-->

Tunggul Bintoro Jilid 03

 
JILID III

PADA saat itu datanglah serombongan orang-orang Jipang baru, dan bersama mereka itu terlihat pula dua orang laki-laki tinggi besar, rupa- rupanya mereka itu adalah pemimpin-pemimpin mereka. Orang pertama adalah seorang pendeta yang jenggotnya panjang, sombong sekali, dan dia inilah yang baru saja mengejek Paku Waja. Dan lainnya adalah seorang yang mempunyai mata besar dan berewok, sikapnya garang sekali.

Muka Paku Waja, menjadi sangat merah, ia merasa sangat malu atas ejekan itu, akan tetapi bukannya ia mengumbar kemarahannya kepada pendeta itu, hanya selagi Mintaraga berpaling, mendadak sontak ia menyerang pemuda itu.

“Awas” teriaknya sambil kedua tangannya maju bagaikan jepitan. Untuk menjepit pinggang lawan. Paku Waja menduga kalau Mintaraga tak akan bakal bisa lolos, atau kalau toh dapat lolos hanya dari sebelah tangannya saja.

“Celaka.” Teriak Mintaraga dengan terkejut sekali. Akan tetapi tetap saja pemuda ini tak menghindar barang sedikitpun juga.

Paku Waja menjadi sangat girang, ia percaya bakal berhasil. Akan tetapi setelah ia menjepit, ternyata tubuh yang dijepit itu sangat lembek bagaikan kapuk. Karena itu percuma saja ia mempunyai tenaga besar, karena tenaga itu sekarang tak ada gunanya. Ia sudah berusia lima puluh lebih, sudah banyak pengalamannya. Maka tahulah ia kalau telah terjebak, karena itulah maka ia cepat-cepat menarik kedua tangannya untuk dipakai melindungi dirinya sendiri setelah itu ia melompat mundur. Sekarang barulah ia merasa lega, akan tetapi dengan sendirinya iapun telah mandi dengan keringat. Ketika ia memandang kearah si perjaka itu ternyata pemuda itu tengah tertawa. Mintaraga sama sekali tak maju untuk menerjang. Karena itulah Paku Waja hanya berdiri dengan bengong. Namun tak lama kemudian ia merasa kepalanya ditiup angin, dan dengan perasaan heran lalu memegang kekepalanya. “Ah...“ Serunya dengan kaget. Paku Waja mendapat kenyataan, ikat

kepalanya telah robek, dirobek Mintaraga selagi tadi mereka berada didekatnya satu sama lainnya.

Mendengar seruan Paku Waja, pendeta itupun hanya tertawa saja.

Paku Waja menjadi sangat malu, dari malunya menjadi mendongkol dan gusar. Maka Paku Waja menjadi mengumbar kemarahannya.

“Binatang kau berani menyambut tanganku?” Tantangnya. Mintaraga hanya tertawa saja.

“Aku mau mengalah.” Katanya. “Maka kau majulah saja ki sanak.”

Paku Waja masih mengandalkan tenaga besar. Ia mengharapkan dengan mempergunakan tenaganya ini ia akan dapat mengembalikan kehormatnya. Kali ini adalah ketika yang paling baik, ketika ia maju dengan melompat ia mengerahkan tenaga dalamnya.

Mintaraga telah bersiap, ia memasang kuda-kudanya. Mintaraga melihat dengan tegas tangan musuhnya. Sebat luar biasa. Selain itu juga tepat sekali. Ia menggunakan jari kelingkingnya untuk menotok jalan darah lawannya. Dengan jalan inilah ia dapat melenyapkan tenaga musuhnya yang besar itu. Hebat sekali serangan ini.

Terdengarlah tubuh Paku Waja memperdengarkan suara keras, tubuh itu terpental sampai jauh dan terus roboh terguling.

Mintaraga tertawa bergelak-gelak.

“Kau.... kau.... menggunakan akal licik.” Seru Paku Waja dengan mendongkol, setelah itu ia segera merayap bangun. Ketika hendak menantang lagi, akan tetapi tiba-tiba saja ia merasakan kalau tubuhnya menjadi lemah dan tenaganya habis. Karena itulah ia menjadi sangat kaget dan ketakutan.

Pendeta itu tak menyangka sama sekali kalau anak ini mempunyai kesaktian yang boleh juga. Segera ia melompat maju. Tampaklah kalau pendeta itu memperlihatkan roman yang sungguh-sungguh.

“Hai bocah, apakah benar kau ini anak Darmakusuma?!” Tanyanya.

Dari lagak dan lagu suara pendeta ini, terang kalau orang yang baru datang dan menegurnya ini menganggap Darmakusuma sebagai golongan muda atau terangnya menganggap enteng Darmakusuma.

“Kalau benar bagaimana?” Tanya Mintaraga dengan mendongkol. “Coba kau hunus pedangnya supaya aku dapat melihat ilmu pedangmu.

Lekas aku hendak melihat ilmu silatmu anak!” Seru pendeta itu dengan tertawa lebar.

Mintaraga tercengang dia lalu tertawa besar.

“Kau rupanya adaalah Pendeta Panca Loka yang bergelar Pedang Pengejar Sukma.” Katanya. “Melayani kau dengan memakai pedang, itu akan menjadi sama saja dengan orang akan kentut harus mencopot dahulu celananya. Itulah tak perlu, dan hanya berlebih-lebihan saja !”  

Pendeta itu adalah jago keempat dari pahlawan-pahlawan Jipang

Panolan. Dulu pernah ia bentrok dengan perguruan Tegal Warna yang dikepalai oleh sembilan Wiku. Dalam pertandingan ia telah membunuh tiga orang Wiku, hingga dengan demikian yang enam lainnya terus kabur. Selama dua tahun lamanya ia telah mencari terus menerus keenam orang musuhnya. Akan tetapi tak antara lama berhasil pula ia membunuh mereka. Pendeta ini memang sombong dan kejam. Karena itulah orang-orang dari dunia kependekaran memberinya nama sebutan sebagai Pedang Pengejar Sukma. Ia termasuk dalam rombongan Paku Waja dan temannya yang menduduki tempat ketiga dan bernama Mandaraka.

Untuk menangkap ki Darmakusuma Ario Penangsang, telah memerintahkan kedua puluh satu pahlawan pilihannya keluar semuanya. Mereka ini dipecah menjadi tiga golongan. Yang terdepan adalah Jangkar Bumi dan Kolo Maruto. Rombongan tengah adalah Paku Waja yang beramai- ramai dengan kawan-kawannya. Sedangkan rombongan yang terakhir dipimpin oleh ki Patih Udara. Patih Udara adalah pepatih luar dari kerajaan Jipang Panolan yang sangat dipercaya Ario Penangsang dan gurunya, ki Sunan Kudus. Selain dua puluh satu jago ini masih pula ada beberapa orang sakti yang menggabung hingga dengan demikian setiap rombongan ada kurang lebih dua puluh sampai tiga puluhan orang.

“Kakang, bagaimana?” Tanya Panca Loka kepada kawannya yang memang terkenal sebagai orang yang berwatak licin.

“Kau bekuklah dia.” Jawab Mandaraka yang memang terkenal sebagai orang yang berwatak licin.

Dengan mata mencilak Pendeta Panca Loka memandang kearah Mintaraga dengan pandangan tajam dan penuh selidik.

“Bocah, Pedang Pengejar Sukma akan membekukmu.” Katanya. Untuk seumurmu ini adalah kesempatan yang paling gemilang untukmu.” Baru ia mengucapkan demikian, terus saja menghela napas. Dan kemudian menambahkan :

“Ah..... bagaimana aku ini dapat melayani seorang bocah yang tak ternama? Baik begini saja...”

Mendadak saja pendeta itu mengeluarkan dua buah golok terbang, dan terus ditancapkan keatas tanah lalu diinjaknya batang golok itu untuk menekan.

Bersama dengan itu tubuhnya limbung dan mukanya menunjukkan wajah yang ketakutan. Akan tetapi anehnya ia tertawa dan kemudian terdengarlah perkataannya :

“Aku sudah tua dan aku tak punya guna. Eh bocah mari kau naik kesini, jika kau sanggup merobohkan aku dari atas patok golok ini, kau benar-benar seorang yang berkepandaian tinggi dan menjadi pendekar tanpa tandingan dikolong langit ini.”  

Mendengar tantangan lawannya yang banyak petingkah ini maka

Mintaraga lalu tertawa dengan bergelak-gelak.

Pendeta Panca Loka masih kurang kalau tak dianggap jantan maka ia lalu berkata pula :

“Kau boleh datang dengan membawa pedang ataupun dengan tangan kosong sesukamulah. Aku sendiri? Jika aku menghunus pedang, Pedang Pengejar Sukma, apa jadinya dengan aku?

Ia menepuk kerangka pedangnya, lalu tertawa dengan lebar : ‘Ah... pendeta tua kau sombong sekali.’ Pikir Mintaraga.

‘Baiklah, paling bagus aku ditonton jikalau aku bikin dirinya kalah!’ Ia mengerutkan alis dan berpikir. Lalu ia menjawab :

“Baiklah aku juga tak akan menggunakan pedang! JikaIau didalam tiga jurus aku tidak dapat merobohkanmu ”

Pendeta Panca Loka heran, tapi ia mendesak. “Bagaimana?!” Tanyanya.

“Jikalau kau sampai tak rubuh, aku akan meminjam tenaga benda ini untuk mengambil jiwamu.” Jawab Mintaraga sambil menepuk kerangka pedangnya, dan terus saja ia tertawa berkakakan.

Paras pendeta itu berubah menjadi suram :

“Marilah.” Teriaknya dengan sengit.

“Baik!” Jawab Mintaraga terus menekukkan tangan kanannya, dengan itu ia menyerang kekanan pendeta, iapun menggunakan tujuh bagian tenaganya.

Pendeta Panca Loka tertawa besar melihat gerakan lawan yang dianggapnya biasa saja, cepat-cepat ia menekuk pinggangnya kesamping. Serangan ini hanya lewat disisinya, setelah itu dengan menancapkan kaki kirinya diatas gagang golok dengan sikap Ayam emas berdiri dengan satu kaki, kaki kanannya segera menyambar untuk meringkas.

‘Aku harus merobohkan dia.’ Pikir Mintaraga yang segera mendapatkan akal. Ia lalu menggaetkan kakinya, karena itulah maka tubuhnya menjadi miring kearah pendeta itu. Dengan sebat tangan kirinya lalu diulurkan kearah pinggang lawannya. Segera ia jatuh.

Pendeta itu segera tertawa terbahak-bahak.

“Ah.... kau tidak jatuh?” Ia menyindir. “mari. mari lagi sekali.”

Mintaraga merayap bangun dengan pelan-pelan, akan tetapi sementara itu tangannya telah tambah sebuah benda lagi. Ialah pedang Pendeta yang sangat dibangga-banggakan. Setelah bangkit dengan sebat, ia menghunus pedang itu sambil tertawa ia berkata :

“Inikah yang kau namakan Pedang Pengejar Sukma?” Lalu dengan kedua tangannya pedang itu dapat dipatahkan. Patah menjadi dua potong!  

Kakek pendeta itu menjadi kaget, mukanya dengan seketika menjadi

pucat. Kawan-kawannyapun menjadi melongo. Berdiri tegak dengan tak dapat berbuat apa-apa.

Pedang Pengejar Sukma ini memang bukan pedang mustika tapi pedang itu dibuat dari baja pilihan, kalau lawannya tak punya tenaga yang besar maka tak nanti ia akan dapat mematahkan pedang pengejar sukmanya itu. Karena hal inilah yang membuat semua orang menjadi terkejut.

‘Kelihatannya kakang Mintaraga ini jauh lebih sakti dari pada ayahnya.’ Pikir Candra Wulan. ‘Sajang sekali ia datang terlambat, ah. coba tidak maka

ayah angkatku tentu akan dapat ditolong. ’

Wirapati sebaliknya menjadi tegang sendiri. Ia menginsyafi bahwa lawannya itu benar-benar mempunyai kesaktian tinggi.....

“Sekarang jurus yang kedua !” Tiba saja terdengar perkataan Mintaraga

yang tak mempedulikan lagi musuhnya itu bingung atau tidak. Ia menekuk lagi tangannya seperti tadi, terus menolak dengan keras.

Lenyaplah kini kesombongan Pendeta Panca Loka, ia menjadi terkejut sekali ketika melihat kedatangan serangan itu. Walaupun toh lawannya telah memberi tahu sebelumnya. Segera saja ia menangkis serangan itu. Supaya dirinya jangan sampai dapat dirobohkan maka kakek itu lalu mengetrapkan kuda-kudanya dan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk bertahan. Dengan begitu ia membuat goloknya meleset masuk kedalam tanah Biarpun begitu, Pendeta Panca Loka tetap tak dapat menandingi anak muda itu. Ketika kedua tangannja beradu maka tampaklah tubuhnya bergoyang- goyang hendak jatuh.

“Celaka” teriaknya dalam hati. Keringat dinginnya terus mengalir dengan deras. Disaat itu ketika ia kaget, tiba-tiba ia merasa kalau tolakannya lenyap.

“Sudahlah dengan jurus ini aku memberi ampun kepadamu.” Seru Mintaraga dengan lantang.

Pendeta Panca Loka menarik napas panjang, lega! Secara mendadak timbul pula kesombongannya. Maka ia tertawa besar.

“Eh, bocah ilmu kepandaianmu tak dapat dicela.” Katanya sambil membawa aksi : “Dari mana kau mendapatkan pelajaran itu? Aku tahu dengan pasti bahwa ilmumu itu tentunya bukan kau dapatkan dari ayahmu si Darmakusuma.”

Mintaraga hanya mengganda dengan suara tawanya. Sedikitpun ia tak menjawab perkataan Pendeta Panca Loka yang sangat sombong itu.

“Ki Pendeta coba kau geser kakimu.” Seru Mintaraga.

Pendeta Panca Loka menjadi heran, segera ia mengangkat kakinya beberapa tindak. Mintaraga menghampiri golok yang telah menancap dalam, dan segera mencabutnya untuk ditancapkan ditanah yang lebih keras. Setelah menancapkan ia lalu melangkah mundur.  

“Tua bangka!” Tiba-tiba Mintaraga berteriak dengan lantang. “Tadi pada

jurusku yang pertama, kau terlalu memandang enteng, akan tetapi sebaliknya pada jurus yang kedua kau terlalu tegang. Sikapmu pada jurus yang kedua tadi telah melanggar peraturan kita orang dari dunia-dunia kependekaran. Yah dunia kependekaran melarang orang tegang dengan tak karuhan. Karena itu, bagaimana kau dapat mengatakan kalau kau tak kalah? Sekarang kau naiklah lagi keatas pelatok golokmu ini! Bukankah kita masih punya sebuah jurus yang terakhir?! Silahkan.”

Biarpun bagaimana sebagai seorang yang sombong, Pendeta Panca Loka tak sudi gampang-gampang menyerah kalah. Ia merasa malu. Maka dengan sebuah lompatan ia telah berdiri lagi diatas gagang goloknya.

“Mari.” Tantangnya. Pendeta Panca Loka itu berusaha sedapat-dapatnya untuk berbuat tenang. Siap sedia.

Mintaraga hanya melirik kearah pendeta itu.

“Jurus ketiga akan segera datang.” Serunya memperingatkan. “harap kau berhati-hati menerimanya.”

Untuk kesekian kalinya kembali pemuda itu menggerakkan tangan kanannya, dengan gerakan ini ia menolak.

Pendeta Panca Loka tak berani berlaku ayal. Segera ia mengerahkan semangatnya. Mengerahkan tenaga dalamnya dikedua lengannja. Dengan sekuat tenaga ia menangkis, menangkis dan menolak serangan lawan.

Kalau Mintaraga hanya menggunakan sebelah tangannya, maka Pendeta Panca Loka menggunakan kedua tangannya. Karena itu tampaklah tiga buah tangan bentrok diudara.

Kali ini benturan ketiga tangan itu tak mengeluarkan suara apa-apa. Hanya saja Pendeta Panca Loka merasakan kalau tangan lawannya yang masih muda ini tegak kuat, seperti berdirinya gunung Maha Meru, tak peduli ia telah menghabiskan semua tenaganya, tak dapat menggempurnya. Bergoyangpun tidak. Diam-diam ia merasa bersyukur karena dirinya tak tertolak roboh.

Masih saja mereka saling tolak menolak. Namun sejenak kemudian jago keempat dari pahlawan-pahlawan Jipang itu menjadi terkejut. Tiba-tiba saja ia merasakan kalau tenaga Mintaraga makin lama makin bertambah. Bahkan rasanya seperti tindihan gunung ambruk. Lekas-lekas ia menarik napas. Dengan sekuat tenaga ia berusaha membela diri.

Sekonyong-konyong Mintaraga berteriak :

“Roboh.”

Pendeta Panca Loka menjadi kaget sekali. Secara mendadak ia merasakan kalau dorongan lawannya itu telah lenyap. Namun sebagai gantinya, ia kena tarikan. Yah sebuah tarikan yang sangat keras dan kuat. Hingga dengan demikian ia tak dapat mempertahankan diri lagi. Bagaikan melesatnya anak panah, demikian tubuhnya terjerunuk kedepan sampai dua  

atau tiga langkah. Terus saja kakek Pendeta itu tersungkur mukanya kena tanah. Akibatnya hidungnya bengkak mulutnya pecah serta tiga buah giginya copot.

Akan tetapi itu bukanlah merupakan sebuah luka yang parah. Maka begitu ia memegng tanah, segera saja pendeta Panca Loka melompat bangun, hanya saja kini rupanya menjadi tak karuhan lagi. Mukanya dengan kotor penuh tanah. Mulutnya berlumuran darah.

Melihat kejadian ini, Paku Waja dan Jangkar Bumi tak tahan untuk menahan kegeliannya, karena itulah mereka lalu tertawa berkakakan. Mintaraga melompat kearah gadis itu dan diangkat tubuhnya untuk dibawa lari menjauhi Medan Pertempuran......

Memang diantara Paku Waja dan Pendeta Panca Loka terdapat bibit permusuhan, dimulut saja mereka baik, dihati. mereka tahu sendiri-sendiri.

Sekarang begitu ia melihat ketika yang dapat untuk membuat puas hatinya, sambil tertawa ia lalu berkata :

“Bagus sekali Pendeta Panca Loka yang terkenal dengan sebutannya sebagai Pedang Pengejar Sukma sekarang menjadi orang yang menyerah kalah kepada nasib. Huahaaaa.... Huahaaa.... Huahaaa ” Pendeta Panca Loka tak mengambil pusing akan olok-olokan itu.

Sebaliknya dengan wajah muram dan susah, ia merampas sebuah pedang dari kawannya dan menghampiri musuhnya :

“Mintaraga jangan kau banyak bertingkah.” Serunya. “Lihat aku akan membekukmu, akan kuseret kau ke Jipang Panolan. Setelah itu barulah kau mengetahui akan kesaktian Tokoh Keempat dari Pahlawan Jipang Panolan. ”

Setelah berkata segera pendeta Panca Loka menyerang lawannya.

Mandaraka ketika melihat anak pembrontak itu sedemikian saktinya, ia lalu berpikir. Jika pemuda ini tak segera disingkirkan, dibelakang hari pemuda ini akan merupakan bahaya mengancam kerajaan Jipang Panolan yang sedang dipupuknya. Karena itulah ia lalu hendak turun tangan. Segera saja ia mengeluarkan cambuknya, berulang-ulang ia mengayunkan cambuknya keudara. Karena suara cambuk yang menggelegar diudara maka keadaan menjadi berisik. Bersama dengan itu Mandaraka lalu memerintahkan anak buahnya.

“Maju semua!”

Didalam rombongan ini kedudukan Mandaraka adalah yang paling tinggi dengan seruannya ini maka semua jago-jago Jipang Panolan tak ada yang menjadi ragu-ragu untuk turun tangan. Maka dengan berteriak-teriak mereka lalu maju dan mengurung.

Malahan Paku Waja dan Jangkar Bumi yang telah terluka ikut maju pula. Begitupun dengan Kolo Maruto yang keningnya benjol dan bengkak.

“Semuanya telah maju.” Seru Mintaraga dengan gembira. “Sayang disini tak ada ki patih Udara dan kalau mungkin Ario Penangsang sendiri.”

Kali ini Mintaraga menghunus pedangnya, untuk memainkan ilmu pedang dari perguruannya yang terdiri dari tiga puluh enam jurus. Perjaka ini menggunakan pedang untuk melawan semua musuh yang mengeroyoknya.

Candra Wulan menjadi marah ketika melihat pahlawan-pahlawan Jipang ini mulai turun tangan dan mengeroyok. Gadis ini telah tak dapat menahan kesabarannya lagi, karena itulah ia lalu keluar dari tempat persembunyiannya sambil berteriak kepada Mintaraga :

Kakang Mintaraga jangan khawatir, aku akan membantumu.” Jangkar Bumi kenal kepada gadis ini, kemudian maju mencegat : “Bagus.“ Serunya. “Kali kau hendak lari kemana?!”

Candra Wulan tahu kalau ia bukan tandingan jago Jipang itu, akan tetapi ia benar-benr seorang gadis yang tak mengenal takut. Segera saja ia menyerang. Kali ini mereka berimbang. Hal ini karena Jangkar Bumi belum sembuh betul-betul dari bekas totokan Wirapati dan ditabas kupingnya, sedangkan oleh Mintaraga ia telah dilemparkan.  

“Adi Candra Wulan terima kasih.” Seru Mintaraga dengan tersenyum

akan tetapi segera ia bertanya lagi : “Mana ki Wirapati?!”

Baru saja ia menutup mulutnya segera ia melihat seorang berkelebat dengan berseru nyaring :

“Aku Wirapati berada disini. Aku memang baru mencarimu untuk menuntut balas.”

Akan tetapi Wirapati tak dapat maju mendekati Mintaraga, segera ia dirintangi oleh Kolo Maruto. Dia mendengar ketika pemuda ini menyebut dirinya sebagai Wirapati, maka Kolo Maruto menjadi girang sekali. Didalam hatinya ia berkata :

‘Jika aku dapat membekuk binatang ini, apakah itu bukannya sebuah jasa yang sangat besar?’ Karena adanya pikiran ini maka ia lalu meninggalkan Mintaraga, dan segera mengayunkan goloknya untuk membacok Wirapati.

Wirapati tertawa mengejek. Sama sekali ia tak takut menghadapi jago dari Jipang itu. Ketika goloknya sampai, ia segera mengelak, sambil mengelak tangannya menyamplok, maka golok besar musuhnya itu terpental.

Akan tetapi Kolo Maruto benar-benar hebat begitu goloknya terpental, terus saja ia meneruskan ayunan kembali untuk membabat pinggang lawan. Membabat dengan gerak tipu menangkap ikan menyambar ular.

Wirapati menjadi mendongkol, segera ia mencabut golok leluhurnya yang terbuat dari pada emas kuning. Begitu dicabut tampak sinar kuning berkilau-kilauan. Segera ia menangkis golok Kolo Maruto.

Tak dapat dicegah lagi sebuah bentrokan telah terjadi. Suaranya sangat keras dan menimbulkan bunga api yang berpancaran. Akan tetapi akibatnya sangat hebat bagi Kolo Maruto, selain goloknya terpental jatuh tangannya menjadi panas kesakitan dan gemetar.

“Huhh orang macammu itu apakah patut bersenjatakan golok?” Ejek Wirapati dengan mencibir.

Meninggalkan musuh ini, ia lalu menyerbu terus. Lima orang musuh mencegat dengan saling berganti-ganti. Akan tetapi hanya dengan dua atau tiga gebrak Wirapati telah dapat merobohkan mereka. Kolo Maruto tak berani maju lagi untuk menghadapi anak muda itu, ia lalu lari kearah Candra Wulan untuk menolong Jangkar Bumi. Yah menolong mengepung Candra Wulan.

Mandaraka menjadi gentar hatinya ketika melihat kalau mereka beramai-ramai itu belum juga dapat merobohkan musuhnya yang telah dikurung itu. Maka ia menjadi sangat kaget ketika musuhnya mendapat bantuan, akan tetapi ia kaget bersama dengan mendongkol. Karena ia tahu  

justru Wirapati tiba, dan menangkis serangannya kearah pinggang, sambil

menyerang iapun membentak.

Serangan jago Jipang ini adalah serangan istimewa yang luar biasa sekali cepatnya. Wirapati yang baru saja merubuhkan beberapa orang jago Jipang, ketika ia melihat serangan yang hebat tidaklah berani menangkis. Wirapati hanya mengelak kesebelah kiri serangan Mandaraka.

Mengira kalau lawannya itu akan menyerbu ketengah, untuk melakukan gerakan berdampingan dengan Mintaraga, Mandaraka berlaku gesit sekali. Ia berusaha menghalang-halangi maksud itu. Mandaraka adalah jago ketiga dari Jipang Panolan. Ilmu cambuknya benar-benar luar biasa sekali. Hingga dengan cambuk itu Wirapati tak berhasil mengalahkannya untuk menerjang maju. Biarpun Wirapati telah berusaha dengan sekuat tenaganya untuk menerjang.

Akhirnya Wirapati menjadi mendongkol, maka iapun lalu mengeluarkan kepandaiannya ilmu golok yang diajarkan oleh gurunya. Hingga dengan demikian goloknya menjadi berkelebatan seperti kilat menyambar-nyambar.

Belasan jurus kedua orang jago telah bertempur, tiba-tiba saja mereka mendengar suara berisik dari berbagai macam senjata. Ketika Mandaraka melirik, ia melihat Mintaraga sedang menghajar rombongan jago-jagonya, yang setiap senjata beradu dengan pedangnya, telah terbabat kutung.

Perjaka yang bernama Mintaraga telah berhasil menolak tubuh Paku Waja hingga jago keenam dari Jipang Panolan ini mencelat beberapa langkah, setelah itu ia lalu mendesak Pendeta Panca Loka beberapa tindak, lalu menggunakan kesempatan untuk melabrak jago itu. Bahkan kali ini Mintaraga menggunakan jurus burung merak mementang sayap. inilah ilmu keturunan keluarganya.

Mandaraka terkejut sekali ketika mengetahui kesaktian musuhnya itu, karena inilah maka gerakannya menjadi agak kacau. Kesempatan ini dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh Wirapati untuk merangsek dengan loncatan layang-layang menyambar untuk melewatkan perintangnya.

Sebelum ia dapat melompat jauh, Mandaraka yang sudah sadar segera melompat kepadanya, untuk menghajar dengan cambuknya. Cepat bagaikan kilat anak cambuk itu melayang mengancam batok kepala lagi jaraknyapun hanya tinggal sejengkal saja.....

Cambuk Mandaraka yang lemas ini dapat pula dibuat kaku, karena itulah daya serangnya dapat mencapai delapan tindak jauhnya. Inilah yang membuat Wirapati tertusuk oleh senjata setan itu, biarpun waktu itu Mandaraka sendiri belum sempat menyusulnya. Wirapati menjadi kaget sampai-sampai ia menjerit :

“Celaka.”  

Karena tak ada jalan lain, ia segera menjatuhkan diri dalam gerakan

trenggiling bergulingan diatas tanah. Ia memberikan pantatnya untuk dicambuk asal saja jangan kepalanya.

Didalam saat yang amat berbahaya bagi Wirapati itu, terdengarlah bentakan Mintaraga yang dengan pedangnya sudah melompat menghampiri Mandaraka. Segera saja pemuda itu menusukkan pedangnya kearah tangan Mandaraka dengan pedangnya yang mengeluarkan sinar kehijau-hijauan itu. Mandaraka melihat adanya bencana yang akan menimpa dirinya, dengan terpaksa ia menarik kembali cambuknya dan dengan sebat lalu menghindarkan diri, untuk menyingkir dari ujung pedang itu. Akan tetapi kelihatannya terlambat! Dengan begitu maka Wirapati dapat lolos dari mala

petaka.

Mintaraga tak berhenti sampai disini saja.

“Kau hendak lari kemana?” Tegurnya. Setelah berkata demikian ia lalu melompat untuk mengejar dan mencegat.

Dengan terpaksa Mandaraka melayani musuhnya ini. Ia sebenarnya mempunyai ilmu meringankan tubuh yang hebat, akan tetapi menghadapi Mintaraga itu, Mandaraka masih kalah jauh. Tak dapat ia menjauhkan diri meskipun telah berulang kali dicobanya.

‘Binatang itu telah terluka oleh pedangku, akan tetapi mengapa ia belum juga roboh, ah.... sungguh-sungguh hebat dia.’ Pikir Mintaraga, yang mengagumi ketangguhan lawannya. Karena itulah maka ia lalu menjadi makin penasaran. Ingin rasanya ia memberi hajaran. Justru itu, dari arah belakangnya, ia mendengar teriakan :

“Kakang Mintaraga kemarilah lekas!”

Inilah teriakan Candra Wulan yang telah dikepung oleh Jangkar Bumi dan Kolo Maruto. Tentu saja ia segera berada dibawah angin Candra Wulan adalah seorang gadis yang keras kepala, walaupun ia telah keteter, tak mau ia minta pertolongan. Kebandelannya inilah yang membuat golok ditangan Kolo Maruto dapat melukainya. Sedangkan tongkat Jangkar Bumi hampir saja mengenainya pula. Barulah sekarang ia menjadi jeri, maka tanpa malu lagi lalu memanggil kepada kakak angkatnya, Mintaraga!

‘Hai Mintaraga, kau tolol.’ Mintaraga telah menegur dirinya sendiri. Ia telah melupakan gadis itu, karena kesibukannya melawan orang-orang Jipang Panolan yang mengeroyoknya. Begitu mendengar teriakan Candra Wulan segera ia menjawab :

“Adi Candra Wulan, jangan takut aku segera datang!”

Tanpa membuang waktu lagi ia lalu berlari-larian, dan beberapa lompatan saja ia berada ditempat Candra Wulan, malahan segera menunjukkan kesaktiannya. Ia menyerbu diantara kedua orang pengurung gadis itu. Belum sempat Jangkar Bumi dan Kolo Maruto akan berbuat apa- apa, keduanya masing-masing telah kena dihajar oleh pemuda sakti itu.  

Hingga dengan demikian tubuh mereka menjadi terpental. Jatuh terbanting

dengan keras hingga jatuh pingsan.

Ketika Mintaraga memandang kearah tubuh Candra Wulan maka tampaklah kalau paha adik angkatnya mengeluarkan darah. Ia menjadi marah sekali.

“Kurang ajar.” Serunya. “Jika aku tak membuat habis para cecunguk ini, percuma saja aku dipanggil Mintaraga.” Segera ia melihat sekitarnya.

Mandaraka tak mencebur pula dalam kancah pertarungan, kakek ini tengah membalut lukanya. Adapun Pendeta Panca Loka dan Paku Waja yang sedang mengeroyok Wirapati, dan Wirapatipun telah dikepung oleh para jago-jago dari Jipang Panolan. Tadinya jago-jago itu mundur jauh-jauh karena takut kepada Mintaraga, sekarang mereka datang mendekat untuk membantu Pendeta Panca Loka dan Paku Waja.

Baru saja Mintaraga hendak memburu kearah Wirapati untuk memberi bantuan, akan tetapi ia menjadi terkejut sekali ketika tiba-tiba saja, mendengar suara bergedebukan dibelakangnya. Dan ketika ia berpaling. Ternjata kekagetannya menjadi bertambah, ternyata Candra Wulan telah roboh pingsan. Hal ini karena gadis itu telah mengeluarkan darah terlalu banyak dari dalam lukanya.

Sepuluh tahun lamanya Mintaraga tak pernah pulang kerumahnya, selama itu iapun tak pernah bertemu dengan ayahnya. Akan tetapi dari kabar-kabar yang telah didengarnya ia tahu kalau ia telah mempunyai seorang adik angkat. Karena itulah tak bersangsi lagi, malahan tanpa ambil pusing lagi kepada ujar-ujar kuno yang mengatakan bahw lelaki dan wanita itu tak boleh bersentuhan. Ia melompat kearah gadis itu dan mengangkat tubuhnya, dipeluk dan setelah itu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya ia melarikan diri menjauhi dari medan pertarungan.

Setelah tiba ditempat yang aman, ia lalu mencari sebuah lubang gua dan setelah itu masuk kedalamnya. Dengan hati-hati ia memilih tempat yang layak dan baik untuk menurunkan tubuh Candra Wulan. Dengan cepat ia mengeluarkan bungkusan ramuan obat-obatan, ada ramuan yang lalu dipoleskan ketempat luka gadis itu, setelah itu dibalut dengan robekan bajunya. Setelah itu ia lalu memasukkan bulatan obat kedalam mulut adik angkatnya ini.

Beberapa saat kemudian Candra Wulan sadar dengan pelan-pelan. Begitu ia membuka matanya ia melihat Mintaraga berada dihadapannya. Candra Wulan melihat seraut muka yang tampan, bahkan mata pemuda tampan itupun sedang mengawasinya.

“Masih sakitkah kau adi Candra Wulan?” Tanya pemuda itu sambil tersenyum.

Candra Wulan menggunakan tangan kanannya untuk menahan tubuhnya, pelan-pelan ia berusaha bangkit dan duduk. Setelah menebarkan  

pandangannya ketempat sekitar, hingga ia mengetahui bahwa dirinya telah

berada ditempat yang aman dan sunyi. Tanpa merasa wajahnya berubah menjadi merah dadu.

“Mana kakang Wirapati?” Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Mintaraga tadi. “Manakan orang-orang Jipang tadi? apakah kau telah membunuh habis mereka kakang?!”

Mintaraga menggelengkan kepalanya. Ia tak segera menjawab karena pemuda ini sedang menimbang-nimbang. Ia harus menolong Wirapati atau jangan. Wirapati telah terang-terangan mengatakan kalau hendak mencari ayahnya, yah mencari ayahnya untuk membuat perhitungan. Maka dengan sendirinya, dia itu adalah musuhnya sendiri. Sekarang Wirapati sedang dikurung oleh orang-orang Jipang, tentunja ia berada diambang bahaya.

Sementara itu, orang-orang Jipang Panolan juga ia anggap sangat menjemukan sekali. Bukankah bangsa kawanan Jipang itu yang menjadi sebab musababnya maka ketiga orang keturunan Tumenggung Malangyudo, Tumenggung Kertoyudo dan Tumenggung Sorohnyowo menjadi bermusuhan satu dengan lainnya? Lalu ia ingat akan pesan yang sangat diwanti-wanti oleh Pendeta Argo Bayu, gurunya. Antara lain kata-kata yang diukir dalam hatinya ialah :

“Setiap orang yang memusuhi. Jipang Panolan yang telah berkhianat itu adalah kawan kita. Kecuali kalau Jipang telah berubah.”

Kata-kata ini diucapkan ketika ia hendak turun gunung dengan cita-cita membereskan keruwetan diantara ketiga keluarga itu, ia berusaha untuk menghabiskan permusuhan. Bahkan ingin selalu menggalang kekekalan dalam persahabatannya dengan keturunan orang-orang yang telah mengangkat saudara dengan para leluhurnya. Karena itu ia sudah selayaknya kalau harus menolong Wirapati dari kesusahan itu.

Karena mendapat pikiran yang demikian maka telah pastilah sudah pikiran anak muda itu.

‘Bapa guru benar.’ Katanya seorang diri. Perkataan ini dikatakan dengan nyaring. “Wirapatipun sahabatku, bahkan saudaraku.”

Candra Wulan menjadi kaget bukan main ketika mendengar perkataan pemuda itu yang tak tentu ujung pangkalnya. Ia masih tetap mengawasi pemuda itu. Ingin ia menanyakan keterangan kepada Mintaraga, akan tetapi sebelum ia keburu membuka mulutnya, Mintaraga telah melompat lari keluar gua. Candra Wulan menjadi heran dan terus bangkit berdiri niatnya untuk menyusul.

Baru saja ia berjalan.... bruk.... kembali ia telah roboh terguling. Dari lukanya terbitlah rasa yang sangat sakit. Hingga gadis yang keras kepala itu tak dapat melawan perasaan itu.

Mintaraga berlari terus hingga ia tiba dilembah dimana pertempuran tadi berjalan dengan seru. Belum lagi ia sampai ketempat Wirapati. Ia  

melihat disamping Wirapati telah ada sembilan orang resi yang bertempur

dipihaknya. Jubah para resi itu berwarna kuning jeruk dan tubuh serta wajahnyapun sangat luar biasa. Begitupun dengan cara berkelahinya. Sama sekali mereka itu tak menggunakan senjata. Hanya dengan tangan kosong mereka itu menjambaki musuh-musuhnya. Kawanan jago-jago Jipang itu menjadi kelabakan setengah mati, hingga mereka terpaksa mencoba menyingkirkan diri. Hanya ada lima orang jagonya : Mandaraka, Pendeta Panca Loka, Paku Waja, Kolo Maruto dan Jangkar Bumi telah tak ada diantara mereka.

Mintaraga telah melihat kesaktian sembilan orang resi itu. Akan tetapi ia tak kenal kepada mereka. Bahkan tak tahu mereka itu dari golongan mana. Ia tidak berpikir untuk terus turun gelanggang, karena ia tahu kalau Wirapati telah tak memerlukan bantuan lagi. Karena itulah ia lalu duduk menonton pertempuran itu dari kejauhan.

Resi-resi itu berlaku dengan telengas sekali, maka kesudahannya, semua orang-orang Jipang itu tak ada yang dapat lolos hidup. Semuanya telah mati dibinasakan.

Belum lama Mintaraga turun gunung, belum pernah ia membunuh orang. Sekarang ketika ia menyaksikan pembunuhan itu hatinya menjadi terkesiap, hatinja itu dirasakan sangat dingin.......

“Tidakkah pertempuran ini memuaskan?” Seru seorang resi dengan nyaring sambil tertawa besar. “Hem hanya sayangnya Mandaraka sempat pula melarikan diri.”

“Pendeta bajingan Panca Lokapun sempat melarikan diri.” Kata resi yang lain.

“Akan tetapi jangan putus asa.” Seru resi yang ketiga sambil tertawa lebar. “Bukan hanya sekarang saja waktunya untuk membinasakan mereka. Masih ada ketika lain. Kakang coba katakan dapatkah dua puluh satu jago- jago Jipang itu melawan Sembilan Resi Sakti. Dapatkah mereka bertahan atas gempuran kita?”

“Kau benar.” Jawab resi yang dipanggil kakang itu. “Biar kita memberi ampun kepada mereka barang tiga atau empat bulan lagi.” Sekarang marilah kita pergi.

Lalu dimulai dengan orang yang dipanggil kakang itu, resi-resi itu segera bertindak pergi. Mereka pergi masih terus bercakap –cakap. Sikap mereka itu sangat sombong sekali, seolah-olah mereka itu tak melihat adanya Wirapati yang tadi bertempur dipihaknya. 

Wirapati diserang Mandaraka, sewaktu ia sedang repot melayaninya datanglah Pendeta Panca Loka dan kawan-kawannya terus langsung mengurung, hingga dengan demikian nyawanya terancam maut. Melihat ini memanglah hatinya menjadi kecut, akan tetapi terus mengadakan perlawanan dengan nekad sekali.  

Diwaktu Wirapati dalam keadaan bahaya tiba-tiba saja datanglah resi

itu, dan tanpa mengeluarkan perkataan apa-apa lalu menyerang kearah Mandaraka dan kawan-kawannya. Belum lama Mandaraka berlima telah meninggalkan tempat itu tanpa mengurusi anak buahnya. Karena kelicikan Mandaraka ini maka akibatnya semua anak buahnya meninggal dengan secara mengenaskan sekali.

Melihat sikap itu Wirapati menjadi melongo. Akan tetapi segera ia sadar dari lamunannya.

“Sembilan bapa resi!” Teriaknya memanggil kesembilan orang resi yang sombong-sombong itu. “Siapakah kalian? Harap kalian sudi meninggalkan nama bapa resi semua. Kalian telah menolong aku, budimu tak nanti dapat kulupakan, suatu waktu aku pasti akan membalasnya.”

Sembilan orang resi itu menengok, mereka semuanya lalu tertawa bersama-sama.

“Budi apakah yang hendak kau balas?” Seru salah seorang diantara mereka itu.

“Apakah kau kira kami datang untuk membantumu?” Seru yang lain dengan tertawa lebar.

Wirapati menjadi heran, segera ia bertindak hendak mengejar sambil berteriak :

“Aku yang rendah bernama Wirapati.” katanya. Akan tetapi tak dapat ia meneruskan perkataannya sebab salah seorang resi itu telah memperdengarkan perkataannya :

“Kami mempunyai urusan penting untuk segera diselesaikan, tidak dapatkah kau segera menutup mulutmu?!”

Kembali Wirapati melongo. Pemuda ini benar-benar heran sekali. Siapakah sembilan resi itu? Ia terus memandang belakang mereka itu hingga bayangan sembilan resi itu hilang dari pandangannya. Akhirnya ia berseru dengan sengit.

“Hemm..... segala manusia-manusia yang sombong!” Serunya dengan geram.

Sewaktu ia berdiri ia mendengar suara halus dan perlahan dari belakangnya, suara itu terang menegur kepadanya :

“Ki Wirapati, tahukah kau siapa mereka itu?!”

Mendengar ini Wirapati berpaling dengan segera. Memang pemuda ini menjadi terkejut ketika mendengar suara yang datangnya dengan tiba-tiba itu. Karena itulah tak mengherankan kalau ia memutar tubuhnya sambil bersiap siaga, yah khawatir kalau nanti akan mendapat serangan yang datangnya dengan secara mendadak. Begitu ia berpaling, segera saja ia mengetahui kalau yang memanggilnya adalah Mintaraga.

Perjaka itu kelihatan berdiri dengan sangat tenang, mengawasi dirinya dengan sebuah senyum yang manis. Wajar, bukan sesuatu yang dibuat-buat.  

“Siapa yang tahu.” Jawabnya dengan nada dingin. Bahkan sangat

dingin. Bukankah pemuda yang menegurnya itu juga orang yang menjadi musuhnya pula?

Mintaraga tak menjadi marah atau mendongkol atas jawaban yang bernada dingin ini. Akan tetapi malah sebaliknya, ia tertawa dengan riang.

“Nanti sesampainya di Karang Bolong laut Kidul, kau akan tahu.” Katanya sambil tertawa. Lalu dengan menghela napas, dengan nada yang sangat menyesal, ia menambahkan perkataannya :

“Benar-benar musuh ayahku ini banyak sekali...”

Wirapati tidak mempedulikan lagi akan sikap dan perkataan perjaka yang berada dihadapannya itu, tiba-tiba saja ia menghunus goloknya.

“Mintaraga.” Katanya dengan keras. “Ayahku mati dengan penasaran, apakah pendapatmu tentang perasaan sakit hati yang dalam sekali itu.”

Mintaraga masih tetap saja dengan sikap yang sabar dan tenang tadi. “Baiknya kau turutlah aku pergi ke Karang Bolong daerah Laut Kidul.”

Katanya dengan perlahan.

“Aku tak akan sedemikian tolol.” Bentak Wirapati dengan dingin. “Untuk apakah aku meninggalkan pergi yang masih hidup! Dengan pergi ke Karang Bolong siapakah yang hendak kucari?” Setelah berkata demikian kembali ia membentak :

“Mintaraga ayahmu telah banyak melakukan pekerjaan yang tak halal, sudah tentu karena perbuatannya itu ia telah mewariskan bencana kepada anak cucunya. Aku tahu, dengan dirimu pribadi aku tak mempunyai permusuhan apa-apa.”

Selain itu akupun tahu pula bahwa aku ini bukannya lawanmu. Akan tetapi kalau perasaan sakit hati ayahku tak kubalaskan, bagaimana besuk kalau aku pulang ke akherat untuk menghadap kearwah para leluhurku? Karena itu, marilah disini kita memutuskan siapa yang berhak hidup diatas alam raya ini.”

Perkataan ini disusul dengan datangnya sebuah bacokan.

Mintaraga sangat heran ketika melihat sikap yang kasar ini, akan tetapi karena ia dibacok terpaksalah ia membela diri. Segera Mintaraga bergerak mengelak dengan cepat. Gerakan ini tak dilakukan dengan kepalang tanggung terus saja ia menyambar tangan Wirapati yang tengah menyerangnya.

Melihat gerakan Mintaraga ini segera Wirapati menarik pulang senjatanya, kemudian dengan cepat dipakai untuk membacok kelain jurusan.

Kembali Mintaraga mengelak.

“Eh.... benar-benarkah kau hendak menantangku berkelahi?” Tanyanya dengan tegas. Sekarang tak mau ia hanya bergerak untuk mengelak saja. Segera ia melakukan serangan-serangan pembalasan dengan hebat.   Kepandaian Wirapati memang seimbang dengan kepandaian Mandaraka. Akan tetapi kalau dibandingkan dengan kepandaian Mintaraga ia masih harus belajar lagi dengan giat baru dapat menyamainya. Hingga dengan demikian baru pertempuran berjalan sampai sepuluh jurus, Wirapati telah kelihatan terdesak. Namun Wirapati benar-benar seorang pemuda yang berdarah panas dan kepala batu. Ia tak mau melihat kenyataan ini. Terus saja ia berlaku nekad.

Tiba-tiba saja ia merasakan kalau tangannya seperti terjepit sebuah besi, dan goloknya terlepas dari tangannya. Golok itu berdentang jatuh ketanah....

“Ki Wirapati apakah arti perkataanmu tadi?!” Tanya Mintaraga dengan suara halus dan tetap sabar.

Wirapati mencoba berontak akan tetapi tetap saja ia tak berhasil melepaskan tangannya dari pegangan tangan Mintaraga. Segera ia menggerakkan tangan kirinya untuk menotok jalan darah pundak kanan pemuda itu, yah pemuda yang dianggap sebagai keturunan dari musuh besarnya. “....... marilah disini kita memutuskan siapa yang berhak hidup diatas Alam Raya ini!”

Mintaraga tak mengelak, bahkan juga tak menangkis. Hanya saja ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi bagian yang ditotok lawan itu.  

Wirapati kaget. Ia merasa kalau totokannya itu berhasil mengenai

pundak lawannya. Akan tetapi ia sendiri merasakan kalau tangannya jadi sakit sekali bahkan rasa sakitnya sampai meradang keulu hati. Karena itulah ia menjadi mendongkol.

“Aku tak mau bicara.” Jawabnya dengan kaku. “Hendak kulihat kau dapat berbuat apakah denganku?!”

Mintaraga tertawa dingin. Mendadak saja ia melepaskan pegangannya sambil mendorong, hingga dengan demikian Wirapati terpelanting sampai lima atau enam tindak jauhnya.

“Jika kau tak mau bicara mungkin aku nanti akan memaksamu. Akan menggunakan kekerasan” Katanya. “Hanya dengan kepandaianmu itu kau hendak mencari ayahku untuk menuntut balas, kau ini sungguh-sungguh seorang tak tahu tingginya langit tebalnya bumi.” Wirapati sangat mendongkol dan menyesal sekali. Ia mencari turun gunung dengan sebuah cita-cita yang besar. Ia menganggap kalau dirinya telah pandai dan tak ada orang yang dapat mengalahkanya. Wirapati yakin benar kalau akan dapat mengalahkan Garuda Sakti yang bernama Darmakusuma.

Akan tetapi sekarang ludaslah sudah segala harapannya. Ia kalah sakti dari Mintaraga. Justru Mintaraga adalah keturunan musuh besarnya. Segera ia mengambil goloknya, dan didalam hati ia berkata.

“Baiklah aku akan pulang kegunung, aku akan lebih giat lagi belajar silat lebih jauh. Kemudian setelah aku mempunyai kepandaian tinggi barulah aku mencarimu...!” Setelah menyarungkan kembali goloknya ia terus menggeloyor pergi.

Mintaraga tak mempedulikan lagi. Hanya ia ingat ayahnya, iapun lalu melangkah menuju kelaut Kidul...

Belum lama Mintaraga berjalan tiba-tiba saja telinganya mendengar tindakan kuda berlari disebelah belakangnya. Segera ia menoleh, dan terlihatlah kalau penyusul itu adalah Candra Wulan.

“Kakang Mintaraga, jangan kau pergi ke Karang Bolong.” Seru gadis itu dengan cepat.

“Mengapa?” Tanya Mintaraga dengan tak mengerti.

Candra Wulan loncat turun dari kudanya, sambil menuntun kudanya gadis ini lalu menghampiri Mintaraga.

“Kakang Mintaraga, ayahmu..... ayahmu telah meninggal....” Katanya dengan menangis.

Mendengar perkataan Candra Wulan itu Mintaraga berdiri terpaku.

Sesaat ia tak dapat berbuat apa-apa.

“Apa? Apa kau bilang?!” Tanyanya setelah ia sadar dari lamunannya. “Ayahmu telah meninggal dunia.” Jawab gadis itu dengan menangis

terus-menerus.  

Sekarang Mintaraga telah mendengar tegas sekali, tiba-tiba saja ia

berteriak keras. Setelah berteriak tubuhnya terus terhuyung-huyung roboh.

Candra Wulan menjadi kaget bukan main. Tak tahulah ia bagaimana harus menolong, maka ia lalu duduk bertimpuh disamping anak muda itu dan menangis sekeras-kerasnya. Akan tetapi didalam tangisnya itu tiba-tiba saja didalam pikirannya teringat sesuatu.

‘Semua orang bilang kalau ayahnya adalah musuhku, yah musuh keluargaku. Sebab ayahnya telah membunuh ayahku.’ Demikianlah pikirnya. ‘Benar juga yang dikatakan Wirapati, jikalau sakit hati ayahnya tak dibalaskan, lalu bagaimanakah besuk kalau ia harus menghadap arwah leluhurnya? Sekarang tinggal mudah saja aku menabas lehernya. Bukankah dengan demikian perasaan sakit hati ayahku telah dapat dibalaskan. ?’

Ia memandang muka Mintaraga, tampaklah sebuah muka yang pucat. Ia segera teringat bagaimanakah pemuda ini telah menghajar jago-jago dari Jipang Panolan. Bagaimana gagahnya pemuda ini..... ‘Orang macam dia ini siapakah yang sampai hati untuk membunuhnya?’ Pikir Candra Wulan. Akan tetapi segera saja gadis itu mempunyai pikiran lain. ‘Baru pertama kali aku bertemu dengannya. Dalam pertemuan yang pertama kali ini aku telah mendapatkan sebuah kesan baik darinya. Didalam kelakuan dan kepandaian, Wirapati tak dapat disamakan dengan pemuda gagah ini. Ah

aku mempunyai seorang kakak semacam dia ini, sungguh tak kecewalah hidupku ini. ’

Memikirkan hal ini maka jantung Candra Wulan berdebar makin keras. Mukanyapun menjadi merah dengan sendirinya. Tiba-tiba saja ia melompat bangun.

‘Hai, bagaimana ini bisa terjadi?’ Tanyanya kepada dirinya sendiri. ‘Jika dia ini benar-benar anak musuh besarku yang telah membunuh ayah, dengan cara bagaimanakah dia dapat menjadi kakakku?’

Candra Wulan segera berdiri terpaku, hatinya menjadi ragu-ragu. Pikirannya bekerja keras. Sesaat ia teringat akan musuh, akan tetapi dilain waktu gadis ini terpengaruh oleh perasaan cinta. Karena itulah tak dapat ia mengambil keputusan.

Lagi sesaat telah lewat, mendadak saja Candra Wulan memegang gagang pedangnya, tampaklah gadis itu telah siap akan menghunus pedangnya yang tajam. Agaknya ia telah berhasil mengambil sebuah keputusan. Adakah ia hendak membunuh Mintaraga? Bukan....

Gadis ini, terhadap Mintaraga yang baru pertama kali dikenalnya dan dijumpai ini telah mendapat kesan yang luar biasa sekali. Ia telah membayangkan kalau Mintaraga mati, hidupnya pasti tidak ada sarinya lagi.... Maka ia tertindak pelan-pelan menuju kekubangan yang berada didekatnya. Dari kubangan itu ia mengambil air yang terus dimasukan kedalam sarung pedangnya, setelah sarung pedingnya penuh berisi dengan  

air kembalilah gadis itu menuju kesamping Mintaraga. Sejenak ia bersangsi,

akan tetapi segera ia menuangkan air itu kemuka Mintaraga.

Bagaikan orang kaget, Mintaraga terus sadar dengan mendadak.

“Siapa pembunuh ayahku, siapakah yang membunuh ayahku?” Teriaknya berulang-ulang. Pemuda sakti itu kelihatan sedih sekali dan air matanya turun dengan deras.

Candra Wulan teringat akan kebaikan ki Darmakusuma atau yang dikenalnya sebagai ki Plompong selama enam belas tahun. Selama itu ia dirawat dengan baik, dididik, disaat yang terakhirpun ki Plompong masih sayang kepadanya. Seketika itu juga lenyaplah perasaan benci atau permusuhannya dengan Mintaraga. Maka iapun lalu menangis dengan sedih......

“Sudahlah kakang.” Katanya kemudian, setelah menguatkan hatinya. “Bukankah kakang ingin mengetahui segalanya dengan jelas bukan?”

Tanpa menunggu jawaban Mintaraga, Candra Wulan lalu menceritakan segala kejadian yang menimpa ki Darmakusuma dari tiba sampai keajalnya.

Mintaraga terus mendengarkan dengan tanpa mengeluarkan sepatah perkataanpun. Nmun hatinya berduka campur marah. Sakit dan panas hatinya itu. Hingga untuk menahan perasaan marahnya ia lalu menggertak gigi. Dan akhirnya ia mendongakkan kepalanya keatas langit seperti orang berdoa dan katanya :

“Eyang Pendeta Baudenda telah membunuh ayahku, ya sudah, akan tetapi mengapa perkumpulan Tengkorak Berdarah ikut-ikutan segala? Kalau aku tak dapat membasmi mereka maka bagaimana aku dapat dipanggil Mintaraga sebagai anak ki Darmakusuma?”

Candra Wulan sangat heran ketika mendengar kakaknya ini mengatakan ‘ya sudah’ mengenai hal pendeta Baudenda. Hal ini benar-benar membuat Candra Wulan jadi tak mengerti.

‘Apakah benar kau hendak mendiamkan saja pendeta keparat itu?’ tanyanya kepada dirinya sendiri. Segera terbayanglah wajah pendeta jahat itu, begitu terbayang wajah pendeta ini maka kebencian Candra Wulan kepada Baudenda menjadi berkobar lagi. Sebenarnya ia ingin menanyakan keterangan kepada Mintaraga, akan tetapi ia tak berani. Ia melihat dengan jelas akan wajah yang merah padam karena menahan kemarahannya. Juga waktu itu Mintaraga telah melompat lari tanpa bilang apa-apa.

Dalam bingungnya Candra Wulan cepat-cepat melompat keatas kudanya untuk menyusul kakak angkatnya ini.

Benar-benar luar biasa sekali ilmu meringankan tubuh Mintaraga, ia dapat lari dengan pesat. Hingga pemuda itu sanggup lari bersama dengan kuda Candra Wulan. Telah sepuluh kilo lebih ia berlari, akan tetapi tak kelihatan tanda-tanda kalau pemuda itu menjadi letih. Mukanya tak berubah,  

napasnyapun tak memburu. Diam-diam hati Candra Wulan mengagumi

akan kegagahan pemuda ini.

“Kita pergi kelaut kidul?” Tanya Candra Wulan dengan pelan. Akan tetapi keduanya tetap berlari terus. “Baiklah disana kita mencari dan kemudian mengangkat tubuh ayah, kemudian kita menguburnya dengan baik-baik. Lebih dahulu kita lakukan kewajiban seorang anak kemudian barulah kita memikirkan yang lain-lain.”

Selama berlari itu dapat juga Mintaraga menenangkan hatinya. Karena itu ketika ia mendengar perkataan gadis tadi iapun lalu menganggukkan kepalanya.

“Kau benar adi Candra Wulan.” Jawabnya. “Kita mesti ke Laut Kidul dan Karang Bolong. Disana banyak urusan penting yang harus diselesaikan.” Candra Wulan merasakan kalau panggilan Mintaraga yang baru saja diucapkan ini jauh lebih lunak dan mesra dari pada panggilan-panggilan

yang telah lalu.

“Ya kakang.” Jawabnya dengan halus.

Karena mereka terus bercakap-cakap selama berada diperjalanan maka perjalanan itu bukanlah sebuah perantauan yang mati ataupun bisu. Satu sama lain tak merasa kesepian.

Setelah dua hari melakukan perjalanan maka sampailah mereka itu ketempat yang dituju. Begitu mereka sampai, hati mereka lalu menjadi dingin. Didaerah Laut Kidul ada sebuah desa yang berpenduduk antara dua sampai tiga ratus rumah. Kebanyakan mereka itu adalah nelayan-nelayan. Akan tetapi kini rumah-rumah itu telah lenyap. Penduduknyapun tak kelihatan barang seorangpun juga. Rumah-rumah yang tadinya berdiri disitu telah menjadi abu dan tempat itu telah menjadi sebuah lapangan yang kosong. Menyedihkan! Kalau ada hanyalah tinggal sisa-sisa puing-puing kayu yang kuat. Jendela, penglari, mungkin pintu yang belum musnah. Akan tetapi sisa api masih ada, asappun masih mengepul. Ini menandakan kalau bahaya belum lama menyerang mereka. Akan tetapi yang paling hebat adalah ketika melihat mayat-mayat yang bergelimpangan. Ada yang tersusun saling tindih menindih, ada yang menggeletak disana-sini. Dan sebagian besar mayat-mayat itu tak utuh. Ada yang telah kutung kakinya, ada pula yang telah kehilangan tangan. Bahkan ada yang perutnya pecah atau kepalanya hilang. Sedangkan darah mereka membasahi bumi sekitarnya. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat hebat.

Melihat kejadian ini Candra Wulan menjadi bergidik. Bulu romannya bangkit berdiri. Sambil menjerit ia lari kearah rumahnya, akan tetapi ia mendapatkan rumah itu telah musnah. Musnah dimakan api dan hanya tinggal puing-puing penglari yang masih kelihatan mengepulkan asap. Juga selain itu masih pula terdapat peti yang menggeletak dirumah kosong itu.  

Tak salah lagi desa ini tentunya habis dirampok oleh penjahat lalu ditinggal

pergi begitu saja.

Hampir kalap Candra Wulan berteriak-teriak memanggil seseorang. Akan tetapi mana ia mendapat jawaban? Disitu tak terlihat bayangan orang lain kecuali mereka berdua?

“Hai, siapakah yang melakukan semua ini?” Tanyanya dengan parau. “Kita terlambat.” kata Mintaraga, yang kelihatan sangat berduka.

Suaranya pelan parasnyapun guram.

Keduanya melihat kesekelilingnya. Habislah sudah desa nelayan itu. Diantara bau sangit dan memuakkan suasanapun sangat menyeramkan hingga tak kuat hati untuk memandang lebih lama lagi.

Memandang kelautpun tak tampak sebuah perahu ikan yang tengah berlayar seperti setiap harinya. Didaratpun banyak terdapat perahu-perahu yang telah hancur. Kandas setengah tenggelam. Kelihatan kalau perahu- perahu itu dirusak orang. Mungkin selain dirusak sebagian ada pula yang dibawa kabur oleh para penjahat itu.

“Pasti ini perbuatan yang amat bagus sekali dari orang-orang yang tergabung dalam perkumpulan Tengkorak Berdarah.” Kata Candra Wulan kemudian. Suaranya keras dan matanyapun terbuka dengan lebar. “Kakang Mintaraga benar perkataanmu tadi, maka sekarang aku hendak membantumu memusnahkan perkumpulan Tengkorak Berdarah. Hanya dengan begitu saja aku dapat merasa puas.”

Ada sebabnya mengapa Candra Wulan menjadi demikian sakit hatinya. Selama Ki Plompong bersembunyi dan tinggal didesa para nelayan ini, karena kakek ini mengerti akan ilmu silat dan ilmu sastra, selain itu sikapnya juga baik, mereka berdua telah mendapatkan simpati dari para penduduk. Dihormati, disayangi hingga mereka itu benar-benar bagaikan pemimpin mereka. Tentu saja karena kebaikan orang-orang itulah maka Candra Wulan telah menganggap orang-orang yang baik hati itu bagaikan keluarganya sendiri. Hal ini tak aneh, sebab gadis inipun telah terpengaruh cinta oleh kampungnya, sekarang kampung yang dicintainya kelihatan musnah tentu saja ia ingin menuntut balas.

“Menurut pikiranku ini tentunya bukan perbuatan Perkumpulan Tengkorak Berdarah.” Seru Mintaraga, setelah berpikir.

Candra Wulan heran dan segera mengawasi pemuda itu. “Habis siapa?” Tanyanya dengan tak mengerti.

“Kecuali orang-orang Jipang Panolan, mungkin tak ada yang berani melakukan pembunuhan dan pembersihan semacam ini.

Kembali Candra Wulan harus berpikir.

“Ya mungkin.” Katanya setelah berpikir. “Kakang Mintaraga, lalu sekarang apakah yang hendak kita lakukan?!”  

Memang Candra Wulan dapat menyetujui perkataan Mintaraga sebab ia

ingat, Pahlawan-pahlawan Jipang Panolan itupun hendak mencari ayah angkatnya pula. Ki Darmakusuma. Dan mereka tak tahu kalau orang-orang yang dicarinya itu telah gugur didasar laut. Karena mereka itu tak dapat mencari musuhnya maka mereka menjadi penasaran. Mereka lalu menyerbu Karang Bolong membunuh semua nelayan-nelayan yang tinggal disitu, dan juga membakar rumah-rumah mereka. Tak hanya itu saja yang mereka lakukan, semua perahu-perahu yang berada disitupun telah diobrak-abrik semuanya. Sedangkan dirumah Darmakusuma mereka geledah untuk mencari TUNGGUL TIRTO AYU. Karena kegagalannya ini maka mereka mengamuk dan mengumbar kemarahannya.

“Siapapun juga yang melakukan pekerjaan ini, biar bagaimanapun juga aku tetap tak dapat melepaskan Perkumpulan Tengkorak Berdarah.” Jawab Mintaraga. “Sekarang marilah kita cari sebuah perahu, syukur kalau masih ada yang kuat untuk kita pergunakan mencari mayat ayah, setelah itu barulah kita berpikir bagaimana kita akan bertindak. Sayang sekali aku tak dapat berenang, maka dalam hal ini aku minta bantuanmu ”

“Ayahmu itu bukankah pernah juga menjadi ayahku?” Seru gadis itu dengan lantang. “Karena itu kita harus bekerja sama. Ah.... aku ingat sekarang. Disini aku masih punya kakak seperguruan yang bernama Tunggorono.... bagaimanakah dengan dia. Apakah ia masih hidup atau telah meninggal dunia ?

Memang gadis ini berwatak polos, begitu mengingat kakak seperguruannya matanya menjadi merah. Bahkan air matanya terus mengalir dengan deras dari dalam kelompak.

Mintaraga menghibur dengan mengajak gadis itu ketepian, untuk memeriksa perahu-perahu yang rusak. Sewaktu mereka itu mencari-cari dan memeriksa, tiba-tiba saja kuping mereka mendengar sebuah rintihan. Keduanya menjadi kaget, akan tetapi Candra Wulan kaget bercampur girang. “Ah... masih ada yang hidup.” Serunya. Terus saja ia melompat.

Melompat kearah sumber suara rintihan itu. Ternyata suara itu datangnya dari sebuah perahu yang rusak. Segera saja ia berseru :

“Hei. Harya Suman kau berada disini!”

Orang yang dipanggil sebagai Harya Suman itu adalah seorang anak yang berumur kurang lebih empat atau lima belasan tahun. Ternyata pemuda kecil ini tangannya telah patah, ia rebah mandi darah. Rintihannya tak mau berhenti.

Harya Suman meringis-ringis, akan tetapi melihat gadis itu, sekelebatan saja tampaklah kalau wajahnya menunjukan keriangan.

“Oh... kau ayu Wulan?” Serunya pula. “Ayu Wulan tolonglah aku   ”

Harya Suman ini adalah pelayan dari ki Plompong, diwaktu serbuan terjadi dia berhasil menyingkirkan diri dan bersembunyi. Karena itulah ia tak  

usah turut yang lain-lainnya untuk pindah tempat kedunia lainnya. Memang

Harya Suman ini dapat menceritakan semua kejadian akan tetapi ceritanya kurang jelas.

Mintaraga selalu membawa obat-obatan, dan seketika itu juga ia mengobati anak itu. Karena obat inilah maka perasaan sakit Harya Suman menjadi berkurang banyak. Hingga dari perasaan sakitnya ini ia menjadi dapat tersenyum dan girang.

“Kau... kau... apakah kau ini dewa?” Tanyanya kepada Mintaraga.

Candra Wulanpun girang, akan tetapi pada saat itu iapun lalu mengawasi Mintaraga, gadis ini benar-benar terperanjat. Pemuda itu telah duduk bersemedi. Ternyata pemuda ini telah melakukan pertolongan kepada Harya Suman ini dengan pengerahan tenaga dalam yang besar. Memang selain mengobati Mintaragapun telah memijat dan menotok, dan memang totokan inilah yang memerlukan banyak tenaga dalam. Maka setelah menolong ia harus beristirahat. Akan tetapi tak lama kemudian kesegarannyapun telah kembali lagi.

Legalah hati Candra Wulan ketika melihat perubahan yang sedemikian cepatnya dari Mintaraga.

“Tolong berilah dia ini uang.” Katanya kepada Mintaraga. Ia memang sangat menyayangi Harya Suman ini, dan lagi kini ia harus sangat dikasihani setelah tangannya putus sebelah.

“Sekarang tak dapat kau berdiam lebih lama disini.” Kata Candra Wulan kepada pelayannya, dan Mintaraga memberikan beberapa keping uang. “Kau boleh pergi kemana saja yang kau sukai, dan ini sekedar uang kiranya cukup untuk modal berdagang kecil-kecilan. Jika Tuhan masih menghendaki dilain saat kita pasti akan bertemu lagi.”

Harya Suman menjadi girang sekali, sehingga berulang kali ia memanggil bekas majikannya itu dan penolongnya. Setelah itu iapun lalu bersembah empat kali kepada Candra Wulan untuk mengucapkan perasaan syukurnya. Dan tak lupa ia menghaturkan terima kasih kapada Mintaraga. Sesudah itu barulah ia menggeloyor pergi.....

Candra Wulan mengawasi bocah itu sampai pergi jauh. Barulah ia dan Mintaraga melanjutkan perjalanannya untuk mencari perahu. Akhirnya ia mendapatkan sebuah perahu yang hanya rusak ringan saja.

“Asal dibetulkan sedikit saja dahulu, kita akan dapat memakai perahu ini.” Seru Candra Wulan.

Mintaraga menganggukkan kepala dan bersedia untuk bekerja, maka dengan petunjuk gadis itu, ia lalu menggulung lengan bajunya. Setelah mereka selesai bekerja, mataharipun telah turun kebarat. Hari telah sore. Karena waktunya telah larut, tidak dapatlah mereka berlayar.

“Kasihan mayat-mayat itu terlantar. Marilah kita mencoba untuk menguburnya dengan baik-baik.” Ajak Mintaraga kepada gadis ini.  

Candra Wulan setuju dan bersedia untuk membantu. Untuk itu segera

mereka lalu menggali lubang. Dua jam lamanya mereka bekerja. Dan keringat telah membasahi seluruh tubuh akan tetapi belum ada tiga bagian dari mayat-mayat itu yang telah terkubur.

“Mayat begini banyak bagaimana kita dapat menguburnya semua?” kata Candra Wulan kemudian. Gadis ini berduka, akan tetapi terus berpikir. “Kupikir baiknya diatur begini saja. Kita kubur saja mereka yang usianya telah lanjut, anak-anak dan mereka yang terluka hebat ”

Mintaraga menghela napas.

“Yang lain-lain kita buang kelaut.” Serunya. “Lebih baik mereka mati tenggelam dilaut dari pada kalau hujan kehujanan dan kalau panas kepanasan disini.” Sejenak ia memandang kearah Mintaraga. “Dari pada tulang-tulang mereka tak karuhan?!”

Lalu tanpa menunggu jawaban dari gadis itu, ia mulai bekerja. Mintaraga mengangkat setiap tubuh, kemudian melemparkan mayat itu kedalam laut. Karena Mintaraga melemparkan dengan mempergunakan tenaga dalamnya maka lemparan itu dapat jauh sekali. Melihat ini Candra Wulan benar-benar kagum. Bahkan meleletkan lidahnya. Dengan cara ini maka mereka tak membuang banyak tenaga dan memeras keringat.

Candra Wulan terus memandang, akan tetapi diam-diam iapun merasa tak puas.

“Dengan cara beginipun sampai fajar menyingsing besuk mayat-mayat ini belum juga habis kau lemparkan kedalam laut semuanya.” Katanya dengan lantang. “Kita perlu memikirkan cara lagi....... Ah kalau ada angin puyuh maka sekali hembus saja mayat-mayat ini pasti akan terlempar kelaut semuanya.”

Gadis ini sebenarnya hanya bergurau saja, yah bergurau karena kehabisan akal. Akan tetapi mendengar perkataan Candra Wulan ini Mintaraga mendapat sebuah pikiran lain.

“Baiklah kau lihat angin puyuhku.”

Candra Wulan menjadi heran ketika mendengar perkataan Mintaraga ini. Justru pada saat itu juga Mintaraga telah menyedot napasnya, lalu mengumpulkan tenaga dalamnya, setelah itu ia menggerakkan kedua belah kakinya. Juga kedua tangannya bekerja dengan keras cepat bagaikan kilat ia dapat menyambar mayat-mayat itu. Setiap sambar maka tampak sebuah mayat yang melayang kelaut. Pemuda ini benar-benar hebat dan tak pernah kelihatan bagaikan orang letih, dalam waktu yang pendek saja pemuda ini telah berhasil melemparkan seratus buah mayat kedalam laut!

Melihat gerakan pemuda Candra Wulan menjadi kagum sekali. Tanpa terasa mulutnya telah memuji kepandaian Mintaraga. Selama mereka bekerja itu waktupun telah berjalan dengan cepat. Tanpa terasa fajarpun telah menyingsing.  

“Nah marilah kita mulai mencari ayah.” Ajak Mintaraga.

“Kau   benar   kakang,   marilah.”   Jawab   gadis   itu   dengan   gembira.

Keduanya lalu bertindak menuju keperahunya.

“Ah... bocah ini baik hatinya, juga amal perbuatannya.....” Tiba-tiba saja mereka mendengar suara orang yang terus tertawa besar.

“Kakang kita telah mecucikan diri akan tetapi kita kalah dermawan oleh perbuatan bocah ini.”

Mintaraga dan Candra Wulan terperanjat, kedua muda mudi ini menjadi heran. Segeralah mereka berpaling.

Dari antara puing-puing kayu rumah yang berserakan itu muncullah sembilan orang resi, jubah mereka sama potongngannya dan juga warnanya. Kuning.

Mintaraga berdua terus mengawasi mereka dengan tajam-tajam. Resi yang berkata tadi sebetulnya adalah Putut Tejowantah dialah orang ketiga dari sembilan resi itu. Sedangkan orang yang dipanggil kakang itu adalah orang tertua dari sembilan resi yang bernama Giri Pragoto. Kemudian ia berkata :

“Untuk membunuh begini banyak manusia-manusia yang tak tahu apa- apa hanya jago-jago Jipang Panolanlah yang sanggup melakukannya.” Setelah itu ia lalu berkata kepada Mintaraga dan Candra Wulan. “Eh anak hatimu sungguh mulia. Sudah semalam suntuk kau bekerja keras, sekarang kau duduklah istirahat sebentar kami ingin bicara denganmu.”

Mintaraga telah kenal dengan sembilan orang resi ini, sebab ia tahu kalau orang inilah yang telah membantu Wirapati. Dan resi-resi inilah yang telah membunuh habis jago-jago dari Jipang Panolan. Karena itulah Mintaraga tak segera menjawab pertanyaan orang-orang itu, segera pemuda ini berpikir :

‘Mereka adalah sembilan resi dari padepokan Kendalisodo. Menurut gurunya mereka itu sangat sakti dalam hal ilmu silat, dan hatinyapun beringas sekali. Kelakuannya aneh. Ada kalanya mereka itu berbuat baik, namun dilain saat sering juga mereka itu berbuah jahat. Sekarang kita bertemu ditempat ini, aku mesti berhati-hati....’ Karena itulah Mintaraga lalu memberi hormat kepada mereka dan katanya.

“Aku mempunyai urusan yang penting sekali, tidak berani aku melepaskan lelah lagi. Jika kalian ingin bicara denganku maka tunggu saja kalau aku telah kembali dari laut. Bisakan bapa resi sekalian menanti?!”

Giri Pragoto tak menjawab, ia hanya tertawa lebar.

“Heh.... bocah gadis ini berkali-kali memanggilmu kakang Mintaraga apakah betul-betul kau ini Mintaraga. Benarkah ini?!” Tanyanya.

Mintaraga benar-benar berlaku hormat, juga hatinya heran dan terkesikap.  

“Benar”   Jawabnya   sambil   menganggukkan   kepalanya.   “Sungguh

beruntung sembilan resi dari Indrakilo telah datang kemari. Guruku sering menyebut-nyebut tentang bapa resi sekalian. ”

Giri Pragoto mendadak melangkah maju. “Oh. kau kenal kami?!” Katanya.

“Jangan keburu-buru saudaraku.” Seru Putut Tejowantah kepada saudaranya. Kemudian ia lalu tertawa :

“Kita masih mempunyai waktu yang panjang.” Kemudian ia mengawasi anak itu. Dan kembali terdengar perkataan Giri Pragoto :

“Mintaraga kepandaianmu memang hebat, ini pasti kepandaian yang kau dapatkan dari pendeta Argo Bayu bukan?! Sekarang kau istirahatlah dan sebentar lagi kami turun tangan. Kuberitahukan kepadamu tak usah lagi kau pergi kelaut, untuk mencari mayat. Akan tetapi kau harus memelihara kesegaranmu dan nanti kau pergunakan untuk melawan kami sembilan resi Kendalisodo.”

Habis berkata demikian, resi itu tertawa lebar, suatu tanda kalau ia amat puas terhadap dirinya sendiri.

Candra Wulan tak mengenal siapa adanya sembilan resi ini, akan tetapi mendengar perkataan padepokan Indrakilo ia menjadi terkejut. Ia segera teringat akan perkataan Tengkorak Putih yang mengatakan bahwa salah satu diantaranya orang-orang yang mencarinya adalah rombongan resi ini. Hem ingin aku melihat apakah kau mempunyai kepala sepuluh seperti Dasamuka dan tangan seribu seperti Arjuna Sasrabahu...... Maka diam-diam ia menarik napas dalam. Pikirnya. ‘Sungguh banyak sekali musuh ayah angkatku ini. ’

Sembilan Resi ini mengawasi sambil melirik, sinar mata mereka benar- benar tajam. Sikap mereka seperti hendak menggerogoti tubuh manusia. Melihat ini semua tak enaklah hati Candra Wulan.

“Kakang Mintaraga marilah kita pergi.” Ajaknya. “Jangan kita layani mereka....

“Apa, berangkat?” Bentak Giri Pragoto. Ketika ia mendengar perkataan gadis ini maka hatinya menjadi panas. “Dengan begini gampang? Hm...

budak wanita ini apamu?”

Candra Wulan tak takut, segera ia memberitahukan namanya.

“Resi campuran, kalian ambilah jalanmu sendiri biar kami mengambil jalan kami.” Katanya dengan nada sombong. “Mengapa kau merintangi kakakku dan menantangnya berkelahi?!”

Sesaat resi itu menjadi heran ketika mendengar nama Candra Wulan teringatlah ia akan nama sahabatnya dulu. Akan tetapi ini tak begitu diambil pusing. Segera ia berkata kepada Mintaraga :

“Bocah kau mau istirahat dulu atau tidak?!”  

Candra Wulan benar-benar menjadi marah sekali ketika melihat tingkah

laku orang-orang tua yang tak tahu diri itu. Karena kemarahannya ini maka ia lalu mengayunkan tangannya.

“Adi Candra Wulan jangan.” Cegah Mintaraga, akan tetapi cegahan ini ternyata telah terlambat.

Giri Pragoto menjadi marah.

“Kau mencari mampus?” Bentaknya. Segera ia menggerakkan tangannya. Ia menyerang setelah gadis tadi memukulkan tangannya, akan tetapi ternyata datangnya serangan yang belakangan itu malah lebih cepat dari pada serangan gadis tadi. Sasaran yang diambilnya adalah dada Candra Wulan.

Melihat kalau resi itu berlaku kejam terhadap adik angkatnya, Mintaraga lalu menjadi marah. Sambil membentak iapun lalu menggerakkan tangannya. Ia bergerak belakangan, akan tetapi toh dapat mendahuluinya. Maka kedua tangan (tangan resi Giri Pragoto dan tangan Mintaraga) beradu dengan keras. Karena kerasnya hingga suaranya menggelegar. Akibatnya kedua–duanya terhuyung-huyung mundur.

Giri Pragoto segera melihat telapak tangannya. Ternyata tangan itu telah menjadi merah semuanya. Kakek ini merasakan sakit dan panas yang luar biasa. Ia tahu pukulan itu adalah pukulan Gundala Kurda. Pukulan mematahkan tangan ini telah diyakinkan selama puluhan tahun lamanya. Tidak sembarang orang dapat menyambutnya, akan tetapi ketika ia melihat kalau pemuda ini dapat menyambutnya, hatinya menjadi panas dan marah bukan main.

“Bagus.” Serunya. “Belum lagi kami bermusuhan denganmu akan tetapi kau terlebih dahulu telah menurunkan tangan jahat Adi Kendil Wesi keluarlah dan beri hajaran kepadanya.”

Dengan segera majulah seorang resi yang berusia pertengahan tahun. “Bocah, kau hunuslah senjatamu.” Bentaknya dengan menantang.

Resi Kendil Wesi ini adalah resi yang kesembilan, namanya Kendil Wesi.

Memang dialah saudara termuda dari sembilan resi ini.

Melihat sikap lawannya ini maka tahulah Mintaraga kalau ia tak akan dapat dengan mudah menghindarkan sebuah pertempuran ini. Maka dengan terpaksa ia menghunus pedangnya. Kemudian serunya :

“Maaf.” Segera ia mengambil tempat disebelah bawah. Ia tahu kalau para resi ini semuanya besar kepala dan menganggap dirinya orang tersakti dan tak ada tandingannya. Ia tahu kalau mereka itu pasti akan mendahuluinya, karena itulah ia lalu berseru dengan lantang :

“Lihat pedang.” Setelah memperingatkan maka ia lalu menggerakkan pedangnya untuk menusuk pundak kiri lawannya.

Melihat kalau begitu turun tangan bocah itu telah mengancam pundak Kendil Wesi lalu mengelak dengan cepat. Akan tetapi ia bukan mengelak  

untuk mundur, akan tetapi sebaliknya terus maju. Juga terus memajukan

kedua tangannya.

Dengan tangan kiri ia hendak merampas senjata lawannya, sedangkan tangan kanannya jari-jarinya dikembangkan untuk menyambar tubuh Mintaraga diarah dada dan perut.

Mintaraga mundur dan menarik perutnya, sambil berbuat demikian ia lalu menabaskan pedangnya ketangan lawan.

Kendil Wesi menarik tangannya. Begitu ditarik kembali ia memajukan tangannya untuk mengulangi serangannya tadi. Kali ini ia menyerang saling susul-menyusul, kekiri dan kanan, sebat luar biasa.

Hanya sebentar saja Mintaraga melayani, dan segera ia melompat kedepan Candra Wulan.

“Adikku takutkah kau ini?” Tanyanya sambil tertawa.

“Kau berada disini maka apakah yang perlu kutakutkan kakang?” Jawab gadis itu dengan bangga.

“Baik.” seru pemuda itu. “Kau lihatlah aku akan melayaninya dengan tangan kosong. Dan dalam waktu sepuluh jurus saja aku akan mengalahkannya.”

Setelah mengucapkan demikian, Mintaraga benar-benar memasukkan pedangnya kedalam sarungnya.

Kendil Wesi mendongkol dan geli hatinya. Ia menganggap kalau pemuda ini sangat sombong dan takabur. Tingkah lakunya lucu... karena itu ia menertawakannya. Akan tetapi ia tak bilang suatu apa ketika pemuda itu maju, namun segera mendahului untuk menyerang kepundak kiri dan lambung kirinya juga.

Mintaraga telah mengambil keputusan. Ia mengelak untuk serangan yang dahsyat itu, lalu membalas serangan itu dengan serangan. Akan tetapi lambat segala gerakannya.

Kendil Wesi ketika melihat gerakan lawannya sangat lambat ini hatinya menjadi girang bukan main. Ia tahu kalau lawannya ini memainkan ilmu silat burung merak sakti. Memang ilmu silat burung merak ini dahulunya dari perguruan gunung Gebyok yang tak begitu sukar dilayaninya. Ia bersikap tertib diwaktu melayani selama beberapa jurus, habis itu ia segera mendesak, kedua tangannya bergerak lemas dan keras tanpa ketentuan kedua-duanya sebat sekali. Tiga kali ia mendesak tak henti-hentinya. Niatnya dalam sepuluh jurus untuk merobohkan lawannya itu. Ia menganggap bocah yang menjadi lawannya itu adalah anak yang tak tahu tingginya langit dan dalamnya samudra. Ingin Kendil Wesi membuat anak itu menjadi buah tertawaan para kakak-kakaknya. Semua serangannya adalah serangan- serangan dari ilmu pukulan Gundala Kurda.

Mintaraga kelihatannya bodoh dan gerakannyapun sangat lambat. Akan tetapi atas desakan itu ia selalu dapat mengelakkan dirinya. Bersama dengan  

itu ia membalas serangan lawan dengan serangan  berantai tiga kali dari

jurus-jurus ilmu silat burung merak.

Baru sekarang Kendil Wesi terperanjat. Ia tampak tegar dan lawannya menyerang dengan kekuatan tenaga yang dahsyat. Kendil Wesi seperti dikurung oleh angin dahsyat dari delapan penjuru. Karena itu dengan hati ragu-ragu ia terus melayani musuhnya ini.

Dengan cepat lima jurus telah berlalu.

‘Kau licin resi edan.’ Maki Mintaraga didalam hati. ‘Kau lihatlah ini.’

Pemuda itu segera maju sambil memiringkan diri kesamping, tangan kirinya terus menyambar.

Resi Kendil Wesi sedang menggertak ketika lawannya malompat kesamping. Sekelebat saja ia berpikir, segera gertakannya itu ia jadikan serangan benar-benar, ia menghantam lengan kiri lawannya itu yang dipakai menyambar tubuhnya.

Mintaraga menarik pulang tangannya karena itulah membuat pertahanan dirinya terbuka.

Dengan amat kegirangan Kendil Wesi lalu menggunakan ketika yang baik itu. Ia turut melompat kesamping untuk menyusul, kemudian tangan kanannya  memukul kearah ulu  hati. Hebat serangan  ini, yang   dapat dikatakan menghancurkan batu. Hingga dengan demikian pukulan ini akanlah dapat  meruntuhkan jantung  Mintaraga. Mungkin banyak kemungkinan jiwanya akan melayang. Kendil Wesi telah merasa puas sekali. Baru saja pukulannya hendak mengenai sasarannya, akan tetapi resi itu merasakan kalau kepalanya itu seperti ada yang menolak dengan keras sampai tak kuat  ia meneruskan  pukulannya.  Malahan  untuk

mempertahankan diri saja ia menjadi sukar bukan main.

“Pergilah.” Bentak Mintaraga dengan tiba-tiba. Tangannya terus menyambut pukulan lawannya yang terus ditolak kembali. Tolakan dan serangannya itu dilakukan dengan bersama.

Tiba-tiba saja terdengarlah teriakan Kendil Wesi “aduh“ tak dapat ia menahan lagi. Segera saja ia terlempar beberapa tindak dan yang hebat lagi tubuhnya jatuh terjengkang.

Delapan orang Resi dari padepokan Kendalisodo lainnya menjadi terperanjat sekali. Mereka berdelapan menjadi tercengang sekali ketika melihat saudaranya yang kesembilan itu dapat dikalahkan dengan demikian mudah. Diantaranya yang segera sadar cepat-cepat melompat untuk menolong adiknya itu, dan segera memapah bangun. Untung Kendil Wesi hanya roboh tak terluka sama sekali.

Semua resi yang berada disitu menjadi heran sekali ketika serangan- serangan dari ilmu pukulan Gundala Kurda dari adik seperguruannya itu tak memberikan serangan (hasil) apa-apa. Mereka tahu betul bahwa serangan itu tak pernah gagal. Sebab sekalipun musuhnya amat tangguh, musuh itu akan  

dapat dikelabui dengan sebuah tipu gertakan yang bisa dilakukan secara luar

biasa dan diluar perhitungan. Atau setidak-tidaknya musuhnya dapat dipukul mundur.

Candra Wulan segera bertepuk tangan. Gadis ini bersora-sorak sambil mengancungkan jempolnya :

“Bagus.... bagus....!” Demikian teriaknya. “Tepat dalam sepuluh jurus tak lebih dan tak kurang.”

Giri Pragoto resi yang tertua menjadi gusar. Kulit mukanya matang biru karena menahan amarahnya. Ia lalu melangkah maju untuk menghajar anak muda itu. Yah menuntutkan balas sakit hati adik seperguruannya.

“Bapa sudahlah tak usah kita bertempur lagi.” Kata Mintaraga sambil tertawa. “Bicara terus terang saja, bahwa aku ini masih mempunyai sebuah urusan yang amat penting.”

“Apakah kau hendak mencari tulang-tulang ayahmu itu?” Tanya Giri Pragoto dengan marah. “Telah ada orang yang mengangkatnya. Hemm... sungguh beruntung dia.”

Bukan main terkejutnya hati Mintaraga.

“Apa?” Tanyanya. “Kuharapkan kau suka berbicara terang sedikit.” “Apa lagi yang hendak dibicarakan lagi?” Jawab resi ketua dari

padepokan Kendalisodo itu. “Singkatnya saja telah ada orang yang mengubur tulang-tulang itu didarat. Jika kau hendak mengetahui dimana kuburan ayahmu itu, pergilah tanya kepada Tunggorono.”

‘Pantas barusan dia berkata kalau aku tak usah mencarinya lagi kedasar laut.’ Pikir Mintaraga.

Candra Wulan menjadi percaya akan keterangan Resi itu hingga karena girangnya maka air matanya meleleh keluar.

“Oh... oh... dia belum mati!” Serunya. “Dia benar-benar belum mati. Kakang Mintaraga, mari kita mencari dia. Jangan sampai kita membuang- buang waktu. Tak usah kau melayani mereka itu...”

Giri Pragoto memperdengarkan suara ejekan yang serem :

“Huahaaaa.... Huahaaaaa..... Huahaaaa.... kau hendak mencari dia?” katanya. “Huahaaaa..... Huahaaaa..... Huahaaaa ”

Aneh suara tawanya itu hingga Candra Wulan menjadi heran.

“Apa katamu?!” Tanyanya kepada resi Giri Pragoto. “Apakah kau membohongi kami?!”

Resi Giri Pragoto menjadi marah sekali.

“Apakah kau pernah mendengar kalau salah seorang dari Resi Kendalisodo ini pernah mendustai seseorang?!” Bentaknya. “He, budak perempuan kau ini tak mendapat didikan keluarga, siapakah nama ayahmu?!”

Tak perlu aku memberitahukan kepadamu.” Jawab Candra Wulan disengaja.  

“Habis apakah perlunya kau bertanya kepadaku?!” Seru Giri Pragoto.

“Baiklah Mintaraga.” Kemudian ia menambahkan kepada anak muda itu. “Ayahmu telah menutup mata, mustahil kalau kami keturunan Wiku Karang Jati dapat membongkar kuburannya? Sakit hati kami terpaksa dialihkan kepadamu. Nah kau hunuslah senjatamu.”

Mintaraga pernah mendengar perihal permusuhan antara sembilan Resi itu dengan ayahnya, Ki Darmakusuma, hanya ia tak mengetahui lebih banyak tentang persoalan itu. Karena itu ketika mendengar tantangan lawannya ini ia menjadi menghela napas panjang.

“Bapa” katanya kemudian. Dengan sabar ia meneruskan perkataannya tadi. “Ada ujar-ujar kuno yang mengatakan dosa terhadap Tuhan tak mengenakan turunannya. Demikian juga terhadap ayahku itu. Seandainya dahulu ayahku bersalah, akan tetapi karena beliau telah meninggal dunia, mengapa kalian mendesakku?!”

“Hmm” Bentak Giri Pragoto. “Kau bilang dari hal ‘seandainya‘ memang begitu enteng.”

Kendil Wesi yang baru saja dapat dikalahkan hatinya masih panas, segera saja ia mengejek dengan tertawa :

“Bagus ya.” Demikian katanya. “Kau minta bantuan kami. Baik kutungi dulu lenganmu, nanti kami akan memberi ampun dan tak akan membinasakan nyawamu itu.” Masih pula ia menambahkan. “Itulah caranya ketika ayahmu dulu memperlakukan adik angkatnya. Ini dia yang mengatakan. Dengan caranya sendiri kami hendak membalaskan pada anak cucunya.”

Mintaraga menjadi marah.

“Baik majulah kalian.” Tantangnya. “Apakah kalian sangka aku takut kepada kalian?!”

Ia telah mengalahkan Kendil Wesi, demikian lemahnya ilmu kepandaian lawannya tadi. Karena itu Mintaraga percaya kalau akan kuat melayani mereka bersembilan. Atau setidak-tidaknya ia tak akan bakal kalah.

Baru saja Mintaraga menutup mulutnya Resi kedua yang bernama Jlontrot Boyo telah melompat maju, Putut Tejowantah, Bondowoso orang ke empat telah melompat maju. Enam tangan itu terus merangsek kearah Mintaraga. Mereka ini tahu kalau lawannya ini adalah seorang yang sakti, kalau satu lawan satu banyak kemungkinan mereka akan kalah. Karena itulah mereka lalu maju dengan bersama-sama. Ingin mereka melampiaskan kemendongkolan mereka hingga para resi itu lupa peraturan dunia kependekaran. Yah mereka telah main keroyokan.

Mintaraga telah menghunus pedangnya, didalam hatinya ia berkata : “Baik, aku akan merobohkan mereka semuanya. Supaya mereka

belakang hari besuk tak akan menggangguku lagi.”  

Akan tetapi baru saja mereka berpikir demikian, lalu segera ia teringat

akan pesan gurunya. Pendeta Argo Bayu.

Mintaraga turun gunung dengan mengemban tiga buah tugas kewajiban. Yang pertama untuk menolong ayahnya, Ki Darmakusuma atau ki Plompong itu. Kemudian harus mengajak ayahnya ini pulang kepadepokan Lawu, dan nanti gurunya akan menghukum ayahnya. Kalau kesalahan Darmakusuma itu hanya enteng saja pendeta Argo Bayu hanya akan menegurnya saja, akan tetapi kalau ternyata kesalahan ayahnya itu sangat berat, pendeta Argo Bayu akan menyuruhnya bersemedi menghadap tembok tiga tahun lamanya untuk merenungkan segala kesalahan yang dibuat oleh ayahnya.

Yang kedua untuk mengambil TUNGGUL TIRTO AYU dari tangan ki Darmakusuma atau ayahnya sendiri, kemudian harus menyerahkan kepada salah seorang pendekar besar yang amat dicintai rakyat. Dan pendekar besar itu harus cinta kepada negara dan dapat memukul hancur tentara Jipang Panolan yang akan membuat kacau.

“Yang ketiga adalah yang terberat. Yaitu ia harus melayani beberapa orang musuh-musuh tangguh ayahnya.”

Pendeta Argo Bayu gurunya itu, telah mengatakan kepadanya :

“Musuh-musuh ayahnya itu selain orang-orang Jipang Panolan, adalah orang-orang dunia persilatan yang mempunyai kepandaian tinggi. Berhati- hatilah kau melayani mereka, kecuali jika tak sangat perlu, janganlah kau melawannya. Akan retapi apa bila mesti bertempur juga, jangan sekali-kali kau memamerkan kepandaianmu. Ini semuanya supaya tak sampai mendatangkan kesan tak baik diantara pihak lawan. Leluhurmu telah berbuat keliru, kau jangan mengulangi kekeliruan itu. Hingga kau akan mendapat nasib seperti ayahmu.”

Inilah pesan gurunya yang diingatnya baik-baik. Juga yang harus ia taati, maka begitu turun gunung, cita-citanya adalah menyelesaikan segala persengketaan yang ditimbulkan oleh ayahnya. Untuk itu ia tak takut ditertawakan orang, bahkan ia bersedia sedikit mengalah.

Karena itulah ia lain membatalkan untuk memakai pedangnya, dan memasukkan pedang itu kedalam sarungnya lagi.

“Bapa resi sekalian, apakah benar-benar kita ini harus mengadu kepandaian kita?!” Ia menegaskan kepada sembilan orang lawannya itu.

“Siapa mau bermain-main kepadamu?” Bentak Jlontrot Boyo. Dan bersama dengan itu ia telah mengirimkan pukulan yang dahsyat. Ia memang lebih sakti dari pada Kendil Wesi.

Mintaraga mengelak. Waktu itu juga ia didesak dari kiri dan kanan empat kepalan sekaligus menyerang kepadanya. Terpaksa ia mengelak sambil memutar tangannya, kemudian melompat keatas untuk membobolkan kepungan itu.  

Melihat ini Jlontrot Boyo menjadi mendelu.

“Mari.” Ia mengajak dua saudaranya untuk mengurung, setelah itu maka mereka mengurung dengan ketatnya.

Mintaraga terus mengelak, dapatlah ia menghindarkan diri dari enam kepalan itu, yah kepalan yang anginnya menyambar-nyambar. Ia bergerak- gerak bagaikan bayangan pesatnya. Selama itu tak pernah ia membalas serangan itu dengan serangan.

“Apakah kau masih mengelakkan tubuhmu.” Seru Putut Tejowantah sambil menyerang.

‘Kenapa tidak?!’ Jawab Mintaraga didalam hatinya. Ia terdesak akan tetapi segera melompat tinggi-tinggi, menyingkir dari ancaman bahaya.

Melihat gerakan ini maka kesembilan resi itu menjadi heran Jlontrot Boyo menjadi bertambah mendongkol. Diantara saudara-saudaranya ia hanya kalah kepada Giri Pragoto saja.

“Kakang Giri, marilah kita maju bersama-sama.” Serunya. Ia bukan maju hanyalah mengajak kawan-kawannya. “Marilah kita lihat dia ini mempunyai kepandaian apa lagi?!”

Giri Pragotopun malu kepada dirinya sendisi. Bukan saja lawannya tak dapat dikalahkan, sedangkan menyentuh ujung baju lawannya saja tak dapat.

“Mari.” Jawabnya. Dan segera Giri Pragoto menganjurkan kedelapan orang saudaranya itu untuk mengurung.

Kita gunakan barisan sembilan resi sakti.” Serunya memberi perintah. Barisan Sembilan Resi Sakti ini adalah barisan yang dipergunakan untuk mengurung musuhnya. Dan ini adalah ilmu keistimewaan dari mereka.

“Tak usah.” Jawab salah seorang resi itu, “Lebih dahulu kita membalaskan sakit hati adi Kendil Wesi, barulah nanti kita pikirkan lagi.”

Melihat ini hati Candra Wulan menjadi gentar. Ia terkejut ketika melihat sembilan orang resi itu maju dengan serempak. Candra Wulan tahu kalau Mintaraga itu gagah dan perkasa, akan tetapi sembilan orang lawannya tak dapat clipandang enteng.

Akan tetapi ketika melihat sikap anak muda itu, tampaklah kalau Mintaraga itu menghadapi musuhnya dengan tenang-tenang saja.

Mintaraga menggunakan kedua tangannya dengan sebat dan mantap, untuk menghalau semua serangan tangan lawannya. Ia menginsafi kalau musuh dapat bergabung dengan saksama, dirinya bakal mendapatkan kesulitan. Dengan dirinya terkurung rapat maka agak sulitlah untuk mengelak. Karena itu harus memecahkan mereka satu persatu.

Kendil Wesi sangat puas ketika melihat kurungannya ini, hingga ia lalu tertawa dengan gembira. Yah betapa tidak mereka dapat menyerbu lawannya.  

Seumur    hidupnya    belum    pernah    Candra    Wulan    menyaksikan

pertempuran yang demikian ini. Kedua belah pihak telah bergerak dengan cepat. Saking kagum bersama dengan tegang, ia sampai menahan napas dan terutama, memperhatikan kakak angkatnya itu.

“Aduh.” Tiba-tiba saja salah seorang dari mereka mengeluarkan teriakan.

Ternyata Rukmaroto atau orang kedelapan dari Sembilan Resi itu telah kena dihajar oleh tangan Mintaraga, hingga ia merasakan kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang. Mintaraga melihat kalau lawannya sangat mendesak kepadanya, maka ia lalu memberikan ‘hadiahnya’ itu.

Putut Tejowantah bersama dengan Bondowoso lalu bekerja sama, mereka mendesak dari kiri dan kanan, maju mundur bergantian, menyerang dengan tangan dan kaki bergantian susul-menyusul.

Mintaraga tengah mengelak, akan tetapi tiba-tiba saja mendengar sambaran angin pukulan dari belakangnya. Ia tahu dengan pasti bawa ada lawannya yang menyerang dengan secara menggelap. Waktu itu Mintaraga tengah dikurung. Dengan sebat pemuda itu menangkis dengan tangan kanannya sambil memutar tubuh, tepat tangkisannya itu habis ia mendesak, akan menyikut Blendrong si resi yang ketujuh dari sembilan resi Indrakilo itu.  

Mahesthi orang kelima telah roboh sesudah terpukul mundur sebagai akibat tangkisan Mintaraga. Ialah yang menyerang secara menggelap kearah pemuda itu, syukur ia masih dapat melompat bangun pula.

Mintaraga terperanjat ketika melihat hasil tangkisannya itu. Sebenarnya ia menangkis dengan mempergunakan tenaga, akan tetapi buktinya resi itu tak terluka parah, inilah tandanya kalau resi-resi ini ternyata mempunyai kesaktian yang boleh juga. Mereka tak kalah hebatnya dengan Mandaraka tokoh dari Jipang Panolan. Inilah pertempuran yang hebat pertama kali dialaminya sejak ia turun gunung. Oleh karena inilah ia lalu berlaku lebih tegang lagi. Yah lebih tenang nntuk melawan mereka semua.

Baru beberapa saat Mintaraga menghajar Mahesthi dan memukul Rukmoroto, hendak menendang Kendil Wesi. Tiba-tiba saja ia mendengar sambaran angin di arah belakangnya, tanpa ayal ia menangkis kebelakang sambil berpaling.

Kedua tangan beradu, akan tetapi kali ini tanpa ada suaranya. Hal ini telah membuat hati Mintaraga menjadi heran, karena ia tahu kalau tadi ia telah menggunakan tenaganya. Nyatalah kini kalau ia telah menghadapi lawan yang tangguh. Mau tak mau ia menjadi terkejut. Ia tak dapat segera menarik pulang tangannya yang telah menempel tangan Giri Pragoto yang telah menyerangnya dengan secara menggelap. “Adi Kendil Wesi, apakah kau tak segera membalas?” Bertanyalah resi

itu kepada saudaranya yang terbungsu. Ternyata kepandaian Giri Pragoto ini sangat hebat dan melebihi kedelapan orang adik-adik seperguruannya.

‘Hebat.’ Pikir Mintaraga, karena dua kali ia telah mencoba menarik tanggannya, namun hasilnya tetap sia-sia. Dilain pihak Kendil Wesi telah datang menghampiri, tangan resi kesembilan itu lalu melayang siap untuk menampar.

“Ha... kau hendak menuntut balas?” Bentak Mintaraga sambil mengayunkan sebelah kakinya.

“Adi Kendil Wesi, hati-hati.” Seru Giri Pragoto memperingatkan.

Kendil Wesi dapat mengelak sedangkan tangannya terus melayang menampar.

“Plok” begitu suara terdengar, dan Mintaraga telah kena tampar.

“Kau masih mampu memukul pula?” Tanya Mintaraga yang tak terluka karena pukulan tadi.

Resi Giri Pragoto menjadi heran. Justru pada saat itu Mintaraga berontak tangannya diputar, tenaganya dikerahkan. Ia bukan menarik, hanya mendorong. Maka berkisarlah kuda-kuda Giri Pragoto.

Menggunakan kesempatan ini Mintaraga terus maju, akan tetapi ia menangkis pukulan yang dilancarkan oleh Kendil Wesi yang hendak mengulangi pukulannya tadi.

Tadi tak puas ia kalau hanya membalas sekali pukul saja. Akan tetapi kini pemuda itu telah terbebas tangannya, ia dapat menangkis. Karena itulah maka ki Kendil Wesi merasakan kalau tangan kanannya menjadi kaku. Tanpa terasa ia telah kena ditotok jalan darahnya, hingga kesudahannya dia mesti berdiam diri tanpa mampu menggerakkan tubuhnya.

Kemudian menyusul Putut Tejowantah dan Mahesthi maju bersama- sama.

Mintaraga tahu betul bahwa sembilan resi ini kecuali resi Giri Pragoto semuanya kepandaiannya tak ada yang dapat mengatasi kepandaiannya. Kalau tadi ia gagal menendang Kendil Wesi, itu karena resi itu waspada sekali setelah diperingatkan oleh kakak seperguruannya yang tertua. Sedikitpun Mintaraga tak takut, hanya saja ia masih ingin menyudahi pertempuran itu.

Beda dari pada pemuda ini, sembilan resi dari padepokan Indrakilo itu. Sudah puluhan tahun mereka itu menjagoi dunia kependekaran baik dari golongan putih maupun golongan hitam. Belum pernah mereka menemukan tandingan yang berarti. Merekapun mendengar beberapa orang yang memuji kepandaiannya. Dengan sendirinya mereka menjadi sombong. Mereka itu lalu beranggapan bahwa dirinyalah jago nomor satu diatas bumi ini, hingga mereka tak memandang sebelah mata kepada dua puluh satu pahlawan Jipang Panolan. Sekarang mereka bertemu dengan Mintaraga dan mendapat  

malu, hal ini mimpipun tak pernah mereka sangka, karena itulah sembilan

orang resi ini menjadi mendongkol dan marah. Hingga mereka lalu berkelahi tanpa menghiraukan peraturan dunia kependekaran.

Melihat majunya dua orang resi Mahesthi dan Putut Tejowantah, Mintaraga mendahului berseru :

“Bapa-bapa resi sekalian, kalau kalian ini maju terus dan mendesakku maka jangan kalian menyalahkan aku yang muda kalau berlaku kurang hormat.” Ia terus melompat mundur.

Giri Pragoto tak mengambil pusing peringatan lawannya ini. Lebih dahulu ia membebaskan Kendil Wesi dari totokannya, habis itu maju pula. Yah maju untuk menyerang. Kakek itu telah mengepalkan kedua tangannya.

“Baiklah.” Seru Mintaraga. “Biar aku belajar kenal dengan ilmu pukulan Gundala Kurda.”

Ia menghindar dari serangan Giri Pragoto, dan menyerang yang lain ketika kembali ia dikurung, ia bersilat seperti tadi, main elak dan menghindar serta menangkis.

Sebat kedua tangannya bergerak. Cepat dan lincah tubuhnya mengelak, ia menyingkir dari lawan yang tangguh, dan mencoba mendesak mereka yang lemah. Sengaja ia menggunakan siasat itu.

Belum berselang lama Kendil Wesi orang kesembilan dari Sembilan Resi Indrakilo itu telah kena tertotok jalan darahnya yang besar hingga tak dapat ia menggerakkan tubuhnya. Menyusul datang giliran Rukmoroto dan Mahesthi.

Giri Pragoto melompat menyerang lawannya itu, untuk menolong saudara-saudaranya, akan tetapi Mintaraga telah melompat lebih dahulu kearah Bondowoso yang mendesak dengan beruntun sampai tiga kati, sesudah itu menotok jalan darahnya dengan jitu.

Untuk mempercepat selesainya pertempuran itu, tanpa ragu-ragu lagi, Mintaraga mempergunakan jarum senjata rahasianya, dua batang hinggap Blendrong dan Wonosalam resi keenam juga kena totok.

Giri Pragoto melompat untuk menolong, akan tetapi ia telah disambut dengan Mintaraga yang telah mengangkat tubuh Blendrong untuk dilemparkan kearahnya, hingga ia kelabakan menanggapi saudara mudanya itu.  

Ketika lawannya sedang repot Mintaraga lalu mempergunakan waktu yang baik itu untuk menyerang Putut Tejowantah, hingga tokoh itupun keluar dari kalangan. Maka sampai disitu kacaulah barisan Sembilan Resi Sakti.

Giri Pragoto menjadi repot dan marah sekali. Baru ia menolong saudaranya, namun lain saudaranya telah kena totok pula. Saking sengitnya ia lalu berteriak-teriak! Mintaraga tak mempedulikan resi itu, tetap saja ia bersilat dengan

caranya. Yah permainan sederhana yang seperti anak kecil main petak atau gobag sodor. Gerakannya gesit, totokan-totokan tangannya cepat dan tepat. Dengan begini ia membuat lawannya kacau dan penasaran. Beberapa orang resi telah ditotok kaku tubuhnya, mereka masing-masing segera ditolong oleh Giri Pragoto. Akan tetapi segera mereka ditotok lagi.

Candra Wulan sangat gembira, hingga karena senangnya ia lalu bertepuk tangan. Bersorak-sorak. Setelah berkali-kali berseru bagus. Iapun bertanya :

“Eh... kenapa kau tak menghunus pedangmu? Berilah setiap orang sebuah tikaman...”

“Tak usah.” Mintaraga menjawab. Memang dalam repotnya anak muda itu sempat menjawab pertanyaan adik angkatnya itu.

“Apakah sudah pasti kalau kau dapat mengalahkan mereka dan mendapatkan kemenangan?!” Kembali Candra Wulan bertanya.

Mintaraga tertawa. Kemudian menjawab :

“Jika mereka tak menyerangku, maka aku tak dapat menangkan mereka itu adi.”

Candra Wulan menjadi heran, hingga karena herannya itu ia melengak. Tapi sebentar saja, gadis itu segera dapat menerka maksud kakak angkatnya ini, dan berbalik ia tertawa :

“Bagus... bagus.” Serunya. “Hai kawanan resi limbung. Kalian dengar atau tidak? Jika kalian menghendaki kemenangan, kalian mesti menghunus pedangmu atau senjatamu ”

Candra Wulan memperdengarkan ejekannya untuk ditujukan kepada Giri Pragoto yang terus menjerit-jerit, ia lalu melompat kearah gadis yang jail itu untuk diserang.

Candra Wulan kaget bukan kepalang segera ia memutar tubuhnya untuk melompat lari. Akan tetapi Giri Pragoto gesit luar biasa, ia dapat menangkap. Tatkala gadis itu merasakan kalau ada angin sambaran dibelakangnya, tahu-tahu tengkuknya telah kena dipegang, hingga terus saja tubuhnya diangkat naik tinggi-tinggi.

“Kau mau melepaskan aku atau tidak?” Bentak Candra Wulan dengan marah. Ia kaget, takut akan tetapi gadis inipun marah sekali. Hingga ia lupa akan perasaan takutnya.

“Pernah apakah kau dengan Tangan Sakti dari Juana itu?” Tanya Giri Pragoto. Ia tak mengubris barang sedikitpun juga kepada pertanyaan gadis itu tadi. “Lekas katakan.”

Waktu itu Mintaraga telah siap sedia dengan senjata rahasianya yang berupa jarum-jarum. Matanya memandang tajam-tajam kearah Giri Pragoto.

Oleh karena tertawannya gadis itu, pertempuran menjadi berhenti dengan sendirinya, atau tepatnya menjadi tertunda.  

“Kau kelihatan begitu garang.” Jawab Candra Wulan. “tidak aku tak

mau bicara. Hmm.”

Naiklah darah Giri Pragoto hingga yang mengangkat tangannya untuk memukul. Akan tetapi sesaat kemudian ia menurunkan tangannya, dan lalu tertawa.

“Baiklah kulepaskan dirimu.” Katanya. “Kau harus bicara.”

Segera ia menurunkan gadis itu, akan tetapi segera memegang urat nadinya.

Candra Wulan sendiri telah memikir :

“Mendengar nama julukan ayahku mereka kelihatan gelisah, mungkin mereka itu musuh-musuh ayahku. Baiklah aku akan memperdayakan kepadanya....” Akan tetapi belum lagi ia menjawab pertanyaan kakek itu kembali ia telah berpikir :

“Disini ada kakang Mintaraga, misalnya benar ayah bermusuhan dengan mereka, tak usah aku merasa takut. Lebih baik aku berterus terang kalau aku ini anak Tangan Sakti dari Juana. Apakah yang kubuat takut?!”

Maka segera ia menjawab dengan lantang dan nyaring :

“Tangan Sakti dari Juana itu adalah ayahku. Kalau ayah pergi berkelahi, tak pernah ia membawa senjata tajam, bukan seperti kalian ini gentong- gentong kosong.”

Sekonyong-konyong Giri Pragoto tertawa berkakakan, pegangannyapun segera dilepaskan. Lalu kakek itu berkata :

“Ayahmu itu memang tak pernah membawa senjata tajam, akan tetapi apakah kau melihat kami membawa senjata? Huahaa... Huahaa... Huahaa....

kau ini bertemu dengan uwa gurumu kenapa tak berlutut untuk menghaturkan sembah?”

Candra Wulan menjadi terkejut karena herannya. Jadi resi ini adalah uwa gurunya atau paman gurunya yang lebih tua.

“Jadi kalian ini hendak membalaskan sakit hati ayahku itukah?” tanyanya kepada para resi itu.

Giri Pragoto menganggukkan kepalanya.

“Kami mencari Darmakusuma sudah belasan tahun lamanya.” Jawab Giri Pragoto.

“Apakah benar-benar ayah angkatku itu telah membunuh ayahku yang sebenarnya?” Tanja Candra Wulan pula. Ia menjadi heran dan bingung.

“Ah. kau ini masih berada dialam mimpi.” Kata resi itu.

Masih saja gadis itu ragu-ragu, segera ia berpaling kepada kakak angkatnya, Mintaraga.

“Kakang Mintaraga.“ Tanyanya. “Apa yang dikatakan itu bukannya bohong bukan?!”

Mintaraga ragu-ragu sejenak, lalu menjawab dengan nyaring : “Sedikitpun tak berbohong.”  

Candra Wulan terkejut sekali. Sekarang ini tak dapat ia tak mempercayai

perkataan Resi Giri Pragoto itu. Akan tetapi ketika ia melihat kearah Mintaraga tampaklah wajah pemuda itu menjadi muram. Kelihatan sedih sekali.

“Pasti dia tak tentram hatinya karena ayahnya telah membunuh ayahku  ” Pikir Candra Wulan.

Dalam umur semuda ini Candra Wulan telah sanggup menggunakan otaknya. Terhadap Mintaraga ia telah menanam bibit cinta.... Sesaat itu ia berkeputusan, jangan lagi perkara saling bunuh membunuh antara ayah mereka yang termasuk generasi tua, umpama sekarang pemuda ini mencabut pedangnya dan membunuhnya, dia bersedia akan menerimanya....

“Sudahlah kakang Mintaraga, jangan kau bersedih hati.” Lalu ia berusaha menghibur. “Aku tak akan menuntut balas kepadamu.”

“Terima kasih.” Jawab Mintaraga. “Sekarang kau bersembahlah kepada mereka yang lebih tua dari padamu. Kurang baik kalau kau berlaku kurang hormat dan tak selayaknya kepada uwa gurumu.”

Setelah berkata demikian iapun lalu menganggukkan kepala untuk memberi hormat kepada sembilan orang resi dari padepokan Indrakilo yang tadi menjadi musuhnya itu.

Melihat sikap Mintaraga itu, Candra Wulan turut memberikan hormatnya kepada mereka bersembilan.

Giri Pragoto memang bersifat aneh, akan tetapi ia menyayangi orang- orang dari golongan muda. Segera ia memimpin bangun gadis yang baru menyembahnya, sambil tertawa ia lalu berkata.

“Nini Wulan, selanjutnya lebih baik kau memanggil uwa atau paman saja kepadaku, dan mereka berdelapan itupun merupakan paman-paman gurumu pula. Kau bersemangat nini, persis seperti ayahmu.”

“Eh... kakang, kalau nini Candra Wulan tak hendak membalasnya itu adalah urusannya sendiri. Akan tetapi kita tak dapat berhenti sampai disini saja. Kita tak boleh membiarkan nama kita ditertawakan oleh orang-orang dari dunia kependekaran.”

Candra Wulan tahu kalau mereka itu tak mau menyudahi urusannya dengan Mintaraga, segera ia maju dan melintang.

“Jika kalian hendak membunuhnya, bunuhlah ayah angkatku.” katanya. “Akan tak mau mengerti kalau kalian berani membunuh dia ini.” Serunya sambil menunjuk kearah Mintaraga.

Giri Pragoto menundukkan kepalanya, diam-diam kakek ini berpikir. Ia telah mengetahui akan kesaktian Mintaraga, bukanlah sebuah pekerjaan gampang untuk membinasakannya. Iapun tertarik oleh kejujuran dan kegagahan Mintaraga. Bukankah pemuda ini berani mengakui kalau ayahnya yang telah membunuh ayah Candra Wulan? Bukankah pemuda ini tahu menghormat kepada mereka yang lebih tua, hingga pemuda sakti ini  

mau menghormati mereka bersembilan begitu ia mengetahui siapa adanya

mereka itu? Karena inilah ia menjadi menyayanginya. Karena, ini pula maka sampai lama ia tak dapat membuka mulutnya.

Mintaraga melihat keraguan orang tua itu.

“Bapa resi.” Katanya. “Misalnya kalian tak dapat mengambil keputusan sekarang ini, baiklah tunggu saja sebulan lagi aku akan naik kepedepokan Indrakilo untuk menerima kematian. Sekarang ini aku hendak pergi dulu untuk mencari kakang Tunggorono. Malahan aku sangat memohon kepada bapa resi supaya mau memberi petunjuk kemana aku musti mengambil jalan untuk dapatnya bertemu dengan kakang Tunggorono.”

Giri Pragoto tak segera memberi jawabannya. Ia memperdengarkan suaranya yang pelan, suara yang tak terdengar dengan nyata.

“Baik.” Katanya kemudian. Sekarang beritahukan dulu kepadaku apakah cita-citamu itu?”

Mintaraga tak ragu lagi, iapun tak banyak omongan.

“Aku hendak menumpas pemberontakan pasukan Jipang Panolan.” Demikian jawabnya dengan singkat.

Giri Pragoto menyangka kalau anak muda ini tentu akan bicara banyak. Maka itu, ketika mendengar jawaban yang singkat itu mereka menjadi heran. Jawaban itu mengandung arti yang sangat besar. Karena itu mereka menjadi kagum.”

“Dialah seorang yang berharga.” Kata Giri Pragoto kemudian. “Jika kita membinasakan dia maka sama saja dengan kita membantu pemberontak- pemberontak Jipang Panolan. Bukankah dia ini merupakan sebuah ancaman dan bahaya besar bagi orang-orang Jipang?” Maka ia lalu mengambil keputusan :

“Baiklah permusuhan diantara Darmakusuma dan Tangan Sakti dengan ini kunyatakan habis sampai disini saja.”

Mintaraga menjadi girang sekali, hingga berkali-kali ia menyatakan terima kasih.

“Sudahlah.“ Kata Giri Pragoto pula. “Nini Wulan.” Serunya kepada si gadis. “Ketika dulu ayahmu masih hidup dengan malang melintangnya, ia telah mengangkat tinggi-tinggi kehormatan kaum kami, yaitu padepokan Indrakilo. Akan tetapi kau, kulihat, baiknya kau ikut kami pulang kegunung. Kepandaianmu baru saja capai tingkat permulaan, perlu kau ikut kami untuk meyakinkan ilmu dari kami barang satu atau dua tahun.”

Candra Wulan tak setuju dengan jalan pikiran uwa gurunya ini akan tetapi ia tak dapat memberi jawaban. Ia merasa lebih senang ikut kakak angkatnya ‘Mintaraga’ untuk pergi merantau. Mana ia senang seorang diri dipadepokan Indrakilo. Ia tak senang dengan paman-pamannya yang bersifat aneh. Akan tetapi ia tak dapat untuk tak menjawabnya, maka setelah sesaat barulah ia memberi jawaban.  

“Uwa guru.” Katanya. “Kakang Tunggorono pernah menolong jiwaku,

baiklah kau beri aku waktu untuk mencarinya dulu juga untuk membalas budinya, nanti barulah aku akan menyusul uwa dan paman-paman kembali kepadepokan Indrakilo. Bukankah uwa setuju?!”

Giri Pragoto adalah seorang yang beradat keras dan kukuh akan pendiriannya, tak senang hatinya kalau murid keponakannya itu belajar ilmu dari perguruan Lawu. Maka katanya :

“Kau hendak membalas budi Tunggorono, aku khawatir kau tak akan mampu melakukannya  ”

Candra Wulan heran.

“Apa?” Tanyanya. “Dimanakah adanya kakang Tunggorono itu?” “Panjang untuk menceritakan itu.” Jawab resi Giri Pragoto. “sekarang

baik kau turut aku pulang dulu kegunung, nanti pelan-pelan aku memberi keterangan kepadamu.”

Mendadak gadis itu menangis.

“Tidak uwa.” Katanya. “Misalnya kakak seperguruan uwa itu seperti kakang Tunggorono yang tak ketahuan rimbanya itu, lalu tak tentu hidup matinya, bisakah hatimu tak gelisah? Oh... uwa kau ini begitu kejam.....” Ia menangis terus. “Kenapa uwa tak membiarkan aku mencari kakak seperguruanku? Baiklah aku mati saja, supaya tak usah aku mencari dan menolong kakak seperguruanku itu.... Buat apa belajar silat kalau akhirnya toh untuk ditertawakan orang?”

Candra Wulan menjatuhkan dirinya diatas tanah, sambil mendeprok ia terus menangis.

Kewalahan juga Giri Pragoto atas kelakuan keponakan muridnya ini. “Kau mengatakan aku kejam? bagus benar.” Katanya. “Baiklah begini

saja. Sekarang kau carilah kakak seperguruanmu itu, dan nanti kalau ketemu segera kau pulang kegunung.

Candra Wulan segera berhenti menangis, malah jadi kegirangan.

“Baik... baik...” Katanya dengan cepat. Diam-diam ia melirik kepada Mintaraga dan tertawa.

“Hm...” Seru Giri Pragoto dengan gemas ketika melihat kenakalan murid keponakannya. “Jangan gampang-gampang tertawa ya.” katanja dengan keras. “Aku belun habis berbicara ”

Candra Wulan menjadi terkejut sekali. “Apa” ia menegaskan.

Giri Pragoto mengawasi, wajahnya sungguh-sungguh!

“Kau adalah orang dari golongan kami perguruan Indrakilo bukan?” Tanyanya dengan tegas.

“Ayahku adalah orang dari perguruan Indrakilo, untuk apakah kau bertanya tentang itu lagi?” Jawab gadis itu.  

“Bagus.” Seru Resi itu. “Karena itu sejak hari ini juga kami melarangmu

mempergunakan senjata tajam. Ini adalah peraturan kita kaum Indrakilo sejak beberapa ratus tahun. ”

Habis berkata, tiba-tiba saja Giri Pragoto mengulurkan tangannya menyambar pedang Candra Wulan, kemudian pedang yang baru saja dirampasnya itu terus dipatahkan. Sekarang barulah ia tertawa dan katanya : “Asal kita dapat mempergunakan kedua tangan kita dengan baik untuk

apakah kita memakai pedang?!”

Kalau gadis ini tercengang, maka Mintaraga menjadi kagum. Ia mengagumi Resi itu, ilmu silatnya adalah berbeda dengan ilmu silat dari perguruannya, akan tetapi mengenai tenaga mungkin mereka berimbang...

“Ini... ini. ” Kata Candra Wulan dengan tergugu.

“Jangan gelisah.” Giri Pragoto menghibur. “Ayahmu bergelar Tangan Sakti. Maka mustahil kalau aku tak dapat mendidikmu menjadi seorang yang bergelar tangan Dewa...” Setelah berkata demikian maka Giri Pragoto tertawa berkakakan.

“Uwa hendak mengajarkan aku? apakah disini?” Tanya Candra Wulan kemudian.

“Tidak salah.“ Jawab paman gurunya yang tertua. “Benar akan kuajarkan disini, hanya saja akan memerlukan tempo sepuluh hari lamanya. Atau kalau kau hendak mewarisi ilmu tangan sakti ini lebih dalam lagi kau harus ikut kami hingga tak sembarang orang dapat mengganggumu.

Mau atau tidak Candra Wulan harus mengangguk, ia benar-benar kewalahan sekali menghadapi kakek tua yang keras kepala itu.

“Baik, sekarang marilah kita mulai.” Kata Giri Pragoto Resi tua itu melirik kearah Mintaraga. Matanya melotot.

Pemuda itu mengerti dan memangnya ia tak ingin mencuri kepandaian dari perguruan lain, maka tanpa banyak cakap ia lalu pergi menjauhkan diri. Benar-benar Giri Pragoto tak menyia-nyiakan waktu. Ia memasang kuda-kudanya dan menggerakkan kedua tangannya. Dengan begitu mulailah ia memberi petunjuk dari dasarnya, ia menggembleng ilmu silat

tangan kosong.

Tanpa terasa sepuluh hari telah berlalu, karena itu Candra Wulan seperti telah berganti tulang-tulangnya kini menjelma menjadi Candra Wulan yang lain dari pada sepuluh hari yang lalu. Sekarang tenaganya menjadi kuat dari pada yang sudah-sudah.

Garuda Sakti atau ki Darmakusuma memang mempunyai kepandaian jauh lebih tinggi dari pada Giri Pragoto ini, kalau ilmu silat Candra Wulan ini demikian rendah dan terbelakang, ini disebabkan karena gadis ini terlambat untuk mempelajarinya.

Selama ki Darmakusuma menyembunyikan diri, ia menyembunyikan kepandaiannya, tak mau ia memperlihatkan kepandaiannya kepada orang  

Iain.   Candra   Wulanpun   mendesak   minta   diajari   ilmu   silat   ketika   ia

mengetahui bahwa ayahnya ini mengerti akan ilmu silat. Karena itulah tak sangat mengherankan kalau gadis ini tak dapat melayani Jangkar Bumi. Darmakusuma juga tak memikirkan untuk mewariskan ilmu silatnya yang tinggi itu kepada Candra Wulan.

Ketika Darmakusuma pergi seorang diri menuju kedalam sarang gerombolan Tengkorak Berdarah, itu disebabkan telah bulat tekadnya untuk mengorbankan diri. Bahwa dengan secara gampang saja ia dapat dibinasakan oleh Pendeta Baudenda. Inipun karena ia tak melawan. Coba ia mengadakan perlawanan, walaupun ia sukar sekali mendapat kemenangan, didalam dua atau tiga ratus jurus tidak nanti pendeta Baudenda dapat merobohkannya dengan begitu mudah.

Selama sepuluh hari menantikan Candra Wulan belajar, karena tidak dapat meninggalkan gadis itu, Mintaraga menjadi menganggur. Karena itu sering ia pergi ketepian lembah seorang diri untuk memandang mega putih ataupun panorama laut. Iapun mendapat kesempatan untuk memikirkan dirinya sendiri, sekarang dan hari nantinya.

Pada suatu hari ketika Mintaraga sedang melamun, ia menjadi terkejut ketika mendengar suara berdehem-dehem dan batuk-batuk diarah belakangnya. Ia berpaling cepat. Maka disana ia melihat Resi Jlontrot Boyo.

“Apakah bapa resi juga akan melihat keindahan panorama laut lepas ini?” Tanyanya.

Resi itu tertawa dingin.

“Siapakah yang mempunyai kesempatan demikian?” Sahutnya. “Aku datang kemari atas perintah kakang Giri Pragoto, untuk memberitahukan sesuatu hal kepadamu.”

Mintaraga tertawa.

“Silahkan duduk.” Serunya mempersilahkan Resi tua itu. Dan tanpa sungkan-sungkan lagi Jlontrot Boyo lalu menjatuhkan diri untuk duduk pula.

“Mintaraga.” Katanya kemudian. “Pernahkah gurumu memberi tahukan tentang perihal ilmu silat yang dinamakan Barisan Sembilan Resi Sakti?”

Pemuda itu menggelengkan kepalanya. “Tidak “ Jawabnya dengan singkat.

“Hem... pendeta itu terlalu.” Seru Jlontrot Boyo. Kelihatanlah ia tak puas kepada guru Mintaraga ini.

“Kenapa?“ Tanya pemuda itu.

“Oleh karena kau harus bertanding dengan kami dengan melawan ilmu silat kami itu.” Jawab resi ini. “Gurumu tak pernah memberi pelajaran ilmu silat untuk menyerangnya, kau pasti akan gagal.”

Ilmu silat Barisan Sembilan Resi Sakti ini adalah ilmu silat rahasia. Tidak ada orang yang dapat memecahkannya, kecuali Pendeta Argo Bayu yang  

menjadi guru Mintaraga. Jlontrot Boyo menanyakan demikian ini kepada

Mintaraga hanyalah untuk sekedar mencari tahu. Atau tepatnya dapat pula dikatakan siasat.

Mintaraga tertawa. Ia terlalu cerdas hingga sebentar saja ia telah mengetahui akan maksud resi tua itu.

“Permusuhan diantara kita telah habis sampai disini, untuk apakah aku harus memecahkan barisanmu itu? Bukankah ini akan membuang waktu yang sia-sia saja?!” Jawabnya dengan balas bertanya.

Resi kedua ini bersikap tawar.

“Itu adalah pembicaraan antara kau dengan kakang Giri Pragoto, katanya. “Itu juga urusan leluhur kita. Aku sendiri belum pernah berjanji suatu apa denganmu.”

Mintaraga gelisah juga. Barulah sekarang ia menginsyafi akan kelicikan orang-orang Indrakilo itu. Ia telah menghajar beberapa orang diantara mereka, rupanya yang lain tak mau mengerti, tak puas hati mereka itu. Ia menjadi lega hatinya ketika mengingat kalau permusuhan ini lain sifatnya dengan permusuhan leluhur mereka. Kali ini ada ‘permusuhan’ untuk adu kepandaian. Ia percaya, nanti ini tidak akan membawa-bawa jiwa....

Maka itu setelah ia berpikir sejenak, anak muda ini lalu berkata :

“Ilmu silat dari padepokan Indrakilo memang telah tersohor sebagai ilmu silat yang hebat. Guruku dan aku sangat mengaguminya, karena itu untuk apakah kita mencoba-cobanya lagi?”

Jlontrot Boyo mendelik.

“Habis apakah omonganmu tadi itu hanya kentut belaka?” Serunya dengan mengejek. “Apakah kau hanya menggunakan nama Pendeta Argo Bayu untuk menggertak saja?!”

Mintaraga melihat kalau lawannya ini menjadi marah.

“Baik, baiklah.” Ia segera berkata. “didalam waktu sebulan saja, biar apa yang akan terjadi, aku akan datang untuk menerima kematian. ”

Jlontrot Boyo, hanya memperdengarkan suara dari hidungnya satu kali lalu kembali membungkam.

Mintaraga sebaliknya masih ada urusan.

“Bapa resi, aku mohon tanya suatu urusan.” Katanya. “Bicaralah.” Katanya dengan singkat.

“Kena apakah kalian dari Sembilan Resi Indrakilo tak dapat akur dengan dua puluh satu jago-jago Jipang Panolan?” Tanya Mintaraga.

Ditanya urusan ini, air muka Resi itu menjadi berubah. Ia berjingkrak. “Yang bentrok dengan kami adalah Ario Penangsang, bukan dua puluh

satu jago itu!” Ia menjawab dengan suara keras. Dengan Ario Penangsang yang dimaksudkan adalah adipati Jipang Panolan murid dari sunan Kudus.

“Apakah artinya itu?” Tanya Mintaraga dengan menegas.  

Setelah menarik napas panjang dan memperbaiki kedudukannya maka

berkatalah kakek Resi itu :

“Anak, tak ada halangannya aku memberitahukan kepadamu.” katanya kemudian. “Kau dengarlah.” dan ia lalu menceritakan dari tujuh atau delapan puluh tahun yang lalu.

“Padepokan kami Indrakilo ini terletak didekat daerah Jipang Panolan.” Begitulah Resi itu mulai bercerita. “Diatas gunung itu terdapat dua buah puncak yang saling berhadap-hadapan mirip seperti ular melingkar. Dan yang lainnya separti harimau mendekam. Tentang ini tentunya kau telah mengetahui bukan?”

Mintaraga mengangguk.

“Leluhur kami adalah Resi Ardhapati.” Seru kakek resi itu meneruskan. Kau tahu tentunya gelar resi yang diberikan kepada leluhur adalah sebuah gelar suci. Sejak itu kami adalah keturunan yang ketiga puluh lebih. Pemerintah boleh berubah, akan tetapi gelar resi kami ini tak boleh berubah. Akan tetapi tahunya di pemerintahan Ario Penangsang, beliau itu telah memanggil pemimpin kami keibukotanya. Dia tetap memperbolehkan kami memakai gelar resi, dan memperlakukan kami dengan baik. Akan tetapi belum lewat lima tahun mendadak saja timbul perubahan. Ario Penangsang membakar kitab-kitab kami dan bertindak lebih hebat lagi “

“Apakah tindakannya itu?” Tanya pemuda itu menegaskan.

“Ario Penangsang berkata kalau kami para resi dari golongan pertapa yang menganut ilmu tua, dan mengatakan dalam kata-kata kiasan masuk kedalam api tak terbakar dan masuk kedalam air tak basah. Yang artinya didalam pemerintahan siapa saja kami tetap akan menerimanya asal saja mereka memperlakukan kami dengan baik. Akan tetapi mungkin perkataan ini disalah artikan oleh Ario Penangsang atau memang perjaka sakti itu hanya akan mencari gara-gara saja. Ia menyuruh pemimpin kami masuk kedalam api dan masuk kedalam air untuk membuktikan perkataan- perkataan itu. Tentu saja karena itu maka kami mendapat malu dikhalayak ramai. Dan mulai saat itu juga kami bersumpah turun-tumurun harus memusuhi orang-orang Jipang selama kadipaten itu diperintah oleh Ario Penangsang. Hal ini kami lakukan demi mencuci nama bersih padepokan Indrakilo.”

Mintaraga menjadi girang, dengan begitu tahulah ia akan cita-cita kakek  

itu.

“Jika demikian maka samalah cita-cita kita ini bapa.” Katanya. “Kalau

demikian satu bulan lagi tak perlu aku mendaki gunung Indrakilo.”

“Kau bilang bahwa cita-cita kita sama, akan tetapi ketahuilah kalau tujuannya sangat berlainan.” Kata Jlontrot Boyo dengan seram.

Mintaraga menjadi heran, dan segera mengawasi orang itu. “Kenapa begitu bapa?!” Tanyanya. Kakek Resi yang bernama Jlontrot Boyo itu lalu tertawa bergelak-gelak :

“Baiklah kuberi tahukan kepadamu, toh kami tak takut.” Jawabnya. “Kita boleh bersama-sama membinasakan orang-orang Jipang, akan tetapi kamipun akan mencari dimana adanya Tunggul Tirto Ayu. Inilah persamaan kita. Hanya nanti kalau kita telah mendapatkan Tunggul Tirto Ayu itu, nah itu saatnya faham kita berlainan. Kau tentunya akan menaati pesan leluhurmu yang dipadu dengan tiga orang tumenggung itu. Yaitu Tunggul Tirto Ayu akan kalian serahkan kepada lain orang, bukankah kalian tak mau mengakangi sendiri. Huahaaa... Huahaaaa... Huahaaaa... kami dari pihak Indrakilo maksudnya lain. Kami bukan hanya berniat membinasakan orang- orang Jipang, kami juga berniat merampas negaranya, kerajaannya. Dengan cara demikian barulah kita dapat melaksanakan penuntutan balas. Nah inilah perbedaan antara kita berdua.”

Biar bagaimanapun juga Mintaraga terkejut.

“Bukankah itu perbuatan yang tak layak bagi orang-orang yang telah mencucikan diri?!”

Resi tua itu hanya tertawa dingin.

“Apakah kau hendak mengorek urusan pribadi kami?” Serunya balas bertanya. “Terus terang saja maksud kami bersembilan turun gunung ini, untuk membalaskan sakit hati Tangan Sakti itu adalah urusan yang kedua, sedangkan yang pertama ialah mencari Tunggul Tirto Ayu.”

Hati Mintaraga tergetar juga.

“Dengan begitu apakah kita mesti berhadapan bagaikan lawan?” Tanyanya.

“Permusuhan antara kami dengan ayahmu memang sudah dibikin habis.” Jawab Jlontrot Boyo, wajahnya tampak bersungguh-sungguh. “Akan tetapi mengenai Tunggul Tirto Ayu, lihat saja tindakan kita kedua pihak nanti. ”

“Baiklah.” Kata Mintaraga kemudian. “Karena kata-katamu inilah maka aku ingin mencoba-coba kepandaianmu.”

Belum sampai orang itu menjawabnya, dengan maksud menjajaki pikiran lawannya ini, Mintaraga segera menambahkan perkataannya :

“Kiranya bukan hanya kami yang akan atau tepatnya ingin mencari kakang Tunggorono. Akan tetapi kalian juga ingin mencarinya bukan? Yah mencari untuk memaksa memberi tahukan dimana adanya Tunggul Tirto Ayu itu bukan?!”

“Untuk mencari dia itu tak perlu.” Jawab Jlontrot Boyo. “Bukankah kami telah mengetahui kalau Tunggul Tirto Ayu itu berada ditangan siapa?”

Mintaraga tampak terperanjat.

“Jadi Tunggul Tirto Ayu telah berpindah tangan?” Tanyanya.

“Sedikit juga tak salah.”Jawab Resi Jlontrot Boyo. “akan tetapi tak sampai sebulan lagi Tunggul Tirto Ayu itu pasti telah berpindah ketangan  

kami, heh bocah kau berlatihlah dengan bersungguh sungguh. Sebab kalau

kau dapat memecahkan barisan Sembilan Resi Sakti maka Tunggul Tirto Ayu akan terjatuh ketanganmu.”

Sewaktu   kakek   itu   berbicara   maka   tampaklah   kesombongannya.

Mintaraga sebaliknya hanya tinggal diam saja.

Jlontrot Boyo terus memandang kearah Mintaraga. Kakek tua ini benar- benar menyangka kalau pemuda ini tentunya telah kehilangan semangatnya. Karena itulah ia lalu tertawa berkakakan, kepalanya sampai diangkat keatas.

“Bagus, marilah kita bicara terus terang.” Katanya pula. “Bukankah kau hendak mencari Tunggorono? Dia sekarang berada ditangan Patih Udara. Kini Tunggorono telah berada dipenjara Jipang Panolan. Karena itulah kalau kau hendak mencarinya maka pergilah ke Panolan dan coba-coba untuk mengacau penjara itu. Yah penjara terkuat dari Ario Penangsang.”

Setelah mengucapkan perkataannya ini maka kembalilah Jlontrot Boyo tertawa berkakakan. Sikapnya ini terang kalau tak memandang sebelah mata barang sedikitpun kepada Mintaraga.

Pemuda itu masih belum terlalu tua, usianyapun masih sekitar dua puluh sampai tiga puluhan tahun. Akan tetapi ia telah dapat mempergunakan otaknya. Karena itulah ia tak mengambil pusing sikap sombong dari lawannya itu. Ia telah berpikir dengan caranya sendiri. Demikianlah didalam waktu yang pendek itu, ia telah mengambil keputusan. Maka ia berdiam terus, ia membiarkan lawannya itu menyindir atau mengejeknya.

Begitu waktunya telah habis, sepuluh hari sudah, maka kesembilan resi itu lalu menyerahkan Candra Wulan kepada Mintaraga lagi. Dengan penyerahan ini mereka telah mengancam :

“Asal lenyap selembar rambutnya saja maka kaulah yang harus bertanggung jawab. Kami akan mencarimu.”

Dan dengan tanpa meninggalkan perkataan lain mereka lalu menggeloyor pergi. Pergi menuju keutara.

‘Sungguh aneh!’ Pikir Mintaraga. ‘perlu apakah sampai kalian memesannya?’ Lalu pemuda ini berpaling kepada Candra Wulan dan katanya :

“Adi Wulan, marilah kita tidur dulu.”

Candra Wulan heran dan segera mengangkat kepalanya, memandang kearah matahari. Ketika itu sang surya tepat berada ditengah-tengah kepala.

“Apa? Apakah kita tidur ditengah hari begini?” Tanya gadis itu. “Apakah kau begini senggang?!”