Tunggul Bintoro Jilid 05

 
JILID V

KEMBANG ARUM tertawa geli.

“Itulah ibuku yang memberitahukan kepadaku.” Ia menyahut. Didalam hatinya, ia berkata : ‘Rupanya adik ini tidak dapat disela, hanya saja ia banyak bertanya ”

“Apakah Woro Keshi itu adalah ibumu?” Candra Wulan kembali bertanya.

Kembang Arum tidak menjawab, ia hanya menganguk-angguk saja.

Candra Wulan akan mengambil sesuatu dari dalam sakunya, ia menarik keluar sepucuk surat rahasia yang diserahkan Tunggorono kepadanya untuk diserahkan lebih lanjut kepada Woro Keshi, si pendeta wanita. Iapun berpikir

: ‘Ayu ini anaknya pendeta itu, jikalau surat ini kuserahkan kepadanya, bukankah itu sama saja?’ Selagi ia berpikir demikian, ia menoleh kepada Pendeta Baudenda, matanya tajam dan galak tengah mengawasi kepadanya, tanpa terasa ia menggigil, surat itu ia masukkan kembali kedalam sakunya, ia membatalkan niatnya menyerahkan kepada si gadis Dyah Kembang Arum. Ia merasa tak tepat untuk menyerahkan surat itu pada waktu seperti itu.

Sementara itu, mereka telah sampai dimuara.

Pendeta Baudenda lalu memilih sebuah perahu. Belum sampai ia menaikinya, tiba-tiba saja ia teringat akan halnya baru-baru ini dia dipermainkan Tunggorono dan Candra Wulan, sebab ia tidak dapat berenang, ia jadi tak berdaya. Karena itu, mendadak ia lari  balik kearah  

markas besar Tengkorak Berdarah. Sebentar saja, ia telah lenyap dari

pandangan mata.

Mintaraga dan semuanya heran.

“Ah, adik Dyah Kembang Arum, aku sampai lupa mengucapkan terima kasih kepadamu,” kata Mintaraga kepada Kembang Arum. Ia lalu membungkukkan badannya.

Kembang Arum tahu, ucapan terima kasih itu untuk apa. Ia lalu membalas ucapan itu.

“Aku hanya membalas dengan satu-dua tusukan pedang, apakah itu ada harganya untuk dibalas dengan ucapan terima kasih?” katanya sambil tertawa. “Jikalau kau merasa sungkan, nanti kau kusuruh menghaturkan terima kasih terus-terusan hingga tak hentinya, selama satu tahun tiga ratus enam puluh hari, hingga kau menjadi sibuk tak ada hentinya!”

Kembali ia tertawa dengan manis.

Dyah Kembang Arum adalah seorang gadis yang cantik bagaikan bunga, sepasang matanya yang jeli, sepasang alisnyapun bagus sekali, maka barang siapa yang melihat kepadanya, tentu merasa senang. Yang tak dapat dilupakan adalah senyumnya. Demikian Mintaraga, ia menjadi tersengsam. Ketika ia sadar lekas ia mengatakan : “Adik Arum. Kau maksudkan....

Dyah Kembang Arum tertawa sikapnya manis sekali.

“Aku datang kemari ini sengaja membantu engkau,” katanya dengan manis. “Apakah kau tidak mau menerimanya?. ”

Dengan sibuk, Mintaraga memberi hormat sambil membungkukkan badan. “Oh tentu aku senang sekali menerima, senang sekali. ” katanya.

Tampaklah lagak dari orang itu, Kembang Arum tertawa geli.

Candra Wulan menyaksikan itu, ia merasa aneh. Memang, sejak munculnya si gadis Arum ini, ia telah merasakan sesuatu yang tidak wajar, yang tidak dapat diutarakan. Ia tadinya telah menduga, setelah runtuhnya kaum Tengkorak Berdarah, ayu ini bakal memisahkan diri, siapa tahu, dari kata-katanya itu, dia seperti hendak menempatkan diri disisi Mintaraga. Ia tidak berani menanyakan, maka ia terus berdiam diri saja.....

Juga Mintaraga heran atas sikap Kembang Arum ini. Itulah sikap yang diluar sangkaannya. Bukankah Wirapati bersikap sangat bermusuhan terhadapnya? Mengapa dia suka membantu kepadanya? Gadis ini mengubah sikap dari bermusuhan menjadi persahabatan........... 

Jogosatru menyaksikan ini yaitu sikap ketiga anak muda itu, ia tidak berkata sesuatu apapun, ia hanya tersenyum sinis, tawanya dingin.

Selagi orang-orang berdiam diri, Pendeta Baudenda tampak lari mendatangi. “Mari kita berangkat!” Serunya.

Pendeta ini ternyata membawa dua tombak Tengkorak Berdarah, untuk dijadikan tukang kemudi dan pengayuh. Ia khawatir Candra Wulan main gila lagi, ia membutuhkan pengemudi itu.  

Segera kendaraan air itu meninggalkan Pulau Iblis. Karena tujuannya,

orang melawan angin. Kedua tukang perahu itu orang-orang Tengkorak Berdarah, mereka tidak menemukan banyak kesulitan. Hanya Pendeta Baudenda sendiri, yang matanya celingukan. Ia teringat gangguan perompak bangsa kate, agak banyak, ia merasa khawatir juga. 

“Kita mendarat di Karang Bolong,” kata Mintaraga. “Aku hendak bersujud dihadapan kuburan ayahku bolehkah?”

“Ya,” sahut Pendeta Baudenda. Yang menyetujui maksud dari Mintaraga. Ia tidak terlalu memperhatikan permusuhan dari enam belas tahun yang lalu, hanyalah sekarang saja yang ia pikirkan, kalau nanti Tunggul Tirto Ayu telah dapat dirampas lagi, bagaimana ia harus menghadapkan putera Darmakusuma ini.....

“Eh, ayu Arum,” tiba-tiba Candra Wulan bertanya kepada kawan wanitanya. “Mengapa kamu pergi memusuhi sarang Tengkorak Berdarah, hingga dengan secara kebetulan kau dapat membantu kami?” Dengan ‘kami’ ia maksudkan ialah ia sendiri dengan Mintaraga.

Mendengar perkataan ‘kami’ itu, sepasang alis gadis itu terbangun, lalu matanya yang tajam itu menatap muka Mintaraga dan Candra Wulan hanya sekelebat saja, lalu dengan cara menggoda, ia bertanya : “Dan kau, adik? Mengapa engkau jadi berdiri disisi Mintaraga?”

Candra Wulan telah berpikir, segera ia menjawab dengan lancar : “Permusuhan dari orang-orang tua kita, apakah kita yang menjadi orang- orang muda mesti membalasnya dengan darah bercucuran?”

Hati Dyah Kembang Arum menjadi tergerak.

“Kapan akupun tidak memikirkan demikian?” sahutnya. Ia terharu. “Ayah angkatku telah merawatku sampai bertahun-tahun, bagaimana

aku harus melupakannya?” Candra Wulan menjawab pula. Disamping itu aku tahu adanya perselisihan diantara ayahku dengan ayah angkatku itu, oleh karena itu, apakah aku harus menuntut balas lagi?” Sembari mengucap begitu ia memandang Mintaraga. Lekas sekali, ia tunduk, akan menambahkan :

“Kedua-duanya adalah ayahku biarpun yang satu hanyalah ayah angkatku saja. Kalau keduanya adalah mempunyai kesalahan maka ayahku yang asli itu mempunyai kesalahan yang lebih banyak. ”

Kembang Arum tertawa.

“Adik Candra Wulan kau telah sadar, dan kau bertanggung jawab.

Hem kau adalah seorang wanita yang gagah.” Serunya memuji.

Senanglah hati Candra Wulan mendapat pujian itu. Segera terdengar suara tawanya.

“Kau juga, ayu!” balasnya. “Cuma dengan beberapa gebrak saja engkau dapat cekuk Tengkorak Ijo, kau buat dia takut hingga ciut hatinya!”

Pembicaraan itu menjadi menggeser dari pokoknya.  

“Kali ini aku turun gunung, karena menjalankan titah ibuku.” Kembang

Arum menerangkan. “Ibu berkata ada serombongan penjahat berniat mengganggu paman Darmakusuma, maka aku diberinya pedang Lokabuana, dan aku dititahkan lekas turun gunung untuk menolongnya, maka sayang sekali, aku sudah terlambat datangnya satu tindak, paman Darmakusuma telah terbunuh oleh orang lain. ”

Candra Wulan mendelik kepada Pendeta Baudenda.

“Ayu, tahukah kau siapa orang yang jahat itu? yang telah membunuh pamanmu?” tanya Candra Wulan.

Kembang Arum tersenyum sinis.

“Mulanya aku tidak tahu, tetapi sekarang aku dapat menduga sepuluh bagian!” sahutnya suaranya dingin. “Musuh itu jauh berada diujung langit, dekat dia berada didepan mata!”

“Hm!” Pendeta Baudenda bersuara sendiri, matanya mengawasi pedang orang lain...... Mengawasi pedang Lokabuana dari gadis itu. Ia tetap membungkam.

“Ibuku telah berkata kepadaku,” Kembang Arum melanjutkan. “Walaupun paman Darmakusuma bertabiat keras, tapi sebenarnya ia baik hati. Dan meski juga paman Darmakusuma telah membunuh ayahku, ibuku tidak mendedam atau sakit hati, malah ibu menitahkan aku mencari

kakang Mintaraga    ”

Habis berkata demikian, maka merahlah muka si gadis, lekas-lekas ia tunduk.

Hati Mintaraga memukul, dan tanpa terasa ia meraba anting-anting permata dipinggangnya. Iapun diam saja, sampai dia dapat menenangkan dirinya.

“Adik Arum.” Katanya. “apakah engkau tahu sebab-musababnya dari bentrokan leluhurmu itu.”

Kembang Arum mengangkat kepalanya.

“Ibuku telah menceritakan kepadaku,” sahutnya.

“Kalau demikian, maukah kau menuturkan kepadaku?” Mintaraga meminta. “Jikalau kesalahan berada pada ayahku, maka aku akan berjuang untuk membalasnya ”

“Turut aku, mereka berdua tidak bersalah,” sahut Kembang Arum, perlahan, “salahnya ialah. ” Mukanya merah pula, kembali ia menunduk.

Candra Wulan tidak sabar lagi.

“Sebenarnya bagaimana?” katanya. “Kau ceritakan sajalah, ayu, jangan setengah-setengah. ”

“Ya, dik, kau ceritakanlah,” desak Mintaraga.

Kembang Arum kelihatannya masih sangsi, wajahnya masih tampak merah.  

“Sebenarnya, kesalahan berada pada ibuku..........” katanya akhirnya. Ia

sangat terpaksa ketika mengatakan hal itu.

Kedua-duanya Mintaraga dan Candra Wulan tercengang. Inilah yang tidak mereka sangka-sangka. Nyatalah kalau gadis itu jujur. Tetapi Mintaraga, setelah ia tertunduk sebentar segera ia mengerti duduk perkaranya. Itulah urusan biasa : Satu wanita diantara dua pria! Apakah hubungannya itu? Bukankah itu soal asmara?

“Ibu telah siang-siang meninggal dunia, lalu ayah mendekati salah satu wanita lainnya. Ini kurang tepat tetapi dapat terjadi.   ” ia berpikir lebih jauh.

Ia lalu mengawasi gadis itu, ia tetap diam saja tidak berkata sepatahpun juga. Candra Wulan ingin menanyakan tetapi ia batalkan tatkala tampak mata Kembang Arum memerah, seperti orang hendak menangis, sedang dilain pihak, tampak roman dari Mintaraga yang bersungguh-sungguh. Terpaksa

iapun diam saja.

Didalam kesunyian itu, terdengar tawa dingin dari Pendeta Baudenda.

Pendeta itu juga diam saja.

Hanya kemudian Jogosatru memecahkan kesunyian.

“Nini Kembang Arum.” Katanya. “Kau membawa pedang dipinggang kiri dan golok dipinggang kanan. Kau membekal dua buah senjata. Coba kau perlihatkan kepadaku, nanti kau akan mendengar sebuah dongengan yang bagus dariku ”

‘Pasti aku tak akan khawatir kalau kau akan main gila.’ Pikir Dyah Kembang Arum atas permintaan pamannya Mintaraga ini. Maka sambil tertawa, dengan kedua senjatanya itu ditangannya, pedang ditangan kiri dan golok emas ditangan kanan. Kedua senjata itu bersinar gemerlapan.

“Pedang ini adalah pedang yang biasa dipakai oleh ibuku.” Katanya dengan nyaring. “Dan golok ini adalah golok yang dipakai ayahku. Kedua senjata ini masing-masing sepasang, akan tetapi kini kami dua orang saudara, kakak dan adik, masing-masing mempunyai sebuah. Hati-hati jangan kau merusaknya.”

Sambil berkata demikian Dyah Kembang Arum menyerahkan kedua senjatanya itu.

Jogosatru menerima dan menyentil-nyentil beberapa kali, hingga dengan demikian terdengarlah suara yang nyaring.

“Benar-benar inilah senjata-senjata mustika mereka.” Serunya sambil tertawa. “Tangan kirimu memegang pedang, tangan kananmu memegang golok, pasti kau berdua telah menyakinkan dua macam ilmu silat, bukankah demikian?”

“Benar.” Kembang Arum mengaku terus terang. “Ibuku memberi pelajaran kepadaku tentang ilmu pedangnya, lalu ia mewariskannya juga ilmu golok dari ayahku, oleh karena itu, diwaktu bertempur aku dapat menggunakan dua macam senjata ini bersama-sama. Tadi malam diwaktu  

melayani kau, aku hanya menggunakan pedang ditangan kiri saja, maka aku

juga berkata aku memberi ampun padamu. Kau masih ingat atau tidak?” Sebetulnya gadis itu hendak melanjutkannya........ ‘Jikalau aku menghunus golokku ditangan kanan, sudah pasti engkau akan kalah siang-siang.     ’

Tetapi ia tidak tega, ia tidak jadi mengucapkan itu.

Wajah Jogosatru menjadi merah, dengan terpaksa, ia tertawa kering. “Baiklah, aku menyebut ilmu silatmu adalah yang nomor satu dikolong

langit ini, cukup tidak?” Katanya, untuk menyembunyikan malunya. Iapun masih tertawa terus, sampai ia berkata pula : “Nini Kembang Arum tahukah kau riwayatnya pedang Lokabuana ini.”

Gadis itu menggelengkan kepalanya.

“Ibu tidak menceritakan kepadaku,” jawabnya.

“Kalau begitu, baiklah aku yang memberitahukannya,” kata Jogosatru. “Pedang ini asalnya kepunyaan kakakku. Haha! Inilah yang dinamakan pedang Mustika dihadiahkan kepada gadis manis Haha!”

Kali ini orang-orang ikut tertawa tergelak-gelak.

“Paman, apakah arti perkataan paman ini?” tanya Mintaraga.

“Oh, Mintaraga,” sahut pamannya itu. “jikalau betul-betul kau ini putera Darmakusuma dan keponakanku apabila kau dengar penuturanku ini, segera kau terjunkan diri kedalam laut untuk mencari kematianmu, dan janganlah kau mengaku keturunan Darmakusuma lagi! Haha!”

Mintaraga heran tapi ia tidak puas dengan sikap pamannya itu.

Kedua gadis itupun heran, terpaksa mereka membukam juga. Baru kemudian karena ingin tahunya, merekapun menanyakan.

“Baiklah, akan aku jelaskan,” kata Jogosatru. “Dalam permusuhan diantara kakakku Darmakusuma dengan Pandu Pregolo, kesalahan berada dipihak kakakku itu. Bagaimana dia tak tahu malu, dan bagaimana dia bersifat binatang, hm! Kamu semua boleh mendengarkannya!”

Segera dia menuturkan permusuhan kedua keluarga itu pada enam belas tahun yang lampau. Dia berka-kata : “Pada tahun itu, dengan dugaannya, kakakku itu telah mendapatkan Tunggul Tirto Ayu. Tunggul Tirto Ayu itu berada ditangan Tunggorono. Semua ini kamu telah mengetahuinya, bukan? Setelah mendapatkan Tunggul Tirto Ayu itu, mengumpulkan kita berlima dikota Mantingan, untuk berdamai. Kita harus mendapatkan Tunggul Tirto Ayu itu dengan semestinya.

“Tentang perdamaian itu, aku ketahui,” Candra Wulan menyela. “Kamu berenam berunding dengan mengunci pintu, kamu berunding sampai tiga hari tiga malam lamanya. Sudah barang tentu pokok pembicaraannya itu tentang Tunggul Tirto Ayu, bagaimana mendapatkannya, dan bagaimana hendak mengaturnya lebih lanjut. Apakah keputusanmu itu?”

“Kakakku itu paling pandai berlaku curang, maka dari itu, keputusan apakah dapat di bicarakan?” jawab Jogosatru. “Aku katakan kepadamu,  

pikiran kami berenam tidak ada yang bersatu padu. Pikiran Surokoco terlalu

memikirkan diri sendiri, dia mengusulkan bahwa Tunggul Tirto Ayu diserahkan saja pada resi-resi Indrakilo. Itu berarti harus diserahkan kepada dia sendiri. Hm! Usulnya. itu tidak ada yang setuju, dia masih mengukuhinya. Karena itu, kakakku tidak dapat membiarkan dia. Kesudahannya mereka itu bertempur. Surokooa dapat dibinasakan oleh kakakku!”

“Kau jangan putar-balikkan duduk perkaranya!” bentak Candra Wulan. “Ayahku terbunuh tidak seperti yang kau ceritakan itu, permusuhanku dengan keluarga bapa Darmakusuma sudah selesai, walau telah kau putar lidahmu, tak dapat menghasut aku lagi!”

Jogosatru tidak pedulikan perkataan itu.

“Apakah usulnya Pandu Pregolo?” ia melanjutkan. “Dia menghendaki Tunggul Tirto Ayu itu diserahkan kepada seorang yang gagah dijaman sekarang ini. Kita semua menyetujui usul itu. Akan tetapi kita tanyakan padanya, siapakah dia itu yang dia maksudkan si orang gagah si pendekar? Dia berkata bahwa pendekar itu adalah seorang pendeta yang melarat yang hidupnya dalam pengumbaran, yang tinggal menumpang dirumah berhala, orang itu namanya Ngawonggo Pati. ”

“Oh kiranya dia!” seru Candra Wulan.

Memang Ngawonggo Pati, pendiri dari kerajaan Supit Urang, semasa dia belum menjadi raja, ia pernah menjadi pendeta didalam kui Wisnu Murti, kemudian setelah menjadi raja, ia telah memindahkan empat belas keluarga orang-orang kaya dari dua tempat hingga menjadi salah satu tempat yang kaya raya, yang kemudian diubah menjadi kota besar, yang dijaga salah satu pembesar berpangkat tinggi.

Jogosatru melanjutkan ceritanya : “Ketika itu kita tidak tahu siapa itu Ngawonggo Pati, kita tidak dapat menerima usul Pandu Pregolo itu dengan baik. Kabarnya Ngawonggo Pati mendapat bantuan dari Jaladri, Walanggalih dan orang-orang gagah lainnya, ia telah mendapat kemajuan, dikota besar ia telah mengumpulkan pasukan berkuda, ia telah mengerek bendera yang maksudnya akan mengusir bangsa Jipang Panolan. Kabarnya ia telah mendapat simpati dari rakyat jelata.”

“Kau benar!” Sahut Candra Wulan pula. “Dimasa hidupnya ayah angkatku, ia sering menyebut-nyebut Ngawonggo Pati itu.”

“Pandu Pregolo bersama Candraloka itu sama-sama keras tabiatnya.” Jogosatru menyambungi ceritanya. “Demikian kali ini, Pandu Pregolo mengukuhi niatnya itu. Karena itu, ia hampir saja mengadu kekuatan, untung tidak jadi hanya terjadi bentrokan saja andaikan terjadi bentrokan tenaga ”

Jogosatru berhenti sebentar, baru ia melanjutkan kembali : “Kakakku itu berkata, untuk waktu itu, dikolong langit yang luas itu, tidak ada pendekar  

satupun, sedang kerajaan Demak Bintoro tidak mempunyai keturunan yang

berarti. Maka ia sarankan supaya Tunggul Tirto Ayu itu disimpan saja, untuk menunggu saat yang baik di kemudian hri.”

“Setuju kalau demikian.” kata Dyah Kembang Arum. “Dia toh tidak ada yang menentangnya bukan?”

“Hm!’ Jogosatru bersuara. “Aku yang menentang dia!”

“Mengapa?” tanya si gadis itu yang mulai tertarik akan cerita dari Jogosatru.

“Sebab dia tidak mempunyai maksud yang baik, dia hendak memiliki sendiri Tunggul Tirto Ayu itu!” kata Jogosatru menerangkan. “Dia mengatakan hendak menyimpan itu tapi lain kali dia hendak mencuri dan mengambil sendiri!”

“Bagaimana kau tahu tentang hal itu?” Dyah Kembang Arum bertanya pula.

Jogosatru tercengang. Sesaat kemudian, baru dia dapat menjawab. “Mula-mula akupun setuju, Tunggul Tirto Ayu itu disimpan dahulu.”

katanya “Baru aku melihat gelagat yang kurang baik. Aku lalu mengusulkan supaya akulah yang menyimpan Tunggul Tirto Ayu itu. Atas ini, kakakku menentang keras, terus-menerus. Bukankah itu suatu tanda bahwa ia tamak dan curang?”

“Baiklah anggap saja perkataanmu ini benar,” kata Kembang Arum. “Sekarang aku hendak bertanya kepadamu. Kau mempunyai usu atau tidak? apakah waktu itu ada pendekar atau tidak menurut pendapatmu?”

Dengan ditanya demikian itu wajah Jogosatru berubah menjadi pucat dan merah. Teranglah bahwa ia malu.

Pendeta Baudenda yang sejak tadi berdiam saja, tapi kali ini mendadak ia bercampur tangan. Ia berkata dengan nyaring :

“Jogosatru, kau belum membeberkan kebusukan Darmakusuma si bocah binatang itu?”

“Benar, benar!” Jogosatru segera menimbrung kepada gurunya itu. Rupanya ia lalu mendapat pikiran. Lalu ia berkata pula : “Kau tahu apakah yang kakakku perebutkan dengan Pandu Pragolo itu? Sebenarnya soal menempatkan Tunggul Tirto Ayu, tapi timbul soal yang kedua. Yang pokoknya kakakku itu mencintai ayu Woro Keshi! Waktu itu ayu Woro Keshi belum mencukur gundul rambutnya buat menjadi pendeta wanita, dia adalah satu wanita yang cantik sekali. ”

“Apakah kau tidak berdusta?” tanya Candra Wulan matanya melotot. “Itulah kejadian dua puluh tahun yang lalu,” kata Jogosatru. Dia tidak

mempedulikan Candra Wulan. “Dimasa itu kita berenam dapat berkumpul semua, kita dapat melakukan perbuatan mulia. Istri Surokoco tidak mengerti ilmu silat akan tetapi ia suka berkumpul bersama kita. Pada suatu hari kami pergi ke Mantingan. Tatkala itu hari telah tengah malam. Kita mencari  

penginapan dimana kita menginap. Pada waktu itu aku melihat kakakku

melirik kearah ibu Kembang Arum, lalu dengan diam-diam mereka masuk kedalam kamar. Aku heran dan terus menjadi curiga. Diam-diam aku menguntit mereka. Kudengar perkataan mereka dari balik pintu, maka aku mendengar perkataan kakakku :

“Adi Woro Keshi pedang Lokabuana ini kuhadiahkan kepadamu, mulai besuk kita akan berpisah. Maka sejak ini dan selanjutnya kita akan berada diujung langit dan pangkal lautan sukar untuk kita bertemu kembali.

Setelah itu aku mendengar suara tangisan yang sedih. Inilah suara ibu Kembang Arum. Kemudian terdengarlah kakakku menghiburnya. Kau tahu apa katanya? Hem... dia berkata... Hem... adi Woro Keshi kau jangan menangis, ketahuilah kalau langit dan bumi ini sifatnya kekal abadi, pasti aku akan selalu ingat terus kepadamu, aku akan selalu memikirkan kepadamu. Sekalipun iblis, diapun tak akan bakal dapat masuk kedalam pikiranku. Ia tak akan dapat mengusir pikiranku kepadamu. Hem... terhadap istri dari adik angkatnya ia telah berani berbuat demikian busuk.

Aku menjadi tidak sabar lagi, aku lari ke Pandu Pragolo, untuk memberitahukannya. Tapi Pandu Pragolo menganggap budi baik itu sebagai permusuhan, dia sebaliknya menegur padaku ”

“Kau telah membuat kelompatan satu bagian,” kata Dyah Kembang Arum dengan tenang. Sejak tadi dia hanya mendengarkan saja, tidak mempedulikan hatinya telah menjadi panas sekali. “Kakakmu itu mengetahui bahwa kau telah mendengarkan secara diam-diam dia telah memberikan hajaran padamu!”

Muka Jogosatru menjadi merah, ia malu dan mendokol. Dengan gemas ia mendelik terhadap Kembang Arum itu.

“Keesokan harinya, kita berenam berpisah,” ia lanjutkan pula ceritanya itu. “Ibu Kembang Arum, dengan mengandalkan pedangnya itu, pergi malang-melintang dalam dunia persilatan. Tentu saja Pandu Pregolo tidak puas dengan perbuatan istrinya itu. Kemudian dengan munculnya Tunggu! Tirto Ayu itu, kita berkumpul pula di Mantingan. Kakakku kembali main gila dengan Ibu Kembang Arum, Siapapun dapat melihatnya, semua merasa tidak puas. Adalah kemudian, sesudah kita berhasil memukul mundur dua rombongan penyerbu yang sangat pandai, Pandu Pregolo tidak dapat mengatasi dirinya lagi, dengan seorang diri ia menantang kakakku untuk berkelahi!”

“Demikian pertemuan terjadi.” Jogosatru melanjutkan setelah dia melirik anak-anak muda itu. “Kakakku itu kejam dia melukai Pandu Pregolo dengan pedangnya. Semenjak itu, kedua belah pihak menjadi musuh satu sama lain. Kemudian berselang enam bulan, kakakku masih penasaran, dia pergi mencari Pandu Pregolo. Kembali ia bertarung. Kali ini kakakku menunjukkan ketegelannya, dia telah membunuh Pandu Pregolo. Hm! Coba  

kamu pikirkan, hingga orang jadi saling bunuh-membunuh, siapakah yang

bersalah?”

“Jikalau ceritamu ini tidak palsu belaka, kesalahan terletak pada ayahku,” kata Mintaraga dengan perlahan. Anak muda itu menunjukkan kejujurannya.

“Memang!” kata Jogosatru pula. “Dia memang kejam sekali. Aku adalah saudara kandungnya, tak puas aku melihat kelakuannya itu. Mintaraga jikalau kau benar-benar seorang laki-laki kau harus terjun kelaut untuk bunuh diri, supaya kau tidak dibekuk musuhmu! Jikalau kau sampai dapat dibekuk nanti, tentu kau akan dihina sampai kau mampus ”

Mintaraga diam saja. Ia tidak menjawab pamannya itu. Maka untuk sejenak, suasana menjadi sunyi sekali.

“Apakah kau telah selesaikan ceritamu atau belum?” tiba-tiba Kembang Arum bertanya.

“Kenapa?” Jogosatru ganti bertanya.

“Aku hendak bertanya padamu,” kata gadis itu. “Kau sendiri mempunyai pikiran apa tentang Tunggul Tirto Ayu itu?”

Tidak disangka-sangka bahwa dia bakal mendapat pertanyaan seperti itu, Jogosatru menjadi tercengang.

“Hm!” Pendeta Baudenda memperdengarkan suaranya pula, matanya membelalak, wajahnya menjadi sangat menyeramkan, rupanya ia hendak melakukan pembunuhan.....

Dyah Kembang Arum itu tertawa perlahan, dengan sekonyong-konyong kedua tangannya bergerak, atau kedua senjatanya, pedang dan golok, segera kembali kedalam tangannya. Dengan sangat pandai dia telah menggunakan tipu silatnya. “Lutung liar memetik buah.”

Tentu saja, Jogosatru menjadi heran pula.

“Jogosatru, kau berdua, guru dan muridnya, sangat tidak tahu malu!” kata gadis itu. “Jikalau aku bersepak terjang kamu berdua, kamu tentu akan saja hajar hingga mampus, benar bukan?”

Menyusul pertanyaannya itu dengan sekonyong-konyong juga, Dyah Kembang Arum mengarahkan pedang dan goloknya kepada Pendeta Baudenda dan Jogosatru, sambil berbuat demikian, ia berkata dengan nyaring : “Siapakah kamu itu? Kamu adalah antek kaum Jipang Panolan! Kamu adalah sampah kaum persilatan!”

Belum sampai gadis itu menutup mulut, dengan kegesitan yang luar biasa Pendeta Baudenda telah menyambar lengan orang, lalu ia hendak menurunkan tangan jahatnya kepada gadis itu, tetapi bersamaan dengan niatnya itu, juga tangan gadis itu sudah bergerak, membikin tenggorokan Jogosatru terancam oleh ujung golok emasnya. Nona itu membentak. “Jikalau kau tidak melepaskan peganganmu, lebih dulu akan akan aku binasakan muridmu!”  

Mintaraga bagaikan tersadar dari tidur dia mendengar perkataan gadis

itu, justru gadis itu yang terancam bahaya, tanpa menaruh sangsi, ia mengayunkan tangannya kearah Pendeta Baudenda, untuk menolong gadis itu.  

Pendeta Baudenda sedang terkejut mendengar ancaman Kembang Arum, mendadak ia diserang oleh Mintaraga, terpaksa ia melepaskan pegangannya, untuk menangkis si anak muda. Maka dari itu, dengan terdengarnya suara yang sangat keras, kedua tangan bentrokan satu dengan yang lain, keduanya mundur dengan sendirinya, malahan perahu merekapun ikut bergoncang.

“Adi Arum, bicaralah terus!” kata Mintaraga pada Kembang Arum. Dia ingin mendengarkan penjelasan lebih lanjut.

“Baik, aku akan menjelaskan duduk perkaranya!” sahut gadis itu. Dan ia mulai melanjutkan : “Kejadiannya adalah pada enam belas tahun yang lalu, mereka itu berenam telah mengadakan perdamaian dan memperbincangkan bagaimana baiknya mengatur Tunggul Tirto Ayu itu. Pendapat mereka memang bertentangan satu dengan yang lainnya seperti apa yang dikatakan oleh Jogosatru itu. Dan memang ibuku baik sekali terhadap paman Darmakusuma. Dan juga benar usul paman Darmakusuma seperti apa yang dikatakan oleh Jogosatru itu. Tapi apa usulnya sendiri? Dia mengatakan kalau Tunggul Tirto Ayu disimpan oleh paman Darmakusuma, itu kurang sempurna. Tapi kehendaknya itu agar Tunggul Tirto Ayu itu diserahkan saja kepadanya! Kakang Mintaraga, tahukah engkau mengapa Jogosatru ini mengajukan usulnya, hm! Kakang, kau siap sedia jikalau aku sudah membeberkan rahasianya ini, mungkin mereka bakal menyerang kita!”

Mintaraga juga melihat suasana menjadi tegang, maka ia lalu membawa kedua tangannya kedepan dadanya. Ia mulai bersedia-sedia sambil matanya mengawasi kearah Pendeta Baudenda dan Jogosatru berganti-ganti.

Dyah Kembang Arum lalu melanjutkan perkataannya. : “Sebenarnya paman eyang guru beserta muridnya ini telah bersekongkol dengan orang- orang Jipang Panolan! Memang mereka itu belum berterus terang kalau mengikuti orang-orang Jipang Panolan itu, tapi sampai tulang-tulangnya mereka itu berniat keras merampas Tunggul Tirto Ayu untuk dipersembahkan kepada musuh yang telah bersepakat dengan mereka itu! Sungguh sempurna sekali Jogosatru itu sebagai alat dan penyambut dari dalam! untuk mendapatkan Tunggul Tirto Ayu itu, dia telah menggunakan beratus ribu tipu muslihatnya, dia sudah mengadu dua orang tua kita satu sama yang lainnya, supaya mereka itu saling bunuh-membunuh! Dia yang memegang peranannya karena tak tahu diri, dan juga dia itu namanya tidak terkenal, ilmu silatnyapun belum sempurna, hingga dia tak dapat berbuat supaya semua tunduk kepadanya. Dengan demikian dia menggunakan akalnya dari luar dan dalam dari orang tua kita. Dari tiga keluarga. Dialah yang   menganjurkan   agar   orang-orang   Jipang   Panolan   mengumpulkan

sampah-sampah dari dua perkumpulan yaitu dari gerombolan Uling Abang dan gerombolan Alas Roban, untuk menyerang Mantingan!”

Mintaraga mendengarkan dengan seksama, dan matanyapun terus dipasang.

“Jogosatru ini mengajukan diri untuk maju kedepan, katanya untuk melawan serangan musuh, tetapi sebenarnya ia telah menyambut musuh, dia memapaknya, untuk dengan diam-diam memberi pelajaran bagaimana musuh itu harus menyerang,” demikian Kembang Arum melanjutkan keterangannya. “Sebagai kesudahannya, dalam pertempuran itu, orang tua kita dari tiga keluarga dapat dikalahkan. Paman Darmakusuma terkena pukulan tangan kosong dari musuh, paman Surokoco terbacok musuh! Disaat antara mati dan hidup itu, maka pertolongan muncul dengan tiba- tiba. Dia inilah paman eyang gurumu itu! Tetapi kau jangan sampai lupa! Dengan datangnya paman eyang gurumu itu pertempuran masih berlangsung terus. Hanya dengan waktu yang singkat, paman eyang gurumu itu memperoleh kemenangan! Tentu saja, sebab musuh orang-orang Jipang itu berpura-pura kalah! Oeh karena itu, ayah kita semua menganggap paman eyang gurumu itu sebagai bintang penolong!”

Mendengar sampai disitu, Candra Wulan lalu teringat perkataan Tunggorono baru-baru ini, maka dia segera menimbrung : “Betul!” Dia inilah si bintang palsu! yang sebenarnya dia inilah si pengkhianat yang sejati!”

“Tidak salah!” Kembang Arum mengangguk-anggukkan kepalanya. “Pada mulanya paman Darmakusuma menyangka bahwa dialah sebagai bintang penolongnya, dia dihormati, dipuji bagaikan malaikat. Dia justru paman gurunya dari paman Darmakusuma! Sejak itu, dia terus berlgak sebagai si bintang penolong, dia dapat mundar-mandir sesukanya di kalangan orang tua kita, hingga dia memperoleh kepercayaan yang besar. Tidak lama lagi dia lalu menanyakan dimana simpanannya Tunggul Tirto Ayu itu! Karena itu, paman Darmakusuma mengutarakan usulnya dulu itu. Dia berkata, pikiran paman Darmakusuma itu baik. Tetapi dia berbareng menyatakan itu juga, kalau Tunggul Tirto Ayu itu tetap disimpan paman Darmakusuma itu mungkin menyebabkan bahaya. Lalu dia mengusulkan agar lebih selamat lagi, bila Tunggul Tirto Ayu itu diserahkan saja kepada dia untuk menyimpannya. Dia gagah perkasa, dia lebih tinggi dipuji sebagai bintang penolong, siapa yang berani menentangi pikirannya itu? Demikian itu telah terjadi, sehingga Tunggul Tirto Ayu jatuh ketangan pengkhianat!”

Ketiga pasang mata segera dialihkan pandangannya kepada si Pendeta. Hati siapa tidak akan sedih dan muka siapa yang tidak akan merah karena malunya. Dia rupanya sakit sekali hatinya, karena rahasianya dibongkar, justru yang membongkar itu adalah anak-anak yang masih muda.  

Kembang Arum tidak mempedulikan orang itu gusar atau tidak

pokoknya ia berbicara terus.

“Kemudian paman Darmakusuma berpikir, tidaklah sempurna kalau Tunggul Tirto Ayu itu disimpan oleh si pengkhianat, lalu ia meminta kembali Tunggul Tirto Ayu itu. Mana mungkin si pengkhianat itu mau mengembalikan Tunggul Tirto Ayu itu? Dia memang benar-benar orang yang licik! Dia laiu menyiarkan berita bahava paman Darmakusuma hendak menguasai Tunggul Tirto Ayu itu sendiri, dilain pihak, diwaktu malam.....

ialah dimalam itu juga..... ia membawanya kabur. Ibuku curiga dan diam- diam kecurigaannya itu diutarakan kepada paman Darmakusuma, lalu mereka berdua pergi menyusulnya. Dia dapat bertemu ditengah jalan. Ibuku cerdik, ia lalu tidak mau langsung menggunakan kekerasan, ia memakai akal. Ia mengajak berbicara baik-baik dengan pengkhianat itu.

Ternyata pengkhianat itu dapat dikelabui, dia mau membuka rahasianya. Dia telah mengatakan bahwa Tunggul Tirto Ayu telah diserahkan kepada orang-orang Jipang Panolan, demi kebaikan kita tiga keluarga. Diapun berkata, kalau satu kali bangsa Jipang Panolan itu mendapatkan Tunggul Tirto Ayu, bukan saja bangsa itu akan berhenti mencari Tunggul Tirto Ayu itu. Mereka sendiri juga dapat seketika itu memangku pangkat tinggi. Mendengar itu, paman Darmakusuma dan ibuku menjadi gusar, maka dengan tidak mempedulikan orang itu pandai ataupun derajat lebih tinggi, mereka menyerang untuk dapat merampas kembali pulang Tunggu Tirto Ayu itu. Satu malam lamanya mereka bertempur. Penjahat itu memang pandai sekali, akan tetapi paman Darmakusuma dan ibuku sedang gusarnya, mereka juga sama pandainya, maka akhirnya, sesudah banyak jurus, penjahat itu baru dapat dikalahkan, Tunggul Tirto Ayu dapat dirampas kembali. Oleh karena kemenangannya ini. Paman dan ibuku pulang dengan kegirangan. Siapa yang tahu, setibanya dirumah, dirumah sudah ada lain peristiwa lagi. ”

Kembang Arum berdiam sebentar, baru dia melanjutkan lagi.

“Ayah mengetahui paman dan ibu menghilang semalam, dan mereka pulang bersama-sama lagi, ia menjadi curiga sekali. Apalagi Jogosatru, si pengkhianat yang satunya, langsung dia mengadu-biru. Ayah diogok-ogok, sama dengan api yang sedang menyala disiram dengan minyak. Saking murkanya, ayah menyerang paman Darmakusuma dengan golok besarnya. Itulah merupakan serangan yang tidak diduka sama sekali, maka dari itu kuping paman telah terpapas putus sebelah, sia-sia saja paman mengegoskan badannya ”

“Ah....” Candra Wulan memperdengarkan suaranya yang agak tertahan. Yang sejak tadi dia diam saja mendengarkan cerita yang sangat menggetarkan hati itu. “Memang juga kalau ayah angkatku hilang kupingnya yang sebelah kiri, sering juga aku menanyakan apa sebabnya,  

tetapi ia tidak mau memberikan keterangannya. Jadi kuping itu sebetulnya

lenyap karena peristiwa ini. ”

“Paman Darmakusuma itu keras kemauannya, setelah ayahku diberi keterangan tetapi tidak mau, terpaksa ia melayaninya dengan perkelahian. Tentu saja ia hendak membela dirinya.

Kesudahannya, kuping ayahku juga telah terbabat sebelah. Ibu datang untuk memisah, ia sampai menangis menjerit-jerit malah sebaliknya, sekali ia dipukul ayah, ibu menjadi putus asa, ia akhirnya tidak memperdulikan apa- apa lagi, ia pergi seorang diri dengan hati yang sangat mendongkol sekali. Karena saat itu ayah juga sedang murka, maka iapun tidak mempedulikan lagi, oleh sebah itu ibu dibiarkannya pergi. Tapi kedua belah pihak tidak menjadi dingin hatinya karena kepergian itu. Hanya mereka berdiam sebentar, lalu mereka melanjutkan bertarung lagi. Keduanya hampir sama tangguhnya, sudah sekian lamanya mereka itu tetap seri saja. Kemudian muncullah paman Surokoco. Diapun telah dihasut oleh Jogosatru. Paman Darmakusuma dikatakan telah merampas Tunggul Tirto Ayu oleh paman Surokoco untuk ini sampai paman gurunya juga dilukai, katanya paman Darmakusuma telah menguasai Tunggul Tirto Ayu itu sendiri, maka diapun ikut bertempur. Dengan demikian paman Darmakusuma dikeroyok oleh dua orang, tetapi ia berkelahi semakin keras. Sebentar saja ayahku telah dilukai pula. Karena dia telah melukai saudara angkatnya gerakan paman Darmakusuma menjadi berkurang. Waktu itu muncul pula bibi Surokoco, ialah ibu adik Candra Wulan ini. Dengan menangis dengan menggerung- gerung, dia berusaha mencegah perkelahian itu.

Sayang bibi itu, dia cantik bagaikan bunga, sama sekali tak mengerti ilmu silat. Karena itu ia kehabisan akal untuk menghentikan pertempuran. Ayah terluka, maka dia marah bukan kepalang. Akan tetapi kemudian paman Surokoco berhenti dengan sendirinya. Sudahlah kita tak usah berkelahi terus. Katanya. Paman Darmakusuma menyangka kalau paman Surokoco berkata dengan sungguh-sungguh. Karena itulah ia lalu menunda pedangnya......

Mendadak Kembang Arum memandang kearah Candra Wulan, ceritanyapun berhenti sebentar.

“Aku hendak menceritakan apa sesungguhnya yang terjadi, akan tetapi apakah kau tak akan menjadi marah atau sesal kepadaku?” Tanya Kembang Arum kepada Candra Wulan.

Sungguh diluar sangkaan Kembang Arum,'jawaban Candra Wulan sangat terang-terangan.

Tentang itu kakang Mintaraga telah menceritakan kepadaku. Aku mempunyai anggapan baiknya kesalahan-kesalahan orang tua-orang tua kita ini jangan ditutup-tutupi lagi”. Demikianlah jawabannya.  

“Bagus.” Serunya. “Baik akupun tak boleh menjelaskan secara panjang

dan lebar. Singkatnya begitu paman Darmakusuma menunda pedangnya, paman Darmakusuma menderita sebuah kerugian karena mendadak saja ia kena tangan sakti dari paman Surokoco. Sekejap itu Paman Darmakusuma menjadi. roboh. Apakah paman Darmakusuma mati? Tidak! Memang ia menderita luka parah akan tetapi ia masih tetap mempertahankan kehidupannya. Dia menggunakan akal untuk berpura-pura mati untuk melukai orang. ”

“Siapakah yang akan dilukainya?” Tanya Candra Wulan dengan cepat...

“Apakah ayahku?”

“Bukan, orang yang kena tipunya itu adalah adik kandung paman Darrnakusuma. Manusia itu telah meluap kejahatannya. Kalau ia tak mati dengan seketika pada waktu itu adalah merupakan keuntungan yang sangat besar baginya. Paman Darmakusuma telah mempergunakan tenaga dalamnya untuk menahan pernapasan. Orang jahat itu tentunya menyangka kalau kakaknya telah mati, dia berpura-pura menangis. Dia menghampiri dengan maksud untuk menolong. Akan tetapi begitu orang jahat itu sampai kedekatnya maka paman Darmakusuma menggerakkan tangannya menyerang pipi adiknya yang jahat itu. Ia bermaksud menghabiskan tenaga dan memusnahkan kepandaian adiknya supaya kelak tak akan berbuat jahat lagi. Akan tetapi apa lacur? Paman Darmakusuma telah terburu nafsu, serangannya, kurang tepat. Benar sebagai akibat, orang jahat itu harus berbaring sampai dua tahun. Akan tetapi kemusnahan lima bagian dari kepandaiannya rnasih dilindunginya. Nah pengkhianat perkataanku ini benar atau tidak?!”

Kata-kata yang terakhir ini ditujukan kepada ki Jogosatru, yang pada saat itu berada dihadapannya.

Wajah Jogosatru menjadi matang biru saking malu dan mendongkol. Tampaklah kalau orang itu sedang menahan amarahnya. Ia telah mengepal keras-keras jari tangannya hingga terdengar suara meretak.

Kembang Arum sedikitpun tak mempedulikan kemarahan orang itu. Ia terus melanjutkan.

“Paman Surokoco, ayahku dan orang jahat itu menyaksikan kalau paman Darmakusuma begitu sakti, karena melihat hal ini maka mereka tak berani melawannya terlebih jauh lagi. Sebaliknya dengan sangat ketakutan mereka lari kabur. Kemudian setelah beristirahat empat atau lima bulan paman Darmakusuma dapat sembuh dari lukanya.

Akan tetapi paman Darmakusuma masih tetap marah, karena itulah paman Darmakusuma lalu pergi kemana-mana untuk mencari ayahku, paman Surokoco dan orang jahat itu. Kesudahannya, paman Surokoco dapat dibunuh dibawah ujung pedangnya. Ayahkupun dapat diketemukan disuatu tempat, didalam pertempuran ayahkupun dapat dibinasakannya pula.  

Untunglah orang jahat itu dilindungi oleh gurunya, hingga ia dapat selamat

sampai sekarang ini.

Mintaraga dan Candra Wulan menjadi sangat heran dan tercengang ketika mendengar sebuah cerita yang hebat ini.

Kembang Arum menghela napas.

“Kedua orang itu, ayahku dan paman Surokoco adalah orang-orang yang bersemangat besar. Mereka sangat membenci kepada orang-orang Jipang Panolan yang terang-terangan akan melakukan pemberontakan.” katanya pula. “Akan tetapi mereka semua itu dapat dibunuh, ah... sungguh sayang sekali. Yang lebih celaka lagi ialah mereka itu mati dibawah tipu muslihat seorang jahat yang keji. ”

“Kemudian bagaimana akhirnya?” Tanya Candra Wulan.

“Peristiwa-peristiwa yang menyedihkan menyusul semua itu,” Jawab Kembang Arum. “Oleh karena berduka dan sangat berputus asa, ibuku lalu masuk menjadi seorang pertapa. Sedangkan ibumu telah membunuh diri. Leluhur kita adalah orang-orang gagah pencinta negara, sayang sekali setelah sampai ke generasi ayah kita maka mereka itu telah saling serang dan bunuh sendiri. Ibumu walaupun tak mengerti silat akan tetapi adalah seorang pencinta negara. “Ia memandang kearah Candra Wulan, wajahnya tampak kalau ia sangat menyayangi Candra Wulan, lalu kemudian katanya selanjutnya. “Paman Darmakusuma setelah membunuh dua orang saudara angkatnya, diapun menyebabkan kematian ibumu, ia sangat menyesal, maka itu dengan membawa Tunggul Tirto Ayu ia mengajak kau tinggal di Karang Bolong daerah Laut Kidul. Dengan jalan ini ia hendak menyingkir dari musuh-musuhnya. Ia menyembunyikan diri dengan mengganti namanya. Sementara itu dikalangan para pendekar tersiar kabar luas kalau paman Darmakusuma memonopoli Tunggul Tirto Ayu! Dan paman Darmakusuma dikatakan menyingkir ditempat yang amat jauh. Dan lagi ada kabar yang mengatakan kalau ia memang berniat membunuh saudara-saudara angkatnya. Tentu saja hal ini membangkitkan perasaan marah para pendekar pada umumnya. Maka ada segolongan orang yang tak senang mencoba berusaha mencarinya.”

“Apakah cerita ini kau dengar dari ibumu sendiri?!” Tanya Candra Wulan.

“Ya, ibulah yang menceritakan kepadaku.” Jawab Kembang Arum. “Demikian pula sekarang ini aku turun gunung karena mendapat perintah dari ibuku. Yah aku disuruh turun gunung untuk membantu paman Darmakusuma.

“Kalau demikian mengapa ibumu tak keluar sendiri untuk menerangkan sendiri tentang rahasia ini?” Kembali Candra Wulan bertanya.

Kembang Arum menengok kepada Mintaraga, ia agak menyesal.  

“Bukankah tadi aku telah mengatakannya?” Jawabnya dengan pelan.

“Dalam permusuhan dua keluarga antara keluarga paman Darmakusuma dan keluarga ayahku maka yang salah adalah ibuku. Kesalahan ibuku ialah karena ia tak mau membeberkan rahasia itu yang telah benar-benar diketahuinya. Sering ibu mengatakan kepadaku tentang kekeliruannya dulu ” Kembang Arum menghela napas, tetapi ia masih menambahkan.

Dalam perkara keluarga kita itu, diantara orang-orang dari dunia kependekaran, yang mengetahui persoalannya yang benar sedikit sekali.

Ibu telah menjadi seorang pertapa maka beliau tak mau mengurusi kejadian dunia lagi. Paman Surokoco dan istrinya telah meninggal begitu pula dengan ayahku. Karena itu sekarang tinggal orang jahat itu, yah guru dan muridnya. Dasar mereka jahat, bukannya mereka membeber rahasia yang sebenarnya, mereka malahan menambah-nambahi dengan yang bukan- bukan sampai-sampai pendeta Argo Bayu sendiri mereka bohongi.”

Mendengar perkataan ini maka Mintaraga lalu berpikir.

‘Pantas saja eyang guru telah mengatakan kepadaku, antara musuh- musuh ayahku, kecuali orang-orang Jipang Panolan, semua ada bangsa laki- laki sejati. Jadinya mereka inilah yang telah menutup kejadian yang benar- benar ’

Anak muda ini menghela napas panjang. Ia menjadi sangat membenci kepada pamannya, yang demikian kejinya. Ketika ia melihat sekitarnya, ia mendapat kenyataan kalau perahu segera akan tiba didaratan laut kidul yang memisahkan antara pulau Jawa dengan pulau Iblis. Justru itu, ia teringat akan sesuatu apa. Maka ia melompat bangun.

“Paman eyang guru, aku hendak bicara.” Katanya kepada kakek tua yang bernama Baudenda itu.

Ketika itu hati Pendeta Baudenda sangat panas sekali. Bukannya Kembang Arum telah membeber rahasianya didepan mukanya sendiri? Coba saja kalau ia tak tengah mengharapkan sesuatu dari Mintaraga, mungkin kakek ini telah membunuh orang. Tentu ia akan menceburkan ketiga anak muda itu kedalam laut....

“Kau hendak bicara lekas bicara apa....?” Demikianlah jawabnya dengan ketus. “Siapapun tak akan ada yang melarangmu berbicara ”

“Kau telah membunuh ayahku.” Kata Mintaraga. “Bukankah itu karena ayahku mengetahui rahasiamu? Kau khawatir ayah membeberkannya. Benarkah begitu?!”

Dimana Kembang Arum sudah membuka rahasianya, pendeta Baudenda telah menjadi tak malu-malu lagi. Ia tertawa dingin.

“Disana masih ada Tunggul Tirto Ayu. Disana masih ada perasaan dendam muridku.” Katanya dengan keras. “Habis kalau demikian maka kau mau apakah?!”

Wajah Mintaraga menjadi merah padam.  

“Bagus.” Serunya. “Aku menantangmu.”

Hebat sekali jawaban ini, hingga seakan-akan perahu itu seperti bergoncang-goncang.

Jogosatru menjadi sangat marah, segera ia mengayunkan sebelah tangannya.

“Binatang kau berani karang ajar dengan orang yang lebih tua darimu?

Lebih tinggi tingkatannya darimu?!” Serunya menegur keponakannya.

“Kau tak pantas menjadi adik ayahku. Kau bukan pamanku lagi. Aku tak punya paman macam dapurmu itu!” Seru Mintaraga sambil mengangkat tangannya, untuk menyambut totokan itu.

Jogosatru menjadi takut, segera ia menarik pulang tangannya.

Dengan serentak, Kembang Arum dan Candra Wulan juga menghunus senjatanya masing-masing. Dengan sendirinya mereka berdua lalu menyerang kearah Pendeta Baudenda, mereka telah tak menghiraukan lagi kalau lawannya kali ini benar-benar seorang pertapa sakti yang berilmu tinggi.

Pendeta Baudendapun berseru dengan suaranya yang menggeledek bagaikan guntur. Dengan sebelah tangannya ia menekan perahu, ia segera melompat menyingkir dari serbuan kedua orang gadis ini. Pendeta Baudenda tak mau melayaninya. Sebaliknya terus menyerang Mintaraga. Pukulan yang dipergunakan ialah pukulan kematian. Sama sekali ia seperti tak memperdulikan lagi muridnya, yang tadi terancam bahaya.

Mintaraga tahu akan maksud pendeta tua ini. Dia sebenarnya hendak menolong muridnya. Ia juga mengerti, kalau ia teruskan serangannya kepada Jogosatru, ia sendiri dapat celaka ditangan pendeta itu. Akan tetapi ia tetap tenang. Demikian sambil tertawa dingin, ia mengangkat tangan kirinya. Tangan kiri ini dipakai untuk menyambut datangnya serangan pendeta Baudenda itu. Hanya saja ia tak melawan keras lawan keras. Ia hanya menggunakan tenaga lemas untuk menyedot tangan pendeta Baudenda. Tangan kanannya ditarik pulang, untuk membantu pengerahan tenaga, dalam tangan kirinya.

Jogosatru melihat ketika yang amat baik, ia tidak menghilangkan kesempatan itu, ia menyerang Mintaraga pula. Inilah semacam serangan gelap.

Justru itu sebuah tangan menyambar dari samping. Jogosatru ini menjadi kaget sekali, sakit tangannya bukan main. Diluar dugaannya, sambaran itu tepat memgenai sambungan lengannya. Ketika ia berpaling maka ia melihat Candra Wulan. Bersama dengan itu ia menjadi heran sekali.

‘Hebat juga budak perempuan kecil ini.’ Pikirnya. ‘Baru setengah bulan yang lalu ia tak sanggup melawan Jangkar Bumi dan juga Tengkorak Putih. Akan tetapi mengapa sekarang dapat menjadi demikian hebatnya?’  

Karena panas hatinya, ia lalu maju, untuk menyerang gadis itu. Ia

memusatkan tenaganya pada tangan untuk melontarkan pukulannya yang dahsyat ialah memindahkan gunung untuk mengguruk lautan. Akan tetapi baru saja tangannya terulur atau sinar emas berkelebat didepan mukanya, hingga ia batal menyerang, terus terpaksa melompat mundur.

Kali ini Kembang Arum bersenjata pedang dikiri dan golok ditangan kanan, kedua senjata ini menikam dan membacok kearah Jogosatru. Hingga dengan cepat saja ia telah terpepet kepojok.

Perahu itu cukup luas untuk menampung dua gelombang pertarungan itu. Lebih-lebih untuk Jogosatru yang dikepung oleh dua orang gadis. Baru menghindar beberapa kali kepalanya terus membentur keras tenda perahu. Hingga tenda itu bolong dan kepalanya molos.

“Kau masih berani bergerak?” Ancam Kembang Arum.

Jogosatru mati kutu. Dahulu ia memang cukup hebat dan sakti, akan tetapi sekarang tenaga dan kepandaiannya tinggal separuh. Maka sekarang ia menggunakan kelicinan.

“Baik.... baik.... Aku menyerah.” katanya. Kembang Arum tak menyangka sama sekali kalau lawannya ini akan menggunakan akal, iapun berhenti menyerang. Akan tetapi baru saja ia berhenti, atau tubuh Jogosatru telah melesat, melompat menubruk kepadanya. Jarak antara mereka itu memang dekat sekali.

“Apakah kehendakmu?!” Bentak Kembang Arum dengan kaget. Akan tetapi telah terlambat. Ia telah kena dipeluk. Maka ketika ia memberontak, keduanya terus jatuh bergulingan dilantai perahu.

Candra Wulanpun kaget, ia hendak bergerak untuk menolong. Akan tetapi gadis ini khawatir kalau akan melukai kawannya sendiri.

Waktu itu Pendeta Baudenda dan Mintaragapun sedang bertempur dengan seru sekali. Pendeta Baudenda benar-benar awas, begitu melihat muridnya berhasil maka iapun lalu mencari akal. Dengan tiba-tiba saja ia menjejak lantai, tubuhnya mencelat keatas untuk melompat naik keatas payon perahu. Sewaktu melompat ia mengerahkan seluruh tenaganya kearah tangan supaya dengan lompatan ini maka tangannya yang melekat ditangan Mintaraga itu segera terlepas. Kakek pendeta ini percaya betul kalau akan dapat melepaskannya.

Akan tetapi Mintaraga benar-benar telah mewarisi kepandaian pendeta Argo Bayu. Delapan belas tahun lamanya pemuda ini digembleng dan digodog dengan segala macam ilmu oleh gurunya. Karena itulah tempelannya ini tak nanti dapat terlepas kecuali oleh orang yang berkepandaian berlipat ganda melebihinya. Karena itulah ketika pendeta itu melompat dengan cepat, tubuhnyapun ikut terseret naik, sedangkan tangan mereka masih tetap bertempelan satu dengan lainnya.

Pendeta Baudenda menjadi heran dan terkejut sekali.  

“Hem.... Mintaraga kau berani melawan paman eyang gurumu.”

Tegurnya dengan marah. Kakek ini mencoba untuk menggunakan derajatnya sebagai orang yang lebih tinggi tingkatnya. “Dengan perbuatanmu yang kurang ajar ini, apakah kau akan dapat menempatkan dirimu dikalangan dunia kependekaran?” Bersama dengan itu ia mengerahkan tenaganya, ia menolak dengan keras sekali.

Akan tetapi sebelum dikerahkan semua, belum lagi mulutnya rapat, ia merasakan sebuah dorongan yang amat kuat, hingga tak ampun lagi maka kedua kedudukan kakinya menjadi tergempur. Tubuhnya terpelanting dari atas gubuk perahu, terjungkal kepermukaan air.

Jika kedua lawan tengah mengerahkan tenaga, mereka mesti sama-sama memusatkan pikiran, adalah pantangan untuk memikirkan hal-hal yang lain, sebab siapa alpa maka ia akan menjadi korban.

Demikianlah sudah terjadi kepada diri kakek Pendeta Baudenda. Dia hendak menggertak Mintaraga, dia telah mengucapkan perkataannya itu. Dia ingin Mintaraga berpikir, dan sementara Mintaraga bimbang maka ia akan merobohkannya. Akan tetapi Mintaraga adalah seorang pemuda yang cerdas dan berkepandaian hebat. Justru kakek itu bicara maka ia bergerak bergerak menyerang, karena itulah maka pendeta Baudenda kecemplung kedalam laut.

Bersama dengan itu Mintaraga menginsyafi perkataan paman eyang gurunya itu. ‘Benar’ Pikirnya. Kalau paman eyang guru mati dilaut, apakah perkataan para pendekar didunia kependekaran? Manakah kehormatan antara golongan yang lebih tua dan yang muda?” Karena inilah maka tanpa pikir panjang lebar lagi ia menyambar sebuah papan, dan terus melemparkan kearah paman kakek gurunya.

Pendeta Baudenda menjerit “celaka” ketika melihat tubuhnya kecemplung laut. Ia menginsyafi kalau dirinya ini tak dapat berenang, ia telah memastikan kalau ia akan banyak minum air 'dan banyak kemungkinan menjadi tenggelam.... Dalam ketakutannnya mendadak ia melihat jatuhnya papan didekatnya, tanpa ayal lagi ia segera menaruh kakinya dipapan itu. Kemudian menjejakkan kakinya lagi kearah papan dan melayang naik kembai keatas perahu. Hingga dengan demikian ia dapat meneruskan seranggannya kepada Mintaraga yang pada saat memandang kearahnya.

Mintaraga menggelak.

“Paman kakek guru, tolong kau dengar dahulu perkataanku ini.” Katanya telah menyabarkan diri untuk menghadapi kakek gurunya ini.

“Kau bicaralah.” Bentak Pendeta Baudenda yang masih merasa jengkel dan hatinya panas.  

“Sekarang ini baiknya kita jangan bertempur terus menerus.” kata

Mintaraga. “Kita tunggu saja sampai aku pulang kegunung untuk mendengar keputusan eyang guru.”

Pendeta Baudenda tetap marah sekali.

“Huh.... tak mungkin aku takut kepada eyang gurumu.” Bentaknya dengan lantang sekali.

“Paman eyang guru.” Katanya pula. Sampai saat ini Mintaraga masih tetap mengalah dan sabar. “Jika kau sudi mendengarkan perkataanku, nanti urusan sakit hati ayahku, aku tak akan menyebut-nyebutnya lagi. Walaupun kau telah membunuh ayahku tanpa sebab.”

“Kau bicaralah.” bentak Pendeta Baudenda dengan memperlihatkan roman muka yang bengis.

“Sekarang ini kerajaan tengah kalut.” Mintaraga berusaha menerangkan. “Dimana-mana rakyat bergerak, mereka bergerak untuk menumpas pemberontakan dari Jipang Panolan dan memperkuat kedudukan kerajaan Demak Bintoro yang kini telah menjadi kocar-kacir. Karena itu sekarang ini arti Tunggul Tirto Ayu sangatlah penting sekali. Bagaimanakah kalau sekarang kita bekerja sama untuk merampas Tunggul Tirto Ayu itu? Kemudian kita bersama-sama menyerahkan Tunggul Tirto Ayu itu kepada Ngawonggo Pati. Bukankah dengan demikian kita sama-sama melakukan tugas yang dibebankan oleh para leluhur kita?! Bagaimana kalau menurut pendapat paman eyang guru?!”

“Hem” Pendeta Baudenda mengeluarkan suara dari dalam hidungnya akan tetapi segera ia menundukkan kepalanya.

“Asal kau tak akan memonopoli lagi Tunggul Tirto Ayu itu.” Kata Mintaraga pula. “Biar kau tak membantu aku untuk merampas Tunggul Tirto Ayu itu, aku tak akan mengingat-ingat lagi urusan sakit hati ayahku.”

“Apakah ini syaratmu?!” Tanya pendeta Baudenda dengan tegas dan memandang kearah Mintaraga dengan tajam-tajam.

“Betul.” Jawab Mintaraga dengan tegas.

Kedua biji mata pendeta tua ini berputar dan mendelik.

“Sekarang kita belum dapat merampas pulang Tunggul Tirto Ayu itu, belum tiba waktunya untuk berbicara.” Katanya. “Maka dari itu, lebih baik kalau kita menunggu sampai Tunggul Tirto Ayu itu berada ditangan kita dahulu barulah nanti kita bicara.”

“Kalau demikian baiklah kita atur begini saja.” Seru Mintaraga yang tetap masih mengalah. “Kita bekerja masing-masing, kita lihat siapa yang dapat merampasnya terlebih dahulu. Misalkan saja aku yang dapat merampasnya terlebih dahulu, kau pasti tak akan dapat mengatakannya apa saja. Akan tetapi jika kau yang menang, asalkan saja Tunggul Tirto Ayu itu tak kau serahkan kepada orang-orang Jipang Panolan maka aku suka  

mengalah    dan    tak    akan    menuntut    balas    atas    kematian    ayahku.

Bagaimanakah, apakah paman eyang guru setuju?!”

Belum lagi pendeta Baudenda ini menjawab. Mintaraga telah menambah lagi perkataannya. “kepada pendekar mana Tunggul Tirto Ayu itu akan kau serahkan, terserah kepadamu sendiri.

Pendeta Baudenda adalah seorang yang sangat licin, tentu saja ia mengerti bahwa pulang pergi Mintaraga melarangnya menyerahkan Tunggul Tirto Ayu itu kepada orang-orang Jipang Panolan, atau tepatnya kepada Ario Penangsang.

Didalam hati kecilnya ia berkata : ‘Bocah ini masih terlaiu muda, akan tetapi ternyata dia mempunyai kecerdikan yang cukup juga. Jika bukan cita- citaku bekerja untuk Ario Penangsang maka untuk apa aku menyia-nyiakan waktuku selama puluhan tahun untuk mencari Tunggul Tirto Ayu ini.’ Akan tetapi syarat Mintaraga ini benar-benar menyulitkan. Karena itu ia lalu mengambil keputusan :

‘Sekarang tak ada jalan lain kecuali aku harus membunuhnya. Kalau ia dapat kubunuh maka akan mudahlah aku nanti melakukan pekerjaanku tanpa ada orang yang merintanginya.’

Sewaktu berpikir demikian maka pendeta Baudenda lalu menengok kearah Kembang Arum dan Candra Wulan, kedua orang lawannya itu masih tetap saja bergulingan, berkutatan, sebab sama-sama mereka itu tak mau melepaskan musuhnya. Disamping mereka itu, Candra Wulan telah siap sedia untuk turun tangan.

‘Baiknya aku bekerja dengan menggunakan akal.’ Lalu pendeta itu mengambil keputusan. ‘Jika aku membekuk budak perempuan ini maka amat sangat mustahil kalau mereka itu tak segera menjadi jinak. Dan mereka akan menurut segala apa yang kuperintahkan...”

Begitu tetap keputusannya, begitu pendeta Baudenda berseru : “Candra Wulan lihat itu, apakah bukannya bangsa perompak?”

Candra Wulan telah lantas berpaling, karena gadis ini benar-benar kaget ketika mendengar seruan ini. Akan tetapi justru ia menoleh justru tubuh tinggi besar dan Pendeta Baudenda mencelat kearahnya. Tangan jahat pendeta itu terus menghantam kearah batok kepalanya. Yah pendeta itu ingin menotok jalan darahnya.

Mintaraga menjadi kaget bukan main.

“Candra Wulan hati-hati.” Teriaknya dengan keras.

Candra Wulan berpaling pula, hingga ia melihat muka bengis dari pendeta Baudenda. Tubuhnya hanya terpisah tiga tindak dari tempatnya. Tangannyapun telah menyambar kepadanya. Hingga saking kagetnya ia menjerit. Tak ada ketika lagi untuk mengelak....

Ada ujar-ujar yang mengatakan :  

‘Anjing gugup melompat tombok, orang terdesak muncul akainya.’

Demikian pula dengan Candra Wulan. Mendadak ia teringat akan pesan Mintaraga untuk dalam waktu berbahaya ia menyebutkan rahasia kepandaian dan gaibnya kebodohan.

Pendeta Baudenda menjadi sangat tercengang ketika mendengar seruan ini. Dengan sendirinya ia membatalkan serangannya yang hebat itu. Jari tangannya itu seperti tertahan oleh tenaga yang besar.

“Heh.... budak hina, apakah kau pernah pergi ke Indrakilo?” Tanyanya dengan mengguntur.

Candra Wulan menjadi girang dan juga heran ketika mengetahui kehebatan kata-kata itu. Akan tetapi ditanyakan tentang perguruan Indrakilo, ia menjadi sangat gugup.

“Indrakilo?” Ulangnya. “aku ”

Justru pada waktu itu ia memandang kearah Mintaraga, yang sudah segera melompat turun dari atas wuwungan perahu Mintaragapun memandang kepadanya. Anak muda itu lalu mengedipkan matanya, atas mana ia lalu mengerti. Maka ia lalu menjawabnya :

“Ya pernah aku pergi ke Indrakilo. Uwa guruku ki Giri Pragoto, telah menurunkan silatnya kepadaku, ilmu silat Gundala Kurda.”

Terpaksalah sudah ia harus membohong, sekalian juga gadis ini menyombongkan diri.

Pendeta Baudenda kaget dan heran. Sampai-sampai kakek pendeta tua ini mengeluarkan keringat dingin.

‘Pantaslah, begitu bergerak, dia telah mengeluarkan ilmu silat dari cabang Indrakilo.’ Katanya dalam hati. ‘Hem aku telah menemukan seorang bocah yang sukar dilayani, kini ditambah lagi seorang budak yang selembar rambutnya saja, tak boleh diganggu.... habis.... sudah. !’

Pendeta Baudenda tak takut akan langit, tak pernah jeri kepada bumi, walaupun kakak seperguruannya, pendeta Argo Bayu, ia masih tak takut. Akan tetapi mengapa ia begitu takut kepada resi-resi dari Indrakilo? Apakah sebabnya?!”

Mintaraga melihat kalau paman eyang gurunya ini berhenti menyerang.

Ia tertawa dengan nyaring :

“Paman,” Katanya kepada Jogosatru. “Paman eyang guru telah berjanji kalau tak akan bertempur pula, mengapa kau masih tak mau berhenti?”

Jogosatru menjadi ragu-ragu sekali. Sebenarnya ia kalah dari Kembang Arum, ia hanya menang dalam hal tenaga. Kebetulan saja ia dapat menyergap gadis itu. Hingga dengan demikian gadis itu tak sanggup meloloskan diri. Ia menjadi heran sekali ketika melihat roman yang sangat lesu dari wajah gurunya itu.

Kembang Arum adalah sebaliknya, ia menjadi sangat mendongkol, bukan main panasnya hatinya. Seumur hidup belum pernah ia demikian.  

Karena    itu    dalam    kemendongkolannya    itu,    sekonyong-konyong    ia

menendang Jogosatru sampai orang itu roboh terpelanting. Sedangkan ia sendiri melompat bangun. Meskipun demikian, ia masih merasa malu, mukanya menjadi merah sekali.

“Apa?” Bentak Jogosatru.

“Sudah janGan berkelaHi.” Mintaraga memisah dengan adil. “lihat permukaan laut kidul telah berada dihadapan mata kita.”

“Sesampainya maka rombongan ini lalu mendarat, Mintaraga mengeluarkan uang dan diberikan kepada tukang perahu itu.

“Sekarang kau boleh pulang.” Katanya kepada mereka. “Tolong sampaikan pesanku kepada mereka, supaya mereka mau hidup dengan baik- baik, jika mereka tak mengubah kebiasaannya aku bakal tak memberi ampun lagi kepada mereka.”

Kedua orang itu memang sangat takut, mereka telah menyaksikan sendiri bagaimana pendeta Baudenda dapat ditolak dan dicemplungkan kedalam laut.

“Baik.... baik... akan kami sampaikan pesan ini kepada kawan-kawan kami.” Mereka berjanji. Setelah memberi hormat, mereka lalu berlayar pergi.

“Paman eyang guru, bagaimanakah dengan kau?” Tanya Mintaraga. “Kau hendak melakukan perjalanan dan bekerja sama denganku atau mau memencar dan mengambil jalan sendiri?!”

Pendeta Baudenda telah berpikir, maka itu, ia bisa segera memberi jawaban. Ia tahu kalau dirinya berdua dengan muridnya ini bukan tandingan dari Sucitro si orang aneh itu. Akan tetapi iapun tahu apa yang harus dilakukannya. Karena itulah ia menjawab :

“Aku mengambil jalan ketiga. Kita, berpisah dan kita lihat saja siapakah yang akan berhasil lebih dahulu”.

“Baiklah.” Jawab Mintaraga.

“Hanya masih ada sebuah perjanjian.” Tiba-tiba saja Pendeta Baudenda berteriak. “Kau mesti mengambil jalan air, dan kalau tidak maka kau kuanggap kalah. ”

Mintaraga bukannya seorang manusia tolol, ia tahu kalau ia melakukan perjalanan naik perahu maka jaraknya akan berlipat ganda. Akan sangat terlambat dibandingkan dengan lawannya yang mungkin akan naik kuda. Karena itu ia hendak menolak. Akan tetapi Candra Wulan mendapat pikiran lain :

“Baiklah.” Gadis ini mendahului menjawabnya. “Kali ini kami memberi ampun sekali kepadamu.”

Sudah pasti, jangan menyesal.” Seru pendeta Baudenda dengan kegirangan, lalu ia mengajak Jogosatru untuk segera pergi.

Dengan terpaksa Mintaraga memberi hormat kepada paman dan paman eyang gurunya ini.  

“Nah kakang Mintaraga mari kita berangkat.” Kata Candra Wulan. “Kau

panggilah perahu itu supaya mau kembali.”

Mintaraga terpaksa menyabarkan hatinya. Ia tahu kalau Candra Wulan bersikap demikian karena gadis ini mengandalkan kepandaiannya dalam hal berlayar. Mungkin juga gadis muda ini sangat sombong dan akan memamerkan kepandaiannya dalam hal naik perahu. Karena terpaksa ia tak dapat berbuat lain, ia lalu memperdengarkan suara yang nyaring yang terdengar jauh, untuk memanggil pulang perahu mereka.

Kedua tukang perahu itu telah menjalankan perahu mereka beberapa puluh meter, dan tatkala mendengar panggilan itu mereka berpaling dan terus memutar kemudinya :

“Kakang Mintaraga apakah kau benar-benar hendak mengambil jalan lautan?!” Tanya Kembang Arum dengan heran.

Mintaraga mengawasi gadis ini dan kemudian terdengar jawabannya dengan sungguh-sungguh.

“Seorang laki-laki yang hendak menancapkan kakinya harus dapat mengutamakan kepercayaan. Adi Kembang Arum apakah kau tak berpikiran demikian?!”

Kembang Arum tertawa. “Tentu saja.” Jawabnya.

“Hai kalian banyak rewel saja.” Gerutu Candra Wulan. Dengan bersungut-sungut.

Melihat ini Mintaraga dan Kembang Arum menjadi tersenyum.

Selama itu perahu telah kembali, bahkan telah dipinggirkan, salah satu nelayan itu segera melompat kedarat untuk menghampiri Mintaraga.

“Ki sanak hendak memesan apa lagi?” Tanyanya sambil memberi hormat.

“Kami hendak menaiki perahumu keselatan, kau mau mengantarkan kami atau tidak?”

Candra Wulan mendahului perkataan Mintaraga itu.

Kedua nelayan itu terperanjat hingga sampai lama ia menatap ketiga orang muda-mudi ini.

“Bagaimana ini dapat?” Tanyanya dengan bingung. Candra Wulan menertawakan para nelayan ini.

“Apakah kau kira kami akan memakai dengan percuma perahumu ini?” Katanya. “Pasti kami akan memberimu upah yang sangat banyak.”

“Bukan begitu maksudku, ki sanak.” Kata nelayan itu. “Untuk keselatan kita baru melewati tempat-tempat yang berbahaya, misalnya melewati daerah-daerah gelombang badai yang hebat. Apakah perahu kecil ini akan dapat melawannya?”

Candra Wulan tertawa.  

“Apakah yang ditakutkan?” Katanya dengan riang. “Kita orang-orang

laut kidul, mustahil kalau tak mampu berlayar.”

“Cuma ” Nelayan itu tutut tertawa. Ia menganggap gadis ini bergurau.

“Sudahlah jangan banyak omong.” Gadis ini memotong. “Asal kau suka mendengar perkataanku, aku akan menjamin kalian sehat dan selamat.”

Nelayan-nelayan itu terpaksa menurut.

“Baiklah, sekarang ki sanak akan menjadi kapten kita yang baru.” Katanya.

Candra Wulan menjadi girang sekali karena kedua orang nelayan ini telah mau mendengarkan apa yang dikatakannya.

“Sekarang lekaslah kau tebang bongkot pohon yang besar.” Perintahnya. “Panjangnya mesti sama dengan panjangnya perahu kita, setelah itu kalian harus menyiapkan kain layar, kalian harus menjahit menjadi segi tiga serta layar lainnya melintang. Kamu mengerti?”

Nelayan itu menyahut mengerti, lalu ia mengajak kawannya itu untuk mulai bekerja.

Sementara itu Mintaraga, teringat akan sesuatu.

“Hampir aku lupa.” Katanya. “Kita belum mencari kuburan ayahku   ”

“Kau benar.” Kata Candra Wulan. “Gumuk kuburan ayah hanya terpisah setengah kilo saja dari sini, marilah kita pergi kesana, sebentar saja kita telah kembali.”

Kembang Arumpun setuju, maka ketiga anak muda itu sudah segera berangkat. Tentu saja mereka itu pergi dengan mempergunakan ilmu lari cepatnya yang berdasarkan dari ilmu meringankan tubuhnya. Hingga tak lama kemudian sampailah mereka ketempat yang dituju. Malahan kuburannyapun segera dapat diketemukan. Gampang dikenali. Dibatu nisan ini ada tulisannya : “KUBURAN DARMAKUSUMA DARI PERGURUAN LAWU.” Dibawah ini ada tulisan kecil-kecil, dan ada tulisan lainnya ialah : “MINTARAGA ANAK YANG TAK BERBAKTI.”

Mintaraga segera memandang Kembang Arum, ia menunjukkan roman kepuasan. Sebab batu nisan itu, terutama kuburannya, adalah buatan Kembang Arum. Didalam hati kecilnya ia berkata :

‘Sungguh baik sekali hati adi Kembang Arum ini. Tidak hanya ia mengambil jenasahnya dari dalam laut saja, akan tetapi juga mengangkatnya dan lalu mengubur dengan baik. Selain itu juga ia masih ingat untuk memberinya sebuah batu nisan. Dan... mengukir namaku ”

Ia memeriksa lebih jauh batu nisan itu. Ia mendapat kenyataan kalau disamping namanya disitu masih terdapat kelowongan tempat yang mana cukup untuk diukirkan nama seseorang.

Ia menjadi berpikir siapakah yang akan diukir disitu. Selagi ia berpikir dan menduga-duga, ia melirik gadis itu.  

Kembang Arum tahu kalau Mintaraga sedang mengawasinya. Mukanya

menjadi merah dengan sendirinya. Segera ia menundukkan wajahnya dengan tangan bajunya ia mengaling-alingi mukanya.

Candra Wulan tak tahu apa yang tengah dipikirkan oleh kedua orang muda-mudi ini. Ia menjadi heran, akan tetapi hanya berdiam diri saja.

“Apakah disini kita tak akan menghormat dan bersembahyang?” Tanyanya. Candra Wulan adalah anak angkatnya, maka segera ia menjatuhkan diri dan berlutut dihadapan kuburan ki Darmakusuma yang dikenalnya sebagai ajahnya, atau ki Plompong.

Mintaraga segera ikut berlutut juga.

Candra Wulan ingat akan perawatan dan kasih sayang yang dilimpahkan kepadanya selama enam belas tahun lamanya. Sedangkan Mintaraga berpikir kalau yang berada dihadapannya ini adalah makam ayah kandungnya yang dengan secara mengenaskan sekali. Karena itu tak sangat mengherankan kalau kedua orang muda-mudi ini menjadi nangis tersedu- sedu.

Kembang Arumpun segera turut berlutut, akan tetapi ia hanya menghormat dengan setengah peradatan saja.

Didalam hatinya Mintaraga berkata :

‘Ayah, anakmu ini telah berhasil menyapu perkumpulan Tengkorak Berdarah. Tentang penjahat utama pendeta Baudenda, kalau dia bisa menyesal dan merubah kelakuannya, sudah saja, akan tetapi kalau tidak, apa bila tetap bekerja untuk musuh, masih ada waktu untuk menumpasnya.’

Habis bersembah anak ini lalu bangkit. Ia mendongakkan kepalanya sambil menghela napas panjang. Kembali ia berkata didalam hatinya :

‘Ayah anakmu akan tetap memakai nama Mintaraga, aku hendak memasuki dunia kependekaran, dan akan menyapu bersih segala macam cecunguk dan sampah-sampah dunia kependekaran. Aku akan bergabung dengan semua pecinta bangsa dan negara, terutama sekali aku akan mengusir pemberontak-pemberontak Jipang Panolan yang telah menjadi musuh semenjak kakek kita berkelana didunia kependekaran. Ajah kupinta doamu dan perlindunganmu supaya anakmu ini dapat merampas kembali pusaka kerajaan yang menjadi lambang raja ialah TUNGGUL TIRTO AYU. ’

Baru saja Mintaraga berhenti memuji, ia dikagetkan oleh suara jeritan Candra Wulan.

“Celaka” Demikianlah gadis itu menjerit. Kembang Arumpun menjadi kaget sekali.

“Kau kena apakah?!” Tanyanya. Mintaragapun turut bertanya kepada adiknya.

“Aku ingat sekarang.” kata Candra Wulan.  

“Bukankah si jahat Jogosatru berniat untuk merusak tubuh ayah

angkatku? Kita sekarang datang kemari, kalau sebentar kita pergi, siapa tahu dia bakal tahu dan ganti datang untuk merusaknya?!”

“Ya...” Benar juga kata Mintaraga yang menjadi khawatir. “Bagaimana sekarang?”

Kedua gadis ini lalu berpikir sejenak.

“Apakah tidak bisa kita pindahkan saja kuburan ayah ini kepuncak Lawu?” Tanya Candra Wulan memberi saran.

“Itu artinya meminta waktu, sedangkan sekarang kita harus lekas-lekas pergi keselatan.” Kata Mintaraga. “Kita harus mencegah Pendeta Baudenda mendahului kita.”

“Bagaimanakah kalau kita bakar saja jenasah ayah, lalu abunya kita simpan untuk kita bawa?” Kembali Candra Wulan memberikan usulnya pula. “Bukankah ini sangat sederhana?!”

Mintaraga setuju dengan pendapat ini.

“Bagus” Serunya dengan girang. Malahan ia lalu merangkul batu nisan, yang diangkatnya sambil berseru. Hingga dangan demikian batu itu dapat terangkat dengan gampang. Habis itu ia lalu menghunus pedangnya. Pedang ini dipakai untuk menggali tanah kuburan.

“Tunggu dulu.” Cegah Kembang Arum. “Nanti aku ambilkan kau sekantong abu dari jenasah ayahmu.”

Tanpa menunggu jawaban lagi, gadis itu lari menghadapi tempat letaknya batu nisan tadi. Lurus dari tempat itu ia berjalan maju sebanyak tiga puluh tindak, lalu ia berjongkok, kedua tangannya membongkar tanah. Tak lama kemudian ia mendapatkan sekantong abu. Kantong itu dibuat dari kulit macan tutul, dan segera mengangsurkannya kepada Mintaraga.

“Inilah abu dari ayahmu.” Katanya.

Mintaraga menjadi heran sekali, hingga kembali ia menatap kearah wajah Kembang Arum dengan tajam-tajam.

Kembang Arum kini tertawa dengan berkakakan :

“Biarlah aku omong terus terang kepadamu.” Katanya. “Lebih dahulu dari pada ini, aku telah mengetahui akan sumpah ki Jogosatru yang hendak membalas tiga ratus hajaran terhadap ayahmu, oleh karena itu, aku khawatir kalau ia nanti membongkar kuburan ayahmu ini untuk mewujudkan janjinya itu, dengan lancang aku lalu membakar jenasah ayahmu. Setelah itu abunya kumasukkan kedalam kantong ini dan kupendam disini. Aku selalu teringat kalau pendaman itu ada tiga puluh langkah dari batu nisan yang kupasang. Barusan kita bersembahyang dihadapan batu nisan itupun tak terlalu salah. Karena aku bertindak begini ini tanpa minta persetujuan dahulu kepada kalian. Sekarang aku minta maaf dan maukah kau memberi maaf kepadaku?!”  

Sebaliknya dari pada gusar atau tak senang, Mintaraga menjadi sangat

bersyukur. Maka iapun lalu menganggukkan kepala untuk menghormat kepada gadis itu. Ia benar-benar mengucapkan terima kasih yang sebesar- besarnya dan sehangat-hangatnya.

“Adi Kembang Arum, sungguh kau berpikir dengan sempurna sekali.” pujinya. “Budimu ini sangat besar sekali, tak nanti aku dapat melupakannya.”

Candra Wulan ketawa mendengar perkataan Mintaraga yang sangat lucu ini.

“Sudahlah mari kita segera berangkat.” Katanya dengan mengajak.

“Ya, marilah kita berangkat.” Jawab Mintaraga yang tangan kirinya terus membawa kantong abu yang terbuat dari kulit macan tutul itu. Tangan kanannya memegang batu nisan. Ia pandang batu nisan itu bagaikan buatannya sendiri. Sebab itu toh buatan Kembang Arum hingga ia merasa sayang sekali kalau akan membuangnya.

Kembang Arum melihat ini puaslah hatinya, akan tetapi Candra Wulan tak mengetahui tentang perjodohan antara muda-mudi ini yang telah diatur dengan orang-orang tua mereka, ia tak memikirkan sesuatu apa, ia hanya menganggap kalau kelakuan Mintaraga adalah sangat lucu!

Demikianlah mereka lalu kembali kelaut kidul. Disini Candra Wulan segera bekerja untuk mempertunjukkan kehebatannya. Kedua nelayan itu telah siap sedia dengan kedua bongkot pohon serta dua buah layar. Kedua bongkot pohon itu diikat keras kepada kedua pinggiran perahu. Layar yang sehelai dipasang dibelakang perahu, layar yang berbentuk segi tiga itu dipasang di kepala perahu itu. Ia bekerja sangat cepat. Setelah selesai semuanya itu, dengan persiapan penggayu-gayu dan tali-tali serta gala, pelayaran segera dimulai. Ia sendiri pegang kemudinya.

Oleh karena dilengkapi dengan kedua bongkot besar. Perahu kecil itu menjadi tetap jalannya. Sedangkan kecepatannyapun tak berkurang barang sedikitpun juga. Damparan gelombang tak membuat halangan besar bagi mereka.

Belum sampai sehari lamanya perahu itu telah meninggalkan laut kidul, dan terus menyusuri kali Solo untuk terus akan masuk ke laut timur. Setelah sampai disitu maka para nelayan itu menunjukkan wajah yang khawatir.

“Ki Mintaraga.” Kata salah seorang nelayan itu kepada Mintaraga. “Tahukah kau apa artinya perkumpulan Bajak Bondopati?”

Nelayan itu memaksudkan perkumpulan bajak-bajak dari antara pulau- pulau kecil yang terdapat disekitar pulau Jawa.

Mendengar perkataan itu anak muda ini menganggukkan kepalanya. “Ketua dari persekutuan Bajak itu bernama Dahana Brasta yang bergelar

Naga Tujuh Lautan.” Jawabnya. “Dia benar-benar sakti dan ilmu goloknya  

tak tercela. Sebab dengan goloknya ia berhasil melayani seratus orang lebih.

Benar begitu, bukan?!”

Kedua nelayan itu saling berpandangan. Heran sekali ketika melihat bahwa pemuda ini bicara sedemikian entengnya kepada kepala bajak yang terkenal itu.

“Ki Mintaraga, bukannya aku hendak menyanjung-nyanjung.” Kata nelayan yang pertama tadi. “Dahana Brasta atau Naga Tujuh Lautan ini benar-benar tak dapat dibuat permainan.”

Mintaraga tertawa.

“Siapakah yang bilang aku akan membuatnya permainan?!” Tanyanya kepada nelayan itu.

“Bukan begitu ki sanak....” Misalnya kalian tak mengganggu dia mereka tentu akan datang mengganggu kita. Kecuali kalau ki sanak tak lewat didaerahnya itu...”

“Karena itu lebih baik disini saja kita mendarat...” Seru nelayan yang kedua. Ia menunjukkan roman muka yang berduka sekali dan kembali katanya. “Kita jangan melewati laut timur ini...”

“Pernah kami mendapat pengalaman yang hebat.” Nelayan pertama itu menambahkan. “Pada suatu hari kami kejar, serombongan perahu seorang saudagar, kami kesalahan masuk kebatas perairan laut Timur, tidak ampun lagi, kami dilabrak habis-habisan oleh Dahana Brasta. Belum puas si Naga Tujuh Lautan itu mengejar kami sampai dilaut kidul, dia sesumbar hendak menumpas habis perkumpulan Tengkorak Berdarah. Pemimpin kami segera bersiap sedia, dan segera minta bantuan empat puluh orang-orang dari kalangan dunia kependekaran. Semuanya ini menantikan di Pulau Iblis. Pertempuran hebat segera terjadi. Yang kalah dengan kerusakan hebat adalah pihak kami. Dia sangat telengas sekali ki Mintaraga.”

Mendengar perkataan orang-orang itu. Mintaraga justru tertawa dengan terbahak-bahak. Hatinya menjadi tertarik sekali.

“Baiklah aku akan menemui Naga Tujuh Lautan si Dahana Brasta itu.” Katanya dengan gembira. “Hai kedua orang adikku bagaimanakah pandapat kalian?!”

“Bagus... bagus...” Seru Candra Wulan. Dia ternyata gemar sekali berkelahi.

“Baik sih baik” Kata Kembang Arum, yang berpendapat lain. “Untuk menemui pelbagai orang-orang sakti lainnya, itu memang suatu kewajiban kita. Cuma aku menganggap kalau saatnya sekarang kurang tepat. Dengan menemui Naga Tujuh Lautan itu ada kemungkinan kita nanti ketinggalan oleh Pendeta Baudenda...”

Mintaraga berpendapat lain. Ia lalu tertawa dengan keras dan kemudian terdengarlah perkataannya :

“Kau jangan khawatir, tidak nanti kita akan ketinggalan.” Serunya.  

Sedangkan Kembang Arum tak mengerti apa   yang dimaksudkan

dengan Mintaraga ini tentang perkataannya ‘tak ketinggalan’. “Apakah artinya ini kakang Mintaraga?!” Tanyanya.”

“Kau tahu mengapa pendeta Baudenda menghendaki kita mengambil jalan lautan?” jawab anak muda ini balas bertanya. “Kenapa dia agaknya menghendaki kita ketinggalan delapan atau sepuluh hari? Ketahuilah kalau ia hendak mencari bala bantuan. Aku dapat menduga tentunya ia akan mencari bala bantuan di ibu kota. Karena itu ia pasti akan membutuhkan waktu antara dua atau tiga belas hari. Jadi jika kita main dua atau tiga hari dilaut Timur kita pasti akan tiba dengan bersama disana nantinya. Tak mungkin kita terlambat.”

Mendengar alasan Mintaraga ini maka Kembang Arum menjadi mengerti dan Candra Wulanpun sependapat dengan kakak angkatnya ini. Karena itu kedua nelayan ini terpaksa menurut.

Hari itu perahu ini mulai memasuki daerah Selatan. Disinilah letaknya atau daerahnya perkumpulan ‘Bajak Laut Bondopati’ Mintaraga sambil memandang kearah kedua orang kawannya. “Kulihat kurang leluasa untuk kalian dandan tetap sebagai wanita. Sebaiknya kalian menyamar saja sebagai lelaki.”

Candra Wulan dan Kembang Arum lalu memandang kearah dirinya. Segera saja keduanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan pendapat Mintaraga. Candra Wulan lalu menggerakkan kemudinya, untuk menghampiri tepian.

Seorang nelayan menunjuk ketepian, dimana ada sebuah dusun yang besar.

“Itulah desa Karang Kajen. Desa ini tersohor dengan ikan basahnya.” Katanya. “Masakan ikan disini tak dapat tak dicoba. Kalau sebentar ki sanak habis membeli pakaian, baiknya mampir sebentar dirumah makan untuk makan, maka tak kecewalah nona telah melakukan perjalanan jauh ini.”

“Bagus.” Mintaraga menyambutnya. “Bagaimana kalau kalian mendarat bersama-sama?”

“Terima kasih tak usah.” Sahut nelayan itu. “Kami lebih baik menjaga perahu.”

Mintaraga tak memaksa karena itu setelah perahu menempel ditepian. Ia lalu mendarat bersama dengan kedua kawannya ini. Mereka lalu mendapatkan sebuah tempat yang ramai, banyak toko dan warungnya. Jalan-jalanpun bersih. Tempat ini sangat berbeda sekali dengan tempat- tempat yang berada diutara. Dandanan para pendudukpun sangat rapi dan bersih. Setelah berpesiar mereka mendapat kenyataan kalau desa Karang Kajen adalah desa perikanan yang sangat makmur. Setelah membeli beberapa perangkat pakaian, mereka lalu mencari rumah makan yang disebut nelayan itu. Ternyata rumah makan itu terletak ditepi laut. Mereka  

mendapatkan sebuah rumah makan yang besar, indah dan terawat dengan

bersih. Ketika mereka masuk, akan memilih sebuah meja mereka melihat kira-kira tiga puluh buah meja dan semuanya hampir telah penuh dengan para tetamu.

Pelayan rumah makan dengan manis budi menyerahkan tarip makanan sambil bertanya kepada para tetamunya hendak minum apa. Teh atau kopi.

“Teh saja.” Jawab Mintaraga.

“Ah... ki sanak pandai memilih.” Kata pelayan itu. “Memang teh sini yang dipetik setelah hujan turun, paling harum dan sedap. Dan makannya apa ki sanak?”

Mintaraga memeriksa daftar makanan, ia menjadi heran. Disitu disebutkan banyak sekali macam ikan. Dengan banyak macam juga cara memasaknya.

“Ah... tak sempat kami memilih.” Kata anak muda ini kemudian sambil tertawa. “Kau saja pilihkan beberapa makanan yang lezat.”

Pelayan itu menjawab :

“Ya.” dan mundur dengan hormat, setelah sesaat kemudian ia membalik pula. Menyajikan air teh dan kemudian disusul dengan hidangan-hidangan. Tuaknya adalah tuak tua yang telah disimpan puluhan tahun.

Pemuda dan kedua orang gadis itu sangat gembira sekali, dan tak antara lama mereka lalu memuji dan mencoba masakan itu. Tuaknyapun baunya semerbak harum.

“Di pulau Karang Tugel telah diketemukan mustika, paling berharga dikolong langit ini, eh... kau tahu atau tidak?” Tiba-tiba saja muda-mudi ini mendengar perkataan seorang tetamu yang berada didekat mejanya. Lagunya seperti membanggakan.

“Ah... Poncowolo mengapa kau berisik dengan tak karuhan!” tegur seorang lainnya. Yang duduk bersama dimeja itu. “Kabar tentang mustika itu telah menggemparkan daerah selatan dan timur. Sekalipun seorang nenek yang berumur delapan puluh tahunan telah mendengar kabarnya.”

Tiga orang anak muda ini menjadi heran ketika mendengar hal tentang mustika itu, tanpa terasa mereka menunda sendok mereka masing-masing. Kemudian mereka saling berpandangan. Kemudian mereka menoleh kepada orang yang dipanggil sebagai Poncowolo.

“Eh... Bumi Loko, apakah kau tahu mustika itu mustika apa?” Poncowolo bertanya kepada kawannya, yang seperti mengejek tadi.

“Karena aku tak tahu?” Jawab Bumi Lako sambil memperdengarkan sebuah tertawa dingin. “Mustahil kalau itu yang dipergunakan oleh pelbagai raja, macamnya persegi empat, panjangnya enam dim, tingginyapun enam dim pula. Seorang raja tentu akan mengandalkan mustika itu untuk naik takhta kerajaannya. Benar tidak!”  

“Setuju.” Jawab Poncowolo. “Huahaa... Huahaaa...! Huahaa... dasar

Pulau Karang Tugel akan makmur, kita menangkap ikan kita justru dapat mustika.”

Tiga orang anak muda itu saling berpandangan. Mereka heran dan terkejut. Apakah mustika itu jika bukan Tunggul Tirto Ayu?

“Pihak Karang Tugel dapatkan mustika dengan tak disangka-sangka karena itu girangnya bukan kepalang.” Terdengar Poncowolo. “Sebenarnya mustika itu sudah lantas disimpan, akan tetapi belum lewat setengah hari, semua orang dari Bajak Laut Bondopati telah dapat mengetahuinya, maka malam itu juga Dahana Brasta hendak mengumpulkan pemimpin-pemimpin dari semua pulau itu untuk penontonnya. Tempat pertemuan ini berada di Pulau Selarong.”

“Apakah benar Wilotikto dari pulau Karang Tugel mau menyerahkan mustika itu kepada Bargawa?” Tanya Bumi Loko.

“Tentang itu kita lihat saja nanti.” Jawab Poncowolo. “Ada kemungkinan nanti orang-orang Jipang Panolanpun akan datang dengan secara tiba-tiba. Yah datang untuk mengurungnya. Atau ada lain rombongan yang datang untuk merampasnya. Siapa tahu kalau dengan demikian maka bajak laut Bondopati akan terpecah belah dan berantakan? baiknya kita tunggu dan lihat saja nanti. ”

Mintaraga bertiga menjadi berpikir. Mereka heran sekali. Bukankah Tunggul Tirto Ayu telah didapatkan oleh Tunggorono, kemudian diserahkan kepada Pendeta Baudenda, lalu dirampas oleh seorang tokoh aneh yang disebut sebagai Sucitro. Akan tetapi mengapa kini muncul kabar baru? Bahwa kabar mengatakan kalau Tunggul Tirto Ayu berada ditangan Wilotikto dari pulau Karang Tugel. Dan sekarang hendak diperebutkan oleh orang-orang banyak.

Waktu itu Candra Wulan sedang makan ikannya ketika Mintaraga berkata dengan perlahan :

“Mari kita berangkat :” Sambil berkata demikian anak muda itu lalu meninggalkan uang diatas meja dan bangkit menggeloyor pergi tanpa berpaling lagi.

Candra Wuan dan Kembang Arum segera mengikuti, sesampainya mereka diluar, bertiga mereka berlari-lari, hingga sejumlah penduduk Karang Kajen menjadi terheran-heran. Yah bagaimana tidak menyaksikan tiga orang yang dapat berlari cepat bagaikan terbang saja.

Tiga orang berkawan ini segera lari kearah perahunya dan setelah melihat perahunya ketiganya lalu melompat. Ketiganya tahu tugasnya masing-masing. Tanpa banyak bicara lagi maka Kembang Arum lalu menggerakkan bambu satangnya. Mintaraga memasang layar dan Candra Wulan memegang kemudi. Malahan Candra Wulan lalu memerintahkan :

“Lekas berangkat.”  

Kedua nelayan itu menjadi kaget.

“Apakah Dahana Brasta menyerang kami?” Tanya mereka dengan serentak.

“Kami justru hendak menemui dia.” Jawab Mintaraga sambil tertawa. Hatinya girang bukan main setelah mengetahui dimana adanya Tunggul Tirto Ayu itu. “Kalian putarlah perahu ini menuju kepulau Selarong. Makin cepat makin baik.”

Kedua nelayan itu agaknya menjadi ragu-ragu.

“Kau pegang kemudi, jangan banyak omong.” Bentak Mintaraga.

Kembali ia berkata. “Kutanggung keselamatanmu berdua.”

Mati atau tidak maka kedua orang nelayan itu lalu terpaksa menuruti perintah pemuda itu.

Ada banyak perahu lainnya, besar dan kecil, disepanjang pesisir diperjalanan keselatan itu, malahan Mintaraga merasa pasti semua meraka itu adalah perahu-perahu bajak akan tetapi sedikitpun ia tak menghiraukannya. Tak mau ia mengganggu mereka. Dipihak lain, pihak para perompak juga tak mempunyai niat untuk membajak. Perahu itu adalah asing bagi laut timur. mungkin perahu saudagar akan tetapi perahunya kecil sekali, perahu begitu tentunya tak gemuk isinya....

Pulau Selarong tak terletak dekat akan tetapi Candra Wulan memasang semua layar, hingga dengan demikian perahu itu dapat berjalan dengan cepat. Hingga sebentar saja empat lima romboagan perahu lainnya dapat disusul. Hingga akhirnya mereka tiba di pulau Selarong menjelang maghrib.

Kedua orang gadis itu lalu berganti pakaian, untuk menyamar sebagai pemuda. Sebelum melompat kedarat, ketiganya lalu menyembunyikan dahulu perahu mereka ditempat yang sunyi.

Pulau Selarong ternyata tak begitu besar akan tetapi sangat terkenal. Pulau ini termasuk salah sebuah pulau suci bagi mereka yang menganut agama Budha. Dialah yang dengan nama laut Selatan sangat dikenal oleh umat-umat Budha.

Pulau ini ternyata mempunyai banyak penduduk, dan kebanyakan mereka hidup dari merompak. Yah memang setelah pulau ini dijadikan sarang perampokan maka para penganut Budha lalu menyingkir jauh. Diwaktu itu merekapun sedang berkumpul. Nampaknya mereka itu kebanyakan bertubuh kekar dan kuat. Akan tetapi dengan kecerdikannya Mintaraga bertiga dapat mencampurkan diri dengan mereka itu, untuk dengan merekapun lalu ikut berjalan ketimur dan kebarat.

Dipasir muara, ditempat lebat dengan pepohonan atau ditempat-ternpat yang seperti taman bunga.

“Ah Dananjaya, kau datang terlalu pagi.” Tiba-tiba saja ia mendengar orang berkata.

“Memang.” Seorang menjawab.  

“Ingat, jangan kau lupa taada rapat.” Kembali orang yang pertama tadi

itu berkata. “Atau kau tak punya rejeki untuk melihat mustika itu.” “Mustahil aku dapat melupakan tanda. Bukankah itu tanda MALAM

TERANG BULAN DI SELARONG?”

“Benar, memang tanda itu adalah MALAM TERANG BULAN DI SELARONG.”

Mintaraga girang sekali mendengar pembicaraan kedua orang itu. Ia memang sedang masygul memikirkan cara untuk turut hadir dalam rapat. Mereka bertiga adalah orang-orang yang tak dikenal, buat sementara mereka dapat mencampurkan diri, bagaimana nanti setelah mereka bergaul lama?

Sementara itu sang waktu terus berjalan dengan cepat, sampai tiba-tiba terlihat tiga batang panah api meluncur keudara. Lalu orang memburu kearah muara.

“Orang berapat dimuara, sungguh suatu tempat yang bagus.” Kata Mintaraga sambil tertawa, tentu saja ia bicara dengan perlahan.

“Bagaimana kita dapat turut hadir?” Tanya Kembang Arum. “apakah kau punya surat undangan?”

“Jika sekarang kita membuat kunjungan, kita bisa menimbulkan kecurigaan” Jawab anak muda itu dengan perlahan. “Orang-orang Bajak Laut Bondopati ada campur baur, marilah kita mencampurkan diri kepada mereka.”

Lalu mereka bertindak kearah muara.

Tiba-tiba seorang menegurnya dengan perlahan :

“ di Selarong.”

“Malam terang bulan!” Jawab Mintaraga dengan cepat. Ia menjawab tanpa berpaling barang sedikitpun juga.

“Silahkan masuk.” Kembali orang yang menegur itu berkata dan mempersilahkan Mintaraga dan kawan-kawannya itu masuk. Penghormatan itu dibalas dengan penghormatan pula oleh Mintaraga.

Anak muda ini menjadi girang. Dengan kecerdikannya, ia segera mengerti tanda rahasia orang. Sukurlah dalam pertanyaan penjaga tadi ia telah dapat menjawabnya dengan tepat. Hingga dengan demikian ia tak akan mendapat banyak rintangan untuk ikut rapat.

Tiba dipesisir muara, Mintaraga bertiga terkejut juga. Disana telah berkumpul banyak orang, bagaikan semut, jumlahnya tak kurang dari dua ribu jiwa. Sudah itu masih tetap banyak orang-orang baru yang datang dengan berjejal-jejal seperti mengalir.

Tanpa banyak omong, Mintaraga ajak kedua kawannya tetap mencampuri diri orang banyak itu.

Dalam rapat kali ini pihak penyelenggara hendak menunjukkan bahwa penduduk pulau-pulau disekitar laut Jawa dibagian timur dan selatan adalah satu keluarga. Karena itu kesemuanya tak dibagi-bagi dalam golongannya  

masing-masing. Tak dipisahkan satu dengan yang lainnya. Sebaliknya

mereka itu dibiarkan bercampur baur. Ini adalah merupakan kebaikan bagi ketiga orang penyelundup itu. Hingga dengan demikian tak mudahlah orang mencurigai mereka.

Dimuka muara telah penuh dengan pelbagai perahu besar dan kecil, ialah perahu-perahu dari pelbagai pulau.

Di muka airpun tampak bayangan gunung kecil yang berada dipulau Selarong. Bahkan bekas pagoda besar yang megah dipulau inipun masih kelihatan dengan jelas. Bayangan ini kelihatan ditimpa oleh sinar sang rembulan. Angin meniup dengan halus, maka itu, air laut tak bergelombang, Karena itu kini adalah sebuah malam yang indah. Yang sangat cocok sekali dipergunakan oleh penyair untuk bersenandung. Karenanya, sungguh tak tepat, yang sekarang berkumpul justru adalah orang-orang dari golongan kasar, orang-orang yang pekerjaannya membayar rumah dan membunnh orang....

Tak lama kemudian, tiga orang kelihatan menggotong sebuah meja bundar. Mereka itu diikuti dengan seorang yang bertubuh besar bermuka merah dan berewokan. Sepasang matanya tajam, bersinar ditempat yang gelap.

“Nyalakan api.” Tiba-tiba orang beroman bengis itu berseru.

Menyusul titah itu, segera orang pasang obor diempat penjuru hingga tempat yang tadinya terang hanya dengan cahaya bulan, sekarang menjadi terang benderang bagaikan siang hari saja.

Segera orang keren ini memandang kearah sekitarnya.

“Aku yang rendah adalah Bargawa.” Katanya. “Aku adalah pembantu kakang Dahana Brasta. Ki sanak sekalian, atas nama kakang Dahana Brasta aku mengucapkan selamat datang dan terima kasih kepada kunjungan ki sanak sekalian ini.” Ia kemudian menghormat kearah semua hadirin, dan penghormatan inipun dibalas pula dengan penghormatan itu.

“Tadinya.” Bargawa mulai berkata kalau pulau Selarong ini adalah tempat beribadat para pendeta resi dan begawan, atau tempat pesiar yang indah bagi para hartawan, sebaliknya para bangsa melarat sama sekali tak melihat mata. Akan tetapi hari ini berada dibawah kaki kita! Siapakah yang menyangkanya? Sekarang ini segala hartawan ini, memandangpun tak berani terhadap kita. Siapa diantara mereka yang berani mengawasi kita, pasti kita akan menghajar kepalanya.”

Dari empat penjuru terdengar tawa riang yang ramai dan tepuk-sorak yang riuh.

“Tampaklah kalau mereka itu adalah orang-orang yang bersemangat.” Kata Mintaraga didalam hatinya. “Aku harus mencoba untuk bersahabat dengan mereka ”  

“Untuk permulaan sekarang cukuplah sudah.” Suara Bargawa terdengar

pula. “Sekarang marilah kita makan terlebih dahulu. Sebentar lagi kakang Dahana Brasta hendak bicara. Kumohon dimaafkan kalau perlayanan kami tak sempurna.”

Ia segera berhenti untuk bertepuk tangan, setelah terdengar tepukan tangan maka muncullah beberapa orang pelayan yang datang dengan membawa tuak dan rupa-rupa makanan, maka dilain saat para tetamu tanpa sungkan-sungkan lagi lantas mulai makan-makanan dan minum. Siapa yang tak mau makan atau minumpun tak akan dipaksa. Karena itulah kelihatan tegas kebebasan mereka masing-masing.

Tak antara lama dari muara terdengar orang berseru :

“Dahana Brasta..... Dahana Brasta.....” Setelah itu terdengar tepukan tangan yang riuh sekali. Semua mata lalu ditujukan kesatu arah, dimana tampak seorang yang mendatangi, tindakannya perlahan, tangannya membawa sebuah bungkusan persegi empat yang di bungkus dengan kain kuning.

‘Dialah rupanya Dahana Brasta yang namanya telah termasyhur itu.’ Pikir Mintaraga.

Akan tetapi Mintaraga menjadi kecele. Ia mendapatkan seorang bertubuh kate dempal, kulitnya putih dan berkumis sedikit romannya persis orang yang kegemarannya berdagang. Tak pantas untuk dijadikan orang yang ditakuti oleh bangsa dan kaum Jipang Panolan.

Setelah tiba dimeja maka orang itu lalu meletakkan bungkusannya dengan perlahan-lahan. Setelah itu ia mengangkat tangannya kearah hadirin, untuk memberi hormat :

“Ki sanak sekalian.” Katanya. “Kita adalah bangsa-bangsa kasar, tak perlu kita pakai banyak peradatan. Aku hendak segera menceritakan bahwa sekarang ini telah terbit persengketaan antara kakang Wilotikto dari Pulau Karang Tugel dengan kakang Waspa Runggu dari pulau Kenikir. Sebab musababnya adalah barang mustika yang diperebutkan. Persengketaan ini makin lama makin berlarut-larut dan hingga terjadi pertumpahan darah. Mengenai persengketaan ini aku hendak mengatakan bukannya aku omong besar apa bila tetap tak ada pemberesannya, itu akan berarti hancurnya perkumpulan kita Bondopati. Kalau kita sampai hancur luluh maka akan ditertawakan oleh orang-orang dari dunia kependekaran.”

Kata-kata itu membuat rapat menjadi sunyi senyap.

‘Luar biasa juga orang ini.’ Pikir Mintaraga. ‘Dia berwajah seperti orang biasa saja, akan tetapi kata-katanya enak didengar.

Orang itu telah lantas bicara lagi :

“Ki sanak sekalian, pertemuan malam ini adalah untuk saudara-saudara menyaksikan mustika tetapi maksudnya yang utama adalah membereskan pertarungan antara kakang Wilotikto dan kakang Waspo Runggu. Umpama  

saja, mereka berdua itu tetap berselisih, aku dapat memastikan pasti orang-

orang Jipang Panolan akan datang menyerbu. Sebab itu adalah ketika yang paling baik bagi mereka. Dan kalau demikian maka artinya pulau-pulau disebelah selatan dan timur pulau Jawa ini tak akan aman.”

“Benar apa yang ki sanak katakan.” Jawab seseorang yang terus melompat dan memunculkan diri sambil melompat maju. Dengan ‘saudara ketua’ kepala persekutuan pulau-pulau itu. “Sekarang diminta saja kakang Wilotikto dan kakang Waspo Runggu untuk maju berbicara. Mereka harus menceritakan duduknya perkara ini dengan jelas, nanti kami beramai-ramai akan menimbang, siapakah yang benar dan siapa pula yang salah.”

Orang itu memperkenalkan dirinya sebagai Dananjaya dari pulau Kencana. Dia adalah ketua dari pulau Kencana itu.

Usul ini dapat persetujuan dari umum, serempak mereka mengutarakannya. Habis mendengungnya suara ramai itu, seorang maju kedepan.

“Kami dari Pulau Karang Tugel, biar kami ditertawakan, dikatakan merusak persekutuan, biar kami habis mati semua akan tetapi ini adalah lebih baik dari pada kita hidup dihina kaum Pulau Kenikir,” katanya dengan nyaring. Ia segera menghunus goloknya, dan berkata terus dengan tantangannya.

“Waspo Runggu mari keluar. Disini dihadapan para sahabat dari seluruh persatuan, mari kita mengambil keputusan mati atau hidup.”

Orang yang menantang ini adalah Wilotikto dari pulau Karang Tugel.

Atau orang yang mendapat mustika yang menjadi bibit persengketaan.

Belum lagi berhenti suara Wilotikto seorang lagi telah melompat maju dengan gerakan yang hebat dan kuat. Ternyata dia adalah seorang laki-laki yang bertubuh tinggi besar. Karenanya dia segera telah memutar rantainya, rantai itu menerbitkan angin dan mengeluarkan bunyi yang bergemerisik. Dengan sebuah gerakan lain, dia telah menyerang kepala Wilotikto. Gerakan ini adalah sebuah gerakan tipuan yang hebat sekali. Sambil menyerang dia membentak :

“Kau tuduh aku menghinamu, habis siapakah yang menghinaku. Hem... apakah sebab kau mengandalkan kepada senjata atau orang lain maka kau menjadi begini galak? Hem... Lihat!”

Dialah ketua dari pulau Kenikir yang bernama Waspo Runggu.

Pada waktu itu Wilotikto sedang marah, karenanyalah ia menjadi semakin kalap.

Karena itu setelah menangkis serangan, terus ia membacok, sehingga mereka jadi bertempur.

“Lekas berhenti.” Teriak Dananjaya dari pulau Kencana. “Aku menyuruh kalian bicara, tak menyuruh kalian bertempur.”  

Kedua kepala pulau itu sedang sengit dan marah, karena itu mereka lalu

bertempur terus. Sedikitpun tak menghiraukan kepada orang luar yang akan melerainya.

Dananjaya menjadi mendongkol, maka sambil menggerakkan sepasang cambuknya ia lompat menyelah diantara kedua orang yang sedang mengadu tenaga dan kepandaian. Pecut itu terus melilit golok dan rantai kedua orang ketua yang sedang bertempur. Keduanya tak dapat meloloskan senjatanya masing-masing.

“Bagaimana ki sanak?” Dananjaya bertanya. “Jika kalian mau berbicara dengan tenang, akan kulepaskan tanganku, jika tidak. Jangan kau sesalkan nanti perbuatanku.”

Muka kedua orang itu, Wilotikto dan Waspo Runggu menjadi marah. Beberapa kali mereka mencoba, mereka tak dapat membebaskan senjata mereka. Tentu saja mereka itu menjadi sangat malu, dan kejadian ini terjadi dimuka umum. Seperti orang nekat maka mereka lalu melepaskan senjata mereka dan menyerang Dananjaya dengan tangan kosong.

Wajah orang pendek yang berkulit putih itu menjadi merah padam. Yah dia adalah pemimpin dan tuan rumah dari rapat ini.

“Ki sanak berhenti.” Teriaknya. “Sukakah kalian melihat wajahku?” Suara itu kedengaran nyaring sekali. Hingga mirip suara genta ataupun guntur yang menggelegar.

Ketiga orang itu segera berhenti dari perkelahiannya. Maka kini ribuan mata itu lalu dialihkan kepada ketua perkumpulan itu.

Baru saja suasana sunyi sejenak, atau seorang telah muncul, sambil berteriak kepada Waspo Runggu :

“Waspo Runggu barusan kau mengatakan ada orang yang menjadikan andalan Wilotikto. Aku adalah sahabatnya maka karena itu aku menjadi tersinggung apakah arti perkataan itu? Aku menantikan pengajaranmu.”

Orang itu adalah Indrajaya ketua dari perkumpulan yang mengetuai pulau Nusabarung. Dia memang terkenal gagah perkasa. tingkatannya orang ini hanya berada dibawah Dahana Brasta.

“Tentang itu baiknya, kau tanyakan saja kepada dirimu sendiri.” Jawab Waspo Runggu.

“Aku justru hendak bertanya kepadamu.” Indrajaya mendesak. “Jika kau mempunyai keberanian, mari kita keluar untuk menentukan siapa yang lebih tinggi dan siapa pula yang rendah.”

Kembali terbit suasana baru. Orang-orang yang hendak mengadakan perdamaian, Indrajaya justru mengacau pula. Dia sedikitpun tak memperdulikannya, biarpun ia mendengar suara dari sana sini yang berteriak-teriak. Malahan dengan segera ia melompat kearah Waspo Runggu. Untuk menyerang dengan sebelah tangannya. Orang sampai menjerit  

melihat serangannya itu kearah batok kepala sebab ia tahu dia lebih sakti

dari pada Waspo Runggu.

Diserang dengan secara demikian mendadak, Waspo Runggu tak sempat menangkis. Mengelakpun tak sempat. Disaat ia tengah menantikan kematian, tiba-tiba saja Indrajaya menjerit sendiri. Tangannya turun dengan sendirinya. Tubuhnyapun terhuyung-huyung mundur, hampir ia tak dapat mempertahankan tubuhnya.

Waspo Runggu melihat ini menjadi heran, akan tetapi ia mundur untuk bersiap sedia.

“Orang gagah manakah yang dengan sengaja mempermainkan aku?” Indrajaya segera memperdengarkan suaranya, sedangkan hatinya heran dan kaget. “Seorang laki-laki tak akan berbuat demikian hinanya. Karena itu keluarlah untuk menemuiku.”

Seruan ini tak ada jawabannya, sekalipun teriakan ini diulanginya sebanyak tiga kali. Kemudian ia mengawasi keempat penjuru, ia melihat semua orang berdiam diri.

Sebenarnya perbuatan ini adalah perbuatan Mintaraga. Ia tak dapat membiarkan Waspo Runggu mati dengan demikian kecewanya. Dengan dua butir batu kecil ia melempar Indrajaya dengan berturut-turut. Pertama kali untuk menggagalkan serangan, keduanya untuk membuatnya terhuyung- huyung. Diam-diam ia kagum juga karena kedua serangannya ini tak dapat merobohkan Indrajaya.

Suasana tak menjadi sepi karena kejadian itu. Orang-orang banyak itu seperti menjadi kacau. Sedangkan orang-orang berada dipihak Indrajaya, mereka itu menjadi tak senang. Mereka lalu muncul dengan tantangannya. Mereka itu telah bersiap sedia untuk membantu Indrajaya. Dilain pihak mereka yang berpihak kepada Waspo Runggu.

Dahana Brasta menjadi gusar. Kedua matanya menjadi merah. Ia lalu menghunus pedangnya dan melompat keatas meja.

“Siapakah yang hendak berkelahi silahkan maju. Mari berkelahi denganku.” Serunya. “Siapa yang hendak merampas kedudukanku sebagai ketua umum juga kupersilahkan untuk maju.”

Seruan ini besar pengaruhnya, suara berisik menjadi padam dengan seketika.

“Hem...” Suara Indrajaya. Ia hanya memperdengarkan itu saja dan tak berbuat lainnya.

“Ki sanak Wilotikto dan Waspo Runggu.” Dahana Brasta segera berkata. “Kalian telah sering kali melakukan perselisihan, telah sering pula kalian mengadakan pertarungan, akan tetapi kalian tak pernah menang kalah, karena itu sekarang kuberi nasehat kepada kalian, sukakah kalian dengan tenang menceritakan alasannya masing-masing. Kalian harus mengetahui kalau keadilan itu berada di dalam hati orang banyak. Disini telah  

berkumpul orang-orang gagah dari perkumpulan kita, karena itu tak nanti

ada yang akan berat sebelah.”

Setelali ketua umum ini berkata, maka seorang tua yang berjenggot panjang lalu maju kedepan.

“Siapa yang tak mau menghormati ketua umum kita, marilah maju bertempur denganku hingga tiga ratus jurus.” Kakek ini memperdengarkan suaranya yang keras. Segera ia menghunus goloknya, dengan golok itu ia menotok keatas tanah, lalu tubuhnya mencelat kesamping Dahana Brasta.

Orang-orang berseru memuji ketika melihat kepandaian kakek ini dalam hal meringankan tubuh. Memang harus diakui kalau tak mudah orang melompat dengan hanya menekan kepada tanah. Apa lagi tanah itu berpasir. Orang-orang segera mengenal kalau kakek tua itu ternyata adalah Bagaskara, ketua dari pulau Sempu. Pulau Sempu adalah pulau yang teraneh dan terangker diantara pulau-pulau yang terdapat dipinggiran sebelah selatan dan sebelah timur pulau Jawa. Bersama dengan Dahana Brasta dan Indrajaya kakek ini dijuluki Tiga Danyang Laut Timur.

“Kami sangat mengindahkan kepada ketua umum.” Seru Dananjaya dengan lantang.

Perkataan ini lalu diturut dengan orang-orang yang berada disitu.

Dahana Brasta lalu mengangkat tangan dan berkata dengan nyaring untuk menghaturkan terima kasih.

“Baik.” Katanya. “Sekarang aku minta kepada kedua belah pihak yang bersangkutan sudi saling menjelaskan masing-masing kedudukannya hal itu.”  

Waspo Runggu yang mulai paling dahulu, ia melompat ketengah kalangan.

“Aku yang muda mohon kepada ki sanak ketua dan ki sanak sekalian disini suka mempertimbangkan perkara kita ini.” Katanya. “persoalannya adalah begini. ”

“Biar aku yang bicara terlebih dahulu.” Wilotikto memotong sambil melompat maju?”

“Aku?” Bentak Waspo Runggu dengan marah.

“Mustika itu aku yang menemukan.” Teriak Wilotikto. “Karena itu aku harus bicara terlebih dahulu.”

Dahana Brasta mengkhawatirkan keduanya bertempur lagi. “Baiklah.” Katanya. “Ki Wilotikto kau boleh bicara terlebih dahulu.”

“Aku mohon bertanya kepada ki ketua.” Wilotikto berkata. “Apakah yang disebut dalam peraturan atau tepatnya undang-undang dari perkumpulan kita yang ketiga puluh satu?”

“Itulah larangan untuk bekerja melintasi batas daerahnya sendiri.” Jawab ketua itu. “Betul begitu.” Kata Wilotikto sambil menuding kearah Waspo Runggu.

“Binatang ini telah melanggar aturan kita itu. Sewaktu kami menangkap ikan dilaut salah satu orangku, yang bernama Gangsir Ireng telah menemukan mustika itu, dia telah mengangkatnya dari dasar laur. Itulah mustika untuk mewariskan negara. Dan itulah mustikanya.” Ia menunjuk kepada barang yang terletak diatas meja.

“Aku minta perhatian saudara-saudara.” Katanya meneruskan. “Aku tadi bilang dilaut. Itu laut dalam daerahku. Kami telah mendapatkan mustika, pasti kami bergembira dengan sangat luar biasa sekali. Akan tetapi belum ada sepenanak nasi lamanya, Waspo Runggu telah datang bersama pasukannya. Mereka datang dengan membawa tombak dan pedang. Dengan enak saja mereka lalu melintasi daerah kami. Mereka itu hendak melintasi dan merebut mustika kepunyaan kami. Ki sanak, andaikata, ki sanak menjadi Wilotikto, apakah ki sanak mau menyerahkan mustika itu dengan begitu saja. Kami melakukan perlawanan dan kami dapat memukul mundur rombongan penyerbu itu. Setelah itu kami menganggap kalau urusan ini telah habis sampai disini. Akan tetapi tak tahunya tiga hari berturut-turut mereka itu datang untuk mengacau daerah kami yaitu pulau Karang Tugel. Mereka itu merampok dan menyerang. Hem... bisakah itu dilawan dengan sabar saja. Akan tetapi aku masih dapat mengendalikan diri, maka itu mustika kutitipkan kepada ketua kita. Untuk juga ketua kita mau turun tangan mengurus kejadian ini. Aku hanya ingin keadilan dari keadaan ini. Nah bukankah dia telah melanggar aturan kita?!”

Indrajaya maju kedepan dan berkata :

“Pihak Pulau Kenikir itu telah bekerja bukan saja melintasi batas daerahnya, mereka juga masih main merampas, dengan perbuatan itu mereka telah tak memandang aturan golongan kita. Jika perbuatannya ini dibiarkan saja, apa nanti jadinya? Oleh karena itu Indrajaya, mengusulkan agar pihak Pulau Kenikir ditendang keluar dari persekutan kita!”

Banyak sekali suara yang menyatakan setuju. Mereka itu menganggap Waspo Runggu yang salah.

“Aku belum bicara.” Teriak Waspo Runggu. “Kau bicaralah.” Kata Bagaskara.

“Ki lurah (ketua)” 'Waspo Runggu memulai. “Aturan kita yang ketiga puluh satu itu berbunyi bahwa orang tak boleh bekerja melintasi batasnya sendiri itu apakah artinya? Aku mohon penjelasan.”

“Tidakkah itu telah jelas?” Dahana Brasta berkata. “Kita orang-orang yang tinggal dipulau sepanjang laut Selatan sampai laut Timur dipulau Jawa ini masing-masing telah menggariskan batas daerahnya sendiri-sendiri. Kitapun telah menetapkan kalau kita hanya boleh melakukan pekerjaan didalam daerahnya sendiri-sendiri. Hingga dengan demikian kita tak boleh melewati batas kepunyaan orang lain. Umpama kita membajak, selagi  

melakukan pengejaran, kita juga dilarang mengejar sampai dibatas lain

pulau. Apakah kau masih belum mengetahui akan peraturan kita ini?!” “Baik.” Jawab Waspo Runggu. Terus ia memandang kearah lawannya

dan kemudian terdengarlah perkataannya : “Wilotikto aku sekarang hendak bertanya kepadamu. Waktu hari itu ada sebuah perahu nelayan, didalam perahu itu terdapat mustika, pihak kamilah yang mengetahui aku lalu memerintahkan untuk merampasnya. Akan tetapi sayang perahu itu telah lari kedaerah perairanmu, kita lalu berhenti mengejar. Benar begitu bukan?!”

“Tidak salah.”

“Misalnya ada seorang yang melemparkan barang kedalam perairan kita, barang itu termasuk kepunyaan siapakah?” Kembali Waspo Runggu bertanya. “Berkatalah.”

“Dalam hal begitu, tentu ini adalah kepunyaanmu.” Jawab Wilotikto.

Waspo Runggu lalu memandang kearah hadirin. Kemudian terdengarlah perkataannya yang keras dan mengguntur.

“Ki sanak sekalian apakah kalian juga menyetujui perkataan Wilotikto ini?” Tanyanya.

Orang banyak itu lalu kasak-kusuk kepada yang lainnya. “Ya.” Jawabnya kemudian.

“Bagus.” Seru Waspo Runggu. “Wilotikto, apakah kau masih mengharapkan barang itu?” Ia terus bertanya kepada lawannya.

“Eh.... apakah artinya ini?” Tanya orang banyak. Karena itu Wilotikto tidak segera menjawab.

“Duduknya hal adalah.” Menjelaskan Waspo Runggu. “Ketika perahu nelayan itu kita kejar, salah satu penumpangnya telah melemparkan sesuatu barang kedalam laut. Dan laut itu justrulah termasuk daerah kami. Apakah barang itu? itu adalah mustika warisan negara.”

“Akan tetapi kami mengambilnya didalam perairan kami sendiri.” Bantah Wilotikto.

“Tidak salah.” Jawab Waspo Runggu. “Bukankah kau mengatakan kalau barang itu telah terhanyut sampai perairanmu? Biarpun bagaimana pulang perginya maka mustika itu harus menjadi milik kami. Tidakkah itu benar saudara ketua?!”

Dahana Brasta segera menundukkan kepalanya, untuk berpikir. Ia harus memeras otaknya. Mustika itu dilemparkan keperairan Pulau Kenikir, sudah selayaknya kalau mustika itu kepunyaan orang-orang dari pulau Kenikir. Akan tetapi barang itu didapatkan dipihak Pulau Karang Tugel, didalam perairan pulau Karang Tugel karena itu sudah selayaknya pula kalau barang itu terjatuh ketangan orang-orang dari pulau Karang Tugel. Tentu saja hal ini telah membuatnya menjadi serba salah.

“Ki sanak sekalian, bagaimanakah menurut pendapat kalian?” Akhirnya ia bertanya kepada khalayak ramai.  

Semua hadirin merasa heran juga. Tidak pernah mereka sangka kalau

duduknya perkara ini sedemikian hebat. Tentu saja pendapar mereka itu menjadi berlainan.

Nampaknya demikian, Dahana Brasta mengajak Indrajaya, Dananjaya dan beberapa ketua pulau lainnya, untuk mendamaikannya terpisah, akan tetapi merekapun tak dapat mencocokan pikiran mereka.

“Baiknya diatur demikian saja.” Akhirnya Indrajaya berseru. “Perkaranya begini sulit, tak dapat aku memutuskannya siapa yang benar dan siapa pula yang salah. Baiknya kita pakai saja aturan umum dari dunia kependekaran.”

“Apakah aturan umum itu?” Semua orang telah mengetahuinya. Ialah mengambil keputusan dengan secara kekerasan. Atau tepatnya mengadu kcpandaian. Sewaktu orang belum mengatakan sesuatu Indrajaya telah berkata pula :

“Waspo Runggu.” Demikianlah katanya. “Aku hendak bilang kalau mustika itu adalah kepunyaan Karang Tugel, habis kau mau mengatakan apakah?”

Waspo Runggu menghadapi kesulitan. Jika ia menolak, artinya senjata harus diangkat. Tentu saja ia tak sanggup untuk melawan Indrajaya. Akan tetapi ia tak sudi menyerah kalah. Apa lagi kini berada dimuka umum.

Indrajaya segera bilang :

“Nah kau sebutkanlah syaratmu.”

Dahana Brasta menjadi gelisah. Ia tahu, sekali saja mereka bertempur seluruh pulau-pulau lainnya akan kerembet-rembet. Itulah hebat. Inilah yang tak dikehendakinya.

“Dengar.” Ia lalu berkata. “Kalian kedua belah pihak telah menyia- nyiakan waktu setengah hari lamanya. Urusan ini harus segera diambil keputusannya. Mengenai urusan ini, ada dua jalan pemecahannya. Jalan kesatu ialah pihak mana saja jangan menghendaki barang ini. Barang ini harus dibuang kelaut. Setujukah kalian ini?”

“Tidak?!” Seru mereka dengan serempak.

“Sekarang jalan yang kedua.” Kembali Dahana Brasta berkata dengan lantang :

“Barang itu harus dipecah menjadi dua dibagi rata antara Karang Tugel dan Pulau Kenikir. Apakah ini kurang adil.?!”

Kembali orang-orang menjadi berpikir dengan keras. Memang inilah jalan satu-satunya yang dianggap adil.

“Setuju ” Akhirnya mereka itu lalu menjawab dengan lantang sekali.

“Jadi kalau barang ini dibagi dua tak ada lagi yang menentang? Dahana Brasta bertanya untuk menegaskan.

Wilotikto dan Waspo Runggu saling berpandangan, akan tetapi satu sama lain tetap membungkam mulutnya.  

Sewaktu semua orang sedang berdiam diri, seorang berkata dengan

nyaring :

“Aku tak setuju.”

Semua orang menjadi heran. Semua mata diarahkan kepada si pembicara. Dan ternyara orang yang bicara itu adalah Indrajaya.

Wajah Dahana Brasta menjadi berubah.

“Apakah kau hendak merobohkan pamorku?” Tanyanya dengan pelan.

Indrajaya tertawa..........