengerti. Karena itulah Candra Wulan berubah menjadi girang.  

“Kiranya perguruan kita ini mempunyai sebuah tipu silat yang hebat

kakang.” Katanya. “Jadi yang telah diberikan oleh ayah, ki Plompong, itu sebenarnya belum lengkap. Coba kalau aku mengetahui akan hal ini dulu- dulu, maka aku tak akan sudi mempelajari ilmu pukulan Gundala Kurda. Eh kakang Mintaraga apakah yang selalu kau sebut-sebut dengan ilmu tenaga dalam perguruan kita itu?”

“Itulah ilmu tenaga dalam yang diciptakan oleh eyang guru dengan berdasarkan ilmu kebatinan dan persemedian yang telah mencapai puncak tertinggi.” Jawab Mintaraga. “Pelajaran tentang kebatinan ini lalu dihubungkan dengan latihan ilmu tenaga dalam yang kita pelajari.”

“Begitukah? Tentang hal ini ayah belum pernah menceritakan kepadaku.”

Darmakusuma telah merobah namanya dengan memakai nama Plompong. Ia tinggal bersembunyi dilaut Kidul daerah Karang Bolong. Rahasia pribadinya sangatlah dirahasiakan sekali, begitu pula dengan asal usulnya. Dengan demikian sudahlah terang kalau orang tua itupun untuk membeberkan ilmu tenaga dalamnya dan juga dari perguruan mana ia datang (untuk jelasnya tentang ki Darmakusuma atau ki Plompong ini para pembaca sekalian harap melihat bendel pertama dari kitab ini pada jilid pertama).

“Untuk mempelajari ilmu pukulan Braholo Meta, terlebih dahulu kau harus meyakinkan ilmu tenaga dalam.” Seru Mintaraga memberi tahu. “Dan selain mempelajari, kaupun harus berlatih dengan sungguh-sungguh. Waktu kita hanya lima hari manakah dapat...???”

Candra Wulan menjadi sibuk pula. “Habis bagaimana?” Tanyanya.

“Akupun tak tahu. Baiklah kita dengarkan saja apa kata eyang guru besuk pagi. Mungkin eyang guru tahu apa yang harus dilakukan. Sudahlah jangan kau terlalu bingung.”

Demikianlah hari pertama dilewatkan Candra Wulan mendapatkan hasil mengubah tangan terbuka menjadi jari tangan, sedangkan Mintaraga mendapatkan pokoknya ilmu Braholo Meta.

Malam harinya, tiba-tiba saja Mintaraga berkata kepada Candra Wulan : “Adi Candra Wulan, dengan secara diam-diam aku akan mengajarkan

ilmu tenaga dalam dari perguruan kita kepadamu. Kalau besuk kau mendapatkan pelajaran ilmu pukulan Braholo Meta maka ilmu tenaga dalam ini akan membantumu dan banyak sekali gunanya. Hanya aku ingin pesan kepadamu, tentang hal ini janganlah kau memberi tahukannya kepada eyang guru. Kalau saja eyang guru bertanya maka jawab saja ayahlah yang memberi tahukan hal ini kepadamu ”

“Baik... baik. ” Jawab Candra Wulan dengan kegirangan.  

Mendengar ini, Mintaraga lalu memecahkan segala rahasianya untuk

mempelajari ilmu tenaga dalam itu.

“Diwaktu bersemedi, orang yang akan mempelajarinya harus bersemedi pula seperti seorang pendeta.” Seru Mintaraga yang terus memberi penjelasan. “Hati kita terus jernih bagaikan kaca, juga asal tidak timbul pikiran lain dan pemusatan pikiran kita tak terganggu maka berhasillah sudah.”

“Hal ini aku masih kurang mengerti kakang...” Seru Candra Wulan dengan memukul-mukul kepalanya.

“Begini saja.” Akhirnya Mintaraga berkata. “Kau duduklah dengan diam, tutup kedua matamu, jangan ada yang kau pikirkan segala macam urusan. Kau harus dapat menetapkan hati, misalnya ada gunung meletuspun tak terdengar, akan tetapi kau harus dapat mendengarkan kalau ada sebatang jarum yang jatuh.”

Candra Wulan masih belum mengerti dengan jelas. Akan tetapi ia menurut. Ia lalu duduk bensila sambil memejamkan matanya, Candra Wulan berusaha tak memikirkan apapun juga. Sampai sepenanak nasi ia tenang sekali, selewatnya itu pikirannya terganggu dan otaknyapun menjadi kusut. Hingga dengan demikian kacaulah pemusatan semangatnya itu. Teringatlah ia kepada Kembang Arum, Woro Keshi, kepada Wirapati. Mintaragapun seperti terbayang didepan kelopak matanya dan berputeran didepan. Yang paling hebat adalah ketika ia mengenangkan ki Darmakusuma atau ki Plompong yang berlumuran darah mendatanginya. Ia menjerit dan tak tertahan lagi matanya dibuka. Disitu sunyi, tak ada seorangpun lainnya, kecuali Mintaraga yang juga duduk bersemedi seperti dirinya. Mintaraga duduk diam dan tak mendengar jeritannya. Tiba-tiba saja ia menjadi takut.

“Kakang Mintaraga... kakang Mintaraga....” Teriaknya. Justru ia teringat kalau Mintaraga sedang memusatkan pikirannya, bahwa ia tak dapat mengganggunya. Karena itulah ia lalu berusaha menentramkan hatinya. Kembali ia duduk bersila lagi. Hanya kali ini tak sanggup ia berdiam diri lama seperti tadi, karena bermacam-macam pikiran yang datang mengganggunya. Diaat ia telah tak kuat maka Candra Wulan lalu menjerit dengan keras dan melompat bangun lalu lari kabur.

“Bagus... bagus...” Tiba-tiba saja terdengar sebuah pujian. Bersama dengan itu berkelebat sebuah bayangan yang mengenakan jubah berwarna hijau yang terus berdiri dihadapannya, hingga tampak dengan jelas kalau yang berdiri dihadapannya itu adalah seorang pendeta tua. Pendeta itu terus mengulurkan tangannya, untuk memegang tubuhnya dan terus diangkat.

“Candra Wulan mari turut aku.” Kata pendeta itu.

Belum sempat gadis ini menjawab atau berpikir, ia merasakan kalau tubuhnya telah dibawa pergi dengan cepat sekali. Seperti melayang dan kupingnya mendengar desiran angin yang sangat keras. Ia merasakan kalau  

tubuhnya seperti dibawa naik dan turun... Waktu ia tak mendengar suara

angin lagi, dan ketika ia membuka matanya untuk memandang, Candra Wulan mendapat kenyataan kalau yang membawanya pergi itu adalah pendeta Argo Bayu, eyang gurunya. Dan ternyata kini mereka berada disebuah gua.

Pendeta Argo Bayupun lalu memandang kearah Candra Wulan dan kemudian tertawa dengan keras.

“Baiklah kau berdiam disini untuk melatih dirimu.” Katanya. “Tempat ini lebih baik sedikit dari pada tempatmu tadi.”

“Apakah untuk melatih ilmu tenaga dalam itu ada juga hubungannya dengan tempat?” Tanya Candra Wulan dengan tak mengerti.

“Buat apa kau bertanya-tanya, cepat kau duduklah.”

Candra Wulan lalu menurut dan segera ia menjatuhkan diri duduk dilantai gua itu.

Pendeta Argo Bayu turut bersila dihadapan gadis ini. Lalu katanya : “Dengan secara diam-diam Mintaraga memberimu pelajaran ilmu

tenaga dalam bukan?”

Gadis ini teringat akan pesan Mintaraga, akan tetapi karena Candra Wulan telah tertangkap basah oleh pendeta Argo Bayu maka ia tak dapat membohong. Karena itu sebagai jawabannya ia lalu menganggukkan kepalanya saja.

“Mintaraga itu adalah seorang anak yang baik. Ia hanya lupa kalau kau telah menjadi seorang perguruan sendiri.” Seru pendeta tua itu.

Mendengar perkataan ini barulah Candra Wulan insyaf. Didalam perguruan Lawu, tanpa mendapat ijin dari ketua, siapapun dilarang memberi pelajaran ilmu tenaga dalam kepada orangnya sendiri. Untuk pelajaran lainnya memang tak ada larangannya, ini disebabkan karena ilmu tenaga dalam yang dimbil dari sari-sari kebatinan dan persemedian ini adalah dasar dari ilmu Braholo Meta yang tak sembarang diturunkan kepada murid-murid.

“Candra Wulan kau tutuplah matamu, dan berlatihlah.” Seru eyang gurunya kemudian.

Candra Wulan menurut dan mulailah ia bersemedi. Belum lama atau setelah diganggu oleh berbagai pikiran dan ingatan, ia didekati oleh berbagai gangguan seperti tadi ketika ia masih bersemedi bersama Mintaraga.

‘Celaka...’ Katanya didalam hati. Ia mencoba mengatasi dirinya akan tetapi agaknya tak sanggup. Disaat ia hendak membuka matanya, untuk melompat bangun, tiba-tiba ia merasa kalau pantatnya terbentur sesuatu barang.

Inilah tangan Pendeta Argo Bayu.

Pertama kalinya ia menjadi terkejut, akan tetapi setelah itu ia merasakan kalau hawa hangat berpindah dari tangan kakek itu dan terus mengalir  

keseluruh   tubuhnya.   Terasa   kalau   tenaga   panas   itu   berjalan   dengan

perlahan-lahan. Tak lama kemudian ia merasakan kalau tubuhnya menjadi segar, lenyaplah segala pikiran yang tadi mengganggunya.

Setelah itu, tampaklah gadis ini dapat bersemedi dengan tenang mungkin gadis ini berada didalam separuh tidur dan separuh sadar. Hal ini persis seperti umumnya para pendeta yang sedang bersemedi.

“Candra Wulan, sudahlah, kau bangun.” Begitulah ia mendengar perkataan kakek pendeta itu, akan tetapi entah telah berapa lama ia duduk bersemedi. Ia tadi mendengar suara halus dikupingnya.

Dengan cepat ia membuka matanya. Ia melihat pendeta Argo Bayu berada dihadapannya dengan muka berseri-seri. Ketika ia memandang kearah mulut gua maka ia melihat sinar matahari. Jadi teranglah kalau waktu itu hari telah siang.

“Hayolah, sekarang kau boleh keluar.” Kata eyang gurunya ini.

Candra Wulan bangun sambil melompat, ia mengikuti eyang gurunya itu keluar untuk menghirup udara pagi yang nyaman. Candra Wulan segera merasakan badannya menjadi segar sekali, berbeda dengan biasanya.

“Bagaimanakah perasaanmu Candra Wulan?” Tanya pendeta Argo Bayu dengan tertawa-tawa.

“Aku merasakan kalau ada air panas yang mencuci bersih segala macam anggota tubuhku yang berada dibagian dalam.” Jawab Candra Wulan.

Mendengar perumpamaan muridnya ini maka tertawalah si Pendeta tua  

itu.

Candra Wulan menjadi girang sekali. Sekarang ia mendapatkan, kakek

gurunya yang agung itu, yang tadinya tampak sangat berpengaruh, sekarang menjadi ramah tamah sekali. Hingga dengan demikian ia merasakan kalau tak perlu lagi takut kepada eyang gurunya ini.

“Tapi ada kalanya itu bukannya seperti air hangat, akan tetapi melainkan seperti seekor tikus yang menyelusup masuk.” kemudian ia menambahkan. “Seperti tikus yang keluar masuk...”

Pendeta Argo Bayu tersenyum pula, dan tiba-tiba saja ia menunjuk kedepan.

“Lihat puncak sana.” Katanya. “Coba kau hitung, ada berapakah pohon- pohonannya.”

Candra Wulan memandang dan terus menghitung.

“Semuanya ada enam puluh satu pohon eyang, apakah eyang juga menduganya demikian?” Tanyanya.

Pendeta Argo Bayu tertawa akan tetapi sedikitpun tak menjawab.

Melainkan terus bertanya lagi.

“Coba kau lihat lagi, berapa jauh atau dekatnya puncak itu dengan sini.” “Kurang lebih ada kalau lima atau enam kiloan.” Jawab Candra Wulan

dengan cepat. Pendeta itu tertawa terbahak-bahak.

“Candra Wulan, tak pernah kusangka kalau kau ini mempunyai bahan yang sebaik ini.” Katanya.

“Ah... eyang guru hanya bermain-main saja.” Jawab Candra Wulan dengan kemalu-maluan.

“Setelah semalam kau bersemedi, kau ini seperti telah berubah Candra Wulan. Tahukah kau ini?” Kembali pendeta Argo Bayu bertanya kepada cucu muridnya ini.

“Aku tak tahu.” Jawabnya dengan wajar.

“Kau dapat menghitung pohon cemara yang demikian kecilnya dari jarak antara lima atau enam kiloan, bukankah itu merupakan sebuah bukti?” Kata eyang gurunya itu. “Sekarang aku akan bertanya lagi kepadamu, dahulu ketika kau mengikuti ayah angkatmu di laut Kidul itu, untuk dapat mengenali kalau ada perahu yang berlayar dua atau tiga dalam jarak berapa jauh?”

Candra Wulan berpikir, akan tetapi dengan segera ia telah dapat menjawab.

“Benar eyang dahulu kalau perahu itu telah berada dijarak antara dua atau tiga kilo aku tentu tak dapat membedakannya. Sebaliknya akan masih dapat melihatnya dengan nyata.”

“Kemajuan matamu ini adalah langkah pertama dijalan menuju kemajuan” Kata pendeta Argo Bayu kemudian. “Untuk menghasilkan tenaga dalam, pokoknya dari mata. Lalu dari tubuh. Setelah itu berkumpulnya tenaga dan ketetapan hati. Setelah itu tubuh akan menjadi kuat dan ulet sehingga ia akan dapat bertempur selama tiga hari tiga malam. Kau akan memperoleh dasarmu secepatnya dan kau akan mendapatkan ketetapan hati serta tenagamu akan berlipatganda.”

“Berapa harikah dibutuhkan untuk mencapai kesempurnaan itu eyang guru?!” Tanya Candra Wulan.

“Untuk permulaan setahun.” Jawab pendeta Argo Bayu dengan pelan.

Candra Wulan menjulurkan lidahnya panjang-panjang. Matanya dibuka lebar-lebar. Didalam hatinya ia berkata :

‘Uutuk mendapatkan pokok permulaan harus setahun. Kalau aku akan mendapatkan kemajuan sehebat kakang Mintaraga maka paling sedikit aku harus membutuhkan waktu sepuluh sampai dua puluh tahun. Ini berarti aku keburu tua bangkotan......’ Candra Wulan berpikir demikian, akan tetapi ia tak berani mengutarakan pikirannya.

Pendeta Argo Bayu melihat kalau cucu muridnya ini hanya berdiam diri  

saja.

“He... mengapa kau?” Tanyanya. “Apakah ada perkataan hati yang tak

berani kau katakan kepadaku nini.” “Jika aku akan menyebutkan, apakah eyang guru tak akan marah

kepadaku?” Tanya Candra Wulan dengan berdebar-debar.

“Coba kau sebutkan supaya aku mendengarnya.” Perintah eyang gurunya ini.

“Pernah aku mendengar perihal seorang pendeta yang tinggal dikuil dan duduk bersemedi selama sembilan tahun menghadap tembok.” kata gadis itu. “Peryakinan yang hebat itu untuk seorang suci dapat dilakukan, akan tetapi aku sebagai manusia biasa, yang perlu bermain-main, makan, dan bepergian dapatkah itu? Kupikir ”

“Kau jadinya memikirkan untuk tak mempelajari ilmu silat dari perguruan kita?” Eyang gurunya memotong.

“Aku bukannya berpikir tak mau belajar, hanya memikir, aku......” Kata gadis itu dengan gugup. “Aku hanya ingin menanyakan apakah tak ada jalan lain lagi supaya aku dapat mempelajari dengan bermain-main, kalau belajar seperti pendeta itu terang aku tak akan sanggup !”

“Jika demikian, seumur hidupmu kau tak akan mendapat kemajuan.” Kata pendeta Argo Bayu. “Ini berarti kita selalu siap sedia menerima serangan orang lain, dan kita tak mempunyai ketika untuk membalasnya.”

Candra Wulan tertawa.

“Aku selalu berada disisi kakang Mintaraga, apakah yang perlu kutakutkan kalau aku berada disampingnya?” Tanyanya dengan lucu. “Misalkan ada orang yang merobohkan aku, maka kakang Mintaraga tentu akan menghajarnya, untuk membalaskan perasaan sakit hatiku.”

Mendengar keterangan cucu muridnya ini eyang gurunya itu menjadi mendelu juga.

“Hai manusia hina!” Serunya. “Bagaimana kalau ada orang yang membunuh mampus kepadamu?”

Kembali Candra Wulan tertawa.

“Aku tidak takut.” Jawabnya tetap dengan lucu. “Sudah tentu kakang Mintaraga akan membunuh mati musuhku itu, aku yakin dia tentu akan membalaskan perasaan sakit hatiku.”

Bukan main mendelunya hati pendeta tua itu, akan tetapi iapun menjadi kewalahan sekali.

“Bagaimana kalau kau sekarang tak dapat pergi, tak dapat makan dan tak dapat main-main?” Tanyanya dengan sengit. “Bagaimana kalau kau hanya tidur didalam liang kuburan saja, enakkah itu?”

Masih tetap saja Candra Wulan tertawa.

“Eyang guru, jangan khawatir.” Serunya. “Asal aku menyebutkan nama eyang guru, siapapun juga tak akan berani membunuhku. Bukankah alasanku ini tepat sekali eyang?”

Pendeta Argo Bayu ini benar-benar marah, akan tetapi ia tak dapat mengumbar kemarahannya. Bahkan pernyataan gadis ini benar-benar  

membuatnya kewalahan. Gadis ini benar-benar lucu dan bandel, akan tetapi

iapun seorang jang jujur.

“Baiklah.” katanya kemudian. Kau adalah seorang manusia termalas dikolong langit ini. Akupun menjadi malas untuk memberi pelajaran kepadamu. Nah ini, kau ambilah.”

Pendeta Argo Bayu itu mengeluarkan sebuah kitab tebal, dan diserahkan kepada gadis ini.

Candra Wulan menerima dan memeriksanya. Ternyata judul kitab itu adalah :

‘RAHASIA ILMU DALAM.’

Dibawah tulisan itu ada sebaris tulisan kecil yang berbunyi :

‘Ditulis oleh Argo Bayu.’ Melihat ini bukan main girangnya. Maka ia membuka lebar-lebar kedua biji matanya dan menatap kearah eyang gurunya.

“Eyang, kau akan memberikan kitab ini kepadaku?” Tanyanya meyakinkan.

“Sangat mengherankan kalau kau tak menghendaki barang itu!” Jawab Pendeta Argo Bayu.

“Jika aku menghendaki barang ini, bukankah eyang guru menjadi tak punya lagi?” Kembali gadis ini bertanya.

Pendeta Argo Bayu menjadi tertawa bergelak-gelak.

“Walaupun aku tanpa buku ini, dikolong langit ini tak nanti ada orang yang, dapat membunuhku, hingga aku tak usah mengharapkan kakakmu si Mintaraga itu untuk membalaskan perasaan sakit hatiku.” katanya.

Mendengar ini muka Candra Wulan menjadi merah. Segera ia insyaf kalau tadi ia telah keliru omong. Cepat-cepat ia bersembah kepada eyang gurunya, untuk menghaturkan perasaan terima kasihnya.

Sejak dahulu Candra Wulan telah mendengar dari ayahnya ki Plompong, kalau kakek pendeta ini mempunyai kitab yang berjudul ‘rahasia ilmu dalam’ yang ditulis dan dikumpulkan dari pengalaman-pengalamannya beberapa tahun yang lalu. Kitab itu karena lengkapnya lalu menjadi kitab pusaka dari perguruan Lawu, Candra Wulan tak menyangka kalau kitab itu kini dengan secara gampang sekali akan diberikan kepadanya.

Aneh sikap eyang gurunya ini kalau dilihat dari pengalaman Candra Wulan itu. Kitab itu biasanya tak pernah diperlihatkan kepada orang lain, akan tetapi sekarang malahan diberikannya dengan tanpa syarat. Pendeta Argo Bayu memberikan kitabnya itu hanya karena Candra Wulan seorang jujur, jenaka dan nakal...

“Bagus.” Kemudian Candra Wulan berkata didalam hatinya. ‘Eyang guru adalah sorang yang termulia hatinya dalam dunia ini. Eyang guru memberikan kitab ini kepadaku, maka dikemudian hari aku dapat berkelana dengan secara diam-diam mempelajari isi kitab ini. Bukankah ini bagus  

sekali, dan dapatlah diibaratkan kalau sekali pukul mendapat dua kebaikan.

Bukankah demikian aku akan dapat lebih menang dari kakang Mintaraga, dan tak usah mendekam selama sepuluh tahun diatas puncak Lawu. Bukankah akan sengsara dan kesepian kalau harus tinggal diatas gunung itu...??’

Saking kegirangannya maka kembali sekali Candra Wulan memberi hormat kepada eyang gurunya ini. Kini bukannya hanya bersembah saja, bahkan mencium kaki pendeta tua itu.

“Sudahlah Candra Wulan, sudah.” Seru kakek gurunya ini tertawa. “Jangan kau berusaha mengambil hatiku.” Kakek ini segera mengulurkan tangannya untuk membangunkan Candra Wulan. Kemudian katanya :

“Ingatlah baik-baik, kalau urusan ini yang tahu hanya kau dan aku sendiri. Biarpun Mintaraga tak usah kau beri tahu. Mengertikah kau akan maksudku?”

“Mengerti... mengerti eyang.” Jawab Candra Wulan dengan cepat. Memang jawabannya sangat tegas sekali karena eyang gurunyapun berkata dengan sungguh.

“Jika nanti kau telah melatihnya dengan baik.” Kembali eyang gurunya ini memesan. “Aku melarangmu sembarangan berbuat sombong, kecuali dalam keadaan sangat terpaksa, aku juga melarangmu untuk memakai jurus- jurus yang kau pelajari dari dalam kitabku ini. Aku tak ingin melihat kau melukai orang dengan jurus-jurus ini. Mengertikah kau?”

“Mengerti eyang.”

“Baiklah.” Seru kakek gurunya itu kembali. “Jika kau tak menaati pesanku ini maka aku tak akan memberimu ampun lagi. Kau ingatlah baik- baik pesanku ini.”

“Aku akan mengingatnya eyang.” Jawab Candra Wulan.

Kali ini eyang gurunya ini bersikap amat tegas dan berwibawa sekali hingga menggigillah hati Candra Wulan, si dara yang keras kepala dan jenaka itu.

“Mulai hari ini kita masih mempunyai ketika untuk berkumpul empat hari lagi.” Kemudian terdengar perkataan eyang gurunya itu lagi. “Didalam empat hari ini tak usah kau turun gunung untuk menemui Mintaraga. Kau harus berdiam diri didalam gua ini. Kau harus berlatih semedi dan belajar. Isi kitab ini sangat ruwet sekali karena itu akan kugunakan waktu yang hanya empat hari ini untuk memberi keterangan kepadamu. Hingga dengan demikian kalau kita berpisah kau telah mengerti isinya. Tentang ilmu sejati kau akan memperoleh nanti, setelah kau turun gunung, selama itu tak henti- hentinya kau harus belajar terus. Jika kau masih ingat sedikit saja perkara main-main, jika kau tak belajar dengan sungguh-sungguh kau pasti tak akan mendapat hasil apa-apa. Percuma saja kau mempunyai kitab ini, sebab kau  

akan menjadi seorang  manusia biasa saja, kau tak akan  menjadi seorang

manusia yang berarti.”

Kata-kata ini membuat hati Candra Wulan menjadi bergetar. Sehingga punggungnya menjadi dingin karena keringatnya keluar dengan deras sekali. Akan tetapi ia dapat dimaafkan, sehingga dengan pelan-pelan lenyaplah penyakit malasnya.

Sambil menundukkan kepalanya Candra Wulan terus mendengarkan segala petunjuk dan petuah-petuah yang eyang gurunya ajarkan. Dengan sungguh-sungguh ia lalu duduk didalam gua untuk bersemedi dan belajar. Empat hari empat malam lamanya ia menunjukkan kekerasan hatinya, juga menunjukkan pula keuletannya, sehingga ia mengerti semua pokok penting dari ilmu pelajaran tenaga dalam.

Pendeta Argo Bayu dilain pihak selalu membagi waktunya yang luang untuk turun gunung, menemui Mintaraga. Ia menurunkan ilmu pukulan Braholo Meta kepada muridnya itu. Iapun mewariskan kepandaiannya dengan sungguh-sungguh dan cucu muridnya itu menerima dengan seksama.

Dengan cepat waktu empat hari itu berlalu. Selama empat hari itu Candra Wulan telah memperoleh dasar, dengan kesungguhannya si eyang guru, ia seperti telah bertukar tulang dan berganti daging. Dia ini bukannya Candra Wulan yang beberapa hari yang lalu. Demikian juga dengan Mintaraga yang memang telah mempunyai dasar yang baik gampang sekali pemuda itu menerima petunjuk, dengan begitu kedua orang muda ini telah memperoleh hasil yang baik. Tinggallah mereka berlatih dengan giat supaya mendapatkan kesempurnaan.

Dihari yang terakhir itu, pagi-pagi matahari telah menyinarkan sinarnya yang keemas-emasan. Pagi itu seperti biasa, Candra Wulan bersemedi untuk meyakinkan ilmu tenaga dalam. Ketika ia membuka matanya, Candra Wulan menjadi terperanjat karena kakek gurunya yang biasanya ikut bersemedi disampingnya kini telah tak berada ditempat biasanya. Ia terus melompat bangun untuk segera keluar gua. Diluar gua itu tampaklah Mintaraga tengah menantikannya. Dan tampak pula kalau pemuda itu tertawa dengan gembira.

“Eyang guru telah berangkat.” Seru Mintaraga dengan tertawa riang. “Karena itu, kitapun harus segera berangkat pula.”

Candra Wulan menyedot hawa pagi yang segar dan nyaman itu, hatinya menjadi tenang, ia merasa kalau tubuhnya menjadi segar. Iapun lalu tertawa. “Baiklah, mari kita segera menuju ke Jipang Panolan.” Jawabnya dengan lantang. “Kita cari jago-jago Jipang Panolan dan kita gempur Sucitro bersama

murid-muridnya.”  

“Kita harus mengambil jalan tengah untuk menuju keutara. Sebab

dengan melintasi daerah Jepara dan terus melalui Juana sebab hanya jalan- jalan itulah yang mudah dilalui dan perjalananpun lebih dekat.”

Didalam hal mengatur perjalanan Candra Wulan hanya menurut saja. Karena itu dengan segera ia telah menjawab dan menyetujuinya. Karena itulah keduanya lalu segera berangkat bersama-sama. Seturunnya dari gunung mereka lalu mencari kuda untuk melanjutkan perjalanan. Setelah itu berangkatlah mereka menuju kedaerah barat daya. Mereka terus melakukan perjalanan dengan cepat dan berhenti kalau akan tidur dan makan saja. Ditengah jalan, mereka juga mendapat banyak kesempatan.

“Kakang Mintaraga ada sebuah hal yang akan kutanyakan kepadamu.” Kata gadis itu ditengah perjalanan. “Diwaktu kau memberi pelajaran kepadaku tentang melatih tenaga dalam, hatiku tergoncang dan kacau balau, sukar sekali aku dapat mengatasi hatiku itu supaya tepat menjadi tenang kembali. Aku merasakan banyak sekali godaan yang datang menggangguku, akan tetapi waktu eyang guru yang memberi pelajaran kepadaku, akupun mendapat gangguan yang serupa. Akan tetapi setelah eyang guru meletakkan tangannya didekat pantatku, sekejap saja hatiku menjadi tenang bagaikan air yang mengalir. Sedikitpun tak datang gangguan-gangguan yang tadinya menghantui hatiku. Kakang Mintaraga, apakah kau mengetahui sebab-sebabnya?”

Ditanya demikian maka wajah pemuda itu menjadi agak merah sedikit.

Untuk sesaat hanya berdiam diri saja. Agaknya Mintaraga tengah berpikir. “Tak   dapat   aku   menjawab   pertanyaanmu.”   Jawabnya   kemudian.

“Pertanyaanmu itu merupakan sebuah soal yang sulit sekali bagiku. Lain hari saja aku akan menanyakan hal itu kepada eyang guru...”

Candra Wulan memandang, akan tetapi gadis ini tak bertanya lebih jauh lagi. Iapun hanya memajukan pertanyaan tadi sebagai iseng saja. Yang sangat diherankan ialah mengapa Mintaraga menjadi agak malu ketika ditanyakan hal itu. Terus saja ia mengeprak kudanya untuk dipercepat larinya.

Mintaraga menurut pula, ia juga melarikan kudanya untuk menyusul dan mengikuti Candra Wulan.

*

* *

Malam itu mereka menginap disebuah rumah penginapan kecil diantara tapal batas daerah Jepara dan Rembang. Mereka minta dua buah kamar untuk masing-masing satu. Setelah makan malam mereka lalu duduk dimuka penginapan itu untuk omong-omong. Akan tetapi waktu itu Mintaraga segera teringat kepada Dyah Kembang Arum, hingga dengan  

demikian kurang tenang. Karena itulah apa yang ditanyakan oleh Candra

Wulan jawabannya kurang tepat, bahkan ngawur sama sekali. Karena kejadian ini maka heranlah hati Candra Wulan ketika melihat kelakuan kawannya ini. Untuk malam ini mengapa telah berubah sedemikian rupa. Iapun lalu berdiam diri, hanya hatinya saja yang terus bekerja.

‘Ayah kita telah menetapkan jodoh kita masing-masing.’ Demikianlah Candra Wulan terus teringat akan peristiwa yang mengenai penghidupannya untuk seumur hidupnya. ‘Dia dengan dia telah menjadi sebuah pasangan. Aku?? Bagaimanakah dengan aku?? Wirapati itu sebenarnya orang macam apakah? Dimanakah dia sekarang? Bagaimana keadaannya? Siapapun juga tak dapat mengatakannya....... dan aku harus menikah dengan seorang yang tak berketentuan. Apakah artinya semua ini?’

Semakin berpikir, semakin ruwetlah pikiran gadis ini. Akhirnya ia mengangkat kepalanya, memandang kearah Mintaraga.

“Kakang Mintaraga.” tanyanya. “Engkau tengah memikirkan ayu Kembang Arum bukan?”

Mintaraga menganggukkan kepalanya.

“Apakah kau tak mengkhawatirkannya? Bagaimanakah kalau ia nanti telah dihajar sampai mampus oleh para resi di Indrakilo itu?” Tanya Candra Wulan.

Mendengar perkataan ini tercekatlah hati Mintaraga. Inilah justru persoalan yang dipikirkan disetiap saat.

“Menurut keadaan yang sebenarnya, tak mudahlah ia dapat dihina oleh sembilan orang resi itu.” Jawabnya kemudian dengan suara yang perlahan sekali. Akan tetapi perubahan gampang teriadi sebagai juga keuntungan dan kemalangan datang dengan tak berketentuan. Siapakah yang dapat memastikan hari ini dia bagaimana dan besuk pagi dia bagaimana pula.”

Tanpa disengaja jawaban ini tepat mengenai diri Candra Wulan pula. Gadis memang tengah memikirkan dirinya nanti. Maka tanpa terasa iapun lalu menjadi sedih.

“Ya.” Katanya bagaikan orang melamun. “Ayu Kembang Arum dan siang dan malam ada orang yang selalu memikirkannya. Akan tetapi aku ????”

Candra Wulan sangat sedih, karena itulah maka air matanya terus berlinang dengan deras. Hampir saja ia menangis sesenggukan.

Mintaraga sadar. Ia mengerti kalau Candra Wulan telah kumat penyakitnya. Ini akan menjadikan hal-hal yang hebat.

“Adi Candra Wulan, janganlah kau memikirkan hal-hal yang terlalu jauh.” Serunya dengan menghibur. “Kemudian Mintaraga memberi nasehat. “Segala apa yang akan terjadi telah ada tulisannya. Baiknya kita harus mengingat kepada tugas-tugas kita. Orang-orang dunia persilatan ini tak menghiraukan lagi kepada penghidupannya. Dia akan melakukan apa yang  

dipikirnya. Dan orang-orang yang berpijak kepada dunia kependekaran akan

mengesampingkan urusan pribadinya. Untuk menghadapi kematian maka akan dianggapnya pulang kerumah saja.”

Candra Wulan mendengar nasehat atau hiburan itu. Ia benar-benar ketarik hatinya. Perlahan-lahan ia kena dipengaruhi. Setelah itu mulailah hatinya menjadi tenang, Mintaraga menggeserkan nasehatnya kesoal Tunggul Tirto Ayu yang menjadi lambang dari kerajaan Demak Bintoro.

Sekarang mereka membicarakan tentang Tunggul Tirto Ayu. Mintaraga teringat akan perkataan Bikshuni Woro Keshi.

“Didalamnya ada dua helai surat. Yang sehelai adalah warnanya putih. Itulah surat yang memuat pengajaran untuk keluarga yang menjadi keturunan dari Tumenggung Malangyudo. Yang sehelai berwarna kuning. Kertas kuning ini tak bermuatkan surat. Akan tetapi itu ada hubungannya dengan Tunggul Tirto Ayu. Ayahmu telah mewariskan teka-teki itu untuk kau pecahkan. ”

Karena itu Mintaraga lalu merogoh kedalam sakunya, kemudian ia menarik keluar yang berwarna kuning. Sampai lama ia memandang dan memeriksanya. Kertas itu tipis sekali akan tetapi kuat.

Candra Wulan juga turut memeriksa surat yang ia pegang dan bulak- balik ditelapak tangannya. Setelah sekian lamanya, tiba-tiba ia tertawa sendiri.

“Kakang Mintaraga.” Katanya. “Surat ini namanya saja surat akan tetapi tak ada tulisannya. Inilah kertas belaka. Untuk apa dipandang saja? Apakah gunanya?”

Gadis itu rupanya, saking jujurnya, tak memandang sungguh-sungguh kepada surat itu, hanya sehelai kertas kuning saja.

Mintaraga menghela napas.

“Ketika jaman dahulu ketika Raja Banten hendak meluaskan jajahannya ke timur, mereka telah membawa tiga buah barang bingkisan ke timur.” Katanya kepada Candra Wulan. “Tahukah kau barang apa itu yang dibawanya?”

Candra Wulan menjadi heran dan semangatnya terbangun. “Apa? Untuk apakah kau menyebut-nyebut hal itu kakang?”

“Ketika itu raja Banten menyerang ke timur, menerjang ke Tenggara dan telah membunuh ribuan orang.” Jawab Mintaraga memberi keterangan. “Akan tetapi penyerangannya ke Majapahit menemui kegagalan hingga terpaksalah ia hanya berkuasa didaerah barat saja. Dan dibarat itulah raja Banten ini mendirikan sebuah kerajaan besar. Dibarat itulah mereka menciptakan tiga buah kepandaian ”

“Apakah ketiga buah kepandaian itu kakang?” Tanya Candra Wulan dengan bernafsu. “Ceritakanlah. !”  

“Ketiga   kepandaian   itu   adalah   berupa   ilmu   siasat   perang,   ilmu

mengatur negara dan ilmu membuat kertas.” Jawab Mintaraga. “Sebelum ada raja Banten orang-orang di sebelah barat pulau Jawa ini belum dapat membuat kertas. Kertas yang mereka pakai adalah kulit kerbau ataupun daun-daun lontar. Karena itulah kertas semacam kulit kerbau itu terlalu tebal dan kegunaannyapun kurang praktis. Akan tetapi sekarang ini?” Dan ia mengibaskan kertas kuning yang berada ditangannya itu.

Kemudian serunya :

“Sekarang bukannya mereka tetap mempergunakan kertas itu, malahan kini telah dapat membuat sebuah kertas yanh halus enteng dan tipis. Kau tentu melihat sendiri kalau kertas ini terbuat dari sebuah kulit kambing yang telah dihaluskan dan juga ditipiskan.” Serunya sambil mengangsurkan kertas ini kepada Candra Wulan.

Candra Wulan menerima lagi kertas kuning ini, hanya sekarang ia tak mengamat-amati dan memeriksanya seperti tadi.

“Kakang Mintaraga, aku bukannya tengah membicarakan tentang kertas.” Katanya. “Apakah dari kertas ini kau dapat membuka rahasia dari Tunggul Tirto Ayu itu?”

Mintaraga menggelengkan kepalanya. “Tidak.” Jawabnya dengan singkat.

Candra Wulan kelihatan malas dan memperlihatkan wajah yang lusuh, iapun segera mengembalikan kertas kuning itu kepada Mintaraga yang menyambutnya kembali.

“Dengan cara bagaimana kau dapat mengatakan kalau kertas ini adalah buatan orang Banten?” Tanyanya.

“Pernahkah kau melihat kita orang-orang dari Demak Bintoro ataupun Pajang maupun Jipang mempergunakan kertas semacam ini? Tidak! Orang- orang Banten itu karena mendapat pengaruh-pengaruh dari kapal-kapal asing yang berlabuh dipelabuhannya maka ia mendapat kemajuan dan dapat membuat kertas jang istimewa ini. Sedangkan kita masih mempergunakan bahan daun lontar sebagai kertas.....

Mintaraga dan Candra Wulan, berbicara dengan asyik sekali. Hingga mereka tak mengetahui kalau ada seorang yang datang mendekat kepadanya. Tahu-tahu orang yang bertubuh besar dan berjenggot serta berewokan itu tertawa dan berkata kepada Mintaraga :

“Ki sanak tak kecewalah kau menjadi seorang ahli dalam kertas. Kau juga telah memuji kami orang-orang dari Banten, atas ucapanmu itu aku mengucapkan terima kasih....” Dan ia lalu menganggukkan kepalanya secara dalam-dalam.

Mintaraga dan Candra Wulan berpaling untuk melihat orang yang berkata itu. Ternyata orang itu mempunyai muka yang berwarna merah dan berewok, matanya hitam kehijau-hijauan. Ini benar-benar menandakan kalau  

ia   datang   dari   Banten. Keduanya bangkit lalu   balas   menganggukkan

kepalanya. Kemudian katanya dengan merendah.

“Kami sedang omong-omong kosong, tak kusangka kalau pembicaraan kami ini mengganggu ki sanak. ”

“O... tidak... tidak...” Seru orang itu dengan tertawa lebar    “Bolehkah

aku turut duduk disini?”

Setelah berkata demikian dengan tanpa sungkan-sungkan lagi ia lalu menyeret sebuah kursi dan ikut duduk disitu.

Mintaraga berdua masih merasakan keheranan juga. Orang yang berada dihadapannya ini benar-benar seorang dari Banten, akan tetapi mengapa kelakuan serta gaya-gayanya persis seperti orang Jawa Tengah. Karena itu mereka lalu saling berpandangan, didalam hati kecilnya mereka saling berkata :

“Orang ini aneh sekali. Kelihatannya ia juga seorang dari kaum dunia kependekaran yang sengaja datang kemari. ”

Kembali Mintaraga menganggukkan kepada orang asing itu dan katanya :

“Kami baru saja habis melakukan perjalanan jauh, karena lelahnya maka kami ingin melepaskan lelah, karena itu silahkan ki sanak dudk sendirian saja !?”

Mendengar perkataan Mintaraga ini orang itu lalu melengak dan tertawa dengan keras.

“Huahaaaa... Huahaa... Huahaa... menurut perkataan orang-orang di daerah Barat, orang dari dunia persilatan di daerah Tengah ini ramah-ramah dan halus budi pekertinya, sekarang terbukti kalau kabar yang kudengar itu hanyalah sebuah kabar bohong saja.” Katanya dengan tertawa. “Kau telah mengusirku baiklah kau pergi kedalam dengan bunga jalanan itu masuk kedalam kamarmu yang hangat itu ”

Dia lalu memegang cangkir dan poci tuak ditangannya, dengan segera orang asing ini lalu meneguk tuaknya. Sewaktu menelan tuak itu terdengarlah suara yang nyaring.

Mintaraga menjadi tercengang ketika mendengar perkataan orang asing ini. Akan tetapi pemuda ini masih tetap dapat menyabarkan diri. Akan tetapi tidak demikian dengan Candra Wulan, dia didepannya sendiri, dikatakan sebagai bunga jalanan. Karena itu mukanya menjadi merah padam dalam sekejap saja. Coba kalau dihari-hari yang telah lalu ia tentu akan melayangkan tangannya menampar orang asing itu. Akan tetapi sekarang setelah terlatih dengan Pendeta Argo Bayu wataknya telah berubah.

“Binatang, apakah kau tak dapat mencegah mulutmu?” Tegurnya dengan sengit. “Sebenarnya kau harus diberi hadiah sebuah tamparan, akan tetapi mengingat bahwa kau ini orang asing, nah silahkan kau mengundurkan diri.”  

“Oh... gadis yang baik.” Seru orang Banten itu dengan tertawa lebar.

“meskipun kau tidak minta, aku memang akan mengundurkan diri, hanya saja sekarang ini jual beli kita belum selesai. Dengan begitu biar bagaimanapun juga aku tak dapat segera mundur dari sini.”

Mintaraga menjadi tak senang ketika mendengar orang itu mengoceh dengan tak berketentuan. Terang kalau mulutnya itu menunjukkan kalau congor dari seorang yang ceriwis.

“Kami belum pernah bertemu denganmu, ada jual beli apakah diantara kita ini?” Tanyanya. “Tidak... kami tak jadi masuk kedalam kamar, akan tetapi aku akan duduk terus disini, dan silahkan kau saja yang pergi ki sanak...!”

Orang Banten yang bertubuh besar dan berewok itu lalu menggeprak meja hingga piring dan cangkir itu berlompatan menari-nari diatas.

“Untuk kedua kalinya kau telah memerintahkan aku pergi. Kau telah mengusirku.” Seru orang itu. “Hem... apakah kau sangka aku akan dapat sedemikian mudah kau hina?”

Mintaraga menjadi heran, teranglah kalau orang ini sedang mencari gara-gara. Mempunyai maksud apakah yang terkandung didalam hatinya? Sesaat saja ia telah mendapat pikiran, tidak lagi marah, sebaliknya malahan tertawa-tawa.

“Baiklah.” Katanya dengan manis. “Kau bilang hendak jual beli dengan kami, kita akan jual beli apakah?”

“Bagus.” Seru orang asing itu. “Beginilah baru dinamakan urusan. Kau mengerti baik urusan membuat kertas. Karena itu marilah kita bicara tentang pembuatan kertas.”

Candra Wulan menjadi heran. ‘Benarkah orang macam dia ini, yang mirip dengan seorang gagah, jauh-jauh dari barat datang ke daerah Demak hanya untuk mengusahakan pembuatan kertas saja?’

Mintaraga juga heran, hingga pemuda ini lalu mengerutkan keningnya. “Ki sanak kau hanya bergurau.” Katanya sambil tertawa.

“Eh... siapakah yang bergurau?” Tanya orang asing yang berewok itu. “Kau punya kertas yang terbuat dari kulit kambing, bukankah itu benar? Coba keluarkan aku akan melihatnya! Berani atau tidak kau mengeluarkan kertas itu? Huahaa... Huahaa... Huahaa... kau tentunya tak nanti menanyakan sebab-sebab permintaanku ini.”

Kembali Mintaraga dibuat heran. Bukankah kertas kuning ini ada hubungannya dengan Tunggul Tirto Ayu? Mengapa orang ini justru hendak melihat kertas kuning itu? Apakah ia ada hubungannya juga dengan Tunggul Tirto Ayu itu? Oleh karena itu ia menjadi berhati-hati. Ia mengeluarkan kertasnya, dan meletakkan keatas meja.

“Bagaimana?” Tanyanya.

Orang bertubuh besar dan berewokan itu mengawasi sekian lamanya.  

“Bagus,   benar-benar   tajam   matamu.”   Katanya   sejenak   kemudian.

“Memang kertas ini adalah buatan dari orang-orang Banten. Ingin aku membeli kertas ini. Coba kau sebutkan saja harganya.”

‘Ah... benarkah?’ Seru Mintaraga didalam hatinya. Setelah itu ia melirik kearah Candra Wulan. ‘Dia tentu ada hubungannya dengan Tunggul Tirto Ayu. Dia tentunya datang kemari dengan tujuan mencari benda berharga itu. Pasti dia mengetahui akan rahasia ayahku. Baiklah aku akan menguji kepadanya.’ Karena itu ia lalu tertawa. Ia pura-pura menegaskan. “Ki sanak apakah benar-benar kau hendak membeli kertasku ini?”

“Benar.” Jawab orang itu tanpa bersangsi sejenakpun juga.

“Tahukah kau harganya?” Seru Mintaraga pula, bahkan pemuda ini berkata sambil tertawa.

“Pasti sekali, sebutkan saja berapa harganya yang kau pinta aku tentu akan membayarnya.”

Candra Wulan menjadi kehabisan kesabaran.

“Baiklah aku akan menyebutkan harganya.” Katanya dengan keras. Memang Candra Wulan telah mendahului Mintaraga. “Kau dengarlah, kertas ini berharga lima juta keping emas. Tak boleh kurang barang sedikitpun juga.”

Candra Wulan yakin kalau mendengar harga yang sangat mahal ini maka orang Banten ini tentu akan menjadi kaget dan mundur teratur. Akan tetapi sedikitpun tak pernah disangkanya kalau gurauannya ini akan mengakibatkan sebuah hal yang hebat.

Orang berewok itu tak segera menjawab. Ia hanya tersenyum. Sedikitpun ia tak tampak kalau kaget ataupun heran. Dengan tenang ia menepuk tangannya, dengan begitu maka muncullah belasan orang yang berpakaian seperti pelayan. Dan mereka itu menggotong sepuluh peti yang besar, dan terus meletakkan dihadapan orang asing itu.

“Buka.” Tiba-tiba terdengarlah perkataan si berewok itu.

Para pelayan itu segera menjalankan perintahnya, maka ketika tutup itu dibukanya, dari dalam menyorot sinar kuning bergemerlapan, sinar dari tumpukan emas.

Baru sekarang orang berewok itu menjawab perkataan Candra Wulan tadi. Katanya sambil tertawa.

“Didalam setiap peti itu ada uangnya sebanyak lima ratus keping emas. Jadi kalau sepuluh peti ini maka uangnya berjumlah lima juta emas tak kurang barang sedikitpun juga. Coba kau hitung uang itu biar tak keliru.” Ia lalu menyodorkan tangannya kepada Mintaraga dan berkata :

“Ki sanak, silahkan kau berikan kertas kulit kambing itu. Dengan begini selesailah sudah jual beli kita.”

Mintaraga dan Candra Wulan kedua-duanya menjadi melongo, dan tak pernah menyangka kalau hal ini akan terjadi, karena itulah mereka berdiri  

terpaku. Mulutnya terbuka lebar-lebar. Mata mereka kelihatan mendelong.

Tentu saja mereka tak menjawab perkataan orang itu.

“Eh... ki sanak, kau mengapakah?” Tanya si berewok itu sambil memandang kearah Mintaraga.

Mintaraga segera menenangkan diri, ia menjadi malu akan tetapi ia harus segera berbicara.

“Menyesal sekali ki sanak.” Katanya. “Kukatakan terus terang saja kalau kertas kulit kambing ini adalah sebuah pusaka warisan dari keluargaku. Jadi kertas ini tak akan kujual...”

Mendengar perkataan ini orang berewok itu menjadi marah.

“Apa??” Teriaknya. “Apa?? Apa yang kau ucapkan itu?? Kata-katamu itu kata-kata manusia atau kata-kata anjing?”

Candra Wulanpun telah dapat menenangkan hatinya.

“Ki sanak apakah tidak boleh kalau kita hanya bergurau saja?” Tanyanya. “Mengapa kau membuat banyak berisik saja?”

Orang itu makin marah, dan matanya mendelik, hawa napasnya telah membuat jenggotnya menjadi bertebaran.

“Bergurau?” Katanya menegaskan. “Aku Arya Panuju umurku telah empat puluh dua tahun, selamanya belum pernah ada orang yang berani bergurau denganku. Hem... disini ada uang lima juta emas maka serahkanlah kertas kuning itu.”

Ia menyodorkan pula tangannya.

Melihat orang itu menunjukkan kegagahannya, dan dalam sekejap saja ia bisa mengeluarkan lima juta keping emas. Mintaraga percaya Arya Panuju ini, demikian orang itu memperkenalkan diri, mestinya bukan sembarangan orang Banten. Nama itu telah membuatnya berpikir.

‘Arya Panuju.’ Ulangnya didalam hati. “Entah dimana akan tetapi rasanya ia pernah mendengar nama itu..... Ah, aku ingat sekarang. Dia adalah seorang tokoh gagah nomor satu di daerah Banten. Dia lima tahun yang lalu pernah mendatangi Jawa Tengah seorang diri terus menemui orang-orang gagah didaerah ini. Kemudian ia pernah pula menghajar roboh Dua Puluh Satu jago-jago Jipang Panolan, hingga ketika ia pulang kenegaranya mendapat sebuah kemenangan yang gilang gemilang. Iapun pernah seorang diri mendaki gunung Lawu dan menantang kepada eyang gurunya. Akan tetapi eyang gurunya itu tak sudi melayaninya. Pendeta Argo Bayu tak sudi menemuinya dan menyingkirnya. Memang kabarnya dia hebat sekali, sekalipun paman eyang gurunya, pendeta Baudenda, tak dapat menandinginya. Sekarang ia datang pula ke Jawa Tengah. Kali ini rupa- rupanya kedatangannya ini ada hubungannya dengan Tunggul Tirto Ayu. Apakah ada hubungannya antara dia ini dengan ayahku?’  

Sementara itu Candra Wulan tak tahu siapa adanya orang dari Banten

itu, tak puaslah hatinya ketika melihat lagak lagu orang yang sangat sombong ini. Kemudian ia mendahului Mintaraga dengan berkata lantang :

“Aku yang bergurau, habis kau mau apakah?”

Arya Panuju tak mempedulikan gadis itu, ia hanya menghadapi Mintaraga.

“Sebenarnya kertas kulit kambing ini hendak kau serahkan atau tidak?” Tanyanya menegaskan.

Anak muda ini memberi hormat dengan menganggukan kepalanya. “Adikku ini memang gemar sekali bergurau.” Katanya. “Karena itu ki

sanak, kuminta supaya kau memaafkannya, dan apakah kau tak akan merasa rugi untuk menukarkan uangmu yang demikian banyaknya ini kepada kami yang hanya akan menukar kulit kambing saja?”

Arya Panuju tak menjawab ia hanya menepuk tangannya, untuk memerintahkan orang-orangnya menggotong uangnya itu kembali kedalam, kemudian dengan tenang ia menggeser kursinya dimeja ruang itu. Iapun lalu menyuruh minggir pengurus dan pelayan-pelayan rumah penginapan itu. Segera ia melepaskan pakaian luarnya hingga tampak badannya yang kuat dan dempal itu.

“Kami orang gagah dari barat sekali bilang satu tetaplah satu, dan kalau sampai bilang dua maka akan mempertahankan dua pula.” katanya dengan nyaring. “Kami tak akan selicik kalian. Mari kita main-main beberapa jurus.” Mintaraga memasukkan surat kambingnya itu kedalam saku bajunya.

Dengan tenang sekali ia bangkit dari kursinya.

“Arya Panuju, apakah kau berbuat demikian supaya namamu terangkat dan terkenal di daerah tengah ini?” Tanyanya dengan sabar dan tertawa.

“Mencari ketenaran nama?” Bentak Arya Panuju. “Apakah nama Arya Panuju masih kurang terkenal? Bocah kata-katamu sendiri kau anggap tak berharga, karena itu marilah kita memutuskan dengan tangan dan kaki. Kulihat kau tentunya mengerti akan ilmu silat. Benarkah dugaanku ini?”

“Aku mengerti sedikit.” Jawab Mintaraga dengan tenang dan sambil tertawa-tawa. “Hanya untuk sebuah kertas rosokan kita harus mengadu tenaga, aku menganggap ini terlalu keterlaluan.”

“Hee... siapa sudi mengaco belo denganmu?” Bentak Arya Panuju. “Marilah kita bertempur! Cara bertempur kami adalah sebuah cara yang paling adil. Misalnya kau kalah, kau akan menerima dengan baik lima juta uang emas itu, lalu kau menyerahkan kulit kambing itu kepadaku. Kalau kau yang menang maka malam ini juga aku kembali kebarat dan untuk selama hidupku aku tak akan berani menginjakkan kakiku kedaerah tengah ini lagi.” Dengan daerah tengah yang dimaksudkan dengan Arya Panuju ini adalah Jawa Tengah. Ia benar-benar memandang sangat enteng kepada anak muda yang berada dihadapannya itu. Karena ia merasa kalau badannya saja  

telah lebih besar, dan badan pemuda itu hanya sebatas dadanya saja. Ia yakin

kalau hanya dengan dua atau tiga gebrak saja maka pemuda itu pasti akan dapat dikalahkannya.

“Caramu itu tidak adil.” Kata Mintaraga. Dan iapun lalu tertawa. “Jika aku menang maka pantaslah kalau kau memberi sebuah hadiah kepadaku. Tentang kau akan pulang kebarat itu bukan urusanku. Aku tak akan mempedulikannya. Lagi pula kalau kau berhasil mengalahkan aku, aku akan menyerahkan kulit kambing ini kepadamu, akan tetapi sekali-kali aku tak akan kemaruk dengan harta bendamu yang berjumlah besar itu.”

Agaknya Arya Panuju mendongkol sekali hingga ia menggeleng- gelengkan kepalanya ketika berseru :

“Hai bocah yang baik, ini adalah perkataanmu sendiri. Baiklah jika kau dapat mengalahkan aku, akupun akan memberimu sebuah hadiali yang berupa kertas kulit kambing. Setelah berkata demikian ia lalu merogohkan tangannya kedalam saku bajunya. Dan tampaklah ia mengeluarkan sebuah kantong kecil setelah kantong kecil itu dibuka maka keluarlah sebuah kulit kambing yang tadi disebutnya. Sambil membentang kulit kambing itu ia lalu berkata :

“Kertas kulit kambingku ini sama harganya dengan kertas kulit kambingmu itu. Bukankah ini namanya adil?”

Mata Mintaraga sangat tajam, dengan sekelebatan saja ia mengerti, kertas itu sama benar dengan kepunyaannya. Karena itu ia menjadi heran akan tetapi segera memberi jawaban.

“Baiklah dengan cara ini kita bertaruh. Hanya terlebih dahulu aku akan melihat kertas kulit kambingmu itu. Apakah kau berani memperlihatkan kepadaku? Huahaaa... Huahaaa... Huahaa... Kau tentunya tak akan menanyakan apa sebabnya aku kepingin melihat barangmu itu.”

Arya Panuju menjadi mendongkol sekali, karena pemuda itu telah menirukan perkataannya tadi.

Memperlihatkan kepadamu, memang akan kuperlihatkan.” Katanya. Dan segera tangannya diayun untuk melemparkan kertas itu kearah Mintaraga. “Siapakah yang takut kepadamu?!”

Melihat ini terperanjat juga hati Mintaraga.

‘Hebat juga tenaga dalam orang ini...’ Pikirnya sambil menyambut kertas itu, dan segera memeriksanya.

Kertas itu kuning warnanya sama benar dengan warna kertasnya sendiri, dan ukurannya, besar dan kecil. Semuanya sama. Juga surat itu tak ada tulisannya.

‘Ayahku telah memberi teka-teki kepadaku dan aku belum dapat memecahkannya.’ Pikirnya. ‘Sekarang tambah lagi sebuah kertas yang sama benar.... apakah ini artinya...???”  

Ia segera menengok kearah Candra Wulan, akan tetapi tepat pada waktu

itu Candra Wulanpun sedang mengerling kearahnya. Gadis ini memberi tanda supaya pemuda ini merampas saja kertas kuning itu, dan terus dibawa kabur. Ia lalu berpikir :

‘Kertas ini harus kurampas. Akan tetapi aku tak mau merampas dengan secara yang rendah dan buruk hingga dapat menjadi buah tertawaan orang- orang dari dunia kependekaran.’ Karena itu iapun lalu melemparkan kembali kearah pemiliknya.

Orang berjenggot dan berewok itu lalu tertawa.

“Kiranya kau juga pandai mempergunakan ilmu tenaga dalam.” Katanya. Ia tidak menjadi takut, namun tetap saja ia menjadi kagum. “Eh... siapakah namamu?”

Memang Arya Panuju menanyakan tentang nama mereka berdua. Mintaraga hanya tertawa.

“Mari kita mencoba dahulu sampai tiga ratus jurus, setelah itu masih belum terlalu terlambat untuk menjawab pertanyaanmu tadi ki sanak.” Katanya.

Arya Panuju segera menyimpan kembali kertas kuningnya. Ia berlaku sangat hati-hati. Kemudian barulah ia berkata :

“Usiaku lebih tua dari pada usiamu, tubuhkupun lebih kuat dari pada tubuhmu. Maka aku memberi ampun kepadamu. Kita akan mengadu kepalan, adu ilmu lari cepat, ilmu tenaga dalam atau adu senjata terserah kepadamu! Nah kau sebutkanlah semuanyapun bocah.”

Belum lagi Mintaraga menjawab, akan tetapi Candra Wulan telah mendahuluinya. Candra Wulan melihat kalau tubuh orang itu tinggi besar, badannya padat, kedua kepalannya besar sekali. Kalau mengadu kepalan atau tangan terbuka kakaknya belum tentu akan dapat menang diatas angin. Maka katanya kepada Mintaraga :

“Kakang Mintaraga, dia telah berkata.” Katanya. “Kau lawanlah dia dengan ilmu meringankan tubuh saja.”

Mintaraga tersenyum dan berpikir.

‘Aku baru saja meyakinkan ilmu Braholo Meta akan kucoba ditubuhnya...’ Maka ia lalu memberikan jawabannya. Katanya :

“Kau adalah orang dari barat dan aku dari tengah dan kini pertarungan akan berlangsung didaerah tengah, maka sudah selayaknya kalau aku yang memberi ampun kepadamu. Untuk mengadu apapun juga aku menurut. Adu kepalan dan tendangan, adu senjata dalam semua itu, aku bersedia menemui kau! Nah kau bilanglah.”

Mintaraga selamanya meniru-niru lagak orang itu. Arya Panuju berkaok-kaok kelabakan.

“Apa yang telah kuucapkan, tak nanti akan kutarik kembali.” Jeritnya. “Anak yang baik kau sebutkanlah.”  

“Kaulah yang menyebutkan, aku tak mau.” Jawab Mintaraga. Ia sengaja

mempermainkan Arya Panuju, dan ia tahu kalau orang gagah itupun tak mau menyebutkannya terlebih dahulu.

Mintaraga berpura-pura mengalah, iapun tidak mau menyebutkannya. Candra Wulan segera tertawa lebar.

“He... kalian ini sebenarnya akan mengadu kepandaian atau akan mengadu kesabaran?” Tanyanya. “Huahaa... Huahaaa... Huahaa Kalau

begitu, sudahlah. Tak usah kau mengadu pedang atau kepalan. Baiknya kalian saling bergantian main pukul dan main dupak saja. Ialah berkelahi dengan tak menurut aturan, menurut saya itu cara orang gelandangan ditengah jalan besar.”

Candra Wulan mengucapkan perkataan itu hanya untuk bergurau. Akan tetapi siapa tahu, dua orang yang tengah berhadap-hadap itu lalu memperdengarkan suara mereka dengan bersama :

“Baik. baiklah begitu saja.”

Mendengar ini Candra Wulan menjadi terperanjat dan tercengang karenanya.

“Ya begitu saja.” Mmtaraga berkata. “Arya Panuju kau boleh memukulku terlebih dahulu sebanyak tiga kali. Nanti aku akan membalasmu memukul dengan tiga kali pukulan.”

Arya Panuju setuju. Kemudian katanya :

“Baiklah, siapa saja tak boleh membalas menyerang dan tak boleh mengelak mundur. Siapa saja yang roboh terjungkal akan kalah.”

Mintaraga tertawa. “Setuju sekali.” Jawabnya.

Mendengar perjanjian ini Candra Wulan menjadi sangat terkejut. ‘Apakah kakang Mintaraga telah angot?’ Pikirnya. ‘Kalau dia memukul

terlebih dahulu, ada harapan besar dia akan memperoleh kemenangan, akan tetapi kalau lawannya yang memulai, ah, robohlah dia, mana ia mendapat ketika untuk balas memukul? Bagaimana sekarang. ???’

Tak sanggup gadis itu menahan hatinya, ia lalu mengutarakan kekhawatirannya itu, dan berkata kepada kawannya.

Arya Panuju mendengar kekhawatiran gadis ini, agaknya orang tinggi besar itu menjadi berpikir. Dan kemudian tertawa bergelak-gelak.

“Benar.” Katanya. “Bocah cilik, jika aku kena kau hajar sampai mampus itu tak apa, akan bagaimana kalau kau kuhantam dulu hingga mati. Lalu siapakah yang akan membalaskan memukulku? Baiknya begini saja. Baiknya kau memukulku terlebih dahulu, baru nanti aku yang memukulmu.”

Segera ia memasang kuda-kudanya dan berkata :

“Mulailah anak muda.”

Mintaraga tertawa. Didalam hatinya ia mengagumi orang itu, ia adalah seorang yang jujur dan polos. Ia hanta sangsi kalau orang sanggup bertahan  

dengan tiga kali pukulannya. Karena mendapat pikiran yang demikian ini

maka timbullah niatnya untuk. mengikat persahabatan dengan orang Banten ini. Ia lalu tertawa.

“Cara ini juga masih tak adil.” Katanya. Kulihat lebih baik kita menyerang saling bergantian saja. Kau sebuah kepalan dan akupun satu kepalan. Kau memukul lagi, akupun memukul pula...... bukankah ini bagus?”

“Benar bagus. Nah kau mulailah.” Jawab Arya Panuju dengan cepat. Mintaraga berdiri tetap, sikapnya sangat tenang, ia lalu tertawa. “Persengketaan ini dimulai dari pihakku.” Katanya. “Karena itu baiknya

kau mulai saja memukulku. Sekarang aku telah siap sedia menantikanmu.”

Arya Panuju berpikir. Ia menganggap kalau perkataan orang itu sangat benar. Karena itu ia segera mengumpulkan tenaga dalamnya. Hingga karenanya seluruh tubuhnya berbunyi gemeretukan akibat pengerahan tenaga dalam yang hebat itu. Urat-uratnya terus menojol keluar. Malahan lengan kanannya seperti mekar.

“Pukulan pertama akan segera kulakukan, apakah kau telah siap?” Tanyanya. Ia bertanya akan tetapi pukulannya segera menyambar, menyambar rahang bawah. Ia tak mengenal anak muda yang berada dihadapannya. Ia percaya kepalannya ini pasti akan mementalkan atau paling sedikit akan memberi sebuah hajaran yang hebat kepada anak muda itu. Tidak pernah ia menduga sebaliknya. Maka kesudahannya ia menjadi melengak.

Seperti telah berjanji, Mintaraga tak menangkis atau mengelakkan tubuhnya hingga kakinya berpindah. Hanya ketika kepalan itu tiba, kepalanya digerakkan sedikit kekiri, maka lewatlah serangan itu, hanya hawa anginnya saja jang mendesir.

‘Licin bocah ini.’ Pikir Arya Panuju. ‘Dia sangat gesit. Tak pernah disangkanya kalau pemuda yang masih begini muda telah mempunyai kepandaian yang begitu hebat.’

“Sekarang giliranku.” Kata Mintaraga yang tak memberi kesempatan lawannya untuk berpikir.

“Silahkan.” Jawab orang berewok itu dengan sikap menantang. Akan tetapi serangannya itu ada sifatnya mencoba-coba. Dan sekarang ia hendak mencoba-coba. Sebentar baru ia hendak gunakan ketikanya.

Ketika serangan Mintaraga ini tiba pada sasarannya Arya Panuju tidak menunjukkan terus dadanya, sebaliknya, ia menyedot hingga anggota tubuhnya seperti melesak kedalam. Maka tak berhasillah serangan anak muda itu.

“Bagus.” Mintaraga memuji.

Walaupun ia adalah seorang tokoh terkenal dari daerah barat, akan tetapi Arya Panuju telah mengenal tenaga dalam dari orang-orang yang  

berada didaerah tengah, karena itu dengan latihan yang telah tiga puluh

tahun lamanya, ia dapat menguasai tubuhnya dengan sempurna. Dengan dapat menyedot diri, ia membuat serangan lawannya gagal.

Juga Mintaraga serangannya ini adalah serangan percobaan, sekarang ia mendapat kenyataan kalau lawannya ini adalah seorang tokoh yang mempunyai kepandaian tinggi. Karena itu ia tak mau memandanng ringan kepadanya.

Setelah itu kembalilah mereka itu saling serang-menyerang, dan kedua- duanya sama-sama tak memperoleh hasil, hingga datanglah serangan Arya Panuju yang ketiga kalinya, namun serangan inipun gagal.

Serangan Mintaraga yang kedua kalinyapun gagal, karenanya untuk mendapatkan kulit kambing itu ia harus mempergunakan jurus pukulan dari Braholo Meta.

“Awas.“ Teriaknya sambil menyerang. Ia telah mengumpulkan tenaga dalam dan luarnya. Ia mencoba berseru untuk mengacaukan pemusatan pikiran orang asing itu.

Didalam hatinya Arya Panuju tertawa.

‘Meskipun kau menambah lagi tenagamu, biarpun itu tenaga dalam yang beratnya ada seribu kati, kau tak akan dapat berhasil merobohkan aku.’ Pikirnya. “Percuma saja biarpun kau serang aku seribu kali...”

Dan wajahnya tampak tersenyum, ia lalu menyedot pula dadanya yang menjadi sasaran itu. Iapun beranggapan selewatnya ini mereka akan memperoleh angka seri lagi. Dengan begitu ia akan memperoleh cara lain untuk mengadu kepandaian ini.

Harus diterangkan, dengan beruntun Arya Panuju telah dapat merobohkan orang-orang Jipang Panolan, malahan telah dapat merobohkan Bagaspati orang tertua dan pertama dari jago-jago Jipang Panolan. Hanya terhadap Patih Udara saja ia dapat dikalahkan, dan karena kekalahannya ini ia menjadi tak puas dan cepat-cepat pulang kenegaranya.

Dibarat ia lalu meyakinkan ilmunya terlebih dalam lagi, hingga ia dapat menciptakan semacam ilmu silat baru yang hebat dan dinamakan Wulung Sakti. Setelah itu ia kembali ketengah untuk menantangnya lagi. Akan tetapi ia tak berhasil menemukan jago-jago Jipang Panolan dan juga kepada Patih Udara. Karena itu ia pergi ke puncak Lawu, untuk menantang Pendeta Argo Bayu. Ia mengetahui kalau padepokan Lawu adalah pusat dari ksatria-ksatria gagah perkasa. Akan tetapi pendeta Argo Bayu tak mau melayani dan tak mau menemui jago dari barat itu.

Dua kali Arya Panuju ini menemui tempat kosong saja. Karena itu ia menjadi sangat mendongkol. Ditengah jalan ia bertemu dengan pendeta Baudenda. Berbeda dengan Pendeta Argo Bayu yang sabar itu, Pendeta Baudenda tak suka mengalah, tak sudi ia memberi ampun, setelah perkataan mereka tak cocok, keduanya lalu bertempur. Sampai tiga hari tiga malam ia  

mengadu kepandaian, segala kepandaian mereka telah dikeluarkan semua,

akhirnya pendeta Baudenda harus mengakui keunggulan lawannya. Hal ini adalah karena Arya Panuju mengelurkan jurus-jurus dari Wulung Sakti.

Puaslah hati Arya Panuju setelah ia berhasil mengalahkan orang kedua dari Lawu itu. Meskipun begitu ia tak mau segera pulang kebarat. Ia masih terus merantau didaerah tengah kemana saja yang disukainya. Beberapa kali ia melakukan pertempuran, akan tetapi disetiap pertempuran ia selalu mendapatkan kemenangan. Oleh karena itulah ia mendapatkan julukan WULUNG IBLIS. Lebih dari setahun baru ia kembali kedaerah barat.

Patih Udara tahu kalau Wulung Iblis itu mempunyai kesaktian yang hebat, karena itu ia lalu berusaha membujuknya untuk memperalat tenaganya. Ia mengirim utusan untuk mengundangnya, dan mengajak bekerja sama. Ia menjanjikan kedudukan hanya setingkat dibawahnya. Dan kedudukan yang akan diperolehnya itu lebih tinggi dari pada kedudukan Dua puluh satu jago-jago Jipang Panolan.

Arya Panuju itu tak menghiraukan kedudukan tinggi itu. Sebab ia paling benci kepada orang-orang Jipang Panolan. Malahan selain ia menolak dengan mentah-mentah iapun telah membuntungi lengan para utusan Jipang Panolan itu. Demikanlah maka ia menjadi musuh dari orang-orang Jipang Panolan dan juga kepada jago-jago Jipang serta Patih Udara.

Kali ini Arya Panuju kembali ke tengah, ia mengandung maksud karena adanya kertas kulit kambing yang berwarna kuning itu. Kebetulan sekali ia bertemu dengan Mintaraga dan Candra Wulan, yang lebih kebetulan lagi ia melihat kalau kedua orang muda-mudi ini mempunyai kertas kuning yang terbuat dari kulit kambing seperti kepunyaannya. Karena itu ia ingin sekali mendapatkannya, sampai ia tak keberatan untuk membeli kertas itu dengan harga yang sangat mahal.

Karena Mintaraga membutuhkan kertas yang berteka-teki itu maka tentu saja Mintaraga sungkan memberikannya. Tak peduli kalau Candra Wulan si tukang omong dan guyon itu telah kelepasan omongan, hingga ia menjadi bertempur. Sudah terlanjur, anak muda ini tak menegur Candra Wulan, hanya ia berusaha untuk membatalkan jual beli itu.

Atas serangan yang ketiga kalinya itu, untuk penutupan pertempuran yang pertama, Arya Panuju mengambil siasat yang biasa, ia menyedot dadanya untuk dibuat melesek supaya kepalan lawannya tak sampai. Ia percaya dengan jalan demikian ia dapat membebaskan diri dan lawannya dapat digagalkan maksudnya. Akan tetapi kali ini perkiraannya meleset.

Sudah dua kali Mintaraga tak berhasil. Kepalannya hanya hampir nempel saja, maka kali ini ia menguji ilmu Braholo Meta, tiba-tiba saja ia membuka kepalannya, kemudian meluruskan jari tengahnya untuk menusuk dengan tiba-tiba. Dan ini dilakukan dengan tenaga dalam yang telah dikerahkan. Karena jaraknya dekat, kalau kepalan tak mencapai sasaran,  

tidak demikian dengan jari tangan, yang jauh lebih panjang. Pun sasaran kali

ini adalah jalan darah.

Arya Panuju menjerit kesakitan ketika merasakan kalau jari tengah pemuda itu tepat mengenai jalan darah yang dibuat sasaran. Segera lemaslah kakinya dan juga seluruh tubuhnya, maka robohlah tubuh yang besar dan berat itu. Ia roboh dilantai penginapan itu. 

Oleh karena lantai itu bertanah tak keras, maka tubuh itu melesek dan debu mengepul tinggi-tinggi.

Candra Wulan segera bertepuk tangan, bersorak-sorak.

“Bagus... bagus....” Serunya. “Kakang Mintaraga telah menang. Eh...

Arya Panuju lekas kau serahkan kertas kuningmu itu.”

Ia seperti tak ingat kalau lawan kakaknya ini baru saja roboh tak berdaya.

Muka ki Arya Panuju itu menjadi merah padam. Ia malu dan mendongkol, juga penasaran sekali. Ia benar-benar tak menyangka kalau pemuda ini akan mempergunakan jari tangannya, karena tak keburulah ia untuk menutup jalan darahnya, biarpun ia mendapat waktu akan tetapi ia tetap tak akan mampu meloloskan diri dari pukulan Braholo Meta, tak peduli latihan anak muda ini baru mendapatkan setengah kesempurnaan saja.

“Bocah cilik yang baik, kau telah mempergunakan akal.” Serunya. Ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk membebaskan diri dari totokan akan tetapi bukannya ia berhasil membebaskan diri dari totokan akan tetapi bukannya ia berhasil membebaskan diri, malahan ia merasakan kalau napasnya menjadi semakin sesak. Hingga ia merasa sakit, sampai-sampai ia mengaduh.

Mintaraga segera mendekati lawannya untuk membebaskan totokannya itu. Untuk melakukan hal ini ia harus mempergunakan tenaga yang istimewa. Maklum totokan dan cara pembebasannya ini masih agak asing baginya. Maka ketika ia telah selesai membebaskan lawannya itu dirinya sendiri menjadi mandi keringat.

Begitu merasakan kalau tubuh dan tangannya telah terbebas maka ia lalu melompat dan berjingkrak, terus saja ia berkaok-kaok, lalu kedua tangannya menyerang berulang-ulang kearah anak muda itu.

Mintaraga melihat kalau lawannya telah menjadi kalap, ia melompat mundur beberapa tindak.

“Arya Panuju kau akan apakah?” Tanyanya.

Candra Wulan menyusuli kakaknya sebelum orang asing itu sempat menjawab.

“Arya Panuju.” Katanya. “Kau bertubuh tinggi besar, kau gagah perkasa akan tetapi mengapa kau tak menepati segala janji dan ucapanmu? Bilanglah, kau sebenarnya hendak menyerahkan kertasmu atau tidak?”  

Arya   Panuju   mendelikkan   matanya,   hingga   berewoknya   menjadi

bangun berdiri kaku bagaikan ijuk.

“Bocah cilik yang baik, kau pandai mempergunakan tipu daya.” Teriaknya pula. “Siapakah kau ini? sebutkan namamu, jika aku tak mengadu jiwa denganmu maka jangan sebut aku Arya Panuju si Wuluung Iblis.”

Dan kembali ia maju untuk menyerang.

*

* *

Candra Wulan melompat untuk menghalangi.

“Wanita cilik, ini bukan urusanmu.” Bentak Arya Panuju. “Minggir.” Candra Wulan tak mau minggir malahan ia lalu tertawa dengan dingin. “Arya Panuju, kau tahu malu atau tidak?” Tanyanya dengan

mencibirkan bibirnya dan mengejek.

Bukan kepalang marahnya orang asing itu.

“Malu? Malu apakah?” Bentaknya dengan keras dan terus mendelik kearah perempuan cilik itu.

“Kau toh telah membuat perjanjian!” Kata gadis itu. “Kau telah berjanji siapa yang roboh dialah yang kalah! Ingatkah kau akan perjanjian itu?”

“Kalau aku masih ingat habis bagaimana?”

“Bagus.” Seru gadis cilik itu. “Sekarang hendak kutanyakan kepadamu : Kau yang roboh atau dia?” Serunya sambil menunjuk kearah Mintaraga.

“Kalau aku, habis mengapa?” Tanya orang asing itu yang terus membalikkan pertanyaan-pertanyaan Candra Wulan.

Candra Wulan tertawa geli.

“Maka kini aku minta kertas kuning kulit kambingmu itu, apakah kau sudi memberikan kepadaku?” Jawabnya.

Arya Panuju berkaok-kaok.

“Siapa yang menyuruhmu pakai akal?” Teriaknya pula.

“Kakang Mintaraga mempergunakan akal?” Teriaknya pula menjawab pertanyaan Arya Panuju dengan pertanyaan pula. “Akal bagaimanakah itu?” Memang Candra Wulan sangat senang menggoda orang dari barat itu. Dan iapun lalu tertawa dengan nada dingin.

“Kita berjanji mempergunakan kepalan, akan tetapi mengapa ia mempergunakan jari tangan?” Jawab Arya Panuju. “Bukankah itu artinya mempergunakan akal?”

Gadis ini tertawa terbahak-bahak, sangat lucu tingkah lakunya. “Sekalipun hantu tak akan mempercayai kata-katamu ini.” Serunya.

“Hendak kutanyakan kepadamu. Mana yang lebih hebat antara kepalan dan jari tangan? Dengan kepalanmu kau dapat menghajar rusak sebuah meja, akan tetapi kau mempergunakan jari tangan dapatkah itu?”  

“Hem... tak kusangka kalau kau mempunyai tubuh besar tegap bagaikan

kerbau dan kuat bagaikan kuda, kau kena dirobohkan oleh lawanmu. Kau tentu mempergunakan kebohongan untuk menutup matamu.”

Arya Panuju mendongkol dan matanya mendelik hingga bagaikan melompat keluar.

“Kau tahu apakah?” Bentaknya sekuat-kuatnya. “Tahukah kau faedahnya jari tangan? Tahukah kau kalau jari tangan itu pada suatu waktu akan menjadi lebih hebat dari pada sebuah kepalan?”

“Kaupun harus ingat juga.” Candra Wulan terus meneruskan perkataannya tanpa mempedulikan keterangan orang itu. “Aku tak melihat dia memakai jari untuk merobohkanmu ”

“Dia memakai jari tangannya, ini kulihat dengan jelas.” Potong Wulung Iblis.

Gadis itu tetap tertawa.

“Baiklah.” Katanya. “Sekarang aku minta buktinya.”

Arya Panuju menjadi membungkam mulutnya. Mana ia dapat memberi bukti. Ia menjadi sangat mendongkol akan tetapi kalah omongan.

Mintaraga segera maju setindak, untuk memberi hormat kepada tokoh besar dari barat itu. Ia menghargai orang barat itu karena silatnya yang tinggi, juga sifat kejantanannya, serta kejujurannya. Iapun telah menginsyafi kalau dengan mempergunakan pukulan Braholo Meta ia telah melanggar dan tak menetapi janjinya. Sebab pukulan ini tak dilakukan dengan kepalan. Sejak tadi ia sampai lupakan kehormatan orang dari dunia kependekaran, yang harus memegang derajat, yang harus menepati janjinya. Tidaklah terhormat untuk memenangkan sebuah pertandingan dengan mempergunakan tipu daya. Iapun menjadi tak tega ketika melihat Candra Wulan mengejek.

“Orang tua, barusan memang aku telah menotok jalan darahmu.” katanya mengakui perbuatannya. “Aku lakukan itu karena aku tadi hanya menuruti perasaan hatiku saja. Aku mengharapkan supaya bapa suka tak berkecil hati kerenanya. Tentang kertas kuning dari kulit kambing itu aku tak berani mengharapkannya.”

Mendengar perkataan anak muda ini maka hawa amarah Arya Panuju ini lalu berkurang. Ia juga melihat kalau anak muda ini berlaku hormat, ia lalu menghadapi gadis ini dan katanya :

“Kau dengar tidak? Kalian orang-orang tengah memang terkenal bujukkannya.” Terus ia menolak tubuh gadis itu.

“Eh... jangan kau mencaci orang dengan seenakmu sendiri ya.” Bentak Candra Wulan yang tak mau segera mengalah. Ia tak puas dengan penolakan itu, inilah perbuatan yang tak tahu adat.

“Hem... jika kau bertanding secara sungguh-sungguh, jika kau mampu mengalahkan kakakku ini, maka jangan sebut lagi aku Candra Wulan.”  

“Sudahlah paman, jangan kau layani dia.” Segera Mintaraga menengahi.

“Kau sangat hebat dan tersohor, tentu saja aku bukan lawanmu.”

Mintaraga memang tak mengharapkan permusuhan dengan orang berewok ini.

Senang juga hati Arya Panuju karena pemuda ini telah mengangkat namanya, sejenak saja, buyarlah kemarahannya. Didalam hatinyapun ia berpikir karena herannya kenapa anak ini telah pandai dalam hal ilmu menotok jalan darah. Ia menginsyafi kegagahannya, selama lima atau enam tahun, hanya sekali ia roboh ditangan Patih Udara. Akan tetapi ketika ia teringat kalau ia telah dapat dikalahkan mata hatinya menjadi panas lagi.

“Eh bocah yang baik, apakah kau berani melayaniku beberapa jurus?” Tantangnya. “Kali ini kau boleh mempergunakan kepalan, tangan kosong ataupun lainnya. Pokoknya bebas.”

“Ah... tak usahlah paman.” Jawab Mintaraga sambil tertawa. “kau adalah terlebih gagah dari padaku...”

Teranglah kalau Mintaraga merendahkan diri. Didalam kalangan dunia kependekaran ada sebuah pepatah :

‘Sekali turun tangan saja telah mengetahui kalau lawannya itu berisi atau tidak.’ Ia telah menggunakan jari tangannya dan Arya Panuju roboh, walaupun ia menggunakan akal, kalau orang itu jauh lebih tinggi kepandaiannya dari padanya, maka tak nanti ia dapat dirobohkan sedemikian gampangnya.

“Bocah kecil yang baik.” Arya Panuju berteriak kembali. “Kita belum bertempur secara sungguh-sungguh dengan cara bagaimanakah kau dapat mengatakan kalau aku lebih hebat dari padamu?”

“Sebab paman eyang gurukupun telah dapat kau robohkan.” Jawab Mintaraga yang cepat dapat alasan. “Mana aku bisa menjadi tandinganmu?”

Arya Panuju menjadi tercengang dan segera ia mengawasi pemuda yang berada dihadapannya.

“Siapakah paman eyang gurumu itu?” Tanyanya kemudian.

“Dia adalah Pendeta Baudenda.” Jawab Mintaraga dengan tertawa lebar. “Apakah paman telah melupakannya? Dahulu kau telah mendatangi gunung Lawu untuk mencari eyang guruku ”

Diingatkan atas kunjungannya ke gunung Lawu maka orang asing itu menjadi berubah dan juga hatinya terperanjat.

“Tunggu dulu.” Katanya. “Kau siapakah? Kau harus memperkenalkan dirimu barulah nanti kita bicara lagi.”

“Aku yang rendah bernama Mintaraga.” Jawab Mintaraga dengan sejujurnya.

Tampaklah kalau air muka Arya Panuju itu menjadi berubah.

“Pernah apakah kau dengan ki Darmakusuma?” Tanyanya. “Kau ini anaknya atau keponakannya?”  

Juga suaranya itu kedengaran nyata kalau tergetar dan berubah ketika ia

menanyakan hal ini.

Mintaraga heran, akan tetapi iapun segera memberi jawaban. “Dia adalah ayahku ” Jawabnya.

Belum berhenti suara anak muda itu dan segera orang asing itu berteriak keras sekali, kemudian ia mendongakkan kepalanya dan berkata :

“Tuhan Maha Besar....... Tuhan Maha Agung.” Setelah itu dengan mengeluarkan suara bergemerisik maka ia mengeluarkan sebuah rantai panjang dan terus menyerang kearah Mintaraga.

Hal ini benar-benar diluar dugaan hingga Mintaraga menjadi kaget bercampur bingung.

“Kau.... kau mau apa?” Teriaknya sambil melompat mengelakkan serangan itu. Dengan mengenjotkan kakinya ia lalu melemparkan tubuhnya kebelakang. Hampir saja ia menjadi korban. Hebat serangan itu, anginnya mendesir keras sekali.

Menyusul setelah serangannya gagal ini, terdengarlah suara keras dan debu mengepul. Rantainya tak mengenai sasaran, dan sebagai gantinya hanya mengenai sasaran tanah lantai saja.

Arya Panuju tak berhenti sampai disitu saja, dalam kemarahannya yang hebat, dengan berteriak kembali, ia terus mengulangi serangannya yang dahsyat.

Ia adalah jago nomor satu didaerah Barat. Ia mengerti kalau dirinya sangat hebat, karena itu ia terus menyerang bagaikan harimau kalap.

Mintaraga tak berani ayal lagi. Dengan sebat ia mengelakkan dari setiap serangan, sebab Arya Panuju menyerang terus. Ia tak memberikan perlawanan, melainkan hanya membela diri saja. Mintaraga masih tak mengerti orang itu tiba-tiba saja menjadi kalap. Dengan kesempurnaan ilmu meringankan tubuhnya. Ia dapat menyelamatkan diri dari rantai besi itu. Maka celakalah lantai ruang itu serta segala apa yang berada disitu. Semuanya menjadi korban orang asing itu.

Pemilik penginapan dan orang-orangnya menjadi kaget dan ketakutan. Muka mereka menjadi pucat pasi, tetapi mereka berteriak-teriak. Mereka memohon dengan sangat supaya tetamunya itu berhenti mengamuk. Akan tetapi teriakan ini tak diambil peduli oleh Arya Panuju.

Seorang pelayan yang mempunyai tenaga besar menjadi tak senang. “He... apa-apaan ini?” Katanya dengan mendongkol. “Begini siang hari

bolong, dari manakah datangnya orang-orang hutan yang membuat kacau keadaan disini?” Akan tetapi ia bukannya akan maju untuk meringkus orang kalap itu, ia hanya lari untuk menerobos keluar. Maksudnya hendak lari kearah penjaga keamanan atau kepada pembesar daerah setempat.

Melihat hal ini, Arya Panuju memperdengarkan suaranya yang nyaring :  

“Kalian semua pergi dari sini! Jangan kau menghalang-halangiku.” Dan

rantainya terus menyambar tepat mengenai kedua kaki pelayan itu, maka tak ampun lagi, pelayan itu kena terlempar. Tubuhnya melayang bagaikan layangan putus. Mumbul keatas, membentur langit-langit ruangan, setelah terdengar sebuah suara maka tubuh itu jatuh kembali keatas lantai.

Candra Wulan khawatir kalau orang jatuh dan celaka karenanya. Dia terus melompat maju untuk menangkap. Justru itu sebuah tubuh yang besar bagaikan gunungpun lompat kehadapannya, untuk menghadang.

“Bagus.” Teriak orang itu yang bukan lain adalah Arya Panuju yang bergelar Wulung Iblis. “Kau berani mencabut kumis harimau.”

Dengan tangan kirinya, jago dari barat ini menyambar terus melempar, dan itu diterbangkan tinggi kearah lantai hingga Candra Wulan kaget dan menjerit karenanya. Hal ini tak disangkanya sama sekali.

“Kakang Mintaraga tolong.” Teriaknya.

Arya Panujupun tak berhenti sampai disitu saja, tangan kanannya diayun, menyambar kearah batok kepala si pelayan yang terbanting dilantai dimana dia masih tetap rebah saja.

Mintaraga kaget akan tetapi ia tetap tabah.

“Pelan sedikit.” Serunya. “Jangan kau mengganas disini.”

Sebenarnya sulit untuk anak muda ini, ia harus menolong Candra Wulan, ia pula yang harus menyelamatkan nyawa pelayan itu. Akan tetapi ia tahu apa yang harus dilakukannya. Ia segera mengenjot tubuhnya ketengah kalangan, tangan kanannya mencabut pedangnya dan segera memapas tangan Arya Panuju, dilain saat ia telah mengulurkan tangan kirinya dan berseru :

“Candra Wulan kau pergunakanlah ilmu memberatkan tubuh.”

Candra Wulan mengerti ia lalu menurut nasehat Mintaraga, karena itu ketika tubuhnya turun untuk jatuh, turunnya lambat. Iapun turun tepat ditelapak tangan Mintaraga. Dan pemuda itu telah meneruskan melemparnya, hingga gadis ini dapat dengan berjumpalitan turun dipinggiran yang agak jauh. Akan tetapi karena jatuhnya numprah maka ia merasakan sakit sedikit di kempolnya.

Dilain pihak, papasan pedang anak muda itu telah menolong kehancuran batok kepala pelayan penginapan, sebab Arya Panuju tak menghendaki tangannya menjadi kutung. Terpaksa ia menarik kembali serangannya kepada kepala pelayan penginapan itu. Karena cegahan ini ia lalu mendelik dan menatap kearah Mintaraga. Didalam hati kecilnya ia berkata :

“Anak ini gesit sekali. Hem... nampaknya ia jauh lebih hebat dari pada ayahnya !”

“Apakah kau tak terluka adi Candra Wulan?” Tanya Mintaraga sambil memandang kearah orang Banten itu.  

“Orang kasar ini sangat telengas kakang, kau hajarlah dia.” Seru Candra

Wulan dengan sengit. Gadis ini tak menjawab perkataan Mintaraga itu, hanya mengumbar kemendongkolannya. Dengan perkataan demikian dengan secara tak langsung telah memberitahukan kalau dirinya tak terluka.

Pelayan itupun bersyukur karena telah ditolong dari bahaya maut. Ia merayap bangun untuk segera menyingkir, ia tak berani lagi untuk memberikan laporan kepada pembesar setempat. Segera saja ia bersembunyi bersama majikannya.......

“Arya Panuju.” Tegur Mintaraga. “Terhadap kami kau boleh melakukan apa saja yang kau sukai, akan tetapi mengapa terhadap rakyat jelata kau begini ganas?”

Orang asing itu tertawa menyeringai.

“He... kau hendak memberi pengajaran kepadaku?” Tanyanya menantang.

“Itulah bukan.” Jawab anak muda itu. “Hanya aku tak mengerti mengapa waktu tadi kita bicara dengan baik-baik tapi kini kau telah berubah menjadi demikian ganasnya?”

“Bocah yang baik.” Bentak Arya Panuju. “Mari kita bertempur dulu sebanyak tiga ratus jurus, baru nanti kita bicara lagi.”

Setelah berkata demikian, maka tanpa menanti apakah lawannya telah siap ataupun belum, tokoh besar dari barat itu telah segera menyerang dengan rantainya, malahan ketika Mintaraga mengelak, ia terus mengulangi serangannya sampai tiga kali, mulai serangannya yang ditengah, kiri dan kanan.

Mintaraga melihat kalau wajahnya itu menjadi merah. Tanda kalau lawannya ini benar-benar menjadi marah, karena itu ia tak berani berlaku ayal lagi. Iapun telah kehilangan kesabaran.

“Baiklah, aku Mintaraga ingin belajar kenal kepada jago nomor satu dari barat.” Katanya dengan nada dingin. Lalu dengan memainkan pedangnya, ia menyelinap diantara rantai uatuk terus mendesak.

Arya Panuju mempergunakan rantainya, untuk menyabet dan melilit pedang anak muda itu, akan tetapi beberapa kali ia menemukan kegagalan. Lawannya terus mendesak kepadanya, hingga akhirnya ia harus bergerak mundur. Dengan mundur ia mendapatkan keleluasaan dalam bergerak, rantainya itu panjangnya lebih dari sedepa, karena itulah ia menghendaki pertempuran berjalan ditempat yang renggang. Demikian sekali rantainya menyambar dengan baik.

Mintaraga senantiasa maju sambil mengelak, kali ini ia bagaikan terdesak. Tidak ada jalan lain, sekalian mencoba pedangnya ia memapaki ujung rantai itu. Keras sekali kedua senjata itu beradu, dan terdengarlah suara nyaring.  

Sebagai kesudahan dari itu, Mintaraga terkejut, tidak saja ia merasakan

tangannya menjadi sakit, pedangnyapun hampir saja terlepas dari pegangannya. Pedangnya itu kena dibikin terpental.

Juga Arya Panuju merasakan kalau tangannya sakit, hanya karena senjatanya berat, senjata itu tak sampai tersamplok mental.

‘Bodoh aku, mengapa aku melayaninya keras sama keras....?’ Seru Mintaraga didalam hati. Dengan mengadu senjata maka ia akan kalah angin.

Candra Wulanpun terkejut, karena ia dapat melihat dengan nyata sekali. ‘Sejak aku bertemu dengan kakang Mintaraga, aku belum   pernah melihat dirinya terdesak disebuah pertempuran.’ Pikirnya. Lalu ia melompat

kebelakang Arya Panuju, pedangnyapun terus menikam.

Mintaraga menjadi kaget ketika melihat perbuatan kawannya ini. “Hati-hati adi Candra Wulan...!” Serunya memperingatkan.

Sia-sia saja peringatan yang diberikannya itu. Arya Panuju telah memperlihatkan kesebatannya. Ia tahu kalau ada serangan gelap. Ia lalu memiringkan tubuhnya sambil memutar tubuh itu, ketika ujung pedang lewat disampingnya, tangannya melayang, dari atas turun kebawah.

Dengan menerbitkan suara keras, Candra Wulan merasakan kalau pundaknya kena dihajar dan tanpa dapat mengelak ataupun menangkis. Ia merasakan sakit sekali dan matanyapun menjadi gelap, hanya berkat ia masih sadar, ia masih dapat melompat mundur, untuk menjaga kalau-kalau ia disusul serangan lain sewaktu ia belum dapat melihat tegas lawannya. Iapun menjadi kaget karena hajaran itu, akan tetapi hatinya kuat, maka segera Candra Wulan memusatkan semangatnya. Ia membuat tubuhnya menjadi berat. Dengan cara inilah maka Candra Wulan dapat tak terguling, hanya saking lemasnya kedua kakinya itu, ia roboh mendeprok. Dengan mengeluarkan suara, iapun terus memuntahkan darah segar.

Dalam sesaat itu tak dapat Mintaraga menolong kawannya. Tentu saja pemuda itu menjadi kaget dan marah sekali.

“Arya Panuju, aku akan mengadu nyaea denganmu.“ Serunya dengan tubuhnya melompat maju, pedangnya terus menikam.

Wulung Iblis melompat mundur, akan tetapi iapun tak sudi mengalah, maka dengan sebuah gerakan ia segera balas menyerang. Rantainya dari atas terus melayang kebawah.

“Hem...” Mintaraga mengeluarkan suara yang bersifat menghina. Ia mengelak sambil mengulurkan tangan kirinya, untuk menyambar rantai yang sedang lewat disisi kirinya, setelah itu ia menarik dengan keras.

Wulung Iblis menjadi kaget karena ia merasakan kalau ada tenaga yang sangat besar menariknya. Dengan segera ia mengerahkan tenaganya dan memasang kuda-kudanya untuk bertahan. Tak sudi ia melepaskan rantainya itu. Dan tak relalah ia membuat dirinya tertarik terjerumus. Akan tetapi karena perlawanannya ini ia menjadi kaget dan heran.  

Dengan sebuah suara yang nyaring, rantai itu putus ditengah-tengah.

Saking hebatnya sepihak menarik dan yang lain bertahan.

Seumur hidupnya inilah pengalaman Arya Panuju yang pertama kalinya. Ia biasanya sangat mengandalkan dan tahu akan kehebatan tenaganya sendiri yang besar itu. Akan tetapi ia hanya berdiam sejenak saja. Lalu ia menggerakkan tangannya dengan cepat untuk menyambar ujung rantainya yang buntung itu, untuk menariknya sama cepat.

Mintaraga tak menduga kalau lawannya demikian sebat. Belum sempat ia bersiap sedia, rantai buntung yang berada ditangan itu telah berhasil dirampasnya. Dengan rantai buntung itu kembalilah Wulung Iblis menyerang.

‘Benar-benar hebat orang ini.’ Pikir Mintaraga. ‘Tak kusangka kalau ia akan dapat merampas senjatanya dari tanganku. Pantas saja paman eyang guru dapat dikalahkannya ”

Oleh karena itulah Mintaraga lalu tak berani berlaku sembrono. Setelah mengelakkan serangan yang dahsyat itu, iapun lalu membalas serangan dengan serangan pula.

Kali ini Mintaraga benar-benar mempergunakan ilmu pedang perguruan Lawu yang telah terkenal dikolong langit ini. Hingga dengan demikian keduanya lalu bertempur dengan hebat.

Tanpa terasa dua ratus jurus telah berlalu.

Dalam hal tenaga dalam kedua orang lawan ini ternyata berimbang saja Arya Panuju telah melatih dirinya beberapa puluh tahun, akan tetapi Mintaraga telah dilatih dan digembleng oleh seorang, tokoh sakti yang bernama pendeta ARGO BAYU. Karena itu walaupun baru belajar belasan tahun ia tak perlu khawatir dan menyerah kalah.

Pertempuran berjalan terus sampai fajar menyingsing. Benar-benar sempurna sekali latihan Wulung Iblis, ia tidak tampak letih barang sedikitpun juga. Karena itu sungguh beruntung sekali bagi Mintaraga yang lebih menang dalam hal ilmu meringankan tubuhnya.

‘Sungguh hebat anak muda ini.’ Pikir Wulung Iblis dengan heran dan kagum.

Setelah lewat lagi beberapa jurus maka Arya Panuju lalu menyerang dengan mempergunakan jurus ‘ular naga berjumpalitan’ ia maju dengan menyerang dan mempergunakan kedua buah potongan rantainya itu. Menyerang dari atas kebawah.

Mintaraga kaget bukan main, hampir saja ia menjadi korban, akan tetapi ia mengucap syukur kehadirat Tuhan karena masih bisa mundur.

Setelah gagal serangannya ini maka Wulung Iblis tak menyerang terlebih jauh lagi, sebaliknya ia hanya berdiri dengan diam saja. Kedua matanya dibuka lebar-lebar, namun biji matanya diam saja. Kulit mukanya  

berubah. Dari kuning menjadi merah tua, lalu merah... Dari tubuhnya

terdengar urat-uratnya yang sedang bekerja.

Candra Wulan heran ketika menyaksikan orang asing ini, ia memandang dengan penuh perhatian. Candra Wulan waktu itu sedang melepaskan lelah dan memperbaiki tata napasnya. Karena itu gadis ini tak berani sembarangan bergerak.

Mintaraga sebaliknya mengetahui kalau lawannya kini tengah mengerahkan tenaga dalamnya untuk melancarkan sebuah serangan yang hebat. Ia tahu kalau lawannya akan melancarkan serangan yang dinamakan ‘Cengkeraman Wulung Iblis’. Karena itu iapun berdiam diri, untuk menyiapkan diri dari serangan lawannya yang hebat itu.......