Tunggul Bintoro Jilid 06

 
JILID VI

“TIDAK.” Jawab Indrajaya sambil tertawa dingin.

Melihat kalau ada orang yang membelanya, maka tampaklah kalau Wilotikto bertambah berani.

“Aku juga tidak setuju.” Tiba-tiba ia memperdengarkan suaranya.

Kembali pikiran hadirin menjadi tegang. Tentu saja hebat kalau pihak yang tersangkut sendiri telah menentukan sikapnya. Dua jalan telah ditolak. Kini hanya tinggal jalan yang ketiga, yah jalan yang selalu diambil oleh orang-orang dari dunia kependekaran. Ialah : ‘pertempuran.”

Kembali para hadirin sama kasak-kusuk, pun diantara mereka ada yang hanya berdiam diri saja. Diwaktu itu, tiba-tiba ada seorang yang membuka jalan untuk maju kemuka, sambil tertawa orang itu berkata dengan tegas :

“Aku lihat masih ada jalan yang ketiga.”

Suara ketawa orang itu sangat nyaring, hingga dengan demikian semua hadirin menjadi heran. Dengan begitu ribuan mata mengalihkan pandangannya kearah si pembicara itu.

*

* *

Orang yang hendak menyarankan jalan ketiga ini ternyata adalah seorang yang memakai baju hijau, mukanya putih dan tak berkumis. Wajahnya tak mengherankan siapapun juga. Akan tetapi terhadap orang itu Dahana Brasta menjadi memberi hormat.

“Siapakah kau ini ki sanak?!” Tanya ketua umum itu. “Aku mohon tanya pendapat yang luhur dari ki sanak.”

Orang itu bukan lain adalah Mintaraga, sikapnya tetap tenang. Ia menganggukkan badannya untuk membalas penghormatan yang diberikan oleh ki Dahana Brasta. Akan tetapi pemuda ini tak segera memberitahukan namanya. Hanya terus berkata dengan lantang.

“Ki sanak, usulmu yang pertama itu yang mengharuskan mustika ini dibuang kembali kedasar laut ternyata mendapat tantangan dari orang- orang. Ini memang telah selayaknya. Barang itu adalah sebuah mustika,  

kalau hendak ditenggelamkan didasar laut untuk selama-lamanya maka itu

akan sayang sekali.

Sedangkan usul yang kedua, untuk membagi dua mustika itu, inilah usul yang sangat adil. Hanya saja kita semua masih belum melihat bagaimana rupanya barang mustika itu. Dapatkah itu segera dipecah untuk dibagi dua sama rata? Inipun merupakan sebuah persoalan kalau menurut pendapatku. Apakah tidak lebih baik kalau barang itu dipamerkan terlebih dahulu? Dan kita semua akan membuka mata untuk melihatnya. Setelah itu barulah kita bicarakan pula.

Ternyata saran ini mendapat persetujuan dari umum. Mereka tak peduli siapa anak muda ini yang belum dikenalnya, karena iapun belum menyebut namanya. Dengan suara gemuruh orang-orang itu menyatakan setuju.

Dari kesekian banyaknya orang itu hanya Indrajaya saja yang memandang kearah Mintaraga dari atas kepala sampai keujung kakinya.

“Kau adalah pengikut dari ketua pulau manakah?” Tanyanya dengan nada dingin. “Kelihatannya aku belum pernah melihatmu.”

Mintaraga hanya tertawa. Sedikitpun ia tak menjawab pertanyaan Indrajaya.

Sedangkan Dahana Brasta berpendapat lain dari pada orang yang bernama Indrajaya ini. Ia adalah ketua umum. Dan cita-citanya adalah mempersatukan dari seluruh penduduk yang tinggal dipulau-pulau sekitar laut Selatan dan Timur dari tanah Jawa. Hingga dengan demikian sedikitpun ia tak mempedulikan pemuda ini datang dari mana. Pokoknya mereka semua harus akur. Karena adanya pikiran ini maka ia lalu membuka bungkusannya yang bertutup kuning tadi. Setelah itu ia mengangkat tinggi- tinggi diatas kepalanya.

“Ki sanak sekalian, inilah barang mustika itu.” Katanya dengan lantang.

Sejenak pertemuan menjadi sunyi senyap. Semua mata ditujukan kearah mustika itu yang menyinarkan cahaya terang berkilauan hingga dapat dikatakan cahaya obor itu guram karenanya. Ternyata benda itu adalah sebuah kotak segi enam tingginya ada kurang lebih enam dim. Diempat penjuru ruangan kotak itu bertaburan intan permata yang besar dan berwarna merah biru. Karena adanya batu-batu permata inilah maka kotak itu menyinarkan cahaya yang berkilau-kilauan. Semua mata kelihatan terkesima.

Mintaraga menjadi kecele ketika melihat barang itu, tadinya ia menyangka kalau mustika itu adalah Tunggul Tirto Ayu. Segera saja ia memutar tubuhnya untuk mengundurkan diri.

Sementara itu Dahana Brasta telah berkata lagi :

“Ki sanak sekalian, kalian telah melihat barang ini. Benar benda ini tak dapat dibelah ataupun dipecah menjadi dua. Anehkah kalau benda ini harus  

dibagi rata juga?  Eh ki sanak, kau menyebut jalan ketiga, nah coba kau

uraikan.”

Indrajaya telah bulat dengan tujuannya, ia tak menunggu sampai anak muda itu menjawab perkataan ketua umum ini. Ia berkata dengan suara keras :

“Jalan apakah masih ada lagi? Karena barang ini tak dapat dibagi rata, baiklah kita mengambil jalan yang biasa diambil oleh orang-orang dunia kependekaran saja.”

Belum lagi suara Indrajaya ini berhenti, tiba-tiba tampak seorang telah melompat maju.

“Sebentar benda itu mustika apakah?” Tanya orang itu dengan lantang. “Tolonglah ki ketua suka menjelaskan dahulu kepada kita semua.”

Dahana Brasta menganggap kalau permintaan ini adalah wajar, kemudian ia menyambutnya dengan tertawa.

“Aku adalah seorang kasar, mengenai barang-barang kuno aku tak mempunyai pengertian apa-apa.” Jawabnya. “Kakang Bagaskara, baiknya kau sajalah yang menerangkan benda kuno ini.”

Bagaskara tak menampik permintaan ketua ini. Sambil membelai-belai kumis dan jenggotnya yang panjang ia mulai berkata :

“Jika mataku tak keliru, mustika ini adalah sebuah benda atau kotak yang biasa dipakai oleh raja-raja dari berbagai pemerintahan dari Jaman Demak Bintoro. Inilah kotak yang biasa dipakai untuk menyimpan TUNGGUL TIRTO AYU.

Ketika dahulu Tumenggung Malangyudo membunuh diri, sebelumnya ia telah mengambil kotak berharga ini berikut isinya lalu membuangnya kedalam laut kidul. Karena dipermainkan oleh ombak dan air maka lama- lama isi dan kotaknya menjadi berpisah. Tunggul Tirto Ayunya diketemukan orang sedangkan kotaknya hanyut sampai ketempat kita ini.”

Mendengar cerita ini orang-orang itu menjadi heran.

“Kalau dinilai maka harga kotak ini mahalnya seperti orang membeli sebuah kota. Inilah mustika yang jarang sekali didapatkan.” Bagaskara melanjutkan keterangannya. “Lihat saja ini sembilan puluh enam butir intannya, harganya telah mahal sekali. Karena itu tak usah lagi kita membicarakan harganya, sebagai barang kuno, apa lagi barang dari seorang raja ”

Mata Wilotikto dan Waspo Runggu menjadi merah. Bukankah kotak itu jadinya sangat berharga?

“Ki ketua, bagaimana sekarang?” tanya mereka dengan mendesak.

“Ki sanak, bagaimanakah dengan saranmu yang ketiga itu?” Dahana Brasta sebaliknya malah menegaskan kepada Mintaraga.

Baru saja suara Dahana Brasta ini berhenti, dan sebelum Mintaraga sempat menjawab, tiba-tiba saja telah terdengar suara orang tertawa.  

“Ki Dahana Brasta bagaimanakah kalau kau mendengarkan usulku

terlebih dahulu?” Demikianlah tanyanya.

Orang itu segera muncul dimuka khalayak ramai. Dia bermata dalam dan hidungnya bengkung bengkok. sehingga dengan demikian raut mukanya menjadi luar biasa, suaranyapun sangat luar biasa karena mirip dengan suara ayam berkokok.

Semua orang heran, karena orang inipun asing bagi mereka.

Bargawa pemimpin kedua dari pulau Selarong, maju menghampiri orang itu. Ia maju menghadapinya untuk mencegat.

“Ki sanak siapakah kau?” Tanyanya.

Orang itu mengibaskan bajunya yang panjang. Hingga dengan demikian terasalah sambaran angin yang keras.

“Minggir.” Serunia.

Bargawa adalah pembantu dari Dahana Brasta, dia bukannya orang sembarangan. Segera saja ia mengelak dari sambaran angin yang hebat itu. Ia maju pula untuk menyambar orang asing itu.

Ternyata dia adalah seorang yang sangat gesit dan licin. Kedua pundaknya bangun dan bersama dengan itu tangan kanannya tampak maju. Tangan kanannya itu menyambut kedatangan tangan Bargawa. Ternyata orang itu telah melakukan gerakan gaetan dan menolak, hingga dengan demikian terdengarlah jeritan Bargawa.

“Aduh.” dan ternyata tubuhnya telah terpelanting setombak lebih.

Lalu dengan sekali mencelat, orang itu telah sampai dihadapan Dahana Brasta.

Ketua dari perkumpulan Bajak Laut Bondopati ini tak berani berlaku kurang hormat.

“Ada pengajaran apakah, ki sanak!” Tanyanya.

Orang itu melengak lalu tertawa. Ia tunggu sampai suara tawanya berhenti, barulah berkata :

“Naga tujuh lautan, telah setengah harian kumendengar kau hanya mengoceh saja. Sedikitpun kau belum dapat mengambil keputusan tentang besi karatan ini. Sudahlah siapa saja jangan mengharapkan benda ini, sebab lebih baik diberikan kepadaku, Kalong Ireng.”

Sambil mengucapkan demikian maka ia lalu mengeluarkan tangannya yang berbulu banyak. Dan. berminyak.

Ketika mendengar kalau orang yang berhidung bengkok itu adalah Kalong Ireng maka semua hadirin menjadi terperanjat. Raut wajah mereka menjadi berubah.

Bagaskara menjadi tak senang.

“Hem... kedatanganmu kemari ini ternyata akan mencoba-coba mengail diair keruh ya?” Tanyanya dengan mengejek.  

Kalong Ireng itu masih memperdengarkan suara tawanya yang aneh

dan tak sedap didengar oleh telinga.

“Sedikitpun tak salah.” Jawabnya. “Jika kalian masih menaruh hormat sedikit saja kepada guruku, maka besi karatan ini kau serahkan saja kepadaku. Dahana Brasta, benarkah kau tak ikhlas memberikan besi karatan itu?!”

Naga Tujuh Lautan itu meletakkan kembali benda mustika itu diatas meja.

“Kalong Ireng.” Katanya. “Kau datang kemari ini atas kehendakmu sendiri atau menjunjung perintah gurumu?!”

Kalong Ireng kembali memperdengarkan suara tawannya yang kurang enak didengar.

“Aku?” Tanyanya sambil menunjukkan ibu jarinya kearah dadanya sendiri. “Aku tak mempunyai keberanian yang demikian besarnya untuk memasuki sarang Bajak Laut Bondopati ini! Hanya kemarin guruku itu telah berkata kepadaku. “Heh, Kalong Ireng. Tunggul Tirto Ayu sekarang berada ditanganku, hanya saja aku kekurangan sebuah kotak untuk menyimpannya. Dan kabarnya kotak itu telah dapat diambil oleh orang-orang Bondopati, nah pergilah kesana untuk mengambil kotak itu. Demikianlah karena perkataan guruku itu maka aku memberanikan diri datang kemari.”

Kembali wajah hadirin sekalian menjadi berubah. Kalong Ireng ini telah berkata dengan sombong dan sedikitpun tak memakai aturan. Sayang sekalian orang takut kepada gurunya, hingga dengan demikian mereka hanya menutup mulutnya saja. Mereka hanya dapat melampiaskan perasaan mendongkolnya saja. Akan tetapi ada seorang yang telah kehabisan kesabaran hingga ia lari menghampirinya.

“Heh binatang kau ini mengandalkan apakah maka kau menjadi begini kurang ajar?!” Dampratnya.

“Hem... siapakah orang yang menjadi gurumu itu?”

Setelah dekat maka orang itu lalu melayang sambil menggerakkan sebelah tangannya.

Kalong Ireng tertawa bergelak-gelak.

“Bocah yang baik, tak hendak aku menyebutkan nama guruku.” Jawabnya dengan tenang. “Aku khawatir kau akan terkencing-kencing setelah mendengar namanya.”

Sambil berkata demikian Kalong Ireng itu tak mengelak, hanya ia mengangkat pundaknya untuk menyambut serangan. Hingga dengan demikian terdengarlah sebuah suara beradu yang nyaring. Setelah itu si penyerang menjadi kesakitan sendiri. Tangannya bagaikan mengenai lembaran baja yang keras.

Sementara itu Mintaraga sudah segera dapat menduga siapa adanya guru dari si orang garang ini, tentu guru orang garang ini si orang aneh,  

Sucitro yang terkenal didaerah Selatan, ketenaran namanya  bukan hanya

disepanjang pantai kidul dan timur saja, akan tetapi telah berkumandang diseluruh tanah Jawa. Maka tak mengherankanlah kalau mereka yang tinggal didaerah Selatan dan Timur ini marasa ngeri terhadapnya.

“Hai bocah.” Seru Kalong Ireng itu dengan tertawa. “Sekalipun kau belum mendengar nama guruku, juga kau tak mengetahuinya. kau harus dihukum cambuk sebanyak delapan puluh kali.

Lalu tangannya melayang, menyambar kemuka orang yang bermuka putih bersih itu.

Mintaraga segera melompat untuk menghalang-halangi dan menangkis. “Ki sanak yang gagah, sukalah kau bermurah hati.....” Ia memohon.

Sebab penyerangnya orang galak ini adalah Candra Wulan.

Kedua tangan bentrok satu dengan lainnya, kesudahannya setelah terdengar keras, Kalong Ireng terpental kira-kira setombak lebih.

Semua orang menjadi kaget dan heran, banyak yang tercengang. Karena itu mereka saling berpandangan.

Hebat sekali untuk Kalung Ireng ini, ia malu dan marah sekali. Ia melihat orang sudah takut, ia beranggapan kalau ia akan dapat merebut mustika itu, yah mendapatkan dan segera dibawa pulang, dipersembahkan kepada gurunya. Akan tetapi siapa tahu ia ketemu dengan batunya dalam diri ‘bocah’ yang tak terkenal ini.

“Bagus, ya kamu hendak main-main dengan guruku.” Teriaknya.

Tentu saja perkataan ini membangkitkan perasaan tak senang, maka Dananjaya lalu melompat maju, ia maju untuk menyerang dengan sepasang cambuknya itu, sambil mendamprat.

“Binatang, kau berani main gertak? Lihat senjataku.”

Kalong Ireng sedang mendongkol. Segera ia menyambut serangan itu. Ia menangkis dengan tangan kosong sambil mengelak sedikit. Sewaktu ia memaksa Dananjaya mundur tiga langkah tangan kirinya terus diayunkan. Maka menyambarlah senjata rahasianya yang berupa paku-paku beracun yang berkilau bagaikan kilat.

“Celaka.” Teriak Dananjaya, yang terus mengelak sambil mengelakkan tubuhnya.

Akan tetapi Kalong Ireng benar-benar hebat. Sewaktu itu Kalong Ireng sedang mengumbar kemarahannya. Karena itu sekali serang ia telah melontarkan enam buah paku beracunnya. Hingga dengan demikian Dananjaya menjadi benar-benar repot. Tidak peduli Dananjaya ini mempunyai gerakan gesit, ia hanya berhasil membebaskan diri dari lima buah serangan paku itu, paku yang keenam menancap dipaha kirinya, maka tanpa ampun lagi ia roboh terguling diatas tanah.

Dahana Brasta menjadi marah sekali.  

“Ki sanak, siapa yang suka maju untuk membekuknya?” Seru pemimpin

Bajak Laut Bondopati ini.

Wilotikto dan Waspo Runggu maju dengan bersama. Mereka adalah orang-orang yang berkepentingan, mereka tak puas kalau urusan menjadi demikian hebatnya. Segera saja kedua orang itu menyerang.

Kalong Ireng benar-benar mempunyai keberanian yang boleh dikagumi. Ia menyambut kepungan kedua orang itu sambil tertawa, dengan gerakan yang sangat gesit ia bergerak menyingkirkan diri dari serangan golok dan rantai. Ia terus berkelahi dengan tangan kosong.

Mintaraga berdiri menonton dipinggiran. Pemuda ini hendak mencari Sucitro untuk minta kembali Tunggul Tirto Ayu, bahwa ia telah datang ke pulau Selarong ini, itu disebabkan karena ia mendapat kabar yang keliru. Tentu saja tak ingin ia terlibat dalam keruwetan ini.

Pertempuran berjalan dengan cepat dan hebat Kalong Ireng benar-benar menunjukkan kesaktiannya. Belum lama pertempuran itu berjalan akan tetapi telah terdengar teriakkan Waspo Runggu dan Wilotikto yang kesakitan. Kiranya mereka itu telah kena dipukul oleh lawannya, hingga dengan demikian kedua orang itu muntah darah dan mesti melompat mundur.

Kalong Ireng bukan hanya berani, iapun berlaku amat ganas, justru lawannya mundur ia malah menyerang terus. Kali ini ia melepaskan dua buah paku beracunnya hingga dengan demikian ketua dari pulau Karang Tugel dan ketua dari pulau Kenikir roboh dengan seketika dalam keadaan pingsan. Memang inilah akibat dari racun-racun yang melumuri paku-paku beracun itu.

Perbuatan kejam ini telah membangkitkan kemarahan umum. Karena itu tanpa menunggu perintah ketua persekutuan lagi banyak orang-orang yang maju untuk menantang.

Melihat ini Kalong Ireng menjadi tertawa berkakakan.

“Bagus... bagus...” Serunya. “Orang-orang gagah dari sepanjang pantai Selatan dan Timur Pulau Jawa, silahkan menyaksikan kesaktian murid Sucitro.”

Yang maju itu kurang lebih ada kalau dua puluhan orang. Tentu saja mereka itu beranggapan kalau mereka itu telah cukup kuat untuk mengadapi Kalong Ireng, akan tetapi Kalong Ireng ini tak memandang sebelah mata kepada mereka itu. Setelah mengucapkan perkataannya yang sangat sombong itu, ia lalu menyambut serangan-serangan itu. Kembali ia mempertunjukkan kelincahannya, gerakannya sangat hebat dan tangannya terus berkelebat kesana kemari untuk melontarkan senjata rahasianya. Dimana ada kesempatan ia selalu mempergunakan paku-paku beracunnya.

Celaka sekali untuk para pengepungnya itu, karena kali ini mereka benar-benar menghadapi seorang musuh yang sangat tangguh. Kalong Ireng  

tak hanya memainkan kepalannya saja, dengan segera ia mengubah dengan

pelbagai samberan, maka selainnya mereka itu kena dipukul, yang lain kena dijambret dan diputar hingga mereka banyak yang roboh tergelincir. Sedangkan mereka yang terpisah sedikit jauh dengan kalong Ireng akan mendapat bagian dengan senjata rahasianya.

Belum lama kemudian, berhentilah pertempuran kacau itu. Kalong Ireng tampak berdiri dengan sombong.

“Bagaimanakah penilaianmu dengan ilmu silat Jambakan dan Cakaran dari murid Sucitro?” Tanyanya. Ia tertawa terbahak-bahak sambil melengak. Huahaaa... Huahaa.... Huahaaa... ki sanak yang mana lagi yang akan mencoba kepandaianku ini?!”

Ketua Bajak Laut Bondopati ini menjadi merah padam.

“Binatang ini tak dapat dipandang enteng, nanti aku yang akan menghadapinya.” Katanya dengan pelan kepada kawan-kawannya yang berada disebelah kanan dan kirinya. Ia lalu mengambil senjatanya yang berupa golok.

“Tunggu dulu ki lurah.” Kata Bagaskara sebelum Dahana Brasta bertindak. “Indrajaya marilah kita maju bersama-sama. Tak dapat kita membiarkan saja Sucitro menginjak-injak perkumpulan Bajak Laut Bondopati.”

Indrajaya berdiam sebentar atas ajakan ketua dari Pulau Sempu.

“Baik kakang Bagaskara.” Jawabnya kemudian sambil mencabut pedangnya. “Mari kita layani dia. Kalau kita tak berhasil barulah kita minta supaya ki lurah sendiri yang turun tangan.

Kalong Ireng melihat siapa yang maju, akan tetapi ia tak berkata apa- apa, ia terus menyambut, malahan dengan caranya yang istimewa. Tiba-tiba saja ia menyambar Indrajaya.

Indrajaya ini bukannya sembarangan orang, ia tak dapat disamakan dengan Dananjaya dan Bargawa, dengan sekali bergerak. Ia dapat mengelakkan sambaran itu. Lalu dengan sebuah tikaman yang hebat ia membalas menyerang kearah tenggorokan bersama dengan itu Bagaskara membabat dengan gerakan rantai besi melintangi sungai.

Kalong Ireng menyambar dengan tangan kanan. Sambarannya ini tidak tepat, sebaliknya pedang lawannya telah datang kearahnya. Dengan sebat ia menyamplok dengan tangam kirinya, hingga pedang itu terpental. Akan tetapi hampir bersama dengan itu, ia melompat mundur, sehingga ia dapat meloloskan diri dari babatan golok.

Sewaktu mundur, Kalong Ireng merasa heran terhadap Indrajaya.

Didalam hatinya ia berkata :

‘Indrajaya adalah salah seorang dari tiga jago Bajak Laut Bondopati, serangannya ini sangat hebat, akan tetapi mengapa ia dapat berhasil  

menyamploknya hingga terpental. Aku toh hanya mempergunakan setengah

dari tenagaku saja. Apakah ia main gila?’

Karena ini, diwaktu berkelahi terus, ia berlaku waspada. Ia tetap mempergunakan tangan kosong untuk melayani kedua orang jago Bondopati. Dengan cepat mereka telah bertempur lima puluh jurus lebih.

Selama itu Mintaraga telah menyaksikan kepandaian murid Sucitro ini, ia mengetahui kalau orang ini kepandaiannya belum mencapai tingkat kesempurnaan. Dia hanya mempunyai kepandaian seimbang dengan Bagaskara. Juga tak lebih tinggi dari pada kepandaian Indrajaya. Biarpun demikian, ia toh memperhatikan gerak-gerik ilmu silat Jambakan dan Cakaran itu, yang selalu menyambar dengan mendadak, sehingga salalu membuat orang menjadi kaget bagaikan bangun dari tidurnya......

Sewaktu pertempuran itu berjalan dengan seru, tampaklah kalau Indrajaya membuat sebuah kekeliruan yang mencolok. Ia seharusnya mempergunakan tipu Garangan sakti untuk memecahkan serangan lawan akan tetapi ia malahan memakai burung Merak mementang sayap. Karena itu pedangnya menjadi terpental, menyambar kesamping, tepat kearah pinggang Bagaskara.

Bukan hanya Bagaskara sendiri yang menjadi terperanjat ketika melihat gerakan ini, malahan Kalong Irengpun menjadi terheran sekali. Akan tetapi Kalong Ireng sangat gesit dan cerdik, ia menggunakan ketika yang baik ini untuk membarengi menyerang. Akan tetapi juga Indrajaya sangat waspada dan sebat, ia dapat menangkis serangan itu. Hingga dengan demikian kedua lengan itu menjadi bantrok satu sama lainnya. Mereka berdua sama-sama terpental mundur!

Yang paling menderita adalah Bagaskara. Hingga karena kesalahan Indrajaya tadi dan serangan Kalong Ireng itu ia harus berteriak mengaduh. Ia sangat memperhatikan gerakan musuhnya, dan sedikitpun tak mengawasi gerakan kawannya itu. Ketika ia melihat bahaya mengancamnya maka ia tak sempat lagi untuk mengelak ataupun menangkis. Karena kesalahan kawannya ini pula ia lalu menderita kesukaran yang berupa tersobeknya daging pinggang hingga melowek.

Dipihak lawan, Kalong Ireng telah berkata didalam hatinya :

‘Kiranya kepandaian jahanam ini tak berada dibawah kepandaianku. Teranglah sudah kalau aku tak akan dapat mengambil mustika itu.’ Karena mendapat pikiran demikian maka ia melompat lebih jauh keluar dari kalangan pertempuran.

“Kalong Ireng kau hendak lari kemanakah?!” Demikianlah teriak salah seorang pemuda yang melihat kalau lawannya ini akan melarikan diri. Ia maju dengan tiba-tiba, pedang ditangan dan golok ditangan kanan, hingga dengan demikian kedua senjata itu bersinar kuning emas dan putih perak.  

Orang yang mencegat larinya Kalong Ireng ini bukan lain adalah Kembang

Arum yang tengah menyamar sebagai seorang pemuda.

Mintaraga yang memasang mata sejak tadi, tiba-tiba saja menjadi insyaf : “Bajak Laut Bondopati, dan kau ki Dahana Brasta, tangkap

pengkhianat.” Teriaknja sambil melompat kearah Indrajaya.

Mendengar teriakan ini Dahana Brastapun menjadi insyaf dengan cepat ia memerintahkan kepada anak buahnya :

“Tangkap orang-orang dari Nusabarung.” Serunya sambil mengangkat golok besarnya.

Indrajaya telah mengelak dari sambaran Mintaraga. Dia telah melompat mundur setombak lebih.

“Hai ki Lurah, apakah kau telah edan?” Teriaknya. Akan tetapi Indrajaya hanya dapat berteriak sekali saja. Karena ia telah kena ditotok oleh Mintaraga. Yah Mintaraga yang telah melompat maju menyusul kepadanya. Hingga dengan demikian ia telah tak berdaya lagi.

“Kau... kau siapakah?!” Bentaknya kepada anak muda itu. Ia memang mati kaki tangannya, akan tetapi otaknya tetap sehat dan mulutnya merdeka untuk mengeluarkan segala perasaan hatinya. “Bagaimana kau berani masuk menyelinap kedalam rapat besar ini?”

Mintaraga tak menjawab, ia hanya melompat kearah Bagaskara, setelah berada didekatnya ia lalu mulai membalut luka orang itu.

Sementara itu riuhlah orang-orang dari Nusabarung. Mereka itu berjumlah kurang lebih tiga ratus jiwa. Mereka benar-benar tak mengerti mengapa ketua mereka itu ditawan, dan mereka sendiripun akan ditawan pula.

“Ki lurah apakah kami akan kau tangkap?!” Tanya mereka dengan riuh. “Mengapa kau biarkan saja orang asing masuk dan mengacau perkumpulan kita ini?!”

Ditegur demikian rupa maka Dahana Brasta menjadi terbungkam. Ia memang telah mencurigai Indrajaya, kecurigaannya ini bertambah setelah ia melihat terlukanya Bagaskara yang diakibatkan dari gerakan yang tak dimengertinya dari Indrajaya itu, karena itu setelah ia mendengar suara Mintaraga, ia menjadi insyaf. Tentu saja ia tak mengenal anak muda ini. Juga ia tak dapat membuktikan kecurigaannya itu. Oleh karena itulah ia lalu hanya berdiam diri saja. Iapun lalu bersangsi untuk menawan orang-orang dari pulau Nusabarung.

Kalong Ireng sedang bertempur melawan Kembang Arum, ia terpaksa harus melayani, karena orang yang hendak merintangi berlalunya, akan tetapi ketika ia mendengar teriakan ada pengkhianatan itu, bersama-sama lawannya, ia berhenti bertempur. Akan tetapi ia mempunyai keberanian yang amat besar, sambil menanti suasana ia tertawa bergelak-gelak.  

Dari pihak Nusa Barung, tampak ada seorang yang memajukan diri

kedepan.

“Ki lurah.” Katanya sambil menghadap kearah Dahana Brasta. “ada ujar-ujar yang mengatakan, persahabatan tak dapat direnggangkan, maka kenapa hanya mendengarkan perkataan seorang saja untuk membekuk pengkhianat, begitu mendengar maka kau lalu memberikan perintahmu. Mungkinkah kami dari orang-orang Nusabarung yang dianggap pengkhianat itu?!”

Dahana Brasta hanya berdiam diri ia benar-benar menjadi malu sekali. Orang dari Nusabarung itu bernama Sudiro.

“Jika kita membicarakan tentang pengkhianat, mungkin dia sendirilah pengkhianat itu.” Demikian katanya pula. “Hai sahabat kau siapakah?!”

Pertanyaan ini ditujukan kepada Mintaraga.

Anak muda ini tahu, apa yang harus diperbuat. Ia tidak segera memberikan jawaban.

“Bagaimanakah rasanya?!” Tanyanya kepada Bagaskara. “Tidak apa-apa bukan!”

“Lumayan.” Jawab Bagaskara, suaranya terdengar parau. “Terima kasih. Kita belum pernah bertemu satu dengan lainnya. Bolehkah aku bertanya siapakah kau ini?!”

Mintaraga tertawa.

“Sekalipun kau, kau juga turut pula menanyakan namaku!” Jawabnya. “Sebentar kita akan memberitahukan nama kita, akan tetapi sekarang kukira tak usah dulu ”

Ia lalu berpaling kepada Kembang Arum untuk menanyakannya : “Disini banyak orang-orang yang terluka, kau tolonglah mereka dengan

memberinya obat. Sebentar lagi akan terjadi sebuah pertempuran yang menarik hati. ”

Kembang Arum menjawab dan segera bekerja. Ia menolong korban- korban dari Kalong Ireng, yang terkena pukulan ataupun yang kena senjata rahasia. Ternyata yang kena pukul hanya beberapa orang saja dan kebanyakan mereka itu termakan senjata rahasia.

Murid Sucitro, Kalong Ireng itu, lalu tertawa dengan bergelak-gelak.

Terus saja ia berkata dengan sangat sombong sekali :

“Kau hendak menolong orang-orang yang terluka? Huahaa... Huahaa...

Huahaa... kurasa tak segampang yang kau pikirkan. ”

Mintaraga tak mempedulikan perkataan sombong ini. Ia lebih memperhatikan mereka-mereka yang kena paku beracun itu. Yah seperti halnya Dananjaya. Mereka itu tak sadarkan diri, bahkan kelihatan seperti tidur pulas sekali. Muka mereka sedikitpun tak berubah. Pernapasanpun berjalan dengan rapi, teratur! Tak kelihatanlah kalau mereka itu terkena senjata yang beracun. Tentu saja hal ini membuatnya menjadi heran sekali.  

Mintaraga   mencoba   menepuk-nepuk   mereka,   menggoyang-goyangkan

tubuh mereka itu, akan tetapi sedikitpun tak pernah ada tanda-tanda kalau mereka akan mendusin.

Apakah ini bukannya racun yang berbahaya, dan hanya merupakan racun yang seperti obat tidur saja? Akhirnya Mintaraga mulai menduga- duga. Ia menempelkan kupingnya didada mereka itu, juga terdengar kalau jantung mereka itu berdenyut dengan bagus dan ini saja menandakan kalau peredaran darah mereka normal.

“Sungguh hebat sekali kepandaian ki Sucitro.” Setelah berkata demikian ia lalu berpaling kearah Kalong Ireng dan berkata :

“Sahabat, sebetulnya apakah artinya ini semua? Aku yang rendah mohon pengajaranmu ”

Kalong Ireng girang sekali.

“Bagus.” Katanya. “Anak muda, kau tak malu untuk bertanya. Inilah baik. Senjata rahasiaku ini memang ada racunnya. Siapa yang terkena racun itu akan terus menjalar sampai ketenggorokannya lalu mulai menutupi tenggorokan. Karena itu ia lalu akan mati dengan secara pelan-pelan dengan tak terasa. Didalam kolong langit ini tak ada orang yang dapat menolongnya, kecuali dengan obat yang kubawa bersama racun itu.”

Mendengar ini orang-orang menjadi ribut, mereka terus berkasak-kusuk. Bahkan ada yang mulai berlompatan maju untuk merampas obat pemusnahnya.

Hanya Mintaragalah yang berlaku tenang dan kedengaran pula suara tawa riang dari pemuda ini.

“Penipu licin, jangan kau kira kalau kau akan dapat membohongi kami!” Katanya. “Mereka itu memang benar-benar terkena senjata rahasia, akan tetapi sekarang mereka itu sedang tidur dengan nyenyak sekali. Cara bagaimanakah mereka itu bisa mati dengan perlahan-lahan?!”

Mendengar perkataan anak muda ini Kalong Ireng memperlihatkan muka yang marah sekali.

“Apa kau sangka Kalong Ireng suka membohongi orang?” Teriaknya dengan marah sekali. “Baiklah kuberitahukan kepada kalian. Senjata rahasiaku ini ada dua macam, kedua-duanya dengan racun. Senjata yang satu dipergunakan untuk melawan para penjahat atau orang-orang Jipang Panolan serta mereka-mereka yang gemar merusak pagar ayu. Senjata ini mempunyai racun lemah, siapa saja yang terkena akan tertidur sampai tujuh hari tujuh malam, setelah itu barulah ia sadar dengan sendirinya. Sedangkan aku tak bermusuhan dengan orang-orang Bondopati, mustahil aku memandang mereka sebagai penjahat.”

Mintaraga mempercayai keterangan ini. Sedangkan orang-orang lainpun menjadi lega.

Sedangkan Kalong Ireng masih tertawa terbahak-bahak.  

“Akan kujelaskan pula.” Katanya kemudian. “Senjata yang pertama

bernama Paku Tali Waja, siapa yang terkena akan rusak jalan darahnya. Dia akan mengeluarkan darah dari lubang hidung, kuping, mulut dan mata. Dalam waktu kira-kira sepenanak nasi lamanya ia akan mampus. Senjata yang kedua bernama Paku Nindra, siapa yang terkena senjata ini, dia bakal tidur pulas, dia akan tidur pulas tak dapat dibangunkan kecuali dengan obat penawarnya. Dengan diberi obat penawarnya maka ia akan dapat sadar dengan segera. Tak perlu ia tidur tujuh hari tujuh malam. Hai bocah kau hendak merasakan yang manakah? Pilih salah satu?!”

Mintaraga tertawa. Kemudian katanya dengan tenang dan jenaka.

“Yang manapun aku tak ingin merasakannya.” Jawabnya. “Aku hanya ingin meminta supaya kau suka mengeluarkan obat pemusnahnya.”

Kalong Ireng mementang lebar-lebar kedua matanya.

“Apakah orang semacammu itu pantas minta obatku itu?!” Tanyanya dengan heran. “Akan tetapi kalau kau memberikan kotak emas itu kepadaku, maka tak ada halangannya aku memberikan obat pemusnah ini kepadamu ”

Mintaraga tetap tertawa.

“Kalong Ireng, kau mengetahui sendiri kalau barang itu bukannya kepunyaanku.” Jawabnya. “Jika kau menghendaki barang itu maka kau pintalah sendiri kepada ki lurah Dahana Brasta. Aku tak punya maksud lain kecuali minta obat pemusnahnya.”

Dengan lagak yang sangat angkuh, Kalong Ireng berpaling menghadapi kearah Dahana Brasta.

“Kau adalah lurah dari Bajak Laut Bondopati, lalu mengenai permintaanku tadi apakah jawabanmu?” Tanyanya dengan sombong.

Dahana Brasta sementara itu telah dapat menenangkan dirinya. Sekarang ia hendak, mengandalkan anak muda itu, sebab ia percaya kalau anak muda ini mempunyai kesaktian yang hebat. Bukankah Indrajaya telah dapat dibekuknya dengan enak? Orang ini pula yang telah menyadarkan dirinya kalau didalam kalangannya terdapat pengkhianatnya.

“Kotak ini adalah kepunyaan kami kaum Bondopati, karena itu aku tak dapat memberikan kotak ini kepadamu.” Demikianlah jawabnya dengan tegas dan pasti.

Kalong Ireng tak menunggu sampai orang itu menutup mulutnya. Ia sudah melompat untuk menyambar kearah Ki Dahana Brasta.

“Hai, Kalong Ireng!” Mintaraga menegur sambil tertawa. “Kau tahu sendiri kalau yang minta obat ini aku pribadi, bukannya ki lurah Dahana Brasta. Jangan kau mengacau!”

Kalong Ireng melengak. Batallah niatnya untuk menyambar Dahana Brasta.  

“Memang.” Pikirnya. “Baik aku mengajar adat dahulu kepada anak muda ini, supaya ia dapat segera menutup bacotnya. Setelah itu barulah aku meminta barang yang dibawa oleh Dahana Brasta.”

Maka sekarang, dengan cepat ia menyambar kearah Mintaraga.

Akan tetapi dengan enak anak muda ini mengelakkan dirinya dari serangan lawannya itu.

“Apakah benar-benar kau ingin dihajar dahulu baru mau mengeluarkan obat pemusnahnya? Tanya Mintaraga dengan tegas.

“Bocah.” Bentak Kalong Ireng. “Yang harus diajar adat ini bukannya aku, melainkan kau sendiri. Kaulah yang jangan mengacau.” Segera ia menyambar pula dengan kedua tangannya kekiri dan kekanan sebab Mintaraga yang tak tinggal diam saja, lalu mengelak kesana kemari tak mau ia membalas serangan itu dengan serangan.

Segera ia menyambar pula dengan kedua tangannya, kekiri dan kekanan, sebab Mintaraga yang tak tinggal diam saja, lalu mengelak kesana kemari, tak mau ia membalas serangan itu dengan serangan. Karena itu sangat menarik hati ketika melihat orang-orang ini bertempur bagaikan anak-anak yang sedang bermain petak. Jangan lagi tubuhnya, ujung bajunya saja tak dapat disambar oleh Kalong Ireng itu. Sehingga dengan demikian murid ki Sucitro menjadi heran bukan kepalang. Selain heran hatinyapun menjadi penasaran sekali. Segera ia mendesak dengan hebat. Sewaktu      tadi      Kalong      Ireng      bertempur,      Mintaraga      telah

memperhatikannya. Karena itu tahulah kini bagaimana ia harus menghadapi murid orang aneh dari selatan ini. Demikianlah sekarang ia bertempur dengan mengambil imbangan saja. Kalau ia diserang dadanya ia membalas serangan itu kearah pundak atau lengan saja. Memang tampak dengan jelas sekali kalau ilmu Kalong Ireng ini belum benar-benar dimengertinya, hingga dengan demikian ia hanya dibuat permainan saja dengan Mintaraga.

Tetap Mintaraga melayani dengan cara itu, tampaklah seperti ia sedang berlatih saja. Sebenarnya ia bermaksud memberi tahu kepada Kembang Arum, supaya gadis inipun mengetahui ilmu silat musuhnya itu. Karena ia nanti mengharapkan bersama-sama dengan Kembang Arum ini akan melawan ki Sucitro yang jauh lebih tangguh dari pada Kalong Ireng yang menjadi muridnya ini. Kiranya tanpa maju bersama-sama dengan Kembang Arum, ia sukar atau tak mungkin dapat mengalahkan ki Sucitro si tokoh aneh itu....

Kembang Arum benar-benar seorang gadis yang sangat cerdas, segera saja ia telah dapat menangkap apa artinya maksud Mintaraga ini. Karena sambil menolong mereka yang terluka iapun memperhatikan pertempuran. Dimata orang banyak, pertempuran itu adalah hebat sekali. Sedangkan dimata Kembang Arum ini, jalannya pertempuran ini hanya bagaikan latihan atau malahan seperti sandiwara saja. Sebab Mintaraga terus menunjukkan kegesitannya, kebanyakan dia hanya main elak dan memiringkan tubuhnya saja atau paling-paling hanya melompat kepinggiran.

Setelah pertempuran berjalan agak lama maka tampaklah kalau Kalong Ireng telah bermandikan peluh. Hatinya tercekat. Dengan sendirinya, kesombongannyapun melayang terbang tinggi-tinggi keatas awan. Sekarang ia berpikir :

‘Lagi tiga puluh jurus, maka cukuplah seratus jurus nanti. Kalau aku tetap tak dapat melanggar bajunya musuhku ini, bagaimana aku mempunyai muka untuk kembali kegunung menemui bapa guru?’

Oleh karena pikirannya ini, atau lebih tepat lagi kalau dikatakan kekhawatirannya ini, diam-diam ia mengeluarkan senjatanya. Sebuah senjata yang amat luar biasa. Senjata ini berupa semacam kotak, yang tak ada ujungnya yang tajam.

Mintaraga tertawa.

“Kau hunuslah senjatamu, jangan malu-malu.” Katanya.

Kalong Ireng berseru, jempolnya menekan kearah kotak itu, bersama dengan sebuah bunyi yang sangat keras, dari dalam kotak melesat keluar sebuah benda yang romannya luar biasa, golok bukannya golok, pedangpun bukannya pedang.

“Senjata apakah itu?!” Tanya Mintaraga dengan tertawa.  

Wajah Kalong Ireng menjadi matang biru, wajahnya kelihatan sangat

bengis.

“Inilah Golok Pencabut Nyawa.” Katanya. “Dengan hormat aku menyuguhkan kepadamu supaya kau dapat merasakan bagaimana kehebatan golok Pencabut Nyawa ini.”

Kata-kata ini disusul dengan menyambarnya senjata aneh itu, yang rupanya mirip dengan sehelai daun pintu air, hanya kecil saja, bagian depannya seperti golok akan tetapi bagian belakangnya tumpul.

“Baik aku akan mencobanya.” Jawab Mintaraga. Ia lalu menggeserkan tubuhnya sedikit kesamping tangan kirinya dipakai menolak hingga Kalong Ireng kena tertolak keras, sedangkan tangan kanannya, dengan jari kedua telunjuknya dan tengah, dipakai untuk mengepit senjata aneh itu pada bagian belakangnya sewaktu senjata itu menyambar lewat.

“Lepas tanganmu.” Seru Mintaraga sambil mengerahkan tenaganya.

Maka sesaat kemudian senjata itupun telah berpindah tangan.

Kalong Ireng kaget, mendongkol dan juga marah. Ia tak menyangka sama sekali kalau senjatanya itu akan dapat dirampas oleh lawannya dengan sedemikian gampang. Maka ia lalu maju menyerang pula, serangan kali ini dilancarkan dengan hebat sekali, dapatlah diibaratkan bagaikan badai mengamuk........

Mintaraga memperlihatkan ketangguhannya. Dengan tolakan tangan kiri, ia membuat penyerangnya yang sedang kalap itu terdorong mundur. Dilain pihak dengan tangan kanannya, ia pakai senjata musuhnya ini. Dengan jalan menekan maka kembalilah golok itu masuk kedalam kotaknya, lalu dengan menekan lagi maka golok itu kembali keluar. Ternyata senjata rahasia itu memakai alat semacam per.

“Huahaaa... Huahaaa... Huahaa......” Ia tertawa berkakakan, dan lalu katanya. “Benda permainan bocah cilik ini kau perlihatkan? Baiklah aku akan melunaskannya kepadamu.” Bersama lenyapnya suara itu maka mulailah Mintaraga merangsek, yah merangsek untuk menyerang. Hebat sekali desakannya ini. Akan tetapi hanya sebentar saja, atau tepatnya ia telah melompat mundur dari kalangan pertempuran. Kembali pemuda itu tertawa

:  

“Nah sekarang benda telah ditukar dengan benda. Golok Pencabut Nyawa telah ditukar dengan obat pemusnah. Kalong Ireng silahkanlah.”

Dengan tak mengambil peduli barang sedikitpun saja kepada musuhnya lagi, maka Mintaraga lalu mulai mengobati mereka-mereka yang terluka.

Sekalian hadlirin menjadi heran dan kagum. Hingga tanpa merasa mereka lalu bersorak-sorak. Sungguh diluar dugaan mereka kalau Kalong Ireng yang sakti itu dapat dipermainkan dengan sedemikian mudahnya.

Kalong Ireng meraba kedadanya yang sedikit panas, karena itu segera ia memasukkan tangannya kedalam saku. Segera saja ia menjadi kaget sekali. Bahkan heran dan tercekat hatinya. Ia mendapatkan kembali kotaknya yang

berisi golok, akan tetapi obatnya telah hilang..... benar-benar ia tak menduga sama sekali kalau lawannya demikian tangguh.

Nampaknya keberanian orang itu menjadi runtuh, dan orang-orang lainnya menjadi bersorak-sorak.

Kalong Ireng menjadi sangat mendongkol, walaupun didalam hatinya ia berkata :

‘Masih bagus, ia hanya meraba dadaku dan menukar senjata ini dengan obat pemusnahnya. Kalau tadi ia menyerangku apakah nyawa ini masih tetap berada didalam tubuhku sekarang ini!’

Akan tetapi untuk menutupi keterkejutannya ini ia lalu mengumbar kemarahannya :

“Bangsat busuk, kau ini menertawakan apa?” Ia lalu mendamprat panjang pendek dan setelah itu mulai membuka langkah panjang.

Melihat Kalong Ireng akan mengangkat kaki, Kembang Arum yang baru saja selesai mengobati orang-orang yang terluka, lalu melompat kedepan, agaknya ia hendak mencegat.....

“Eh... Kalong Ireng, mengapa kau tak duduk dulu sebentar?” Tanyanya sambil tertawa. “Baiklah kalau demikian, aku tak usah mengantar kepadamu.”

Dengan sangat marah Kalong Ireng menyerang.

Kembang Arum hanya kalah sedikit saja dengan Mintaraga, karena itu dengan memiringkan tubuhnya, dapatlah ia membebaskan dirinya dari serangan itu.

“Eh.... apakah kau tak hendak minta kotak emas itu untuk menyimpan Tunggul Tirto Ayu?” Kembali Kembang Arum menggoda sambil tertawa.

Kalong Ireng kaget. Ia tahu kalau serangannya ini lebih dari limaratus kati akan tetapi dengan secara gampang sekali gadis ini dapat mengelakkan diri. Maka teranglah kalau gadis inipun bukannya sembarangan gadis. Karena itu dengan sangat mendongkol bersama menyesal dan malu. Ia tak mau melayaninya terlebih jauh, terus saja ia lari....

Ketika itu Mintaraga telah dapat menyadarkan Dananjaya, Wilotikto dan Waspo Runggu. Benar-benar mujarab sekali obat pemusnah ini. Karena itu sisanya ia bungkus dengan rapi kemudian disimpan kedalam saku bajunya. Sambil menyimpan obat itu ia berkata didalam hatinya :

‘Biarpun kini Kalong Ireng telah benar-benar kabur, akan tetapi gurunya sangatlah sukar untuk dilayaninya. Karena itu obat ini perlu kupulangkan kepadanya supaya ia jangan terlalu penasaran. ’

Dananjaya yang baru sadar itu segera meraba kepalanya.

“Berapa lamakah aku tidur?” Tanyanya. “Ah... mengapa aku tadi tidur dengan demikian pulasnya?!”  

Mendengar perkataan Dananjaya ini orang-orang menjadi tertawa

dengan riuh sekali. Dahana Brasta sangat mengagumi kedua anak muda ini. “Ki sanak.” Ia lalu berkata sambil menganggukkan kepalanya.

“Jika aku yang rendah tak salah melihat, kalian ini tentunya orang-orang gagah dijaman ini. Bolehkah aku menanyakan nama ki sanak berdua?”

Mintaraga tak menghendaki di kotak itu akan tetapi iapun tak suka memperkenalkah dirinya. Karena itu ia hanya menjawab dengan sembarangan saja. Mengatakan kalau namanya Giman dan Kembang Arum bernama Gimin.

Dahana Brasta percaya akan nama yang diberikan ini. Akan tetapi ia lalu melengak, sebab ia belum pernah mendengar tentang kedua orang anak muda ini. Hingga dengan demikian ia tak mengetahui anak muda ini dari golongan mana.

Sama dengan Dahana Brasta ini, semua ketua-ketua perkumpulan pulau-pulau yang tersebar didaerah Laut Kidul sampai ke Timur tak keberatan untuk bersahabat dengan kedua pemuda ini. Bagaskara sambil tertawa-tawa lalu berkata :

“Ki Giman dan ki Gimin kalian telah sudi mengunjungi pulau kami. Kami sangat girang sekali. Akan tetapi mengapa kalian ini datang dengan menyamar bagaikan orang-orang kami? Huahaa... Huahaa... Huahaa... kalian ini bisa saja bergurau.”

Mendengar perkataan itu Mintaraga hanya berdiam diri saja. Ia mengerti, kalau dibalik perkataan ki Bagaskara ini tercampur juga perasaan curiga terhadap mereka. Karena itu ia tak dapat berdiam diri terlebih lama, dan segera ia berkata :

“Untuk bicara terus terang, karena mendengar Tunggul Tirto Ayu berada ditangan kalian, sengaja kami menyelinap masuk kemari. Kami menyelinap kemari untuk melihat dan menyaksikan Tunggul Tirto Ayu itu. Untuk perbuatan kami yang lancang ini kami mohon ki sanak sekalian beramai-ramai ini sudilah memaafkan kami.”

Jawaban itu membuat sadar kepada Dahana Brasta.

“Jadi kalian datang kemari ini juga untuk memancing didalam air keruh?” Tanyanya. Wajahnyapun segera turut berubah. “Kalian adalah orang-orang gagah perkasa maka kami suka memberikan mustika ini kepada kalian. ”

Perkataan ini membuat orang-orang menjadi berdiam diri, hanya mata mereka saja yang terus diarahkan kearah anak muda itu. Sedangkan Candra Wulan memang sejak tadi telah berpisah karena melakukan sesuatu pekerjaan.

Mintaraga menjadi tak puas karena dicurigai oleh orang-orang yang berada dihadapannya ini. Karena itu ia lalu hendak bicara, akan tetapi kalah cepat dengan Indrajaya :  

“Ki lurah, perkataanmu tadi adalah berlebih-lebihan.” Demikianlah

katanya dengan disertai tertawa dingin. “Jika binatang ini bukannya seorang makhluk busuk, tak nanti dia ini merenggangkan persahabatan kita berdua. Dan tak mungkin ia menotok jalan darahku.”

Perkataan Indrajaya ini benar-benar berbisa, perkataannya ini lalu menyebabkan kecurigaan diantara sebagian hadirin, sehingga mereka itu lalu mengambil sikap waspada. Mereka lalu bersiap sedia. Hanya Dahana Brasta yang agaknya masih bersangsi. Karena itu ia lalu menundukkan kepala sambil berdiam diri saja.

Mintaraga sementara itu menjadi sangat gelisah. Ia masih belum melihat kembalinya Candra Wulan, apakah gadis ini gagal menjalankan tugasnya?

Dahana Brasta tak berdiam diri sampai lama, ia telah dapat mengambil keputusan. Ia lalu menganggukkan kepala pula kepada kedua orang anak muda ini.

“Ki sanak berdua, kalian telah menyingkirkan sebuah bencana besar bagi kami semua, aku sangat bersyukur dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada kalian berdua.” Katanya. Akan tetapi segera ia menutup mulutnya, segera ia melompat kearah Indrajaya, hingga ia segera dapat melihat kalau ketua dari pulau Nusabarung ini telah tertotok jalan darahnya. Dahana Brasta percaya kalau ia akan dapat menolong kawannya ini untuk membebaskan totokan Mintaraga. Karena itulah ia lalu melakukan totokan pula untuk membebaskan pengaruh totokan Mintaraga tadi. Akan tetapi ia segera menjadi kaget setelah mendengar teriakan Indrajaya!

“Aduh.” Dengan tiba-tiba dan terus dia berdiri tercengang saja, mulutnya terbuka lebar.

Ketua bajak Laut Bondopati ini hanya mengerti ia tahu tentang totokan jalan darah. Ia tak memikirkan ilmu totokan dari perguruan Lawu adalah berbeda dengan ilmu totokan lain-lain dari kaum dunia kependekaran. Karena itu berbeda pula caranya untuk membebaskannya.

Disamping itu Mintaragapun menotok dengan caranya sendiri. Dengan apa yang dikatakan totokan sepasang tangan berat.

Oleh karena kejadian ini maka bertambahlah kecurigaan ki Dahana Brasta ini.

“Ki sanak.” Panggilnya kepada Mintaraga. “Kami pihak Bajak Laut Bondopati adalah manusia-manusia biasa saja, akan tetapi kami bukannya orang-orang yang mudah dihina, oleh karena itu, aku minta supaya kalian sudi berlaku murah untuk menotok dan menyadarkan padanya. Apakah kau sudi melakukannya ki sanak?”

Belum lagi Mintaraga menjawab, akan tetapi Kembang Arum telah mendahuluinya.

“Kalian ini benar-benar gelap pikiranmu!” Kata gadis itu yang masih tetap dalam penyamaran. “Dia ini adalah pengkhianat bagi pihakmu.  

Sedangkan kami adalah sahabat-sahabat, kenapa kau tak dapat

membedakannya?”

“Kaulah justru pengkhianatnya.” Seru salah seorang yang sekonyong- konyong mendamprat dengan nyaring. “Kau jangan lari, marilah kau rasakan tajamnya goloknya Sudiro!”

Inilah Sudiro pemimpin kedua dari pulau Nusabarung, yang terus memimpin beberapa ratus rakyat pulaunya merangsak maju untuk menyerang kedua orang pemuda ini.

Sikap Sudiro dan anak buahnya inipun menyebabkan kecurigaan juga kepada yang menjadi sahabatnya, karena itu merekapun turut berseru dan maju untuk mengepung.

“Ki sanak, tahan!” Seru Mintaraga. “Aku minta kalian suka mendengarkan dulu perkataanku ini.”

“Siapa sudi mendengarkan kedustaanmu itu.” Bentak Sudiro sambil membacok dengan goloknya yang besar.

Mintaraga mengelak.

“Naga Tujuh Lautan apakah kau juga percaya kalau aku ini seorang pengkhianat?!” Ia berteriak menanyakan kepada ki Dahana Brasta yang menjadi ketua mereka.

Ki Dahana Brasta tetap tenggelam dalam keragu-raguannya. Masih saja ia mencurigai kalau mereka itu datang untuk merebut mustika itu, karena itu ia tetap berdiam diri sambil memegang goloknya. Hanya dengan matanya ia menatap kearah pemuda itu.

Akhirnya Mintaraga menjadi putus asa.

“Baiklah.” Serunya. Ia melihat kalau pengurungnya ini berjumlah tak kurang dari lima ratus orang. Semuanya ini berdiri sambil berkaok-kaok.

“Kembang Arum, marilah kita turun tangan. Asal saja jangan membunuh mereka.” Ajaknya.

“Baiklah.” Jawab Kembang Arum yang tak menjadi gentar hatinya.

Kedua orang muda itu telah menyerbu kearah orang-orang itu, siapa saja yang berani mendekatinya maka mereka lalu menotok jalan darahnya.

“Apakah kalian tak dapat berhenti menyerang?” Mereka berkata. “Kalian minta supaya kami jangan menyerang, akan tetapi mengapa

kalian masih menggerakkan kaki dan tanganmu,” Tegur Bagaskara yang menjadi sangat marah, sambil terus menyerang.

Dananjaya, Waspo Runggu dan lain-lain yang telah ditolong oleh kedua anak muda itu, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang beradat keras, melihat kekacauan ini, tanpa mempedulikan apa juga, merekapun turut menyerbu.

Mintaraga menjadi masygul, dengan terpaksa ia dan Kembang Arum harus melayani orang banyak seperti itu. Mereka hanya main totok dan  

melemparkan saja. Sementara itu Mintaraga sendiri masih mengharapkan

kembalinya Candra Wulan.

Pengepungan itu adalah cocok sekali dengan kehendak Sudiro. Sengaja ia berkaok-kaok untuk menyuruh mereka itu mengepung.

“Kakang Mintaraga bagaimana?” Akhirnya Kembang Arum bertanya. Ia mulai kehabisan kesabaran karena melihat kuatnya pengurungan ini. Ia merasa kewalahan buat main totok saja atau melemparkan musuh- musuhnya.

Mintaraga berkelahi sambil mengerutkan keningnya, iapun menjadi berduka, seperti orang tak berdaya. Memang sulit untuk melayani orang- orang kalap ini.

Syukur disaat keadaan hebat itu, tiba-tiba terdengar sebuah seruan yang sangat keras dan panjang. Kemudian disusul dengan berkelebatnya sebuah tubuh yang gesit, yang melompat keluar dari belakang tumpukan batu besar dipesisir muara yang terus lari kearah daerah pertempuran.

“Naga Tujuh Lautan, aku telah menolong kalian untuk membekuk pengkhianat.” Serunya dengan keras. “Apakah kalian juga tak mau menghentikan pertempuran ini?!”

Bersama dengan itu Mintaraga telah menotok roboh enam tujuh orang serta melemparkannya lima enam orang lainnya hingga ia mendapat kesempatan akan berpaling. Setelah mendengar seruan itu, iapun sekarang dapat melihat orang yang mengeluarkan seruan itu, inilah orang yang diharap-harapkan. Candra Wulan.

Candra Wulan datang dengan mengepit dua orang yang masing-masing berada dikanan dan kiri ketiaknya.

“Ah... adi Candra Wulan mengapa kau pergi lama sekali?” Teriak Mintaraga.

Candra Wulan menjawab dengan tertawa.

“Akupun harus berkelahi dengan hebat dahulu, barulah dapat menawan mereka itu. Mereka ini adalah orang-orang dari Jipang Panolan dan sebawahannya si jahanam Indrajaya.”

Mendengar jawabannya orang itu, Dahana Brasta menjadi sadar benar- benar. Ia tak sangsi lagi. Ia segera melepaskan tiga batang anak panahnya. Yang terus anak panah itu melesat keudara.

Suara anak panah itu menghentikan pertempuran.

“Sekarang marilah kita periksa dahulu kawanan pengkhianat itu.” Seru ketua dari Bajak Laut Bondopati.

Candra Wulan menjadi girang dan tertawa, lalu melemparkan kedua orang tawanannya. Hingga dengan demikian mereka terguling diatas tanah.

Orang-orang lalu berkerumun. Malahan mereka segera mengenal salah seorang dari tawanannya. Yaitu Priambodo pemimpin ketiga dari pulau Nusabarung.  

“He... kakang Priambodo, mengapa ada orang yang menawanmu?!”

Tanya salah seorang, agaknya ia menjadi heran.

“Dia toh pengkhianat.” Katanya yang lain. “Apakah tadi kau tak dengar?!”

“Dan ini siapa!” Tanya yang lain menunjuk kearah tawanannya yang  

lain.

“Dia?!” Candra Wulan tertawa dan menjawab pertanyaan orang itu.

“Aku beritahukan kepadamu, dia adalah cucu dari orang Jipang Panolan.”

Jawaban ini membuat heran khalayak ramai. Mereka melihat pakaiannya seperti orang tanah Jawa.

“Siapakah dia?!” Tanya Bagaskara.

“Aku juga tak tahu siapa dia?” Jawab Candra Wulan. “Aku hanya tahu kalau ia datang dengan secara menyelinap dengan diam-diam. Setelah itu ia lalu main mata kepada orang Pulau Sempu. Aku menjadi curiga, karena itu aku lalu mengawasinya. Ternyata dia ini bukannya orang baik-baik, dia ini ternyata cucu dari orang Jipang Panolan.”

Keterangan ini tidak jelas, karena itu banyak mata yang terus memandang Candra Wulan.

“Biarlah aku bicara terus terang.” Kata Candra Wulan pula. “Kami bertiga orang-orang dari dunia kependekaran dan mempunyai nama yang baik. Kami datang kemari ini karena tertarik oleh mustika kalian. Kami tak mengandung maksud lain. Tadi sewaktu kalian bertempur melawan Kalong Ireng, kakang Mintaraga mengatakan kepadaku kalau ada cucu orang Jipang Panolan menyelinap masuk kemari. Karenanyalah aku dimintai untuk mengawasinya ”

“Kakang Mintaraga?” Dahana Brasta menyela.

“Benar! Itulah dia.” Dan Candra Wulan lalu menunjuk kearah kawannya. “Kata-kata kakang Mintaraga adalah yang paling kuindahkan. Akupun lalu mengenal cucu orang Jipang Panolan ini. Hanya dengan diam- diam kutanyakan kepada kakang Mintaraga, sesudah kita ketahui adanya pengkhianat, kenapa kita tak segera membekuknya. Atas pertanyaanku ini kakang Mintaraga lalu menjawab, Candra Wulan kau jangan membuat ular jadi kaget. Dia berani menyelusup kemari, dia tentunya mempunyai penyambut disebelah dalam. Karena itu lebih baik kau awasi saja dia itu. Dengarlah semua perkataannya. Sebelum tiba saatnya yang perlu, jangan kau lancang turun tangan. ”

“Candra Wulan?!” Kembali Dahana Brasta bertanya.

“Candra Wulan itu ialah aku sendiri.” Jawab Candra Wulan sambil tertawa. Gadis ini nampaknya sangat gembira dan polos. “Eh... mengapa sih kau ini kok doyan bertanya?” “Hem... namamu itu, benar-benar mirip dengan nama wanita.” Seru

Dahana Brasta dengan tak tegas. ‘Mereka bertiga aneh kelakuannya. Aku harus waspada ’

Candra Wulan tak mempedulikan pikiran orang itu. Dia lalu melanjutkan keterangannya :

“Akhirnya aku toh harus bertarung pula dengan mereka. Kalian tahu, mengapa aku tak menaati perkataan kakang Mintaraga? Sungguh menyebalkan sekali untuk dikatakannya. Ini cucu orang Jipang Panolan main mondar-mandir. Sebentar ia kasak-kusuk dengan orang ini, aku selalu memperhatikannya. Aku dapat kepastian kalau orang-orang yang selalu diajak kasak-kusuk semuanya adalah orang-orang dari pulau Nusabarung. Dan itu Indrajaya, beberapa kali kulihat sendiri selalu memberi perintah dengan tanda-tanda rahasia.”

Tadinya Indrajaya pingsan, akan tetapi sekarang ia telah sadar. Ia mendengar perkataan Candra Wulan.

“Binatang kau ngaco belo.” Dampratnya dengan keras. “Mari rasakan tanganku.” Dia hendak menggerakkan tangannya. Akan tetapi apa daya seluruh anggota tubuhnya tak dapat digerakkan. Seakan-akan tubuhnya ini ditambatkan disebuah tiang.

Kembali terbit suara berisik. Orang-orang dari Nusabarung menjadi marah sekali, dengan berteriak-teriak mereka hendak turun tangan.

“Diam.” Bentak Dahana Brasta.

“Kemudian cucu orang Jipang Panolan ini menggeloyor pergi.” Seru Candra Wulan meneruskan. “Diam-diam aku terus membuntuti dia, dia menyembunyikan diri dibelakang tumpukan batu itu. Dia memperdengarkan siulan yang perlahan akan tetapi terdengar cukup nyaring. Segera setelah itu, muncullah Priambodo ini. Keduanya Ialu mengomong-omong. Nah tahukah kalian apa yang diomongkan?”

“Apakah itu?!” Kembali Dahana Brasta memotong.

“Hem...” Candra Wulan memperdengarkan suara dihidung. “Mereka membicarakan tentang bekerja sama, untuk pihak yang datang, untuk pihak penyambut. Katanya orang-orang Jipang Panolan akan datang dengan segera, ialah tengah malam ini.”

Dahana Brasta, Bagaskara, dan Dananjaya melompat berjingkrak. “Apakah benar perkataanmu ini?!” Tanya mereka dengan serempak. “Jika kalian tak percaya maka kalian tunggu saja.” Jawab Candra Wulan

yang terus memperdengarkan suara keras. “Orang-orang Jipang Panolan telah menyelidiki tentang rapat kalian malam ini, mereka bermaksud menjaring kalian semua hingga habis. Sekarang adalah waktunya untuk turun tangan.  

Kasihan kau, kau menjadi pemimpin besar dari rakyat yang tinggal

diantara laut kidul sampai kelaut timur pulau Jawa ini, akan tetapi kau tak insyaf kalau orang-orangmu ini akan menjualmu.

Muka Indrajaya dan Sudiro menjadi pucat bagaikan mayat akan tetapi kedua orang tokoh dari Nusabarung ini masih tetap menguatkan hatinya.

“Bagus ya.” Dia berteriak. “Justru kalian bertiga yang nyelusup kemari, dengan maksudmu yang jahat, untuk merenggangkan persahabatan kita. Kau bilang kami adalah pengkhianat, yang menjadi penyambut pihak dalam dari bangsa Jipang Panolan. Numpang tanya bukti apakah yang kau ajukan dengan alasanmu itu?!”

“Bukti?” Candra Wulan mengulangi. “Sangat banyak. Eh... Naga Tujuh Lautan, disini ada dua bukti yang hidup, nah sekarang kau tanyalah kepada mereka.”

Dahana Brasta menghampiri Priambodo, ia lalu menepuk belakang orang itu. Dahana Brasta berniat untuk bertanya kepada orang Nusabarung ini.  

Priambodo telah bangun berdiri, atas tepukan itu tadi, ia jadi roboh dengan tiba-tiba. Yang sangat mengejutkan orang banyak ialah ia lalu jatuh dan nyawanya melayang.

Dahana Brasta menjadi kaget dan heran.

“Apakah kau telah membunuhnya.?” Tanyanya kepada Candra Wulan yang masih disangkanya seorang pemuda.

Candra Wulanpun menjadi heran, segera ia melihat kepada tangannya sendiri. Ia menjadi terkejut dan bersama itu menjadi girang sekali.

“Benar.” Jawabnya kemudian. “Masih ada seorang cucu orang Jipang Panolan ini. Jangan lama-lama iapun tak akan dapat hidup lebih lama lagi. ”

Segera ia menolak tubuh orang itu dengan perlahan, akan tetapi orang itu segera roboh seperti Priambodo, kedua matanya mendelik tak bergerak. Malah ia telah tak bernyawa sejak tadi.

Mintaraga mengerutkan keningnya dan tertawa.

“Sungguh sebuah pukulan Gundala Kurda yang amat hebat.” Katanya. Priambodo cukup tangguh, akan tetapi begitu kena tangan Candra

Wulan yang berisi aji pukulan Gundala Kurda ia tak kuat mempertahankan dirinya, nyawanya melayang. Hal ini telah membuat semua orang menjadi kaget, juga gadis ini sendiri menjadi kaget dan girang. Sebab ia tak menyangka sama sekali kalau ia telah mendapat kemajuan yang demikian pesatnya. Akan tetapi iapun menjadi khawatir kalau orang-orang ini menjadi salah paham, maka segera ia berbicara.

“Dahana Brasta, untuk apa kau memandangku terus-menerus?” Ia menegur pemimpin dari bajak laut Bondopati. “Hem.... ternyata aku keliru menduga terhadap kedua orang ini mereka telah hidup tiga atau empat puluh tahun. Aku menduga kalau ilmu silat mereka itu hebat, mereka itu  

mestinya tangguh. Akan tetapi siapa tahu hanya dengan dua tiga gebrak saja, mereka roboh. Hai kau juga jangan terus memandangku.” Ia menegur orang- orang yang matanya terus diarahkan kepadanya. “Kalian juga mengerti ilmu silat, sekarang aku hendak bertanya kepada kalian. Kalau dua orang menyerbu kau sendiri, mereka hendak membunuhmu, apakah yang akan kalian lakukan? Lagi pula mereka ini adalah orang-orang yang harus mampus! Bukankah kalian tak menyayangi mereka? Kenapa kalian justru tak menghaturkan terima kasih kepadaku?”

Kata-kata gadis ini ternyata telah membuat Dahana Brasta menjadi tersenyum menyeringai.

Tapi Sudiro menjadi gusar, dia melompat maju sambil mendamprat : “Bagus betul binatang cilik ini. Kau telah membunuh saudaraku jika aku

tak dapat menuntut balas apakah aku masih dapat dipanggil Sudiro dari Nusabarung?” Kemudian ia lalu menghadap kearah orang-orang untuk menghasut : “Bagus betul binatang cilik ini. Kau telah membunuh saudaraku jika aku tak dapat menuntut balas apakah aku masih dapat dipanggil Sudiro dari Nusabarung?”

“Ki sanak sekalian, ketiga orang busuk ini telah menyelusup kedalam pulau kita. Mereka mencurigai. Mereka memfitnah kami dari pulau Nusabarung, apakah mereka punya buktinya? Tidak! Dia justru pembunuh!  

Ki   sanak   sekalian,   apakah   kita   akan   mendiamkan   saja   orang   asing

menyelusup diantara kita? Apakah kita harus membiarkan saja mereka itu membunuh saudara kita?”

Hasutan ini benar-benar besar pengaruhnya. “Bekuk... bekuk dia...!” Teriak orang-orang.

“Bagus benar,” Seru Candra Wulan dengan mendongkol. Aku telah membantu kalian menyingkirkan pengkhianat, sekarang kalian akan menyerang kami. Baiklah jika kalian benar-benar hendak turun tangan, silahkan maju.”

Ia menjadi marah dan segera melompat ketengah kalangan, dan segera memasang kuda-kuda.

“Oh manusia busuk.” Jerit Sudiro sambil melompat maju, untuk terus menjatuhkan diri, guna menggulingkan tubuhnya. Memanglah Sudiro kali ini menyerang dengan serbuan kearah kaki gadis ini.

Belum pernah Candra Wulan menerima makian, karena itu dapatlah dibayangkan kemarahannya. Ia menggertak gigi, ia lalu berlompatan menghindarkan serangan itu, setelah itu dengan segera mulai balas menyerang.

Sudiropun menjadi marah dan menyerang terus, hingga dengan demikian keduanya menjadi bergebrak dengan ramai.

Mintaraga menyangka dengan munculnya Candra Wulan maka urusan akan menjadi beres. Tidak tahunya suasana menjadi keruh dan panas. Ia melihat kalau orang-orang telah mengambil sikap mengancam kepada adik angkatnya ini.

‘Tak dapat aku bersangsi pula.’ Katanya didalam hati. ‘Adalah urusan kecil jika aku bentrok dengan rombongan ini, akan tetapi apakah yang harus kukatakan kepada paman Surokoco kalau putrinya ini sampai terluka? Aku malu menghadapnya diakherat nanti.’

Karena itulah dengan sebuah lompatan ia telah berdiri disisi Candra Wulan, telah siap sedia melindungi gadis ini. Akan tetapi dengan sikapnya ini maka menambah tebal kecurigaan Dananjaya dan mereka semua, hingga dengan demikian mereka turut menyerbu dengan beramai-ramai.

Dahana Brasta menjadi tak puas dengan adanya kekacauan ini. Bukanlah begitu maksudnya dengan menghimpun rapat besar ini. Ia lalu melompat sambil memutar goloknya.

“Tangkap ketiga orang ini.” Teriaknya. Sewaktu ia melompat telah ada orang-orangnya yang turut maju.

Kembang Arum menjadi penasaran karena maksudnya yang baik itu diterima dengan sebaliknya. Ia masih berusia muda, dan pengalamannyapun masih kurang. Ia tak memikirkan mengapa mereka bertiga itu dicurigai mereka semua. Dengan menuruti perasaan hatinya iapun lalu melompat kedepan Dahana Brasta.  

“Jahanam,   perbuatanmu   sangat   bertentangan   dengan   kenyataan.”

Bentaknya. “Percuma saja kau mempunyai julukan Naga Tujuh Lautan. Nah kau rasakanlah pedangku ini.”

Bentakan ini ditutup dengan sebuah tikaman.

Dahana Brasta menjadi gusar, dan segera menangkis. Terbitlah suara karena bentroknya kedua senjata itu. Bunga apipun berpijar. Akan tetapi sungguh peraduan senjata sangat mengejutkan hati Dahana Brasta karena digoloknya itu tertera cap sebuah pedang alias rusak. Sebab pedang yang dipakai oleh Kembang Arum adalah sebuah pedang mustika pemberian ibunya. Woro Keshi! Pedang ini telah puluhan tahun menemani pertapa wanita itu didalam dunia kependekaran.

Oleh karena itu ketika ia menyerang lagi maka Dahana Brasta lalu berlaku lebih waspada.

Mintaraga, waktu itu terus melindungi Candra Wulan. Akan tetapi ia tak dapat membunuh lawannya, iapun menjadi agak repot juga ketika menghadapi rangsekan Dananjaya dan anak buahnya. Dilain pihak Indrajaya yang tak dapat bergerak itupun telah mementang bacotnya. lebar-lebar. Dia mencaci, berteriak, hingga orang-orang menjadi bertambah kalap.

Sewaktu mereka bertempur dengan hebat, sekonyong-konyong sebatang anak panah api melesat keudara. Warna api itu biru. Melihat itu Naga Tujuh Lautan berkaok-kaok :

“Bagus benar, kiranya kalian mempunyai teman.”

Akan tetapi sebaliknya Candra Wulan Ialu tertawa bergelak-gelak : “Dahana Brasta, kau mimpi.” Serunya. “Itulah orang-orang Jipang

Panolan yang datang. Kau hendak terus membekuk kami atau kau akan menghadapi orang-orang Jipang?!”

Dahana Brasta menjadi kaget. Iapun segera mengenal panah api itu. Inilah panah api dari dua puluh satu pahlawan dari Jipang Panolan. Segera ia berseru, dan melompat keluar dari kalangan. Setelah berada diluar kalangan lalu bersuit tiga kali.

“Berhenti.” Teriaknya dengan nyaring.

Semua orang sekarang melihat banyak layar yang sedang berkembang dilautan. Diantara sinar api terang, dari sana terdengar teriakan-teriakan yang riuh rendah :

“Tangkap pemberontak... tangkap pemberontak. ”

Benar rupanya, keterangan ketiga orang asing ini tepat sekali. Mereka yang datang itu adalah orang-orang dari Jipang Panolan. Waktu itu berdatangan laporan-laporan dari pesisir :

“Kapal-kapal perang Jipang Panolan telah datang, dan jumlahnya puluhan, sedangkan serdadunya berjumlah kurang lebih lima sampai enam ribu. Setelah itu datang pula sebuah laporan.

“Perahu-perahu orang Jipang Panolan telah mengurung pulau kita.”  

Muka Dahana Brasta pucat. Ia lalu mengajak Bagaskara dan yang lain-

lain untuk berunding. Merundingkan persoalan untuk melawan orang-orang Jipang.

Justru pada waktu itu Sudiro melepaskan sebuah anak panah yang berbunyi nyaring. Sedangkan orang-orangnya telah tersebar disana-sini, sudah mulai melepaskan api.

Indrajaya telah bersekongkol dengan bangsa Jipang Panolan. Ia sendiri yang menganjurkan supaya orang-orang Jipang datang dan menghancurkan Selarong sewaktu kawan-kawan dari Bajak Laut Bondopati mengadakan rapat besar itu. Dia pulalah yang menyambut dari dalam. Salah satu tipu yang sangat keji dari Indrajaya ini adalah pengaduan domba antara orang- orang Karang Tugel dan orang-orang dari Pulau Kenikir, agar dengan demikian mereka terpecah belah dan tenaganya berkurang.

Adipati Jipang Panolan adalah Ario Penangsang, adipati yang keras kepala dan bercita-cita besar. Adipati ini pernah memanggil Indrajaya datang menghadap, kepadanya dijanjikan sebuah pangkat yang besar apabila penumpasan itu berhasil. Dia telah diberi tugas mengepalai beberapa golongan didaerah laut Timur. Mereka itu bekerja sama dengan orang-orang Jipang Panolan.

Sekarang telah ada keputusan dari Dahana Brasta dan kawan- kawannya. Tidak ada kesangsian lagi dengan halnya rombongan pulau Nusabarung adalah pengkhianat-pengkhianat dan sebaliknya. Mintaraga bertiga ini benar-benar membantu kepadanya. Karena itu mereka menjadi bersyukur karena mendapat bantuan dari tiga orang asing ini.

“Tangkap semua orang-orang Nusabarung.” Lurah Bondopati itu memberikan perintahnya. “Jangan ada yang dapat lolos, siapa yang berani melawan bunuh saja.”

Akan tetapi bersama dengan terdengarnya perintah itu, maka Sudiro lalu memberikan jawabannya :

“Dahana Brasta dengarlah. Kita adalah sahabat-sahabat lama, yang bersedia hidup dan mati bersama, karena itu disaat yang terakhir ini kupinta supaya kau mau mendengarkan perkataanku.”

“Bicaralah.” Dahana Brasta masih memberi ketika.

“Kita telah sama-sama menancapkan kaki kita disini beberapa tahun lamanya.” Demikianlah Sudiro mulai berkata. “Selama itu kita juga membajak, tak lebih tak kurang, kalau kita lanjutkan usaha kita itu, kita tetaplah perompak saja. Karena itu marilah kau turut kepadaku pergi menghadap sri baginda Ario Penangsang, asal saja kau turunkan bendera perlawananmu, kutanggung kalau kau akan mendapat pangkat yang tinggi. Kau akan hidup senang dan mulia seumur hidup ”

Belum habis pengkhianat itu berbicara, Dahana Brasta telah melompat kepadanya. Segera ia mengayunkan goloknya untuk membabat lehernya  

Sudiro. Pemimpin bajak laut ini sangat marah hingga mukanya kelihatan

merah padam.

Sudiro melihat kalau orang itu menyerang, dengan segera mengelakkan tubuhnya.

Bagaskara dan Dananjaya terus mengejar.

“Pengkhianat kau hendak kabur?” Mereka membentak sambil menyerang, sedangkan Dahana Brasta menyerang pula.

Sudiro melawan, akan tetapi dikurung lima orang musuh tangguh, dia kehabisan akal. Malahan ia tak sanggup meloloskan diri. Baru belasan jurus, dia telah terbabat kutung tubuhnya oleh golok besar dari ketua umum bajak laut Bondopati.

“Ki sanak dari pulau Nusabarung.” Seru Dahana Brasta kepada orang- orangnya Indrajaya. “Tahukah kalian, bahwa kalian telah diperdayakan oleh Indrajaya?”

Semua orang dari Nusabarung menjadi bingung. Mereka telah melihat dari tiga orang pemimpinnya, dua telah mampus ditangan lawan. Sedangkan Indrajaya pemimpin pertamanya masih hidup, akan tetapi juga telah tak berdaya dan sama dengan mati. Karena Indrajaya tak dapat menggerakkan tubuh tangan dan kakinya. Mereka segera mengawasi Indrajaya yang merem-melek bagaikan boneka itu.

Melihat sikap orang-orang itu, Dahana Brasta lalu melompat kearah Indrajaya, setelah dekat goloknya diayun dan... terpisahlah kepalanya dari tubuh pengkhianat itu. Kepalanya terus disambar sedangkan tubuhnya rubuh dengan mandi darah.

Sambil mengangkat tinggi-tinggi kepala Indrajaya, Dahana Brasta lalu berteriak :

“Kita orang-orang dari Laut Kidul dan Timur telah bersekutu, dan terutama sekali ialah untuk menentang orang-orang Jipang Panolan. Bisakah cita-cita kita ini dihapuskan?”

“Tidak...” Jawab orang-orang itu dengan serempak.

Dahana Brasta Ialu mengayunkan tangannya dan kepala Indrajaya itu terlempar jatuh ketengah laut.

“Bagus." Serunya. “Sekarang pengkhianat telah dibasmi, sekarang marilah kita melawan musuh yang datang dari luar. Ki sanak sekalian dari Nusabarung dengarlah. Jika kalian suka memutar mulut golok dan bertempur bersama kami; kami akan menyudahi peristiwa yang telah lewat tadi, akan tetapi kalian menolak, hmm! Apakah kalian sangka pengkhianat yang lari kepada orang-orang Jipang bisa kabur dengan selamat? Atau aku berani bertaruh kalau kamu dapat hidup, apakah kalian akan mau ditertawakan oleh orang-orang dari dunia kependekaran? Nah bagaimana sikap kalian.”  

“Kami mau menurut apa saja yang ki lurah kehendaki. Kami akan

berjuang untuk mengembalikan bangsa pengkhianat dan menghajar orang- orang Jipang.” Demikianlah terdengar yang menyambut suara pemimpin umum bajak laut Bondopati.

Mendengar ini Dahana Brasta menjadi sangat girang sekali.

“Bagus.” Katanya. Setelah membungkukkan badannya kearah Mintaraga bertiga, setelah itu terdengarlah perkataannya :

“Jika tak ada ki sanak bertiga yang membantu kami, kali ini pasti kami akan celaka semua. Aku sangat bodoh, kuharapkan ki sanak bertiga sudi memaafkannya. Maukah kalian memperkenalkan diri kalian?”

Melihat kalau orang-orang dapat memperbaiki dirinya Mintaraga menjadi tertarik. Karena itu mereka bertiga tak keberatan untuk memberi tahukan namanya :

Ternyata bagi orang-orang itu nama mereka bertiga itu sangat asing. Merekapun merupakan anak-anak muda yang baru pertama kalinya masuk kedalam dunia kependekaran. Walaupan benar Mintaraga pernah menindas jago-jago Jipang Panolan dan menghajar atau tepatnya membasmi kaum Tengkorak Berdarah dan mengalahkan Sembilan Resi Indrakilo. Apa yang mereka dengar adalah hanya satu anak muda, yang namanya mereka tak mengetahui.

Kedua belah pihak tak dapat berbicara lebih banyak lagi, malahan Dahana Brasta tak sempat menanyakan siapakah guru mereka masing- masing. Waktu itu terdengar suara tambur terompet yang berisik, pasukan air musuh telah mendatangi semakin dekat.

“Ki sanak, bagaimanakah jika kami mohon bantuan kalian?” Dahana Brasta itu meminta kepada tetamunya itu sambil menunjukkan sikap hormatnya.

“Kami akan sangat senang membantu ki sanak sekalian. Membantu dengan segenap kebisaan kami.” Jawab Mintaraga tanpa bersangsi lagi.

“Terima kasih.” Kata Dahana Brasta, yang sekarang menunjuk kepada orang-orangnya yang telah kena ditotok : “Ki sanak. ”

Mintaraga tak menunggu sampai orang itu bicara terus. Dia telah melompat untuk bekerja, malahan dengan waktu yang sangat singkat sekali ia telah membuat sadar semua orang yang terkena totokannya. Ia bekerja dengan gesit dan luar biasa sekali.

Bagaskara menjadi sangat kagum sekali. Sudah lima puluh tahun lamanya ia hidup di dunia kependekaran, belum pernah menyaksikan orang lain yang mempunyai kesaktian sehebat Mintaraga.

“Sungguh hebat.” Akhirnya ia memuji dengan setulus hati.

“Ki sanak sekalian, maafkanlah aku....” Mintaragapun meminta sambil memberi hormat.

Sementara itu Kembang Arum menyela.  

“Musuh telah berada dihadapan mata, jangan kita terlalu sungkan-

sungkan dan mengurusi adat peradatan lagi.” Demikianlah suaranya yang nyaring. “Naga Tujuh Lautan, kami sangat suka membantumu untuk menghajar orang-orang Jipang Panolan. Agar selanjutnya mereka tak berani memandang enteng kepada Bajak Laut Bondopati. Setujukah kalian?!”

“Setuju.” Jawab Dahana Brasta. “Setuju” lalu ia menyerukan kepada kawan-kawannya. “Ki sanak sekalian marilah kita bertempur dengan sekeras-kerasnya, untuk menghajar musuh. Setelah itu nanti kita akan berpesta pora. Jangan kita rontokkan nama Bajak Laut BONDOPATI.”

Semua rakyat pulau itu segera menyiapkan senjata masing-masing. “Mari kita hajar orang-orang Jipang.” Teriak mereka dengan penuh

semangat.

Dahana Brasta menjadi sangat girang. Segera ia memberi perintah kepada orang-orangnya. Pimpinan langsung dipegangnya sendiri. Sedangkan orang-orang dari Pulau Nusabarung yang tak mempunyai pemimpin diserahkan kepada Wilotikto pemimpin dari pulau Karang Tugel.

Senang hati Mintalaga ketika melihat orang-orang telah teratur dengan rapi.

Segera setelah itu datang sebuah laporan yang mengatakan kalau kini orang-orang Jipang Panolan telah datang dan mulai menurunkan jangkar. Mereka berhenti kira-kira setengah kilo dari daratan. Mereka mulai meninggalkan kapal mereka dan berganti dengan perahu-perahunya yang kecil. Perlu pula diketahui kalau lawannya ini dipimpin oleh jago-jago Jipang Panolan.

Dahana Brasta tampaknya terkejut.

“Bagaimana pendapatmu ki Mintaraga?” Tanyanya kepada si pemuda. “Mereka itu datang kemari dengan dua maksud.” Mintaraga menjawab

sambil memberikan keterangannya. “Pertama ialah untuk menyerang pihak kalian, keduanya untuk mengambil mustika itu...”

Ia lalu menunjuk kotak yang bertaburan intan berlian yang berada diatas meja.

Dahana Brasta tercengang, dan segera ia tersadar. Ia sampai melupakan kotak berharga itu. Ia lalu mengambil kotak mustika itu. Akan tetapi ia diam dan otaknya bekerja.

‘Kepada siapa aku harus menyerahkan kotak ini untuk disimpan?’ Demikianlah pikirnya. “Kalau kuserahkan kepada Bagaskara aku khawatir kalau ia tak sanggup melawan jago-jago Jipang Panolan. Jika kuserahkan kepada Mintaraga, aku belum kenal betul kepadanya... Dapatkah ia dipercaya habis?...’

Sewaktu pemimpin itu berpikir tiba-tiba saja Waspo Runggu menghampiri mereka.  

“Ki Mintaraga.” Ia bertanya sambil memandang kearah pemuda ini.

“Kau barusan berkata kalau orang-orang Jipang Panolan menghendaki barang ini, bagaimanakah persoalannya?!”

Mintaraga tertawa.

“Orang-orang Jipang ini bukannya hanya menghendaki barang ini saja, akan tetapi yang terutama ialah TUNGGUL TIRTO AYU-nya.” Jawabnya. Ayahku telah meninggal karena Tunggul Tirto Ayu itu. Bagaimana aku tak darat mengetahuinya?”

Mendengar ini Waspo Runggu lalu tertawa berkakakan, terus saja ia membongkokkan kepalanya untuk menghormat.

“Ki Mintaraga, tahulah aku sekarang.” Katanya dengan girang. “Kau tentunya keturunan dari Tumenggung Malangyudo! Kau adalah putra dari Garuda Sakti ki Darmakusuma. Kaulah Mintaraga jago muda yang baru-baru ini menggemparkan dunia kependekaran.”

“Itulah aku yang rendah.” Jawab Mintaraga dengan tersenyum. Mendengar ini sejenak, suasana menjadi sunyi.

“Ah... ki Mintaraga.” Kata Dahana Brasta. “Mengapa kau tak memberitahukannya siang-siang?”

“Bukankah kakang Mintaraga telah memberitahukan?!” Seru Candra Wulan balas bertanya dengan tertawa.

“Maafkan aku, mataku seperti lamur   ” Dahana Brasta mengakui. Terus

ia menyerahkan kotak itu sambil berkata dengan nyaring.

“Ki Mintaraga, dalam pertempuran malam ini, rela aku mengiringimu. Aku akan menurut semua perintahmu. Ki sanak silahkan kau pimpin seluruh orang-orang dari Bajak Laut Bondopati ini.”

Akan tetapi Mintaraga menampik dengan segera. “Maaf. maaf, tak dapat aku menerimanya.” Jawabnya.

Akan tetapi Bagaskara dan semuanya, yang telah mengetahui kalau pemuda yang pernah menghajar kocar-kacir jago-jago Jipang Panolan, sudah segera menunjukkan perasaan hormatnya dan senang menerima segala perintahnya.

Mintaraga tak ingin memamerkan dirinya. Itulah terlalu menyolok baginya. Akan tetapi permintaan itu demikian sungguh-sungguh. Sehingga akhirnya ia tak dapat menolak terus-menerus. Maka ia lalu menerima kotak itu dan disimpannya didalam saku, kemudian ia memberi hormat kepada khalayak ramai.

“Terus terang saja ki sanak, aku ini tak mengetahui ilmu perang.” Katanya. “Lagi pula untuk menghadapi orang luar, tak perlu kita memisahkan diri siapa yang berada diatas dan siapa yang berada dibawah. Karena itu marilah kita bekerja sama. Baik kita atur begini saja, untuk melawan jago-jago kerajaan Jipang Panolan, aku yang bertanggung jawab. Akan tetapi untuk menghadapi lawan-lawan yang datangnya dari air dan  

dari darat, pokoknya lawan umum, silahkan ki sanak sekalian menurut saja

apa perintah ki Dahana Brasta.

Saran Mintaraga ini mendapat persetujuan umum, mereka lalu bertepuk hingga keadaan menjadi riuh rendah. Penuh dengan sorak gembira.

Dahana Brasta tak dapat berkeras lagi, didalam hatinya iapun berkata : ‘Ada dia sebagai pembantu, untuk apakah kita harus takut kepada jago

Jipang Panolan?!’ Karena itu ia segera menyerukan kepada orang-orangnya supaya mau menuruti apa perintahnya dan mendengarkan semua aturan yang diperintahkannya. Ia lalu mulai mengatur sebuah tipu yang sekiranya akan dapat berhasil memenangkan musuhnya.

“Bagus.” Mintaraga memuji.

Sampai disitu orang-orang dari Pulau Selarong telah mulai bersiap sedia semuanya.

Dipihak Jipang Panolan, orang-orangpun telah maju dengan mempergunakan perahu-perahu kecil. Karena kapal perang mereka harus ditunda ditengah sebab sedikit meminggir saja kapal itu akan karam.

Pasukan Jipang Panolan, yang menuju keselatan dipimpin langsung oleh panglima perangnya yang bernama Wasi Pralampito. Jumlah kapal perangnya ada kalau lima puluh buah dan anak buahnya berjumlah kurang lebih lima sampai enam ribu jiwa. Ditengah jalan pasukan ini bertemu dengan rombongan Patih Udara. Patih Udara gagal dalam usahanya mencari Tunggul Tirto Ayu atau untuk menawan Darmakusuma. Dalam usahanya ini jago-jago Jipang Panolan dipecah menjadi tiga kelompok. Akan tetapi ketiga kelompok ini mendapat kenyataan kalau Ki Darmakusuma telah meninggal, sedangkan Tunggul Tirto Ayu sendiri telah lenyap entah kemana. Akan tetapi untuk melenyapkan perasaan penasarannya, mereka membunuh beberapa ratus penduduk dan membakar rumah-rumah di Karang Bolong.

Mereka merampas tiga buah perahu besar, dengan perahu besar ini pula mereka akan pulang ke Jipang Panolan dengan melalui laut. Akan tetapi sungguh kebetulan sekali ketika mereka berlayar bertemu dengan rombongan pasukan Panglima Wasi Pralampito. Kedua belah pihak lalu menggabungkan diri dan terus menuju ke pulau Selarong. Mereka bermaksud membasmi kawanan perompak Bondopati yang dikatakan biasa mengganggu keamanan di sepanjang laut Kidul sampai laut Timur. Bahkan kebanyakan perompak ini membunuhi bangsa pedagang-pedagang dari Jipang Panolan.

Sedangkan Patih Udara sendiri yang dimintai bantuan telah menampik. Karena patih ini mempunyai urusan lain, namun biarpun begitu ia lalu menyuruh lima orang jagonya untuk menyertai pasukan panglima Wasi Pralampito ini.

Untuk beberapa lama panglima Wasi Pralampito masih menyembunyikan diri dilautan lepas. Ketika ini dipergunakan untuk  

bersekutu dengan Indrajaya , setelah itu barulah Wasi Pralampito maju terus.

Sampai malam itu yang dijanjikan sebagai malam penyerbuan. Untuk itu Indrajaya telah berjanji kalau akan menyambut mereka dari dalam. Akan tetapi panglima ini tak mengetahui kalau Indrajaya telah kepergok dan menemui ajalnya sebelum mereka datang dan begitupun dengan utusan Jipang Panolan.

Malam itu terang bulan, dan anginpun sangat bagus. Itulah suatu saat yang baik sekali untuk penyerbuan. Kira-kira dua atau tiga ratus perahu menghampiri tepian. Diperahu paling depan berdiri seorang yang alisnya kasar dan kumis janggutnya panjang. Sepasang matanya seperti menyala. Ia adalah Bagaspati, salah seorang dari dunia kependekaran yang selama lima puluh tahun malang melintang didunia persilatan dengan tanpa tandingan. Senjatanya adalah sebuah tongkat panjang. Karena kesaktiannya inilah maka ia menjadi orang pertama dari Dua puluh Satu Jago Jipang Panolan. Kedudukannya hanya berada setingkat lebih bawah dari Udara. Ialah pemimpin dari empat orang kawannya.

Sewaktu beberapa ratus perahu itu menggeser ketepian, beberapa ratus tombak jauhnya ada sebarisan kecil perahu lain yang maju kearah yang berlainan. Dari perahu itu bersembunyi Dananjaya dari Pulau Kencana dan kawan-kawannya. Diantara mereka itu terdapat pula Candra Wulan yang memang diharuskan membantu Dananjaya. Dengan perintah Dananjaya ini maka layar diturunkan, karena itu rombongan perahu majunya lambat. Sedangkan semua penumpangnya menutup mulut.

Dananjaya memasang mata. Ia melihat kebelakang. Orang itu mendapatkan pulaunya sunyi senyap, hanya puncak gumuk dari pulau Selarong yang kelihatan seperti berkaca dimuka air. Disebelah depan ada perahu-perahu musuh. Ia menantikan saat, sampai tampak dari pulau meluncur naik sebatang panah api yang berwarna merah marong, naik tinggi hingga puluhan tombak, menyusul itu lalu terdengar teriakan-teriakan riuh serta tampak obor mulai menyala.

“Turun.” Segera ia memberikan perintahnya sambil bangun berdiri. Akan tetapi terus terjun kedalam air, gerakannya cepat hampir tak menerbitkan suara.

Candra Wulan menurut perbuatan mereka itu, setelah itu yang lain- lainpun terjun kedalam air. Setelah dengan jalan selulup mereka itu mulai menghampiri perahu-perahu musuh. Jumlah mereka itu hanya seratusan orang, akan tetapi rnereka mempunyai keberanian dan tekad yang besar sekali. Semangatnya menyala-nyala.

Pasukan Bagaspati telah dapat menghampiri tepian dengan mudah dan tanpa ada sebuah rintanganpun juga. Mereka berhasil meninggalkan perahu mereka masing-masing. Setelah mereka mendarat maka Anggodo seorang  

perwira tamtama Jipang yang membantu panglima Wasi Pralampito segera

memberikan aba-aba kepada barisannya supaya maju terus.

Pulau Selarong gelap dan sunyi. Lenyaplah suara gemerisik dan cahaya api. Anggodo menjadi heran bukan main.

“Teranglah tadi kalau kita melihat cahaya api dan sama-sama terlihat bayangan orang bergerak-gerak. Kenapa sekarang itu mereka lenyap semua?!” Tanyanya kepada Bagaspati.

Jago pertama dari pahlawan-pahlawan Jipang Panolan ini tak menjawab.

Hanya didalam hati ia berkata :

‘Sri baginda mengirimkan orang-orang macam ini untuk melawan orang-orang Bondopati, ah... jika mereka ini berhasil sungguh beruntung sekali.’

Bagaspati memikir demikian karena ia mengetahui, mertua dari Anggodo adalah ki Klabang Songo, karena mengandalkan mertuanya itu ia menanjak sampai didewan kerajaan dan menjadi pembantu dari Panglima Wasi Pralampito.

Tidak senanglah hati Anggodo karena Bagaspati sejak tadi hanya berdiam diri saja.

‘Hem, kalian orang-orang kota, mempunyai kebisaan apakah yang aneh- aneh?!’ Demikian pikirnya. Karena ini, dengan hati panas, ia memberikan perintahnya untuk pasang obor. Lalu empat ribu tentara Jipang Panolan dipecah menjadi sepuluh pasukan kecil. Diapun memberi titahnya lebih jauh

:  

“Kalian maju dengan berpencaran, siapa saja yang bertemu dengan perompak, dia mesti memberi tanda dengan membunyikan tambur dari tiga tempat.”

Sembilan perwira yang mengepalai pasukan kecil-kecil itu, menerima perintah ini. Setelah itu semuanya segera maju.

Anggodo menjadi puas kalau dirinya ini pandai mengatur tentara, bahkan berkeyakinan kalau ia bakal memperoleh hasil, karena itu tanpa mempedulikan lima wakil dari jago-jago Jipang Panolan, ia terus memimpin maju pasukannya. Dia terus mendaki sebuah tanjakan dimana terdapat sebuah pagoda. Didalam itu tampak ada api yang sebentar menyala sebentar kemudian padam.

“Kawanan tikus yang hampir mampus, lekas kau keluar untuk menyerahkan jiwamu.” Serunya dengan lantang. Ia heran dan mendongkol ketika melihat permainan api ini.

“Ki Anggodo bagaimana kalau kau sudi masuk kedalam pagoda ini sendiri?!” Demikianlah jawaban dari dalam kuil. Suaranya tak enak didengar. Suara itu kedengaran bagaikan iblis yang sedang menangis. “Kawanan tikus.” Kembali Anggodo mendamprat dengan sangat marah.

“Kalian ini sedang memainkan sandiwara apakah? Dihadapan Anggodo jangan kau memperlihatkan banyak tingkah.”

Dari dalam terdengarlah suara orang tertawa.

“Baiklah ki Anggodo aku tak akan tertawa lagi sudah.” Demikian jawabnya pula. Akan tetapi suara tawa itu menjadi semakin menghebat. Lebih nyaring dan lebih tajam, aneh kedengarannya.

Anggodo menjadi kehabisan kesabaran, ia lalu memberikan tanda- tanda, ia lalu memperdengarkan suara terompetnya, maka menyusullah empat ratus serdadunya segera menerjang kedalam pagoda, untuk menyerbu kedalam.

Baru saja pasukan itu sampai kedalam, dibelakang mereka segera terdengar suara yang menggelegar hebat. Dengan itu segera dapat diketahui kalau jalan belakang mereka itu dengan tiba-tiba saja terpegat. Jalan yang tadi telah dilaluinya ini sekarang tertutup batu besar. Dilain pihak didalam pagoda segera bersinar api terang. Hingga dihadapan mereka, dimuka ruangan yang besar, tampak ada seorang gadis yang sedang berdiri. Inilah Kembang Arum telah memakai pakaian perempuan lagi.

Sejak ia menjadi perwira, baru pertama kali inilah Anggodo memimpin pasukan perang maju kemedan laga. Karena ia percaya kalau hanya akan menghadapi semacam perompak saja, hatinya menjadi besar. Akan tetapi sekarang ketika melihat gadis itu seorang diri maka hatinya menjadi heran.

“Kau... kau...” Tegurnya. Baru dua kali kau menyebut kau itu, mendadak gadis itu berkelebat kedepannya. Lalu bagaikan bintang-bintang menyambar, ia melihat sinar berkilau-kilauan. Setelah itu ia merasakan kalau badannya menjadi sangat sakit hingga menembus keulu hati. Hingga dengan demikian tak sempat lagi ia menjerit. Tubuhnya terus roboh dan tak sadarkan diri.

Empat ratus serdadu Jipang Panolan itu menjadi heran. Akan tetapi mereka segera akan menolong pemimpin perang mereka, sambil berteriak mereka melompat maju. Sedikitpun tak memperdulikan lagi gadis itu manusia biasa ataukah hantu. Dipihak lainnya telah memutar tubuh untuk melarikan diri.......

Gadis ini tertawa didalam hatinya. Ia benar-benar geli ketika melihat kelakuan para keroco-keroco itu. Ia lalu tak mempedulikan lagi. Dengan menggerakkan lengan bajunya, ia mengebut padam semua obor yang menerangi pagoda itu. Hingga dengan demikian pagoda menjadi gelap gulita. Akibatnya para serdadu yang lari itu saling bentur-membentur bahkan ada yang terinjak-injak. Celakanya untuk mereka, dalam keadaan sekacau ini, terdengar suara menggelegar lain, kali ini dari tertutupnya pintu belakang. Hingga dengan demikian mereka menjadi terkurung dengan rapat....  

Bagaspati berlima ketika mendengar suara hebat dari atas tanjakan,

mereka lalu menduga kawan-kawannya itu tentu kena jebakan.

‘Binatang itu memang tak punya guna, akan tetapi ia adalah anak menantu dari ki Klabang Songo. Apa bila terjadi sesuatu atas dirinya, maka sukarlah aku kalau akan menemui mertuanya.’ Pikirnya kemudian. Karena itulah ia lalu melompat untuk mendaki. Ia baru sampai ditengah tanjakan tiba-tiba ia mendengar pertempuran disebelah kirinya, dimana terdapat pepohonan yang lebat, dan menyusul pula sebuah teriakan hebat. Ia masih mengenal suara itu, inilah suara seorang perwiranya.

“Coba kau tolong, dan lihat.” Serunya kepada kawannya.

Ia sendiri dengan mengajak ketiga orang kawannya terus mendaki tanjakan itu.

Ketiga kawannya itu adalah Sokoponco dua orang kakak beradik Watu Gunung dan Watu Padas... Kalau Poncowolo yang disuruh melihat pertempuran tadi adalah orang ke lima, maka Sokoponco adalah orang ketujuh sedangkan kedua kakak beradik Watu Gunung dan Watu Padas adalah orang-orang ke sembilan dan kesepuluh dari Dua puluh Satu Jago Jipang Panolan.

Belum lagi Bagaspati dikaki tanjakan, ia telah mendengar suara pertempuran hebat disebelah kanannya. Disitupun terdapat rimba dan disana terlihat pula cahaya terang dari obor. Kali ini ia mendapatkan sebarisan pasukan Jipang Panolan yang kalah berperang.

Mereka kabur dengan berteriak-teriak minta bantuan.

‘Hebat.’ Pikirnya sambil mengerutkan kening. ‘Kita datang untuk menumpas penjahat, akan tetapi siapa sangka dan siapa kira kalau kita sendiri yang kena dilabrak. ’

Terpaksalah ia mengirimkan Sokoponco untuk menolong. Waktu Gunung menjadi sangat mendongkol, lalu katanya :

“Celaka orang yang bernama Anggodo itu, ia tak mengerti akan ilmu perang barang sedikitpun juga. Ah... pasukan kita tak berjumlah besar. Ia malahan masih memecah-mecah hingga dengan demikian tenaga kita akan berkurang. Jikalau musuh bersembunyi diempat penjuru dan kita dihajar satu persatu, bukankah itu akan sangat merugikan sekali?!”

“Kau benar saudaraku.” Kata Bagaspati. Memang orang inipun tak kurang mendongkolnya. “Akan tetapi marilah kita segera menolong monyet bercelana itu. Kemudian barulah kita berdamai pula bagaimana sebaiknya.”

Maka ketiganya lalu maju terus. Hingga mereka lalu berhenti didepan pagoda. Disini mereka tak dapat maju lebih jauh lagi. Pintu pagoda itu ternyata telah tertutup dengan tumpukan batu-batu yang sangat besar.

“Celaka...” Ia mengeluh. Saking sengitnya, ia lalu menghajar sebuah batu besar hingga batu itu berkisar. Akan tetapi justru itu ia mendengar  

sebuah suara dari atas genting, dari payon meluncurlah sebuah perkataan

yang bernada sangat dingin :

“Sungguh hebat sekali ki Bagaspati.    selamat bertemu.”

Suara ini tak nyaring, malahan halus. Akan tetapi suara ini mendengung lama sekali.

Bagaspati menjadi kaget.

‘Benarkah ditempat sunyi menyendiri sebagai ini ada orang yang demikian saktinya?’ Pikirnya dengan hati tercekat. Dari suara itu saja ia telah mengetahui kalau ada seorang ahli ilmu tenaga dalam.

Tak ayal lagi, ia menjejakkan kakinya keatas tanah untuk mencelat keatas genting.

Seorang anak muda menyambutnya, dan segera membungkukkan badannya untuk menghormat.

“Ki Bagaspati, terimalah hormatku si Mintaraga yang tak ternama ini.” Seru anak muda itu sambil menghormat.

Bagaspati mementang lebar-lebar kedua matanya yang besar itu. Kumis dan jenggotnya sampai tergerak-gerak. Untuk sesaat itu ia tak dapat mengeluarkan suara. Sama sekali ia tak pernah menyangka orang yang dipandangnya sebagai musuh besarnya ini telah muncul dihadapannya, bahkan muncul disaat-saat seperti itu. Dari Pendeta Panca Loka dan Paku Waja ia telah mendengar kalau saudara-saudaranya itu telah dirobohkan oleh seorang pemuda yang bernama Mintaraga. Akan tetapi ia terdiam untuk sesaat saja, segera ia membalas perghormatan anak muda itu.

“Angger Mintaraga, silahkan berikan pengajaranmu.” Katanya. Ia sangat terkenal, derajatnyapun tinggi, karena itu ia tak suka banyak mengeluarkan omongan yang tak perlu.

Mintaraga tertawa.

“Kau jujur sekali, akan tetapi jangan kesusu.” Katanya dengan tersenyum. “Hendak kuperkenalkan terlebih dahulu kepada seorang gadis kawanku.” Ia lalu menunjukkan kearah Kembang Arum sambil memperkenalkan namanya serta nama gurunya. Setelah itu barulah ia berkata lagi :

“Guruku sering kali menyebut-nyebut nama besar ki Bagaspati. Karena itu aku sangat ingin sekali berkenalan ki sanak. Akan tetapi sungguh beruntung sekali kalau malam ini kita dapat bertemu.Ada ujar-ujar kuno mengatakan, kalau dua ekor harimau bertengkar, atau salah satu mengalami kecelakaan, oleh karena itulah kini kita jangan bertempur. Bagaimanakah dengan pendapat dari ki sanak?”

‘Sungguh-sungguh kau ini licin sekali ki sanak.’ Damprat Bagaspati dalam hati. Ia adalah seorang yang sombong, menganggap dirinya lebih tua dan juga lebih agung. Karena itu tak mau ia sembarangan memaki.  

Kalau orang pertama ini dapat mengendalikan dirinya, maka tak

demikian dengan kedua orang jago-jago Jipang Panolan yang kesembilan dan kesepuluh itu. Dan terdengarlah perkataan Watu Gunung yang berdiri disisi Bagaspati :

“Eh bocah, untuk apa kau mengoceh saja?” Tegurnya. “Kita telah bertemu disini. Tak ada jalan lain untuk kita kecuali kau mampus atau aku hidup. Hem... jangan kau pergunakan main ayal-ayalan.”

Mintaraga mengawasi dengan pandangan yang memandang enteng. “Ki sanak, siapakah kau?!”

Dengan sombong Watu Gunung memperkenaIkan diri, juga memperkenalkan kepada saudaranya.

“Oh... kiranya ki sanak adalah kakak beradik Watu Gunung dan Watu Padas.” Jawab Mintaraga dengan sikap tetap tawar. “Baru-baru ini kamu dua saudara, telah memukul harimau besar di Lawu dan di utara, harimau besar itu adalah harimau yang putih keningnya, dengan dua atau tiga gebrak kau menghajarnya roboh sungguh kalian hebat sekali. ”

Watu Gunung menjadi tak puas ketika mengetahui bahwa Mintaraga masih tetap mengoceh. Ia segera mengeluarkan senjatanya yang berupa tombak pendek.

“Sabar.” Seru Mintaraga dengan tertawa. “Barusan kau menyebutku dengan main ayal-ayalan, itulah keliru! Kembang Arum coba katakan, apakah sebenarnya?!”

“Sebenarnya itu adalah memancing harimau meninggalkan gunungnya.” Jawab gadis itu sambil memberikan jawabannya yang tepat sekali.

“Nah itulah baru tepat.” Mintaraga tertawa kembali. “Ki sanak sekalian, kalian bertiga telah terjebak kedalam tipu dayaku. Aku khawatir kalau kalian bertiga sampai besuk, matahari terbit akan tetap tinggal diam disini saja. Selama kurang lebih dua penanak nasi beberapa ribu pasukan Jipang Panolan serta beberapa manusia tolol, jika mereka tak sudi menyerah dan menyatakan takluk, aku sungguh khawatir kalau mereka akan dibasmi oleh sepasukan orang-orang gagah dari Bondopati.”

“Eh..... kakang Mintaraga, masih ada sebuah persoalan lagi.” Kembang Arum turut bercakap-cakap dengan tertawa manis. “Bolehkan aku memberitahukannya kepada mereka?!”

“Ki Bagaspati ini adalah seorang yang jujur dan polos. Segala apa saja dapat kau omongkan kepadanya.” Jawab Mintaraga sambil menganggak- anggukkan kepalanya.

“Baik.” Kembali gadis itu berkata dengan tertawa. “Dahulu kala Airlangga menyerang Medang Kahuripan yang diduduki oleh Sriwijaya, akan tetapi Airlangga tak pernah memandang orang kepada prajurit-prajurit Sriwijaya di Medang. Nah demikian juga kita, kita sekarang punya barisan  

setan air yang terdiri dari seratus orang. Karenanya aku percaya pada detik

ini, mungkin kapal-kapal orang Jipang Panolan telah terbakar habis enam bagian. Sebab saudara kami Candra Wulan sangat terampil dan telengas, mungkin juga panglima Wasi Pralampito tak akan lolos dari nasib yang menyedihkan. Ki Bagaspati, sudikah kau menoleh untuk melihat kesana?!”

Bagaspati baru menghadapi lawan yang tangguh. Karena itu tak berani ia berpaling. Tidak demikian dengan kedua saudara Watu Gunung dan Watu Padas. Keduanya telah segera memutar tubuhnya, mereka memandang kearah muara, kelaut. Disana telah berkobar api besar. Suatu tanda kapal- kapal perang mereka lagi diserbu api. Tanpa merasa mereka lalu rnengeluh sendiri, tak tahu apa yang harus mereka perbuat........

“Bagimana?” Tanya Bagaspati dengan tetap tak berpaling. “Perahu-perahu kita tengah terbakar.” Jawab Watu Gunung.

“Baiklah.” Seru Bagaspati. Terus saja ia memutar tubuhnya untuk pergi. “Sampai bertemu pula.

Akan tetapi Mintaraga hanya tertawa.

“Apakah kau berniat menyingkirkan diri?” Tegurnya, sambil menyerang pantat orang.

Bagaspati mengetahui kalau dirinya diserang, ia segera mengayunkan tangannya kebelakang untuk menangkis.

Kedua tangan mereka itu lalu beradu. Yah beradu dengan keras. Sebagai kesudahannya dari peraduan tangan itu, tubuh mereka masing-masing terhuyung-huyung beberapa tindak.

Bagaspati terkejut, akan tetapi bersama dengan perasaan terkejutnya ini iapun menjadi insyaf. Sebelum ia dapat mengalahkan Mintaraga maka jangan harap kalau ia dan kawan-kawannya akan dapat meloloskan diri dengan mudah. Karena itu ia lalu membalikkan tubuhnya dan segera menyerang.

Mintaraga tugasnya adalah untuk melayani jago ini berkelahi. Sedangkan Kembang Arum ketika melihat mereka mulai bertengkar ia menjadi tertawa bergelak-gelak.

“Ki Ronggowarsito telah banyak menulis cerita-cerita tentang pahlawan yang gagah perkasa dari segala jaman yang mendahuluinya, sedengkan Raden Saleh telah banyak melukis pahlawan-pahlawan bangsa yang gagah berani. Memang orang-orang gagah patut dikenang untuk sepanjang masa. Dan sakarang ki sanak berdua yang terkenal sebagai orang-orang gagah pemukul harimau mengapa tak mau turun tangan untuk membantu kakak kalian?”

Itulah ejekan Kembang Arum yang membuat Watu Gunung dan Watu Padas menjadi sangat mendongkol.

“Biar kubunuh dahulu manusia macam kau ini.” Mereka berseru dan melompat menyerang kekanan dan kekiri. Hingga dengan demikian empat  

buah mata tombak terus menghujani tubuh Kembang Arum. Tentu saja

mereka telah segera menyerang dengan hebat sekali.

Inilah kehendak Kembang Arum untuk menghina lawan-lawannya itu. Ia memang menghina supaya mereka menjadi marah dan kalap. Sedangkan dia sendiri berlaku dengan sebat, segera ia menghunus kedua senjatanya. Yang kiri dipakai menangkis serangan Watu Gunung sedangkan yang kanan dipakai untuk menghalau serangan Watu Padas.

Didalam hal tenaga dalam, Kembang Arum hanya kalah sedikit saja kalau dibandingkan dengan Mintaraga. Ketika dahulu Mintaraga melayani Mandaraka jago ketiga dari Jipang Panolan, pendeta Panca Loka orang keempat dan Paku Waja orang keenam, ia dapat mengalahkan dengan manis. Maka sekarang gadis inipun dapat melayani kedua lawannya itu dengan hebat. Baru beberapa jurus ia telah berada diatas angin. Hingga dengan demikian dapatlah ia bergerak dengan leluasa. Malahan berani juga melawan dengan tertawa-tawa.

“Kalian berdua jangan berkelahi mati-matian.” Ejeknya. “Simpanlah sedikit tenagamu itu. Bukankah kalian telah mendengar perkataan kakakku ki Mintaraga itu, kali ini kita harus bertempur sampai terang tanah.”

Watu Gunung dan Watu Padas telah menjadi gelisah sekali. Mungkin sama gelisahnya dengan Bagaspati. Bukankah perahu-perahu panglima Wasi Pralampito telah diserbu oleh musuh, dan Anggodo entah masih hidup atau telah menjadi bangkai. Sewaktu itu dari bawah bukit terdengar nyata sekali suara riuh rendahnya pertempuran. Mereka insyaf menghadapi penyerang orang Jipang yang terdiri dari beberapa ribu jiwa, pihak Bondopati menang kedudukan, karena itu kedua saudara Watu Gunung dan Watu Padas ini menjadi sangat berkhawatir sekali. Mereka telah menyerang dengan hebat, akan tetapi tetap saja tak memperoleh hasil. Musuhnya terlalu tangguh untuk dapatnya segera dirobohkan....

Juga Bagaspati agaknya tak berdaya menghadapi Mintaraga. Pemuda ini bertempur dengan lebih banyak menangkis dan mengelak saja. Hingga dengan demikian tampaklah dengan tegas kalau pemuda ini benar-benar mempunyai kelincahan yang sangat mengagumkan. Ditempat-tempat yang perlu saja barulah Mintaraga menunjukkan tenaganya yang besar.

Bagaspati itu mempunyai banyak pengalaman, tentu saja ia merasa tak sudi kalau dirinya ditipu. Tadipun, ketika pertama kalinya tangan mereka bentrok, ia telah mengetahui tenaga dalam lawannya itu. Hingga dengan demikian ia tak berani memandang ringan. Karena itu ia lalu berkelahi dengan lebih waspada, sedikitnya ia pasti harus mengimbangi, sedangkan kalau hanya menurutkan hawa amarahnya mungkin ia akan dapat segera dikalahkan.

Diam-diam Mintaraga juga memuji musuhnya ini.  

“Baiklah,   akupun   tahu   bagaimana   seharusnya   melayanimu   ini.”

Demikianlah ia mengambil keputusan. Lalu tiba-tiba saja ia menunda gerakan tangannya. Ia berdiri tegak didepan musuh. Akan tetapi pemuda ini masih kelihatan siap sedia.

Bagaspati memperdengarkan suara dihidung. Iapun lalu berdiam. Hingga dengan demikian kedua jago ini sama-sama diam, akan tetapi juga sama-sama siap sedia. Mata mereka itu dipasang dengan lebih tajam. Tak ada salah seorangpun yang hendak membuka mulutnya. Pun tak ada yang berani berkedip saja.

Sungguh luar biasa sekali ketika melihat jalannya perkelahian itu. Kembang Arum tahu diri, segera saja ia berhenti dari ocehannya. Karena kalau ia terus mengoceh dan mengejek kedua lawannya ini ia menjadi khawatir sekali kalau mengacau pemusatan pikiran Mintaraga. Dilain pihak, ia mendesak kedua lawannya itu hanya untuk sesaat itu juga, golok maupun pedangnya tak akan diadu dengan senjata lawannya. Dengan cara ini ia mendesak Watu Gunung dan Watu Padas hingga mereka menjadi repot sekali. Tak nanti ia sempat melarikan diri, umpama mereka mempunyai pikiran untuk kabur......

Sawaktu disini orang sedang bergumul, dikaki bukit, pertempuran berlangsung makin menghebat. Lalu tampaklah orang-orang mulai berlarian. Ketika kedua kakak beradik Watu Gunung dan Watu Padas itu memperhatikan, ia mendapat kenyataan kalau yang lari itu adalah pasukan dari Jipang Panolan. Sedangkan yang mengejar mereka itu adalah pasukan- pasukan dari perompak-perompak di sepanjang laut Kidul sampai laut Timur. Diam-diam hati mereka menjadi dingin sebagian....

Selagi pertempuran sedang berjalan dengan seru, tiba-tiba saja terdengar seruan dari seorang yang tengah mendaki bukit :

“Kakang... angin keras !”

Itulah tanda rahasia kalau keadaan memang sangat genting. Sedangkan orang yang berseru itu adalah Poncowolo, jago kelima jago-jago Jipang Panolan. Dia inilah yang telah pergi membantu seorang perwira yang bertempur disebelah kiri bukit. Ketika ia menyusul masuk kedalam rimba ia menyaksikan keadaan yang membuat darahnya menjadi naik. Disana orang- orang Bondopati berkelahi dengan menurut caranya sendiri-sendiri.

Mereka ada yang mempergunakan senjata rahasia, ada pula yang memakai tombak, ada pula yang berlompatan dari atas pohon, mereka menyambar musuh, ada pula yang memasang tali kolongan, untuk digunakan menyerimpatnya kaki lawan. Mereka itu menang keletakan, karena itulah amat sulit bagi kedudukan empat ratus pasukan Jipang. Hingga dengan demikian cepatlah mereka itu dapat merobohkan tujuh bagian. Bahkan perwira pemimpinnya sendiri telah roboh binasa terkena bacokan. Dalam kemarahannya Poncowolo lalu melompat maju, untuk  

menyerbu. Ia menggunakan sebatang pedang. Baru saja ia maju, atau angin

sebatang golok berbunyi nyaring menyambar kearah batang leher. Dengan cepat ia menangkis. Hingga dengan demikian kedua senjata itu bentrok ditengah udara. Keduanya itu tampak sama-sama mundur beberapa tindak.

Dan ternyata penyerang itu adalah Dahana Brasta. Yah itu lurah dari perkumpulan bajak laut Bondopati yang bergelar Naga Tujuh Lautan.

“Begundal Jipang Panolan. Bagus sekali kau datang.” Seru pemimpin pulau-pulau di sepanjang Laut Timur ke Selatan itu. Ia terus mengayunkan golok besarnya. Inilah serangan yang memakai jurus, membiar mega menahan rembulan.

Sebagai jago kelima, Poncowolo bukan sembarang orang. Karena itu dapatlah ia menangkis serangan itu, dan iapun segera dapat membalas serangan itu dengan serangan pula. Ia bersilat dengan ilmu pedangnya yang ganas dan hebat.

Dahana Brasta bertempur sampai kurang lebih tiga puluh jurus. Iapun masih belum memperoleh hasil. Melihat hal ini Bargawa lalu memberi aba- aba, bersama dengan Waspo Runggu ia menyerang. Hingga dengan demikian jago dari Jipang ini menjadi terkepung.

Kali ini Poncowolo menjadi sangat repot. Terpaksalah ia berkelahi dengan secara mati-matian. Ketika sekali ia memaksa Dahana Brasta melompat mundur. Iapun lalu memutar tubuhnya untuk melarikan diri. Untunglah baginya Dahana Brasta bertiga tak mengejarnya. Mereka ini lalu melabrak pasukan Jipang.

Dikanan rimbapun pasukan Jipang Panolan dapat dilabrak oleh Wilotikto, suara pertempuran sangat bergemuruh. Waspo Runggu lari kesana. Dengan begitu ia lalu membantu Wilotikto hingga dengan demikian musuhnya menjadi tergencet.

Tak lama kemudian Dahana Brastapun lalu menyusul, justru ia menyaksikan Bagaskara tengah berkelahi mati-matian melawan Sokoponco. Yah Sokoponco yang sakti dan bertongkat kepala naga. Ia tahu kalau kawannya ini keteter akan tetapi ia menjadi girang sekali ketika melihat jalannya pertempuran itu.

Pemimpin bajak laut Bondopati ini telah mengatur siasat sebagai berikut  

:

“Dananjaya beramai-ramai dan dibantu pula dengan Candra Wulan,

membokong pasukan kapal-kapal perang panglima Wesi Pralampito. Ia bertugas untuk membakar kapal-kapal musuh, hal ini untuk menggempur semangat lawannya yang berada didarat. Sedangkan yang berada diatas daratan, ia menyembunyikan tentaranya dipelbagai tempat. Kesatu untuk mengacau musuh, keduanya untuk menggempur sebarisan dengan sebarisan. Ternyata usahanya telah berhasil. Sedsngkan pasukan Anggodo kena dikurung dalam pagoda oleh Kembang Arum. “Ki Bagaskara, jangan beri kesempatan kepada tentata Jipang Panolan

untuk meloloskan diri.” Ia berseru setelah menyaksikan sekian lamanya perlawanan sengit dari Bagaskara itu.

“Tentu.” Jawab Bagaskara yang hatinya menjadi semakin besar.

Sokoponco menjadi bingung. Ia mengerti kalau pihaknya telah kena dilabrak musuh. Sebenarnya ia berniat untuk mengambil langkah seribu. Akan tetapi Bagaskara yang berpengalaman ini melibatnya hingga Dahana Brasta datang. Pemimpin itu datang dengan berseru dan terus membantu kawannya itu.

Dalam waktu yang pendek saja jago Jipang ini menjadi terdesak maka tak heranlah kalau sesaat kemudian golok Bagaskara telah melukai tubuhnya. Hingga ia menjerit dan terhuyung-huyung karena lukanya mengeluarkan darah yang cukup banyak.

Sewaktu musuh tangguh ini mencoba mempertahankan dirinya, Dahana Brasta telah menyambar dengan goloknya. Kembali golok ini berhasil melukainya, hingga dengan demikian Sokoponco mendapat luka yang kedua kalinya.

“Awas.” Bagaskara berseru sambil tangannya terayun, dan dengan demikian tiga batang golok terbang menyambar ditiga bagian badan musuhnya, atas tengah dan bawah.

Sokoponco berseru keras, sambil menggertak gigi, dia melompat berhasillah ia menjauhkan diri dari ketiga golok terbang itu. Akan tetapi baru saja ia berhasil menapakkan kaki, Dahana Brasta telah menantikannya. Ia lalu membacok dengan serangannya yang hebat. Kali ini ia tak dapat menolong dirinya lebih jauh lagi. Sambil menjerit, tubuhnya roboh, dari dadanya muncrat darah dan nyawanya melayang dengan seketika.

“Mari kita naik kebukit.” Ajak Dahana Brasta sambil menyeka goloknya yang penuh dengan darah.

“Mari.” Jawab Bagaskara.

Belum lagi mereka tiba diatas, mereka sudah melihat empat orang lari mendatangi, dari jauh empat orang itu tampak bagaikan bayangan. Keempat orang itu ternyata adalah Bagaspati, Poncowolo dan Watu Gunung serta adiknya, ki Watu Padas.

Dahana Brasta tak mengenal Bagaspati, akan tetapi ketika ia melihat muka kumis, janggut serta wajahnya yang keren, ia menduga tokoh utama dari jago-jago Jipang, karena itu ia lalu maju mencegat sambil berseru :

“Mengapa kalian akan melarikan diri?!” Serunya sambil melayangkan bacokannya.

“Ki lurah hati-hati.” Demikianlah sebuah seruan, yang menyusul bacokannya ketua umum bajak laut Bondopati.

Bagaspati telah memperdengarkan suaranya yang menyindir... hm... Bersama tubuhnya dielakkan, tangan kirinya menyambar untuk menangkap  

golok Dahana Brasta, kemudian akan ditarik, hingga tanpa terasa Dahana

Brasta ikut terbetot. Setelah itu Bagaspati lltu melayangkan tangan kanannya untuk menempeleng batok kepala Dahana Brasta.

Disaat yang sangat berbahaya itu, suatu suara keras telah menjadi akibatnya. Lalu tubuh Bagaspati menjadi terhuyung-huyung, terus ia lari pergi. Larinya sangat cepat sekali, hingga sebentar saja telah jauh terpisahkan diri. Akan tetapi suaranya masih terdengar nyata :

“Bocah yang baik, aku selalu ingat kepadamu.”

Lalu terdengarlah jawaban yang dibarengi dengan suara tertawa : “Ya jangan lupa, inilah Mintaraga.”

Ternyata dalam ancaman bahaya ini, Dahana Brasta telah ditolong oleh Mintaraga, yang telah datang tepat karena dia baru mengejar keempat jago- jago Jipang ini. Kalau mengingat ini maka Dahana Brasta, menjadi bergidik sekali, karena hampir saja nyawanya melayang karena kesembronoannya sendiri yang menaksir kekuatan jago Jipang itu kurang tepat.

Bagaspati bersama tiga orang kawannya lari terus, dengan kegagahannya, mereka tak memberi ketika kepada para pengepungnya datang mendekati mereka. Karena itulah belum antara lama mereka telah berhasil merampas sebuah perahu kecil. Kemudian dengan perahu inilah ia lalu meninggalkan pulau Selarong itu. Mereka terus menuju kemuara dan akhirnya kelaut lepas.........

Dahana Brasta tak mengejar, hanya saja ia memerintahkan kepada orang-orangnya untuk menyapu habis para musuhnya. Kemenangan ini menjadikan ia bersyukur sekali kepada Mintaraga.

“Jika tak ada kau yang melayani jago sakti itu, dengan dia yang menjadi tulang punggung tentara Jipang, pasti kita akan mengalami sebuah kesulitan yang amat besar.” Katanya dengan menggelengkan kepalanya.

“Sebenarnya dia itu mempunyai kesaktian yang melebihiku.” Jawab Mintaraga. “Kalau lain kali aku bertemu pula dengannya, dialah yang merupakan seorang tandingan yang terberat. Kalau Bagaspati saja telah demikian saktinya, apa lagi Patih Udara..... dan terlebih-lebih lagi ki Ario Penangsang. ”

*

* *

Ternyata teriakan Poncowolo yang sangat hebat itu sudah menggetarkan suasana dalam gelanggang pertempuran. Dalam usianya yang masih muda, tenaga dalam Mintaraga belum mencapai puncak yang tinggi. Sehingga begitu ia tergetar, Bagaspati yang sungkan menyia-nyiakan kesempatan baik, lalu melompat keluar dari gencatan tangan Mintaraga. Waktu Mintaraga kembali menghantam dengan kedua tangannya, dia sudah melompat  

kehadapan Kembang Arum. Dan dengan sekali memukul, tubuh gadis itu

terhuyung-huyung kebelakang beberapa tindak. Dan dengan demikian kedua orang kakak beradik Watu Gunung dan Watu Padas tertolong. Lalu mereka bersama-sama lari turun gunung.

“Kakang Mintaraga.” Seru gadis itu. “Marilah kita mengejar mereka.”

Melihat tenaga dalam Bagaspati yang begitu tinggi dan kecerdasan otaknya yang pandai menggunakan kesempatan, sehingga baru saja ia dapat menolong dirinya sendiri akan tetapi terus berhasil pula menolong kawan- kawannya. Mintaraga menjadi kagum sekali :

‘Kepandaian untuk bertindak dengan mengibangi kesalahan, memang merupakan syarat yang harus dimiliki oleh orang-orang dari dunia kependekaran.’ Katanya didalam hati.

Kembang Arum menjadi sangat menyesal. Yah menyesal karena lolosnya ki Bagaspati itu.

“Biarlah.” Kata Mintaraga. “Untuk membunuhnya, waktunya bukan hanya sekarang ini saja !”

“Akan tetapi.” Mendadak Kembang Arum berseru. “Kalau dia kabur kekapalnya, dia akan dapat bertemu dengan Candra Wulan. Bukankah dia itu telengas? Mari lekas kita tolong adi Candra Wulan.”

Mintaraga terkejut. Memang Candra Wulan terancam bahaya apa bila berpapasan dengan Jago pertama dari Jipang Panolan ini.

“Marilah.” Ajaknya. Yang terus menarik tangan Kembang Arum. Mereka melompat naik kesebuah perahu kecil, terus mereka mengayun sekuat-kuatnya, membuat perahu itu maju dengan pesat.

Kebakaran kapal-kapal dilaut itu menyebabkan api berkobar-kobar dan terangnya api itu naik tinggi keatas dan meluas jauh kira-kira dua kiloan, karena itu segala apapun tampak rata, dan nyata. Enam puluh bagian dari kapal-kapal itupun telah menjadi korban api. Suara sangat berisikpun diterbitkan oleh mereka yang mencoba memadamkan api.

“Hebat usaha adi Candra Wulan.” Mintaraga memuji apa bila ia telah melihat kerusakan pihak musuh. Meskipun begitu ia masih tetap memikirkan nasib kawannya itu. Karena itu tetaplah ia menggayuh dengan keras.

Justru itu terlihat tiga buah perahu kecil mendatanginya. Perahu-perahu itupun berjalan dengan amat cepat.

“Siapakah yang berada disana?!” Tegur ketiga buah perahu itu.

Mintaraga tak memberikan jawaban. Ia melihat semua orang itu memakai pakaian seragam dari kerajaan Jipang Panolan. Karena itu ia terus maju. Sedikitpun ia tak menjadi takut, karena selama tinggal di Karang Bolong daerah Laut Kidul ia telah belajar berenang dari Candra Wulan. Hingga sekarang ia boleh mencoba kepandaiannya dalam hal berenang.  

“Lepaskan panah.” Teriak salah seorang perwira Jipang ketika melihat

kalau perahu itu tak mempedulikan tegurannya tadi.

Baru seorang pengawal menyediakan panah, Kembang Arum telah mendahuluinya, ketika golok gadis itu berkelebat, dia terus roboh kedalam air. Dengan begitu perahu kecil itu bisa menerobos lewat.

“Kejar.” Perwira itu memberikan perintahnya, sedangkan bawahannya segera berteriak :

“Tangkap!” Kembang Arum menjadi marah, ia hendak mengeluarkan senjata rahasianya.

“Jangan kau pedulikan dia!” Mintaraga memperingatkan. “Paling perlu kita menolong Candra Wulan.”

Kembang Arum menurut dan segera membatalkan serangannya.

Sementara itu lagi beberapa buah perahu muncul dihadapannya. Dari dalam situ terdengarlah teriakan-teriakan dan teguran-teguran.

Mintaraga tak mempedulikan rintangan-rintangan, ia tetap mendayung untuk mempercepat jalannya perahunya. Ia terus melintasi rintangan itu melalui tengah-tengah para perintangnya.

“Tangkap.” Teriak seorang dari sebuah perahu yang ditengah.

Mintaraga maju terus disaat kedua perahu sudah datang tiba-tiba ia menyontek dengan dayungnya, maka perahu musuh itu lalu terangkat dan segera terbalik.

“Bagus.” Kembang Arum memuji sewaktu perahunya maju tanpa terhalang.

Didepan mereka sekarang terlihatlah sebuah kapal yang belum terbakar, diatas perahu itu telah bertempur orang-orang dengan sangat ramainya. Malahan Mintaraga melihat.......................